Tugas Rahasia Jilid 05

Jilid 05

"Waktu itu aku sendiri ikut mengejarmu sampai di dermaga, waktu itu kau menyamar orang macam apa " tanya Siau-pocu.

"Aku menyamar petani muda, di jalan aku seret seorang pelacur yang kuupah sebagai isteri, mereka yang mengejar dan menggeledahku terkibul semuanya."

Siau-pocu tertawa dingin : "Bukan saja Thian te-siang-sat- jiu kau kibuli, kaupun menolong Li-pi-lik "

Cia Ing-kiat memejam mata tak berani bersuara, diam-diam hatinya bersedih memikirkan nasib Li pi-lik ditinggal ditengah jalan itu. Kalau Siau-pocu bisa menemukan jejaknya, maka Li- pi-lik tentu sudah mengalami nasib jelek ditangannya, maka dengan napas memburu dia bertanya, "Dia . . . dia bagaimana "

Cia Ing kiat kira Siau-pocu akan tertawa mengejek karena pertanyaannya, lalu menceritakan bagaimana dirinya menyiksa dan membunuhnya, tak nyana Siau-pocu hanya mendengus tanpa buka suara.

Cia Ing-kiat tertawa lebar kewajah orang yang pucat itu, tampak wajah pucat yang mirip setan ditengah kegelapan itu makin mumbul keatas, jelas dia sedang berdiri, Sekuat tenaga Cia Ing-kiat meronta berusaha berdiri pula. pada hal dia tahu Siau pocu pasti sudah siap membunuhnya, namun tenaga sedikit pun tak kuasa dikerahkan, akhirnya dia menjerit dengan nada meratap : "Kau berjanji hendak membunuhku selekasnya, jangan kau ingkar janji"

Tiba-tiba didengarnya Siau pocu mengeluarkan suara aneh yang tersendat di dalam tenggorokannya, menyusul sepasang bola matanya terpejam, wajah pucat yang membulat telor itu seketika tanpa sinar mata yang menghijau terang hingga kelihatannya lebih seram.

Badan Cia Ing-kiat sendiri masih gemetar, dengan terlongong dia saksikan perubahan mulai terjadi diwajah yang pucat putih itu, seperti es batu yang ditaruh didalam air, dalam sekejap warna pucat itu hanya tinggal bagian hidungnya saja. akhirnya warna hidungnyapun tak kelihatan lagi, keadaan ini sungguh amat ganjil dan aneh, Cia Ing-kiat menyaksikan perobahan ini dengan bulu kuduk berdiri, dia tidak tahu apakah yang telah terjadi.

Setelah selebar wajah Siau-pocu lenyap, maka terdengar suara "Buk" seorang jatuh cukup keras ditanah, menyusul terdengar dengus napas berat berat dan memburu seperti babi hendak disembelih tak jauh disamping badannya. Disaat perobahan terjadi pada wajah Siau pocu. Cia In kiat tidak tahu apa yang terjadi pada diri orang, setelah mendengar tubuh orang ambruk baru dia sadar, agaknya wajah pucat itu memang terlalu putih sehingga kelihatan diiengah kegelapan, namun begitu terjadi perobahan pada wajahnya maka mukanya itupun lenyap kegelapan. Tapi Cia Ing-kiat tidak tahu lagi apa yang telah terjadi, namun harapan mencari hidup seketika timbul dalam benaknya, terasa olehnya bahwa kesempatan melarikan diri telah tiba saatnya sekarang juga.

Entah dari mana datangnya tenaga begitu timbul hasratnya melarikan diri, mendadak dia bertopang tangan harus melompat bangun berdiri, namun kedua lututnya masih goyah, kaki juga amat enteng sehingga tubuh menggigil, namun setelah istirahat sebentar, dia yakin dirinya pasti mampu lari dari tempat ini.

Napas berat ditampat gelap itu makin keras dan kerap, suaranya mirip pompa angin tungku lalu didengarnya suara Siau-posu yang tersendat berat : "Kau . . .jangan pergi . . . kau .. ."

Cia Ing-kiat memang mendengar sesuatu jatuh tak jauh disampingnya setelah wajah pucat Siau pocu lenyap ditelan kegelapan, namun tak pernah terpikir oleh Ing-kiat bahwa yang jatuh itu adalah Siau-pocu dari Kim hou po Karena sejak dia memperoleh peringatan pertama di Kim hou po dulu sampai sekarang, sebab jelas diketahui bahwa Kungfu Siau- pocu teramat tinggi, jago-jago silat kelas tinggi atau para ketua suatu aliran dan perguruan ternama juga belum tentu dapat menandinginya. Tapi dengus napas dan suara yang terputus tadi jelas adalah suara Siau-pocu dan ini membuktikan yang jatuh memang dia.

Kalut pikiran Cia Ing-kiat, namun yang terpikir sekarang adalah melarikan diri, kalau terlambat tentu dirinya bisa celaka. Maka dia coba menggerakan kakinya, selangkah dua langkah meski lutut goyah kaki gemetar masih kuat juga dia maju dua langkah lagi, namun malam gelap pekat didalam kuil itu, entah kakinya tersantuk apa, seketika dia jatuh terguling mencium lantai.

Cia Ing-kiat merasa perlu menghimpun tenaga, maka dia tinggal rebah diam sesaat lamanya, setelah dirasa napasnya tenang dan tenaga mulai timbul, kaki tangan bekerja merambat kearah pintu kuil, setelah berada diluar pintu baru dia merangkak berdiri, namun tak kuat melangkah lebih jauh. terpaksa dia menggelendot didaun pintu mengatur napas.

Deru napas ditempai gelap itu ternyata makin tak karuan, keadaannya seperti amat tersiksa, namun Ing kiat pikirkan keselamatan diri sendiri, tubuhnya basah dan kotor, sekuatnya dia dorong batu penindih daun pintu, lalu menarik daun pintu, angin silir segera menghembus masuk, lekas Cia Ing-kiat menerobos keluar dengan langkah sempoyongan, akhirnya tersungkur jatuh pula merangkak dua tiga kali lalu mendekam lemas dingan napas tetap memburu.

Kalau Cia Ing-kiat tidak diburu keinginan lekas melarikan diri sehingga pikirannya terlalu tegang, setelan beristirahat sejenak sebetulnya dia bisa lari dengan leluasa, soalnya dia ketakutan oleh bayangannya sendiri bahwa dia bisa melarikan diri dari hadapan Siau pocu, setelah sekian lama mendekam ditanah, mulai dia meronta bangun sebelum melangkah pergi, tak tertahan dia menoleh kebelakang.

Ruang kuil tadi gelap gulita, setelah dia membuka pintu cahaya rembulan sedikit menyorot masuk kedalam. Maka dilihatnya seorang meringkel memeluk lutut diatas lantai, keadaan orang ini benar-benar mirip trenggiling, badannya masih kelihatan kelejetan lagi. keadaannya mirip dirinya waktu tersiksa tadi. Cia Ing-kiat tanpa sengaja menoleh kebelakang. namun setelah melihat lebih jelas, dari pakaiannya, walau tidak kelihatan wajahnya, dia tahu orang yang meringkel dengan napas menderu seperti knalpot itu pasti adalah Siau- pocu dari Kim-hou-po.

Sungguh tak habis heran hati Cia Ins-kiat dia tidak tahu apa yang terjadi, pada saat itulah dia mendengar suara ratapan Siau-pocu yang terputus-putus : "..Kau . . . jangan pergi . . . kali ini . . . aku . . . penyakitku . . . kumat lebih . . . lihay, obat . . . penawar . . . berada di . . dalam . . . kantong .

. . bajuku ..."

Siau pocu yang meringkuk itu seperti berusaha menggerakan kepala menoleh kemari namun getaran tubuhnya sekeras itu hingga tulang, tulang sekujur badannya berbunyi keretekan. Betapapun Cia Ing kiat adalah seorang yang cerdik dan pandai, meski keadaan sendiri juga masih payah, namun setelah melihat dan mendengar suara Siau- pocu, segera dia jelas duduk persoalannya.

Dia menduga Siau pocu pasti mengidap suatu penyakit aneh yang sering kumat menyiksa dirinya, walau Kungfunya biasa amat tinggi, namun bila penyakit itu kumat, otaknya seakan-akan lumpuh total, tenaga menggerakan tangan merogoh keluar obat penawar dari dalam kantong sendiri pun tidak mampu.

Terpikir pula oleh Cia Ing-kiat, bila penyakit aneh ini sudah kumat sehebat itu, jikalau tidak lekas minum obat penawarnya, salah-salah jiwanya bisa direnggut elmaut. Bila Siau-pocu Kim-hou po mampus, berarti dirinya tidak akan menghadapi musuh tangguh yang berbahaya ini. Demi keselamatan dan kepentingan sendiri, maka dia berputar hendak beranjak pergi.

Didengarnya suara Siau-pocu memekik seram dan mengerikan: "Lekas kemari."

Entah kenapa Cia Ing-kiat berjingkat mendengar teriakan setengah meratap ini, hatinya sungguh kalut, untuk menolong Siau pocu mudah saja tinggal dia ulur tangan, kalau membiarkan orang mati tersiksa oleh penyakit sendiri juga gampang saja asal tinggal pergi, namun dia sudah mengambil keputusan bagaimana dia harus mengambil keputusan.

Kembali Siau-pocu mengerang hebat, tanpa kuasa Cia Ing- kiat membalik tubuh, dilihatnya tubuh Siau-pocu meringkuk semakin kencang dengan tubuh bergetar keras, sekujur badannya mengeluarkan suara keretekan seperti piring pecah, hanya sekilas Cia Ing-kiat melenggong, segera dia melangkah lebar masuk kedalam kuil.

Diluar dia masih bimbang, tapi begitu berada didalam kuil, langkahnya tidak ragu-ragu lagi, cepat dia memburu maju serta berjongkok disamping tubuh Siau-pocu, tampak selebar mukanya ternyata merah membara, mata terpejam, kedua tangan bersilang mendekap dada, maka untuk merogoh obat menawar didalam kantong bajunya Cia Ing kiat harus menarik kedua tangannya itu, namun waktu dia pegang lengan orang, ternyata tangan orang, kaku keras laksana besi, ditarik Juga tidak bergeming.

Apa boleh buat terpaksa Cia-Ing kiat kerahkan tangannya, sekali jambret dia tarik robek baju didepan dada Siau-pocu. lalu dari bawah ketiaknya dia merogoh kedalam bajunya. Tapi begitu tangannya merogoh kedalam dekapan kedua tangan orang seketika dia tertegun karena tangan yang terulur masuk itu manyentuh daging kenyal dan padat, Cia Ing-kiat memang perjaka yang belum pernah menyentuh perempuan, apapun dia tahu bahwa yang disentuhnya itu pasti bukan badan seorang laki-laki.

Maka dilihatnya wajah Siau-pocu makin merah dan jengah, keadaannya jelas lebih payah maka dia tidak berani ayal, segera jari-nya merogoh lebih jauh lalu mencomot keluar sebuah botol porselin kecil, peduli dia laki atau perempuan, setelah tutup botol di buka dia pegang dagu Siau-pocu serta memencet mulutnya hingga terbuka, beberapa butir pil warna hijau didalam botol porselin itu dia tuang kedalam mulutnya, setelah mengurut, dia memijat pula leher dan pelipisnya baru dia berdiri dan mundur beberapa langkah.

Cia Ing kiat mundur mepet dinding, dengan menggelendot dinding dia berdiri menentramkan pikiran dan pemanasannya. Dalam keadaan kritis menolong orang barusan hakekatnya Cia Ing kiat tidak memikirkan sebab dan akibatnya, kini setelah pikiran sedikit jernih, baru dia menyadari kemungkinan dirinya telah bertindak salah.

Setelah menelan beberapa butir pil hijau tadi, tenggorokan Siau pocu mengeluarkan suara aneh pula, goncangan tubuhnya mulai mereda, tubuh yang meringkuk kaku itu mulai lemas dan kaki menjulur turun tangan-pun terkulai, kejap lain dia sudah rebah terlentang dengan meluruskan kaki tangan. Di bawah penerangan cahaya rembulan yang menyorot masuk disamping sana. kelihatan wajahnya yang merah darah itu mulai pudar, pelupuk matanya pun bergerak-gerak rona mukanya yang pucat kembali seperti semula, kedua matanyapun sudah terbuka.

Melihat Cia Ing kiat berdiri mepet dinding lekas dia melejit bangun dengan gerakan tangkas, tubuhnya terus menyurut mundur ketempat gelap sana sambil membelakangi Cia Ing- kiat, bila dia menoleh Cin Ing-kiat hanya melibat rona mukanya yang pucat pula.

Waktu Siau-pocu berjingkrak berdiri barusan Cia Ing-kiat sudah berniat kabur, namun niatnya terpaksa dia batalkan karena gerak gerik orang ternyata lebin cekatan dan lincah, dia insaf dirinya takkan bisa lolos meski melarikan diri.

Begitulah ditempai gelap Siau-pocu saling pandang dengan Cia Ing-kiat. sesaat kemudian terdengar Siau pocu berkata : "Waktu aku masih kecil, ayahku diperdayai orang, sejenis obat beracun dicampur didalam Jit-sek-leng-ci dan diminumkan kepadaku." Cia Ing Kiat menunggu perkembangan dengan jantung berdebar, kaki tangan berkeringat dingin, entah mujur atau bakal celaka nasib sendiri sukar diramalkan, setelah Siau pocu buka suara menceritakan asal mula penyakitnya itu, legalah hatinya.

Merandek sejenak Siau pocu meneruskan ceritanya "Sejak itu meski Iwekangku berlipat ganda lebih maju, tapi setiap sebulan sekali racun dalam tubuhku ikut pasti kumat dengan berbagai cara dan upaya ayahku berusaha menawarkan racun itu. namun tidak berbasil menawarkannya, hanya mampu membuat obat sebagai penawar sementara, setiap kali penyakit ini kumat, bila minum obat bikinan beliau baru aku terhindar dari siksa derita."

Agak lama baru Cia Ing-kiat bersuara dengan bibir gemetar

: "Orang yang mencelakaimu itu ternyata amat kejam."

Dua kali Siau pocu tertawa tawa. katanya : "Waktu kau melarikan diri dari Kim-hou-po malam itu, kebetulan penyakitku sedang kumat, kalau tidak jangan harap kau bisa melarikan dirimu ?"

Mendengar orang menyinggung urusan dirinya, berdebar jantung Cia Ing-kiat tapi didengarnya Siau-pocu berkata pula : "Kau pergilah dalam keadaan seperti dirimu, ternyata masih sudi menolong aku, memang harus dipuji dan patut dihargai, pergilah."

Baru sekarang Cia Ing-kiat benar-benar menghela napas lega, terasa badannya mendadak menjadi segar dsn enteng. Namun setelah tahu dirinya telah bebas, dia tidak ingin buru- buru malah, katanya tertawa sambil mengawasi Siau-pccu : "Kungfumu setinggi itu, jarang ada tandingan, tapi aku juga tidak menduga bahwa kau adalah seorang perempuan."

"Tidak lekas kau enyah." sentak Siau-pocu, mendadak sikapnya beringas, "jangan kau mengundang amarahku untuk membunuhmu." Sudah tentu Cia Ing-kiat berjingkat, tanpa sadar dia melangkah pergi dua tindak, namun mulutnya membantah: "Aku terpaksa harus mengambil obat dalam kantongmu, kan bukan salahku." sembari bicara dia sudah melangkah keluar. Tapi Siau-pocu mendadak memanggilnya : "Kembali."

Cia Ing kiat melenggong. dia berdiri lalu membalik pelan pelan, dilihatnya Siau pocu seperti sedang memikirkan sesuatu, Cia Ing Kiat menunggu diam pula, setelah termenung sesaat lamanya, baru didengarnya Stau-pocu berkata : "Baiklah, kau pergi saja jangan kau ceritakan tentang diriku kepada orang lain."

Lekas Cia Ing kiat mengiakan. lalu menambahkan: "Pusaka yang ada di dalam Kim hou po memang kenyataan direbut orang, harap kau percaya kepadaku."

Siau pocu menunduk, katanya : "Umpama berada ditanganmu, juga tidak menjadi soal, aku tidak akan menuntut kepadamu, lekas kau pergi."

Cia Ing-kiat masih kebingungan sesaat lamanya baru melangkah keluar kuil, baru beberapa langkah terasa sesosok bayangan orang berkelebat membawa kesiur angin melesat keluar, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap dikegelapan

Cia Ing kiat berdiri terlongong didepan pintu kuil. kejadian yang dialami barusan, seperti impian buruk belaka. Cia Ing- kiat memejam mata, namun bayangan wajah Siau-pocu yang pucat lesi itu seperti terpampang didepan matanya, muka orang biasa tak mungkin bisa seputih itu, mungkin karena bekerjanya kadar racun jahat dalam tubuhnya sehingga menimbulkan perobahan di kulit wajahnya. Terbayang pula, bahwa selama Kim hou-po berdiri mungkin dirinya orang pertama yang mampu melarikan diri dari Kim-hou-po tetap segar bugar, disamping rasa duka dan lara, terasa senang dan terhibur pula hatinya. Lalu terpikir pula olehnya, sejak meninggal Kim-hou-po. Jit- sing-to (golok Tujuh bintang) itu selalu dia sembunyikan, sekarang setelah Siau pocu tidak mengusut perkaranya maka dirinya bebas menggunakan golok itu. Jit-sing-to akan muncul pula di kalangan Kangouw betapapun kepandaian sendiri masih terbatas, bila ayahnya. '"

Teringat pada sang ayah yang telah meninggal, seketika hatinya sedih, dia menarik napas panjang lalu melangkah kedepan tanpa tujuan hingga terang tanah, untung akhirnya dia tiba disebuah kota kecil, tanpa pilih dia memasuki sebuah hotel lantas masuk kamar dan tidur, sehari semalam sebelumnya keadaannya teramat payah dan tersiksa, maka sehari ini dia tidur dengan nyenyak, dalam hati sudah mengambil keputusan, setelah bangun dan kondisi badan segar lagi segera akan berangkat pulang ke Hwi-liong-ceng.

Menjelang petang baru Cia Ing-kiat bangun tidur, setelah menggeliat terasa semangat segar, rasa sakit hilang tenaga penuh, hanya perutnya yang kelaparan segera dia panggil kacung. Tapi begitu dia berteriak seketika mulutnya ternganga, matapun terbelalak seperti bingung dan tak percaya akan apa yang dilihatnya.

Pagi tadi kabut masih tebal, cuaca remang-remang dia masuk ke hotel, jelas hotel ini kecil sederhana, tapi sekarang setelah dia bangkit duduk di atas ranjang, sinar mentari sudah menyorot masuk dari jendela berukir, kerai menjuntai, tak jauh di tengah ruang dialas meja tertaruh sebuah hiolo yang masih mengepulkan asap wangi, dirinya rebah diatas pembaringan besar berukir dari gading gajah, pajangan serba mewah,perabotnya juga antik. Seingatnya Hwi-liong-ceng yang dibangun ayah sudah cukup kaya dan mewah, namun dibanding kamar di mana dia berada sekarang, bedanya masih jauh. Tapi heran Cia Ing-kiat duduk melongong sambil kucek- kucek mata, namun kenyataan dirinya memang berada dikamar mewah ini. Pada saat itulah langkah lembut terdengar diluar, keraipun tersingkap, tampak seorang gadis jelita berusia tujuh belasan melangkah masuk lalu berdiri diambang pintu meluruskan kedua tangan, katanya hormat: "Siau- cengcu ada pesan apa "

Cia Ing-kiat segera melompat berdiri dari atas ranjang, bola matanya terbeliak katanya: "Tempat apakah ini ?"

Gadis jelita itu seorang pelayan, dia tertawa cikikik sambil mendekap mulut setelah ditanya beberapa kali oleh Cia Ing- kiat baru dia menjawab: , "Siau cengcu, kalau sudah datangnya tentramkan saja hatimu, buat apa banyak tanya segala?"

Cia Ing-kiat tidak puas akan jawabannya, segera dia melangkah keluar, pelayan itu juga tidak menghalanginya, diluar ternyata sebuah serambi panjang yang berpagar serba ukiran, diluar pagar adalah tanah berumput yang subur menghijau ditaburi kembang-kembang liar yang tak diketahui namanya, beberapa ekor merak berbulu putih laksana salju sedang mengembangkan sayap dan bulu serta ekornya berjalan mondar mandir sambil pasang aksi.

Cia Ing-kiat melompati pagar berlari diatas rerumputan yang masib basah oleh air embun, puluhan langkah kemudian dia membalik badan, tampak gedung mungil di mana barusan dia tidur ternyata berbentuk begitu indah artistik, dibawah pancaran cahaya pagi. sungguh laksana dialam dewa saja. Tanah berumput ini ternyata tidak terlindung pagar atau tombak, selepas mata memandang seperti tidak berujung pangkal, di kejauhan tampak gunung gemunung yang sambung menyambung seperti gajah beriring, ini membuktikan bahwa gedung di mana dia tinggal sekarang dibangun diatas sebuah puncak gunung yang lebih tinggi dari mega.

Dalam sesingkat ini Cia Ing-kiat belum menyadari sebetulnya apa yang telah terjadi atas dirinya, maklum pengalamannya selama beberapa hari ini memang teramat ganjil dan misterius, tapi menghadapi kejadian pagi hari ini, kembali dia dibuat lebih bingung pula. Waktu dia membalik pula, pelayan cantik itu juga sudah keluar dari kamar, lekas Cia Ing-kiat menghampiri meraya berkata :"Tempat apakah ini, bagaimana aku bisa berada di sini?"

Pelayan itu tertawa, katanya : "Waktu Siau cengcu datang, kau tidur amat pulas aih."

Cia Ing kiat maklum, meski dirinya tidur pulas juga tak mungkin dipindah tempat tanpa dirinya menyadari, dia yakin dikala dirinya tidur seseorang telah menutuk Hiat-to penidurnya, bukan mustahil dirinya pingsan selama beberapa hari. Makin di pikir makin bingung, pelayan itu mengawasinya dengan mimik tawa tidak tertawa, Ing-kiat segera menghampirinya, secepat kilat mendadak dia mencengkram pergelangan tangannya, ternyata pelayan ini diam saja. begitu jari-jarinya mercengkram lantas kerahkan tenaga lebih keras, tapi begitu dia menarik pelayan itu kedekatnya, terasa pergelangan tangan orang selicin belut, hanya sekali sekali sendal tangannya telah terlepas dan menyurut mundur. Karuan Cia Ing-kiat kaget, bahwa pelayan ini begini lihay maka pemilik rumah ini pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah. Setelah menarik napas, dia berkata pula: "Sebetulnya tempat apakah ini?"

Pelayan itu tetap tak mau bicara pada saat itulah dari serambi sana mendadak kumandang suara merdu lincah searang gadis lain, "Cici jelaskan saja, kan tidak apa-apa? Memangnya takut dia melarikan diri?"

Maka muncullah seorang gadis lincah berusia lima belasan dengan langkah gemulai dan tangkas, hanya sekali berkelebat sudah tiba didepan Cia Ing-kiat. wajahnya masih bersifat kanak-kanak, matanya lebar menatap Cia Ing kiat, katanya: "Tempat ini adalah salah satu dari tiga puluh enam villa Hiat- lui kiong, gunung ini dinamakan Thian lo-hong" Suaranya merdu nyaring, lalu dia menuding tangan kearah bayangan gunung didepan nan jauh. "Yang kau lihat itu adalah Ko le-kong-san."

Cia Ing-kiat terlongong ditempatnya, mulutnya bungkam, sesaat dia berdiri bingung tak tahu apa yang harus dikatakan. Tadi sudah terpikir bahwa mungkin dirinya bukan tidur hanya satu dua hari, namun sudah beberapa hari atau sudah berminggu lamanya, pada hal letak Ko-le-kong-san ada puluhan ribu li dari Tionggoan, perjalanan merupakan waktu beberapa bulan lamanya. Hiat-lui-kiong itu apa dia tidak tahu dan belum pernah dengar.

Seperti orang linglung Cia Ing kiat berdiri sambil mengawasi kedua gadis didepan-nya kedua gadis itu cekikikan geli, akhirnya Cia Ing-kiat tertawa getir, katanya: "Bagaimana aku bisa berada di sini? Apakah aku dalam mimpi? "

Gadis yang lebih muda agaknya lebih cerewet segera dia menanggapi "Kuatir dijalan kau berontak dan melarikan diri, maka Gin-koh dan Thi-jan Lojin membuatmu tidur hingga sampai di sini."

Mendengar nama Gin-koh dan Thi-jan Lojin baru Cia Ing- kiat sadar duduk persoalannya agaknya kedua laki perempuan inilah yang menculiknya kemari sejak dari rumahnya tempo hari. dengan alasan pernikahan, pada hal siapa pihak perempuannya tidak dijelaskan sehingga menimbulkan urusan berbuntut panjang, maka dia menduga sekarang dirinya sudah berada di rumah pihak keluarga perempuan. Namun hatinya masih setengah bimbang, setelah tenang pikirannya dia bertanya: "Siapakah majikan di sini?"

Kedua pelayan jelita didepan Cia Ing-kiat seketika tertawa geli, gadis yang lebih muda malah tertawa lebih keras, katanya: "Coba lihat, menurut Gin koh dan Thi-jan Lojin, waktu dia diajak kemari katanya tidak sudi, sekarang ingin tahu dan mau bertemu dengan majikan malah." Dongkol dan geli juga hati Cia Ing-kiat. katanya keras: "Tanpa juntrungan tahu-tahu aku berada di sini, apa salahnya kalau aku harus berhadapan dengan majikan kalian?"

Gadis yang lebih muda membelalak mata, katanya: "Biar kuberitahu kepadamu, keadaanmu sekarang masih lemah, seperti orang sakit, maka kau diharuskan beristirahat secukupnya memulihkan kesehatan, bila roman mukamu sudah kelihatan gagah dan tenaga dalampun sudah pulih baru boleh kau menemui majikan kami."

Cia Ing-kiat hanya tersenyum kecut, namun dalam hati merasa kaget, karena setelah disiksa dua kali didalam kuil, Siau-pocu apakah dirinya terluka dalam atau tidak dia sendiri tidak tahu. Maka dia coba menarik napas pelan-pelan lalu mengerahkan hawa murni, celakanya begitu hawa murni dikerahkan sekujur badan seketika seperti dicocoki ribuan jarum, saking kesakitan dia gertak gigi, muka pucat keringat bercucuran. Disamping kesakitan hatinyapun amat kaget karena, tanda-tanda ini memang jelas bahwa dirinya terluka dalam yang amat parah.

Cia Ing-kiat menjublek tanpa bicara maka gadis yang lebih kecil itu berkata. "Nah betul tidak? Sudah percaya? Lekaslah kembali kekamar dan istirahat memulihkan kesehatan?"

Selama hidup kapan Cia Ing-kiat pernah dilayani dengan sikap seperti ini, apa lagi yang main suruh hanya seorang pelayan cilik namun pikirannya ruwet, maka dia tidak hiraukan sikap kasar gadis ini. dengan menunduk dia beranjak balik kedalam kamar lalu duduk lesu.

Begitu dia menjatuhkan pantatnya diatas kursi, " Buk " sebuah benda jatuh diatas meja sampingnya, waktu Cia Ing- kiat menoleh, itulah serenteng lembaran bambu tipis yang dijalin dengan benang sutra sebanyak ratusan lembar, mungkin terlalu sering dipegang lembaran bambu tipis ini tampak mengkilap. Kembali gadis yang lebih muda yang buka suara:"Majikan bilang Kungfumu terlalu rendah yang kau pelajari terlalu banyak ragamnya pula, maka kau harus belajar dari permulaan pula, delapan belas lembar bambu ini berisi pelajaran ilmu Khi-kang dari aliran Iwekeh tingkat tinggi, kau boleh mempelajarinya dengan rajin." habis bicara dengan cekikik tawa dia tarik temannya terus beranjak keluar.

Tergerak hati Cia Ing-kiat, segera jemput rentengan bambu itu serta diperiksa dengan teliti, setiap lembar bambu tertera enam gambar orang dengan dandanan orang Biau, ukirannya begitu jelas dan indah seperti hidup, cuma gayanya saja yang agak aneh dan sukar dibayangkan sebelumnya. Sambil lalu Ing-kiat periksa delapan belas lembar bambu itu dengan bekal kepandaiannya sekarang hakikatnya dia tidak tahu pelajaran ilmu dari golongan atau aliran mana yang tertera didalam lembaran bambu ini apalagi hatinya sedang gundah, maka susah hatinya belajar sesuai petunjuk gambar diatas lembaran bambu ini. maka dia hanya mondar mandir didalam kamar sambil menggendong tangan.

Tidak lama kemudian kedua pelayan itu datang pula, kali ini membawa hidangan pagi, bila tutup mangkok dibuka, isinya ternyata sejenis bubur warna hitam seperti kecap, bau pedas menyerang hidung, entah makanan apa terbuat dari apa pula. Perut Cia-Ing-kiat memang sudah keroncongan, tapi menghadapi makanan serba hitam kental seperti bubur bukan bubur, betapapun sukar ditelan rasanya, terpaksa sambil mengernyit kening dan memejam mata dia mencobanya, padahal sikap kedua pelayan ini seperti menghidangkan semangkok makanan yang paling lezat didunia ini, melihat Cia Ing-kiat menggaresnya dengan main telan saja, mereka kelihatan agak penasaran.

Beruntun beberapa hari Cia Ing kiat hidup dalam suasana terkekang seperti dikuasai saja, makanya yang disantapnya setiap hari juga barang yang sama, maka diapun tidak pedulikan apa pelajaran ilmu dalam lembaran bambu tipis itu, cuma dia tidak lupa latihan menurut ilmu dan cara yang pernah dipelajarinya, namun makin hari perasaan hatinya makin ruwet, rasa sakit ditubuhnya juga semakin bertambah malah.

Hingga hari ketujuh, baru Cia Ing-kiat mulai menaruh perhatian terhadap rentengan bambu tipis iiu, sekarang dia lebih cermat dengan memusatkan pikiran lagi sehingga lapat- lapat terasa adanya sesuatu manfaat dari gambar gambar yang tertera disini, lalu dia mencontoh gayanya satu persatu hingga selesai, beruntun dia meniru dua kali, ternyata terjadi perubahan yang diluar dugaan dalam tubuhnya, karuan hatinya girang sekali.

Diatas delapan belas lembar bambu tipis itu tertera seratus delapan gaya intisari pelajaran latihan Khikang dari aliran Lwekeh, satu gaya demi satu gaya Cia Ing-kiat mempelajarinya, terasa setiap hari dia memperoleh kemajuan yang cukup baik, saking tekun mempelajari ajaran Khikang ini. tanpa terasa tiga bulan sudah berselang, di puncak gunung itu tak pernah terjadi perobahan cuaca, hawa tetap sejuK seperti musim semi. Cia Ing-kiat rasakan Lwekang sendiri sekarang telah memperoleh kemajuan yang cukup baik, maka selama tiga bulan ini dia betah dan kerasan hidup disini, hubungannya dengan kedua pelayan itupun sudah intim, cuma kalau ditanya siapa nama mereka, yang besar mengaku bernama Toa-kui (setan gede) yang kecil bernama Siau-kui (Setan cilik) apa boleh buat selanjutnya Cia Ing-kiat memanggil mereka dengan sebutan itu.

Dalam jangka tiga bulan Cia Ing kiat selesai pelajari Khikang yang tertera diatas rentengan bambu tipis itu, waktu itu sudah menjelang tengah malam, Cia Ing-kiat menggerakan tangan dan kaki badan terasa segar dan bersemangat, maka dia melangkah keluar rumah. Sejak pertama kali siuman dirumah ini dulu sampai sekarang belum pernah timbul hasratnya untuk turun gunung, kini dengan langkah berlenggang kakinya berjalan kepinggir sebuah ngarai. Cuaca cerah bulan sedang memancarkan cahayanya yang benderang, tampak gumpalan mega bergulung di bawah kakinya, pandangan matanya hanya bisa mencapai tujuh kaki jauhnya, tapi ciptaan alam yang dilihatnya sudah serba serbi.

Menyusun pinggir ngarai Cia Ing kiat jalan-jalan sambil menggendong tangan, mendadak dilihatnya didepan sebuah pohon raksasa yang dahan besarnya menjorok keluar, diatas dahan pohon ini terikat akar rotan yang besar menjulur turun kebawah. Tergerak hati Cia Ing-kiat. Selama tiga bulan diatas puncak ini, walau hidupnya cukup enak dan tentram tidak kekurangan, namun siapa pemilik rumah ini tidak pernah diketahui, ini pertanda orang bermaksud baik terhadap dirinya, namun hidup dikuasai orang begini juga tawar rasanya, kenapa aku tidak turun kebawah melihat keadaan yang sebenarnya ? Puncak ini dikelilingi dinding curam tiada jalan untuk naik turun, mungkin hanya akar pohon inilah jalan satu-satunya untuk turun kebawah gunung

Maka tanpa banyak pikir Ing-kiat segera maju ke sana serta lompat bergantung serta melorot kebawah berpegang akar rotan besar itu. Baru beberapa tombak tubuhnya sudah ditelan gelombang mega yang bergulung-gulung, seolah-olah dirinya hidup dalam lingkungan dewa saja. sekelilingnya tidak terlibat jelas. Begitulah selama bebeiapa kejap dia sudah melorot ratusan tombak kebawah, baru kedua kakinya menyentuh bumi, sekilas dia celingukan, meski di sini mega juga bergolak, namun samar amar dia dapat meneliti sekitarnya, dirinya searang berdiri diatas sebuah panggung batu kecil.

Tengah dia berpikir bagaimana dirinya harus bertindak lebih lanjut, mendadak didengarnya disebelah kiri ada suara percakapan orang. Cepat Cia Iing-kiat melompat kesamping kanan menyembunyikan diri dtbelakang sebuah batu besar.

Suara percakapan itu makin jelas dan dekat, itulah percakapan Toa kui dan Siau kui, terdenger Siau-kui sedang berkata "Sungguh aneh, kemaren kami masih bisa menangkap delapan puluhan ekor, kenapa hari ini seekor-pun tidak tampak ? Mungkin ada orang tahu manfaatnya lalu naik kemari mencurinya?"

Lain terdengar suara Toa-kui berkata: "Mungkin juga sudah lari semuanya"

Siau-kui mendengus, katanya: "Hm. mana mungkin, Ki- thian hiang yang ditanggalkan majikan selalu dapat memancing kedatangannya, hari ini hasil kita cuma sedikit terpaksa hidangan harus dicatut untuk dia."

Cia Ing kiat mencuri dengar pembicaraan mereka dibelakang batu. lekas sekali kedua gadis ini sudah tak jauh dari tempat sembunyinya, waktu dia mengintip dilihatnya Siau-kui memegang sebatang rotan, diatas rotan inilah direnteng delapan ekor binatang mirip kepiting tapi bukan kepiting, seperti kala jengkang tapi juga bukan, setiap ekor sebesar kepelan tangan, kedua sisi tubuhnya tumbuh rambut kasar berwarna-warni dengan kaki dan cakarnya yang berjumlah puluhan seperti kaki klabang binatang aneh itu kelihaian masih hidup karena kailnya yang banyak kemerahan itu bergerak gerak dengan meneteskan liur kental berbau amis, bentuknya yang jelek menjijikan sekali.

Melihat jelas binatang-binatang aneh yang menjijikan ini, seketika Cia Ing-kiat terbayang selama tiga bulan ini dirinya makan bubur yang dibuat dari daging binatang menjijikan ini rasa mual merangsang hatinya, tak tahan mulutnya menguak seperti orang hampir muntah.

Sudah tentu suaranya mengejutkan Toa kui dan Siau-kui, serempak mereka membentak: " Siapa ?" Tahu tak bisa sembunyi lagi dengan tangan mendekap mulut Cia Ing kiat berdiri dari tempat sembunyinya. tangannya menuding rentengan binatang diatas rotan itu, ingin bicara tapi urung karena dirangsang bau amis dan hampir tumpah lagi.

Siau kui justru angkat tangannya yang memegang rotan di mana binatang menjijikan itu direnteng, katanya: "Alah, aksi. Memangnya kau kira binatang ini tidak enak ? Tidak tahu diri."

Cia Ing-kiat makin merinding, setelah melihat jelas bentuk binatang. Pada saat itulah ditengah gumpalan mega tak jauh dipinggir sana seseorang tiba tiba tertawa dingin, katanya: "Memang bocah tidak tahu diri. Haha ha."

Mendengar tawa dingin serta perkataan ditengah mega itu, Cia Ing kiat melenggong, dilihatnya Toa-kui dan Siau-kui berobah air mukanya, sejak berkenalan dan bergaul rapat dengan kedua cewek jelita ini, selalu dalam keadaan riang gembira, belum pernah dia melihat sikap kedua cewek yang serius, takut dan kuatir.

Waktu Cia Ing kiat memandang kearah datangnya suara, tampak ditengah gnmpalan mega yang bergulung pergi datang itu samar samar kelihatan bentuk sesosok bayangan putih, perawakannya tinggi kurus, warna mega putih kelabu, sementara orang Itu juga mengenakan pakaian serba putih, wajahnya tidak kelihaian, hanya terlihat tubuhnya seperti terombang-ambing mengikuti bergolaknya mega yang turun naik dan melebar.

Disaat Cia Ing kiat terlengang, suara dingin orang itu kumandang pula: "Katak bintang seratus kaki ini adalah salah satu dari empat puluh sembilan binatang ajaib yang dikenal aliran To, beruntun kau telah memakannya tiga bulan, sekarang malah anggap binatang ini menjijikan apa tidak lucu dan menggelikan ?” Sebelum sadar apa yang terjadi mendadak terasa oleh Cia Ing kiat segulung angin dingin merasuk tulang telah melanda dari arah belakang, didengarnya Toa-kui dan Siau kut menjerit kaget, waktu Cia Ing-kiat menoleh dilihatnya bayangan putih yang remang-remang itu sedang menerjang kearah dirinya.

Gerakan bayangan putih yang menimbulkan gelombang hawa dingin ternyata membawa gumpalam mega yang bergolak. Hakikatnya Cia Ing-kiat tidak tahu siapa orang ini, namun selama bergaul tiga bulan dengan kedua cewek yang diketahui berkepandaian tinggi ini. ternyata menjerit kaget dan ngeri, maka dia menduga bayangan putih itu pasti musuh tangguh yang bermaksud jahat, secara retflek dia menepuk sebelah tangannya.

Ternyata lawan seperti tidak merasakan tepukan tangannya, bayangannya tetap menerjang maju. hanya sekejap Ing-kiat rasakan sejalur hawa dingin telah meresap keulu hati. Kejadian berlangsung secepat kilat, waktu dia menunduk dilihatnya tiga jari kurus kering seperti cakar burung ternyata telah mengancam urat nadi dipergelangan tangannya.

Karuan kejut Cia Ing kiat bukan kepalang, lekas dia tarik tangan, diluar dugaan ketiga jari tangan itu juga segera ditarik mundur, agaknya tujuan orang hanya memunahkan tekanan pukulan telapak tangan yang barusan.

Sekarang baru Ing kiat melihat jelas wajah bayangan putih yang remang-remang tadi orang berdiri tiga kaki dimukanya. wajahnya putih tanpa darah, tulang pipinya menonjol, matanya cekung, namun bola matanya bersinar hijau, tampangnya memang menakutkan, melihat Cia Ing-kiat berdiri tegak gemetar, diapun berdiri diam tidak bergerak. Pada saat itulah Toa-kui dan Siau kui menghardik bersama terus menubruk datang dari belakang jari runcing mereka masing- masing mencengkram pundak kanan kiri orang itu. Sergapan Toa-kui dan Siau-kui boleh dikata amat lihay, ternyata orang ini tetap berdiri santai mengawasi Cia Ing-kiat, tidak berkelit atau menangkis, "Plak, plak" dua kali tangan Toa-kui dan Siau-kui hampir berbareng mencengkram kedua pundak orang itu. Cia Ing-kiat menyaksikan dengan jelas, jari runcing kedua cewek yang berkuku panjang itu telah mencengkeram masuk kepundak kurus orang itu, dari sini dapat dinilai betapa tinggi dan besar tenaga yang dikerahkan kedua cewek jelita ini. Akan tetapi pada saat itu pula mendadak si baju putih mi menjengek dingin, berbareng kedua pundak dinaikan keatas, seperti orang bersikap apa boleh buat menaikan kedua pundaknya.

Ternyata gerakan menaikan kedua pundak orang ini menimbulkan gelombang tenaga yang cukup dahsyat, karena hawa dingin seketika menyampuk muka Cia Ing-kiat, tanpa kuasa dia tergentak mundur selangkah, belum lagi dia berdiri tegak didengarnya suara "Krak, krak" yang cukup ramai seperti bunyi tulang pecah atau patah, tampak tangan Toa-kui dan Siau-kui yang mencengkram pundak orang terpental pergi, seketika itu juga jari mereka sudah membengkak besar menghijau, jelas hanya mengangkat pundak orang iiu sudah bikin tulang-tulang jari kedua cewek ini patah dan remuk.

Kejadian mendadak diluar dugaan lagi, belum sempat Cia Ing-kiat menyaksikan bagaimana keadaan Toa-kui dan Siau- kui setelah tangan mereka patah, tampat orang itu mendadak menyodok dengan kedua sikutnya ke belakang, di tengah benturan "Duk, duk," Toa-kui dan Siau kui seperti dilempar kebelakang ditelan gumpalan mega. namun darah segar yang menyembur dari mulut mereka tampak berhamburan.

Orang itu tetap berdiri tenang mengawasi Cia Ing-kiat tanpa peduli bagaimana nasib kedua cewek jelita itu. katanya sinis : "Kuampuni jiwa kalian berdua, lekas pulang dan laporkan kejadian di sini." Ditengah gumpalan mega terdengar jeritan Toa-kui dan Siau-kui yang ketakutan, agaknya setelah terluka Cukup parah mereka segera melarikan diri naik keatas gunung.

Wajah dingin orang itu mengunjuk sedikit senyuman, matanya masih mengawasi Cia Ing-kiat sekian saat lalu tertawa lebar mengunjuk barisan giginya yang hitam, katanya

: "Apakah kau ini menantu baru dari mahluk tua aneh itu ?"

Cia Ing-kiat melenggong, tak tahu bagaimana harus menjawab, selama tiga bulan di Thian-lo-ong, dia hanya tahu tempat itu merupakan salah satu villa Hiat-lui-kiong. lalu siapa majikan atau pemilik sebenarnya sampai sekarang dia tidak jelas, 'mahluk tua' yang dimaksud orang ini mungkin adalah pemilik tempat ini, lalu kenapa dirinya dianggap menantu orang segala.

Terdengar orang Itu berkata pula dingin : "Kebaikan apa sih yang kau miliki, .kenapa mahluk tua itu menaksirmu ?"

Cia Ing-kiat sudah tenangkan hati katanya : "Tuan siapa ?

Sungguh aku tidak tahu apa maksud ucapan tuan"

Mendadak orang itu bergelak tawa sambil mendongak, gerak geriknya tadi ringan dan lincah seperti setan gentayangan, namun loroh tawanya ternyata lantang berisi seperti pekik naga. gumpalan mega disekitarnya seperti tersibak oleh getaran nada tawanya, jantung Cia Ing-kiat juga seperti dipukul godam, sebelum Ing kiat sempat menyadari apa yang terjadi, tahu tahu orang itu sudah ulur tangan pegang pergelangannya, katanya : "Marilah ikut aku saja."

Sudah timbul niat Ing kiat berontak, namun gerak gerik orang itu teramat cepat, begitu putar tubuh terus melompat jauh ke-depan. Pada hal tempat mereka berpijak adalah sebuah panggung batu yang kecil, begitu melompat ke sana, tubuh Cia Ing-kiat terseret maju terjun ke bawah.

Karuan Cia Ing kiat kaget dan takut, tidak lagi berontak dia malah balas pegang lengan orang itu dengan kencang, begitulah tubuh mereka terus meluncur menerobos gumpalan mega makin meluncur kebawah makin cepat, dalam sekejap mereka sudah mencapai ratusan tombak, tampak tangan kiri orang itu meraih sebatang akar rotan besar yang melintang terus berayun kesamping sehingga daya luncuran tubuh mereka tidak sepesat tadi.

Saking ketakutan badan Cia Ing-kiat basah kuyup oleh keringat dingin, badan gemetar napaspun memburu. Setelah menangkap rotan dan bergelantung seperti tarzan orang itu melirik Cia Ing kiat sekejap, katanya sambil menggeleng : "Bukan saja penakut, ternyata kau juga goblok setengah mati, kalau kau jatuh mampus dari atas. memangnya aku bisa hidup, masakan soal sepele begini juga dibuat takut. Mahluk tua itu pasti salah menilaimu."

Karuan merah jengah muka Cia Ing-kiat. Biasanya dirinya disanjung dan dipuji, kalau bukan gagah pemberani juga serba cakap dan pintar, kapan pernah dicaci begini rupa, darah panasnya seketika terbakar, katanya membantah : "Siapa bilang aku penakut ? selama beberapa tahun ini, siapa yang mampu masuk ke Kim-hou-po lalu melarikan diri pula dengan selamat seperti diriku?"

Sambil mendengar omongan Cia Ing-kiat orang itu mengedip mata. mendadak dia lepas tangan kirinya, kontan tubuh mereka yang melurcur iiu anjlok kebawah, Cia Ing-kiat tidak menduga kejadian teramat mendadak lagi, tanpa kuasa dia menjerit kaget dengan gelagapan.

Orang itu tertawa bingar, katanya : "Nah masih berani bilang kau ini bukan penakut" habis perkataannya kakipun sudah hinggap dibumi. Cia Ing-kiat menunduk malu, tak berani dia membanggakan diri lagi. Perlahan orang itu angkat tangannya menepuk empat kali dikanan kiri pundaknya. Semula Ing-kiat kaget dan waspada, setelah tahn orang tidak bermaksud jahat maka dia berdiri melenggong saja. Orang itu berkata pula :"Jangan takut, akan kubawa kau menonton sebuah keramaian."

Kecuali tertawa getir, Cia Ing - kiat tak banyak komentar, orang itu berkata pula : "Kabarnya kau pandai tata rias, dengan kemahiranmu itu beberapa bulan yang lalu kau berhasil melarikan diri dari Kim-hou-po apa betul ?"

Diam diam bercekat sanubari Cia Ing-kiat, terhadap orang aneh ini dirinya tidak tahu menahu, sebaliknya orang tahu jelas asal usul dirinya, sebelum dia berbicara, orang itu sudah berkata : "Nah, sekarang buktikan kemampuanmu, robahlah aku menjadi seorang nenek, dan kau harus menjadi seorang kakek, didalam tontonan yang ramai nanti, kami bisa menyaksikan lebih leluasa."

Sesaat kemudian baru Cia Ing-kiat berkata : "Untuk bermake-up tidak sukar, cuma bahan bahan rias aku tidak bawa, hanya di kota besar baru bisa di beli. Dipegunungan belukar begini, bagaimana ..."

"Tidak jadi soal. kau ikut aku saja"

Sembari bicara orang aneh itu terus melangkah pergi, sesaat Cia Ing-kiat melenggong tapi segera dia memburu dibelakang orang. Selama tiga hari dia menempuh perjalanan dengan orang aneh ini dialas pegunungan belukar, selama ini bentuk, sikap dan tingkah taku orang aneh ini tidak berobah, namun Cia Ing-kiat tidak lagi merasa orang menakutkan, malah terasa bahwa orang ternyata amat ramah dan simpati.

Bergaul selama tiga hari tidak sedikit pengalaman yang diserap Cia Ing kiat oleh kejadian yang dialaminya ataupun cerita orang aneh ini  yang serba serbi. namun setiap kali menyinggung pemilik villa di Thian-lo-hong, orang aneh ini sengaja tak mau jawab, namun dia menganjurkan supaya Cia Ing-kiat giat memperdalam ajaran Khikang yang dimuat diatas delapan belas bambu tipis itu. Selama tiga hari ini mereka memburu binatang, beberapa kali Cia Ing-kiat saksikan orang aneh ini menangkap burung, memburu harimau, atau menangkap kijang untuk tangsel perut, dari pergaulan selama tiga hari ini. Ing-kiat yakin kepandaian orang aneh ini pasti tidak lebih rendah dari Siau- pocu Kim-hou-po.

Magrib hari itu. Cia Ing kiat yang mengintil dibelakang orang aneh sudah menempuh perjalanan di jalan raya, lalu lintas mulai ramai, orang-orang yang hilir' mudik ada orang Han dan orang Biau, makin maju kedepan makin ramai, waktu hari sudah gelap mereka tiba di sebuah kota besar. Kota besar ini berada di pinggir sebuah sungai besar pula, perumahan penduduk di sini megah, tinggi dan benderang, pertanda bahwa kota ini cukup makmur, ternyata kota besar ini tidak kalah ramai dan bersih dari kota-kota besar di Tionggoan.

Begitu masuk kota orang aneh itu lantas menarik krah bajunya yang tinggi lebar hingga menutupi setengah mukanya, dengan menunduk berjalan didepan, Ing-kiat yang di belakang merasa heran, pada hal Kungfunya tinggi entah apa yang dia takuti. Tengah menerawang, mendadak didengarnya suara kuda dilarikan dari depan, penunggang kuda terdepan adalah seorang tua bermuka ungu, di kiri kanan pinggangnya bergantung sepasang roda emas yang bergigi, sekilas pandang roda emas bergigi ini, seketika Cia Ing kiat kaget setengah mati.

Melihat senjata orang Cia Ing-kiat lantas tahu bahwa laki- laki muka ungu ini adalah Jit-gwat-kim lun. Cin Thian sip Cin- loenghiong, tokoh Bulim diutara sungai besar yang teramat disegani kaum persilatan. Semasa ayahnya masih hidup, hubungannya dengan tokoh besar ini amat intim. Cin Thian-sip berwatak angkuh dan tinggi hati. ilmu silatnya tinggi, kekebalan tubuh yang diyakinkan sudah mencapai taraf ketujuh, sejauh ini belum pernah ketemu tandingan. Kota besar ini memang makmur, namun dengan Tionggoan entah betapa jauhnya, entah untuk keperluan apa sekarang dia berada di sini ?

Karena heran dan ingin tahu baru saja Cia Ing-kiat buka mulut hendak menyapa mendadak tangannya terasa dipencet kesakitan, orang aneh itu pegang pergelangan tangannya serta berbisik- "Jangan bersuara meski ketemu kenalan baikmu, nanti kau takkan bisa menonton keramaian. "

Cia Ing-kiat urung bicara dia mandah diseret maju beberapa langkah oleh orang aneh itu dilihatnya beberapa penunggang kuda dibelakangi Jit gwat-kim-Iun adalah murid- murid Cin Thian sip. beberapa diantaranya punya hubungan baik dengan dirinya. Lekas sekali rombongan berkuda itu sudah lewar dan pergi jauh.

Timbul niat Cia Ing kiat membantah perintah orang aneh, sementara itu mereka berada didepan sebuah restoran besar, kebetulan seseorang dengan langkah sempoyongan beranjak keluar dari dalam. Perawakan orang ini pendek, pakaiannya juga dari kain kasar, kakinya telanjang tapi kelihatan putih bersih, sikapnya kelihaian angkuh seperti dunia ini milikku sendiri.

Melebat orang ini, bukan saja kaget Cia-Ing-kiatpun heran, lekas dia menunduk kepala. Orang ini bukan lain adalah Oh- sam Siansing, pendekar aneh dari Say-jwan. Beberapa tahun yang lalu Oh-sam Siansing pernah bertandang ke Hwi-liong- ceng, secara paksa dia hendak angkat Hwi liong cengcu Cia Thian sebagai murid. Pada hal kedudukan dan kebesaran nama Cia Thian didunia persilatan sudah cukup disegani, mana mau diangkat murid olehnya, karena tiada persesuaian paham, maka terjadilah perang mulut dan diakhiri baku hantam, Cia Thian kalah dan tunduk lahir batin, akhirnya dia rela mengangkat orang sebagai guru, tapi Oh-sam Siansing justru menganggapnya bodoh kurang bakat lalu tinggal pergi begitu saja. Peristiwa itu tidak diketahui orang luar, tahun itu Cia Ing- kiat berusia enam belas, sebelum Oh-sam Siansing pergi, dia pernah memberi petunjuk kepada cucu muridnya ini, kini mendadak Cia Ing-kiat melihat 'Sukong'-kakek gurunya ini, betapa hatinya takkan terkejut? Dengan menunduk dia melangkah puluhan langkah kemudian baru berani menoleh, dilihatnya Oh-sam Siansing masih berjalan dengan langkah lebar, mendadak dilihatnya dari samping menerobos seorang laki-laki berpakaian sastrawan terus menepuk pundak Oh-sam Siansing.

Tepukan itu ditujukan kepundak Oh-sam Siansing, tapi Cia Ingkiat malah yang terkejut, entah siapakah sastrawan yang bernyali besar ini? Berani mengusik Oh-sam Siansing? Setelah kedua orang itu berhadapan dan membalik tubuh baru Cia Ing-kiat melenggong. Sastrawan ini berpakaian jubah hijau, usianya sekitar lima puluhan, berwajah persegi kuping besar, sepasang tangannya panjang, jari-jarinya juga lencir panjang putih, diantara kedua alisnya tumbuh tujuh titik tahi lalat merah, matanya yang meram melek tampak memancarkan sinar gemerdep. Ing-kiat kenal orang ini, asal mulanya dia murid Bu-tong.

Suatu ketika diusir dari perguruannya, belakangan dia mendirikan aliran dan menciptakan sendiri Bo to kiam-boat, Si- toa-tiang-Io Bu-tong pay yang terkenal sekaligus dikalahkan olehnya, maka murid-murid Bu-tong mau menjunjungnya sebagai pemimpin mereka, tapi dia malah bergelak tawa terus tinggal pergi, belakangan namanya terkenal sebagai Pak-to Suteng, pendekar aneh di Bulim yang disegani. Adalah pantas kalau tokoh setaraf Pak-to Suseng berani menepuk pundak On-sam Siansing. Setelah menelan air liurnya, Cia Ing-kiat berkata lirih: "Tokoh-tokoh Bulim sebanyak ini kenapa kumpul di sini? " Orang aneh itu mendengus, katanya: "Sudah kukatakan akan ada keramaian, memangnya aku ngapusi kau? Nah, lihat tuh didepan, siapa yang datang?"

Cia Ing kiat angkat kepala memandang kedepan. seketika merinding bulu kuduknya, tampak yang mendatangi adalah seorang laki-laki besar, kulit badannya seperti besi, pakaiannya serba hitam menunggang seekor kuda hitam berbulu mulus mengkilap, kudanya pelan pelan. Laki laki besar ini berewokan, matanya besar bundar anehnya bola matanya yang besar melotot itu seperti terbuat dari beling hitam, tanpa ada warna putihnya. Sebelumnya belum-pernah Cia Ing-kiat melihat orang ini, namun pernah dengar namanya, aki laki ini bukan lain adalah begal tunggal yang malang melintang tak pernah meninggalkan korban hidup dikalangan Kang ouw, Tai giam-ong Utti Gu.

Dengan jantung berdebar Cia Ing-kiat berdiri terlongong sejenak, orang aneh itu segera menariknya kesamping Utti Gu. Hati Ing-kiat tidak habis mengerti, keramaian apa yang bakal terjadi di sini, namun dinilai orang orang yang dilihatnya tadi semua adalah benggolan Bulim yang terkenal, maka dapat dibayangkan bahwa keramaian yang akan terjadi ini pasti merupakan peristiwa besar yan akan menggemparkan dunia.

Cia Ing kiat menurut saja diseret orang aneh itu menyusuri jalan raya diantara kerumunan orang banyak yang hilir mudik, tak lama kemudian, sebuah kereta mendatangi dari arah depan. Didepan kereta dihiasi sebuah ikan emas warna emas panjang lima kaki yang kemilau, kedua sisi kereta diapit masing masing empat orang berseragam ketat dengan pakaian renang, mereka jelas adalah orang Liong-bun-pang yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan besar disepanjang sungai besar dengan organisasinya yang serba misterius, dari iringan kereta yang dikawal ketat ini, pertanda bahwa Pangcu dari Liong-bun-pang sendiri pasti telah datang. Harus dimaklumi bahwa Liong-bun-pang mempunyai kedudukan yang amat kokoh dan besar di Bulim, hal ini dapat dibuktikan di-waktu Cia Ing-kiat melarikan diri dari Kim-hou-po tempo hari, orang - orang Kim-hou-po yang mengejarnya sampai didermaga itu mengira dia sudah menyebrang sungai lari kepihak Liong bun-pang. Bagi organisasi yang berani menentang dan melawan Kim-hou-po sudah tentu adalah organisasi yang amat disegani. Sayap Liong-bun pang sudah tersebar luas. aksi mereka serba rahasia, siapa pejabat Pangcu mereka sejauh ini masih merupakan ranasia, tiada kaum Bulim yang tahu, banwa dia dapat memimpin dan menguasai organisasi yang begitu besar, pasti dia seorang tokoh kosen yang luar biasa.

Begitu rombongan kereta itu lewat, sepanjang jalan raya yang ramai sesak ini, menjadi sepi dan orang-orang persilatan yang berada di sepanjang jalan Ini menyingkir ke pinggir, jelas tiada orang yang berani mencari perkara dengan pihak Liong bun-pang.

Cia Ing-kiat menarik napas panjang, dia mandah saja diseret orang aneh memasuki sebuah gang kecil. Tampak oleh Ing-kiat di ujung gang duduk mendeprok ditanah dua orang yang membelakangi dinding, seorang buntung kakinya sebatas lutut, tampangnya aneh. sebarang tongkat hitam disampingnya berdiri mepet dinding, biji matanya tampaK terbalik entah apa yang sedang diawasi. Seorang lagi adalah laki-laki picak, kedua tangannya sedang menggosok dua butir batu yang mengkilap halus sehingga mengeluarkan suara ramai.

Melihat kedua orang ini Cia Ing-kiat tertawa getir, dari keadaan dan dandanan kedua orang ini dia tahu bahwa mereka adalah Thian lam-sian jian (seorang cacad dari Thian- lam) yang sudah kesohor didunia.

Orang aneh tetap menggandeng tangan Cia Ing-kiat maju kedepan. waktu tiba disamping kedua orang ini, di dengarnya si picak berkata: "Tongkat, siapakah yang lewat barusan, Ginkangnya amat bagus."

Laki-laki buntung tetap membalik mata sahutnya: "Siapa tahu. dalam mataku tiada seorang manusiapun yang normal."

Cia Ing-kiat terperanjat, orang aneh yang menggandengnya ini berilmu tinggi maka mau dan di cemooh dan disindir orang. sesuatu mungkin bisa segera teijadi. Tak nyana orang aneh tetap menyeretnya kedepan hingga beberapa langkah.

Sipicak seperti sengaja mencari perkara, katanya pula: "Tongkat, coba dengar, orang anggap kami bukan manusia, perkataanku tadi berarti sia sia belaka, sungguh sial "

"..Memangnya " sabut si buntung. Jangan kira kakinya buntung sebelah tapi gerak geriknya ternyata cepat luar biasa, sebelum kata nya habis diucapkan, tongkatnya sudah menutul bumi, tubuhnya mumbul mepet dinding terus meluncur kedepan seperti anak panah yang terlepas dan busur, daya luncur tubuhnya menerbitkan deru angin kencang, sehingga Cia Ing-kiat tersuruk maju kedepan menumbuk orang aneh.

Sedikit sebelum tubuh kaki buntung ini melesat lewat disamping orang aneh dan Cia Ing-kiat, dari atas dinding mendadak seorang berkata dingin: "Jago-jago kosen dari berbagai tempat sudah kumpul, tiada satupun yang mencari perkara, kalian dua tua bangka cacad ini justru melakukan perbuatan yang memalukan di sini."

Cia Ing-kiat sudah angkat kepalanya, tapi pegangan orang aneh mengencang, tahu-tahu dirinya sudah digeretnya pergi keluar dari gang sempit ini. Hakikatnya Ing-kiat tidak sempat lihat siapa yang buka suara diatas tembok, tapi begitu keluar dari ruangan itu kupingnya masih sempat mendengar tongkat besi sibuntung mengetuk tanah dengan suara duk. duk yang berat dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang bersuara di-atas tembok pasti seorang yang kosen pula. Setiba dijalan raya, orang anah seret Ing kiat melok kekanan, agaknya dia hapal akan jalanan di kota besar ini, tak lama kemudian mereka tiba didepan sebuah hotel kecil dari kelas rendahan. mereka langsung masuk, kacung hotel menyamhut dan bicara dengan bahasa Biau yang tidak dimengerti orang Ing-kiat. Akhirnya mereka dibawa ke- belakang dan menempati sebuah kamar sempit, dalam kamar hanya ada sebuah dipan, baru kaki melangkah masuk bunyi nyamuk yang mendengung sudah membikin kuping merasa gatal, seolah-olah kamar ini sarang nyamuk saja.

Cia Ing kiat berkata dengan tawa nyaring: "Kenapa tidak cari hotel yang lebih baik?-"

Orang aneh tertawa, katanya: "Boleh, setelah kau merias wajahku."

"Baiklah. " ucap Cia Ing-kiat ." biar aku keluar membeli bahan-bahan keperluan."

"Tidak boleh," ujar orang aneh, "kutemani kau di sini. bahan bahan apa yang diperlukan boleh kau membuat sebuah daftar suruh kacung hotel pergi membeli di toko."

"Biar aku sendiri yang memilih dan membeli kan tidak jadi soal?" bantah Ing-kiat.

Dingin suara Orang aneh: "Tidak boleh ya tidak boleh, apa yang kau perlukan tulis saja diatas kertas."

Apa boleh buat Cia Ing-kiat menulis sebuah daftar diatas kertas yang sudah disiapkan kacung hotel serta menyerahkan daftar keperluan itu kepada kacung. orang aneh merogoh keluar sekeping uang perak diberikan kepada si kacung pula, bergebas kacung ini berlari keluar.

Untuk membuang waktu Ing kiat mondar-mandir dalam kamar, kamar itu bukan saja sempit juga pendek, maka dia hanya melangkah tiga empat langkah sudah berada didepan orang aneh, meski tahu orang segan bicara dengan dirinya, namun setiap kali dia berputar didepan orang selalu dia bertanya: "Untuk keperluan apakah orang-orang gagah sebanyak itu kumpul di sini."

Orang aneh itu kalau tidak melirik ya melotot saja tanpa bicara.

"Lalu siapakah sebenarnya ?" tanya Cia Ing-kiat pula

Orang itu tetap melotot, akhirnya berkata dingin : "Jangan kau banyak urusan, tontonlah saja keramaian yang menarik nanti."

Dongkol hati ing-kiat. segera dia balik ke sana tiba-tiba benaknva tergerak, suatu pikiran terbayang dalam otaknya, tak tahan dia ingin bergelak tawa, namun dia hanya tersenyum saja, katanya : "Tadi kau bilang, sebentar kau minta aku merias kau menjadi seorang nenek, begitu ?"

"Betul, bila aku menyamar nenek tua, umpama samaranku konangan juga orang susah menduga akan diriku " ucap orang aneh.

Dalam hati amat geli, namun Ing kiat berkata : "Kalau aku yang mendandani kau jadi nenek reyot, mana mungkin konangan orang lain?" sembari bicara dia memejam mata serta membayangkan seraut wajah perempuan tua. Waktu berada di Kim hou po dia pernah terkejut waktu melibat raut muka seorang nenek, karena nenek itu bukan lain adalah jago kosen dari aliran sesat yang terkenal dengan Im sik ciang, pukulan beracun yang paling top didunia ini. Konon setiap hari dia selalu berdampingan dengan mayat-mayat busuk yang beracun, siapa mendengar napasnya pasti ngeri dan segan, maka Cia Ing-kiat berkeputusan, nanti akan merobah wajah orang aneh Ini menjadi nenek yang pernah dilihatnya di Kim- hou-po itu.