--> -->

Tengkorak Maut Jilid 39

 
Jilid 39

BAB 80 LAMA sekali dua orang itu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, dari gerak gerik si pemberi peringatan yang sama sekali tidak meninggalkan suara dapat diketahui bahwa ilmu silatnya cukup lihay, kalau tidak maka jejaknya tak akan lolos dari pengawasan nyonya cantik baju merah yang lihay itu?

Dan bayangan manusia yang sempat ditangkap oleh Han Siong Kie barusan sudah pasti tak lain adalah perempuan pemberi peringatan itu.

Sebagai perempuan Buyung Thay mempunyai perasaan halus sebagai seorang wanita, dengan wajah serius dia lantas bertanya:

"Tete, menurut pendapatmu siapakah yang telah meninggalkan peringatan itu?"

Han Siong Kie coba berpikir sebentar kemudian menggeleng: "Aku tidak tahu"

"Misalnya saja diantara perempuan yang kau kenal, apakah terdapat orang yang patut dicurigai."

Tentang soal ini..rasanya hanya dua orang saja yang besar kemungkinannya, tapi.."

"Macam apakah kedua orang itu?"

"Dua orang perempuan yang amat misterius, sampai sekarangpun aku masih belum pernah menyaksikan raut wajah asli mereka"

"Apakah engkau mengetahui namanya?" desaknya lebih jauh.

"Siapakah nama aslinya aku tidak tahu, tapi aku mengetahui bahwa ia memakai julukan orang yang kehilangan sukma."

"Orang yang kehilangan sukma??" "Benar kau kenal dengan orang itu??"

"Tidak, aku hanya merasa bahwa nama orang ini terlalu aneh, siapa pula orang kedua yang kau curigai??"

"Dia adalah putrinya orang yang kehilangan sukma dan bernama orang yang ada maksud"

"Orang yang ada maksud, orang yang ada maksud" gumam Buyung Thay tercengang.

"Nama ini lebih-lebih lagi mendatangkan perasaan aneh. Ada maksud mengartikan kalau dia ada maksud denganmu dan lagi kedua nama ini belum pernah kudengar didunia persilatan, kemungkinan besar"..

"Kemungkinan bagaimana?"

"Mungkin nama itu memang sengaja mereka pakai khusus ketika berhadapan denganmu"

Ucapan ini segera menggetarkan hati Han Siong Kie, ia jadi teringat kembali dengan perbuatan orang yang kehilangan sukma ketika dengan pelbagai daya upaya menjodohkan dirinya dengan Go siau bi, sekarang ia jadi mengerti akan duduknya perkara.

Meski begitu pemuda ini tidak bermaksud untuk menceritakan kepada orang lain, sebab ia merasa tidak ada keperluan khusus untuk menceritakannya kepada orang. Maka sambil tertawa tawa katanya:

"Mungkin saja apa yang kau ucapkan memang tidak salah, tapi tak ada gunanya kita membicarakan persoalan ini, lebih jauh..."

"Kalau begitu kau sudah merasa yakin kalau perbuatan ini dilakukan oleh orang yang kehilangan sukma dengan putrinya?" Buyung Thay coba menegaskan.

"Tidak mungkin" "Kenapa tidak mungkin?"

"Sebab kedua orang itu boleh dibilang mempunyai budi kebaikan yang setinggi bukit dan sedalam lautan denganku, bisa saja ia unjukkan diri secara terang-terangan dan memberi peringatan, aku rasa tidak ada keperluannya untuk main sembunyi dan meninggalkan surat"

"Aaah, belum tentu begitu" "Kenapa??"

"Mungkin ia merasa tak leluasa untuk munculkan diri, mungkin juga ia merasa takut akan sesuatu, mungkin juga..."

"Mungkin kenapa lagi?" tanya Han Siong Kie.

Buyung Thay mengerling sekejap ke arah si anak muda itu dengan sinar mata yang menawan hati, sahutnya kemudian:

"Mungkin juga ia merasa tak enak hati karena melihat engkau sedang berada bersamaku"

"Tak mungkin pikiranmu ini makin lama melayang semakin jauh"

"Kalau tidak demikian, apakah kau bisa menemukan lagi orang lain yang patut dicurigai?"

"Aku tak bisa menemukanya" jawab Han Siong Kie sambil menggelengkan kepalanya.

"Tete, aturlah pernapasan disini dengan hati lega" ujar Buyung Thay dengan arti yang lebih mendalam "selama aku berada di sini, akan kulihat siapakah yang berani mengganggumu, sebaliknya bila musuh memang bermaksud untuk mencari kita, jelas sekarang kita sudah berada dibawah pengawasan mereka, sekalipun melarikan diri juga tak leluasa"

Kata-kata "melariksn diri" itu terasa amat menyinggung perasaan Han Siong Kie, sebagai seorang laki-laki yang berwatak keras dan tinggi hati, tentu saja ia tak sudi kabur dengan begitu saja, maka diapun lantas mengangguk.

"Baik" katanya, "kita tetap bertahan disini saja."

Nyonya cantik baju merah itu bungkukkan badan dan mencium mesra dipipi Han Siong Kie, kemudian dia memadamkan lampu dan menerobos keluar lewat jendela.

Ciuman itu membuat Han Siong Kie berdebar keras, tapi ia menurutkan kembali perasaannya dan berguman diri:

"Tidak.. aku tak boleh berbuat demikian, dendam berdarah ku belum terbalas dan lagi aku sudah mengikat tali perkawinan dengan Go siau bi, cintaku dengan Tonghong Hui belum putus, aku tak boleh terpikat lagi oleh perempuan lain? "

Berpikir sampai disitu, dia lantas duduk bersila, memusatkan semua perhatiannya menjadi satu dan mulai mengatur pernapasan.

Tak lama setelah Buyung Thay keluar dari ruangan, sesosok bayangan manusia diam-diam menyelinap masuk kedalam ruang, bersembunyi di belakang tubuh Han Siong Kie, oleh karena waktu itu sianak muda tersebut telah memusatkan semua perhatiannya jadi satu, maka ia sama sekali tidak merasa akan munculnya orang itu.

Sementara nyonya cantik baju merah Buyung Thay telah menyembunyikan diri pula disuatu sudut yang gelap sekeluarnya dari ruangan..

Kurang lebih setengah perminum teh kemudian tampaklah tiga sosok bayang manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur datang dari kejauhan.

"Aaah mereka benar-benar telah datang" bisik Buyung Thay setelah menjumpai kemunculan orang-orang itu. Dengan gerakan berhati-hati tiga sosok bayangan hitam itu menyusup dibalik kegelapan dan bersembunyi kurang lebih lima kaki dari ruangan rumah itu

Yang munculkan diri adalah tiga orang kakek tua berbaju kuning. setibanya disana salah seorang diantaranya lantas bertanya: "Hiangcu, benarkah disini?"

"Benar" jawab yang lain "menurut penyelidikan orang yang berada dirumah ini benar-benar adalah dua orang yang sedang dicari-cari Kaucu"

Buyung Thay diam-diam mendengus, pikirnya: "Kuanggap siapa yang datang, tak tahunya adalah kuku

garuda dari perkumpulan Thian che kau"

sementara itu orang yang pertama tadi telah bertanya lagi: "Yakinkah engkau kalau Manusia bermuka dingin telah

terluka?"

"Tentu saja, kalau tidak mengapa ia harus digendong? sudah pasti tujuannya bersembunyi disini adalah untuk menyembuhkan luka yang dideritanya. "

"Manusia muka dingin sudah tak perlu kita kuatirkan lagi, jika dia benar-benar terluka, justru yang perlu dikuatirkan sekarang adalah perempuan berbaju merah itu, dia sangat lihay.."

"Bangsat, kalian harus dibikin mampus" maki Buyung Thay dalam hati, ia lantas merogoh segenggam jarum toan hun ciam dan siap dilepaskan kemuka. Tiba-tiba terdengar salah seorang diantaranya berkata:

"Aaaah, kenapa mesti susah-susah turun tangan sendiri? sebentar toh pelindung hukum kita yang bertanggung jawab dalam tugas ini akan tiba, asal kita awasi saja teruskan beres."

"Itu dia telah datang" seru yang lain. Ditengah kegelapan tampaklah sesosok bayangan manusia tanpa menimbulkan sedikit suarapun melayang datang, cepat sekali gerakan tubuhnya dalam waktu singkat dia sudah tiba dihadapan tiga orang kakek yang datang lebih duluan itu.

Buyung Thay yang menyaksikan kedatangan orang itu, tiba-tiba jadi terkejut dan segera bergidik,

"Aneh, sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri, kenapa gembong iblis ini bisa bergabung dengan perkumpulan Thian Che kau?"

Kiranya orang yang datang belakangan ini tak lain adalah seorang kakek yang tinggi besar, bermuka bengis berikat kepala warna emas dan bermata hijau menyeramkan, dia bukan lain adalah Hun Si mo ong, gurunya sepasang malaikat hawa panas dan dingin. Padahal kedudukan Hun si mo ong dalam dunia persilatan sangat tinggi, tapi nyatanya ia bersedia mendengarkan perintah dari Thian che kaucu, kejadian ini boleh di bilang sangat mencengangkan hati.

Menyusul dengan kemunculan Hun si mo ong, secara beruntun melayang datang pula lima sosok bayangan manusia.

Berdebar juga Buyung Thay menyaksikan munculnya begitu banyak musuh tangguh, kalau dia diharuskan bertarung melawan Hun si mo ong, maka sepuluh bagian ia yakin bisa mengimbangi, tapi kedelapan orang kakek itu pasti akan gunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk mencelakai jiwa Han Siong Kie.

Sekarang ia baru menyesal mengapa tidak menuruti peringatan dari orang yang tak dikenal itu? Dari sekarang menyesalpun tak ada gunanya lagi.

Dalampada itu tiga orang kakek yang tiba lebih duluan tadi sudah memberi hormat kepada Hun si mo ong, kemudian berkata: "Terimalah hormat kami untuk Hu hoat yang mulia" "Tak usah banyak adat" sahut Hun si mo ong sambil mengulapkan tangannya, "apakah laki perempuan dua orang itu berada disini?"

"Benar" jawab salah seorang kakek itu. " mereka berada dalam rumah petani di depan sana"

"Berjaga-jagalah kalian berdelapan ditiga penjuru tempat ini, pun huhoat akan masuk ke ruangan untuk menangkap mereka"

"Terima perintah" serentak delapan orang itu memencarkan diri dan masing-masing menempati satu posisi,

Sementara itu Hun si mo ong menuju ke rumah dihadapannya dengan langkah lebar.

Sudah tentu Buyung Thay tidak mengijinkan lawannya mendekati tempat itu, serta merta ia bangkit berdiri dan menegur: "Jago lihay dari manakah yang telah datang?"

Mendengar teguran tersebut Hun si mo ong segera berhenti, dengan tatapan matanya yang berwarna hijau ia menatap sekejap lawannya, kemudian tanpa kuasa lagi mundur selangkah ke belakang.

Mungkin selama hidupnya raja iblis yang berusia seratus tahun ini belum pernah menyaksikan perempuan secantik ini, seketika itu juga ia dibikin tertegun. Kembali Buyung Thay bertanya: "Boleh aku bertanya siapakah nama besar saudara??"

"Heeeh heeeh heeehh aku adalah Hun si mo ong" jawab kakek itu sambil tertawa seram.

Mendengar jawaban itu Buyung Thay menjerit kaget dan berkata:

"Oooh, maaf, maaf, kiranya adalah locianpwe yang telah berkunjung kemari" "Bocah keparat, kau tak usah bergurau lagi dengan diriku, hayo bicara saja terus terang"

Sekali lagi Buyung Thay berteriak kaget: "Eeeh... Apa maksud locianpwe berkata demikian??"

Panggilan lociancwe yang berulang kali ini lama kelamaan membuat Hun si mo ong jadi rada kikuk. terutama ucapan itu diucapkan oleh seorang perempuan cantik jelita.

"Aah... kamu ini sudah tahu tapi masih bertanya, lebih baik mengaku saja terus terang" bentaknya.

"Tapi boanpwee sungguh tidak tahu bagaimana musti mengakunya terus terang"

"Kalau kau tak tahu urusan, kenapa kau hadang jalan pergiku sekarang?"

"Boanpwe sedang menjadi pelindung buat seorang sobatku, karenanya aku minta locianpwe suka memaklumi " kata Buyung Thay dengan wajah serius.

"Apakah sobatmu itu adalah Manusia muka dingin yang menjadi ketuanya perguruan Thian lam??"

"Betul, dari mana locianpwe bisa tahu? " Buyung Thay keheranan.

"Kalau begitu tak salah lagi, aku memang datang lantaran dia, juga lantaran kau" jawab Hun si mo ong cepat.

"Oooh jadi locianpwe datang kemari lantaran kami berdua??"

Meskipun diluarannya Buyung Thay kelihatan tenang sekali, padahal kegelisahannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dia jelas mengerti bahwa Han Siong Kie sedang bersemedi, maka asal Hun si mo ong atau salah seorang diantara delapan kakek tua itu berhasil masuk kedalam ruangan itu maka akibatnya akan luar biasa sekali. Tapi urusan sudah didepan mata, sekalipun gelisah juga percuma, maka perempuan itu kembali menunjukkan sikap tidak habis mengerti, lalu bertanya:

"Boanpwe berdua merasa tak pernah melakukan sesuatu kesalahan yang melukai locianpwe, kenapa locianpwe ?"

"Aku sedang melaksanakan tugas yang diperintahkan kepadaku."

"Melaksanakan tugas? Locianpwe kau seorang jago yang tersohor, dalam dunia persilatan dianggap seorang pemuka dunia persilatan, masa benar kalau locianpwe sedang menjalankan perintah? Aku tidak percaya kalau locianpwe suka diperintah orang siapa yang memerintah dirimu?"

Hun si mo ong kelihatan merasa serba salah, ia lantas membentak keras:

"Aaah, kamu tak usah cerewet melulu, lihat seranganku ini.

Akan kubekuk dulu dirimu"

Dengan cepat tangannya yang besar seperti kipas dia lantas mencengkeram tubuh Buyung Thay, bukan saja cengkeraman tersebut cepat bahkan ganas dan luar biasa, rasanya susah untuk menemukan orang yang sanggup menghindari serangannya itu.

Buyung Thay terkesiap. ia putar badan sambil melejit ke samping, manis sekali gayanya waktu menghindar.

Terkejut juga Hun si mo ong menghadapi kelincahan musuhnya, ketika cengkeramannya mengenai sasaran yang kosong dari serangan mencengkeram dia lantas merubah menjadi serangan pukulan.

"Wess " Dengan dahsyatnya dia menghantam perempuan itu. Untuk kedua kalinya Buyung Thay berkelit kesamping, serunya: " Locianpwe, sudah dua kali boanpwe mengalah kepadamu" Dua kali menemui kegagalan, hawa amarah Hun si mo ong memuncak. dengan suara yang keras ia membentak.

"Bocah keparat, tak kusangka kau punya ilmu simpanan, sambutlah lagi beberapa jurus seranganku ini"

sambil membentak keras, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan yang kesemuanya merupakan serangan- serangan mematikan yang bertenaga besar.

Buyung Thay cukup memahami kemampuan yang dimilikinya, dia tak sudi menerima ancaman itu dengan keras lawan keras, seperti bayangan sukma hanya sekali berkelejit tahu-tahu dia telah melompat keluar dari lingkaran hawa serangan, sampai saat itu Buyung Thay belum juga melepaskan serangan balasan, sebab ia berusaha mengulur waktu sepanjang-panjangnya.

Hun si mo ong tidak menyangka kalau musuhnya memiliki ilmu silat yang setinggi itu, serangan beruntunnya sebanyak tiga jurus yang dilancarkan dengan tenaga besar dan kecepatan tinggi itu bisa dihindari dengan begitu saja, bicara mengikuti peraturannya maka sekarang ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang lagi.

Muridnya si malaikat hawa dingin Mo siu ing memperlakukan peraturan yang mana tak akan membunuh korbannya jika mampu menghindari tiga jurus serangannya, dan sekarang perempuan baju merah itu sudah lolos dari tiga jurus serangannya, menurut aturan dia harus segera angkat kaki, tapi kali ini ia tak dapat berbuat begini sebab ia datang untuk melaksanakan perintah dari Thian che kaucu.

Maka dalam malu dan gusarnya, ia menerjang maju lebih ke depan, sepasang telapak tangannya direntangkan dan langsung menyerang sekujur badan Buyung Thay.

Menghadapi serangan yang begitu ganasnya, terpaksa nyonya cantik berbaju merah itu harus menggigit bibir melakukan perlawanan, telapak tangan kirinya di ayunkan ke udara, sementara telapak tangan kanannya melepaskan serangan kilat.

Dengan adanya gerakan itu, Hun si mo ong yang sedang melancarkan serangan segera merasakan munculnya suatu tenaga hisapan yang membawa daya pukulannya menghantam kesamping baru ia merasa kaget. segulung tenaga pukulan yang kencang menyergap tiba dari depan, terpaksa ia tarik kembali serangannya dan melompat ke samping.

Kejadian seperti ini baru dialaminya untuk pertama kali, sebab selama bertempur melawan orang belum pernah ia didesak sampai menghindarkan diri kesamping.

Pada saat tubuhnya menyingkir ke samping itulah, mendadak sepasang telapak tangannya dilontarkan kembali dengan melancarkan serangan ke depan dan melancarkan bacokan gencar.

Waktu itu Buyung Thay belum sempat menarik kembali serangannya, ketika pukulan musuh yang gencar telah menyerang datang terpaksa ia memutar tangannya didepan dada dengan maksud memunahkan kekuatan lawan, apa mau dikata tenaga dalam musuh setingkat lebih sempurna.

"Blang" ditengah benturan keras dia sendiri yang malahan tergetar sampai mundur ke belakang beberapa langkah.

Hun si mo ong lebih terkejut lagi setelah menyaksikan pihak musuh hanya terdorong mundur beberapa langkah saja setelah menyambut serangannya itu dengan keras lawas keras, bahkan sama sekali tidak menderita luka, pikirnya:

"Kalau tidak mampu membereskan bocah keparat perempuan ini, nama besarku pasti akan tamat riwayatnya?"

Berpikir sampai disitu, hawa napsu membunuh lantas menyelimuti wajahnya, ia melompat ke depan dan secara beruntun melancarkan delapan buah serangan berantai. Delapan buah serangan berantai itu dilancarkan dengan tujuan untuk membereskan nyawa lawan. kedahsyatannya melebihi ombak samudra yang ketimpa angin puyuh, bahkan delapan buah serangan datangnya dari delapan arah, kecepatan serta kehebatannya mengerikan.

Paras muka Buyung Thay berubah hebat, ia mengerti tak bisa menghindarkan diri lagi dari ancaman lawan, maka hatinya jadi nekad, dia putar telapak tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan kekerasan-

"Blaang" diiringi jerit kesakitan yang memekikkan telinga Buyung Thay mencelat sejauh satu kaki lebih dan muntah darah segar.

Tapi sewaktu tubuhnya hampir terbanting ke tanah tiba- tiba ia berjumpalitan beberapa kali diudara, ketika jatuh ketanah ia masih tetap dalam posisi berdiri.

Hun si mo ong tertegun, tapi sejenak saja ia sudah melayang kembali delapan depa ke depan dan siap melancarkan lagi serangan.

Buyung Thay mendengus dingin, tangan kanannya segera diayun kemuka, segumpal jarum lembut seperti bulu kerbau bagaikan hujan gerimis segera berhamburan keatas udara, serangan itu sama sekali tidak menimbulkan suara kendatipun musuhnya seorang musuh tangguh namun dalam kegelapan untuk memukul rontok ancaman itu bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang.

Tapi Hun si mo ong memang seorang jago silat yang lihay, dalam dunia persilatan ia menempati posisi ketiga, kendatipun ditengah kegelapan namun matanya yang tajam dapat menyaksikan segala sesuatunya seperti dalam keadaan tengah hari saja, telapak tangannya segera diputar sedemikian rupa membuat hujan jarum itu seketika tersapu rontok semua.

Buyung Thay tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik itu, sementara lawannya sedang kerepotan untuk memukul rontok ancawan tersebut, ia telah maju dan menyerang lagi dengan tangan kirinya.

Tiba-tiba Hun si mo ong menarik diri dan melayang mundur sejauh satu kaki lebih, teriaknya keras-keras: "Eeeh, tunggu sebentar"

Wajah Buyung Thay tampak menyeringai seram, biji matanya memancarkan sinar penuh hawa pembunuhan, ujarnya dengan dingini "Ada apa ? sedap bukan rasanya jarum toh hun ciam itu??"

Hun si mo ong tak menggubris ejekan musuhnya, dia malahan berbalik bertanya: "Apa hubunganmu dengan Toh hun sian li (dewi cantik pembetot sukma)?"

sekarang giliran Buyung Thay yang tertegun, sesudah sangsi sebentar jawabnya: "Dia adalah mendiang guruku"

"Dia adalah mendiang gurumu?" teriak Hun si mo ong setengah menjerit, tubuhnya yang tinggi besar kelihatan gemetar keras "jadi-jadi dia sudah mati"

"Benar, ada apa?"

Hun si mo ong menggerakkan tubuhnya dan maju lima depa ke depan.

Buyung Thay kuatir dia melancarkan serangan lagi, maka sambil mengayunkan telapak tangannya dia siap melancarkan pula serangan jarum.

"Eeeh Tahan Tahan" cepat Hun si mo ong berteriak "aku bukan hendak menyerang, aku hanya ingin menanyakan kepadamu, benarkah engkau adalah ahli waris dari Tok hun sian ci?"

"Kalau benar lantas mau apa?"

"sudah berapa tahun dia menghembuskan napasnya yang penghabisan?" "Dua puluh tahun"

"Aaah sudah dua puluh tahun?" Hun si mo ong berpekik sedih, ia lantas menengadah dan memandang angkasa dengan wajah termangu- mangu, agaknya ia sedang mengenang kembali kejadian masa lalu.

Buyung Thay jadi serba salah dibuatnya, ia tak tahu apa hubungan antara Hun si mo ong dengan Toh hun sian ci sebab semasa hidupnya Toh hun sian ci yaitu gurunya tak pernah menyinggung tentang persoalan itu.

Hun si mo ong jadi kaku seperti sebuah patung arca, sedikitpun tidak bergerak.

Andaikata Buyung Thay kejam dan mau turun tangan pada waktu itu, niscaya Hun si mo ong akan tewas secara mengenaskan, tapi ia tidak berpikir sampai kesana sebab ia sedang memikirkan apa hubungannya Hun si mo ong dengan gurunya, sebab dari sikap dan tingkah laku Hun si mo ong sekarang dapat ia tarik kesimpulan bahwa hubungan mereka bukan dalam soal dendam melainkan berhubungan dengan soal cinta. Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya:

"Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk membinasakan dirinya? Asal dia mati bukankah adik Han juga akan terhindar dari malapetaka??" sebelum ia laksanakan niat itu, Hun si mo ong telah bergumam lagi:

"Aaah... dia sudah mati, sungguh tidak kusangka dia sudah mati.." sinar matanya yang hijau tajam segera dialihkan kembali keatas wajah Buyung Thay, tanyanya lagi dengan gemetar:

"Jenazahnya dikebumikan dimana?"

Terbentur dengan sorot matanya yang menggidikkan hati, Buyung Thay tercekat rasanya, bukan menjawab ia malahan balik bertanya: "Locianpwe, sebelum kujawab pertanyaanmu itu, lebih dulu ingin kutanyakan apa hubunganmu dengan mendiang guruku?"

"Aaai. orangnya saja sudah mati, segala sesuatunya telah berlalu, apa gunanya kau tanyakan lagi??"

"Kalau memang begitu, maafkanlah boanpwe kalau tidak dapat menerangkan kepadamu"

"Tidak Bagaimanapun juga kau... kau harus memberitahukan persoalan itu kepadaku"

"Kalau memang demikian, lebih baik Locianpwe terangkan dulu apa hubunganmu dengan mendiang guruku."

Sinar mata Hun si mo ong jadi redup, akhirnya dia mengalah. "Baiklah akan kuterangkan kepadamu..."

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam ruangan berkumandang suara jerit kesakitan yang menyayat hati.

Berdiri semua bulu kuduk Buyung Thay, ia merasa jantungnya hampir copot segera jeritnya: "Aduh celaka..."

Ia menjejakkan kakinya ke tanah dan segera menerjang masuk ke dalam ruangan.

-ooo0dw0ooo-

BAB 81

BARU saja Buyung Thay menggerakkan tubuhnya, kembali Hun si mo ong telah menghadang jalan perginya seraya berseru.

"Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan antara kita berdua, kenapa kau mesti ikut campur dengan urusan yang terjadi di dalam ruangan??"

"Tidak Aku harus masuk ke dalam" "Engkau akan selamatkan jiwanya?"

"Hmmm" Buyung Thay mendengus dingin "jika manusia muka dingin sampai tertimpa malapetaka, perkumpulan Thian che kau akan membayar hutang darah ini sepuluh kali lipat lebih besar"

Ucapan tersebut penuh dengan hawa napsu membunuh, membuat siapapun yang mendengar merasakan jantungnya berdetak keras.

Dalam dugaannya pasti ada orang berhasil menyergap masuk ke dalam ruangan itu, padahal ketika itu Han Siong Kie sedang bersemedi untuk menyembuhkan lukanya, dalam keadaan demikian jangankan seorang tokoh silat yang berilmu sangat tinggi, kendatipun seorang jago silat biasa sudah cukup untuk mencabut selembar jiwanya.

Maka dengan perasaan hati yang amat gelisah, dia menjejakkan kakinya dan kembali akan melayang masuk ke dalam ruangan rumah itu..

Hun si mo ong memang bermaksud menghalangi jalan pergi nyonya cantik itu, sepasang telapak tangannya kembali direntangkan untuk menghalangi jalan pergi Buyung Thay, serunya:

"Orang-orang perkumpulan Thian che kau telah bersumpah tak akan melepaskan dirinya, dengan mengandalkan kekuatanmu seorang tak nanti usaha mereka bisa kau halangi??"

Buyung Thay benar-benar marah sekali, telapak tangannya dilontarkan kemuka dan secara beruntun melancarkan dua buah pukulan dahsyat, dalam melancarkan serangannya ia telah sertakan tenaga dalam yang dimilikinya, hebat sekali jadinya memaksa Hun si mo ong seketika itu juga terdesak mundur. Menggunakan kesempatan itu Buyung Thay menyelinap kedepan jendela dan melongok kedalam tapi apa yang terlihat olehnya membuat perempuan itu tertegun.

Han Siong Kie yang dikuatirkan tewas atau terluka, masih duduk di atas pembaringan dalam keadaan segar bugar, kabut putih tengah menyelimuti ubun-ubunnya, ini menandakan kalau semedinya tengah mencapai puncak yang paling tinggi, sementara di samping pintu terkapar sesosok mayat dan orang itu tak lain adalah salah seorang diantara delapan kakek tua yang datang bersama Hun si mo ong itu.

Siapakah yang membinasakan orang itu ? Mungkinkah Han Siong Kie? Mustahil kalau dia bisa melancarkan serangan, tapi kalau bukan dia, hasil karya siapakah itu?

sementara nyonya cantik baju merah itu masih termenung, kembali ada tiga orang kakek tua menyerbu masuk ke dalam ruangan.

Buyung Thay tidak berisik, pun tidak mendatangkan suara apapun, begitu melihat ada musuh menyerbu masuk keruangan, segenggam jarum Toh hun ciam yang telah disiapkan ditangannya segera diayun kedepan.

sebagaimana diketahui jarum Toh hun ciam lembutnya seperti bulu kerbau, lagi pula mengandung racun yang jahat sekali, di tambah pula sekali melepaskan serangan puluhan batang telah dilancarkan tanpa menimbulkan suara, sebelum tiga orang kakek itu menyadari apa yang telah terjadi, jarum beracun itu sudah menyambar tiba.

Tiga kali jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, dalam ruangan itu kembali telah bertambah dengan tiga sosok mayat.

Sementara itu Hun si mo ong telah tiba dibelakang Buyung Thay, ketika menyaksikan kejadian itu ia jadi amat marah, segera bentaknya: "Enyah kau dari sini" Sambil membentak jari tangannya langsung mencengkeram tubuh perempuan itu dan melemparkannya satu kaki dari tempat semula.

Begitu berhasil menyisihkan musuhnya Hun si mo ong segera mengayunkan telapak tangannya dari depan jendela, langsung menghantam tubuh Han Siong Kie yang sedang mengatur pernapasan.

Bila serangan itu sampai terkena sasaran, niscaya Han Siong Kie akan mampus dalam keadaan mengenaskan.

Tapi di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar datang menyusul kemudian "Duuk." serangannya terbentur oleh kekuatan lain yang mengakibatkan Hun si mo ong tergetar mundur satu langkah lebar.

Sekarang terbuktilah sudah bahwa dalam ruangan itu telah bersembunyi seorang tokoh silat yang berilmu sangat tinggi.

Sebelum gembong iblis tua itu sempat melakukan sesuatu tindakan lagi, Buyung Thay telah melayang kembali ke hadapannya, malahan kali ini dia berdiri dengan punggungnya menyumbat dimulut jendela. "Minggir kau"

"Tidak Aku tidak akan menyingkir, kau mau apa?"

"Aku tak ingin melukai dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"

"Tidak Aku tak mau menyingkir" Buyung Thay masih tetap ngotot.

Hun si mo ong marah, sepasang telapak tangannya kembali siap diayunkan kemuka.

Berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki Hun si mo ong, untuk menghancurkan bangunan rumah yang terbuat dari batu bata ini bukanlah suatu pekerjaan yang susah, dan asal rumah itu roboh niscaya Han Siong Kie akan mati secara mengerikan-

Tentu saja Buyung Thay jadi gelisah, dengan cepat jarum Toh hun ciam dilontarkan kemuka.

Hun si mo ong menyingkir ke samping, kemudian setelah berputar diudara ia menerjang kembali kesamping Buyung Thay dan langsung mencengkeram nyonya cantik itu, serangan tajam dan mengerikan, bila terkena niscaya perempuan itu akan cidera.

Buyung Thay terdesak hebat, terpaksa dia harus meninggalkan mulut jendela yang dilindunginya itu untuk bergeser lima depa ke samping..

Memang itulah maksud tujuan Hun si moong, begitu perempuan baju merah kena dipaksa untuk menyingkir, sepasang telapak tangannya diayun kembali kedepan untuk menghajar roboh dinding rumah.

"Kau berani??" bentak Buyung Thay gusar.

Dengan menghimpun tenaga dalam yang dimilikinya, ia menerjang kemuka, dalam serangannya ini dia telah mempertaruhkan pula selembar nyawa sendiri.

Menghadapi ancaman nekat ini Hun si mo ong dipaksa mau tak mau harus menarik kembali serangannya..

"Blanng" suatu benturan keras terjadi, dalam bentrokan tersebut masing-masing terdesak mundur satu langkah lebar.

"Budak ingusan" gembor Hun si mo ong dengan suaranya seperti geledek. "oleh sebab kau adalah murid Toh hun sian ci, maka aku tak ingin terlibat pertarungan denganmu, lebih baik cepatlah enyah dari sini"

"Tidak" kembali Buyung Thay membentak keras, "Hun si moong, kau tak boleh melukai dia" "Aku harus membunuh bocah itu, karena aku sedang menjalankan tugas serta kewajiban"

"Kalau begitu, musnahkan dulu aku kemudian baru kau lakukan apa yang ingin kau lakukan" . .

"Baik Kalau engkau berkeras kepala terus dan tak mau mendengarkan nasehatku, terpaksa akupun tak akan memikirkan soal-soal yang lain lagi, terpaksa engkau harus kusingkirkan dulu dari sini"

Sambil berkata, sekaligus dia melancarkan delapan belas buah pukulan berantai kedepan, semua pukulan itu dahsyat dan disertai tenaga yang amat sempurna.

seketika itu juga Buyung Thay terdesak hebat kembali dia dipaksa untuk mundur sejauh satu kaki dari posisinya semula.

Setelah berhasil menyingkirkan lawan, Hun si-mo ong memutar badan dan berusaha untuk merobohkan kembali dinding bangunan itu.

Sekarang Buyung Thay terjebak sehingga mati langkah, untuk menghalangi niat musuhnya jelas sudah tak sempat lagi, dengan nekat ia lantas membentak keras: "Aku akan beradu jiwa dengan dirimu"

Sepasang tangannya diayunkan berulang kali, jarum Toh hun ciam segera menciptakan selapis cahaya jarum yang menyelimuti daerah seluruh lima kaki lebih.

Tak terkirakan marahnya Hun si Mo ong menghadapi serangan maut yang dihadapinya, timbul kembali sifat buasnya yang selama ini terpendam dalam dasar hati, diputarkan sepasang tangan itu sekencang gasingan, dan disapunya kabut jarum yang mengurung sekeliling lingkaran tubuhnya, kemudian melejit ke udara, seperti burung elang yang siap menyambar anak kelinci diterkamnya Buyung Thay dengan ganas, telapak tangan kirinya langsung dibacok kebawah. Cukup lama Buyung Thay mengenal keganasan manusia yang bernama Hun si Mo ong, diapun cukup tahu akan kehebatan angin pukulannya, dalam keadaan begini ia tak mau menangkis serangan musuh secara bodoh, maka dengan kelincahan tubuhnya dia melayang lima depa jauhnya dari posisi semula, dari situ telapak tangannya baru diputar keatas untuk menangkis....

Hun si Mo ong menjengek sinis, tubuhnya berpusing kencing ditengah udara, lalu pada saat yang paling tepat telapak tangan kanannya ikut membacok kebawah, Suatu rangkaian serangan gabungan yang rapat dan tepat, seakan- akan jaring langit yang dipasang untuk menjebak seluruh bumi.

Betul juga, setelah diserang oleh pukulan kiri kanan secara bersamaan waktunya, Buyung Thay jadi panik dan kebingungan, dia mau melejit kesamping untuk menghindarkan diri tak bisa, mau mundur juga tak sempat, akhirnya disambutnya juga serangan itu dengan kekerasan.

"Duuk " suatu benturan nyaring tak dapat dihindari,

perempuan itu mendengus tertahan, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, gumpalan darah meleleh keluar dan membasahi ujung bibir serta pakaiannya.

Hun si Mo ong tertawa makin seram, tentu saja dia tak mau melepaskan kesempatan baik itu dengan begitu saja, sesampainya diatas permukaan tanah ia menerobos maju kedepan lalu disodoknya kembali, tinju yang keras bagaikan besi itu keperut lawan. "Duuk " sekali lagi tinju maut itu

bersarang di perut perempuan genit itu.

Percikan noda darah telah membasahi seluruh wajah Buyung Thay, ia sudah mundur beberapa langkah dengan badan sempoyongan, tapi pancaran sinar matanya masih tajam, sinar mata itu penuh diliputi rasa benci, dendam serta napsu membunuh yang tebal, begitu tebal dan mengerikannya membuat gembong iblis yang disegani orang banyak itupun jadi bergidik dan mengkirik hatinya.

Akhirnya gembong iblis yang disegani banyak orang itu menghela napas panjang, katanya:

"Aaai... sudahlah, jangan mendongkol secara berlebihan, katakan Mengapa kau bela mati matian bocah itu? Dia toh bukan sanakmu, bukan keluarga mu juga... juga bukan suamimu"

"Aku cinta padanya Kau mengerti...? Aku cinta padanya Kau paham tentang cinta?" teriak Buyung Thay sambil menggertak gigi.

Hun si mo-ong seperti terkena aliran listrik, sekujur tubuhnya bergetar keras setelah tertegun sejenak seperti orang bego, akhirnya ia mengangguk seraya bergumam: "Yaa.. yaa.. aku tahu... aku tahu.... cinta... cinta "

Aneh sekali tingkah laku kakek itu, lagaknya betul-betul seratus persen bego, malahan lebih mirip seperti orang sinting yang lagi ngoceh....

Ini menyebabkan Buyung Thay malah tertegun dan dibuat keheranan oleh musuhnya..

"Aaah masa iblis tua yang umurnya sudah mendekati

seratus tahun dan siap masuk liang kubur ini juga. mengerti tentang cinta?" demikian ia berpikir, "atau mungkin, dimasa lalu dia pernah mengalami pula suatu masa percintaan yang menyedihkan ?"

Tiba tiba ia teringat akan gurunya yang telah tiada.. "Toh hun sian ci (Dewi genit pencabut nyawa) Yaa, benar, pastilah urusan ini ada hubungannya dengan gurunya.

Timbul suatu keinginan aneh dalam hati kecilnya, tiba-tiba saja ia berniat untuk membongkar rahasia gurunya itu .... "Baiklah " tiba tiba Hun si mo ong berseru sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah, "demi kau, kulepaskan bocah muda itu Tapi hanya sekali ini saja, hanya satu kali

ini saja"

"Memangnya aku butuh dua kali?" sumpah Buyung Thay dihati, " cukup satu kali ini saja, memang hanya kubutuhkan sekali ini, masakah dia bakal terluka dua kali? Kunyuk Monyet tua. Kalau dia tidak terluka parah dan harus mengatur pernafasan untuk menyembuhkan lukanya itu, kau Hun si mo ong tak bakal menangkan dia, ilmu silatmu tak nanti tandingannya "

Karena gembira dan lega, perempuan itu malah lupa dengan luka dalam yang dideritanya, saat ini dia lebih memperhatikan keselamatan sianak muda itu daripada dirinya sendiri, maka segera tanyanya: "Berlakukah perkataanmu itu ? Kau tak akan mungkir lagi?"

"Kau anggap aku suka main-main? Kau anggap perkataanku tidak berbobot ? Huuh, untung kupandang

wajahmu, kalau tidak Kreeek sekali bacok habis sudah nyawa

bocah muda itu"

"Baik Aku percaya dengan perkataanmu itu, tapi untuk membuktikan bahwa kau tidak bermain-main, perintahkan kepada sisa empat begundal Thian che kau yang masih ada dalam ruangan itu agar segera mengundurkan diri dari situ"

"Aku pikir tak usah itu tak penting "

"Kenapa?" teriak Buyung They agak marah.

"Masa kau tak tahu ? Dalam ruangan itu kan sudah siap sedia seorang jago lihay yang setiap saat melindungi keselamatan bocah itu ? Dengan kepandaian yang begitu tinggi, aku pikir empat orang anak buahku tak mungkin bisa menandinginya dengan seimbang" Buyung Thay berpikir sebentar, betul juga. Apa yang dikatakan itu memang benar, tapi.. siapakah jago lihay yang bersembunyi didalam ruangan itu? Akhirnya diapun mengangguk tanda setuju.

"Yaa, seandainya tiada perlindungan dari tokoh sakti yang bersembunyi dibalik kegelapan itu, pukulan maut yang dilancarkan Hun si mo ong lewat dinding ruangan tadi memang sudah cukup untuk merenggut nyawa Han Siong Kie, bocah itu pasti sudah tergeletak mampus pada saat ini."

Disekanya noda darah yang membasahi ujung bibirnya, kemudian dengan nada menyelidik dan bertanya:

"Baik, untuk menghargai kebesaran jiwamu yang telah mengampuni nyawa bocah muda itu, aku tetap menyebutmu sebagai locianpwe. Locianpwe Bolehkah aku tahu, apa alasanmu sehingga bersedia untuk melepaskan dia??"

Mimik wajah Hun si mo ong yang menyeramkan itu berkejang-kejang sebentar seperti orang menahan kesakitan, lalu katanya dengan sedih:

"Selama hidupnya aku telah berbuat salah kepadanya, maka setelah dia mati, aku tak ingin melakukan segala perbuatan yang dapat menambah ketidak tenangan arwahnya dialam baka"

"Dia ? siapa yang kau maksudkan sebagai "dia"??" seru

perempuan itu keheranan.

"siapa lagi? Yaa tentu saja gurumu, Toh hun sian ci si

perempuan genit pencabut nyawa"

"Oooh jadi kalau begitu antara locianpwe dengan

mendiang guruku ada "

"Orangnya saja sudah mati, buat apa dibicarakan lagi?" tukas Hun si mo ong cepat, matanya berkaca kaca, hampir saja air matanya meleleh keluar, "semua kenangan, semua keindahan sudah ikut lenyap bersama berlalunya waktu " "Tapi kenangan toh selalu terasa baru? Kenangan manis tak akan ikut terlarut bersama berlalunya sang waktu? Bukan begitu locianpwe ...?" kata perempuan itu tertawa.

Hun si mo ong mengeluh, mengeluh penuh kepedihan yang tak terkirakan, ditatapnya wajah Buyung Thay dengan sinar mata yang redup lalu bisiknya lirih:

"Bocah manis, apakah kau hendak memaksa aku untuk menggali kembali kenangan lama yang lama kupendam didasar hati? Apakah kau memaksa aku untuk mengenang kembali semua kejadian sedih, semua kejadian menyayat hati yang telah kualami dimasa lampau?"

Nadanya setengah memohon belas kasihan, sama sekali tak tercermin lagi kewibawaannya sebagai seorang gembong iblis yang disegani orang.

Buyung Thay tertunduk, ikut pedih hatinya melihat kemurungan kakek tua itu, ia merasa Hun-si mo ong tidak menakutkan lagi, hakekatnya dia tak lebih hanya seorang kakek yang patut dikasihani ....

"Kalau toh locianpwee keberatan, tentu saja boanpwee tak akan memaksa" sahutnya kemudian dengan suara yang lirih hampir tak kedengaran.

Hun si mo ong yang perkasa dan disegani banyak jago, kini berubah jadi seorang kakek lemah yang tak berdaya dan patut dikasihani, dia tertunduk sedih dan berkata lembut:

"Ya      kejadian ini sudah berlangsung enam puluh tahun

berselang, ketika itu aku sedang mengejar gurumu Toh hun sian ci, aku mengejarnya dan berusaha mendapatkan cintanya, untuk itu aku telah mendatangi puncak Jit koan hong dibukit Thay san dan melakukan pengacauan atas di selenggarakannya pertemuan besar Kun cng hwe, dalam dua gebrakan kuhajar mampus jago paling lihay dikolong langit, lalu dalam beberapa ratus jurus kubantai seratus orang jago lebih, akhirnya gurumu bersedia untuk kawin dengan aku, tapi kemudian-.. tapi kemudian-..."

"Bagaimana selanjutnya?" tanya Buyung Thay dengan perasaan ingin tahu.

"Akhirnya aku telah kehilangan dia lagi" "Kenapa?"

Hun si mo ong tarik napas panjang panjang, agaknya ia sedang berusaha untuk mengendalikan pergolakan hatinya yang kencang, lalu baru katanya lebih jauh:

"Aku telah mencintai perempuan lain, aku terpikat, tergila gila oleh kecantikan dan kepandaian merayu perempuan itu... tapi, ketika akhirnya kuketahui tipu muslihat dibalik rayuan maut perempuan rendah itu ketika kusadari bahwa tujuan

perempuan itu memikat aku tak lain adalah untuk menyadap ilmu silat yang kumiliki kubunuh perempuan itu dengan penuh kebencian, lalu kularl kembali kepangkuannya, tapi... sayang...

sayang aku terlambat, gurumu telah bersumpah tak akan menemuiku seumur hidupnya lagi." Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu sambungnya lagi lebih jauh:

"Aku benar-benar menyesal, menyesal sekali atas perbuatan yang telah ku lakukan tapi nasi telah menjadi

bubur, menyesalpun tak ada gunanya, maka aku berkelana kembali dalam dunia persilatan, aku berharap suatu ketika gurumu akan berbalik hati dan mencintai aku lagi, setahun-.. dua tahun sepuluh tahun bahkan sampai sekarang sampai

dia mati ooh, sampai dia mengakhiri hidupnya aku gagal

untuk mendapatkannya kembali, tahukah kau? Aku sangat mendambakan kasihnya. Aku sangat berharap dapat mengucapkan permintaan maafku kepadanya, tapi kesemuanya itu kini tak mungkin terjadi lagi. Aku tahu,

didunia ini dia hanya mencintai aku seorang, diapun mengusir masa hidupnya dengan penuh kesepian dan kesengsaraan, tak terkirakan rasa sesal yang bertumpuk dalam hatiku, dan aku ingin mengutarakan kesemuanya itu kepadanya, tapi dia ....

dia telah mati "

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi paras muka Hun si mo ong yang mulai keriput.

Buyung Thay benar-benar merasa terharu sekali, ia tak pernah menyangka kalau gembong iblis yang disegani banyak jago dalam dunia persilatan ini sebetulnya adalah seorang yang romantis, dia pun tak menyangka kalau itulah alasannya mengapa ia bersedia memberi muka kepadanya, walau hanya untuk kali ini.

"Locianpwe" katanya kemudian dengan sikap amat menghormat, "bila arwah guruku dapat mengetahui isi hati cianpwe ini, aku yakin arwah suhu pasti akan tersenyum dan terhibur"

Hun si mo ong termenung untuk beberapa saat lamanya, ia seperti lagi memikirkan sesuatu, kemudian tanyanya:

"Siapa namamu??"

"Boanpwe bernama Buyung Thay"

"Ehmm... Buyung Thay jenasah gurumu dikebumikan

dimana??"

"Pek im wu dibukit Thiam cong san"

"Pek im wu dibukit Thiam cong san maksudmu" gembong iblis itu menegaskan lagi.

"Benar"

Sesaat suasana jadi hening, lalu setelah berpikir sebentar Hun si mo ong berkata lagi:

"Tentunya kau tak akan keberatan bukan bila jenasahku besok juga dikubur disisinya?"

Buyung Thay mengangguk. meski tiada kata kata yang diucapkan lagi. "Aaai... kalau memang begitu, Aku akan mohon diri lebih dulu, semoga kita dapat bertemu lagi tak lama kemudian " kata kakek itu lirihi

Baru beberapa langkah gembong iblis itu berlalu, ketika Buyung Thay tiba-tiba berteriak:

"Locianpwe, tunggu sebentar Boanpwe masih ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu"

(Cerita mengenai hubungan cinta antara Hunsi mo ong dan Toh hun sian ci tidak dikisahkan dalam buku ini, harap pembaca maklum).

"Apa yang hendak kau tanyakan lagi?" tanya Hun si mo ong terheran heran-

"Boanpwe ingin bertanya kepada locianpwe, karena persoalan apakah sehingga engkau munculkan diri kembali dalam dunia persilatan?"

Mimik wajah Hun si mo ong yang keriputan agak diliputi emosi, tapi hanya sebentar ia sudah dapat mengendalikan perasaannya lagi, sahutnya dengan suara dalam:

"Muridku tertangkap dan tertawan dalam Benteng maut, karena persoalan ini mau tak mau aku harus terjun kembali kedalam dunia persilatan untuk menolongnya "

"Muridmu? siapakah dia "

"Tentunya kau pernah mendengar manusia yang bernama Im yang-siang sat bukan?"

"Sepasang malaikat hawa dingin dan panas?"

"Betul" sahut gembong iblis tua itu seraya mengangguk. "mereka adalah suami istri yang saling mencintai, tapi sejak delapan belas tahun berselang Yang sat (si malaikat hawa panas ) Ko su ki telah lenyap dengan begitu saja hingga tak berbekas, dan baru baru ini im sat ( si malaikat hawa dingin ) Mo siu ing berhasil mendapat kabar yang mengatakan bahwa suaminya disekap dalam benteng maut, dan sekarang aku telah di undang untuk membantunya "

"Oooh jadi muridmu disekap dalam benteng maut?"

ulang Buyung Thay dengan wajah tercengang bercampur ngeri.

"Betul.. Beberapa waktu berselang telah mengajak Mo siu ing untuk bersama-sama menyerbu benteng maut "

"Aku dengar ilmu silat yang dimiliki pemilik benteng maut luar biasa lihaynya, bahkan tiada tandingannya lagi dikolong langit, bagaimana akhir dari penyerbuan kalian itu?"

"Waah alat rahasia yang diatur dalam benteng itu

memang luar biasa lihaynya, hampir saja aku jatuh kecundang ditangan mereka, yaa bukan saja penyerbuan kami itu gagal, malahan muridku Mo siu ing ikut terjebak pula didalam benteng maut, kejadian itu benar-benar merupakan pengalaman pahit bagiku, perahuku sudah terbalik dalam selokan "

"Apa rencana locianpwe selanjutnya setelah terjadinya peristiwa itu ?" tanya Buyung Thay kemudian-

"Apalagi? Tentu saja akan kubumi ratakan benteng maut itu dengan permukaan tanah" sahut Hun si mo ong sambil menahan geramnya.

Buyung Thay termenung sesaat, tiba-tiba ia bertanya lagi: "Aku dengar locianpwee telah menjadi pelindung hukum

dari perkumpulan Thian che kau, boleh aku tahu apa sebabnya kau terima kedudukan serta jabatan tersebut?"

"Karena aku mendapat pesan dari seseorang untuk melakukannya"

"Siapakah orang yang menyuruh locianpwe itu? Apakah aku boleh ikut tahu namanya?" Hun si mo ong cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak Nama orang itu tak usah kau ketahui" katanya.

"Tapi locianpwe, masa engkau tak memberitahu nama orang itu kepadaku...? Boanpwe kan cuma ingin tahu saja..."

Hening suasana disekitar tempat itu, tampaknya gembong iblis itu sedang putar otak untuk mempertimbangkan persoalan tersebut, tapi akhirnya dia mengalah, sahutnya:

"Baiklah, kalau toh engkau cuma ingin tahu saja, aku dapat memberitahukan nama orang itu kepadamu, tapi kau harus janji bahwa berita ini tidak akan kau bocorkan kepada orang lain, setuju?"

Buyung Thay membungkam, tapi dia mengangguk. "Orang itu adalah Huan yu it koay (Manusia paling aneh

dari seluruh jagad)." bisik gembong iblis tua itu kemudian.

"Apa? Huan yu it koay ...?" Teriak Buyung Thay hampir saja melompat ke udara saking kagetnya, rasa kejut dan ngeri yang dirasakan hatinya sekarang benar benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Huan yu it koay adalah seorang pemuka persilatan yang muncul sejaman dengan Hun si mo ong, kelihayan ilmu silat dari kedua orang gembong iblis itu luar biasa sekali sehingga hampir seluruh dunia persilatan berada dibawah kekuasaan mereka.

"Jadi manusia yang bernama Huan yu it koay itu masih hidup dikolong langit...?" bisik perempuan itu lagi.

"Benar Dia memang masih hidup didunia ini, pernah kau dengar dengan kata sesumbar yang pernah dia ucapkan tempo hari??"

"Kata sesumbar apa?"

"Dulu dia pernah sesumbar kepada orang banyak. katanya suatu ketika seluruh dunia bakal tunduk dibawah perintahnya, tapi kemudian dalam suatu pertarungan yang terjadi melawan ouwyang Beng pemilik benteng maut itu, ia terhajar sampai cacad, maka cita-citanya itu terpaksa harus dilaksanakan oleh ahli warisnya"

"siapakah ahli warisnya??"

"Yu Pia lam. Kenal bukan dengan orang itu??"

"Kau maksudkan ketua dari perkumpulan Thian che kau??" "Benar, itulah orangnya"

"Waaah, kalau memang begitu, tidaklah aneh kalau perkumpulan Thian che kau bersumpah tak akan berdiri berdampingan dengan pihak Benteng Maut, mereka tentunya saling bermusuhan bukan?"

"Tepat sekali terkaanmu itu"

"Lantaran demikian, maka locianpwe tak segan-segan untuk menurunkan derajat sendiri dan bersedia untuk menjabat sebagai pelindung hukum dari perkumpulan itu?"

"Boleh dibilang begitu, tapi yang pasti tujuanku yang terutama adalah menghancurkan benteng maut dari muka bumi"

"Lantaran manusia mengakibatkan bencana... Hun si mo ong Wahai Hun si mo ong rupanya kaupun cuma manusia

begitu begitu juga" serentetan teguran yang dingin bagaikan es tiba-tiba berkumandang memecahkan kesunyian.

Dengan jantung berdebar keras lantaran terperanjat Hun si mo ong berpaling, ia tak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki pendatang itu sangat lihay sehingga kedatangannya sama sekali tak terasa olehnya.

"Titi. " Buyung Thay sontak menjerit kegirangan begitu

melihat munculnya orang itu. Memang benar, orang itu tak lain adalah Han Siong Kie, jago muda kita. Mula mula Hun si mo ong agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa seram katanya:

"Bocah keparat, sebenarnya aku ada maksud untuk melepaskan engkau dalam keadaan selamat"

"Locianpwe" sebelum kakek itu menyelesaikan kata- katanya, Buyung Thay telah menukas dengan cepat, "bukankah perkataan yang telah kau ucapkan lebih berat dari bukit Thay san? Bagaimana kalau sekarang juga kupersilahkan kepada locianpwe untuk tinggalkan tempat ini?"

Sebelam Hun si mo ong sempat menjawab, Han Siong Kie telah berkata lagi dengan nada dingin.

"Hun si mo ong dengarlah baik baik Aku merasa berterima kasih sekali atas pertolongan yang telah kau berikan kepadaku dalam peristiwa tempo hari, hari ini kuputuskan untuk tidak melayani dirimu dalam segala bentuk pertarungan macam apapun"

Sontak Hun si mo ong melotot besar, sinar matanya yang berwarna hijau tampak mengerikan katanya:

"Bocah keparat, tempo hari kutolong engkau lantaran kaupun pernah memberi bantuan kepada muridku yang bernama Mo siu ing, maka tentang soal itu tak usah kau persoalkan lagi, sebab kita sudah impas kita sama sama tak punya hutang"

Buyung Thay sangat kuatir bila sampai terjadi pertarungan lagi ditempat itu, ia tahu itu tidak menguntungkan pihaknya sebab Han Siong Kie baru sembuh dari lukanya sedang dia sendiri sedang terluka parah, maka dengan gerakan cepat ia menghadang dihadapan anak muda ia lalu serunya tanpa sungkan-sungkan lagi: "Locianpwe, silahkan pergi dari sini"

Sekali lagi Hun si-mo ong menatap sekejap ke arah Han Siong Ki, akhirnya dia putar badan dan bersuit nyaring. "Apakah engkau sedang panggil rekan-rekanmu" tiba-tiba Han Siong Ki bertanya dengan dingin.

"Ehm, ada apa...?"

"Tak usah dipanggil lagi. sebab pada saat ini mereka sudah tak dapat bicara lagi"

"Jadi mereka sudah tewas semua ditanganmu?" teriak Hun si mo ong dengan geramnya.

"Benar"

"Baik, ingatlah baik-baik bocah muda Urusan kita akhirnya sampai disini saja, bila dikemudian hari kita berjumpa lagi, hati-hati dengan selembar jiwa anjingmu"

"HeeH.... HeeeH HeeeH sama-sama, sama-sama,

kaupun musti berhati-hati dengan selembar jiwa anjingmu."

Dengan geram penuh kemarahan Hun si moong mendepak- depak kakinya keatas tanah, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia putar badan dan berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan.

Menanti jago tua yang disegani banyak orang-orang itu sudah menghilang dari pandangan, Han Siong Ki baru berpaling kearah Buyung Thay sambil katanya:

"Cici, terima kasih banyak atas perhatianmu, terutama atas bantuan dan pembelaan yang telah kau lakukan dengan mempertaruhkan selembar jiwamu sendiri"

"Oooh.. adikku sayang jangan berkata demikian, aku sudah merasa puas melihat kau sehat wal'afiat kembali oooh

adikku sayang, kau telah segar kembali bukan?" bisik perempuan itu lembut. Han Siong Ki mengangguk.

"Bagaimana dengan cici sendiri?. Kaupun terluka parah?" "Luka memang iya, cuma tidak parah dan tidak terlampau

serius, ooh iya bagaimana dengan " "Siapa yang kau maksudkan?" Pemuda itu bertanya dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti.

"Itu... orang yang berada dalam kamarmu"

"Orang,...? orang yang mana...? siapakah dia?" anak muda itu semakin kebingungan.

"Entahlah, aku sendiripun tak tahu Aiii... andaikata ia tidak melindungi keselamatanmu secara diam-diam, mungkin aku sudah kehabisan akal untuk membendung serbuan mereka dan mungkin engkaupun sudah menemui ajalnya secara mengerikan"

Terkesiap juga hati Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, ia tak tahu siapakah tokoh sakti yang secara diam-diam melindungi keselamatan jiwanya itu, dia cuma ingat dikala semedinya baru selesai dan matanya dibuka kembali, pandangannya yang tertuju pada empat sosok mayat yang menggeletak ditepi pintu, waktu itu dia mengira pastilah mayat mayat itu adalah hasil karya dari Buyung Thay.

Kemudian dia keluar dari kamar, dan ditemuinya orang bersembunyi disamping rumah, karena curiga ia menghampiri mereka lalu setelah menegaskan bahwa orang-orang itu adalah musuhnya, dengan suatu ilmu kepandaian yang sangat tinggi ia bunuh keempat orang kakek itu dengan cara paling keji, kemudian diapun munculkan diri ditengah arena.

Mendengar kisahnya itu, sekarang giliran Bu yung Thay yang merasa terperanjat, ia melongo dan untuk sesaat tak tahu apa yang musti dikerjakan. Han siang Ki sendiripun termenung dengan pikiran kalut.

"Siapa gerangan orang yang membantu diriku secara diam- diam itu? Siapakah dia?" pikiran tarsebut selalu berkecamuk dalam benaknya.. setelah termenung beberapa saat, akhirnya ia mengemukakan pendapatnya: "Cici, mungkinkah orang itu adalah si pengirim surat peringatan? sebab aku rasa kecuali dia tak ada yang bisa dicurigai lagi"

Buyung Thay tidak langsung menjawab, diapun termenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk:

"Ehmm mungkin juga orang itu"

"Kalau toh benar orang itu, mengapa secara diam diam ia tinggalkan pula tempat ini?"

"Yaaa aku sendiripun tak tahu, aku tak dapat memecahkan teka teki yang memusingkan kepala ini"

Han Siong Ki masih coba berpikir dan berusaha untuk menemukan orang itu, tapi akhirnya toh menyerah juga, sambil menghela napas dan gelengkan kepalanya berulang kali keluhnya:

"Aaai.. terlalu banyak sudah hutangku kepada orang lain, entah sampai kapan semua hutang itu baru dapat kubayar lunas?"

"Adikku sayang, aku harap perkataanmu itu tidak menyangkut juga cicimu " tiba-tiba perempuan itu menyela.

"Kenapa?"

"Ah tidak apa apa "

-ooo0dw0ooo-

BAB 82

"CICI, karena aku, kau telah berjuang dengan mempertaruhkan jiwa raga, sampai matipun aku Han Siong Kie tak akan melupakannya" bisik anak muda itu sangat terharu. Buyung Thay tersenyum, tersenyum penuh kehangatan dan kemesraan, bagaikan tatapan seorang istri terhadap suaminya.

"Titi, aku hanya minta padamu agar mau selalu teringat akan satu hal asal kau dapat mengingatnya terus, hatiku akan merasa gembira dan terhibur" bisiknya.

"Mengingat soal apa cici??"

"Ingatlah selalu, sepanjang masa, bahwa aku cinta padamu"

Bergetar sekujur badan Han Siong Kie sehabis mendengar perkataan itu, sekarang ia baru merasa bahwa persoalan yang dihadapinya adalah suatu urusan serius, dia harus segera tinggalkan perempuan ini, sebab kalau tidak maka selamanya

....yaa selamanya dia akan terjerumus dalam lingkaran setan yang tiada habisnya, dia akan selalu terikat oleh perempuan ini dan selamanya tak akan terlepas lagi.

Tak dapat diragukan lagi, dia bakal terus melakukan perbuatan yang memalukan, perbuatan yang membuat kecewa Go siau bi dan Tonghong Hui jika hubungan abnormal itu dilanjutkan, bagaimana pertanggungan jawabnya nanti dihadapan "Manusia kehilangan sukma" yang menyayanginya bagaikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya itu?

Ia pernah berhubungan intim dan mesra dengan perempuan itu, hubungan yang menggetarkan seluruh persendiannya yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan Tonghong Hui maupun calon istrinya, Go Siau bi, malah dengan nyonya inilah dia berhubungan suami istri yang sebenarnya.

Berpikir sampai kesitu, Han Siong Kie tak dapat melamun, ia tersadar dari lamunannya dan bergidik, sekujur badannya merinding ....

Untunglah pada saat yang kritis, satu ingatan tiba tiba melintas dalam benaknya membalas dendam Benar, ia tak dapat melupakan soal ini, membalas dendam bagi kematian keluarganya

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba saja ia jadi lebih bersemangat, dia merasa lebih teguh imannya untuk mengambil keputusan dan menerima kenyataan yang terpampang didepan matanya.

"Cici. hari sudah terang" bisiknya kemudian.

Buyung Thay menengadah memandang langit yang mulai terang di ufuk sebelah timur, lalu mengangguk dengan pedih.

"Benar, hari sudah terang tanah, marilah adikku sayang, kita kembali kekamar"

"Tidak Kita tak usah masuk kedalam ruangan itu lagi, kita harus segera tinggalkan tempat ini" bisik Han Siong Kie lirih.

"Pergi ? Kita harus pergi tinggalkan tempat ini"

"Tentu saja Masa kita akan bercokol terus ditempat ini?" pemuda itu tersenyum, senyum yang dipaksakan.

"Tapi.. bagaimana dengan mayat mayat yang menggeletak dalam ruangan itu.... masa kita biarkan "

"Tak usah kau pikirkan lagi cici, aku telah membereskan segala sesuatunya dengan baik dan mayat-mayat itu telah kusingkirkan semua dari ruangan"

Buyung Thay tertunduk sedih, biji matanya yang jeli mulai berkaca-kaca, ditatapnya paras muka anak muda itu tajam- tajam, kemudian bisiknya: "Adikku sayang, sekarangkah kita harus pergi dari sini??"

Suara itu amat lirih, terselip nada yang mengharukan, membuat orang merasa bahwa perempuan itu seakan-akan mengharapkan sesuatu, menginginkan sesuatu dan menunggu-nunggu akan tibanya sesuatu, suatu bisikan yang penuh daya rangsangan, daya pikatan yang amat besar .... Han Siong Kie tergoda, dia merasakan debaran jantungnya berdetak makin kencang, hampir saja keputusannya goyah kembali...yaa, hakekatnya meninggalkan perempuan itu memang merupakan suatu pekerjaan yang sangat menderita, suatu perbuatan yang memedihkan hatinya, tapi... membalas dendam.

Dua patah kata itu serasa menimbulkan suatu kekuatan yang sangat besar, dan kekuatan tersebut dengan cepat telah mengendalikan kembali rangsangan yang timbul dalam hatinya. setelah termenung sesaat, akhirnya pemuda itu mengangguk juga. "Benar, cici sekarang juga kita harus

pergi"

"Kemanakah kau akan pergi setelah meninggalkan tempat ini?" tanya Buyung Thay setelah termenung sebentar.

"Aku harus berkunjung ke benteng maut, benteng besar yang disegani umat persilatan"

"Mengunjungi benteng maut??" "Benar, benteng maut"

"Mau apa kau kesitu? Tahukah adikku sayang, tempat itu berbahaya, belum pernah ada orang yang dapat lolos dari situ dalam keadaan selamat"

"Aku tak ambil peduli Pokoknya aku harus mengunjungi benteng maut, aku harus membalas dendam" seru Han Siong Kie dengan suara berat dan mata berapi api penuh perasaan dendam.

"Ooooh jadi kau ada hubungan sakit hati dengan pemilik

benteng maut?" Buyung Thay tertegun seperti orang keheranan.

"Benar, aku mempunyai sakit hati sedalam lautan dengan pemilik benteng maut, dendam berdarah itu harus kutagih walau selembar jiwaku sebagai pertaruhan" Buyung Thay terdiam sejenak lalu termenung dan memikirkan sesuatu.

"Adikku katanya kemudian, tahukah kau bahwa Hun si mo ong belum lama berselang telah berkunjung pula ke benteng maut untuk mencari jejak muridnya yang bernama Malaikat hawa panas Ko su khi? Tapi alhasil bukan saja gagal untuk menolong muridnya, malahan muridnya yang lain Malaikat hawa dingin Mo siu ing ikut tersekap juga dalam benteng maut, dia sendiri kendati berhasil meloloskan diri dari bahaya, tapi kerugian yang dideritanya cukup parah.

Han Siong kin mendengus dingin.

"Hmm Apakah lantaran pihak musuh terlampau lihay, lantaran sudah banyak jago jatuh kecundang ditangannya maka aku harus mengakhiri perjuanganku sampai disini saja? Apakah aku harus mengesampingkan soal pembalasan dendam dan tidak memikirkannya lagi untuk selamanya?"

"Tentu saja bukan begitu maksudku titi, aku toh tidak melarang kau untuk membalas dendam?"

"Aku hanya berharap agar kau bertindak lebih hati-hati lagi sehingga tidak menderita kerugian besar"

"Terima kasih banyak atas perhatian dan nasehat cici, aku rasa dalam persoalan ini sudah tak ada masalah lain yang perlu dipertimbangkan lagi"

"Baiklah, kalau memang begitu ijinkanlah aku untuk menemani kau pergi" bisik Buyung Thay kemudian sambil menggigit bibirnya menahan emosi yang bergolak. .

Han Siong Kie berpaling dan menatap perempuan itu dengan penuh rasa berterima kasih.

"Tidak cici, kau tak boleh ikut" katanya sambil menggeleng. "Kenapa tidak boleh? Katakanlah mengapa aku tak boleh

mengikuti dirimu pergi kesitu?" "Karena aku tak mau menggunakan tenaga dan kekuatan orang lain untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban itu, aku hendak membalas dendam dengan menggunakan tenaga serta kemampuan yang kumiliki sendiri"

"Tapi aku toh tidak tentu harus turun tangan

membantu? Aku kan cuma menemani kau saja "

-ooo0dw0ooo-