Tugas Rahasia Jilid 08

Jilid 08

Joli ini jelas milik Liong-bun Pan cu, ternyata kedelapan pemikulnya itu sekaligus melompat tinggi keatas.. Bila hadirin melihat jelas, sementara Joli sudah meluncur turun menindih kearah sebuah meja, maka seorang telah ditungkrup didalam tandu, terdengar suara mengeluh perlahan didalam tandu. Baru orang banyak melihat jelas orang yang di-tungkrup tandu besar ini bukan lain adalah laki-laki tua yang semeja dengan Lui Ang-ing dan Hu-lo Popo. Harus dimaklumi bahwa hadirin tidak tahu siapa laki laki tua itu, namun pembaca tentu sudah menduga, bahwa laki- laki tua ini adalan samaran Cia Ing-kiat. Kejadian berangsung secepat itu, baru saja Cia Ing-kiat merasa angin besar menindih turun, tahu tahu pandangan gelap, tubuhnya sudah terjaring kedalam tandu, kejap lain urat nadinyapun sudah terpegang seorang.

Gerak gerik delapan pemikul tandu ternyata amat lincah dan cekatan, begitu joli berhasil menjaring Cia Ing-kiat, delapan orang satu gerakan, ditengah samberan angin puyuh, mereka langsung menerjang kearah luar. Jeritan kaget terpacu dengan bentakan gusar tampak orang aneh itu mengayun kedua tangannya. „Plak, plak" dua kali tamparan telak memukul dua kepala orang pemikul joli. Kontan batok kepala, kedua pemikul joli remuk dan melerak penyok, hingga bola matanya mencotot keluar dan bergandung di-pinggir hidung, sudah tentu keadaannya amat mengerikan, padahal jiwa mereka melayang seketika.

Delapan pemikul tandu ini empat didepan empat dibelakang setelah dua terpukul mampus pemikulnya tinggal enam orang, empat didepan dua dibelakang, tampak daya laju tandu besar ini tidak terhambat karenanya, luncurannya masih secepat anak panah, hadirin hanya melihat bayangan berkelebat tahu-tahu tandu besar itu sudah melesat keluar dari balairung.

Dua pemikul tandu yang sudah mati itu ternyata masih ikut melangkah delapan langkah kedepan, agaknya gerakan serempak delapan orang itu terlalu cepat sehingga jiwa yang melayang seketika itu masih belum menghentikan gerakan mereka, delapan langkah kemudian baru mereka terjungkal jatuh, Sekali menghardik orang aneh itu melompat terbang mengudak kedepan, disaat tubuh orang aneh terapung diatas tandu, baru kedua orang yang dipukulnya mati itu roboh. Kejadian hanya sesingkat kilat menyambar, tahu tahu tandu sudah meluncur keluar dikejar orang aneh.

Dari dalam balairung orang banyak masih sempat melihat dipikul enam orang, tandu itu sudah meluncur keundakan batu. Sementara orang aneh menuiuk kaki ditanah, laksana burung besar tubuhnya melambung keatas lalu menukik kebawah dengan tubrukan kilat. Betapa hebat dan lihay gerakannya sungguh jarang terlihat.

Gerakan kedua pihak teramat cepat, walau jago-jago kosen banyak terdapat dalam balairung, sampai Kui-bo Hun Hwi-nio sendiripun tidak sempat bertindak,

Dia orang aneh hampir mencapai pucuk tandu dari dalam tandu mendadak meledak bentakan nyaring, hadirin kenal betul bentakan nyaring Liong-bun Pangcu, mendadak ,.Crot" dari atas tandu menyemprot keluar sejalur panah air, begitu meluncur di-udara lantas muncrat, sehingga daya jangkaunya lebih luas, ke manapun orang aneh berkelit pasi tak luput dan semprotan air itu.

Orang banyak yang berada dalam balairung seketika mengendus bau amis busuk, jelas air yang menyemprot itu beracun jahat. Padahal orang aneh itu sedang menubruk kebawah, begitu disemprot air, terdengar dia menggerung sekali, entah bagaimana tubuhnya melenting hingga mumbul lebih tinggi lagi.

Dalam sekejap ini tandu itu sudah melesat delapan tombak jauhnya. di udara orang aneh bersalto beberapa kali, setelah semprotan air beracun itu jatuh menyentuh lantai didepan pintu baru diapun meluncur turun pula.

Semprotan air hitam itu mengeluarkan asap kelabu dan suara bakar waktu menyentuh lantai. Setelah asap kelabu itu lenyap ditiup angin, tampak lantai di mana kecipratan air itu berlobang kecil dalam. Orang banyak tidak mengira kalau air hitam itu beracun sejahat itu. Bila orang aneh itu hinggap diatas tanah, tandu itupun sudah meluncur kebawah lewat undakan, terdengar bentakan dan jeritan semakin jauh, orang-orang Hiat lui-kiong yang coba menghadang tiada satupun yang selamat.

Makin lama bentakan dan jeritan itu makin jauh. Mendadak Kui-bo mengeluarkan suitan panjang, serunya : ..Menerima tidak dibalas kurang hormat. Selanjutnya Liong-bun-pang kalian pun jangan harap bisa tent ram jangan menyesal akan perbuatan yang tercela hari ini."

Suara Kai-bo keras kumandang hingga terdengar sampai jauh. Maka terdengar jawaban Liong bun Pangcu dari kejauhan di-bawah sana : ..Selalu kami siap menyambut kedatangan kalian Cia-siaucengcu berada di tempatku pasti mendapat pelayanan sewajarnya."

Kedengarannya suara Liong bun Pangcu sudah belasan li jauhnya, karena orang bertindak cepat diluar dugaan lagi hingga Kui-bo tidak sempat bertindak, apalagi Cia Ing-kiat jatuh ketangan mereka, apalagi dia dapat menilai kedelapan pemikul tandu itu walau tampangnya biasa saja, tapi Ginkang mereka ternyata mirip dengan kepandaian Tay-bok-sin-eng (elang sakti dari padang pasir) Ling It cu yang menjagoi jagat dengan Thi-hun-ceng itu, hal ini membuat hatinya agak jeri, tahu dikejar juga takkan kependak, meski hati amat gusar, dia tidak berani sembarang bertindak, apalagi kalau tidak berhasil merebut balik Cia Ing-kiat diri sendiri yang akan malu.

Di bawah puncak adalah sungai, Liong-bun-pang datang dari perairan, anggotanya mahir permainan dalam air. bila mereka sudah tiba dibawab gunung, jelas dirinya takkan bisa menyandaknya lagi. maka dia hanya menggertak dengan suaranya, diluar dugaan jawaban Liong bun Pangcu menyatakan bahwa Cia Ing kiat sudah berada di-tangannya. Jawaban Liong bun Pangcu menimbulkan reaksi yang menghebohkan dalam balairung, sudah tentu reaksi paling keras datang dari Kui-bo Hun Hwe-nio.

Sejak muncul pertama kali tadi Kul-bo meiihat Hu-lo Popo, pada hal dia tahu orang ini bukan Hu-lo Popo asli, tapi samaran seorang yang memiliki Kungfu jauh lebih tinggi dari Hu-lo Popo, disamping diapun sudah mengenali Mau-po cu Kim-nou-po, maka terhadap laki-laki tua yang satu itupun dia juga menaruh sedikit perhatian. Tapi mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa laki-laki tua yang tidak menyolok ini adalah Cia Ing-kiat.

Kui-bo tidak tahu berdasar apa Liong-bun Pangcu tahu bahwa Laki-laki tua ini adalah samaran Cia Ing-kiat, maka waktu musuh bertindak, dia tidak berusaha mecegah jelas bahwa Liong bun Pangcu berpandangan lebih tajim dari dirinya.

Setelah suara Liong bun Pangcu lenyap, tampak orang- orang Hiat-lui-kiong yang bertugas diluar berlarian datang berdiri di luar pintu, sikap mereka tampak gusar dan takut. Sementara orang aneh itupun pelan-pelan berputar kembali.

Kui-bo menyeringai dingin, katanya : „Jadi kau adanya." ucapannya ditujukan kepada orang aneh.

Orang aneh angkat pundak sambil membuka kedua tangan, katanya : „Akhirnya kau kenali juga diriku."

”Dari Thian Iau-hong kau menculiknya, dua muridku kau lukai juga. Sekarang dia di gondol orang dari sampingmu pula, bagaimana kau harus memberi pertanggungan jawab?"

Nada ucapan Kui-bo meski kalem dengan tersenyum, namun orang banjak tahu, bahwa hatinya amat gusar dan penasaran. Kembali hadirin melenggong oleh perobahan yang terjadi diluar dugaan. Hu li Popo yang bicara dengan Kui-bo. kedengaran berobah suaranya menjadi orang lain. Setelah tertawa kering duakali. orang aneh berkata ”Jangan kau memancing aku, orang diculik dari sampingku, sudah tentu kuwajibanku untuk merebutnya kembali, tapi setelah kutemukan, dia tetap berada ditanganku.”

Kui-bo maju dua langkah, sorot matanya bersinar tajam, orang aneh mengangkat tubuh nya lebih tinggi, terdengar tulang-tulang tubuhnya berbunyi keretekan, mendadak perawakannya menjadi bertambah besar satu kaki. Kembali hadirin bersuara kaget, memang mereka tidak tahu siapa yang menyaru jadi Hu-lo Pnpo, tapi ilmu hebat tiada taranya dari aliran Hud yang dinamakan Lip te-seng hud, banyak yang pernah mendengarnya

Tapi sejak Tat-mo Cosu menurunkan ilmunya setelah menghadap dinding belasan tahun, hanya ada tiga orang yang berhasil meyakinkan ilmu ini. Dua orang adalah pimpinan tertinggi Siau lim-si, mereka sudah lama meninggal. Tiga puluh tabun yang lalu. dalam Siau lim-si muncul seorang jenius, belum genap empat puiuh usianya, ternyata sudah menjadi wakil pimpinan Tat-mo-wan, Kungfunya melampaui orang-orang yang lebih tinggi tingkatannya, dia pun berhasil meyakinkan Lip-te-seng hud. Namun bagaimana akhirnya dari nasib padri sakti ini, orang-orang Bulim tiada yang tidak tahu, karena dihari tuanya dia terpelet oleh seorang perempuan iblis, dalam semalam beruntun dan melanggar tujuh pantangan perguruan, akhirnya dia diusir dan dipecat dari Siau-lim-si sejak itu jejaknya tfck kelihatan.

Peristiwa ini dulu pernah menggemparkan dunia, karena peristiwa yang memalukan ini Siau lim-si pernah ditutup untuk umum dalam jangka yang tak terbatas. Siapakah sebenarnya iblis perempuan itu, seorang padri sakti yang sudah tinggi pendidikan agama-nyapun bisa terpelet oleh kecantikannya. Peristiwa ini banyak ceritanya, satu dengan lain berbeda, namun tiada orang yang benar benar tahu latar belakang sesungguhnya. Yang terang sejak peristiwa itu, tiada orang pernah melihat padri sakti itu,

Sekarang hadirin mendadak menyaksikan badan Hu-li Popo melar lebih tinggi, demontrasi Lwekang tinggi dari aliran Hud in sungguh mengejutkan semua orang. Tapi yang paling besar takutnya adalah Kui-bo Hun Hwi nio.

Menghadapi orang aneh yang badannya mendadak melar. Kui-bo Hun Hwi-nio seperti melihat setan yang menakutkan, mulut terbuka mata terbeliak, jari tangannya menuding orang aneh dengan gemetar, sepatah katapun tak mampu diucapkan.

Begitu tubuhnya melar bahan make-up dimuka orang aneh itupun ngelotok dan rontok, dalam sekejap pulihlah dia dalam wajah aslinya sendiri, tampak selembar mukanya berkerut keriput, karena tubuhnya melar betapa kereng dan gagah perbawanya sayang mukanya yang penuh keriput itu seperti lesu dan cemberut seolah-olah selama hidupnya selalu mengalami pahit, getir kehidupan yang luar biasa.

Jari tangan Kui bo yang menuding mungkin bergetar keras, mendadak suara melengking gemetar tercetus dari mulutnya:”Kau, ternyata kau."

Orang aneh itu menghela napas panjang tubuhnya yang melar pelan-pelan mengkeret lagi seperti semula, katanya:”Memangnya siapa kalau bukan aku?" Lalu dia membalik menggapai kepada Lui Ang-ing:.”Marilah kita pergi."

Lui Ang-ing mengiakan, sebat sekali dia meluncur dari samping orang aneh, orang aneh ini.juga sudah beranjak pelan-pelan, sikap Lui Ang-ing kelihatan tegang mengintil dibelakang orang.

”Jangan pergi.” mendadak Kui-bo Hun Hwi-nio menghardik dengan suara nyaring. Berapa keras hardikan Kui-bo, hingga hadirin merasa telinganya pekak, ada yang genderang teliannya pecah, sehingga kupingnya mendenging sekian lamanya. Tapi orang aneh itu seperti tidak mendengar, langkahnya tetap beranjak kedepan. Kui-bo bersuit panjang, kedua tangannya mendadak terayun telapak tangan yang semula putih mendadak berobah merah darah, terutama kuku jarinya berobah ungu begitu tangan terayun badan-nyapun meluncur kedepan, jari-jarinya mencengkram kepunggung orang.

Cengkraman Kui-bo Hun Hwi-nio padahal ditujukan kepunggung orang aneh, tapi orang-orang dalam balairung menjadi ribut, Kaiena serangan ini bukan lain adalah Hwi-in jiau hun salah satu dari tujuh ilmu tunggal Kui-bo yang lihay, hadirin banyak yang tahu kehebatan ilmu cengkraman ini. Betapa pun cepat gerakan lawan, umpama berhasil meluputkan diri, tapi bila kuku jari Kui-bo berhasil menggores luka kulit badanmu racun diatas kukunya itu akan bekerja dibadan musuh, berarti jiwanya tak tertolong lagi

Tadi betapa santai gerakan Lui Ang-ing waktu menyampuk benang merah Hun Lian, tapi sekarang dia tak berani ayal segera mendahului melayang keluar. Bila kesepuluh jari Kui-bo bak cakar elang itu hampir mengenai sasarannya, orang aneh itu baru putar badan berdiri tegak tak bergerak, sorot matanya memancarkan cahaya tajam mengawasi Kui-bo Hun Hwi-nio. Dalam sedikit itu, kedua tangan Hun Hwi-nio yang mencengkram tiba dengan kecepatan luar biasa itu mendadak terhenti ditengah udara. Sepuluh kuku jarinya yang panjang, terpaut satu kaki didepan muka orang aneh, tapi ujung mata dan bibir nya tampak kedutan, matapun terbelalak entah apa yang terpikir dalam benaknya.

Sekejap orang aneh menatap Kui-bo lalu memejam mata, katanya : „Kau sudah tahu siapa aku, masih berani kau hendak menyerangku ? Sumpahmu dulu belum kulupakan, tak segan aku bertindak boleh kau pikir-pikir lagi." Apa maksud ucapan orang aneh, hakikatnya hadirin tidak ada yang tahu. Tapi Kui-bo Hun Hwi-nio amat maklum, tampak kulit mukanya semakin pucat dan mengejang ditengah pekikannya yang beringas, sepuluh jarinya mendadak mencakar turun.

Jarak sedekat itu. cakaran dilancarkan dengan pekik yang bernafsu lagi, sudah tentu serangannya hebat dan dahsyat. Tampak orang aneh tetap berdiri tak bergerak, begitu jari-jari Kai-bo menyerang tiba tubuhnya mendadak meluncur mundur beberapa kaki. Mengikuti badan lawan yang mundur makin jauh, kedua lengan Kui bo ternyata juga bisa mulur makin panjang, cakar tangannya serabutan mengincar muka orang aneh. baiu sekarang orang aneh terpaksa menggelakan tangannya.

Hakikatnya tiada orang melihat bagaimana orang aneh turun tangan, terdengar suara "Tas, tas, tas...'' sepuluh kati, secepat kilat tubuh Kui bo kini yang tertolak mundur sepuluh langkah, seiring dengan suara "Tas, tas,'' itu beberapa benda entah apa berjatuhan diatas lantai.

Kui-bo mundur cepat dengan kekuatan yang luar biasa, hingga dua meja kursi yang ditumbuknya hancur berantakan, untung hadirin sudah menyingkir sejak tadi, tiada satupun cidra.

Setelah Kui-bo mundur cukup jauh baru hadirin melihat jelas, jari jainya masih terkembang namun kuku-kuku jarinya sepanjang dua tiga dim diujung jarinya sudah patah semua berserakan diatas lantai. Tidak mungkin Kui-bo memutus kuku sendiri, dari hasil gebrak sejurus ini, membuktikan bahwa orang aneh berhasil menjentik putus sepuluh kuku Kui bo.

Kalau demikian kenyataannya, maka berita yang tersiar luas dikalangen Kangouw tentang Hud cam-hoa biau-ci dari aliran hud didunia barat menjadi kenyataan, dan hanya ilmu jari menjentik kembang itulah yang memiliki kesaktian yang luar biasa, seperti juga dengan Lip-te-seng-hud tadi, keduanya adalah Kungfu taraf tinggi dari aliran Hud-bun yang tiada bandingannya. Dari sini dapat puta disimpulkan bahwa orang aneh ini agaknya dari aliran Hud?

Mau tidak mau orang menduga bahwa orang aneh ini kemungkinan besar adaiah padri sakti yang dahulu diusir dan dipecat dari Siau-iim-si dulu. Dari nada percakapan mereka, kedengarannya orang aneh ini memang sudah lama kenal dan punya pertikaian dengan Kui-bo Hun Hwi nio. Maka orang akan menduga lebih lanjut bahwa iblis perempuan yang memelet padri sakti itu hingga dia melanggar tujuh pantangan perguruannya itu bukan lain adaiah Kui-bo Hun Hwi-nie.

Hadirin masih celingukan bingung, dalam waktu singkat sukar mereka menemukan jawaban dari perkembangan yang lebih lanjut, terdengar Hun Lian menjerit keras: ” Bu. bu." sambil berteriak Hun Lian memburu kearah sang ibu serta memeluknya, Hun Hwi-nio juga balas memeluknya.

Lekas sekali orang aneh sudah membalik dan melangkah pergi. Lui Ang-ing mendekati lalu melangkah bersama keluar balairung.

Jago-jago yang hadir tiada yang merasa kaget dan jeri, mereka kabur setelah didepan umum Hun Hwt-nio kecudang, bila sifat gilanya kumat, bukan mustahil dia bertindak jahat terhadap para tamunya, maka mereka menyesal kenapa hari ini berada di sini.

Tampak Kui-bo Hun Hwi-nio masih melotot gusar, napasnya sengal sengal sambil kertak gigi, kulit mukanya masih kedutan, seringainya amat seram menakutkan. Siapa tidak giris dan merinding melihat tampang Kui-bo yang benar sesuai julukannya (induk setan).

Tapi hanya sekejap, setelah telapak tangannya menepuk tiga kali dipunggung putrinya, dia dorong Hun Lian mundur, wajahnya sudah berobah seperti semula, penuh senyum dan ramah perobaban terjadi hanya waktu singkat, keadaannya seperti dua orang yang berbeda. Sambil tertawa dia mengebas lengan baju, kutungan kuku jarinya yang berserakan dilantai digulungnya semua.

Lalu katanya lantang: ”perobahan tak terduga terjadi atas pernikahan putri tunggalku ini, terpaksa soal jodohnya kita kesampingkan dulu.”

Beberapa orang yang merasa lega seperti mndapat pengampunan saja, mumpung urusan tidak berlarut panjang, lekas mereka berdiri serta berkata : „Kalau demikian baiklah kami mohon diri saja.''

Seperti tidak terjadi apa-apa, Hun Hwi-nio berkata: ”Kenapa buru-buru, bukankah pernikahan Gin-koh. dengan Thi giam ong masih bisa dilangsungkan dan dimeriahkan, demikian pula janji yang pernah kuucapkan, tetap takkan berobah. untuk ini mohon hadirin menunggu dengan sabar."

Jago-jago yang hadir saling adu pandang semua tak bisa mengimbil keputusan, maka beberapa tokoh kosen seperti Oh- sam Siansing Pak-roSuseng dan lain lain menjadi sasaran pertanyaan mereka, jelas secara tidak langsung mereka sudah terangkat menjadi pimpinan orang banyak.

Jago-jago kosen ini semua menerima kartu nndangan baru mereka mau datang ke Hiat-lui-kiong, dalam undangan dicantumkan janji oleh tuan rumah bagi yang datang akan diberi sebuah biji teratai darah yang berusia seratus tahun. Konon biji teratai darah itu hanya sebesar kacang ijo. kasiatnya dapat menambah tenaga, amat berguna bagi kaum persilatan. Pesta pernikahan ini merupakan pertemuan besar kaum persilatan yang belum pernah terjadi belasan tahun, yang hadir juga pasti jago-jago kosen.

Dia mulai berangkat naik kapal sampai didalam balairung ini, kejadian demi kejadian, perobahan terus berlangsung semakin tegang, hingga hadirin semakin tidak tentram ingin tinggal pergi tanpa hiraukan biji teratai segala, namun gelagatnya Hun Hwi-nio tidak akan mengidzinkan mereka pergi, maka kebanyakan orang menjadi bimbang. Mereka mengharap Oh-sam Siansing yang terpandang diantara mereka bisa memberikan keputusan mereka pasti akan mendukungnya, setelah beradu pandang dengan Pak-to Suseng, maka Oh sam Siansing berkata dengan tertawa ;

„Urusan intern tuan rumah tak berani kami orang luar turut campur, apalagi harus mengganggu, sungguh tidak enak jadinya "

„Tidak jadi soal. Kejadian hari ini pasti akan kuselesaikan dengan baik, kalian tidak usah kuatir "

”Baiklah, kami terima saja kehendak tuan rumah." ucap Oh- sam Siansing.

Jago jago kosen yang lain sependapatan dengan Ob-sam Siansing, maka mereka sambut keputusan ini dengan tepuk tangan riuh, suasana yang tadi tegang kini berobah riang pula. Hanya Hun Lian yang mengerut alis, menunduk kepala sambil cemberut tanpa bersuara.

Jago-jago kosen yang hadir dalam Hiat-lui-kiong ini berpendapat. Oh sam Siansing punya kepandaian, pengalaman yang luas, kedudukannyapun diagungkan, mengikuti langkahnya pasti takkan keliru. Tapi kehidupan Bu- im memang serba jahat, culas dan telengas, liku-likunya sukar diraba, setiap orang pasti punya rasa egois, bukan mustahil demikian pula sifat Oh sam Siansing? Kungfu Oh sam Siansing memamg amat tinggi, tapi bagi seorang yang pernah meyakinkan Khi kang aliran Lwekeh, makin tinggi Lwekangnya, keinginan mencapai tahap yang lebih tinggi juga makin besar dan makin sukar. Bagi yang bakat sendiri kurang memadai, bila mencapai taraf tertentu, boleh dikata akan terhenti, meski betapapun kau giat dan rajin latihan juga takkan berguna jadi suatui mu bukan tergantung dari lati uan meiulu, meski latihan lebih kerap dan menggembleng diri sekalipun juga tidak akan mencapai kemajuan kalau bakatmu sendiri memang terlalu tidak becus.

Oh sam Siansing dan Pak-to Suseng selama dua tanun ini sudah giat berlatih, namun mereka merasakan, tidak mencapai kemajuan sedikitpun. sebetulnya taraf kepandaian yang sudah mereka capai cukup memuaskan, namun sifat manusia memang tidak kenal puas. sehingga sering terjadi huru-hara lantaran ingin mengejar kepuasan belaka.

Padahal betapa tinggi kepandaian dan kedudukan kedua orang ini. bahwa mereka jauh-jauh menepati undangan itu. tidak lain karena ingin mendapat biji teratai untuk bantu mencapai latihan mereka. Makin tinggi Lwekang sipemakai makin besar manfaatnya. Bila kedua orang memperoleh bentuan biji teratai, maka tidak sukar untuk menembus jalan untuk yang selama ini menghambat kemajuan mereka. Maka janji Kui-bo akan memberi biji teratai itu betul-betul merupakan daya tarik luar biasa sehingga mereka lupa daratan.

Selama ini kedua orang ini menyangka kemampuan mereka sudah jarang ketemu tandingan, umpama gagal memperoleh biji teratai juga tidak jadi soal. Sayang sekali sebelum naik keatas kapal beruntun kedua orang ini sudah kecundang, tanpa menampilkan diri Liong-bun pangcu mampu menggondol orang dari depan mata orang banyak, betapa hebat permainan Siau-pocu dari Kim-hou-po, dua kali demonstrasi ilmu aliran hud oleh orang aneh, membikin orang banyak pusing berkunang-kunang, ini menandakan bahwa diluar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Seumpama Kim-bo Hun Hwi mo menjilat ludah dan ingkar janji, mereka juga tidak akan berpeluk tangan. Ternyata Kim-bo Hun-Hwi,nio masih bersikap ramah dan menyatakan akan menepati janji, sudah tentu kedua a-rang ini merasa akur. Celaka adalah orang-orang gagah lain yang tidak tahu maksud pribadi kedua tokoh yang egois ini, karena mereka tidak pergi, yang lain-lain juga mengikuti jejaknya. Diluar sadar mereka, kehadiran mereka di Hiut-Lui-kiong ini akhirnya akan menimbulkan tragedi yang mengenaskan dalam kalangan bulim.

Waktu Cia lng kiat masih berada di balairung dia kira Kui-bo Hun Hwi nio sudah mengenal dirinya setelah Li-pi-lik berkaok memanggil nama samarannya, ternyata dugaannya meleset. Hal ini baru dia sadari setelah Liong bun Pangcu bertindak, tahu-tahu dirinya sudah tertutuk Hiat-to dan di gondol pergi dalam tandu.

Meski Hiat-to tertutuk namun Cia Ing-kiat masih sadar dan mata juga bisa melibat dalam tandu gelap gulita, terasa tandu sedang bergerak secepat terbang, kegaduhan terus berlangsung diluar, tapi apa yang terjadi dia tidak tabu.

Ruang tandu tidak begitu besar, terasa oleh Cia Ing kiat, Liong bun Pangcu berada di depannya. Tapi keadaan gelap, bahwasanya dia tidak bisa melihat tampang Liong-bun Pangcu, Terasa tandu meluncur makin cepat kebawah. tapi Liong bun Pangcu tenang-tenang duduk santai, katanya :

„Jangan takut, apapun ditempatku ini lebih baik di banding dibawah cengkraman tua bangkotan itu dan ditangan siluman perempuan Kim-hou-po itu."

Karena Hiat to tertutuk. mengerahkan tenagapun tidak mampu, maka mulutpun tak bisa bicara. Sehabis Liong-bun Pangcu bicara tandu mendadak seperti mumbul keatas. lalu meluncur turun pula, seolah-olah para pemikul tandu melompat tinggi bersama lalu anjlok kebawah pula.

Dalam sekejap itu Cia Ing-kiat tidak tahu berapa daiam tandu itu anjlok kebawah mendadak terdengar bunyi air, maka daya luncur tdndu berhenti, menyusul suara air dikayuh. Kalau Cia Ing kiat berada diluar tandu pasti dibuat melongo dan kaget, sekaligus dia membuktikan kenapa Liong bun Pangcu selalu sembunyi d dalam tandunya.

Ternyata tandu besar ini serba guna, waktu menerjang keluar dari balairung tadi atap tandu bisa menyemburkan air hitam tengkorak yang beracan dari Se ek, sepanjang jalan menuruni undakan batu tak sedikit pula Am-gi yang melesat keluar merobohkan musuh. Bila pencegatnya makin besar jumlahnya, ternyata keenam pemikul tandu langsung melompat turun dari ngarai yang terjal dan tinggi.

Ngarai itu tingginya dua puluhan tombak lebih, orang-orang Hiat-lui-kiong yang melihat tandu itu melayang dari atas ngarai mereka kira mereka hendak bunuh diri. Tak nyana bila tandu itu masih terapung tiga tombak diatas air, kanan kiri tandu mendadak menjulur keluar dua papan lebar panjang hingga daya luncur kebawah banyak tertahan, akhirnya dengan ringan jatuh di permukaan air.

Sigap sekali enam pemikul tandu sudah mencelat keatas papan Lalu melolos pengayuh, bila orang orang Hiat-lui-kiong mengejar turun dan membidik dengan panah mereka sudah meluncurkan tandu itu cukup jauh tak terkejar lagi.

Di dalam tandu Cia Ing-kiat seperti di atas perahu tak lama kemudian terasa segulung tenaga menerjang dada. rasa sesak seketika longgar, segera dia menegakkan badan terdengar Liong bun Pangcu berkata ; ”Jangan banyak gerak, arus sungai amat deras, kalau kecemplung ke air, tidak boleh dibuat main-main."

Cia Ing-kiat mendengus sekali, katanya; „Kalau kau kecemplung memang bukan main-main, tapi bagi diriku lebih baik dari pada kau sekap didalam sini."

Liong bun pangcu terkekeh tawa katanya ..Bukan sekali ini kau menjadi sandera orang jangan kuatir, aku pasti tidak akan menyakiti kau." Cia Ing-kiat menegakan badan, katanya: ”Kungfuku rendah, tidak membekal rahasia besar kaum Bulim. kau berani melawan beberapa jago kosen yang lihay itu meringkusku kemari, apa tujuanmu ?"

„Sudah tentu lantaran putri Kui-bo ingin kawin dengan kau. Kau harus tahu Kui-bo hanya punya seorang putri mestika, kalau putrinya ingin memetik rembulan. Kui bo juga akan mengambilnya, kau jatuh ketanganku, boleh dikata barang bisa dipakai sesuai kebutuhan"

Membara amarah Cia Ing-kiat mendengar komentar orang, namun dia tahu mengumbar adat juga tidak berguna. maka dia menekan gejolak hatinya.

Terdengar Liong bun Pangcu berkata pula: ”Kali ini Kui bo meminjam alasan menikahkan putrinya, mengundang banyak jago jago kosen ke Hiat-lui kiong dengan janji akan memberi sebutir biji teratai, padahal aku yakin dia punya maksud tertentu yang jahat, sayang mereka tidak menyadari telah tertipu”

Cia Ing-kiat hanya memikirkan posisi sendiri, bagaimana meloloskan diri, bahwasanya apa yang diusapkan oleh Liong bun Pangcu tidak didengarnya sama sekati.

Liong-bun Pangcu masih terus mengoceh: ,,Kui-bo punya ambisi besar untuk menguasai dunia, maka dapat diduga, dalam kalangan Kangouw kelak, kecuali Kim hou po dunia akan dikuasai oleh kekuatan Hiat-lui kiong. Sebagai Pangcu dari Liong hun pang betapapun aku harus memikirkan masa depan Liong-bun pang. biar kita tiga pihak saling berlomba”

Mendengar sampai sini baru mendadak Cia Ing kiat mendengus hidung, katanya: , Enak saja kau berpikir, betapa banyak kaum persilatan yang berkepandaian tinggi, terutama dari jago-jago muda aliran besar kenapa kau hanya bilang tiga pihak belaka” Liong-bun Pangcu terloroh-loroh, katanya: ,.Selama beberapa tahun terakhir ini, jago-jago kosen dari golongan lurus maupun aliran sesat secara mendadak telah lenyap tak karuan parannya, lalu ke mana mereka pergi?"

Tergerak hati Cia Ing kiat, segera dia teringat akan pengalamannya di Kim hou-po, katanya: ”pergi .... ke Kim- hou po."

Liong-bun Pangcu tertawa lebar pula, katanya: „Kalau kukatakan, aku mempunyai daftar nama-nama jago-jago kosen dari berbagai aliran besar kecil yang berada didalam Kim hou-po, kau percaya tidak?"

Tanpa pikir Cia Ing kiat menjawab:”Tidak percaya.”

”Kau tidak percaya” jengek Liong bun pangcu tertawa dingin ”lantaran tiada orang bisa keluar Kim hou po dengan leluasa, apa lagi menyampaikan berita kepadaku, begitu? '

Cia Ing-kiat sadar bahwa dirinya berada ditempat gelap namun dia menganggukan kepala.

Ternyata Liong-bun Pangcu seperti melihat gerakan kepalanya, segera dia tertawa pula. katanya: ”Mungkin kau hanya tahu burung dara pos dapat membantu manusia mengantar berita. Maka kau pasti tidak tahu disuatu pulau dilautan teduh sebelah timur, tanahnya hitam subur, di sana ada sejenis burung kecil sebesar ibu jari kaki kecepatan terbangnya luar biasa. Didalam Kim-hou-po ada agen yang kutanam di sana, dengan burung kumbang itulah, dia sering memberikan informasi kepadaku”

Cia Ing-kiat menarik napas panjang, dalam pendengarannya apa yang diucapkan Liong bun Pangcu seperti dengan dan hayalan belaka, setelah melenggong sesaat dia berkata ”Bagaimana kau tahu adanya jenis burung kecil yang pandai membantu manusia ini?" „Jejakku tersebar luas diseluruh dunia. Dunia yang kalian maksud hanya dari Kun-lun-san sampai laut timur, keselatan Lam-hay, utara adalah padang pasir. Memangnya siapa tahu kecuali itu dalam jarak yang lebih jauh masih ada dunia lain."

Tersir p darah Cia Ing-kiat, serunya: „Jadi kau...“

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya; „Memangnya kau tidak merasa bahasa Hanku agak kaku dan logatku tidak sama dengan nada ucapanmu ?”

Tanpa sadar Cia Ing-kiat mengangguk kepala, pada saat itulah pandangannya men-dadak menjadi terang, jelas tampak oleh Cia Ing kiat didepannya duduk seorang aneh. perawakannya tinggi besar luar biasa, rambutnya bewarna kuning emas dan kriting, kedua matanya cekung, hidungnya besar membetet, dagunya ditumbuhi jambang bauk yang lebat, juga kuning emas, namun kulit badannya justru putih seperti susu, lebih aneh lagi seluruh lengan hingga punggung telapak tangannya ditumbuhi bulu panjang bewarna kuning emas pula, hingga sekilas pandang apalagi dalam kegeiapan susah dibedakan dia manusia atau binatang.

Cia Ing-kiat terlengong sekian saat tak mampu buka suara. Liong bun Pangcu malah tertawa, katanya : ,,Jangan kuatir,

seperti engkau, akupun-manusia biasa bukan mahluk aneh,

tapi betapa besar dunia ini, suku bangsa manusia teramat besar, pengetahuanmu sendiri yang terlalu cupat. jarang melihat maklum kalau merasa heran.”

Walau hati kaget dan heran, namun melibat sikap orang ramah, maka Cia Ing-kiat coba memancing "Jadi kau. kau

datang dari mana ”

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya: "Ku-jelaskanpun kau tidak akan mengerti, ketahuilah, sudah lama aku meninggalkan rumah, belajar kepandaian di Thian-tiok, yang kupelajari adalah ilmu tingkat tinggi secabang dengan aliran Tat-mo Cosu, bermukim di Tiongkok sudah puluhan tahun." sampai di sini cerita Liong bun Pangcu, cahaya benderang di dalam tandu mendadak sirna. Waktu cahaya mendadak benderang tadi. perhatian Cia Ing-kiat tertuju kepada bentuk Liong-bun Pangcu yang aneh dan ganjil, mata tidak sempat dia perhatikan dari mana datangnya sinar benderang itu.

Karuan hatinya serba bingung dan gundah, sesaat dia tak mampu bersuara.

Liong-bun Pangci bertanya pula: "Sekarang, yakin kau sadari percaya bahwa aku bukan membual ?“

Cia Ing kiat menarik napas, katanya:"Tapi jago iago yang ada di Kim hou-po. kukira takkan bisa menimbulkan onar lagi dikalangan kanguow“

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya: "'Seorang bila sudah meyakinkan Kungfu, seumpama ulat didalam perutmu bagaimana juga kau takkan bisa mengabaikannya demikian saja'."

Bergetar perasaan Cia Ing kiai mendengar komentar Liong- bun Pangcu, namun bila dipikirkan secara teliti, komentarnya itu memang mengandung kebenaran. Keadaan jago-jago dalam Kim hou-po memang kurang wajar, mereka seperti terkendali dan tunduk oieh kewibawaan sang Pocu dan Siau pocu sehingga semua hidup tertekan, bila Kim hou-Pocu punya ambisi mengkoordinir jago jago lhay itu. Diam diam Cia Ing-kiat merinding, katanya: „Lalu orang macam apa sebetulnya Kim-hou Pocu, apa kau tahu?“

Liong bun Pangcu menjengek dingin. katanya : „Kau sudah tahu dan kenal putrinya, memangnya kau tidak tahu ?"

Tersirap darah Cia Ing kiat, Lui Ang-ing adalah Sau pocu dari Kim-hou po. hal ini sudah gamblang dan tak perlu disangsikan iagi, sekarang Liong-bun Pangcu berkala demikian, maka Kim-hou Pocu pasti seorang she Lui. tapi setahu Cia Ing-kiat belum pernah dia dengar ada seorang tokoh Bulim she Lui yang pernah menjagoi dunia persiiatan. Menilai situasi di Kim-hou-po, maka dapat dibayangkan bahwa Kungfu sang Pocu masih jauh lebih tinggi dibanding Kui-bo Hun Hwi-nio dan orang aneh itu, kalau tidak, sekian banyak jago-jago silat dari golongan hitam maupun putih, begitu masuk Kim hou-po lantas tunduk dan patuh ? Maka dapatlah dibayangkan bahwa Kim hou Pocu adalah tokoh besar Bulim. sepantasnya namanya cukup menggetar dunia persilatan, namun kenapa kenyataan tak terkenal.

Maka terbayang oleh Cia Ing-kiat akan orang aneh itu, betapa tinggi Kungfu orang aneh itu, namun bagaimana asal usul dan siapa namanya, ternyata jarang orang tahu ? Maka dari sini dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang terkenal didunia persilatan belum tentu dia jago besar sejati, jago kosen tulen mungkin berdiri d hadapanmu, namun kau tidak tahu atau tidak mengenalnya.

Cia Ing-kiat menghela napas, katanya setelah merenung sekian saat : .Kungfuku rendah. Kim-hou Pocu punya ambisi apa, tiada sangkut pautnya dengan aku, lalu apa gunanya kau menculikku?"

Liong bun Pangcu gelak-gelak, katanya : „Bersama putri Kui-bo, didalam Kim hou-po kau sudah mencuri satu benda, betul tidak?"

Cia Ing-kiat tertawa getir, ujarnya : Betul tapi benda itu tak berada ditangan-ku, sudah direbut oleh nona Hun."

„Betul, karena itu maka aku menculikmu kemari, akan kutunggu Hun Lian kemari membawa benda itu, untuk barter dengan dirimu "

Cia Ing-kiat geli dan dongkol, katanya; „Benda itu dinamakan Tiok-kip-pit lo. dalam lembaran rangkaian bambu itu terdapat catatan diskusi Kungfu dan dua puluh satu jago top dunia dipuncak Kun-lun puluhan tahun yang lalu. kaum persilatan bila sempat mempelajari ilmu yang tercatat didalamnya kungfunya akan maju lipat ganda, mana mungkin dia membarter diriku dengan benda itu ?“

,,Kukira sulit diduga,“ucap Liong-bun Pangcu, „Seorang gadis bila mencintai seorang jejaka, dia rela berkorban jiwa apalagi hanya mengorbankan benda yang tak berarti itu."

Masgul hati Cia Ing-kiat, maka dia tutup mulut. Ternyata Liong-bun Pangcu juga tidak bersuara lagi. kira-kira satu dua jam kemudian, mendadak tunduk terasa bergetar Setelah itu berhenti sejenak, menyusul tandu ini seperti mendarat, mulai bergerak pula turun naik seperti dibawa lari diatas pikulan.

Gundah hati Cia Ing-kiat. dia tidakhabis mengerti, kenapa Hun Lian jatuh cinta kepadanya, padahal sebelum ini belum pernah terbayang olehnya bahwi Hun Lian adalah gadis secantik itu, disaat perasaannya timbul tenggelam itulah, dia hanya memikirkan satu hal. yaitu, bila dia bisa menjalin perjodohan dengan Hun Lian, suami isteri meyakin kan ilmu yang tercatat didalam Tiok-kip-pit-po, maka hidupnya ini tak perlu menyesal. Namun sekarang dirinya jatuh di-tangan Liong bun Pangcu, dari perawakan dan tampangnya yang aneh, jelas bahwa Liong-bun Pangci pasti bukan orang Tionghoa namun kepandaiannya hebat, susah dirinya loios dari belenggunya, terpaksa dia menunggu Hun Lian untuk menolong dirinya.

Cia Ing-kiat sedang berangan angan, sementara tandu terus laju kedepan, kepekatan dalam tandu menambah perasaan Cia Ing-kiat gundah gulana, saat itulah mendadak dia mencium yang harum semerbak, harum yang menyegarkan badan, namun rasa kantuk segera merangsang dirinya pula, kejap lain sekujur badan sudah lemas, lalu dia meringkel lemas dan tertidur pulas, tidak sadarkan diri lagi.

0oo0

Kini kami kembali ke Hiat lui kiong Tak lama kemudian suasana bertambah ramai dalam balairung, suara musik dan nyanyian menyambut keluarnya Utti Ou yang beranjak keluar dengan pakaian penganten yang baru, dipapah oleh sepasang pengapit, langsung menuju kepelaminan.

Setelah berdandan tampak Thi-giam-ong Utti Ou bersikap kikuk dan malu-malu. sikapnya seperti risi dan tak tenang duduk, namun demi mempersunting Gin Koh sebagai isterinya terpaksa dia menahan diri.

Tak lama kemudian Gin koh juga keluar, sudah tentu sudah mengenakan pakaian pengantin juga, kepalanya ditutupi selembar kain merah, dipapah keluar oieh dua gadis jelita.

Hadirin semuanya tokoh-tokoh Bulini yang berkepandaian tinggi, tiada satupun di-antara mereka yang tidak merasa geli dan lucu bahwa kedua gembong iblis berlainan jenis ini, secara kilat telah menjadi suami isteri. Sementara pelayan Hiat-lui-kiong mulai menghidangkan berbagai masakan yang enak dan luar biasa, arak harum nomor satu tidak ketinggalan, hadirin makan minum riang gembira, kejadian yang menegangkan tadi sudah dilupakan sama sekali.

Sekian jam lamanya pesta pernikahan ini berlangsung, mendadak terdengar suara tambur ditabuh gema tambur mengejutkan seluruh hadirin, baru sekarang mereka sadar bahwa Kui-bo dan putrinya entah sejak kapan meninggalkan ruang perjamuan, disaat hadirin celingukan itulah mendadak semua mengendus bau wewangian yang harum sekali, semangat mereka seketika menyala hingga semua menegakkan tempat duduknya, suasanapun bening.

Lekas sekali suara tambur berhenti, tampak Kui bo Hun Hwi-nio berdampingan dengan putrinya Hun Lian berjalan masuk. Kedua tangan Hun Lian membawa sebuah nampan dari baiu pualam sepanjang tiga kaki, dialas nampan itu terdapat dua puluhan kuntum kembaug teratai sebesartinju bewarna merah setiap kuntum teratai terdapat dua belas biji buah teratai, bau harum semerbak itu datang dari nampan pualam itu. Berseri cerah roman muka seluruh hadirin, agaknya Kui-bo Hun-hwi nio dapat dipercaya, dia akan menepati janji membagi biji teratai kepada tamu-tamu yang hadir.

Kui-bo Hun Hwi-nio dan Hun Lian berdiri ditengah ruangan, suasana hening lelap, maka suara Hun Hwi-nio terdengar jelas dan nyata: „Hadirin sekalian. Teratai darah hanya berbuah enam puluh tahun sekali, sekarang sudah saatnya buahnya matang, terima kasih akan kehadiian dalam pesta perjamuan ini, bersama ini setiap hadirin kuhaturi sebutir biji teratai, yakin perjamuan ini tetap meriah."

Mendadak terdengar suara percikan yang perlahan namun ramai dan cukup panjang dari atas nampan, ternyata teratai diatas nampan itu satu persatu mulai mengering terus merekah, biji tertiai berjatuhan diatas nampan dan bergelinding kian kemari. Hadirin melihat jelas biji teratai itu sebesar kacang, semuanya bulat berwarna kehijauan gelap dilingkari jaiur benang warna merah, diantara hadirin tidak sedikit yang luas pengalaman namun sebelum ini mereka hanya pernah dengar, belum pernah saksikan sendiri.

Ternyata setelah biji teratai berjatuhan baru harum tadi semakin tebal, karuan hadirin seperti berlomba saja mengendus-endus sekuatnya, karena baru harum ini mendatangkan gairah dan semangat, dari sini dapat mereka rasakan bahwa berita yang mengatakan bahwa teratai darah adalah bahan utama untuk menambah tenaga bagi seorang pesilat agaknya memang benar.

Semula ada sementara hadirin merasa kecewa dan putus asa setelah terjadinya perobahan yang tidak diharapkan. Liong-bun Pangcu menculik calon mantu tuan rumah, pesta perkawinan ternyata masih tetap berlangsung dengan Utti Ou dan Gin-koh sebagai penganten-nya kini setelah melihat Hun Hwi-nio betul-betul keluarkan biji teratai baru lega dan senang hati mereka, yang duduk dibelakang malah menyesal kenapa leher sendiri tidak bisa mulur untuk bisa melihat lebih jelas ratusan biji teratai didalam nampan.

Kui-bo Hun Hwi-nio tetap mengulum senyum,katanya: "Lion-ji, haturkan biji teratai kepada para tamu, pertama kau haturkan dulu kepada sepasang mempelai."

Dengan pakaiannya yang lembut melambai Hun Lian bergerak lincah dan enteng, hanya sekali melejit sudah melompat kedepan Utti Ou, lekas Utti Ou ambii sebutir langsung dimasukan kedalam mulut. tanpa dikunyah langsung ditelan, katanya dengan mata mendelik: "Bagaimana rasanya belum kucicipi, marilah sebutir lagi," sambil bicara tangannya terulur lagi”tapi Hun Lian sudah menyingkir hingga tangan Utti Ou meraih tempat kosong.

Karuan hadirin bersorak geli, ada yang berseloroh: "Seperti babi tak pernah makan apel. mendapat rejeki langsung dicaplok saja, sudah tentu tiada rasanya ada pula yang berseru: "Ah, kenapa kalian bisa diapusi Dia sengaja membadut untuk memperoleh bagian lebih banyak."

Di tengah sorak sorai hadirin. Gin-koh juga ambil sebutir langsung dimasukan kemulut Selincah kupu Hun Lian sudah berkelebat pula kearah lain, dimulai dari ujung timur dia bergerak menuju kebarat, dimana dia lewat para tamu ulur tangan mengambil sebutir, semua langsung dimasukan kemulut, ada yang langsung ditelan ada pula yang dikunyah dengan lahap, namun banyak diantaranya setelah menelan biji teratai lantas duduh bersimpuh, namun ada pula yang berdiri atau jungkir balik, maklum yang hadir adaiah jago-jago kosen yang mempelajari berbagai aliran Lwe-kang, dalam latihan sudah tentu mempunyai cara dan gayanya sendiri, dalam waktu singkat ada yang dadanya turun naik, napasnya menderu seperti knalpot, ada pula yang bermuka pucat lalu merah darah. Yang paling tenang hanya Oh sam Siansing dan Pak-to Su-seng, mereka memejam mata samadi seperti Hwisio menyepi, uap putih mulai mengepul seperti mercu dari kepala mereka. Walau keadaan mereka sedikit berbeda, namun itu hanya karena cara latihan yang berbeda, yang terang daiam sekejap ini, mereka sudah mendapat kemajuan yang luar biasa dalam latihan Kungfunya.

Sementara itu Hun Lian sudah berada didamping Hun Hwi- nio. sekali mengebas degan lengan baju, sisa puluhan butir biji teratai diatas nampan telah digulungnya kedalam lengan baju, Hun Lian melenggong, pandangannya penuh tanda tanya kearah ibunya.

Dengan pandangan tajam bengis Kui-bo menyapu pandang semua hadirin, lambat na-munpasti mulai tampak perobahan mimik mukanya, lambat-lambat terbetik secerah senyuman diujung mulutnya, sebaliknya rasa kuatir dan bingung diwajah Hun Lian bertambah tebal katanya periahan:' Ma, jika ada yang tidak setuju. "

Kontan Kui-bo meliriknya tajam, katanya: ,,Tutup mulutmu Sudah tentu aku punya akal, tak usah kau banyak mulut.”

Hun Lian menghela nafas lalu menunduk kepala, Kui bo angkat sebelah tangannya, empat orang segera menggotong sebuah kursi besar berukir dan berat ditaruh dibelakang Kui- bo Hun Hwi-nio Kui bo langsung duduk bertengger diatas kursinya, diapun memejam mata seperti samadi.

Kira kira satu jam kemudian, ada sementara tamu yang sudah usai dengan semadinya, mereka mulai bergerak, semua mengunjuk rasa lega dan senang, tidak lama lagi seluruh hadirin sudah pulih seperti sediakala maka ramailah saara ucapan terima kasih kepada Kui-bo yang dianggap baik hati.

Kui bo hanya tersenyum tanpa memberi komentar akan keramahan hadirin, setelah suara ramai sirap baru Kui bo buka mata dan berkata perlahan: .Hadirin sekalian, Kecuali untuk menghadiri pesta pernikahan puteriku, kuundang kalian untuk merundingkan satu kerja besar yaing menyangkut hidup mati kaum persilatan, nanti aku mohon pendapat dan usul kalian." Hadirin segera tutup mulut dan mendengar pidato Kui-bo mereka saling pandang dan tidak tahu kemana juntrung ucapannya, namun mereka sudah mendapat bantuan sebutir biji teratai, umpama segan mendengar juga terpaksa harus mendengarkan penuh perhatian.

Kedua tangan Kui-bo diletakan di andaran kursi besarnya, kelihatan sikapnya seperti ratu saja layaknya, dengan lantang dia. melanjutkan pidatonya: „Kebesaran Kim hou-po yakin hadirin sudah pernah mendengar, tentu kalian juga tahu bahwa putriku pernah menyelundup ke Kim-hou-po, syukur dia berhasil meloloskan diri pula, kaiian pasti tidak menduga, betapa banyak jago-jago dari golongan yang berada di Kim hou-po"

Hadirin mulai mengerut alis, yang hadir semuanya adalah jago-jago Bulim yang datang dari Tionggoan. Kebesaran Kim hou-po merupakan tenaga misterius dalam pandangan orang- orang persilatan di Tionggoan, Umurnnya kaum persilatan menghindar diri bila diajak bicara tentang Kim-hou po, kuatir ketiban bencana atau kesulitan. Tapi dalam pidatonya jelas Kui-bo Hui Hwi-nio hendak memancing pendapat umum untuk membicarakan Kim hou-po.

Disaat Kui bo merandek sebentar, terdengar seorang menyeletuk:”Kim-hou-po menutup pintu terjaga ketat dan keras, kecuali pihak sendiri minta perlindungan kedalam benteng. selamanya belum pernah dengar orang mereka membuat onar diluar. peduli amat dengan mereka?"

„Kalau tuan berpendapat demikian, kukira keliru sekali.” jengek Kui-bo, „menurut apa yang diketahui oleh putriku, Kim hou-po Pocu selamanya tak pernah unjuk diri, segala urusan ditanggulangi oleh Sau-pocu dan Thi-an-te siang-sat-jiu Tadi Sau-pocu berada disini, beium lama dia pergi, bagaimana Kung funya kalian juga sudah menyaksikan, dari gelagatnya dapat kita simpulkan,bahwa Kim hou-po jelas akan memperalat jago.jago kosen itu untuk merajai dunia persilatan."

Makin tak karuan perasaan hadirin mendengar nada ucapau Kui bo, terasa oleh mereka bahwa Kui-bo masih punya tujuan lebih besar yang akan dan belum diutarakan.

Sudah puluhan tahun Kui bo Hun Hwi-nio berkuasa didarah luar terpencil ini, sejak meninggalkan Tionggoan, sampai sekarang belum pernah dia menginjak langkahnya di Tionggoan, umpama benar Kim hou-po pocu atau Sau Pocu punya ambisi sebesar itu, boieh dikata tiada sangkut pautnya dengan dirinya yang jauh berada ditempat belukar ini. kenapa dia bersikap serius dalam membicarakan soal ini? Umpama kata Kui-bo bermaksud baik memberi peringatan kepada mereka, urusan tiada sangkut paut dengan dirinya, lalu kenapa sikapnya begitu serius?

Maka hadirin berbisik-bisik. Perlahan Kui-bo berdiri dan berkata pula : „Hadirin sekaitan, kami bisa mengadakan pertemuan ini, terhitung memang ada jodoh. ada sebuah permintaan ingin aku ajukan kepada kalian, entah sudi tidak menyetujui."

Hadirin diam menunggu pidatonya lebih lanjut, namun satu sama lain beradu pandang, tiada yang tahu apa kehendak Kui- bo. Terdengar Kui-bo melanjutkan : „Sekarang jago-jago kosen yang ada di Hiat-lui-kiong kutanggung takkan kalah banyak dibanding Kim hou po, sekian banyak orang kumpul jadi satu memang jarang terjadi, kesempatan baik ini kurasa jangan dibuang percuma, bagaimana kalau hari ini juga kami sumpah setia bersama untuk memilih dan angkat seorang Bengcu. berjuang berdampingan untuk melawan Kim hou-po, entah bagaimana pendapat kalian ?"

Pidato Kui-bo diucapkan secara datar seperti orang omong seenak udelnya saja, tapi hadirin    seluruhnya tokoh-tokoh silat yang kosen. sudah tentu mereka tahu dan merasakan kemana kiblat perkataannya, jikalau mereka bertindak sesuai yang dikatakan Kui-bo. maka pertumpahan darah besar- besaran bakal terjadi dalam Bulim

Maklum jago jago yang hadir dalam balairung ini hampir berjumlah dua ratus orang hampir termasuk inti kekuatan kaum persilatan di Tionggoan, padahal betapa banyak jago- jago silat yang ada di Kim-hou-po, walau belum diketahui, tapi selama beberapa tahun ini jago-jago silat besar dan kenamaan yang mendadak lenyap tak karuan parannya tak terhitung banyaknya, berapa jumlahnya hadirin kira-kira bisa membayangkan.

Umpama rencana Kui bo terlaksana dengan seluruh kekuatan jago jago yang hadir di Hiat-lui-kiong ini menyerbu ke Kim-hou-po, peduli pihak mana yang menang, korban jiwa jelas pasti terjadi, itu berarti kaum persilatan akan banyak dirugikan, dan kemungkinan terbesar adaiah kedua pihak gugur atau hancur bersama, bagaimana mereka mau melakukan tindakan yang tidak patut dipuji ini ?

Disaat hadirin kaget dan melenggong, terdengar Pak-to Suseng menghela napas, katanya : ,,Kui-bo, banyak terima kasih pemberian biji terataimu, tapi persoalan yang kau ajukan itu sukar kami menerimanya, malah perlu kuanjurkan batalkan saja niatmu dan jangan laksanakan secara kekerasan atau paksaan."

Sikap Pak-to Suseng ramah dan lembut beberpa patah katanya justru dilontarkan dengan nada keras dan kaku. Thi- giam-ong adalah orang pertama yang menyokong : , Kui-bo. walau kau menjadi comblang pernikahanku, tapi usulmu itu tidak bisa kuterima."

Menyusul teriakan Thi-giam-lo empat puluhan orang serempak berseru : „Harap Kui-bo maafkan, kami tak bisa menerima usulmu."

Maka ramailah seruan hadirin yang menolak usul Kui-bo. Ternyata Kui-bo tetap berdiri santai, sedikitpun tidak marah mendengar maksudnya ditentang, terutama teriakan Thian- lam-siang-jan paling keras dan tajam : ”Teratai darah sudah kami telan, untuk apa kita tinggal di sini lebih baik bubar saja."

Seketika seruan Thian lam siang jan mendapat applus yang ramai dari hadirin tampak Thian-lam siang-jan sudah mempelopori gerakan ini, hanya sekejap mereka sudah melesat kepintu gerbang Walau banyak yang merasa sungkan, tapi tidak sedikit pula yang mengikuti jejak Thian-Iam siang- janf berbondong-bondong mereka beranjak keluar.

Baru sekarang Kui-bo Hun Hwi-nio berkata kalem, namun suaranya ditekan dengan tenaga dalamnya : ,,Harap kalian tunggu se bentar, tunggu dulu hingga penjelasan selesai kami kalian mau pergi atau tetap tinggal di sini terserah pilihan kalian sendiri."

Terpaksa Thian-lam-siang-jan menghentikan aksinya diambang pintu, biji matanya yang jelalatan mendelik tak sabaran, sikapnya seperti berang dan ogah, namun mereka menuggu ditempat itu. Sudah tentu orang-orang dibelakangnya terpaksa ikut menghentikan langkah.

Terdengar Kui bo berkata : „Kalian tahu sejak lama aku hidup di Biau kiang. bahwa aku pernah belajar dibawah didikan Sam-boa Niocu. kukira jarang ada orang tahu"

Bahwa Kui bo mendadak merobah arah bicaranya, sudah tentu hadirin keheranan pula, hanya seorang mendadak memekik kaget dan ngeri, waktu hadirin menoleh kearab datangnva suara, tampak orang ini besar kepala badan kecil, pertumbuhan badannya amat ganjil dan lucu, ada juga hadirin yang kenal dia sebagai Liong bin Siangjin dari Liong-bin-si yang terletak dipinggir timur Thian ti di Hun lam Kungfu Liong- bin tidak, begitu tinggi, namun pergaulannya dalam Bulim amat luas, supel dan banyak bersahabat, jiwanya jujur. Sering terjadi petikaian antar perguruan dalam Bulim, bila dia mengajukan diri melerai pertikaian ini, cukup beberapa patah katanya urusan akan beres dan damai. Peduli jago silat dan gotongan putih atau aliran hitam tiada yang menghormati dirinya. Maklum selama puluhan tahun ini dia bertindak secara jujur dan lurus.

Kini Liong-kin Siangjin mendadak menjerit takut dan ngeri, sudah tentu hadirin mengkirik, yang kenal segera maju bertanya : ,Ada apa Siangjin?"

Dengan muka pucat Liong bin Siangjin menuding Kut-bo Hun Hwi-nio, sesaat lamanya baru dia mengeluh sekali lagi lalu memekik : „Habislah kita semuanya."

Pekik suaranya seperti meratap minta ampun, siapapun yang mendengar akan merinding dibuatnya, tiada hadirin yang tidak merasa seram, tampak sambil memekik Liong-bin Siangjin berjingkrak berdiri hingga meja didepannya di terjang terbalik jauh ke-depan. Dengan langkah sempoyongan dia memburu kedepan Kui-bo, lalu mencengkram lengan Kui-bo serta membentak beringas : Kau . . . mencampur ulat apa didalam makanan kita ?"

Mendengar Liong-bin Siangjin menyebut 'ulat', baru dua ratusan jago-jago silat itu sadar dan menjerit kaget semua, kini baru -rereka teringat orang macam apa sebenarnya Sam- hoa Niocu.

Dalam daerah Biau-kiang dengan penduduknya yang masih serba primitif, cara melepas ulat adalah merupakan kepandaian atau senjata mereka untuk membela diri, kepandaian ini sudah merupakan tradisi yang turun temurun sejak ribuan tahun Sam hoa Niocu adalah kependekan dari Kim hoa Niocu Gin hoa Niocu dan Thi-hoa Niocu. Didaerah Biau-kiang ada empat ratus tujuh puluh lebih gua, semua menyembah Sam-hoa Niocu sebagai ekepandaian Sam hoa Niocu menggunakan ulat juga berbeda satu dengan yang lain. setiap orang hanya diajari satu macam, bukan soal gampang untuk memperoleh julukan Sam-hoa Niocu, generasi demi generasi terus diturunkan, tadi Kui-bo Hun Hwi-nio pernah bilang, diwaktu mudanya dia pernah berguru kepada Sam-hoa Niocu, semula orang banyak tidak tahu atau tidak ingat macam apa sebenarnya Sam hoa Niocu, tapi setelah Liong bin Siangjin menjerit ngeri dan menyebut tentang ulat, baru hadirin sadar.

Hun Hwi-nio tertawa lebar, katanya: „Betul, aku memang menggunakan ulat tanpa bentuk, tapi bukan kucampur dalam makanan, tapi kucamour didalam biji teratai yang sudah menjadi idaman kalian."

Kepandaian Sam hoa Niocu menggunakan ulat memang hebat luar biasa, banyak ragamnya, ulatnyapun terdiri berbagai jenis, ragamnya tidak kurang ratusan macam, sebagian besar hadirin datang dari Tionggoan, sudah tentu jarang yang tahu seluk beluknya, jarang yang tahu apa sebenarnya 'ulat tanpa bentuk' itu, namun Kui bo sudah menjelaskan bahwa didalam biji teiatai yang mereka telan tadi sudah dicampur ulat, itu berarti seluruh hadirin sudah pecundang diluar sadar mereka, serempak mereka menjerit gusar serta merubung maju kearah Kui-bo

Di tengah keributan itu suara Liong-bin Siangjin paling menonjol: „Kenapa kau berbuat sekeji ini, lekas berikan obat penawarnya."

Kui-bo Hun Hvvi no menjengek dingin, katanya: „Tujuanku tidak lain supaya kalian bersatu padu menghadapi Kim hou- po"

Kontan Thian-lam-siang jan menjerit beringas: ”Berikan obat penawar." belum habis bicara bayangan mereka sudah melejit ke-udara melewati kepala orang banyak mencakar kearah muka Hun Hwi-nio.

Betapa cepat dan tangkas gerakan dan serangan keji mereka, orang pasti sukar percaya bahwa kedua orang ini tanpa daksa malah cengkraman mereka langsung mengincar muka dan leher Hun Hwi-nio yang mematikan. Sebat sekali tubuh Hun Hwi-nio berkelit mundur.

Diluar dugaan serangan ganas dan cepat Thian lam-sisng jan itu ternyata hanya gertak ambel belaka, baru saja Kui-bo menyurut mundur, di mana kedua tangan mereka menekuk, kontan Hun Lian menjerit kaget, hakikatnya kesempatan menyingkir tiada, tahu-tahu sudah dibekuk Thian tam-siang- jan dari kiri kanan Dengan jurus kiri kerbau kanan kuda salah satu tipu dari Siu-lo cap-jit-sek-nak-hiat hoat mereka mencengkram Hiat-tu pelemas dikanan kiri pinggang

Begitu berhasil membekuk Hun Lian, segera Thian-lam- siang-jan berteriak:”Jangan takut, putrinya berada ditangan kami, memangnya berani dia tidak menyerahkan obat penawar."

Disaat Thian lam-siang-jan beraksi, ada beberapa jago kosen yang lain juga bergerak, maka terdengarlah deru angin yang ribut disertai suara ,Plak plok" yang ramai, dari depan Hun Hwi-nio menangkis pukulan Oh sam Siansing, dari kiri menyambut serangan Pak-to Siansing, sementara tubuh atas menjengkang kebelakang menyambut pukulan Cin-loyacu, sebat sekali tubuhnya sudah berputar, dengan sikutnya dia menyodok Thi-giam-ong Utti Ou hingga mempelai laki-laki ini jatuh terjangkan kedalam pelukan Gin-koh

Gin koh membimbing Utti Ou berdiri, teriaknya: ”Kui-bo, jangan kau berdosa terhadap seluruh orang dalam jagat ini."

Dalam sekejap Kui bo Hun Hwi nio sekaligus menyambut serangan empat jago kosen, ternyata para pengeroyoknya tiada yang unggul meski hanya seurat, malah disaat Gin-koh buka suara, tubuh Hun Hwi-nio sudah melambung tinggi, pada hal orang banyak merubung maju berarti mengepungnya di tengah. ke manapun dia menyingkir tetap dijadikan sasaran pukulan orang banyak, kepandaian Kui-bo memang hebat luar biasa, hanya sekali lompatan tubuhnya ternyata meluncur keatas belandar. Utti Ou berteriak: „Kau pandai Ginkang memangnya orang lain tidak mampu?"

Utti Ou berteriak demikian karena dia sendiri tidak mahir dalam bidang ini, saat mana Gin-koh sudah menarik krudung muka, membanting perhiasan diatas sanggulnya, mencopot pakaian manten, bagian dalam ternyata dia tetap mengenakan pakaian serba perak, sekali menjejak tubuhnya meluncur lurus seperti roket hingga diatas belandar pula

Tidak sedikit yang mengikuti jejak Gin-koh, dalam sekejap itu sedikitnya ada dua puluh orang melompat keatas belandar. Dengan menjinjing Hun Lian di tangan kiri Thian-lam siang-jan juga melambung pergi menuju sepojok ruangan, gerakan mereka teramat cepat, pada hal Kungfu Hun Lian cukup tinggi, tapi dikempit kedua orang ini sedikitpun dia tidak mampu meronta. Thian-lam-siang-jan langsung berdiri mepet dinding, jelas kuatir Kui-bo menyergap mereka menolong putri kesayangannya ini,