-->

Tengkorak Maut Jilid 46

 
Jilid 46

"TAHUKAH engkau nak, mengapa Yu Pia Lam menyusup ke dalam perguruan benteng maut dan belajar silat disana?"

"Tentang persoalan ini, ananda sudah pernah mendengarnya"

"Ooooh engkau sudah tahu?"

"Yaa, ananda berhasil mengetahui hal ini dari keterangan yang diberikan oleh Hun si mo ong, dia bilang gurunya Yu Pia lam bernama Huan yu it koay Manusia paling aneh diseluruh jagad ingin merajai dunia ini, tapi dalam suatu pertarungan oleh sutay sang cou ouyang Beng dia kena dihantam sampai menjadi cacad, maka dari itu dia hendak membalas dendam atas sakit hati ini."

"Yaa, memang begitulah kejadiannya nak" selang sesaat kemudian, si anak muda itu kembali bertanya:

"ibu, kematian dari adik Kun dan adik Hiang"

Menyinggung kembali soal tersebut, siang go cantik ong cui ing menunjukkan wajah yang sedih dan air matapun tanpa terasa mengucur keluar membasahi pipinya, dengan agak sesenggukan dia berkata:

"sau kun mendapat perintahku untuk memasuki ruang rahasia dari Yu Pia lam guna melakukan pemeriksaan yang seksama, akhirnya dari dalam kamar rahasianya itu dia berhasil mendapatkan kembali kitab pusaka Kui kok cim su tersebut, sayang operasi ini kurang cermat dimana jejaknya akhirnya ketahuan, diapun dikejar kejar kemudian terbunuh. Dengan gagalnya operasi dari sau kun maka keadaanku dan adik Hiang mu juga terancam bahaya maut, akhirnya Han siong  Hiang  tertimpa  pula   bencana   dan   menemui ajalnya nah, begitulah nak, demikianlah kejadian yang telah

kami alami sampai saat terakhir"

Han siong Ki berdiri sambil menggertak gigi menahan pergolakan emosi dalam hatinya, lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa sebelum kemudian katanya: "ibu, ananda ingin mohon diri lebih dahulu"

"Apa yang hendak kau lakukan ?" tegur perempuan itu

dengan perasaan cemas.

"ibu, hutang darah harus bayar dengan darah, hutang nyawa bayar dengan nyawa, sekarang juga akan kutuntut kembali hutang darah dan hutang nyawa itu dari tangannya"

"Cukupkah kekuatanmu seorang. Yakinkah engkau akan berhasil dengan kekuatan seorang diri?"

"Cukup, lebih dari cukup Toh Hek pek siang-yau sepasang siluman itu akan menyertaiku dalam perjalanan ini"

"Nak, ingatlah selalu, jangan menilai terlalu rendah kekuatan dari pihak Thian che kau"

"Ananda mengerti, dan ananda akan berusaha menghadapi mereka dengan sebaik mungkin"

"Sebelum melakukan sesuatu rencana, terlebih dulu susunlah siasatmu dengan sebaik mungkin, karena melakukan tindakan secara sembrono tanpa diimbangi dengan rencana yang matang, bukanlah ciri dari seorang laki laki pintar"

"Ananda mengerti, dan ananda akan selalu memperhatikan nasehat dari nasehat ibu ini"

"Untuk membalaskan dendam bagi keluarga, dendam bagi suami dan hutang nyawa bagi kematian anak perlukah aku ikut serta dalam usaha pembalasan dendam ini?" kembali si siang go cantik ong cui ing bertanya dengan suara lirih.

"Tidak ibu tidak usah ikut serta sepantasnya kalau ibu tinggal.disamping sucou dan merawat dia orang tua, sebab bagai manapun juga kekuatan siau susiok seorang tak mungkin bisa mengurusi seluruh benteng yang amat luas itu, andaikata pihak Thian che kau serta gembong gembong iblis yang lolos dari jaring itu melakukan penyerbuan lagi ke benteng maut, bukankah benteng maut akan terancam kehancuran total ditangan orang orang itu?"

"Tentang soal ini..."

"oooh... ibu, apakah engkau tidak bersedia mengabulkan keinginan ananda untuk membalas dendam berdarah ini seorang diri ? Bu, kabulkanlah keinginanku ini"

Untuk sesaat si siang go cantik ong cui ing merasa ragu ragu dan sukar mengambil keputusan tapi akhirnya dia toh mengangguk juga.

"Baiklah nak. pergilah seorang diri ibu hanya bisa bantu berdoa bagi kesuksesanmu, semoga usahamu untuk membuat perhitungan ini dapat berjalan dengan lancar tanpa rintangan apa apa, selesai dengan tugasmu itu cepatlah kembali ke benteng maut dan temui aku "

"Tentu saja ibu, bila usahaku untuk membalas dendam telah berhasil, ananda pasti akan pulang kemari dan akan kulayani ibu sepanjang tahun"

"Nak. aku kuatir " "Kenapa ibu?"

"Aaaah tidak apa apa, pergilah cepat ibu sudah

menerima rasa baktimu itu meski baru terwujud dalam keinginan"

Rasa benci dan semangatnya ingin membalas dendam berkobar di dada Han siong Kie, meski berat rasanya untuk perpisahan tersebut, akan tetapi bagaimanapun juga membalas dendam adalah suatu tugas yang berat dan harus segera dilaksanakan.

Dengan berat hati, pemuda itupun berpamitan kepada ibunya dan berangkat meninggalkan benteng maut.

Sekarang, semua duduknya perkara sudah dibikin jelas, dia tak perlu melakukan penyelidikan lagi secara samar samar tanpa tujuan tertentu, sekarang ia sudah mempunyai sasaran yang pasti, meski terlampau banyak kesedihan dan kemurungan yang membebani pikiran maupun perasaannya, akan tetapi untuk sementara waktu dia dapat mengesampingkan kesemuanya itu dari dalam pikirannya.

Setelah menyeberangi jembatan batu, pemandangan pertama yang menyentuh matanya adalah gundukan tanah pekuburan dari Tonghong Hui yang berada dipuncak batuan cadas.

Untuk kesekian kalinya ia merasa hatinya terluka, hatinya terasa amat sakit seakan akan darah bercucuran tiada hentinya.

Dia melompat naik keatas puncak batuan cadas itu, lari kehadapan kuburan Tonghong Hui dan menggunakan cucuran air matanya serta bisikan hatinya sebagai sesaji dalam upacara sembahyang itu

Lama... lama sekali ketika tiba tiba serentetan suara

teguran berkumandang memecahkan kesunyian:

"Tecu berdua menghunjuk hormat buat ciangbunjin" Hek pek siang you sepasang siluman hitam.putih munculkan diri dibelakang tubuhnya dan berdiri menanti di sampingnya.

Han siong Kie menengadah dan memandang dua orang anak buahnya itu sekejap. akhirnya setelah menghela napas panjang katanya dengan lirih: "Marilah kita pergi "

Dia ulapkan tangannya dan bergerak lebih dahulu menuruni bukit batuan cadas tersebut

-ooo0dw0ooo-

BAB 94

BENTENG MAUT sudah semakin jauh ditinggalkan, tanah pegunungan terbentang didepan mata, sementara Han siong Kie bertiga melakukan perjalanan cepat, tiba tiba terdengar suara teguran yang merdu berkumandang dari kejauhan: "Titi

...... sungguh payah sekali aku mencari jejakmu"

Bersamaan dengan berkumandangnya ucapan itu, seorang nyonya cantik berbaju merah telah muncul dihadapan mereka.

Siapakah dia? Tak lain tak bukan adalah ratu tawon Buyung Thay adanya.

Kemunculan Buyung Tay yang amat tiba tiba ini sama sekali diluar dugaan Han siong Kie, dia tak menyangka kalau perempuan cantik itu akan munculkan diri dalam keadaan seperti ini.

Hek pek siang you yang berdiri dibela kang ketuanya segera berbisik pula dengan suaru lirih:

"Dia benar benar amat cantik, bagaikan bidadari yang baru dari khayangan"

"Yaaa, dia memang cantik jelita bak bidadari, tak kusangka kalau didunia ini terdapat perempuan secantik itu" Han siong Ki rada tertegun, akhirnya dia maju menyongsong kedatangannya dengan tergopoh-gopoh, ucapnya:

"Cici, bukankah hari itu kau ada dibukit si sin gan..."  "Yaa adikku" sahut Buyung Thay dengan wajah menyesal

"pertama tama aku hendak minta maaf dulu kepadamu, sebab

aku tak dapat menyelesaikan tugas yang kau bebankan padaku..."

Paras muka Han siong Ki tiba tiba saja berubah sangat hebat. "Apakah Go siau bi telah..."

"Aaai... dia sudah lenyap tak berbekas. Aku tak tahu sekarang dia berada dimana?"

"Apa? jejaknya sudah lenyap tak membekas. "

"Betul, dia sudah lenyap secara misterius, hilang lenyap dengan begitu saja"

"Aaah mana mungkin? Bukankah isi perut nya terluka

parah, lagipula selembar jiwanya terancam bahaya maut" Buyung Thay menghela napas sedih.

"Aaaai dua hari setelah engkau pergi, aku merasa

sangat kelaparan, perutku begitu laparnya sehingga ingin pergi ke belakang untuk mencari sedikit makanan guna menangsal perutku yang lapar, hanya setengah perminum teh aku pergi, tapi sewaktu aku kembali lagi ke dalam kamar, ternyata ia sudah tak ada dalam kamarnya lagi" Han siong Kie menyeka keringat dingin yang membasahi jidatnya, kembali serunya:

"Dengan mengandalkan obat Ci goan wan yang kau berikan itu, jiwanya masih bisa bertahan selama tujuh hari lagi, tapi setelah jejaknya lenyap dengan begitu saja, bukankah berarti bahwa keselamatan jiwanya jauh lebih membahayakan daripada selamat.? Aaaah bagaimana sebaiknya sekarang?" "Menurut penglihatanku, belum tentu jiwa nona Go terancam oleh mara bahaya"

"Dengan dasar apakah engkau bisa berkata demikian?" "Siapa tahu kalau orang yang menculiknya itu bisa

menyelamatkan selembar jiwanya?"

Tiba tiba saja Han siong Kie merasakan hawa amarahnya meluap dari dalam dadanya, otot otot hijau pada menongol semua karena mengendalikan napsu marah yang memuncak. sorot matanya tajam menggidikkan hati, dengan suara yang dingin dan menyeramkan segera teriaknya

"Cepat kau katakan, sebenarnya siapa yang telah menculik pergi nona Go...?"

"Jangan marah-marah dulu, coba kau periksalah isi surat ini, tentunya setelah membaca surat tersebut akan kau ketahui pula siapakah pelaku dari penculikan ini" seraya berkata Buyung Thay iantas mengangsurkan secarik kertas surat kedepan. Dengan tergopoh gopoh Han siong Kie menyambar surat itu, lalu dibacanya dengan cepat. Maka terbacalah isi surat tersebut kira kira berbunyi demikian:

"Surat ini tertuju buat manusia muka dingin Han siong Ki: Dalam sepuluh hari kunantikan kedatanganmu diatas tebing

Kiu ci gan, jangan lupa membawa serta kitab sarung tangan Hud jiu po pit untuk menebus nyawa istrimu Go siau bi. selewatnya balas waktu itu tak akan dilayani.

Dibawah surat itu tiada tanda nama, akan tetapi dilukis sebiji uang kuno.

selesai membaca surat tersebut, Han siong Ki segera mengerutkan dahinya rapat rapat, tegurnya kemudian:

"Cici tahukah engkau dimanakah letaknya tebing Kiu ci

gan yang dimaksudkan itu?" "Tebing Kiu ci gan letaknya diatas sebuah bukit yang terjal, kurang lebih lima puluh li dibelakang Lian huan tan"

"Tahukah engkau uang kuno tersebut lambang dari jago silat manakah dalam dunia persilatan ini?"

"Tentang soal itu... rasanya selama ini belum pernah kudengar orang membicarakannya"

"Aku tahu"

Tiba tiba saja ucapan tersebut muncul dari belakang, suaranya ketus, dingin dan menggidikkan hati.

Ketika semua orang berpaling maka terlihatlah seorang nyonya berkerudung sudah berada kurang lebih tiga kaki dibelakang mereka berada.

Han siong Ki ingin menggerakan bibirnya untuk menegur, tapi nyonya berkerudung itu sudah menggoyangkan tangannya dengan cepat.

"Pemilik uang kuno tersebut adalah seorang yang bernama Tong po lo sat iblis perempuan uang kuno, dia adalah seorang jago lihay pada enam puluh tahun berselang yang pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan karena kelihayannya"

"oooh maksudmu manusia yang bernama Tong po lo sat

itu adalah seorang perempuan?" pemuda itu bertanya sambil pura pura berlagak tidak kenal dengan perempuan berkerudung ini.

"Yaa benar, dia memang seorang perempuan Nak. sekarang kau harus segera berangkat ketebing Kiu ci gan, sebab persoalan itu merupakan persoalan yang sangat penting bagimu"

Buyung Thay yang mendengar pembicaraan tersebut segera berkerut kening, kepada perempuan berkerudung itu segera tegurnya:

"Sebenarnya siapakah engkau?" "Aku? Manusia yang kehilangan sukma Pernah mendengar namaku ini "

"oooh... jadi kaulah orang yang kehilangan sukma" Buyung Thay terperana.

"Yaa betul"

Kiranya sejak pemunculan perempuan berkerudung itu Han siong Ki sudah tahu bahwa perempuan itu tak lain adalah ibunya, si siang go cantik ong cui ing, sebetulnya dia mau menegur, akan tetapi lantaran ibunya telah menggoyangkan tangannya, terpaksa dia harus membungkam terus sambil berlagak pilon.

Demikianlah, setelah mengakui identitasnya, dengan sorot mata yang tajam orang yang kehilangan sukma menatap tajam wajah Buyung Thay, lalu tegurnya kembali dengan dingin "Bukankah engkau adalah Hong ho si Ratu Tawon?"

Menyinggung soal julukan yang paling dibencinya itu, paras muka Buyung Thay berubah hebat, hawa napsu membunuhnya seketika berkobar dan menyelimuti wajahnya, selama ini dia mempunyai satu peraturan yang selalu dipegangnya dengan teguh, yakni barang siapa berani menyinggung nama julukan "Ratu Tawon" tersebut dihadapannya, maka dia pasti akan membinasakan orang itu. Tentu saja mimpipun tak pernah disangka olehnya bahwa orang yang kehilangan sukma itu pada hakekatnya tak lain adalah ibu kandung dari Han siong Ki.

Dengan suara setengah menjerit Buyung Thay segera berteriak lengking:

"orang yang kehilangan sukma, aku akan membunuh kau.

Bersiap siaplah menantikan saat kematianmu"

"Engkau hendak membunuh aku? Hmmm... hmmm... aku kuatir kalau kekuatan yang kau miliki masih belum mampu untuk mewujudkan apa yang kau kehendaki" "Hmmm... Kau berani menghina aku? Baik, jika tidak percaya akan kubuktikan sekarang juga"

Sambil berteriak, dengan garangnya Buyung Thay bergerak maju siap melakukan tubrukan.

Han siong Kie tidak ambil diam, begitu perempuan itu bergerak, cepat diapun bargerak menghadang dihadapannya, kepada Buyung Thay segera katanya dengan keras. "cici Kau tak boleh berbuat demikian"

"Kenapa? Itulah peraturanku yang selalu kupegang dengan teguh" sahut Buyung Thay dengan suara dingin, "adikku, kecuali terhadapmu, aku tak bisa melanggar peraturanku ini lagi"

"Aku mohon kepadamu agar untuk kali ini berilah pengecualian kepadanya, janganlah kau tarik panjang persoalan ini, tentunya kau mau bukan?"

"Apa hubungan orang ini dengan dirimu? coba kau terangkan dulu kepadaku "

"Tentang soal ini .....tentang soal ini aku rasa, ada

baiknya kalau "

"Buyung Thay kau tak perlu menanyakan soal itu" tiba tiba orang yang kehilangan sukma menyela, "aku hanya ingin memperingatkan dirimu, aku harap engkau jangan memutar otak dan menyusun rencana terhadap bocah yang masih bersih ini, ketahuilah berbicara dari usiamu, dia sudah pantas untuk menjadi anakmu sendiri!"

Ucapan semacam itu segera diterima oleh Buyung Thay sebagai suatu penghinaan, paras mukanya seketika itu juga berubah jadi hijau membesi, ia betul-betul merasa tersinggung oleh ucapan tersebut, dengan setengah geram teriaknya:

"Orang yang kehilangan sukma, bila aku tak berhasil membinasakan dirimu, aku bersumpah tak akan hidup jadi manusia!" Sesosok bayangan merah berkelebat lewat disamping Han- siong Ki, lalu sebuah pukulan gencar dilontarkan untuk membacok tubuh orang yang kehilangan sukma.

"Blaaang !" suatu ledakan dahsyat yang menggetarkan

sukma menggelegar di udara.

Termakan oleh tenaga benturan yang sangat kuat itu, kedua belah pihak sama-sama tergetar mundur satu langkah lebar.

Buyung Thay mendengus dingin, untuk kedua kalinya kembali ia menerjang kemuka sambil melancarkan serangan dahsyat.

Orang yang kehilangan sukma bertindak tenang, sepasang telapak tangannya segera diayunkan saling bertolak belakang, dalam gesekan yang aneh itu segera muncullah segulung desingan angin tajam yang aneh sekali sifatnya, begitu serangan dahsyat yang dilancarkan Buyung Thay hampir mengena ditubuhnya, tahu-tahu saja semua hawa pukulan yang berkekuatan dahsyat itu hilang lenyap dengan begitu saja.

Kejadian ini seketika itu juga membuat Buyung Thay merasa tak terkirakan rasa kagetnya, cepat-cepat dia meloncat mundur beberapa depa ke belakang, lalu merogoh sakunya dan menyiapkan segenggam jarum Toh-bun-ciam yang amat berbisa.

Han-siong Kie cukup mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari jarum-jarum Toh-hun-ciam tersebut, sebelum Buyung Thay sempat melancarkan serangannya, ia segera membentak keras:

"Buyung Thay, aku melarang engkau untuk turun tangan lebih lanjut! ayoh segera hentikan perbuatanmu itu!" "Han-siong Kie! Apa yang kau andalkan sehingga berani menghalangi tindakanku ini?" Buyung Thay balas menegur sambil melirik sekejap kearah pemuda itu.

Menghadapi pertanyaan semacam ini Han siong Ki terbungkam, betapa tidak? Apa yang musti dia jawab menghadapi pertanyaan semacam ini? Apa yang dia andaikan sehingga melarang perempuan itu untuk turun tangan lebih jauh? Tapi bagaimanapun juga orang yang kehilangan

sukma ada1ah ibunya, tentu saja ia tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan mereka saling bergebrak.

Maka setelah termenung dan berpikir sesaat, akhirnya dia bulatkan tekad sambil sahutnya dengan lantang:

"Aku tidak mengandaikan apa apa, pokoknya aku melarang engkau untuk bertempur lebih jauh"

"Hmm Dia itu apa mu, kok engkau demikian ngototnya melarang aku untuk bertempur lebih jauh "

"Aaah, soal ini lebih baik tak usah kau ketahui, pokoknya cukup asal kau tidak bertempur lagi"

"Kalau engkau tak mau menerangkan, terpaksa kaupun tak usah mencampuri pula urusan pribadiku"

Han siong Ki jadi agak mendongkol, tiba tiba tlia bergerak maju kedepan, sambil berdiri dengan bertolak pinggang katanya tegas tegas. "Aku sudah ambil keputusan untuk mencampuri urusan ini, mau apa kau ?"

"Heeeehhh.... Heehhh.. heeeehhhh mampukah engkau

untuk mencampuri urusanku?"

"Kalau engkau tidak percaya, apa salahnya kalau di coba sendiri untuk pembuktiannya?"

"Han siong Kie" teriak Buyung Thay dengan gemasnya, "jangan kau anggap aku tak berani melawan kamu" "Kau tak usah banyak bicara lagil" sela pemuda itu dengan cepat, "pokoknya bila engkau berani menyerang dengan jarum toh hun ciam itu, segera kubacok dirimu sampai mampus"

Selama percekcokan itu berlangsung, orang yang kehilangan sukma hanya berdiri di tempat tanpa bergerak ataupun berbicara, rupanya dia memang sengaja hendak membiarkan Han siong Kie ribut sendiri dengan diri Buyung Thay.

Sementara itu Hek pek siang yau telah bergerak maju pula ke depan, didalam pandangan mereka cuma Han siong Kie seorang yang dipuja dan disanjung, maka sewaktu dilihatnya ketua mereka sedang cekcok dengan orang lain, maka satu dari kiri yang lain dari kanan serentak mengepung Buyung Thay dari kedua belah sisinya, mereka telah menghimpun tenaga pukulan nya setiap saat serangan dahsyat dapat dilontarkan ke luar.

Untuk sesaat, suasana disekitar gelanggang jadi tegang dan serius, seakan akan suatu bom waktu yang dinantikan saat meledaknya.

Berada dalam keadaan begini, akhirnya Buyung Thay yang tak dapat mengendalikan perasaannya sambil menggigit bibir, titik titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan mendongkol segera teriaknya keras keras:

"Han siong Kie, kau manusia yang tak tahu budi, andaikata tiada aku, sekarang engkau sudah menjadi setan di alam baka, sungguh tak kusangka engkau setega itu bersikap demikian kepadaku"

Paras muka Han siong Kie berubah, rasa menyesal segera timbul dari dasar hati kecilnya, tapi keadaannya sekarang sudah ibaratnya orang yang berada dipunggung harimau, mau turun susah tetap disana juga sungkan, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukannya . Yaa, memang seandainya Buyung Thay tidak menolongnya sebanyak dua kali, tak nanti ia bisa hidup sampai hari ini, apalagi membalas dendam bagi kematian keluarga-nya.

"Nak, jadi.... jadi. dia pernah menye-lamatkan jiwamu

sebanyak dua kali?" tanya orang yang kehilangan sukma dengan suara gemetar.

"Yaa, dia sudah dua kali menolong jiwaku"

Mendengar pengakuan tersebut, orang yang kehilangan sukma meghela napas panjang.

"Aaaai. nak, semoga engkau bisa baik baik menjaga diri,

aku akan pergi lebih dulu" katanya kemudian sehabis berkata, sekali menjejakkan kakinya keatas tanah, tubuhnya segera melayang beberapa kakijauhnya dari tempat semula, kemudian ia meneruskan perjalanannya menuju ke benteng maut.

Sesudah bayangan tubuh orang yang kehilangan sukma lenyap dari pandangan mata, dengan suara sedih bercampur kesal Buyung Thay baru berkata kepada Han siong Kie: "sebenarnya siapakah dia?"

Untuk sesaat Han siong Kie merasa agak sangsi, tapi akhirnya dia mengakui juga: "Dia adalah ibuku"

"Apa? Jadi perempuan yang mengaku bernama orang yang kehilangan sukma adalah ibumu?" seru Buyung Thay dengan paras muka berubah hebat.

"Yaa, benar Dia adalah ibu kandungku" sekali lagi si anak muda itu mengangguk.

"Mengapa tidak kau akui semenjak tadi ? Adikku, mengapa tidak kau katakan sedari tadi?"

"Sebab ibuku tak ingin orang lain mengetahui asal usulnya yang sebenarnya" "Tapi sekarang, engkau toh sudah mengungkapnya dihadapanku?"

"Yaa, karena aku tak ingin mengelabuhi dirimu" jawab Han siong Ki sambil tertawa jengah, Ucapan yang lembut dan penuh perasaan pancaran kasih ini segera melunakkan kembali sikap Buyung Thay, ia berkata lagi dengan suara yang lirih dan nada amat sedih:

"Dia telah melarang hubunganmu denganku, itu berarti tak boleh berhubungan lagi sejak kini"

Han siong Ki cuma mengangguk mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Buyung Thay sedikitpun tidak mengendorkan kesempatan itu, kembali ia bertanya lebih jauh:

"Bagaimana maksudmu sendiri? Apakah engkau juga akan memutuskan hubungan kita sampai disini saja?"

"Ehmm, bagaimana maksudmu?"

"Aku berharap agar hubungan diantara kita berdua masih dapat berlangsung seperti sedia kala"

Tak terkirakan rasa terhibur yang dialami Buyung Thay saat ini, sepanjang hidupnya belum pernah ia rasakan bagaimanakah rasanya bercinta yang sebenarnya dan dimasa masa menjelang setengah umur tiba tiba saja dia telah berjumpa dengan Han siong Ki, dan hatinya benar benar terpikat olehnya, meskipun dia tahu bahwa pelimpahan rasa cintanya ini tidak akan mendatangkan hasil apa apa, tapi ia tak dapat menguasahi diri, ia merasa cintanya yang meluap- luap, sukar untuk dikendalikan apalagi dibendung lagi.

Sebaliknya bagi Han siong Ki sendiri, kendatipun semua sikap baiknya itu hanya didasari oleh rasa hutang budi belaka, toh kecantikan perempuan setengah umur itu cukup memikat hatinya, sebagai seorang manusia dengan berbagai titik kelemahannya, tentu saja ia tak dapat mengendalikan titik kelemahannya itu, tidak terkecuali pula diri si anak muda itu sendiri

Setelah suasana hening untuk sesaat lamanya, Buyung Thay lantas menuding kearah Hek-pek-siang yau yang berdiri dikedua belah sisinya, diapun bertanya: "siapakah kedua orang ini?"

"Dia adalah anak buah perguruan kami, shen Khe ki serta Hong ing ing, mereka berdua adalah suami istri"

"Hmmm... yang lelaki tampan yang perempuan cantik, mereka memang suatu pasangan yang amat ideal"

Sudah tentu dia tak akan meayangka kalau sepasang suami istri yang berada dihadapannya sekarang, bukan lain adalah Hek pek siang yau sepasang gembong iblis yang bikin hati kawanan jago baik dari golongan hitam maupun putih tergetar pada puluhan tahun berselang.

Selama ini sikap Hek pek siang yau hanya menghormat dan menyanjung kepada Han siong Ki seorang, bahkan sikap itu melebihi sikap seorang pelayan terhadap majikannya, sebaliknya kepada kawanan jago persilatan lainnya, dia selalu menjaga gengsi maupun kedudukan sendiri, oleh sebab itulah mereka selama ini hanya membungkam terus dalam seribu bahasa.

Suasana setelah hening sejenak. akhirnya dipecahkan oleh Han siong Kie dengan ulapan tangannya: "Ayoh kita berangkat"

"Engkau akan segera berangkat untuk memenuhi janji di bukit Kiu ci san?" tanya Buyung Thay.

"Tentu saja pergi kesitu, memangnya kau anggap aku hendak pergi kemana lagi?"

"Memangnya engkau membawa barang itu sekarang?" "Barang apa?" "Kitab pusaka sarung tangan l-Hud jiu po pit yang dituntut oleh pihak lawan"

Sebagaimana telah diketahui, sarung tangan Hud jiu po pit sudah disembunyikan oleh Han siong Kie didalam sebuah gua karang dalam lembah kematian, jangan toh barang itu sudah tak ada lagi, sekalipun ada didalam sakunya, belum tentu dia benar benar akan mempertimbangkan untuk menggunakannya sebagai barang pertukaran dengan nyawa Go siau bi. Maka ketika mendengar pertanyaan tersebut, cepat dia menggeleng.

"Tidak. aku tidak membawa barang itu" sahutnya. "Akan tetapi... bukankah... bukankah pemilik uang kuno

Tong po lo sat menghendaki..."

Han siong Ki mendengus dingin, sebelum ucapan itu sempat diselesaikan, dia telah menukas:

"Kalau toh dia berani membegal Go siau bi dan dibawanya kabur, memangnya kau anggap aku bersedia melepaskan orang itu dengan begitu saja ? Hmm, jangan bermimpi di

siang hari bolong"

”Agaknya dia menggunakan mati hidupnya Go siau bi untuk memaksa kau guna menyerahkan benda tersebut, apa yang hendak kau lakukan pada waktu itu."

"Soal ini lebih baik jangan kita bicarakan, kita rundingkan lagi setelah tiba pada saatnya saja"

Maka berangkatlah keempat orang itu melanjutkan perjalanannya menuju ke tebing Kiu ci-san.

Berada ditengah jalan, tiba tiba Buyung Thay berkata begini:

"Adikku, apakah engkau sudah berhasil mendapatkan obat mustika si mi-kim wan tersebut?"

"Yaa, sudah kudapatkan" "Benar engkau telah berhasil menemukan jejak dari si jelek dari sin ciu itu?"

"Tentu saja telah kutemukan, kalau tidak dari mana aku bisa mendapatkan pil mustika si mia kim wan ini?"

"Aaaai sungguh tak kusangka kalau Go siau bi bakal

menjumpai kejadian diluar dugaan, adikku, cici benar benar merasa tidak tenteram hatiku setelah mengetahui kejadian ini"

"Peristiwa ini toh terjadinya diluar dugaan, Aku rasa cici sendiripun tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, aku rasa persoalan paling penting yang harus kita bicarakan saat ini adalah bagaimana caranya menyelamatkan selembar jiwanya dari kesulitan. Aaaai. sampai sekarang aku masih tidak habis

mengerti, apa sebabnya si pemilik uang kuno Tong po lo sat menggunakan nyawa Go siau- bi sebagai sandera untuk memaksa aku menyerahkan kitab pusaka Hud jiu popit itu, kejadian semacam ini benar benar bikin pikiranku jadi pusing dan tidak habis berpikir"

"Yaa siapa tahu kalau dibalik kesemuanya ini masih

terdapat hal hal lain yang patut dicurigai?" sela Buyung Thay sambil anggukkan kepalanya berulang kali.

Perjalanan ditempuh dengan cepatnya, meskipun bukit terjal dan jalan tebing yang harus mereka lalui, akan tetapi bagi beberapa orang jagoan yang berilmu tinggi ini, keadaan alam semacam itu masih belum cukup untuk menyulitkan mereka. Bukit Kiu Ci san .....

Bukit itu adalah sebuah bukit karang yang tinggi, tegak lurus, suram dan gersang, sedemikian gersangnya tempat itu sehingga boleh dibilang tetumbuhan tak mungkin bisa tumbuh disitu.

Bukit itu dipandang dari kejauhan persis seperti bukit yang terjadi karena tumpukan beberapa potong batu aneh, sehingga kelihatannya bagaikan sebuah pagoda besi yang tinggi dan angker. Oleh sebab diatas bukit itu terdapat sembilan buah putaran yang menyerupai gangsingan yang kian kepuncak kian mengecil maka bukit itu dinamakan bukit Kiu ci san.

Lohor itu, empat sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa telah tiba didepan tebing batu karang itu.

Keempat orang itu bukan lain adalah Han siong Kie, Buyung Thay dan Hek pek siang yau.

Memandang tebing karang yang berbentuk aneh dan menjulang tinggi ke angkasa, keempat orang itu diam diam bergidik juga rasanya, karena keadaan medan yang harus mereka hadapi memang mengerikan sekali.

Setelah memperhatikan sejenak keadaan alam yang harus dihadapinya, Han siong Kipun berkata:

"Biar aku naik seorang diri, kalian semua tunggu saja dibawah tebing ini. "

"Aku akan mengiringi dirimu naik keatas tebing" sela Buyung Thay dengan cepat.

"Jangan Untuk sementara waktu kita masih belum mengetahui apa maksud serta tujuan Tong-po-lo-sat dengan perbuatannya itu, lebih baik biar aku naik seorang diri saja"

"Adikku, biarlah cici mengikuti kau, bila kita berjalan berduaan maka masing masing dapat saling tolong menolong bila harus menghadapi keadaan yang berbahaya"

"Aaah, aku pikir lebih baik aku berangkat sendirian saja, toh dalam surat peringatan yang mereka tinggalkan hanya mengundang kehadiran aku seorang?"

"Tapi. tapi adikku, aku merasa sangat tidak berlega

hati. "

"Aaah Tenangkan saja hatimu cici, Manusia yang bernama Tong po lo sat toh bukan seorang jagoan super sakti yang mempunyai tiga buah kepala dan enam buah lengan? Legakan saja hatimu, percayalah aku masih sanggup untuk menghadapinya"

"Heehhh..... heehhh.... heehhh " suara tertawa dingin

yang menyeramkan tiba tiba saja berkumandang di angkasa.

Empat orang jago lihay itu mencoba untuk memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, namun tiada jejak apapun yang berhasil ditemukan, padahal gelak tertawa seram itu berasal dari suatu tempat yang dekat sekali letaknya dengan tempat mereka berada.

Waktu itu, mereka berempat berdiri dihadapan sebuah bukit karang yang gersang dan luas, hutan memang ada tapi jaraknya kurang lebih sepuluh kaki dari situ, jadi tak mungkin suara tertawa dingin tadi berasal dari balik hutan tersebut, lalu darimanakah asal suara tertawa dingin itu

Sementara mereka masih kebingungan untuk mencari, sumber dari tertawa dingin itu seseorang telah berkata pula dengan nada yang menyeramkan:

"Heehhh... heehhhh... heeehhh Tong po lo-sat memang

bukan seorang manusia yang terdiri dari tiga kepala enam lengan, sebaliknya engkau manusia bermuka dingin juga belum tentu merupakan seorang manusia yang luar biasa"

Ucapan itu sangat dingin bagaikan salju, sekilas pendengaran sepertinya berasal dari tempat yang jauh, tapi setelah didengarkan lagi seakan-akan berasal dari tempat yang dekat, sekalipun mereka berempat memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, toh tidak berhasil juga untuk menemukan sumber dari suara tadi.

Tapi ada satu hal yang sudah pasti, yakni si pembicara tersebut apabila bukan Tong po lo sat pribadi, niscaya dia adalah anak murid atau para penjaganya.

Han siong Ki segera mendengus dingin. "Hmmm siapa kau? Kalau memang seorang pemberani, semestinya segera menampilkan diri untuk berhadapan dengan aku, perbuatanmu macam begitu apakah tidak terlalu memalukan?" ejeknya.

"Manusia bermuka dingin, bukankah engkau datang kemari untuk memenuhi janji?"

"Yaa, aku memang datang untuk memenuhi janji" "Huuh... Katanya saja seorang ketua dari Suatu perguruan

besar, tak tahunya pergi datang masih butuh pengawal pribadi

untuk mengiringinya, ketahuilah wahai manusia bermuka dingin, tebing Kiu ci san ini hanya mengijinkan engkau seorang untuk mendakinya"

Bagi Han siong Kie, perkataan itu masih tak seberapa menusuk pendengaran, tapi bagi pendengaran Buyung Thay, hal itu merupakan suatu ucapan yang penuh bernadakan sindiran, paras mukanya kontan berubah.

"Tebing Kiu ci san toh bukan telaga naga sarang harimau, memangnya ada siapa yang sanggup menghalangi keinginan aku Buyung Thay?"

"Kalau memang merasa mampu, kenapa tidak coba coba untuk mendakinya sendiri?"

Buyung Thay mendengus penuh kegusaran, dia melejit ke udara lalu dengan kecepatan luar biasa meluncur ke atas tebing batu karang itu .......

"cici, jangan.. " cegah Han slong Kie setengah berteriak.

Tapi sudah terlambat, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir Buyung Thay sudah menghampiri dinding batu karang itu dan meluncur naik keatas.

Tiba tiba belum berapa kaki si ratu tawon itu berlalu, ketika secara tiba tiba dia mendengus tertahan, kemudian disusul badannya yang sedang melambung rontok dan meluncur jatuh kebawah.

Tak terkirakan rasa kaget Han siong Kie menyaksikan kejadian tersebut, cepat tubuhnya melayang ke tengah udara, setelah berjumpalitan satu lingkaran busur, ia menukik ke bawah dan menyambar tubuh Buyung Thay yang terlempar ke bawah itu. .

Menanti mereka sudah kembali ke tempat semula dan memeriksa keadaan luka yang dideritanya, bergidiklah dua orang jago lihay itu.

Ternyata diatas jidat Buyung Thay yang putih dan lembut itu, kini sudah bertambah dengan sebuah bayangan merah bekas tersambar uang kuno.

Dengan suatu lejitan Buyung Thay melompat turun dari rangkulan Han siong Kie, paras mukanya agak berubah hebat, ia berdiri termenung tanpa mengetahui apa yang musti dilakukan.

"cici, engkau tidak apa apa bukan?" tanya Han siong Kie kemudian dengan nada kuatir.

"Aku tidak apa apa, luka yang kuderitapun hanya luka kulit luar saja yang tidak penting"

Sementara mereka berdua masih bercakap cakap. suara tadi kembali telah berkumandang:

"Apa yang barusan kalian alami adalah sebuah peringatan, jika berani ngotot melakukan penyerbuan keatas tebing ini, maka uang kuno kami bukan melecetkan kulit belaka, tapi akan langsung menembusi batok kepala kalian "

Dengan gemas, mendongkol bercampur jengkel Buyung Thay mendengus.

"Hmmm.. Melukai orang dengan cara main sergap. kau terhitung manusia gagah macam apa?" jengeknya. Siluman putih Hong Ing ing yang selama ini hanya membungkam, tiba tiba, berbisik dengan suara lirih:

"ciang bunjin, tecu sudah berhasil menemukan rahasia dibalik kemisteriusan lawan"

"Oya? Coba katakanlah "

"Bukit karang ini pasti kosong tengahnya, bila dinding karang dibikin lubang lubang pengintaian lalu orangnya bersembunyi dalam lambung bukit dan mengintip keluar, bukankah mereka dapat menyaksikan semua gerak gerik kita dengan jelas sekali? Bukan saja kita tak tahu jejak meraka, justru merekalah yang mengontrol gerak gerik kita, hanya dengan alasan beginilah suara yang mereka pancarkan dari dalam seolah olah berkumandang dari kejauhan tapi kita mendengar seperti datangnya dari tempat yang dekat sekali." Han siong Ki mengangguk berulang kali.

"Yaa, dugaan ini memang masuk diakal, aku mengerti sudah sekarang.. aku mengerti sudah sekarang"

"Manusia bermuka dingin" suara tadi kembali berkumandang memenuhi seluruh udara "sekarang engkau boleh melakukan perjalanan mendaki ke atas bukit"

Kali ini Han siong Ki benar benar pasang telinga memperhatikannya dengan seksama, betul juga, suara itu berasal dari lambung bukit karang tersebut, dan jaraknya dari hadapannya kurang lebih lima kaki tingginya dari permukaan tanah. Dengan suara dingin serunya:

"saudara, tanpa sebab tanpa musabab engkau telah menggunakan cara yang keji untuk melukai rekan perjalananku, perbuatan itu menunjukkan bahwa engkau tak tahu sopan santun, maka sebagai peringatan, rasakanlah kelihayanku ini"

Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya meluncur naik tegak lurus dengan permukaan tanah berbareng itu juga tangannya diayun kedepan, berpuluh puluh desingan angin tajam segera berhamburan keempat penjuru.

llmu jari Tong kim ci adalah suatu kepandaian sakti yang sanggup menembusi batu karang dari jarak lima kaki, apalagi dalam serangannya ini Han siong Ki telah menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.

"Criiit Criiiit...?" desingan tajam menderu deru, batu dan pasir berhamhuran kemana mana, dari atas dinding batu karang segera muncullah beberapa buah lubang kecil.

Jeritan kaget segera berkumandang dari dalam lambung batu karang tersebut, rupanya serangan itu sama sekali tak diduga olehnya.

Han siong Ki tidak menghentikan gerakan tubuhnya, kembali dia melejit dan melayang naik keatas lingkaran bukit yang pertama.

Yang dimaksudkan lingkaran bukit disini adalah garis garis lekukan yang alamiah, yang terdapat diatas dinding karang, karena bentuknya seperti lingkaran-lingkaran yang teratur maka sejauh memandang dari bawah, bentuk itu kelihatan indah sekali.

Dari kaki bukit sampai kepuncak bukit itu semuanya terdapat sembilan buah lingkaran yang teratur.

Han siong Ki tidak bergerak mengikuti lingkaran lingkaran tersebut badannya langsung meluncur keatas dengan gaya tegak lurus, dalam waktu singkat lingkaran demi lingkaran telah dilewati dengan begitu saja sehingga tibalah pemuda itu diatas puncak tebing.

Diantara batuan karang yang berbentuk aneh, duduklah seorang nenek berambut putih bagaikan salju, sepasang matanya terpejam rapat, terhadap kedatangan Han siong Ki itu bukan saja menggubris, membuka matanyapun tidak. Sebenarnya Han siong Ki datang kesana dengan hati diliputi kegusaran, tapi sekarang dia kurang begitu leluasa untuk mengumbar hawa amarahnya itu, maka dengan suara dingin tegurnya:

"Apakah locianpwe yang bernama Tong po lo-sat?" "Benar" jawab nenek tua itu meski dengan sepasang mata

yang tetap terpejam.

"Aku Han siong Kie telah datang untuk memenuhi janji" ”Heeehhh... heeehhh... heeehhh... rupanya engkau adalah

seorang pemuda yang dapat dipercaya" jengek Tong po lo sat dengan suara yang dingin.

Kemarahan yang semula dapat terkendali, seketika itu juga berkobar kembali sehabis mendengar perkataan itu, pemuda itu mendengus dingin.

"Hmmm .. Hanya disebabkan sepasang sarung pusaka Hud jiu popit, tak nyana cianpwe begitu sudi menggunakan cara yang rendah dan tak tahu malu untuk membelenggu seorang gadis yang menderita luka parah dan hampir mati... Hmm... hmm... apakah engkau tidak takut bahwa perbuatanmu itu akan ditertawakan oleh orang persilatan?"

"Apa yang kau katakan?" teriak Tong po lo sat penuh kemarahan.

Sepasang matanya yang terpejam, tiba tiba saja melotot besar, dua sorot mata yang tajam bagaikan sembilu mengawasi musuhnya tak berkedip. di atas wajahnya yang penuh berkeriput terseliplah rasa kaget, tercengang dan marah.

Ditatap orang dengan ketajaman mata yang melebihi sembilu itu, Han siong Ki mundur selangkah dengan hati bergidik, pikirnya: "Hebat amat tenaga dalam yang dimiliki nenek tua ini, aku tak boleh pandang enteng manusia semacam ini..."

Dengan suara yang tegas dan berat diapun berseru:

"Locianpwe, bagaimanapun juga engkau toh seorang manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, apakah engkau tidak merasa bahwa apa yang telah kau lakukan itu adalah suatu perbuatan yang sangat memalukan..."

"Bocah muda, apakah engkau dapat menerangkan perkataanmu itu jauh lebih jelas lagi?"

-ooo0dw0ooo-

BAB 95

"CIANPWE, apakah engkau hendak pungkiri apa yang telah kau lakukan?" tegur Han siong Kie.

"Hey bocah muda, makin bicara kau semakin melantur, coba kau katakan dulu apa yang kuhendaki atas kedatanganmu kemari..."

"Bukankah lantaran kitab pusaka Hud-jiupo-pit?" sambung Han siong Kie dengan nada setengah mengejek.

"Yaa betul, lantaran kitab pusaka sepasang sarung tangan Hud jiu popit"

"Maka itu kau menyandera dulu calon istriku, kemudian baru paksa orang untuk memenuhi keinginanmu, bukan begitu?"

Tiba tiba saja Tong -po lo sat meloncat bangun dari atas tanah, dengan penuh kemarahan dia membentak keras:

"Siapa yang telah menyandera bakal istrimu? Ayoh katakan siapa yang sudah main sandera?" "Hmmm Kau tak usah berlagak pilon lagi, bukankah calon istriku Go Siau bi yang sedang terluka parah kau bawa kabur?"

"omong kosong"

"Kok omong kosong? Memangnya locianpwe ingin menyangkal perbuatan yang telah kau lakukan sendiri?"

"Eeeh... anak muda, sebenarnya apa maksud dari perkataanmu itu?"

Hawa napsu membunuh sudah menyelimuti seluruh wajah Han siong Ki, segera teriaknya dengan geram:

"Apabila Go siau bi terancam bahaya atau sampai cidera, Kiu ci san ini segera akan kuratakan dengan tanah"

"Anak muda, kalau bicara jangan sok tekebur dengan dasar apa engkau berani berkata demikian?"

"Hmmm Jadi kau anggap aku lagi menuduh kau secara

sembarangan? lihat nih, ayoh baca sendiri"

Sambil berkata sianak muda itu segera melemparkan surat peringatan yang masih disimpan dalam sakunya itu kehadapan sinenek.

Tong po lo sat menyambut surat peringatan itu tapi setelah dibaca isi suratnya, sontak saja paras mukanya berubah, alis matanya yang putih melentik, dengan dahi yang berkerut keras: "cunji.... cunji....cunji "

Gemerincingnya suara rantai yaag berhubungan dengan besi berkumandang memecahkan kebeningan, sebuah pintu batu yang tingginya beberapa kaki pelan-pelan bergeser kesamping dan muncul lah sebuab gua yang cukup besar.

Sesosok bayangan manusia menerobos keluar dari gua itu, dia adalah seorang gadis belasan tahun yang punya potongan cakep juga. Agak berdebar jantung Han-sioag Ki menyaksikan semua peralatan yang ada disitu, rupa-rupanya tebing Kiu-ci-gan bukan sembaraugan tempat biasa terbukti dipasangnya pelbagai alat perlengkapan disitu.

Gadis belasan tahun itu memakai baju hitam dengan gaun hitam, mantel kulitnya juga hitam pekat dengan kulit badan yang putih bersih memberikan suatu persesuaian yang indah menawan hati.

"Suhu, ada urusan apa memanggil diriku?"' gadis itu bertanya dengan suara manja.

"Hmm ! Coba kau baca sendiri isi surat ini!" kata

gurunya sambil mendengus.

Gadis baju hitam itu menyambut! surat tersebut, kemudian dibaca dengan teliti, tiba-tiba ia berteriak:

"Suhu ini kan bukan tulisan tecu, darimana tecu bisa tahu dengan apa yang tertulis dalam surat ini?"

Mendengar jawaban muridnya, sekarang Tong-po lo-sat yang gantian tertawa dingin, dia lantas berpaling kearah Han- siong Ki dan ditatapnya peniudaritu lekat-lekat, kemudian tegurnya rada berang"

"Eeeh anak muda, terus terang saja katakan,

sebetulnya kau lagi bermain gila apaan dengan diriku? Ayoh, sebutkan saja masih ada per mainan busuk apa yang sudah kau siapkan untuk mempermainkan diriku "

Nenek itu geram, Han-siong Ki tak kalah mangkelnya, dengan jengkel dia berteriak:

"Permainan busuk? Huu kukatakan terus terang

kepadamu, justru akulah yang ingin bertanya kepada cianpwe, permainan setan apa yang sedang kau siapkan terhadapku?"

"Manusia bermuka dingin!" akhirnya nona ba ju hitam itu menyela, "kuakui memang surat peringatan telah kutinggalkan disitu, kuakui juga bahwa diatas pembaringan kulihat seorang gadis berbaring disitu, tapi setelah meninggalkan surat peringatan itu aku segera pergi dari sana, lagi pula surat peringatan yang sekarang kau tunjukkan kepada kami bukanlah surat peringatan yang kubuat, jadi aku harap kau jangan salah menaruh kesalahan paham kepada kami"

Han siong Ki jadi sangsi, dari sangsi timbullah kecurigaan, mungkinkah ada orang lain yang telah menculik Go siau bi? Benarkah ada orang yang sengaja menukar surat peringatan itu dengan surat peringatan lain? Dunia bukan sedaun kelor, mungkinkah kejadian yang serba kebetulan itu betul betul bisa terjadi?

"Tapi kalau dibilang tak percaya, sikap Tong po lo sat dan muridnya begitu bersungguh sungguh, rasa rasanya tak mungkin kalau mereka cuma bermain sandiwara belaka untuk menipunya..."

Sementara dia masih termenung, nona berbaju hitam itu sudah berkata lagi:

"Dalam surat peringatan tersebut, aku hanya menulis agar dalam sepuluh hari kau bersedia datang kebukit Kiu ci san untuk merundingkan sesuatu, soal lain sama sekali tak pernah kusinggung"

Mendengar perkataan itu, Han siong Ki merasa semakin gelisah, andaikata Go siau bi benar benar ditangkap orang lain, dengan tubuhnya yang terluka parah dan jiwanya terancam bahaya maut, akibatnya itu benar benar sukar dibayangkan dengan kata kata.

Maka sesudah termenung sebentar, dengan nada yang berat dan bersungguh sungguh ucapnya.

"Apa yang cianpwe katakan barusan, bisakah dipertanggungjawabkan kebenarannya?" "Aaaah mau percaya atau tidak terserah padamu

sendiri, kalau mau percaya yaa syukurlah, kalau tidak aku juga tidak apa apa"

Untuk sesaat Han siong Ki berdiri termangu, akhirnya sesudah termenung sejenak katanya:

"Kalau begitu, aku hendak mohon diri lebih dahulu"

Selesai berkata dia lantas putar badan dan siap berlalu dari tempat itu

"Eeeh... eeehh tunggu sebentar" Tong po lo-sat berteriak

lantang.

"Apakah locianpwe masih ingin mengucapkan sesuatu lagi kepada diriku" tanya sang pemuda sambil berhenti.

"Tentu saja, kuperintahkan anak muridku untuk menyampaikan undangan kepadamu, sudah tentu ada urusan yang hendak dibicarakan, kalau tidak buat apa kuundang kehadiranmu?"

"Kalau memang begitu, cepat katakan"

"Darimana engkau dapatkan kitab pusaka Hud jiu popit yang tak bernilai harganya itu?"

"Aku rasa, aku tidak mempunyai keharusan untuk menjawab pertanyaan yang kau ajukan itu"

Paras muka Tong po lo sat berubah hebat, mukanya yang penuh berkeriput itu berkerut kerut, teriaknya:

"Bocah muda, kuanjurkan kepadamu, lebih baik berbicaralah terus terang, sebab keterus teranganmu justru akan memberikan keuntungan bagi dirimu sendiri"

Sejak awal kedatangannya tadi, Han siong Kie sudah berusaha menahan rasa mangkelnya dihati, tapi selama ini tiada tempat penyaluran untuk melepaskan kemangkelannya itu, dan sekarang pihak musuh telah mengakui meninggalkan surat peringatan tapi menyangkal telah menyandera Go siau bi, meski demikian jelas mereka telah akui bahwa tujuannya adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Hud jiu popit, bila persoalan demi persoalan dirangkai menjadi satu maka bisa ditarik kesimpulan bahwa penyangkalan musuh atas hilangnya Go siau bi tak dapat dipercaya. Maka pemuda itupun mendengus dingin..

"Hmmm andaikata aku tak mau bicara, lantas apa yang

akan kau lakukan terhadap diriku?"

"Hmm aku kuatir kalau keinginanmu itu tak bisa

terkabulkan dengan begitu saja" "Aaah belum tentu"

Paras muka Tong pa lo sat berubah hebat, dengan mata yang bersinar tajam dia lantas membentak keras:

"Cunji, tangkap orang itu"

Nona berbaju hitam itu mengiakan, berbareng dengan seruan tersebut, tubuhnya secepat kilat menerjang ke muka sambil melancarkan sebuah cengkeraman ke tubuh Han siong Kie, hebat dan dahsyat cengkeraman itu bahkan disertai gerak serangan yang aneh.

Tersikap jaga Han siong Kie menghadapi cengkeraman kilat dari musuhnya, dengan gerakan tubuh Cahaya kilat lintasan bayangan, secepat sukma gentayangan dia menyingkir ke samping...

"Aaah ?" tiba tiba terdengar seruan kaget, tiba tiba gadis

berbaju hitam menghentikan serangannya.

Tapi pada waktu itu Han siong Kie telah melepaskan serangannya, hembusan angin dahsyat bagaikan gulungan ombak di samudra meluncur kedepan dan tampaknya sesaat lagi akan menghantam diatas dada sinona berbaju hitam itu. Untunglah disaat yang kritis itu, tiba tiba meluncur datang gulungan pukulan dari samping yang mana segera menumbuk angin pukulan dari Han siong Ki sehingga miring kesamping.

"Gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan ", bisik nona berbaju hitam itu kaget bercampur tercengang.

Suatu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Ki, agak heran juga pemuda ini sebab nona berbaju hitam itu ternyata bisa mengetahui nama serta asal usul gerakan tubuhnya.

Paras muka Tongpo lo sat juga beberapa kali mengalami perubahan, selang sesaat kemudian ia baru berkata:

"Han siong Ki, engkau harus bicara terus terang dihadapanku, kalau tidak maka jangan harap kau bisa tinggalkan tebing Kiu-ci san dalam keadaan selamat"

Han siong Ki termasuk seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, tentu saja ia tak senang mendengar ucapan semacam itu, serta merta dia mendengus dingin.

"Hmmm Locianpwe, bukankah tujuanmu adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Hud-jiu po pit?"

"Benar selain itu.. "

"Bagus" Tukas anak muda itu cepat, "akupun hendak memberitahukan kepadamu secara berterus terang, jangan toh kitab pusaka Hud jiu po pit sudah tidak berada disakuku lagi, kendatipun masih ada ditanganku, tak nanti akan kuserahkan kepadamu dengan begitu saja"

"Aku tak ingin mempersoalkan tetek bengek, aku hanya ingin tahu dari mana kau peroleh kitab pusaka Hud jiu po pit tersebut mengerti?"

"Maaf, sekarang aku tak mempunyai banyak waktu untuk menjawab pertanyaanmu itu, jika tak ada urusan lagi, maaf Aku hendak mohon diri lebih dahulu" selesai berkata dia lantas putar badan dan siap berlalu dari tempat itu...

Tapi beberapa langkah kemudian, terasalah bayangan manusia menyambar lewat, tahu tahu Tong po lo sat telah menghadang dihadapannya.

"Heeehhh.... heeehhh... heeeehhh... sebelum berbicara, jangan harap kau bisa lolos dari tempat ini dengan begitu saja"

Han siong Kie jadi berang, ia mendengus dingin.

"Tong po lo sat" teriaknya marah marah, "bila meninjau dalam soal usia maka sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai cianpwe, janganlah kau anggap aku akan menyudahi persoalan pada saat ini sampai disinisaja... huuuh, terbukti akhirnya bahwa penculikan itu dilakukan oleh guru dan murid kalian berdua, Hmmm "

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar nona berbaju hitam itu berseru keras: "Suhu, ada orang menyerbu ke atas tebing kita"

"Macam apakah orang orang itu ?"

"Seorang laki laki dua orang perempuan, mereka semua adalah pengiring orang ini, sekarang mereka sudah berhasil mencapai tingkat lingkaran kedua"

"Hajar mereka sesuai dengan peraturan kita" perintah nenek itu dengan tegas.

Nona berbaju hitam itu tidak banyak bicara lagi, dia lantas menyusup masuk kedalam liang gua tadi, jelas bukit Kiu ci san tersebut terdiri dari ruangan ruangan rahasia yang saling berhubungan dari atas sampai ke bawah.

Pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam benak Han siong Kie, ia merasa bahwa bukit Kiu ci san kemungkinan besar  telah disiapkan alat-alat jebakan yang serba lihay, berbicara soal ilmu silat, terang dengan kemampuan Buyung Thay serta Hek pek siang yau yang termasuk jago jago tangguh dalam dunia persilatan, mereka tak gampang dikalahkan, tapi bagaimanakah seandainya diserang dengan menggunakan alat rahasia... Makin dipikir pemuda itu merasa semakin kuatir, akhirnya diapun membentak keras:

"Lihat serangan"

Segulung hawa pukulan yang dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit Thay san, dengan cepatnya menggulung ke muka dan meluruk sekujur badan Tong po lo sat.

Nenek berkeriput itu tidak gentar, menghadapi serangan musuh yang dahsyat itu, cepat dia putar sepasang telapak tangannya dengan gerakan aneh, talu dengan cepat dibabatkan kedepan.

Ketika angin serangan dari Han siong Ki yang maha dahsyat itu saling bertemu dengan pukulan aneh si nenek. tahu tahu saja kekuatan serangan pemnda itu lenyap dengan begitu saja.

Kejadian ini segera mengejutkan hati Han siong Ki, setelah tertegun sejenak, tiba tiba ia menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, lalu dengan ilmu Si mi Sinkang yang maha dahsyat, ia pancarkan segumpal asap berwarna putih untuk menghantam lawan.

Tong po lo sat cukup mengenal kelihayan serangan itu, cepat cepat badannya bergerak kesamping untuk menghindar...

Menggunakan kesempatan itu, Han siong Ki melayang mundur beberapa kaki kebelakang, setibanya ditepi tebing ia coba melongok kebawah...

Betul juga, tampaklah sesosok bayangan merah, sesosok bayangan hitam dan sesosok bayangan putih sedang bergerak menuju keatas puncak bukit itu, Hal ini mencemaskan hati pemuda itu, dengan menghimpun tenaga dalamnya cepat ia berteriak keras: "Hey, kalian cepat mundur"

Tapi baru saja teriakan tersebut berkumandang, tampaklah sesosok bayangan putih meluncur jatuh ke bawah tebing bagaikan burung yang kena bidikan. Melihat itu, dia lantas menjerit dalam hati kecilnya:

"Aduuuh celaka, siluman putih pasti sudah kena disergap... waah, entah bagaimanakah nasibnya?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, serentetan bayangan telapak tangan yang disertai tenaga tekanan yang dahsyat tahu tahu sudah menggulung tiba dengan hebatnya dalam keadaan demikian, buru buru ia kabur sejauh bebertapa kaki ke belakang.

Paras muka Tong po lo sat dingin menyeramkan hawa napsu membunuh secara lapat lapat menyelimuti wajahnya, kembali ia membentak nyaring:

"Han siong Kie, benarkah kau bersikeras tak mau menjelaskan asal mula kitab pusaka Hud jiu popit itu kau dapatkan?"

"Tidak" sahut Han siong Kie ketus, hawa napsu membunuh telah menyelimuti juga wajahnya.

"Hmmm, baiklah kalau kau tak mau berbicara, maka

akulah yang akan memaksa engkau untuk mengucapkannya keluar"

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, secepat sambaran kilat sepasang tangannya melancarkan cengkeraman maut ke depan, didalam cengkeramannya itu telah disertakan juga dengan jurus-jurus serangan yang ganas dan aneh.

Dalam waktu singkat, Han siong Kie merasakan semua jalan darah penting di sekujur badannya seolah-olah sudah terjatuh dibawah pengaruh cengkeraman lawan, ini menyebabkan hatinya jadi bergidik, cepat cepat sepasang telapak tangannya berputar lantas menyapu kedepan, dia gunakan sistim pertahanan dari ilmu pukulan Mo mo ciang- hoat untuk mengunci semua titik kelemahannya serta membendung pukulan pukulan musuh yang tertuju kearah badannya...

Tong po lo sat mengerahkan segenap kekuatannya untuk mencengkeram pemuda itu, siapa tahu serangan demi serangannya menemui kegagalan total semua, dalam keadaan demikian, nenek tua inipun merasa kagetnya luar biasa, ia sadar bahwa dirinya telah berjumpa dengan seorang musuh yang amat tangguh.

Tiba tiba ia membentak keras, serangannya mengalami perubahan, dari serangan mencengkeram sekarang berubah menjadi sebuah pukulan, dan dia langsung menghantam wajah lawan sementara tangan yang lain menjotos dada.

Sekalipun ancaman itu terhitung suatu ancaman yang berbahaya, tapi sistim pertahanan dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat memang terhitung suatu sistim pertahanan yang kuat sekali.

"Blaaaang... Blaaang..." benturan demi benturan berkumandang susul menyusul, ketika empat telapak saling bertemu, kedua belah pihak sama sama tergetar mundar selangkah kebelakang.

Menggunakan kesempatan sewaktu mundur, Han siong Ki segera menggunakan jurus Mo mo ko-ciat (raja iblis menyembah loteng istana) melancarkan serangan kilat kedepan.

Tong po lo sat tak mau mengalah dengan begitu saja, diapun menggunakan jurus Lioa huan-hou ki (naga melingkar harimau berbaring) untuk melangsungkan suatu pertarungan keras lawan keras. Dengan demikian, suatu pertarungan yang amat sengitpun tak dapat dihindari, kedua belah pihak sama sama menggunakan jurus serangan dari suatu ilmu sakti dalam dunia persilatan untuk saling merobohkan-

"Blang Blaang" benturan demi benturan berlangsung tiada hentinya, kedua belah pihak saling melakukan benturan kekerasan sebanyak sembilan kali dalam sekejap mata, oleh benturan tersebut masing masing pihak tergetar mundur ke belakang.

Dalam berlangsungnya pertarungan itu, serentetan jeritan ngeri yang amat lengking berkumandang lagi dari arah bawah, jaraknya tidak terlalu jauh dari puncak tebing tersebut.

Mendengar jeritan itu, Han siong Kie merasa sangat terperanjat, ia tahu kemungkinan besar Buyung Thay dan Hek pek siang yau sudah terancam mara bahaya.

Menguatirkan keselamatan rekan rekannya itu, hawa napsu membunuh semakin berkobar di dalam dada pemuda itu, hawa murninya dihimpun semakin dahsyat, sepasang telapak tangannya segera didorong kemuka dan kabut putih yang tebal pun cepat menggulung keluar dengan hebatnya.

Ternyata didalam gemas dan jengkelnya barusan, pemuda itu sudah mengerahkan tenaga sakti si mi sinkangnya mencapai dua belas bagian.

Tong po lo sat sudah pernah merasakan kelihayan dari ilmu pukulan tersebut, cepat diapun menghimpun tenaga dalamnya sekuat tenaga untuk menerima datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan.

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga tak bisa dihindari lagi, Tong po lo sat mendengus tertahan, dengan percikan darah menodai ujung bibirnya, dia mundur satu kaki kebelakang. Apa yang dikuatirkan Han siong Ki pada saat ini adalah keselamatan jiwa Buyung Thay bertiga, begitu serangan mautnya berhasil melukai nenek tua itu, dia lantas putar badan dan melompat ke tepi tebing...

Siapa sangka baru saja badannya mencelat ke udara tiba tiba ia merasakan munculnya gulungan angin berpusing yang mencengkeram sepasang kakinya...

Padahal waktu itu dia berada dalam keadaan tidak siap, serta merta badannya termakan oleh tenaga berpusing itu sehingga tubuhnya mencelat jauh beberapa kaki keudara. "Aduhhh celaka " jeritnya tertahan.

Dengan mengerahkan segenap kemam-puannya, dia berusaha menyelamatkan diri ditengah udara...

Tapi sebelum banyak yang bisa dilakukan, desingan angin jari telah menyambar datang dari samping dan "Blaang" jalan darah Han siong Ki tertotok telak, tubuhnya seketika itu juga roboh dan terjungkal keatas tanah.

Ketika tubuhnya mencium permukaan tanah berbatu itu, tiba tiba tempat dimana ia terjatuh itu terbukalah sebuah celah yang besar, maka tubuhnyapun segera terguling masuk lewat celah celah tadi dan jatuh kedalam sebuah ruang batu.

Keras sekali bantingan itu, ia merasakan matanya jadi berkunang kunang dan dadanya bergolak keras, tulang belulangnya terasa amat sakit seperti mau patah, andaikata jalan dlarahnya tidak tertotok dia benar benar pingin merintih kesakitan.

Ruang batu itu besar dan luas, sebuah mutiara yang memancarkan cahaya tajam menerangi seluruh ruangan dengan terangnya.

Disudut ruangan sana berbaring pula tiga sosok badan, mereka adalah Buyung Thay serta Hek pek siang yau, kenyataan tersebut membuat perasaan pemuda kita tercekat, mimpipun tak pernah disangka olehnya bahwa mereka berempat akan bersamaan terjatuh ketangan lawan.

Sementara dia masih melamun, Tong po lo sat pelan pelan berjalan masuk lewat sebuah pintu rahasia, dibelakangnya mengikuti pula si nona berbaju hitam itu.

Han siong Ki amat berang, matanya terasa jadi merah berapi api, tapi. apa gunanya marah? Toh badannya sama

sekali tak bisa berkutik.

Setelah berada dihadapan Han siong Ki, secara beruntun Tong po lo sat menotok pula empat buah jalan darah yang lain sebelum membebaskan totokan jalan darah yang pertama, dengan demikian Han siong Ki cuma merasakan sekujur badannya jadi lemas tak bertenaga, kecuali itu dia sudah dapat berbicara lagi.

"Nah, Han siong Ki sekarang mau kau katakan tidak dari mana kitab pusaka Hud jiu po pit itu kau dapatkan?" bentak si nenek kemudian dengan suara garang.

"Tong po lo sat" teriak Han siong Ki pula sambil menggigit bibir, "menyesal sekali manusia macam kau juga bisa hidup setua ini. Huuuuh, perbuatanmu benar benar terkutuk, kau licik dan tak bernyali perbuatanmu barusan cuma perbuatan

dari bangsa kurcaci"

"Heeehhh... heeehhh... heeehhhh anak muda, kalau

kejadian ini berlangsung enam puluh tahun berselang, batok kepala kamu berempat sudah hancur berantakan semenjak tadi, mendingan hawa amarahku sekarang sudah jauh berkurang. Nah, lebih baik jawab saja pertanyaanku dengan jujur. Darimana kau pelajari gerakan cahaya kilat lintasan bayangan itu? siapa yang mewariskan ilmu itu kepadamu?"

Kembali Han siong Kie merasakan hatinya bergerak, sebenarnya apakah tujuan lawan? Jangan-jangan.. Berpikir sampai disitu, dengan suara dingin segera sahutnya:

"Ilmu itu aku dapatkan dari Leng ku siangjin kenapa? Apa ada yang kurang beres?"

Paras muka Tong po lo sat berubah hebat, secara beruntun dia mundur beberapa langkah, kemudian dengan agak dipengaruhi emosi serunya tertahan: "Apa? Leng Ku siangjin?"

"Yaa, benar Leng ku siangjin?" "Apakah kau adalah ahli warisnya?" "Boleh dibilang begitu"

"Apa maksudmu dengan perkataan itu?"

"Menurut aturan, dia orang tua mempunyai hubungan sebagai guru dan murid dengan diriku"

Raut wajah Tong po lo sat mengejang keras, sekujur badannya menggigil, nenek tua itu betul-betul dipengaruhi oleh emosi, tanyanya dengan suara agak gemetar: "sekarang dia berada dimana?"

Dari pengaruh emosi yang mempengaruhi lawannya itu, sedikit banyak Han siong Kie sudah bisa memahami beberapa bagian duduk perkara yang sebenarnya, maka nada pembicaraannya juga ikut berubah jadi lebih halus dan lembut. "Aku harus mengetahui lebih dahulu apa hubungan cianpwe dengan dirinya"

"Tentang soal ini, lebih baik tak usah kau tanyakan" "Kalau memang begitu maafkanlah daku, aku tak dapat

memberitahukan soal itu kepadamu"

Untuk sesaat Tong po lo sat berdiri termangu-mangu, tapi akhirnya dia baru berkata dengan suara sedih: "Kami adalah suami istri"

"Suami istri. ?" "Yaaa suami istri..."

Han siong Ki begitu terperanjatnya sampai untuk beberapa saat dia hanya bisa berdiri melongo, kalau begitu bukankah itu berarti bahwa Tong po lo sat bukan lain adalah ibu gurunya sendiri? Jadi kalau begitu tujuannya mencari tahu asal usul kitab pusaka Hud jiu po pit dan asal usul ilmu silatnya adalah untuk masalah itu.

Sementara si anak muda itu masih termenung, nenek tua itu telah berkata lagi: "Nah, sekarang dapat kau terangkan kepadaku, sekarang dia berada dimana?"

"Dia dia orang tua, sudah berpulang ke alam baka

semenjak enam puluh tahun berselang."

Sekujur badan Tong po lo sat bergoncang keras hampir saja roboh terkapar ketanah. "Dia dia sudah mati?" bisiknya

dengan suara yang gemetar.

"Yaa, dia sudah berpulang kealam baka"

"Aaah, kamu omong kosong Coba kutanya berapa usiamu tahun ini? Mana mungkin "

"Secara kebetulan boanpwee mempunyai jodoh dengan beliau, tanpa sengaja kitab pusaka peninggalannya telah berhasil kutemukan"

Setelah mendengar penjelasan itu, Tong po lo-sat baru mengayunkan telapak tangannya, dengan ilmu totokan udara kosong dia menotok bebas jalan darah Han siong Ki.

Begitu mendapat kebebasan, serta merta sianak muda itu melompat bangun, kemudian sambil menjura dalam dalam dihadapan si nenek itu, ujarnya dengan penuh rasa hormat: "Boanpwe menghunjuk hormat buat subo"

"sudahlah, tak usah banyak adat lagi Cepat kau ceritakan pengalamanmu itu kepadaku" Maka berceritalah Han siong Ki tentang penemuan aneh yang dialaminya didalam hutan, bagaimana ia mendapat bantuan tenaga dalam dari se ekor kura kura ajaib, kemudian bagaimana dia belajar silat lagi dibawa bimbingan Mo mo ci mo...

Selesai mendengar kisah tersebut, dengan air mata bercucuran dan suara sesunggukan Tong po losat berkata begini:

-ooo0dw0ooo-