Tugas Rahasia Jilid 01

Jilid 01

Mega mendung, cuaca buruk hawa lembab, dalam keremangan yang kelabu ini Kim-hou po (benteng macan emas) yang terbuat dari susunan batu bata kelabu itu kelihatan seram, misterius diliputi warna beku.

Benteng besar itu didirikan dtatas dataran tinggi dengan pagar tembok dua tombak tingginya, panjangnya mencapai puluhan li. Dari luar tiada orang pernah melihat bagaimana keadaan di dalam benteng, kecuali burung yang terbang diudara Dan kenyataan udara diatas benteng macan emas tidak kelihatan ada burung terbentang melintas, maklum sekitar benteng adalah tanah tandus, sepucuk pohonpun tiada, karena tiada pepohonan tiada tempat untuk berpijak dan membuat sarang, maka jarang ada burung yang terbang di sini.

Benteng itu memang mirip iblis raksasa yang sedang mendekam diatas sebuaji bukit rendah, kecuali warna kelabu, seluruh benteng itu hanya dihiasi dua kepala harimau besar yang terbuat dari emas, dua kepala harimau yang dipasang diatas pintu gerbang dengan menggigit dua elang besar yang terbuat dari emas pula, gelang emas itu sebesar lengan bayi, beratnya pasti seratusan kati. sementara kepala harimau itu ada orang pernah naksir beratnya ada tiga ribu kati, maklum karena terbuat dari emas murni.

Dalam Bulim (dunia persilatan) sering terjadi pertikaian, hanya lantaran belasan tahil emas. Tapi ribuan kati emas murni jang berbentuk kepala harimau ini menjadi pajangan pintu, entah sudah sekian tahun lamanya beiada di sana. tidak sedikit orang yang lewat di daerah ini, dari jauh sudah melihat adanya warna kuning kemilau dari kepsla harimau dan gelang besar yang tergigit di-muluti ya, selamanya takkan ada yang berani menyentuhnya.

Kim-hou-po boleh dikata merupakan benteng yang palin misterius di Bulim. Begal besar, perampok yang paling ganas, bila sudah kepepet karena tiada tempat berpijak karena takut di buru hukum, jalan satu-satunya pasti akan masuk ke Kim- hou-po. Demikian bagi seorang persilatan karena diburu musuh besarnya, keluarga terbunuh habis, pada hal kekuasaan musuh besarnya tersebar luas diempat penjuru, demi menyelamatkan jiwa. terpaksa dia pun masuk ke-Kim-hou-po.

Bagi setiap insan persilatan yang punya hoby belajar silat dan menuntut ilmu yang lebih tinggi, setelah gagal dalam usahanya mengembara di Kangouw untuk mengejar kungfu, akhirnya diapun akan pergi Kim-hou-po. Pokoknya setiap insan persilatan bila menemukan jalanbuntu, entah karena persoalan apa, demi mencapai cita-citanya, secara langsung dia akan teringat pada Kim-hou-po.

Tapi ada apakah sebetulnya rjdalam Kim-hou-po? Tiada orang bisa merjelaskan karena tiada seorang manusia yang sudah masuk kedalam Kim-hou-po perrah keluar pula dan muncul dikalangan Kangouw

Didalam Kim-hou-po mungkin mereka hidup senang, atau mungkin sudah lama mati atau. . . . hakikatnya tiada oran tahu. namun asosiasi kaum persilatan terhadap Kim-hou-po tidak pernah berobah, bila menghadapi jalan buntu serta merta mereka akan hijrah ke dalam Kim-hou-po.

Sudah tiga hari tiga malam Ciong Tay pek mendekam dalam lobang galiannya ditanah berdebu ditanah belukar, setengah li jauhnya diutara Kim-hou-po. Untuk mendekam didalam lobang galian seperti kelinci selama itu sudah tentu bukan pekerjaan yang enteng dan segar, kalau tidak mau dikatakan merupakan siksa, tapi Ciong Tay pek justru kuat bertahan, selama tiga hari tiga malam itu, dia jarang tidur, seluruh waktunya dihabiskan untuk memperhatikan dan mengawasi gerak gerik Kim-hou-po, namun selama tiga hari tiga malam itu. pintu gerbang benteng besar itu hakikatnya tidak pernah terbuka barang sekejappun.

D bawah kaki bukit dimana benteng raksasa itu berdiri, dibangun dua deret rumah batu. Dalam rumah batu yang besar dan panjang itu dipelihara tidak sedikit kuda dan orang- orang yang merawatnya. Bila kebetulan arah angin menghembus keutara dari tempat persembunyiannya Ctong Thay pek sering mendengar ringkik kuda, kadang kala didengar nya pula gelak tawa orang, pernah pula dia melihat bayangan beberapa orang yang mondar mandir, tapi orang- orang itu semua ber-seragam hitam dengan tutup kepala hitam pula, sering orang-orang berkedok itu menunggang kuda secara berombongan dibedal ditanah tandus pegunungan menimbulkan kepulan debu kuning, kelihaiannya tugas mereka adalah mengasuh dan merawat kuda-kuda itu atau pesuruh dan kuli. karena sering Ciong Thay-pek mendapatkan mereka mengeluarkan kereta memuat buntalan- buntalan besar entah apa isinya diangkut keatas bukit dan berhenti dibawah pagar tembok lalu mengerek bantalan itu kedalam.

Bahwasanya Ciong Thay-pek belum pernah melihat seorangpun wajah penghuni Kim-hou-po. Pada hal begitu besar hasratnya untuk tahu keadaan didalam Kim-hou po. sayang dia bukan burung yang punya sayap dan bisa terbang diudara mengintip dari udara.

Pagi hari keempat, akhirnya Ciong Thay-pek melompat keluar dari lobang galiannya. Ciong Tay-pek adalah seorang pemuda berperawakan kurus dengan pakaian yang compang camping, baju yang sudah rombeng itu tidak dapat membungkus badannya yang kurus, sehingga kelihatan didepan dadanya dihiasi sebuah tato biru berhentak seekor kupu-kupu besar. Walau badannya kurus, tapi wajahnya menampilkan sikap tegas, sorot matanya tajam penuh tekad, seolah olah tiada seuatu kekuatan apapun didunia ini dapat mencegah dia melakukan sesuatu bila dia sudah punya tekad untuk meakukannya.

Setelah berdiri dia menepuk badan membersihkan debu yang melekat dibadannya lalu melangkah lebar kedepan. Hari ini cuaca cerah ceria, sang surya memancarkan cahayanya yang berderang semakin jauh dia beranjak kedepan, kepala harimau dan gelang emas di atas pintu gerbang Kim-hou-po semakin menyolok mata ,langkahnya memang lebar, jarak setengah li ditempuhnya dengan cepat akhirnya dia tiba didepan dua deret rumah batu panjang, sejenak dia berdiri.

Banyak orang didepan rumah, tapi semua sibuk akan pekerjaan sendiri, Giong Tay-pek celingukan memandang beberapa orang yang mondar-mandir didepannya, akhirnya dia mengulum senyum getir. Orang-orang itu semua berpakaian hitam dengan kerudung kepala hitam pula jadi tidakkelihatan wajahnya hanya perawakan mereka saja yang berbeda tinggi rendah kurus gemuk, namun selintas pandang Ciong Tay-pek sudah tahu bahwa orang-orang ini semua memiliki kungfu yang cukup tinggi.

Ternyata kehadiran Ciong-Tay-pek di antara mereka tidak menimbulkan perhatian, tiada satupun yang melirik atau menegor diri nya, maka dia meneruskan jalan kedepan melewati kedua deretan rumah itu dan tiba dijalan miring yang menuju keatas bukit, di mana benteng raksasa berdiri, sejauh ini orang-orang itu. tetap diam, tiada yang menegurnya

Ciong-Tay-pek memanjat keatas lewat jalan yang serong terus maju kedipan pintu gerbang Kim-hou-po. Setelah menarik napas, dia ulur tangan memegang gelang emas disebelah kiri, gelang emas ini memang berat, baru saja dia memegang dan belum mengetukkan keatas pintu, maka terdengarlah seorang serak tua berkata: "Tunggu."

Suara "tunggu" ini kedengarannya berat menggelegar laksana guntur yang menyelinap keluar dari cela-cela pintu, hingga badan Ciong Tay pek bergetar, lekas dia menegakkan badan lalu mengingat kata-kata yang sudah dirangkaikannya serta pernah diucapkan dainm hati ribuan kali, maka suaranya terdengar mantap: "Cayhe (aku yang rendah) Ciong Tay-pek, ingin mencari perlindungan di Kim-hou po. jikalau diterima, selama hidup ini rela bekerja dan setia bagi Hou- pocu" waktu mengucapkan perkataan, jantung berdebar, namun sekuatnya dia menekan perasaannya.

Ciong Tay-pek tahu bukan kejadian aneh bila seseorang mengetok pintu minta perlindungan kepada Kim hou po. Sementara ada pula suatu ketentuan dari pihak Kim-hou-po yang harus dipatuhi, setiap orang yang datang minta perlindungan tidak pernah ditanya asal usul dan tujuannya. Peristiwa terjadi sejak delapan tahun yang lalu, Se-san-liok yan (enam siluman dari gunung barat) karena bertumpuk kejahatan yang pernah dilakukan, sehingga menimbulkan kemarahan masa. kaum persilatan bergabung mengeroyok mereka, setelah diadakan rapat terbuka di Siong-san. berbagai perguruan silat dari aliran terus sepakat untuk mencari jejak Se-san liok-yau serta menumpasnya, dalam suatu pertempuran sengit empat dari keenam siluman itu hasil dibunuh, dua lagi yang masih hidup sempat melarikan diri dan mencari perlindungan di Kim hou-po.

Sudah tentu Ciong Tay-pek tahu, sesuai ketentuan pihak Kitn-hou-po tidak akan menanya asal usul dan maksud tujuannya, padahal dia sendiri tahu bahwa kedatangannya bahasanya memikul suatu tugas rahasia, tugas khusus.

Bukan mustahil sejak Kim-hou-po berdiri dibukit rendah diutara sungai besar ini, selamanya belum pernah ada seorang yang mempunyai tekad dan maksud tujuan seperti dirinya memasuki Kim-hou-po. Bahwa Ciong Tay-pek berani melakukan sesuatu tugas yang belum pernah orang lain lakukan, jelas dia bukan manusia yang bernyali kecil. namun bila dia terbayang akan berita yang tersiar luas diluar, betapa misteriusnya Kim-hou-po ini, jantungnya masih berdebar dengan keras.

Maka terdengar pula uara serak tua itu separah lebih berat dari patah yang terdahulu serasa mendengung telinga Ciong Thay-pek ,,Kim-hou-po tidak pernah menolak kedatangan siapapun tapi harus diketahui, bila gelang emas diatas kepala harimau diketuk, bila pintu gerbang terbuka, maka kau harus masuk. Setelah masuk kecuali memperoleh jdziu dari Pocu (ketua atau pemilik benteng), selama hidup siapapun dilarang meninggalkan benteng ini."

Jari jemari Ciong Tay-pek masih pegang gelang emas itu, tanpa merasa telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Dia maklum kalau sekarang dia membatalkan niatnya masih ada kesempatan. Tapi dia justru menjawab lantang : „Aku tahu."

”Bagus," ucap suara serak tua itu, ”kau boleh ketok."

Ciong Tay-pck menarik na?as dalam dengan keras dia ketukan pelang emas itu di atas pintu suaranya berkumandang tapi tidak begitu keras, namun hanya sekejap dua daun pintu gerbang itu pelan-pelan terbuka, namun pintu besi itu hanya terbuka selebar empat lima dim jadi hanya celah-celah belaka, cukup tiba untuk seseorang menyelinap masuk.

Tanpa bimbang Ciong Tay-pek lantas menyelinap masuk, waktu dirinya mendekam tiga hari tiga malam dilobang galian ditanah tegalan itu, dalam hati sudah ribuan kali dia memikirkan persoalan Ini, maka sekarang tak perlu dipikir lagi, dengan miring tabuh segera dia sudah berada dibalik kedua daun besi besar itu.'

Begitu dia menyelinap masuk kedua daun pintu besar itupun lekas merapat pula dengan suara gemuruh. Waktu Ciong Tay pek angkat kepalanya, dirinya berada disebuah lorong panjang yang sempit, kedua sisi adalah tembok batu yang tinggi. Delapan kaki didepannya tampak sesosok bayangan orang yang bungkuk berdiri membelakangi dirinya pelan-pelan orang bungkuk ini beranjak ke-depan.

Akhirnya Ciong Tay-pek sudah berada didalam Kim-hou-po, melangkahkan kakinya d i dalam benteng raksasa yang dipandang amat misterius oleh kaum persilatan. Meski hanya lorong sempit panjang yang dihadapinya tapi dia bingung tak tahu bagaimana dia harus berbuat. Untunglah orang bungkuk didepan itu bersuara ”Ikut aku."

Itulah suara serak tua yang didengar Ciong Tay-pek waktu dia masih berada diluar pintu tadi, didalam lorong sempit ini kedengarannya mendengung dengan volume suara yang menggetar genderang telinganya.

Tersipu langkah Ciong Tay-pek beranjak kedepan. Dia tahu Lwekang (tenaga dalam) kakek bungkuk ini ternyata sudah diyakinkan setaraf itu, pasti sebelum ini adalah seorang jago kosen didunia persilatan.

Tapi setelah sekarang dia berada di Kim-hou-po, terhitung apa pula dia ? Sembari berpikir Ciong Tay-pek melangkah kedepan, dengan tangkah lebar, kakek bungkuk didepannya kelihatannya berjalan tertatih-tatih namun meski Ciong Tay pek sudah mempercepat langkah dan melebarkan tapak kaki nya tetap dia berada dibelakang si kakek dalam jarak yang sama. Akhirnya mereka sudah keluar dari lorong sempit itu, diujung lorong terdapat sebuah gardu yang dipajang amat indah dan serba antik, sayup-sayup Ciong Tay-pek mendengar percakapan dan cekikik tawa lembut dari dalam gardu, seperti cekikik seorang gadis lembut yang berhati polos sedang berkelakar, siapapun mendengar tawa lembut itu pasti merasa longgar dan bebas perasaan.

Begitu berada didepan gardu kakek itu lantas berhenti, tapi begitu berhenti dia lantas membalik badan,sehingga Ciong Tay-pek tetap tidak bisa melihat raut wajahnya, namun dikala orang berputar itulah sekilas Ciong Thay-pek menangkap tanda merah berbentuk hati dipipi kiri orang.

Seketika benak Ciong Tay pek teringat pada seeorang. Sesaat dia berdiri melenggong dengan mulut terbuka lebar, teraba keringat dingin mengucur di punggung menyentuh pinggang alat itulah si kakek sudah bersuara pula: "Masuklah." Bahwasanya hati dan perasaan Ciong-Tay-pek sudah tidak karuan, bentakan si kakek juga mendadak pula sehingga perasaannya semakin gundah dan hatinya, tanpa sadar dia beranjak kedepan mendorong pintu terus melangkah masuk kedalam gardu tertutup itu.

Bagi seorang lelaki yang jiampu bertahan tiga hari tiga malam mendekam dalam lobang tanah ditegalan, keadaan garda dengan perabot serba antik ini sudah tentu merupakan dunia lain yang teramat mewah. Baru saja kaki melangkah masuk hidung sudah dirangsang bau wangi, begitu dia angkat kepala, diantara pajangan yang serba mewah dan molek dengan aneka warna cerah, dibelakang sebuah meja bundar kayu cendana, duduk seorang cewek cantik, sanggul sang terhias berbagai hiasan dengan pakaian kuno laksana putri keraton, mata yang jeli mengerling, senyum yang menawan hati pula, suaranya merdu: "Silakan duduk," dua patah kata yang mengandung maknit, seperti tersedot saja Ciong Tay pek beranjak kesamping lalu duduk didepan meja bundar.

Sebening kaca sepasang bola mata cewek jelita ini menatap wajah Ciong Tay-pek, yang dipandang menjadi risi dan malu tertunduk, hanya sepasang tangan cewek jelita saja yang diamat Pada saat itu pula jantung Ciong Tay-pek seketika berdebar-debar.

Demi suatu tujuan rahasia dia bertekad menyelundup kedalam Kim-hou-po untuk mencapai maksudnya ini dia sudah menyembunyikan asal-usul merobah nama, serta berguru ke Tay-seng-bun dikota Cu seng di Shoa-tang. Tay-seng-bun tidak memiliki Kungfu yang lihay atau tinggi, tapi perguruan ini terkenal dengan tujuh puluh dua perobahan tata riasnya, jadi aktifitas perguruan ini kalau bukan mencuri, ya merampok, menipu atau perbuatan kotor apa saja yang dipandang hina dina. Selama setahun Ciong Tay-pek merendahkan derajat, menutup tali batinnya ikut aktif dalam berbagai kegiataan kotor didalam Tay seng bun waktu dia meninggalkan perguruan ini. dia beranggapan banwa kepandaian tata rias yang dikuasai..ya sekarang sudah terhitung nomor satu didunia ini kalau tidak mau dikatakan termasuk kelas wahid.

Kini dikala dia mengawasi sepasang tangan si cewek jelita ini, sepasang tangan putih halus laksana batu jade dengan jari-jari runcing berkuku panjang, begitu halus dan moleknya sehingga lelaki manapun yang melihatnya akan terbangkit nafsu birahinya.

Tapi Ciong Tay pek yang sudah ahli ini sudah yakin bahwa sepasang tangan itu palsu, dibalik kepalsuan sepasang tangan yang halus molek itu bukan mustahil adalah tangan yang kurus kering, dengan jari-jari seperti cakar burung, hasil dari keahlian sepasang tangan yang udah beken dalam bidangnya ini. sehingga langan yang buruk dan menyeramkan itu sekarang kelihatan begitu halus dan menyenangkan, jelas kepandaian ini jauh masih berada diatas kepandaian tata rias yang pernah diperolehnya dari Tay-seng- bun, meski dalam perguruan itu seluruhnya mempunyai tujuh puluh dua jenis tata rias yang berbeda dengan perobahan-perobahan yang tidak kentara.

Bahwa cewek jelita ini juga seorang ahli dalam soal rias merias, adalah logis kalau CiongTay-pek amat terperanjat, lalu maksud kedatangannya apakah masih dapat mengelabui lawan? Tanpa terasa punggungnya seperti dijalari ribuan semut, itulah keringat dingin yang bercucuran.

Didengarnya cewek jelita itu berkata lembut: "Angkat kepalamu."

Tanpa sadar Ciong Tay-pek angkat kepala nya mengawasi cewek yang ayu jelita didepannya, jantungnya berdebar srmakin keras. Sebelum berguru ke Tay-seng bun yang memiliki tujuh puluh dua kepandaian perobahan tata rias Ciong Tay-pek sudah memiliki Kungfu yang lumayan, Ciangbun (pemimpin) Tay-seng-bun amat sayang dan memberi kepercayaan penuh kepadanya, pernah dalam suatu percakapan gurunya itu memberi tahu bahwa Ja-li-pay dari Persia terhitung nomor satu diseluruh jagat dalam kepandaian tata rias alias make up.

Tapi anggota Ja li-pay tiada yang pernah datang keTionggoan. Anggota seluruhnya adalah nenek-nenek yang sudah berusia enam puluhan, tapi mereka mampu merias dan berdandan sendiri menjadi seorang gadis tujuh belas tahun yang cantik molek, orang lain tidak akan mampu melihat kepalsuannya. Kepandaian lain yang lihay dari Ja-li-pay adalah Ja-li bi-hun (ilmu sihir), seseorang bila terpengaruh oleh ilmu Ja-li-bi-hun segala persoalan yang terkandung dalam sanubari- bisa dilimpahkan tanpa tedeng aling-aling kepada orang yang mempengaruhi pikirannya.

Sekarang Ciong Tay-pek sudah yakin bahwa cewek jelita dihadapannya ini adalah perempuan yang berkedok, dengan sejenis obat-obatan khusus menoleh kulit mukanya kulit yang kerat keriput di mukanya akan segera kelihatan.

Dari berita yang tersiar luas di Kangouw Ciong Tay-pek sudah tahu bahwa pihak Kim-hou-po selamanya tidak pernah tanya asal usul dan tujuan seseorang yang mencari perlindungan didalam bentengnya, kenyataan hal itu tidak benar karena mereka memiliki cara lain yang amat manjur, sehingga pendatang baru itu akan tunduk dan menyerah lahir batin serta secara suka menuturkan isi hatinya.

Pelan-pelan Ciong Tay-pek menarik napas panjang, hatinya amat kalut. padahal dia tahu untuk menolak daya kekuatan Ja-li-bi-hun, dia harus mengkonsentrasikan pikiran, serta menyalurkan tenaga murni dalam badannya, kedua tangannya mengepal kencang jari tengah tangan kanannya mengincar Lau-kiong-hiat ditelapak tangan kiri sendiri.

Cewek jelita itu tertawa merdu, katanya: ”Siapa namamu?

Untuk apa masuk kebenteng ini ?' Segera Ciong Tay-pek menjawab: ”Aku bernama         "

hampir saja dia menyebut nama aslinya, karena suara si cantik memang sedemikian merdunya punya dayi tarik luar biasa bagi sehingga setiap lelaki rasanya tidak akan berbohong pula kepadanya. Tapi tidak sia-sia usaha persiapan Ciong Tay-pek selama setahun didalam Tay-seng bun, maka segera dia menyambung: ”..Aku bernama Ciong Tay-pek. karena diuber uber musuh dan menemukan jalan buntu, terpaksa mencari perlindungan ke Kim-hou-po.”

Agaknya sicantik amat puas akan jawaban Ciong Tay-pek, dengan tawa cekikikan dia berdiri, katanya : ..Sekarang kau sudah berada didalam Kim hou po,   boleh legakan hatimu. Tapi kau harus ingat, didalam benteng kau akan bertemu dengan banyak orang, kau dilarang tanya asal usul dan nama mereka, lebih baik percakapan keras dan panjang lebar juga harus kau hindarkan. Kehidupan dalam benteng tentram dan sejahtera, laksana kehidupan dalam kalangan dewa-dewa, betapapun tinggi Kungfu, sekali kali tidak boleh mendemonstrasikan kepandaianmu didalam benteng. Lebih penting lagi setelah berada di Kim-hou-po maka jangan punya pikiran lagi ingin keluar dari sini.'

Ciong Tay-pek ikut berdiri serta mengiakan dengan hormat sambil munduk.

..Baiklah, kau sudah lulus.'' ucap si cantik, '"boleh terserah kemana kau mau mencari tempat tinggal, akan datang orang nvelayani segala keperluanmu, jangan lupa pesanku, Begitu memutar badan si cantik mengeluarkan bebauan wangi, melangkah gemulai keluar pintu belakang. Dikala si cantik membelakangi dirinya, sudah timbul hasrat Ciong Tay-pek menyergapnya dengan tutukan mematiikan di Hiat-to (jalan darah) mematikan dipunggungnya. Tapi dia telan mentah- mentah keinginannya itu. karena dia sadar dirinya baru tiba, segala sesuatunya tidak boleh sembrono, langkah selanjutnya dia harus mencari tahu keadaan dan situasi di Kim-hou-po, baru menentukan langkah selanjutnya.

Dengan pandangan mendelong dia antar bayangan si cantik keluar pintu. lalu pelan-pelan diapun beranjak keluar. Diluar adalah sebuah taman kembang yang besar, waktu masih diluar benteng siapapun takkan pernah membayangkan bahwa didalam benteng tinggi yang serba misterius ini terdapat sebuah taman kembang yang permai, tanah berumbut menghijau halus seperti permadani, di sana sini tertaman berbagai jenis tanaman dan Kembang-kembang yang belum pernah dikenalnya, empang teratai, gunungan palsu serta gardu-gardu pemandangan, demikian pula loteng- loteng mungil ditengah taman yacg tersebar luas itu.

Tepat ditengah taman kembang ini terdapat sebuah telaga buatan dengan airnya yang jernih bening sehingga kelihatan dasarnya. Dipermukaan air mengambang daun teratai yang bundar besar dengan bunga teratai yang lagi mekar semerbak, menambah semarak keadaan taman yang memabukan ini.

Didalam taman ini terdapat bauyak orang, tapi setiap orang sibuk akan pekerjaan masing masing, malah suasanapun hening lelap tiada terdengar suara berisik sedikitpun. Tampak oleh Ciong Tay-pek dibawah sepucuk pohon murbei seorang kakek perawakan tinggi kurus sedang meniup seruling, jari jemarinya kelihatan bergerak dengan lincah dan mahir, tapi serulingnya itu tidak mengeluarkan suara.

Lebih banyak orang lagi yang berjalan-jalan menghirup hawa segar ditengah taman, namun sikap dan mimik wajah mereka kelihatan santai dan tak acuh akan keadaan sekelilingnya, seperti dalam taman kembang besar dan luas ini adalah milikku, hanya aku saja yang sedang berada ditengah taman kembang ini, umpama mereka jalan berpapasan satu dengan yang lain juga dianggap tidak melihatnya sama sekali. Pida hal serirg terjadi dua orang sudah hampir bertabrakan namun secara mendadak keduanya bisa menyingkir sendiri secara tangkas. Jelas dalam saat-saat yang menentukan itu mereka berbareng menggunakan gerak tubuh dan langkah kelas tinggi yang teramat lihay

Waktu masih diluar benteng Ciong Tay-pek sudah ribuan kali membayangkan keadaan didalam Kim-hou-po dengan berbagai kayalannya. tapi apapun tak pernah diduganya beginilah keadaan gata didalam Kim-hou-po ini. Pelan pelan dia beranjak kedepan, dibawah gunungan yang terbuat dan batu-batu karang laut, ada beberapa lelaki ubanan tengah duduk bermain catur. Tapi mereka bukan main berpasangan, satu lawan satu, tapi bermain sendiri-sendiri tanpa lawan. Biji- biji catur merekapun beraneka ragam warnanya, ada yang terbuat dari emas murni perak atau batu jade. ternyata ada pula yang terbuat dari mutiara. Ciong Tay-pek berdiri sekian lamanya d samping seorang kakek, ternyata si kakek tetap sibuk dengan permainan, jangan kata menyapa melirikpun tidak kepadanya.

Dipinggir telaga banyak pula yang sedang mengail, Ciong Tay-pek melihat seorang lelaki besar memegang joran panjang dua tombak sebesar lengan tangan orang, bobot joran itu yakin ada ratusan kati, tapi lelaki besar itu hanya memegang joran dengan kekuatan jari-jari tangannya diujung pangkalnya, namun sedikitpun tidak kelihatan makan tenaga. Melihat lelaki ini mau tidak mau tercekat hati Ciong-Tay-pek, bagi orang lain mungkin punya kesan din bisa kecurigaan yang mendalam, karena Ciong Tay-pek pernah sekali melihat orang ini, yaitu Kim-kong-kan Sulo Hou, murid-murid dari Thi-kan bun yang membunuh empat puluh tujuh jiwa keluarga gurunya dan dipandang sebagai musuh bergama kaum persilatan umumnya. Waktu itu dia terkepung dan sedang pertarung sengit melawan beberapa jago silat lihay yang mengeroyoknya, namun akhirnya dia berhasil melarikan diri dengan membawa luka luka parah. Gaman yang selalu dibawanya adalah joran yang terbuat dari baja itu, joran raksasa yang tiada tandingan di jagat ini. Sekarang manusia durjana, besar yang telengas itu sedang duduk dipinggir telaga, seluruh perhatian dicurahkan diujung kailrya, seperti tiada manusia lain yang hidup disekitarnya.

Ciong Tay-pek terus maju kedepan, tampak pemuda dengan berdandan Kacung langsung menhampiri dirinya seria menyapa: ”Kau baru datang? silakan ikut aku."

Ada orang mengajak bicara dirinya Ciong-Tay-pek merasa diluar dugaan, namun lekas dia mengiakan. Ternyala pemuda itu juga tidak banyak mulut, langsung dia putar badan terus beranjak kesana, tak lama kemudian mereka telah menyusuri rumpun kembang memasuki sebuah bangunan berloteng besar, serambi panjang telah mereka telusuri, sepanjang jalan ini tidak sedikit orang-orang yang berpapasan dengan mereka, tapi setiap orang itu sama, seolah-olah hanya dia sendiri yang menghuni Kim-hou-po ini.

Akhirnya pemuda itu membawa Cinng Tay-pek memasuki sebuah lorong panjang terus membelok ke sebuah serambi, mendorong sebuah pintu serta berkata: ”Bagaimana kamar ini?"

Ciong Tay-pek mengangguk, sahutnya: „Bagus sekali saudara, cilik, kenapa orang-orang disini semua tiada yang berbicara7"

Pemuda itu melerok sekejap kepada Ciong-Tay-pek katanya;„Waktu kau datang apakah nona Ho tidak berpesan apa-apa kepadamu?" habis bicara dia terus melangkah pergi. Kebetulan di serambi luar tiada orang, mendadak dia ulur tangan mencengkram kepundak si pemuda, gerak cengkraman jari tangan Ciong-Tay-pek boleh di kata cukup cerat dan lihay, tapi pundak si pemuda seketika mengedap kebawah, kelihatannya seperti tidak sengaja, namun cengkraman tugas rahasia Ciong Tay-pek telah dihindarkan dengan baik. Karuhan kejut Ciong-Tay-pek bukan main, sementara pemuda itu sudah melompat setombak jauhnya. Berdiri melongo diambang pintu, tampak pemuda itu sudah melangkah gesit keluar perambi, maka Ciong Tay-pek menarik napas panjang. Tampak dari serambi sana beranjak perlahan seorang lelaki setengah umur kearahnya, sebilah golok tergantung dipinggangnya

Lelaki setengah umur ini lewat disamping Ciong Tay pek, seperti orang lain diapun tidak melirik sama sekali kepada Ciong Tay-jek, namun begitu melihat golok yang tergantung dipinggang lelaki itu, seketika dia kaget terkesiap, teriaknya:

„Jit-sing-to."

Sejak mula Ciong Tay-pek sudah tahu, umpama dirinya gembar-gembor didalam Kim-hou-po orang lain juga tidak akan menghiraukan dirinya, tapi begitu dia melihat golok yang kemilau laksana salju, begitu tipisnya golok itu seperti tembus sinar saja. dekat punggung goloknya terdapat hiasan tujuh butir mutiara bundar yang memancarkan sinar gemerdep, tak tertahan dia menjerit kaget,

Itulah reaksi umum bagi setiap insan persilatan setelah melihat golok ku.

Maklum Jit-sing-to (golok tujuh bintang) bukan gaman sembararang gaman. Dua puluhan tahun yang lampau, berbagai Ciangbun dari aliran persilatan di Bulim, entah yang berkuasa didaratan atau diperairan pernah mengadakan pertemuan tiga kali di Hing-yang, ketiga kali pertemuan itu menentukan secara mutlak akan nilai-nilai tertinggi dari senjata-senjata sakti yang berada didunia ini. Akhirnya dipastikan ada delapan belas macam senjata didunia ini yang diakui menjagoi dunia persilatan. Sementara Jit-sing-to adalah golok tersakti dan tertajam diantara berbapai jenis golok yang pernah ada. Demikian pula Ing-sia-kiam milik lng-sia Tojin diagulkan sebagai pedang nomor satu dari seluruh pedang yang menjagoi Bulim.

Bahwa tokoh-tokoh Bulim itu berkumpul bukan untuk bertanding silat, tapi hanya menilai dan menentukan kesaktian semata, maksudnya adalah demi menjaga keselatarian beberapa tokoh silat kenamaan itu, maklumlah bila diadakan pertandingan silat, seluruh percatutan dunia persilatan pasti akan geger dan mendatangkan bencana yang tidak kecil artinya, tapi tak pernan terpikir dalam benak mereka, bahwa penilaian senjata secara mutlak itupun akhirnya mendatangkan bencana pula bagi pemilik senjata yang diagulkan itu.

Pemilik Jit-sing-to waktu itu adalah Pendekar besar Siau Tm-hong dari Ouw pak, tapi sejak gamannya itu diakui sebagai golok nomor Satu diseiuruh jagat ini, tak lama kemudian mendadak tersiar kabar bahwa Siau Tin-hong mati sicara konyol, Jit-sing-to juga lenyap tak karuan parannya. Hingga dua tanun kemudian baru orang tahu bahwa Jit-sing to berada di tangan Hek-ing-cui hong (bayangan hitam mengudak angin) Pek Liau-pine.

Tak lama setelah berita ini tersiar, gembong penjahat yang terkenal dan disegani diseluruh lapisan golongan hitam Hek- ing-cui-hong Pek Liau-ping ternvata ditemukan ajal didepan Pek be-si dikota Lok-yang, Jit-sing-to di tangannya itu juga, lenyap entah kemana.

Tiga tahun lagi, seseorang pernah melihat Lok-hoat Lojin yang terkenal sebagai manusia aneh dari Biau-kiang ada membawa senjata sakti itu, tapi tidak lama kemudian, tersiar berita pula bahwa Lok-hoat Lojin mendadak rnati, sejak kejadian itu Jit-sing-to pernah muncul pula beberapa kali, tapi setiap kali muncul pemiliknya pasti ganti orang lain, Kungfu pemilik baru lebih tinggi dari pemilik lama. Terakhir kali Jit sing-to berada ditangan Pangcu Liong bun-pang yang berkuasa disepanjang sungai kuning, merupakan Pang atau sindikat terbesar di-perairan itu. Dlhadapan umum Liong-bun- pang Pangcu bilang golok itu adalan hadiah salah seorang kenalan baiknja diwaktu dirinya merayakan hari ulang tahun enam puluh tempo hari. Akan tetapi kelayak umum tahu bahwa Liong jiau-kun (pukulan cakar naga) Liong-bun Pangcu yang mempunyai tujuh puluh dua jurus permainan itu tiada bandingnya diseluruh jagat, maka boleh diduga bahwa Ju- sing-to pasti berhasil direbutnya secara kekerasan.

Bahwa Jit sing-to sudah terjatuh ketangan Liong-bun pan Cu, maka kaum persilatan beranggapan golok itu akan abadi ditangannya, tidak akan ganti pemilik baru pula. Tapi biarnya Liong-bun Pangcu mati juga. kematiannya juga secara misterius, demikian pula Jit-sing-to telah lenyap pula.

Semua kejadian besar itu pernah menggemparakan Bulim, sudah tentu Ciong Tay-pek tahu akan peristiwa itu, oleh karena itu begitu dia melihat Jit-sing-to yang pernah membuat geger kaum persilatan ini tanpa kuasa menjerit keras. Namun lelaki setengan umur yang menyoreng pedang dipinggang itu tetap beranjak kedepan seperti tidak mendengar suaranya.

Berdebar jantung Ciong Tay-pek, kedatangannya kedalam Kim-hou-po ini memang sedang mengemban tugas rahasia, untuk mencapai tujuan jelas bukan pekerjaan yang mudah dilakukan, tapi bila dia memiliki golok sakti yang tajam luar biasa itu. urusan pasti dapat dilaksanakan lebih leluasa dan lancar. Tacli dia sudah diberi peringatan, siapa-pun didalam Kim-hou-po dilarang menggunakan kepandaian, tapi dikala lelaki setengah umur itu lewat didepannya, dengan golok kemilau dipinggangnya, tanpa sadar Ciong Tay-pek ikut mcnggerakan kaki mengikuti dibelakang orang.

Dipunggung golok yang tajam luar biasa dihiasi mutiara, merupakan suatu hal ganjil. Namun konon kabarnya bila Jit- sing-to yang tajam itu membabat, apapun yang menjadi sasarannya pasti terbelah menjadi dua, maka mutiara hiasan iru selamanya takkan pernah rusak,

Sambil berpikir Ciong Tay-pek mempercepat langkah, serambi panjang ini sepi dan sunyi tiada bayangan manusia lain kecuali mereka berdua, yang terdengar hanyalah jantung Ciong Tay-pek sendiri yang berdebur-debur seperti amukan karang mendampar pantai. Jikalau orang ini.mampu merebut Jit-sing-to dari tangan Liong bun Pangcu, maka betapa tinggi Kungfu orang ini tentu susah diukur. Lalu kenapa dia datang ke Kim-hou-po? Mungkin dia takut menghadapi jago silat lain yang berkepandaian lebih tinggi dan merebut golok itu dari tangannya, maka dia sembunyi atau menyelamatkan diri di Kim-hou po? Bahwa Kim-hou-po siapapun dilarang menggunakan ilmu silat, maka selama hidupnya dia akan dapat mempertahankan Jit-sing-to. Tapi umpama semua itu betul. lalu apa pula faedahnya dia merebut dan memiliki Ju- sing-to itu?

Jantung Ciong Tay-pek makin berdetak, perasaannya juga kalut, kini dia sudah dekat dibelakang lelaki setengah umur itu, bila keluar dari serambi ini, selanjutnya mungkin dia tidak akan memperoleh kesempatan lagi maka betapapun sekarang dia harus mencobanya .

Mendadak dia angkat sebelah tangannya menekan pundak lelaki itu, diwaktu jari jarinya menyentuh pundak orang, berbareng lelaki itu menolen serta memandangnya sekejap, tampak oleh Ciong Tay-pek, wajah orang menampilkan rasa heran dan kaget.

Sebetulnya Ciong Tay-pek Sendiri juga tidak melihat jelas karena pandangannya berkaca-kaca oleh keringat dingin sendiri yang bercucuran diseluruh mukanya. Begitu orang itu menoleh maka kedua jari tangan kiri Ci ong Tay-pek langsung menyodok ke Cian coan-hiat di leher lelaki setengah umur itu.

Sodokan jari itu dilandasi seluruh kekuatan Lwekangnya, dengan bekal kepandaian Ciong Tay-pek sekarang, papan jati setebal dua dim sekali sodok juga bolong seketika sekarang kecepatan gerak tangannya juga luar biasa, baru saja lelaki itu menoleh Ciong Tay pek juga sudah turun tangan, hakikatnya kesempatan untuk berkelit juga tidak ada, dalam sedetik itu Ciong Tay-pek sudah bersorak girang dalam hati Dalam anggapan Ciong Tay-pek serangannya itu pasti berhasil, maka Jit-sing-to juga akan menjadi miliknya, setelah memiliki Jit-sing-to. tugas kerja selanjutnya juga pasti lebih mudah dilaksanakan.

Tapi pada detik-detik bagai kilat menyambar itulah, jelas kedua jari Ciong Tay-pek sudah menyodok leher orang dan tenggorokan orang jupa bersuara: "'Krok' sekali, tapi kenyataan kedua jari Ciong Tay-pek senerti menyodok perut ikan yang licin terus menggelincir turun, seluruh tenaga yang dikerahkan dalam sodokan itu juga sirna tanpa bekas.

Karuan dalam sekejap itu Ciong Tay-pek melenggong. Maklum setelah sodokan jarinya gagal, bila mendadak kekuatan lawan menggetar balik menyerang dirinya, isi perut tubuhnya bisa tergetar hancur dan jiwapun melayang. Kalau hal itu terjadi, jiwanya tentu sudah tamat dan Tay pek tidak akan melenggong dengan darah tersirap. Sebelum turun tangan dia sudah yakin bahwa lelaki tua ini bukan orang sembarangan, tapi sekarang dirinya seperti hampa, tanpa perasaan. Ternyata lelaki itu juga tidak bertindak atau memberi reaksi balasan, orang hanya berdiri diam memandang dengan sorot dingin.

Ciong Tay-pek membuka mulutnya ingin bicara, namun dari tenggorokan serdiri ternyata mengeluarkan suara ganjil, dia sendiri menjadi heran dan tidak habis mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Maklum Tay-pek terlalu kaget, bahwasanya dia tidak tahu apa akibatnya. Persoalan apa pula yang paling menakutkan dalam dunia ini kecuali tahu dirinya segera akan mampus.

Lama lelaki itu menatap Ciong Tay-pek, rona matanya berganti beberapa kali dan kelihatan ganjil, kecuali merasakan kulit kepala terasa kesemutan dan lidah kelu, hakikatnya Ciorig Tay-pek rasakan sekujur baaan kehilangan rasa.

Mendadak lelaki tua itu terbahak-bahak, sambil tertawa kakinya melangkah lebar, tampak oleh Ciong Tay-pek dikala orang berputar dan melangkah pergi sorot matanya mendadak memancarkan sinar aneh yang tajam.

Saking kaget dan pesona karena serangan kedua jarinya tidak mampu merobohkan orang, Ciong Tay pek menjublek dan lupa menurunkan tangannya. Bila sinar tajam tadi berkelebat, seketika dia rasakan jari tangannya yang masih menjulur iuius itu seketika dingin semilir, semula Ciong Tay- pek menyangka lelaki itu menghukum ringan dirinya hanya menabas kutung kedua jari tangannya terus pergi dengan gelak tawa latah.

Ciong Tay-pek tidak tahu setelah dirinya melakukan kesalahan besar ini, apa akibatnya, maka seluruh badannya basah kuyup o.eh keringat dingin, jikalau orang kebetulan hanya menabas kutung kedua jarinya, maka persoalan inipun boleh dianggap selesai sampai di sini, maka diapun akan menerima hukuman ringan ini dengan perasaan lega. Maka sambil menarik napas panjang pelan-pelan dia menarik tangannya, syukur perasaan telah pulih Namun kembali dia berdiri tertegun.

Ternyata kedua jarinya masih utuh, bukan saja masih utuh malah diantara kedua terjepit sebilah golok pusaka yang kemilauan Jit-sing-to itulah. Setelah keluar dari serambi dan melangkah semakin jaun, lelaki tua itu masih terus tertawa dan tertawa. Karuan Ciong Tay-pek kira dirinya sedang bermimpi.

Akan tetapi ini kejadian nyata bukan impian, Jit-sing-to inasih terjepit d kedua jari tangannya, batang pedang itu ternyata dingin, hawa dingin itu merembes kedalam badan lewat kedua jarinya itu kenyataan lelaki ha itu memang menyerahkan Jit-sing-to kepadanya terus tinggal pergi dengan gelak tawa kesenangan.

Kejadian yang tidak mungkin justru menjadi kenyataan, otak Tay-pek seperti beku sekeras batu. Apapun dia tidak habis meengerti rangkaian peristiwa ini bagaimana bisa terjadi.

Untunglah pada. saat itu dibelakangnya terdengar langkah orang yang mendekat, kalau tidak entah berapa lama lagi dia akan berdiri menjubek ditempat im. Derap langkah yang mendatangi itulah yang menyentak lamunannya, cepat dia menyingkap baju menyembunyikan golok itu kedalam bajanya.

Dilihatnya seorang muda lewat didamping nya, ternyata orang muda ini melirikpun tidak kepadanya. Pelan pelan Ciong Tay pek menarik napas, perasaannya memang bergejolak, satu hal masih membuatnya sadar; Dirinya berada di Kim hou- po. peristiwa apapun mungkin saja terjadi dalam Kim-hoa-po, meskipun kejadian itu teramat ganjil seperti di dalam mimpi.

Kini Jit-sing to tersimpan dalam bajunya, rasa dingin itu meyakinkan bahwa kejadian ini memang sesungguhnya. Dia membalik tubuh, tiada orang lain diserambi ini, maka dia melangkah balik kedalam kamarnya, setelah menutup pintu jantung masih berdenyut keras.

Jit sing-to sudah menjadi miliknya, gelak tawa lelaki tua itu seperti masih kumandang ditelinganya, kenapa orang tua itu tertawa seriang itu malah? Sudah tentu Ciong Tay-pek tidak memperoleh jawaban. Bahwa Jit-sing-to diperolehnya dalam keadaan ganjil dan semudah itu. sebelumnya juga tidak pernah terbayang olehnya.

Maka dia menerawang, bagaimana langkah selanjutnya? Begitu banyak jago jago kosen didalam Kim hou-po, namun dimana dan siapakah Pocu (pemilik benteng) ini? orang-orang itu kelihatan adalah para tamu yang mencari perlindungan hidup disini, sejauh ini hanya tiga orang penghuni Kim-hou-po asli yang pernah ditemuinya. Orang pertama adalah Kakek bungkuk yang menyambut dirinya pertama kali dilorong sempit itu, kedua adalah nona jelita yang tidak diketahui wajah aslinya itu. seorang lelaki adalah pemuda yang melayani dirinya itu.

Ciong Tay-pek terus duduk diam hingga hari menjadi petang, jantungnya masih berdebar, didengarnya langkah orang mondar-mandir diserambi, tak lama kemudian pintu kamarnya didorong terbuka, pemuda tadi melangkah masuk mendorong sebuah kereta kayu yang berbentuk seperti meja meja teh kecil, setelah menyulut dian. hidangan yang tersedia diatas kereta dia pindahkan keatas meja. Hidangan ternyata banyak dan lezat, tapi Ciong Tay-pek tidak punya selera, dia hanya n.engangkat poci arak terus menenggaknya sampai puas. Setelah arak dalam poci kering laagsung dia merebahkan diri diatas ranjang.

Tak lama lagi pemuda itu balik lagi. Ciong Tay-pek sembunyikan tangannya didalam baju dengan kencang dia genggam gagang Jit-sing-to, dengan mendelong dia awasi pemuda itu mengukuri hidangan diatas meja.

Jarak dengan pemuda itu hanya tujuh kaki. bila dia melarcarkan serangan mendadak, golok tajam itu akan merobek bajunya, Ciong Tay pek tidak percaya pemuda ini mampu menyelamatkan diri dari tabasan toloknya. Terasa telapak tangannya yang menggenggam gagang golok basah oleh keringat, namun dia tidak berani bertindak secara gegabah lagi. Dia maklum nasib baik tidak mungkin selalu menimpa dirinya, bahwa dalam keadaan serba ganjil tadi dia bisa memiliki Jit-sing-to adalah karunia Yang Maha Kuasa

Setelah pemuda itu mendorong keluar kereta meja itu, baru Ciong Tay-pek merebahkan dirinya keatas ranjang pula, cuaca makin gelap. keadaan Kim-hou-po ternyata sunyi senyap, dalam benteng sebesar ini seperti hanya dirinya saja yang masih hidup.

Dengan hati berdebar-debar Ciong Tay-pek asyik menunggu dengan sabar, keringat dingin yang membasahi tubuhnya sudah kering, basah lagi kering pula, entah berapa kali, akhirnya dia berdiri perlahan lalu mendorong daun jendela, dari bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, dia memperhitungkan waktu itu sudah menjelang tengah malam.

Diluar jendela adalah sebuah pekarangan tiada seorangpun kelihatan, sedikit mengenjot badan tanpa bersuara dia melompat keluar dan hinggap diatas tanah, sebali menjejak lagi badannya melambung keatas genteng. Setelah diatas wuwungan, baru secara samar-samar dia dapat menjelajahkan pandangannya keseluruh Kim-hou-po. Didalam benteng terdapat dua taman besar, satu didepan yang lain di belakang. Siang tadi dirinya berada drtaman depan ternyata taman belakang jauh lebih besar dari taman depan.

Dimana-mana terdapat rumah-rumah, keadaan pekat dan sepi, setitik sinar pelitapun tidak kelihatan. Dimanakah penghuni asli dari Kim-hou-po ini bertempat tinggal?

Dengan menahan napas Ciong Tay-pek celingukan kian kemari, angin malam menghembus kencang, satu jam lebih Ciong Tay-pek mendekam diatas wuwungan, namun tetap tidak menemukan apa-apa. Kelihatannya tiada ronda atau penjagaan apapun didalam Kim-hou-po. Sungguh kejadian yang susah dibayangkan, kalau benar di Kim-hou po ini tanpa ronda dan penjagaan, kenapa jago-jago silat ssbanyak itu bisa hidup tentram dan selamat, kenapa pula para penjahat besar yang sudah masuk ke Kim-hou po tak ada yang pernah bisa keiuar ?

Tahu mendekam sampai pagi juga tidak memperoleh apa- apa diatas wuwungan, maka dengan enteng dia melayang turun pula. berjalan pelan-pelan kedepan setiap langkah kakinya menambah cepat detak jantungnya, hatinya was-was dan siaga menghadapi segala kejadian yang bakal menimpa dirinya. Tapi satu pekarangan demi satu pekarangan telah dijelajahinya, keadaan tetap sunyi tiada gerakan apapun, seolah-olah tinggal dirinya seorang yang masih hidup dalam benteng ini. Akhirnya dia tiba ditaman belakang dan berada dikaki tembok tinggi, di sini dia berhenti serta angkat kepala memandang kelangit. Pagar tembok ini amat tinggi, terutama dimalam gelap ini, kelihatan lebih tinggi, tapi Ciong-Tay-pek tahu dirinya tidak boleh bertindak sembrono, dengan mudah sebetulnya dia bisa melompati pagar tembok dan melompat keluar, bila berada diluar tembak, bukankah berarti dirinya sudah keluar dari Kim-hoa- po?

Sudah tentu sekarang Cong Tay-pek tidak akan meninggalkan Kim-hou-po, karena maksud tujuannya belum tercapai. Menyusuri kaki tembok dia terus maju perlahan, mungkin kerena terlalu sepi, maka pendengaran tajam Ciong Tay-pek dapat menangkap sedikit suara lembut disebelah depan dekat kaki tembok.

Kontan CiongTay-pek menghentikan langkah dan berdiri siaga, perasaannya yang peka seperti kucing yang mengintip tikus dibalik jerami. Kini dia sudah mendengar jelas, ada orang sedang berbicara, orang yang lagi bicara kemungkinan berada diluar pagar tembok. Cepat dia tempelkan kupingnya kedinding tembok, hawa murni dalam tubuhnya dikerahkan. Waktu dia meyakinkan ilmu te-thia (mendengar dari bumi), Kungfu yang sukar dilatih ini pernah banyak makan derita, namun sekarang kepandaiannya itu dapat dimanfaatkan.

Suara itu begitu lembut dan lirih, semula sukar Tay pek membedakan arah datangnya suara, namun lambat laun setelah dia pasang kuping dengan seksama, kini dia mulai mendengar jelas, itulah langkah seseorang yang mondar mandir, seperti ada orang memindah dan menggeser meja lalu berduduk, kejap lain orang itu mulai membalik lembaran buku.

Suara itu tidak mungkin kumandang dari luar tembok; karena diluar tembok adalah tanah tegalan, mana mungkin ada suara selembut itu? Sejenak Ciong Tay-pek berdiri melenggong tapi akirnya dia mengerti. Suara itu memang bukan dari luar tembok tapi kumandang dari dalam tembok, ternyata didalam tembok tebal tinggi yang memagari benteng raksasa ini dihuni orang. Kembali janturg Ciong Tay-pek berdebar, orang yang bertempat tinggal didalam pagar tembok, sudah tentu adalah orang-orang Kim- hou-po, maka dapat dipastikan orang yang hendak di carinya pasti juga berada didalam pagar tembok ini

Maka Ciong Tay-pek mendengarkan lebih cermat, dia mendengar suara daun pintu nya terbuka, di susul seorang berkata:

”Sau pocu ada pesan apa?"

Mendengar Sau-pocn (tuan muda pemilik benteng) seketika mengejang tubuh Ciong Tay-pek maka didengarnya sebuab suara sinis dingin berkata sambil menyeringai:,

”Yang baru datang bernama Ciong Tay-pek? Tidak patuh pada peraturan?"

Bahwa suara dalam tembok menyinggung nama dirinya, lebih besar rasa kaget Ciong-Tay-pek, lekas kedua tangannya menekan tembok sambil merapatkan tubuhnya dia ingin mendengar lebih lanjut pembicaraan didalam.

Terdengar suara semula berkata : ”Masih mending, siang tadi, Yang ah Lojin menyerahkan Jit-si -to kepadanya."

Mendengar sampai disini lutut Ciong Tay-pek Serasa goyah hampir saja dia jatuh semaput, dia kaget bukan lantaran leiaki tua yang disergapnya diserambi panjang itu ternyata adalah Yang ah Lojin, saJah satu dari Thian-san- ji-lo (dua orang tua dari Thian-san), tapi lantaran setiap gerak gerik-nya yang dianggapnya tersembunyi ternyata sudah dibawah pengawasan orang diluar tahunya.

Didengarnya pula suara sinis tadi berkata :

”Baru datang ke Kim-hou-po,' tidak perlu dibuat heran kalau dia tidak mematuhi aturan, siapa tidak yakin bahwa diri sendiri memiliki kepandaian yang luar biasa dan ingin melakukan sesuatu yang mengejutkan ? Hehe, mendekam diluar tembok mencari dengar pembicaraan kami bukan dia saja yang pernah melakukan,”

Seperti disambar geledek kejut Ciong Tay-pek mendengar ucapan orang, sekujur badan tanpa kuasa menggigil. Pada saat itu pula segulung tenaga mendadak terlontar dari balik tembok menerjang dirinya.

Padahal kedua tangan Ciong Tay-pek menekan tembok, separo mukanya menempel tembok pula, begitu tenaga besar itu menerjang tiba, kontan mukanya seperti kena tampar "Plak" menyusul seluruh tubuhnya mencelat terbang kesamping. Jangan kata ingin meronta, berteriak kejutpun tidak sempat lagi tahu-tahu tubuhnya sudah melorot turun dan terjatuh kedalam sebuah jaring yang lemas lembut.

Perlu diketahui C.ong Tay-pek adalah pemuda yang punya asal usul, bagaimana asal usulnya biar disebelah belakang akan kami terangkan. Ilmu silatnya tidak lemah, bernyali besar, tindak tanduknya cermat pula, kalau tidak bagaimana mungkin dia berani menyelundup ke Kim-hou po ? Tapi sekarang sekujur badannya terjaring dalam keadaan lunglai, benang jaring terbuat dari benang perak yang lemas dan lembut, semakin meronta benang lembut itu mengiris kulit rasanya sakit dan gatal.

Jaring besar itu ujungnya dipasang sebuah galah, ujung galah yang lain berada ditangan seseorang, waktu Ciong Tay- pek menoleh dan melihat jelas pemegang galah, seketika merinding bulu kuduknya.

Pertama Ciong Tay-pek melihat sebuah tangan yang halus putih dengan jari jari runcing yang berkuku panjang di susul melihat seraut wajah ayu rupawan yang menawan hati siapa lagi kalau bukan si molek yang menguji dirinya waktu pertama masuk ke Kim hou po tadi. Tanpa sadar Ciong Tay pek mengeluarkan suara jeritan panik dan ngeri, namun baru saja dia pentang mulutnya, dilihatnya Si cantik menurunkan kedua tangannya hingga jari itupun mengedap turun, tapi sekali sendai pula hingga jaring itu membal keatas maka tubuh Ciong Tay-pek seperti dilempar pegas mencelat keatas tembok.

Rasa kaget dan takut Ciong Tay-pek saat itu tak bisa dibayangkan, hakikatnya tak sempat dia berpikir, cara bagaimana si cantik dapat melempar dirinya dari dalam jaring itu keatas tembok, memangnya dirinya mau dilempar keluar dari Kim-hou po ?

Di saat perasaan tak karuan menggelitik sanubarinya, sementara tubuhnya melayang keatas tembok, sekilas dia sempat melirik kebawah, ternyata pagar tembok ini lebarnya ada satu tombak lebih, beberapa ekor kuda bisa berlari kencang berjajar diatas tembok benteng ini. Kebetulan waktu tubuhnya melayang turun, sebuah papan menjeplak terbuka, maka terbukalah sebuah lobang besar, dibawah kelihatan ada cahaya lampu menyorot keluar.

Sebisa mungkin Ciong Tay-pek masih berusaha dikala tubuh terapung diudara menggeliat tubuh mengembangkan Ginkang supaya dirinya melayang keluar pagar, karena setelah dirinya melayang keluar tembok dirinya punya kesempatan melarikan diri.

Tapi begitu papan tadi menjeblak terbuka, dibawah cahaya lampu yang benderang tampak dua lelaki baju hitam dengan kepala mendongak, memancang dingin dirinya. seorang diantaranya malah melambaikan ke dua tangan. Kontan terasa segulung tenaga besar yang punya daya sedot kuat telah menarik dirinya kebawah. sekujur badan seperti terbungkus oleh tenaga orang, begitu kedua sikut orang itu di tekuk, maka badan Ciong Tay-pek seketika anjlok kebawah lewat lobang melayang kedalam kamar. Diwaktu Ciong Tay pek mengira dirinya bakal terbanting jatuh diatas lantai, seorang baju hitam yang lain ulur sebelah tangannya, seperti meraih sesuatu, berbareng tangan yang lain menarik sebuah kursi, "Bluk" dengan tepat pantat Ciong-Tay-pek jatuh diatas kursi itu.

Seperti bermain sulap saja. namun kenyataan sedikitpun Ciong Tay-pek tidak terluka namun rasa kaget dan takutnya sungguh tidak terlukiskan, meski sudah duduk diatas kursi pandangannya masih gelap berkunang-kunang telingapun seperti mendengung. Tenggorokan terasa kering seperti dipanggang diatas bara, mulut sudah terbuka namun megap- megap tak kuasa bersuara.

Begitu Ciong Tay-pek terjatuh dan terduduk diatas kursi orang lain tiada yang bersuara, semua diam tidak bergerak, sesaat kemudian baru Ciong Tay pek agak tenang dan pandanganpun mulai terang, ternyata dirinya berada disebuah kamar yang terpajang mewah dan megah, perabot yang ada didalam kamar ini tanggung tiada keduanya dldunia ramai serba antik dan kuno, tak ternilai harganya. Tak pernah terbayang dalam benak Ciong-Tay pek. meski dia tahu dirinya berada dikamar dalam tembok benteng, ternyata sedikitpun dia tidak merasa sempit atau gerah.

Dihadapannya duduk seorang pemuda, usianya sekitar likuran tahun, wajahnya tampan, hanya air mukanya yang pucat itu kelihatan agak ganjil, bukan pucat lesi, tapi pucat menghijau seperti lumut, siapapun yang memandang muka ini akan timbul kesan aneh dan seram.

Dikanan kiri si pemuda berdiri dua orang berpakaian hitam, kedua matanya merem melek, tapi memancarkan sinar terang, kedua orang ini menatap dingin dan mengancam kepada dirinya.

Jantung Ciong Tay-pek kembali berdetak keras, baru terpikir dalam benaknya cara bagaimana dia harus mohon ampun, pemuda itu sudah buka suara lebih dulu: "Saudara Ciong, kau sudah berada di dalam Kim-hou po, kami tidak akan tanya asal-usulmu, tapisetelah berada di dalam Kim-hou-po. maka kau harus mematuhi segala peraturan yang berlaku, apa kau tahu apa maksudku?" suaranya tidak kereng atau bengis, namun kedengarannya membuat bulu kuduk orang merinding, karena orang secara langsung akan merasa ancaman terasa dibalik perkataannya itu. Ciong Tay-pek bergidik pula, mulutnya terbuka pula, tapi tetap tak bisa berbicara.

Tampak bergerak kulit daging muka si pemuda, itulah tanda dia tertawa, katanya pula: „Tapi harus di maklumi setiap pendatang baru pasti merasa heran dan ketarik akan sesuatu yang dianggapnya ganjil dan melanggar peraturan, karena itu boleh kami memberi sekali peringan kepadamu." sampai di sini dia menunduk serta berhenti sejenak lalu melanjutkan. ”Hanya sekali peringatan sebelum kau meninggalkan kamar ini. apapun yang pernah kau lakukan kami anggap tidak pernah terjadi, maka peringatan yang sekali boleh anggaplah sebagai permulaan dari kehadiranmu di Kim-hou-po."

Ciong Tay-pek cukup cerdik pandai, sekali ini dirinya tidak akan dihukum atau di apa-apakan, malah bila sekarang dia masih mau melakukan perbuatan apapun, masih belum melampaui peringatan pertama tadi dan tidak akan dianggap melanggar kedua kalinya. Karuan jantungnya berdebar pula, bukan karena takut, tapi lantaran semangatnya menggejolak, rasa ingin mencoba timbul dalam benaknya. Diwaktu tubuhnya disedot turun tadi, sebelah tangannya sudah menyelinap kedalam baju, gagang golok sudah dipegangnya kencang, tadi dia sudah bersiaga bila perlu akan turun tangan melabrak musuh dan mengadu jiwa.

Tapi jalan pikirannya sekarang berobah; tiga orang didepannya ini. terutama si pemuda pasti mempunyai kedudukan penting didalam Kim-hou po. Maka Ciong Tay-pek berpikir: „Bila aku bisa membekuknya, maka, maka maksud kedatanganku bukan mustahil bisa terlaksana malam ini juga."

Dia maklum Kungfu kedua orang baju hitam itu pasti hehat luar bisa, dari permainan tenaga kedua tangannya tadi, dapatlah dinilai bahwa mereka sudah menguasai ilmu Tay-si- mi-jiu dan aliran Hud, itulah ilmu silat tingkat tinggi, tapi jari- jari Ciong Tay-pek yang menggenggam gagang golok semakin mengencang.

Baru saja Jit-sing-to dimilikinya, betapa perbawa dan kekuatan Jit-sing-to sebelum ini sudah sering dia mendengarnya, maka begitu tangannya memegang gagang Jit-sing-to, maka timbul keyakinan teguh dalam sanubarinya, dia yakin bila secara mendadak dirinya menyergap si pemuda, harapan mencapai kemenangan amat besar.

Pada saat itulah, seperti tertawa tidak tertawa pemuda itu masih terus menatapnya, tanyanya:

’Kau sudah mengerti?"

Mumpung ada kesempatan sambil menarik napas Ciong Tay-pek berdiri sambil menjawab:

’Aku sudah.....mengerti." dikala mengucap 'mengerti', lengan kanannya pun sudah bergetar, „Bret" selarik sinar dingin berkelebat, Jit-sing-to sudah menyamber menyobek pakaian membabat kearah si pemuda. Serangan goloknya boleh dikata teramat cepat dan kencang, seluruh batang Jit- sing-to memancarkan tabir cahaya perak laksana lembayung.

Serangan Ciong Tay-pek kelihatannya biasa saja, pada hal merupakan jurus serangan yang amat dibanggakan, sejurus serangan mengandung tujuh perobahan, dalam arena setombak sekujur badan lawan terbelenggu dalam cahaya goloknya, ke manapun musuh menyingkir pasti termakan oleh ketajaman goloknva, apalagi gaman yang dibuat menyerang sekarang adalah Jii-siang-to, golok sakti yang diagulkan sebagLi senjata terampuh jaman ini. Waktu melancarkan seranga.n goloknya Ciong Tay-pek masih kelihatan duduk diatas kursi, mendadak dia berjingkrak berdiri, sementara ketujuh perobahan goloknyapun berkembang dalam sesingkat itu, di mana deru angin goloknya menyamber, sinar golok juga seperti meluber kekanen kiri, jadi bukan hanya si pemuda saja yang diincarnya, kedua orang baju hitam itupun tak luput dari ancaman goloknya.

Bukan kepalang senang hati Ciong Tay-pek. Diwaktu perobahan permainan goloknya dikembangkan, pemuda itu masih diatas kursinya, matanya terbeliak seperti amat diluar dugaan, namun begitu goloknya hampir mengenai sasarannya, mendadak pandangannya kabur, bayangan si pemuda ternyata sudah lenyap dari depan  matanya,

Jurus Pak-to- lay co yang dilancarkan Ciong Tay-pek ini boleh di kata merupakan jurus sarangan ilmu golok jang paling lihay, arti dari nama jurus itu adalah sekali serangan di lancarkan lawan pasti melayang jiwanya. Kenyataan si pemuda sudah terbelenggu dalam cahaya goloknya, dalam keadaan seperti itu, seekor burungpun jangan harap bisa terbang keluar. Tapi kenyataan pemuda itu kini sudah lenyap dari depan matanya. Hakikatnya Ciong Tay-pek tidak tahu cara bagaimana si pemuda dapat lolos dari ancaman sinar goloknya, yang ada didepannya sekarang adalah sebuah kursi.

Sayang serangan golok Ciong Tay-pek itu terlalu bernafsu dan daya kekuatannya juga terlalu kencang, walau tahu lawan sudah menyingkir, tapi untuk menghentikan serangan juga sudah tidak kuasa lagi. Maka dalam sedetik itu terdengarlah suara tabasan mengenai sesuatu, kejap lain sinar golokpun telah kuncup, Ciong Tay-pek menarik golok berdiri tegak sekujur badannya menggigil keras. Namun kursi yang diduduki si pemuda tadi sudah terbatat hancur berjatuhan diatas lantai.

Makin keras sara tubuh Ciong Tay-pek menggigil, Jit-sing-to masih terpegang ditangannya memancarkan cahaya gemerdap, tapi sekujur badannya masih terus menggigil dengan keringat bertetesan,

Dalam sekejap ini sungguh ingin Ciong-Tay pek tertawa, karena sejak Jit-sing-to ini digembleng jadi, kemungkinan belum pernah terjadi seorang yang memegang Jit-sing-to bisa mennggigil takut seperti dirinya sekarang.