Tugas Rahasia Jilid 03

Jilid 03

maju, sayang setiba mereka dipinggir tanggul di teng ah malam nan gelap ini, selarik sinar gursm tampak menjumbul sedetik dipermuka-an air. bayangan orang sudah tidak kelihatan lagi. Kedua orang itu saling pandang sejenak, seorang berkata : „Jelas semua sudah mati, kenapa masih ada yang hidup?"

Seorang lagi berkata : „Kurasa jaugan soal ini dibicarakan dengan Sau-pocu, kalau tidak bisa berabe ..." walau dia tidak melanjutkan perkataannya, tapi suaranya sudah terdengar gemetar dan sumbang, dari sini dapat disimpulkan bahwa hatinya juga takut dan ngeri. Seorang lagi menarik napas, katanya : „Apakah bisa mengelabuinya ?"

Seorang yang Iagi manghela napas serta tertawa getir, katanya : „Kalau tidak mengelabui memang iya mau apa? Ciong Tay-pek lari dari benteng adalah lantaran keteledoran Sau-pocu sendiri, asal tidak kau katakan pasti tidak ..." dia bicara menghadap kesungai, tapi bila ucapannya berhenti ternyata ganti tangannya yang bekerja, mendadak pedangnya terayun miring.

Kedua orang ini berdiri jajar, bahwa salah satu diantaranya mengayun pedang malam gelap gulita, tidak menduga lagi sehingga sukar menghindar, sinar pedang berkelebat lalu mendadak lenyap tak kelihatan lagi.

Sinar pedang itu mendadak lenyap bukan lantaran pengayun pedang mendadak menyarungkan pedangnya, tapi adalah pedangnya itu menusuk amblas ketubuh kawannya yang berdiri disamping. Karuan kawannya yang ditusuk itu hanya sempat menjerit pendek : ,,Kau ..." suaranya juga tenggelam dalam tenggorokan. kontan tubuhnya terjungkir kedepan dan "Byur" jatuh ke surgai dan lenyap terbawa arus Perlahan penyerang gelap itu menarik napas panjang lalu menghembuskan cepat cepat, setelah membalik badan, dengan langkah berat dia meninggalkan tanggul itu, kejap lain terdengar derap lari kuda berdentam di tengah kegelapan, agaknya orang itu mencongklang kudanya kembali ke Kim- bou-po.

Agaknya orang itu merasa perlu bertindak tegas dan kejam, karena untuk menyimpan suatu rahasia bersama, cara yang paling baik adalah menutup mulutnya dan itu berarti bahwa jiwanya harus dibunuh. Hanya orang mati yang tidak akan membocorkan rahasia:

Air sungai bergulung gulung mengalir ke timur, malam makin pekat, alam semesta menjadi sunyi senyap, yang terdengar hanya gemericik arus sungai. Menjelang tengah

malam, kira-kira delapan belas li dari tempat kejadian, dipinggir sungai yang berpasir tampak seorang muncul dari dalam sungai, dengan badan basah kuyup dia merangkak ke- darat, seorang lagi juga meronta-ronta merangkak ke pinggir namun badannya terlalu lemah, badannya juga terjerembab pula ke-air dan terbawa arus, lekas orang didepan-nya maraih dan menariknya keatas. Orang yang ditarik keatas belakangan berperawakan tinggi, namun jelas dia seorang perempuan, napasnya terdengar ngos-ngosan, setelah istirahat sejenak dia meronta berdiri lalu membungkuk muntah-muntah, yang keluar dari mulutnya hanyalah air sungai yang bening, matanya sampai mendelik saking menahan napas sesak, agaknya dia ingin lekas bicara, namun air sungai yang masuk perutnya cukup banyak hingga dia megap-megap.

Perempuan ini bukan lain adalah Pi-lik-cu. Seorang yang berada disampingnya perawakannya kira-kira hampir saja, cuma lebih tegap dan kekar, keadaannya tidak lebih baik, jelas diapun ngos ngosan, namun tidak muntah-muntah, sinar bintang guram, namun samar samar terlihat bahwa orang ini adalah petani muda itu. Agak lama kedua orang ini isrirahat dipinggir sungai, namun nafas belum juga reda, tapi Pi-lik-cu tidak sabar lagi, segera dia buka suara lebih dulu: "Makanya, kau ingin membunuhku tenggelam diair ?”

Petani muda itu unjuk tawa dipaksakan, katanya: "Kalau aku tidak mendorongmu jatuh ke sungai, jiwamu sekarang sudah amblas."

Sambil melotot Pi-lik-cu masih sengal-sengal, katanya berang: "Waktu dalam sungai, kenapa kau memelukku sekencang itu, tahukah kau aku ini perawan tulen?"

Petani itu tampak tertegun, namun dia segera tertawa geli, karuan Pi-lik-cu menarik alis, "Wut" kontan tinjunya menjotos, meski serangan mendadak, namun sedikir miring

tubuh petani itu berkelit. namun jarak terlalu dekat “Bluk" tinju orang mendarat di lengan pundaknya hingga dia terjengkang jatuh diatas pasir.

Tapi peiani muda itu segera melompat berdiri sambil goyang kedua tangan, namun cengar cengir, katanya: "Baiklah, anggaplah aku yang salah. Selamat bertemu." sembari bicara, tubuhnya sudah berputar melayang pergi “Hai tunggu.” karuan Pi-lik-cu bingung dan gelisah, "siapakah kau. Kau mampu menolong jiwaku dari ancaman sepasang pedang Thian te siang sat dari Kim hou-po, tentu tidak rendah kepandaiamu."

Langkah si petani agak diperlambat, namun tidak membalik.sahutnya: "Buat apa kau tahu siapa aku? Selanjurnya kau harus ganti she dan tukar nama selamatkan dulu jiwa ragamu, jangan kau pikirkan urusan orang lain?"

Pi-lik-cu memburu dengan langkah lebar, kedua tangannya sibuk mengusap air di atas kepala dan mukanya, teriaknya: "Tidak bisa. Bukankah kau ini Ciong Tay-pek yang melarikan diri dari Kim-hou-po?" Mendadak pelani muda itu membalik terus menatap tajam kepada Pi-lik-cu, Pi lik-cu juga balas menatapnya. Sesaat keduanya saling pandang. akhirnya petani muda itu berkata: “ Kau keliru, bahwasanya tiada seorang bernama Ciong Tay-pek didunia ini. belum pernah terjadi, seorang yang pernah masuk ke-Kim-hou-po bisa melarikan diri dan sana."

Pi-lik-cu tertegun sesaat lamanya, akhirnya berkata dengan garuk-garuk kepala:" Memang demikian. Tapi kami menerima perintah, katanya dua orang lelaki dan perempuan telah melarikan diri. Yang lelaki bernama Ciong Tay-pek, yang perempuan bernama Hui-sian.” 

Petani itu tampak melengak, teriaknya kaget "Hah. dua orang melarikan diri?"

Mendadak Pi-lik-cu maju selangkah seraya menuding, bentaknya beringas: "Kau inilah Ciong Tay-pek."

Petani itu angkat kedua pundaknya, katanya.: , Umpama benar aku ini Ciong Tay-pek, memangnya kau mau apa, apa kau ingin menggusurku kembali ke Kim-hou-po? Ingin mendapat pahala?'

Seketika bergetar badan Pi-lik cu, omongan petani muda ini laksana geledek yang menyamber kepala, air masih menetes turun diwajahnya yang kelihatan bingung dan bimbang, mulutnya terpentang, berdiri tegak sambil melongo. Sementara petani muda itu sudah beranjak pergi sejauh belasan langkah.

Petani muda itu tahu jelas, jaraknya dengan Pi-lik-cu sekarang cukup jauh, asal dia mau mengerahkan hawa murni dan menjejak kaki dengan kerakkan Lwekang, cepat sekali dia sudah akan menyelinap ketempat gelap, perempuan gede itu takkan bisa menemukan dirinya lagi. Bila dirinya sudah ditelan tabir malam, boleh dikata selanjutnya orang macam dirinya selanjutnya telah lenyap dari permukaan bumi, selanjutnya orang tidak akan pernah melihat lelaki beralis tebal, sikap dan tindak tanduknya polos dan jujur sebagaimana petani desa layaknya

Tapi di saat petani muda itu hampir saja membalik ke sana, mendadak didengarnya Pi lik cu menjerit tangis keras-keras- Padahal Pi-lik-cu berperawakan tinggi kekar dan kasar, sedikitpun tidak mirip perempuan, tapi setelah pecah tangisnya, terasa betapa pilu dan sedih hatinya, seperti bocah kecil saja, rasa sedih hatinya dilimpahkan pada isak tangisnya tanpa tedeng aling-aling lagi.

Karuan petani muda itu melengak, sementara tangis Pi-lik- cu semakin merawankan hati, jaraknya meski ada belasan langkah, namun dia melihat jelas air mata bercucuran dari kedua matanya. Keadaannya lebih mirip anak kecil yang tidak kebaikan permen dan sedang menangis sedih.

„Apa yang kau tangisi?" tanya petani muda.

Gelaknya pertanyaan ini malah menambah pilu tangis Pi-lik- cu, sambil terisak tangannya sibuk mengusap air mata, katanya: „Kau suruh bagaimana aku selanjutnya? Kemana aku harus pergi? Bila senang kepada siapa aku harus tertawa. Bila sedih kepada siapa aku harus merengek? Lalu bagaimana baiknya?" mengingat nasib diri selanjutnya, makin sedih lagi hatinya. Dilihatnya kedua alis tebal petani muda itu bertaut kencang tetap terisak Pi-lik-cu berkata pila: “Kalau kau benar adalah Ciong Tay-pek, sudah tentu tidak akan kutangkap dan kugusur kembali ke Kim-hou-po. Untuk apa aku kembali ke Kim hou-po? Tapi kenyataan orang-orang Kim-hou-po tidak akan memberi ampun kepadaku, lalu ke mana aku harus sembunyi?"

Kalau tadi mau merat secara diam-diam, setelan mendengar keluhan Pi-lik-cu petani muda itu malah balik menghampiri, mendadak dia bertanya: „Berapa usiamu sekarang?" Pi lik-cu tetap terisak, sahutnya: „Dua puluh empat tahun.” Petani muda itu tertawa, katanya: „Nah. kan tidak kecil,

jangan lupa, kau pernah belajar Kungfu, boleh terserah kau cari seorang lelaki yang kau sukai dan menikah sama dia, berbuatlah sebagaimana seorang perempuan yang baik. betapapun lihay orang-orang Kim-hou-po juga tidak akan bisa menemukan kau lagi."

Pi-lik-cu melenggong dengan membelalakkan bola matanya, setelah pelani muda habis bicara dia menjerit tangis lagi, katanya: “Siapa mau mengawini aku? Tadi kaupun bilang aku tidak mirip perempuan." bicara sampai di sini mendadak dia berhenti menangis, beberapa kali dia berbangkis lalu membersihkan ingusnya, kembali tangannya sibuk menghasut air mata dimukanya, katanya tegas: „Lebih baik aku jadi binimu saja.”

Sudah tentu petani itu tidak menyangka Pi-lik-cu bakal berucap demikian, karuan dia berjingkrak seperti keselomot api telapak ka.inya, tubuhnya mencelat mundur setombak lebih teriaknya gugup: „Heh mana boleh?"

“Kenapa tidak boleh?" Pi lik-cu melotot „kalau kau tidak setuju, buat apa kau menolong jiwaku?"

Petani itu menjerit pula, mendadak dia putar tubuh teras melompat jauh kesana, gerakannya cepat dan tangkas, hanya sekejap tubuhnya sudah meluncur tiga tombak jauhnya, tapi begitu kakinya menutul bumi pula, dirasakan Pi-lik-cu sudah mengudak tiba dibelakangsiya sambil ngejar dia berkaok-kaok dengan menangis.

Karuan petani muda itu blingsatan, lekas dia tarik napas mengerahkan tenaga murni, berapa kali lompat berjangkit, tubuhnya meluncur puluhan tombak lagi, kali ini dia tidak berani menoleh, tapi suara Pi-lik-cu masih berada delapan kaki dibelakangnya,. Karuan disamping kaget dan heran, petani muda ini juga dongkol, mendadak dia berhenti terus membalik badan.

Dilihatnya Pi-lik cu mendadak juga berhenti matanya terbelalak, bola matanya tampak merah dan pelupuk matanya juga benjul karena menangis. Mungkin mengingat dirinya ingin menikah dengan lelaki yang satu ini, maka sikapnya sekarang tampak malu-malu kucing, meski perempuan ini kasar bila melerok eh, ternyata menggiurkan juga, karuan petani muda itu makin bingung, sesaat dia melenggong, akhirnya dia tepuk jidatnya keras keras,

Melihat petani muda memukul muka sendiri, Pi-lik cu kelihatan kaget dan kuatir:”Eeh, kenapa?''

Petani muda itu berkata” Mungkin tadi setan meraba otakku, maka aku membawamu lari. Dari mana kau belajar Ginkang, kenapa kau bisa mengejarku?"'

Pi-lik-cu tertawa geli dan bangga, kata-nya:„Agaknya suhu tidak menipu aku, waktu dia mengajar padaku, aku masih kurang percaya.”

„Siapakah gurumu? Apa nama Ginkang-mu itu?"* tanya petani muda,

Pi-lik-cu bertolak pinggang dengan senyum bangga, agaknya bila sedih dia menangis, hati senang lantas tertawa, sedikitpun tidak kenal liku-liku kehidupan, katanya:

„Ginkangku ini dinamakan Ji-ing-hut-sing (seperti bayangan mengintil bentuknya), betapa cepat kau berlari, asal dalam jarak satu tombak,aku dapat mangintil dibelakangmu dengan bebas tanpa mengeluarkan banyak tenaga”

Petani muda itu terperanjat, rona muka-nyapun berobah. Nyalinya memang besar, sengaja dia menyamar dalam bentuk lain dari wajah aslinya untuk menyelundup kedalam Kim hou- po, sudah tentu bekal kepandaian silatnya juga sudah punya dasar yang lihay, maka dia boleh terhitung seorang jago muda yang punya asal usul tidak lumrah, pengetahuan aan pengalamannya cukup luas.

Ginkang yang dinamakan Ji-ing-hut-sing ini pernah juga mendengarnya. Karena siapa-pun asal kau termasuk kaum persilatan bila mendengar Ji-ing-hut-sing dan Thiam-gan-jong sim (ucapan manis menembus hati) dua jenis Gingkang tingkat tinggi, kepalanya pasti pusing tujuh keliling. Karena ilmu tingkat tinggi ini dimiliki oleh Kui bo ( nini iblis) Hun Hwi- nio jago nomor satu dari golongan hitam. Bila mengembangkan Ji ing-hut sing, cukup bila kau memperhatikan jarak tertentu, betapapun lawan berlari kencang, dengan enteng kau akan dapat mengintil dibelakangnya, meminjam daya luncuran lawan disebelah depan untuk menyeret tubuh sendiri. Dahulu seorang tokoh kosen yang memiliki Gin-kang tinggi tiada bandingan. Sin- heng-bu-tek (berjalan cepat tiada bandingan) dari Siok-te- seng-cun (mengkerut bumi menjadi sejengkal) yang bergelar Koay cun-cia. diakui sebagai jago Ginkang nomor satu diseluruh dunia, pernah diudak oleh Kui bo Hun Hwi nio dengan Ginkangnya Ji ing-hut-sing ini, Selama tujuh hari tujuh malam Koay cun cia berlari. Jarak yang ditempuhnya ada tiga ribu li lebih, Kiu-bo selalu mengintil dibelakangnya dalam jarak yang sama, hingga akhirnya Koay-cun cia kehabisan tenaga dan mati,peristiwa ini diketahui segala lapisan kaum persilatan. Bagaimana Pi-lik cu juga mahir Gin kang ini?

Konon Kui-bo Pun Hwi-nio berwajah cantik lagi genit, meski akhirnya usia sudah menanjak tua, tapi kegenitannya masih dapat meluluhkan iman laki-laki, berjiwa jelus, kejam dan jahat, jelas berbeda dengan Pi-lik-cu yang kasar tapi polos dan jujur ini, mana mungkin dua orang yang berbeda jiwa ini dapat menjadi guru dan murid?

Disaat petani muda melenggong. Pi-lik-cu justru amat senang, katanya;„Kau tidak percaya, boleh silakan lari lagi."

„Aku percaya” sahut petani muda ”Siapakah gurumu?" Jawaban Pi-lik-cu teramat diluar dugaan dia menggeleng dan menjawab:„Tidak tahu."

Petani muda naik pitam, semprotnya:„Jawaban apa itu? '

, Kubilang tidak tahu ya tidak tahu." seru Pi-lik-cu melotot,

„kami pergi ke Kim hou

po dan bekerja di mana juga dia yang suruh, aku tidak tahu apa persoalannya”

Petani muda menehela napas, katanya “ Selanjutnya ada satu tujuan untuk kau pergi, jangan sembarang menikah dengan orang.”

„Ketempat mana ?" Pi-lik-cu girang.

“ Pergi cari gurumu. Bila kau berada disamping gurumu, tak usah kau takut berhadapan dengan orang-orang Kim-hou po "

Pi-lik-cu mengedip mata, agaknya kurang percaya, petani muda terpaksa menjelaskan pula : „Gurumu kan seorang lihay, lebih lihay dari orang orang Kim-bou-po."

..Darimana kau tabu ?" tanya Pi-lik-cu terbalik.

Petaii muda tahu makin banyak bicara Pi-lik-cu makin kebingungan malah, maka dia balas melotot : ..Aku tahu ya tahu, kalau kau ingin hidup, pergilah cari gurumu."

Anjurannya ini ternyata manjur, ternyata Pi-lik-cu segera mengangguk, mumpung ada kesempatan petani muda sudah menyurut mundur delapan langkah, ternyata Pi likcu tidak mendesak maju, malah berteriak keras ; , He, tadi sudah kubilang mau kawin dengan kau. kalau sekarang belum kawin, kelak juga harus kawin lho.''

„Ya. ya, kelak boleh dibicarakan lagi" lekas petani muda mengiakan. Kembali dia mundur beberapa langkah, mendadak dia putar tubuh terus berlari masuk kegelapan. Setelah dia melesat tujuh delapan tombak jauhnya, baru dia mendengar Pi-lik-cu mendadak menjerit kaget, serunya :

„Wah, celaka tiga belas, kenapa lupa kutanya dia, di mana guruku berada, wah celaka..”

Mendelu perasaan petani muda. hampir saja dia berhenti, tapi kali ini dia sudah bertekad bulat, maka kakinya terus meluncur kedepan, meski dalam hati amat menyesal, karena meskipun perawakan Pi-lik cu kasar dan besar, namun Kungfunya tidak lemah, hatinya bajik juga polos dan welas asih. Tapi mengingat dirinya bukan menipunya bila orang betul-betul kembali ketempat Kui-bo Hun Hwa nio. betapapun lihay orang-orang Kim-hou po yakin tidak akan berani mengusik tokoh kosen yang diagulkan seperti malaikat dalam dongeng. Tapi sebelum bertemu dengan Kui-bo Hun Hwa-nio, perempuan jujur seperti Pi-lik-cu bukan mustahil bisa ditipu orang celaka bila kepergok oleh orang orang Kim hou-po, resikonya tentu teramat besar.

Teringat akan hal ini, hati petani muda itu seperti ditusuk sekali. Tapi langkahnya tidak pernah kendor, soalnya dia tidak boleh berhenti, dia harus maju terus kedepan sejauh mungkin, dia ingin lekas memulihkan wajah aslinya terus pulang kerumah.

Sejak dia menyelundup kedalam Kim-hou-po sampai sekarang, kejadian seperti dalam impian belaka. Satu hal yang membuatnya amat heran adalah, bila kejadian ini hanya dalam impian dan orang yang paling susah dilupakan dalam impian itu tak lain adalah Pi-lik-cu perempuan gede yang kasar tapi jujur dan polos ini.

Dia terus genjot kecepatan larinya, hingga mencapai dua puluh Ii jauhnya, setiba di suatu tikungan mendadak dia menyelinap kedalam semak belukar. Setengah jam kemudian, seseorang tampak berjalan keluar dari semak belukar itu kelihatan wajahnya tidak mirip Ciong Tay-pek, juga berbeda denpan petani muda. Wajah orang ini lonjong, kelihatannya bersikap kereng dan berwibawa, karena itulah wajah asli dari pemuda ini.

00000O00000

Kuda itu berlari secepat angin melalui tanah tegalan yang berumput pendek terus menuju kearah timur. Dia mendekam dipunggung kuda. kepalapun terbenam dipinggir leher tertuiup bulu suri kuda tunggangannya. Jalan raya ini sudah sering dilalui, meram-pun dia tidak akan kesasar dijalan raya ini.

Bayangan sebuah gunung sudah tampak jauh didepan sana. Puncak Ki-Iian san yang tertutup salju masih disoroti cahaya mentari sehingga menimbulkan sinar reflek yang tajam. Jalan raya yang lurus ini sepanjang ke dua tepi jalan dipagari pepohonan yang mulai bersemi hijau. Debu tampak mengepul tinggi dibelakang kuda, tak lama kemudian dilihatnya dua gardu peristirahatan di kanan kiri jalan, segera dia menarik tali kendali menghentikan kuda. Dari dalam gardu di kanan kiri itu tampak berbondong keluar beberapa orang, semua bersorak senang : „Sau-cengcu sudah pulang.''

Kudanya itu masih berputar sekali, orang-orang yang menyongsong kedatangannya ini adalah wajah-wajah yang sudah amat dikenalnya, mereka adalah jago-jago kosen perkampungannya. Sekarang dia sudah pulang, maka mereka menyambut kedatangannya, hal ini tidak perlu dibuat heran, anehnya mereka tidak mungkin tahu meski dengan alasan apapun bahwa dirinya akan pulang.

Bagaimana mungkin mereka bisa menunggu dirinya di sini

? Setelah kudanya berhenti baru dia bertanya : „Siapa yang akan datang ?"

Seorang lelaki bertubuh tinggi simbar dada bermuka merah segera menjawab dengan tertawa : „Siu cengcu. ada tamu agung datang, mereka datang untuk melamar dikau "

Pemuda itu tertawa geli, omelnya: „ Jangan brengsek, siapa yang datang ?" Lelaki itu berkata : „Bahwa kedua orang ini mau kemari memang d luar dugaan. Thi-jun Lojin dan Gin-koh sudi berkunjung ke Hwi-liong-ceng kita, selanjutnya bila kami berkecimpung di kangouw juga dapat membusung dada."

Pemuda itu menarik muka, alisnya berkerut, katanya :

.”Jangan meremeh diri sendiri, dikalangan kangouw Hwi-liong- ceng kita juga tidak boleh diremehkan."

Orang banyak mengiakan, beramai-ramai mereka menariknya turun dari punggung kuda, kata seorang : ..Lekas Siau cengcu pulang dulu, ada tamu agung berkunjung, Sau- cengcu juga keburu pulang. Cengcu pasti kegirangan sekali."

Dengan tersenyum pemuda itu ganti naik kuda lain yang masin segar dan gagah terus dibedal kearah se'atan, kira-kira enam tujuh li kemudian baru tampak pagar kayu yang tinggi berderet berkepanjangan mencapai puluhan li memagari sebuah perkampungan.

Pemuda itu langsung membedal kudanya kepintu gerbang perkampungan, belasan laki-laki kekar segera menyongsong maju, ada yang pegang kendali ada yang menarik pelana hingga kuda itu berhenti, lekas dia melompat turun dan tanya kepada seorang lelaki didepannya: "Nyo congkoan, sejak aku pergi adakah sesuatu peristiwa terjadi dalam perkampungan kita?

Nyo congkoan perawakan jangkung, kulit mukanya kuning legam, kelihatannya kurang semangat, seperti baru sembuh dari penyakit parah, namun nama besar Pe-sin Nyo-

Cu-so cukup tenar diselatan dan utara sungai besar. Bahwa tokoh seperti Nyo Cu-su juga rela menjadi Congkoan dari Hwi- liong-ceng, dapatlah dimengerti betapa besar gengsi dan kedudukan Kim jiau hwi-liong Cia Thian di-Bulim. Sementara Sau-cengcu Ciu Ing kiat, umpama tidak mahir apa-apa dan ingin berkecimpung di Kangouw juga di jamin selamat. Apalagi Siau-kim-liong (naga cilik) Cia Ing-kiat adalah alias Ciong Tay- pek yang berhasil menyelundup kedalam Kim hou po dan berhasil melarikan diri pula, dia pula yang menyamar jadi petani muda yang lolos dari kejaran dan menolong Pi-lik-cu pula.

Selanjutnya para pembaca harus selalu ingat, Siau-cengcu dari Hwi-liong ceng, Siau-kim-liong (naga emas cilik) Cia Ing- kiat adalah orang yang menyamar jadi Ciong Tay-pek menyelundup kedalam Kim hou-po, setelah melarikan diri dia menyamar pula menjadi petani muda yang sudah teruji kemampuannya.

Mendengar pertanyaan Cia Ing kiat, Nyo-Cu-so lantas tertawa, katanya:” Bila Sau-ceng-cu terlambat pulang sehari, mungkin bisa terjadi peristiwa besar dalam perkampungan. Agaknya Sau-cengcu sudah tahu bahwa Thi-jiau Lojin bersama Gin-koh hari ini akan kemari?”

Sambil beranjak kedalam Cia Ing kiat bertanya: "Kedua orang ini terkenal sebagai tokoh kosen yang galak dan sukar diajar bicara, selamanya jarang bergaul dengan kaum persilatan, apa mereka kemari?"

„Menurut laporan yang kami terima, kedatangan kedua tokoh lihay ini adalah untuk urusan pernikahan."

Cia Ing-kiat mengerut alis, segera dia mempercepat langkah kedalam, tak lama kemudian sudah memasuki pendopo mereka terus menerobos kesebelah dalam, maka terdengar sebuah suara lantang berkumandang, katanya "Apa kau sudah pulang ? Aku ada di-kamar buku, lekaslah kemari saja. *

Suara lantang ini mendengung ditelinga, jelas itu adalah suara ayahnya, Cia Ing-kiat kenal betul suara ayahnya. Sebetulnya dalam Hwi-liong-ceng meski banyak jago-jago kosen, sari yang dapat bicara dengan mengirim suaranya dari dalam sampai luar tetap menggetar genderang telinga orang, kecuali Cia-cengcu sendiri tiada orang kedua. Cia lng-kiat mempercepat langkahnya pula, Nyo Cu-so mengikuti dibelakang, langsung mereka menuju ke-kamar buku, maka terdengar pula suara Cia-cengcu yang lantang: “Nyo- congkoan, silakan, kembali."

Cia Ing-kiat angkat alis sekilas dia tukar pandang dengan Nyo Cu-so, dia tahu biasanya sang ayah amat percaya kepada Nyo-Cu-so, lahirnya saja mereka berbeda kedudukan, satu Cengcu yang lain Congkoan, tapi mereka adalah dua sahabat intim. Jikalau tiada persoalan penting yang menyangkut urusan besar, tak mungkin Nyo Cu-so disuruh menyingkir.

Tapi Nyo Cu-so mengiakan. tanpa banyak kata segera dia putar balik keluar. Waktu Cia Ing-kiat dorong pintu, tampak seorang lelaki tua bertubuh besar tegap dan gagah, jidatnya lebar mengkilap, wajahnya merah cerah, segera bangkit dari tempat duduknya, siapa lagi kalau bukan ayah kandung nya Cia Thian

Lekas Cia ing-kiat memburu beberapa langkah hendak berlutut, tapi Cia Thian sedikit menggoyang tangan sambil kedua tangan terulur kedepan, seketika Cia Ing-kiat merasa badannya seperti ditahan, sementara daun pintu dibelakangnya telah terdorong tertutup oleh gerakan tangan ayahnya dari jauh. Selanjutnya Cia Thian berdiri diam tidak bicara atau mengeluarkan suara, dia pasang kuping memusatkan perhatian. Cia Ing-kiat tahu dalam jarak sepuluhan tombak umpama sebatang jarum dilantai juga dapat didengar oleh ayahnya. Dari sikap ayahnya Cia Ing kiat tahu bahwa persoalan cukup serius, dan sang ayah tidak ingin pembicaraan mereka dicuri dengar orang lain.

Cia Ing kiat tahu urusan agak genting, setelah menarik napas dia menyapa :„Ayah."

Sepasang mata Cia T ia menatapnya tajam sekian saat, katanya dengan nada berat: “Ing kiat, selama ini pernah aku mengutus banyak orang untuk menyelidiki jejakmu, ku peroleh laporan bahwa kau pernah berguru dalam perguruan Jit-cap-ji-pian Toa-seng-bun diwilayah Shoa-tang, tapi selanjutnya jejakmu tak karuan parannya "

Cia Ing-kiat tersenyum, katanya : „Ayah aku berkelana setahun dua tahun diluaran juga bukan hanya sekali ini bukankah kau tidak menentang bila aku berguru kepada aliran lain “

Masam air muka Cia Thian suaranya juga kereng :

,,Bicaralah terus terang kepadaku, apa saja yang pernah kau lakukan selama ini “

Serta merta Cia Ing-kiat merendahkan suara : „Ayah, tanpa kau tanya, aku pun akan memberi tahu kepadamu . . . " sampai di sini dia berhenti dengan bimbang, Soalnya dia tahu jelas, meskipun sekarang dirinya berdiri selamat dan segar bugar diperkampungan dan rumahnya sendiri, bila dirinya sudah bercerita, siapapun yang mendengar pasti akan kaget dan mungkin bisa gempar. Maka dia merendahkan suaranya lebih lirih : ,,Ayah. aku pernah masuk kedalam Kim-hou-po."

Cia Iug-kiat sudah menduga setelah mendengar penjelasannya ayah pasti amat kaget namun dia tidak menduga setelah mendengar penjelasannya, ternyata ayahnya kaget setengah mati. Tampak air muka Cia Thian seketika berobih pucat lesi dan menghijau lagi. badannya sempoyongan mundur selangkah. Betapa berat langkah undurnya ini, seolah-olah rumah gedung ini hampir ambruk saja, hingga genteng terasa gemeratak rumah pun oleng. Kebetulan dibelakangnya ada sebuah kursi, langsung tubuhnya meloso lemas jatuh terduduk diatas kursi itu. Celakanya tenaga yang terkerahkan teramat besar.

"Krak" kursi besar terbuat dari kayu cendana seketika patah dan hancur. Sigap sekali Cia Thian sudah menegakkan badannya pula. Jidatnya yang lebar mengkilap seketika berkeringat dingin sebesar kacang. „Ayah." teriak Cia Ing-kiat saking kaget dan ngeri, “kaum persilatan menjajarkan Hwi-liong dan Kim-hou dalam percaturan Kangouw, umpama aku pernah pergi ke Kim-hou- po juga perlu kau ..."

Sebelum Cia Ing-kiat bicara habis, Cia Thian sudah goyang tangan memberi tanda supaya dia tidak lanjutkan perkataan, lalu napasnya mendadak tersengal, seperti orang linglung dia beranjak beberapa langkah ulur tangan memegang ujung meja, namun, sorot matanya tetap menatap Cia Ing-kiat jadi kebingungan dan rikuh, sesaat lamanya dia melenggong dan tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi.

Agak lama kemudian baru Cia Thian menghela napas, katanya : „Memang Liong ceng dan Hou-po sejajar, kaum persilatan juga mengakui hal ini, tapi tahukah kau. orang- orang Kim-hou-po pasti tidak akan bcrkecim-purg di Kangouw, maka banyak orang meminjam ketenaran nama Hou-po untuk menjilat kepada Liong-ceng kita."

Cia Ing-kiat tertawa enteng, katanya: „Keadaan dalam Kim- hou-po memang serba misterius Kungfu Sau-pocu juga teramat tinggi, namun menurut hematku juga tidak sehebat yang disiarkan di luar Bukankan buktinya aku sudah masuk ke Kim-hou po serta lari keluar pula? Malah waktu aku melarikan diri, ada pula seorang perempuan ikut lari."

Cia Thian mendelong mengawasi putranya, tanyanya:

„Siapa perempuan itu? '

„Dia menpenakan kedok tipis, sudah pasti memakai nama palsu juga, tapi aku kena ditipu olehnya, waktu aku sudah memperoleh Cu-boh-pit-kip seperti yang tersiar di dunia persilatan itu, tahu-tahu terebut lagi olehnya, waktu itu malam gelap, aku hanya melihat selarik senar merah berkelebat. . . .

." sampai di sini tiba-tiba Cia Ing-kiat berhenti, karena di lihatnya wajah Cia Thian semakin pucat, sampaipun warna merah diatas jidatnya itupun sekarang telah luntur, hal ini belum pernah terjadi selama ini. Berhenti sejenak Cia Ing-kiat lanytas menyambung: „Tak habis heranku, entah senjata macam apakah itu, kupikir setelah pulang hendak kutanya kepada ayah."

Perlahan dan kelihatan lemas gerakan tangan Cia Thian. dia mengusap mukanya yang basah keringat dingin, mulutnya terkancing, kini menutup mata pula. Tampak Cia Ing-kiat tubuh ayahnya kelihatan gemetar. Sebelum ini Cia Ing-kiat juga sudah menduga bila dirinya ceritakan pengalamannya pasti ayahnya amat kaget dan heran, mungkin juga memarahi dirinya, namun tak terpikir olehnya bahwa begini akibat dari perbuatannya, ayahnya seperti menghadapi jalan kematian saja.

Baru saja dia ingin bicara, didengarnya suara ribut-ribut diluar, menyusul terdengar suara Nyo Cu-so berkata berulang kali: ..Lapor Cengcu, Thi-jan Lojin dan Ginkoh, dua tamu agung telah tiba."

Lenyap suara Nyo Cu-so maka terdengarlah gelak tawa lantang dari dua nada yang berbeda, gelak tawa pertama bersuara serak keras memekak telinga, gelak tawa yang lain nyaring merdu bagai kelintingan. Namun paduan gelak tawa keras ini menggetar genderang telinga, sehingga suara keributan diluar tertekan karenanya.

Lekas Cia Thia menyeka keringat dimu-kanya, katanya kereng: „Ikutlah di belakangku, jangan ikut bicara."

Cia Ing-kiat mengerut kening, terasa bahwa pulangnya kali ini keadaan sang ayah seperti kurang beres, tidak normal, tapi lantaran apa sedikitpun Cia Ing-kiat tidak tahu. Maka dia mengintil dibelakang ayahnya beranjak keluar langsung ke pendopo. Tampak Nyo Cu-so berdiri menemui dua orang lelaki dan perempuan, sikapnya amat hormat, tampang kedua laki perempuan ini ternyata juga tidak luar biasa, keadaannya juga lumrah seperti kebanyakan orang, sikapnya bebas, terutama yang perempuan sering mengeluarkan tawa yang merdu. Dalam hati Cia Ing-kiat membatin, kedua orang ini tentu mempunyai nama besar di Bulim maka diapun tidak berani bersikap kurang hormat, dengan laku hormat dia tetap tetap berada dibelakang ayaknya. Waktu dia melirik Thi-jan Lojin ternyata berperawakan sedang, pakaiannya dari kain tenun lumayan, kecuali jenggot dibawah dagunya yang kaku seperti salju hingga kelihatan agak ganjil, anggota badannya yang lain persis dengan orang lain. Malah Gin-koh ternyata bersikap lembut dan kelihatan masih cantik, usianya sekitar empat puluhan. Ternyata pakaiannya putih perak mengkilap, entah terbuat dari kain apa, duduk tegakk dan anggun sehingga kelihatannya seperti dewi agung saja membuat orang menaruh hormat dan hidmah kepadanya.

Cia Thian sudah mendekat dan memberi hormat. Thi jan Lojin tertawa riang, katanya: ”Cia-cengcu, kedatangan kami memang sembrono, persoalan yang hendak kami bicarakan juga terasa kurang pantas."

Sikap Cia Thian sekarang kelihatan tenang, tabah dan mantap, katanya: ” Kalian sudah kemari, urusan setinggi langit juga boleh saja dibicarakan." jawabannya ini boleh di kata sudah memberi muka kepada Thi -jan Lojin dan Gin-koh maka kedua orang tertawa riang, kini Gin-koh yang bicara; „Cia- cengcu, bila persoalan sudah kami bicarakan, kuharap kau tidak marah dan menolak serta marah-marah."

Cia Thian bermuka masam, katanya: „Asal orang she Cia mampu membantu, bolehlah kuterima apa keinginan kalian."

,.Bagus, cekak aos jawabanmu." Thi-jan Lojin memuji. Seenaknya dia angkat tangan menuding kearah Cia Ing-kiat, gerakan yang kelihatan tidak acuh ternyata menimbulkan reaksi yang luar biasa, terasa oleh Cia Ing-kiat datang segulung tenaga menindih dada, seketika bergolak darah dalam tubuhnya, hampir tak kuat dia menahan, saking kaget tanpa sadar dia menyurut mundur selangkah. Berdiri alis Cia Thian, namun sebelum dia buka suara Thi- jan Lojin sudah berkata : „Kami datang untuk meminang Siau ceng-cu."

Sekilas Cia Thian melenggong, katanya dengan tawa lebar.

.”Entah putraku ini bakal ketiban rejeki besar apa, ternyata kalian sudi menjadi comblang untuk mengikat perjodohannya. Andaikata soal jodon ini benar-benar terangkap, selanjutnya siapa pula yang berani main kayu terhadap sepasang suami isteri bahagia ini “

Gin-koh tertawa berseri, katanya : „Cia-cengcu, bahwa kami sudah kemari, apapun soal jodoh ini bukan lagi 'andaikata', tapi pasti dan harus jadi.*' Gin-koh bicara dengan ramah sambil tertawa, suaranya juga lembut, namun nadanya mendesak dan memojokan.

Karuan Cia Thian mengerut kening, jikalau yang datang bukan kedua tokoh lihay yang disegani ini, mnngkin dia tidak sudi menemui atau sudah diusirnya sejak tadi. Urusan udah telanjur, meski tahu persoalan pasti rumit dan genting, namun dia pikir, putranya sudah besar, cukup umur untuk punya bini, kebetulan kedua tokoh besar dan lihay ini menjadi comblang manfaat dikelak kemudian tentu tidak sedikit, lain kenapa dia harus bersikap kasar dan menantang kehendak mereka ? Karena itu sikapnya yang semula kaku berobah terbuka, katanya: “Bicara soal jodoh sekian lama, entah siapakah pihak perempuannya ? “

Thi jan Lojin saling pandang sekejap dengan Gin-koh, maka Gin-koh angkat bicara: ,,Cia cengcu boleh tidak usah kuatir. aku pernah melihat sendiri mempelai perempuan adalah gadis rupawan yang cantik molek, tanggung sukar dicari tandingannya di-dunia."

Cia Thian keki tapi juga mangkel, katanya : “Peduli dia itu secantik bidadari, memangnya kami tidak boleh tahu asal usulnya ?" Thi jan Lojin mengelus jenggotnya yang kaku, ternyata jenggot kaku yang dielus itu bersuara berisik seperti kawat yang direntang buat sikat jamban, katanya: “Inilah persoalannya yang menyulitkan, harus maklum pihak perempuan sekarang belum ingin membeber asal usulnya.'*

Cia Thian dsn Cia Ing-kiat mengerut kening, menyuruh orang jadi comblang meminang lelaki sudah jarang terjadi, ternyata pihak peminang tidak mau menerangkan asal usulnya, bukankah teramat ganjil dan tidak lumrah?

Gin-koh berkata pula: „Masih ada persoalan kedua yang cukup pelik, pihak perempuan ingin supaya suami masuk kerumah si isteri. Maka diharap Sau-cengcu sekarang juga berangkat untuk melangsung pernikahan disana."

Sungguh tak tahan lagi Cia Thian menahan emosinya, kedua tangan sudah menekan kursi, emosinya sudah hampir meledak, untung dia masih kuat menahan diri, wajahnya kelihatan buruk dan bengis, katanya dengan bergelak tawa :

„Kalian datang dari jauh, kami menyimpan arak bagus, kenapa tak minum lebih dulu ?" mendadak dia alihkan pembicaraan, tidak menyinggung soal pernikahan lagi.

Tapi Gin-koh mendesaknya : „Cia-cengcu bagaimana dengan tugas kami sebagai comblang, kuharap kau lekas memberi jawaban."

Dingin suara Cia Thian : ,,Gadis secantik bidadari, kenapa harus kawin dengan putraku?"

Gin-koh membuka lebar kedua tangannya, katanya lertaut :

„Urusan memang berabe, nona cilik itu memang kasmaran terhadap putramu, kecuali dia siapapun tidak mau kawin. Mungkin jodoh ini memang sudah suratan takdir."

Cia Ing-kiat berdiri d belakang ayahnya sekian lama berdiam diri sudah merasa jengkel, kini dia tidak tahan lagi segera memprotes “ ..Kalau dia ingin kawin melulu dengan aku, kenapa tidak dipertimbangkan apakah aku sudi mengawini dia?"

Thi-jan Lojin tertawa, katanya : „Sau-cengca, bila kau sudah berhadapan dengan dia, ku tanggung kau setuju seribu prosen."

„Baik, begitu juga boleh, suruhlah dia datang kemari." kata Cia Ing-kiat.

Gin koh mengerut kening, katanya “Siau-cengcu, keinginanmu jelas mempersulit kami berdua, padahal dihadapan pihak perempuan kami sudah mengagulkan diri, sudah kebacut janji, begitu kami tiba di sini segera akan persilakan Sau cengcu berangkat untuk melangsungkan pernikahan d rumah pihak perempuan."

Sungguh bukan kepalang dongkol Cia Ing-kiat, serunya : . Jikalau demikian, kurasa dia lebih pantas kawin dengan mayat, bila kalian tiba boleh segera menggotongnya pergi."

Mendengar jawaban tegas Cia Ing-kiat. roman muka Cia Thianpun berobah Serempak Cia Thian. Thi-jan Lojin dan Gin koh berjingkrak berdiri, situasi menanjak tegang. Segera Cia Thian merebut bicara : „Kuharap kalian tidak marah, omongan putraku kurang ajar. Perjodohan ini sebetulnya harus kami terima, sayang pihak perempuan tidak pakai aturan semestinya, kurasa belum pernah terjadi peristiwa seaneh ini didunia. Maka kurasa soal jodoh ini tak usah dibicarakan lagi”,cukup obyektif omongan Cia Thian. dia tahu kedua orang didepan mata ini tidak boleh dibuat permainan, namun jawabannya cukup beralasan dan memenuhi tata krama, jelas pihak mereka takkan bisa berbuat apa-apa.

Tak nyana Gin-koh yang perempuan ini ternyata menyeringai dingin, katanya ketus :

„Tidak bisa, soal jodoh ini betapapun tidak boleh batal." Mendadak dia berjingkrak berdiri dengan alis tegak, pakaian peraknya itu berderai seperti memancarkan cahaya yang mengalir hingga wajahnya ikut bercahaya, Cia Ing kiat yang ditatapnya seketika merinding. Kata Gin-koh tetap menatap Cia Ing-kiat dengan suara kereng ; “Jangan cerewet, sekarang juga ikut kami." tiba-tiba dia ulur sebelah tangannya, kelima jari mencengkram bagai cakar kearah Cia Ing-kiat.

Jaraknya dengan Cia Ing-kiat ada delapan kaki, begitu jari tangan orang mencengkram dari kejauhan. Ing-kiai rasakan segulung tenaga lunak besar menggulung tiba, seiring dengan tarikan tangan Gin koh serta jari-jarinya mencengkram, tanpa kuasa Cia Ing kiat seperti disedot tenaga gaib sehingga tanpa kuasa dia tersuruk maju beberapa langkah.

Karuan kejut Cia Ing-kiat bukan kepalang, lekas ia mengendap badan sambil pasang kuda-kuda, berbareng kedua tangan menahan kederan. syukur masih sempat dia mempertahankan diri, namun daya sedot itu ternyata makin besar, sekejap lagi jelas dirinya takkan kuat lagi, pada hal kejadian berlangsung dalam sekejap ini, namun jidatnya sudah berkeringat.

Pada saat genting itu terdengar Cia Thian mengeluarkan pekik panjang, kedua tangan disodorkan bergema kedepan mendorong kearah Gin-koh. Tenaga Cia Thian sebetulnya tidak ringan, dorongan kedua tangannya menimbulkan deru angin kencang menerjang kearah Gin-koh- Gin-koh tertawa riang, tak dihiraukan keadaan Cia Ing-kiat lagi, lekas dia alihkan tangan memapak serangan Cia Thian, "Blang" mereka mengadu kekuatan pukulan. Keduanya menyurut selangkah, wajah Cia Thian seketika membara, sebaliknya sikap Gin koh tetap wajar seperti tidak terjadi apa apa, namun waktu kedua orang mundur, jubin dibawah kaki mereka gemeratak pecah puluhan banyaknya.

Diwaktu kedua orang ini tertolak mundur selangkah itulah, disebelah pendopo yang sana terdengar suara gaduh, waktu Cia Thian menoleh, sempat dilihatnya badan Cia Ing-kiat menumbuk meja menjungkir balikan kursi dan almari, ternyata badannya yang terpental itu masih mencelat mundur lebih jauh menumbuk pintu angin,ditengah suara gedobrakan badannya terlempar keluar Sebelum tubuhnya terbanting menyentuh lantai, terdengar Thi-jan Lojin memekik panjang, tubuhnya mengudak keluar dengan luncuran lurus laksana anak panah.

Jangan kira perawakannya sedang gemuk, gerak geriknya seperti lamban dan malas, tapi daya luncurannya kali ini ternyata melebihi anak panah yang dilepas dari busurnya, sebat sekali dia sudah menyusul dibelakang Cia-Ing-kiat, sebelum tubuh Cia Ing-kiat menyentuh lantai, dia sudah turun tangan, menutuk Hiat-to pelemas dipinggang, berbareng tangan yang lain menjambak terus dikempitnya dibawah ketiak teriaknya: "Nah. mempelai lelaki sudah kudapat, boleh kami kembali.'" sembari berkaok dia meneruskan lari kedepan, maka terdengarlah suara gaduh secara beruntun di waktu tubuhnya meluncur bagai tendangan bola itu, sedikitnya ada beiasan orang yang mencegat dirinya telah dilempar dengan kebutan lengan baru. Setelah Thi-jan Lojin habis melontarkan kata-katanya, nada suaranya sudah mengalun lemah, kedengarannya sudah seratusan tombak jauhnya, jelas dia sudah berlari bolos keluar perkampungan.

Ke jadian amat mendadak dan tidak terduga, meski selama hidup entah betapa banyak pertempuran besar kecil pernah dialami Cia Thian, namun menghadapi persoalan seperti sekarang belum pernah, karuan dia gugup dan bingung, sembari memekik dia melangkah hendak mengejar. Tapi baru saja tubuhnya melambung keatas bayangan perak berkelebat didepan mata, ternyata Gin-koh mencegat dengan terjangan balik malah.

Melihat putranya digondol pergi, betapa gelisah hari Cia Thian, maka dapatlah dibayangkan berapa dahsyat daya luncurannya, kedua orang masih terapung diudara kedua-nya mana mampu mengendalikan gerakan? Pada hal angin sudah bergolak kencang di-dalam pendopo badan kedua orang ini jelas pasti beradu. Untunglah pada saat kiitis terdengar Gin- koh cekikik tawa, tatanya : ,.Cia Thian, apakah kau juga ingin menikah lagi “

Perkataan Gin-koh mengingatkan sesuatu dalam benak Cia Thian, seketika dia menjerit keras, secara kekerasan dia memutar balik hawa murni sendiri hingga tubuhnya seperti terpelanting diudara, sebelum tubuhnya bertubrukan dengan Gin-koh tubuhnya sudah anjlok kebawah, dari sini dapatlah dinilai betapa tinggi Lwekang Cia Thian, namun dia terburu nafsu hingga daya putar balik hawa murninya teramat cepat, maka dia dipihak yang dirugikan, maka tubuhnya yang anjlok kebawah itu sudah tidak terkendali lagi, "Blam" tubuhnya jatuh di atas meja besar hingga meja itu tertindih bolong, begitu tubuhnya ambruk dibawah meja terdengar pula suara retakan keras, jubin marmar di pendopo itu pecah berantakan tertindih badannya.

Sungguh bukan kepalang amarah Cia Thian, kedua tangan bekerja, meja besar itu dipukulnya hancur berantakan, sigap sekali dia sudah berdiri pula. Namun saat itu cahaya perak berkelebat, dilihatnya Gin-koh sudah melayang keluar, di saat tubuhnya terapung diudara terdengar Gin-koh seperti menyesali diri sendiri, katanya : ,,Ai, kiranya aku ini perempuan yang tidak terpandang di mata kaum lelaki." seperti Thi jan Lojin waktu pergi tadi, setelah berakhir ucapannya, bayanganyapun sudah jauh diluar perkampungan.

Cia Thian masih ingin mengejar, namun darah mendadak terasa mendidih, karuan kagetnya bukan main, lekas dia duduk bersimpuh mengendorkan urat syaraf dan menyalurkan hawa murni, cukup sejam lamanya baru dia membuka mata dan berdiri. Dia tahu umpama dirinya sempat mengejar tadi juga takkan bisa menyandak Thi-jan Lojin dan Gin-koh, apalagi sekarang ? Namun terpikir olehnya, sia-sia diri nya menjagoi dunia persilatan sekian puluh tahun, hanya kedatangan dua tamu, rumahnya sudah dibikin porak poranda, lebih celaka lagi, putra tunggalnya juga diculik orang makin dipikir makin marah dan penasaran hingga sekujur badan gemetar.

Pada saat itulah dilihatnya Nyo Cu-so berlari datang dari luar, kepandaian Nyo Cu-so cukup tangguh, namun napasnya ternyata ngosngosan, wajahnya pucat, cukup lama dia harus mengatur napas, namun masih belum bisa bicara.

Kalau dibanding keadaan C ia Thian masih lebih tenang malah, tanyanya : „Kenapa ?"

Nyo Cu-so menyengir getir, katanya : ,,Aku mengudak mereka,   jikalau Gin-koh tidak memberi kelonggaran, pasti aku tidak bisa pulang."

Kejadian terlalu singkat dan menegangkan hingga Cia Thian tidak tahu, kapan Nyo Cu-so mengejar keluar, maka dia hanya menyengir getir saja. Nyo Cu-so berkata : , Gin-koh titip pesan, bahwa perjodohan Sau-cengcu kelihatannya ganjil dan tidak masuk akal, tapi kelak dia berani tanggung cengcu dan Sau cengcu pasti menyatakan akur dan setuju, berterima kasih kepada mereka yang menjadi comblang."

Badan Cia Thian masih gemetar, setelah menghela napas, kepalanya menengadah dan merdelong, sepatah katapun tak terucapkan.

Waktu Cia Thian melambung diudara hendak mengejar Thi- jan Lojin tadi, tahu-tahu Gin-koh juga mencegatnya diudara, di saat badan mereka hampir bertumbukan itulah, Gin-koh memperingatkan kepadanya, maka Cia Thian lantas menjatuhkan diri ke bawah. Soalnya Gin-koh pernah menyatakan secara terbuka dihadapan umum. lelaki siapanun tidak pandang bulu, asal dia lelaki tulen, kecuali kaki dan tangannya, bila berani menyentuh anggota tubuhnya yang lain, maka lelaki iiu harus mempersunting dirinya sebagai bini, kalau menolak maka dia harus mati di bawah tangannya.

Gin-koh juga seorang cantik molek, apa lagi dua puluhan tahun yang lalu, terhitung gadis cantik nomor satu, lelaki mana tidak senang mempersunting isteri cantik ? Tapi meski kecantikan Gin-koh tersiar luas, namun kekejamannya juga menggetar nyali setiap lelaki, pada hal setiap lelaki normal siapa tidak tergila-gila kepadanya, namun mengingat tangannya yang gapah dan hatinya yang kejam, mereka terima membujang seumur hidup dari pada kawin denan perempuan berbisa ini. Oleh karena itu meski usianya sekarang sudah hampir setengah abad dia masih tetap perawan, selama dua puluhan tahun lebih, tiada seorang lelaki pun yang berani menjamah badannya.

Dari omelan G:n- koh waktu dia tinggal pergi tadi, kedengaran suaranya sedih dan rawan, jelas sikapnya itu bukan dibuat-buat. namun keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Cia Thian masih terlongong ditempatnya, Nyo Cu-so mendekati dan berbisik:,,Cengcu, kejadian ini berlangsung didalam kampung, orang luar pasti tiada yang tahu."

Cia Thian menghela napas rawan serta tertawa getir, Nyo Cu so berkata pula:„Ceng-cu, meski kelakuan Gin-koh dan Thi- jan Lo-jin terlalu sembrono, namun maksudnva ku kira juga baik tujuannya memang hendak merangkap jodoh San cengcu. Bukan mustahil Sau-cengcu memang bakal ketiban rejeki."

Cia Thian menghela napas panjang, katanya menunduk:”Cu-so, tahukah kau selama mengembara, pernahkah dia melakukan sesuatu yang mendatangkan bencana?' Nyo Cu-so melengak, katanya:,.Mungkin dia melakukan kesalahan terhadap nona lihay dari keluarga mana, maka pihak mereka tidak memberi kelonggaran padanya?"

„Bukan”Cia Thian menggeleng. Dia.sampai disini dia merendahkan suara dan mau meneruskan perkataannya, tapi mulut yang terbuka tetap melompong, karena mendadak dia melihat dalam pendopo ini kecuali dirinya dan Nyo Cu-so ternyata betambah satu orang lagi. Melihat orang asing di dalam pendopo ini sungguh kejut Cia Thian bukan kepalang kejutnya jauh lebih besar di banding rasa-kagetnya waktu melihat Thi-jan Lojin membawa lari anaknya. Karena sejak kapan orang tak dikena! ini masuk ke-rumahnya, ternyata sedikitpun dia tidak tahu. Padahal dengan bekal Lwekangnya sekarang, meski sedang bicara dengan Nyo Cu-so pikiranpun tidak tenang, tapi betapapun bila ada orang datang memasuki pendopo, meski dia masuk dari belakangnya juga akan diketahui. Dan sekarang kenyataan orang ini sudah berdiri didepannya, baru dilihatnya, padahal kapan orang tiba dirinya tidak tahu jikalau kejadiaa tidak disiang hari bolong, mungkin dia bisa berprasangka dirinya melihat setan

Karena Cia Thian menghentikan ucapannya, Nyo Cu-so segera merasakan sesuatu yang ganjil, lekas dia putar badan, melihat orang, seketika diapun terbelalak kaget.

Orang itu berdiri tegak dan kaku. pakaiannya perlente, usianya amat muda, wajahnya pucat, hampir mirip orang yang mengapur mukanya sendiri, sorot matanya memancarkan cahaya dingin, dingin dan kaku mengawasi Cia Thian.

Setelah lenyap kagetnya Cia Thian mem-bentak;„Siapakau tuan?"

Perlahan pemuda itu berkaia:„Mana Sau-cengcu Cialng kiat? Aku ingin bertemu dengan dia."

Cia Thian amat gusar, bentaknya bengis: „Jadi kau juga mencari dia, sayang sudah terlambat, dia diculik orang." Berdiri alis pemuda itu. tanyanya mendelik:”Diculik siapa? *

,,Gin-koh dan Thi jan Lo jin, jikalau kau bisa mencarinya, akupun akan berterima kasih kepadamu"

Tetap kaku sikap pemuda itu, katanya: „Baiklah, ada beberapa persoalan ingin kutanya kepadamu, kurasa sama saja dari pada katanya dia."

Terbeliak mata Cia Thian, otaknya menimang bagaimana dirinya harus melayani pemuda misterius yang mendadak muncul ini, sebelum dia balas bertanya, pemuda itu sudah berkata pula:, Apakah Cia Ing-kiat pernah belajar sesuatu kepada Sip-loyacu?"

“Kalau benar memangnya kenapa?" tanya Cia Thian.

„Bagus sekali,'' ucap pemuda itu „diapun pernah belajar di Toa-ceng bun dengan tujuh puluh dua perobahan itu, betul tidak?''

Baru sekarang C:a Thia merasakan urusan agak gawat, seketika berobah air mukanya, sesaat dia bungkam, pemuda itu sudah berkata pula:„Betullah kalau begitu, dialah, yang sedang kucari, aku pasti dapat menemu kan dia." lalu dia berputar hendak beranjak keluar. Lekas Cia Thian bertanya “Siapakah nama tuan. ada keperluan apa kau mencari putraku?”

Pemuda itu tidak hiraukan pertanyaannya karuan membawa marah Cia Thian hanya berselang beberapa kejap belaka, kejadian berlangsung beruntun, perkampungannya yang angker disegani orang beruntun didatangi orang, pergi datang seenak udelnya sendiri, betapa dia kuat menahan emosi? Baru dua langkah pemuda itu beranjak, cia Thian sudah menghardik sambil memburu dua langkah lebar, tangannya terulur mencengkram pundak si pemuda.

Pemuda ini muncul secara mendadak di luar tahunya lagi, untuk mencengkram pundaknya jelas bukan sepele, maka cengkramannya dilandasi delapan bagian tenaganya, tak nyana begitu, tangan diturunkan, jari-jari nya berhasil menangkap pundak orang, „Berhenti." Segera dia menghardik.

Ternyata pemuda itu berhenti, pelan-pelan menoleh. Cia Thian dibelakangnya, jarak nya dekat, begitu pemuda ini menoleh dilihatnya kulit mukanya dingin, hampir menyerupai wajah mayat hidup yang sudah sekian tahun, terkubur diliang lahat.

Sekarang baru Cii Thian insaf dan menyesal, kenapa tentang putranya diculik Thi-jan Lojin dan Gin-koh dia terangkan kepada pemuda ini. Jikalau peristiwa ini sampai tersiar diluar, nama besar Hwi liong-ceng selamanya akan tersapu dari percaturan dunia persilatan.Kini setelah dia mencengkram pundak si pemuda sudah timbul keinginannya untuk menahan pemuda ini secara kekerasan namun sebagai kawakan Kangouw, dia punya jiwa besar dan pandangan obyektif, begitu orang menoleh segera dia lepas tangan dan bertanya dengan keren. „Tuan siapa?"

Pemuda itu balas menatap dingin tanpa bersuara namun sikapnya sudah jelas bahwa dia tidak sudi menjawab pertanyaan Cia Thian, malah segera membalik badan beranjak pergi pula. Karuan tak tertahan lagi amarah Cia Thian, lekas dia mencengkram pula kepundak orang. Cia Thian memiliki pengalaman luas dan pandangan tajam, dia tahu pemuda ini pasti memiliki Ginkang tinggi, begitu tangannya mencengkram pundak, orang pasti akan mencelat maju kedepan, maka sambil mencengkram dia sudah siap mengerahkan tenaga, bila (awan bergerak segera dia hendak membuntuti dibelakangnya.

Dugaannya memang tidak meleset, baru saja tandannya beigerak, tubuh si pemuda masih tegak dan bergerak, namun kakinya seperti meluncur dipermukaan salju dengan sky, betapa cepat gerakannya sungguh susah dibayangkan. Bahwa dugaannya tepat Cia Thian bersorak girang dalam hati, sambil menggerung segera dia menjejak kaki mengudak kencang. Pemuda i tu beruntun melangkah sejauh lima kaki, mendadak berhenti. Padahal daya luncuran tubuhnya cepat luar biasa, kini mendadak mengerem diri, Cia Thian mengudak dengan bernafsu, namun dengan bekal Lwekangnya sekarang untuk menghentikan gerakannya masih sempat dan mampu. Saya meski tahu Gin-kang pemuda ini tinggi tapi dia tetap meremehkan pemuda ini, melihat lawan mendadak berhenti, bukan saja dia tidak segera berhenti malah menambah tenaga, tubuhnya terus menumbuk kebadan pemuda itu. .

Cia Thian beranggapan dengan terjangan kekuatannya yang dahsyat ini, paling sedikit pemuda ini akan terlempar beberapa tombak kedepan, jikalau Lwekangnya lemah, kemungkinan bisa terluka dalam yang cukup gawat, biarlah diberi haja an lebih dulu, baru nanti diobati dan ditanya asal- usulnya. Pada hal jarak hanya dua kaki, kejadianpun berlangsung amat cepat, maka terdengarlah "Buk," cukup nyaring, Cia Thian sudah menumbuk pemuda itu.

Tanpa kuasa ternyata Cia Thian mengeluarkan jeritan, tubuhnya memang menumbuk

si pemuda, tapi tubuhnya seperti menumbuk dinding baja yang kokoh saja, celakanya dari tubuh lawan timbul segulung tenaga besar yang meretul (membalikkan) tenaga tumbukannya sehingga badannya seperti dipukul godam, kejadian sudah kebacut ingin menarik diri juga sudab tidak sempat lagi. Sambil menjerit ngeri.mulutnya yang terpentang itu menyemburkan sekumur darah segar, jelas kelihaian semburan darahnya itu pasti menyemprot ditubuh si pemuda, namun sedetik sebelumnya, ternyata tubuh si pemuda telah bergerak kedepan pula. gerakannya ternyata lebih cepat dari semburan darah, padahal semburan darah Cia Thiau mencapai satu tombak lebih biru tercecer diatas tanah, namun bayangan si pemuda sudah tidak kelihatan. Setelah menyemburkan darah, badan Cia Thian terhuyung tiga langkah baru sekuatnya berdiri.

Lekas Nyo Cu-so memburu maju memapaknya, pandangannya penuh rasa kaget dan panik. Cia Thian sendiri merasakan hawa murni dalam tubuhnya mulai luber atau buyar, seperti kuda pingitan yang terlepas, menerjang kian kemari diseluruh badan, setiap mencapai urat nadi, terasa tenaganya semakin lemah. Inilah pertanda paling bahaya bagi setiap insan persilatan, keringat sederas hujan, sekuatnya dia meronta dan melontarkan beberapa patah kata : .Aku sudah tidak kuat lagi "

Nyo Cu-so juga menyaksikan apa yang terjadi, betapa tinggi Lwekang pemuda itu, sungguh susah dibayangkan, karuan Nyo Cu-so berdiri menjublek. Kini mendengar Cia Thian menyatakan tidak kuat. karuan kagetnya bukan main, lekas dia tutuk Ling-tai-hiat dipinggang Cia Thian- Namun hawa murni latihan Cia Thian sekian puluh tahun sudah kebacut buyar, Lwekang Nyo Cu-so juga kalah setingkat, begitu dia menekan Ling-tai-hiat. telapak tangannya seketika tergetar pergi oleh terjangan arus besar sehingga tulang pergelangan sendiri terkilir. Sementara badan Cia Thian bergetar makin keras, terdengar dia menjerit ngeri pula, lalu mendesis lirih :

„Habislah sudah.*'

Badannya tersungkur tujuh langkah memeluk saka besar, makin lama makin keras gemetar tubuhnya, keringatpun bertetesan, saka menyanggah rumah yang dipeluknya itupun bergoyang, genteng sampai horeg seperti ke erjang gempa.

Sementara itu jago-jago Hwi-liong-pang sudah memburu datang, menyaksikan adegan yang menggiriskan ini, semua berdiri menjublek, mata terbeliak, mulut terbuka lidah menjulur keluar. Hanya seorang yang berpikiran agak jernih segera menggembor ; „Nyo-congkoan, lekas kau berdaya menolongnya." Nyo Cu-so sudah membetulkan tulang tangannya yang terkilir, saking menahan sakit mukanya tambah pucat, badannyapun gemetar. Melihat keadaan sang Cengcu memang dia tahu bahwa Cia Thian memang sudah diambang kematian. Pada hal betapa tinggi Kungfu Cia Thian dia juga tahu jelas.

Setelah menyaksikan kejadian tadi, maka dia pun dapat menilai bahwa Lwekang pemuda tadi sungguh susah diukur. Meski anak buahnya mendesak dan berteriak-teriak, namun Nyo Cu-so sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, dia hanya berdiri menjublek. Sementara makin gemetar makin besar tenaga Cia Thian sehingga saka yang di peluknya itu sempal.

Sekuatnya dia coba memalingkan muka memandang sekejap kearah orang banyak, jelas dia ingin bicara atau memberi pesan apa-apa, namun kecuali suara krok krok yang keluar dari mulutnya, ternyata dia sudab tidak mampu bicara lagi.