Tugas Rahasia Jilid 02

Jilid 02

Namun dalam keadaan seperti dirinya, sekarang mau tidak mau Ciong Tay-pek harus merasa takut, merasa ngeri, seluruh tubuhnya seperti mengejang kaku keberanian untuk membalik badanpun tiada lagi.

Maka terdengar suara si pemuda dibelakangnya, dari suaranya agaknya si pemuda juga merasa heran dan kaget, tanyanya : ’Apakah Sip-loyacu baik-baik saja?"

Kembali bergetar tubuh Ciong Tay-pek, pertanyaan itu kedengarannya bernada datar dan biasa, namun bagi pendengaran Ciong Tay-pek seperti bunyi guntur yang menggelegar dipinggir telinganya. dia maklum lawan sudah tahu serangan golok yang dilancarkan tadi adalah Jay-cing-to- hoat, ilmu golok Sam-siang Tayhiap yang terkenal dikolong langit, Sip Tay-hiong Sip-cengcu dari Ling-cui-ceng.

Dari pertanyaan itu dapat dinilai bukan saja kepandaian si pemuda amat tinggi, pengetahuannya ternyata juga amat luas, dirinya jelas bukan apa-apa dibanding orang.

Setelah sekian lama menggigil dan berhasil menguasaii diri baru pelan-pelan Ciong Tay pek membalik badan. Pemuda dan kedua orang baju hitam berdiri didepannya,''Tiang” Jit-sing-to d tangannya tak kuasa dipegangnya lagi, jatuh berkerontarg diatas lantai. Waktu melancarkan jurus Pak-to-lay-co tadi goloknya menyamber dan ballik bajunya, maka bajunya robek dan tersingkap, hingga gambar tato seekor kupu terbang didepan dadanya kelihatan nyata. Suaranya ternyata juga gemetar :

„Guruku .. .baik-baik saja.''

Setelah mengajukan pertanyaannya sikap si pemuda seperi tidak acuh terhadap Sio Tay hiong, tawar ya tetap tawar, katanya . „Mumpung kau belum meninggalkan tempat ini. kau masih sempat melakukan apa yang ingin kau lakukan.''

Ciong Tay-pak menelan ludah, sahutnya tergagap : ,.Aku. .. tidak berani lagi.”

Pemuda itu menarik muka, desisnya : ”Baik dan selanjutnya, kau harus patuh akan segala peraturan dalam benteng ini, kuharap kau tidak perlu diperingatkan-untuk kedua kalinya” habis bicara mendadak kedua tangannya seperti disodorkan kedepan, kontan Ciong Tay-pek rasakan segulung tenaga besar menyongsong dirinya hingga dadanya seperti ditindih barang berat napasnya seketika sesak.

Pada hal kedua tangan pemuda tidak menyentuh badan Ciong Tay-pek, orangnya juga masih berdiri ditempatnya dalam jarak yang cukup jauh tidak bergerak pula. namun tubuh Ciong Tay-pek seketika mencelat terbang keatas. di kala hampir menyentuh langit-langit, mendadak terdengar suara menjeplak pula. maka terbukalah sebuah lobang dan orangnyapun masih terus meluncur keluar lewat lubang besar itu setinggi lima kaki pula maka daya luncur tubuhnya keataspun telah sirna, d kala tubuhnya meluncur turun pula dirinya hingga dikaki tembok.

Sekujur badan Ciong Tay-pek basah kuyup oleh keringat dingin, begitu angin malam menghembus lalu seketika dia gemetar kedinginan seperti kecemplung kedalam sumur salju, tenaga untuk angkat langkah juga seperti tiada lagi. Pada saat itu pula tampak sinar perak melayang turun dari atas tembok

„klontang"   ternyata   Jit-sing-to   melayang   jatuh   dibawahi kakinya. Dalam sekejap itu tidak habis heran Ciong Tay-pek apa maksud kejadian ini. Akan tetapi lekas sekali diapun sudah paham duduknya persoalan. Ternyata Jit-sing-to dikembalikan kepadanya.

Golok mustika nomor satu dikolong langit yang pernah menimbulkan pelbagai bencana bagi setiap pemiliknya ini ternyata tidak terpandang sedikitnya oleh orarg di sini, kini bukan dirinya saja yang di bebaskan, golok mustikapun dikembalikan. Sekaligus Ciong-Tay-pek menyadari pula, kenapa begitu banyak kaum persilatan yang punya nama besar dan terkenal didunia persilatan setelan masuk Kim-hau- po ini rela mengenyam kehidupan tentram tanpa urusan. Gelagatnya dari jago-jago kosen itu juga seperti dirinya pernah mendapat peringatan yang pertama. Dan kenyataan membuktikan tiada seorangpun diantara mereka yang berani menantang bahaya untuk menerimi peringatan kedua.

Mendelong beberapa kejap lagi baru Ciong-Tay pek membungkuk badan memungut Jit-sing-to, wajahnya seketika mengunjuk senyum getir, jikalau ada orang mau merebut golok mestika ini, dengan senang hati dia akan serahkan golok mestika itu ketangan orang lalu tetawa besar tinggal pergi.

Maklum didalam Kim-hou-po, apapun tiada gunanya, hanya pendatang baru yang goblok saja lantas merah matanya begitu melihat Jit-sing-to, demikianlah keadaan dirinya, sebagai pendatarg baru yang goblok itu. Pelan-pelan dia beranjak kedepan, keadaan tetap sunyi sepi seperti tiada orang lain bertempat tinggal di sini, gelagatnya dia boleh mondar mandir kemana saja sesuka hatinya. Namun setelah mengalami peringatan pertama tadi, terasa olehnya didalam keheningan yang mencekam ini, di tempai-tempat gelap sana entah berapa pasang mata tengah mengawasi gerak-geriknya, segala gerak geriknya jelas takkan luput dari pengawasan mata-mata setan yang tersembunyi itu. Akhirnya Ciong Tay-pek kembali kekamarnya, setelah rebah diatas ranjang, bukan saja dia tidak dapat tidur, matapun susah terpejam. Matanya mendelong terus hingga fajar menyingsing hingga pemuda itu membawakan sarapan pagi.

Setelah membersihkan badan dan makan kenyang pelan pelan dia melangkah keluar.

Bila dia tiba ditaman melihat orang lain, kini seakan-akan keadaan diri sendiri sudah tidak berbeda pula dengan orang lain, orang lain anggap tidak pernah ada dirinya, memang sekarang diapun merasakan, walau orang didepan matanya namun mereka sudah tiada arti bagi kehidupan selanjutnya? Beginilah dia berjalan pelan pelan, duduk melamun menghabiskan waktu.

Kehidupan tentram dan tawar itu tanpa terasa telah berselang beberapa hari lamanya. Setiap kali bertemu atau melihat tokoh-tokoh silat dan penjahat besar yang dibenci kaum persilatan, selalu dia ingin tertawa besar. Maklum setelah mereka berada di sini, tiada musuh yang akan mencari perkara dan menuntut jiwa mereka, di sini mereka bisa hidup dengan tentram, hidup seperti apa yang telah dirasakan olehnya sekarang.

Hari itu Ciong Tay-pek tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, mendadak dia mendongak sambil tertawa besar, tertawa terpingkel sampai air mata bercucuran, tertaya latah terbungkuk-bungkuk. Tapi betapapun keras dan lantang gelak tawanya, orang-orang sekitarnya tiada yang melirik atau menghiraukan tingkah poahnya.

Pada haii itu kembali dia tertawa disamping Kim-kong kan Suto Hou yang membunuh seluruh keluarga gurunya, terasa ada seseorang memandangnya sekejap.

Setiap kali Ciong Tay-pek melihat Suto Hou, Suto Hou selalu duduk dipinggir telaga memegang joran baja dan mengail. Didalam telaga kemungkinan tiada ikan, tapi kerja Suto Hou setiap hari mengail ikan ditelaga.

Bukan sekali ini Ciong Tay-pek tertawa besar dan latah disamping Suto Hou, namun setiap kali itu pula Suto Hou tidak pernah memperlihat reaksi, demikian pula kali ini. Cuma bedanya kali itu dia merasa ada seseorang tengah memperhatikan dirinya. Semula itu hanya firasat Ciong Tay- pek sendiri, tapi begitu dia angkat kepala tampak disebrang telaga sana, seorang tengah membalikan tubuh, walau sudah membalikan badan namun masih terbayang dalam pelupuk mata Ciong Tay-pek akan pandang sepasang matanya yang jeli bening.

Sesaat Ciong Tay-pek melenggong, bayangan punggung orang kelihatan kurus ramping, setelah membalik badan orang berdiri diam tidak bergerak lagi. Ciong Tay pek juga berdiri menjublek, otaknya sedang berpikir: "Sebelum ini apakah pernah aku melihatnya. Lapat-lapat dia memang seperti pernah bertemu muka, itulah perempuan setengah baya bertubuh kurus. Tapi kenapa perempuan setengah baya ini mendadak memperhatikan dirinya ?

Setelah menarik napas panjang Ciong-Tay-pek melangkahkan kakinya menyusuri pinggir telaga beranjak kesana lekas sekali Gia sudah berada dibelakang perempuan setengah baya itu. Dia tidak buka suara mengajaknya bicara namnn tenggorokannya mengeluarkan suara aneh. Pada saat itulah perempuan setengah baya itu menoleh pula memandang sekejap. Seketika melonjak perasaan Ciong Tay- pek. sekilas pandang dia lantas tahu bahwa perempuan setengah baya ini mengenakan kedok muka.

Pada hal sepasang bola mata perempuan setengah baya ini sedemikian keji dan bening, hanya seorang gadis rupawan saja yang memiliki bola mata seterang itu. Kembali Ciong Tay- pek menduga, siapapun meski dia seorang manusia durjana, penjahat besar yang disegani sesama manusia, setelah berada di Kim-hou-po, tidak perlu dia menyembunyikan wajah aslinya, sebaliknya bila memang perlu demikian, maka orang ini pasti mengemban suatu tujuan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain demikian pula keadaan dirinya.

Tengah Ciong Tay-pek berpikir cara bagaimana dia harus ajak orang bicara, perempuan setengah baya itu sudah melangkah pergi.langkahnya cepat, sesaat Ciong Tay-pek bimbang apakah perlu d a mengikutinya orang sudah membelok kebelakang gunungan, bila diapun mengejar kebelakang gunungan itu, bayangan perempuan setengah baya itu sudah tidak kelihatan.

Inilah pertemuan mereka yang pertama. walau mereka masing-masing bukan melihat wajah asli karena mereka menggunakan kedok muka-

Pertemuan mereka yang kedua terjadi beberapa hari kemudian. Ciong Tay-pek sedang duduk dibawah gardu dipinggir gunungan, dengan Jit-sing-to dia sedang mengiris kulit pohon, apa maksud mengiris kulit pohon itu, bahwasanya dia sendiripun tidak tahu. Gunungan karang itu banyak lobangnya, tengah Ciong Tay-pek duduk melamun, mendadak didengarnya suara tiupan dan angin silirpun menyampuk mukanya mendadak dia angkat kepala, dilihatnya dari lobang kecil diatas gunungan karang, ada mulut orang yang tengah meniupkan angin kearahnya.

Lekas Ciong Tay-pek melengos, golok ditangannya masih terus mengiris dahan pohon, tak lama kemudian dia mendengar suara perempuan yang lirih berbisik,: "Kau datang kemari, apa yang ingin kau lakukan.”

Ciong Tay-pek diam saja, tidak buka suara, pada hal dia tahu setombak di sekitarnya tiada orang lain. umpama ada orang, peduli dia sedang berbuat apa, orang-orang itu juga tidak akan memperhatikan dirinnya, tapi dia tetap diam, dia hanya sedikit menggeleng kepala. Maka suara perempuan itu berkata pupu: "Mungkin maksud tujuan kami sama, kenapa tidak kami bekerja sama?"

Seketika berdetak jantung Ciong Tay-pek, pelan- pelan dia menggerakan badan, tapi tangannya masih sibuk mengikis pohon. lalu mengerahkan Lwekang mengecilkan suara dengan lirih dia menjawab : „Seperti kau? Mencari sebuah kedok muka yang lebih baguspun kau tidak mampu, lalu apa yang bisa kau lakukan?''

Setelah memperoleh jawaban Ciong Tay-psk, terdengar dibalik gunungan sana suara orang menggereget gemas, suaranya lirih tapi penuh mengandung rasa kejut dan heran pula, maka selanjutnya keadaanpun sepi, tiada suara lain pula

Itulah pertemuan mereka yang kedua. Siapa perempuan berkedokini, boleh di kata Ciong Tay-pek tiaik tahu menahu, namun perasaannya amat senang juga tegang Selama ini dia berpikir: „Apakah perempuan ini belum pernah mengalami peringatan pertama. Dari mana pula perempuan itu bisa meraba bahwa kedatangannya ke Kim bou-po mengemban tugas rahasia ? Betapa besar nyali perempuan itu, dalam suasana seperti ini berani dia bersuara dan mengadukan kontak dengan dirinya ? Semua pertanyaan iiu, Ciong Tay pek tidak punya bahan untuk menjawabnya, hanya satu hal dia tahu, perempuan itu pasti akan mencari nya pula, itu berarti mereka masih ada kesempatan bertemu untuk ketiga kalinya.

Hanya terpaut sekali pertemuan ketiga itu terjadi.

Cuaca sudah gelap, waktu dengan santai Ciong Tay-pek beranjak pulang kekamarnya setelah mengalami kikisan dan ukiran ujung goloknya yang tajam, dahan pohon itu sudah berobah menjadi sebuah kursi kecil yang berbentuk kuno dan sederhana.

Ciong Tay-pek masih terus maju kedepan, di kala hari sudah gelap, dia merasakan di belakang ada orang membuntutinya, di susul suara perempuan itu terkiang di dalam telingnya, didengarnya perempuanmu berkata

”Kau ingin menjadi orang pertama dalam Bulim diseluruh kolong langit ini bukan??"

Sedikitpun Ciong tidak memberi reaksi, seolah-olah tidak pernah mendengar pertanyaan orang. Maka suara perempuan itu terdengar berkata pula : ”Akupun demikian."

Ciong Tay-pek menghirup hawa segar.dia berpikir: „Kau melimpahkan cita-citamu kepada orang lain, maka selanjutnya jangan harap kau bisa mencapai cita-cita itu” tapi dia tidak bersuara, langkahnya tetap berjalan kedepan.

Setelah dia hampir memasuki pintu kamarnya, terasa oleh Ciong Tay-pek perempuan itu masih berada dibelakangnya, malah jarak mereka semakin dekat, perempuan itu tetap berkata : ,,Seperti kami begini, kalau kau terus menunggu dan tidak segera turun tangan, kapan akan tercapai keinginan kami "

Ciong Tay-pek mempercepat langkah memasuki serambi, lampu yang terpasang di serambi kelihatan guram. Perempuan itu berkata pula: ,, Kalau kau tidak berani, maka kau akan tamat disini, kau akan hidup merana selama hidup di benteng ini, segala cita rasapun amblas"

Mendadak Ciong Tay-pek menhentikan langkah, perempuan itu juga berhenti sejenak, tapi segera beranjak pula kedepan lewat di sampingnya, bila Ciong Tay-pek melangkah pula, maka sekarang dia berada dibelakang perempuan itu

Dengan menahan emosinya dia berkata dingin. „Dan kau? Bukankah keadaan seperti dirimu? kurasa kaupun pernah merasakan peringatan pertama, kau masih berani bertindak lagi?' Hanya bibir Ciong Tay-pek saja yang kelihatan bergerak, umpama waktu itu ada orang lain berada disampingnya juga takkan mendengar bila dia sedang bicara. Tampak olehnya badan perempuan didepannya seperti bergetar. Maka Ciong Tay-pek lantas tertawa dingin, kini langkah perempuan itu diperlambat, hingga Ciong Tay-pek mendahului dan berada disebelah depan pula.

Suara perempuan itu kini terdengar disebelah belakang :, Kondisiku lebih baik dari engkau. sedikitnya aku sudah tahu, asal kau dapat mengorek keluar dan memindah batu besar ketiga ratus enam puluh lima ke-arah kiri sejak dari pintu besar deretan kelima dari bawah, maka kau akan memperoleh benda yang kami inginkan bersama."

Kedengarannya suara perempuan itu seperti mengambang, dinilai bahwa orang dapat mengeluarkan suara dengan desakan tenaga dalamnya, Ciong Tay-pek tahu bahwa latihan Lwekang perempuan ini jelas tidak disebelah bawah dirinya. Beberapa patah kata-katanya yang terakhir seketika membual Ciong Tay-pek menghentikan langkah.

Diwaktu Ciong Tay-pek menghentikan langkah itulah, dari sebelah belakang mendatangi derap langkah orang banyak, beberapa orang satu persatu lewat di sampingnya tanpa bersuara waktu Ciong Tay-pek berpaling kebelakang lagi bayangan perempuan itu sudah tidak kelihatan.

Ciong Tay-pek juga tidak berhenti lama, dia melanjutkan perjalanan kedepan telinganya seperti mendengung dalam hati dia tengah meresapi beberapa patab perkataan perempuan tadi, hingga dia memasuki kamar merebahkan diri diatas tanah, terasa sekelilingnya begitu sepi, tapi perasaannya masih bergolak seperti dirinya berada ditengah alunan gelombang pasang yang mengamuk.

Entah berapa kemudian, akhirnya Ciong Tay-pek bangkit pelan-pelan, perlahan pula dia mendorong jendela, lalu melompat keluar. Daya tarik perkataan perempuan tadi sungguh teramat besar bagi dirinya, pada hal dia tahu bahwa kemungkinan itu hanya merupakan perangkap, namun tekadnya sudah teguh untuk menyerempet bahaya, betapapun dia harus mencoba mencari tau kebenaran dari perangkap itu.

Jantungnya berdebar keras, langsung dia masuk taman terus menuju kekaki tembok, sambil mepet tembok dia menggeremut maju kearah pintu besar. Dikala dia berdiri di- samping pintu gerbang, sayup-sayup dia mendengar ringkik kuda diluar tembok. Pernah tiga hari dia menyelidiki diluar sana, maka dia tahu kuda-kuda itu dipelihara oleh orang- orang seragam hitam berkerudung kepala hitam pula, kemungkinan orang-orang baju hitam semua adalah pesuruh atau kacung dari Kun hou-po paling tidak mereka bekerja untuk kepentingan Kim-hon-po.

Ciong Tay-pek menarik napas panjang, pelan-pelan dia menyurut mundur, tembok ini dibangun dari batu-batu padas yang berben-tuk segi empat, sambil mundur satu persatu dia menghitung, kerja ini memang ringan dan tidak sukar, tapi memerlukan ketelitian. Semakin jauh dia mundur semakin mendekati tiga ratusan, detak jantung Ciong Tay-pek juga semakin keras bila hitungannya sudah mencapai tiga ratus enam puluh mendadak dia berhenti. Bukan lantaran dia ingin berhenti, tapi karena rasa tegang hatinya menambah rasa takut dan ngeri, tapi juga makin curiga, berbagai perasaan itu gejolak dalam hatinya menimbulkan suatu kekuatan, sehingga tanpa sadar dia menghentikan langkah dan hitungannya.

Tapi Ciong Tay-pek tidak segera turun tangan, yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah deru napasnya terasa memburu berat seperti desau kenalpot mobil yang keberatan muatan ditanjakan terjal. Batu besar persegi yang ke tiga ratus enam puluh lima sudah berada di depan mata, jaraknya juga hanya tiga tindak, barang yang diincarnya selama ini, sehingga dia berani menempuh bahaya menanggung segala resiko menyelundup ke Kim-bou-po, apa betul benda yang diinginkan itu berada dibalik batu nomor 365 ? Kebetulan dia berdiri membelakangi tembok maka dia ulur tangannya menekan tembok, tembok besar yang terbuat dari batu padas itu terasa dingin dan kasar.

Pelan-pelan Tay-pek menggeser kaki, telapak tangannya ikut bergerak tak pernah meninggalkan permukaan tembok, akhirnya jari jemarinya menekan batu yang ke 365. Pelan- pelan pula dia memalingkan kepala, d sekitarnya yakin tiada orang lain. dia angkat kepala, tampak pagar tembok di sini cukup tinggi, jikalau dia berhasil dengan usahanya malam ini, dalam waktu sekejap mata dia bisa melompati pagar benteng ini.

Tapi Ciong Tay-pek tidak segera turun tangan, yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah keadaan dirinya dan situasi sekitarnya sebelum dirinya mengalami peringatan pertama waktu itu tak ubahnya seperti sekarang, sekelilingnya tiada orang, kesunyian terasa ganjil namun secara mendadak badannya terlempar jatuh oleh pukulan tenaga dahsyat sehingga dirinya terjatuh kcdalam jaring.

Terbayang akan kejadian itu, dia ingin segera lari balik kekamarnya tinggal tidur saja. bahaya apapun tidak diserempetnya lagi. Akan tetapi kalau dirinya benar-benar lari pulang kekamarnya, sesuai apa yang dikatakan perempuan itu. selanjutnya dirinya akan tenggelam dalam kehidupan yang tawar, tak ada masa depan dan selama bidup takkan bisa keluar dari Kim-hou-po

Detak jantung yang keras menyebabkan Ciong Tay-pek merasa dadanya sakit, sekian lama dia menjublek, akhirnya dia mengepal tinju lalu pelan-pelan menarik kedua tangannya. Dikala kedua tangan tertarik itulah dia menghimpun semangat mengerahkan hawa murni dikedua telapak tangannya, maka timbul serangkum tenaga besar, walau cukup besar bentuk batu padas itu, tapi asal bangunan batu tidak kokoh dan bisa bergerak yakin dapat dihisapnya keluar. Dalam detik-detik yang menentukan ini, saking tegang Ciong Tay-pek tidak pikirkan apapun lagi. Suatu kenyataan, bila dia mau menggunakan otaknya, bahwasanya dia tidak akan berani melakukan apa yang sekarang sedang dia kerjakan.

Dikala lengan tangannya sudah tertekuk mundur hampir setengah kaki. sementara telapak tangannya masih merekat kencang di permukaan batu padas yang kasar itn, keringat sudah bercucuran diselebar muka Ciong Tay-rek, malam gelap pekat, angin malam menghembus kercang, bahwasanya dia tidak melihat keadaan didepan matanya tapi setelah tangannya ditarik mundur, telapak tangan masih melekat dipermukaan batu. ini menandakan bahwa daya sedot tenaga yang dikerahkan telah berbasil menyedot keluar batu padas pada hitungan yang ke 365.

Hanya sejenak Ciong Tay-pek ragu-ragu gerakan selanjutnya secepat kilat, dengan kedua tangan dia pegang batu itu terus dijerakan diianah lalu kedua tangan merogoh kedalam lobang.

Sambil merogoh kedalam dia menyeka keringat dimukanya pada lengan baju disamping pundaknya, waktu tangannya merogoh kedalam looang batu, terasa didalam lobang masih ada pula lobang lebih kecil, dari lobang kecil inilah tangannya merasa memegang sesuatu, waktu di rogohnya keluar ternyata sebuah bumbung bambu.

Meski hanya meraba dengan sebelah tangan, tapi Ciong Tay-pek merasakan, bumbung bambu itu entah sudah diraba dan dipegang berapa tahun lamanya, maka permukaan bumbung bambu itu terasa licin mengkilap bagaikan Kaca.

Sekujur badan Ciong Tay-pek bergetar keras, tapi gerak geriknya tetap cepat dan tangkas, lekas sekali dia sudah pegang din keluarkan bumbung bambu sebesar lengan bayi panjang satu kaki itu. Karena terlalu tegang, walau kedaan sekitarnya tetap sunyi tanpa ada gerakan apa-apa, di mana tangannya merogoh "Sret: lekas dia mencabut Jit-sing-to, sementara punggungnya sudah menempel dinding terus menjejak kaki melonjak keatas

Begitu badannya merambat terus naik ke atas. di kala hampir mencapai pucuk tembok, pada saat itulah dilihatnya sesosok bayangan orang tanpa mengeluarkan suara mendadak muncul dari kegelapan. Bayangan bagai setan itu muncul dari atas ke bawah langsung menubruk kearah Ciong Tay-pek. daya tubrukannya kelihatan cepat dan ganas secara reflek Ciong Tay-pek menggerakkan tangan, jadi tanpa pikir dia menabas kearah bayangan itu.

Kelihaiannya tabasan goloknya akan mengenai sasarannya, karena tubrukan bayangan hitam itu dipapak tabasan golok, namun bayangan hitam itu ternyata teramat tangkas, sedetik sebelum tubuhnya disambar golok, mendadak dia menggeliat di tengah udara terus bersalto balik kebelakang, maka tabasan golok Ciong Tay-pek mengenai tempat kosong.

Padahal Ciong Tay-pek harus kerahkan tenaga murninya untuk mempercepat Luncuran tubuhnya keatas, disamping dia meloncarkan tabasan goloknya, tapi pada saat bayangan hitam itu bersalto kebelakang itulah, mendadak Ciong Tay-pek rasakan pergelangan tangan kirinya pegal kesemutan, dalam malam segelap itu Ciong Tay-pek tidak bisa melihat jelas senjata gelap apa yang mengenai tangannya, celakanya begitu pergelangan pegal serta merta kelima jarinyapun ikut lemas, maka bumbung bambu yang dipegangnya itu seketika terlepas jatuh.

Ternyata bumbung itu tidak langsung jatuh ketanah, dikala masih melayang turun ditengafa udara, dalam kegelapan tampak berkelebat selarik cahaya merah gelap, maka bumbung itu seketika membelok arah melayang kearah bayangan hitam yang masih terapung diudara delapan kaki diatas tanah. Dalam sekejap itu Ciong Tay-pek juga sudah berhasil mencapai pucuk tembok, hanya sekejap dia berhenti sejenak diatas tembok.

Dengan mendelong dia saksikan bayangan hitam itu melayang turun ke tanah, gerak geriknya lebih cepat lagi dari tubrukannya dari atas tadi, dalam sedetik bayangannya telah lenyap ditelan kegelapan.

Semestinya Ciong Tay-pek bisa lompat turun pula serta mengejar bayangan itu, namun dia sudah saksikan gerak gerik bayangan itu secepat angin, tapi jelas adalah perempuan yang berkedok itu Tapi bukan Ciong Tay-pek mengejar kedalam dia justru melompat jum alitan keluar pagar. Dalam sedetik itu dia berpikir, meski dirinya tidak memperoleh apa apa dalam usahanya,masuk ke Kim-hou-po, namun merai i syukur juga bahwa dirinya selamat.

Begitu kedua kaki menginjak bumi beruntun dia melompat jangkit beberapa kaii, bayangannya pun telah lenyap ditelan kegelapan. Musim dingin sudah hampir jelang, musim semi sudah diambang mata, namun hujan salju masih sering terjadi mesti tidak lebat lagi, namun hembusan angin terasa dingin merasuk tulang. Ditanah tegalan yang menuju ke kota Sang yang, rumput-rumput liar sudah mulai bersemi, diantara lajunya arus air disungai, kelihatan gumpalan-gumpalan es yang terhanyut dalam pusaran air yang deras.

Sebuah kapal tambang sudah melepas tali dan mengangkat jangkar, dua lelaki kekar memegang galah panjang, kapal tambang itu didorong ketengah sungai. Begitu lepas jangkar kapal tambang itu lantas terbawa arus sungai yang deras melaju dengan pesat, diatas kapal tambang ada delapan orang, semua menggosok telapak tangan dan mengkeretkan badan menahan dingin, demikian pula kedua lelaki pemegang galah itu juga berpakaian tebal, namun baju bagian dada tersingkap, setiap kali mengerahkan tenaga mereka berholopis kontol baris, maka keringat panas pun bercucuran membasahi badan. Semula kapal tambang ini, dikayuh ke atas melawan arus, setiba ditengah sungai baru dilajukan kesebrang dua lelaki tadi kini memegang gayuh, tenaga mereka memang besar, namun arus air juga deras, bingga laju kapal yang melawan arus ini terasa amat lamban. 

Pada saat itulah diatas tanggul dipinggir sungai sana tampak pasir debu bergulung gulung terdengar derap lari kuda yang ramai mendatangi. Mereka datang dari arah jalan raya.

Tak jauh dari tempat itu ada beberapa rumah pendek terbuat dari tanah liat, di kala beberapa kuda itu dibedal datang, didepan rumah tanah liat, itu, seorang kakek sedang duduk dikaki tembok, untuk mencari hangat dari teriknya sinar matahari sambil memicing mata dia menoleh kearah jalanraya sembari menggumam:,”Wah sudah telat, kapal tambang sudah berangkat."

Dalam beberapa patah ucapannya itu, puluhan ekor kuda sudah memburu tiba langsung menerjang kepinggir sungai. setiap penunggang kuda semua seragam hitam dengan kerudung kepala hitam pula, kain hitam di-tubuh mereka kelihatan kotor berdebu, bahwasanya siapa mereka tiada yang bisa dikejar, seorang penunggang kuda diantaranya segera keprak kudanya naik keatas tanggul. Kuda tunggangannya berjingkrak berdiri sambil meringkik panjang, waktu anjlok turun pula kaki depannya sudah berada ditanah serong yang menjurus kesungai.

Sementara itu kapal tambang sudah hampir mencapai tengah sungai, jaraknya ada dua puluhan tombak, tampak orang di punggung kuda itu menggentak keras mendadak tubuhnya mencelat tinggi keudara, ditengah udara badannya berputar datar, maka terdengarlah suara gemerantang, seiring dengan putaran tubuh orang itu.maka muncullah seutas rantai panjang, diujung rantai terpasang sebuah gantolan yang runcing mengkilap, meluncur pesat kearah kapal tambang ditengah sungai itu. Disaat kuda itu menerjang keatas tanggul meringkik serta mengerem daya lajunya. orang-orang diatas kapal tembang itu sudah angkat kepalanya memandang kearah sebrang. Tapi gerak gerik. penunggang kuda itu memang cekatan dan ctpat sekali, sebelum orang-orang diatas kapal tambang taru apa yang Terjadi, „Plok" gantolan runcing berantai panjang itu sudah jatun diatas dek dan kebetulan menggantol ujung kapal, berbareng bayangan orang itu. juga sudah melayang turun dipinggir sungai terus pasang kuda. Manusia yang satu ini ternyata seperti sebuah tonggak kayu yang kokoh tertanam didaiam bumi. kedua tangan dengan cepat menarik rantai ang sudah menggantol kapal tambang itu, ternyata kapal tambang yang sedang laju kedepan itu berhamil antuknya mundur.

Sementara itu belasan orang-orang berkedok itupun sudah mencongklang kuda mereka diatas tanggul, seorang diantaranya berseru keras: „Tuan tuan, monon maaf bila menunda perjalanan kalian sejenak kami sedang memburu seseorang yang tidak merasa bersalah boleh diam saja dan tidak perlu takut."

Orang-orang diatas kapal tambang itu kelihatannya memang kaget dan ketakutan, tiada seorangpun yang bersuara, demikian pula dua lelaki pemilik kapal menghentikan kerjanya, lekas sekali kapal tambang itu sudah kembali pada tempatnya semula. Enam orang sudah melompat turun dari punggung kuda terus berlompatan keatas kapal seraya membentak: .”Silakan tuan tuan naik keatas dara"

Lekas pemilik kapal memasang papan panjang penyebrangan seperti menggiring bebek saja sembilan penumpang kapal tambang itu berbaris naik keatas darat dengan gopoh. Enam orang berkedok itu tampak berkilat sorot matanya kepala mereka berdebu, hanya mata mereka saja yang kelihatan bersih, maka keadaannya kelihatan lucu. Setelan sembilan penumpang naik keatas darat, tiga orang diantara enam orang berkedok itu juga ikut naik dua orang sibuk memeriksa kapal seorang lagi berdiri diburitan. Lelaki yang menarik baliK kapal dengan rantai panjang itu masih tetap berdiri dipinggir sungai setegak tonggak yang kokoh.

Dalam pada iiu para penunggang kuda berkedok hiiam itupun sudah turun semua dari punggung kuda, sembilan penumpang kapal tambang itu dirubung dengan ketat, sekilas kedua pemilik kapal saling pandang lalu seorang angkat bicara: „Kalian mau cari siapa, urusan tidak ada sangkut- pautnya dengan kami, mau periksa apa bolen silakan cepat sedikit, hari sudah hampir petang, arus sungai akan lebih besar, penyebrangcn kuatir bisa gagal, harap kalian suka maklum."

Agaknya pemilik kapal tambang ini sudah lama mencari nafkah dipenyebrangan sungai ini, berbagai jenis sifat manusia pernah dihadapi, karena itu meski mendadak menghadapi perohahan mendadak seperti ini, sedikitpun mereka tidak kelihatan gugup.

Maka salah seorang diantara orang orang berkedok itu tampil kedepan, katanya dengan lantang: ”Ciong Tay pek keluarlah sendiri."

Sembilan penumpang termasuk kedua pemilik kapal terkurung dalam kepungan orang-orang berkedok itu. setelah orang berkedok itu buka suara, maka sembilan orang itu saling toleh, saling pandang satu dengan yang lain. semua tidak bersuara, tapi juga tiada seorangpun yang tampil kemuka.

Sembilan orang itu terdiri tiga lelaki setengah umur, dandan mereka mirip petani, ada sepasang suami istri yang masih muda. yang lelaki beralis tebal mata besar, sekali pandan; juga bisa diketahui sebagai pekerja sawah, yang perempuan ternyata kelihatan kekar, jari-jari tangannya kelihatan kasar, tidak punya pinggang, kulitnya hitam, jelas diapun perempuan jang selalu aktif diladang. Seorang lagi membopong sebuah kotak kayu besar, kelihatannya tabib keliling atau penjual kelontong. Masih ada lagi tiga orang, seorang seperti guru sekolahan, sementara dua orang lagi tampak berpakaian perlente, baju tebal mereka terbuat dari kulit rase yang berbulu indah, kalau bukan tuan tanah pasti pedagang kaya.

Angin dingin masih ribut dengan hembusan kencang, setelah orang berkedok itu bersuara, keadaan sunyi sejenak, tiada orang bersuara, maka orang itu berkata pula: ”Bagus, Ciong Tay-pek, apa kau kira dapat lolos atau menyembunyikan diri ?” merandek sebentar lalu menyambung, "Terpaksa kalian harus membuka pakaian biar kami periksa dada kalian."

Perintah ini agaknya diluar dugaan orang-orang itu. kontan petani muda itu memprotes ”Cuaca sedingin ini, kalian jangan mempermainkan orang?'

Tapi protesnya ini justru disambut delapan orang oiang berkedok itu dengan gerakan serempak.”Sreng", mereka mencabut golok baja yang kemilau, maka orang itu membentak pula: ”Lekas, jangan membuang waktu.'

Petani muda itu lantas menggerutu: ”Makanya, setan alas, mau libat bolen lihat," sembari menggerutu dengan keras dia menbuka kancing mantelnya lalu membuka baju dalamnya pula maka tampak dadanya yang bidang kekar dan berbulu, ' Bluk, bluk" dua kali dia tepuk dada seraya berkaok: Nah boleh kau periksa ?"

Tampak lengan lelaki berkedok itu bergerak, pandangan orang banyak seketika silau tahu-tahu tangannya sudah memegang sebilah pedang panjang yang tipis dan lencir, sementara itu mentari sudah doyong kebarat hampir masuk peraduan, sinar surya menampilkan reflek cahayanya diatas pedang panjang itu hingga orang-orang didepannya tak kuat membuka mata, begitu tangan mencabut pedang, mendadak dia maju setapak, di mana pergelangan tangan berputar, ujung pedang yang tajam dan runcing itu sudah mengancam dada si petani muda serta menggores turun.

Gerakannya amat cepat. dikala perani muda itu menjerit kaget, hakikatnya dia tidak sempat menyingkir, tahu-tahu pedang orang itu-pun sudah menarik lengannya.

Tampak goresan ringan ranjang didar'a petani muda itu menimbulkan cucaran darah, tapi hanya luka lecet dikulitnya saja, maka darah yang keluar juga hanya sedikit saja.

Keruan petani itu kaget dan gusar tapi juga jeri. sekilas dia menunduk mengawasi luka-luka ringan didadanya waktu dia angkat kepala mengawasi lelaki berkedok itu, seketika dia berdiri melongo tak mampu bersuara.

Sebaliknya lelaki berkedok itu malah tersenyum ramah, katanya: '"Maaf, saudara " sembari bicara dia mengulap tangan kirinya, seorang berkedok segera maju kedekatnya lantas merogoh kedalam kantong mengeluarkan sekeping uang katanya: ”Mengganggu kau saja, terimalah ini sebagai ganti rugi pengobatan mu."

Uang perak itu senilai lima tahil, selama hidup dan bekerja berat di sawah mungkin petani itu tak pernah memiliki uang sebanyak itu. seketika dia terbeliak kaget, kejap lain setelah dia sadar apa yang dihadapi menang kenyataan seketika mulutnya tertawa lebar, katanya : ,,Ah, luka seringan ini, diludahi beberapa kali juga sudah sembuh, terima kasih, terima kasih." sambil bicara dengan munduk-munduk dia terima uang itu teius digenggamnya kencang-kencang, pada hal hawa dingin, angin ribut lagi, dia lupa mengancing bajunya lagi..

Lelaki berpedang itu segera memberi aba-aba : „Baiklah, berikutnya."

Beberapa penumpang kapal tambang itu semula bersikap kaku dan seperti kurang senang, kini setelah petani muda itu memperoleh keuntungan malah, mereka jadi iri, seperti berlomba saja dengan muka riang semua membuka kancing baju masing-masing, tanpa kecuali dikulit dada mereka orang itu menggores luka panjang yang ringan, gerak pedangnya memang teramat cepat tapi juga penuh perhitungan, darah yang keluar dai luka panjang itu tadi setetes.

Kini tinggal kedua lelaki berpakaian tuan tanah itu, kelihatan mereka sungkan dan tidak mau diperiksa cara begitu, kalau mereka tidak pingin terima ganti rugi lima tahil, namun menghadapi kegarangan orang-orang berkedok dengan golok baja yang kemilau, apalagi mereka cukup adil setiap orang diberi ganti rugi lima lahil, maka terpaksa mereka menurut saja kehendak orang-orang berkedok itu.

Lekas sekali pekerjaan sudah hampir usai, kini tinggal perempuan petani itu, pedang panjang orang itu mendadak menuding perempuan petani dan berseru : ”Sekarang kau."

Petani muda yang masih menggenggam lima tahil perak di angannya sambil berseri tawa tadi kini menjadi gugup, serunya keras : „Hai, orang yang hendak kalian cari itu laki atau perempuan? Inilah isteriku yang baru saja kukawin, jangan kalian main-main padanya.

Bergetar pedang panjang lelaki itu hingga memetakan garis-garis gemerdep. katanya kereng : ”Orang yang kami cari iin mendadak lelaki lain saat perempuan, kadang-kadang tua tiba-tiba menjadi muda, maka kami harus memeriksanya juga."

Karuan petani muda itu makin gelisah, serunya ? „Tidak boleh, dia betul-betul istriku, perempuan tulen, mana boleh main buka baju didepan umum ? Memangnya kalian tidak tahu adat-istiadat ? Kalau begitu, biar kukembalikan uangmu, boleh kalian bunuh kami saja dari pada terhina." sembari berkaok- kaok dia menghadang didepan istrinya sambil melot u. Sesaat lelaki berpedang itu jadi bimbang, akhirnya dia menoleh dan berseru : „Toa-moay, kau saja yang memeriksanya."

Seorang berkerudung baju hitam segera mengiakan sambil tampil kemuka. Perawakan orang ini tinggi lencir, mengenakan jaket kulit, kerudung mukanya tampak berdebu, mulutnya yang kelihaian tampak menyeringai lebar. Orang yang memegang pedang menuding orang bekerudung ini dan berkata „Inilah adik besarku, dia juga perempuan, kurasa tiada halangan untuk memeriksanya."

Melotot petani muda itu kepada orang yang mendekatinya, katanya menggeleng : „Darimana aku tahu kalau dia ini perempuan ?"

Orang berkerudung yang mendatangi ini memang tidak mirip perempuan, hakikatnya tiada berbedaan dengan orang berkerudung lainnya, malah perawakannya lebih tinggi, pantas kalau petani muda ini bertanya demikian.

„Jangan cari perkara." sentak orang berpedang, „dia ini adik besarku, siapa bilang bukan perempuan."

„Kau sendiri yang bilang, aku tidak mau percaya, kecuali dia buka dulu bajunya, bila dada ya benar ada sepasang tetek

..."

Belum selesai dia bicara, orang yang berdiri didepannya sudah menghardik :

”Kentut makmu yang busuk."

"Plak" kontan dia gampar muka petani muda itu dengan murka.

Gamparannya amat keras sehingga petani itu terpental jatuh dan terguling kebawah tanggul, untung dia sempat meraih sebuah batu sehingga badannya tidak kecemplung kekali. Tapi separo mukanya bengap, sembari merangkak keatas dia berkaok-kaok. bila dia sudah berada diatas tanggul pula, orang yang menggamparnya itu sudah menyeret isteri petani itu kesamping. sebilah golok kemilau juga sudah mengancam mukanya.

Isteri petani itu tampak mencak-mencak namun hanya sejenak, orang berkerudung itu sudah berteriak : „Toako, dia bukan Ciong Tay-pek."

Sambil medekap dada dengan muka merah dan malu isteri petani itu berlari kearah si petani dan sembunyi di belakangnya Sementara lelaki yang berpedang itu mengerut alis debu diatas alisnya kelihaian rontok berhamburan, terdengar dia memberi aba-aba : „Berangkat."

Serempak anak buahnya mencemplak ke punggung kuda, akan tetapi dua orang yang masih berada dialas kapal tetap berdiri tidak bergerak, malah kelihatan mimik mereka amat aneh.

Beberapa orang sudah putar kudanya hendak menerjang keatas tanggul sana, namun serentak pandangan semua orang tertuju keatas kapal, cahaya mentari menjelang magrib menyinari muka mereka, kedua orang ini seperti tertawa dan bukan tertawa, seperti meringis kesakitan tapi bukan menangis kedua matanya memandang sikapnya lucu sekali.

Jumlah orang-orang seragam hitam ada belasan orang, empat diantaranya segera melompat turun pula terus memburu keatas kapal. Begitu mereka mendekat, karena kapal bergoyang maka kedua orang yang berdiri ini lantas bergerak perlahan terus roboh di atas geladak. Lelaki besar yang berdiri dipinggir tanggul dengan tangan menarik kencang rantai besi itu, begitu melihat kedua Orang kawannya yang diatas kapal roboh, seketika menampilkan sikap kaget dan heran.

Demikian pula empat orang yang menyusul keatas kapal juga seketika tertegun, serempak mereka memburu maju seraya memeriksa, teriaknya : „Wah sudah mati terbokong senjata rahasia."

Karena peristiwa yang tak terduga ini, keadaan menjadi hening, yang terdengar hanya hembusan angin lalu dan deru napas mereka yang berat, sehingga teriakan kedua orang itu kedengarannya lebih seram membuat orang berdiri bulu kuduknya.

Dua orang lagi tampak mencelat mumbul dan punggung kuda meluncur kebawah tanggul dan berdiri jajar dikanan kiri lelaki yang menarik rantai besi itu. Kedua orang ini adalah lelaki berpedang dan adik besar perempuan itu. Lelaki berpedang yang menggores luka panjang didada setiap penumpang dan perempuan yang dipanggil adik besar itu agaknya bersaudara. Ketiga orang ini jelas bukan sembarang orang, di Bulim (dunia persilatan) tiga bersaudara ini juga cukup terkenal dengan julukan "Toa-ho-sam-tiau cu" (tiga saka di sungai besar) Begitu datang dengan jangkar rantainya menarik balik kapal tambang itu adalah Loji (oraag kedua) Thi Cu (saka besi), perawakannya tinggi besar. Yang dicurigai sebagai perempuan oleh petani muda itu adalah adik paling muda mereka Pi-lik cu (saka geledek), sedang saudara tua mereka adalah King thian-Cu (saka penyanggah langit) yaitu lelaki berpedang itu. Juga pemimpin dari rombongan besar orang berkerudung ini. Sepanjang sungai besar siapa tidak kenal adanya tiga saka besar di sungai besar. Kini ketiganya berdiri jajar dibawah tanggul, perawakan Pi-lik-cu meski perempnan tapi tidak kalah tinggi dari kedua saudaranya, wataknya berangasan lagi, begitu tiba disamping saudarannya dia lantas bertanya bengis : „Jiko (engkoh kedua) siapa pembunuhnya ?"

Sejak menarik kapal dengan rantainya Loji ThiCu tetap berdiri ditempatnya menghadap k arah kapal, berarti berhadapan juga dengan kedua kawannya di atas kapal itu, umpama seekor lalat terbang didepan muka mereka juga darat dilihatnya jelas, tapi bukti dan nyata bahwa dia tidak tahu menahu bagaimana kedua kawan mereka bisa menjadi korban pembunuhan gelap ini, kedua matanya melotot, namun tak mampu menjawab.

Hari sudah petang, cuaca mulai gelap dua orang yang terdiri segar bugar mendadak kedapatan mati dibawah hembusan angin lalu yang dingin. Pi-lik-cu menjejak kaki tubuhnyapun mencelat keatas kapal. Kedua korban rebah telentang, kecuali mimik mereka yang kelihatan ganjil, ternyata tidak terdapat luka-luka dibadannya.

Pi-lik cu berjongkok memeriksa sejenak, mendadak dia berjingkrak berdiri pula sambil tolak pinggang, memangnya perawakannya sudah tinggi, perempuan kalau sedang berang memang kelihatan menakutkan. Pada saat itulah, terdengar pula derap lari kuda yang mendatangi, tiga ekor kuda laksana angin lesus menggnlung keatas tanggul.

Orang-orang diatas tanggul itn sudah ke lihatan bingung dan gelisah, umum sudah tahu bahwa malam hari pantang menyeberang sungai kuning. Terjadi pula pembunuhan misterius diatas kapal, sikap yang semula gugup gelisah berobah menjadi ngeri dan takut.

Sementara itu. tiga ekor kuda gagah yang mercongklang datang telah dekat, begitu kuda berhenti, ada beberapa orang diatas tanggul seketika menjerit kaget : „Kim hou-po."

Maka sikap semua orang berobah hormat dan ramah, kedua lelaki bercorak pedagang itu segera mengkeretkan kepala, sikapnya kelihatan munduk-munduk dan takut.

Kedatangan tiga ekor knda ini menimbulkan kepulau debu, jelas tiada obahnya dengan knda-kuda lain, tapi setelah berhenti, secercah sinar mentari yang tersisa masih sempat menyinari pelana dan pidal kuda itu, tampak berwarna kuning mengkilap, ternyata terbuat dari emas murni. Diseluruh kolong langit yang membuat pelana dari emas hanya Kim-hou-po, hanya kuda yang keluar dari Kim-hou-po, meski kuda itu seluruhnya terbuat dari emas, golongan hitam yang paling jahat dan kuasa-pun takkan berani menyentuhnya.

Ternyata dandanan ketiga penunggang kuda yang baru datang ini berbeda, pakaian mereka kelihatan mewah, mengenakan mantel bulu rase dengan pelirit kecil emas pula. Yang berlari paling depan mendahului lompat turun, sebelum kakinya menginjak tanah, kedua tangannya sudah menepuk badan membersihkan debu yang melekat dibadannya. katanya kemudian : ,.Tan-lotoa, belum berhasil menemukan Ciong Tay-pek ?

Orang ini adalah pemuda berwajah gagah dan cakap, perawakannya tegak dan kereng. namun wajahnya justru pucat mengkilap, selintas pandang orang akan merinding dan mengkirik seram.

Melihat kedatangan ketiga orang ini Thi Cu segera berlari keatas, sambil menjawab: „Belum ketemu, malah dua saudara kita terbokong mati di smi."

Berdiri alis pemuda cakap itu, wajahnya kelihatan menghijau, laporan Tni Cu agaknya tidak menjadi perhatiannya, pandangannya mendadak, tertuju kesembilan penumpang kapal yang digusur turun itu, katanya dingin: ”Kecuali menyebrang sungai dan mencari perlindungan ke pihak Liong-bun-pang jelas tiada tempat berpijak didaerah ini untuknya sudah kau periksa orang-orang itu ?

„Sudah kuperiksa semua," sahut Thi Cu „Dada Ciong Tay- pek ada gambar tato sebuah kupu besar, kuatir dada mereka di tempeli sesuatu, dikulit dada mereka aku menggores luka berdarah, kenyataan tiada Ciong Tay-pek di dalamnya."

Pemuda itu mendengus dingin perlahan hawa hijau dimukanya bertambah gelap kelihatannya tidak mirip wajah seorang hidup, selangkah demi selangkah dia menghampiri sembilan orang itu, sorot matanya setajam pisau, satu persatu dia tatap muka mereka, mendadak dia berputar serta memberi perintah:,,Buinuh semua."

Seketika Toa-ho-sam-tiau-cu berdiri menjublek. Dua lelaki yang datang bersama pemuda ini segera mengiakan dari punggung kuda mereka langsung berlari kearah sembilan orang itu. Sembilan orang itu agaknya juga tahu bahwa jiwa mereka terancam seketika geger dan bubar, petani muda itu menjerit lebih dulu terus berputar dan lari, namun sinar putih berkelebat, lima jiwa seketika melayang.

Serangan kedua orang itu ternyata cekatan dan telengas, jelas kelima korbannya itu pasti mati penasaran karena tidak tahu kenapa dan oleh siapa mereka mati, sementara pedang ditangan kedua orang itu tidak berhenti meski lima jiwa lteelah binasa, „Sret,-sret" kembali pedang mereka bergeraiktiga jiwa melayang pula, setiap korbannya tergores luka besar digitok mereka, tanpa mengeluarkan suara mayatnya tersungkur kedepan, kini tinggal sipetani muda itu, agaknya saking ketakutan, semula dia sudah berlari beberapa langkah kini dia membalik tubuh, mulurnya megap-megap lidahnya juga bergerak naik turun sambil melotot kepada orang didepannya.

Satu diantara kedua orang itu sudah menyarungkan pedangnya, seorang laki melompat maju Cret" pedangnya menusuk keleher petani muda itu, petani itu tetap berdiri menjublek, pedang tajam itu menggores lehernya darah mengalir, badannya sempoyongan terus roboh tak bergerak lagi, „Trap"' diwaktu membalik badan pedang orang itu sudah kembali kesampingnya.

Tampak air muka Toa-ho sam-tiau-cu amat jelek dan lucu, Pi-lik cu yang berangasan segera memprotes:,,Sau-pocu, sembilan orang ini sudah kami periksa, mereka hanya lah rakyat jelata yang tidak berdosa, kenapa kau bunuh mereka?"' Padahal Thi Cu sudah memberi tanda kedipan mata serta menarik lengan bajunya, tapi perempuan gede ini tidak hiraukan.betapa yang dipanggil Sau tocu (tuan muda) melirik dingin kepadanya, jengcknya: „Lebih baik salah membunuh, betapapun Ciong Tay-pek tidak boleh lolos."

Pi-lik-cu menggeram gusar, agaknya amarah terbakar, dia tampil selangkah, Sreng, sreng" dua bilah pedang bersilang mengadang didepannya, tabir malam telah mendatang, maka kemilau dingin di batang kedua pedang terasa dingin dan seram.

Lekas Thi-Cu dan Kiug-tian-cu orang satu lengan menarik Pi-lik cu mundur, maka kedua orang yang melolos pedang perlahan menurunkan pedang mereka. Dalam pada itu Sau pocu membalik badan menghadapi kedua orang pemilik kapal tambang, Kedua lelaki itu seketika pucat pias, teriaknya sember: „Kami sudah turun temurun" mencari nafkah disini sejak kakek, ayah dan aku tiga generasi, ketiga tuan besar ini tahu tentang kami Sikap pemuda itu tampak kaku dingin dan kejam, orang tua yang sejak tadi duduk didepan rumah memburu datang dengan langkah tertatih-tatih. Pemuda itu segera mundur beberapa langkah, hidungnya mendadak mendengus keras-keras. Agaknya dengusan napas ini merupakan komando, kedua pengawalnya itu segera berputar, pedangpun terayun.

Waktu mereka mengerjakan pedang Pi-lik-cu membentak murka, kelihatannya ingin mencegah atau merintangi, namun serangan pedang kedua orang ini memang teramat cepat, tiga jiwa seketika melayang.

Saking murka, Pi-lik-cu segera merenggut kain kerudung kepalanya terus dibuang. ke arah maka tampak wajahnya yarig kekar dengan rambut yang pendek, bentaknya: „Kenapa harus membunuh tanpa alasan?" Pemuda itu menatap King-thian-cu Tan Cuii, suaranya sinis; ”Tan-lotoa, kau tidak ingin bekerja lagi bagi Kim-hou-po kami?"

Dalam sesingkat ini betapa buruk rona muka King-thian cu. Pi-lik-cu mewakilinya menjawab: „Siapa sudi bekerja untuk kalian? ”

Hidung si pemuda kembali mendengus, lalu berucap:

„Bagus." berbareng tubuhnya melayang hinggap dipunggung kuda. Disaat itu pula kedua pengawalnya itu sudah bergerak kilat, dimana sinar pedang mereka bergerak, jeritan jeritan ngeri kumandang diudara. Bagai angin lesung kedua orang ini bergerak membundar dari dua arah yang berlawanan, belasan orang berkurudung yang datang bersama Toa-ho-sam-tiau-cu semua sudah roboh binasa.

Begitu jeritan memecah kesunyian Thi Cu lantas menggerakan tangan mengayun rantai mengepruk kearah pemuda yang men-ceplak kuda, deru samberan rautai besi yang terayun kencang itu tidak kalah derasnya dari damparan angin badai, diujung rantai juga terpasang sebuah jangkar kemilau, jelas batok kepala pemuda itu akan termakan oleh jangkar yang berbelok ini.

Tapi pemuda itu seperti tidak melihat bahwa jangkar rantai itu telah mengancam kepalanya, kuda tetap di congklang, kepala tidak bergerak, hanya perut kuda dijepitnya lebih keras hingga kuda itu melonjak jauh kedepan. Thi Cu menghardik pula, mendadak lengannya mengendap kebawah serta ditarik mundnr hingga jangkar diujung rantai ikut tertekan turun mengepruk batok kepala si pemuca.

Kini baru terlihat pemuda itu perlahan angkat kepalanya dengan malas seperti tanpa sengaja melihat cuaca. Pada hal jangkar itu tinggal satu kati diatas kepalaiiya, tampak dia menggerakan tangan menjentik sekali ke-arah jangkar, „Cring" mengeluarkan suara nyaring. Karuan Thi Cu terbelalak, jangkar di-ujung rantainya itu beratnya ada seratus kati, di tambah tenaga yang dikerahkan, sedikitnya kekuatannya berlipat ganda, tapi pemuda itu cukup menjentik saja dengan jari tengahnya, sebelum Thi Cu sempat menarik rantai jangkarnya, mendadak terasa serumpun tenaga dahsyat melalui rantainya. menerjang dirinya. Betapa besar tenaga yang menerjang akibat selentikan jari itu. telapak tangan Thi Cu terasa pedas linu, tanpa kuasa Kelima jarinya terlepas.

Celakanya, meski rantai sudah dilepaskan tapi jangkar yang terjentik itu masih melayang balik serta melingkar laksana ular, tahu-tahu tubuh Thi Cu sudah tersubat kencang oleh rantai sendiri, jangkar itupun telak mengenai mudanya, kontan Thi Cu menjerit nceri, kepalanya remuk darahpun muncrat. Jelas Thi Cu mati seketika, namun kejadian amat mendadak kuda-kudanya masih berdiri kokoh, sehingga badannya masih berdiri tegak.

Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, jiwa Thi Cu sudah melayang, kepalanya sudah remuk, darah bercampur otak meleleh kebawah, badannya masih tegak sisa rantainya baru berdering jatuh memukul tanah berbatu sehingga suaranya berisik.

Setelah menjentik jangkar, pemuda itu tetap congklang kudanya, melirikpun tidak kepada Thi Cu, kira kira tiga tombak kemudian sisa rantai yang masih melayang itu baru runtuh seluruhnya dan menindih kemayat Thi Cu dan roboh binasa.

Kematian Thi Cu berlangsung dalam waktu sekejap. Sementara itu kedua pengawalnya itu juga kerjakan pedangnya secepat angin menusuk King-thian-cu, sebat sekali King-thian-ca menyuruh mundur, berbareng pedang panjang yang lencir tipis ditangannya mengeluarkan dering suara yang keras. King-thian-cu memang tidak malu sebagai ketua dan Toaho-sam-tau cu, gerak pedangnya itu begitu lincah dan enteng, di:engah kegelapan tampak menaburkan cahaya bening. Agaknya dia menyadari bahwa jiwanya terancam elmaut, maka pedangnya bergerak ganas menukik kedepan, agaknya dia tidak hiraukan lagi bahwa kedua lawannya sedang menyergapnya.

Pedang panjangnya mengeluarkan suara ribut dalam satu kali uruk, terpaksa kedua lawan menarik tangan sehingga serangan pedangnya tertarik satu kaki, maka terdengarlah suara „Creng -trap" ternyata dua pedang kedua orang itu telah mengencet lengkat pedang panjang King-thian-cu, satu diatas yang lain dibawah, lengan seorang menyanggah yang lain meneken, sehingga pedang panjang King-thian-cu yang lemas itu melengkung seperti leter .“S“

Sambit kerahkan tenaga melawan tekanan kedua lawannya Kim-thian-cu berteriak : „Toamoa (adik besar) lekas pergi."

Masih untung kalau tidak berteriak, teriakan itu justru menimbulkan amarah Pi-lik-cu. dengan tangan kosong dia pentang lengannya terus menubruk kearah orang itu. Tingkah lakunya yang kasar dengan pekik suaranya yang garang lebih mirip seekor gorilla yang lagi nyamuk dari pada seorang perempuan.

Melihat adiknya tidak menghiraukan ajurannya malah nekat menyerbu musuh, King thian-cu Tan Cui memekik putus harapan, disaat Pi-lik-cu hampir tiba didepan kedua orang itu, terdengar suara „Pletak" dua kali, pedang panjang King thian cu ternyata tergencet patah tiga potong oleh kedua lawannya.

Begitu pedang King-thian cu patah kedua orang segera menggeser langkah berpindah posisi, disaat badan berputar pedang mereka laksana kilat menusuk kearah Pi-lik-cu dari dua arah.

D saat saat kritis itulah, dari tempat gelap, diantara mayat- mayat yang bergelimpangan itu, mendadak mencelat sesosok bayangan, begitu cepat gerakannya, seumpama setan langsung menerjang kearah Pi-lik-cu. Berbareng dengan bergeraknya bayangan hitam itu, kedua orang yang menusuk Pi-lik-cu juga menjerit kaget : ”Ciong Tay-pek '”

Pada hal cuaca sudah gelap, hakikatnya sukar melihat jelas siapakah bayangan orang yang mencelat dengan tubrukan kencang itu, cuma dari bentuknya saja dapat diperkirakan, bahwa bayangan itu bukan lain adalah petani muda itu.

Gerakan bayangan hitam itu memang teramat pesat, baru saja kedua orang itu berteriak bayangan itu sudah menekam Pi-lik-cu, Pi-lik-cu menjerit aneh, tubuhnya keterjang roboh, bayangan itupun ikut terjungkal dan bergumul, keduanya lantas megggelundung jatuh kebawah tanggul dan kecemplung ke sungai yang berarus kencang.

Karena keterjang jatuh oleh bayangan hitam itu sehingga Pi lik-cu terhindar dari tusukan pedang kedua orang itu. namun diwaktu tubuhnya bergumul dengan bayangan hitam itu. sebelum tubuhnya kecebur di air, terdengar mulutnya masih memekik dan mencaci maki. 

Begitu kedua pedang mereka menusuk tempat kosong, sementara Pi-lik-cu diterjang jatuh kepinggir, kedua orang itu memburu maju, pada saat itulah King-thian cu dengan menggenggam pedang kutung memekik seram sambil menubruk, pedang buntung ditangan-pun bekerja.

Gerakan kedepan kedua orang itu juga tidak berhenti, begitu pedang buntung King-thian-cu menyerang tiba, kedua orang ini dengan dua belah pedang menggencet pula dari atas dan bawah, hebatnya kali ini pedang mereka tidak melulu menggencet sekaligus juga menusuk dan menepis miring.

Kini King thian cu sudah tiada kesempatan balas menyerang lagi, '"Crat Cret" beruntun dua kali, pedang kedua orang .menahan dan mengiris kulit daging King thian-cu, darah mengalir deras laksana sumber air.

Betapapun amukan King thian cu sempat merintangi gerakan kedua orang ini, maka terdengar pula "Byur"', jelas seseorang telah kecemplung keair. Meski berkorban dan jiwa melayang lega juga hati King-than cu bahwa sebelum ajal dia masih sempat menyelamatkan jiwa adiknya dari tusukan pedang kedua pengganas ini.

Begitu tubuh King-thian-cu menyentuh tanah, kedua orang itupun sudah melesat