Tengkorak Maut Jilid 42

 
Jilid 42

DENGAN perasaan ngeri bercampur takut Thia Wi San melompat mundur sejauh beberapa depa ke belakang, dengan susah payah ia berhasil juga menghindarkan diri dari sergapan maut itu.

Tatkala sinar matanya dialihkan kembali ke tengah arena, tampaklah disitu telah bertambah dengan seorang pemuda tampan berwajah dingin, kaku dan menyeramkan, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh roman mukanya, dia tak lain adalah Han siong Kie.

Selama ini Go siau-bi dapat bertahan terus dengan gigih lantaran dia ditunjang oleh rasa benci, sakit hati dan dendam yang besar, tapi setelah calon suaminya Han-siong Kie muncul di depan mata, ia tak dapat menguasai dirinya lagi, semangatnya langsung menurun secara drastis dan tak ampun lagi badannya roboh terkulai ke tanah.

Han Siong Kie menggeram marah, teriaknya sambil menggigit bibir menahan rasa bencinya yang meluap luap.

"Thia Wi wan, akan kucincang tubuhmu jadi berkeping keping lalu menghancur lumatkan menjadi abu "

Ancaman itu diucapkan dengan napsu membunuh yang amat mengerikan, bikin bulu kuduk orang pada bangun berdiri..

"Haaaaahhh... haaaahhh... haaaahhh " Thia Wi wan

menyeringai dan tertawa seram, " manusia muka dingin, kau anggap kemampuan itu dapat mewujudkan apa yang kau inginkan?"

Han Siong Kie mendengus penuh kemarahan, secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan berantai yang amat dahsyat, kedua buah serangan yang dilepaskan dengan penuh perasaan dendam itu betul betul luar biasa dahsyatnya, angin yang menderu deru serasa memekikkan telinga.

Thia Wi wan memandang sinis musuhnya, ketika serangan dahsyat itu menggulung tiba, serta merta menangkisnya dari kejauhan, sementara utusan khusus yang lainnya menyusup maju pula berbareng ketika anak muda itu melancarkan serangannya, ia maju sambil menyodokkan kepalan tinjunya ke depan, segulung hawa pukulan yang maha dahsyat segera memancar ke depan dan menghantam punggung samping Han Siong Kie.

"Blaaang " suatu benturan keras menggelegar diangkasa,

menyusul seseorang mendengus berat.

Dengan muka pias seperti mayat Thia Wi wan mundur delapan langkah dengan sempoyongan, rupanya ia menderita kerugian yang cukup besar dalam bentrokan itu.

Tapi pada saat yang bersamaan pula Han Siong Kie kena terhantam oleh serangan yang dilancarkan musuh dari arah samping itu, badannya tergoncang keras dan maju satu langkah lebar kedepan.

Meski demikian, utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang melancarkan serangan dari belakangpun tidak memperoleh keuntungan apa apa oleh daya pantulan tenaga si mi sinkang yang terpancar keluar dari tubuh Han Siong Kie itu, dia sendiripun tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih.

Dalam satu gebrakan, dua orang jago lihay dari Thian che kau berhasil digetarkan sampai mundur dengan sempoyongan, kejadian ini dengan cepat membuat suasina jadi gempar, kawanan jago lainnya yang berkeliling diseputar arena sama- sama menjerit lengking saking kagetnya.

Target dari Han-siong-Kie pada saat ini adalah menghancur lumatkan tubuh Thia Wi wan maka selesai dengan serangan yang pertama, ia menerkam jauh lebih kedepan secara beruntun ia le-paskan tiga buah serangan berantai dengan ilmu Mo-mo-ciang-hoat.

Ilmu pukulan Mo-mo-ciang-hoat merupakan ilmu sakti yang khusus dari aliran perguruan Thian lam, sejak Han-siong-Kie berhasil meyakinkan ilmu sakti Si-mi-siakang pukulan pukulan tersebut dapat dimainkan dengan lebih kuat dan bertenaga, tentu saja daya pengaruhnya lipat ganda lebih hebat dari keadaan biasa.

Begitu ketiga jurus serangan itu dilepaskan, jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian, sambil muntah darah kental, Thia-Wi-wan terlempar kebelakang hingga jatuh berjerembab diatas lantai.....

Melihat rekannya terluka, utusan khusus Thian che-kau yang lain segera melompat ke muka sambil melancarkan serangan, secara beruntun ia lepaskan tiga buah pukulan berantai yang kesemuanya tertuju keatas badan Han-siong- Kie.

Diperlakukan secara demikian kasarnya oleh lawan, kemarahan yang meluap dalam tubuh Han-siong-Kie tak terkendalikan lagi, begitu serangan musuh baru lewat, dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan secepat sambaran  kilat ia membentuk gerakan setengah lingkaran busur diudara, dengan gerakan tersebut maka terhindarlah jago itu dari serangan musuh, ia balik menerjang kesamping musuhnya lalu dengan suatu gera kan cepat melancarkan serangan balasan dengan ilmu jari Tong-kim-ci.

Serangan ini bakan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tenaga yang menyertai sodokan itupun tak terkirakan hebatnya.

Jeritan ngeri kembali bergenia memenuhi ruangan, bahu urusan khusus itu tertembus angin serangan itu hingga berlubang, darah segar bagaikan sumber mata air memancar keudara dan membasahi separuh bagian tubuhnya.

Sekarang Han siong Kie dapat melihat jelas tampang musuhnya, ternyata dia tak lain adalah suma Hiong, utusan khusus yang pernah dijumpainya dalam kuil Bu ho si di pantai Pek sui tam tempo hari.

"suma Hiong" segera tegurnya dengan nada ketus: "hari ini nyawamu tak akan lolos dari cengkeramanku lagi"

Utusan khusus Thian che kau, suma Hiong mundur beberapa langkah dengan ketakutan, mukanya jadi pucat pasi malahan badannya agak gemetar, jelas terpapar diatas wajahnya betapa ngeri dan takutnya orang itu menghadapi mara bahaya yang datang mengancam.

Pada saat itulah tiba tiba muncul seorang kakek berbaju hitam yang diam diam menghampiri Go siau bi tanpa menimbulkan sedikit suarapun, telapak tangannya sudah diangkat ke udara siap di ayunkan keatas tubuh sang nona yang tak sadarkan diri itu.

Dalam keadaan begini, tentu saja Han Siong Kie sama sekali tak sempat untuk memperhatikan keselamatan istrinya, tampaknya nona yang manis itu segera akan mati konyol ....

"Bangsat, rupanya kau pingin mampus" mendadak seseorang membentak nyaring.

Menyusul bentakan tersebut, jeritan kesakitan yang memilukan hati berkumandang di udara, tahu tahu kakek itu sudah menggeletak mampus di atas tanah dengan tulang kepala hancur berantakan, isi benak bercampur darah tercecer diatas lantai, sementara disamping Go siau bi tahu tahu sudah bertambah dengan seorang nyonya cantik berbaju merah yang bermuka keren.

Dengan hati terkejut Han Siong Kie berpaling apa yang kemudian terlihat membuat hatinya tercekat, hampir saja dia lupa dengan keadaan Go siau bi, dia lupa kalau mereka masih berada disarang serigala, untung Buyung Thay turun tangan tepat pada saatnya, kalau tidak entahlah bagaimana

akibatnya.

Go siau bi sendiripun dibikin sadar kembali oleh teriakan yang memilukan hati itu, pelan pelan ia buka matanya lalu bangkit berdiri

"Untuk sernentara waktu janganlah bangun dulu adikku" Buyung Thay segera memayang tubuh gadis itu, "paling penting kau musti rawat lukamu dulu, sedang urusan disini. "

"Tidak" Teriak Go siau bi setengah menjerit "aku aku

hendak membalas dendam, aku hendak bunuh "

Keadaan gadis itu banar benar sangat rapuh, apalagi setelah melangsungkan pertarungan yang cukup lama, tenaga dalamnya hampir habis rasa nya, ditambah lagi dengan luka dalamnya yang cukup parah, membuat keadaannya semakin lemah sedikit terdesak emosi kembali darah kental muntah keluar dari mulutnya.

Han-siong Kie kebetulan berpaling kesamping ketika dilihatnya keadaan Go Siau-bi yang begitu lemah, ia sangat marah, matanya merah berapi api dan hampir saja melotot keluar, hawa pembunuhan semakin tebal meiyelimuti arena pertarungan itu.

Selang sesaat kemudian sianak muda itu baru berpaling kearah Buyung Thay, kemudian pesan nya dengan suara dingin:

"Toloug rawatlah nona itu baik baik ! "

Kemudian ia berpaling, ditatapnya Suma Hiong salah seorang utusan khusus Thian-che-kau itu dengan sinar mata yang mengidikkan hati.

Suma Hiong ketakutan, dengan badan menggigil dia mundur dua langkah lagi. "Mau lari kemana kau??" teriak Han-siong Kie dengan gusar.

Baru saja pemuda itu akan maju sambil menyerang, tiba- tiba dari arah samping berkumandang pula suara bentakan keras bagaikan menggelegarnya guntur ditengah udara:

"Manusia muka dingin, kau tak usah tekebur... inilah tandinganmu yang piling pantas!"

Han-siong Kie menyusut mundur selangkah kebelakang, bukannya dia takut, pemuda itu tak ingin bertindak gegabah sehingga merugikan posisinya sendiri.

Seorang kakek tinggi besar yang berikat kepala wama emas melayang masuk kedalam arena pertarungan, orang itu bermata hijau, baik perawakan maupun potongan badannya amat hebat hingga memberi kesan yang cukup menggidikkan hati bagi siapapun yang melihatnya. 

Kebengisan dan kekejaman Han-si-mo-ong sudah banyak diketahui orang, kelihayan ilmu silat nya cukup menggetarkan sukma, banyak orang sudah mengenal kehebatan gembong iblis tua ini, bahkan selamanya dia hanya turun tangan dalam satu jurus saja, dan selalu korbannya mampus dalam jurus itu pula.

Han-siong Kie menjengek dingin, ia tetap berdiri tegak ditempat semula, meski orang lain jera terhadap gembong  iblis itu, ia sama sekali tak takut, malahan kesempatan ini hendak digunakannya untuk meringkus jago lihay itu. Tapi sebelum ia sempat menegur, sesosok bayangan merah sudah melayang masuk kedalam arena, Buyung Tay dengan wajah yang santai tahu-tahu sudah berdiri satu meter dihadapan Hun si mo ong.

"Enyah kau dari sini" bentak Hun si mo ong sambil mendengus dingin. "Enyah dari sini ....? Kenapa aku harus enyah dari sini ?"

ejek perempuan cantik

"Disini tak ada urusanmu, kau boleh segera tinggalkan tempat ini dan menyingkir jauh jauh"

"Heeeehhh.... heeeehhh.... heeeeehhh siapa bilang aku

tak ada urusan disini?"

"Bagus Aku peringatkan dirimu kali ini, jika kau berani turut campur lagi dalam urusan ini, ketahuilah, aku tak akan melepaskan engkau dengan begitu saja"

"Huuh Andaikata aku mati, lantas siapa yang akan membereskan jenasah mu? Bukankah kau telah berkata setelah mati maka jenasahmu ingin di kebumikan disisi kaburan mendiang guruku?"

Begitu ucapan tersebut diucapkan, air muka Hun si mo ong seketika itu juga berubah hebat, ia benar-benar dibuat senyum tak bisa menangispun tidak dapat.

Memang benar, ia pernah mengucapkan kata-kata semacam itu kepada Buyung Thay, dia berharap setelah mati jenasahnya bisa dikubur disisi kekasihnya yang paling dicintai.

...Toh hun sian ci.

Suatu jerit lengking yang memilukan hati berkumandang memenuhi seluruh ruangan, Suma Hiong salah seorang utusan khusus Thian che kau itu sudah dihantam oleh Han Siong Kie sehingga tewas dengan isi perut hancur tak karuan.

Melihat anak buahnya mampus, Hun si mo ong marah sekali, sambil mendengus ia menerjang ke depan dan mengurung tubuh Han Siong Kiee dengan pukulan-pukulan mematikan.

Sementara itu Thia wi Wan telah mendapat kesempatan untuk mengatur pernafasannya, selang sesaat kemudian kekuatannya yang banyak berkurang sudah pulih kembali seperti sedia kala, serta merta ia menerjang kemuka dan menerkam Go siau bi yang terluka parah itu..

Tak terkirakan rasa kaget dan gusar yang dirasakan Buyung Thay setelah menyaksikan peristiwa itu segera bentaknya dengan marah:

”Thia-Wi-wan, kau berani berbuat lancang dihadapanku?“ Sreset ! sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan

kearah musuhnya, sementara tubuhnya ikut puia menerjang kemuka.

Sekalipun tindakan yang dilakukan perempuan iai cukup cepat, tapi toh terlambat setengah langkah juga.

Ketika ia tiba ditempat tujuan, serentetan jeritan lengking telah berkumandang memecahkan kesunyian, Go-Siau-bi sudah terhajar lagi oleh serangan Thia-Wi-wan sehingga tubuhnya mencelat jauh kebelakang.

Pada saat yang bersamaan pula, Thia-Wi-wan terbabat oleh angin pukulan dari Buyung-Thay sehingga tergulung kebelakang dan mundur dengan sempoyongan..

Sementara itu dipihak lain pertarungan antara Han-siong- Kie melawan Han-si-mo-ong telah berlangsung dengan sengitnya, beberapa gebrakan kemudian dapat diketahui bahwa kekuatan mereka ternyata seimbang.

Diam-diam Han-si-mo-ong merasa amat terperanjat setelah terjadinya pertarungan itu, bahkan rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata ia merasa pemuda itu merupakan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, apalagi sebelum kejadian ini belum pernah ada orang yang bisa lolos dari cengkeramannya dalam satu gebrakan belaka, maka keadaan itu membuat kecut hatinya.

Bukan Hun-si-mo-ong saja yang merasa kaget bahkan hampir semua jago lihay perkumpulan Thian-che-kau yang ikut hadir disekitar gelangang pun merasa. kaget dan berdebar hatinya.

Buyung Thay sendiri tak sempat untuk melukai Thia-Wi- wan lebih jauh buru-buru ia menghampiri Go-Siau-bi dan memayangnya bangun, tapi setelah nadinya diperiksa paras mukanya kontan berubah hebat, untuk sesaat dia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan...

Han-siong-Kie diam-diam melirik sekejap kearah Go-Siau-bi yang berada dalam bopongan Buyung-Thay, melihat keadaannya yang mengenaskan itu hampir meledak dadanya karena jengkel bercampur marah...

“Jangan-jangan dia sudah " pemuda itu tak berani

berpikir lebih jauh, ia merasa tubuhnya bergidik hingga sedikit menggigil, hawa napsu membuauhnya semakin berkobar.

"Han-si-mo-ong, lihat serangan" bentakan itu sangat keras dan memekakkan telinga, membuat setiap orang yang hadir dalam ruangan itu merasa telinganya jadi sakit.

Segumpal asap putih mengepul keluar dari batok kepala anak muda itu. dengan menghimpun tenaga sakti Si-mi- sinkangnya mencapai sepuluh bagian ia hantam sekujur badan Han-si-mo-ong sekeras-kerasnya.

"Haah.....??! Si-mi-sinkang, '" jerit Han-si-mo ong dengan

hati terkesiap, cepat dia kerahkan pula segenap tenaganya untuk menangkis tibanya ancaman tersebut.

Suatu benturan yang disusul ledakan dahsyat tak terhiadar lagi, pusaran angin berpusing segera memancar keempat penjuru, oleh daya tolak pukulan tadi Han-siong Kie mundur selangkah kebalakang, sebaliknya Han-si-mo-ong yang tinggi besar mundur dua langkah dengan sempoyong.

Kabut warna putih yang tebal kembali menyelimuti seluruh angkasa, dalam waktu amat singkat Han-siong Kie telah melancarkan kembali serangan nya yang kedua. Tak sempat bagi Hun-si-mo-ong untuk menangkis ancaman maut itu, tergopoh-gopoh dia mundur delapan depa kebelakang.

"Mau lari kemana kau!" bentak anak muda itu dengan geramnya.

Pukulan mautnya yang ketiga telah dilontarkan lagi kedepan.

Karena didesak terus menerus, akhirnya sifat buas Hun-si- mo-ong timbul juga, dia balas membentak:

"Jangan tekebur lebih dulu, lihat saja hasilnya nanti kau yang mampus atau aku yang kabur keakhirat!"

Dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dia lancarkan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Untuk kedua kalinya ruangan gedung itu digetarkan oleh benturan keras yang menggelegar diudara.

Kali ini kedua belah pihak sama-sama terdorong mundur sejauh tiga langkah, paras muka Han siong-Kie pucat pias seperti mayat, sebaliknya Hun si-mo-ong berdiri dengan noda darah kental menghias ujung bibirnya, pertarungan ini sungguh seru dan membetot hati, selama seratus tahun belakangan belum tentu ada pertarungan seseru saat ini.

Sekali lagi Han-siong Kie berpaling kearah Go Siaa-bi yang tak diketahui nasibnya, sambil menggertak gigi dia menghimpun tenaga Si mi sin kangnya mencapai dua belas bagian, mukanya yang pucat kini berubah jadi merah membara.

Hun si mo ong agak keder juga melihat kelihayan musuhnya, ia tahu kepandaian silatnya masih bukan tandingan tawan, tapi sebagai seorang iblis yang disegani orang ia tak sudi mengunjukkan rasa jerihnya dihadapan orang lain, maka sambil menggertak gigi terpaksa diapun harus menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat, suasana dalam gelanggang pertarungan berubah jadi hening sepi, sedikitpun tak kedengaran suara.

Sekalipun suasana amat hening dan tiada gerakan apa apa siapapun tahu bahwa tak lama lagi akan terjadi suatu benturan maha dahsyat yang luar biasa sekali, dan gempuran tersebut justru akan menentukan nasib mereka semua, menang atau kalah atau mungkin juga kedua duanya akan sama-sama terluka parah.

Dipihak lain Buyung Thay masih berjongkok diatas tanah sambil membopong Go siau bi yang tak sadarkan diri

Thia wi wan rupanya masih belum puas dengan serangannya yang berhasil itu, sepasang matanya yang tajam bagaikan mata elang itu masih mengawasi terus Go siau bi yang berada dalam bopongan Buyung Thay itu tanpa berkedip. agaknya dia pun sudah merasa bahkan kepandaian silat dari Hun si mo ong masih bukan tandingan dari orang bermuka dingin.

Maka dia harus manfaatkan kesempatan yang ada pada saat ini untuk melakukan suatu gerakan sebab bila peluang ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya maka selamanya dia akan kehilangan peluang tersebut .......

Tapi diapun sangsi untuk berpekulasi, ia bukannya tak tahu sampai dimanakah lihaynya ilmu silat yang dimiliki Ratu tawon Buyung Thay ......

Akhirnya Thia wi wan ulapkan tangannya sambil membentak keras:

"Anak murid perkumpulan Thian che kau harap perhatikan baik baik, sekarang juga kalian harus menyerang dengan sekuat tenaga, kalian cuma boleh maju tak boleh mundur" Selesai berkata telapak tangannya segera diayun kedepan lebih dulu menyerang ke arah Buyung Thay, menyusul kemudian

Bayangan manusia menggulung-gulung, serentak setiap anggota perkumpulan yang hadir disana bersama-sama maju menyerang.

Paras muka Buyung Thay berubah hebat, dengan targan kirinya dia mengempit Go Siau-bi.

Sementara jarum Toh-hun-ciam yang berada ditangan kanannya disebar ke muka.

Jeritan-jeritan lengking yang memilukan hati berkumandang memenuhi angkasa, hampir belasan orang jago lihay dari perkumpulan Thian-che kau menggeletak diatas tanah. dalam keadaan mampus, tapi keadaan itu belum juga berhasil untuk membendung serangan lawan yang mendekati kalap itu, desingan-desingan tajam dan pukulan-pukulan dahsyat berhamburan dari sana sini mengurung sekujur badannya.

Posisi BuyungThay waktu itu kurang menguntungkan, sebab dia harus menggendong Go Siau-bi sambil melangsungkan pertarungan, bukan saja tenaga dalamnya mengalami rintangan besar, ditambah pula serangan-serangan maut dari Thia Wi-wan yang membabi buta membuat ia kewalahan, dan repotnya bukan kepalang, dia harus melepaskan tiga buah serangan berantai lebih dulu sebelum berhasil mengambil jarum Toh hun-ciam genggaman yang kedua,

Kembali tangannya diayun kedepan, belasan orang jago menjerit kesakitan dan roboh terkapar ditanah, untuk sesaat serangan kalap dari musub agak terbendung.....

Buyung thay mencaci maki kalangkabut, sambil membentak secepat kilat ia menerjang kearah Thia-wi Wan dan menyerang habis habisan. Thia Wi-wan ketakutan setengah mati, bulu kuduknya serasa pada bangun berdiri, cepat-cepat ia melompat mundur sejauh dua kaki untuk menghindarkan diri.

Merasa tubrukannya kosong can tidak rnencapai sasaran, Buyung Thay melompat ketengah udara dan melayang keatas atap ruangan Ci-gi-teng tersebut, belasan sosok bayangan manusia secepat kilat ikut melompat pula keatas, tapi baru mencapai separuh jalan, banyak diantara mereka yang menjerit kesakitan dan rontok kembali keatas tanah.

"Layani dia dengan senjata rahasia ! " teriak Thia Wi-wan penuh kegusaran yang meluap.

Dalam waktu singkat, senjata rahasia beterbangan dari empat arah delapan penjuru, semua senjata rahasia itu tertuju kearah Buyung Thay yang masih diudara.

Jarum toh hun ciam memang terhitung senjata yang ampuh dan mematikan, tapi oleh sebab jarum itu lembutnya seperti bulu maka jarak serangannya terbatas sekali, sebaliknya jago-jago perkumpulan Thian che kau yang hadir rata rata merupakan jago pilihan yang berilmu tinggi, tentu saja cara mereka untuk melancarkan serangan senjata rahasia juga bukan permainan enteng, jika Buyung Thay tak mau mengundurkan diri dari situ, terpaksa dia harus melayaninya dengan sepenuh tenaga.

Keadaan ini dapat dilihat pula oleh Han Siong Kie dengan jelas, tentunya diapun mengetahui pula betapa gawatnya situasi disana.

Akhirnya baik Han Siong Kiee maupun Hun si mo ong sama sama melancarkan serangan dengan sekuat tenaga.

Ditengah ledakan dahsyat yang menggelegar diangkasa, desingan angin tajam memancar keempat penjuru serta merta semua jago perkumpulan Thian the kau yang sedang bertarung menghentikan serangan mereka. Han Siong Kie berdiri kurang lebih lima langkah dari posisinya semula tubuhnya masih goncang terus tiada hentinya.

Hun-si-mo ong sendiri jatuh tertunduk beberapa meter dari arena, ia muntah darah berulang kali.

Untuk sesaat suasana jadi sepi dan hening, begitu sepinya sehingga terasa menggidikkan hati.

Pelan pelan Han Siong Kie maju beberapa langkah kedepan, kelima jari tangannya direntangkan lebar lebar, ujung jarinya tertuju kepada Han-si mo ong asal hawa serangannya dilontarkan kedepan, niscaya gembong iblis tua itu akan terhajar dada dan perutnya hingga berlobang dan tewas.

"Hun si mo-ong" teriak anak muda itu kemudian, "apakah engkau ada pesan pesan terakhir yang hendak kau sampaikan?"

Suara teriakan itu penuh dengan keseraman dan hawa kematian yang sangat tebal.

Han si mo ong menatap sekejap musuhnya dengan sinar mata berkilat, lalu sambil dikejamkan kembali dia menggeleng.

"Kalau ingin turun tangan, silahkan turun tangan, apa gunanya musti banyak berbicara?"

Satu ingatan tiba tiba melintas dalam benak Han Siong Kie, tangannya yang telah terangkat keatas pelan-pelan diturunkan kembali.

"Han si mo ong" katanya kemudian dengan suara berat, "untuk membalas pertolonganmu tempo hari, aku tak akan membinasakan dirimu sekarang juga, nah kau boleh pergi dengan damai hari ini"

"Manusia muka dingin" Han si mo ong membuka kembali matanya dan berkata dengan lantang, "tempo hari kutolong jiwamu, ini disebabkan karena kau pernah menolong muridku si malaikat hawa dingin Mo siu ing, aku pribadi sama sekali tidak bermaksud untuk menolong kau "

Kata kata pengakuan yang berterus terang dan blak biakan ini sungguh mencengangkan orang banyak. tapi dari sini dapat diketahui bahwa Han si mo ong benar benar seorang jagoan yang berjiwa besar dan tak sudi tunduk dibawah orang lain- Han Siong Kie dengan cepat menukas sambil goyangkan tangannya.

"Kau tak usah banyak bicara lagi, silahkan sejak kini antara kita berdua sudah tiada hutang piutang lagi, persoalan telah selesai dan semua hutang telah impas, semoga saja lain waktu kita jangan bertemu muka lagi "

"Manusia muka dingin, kau bakal menyesal bila melepaskan kesempatan baik hari ini, ketahuilah, aku tak nanti akan melupakan hutang yang kau lakukan hari ini"

"Heeeh.... heeehh heehh jangan pandang rendah diriku,

selama hidup aku belum pernah mengenal apa yang dimaksudkan dengan menyesal, ayoh silahkan pergi dari sini"

Tiba tiba Han si mo ong bangkit berdiri, setelah memandang sekejap sekeliling ruangan itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia lantas berlalu dari sana.

Sepeninggal Han si mo ong, suasana dalam ruangan itu jadi gempar, sekarang tiap jago lihay dari perkumpulan Thian che kau merasa panik, takut dan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, andaikata hukuman bagi pelanggaran peraturan perkumpulan tidak keras dan mengerikan, niscaya mereka sudah melarikan diri semenjak tadi.

Rupanya Thia Wi wan si utusan khusus perkumpulan Thian che kau juga sudah merasakan gelagat yang tak menguntungkan, cepat dia membentak: "Mundur semua" Pertama-tama dia yang melompat mundur lebih dahulu dari arena pertarungan dan meluncur keluar dari sana ......

Melihat pemimpinnya sudah kabur, kawanan jago dari Thian che kau pun sama sama mengambil langkah seribu, suasana jadi ribut dan gaduh, keadaan orang orang itu mengenaskan sekali tampaknya.

"Kembali semua" bentakan nyaring mendadak menggelegar diudara menyusul kemudian terdengar seseorang mendengus tertahan.

Thia wi wan terlempar kembali kebelakang dengan muka pucat dan darah menodai ujung bibirnya.

Setelah itu gulungan angin pukulan yang dahsyat kembali menyapu permukaan tanah seperti melandanya angin ribut, desingan angin serangan menderu deru, jerit kesakitan menggema silih berganti, puluhan jago yang berusaha melarikan diri dari ruangan itu tahu-tahu terlempar kembali ke belakang dalam keadaan sekarat.

Sisanya yang ada dibelakang buru-buru melompat kembali kebelakang, siapapun tak berani melanjutkan niatnya untuk kabur dari tempat celaka itu .....

Untuk sesaat suasana kembali tercekam dalam keheningan yang mengerikan, begitu hening sampai dengusan napas semua orang kedengaran nyaring ....

Seluruh jago lihay dari perkumpulan Thian che kau sudah terdesak kembali ke tengah arena, tapi disamping gerbang depan kini bertambah lagi dengan dua puluh sosok mayat lebih, mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan, darahpun berceceran membasahi permukaan lantai.

Han Siong Kie berdiri dengan tegap. mukanya menyeringai seram dengan hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya, selangkah demi selangkah ia mendekati musuh musuhnya itu, sementara sinar matanya yang tajam mengawasi kelima puluh orang sisa jago Thian che kau yang masih hidup itu dengan garang dan tak berkedip.

Sepi ....hening... seperti dikuburan, semua orang merasa begitu tebalnya hawa maut mengitari sekeliling gelanggang itu, bikin orang susah bernapas dan tak berani bergerak.

Buyung Thay sudah melayang turun pula ke atas permukaan bumi, dia berdiri disamping Han Siong Kie.

"Bagaimana keadaannya ?" tanya sianak muda itu

kemudian dengan muka cemas bercampur kuatir.

"Luka dalam yang dideritanya cukup parah, keadaannya amat serius dan tak boleh di biarkan terlalu lama dalam keadaan begitu"

Han Siong Kie menggigit bibir menahan dendam dan marahnya, dia berpaling kearah Thia Wi wan lalu ditatapnya utusan khusus Thian che kau yang dibencinya itu dengan mata berapi api dan mulutnya menyeringai seram.

Dipandang macam begitu oleh lawannya Thia Wi wan menggigil ketakutan, giginya sampai saling beradu gemerutukan, dia bersin beberapa kali, bulu kuduknya telah bangun berdiri, ditengah kepanikan dan bercucurnya peluh dingin, tiba tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.

"Kunyuk Tolol amat aku, mengapa tidak kabur saja dari sini?" demikianlah pikirnya dalam hati.

Begitu ingatan tadi masuk dalam pikirannya, serta merta ia geserkan badannya dan mundur ke arah kelompok-kelompok anak buahnya .....

"Thia Wi wan Bangsat terkutuk mau lari.... heeeeehhh....

heeeehhh... heeeehhh jangan mimpi disiang hari bolong,

mau terbang dari sinipun jangan harap bisa kau lakukan"

Ditengah bentakan keras Han Siong Kie menerjang kedepan, selisih jarak yang begitu dekatnya ini semakin membuat panik Thia Wi wan, tanpa sadar dia ikut mundur beberapa langkah ke belakang, mukanya yang bopeng seperti permukaan bulan itu mulai mengejang tiada hentinya. itu pertanda kalau hatinya sudah ciut dan ketakutan setengah mati.

Tak seorang manusiapun berani berkutik dari tempatnya semula, apalagi anak murid perkumpulan Thian che kau, mereka rata rata berdiri dengan muka pucat pasi. Bayangkan saja, kalau pemimpin mereka yang lihaypun dibikin keok, apalagi mereka cuma manusia biasa?

"Bangsat, ayoh serahkan jiwa anjingmu " teriak Han

Siong Kie sambil melontarkan telapak tangannya kedepan.

Pukulan itu sangat dahsyat, angin serangan yang menderu deru secepat kilat meluncur kemuka dan menghantam dada Thia Wi wan.

Untuk melihat saja ngeri, apalagi disuruh menerima dengan kekerasan, tentu saja Thia Wi-wan tak berani melakukan hal itu dengan suatu gerakan tubuh yang gesit dia mengegos kesamping untuk menghindarkan diri....

Dua jeritan ngeri tiba tiba berkumandang dari arah belakang, dua orang jago Thian che kau yang tepat berdiri dibelakang Thia Wi wan jadi setan penasaran, mereka tak menyangka kalau pukulan dahsyat itu akan menerjang ke tubuh mereka, tubuh kedua orang itu mencelat ke belakang, setelah muntah muntah darah akhirnya mereka berkelejet dan mampus seketika ....

Thia wi wan tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dia loncat sepuluh kaki dari tempat semula dan kabur ke atas atap rumah....

Sayang meskipun gerakan tubuhnya cepat, Han Siong Kie jauh lebih cepat darinya, dengan gerakan cahaya kilat lintasan bayangan dia berputar setengah lingkaran busur diatas udara, kemudian sepasang telapak tangannya dilontarkan keatas atap rumah dan melancarkan dua buah pukulan berantai.

Didesak terus oleh serangan serangan yang amat dahsyat itu Thia wi wan tak sanggup berdiri tenang lagi diatas atap rumah, dia jumpalitan beberapa kali di udara dan melayang kembali ke tengah arena, kendati lolos dari ancaman maut, toh sukmanya terasa sudah melayang tinggalkan raganya.

Han Siong Kie ikut melayang turun keatas tanah secepat kilat sebuah pukulan dahsyat yang disertai ilmu sakti si mi sinkang dilontarkan ke arah lawan.

Kabut putih yang tebal menyelimuti meluruh angkasa, jeritan ngeri sekali lagi berkumandaug di angkasa, Thia Wi wan yang termakan oleh serangan itu berputar kencang diangkasa sebelum akhirnya terbanting jatuh keatas tanah, tepat delapan depa didepan Buyung Thay, kontan saja dia muntah-muntah darah.

Kebetulan waktu itu Go siau bi membuka matanya, sinar matanya yang sayu tepat membentur diatas wajah Thia wi wan, mendadak gadis itu merasa timbulnya suatu kekuatan yang tak berwujud dalam badannya, ini membuat semangatnya berkobar kembali.

Gadis itu meronta bangun dari pelukan Buyung Thay, lalu dengan suara gemetar serunya: "Turunkan aku kelantai"

Melihat Go siau bi secara tiba tiba sadar kembali dari pingsannya, Buyung Thay sangat kegirangan, dia menuruti permintaan nona itu dan menurunkannya keatas tanah.

Dalam pada itu Han Siong Kiee telah tiba pula dihadapan Thia wi wan, sambil ayun tangannya ia membentak lagi:

"Thia wi-wan bajingan terkutuk sekaranglah saat kematianmu telah tiba, akan kucincang tubuhmu jadi berkeping keping" "Tunggu sebentar" tiba tiba Buyung Thay ulapkan tangannya dan mencegah anak muda itu melepaskan serangan mautnya.

Agaknya Han Siong Kiee dibikin tercengang oleh tindakan itu, dia tidak menduga kalau Buyung Thay akan menghalangi maksudnya untuk membunuh Thia. Wi wan.

"Hey, apa maksudmu dengan perbuatan itu??" tegurnya terheran-heran.

"Coba lihatlah dia" kata perempuan cantik baju merah itu sambil menuding kearah Go siau-bi.

Cepat Han Siong Kiee berpaling kesamping, apa yang kemudian terlihat membuat jantungnya berdebar keras karena kaget.

Ia lihat Go siau bi berdiri angker dihadapannya dengan muka pucat, matanya memancarkan sinar kebencian dan perasaan dendam dan hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya, pedangnya sudah dicabut keluar sedang matanya menatap kearah Thia Wi wan tanpa berkedip.

Sementara Han Siong Kie masih terheran-heran Buyung Thay telah berkata lebih jauh:

"Tak lama berselang, akupun mempunyai kesempatan untuk membunuh orang, tapi waktu itu tidak kulakukan hal  ini. tentu kau masih ingat bukan dengan peristiwa dalam kuil

ditepi jalan Thian lam? Nah, aku memang sengaja memberi kesempatan kepada nona Go siau bi untuk membunuh sendiri bangsat itu dengan tangannya, apakah engkau tahu siapakah sebenarnya orang itu?"

"Tentang soal ini..... tentang soal ini. ".

"Nah, kalau engkau kurang tahu minggirlah dulu, nanti kalau ada kesempatan akan kuberitahukan kepadamu" Han Siong Kiee tertegun, tapi sejenak kemudian dia menurut juga dan mundur tiga langkah, meski pikirannya masih diliputi oleh perasaan bingung dan tak habis mengerti.

Jago-jago Thian che kau yang masih tersisa dalam ruangan itu semuanya berdiri tertegun pula seperti orang hilang ingatan, sebenarnya bila mungkin mereka ingin melarikan diri dari sana, tapi tak seorangpun berani melakukannya, karena mereka cukup mengerti bahwa tindakan itu mengandung banyak resiko, siapa tahu kalau bukannya berhasil kabur, nyawa mereka malah lebih cepat kabur dari tubuhnya ?

Go siau bi sudah maju beberapa langkah ke depan, meski dengan sempoyongan, lalu sambil menggigit bibir serunya:

"Thia Wi wan, kau kau adalah manusia berhati binatang,

kau manusia terkutuk serigala berkedok orang "

Thia Wi wan tidak berkata kata, tiba tiba dia bangkit berdiri dengan badan gontai, sinar matanya sudah pudar tak bersinar, ini menunjukan bahwa luka dalam yang dideritanya amat parah.

Go siau bi sudah mengangkat pedangnya ke udara, lalu sambil maju kemuka ia tusuk dada orang.

"Blaaaang " tiba tiba dengusan tertahan menggema

diangkasa, Go siau bi kembali muntah darah, tubuhnya terlempar kebelakang dan sekali lagi terkapar ditanah. Han Siong Kie menjerit kaget, cepat ia melompat kedepan.

-ooo0dw0ooo-

BAB 87

PARAS muka Buyung Thay ikut berubah hebat, dengan satu gerakan yang cepat ia menyambar tubuh Go siau bi lalu memeluknya erat erat. "Blaaang,..." Dengan menimbulkan suara nyaring, Thia Wi wan terjungkal kembali keatas tanah, darah kental meleleh tiada hentinya dari ujung bibir, hebat juga orang ini, sesaat menjelang kematianya ia dapat melakukan tindak pembalasan yang jitu dan dahsyat, peristiwa ini boleh dibilang jauh diluar dugaan siapapun.

Go siau bi memejamkan matanya rapat rapat setelah mengatur kembali napasnya yang tersengkal, pelan pelan dia membuka kembali matanya, segumpal tenaga yang tak berujud seolah olah muncul dalam tubuhnya dan mempertahankan dirinya hingga tak sampai roboh terjungkal, agaknya gadis itu berhasrat begitu besarnya untuk menghujamkan pedangnya keatas ulu hati lawan.

Han Siong Kie betul-betul kelabakan setengah mati, bibirnya sudah memucat, badannya agak menggigil, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan .....

Go siau bi telah menyingkirkan tangan Buyung Thay yang memeluk badannya itu, meski dengan sempoyongan dan bersusah payah, selangkah demi selangkah dia bergeser maju menghampiri Thia Wi wan yang telah terkapar ditanah itu ......

Pedangnya langsung diangkat keatas, kemudian dihujamkan keulu hati musuhnya itu keras-keras.

Darah kental bermuncratan keempat penjuru, jerit ngeri yang memilukan hati mendirikan bulu roma setiap jago yang hadir disana, tahu-tahu ujung pedangnya sudah menembusi ulu hati Thia Wi wan hingga tembus ke punggungnya...

Go siau bi kelihatan sangat garang, setelah menusuk dia cabut kembali pedangnya kemudian menusuk kembali.

Satu kali.... dua kali sudah ketiga kalinya pedang itu

menembusi badan Thia Wi wan

Dendam kesumat sedalam lautan telah terbalas, hawa kebencian dan perasaan dendam yang selama ini menopang kekuatan tubuhnya ikut melemah bersamaan dengan darah yang mengalir dari tubuh lawan, dengan lemas dicabutnya pedang yang masih menancap diperut musuhnya itu, tiba tiba pandangan matanya jadi gelap. .. ia tak mampu berdiri lagi dan roboh tak sadarkan diri.

"Adik Bi " jerit Han Siong Kie keras keras.

Secepat kilat dia menerjang kedepan dan menyambar pinggangnya yang ramping, lalu diperiksanya denyut nadi dara itu, tapi apa yang kemudian diketahui membuat hatinya kecut dan berdebar keras.

Napas Go siau bi sudah amat lemah, nadinya sebentar sebentar terputus, mukanya yang pucat kekuning kuningan membuktikan betapa seriusnya luka yang diderita gadis tersebut.

Buyung Thay yang berada disampingnya segera mengambil beberapa biji obat dari sakunya, kemudian dijejalkan ke mulut Go siau- bi. "serahkan nona itu kepadaku" bisiknya.

Han Siong Kie melotot sekejap kearah kawanan jago Thian che kau yang masih berdiri kaku dalam ruangan itu, kemudian menyerahkan Go siau bi ketangan Buyung Thay, setelah itu dia berpaling kembali kepada musuh musuhnya dan berkata dengan suara yang datar, berat dan mengerikan:

"Heeehhh.... heeehhh heeehhh seluruh puncak tebing si

sin gan telah berlumuran darah dari sahabat-sahabat Pat gipang, hari ini kalian harus mencucinya hingga bersih dengan darah dari kalian juga, ayoh serahkan nyawa kalian semua"

Suara ucapannya itu sangat mengerikan, membuat siapapun yang mendengar merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Tak terkirakan rasa kaget, gugup dan takut yang mencekam perasaan jago-jago Thian che kau itu, setiap orang merasakan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, mereka jadi panik dan tak tahu apa yang musti dilakukan, akhirnya sambil menjerit keras masing masing orang melarikan diri kearah pintu untuk menyelamatkan diri sendiri.

"Haaahhh... haahh... haaahh" gelak tertawanya itu mirip orang gila yang sudah kambuh penyakitnya mirip pula seperti terompet kematian yang siap menyambut nyawa-nyawa manusia dari dunia....

Suatu pembantaian berdarah yang mengerikanpun segera berlangsung dengan hebatnya. Jerit kesakitan rintihan orang sekarat bersahut-sahutan tiada hentinya, dalam waktu singkat darah sudah berceceran membasahi seluruh permukaan tanah, mayat bergelimpangan setinggi bukit ....

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya suasana pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa, hanya ruangan ci gi teng telah berubah jadi kuburan masal, mayat terkapar disana sini, kutungan anggota badan dan darah kental membasahi semua lantai, mengerikan sekali pemandangan disekitar tempat itu.

Dari seratus orang lebih jago jago lihay yang dikirim perkumpulan Thian che kau, kecuali Han si mo ong seorang yang berhasil tinggalkan tempat itu dengan membawa luka, boleh dibilang sisanya hampir tewas semua dalam markas besar perkumpulan Pat gi pang. Han Siong Kiee menghela napas panjang.

"Aaaai. akhirnya perkumpulan Pat gi pang benar benar

harus musnah dari muka bumi, mungkin selamanya tak akan bisa berdiri lagi dalam dunia persilatan"

Sambil gelengkan kepalanya ia menghampiri Buyung Thay dengan langkah cepat, kemudian bertanya lagi:

"Bagaimana keadaan lukanya "

"Aaaai. isi perutnya sudah pecah, jalan darahnya ada

separuh bagian telah tersumbat mati, mungkin malaikat turun dari kahyanganpun belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya itu."

Seperti disambar geledek di siang hari bolong, Han Siong Kie untuk sesaat lamanya berdiri menjublak. andaikata Go siau bi benar benar mengalami musibah ia tak berani berpikir

lebih jauh, pemuda itu merasa seakan akan terdapat beberapa puluh bilah badik yang bersama sama menusuk ulu hatinya..

"Mari kita bicarakan lagi di belakang" ajaknya perempuan itu kemudian sambil beranjak.

Han Siong Kie tidak berkata apa apa, dengan kaku dia mengikuti di belakang Buyung Thay, setelah melewati ruang ci gi teng sampailah mereka di sebuah kamar yang indah dan mungil.

Menyaksikan kesemuanya itu, diam diam pemuda kita berpikir:

"Kamar ini tentulah tempat tinggal dari calon istriku Go siau bi, tapi aneh, mengapa Buyung Thay bisa sangat hapal

dengan keadaan di sekitar tempat ini? Jangan-jangan antara dia dengan Go siau bi mempunyai hubungan yang erat sekali

....? sementara itu Buyung Thay telah membaringkan Go siau bi diatas pembaringan.

Pelan pelan Han Siong Kie menghampiri gadis itu dan memeriksa semua jalan darah dan urat penting ditubuhnya, seperti apa yang diucapkan Buyung Thay barusan, separuh dari jalan darah penting dalam tubuhnya telah tersumbat mati, ini menyebabkan sekujur badannya dari atas kepala sampai ujung kaki jadi dingin, seperti seseorang yang dilemparkan kedalam gudang es.

Tanpa terasa lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah Han Siong Kiee, katanya sambil menahan isak tangisnya. "Apa apakah dia sudah tak tertolong lagi?" "Aku mempunyai sebotol Ci goan wan" sahut Buyung Thay dengan sedih, "obat itu dapat mempertahankan jiwanya selama tujuh hari dan selama itu dia akan tetap selamat"

"Tujuh hari....? Tujuh hari. ? Apa arti dan makna

kehidupannya selama tujuh hari?"

"Yaaa kalau hanya tujuh hari saja, hidupnya memang

tidak berarti, tapi siapa tahu dalam waktu sesingkat itu mungkin akan terjadi suatu peristiwa yang mukjijat "

"Kemukjijatan? Aaaai. apakah kita harus menanti tibanya

kemukjijatan? mungkinkah hal itu bakal terjadi?"

"sekalipun kemukjijatan tak mungkin bakal terjadi, tapi aku percaya adik Bi dapat mati dengan mata meram "

Dengan perasaan sedih bercampur kaget dan tercengang Han Siong Kie berpaling kearah perempuan itu.

"oya sekarang aku baru teringat, rupanya kau menguasai

betul tentang persoalan ini" katanya " dapat kau ceritakan kepadaku duduk persoalan yang sebenarnya?" Buyung Thay mengangguk:

"Dulu Thia Wi wan adalah saudara angkat dari ayahnya Go Yu to, suatu ketika ia bersama sama jatuh cinta kepada seorang gadis yang amat cantik, dalam perebutan tersebut akhirnya Go Yu to yang berhasil mempersunting gadis itu dan mereka menikah, nona itu tak lain adalah ibunya Go Siau bi, apa mau dikata ibunya mati karena mengalami kesulitan dalam melahirkan ketika ia bunting untuk kedua kalinya, yaa...

sejak itulah Thia Wi wan lantas berusaha mencari gara gara untuk menuntut balas atas peristiwa itu "

Han Siong Kie mengangguk. sekarang dia sudah dapat memahami separuh bagian dari. duduknya persoalan.

Terdengar Buyung Thay melanjutkan kembali kata katanya: "Untuk mewujudkan pembalasan dendam itu, Thia wi wan menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, ia memancing perhatian orang orang Thian che kau dengan mengatakan bahwa kitab pusaka Thian toopit liok berada ditangan Go Yu to "

"Kitab pusaka Thian tokpit liok berada ditangan put lo sianseng, mungkin sampai matipun Go Yu to belum sempat melihat kitab tersebut barang sekejappun " sahut sang

pemuda.

Buyung Thay manggut manggut.

"Dengarkan ceritaku" selanya, "karena mendengar laporan itu, pihak perkumpulan Thian che kau lantas mengirim jago jago lihaynya untuk menjumpai Go Yu to, ketua perkumpulan Pat gi pang dan memaksanya untuk menyerahkan kitab pusaka Thian tokpit liok tersebut, kemudian karena kitab pusaka itu tak diserahkan merekapun turun tangan keji "

"Kisah selanjutnya aku sudah tahu semua, Thia Wi wan memang sangat berdosa dengan perbuatannya itu, dia memang pantas kalau dicincang menjadi berkeping keping"

"Adikku, kau masih ingat ketika kita di serbu oleh Han si mo ong, sewaktu kau sedang mengobati lukamu dirumah petani?" tiba tiba Buyung Thay bertanya.

Sebutan "Adikku" dari perempuan itu dirasakan amat menusuk telinga oleh Han Siong Kie, sejak orang yang kehilangan sukma menerangkan watak dan perbuatan perempuan itu dimasa lampaunya, ia merasa agak muak dengan perempuan itu.

Meski demikian, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa, sebab perempuan itu pernah menyelamatkan jiwanya, dan sekarang diapun telah melindungi Go siau bi dengan mempertaruhkan jiwanya, maka pemuda itu mengangguk. "Yaa, aku masih ingat, kenapa?" "Ternyata orang menulis surat peringatan dan diam diam melindungi keselamatanmu itu tak lain adalah dia"

"Apa? Dia?" teriak Han Siong Kie penuh emosi, saking kagetnya hampir saja dia melompat bangun.

"Benar, belum lama berselang secara kebetulan aku telah berjumpa dengannya, dan dialah yang memberitahukan segala sesuatunya padaku, diapun sudah mengetahui pula hubungan kita berdua hubungan kita berdua sebagai teman, yaa Go siau bi adalah seorang perempuan yang baik,

sayang sayang kita datang terlambat satu langkah"

"Hanya selisih satu langkah, tapi rasa sesal akan diderita sampai akhir jaman, beginilah kalau takdir mempermainkan manusia."

Dengan lemas Han Siong Kie duduk terpekur disisi pembaringan, digenggamnya sepasang tangan Go siau bi yang lembut itu erat erat, sepasang matanya langsung menatap wajahnya yang pucat tanpa emosi itu dia merasa amat berdosa, berdosa terhadap gadis yang malang itu.

Semua cinta kasihnya telah ia berikan kepada Tonghong Hui tapi dia tidak memberi apa apa kepadanya, padahal justru dialah calon istrinya, sekalipun perkawinan itu terjadi karena suatu paksaan, tapi ia tak dapat menyangkal bahwa selama ini Go siau bi selalu mencintainya .

Dia tak pernah memberikan apa apa kepada gadis itu, tapi gadis ini telah memberikan cinta pertamanya kepada dirinya, ia telah membayar suatu harga yang tinggi bagi cintanya itu.

"Aaah    ada jalan" tiba-tiba Buyung Thay berteriak sambil

memukul tepi pembaringannya keras-keras.

"Ada jalan apa?" cepat Han Siong Kiee bertanya sambil melompat mendekat. "Kemungkinan besar Go siau bi tak akan mati" teriak perempuan itu lagi penuh emosi. Kontan Han Siong Kie merasakan semangatnya berkobar, dengan gelisah tanyanya.

"Jalan apa, yang berhasil kau temukan? cepatlah katakan kepadaku"

"Tiba-tiba saja aku teringat akan seseorang, jika kau dapat menemukan orang itu, kemungkinan besar Go siau bi akan lolos dari kematian "

"Kau teringat kepada siapa??" "sin ciu it cho "

"Manusia jelek dari sin ciu ?"

"Benar, hanya obat si mia kim-wan milik sijelek dari sin ciu yang dapat menyelamatkan jiwanya"

"Tapi. Manusia jelek dari sin ciu itu berdiam dimana?

Apakah kau juga tahu?"

"Konon dia berdiam dalam gua salju dipuncak bukit Ciong san yang berada diwilayah Thian see"

"Konon?,jadi kau sendiripun belum pasti kalau dia berdiam disitu?"

"Benar, aku sendiripun kurang pasti" perempuan itu mengangguk agak murung.

"si jelek dari sin ciu itu seorang laki laki ataukah seorang perempuan ?"

"Aku dengar dia adalah seorang perempuan" "oooh jadi sijelek dari sin ciu itu adalah seorang

perempuan? "

"Ehmm? Aku dengar perempuan itu bukan saja tampangnya jelek sekali, bahkan wataknya juga anehnya sampai tak ada tandingan, bahkan katanya tiga bagian lebih aneh daripada Hou thian it koay manusia paling aneh yang tersohor namanya tempo dulu"

Han Siong Kiee merasa hatinya bergetar keras Hou thian it koay? Bukankah dia adalah Tengkorak maut, pemilik dari benteng maut yang menjadi kakek gurunya? Kalau begitu kecuali guruku Mo-tiong ci mo, orang persilatan tak seorangpun yang pernah bertemu muka dengan pemilik benteng maut?

Karena berpikir demikian, maka sengaja dia pura pura bertanya.

"Hou thian it koay? Manusia macam apakah dia? Apakah kau juga tahu tentang orang itu?"

Buyung Thay geleng kepala.

"Aku belum pernah bertemu dengan makhluk itu, tapi aku tahu dia adalah seorang makhluk yang sangat aneh, sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri dalam dunia persilatan"

"oooh begitu.?"

"Ah, buat apa kita membicarakan soal soal yang tak penting? Lebih baik pokok pembicaraan yang penting saja dan yang dibahas, oya, aku mempunyai obat ci goan wan sebotol, obat itu dapat memperpanjang usia adik Bi selama tujuh hari, asal dalam tujuh hari kau bisa mendapatkan obat mustika Si mia kim wan itu, jiwanya pasti akan tertolong, sebaliknya kalau engkau gagal entahlah, terpaksa kita harus pasrah pada nasib"

"Dari sini sampai ke bukit ciong san belum tentu bisa dicapai dalam tujuh hari, tempat itu jauh sekali, aku kuwatir

...."

"Terpaksa kau harus melakukan perjalanan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kau miliki, ditinjau dari tenaga dalam yang kau miliki sekarang, mungkin saja dalam tujuh hari mendatang kau sudah datang tiba kembali disini??"

"Andaikata aku tidak berhasil menemukan si jelek dari Sin Ciu itu, apa yang musti kulakukan-"

"Apalagi ? Tentu saja kita harus pasrah kepada nasib, sebab siapapun tak akan mampu untuk menyelamatkan jiwanya, adikku Tak usah kau pikirkan yang bukan-bukan, sekarang lebih baik segeralah berangkat"

"Bagaimana dengan adik Bi??"

"Biarkan dia disini, aku akan merawat dan menjaganya selama kau tak ada disampingnya"

"Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu ini, budi kebaikan tersebut dikemudian hari pasti akin kubayar kembali kepadamu"

"Adikku, apa yang kau katakan?" seru Buyung Thay. "Budi kebaikan yang pernah kuterima selama ini, suatu

ketika pasti akan kubayar kembali"

"Engkau toh menyebut aku cici dan aku memanggil adik kepadamu, itu artinya kita adalah saudara sendiri, apakah tidak kau rasakan bahwa perkataanmu itu sama artinya dengan memandang asing atas diriku ? Atau mungkin kau sudah tidak mau encimu ini lagi??"

"Heeeeh.... heeeeh... heeeeh... aku pikir panggilan kita sehari-haripun memang lebih pantas untuk diganti saja" kata Han siong Kie setelah berpikir sebentar, ucapannya itu ketus dan lagi dingin.

Seperti disambar petir dengan terperanjat Buyung Thay meloncat bangun, teriaknya dengan hati yang kaget den penuh keCengangan:

"Kenapa ? kenapa kita harus mengganti sebutan itu?

Katakanlah, katakanlah dengan jelas" "Aku aku rasa tanpa kuterangkan lagipun tentunya kau

sudah mengerti dengan sendirinya"

"Tapi aku tidak mengerti Aku benar-benar tidak mengerti, ayoh katakanlah kepadaku, jelaskanlah kepadaku"

"Kau paksa aku untuk menerangkan juga kesemuanya itu kepadamu??"

"Benar"

"Aku sudah tahu bahwa kau adalah Ratu tawon yang amat tersohor namanya di kolong langit, aku "

Paras muka Buyung Thay berubah sedingin es, matanya yang lentik tiba tiba memancarkan sinar kebuasan, hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya yang cantik, secara beruntun ia mundur beberapa langkah dengan gontai..

"Han siong Kie, kau terlalu memaksa orang sehingga berdiri tersudut" teriaknya penuh kemarahan.

"Memangnya kau bukan orang yang kumaksudkan" tanya Han siong Ki dengan agak tertegun.

"Benar, akulah si Ratu tawon yang kau maksudkan, tapi tahukah engkau akan peraturanku?"

"Peraturan apa?"

"setiap kali ada yang menyinggung soal Ratu tawon dihadapanku, maka orang itu akan kubunuh"

"Oooh betapa keji dan berbisanya perempuan cantik ini,

tak kusangka mukanya yang begitu cantik sebetulnya memiliki hati yang berbisa " pikir Han siong Ki dalam hati.

"Apakah aku juga akan kau bunuh?" selang sesaat kemudian dia balik bertanya.

"Mungkin, kalau itu memang perlu maka aku terpaksa harus melakukan juga" "Aku tahu kalau engkau tak akan mampu untuk melakukan keinginanmu itu dengan leluasa"

"Kau jangan terlampau percaya pada kekuatan sendiri, siapa tahu kau lagi sial?"

"Jadi kau ingin coba coba untuk menjajalnya?" tantang anak muda itu sambil pasang kuda kuda.

Pelan pelan Buyung Thay membuka sepasang tangannya, ditangan sebelah kiri tampaklah jarum jarum Toh hun ciam yang amat lembut bagaikan bulu kerbau, sedangkan ditangan sebelah kanan terdapat sebutir peluru berwarna hitam yang besarnya seperti telor itik.

"Han siong Kie" kata perempuan itu sambil menahan geramnya, "jarum jarum Toh hun ciam tak sampai mencabut nyawamu tapi peluru toh hun-tan ini dapat menghancur lumatkan badanmu jadi berkeping keping ayolah kalau ingin

mencoba"

Han siong Kie merasa amat terperanjat ketika mendengar ancaman itu, dia tahu yang dimaksudkan sebagai peluru pembetot sukma itu pastilah sebangsa Pek lek tan yang mempunyai ledakan amat dahsyat.

Andaikata benda seperti itu diledakkan dalam kamar yang luasnya cuma beberapa meter persegi itu, niscaya dia bakal hancur tak berbekas, kendatipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna.

Pemuda itu tak berani main main, apalagi Go siau bi masih berbaring disampingnya, mungkin dia selamat kalau terjadi ledakan, tapi bagaimana dengan nona itu?

"Han siong Kie" Perempuan baju merah yang cantik itu segera menegur sambil menahan geramnya: "aku toh tak pernah bersalah apa apa kepadamu, mengapa kau bersikap sekasar itu padaku?" Han siong Kie gelagapan dibuatnya, benar Buyung Thay tak pernah berbuat kesalahan apa apa kepadanya, malahan dua kali menyelamatkan jiwanya dari bahaya maut, andaikata tiada pertolongan dari perempuan itu, mungkin dia tak akan hidup sampai hari ini.

Meski demikian, ia merasa timbulnya suatu perasaan yang aneh, ia merasa dirinya ditipu mentah-mentah, dan hal ini menimbulkan perasaan tak puas dalam hati kecilnya.

"Mengapa kau tipu diriku?" akhirnya pemuda itu berteriak lantang.

"Menipu? Kapan aku telah menipu engkau?"

"Engkau toh mengaku sebagai seorang perempuan yang bernasib jelek? Kau telah menipu perasaanku, kau menipu cinta kasihku" teriak Han siong Kie semakin keras.

Mendengar perkataan itu, Buyung Thay merasakan hatinya agak bergerak, roman mukanyapun ikut berobah jadi lebih lembut dan halus.

Ucapan tersebut sama halnya dengan membongkar rahasia hati Han siong Kie, tanpa disadari pemuda itu, seolah olah menyatakan bahwa dia mencintainya, tapi cinta macam begini dirasakan sebagai suatu cinta karena tekanan, suatu reaksi secara langsung, karena perempuan itu teramat cantik, sebab jika dalam perasaannya sama sekali tak ada bayangan tentang dirinya, maka diapun tak akan begitu gusar atau marah oleh perbuatannya dimasa lampau.

Kadangkala antara cinta dan dendam memang tak dapat dipisah pisahkan, seringkali kedua hal itu berkembang terus hingga akhir masa.

"Apakah kau menemukan bahwa diantara kata-kataku dulu ada yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya?"

"Sejak dua puluh tahun berselang kau telah menghebohkan dunia persilatan sehingga dikenal orang sebagai Ratu tawon, kau pernah kawin, kau punya kepandaian merawat muka sehingga menutupi usiamu yang sebenarnya "

"Tutup mulutmu" tukas Buyung Thay sambil membentak, "Han siong Kie jadi menurut pandanganmu aku Buyung Thay adalah seorang perempuan jalang yang tak tahu malu? Kau anggap aku adalah seorang janda cabul yang suka main laki- laki? Terus terang kukatakan kepadamu, dugaanmu itu keliru besar, aku bukan perempuan rendah seperti yang kau bayangkan, memang benar aku pernah kawin, tapi tahukah engkau laki laki macam apakah Yu Pia lam itu ? Dia adalah

seorang laki laki impotent, dia sama sekali tak mampu untuk melakukan hubungan cinta sebagai suami dan istri"

"Haaahhh ?Jadi Thian che kaucu Yu Pia lam tak dapat

berfungsi sebagai laki laki normal?" ulang Han siong kie dengan perasaan kaget heran dan tidak habis mengerti.

Setelah mendengar berita tersebut, pemuda itu mulai berpikir, kalau benar Yu Pia-lam impotent dan tak mampu melakukan hubungan seks, lalu mengapa ibunya si siang go cantik ong cui ing menikah dengan Thian che kaucu itu.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka cuma menjadi suami istri dalam nama saja, sedang kenyataannya mereka bukanlah suami istri yang sebenarnya, kalau memang begitu mengapa mereka hidup secara damai selama puluhan tahun lamanya? Ataukah mungkin dibalik kesemuanya itu terdapat hal-hal yang tak beres?

Atau mungkin juga perkataan dari Buyung Thay sekarang hanyalah kata kata bualan belaka ?

"Han siong Kie, tentunya engkau tidak percaya bukan??" kembali Buyung Thay bertanya dengan wajah emosi.

"Tapi... apa apa sangkut pautnya persoalan itu dengan

diriku??" "Bagimu mungkin tak penting, tapi persoalan itu penting sekali hubungannya dengan aku, apakah kau hendak membuktikan kebenaran dari ucapanku itu??"

"Bukti? Bagaimana membuktikannya?"

"Akan kuijinkan dirimu untuk membuktikan sendiri, apakah sampai sekarang tubuhku masih perawan atau tidak"

Berbicara sampai disitu, tak tahan lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Hampir saja Han siong Kie tidak percaya dengan apa yang didengar telinginya, Ia tak menyangka kalau Buyung Thay berani mengucapkan kata kata yang begitu berani dan tak tahu malu.

Membuktikan sendiri perempuan itu masih perawan atau tidak? Merah padam wajah sianak muda itu karena jengah, jantungnya berdebar keras, ditatapnya perempuan yang cantik jelita itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Yaa, bukan hanya Han siong Kie, orang lainpun tak nanti akan menyangka kalau perempuan secantik itu berani mengucapkan kata kata yang tahu malu ......

Padahal andaikata Buyung Thay tidak merasa gelisah bercampur cemas, dia sendiripun tak akan mengucapkan kata kata seperti itu.

"Han siong Kie" katanya sambil membesut air matanya, "sekarang calon istrimu berada disini, tapi aku sama sekali tidak merasa cemburu, akupun tak bisa mendapatkan apa-apa dari badanmu, meski demikian, kita dapat saling berkenalan, itu tandanya kalau ada jodoh, kalau toh engkau memandang hina kepadaku, akupun tak ingin memohon apa apa kepadamu, memandang diatas wajah perempuan yang masih suci bersih ini untuk sementara waktu aku akan tetap tinggal di sini untuk melindungi keselamatannya, Nah, kau boleh pergi sekarang" Han siong Kie tidak segera memberikan tanggapannya, diam-diam diapun berpikir:

"Berita sensasi yang tersiar dalam dunia persilatan tak boleh dipercaya dengan begitu saja, bukankah sucouku si Tengkorak maut juga dilukiskan sebagai seorang gembong iblis tua yang berhati keji dan banyak melakukan kejahatan? Tapi kenyataannya toh tidak begitu? Aaaaii apa yang dia

katakan memang benar, orang yang bisa saling bertemu lalu berkawan itu tandanya berjodoh, buat apa aku musti mempersoal-kan masalah itu secermat cermatnya ??"

Berpikir sampai disitu, rasa menyesalpun segera timbul dari hati kecilnya, cepat dia menjura seraya berkata:

"cici yang baik, mungkin memang akulah yang bersalah, harap engkau bersedia mengampuni kesalahanku itu"

Buyung Thay duduk sambil terisak. rupanya ia merasa seperti mendapat penghinaan yang tak terkirakan, wajahnya ditutupi dengan tangan, air mata bercucuran amat deras...

Keadaan Han siong Kie waktu itu betul betul serba salah, untuk menghilangkan kegusarannya, ia maju menghampiri Go siau bi dan mengamati gadis itu beberapa saat.

Tiba tiba hatinya terasa jadi kecut, seandainya ia tak dapat kembali dalam batas waktu tujuh hari bagaimana dengan gadis ini? Bagaimana pula jika ia tak berhasil mendapatkan obat si mia kim wan?

Akibatnya mengerikan sekali, anak muda itu tak berani membayangkan lebih jauh .......

"Adik Bi" akhirnya pemuda itu berbisik dengan sedih "aku akan berangkat, dalam tujuh hari aku pasti akan tiba kembali disini"

Tentu saja Go siau bi tidak menunjukan reaksi apa apa, bahkan andaikata tiada obat ci goan-wan dari Buyung Thay yang melindungi denyutan jantungnya, mungkin sejak tadi jiwanya sudah berpulang kealam baka.

"cici, segala sesuatunya kutitipkan padamu, semoga kau bersedia melindungi jiwanya selama aku tak berada disini, aku berangkat sekarang juga" pinta anak muda itu.

Buyung Thay mengangguk lirih, ditatapnya anak muda itu sekejap dengan pandangan sedih, lalu katanya:

"Adikku, semoga kau berhasil dan mencapai sukses, kuharap kau bisa jaga diri baik baik sepanjang jalan"

Bila kita tinjau dari tatapan mata Buyung Thay sekarang dapat kita buktikan bahwa perempuan itu memang benar benar mencintai Han siong Kie sehingga hampir tak dapat menguasai diri, tapi kemungkinan besar perempuan itupun sadar bahwa dia tidak mungkin bisa menikah dengan pemuda yang dicintai itu, maka mau tak mau dia musti menarik diri dari percaturan cinta tersebut.

Buyung Thay memang memiliki kepandaian untuk merawat wajahnya sehingga tetap awet muda, meski begitu ia tak dapat menipu diri sendiri, ia tahu usianya tahun ini sudah mencapai empat puluh tahun lebih, apa mau d ikata justru dengan usia setua itu dia baru pertama kali merasakan bagaimana rasanya orang jatuh cinta, tapi apa mau dikata kalau cinta itu tidak menghasilkan apa-apa, ia merasa lembaran hidupnya tetap putih dan kosong.

Pelan pelan Han siong Ki mendekati istrinya dan mencium jidatnya dengan hangat, ketika ia mengangkat kembali kepalanya, tampaklah Buyung Thay sedang menghadang kearahnya dengan sinar mata murung cemburu dan penuh daya rangsangan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Han siong Kie merasa hatinya tergoda, tiba tiba timbul ingatan untuk mencium pula perempuan itu .... Tapi ia dapat mengendalikan perasaan itu, ia tahu akibat dari ciuman mesranya nanti akan mengerikan sekali .....

Memang cinta bagaikan sebuah bendungan sungai, bila sebuah lubang kecil yang mengakibatkan kebocoran tidak segera disumbat, akibatnya seluruh bendungan itu bakal hancur dan ambrol.

"cici, aku mau pergi dulu, selamat tinggal" akhirnya pemuda itu berbisik lirih.

Ia tak berani memandang perempuan itu terlalu lama, sebab kecantikan wajahnya mungkin dapat merubah pikiran, maka begitu selesai berpesan, cepat-cepat dia keluar dari ruangan itu dan kabur dari puncak bukit si sin gan.

sepanjang perjalanan ia berlarian dengan cepatnya, pelbagai ingatan serasa berkecamuk dalam benaknya, sering kali persoalan yang dihadapi manusia memang dapat melampaui batas daya pikirannya, sekalipun engkau cerdik, suatu ketika toh akan ditemui juga masalah masalah pelik yang tak dapat kau pecahkan.

seperti halnya dengan pembantaian secara besar-besaran diperkampungan keluarga Han oleh manusia yang menyaru sebagai Tengkorak maut, mengapa ia membiarkan ibunya seorang tetap hidup didunia ini?

Mengapa ibunya bersedia untuk menikah lagi dengan seorang laki-laki yang impotent dan hakekatnya tak akan mampu melakukan tugasnya sebagai seorang laki laki?

Benarkah ibunya begitu kejam dan berhati racun sehingga bukan saja tak mengubris dendam sakit hati dari suaminya bahkan anak kandung sendiripun tak mau diakui?

selang sesaat kemudian, pemuda itu sudah menuruni bukit tersebut dan melakukan perjalanan ditengah jalan.

Berpuluh-puluh li sudah ia melanjutkan perjalanannya dengan cepat, mendadak dari kejauhan muncul sesosok bayangan manusia berwarna merah darah, orang itu mendekat dengan badan sempoyongan, rupanya menderita luka yang cukup parah.

Makin lama orang itu makin dekat, akhirnya dapat terlihat jelas bahwa orang itu memakai baju merah...

Bukan Dia tidak memakai baju merah, orang itu adalah seorang pemuda yang bermandikan darah kental, sehingga dipandang dari kejauhan dapat terlihat seakan akan dia memakai jubah berwarna merah.

"saudara, harap berhenti" cepat Han siong Ki menghadang ditengah jalan merintangi kepergian orang itu.

-ooo0dw0ooo-

Bab 88

PEMUDA yang berlepotan darah itu mendengus tertahan lalu menghentikan langkahnya, tubuh yang sudah basah oleh darah itu kelihatan masih juga gontai seperti mau jatuh.

"Sahabat, siapakah kau? Ada urusan apa kau hadang jalan perginya?" tegur orang itu kemudian dengan susah payah.

"Aaaaah,..! Kau.... kau..., kau adalah...!" dengan pandangan kaget dan tercengang Han-siong Kie menatap pemuda tersebut, saking emosinya dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Rupanya Pemuda itupun sudah merasa bahwa mereka saling mengenal, betul juga, setelah diamati dengan seksama ia lantas memanggil dengan suara gemetar. "Han suko.."

-ooo0dw0ooo-