-->

Tengkorak Maut Jilid 47

 
Jilid 47

Berbicara sampai disini, sorot matanya lantas menyapu sekejap wajah Buyung Thay bertiga, kemudian dengan dahi berkerut serunya: "suci, apakah mereka bertiga telah..."

Agak merah wajah sinona baju hitam itu sehabis mendengar teguran tersebut, sahutnya dengan cepat:

"Aaah... jalan darah mereka hanya tertotok, mereka bertiga adalah..."

"Yang berbaju merah itu bernama Buyung Thay, dia dengan aku adalah kakak beradik, sedang dua orang lainnya adalah adalah anak buahku, yang laki laki bernama seng Khe ki, sedang yang perempuan bernama Hong Ing ing, mereka adalah suami istri"

"ooooohh..."

Dengan cepat diapun turun tangan untuk membebaskan jalan darah mereka bertiga yang tertotok.

Begitu jalan darahnya ditepuk bebas, Buyung Thay dan Hek pek siang yau segera melompat bangun, tapi ketika sinar mata mereka menyapu sekejap ruangan batu itu, sikap mereka agak tertegun.

Han siong Ki tak ingin rekan rekannya kebingungan, maka diapun menerangkan kejadian yang telah berlangsung, sekalian memperkenalkan mereka bertiga kepada nona tersebut. Begitulah, setelah saling berkenalan, sinona berbaju hitam itupun berkata:

"Maafkaniah kekasaran siau moay, yang telah membuat kalian bertiga sedikit menderita "

"Aaah tidak berani" cepat cepat Hek pek siang yau

menyahut dengan suara merendah.

Sedangkan Buyung Thay tetap membungkam, rupanya dia masih merasa rada penasaran dengan kejadian barusan, Tapi lantaran memandang wajah Han siong Ki, maka diapun cuma tersenyum belaka.

Selanjutnya sinona berbaju hitam itupun berkata lagi: "Berbicara tentang ilmu silat, sudah pasti siaumoay bukan

tandingan dari salah seorang diantara kalian bertiga, tapi oleh

karena aku telah mengandalkan posisi yang lebih menguntungkan serta melancarkan sergapan dikala kalian bertiga tak siap sedia, maka jadilah kalian bertiga kena kuselomoti. Padahal berbicara sesungguhnya, bukit Kiu ci san ini mulai dari kaki bukit sampai puncak bukit boleh dibilang sudah dilengkapi dengan lorong lorong melingkar yang ada dibawah tanah, tiap tiap selisih jarak satu kaki tentu ada sebuah lubang pengintaian kecil, bila kita melepaskan senjata rahasia Kim-che-pi-auw dari lubang lubang diatas dinding tersebut, maka boleh dibilang serangan kami ini tak pernah meleset, tapi kenyataannya kalian bertiga bisa mencapai tingkat petunjuk, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu silat yang kalian miliki memang betul-betul terhitung luar biasa!" Han-siong-Ki tidak begitu menaruh perhatian terhadap pembicaraan yang sedang berlangsung, sebab dia masih menguatirkan keselamatan jiwa dari Go-Siau-bi.

Perkawinannya dengan Go-Siau-bi boleh dibilang adalah hasil karya dari ibunya, maka apabila Go-Siau-bi sampai mengalami sesuatu musibah yang berada diluar dugaan, bukan saja dia tak dapat mempertanggung jawabkan persoalan ini ter hadap ibunya, sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, ternyata ia tak mampu melindungi keselamatan jiwa seorang perempuan, apabila kejadian ini sampai tersiar didunia persilatan, sudah pasti kejadian tersebut akan sangat mempengaruhi nama baiknya.

Apalagi selain itu. perasaan halusnya juga tidak mengijinkan dia untuk berpeluk tangan belaka.

Maka dengan perasaan gelisah, ujarnya kepada si nona berbaju hitam itu:

'Suci, bagaimana dengan bakal istriku Go Siau bi......

"Sute, masa engkau masih belum percaya dengan ucapanku?" tukas nona berbaju hitam itu dengan wajah sungguh-sungguh.

"Bukannya aku tidak percaya, tapi justru siaute ingin bertanya kepada diri suci, ketika engkau sedang meninggalkan surat peringatan itu, apakah kau temukan sesuatu pertanda yang mencurigakan hati?"

"Kejadian ini betul-betul merupakan suatu peristiwa yang tidak untung, dan rupanya orang, yang melakukan penculikan itu memang sengaja hendak manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu, yaa memang terjadinya peristiwa ini

terlampau kebetulan!"

"Padahal engkau tahu suci, Go Siau bi sudah menderita luka dalam yang sangat parah, aku kuatir bila tidak cepat diobati maka akibatnya , aaaai!" Sebagai akhir dari perkataannya, pemuda itu menghela napas panjang.

Buyung Thay yang selama ini hanya membungkam terus tiba-tiba menyela pelan dari samping

"Adik Ki selama engkau melakukan tugas itu, apakah kau temukan jejak dari orang orang yang patut dicurigai? Atau mungkin ada orang lain yang mengetahui rencana kerjamu itu lebih dahulu?"

Han siong Ki termenung juga beberapa saat lamanya, tapi karena tidak berhasil menemukan sesuatu jawaban yang memuaskan hati akhirnya dia mohon pamit.

"suci" katanya "tolong sampaikan kepada subo bahwa kami akan mohon diri"

-ooo0dw0ooo-

BAB 96

si Nona berbaju hitam Ko Goan cun mengernyitkan alis matanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia masuk kepintu rahasia, tapi selang sesaat kemudian ia telah munculkan diri

"sute" katanya kemudian "pada saat ini perasaan suhu sedang murung dan tidak senang hati, dia segan menjumpai dirimu lagi, maka kalian boleh segera turun gunung, Akupun telah melapor kepada suhu untuk ikut serta diri sute untuk terjun kedalam dunia persilatan dan membantu menemukan kembali jejak bakal istrimu"

"Aaah... mana aku berani merepotkan suci untuk ikut ikutan berkeliaran kesana kemari?" buru-buru Han siong Ki berseru.. "Asal mula terjadinya peristiwa ini adalah lantaran ulahku, maka akupun merasa ikut bertanggung jawab dalam masalah ini, harap sute jangan menampik lebih jauh"

Han-siong Ki termenung sebentar, akhirnya diapun berseru: "Kalau memang demikian, ayolah kita segera berangkat!"

Berangkatlah mereka berlima meninggalkan ruang batu itu menuruni bukit tersebut.

Bagi Hek-pek-siang-yau, mereka hanya tahu menghormati dan menuruti perintah Han-siong Ki maka kedua orang itu tidak rerasa kesal, berbeda dengan Han-siong Ki, Buyung Thay serta Ku Goan-cu yang terlibat dalam peristiwa itu perasaan mereka sangat dan murung sekali,

Go Siau-bi telah lenyap tak berbekas, jejaknya sama sekali tidak ketahuan, sekalipun mereka sedang berusaha untuk melakukan pencarian, tapi tak tahu kemana harus mencarinya.

Orang yang meninggalkan surat peringatan itu rupanya mempunyai dua tujuan kesatu meminjam golok untuk membunuh orang, bila siasat itu tidak mendatangkan hasil mereka dapat menyandera untuk memaksakan tuntutan mereka, tapi apakah tujuan mereka sebenarnya amatlah sulit untuk diduga mulai sekarang, dan kemungkinan yang paling besar adalah soa "Dendam"

Kebetulan sekali, kejadian itu berbarengan dengan peristiwa Ko Goan-cun yang meninggalkan surat perjanjian, meski rada kebetulan sifatnya toh kenyataannya memang demikian.

Maka, satu-satunya penyesalan yang dapat dikatakan pada saat ini adalah kemungkinan orang tersebut sudah lama melakukan pengintaian, dan melibat ada kesempatan baik yang tersedia, dia segera memanfaatkannya dengan sebaik- baiknya. Ditengah perjalanan, tiba-tiba Ko Goan-can menuding kemuka seraya serunya dengan merdu;

"Coba lihatlah kedepan sana, bila kita bergerak menuju ke barat, maka sepuluh li kemudian akan sampailah kita diwiiayah Lian-huan-tau!"

Ucapan tersebut serta merta mengobarkan api dendam, api benci yang berkecamuk didada Han-Siong Ki, dia lantas teringat kembali semua sakit hati yang terjalin antara dia dengan orang-orang Thian-che-kau.

Rupa-rupanya anak muda itu tak dapat mengendalikau perasaannya lagi, sambil berhenti berlari serunya:

"Tunggu sebentar!"

Dengan terperanjat beberapa orang itu menghentikan gerak tubuh mereka masing-masing.

"Adikku, ada apa?" Buyung Thay bertanya dengan dahi berkerut karena heran.

"Aku minta engkau dan suci bersedia untuk berangkat setindak lebih duluan"

"Kenapa? Mau apa kau?"

"Aku hendak menyatroni Lian huan tau"

Nona baju hitam Ko Goan cun masih belum mengetahui tentang dendam kesumat yang terjalin antara Han-siong Ki dengan Thian che kaucu.

Mendengar ucapan tersebut dia jadi tercengang: "Mau menyatroni Lian huan tau? Markas besar

perkumpulan Thian che kau yang termashur itu."

"Yaa betul"

"Kenapa? ada urusan apa antara kau dengan mereka?" "Akan kubantai semua orang Thian che kau, akan kucuci bersih Lian huan tau dengan darah mereka"

"Apakah engkau mempunyai dendam dengan orang orang Thian che kau?" Ko Goan cun bertanya lagi dengan tertegun.

"Yaa dendam kami lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari samudra "

"Adikku, kalau memang demikian ayoh kita berangkat bersama sama" seru Buyung Thay dengan paras muka berubah hebat.

"Tidak kalian tak boleh ikut" "Kenapa?"

"Dalam soal pembalasan dendam, aku tak ingin meminjam tenaga orang lain untuk melakukannya "

"Tapi kau harus tahu adikku, kawanan jago yang dimiliki Thian che kau tak terhitung banyaknya, alat alat rahasia yang mereka miliki pun berlapis-lapis, sekalipun mengandalkan kekuatanmu dan kedua orang anak buahmu belum tentu..."

"Apa yang musti kutakuti?" tukas pemuda itu cepat. "Adikku, adik Ko adalah sucimu dan akupun kau sebut

sebagai cici, masakah kau masih menganggap kami semua

adalah orang orang asing? Bila kau ingin membunuh Yu Pia lam, kami tak akan ikut serta membonceng kebolehanmu, tapi untuk menghancurkan perkumpulan Thian che kau untuk membuatkan pembalasan dan menegakkan keadilan bagi perkumpulan perkumpulan dalam dunia persilatan, kami merasa punya hak untuk ikut serta, masa engkau masih menolak harapan kami ini?"

"Huuuh besar amat omongnya, memang dianggap

gampang untuk melakukan apa yang baru diucapkan itu?" seorang menimpali dengan suara yang dingin Menyusul ucapan yang dingin yang kaku itu, dari balik hutan kurang lebih lima kaki ditempat mereka berada muncullah seorang laki-laki setengah baya yang berjenggot panjang.

Berubah hebat paras muka Buyung Thay sesudah mengetahui siapa gerangan yang datang, hawa nafsu membunuhnya seketika itu juga menyelimuti seluruh wajahrya.

"Oooh Tamu berjenggot indah Huan Kang!" seru Han-

siong Ki pula dengan suara tertahan.

Sebagaimana pernah diketahui, oleh karena si Tamu berjenggot indah Huan Kang gagal untuk mendapatkan cinta kasih dari Buyung Thay, ia telah melimpahkan segala kemarahannya kepada Han siong Ki, bahkan untuk itu dia telah menggunakan ilmu "Kuay-ciang-cong-to" Telapak tangan kilat sembunyi golok untuk melukai pemuda itu.

Maka dikala musuh bebuyutan saling bertemu muka, merah membaralah sepasang mata Han-siong Ki dibuatnya, dia lantas mendengus dingin.

"Hmmm ! Orang she-Huan kembali kita bertemu muka,

tentunya engkau masih belum lupa bukan dengan hutang piutang kita dimasa lalu?"

Dengan gemas bercampur mendongkol si Tamu berjenggot indah Huan-Kang melotot sekejap kearah Buyung-Tnay, kemudian ia baru berpaling ke arah Han-siong-Ki seraya katanya:

”Tentu saja aku tak akan melupakannya setiap saat aku selalu menantikan datangnya petunjuk dari kamu sekalian!"

"Kalau meinang demikian, bagus sekali!" Han siong-Ki bergerak maju kedepan.

"Tunggu sebentar !" tiba-tiba si tamu berjenggot putih

kembali berseru. "Perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan?"

Sorot mata si tamu berjenggot indah Huan-Kang sekali lagi menatap wajah Buyung Thay, Kemudian dengan suara yang dingin kembali dia berkata:

"Han-siong-Ki sejak dulu sampai sekarang perempuan cantik adalah pembawa bencana, kau akan runyam sekali dibuatnya oleh kegemaranmu sendiri. "

Oleh perkataan yang tak diketahui ujung pangkalnya ini, Han-sioag-Kie merasakan hatinya bergetar keras.

"Huan-Kang, apa maksudmu dengan perkataan itu ?"

diapun menegur dengan nyaring.

"Heeehhh.....heeeehhh heeehhh bukankah teman

perempuanmu telah lenyap tak membekas?" ejek si tamu berjanggut indah Huan Kong sambil tertawa seram

"Heehhh.......hehhhh.........heehhh Jangan panik dulu

ciangbunjin, bukankah teman perempuanmu itu bemarua Go Siau-bi?" gelak tertawa yang tersungging diujung bibir orang itu makin sadis.

Han-siong Ki merasakan debaran jantungnya berdetak keras, demikian pula dengan Buyung Thay serta Ko Goan-cun. wajah mereka segera menunjukan sikap yang tegang.

"Dirimana kau bisa tahu?!" Han-siong Ki membentak penuh emosi sambil melangkah setindak kedepan

"Hmn ! Tentu saja aku tahu, bahkan mungkin satu-

satunya orang yang mengetahui duduknya peristiwa itu dengan jelas!

"Sees........sekarang sekarang dia ada dimana?” suara

Han-siong Ki rada gemetar.

'"Kau hendak menerima kembali mayatnya?'' Huan Kang balik bertanya dengan wajah sinis. Ucapan tersebut seakan akan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, dengan badan gemetar keras Han-siong Ki mundur sempoyongan sejauh beberapa langkah, hampir saja dia jatuh pingsan saking kagetnya, sebab bila didengar dari nada ucapan tersebut, jelas menunjukan bahwa Go Siau bi sudah tiada lagi.

"Huan Kang, teraigkan perkataanmu sejelas-jelasnya!" teriak Buyung Thay marah.

"Haaahhh.....haahh....,.haahh tentu saja harus

diterangkan sejelas-jelasnya" sahut Tamu berjenggot indah Huan Kang sambil tertawa dingin tiada hentinya "kalau tidak demikian lantas buat apa kutampilkan diri disini?"

"Ayoh cepat katakan, siapa yang telah melakukan perbuatan keji itu?" teriak Han-siong Ki sambil menggigit bibir menahan emosi.

"Semestinya orang itu sudah bisa kau duga sendiri." "Siapa?"

"Seorang perempuan yang ingin mengangkangi dirimu, seorang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan!"

Suatu ingatan segera melintas dalam benak Han siong Ki, dengan nada agak gemetar tanyanya lagi:

"Siapakah orang itu?”

Sinar mata si Tamu berjenggot indah Huan Kang yang sinis pelan pelan dialihkan ke tubuh Buyung Thay lalu dengan suara menghina katanya dengan tajam:

"Ratu tawon, sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada kekasihmu itu"

Sekujur badan Han siong Ki bergetar keras, hampir meledak dadanya saking mendongkolnya . Paras muka Buyung Thay sendiripun telah berubah jadi hijau membesi, teriaknya penuh kebencian

"Huan Kang, jika kau tidak kubunuh, aku bersumpah tak akan hidup sebagai seorang manusia" ditengah satu bentakan keras, tubuhnya yang ramping mendadak melompat keudara, kemudian dengan garangnya menerkam diri si Tamu berjenggot indah Huan Kang yang berada dihadapannya...

"Berhenti kamu"

Suatu bentakan nyaring kembali menggelegar di udara, berbareng dengan suara bentakan itu, segulung angin pukulan yang keras bagaikan tindihan bukit karang melanda kedepan.

Waktu itu Buyung Thay sedang melambung di udara, termakan oleh tenaga pukulan yang sangat kuat itu, badannya tergetar keras dan merosot kembali ketanah, malah dengan sempoyongan perempuan itu harus mundur beberapa langkah lagi sebelum akhirnya dapat berdiri tegak.

Hawa napsu membunuh yang tak terkirakan tebalnya menyelimuti wajah Han siong Ki, ditatapnya wajah Buyung Thay lekat lekat, lalu menggertak gigi menahan emosi teriaknya:

"Sungguh tak kusangka kalau dibilik wajahmu yang begitu cantik bak bidadari dari kahyangan, sebetulnya memiliki hati yang lebih keji daripada racunnya kalajengking"

Si nona baju hitam Ko Goan cun juga berubah wajah oleh perubahan situasi itu.

Hek pek siang yau bergerak cepat, tanpa mengucapkan sepatah katapun satu dari kiri yang lain dari kanan segera mengancam Buyung Thay dengan bengisnya.

Setelah terjadi perubahan besar dalam arena tersebut, si Tamu berjenggot indah Huan Kang juga tidak banyak bicara lagi, diam diam ia ngeloyor pergi dari sana lalu kabur kedalam hutan. Tak terlukiskan rasa gusar yang berkobar didada Buyung Thay, mukanya sebentar jadi hijau sebentar kemudian jadi merah, matanya yang berapi-api hampir melotot keluar, sekujur badannya gemetar keras menahan emosi yang makin meluap.

Dengan tatapan mata yang tajam Han-siong-Kie menatap sekejap wajah Hek-pek-siang-yau dan Ko-Goan cun, kemudian dengan suara yang keras ibaratnya guntur yang membelah bumi, ia berseru

"Mundurlah kalian bertiga "

Hawa napsu membunuh yang begitu tebalnya menyelimuti wajah pemuda ini, membuat siapapun yang memandangnya merasakan hatinya bergidik, tanpa berani membantah ketiga orang itu lantas mundur satu kaki kebelakang.

Selangkah demi selangkah Han-siong-Kie maju ke muka mendekati Buyung-Thay, lalu ujarnya dengan suara tajam;

"Buyung-Thay aku hendak membunuh kau! Bersiap-siaplah untuk menerima kematianmu itu ”

Dengan tubuh bergetar keras Buyung-Thay mundur satu langkah, kemudian katanya dengan nada gemetar:

"Kau......kau jadi kau percaya dengan perataannya?"

Han-siong-Kie tidak segera menjawab, otaknya berputar keras untuk memikirkan masalah tersebut, pada hakekatnya peristiwa lenyapnya Go-Siau bi merupakan suatu kejadian yang mencurigakan bukankah Buyung-Thay telah menawarkan diri untuk melindungi keselamatan gadis itu? Kalau ditinjau dari kepandaian silat yang dimilikinya, rasanya tak mungkin kalau sampai terjadi peristiwa ini, apalagi suatu peristiwa yang terjadinya sangat kebetulan sudah tentu lain ceritanja

kalau dibalik kesemuanya itu terdapat suatu kesengajaan.

Maka setelah berpikir sekian waktu, dengan wa jah yang tetap kaku anak muda itu membentak. "Hmm penjelasan apalagi yang harus kuberikan

kepadamu? Kalau tidak kupercayai perkataannya, memangnya aku harus percaya dengan perkataanmu?"

Rupanya Buyung-Thay cukup menyadari betapa tidak menguntungkannya posisinya saat itu, perhatiannya segera dialihkan kembali ke muka, tiba tiba ia berteriak:

"Huan-Kang, kau bangsat terkutuk serahkan selembar

jiwa anjingmu !"

Menyusul teriakan tersebut, tubuhnya melambung ke udara kemudian secepat sambaran kilat meluncur ke dalam hutan untuk mengejar jejak laki laki tadi.

Han siong Kie tidak menyangka kalau perempuan cantik itu akan mengambil tindakan untuk kabur dari situ, untuk sesaat ia tak sempat melakukan penghadangan, maka tubuhnya lantas melejit dan menyusul pula dibelakangnya.

Dalam sekejap mata, Buyung Thay sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula, sedang jauh didepannya tampak pula sesosok bayangan manusia sedang kabur terbirit birit.

Han siong Kie tak ingin musuhnya teriepas dengan begitu saja, dia mengumpulkan hawa murninya lalu seenteng asap secepat kilat pemuda itu melakukan pengejaran ketat dari belakang.

Dalam waktu singkat, mereka telah menembusi hutan itu dan tiba diluar hutan yang lebih lapang tanahnya.

Dalam pada itu selisih jarak antara Buyung Thay dengan Huan Kang pun kian lama kian bertambah dekat sehingga akhirnya jarak mereka tinggal lima kaki...

"Huan Kang Bangsat  berhenti  pengecut!  Berhenti kau ayoh serahkan jiwa anjingmu itu kepadaku" Buyung

Thay kembali mencaci maki penuh kebencian. Tapi si Tamu berjenggot indah Huan Kang sama sekali tidak memberi tanggapan bahkan menggubrispun tidak, seakan akan dia tak pernah mendengar seruan tersebut, larinya malahan diperkencang.

Habislah kesabaran Buyung Thay menghadapi musuh yang amat dibencinya itu, segenggam jarum toh hun ciam segera disiapkan, kemudian dengan sistim penyambitan yang luar biasa dia tebarkan jarum jarum maut tersebut kedepan.

Jerit kesakitan segera berkumandang diudara, si Tamu berjenggot indah Huan Kang maju beberapa langkah dengan sempoyongan, kemudian roboh terjungkal diatas tanah.

Melihat musuhnya sudah roboh, Buyung Thay menerjang makin dekat, ia tak sudi memberi kesempatan hidup bagi lawannya, sambil melakukan tubrukan kilat telapak tangannya segera diayun kebawah....

"Tahan." bentak Han siong Ki.

Sayang bentakan itu terlambat dengan diiringi suatu benturan yang keras, batok kepala si Tamu berjenggot indah Huan Kang kena dihantam sampai hancur berantakan, darah dan isi otak segera bertebaran kemana mana.

"Buyung Thay, kau benar benar keji " geram Han siong Ki sambil menahan rasa dongkolnya.

"Han siong Ki, kau "

"Hmmm memangnya kau anggap aku bodoh? Kau anggap aku tidak mengenal tipu muslihatmu?"

"Heeehhh... heehhh.... heeehhhh membunuh untuk

menghilangkan bukti, memangnya kau anggap dengan perbuatanmu itu maka aku percaya dengan obrolan? Hhmm, jangan berpikir terlampau kekanak kanakan"

Buyung Thay tidak berbicara, ia menggigit bibir sambil membungkam dalam seribu basa, air mata bercucuran membasahi pipinya yang lembut dan putih, tubuhnya gemetar keras menahan emosi yang meluap-luap. mengenaskan sekali keadaannya.

"Buyung Thay" kembali Han siong Ki mernbentak keras, "setelah Huan Kang kau bunuh, sekarang tibalah pada giliranmu untuk menerima kematian ayo, bersiap siaplah

untuk menghadapinya "

Begitu kata kata tersebut berakhir, diiringi bentakan nyaring sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

"Blaang " jerit kesakitan menggema di angkasa, Buyung

Thay termakan oleh pukulan itu dengan telak, darah kental berhamburan dari mulutnya, sedang tubuhnya yang mungil mencelat sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

Oleh peristiwa yang tak terduga ini, Han siong Kie malahan berdiri tertegun, mimpipun ia tak menyangka kalau Buyung Thay sama sekali tidak memberi perlawanan terhadap serangannya itu.

Buyung Thay sendiri bangkit berdiri dengan sempoyongan, meski isi perutnya sudah terluka namun ia berusaha untuk menahan diri, ditatapnya pemuda itu dengan pandangan benci dan sedih, lalu makinya dengan penuh rasa gemas.

"Han siong Keng, kau adalah makhluk berdarah dingin Kau adalah makhluk yang tidak berperasaan"

"Hmm perduli apapun yang hendak kau ucapkan,

pokoknya aku tak bisa mengampuni nyawamu dengan begitu saja, ini hari aku akan mencabut jiwamu" seru Han siong Kie keras, hawa napsu membunuhnya masih jelas menyelimuti wajahnya.

"Han siong Ki, anggaplah mataku memang buta, anggaplah aku Buyung Thay memang seorang bernasib jelek sehingga bisa berkenalan dengan manusia macam kau" Han siong Ki melangkah maju tiga tindak ke depan, diapun berseru dengan suara lantang:

"Hmm Aku juga menyesal sekali, kenapa semenjak dulu masih percaya dengan perkataan perkataan manis dari kau si perempuan cantik berhati ular".

Sambil menggigit bibirnya menahan emosi, Buyung Thay sedikit merintih, darah kental kembali bercucuran membasahi ujung bibirnya.

Sikap maupun mimik wajahnya waktu itu sungguh mengenaskan sekali, membuat siapapun orang melihatnya ikut beriba hati.

Tapi Han siong Kie sudah tidak tertarik lagi oleh sikap mengenaskan itu, diapun tidak mempunyai rasa kasihan atau sayang terhadap perempuan cantik tersebut, apa yang dia pikirkan sekarang adalah rasa benci, rasa dendam yang berkobar kobar, apa yang ada sekarang cuma hawa napsu membunuh yang sangat tebal.

Tiba tiba telapak tangannya diayunkan ketengah ndara, lalu ujarnya dengan keras:

"Perempuan siluman berhati kejam, hutang darah dibayar darah, hutang nyawa bayar nyawa, kalau tidak terlalu penasaran rasanya bila sekarang juga kurenggut nyawamu"

Begitu kata kata terakhir diucapkan keluar, diiringi bentakan nyaring sebuah pukulan maha dahsyat telah dilepaskan kedepan membacok tubuh lawannya...

"Tunggu sebentar" serentetan bentakan nyaring menggelegar diudara, menyusul suara bentakan itu, segulung hawa pukulan yang kuat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra menyapu datang dari arah samping, kekuatan tersebut membuat serangan dari Han siong Ki itu tertumbuk hingga miring kesamping.. Ternyata orang yang barusan melancarkan serangan itu tak lain adalah Ko Goan cun.

Rupanya Buyung Thay sangat tersinggung perasaannya oleh sikap Han siong Ki yang begitu mendesak. dari sedihnya dia menjadi nekad, tiba tiba telapak tangannya diayun keudara lalu teriaknya menahan geram yang berkobar kobar "Han siong Ki, mari kita adu nyawa dan mati bersama"

Dalam genggamannya ia sudah disiapkan berpuluh-puluh batang jarum Toh hun ciam, seandainya jarum jarum itu sampai disemburkan ke angkasa, niscaya setiap jago yang hadir disekitar arena akan termakan oleh serangan tersebut.

Dengan kaget dan perasaan yang ngeri Han siong Ki mundur beberapa langkah ke belakang..

"Kau berani bertindak sekeji itu?" teriaknya menahan geram yang makin menjadi.

"Kenapa tidak berani?" Buyung Thay balas menggertak sambil menggigit bibir.

Hek pek siang yau, sepasang silumen hitam dan putih sudah bersiap siaga melakukan terkaman, tapi kedua orang itu tak berani bertindak secara gegabah, sebab sebelum Han siong Ki menurunkan perintahnya, mereka berdua harus tunduk di bawah perintah ketuanya. 

Ko Goan cun sendiri, ketika menyaksikan adegan tersebut segera serunya dengan penuh emosi:

"Enci Buyung, kalau ada persoalan marilah kita bahas secara baik baik, kenapa harus terburu nafsu dan mengikuti angkara murka yang berkobar dihati? Tenangkan dulu hatimu cici, mari kita bersama sama memecahkan persoalan ini dengan otak dingin"

Buyung Thay menghela napas panjang, pelan pelan dia turunkan kembali tangannya. "Han siong Ki" ia berkata kemudian dengan rasa sedih dan perasaan yang tersayat sayat, "untuk kali ini baiklah kutelan semua sikap kasarmu itu tanpa membalas, yaa. semoga saja dikemudian hari kau tak akan menyesal dengan sikapmu itu... selamat tinggal dan sampai jumpa lagi lain kesempatan"

Begitu selesai berkata, dia lantas menjejakkan kakinya ditanah dan melayang pergi dari situ.

Bayangan merah tampak berkelebat lewat, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebat.

Han siong Ki hanya bisa berdiri termangu mangu tanpa mengerti apa yang harus dilakukan, untuk sesaat dia hanya bisa mematung dengan mulut membungkam dalam seribu basa.

si nona baju hitam Ko Goan cun mengernyitkan pula sepasang alis matanya, ujarnya kemudian:

"sute, tidak pantas kalau engkau bersikap sekasar itu terhadap seorang perempuan, sekalipun dia bersalah misalnya, tidak perlukah kau bersikap seolah-olah hendak membunuhnya, bagai manapun juga duduknya persoalan tali belum jelas Berilah kesempatan baginya untuk membela diri, rasanya tidak ada salahnya bukan?"

"Huuh... Apa yang harus kuragukan lagi tentang perbuatan kejinya itu? Kenapa pula orang itu harus diberi kesempatan untuk membela diri? Percuma, hanya membuang waktu waktu belaka" tukas Han siong Ki ketus, sementara sorot matanya memandang kejauhan tanpa berkedip.

"Sute Sebelum kau mendapat bukti yang nyata yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar melakukan kesalahan, janganlah kau lontarkan tuduhan itu, selidiki dulu duduknya persoalan sampai menjadi jelas, siapa tahu kalau penilaianmu sekarang adalah penilaian yang keliru" "Dengan dasar apa suci dapat mengatakan kalau aku mungkin keliru..?"

Ko Gan cun menghela napas panjang.

"Aaaai... Terus terang saja kukatakan, semenjak awal kemunculan laki-laki tadi, aku sudah merasakan sesuatu perasaan yang aneh, aku lihat dibalik sorot mata orang she Huan itu seakan akan memancarkan rasa cemburu yang amat tebal, lagi pula mukanya licik dan sangat mirip dengan seorang manusia berbahaya yang banyak tipu muslihatnya, siapa tahu kalau laki-laki she Huan itu memang sengaja..."

Meskipun nona baju hitam itu tidak melanjutkan kata- katanya, tapi Han siong Kie sudah memahami apa yang hendak dia katakan, kontan saja perasaannya bergetar keras.

"Benar juga ucapan tersebut" demikian pikirnya dihati, "sepanjang pengetahuanku si tamu berjenggot indah Huan Kang selalu mengejar Buyung Thay agar mau menerima cintanya, tapi Buyung Thay selalu menolak pernyataan cintanya itu, siapa tahu karena gagal mendapatkan cinta maka timbul rasa benci dihatinya dan menggunakan sifat fitnahan ini untuk mencelakai jiwanya....? Tapi... aaai, Buyung Thay kan bisa membela diri dan membantah tuduhan tersebut? Kenapa ia harus membunuh orang she Huan tersebut? Bukankah membunuh orang itu sama juga artinya melenyapkan saksi sebagai tindakan untuk menutupi kejahatan yang telah dilakukannya ?"

Berpikir sampai disini, pemuda itupun menggeleng. "Aku rasa tak mungkin" katanya, "dia jelas mempunyai

kesempatan untuk membantah dan membela diri sendiri? Tapi ia tidak berbuat demikian, ia malah membunuh Huan Kang untuk menutupi perbuatannya "

"Tapi.. sute, mungkin juga serangan keji itu dia lancarkan lantaran hatinya sedang marah dan diliputi rasa benci, kadangkala bila seseorang sudah mata gelap, tindakan apapun bisa dilakukan."

Han siong Ki menggelengkan kepalanya berulang kali. "suci, pikiran dan perasaanku sedang kalut, janganlah kita

bicarakan persoalan ini lebih dulu, kalau hendak mempersoalkan kembali masalah itu, kita toh bisa membicarakannya lain saat" pintanya, "dan lagi, sekalipun kau banyak bicara, aku toh tak akan melepaskannya dengan begitu saja."

Tapi Ko Goan cun tidak berhenti sampai disitu saja, ia berkata lebih jauh:

"selain daripada itu, andaikata Go siau-bi benar benar telah mati, lalu dimanakah jenasahnya? Kenapa tidak kau tanyakan persoalan ini hingga menjadi jelas?" Han siong Ki mnghentak hentakkan kakinya ke tanah.

"Benar.. ucapan itu memang benar, sialan Kenapa aku tak bisa berpikir sampai kesitu? Kenapa persoalan ini tidak kutanyakan kepadanya?" dengan penuh rasa menyesal kembali dia menghela napas.

"Lalu.. apa yang musti kita lakukan sekarang?" nona ita bertanya kemudian-

"Apa lagi...? Tentu saja menyatroni Lian huan tau dan kita sikat orang orang Thian che kau"

"Kalau memang begitu, apa yang harus kita tunggu lagi? Ayoh berangkat " Maka berangkatlah keempat orang itu

menuju ke arah barat dengan kecepatan penuh.

Han siong Ki betul betul merasa pikirannya kalut dan tak tenteram, pemuda itu merasa seakan akan sedang kehilangan sesuatu, rasa sedih yang terjadi dengan tiba tiba ini membuat otaknya jadi berat dan matanya berkunang kunang. Sekarang ia baru merasakan apa artinya hidup, bagaimana sengsaranya hidup dan apa yang dimaksudkan dengan romantikanya orang hidup

Satu satunya orang yang paling dikasihi Tonghong-Hui telah mati, mati karena adat, berkorban demi cinta kasihnya yang tak akan kesampaian.

Sedang Go siau bi, orang yang tak dicintai, tapi mau tak mau harus dicintai sekarang sudah mati juga.

Dari sana diapun lantas teringat pula akan kematian gurunya Mo tiong ci mo, kematian dari Thio sau-kun, kematian dari adiknya Han siong Hiang.

Kematian... yaaa kematian memang tak bisa dipisah pisahkan dengan manusia hidup, kematian bisa terjadi setiap saat dan setiap saat waktu walau ada dimanapun jua.

Jarak sejauh sepuluh li, dalam waktu singkat telah ditempuh, Lian huan tau, Markas besar perkumpulan Thian che- kau telah berada didepan mata mereka.

Han siong Ki mengulapkan tangannya mencegah rekan rekannya melanjutkan perjalanan memasuki lembah tersebut, lalu kepada Hek pek siang yau pesannya:

"Berjaga-jagalah dimulut lembah ini, jangan biarkan seorang manusiapun lolos dari sini dalam keadaan selamat"

"Terima perintah" dua orang siluman itu mengiakan-

Tiba tiba siluman hitam seng Khe ki berkata dari samping. "ciangbunjin, tecu ada satu permintaan yang hendak

kuajukan kepadamu, apakah ciangbunjin bersedia

mengabulkannya?"

"Apa permintaan itu? Katakan" "sekarang, Hun-si mo ong telah menjadi kepala pelindung hukum dari perkumpulan Thian che kau dan iblis tua itu mempunyai ikatan dendam berdarah dengan perguruan tecu."

"Oooh... aku mengerti, tak usah kuawatir, orang itu pasti tak akan kubunuh, dia tentu akan kuserahkan kepada kalian berdua" sela si anak muda itu cepat.

"Terima kasih ciangbunjin"

Dalam keadaan seperti ini, yang tinggal dalam benak Han siong Kie sekarang hanyalah kobaran api dendam yang menyala nyata, semua kesedihan dan kemurungan yang semula menyelimuti hatinya, kini sudah lenyap tak berbekas.

Maka setelah diawasinya sekeliling mulut lembah itu dengan tatapan mata tajam, ujarnya kepada Ko Goan cun

"Suci, harap kaupun bersedia menantikan kedatanganku diluar lembah saja"

"Tapi...sute " si nona berbaju hitam itu kelihatan agak

keberatan.

"Jangan membantah lagi suci" tukas pemuda itu cepat, "harap kau dapat memaklumi kesulitan yang kuhadapi, ketahuilah suci, aku telah bersumpah akan membalas dendam dengan tanganku sendiri, aku tak ingin orang lain membantu usahaku ini"

"Tapi. sute, Lian hun tau adalah suatu lembah yang

sangat berbahaya, setiap langkah yang keliru dapat mengakibatkan datangnya bencana "

"lbu telah menghadiahkan peta lembah tersebut kepadaku, dan lagi akupun sudah berpengalaman sebanyak dua kali masuk keluar dalam lembah ini, aku yakin lembah tersebut masih belum dapat menyesatkan diriku"

"Tapi kau musti tahu sute, jago jago yang tergabung dalam perkumpulan Thian ce kau tak terhitung jumlahnya, lagipula ilmu silat yang mereka miliki rata rata sangat lihay, aku kuatir dengan kekuatan sute seorang..."

"Huuh... kalau cuma manusia sebangsa kurcaci kurcaci itu masih belum kupandang sebelah matapun, suci tak usah kuatir Lihat saja kemampuanku untuk menyikat habis mereka"

"Sute, Jadi kau telah bersikeras untuk menempuh bahaya dengan kekuatanmu seorang diri?"

"Yaa suci, sebab inilah yang kuharap harapkan selama ini dan harapan tersebut tak akan kusia siakan setelah kesempatan yang kutunggu tunggu itu telah tiba"

Ko Goan cun termenung sebentar, akhirnyapun dengan perasaan apa boleh buat dia mengangguk.

"Baiklah Kalau toh hal ini sudah merupakan keputusanmu, aku tak bisa memaksanya lebih jauh, aku hanya dapat mengucapkan kepadamu semoga kau sukses dan dapat membalaskan dendam kesumatmu. Berangkatlah sekarang"

Han siong Ki tidak banyak bicara lagi, dia lantas menggerakkan badannya dan menyerbu kedalam mulut lembah.....

"Berhenti? Bangsat dari mana yang begitu berani memasuki lembah kami." serentetan bentakan nyaring menggelegar di angkasa.

Berbareng dengan menggelegarnya bentakan itu, beberapa sosok bayangan manusia munculkan diri dari balik bebatuan dan menghadang jalan pergi pemuda itu.

Han siong Ki tidak berkata apa apa, mengucapkan sesuatupun tidak, ia malah tancap gas menyerbu ke dalam lembah tersebut dengan lebih gencar, jari tangan dan telapak tangannya diayun berbareng melepaskan serangan-serangan yang mematikan. Jerit kesakitan yang memilukan hati barkumandang memenuhi seluruh lembah tersebut, cukup dalam beberapa kali bentrokan saja, lima sosok mayat telah menggelepar didepan lembah itu.

Han siong Ki tertawa dingin, selesai membinasakan musuhnya, dia melanjutkan perjalanan menyerbu lebih dalam lagi...

Desingan tajam yang berkumandang karena ujung baju tersampok angin kembali menggema di angkasa, tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa menyerbu datang, mereka adalah tiga orang kakek berbaju hitam...

Menyaksikan kedatangan lawan, Han siong Ki berhenti bergerak, lalu dengan pandangan mata yang bengis danpenuh pancaran sinar membunuh ia menatap musuhnya bergantian.

Tampaknya salah seorang diantara ketiga orang kakek itupun mengenali siapa musuhnya, terdengar ia menjerit kaget: "Haahhh manusia bermuka dingin"

Tanpa banyak bicara dia lantas putar badan dan kabur terbirit birit ke dalam lembah, sementara dua orang kakek yang tertinggal berdiri mematung ditempat semula dengan wajah menunjukkan rasa ketakutan yang menghebat.

"serahkan saja kedua orang itu kepada tecu, ciangbunjin" seruan nyaring berkumandang.

Dua sosok bayangan hitam meluncur tiba, menyusul kemudian dua kali jeritan kesakitan berkumandang diangkasa, tahu tahu diatas tanah telah bertambah dengan dua sosok mayat yang hancur berlumuran darah, tentu saja serangan tersebut dilancarkan oleh Hek pek siang yau.

Melihat kelihayan ilmu silat yang dipunyai siltuman hitam putih itu, Ko Goan cUn si nona baju hitam itu merasa terkejut.

Sebagaimana telah diketahui, oleh karena Hek pek Siang yau pernah makan Bak ci yang berusia seribu tahun, maka dia menjadi awet muda dan sepintas lalu usianya kelihatan seperti baru dua puluh tahunan, padahal kalau dihitung yang sebenarnya maka usia mereka berdua sudah mencapai tujuh puluh tahun lebih.

Sejak wajah mereka pulih kembali menjadi wajah aslinya dalam telaga beracun dilembah hitam, orang persilatan boleh dibilang sedikit sekali yang mengetahui muda mudi yang gagah dan cantik itu sebetulnya tak lain adalah sepasang siluman hitam putih yang kesohor itu.

Sementara suasana telah menjadi hening kembali, tiba tiba terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul suara tersebut muncullah seorang nona cantik jelita yang berusia dua puluh tahunan, ia mengenakan baju berwarna hijau pupus.

Ketika Han siong Ki memandang wajah gadis itu untuk pertama kalinya, tiba tiba saja ia berseru kaget lalu mundur satu langkah tanpa disadarinya.....

Ia merasa potongan wajah nona itu sangat dikenal olehnya, hanya dia lupa nona itu pernah ditemuinya dimana?

-ooo0dw0ooo-

BAB 97

WALAUPUN gadis itu dikenal olehnya, kendatipun tak di ingat lagi wajah tersebut pernah ditemuinya dimana, namun anak muda itu segan untuk berpikir lebih jauh, sebab sebagai seorang jago dibawah pimpinan perkumpulan Thian che kau, itu sama pula artinya dengan nona itu adalah musuh besar yang harus dihadapinya.

Sementara itu, si nona baju hijau telah memandang sekejap mayat yang menggelepar ditanah itu lalu seolah olah tak pernah menemui kejadian apapun ia tersenyum kepada Han siong Ki. "Jadi engkau toh yang disebut orang sebagai Manusia bermuka dingin ?" tegurnya.

"Ehmm iya"

"Hui.. Betul-betul bukan nama kosong belaka, tampaknya kau memang seorang manusia berdarah dingin "

Han siong Ki segan untuk membantah lebih lama dengan lawannya, dia lantas mendengus, tenaga serangannya disiapkan dan pemuda itu siap untuk menerjang kedalam lembah....

"Tunggu sebentar" tiba tiba si nona baju hijau itu membentak.

Ketika ujung bajunya dikebaskan kedepan segulung hawa pukulan yang kuat dan keras segera menggulung kedepan saking keras dan kuatnya serangan itu membuat Han siong Ki tak sanggup berdiri tegak dan mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan.

"Hebat betul kepandaian silat yang dimiliki perempuan ini, tampaknya dia tak boleh dianggap enteng"

Sementara pemuda itu masih melamun, gadis tersebut telah menegur dengan suara yang merdu:

"Manusia bermuka dingin, mau apa engkau datang kewilayah Lian huan tau ini?"

"Membantai manusia" jawaban dari Han siong Ki itu bukan saja dingin dan kaku, bahkan tak sedap didengar.

"oooh sungguh besar amat kata-katamu, siapa yang

hendak kau bantai?"

"Semua anggota perkumpulan Thian che kau mulai dari kaucunya sampai keroco-keroconya adalah sasaran dari pembantaianku kali ini" Tiba tiba terdengar siluman putih Hong Ing ing menggunakan ilmu menyampaikan suaranya berbisik kepada Han siong Ki:

"Lapor ciangbunjin, nona berbaju hijau itu merupakan salah satu diantara jago jago yang lolos dari kurungan benteng maut beberapa hari berselang, ilmu silatnya cukup tangguh"

Han siong Ki anggukkan kepalanya tanda mengerti.

Waktu itu, si nona baju hijau kembali berkata sambil tertawa cekikikan dengan suara yang merdu:

"Manusia bermuka dingin, kenapa tidak kau tanyakan kepada nonamu siapakah aku ini?"

"Hmm Segan aku untuk menanyakan persoalan persoalan seperti itu, pokoknya setiap anggota perkumpulan Thian che kau jangan harap bisa lolos dari tanganku dalam keadaan selamat"

"Waduuh... waduh... kalau bagitu nonamu juga termasuk salah seorang yang hendak kau bunuh?"

"Tentu saja"

Paras muka si nona baju hijau itu kontan berubah hebat, serunya dengan nada geram:

"Jangan terlalu tekebur lebih dulu wahai manusia bermuka dingin, hmmm... Sebelum impian dapat terwujud, lebih dahulu cobalah untuk mendobrak pertahananku"

Han siong Kie mendengus dingin, sebagai seorang pemuda yang keras kepala dan tak sudi tunduk kepada orang lain, tentu saja ia agak tersinggung oleh tantangan musuhnya.

Maka tanpa banyak berbicara, telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah bacokan maut dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Nona berbaju hijau itu sama sekali tak gentar, telapak tangannya diayun pula kedepan untuk menangkis datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

"Blaaang " suatu benturan kekerasan tak bisa dihindari

lagi, dengan sempoyongan nona berbaju hijau itu mundur selangkah ke belakang, tapi pemuda itupun ikut mundur kebelakang, kejadian ini kontan saja membuat Han siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, cepat pikirnya didalam hati.

"sungguh teramat sempurna tenaga dalam yang dimiliki gadis ini, tak kunyana diapun berilmu sehebat ini"

Makin berpikir hatinya merasa semakin penasaran, akhirnya tenaga si mi sinkang yang maha dahsyatpun dihimpun kedalam tubuhnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapak tangannya didorong kemuka untuk melepaskan sebuah pukulan.

Kabut putih yang sangat tebal menyelimuti seluruh angkasa, ngeri juga nona berbaju hijau itu menghadapi serangan dahsyat tersebut, tapi ia tak mau mundur dengan begitu saja, maka ditangkisnya ancaman tadi dengan keras lawan keras..

Benturan keras kembali bergelegar diangkasa, ditengah benturan itu kedengaran seseorang mendengus tertahan, menyusul kemudian nona baju hijau itu terdorong mundur sejauh delapan langkah lebih, dua gumpal darah kental mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.

Penyerbuan yang dilakukan Han siong Ki saat ini boleh dibilang dilaksanakan dengan membawa rasa dendam dan benci yang luar biasa, bayangkan saja apakah ia suka memberi ampun kepada musuhnya dengan begitu saja?

Begitu tubrukan dilancarkan, sebuah pukulan yang maha dahsyat dengan kecepatan bagaikan kilat langsung dihantamkan keatas wajah musuhnya. Si nona baju hijau itu melejit sambil menghindar kesamping, gerakan tubuhnya enteng dan lincah, kecepatan geraknya juga cukup menggetarkan hati orang.

Meleset dengan serangannya yang pertama, Han siong Ki segera menghardik dengan suara dingin:

"Jangan berkelit melulu, coba rasain lagi sebuah pukulanku ini, bila kau tidak mampu itulah berarti nasibmu masih terlampau mujur untuk suatu kematian"

Desakan demi desakan yang dilakukan pemuda itu akhirnya membangkitkan juga hawa amarah dihati si nona baju hijau, mukanya berubah hebat, sepasang matanya berapi-api, serunya dengan geram:

"Wahai manusia bermuka dingin, jika aku Cui-hoa siancu Ting Hong jeri kepadamu, sepanjang masa aku tak nanti akan menggunakan marga Ting lagi..."

Sebenarnya Han siong Ki sudah menyiapkan sebuah pukulan yang luar biasa dahsyatnya, akan tetapi setelah mendengar nama yang diperkenalkan nona itu, mendadak sontak saja ia tarik kembali tangannya mentah mentah, serunya dengan hati bergetar: "Jadi kau yang bernama Ting Hong?" sementara dalam hatinya ia berpikir kembali:

"Tak heran kalau aku merasa kenal sekali dengan wajahnya, rupanya dia tak lain adalah gadis yang dilukis dalam dinding gua salju dibukit ciong san..."

Dalampada itu si nona baju hijau itu telah menyahut: "Yaa benar, ada apa?"

"Kalau begitu kau adalah putrinya sijelek dari sin ciu?"

Kali ini paras muka Cui hoa siancu Ting Hong berubah sangat hebat, setengah tercengang dia berseru:

"Eeeh darimana kau bisa tahu kalau si Jelek dari sin ciu

adalah ibuku" Tapi sebelum Han siong Ki memberikan jawabannya, tiba tiba dari kejauhan muncul tiga sosok bayangan manusia, dengan kecepatan luar biasa ketiga sosok bayangan itu meluncur datang...

Han siong Ki menengadah, begitu tahu siapa yang datang, paras mukanya berubah, kepada Hek pek siang yau segera katanya:

"Itu dia, orang yang kalian cari cari sudah datang, hadapilah dia dengan kekuatan kamu berdua. biar anak muridnya itu aku yang basmi"

Ucapan si anak muda itu memang tak salah, sebab yang datang tak lain adalah Hun si mo ong dan im yang siang sat.

Sepasang siluman hitam putih tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lagi, mereka melompat ke muka dengan gerakan yang lincah lalu menghadang jalan pergi HHun si mo ong, teriaknya hampir berbareng: "Bajingan tua, serahkan jiwa anjingmu" Hun si mo ong tertawa seram.

"Heehhh.... heehhh.... heeehhh bocah busuk, apa yang

kau teriakkan macam setan menjerit?"

Tanpa banyak bicara lagi dia memandang sekeliling gelanggang, lalu berpaling pula keatas wajah Han siong Ki.

Sementara itu, Cui hoa siancu Ting Hong hanya berdiri termangu mangu, disatu pihak ia sudah terpikat oleh kegagahan dan ketampanan Han siong Ki, dilain pihak diapun merasa agak ragu ragu oleh sikap pemuda itu, benarkah dia mempunyai hubungan yang intim dengan ibunya?

"Hun si mo ong" kedengaran siluman hitam seng Keh ki sedang membentak dengan marah, "bersiap siaplah menghadapi kematianmu, sisa sisa anak murid Thian it bun khusus datang kemari untuk membuat perhitungan dengan kau" Pucat pias wajah Hun si mo ong karena kaget, dengan hati yang ketakutan ia mundur selangkah lebar ke belakang.

Hek pek siang yau berdiri kaku dengan wajah diliputi rasa dendam dan benci yang menyala nyala, napsu membunuh menyelimuti wajahnya dengan tebal, mereka berdua telah bersiap siaga melakukan penyerbuan kedepan..

Im yang siang sat, sepasang malaikat hawa dingin dan panas ikut maju kemuka untuk membantu gurunya, tapi Ko Goan cun atau si nona baju hitam itu sudah bergeser ke kiri menghadang jalan pergi Yang sat (malaikat hawa panas) Ko su khi sedangkan Han siong ki menghadang jalan lewat dari Im sat (malaikat hawa dingin) Mo siu ing.

Suatu pertarungan sengit tak terhindar lagi, semua pihak sama sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bertempur dan saling merobohkan musuhnya.

Hek pek siang yau bertujuan membalas dendam membalas sakit hati atas dibasminya partai Thian it bun, perguruan mereka dimasa lalu, bisa dibayangkan bagaimana nekad dan gencarnya serangan demi serangan yang mereka lancarkan dengan penuh rasa dendam itu, untuk sesaat keadaan mereka masih seimbang.

Hun si mo ong memang terhitung juga seorang tokoh silat berilmu tinggi, sekalipun dikerubuti dua orang musuh lihay sekaligus, ternyata posisinya masih mantap dan perlawanannya cukup gigih.

Keadaan Ko Goan cun melawan Yang sat Ko su khi juga seimbang, untuk sesaat susah untuk menemukan siapa yang lebih unggul diantara mereka berdua...

Hanya Im yang Mo siu ing yang kewalahan menghadapi serangan serangan Han siong Ki yang gencar, hanya cukup didalam tiga gebrakan saja ia sudah didesak sehingga tak mampu melancarkan serangan balasan. Cui hoa siancu Ting Hong yang menganggur di samping arena, beberapa kali kelihatannya hendak turun tangan, tapi setiap kali pula dia batalkan niatnya itu...

Mendadak terdengar jeritan ngeri yang mengerikan berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh dari malaikat hawa dingin Mo siu ing tampak terlempar kebelakang sejauh satu kaki dengan sempoyongan, rupanya ia sudah kena terhajar oleh tenaga pukulan si mi sin kang dari Han siong Ki sehingga muntah darah, keadaannya sedikit tampak payah.

"Malaikat hawa dingin" Han siong Ki berteriak sambil menggigit bibir menahan geramnya, "masih ingat bukan dengan apa yang pernah kuucapkan tempo hari? Bila kita berjumpa muka lagi, maka kau akan kubunuh?"

"Manusia bermuka dingin, jangan harap apa yang kau inginkan itu bisa terwujut" teriak malaikat hawa dingin Mo siu ing dengan sinar mata memancarkan rasa benci yang hebat.

Sembari berkata tubuhnya melejit sambil menerkam ke depan menyerang Han siong Ki, sepasang telapak tangannya menyapu ke angkasa menciptakan selapis bayangan cakar yang tebal, dengan hebatnya bayangan cakar itu mengurung disekitar batok kepala lawan.

Ilmu cengkeram yang dimiliki malaikat hawa dingin Mo siu ing terhitung ilmu nomor satu dalam dunia persilatan, diapun terhitung jago nomor wahid dalam ilmu jenis yang sama, bisa kita bayangkan betapa mengerikannya serangan yang dilancarkan dengan tekad itu, kontan Han siong Ki terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.

Dipihak lain pertarungan antara Ko Goan cun melawan malaikat hawa panas masih berlangsung dengan serunya, menang kalah untuk sesaat sukar untuk ditentukan.

Pertarungan mati matian antara Hek pek siang yau melawan HHun si Mo ong juga berlangsung amat seru, tampaknya untuk sesaat siapa unggul siapa kalah belum dapat ditentukan.

Hawa napsu membunuh yang berkobar dihati Han siong Kie makin memuncak. tujuannya memasuki Lian huan tau itu untuk menuntut balas, tentu saja ia merasa segan untuk membuang banyak waktu disini, maka sesudah berpikir sebentar akhirnya ia membentak. ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dilancarkan berbarengan waktunya, jurus jurus mautpun menggulung keluar susul menyusul.

Kalau juga pukulan pukulan biasa masih mendingan, ternyata dalam serangan tersebut pemuda itu telah sertakan juga hawa sakti si mi sinkang yang dahsyat, jangankan baru malaikat hawa dingin Mo siu ing, sekalipun gurunya Hun si moong juga tak akan tahan.

Tak ampun lagi, satu pukulan keras bersarang telak dibadan si malaikat hawa dingin, membuat lawannya segera mencelat ke belakang.

Oleh jeritan kesakitan dari malaikat bahwa dingin itu, malaikat hawa panas Ko su khi menjadi amat terkejut, konsentrasinya otomatis menjadi buyar.

Syarat terutama yang harus diperhatikan kawanan jago dalam suatu pertarungan adalah konsentrasi yang sempurna, apalagi dengan kekuatan yang seimbang, seseorang lebih lebih harus memperhatikan benar benar setiap ancaman musuhnya.

Karenanya, ketika malaikat hawa panas Kosu khi pecah perhatiannya, Ko Goan cun segera manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik baiknya, ilmu pukulan Hui huan pat ciang secepat sambaran kilat dilancarkan secara gencar.

"Blaaang" ditengah benturan keras, Malaikat hawa panas Ko su khi mendengus tertahan sambil muntah darah kental tubuhnya secara beruntun mundur belasan kaki ke belakang. Waktu itu pertarungan antara Hek pek siang-yau melawan Hun si mo ong telah mencapai pada puncaknya, makin bertarung suasana makin tegang dan mara bahaya semakin besar mengancam tiba, pertarungan sesengit ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan ratusan tahun belakangan ini.

Han siong Ki sendiri sehabis menyarangkan sebuah pukulannya ditubuh lawan, ia lantas melejit dan memburu ke hadapan malaikat hawa dingin Mo siu ing, telapak tangannya diangkat ke udara siap melancarkan sebuah pukulan maut...

Padahal keadaan si malaikat hawa dingin Mo siu ing waktu itu sudah kepayahan apalagi setelah isi perutnya terluka parah, menghadapi ancaman yang sudah berada didepan mata itu ia cuma bisa pejamkan mata sambil menantikan datangnya saat kematian.

Tiba tiba ketika serangan sudah hampir mencapai pada

sasarannya, Han siong Ki menarik kembali serangannya itu, gelengkan kepala, menghela napas panjang dan putar badan masuk ke dalam lembah.

Sebagaimana diketahui, Han siong Ki bisa berhasil menguasahi ilmu si mi sinkang, kesemuanya itu adalah berkat sarung tangan Hud jiu po pit yang diberikan malaikat hawa dingin kepadanya, meskipun benda itu dimenangkan olehnya dalam Suatu pertarungan, tapi kebaikannya itu tak dapat terhapus dengan begitu saja, maka ia merasa tak tega untuk melancarkan serangan maut yang bisa mengakibatkan kematian bagi orang itu.

Baru beberapa langkah Han siong Ki berjalan, ketika secara mendadak sesosok bayangan manusia menghadang jalan perginya .

"Manusia bermuka dingin berhenti kau" bentaknya.

Han siong Ki berhenti sambil menengadah, ternyata orang yang menghadang jalan perginya itu bukan lain adalah cui hoa siancu Ting Hong. "oya, hampir saja aku melupakan orang ini" demikianlah pikirnya "bagaimanapun jua, aku harus mengucapkan si Jelek dari sin ciu juga bisa terwujud"

Tapi sebelum anak muda itu mengucapkan sesuatu Cui hoa Ting Hong siancu telah berkata lebih dulu:

"Manusia muka dingin, engkau kenal dengan ibuku?" "Benar... bukan saja kenal bahkan akupun masih

mempunyai sebuah janji dengan ibumu"

"Masih mempunyai sebuah janji? janji apakah itu? apa kau bisa memberitahukan padaku?"

"Tentu saja aku telah berjanji kepada ibumu untuk menemukan kau, kemudian membawa kamu pulang kerumah"

"Aku tidak percaya" teriak Cui hoa siancu Ting Hong dengan paras muka berubah hebat.

"Engkau tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan?" pemuda itu menegaskan.

"Tentu saja aku tidak percaya, kenapa harus kupercayai perkataanmu itu dengan begitu saja?"

"Tahukah engkau? Karena berusaha untuk menemukan kembali jejakmu, ayahmu sudah lima tahun lamanya berkelana dalam dunia persilatan, bahkan ibu dan ayahmu cekcok dan tidak akur lantaran kau..."

"Aaaah, masa iya?"

"Terserah mau percaya atau tidak, pokoknya aku sudah mengatakan apa yang sebenarnya, dan untuk mewujudkan janjiku itu, terpaksa aku harus menghantar kau pulang kerumah ibumu"

"Mengapa kau bisa mempunyai janji dengan ibuku?", "Karena aku pernah memperoleh sebutir pil si mia Kim wan

dari ibumu maka..." "Maka engkau melakukan pencarian ini baginya?" Ting Hong menyela sambil mencibirkan bibirnya.

"Yaa, apa yang nona katakan memang benar"

"Tapi sayang sekali sekarang aku masih belum bisa pulang kerumah... dan lagi akupun tak ingin pulang"

"Kenapa?"

"Sudah sepuluh tahun lamanya aku disekap dalam rumah batu di benteng maut, Thian che kau lah yang telah menolong aku terlepas dari kurungan, maka dewasa ini aku harus membayar dulu hutang budi ini kepadanya, selain daripada itu, semua rekan rekan senasib yang pernah disekap dalam benteng maut mempunyai suatu tujuan yang sama..."

"Apakah tujuan kalian yang semua?" Han siong Ki ingin tahu dan bertanya agak tercengang.

"Tujuan kami adalah menghancurkan Benteng maut dan membumi ratakan bangunan itu dengan tanah"

Berdebar jantung Han siong Ki setelah mendengar perkataan itu, mimpipun ia tak mengira kalau kawanan gembong iblis yang berhasil terlepas dari benteng maut telah dipergunakan tenaganya oleh Thian che kaucu demi keuntungan pribadinya.

Sekarang, Benteng maut dijaga oleh ibunya, sucounya dan siau susioknya, maka berbicara soal pertahanan rasanya tak akan sampai menjadi satu masalah yang pelik, cuma dengan adanya rencana musuh yang bisa gawat, otomatis gerakan itu akan sangat mempengaruhi rencananya sendiri untuk melakukan pembalasan dendam.

"Benteng maut selamanya tetap akan jaya, benteng maut selamanya tetap akan berdiri kokoh dalam dunia persilatan, jangan harap apa yang kalian rencanakan bisa terwujud" serunya kemudian dengan suara dingin. "Huuuh... jangan bermimpi" Ting Hong mendesis dengan nada penuh penghinaan.

Paras muka Han siong Ki berubah jadi serius, katanya lagi: "orang she Ting, terus terang kuberitahukan kepadamu,

and ikata aku tidak terikat oleh janjiku sendiri dengan ibumu, maka sekarang engkaupun tak akan lolos dari suatu kematian"

"Manusia bermuka dingin" Ting Hong berteriak dengan paras muka berubah hebat, " kau terlampau tekebur, ingin masuk lebih jauh ke dalam lembah ini, kau harus berusaha mengalahkan aku lebih dahulu"

Han siong Ki tahu keadaan sudah meruncing, diapun cepat mengambil keputusan.

"sekarang, masalah membalas dendam jauh lebih penting dari persoalan lainnya, kenapa tidak kusingkirkan dia lebih dahulu? sehabis membalas dendam ia baru kutangkap untuk dikirim kembali ke gua salju dibukit Ciong san..."

Karena berpikir begini, diapun membentak dengan suara keras: "Ayoh menyingkir kau"

"Tunggu sebentar..." gadis itu kembali berseru dengan suara lantang.

"Apa yang hendak kau katakan lagi?"

"Kau membutuhkan obat si mia kim wan dari ibuku untuk apa?"

"Untuk apa ? Tentu saja untuk menolong jiwa

seseorang" sahut pemuda itu.

"Manusia macam apakah yang hendak kau tolong?"

Han siong Ki sedikit tercengang selain kurang sabar, tapi sahutnya jugs dengan jujur: "Dia adalah seorang gadis yang bernama Go siau bi Enmm, sudah cukup jelas?"

"Go siau-bi namanya?" "Yaa benar, ada apa?"

"Kalau begitu obat tersebut sudah tidak ada gunanya lagi baginya, obat tersebut bisa kau kembalikan kepada ibuku"

"Kenapa.." Han siong Ki bertanya dengan hati yang amat terperanjat "Kau kenal dengan gadis itu?"

"Ehmmm, benar"

"sekarang ia berada dimana?" "Kau ingin tahu?"

"Yaa, aku ingin tahu" suara Han siong Kie lcedengaran sedikit gemetar karena emosi.

Cui hoa siancu Ting bong termenung dan berpikir lagi beberapa saat lamanya, kemudian diapun bertanya lagi: "sebenarnya dia itu apa mu?"

"Dia adalah calon isteriku"

Sekali lagi paras muka Ting Hong berubah hebat, tapi sebelum dara itu berbicara lagi, Han siong Kie dengan perasaan tak sabar telah mendesak lebih jauh:

"Harap kau suka beritahu kepadaku, bagaimanakah keadaannya dewasa ini? Tentunya kau tidak merasa keberatan bukan?"

"Beritahu kepadamu sih boleh-boleh saja, hanya..." "Hanya kenapa?"

"Tentu saja ada syaratnya"

Menurut pengakuan si tamu berjenggot indah Huan Kang menjelang saat kematiannya, Go siau bi telah tewas ditangan ratu tawon Buyung Thay, tapi sekarang Ting Hong telah mengucapkan kata-kata semacam itu, tak heran kalau Han siong Ki merasa kaget bercampur tercengang, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana baiknya. Tapi akhirnya diapun berkata:

"Apakah syaratmu? Cepatlah katakan keluar"

Ting Hong tidak langsung menjawab, ia tampak termenung beberapa saat lamanya, kemudian tertawa misterius.

"Kabar tentang gadis she Go itu bisa saja kuberitahukan kepadamu sekarang juga, sedang soal syaratnya lebih baik dibicarakan lain kali saja, asal kau ingat saja selalu bahwa kau masih berhutang sebuah syarat kepadaku itu sudah lebih dari cukup,"

Han siong Ki sudah tak sabar untuk menunggu lebih jauh, ia mendesak lebih jauh:

"Baik, akan kuingat selalu syaratmu itu, Nah sekarang katakanlah jejak gadis itu kepadaku"

"Sekarang Go siau bi berada dalam cengkeraman orang orang Thian che kau..."

"ooooh... jadi dia belum mati?" Rasa kaget yang dialami Han siong Ki waktu itu benar benar sukar dilukiskan dengan kata kata, suaranya sampai kedengaran agak gemetar.

"Yaa, dia belum mati oleh karena itulah seperti telah kukatakan tadi, obat si mia kim wan sudah tak berguna lagi baginya"

"Tapi.... tapi... hal ini tak mungkin terjadi, dia.... dia....

mana mungkin belum mati?"

"Apa?Jadi kau sangat berharap agar dia cepat-cepat masuk keliang kubur ?"

"Bukan begitu maksudku, sewaktu kami berpisah tempo hari, jiwanya hanya bisa hidup sepuluh hari lagi, itupun berkat kemanjuran obat ci-goan wan dan sekarang "

"Waah kalau soal itu aku kurang begitu tahu, tapi

pokoknya sampai sekarang dia masih hidup dan aku rasa asal dia masih hidupkan beres? Kenapa musti persoalkan urusan tetek bengek lainnya?" kata Ting Hong dengan suaranya yang merdu seperti burung nuri yang lagi berkicau dipagi hari.

Setelah mendengar perkataan itu, Han siong Ki baru sadar dari lamunannya, sekarang ia baru merasa bahwa Buyung Thay kena difitnah, bahkan terfitnah secara keji, dia pasti akan menanggung rasa penasaran yang hebat akibat perbuatannya...

Diam-diam pemuda itu mulai menyesal, dia tak menyangka kalau si Tamu-berjenggot-indah Huan Kang begitu kejamnya, lantaran gagal soal bercinta ternyata dia begitu tega untuk melaksanakan siasat sekeji dan sebusuk itu diam-diam ia

merasa bergidik sendiri, rupanya rasa cemburu bisa mendatangkan rasa benci yang menyala-nyala, dan Huan Kang merupakan satu bukti yang paling jelas.

Helaan napas panjang berkumandang memecahkan kesunyian, Buyung Thay pernah menolong jiwanya sampai di»a kali, tapi sekarang, karena Kecerobohannya ia telah bentrok dengan perempuan itu, malahan nyaris jiwanya akan dicabut olehnya, berbicara sesungguhnya, peristiwa itu cukup mendatangkan pukulan batin yang tak terkirakan besarnya untuk perempuan itu.

"Aaai. aku telah bersalah padanya, aku telah bersikap

terlampau kasar kepadanya " tanpa disadari pemuda itu

bergumam sendiri dengan suara yang lirih.

-ooo0dw0ooo-