Tugas Rahasia Jilid 11

Jilid 11

Waktu Cia Ing kiat dipaksa ikut orang aneh pergi ke Hiat- lui-kiong, hakikatnya belum pernah melihat dan tidak tahu orang macam apa sebetulnya Hun Lian calon isteri nya, apalagi gara-gara Kui-bo mengutus orang menculik dirinya untuk dikawinkan dengan putrinya sehingga ayahnya meninggal dunia, maka timbul rasa dendam dan kurang senang terhadap Kui-bo, namun sete'ah menyaksikan sendiri Hun Lian adalah gadis jelita, hatinya betul-betul kepincut dan selama inipun selalu kasmaran, kini berhadapan langsung, dia sudah anggap dirinya sebagai calon suami Hun Lian, namun walau tutur kata Hun Lian lemah lembut dan ramah, namun nadanya penuh tegoran, karuan mulutnya bungkam. Setelah melongo sekian saat baru dia berkata pula : „Kejadian . . . sudah lewat, buat apa disinggung Iagi ?"

Hun Lian angkat kepala, sepasang matanya menatap tajam wajah Cia Ing kiat, bati nya ruwet pikiran kalut, akhirnya dia ber-keputusan, katanya perlahan : „Ya, betul, bagiku persoalan ini juga sudah lalu. Tidak perlu dibicarakan lagi “

Cia Ing-kiat melonjak kaget, segera dia paham apa maksud perkataan Hun Lian, sesaat hatinya kaget dan gusar, berhadapan dengan nona secantik ini sungguh dia ingin bicara ramah dan sopan, namun sebagai seorang laki-laki Sejati, dia punya harga diri, malu untuk memohon cinta kepada seorang perempuan, maka dia bergelak tawa, katanya : „Syukurlah kalau begitu. Semula kau yang meminangku, kenapa sekarang berobah begini,"

Hun Lian menghela napas, katanya: „Jika kau lidak menyalahkan undakanku, aku rela melakukan sesuatu untukmu demi menebus kesalahanku."

Bukan kepalang gusar Cia Ing-kiat, katanya sambil menjura: ..Terima kasih akan kebaikanmu noua Hun. kukira tidak usahlab." perkataannya bernada menyindir, umpama orang pikun juga akan tertusuk perasaannya, seketika pucat dan hijau wajah Hun Lian, saking gregetan tak labu apa yang harus dilakukan, padahal tadi dia bicara setulushati.

Cia Ing-kiat melengos sambil mendongak lalu terkekeh dingin, sudab tentu tidakk karuan perasean Hun Lian, perlahan dia membalik badan. Cia Ing kiat tabn bahwa Hun Lian membelakangi dirinya juga, maka persoalan mereka boleh terhitung putus dan berakhir sampai di sini, tiada kompromi lagi tentang perjodohan merekr

Dalam hal ini Cia Ing-kiat dipihak yang dirugikan, hatinya amat gusar dan penasaran karena merasa dipermainkan dan dihinai hingga membaralah rasa gusar dironggadada namun dia juga tahu semua ini terjadi lantaran kungfu sendiri yang tidak becus, jikalau Ilmu silatnya tinggi, pasti tidak akan terjadi hal hal yang memalukan dan mengenaskan ini.

Disamping gusar rasa benci menjalari hatinya pula, mendadak dia membalik, dilihatnya Hun Lian sudah tiba didepan pintu kesempatan baik ini sebetulnya pantang diabaikan untuk turun tangan, namun Cia Ing-kiat juga tahu, kungfu Hun Lian jauh diatas dirinya, bila sergapannya gagal, jiwa sendiri pasti celaka.

Diambang pintu Hun Lian berhenti lalu berkata: ”Bagaimana juga, bila kau ada urus an, aku pasti bantn kau menyelesaikan." Cia Ing-kiat hanya menyeringai dingin, nada tawanya runcing.

Seperti ngeri mendengar jengek dingin Cia Ing-kiat, lekas Hun Lian merapalkan pintu, dibalik pintu dia berdiri memejam mata sambil menahan gejolak perasaannya.

Sesaat lagi mendadak didengarnya suara gedobrakan dibalik pintu, agaknya saking malu dan gusar Cia Ing-kiat mengamuk merusak prabot, memangnya pikiran sendiri juga kalut, maka dia tidak pikirkan kenapa Cia Ing-kiat tidak memburunya keluar. Lama dia berdiri sambil menunduk, waktu kakinya bergerak sambil angkat kepala, maka dilihat nya Liong-bun Pangcu sudah ba diri tak jauh didepannya, terasa sepasang bola mata yang biru laut tengah menatap dirinya, seperti sudah meroboh isi hatinya, seketika jengan selebar mukanya, lekas dia menunduk pula.

Didengarnya Liong-bun Pangcu berkata lembut : „Jangan bersedih, putusanmn memang betul."

Bergetar badan Hun Lian. tanyanya ”Kau sudah tahu?''

Liong-bun Pangcu tertawa rikuh, katanya! ”Suara Cia-ciau cen Cu sekeras itu sudah tentu kudengar seluruhnya.”

Hun Lian menghela napas Sambil tunduk kepala, dirasakan Liong bun Pangcu mendekati dirinya. Waktu dia angkat kepala pula Long-bun Pangcu Sudah berada didepan matanya, jantungnya berdebar lebih keras, didengarnya Liong-bun Pangcu berkata:”Kenapa kau berani ambil putusan demikian?"

Tanpa sadar Hun Lian geleng kepala, dia tidak bi8a menjawab, hatinya bingung walau dia perempuan Biau yang tidak terlalu kukuh akan adat kuno tapi sebagai seorang perempuan malu juga mengorek isi hati seri diri kepada orang luar, setelah mematung sekian saat- baru dia berkata:”Tidak, “, apa-apa tolong antara aku keluar?" Liong-bun Pangcu mengangguk, katanya; „Boleh saja,"

Hun Lian ingjn menyingkir dari tatapan Liong-bun Pangcu, tapi setiap dia angkat kepala bola mata biru itu selalu menatap tubuhnya sehingga jantungnya berdenyut lebih keras, terpaksa dia jalan sambil menunduk.

Liong-bun Pangcu berjalan diisisinya, lorong itu sebetulnya tidak begitu panjang, tapi Hun Lian merasa terlalu lama tak sampai di-ujungnya juga, perasaan seorang gadis amat tajam, dari sorot pandangan Liong-bun Pangcu, dia seperti sudah meraba apa yang dipikirkan dan lantaran dia sudah meraba maksud orang maka jantungnya berdetak lebih keras.

Setiba dimulut lorong baru Hun Lian berhenti, Liongbun Pan cu juga berdiri serta berhadapan, katanya: 'Nona Hun, aku datang dari laksaan li jauhnya, suksesku yang terbesar akan aku berkenalan dengan engkau."

Hun Lian makin resah tak tahu bagaimana menjawab, pada saat itulah Liongbun Pangcu ulur tangannya memegang tangan Hun Lian, seketika menggigit tubuh Hun Lian, namun Liong bu n Pangcu hanya pegang perlahan saja lalu lepas pula pegangannya, senyumannya mengandung permohonan maaf. Di-saat Hun Lian masih berdiri linglung. Liongbun Pangcu sudah melangkah lebar, terpaksa Hun Lian mengikuti dibelakang.

Cukup lama mereka berjalan pula menyusuri lorong yang lain, akhirnya Hun Lian tidak tahan kesepian, tanyanya: "Tempat apakah disini?"

Liongbun Pangcu berhenti. lalu menjelaskan: 'Konon dulu adalah kuburan seorang raja, sampai sekarang sudah ribuan tahun lamanya. Semula kuburan kuno ini ada tujuh pintu keluar masuk, enam yang lain sudah ditutup jadi tinggal satu saja, di sini banyak perangkap dan jebakan, seluruhnya dijaga dan diawasi tujuh jago kosen dari Liong bun pan kami."

„Buat apa jelaskan hal ini kepadaku?" tanya Hun Lian- Liong bun Pangcu tertawa, katarma: "A-ku kuatir setelah ibumu berhasil menduduki Kim hou-po, lalu meluruk kepadaku, maka ingin aku minta bantuanmu supaya menyampaikan kepada ibumu kalau dia punya maksud demikian, lebih baik batalkan saja, kalau keras kepala, dia tidak akan memperoleh hasil apa-apa."

Hambar hati Hun Lian mendengar keterangan Liong-bun Pangcu, katanya setelah ter-longong sejenak: "Jadi itulah tujuanmu kau bawa aku kemari?" Entah kenapa mendadak hatinya menjadi sedih, merasa dikibulin, hampir saja dia mencucurkan air mata, tapi sekuatnya dia tahan supaya air matanya tidak menetes keluar.

Liong-bun Pangcu melengak, lalu menghela napas, katanya: "Semula memang demikian maksudku, tapi sekarang

....... sekarang.........aku justru.   "

Melonjak pula jantung Hun Lian, diam-diam dia melirik dan perhatikan sikap Liong-bun Pangcu. tampak orang menggosok kedua tetarak tangan seperti ingin melimpahkan isi hati. namun sukar bicara, akhirnya menghela napas saja.

Kecewa kembali merangsang sanubari Hun Lian, badan menjadi dingin seperti kecem p urtg jurang yang dalam, ingin dia menggapai dan menangkap .sesuatu namun tiada yang dapat ditangkapnya, begitu dia buka suara,nada-nyapun berobah ketus: "Bawa aku keluar."

Liong-bun Pangcu menatapnya lekat, bibirnya sudah bergerak namun urung bicara lagi, bukan kepalarig sedih Hun Lian, namun dia tahan titik air mata yang hampir mengalir.

Pada saat itulah tampak seorang baju hitam laksana kilat meluncur datang, begitu cepat gerak-geriknya, begitu berhenti didepan Liong-bun Pangcu lantas angkat sebelah tangannya, ternyata diatas jari telunjuk yang diangkatnya itu hinggap seekor burung kecil dengan warna yang indah segar, begitu kecil burung ini hanya sebesar ibu jari orang Liong-bun Pangcu lantas mencibir bibir bersiul rendah, burung kecil itu segera terbang kearah Liong bun Pangcu dan hinggap diatas tangan Liong.bun Pangcu.

Dengan tangan yang lain Liong bun Pangcu genggam burung kecil itu lalu menyingkap bulu dibawah perutnya melolos segulung kertas kecil, sekali ayun tangan, burung kecil itu terbang balik kearah sibaju hitam, orang itu menjura homat sekali kepada Liong-bun Pangcu terus putar badan berlari pergi pula. Sementara itu Liong-bun Pangcu sudah membeber gulungan kertas kecil itu.

Kertas itu tipis dan lemas besarnya hanya setengah telapak tangan, tapi kertas blanco tanpa sebuah huruf pun.

Sejak melibat bmung kecil sebesar ibu jari Hun Lian sudah keheranan, kini melihat kertas yang dibawanya itu blanco lagi, karuan dia makin bingung dan tidak habis mengerti.

Liong bun pangcu membeber kertas itu ditelapak tangannya yang gede. lalu tertawa kepadu Hun Lian, katanya: ”Ada berita dari Kim-hou po. Situasi yang terjadi didalam Kim- hou-po agakrya amat menguntungkan ibumu, harap nona tunggu di sini sebentar.”

Sambil omong dia ulurkan telapak tangannya kedepan, telapak tangan yang semula putih lambat laun berobah merah, jelas dia kerahkan tenaga dalamnya, maka kertas putih yang semula blanco itu mulai kelihatan ada huruf tulisannya, hanya sekejap tampak kertas kecil putih itu penuh ditulisi huruf kecil berwarna kuning gosong, namun Hun Lian tidak bisa membaca apa yang tertulis diatas keatas itu. Setelah membaca isi surat itu, rona muka

Liong-bun Pangcu tampak serius serta menghela napas panjang.

Seperti diketahui ibu Hun Lian yaitu Kwi-bo Hun Hwi mo dengan akal licik telah menanam ulat beracun tanpa nama ditubuh para jago kosen sebanyak itu. tujuannya akan memperalat tenaga sekianjago silat kosen itu untuk menggempur Kim nou-po. Maka waktu dia mendengar Liong bun Pangcu bilang ada berita dari Kim-hou-po dia hanya berdiri btngung dan cetengah percaya, namun dia a-mat prihatin, tanyanya "Bagaimana?"

Liong bun Pangcu angkat kepala, katanya: "Ada perobahan besar didalam Kim-hou-po, Sau-pocu dan jago kosen itu sudah kembali kedalam benteng. "

Hun Lian angkat tangannya menukas perkataannya: "Sebelum ada berita ini, kami sudah bisa menduganya."

„Betul, tapi perobahan justeru terjadi Setelah mereka kembali kedalam benteng."ujar Liong-bun Pangcu, "Sejak lama aku sudah menanam seorang agenku didalam Kim hou-po. dua hari yang lalu aku sudah mendapat kabar, bahwa ada beberapa gembong silat disana bersekongkol hendak membunuh Kim-hou pocu. gelagatnya peristiwa ini sekaiang menjadi kenyataan."

Hun Lian kaget, katanya: ' Peristiwa apakah yang terjadi setelah Lut Ang ing pulang?"

Liong bun Pangcu geleng kepala, katanya: "Aku sendiri juga tidak tahu Berita ini hunya mengatakan setelah Lui Ang- ing dan orang kosen itu pulang kedalam benteng langsung menghadap kepada Pocu. Tempat tinggal Pocu ada dibawah empang bejat. "

„O." Hun Hian bersuara heran dan kaget. Maklum dia pernah menyelundup keda-lam Kim-hou-po, tak pernah terbayang olehnya bahwa empang besar yang banyak dihuni ikan-ikan mas besar itu dibawahnya ternyata ada pendopo dan menjadi temppt tinggal sang Pocu, mungkin banyak orang yang setiap hari memancing ikan dipinggir empang juga jarang yang tahu akan rahasia ini.

Hai ini hanya dibatin dalam hati Hun Lian, tidak, dia nyatakan langsung kepada Liong-bun Pangcu. Tapi Liong-bun Pantcu seperti tahu bahwa cirinya memaklumi sesuatu, maki dia bertanya : ..Nona Hun. ksu pernah menyelundup ke Kim hou po, mungkin tidak pernab kau ketahui bahwa didasar empang itu ada dunia lain.'

Hun Lian hanya menganguk kepala.

Liong-bun Pangcu berkata pula- „Setelah kedua orang ini masuk tak pernah keluar pula, sementara dan lorong di bawah tanah didasar empang itu beberapa kali terdengar suara gaduh yang aneh. beberapa orang yang berkomplot memberontak tampak gngup dan gelisah, kelihatannya mereka berhasil mengurung ocu Sau pocu dan orang aneh itu didasar empang itu."

Hun Lian menarik napas dalam, sesaat lamanya dia tak kuasa bica a, entah hatinya kaget atau girang. Pada hal ibunya sedang mengerahkan tenaga besar hendak menyerbu dan menduduki benteng macam emas itu, bila didalam benteng teriadi perobahan berarti situasi menguntungkan ibunya. Akan tetapi Hun Lian sendiri juga tahu seluk beluk dalam Kim hou-po. harus diakui bahwa tidak sedikii jago jago kosen dunia persilatan yang berada didalam benteng itu, selama itu mereka boleh dikata sudah putus hubungan dengan dunia luar, selanjutnya pasti tidak akan membuat perkara atau onar, tapi jikalau mereka tidak dikendalikan oleh Pocu atau Sau pocu, bila dihasut dan diadu domba oleh sementara anasir, maka huru hara mungkin takkan bisa dihindari lagi.

Akan tetapi berita yang diterima oleh Liong-bun Pangcu tadi, sebenarnya juga bukan kenyataan seluruhnya.

Bagaimana duduk persoalan sebenarnya. Oran» orang yang berada didalam Kini ou-po sendiri yakin juga tiada yang tahu jelas atau menguasai situasi. Habis bicara Liong-bun Pangcu lantas me emas lembaran kertas itu, bila telapak tangannya dibentang pula. tampak gulungan kertas ditangannya sudah teremas hancur menjadi bubuk beterbangan ditiup angin, katanya: „Nona Hun, ibumu sudah tak jaub dari Kim-hou-po, apa perlu kuatar ku kesana?"

Hambar perasaan Hun Lian, tapi dia tahu banyak urusan yang harus dia kerjakan, sementara dia harus berpisah dulu dengan Liong bua Pangcu, maka dia berkata : „Tak perlu, cukup asal kau antar aku keluar dari sini saja.*'

Liong-bun Pangcu juga tidak banyak bicara lagi, segera dia menggerakan langkah, dengan cepat dia berlari kedepan, Gmkang-nya memang tinggi, tapi Hun Lian juga kembangkan Ginkangnya maka sementara dia masih dapat mengikuti langkah orang, setelah mengitari banyak lorong yang barlika liku, akhirnya mereka tiba depan sebuah pintu besi yang besar.

Didepan pintu berdiri dua orang batu raksasa, perawakannya gede sikapnya garang dan gagah, dandanan dan sikapnya mirip pejuang jaman kuno, Liong-bun Pangcu langsung maju medckat lalu mengayun tangan, beruntun dia memukul delapan kali dengan gerakan kilat didelapan tempat yang berbeda diatas papan pintu besi itu, lalu dia pegang gelang besi serta menariknya aengan mengerahkan tenaga.

Hun Lian tahun bahwa kungfu Liong-bun Pangcu amat tinggi, namun melihat orang waktu menarik daon pintu besi ini selebar mukanya sampai merah padam, maka dapat dibukitkan bahwa pintu besi ini disamping tebal juga amat berat.

Pintu besi hanya tertarik dua kaki lebarnya lantas Liong-bun Pangcu berhenti serta mengganti napas panjang, sekilas dia menolth serta memberi tanda, sekilas bimbang segera Hun Lian ikut menyelinap masuk.

Keluar dari pintu besi itu mereka man-jat lorong yang menjurus k atas, kedua sisi sepanjang lorong ini berderet orang-orang yang berdiri tegak, melihat orang lewat tapi mereka berdiri kaku tidak bergerak sedikitpun, bila keluar dari lorong yang miring ini tampak cahaya surya sudah doyong kebarat, tanah tegalan yang menguning kelihatan bertahuran cahaya emas, ditengah tegalan itulah didapatinya banyak orang-orang baiu dan kuda-kuda batu yang sudah rusak dan berserakan.

Sebelum berlalu sempat Hun Lian menoleh mengamati mulut gua di mana barusan dirinya keluar, ternyata itulah sebuah gua belukar yang amat kotor, penuh ditumbuhi semak dan rumput jalar, jikalau bukan ke luar dari sebelah dalam, dari luar orang tidak akan tahu bahwa dibalik akar-akar pohon jalar itu ada gua yang Tersembunyi, terutama kaum persilatan juga tidak akan menyangka bahwa maskar pusat Liong-bun-psng berada didalam kuburan kuno yang serba rahasia dan banyak perangkapnya.

Liong-bun Pangcu tetap berdiri didepan gua, tidak maju lebih jauh, cahaya mentari menyinari rambut kepalanya yang kuning emas hingga kelihatan mengkilap dan lebib semarak.

Hanya sekejap Hun Lian menoleh lantas mengembangkan Ginkang berlari dengan pesat, setelah dia meluncur puluhan tombak, baru dia mendengar kumandang suara Liong-bun Pangcu yang lembut ; „Nona Hun, jagalah dirimu baik-baik. Selamat jalan."

Kedengarannya suaranya dilontarkan di-belakaugnya, seperti Liong-bun Pangcu berbisik dibelakang telinganya, tapi Hun Lian tahn Liong-bun Pangcu pasti ma ih bertda didepan gua tanpa bergerak meski setspak sekalipun, namun suaranya lembut dan jelas karena orang bicara sambil mengerahkan tenaga dalamnya."

Hun Lian tidak tahu bagaimana perasaan hatinya, yang terang batinya hampa dan masgul maka dia mempercepat langkab melesat lebih kencang kedepan. Tak lama kemudian hari sudah mulai petang, bila tabir malam sudah menyelimuti jigat perasaan Hun Lian semakin bingung dan risau, kecuali berlari dan lari secepat angin seolah-olah sukar dia menghilangkan perasaan hambar yang masih terus menghantui sanubarinya.

Bila hari sudah betul-betul gelap, Hun Lian semakin gelisah karena dia tidak tahu dirinya sekarang berada di mana, sekeluar dari gua tadi dia langsung ayun langkab lari fnerti dikejar setan, hakikatnya tidak menentukan    arah,   yang jelas dia hanya ingin buru buru meninggalkan tempat itu. Tapi kenapa dia ingin buru-buru meninggalkan tempat iru, hatinya tidak bisa memberi jawaban, mungkin lantaran kecewa, tapi kenapa kecewa ? Apa yang membuatnya kecewa ?

Malam ini tiada bulan tak kelihatan bintang, terpaksa Hun Lian berlari naik ke gundukan tanah tinggi, sejenak dia berdiri menyeka keringat, selepas mata memandang dunia hitam pekat melulu, akhirnya di arah utara dilihatnya tujuh titik sinar lampu yang bergoniai dan bergerak menuju kearah barat, tujuh titik sinar lampu itu seperti berbaris dan bergerak secara lambat, gelagatnya ada orang yang mencentel lampu lampion dengan genter dan menempuh perjalanan, tapi sin&r lampion amat benderang, sehingga dilihat dari kejauhan tampak menyolok sekali. Melihat ketujuh titik sinar lampu itu seketika Hun Lian berjingkrak girang dan menghela napas lega, dia tahu tujuh titik sinar lampu itu adalah cahaya lampion minyak hitam bi atan Hiat-lui-kiong mereka, maka dia yakin ada orang sendiri didaerah sini.

Tanpa ayal Hun Lian kembangkan Gin-kang meluncur kearah tujuh titik sinar lampu itu. cepat sekali jarak sudah semakin dekat, dibawah cahaya benderang ketujuh lampion minyak itu. ada tujuh laki-laki perawakan besar berjalan lurus sambil memegang galah panjang mengerek ketujuh lampion merah itu, mereka memang para kacung dari Hiat-lui-kiong.

Hun Lian langsung melayang tuiun di depan mereka serta menegur ; „Apa yang kalian lakukan di sini ?” Begitu melihat Hun Lian, ketujuh kacung seketika keplok kegirangan, dengan berseri mereka menyapa bersama: ,,Tuan putri,sungguh susah kami mencarimu."

Berkerut alis Hun Lian, katanya: „Siapa suruh kalian mencariku?"

“Sudah tentu majikan, melihat kau tikak muncul seteiah waktu yang dijanjikan tiba, kami temukan pula jenazah Li-pi- Iik, siapa yang tidak gelisah menguatrkan dirimu?"

Hun Lian hanya tertawa nyengir saja, perjalanan kentara bersama Li-pi lik kali ini demi mencari Cia Ing kiat tapi idelah bertemu pemuda yang semula dipujanya, hatinya menjadi rawan dan masgul malah, gara-gara kasmaran sehingga Li-pi- lik berkorban percuma 

Celakanya begitu bertemu denian Liong-bun pangcu dan selama dimarkas Liong-bun Pang ternyata dia melupakan cintanya terhadap Cia Ing-kiat, terbayang betapa besar perobaban hatinya, sungguh dia sendiri tidak habis mengerti. Setelah melenggong sesaat lamanya, maka dia bertanya: , Ibu di mana? '

Ketujuh orang itu berkata serempak:

“Mari ikut kami." sembari bicara masing-masing merogoh. kantong menseluarkan sebatang roket panah terus ditimpukan kendara, terdengar desir suara disertai -muncratnya lelatu api, ketujuh roket panah itu menjulang tinggi keudara lalu meledak bersama diangkasa memancarkan cahaya jambon hijau dan kuning.

Maka ketujnh kacung iiu memberi penjelasan: „Majikan amat gelisah dan kuatir akan keselamatan noia, biar beliau tahu bahwa kami sudah menemukan dirimu dengan selamat."

Hun Lian tidak memberi tanggapan, dia hanya mengangguk kepala, maka ketujuh kacung itu lantas melesat kedepan menuju ke-timur Lekas sekali mereka memasuki sebuah selat sempit, makin kedalam tampak bayangan orang, diatas dinding gunung atau diatas ngarai dijaga ketat, selat sempit yang diapit dinding karang yang curam begini, siapapnn jangan harap dapat menerobos masuk kedalam selat secara kekerasan.

Panjang selai sempit ini ada puluhan tombak, makin kedalam makin lebar, batu batu gunung bertahuran, api unggun berkobar dibeberapa tempat, banyak orang berkerumun disekitar api unggun. Begitu masuk kedalam selat, Hun Lian lantas melihat ibunya duduk diatas batu besar bentuk persegi, di bawah batu api unggun menyala besar, cahaya api menyinari wajahnya. Dibawan batu dan mengelilingi api ungun duduk banyak orang, mereka adaiah anak buah Hiat-lui-kiong.

Hun Lian langsung menuju ke empat duduk ibunya, setiba dia dipinggir batu suasana lembah ini sedemikian sunyi, hanya kobaran api yang menjilat kayu raja mengeluarkan suara letusan yang lirih. Sekilas Hun Lian meiirik ke kiri kanan, kearab jago j go silat Buiim itu, wajah mereka tampak- kaku dan mcmbcsi, jelas hati mereka amat berang, namun karena jiwa mereka tergengga n ditangan Kui-bo, apa boleh buat, terpaksa mereka tunduk.

Kui-bo Hun Hwi nio buka suara lebih dulu: „Ke mana saja kau ini?"

Hu Lian menunduk, katanya: „Aku diundang Liong-bun Pangcu, berkunjung ke markas mereka."

Didalam situasi yang bakal terjadi perobahan besar seperti ini, sebagai putri Kui bo yang berkuasa di Hiat-iui-kiong, bahwa dia berkunjung ke markas besar Liong-ban-pang sepantasnya merupakan kejadian yang cukup menggemparkan, mereka yang mendengar berita mengejutkan ini pantasnya kaget dan menunjukan reaksi. Tapi keayataan orang-orang yang hadir semua diam tanpa memberi reaksi sedikitpun. Hanya Kui bo saja yang angKat alis, katanya: „Untuk apa kau ke sana? '

”Liong bun Pangcu mengundangku untuk menengok Cia Ing-kiat. '

Kui-bo mengangguk dan menggerakan kaki, sebelum dia bicara lekas Hun Lian menambahkan: „persoalan yang lain selanjutnya tak usah kau bicarakan lagi,"

Dengan sorot pandangan heran Kui-bo menatap Hun Lian, kejap lain tiba-tiba dia tertawa, katanya: „Bukankah sejak mula sudah kuka-takan kepadamu, bocah itu apa sih baiknya, kau justru kasmaran kepadanya , .”

H«n Lian membanting kaki, katinya gemas: .Jangan bicarakan lagi "

„Baiklah," ucip Kui-bo, „besok pagi pagi, kita akan menggempur Kim-hou-po."

Hun Lian melenggong, katanya- “Ma, didalam Kim-hou-po telah terjadi perobahan.'

Kui-bo Hun Hwi-nio menyeringai, katanya „Peduli terjadi perobahan apa, besok pagi, kami akan menggempur Kim-hou- po." sampai di sini dia angkat kepala serta meninggikan suara berseru: „Tan-thocu. persiapan sudah lengkap belum?"

Seorang lelaki yang berpakaian lnsuh segera berdiri dan menjawab: „Sudah siap seluruhnya."

Hun Lian ingin bicara, namun isi hatinya belum sempat dituangkan, Kui-bo sudah angkat bicara lebih dulu. Waktu dia lirik laki-laki lusuh ini, seingatnya dia pernah melihat laki-laki ini sebagai anggota Kaypang (kaum pengemis) disekitar dirinya juga banyak laki-laki yang berpakaian serupa dirinya, banyak tambalan, disebelah samping kanan bertumpuk buntalan-buntalan persegi sepanjang satu kaki, Hun Lian tidak tahu barang apa buntalan persegi itu. Sementara itu, Oh-sam Siansing, Pak-to Suseng dan lain- lain tampak bersikap prihatin Besok pagi-pagi akan menyerbu Kim-hou-po, Kui-bo Hun Hwi-nio sudah mengumumkan secara terbuka. Maka penyerbuan besar-besaran itu akan merupakan pertempuran darah yang bakal menjatuhkan banyak korban dikedua pihak. Sepatutnya jago-jago kosen kaum persilatan yang biasanya amat perkasa dimedan laga, bersikap tegang dan bersemangat, tapi kenyataan sikap mereka sekurang seperti tidak tahu menahu atau tidak ambil perhatian sedikitpun.

Terdengar Kui-bo Hun Hwi-nio tertawa dingin dua kali, katanya : ,,Aku tahu kalian tidak rela bertempur, namun apa boleh buat harus maju kemedan laga, maka kuanjurkan kepada kalian yang tahu diri dan pandai melihat gelagat, berjuanglah sekuat tenaga, aku yakin kalian akan terus bertahan hidup, siapa yang ingin lekas mati, coba bersuara."

Jago-jago kosen- disekitar batu batu itu tiada satupun yang bersuara. Dalam silua yang serba ganjil ini, perasaan Hun Lian amat tidak enak, setelah memberikan ancamannya Kui-bo Hun Hwi-nio lantas duduk sa-madi memejam mata tanpa bersuara sepatah katapun, agaknya dia sudah mulai menyalurkan hawa murni menghimpun tenaga dan semangat uniuk persiapan pertempuran besok pagi. Tak lama kemudian tampak segulung uap putih mulai mengepul diatas kepalanya.

Lama kelamaan Hun Lian merasa risi berdiri di situ, segera dia celingukan, tampak di pinggir api unggun sana Liong-bin Siangjin tengah menggeleng-geleng kepala, sebelah tangannya menggapai kepada dirinya.

Hun Lian bimbang dan curiga, tapi akhir nya dia beranjak kearah Liong bin Siangjin baru saja dia tiba didepan Liong-bin Siangjin tiba-tiba orang berkelebat mundur menyelinap kebelakang sebuah batu besar, ternyata Hun Lian mengikuti dengan langkah kalem, maka dilihatnya bayangan beberapa orang bergera , delapan jago kosen ternyata ikut menyelinap kebelakang batu raksasa itu serta mengepung Hun Lian.

Baru sekarang Hun Lian tersirap kaget, namun sekilas pikir hatinya lega dan yakin dirinya takkan di apa apakan karena merasa sudah terkena racun ulat yang semayam dalam tubuh mereka, bila mereka menunjukan gerakan yang tidak senonoh hingga mengejutkan Kui-bo atau ibunya, jiwa mereka pasti amblas seketika, maka mereka pasti takkan berani berbuat kurang ajar kepada dirinya. Maka legalah bati Hun Lian setelah berpikir demikian.

Liong-bin Siangjin segera berkata kepadanya : „Nona Hun, ada satu persoalan kami ingin mohon bantuaumu "

Otak Hun Lian encer, sebelum Liong-bin Siangjin bicara, melibat gelagat dia sudah tahu, apa maksud mereka merubung dirinya.

Sebelum menjawab Hun Lian ulur lehernya melongok kearan Kui-bo Hun Hwi-to samadi, melihat ibunya tetap tidak menun-jukan reaksi apa-apa. bara dia berkata : ..Kalian barus maklum untuk persoalan itu aku tak mampu berbuat apa-apa. Ibu pernan belajar langsung dari Sam boa Niocu. ulat racun itu memang tiada penawarnya kecuali obat buatannya sendiri, aku sendiri belum pernah diajarkan."

Liong-bin Siangjin tertawa getir, katanya : ..Nona Hun, aku tahu ulat .teracun itu tiada obat penawarnya, namun Kui-bo punya Sebumbung kumbang berbisa yang mampu merenggut jiwa kira semua, nona Hun . ,” Sebelum Lion -bin Siangjin bicara habis, Hun Lian sudah goyang kedua tangan, sudah tentu Liong-bin Siangjin dan para jago kosen yang hadir saling pandang, lalu katanya pula : ..Kita pasti tidak akan minta bantuan nona Hun secara percuma, bila nona sudi membantu fkami, dengan gabungan tenaga kita beramai, yakin dapat menemukan jejak Cia-saucengcu serta menyerahkan kepada mu." Sedih dan pilu lati Hun Lian setelah mendengar syarat yang diajukan Liong-bin Siangjin. namun hampir saja tak kuat dia menahan rasa gelinya, lama juga dia berdiri menjublek, lalu berkata penuh penyesalan : „Tak usahlah. persoalanku dengan Cia-sau cengcu sudah tidak perlu dibicarakan lagi. di dalam markas besar Liong-bun-pang aku sudah bertemu dia dan putuskan hubungan selanjutnya."

Besar harapan para jago kosen itu atas bantuan Hun Lian yang lagi kasmaran kepada Cia sau cengcu, umumnya gadis suku Biru memang lebih tegas dalam memilih jodoh, bila dia sudah menaksir seorang laki-laki, kalau bukan laki-laki itu tidak mau menikah dengan lelaki lain, maka mereka yakin dapat membujuk Hun Lian untuk membantu bila mereka berjanji untuk bantu merangkap perjodohan mereka, sungguh tak nyana bahwa Hun Lian mengeluarkan pernyaraan yang memencilkan harapan mereka bersama, karuan mereka berdiii menjublek putus harapan, walau tiada yang menangis gerang

- gerung, tapi semua bermuka pucat pasi.

Hun Lian adalah gadis yang berhati bajik dan bijaksana, jiwanya jauh berbeda dengan ibunya, melihat mereka dirunding kesedihan, hatinya tidak tega, maski jago jago kosen ini tamak sebutir biji teratai darah, sehingga mereka terjebak oleh kelicikan ibu nya, tapi kejadian gara-gara oleh Hun Lian juga, maka dia menghela napas, katanya : ”Sebetulnya kejadian ini tidak akan mengancam jiwa kalian bila mau tunduk atas perintah ibu, apaiagi aku dengar d dalam Kim-hou-po juga telah terjadi pemberontakan, betapapun banyak jago mereka, kalau tanpa pimpinan tentu tidak sukar kita menggempur Kim hou-po."

Maksud Hun Lian hendak membujuk dan menentramkan hati jago-jago kosen itu, namun melihat sikap mereka, seperti tidak mendengar anjurannya, semua tunduk kepala lalu menyingkir satu persatu tanpa bersuara, hanya Liong bin Sianjing saja yang ma sih berdiri didepannya, bibirnya sudah bergerak hendak bicara, namun batal, akhirnya diapun menyingkir tanpa bicara lagi.

Hun Lian celingukan, ratusan jago kosen tersebar luas didalam lembah, ada yang duduk, berdiri ada juga yang sudah mendengkur, namun semua bersikap Kaku dan terlongong mengawasi api unggun, dibawah jilatan cahaya api tampang mereka tak ubahnya batu-batu gunung yang berserakan Itu.

Ingin Hun Lian membantu mereka, namun bila terbayang bila ibunya marah, betapa menakutkan mimik dari tindakannya, di sendiri juga bergidik seram, apapun dia tak berani mencuri bumbung itu dari badannya.

Api masih terus menyala dan ranting kering bertambah sehingpa api unggun berkobar makin besar, kira-kira satu jam kemudian, tampak Kui-bo Hun Hwi-nio mendadak membuka mata, sorot matanya tajam jelilat-an, tidak marah tapi menunjukkan wibawanya yang garang, siapapun tak berani beradu pandang dengan dirinya.

Begitu membuka mata Kui-bo Hun Hwi nio lantas beriak ; “Tan - thancu, dibawah pengawalan Oh sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liong-bin Sianjing bertiga, kalian berangkat dulu dan pendam semua bahan peledak itu dikedua sisi pintu gerbang Kim-hou-po.

Laki-laki berpakaian lusuh dan banyak tambalan itu segera berdiri sambil mengia-kan. Baru sekarang Hun Lian tahu bahwa untaian segi empat itu adalah bahan peledak, agaknya Tan-thocu adalah seorang ahli membuat dinamit.

Terdengar Kui bo Hun Hwl-nio berteriak : „Lekas berangkat."

Teriakannya ini menggunakan kekuatan tenaga dalam suaranya keras menggetar lembab mengguncang bumi, menimbulkan gema uara yang mendengung diudara. Sebetulnya jago-jago kosen yang hadir dalam lembah itu, satupun tiada yang menjadi tandingan Kui-bo Hun Hwi-nio bila bertanding satu lawan satu, namun bukan tandingan masih bisa melarikan diri, supaya Kui-bo tidak petingkah dan bersimaharaja Tapi mereka tahu jiwa mereka tergenggam di angan Kui-bo, meski hati amat berang mendengar bentakan kasar Kui- bo Hun Hwi-nio, namun Oh-sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liongbin Siangjin tiada yang berani membangkang, lekas mereka berdiri.

”Setelah menunaikan tugas, tunggulah aku dijalan tembus yang menuju ke Kim-hou-po," demikian seru Kui-bo Hun Hwi- nio “b la ada diluar benteng menghadapi rintangan, babat dan ganyang saja seluruhnya habis perkara."

Oh sam Siansing bertiga diam saja, Tan thocu segera masukan buntalan-buntalan di namit itu kedalam sebuah karung lalu beranjak keluar lembah.

Setelah keempat orang ini keluar dari lembab dan lewat selat sempit itu, kira-kira beberapa li kearah utara, baru Liong- bin Siangjin buka suara: „Keadaan kita sekarang apa bedanya dengan dicacah hancur oleh musuh ”

Tan-thocu menyeringai getir, katanya „Memangnya apa yang bisa kita lakukan ?"

Oh-sam Siansing saling pandang sekejap dengan Pak to Suseng, Pak-io Suseng segera berkafa : „Dunia sebesar ini, namun kemana kita bisa menyembunyikan diri."

Mendadak Oh-sam Siansing menegakkan badan, seluruh tulang belulang tubuhnya mengeluarkan suara keretekan, jelas menandakan bahwa hatinya amat geram dan penasaran, sesiai apa yang dikatakan Tan-thocu barusan, memangnya mau apa meski bati amat berang ?

Tan-thocu berkata : ,,Ayolah jangan membuang waktu, tidak sedikit jago jago kosen yang bertugas d luar Kim-hou-po, kita perlu membuang banyak tenaga untuk menunaikan tugas ini." Oh-sam Siansing bertiga mendengus bersama, segera mereka bergerak lebih cepat ke arah depan, lekas sekali dan kejauhan mereka sudah melihat tembok benteng yang bercokol tinggi diatas bukit tandus. Beberapa rumah petak tak jauh dibawab benteng kelihatan memancarkan cahaya kelap kelip, dua kepala harimau emas diatas pintu itu tampak mengilap ditingkah sinar bulan.

Tempat di mana Oh sam Siansing berempat berada sekarang, adalah tanah tegalan tak jauh di sebel ah utara Kim- hou po dimana dulu Cia Ing kiat menyembunyikan diri di- tanah galiannya selama tiga hari menyelidik keadaan Kim-hou po Sejenak mereka ber-henti, dari kejauhan mereka mendengar derap lari kuda, hanya sekejap lari kuda sudah mcacongklang makin dekat malam remang-remang, tampak seekor kuda putih berlari kencang, dipunggungnya mendekam satu orang, gelagatnya sedang memburu waktu atau ingin menyampaikan kabar penting fcmgga kuda dibedal sekencang itu.

Lekas sekali kuda dan penunggangnya sudah membedal dekat, agaknya penunggang kuda mendadak sadar bahwa d d pan ada orang mencegat segera dia menarik tali kendali menghentikan lari kuda serta berduduk menegakkan badan. Oh sam Stansmg berempat melibat jelas, penunggang kuda ini bukan lain adalah Cia Ing-kiat. Dahulu Oh sam Siansing pernah mertamu ke Kim-long-ccng dan bersahabat dengan ayahnya, sudah tentu dia j iga kenal Cia Ing-kiat. Sebagai jago silat iop anp disegani kaum persilatan umumnya, beberapa hari ini dia harus tunduk dan patun akan perintah Kui-bo Hun Hwi-nio, betapa dougkol dau penasaran hatinya sungguh tak terlampias begitu melihat Cia Ing-kiat, terbayang gara-gara pemuda ini sehingga nasibnya serba mengenaskan begini, kini jiwanya terbelanggu di tangan majikau Hiat lui kiong Saking gusar, penasaran beberapa hari ini seketika meledak sambil menghardik bagai guntur menggelegar dia angkat terus mencengkram. Begitu melibat ada orang mencegat, Cia Ing kiat sudah menghentikan kudanya, jaraknya dengan Oh sam Siansing ada dua tiga tombak jauhnya. Cengkraman Oh-sam Siansing sudah tentu tak bisa mencapai dirinya, apalagi orang juga tidak menubruk maju. Tapi di tengah hardikan gusarnya itu, Cia Ing kiat seperti dikemplang palu kepalanya, hatinya kaget, badan tergeliat, serumpun tenaga lunak yang kuat mendadak mendera tiba, karuan kuda putih tunggangannya berjingkrak kaget berdiri dengan kaki belakang, karena tidak bersiaga Cia Ing-kiat terperosok jatuh dari punggung kuda.

Begitu terguling beberapa kali di tanah, Oh-sam Stansing sudah menggerung geram memburu datang sambil melompat terapung, mirip seekor burung raksasa tubuhnya menukik dengan tubrukan sengit kesra b Cia Ing-kiat. Kebetulan Cia Irg kiat berhenti menggelundung dan kebetulan menegadah keatas, dilihatnya tubuh Oi-sam Stansing sudah berada diatas kepalanya, matanya mencorong murka, kedua telapak tangannya sedang bergerak menepuk kebawah, karuan serasa copot arwahnya saking takut dan ngeri, mulutnya hanya sempat menjerit: „Oh. . ."

Tapi hanya sepatah kata yang sempat keluar dari mulutnya. Ternyata O'n sam Siansing menubruk dengaa mengerahkan kekuatan hawa murninya,sekujur badannya seperti terbungkus baja yang tidak kelihatan ikut menindih turun, betapa bebat kekuatan Lwe-kangnya sehingga Cia Ing- kiat me asi berat ditindih dan dada sesak, sudah tentu dia tak kuat meneruskan perkataannya.

Dalam kesdaan gawat itulah, mendadak sempat dia mendengar dua bentakan orang, menyusul bayangan dua orang ikut melesat tiba. Rebah dia tas tanah, hakikatnya Cia Ing-kiat tidak sempat mengikuti apa yang terjadi, terasa tenaga hebat yang menindih tubuhnya itu mendadak sirna tak berbekas, tapi tubuhnya terbawa arus perpaduan dua jalur kekuatan hebat sehingga tubuhnya terguling lagi beberapa kaki jauhnya.

Bila dia sudah menenangkan hati, tampak Oh-sam Siansing berdiri tegak ditanah, Pak-to Suseng dan Liong- bin Siangjin berdiri agak jauh di kanan kirinya. Tak-to Suseng masih kuat menguasai keseimbangan badannya, tapi Lion bin Siangjin tampak memburu napasnya, wajahnya agak pjcit, jelas tenaga dalamnya menghadapi perlawanan yang kokoh dan tangguh sehingga napasnya sengal-sengal.

Cia Ing-kiat tidak sempat menduga apa yang telah terjadi, lekas dia melompat berdiri lalu menyurut mundur delapan langkah pula. didengarnya Pak-to Suseng berseru: „Oh-sam, ada sangkut paut apa persoalan ini dengan bocah ini?"

Masih beringas muka Oh-sam Siansing, bentaknya: ”Jikalau bukan para gara permainan patgulipat bocah ini dengan cewek bangsat itu, mungkinkah Kui-bo menelorkan rencana jahat ini sehingga kita semua tertipu di Hiat-lui-kiang."

Liong-bin Siangjin menghela napas, katanya: ,,Sudahlah, jangan kau menyalahkan orang lain, kenapa tidak salahkan diri kita sendiri yang terlalu tamak,"

Pak-to Suseng ikut tertawa getir, katanya: „Ya, memang harus sudah kita duga sejak mula memangnya siapa tidak tahu pribadi Kui-bo Hun Hwi-nio yang licik dan jahatf kalau kita tidak tamak, nasib ini tidak seje lek sekarang."

Oa-sam Siansing berdiri menjublek, keringat membanjir dijidatnya, jelas hatinya amat menyesal dan malu, seperti ingin sembunyi didalam lobang bawah tanah saja.

Sudah tentu Cia Ing-kiat tidak habis herannya, sejak dia diculik Liong bun Pangcu dari Hiat lui kiong hingga dia disekap dalam markas L ong bun pan , berapa kali dia berusaha melari an diri, namun selalu he-hasil diringkus kembali oleh jago-jago Liong-bun-pang, hingga Liong-bun Pangcu me nberitahu kepadanya bahwa dia akan membawa Hun Lian kemari baru hatinya merasa tentram dan tidak memberontak lagi dalam sel.

Ternyata Liong-bun Pangcu memang tidak menjilat ludahnya Hun Lian memang datang, tapi habis ] ertemuan itu justru amat mengecewakan hatinya, gusar, benci dan penasaran lagi. 5etelah Hun Lian pergi, segera dia menerjang keluar, diluar dugaan kali ini dia tidak mengalami halangan.

Sudah tentu sejak dia diculik dari Hiat-lui-king, apa yang terjadi selanjutnya dia tidak tahu menahu, kini mendengar percakapan ketiga jago silat top ini, baru dia menyimpulkan bahwa mereka pernah dirugikan didalam Hiat-lui-kiong, setelah tenang perasaannya, baru Ing-kiat berkata perlahan: Para Cianpwe, apa yang terjadi di Hiat-lui-kiong?"

Begitu dia ruka suara, sorot mata Oh-sam setajam kilat dingin menyapu pandang kearah dirinya, seketika Cia Ing-kiat bergidik dibuatnya. Pak-to Suseng tidak perduli akan pertanyaannya, sementara Liong - bin Siangjin mengulap tangan, ucapnya: „Enyahlah kau."

Meski heran dan curiga, namun terbayang betapa kejam tubrukan Oh-sam Sian sing tadi, mengkirik bulu kuduknya, sambil tnengiakan tersipu Cia Ing-kiat mundur ke belakang, sebelum dia memutar tubuh hendak pergi' tiba-tiba Liong bin Siangjin berteriak : „Tunggu dulu,"

Cia Ing kiat berdiri dan menoleh, dilihatnya Liong bin Siangjin mengawasi dirinya denian tersenyum getir seperti apa boleh buat, lalu katanya ;.'Biasanya perempuan suku Biau amat khusus dalam memilih jodoh-cintanya tidak gampang berobah. tapi Hun Lian bilang hubungannya dengan kau sudah putus, apakah yang terjadi coba kau jelaskan."

Seketika berkobar amarah Cia lng-kiat harga dirinya seperti direndahkan, dengan merah dia berkata ”Buat apa bicara tentang perempuan seperti itu, siapa tahu kenapa dia memutar balik persoalan yang terang ayahku gugur lartaran perbuatannya, aku tidak akan memberi ampun kepadanya."

Sebetulnya kematian Cia Ing kiat terbunuh ditangan Lui Anging, hal ini sejauh itu tidak diketahui oleh Cia Ing-kiat, tapi-dosa kesalahan ini sekarang justeru dia jahitkan dipundak Hun Lian. maka amarahnya tidak tertahankan.

Liong bin Siangjin menghela napas gege tun. sebetulnya dia masih ingin merujukan hubungan Cia Ing-kiat dengan Hun Lian. setelah mendengar langsung pernyataan Cia-Ing-kiat dia tahu soal jodoh ini sudah tidak mungkin diharapkan lagi, terpaksa dia me-ngulap tangan.

Cia Ing-kiat menghela napas, katanya; „Siangjin, bila kau ketemu budak busuk itu, tolong sampaikan kepadanya, orang she Cia tidak sudi menerima budi kebaikan apapun band rinya Lioi g bin menggeleng kepalanya pelan-pelan bahwasanny dia tidak perhati kan apa yang diucapkan Cia Ing-kiat selanjutnya. Tapi Tan thocu yang berada dise-belahnya tergerak hatinya setelah mendengar pernyataan Cai ing kiat,segera dia mendahului maju kudepan Cia ing kiat. katanya:,,Cia sau- cengcu, bukankah soal jodoh ini diajukan oleh Kui-bo sendiri?"

Kembali mendidih amarah Cia Ing-kiat dengan geram dia mendengus saja, walau tidak memberi reaksi apa-apa lagi, namun dalam ban dia membatin, mending kalau soal jodoh ini diajukan langsung oleh Kui-bo tapi kenyataan adalah Thi jan Lojin dan Gin-koh atas perintah Kui-bo meluruk kerumahnya serta merebut dirinya dari tangan sang ayah. Agaknya peristiwa ini tidak banyak diketahui orang. Tadi kalau hal ini dibicarakan dengan orang lain sungguh memalukan juga menurunkan gengsi ayahnya almarhum, sebagai anak muda yang suka merang dan berdarah panas, namun Cia Ing-kiat masih bisa menguasai diri dan tutup mulut saja.

Segera Tan thocu berkata pula:,Jadi nona Hun bilang putus hubungan segala, artinya perjodohan itu batal?" Cia Ing-kiat mendongak kepala sambil menggendong kedua tangan, maksudnya tidak ingin membicarakan soal jodoh ini lebih lanjut. Tapi Tan-thocu berkata pula:„Cia-sau-cengcu tadi kau bilang tidak sudi menerima budi kebaikan nona Hun, setelah membatalkan pernikahan ini nona Hun merasa menyesal kepadamu, maka dia menyajikan suatu bantuan demi kepentinganmu?"

Mendengar pertanyaan Tan-thocu, Oh-sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liong bin Siangjin yang sudah siap pergi serempak putar balik merubung kedepan Cia Ing-kiat, pandangan keempat gembong silat ini menatap Cia Ing-kiat.

Sebetulnya Cia Ing-kiat sudah segan membicarakan soal ini, tapi melihat sikap empat orang ini seperti ingin tahu seluk beluk persoalannya, sedikit banyak timbul rasa- takut dalam hatinya, maka dia berkata ,,Ya, benar, dia bilang merasa salah dan mungkin terhadapku maka dia bersedia melakukan sesuatu meski betapapun sulit persoalan yang kuajukan pasti takkan ditolak olehnya . . . ” sampai di sini dia berhenti sejenak, dia bicara tetap mendongak sehingga tidak perhati kan sikap kegirangan keempat orang yang mendengar penjelasannya, pikirnya penjelasan ini hanya untuk menjaga gengsi sendiri, maka dia bicara lebih lanjut •, ”Hm, perempuan jalang seperti dia, memangnya kapan aku pernah merindukan dia, bahwa dia sendiri yang membatalkan soal jodoh ini, kebetulan sekali malah, memangnya siapa sudi mohon bantuannya segala."

Begitu dia habis bicara, mendadak terasa pergelangan kedua tangannya dipegang kencang orang dengan berjingkat dia menoleh kiranya Pak to Suseng dan Liong bin Siang-ji-i sudah dekat di kanan kirinya, kedua orang ini yang memegang erat tangannya, karuan Cia Ing-kiat tersirap kaget, teriak-rya :

„Kalian mau apa ?" ,,Cia sau cengcu” tukas Liong- bin Siangjin ,,kami mohon bantuanmu, tolong kau menuntut nona Hun untuk menolong kita."

Karuan Cia ing-kiat berdiri bingung. Ternyata sikap Oh sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liong-bin Siangjin berobah seratus delapan puluh derajat, kalau tadi mereka bersikap kereng dan penasaran, sekarang roman muka mereka berseri lebar dan ramah malah PaK-to Suseng berkata : „Soal ini memang perlu dijelaskan dari permulaan supaya Cia-sau- cengcu tahu duduk persoalannya."

Maka Liong bin Siangjin berkata : ..Cia-sau-cengcu, setelah kau dibawa pergi Liong-bun Pangcu . , . . " begitulah sifat manusia, bila kau ingin mohon bantuannya maka tutur katanya juga berobah ramab dan sopan, pada hal Cia Ing-kiat diculik Liong bun Pangcu, tapi Liong bin Siangjin bilang dibawa pergi. Sudah tentu Cia Ing-kiat amat senang menghadapi pembahan sikap mereka tanpa bersuara dia mendengar penjelasan Liong-bin Siangjin

Sudah tentu berdebar jantung Cia Ing-kiat meudengar cerita Liong-bin Siangjin. Tapi melibat sikap Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng yang serius dan prihatin, dia yakin cerita itu memang betul, peristiwa ini jelas merupakan pukulan lahir batin yang memalukan mereka, maka Ing kiat masih menelaah persoalan ini tanpa bicara. Maka Pak-to Suseng campur bicara : „ ..Maksud kami ingin mohon bantuanmu supaya menuntut balas kebaikan nona Hun, mencuri bumbung kumbang milik ibunya itu."

Cia Ing-kiat menarik napas dalam, sebelum dia bicara, Oh- sam Siansing yang sejak tadi diam saja mendadak ikut bicara

.Bila kau berhasil n enunaikan tugasmu ini dengan baik, berarti kau sudah menolong jiwa ratusan orang, jelasnya kita juga tidak akan membiarkan kau bekerja secara percuma, raiusan jago-jago silat itu semua memiliki kepandaian khusus perguruannya,   setiap   orang   bila   mengajar   tiga   jurus kepadamu, maka hidupmu selanjutnya tanggung tak kan kapiran."

Pernyataan Oh-sam Siansing menambah debar jantung Cia Ing kiat lebih keras. Memang, jikalau jago jago silat kosen sebanyak itu, setiap orang mengajar tiga jurus kepada nya, memang selama hidupnya ini pasti takkan kapiran. Setelah melenggong sekian lama baru Cia Ing-kiat berkata : „Tapi di sini hanya ada kalian berempat, bagaimana maksud orang lain

..."

„Orang lain aku yang tanggung, mereka pasti setuju dan patuh akan usulku." demikian tukas Oi-sam Siansing.

Mengawasi Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng, Cia Ing- kiat membatin, dengan gabungan kekuatan kedua orang, jago lihay mana didunia ini yang mampu menandingi mereka, maka dia yakin persoalan ini sudah pasti, katanya perlahan: ..Di mana nona Hun sekarang, biar kucoba."

Liong-bin Siangjin berkata : idalam lembah tak jauh dari sini. lebih batk kau bisa memancingnya keluar dari lembah, dan hati-hati jangan sampai diketahui Kui-bo."

,,Tidak jadi soal, aku bisa merias diri menjadi bentuk lain, Kui-bo pasti tidak akan mengenali diriku." sahut Cia Ing-kiat.

Tan-tho-cu berkata : „Urusan cukup genting, sebelum terang tanah, Kui-bo sudah akan mengerahkan seluruh kekuatan mulai menggempur Kim-hou-po, lebih baik kau bisa membereskan tugasmu sebelum fajar, bantuanmu amat besar artinya bagi kita semua."

„Baiklah," ucap Cia Ing-kiat, „ segera aku pergi mencarinya." habis bicara Cia Ing-kiat berlari ke sana lalu mencempUk ke-punggung kuda serta dibedal kencang kearah selaian, di punggung kuda dia keluarkan sebuah kedok muka terus dikenakan, sementara kudanya berlari kencang menuju ke selat yang ditunjuk serta menyelinap kedalam. Baru beberapa langkah dia berjalan, lantas didengarnya didinding selat sebelah atas seorang menegurnya : „Siapa kau

?"

Cia Ing-kiat angkat kepala, dikeremang-an malam, dilihatnya seorang berdiri tegak mepet dinding karang, tidak kelihatan di mana kedua kakinya berpijak, mirip cicak saja orang itu mendempel ditengah dinding karang yang rata itu.

Cia Ing-kiat menghentikan langkah serta menjawab : ,,Oh sam Siansing mengutusku kemari."

Sorot mata orang ini dingin tajam, dari atas kebawah dia mengawasi Cia Ing kiat, pandangan penuh selidik ini membuat Cia Ing-kiat mengkirik merinding. Makin dipan dangsemakin risi, untunglah mendadak orang itu tertawa dingin lalu mengulap tangan, tubuh yang mendempel dinding karang itu merambat lurus keatas makin tinggi.

Cia Ing-kiat seperti masih ingat wajah orang ini pernah dilihatnya di Hiat-lui-kiong kini dia sudah tahu segala seluk beluk persoalannya, maka boleh diduga bahwa orang ini juga pasti sudah terkena niat beracun, walau tidak berani memberontak atau menentang secara terang-terangan, tapi umpama melihat ada spion musuh menyelundup kemari juga tidak akan mau bekerja sepenuh hati. Tanpa bicara segera Cia Ing-kiat melesat kedaiam selat, di dekat mulut selat dia mencari tempat gelap serta menyembunyikan diri lalu melongok kedepan.

Tampak banyak oraug didalam lembah, semua tiduran dibawah. diatas batu, sikap nya lesu dan loyo seperti tawanan yang sudah sekian lama tidak diberi makan, tiada semangat sedikitpun. puluhan api unggun menyala diberbagai tempat, tepat ditengah lembah Kui-b) duduk bersimpuh diatas batu, matanya terpejam, jelas sedang samadt. Hun Lian juga duduk dibatu tak jauh dipinggir ibunya, kepala tunduk entah soal apa yang sedang dipikirkan, sikapnya tampak memelas. Timbul rasa iba dalam hari Cia Ing-kiat namun bila terbayang betapa dirinya dibuat malu dan sudah banyak berkorban secara sia-sia karena cewek    yang    satu    ini, rasa benci dan penasaran seketika merasuk sanubarinya pula, pikirannya menjadi ruwet, sesaat lamanya dia berdiri mematung ditempat nya Cukup lama dia mendekam dibelakang batu, sekian lamanya itu, orang-orang d dalam lembah itu ternyata tidak banyak yang bergerak, keadaan di sini kira-kira hampir mirip dengan apa yang pernah dia saksikan di Kim-hou-po tempo hari.

Maka Cia Ing-kiat berpikir : „Umpama aku berjalan terang- terangan masuk ke lembah pasti tiada yang memperhatikan diriku." maka dia segera maju bebeiapa langkai, dengan menegakkan badan ternyata tiada reaksi dari sekian banyak orang, nyalinya makin besar maka dia beranjak lebih lanjut, bila dia sudah berada didepan Hun Lian, baru gadis jelita ini angkat kepala mengawasinya sejenak, Cia Ing-kiat mengenakan kedok muka sudah tentu Hun Lian tidak bisa mengenalnya.

Makin dekat perasaar Cia log kiat makin gundah, dia tahu bila dia mengajukan permohonan kepada Hun Lian, berarti dia sudah menerima budi kebaikannya sesuai yang telah dijanjikan orang kepada dirinya, maka selanjutnya jangan mengharap cewek ini merujuk kembali hubungan asmara mereka, celakanya harga dirinya dalam sanubari cewek ini mungkin sudah tidak berharga sc-peserpun, orang pasti menilai dirinya sebagai manusia rendah yang tamak keuntungan melulu.

Tapi bila dia terbayang imbalan yang dijanjikan beberapa jago silat kosen kepada nya, hatinya menjadi gatal lagi, akhirnya dia kertak gigi sirta berbisik perlahan : „Nona Hun, aku ingin bicara dengan kau." Terbeliak bola mata Hun Lian yang jeli bundar, sebening kaca pandangannya menatap dirinya, begitu Cia Ing-kiat buka suara,

Hun Lian segera kenal suaranya, seketika badannya bergetar, namun segera dia berbangku.

Lekas Cta Ing-kiat putar bidan lalu berlalu. Hun Lian mengin.ul dibelakangnya, terus menuju keluar selat dan berhenti diba-wah dinding karang yang cnram itu. jaraknya dengan tempat duduk Kui-bo cukup jauh yakin percakapan di sini takkan terdengar olehnya, Cia Ing-kiat putar badan, sesaat dia berdiri melongo tenggorokan seperti disumbat, rangkaian kata ying sudah dipersiapkan diujung mulut kini tak kuasa diucapkan, yang menahan mulutnya melontarkan rankaian kata yang sudah dikarangnya sudah tentu adalah harga diri, didamping malu diapun merasa segan.

Hun Lian masih menatapnya, melihat mulutnyt megap- megap akhirnya dia yang buka suata lebih dulu : ,,Adakah persoalan yang ingi-i minta bantuanku?"

Cia Ing-kiat segera angkat kepala. Hun Lian menghela napas katanya perlahan : „Aku pernah janji kepadamu untuk melakukan satu pekerjaan, asal aku bisa melakukan, aku pasti menerima permintaanmu, katakan saja "

Cia Ing-kiat masih merasa berat juga mengutarakan maksudnya, maka Hun Lian berkata pula : „Setelah aku menunaikan janjiku, persoalan lama pasti takkan menjadi ganjalan sanubariku lagi."

---ooo0dw0ooo--