Tengkorak Maut Jilid 49

 
Jilid 49

BISA ditarik kesimpulan pula bahwa perempuan ini pasti bukan perempuan sembarangan, karena dari ilmu silatnya bagitu tinggi dan keberaniannya untuk menyatroni lembah Lian huan tau yang kesohor sebagai sarang naga gua harimau itu, tak mungkin orang biasa berani melakukannya.

Puluhan orang jago lihai yang kena hantam sampai tercerai berai diluar ruangan tadi kini sudah berkerumun masuk ke pintu ruangan.

Han siong Ki bertindak tidak sungkan-sungkan lagi, kesepuluh jari tangannya bekerja cepat, desingan angin tajam berdesingan disisi telinga belasan buah serangan maut disebar luaskan keempat penjuru. Jerit ngeri sekali lagi berkumandang susul menyusul, lima orang jago lihay yang datang lebih dahulu segera kena terhajar sampai dadanya berlubang tembus sampai ke punggung, mereka pada tergelepar diatas genangan darah tanpa bernyawa lagi.

Menyaksikan kematian rekan rekannya yang begitu mengerikan, sisanya yang lain jadi ketakutan setengah mati, dengan perasaan amat takut mereka mundur sejauh dua kaki lebih dan tak berani maju lebib kedepan lagi.

"Bocah keparat, bajingan cilik, rupanya kau mamang sudah bosan hidup lebih lama lagi."

Ditengah bentakan yang amat keras, Thian- che kaucu putar badannya sambil melancarkan serangan dahsyat, angin pukulan yang amat kencang segera meluncur kedepan menghajar tubuh si anak muda itu.

Han siong Ki segera putar badannya secepat kilat, kemundian secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai...

Hampir bersamaan waktunya, manusia berkerudung itupun melancarkan sebuah serangan dahsyat ke tubuh Thian che kaucu, tiga pihak sama-sama melancarkan serangan secepat kilat, waktunyapun boleh dibilang hampir bersamaan.

Selihay-lihay tenaga dalam yang dimiliki Thian che kaucu, setelah digencet oleh musuhnya dari kedua arah yang berlawanan, ia kewalahan juga dibuatnya.

"Blaang" diiringi dengusan tertahan, Thian che kaucu mundur dengan sempoyongan ke sudut dinding ruangan.

Dengan pendangan matanya yang jeli, Han siong Ki menatap tajam perempuan berudung itu, lalu tegurnya:

"Saudara, engkau adalah jagoan lihay dari mana?" "Tentang soal ini lebih baik kau tak usah banyak bertanya" sahut si perempuan berkerudung itu dingin.

"Kalau demikian adanya, aku minta agar engkau segera mengundurkan diri dari ruangan ini"

"Andaikata aku menolak" perempuan berkerudung itu berseru secara tiba-tiba. Han siong Ki berpikir sejenak. sebelum akhirnya menjawab:

"Aku tak ingin menghalangi segala perbuatan yang hendak kau lakukan tapi aku minta agar engkau jangan mencampuri urusanku ini"

"Mencampuri urusanmu..? Tahukah engkau persoalan apa aku datang kemari?"

"Aku tak ingin tahu karena urusan apa kau datang kemari, pokoknya yang pasti aku tidak ingin urusanku dengan Yu Pia lam dicampuri oleh pihak ketiga" Perempuan berkerudung itu segera tertawa dingin.

"Heeheeheh kalau aku sih segan untuk mencampuri urusan macam begitu, bila kau punya kepandaian untuk membereskan jiwa anjingnya, aku malah merasa gembira sekali karena dengan begitu aku tidak usah membuang tenaga dengan percuma"

Pelan-pelan Han siong Ki mengalihkan sorot matanya keatas tubuh Thian che kaucu, kemudian dengan nada suara penuh mengandung hawa napsu membunuh yang hebat ia berseru:

"Yu Pia lam, kalau aku tak mati maka engkaulah yang harus mampus, lihatlah seranganku ini"

Ditengah bentakan keras yang memekikkan telinga, telapak tangannya dilontarkan seperti bayangan, dia langsung mengurung sekujur badan Thian che kaucu dan menghajar batok kepalanya. Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, Thian che kaucu tertawa seram, segenap tenaga sakti Huan goan Kin ki yang dimilikinya dihimpun menjadi satu untuk menyambut datangnya ancaman tadi..

Dalam keadaan tak sempat untuk menyerang dengan si mi sinkangnya dalam tenaga penuh Han siong Ki kena dipaksa mundur lima depa kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman maut yang mengerikan itu .

Bentakan-bentakan keras kembali menggelegar diudara, para jago yang sudah mengincar semenjak tadi dari luar ruangan sekarang serentak menyerbu masuk kedalam ruangan dengan hebatnya.

Tiba-tiba perempuan berkerudung itu melejit keudara lalu menyumbat didepan pintu ruangan, sekaligus dia lancarkan tiga buah serangan berantai untuk memaksa kawanan jago itu terdesak sampai turun kembali dari undak-undakan batu.

Segenap pikiran maupun perhatian Han siong Ki ketika itu sudah dipusatkan menjadi satu untuk membuat perhitungan berdarah, dalam keadaan demikian ia tak sempat untuk memecahkan perhatiannya untuk mengurusi yang lain, dengan begitu tindakan yang diambil perempuan berkerudung tersebut justru malah sangat membantu dirinya.

Bentakan nyaring sekali lagi menggelegar diudara, sekali lagi Han siong Ki dan Thian che kaucu terlibat dalam suatu pertarungan mati-matian yang amat seru.

Deruan angin kencang, bacokan yang menggelegar bagaikan guntur membuat seluruh ruangan diamuk oleh angin topan yang kencang, bukan saja meja dan kursi beterbangan diangkasa, bumipun seakan-akan ikut bergoncang terpengaruh tenaga serangan itu.

Rupanya kedua belah pihakpUn sama-sama menyadari bahwa pertarungan tersebut tidak akan berakhir sebelum salah satu pihak roboh dalam keadaan tak bernyawa, sedang bagi Thian che kaucu, pertarungan ini bukan saja merupakan pertarungan yang mempertahankan jiwanya, tapi mempertaruhkan keutuhan Thian che kau, bila dia kalah dalam pertarungan itu berarti Thian che kau juga akan musnah untuk selamanya dari muka bumi. oleh sebab itulah dalam melakukan pertarungan itu kedua belah pihak sama- sama menggunakan jurus serangan. yang terkeji, untuk mengancam bagian bagian tubuh yang terpenting dibadan musuh..

Ditengah ketegangan yang mencekam seluruh ruangan, tiba-tiba dari arah pintu ruangan berkumandang suara gelak tertawa aneh yang menyeramkan disusul kemudian muncullah dua orang manusias aneh bermuka seram seperti setan dengan perawakan tubuh tinggi kurus persis seperti sebatang bambu, mereka mengenakan jubah hijau sepanjang lutut dan jubah kuning yang longgar.

Tatkala menyaksikan kemunculan dua orang itu manusia berkerudung tersebut tampak agak bergemetar tubuhnya karena kaget, dengan suara yang dingin diapun berseru: "Huuh... sungguh tak disangka Bok sik Ji-kek (dua tamu sakti kayu dan batu) yang termashur namanya dimana-mana, ternyata bersedia menjadi kaki tangannya perkumpulan Thian- che-kau peristiwa ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang luar biasa, tindakan kalian takut bahwa perbuatan memalukan seperti itu akan ditertawakan oleh rekan-rekan sesama dunia persilatan?

Mendengar teguran tersebut, untuk sesaat lamanya sepasang tamu sakti kayu dan batu itu berdiri tertegun, mereka tak mampu mengucapkan sepatan kata pun.

Selang sesaat kemudian, si tamu kayu sakti baru melototkan sepasang matanya yang aneh dan menatap musuhnya dengan sinar mata buas. dengan nada suaranya yang serak seperti genta bobrok itu dia menghardik keras- keras: "Dari pengetahuanmu yang begitu luas sehingga dapat mengenali siapakah kami berdua, dapat kuduga bahwa kamu pastilah bukan seorang manusia yang tidak bernama "

"Tepat sekali perkataanmu itu, justru aku adalah seorang manusia yang tidak bernama!" tukas manusia berkerudung hitam itu dengan suaranya yang tajam.

Tamu batu sakti membereskan, ikatan pinggang pada jubah kucingnya, lalu dengan suara yang tak kalah paraunya diapun berseru aneh:

"Jadi kalau begitu, engkau berasal satu aliran dengan simuka dingin ini?"

"Boleh  dibilang   memang   begitulah,'" "Bagus,...bagus. ! Kalau begitu, kau sudah ditentukan

untuk mampus!"

Serentetan gulungan angin serangan berhawa dingin yang merasuk ketulang tiba-tiba meluncur kemuka dan menggulung keatas tubuh perempuan berkerudung itu.

Rupanya si perempuan berkerudung itu cukup mengetahui betapa lihaynya serangan lawan, cepat ujung bajunya dikebaskan kesamping, seketika itu juga angin dingin itu disapu hingga lenyap tak berbekas, kehebatannya ini bukan saja membuat sepasang tamu kayu dan batu sakti jadi melongo, kawanan jago lihay yang berada disekitar tempat itupun sama-sama tertegun dibuatnya.

"Saudara berdua, kuanjurkan kepada kalian berdua agar cepat-cepat menarik diri dari persoalan ini, mumpung keadaan masih belum terlambat.." kembali perempuan berkerudung itu berkata.

“Heeeehhh.......heeehhh.......heehhh besar amat

bacotmu perempuan rendah" teriak dua orang manusia aneh itu dengan berang "jangan kau anggap sepasang tamu sakti bisa dipermainkan si enaknya, Hmm! Kami berdua bukan manusia yang suka dipermainkan "

Diiringi suara bentakan yang amat nyaring, Bok si-ji-kek atau sepasang tamu batu dan kayu sakti menerjang maju kemuka, mereka serentak lancarkan serangan yang b;rtubi- tubi, semua serangan yang dipergunakan merupakan jurus- jurus ampuh yang jarang ditemui di kolong langit dewasa ini, dalam keadaan demikian, sedikit meleng saja bisa mengakibatkan suatu kematian yang mengerikan.

Tapi ilmu silat yang dimiliki perempuan berkerudung itupun bukan kepandaian sembarangan, maka kedua belah pibakpun segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Dalam pada itu, suasana dalam ruanganpun tak kalah serunya ,pertarungan antara Han siong Ki melawan Thian-

che-kaucu sudah berlangsung mencapai seratus jurus lebih, dibawah serangan-serangan yang gencar, Thian-che kaucu mulai tunjukkan tanda-tanda kalah, ia didesak sedemikian hebatnya sehingga posisinya bukan saja sangat tidak menguntungkan bahkan terancam mara bahaya....

Han-siong Ki sendiri, begitu mendapat angin untuk meneler lawannya, serentak dia lancarkan serangkaian serangan yang ganas dan dahsyat.

Tiba-tiba terdengar jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian, ketika semua orang berpaling, maka tampaklah kain kerudung yang dikenakan Thian-che-kaucu sudah tersambar hingga terlepas, segera tampaklah seraut wajah lima puluh tahunan yang sinis tapi gagah.

"Haaah ?! Bukankah dia adalah Sim Si-kiat?" tiba-tiba

sepasang tamu batu dan kayu sakti berteriak keras menyusul kemudian mereka tarik kembali serangannya dan melompat mundur kebelakang. Dengan mundurnya kedua orang itu, si perempuan berkerudung itupun menarik kembali serangannya sambil mundur, katanya:

"Kalian berdua tak usah heran atau tercengang, pada hakekatnya Sim Si-kiat itu sebenarnya, adalah Yu Pia lam dan Yu Pia lam adalah sim si kiat, dua orang itu meski berbeda nama tapi orangnya sama, hm, memangnya baru tahu sekarang ?"

"Dia.. dia toh murid kepala dari Tengkorak maut?" tamu kayu sakti berseru dengan mata melotot.

"Murid kepala apa?. Lebih tepat kalau dikatakan sebagai murid murtad dari benteng maut"

"Aah. hal ini... mana mungkin bisa terjadi"

"Kenapa tak mungkin terjadi? Untuk mencapai apa yang diharapkan ia memang gunakan segala macam tipu muslihat yang keji untuk melakukannya mengganti nama menyusup ke perguruan orang, memangnya kau anggap dia adalah seorang yang alim ?"

"Dan..kau mengetahui semua ?"

"Tentu saja Kalian berdua tersekap dalam benteng maut lantaran dalam hal ilmu silat kamu berdua tak bisa menandingi kelihayan pemilik benteng maut tapi Yu Pia lam, bangsat ini menyelamatkan kamu berdua serta jago-jago silat lainnya adalah karena ingin mewujudkan ambisinya untuk memusnahkan benteng maut dari muka bumi, dia gunakan kekuatan yang kalian miliki untuk memusuhi musuh besarnya, dia hendak menjadi kaisar dalam dunia persilatan, bila kalian semua mau dibohongi olehnya dan ditipu mentah-mentah olehnya, maka itu berarti kalian semualah orang-orang goblok" Mendengar semua ucapan tersebut sak-kek-si tamu batu sakti saling berpandangan sekejap dengan Bok-kek si tamu kayu sakti, kemudian ujarnya dengan lirih:

"Toako, kalau memang demikian kenyataannya, buat apa kita tetap berada disini ? Ayoh pergi "

Si tamu kayu sakti manggut-manggut dan mereka berdua pun segera mengundurkan diri dan berlalu dari sana.

Belasan orang jago-jago lihay dari perkumpulan Thian che kau yang ada disekitar tempat itu sama-sama berdiri kaku seperti patung arca, sejak menjadi anggota perkumpulan, baru pertama kali ini mereka saksikan raut wajah asli dari kaucu mereka, tentu saja tentang perkataan dari perempuan berkerudung itu mereka merasa setengah paham setengah tidak.

Sementara itu suara pertarungan yang amat seru dan suara bentakan-bentakan nyaring berkumandang semakin dekat, jelas ada orang yang telah berhasil menjebolkan pertahanan yang berlapis-lapis dalam lembah tersebut dan semakin mendekati markas tersebut.

Setelah mencopot kain kerudung hitam yang menutupi wajah Yu Pia lam, sambil menggertak gigi menahan rasa bencinya Han siong Ki berkata:

"Yu Pia lam, dua ratus lembar jiwa keluarga Han telah kau bantai dengan cara yang paling licik, paling keji dan paling jahat, hutang darah yang bertumpuk-tumpuk ini harus kau tebus dengan darah dari anggota-anggota perkumpulan Thian che kau"

Pada saat ini, keadaan Thian che kaucu ibaratnya gendewa yang sudah ditarik hingga tegang, keadaan yang kritis itu memaksa gembong iblis tersebut secara beruntun mundur beberapa langkah kebelakang, sekarang punggungnya sudah menempel disisi dinding ruangan, boleh dibilang ia sudah terdesak dan tak ada jalan untuk kabur lagi. Ditengah bentakan yang ama nyaring.. Thian che kaucu menerkam kemuka dengan kalap. sepasang telapak tangannya melancarkan bacokan kedua arah yang berlawanan, terhadap ancaman yang membayangi tubuhnya itu bukan saja ia tidak menyingkir, memandang pun tidak.

Pertarungan semacam ini tak ubahnya seperti pertarungan adu jiwa, jelas tujuannya adalah untuk memaksa musuhnya sama-sama luka parah.

Tindakannya yang nekad ini sama sekali di luar dugaan Han siong Ki, malah waktu untuk memilih mana yang baik pun tak sempat lagi.

"Duuuk Duuk." dua kali benturan nyaring menggelegar diangkasa, menyusul kemudian dua kali dengusan kesakitan menggema memecahkan keheningan.

Han siong Ki muntah darah segar, dengan sempoyongan dia mundur sejauh satu kaki lebih, badannya terasa gontai kesana kemari.

Demikian pula keadaannya dengan Thian che kaucu, punggungnya menempel diatas dinding ruangan, darah segar segumpal demi segumpal muntah terus dengan derasnya, muka yang menyeringai tampak mengerikan sehingga ibaratnya setan iblis.

Suara pertarungan yang berlangsung diluar ruangan kedengaran semakin ramai, beratus-ratus sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa menerjang masuk kedalam markas.

Demikian keras dan ramainya suara itu, seakan-akan hendak memberitahukan kepada seluruh jagad bahwa hari kiamat bagi Thian che kaucu sudah menjelang tiba.

Diantara kerlipan cahaya api beberapa puluh sosok bayangan manusia sudah mulai menyerang kedalam ruangan itu. Perempuan berkerudung itu membentak berulang kali, dengan ketatnya ia menjaga pintu ruangan tersebut.

Setelah terjadi benturan kekerasan tadi, Han siong Ki beristirahat sebentar untuk mengatur napas, kemudian selangkah demi selangkah ia maju menghampri Thian che kaucu yang masih menempel diatas dinding ruangan itu.

"Sreet sreet.." setiap langkah kaki dari anak muda itu seakan-akan mendatangkan perasaan seram yang mencekam perasaan setiap orang.

Thian che kaucu sendiri dengan tubuh menempel diatas dinding pelan-pelan mulai bergeser kesamping.

"Hati- hati Bangsat itu hendak melarikan diri" Peringatan itu berasal dari perempuan berkerudung itu,

sementara dia berseru, sepasang telapak tangannya bergerak kesana kemari menghadang setiap jago yang berusaha menerjang masuk kedalam ruangan itu...

Mendengar suara peringatan itu, Han siong Ki merasa terkejut, dengan cepat dia melompat ke depan, tangan kanannya secepat sambaran kilat melancarkan sebuah serangan untuk mencekal tubuh lawannya..

Tiba-tiba di atas dinding ruangan muncul sebuah celah, menyusul kemudian Thian che kaucu dengan cekatan menyusup ke dalam celah didinding tadi untuk melarikan diri.

Cengkeraman dari Han siang Ki menyambar kemuka, dengan tepat sekali ia berhasil mencengkeram lengan kiri lawan.

Merasakan lengan kirinya kena dicengkeram Thian che kaucu berusaha meronta dengan sekuat tenaga tapi tak berhasil, sementara celah-celah yang membuka diatas dinding mulai merapat. Han siong Ki membetot dengan sekuat tenaga dengan dengusan kesakitan terdengar menggema dari balik celah- celah ruangan, percikan darah kental segera berhamburan kemana-mana, tahu-tahu ditangannya telah berhasil mencengkeram sebuah kutungan lengan yang masih mengucurkan darah kental, sedang Thian che kaucu sendiri menggunakan kesempatan itu melarikan diri kedalam ruangan rahasia.

Jeritan-jeritan kaget sementara itu menggema diluar ruangan, keras sekali suaranya, mewarnai suasana hiruk pikuk yang kian menjadi.

Dengan gemas Han siong Ki membanting kutungan lengan itu keatas tanah, lalu dengan sekuat tenaga melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas dinding ruangan yang penuh dengan noda darah itu.

"Blaang " benturan yang keras menggoncangkan seluruh ruangan itu, debu dan pasir berguguran dari atas dinding...banyak atap yang berjatuhan ketanah, tapi dinding itu tetap utuh seperti sedia kala, kiranya dinding tadi terbuat dari baja yang kuat sekali, kecuali menimbulkan suara beruntun keras yang memekikkan telinga. hampir boleh di bilang dinding itu utuh dan tidak rusak..

Han siong Ki semakin gusar, matanya jadi merah padam karena merahnya, ia merasa berat hati membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja, karena itu sepasang telapak tangannya kembali diayunkan kedepan.

Sementara itu belasan sosok bayangan manusia kembali sudah menerjang masuk kedalam ruangan.

Tiba-tiba Han siong Ki putar badan dengan cepatnya, dengan menghimpun tenaga penuh, telapak tangannya segera diayun ke sana melancarkan sebuah bacokan kilat.

"Blaang" jerit kesakitan kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dua sosok bayangan manusia mencelat ke belakang dan terkapar ditanah dalam keadaan tak bernyawa.

Menyaksikan keganasan musuhnya, jago-jago lainnya jadi jeri dan ketakutan, mereka sama-sama mengundurkan diri dari ruangan dan berusaha untuk menjauhkan diri dari lawannya.

Sekali lagi Han siong Ki putar badannya, dia berusaha menemukan tombol-tombol rahasia di atas dinding untuk membuka pintu rahasia tersebut.

"Tak usah buang waktu dengan percuma sahabat" kata perempuan berkerudung itu tiba-tiba, "ia sudah pergi jauh, sekalipun tombol rahasianya kau temukan juga tak akan berhasil untuk menyusul dirinya"

Pelan-pelan Han siong Ki memutar badan. "siapakah engkau sahabat? " tegurnya.

"Kita hanya bertemu secara kebetulan, sebentar lagipun akan berpisah kembali, buat apa kau tanyakan soal nama? Daripada buang waktu hanya untuk menanyakan nama orang lain, kenapa tidak kau tolong nona yang sedang ketimpa kemalangan itu lebih dahulu"

"Kau... kau... darimana kau tahu ?"

"Tentu saja aku tahu " jawab perempuan berkerudung itu singkat.

Sekujur badan Han siong Ki menggigil menahan emosi, sambil menggigit bibir, ujarnya dengan penuh kebencian "Dia telah tewas"

"Apa ? Go siau bi telah mati"

"Yaa, jenasahnya sampai sekarang masih berbaring didalam ruang rahasia dibelakang sana" "Kenapa mati? Aku yang mengakibatkan kematiannya?" kelihatan sekali kalau perempuan berkerudung itu merasa terkejut sehingga suarapun kedengaran agak gemetar.

"obat si mia kim wan yang kudapatkan ternyata palsu."

"Siapa yang mengatakan bahwa obat Si mi kim wan itu palsu?" tiba-tiba dari belakang meja sembahyang ditengah ruangan itu berkumandang suara seseorang.

Menyusul ucapan tersebut, muncullah seorang nona berbaju hijau maju ke depan dengan langkah lemah gemulai.

Nona berbaju hijau itu bukan lain adalah Cui hoa siancu si dewi cantik bunga cui, Ting Hong adanya.

Menyaksikan kemunculan si nona itu, dengan sorot mata yang mengandung cahaya buas Han siong Ki menatap wajahnya tajam-tajam, lalu teriaknya dengan suara menyeramkan "Ting Hong, aku hendak membunuh engkau"

"Membunuh aku? Kenapa ? " paras muka Cui hoa siancu Ting Hong tampak sedikit berubah.

"Engkau akan kubunuh lebih dulu, lalu akan kucari ibumu untuk membikin perhitungan"

"Membuat perhitungan ? Perhitungan apa ?"

"Ia telah menggunakan obat mustika si mia kim wan yang palsu untuk membunuh orang."

"siapa yang telah terbunuh?" kembali nona itu bertanya.. "Calon istriku..."

"Aaah masa ia benar-benar telah mati?"

"Memangnya kau anggap aku cuma lagi membohongi dirimu...?"

"siapa yang telah mati?" kembali seseorang perempuan berkerudung munculkan diri dengan tergesa-gesa. Pertarungan yang berlangsung diluar ruangan masih tetap berlangsung, hanya kali ini suara pertarungan itu tidak sesengit pertarungan yang berlangsung sebelumnya.

-ooo0dw0ooo-

BAB 100

HAN SIONG KI mengalihkan sinar matanya keatas wajah perempuan berkerudung yang baru saja munculkan diri itu, dia hendak mengucapkan sesuatu tapi segera dibatalkan, karena perempuan itu telah melepaskan sendiri kain kerudungnya.

Apa yang diduga pemuda itu memang tidak keliru, dia bukan lain adalah kakak seperguruannya Ko Goan cun.

"siapa yang telah mati?" sekali lagi Ko Goan cun bertanya. "Go siau bi"

"Aaaah... masa Go siau bi benar-benar sudah mati?"

Cui Hua siancu Ting Hong yang berada disampingnya tiba- tiba tertawa misterius.

"Andaikata ia belum mati bagaimana?" katanya kemudian Begitu pertanyaan tersebut diutarakan ke luar serentak

semua orang berdiri tertegun, siapa yang bisa menghidupkan

kembali orang yang telah mati? Bukankah pertanyaan itu adalah suatu pertanyaan yang terlampau aneh..? Han siong Ki segera, mendengus dingin.

"Hmm. Mati hidup seorang manusia bukan permainan kanak-kanak, aku tidak biasa untuk mengguraukan persoalan seperti itu"

Senyuman yang semula menghiasi wajah Cui Hoa siancu sekali lenyap pula tak berbekas "Manusia bermuka dingin" katanya pula: "kalau engkau kurang percaya bagaimana kalau sekarang juga kita pergi bersama-sama untuk membuktikan kebenaran dari ucapanku

?"

"Sutee ayo cepat membawa jalan buat kami". sela Ko Goan cunpula dengan cepat, "siapa tahu kalau "

Dengan perasaan apa boleh buat, Han siong Ki mengangguk. dia lantas berjalan lebih dahulu menuju ke ruang belakang, dan sesaat kemudian sudah tiba didalam ruangan rahasia mayat Go siau-bi masih membujur diatas pembaringan kayu itu.

Cui Hoa siancu Ting Hong segera maju beberapa langkah ke depan, dipegangnya nadi Go siau Bi kemudian diperiksanya dengan seksama kemudian dengan wajah bersungguh- sungguh ia berkata:

"Manusia bermuka dingin, bila lewat setengah jam lagi, dia Akan benar-benar mati, bahkan kali ini dia mati ditanganmu sendiri.."

"Jadi. jadi dia belum mati sekarang ?"

Perasaan Han siong Ki pada waktu itu yaa kaget yaa girang, saking terharunya sampai perkataanpun jadi tergagap.

"oleh karena obat si mia kim wan mempunyai daya kerja yang terlampau dahsyat, maka barang siapa menelan obat tersebut maka seluruh peredaran darahnya akan menjadi beku dan pernapasannya berhenti dalam keadaan begini maka seseorang yang memiliki tenaga dalam cukup sempurna harus membantunya seketika itu juga untuk melumerkan daya kerja obat tadi, andai kata terlambat setengah jam saja maka jiwanya tidak akan tertolong lagi, coba bayangkan sendiri, seandainya sampai terjadi peristiwa seperti ini, siapakah yang harus kau tuntut?." Sekarang Han Siong Ki baru menyesali sikap cerobohnya yang mengakibatkan terjadinya peristiwa semacam ini, seandainya ia minta keterangan yang sejelas-jelasnya ketika minta obat mujarab itu mungkin tak akan sampai terjadi peristiwa seperti ini, untung sekarang berjumpa dengan Ting Hong. coba kalau tidak ? Bukankah nyawa Go siau bi akan melayang dengan penasaran

Teringat sampai ke soal itu, diam-diam anak muda itu merasa bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.

Dengan perasaan yang masih sangsi, pelan-pelan dia menghampiri anak dara itu, kemudian diperiksanya denyut jantung yang semula sudah berhenti itu..

Betul juga Ternyata keempat anggota badannya masih hangat, denyutan nadipun masih berjalan seperti sedia kala meski hanya denyutan yang lirih.

Secepat kilat Cui Hoa siancu Ting Hong menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh Go siau bi, kemudian telapak tangan kanannya ditempelkan pada jalan darah Thian to hiat, sementara telapak tangan kirinya ditempelkan pada jalan darah Meh keng hiat, hawa murninya yang cukup sempurna sedikit-sedikit di salurkan ke dalam tubuh Go siau bi yang masih menggeletak itu...

Seperminum teh kemudian, dengusan napas Go siau bi kedengaran semakin keras, paras mukanya juga makin bertambah semu merah, sebaliknya Ting Hong mulai kepayahan, keringat bercucuran membasahi seluruh badannya, pucat pias wajahnya, bahkan sekujur badannya tampak sedikit gemetaran-

Menyaksikan kesemuanya itu dari sisi arena Han siong Ki merasa berterima kasih bercampur menyesal.

Tiba-tiba Ting Hong membuyarkan telapak tangannya, lalu kepada Han siong Ki ujarnya: "Bantulah dia dengan menyalurkan hawa murnimu lewat jalan darah mia bun hiat, maka kesehatan tubuhnya segera akan pulih kembali seperti sedia kala" sembari berkata dia lantas bangkit berdiri

Han siong Ki menjura sambil mengucapkan rasa terima kasihnya, katanya lebih jauh:

"Karena kurang teliti dan berbuat sedikit ceroboh, hampir saja kusalahi diri nona, untuk bantuanmu sebelum dan sesudahnya kuucapkan banyak-banyak terima kasih"

Dengan membelalakkan sepasang matanya yang jeli, bening dan besar itu cui Hoa siancu Ting Hong mengawasi beberapa kejap wajah Han siong Ki yang tampan dengan wajah termangu dalam waktu yang amat singkat itu perubahan terjadi diatas wajahnya, lalu ujarnya dengan suara lirih:

"Aaah engkau terlalu banyak adat"

Seraya berkata diapun bangkit berdiri dan putar badan meninggalkan ruang rahasia tersebut.

Sebagaimana telah dikatakan tadi, maka sepeninggalnya Ting Hong, Han siong Ki segera menempelkan telapak tangan kananya diatas jalan darah Mia bun hiat di tubuh Go siau bi, hawa murninya disalurkan segulung demi segulung untuk membantu dara itu.

Tak selang berapa lama kemudian, Go siau bi telah menarik napas panjang, dia mambuka matanya kembali.

Melihat gadis itu sudah membuka matanya, kembaii Han siong Ki menarik pula telapak tangannya, dengan penuh kegembiraan dia berseru: "Adik Bi, engkau sudah sehat kembali bukan?"

Go siau bi melompat bangun dari pembaringannya, ia menyapu sekejap sekeliling ruangan itu dengan pandangan kaget, kemudian serunya dengan lirih: "Dimanakah aku berada saat ini?"

"Engkau masih tetap berada dalam markas besar perkumpulan Thian che kau"

Dengan biji matanya yang jeli Go siau bi menatap sekejap semua orang yang berada dalam ruangan itu, dan Han siong Ki segera memperkenalkan mereka kepadanya, tapi ketika akan memperkenalkan perempuan berkerudung itu, dia jadi malu sendiri sebab sampai sekarang dia sendiripun tak tahu siapakah dia, cuma tahu kalau perempuan misterius itu juga datang kesitu untuk menyatroni orang-orang Thian che kau.

Tampaknya perempuan berkerudung itupun cukup menyadari akan keadaan tersebut, sambil tertawa ringan segera ujarnya:

"Nona Go, kuucapkan selamat kepadamu karena terlepas dari kematian, hidupmu di kemudian hari pasti akan diberkahi banyak rejeki. Walaupun Thian che kaucu lolos dengan membawa luka yang cukup parah, akan tetapi tidak sedikit anak buahnya yang masih melakukan perlawanan dengan tangguh, aku rasa kita harus segera pergi untuk menyelesaikan persoalan ini.."

Meskipun separuh kata yang pertama ditujukan kepada Go siau bi, tapi jelaslah sudah bahwa kata-kata yang terakhir tidak lain ditujukan diri Han siong Ki.

Dengan pandangan sangsi Han siong Ki memandang sekejap kearah perempuan berkerudung itu, lalu dengan benak yang dipenuhi oleh teka teki yang tak terjawab, dia ulapkan tangannya.

"kalau memang begitu, ayo kita segera berangkat" .

Maka berangkatlah beberapa orang itu meninggalkan ruang rahsia tersebut. ketika mencapai tanah lapang diluar ruang tengah, disana terlihat betapa banyaknya bayangan manusia yang bersimpang siur, mayat terkapar disana sini, bahkan suara pertarungan masih terdengar di tempat yang agak jauh.

Ketika Han siong Ki munculkan dirinya, beberapa sosok bayangan manusia segera memburu kedepan...

"saudara cilik" "Han sauhiap" "siau sicu"

Di tengah suara panggilan yang hiruk pikuk, si Pengemis dari selatan, si padri dari utara, si dewa berjalan dalam tanah dan beberapa orang kakek yang tak diketahui namanya bermunculan disitu dan mengerumuni Han siong Ki bagaikan lagi mengerumuni seorang tokoh persilatan saja.

Dengan sikap yang merendah Han siong Ki memberi hormat satu demi satu kepada beberapa orang itu

Dalam pembicaraan itulah diketahui bahwa Pengemis dari selatan adalah pemimpin dalam operasi kali ini diapun menerangkan bahwa kawanan jago yang bergabung dalam beberapa perkumpulan dan partai persilatan yang pernah merasakan kekejian Thian che kau telah bersatu padu untuk bersama-sama mendobrak kelaliman dan kekejaman orang- orang perkumpulan Thian che kau.

Tentu saja seandainya tiada Han siong Ki beberapa orang yang secara kebetulan bertindak sebagai panglima pembuka jalan bagi mereka, kemungkinan besar yang diselenggarakan Pengemis dari selatan kali ini lebih banyak gagalnya daripada mendapat sukses besar. 

"omitohud" terdengar padri dari utara berseru memuji keagungan sang Budha, "sausicu perkumpulan Thian che kau berambisi besar, mereka bukan saja mencelakai nyawa sesama umat persilatan, bahkan bercita-cita merajai seluruh kolong langit. Maka ketika semua partai dan perkumpulan ketika mendengar rencana ini segera bersatu padu melakukan operasi seperti apa yang kemudian terjadi pada hari ini, kalau ingin tahu rahasia kesuksesan kami kali ini, maka boleh dibilang Buyung li-siculah yang paling berjasa bagi kami"

"Buyung li-sicu? siapakah dia?" Han siong Ki bertanya dengan hati terkejut.

Dewa berjalan dalam tanah yang gemuk lagi cebol sehingga mirip badan yang membengkak itu sebera tertawa cekikikan.

"Hiih... hiiih... hiih... masa kau tak tahu? Dia kan yang paling cantik didunia ini..."

"Maksudmu Buyung Thay? " si anak muda itu coba menegaskan ucapan rekannya itu.

"Betul Betul saudara cilik, kau memang lihay, sekali tebak lantas mengenalinya"

"See... sebenarnya apa..apa yang terjadi?" anak muda itu gelagapan.

Pengemis dari selatan mengetukkan tongkat tah kau pang (tongkat penggebuk anjing) nya ketanah kemudian sahutnya dengan wajah bersungguh-sungguh.

"saudara cilik, seandainya rekan Buyung tak melukiskan peta lembah ini lebih dulu sehingga menerangkan semua jebakan dan kekuatan yang ada dalam lembah ini kepada kita, kemudian menyusun pula rencana yang matang untuk mengimbangi kerja sama antara gerakanmu dengan gerakan kami, coba bayangkan sendiri memangnya didunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulannya sehingga semuanya bisa berlangsung hampir bersamaan waktunya? selain dari itu kendatipun aku sipeminta-minta tua sudah bosan hidup tidak.. nanti akan kubawa pula rekan-rekan sekumpulanku untuk datang kemari cuma untuk menghantar nyawa masing masing? Haahh.. haaahh... saudara cilik jangan kau anggap saudara tuamu sudah sinting, dan otaknya miring" Sekarang Han siong Ki baru memahami duduk perkara yang sebenarnya, dengan adanya kejadian ini maka rasa menyesalnya terhadap Buyung Thay juga semakin bertambah mendalam, mimpipun dia tak menyangka kalau Buyung Thay adalah seorang perempuan yang baik dengan maksud hati yang sangat mulia. Maka dengan penuh perasaan cemas diapun bertanya: "Engkoh tua, saat ini Buyung Thay berada dimana.?"

"oooh... dia..?"

Tapi sebelum pengemis dari selatan sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba perempuan berkerudung itu menyela dari samping:

"kalau ingin bercakap-cakap lebih baik di samping nanti saja, sekarang lembah Liau huan tan sudah dimusnahkan dan tujuan kalianpun sudah tercapai, aku rasa lebih baik cepat- cepatlah mengundurkan diri dari tempat ini"

Mendengar ucapan tersebut, serentak semua orang yang ada dalam arena amat terperanjat.

"Sungguhkah perkataanmu itu?" pengemis dari selatan segera bertanya dengan mengernyitkan alis matanya.

"Mau percaya atau tidak terserah pada kalian sendiri, pokoknya aku hanya dapat memperingatkan demikian saja."

Han siong Ki lantas mengalihkan sorot matanya memandang rekan-rekannya yang berada dalam ruangan tersebut, lalu katanya:

"Lebih baik kalian semua mengundurkan diri terlebih dahulu dari lembah ini"

"Bagaimana dengan engkau?" Go siau bi bertanya dengan alis matanya berkernyit.

"Sebelum menemukan kembali Yu Pia lam aku bersumpah tak akan meninggalkan lembah ini." "Heh... heeh... heehh Yu Pia lam sudah berada di luar lembah sejak tadi, apa yang hendak kau nantikan lagi di tempat ini?" ejek perempuan berkerudung itu sambil tawa dingin.

"Tapi, tapi lengannya sudah kutung dan luka cukup parah, mana mungkin dia bisa.."

Tapi sebelum ucapan Han siong Ki itu sempat diselesaikan, perempuan berkerudung itu sudah berkata lagi:

"Memangnya kau anggap didalam lorong rahasia tersebut tak ada orang yang siap menolong nyawanya? " .

Seketika itu juga Han siong Ki terbungkam, tapi rasa gusar dan dendamnya tidak mereda karena itu, ia merasa walaupun harus terbang ke langit atau masuk kebumi, dia bersumpah tak akan melepaskan musuh besarnya dengan begitu saja.

"Aaaah... kalau ku analisa perkataan dari perempuan berkerudung ini, jangan-jangan dia tahu kemana kaburnva bangsat itu..." ingatan tersebut tiba-tiba saja melintas dalam benaknya.

Berpikir demikian dengan suara dalam diapun bertanya: "Nona, apakah engkau tahu kemana perginya Yu Pia lam

setelah melarikan diri dari tempat ini?"

Perempuan berkerudung itu segera tertawa dingin. "Heeehhh.... heeehhh heeehhh Han siong Ki engkau

sebut aku sebagai nona, apakah kau sudah tahu kalau aku bukanlah seorang perempuan yang pernah menikah?"

Mendengar sindiran tersebut merah padamlah selembar wajah anak muda itu saking jengahnya, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan tersebut..

Seakan-akan sedang menyindir lawan berbicaranya, perempuan berkerudung itu kembali berkata.. "Han siong Ki, sebut saja kau dan aku secara langsung, bukankah sebutan itu jauh lebih enak kedengarannya daripada sebutan nona atau sebutan lainnya"

Han siong Ki semakin tergagap lagi setelah mendengar sindiran tersebut, tapi setelah termenung sebentar akhirnya sambil tebalkan mukanya dia berkata..

"Apakah engkau tahu kemana larinya Thian che kaucu setelah kabur dari sini ?"

"Tahu"

"Bersediakah engkau menerangkan rahasia tersebut kepadaku?" kembali pemuda itu berkata.

"Tentu saja boleh, cuma kita harus mengundurkan diri lebih dahulu dari lembah lian huan tau ini?"

Setelah perempuan tersebut berkata demikian maka dengan perasaan apa boleh buat Han siong Ki mengangguk.

"Baiklah kalau memang begitu" katanya..

Kepada pengemis dari selatan serta kawanan jago lainnya yang berkumpul disana dia berseru. " Engkoh tua, saudara sekalian, ayolah kita bersama-sama mengundurkan diri lebih dulu dari sini."

Dibawah komando pengemis dari selatan, maka semua jago persilatan yang menyerbu masuk ke lembah Liau huan tau dari pelbagai arah itupun sama-sama berkumpul untuk kemudian bergerak menuju keluar lembah.

Setelah semua jago berangkat, Han siong Ki berpaling ke arah Cui hoa siancu seraya ajaknya pula:

"Nona Ting, mari kita melakukan perjalanan bersama-sama, tidak keberatan bukan?"

"Tentu saja " sahut nona Ting Hong. Kata-kata "tentu saja" itu kedengarannya agak menyolok. ini membuat perasaan Han siong Ki sedikit bergerak.

Tapi dia tidak mempersoalkan lebih jauh menyusul dibelakang pengemis dari selatan beserta rombongan, berangkatlah mereka menuju ke luar lembah.

Setelah menempuh perjalanan beberapa li, tiba-tiba dengan kuping berkerut Han siong Ki berpaling kepada Go siau bi sekalian, ujarnya:

"suci, adik bi kalian berangkatlah satu langkah lebih dulu, nantikan aku diluar lembah"

"sute apa yang hendak kau lakukan lagi ?"

"Kalian berangkat sajalah keluar lembah, aku cuma pergi sebentar saja, sejenak pasti sudah menyusul kamu semua "

Tidak menanti jawaban lagi dia lantas putar badan dan balik menuju kearah markas besar perkumpulan besar perkumpulan Thian che kau, ternyata telah menemukan bahwa perempuan berkerudung yang misterius itu tidak turut serta bersama mereka, maka karena rasa tercengang dan ingin tahunya diapun berangkat kembali menuju ke markas untuk mengetahui apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Belum lagi Han siong Ki berjalan balik menuju ke markas, tiba-tiba dihadapan matanya nun jauh didepan sana terbiaslah selapis cahaya api yang berkobar dengan hebatnya hingga menjulang tinggi ke angkasa, jalan didepan sana telah terjadi kebakaran hebat.

Menyaksikan apa yang terbentang didepan matanya, pemuda itu lantas teringat dengan ucapan dari perempuan berkerudung sebelum mereka berlalu tadi, segera pikirnya:

"Jangan-jangan kobaran api yang mengakibatkan terjadinya kebakaran itu adalah hasil dari perbuatannya ? Tapi.." Belum habis ingatan tersebut melintas ketika dilihatnya anak buah perkumpulan Thian che kau sedang melarikan diri terbirit-birit kesana kemari, rupanya kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba itu telah memaksa kawanan jago dari Thian che kau yang semula pada menyembunyikan diri terpaksa harus munculkan diri guna menyelamatkan jiwa masing- masing .

Dengan kilatan mata yang buas Han siong Ki memandang sekejap suasana kebakaran yang sedang berlangsung dihadapan matanya itu, kemudian sambil membentak ia menerkam ke muka, setiap jago musuh yang dijumpainya segera dibantai secara keji hanya dalam waktu singkat berpuluh-puluh sosok mayat telah tergelepar di tanah.

Tapi aneh sekali, sepanjang perjalanannya berjalan balik ke markas, bayangan tubuh dari perempuan berkerudung itu tetap lenyap tak membekas, jangan ditemukan, malahan bayangannya pun tidak.

Dalam sekejap mata seluruh bangunan markas besar perkumpulan Thian che kau yang megah dan anggun itu sudah dimakan jago merah, kebakaran yang kian hebat menghabiskan semua barang yang berada ditempat itu.

Perkumpulan terbesar dan termegah di kolong langit dewasa ini, telah musnah oleh kebakaran yang maha besar, agaknya perkumpulan itu memang sudah ditakdirkan musnah menjadi abu.

Oleh karena Han siong Ki tidak berhasil menemukan apa yang dicari, terpaksa dia balik keluar lembah dengan kecepatan kilat..

Hebat sekali kebakaran yang sedang berlangsung waktu itu, asap hitam sampai membumbung keangkasa dan menyelimuti semua lembah tersebut hingga suasana jadi gelap.. Waktu itu semua jago sedang menantikan kemunculannya dengan hati yang cemas, ketika akhirnya Han siong Ki munculkan diri, semua orang menjadi amat gembira, diantaranya tentu saja Go siau bi yang paling senang melihat kemunculan anak muda itu.

Mulut lembah Lian huan tau telah berubah menjadi bukit mayat lautan darah, tak usah diragukan lagi itulah akibat dari perintah yang diturunkan Han siong Ki kepada sepasang siluman hitam putih...

Cepat si anak muda itu maju menghampiri pengemis dari selatan dan memberi hormat kepadanya sesampai dia disana, ujarnya kemudian dengan perlahan.

"Engkoh tua, bukankah tempo hari aku pernah berpesan kepadamu agar mencarikan jejak seorang perempuan yang bernama Ting Hong?"

"Sekarang kutarik kembali permohonan tersebut" "Kenapa ?" pengemis tua yang merupakan tianglo dari

perkumpulan kay pang ini bertanya keheranan.

"Sebab gadis yang kucari itu kini telah kutemukan jejaknya.

, . " seraya berkata sorot matanya lantas memandang sekeliling tempat itu untuk menemukan jejak Ting Hong, tapi aneh sekali, ternyata jejak Cui hoa siancu Ting Hong juga tidak berada disana, hal ini membuat hatinya diam-diam merasa sangat gelisah, andaikata Ting Hong pergi dan tak kembali lagi, kemana dia harus mencari kembali jejak dara itu? Dan bagaimana pula pertanggungan jawabnya terhadap siJelek dari sinciu? sebab bagaimana pun dia telah berjanji sendiri kepada perempuan itu bagaimanapun yang terjadi nona itu harus dihantar sampai kehadapan ibunya.

Sementara si anak muda itu masih melamun si dewa yang berjalan dalam tanah telah tertawa cekikikan sambil menepuk bahu Han siong Ki ujarnya: "Siau lote, maafkanlah aku pun tidak bisa menemani engkau terlalu lama disini, aku hendak pergi duluan yaaa"

"Loko apakah sampai sekarang engkau masih berdiam dalam gudang arak dibawah tanah itu?" sapa Han siong Ki juga sambil tertawa tergelak menahan gelinya.

"Heeh heeh heeh betul, aku masih ada disitu Han siau lote, bila ada urusan mau cari aku, datang saja kerumahku dan sekali panggil pasti aku akan segera munculkan diri"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling sambil ulapkan tangannya kepada si pengemis dari selatan katanya:

"Pengemis tua, bila kau punya kegembiraan untuk berkunjung kerumah.. jangan lupa membawa beberapa ekor ayam panggang, kita berpesta pora disana sampai mabok beberapa hari setuiu bukan?"

Ketika kata-kata yang terakhir itu di ucapkan keluar, tubuhnya sudah berada beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Sepeninggal si cebol yang suka berjalan di bawah tanah itu, dengan alis mata yang berkernyit, pengemis dari selatan baru menatap pemuda kita katanya:

"Saudara cilik, aku dengar Thian che kaucu berhasil melarikan diri dari cengkeramanmu? "

"Ya, dia berhasil kabur Maaf, semuanya itu adalah salahku yang terlalu gegabah sehingga dia berhasil kabur lewat jalan rahasia, meski demikian..."

"Kenapa?"

"Perempuan berkerudung yang misterius itu telah berjanji akan memberitahukan kemana kaburnya bangsat tua tersebut"

"Apakah engkau perlukan kekuatan dari pihak Kaypang kami untuk bantu melakukan penggeledahan? " "Aku rasa hal ini tak perlu dilakukan lagi, terima kasih banyak atas kesediaanmu?"

"Kalau memang engkau tidak membutuhkan bantuan dari kami semua lagi, baiklah kalau begitu biar aku si pengemis tua mempersilahkan rekan-rekan sealiran kita untuk berangkat dan kembali ke rumahnya masing-masing"

"Memang ada baiknya sahabat sekalian kembali ke rumahnya masing-masing, sebab perkumpulan Thian Che kau telah berhasil kita tumpas, markas besarnya yang megah juga telah terbakar jadi abu, semoga tak lama kemudian partai- partai dan perkumpulan-perkumpulan yang pernah tertindas dimasa lalu, sekarang bisa tumbuh dan berdiri kembali"

"saudara cilik", pengemis dari selatan lantas menyela, "aku rasa aku si pengemis tua juga harus pulang ke markas lebih dulu, eeeh Iya, aku hampir lupa Kapan kau undang aku

semua untuk minum arak kegiranganmu??"

Mendengar pertanyaan tersebut, Go siau bi yang berada disisinya jadi malu sekali, dengan wajah merah padam dia tundukkan kepalanya rendah-rendah. Han siong Ki sendiri segera tertawa getir.

"Engkoh tua" sahutnya "asal dendam kesumat yang siaute tuntut sudah berhasil mendapat penyelesaian, pasti akan kukirim orang untuk mengundang kehadiran kalian semua."

"Haah... haah.. haaah baik-baiklah, kalau begitu sampai

jumpa di lain waktu"

Maka berangkatlah Pengemis dari selatan memimpin rombongan jago-jago silatnya meninggalkan tempat itu.

Suatu pertarungan yang menggetarkan langit dan bumipun berakhir sampai disitu, suasana disekeliling mulut lembah pulih kembali dalam keheningan.

Sekarang, disana hanya tinggal Han siong Ki, sepasang siluman hitam putih, Ko Goan cun dan Go siau bi lima orang.. Ko Goan cun yang selama ini hanya berdiam diri belaka, tiba-tiba berkata dengan nada berat hati:

"sute, sekarang adik Bi sudah sehat kembali dan terlepas dari segala ancaman mara bahaya, itu berarti aku harus mohon pamit, bila dikemudian hari ada kesempatan, harap engkau suka berkunjung ke tebing Kiu ci san untuk bermain"

Han siong Ki mengangguk dengan sedih:

"Lantaran persoalan dari adik Bi, aku membuat suci harus berlarian kesana kemari dengan susah payah, kejadian ini benar-benar membuat hatiku tak enak. suci, aku tak bisa mengatakan lain kepadamu kecuali rasa terima kasihku ynng amat besar atas kebaikanmu. Dikemudian hari bila ada kesempatan aku pasti akan mengunjungi subo"

Setelah itu Ko Goan cun juga menyampaikan beberapa pesan kepada Go Siau bi, setelah itu baru berpisah dan berangkat kembali ke bukit Kiu cu san.

Menanti bayangan punggung dari Ko Goan cun pun ikut lenyap dari pandangan mata, Go siau bi baru berkata:

"Engkoh Ki, bukankah engkau sedang mencari diri Cui Hoa siancu Ting Hong?"

Mula-mula Han siong Ki agak tertegun, menyusul kemudian diapun mengangguk.

"Yaa benar Bagaimanapun juga, perempuan itu kucari sampai dapat, sebab ketika aku memohon obat mustika si mia kim wan dari ibunya tempo hari, aku telah berjanji kepada si Jelek dari sin ciu untuk menemukan kembali putrinya dan menghantar kembali ke gua salju di bukit Ciong san"

"Engkoh Ki" katanya kembali. "aku lihat persoalan ini bukankah suatu persoalan yang sederhana..."

"Heh....apa maksudmu dengan perkataanmu..." pemuda itu berseru dengan wajah keheranan- "Aku lihat dia sudah jatuh cinta kepadamu dalam pandangan yang pertama . "

Mendengar jawaban tersebut, Han siong Ki segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak:

"Haaah... haaaah... haaah... adik Bi, engkau memang pandai sekali bergurau"

"Tidak Aku sama sekali tidak bergurau, dan aku harap engkau mengakui bahwa seorang gadis sering kali jauh lebih lihay dalam soal pengamatan terhadap gerak gerik seseorang daripada seorang pria, mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri, tuh dia berada disana, cepatlah pergi kesana untuk menemukannya."

Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Go siau bi tersebut, Han siong Ki segera berpaling. betul juga tak jauh dari hadapannya terdapat sebatang pohon besar dan dibalik pohon itu secaca lapat-lapat tampak sesosok bayangan merah berdiri disana, maka tanpa berpikir panjang lagi dia lantas menghampiri batang pohon tersebut.

Sedikitpun tidak salah, dibelakang pohon benar-benar berdiri seorang gadis dan gadis itu bukan lain adalah Cui hoa siancu si dewi Cantik bunga Cui, Ting Hong adanya.

Sekali melompat Han siong Ki telah tiba dihadapannya, tapi ketika menyaksikan mimik wajahnya pada waktu itu, seketika itu juga Han siong Ki berdiri tertegun dengan perasaan amat terkejut.

Ternyata wajah gadis ini sudah basah oleh noda air mata, kiranya ia bersembunyi disitu karena sedang menangis terisak dengan amat sedihnya...

"Nona Ting" diapun menyapa. Ting Hong menyeka air matanya dan berpaling. "Aku tahu engkau datang untuk menyeret aku pulang, aku tahu engkau hendak membawa aku pergi menghadap ayah dan ibuku.. bukankah begitu.. ?" bisiknya dengan pedih.

Han siong Ki tertawa jengah:

"Nona Ting, apakah kau tega membiarkan ayah dan ibumu setiap hari merindukan dan memikirkan dirimu. Apakah engkau tidak kasihan melihat penderitaan mereka berdua.. ?"

"Tentang soal itu aku tahu.."

"Kalau sudah tahu, hal ini jauh lebih baik lagi" tukas Han siong Ki cepat.

Tapi Ting Hong segera gelengkan kepalanya berulang kali. "Jangan keburu bersenang hati lebih dahulu" katanya "

Wahai manusia bermuka dingin, tentunya kau belum

melupakan tentang sebuah persoalan yang pernah kau sanggupi bukan"

"sebuah persoalan yang pernah ku sanggupi? Persoalan apakah itu?" Han siong Ki makin tertegun.

"Tentu kau masih ingat bukan, sewaktu hendak masuk kelembah Lian huan tau, engkau telah berjanji akan memenuhi sebuah syarat yang kuminta, tentunya kau tidak berusaha untuk mengingkari janji yang telah kau katakan sendiri bukan"

"ooooh... kiranya soal itu Tentu saja... tentu saja aku tak akan mengingkari janji yang pernah kuucapkan nona Ting segera katakanlah apa permintaanmu itu, asal permintaan tersebut bisa kulakukan pasti akan kupenuhi dengan segera".

"Dan pasti kau akan melaksanakan dengan segera?" Ting Hong segera menegaskan.

"soal ini.. tentu saja" "Permintaan apapun?", gadis itu sekali lagi menegaskan kata-katanya..

Suatu firasat melintas dalam benak Han siong Ki, tapi saat ini keadaan ibaratnya nasi yang telah menjadi bubur, terpaksa dengan keraskan hatinya dia mengiakan: "Tentu saja.. "

Sekulum senyum yang manis dan hangat seindah bunga mawar yang mekar di musim semi tersungging diujung bibirnya, sambil tersenyum malu-malu tiba-tiba gadis itu bertanya. "Han siong Ki, cintakah engkau kepadaku?"

Ucapan yang blak-blakan dan langsung itu menyinggung ke tujuan ini seketika itu juga membuat Han siong Ki berdiri terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat lamanya dia tak mampu berkata-kata:

Akhirnya setelah gelagapan sendiri setengah harian lamanya, dia baru mampu bertanya:

"Nona... apa... apakah itulah permintaanmu.. ? Apakah itulah syarat yang kau ajukan?"

"Jangan kau persoalkan tentang masalah ini, katakan saja kepadaku, cintakah engkau kepadaku ?"

"Tentang soal ini.."

"Tidak cinta ? sedikitpun tidak mencintaiku . ?" nona itu mendesak lebih jauh.

Han siong Ki tertawa getir:

"Aku telah dijodohkan ibuku dengan seorang gadis, selain daripada itu akupun.."

"Kan masih ada seorang gadis yang betul-betul kau cintai dengan setulus hatimu yang bernama Tonghong Hui. tapi kemudian ia telah mati bukan.. ?" sambung Ting Hong cepat.

Paras muka Han siong Ki berubah hebat, secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang. Perasaan anak muda itu betul-betul kaget bercampur tercengang, dia tidak habis mengerti kenapa Cui hoa siancu Ting Hong bisa mengetahui dengan begitu jelas bahwa hatinya benar-benar sangat mencintai Tonghong Hui, bahkan mengetahui pula bahwa Tonghong Hui telah mati, padahal perkenalannya dengan gadis itu baru berlangsung tidak sampai setengah harian lamanya.

Sementara dia masih melamun, Ting Hong telah melanjutkan kembali kata-katanya:

"Meskipun secara resmi Go Siau bi adalah istrimu yang sah, tapi aku tahu bahwa engkau sama sekali tidak mencintainya dengan hati yang bersungguh-sungguh"

Han siong Ki semakin kaget bercampur tercengang sehabis mendengar perkataan itu, sekali lagi dia mundur satu langkah lebar, kebelakang, teriaknya dengan penasaran: "siapa yang bilang kalau aku tidak mencintai istrinya ?"

-ooo0dw0ooo-

BAB 101

"ENGKAU mencintainya karena berdasarkan peraturan, kau cinta karena ingin menjadi anak yang berbakti ingin mengikuti, adat karena dia sudah menjadi calon istrimu lagipula ibumu yang menjodohkan, maka terpaksa untuk menjaga nama kau mengawininya, bukankah begitu Hmmm bila kau menyangkal itu berarti bahwa engkau sedang menipu dirimu sendiri"

Setiap patah kata yang diucapkan Ting Hong, seakan-akan pukulan martil yang menghajar hati Han siong Ki, tak kuasa lagi peluh dingin membasahi sekujur badannya.

"Kau.. kau, berdasarkan apa engkau berani mengatakannya begitu?" serunya kemudian tergagap. "Apa yang kudasarkan? Tentu saja aku berbicara berdasarkan kenyataan"

"Nona Ting, katakan saja terus terang, apa maksud dan tujuanmu yang sebenarnya mengucapkan kata-kata seperti itu?"

"Maksud dan tujuanku..? Tentu saja aku dapat berbicara demikian karena aku cinta kepadamu."

Keterusterangan dan keberanian gadis itu bicara secara blak-blakan membuat Han siong Ki jadi tersipu dan menjadi malu sendiri.

Cui hoa siancu Ting Hong, bukannya seorang gadis yang tidak cantik, potongan badannya juga tidak kalah dengan potongan badan dari Go siau bi, akan tetapi kecantikan wajah seseorang bukanlah merupakan faktor terpenting bagi suatu cinta, apalagi Han siong Ki adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, setelah semua perasaan cinta kasihnya dilimpahkan kepada Tonghong-Hui, ia merasa bahwa sepanjang hidupnya sekarang tak mungkin akan mencintai gadis lain- walau gadis itu memiliki kecantikan bak bidadari dari kahyangan.

Buyung Thay, perempuan paling cantik di kolong langit untuk masa itupun tidak berhasil menundukkan hati anak muda ini, apalagi hanya seorang gadis muda seperti Ting Hong, tentu saja pengharapannya itu tak akan menghasilkan apa-apa.

"Engkau cinta kepadaku?" akhirnya sianak muda itu kembali bertanya dengan lirih:

"Yaa, aku cinta kepadamu"

"Tapi, apakah nona Ting mengetahui bagaimanakah jalan pikiranmu pada saat ini?"

"Bukankah engkau tak akan mencintaiku?" ucap Ting Hong sambil mencibirkan bibirnya. "Tepat sekali perkataan dari nona Ting"

"oooh..kalau cuma perkataan itu sih tak menjadi soal, toh aku mempunyai hak untuk mengajukan satu permintaan dan engkau telah menyanggupinya, sekarang Go siau bi sudah kembali kesisimu dengan aman. aku rasa tentunya engkau tidak akan mengingkari janji yang telah kau ucapkan sendiri bukan?"

Tercekatlah hati Han siong Ki setelah mendengar perkataan itu, Ia tahu tak mungkin baginya untuk menghindari kejadian tersebut, maka dengan sikap apa boleh buat dia berkata:

"Nona Ting, apakah kau menggunakan hal ini sebagai pertukaran syarat dengans diriku"

"Mungkin juga begitu, mungkin juga tidak. kau harus mengatakannya lebih dahulu, apakah janji yang pernah kau ucapkan tempo hari sampai sekarang masih berlaku?"

"setiap patah kata yang diucapkan oleh seorang laki-laki sejati tak akan diingkari kembali, tentu saja setiap patah kata yang kuucapkan tetap berlaku"

"Bagus..." seru Ting Hong kemudian, "wahai Han siong Ki, kau anggap aku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu?"

Pertanyaan yang balik diajukan kepada anak muda itu kontan membuat Han siong Ki tertegun, bagaimanapun juga ia tak berhasil untuk menebak jitu maksud dan tujuan yang sebenarnya dari lawannya ini.

Sementara itu Ting Hong masih menengadah sambil tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya:

"Haaahh... haaahh.. haaahhh... Han siong Ki legakanlah hatimu, Aku Ting Hong masih belum termasuk seorang perempuan tak tahu malu yang mengemis cinta kepadamu. "

"Aku tahu cinta antara muda mud Harus berkembang secara alami harus muncul dari hati yang jujur, cinta tak akan mungkin diperoleh dari suatu pemaksaan atau suatu pengemisan yang memalukan."

"Bila seorang mengerti apa anti cinta yang sebenarnya, maka dia tak akan memilih cara semacam itu untuk mendapatkan cintanya."

"Cinta semacam itu hanya akan mendatangkan penderitaan dan siksaan belaka daripada suatu kebahagiaan dan aku rasa aku tak sudi mendapatkan cinta yang penuh dengan siksaan dan penderitaan semacam itu.."

"Aaaai.. sungguh tak kusangka nona Ting adalah seorang gadis yang berpandangan luas, kalau begitupun aku dapat berlega hati" kata Han siong Ki kemudian sambil menghembuskan napas panjang

"Aku tidak menerima ucapan semacam itu, terimalah kembali kata-kata sanjungan itu"

"Baik kalau begitu, harap nona Ting segera mengajukan syaratmu, sebab aku tak dapat menunggu dirimu terlalu lama lagi"

Sementara pembicaraan antara mereka berdua masih berlangsung, diam-diam tanpa menimbulkan jejak suarapun, tampak sesosok bayangan manusia menyusup keluar dari tempat persembunyiannya dan berlalu dari sana. "siapakah orang itu? Tak seorangpun yang tahu"

Dalam pada itu Ting Hong telah berkata dengan wajah yang bersungguh-sungguh:

"syarat yang hendak kuajukan sebenarnya kurang begitu menyenangkan bagimu, tapi.. yaaa apa boleh buat?"

"Tak usah berputar-putar lagi, apapun syaratmu itu ayolah cepat utarakan secara terus terang."

"Aku minta engkau bersedia menghapuskan janjimu dengan ibuku, sanggup bukan?" "Kenapa?" Han siong Ki bertanya dengan wajah tercengang dan perasaan tidak habis mengerti:

"sebab sampai detik ini aku masih belum suka berjumpa muka dengannya, akupun belum ingin pulang kembali ke rumahku digunung salju yang sepi dan jauh dari keramaian dunia"

Han siong Ki sebera menolak sambil gelengkan kepalanya. "Tidak. aku tak bisa penuhi kehendakmu itu"

Paras muka Ting Hong seketika itu juga berubah hebat, serunya dengan suara yang dingini

"Ingatlah baik-baik manusia she Han, apa yang kuajukan sekarang merupakan sebuah syarat yang harus kau penuhi, bukankah telah kau katakan tadi bahwa perkataan yang telah diucapkan oleh seorang laki-laki sejati untuk selamanya tak dapat dirubah kemnbali, apakah engkau menyesal dengan janjimu?"

"Justru karena aku tak ingin mengingkari janji, justru karena aku harus memegang teguh ucapan dari seorang laki- laki, maka aku tak dapat mengingkari janjiku kepada ibumu"

-ooo0dw0ooo-