Tugas Rahasia Jilid 13 (Tamat)

Jilid 13 Tamat

Ditengah udara Cia Ing-kiat sempat melihat pemegang cemeti panjang ini adalah seorang kakek tua kurus kecil, kalau tidak menyaksikan sendiri, apapun dia tidak mau percaya bahwa kakek kurus sekecil ini ternyata memiliki tenaga raksasa dan mampu memainkan cemeti sepanjang ini begitulihay.

Kakek tua kurus kering ini adalah ahli waris keluarga Tong jaman ini satu-satunya. Tong keh pian-hoat memang tiada tandingan dlkolong langit, Tong-lojl sudah meyakinkan ilmu cemetinya ini selama puluhan tahun sudah tentu hasilnya luar biasa.

Tampak oleh Cia Ing kiat disaat tubuhnya masih terapung diudara dan mulai melorot turun, beberapa orang sudah melompat dari berbagai arah kearab dirinya, sebelum tubuh Cia Ing-kiat terjatuh berantai orang-orang itu ulur tangan memegang lengannya, ada yang memegang pinggang, sehingga dia terjatuh tanpa kurang suaiu apa.

Sebelum Cia Ing-kiat berdiri tegak, ada beberapa orang berserabutan ulur tangan hendak merebut bumbung yang dipegangnya.. Setelah terjadi perobahan yang tak terduga barusan, jantungnya masih berdebar tegang, hakikatnya dia takkan mampu melawan bila jago jago kosen itu mengeroyok serta merampas bumbung ditangannya, namun dasar otak nya encer, dalam keadaan kepepet itu mendadak dia membentak:

„Stop kalian ingin mampus y a ?'

Karena bentakannya, tangan yang sudah terulur itu ssketika berhenti diudara tak berani bergerak lagi. sambil menggenggam bumbung bsmbuitu dengan kedua tangan Cia- Ing-kiat membentak bengis: "Siapa berani bergerak, bila kumbang beracun terlepas, bukan aku yang ketimpa akibatnya."

Lekas orang-orang itu menurunkan tangan serta mundur selangkah. Pada saat yang sama terdengar seruan Oh sam Siansing dari pinggir empang: "Jangan sentuh bumbung itu."

Sementara itu setelah menimpukan dua belah Lui-yap-to, Kui-bo tidak menghentikan gerakannya, dia insaf lawan terlalu banyak kalau tidak menyergap lebih dulu, hari ini nasibnya bisa celaka di sini, namun pengepungan juga sudah bergerak, mereka sudah keba-cut benci kepada iblis perempuan yang jahat ini, seorang laki-laki kekar berewok menggerung sekeras guntur terus menerjang maju seraya mengayun toya tembaga sebesar paha mengemplang kepala Kui-bo. Hebat memang kepandaian km bo setelah merobohkan beberapa orang, segera tangannya terbalik menangkap toya tembaga yang mengemplang kepalanya. Tepat d'saat tangannya menangkap ujung toya, "Ser ,ser, ser." dari kiri kanan dan belakang liga batang pedang menusuk tiba bersama.

Betapa tinggi Kungfu Kui bo disaat menghadapi bahaya inilah dia memperlihatkan ke-lihayan, sebelum jelas siapa penyerangnya, namun mendengar gerak pedang lawan, dia sudrh tahu bahwa yang menyerang dirinya a-dalah Tiam-jong sam kiam.

Tiam-jong-kiam hoat mengutamakan gerak enteng yang lincah, perobahannya tak da-pat dijajagi, sudah lama terkenal bahwa Tiam-jong sam kiam terdiri tiga saudara seperguruan yang meyakinkan bersama ilmu pedang gabungan ini selama puluhan tahun, letak Tiam-jong sam tidak jauh dari Biau- kiang, tempat semayam Kui-bo di Hiat-Iui kiong, maka dia tahu jelas betapa lihay Tiam-jong-kiam-boat, disamping kaget marah pula hatinya, begitu mengencang jari jari tangannya, dia pegang toya yang dipegangnya ditarik sedikit lalu didorong kedepan, terdengar "krak" sekali, laki laki gede itu pegang kencang toyanya yang hendak dirampas lawan, tak nyana lawan kerahkan tenaga menyodok balik malah sehingga tulang pergelangan tangannya patah, menyusul "Duk" ujung toya telak menyodok batok kepalanya pula hingga pecah dan meleleh keluar otak darahnya. Bola matanya-pun melotot keluar, kematiannya sungguh mengerikan.

Membunuh seorang lagi tampang Kui bo Han Hwi-nio tampak makin beringas, serangannya juga lebih kejam, sebat sekali dia berputar, terasa hawa pedang menyentuh tubuh, tiga redarg musuh menyerempet le-wat diplnggir tubuhnya. Ketiga penyerangnya berjenggot putih berjubah pertapaan, mereka memang bukan lain Tiam-jong-sam-kian adanya. Begitu serangan luput Tiam-jong-sam-kian menggetar pedang sehingga menimbulkan lapisan bayangan pedang yang kemilau, Kui-bo seperti terkurung didalam jala sinar pedang yang bertaburan menung krup dari atas sehingga Kui-bo tak mampu melompat keatas.

Padahal pengepung Kul-bo Hun Hwi nio hampir seratus orang banyaknya, karena Tiam jong sam kian sudah tampil kedepan mengembut Kui-bo, maka jago-jago lain kurang leluasa campur tangan. Maka orang banyak hanya berkaok- kaok menambah semangat tempur Tiam-jong-sam-kian belaka, kalau otang lain menghadapi teriakan-teriakan yang begitu ribut dan menakutkan pasti pecah nyalinya. Tapi lain halnya bagi Kui bo Hun Hwi-nio. gembong iblis perempuan yang keliwat kejam dan jahat ini, melihat dirinya ditindih oleh jala sinar pedang Ttam jong-sam-kiam. mendadak dia mengendap tubuh sambil membalik sebelah telapak tanean menenuk miring keatas "Plak" dengan telapak tangannya memukul lambung Loji dari salah satu Sam-kiam

Betapa dahsyat tenaga pukulan telapak tangan kui bo ini, karuan tubuh Loji mencelat terbang keudara dan ambruk satu tombak jauhnya. Satu diantnr tiga jago pedang yang sudah mahir menggunakan barisan pedang roboh, maka permainan barisan pedang Loioa dan Losam menjadi kacau balau. Begitu menegakkan tubuh kedua tangan Kui-bo bergerak bersama, maka terdengar kedi a orang pengeroyoknya menjerit kaget, tahu tahu pedang mereka sudah direbut oleh Kui-bo Hun Hwi- nio

Serangan yang dilancarkan Kui-bo barusan adalah jurus Siang-liong-jut-hay (sepasang naga keluar laut) merupakan salah satu jurus tunggal ajaran murni Siau-lim-pay yang terdiri tujuh puluh dua jurus Kim-na-jm hoat. ilmn yang berhasil dipelajarinya dari Bu-bing Siansing di waktu Hwesio muda itu kepincut dan terpelet oleh mulut manisnya dulu. Berhasil merampas pedang lawan, sekali berputar arah dua pedang rampasannya segera ditimpukan kepada pemiliknya, belum lagi lenyap jeritan kaget kedua orang itu, pedang sndah tembus menusuk leher, jiwa melayang seketika. Hebat memang kepandaian Kui-bo Hun Hwi-nio, kecepatan gerak tubuhnya memang luar biasa, sebelum tubuh kedua korbannya roboh, mendadak dia uienggentak kedua lengan, gagang pedang berhasil dipegang, pedang tercabut terus diayun balik kebelakang, dua batang pedang sekaligus meluncur kebelakang mengincar Loji yang sedang merangkak bangun setelah terpukul mabur tadi.

Barn saja orang banyak kaget dan merasa ngeri, Loji sudah menjerit ngeri, darah pun muncrat, Loji atau orang kedua dari Tiam-jong sam-kiam tertembus dua batang pedang didada dan perutnya, tnbuhnya yang sudah mulai tegak berdiri terbanting roboh pula, hanya sekejap Tiam-jong sam-kiam sudah ajal ditangan Kui-bo.

Kematian empat orang beruntun ini lebih mengerikan dari korban yang jatuh lebih dulu, betapa cepat dan kejam serangan Kui-bo sungguh belum pernah ada selama ini, karuan sebagian besar jago-jago kosen itu menjadi patah semangat dan jeri, yang semula berkaok-kaok, karena ciut nyali nya seketika bungkam dan menyurut mundur. Hanya sekejap situasi telah berobah drastis, kepungan terhadap Kui- bo menjadi kendor dan terpencar, Sementara itu Cia Ing-kiat masih berdiri diatas gunungan dengan beberaoa jago kosen yang berusaha melindunginya, mereka menyaksikan dengan jelas apa yang barusan, terjadi.

Air empang itu semula ada setombak dalamnya setelah air empang terkuras kering, banyak orang sudah melompat turun didasar empang yang bentuknya hampir sebuah wajah raksasa. Kui-bo justru terkurung didasar empang yang licin itu,

Disaat kritis itulah mendadak terdengar jeritan kaget nyaring dianiara rombongan o-rang banyak menyusul dua bayangan orang melambung tinggi melampaui kepala orang banyak meluncur keiengah empang hingga tak jauh didepan Kui-bo, kedua orang ini ternyata Pak-to Sunseng yang berjubah longgar berkibar seorang lagi adalah Hun Lian. Pak- to Suseng tampak mercengkram urat nadi Hun Lian lengannya ditelikung dibelakang punggungnya, sementara tangan yang lain mengancam Toa cui-hiat ditengkuk Hun-Lian Orang banyak maklum bila Pak-to kerahkan tenaganya, tulang leher Hun Lian pasti ter-remas patah atau hancur, jiwanya takkan ter tolong lagi, kecrali Kui-bo Hun Hwi-nio sendiri yang tertegun kaget, orang banyak juga berdiri menjublek.

Begitu melompat turnn Pak-to Suseng dorong Hun Lian maju beberapa langkah pula lalu bentaknya beringas:.,Hun Hwl-nio masih berani kau mengganas?"

Tampak membesi hijau muka Kui-bo Hun hwi nio kulit mukanyatampak kedutan, ram butnya yang sudah nbanan tanmpak menggelembong seperti ditiup angin, sorot matanya memancaikan sinar buas dan penuh kebencian. jelas hatinya murka sekali

Kungfu Pak to Suseng amat tinggi, apa lagi dia tahu lawan sudah tidak memegang bumbung kumbang Kui-bo takkan mengancam jiwanya, dalam keadaan terjepit lagi, umpama Hun Hwi-nio memiliki kepandaian setinggi langit juga jangan harap mampu menjebol kepungan jago-jago silat sebanyak ini. Tapi melihat rona muka Kui bo yang bero-bah begini seram menakutkan, tak urung bergetar juga perasaan Pak- to Suseng disamping ngeri diapun merinding.

Sementara waktu kedua pihak berhenti bergerak, semua orang menunggu bagaimana reaksi Kui-bo setelah melihat putrinya dijadi kan sandera. Belasan jago yang berdiri diatas gunungan tambah waspada menjaga keselamatan Cia Ing- kiat, siaga dari sergapan Kui bo Hun Hwi nio yang bukan mustahil masih mengincar jiwa Cia Ing-kiat yang menjadi Mang ke adi perobahan situasi sehingga diri nya kini menjadi sasaran kemarahan orarg banyak.

Perobahan drastis ini tak pernah terbayaig oleh Hun Lian, bahwa ibunya menjadi sasaran kemarahan orang banyak menjadikan hati Hun Lian amat sedih sekali. Sebetulnya, menilai taraf Kungfu Hun Lian, betapapun Pak-to Suseng takkan mampu membekuknya sekali bergebrak, namun sejik me lihat Cia Ing-kiat muncul serta mengacungkan bumbung bambu berisi kumbang beracun tadi. rasa bencinya bukan kepalang sehingga dia kehilangan akal, apalagi ditatap pandang an Kui bo sang ibunda yang biasanya amat sayang kepadanya, terasa olehnya betapa gu sar ibunya, sehingga dia berdiri kebingungan disaat dia menjublek itulah Pak-to Suseng menyergap mencengkram pergelangan tangannya serta menyeretnya kehadapan Km b o

Mengawasi sang ibu, dilihatnya betapa gusar da penasaran serta berci sorot sang ibu. seperti diiris-iris hati Hun L an, sedih bukan main. teriaknya tertahan;” Ma."

Semula tatapan Kui-bo tampak murka jelilatan lagi, terasa oieh Hun Lian, kulit daging sendiri kedutan, tak tertahan air mata bercucuran.

Tapi jahe yang tua memang lebih pedas dalam sekejap ini sikap Kui-bo ternyata sudah wajar gejolak perasaanya sudah mered emosinya berhasil ditekan, rambut   ubanan yang berdiri bergelombang tadi sudah menjuntai lemas, kini wajahnya malah tersenyum simpul, seolah-olah tiada terjadi sesuatu apa pun, terdengar dia berkata tawar, ,Pak to Suseng, bukankah kau terhitung jago kelas wa bid dalam Bulim?”

Merah jengah muka Pak-to Suseng mendengar olok-olok Kui bo, memang Fak-to Suseng juga tahu bahwa tindakannya hari ini memang tidak patut dipuji. Tapi dia juga sadar, keadaan ini harus tetap dipertahankan dan tidak boleh kendor, Kalau sedikit lena maka akibatnya akan fatal sekarang maupun kelak kemudian, untung jago-jago yang hadir semua membenci perempuan jalang ini, mereka tetap berdiri dipihaknya. Maka dia menyeringai dingin, jengeknya : „Ya, dibanding perbuatan kejimu yang licik itu, aku tetap lebih asor dari kau."

„Haha." Kui bo ngakak, „baiklah, kami ibu dan anak biar pulang saja ke Hiat-lui-kiong selanjutnya aku berjanji takkan menginjak Tionggoan lagi, bagaimana ?"

Kui-bo tabu situasi mcmojokan dirinya bertindak lunak, dia tahudirinya harus memberikan imbalan dan berkorban cukup besar maka sebelum orang mengajukan syarat dia sudah blak- blakan lebih dulu. Sudah tentu Pak to Suseng melengak dibuatnya. sebelum dia menjawab, di tengah kerumunan orang banyak seorang telah berteriak : „Jangan percya obrolan rase tua yang licin ini."

Sikap Kui bo Hun Hwi-nio tampak berubah kereng, serunya keras : „Pak-to Suseng, bagaimana pendapatmu T'

Pak-to Suseng menyeringai, katanya : „Menurut pendapatku, perbuatanmu yang terkutuk ini memang patut dihukum mampus"

Kui-bo Hun Hwi-nio keplok tangan beruntun tiga kali, serunya : .Baiklah, nenek tua ini tak mau menyerah secara percuma, hayolah siapa maju lebih dulu." Waktu Pak-to Suseng mencengkram Hun Lian dan dijadikan sandera d depan Kui-bo, orang banyak melihat jelas perobahan rona muka Kui bo. menandakan bahwa hatinya amst kaget, yakin dia ta'ckan berani bertindak, lagi, sungguh tak nyana dalam sekejap ini sikapnya telah berobah pula seperti tak tarjadi apa-apa. Pada hal Hun Lian dijadikan sandera didepan hidungnya, tapi sikapnya seperti tidak menyaksikan kejadian ini. Sambil keplok mulutnya berk&ok- kaok, mendadak tubuhnya melesat mir ng keatas. ditengah udara kedua kakinya menendang beruntun, betapa tangkas, enteng dan lincah gerakannya, terdengar "Duk, duk" dua kali, dua orang yang berdiri paling dekat telah kena tendangannya, ditengah rintihan lirih mereka, jiwa seketika melayang, namun jazadnya masih berdiri tidak bergerak. Sc-bat sekali Kui-bo Hun Hwi-nio telah ulur kedua tangannya pula mencengkram leher mereka "Krak, krak" dua kali suara pula, miang leher mereka telah dipelintirnya patah, sehingga kepalanya seperti mendadak amblas kedalam lehernya, karuan ke i taatnya disamping aneh dan mengerikan, juga seram menakutkan.

Meminjam daya tekanan Jiatas batok kepala kedua korbannya, kembali Kui-bo melambung keudara setinggi dua tombak, di e ngah udara tubuhnya bersalto beberapa kali, lalu meluncur kearah gunungan, yang dikembangkan memang Ginkang lihay, yaitu delapan belas jumpalitan ditengah mega).

Betapa cepat gerakan Kui-bo, hanya sekejap dua jiwa melayang lagi ditangan Kui-bo, begitu tubuhrya melenting miring dia meluncur keluar dari dasar empang, kecepatan gerak tubuhnya laksana hembusan angin puyuh saja, walau Pak-to Suseng membekuk

Hun Lian namun mengingat kedudukan dan gengsinya, apapun dia tidak berani membunuh Hun Lian, bahwasanya sikap Kui-bo seperti tidak ambil peduli, seolah olah tak terjadi apa-apa atas putrinya, maka Hun-Lianyang disandera tidak berguna lagi. Tampak ditengah jumpalitan tubuh Kui-bo, angin menderu laksana pusaran angin lesus, tubuh Kui-bo berputar jumpalitan membawa deru angin kencang, maka puluhan jago jago ko-scn itu segera menyongsong kedepan. Tapi gaya delapan belas kait jumpalitan ditengah mega ini tak mungkin dilatih sempurna tanpa membekal Lewekang tangguh, bila seseorang berhasil meyakinkan Ginkang ini, maka perbawanya sungguh luar biasa.

Maklum ilmu Ginkang yang satu ini dapat membuat orang meluncur kencang kedepan sambil bersalto, kecuali harus mengerahkan tenaga pernapa:an, kedua tangan juga harus memukul secara beruntun kc-bumi, meninju daya pantul pukulun telapak tanran sehingga tubuhnya terapnng tidak sampai melorot kebawah, setiap bersalto harus memukul dua kaki ketanah, maka Hoan hun ha cap-lak ciang (tiga puluh enam pukulan membalik mega) merupakan ilmu pukulan telapak tangan yang paling top didunia ini. Karena tepukan tangan yang gencar dan deras itulah sehingga jago-jago kosen yang berusaha mencegat dan menubruk maju tak mampu mendesak maju mendekati tubuh Kui bo, sehingga Kui-bo yang sudah bersalto berulang kali sambil meluncur kedepan itu sudah mendekati gunungan. Maka jago-jago kosen yang berada didasar empang berkaok-kaok mengejar keluar, namun gerakan mereka mana mampu mengejar Kui-bo?

Ada delapan belas jago silat yang berusaha mencegat aksi Kui-bo, namun semua gagal, sarupun tiada yang mampu m~nyen tuh ujung bajunya, melihat betapa lihay dan cepat permainan salto Kui bo Hun Hwi-nio meluruk kearah dirinya. Cia Ing-kiat sampai pesona dan goyah kedua lututnya, hampir saja dia terjungkal jatuh kebawah

Hanya sekejap jarak Kui-bo tinggal satu tombak dari gunungan, dua kali jumpalitan lagi orang pasti sudah menubruk tiba, maka terdengarlai jago-jago yang berjaga diatas gunungan membentak serempak, terutama be.itakat h am Siansing paling keras, di mana bayangan orang berkelebat, dia sudah mendahului memapak maju.

Tenaga pukulan Hoan - in sha-cap lak-ciang setiap pukulannya bertambah lebih kuat, maklum pukulan dilancarkan dari tengah udara, kalau tenaga pukulan tidak diperkeras, tubuh bisa melorot kebawab. maka pukulan yang bertambah kuat itu supaya tubuh meluncur secara datar. Saat mana Kui-bo sudah melontarkan tiga puluh pukulan, Ob-sam Siansing tahu betapa lihay tenaga pukulan lawan, namun kalau tidak segera memapak maju, bila Kui bo merebut naik keatas gunungan, bila Cia Ing-kiat lerbekuk oleb orang, entah derita apa yang bakal dialami berbagai pihak, maka sambil bersuit dia menerjang maju.

Betapa dahsyat tenaga Lwekang Oh sam Siansing, begitu menubruk maju dia sudah kerahkan setaker tenaganya, pada hal pukulan tiga puluh enam jurus membalik mega Kui-bo juga saatnya paling tangguh, tampak dua bayangan orang yang terapung setinggi delapan kaki saling terjang diudara, maka terjadilah ledakan keras laksana ledakan dua balon rnk asa, maka Oh saru Siansing dan Kui-bo tertolak balik dan anjlok kebawah.

Begitu kaki manyentuh bumi Oh-sam Siansing tak kuasa berdiri tegak, beruntun dia terhuyung delapan langkah, waktu mundur baru dua langkah, ada beberapa orang maju memapahnya, tapi daya mundur Oh-sam Siansing ternyata kuat sekali sehingga orang-orang yang memapahnya tak kuat berdiri an ikut terdorong jatuh terduduk, masih mending keadaan Oh-sam Siansing, orang-orang yang memapahnya itu ternyata pucat pasi, darah mengalir dari hidung dan kuping serta mulut, jelas mereka tergetar luka dalam.

Demikian juga Kui-bo Hun Hwi-nio,setelah kakinya menginjak bumi sekuatnya dia menahan badan, tapi hanya sekejap saja, menyusul dia terhuyung mundur tiga langkah. Hal ini membuktikan akhir dari adu pukulan kedua jago bangkotan ini, Kui bo berada diatas angin, sementara darah tampak merembes diujung mulut Oh-sam Siansing, jelas dia sudah terluka dalam yang cukup parah. Untung Kui-bo tidak merangsak lebih lanjut, bila ditambah sejurus serangan lagi jiwa Oh sam Siansing pasti amblas.

Sayang musuh terlalu banyak. Kui bo hanya berjuang mati- matian seorang diri, begitu dia teruiyung mundur beberapa orang sudah menyergap dari berbagai arah penyer-gap terdekat dan menyerang lebih dulu adalah dua orang kate yang bersenjata sebatang gada segi delapan.

Karena bertubuh kate dan buntak, kedua orang kembar ini menggelinding maju ke-belakang Kui bo. mendadak tubuhnya mencelat keatas sambil mengayun gada besinya, Bluk bluk" dua gada mereka dengan telak memukul tuiggung Kui bo, dari suara pukulan gadt beii itu, sehingga tubuh Kui bo tampak bergetar dan tersuruk maju beberapa langkah sambil menjerit keras mengerikan sambil menyelonong kedepan itulah tangannya meraih balik kebelalang, begitiu cepat cengkraman jari tangannya, dengan tepat kedua gada lawan berhasil ditangkapnya, me-nyusul tangannya menggencet turun kebawah kedua kate pemilik gada besi itu belum sempat membuang senjatanya, tahu-tahu Hun Hwi-nio sudah mengerahkan tenaga sehingga mereka tertekan turun ketanah.

”Bluk bluk' laksana bola raksasa ribuan kati yang jatuh dari angkasa, badan kedua orang kate ini tertekan turun menyentuh bumi sehingga tanah melesak dibagian bawah badan mereka, sementara tubuh buntak mereka seperti terbenam didalam bumi. tak mampu bergerak lagi, ternyata mereka dibanting mampus oleh Kui-bo Hun Hwi-nio.

Setelah adu pukulan dengan Oh-sam Siansing, hakikatnya Kui-bo "belum berdiri tegak tahu-tahu punggung terpukul telak oleh gada kedua kate buntak ini, namun hanya sekali raih dan tekan kedua pembokongnya ini sudah dibantingnya mampus dalam segebrak betapa hebat dan gagah perkasa tindakannya, sungguh mengerikan, saruan jago-jago kosen yan lain mengkirik nyalinya meski tahu keadaan Kui-bo Hun Hwi-nio juga pasti sudah payah, namun tampangnya yang beringas dengan tindakannya yang kejam membuat pecah nyali orang banyak.

Mendadak Kui-bo Hun Hwi-nio membalik badan, tampak kulit mukanya berkerut kedutan, kelihatannya seperti ingin tertawa besar, namun begitu dia membuka mulut yang keluar ternyata semburan darah segar. Seiring dengan semburan darah dari mulutnya, kakinya menjadi goyah hingga tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, namun sekuatnya dia bertahan mengendalikan tubuh sehingga tidak terjungkal roboh.

Karuan jago-jago kosen yang mengepungnya bersorak girang, terutama Liong – bin Siangjin tarik suara berteriak: "Kui-bo, jangan kau memaksa diri, menyerah saja."

Dengan lengan bajunya Kui-bo Hun Hwi-nio menyeka noda darah diujung mulutnya, lalu terkekeh tawa besar serunya: "Majulah bersama, sebelum nenek tua ini ajal, aku pantang menyerah." jelas dia sudah terluka dalam yang cukup parah, namun masih keras kepala.

Pak-to Suseng sudah melepas cengkraman tangannya diurat nadi Hun Lian, lekas Hun-Lian menyikir orang-orang didepannya terus mendesak maju kedepan serta memburu kearah ibunya, langsung dipeluknya. Tapi Hun Hwi-nio menjengek sengit serta mendorong pergi Hun Lian, Hun Lian tertolak mundur selangkah sambil menjerit: "Ma."

„Jangan panggil aku ibu." hardik Hun-Hwi-nio beringas sadis, "Jikalau kau masih anggap aku ibumu, tak pantas kau serahkan bumbung milikku itu kepada orang lain."

Pandai berdebatpun Hun Lian tak mampu membela diri, apalagi dalam situasi yang mendesak begini, tiada kesempatan memberi pen jelasan kepada ibunya. Terpaksa dia celingukan, lalu menatap Cia Ing kiat yang dikerumuni orang banyak, sorot matanya dilembari rasa kebencian yang keliwat batas

Terdengar seorang berteriak dianiara kerumunan orang banyak: "Memberantas kejahatan harus tuntas, kalau sekarang tidak mengganyangnya, tunggu kapan lagi?"

Seruannya ini mendapat sambutan tampik sorak sorai, enam orang segera menerobos keluar, seorang yang menerjang paling depan bergaman golek besar berpunggung tebal, dengan deru angin kencang terayun diuda.a sebelum orangnya tiba.didepan Hun Hwi-nio, ro-lok berat dan tebal itu sudah diputar sekencang kitiran, hanya sekejap bayangan tubuh berpadu dengan sinar golok terus membacok batok kepala.

Hun Lian menghardik gusar, dimana tangannja bergerak, benang merah segera meluncur keluar dari bawah menggulung keatas , Tapi benang kecil lemas itu ternyata mampu menahan bacokan golak sebesar dan seberat itu, hingga golok itu seperti tertahan oleh daya pantul tenaga besar.

Kalau serangan golok disebe ah sini tertahan sejenak, sementara lima orang yang lain sudah menubruk tiba serempak menyerang kepada Hun hwi nio.

Dikeroyok oleh empat lawan yang menyerang dirinya sereaipaK, ternyata Hun hwi nio tetap berdiri diam tak bergerak, bahwasanya bukan dia ingin bergerak melawan, namun kenyataan dia sudah tidak mampu bergerak.

Ternyata setelah adu pukulan dahsyat dengan Oh sam Siansiug, walau diapun terluka parah, tapi bila dia mendapat kesempatan setengah jam untuk bersamadi menyembuhkan diri, dengan ketangguhan Lwekangnya luka lukanya bisa sembuh dan sehat dalam sekejap mata. Sayang baru saja dia terluka dalam, punggungnya sudah dipukul gada pula oleh kedua kate kembar tadi. Walau saudara lembar katepun berhasil dibunuhnya, tapi luka dalamnya bertambah parah, jangan kata melawan, tenaga angkat tanganpun sudah tidak mampu dilakukan lagi.

Bagi pesilat ke as tinggi yang meyakinkan Lwekarg tingkat tinggi paling pantang dalam kondisi seperti yang dialami Kui- bo Hun hwi nio sekarang, apalagi tokoh selihay Kui-bo. keadaan yang payah ini seketika terlihat oleh orang banyak karena keadaan yang dialami Kui-tio sekarang adalah Jau- bwe-jip-mo hawa murni dalam tubuhnya tidak lagi berjalan normal sehingga menimbulkan kelumpuhan total disekujur badan. Kecuali terjadi suatu keajaiban, seluruh urat nadi dalam tubuhnya yang buntu berhasil dijebol sehingga hawa murni berjalan lancar kembli seperti biasa, kalau keadaan makin parah, jelas selama hidup dia akan menjadi seorang tanpa daksa.

Untunglah jago jago kosen yang mengepungnya tidak bertindak lebih jauh, dari luari kalangan meidsdak Hun Lian berteriak: ,Ma." sambil menarikan benang merah ditanganya, tiga senjata musuh berhasil disampuknya jatuh, nanun tak urung sebatang pedang masih menyelonong kedepan "Bles" ujung sedang menusuk amblas pundak kanan Kui-bo.

Betapa tangguh kepandaian Kui-bo, akhirnya juga terjungkal olen keroyokan jago-jago lihay itu, apalagi Hun Lian

. Melihat ibunya terfuka, karuan hatinya amat gugup, sedikit lena tiga jago dari Bu-tong-pay telah mencegat dan melibatnya dalam serangan gencar bingga tak sempat dia menyerbu ke sana membela ibunya

Sementara itu, jago Kocg tong-pay yang bersenjata pedang setelah menusuk luka pun-dak Kui-bo, pedangnya kini menyerang pula menusuk keulu hatinya. Untunglah pada saat itu karena lemah dan lunglai Kui bo meloso jatuh terduduk sehingga tusukan pedang itu menceng, namun ahli pedang ini juga seorang lihay, mendadak pedangnya bergetar turun serta meringis miring kepinggir jelas kali ini Kui-bo takkan mampu menyelamatkan diri pula, lehernya terancam babatan pedang lawan.

Untunglah disaat gawat itu, mendadak kumandang paduan suara orang holobis kun-tul baris yang mendatangi dengan cepat, bukan saja cepat suara holobis kuntul baris itupun keras dan berisi sehingga jago-jago silat yang lagi bersitegang leher itu melengak kaget dan heran, menyusul sebuah lengking suitan panjang bergema mengalun tinggi memekak telinga, maka tampak delapan lelaki memikul tandu sedang berlari kencang bagai terbang. Begitu dekat delapan pemikul tandu itu beriompat serempak keudara, disaat tandu terapung itulah. dari dalam tandu mendadak melesat bayangan seorang menukik turun kebawah, begitu cepat gerakan orang ini, sebelum orang banyak melihat jelas, orang itu sudah hinggap disamping Kui-bo serta ulur Sebelah tangannya, dengan telak dia menjepit ujung pedang jago Kong-tong-pay yang membabat leher Kui bo, ,.Ampunilah dia." lenyap suaranya tandu itu pun sudah meluncur turun di tengah arena. Tepat sekali tubuh Kui bo ternyata terkurung di dalam tandu, betapa cepat, cekatan dan tepat gerak gerik delapan orang ini, sungguh menakjupkan sekali.

Melihat tandu besar ini muncul, orang banyak sudah tahu yang datang adalah Liong bun Pantcu. Tapi sejauh ini belum pernah ada orang melihat jelas bagaimana tampang Liong bun Pangcu sesungguhnya, kini mereka melihat penolong Kui-bo yang menjepit pe dang jago Kong-tong-pay itu ternyata adalah seorang laki-laki tinggi besar berkulit putih bola mata biru, hidung besar seperti betet. rambutnya merah, demikian pula bulu badannya juga merah emas. kapan jago-jago silat yang hadir pernah melihac tampang manusia seaneh ini, karuan semua menyurut kaget sambil terbeliak heran.

Jago Kong-tong-pay yang menyerang Kui-bo dengan pedang itu adalah Lu Gun-pui Lulo enghiong yang bertempat tinggal di kota Kilin dalam wilayah Sioatang sebagai ahli pedang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan, tapi begitu anjlok turun Liong bun Pangcu berhasil menjepit ujing pedangnya, Lu Gun-pui sudah kerahkan se-taker tenaga menarik pedang, tapi lawan tetap berdiri santai seperti tidak mengerahkan tenaga sedikitpun, namun jago pedang ini tak berhasil malah selebar mukanya merah padam. Untunglah sebelum dia kerahkan sisa tenaganya menarik lagi, Liong-bun Pangcu sudah melepas jepitan tangannya sambil mendorong ujung pedang, katanya : „Simpanlah pedangmu."

Karuan Lu Ban-pul melengak dan terbelalak, bagi orang lain yang menyaksikan tampak Liong bun Pangcu hanya me dorong perlahan ujung pedang yang dijepit kedua jarinya, pada hal Lu Gun-pui masih kerahkan tenaga meski tidak sekuatnya menarik pedang, seketika dia rasakan segulung tenaga besar menerjang dirinya, untunglah hanya tenaga ltnaic, meski dia terhuyung tapi tidak, sampai terjungkal jatuh, namun sebagai jago kosen dia insyaf bahwa lawan menaruh belas-, kasihan kepada dirinya, kalau orang bermaksud kej , kalau tidak mampus oleh getaran tenaga lawan, tentu dirinya sudah terluka dalam yang parah.

Apapun Lu Gun-pui adalah jago kawak-an yang berpengalaman luas, mengingat dtrl sendiri tidak kecundang, pada hal sekian banyak jago yang hadir, hanya dirinya saja yang mampu mulukai Kui-bo, hal ini rasanya patut dibanggakan, mata sambil ngakak segera dia mundur seraya menyarungkan pedang.

Liong-bun Pangcu menjura keempat penjuru, serunya : ”Cayhe Liong-bun Pangcu datang dan laut kutub utara." lalu dia menuding ke arah tandu serta menyambung : „Kui bo Hun Hwi nio sudah Jay-hwe- jip-mohon kalian tidak mendesak dan mempersulit dirinya lagi ?" 

Delapan pemikul tandu segera siap memikul tandu pula Dalam pada itu Oh sam Siansing masih bersemadi menyembuhkan luka dalam, tiga jago kosen bersimpuh dibelakangnya. setiap Orang ulur telapak tangannya mendempel pinggang pinggir, punggung dan dada, agaknya mereka sedang bantu menyembuhkan luka-lukanya dengan menyalurkan teniga murni kedalam tubuh On sam Siansing. Maka pandangan para jago tertuju k arah Pak-to Suseng.

Dengan dingin Pak to Suseng berkata : „Belum pernah kami dengar bahwa Liong bun-pang berserikat atau punya hubungan apapun dengan Hiat-Iui-kiong bukan?" sindiran yang lihay, secara tidak langsung dia tanya berdasar apa dia berani turut campur dan menolong Kui-bo.

Sekilas Liong-bong Panecu meiirik Hui Lian yang berdiri disamping sambil menunduk, tubuhnya tampak gemetar, maka bola, matanya yang biru itu seketika memancar terang, katanya: „Aku adalah sahabat baik nona Hun, kumohon kalian sudi membebaskan ibunya."

Berkerut alis Pak-to Suseng, sudah tentu dia tahu bahwa Kui-bo Hun Hwi nio memang sudah lumpuh karena tidak mampu menangkis atau balas menyerang, untuk selanjutnya jelas tidak akan mampu berbuat jahat lagi, kejadian masa lalu biarlah anggap selesai sampai di sini. sebagai orang yang terpandang d antara sekian jago jago yang hadir, yakin dirinya dapat mengambil keputusan mutlak, sekaligus mengulur tali persahabatan dengan Liong-bun Pangcu

Disaat Pak-to Suseng menepekur itulah, mendadak didengarnya Cia Jng-kiat berteriak: „Tidak boleh, Kui bo yang laknat itu harus dimampuskau, demikian pula marusia bulu emas inipun jangan dibiarkan pergi."

Padahal kungfu setiap hadirin semua lebih tinggi dari Cia Ing-kiat, meski mereka tidak pandang sebelah mata padanya, namun mendengar teriakannya, serempak menoleh kesana Tapi otak Oa Ing-kiat cukup cerdik dia tahu bahwa seruannya tidak diindahkan, karuan hatinya tambah geram, segera dengan kedua tangan dia angkat bumbung kumbang diatas kepala serunya pula dengan beringas: „Siapa tidak tunduk kepadaku, biarlah jiwanya melayang.”

Melihat bumbung kumbang ditangan Cia log-kiat itu, baru hadirin terbelalak kaget dan menggeram gusar. Liong.bin Siangjin tak jauh didepan Cia Ing-kiat segera dia mem- bentak:„Jangan petingkah." sebat sekail sebelah tangannya terulur mencengkram ke urat nadi pergelangan tangan Cia Ing kiat, sec ra tidak terduga dia hendak merampas bumbung kumbang ditangan Cia Ing-kiat, Tapi Cia Ing kiat tahu diri. kepandaiannya rendah, tidak gampang mengendalikan jago- jago kosen sebanyak ini, maka dia sudah mempersiapkan diri, setelah berteriak tadi, segera dia menggeser kaki pindah kedudukan, karuan cengkraman Liong-bin Siang jin mengenai tempat kosong tangkas sekali Cia Ing-kiat sudah menyingkir setombak jauhnya, lalu berteriak pula lebih beringas:”Siapa berani mendekati aku biar kubuka tutup bumbung ini”, otot hijau dijidatnya tampak merongkol keluar, tampang nya tampak seram dan buas. orang banyak tahu bahwa ancaman bukan main-main, karuan hadirin beradu pandang tanpa bergerak tiada yang berani bertindak.

Pak to Suseng maju beberapa langkah katanya:,,Cia-sau- cengcu. Kau bantu- kami membebaskan bencana besar ini, kita amat berterima kasih kepadamu, lekas serahkan bumbung itu kepadaku, kami pasti menepati janji itu kepadamu."

„Jangan cerewet.'" sentak Cia Ing-kiat, "dalam waktu setengah jam. kalian harus bunuh mahluk merah ini."

Karuan Pak to Suseng tertegun, dilihatnya jari jari Cia Ing kiat sudah bergerak membuka sumbat bumbung bambu hijau itu. meski hanya sekejap sumbat bumbung itu ditutupkan kembali, namun terdengarlah dua suara mendegung terbang diudara, ternyata ada dua ekor kumbang beracun sempat lolos dari dalam bumbung terbang diudara. Jago jago kosen itu seluruhnya sudah terkena ulat beracun, waktu di Hiat lui kiong tempo hari mereka jugi sudan saksikan sendiri betapa mengerikan akibat seorang yang terkena sengat kumbang beracun ini. Begitu melihat dua ekor kumbang lolos terbang, karuan semua berteriak kaget dan berobah air mukanya, seperti menghadapi duniak amat layaknya' yang berpikir jernih beramal me-lompat menyingkir, tapi ada pula yang terpesona dilemparnya tanpa bergerak.

Baru saji Cia Ing kiat merasa senang dan puas, mendadak didengarnya suara hardikan nyaring, tampak Hui Lian melompat tinggi keudara, berbareng benang merah di tangannya berputar melingkar diudura, dengan iecutan yang tepak dan linay "Tar, tar*' dua kail, kumbang yang lagi terbang satu lingkar itu berhasil dipukulnya mampus dengan benang merah.

Kedua kumbang tadi sudah terbang di-atas kepala dua jago, jaraknya tinggal dua kaki saja, untunglah Hun Lian bertindak cepat, bila kedua kumbang hitam itu terpukul jatuh didepan kaki kedua jago kosen itu, tampak tubuh mereka menggigil, keringat gemerobios, muka pucat.

Agaknya tindakan Hun Lian diluar dugaan Cia Ing kiat melihat kedua ekor kumbang itn terpukul mampus, sesaat dia melengong, maka didengarnya Pak-to Suseng dan Liong-bun Siangjin berseru bersama: "Cia sau ceng-cu, persoalan bisa dirundingkan, harap kau tidak bertindak semberono."

Maklum meski hanya dua ekor kumbang, tapi jiwa semua jago yang hadir boleh di kata terancam elmaut meski Hun Lian berhasil menyelamatkan jiwa mereka.tapi bila Cia lng-kiat naik pitam dan nekad melepas seluruh kumbang yang berada dida ain bambu itu, kalau dua ekor masih berhasil dibnnuh oleh benang merah Hun Lian, kalau jumlahnya banyak, jelas orang banyakpun sukar memberantasnya dalam waktu singkat, beberapa jiwa pasti berkorban. Apa yang diteriakan Pak-to Suseng dan Liong-bin Siangjin juga terpikir dalam benak orang banyak, namun perasaan mereka tidak setenang kedua orang ini, sehingga tak kuasa bersuara.

Melihat Hun Lian membunuh kedua kumbang beracun itu. disamping kaget, Cia Ing-kiat juga amat gusar, mendengar teriakan Pak-to Suseng dan Liong bun Siangjin lagi, dia tahu orang banyak masih jeri kepadanya, baru saja dia buka mulut, mendadak didengarnya. Hun Lian menghardik sekali lagi, bayangan berkelebat- sementara benang merah juga melingkar-lingkar diudara menungkrup kepalanya.

Benang merah Hun Lian pernah putns hampir separo waktu berkelahi melawan Lui-Ang-ing di Hiat-lui kiong tempo hari, tapi panjangnya masih ada setombak lebih, memangnya mahir bermain laso. Maka permainan benang merah Hun Lian juga amat menak-jupkan. gemuruh deru anginnya membingungkan Cia Ing kiat, seperti sebuah payung merah terbang dia as kepalanya dan hampir menindih dirinya.

Mendadak Cia Ing-kiat berteriak aneh, sambil menarik napas mengerahkan hawa murni, mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya jungkir balik kebelakang, tapi disaat tubuhnya terapung itulah "Cret" benang merah Hun Lian mendadak telah membelit perge-langan tangannya.

Tenaga yang digunakan Hun Lian diujung benang masnya lunak dan kuat begitu pergelangan tangan te lilit benang merah, kontan Cia Ing-kiat rasakan seluruh lengannya lemas lunglai, tanpa kuasa kelima jarinya membuka hingga kumbang yang dipegangnya terlepas dari pegangan dan jatuh ketanah. kembari hadirin menjerit kaget dan kuatir. Untunglah gerak- gerik Hun Lian sebat luar biasa, baru saja bumbung itu melayang jatuh, tubuhnya yang masih terapung diudara mendadak anjlok kebawah seraya menyendal pergelangan ujung benang merahnya selincan ular sakti mendadak melepas lilitan diperga-langan tangan Cia Ing-kiat terus menyambar, tubub dan melilit bumbung itu, kembali dia menyendal tangan maka bumbung itu mencelat naik keatas, sekali raih dia berhasil menangkapnya.

Sudah tentu gusar dan penasaran Cia Ing-kiat bukan kepalang, bahwa Hun Lian merampas bumbung itu dari tangannya, sekaligus juga merampas segala harapannya pula, sekilas terbayang olehnya waktu dirinya berhasil mengambil Po-tiok-pit-kip dari tembok benteng Kim-hou po dulu. buku ajaran silat itupun terampas oleh benang merah yang dilakukan oleh Hun Lian, dendam lama bertambah sakit hati didepan mata, karuan amarah Cia Ing-kiat tak terbendung lagi, lekas dia melompat mundur lalu berdiri di atas gunungan.

Dalam pada itu, setelah memegang bumbung, tubuh Hun Lian masih terapung di udara dan sedang melayang turun. Mendadak Cia Ing-kiat memekik panjang, dua kakinya memancal. tubuhnya lantas menerkam turun, di tengah udara dia mencabut sebilah golok pendek langsung menusuk dada Hun Lian. Maksud tujuan Cia Ing kiat saat itu boleh dikata teramat jahat dan keji dia tau, kungfu sendiri bukan tandingan Hun Lian. maka dia nekad menyerang secara membabi buta dengan harapan Hun Lian akan ayun cambuknya menghajar dirinya yang masih terapung diudara. Sudah terteka dalam perhitungannya, bila Hun Lian balas menyerang, bambu yang terbelit diujung benang cambuk merah itu pasti akan jatuh, itu berarti bumbung itu akan pecah beramatan, sementara ratusan kumbang beracun yang terisi dida lin bumbung akan terbang bebas, jago kosen sebanyak ini seluruhnya akan terenggut jiwanya.

Bila pikiran manusia dihinggapi maksud jahat, maka mimik wajahnya akan berobah beringas dan seram. Demikianlah keadaan Cia Ing-kiat saat ini. Tindakannya ini di luar dugaan oiang banyak, gerakannya tangkas dan cepat lagi apalagi orang banyak tadi melompat mundur agak jauh, untuk mencegah perbuatan Cia Ing kiat tak keburu lagi Sementara Hun Lian sedang melorot turun, tampak sinar putih berkelebat meny rang dada, karuan dia berteriak ngeri : ”Tolong aku.”

Sebat sekali dia membalik tangan, maka bumbung diujung benang cambuknya tersendal terbang kedepan, menyusul ujung cambuknya terayun pula kedepan dengan lingkaran yang membulat sehingga golok pendek Cia Ing-kiat tergulung benang dan tersendal lepas dari pegangan.

Langkah Hun Lian jelas diluar dugaan Cia Ing-kiat, namun daya luncur tusukannya memang keras sekali, meski golok pendek tergulung lepas oleh benang cambuk lawan, namun Ing-kiat sudah tak kuasa mengendalikan luncuran tubuhnya lagi, lekas dia menepuk balik dengan telapak tangan, namun sebelum tepukan telapak tangan mengenai sasaran, ujung benang cambuk Hun Lian sudah menghajar punggungnya, "Tar" sakitnya bukan main hingga Ing-kiat menggembor keras. Pada saat itulah didengarnya suitan keras panjang, bayangan merah berkelebat dan jumpalitan turun hinggap dita-nah, tampak tangannya sudah memegang bumbung kumbang itu, siapa lagi kalau bukan Liong-bun Pangcu.

Jarak Liong-bun Pangcu memang paling dekat, mendengar teriakan Hun Lian, melihat bumbung itu melesat terbang lagi, maka Liong-bun Pangcu segera bertindak, satu kaki

Sebelum bumbung itu membentur gunungan, Liong bun Pangcu keburu ulur tangan menangkapnya, sekali jumpalitan pula dia sudah melompat balik ketempat semula.

Segala perobahan terjadi dalam waktu singkat dan tak terduga, karuan orang banyak berdiri menjublek dengan lemas.

Tubrukan Cia Ing-kiat tadi jelas bermaksud adu jiwa. dua kali permainan cambuk Hun Lian lupa bukan pertunjukan yang menakjubkan, namun karena bumbung kum-bang itulah sehingga seluruh hadirin berdiri pesona dan tegang, perasaan mereka seperti bergantung diudara dan sembarang waktu, bisa terjungkal mampus saja, setelah bumbung itu jatuh ditangan Liong-bun Pangcu baru mereka menghela napas lega. Tapi rasa lega inipun hanya sekejap saja karena mereka insaf, dari pada ditangan Liong-bun Pang cu yang lihay dan tangguh, lebih baik bumbung itu tetap berada ditangan Cia Ing-kiat yang lugu. cetek pengalaman dan rendah kepandaiannya, lalu siapa diantara jago - jago yang badir mampu merebut bumbung itu dari tangan Liong bun Pangcu? Mengingat keselamatan jiwa mereka masih terancam juga maka jantung mereka dag dig dug tidak tentram, namun suasana justru sepi lengang.

Hun Lian juga insaf betapa genting situasi yang dihadapinya ini, bila salah langkah bencana besar bakal menimpa seluruh insan persilatan umumnya, maka sekuatnya dia tenangkan diri, katanya : „Pangcu, bumbung kumbang yang mengancam jiwa orang ini tolong di hancurkan saja."

Liong bun Pangcu melengak, katanya : ” Bumbung ini dapat membantu kau, seluruh jago-jago silat yang hadir di sini akan tunduk oleh perintahmu, kau tega memusnahkan bumbung ini”

Hun Lian tertawa ewa. katanya : ,,Siapa ingin menguasai mereka?'

”Bagus' spontan Liong bun Pangeu berseru memuji. Mendadak dia membanting kaki kanan , Duk , bila dia angkat pula kaki kanannya, tanah di mana barusan kakinya menginjak telah berlobang sedalam satu kaki lebih, segera dia lempar bumbung di tangannya kedalam lobang, dengan ujung kaki lalu dia menguruk lobang itu dengan batu dan tanah, lalu diinjak injak serta diratakannya.

Baru sekarang orang banyak menghela napas lega. separo diantaranya sudah mandi keringat saking tegang. Bila angin pegunungan menghembus lalu, baru mereka sadar karena kedinginan. Dibawah pimpinan Pak to Suseng, beberapa jago kosen segera menimbun" mau kearah Hun Lian serta menjura kepadanya, kaianva : .Nona Hun, budi kebaikanmu takkan kami lupakan selama hidup."

Hun Lian tersipu-sipu, katanya : ”Mohon kalian tidak: mempersulit ibuku saja.'

Liong bin Siangjin menghela napas, ujarnya : „Permusuhan ini sudah tentu tuntas sampai di sini. Nona Hun. bila kelak kau me-merlukan bantuan kami, tolong beri kabar Saja." sebetulnya ucapan Liong bin Siangjin hanya basa basi belaka, maklum dalam keadaan seperti itu adalah logis kalau dia menyampaikan pernyataan itu sebagai tanda terima kasih.

Tak nyana Liong bun Pangdu yang berada d sebelahnya justru serius, katanya keras: „Bila nona Hun ingin bantuan orang lain, sudah jelas akulah yang akan melakukan."

Dalam waktu singkat orang banyak tidak tahu apa maksud perkataan Liong bun Pangcu, semua menatapnya dengan heran. Tampak Liong-bun Pangcu membalik setengah badan, pertama .dia menegakkan badan lalu menekuk pinggang membungkuk sembilan puluh derajat sambil meltntangan tangan didepan dada lalu diturunkan keluar, bila dia berdiri tegak pula sebelan tangannya sudah menggandeng lengan Hun Lian.

Sudah tentu orang banyak tidak tahu cara penghormatan sesuai adat orang barat, semua memandang tergolong dan berkecek mulut, sementara Hun Lian menunduk malu dengan muka jengah, namun orang banyak tahu betapa lega, riang dan senang hatinya.

Sambil menggandeng lengan Hun Lian. Liong bun Pangcu maju beberapa langkah lalu mengulap tangan, delapan pemikul tandu serempak bergerak maju kedepan, tetap meng gandeng lengan Hun Lian, Liong-bun Pangcu bergerak disebelah belakang, hanya sekejab bayangan mereka sudah lenyap diluar benteng. Perlahan Cia Ing-kiat meronta berdiri, semula dia kira orang banyak akan menghajar dirinya, dengan rasa kaget, gusar dan takut dia mengawasi orang-orang di sekitarnya tubuhnya tampak menggigil.

Diluar dugaan orang banyak tiada yang menghiraukan diri, seolah olah mereka tidak melihat kehadiran dirinya ditengah mereka, setelah hati merasa lega, ramailah percakapan mereka, sesama teman ngobrol serta beranjak pergi dengan bergandeng tangan, ada juga yang lewat didepan Cia Ing-kiat, mereka hanya melirik dengan pandangan hina, karuan malu dan dongkol Cia Ing-kiat bukan main, kalau ada lobang mungkin dia sudah lari sembunyi, hanya sekejap jago jago kosen itu sudah meninggalkan Kim-hou po.

Cia Ing-kiat masih terlongong sekian lamanya, keringat membasahi sekujur badan sesaat !agi baru dia mendengar seruan Bu-bing Siansing dari bawah kaca kristal : „Apa kah orang-orang itu sudah pergi?"

Sekilas Cia Ing-kiat melirik kebawah serta menegakkan badan tanpa bersuara, maka Bu-bing Siansing berkata pula ' ”Keluar kan kami, kalau kau ingin mengusai Kim-hou po, akan kuserahkan benteng ini kepadamu, bagaimana?"

Bergetar badan Cia Ing-kiat mendengar tawaran ini, didengarnya Bu-bing Siansing berkata pula : „Seluruh penghnni Kim-hou-po pergi secara tergesa-gesa, pasti tidak sedikit harta benda yang masih ketinggalan, kau hanya kerja sambil lalu saja, hasilnyapnn besar, kenapa tidak lekas kau lakukan permintaanku?"

Perlahan Cia Ing-kiat mendekati pinggir empang la!u melongok kebewah, dilihatnya Bu-bing Siansing sedang mendongak kearas di bawah kaca kristal, Cia Ing-kiat hanya tersenyum getir, maklum dia tahu kepandaian sendiri rendah, Lwekang masih cetek, umpama bersuara juga takkan terdengar dari bawah, maka dia hanya menjawab dengan gerakan tangan. Agaknya Bu-bing Siansing tahu maksudnya, segera dia berkata : „Masuklah dari pintu kecil yang terletak ditembok benteng sebelah barat, geserlah meja bundar kekanan lelu tarik kebelakang, mulut lorong akan terbuka dibawah dipan, masuklah kedalam lorong itu sejauh dua puluh tombak kau akan dihadang dua daon pintu besar dan tebal, di atas pinru dipasang palang balok besar, cukup asal kau turunkan palang pintu itu, kami akan bisa keluar.'

Cia Ing hiat manggut - manggut tanda mengerti, namun dia masih berdiri menjublek sekian lamanya, baru perlahan membalik badan, langkahnya lambat dan lemas tak bersemangat.

Keadaan dalam benteng sudah cukup apal bagi Cia Ing-kiat yang pernah menetap beberapa hari di Kim hou-po, kedatangannya tempo hari dengan semangat besar demi memikul tugas rahasia yang dibebankan kepada dirinya oleh sang ayah, kedatangannya menempuh bahaya, kalau tempo hari keadaan dalam benteng dalam suasana hening tenang, demikian pula sekarang cuma bedanya sekarang hanya dirinya seorang, maka sukar dia melukiskan bagaimana perasaan hatinya. Rencana semalam yang muluk-muluk ternyata gagal total, untung jago-jago kosen itu anggap sepele dirinya, kalau tidak tentu dirinya sudah diganyang dan dihajar habis habisan Sekarang dia masih hidup tanpa kurang suatu apa namun dipandang dan dilirik sehina itu, sungguh hatinya meidelu dan sedih.

Meski perlahan namun akhirnya dia tiba didepan pintu yang ditunjuk oleh Bu-bing Siansing, dia bekerja sesuai petunjuk, setelah memasuki lorong gelap, dia memang dihadang sepasang pintu marmer besar dan tebal, pintu marmer yang dihiasi ukiran emas ini memang dipalang sebuah balik besar, tak heran dengan kemampuan Bu bing Siansing yang luar biasa tak mampu menjebol pintu berat ini serta lolos keluar. Agaknya Ba-bing Siansing sudnh tak sabar menunggu dibelakang pintu, begitu mendengar langkah kakinya segera berterink dari dalam: „Betul tidak dipalang pintu besar? Apa kau kuat menurunkannya?”

Perlahan Cia Ing-kiat mendekat serta berkata kalem : „Ya, akan kucoba," dengan kedua tangan dia kerahkan seluruh tenaga mengankat ujung sebelah palang pintu itu, ditengah bentakannya yang bergema d dalam lorong, balok besar itu hanya terangkat setengah lalu jatuh dltempatnya pula hingga mengeluarkan suara gemuruh, percobaan Cia Ing-kiat yang pertama ternyata gagal, diluar dugaannya, balok kayu besi ini ternyata berat luar biasa, maka dia beristirahat sejenak menentramkan napas sambil menghimpun tenaga, setelah yakin tenaganya terkerahkan dia berjongkok pasang kuda- kuda, kedua tangan menyanggah keatas, kembali dia membentak sambil mendorong keatas, begitu palang pintu terangkat dia menggeser langkah lalu melompat pergi, maka palang pintu besar itupun jatuh menggelegar menimbulkan getaran dahsyat di dalam lorong, mendadadak Cia Ing-kiat bergelak tawa.

Ditengah gelak tawa Cia Ing-kiat itulah perlahan daon pintu besar itu tedorong terbuka, Bu-bing Siansing melangkah keluar bersama Lui Ang-ing, Cia Ing-kiat masih terus ber gelak tawa sambil melangkah pergi.

Bu-bing Siansing memburu maju seraya berseru : , Kau sudah menolong kami keluar, kecuali Kim hou-po, imbalan apa pula yang masih kau inginkan, boleh kau katakan saja”

Cia Ing-kiat berhenti sambil membalik perlahan, tawanya berhenti, sejenak dia menatap kedua orang ini, lalu berkata :

„Apapun tidak kuinginkan”

Berkerut alis Lui Ang-ing, katanya : .Jangan sungkan, katakan aaja apa kehendak mu ” Cia Ing kiat membusung dada serta angkat kepala, katanya

: „Lui-sau-pocu, sebagai pemilik benteng ini, pasti kau masih ingat bagaimana keadaan di Kim hoj-po tempo hari? Seluruh penghuni benteng ini hidup dalam suasana tenang tentram, tiada hasrat atau punya keinginan, hidup bersahaja dalam keheningan, begitulah keadaanku, sekarang, aku ingin hidup seperti mereka dulu."

Lui Ang mg melengak, katanya : ,,Apa kau masih ingin kelana di Kangouw ..."

Belum habis Lui Ang-ing bicara, Cia ing-kiat sudah mengulap tangan, katanya : „Tidak, jikalau ada orang ingin membalas kepadaku, sejak tadi aku sudah mampus ditangan mereka." lalu dia melangkah keluar benteng.

Bila Lui Ang-ing dan Bu-bing Siansing juga beranjak keluar dari Kim-hou-po, hari sudah menjelang magrib, tampak Cia Ing-kiat masih berdiri diianah tandus dikejauhan sana, berdiri kaku melamun ditelan tabir malam.

Sejak peristiwa itu, Kim-pou po akan terbuka untuk umum, siapa pun boleh keluar masuk secara bebas, namun sikap Cia Ing-kiat, justru mendambakan kehidupan yang tentram seperti orang orang yang terbelenggu didalam Kim-hou-po, apa yang terjadi di-dunia ini, seolah-olah sudah tiada sangkut pautnya dengan dirinya lagi.

TAMAT