Tugas Rahasia Jilid 06

Jilid 06

Mondar mandir dalam kamar kecil itu selama setengah jam. baru tampak kacung hotel pulang membawa sebuah buntalan besar. Setelah kacung diminta menyiapkan lentera, baskom dan sebuah anglo lalu disuruh keluar maka Cia Ing-kiat mulai mengembangkan kepandaian tata rias yang pernah dipelajarinya dari Tay-seng bun. Hauya satu jam Cia Ing-kiat menyibukan diri dalam menangani wajah orang, orang aneh itu kini telah dirobahnya menjadi seorang nenek beruban, dipipi sebelah kiri terdapat sebuah codet merah seperti kelabang, sebuah taring menonjol keluar diujung mulut kanan, mukanya yang pucat mirip mayat hidup amat mengerikan.

Menghadapi hasil karyanya sendiri mau tidak mau timbul rasa ngeri dalam benak Ing-kiat bila membayangkan keseraman si nenek yang satu ini, orang aneh itu kini sudah menjadi nenek yang berwajah mayat, seolah-olah bila orang mengulur jarinya saja. dirinya bisa mampus seketika oleh racun jahat. Konon Im-sik-ciang menimbulkan rasa gatal lalu membusuk dan luluh bagi setiap korban yang terkena pukulannya.

Hu-lo Popo (nenek mayat) adalah tokoh besar yang terkenal di Tionggoan, setelah Ing-kiat merias orang aneh ini menjadi nenek terkenal ini, dia kuatir orang akan ber-cermin dan tahu samaran dirinya adalah nenek yang ditakuti itu. tapi setelah memegang kaca dan bercermin kekanan kiri orang aneh ini malah berkecek mulut memuji, agaknya dia tidak kenal atau belum pernah melibat Hu-lo Popo.

Dalam hati Cia Iig-kiat bersorak dan geli. pikirnya : "Sekian banyak jago jago silat terkenal di Tionggoan kumpul di sini di antaranya yakin tidak sedikit yang kenal atau mungkin musuh besar Hu-lo Popo, pada hal orang aneh ini mengira setelah dirinya menyamar jadi .nenek, dirinya akan bebas dari segala urusan karena tidak dikenal siapa pun, keramaian memang pasti akan terjadi." Selanjutnya Cia Ing-kiat berdandan pula merobah wajah sendiri menjadi seorang kakek setelah mereka berganti pakaian, orang aneh itu berkata dengan suara berobah persis seorang nenek : "Baiklah, sudah cukup, kini mari kami saksikan sekedar tontonan gratis lebih dulu, dua hari lagi baru bisa menyaksikan keramaian besar " sembari bicara dia terbungkuk-bungkuk dengan langkah terserok membuka pintu lalu melangkah keluar, gerak gerik dan tingkah lakunya memang mirip sekali seorang nenek tua yang lemah. Cia lng- kiat ikut dibelakangnya. Sudah tentu kacung dau pemilik hotel berdiri menjublek keheranan seperti melihat setan disiang hari. namun akhirnya mereka tahu duduk persoalan setelah menemukan uang dan sisa keperluan yang digunakan mereka didalam kamar.

Tanpa bersuara Cia Ing kiat ikuti saja langkah orang aneh yang sudah menyamar nenek tua ini, setelah menyasuri beberapa jalan raya, akhirnya mereka tiba di gang sempit di mana tadi Thiam-lam-siang jan berada, kedua orang itu sudah tidak kelihatan, sengaja Ing-kiat mendongak keatas tembok, orang aneh yang didepan seperti tahu apa yang sedang dia pikir, katanya : "Yang bersuara tadi adalah majikan dari tujuh puluh dua puncak di Tong-ting, Kim-kan-sian-khek."

Mencelos hati Cia Ing-kiat, katanya : "Sungguh lihay." "..Lihay   apa.   beruntung   dia   mendapat   tempat   baik.

memimpin banyak orang mendapat nama besar lagi, pada hal

kepandaiannya tidak seberapa. Nanti sebentar, kurasa akan datang beberapa jago kosen yang benar-benar memiliki Kungfu tinggi, malah ada yang sudah meyakinkan Lwe-keh-lo- khi sampai taraf kelima."

Cia Ing-kiat tersirap, Lwe-keh-lo-khi bila diyakinkan sampai taraf ke lima katanya sakti mandraguna, konon dalam Bu ini sekarang yang mampu mencapai latihan ketaraf lima hanya delapan orang, seorang diantaranya adalah seorang raja dari negeri Persia, mungkinkah dia juga akan datang. Dua orang lagi adalah Hwesio dan Nikoh. konon usia mereka sudah mendekati seratuh tahun, jarang berkecimpung di Bulim Lima orang lagi kabarnya adalah Kwi-bo (induk setan) Hun Hwi-ni, Kim-hou Pocu, Hu-gu Siangjin dari Hu-gu-san di Holam Kay pang Pangcu dan Hong-tiang Siau-lim-si Pun-sian Siancu. jumlah kenyataan yang mampu meyakinkan Iwekhe-lo-khi mungkin tidak hanya delapan orang saja. namun cukup dua atau tiga orang diantara delapan orang ini hadir di sini, maka tontonan yang akan berlangsung memang patut disaksikan.

Sambil menimang-nimang Ing kiat terus mengintai dibelakang orang. Mereka menyusuri jalan raya menuju kesebuah restoran besar, dari kejauhan restoran itu sudah kelihatan terang benderang, bayangan orang banyak berkerumun memenuhi restoran besar itu, didepan pintu juga berkerumun banyak orang, setelah dekat tampak delapan belas lelaki bertubuh kekar berbaris dikiri kanan, dua laki-laki yang lain dengan pakaian mewah sedang menyambut para tamu yang berkerumun di luar.

Sebelum bertindak lebih jauh, orang aneh sudah memberi peringatan : "Jangan sembarang omong."

Cia Ing-kiat mengangguk lalu menginiil dibelakangnya orang-orang yang berkerumun ini semua adalah kaum persilatan, ada yang kenal tapi lebih banyak yang masih asing, mereka maju satu persatu memperkenalkan dirinya kepada kedua laki-laki pakaian perlente yang menyambut mereka itu.

Begitu orang aneh menyibak orang banyak maju kedepan, orang-orang yang berkerumun itu segera mundur kesamping memberi jalan, wajah mereka kelihatan berobah pucat, ada yang gusar melotot, ada pula yang siap melolos senjata, agaknya orang aneh heran dan tak tahu kenapa sikap mereka sekasar itu, langkahnya tetap munduk-munduk seperti nenek tua lazimnya, sungguh hampir tak tahan Cia Ing-kiat menahan rasa gelinya. Hanya dia saja yang maklum kenapa orang- orang tua ada yang jeri dan takut, ada pula yang melotot gusar dan siap melabraknya, karena orang-orang itu anggap orang aneh ini sebagai Hu-lu lopo yang jahat kejam, bukan mustahil tidak sedikit sanak kandang mereka yang pernah menjadi korban keganasan nenek tua ini.

Semula kedua laki-laki penyambut tamu itu bersikap ramah dan sopan, namun tutur kata mereka menunjukan sifat angkuh dan tinggi hati, begitu orang aneh dan Ing-kiat tiba didepan restoran, keadaan yang semula ramai seketika menjadi sepi. Alis kedua laki-laki perlente itupun terangkat tinggi, dengan sikap terpaksa mereka maju mendekat serta bertanya: "Apakah kalian membawa undangan?"

Dengap meniru suara nenek tua orang aneh itu berkata: "Apakah harus punya undangan baru bisa hadir dalam keramaian ini? Apakah majikanmu tidak keterlaluan ?"

Kini bukan lantai bawah saja yang keadaannya menjadi sepi. lantai kedua pun menjadi lengang, tidak sedikit yang melongok ke-bawah ingin tahu apa yang terjadi dibawah. Sudah tentu yang paling tegang adalah Cia-Ing kiat, baru sekarang dia insaf permainannya bakal membawa resiko besar. Namun untuk menjelaskan kepada orang aneh sudah tiada kesempatan.

Didengarnya salah seorang lelaki perlente berkata: "Bukan majikan kami keterlaluan, soalnya siapa yang membawa undangan adalah tamu agung kita, umpama satu dengan yang lain ada permusuhan besar, di sini siapa-pun dilarang turun tangan supaya majikan tidak kerepotan dibuatnya?"

Orang aneh itu tetap tidak menyadari keadaan dirinya, katanya dengan tertawa malah:"Tuan tidak perlu kuatir, nenek tua tidak punya permusuhan dengan siapapun yakinlah tiada orang yang akan mencari perkara dengan nenek tua renta seperti aku ini."

Sudah tentu pernyataan orang aneh ini menimbulkan berbagai reaksi di wajah hadirin. sikap mereka bukan saja aneh juga lucu. Maklum Hu lo Popo sudah terkenal sebagai perempuan iblis yang jahat, kaum persilatan berbagai golongan tiada yang tidak bermusuhan dengan dia namun sekarang dia menyatakan tidak punya permusuhan dan tidak akan mencari setori sudah tentu hadirin amat heran dan bingung.

Hanya kedua laki-laki perlente itu yang tidak melupakan tugasnya, katanya dengan sikap dingin:"Kalau demikian, baiklah silahan masuk." sembari bicara sorot mata mereka yang tajam mengawasi Cia Ing kiat.

Diam-diam berdiri bulu kuduk Cia Ing-kiat, maksud semula hanya untuk mempermainkan orang aneh ini sungguh tak terbayang bahwa perkembangan ternyata diluar dugaan karena kejadian berarti mempersulit dirinya sendiri, sekarang dia bersama orang aneh ini, bila musuh tangguh melabraknya, bukan mustahil dirinyapun akan dilabrak orang karena dianggap sekomplotan, betapapun tinggi kepandaian orang aneh ini, mungkin takkan sempat melindungi dirinya. Demi keselamatan jiwa raganya secara reflek Ing-kiat ulur tangannya hendak menarik orang aneh, saat itu juga orang aneh sudah membalik sebelah tangannya memegang pergelangan tangannya katanya: "Marilah peristiwa besar di Bulim yang jarang terjadi kenapa tidak ikut menonton keramaian."

Ing-kiat diam saja meski hati mengeluh diseret orang aneh kedalam restoran. Kedua lelaki itu terpaksa menyingkir memberi jalan, maka orang aneh dan Cia Ing-kiat masuk kedalam. mendadak diatas tangga terdengar suara langkah berat dibarengi gerungan keras, tiga orang laki perawakan besar dan kasir memburu turun menghadang di depan mereka.

Bobot setiap lelaki besar ini ada ratusan kati, waktu memburu turun betapa besar tenaga yang dikerahkan sehingga tangga loteng berdentam seperti digetar gempa,orang orang yang semula memang berdiri ditangga sama menjerit dan melompat menyingkir, cepat sekali ketiga orang itu sudah mencegat didepan orang aneh, yang ditengah menggerung aneh, sambil angkat tangannya mengayun sebatang Kim-kong-kan (gada kupingnya) terus mengepruk kepala.

Gada kuning ini sebesar paha berat lagi. tenaga laki-laki raksasa kuat pula maka gada yang terayun itu mengeluarkan deru suara keras "He, apa kehendakmu?" sembari bicara dia angkat sebelah tangannya mencengkram keatas, gada besar yang terayun menderu itu ternyata berhasil ditangkapnya.

Pada saat yang sama, dua laki raksasa di kanan kiri itu juga serempak menyerang dengan gada kuningan yang sama besar dan beratnya, betapapun cekatan gerak gerik orang aneh, jalan mundur sudah terjaga oleh dua gada lawan terpaksa dia menjerit aneh, tubuhnya mendadak menegak dengan getaran yang keras, getaran keras ini seperti menimbulkan perobahan di tubuhnya karepa mendadak tubuhnya seperti melar satu kaki lebih tinggi dan kekar, "Blak, bluk" dua gaoa kuningan itu dengan telak menghantam kanan kiri pingganggnya.

Begitu gada kedua laki laki raksasa menyambar sebat sekali Cia Ing kiat sudah melompat mundur, tak urung dia tersapu mundur beberapa tindak, dengan mendelong dia awasi gada besar berat itu menghantam pinggang orang aneh, diam-diam hatinya mengeluh, maklum badan siapa kuat menahan pukulan gada berat yang mampu menghancurkan batu gunung itu?

Tapi kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaannya, begitu gada mengenai pinggang orang aneh. kedua laki-laki raksasa itu malah menjerit aneh, tubuhnya terjengkang mundur, gada mereka mencelat terbang, telapak tangan pecah terdarah.

Dalam waktu yang sama orang aneh mendorong tangannya kedepan. hanya perlahan saja tapi laki-laki raksasa yang mengemplang dengan gada itu telah ditolaknya jumpalitan Katanya; "Sama sama mau melihat keramaian, umpama aku tidak punya undangan, kenapa kalian bertindak sekasar ini?"

Belum habis dia bicara,orang-orang yang berdiri diatas tangga sama menjerit, ternyata kedua gada yang mencelat terbang itu jauh kearah tangga. Ditengah jeritan kuatir orang banyak itulah, mendadak berkelebat sesosok bayangan orang dari atas meluncur kebawah. gerak gerik orang ini kelihatan wajar dan santai, orang banyak melihatnya jelas, namun gerak luncurnya ternyata amat pesat, tampak dia angkat kedua tangannya dengan mudah kedua gada besar yang berputar ditangkapnya. Cia Ing-kiat juga sudah melihat jelas orang yang meluncur turun dari atas loteng menangkap kedua gada itu bukan lain adalah Oh-sam Sian-sing.

Sementara itu ketiga laki-laki raksasa itu juga sudah terdiri jajar, dengan bola mata terbelalak mereka mengawasi orang aneh Oh-sam Siansing menghampiri mereka serta memberi tanda dengan anggukan kepada tampang ketiga raksasa ini amat garang dan buas, tapi terhadap Oh-sam Siansing mereka berlaku sangat hormat. sambil menunduk segera mereka menyingkir.

Suasana masih bening, hadirin masih merasa tegang, orang aneh itupun mengawasi Oh-sam Siansing dengan pandangan heran dan kagum, karena orang mampu menangkap kedua gada besar yang berputar kencang itu tanpa Iwekang tinggi tak mungkin Oh sam Siansing mampu menangkapnya, dari sorot matanya Cia Ing-kiat menduga orang aneh agaknya juga juga tidak kenal siapa Oh-sam Siansing ini.

Oh sam Siansing kembalikan gada kuningan itu kepada pemiliknya, katanya: "Lain kali jangan sembarangan bertindak, jagalah nama baik Siau-lim-pay kalian."

Ketiga laki-laki raksasa itu mengiakan. Oh-Sam membalik dan tertawa, katanya: "Sudah lama tidak ketemu, Lwekangmu sudah maju pesat, tak heran kau berani keluyuran pula." Orang aneh itu melenggong, tanyanya: "Kau mengenalku?"

Oh sam tertegun, sesaat dia bingung tak tahu kenapa Hu-lo Popo bertanya demikian atau orang sengaja pura-pura pikun? Segera dia tertawa besar, katanya "Orang-orang di sini siapa yang tidak mengenalmu?"

Orang aneh itu melenggong pula, tanyanya: "Lalu siapakah aku? "

Oh-sam Siansing mengerut kening bahwa Oh-sam Siansing sudah menampilkan diri, maka hadirin yang menaruh dendam kepada Hu lo Popo ingin rasanya mengganyangnya saja, namun mereka lahu kepandaian sendiri terlalu jauh dibanding Oh sam Siansing, kalau orang tua ini memuji Hu-lo Popo maka siapa berani bertindak lebih dulu, maka hadirin hanya berani memaki dan melotot saja.

Mendengar caci maki orang banyak, orang aneh mematung sejenak, sikapnya heran dan tak habis mengerti, tapi mendadak dia menoleh melirik kepada Cia Ing-kiat. Tampak oleh Cia Ing-kiat mimik orang aneh ini seperti tertawa tidak tertawa, ujung mulutnya menjengkit turun, karuan jantungnya berdebar-debar entah untung atau rugi yang akan dialaminya namun telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin.

Akhirnya orang aneh menoleh kedepan pula serta berkata setelah menghela napas "Anggaplah aku yang setua ini masih ditipu orang tanpa sadar, kalian yang punya pertikaian dengan nenek tua seperti aku ini, boleh maju membuat perhitungan sekarang juga," perkataannya dilontarkan kepada hadirin, tapi sepasang matanya menatap kepada Oh-sam Siansing.

Oh-sam Siansing menyeringai dingin, katanya: "Kau juga ditipu orang, agaknya memang sudah tiba saatnya kau memperoleh ganjaran setimpal. Baiklah, bagaimana kau ingin bergebrak, boleh katakan saja."

Orang aneh tertawa, katanya "Boleh terserah bergerak....

siapakah nama tuan?" Disaat kedua orang ini berbicara keadaan sekeliling sunyi senyap, hadirin mencurahkan perhatian mengikuti perkembangan selanjutnya, maka pertanyaan terakhir orang aneh seketika menimbulkan reaksi yang ramai diantara hadirin.

Tanya nama gelaran bagi kaum persilatan adalah hal biasa, tapi insan persilatan mana yang tidak kenal Oh-sam Siansing, bahwa Hu-lo Popo yang terkenal ini juga tanya she dan namanya, adalah jamak kalau hadirin menjadi gempar.

Tak nyana Oh-sam Siansing hanya tertawa tawa, katanya: "Cayhe (aku yang rendah) she Oh bernama Sam."

"Oh" orang aneh itu bersuara dalam mulut, "Begini saja, tadi tanpa sebab aku digebuk dua kali oleh ketiga kerbau dungu itu, sekarang bagaimana kalau giliranmu kugebuk, terhitung adil tidak?"

Oh-sam Siansing mengangkat alis. kata nya kemudian: "Ya, adil."

Maka keadaan kembali sunyi, orang aneh itu membalik tangan, terulur kearah seorang Tojin kurus yang berdiri paling dekat, di belakang punggung Tojin kurus ini terselip sebatang kebut, gerak tangan kebelakang si orang aneh dengan jari mencengkram ini membuat Tojin kurus itu tertegun, orang aneh itu sudah tertawa dan berkata: "Tolong pinjam kebut Totiang sebentar." belum habis dia bicara, Tojin kurus itu merasa segulung tenaga sedot telah menariknya kedepan hingga tanpa kuasa tubuhnya terseret maju selangkah.

Secara reflek tangannya meraba kebelakang punggung, seketika dia menjerit kaget, ternyata kebut senjatanya itu sudah berpindah ke tangan orang aneh.

Betapa cepat gerak tangan orang aneh ini, meluruh hadirin tiada yang melihat jelas, karuan semua terbeliak. Tak sedikit hadirin yang kenal Tojin kurus ini, dia bukan lain adalah Ketua Pek-hoa-khoan di Pek-hoa ciu Hud-hun Tojin, terhitung seorang tokoh kosen juga. namun hanya sekejap kebut atau gacoannya yang sudah terkenal dengan sebutan Pek-hoa-hud ini dalam sekejap telah dirampas orang. Kejadian seperti sulapan saja, orang aneh itu segera mengacung kebut sambil minta maaf kepada Hud-hun Tojin.

Tampak dimana tangannya terangkat, kebut dengan bulu lemas sepanjang tiga kaki itu mendadak tegak berdiri seluruhnya, laksana sekuntum kembang teratai yang mendadak mekar, entah terbuat dari apa, bulu kebut itu bersinar mengkilap.

Bagi orang lain kejadian ini hanya dianggap tontonan ajaib, tapi bagi Hud-hun Tojin justru merupakan kejadian yang fatal, bukan saja menjatuhkan pamor juga merendahkan derajatnya, karuan badannya basah oleh keringat dingin, mukapun pucat menahan gejolak perasaannya. Pada hal dengan Pek-ha hud ini dia sudah latihan empat puluh tahun lamanya, namun untuk bertindak seperti orang aneh, sekali gentak benang benang kebutnya lantas tegak berkembang, selama hidup ini jelas takkan mungkin mampu melakukan.

Harus dimaklumi benang kebut yang terbuat dari benang perak ini, lemas lembut dan enteng, tenaga dalam sukar disalurkan ke-atasnya, tapi orang aneh ini hanya sekali sendal telah mampu membuatnya berkembang laksana kembang teratai. Jelas Hu lo Popo mampu mengerahkan tenaga dalamnya sehebat itu, jangan kata orang lain kaget, Oh-sam Siausing sendiri juga berobah air mukanya, dengan serius dia mempersiapkan diri.

Mendadak tangan orang aneh diulur pula lebih maju, ribuan benang yang berkembang di ujung kebutan itu mendadak melingkup pula seperti payung, enteng dan lemas mengebut kepinggang Oh-sam Siansing.

Walau benang kebut itu sudah mengencang jadi satu, namun benang tetap benang, lemas dan lunak, gerakan orang anehpun lamban seperti tidak bertenaga, namun Oh-sam Siansing mendadak menarik napas dalam, jubah panjang di badannya yang longgar itu mendadak melembung seperti balon mengeluarkan desiran suara halus seperti layar berkembang ditiup angin badai.

Kejap lain benang kebut itupun sudah menyabet badan Oh- sam Siansing, umumnya benang lemas setiap kali mengenai benda apapun takkan mengeluarkan suara apapun, namun kejadian kali ini justru berbeda, begitu benang kebut itu mengenai jubah Oh-sam Siansing yang melembung itu seketika mengeluarkan suara keras seperti bunyi tambur. Bunyi tambur ini begitu keras dan tidak terduga pula oleh orang banyak, tidak sedikit diantaranya yang berjingkrak sambil menutup kuping.

Di tengah bunyi keras itulah tampak badan Oh-sam Siansing bergoyang gontai perlahan, untung orang aneh itu segera menarik tangan serta berseru memuji : "Kepandaian bagus."

Ternyata merah muka Oh-sam Siansing, tanpa bicara segera dia membalik terus beranjak ke atas loteng.

Seenaknya orang aneh membuang kebut di tangannya keatas. Hud-hun Tojin berdiri melongong dengan perasaan hampa, terasa latihannya selama ini hanya sia-sia belaka, karena hari ini tanpa berkelahi dirinya sudah terjungkal habis- habisan, meski melihat kebut miliknya itu dilempar balik, tapi dia hanya berdiri mendelong diam saja seperti orang linglung hingga kebutnya itu jatuh di atas lantai.

Ternyata hadirin juga berdiri melongo kecuali belasan orang yang benar-benar top kepandaiannya, selebihnya mengunjuk rasa heran dan tidak mengerti, mereka tidak tahu kenapa mendadak Oh sam Siansing putar tubuh tinggal pergi tanpa bicara sekejappun. Karena menurut pandangan umum, dengan kekuatan Lwekeh-lo-khi Oh-sam Siansing dia mampu menahan sabetan kebut orang aneh, keadaan jelas seimbang, jadi tiada pihak yang kalah atau menang. Setelah Oh-sam Siansing naik keloteng baru orang aneh itu tertawa serta menantang: "Nah. masih ada kawan mana ingin memberi petunjuk ?" beruntun dia tanya tiga kali namun tiada reaksi.

Untunglah pada saat itu, dari arah sungai diseberang restoran ini berkumandang tetabuhan musik yang merdu. Dua lelaki perlente itu segera berkaok lantang : "Tuan-tuan tamu harap siap naik keatas kapal."

Segera orang aneh berseru : "Betul kami pun harus lekas naik kapal."

Cia Ing-kiat menyurut mundur, tapi sekali ulur tangan orang aneh itu sudah menangkapnya serta diseretnya naik ketangga.

Seperti tidak sadar Cia Ing-kiat ikut main keatas loteng, ternyata bagian yang menghadap kesungai tidak berdinding, hanya dipagari kayu ukiran, selayang pandang panorama dipermukaan sungai tampak jelas. Sebuah kapal besar tampak sedang berlaju ke-arah restoran berloteng ini, obor tampak menerangi kapal besar yang bertingkat dua itu, tetamu busik mengalun dari atas kapal. Hanya sekejap kapal besar itu sudah dekat, dari buritan kapal "wut" meluncur segulung tambang sebesar jari kelingking. Panjang tambang kecil ini adalab lima tombak, ujungnya dipasang gantola besi, "Trak" dengan tempat gantolan itu menancap dipagar loteng kapal tidak maju lebih dekat malah mulai menyurut kebelakang, seningga tambang kecil itu ketarik kencang dan lurus, namun pagar loteng itu amat kokoh, kuat menahan tarikan kapal besar yang tentunya sudah menurunkan sauh.

Belasan orang bekerja serempak menurunkan beberapa jangkar, sehingga kapal itu tidak bergeming walau terbawa oleh arus di-tengah sungai. Ternyata kecuali jangkar itu puluhan pendayung juga siap bekerja, padahal kapal sebesar itu, daya layu air juga cukup deras, kalau para pendayung kapal yang tidak kelihatan itu tidak memiliki tenaga dan terlatih baik tak mungkin mereka kuat menahan kapal sebesar itu ditengah arus yang deras itu.

Diam-diam mencelos hati Cia Ing-kiat, entah siapa pemilik kapal besar itu, bahwa dia mampu mengundang sekian banyak orang orang kosen tentu orang itu seorang kosen yang disegani.

Tengah Cia Ing kiat melamun, tampak delapan lelaki gagah dengan seragam biru muda berdiri didua samping lalu tarik suara bersama: "Silakan para tamu naik kekapal."

Jarak kapal itu dari loteng restoran ada lima tombak, hanya tambang kecil itu sebagai penghubung, namun mereka berteriak lantang mempersilakan para tamu naik ke atas kapal, jelas hendak menguji Kungfu para tamu yang diundang. Belum habis teriakan kedelapan orang itu, tampak dua orang sudah melompati pagar, mereka bukan lain adalah kedua orang cacad yang bertemu dengan Cia Ing-kiat digang sempit kotor dalam kota tadi.

Sambil melompat keluar kedua orang cacad itu berseru : " Orang cacad kurang leluasa bergerak adalah pantas kalau kami berjalan lebih dulu." sambil mengoceh mereka sudah naik keatas tambang, diatas tambang kecil itu mereka berjalan seperti terbang, hanya sekejap sudah berada diatas kapal, delapan orang diatas kapal serempak membungkuk menyambut kedatangan mereka.

Menyusul tampil seorang bertubuh kecil pendek, keadaannya serba aneh, berpakaian serba merah seperti api, mulut lancip tulang pipi menonjol, serunya sambil melompat keatas: "Mumpung diundang untuk menyaksikan keramaian, kenapa harus disia-siakan kesempatan baik." sambil mengoceh orang aneh inipun bergerak lincah mumbul keatas, sekali lompat dua tombak, bila tubuhnya aujlok kebawah, ujung kakinya menutul diatas tambang, tubuhnya lantas melesat pula kedepan lebih jauh, bila sekali diulang pula-maka diapun sudah turun diatas kapal. Sebagian besar tamu-tamu yang hadir diatas restoran kenal orang aneh ini, dia adalah Hwe-pian hok (kelelawar api) Ji Gi, tokoh lihay dari aliran sesat, Ginkang yang diperlihatkan didepan umum tadi memang luar biasa.

Setelah Hwe-pian hok, menyusul beberapa orang sudah menyebrang kesana lewat tambang yang terentang kencang itu, akhirnya orang aneh itu menarik Cia Ing-kiat dan berkata: "Mari sekarang giliran kami naik keatas kapal, mencari tempat baik untuk melihat panorama disungai."

Begitu ditarik tanpa kuasa Cia Ing-kiat ikut melesat kedepan, tepat kedua kaki orang aneh menginjak tambang, tubuhnya berpantul dua tombak kedepan, karena dipegang orang aneh walau dia berdiri jajar dengan orang aneh itu, namun kedua kakinya terapung ditengah udara, setelah dua tombak meluncur kedepan, kebetulan mereka berada ditengah tambang, didengarnya orang aneh itu berkata lirih:"Bocah kurang ajar berani kau mempermainkan aku ya,"

Berdebar jantung Ing kiat. katanya gugup "Siapa suruh kau main sembunyi, asal-usul-pun kau rahasiakan kepadaku?"

Mendadak orang aneh itu tertawa panjang, suaranya mengguntur tangannya yang memegang lengannya mendadak dilepas. Kontan Cia Ing kiat menjerit kaget, badannya sudah melorot kebawah jatuh ketengah sungai. Tinggi tambang itu ada setombak lima enam kaki dari permukaan air, begitu tubuhnya anjlok kebawah, lekas Cia Ing-kiat menarik napas serta memancal kedua kaki sehingga tubuhnya terangkat beberapa kaki. sayang Ginkangnya belum terlatih sempurna, hanya sekali mumbul tak kuasa meneruskan gerakan selanjutnya, maka tubuh yang mumbul itu kembali meluncur kebawah. Bukan Cia-Ing-kiat saja yang menjerit kaget waktu tubuhnya meluncur kebawah, orang-orang diatas kapal dan diatas restoran juga bersuara kaget, padahal tak sedikit diantara mereka adalah orang-orang kosen. Kejadian hanya sekejap saja, mendadak tampak badan orang aneh itu mengendap turun kebawah, Padahal dia berdiri lurus diatas tambang, tambang ditarik kencang dan lurus oleh kapal, begitu badan orang aneh itu mengendap kebawah. bukan tambang putus, atau pagar restoran patah, tapi kapal besar itu ketarik maju tujuh kaki, sehingga tambang itu melengkung turun, orang aneh itu itu tetap berdiri diatas tambang, sekali raih, kebetulan dia samber lengan Cia Ing-kiat yang sudah meluncur ke permukaan air seperti nelayan meraih ikan dalam jalanya.

Dikala kapal terseret maju tujuh kaki karena orang aneh mengendap turun terjadilah keributan ditingkat terbawah dari kapal besar, para pendayung berteriak kaget dan gempar, serempak puluhan dayung bergerak sehingga kapal menyurut mundur pada posisi semula, sementara itu orang aneh itu sudah mengempit Cia Ing-kiat meluncur kedepan seperti tidak terjadi apa apa, pertunjukan Ginkangnya yang mempesona orang dianggap sepele saja, kejap lain dia sudah melompat turun diatas gladak. Entah berapa banyak orang menyaksikan pertunjukan yang mendebarkan barusan sesaat suasana menjadi hening, semua terpesona dan melongo.

Jikalau ujung gantolan tambang kecil itu tidak tertancap dipagar layu diatas loteng, tapi terikat diatas batu besar yang kokoh, dengan tenaga dalam yang hebat, mungkin tidak sedikit hadirin yang berkepandaian tinggi mampu mengendap turun sehingga tali melengkung kapal terseret maju, tapi tali tambang itu hanya menancap dipagar yang mungkin bisa somplak roboh atau patah, pagar tidak bergeming, kapal besar itu malah yang terseret kedepan, betapa hebat cara penggunaan tenaga dalamnya sungguh mengagumkan dan belum pernah terjadi selama ini.

Begitu mendarat diatas gladak, langsung orang aneh menuntun Cia Ing-kiat masuk ke dalam kabin, sekelilingnya masih sunyi, sesaat kemudian baru terdengar seorang ngakak dan berseru."Syukur hari ini benar benar terbuka mataku."

Ditengah pujian orang diatas kapal sini, tampak Pak-to Miseng sudah melangkah keluar dari balik pagar, sebelah kakinya menginjak tambang, melihat gayanya dia seperti sengaja berjalan dengan kaki satu dan berlompatan seperti anak kecil yang bermain petak petak namun hanya sekejap dia sudah berada ditengah tambang.

Pada saat itulah mendadak seorang tertawa dingin, katanya:"Apa-apaan melucu yang tidak lucu."

Pak-to Suseng sebetulnya terus melompat kedepan, bila mendengar jengeknya sinis ini segera dia berhenti tapi tidak membalik badan.

Orang banyak menoleh kearah datangnya suara, tampak seorang pemuda dengan pakaian perlente dengan wajah yang amat pucat sudah melesat terbang hinggap diatas tambang. Begitu cepat dan enteng gerakan pemuda ini, hanya sekali berkelebat tubuhnya meluncur dari restoran tahu-tahu hinggap dua kaki dibelakang Pak-to Suseng, setelah berdiri kembali dia berkata sinis : "Harap memberi jalan."

Pemuda pucat ini muncul secara mendadak, tiada yang kenal siapa dia sebenarnya karuan hadirin melongo. Hanya Cia Ing-kiat yang sudah diseret kedalam kabin oleh orang aneh itu berdebar jantungnya setelah melihat pemuda ini. karena dia bukan lain adalah Siau-pocu dari Kim hou-po.

Setelah Cia Ing kiat mencari tempat duduk didalam kabin bersama orang aneh hidangan segera disuguhkan, orang aneh itu terus sibuk gegares makanan didepan matanya, bila Cia Ing kiat saksikan Siau-pocu muncul, orang aneh mendadak berkata "Pak-to Suseng kau pernah melihatnya, kenapa kau masih begini ketakutan kepadanya " Tersirap darah Cia Ing kiat. dia tidak habis mengerti, bagai mana orang aneh ini tahu kalau hatinya takut? Sesaat selelah hatinya tenang baru dia menjawab: "Siapa bilang aku takut."

Ujung mulut orang aneh bergerak melengkung keaias, kepalang menoleh keluar-Waktu itu Pak-to Suseng tetap berdiri tanpa membalik tubuh, katanya tertawa ramah "Ya, jalanku lambat.silakan tuan jalan lebih dulu." habis bicara mendadak tubuhnya miring ke-pinggir, telapak kaki masih menempel tambang sementara tubuhnya sudah melintang miring disejajar dengan permukaan air sungai.

Dalam keadaan demikian, bila di belakang ada orang hendak mendahului jalan, secara mudah orang akan melangkah lewat, barusan Siau-pocu minta jalan, maka dia segera menyiigkir memberi jalan.

Seluruh penonton, entah yang berada di kapal besar atau diloteng restoran semua menahan napas dengan jantung berdebar, semua ingin melihat bagaimana pemuda muka pucat akan menghadapi situasi yang serba sulit ini. Karena banyak hadirin tahu, badan Pak-to Suseng miring berarti sudah memberi jalan, tapi bila pemuda ini lewat disamping Pak-to Suseng, namun tidak mengalami cedera oleh serangan Pak to Suseng, jelas kejadian yaug tidak mungkin terjadi. Maka hadirin menunggu bagaimana si pemuda akan menghadapi serangan Pak-to Suseng nanti.

Dalam kalangan Bulim sudah terlalu sering dan merupakan kejadian logis bila terjadi bentrokan hanya karena persoalan kecil yang tak berarti, setiap insan persilatan pesti pernah mengalami suka duka seperti itu. Pada hal kedua orang ini sama-sama berada diatas tambang kecil, bagaimana mereka akan bergebrak ?

Disaat seluruh penonton membelalak dengan pandangan takjup, didalam kabin kapal besar, orang aneh menyentuh lengan Cia Ing-kiat dengan ujung sikutnya, katanya perlahan : "Siapakah nona yang berdandan laki-laki itu ? Dia keracunan secara aneh."

"Mendengar keracunan dan berdandan laki-laki." sungguh kejut Cia Ing-kiat bukan kepalang. Siau-pocu dari Kim-hou-po memang benar adalah gadis yang berdandan laki-laki bahwa dia keracunan merupakan rahasia, boleh dikata hanya dirinya saja yang tahu. bagaimana orang aneh ini bisa tahu ?

Sebelum Cia Ing-kiat menjawab, tampak Siau pocu diatas tambang sudah merangkap tangan dan berkata dingin : "Terima kasih." sembari bicara kakinya melangkah setapak kaki kanannya sudah melangkahi kedua kaki Pak-to Suseng yang menginjak miring diatas tambang, tapi kaki kiri masih ketinggalan di belakang Pada saat itulah, tubuh Pak-to Suseng yang melintang miring diatas lambang itu mendadak mencelat mumbul keatas-Perobahan terjadi amat cepat, kejadian hampir berbareng dengan langkah setapak Siau-pocu, kenyataan bentrokan tak bisa dihindari lagi, tampak kedua alis Siau-pocu terangkat, "Blang" benturan keras terjadi, tubuh Pak-to Suseng menumbuk tubuh Siau-pocu dengan keras.

Sungguh mengejutkan bunyi dari benturan tubuh kedua orang ini, seumpama dua balok besar yang kosong tengahnya dipalu keras dengan martil raksasa, disusul tubuh keoua orang mencelat minggir kekanan dan kekiri.

Belum sempat para penonton bersorak memuji, tampak tubuh kedua orang sudah membal balik keatas pula dan "Blang" terjadi benturan lebih keras dari benturan yang pertama.

Setelah benturan kedna, tubuh mereka kembali tertolak balik kedua arah, tampak wajah Pak-to Suseng mendadak berobah merah seperti diselubungi kabut tebal.

Dua orang menyelinap keluar dari balik pintu kabin diatas kapal besar, sambil meluncur mereka berteriak: "Diharap para tamu tidak bentrok dan saling bermusuhan di sini" Suara kedua orang yang melesat keluar ini yang satu melengking tinggi yang lain sember serak dan rendah, namun suara mereka berpadu menembus mega. Maka hadirin segera melihat jelas kedua orang yang meluncur keluar ini laki dan perempuan, yang laki adalah Thi-jan Lojin, yang perempuan bukan lain adalah Gin koh.

Tapi baru saja mereka melesat keluar, belum habis mereka bicara, diatas tambang sudah terdengar "Blang" sekali lagi, untuk ketiga kalinya Pak-to Suseng dan Siau pocu beradu, suara benturan ketiga itu ternyata menekan teriakan Thi-jan Lojin dan Gin-koh yang kumandang itu.

Akibat dari benturan keras yang ketiga kali ini tubuh Pak to Suseng tampak mencelat miring keatas, kakinya lepas dari jajakan tambang. Dikala tubuhnya terapung di-udara, muka yang membara merah seketika berobah pucat, jelas didalam benturan adu kekuatan tenaga dalam diatas tambang itu dia terluka cukup parah.

Pak to Suseng terkenal diseluruh jagat, tiada insan persilatan yang tidak segan dan kagum kepadanya, ternyata didalam adu kekuatan tenaga dalam sekali ini dia kecundang oleh seorang lawan yang berusia muda belia, karuan penonton terpesona dan kaget terbeliak.

Tubuh Pak-to Suseng meloncat miring delapan kaki, tubuhnya meluncur turun, jelas bakal kecemplung sungai. Maka terdengarlah dua suitan panjang yang nyaring dari arah loteng restoran, suara suitan ini bagai pekik bangau sakti diangkasa, dua sosok bayangan menubruk kearan Pak-to Suseng yang sudah terguling kebawah, begitu tangan mereka meraih, seorang satu lengan mereka pegang tangan pak-to Suseng.

Daya luncuran kedua orang ini ternyata cukup kuat, meski ditengah udara sudah memegang lengan Pak-to Suseng, tubuh mereka masih terus meluncur kedepan laksana meteor mengejar rembulan. Kejadian sesingkat kilat menyambar diangkasa, setelah ketiga orang itu meluncur turun dan hinggap diatas gladak kapal baru hadirin malihat jelas, kedua orang penolong Pak-to Suseng seorang adalah Oh-sam Siansing. seorang lagi bertubuh kurus lencir dipunggungnya terselip sebatang tombak trisula terbuat dari emas yang mengkilap. Panjang Kim-ki atau tombak trisula ini ada tiga kaki, namun berbeda dengan senjata umumnya, gagang dan ujung tombak yang tiga sula itu ternyata teramat kecil dan lembut, besarnya kira kira sama dengan dupa, kelihatannya sekali bentur patah, hakikatnya tidak setimpal untuk dibuat gaman.

Tapi begitu orang ini muncul, banyak orang lantas mengenalnya, terutama tombak tri sula yang terbuat dari emas itu merupakan gaman terlihay dan tiada bandingannya dari berbagai jenis senjata diluar kalangan yang ada dikolong langit ini, entah betapa banyak jago kosen Bulim yang pernah di-kalahkan oleh senjata ampuh ini. orang ini bukan lain adalah majikan tujuh puluh dua pucak di Tong thian yang terkenal dengan julukan Kun ki-sian-khek.

Begtu Oh-sam Siansing dan Kim-kin sian-khek berhasil memapah Pak-to Suseng, segera mereka ulur sebelah tangan menekan dada Pak-to Suseng, yang lain menekan punggungnya, serempak mereka bergerak menghampiri Thi- jan Lojin dan Gin-koh. Tersipu Thi-jan Lojin dan Gin-koh membalik tangan mendorong daun kabin sambil menyurut mundur memberi jalan, sehingga ketiga orang ini langsung melangkah kedalam kabin.

Setelah benturan ketiga, wajah Pak to Suseng yang membara seketika menjadi pucat badan dan mencelat, maka hadirin tahu bahwa dia pasti terluka parah. Apakah Oh-sam Siansing dan Kim-ki-sian-kek mampu menyembuhkan luka luka dalamnya, hadirin tiada yang berani memastikan.

Kejadian ini ternyata menimbulkan kegemparan, orang- orang yang sudah siap berderet dipinggir pagar siap menyebrang lewat tambang tanpa berjanji menyurut mundur kebelakang. Agaknya mereka cukup tahu diri, bila mereka ikut naik kapal dan tiba ditempat tujuan, entah peristiwa apa pula yang bakal terjadi, insaf kepandaian sendiri tidak becus, kuatir jiwa keserempet bahaya, mundur teratur adalah cara yang terbaik.

Maklum kejadian beruntun adalah Oh-sam Siansing bergebrak dengan Hu-lo Popo, kelihatannya Oh-sam Siansing kecundang. kini seorang pemuda yang tidak dikenal ternyata mampu melukai Pak-to Suseng yang tangguh ini, lalu siapa berani tanggung, bila kejadian selanjutnya tidak lebih mengejutkan ?

Disaat kegaduhan terjadi diatas restoran, Siau-pocu dari Kim hou-po sudah beranjak keatas gladak Thi-jan Lojin dan Gin-koh pernah merasakan sendiri betapa lihay pemuda ini tapi mereka juga tidak tahu asal usulnya.

Sekilas kedua orang ini saling pandang, lalu dengan seri tawa mereka menyongsong maju Gin-koh menyambut: " ternyata tuan juga ingin ikut keramaian, tapi sepantasnya tidak membuat onar di sini, mohon sudilah memberi muka kepada tuan rumah,"

Siau pocu mendengus, ia tanya: "Aku minta dia memberi jalan, dia boleh menolak, kenapa setelah menyingkir malah membokong aku ?"

Bungkam mulut Thi jan Lojin dan Gin-koh, mereka tak bisa membantah, sementara Siau-pocu melangkah maju lewat depan mereka.

Cia Ing-kiat yang duduk bersama orang aneh dalam kabin, belum lagi sempat menjawab pertanyaan si orang aneh, namun kejadian diluar dugaan beruntun telah berlangsung.

Begitu Thi-jan Lojin dan Gin-koh muncul, hati Cia Ing-kiat sudah heran, kenapa urusan di sini bersangkut paut pula dengan kedua orang ini? Dari sikap dan nada bicara mereka lagaknya sebagai wakil tuan rumah, lalu siapakah "tuan rumahnya" . Sekilas terasa oleh Cia Ing kiai,adanya mereka samar-samar dalam benaknya, tapi begaimana sebetulnya persoalan ini? Dia tidak mampu menjelaskan.

"Lekas katakan," orang aneh mendesak dengan suara lirih, "siapakah nona ini? " matanya melirik tajam

Cia Ing-kiat sudah buka mulut, tapi dia waktu angkat kepala, dilihatnya Siau-pocu sudah melangkah masuk. Cia Ing- kiat terlongong dikursinya, Siau-pocu menekuk wajahnya yang pucat, langsung dia beranjak menghampiri dirinya.

Meja di mana Cia Ing-kiat dnduk berhadapan dengan orang aneh sisi sebelahnya mepet dinding kabin, kebetulan meja ini cukup untuk duduk tiga orang, setiba didepan meja, lengan baju Siau-pocu mengebas sekali menyeret mundur kursi lalu berduduk.

Bukan saja jantung Cia Ing-kiat berdetak keras, orang aneh itupun menampilkan rona heran dan tanda tanya dalam sorot matanya. Celakanya Siau-pocu melirikpun tidak kepada orang aneh, sepasang bola matanya yang bening seperti dapat menembus isi hati orang yang dipandangnya mengawasi Cia Ing-kiat.

Jantung Cia Ing-kiat seperti hendak mencelat keluar, telapak tangan basah oleh keringat dingin, sesaat lamanya Siau-pocu mengawasinya, lalu berkata: "Agaknya Lwekangmu sudah mendapat banyak kemajuan."

Semula Cia Ing-kiat menyangka karena dirinya sudah merias muka dalam bentuk lain.

Siau-pocu belum tentu mengenal dirinya, namun setelah mendengar pujian orang, rasa takut semula bertambah ngeri, tubuhnya dingin seketika, katanya dengan tertawa dipaksakan: "Apa iya, Aku sendiri kok tidak tahu." Siau-pocu menatap Cia Ing-kiat sekian lama pula, sekian lama dia tidak bersuara.

Sementara itu keributan masih berlangsung disebrang, diloteng restoran suara orang saling bentak. Ternyata anak buah Liong-bun-pang yang memikul tandu sedang berusaha menyebrangi tambang kecil juga, naga-naganya Pangcu Liong-bun-pang yang misterius iiu tetap tak mau keluar menunjukan tampangnya.

Dibelakang tandu Liong-Pun Pangcu, tak sedikit pula orang- orang Bulim yang beruntun naik kekapal, ada yang melompat berjangkit, ada yang melesat terbang ada pula yang jalan pelan-pelan seperti pemain akrobatik. Hati Cia Ing-kiat sedang kalut, maka dia tidak berhasrat memperhatikan keadaan di luar,

Karena tatapan mata Siau pocu yang dingin setajam pisau mengawasi dirinya.

Hanya orang masih bersikap tak acuh dan berulang dia cengar cengir, tapi Siau-pocu tidak pernah menoleh kepadanva. Mendadak Orang aneh berkata: "Nona, orang yang dahulu mencelakai kau sungguh seorang yang culas dan kejam."

Tergetar sekujur badan Siau-pocu, mendadak dia menoleh dengan tatapan mendelik, desisnya: "Siapa kau?"

Orang aneh itu membentang kedua tangan tanpa menjawab pertanyaannya, Karuan berobah pucat muka Siau- pocu, mendadak tangannya terulur, dengan tiga jari tangannya dia sudah menindih pergelangan tangan orang aneh, sorot matanya berkilat dingin cukup menakutkan.

Melihat Siau pocu mendadak bertindak, gerakannya laksana samberan kilat, karuan Cia Ing-kiat kaget sekali. Tidak sedikit jago kosen yang hadir di sini, namun dinilai taraf kepandaian mereka, kedua orang ini adalah yang paling top, bila kedua jago top ini bergebrak didalam kabin, yakin kapal ini bisa dibikin hancur lebur

Waktu Siau pocu menekan pergelangan tangan orang aneh, tangannya sedang pegang sumpit dan terulur hendak menyumpit sekerat daging, tangannya seketika terhenti di udara, namun sikapnya tetap wajar, katanya: "Jangan bergebrak di sini, aku ingin menjelaskan."

Jari Siau-pocu tetap mengancam urat nadi dipergelangan tangan orang aneh, Cia Ing-kiat tahu. urat nadi lawan sudah terancam, dirinya berada diatas angin, sudah tentu Siau-pocu tidak mau menarik balik jarinya, kata siau-pocu dingin: "Dari mana kau tahu kalau aku keracunan ?"

Orang aneh itu tertawa, katanya : "Bila yang menaruh racun dulu aku. dua tahun yang lalu kau sudah mati dengan tubuh kering, pasti takkan bisa hidup sampai sekarang. Orang yang meracuni kau belum mahir menggunakan racunnya, tapi juga sudah lumayan maka kuduga orang itu adalah Tocu (pemilik pulau) Hek-kiau-to di lautan timur, betul tidak ?"

Mengikuti penjelasan orang aneh, rona muka Siau-pocu ikut berobah setelah orang aneh selesai bicara, Siau-pocu segera lepas tangan dan menurunkannya dibawab meja.

Orang aneh berkelak tawa, tangan yang terhenti ditengah udara langsung bergerak maju menyumpit sekerat daging menjangan langsung dia jejalkan ke mulut lalu dikunyah dengan lahap, baru daging tertelan tangannya sudah sibuk meraih cangkir serta meneguk arak, padahal daging menjangan dalam mulutnya belum ditelannya habis, namun mulutnya sudah mengoceh kurang jelas : "Aneh pada hal kau baru genap dua puluh. Hek-kiau-to cu, umpama belum mati, sekarang sedikitnya sudah berusia delapan puluh. ada permusuhan apa dia dengan kau "

"Dia sudah mati." ujar Siau-pocu tandas. Orang aneh mengangguk, katanya: "Pernah kudengar, selama hidupnya Hek-kiau tocu hanya membenci satu orang, orang itu dibencinya sampai ketulang sungsum, nona cilik, apa kau kau adalah. "

"Cukup tak usah dilanjutkan," segera Siau-pocu menukas sambil berjingkrak berdiri.

Orang aneh mendongak mengawasi Siau-pocu, katanya perlahan: "Kalau demikian, baiklah aku memanggilmu nona Lui, pasti tidak salah lagi."

Sekian saat Siau pocu berdiri menjublek, akhirnya dia manggut, katanya sambil duduk: "Aku bernama Lui Ang Ing"

Orang aneh angkat kedua alisnya, kembali dia minum arak dengan lahap tanpa ber-bicara lagi.

Kabin kapal itu amat besar dan luas, penuh meja kursi yang kini sudah diduduki orang mereka sibuk berbincang persoalan masing masing, hanya beberapa meja disekitar mereka yang masih kosong belum diduduki orang.

Maklum siapa yang tidak gentar berhadapan dengan Hu-lo Popo, maka tiada orang berani duduk didekatnya apalagi di tengah mereka ketambah Siau-pocu yang kosen dari berhasil membikin Pak-to Suseng terluka parah. Karena itu percakapan ini diantara orang aneh dengan Siau pocu orang lain tiada yang mendengarkan. Hanya Cia Ing-kiat saja yang mendengar jelas seluruhnya.

Cia Ing-kiat tidak bisa menimbrung bicara, karena apa yang dibicarakan ada yang dia tahu, tapi ada juga yang tidak diketahui. Hek-kiau to cu yang diucapkan orang aneh hakikatnya belum pernah didengar oleh Cia Ing kiat, entah tokoh macam apakah dia ?

Tapi dari percakapan ini, Cia Ing-kiat lebih tahu banwa orang aneh ini berpengalaman dan luas pengetahuan, hanya sekali pandang lantas tahu orang keracunan, keracunan jenis apa pula, diapun tahu siapa yang melakukan kejahatan, dari sini dia menebak pula asal-usul Siau pocu.

Setelah asal usulnya terbongkar, ternyata Siau-pocu memberitahu namanya kepada orang aneh.

Agak lama orang aneh melenggong, lalu dia mendesis suara mengulang nama Siau pocu, katanya:"Lui Ang-ing. eh. ayahmu memberikan nama ini kepadamu, ternyata memang mengandung maksud yang mendalam."

Lu Ang ing hanya menarik alis tanpa bersuara. Mumpung ada kesempatan Cia Ing-kiat, segera menyeleiuk: "Nona Lui."

Lui Ang-ing menoleh, katanya: "Kenapa kau membuat kelakar ini kepada Cianpwe ini ?"

Cia Ing-kiat serba runyam. Tapi orang aneh itu berkata: "Tidak jadi soal, memangnya aku tak tahu apa? Jangan salahkan dia."

Lekas Cia Ing-kiat berkata: "Kalau aku tidak merobah dia jadi Hu-lo Popo, yakin nona Lui juga pasti tidak akan kenal padaku, betul tidak?"

Lui Ang-ing tidak menjawab, hanya alisnya bertaut.

Orang aneh berkata: "Nona Lui, sejak empat puluh tahun yang lalu, aku pernah bertemu sekali dengan ayahmu. Aneh. setelah ayahmu diracun orang. kenapa dia tidak mencariku? Atau dia tidak bisa menemukan aku?"

Waktu orang aneh melontarkan kata-katanya sikapnya tetap wajar, tapi Lui Ang ing sudah berobah air mukanya, teriaknya tertahan

"Jadi kau, kau......"hanya tiga patah kata saja yang terlontar dari mulutnya.

Orang aneh itu masih tetap gares hidangan diatas meja, katanya ; "Ayahmu pasti pernah mencari aku. Sayang sekali waktu itu akupun dicelakai orang, jiwaku sendiri juga diambang maut, sudah tentu dia takkan bisa menemukan aku."

"Betul," ucap Lui Ang-ing, "sembilan kali beliau masuk kepedalaman Biau-kiaug-mencari jejakmu, tapi selalu gagal"

Orang aneh angkat kepala, katanya :

"Sebetulnya umpama dia menemukan aku juga tak berguna, keadaanmu sekarang cuma sering berabe, jiwamu jelas takkan putus seketika "

Sikap Lui Ang-ing kelihatan prihatin dan masgul. dia angkat kepala melihat cuaca diluar jendela, hatinya kelihatan rawan dan sebal.

Sebetulnya masih banyak orang yang berjubel diatas restoran, tapi mereka tidak berminat naik keatas kapal. Dua laki-laki bersama menyendal lalu menarik tambang bersama, gantolan yang menancap diatas pagar disebrang terlepas dan mencelat balik maka puluhan penggayuh serempak bekerja dibawah satu aba-aba. Kapal besar itu melaju dipermukaan air mengikut arus sungai. Lekas sekali kapal itu sudah jauh meninggalkan kota tadi.

Lui Ang-ing dan orang aneh tiada yang buka suara, Cia Ing- kiat juga kehabisan bahan untuk ajak mereka bicara, terpaksa dia memandang panorama disepanjang perjalanan.

Sungai ini memang besar dan luas makin jauh makin besar, seolah olah kapal mereka sedang berlayar ditengah lautan, hanya beda nya air disini kuning keruh, arus air disini juga jauh lebih lamban, sementara kapal terus maju mulai membelok kekiri mengikuti dinding karang yang curam dan tinggi.

Dinding karang itu kelihatannya dekat, namun setelah kapal itu menikung, kini mulai memasuki sebuah selat yang diapit dua dinding karang yang terjal. Padahal waktu itu sudah menjelang fajar. Ditengan keremangan cuaca tampak dinding karang itu penuh ditumbuhi akar rotan yang belit membelit hingga mirip pohon beringin besar bergelantung setinggi ratusan tombak hingga menyentuh air sepintas pandang tak ubahnya sebuah air terjun raksasa yang menakjupkan pandangan.

Diatas pohon-pohon rotan itu hidup beratus ribu kera atau orang hutan berbulu emas, mereka tampak santai bergelantung dan berlompatan dari dahan yang satu kedahan yang lain agaknya mereka sedang menunggu terbitnya sang surya ambil berceloteh. Cepat sekali sinar surya yang pertamapun menyorot kepucuk selat, bulu kera yang emas itu menjadi kelihatan menyolok ditengah sinar mentari, pemandangan yang indah menakjupkan mempesona Cia Ing kiat.

Soalnya pemandangan didepan mata memang amat ganjil dan menakjupkan, maka kapal besar itu dicekam kesunyian, semua tertarik oleh pandangan yang serba aneh dan ganjil tanpa terasa kapal telah laju puluhan tombak kedepan meninggalkan selat, laju kapal lebih cepat lagi. sekarang baru diantara penumpang menjerit kaget, karena bila kapal ini tidak segera dihentikan akan menumbuk dinding karang yang menghadap didepan.

Padahal jarak kapal dengan dinding karang didepan tinggal beberapa tombak saja mereka yang berhati gugup dan bernyali kecil sudah lompat berdiri dan menjadi ribut semula siap melompat keluar mencapai akar-akar rotan bila kapal ini betul-betul menabrak karang dari pada terjungkal jatuh kedalam air, kemungkinan jiwa melayang menjadi umpan ikan.

Untunglah pada saat yang pening itu salah seorang penyambut tamu herusia setengah umur itu berteriak lantang:"Harap para tamu duduk tenang tidak ribut."

Mereka yang sudah berdiri tengah beradu pandang, kera- kera bulu emas diatas rotan menjadi ribut dan berceloteh serta manjat lebih tinggi, kapal sudah menyentuh akar rotan yang menyerupai tirai menyentuh air, namun tidak terjadi tabrakan yang keras seperti diduga orang banyak, haluan kapal malah sudah menembus kedalam dan hanya sekejap meluruh kapal sudah menyelinap kedalam pandangan mendadak menjadi gelap, ternyata kapal sebesar itu seluruhnya sudah masuk kedalam sebuah gua raksasa.

Baru sekarang orang banyak sadar bahwa mereka memang terlalu berkuatir tanpa alasan.

Ternyata diatas dinding karang itu terdapat sebuah lobang raksasa, namun mulut lobang di rambati penuh akar rotan hingga menyerupai kerai yang tumbuh secara alam, pada hal mulut gua amat tinggi lebar, jangan kata hanya sebuah kapal, sekaligus tiga kapal besar yang sama masuk kedalamnya juga bisa laju berjajar.

Di sana sini orang menghela napas lega, mereka yang berdiri duduk kembali, kapal besar ini laju lebih cepat didalam gua, hanya sekejap bila menoleh kebelakang, mulut gua itu menjadi kecil, kapal sudah ratusan tombak jauhnya, tapi melihat kedepan keadaan gelap gulita, seperti tidak berujung. Lampu gantung sudah dipasang diatas kapal hingga keadaan seterang siang hari, tampak lucu dan aneh-aneh mimik muka hadirin.

Diam diam Cia Ing-kiat memperhatikan, sejak naik kekapal ini, hakikatnya tiada seorangpun yang pernah menyapa atau menoleh kearah mereka bertiga, agaknya mereka sengaja menyingkir atau menjauhkan diri, jelas mereka takut kena perkara, Pada hal jago-jago silat yang benar-benar kosen juga tidak berada dalam kabin ini. Maka Cia Ing-kiat hanya tertawa getir dalam hati, kalau suruh dia memilih, dia lebih senang semeja dengan Oh-sam Siansing atau Pak-to Suseng, celakanya sekarang dia tak bebas dan tak mungkin bisa menyingkir dari hadapan orang aneh dan Lui Ang ing. Karena tiada bahan bicara Cia Ing-kiat hanya menunduk atau sekali tempo melongok keluar, namun diam-diam terasa olehnya, sorot pandangan Lui Ang-ing agak ganjil bila mengawasi dirinya. Dalam setengah malam ini hatinya sudah tak karuan rasanya, siapa sebetulnya orang aneh ini, dia tak perlu memikirkannya lagi, tapi kenapa Lui Ang-ing juga datang?

Keadaan Kim-bou-po serba misterius, banyak hal-hal yang menakutkan di sana seperti baru saja dialaminya. Apalagi bila dia terbayang betapa dirinya disiksa dengan Hun-kin-jo- kut-jiu oleh Lui Ang-ing dibiara bobrok tempo hari, mau tidak mau dia tetap bergidik seram, tulang tulang tubuhnya seperti copot berkeretekan

Sekarang orang misterius yang menakutkan itu berada disampingnya, walau dia yakin orang tidak bermaksud jahat lagi, tapi kenapa orang justru memilih tempat disampingnya?

Makin lama Cia Ing kiat makin risi, seperti duduk diatas jarum, terbayang akan kematian sang ayah, terbayang sebelum dirinya menyelundup kedalam Kim-hou-po, selalu dia berkecimpung di Kangouw sebagai Siau cengcu Kim liong ceng, di mana dia berada selalu mendapat sambutan dan pujian yang layak, waktu itu dia beranggapan dunia memang besar tapi juga begini saja, sekarang bila mengenang masa lalunya, sungguh pengalaman dirinya dulu terlalu kerdil dan cupat- Tanpa terasa Cia Ing-kiat tertawa getir sendiri. Tengah dia melamun itulah, mendadak terkiang sebuah suara lirih lembut tapi juga hangat mesra berkata: "Apa yang kau pikirkan?"

Cia Ing-kiat melenggong. waktu dia angkat kepala, tampah wajah Lui Ang ing yang pucat dekat sekali jaraknya, sepasang matanya yang bening tajam tengah menatap dirinya. Sejat tahu Lui Ang ing adalah seorang gadis, perasaan Cia Ing kiat selalu tak karuan dan ganjil, ingin dia menyingkir dari tatapan orang, tapi jantung yang berdebar keras menyebabkan dia blingsatan, maka jawabannya-pun tergagap: "Tidak apa-apa

.... aku sedang berpikir    akan ke mana kapal ini?"

Lui Ang ing menghela napas perlahan, mulutnya menjengkit, seperti tertawa tidak tertawa, namun rona mukanya yang pucat itu kelihaian berobah sabar dan bersemu merah

Pada saat itulah orang aneh menjawab pertanyaan Cia Ing- kiat: "Segera juga sampai ke tujuan, tak usah gelisah."

Mumpung ada kesempatan Cia Ing-kiat alihkan pandangannya kearah orang aneh. Pada saat itu, beberapa orang dihaluan kapal terdengar berseru gembira, waktu Cia Ing-kiat menoleh, tak jauh didepan sudah kelihatan cahaya lerang. Cahaya surya menyorot masuk lewat sebuah lobang besar diatas gua, pemandangan berobah dan berbeda.

Laju kapal besar semakin lambat tak lama kemudian kapal sudah bermandikan cahaya surya.Ternyata lobang besar diatas gua itu merupakan celah gunung yang berbentuk lonjong, panjangnya ada puluhan tombak.

Diatas dinding karang terdapat ratusan undakan batu buatan manusia, tidak sedikit orang berlari turun menyusuri undakan batu karang itu, mereka terdiri laki perempuan, pakaiannya bercorak sama. tapi yang perempuan disebelah depan, dibawah cahaya matahari yang berderang, Cia Ing kiat melihat jelas, dua orang yang berlari paling depan bukan lain adalah Toa kui dan Siau-kui, dua gadis remaja yang hidup beberapa bulan di Thian-lau-hong bersama dirinya, belakangan dttengah kabut pegunungan mereka dilukai orang aneh hingga muntah darah dan lari terbirit-birit. .

Begitu melihat Toa-kui dan Siau-kui, seketika timbul rasa simpati Cia Ing-kiat teriaknya kaget: " Ha, jadi di sini adalah Hat . . . ." dari cerita Toa-kui dan Siau-kui dia tahu bahwa majikan mereka adalah pemilik Hiat-lui-kiong.