Tugas Rahasia Jilid 09

Jilid 09

Dalam keadaan gawat ini, Hun Lian boleh dikata satu- satunya orang yang dapat menolong dan membebaskan mereka, jikalau Hun Lian direbut lagi oleh ibunya, maka kecuali tunduk dan patuh akan perintah Kui-nio, mereka tiada pilihan lain.

Keributan yang terjadi kali ini lebih besar dari tadi. Begitu berada diatas belandar Kui-bo lantas memperdengarkan kekeh dingin yang menyeramkan, sekali bergerak entah bagaimana tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang dahan pohon dahan pohon ini melingkar-lingkar mirip akar pohon tua. Orang orang yang sudah lompat keatas belandar juga tahu kelihayan Kui bo apalagi mereka sudah terkena urat maka tiada yang; bertindak secara gagabah mereka mengawasi dengan pandangan curiga dan penuh tanda tanya. Dari pojok ruangan Thian lam siang-iau membentak : ”Lekas serahkan obat penawarnya, bila kami kerahkan tenaga jiwa putrimu melayang seketika”

Kui bo yang duduk diatas belandar, kembali dia menjengek dingin: „Baik."' serempak dia ayun tangan, maka dua bintik sinar bintang emas dengan mendengung melesat keluar dari dahan pohon, daya luncuran dua bintik terang itu sungguh cepat luar biasa, hingga tak terlihat jelas oleh siapapun, arahnya ke tempat Thian-Iam siang jan, orang banyak menduga senjata rahasia lihay namun gaya luncurannya seperti binatang hidup.

Kejadian laksana kilat menyambar, di-tengah seruan kaget orang banyak kedua titik bintang itu sudah melesat kemuka Thian-lam siang-jan, kedua orang cacat ini juga menduga Kui bo menyerang dengan senjata rahasia, dalam hati mereka masih merasa geli, dikiranya Kui-bo sudah, kebingungan karena putrinya dijadikan sandera, maka menimpukan senjata rahasia, padahal dengari bekal kepandaian mereka, memangnya takut diserang Am-gi?

Pikiran kedua orang cacat ini ternyata berpadu, serempak mereka kerahkan tenaga, lalu mengebas dengan lengan baju kearah dua bintik sinar yang menerjang tiba. Dengan bekal Lwekang kedua orang ini. mesti hanya kebasan lengan baju juga tidak kalah keras dari sampukan senjata berat, umpama Am-gi itu. dilempar dengan kekuatan dahsyat juga pasti bisa dikebasnya jatuh.

D saat lengan baju mereka mengebas itulah kedua bintang- bintang itu mengeluarkan dengung suara lebih keras, tiba-tiba mumbu ke atas, ditengah udara berputar setengah lingkar terus menukik kebatok kepala Thtan am sang jan begitu cepat sambaran kedua bintik sinar ini, sebelum   Thian Iam lang- jan sempat angkat kepala, kedua bintik sinar itu sudah hinggap dimuka mereka. Karuan bukan kepalang kaget Thian lam -siang-jan, namun dalam sekejap itu pula, muka dimana kedua bintik sinar itu menyentuh terasa linu pedas, namun tidak menimbulkan efek sampingan apapun, karunan mereka tertegun. Baru sekarang orang banyak melihat jelas kedua bintik bintang yang melesat terbang kemuka Thian lam-siang-jan ternyata benda hidup. Benarnya seperti biji asam, tumbuh sayap kecil warna kuning dengan tubuh berwarna kuning emas, bentuknya mirip kumbang, saat itu kedua binatang kecil ini berhenti sambil menggetar kedua sayapnya.

Thian-lam-siang-jan melengak sekilas saja, tanpa janji keduanya angkat tangan terus menebuk „Plak", muka sendiri digampar nya namun kedua kumbang emas itu juga ketepuk mati, waktu mereka membuka telapak tangan, mulut mendengus, serunya:„Hm, begini saja kemampuanmu?"

„Ya," sahut Kui-bo Hun Hwinio dengan tawa dingin, ”tapi sudah lebih dari cukup."

Hakikatnya hadirin tiada yang tahu apa maksud perbuatan Kui-bo, tapi mendadak mereka mendengar Thian lam-siang- jan mencak-mencak seraya berteriak-teriak aneh. Jengek tawa Kui-bo sudah cukup membuat orang banyak merinding, namun teriakan Tbian-lam siang jan sekarang lebih menggiriskan, bukan saja tajam dan mengerikan seumpama jarum menusuk kegenderang kuping, siapa takkan bergetar hatinya mendengar jeritan yang menyayat bati. sampaipun Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng yang berkepandaian tinggi juga tidak terkecuali.

Kejadian lebih lanjut lebih mengejutkan lagi, Thian-lam- siang-jan lepaskan tangannya yang menelikung tangan Hun Lian, agaknya Hun Lian sudah menduga bahwa peristiwa ini bakal terjadi, begitu dirinya bebas, dengan mengerut alis lekas dia melompat pergi.

Dalam pada itu Thian-lam-siang-jan sedang mencekik leher sendiri, dari tenggorokannya mengeluarkan suara serak rendah seperti babi yang dicekik lehernya, mimik muka mereka amat kesakitan dan menderita luar biasa. Tubuh mereka sudah menyurut mepet dinding, berdiripun sudah tidak kuat lagi, pelan-pelan roboh tersungkur dikaki tembok, lalu meronta-ronta dan berkelejetan, kedua tangan mencekik leher makin keras, lambat laun kedua bola mata pun makin melotot besar.

Tak ada hadirin yang tidak merasa takut dan ngeri melihat nasib kedua orang cacat ini, maka tiada yang berani bergerak lagi, hanya suara aneh yang keluar dari tenggorokan Thian lam-siang-jan masih terdengar makin lemah, hadirin menjublek diam.

Maka Kui bo berkata dengan nada dingin: "Kalian sudah kena "ulat tanpa bentuk" yang beracun, tiada obat penawar untuk menolong jiwa orang yang terkena ulat tanpa bentuk, namun bila kalian tidak membikin aku marah, dan tunduk akan perintah dan kehendakku, pasti ulat itu tidak akan bekerja. Tapi sekali kalian membangkang dan menentang kehendakku, bila aku melepas Kim hong (kumbang emas), bila tubuh kalian terantup. maka ulat dalam tubuh itu akan mengamuk, kalian akan tersiksa selama tujuh hari tujuh malam baru binasa."

Sudah tentu ciut nyali para hadirin, apalagi Thian lam siang jan sudah menjadi contoh, tampak tubuh kedua orang ini seperti makin mengerut, hingga tulang mengecil kulit daging justru melembung, keringat tampak membasahi sekujur badan, keadaan mereka sudah tidak menyerupai manusia.

Betapapun lihay dan luas mengalaman seluruh hadirin, mereka adalah manusia biasa, melihat keadaan yang mengerikan ini, walau kejadian bukannya menimpa diri sendiri, tapi mereka juga seperti ikut tersiksa, bila teringat dalam tubuh sendiri juga sudah kena ulat beracun ini, bukan mustahil nasib sendiri juga akan seperti itu bila tidak tunduk perintah kui bo Perubahan drastis terjadi pula pada tubuh Thian-lam-siang jan, tadi tubuh mereka mengkeret, sekarang ternyata melar dan makin membengkak besar, terutama bagian muka mereka, saking besar melarnya hingga, mata, hidung mulut dan kuping sudah tidak bisa dibedakan lagi. demikian kuat kepalanya, rambutnya mulai rontok mirip ikan gelembung yang kering kepanasan.

Kui-bo tertawa dingin, katanya: "Kalian sudah saksikan sendiri? Siapa bekerja dengan aku, bila berhasil pasti banyak manfaat yang akan kalian peroleh, siapa berani menentang kehendakku, kedua orang ini sabagai contohnya.”

Melihat betapa mengerikan siksa derita yang dialami Thian- Iam-siang-jan, siapa yang tidak mengkirik dan merinding, semua mandi keringat, tiada yang berani bercuit lagi.

Sesaat kemudian baru Oh sam Siansing buka suara : „Kui- bo, tadi kami saksikan, laju terbang kumbang emas memang amat kencang, tapi jikalau kami menyingkir jauh, yakin kau takkan mampu berbuat apa-apa."

Kui-bo terloroh-loroh bengis, kalau tadi dia bersikap ramah dengan senyum welas asih tapi sekarang sikapnya berobah sebuas binatang, loroh tawanya membuat merinding seluruh hadirin, katanya sadis: „Kumbang emas yang kupelihara kebetulan klop dengan jumlah kalian, jadi satu orang satu kumbang, kumbang yang satu berjodoh dengan ulat yang ada didalam tubuh kalian, umpama kalian berada ditempat yang ribuan jauhnya juga suatu ketika mereka akan menemukan jejak kalian, siapa diantara kalian mau mencobanya, boleh silakan pergi saja, yakin belum jauh kalian pergi, kumbang yang kulepaskan sudah pasti menyandak kalian”

Banyak hadirin merasa lega mendengar ucapan Oh-sam Siansing, namun setelah didebat Kui-bo kembali kuncup harapan mereka. Apalagi kulit daging Thian lam siang-jan sudah hampir pecah, entah kenapa kini mulai menyusut lagi, kecuali bola mata mereka yang masih bergerak, sekujur badan sudah lemas seperti tak bertulang lagt, keadaannya betul- betul tidak mirip manusia lagi.

Ditengah seringai buas Kui-bo mendadak dia membentak : ”Seret keluar”

Dua jago kosen dari Hiat ling kiong mengiakan terus melangkah lebar kepojok sana, sekali ayun mereka melepas seutas tali kecil lembut laksana laso membelit kaki Thian lam siang jan terus diseret keluar. Kontan mereka menjerit dan merintih kesakitan seperti usus dipelintir atau isi perut diremas, tubuh mereka sudah hampir telanjang karena pakaian sudah koyak-koyak waktu badan mereka melar tadi.

”Kukira sudah cukup." ujar Kui-bo, „dibawah pimpinan Oh- sam Siansing dan Pak to Suseng, kalian boleh berangkat lebih dulu, berhenti dua puluh li diselatan Kim-hou po menunggu kedatanganku. Bila aku tiba di sana. siapa diantara kalian yang melarikan diri. hehe, awas rasakan sendiri akibatnya." beruntun dia tetawa dingin tiga kaki, tawa sadis, tawa yang kejam, tiada hadirin yang tidak merinding. Mimpipun mereka tidak mengira, hanya karena loba sebutir biji teratai, mereka harus mengalami nasib seburuk ini. Maka orang banyak merubung Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng, menunggu komandonya, sekaligus ingin tahu bagaimana reaksi kedua tokoh besar ini.

On-sam Siansing dan Pak-to Suseng saling pandang sekejap, Oh-sam Siansing bergelak tawa, katanya lantang: ”Memang salah kita sendiri terlalu ceroboh, kini kejadian sudah terlanjur, apa pula yang bisa kita lakukan kecuali menurut kehendaknya ?"

Pak-to Suseng mengebas kedua lengan bajunya, meminjam daya kebasan ini tubuhnya melesat mundur kebelakang, serunya : ”Hayolah beiangkat." Kalau kedua orang ini tidak mau menelan kerugian didepan mata, orang lain mana berani menolak, dengan muka cemberut pelan-pelan mereka bergerak keluar.

Lekas sekali sebagian besar hadirin sudah beranjak keluar, hanya Utti Ou dengan bola matanya yang melotot bundar mengawasi Kui bo. agaknya dia masih membandel Kui-bo tertawa katanya: „Kalian masih kemanten baru aku tidak akan suruh kalian menempuh perjalanan jauh, maka kutugaskan kalian berjaga di Hiat-lui-kiong saja."

Utti Ou menoleh dan mengedip kepada Gin-koh, Gin-koh lantas berseru melengking : „Kui bo, kami berbakti kepadamu, dari ribuan li jauhnya menculik Cia saucengcu kemari, ternyata aku dan Thi-jan juga tak terhindar dari muslihatmu, apa langkahmu tidak terlalu."

Kui-bo menyeringai, katanya „Aku tidak boleh pilih kasih, aku harus menegakkan kewibawaan, jikalau kau setia kepadaku Lwekangmu akan bertambah maju, memangnya tidak baik?"

Padahal Gin-koh dan Thi-jan Lojin memang sudah menghamba kepada Kui-bo. perintah Kui-bo kapan berani mereka menentang, maka kejadian itu sebetulnya tidak membawa perobahan bagi mereka. Tapi kalau dulu mereka bekerja secara sukarela, sekarang justru dipaksa oleh keadaan, jelas titik tolak persoalannya berbeda cukup jauh.

Sesaat lamanya Gin-koh kehabisan akal, waktu dia angkat kepala dilihatnya Utti Ou tengah mengawasinya dengan kasih mesra senyumannya mirip laki-laki bloon, tanpa sadar ia menghela napas, apa boleh buat terpaksa dia ikut menanggung nasib yang sama.

Rombongan besar Oa-sam Siansing sudah turun kebawah dan tiba dipinggir sungai. Orang-orang Hiat lui kiong suduh menyiapkan kapal besar, orang banyak diantara keluar perairan kebetulan ada angin buritan maka kapal maju tanpa makan banyak tenaga, enam puluh li kemudian kapal berlabuh, orang banyakpun mendarat

Sepanjang jalan rombongan jago-jago silat sebanyak hampir dua ratus ini seperti kawanan anjing yang keok dimedan laga, tiada yang bergairah bicara, bukan saja lesu merekapun patah semangat. Setelah semua mendarat kapalpun bertolak balik, semua berkumpul dipinggir hutan merubung sepuluhan jago jago yang paling top diantara mereka, mulailah mereka berdebat dan bicara mengajukan pendapat masing-masing. Liong-bin Siangjin adalah orang pertama yang angkat bicara : ”Kuharap kalian jangan punya pikiran ingin mengadu untung, dulu pernah kudengar cerita orang bahwa Sam-hoa Niocu dari Biau kang ada mengajarkan puluhan atau mungkin seratus jenis cara memelihara dan melepas ulat beracun, diantaranya ulat tanpa bentuk bila kumat adalah yang paling mengerikan. Kecepatan terbang kumbang emas itu juga amat kencang, apa yang diucapkan Kui bo memang bukan gertak sambel."

Seorang berkata : ”Lalu bagaimana ? Memangnya kita harus tunduk dan patuh pada perintahnya? Mengempur Kim- hou po ?"

Liong-bin Siangjin menghela napas panjang, katanya : ”Kecuali diantara kita ada orang yang mappu mencari bongkot akar pohon tempat Kui bo memelihara kumbang emas itu, lalu di masukan kedalam peti besi yang rapat serta membakarnya sampai mati, kalau tidak terpaksa kita harus menjalankan perintahnya."

Liong-bin Siangjin bicara dengan sikap serius dan nada tertekan, seluruh hadirin juga mendengarkan dengan prihatin. Tapi Pak-to Suseng berkata : „Siangjin, jangan kau berkelakar, memangnya siapa yang bisa turun tangan mencuri bongkot akar pohon itu ?"

Hadirin saling pandang lalu tertawa getir. Liong bin Siangjin berkata : „Pak to,  jangan kau  kira aku menggoda kalian, hanya ada seorang mampu melaksanakan tugas berat ini. hanya dia pula yang dapat menolong kita semua."

Karuan pernyataan Liong-bin Siangiin mendapat tanggapan serius para hadirin. Maklum Kungfu Liong biu Siangjin memang biasa saja, namun dia terpandang dan punya wibawa diantara kaum persilatan, adalah logis kalau dia memiliki kelebihan yang orang lain tidak punya, bahwa selamanya dia tidak pernah berkelakar atau membual adalah salah satu ciri kelebihannya, maka timbul setitik harapan dalam benak orang banyak, semua menunggu penjelasan Liong-bin Siangjin.

Liong-bln Siangjin berkata : ,,Orang itu adalah nona Hun Lian"

Hadirin menunggu dengan tegang, mereka kira Liong-bin Siangjin akan menampilkan seorang tokoh lihay yang cukup mengejutkan, kini mendengar calon penolong mereka adalah Hun Lian, semua orang lantas menyengir tawa. Beberapa orang yang berhati lemah terbayang selanjutnya mereka harus hidup dibawah orang serta terbelenggu kebebasannya, maka pecahlah isak tangis mereka.

Lekas Liong-bin Siangjin membujuk: "Saudara-saudara dengar dulu penjelasanku. Memang Kui bo pasti menjaga ketat dan menyimpannya secara rahasia agar kumbang emas itu tidak tercuri orang betapapun dia ketat menjaga dan mencurigai orang lain pasti tidak akan curiga kepada putri tunggalnya sendiri, apakah ucapanku tidak benar?"

„Beuil, apapun dia tidak akan curiga kepada putri sendiri. Tapi Hun Lian adalah putrinya, memangnya dia mau berkiblat keluar, membela orang lain memusuhi ibunya sendiri ? Sudahlah, jangan kau singgung lagi soal ini." demikian debat Oh-sam Siansing.

„Oh-sam, umumnya gadis yang dewasa hatinya pasti berkiblat kepada orang lain,hanya ada satu orang yang dapat menunjuk dan menaklukan Hun Lian untuk melakukan akalku itu."

”Siapa?" beramai ramai orang banyak bertanya.

”Siapa lagi, sudah tentu Cia Ing kiat, Sau-cengcu Kim-liong ceng.”

Hadirin terbeliak dan akur akan akal ini, walau sebagian besar orang-orang ini masih menyangsikan ucapan Liong-bin Siangjin, walau harapan itu terlalu jauh, namun setitik harapan sekalipun tidak salah untuk diraihnya. Apalagi orang banyak juga tahu, Hun Lian kenal Cia Ing-kiat di Kim-hou-po, kalau Kui-bo bisa suruh orang menculik Cia Ing-kiat kemari serta hendak mengawinkan putrinya kepadanya, sudah tentu Hun Lian sudah jatuh cinta kepada pemuda itu.

Tapi orang banyak juga tahu Cia Ing-kiat diculik pula oieh Liong-bun Pangcu, pada hal Liong-bun Pangcu terkenal misterius, jejaknya tidak diketahui, siapa dan bagaimana asal- usulnya juga tiada yang tahu. sejauh ini kaum persilatan belum ada yang tahu di mana letak markas pusat Liong-bun pang, lalu kemana mereka harus menemukan jejak Cia Ing- kiat? Maka orang banyak-kembali menj idi lesu. Oh sam Siansiu menghela napas, katanya: "Sekarang tiada jalan sama sekali kita patuh akan perintah Kui-bo, mempersiapkan diri ketempat yang ditentukan oleh Kui-bo, jumlan kita sekian banyak, supaya tidak menarik perhatian orang, kalian harus berpencar dan dibagi beberapa rombongan, terserah bagaimana kalian akan berangkat. Perlu kuperingatkan, apa yang diucapkan Liong-bin Siangjin bukan main-main, maka sepanjang jalan peduli menghadapi apa, jangan kalian menunda diri hingga terlambat, kalian harus bertanggung jawab kepada raga sendiri."

Mungkin baru pertama kali ini Oh sam Siansing bicara secara s Kaum persilatan memang hidup diujung golok dan pedang, tapi seseorang tidak mudah untuk menghabisi jiwa sendiri, maka hadirin tiada yang membantah, semua berjalan bersama teman yang dikenalnya baik, seperti datangnya mereka teras berpencar. Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng berangkat paling akhir,namun mereka juga tidak banyak bicara.

000)0(000

Setelah hujan lebat malam harinya, sejak pagi hingga lohor mentari semakin terik. Jalan raya menuju kesungai tak jauh di selatan Kim-hou-po sudah berderu dan kering kerontang, dermagapun retak-retak. Dermaga ini bukan lain adalah tempat penyebrangan waktu Cia Ing-kiat menyamar jadi Ciong Tay-pek merarikan diri dari Kim-hou-po dulu, didermaga ini kecandak para pengejarnya, waktu itu dia menyamar pula jadi petani muda sehingga lolos dari pengawasan Thian-te-siang- sat dan Toa-ho-sam-cu

Sejak perintiwa tragis itu, tiada orang berani menyebrang sungai dari dermaga ini sehingga tempat ini makin terbengkelai,gubuk pendek di mana kakek anak dan cucu bertiga yang memiliki kapal tambangan itu bertempat tinggal kini sudah ambruk sebagian, sekitarnya ditumbuhi rumput liar, jalanan yang tembus kearah dermaga ini pun sudah menjadi semak belukar.

Tengah hari itu terik mentari memang luar biasa, hingga orang merasa sesak bernapas, ditengah arus sungai yang bergulung-gulung tampak sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju kedaratan Pemegang galah di atas perahu adalah seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kain hitam mengke-rudung kepala, diburitan perahu ada dua ekor kuda berbulu putih salju, disebelah laki-laki berkerudung ini duduk seoraug gadis remaja yang mengenakan cadar deugan kain hitam mengikat sanggul, walau tak kelihatan raut mukanya, tapi dari perawakannya yang ramping semampai dapat dibayangkan bahwa gadis ini pasti cantik rupawan.

Lekas sekali perahu sudah menepi, pemegang galah agaknya cukup mahir mengendali perahu, dalam jarak tiga tombak sebelum perahu menyentuh daratan, jangkar yang terikat rantai sudah dilempar keatas daratan jangkar amblas kedalam tanah, laki-laki itu lantas menarik ramai hingga perahu lebih cepat merapat, gadis yang duduk dtujung perahu segera berdiri, setelah membetulkan sanggulnya dia menurunkan cadarnya, maka tampak wajahnya yang ayu jelita, gadis ini bukan lain adalah Hui Lian, putri Kui bo Hun Hwi-nio pemilik Hiat-lui-kiong.

Pemegang galah bambu itu ternyata beralis tebal, juga seorang perempuan, siapa lagi kecuali Li pi-lik. begitu perahu menepi Hun Lian mendahului lompat kedarat. dengan mulut cemberut Li-pi-lik seperti dirundung persoalan, dia ikut naik kedarat sambil menuntun kedua ekor kuda itu.

Hun Lian langsung menceplak kepung-gung kuda. katanya

: „Berapa jauh tempat ini dengan Kim-hou-po ?"

„Hanya tiga puluhan li, rombongan orang itu mungkin sudah berada didepan."

Bercokol dipunggung kuda Hun Lian mengawasi arus sungai yang bergolak deras, katanya : ”Lalu di mana sebetulnya Liong-bun-pang mendirikan pangkalannya ”

Li pi lik tertawa getir, sesaat baru menggeleng kepala. Hun Lian berkata kurang gembira.Kau sebagai salah satu dari tiga saka sungai besar ini. padahal Liong-bun-pang juga beroperasi disekitar sungai, apa betul kau tidal tahu letak markas mereka?"

Mulut Li-pi-lik tetap cemberut lalu geleng kepala tiba-tiba Hun Lian mendengus, katanya gemes;” Jangan kau banyak pikiran.''

Agaknya Li-pi-lik sudah sekian lama memendam perasaan yang tak terlampias mendadak dia berteriik;„Aku bukan banyak pikiran. Kau hanya bertemu muka dua kali didalam Kim-hou-po. aku sebaliknya pernah dipeluk didalam air dan dibopong naik keatas darat, sudah selayaknya kalau aku lebih merindukan dia dari pada engkau.''

Hun Lian melotot, desisnya dingin".,,Berani kau bilang begitu lagi, selamanya jangan kau bertemu lagi dengan aku."

Bibir Li-pi-lik sudah terbuka, namun dia urungkan omongan yang hampir terlontar segera diapun melompat kepurugung kuda serta mengepraknya pergi. Lekas Hui Lian juga larikan kudanya, kedua kuda putih ini dibedal tanah gersang hingga menimbulkan kepulan debu tinggi dibelakang.

Jalan raya sejajar dengan sunrai yang menuju keutara ini ternyata sepi lengang ke cuali mereka berdua yang menunggang kuda tiada manusia atau binatang lain dijalan raya ini. Kini Hun Lian larikau kudanya disebelah depan Li pi- lik disebelah belakang. Kanan kiri jalan hanya ditumbuhi beberapa pucuk pohon yang jarang-jarang rasanya tiada tempat untuk orang sembunyi disana, maka Hun Lian tidak pernah melirik kiri atau kanan. kuda terus dilarikan dengan kencang. Li pi-lik masih ikut d belakangnya Disaat mereka melewati pula beberapa gerombol pohon mendadak sebatang pohon d sebelah kanan tak jauh disebelah depan pelan-pelan roboh melintang dijalan, menyusul selarik sinar berlebat, Li-pi- lik merasa sejalur angin kencang membawa sebuah benda menungkrup ke atas rapalnya.

Kejadian mendadak secara tidak terduga lagi, lagi pula Li pi-lik tidak perhatikan sebelum dia melihat jelas, namun hidung sudah mengendus bau amis, sebelum dia sempat berteriak lehernya tiba tiba seperti dijirat, lalu tubuhnya terangkat mumbul.

Padahal Li-pi-lik bukan kaum lemah, tapi perobahan ini terjadi secara cepat, disaat tubuhnya terangkat mumbul itu sempat didengarnya kuda tunggangannya masih lari ke- depan, namun kejap lain dia merasa dada terasa dingin, tenaga merontapun belum sempat dia kerahkan dia sudah tidak ingat apa-apa lagi Sementara batang pohon yang barusan ambruk ketengah jalan itu kini telah tegak berdiri pula, ternyata dahan pohon merekah dan bolong bagian tengahnya ditempat yang itu tampak sembunyi satu orang, orang ini berperawakan tinggi kurus, jikalau saat itu dia sedang menarikan kedua tangannyaa, sepintas lalu orang akan menyangka dia patung kayu, bukan manusia hidup

Tampak tangan kirinya memegang sebuah gelang besi, dia tas gelang besi diikat tali lemas, diujung tali itu, terpasang sebuah jaring tembaga, kepala Li-pi lik sudah terjaring rapat, darah tampak mengalir dari pinggir jaring yang menjirat kencang sementara tangan kanan juga memegang seutas tali, tali itu tertarik mengencang mencabut sebatang pisau runcing dari dada Li-pi lik.

Tubuh Li-pi-lik sudah menggeletak ditanah rumput, sekali sendal tangan kiri, jaring benang baja itu terlepas dan mencelat mumbul keudara menaburkan darah segar. Agaknya Li-pi-lik sudah ajal dengan leher terjirat dan dada tertusuk pisau, agaknya dia mati penasaran maka kedua matanya mendelik besar. Tapi pembunuh itu tidak hiraukan mayatnya, kepalanya, terangkat memandang jauh kedepan.

Orang kurus kering ini bertindak secara cepai dan cekatan, kematian Li pi-lik hanya berlangsung dalam sekejap. tanpa mengeluarkan suara terus roboh ketanah. Selesai membunuh Li pi lik, sementara Hui Lian masih terus mencongklang kudanya sejauh tiga puluhan tombak, gelagatnya dia tidak tahu bahwa lawan asmaranya ini sudah menemui ajal secara penasaran di tangan musuh yang tidak dikenal.

Maklum kuda tunggangan Li-pi-lik masih terus berlari d belakang. Orang kurus itu menggerakkan kedua tangan, jaring baja dan pisau runcing diujung talinya itu segera dia simpan dan diikat dipinggang terus mengembangkan Ginkang meluncur kedepan. Sungguh sebat gerakan orang kurus ini, begitu dia meluncur kedepan, ternyata menimbulkan deru angin yang menggulung ke-pinggir hinggi debu pasir dijalan raya beterbangan, lekas sekali dia sudah menyusul tiba, sekali enjot kaki .dengan enteng dia hinggap di punggung kuda yang tadi dinaiki Li-pi lik. Pelan pelandia tepuk tengkuk kuda, kuda itu segera mempercepat larinya hingga jaraknya lebih dekat dibelakang Hun Lian.

Setelah mendengar ucapan Li-pi-lik yang blak blakan tadi. mungkin Hun Lian merasa dongkol dan masgui maka dia tidak pernah menoleh lagi meski mendengar lari kuda di belakangnya menyusul makin dekat, karena dia tidak nenduga bahwa Li-pi-lik sudah mati, penunggang kuda sudah ganti orang lain yang juga mengancam jiwanya

Kuda itu dibedal makin kencang dan jarak juga makin dekat, kini tinggal lima kaki di belakang Hun Lian, tampak orang kurus itu mendekam tubuh kedepas, dari punggung kuda itulah dia menjulurkan jarinya langsung menutuk ke Sin tong hiat dipunggung Hun Lian. 

Serangan orang kurus ini teramat cepat dan lihay, dalam keadaan tidak siaga dan tidak menduga, sepantasnya serangannya pasti kena sasaran dengan telak. Tapi Kungfu Huin Lian tidak bisa dibanding kepandaian Li pi-lik. begitu orang itu menuding dengan tutukannya yang keras, Hun Lian lantas merasakan adanya gejala tidat beres dibelakang firasat mengatakan bahwa seseorang membokong dirinya dari belakang, maka secara reflek dia mendoyong badan kepinggir.

Dalam waktu sesingkat itu susah dia menduga siapa gerangan yang membokong dirinya, maka dia menduga karena keki dan dendam mendadak timbul maksud jahat Li-pi- lik hendak membunuh dirinya, maka begitu dia mendoyong tubuh kepinggir sekaligus dia membentak : ”Ingin mampus kau." Serangan itu amat cepat, ternyata gerakan menghindar Hun Lian lebih cepat lagi, "ser" tutukan jari nyerempet lewat dipinggang Hun Lian Baru sekarang Hun Lian melihat jelas pembokong dirinya ternyata adalah jari-jari angan yang kurus kering seperti cakar burung, jarinya panjang luius dan runcing. jelas ini bukan jari-jari Li-pik-li, baru sekarang dia tersirap kaget.

Dengan mendoyong tubuh kepinggir tubuhnya masih bergelantung di punggung kuda, kuda juga masih mencongklang kedepan begitu merasa gelagat jelek, secara reflek tangannyapun menepuk balik kearah cakar kurus kering itu. Begitu tutukan luput orang itupun segera menarik tangan, namun pada saat itu pula tubuh Hu Lian sudah meninggalkan punggung kuda. melebat miring keluar ditengah udara tuhunnya berputar seratus delapan puluh derajat baru kakinya hinggap ditanah, bentaknya : „Siapa kau ?"

Ternyata gerakan orang kurus iui juga amat tangkas, hampir dalam waktu yang sama diapun meninggalkan punggung kuda langsung menubruk. Begitu cepat tubrukan orang hingga Hun Lian tidak sempat melihat jelas tampang lawannya, cuma dia melihat bayangan orang yang bertubuh kurus kering tinggi langsung menubruk kearahnya. Kaiuan hati Hun Lian kaget tercampur gusar, dite-

Tigah hardikannya pergetangan tangan terbalik selarik benang merah kontan melesat kedepan.

Benang merah ini pernah dipaksa balik oleh Sin-san lng Lui Ang-ing waktu masih di Hiat-lui-liong tempo hari, Kui-bo Hun Hwi-nio pernah memotongnya separo, namun panjangnya masih ada lima enam tombak, apalagi benang merah ini adalah senjata ampuh yang sejak kecil dibuat mainan oleh Hun Lian, begitu dia kerahkan tenaga benang merah itu bisa mengencang lurus seperti kawat, maka kali ini bayangan orang itu langsung ditusuknya dengan benang merah yang tegak kencang, dengan serangannya ini Hun Lian yakin dirinya  berada dipihak unggul, diluar dugaan, disaat sinar merah berkelebat itu, bayangan orang itu mendadak juga melejit keatas udara.

„Plok" karena saluran tenaga dalam Hun Liau benang merah itu menjadi kaku lurus dan menusuk bolong baju bagian bawah orang, namun karena orang itu melayang keatas maka bajunya yang bolong tampak koyak besar.

Gerakan orang kurus ternyata cepat luar biasa, begitu tubuh melambung tanganpun bergerak, Hun Lian rasakau tubuhnya ditindih satu benda kemilau yang berat. Pada bal dia masih bercokol dipunggung kuda, sejak merasakan dirinya dibokong orang, dia sudah mendapat firasat bahwa orang ini tidak gampang dilayani, maka diapun sudah waspada, begitu jaring baja itu menungkrup turun, tubuhnya lantas miring dan meluncur minggir keluar. Sebelum kakinya menyentuh tanah, jaring baja itu jatuh dipunggung kuda maka kuda iiu yang terjirat serta meringkik kesakitan, darah tampak muncrat dari tubuh sang kuda.

Sudah tentu Hun Lian terperanjat, pengalamannya berkecimpung di Kangouw bukan cetek, namun senjata macam apa sebetulnya jaring baja yang tajam ini, ternyata dia belum pernah tahu atau melihatnya. Sejauh peristiwa ini berlangsung dia belum sempat melihat siapa pembokong dirinya, maklum dalam keadaan gawat begini sudah tentu tak sempat dia pikirkan hal ini, ditengah udara tubuhnya bersalto, begitu kaki menyentuh bumi kontan dia menimpuk tiga buah senjata rahasia yang bersinar kemilau kearah musuh.

Sejak kecil Hun Lian sudah dididik oleh sang ibu, kepandaian silat Kui-bo Hun Hwi-nio teramat tinggi. Hampir mencangkok seluruh inti ilmu silat berbagai perguruan lain senjata rahasia yang dipelajari juga mendapat warisan keluarga Tong di Sujwan, malah setiap am-gi yang digunakan sudah dia bubuhi atau direndam racun yang diraciknya sendiri. Tiga biji teratai besi yang ditim-pukan Hun Lian sekali ini juga beracun jabat. Waktu menimpukan senjata rahasia, Hun Lian melihat lawan masih terapung diudara, tapi begitu tiga biji teratai besi meluncur dengan desis suaranya yang nvaring, tampak orang itu seketika melorot jatuh terus bergulingan di tanah, sebilah pisau terbang tahu-tahu melesat dari tangan kiri orang itu bagai kilat mengincar tenggorokan Hun Lian.

Tampak oleh Hun Lian pisau terbang lawan diikat benang lemas, secara reflek Hun Lian juga mengayun benang merahnya Tidak menangkis atau membelit pisau terbang, tapi arah benang merah Hun Lian untuk menggubat benang dibelakang pisau terbang lawan, begitu benang saling sentuh, seperti ular saja benang merah Hun Lian lantas menggubat kencang.

Gebrak serangan menyerang ini berlangsung dalam waktu singkat dan cekat sekali, kesempatan ganti napaspun hampir tiada, Hun Lian tabah hati karena senjata rahasia yang dibawa cukup banyak, walau dia tahu lawan masih bersenjata jaring baja yang tajam, pada hal benda apa dan bagaimana bentuknya dia tidak tahu, namun dirinya harus waspada menghadapinya, sekarang dia merasa perlu menggubat pisau terbang lawan, paling tidak untuk cari kesempatan mengelabui orang macam apa sebetulnya lawannya ini.

Berhasil menggubat benang pisau terbang lawan, Hun Lian lantas menarik mundur tangannya. Ternyata dalam waktu yang sama orang itu juga menarik tangan, maka benang dan tali kedua orang saling tarik menjadi kencang.

Terpaksa orang itu menghentikan gerakannya, Hun Lian baru melihat jelas tampang orang, kedua matanya cekung, tubuhnya kurus tinggi seperti genter kulit badannya hitam coklat tulang pipinya menonjol, rambutnya ikal lebat, melihat tampangnya jelas dia bukan oiang bangsa Han. Hun Lian langsung membentak : „Siapa kau ?"

Disaat Hun L an membentak orang itu-pun berteriak aneh, tapi apa maksud teriakan orang Hun Liau tidak tahu. Hun Lian disuruh berangkat dulu untuk mengatur orang-orang gagah yang sudah berangkat bergerombol ke Kim-hou-po, tak pernah terpikir olehnya disaat dirinya hampir mencapai tujuan, ditengah jalan muncul jago kosen yang aneh ini hendak membunuh dirinya Karuan amarahnya terbakar, sambil tetap menarik benang beruntun tangan yang lain terayun beberapa kali puluhan senjata rahasia bertahuran dari tangannya. Semua mengundang dikala meluncur diudara, dlbawah sinar matahari tampak puluhan senjata rahasia yang bertahuran itu seluruhnya berbentuk bundar seperti uang tembaga yang bolong tengahnya, tipis dan tajam pinggirnya ditingkah sinar matahari memancarkan kemilau hijau tua.

Gaya timpukan Hun Lian boleh dikata menggunakan gaya serangan yang paling top dari kepandaian menimpuk senjata rahasia, dinamakan Boan-thian-say kim ci (menabur uang ketengah udar ) menurut kebiasaannya, bila empat puluh sembilan keping uang emas di timpukan, paling celaka juga pasti ada satu keping yang mengenai sssaran. Apalagi empat puluh sembilan keping mata uang emas itu semua beracun cukup sekeping saja dapat menamatkan jiwa orang. Begitu mata uang emas bertaburan dengan suara mendengung, wajah orang itu mengunjuk rasa heran dan aneh, seperti orang linglung yang lupa menyelamatkan jiwa. dalam keadaan tertegun, jelas tubuhnya akan menjadi sasaran empuk empat puluh sembilan keping mata uang iiu.

Pada saat gawat itulah, dari belakang pohon tak jauh dipinggir jalan mendadak kumandang gerungnn keras, bayangan seorang laksana setan berkelebat maju. kecepatan gerak tubuhnya sungguh luar biasa, langsung menerjang kearah orang aneh yang berdiri melongo itu. Watau cepat terjangannya. namun empat puluh sembilan mata uang mas itupun sudah membrondong tiba, bayangan yang menubruk maju itupun menimbulkan pusaran angin kencang hingga pakaiannya me-lambai keatas. Dalam sekejap ada dua puluhan mata uang emas itu berjatuhan diatas badan bayangan itu. namun terdengarlah suara Trang, tring", seluruh mata uang yang menyentuh tubuhnya semua terpental jatuh berhamburan.

Sigap sekali bayangan yang menubruk tiba ini ulur tangannya, dengan dua jari tangannya dia menjepit tali hingga putus, berbareng tangan yang lain memukul balik hingga orang aneh yang tertegun itu dipukulnya jungkir balik kebelakang.

Kejadian berlangsung dalam waktu singkat, be gtu badan kedua orang ini jungkir baiik beberapa kaki jauhnya, sisa mata uang ejias timpukan Hun Lian baru berjatuhan diatas tanah sederas hujan ja uh dipermukaan empang menimbulkan kepulan debu.

Dalam keadaan yang sudah terdesak mendadak lawan kedatangan bantuan hingga jiwa orang itu diselamatkan, melihat mata uang emas sendiri juga tidak mempan diatas badan penolong itu, diam-diam Hun Lian terkejut dia tahu pendatang baru ini pasti memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari orang aneh semula yang menyergap dirinya, satu lawan atu dirinya belum tentu kuat melawan apalagi lawan kedatangan tenaga baru, sudah tentu Hun Lian merasa waswas Begitu kedua orang itu jungkir balik dan mata uangnya berhamburan di-tanah, Hun Lian segera mengempos semangat terus melayang mundur.

Kedua pihak mundur tiga tombak, bila Hun Lian berdiri tegak memandang kearah depan sementara kedua orang itupun sudah berdiri pula.

Laki laki kurus tinggi berkulit coklat itu sedang bicara dengan suara keras, sikap dan mimiknya menunjukan bahwa dia amat marah, tapi apa yang diucapkan Hun Lian tidak tahu. Bila dia melihat orang ke jua yang baru datang, rasa kejutnya bertambah besar. Kalau laki-iaki kurus tinggi berkulit coklat itu kelihatan bukan bangsa Tionghoa, namun bangsa Persia, Arab atau Eropa atau India sudah pernah Hun Lian melihatnya. Tapi orang yang baru datang ini betul-betul ganjil dan belum pernah dilihatnya. Perawakan orang ini juga tinggi besar, rambutnya kuning emas berkilauan ditingkab matahari hingga mirip sutra emas yang mengkilap. Demkian pula brewoknya berwarna kuning emas gelap, hidungnya besar, bola matanya bewarna biru kulit badannya puiih bersemu merah, anehnya diapun sedang bicara seperti orang kurus tinggi coklat itu, sambil bicara tangannya bergerak-gerak hingga tampak bulu tangan dipunggung telapak tangannya juga warna emas.

Hun Lian belum pernah melihatnya sudah tentu dia tidak mengenalnya bahwa orang ini bukan lain adalah pejabat Liong-bun-pang Pancu yang sebarang asalnya dari Barat, menghadapi keperkasaan orang aneh ini Hun Lian sampai berdiri kesima.

Tampak Liong-bun Pangcu seperti berdebar sengit dengan orang kurus tinggi, wajahnya juga kelihatan marah, akhirnya Liong-bun Pangcu menoleh dan berkata: ”Nona Hun tentu kaget, Cayhe Liong-bun Pangcu.” Pada hal bentuk orarig jauh berbeda dengan bangsa Han kita, tapi begitu buka suara dia fasih berbahasa Han  dengan lancar.

Begitu orang buka suara Hun Lian lantas kenal suara orang ini memang mirip suara yang pernah didengernya di Hiat-lui- kiong tempo hari, suara yang bicara dari dalam tandu, waktu itu mimpipun orang banyak takkan menduga bahwa Liong- bun-pang Pangcu ternyata adalah manusia berbentuk aneh seperti mahluk yang menakut

Pembaca sekarang tentu sudah tahu bahwa suku bangsa didunia ini terdiri beribu macam ras yang berbeda, makluk masa itu kehidupan masih serba primitif, sejak jaman dulu daratan Tiongkok tertutup oleh bangsa lain, hingga tidak tahu adanya lain ras kecuali bangsa Tionghoa mereka, maka di sini perlu kami jelaskan bahwa Liong-bun-pang Pangcu berasal dari Eropa barat, dinegerinya dia terhitung laki-laki gagah ganteng, tapi bagi pandangan orang-orang Tionghoa masa iiu, seperti Hun Lian umpamanya, laki-laki berambut merah bermata biru ini dianggapnya manusia setengah binatang, masih untung kalau Hun-Lian yang kenal huruf pandai membaca ini hanya beranggapan demikian, tapi orang lain mungkin Liong-bun Pangcu bisa dianggap lutung emas atau siluman.

Hun Lian menyeringai dingin, dia tahahkan hati, katanya: ”Kenapa aku harus takut terhadapmu?”

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya” ”Kepandaian menimpuk senjata rahasia nona Hun barusan sungguh amat lihay, kejadian ini kurasa hanya karena salah paham, pada hal aku hanya mohon bantuan saudara ini berunding dengan nona Hun, tak kira tabiatnya terlalu berangasan, tanpa bicara dia menyerang nona Hun malah.”

Laki-laki kurus tinggi itu seperti tahu apa yang diucapkan Liong-bun-pang Pangcu, dengan wajah penasaran dia mendengus geram.

Mendengar penjelasan Liong-bun Pangcu, Hun Lian malah naik pitam, serunya: ”Jangan ngomong seenak udel nu sendiri, tahukah kau seorang murid, guruku sudah dibunuhnya?’”

Liong-bun Pangcu seperti terkejut, segera dia menoleh dan bertanya dengan bentakan bengis kepada laki laki kurus tinggi. Apa yang diucapkan Liong-bun Pangcu, Hun Lian juga tidak paham, namun sikap orang tinggi kurus seperti amat murka dan tidak terima, kedua orang ini lantas ribut dan bertengkar.

Mungpung kedua orang ini bertengkar sebetulnya Hun Lian mau tinggal pergi saja, di-saat dia bimbang itulah, kejadian telah bero-bah, makin bertengkar kedua orang ini makin ngotot, sama-sama murka, ”Wut” mendadak Liong-bun Pangcu layangkan tinjunya kemuka laki-laki kurus, pukulan lurus dan lugu seperti tidak mengandung jotosan lihay

Lekas laki-laki kurus mengegos, samhil menggerung dia balas munyendal jaring baja di tangannya mengepruk ke batok kepala Liong-bun Pangcu. Kembali Liong-bun Pangcu menggerung, tinjunya yang lain kontan menjotos kearah jaring baja orang ”Tang” jotosannya kena telak.

Hun Lian melihat jelas begitu terpukul jala baja itu lantas mendekuk gepeng, celakanya jala baja. Yang gepeng ini terpukul balik menerjang kearah dada tuannya. Laki-laki kurus itu memekik keras sambil melompat mundur tali yang dipegang dibuang terus lari sipat kuping.

Gerak gerik laki-laki kurus tinggi ini boleh dikata amat cepat dan tangkas, namun kecepatan jala baja yang dekuk terpukul Liong bun Pangcu itu lebih kencang lagi, baru saja laki-laki kurus membalik tubuh dan berlari bebsrapa langkah, jala bajanya itu sudah menumbuk punggungnya, kontan dia menjerit pula dengan nada aneh. Darah-pun man emour dari mulutnya. Sambil berteriak aneh, darah berhamburan tubuhnya masih tersungkur maju menumbuk pohon besar di pinggir jalan Sesaat baru dia membalik badan perlahan lalu berdiri menggelendot pohon, napasnya empas empis, wajahnya yang berkulit coklai gelap kini berobah pucat menakutkan. Tampak jarinya terangkat menuding Liong-bun Pangcu seperti hendak omong apa, mendadak Liong-bun Pangcu menghardik keras kearahnya.

Jarak Hun Lian dengan Liong-bun Pangcu ada enam tombak, namun hardikan Liong-bun Pangcu sungguh sekeras guntur hingga genderang kupingnya seperti hampir pecah, sekian saat masih mendengung sakit. Celaka adalah laki laki kurus itu. Mendadak tubuhnya mengejang kaku lalu pelan- pelan roboh terjerembab dipinggir jalan, darah masih beibamburan dari mulutnya, setelah terluka parah, akhirnya dia mati kaget dan terputus seluruh urat nadi badannya oleh hardikan Liong-bun yang mengguntur.

Segera Liong bun Pangcu membalik, wajahnya masih tampak gusar, menuding mayat laki laki kurus, dia berkata kepada Hun Lian: „Coba saksikan nona Hun.dia bertindak sesuka hatinya, berani bermusuhan dengan nona Hun, maka aku membunuhnya.”

Sergapan laki-laki kurus tadi amat cepat dan lihay, Hun Lian dibuat kerepotan, untung dia mahir menggunakan senjata rahasia baru lawan balik d desaknya, maka dia dapat mengukur sampai dimana taraf kepandaiannya. Tapi dalam segebrak saja ternyata dia sudah mampus ditangan Liong-bun Pangcu maka dapat dibayangkan betapa tinggi kepan daian Liong-bun Pangcu, hardikan mengguntur Liong-bun Pangcu tadipun membuat perasaan Hun Lian bergolak, jantung seperti hampir copot, sampai sekarang masih berdebar-debar, katanya:,,Ya, aku sudah melihatnya.”

”Mohon nona Hun ikut aku untuk bertemu dengan Cia- saucengcu ”pinta Liong-bun Pangcu.

Menyinggung nama Cia Ing-kiat, berdebar pula jantung Hun Lian, teriaknya tertahan ”Di dimana dia sekarang?’’

Liong-bun Pangcu tersenyum : ”Baik-baik saja, dia amat merindukan kau,”

Tanpa sadar Hun Lian menghampiri beberapa langkah.

Maka. Liong bun Pangcu lantas berkata:. ”Ikutlah aku.”

Habis bicara tubuhnya lantas meluncur kedepan. Ternyata Hun-Lian membuntuti dibelakangnya. Waktu lewat dipinggir mayat laki laki kurus tinggi itu, kaki Liong bun Pangcu menendang hingga jala tembaga itu mencelat terbang delapan tombak jauhnya jatuh keselokan dipinggir jalan

Tampak oleh Hun Lian waktu jala bundar itu melayang diudara dibagian dalamnya seperti dipasang banyak duri atau pisau tajam yang bergerak, sayang hanya sekilas pandang hingga tidak begitu jelas. Sudah tentu tak pernah terpikir oleh Hun Lian, bila laki-laki kurus tinggi ini tidak mati ditangan Liong bun Pangcu senjatanya yang ampuh dan jahat itu mungkin sudah berkembang dan mengganas serta merenggut banyak jiwa manusia tak usah menunggu tiga ratus tahun kemudian, disaat dynasti Jing bertahta, baru senjata ini dikenal orang dan menggemparkan kalangan persilatan, yaitu Hiat te-cu yang telah merenggut entah berapa banyak jago- jago silat di Tionggoan.

Dengan Ginkaog tinggi Hun Lian. Menguntit dibelakang Liong-bun Pangcu, lekas sekali mereka sudah tiba dipinggir sungai. Keadaan disini sepi lengang, tiada bayangan seorangpun di sini, setiba dipinggir sungai Liong-bun Pangcu bersiul panjang dan pendek suaranya nyaring menjulang tinggi eniah sampai berapa jauhnya, maka dari iemak-se muk tak jauh dipinggir sungai sana muncul bayangan beberapa orang. Cepat sekali bayangan orang itu sudah meluncur tiba sambil memikul sebuah tandu, tidak asing bagi Hun Lian. Melihat tandu yang telah dilihatnya di Hiat. Lui Liong, waktu itu memikul tandu ada delapan orang, dua diantaranya terpukul mati oleu Hu-lo Popo, namun pemikul tandu sekarang tetap delapan orang, dua orang yang mati sudah dicari gan tinya.

Bila tandu sudah berhenti didepan Liong bun Pangcu, dia berkata dengan tertawa: „Silakan naik ketandu ”

Secara otomatis pintu tandu terbuka, waktu Hun Lian memandang kedalam pajangan tempat duduknya amat mewah dengari dinding yang dilembari beludru hijau, luas-nya cukup untuk duduk empat orang. Hun-Lian bimbang, maka dia bertari ya:”Dan kau?”

Liong-bun Pangcu seperti tahu maksud hati Hun Lian, dengan gelak tawa dia berka-ta:„Aku akan mengintil dibelakang tandu.” Bahwa jawaban Liong-bun Pangcu secara blak-blakan dan sering ini sungguh diluar dugaan Hun Lian. Dia sudah menunduk hendak melangkah sedalam tandu, tapi baru satu kakinya bergerak, mendadak didengarnya Liong-bun Pangcu membentak : ..Siapa hayo keluar.”

Bentaknya ini mendadak dan keras laksana gunrur, Lwekang Hun Lian sudah setaraf kelas satu, tak urung dia berjingkrak kaget dan pekak telinganya. Tahu bahwa perobahan akan terjadi pula, lekas dia membalik badan, maka dilihatnya seluruh rambut emas Liong bun Pangci turun naik seperti berombak, kelihatannya amat ganjil sepasang matanya yang biru memancarkan cahaya terang, tubuhnya sedikit jongkok kedua tangan lurus kedepan lantas menepuk deras.

Arah ke mana dia mendorong kedua telapak tangannya terdapat segundukan tanah liat dalam jarak dua setengah tombak tinggi nya juga hanya lima enam kaki, Kelihatannya seperti dinding tanah yang sudah ambruk.

Kejadian hanya sekilas saja sikap dan kelakuan Liong-bun Pangcu kelihatan kereng buas dan menakutkan segalak singa yang mengamuk, dorongan kedua telapak tangannya menimbulkan gemuruh angin yang melanda kedepan, walau yang digempur hanya segunduk tanah, tapi Hun Lian dan delapan pemikul tandu tak urung tersibak minggir, pakaian mereka berderai. Tertiup angin kencang.

”Bumm” gundukan tanah yang terpukul itu mendadak meledak, tanah liat mencelat berhamburan keudara, dari bawah gundukan yang terpukul roboi berhamburan itu mendadak menongol satu orang. Padahal deru pukulan Liong bun Pangcu tidak berhenti begitu saja, hamburan batu dan tanah yang’ melayang diudara berjatuhan dibadan orang ini, hingga rambut kepalanya yang awut-awutan kotor tertiup angin pukulan menutupi mukanya. Tampak jidatnya lebar, bentuk wajahnya lonjong, walau rambut yang kusut tidak karuan menutup mukanya yang pucat, namun bentuk badannya kelihatan membawa wibawa yang menakutkan. Padahal betapa deras samberan angin pukulan Liong-bun Pangcu, tapi orang itu berdiri tegak melawan angin bergelak tawa lagi.

Begitu orang ini menongol dari bawah tanah Liong-bun Pangcu sudah menarik kedua tangannya, berdiri tegak siaga. Orang itu tertawa lalu berkata : „Dapat melihat ujud asli Liong bun Pangcu, adalah kejadian yang menggem birakan.”

Begitu orang ini buka suara, seketika Hun Lian tercengang. Orang ini dia belum pernah melihat, namun suaranya cukup dia kenal adalah suara Hu lo Popo yang pernah didengarnya di Hiat lui-kiong.

Setelah Liong-bun Pangcu menculik Cia Ing kiat, Hu-lo Popo berbincang dengan Kui-bo Hun Hwi-nio serta membuat tubuhnya melar, hingga orang banyak tahu bahwa dia bukan Hu lo popo yang asli, namun siapa dia sebetulnya tiada seorangpun yang tahu.

Terutama Hun Lian, sejak percakapan orang ini dengan ibunya yang mengandung rahasia itu, dia sudah menaruh perhatian terhadap orang aneh ini, namun sejak kejadian itu berulang kali dia tanya kepada ibunya, namun sang ibu tidak mau memberi penjelasan malah marah dan melarang dirinya bicara tentang hal itu lagi, maka rasa curiga dan ingin tahunya makin tebal, kini dia mendengar suara orang ini mirip orang aneh yang menyamar Hu lu Popo maka hatinya kaget bercampur girang.

Terdengar Liong-bun Pangcu tertawa dingin, jengeknya :

„Kungfu tuan memang hebat, namun kenapa seperti tikus sembunyi d bawah tanah.”

Orang aneh itu membelakan kedua matanya, sikapnya tidak marah, katanya : ..Pangcu, aku ingin bicara dulu dengan nona Hun Lian .ini.’’ Entah kenapa mendengar permintaan orang aneh, mendadak Liong bun Pangcu menerjang dengan tubrukan kilat. Aksinya amat mendadak, rambut emasnya tampak kaku berdiri. Di mana dia ayun kedua tangannya menggempur seperti seekor orang hutan yang mengamuk hendak mencabik mangsanya.

Orang aneh itu juga menggembor aneh, kedua tangannya juga terayun. Betapa cepat gerakan Liong-bun Pangcu dengan ketajaman mata Hun Lian ternyata tidak mampu melihat jelas bagaimana kedua orang ini saling labrak, terdengar kedua orang sama-sama menggembor pula sekali lalu bayangan mereka tertolak mundur beberapa langkah,orang aneh itu berseru nyaring : ”Bagus baru sekarang aku tahu dilipat langit masih ada langit, orang pandai yang lebih pandai.”

Liong-birn Pangcu juga memuji : „Ternyata memang hebat, tidak sia-sia aku datang keTiong-tho (maksudnya Tiongkok).’’

Dari percakapan kedua orang ini Hun Lian menyimpulkan dalam segebrak baku hantam barusan, kedua pihak sama- sama merasakan kehebatan Kungfu lawannya, maka kedua pihak saling memuji.

Setelah mengucapkan pujiannya sebat sekali Liong-bun Pangcu melesat mundur ke-belakang, kemudian Hun Lian rasakan segulung tenaga besar mendesak dirinya, hakikatnya dia tidak sadar apa yang terjadi, tahu tahu tubuhnya sudah terdesak mundur, pandangan seketika menjadi gelap, dia rasakan dirinya seperti jatuh kedalam tandu. Kejap lain terasa tandu sudah terangkat terus melesat pergi bagai terbang.

Gerak gerik Liong bun Pangcu memang teramat cepat dan tangkas, begitu Hun Lian terdesak masuk kedalam tandu dia sendiri juga menyelinap masuk terus menutup pintu, sementara kedelapan pemikul itu tanpa diperintah sudah angkat tandu terus lari bagal terbang, hanya sekejep sudah puluhan tombak dicapai. Orang aneh itu tetap berdiri ditempatnya. Ternyata tidak mengejar, pada hal tandu makin jauh dan sudah tiga puluhan tombak, tandu dipikul menyusuri pinggir Sungai. Pada saat itulah dan semak rumput dipinggir sungai sebelah depan muncul bayangan seorang Ternyata yang mencegat adalah Lui Ang ing, begitu berdiri tangannya lantas terayun maka meluncurlah belasan batang akar alang- alang, dipingir sungai memang banyak terdapat alang alang , siapapun bisa memetik atau mencabut sesuka hatinya, tapi akar alacg alang yang ditimpukan kali ini dilembari tenaga dalam Lui Ang-ing yang hebat luar biasa, maka daya luncurnya yang cepat dengan kekuatannya tidak kalah dari lembing besi.

Pada hal tandu sedang melaju kencang kedepan, Lui Ang- ing muncul secara mendadak menyergap secara keji pula, jarak hanya setombak lebih, maka empat pemikul tandu disebelah depan seketika menjerit ngeri, leber, dada atau perut tiada satupun yang luput dari tusukan alang alang yang tajam itu.

Bahwa empat pemikul didepan roboh binasa, namun empat pemikul yang di belakang tidak tahu. Mereka masih menggenjot langkah dengan kencang sehingga tandu doyong kedepan dan jungkir balik, sehingga empat pemikul tandu dibelakang ikut terangkat ke atas dengan teriakan yang kaget.

Gerakan Lui Ang-ing memang teramat cepat, begitu tandu terbalik, tangannya sudah mencomot pula akar alang-alang didekat kakinya terus ditimpukan keudara, namun daya luncur alang-alang itu mendadak sirna tergulung oleh lengan baju Liong-bun Pangcu yang mendadak menerobos keluar dari dasar tandu. Ditengah udara Liong bun Pangcu pentang kedua cakar tangannya sambil menubruk kearah Lui Ang-ing.

Pada saat genting inilah orang aneh itu berteriak dari kejauhan : „Awas.”

Wajah Lui Ang-ing kelihatan pucat pias, disaat Liong-bun Pangcu menubruk dengan kecepatan kilat menyambar, dia tetap berdiri tegak tak bergeming, padahal daya tubrukan Liong bun Pangcu membawa deru angin puyuh yang hebat sekali telah membelit tubuhnya, tapi dia tetap tak bergerak, hanya tangannya terangkat pelan-pelan, telapak tangannya terkembang kearab Liong-bun Pangcu yang menubruk tiba.

Kalau tubrukan Liong-bun Pangcu laksana guntur menggelegar, sebaliknya gerakan Lui Ang-ing justru amat lambat, seolah-olah dia terbelenggu oleh pusaran angin puyuh yang dibawa oleh tekanan tubrukan Liong-bun Pangcu sehingga gerak genknya berat tertunda. Tapi disaat Liong-bun Pangcu hampir menubruk Lui Ang ing. Kedua tangan Lui Aug- ing juga terbentang hingga nampak sebentuk medali segi tiga dari batu jade warna hijau pupus.

Begitu medali hijau ini muncul ditelapak tangan Lui Ang- ing, terdengar Liong-bun Pangcu mengeluarkan gemboran keras, tubuh yang menubruk dengan kecepatan kilat menyambar itu mendadak seperti direm dan ditahan suatu tenaga besar yang tidak kelihatan, tubuhnya terhemti ditengahi udara lalu melorot turun. ”Bluk” kedua kaki menyentuh bumi Dalam detik itulah telapak tangan Lui Ang- ing yang menepuk kedepan itu telah menyelonong kemuka Liong-bun Pangcu, sambil mengerang tertahan tampak tubuh Liong-bun Pangcu mengegos kepinggir terus melompat kepinggir

Tepukan Lui Ang-ing seperti melayang dan enteng, temponya juga tepat disaat Liong-bun Pangcu tepat menyentuhkan kedua kaki kebumi maka serangan ini boleh dikata amat tepat dan telak, namun gaya dan cara Liong-bun Pangcu menyelamatkan jiwa ternyata juga indah dan mempesona

Begitu Liong-bun Pangcu mengegos ke-pinggir, tubuh Lui Ang-ing yang semula tersaruk kedepan itu mendadak tertahan tegak lalu menepuk balik secara,terbalik. Gaya pukulan telapak tangan ini lebih aneh lagi, karena tubuhnya masih bergerak kedepan. Namun telapak tangannya justru menepuk kebelakang, sebetulnya serangan cara begini apalagi yang dijadikan sasaran tokoh kosen seperti Liong bun Pangcu. Serangan itu sebetulnya amat berbahaya dan bisa berakibat fatal. Bahwa Lui Ang-ing berani menempuh bahaya, jelas dia sudah bertekad memang karena telapak tangannya memegang medali batu jade hijau itu. Waktu medali jade hijau ini muncul di Hiat-Iui kiong tempo hari, hanya Liong-bun Pangcu saja yang membongkar asal usulnya, sudah tentu dia tidak berani melawan, menangkis atau pantang kena serangan lawan.

Betul juga, walau serangan Lui Ang-ing itu bisa membahayakan jiwa sendiri, tapi Liong-bun Pangcu sendiri menjerit aneh malah, sebat sekali tubuhnya melayang keluar kalangan sejauh tiga tombak, setiba diatas tanggul sungai dia tetap mengeluarkan teriakan-teriakan aneh. Begitu tepukan telapak tangannya luput, sebat sekali Lui Ang-ing sudah mengudak dengan ketat.

Pada saat itulah tampak orang aneh itu membentang kedua tangannya meluncur ke depan, teriaknya : .”Jangan kejar.”

Kedatangan orang aneh amat gesit, maka keempat pemikul tandu segera berdiri jajar lalu menyongsong orang aneh dengan pukulan serempak. Tapi orang aneh seperti tidak merasa dicegat langkahnya tetap terayun lurus kedepan. Maka terdengar suara tumbuk-an keras dua kali, empat pemikul nu semula berdiri jajar adu pundak, tapi dua yang di tengah ketumbuk lebih dalu hingga menjerit ngeri, tubuhnya melayang keudara seperti layang-layang yang putus benangnya, terlempar tinggi jungkir balik diudara lalu terbanting delapan tombak jauhnya dan Byur, byur, keduanya tercebur kesungai menimbulkan gelombang diarus sungai yang deras itu.

Ternyata daya luncuran orang aneh tidak terhambat karena tumbukan ini, memangnya dia menerjang sambil membuka kedua tangannya, begitu tubuh menumbuk dua pemikul. Sekaligus tangan kanan kirinya mencengkram leher dua pemikul yang lain. Seketika melotot biji mata kedua pemikul tandu hingga tampangnya amat mengerikan. Meski kedua tangan mencengkram dua tubuh manusia, gerakan orang aneh tidak tertunda sedikitpun, agaknya dia melihat adanya gelagat yang gawat sehingga gerakannya seperti amat gugup dan tergesa-gesa.

-ooo-dw-ooo-