Tengkorak Maut Jilid 44

 
Jilid 44

HAN SIONG KI tertegun menyusul kemudian diapun mengangguk. "Yaa... Cianpwe jelek sekali, cuma "

"Cuma kenapa?"

"Jelek atau tampannya wajah seseorang tidak dapat menandakan indah atau buruknya watak seseorang, ada yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan tapi mempunyai hati yang busuk seperti ular berbisa, tapi ada yang berwajah jelek namun hatinya mulia dan arif bijaksana "

"Oooh jadi kau maksudkan wajah yang jelek belum tentu

mempunyai jiwa yang busuk dan wajah yang cantik belum terjamin jiwanya baik?"

"Begitulah yang boanpwe maksudkan" pemuda itu mengangguk tanda membenarkan.

"Kalau begitu, baikkah hatiku?"

"Tentang soal ini maafkanlah daku, boanpwe tak dapat

memberikan penilaian-nya, sebab sampai detik ini boanpwe masih merasa asing sekali dengan watak serta tindak tanduk cianpwe"

"Haaaahhh ... haaahhh... haaahhh " nenek jelek itu

terbahak bahak kegelian "bocah muda, kau benar benar sangat menarik, kau benar-benar menarik sekali"

Dengan tertawanya si nenek itu, maka tampaklah tonjolan daging hidup yang memenuhi seluruh wajahnya itu ikut mengejang dan mengerut secara tidak beraturan, ini menyebabkan wajahnya kelihatan semakin mengerikan hati siapapun yang memandangnya.

Tidak terkecuali pula Han siong Kie yang biasanya pemberani itu, diam diam bulu kuduknya pada bangun berdiri karena ngeri. "Eeeh nenek jelek. sebetulnya  engkau  tahu  atau tidak jawab Kau tahu aturan atau tidak?" ditengah gelak

tertawa yang amat nyaring, kakek dari kutub utara berjalan masuk kedalam gua itu dengan berang.

"setan tua" "nenek jelek dari sin-ciu balas membentak "kau tak usah banyak bacot lagi, ayoh kembalikan nyawa dari putriku".

"Nenek jelek sialan, putrimu apakah bukan putriku juga....

enak benar kalau bicara "

"Tutup mulut" mendadak nenek itu membentak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi disiang hari belong, "sebelum kau temukan kembali Hong ji, selama hidup kau tak usah datang kemari untuk berjumpa lagi dengan aku"

"Tapi setiap hari setiap saat aku selalu mencari jejaknya tanpa berhenti, apakah aku cuma berpeluk tangan belaka?"

"Hmmm, katanya hendak membawa putrimu mencari pengalaman dalam dunia persilatan, tapi akhirnya Hmmm

Akhirnya Hong ji ikut lenyap didunia yang begini luas"

"Nenek jelek. baik watak maupun tingkah laku Hong ji tak ubahnya seperti engkau, itulah salahnya kalau engkau terlalu memanjakan dirinya sehingga dia keras kepala dan tinggi hati, Hmmm setelah terjadi peristiwa semacam ini, apakah engkau tidak merasa bahwa engkaupun mempunyai tanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini? Kenapa kau hanya menyalahkan aku seorang "

Tampaknya nenek jelek dari Sin ciu sudah tak dapat menahan amarahnya lagi, sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah, segera bentaknya lagi dengan lantang: "setan tua, enyah kau dari sini Ayoh cepat enyah sejauh jauhnya dari

hadapanku"

Han siong Kie yang menyaksikan percekcokan suami istri itu tepat dihadapan matanya, diam diam merasa geli dan ingin tertawa, dia merasa kedua orang kakek dan nenek itu memang terhitung manusia paling aneh didunia ini, dari pembicaraan mereka diapun dapat mengetahui bahwa pangkal percekcokan itu sebenarnya tak lain adalah hilangnya putri mereka .....

Dalam pada itu, kakek dari kutub utara mulai menunjukkan kegarangannya, ia tak mau menunjukkan kelemahannya terus menerus, maka ketika diusir oleh nenek jelek itu, dengan suara yang tak kalah keras nyadiapun berteriak:

"Nenek jelek. kenapa kau bersembunyi terus dalam gua saljumu ini macam kura kura kesepian? Kenapa kau tidak ikut terjun kedalam dunia persilatan untuk mencari jejaknya?"

"Hmm, apa urusannya dengan aku? Toh kau yang membawa dia berkelana kedalam dunia persilatan?"

"Tapi tapi dia kan anak perempuan kita berdua?

Apakah engkau tidak merasa bertanggung jawab pula atas lenyapnya putri kita ini?"

"sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, ayoh cepat enyah dari hadapanku" hardik nenek jelek sambil menahan geramnya.

"Tidak Aku tak akan pergi Aku sudah memutuskan untuk tetap berdiam disini"

Si Nenek jelek dari Sin siu mendengus penuh kegusaran, secara beruntun dia lancarkan dua buah pukulan dahsyat kedepan, dalam kedua buah serangannya itu dia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya ancaman tersebut.

Deruan angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra yang tertimpa angin puyuh menggulung kedepan dan menyapu tubuh kakek tersebut. Rupanya si kakek dari kutub utara menyadari akan kedahsyatan angin pukulan tersebut, dengan gemas dia mendepakkan kakinya keatas tanah, kemudian cepat cepat kabur keluar dari gua itu.

Ketika Han siong Ki menyaksikan semua peristiwa tersebut, tiba tiba satu ingatan bagus melintas dalam benaknya, kepada si nenek jelek dari Sin-ciu segera serunya:

"Locianpwe, boanpwe mempunyai satu usul yang sangat bagus sekali, dan mungkin usul tersebut dapat mengatasi kesulitan yang sedang kita hadapi!"

"Apakah usulmu itu? Coba kau terangkan kepadaku terlebih dahulu asal bagus boleh saja ku pertimbangkan lagi!"

"Boanpwe bersedia untuk menggunakan segala kemampuan dan pikiran yang kupunyai untuk berusaha menemukan kembali jejak putri cianpwe yang hilang tak berbekas itu!”

"Dan kau hendak menggunakan usulmu itu sebagai pra- syarat untuk mendapatkan pil Si-mia kim-wan?"

"Yaa, boanpwe memang mempunyai maksud untuk berbuat demikian, apakah locianpwe dapat menyetujuinya?"

"Apakah engkau yakin dapat menemukan kembali putriku yang hilang?" bukannya menjawab, sinenek jelek itu malahan balik bertanya,

"Sulit untuk dikatakan, tapi boanpwe berjanji akan mengusahakannya dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang kumiliki!"

"Huuuh Cuma omong kosong belaka, apa gunanya?

Siapa tahu setelah obat si-mia-kim-wan tersebut kuberikan kepadamu, lantas engkau ingkar janji dan tidak memenuhi syarat tersebut ” Ucapan tersebut dirasakan Han-siong Kie sebagai suata penghinaan, dia merasa tersinggung, dengan mata melotot dan muka berubah serunya agak mendongkol;

”Locianpwe dengan perkataan semacam itu bukankah sama artinya engkau telah memandang rendah boanpwe? Jelek- jelek begini boanpwe adalah seorang ketua dari suata perguruan besar, sebagai ketua dari suatu perguruan, tak nanti boanpwe ingkar jinji apalagi menjilat ludah yang telah boanpwe sudah keluar'"

"Dan lantas. ? Kau anggap aku dapat memenuhi

keinginanmu itu dengan begitu saja?" nenek jelek dari Sia-ciu bertanya setengah mengejek, senyum lirih tersungging diujung bibirnya.

Lama-lama berang juga Han-siong Kie dibuat nya, merah padam selembar wajahnya, dengan mata melotot dan muka berubah teriaknya:

"Mau menyetujui atau tidak aku tidak mau tahu sebab itu adalah hak dari locianpwe sendiri, tapi ada satu hal yang hendak kuterangkan kepadamu, yakni bagaimanapun juga pil mustika Si mia kim wan itu harus kudapatkan, apapun yang terjadi dan apapun yang harus kukorbankan, pil itu pasti akan kuambil untuk menyelamatkan jiwa seseorang"

"Bocah muda, jadi engkau hendak menggunakan kekerasan untuk merampas obat itu?"

Nenek jelek dari sin ciu menegur dengan sinar mata setajam sembilu.

"Hmm Jika aku gagal mendapatkan obat itu dengan cara

yang baik, terpaksa aku harus mendapatkannya lewat kekerasan, camkan saja kata kataku ini" kata Han siong Kie dengan angkuh, kekerasan hatinya tercermin jelas diatas wajahnya. "Haaaahhh...haaaahhhh... haaahhh... yakinkah kau bocah, bahwa apa yang kau cita citakan itu dapat tercapai?"

"sekarang urusan telah berkembang menjadi begini, mau tak mau aku harus melakukannya"

Nenek jelek itu mencibir sinis.

"Jangan terlampau yakin dengan kemampuan tenaga dalam yang kau miliki bocah muda, sebab belum tentu kepandaian yang kau miliki itu bisa menunjang keinginanmu"

"Boanpwe sama sekali tidak bermaksud demikian"

Sekali lagi nenek jelek dari sin ciu menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh... haaahhh... haaahhh... baiklah anak muda, aku bersedia menghadiahkan obat mustika si mia kim wan tersebut kepadamu, sedangkan mengenai persoalan putriku, asal engkau banyak menaruh perhatian selama berada dalam dunia persilatan, itu sudah lebih dari cukup. Jadi kau tak usah menganggapnya sebagai syarat dari persoalan obat mustika itu mengerti?"

Kejadian ini sungguh diluar dugaan Han siong Ki, mimpipun dia tak mengira kalau kejadian tersebut akan berlangsung jadi begini, ya Hakekatnya tabiat dari nenek jelek itu memang anehnya bukan kepalang.

Akhirnya setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya, berkatalah pemuda itu dengan suara lembut:

"Kalau memang begitu, boanpwe mengucapkan banyak banyak terima kasih lebih dulu atas kebaikan locianpwe yang telah menghadiahkan obat mustika itu kepadaku, sedang mengenai soal pencarian terhadap jejak putrimu, karena boanpwe telah terlanjur berjanji, maka janji itu tak akan kuingkari kembali, aku pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk menemukan jejaknya. Baik masih hidup atau telah mati, suatu ketika aku pasti akan datang lagi kesini untuk memberikan pertanggungan jawabku kepada cianpwe"

Nenek jelek dari sin ciu mengangguk berulang kali. . "Aku akan menerima maksud baikmu itu dengan senang

hati" katanya.

"Kalau memang locianpwe telah menyetujuinya, mohon tanya bagaimanakah tampang dan ciri khas putrimu itu? berapakah usianya tahun ini? Apakah kau bisa menerangkannya kepadaku?"

Nenek jelek dari sin ciu berpaling dan memandang sekejap ke arah lukisan gadis cantik yang tergantung diatas dinding itu, kemudian sambil menudingnya dia berkata: "Itulah dia orangnya Engkau boleh memperhatikannya sendiri dengan seksama"

Mengikuti arah yang ditujuk, Han siong Ki berpaling tanpa sadar, tapi setelah menyaksikan raut wajah cantik gadis yang tergantung diatas dinding dia malahan tertegun.

"Heran sungguh mengherankan" demikian dia berpikir,

"tampang ibunya jelek sekali bagaikan iblis, tapi putri yang dilahirkan memiliki wajah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, aaai begitulah besarnya kekuasaan takdir,

apapun yang dikehendakinya akan segera terjadi pula didunia ini"

Maka setelah termenung sebentar, pemuda itupun bertanya: "Dialah putrimu?"

"Benar Lukisan ini dibuat lima tahun berselang, waktu itu dia masih menemani aku untuk melewati hari hari yang kosong itu dengan penuh kegembiraan, dia bernama Ting Hong, ketika lenyap sepuluh tahun berselang usianya baru enam belas, jadi tahun ini dia sudah genap berusia dua puluh enam tahun" "Boanpwe akan mengingat ingatnya selalu di dalam hati" Han siong Kie berjanji..

Nenek jelek dari sin ciu mengangguk, dari sakunya dia ambil keluar sebuah botol porselen kecil, kemudian sambil diberikan kepada Han siong Kie, ujarnya:

"Nah, ambillah, didalam botol itu berisi sebutir obat mustika si mia kim-wan yang kau butuhkan itu"

Dengan tangan agak gemetar karena menahan emosi Han siong Kie menerima pemberian botol itu, sambil menerimanya diam-diam diapUn berpikir dihati: "Aaaai... akhirnya adik Bi ketolongan, jiwanya tak perlu dirisaukan lagi "

Sementara si anak muda itu masih melamun, nenek jelek dari siu ciu telah ulapkan tangannya:

"Bocah muda disini sudah tak ada urusan lagi, dan sekarang engkau boleh segera pergi dari sini."

Buru-buru Han siong kie memberi hormat.

"Kalau begitu Boanpwe ucapkan banyak terima kasih atas pemberian dari locianpwe, dan boanpwe mohon diri lebih dahulu"

Setelah menjura maka berangkatlah anak muda itu meninggalkan gua tersebut.

Setelah obat mustika yang dibutuhkan berhasil diperoleh, anak muda ini tergopoh-gopoh melakukan perjalanannya kembali ke tebing si sin gan, dalam keadaan demikian diam- diam dia mengeluh perjalanan yang terlampau jauh, andai kata dia punya sayap tentu dengan terbang di angkasa, perjalanan bisa ditempuh dengan jauh lebih cepat lagi.

Dari batas waktu tujuh hari yarg tersedia, kini tinggal tiga hari saja, atau dengan perkataan lain dalam tiga hari itu dia sudah harus tiba di tebing si sin gan, kalau tidak maka selembar nyawa Go siau bi akan terancam mara bahaya, make dari itu setelah turun dari bukit Ciong san yang penuh dengan salju, berangkatlah anak muda itu melakukan perjalanannya dengan kecepatan paling tinggi.

Diam-diam dia berdoa didalam hati, semoga luka yang diderita Go siau bi tidak mengalami perubahan apa apa dalam ketujuh hari yang sempit itu, semoga kejadian diluar dugaan bisa dihindari dan semuanya bisa berlangsung dengan aman dan tenteram.

Setelah melakukan perjalanan sehari semalam, akhirnya sampailah pemuda itu di tempat mana jenazah Thio sau-kun dikebumikan.

Dari tempat kejauhan, ia saksikan didepan kuburan itu berdiri beberapa sosok bayangan manusia, karena masih terlampau jauh, maka sulitlah untuk diketahui siapa gerangan manusia manusia yang berkumpul di sekitar tempat itu.

Tak terkirakan rasa kaget dan kejut Han siong Ki setelah menjumpai bayangan-bayangan tersebut.

"Siapa mereka?" demikianlah dia lantas berpikir "siapa yang berhenti dikuburan Thia sau kun? jangan jangan mereka adalah kawanan jago dari perkumpulan Thian- che kau "

Karena berpikiran demikian, tanpa sadar gerakan tubuhnya kian lama kian bertambah perlahan.

Sementara pemuda itu masih ragu ragu untuk melanjutkan perjalanannya kedepan mendadak sesosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat meluncur turun tepat dihadapan pemuda itu.

"Tecu mengunjuk hormat buat ciangbunjin" orang itu segera memberi hormat sambil menyapa.

Kiranya, orang itu adalah siluman hitam seng Khe-ki. "Tak usah banyak adat" sahut anak muda itu sambil mengebaskan ujung bajunya: "eeh... bukankah kalian kutugaskan ke bukit si sin gan? Kenapa datang kemari. "

"Tecu berdua telah berkunjung ke bukit Si sin-gan tersebut" jawab siluman hitam dengan hormat.

Sementara itu Han siong Kie telah menyaksikan pula kehadiran orang yang kehilangan sukma ditempat itu maka dia ulapkan tangannya untuk mengundurkan siluman hitam seng Khe-ki, setelah itu dihampirinya perempuan misterius itu, lalu sapanya dengan suara agak menggigil: "cianpwe "

Orang yang kehilangan sukma beserta putrinya memang terhitung manusia misterius yang sukar diikuti jejaknya, tapi bagi Han siong Kie boleh dibilang terlalu banyak sudah budi kebaikan yang diterimanya dari mereka, maka rasa hormatnya terhadap kedua orang itupun jauh melebihi rasa hormatnya kepada siapapun.

"Nak " orang yang kehilangan sukma menyahut dengan

suara lirih, kaku dan berat sekali, suara tersebut seakan-akan gumaman orang yang lagi mengigau, terasa begitu berat dan sukar untuk membuka mulut.

Yaa itulah tandanya orang yang kesedihan, kesedihan

yang kelewat batas memang membuat orang segan untuk berbicara, kendatipun buka suara, maka nadanya juga kaku dan berat sekali.

Tapi apa yang disedihkan perempuan misterius ini? Apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi?

Han siong Ki melirik sekejap kearah orang yang ada maksud yang bersandar dalam rangkulan orang yang kehilangan sukma, untuk pertama kalinya dia menyaksikan raut wajahnya yang cantik, yaa, gadis itu memang cantik jelita ibaratnya bidadari dari kahyangan, bahkan kecantikannya jauh melebih kecantikan Tonghong Hui, maupun Go siau bi. "Nak. engkaukah yang mengebumikan jenazah Kun-ji ditempat ini?" serentetan suara teguran kembali berkumandang.

Menyinggung soal "Kun-ji", Han siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, badannya ikut gemetar, orang yang kehilangan sukma juga menganggap Thio sau kun sebagai Kun-ji? Apa gerangan hubungan mereka berdua ?

Sekalipun dalam hati kecilnya dia menaruh rasa curiga, akan tetapi pemuda itu tidak mendesak lebih jauh, diapun mengangguk.

"Benar, akulah yang mengebumikan adik Kun disini" "Adakah sesuatu benda yang ia serahkan kepadamu?"

kembali orang yang kehilangan sukma bertanya.

"Ada" jawab Han siong Kie semakin terperanjat, "dia menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepadaku, tapi... tapi....

dari mana cianpwe bisa tahu?"

Orang yang kehilangan sukma tidak menjawab pertanyaan itu, dia menghadap ke arah kuburan dari Thio sau kun, kemudian gumamnya dengan suara yang lirih:

"Anak Kun, beristirahatlah dengan tenang, engkau telah mengerahkan segenap kemampuanmu untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. arwah ayahmu yang ada di alam baka tentu akan menyambut kehadiranmu dengan senyuman dikulum."

Mendengar gumaman tersebut Han siong Kie semakin curiga, dengan suara penuh emosi teriaknya:

"Locianpwee, sebenarnya siapakah engkau?"

Orang yang kehilangan sukma tetap tidak menanggapi pertanyaannya itu, malahan dia berkata: "Nak. bongkarlah kuburan tersebut"

"Bongkar kuburan?" "Yaa, bongkar kuburan dari anak Kun!"

"Tapi..........tapi. ....mau mau apa kau bongkar kuburan

ini?"

"Untuk memenuhi apa yang diharapkan oleh adik perempuanmu!" jawab perempuan misterius itu lirih.

Han-siong Kie semakin kebingungan, untuk sesaat dia berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh ditatapnya wajah orang yang kehilangan sukma dengan pandangan tidak mengerti, selang lama sekali baru serunya lagi dengan lirih:

"Adik perempuanku? Siapakah dia?"

Pelan-pelan orang yang kehilangan sukma mengalihkan pandangan matanya keatas jenasah dari Orang yang ada maksud, kemudian sahutnya dengan sedih.

"Dialah adikmu!"

Hampir saja Han-siong Kie tidak percaya bahwa apa yang didengarnya barusan adalah kenyataan. Orang yang ada maksud adalah adik perempuannya? Padahal perempuan itu adalah putrinya Orang yang kehilangan sukma, jadi kalau begitu apa hubungan Orang yang kehilangan sukma dengan diri sendiri. ?

Suatu kejadian yang membingungkan, brenat-benar kejadian yang tak dapat masuk diakal

Atau mungkin dalam sedihnya Orang yang kehilangan sukma telah berbicara seadanya? Bukankah diwaktu waktu Orang yang kehilangan sukma juga menganggap dirinya sebagai putranya...........

Yaa, pasti begitu! Lantaran dia telah dianggap sebagai putra sendiri oleh Orang yang kehilangan sukma, maka diapun menyebut orang yang ada maksud sebagai adik perempuanya, dan kejadian ini memang masuk diakal. Sekalipun dalam hatinya ia telah berpikir demikian, toh rasa ingin tahunya berkecamuk juga dalam benaknya,

"Cianpwe maksudkan perempuan itu adalah adik perempuan boanpwe?" kembali tanyanya

"Yaa, dia adalah adikmu!"

"Dan cianpwe adalah ibunya?" desak anak muda itu lebih jauh dengan perasaan makin curiga.

"Benar aku adalah ibunya!"' 'Ibu kandung maksudku?" "Yaa, ibu kandungnya?"

"Kalau memang begitu, kenapa "

Tapi sebelum Han siong Kie menyelesaikan kata katanya, orang yang kehilangan sukma telah menukas lebih dulu:

"Nak. jangan kau pikirkan persoalan yang lain sekarang mari kita kebumikan dulu jenazahnya"

"Apakah jenazahnya harus dikubur bersama dengan jenazahnya adik Kun"

"Yaa, harus"

"Boanpwe benar benar merasa tidak habis mengerti"

Dengan amat sedihnya orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang, katanya kemudian dengan menahan kepedihan hatinya.

"Mereka adalah sepasang sejoli yang amat serasi, tapi secara beruntun harus mengalami nasib yang malang dan keadaan yang menyedihkan, aai. apa salahnya kalau kita

kebumikan mereka dalam satu liang yang sama setelah kedua duanya meninggal?"

Dengan sedih akhirnya Han siong Kie mengangguk. dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia lantas memanggil sepasang siluman hitam putih untuk membantu membongkar kuburan dari Thio sau kun.

Ketika jenasah Thio sau kun muncul kembali dihadapan mereka, Han siong Kie tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, air mata yang berlinang makin membasahi pipinya.

"Oooh anak Kun" terdengar orang yang kehilangan

sukma mengeluh, tubuhnya sempoyongan hampir jatuh, untung dia masih dapat mempertahankan diri, kalau tidak....

entahlah bagaimana jadinya.

Ketika akhirnya jenasah telah dikebumikan dan tanah diuruk kembali, maka diatas gundukan tanah baru itupun tertancap sebuah batu nisan yang mengukirkan beberapa patah kata:

"Disinilah disemayankan jenasah dari Thio saukun dan Han siong Hiang"

"Han siong Hiang?" bisik Han siong Ki dengan tubuh menggigil.

Hampir saja ia tak dapat membendung perasaan hatinya, dengan rasa kaget dan hampir tak percaya ditatapnya tulisan diatas batu nisan itu tanpa berkedip..

"Han siong Hiang" itulah nama yang hampir tak jauh berbeda dengan nama sendiri, benarkah orang yang ada maksud adalah adik kandungnya? Rasa sedih, kaget heran dan termangu berkecamuk jadi satu didalam benannya, dia tak

tahu harus mempercayainya atau tidak?

”Tapi... tapi. paman guruku si tangan naga beracun Thio

Lin tak pernah membicarakan soal adik perempuanku itu, kalau dia memang adikku mengapa paman guru tak pernah mengungkapnya?". kembali anak muda itu berpikir keras.

Tiba tiba orang yang kehilangan sukma berpaling sambil menatap Wajah Han siong Kie tanpa berkedip ujarnya: "Nak. tahukah engkau siapakah pembunuh yang telah menghabisi nyawa kedua orang bocah yang malang itu?"

"siapa" bisik Han siong Kie dengan hati bergetar keras, "Aku hanya mengetahui bahwa adik Kun mati di bunuh oleh utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau "

"Bukan Dia bukan dibunuh oleh mereka" "Bukan?"

"Yaa bukan, kalau ingin mengetahui pembunuh yang sebenarnya, maka seharusnya akulah orangnya.. Akulah pembunuh yang telah menyebabkan sepasang bocah itu menemui ajalnya, akulah pembunuhnya "

"Cianpwe kau jangan terlampau emosi, beristirahatlah dulu agar kesegaran pulih kembali"

"Nak, aku tidak menjadi gila karena pikiranku menjadi tak waras, akupun tidak menjadi kalap karena peristiwa yang tragis ini. Tapi pada hakekatnya akulah pembunuh yang sebenarnya yang mengakibatkan kematian mereka berdua, karena rencanaku yang kurang cermat, karena aku tidak melakukan tugas perlindungan yang ketat, maka akibatnya mereka jadi korban akhirnya mereka harus mati dengan

sia-sia "

Begitu sedih dan pedihnya perasaan orang yang kehilangan sukma waktu itu, sehingga akhirnya ketika ia telah menyelesaikan kata-katanya itu, ia menangis tersedu sedu.

Sementata itu Han siong Kie masih berdiri termangu, pikirannya pada waktu itu masih penuh diliputi oleh suatu tanda tanya besar, benarkah Han siong Hiang adalah adik kandungnya?

Tapi ada satu hal yang dapat dirasakan olehnya, yakni antara dia dengan orang yang kehilangan sukma pasti mempunyai suatu hubungan yang istimewa, hanya hubungan apakah itu? Dia tak berani menduga apalagi merabanya secara gegabah, sebab segala sesuatunya masih kabur dan tidak dipahami olehnya.

Lama.... lama sekali... akhirnya orang yang kehilangan sukma dapat mengendalikan perasaan sedihnya yang berlebihan itu, katanya kemudian dengan lirih:

"Nak. ada suatu hal hendak kuberitahukan kepadamu, Go siau bi telah lenyap tak berbekas"

Menyinggung soal Go siau bi, tiba tiba saja Han siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, perkawinannya dengan Go siau bi adalah merupakan hasil karya dari orang yang kehilangan sukma, sungguh tak disangka bencana selalu tidak berjalan sendirian, peristiwa tragis yang tak terdugapun kembali terjadi.

Teringat akan diri Go siau bi, tanpa terasa si anak muda itupun terbayang pula diri Buyung Thay, bukankah gadis Go ada bersama sama perempuan cantik berbaju merah itu? Dia percaya dengan kepandaian silat yang dimiliki perempuan baju merah itu, tak nanti bisa terjadi bencana sebesar itu, padahal Go siau bi mempunyai kesempatan hidup selama tujuh hari saja, jaraknya dari hari ini tinggal sehari setengah, bila dia tidak mati lantaran peristiwa yang diluar dugaan, toh sama saja gadis itu juga akan tewas bila tak diberi obat mustika si- mia kim wan.

Berpikir sampai disini, ia jadi amat sedih, dengan hati yang perih ujarnya: "Cianpwe, tahukah engkau adik Bi saat ini berada dimana?"

Orang yang kehilangan sukma termenung sejenak. kemudian sahutnya dengan lirih:

"Kemungkinan besar dia sudah terjatuh ke tangan orang orang dari perkumpulan Thian che kau" "Lagi lagi perbuatan dari orang orang perkumpulan Thian che kau" teriak pemuda itu sambil menggertak gigi, "Aaai .....

tapi. diapun tak bisa hidup beberapa hari lagi"

"Tak dapat hidup beberapa hari lagi? Kenapa..?"

Maka Han siong Ki segera mengisahkan bagaimana Go siau bi terluka dan bagaimana pula jauh jauh dia berangkat ke bukit Ciong san untuk mencarikan obat mustika Si-aiia-kim- wan untuk menyambung nyawanya.....

Selesai mendengar keteraagan tersebut, dengan suara gemetar Orang yang kehilangan sukma segera berkata:

"Nak, kalau begitu dia lebih banyak bahayanya daripada selamat, waah.. bagaimana baiknya sekarang?"

"Aku bersumpah akan menuntut balas atas hutang berdarah ini seratus kali lebih hebat daripada waktu kuterima "

"Benar nak, memang sudah tiba saatnya bagimu untuk membuat segala perhitungan!"

Tiba-tiba Han-siong Kie jatuhkan diri berlutut dihadapan Orang yang kehilangan sukma, kemudian katanya:

"Locianpwe. aku ingin tahu siapakah musuh besarku yang sebenarnya? Aku ingin tahu siapakah pembunuh keji yarg telah membantai dua ratus jiwa keluarga Han dan keluarga Thio pada lima belas tahun, berselang beritahulah

kepadaku cianpwe, aku akan membunuh musuh besarku itu, akan kucingcarg tubuhnya jadi berkeping-kepng"

”Bangunlah dulu nak, akan kuberitahukan segala sesuatunya itu kepadamu !"

"Tidak! Boanpwe tak akan bangkit sebelum hari ini locianpwe memberitahukan nama pembunuh terkutuk itu kepadaku!" "Bangunlah dahulu nak Aku telah bersiap sedia

menceritakan segala sesuatunya itu kepadamu”

Setelah memperoleh janji dari Orang yang kehilangan sukma, Han-siong Kie pun bangkit berdiri, tapi air mata telah mengucur keluar dengan derasnya membasahi seluruh pipi dan badannya.

Sudah lama ia nantikan saat seperti ini, dan diapun tahu bahwa Orang yang kehilangan sukma yang merupakan perempuan misterius itu sangat mengetahui semua persoalan yang sedang dihadapinya, tapi selama ini selalu mengelak memberi keterangan, tingkah lakunya selalu serba misterius dan tak bisa ditangkap ujung pangkalnya, maka ketika saat ini perempuan tersebut secara sukarela hendak membongkar rahasia tersebut kepadanya maka tak terkirakan rasa girangnya menghadapi kenyataan tersebut.

Tiba-tiba Orang yang kehilangan sukma menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata yang tajam, kemudian dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh katanya:

"Nak, serahkan dulu benda yang diberikan anak Kun kepadamu itu padaku, setelah kuperiksa isi benda itu maka semuanya akan kubeberkan kepadamu "

Mendengar permintaan tersebut, Han siong Kie merasa serba susah, bukannya dia hendak menampik permintaan dari orang yang kehilangan sukma tapi yang sebenarnya Thio sau kun telah mengorbankan jiwanya demi bungkusan tersebut, ini menunjukkan betapa pentingnya benda itu. Dan disaat ia menjelang kematiannya telah berpesan agar benda itu diserahkan kepada ibunya bahkan meminta kepadanya untuk melindungi benda itu walau dengan jiwa ragapun, atau dengan perkataan lain benda tersebut tak dapat dihilangkan, tentu saja dia tak ingin melakukan segala macam tindak perbuatan yang bisa menyebabkan sukmanya dialam baka menjadi tak tenang ....... Untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti diucapkan kepada perempuan itu.

"Nak kenapa kau?" ketika ditunggunya namun pemuda itu tidak melakukan gerakan apapun, orang yang kehilangan sukma pun menegur dengan suara keheranan.

"Ooh, tidak apa apa.... tidak apa apa... cuma saja... ehmm, cuma saja ..."

"Cuma saja kenapa?"

"Sebelum kematiannya tiba, adik Kun telah berpesan kepadaku agar menyerahkan benda ini kepada ibuku sekalipun boanpwe tidak tahu benda apakah sebenarnya yang dibungkus ini, tapi boanpwe sendiri pun tak ingin

mengingkari janjiku sendiri yang telah diucapkan didepan pusaranya, maka dari itu maka dari itu harap locianpwe

suka memaklumi keadaanku"

"Oooh.... begitukah? Tapi. aku rasa diperlihatkan sekejap

kepadakupun tak ada salahnya bukan?"

Han siong Kie hanya bisa berdiri dengan wajah minta maaf, untuk sesaat dia benar benar tak tahu apa yang musti dilakukan......

"Nak, apakah engkau merasa tidak berlega hati untuk memperlihatkannya kepadaku?" akhirnya orang yang kebilangan sukma berkata lagi.

Merah padam selembar wajah Han siong Ki karena jengah, ia jadi gelagapan dibuatnya.

"Boanpwe percaya seratus persen kepada diri cianpwe, cuma cuma dalam hal ini menyangkut satu janji, maka dari

itu.... aku rasa.. aku rasa ..”

Orang yang kehilangan sukma segera manggut-manggut. selanya: "Tindakanmu memang benar nak, kalau begitu ayohlah sekarang juga mari kita Berangkat!" "Berangkat.. Berangkat kemana?”

"Kita akan berkunjung kebenteng maut!"

"Ke Benteng maut?" pemuda itu mengulangi. Orang yang kehilangan sukma hanya mengangguk.

-ooo0dw0ooo-

Bab 91

HAN SIONG KIE merasa agak tercengang dan diluar dugaan setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian dengan keheranan:

"Cianpwe, bukankah engkau telah berjanji kepada boanpwe untuk memberitahukan segala sesuatunya kepadaku?"

"Benar, aku memang telah berjanji tapi kita harus berkunjung dahulu ke benteng maut, disanalah akan kuberitahukan segala sesuatunya itu kepadamu!"

"Kenapa?"

"Tentu saja dikarenakan ada alasan alasan tertentu!" "Tapi boanpwe ingin berkunjung lebih dahulu ke tebing Si-

sin-gan,....aku pikir "

Rupanya orang yang kehilangan sukma dapat memahami perasaan Han-siong-Kie pada saat ini. cepat dia goyangkan tangannya berulang kali.

"Nak. engkau tak usah pergi kesana lagi, sebab tempat itu sudah berubah jadi puing puing yang berserakan, andaikata Go siau bi telah mati, tubuhnya juga sudah hancur menjadi abu, sebaliknya jika ia masih hidup, pergi kesitupun tak ada gunanya, karena sekalipun engkau pergi kesana juga tak akan berjumpa dengannya" Dengan sedih Han siong Kie mengangguk, diapun mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Cianpwe, benarkah Han siong Hiang adalah adik perempuan kandungku.?"

"Benar kalian adalah saudara kandung"

"Lalu..... dia sebenarnya dia mati ditangan siapa?"

Orang yang kehilangaa sukma mengeluh penuh kesedihan, ia tidak menjawab sebaliknya malah berkata demikian:

"Jangan kau tanyakan pada saat ini, sesampainya di benteng maut, semua rahasia ini pasti akan kuberitahukan kepadmu"

Tapi, mengapakah orang yang kehilangan sukma bersikeras hendak pergi ke benteng maut lebih dahulu sebelum membongkar semua rahasia dan semua kejadian yang sebenarnya? Pertanyaan ini sukar dijawab, sebab pada hakekatnya masih merupakan suatu teka teki, suatu rahasia besar yang tak terjawab oleh siapapun.

Tiba-tiba Han siong Kie teringat oleh larangan yang ditetapkan pemilik benteng maut, dia melarang setiap orang asing memasuki benteng tersebut secara sembarangan, itu berarti kurang leluasa bila dia membawa serta siluman hitam dan putih dalam perjalanannya kali ini.

Karenanya, setelah termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dari dalam sakunya dia ambil keluar tanda pengenal yang diberikan pengemis dari selatan kepadanya itu, kemudian sambil diserahkan kepada sepasang siluman, pesannya:

"Kalian berdua dengan membawa tanda pengenal ini berangkatlah ke markas besar kay pang dan temuilah si pengemis dari selatan, sampaikan kepadanya bahwa aku minta tolong untuk mencarikan jejak seseorang, orang itu bernama Ting Hong usianya diantara dua puluh enam, dua puluh tujuh tahunan, dia adalah seorang perempuan..."

"Engkau hendak minta bantuan pihak kaypang untuk mencari jejak seseorang?" sela orang yang kehilangan sukma secara tiba tiba. Pemuda itu mengangguk.

"Benar, anak buah kay pang tersebar luas sampai dimana mana, mencari orang bukan pekerjaan yang terlampau susah bagi mereka"

"siapakah Ting Hong itu? Perempuan macam apakah dia?" orang yang kehilangan sukma mendesak lebih jauh.

Maka Han siong Kie pun menceritakan kembali bagaimana dia minta obat mustika si mia kim-wan dari si nenek jelek dari sin ciu, dan bagaimana pula dia telah menyanggupi si nenek jelek tersebut untuk mencarikan jejak putrinya

Setelah mendengar keterangan itu, orang yang kehilangan sukma baru menganggukkan kepalanya berulang kali tanda mengerti.

Dengan penuh rasa hormat siluman hitam Seng Keh khi menerima tanda kepercayaan dari tiang lo perkumpulan kaypang itu, kemudian tanyanya dengan suara lirih: "Apakah ciangbunjin masih ada petunjuk lain?"

"setelah menyelesaikan tugas yang kubebankan itu, dari markas Kay pang kalian berdua boleh menunggu kedatanganku di sekitar benteng maut"

"Terima perintah"

"selain daripada itu, serahkan kitab pusaka Tay boan yokpit kip tersebut kepadaku"

Dengan sangat hati-hati siluman putih Hong Ing ing mengeluarkan bungkusan kecil dari sakunya kemudian diangsurkan kepada anak muda itu dengan hormat. Setelah menerima kitab itu dan menyimpan pula dengan hati-hati pemuda itupun berkata lagi:

"Nah, sekarang kalian boleh berangkat lebih dahulu" "Baik" sepasang siluman itu mengiakan dengan cepat,

setelah memberi hormat berangkatlah mereka tinggalkan tempat itu.

Menanti bayangan punggung dari sepasang siluman hitam dan putih sudah lenyap dari pandangan, orang yang kehilangan sukma baru berkata dengan suara serak: "Nak, sekarang kitapun harus segera berangkat "

"Baiklah"

Sebelum meninggalkan tempat itu sadar atau tidak sekali lagi kedua orang itu mengalihkan pandangan matanya keatas gundukan tanah baru, setelah memberi hormat untuk terakhir kalinya, merekapun menjejakkan kakinya ke atas tanah dan secepat kilat melakukan perjalanan menembusi jalan raya yang lenggang.

Suatu hari, ketika sang, surya baru memancarkan sinarnya, benteng maut telah berada didepan mata.

Menyentuh kembali pemandangan lama, tanpa sadar Han siong Kie alihkan sinar matanya ke atas batu cadas dimana ia berkenalan dan mengangkat tali bersaudaraan dengan Tong hong Hui, masih mendingan kalau dia tidak berpaling, begitu menyaksikan apa yang tertera dihadapannya, hampir saja dia menjerit kaget.

Diatas puncak batu cadas itu telah bertambah dengan sebuah gundukan tanah berbatu yang sangat mirip dengan sebuah kuburan, di tepi kuburan tadi berdirilah manusia aneh berambut panjang.

Han sing Kie merasa tidak terlampau asing dengan manusia aneh berambut panjang itu, karena dia bukan lain adalah siau suheng dari Tonghong l-Hui ..... Rupanya orang yang kehilangan sukma juga mempunyai suatu perasaan yang tidak enak, tiba-tiba ia berpaling sambil menegur: "Nak, apa yang telah terjadi?"

"orang yang berdiri diatas puncak batu cadas itu tak lain adalah Siau susiok dari boanpwe" jawab pemuda itu lirih.

Orang yang kehilangan sukma mengalihkan sorot matanya keatas puncak bukit itu, kemudian dengan tubuh gemetar keras sahutnya:

"Yaaa benar, dia adalah ahli waris paling muda dari Tengkorak maut, tapi..... mau apa dia berada di situ...?"

"Biar boanpwe kesana untuk memeriksa nya" Tidak menunggu jawaban dari perempuan misterius itu lagi, dengan suatu gerakan yang sangat cepat anak muda itu melayang kedepan mendaki batu cadas tersebut.

Ketika tubuhnya hampir mencapai puncak tiba tiba manusia aneh berambut panjang itu memutar badannya sambil siap melancarkan sebuah pukulan.....

"siau susiok tahan Aku yang datang" cepat-cepat anak muda itu berseru cemas.

Manusia aneh berambut panjang itu menurunkan kembali tangannya, tapi sinar matanya yang bengis dan penuh hawa napsu membunuh itu menatap diatas wajah Han siong Kie tanpa berkedip. begitu menggidikkan dan mengerikannya tatapan tersebut membuat siapapun merasa bahwa tatapan tadi penuh dengan perasaan dendam, gusar dan benci....

Dengan perasaan tercengang dan tidak habis mengerti, Han siong Ki mundur satu langkah ke belakang.

Tiba tiba yaa begitu tiba tiba rasanya, ketika sinar

matanya terbentur dengan serangkaian tulisan yang tertera didepan gundukan tanah berbatu itu, hampir saja ia menjerit lengking. Apa gerangan yang tertera disana? Didepan gundukan tanah berbatu itu, diatas sebuah batu nisan terteralah beberapa huruf yang berbunyi demikian:

"Disinilah disemayankan putriku sayang Tong hong Hui"

Keenam huruf tersebut bagaikan enam bilah pisau tajam yang bersama sama menghujam keatas ulu hatinya, seketika itu juga ia merasa denyutan nadinya seolah olah telah berhenti beredar, jantung pun ikut berhenti, sekujur badannya telah terasa jadi kaku dan membeku, pandangan matanya berkunang kunang, seluruh jagad terasa berputar kencang

......

"Adik Hui "

Hanya dua patah kata itu yang sempat diucapkan, tiba tiba ia muntah darah kental, tubuhnya jadi sempoyongan dan tahu tahu dengan lemas ia sudah terpelanting dan roboh tak sadarkan diri didepan gundukan tanah berbatu itu.

Ketika ia sadar kembali untuk kedua kalinya, ditemuinya dia sedang berbaring dalam pelukan orang yang kehilangan sukma, cepat pemuda itu meronta dan bangun berdiri

Dilihatnya manusia aneh berambut panjang itu masih berdiri disampingnya dengan sepasang mata yang bengis dan penuh hawa napsu membunuh, seakan akan tubuhnya tak pernah bergeser dari tempat kedudukannya semula.

Kematian dari Tonghong-Hui telah menghancur lumatkan perasaan dan hatinya.

Semua perasaan cinta, semua perasaan sayang yang pernah ia limpahkan kepada gadis itu, sekarang ikut terkubur bersama tubuhnya yang telah tak bernyawa.

"oooh... adik Hui....adik Hui sayang "demikian gumamnya

seorang diri, "begitu tegakah engkau tinggalkan aku secara diam diam ? Mengapa tidak kau kabarkan lebih dulu

kepadaku bahwa engkau akan pergi jauh ? Pergi

meninggalkan aku untuk selama lamanya..?" Air mata bagaikan bendungan yang meluap mengucur keluar tiada hentinya dengan derasnya.

Ia merasa dirinya telah mencapai ujung dari kehidupan seorang manusia, dunia kenyataan telah tiada berarti lagi baginya, dunia nyata sudah tidak mendatangkan kegairahan apapun bagi dirinya....

Tragedi yang pernah diramalkan orang yang kehilangan sukma bila hubungan mereka dilanjutkan kini sudah terbukti nyata, akhirnya peristiwa yang tragis itu tak dapat dihindari, ia harus menelan semua penderitaan dan siksaan tersebut dengan begitu saja.

"Siau susiok. kenapa dia bisa mati? Apa yang menyebabkan kematiannya itu ?" serunya kemudian dengan suara

lantang.

Manusia aneh berambut panjang itu tidak menjawab, dia hanya berdiri dengan mata melotot besar.

"siau susiok" sekali lagi Han siong Kie berteriak "dia "

Orang yang kehilangan sukma yang selama ini mendampingi terus di sampingnya segera berkata dengan lirih:

"Nak. tak ada gunanya engkau bertanya kepadanya, sebab dia bisu dan tak mungkin bisa menjawab pertanyaanmu itu"

Sekarang Han siong Kie baru teringat bahwa manusia aneh berambut panjang itu adalah seorang yang bisu, baru saja dia hendak bertanya dengan menggunakan kode tangan .....

"Plok.... Plok " tiba tiba manusia aneh berambut panjang

itu ayunkan tangannya dan secara beruntun melepaskan dua buah tamparan keras yang membuat Han siong Kie mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, darah kental berhamburan keluar dari ujung bibirnya. Menyaksikan adegan tersebut, orang yang kehilangan sukma berseru tertahan karena kaget.

Han siong Kie sendiri berdiri kaku ditempat membiarkan pipinya digaplok berulang kali oleh manusia berambut panjang itu, dia tak tahu menghindar, tak mengerti rasa sakit seakan akan semua tubuh dan perasaannya sudah menjadi kaku dan kesemutan, seakan akan ia sudah tidak mempunyai reaksi lagi terhadap semua kejadian yang berada didalam ini.

Apa yang ada dalam hati dan perasaannya sekarang adalah kesedihan, kepedihan dan perasaan menyesal yang tebal.

"Adik Hui... oooh adik Hui" kembali dia mengeluh, "akulah yang telah menyebabkan kematianmu, kesemuanya ini akulah yang bersalah... oooh adik Hui"

"Plokk" kembali sebuah tamparan nyaring bersarang diatas wajahnya membuat tubuh anak muda itu sempoyongan seperti mau ambruk. darah kental dalam jumlah yang besar meleleh keluar dari ujung bibirnya yang terkatup rapat.

"siau susiok.... aku aku harap engkau dapat

membinasakan diriku.... oooh siau susiok. bunuhlah aku...

agar aku dapat menyusul adik Hui dialam baka." pinta Han siong Ki dengan wajah yang amat mengenaskan.

Manusia aneh berambut panjang itu tidak menunjukkan reaksi apa apa, dengan sikap yang tetap berang dia mengambil keluar sepucuk surat dari dalam sakunya, kemudian dilemparkan ke hadapan Han siong Ki dengan sikap yang kasar sekali.

Serta merta Han siong Ki menyambut surat itu, mula mula dia pejamkan matanya untuk menenangkan perasaan hatinya yang bergolak. setelah itu dengan tangan gemetar dia baru membuka sampul surat tersebut.

Terlihatlah tulisan yang tertera diatas kertas itu ditulis dengan darah kental yang amat nyata. "oooh darah Darah Tulisan darah dari adik Hui yaaa, pastilah surat darah darinya." Pemuda itu sempoyongan, akhirnya jatuh terduduk diatas tanah.

Tulisan tulisan berdarah itu terasa kian lama kian mengembang jadi amat luas dalam benaknya, begitu luasnya sehingga berubah jadi sebuah lautan darah yang sangat luas, wajah Tonghong Hui yang pucat dan lusuh seolah-olah muncul dihadapan matanya.. Pemuda itu berusaha menangkapnya, tapi dia hanya menangkap tempat kosong.

Dengan sekuat tenaga ia menjerit dan memanggil namanya, tapi bagaikan sebuah patung arca dia tidak bereaksi, tidak melakukau suatu tindakan balasanpun.

Bayangan semu akhirnya lenyap dari pandangan mata, lapat lapat diapun mulai mengenali kembali tulisan-tulisan darah yang tertera diatas kertas tersebut. Terbacalah tulisan itu berbunyi demikian:

"Aku tak tahu harus menyebut kau sebagai engkoh Ki ataukah sebagai keponakan muridku? Dikala kau membaca surat berdarah ku ini, aku telah sampai didunia yang lain, aku tinggalkan dunia yang ramai ini dengan hati serta perasaan yang kosong, karena aku tidak memiliki apa apa, tidak berhasil mempunyai apa apa, karena apa yang kumiliki telah kuserahkan semua kepadamu. Tanpa kau, kehidupanku dialam ini terasa hambar dan tak ada artinya. tapi......

kenyataan yang keji telah menciptakan suatu jurang pemisah yang begitu lebar, yang begitu dalam sehingga tak mungkin bagi kita untuk menyeberanginya, walau sepanjang masapun hanya kematian merupakan pelepasan bagiku dari kemelut dan kenyataan yang serba pahit serta getir ini.

Apakah yang masih tersisa dalam hati kita masing masing? suatu perasaan. cinta yang dosakah?

Atau peristiwa cinta yang terkutuk ? Dengan penuh kepedihan ia merintih, matanya terpenjam rapat rapat sedang mulutnya bergumam tiada hentinya.

"Cinta yang berdosa? Ataukah cinta yang terkutuk.?"

Tapi mungkin juga semuanya tidak benar, karena cinta kasih mereka yang suci murni justru terhalang oleh segala bentuk adat istiadat yang sudah berlaku semenjak dahulu kala.

Pelan pelan orang yang kehilangan sukma menepuk bahunya, kemudian dengan nada berat dan tertekan ujarnya:

"Nak. tenangkan hatimu. kobarkan kembali semangatmu, karena segala sesuatunya pasti akan terjadi perobahan, tidak selalu manusia itu sengsara, setelah gelap tentu terbitlah terang, ingatlah nak bahwa dunia selalu berputar."

Han siong Kie manggut-mang gut dengan mulut membungkam, pelan pelan ia membuka mata lagi, kemudian dibacanya surat itu lebih jauh:

"Impian yang telah hilang, selamanya tak mungkin bisa didapatkan kembali semasa hidup, kita tak dapat hidup bersama. setelah mati, kita tak dapat dikubur dalam seliang"

"oooh betapa kejamnya kenyataan yang ada didunia

ini, masih adakah kekejaman dan kebengisan lain yang terdapat didunia ini ?

Aku tahu engkau tak salah, tapi akupUn tak salah, kalau ingin mencari kambing hitamnya maka kesalahan tersebut hanya bisa dilimpahkan pada takdir yang telah mengatur segala galanya.

Setelah aku mati, jenasahku telah kutitipkan kepada siau suko agar dikebumikan di atas batu cadas dimana untuk pertama kalinya kita bertemu, dimana kita menjalin tali persaudaraan, dan anggaplah hal ini sebagai suatu akhir dari permulaan- Bila mati tanpa mengetahui segala sesuatunya maka segala sesuatunya akan sirna dan lenyap jadi abu, tapi bila setelah mati aku bisa tahu, maka sukmaku akan mendampingi kau untuk selamanya, karena setelah pelepasan tiada adat yang bisa mengikat diriku lagi, tiada peraturan yang bisa merintangi niatku lagi, tiada kekuatan yang akan mampu untuk memisahkan aku daru sisimu.

Selamat tinggal sayang, selamat tinggal untuk selama- lamanya.

Terimalah salam mesra, salam paling hangat disertai peluk ciumku yang terakhir hanya untukmu seorang.

"Tulisan terakhir dari Hui"

Tatkala pemuda itu selesai membaca surat itu, dengan lemas ia melepaskan genggamannya atas surat itu terhembus oleh angin gunung yang kencang surat itu terhempas di atas batu kemudian terbang ke bawah dan terjatuh di atas sungai, lenyap tertelan ombak besar...

"oooh... adik Hui... adik Hui... tunggulah aku, aku segera akan menyusul dirimu" jerit Han siong Kie dengan suara yang amat memilukan hati, saking kalut dan sedihnya, tiba-tiba pemuda itu mengayunkan telapak tangannya dan langsung dihantamkan ke atas ubun-ubun sendiri..

Akan tetapi, sebelum serangan tersebut mencapai sasarannya, mendadak ada sebuah tangan lain yang menangkap gerakan tangannya itu sehingga pemuda tersebut tak sanggup melanjutkan gerakannya untuk menghabisi nyawa sendiri

"Han siong Kie, benarkah engkau dengan tindakan tololmu ini? Benarkah engkau harus menghabisi nyawamu pada saat seperti ini? Ketahuilah nak. tindakanmu ini tak dapat diampuni, aku ingin bertanya kepadamu, jika engkau mati konyol lantas siapakah yang akan membalaskan dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra? Apakah engkau mempunyai muka untuk berjumpa dengan arwah ayahmu dialam baka? Thio sau kun, Han siong Hiang apakah bisa mati meram menyaksikan tingkah lakunya yang tolol dan tidak bisa dipertanggung jawabkan itu?"

Mendengar teguran tersebut, seperti kepalanya dihantam dengan martil seberat ribuan kati, seketika itu juga Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, diapun sadar kembali dari rasa sedihnya yang melampaui batas itu.

Ketika dilihatnya pemuda itu telah sadar kembali dari kepedihan hatinya, orang yang kehilangan sukmapun melepaskan cengkeramannya atas lengan anak muda itu, kembali ujarnya:

"Nak. tidakkah engkau merasa bahwa menghabisi nyawa sendiri lantaran urusan muda-mudi adalah suatu perbuatan paling memalukan yang tak bisa dipertanggung jawabkan? Apalagi dia adalah bibi gurumu sendiri..."

Han siong Kie mundur lagi beberapa langkah dengan sempoyongan, untuk kesekian kalinya anak muda itu muntah darah kental.

Pelan pelan manusia aneh berambut panjang itu memutar badannya, dua titik air mata sempat mengucur keluar membasai pipinya yang telah berkeriput.

Yaa peristiwa ini memang merupakan suatu tragedi yang

amat memilukan hati, siapa yang mengharapkan terjadinya peristiwa semacam ini?

Dari kejadian ini dapat pula dibayangkan bagaimanakah masa depan Han siong Ki setelah peristiwa ini, kehidupannya pasti akan kosong, hampa dan sama sekali tak ada artinya, karena dia telah kehilangan kekasihnya, semua kasih sayang, semua perasaan cintanya ikut terkubur bersama matinya Tonghong Hui, dia telah kehilangan pegangan hidupnya yang paling berarti ...... Sementara suasana diliputi kesedihan dan kemurungan, tiba tiba dari dalam benteng maut meluncur keluar bom udara, kemudian meledak di angkasa dan menimbulkan jilatan api yang berwarna biru.

Menyaksikan hal itu, manusia aneh berambut panjang itu berkaok kaok aneh, secepat sambaran kilat ia segera tinggalkan tempat itu dam kabur kembali ke arah benteng maut. orang yang kehilangan sukma pun menjerit kaget.

"Aduuuh celaka" demikian serunya, "didalam benteng maut telah terjadi musibah besar"

Tak terkirakan rasa kaget Han siong Kie setelah mendengar perkataan itu, pikirannya yang semula masih melayang tak menentu segera terhimpun kembali menjadi satu.

"Apa? Terjadi musibah besar dalam benteng maut?" teriaknya penuh rasa kaget.

"Benar nak, ayoh kita segera berangkat, jilatan api warna biru yang meledak diangkasa itu adalah tanda khusus dari perkumpulan Thian che-kau yang mengartikan bahwa tugas yang dibebankan kepada mereka telah selesai dikerjakan, entah peristiwa besar apa yang sudah berlangsung dalam benteng itu."

"Hmmm Lagi lagi ulah dari Thian che kau" teriak Han

siong Kie sambil menahan geramnya..

"Nak, kita harus cepat cepat berangkat kesana"

Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, dari atas dinding benteng melayang turun dua sosok bayangan manusia dan mereka menggeletak didepan kaki manusia aneh berambut panjang itu.

Orang yang kehilangan sukma tidak membuang banyak waktu lagi, dia melejit lebih dahulu meluncur kebawah, sementara Han siong Ki sendiri untuk sementara harus mengesampingkan dulu rasa sedihnya diapun menyusul dari belakang......

Dua orang kakek berbaju hijau menggeletak diatas tanah, salah seorang diantaranya sudah terhajar oleh manusia aneh berambut panjang itu sehingga kepalanya hancur dan isi benaknya berceceran diatas tanah sambil merintih tiada hentinya.

Sepasang mata manusia aneh berambut panjang itu memancarkan sinar merah yang mengerikan, sayang dia seorang bisu, ada kesulitanpun sukar diutarakan, tak mungkin mencari berita dari mulutnya.

Dengan suatu gerakan yang hampir bersamaan, Orang yang kehilangan sukma dan Han siong Kie mencapai ditempat tujuan dengan cepatnya.

Melihat kemunculan kedua orang itu, manusia aneh berambut panjang itu segera berkaok kaok sambil menuding kakek yang terluka dan menggeletak diatas tanah itu, kemudian menuding mulutnya, dan menuding pula telinga sendiri, maksudnya dia menyuruh Han siong Kie menanyai orang itu dan dia akan ikut mendengarkannya dari samping.

Orang yang kehilangan sukma segera memahami maksud dari manusia aneh itu, kepada kakek yang menggeletak diatas tanah segera tegurnya:

"Kun kang liong (naga dari sungai), besar amat nyalimu sehingga kalian berdua berani mencari gara gara di benteng maut. Hmm, rupanya engkau sudah makan nyali beruang empedu macan tutul"

Ketika asal usulnya diketahui orang, kakek itu tampak sangat terperanjat sehingga sukma serasa melayang meninggalkan raganya, dengan ketakutan serunya: "sia...

sia siapakah kau.?" "Hmmm Kau tak usah bertanya siapakah aku" tukas orang kehilangan sukma dengan dingin " cukup terangkan saja kepadaku, kalian telah menjual nyawa bagi siapa sehingga begitu berani mencari gara gara didalam benteng maut"

Kun kang liong tidak segera menjawab, ia termenung sebentar lalu baru katanya:

"saudara ku telah mati, akupun enggan untuk hidup seorang diri, sudah Kau tak usah banyak bertanya, tak nanti aku akan menjawab pertanyaanmu. Hmm, mau turun tangan ayolah cepat turun tangan, pokoknya sebentar lagi benteng maut bakal lenyap dari muka bumi bagaikan asap yang membuyar diangkasa"

Manusia aneh berambut panjang itu memang tak dapat berbicara, tapi telinganya berfungsi secara normal, ketika mendengar jawaban tersebut, dia jadi berang, telapak tangannya segera diayun kebawah siap membinasakan orang itu. .

Dengan cepat orang yang kehilangan sukma menghalangi niatnya itu, kembali dia berkata:

"Kun kung liong, berhargakah jiwamu kau jual bagi Thian che kaucu? Tidakkah engkau merasa bahwa perbuatanmu itu kelewat tolol?"

"Aaah kamu ini bawel amat, mau bunuh mau cincang

ayolah segera dikerjakan, apa gunanya banyak ngebacot yang tidak ada gunanya?"

"Aku tidak akan membinasakan dirimu, hanya ilmu silatmu saja yang kupunahkan, setelah itu akan kutotok jalan darah Im hiat mu, akan kubiarkan engkau hidup tersiksa hingga akhir jaman nanti"

Mendengar ancaman itu, Kun king liong menggigil karena ketakutan, yaa Pada hakekatnya ancaman itu cukup untuk menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya... "sebenarnya engkau bersedia menjawab tidak?" sekali lagi orang yang kehilangan sukma mengancam.

"Tidak" Kun king lioug tetap melotot dengan gigihnya.

Sementara perdebatan berlangsung makin sengit, tiba tiba dari arah pintu benteng berkumandang suara gemerincing yang sangat nyaring, menyusul kemudian pintu gerbang itu terpentang lebar dan puluhan sosok bayangan manusia berhamburan keluar dengan cepatnya.

Manusia aneh berambut panjang itu berkaok kaok aneh, dia segera melayang keudara dan menyambar kebalik dinding benteng dengan cepatnya.

"Aduh celaka " teriak orang yang kehilangan sukma

dengan hati terperanjat.

Belum habis dia menjerit, dari balik semak belukar ditepi sungai telah bermunculan puluhan sosok bayangan manusia.

Han siong Kle saking kagetnya untuk sementara waktu berdiri tertegun, ia tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah berlangsung disana.

Sementara si anak muda itu masih tertegun, orang yang kehilangan sukma telah mengayunkan tangannya menghajar Kun kung liong hingga terjebur kedalam sungai, kepada anak muda itu teriaknya:

"Nak. usahakanlah sekuat tenaga untuk membendung orang orang itu, jangan lepaskan barang seorangpun diantaranya mereka, bunuh setiap orang yang kau jumpai"

Dalam keadaan seperti ini, Han siong Kie tak sempat untuk menanyakan alasannya lagi, dia sendiripun dapat merasakan betapa serius dan gawatnya situasi yang dihadapinya sekarang, dengan suatu lompatan yang cepat ia melayang ke atas jembatan batu dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Jembatan batu itu separuh diantaranya tenggelam dibalik air sungai yang sedang pasang naik, dan jembatan itu pula merupakan satu satunya jalan penghubung dari benteng maut kedunia luar, oleh karena tempatnya amat sempit dan cuma bisa dilalui oleh seorang saja, maka dengan hadirnya Han siong Ki menyumbat jembatan batu itu, maka boleh dibilang posisinya benar kuat sekali.

Ditengah bentakan nyaring orang yang kehilangan sukma telah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan orang orang yang baru keluar dari benteng maut itu.

Han siong Kie berpaling dan memandang kebelakang apa yang kemudian terpampang dihadapan matanya membuat ia merasa jantungnya berdetak sangat keras saking kagetnya, seketika itu juga mengertilah sianak muda itu apa gerangan yang telah terjadi?

Dalam pada itu dua sosok bayangan manusia telah berlarian menuju kehadapannya, dan kedua orang itu tak lain adalah Im yang siang sat, sepasang malaikat hawa dingin dan hawa panas yang pernah ditemuinya. Dengan kemunculan dua orang ini, maka sudah jelas lagi duduknya persoalan, jelas semua gembong gembong iblis yang disekap didalam rumah batu yang berada dalam benteng maut telah terlepas semua.

Padahal sebagaimana diketahui alat rahasia yang melengkapi benteng maut banyak sukar di hitung, dan lagi disanapun sudah diatur sebuah barisan sik wu khi tin (barisan aneh rumah batu) rasanya dalam mengandalkan kepandaian yang dimiliki dua bersaudara Kun kang liong yang telah mampus semua itu belum tentu bisa memecahkannya, lalu siapakah yang telah membebaskan semua tahanan tersebut?

Menurut tuduhan dari orang yang kehilangan sukma, dua bersaudara Kun kang liong adalah menjual nyawa bagi Thian che kau dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa semua rencana dan siasat busuk tersebut adalah basil pemikiran dari Thian che kaucu, atau dengan perkataan lain gembong iblis itu besar sekali hasratnya hendak membasmi benteng maut sehingga ambisinya untuk merajai seluruh dunia persilatan dapat terwujud Belum habis ingatan tadi melintas

dalam benaknya, dari atas tepi pantai sudah muncul beberapa sosok bayangan manusia yang menerjang keatas jembatan batu itu dengan kecepatan luar biasa.

Im yang siang sat berada dipaling depan, pada saat itu mereka sudah berada kurang lebih dua kaki dihadapan Han siong Kie.

Untuk sesaat suasana disekitar jembatan batu menjadi tegang dan amat gawat sekali, setiap saat suatu pertarungan sengit yang mengerikan bisa terjadi.

"Eeeh manusia berwajah dingin, kenapa kau bisa berada

disini? Mau apa kamu datang mari?"

"Dan apa pula yang sedang kalian berdua lakukan?" Han siong Ki balik bertanya dengan suara ketus.

Sebelum malaikat perempuan itu memberikan jawabannya, bayangan-bayangan manusia yang datang dari tepi pantai itu sudah tiba dihadapan Han siong Kie, maka tak menggubris tanya jawabnya dengan malaikat hawa dingin lagi dia putar badan sambil melancarkan sebuah pukulan maha dahsyat yang mengerikan sekali.

Sebelum bertugas disana, ia telah mendapat pesan dari orang yang kehilangan sukma untuk bertindak keji, maka dalam serangan serangan yang dia lancarkan sekarang, semua pukulan dilepaskan dengan kekuatan yang penuh, sama sekali tidak bersifat sungkan sungkan.

Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tiga orang yang berjalan dipaling depan segera terhajar oleh serangan maut itu sehingga tercebur kedalam sungai dengan aliran air yang amat deras itu, tentu saja nyawa mereka tak ada yang ketolongan lagi, ini menyebabkan kawanan jago yang berada dibelakangnya jadi bergidik dan ketakutan setengah mati, bagaikan sukmanya ikut melayang tinggalkan raganya orang orang itu hanya berdiri tertegun diatas jembatan batu itu tanpa melakukan suatu gerakan apapun jua.

Yang sat si malaikat hawa panas Ko su khi yang menyaksikan semua adegan itu jadi tercengang, segera tegurnya dengan suara lantang:

"Eeeh bocah muda, bagaimana sih anak ini? Bukankah

orang orang itu adalah sobat baik kita dari perkumpulan Thian che kau? Kenapa kau bunuh mereka dengan cara sekeji itu?"

Hawa napsu membunuh seketika itu juga menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, ia mendengus dingin.

"Kalau mereka benar benar adalah orang Thian che kau, itu berarti mereka lebih lebih harus dibunuh lagi"

"Eeeh...eeeh lucu amat kau bocah muda, bukankah kau

memusuhi tengkorak maut? Kenapa sekarang kok malahan membantu pihak Tengkorak maut untuk membantu manusia manusia macam mereka, sebab Benteng maut tak akan lenyap dari dunia ini, Benteng maut selamanya akan tetap berdiri kokoh dalam dunia persilatan"

"Manusia bermuka dingin " dengan suara berat malaikat hawa dingin Mo siu ing menegur, "mengingat tempo hari kau pernah membantu kami, tak ingin kami suami istri berdua memusuhi engkau "

"Aku juga pernah menerima budi pertolongan dari gurumu Hun si mo ong, kalau ingin membicarakan soal hutang budi maka kita sudah impas, siapapun tidak berhutang kepada siapa, jadi kaupun tak usah mempersoalkan lagi tentang hutang budi atau tidak" tukas Han siong Kie dengan suara lantang.

Mula mula Malaikat hawa dingin Mo siu ing agak terperanjat sehabis mendengar ucapan tersebut, untuk selanjutnya dengan suara berang dia membentak. "Baik, kalau memang begitu maafkanlah bila aku malaikat hawa dingin terpaksa akan berbuat salah kepadamu"

Ditengah bentakan yang maha dahsyat, pertarungan tak bisa dihindari lagi, jeritan jeritan kesakitan yang menyayat hati mencabik kesunyian disekitar tempat itu, benteng maut betul betul sudah diliputi awan pembantaian yang menggidikan hati.

Pemilik benteng maut maupun manusia aneh berambut panjang secara beruntun terjun pula ke dalam gelanggang pertarungan dan bertempur melawan kawanan gembong iblis yang terlepas dari kurungan itu.

Sebagian besar gembong gembong iblis yang disekap dalam benteng maut adalah kawanan jago dunia persilatan yang memiliki ilmu silat sangat lihay, kebanyakan mereka tertangkap dikala melakukan penyelidikan terhadap benteng yang serba misterius itu, bila mereka harus bertanding seorang lawan seorang, tentu saja tak seorangpun yang bisa menandingi kelihayan dari Tengkorak maut, tapi lantaran orang orang itu menyerang secara berbareng, maka secara otomatis keadaannya juga jauh berbeda.

Kawanan jago lihay dari perkumpulan Thian che kau yang pada mulanya masih berdiri tertegun diatas jembatan batu, pada saat itu bersama-sama membentak keras, kemudian bagaikan gulungan air bah mereka menyerbu kedepan ......

"Lihat serangan"

Suatu bentakan keras menggelegar diangkasa, Malaikat hawa dingin Mo siu ing dengan suatu gerakan yang sangat cepat menerjang maju kedepan dan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat kearah badan Han siong Kie.

Si anak muda she Han sendiri telah menyadari bahwa pertempuran yang berlangsung hari ini besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan dimasa mendatang, apalagi jumlah musuh jauh lebih besar daripada jumlah jago jago dari pihaknya, ini berarti mati hidupnya benteng maut juga tergantung dari hasil pertarungan kali ini.

Mempertimbangkan untung ruginya bertarung secara kekerasan, akhirnya pemuda ini mengambil keputusan untuk menyimpan tenaga sebisa mungkin untuk menjaga segala kemungkinan diakhir pertarungan tersebut.

Karena berpendapat demikian, ketika pukulan-pukulan musuh yang amat keras itu meluncur keatas tubuhnya, dengan gerakan cepat dia melejit kesamping, setelah terlepas dari ancaman dahsyat itu, dia baru membalikkan tubuhnya sambil melepaskan sebuah serangan balasan.

Angin pukulan yang menggulung ke depan bagaikan amukan angin puyuh, secara beruntun malaikat hawa dingin mundur tiga langkah lebar ke arah belakang.

Sementara itu jago jago lihay dari Thian che- kau telah tiba dibelakang tubuh Han siong Kie, pukulan pukulan yang tak ampun sudah dilontarkan secara beruntun.

Menghadapi keadaan semacam ini, Han siong Kie mendengus dingin, dia lepaskan sebuah pukulan untuk memukul mundur malaikat hawa dingin, kemudian sambil memutar badan, jari jari tangan saktinya diayunkan secara beruntun......

Ilmu jari Tong kim ci memang amat dahsyat, dalam radius lima kaki, emas atau batu cadas yang terkena seranganpun akan hancur berkeping, apalagi tubuh manusia??

-ooo0dw0ooo-