Tengkorak Maut Jilid 40

 
Jilid 40

TIAP patah katanya penuh disertai pancaran kasih yang mendalam, dapat diketahui bahwa perempuan itu memang benar benar jatuh cinta kepada anak muda tersebut.

Dalam keadaan begini hampir boleh dibilang Han Siong Kie tak berani menatap paras muka lawannya, ia menunduk rendah-rendah. "Tidak, kau tak boleh ikut" serunya tetap kukuh.

"Adikku.... jadi. jadi kau akan tinggalkan aku seorang

diri?" bisik Buyung Thay dengan nada yang memilukan hati, matanya berkaca kaca hampir menangis, wajahnya yang melankolis mendatangkan perasaan iba bagi siapapun yang memandangnya.

Han Siong Kie tertegun dengan jantung berdebar keras, kata kata cinta yang diucapkan dengan nada pedih dan memilukan hati itu hampir saja meluluhkan hatinya, pemuda itu hampir saja tak dapat mengendalikan golakan perasaan hatinya.

"Adikku sayang" Kata Buyung Thay selanjutnya "aku masih ingat kau pernah berkata kepadaku bahwa kau masih mempunyai seorang calon istri dan seorang kekasih yang akan kau cintai sampai mati, sebaliknya aku usiaku satu kali lipat lebih tua daripada engkau, bahkan pernah menikah sekalipun sampai sebelum kejadian di lembah hitam itu aku tetap suci dan bersih... aaai adikku, aku tak berani mengharapkan yang muluk muluk, aku sudah merasa puas bila kau bersedia menyebut aku sebagai cicimu "

"Oooh ciciku manis, hakekatnya akupun mencintai

dirimu tapi maafkanlah aku, maafkanlah kesalahanku, aku

tak dapat menerimamu sebab aku harus membalas dendam Aku harus membalas dendam bagi kematian ayahku" seru Han Siong Kie penuh emosi. Buyung Thay tertawa lirih, rawan sekali tawanya itu.

"Adikku aku tak mau tahu tentang yang lain, aku sudah puas bila kau ijinkan diriku untuk menempati pula suatu posisi dalam hati kecilmu, sekalipun itu cuma sebagai seorang kakak

......"

"Cici, aku tak akan melupakan kau, selama-lamanya" "Mungkinkah kita dapat bertemu kembali?." perempuan itu

menengadah dan ditatapnya wajah sang pemuda yang

tampan dengan lembut.

"Pasti. Kita pasti akan bertemu lagi, selama aku masih hidup didunia ini. "

"Kalau begitu, pergilah adikku Akan kunantikan kesempatan baik itu "

"Cici. "

Dia ingin mencium perempuan itu, sebab ia dapat membaca suara hati peremuan itu, namun ia tidak berbuat demikian, sekuat tenaga ditekannya pergolakan hatinya yang hampir tak terkendalikan itu, lalu mengangguk tanpa berkata kata dan berlalu dari situ dengan kecepatan penuh.

Helaan napas sedih berkumandang dari belakang, suara itu mengenaskan hati membuat hati orang ikut menjadi sedih. Han Siong Kie tidak berpaling, ia kabur ke depan dengan sekuat tenaga, agaknya dia hendak ngebut untuk menghilangkan perasaan dan pikirannya yang kalut, ia berusaha keras untuk mengendalikan diri, untuk tidak memikirkan dia lagi.

semua pikiran dan ingatannya dialihkan kesoal lain, sambil melakukan perjalanan cepat ia coba menduga siapa gerangan orang-orang yang mengirim surat peringatan kepadanya itu.

"Kalau dilihat dari gaya tulisannya, sudah pasti orang itu adalah seorang perempuan" demikian ia berpikir, "dalam keadaan terluka tentu saja aku tak dapat menangkap gerakan tubuhnya, tapi Buyung Thay kan bukan manusia sembarangan, dia adalah seorang jago lihay yang berilmu tinggi, tapi toh orang itu berhasil meninggalkan surat peringatan dan berlalu tanpa diketahui jejaknya, ini terbukti kalau perempuan tersebut adalah seorang manusia luar biasa yang berilmu tinggi, tapi siapakah dia?"

Setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu berpikir lebih jauh:

"Perempuan itu sudi meninggalkan surat peringatan untukmu, dus berarti orang itu pasti bukan orang yang terlampau asing bagiku, tapi siapakah dia...?"

Pemuda itu benar benar tak habis berpikir, ia tak dapat menemukan perempuan manakah diantara orang orang yang dikenalnya itu memiliki ilmu silat yang begitu tinggi?

Selain itu, diapun tak tahu siapakah tokoh sakti yang diam diam melindungi keselamatan jiwanya dalam ruangan tadi?

Mengapa orang itu segera berlalu setelah menyelesaikan tugasnya?

"Andaikata orang yang meninggalkan surat peringatan itu tak lain adalah si pelindung keselamatannya dalam ruangan, mengapakah orang itu harus bersikap semisterius itu?" Ketika akhirnya pemuda itu tidak berhasil menemukan sebab musababnya, maka pikirannya lantas beralih ke soal lain, sekarang dia memikirkan tentang Hun si mo ong, gembong iblis tua yang disegani banyak orang itu.

Menurut keterangan dari Buyung Thay, katanya gembong iblis tua yang berusia seratus tahun ini telah bergabung dengan pihak Thian che kau, bahkan Mo siu ing si malaikat hawa dingin telah tersekap dalam benteng maut, ini menunjukan bahwa kepandaian silat yang dimiliki Hun si mo ong masih bukan tandingan dari pemilik benteng maut.

Gurunya ketua dari perkumpulan Thian che kau, Yu Pia lam telah dihajar sampai cacad oleh ouyang Beng, pemilik benteng maut angkatan pertama, dan sekarang Yu Pia lam telah merencanakan suatu pembalasan dendam untuk membumi hanguskan benteng maut, itulah akibat dendam dibalas dengan dendam.

Padahal ia tahu, pemilik benteng maut angkatan pertama ouyang Beng berdiam dilembah kematian, kecuali dia Hek pet sian yau juga mengetahui akan hal ini, diapun sadar bahwa persoalan itu menyangkut suatu rahasia dunia persilatan yang tak mungkin akan diketahui orang lain-

Dengan kekuatan dari perkumpulan Thian che kau serta kepandaian silat yang dimiliki Yu Pia lam, melenyapkan benteng maut bukanlah suatu pekerjaan yang menyulitkan, apalagi selama ini bukan Yu Pia lam sendiri yang menyelesaikan tugas-tugas perkumpulannya tapi penggantinyalah yang mengerjakan kesemuanya itu, sedang ia bersama ke sepuluh orang utusan khususnya menyembunyikan diri selama belasan tahun, dapat dibayangkan sampai dimanakah kemajuan ilmu silat yang dimilikinya selama ini.

Sebelum melakukan serbuan ke Benteng maut, perkumpulan Thian che kau telah menyikat dulu perkumpulan- perkumpulan lain yang bercokol dalam dunia persilatan, kemudian menggertak pula partai partai besar lainnya untuk tunduk dibawah perintahnya, dari sini dapat diketahui bahwa Yu Pia lam memang mempunyai ambisi besar untuk menguasai seluruh jagad dan mengangkat diri jadi kaisar dunia kangouw.

Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya, sekali lagi dia membayangkan semua sakit hati, semua perselisihannya d engan pihak Thian che kau, baik dalam sengketa baru maupun dalam perselisihan lama.

Hari sudah lama terang tanah, namun tidak nampak cahaya sang surya yang menongol dari balik awan.

Udara masih gelap dan diliputi awan mendung yang kelabu, saat itu dua ratus li sudah dia melakukan perjalanannya.

Angin dingin berhembus dengan kencangnya menerpa mukanya yang murung, dari ke lapat-lapat terdengar bunyi gemuruh dan geledek yang memekikan telinga.

Awan gelap berhembus lewat dari delapan penjuru lalu menggumpal diudara, membuat angkasa makin gelap karena awan hitam.

Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya, lalu menengadah dan memandang keadaan cuaca sekitarnya.

"Aaai... awan mendung telah menyelimuti angkasa, hujan badai sebentar lagi akan tiba " gumamnya.

Dia coba memandang sekitar tempat itu, namun tiada perumahan yang dilihatnya, dia masih jauh dari dusun terdekat.

Sebercak sinar keemasan melintas ditengah udara, disusul dengan suara gemuruh yang memekikkan telinga. satu ingatan terlintas dalam benaknya

Hujan segera akan turun, aku harus cari tempat berteduh... Dengan gerakan cepat ia maju kedepan dan berusaha mencari tempat yang pantas untuk menghindarkan diri dari hembusan air hujan.

Kilat menyambar-nyambar, suara guntur menggelegar diseluruh permukaan bumi, disusul angin ribut dan hujan yang amat deras, dalam waktu singkat seluruh jagad sudah terbungkus oleh badai yang mengamuk dengan dahsyatnya, air hujan bagai ditumpahkan dari atas langit.

Han Siong Kie kabur sipat kuping ditengah hujan angin yang deras, dalam waktu singkat sekujur badannya sudah basah kuyup,

Air hujan membasahi kepalanya, menetes dan membasahi pula mukanya, membuat pandangan matanya jadi kabur dan samar-samar.

Kembali sebercak kilat berwarna keemas-emasan membelah angkasa.

Tiba-tiba ia menemukan sesuatu, seperti tersambar halilintar Han Siong Kie berdiri tertegun dengan tubuh gemetar.

Ia telah melihat sesuatu, itulah tanah pekuburan dengan tulang-tulang putih yang berserakan di mana-mana....

Angin ribut, hujan badai, gelegarnya guntur sambaran halilintar, tempat yang sepi ... tulang yang berserakan...

Tiba-tiba ia seperti teringat akan setahun berselang ....

kejadian yang pernah dialaminya belum lama, untuk sesaat ia berdiri tertegun.

Setahun berselang, suatu malam yang gelap dengan hujan angin yang turun dengan derasnya, ia dengan membopong susioknya yang sakit parah dan hampir mati si tangan naga

beracun Thio Lin telah mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang belulang yang berserakan, waktu itu paman gurunya telah membongkar tabir rahasia tentang asal usulnya, membongkar pula dendam kus umat sedalam lautan yang telah menimpa keluarganya.

Kini, setahun sudah lewat... tapi dendam kesumat sedalam lautan itu belum juga terbalas.

Dua ratus sosok lebih tulang belulang yang berserakan, masih tercecer ditengah puing-puing yang berserakan dalam perkampungan keluarga Han. Air mata bercampur dengan air hujan menetes keluar membasahi wajahnya yang tampan.

Ia menjerit keras, larinya makin kencang, sekarang tak diperdulikan lagi betapa derasnya angin dan hujan yang menerpa tubuhnya, dia berganti arah dan lari sekuatnya...

Esoknya ketika senja telah menjelang tiba, sianak muda itu sudah tiba didepan sebuah perkampungan yang porak poranda, itulah perkampungan keluarga Han, tempat dimana dia dilahirkan-

Dinding bangunan itu sudah banyak yang roboh sarang laba-laba menghiasi tempat-tempat itu, bunyi cengkerik ditambah pula kunang-kunang yang terbang kian kemari bagaikan api setan, menambah seram dan ngerinya perkampungan yang dilupakan orang itu.

Dengan penuh kesedihan dan menahan air mata yang terasa meleleh keluar, Han Siong Kie berjalan diantara semak liar yang menyelimuti sekitar tempat itu, akhirnya ia berhasil temukan tulang-tulang manusia yang berserakan dimana- mana..

Itulah tulang belulang dari sanak saudaranya, itulah tengkorak dari anggota perkampungannya.

Ia merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku dan kejang, kakinya terasa berat bagaikan diberi bandulan besi seberat beberapa ratus kati, sukar rasanya untuk melangkah kedepan. Ia pejamkan matanya rapat-rapat dan mengatur nafasnya yang terengah-engah, kemudian selangkah demi selangkah pelan-pelan meneruskan perjalanannya masuk kedalam.

Ruang tengah masih berdiri tegak seperti sedia kala, cuma jendelanya sudah makin hancur, sarang laba-laba dan rumput ilalang tumbuh dimana- mana membuat ruangan tersebut tampak begitu mengerikan seperti kuburan yang tak terawat.

sementara pemuda itu masih termenung menyaksikan segala sesuatu yang terpapar didepan matanya, mendadak ia mendengar suatu gerakan yang aneh...

Semua perhatiannya lantas dipusatkan jadi satu, ia berusaha mengamati suara itu dengan teliti akhirnya dapat dikenalinya suara itu sebagai suara isak tangis seseorang yang tertahan tahan suara itu berasal dari ruang belakang.

Tak kuasa lagi berdirilah seluruh bulu kuduk Han Siong Kie ia tahu pasti bahwa gedung itu kosong dan terbengkalai, kecuali tulang tulang manusia yang berserakan dimana mana tak seorang manusia hiduppun yang tinggal disitu, tapi dari

mana datangnya suara tangisan itu?

Mungkinkah sukma sukma penasaran yang masih gentayangan didunia telah munculkan diri untuk menyatakan protesnya?

Han Siong Kie pun cukup mengetahui jelas, kecuali dia dan ibunya yang telah kawin lagi yaitu say siang go (si siang go cantik) ong cui ing, boleh dibilang semua anggota keluarganya sudah tewas dalam keadaan mengerikan, kalau dibilang isak tangis itu berasal dari orang yang berziarah kesitu, lalu siapakah dia?

Isak tangis masih berkumandang di udara sekalipun hanya sayup-sayup sampai, namun mendatangkan perasaan yang makin mencekam bagi pendengarnya. Suara itu makin jelas sekarang, Han Siong Kie tahu suara itu adalah suara tangisan dari seorang perempuan.

Pemuda itu untuk sesaat agak ragu ragu tapi toh.. akhirnya dia maju juga ke muka dan memasuki ruangan itu.

Isak tangis yang terdengar tadi sontak berhenti, suasana jadi hening sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Sekali lagi Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras. "Manusia atau setan orang itu?" pikirnya.

Tapi ketika sinar matanya terbentur dengan sosok kerangka manusia yang terletak ditengah ruangan, pemuda itu lupa akan segala-galanya, ia menubruk masuk kedalam ruangan dan menangis tersedu-sedu, sebab pemuda itu masih ingat jelas kedua sosok tulang belulang itu tak lain adalah tengkorak dari ayahnya Han si wi dan tengkorak dari paman gurunya si Tangan naga beracun Thio Lin.

Meledaklah isak tangis si anak muda itu, semua kesedihan dan kemurungan yang menekan jiwanya selama ini semua dilampiaskan keluar, air mata bagaikan bendungan yang jebol mengucur keluar dengan derasnya, membasahi wajah dan pakaiannya.

Entah beberapa lama sudah lewat, akhirnya ia berhasil mengendalikan perasaannya, isak tangisnya kian berkurang dan akhirnya berhenti.

Sambil menyela air mata, pelan-pelan ia menengadah, bekas sepasang telapak tangan dan selembar kain yang basah oleh air mata, tiba-tiba dijumpainya dibalik reruntuhan ruangan itu.

"Manusiakah disitu?" teriak Han Siong Ki dengan suara parau, ia tahu bekas telapak tangan dan kain itu tentu milik perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu tadi.

"Nak kau tak usah ketakutan, akulah disini" seseorang berbisik lirih. Menyusul berkumandangnya suara itu muncullah seorang perempuan berkerudung dari balik puing puing yang berserakan disana.

"Oooh... cianpwe rupanya kau" Han Siong Ki berteriak kaget begitu mengetahui siapa yang munculkan diri

Memang benar perempuan berkerudung itu tak lain adalah orang yang kehilangan sukma, manusia misterius itu.

"Mengapa ia datang kemari ?" pikiran tersebut cepat

melintas dalam benak anak muda itu.

Memang kejadian tersebut memang sangat aneh, apa sebabnya orang yang kehilang sukma mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang berserakan itu ditengah malam buta? Apa pula sebabnya ia menangis dengan sedihnya?.

Tampaknya orang yang kehilangan sukma masih diliputi oleh kesedihan, ketika mendengar seruan tersebut dia menyahut dengan suara yang pedih dan penuh kepiluan hati:

"Benar anakku akulah yang barada disini"

Untuk sesaat Han Siong Ki bsrd iri tertegun ia tak tahu apa yang musti dilakukan dalam keadaan begini.

"Kalau begitu kalau begitu isak tangis yang kudengar

tadi adalah suara tangisan dari cianpwee " bisiknya

kemudian-

"Benar, akulah yang sedang menangis"

"Ada urusan apa cianpwe berkunjung ke perkampungan yang telah porak poranda ini ditengah malam buta?"

"Aaai nak bukankah aku pernah berkata kepadamu

bahwa aku mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keluargamu? Tentu saja aku datang kemari untuk berziarah" Kecut rasa hati sianak muda itu sehabis mendengar perkataan itu, namun tiada air mata yang menetes keluar, karena air matanya telah mengering.

"Cianpwe, sebetulnya hubungan apakah yang terikat antara cianpwe dengan keluargaku almarhum" pintanya.

"Aku tak dapat mengatakannya sekarang nak. tapi dilain waktu kau akan tahu dengan sendirinya."

Sesak rasanya pernapasan Han Siong Ki membuat ia agak tersengkal, kemudian ditunjuknya tengkorak yang terkapar disebelah kanan dan tegurnya: "Locianpwee tahukah  engkau "

"Tak usah kauterangkan, aku tahu dia adalah jenasah dari paman gurumu si tangan naga beracun Thio Lin"

Dengan satu tatapan yang penuh perasaan heran bercampur kaget Han Siong Ki menatap wajah orang yang kehilangan sukma tanpa berkedip. ia tahu dewasa ini hanya orang yang kehilangan sukma seorang yang tahu tentang rahasia dibalik misteri bunuh dirinya Thio Lin setahun berselang, dan hanya dia pula yang mengerti ucapan yang dikatakan paman gurunya sebelum bunuh diri, sebab perempuan ini seakan akan menguasai semua persoalan yang membingungkan hatinya.

Tentu saja anak muda itupun tahu bahwa orang yang kehilangan sukma tak nanti akan memberitahukan semua rahasia itu kepadanya, kendati demikian rasa ingin tahu yang bergelora dalam dadanya benar benar tak terkendalikan lagi, segera serunya dengan emosi:

"Cianpwe, aku benar-benar merasa tidak habis mengerti dengan tindak tanduk dari cianpwe"

"Nak keadaannyalah yang memaksa aku untuk berbuat demikian, ketahuilah, saat terbukanya semua rahasia besar itu tak akan lama lagi, nantikan saja kesempatan itu" "Boanpwe tak ingin tahu semua rahasia tersebut sekaligus, pada saat ini boanpwe hanyi ingin mengetahui satu persoalan, apakah cianpwe bersedia untuk menerangkan?"

"Apa yang ingin kau ketahui? Coba katakan"

"Sesaat sebelum susiok si tangan naga beracun Thio Lin bunuh diri, beliau pernah berguman katanya sampai hari itu tecu baru bisa melaksanakan perintah suhu, katanya pula ia mati demi perintah perguruan, sampai detik ini boanpwe masih belum memahami tentang soal ini, apakah cinapwe bersedia membuka rahasia dibalik teka-teki itu?" orang yang kehilangan sukma menghela napas sedih.

"Aaai. apa yang dilakukan susiokmu memang benar, akan

tetapi "

"Akan tetapi kenapa?"

"Dia mati terlalu mengenaskan, kematiannya adalah kematian yang penasaran-.."

"Mengapa bisa begitu?"

"Bila arwahnya di alam baka mengetahui akan hal ini, mungkin selamanya ia tak dapat memejamkan matanya"

"Kenapa? Cianpwe belum kau terangkan apa sebabnya begitu " seru si anak muda itu dengan panik,

Sekujur badan orang yang kehilangan sukma gemetar keras, rupanya pergolakan emosi yang di alami cukup hebat hingga nyaris tak kuat menahan diri

"Nak" akhirnya setelah termenung lama sekali dia baru berkata, "susiokmu langsung mati oleh siasat keji dari musuh besarmu itu, tapi boleh juga dikatakan bahwa ia mati oleh karena peraturan perguruan yang terlampau ketat".

"Boanpwe tidak mengerti, apakah cianpwe sudi lebih menjelaskan duduknya perkara?" pinta Han Siong Kie dengan wajah seperti orang kehilangan. "Maafkanlah aku nak, aku hanya bisa berkata sampai disitu dan lagi apa yang kuucapkan tadi sudah terlampau berlebihan"

"Tapi...cianpwe, boanpwe ingin tahu perguruan dari mendiang ayahku, bersediakah engkau untuk memberi keterangan?"

"Maafkanlah aku nak. aku tak dapat memberitahukan soal itu kepadamu"

"Kenapa tak dapat? Kenapa .....?? Kenapa ?"

Han Siong Kie hampir berteriak kalap saking penasarannya. "Tenangkan hatimu nak" bisik orang yang kehilangan

sukma coba menghibur " jangan emosi dan memburu hawa

kemarahan, suatu saat kau toh akan mengetahui semua secara komplit? Buat apa musti panik disaat yang tak menguntungkan?"

"selain daripada itu "

"Apa lagi yang ingin kau tanyakan?" tukas orang kehilangan sukma..

"Sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan susiok berpesan kepadaku agar jangan membalas dendam, tak boleh membereskan tulang-tulang yang berserakan disini, mengapa begitu?? Mengapa..?"

"Menurut jalan pemikirannya waktu itu, apa yang dia lakukan memang benar, tapi. yaa, sampai matipun dia masih

belum sadar bahwa apa yang dilakukan itu sebenarnya keliru besar"

"Dimanakah letak kekeliruannya cianpwe?" "Tentang soal ini maafkanlah daku nak, sudah

terlampau banyak yang kukatakan" Dengan perasaan apa boleh buat Han Siong Ki menghela napas, tapi ia tak mau menyerah dengan begitu saja.

"Cianpwe" katanya lebih jauh, "kalau engkau memang benar benar mengetahui duduknya persoalan ini dengan jelas, mengapa tidak kau cegah niat susiok boanpwe yang hendak bunuh diri itu?"

"Aku sama sekali tak menduga nak kalau dia bakal berbuat begitu Tapi ada satu hal dapat kukatakan kepadamu, kematian susiokmu si tangan naga beracun Thio Lin yang amat penasaran itu telah mendatangkan perasaan sedih yang tak terkirakan bagiku, mungkin rasa sedihku itu tidak berada dibawah kesedihanmu, mengertikah kau?"

Dengan hati yang bimbang Han Siong Kie mengangguk, sekalipun ia sudah melakukan gerakan yang menyatakan dia mengerti, hakekatnya dia sama sekali tidak tahu apa yang telah diketahui atau dimengerti olehnya.

"Nak, bila suatu ketika kau dapat membalas dendam dengan tanganmu sendiri, kau harus membangun kembali perkampungan keluarga Han ini serta mengubur semua tulang belulang yang berserakan dimana mana itu" kata orang yang kehilangan sukma lagi.

"Tentu cianpwe" sahut Han Siong Kie sambil menggigit bibir, "boanpwe sudah mempunyai rencana yang masak tentang soal itu, dan aku tak akan melupakan nasehat dari cianpwe itu"

"Baik Kalau begitu akupun harus tinggalkan tempat ini, kau sendiri juga tak perlu lama lama berdiam disini lagi."

"Cianpwe mau pergi.? "

"Benar oh iya, ada satu hal hendak kukatakan

kepadamu, hampir saja kelupakan"

"Apakah engkau marasa amat menyesal dengan kejadian dibukit Thay huang san tempo hari? Apakah kau merasa kurang senang karena harus bertunangan dengan nona Go siau bi?"

"Tentang soal ini .... tentang soal ini "

"Katakan saja secara terus terang, utarakan semua suara hatimu secara blak-blakan"

Han Siong Kie tidak langsung menjawab, dalam hati kecilnya diam-diam ia berpikir:

"Huuh, buat apa banyak bicara? Memangnya aku tak tahu kalau kesemuanya ini adalah hasil karyamu seorang? sekarang nasi telah menjadi bubur, kurang senang mau apa? Kecewa lantas kenapa?"

Tentu saja diapun tak dapat membungkam melulu maka selang sejenak kemudian diapun menyahut:

"Soal kurang senang atau kecewa lebih baik kita kesampingkan, yang boanpwe khawatirkan justru lantaran peristiwa ini, aku akan menjerumuskan masa depan nona Go ke jurang kehancuran"

"Nak ketahuilah Go siau bi dapat menjadi seorang istri yang bijaksana bagimu"

"Aku tahu dan aku rasa itu memang benar"

"Nak kalau sudah tahu begitu kuharap agar kau jangan menyia-nyiakan cinta kasihnya lagi, selain itu kaupun harus ingat pelajaran orang kuno yang mengatakan bahwa ketidak berbaktian ada tiga"

"Akan boanpwe ingat selalu dihati" sahut Han Siong Kie sambil tertawa getir..

"Nah, kalau memang begitu, baik-baiklah jaga diri, aku akan pergi lebih dulu" Begitu selesai berkata ia lantas bangkit dan berlalu dari situ. Memandang kepergian perempuan misterius itu Han Siong Ki cuma berdiri termangu- mang u, akhirnya diapun bangkit berdiri, menghampiri dinding ruangan membersihkan debu yang melekat d isana dan terlihatlah kembali lambang tengkorak maut yang masih terpampang disana.

Darah yang mengalir dalam tubuhnya mendadak berputar dengan kencangnya, entah mengapa ia merasa timbulnya suatu perasaan aneh dihati kecilnya, hawa napsu membunuh yang tebalpun seketika menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sekali lagi ia jatuhkan diri berlutut, kemudian bisiknya dengan lirih:

"Ayah, susiok, semoga arwah kalian beristirahat dalam ketenangan, bila putramu yang berbakti berhasil membalas dendam, pasti akan kudatangi kembali tempat ini untuk mengebumikan tulang belulang kalian semua"

Selesai berdoa dengan perasaan hati yang pedih danpenuh dengan penderitaan berangkatlah anak muda itu meninggalkan perkampungan keluarga Han dan menuju benteng maut.

Sepanjang perjalanan ia terbayang kembali akan diri Tonghong Hui yang amat mencintainya, ia merasa cinta kepada dara itu bahkan cintanya tak akan padam walau sampai matipun, akan tetapi sekarang, dia akan pergi membalas dendam, dia akan pergi membunuh ayahnya... yaa begitulah kalau takdir berbicara lain... kadangkala takdir memang keji terhadap umatnya ....

Hakekatnya niat pemuda itu untuk membalas dendam boleh dibilang ibaratnya teguhnya bukit karang, tapi ....

manusia tetap manusia, penderitaan batin memang tak dapat dihindari dengan begitu saja.

Ia sangat berharap agar pemilik benteng maut bukanlah musuh besar pambunuh ayahnya, tapi kenyataan telah mencabik cabik lamunannya itu, Tonghong Hui tak pernah mengutarakan bantahannya terhadap segala tuduhan yang pernah dilontarkan kepada dara itu.

"Selesai membalas dendam, aku akan bunuh diri sebagai pernyataan setiaku padanya" entah berapa ratus kali kata-kata tersebut berkumandaug dalam hati kecilnya.

Yaa, memang benar Hanya kematianlah yang dapat membebaskan pemuda itu dari simpul mati tersebut.

Demi membalas dendam atas kematian ayahnya, anak muda itu harus membinasakan ayah dari kekasihnya, sedangkan Tonghong Hui demi cintanya tak dapat membalaskan dendam bagi orang tuanya dia hanya bisa menggunakanjiwanya untuk menebus dosa ketidak berbaktinya, maka untuk membayar semua pengorbanan sang dara, pemuda itupun harus menebusnya dengan selembar nyawa sendiri.

Ia masih ingat ketika bertemu lagi dengan Tonghong Hui ditepi sungai, ia merasa amat bahagia karena gadis itu lolos dari kematian, tapi wajahnya ketika itu serta nada ucapannya seakan-akan mengandung nada perpisahan, atas kejadian tersebut, sampai sekarangpun dia masih merasa heran bercampur curiga.

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, ia

teringat dengan lembaran kertas yang pernah diserahkan Hek pek siang-yau kepadanya sewaktu masih berada dalam lembah kematian tempo hari, dalam kertas itu tertera beberapa huruf yang ditulis oleh ouyang Beng, pemilik benteng maut angkatan pertama yang pandai meramal itu. "Tipu muslihat banyak tersebar dalam dunia persilatan.

Bencana timbul dari persaudaraan. Dikala dendam sakit hati terbongkar. Musnahlah penghianat dari muka bumi"

Tapi apakah makna dari empat bait syair itu, sampai sekarang ia masih tak paham, ouyang Beng memiliki ilmu meramal yang amat lihay itu berarti tak mungkin ramalan tersebut diberikan kepadanya tanpa sebab sebab tertentu.

Sepanjang perjalanan pelbagai ingatan serasa berkecamuk dalam benaknya, membuat pikirannya jadi kalut dan tak tenang.

Akhirnya suatu hari, ketika senja baru menjelang tiba, benteng maut telah muncul didepan matanya.

Ombak menggulung ketepi pantai dan menumbuk diatas batu karang, lalu membuyar dan memercikkan busa-busa air yang banyak. diatas batu karang itu berdirilah sebuah bangunan besar yang kokoh mendatangkan perasaan ngeri bagisiapapun yang melihat, itulah benteng maut

Pemandangan disekitar gedung itu tetap seperti sedia kala, sama sekali tak berubah, tapi manusia nya telah mengalami perubahan besar.

Keadaan Han Siong Kie dewasa ini sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan masa lalu, sekarang ia datang kembali ke dalam benteng maut dengan bekal ilmu si mi sinkang yang maha dahsyat, ia berkeyakinan menagih kembali hutang darahnya dari pamilinya"

Ketika sinar matanya dialihkan kesamping, memandang batu raksasa yang berdiri dengan angker nya tak jauh dari pantai, tiba-tiba saja sekujur badannya bergetar keras.

Disanalah dia mengikat diri sebagai saudara angkat dengan Tonghong Hui, disana juga mereka mengikat janji sehidup semati, disitulah mereka memupuk cinta.

Batu cadas itu masih berdiri seperti sedia, kala, tapi manusianya telah berubah, peristiwanya pun ikut berubah.

-ooo0dw0ooo-

BAB 83 WAKTU itu, mungkinkah ia pernah menyangka kalau Tonghong Hui adalah putrinya musuh besar pembantai keluarganya?

Malahan waktu itu mereka saling mengutarakan cinta kasih, saling membentuk kasih sayang yang tak terkirakan besarnya.

Tapi sekarang, dia hendak membunuh ayahnya, inilah kekejaman takdir, karena kesemuanya itu takdirlah yang mengatur. "Adik Hui, maafkanlah daku" ia bergugam lirih.

Sambil mengertak gigi tubuhnya bergerak lebih jauh kedepan, diseberanginya jembatan batu itu, gerbang benteng yang mengerikan itu.

Sebuah lambang kepala tengkorak warna merah darah yang terpancang diatas dinding benteng membuat pemuda itu teringat kembali akan lambang yang sama yang tertera diatas dinding ruang tengah perkampungan keluarga Han, lambang itu telah mengakibatkan terbengkalainya hampir dua ratus sosok tulang belulang anggauta keluarga Han.

Peredaran darah dalam tubuhnya mengalir makin cepat, jantungnya berdebar makin kencang napsu membunuh yang tebal muncul dari dasar hatinya dan menyelimuti seluruh wajahnya.

Secepat sambaran kilat ia melejit keudara lalu meluncur kedalam benteng itu, berada diangkasa kakinya cepat menjejak dinding benteng dan menerobos masuk kedalam halaman sebelah dalam.

Baru saja ia melayang turun ketika segulung hawa pukulan yang maha dahsyat menerpa datang dari depan, menyusul kemudiai muncullah sesosok bayangan hitam didepan matanya.

Han Siong Kie tertawa sinis, dengan suatu ayunan tangan yang cepat dia punahkan datangnya sergapan tajam yang muncul dari arah depan itu kemudian dengan sinar mata setajam sembilu di tatapnya penyerang itu tanpa berkedip.

Dia tak lain adalah simanusia aneh berambut panjang yang pernah ditemuinya dalam benteng tempo hari, dia pula orang yang memapak pulang Tong hong -Hui ketika ada ditepi sungai tempo dulu dan oleh gadis itu dipanggil sebagai siau suhengnya.

Manusia aneh berambut panjang itu sendiri berdiri dengan wajah menggidikkan hati, sinarmatanya tajam menyeramkan membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik dan ketakutan.

Tentu saja Han Siong Kie tidak akan ketakutan dibuatnya, sambil menggertak gigi dia malah membentak keras.

"Panggil keluar gurumu, suruh dia kemari untuk temui aku"

Manusia aneh itu berdiri kaku tanpa bergerak barang sedikitpUn jua, seolah-olah tidak diacuhkan teriakan tersebut sementara matanya yang mengidikkan hati itu mengawasi gerak gerik Han Siong Kie tanpa berkedip.

"suruh tengkorak maut unjukkan diri" sekali lagi Han Siong Kie membentak keras.

Manusia aneh masih belum juga beranjak dari tempatnya semula, malahan kali ini sambil berpekik aneh dia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang maha dahsyat.

Dahsyat sekali angin pukulan yang dihasilkan oleh serangan tersebut, bukan saja cepat bahkan kehebatannya membuat nyali orang jadi rontok rasanya.

Han Siong Kie tertawa dingin, ketika serangan lawan hampir mencapai pada sasarannya, tiba-tiba tangan kirinya berputar kencang untuk punahkan dua buah serangan yang mengancam keselamatan tubuhnya itu, menyusul kemudian telapak tangan kanannya disodok kemuka menyongsong tibanya serangan ketiga dari musuh. "Blaaang..." suatu benturan yang dahsyat tak dapat dihindari lagi, oleh benturan tersebut si manusia aneh berambut panjang itu terlempar ke belakang dan mundur beberapa langkah.

"Uwaaak..." sambil berkaok aneh, tiba-tiba manusia aneh itu rentangkan kembali sepasang lengannya, setelah membentuk gerakan melingkar yang saling bersilang didepan dada, dia menolaknya kemuka.

Hembusan angin panas yang menyengat badan seketika itu juga memancar kemuka dan menekan dada lawannya dengan kekuatan bagaikan gulungan ombak disamudra bebas.

Han Siong Kie terkesiap. dia tahu pukulan yang dipraktekkan si manusia aneh itu pastilah ilmu silat aliran khusus dari benteng maut, jago lihay kelas satupun belum tentu dapat menahan gempuran yang sangat mengerikan itu.

Untuk menghindari sebala kemungkinan yang tak diinginkan, anak muda itu tak berani bertindak gegabah, dihimpunnya ilmu sakti si mi sin kang sampai delapan bagian besarnya, kemudian ditolaknya kedepan untuk membendung serangan lawan.

Suatu ledakkan dahsyat kembali menggelegar diangkasa, kali ini manusia aneh tersebut tak kuasa menahan diri lagi, sambil berpekik nyaring karena kesakitan tubuhnya mencelat sejauh dua kaki kebelakang, darah segar memancar keluar bagaikan semburan mata air.

Han Siong Kie mendengas dingin, dia tak sudi menengok keadaan musuhnya lagi, begitu simanusia aneh itu terjengkang dalam keadaan luka, sontak ia lanjutkan perjalanannya lagi maju kedepan.

Keheningan yang luar biasa mencekam sekeliling tempat itu, suasana penuh diliputi ketegangan, kengerian dan kegelapan, jalan jalan raya yang sempit, rumah-rumah batu yang tersebar disana sini terasa begitu kelabu, mendatangkan perasaan ngeri dan menggidikkan hati bagi siapapun yang menemuinya..

Selang sesaat kemudian, ia sudah tiba disebuah persimpangan jalan, pemuda itu mulai sangsi, kemana ia harus pergi ?

Ia cukup menyadari kelihayan rumah-rumah batu itu, sebab semua rumah batu yang ada disitu dibangun sesuai dengan sebuah barisan yang maha dahsyat, dan tempo hari dia pernah merasakan kelihayan dari barisan rumah-rumah batu itu

Selain barisan sakti, diapun tahu bahwa dibalik rumah- rumah berbatu yang tertutup rapat itu mendekam jago-jago lihay dunia persilatan yang disekap disana, Im yang siang sat termasuk dua diantaranya.

Menerjang masuk kedalam benteng dengan mendobrak barisan rumah batu? Pemuda itu cukup mengetahui kemampuan sendiri, tak mungkin baginya untuk menembusi barisan aneh itu dengan mudah.

Atau mungkin membumi ratakan saja rumah-rumah batu itu ? Tentu saja dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, bukan pekerjaan yang terlampau sulit baginya untuk melaksanakan itu, tapi diapun tahu akibatnya.

Orang-orang yang disekap dalam rumah-rumah batu itu pasti akan mampus semua, sebagai korbannya.

Sementara anak muda itu masik sangsi, tiba-tiba dari arah belakang tubuhnya ia mendengar sesuatu yang aneh.

"Malaikat penyakitan. Nyalimu benar-benar terlampu besar, kembali kau muncul disini" dingin dan mengerikan sekali suara teguran itu. Tak terkirakan rasa kaget yang dialami Han Siong Ki waktu itu, suara tersebut cukup dikenal olehnya sebab itulah dari pemilik benteng maut, si tengkorak maut adanya.

Malaikat panyakitan adalah nama samarannya ketika ia datang memenuhi tugas yang dibebankan gurunya Mo tiong ci mo tempo dulu, tentu saja diapun tahu bahwa malaikat penyakitan masih berlaku bagi sebutannya.

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir ia putar badan, tapi apa yang kemudian terpapar dihadapan matanya membuat ia tercekat dan hampir saja berseru kaget.

Kurang lebih dua kaki didepan matanya berdiri seorang kakek berjubah hijau, dialah pemilik benteng maut, hanya kali ini kerudung wajahnya telah dilepas hingga tampaklah raut wajah aslinya.

Betul betul setajam sembilu sinar mata orang itu, wajah Han Siong Kie yang ditatapnya itu seakan-akan mau ditelan secara bulat.

Han Siong Kie sendiripun dipengaruhi pergolakan emosi, berhadapan muka dengan musuh besar pembantai keluarganya, ia merasa peredaran darah dalam tubuhnya mengalir makin cepat, matanya merah berapi api, napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya membuat ia tampak menyeringai seram, lebih seram dari malaikat buas macam apa pun.

"Malaikat penyakitan, kau masih berani datang kemari. "

tegur pemilik benteng maut dengan suara berat.

"Tengkorak maut, dengarkan baik baik, teriak pemuda itu sambil menggertak gigi, tempo hari aku datang kemari untuk melaksanakan tugas guruku maka aku bernama Malaikat penyakitan, tapi ini hari aku datang untuk urusan pribadiku, maka kugunakan nama asliku sendiri Han Siong Kie"

"Han Siong Kie?" "Benar, aku Han Siong Kie datang kemari untuk menyelesaikan hutang darah yang telah kau lupakan dimasa lalu."

"Hutang darah ....? HaaaHh... haaaHh... haaah selama

hidup entah berapa banyak sudah hutang darah yang kubuat, banyak pula penagih-penagih nya datang kemari menuntut pokok dan bunganya tapi.... hehehe Aku rasa belum pernah

ada yang pulang dalam keadaan segar bugar nah, katakanlah dengan cara apa hutang darahmu itu akan kau tagih kembali?"

"Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa"

Mendengar jawaban tersebut sekali lagi pemilik benteng maut tertawa terbahak bahak, mengerikan sekali suaranya.

"Bagus, bagus boleh saja kau lakukan asal kemampuanmu cukup untuk menagihnya kembali" Dalam keadaan begini boleh dibilang seluruh benak dan perasaan Han Siong Kie hanya dipenuhi oleh ingatan untuk membalas dendam, terhadap pesan yang diucapkan orang yang kehilangan sukma berulang kali itu boleh dibilang sama sekali telah terlupakan, sekarang dia hanya membutuhkan pembalasan dendam, lain tidak.

"Tengkorak maut akan kucincang tubuhmu berkeping- keping, lalu kuhancurkan badanmu jadi abu" teriaknya dengan suara geram.

"Hmm, silahkan dicincang." jengek pemilik benteng maut dengan senyuman dingin tersungging di ujung bibirnya, tentu saja ia tak pandang sebelah matapun terhadap lawannya ini karena sudah dua kali ia berhasil membikin musuhnya itu keok.

Han Siong Kie mendengus dingin, dia lancarkan pula sebuah pukulan maha dahsyat, kalau bisa inginnya dia bunuh musuh yang dibencinya itu dalam satu pukulan, karena itu dia telah menyertakan tenaga pukulannya sebesar sepuluh bagian lebih, dapat dibayangkan betapa dahsyatnya getaran angin pukulan yang dihasilkan dari serangan tersebut.

Terkejut juga pemilik benteng maut menghadapi ancaman yang tak terkirakan dahsyatnya itu, sebagai seorang jago yang berpengalaman, cukup dalam sekali pandangan saja ia telah tahu bahwa Han Siong Ki yang dihadapinya sekarang bukanlah Han Siong Ki yang dulu, tenaga dalam yang dimilikinya sekarang berkali kali lipat lebih hebat daripada apa yang pernah dikenalnya.

Berada dalam keadaan seperti ini ia tak berani bertindak gegabah, serta merta telapak tangannya diputar untuk menangkis tibanya ancaman-ancaman yang menggetarkan itu...

"Duuk Blaaang" benturan dahsyat tak terhindar lagi,

deras dan nyaring ledakan yang kemudian terjadi hingga memekikkan telinga orang, kedua belah pihak sama sama tergetar mundur selangkah oleh daya pantulan yang dihasilkan oleh gempuran itu.

Han Siong Ki tak mau menyerah dengan begitu saja, ia melejit lantas menerkam kemuka, dengan jurus Ngo ong kou ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan lagi sebuah pukulan dengan mengerahkan segenap kemampuan yamg dimilikinya.

Pemilik benteng maut mendengus dingin- sepasang tangannya ditebaskan berbareng ke muka, bukan saja ia berhasil memusnahkan serangan maut yang ganas dan maha dahsyat itu, malahan digunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk melepaskan pula tiga buah serangan balasan-

Pertarungan sengitpun segera berkobar, pertempuran ini betul betul berjalan dengan seru dan mendebarkan hati, selama ratusan tahun belakangan belum pernah terjadi pertarungan sedahyat itu, bumi serasa ikut bergoncang, debu beterbangan kemana-mana, membuat orang yang sempat mengintip jalannya pertarungan itu ikut bergetar karena ngeri.

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang sama-sama sempurnanya, setelah saling bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, terlihatlah begitu dahsyat dan mendebarkan hati.

Deruan angin pukulan menyapujagad bagaikan amukan taufan, batu dan pasir bermuncratan keempat penjuru, debu beterbangan menyelimuti seluruh angkasa, menambah seram dan tegangnya pertarungan-

Kian lama pertarungan itu kian bergeser mendekati dua buah rumah batu yang ada disekitar sana, termakan oleh deruan angin pukulan yang maha dahsyat itu, bangunan rumah rumah itu bergoncang dan bergetar keras seperti tertimpa gempa.

Terkejut juga pemiilik benteng maut menghadapi serangan- serangan itu, ia merasa telah berjumpa dengan lawan tandingan yang belum pernah di alaminya selama hidup, dan mimpipun dia tak menyangka kalau pihak musuh memiliki tenaga dalam sehebat itu.

Dalam waktu singkat seratus gebrakan sudah lewat tanpa terasa, makin bertarung Han Siong Kie semakin gigih, tenaga dalamnya mengalir ke luar tiada habisnya dan semua serangan yang dipakai rata rata adalah serangan mematikan yang mengerikan.

Sementara itu, pemilik benteng maut sendiri makin bertempur hatinya merasa makin bergidik, lima puluh gebrakan kemudian posisinya makin keteter hebat, ia dipaksa berada dibawah angin dan mundur terus tiada hentinya...

Tiba tiba pemilik benteng maut membentak keras, jurus serangannya segera dirubah, secara berun ia lancarkan tiga buah serangan berantai yang memaksa Han Siong Kie mundur sejauh lima depa dari tempat semula, sepasang tangannya itu di sodok dan ditarik secara berlawanan, dan segulung hembusan angin yang anehpun menyambar kemuka.

Perubahan jurus serangan ini boleh dibilang dilakukan sangat cepat dan sama sekali diluar dugaan.

Han Siong Kie cukup berpengalaman untuk menghadapi serangan serangan musuhnya, dari gerakan yang dilakukan kakek itu dia lantas mengerti bahwa musuh akan menggunakan ilmu Coan hiat sin goan ciang yang dapat membuat orang tak mampu menghimpun tenaganya itu untuk menghadapinya, ia terkesiap serentak tubuhnya melejit ke samping dan berusaha untuk menghindarkan diri.

Tampaknya pemilik benteng maut sudah memperhitungkan gerakan yang bakal dilakukan lawan, sementara Han Siong Ki bergeser kearah samping ternyata serangan anehnya itupun memapak dari samping pula, dengan demikian bukan saja Han Siong Ki tak dapat menghindarkan diri dari ancaman itu, dia malahan menyongsong datangnya ancaman-

Detik itu juga sianak muda itu merasakan sekujur badannya bergetar keras, hawa murninya terasa seperti tersumbat sesuatu, sadarlah ia bahwa gelagat tidak menguntungkan. "Aduh celaka..." bisiknya dihati.

Dipihak lain, pemilik benteng maut telah melanjutkan dengan serangan berikutnya, segulung hembusan angin yang maha dahsyat segera menggulung kemuka dan menghantam tubuh musuh.

"Duuk..." dalam keadaan tenaga murni yang membuyar, sulit bagi Han Siong Kie untuk menghindarkan diri, serangan itu bersarang telak diatas dadanya ....

Pemuda itu menjerit tertahan, sambil muntah darah tubuhnya tergentar mundur sejauh delapan langkah lebih kebelakang. Berhasil dengan serangannya yang pertama, pemilik benteng maut menyusul kemuka lebih jauh jari-jari tangannya bagaikan pancingan secepat kilat mencengkeram kedepan.

Han Siong Kie terancam bahaya, ia betul-betul terdesak hebat, apalagi menderita luka parah ini menyebabkan posisinya tidak menguntungkan, tapi ia tak sudi menyerah dengan begitu saja, jari-jari tangannya balas menyodok kedepan dengan ilmu jari Tong kim ci yang maha dahsyat itu.

Tindakan ini sama sekali diluar dugaan pemilik benteng maut, seketika itu juga tubuhnya terhajar oleh beberapa buah desiran angin jari yang amat tajam itu.

Untunglah ilmu sinkang peindung badannya cukup sempurna, selain daripada itu serangan tadi pun dilancarkan Han Siong Ki dalam keadaan tergesa-gesa, otomatis tenaga serangan yang dilancarkan dalam serangan itupun jauh lebih lemah dari keadaan semula, kalau tidak begitu, mungkin tubuh pemilik benteng maut sudah bertambah dengan beberapa buah lubang besar....

Terkena serangan tadi, pemilik benteng maut mendengus tertahan, tubuhnya segera melompat mundur ke belakang.

Kali ini Han Siong Kie tak mau mengalah lagi, ia menerjang maju kedepan, tenaga sakti si mi sin kang yang dimilikinya dihimpun mencapai dua belas bagian, kemudian pelan-pelan dilontarkan kedepan.

Gulungan kabut berwarna putih yang cukup tebal segera memancar keudara dan menggulung di sekeliling badan lawan.

Menghadapi ancaman maut itu, Pemilik benteng maut merasa hatinya bergidik, tak kuasa lagi dia berseru kaget. "Haaah... ? Ilmu sakti Si mi sinkang ??"

Sekalipun demikian, kakek sakti itu tiada maksud untuk menghindar ataupun berkelit, sepasang tangannya balas diayun kedepan, telapak kanannya berubah jadi putih bagaikan pualam, sedang tangan kirinya hitam pekat melebihi angus, dengan dua macam pukulan yang berbeda ia sambut tibanya gulungan kabut putih yang sedang menyerang datang itu.

Tentu saja untuk menghindarkan diri dari segala macam kemungkinan yang tak diinginkan, ia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dalam serangan tersebut.

Dengan demikian, menang kalahpun segera akan diputuskan dalam benturan tersebut

Ledakan dahsyat yang kemudian terjadi sangat menggetarkan sukma, diantara desingan angin tajam yang mencabik-cabik udara, terdengar seseorang menjerit kesakitan

....

"Blaaang braakl.." akibat dari gempuran hawa pukulan

yang menyebar ke empat penjuru, dua buah bangunan rumah batu yang berada dihadapannya terhantam telak dan roboh ke tanah.

Paras muka Han Siong Kie berubah jadi hijau membesi, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, dan titik darah menodai ujung bibirnya.

Pemilik benteng maut sendiri jatuh terduduk satu kaki dari posisinya semula, ia muntah darah berulang kali, paras mukanya berubah jadi pucat mengerikan.

Untuk sesaat suasana jadi hening tak kedengaran sedikit suarapun, tapi akhirnya Han Siong Kie berjalan maju kedepan, pelan pelan tangannya di angkat ke udara lalu dihampirinya pemilik benteng maut yang masih menggeletak ditanah ....

"Sreet sreet... sreet Tiga langkah kakinya yang bergesek

di atas tanah menimbulkan ketegangan yang makin mencekam hati, hawa pembunuhan semakin tebal menyelimuti sekeliling tempat itu. Terbalik pemilik benteng maut duduk dengan mata melotot lebar, diawasinya gerak gerik Han Siong Kie yang sedang bergeser maju selangkah bumi selangkah itu, tangan kanannya tiba tiba diayun ke atas, jari tengahnya ditempelkan tepat diatas jalan darah Thay yang hiat sendiri, tentu saja sebagai seorang jago kawakan yang bernama besar, ia tak sudi mampus ditangan seorang bocah ingusan yang tak bernama.

Gelisah sekali Han Siong Kie menghadapi kejadian tersebut, sebab andaikata pemilik benteng maut sampai membunuh diri, itu berarti akan hilanglah satu satunya kesempatan baginya untuk membalas dendam dengan tangannya sendiri.

Karena kuatir bercampur panik, tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, secepat sambaran petir jari tangannya disentil kedepan, segulung angin serangan yang amat cepat dan dahsyat segera meluncur ke depan dan menyerang musuhnya itu.

Pemilik benteng maut mendengus tertahan, lengan kanannya tersambar angin totokan itu hingga terkulai kebawah, menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah dia melompat ke depan dan menghampiri musuhnya yang masih duduk dengan wajah terkejut itu.

Mula mula Pemilik benteng maut masih melotot dengan sinar mata penuh perasaan benci, dendam dan sakit hati, tapi sesaat kemudian ia sudah tertunduk dengan wajah sedih, mimpipun ia tak menyangka kalau begitulah akhir dari masa kejayaan nya.

Pelan pelan matanya dipejamkan, ia pasrah ia pasrah

pada nasib dan akan menerima apa yang bakal menimpa atas dirinya.

"Hei Tengkorak maut" Han Siong Ki membentak nyaring "sayang kau hanya akan mati satu kali, kalau tidak.... heeehhh....heeehh... heeehh akan kusuruh kau merasakan

bagaimana kalau mampus sebanyak seratus kali"

"Kau tak usah banyak bicara mau turun tangan ayolah cepat turun tangan "

Suara itu hanpir diucapkan dengan setengah berbisik, begitu lirih, rendah dan layu, sedikitpun tidak mirip sebagai suara dari seorang gembong iblis yang ditakuti setiap orang persilatan.

Telapak tangan Han Siong Ki telah terangkat di tengah udara, asal tenaga serangannya dilontarkan niscaya gembong iblis yang lihay itu akan mati secara mengenaskan ......

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, ini membuat tangannya yang sudah terangkat keudara segera diturunkan kembali, tiba-tiba saja ia teringat akan diri Tonghong-Hui, kekasih hatinya yang telah bersumpah akan sehidup semati dengannya.

Ia terbayang pula ketika dirinya terjebak dalam wilayah Lian huan tan hingga akhirnya ia pura pura mati dengan ilmu Ku si tay hoat, Tonghong-Hui telah buatkan batu nisan didepan kuburannya diatas batu nisan itu ia meninggalkan tulisan yang mengatakan bahwa dia akan membalaskan dendam bagi kematiannya, lalu akan bunuh diri untuk menyusulnya.

Setelah itu, ketika ia dipaksa oleh Tengkorak maut gadungan terjun kedalam jurang diluar lembah kematian, tanpa ragu-ragu Tonghong-Hui ikut terjun pula kedalam jurang.

Sekalipun kedua-duanya tak sampai mengakibatkan kematiannya, tapi dari sini terbuktilah sudah bahwa ia sangat mencintai dirinya dengan sepenuh hati.

Tapi sekarang.... dia harus membunuh ayahnya dan

kejadian ini tak mungkin bisa dihindari lagi .... Yaaa, betapa tidak ? seluruh anggota keluarganya sebanyak dua ratus jiwa telah dibantai secara keji, apakah sakit hati sedalam lautan ini harus diabaikan dengan begitu saja?

Sekujur tubuhnya terasa mengejang keras, ia merasa sangat menderita, tersiksa hingga hatinya terasa sakit sekali.

"Hey Tengkorak maut" tegurnya selang sesaat kemudian, " apakah kau ada pesan-pesan terakhir yang hendak diutarakan??"

"Ada " jawab pemilik benteng maut dengan sedih.

"Kalau memang ada, ayo katakan saja mumpung masih ada kesempatan, asal permintaanmu tidak kelewat batas, bisa saja kukabulkan"

"Pertama, aku harap kau bersedia melepaskan putri kesayanganku Tonghong-Hui, sekarang dia kusekap dibenteng belakang"

"Akan kupenuhi permintaanmu itu" Han Siong Kie berjanji, meskipun dengan hati yang pedih.

"Kedua, di ruang belakang benteng ini terdapat jenasah dari istriku yang diawetkan, aku harap jenasah itu jangan kau ganggu ataupun engkau rusak"

"Ehmm, soal inipun dapat kupenuhi"

Sekilas senyuman lega terpancar diatas wajah pemilik benteng maut yang berkeriput, tampaknya ia merasa beban beratnya telah terlepas dari bahunya, dia pun berbisik lirih:

"Kalau memang kau bersedia penuhi permintaanku itu, Nah sekarang boleh kau cabut nyawaku ini"

Han Siong Kie menggertak giginya, sekali lagi dia angkat telapak tangannya ke udara dan siap dibabat kebawah....... "Han Siong Kie, jangan " tiba tiba serentetan teriakan

tajam berkumandang datang memecahkan keheningan yang mencekam sekitar tempat kejadian itu.

Dengan hati terkejut Han Siong- Kie menarik kembali telapak tangannya dan berpaling, Tonghong Hui benar

Tonghong Hui yang dicintainya itu tiba-tiba muncul dihadapan matanya.

Gadis itu kelihatan pucat pias seperti mayat tubuhnya kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, bukan begitu paras mukanya tempo hari hampir saja anak muda itu tidak mengenalnya lagi, tapi ia tahu dara itu memang kekasihnya, ia berdiri di depan bangunan rumah batu yang ambruk tersambar angin pukulan itu.

"Adik Hui, kau .... kau.." untuk sesaat anak muda itu tergagap hingga tak mampu melanjutkan kembali kata katanya.

"Kau ... kau.... tak boleh "

"Adik Hui, aku mohon kepadamu maafkanlah daku, persoalan ini tak mungkin dapat diselesaikan dengan begitu saja" kata Han Siong Kie dengan hati pedih, "kau tak usah kuatir adik Hui, selesai kulaksanakan tugasku ini, aku pasti akan memberikan pertanggungan jawab kepadamu, dan sekarang aku mohon kepadamu, mundurlah dari sini"

"Budak ingusan, enyah kau dari tempat ini" tiba-tiba pemilik benteng maut membentak pula dengan lantang.

Tonghong-Hui memutar biji matanya, dua baris air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Ayah Aku bukannya tak mau turuti perkataanmu, tapi aku hendak mengatakan sesuatu, ketahuilah dia adalah Han "

"Enyah Aku tak mau mendengarkan perkataanmu, ayoh segera tinggalkan tempat ini. " "Tapi.... tapi. ayah, dia adalah putra dari jisuko, Han si

wi" akhirnya gadis itu berteriak keras.

Han Siong Kie terkesiap. ia merasa sekujur tubuhnya jadi dingin dan menggigil keras, ia merasa badannya seperti kena listrik bertegangan tinggi, hampir tak dipercayainya suara yang terdengar barusan ....

"Ji suko? kakak seperguruan nomor dua?" Jeritnya dihati, "ia memanggil ayahku sebagai Ji-suko? Wah, kalau begitu...

buu.... bukankah ini berarti. "

Sebelum ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Pemilik benteng maut telah melototkan sepasang matanya lebar-lebar, menggidikkan sinar mata yang terpancar dari matanya itu.

"Apa yang kau bilang?" bentaknya.

"Dia adalah putra tunggal dari ji suko Han si Wi" "Putranya"

"Benar Putranya "

"Mengapa tidak kau katakan semenjak tadi?"

"Tapi ayah kan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara? kedatangan bibi ke benteng kitapun lantaran persoalan ini, tapi ayah tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menerangkan persoalan ini, sebelum bibi berkata apa- apa, ayah telah mengusirnya dari benteng kita, andaikata siau suheng tidak melepaskan aku keluar dari sekapan mungkin akibatnya mengerikan sekali."

Han Siong Kie mendengar pula perkataan itu, sontak kepalanya terasa pusing, matanya jadi gelap. dengan sempoyongan tubuhnya mundur sejauh lima kaki, hampir saja dia jatuh terjengkang keatas tanah saking kagetnya.

Mimpipun ia tak menyangka kalau ayahnya tak lain adalah anggota perguruan dari Benteng maut. Keheningan segera menerkam seluruh udara, siapapun tak buka suara lagi, masing-masing orang terjerumus dengan jalan pikirannya sendiri-sendiri

Teka teki yang selama ini selalu menghantui pikiran dan perasaan Han Siong Kie, akhirnya sebagian telah peroleh jawabannya.

Sekarang ia baru mengerti apa sebabnya sebelum bunuh diri, paman gurunya si tangan naga beracun Thio Lin melarang dia untuk membalas dendam, diapun baru paham mengapa paman gurunya berkata bahwa semuanya itu adalah kehendak perguruan, tidaklah aneh kalau pembunuhnya tak lain adalah gurunya sendiri.

Orang yang kehilangan sukma selalu menganjurkan kepadanya agar berkunjung kebenteng maut dan menuturkan asal usulnya, sekarangpun dia sudah mengerti apa alasannya.

Selain itu diapun mulai memahami mengapa orang yang kehilangan sukma selalu berusaha untuk mewujudkan perkawinannya dengan Go siau-bi, dan ia selalu menentang hubungannya dengan Tonghong Hui, bahkan mengatakan pula bahwa hubungan itu akan mengakibatkan kejadian yang tragis.

Sekarang ia baru sadar ternyata Tonghong-Hui adalah sukohnya sendiri, tentu saja seorang keponakan murid tak mungkin bisa kawin dengan bibi gurunya sendiri, apalagi tradisi pada jaman itu masih ketat sekali.

Berpikir sampai disini, tanpa sadar lagi ia berpaling dan mengerling sekejap ke arah Tonghong-Hui, kebetulan Tonghong Hui sendiripun sedang mengerling kearahnya dengan sinar mata yang redup dan penuh dengan kepedihan hati.

Ketika empat mata saling bertemu, pemuda itu merasakan hatinya pedih dan amat sakit, hampir saja ia melelehkan air mata saking tak tahannya buru-buru ia tarik kembali pandangannya dan melengos kearah lain.

Sekarang ia teringat kembali akan diri Tengkorak maut ....

mengapa sekejam itu hatinya? mengapa begitu tega hatinya uatuk membantai keluarga muridnya dengan cara yang begitu keji? dari paman gurunya, si tangan naga beracun Thio Lin juga mengalami nasib yang sama, mengapa paman gurunya tidak menyesal atau mendendam? Malah ia bunuh diri dan mengatakan bahwa ia melakukan kesemuanya itu demi melaksanakan perintah gurunya.

Iapun tahu bahwa orang yang kehilangan sukma mengetahui semua latar belakang dari peristiwa berdarah itu, tapi anehnya mengapa ia membungkam terus? Mengapa tak pernah ia bongkar rahasia dibalik kesemuanya itu.

Pemilik benteng maut sendiripun berdiri termangu seperti orang yang kehilangan semangat, lama sekali ia baru menegur. "Anak Hui, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Semua anggota keluarga dari Ji suko dan sam suko telah dibantai orang pada hari Tiong yang lima belas tahun berselang, semua anggota keluarga dibunuh secara keji, dan diatas dinding ruangan tertera lambang dari tengkorak maut."

Tiba tiba sekujur badan pemilik benteng maut bergetar keras, ia seperti terkejut mendengar kabar itu, lalu setelah mendengus dengan marah ia muntah darah segar.

"Keluarga mereka dibantai orang dengan kejam?" jeritnya sambil berusaha meronta bangun.

"Benar" Tonghong-Hui mengangguk dengan sedih, "sebab itulah Han Siong Kie datang kemari untuk membalas dendam"

Dengan sempoyongan Pemilik benteng maut coba bangkit berdiri, tapi badannya terlampau lemah ia terduduk kembali ditanah. "Sudah dua puluh tahun lebih aku tak pernah tinggalkan pintu gerbang benteng ini" teriaknya dengan suara keras, "sungguh tak kusangka ada orang mencatut namaku untuk melakukan kejahatan HHmm, bagaimana dengan toa suhengmu Sim si kiat??"

"Jejaknya sudah menghilang dari dunia persilatan" "Bagaimana pula dengan suci mu ong cui ing??"

Agak terkejut perasaan Han Siong Kie ketika nama ibunya disinggung, sekarang ia baru tahu kalau dia dan ayahnya adalah sesama saudara perguruan yang kemudian menikah. Tonghong Hui tidak langsung menjawab, ia melirik sekejap kearah sianak muda itu.

"Su suci telah menikah lagi dengan Thian che kaucu" sahutnya kemudian.

"Dia kawin lagi dengan Thian che kaucu?" "Benar"

Tiba tiba Han Siong Kie mengeluh, ia tak dapat mengendalikan perasaannya yang bergolak lagi, akhirnya pemuda itu jatuhkan diri berlutut di hadapan pemilik benteng maut itu.

"oooh... sucou, ampunilah cucu muridmu yang berdosa" serunya dengan air mata bercucuran, "ampunilah kelancangan cucu muridmu yang telah berbuat kasar padamu "

Pemilik benteng maut tersenyum, ia tak sakit hati atau mendendam oleh peristiwa yang baru saja berlangsung, wajahnya malahan kelihatan bertambah cerah.

"Bangunlah anakku, dalam peristiwa ini kau tak dapat disalahkan, tindakanmu itu adalah benar" bisiknya.

Han Siong Kie tidak langsung berdiri, kembali dia anggukkan kepalanya sampai tiga kali sebelum akhirnya bangkit berdiri Pemilik benteng maut menatap tajam wajah si anak muda itu, sesaat kemudian ia bertanya:

"Tempo hari aku kan sudah menotok jalan darahmu dengan ilmu totokan khusus? siapa yang telah membebaskan totokanmu itu?"

Disinggung soal itu Han Siong Ki teringat kembali akan diri orang yang kehilangan sukma, dia pun terkenang kembali tindakan perempuan misterius yang sudah mengutungi lengan sendiri, sekujur tubuhnya kontan bergetar keras.

Diapun teringat kembali dengan kata-kata yang dipesan oleh orang yang kehilangan sukma, maka diambilnya kutungan lengan itu dari sakunya lalu diangsurkan kedepan.

"Apa apaan kau?" tegur pemilik benteng maut dengan pandangan dia tidak habis mengerti.

"Dia telah membebaskan jalan darahku yang tertotok maka aku diperintahkan untuk menyerahkan kutungan lengannya kepada sucou"

"Ibumu yang kau maksudkan?" kakek itu bertanya keheranan.

"Bukan" "Lalu siapa?"

"Akupun tak tahu siapakah dia, tapi ia menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma"

"Orang yang kehilangan sukma?" "Benar, seorang perempuan misterius"

"Ilmu Tiam hiat ning kang hoat (totokan pembeku tenaga) dari perguruan kami adalah suatu kepandaian ampuh yang tak dapat dibebaskan oleh siapapun didunia ini, menurut peraturan perguruan, barang siapa dijatuhi hukuman dengan kepandaian tersebut, maka kecuali dibebaskan oleh orang yang melakukan totokan tersebut, murid-murid yang lain tak dapat membebaskannya, siapakah orang itu? Mengapa ia menguasai pula ilmu khusus dari perguruan kami itu "

Sesudah bergumam beberapa saat, ia berpaling kearah Tonghong-Hui dan tanyanya: "Mungkinkah bibimu?"

Han Siong Kie cukup mengetahui siapa yang disebut sebagai bibinya Tonghong-Hui, sebab orang itu tak lain adalah Ang nio cu Tonghong Leng sinenek berbaju merah yang tiba- tiba munculkan diri dan mengajak Malaikat hawa dingin Mo siu ing berduel, dikala ia dikurung jago jago persilatan untuk menagih balas. Tonghong-Hui segera menggeleng.

"Ketika bibi datang kemari, aku lihat sepasang tangannya masih utuh, lagipula akupun pernah bertemu dengan orang yang kehilangan sukma itu, sekalipun paras mukanya  memakai kain cadar, tapi aku yakin kalau orang itu bukan bibi"

"Atau mungkinkah suhu dan sucou telah menerima murid lagi diluar benteng?" gumam pemilik benteng maut.

Tiba-tiba Han Siong Kie teringat akan satu urusan, cepat ia menukas:

"Ketika cucunda berada dalam lembah kematian, dari mulut Hekpek siang yau dapat kuketahui bahwa sutay cou sebenarnya tak lain adalah kokcu dari lembah kematian"

"APA? sutay coumu?" seru pemilik benteng maut dengan wajah terkesiap bercampur keheranan.

"Benar, ia bernama ouyang Beng." "Oooh masa ia? ouyang Beng memang nama sutay coumu, aai. sungguh tak kusangka ia masih hidup didunia ini,

apakah kau telah menyambanginya "

"Belum, cucunda tak berjodoh untuk menjumpainya, sebab sudah hampir lima puluh tahunan sutay sang cou tak pernah keluar dari tempat pertapaannya, menurut Hekpek siang yau, orang tua mempunyai kepandaian untuk meramal kejadian dimasa mendatang, malahan telah tinggalkan pula secarik kertas. "

"Mana kertas itu? Perlihatkan kepadaku"

-000odwo000-