Tengkorak Maut Jilid 43

 
Jilid 43

UAAAK Tiba tiba darah kental memancar keluar dari mulutnya, tubuhnya mundur kebelakang aggk terhuyung.

Berdiri semua bulu kuduk Han siong Ki menyaksikan keadaan orang itu, dia merasa sekujur badannya mengejang, pemuda bermandi darah itu tak lain adalah Thio sau kun, putra tunggal dari paman gurunya si naga tangan beracun Thio Lin.

"Adik Kun, aku disini. Apa yang terjadi dengan kau?

Katakanlah, cepat katakan padaku" seru Han siong Ki sambil membimbing tubuhnya.

Thio sau kun sudah tak mampu berbicara apa-apa lagi, tiba-tiba dia tarik napas panjang panjang lalu terkulai ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Han siong Ki kaget sekali, secepat kilat ia sambar tubuhnya dan membopong pemuda itu kebawah pohon ditepi jalan..

Pemuda itu akan memeriksa luka tubuhnya, tapi sebelum suatu tindakan sempat dilakukan, desingan angin tajam telah menggema memecahkan kesunyian, beberapa sosok bayangan manusia dengan membawa deruan angin keras melayang turun dibelakangnya.

"Lepaskan orang itu dan letakkan diatas tanah" seseorang berkata dengan suara yang menyeramkan.

Han siong Kie tidak memberi tanggapan apa-apa, malahan ia berlagak seakan-akan tidak mendengar perkataan itu, pelan-pelan ia berjalan ke bawah pohon ditepi jalan sana lalu membaringkan Thio sau kun keatas, sesudah itu pemuda tersebut baru berpaling.

Tapi apa yang kemudian dilihatnya membuat kemarahan Han siong Kie meluap luap. hawa napsu membunuhnya menyelimuti seluruh wajahnya, sekali melompat tahu tahu ia sudah berada tiga kaki jauhnya dari posisinya semula. Enam orang kakek berjubah panjang telah berdiri berjajar dihadapannya, salah satu diantaranya memakai jubah hitam dengan sulaman matahari rembulan dan bintang didadanya, orang itu dikenalnya karena pernah mengikuti Thian che kaucu mengejarnya.

Empat orang lain adalah empat dari Thian chepat siok (delapan bintang dari Thian che kau) dan sedang pelindung hukum berbaju kuning.

Tentu saja mimpipun keenam orang kakek itu tak menyangka kalau orang yang mereka hadapi sekarang tak lain adalah Manusia muka dingin, ketua dari perguruan Thian lam yang mereka segani, kontan saja paras mukanya berubah hebat, untuk sesaat mereka berdiri tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Han siong Kie bukan orang bodoh, cukup dalam sekilas pandangan saja dia sudah tahu kalau Thio sau kun terluka ditangan orang orang itu, hanya dia heran mangapa Thio sau kun bisa di lukai orang orang perkumpulannya ?

Padahal seingatnya pemuda itu adalah ketua muda perkumpulan Thian che kau, bahkan sudah menjadi anak angkatnya Yu Pia lam, apa yang sebenarnya telah terjadi??

"ooooh jadi orang ini terluka ditangan kalian bersama?"

tegurnya kemudian dengan suara dingin.

"Benar" jawab utusan khusus perkumpulan Thian cie kau yang rupanya merupakan pemimpin rombongan itu dengan sinar mata mengkilap.

"Apakah tujuan kalian hendak mencabut nyawanya?" kembali pemuda itu menegur dengan suara ketus.

"Itu urusan rumah tangga perkumpulan kami, buat apa kau musti mencampurinya?" "Heeehhh .... heeehh heeehh tapi sayang aku sudah

memutuskan untuk mencampuri urusan ini, kalian mau apa?" Han siong Kie mengejek sambil tertawa dingin.

Paras muka keenam orang kakek itu segera berubah hebat, malahan pelindung hukum baju kuning itu menerjang kedepan dan menubruk kearah Thio sau- kun yang berada tiga kaki dihadapannya dengan memanfaatkan kesempatan tersebut.

"Bangsat rupanya kau pingin mampus" bentak Han siong Kie penuh kegusaran, telapak tangannya secepat sambaran kilat segera diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

"Blaaang " diiringi dengusan tertahan kakek baju kuning

itu tersapu telak oleh serangan maut itu hingga mencelat sejauh dua kaki lebih untuk tak dapat bangun lagi.

Utusan untuk Thian che kau yang menjadi pimpinan rombongan itu cepat mengerling sekejap ke arah empat orang kakek lainnya, lalu telapak tangannya bekerja cepat memancarkan dua pukulan dahsyat ke arah Han siong Kie, sementara empat kakek lainnya dari empat arah yang berlainan menerjang ke tubuh Thio sau kun yang menggeletak di tanah itu.

Kemarahan Han siong Kie tak terkendalikan lagi, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan ke depan setelah itu dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan dia melayang kembali ke hadapan Thio Sau kun, kedatangannya itu persis menyongsong gerakan tangan dari dua orang diantara empat kakek yang akan mencengkeram tubuh Thio sau kun.

"Blaaang.... Blaaang " dua jeritan ngeri berkumandang

memecahkan kesunyian, tahu tahu dua orang kakek itu mencelat kebelakang dan tewas seketika itu juga.

Melihat rekannya mampus, dua orang kakek lainnya jadi panik, cepat-cepat mereka menarik diri dan melompat mundur dari sana. Utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu segera membentak keras, sekali lagi dia melancarkan serangan dahsyat kearah Han siong Kie.

Pada saat itu pikiran Han siong Kie hanya tertuju pada keselamatan Thio sau kun, dia tak ingin membuang banyak waktu, si mi sinkangnya andalannya dikerahkan mencapai sepulung bagian, dengan menciptakan segumpal kabut berwarna putih, dia gulung tubuh musuhnya itu.

"Duuukk:.." jeritan ngeri menggelegar diangkasa, utusan khusus dari Thian che kau itu muntah darah segar dengan sempoyongan badannya mundur sejauh satu meter lebih dari posisinya semula.

"Mundur..." teriaknya cepat.

Tiga sosok bayangan manusia melarikan diri terbirit birit dari tempat itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka telah lenyap dari pandangan mata.

Han siong kie segan untuk memperhatikan musuh- musuhnya lagi, setelah tiga orang itu melarikan diri, cepat cepat dia menghampiri Thio sau-kun dan memeriksa tubuhnya dengan seksama, di lihatnya anak muda itu berbaring dengan mata terpejam, mukanya pucat seperti mayat, napasnya amat lemah dan terputus putus, ketika nadinya diperiksa dengan teliti, hampir saja dia menjerit karena kaget, semua nadi penting ditubuhnya sudah putus, isi perutnya sudah geser.

Tampaknya malaikat turun dari kahyanganpun belum tentu bisa menyelamatkan jiwanya lagi.

Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dan menetes diatas wajah Thio sau- kun.

Putra tunggal dari Thio su sisok sudah tak ada harapan lagi untuk hidup, padahal paman gurunya dengan susah payah telah menyelamatkan jiwanya dan memelihara dia sampai dewasa, budi kebaikan ini tak mungkin bisa dibalas lagi untuk selamanya

Han siong Ki merasa sedih sekali, hatinya terasa hancur berantakan, rasa dendam, benci dan sedih bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.

Dengan cepat ia totok beberapa buah jalan darah penting di tubuh pemuda itu, kemudian menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Thian in hiat dan menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh sau kun.

Beberapa saat kemudian,Thio sau kun membuka matanya kembali, dengan tak bertenaga ia menggerakkan bibirnya seperti akan mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang keluar.

"Adik kun.... adik kun " bisik Han siong Ki dengan

perasaan seperti disayat sayat.

Akhirnya Thio Sau-kun dapat bersuara, meski pun suaranya lembut seperti suara nyamuk:

"Suko....aku...aku sudah tak sanggup lagi sungguh

menyesal aku tak tak dapat membalas sendiri sakit

hatiku.....ooooh....aku tak kuat lagi. "

Nafasnya tersengkal-sengkal seperti dengusan kerbau, selang sesaat kemudian dia baru melanjutkaa:

"Bee....benda dalam sakuku....too. tolong serahkan pada

ibu....jaa....jangan sampai hilang....bi. bila

perlu....li....lindungi dengan segenap jiwa....ra .....ragamu..!"

Tiba-tiba kepalanya terkulai, Thio Sau-kun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

"Adik Kun.......! Adik Kun !" teriak Han-siong Kie

memilukan hati, tapi. dia tak mungkin bisa menghidupkan

pemuda itu lagi, Thio Sau-kun telah memejamkan mata untuk selama lamanya. Paman gurunya telah mati, putra tunggalnyapun ikut mati, sedang ia sendiri gagal membalas dendam bagi sakit hati keluarganya, malahan sampai sekarang tak tahu siapakah pembunuh keluarganya dia merasa titik darah segar menetes didalam hati nya.

Dibelainya tubuh Thio Sau-kun yang kaku dan mulai mendingin itu dengan pandangan kosong, si nar matanya memandang awan yang berada diangkasa dengan termangu- mangu.

Terlalu besar budi yang psraah diterimanya dari sitangan naga beracun Thio Lin, tapi selamanya ia tak akan mampu untuk membalas semua budi kebaikan itu lagi.

Kematian Thio Sau-kun memberikan pukulan batin yang sangat berat baginya, dia merasa seakan akan hatinya disayat dengan pisau, dan penderitaan itu akan dibawanya sampai akhir dari kehidupannya.

Malam semakin larut, bintang betaburan diangkasa, angin berhembus lirih dan suasana amat sepi, ia masih berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca, sama sekali tak bergerak.

Malam hilang, pagipun menjelang fajar menyingsing

diufuk sebelah timur......

Embun pagi telah membasahi bajunya, tapi dia tidak merasa, sepasang tangannya masih memegang mayat Thio Sau-kun yang telah kaku, kesedihan yang kelewat batas membuat ia seperti orang linglung.

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya,

membuat pemuda itu tersadar kembali, ia teringat oleh tugasnya yang belum selesai, yang sudah mati biarkan mati, yang pasti keselamatan Go Siau-bi yang menantinya dibukit Si-sin-gan berada dak.m cengkeramannya. Pelan-pelan dia bangkit berdiri, memandang ma yat Thio Sau-kun yang masih berpelepotan darah beberapa titik air mata kembali mengucur keluar membasahi pipinya

Dia teringat kembali kata-kata yang diucapkan Thio Sau- kun sesaat menjelang kematiannya......

"Sungguh menyesal aku tak dapat membalas sakit hatiku dengan tangan sendiri. " Siapa yang menjadi musuhnya ?

Dia pun berkata begini : "benda dalam saku-ku ini serahkanlah kepada ibu, bila perlu harus lindungi dengan nyawa sendiri. "

Itu berarti ibu yang dimaksudkan tentulah ibu nya sendiri si Siang-go cantik Ong Cui-ing.......

Tapi. mengapi harus diserahkan kepada ibunya?

Benda apakah yang harus diserahkan kepada i-bunya? Mengapa harus dilindungi dengan pertaruhan jiwa raga?

Dia merogoh kedalam saku Thio-Sau-kun dan mengambil keluar sebuah bungkusan kecil, besarnya setengah depa dengan tebal satu cun, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya.."

Sesaat kemudian dia memutuskan untuk membuka dahulu bungkusan itu dan memeriksa isinya, siapa tahu dari benda dalam bungkusan itu dia dapat mengungkap teka-teki dibalik kematian Thio Sau-kun ditangan orang-orang perkumpulan Thian che-kau?

Baru saja bungkusan itu akan diperiksa tiba-tiba suara

tertawa dingin yang mengerikan berkumandang dari belakang.

Si anak muda itu sangat terperanjat, serta merta dia masukkan bungkusan itu kedalam sakunya kemudian bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia melayang dua kaki dulu kedepan sebelum putar badan..... Darahnya langsung tersirap. hawa amarah berkobar dalam padannya setelah mengetahui siapakah manusia berkerudung dan dua orang kakek lainnya yang saat itu berdiri di hadapannya.

Orang itu tak lain adalah Thian che kaucu Yu Pia lam serta dua orang utusan khusus Thian che kau, malahan salah seorang diantaranya tak lain adalah utusan khusus yang mengejar Thio sau kun kemarin dan akhirnya berhasil kabur dengan membawa luka itu.

Mayat Thio Sau kun yang berlepotan darah belum sampai dikebumikan, ternyata pembunuhnya telah datang kembali menjadi gara-gara, kejadian ini sama sekali diluar dugaan.

Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sambaran kilat, Thian che kaucu Yu Pia lam menyapu sekejap wajah Han siong Kie, kemudian sambil mengalihkan pandangannya keatas tubuh Thio sau kun dia berkata: "Geledah sakunya"

Dua orang utusan khusus itu mengiakan dengan hormat, salah seorang diantaranya pelan pelan maju ke depan menghampiri mayat Thio sau kun yang membujur ditanah itu.

"Bangsat! Rupanya kalian memang ingin mampus" bentak Han siong Kie dengan marah, desingan angin serangan secepat kilat menyambar kearah depan.

Agaknya utusan khusus itu cukup memahami kelihayan ilmu jari Tong kim ci, ketika merasakan datangnya ancaman, cepat cepat badannya berkelebat dan menyingkir kesamping.

Thian che kaucu Yu Pia lam tidak berpeluk tangan belaka, pelan-pelan dia maju tiga langkah ke depan, lalu dengan suara yang penuh hawa pembunuhan katanya:

"Manusia bermuka dingin, sungguh tak kusangka begitu cepat kita akan berjumpa kembali"

"Heeehhh... heehhh.... heeehhh Yu Pia lam, pertemuan

macam beginilah yang sangat kuharapkan, menggunakan kesem-patan ini kita harus segera membereskan juga semua hutang baru dan hutang lama diantara kita berdua"

"Hehhmmm... aku kuatir kalau kepandaianmu masih selisih jauh bila ingin digunakan umtuk membuat perhitungan"

"Hmmm tak usah tekebur dulu, sebentar kau mengetahui sendiri sampai dimanakah kepandaian silat yang kumiliki"

Pada saat itulah utusan khusus yang kemarin melarikan diri itu sudah mendekati mayat Thio sau kun dan mencengkeram kearah dadanya.

"Bangsat, hari ini kau tak akan lolos dalam keadaan selamat" teriak Han siong Kie penuh kemarahan.

Ilmu gerakan tubuh cahaya melintas bayangan dikerahkan dengan sepenuh tenaga, hanya sekali menggelegar tahu tahu dia sudah dibelakang punggung utusan khusus itu jari tangannya yang dibengkok kan langsung mencengkeram kemuka...

"Bangsat, kau ingin mampus rupanya" bentak Thian che kaucu pula sambil secepat kilat melancarkan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Ditengah jeritan kaget, tahu tahu Han siong Kie sudah berhasil mencengkeram tubuh utusan khusus itu, sementara hampir bersamaan waktunya desingan angin serangan tiba, pula dengan hebatnya.

Han siong Kie cepat melompat kedepan menghindarkan diri dari tibanya ancaman maut itu, lalu sambil mendengus dia menjungkir balikkan tubuh si utusan khusus tadi dengan kepala dibawah kaki diatas sepasang pahanya dicengkeram erat erat dengan kedua belah tangannya...

"Manusia bermuka dingin, apa yang hendak kau lakukan?" teriak Thian che kaucu dengan gusar.

"Mau apa? Aku akan suruh darahnya mengalir disini" "Hmm, kau berani?"

"Haaahhh.... haaahhh... haahhh... mengapa tidak berani?"

Ditengah gelak tertawanya yang amat keras seperti orang kalap. sepasang lengannya direntangkan kesamping keras keras...

"Kraaaak" diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati, percikan darah segar berhamburan kemana-mana, tahu-tahu tubuh utusan khusus itu sudah dirobek oleh Han siong Kie sehingga terbelah menjadi dua bagian, isi perutnya dan usus yang bercampur darah segera mengalir keluar dan berceceran diatas permukaan tanah, mengerikan sekali pemandangan pada saat itu.

"Darah Haaahh.... haahhh... haahhh adik Kun coba lihatlah darah kental telah mengalir membasahi seluruh permukaan tanah, coba lihatlah, dimana-mana darah itu sama, darah itu semuanya berwarna merah"

Tak terkirakan rasa gusar yang berkecamuk dalam benak Thian che kaucu setelah menyaksikan peristiwa itu, dalam suatu bentakan yang sangat nyaring secara beruntun dia melancarkan dua buah pukulan berantai yang kesemuanya disertai dengan tenaga pukulan yang tak terkirakan dahsyatnya.

Han siong Kie tak berani bertindak gegabah, dia cukup mengetahui sampai dimanakah dahsyatnya musuh yang sedang dihadapinya sekarang, dia menarik kembali senyumannya, segenap tenaga yang dimiliki nya segera dihimpun untuk menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras .....

Hembusan angin menderu deru, dalam suatu keadaan yang sangat mengerikan bagaikan amukan angin taufan yang menyapu segala-galanya, kedua belah pihak saling beradu tenaga satu kali, alhasil kedua orang itu sama sama mundur selangkah kebelakang. Tiba tiba Thian che kaucu seperti memahami akan sesuatu hal, tiba tiba ia berkata dengan nada menyelidik

"Manusia bermuka dingin, barusan kau sebut anak durhakaku ini sebagai adik Kun? Apakah dia adikmu?"

"Hmm Yu Pia lam, memangnya dia adalah putramu?" balas Han siong Kie sambil mendengus penuh penghinaan.

"Kalau dia bukan anakku lalu siapa? semua orang yang berada dalam dunia persilatan toh sudah tahu bahwa dia adalah ketua muda dari perkumpulan Thian che kau?"

"Kenapa kau kirim orang untuk membinasakan dirinya?

Ayoh jawab mengapa kau kirim orang untuk membunuhnya?"

"Karena dia telah melanggar peraturan perkumpulan, maka dia harus dijatuhi hukuman yang setimpal"

"Ciss Tak tahu malu, Yu Pia lam wahai Yu Pia lam, kau benar benar seorang manusia yang tak tahu malu, memangnya kau bisa beranak?"

Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba saja sekujur badan Thian che kaucu Yu Pia lam menggigil keras menahan rasa terkejutnya yang bukan kepalang, tanpa sadar dia mundur tiga langkah ke belakang, sekalipun semua orang tak dapat menyaksikan bagaimana perubahan wajahnya dibalik kain kerudung hitamnya itu tapi dari gerak geriknya siapapun akan tahu bahwa jago lihay tersebut benar benar merasa amat terperanjat.

"Bangsat cilik, apa kau bilang?" teriaknya sambil menahan geram yang berkobar kobar.

"Aku bilang, bahwa dalam hidupmu didunia kali ini, jangan bermimpi bisa punya anak, sebab kau adalah seorang laki laki impotent, seorang laki laki yang tak mampu untuk melakukan tugasmu sebagai seorang laki laki yang normal" Saking gusarnya sekarang sekujur badan Thian che kaucu sudah menggigil keras, dia tak menyangka kalau Han siong Kie dapat mengetahui rahasianya yang paling besar, tentu saja diapun merasa sangat heran, dari mana rahasia besarnya ini bisa diketahui oleh orang lain.

Dari malu akhirnya dia menjadi gusar, dan dari gusar akhirnya jadi kalap. Thian che kaucu berteriak dengan suara bagaikan guntur. "Bajingan cilik, hari ini kau harus mampus ditanganku"

Sepasang telapak tangannya tiba tiba di dorong kedepan, yang satu segera berobah warna tadi putih seperti pualam sedangkan telapak tangan yang lain berubah jadi hitam pekat.

Han siong Kie sendiripun agak terkejut ketika dilihatnya pihak lawan sudah mengeluarkan ilmunya yang maha dahsyat itu.

"Haaah? Dia sudah gunakan ilmu Han goan sin khi ?"

pikirnya dalam hati.

Tentu saja anak muda itu tak berani gegabah, diam diam hawa si mi sinkangnya juga disalurkan hingga mencapai pada puncaknya.

Sekarang kedua belah pihak telah sama sama mengeluarkan ilmu simpanannya yang disertai dengan tenaga dahsyat itu, berarti suatu pertarungan antara mati dan hiduppun tak dapat dihindari lagi.

Akhirnya gulungan hawa merah dan gulungan hawa putih itu meluncur kedepan dan membentur satu dengan lainnya

.........

Suatu ledakkan dahsyat yang memekikan telinga berkumandang ditengah udara dan mencabik-cabik kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu, dahsyatnya benturan itu sampai pepohonan yang berada didekatnya ikut bergetar dan bergoncang keras, pasir dan debu beterbangan diangkasa, wilayah seluas lima kaki dari tempat itu jadi gelap gulita sukar melihat kelima jari tangan sendiri

Pertarungan ini boleh dibilang merupakan pertarungan paling seru yang belum tentu bisa dijumpai dalam ratusan tahun belakangan ini.

Ketika debu dan pasir sudah mereda kembali, jarak kedua orang musuh bebuyutan itu sudah di tarik sampai selisih empat kaki.

Paras muka Han siong Kie yang tampan berubah jadi pucat pias seperti mayat, sedangkan keadaan Than che kaucu meski tak dapat diketahui namun dari dadanya yang naik turun seperti orang tersengkal, dapat diketahui bahwa keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan sianak muda itu.

Pada saat itulah si utusan khusus tadi sudah berjalan mendekati Thian che kaucu seraya berkata:

"Lapor kaucu, mayat itu sadah digeledah dengan seksama, barangnya tidak ditemukan".

"Ehmm, kau boleh mengundurkan diri"

Si Utusan khusus itu mengiakan dan segera mengundurkan diri sejauh beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Menyaksikan kesemuanya itu, satu ingatan lantas terlintas dalam benak Han siong-Kie, dia segera berpikir:

"sekarang tahulah aku, rupanya persoalan ini terletak pada bungkusan kecil yang telah kuambil tadi""

Setelah kedua belah pihak saling berhadapan tanpa melakukan suatu tindakan, akhirnya mereka mulai maju lagi kedepan selangkah demi selangkah kemudian setelah kedua belah pihak saling mendekat tiba tiba mereka saling menyerang lagi dengan gencar dan hebatnya, ternyata kedua orang itu sudah mulai melangsungkan pertarungan jarak dekat yang jauh lebih seru dari pertarungan yang pertama tadi. Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bertarung dua puluh gebrakan lebih, rupanya dalam kesempurnaan jurus serangan, posisi Thian che kaucu lebih unggul setengah tingkat.

Sejak mengetahui kalau Thio sau kun mati di tangan jago jago Thian che kau, rasa benci Han siong Kie kepada musuh bebuyutannya itu sudah lebih mendalam beberapa tingkat, maka dalam melepaskan seranganpun ia tidak kepalang tanggung, semua serangan dan ancaman ditujukan pada bagian mematikan ditubuh lawan.

Karena itu tiga puluh gebrakan kemudian, ia telah berhasil memaksa Thian che kaucu lebih banyak mempertahankan diri daripada melakukan penyerangan, keadaan jadi keteter dan setiap saat terancam bahaya maut, kendati begitu, untuk menentukan siapa menang siapa kalah, paling sedikit mereka harus bertarung tiga ratus gebrakan lagi.

Ditengah berlangsungnya pertarungan yang amat seru itu, tiba tiba terdengar ujung baju tersampok udara berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang turun kedalam arena pertarungan.

Atas kehadiran dua orang jago yang tak diundang itu, serta merta baik Han siong Kie maupun Thian che kaucu sama sama menghentikan pertarungannya dan berpaling kearah samping.

Ternyata dua orang yang baru datang itu adalah sepasang muda mudi yang masih muda, tapi wajah mereka tampan dan cantik jelita, bak sepasang malaikat dari kahyangan.

Cukup dalam sekilas pandangan saja, Han siong Kie sudah mengenali siapakah muda-mudi yang baru datang itu, benar mereka tak lain adalah Hek Pek siang yau yang telah berhasil memulihkan kembali paras muka asli mereka, seng Khe ki dan Hong Ing ing. Setibanya dihadapan Han siong Kie, kedua orang itu segera jatuhkan diri berlutut sambil berkata:

"Tecu berdua datang mengunjungi ciangbanjin. semoga selama ini ciangbunjin berada dalam keadaan sehat walafiat".

"Tak usah banyak adat, silahkan bangun" "Terima kasih atas kemurahan ciang-bunjin"

"Eeeh bukankah kalian berdua bertugas didalam istana?

Mau apa datang kedaratan Tionggoan ?" tegur Han siong

Kie dengan wajah tercengang dan tak habis mengerti.

Dengan suara lirih siluman hitam seng Keh ki lantas menjawab

"Hasil rapat dari para goan lo yang diadakan dalam istana memutuskan bahwa tecu suami istri berdua diwajibkan datang kedaratan Tionggoan untuk membantu ciangbunjin, selain itu membawa serta pula "

"Aku sudah tahu apa yang kalian maksudkan, sekarang boleh segera mengundurkan diri lebih dahulu" tukas anak muda itu sambil mengulapkan tangannya. Dengan sikap yang amat hormat Hek pek siang yau mengundurkan diri dari situ.

Mimpipun Thian che kaucu Yu Pia lam tak menyangka kalau sepasang muda mudi yang berada dihadapannya sekarang bukan lain adalah Hek pek siang yau sepasang manusia aneh yang sudah menggetarkan namanya semenjak puluhan tahun berselang, kalau tidak mungkin sejak tadi dia sudah ngeloyor pergi dari situ.

Han siong Kie mendengus dingin, ia tak sudi memberi waktu yang cukup bagi musuhnya untuk menghimpun kembali tenaganya, begitu kedua orang mengundurkan diri, serentak ia menerjang lagi kedepan, sepasang tangannya kontan melancarkan serangan yang bertubi tubi keatas tubuh Thian che kaucu. Dalam waktu singkat pertarungan sengitpun kembali berkobar. Hek pek siang yau saling bepandangan sekejap suruh mereka menganggur tanpa pekerjaan tentu saja sangat menjemukan mereka berdua, maka tanpa banyak bicara lagi kedua orang itu langsung menerjang kearah utusan khusus Thian che kau yang berdiri beberapa kaki jauhnya dari arena itu, kemudian menyerangnya secara gencar.

Ketika merasa diserang oleh dua orang muda-mudi yang tak dikenal, tentu saja si utusan khusus itu sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap musuhnya, malahan diam diam ia memaki didalam hati:

"Bangsat yang tak tahu diri, rupanya kalian sudah bosan hidup,"

Yaa, siapa yang menyangka. sepasang siluman hitam putih adalah sepasang muda mudi yang tampan dan cantik? Andai kata kedua orang itu tidak pernah makan Bak ci berusia seribu tahun yang sangat mujarab, mungkin pada saat ini usia mereka berdua sadah mencapai tujuh puluh tahunan.

Dua orang itu menyerang datang dari kiri dan kanan, serangan serangan yang maha dahsyat itu semuanya tertuju keatas tubuh utusan khusus itu

"Bangsat" teriak siluman hitam dengan dingin "kalau engkau sanggul menerima tiga buah pukulanku, ku ampuni selembar jiwa anjingmu untuk hari ini"

"Heehhh.... heeehhh... heeehhh... bajingan, hakekatnya kau sendirilah yang sudah bosan hidup," teriak utusan khusus itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Baik kalau kau tidak percaya ayoh menyeranglah lebih dulu" seru siluman hitam dengan dahi berkerut.

Dari mana utusan khusus itu tahu kalau musuhnya lihay? sambil membentak gusar sepasang telapak tangannya segera direntang kan dan sekaligus menyerang kekiri dan keka nan, jurus serangannya aneh, sakti dan ganas, sukar ditemui tandigannya dikolong langit.

Sayang musuh yang dihadapinya adalah gembong iblis yang sudah tersohor namanya semenjak puluhan tahun berselang, sekalipun serangannya lihay juga tak ada gunanya.

Siluman putih dan siluman hitam masing masing melancarkan sebuah pukulan dahsyat, bukan saja dengan sangat mudah berhasil memunahkan ancaman yang tertuju ketubuh mereka, bahkan ke dua orang itu berhasil pula mendesak lawannya sehingga harus mundur lima depa ke belakang.

Bergidik hati si utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu setelah mengetahui kelihayan musuhnya, sekarang dia baru mengerti bahwa ia telah menilai musuhnya terlalu rendah.

"Haaahhh.... haaahh haaahh kunyuk, serangan tersebut

adalah serangan kami yang pertama" seru siluman hitam sambil tertawa seram, "nah.. sekarang terimalah serangan kami yang kedua"

Sambil membentak. kedua orang siluman itu masing masing melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan-

Si Utusan khusus dari Thian che kau itu sama sekali tidak sempat untuk melakukan balasan, cepat cepat dia melompat keudara dan melayang mundur delapan depa kebelakang.

"Sekarang adalah serangan kami yang ketiga dan engkau bakal mampus dalam serangan kami ini" kembali siluman hitam berseru sambil menyeringai seram.

Bayangan manusia terasa berkelebat lewat, tahu-tahu suatu jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok mayat yang penuh beriepotan darah teriempar ke belakang dan tak berkutik lagi di atas tanah. Thian che kaucu sangat terperanjat mendengar jeritan ngeri itu, dia tahu kembali anak buahnya menjadi korban ditangan lawan, oleh karena pikirannya bercabang, perlawananpun ikut menjadi kendor.

"Blaaang..." Han siong Kie segera manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, dia menerjang kedepan sambil menyodok dada lawan, karena tak menyangka serangan tersebut bersarang telak diatas dada lawan.

Yu Pia lam mendengus tertahan, dengan cekatan dia melompat keluar dari arena pertarungan, tapi setelah memandang kesekeliling tempat itu, hatinya jadi bergeridik dan peluh dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya, ia tak berani berdiam terialu lama lagi disitu, segera serunya:

"Manusia muka dingin, sampai jumpa lagi lain kesempatan " tanpa banyak bicara dia segera berkelebat

dari situ dan kabur terbirit birit ....

Sambil menahan rasa geram dalam hatinya, Han siong Kie mengawasi bayangan punggung Yu Pia lam yang menjauh itu tanpa berkedip. lalu teriaknya keras keras:

"Yu Pia lam ingat baik baik perkataanku ini suatu ketika aku pasti akan berkunjung lagi ke lian huan tan mu itu"

Menanti bayangan musuhnya lenyap tak berbekas, dia baru menghampiri kembali mayat Thio sau kun dan membopongnya, lalu pelan-pelan berjalan menuju kesebuah bukit kecil tak jauh dari situ..

Hek pek siang yau membungkam dalam seribu bahasa, mereka hanya mengikuti dibelakang ketuanya.

Akhirnya pemuda itu berhenti disuatu tempat yang indah pemandangannya, sambil meletakan jenazah Thio sau kun keatas tanah, ujarnya: "Galilah sebuah liang disitu" Dua orang siluman hitam dan putih tidak banyak bicara, mereka segera bekerja membuat sebuah liang ditempat yang ditunjuk, tak lama kemudian liang lahat itupun sudah siap.

Diiringi cucuran air mata yang amat deras, Han siong Kie mengebumikan putra tunggal dari paman gurunya disitu, kemudian diapun membuat sebuah batu nisan sebagai peringatan.

Selesai upacara, anak muda itu baru berpaling kearah sepasang siluman itu sambil katanya:

"sekarang aku sedang mempunyai tugas penting yang harus segera dikerjakan, untuk sementara waktu simpaniah kitab pusaka Tay boan yopit kip itu baik baik, dikemudian hari kitab tersebut akan kuhantar sendiri kekuil siau lim si. sekarang kalian boleh berangkat kebukit si sin gan dan tunggu aku disitu, disana sudah menunggu pula dua orang perempuan, satu diantaranya terluka parah dan menunggu pengobatan, katakan saja kepada perempuan yang satunya bahwa kalian datang kesitu atas perintahku, soal lain tak usah di bicarakan dengannya, mengerti? Nah, kalian boleh segera berangkat"

"Tecu suami istri berdua sangat berharap dapat selalu mengiringi disamping ciangbunjin" ujar siluman putih Hong Ing ing dengan wajah bersungguh-sungguh. Han siong Kie mengangguk.

"Ketahuilah, tugas yang harus kulaksanakan sekarang adalah suatu tugas istimewa, dalam melaksanakan tugas tersebut tak perlu kalian berdua mengiringinya, maka lebih baik kalian tunggu aku di bukit si sin gan saja, disana ketua Pat gipang yang baru Go siau bi sedang menunggu pengobatan dariku dan kalian harus ingat bahwa nona itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan aku dewasa ini keadaannya lemah dan butuh perlindungan dari kalian, tunggu saja disana, dalam lima hari aku pasti sudah tiba disana" Tentu saja kedua orang siluman itu tak dapat memaksakan keinginan mereka lebih jauh, setelah ciangbunjinnya berkata demikian mereka tak berani membantah lagi, selesai memberi hormat berangkatlah kedua orang itu menuju kebukit sin si gan-

Han siong Kie sendiri berdiri sejenak lagi didepan kuburan Thio sau kun untuk mengheningkan ciptanya, kemudian ia baru berangkat tinggalkan tempat itu menuju kebukit Ciong san.

Sekarang batas waktu yang tersedia baginya sudah makin menipis, itu berarti dalam dua hari mendatang, obat si mia kim wan yang mustajab itu harus sudah didapatkan, dengan begitu dia baru dapat memburu batas waktunya yang cuma tujuh hari itu untuk tiba kembali dibukit sin si gan dan menyelamatkan jiwa Go siau bi.

Tentu saja dalam keadaan seperti dia tak sempat berbuat apa apa lagi kecuali melanjutkan perjalanan secepat cepatnya, bahkan iapun tak sempat memeriksa isi bungkusan yang diserahkan Thio sau kun kepadanya sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Anak muda itu melanjutkan perjalanannya siang malam tak kenal lelah, akhirnya setelah bersusah sekian lama waktu lohor hari yang ketiga Han siong Kie sudah berada dibawah bukit Ciong san.

Tampaklah bukit yang tinggi dan berlapiskan salju tebal itu menjulang tinggi keangkasa, dari jauh memandang terasalah begitu angker dan mengerikannya tanah perbukitan tersebut.

Udara diatas bukit sangat dingin serasa merasuk ke tulang sumsum, tapi ke semuanya itu bukan halangan bagi Han siong Kie untuk melanjutkan perjalanannya, ia berlari kencang diatas permukaan salju yang tebaL...

Dihitung mulai hari itu, maka dia tinggal mempunyai waktu selama tiga hari, didalam hari yang terakhir ini bukan saja dia harus temukan sin ciu it cho dan mendapatkan obat mustika si mia kim wan, bahkan diapun harus melakukan perjalanan cepat untuk kembali lagi kebukit si sin gan, kalau tidak maka Go siau bi akan menghembuskan napasnya yang penghabisan tanpa tertolong lagi.

Menurut keterangan Buyung Thay, katanya sijelek dari sin ciu itu berdiam digua salju diatas bukit Ciong san, itu berarti gua salju tersebut tentulah berada diantara tanah perbukitan bersalju yang sangat luas itu ....

setiap tempat yang mencurigakan diatas bukit telah diperiksa dan diteliti dengan seksama, namun hasilnya nihil, ia tak berhasil menemukan jejak apapun tentang gua salju tersebut.

Padahal sebagaimana diketahui bukit Ciong san panjangnya mencapai ratusan li, belum tentu ia dapat memeriksa setiap sudut bukit yang mencurigakan dalam jangka waktu satu hari setengah, dus berarti dengan waktu yang begitu minim tidak mungkin bagi anak muda itu untuk meneliti seluruh tempat dibukit salju, sebab jika batas waktunya sudah lewat, kendatipan obat mustika si mia kim wan berhasil didapatpun sama sekali tak ada harganya lagi..

Cemas, gelisah dan bimbang berkecamuk dalam perasaannya, ini membaat anak muda itu jadi panik, dalam suatu batas waktu yang tertentu, harus menemukan seorang jago persilatan yang sukar ditemukan jejaknya, kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang sulit untuk dilaksanakan.

Han siong Ki bukan orang yang pesimis, tapi dia sendiripun mengerti bahwa kesuksesan dari tugas nyakali ini mempunyai harapan yang kecil sekali, sekalipun demikian ia tak dapat membuang kesempatan yang amat minim itu dengan begitu saja, ia tak tega membiarkan calon istrinya Go siau bi mati tanpa ditolong. -ooo0dw0ooo-

BAB 89

SEMENTARA Han siong Kie sedang gugup dan panik tak tahu apa yang musti dilakukan, tiba tiba terdengar suara gemuruh yang keras sekali berkumandang datang dari kejauhan.

suara itu seakan akan muncul dari dasar perut bumi, tapi suaranya makin lama semakin keras, dan akhirnya bagaikan seribu guntur yang menggelegar bersama diangkasa, menyusul kemudian seluruh permukaan salju ikut bergoncang keras.

Rasa kejut yang dialami Han siong Kie benar-benar tat terkirakan, ia merasa seluruh permukaan salju telah bergoncang bagaikan dilanda gempa bumi dahsyat, kabut putih menguap keudara, suara gemuruh yang memekikkan telinga makin keras menggelegar diangkasa. 

"Longsor salju.." pekik Han siong Kie dengan terkejut, tubuhnya capat cepat melejit ke udara dan meluncur kemuka.

Baru saja badannya meluncur kedepan, permukaan salju bekas tempat berpijaknya tadi dengan cepat telah longsor kebawah.

Seluruh tanah perbukitan itu bergoncang makin keras, seakan akan hari kiamat menjelang tiba, dalam keadaan begini sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihaypun percuma, sebab bukan faktor kepandaian yang bisa selamatkan jiwanya, dalam keadaan begini hanya faktor keberuntungan saja yang berlaku.

Han siong Kie merasa dirinya bagaikan seekor binatang kecil yang berada dalam kurungan yang besar, dia cuma bisa melompat kesana kemari secara membabi buta. Salju yang melapisi permukaan bukit kini sudah longsor semua kedalam jurang, permukaan yang semula sama sekali telah berubah sehingga sulitlah bagi siapapun untuk mengenali kembali daerah daerah disekitar sana, apa lagi menemukan tempat yang rasanya aman. 

Mengikuti longsornya permukaan salju, dengan cepatnya pula bukit Ciong san mengalami perubahan yang drastis.

Kurang lebih setengah jam kemudian longsoran salju yang mengerikan itu mulai meredah dan akhirnya berhenti.

Han siong Kie menarik napas panjang, ia bersyukur karena jiwanya tak sampai direnggut oleh malaikat elmaut.

Setelah kerak salju yang menyelimuti permukaan bukit itu longsor semua, kini banyak tempat yang berubah sama sekali dari keadaan sebelum longsor tadi.

Diatas dinding batu karang tepat dihadapan Han siong Kie berada, sekarang muncul sebuah mulut gua yang gelap. menyaksikan hal ini pemuda tersebut segera merasakan hatinya bergerak.

"Jangan-jangan gua itulah yang dinamakan gua salju?" pikirnya dalam hati.

Sejak naik ke atas bukit tersebut, tak sebuah gua pun yang berhasil ditemukan Han siong Kie, mungkin andaikata tidak terjadi longsor salju, mulut guapun tak akan muncul, itu berarti sekalipun dicari sepanjang abad juga tak akan ditemukan.

Berpikir sampai disitu, tanpa ragu ragu lagi dia meluncar kedepan dan mendekati mulut gua tersebut.

Gua itu letaknya berada diatas dinding tebing, kurang lebih empat puluh kaki dari permukaan tanah, sekalipunjauh diatas letaknya, namun bukan halangan bagi Han siong Ki untuk mencapainya, dalam tiga kali lompatan dia telah berhasil mencapai mulut gua tersebut, tapi sesaat sebelum masuk menerobos masuk kedalam gua tali, tiba. tiba pemuda itu merasa agak sangsi.

"Benarkah ini adalah gua salju yang dicari?"

"Benarkah si Jelek dari sin chiu berdiam dalam gua ini?" "Bersediakah dia menghadiahkan pil si mia kim-wan

tersebut kepadanya?"

Menurut Buyung Tay siJelek dari sin ciu itu seorang yang aneh sekali wataknya, sampai taraf yang bagaimana keanehan dari tabiatnya itu?

Sementara serangkaian pertanyaan berkecamuk dalam benaknya pemuda itu berpikir lebih jauh:

"Yaaa... bagaimana juga nantinya, yang pasti aku datang kemari untuk memohon bantuan orang, sewajarnya kalau kumohon bertemu dengan cara yang sopan juga " Berpikir

demikian, dia lantas berseru kearah gua itu "Boanpwe Han siong Ki mohon bertemu"

Tiga kali sudah ia berteriak. namun kecuali pantulan suara sendiri yang menggema dalam dinding gua, tiada reaksi apa apa yang kedengaran dari dalam gua itu.

Melihat hal ini Han siong Kijadi tercengang dan bimbang mungkinkah gua ini hanya sebuah gua kosong? Tapi kalau toh sudah sampai disini mengapa tidak sekalian selidiki sampai jelas?

Karena berpendapat demikian, maka diapun melangkah masuk kedalam gua tersebut.

Baru saja dia berjalan belasan langkah, pemuda itu sudah mencapai dasar gua tersebut, diam-diam ia menarik napas dingin, ternyata gua itu cuma sebuah gua buntu yang dalamnya tak sampai lima meter, tapi lantaran lorong gua itu berliku-liku maka orang yang berdiri dimulut gua sukar untuk memandang hingga dasar gua tersebut. Tiba tiba semacam benda diatas dinding dasar gua tersebut telah menarik perhatiannya.

Benda itu adalah sebuah lukisan seorang perempuan, panjangnya empat depa dengan lebar dua depa.

Dalam sebuah gua yang kosong ternyata terpampang sebuah lukisan perempuan boleh dibilang peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang aneh dan sama sekali tak masuk di akal.

Dibawah tuntutan rasa ingin tahunya yang meluap. akhirnya ia berjalan kemuka menghampir lukisan tersebut.

Lukisan itu adalah sebuah lukisan seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, meski hanya sebuah lukisan belaka, tapi oleh karena lukisannya sangat hidup maka lukisan tersebut mendatangkan suatu daya pikat yang luar biasa besarnya ini menunjukan bahwa pelukisnya adalah seorang seniman tingkat tinggi.

Lukisan tadi digantUng diatas selembar batu granit yang berwarna putih, dan batu tadi menempel diatas dinding batu karang.

Sudah tentu kejadian ini bukan suatu kejadian yang kebetulan saja, namun Han siong Ki tidak dapat menemukan dimana letak keanehan dari persoalan tersebut. Gua yang kosong... Lukisan gadis cantik,.. suatu kejadian aneh yang tak masuk diakal.

Sementara Han siong Ki masih memandangi lukisan gadis cantik itu dengan termangu, tiba tiba terdengar serentetan suara yang sangat dingin berkumandang dari arah belakang:

"Bocah, perhitungan kali ini meleset jauh sekali"

Han siong Kie amat terperanjat sekali, secepat kilat dia memutar badannya, ternyata disitu tak nampak sesosok bayangan manusiapun, kenyataan ini membuat hatinya keheranan, sebab ia yakin tenaga lwekang yang dimilikinya sekarang sudah cukup sempurna, namun toh gagal menemukan jejak orang yang berbicara barusan, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu luar biasa sempurnanya.

"Heeehh.... heeehh.... heeehh " kembali berkumandang

suara tertawa aneh menusuk pendengaran.

Berdirilah semua bulu kuduk Han siong Kie menghadapi kejadian ini, padahal waktu itu dia berdiri menghadap kemulut gua dengan membelakangi dinding karang tersebut, lalu darimanakah munculnya suara itu?

Tapi ada satu hal yang dapat ia yakini, yaitu suara tersebut sudah pasti adalah suara seorang perempuan.

"Heeehh... heeehh... heeehhh bocah muda, sekarang

engkau boleh memilih salah satu jalan untuk menemui kematianmu" kembali suara yang menggidikan hati itu berkumandang dalam ruang gua.

Tapi kali ini, Han siong Kie dapat mendengar dengan jelas suara itu berasal dari arah belakang. pelan-pelan dia memutar badannya dan memeriksa sekitar dinding karang itu dengan sinar mata setajam sembilu, sekarang dia yakin bahwa dibalik dinding karang yang tergantung lukisan gadis cantik itu sebenarnya terdapat gua lain, dan kunci untuk membuka gua tersebut justru letaknya ada di atas lukisan tadi.

"Saudara, apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti " serunya kemudian dengan ketus.

"Bocah busuk.. tak ada gunanya kau mungkir, hari ini raja akhirat telah mengumumkan bahwa saat kematianmu telah tiba" ejek orang itu dengan suara yang makin menyeramkan.

Mendengar perkataan itu, berkobarlah hawa amarah Han siong Kie didalam hati, ia mendengus. "Eeeh saudara, apakah kau takut berjumpa dengan

orang? Buat apa kau musti main sembunyi macam cucu kura kura saja?" bentaknya dengan suara keras.

"Hmmm Kalau engkau berani berkentut setengahnya saja, sekarang juga nyawamu akan kucabut."

Heeehhh.... heeehhh.... heeehhhh kau anggap mampu

melakukan hal itu atas diriku"

"Kalau tidak percaya, silahkan saja mencoba sendiri"

Pada saat itulah tiba tiba dari mulut gua berkumandang suara tertawa dingin yang mengidikan hati.

Menyusul menggemanya suara tertawa itu, sesosok makhluk aneh yang penuh bulu panjang masuk ke dalam mulut gua itu.

Han siong kie merasa terkejut sekali menyaksikan kemunculan makhluk aneh itu, dia adalah seorang manusia yang bercambang lebat, jubah kulitnya berbulu lebat dengan seutas tali terikat dipinggangnya, sekilas pandangan orang hanya melihat bulu putihnya saju yang panjang-panjang.

Agaknya manusia aneh itupun merasa agak tercengang melihat kehadiran Han siong kie disitu, ia berhenti dengan wajah tertegun, setelah mengamati pemuda itu beberapa saat lamanya gumannya seorang diri.

"Aneh benar benar aneh, rupanya si nenek jelek itu

sudah menerima seorang bocah muda sebagai muridnya "

Ketika mendengar disinggungnya soal "si nenek jelek", Han siong Kie merasa hatinya tergerak, dia tahu orang yang dimaksudkan manusia aneh itu pastilah pemilik gua ini, dan kemungkinan besar perempuan yang mengejek dirinya tanpa munculkan dirinya tadi tak lain adalah sijelek dari Sin ciu yang sedang dicari, semangatnya langsung berkobar kembali... "Eeeh, bocah muda, apa hubunganmu dengan si nenek jelek itu?" terdengar kakek aneh itu menegur dengan suara yang menyeramkan-

"Si nenek jelek ? Siapa yang kau maksudkan?" "

"Aaaah kau si bocah kunyuk tak usah beriagak pilon lagi

dihadapanku, ayoh jawab saja terus terang" "Sebutkan dulu siapa Nenek Jelek itu?"

"Heeeh heeeh heeeeh bocah keparat, kau suruh aku si orang tua menyebut namaku??"

"Benar"

"Hmmm Dengarkan baik baik aku si orang tua adalah

Pak kek lojin (orang tua dari kutub utara)" "Si orang tua dari kutub utara??" "Benar"

"Baru pertama kali ini kudengar nama se aneh itu" gumam Han siong Ki keheranan.

"Bagus, bocah bangsat, kau berani mengejek aku?" tiba tiba kakek aneh itu menjadi berang, "ayoh katakan, apa hubunganmu dengan si nenek jelek itu?"

"siapa yang kau maksudkan si nenek jelek?"

"Monyet, aku segan bersilat lidah terus dengan kau, suruh si jelek dari sin chiu menggelinding keluar"

Han siong Ki merasa jantungnya berdebar keras, ternyata apa yang diduganya semula sedikitpun tak salah, pemilik gua ini tak lain tak bukan adalah si jelek dari sin chiu, itulah yang dinamakan susah susah dicari hingga sepatu rusak, akhirnya didapatkan dengan tanpa sengaja.

"Tapi gua itu panjangnya cuma lima kaki, kecuali diri

sendiri dan kakek aneh yang tak diundang, hanya sebuah lukisan gadis cantik yang tergantung diatas batu granit tersebut, satu satunya penjelasan yang bisa masuk diakal adalah di balik gua itu masih ada gua lain, dan ditinjau dari gaya bicara manusia misterius, kemungkinan besar orang itu adalah sijelek dari sin chiu yang berada dibalik dinding gua itu. Tapi apa maksud kedatangan si orang tua dari kutub utara

ini? Karena ragu ragu dan ingin tahu, dia lantas menegur:

"Mau apa engkau datang kemari? Mau menuntut balas ataukah membayar budi. ?"

"Bocah busuk. buat apa kau cerewet melulu?" bukan menjawab kakek dari kutub utara itu malah membentak dengan mata melotot.

"Lalu ada urusan apa kau datang kemari sambil marah marah dengan muka bengis?"

"Tutup mulut busukmu itu kunyuk." teriak kakek aneh itu semakin marah, "kau tidak punya hak untuk berbicara dengan aku, mengerti?"

"Kalau begitu, aku harap engkau segera tinggalkan tempat ini dan jangan kembali lagi" usir Han siong Kie sambil memberi tanda agar orang itu keluar dari situ.

"Apa? Kau mengusir aku?"

"Tutup bacotmu dan segera enyah dari dalam gua ini" "Bagus ....bagus. keparat busuk, apabila aku tidak

memandang diatas wajah si nenek jelek itu, sekarang juga akan kubunuh nyawamu, mengerti?"

"Aku tak sudi menerima kebaikanmu itu"

Sekalipun diluaran Han siong Kie menjawab demikian, dalam hati kecilnya diam diam merasa keheranan, apa sebenarnya hubungan antara kakek dari kutub utara dengan sijelek dari sin chiu? Kalau dilihat dari tingkah lakunya, sudah pasti dia bukan datang dengan membawa maksud jelek tapi mengapa mukanya bengis dan kelihatan ganteng sekali

”Hmmm! Bocah busuk. aku si orang tua paling tidak percaya dengan segala macam tahayul, baik engkau ngotot hendak mengusir aku keluar dari sini, terpaksa akan kulihat sampai dimanakah kepandaian silat yang telah diwariskan sijelek itu kepadamu, lihat serangan"

Sambil mendengus dingin, sebuah pukulan segera dilontarkan keatas tubuh Han siong Kie, bukan saja serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, bahkan datangnya sangat aneh dan sama sekali diluar dugaan siapapun jua.

Han siong Kie tak berani melayani secara gegabah.. dengan cepat dia menyingkir ke samping dengan gerakan cahaya kilat lintasan banyangan, lalu dengan jurus raja iblis menyembah loteng istana, dia melancarkan pula sebuah serangan balasan.

"Tahan " tiba tiba si kakek dari kutub utara itu berteriak

sambil mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

"Ada urusan apa lagi yang hendak kau tanyakan?" seru sianak muda itu.

"Engkau bukan muridnya sinenek jelek itu"

"Memangnya aku belum pernah mengaku kalau aku adalah muridnya, kan kau sendiri yang menebak sendiri?"

"Lalu siapakah kau?"

"Han siong Kie, ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian lam "

Mendengar nama itu, dengan cepat si kakek dari kutub utara melayang mundur beberapa langkah kebelakang, wajahnya menunjukkan rasa kaget dan kejutnya yang bukan kepalang. "Apa ? jadi kau adalah ketua dari perguruan Thian lam-

bun ?" ulang si kakek agak gemetar.

"Benar, kenapa?" sikap Han siong Ki masih tetap tenang dan kalem seperti sedia kala.

"Ada urutan apa kau datang kemari?"

"Maaf, aku tak dapat mengatakannya kepadamu, lebih baik kau saja yang terangkan dulu maksud kedatanganmu kemari"

"Tentang soal ini akupun tak dapat memberitahUkan

rahasiaku ini kepadamu"

"Jikalau begitu keadaan kita adalah sama sama dan kau tak usah bertanya apa apa kepadaku, sedangkan akupun tak akan menanyakan apa apa kepadamu, setuju"

"Tidak... Tidak bisa " kakek aneh itu goyangkan

tangannya berulang kali. "Kenapa tidak bisa?"

"sebab aku berhak untuk menanyai maksud kedatanganmu"

"Apa yang kau jadikan dasar serta pegangan untuk bertanya kepadaku?"

"Pegangan? Aku dasarkan atas hubunganku dengan si nenek jelek itu, kenapa?"

"Terangkan dulu apa hubunganmu dengannya?" "Tentang soal ini. kau tak usah bertanya"

"Kalau memang begitu, terpaksa urusan pribadiku tak usah pula kau campuri, mengerti?"

Untuk sesaat si kakek dari kutub utara itu agak tertegun, tiba tiba ia membentak keras:

"Bocah keparat, kuperintahkan kepadamu untuk segera enyah dari tempat ini" "Kalau aku tak pergi, apa yang kau perbuat?"jengek Han siong Ki sinis.

"Jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji kepadamu" "Huuh Ilmu silatmu itu yang kau andalkan untuk mengusir

aku dari sini? Aku khawatir kalau kau sudah membuat suatu perhitungan yang salah besar"

"Jadi kau tidak percaya? Kalau begitu ayoh buktikan sendiri. " begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya

segera didorong kedepan melancarkan serangan dahsyat.

Han siong Kie tak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain, diapun mengankat telapak tangannya dan pelan-pelan didorong kedepan, segulung kabut putih yang amat tebal seketika itu juga memancar kearah depan.

"Blaaang " suatu benturan keras yang memekikkan

telinga segera berkumandang dalam ruangan gua itu, membuat seluruh permukaan tanah diseputar ruang gua itu tergoncang keras, hancuran batu berguguran bagaikan hujan gerimis, keadaan mengerikan hati.

Han siong Kie masih tetap herdiri tegak di tempat semula, sebaliknya si kakek dari kutub utara mundur lima langkah dengan sempoyongan, dengan mundurnya ini maka dia sudah berdiri ditepi mulut gua itu, dalam keadaan begini asal Han siong Kie melancarkan sebuah serangan lagi, niscaya kakek itu berhasil digulungnya sehingga keluar dari tempat itu.

Semua rambut dan cambang kakek dari kutub utara berdiri kaku seperti landak, sinar matanya memancarkan cahaya ketakutan, mimpipun dia tak menyangka kalau seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan ternyata memiliki tenaga dalam yang luar biasa sekali.

Mendadak dari balik gua itu berkumandang kembali

suara aneh yang pernah didengarnya tadi: "Eeeh bocah muda, ada urusan apa engkau datang

kedalam guaku ini. ?"

"Aku datang untuk menjumpai seorang pemuka persilatan yang tersohor namanya dalam dunia kangouw" jawab Han siong Kie dengan sikap yang sangat menghormati.

"siapakah yang kau maksudkan?"

"Jikalau dugaan boanpwe tidak salah, maka cianpwelah orang yang hendak kutemui itu"

"Tahukah engkau siapa kah diriku ini" suara itu balik bertanya.

"Akupikir cianpwe tak lain tak bukan adalah sijelek dari sin chiu, bukankah begitu?" seraya berkata dengan sinar matanya yang setajam sembilu anak muda itu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, dia berusaha untuk menemukan sumber dari suara tadi.

Setelah mencarinya dengan susah payah, akhirnya sianak muda itu berhasil menemukan rahasia dibalik semua kemisteriusan yang mencekam disekitar tempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi. Rupanya sepasang mata dari lukisan gadis cantik yang tergantung diatas dinding dapat bergerak kesana kemari dengan bebasnya, lagi pula sinar mata itu memancarkan cahaya yang tajam sekali, ini membuktikan bahwa si pembicara tersebut bersembunyi dibalik lukisan gadis cantik yang tergantung diatas dinding tersebut.

Atau dengan perkataan lain, dibalik batu granit yang keras dan kuat itu, sebenarnya terdapat alat rahasia lain yang bisa digunakan untuk menghubungkan ruang bagian luar dengan ruang bagian dalam.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh bocah muda,

tebakanmu memang tepat sekali " terdengar orang dibalik

lukisan itu berseru dengan lantang. "Kalau toh tebakanku sudah benar, locianpwe dapatkah engkau segera munculkan diri..."

"Heehhhh....heehhh... heehhh kau tak usah terburu

napsu, pertama-tama usirlah dulu setan tua itu dari goa ini, kemudian baru kau utara kan maksud kedatanganmu"

"Baik, aku terima perintah"

Tanpa banyak bicara lagi, Han siong Kie putar badan dan segera bergerak menghampiri Pak kek lejin, si kakek dari kutub utara dengan wajah garang ....

Menyaksikan muka bengis dari sang pemuda yang makin lama semakin mendekatinya itu, kakek dari kutub utara sontak berteriak keras:

"Nenek jelek. sudah lima tahun lamanya aku menderita kedinginan diatas bukit ini, andaikata hari ini tidak terjadi longsor salju, selamanya tak akan kutemukan goa saljumu itu, masakah engkau sudah melupakan sama sekali hubungan kita dimasa lampau? Jelek-jelek begini aku toh suamimu"

Han siong Kie tertegun dan segera menghentikan gerakan tubuhnya, sekarang dia baru tahu bahwa kedua orang itu adalah sepasang suami istri.

Lima tahun sudah si kakek dari kutub utara mencari gua salju ditengah ganasnya cuaca dibukit Ciong-san? Hal ini kedengarannya sukar masuk di akal, lalu apa yang sebenarnya terjadi antara sepasang suami istri yang serba aneh ini?"

Sebelum ingatan tersebut sempat melintas didalam benaknya, sin ciu it cho (sijelek dari kota Tiong ciu) telah berkata dengan suara yang dingin sedingin es, agaknya ia tak terpengaruh sama sekali oleh perkataan itu.

"Bocah muda, kenapa berhenti? Hemmm baik akan

kuhitung sampai angka ke lima, jika engkau masih belum mampu untuk mengusirnya keluar dari sini, lebih baik engkaupun berangkat dan pulang saja ke rumah" Kemudian tanpa menggubris bagaimanakah reaksi dari si anak muda itu, nenek jelek itu mulai menghitung dengan suara lantang. "Satu.... Dua.... Tiga "

Han siong Kie putar otaknya dan berpikir keras, dia merasa pada saat ini ia sangat membutuhkan bantuan dari nenek bertampang jelek ini, selembar nyawa Go siau bi calon istrinya tergantung dari usahanya mendapatkan pil mustika itu.

Setelah dirasakan bahwa tiada jalan lain lagi kecuali menuruti perkataan dari nenek jelek itu, akhirnya Han siong Kie menghela napas panjang, hawa sakti si mi sinkangnya disalurkan memenuhi seluruh telapak tangan, kemudian dengan sebuah pukulan kilat dibacoknya tubuh kakek dari kutub utara itu keras keras.

Gua itu sempit dan ruangannya tidak luas, dalam keadaan demikian tak mungkin lawan bisa berkelit kesamping untuk menghindarkam diri, selain daripada itu si mi sinkang merupakan suatu ilmu sakti jaman kuno yang tak terkalahkan, kelihayannya sungguh mengejutkan siapapun juga, maka bisa dibayangkan bagaimanakah akibatnya tatkala serangan dahsyat itu dilontarkan kedepan.....

"Bocah keparat, kau berani membantu penjahat untuk melakukan pemerasan "jerit kakek dari kutub utara

penasaran.

Tapi sebelum perkataan itu selesai diutarakan keluar, deruan angin pukulan yang memekikkan telinga telah menyambar datang dengan dahsyatnya, dengan sempoyongan kakek itu tergentar mundur beberapa langkah ke belakang, itupun belum sanggup berdiri tegak. maka dia mundur lagi beberapa tindak.

Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, begitu serangan yang pertama berhasil memaksa mundur kakek dari kutub utara, dia segera lancarkan kembali serangan yang kedua, dan kembali kakek itu terdesak mundur kebelakang

.............

Akhirnya dengan pukulan yang ketiga yaa, cukup tiga

kali saja, kakek dari kutub utara telah dipaksa sehingga harus keluar dari mulut gua salju ....

Han-siong Ki cukup mengetahui kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki kakek dari kutub utara, maka sekalipun tubuhnya terlempar keluar dari gua itu, tak nanti dia akan terbanting mati, maka begitu berhasil dengan serangannya, tanpa banyak bicara lagi dia putar badannya untuk masuk kembali kedalam gua.

Siapa tahu baru saja bergerak. seseorang telah membentak dari belakang.

"Jangan bergerak"

Han siong Kie tarik napas dingin, mimpipun tak disangka olehnya kalau sijelek dari kota Tiong ciu telah berdiri tepat dibelakang tubuhnya......

"Katakanlah apa maksudmu datang kemari" suara nenek jelek kembali bergema. Han siong Ki termenung sebentar, kemudian sahutnya:

"Aku hendak mohon sebutir pil si mia kim wan untuk menyelamatkan jiwa seseorang"

"Apa kau bilang? coba ulangi sekali lagi"

"Aku mohon sudilah kiranya locianpwee menghadiahkan sebiji obat si mia- kim wan kepadaku, karena jiwa seorang temanku terancam dan perlu diobati dengan pil itu"

"Haaaahhh.... haaahhh.... haaahh " nenek jelek dari kota

Tiong ciu ini segera terbahak-bahak "bocah.. wahai bocah muda, enak benar kalau ngomong, tahukah engkau bahwa selama hidup aku hanya membuat tiga biji obat si mia kim wan? dan diantara tiga biji obat pil itu, tahukah kamu bahwa dua biji diantaranya telah kupakai? Heeeehhh... heeehhh....heeehhh bocah dungu, bayangkan sendiri,

mungkinkah aku serahkan obat yang tinggal sebiji itu kepadamu?"

Tertegun Han siong Kie mendengar perkataan itu, hatinya dingin separuh, sesaat lamanya dia termangu untuk kemudian bisiknya kembali: "Jadi. jadi locianpwe tak akan memberikan

obat itu kepadaku. ?" "Tentu saja"

Han siong Kie semakin termangu, tapi ingatan lain dengan cepat melintas didalam benaknya:

"Tidak Tidak Bagaimanapun juga jiwa Go siau-bi harus

ditolong, apapun yang bakal terjadi, aku harus mendapatkan obat si mia kim-wan tersebut untuk  menyelamatkan jiwanya "

Berpikir sampai disitu, dengan suara lantang dia berkata kembali:

"Aku bersedia menukar obat itu dengan syarat apapun, terserah kehendak hatimu"

"Dengan syarat apapun?" "Benar"

"sekalipun harus mengorbankan selembar jiwamu sendiri?" nenek jelek itu menegaskan.

"Benar Walaupun dengan taruhan nyawakupun"

"Jadi kau sudah bulatkan tekad untuk mendapatkan obat itu, walau dengan cara apapun dan apapun yang terjadi?"

"Benar Kau sudah tahu itu lebih bagus lagi.."

"Kalau begitu aku ingin tahu, obat itu akan kau gunakan untuk apa?" kembali nenek jelek bertanya. "Aku hendak menyelamatkan jiwa seseorang" "siapakah orang itu? Apa hubungannya orang itu

denganmu?"

"Dia adalah bakal istriku"

Mendengar ucapan tersebut, sinenek jelek dari Tiong ciu segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeehhh... heeeehhh... heeeeehhh... kalau engkau harus korbankan selembar jiwamu... untuk mendapatkan sebutir obat si mia kim wan, lalu apa arti hidup bagi calon istrimu itu kendatipun oleh bantuan obat tersebut dia akan hidup kembali?"

Bergidik hati Han siong Kie, tiba-tiba saja tanpa diketahui apa sebabnya, tahu tahu sekujur badannya menggigil keras, dia mulai berpikir:

"Benarkah dia menghendaki selembar jiwaku sebagai ganti dari obat mustikanya itu?"

Tapi sekarang, dia sudah terlanjur memberikan kesanggupannya, tentu saja disesali juga tak ada gunanya maka dengan suara yang berterus terang pemuda itu berkata lagi

"Arti dan makna dari suatu kehidupan bukanlah ditentukan oleh suatu kematian dari orang lain"

"Jadi kalau begitu, engkau bersedia untuk menukar selembar nyawamu itu dengan obat mustika si mia kim wan?"

"Benar. Cuma saja "

"Kenapa?"

"Oleh karena masih terlalu banyak persoalan yang harus kukerjakan pada saat ini, maka setahun kemudian janji tersebut baru aku penuhi. " "Kalau begitu datanglah setahun lagi, saat engkau dapat memenuhi janjimu itu, pil si mia kim wan pasti akan kuberikan kepadamu"

Mendengar perkataan itu Han siong Kie jadi naik darah, hawa amarahnya yang berkobar didalam dada terasa sukar dikendalikan lagi, dengan suatu gerakan yang sangat cepat dia putar badannya, tapi apa yang kemudian terlihat dihadapan matanya membuat si anak muda ini mau tak mau menjerit saking kagetnya.

Tetapi didepan matanya berdirilah seorang nenek yang sudah tua, tapi tampang nenek itu jeleknya luar biasa, demikian jeleknya tampang nenek itu sehingga menggidikkan hati siapapun yang memandangnya, mungkin jauh lebih jelek dari tampang siluman yang terjelekpun.


DIATAS Wajah sinenek yang penuh keriput, terlihatlah tonjolan-tonjolan daging hidup yang besar, merah kehitam hitaman dan bernanah, panca inderanya sukar ditemukan diatas tonjolan daging hidup yang mengerikan itu, rambutnya telah beruban dan terurai sepanjang dada, hanya sepasang matanya yang tetap utuh dan memancarkan cahaya tajam, mungkin itulah satu-satunya indera yang masih utuh.

Dengan sinar mata yang tajam setajam sembilu nenek jelek dari sin ciu menatap wajah Han siong Kie lekat-lekat, lama....

lama sekali dia baru menegur: "Jelekkah aku wahai bocah muda?"

-ooo0dw0ooo-