--> -->

Tengkorak Maut Jilid 37

 
Jilid 37

"AKU benar-benar tak dapat menemukan siapa gerangan dikolong langit dewasa ini yang menguasai ilmu beracun tingkat tinggi."

"Dia tak pandai menggunakan racun, tapi dia tak takut menghadapi racun dalam jenis apapun"

Dewa racun Yu Hua tundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu, akhirnya ia mengerti siapa yang dimaksudkan, selanjutnya serunya:

"Saudara It, apakah engkau maksudkan ahli waris dari Mo tiong ci mo pewaris kedudukan ciangbunjin dari perguruan Thian lam bun dewasa ini, Manusia bermuka dingin Han Siong Kie??"

"Benar, dialah yang kumaksudkan seandainya kitab tersebut sampai terjatuh ketangannya, coba bayangkan bagaimanakah akibatnya??"

Dewa racun Yu Hua segera terbungkam dalam seribu bahasa, tanpa terasa iapun teringat kembali kejadian masa lalu ketika Manusia muka dingin Han Siong Kie dijebak dalam Lian huan tan, ketika itu dia telah mengunci semua jalan lembah dengan kabut wangi si kut hiang wu (dupa wangi pelepas tulang) tapi kenyataannya Manusia bermuka dingin masih tetap sehat walafiat seperti tidak terpengaruh sesuatu apapun.

Dalam pada itu, Han Siong Kie yang bersembunyi dibalik pepohonan sedang memutar otak serta mencari akal bagaimana caranya untuk mencegah orang Thian che kau meledakkan lembah hitam serta telaga racun. ia cukup memahami mereka dapat bertindak sewenang-wenang meledakkan telaga racun sehingga sampai tertimbun, apabila hal ini sampai terjadi maka selama hidup Hek pek siang yau tak dapat memulihkan kembali raut wajahnya seperti sedia kala. Diantara sekian banyak orang Hek pek siang you berdua yang paling tidak sabaran, andaikata Han Siong Kie tidak hadir disana, niscaya semenjak tadi mereka telah menampilkan diri untuk melakukan pembantaian secara besar-besaran.

Tauto berambut panjang yang berdiri disamping Dewa racun, tiba-tiba buka suara tapi kepada It tiong Khi katanya:

"Kalau toh Kaucu sudah ada perintah untuk berbuat demikian, lebih baik sekarang juga kita laksanakan, tolong tanya bagaimana caranya kita meledakkan lembah ini ?"

Tampaknya It tiong Khi si utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu sudah mempunyai susunan rencana yang matang, sahutnya:

"Akan kita tanam bahan-bahan peledak pada tebing dan sepanjang lereng lembah hitam ini, lalu kita ledakkan".

-000dw000-

BAB 71

"KALAU memang begitu, urusan tak boleh ditunda-tunda lagi, hayo kita tinggalkan tempat ini" ajak Tauto si padri pemelihara rambut itu.

Hek pek siang yau sudah habis kesabarannya, tapi sebelum mendapat perintah dari ketuanya mereka tak berani melakuka sesuatu tindakan secara gegabah, saking gelisahnya nafas besarpun sampai dibuang berulang kali. saat itulah Han Siong Kie berbisik lirih:

"Kita harus menahan rombongan orang-orang ini tetap dalam lembah, jangan biarkan seorangpun berlalu dari sini dalam keadaan hidup, terutama sekali kakek berjubah hitam yang bermuka pucat tanpa warna darah itu, dia bernama Dewa racun Yu Hoa, seluruh badannya mengandung racun, serahkan orang itu kepadaku, biar kulayani sendiri dirinya" Seperti mendapat perintah untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, Hek pek siang yau segera melompat bangun dan siap menyebarkan mautnya.

Pada saat itulah sebelum mereka berdua sempat melakukan pembantaian secara besar-besaran mendadak dari permukaan telaga beracun itu timbul buih-buih besar yang disusul dengan munculnya gelombang besar.

"Jangan berisik, cepat bersembunyi" seru Han Siong Kie sambil ulapkan tangannya.

pada saat itu rombongan dari Dewa racun Yu Hoa sudah hampir meninggalkan tempat itu, ketika secara tiba-tiba mendengar suara gulungan ombak besar muncul dari permukaan telaga yang tenang dengan hati terkesiap mereka berpaling, apa yang kemudian mereka saksikan segera mencopot sukma rasanya, bulu kuduk pada bangun berdiri.

Kiranya diantara gulungan gelombang besar dan percikan buih-buih air yang amat santar perlahan-lahan muncul seorang kakek berambut putih, kakek itu berperawakan tinggi besar dan bermuka merah, meskipun baru muncul dari permukaan air beracun, ia tak nampak cedera atau mengalami sesuatu yang aneh.

"Aaah Dialah Ban tok Cousu" tiba-tiba Tauto sipadri memelihara rambut itu menjerit kaget.

Jeritan tersebut menambah panik dan seramnya suasana, serentak dua belas orang yang hadir ditepi telaga mundur selangkah dengan ketakutan, tampaksya mereka jeri sekali menghadapi kakek moyangnya ilmu berbisa ini.

Entah dengan gerakan tubuh apakah, tahu-tahu semua orang hanya merasa pandangan matanya jadi kabur dan kakek berambut putih itu sudah melayang naik ke tepi telaga. setelah urusan terlanjur menjadi begini, Dewa racun Yu Hoa tak dapat berdiam diri belaka, terpaksa ia keraskan hati dan maju ke depan, sapanya sambil memberi hormat.

"Tolong tanya benarkah locianpwe adalah Ban tok Cousu yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan?"

"Benar" sahut kakek berambut putih itu dengan suara nyaring, senyaring guntur yang membelah bumi, "ada urusan apa kalian datang kemari?"

"Boanpwe... boanpwe sekalian hanya... hanya terdorong oleh perasaan ingin tahu saja" jawab Dewa racun dengan suara terbata-bata, panik juga ia menghadapi kejadian semacam itu.

"Karena perasaan ingin tahu? Hahah haaahh haahh" tiba- tiba Ban tok Cousu menengadah dan tertawa terbahak-bahak, setelah puas tertawa dia lantas ulapkan tangannya "enyah kamu semua dari tempat ini"

Bersama dengan kibasan telapak tangan itu dua belas orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu segera merasakan segulung desingan angin tajam menyambar lewat diatas badannya, tak tahan lagi mereka bergidik serta bersin beberapa kali.

Tapi saat ini mereka tak berani berdiam terlelu lama lagi disana, seperti ikan-ikan yang terlepas dari jaring cepat-cepat kedua belas orang itu sipat telinga dan kabar terbirit-birit.

"Berhenti" mendadak terdengar bentakan lagi menggelegar diangkasa, seorang pemuda tampan yang berwajah dingin telah tampil kedepan dan menghadang jalan pergi beberapa orang itu.

Menyaksikan jalan perginya terhadang dengan rasa kaget dan terkesiap Dewa racun Yu Hua sekalian segera berhenti berlari. It Tiong khi si utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu agak tertegun tapi ia segera membentak.

”Bocah keparat, kau jangan berlagak jumawa ditempat ini, sudah kau letakkan dimana sepasang matamu.”

”Haa? Manusia bermuka dingin!” teriak Dewa racun Yu Hua dengan kaget setelah ia dapat mengenali kembali siapa gerangan si anak muda yang menghadaog jalan perginya itu.

”Manusia bermuka dingin" ketiga huruf nama itu cukup mendatangkan perasaan seram bsgi pendengarnya, sebelas orang jago dari perkumpulan Thian che kau itu tergetar mundur selangkah kebelakang, tsnpa sadar mereka telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

”Bocah keparat! Kalau ingin mencari gara-gara hayo kita bereskan urusan itu di luar lembah sana!” tantang It Tiong khi dengan wajah serius.

Tiba-tiba Ban tok Cousu yang membungkam disamping ikut berkata pula dengan nada dingin:

”Selama berada di dalam lembah hitam dilarang menggunakan kekerasan untuk berkelahi atau baku bantam, silahkan keluar dulu dari sini!”

“Tapi Locianpwe, kau tak boleh me1epaskan mereka pergi!” teriak Han Siong Kie dengan cemas.

”Kenapa?”

”Sebab mereka akan ledakkan puncak tebing karang itu dan menyumbat telaga beracun!”

”Apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu? Hayo cepat enyah dari sini!” hardik Ban tok Cousu tanpa sungkan- sungkan.

Han Siong Kie terbungkam, tak disangka olehnya bahwa maksud baiknya untuk memberi peringatan kepada kakek itu malahan mendapat imbalan semprotan yang cukup pedas. It Tiong khi jadi lebih kheki lagi terutama karena rencana busuknya dibongkar secara blak-blakan, mukanya jadi menyeramkan, sambil menggertak gigi tsriaknya:

”Bajingan cilik, hayo keluar! Kita bereskan urusan diantara kita berdua diluar lembah sana”

Setelah memberi tanda kepada anak buahnya dia lantas putar badan dan berlalu lebih dulu dari sana diikuti ke sebelas orang anak buahnya.

Sepeninggal orang-orang itu mendadak Ban tok cousu berkata lagi dengan suara ketus:

"Bocah muda, mengingat maksud baikmu untuk memberi peringatan maka kuampuni selembar jiwamu, ajaklah dua orang rekanmu itu dan segera enyah dari tempat ini"

Ucapan tersebut amat mengejutkan Han Siong Kie, ia tak menyangka kalau cukup dalam sekali tatapan mata Ban tok cousu telah mengetahui tempat persembunyian Hek pek siang yau, apalagi mengetahui pula bahwa kedua orang itu berasal dari satu rombongan dengannya.

Dari sini dapatlah diketahui bahwa semenjak kemunculannya dari dalam telaga ia sudah menemukan jejak dari mereka bertiga, itu berarti bahwa ketajaman mata serta pendengarannya sudah mencapai tingkatan yang sangat hebat.

Rupanya Hek pek siang yau juga sudah tahu bahwa tak ada gunanya mereka bersembunyi terus, serta merta dua orang itupun menampilkan dirinya kedepan.

Dalam keadaan seperti ini, Han Siong Kie merasa tak ada gunanya untuk merahasiakan maksud kedatangannya lagi, ia maju kedepan lalu memberi hormat katanya:

"Terus terang boanpwe katakan bahwa sesungguhnya kedatangan kami kesini adalah ingin memohon sesuatu bantuan dari locian pwe." "Sudah lama aku tak pernah mencampuri urusan dunia luar lagi, tak dapat kupenuhi permohonan dalam bentuk apapun"

"Locianpwe harap untuk kali ini kau bersedia untuk memenuhinya, walau apapun syaratnya" pinta Han Siong Kie lebih jauh.

Ban tok cousu menengadah dan menatap sekejap wajah sianak muda itu dengan pandangan dingin, kemudian sahutnya:

"Boleh saja kalau begitu, asal engkau mampu untuk memasuki telaga beracun ini maka akupun akan bersedia untuk mengabulkan pula sebuah permintaanmu" Tanpa menanti jawaban lagi dia putar badan dan berlalu dari sana. Han Siong Kie jadi panik kembali teriaknya. "Locianpwe harap tunggu sebentar"

"Ada urusan apa lagi? " tanya Ban tok Cousu sambil berhenti, meski begitu ia sama sekali tak berpaling.

"Apakah locianpwe tidak kuatir terhadap ancaman mara bahaya yang sedang mengincar jiwamu? Rombongan tadi betul-betul punya niat untuk meledakkan lembah hitam ini serta menimbun telaga racun"

"Heeeh heeeeh heeeehh, sejak awal aku toh sudah berkata, apa sangkut pautnya antara persoalan tadi dengan dirimu ? Buat apa kau musti merisaukannya ?"

Untuk kedua kalinya Han Siong Kie terbentur pada batunya, ia membungkam tidak mampu berbicara, walaupun hatinya jadi panas seperti mau meledak rasanya.

"Bocah muda" kembali Bantok Cousu berkata "kau berani memasuki telaga beracun atau tidak? Jika masih ingin hidup lebih lama lagi, cepat-cepatlah enyah dari sini"

Ucapan itu membakar hati Han Siong Kie, ia merasa seakan-akan dirinya sedang ditantang, malu untuk menolak tentu saja ia menerima tantangan tersebut dengan emosi. "Setelah berani datang kemari, mengapa tak berani terjun kedalam telagamu ini ?" sahutnya dengan angkuh.

"Bagus, jadi kau berani memasuki telaga ini seorang diri?" "Tentu saja, Sebagai seorang laki-laki sejati, setelah aku

berani mengucapkan keluar, tentusaja akan kulaksanakan pula."

Mendengar ucapan dari ketuanya ini, cepat-cepat Hekpek- siang yau maju kemuka dan jatuhkan diri berlutut dihadapannya dengan rasa terharu dan penuh rasa terima kasih siluman hitam berkata.

"Ciangbunjin harap engkau bersedia untuk menarik kembali perkataanmu itu"

"Kenapa?" seru sang pemuda.

"Tecu rela selamanya berwujud demikian, dari pada harus mengorbankan selembar jiwa ciangbunjin"

"Kenapa? Toh aku belum tentu mampus dalam air telaga itu"

"Jangan Ciangbunjin, tak ada gunanya mempertaruhkan nyawa dengan percuma"

"sudahlah, kalian tak usah banyak berbicara lagi, apa yang telah kuputuskan selamanya tak akan dirubah kembali"

Sementara itu Ban tok Cousu sudah tertawa dingin tiada hentinya, sekali melompat tahu-tahu ia sudah lenyap dibalik air telaga.

"Kalian berdua segera bangkit" bentak Han Siong Kie kemudian dengan wajah gusar.

"Asal Cianbunjin menarik kembali niat tersebut, tecu berdua akan segera bangkit"

"Tidak.. Apa yang telah kukatakan selamanya tak akan dirubah lagi" "Tapi... Ciangbunjin, air dalam telaga beracun ini sangat berbahaya, kena dibadanpun bisa mengakibatkan kematian yang sangat mengerikan, coba lihatlah keatas sosok mayat yang menghangus ditepi telaga itu."

Tanpa disengaja Han Siong Kie mengalihkan perhatiannya kearah kedua sosok mayat itu, timbul juga perasaan bergidik dalam hatinya, tapi sebagai seorang pemuda yang tinggi hati, sudah tentu ia tak sudi membatalkan niatnya, apalagi memulihkan kembali wujud kedua orang siluman itu sudah merupakan salah satu tujuan hidupnya sekarang. Maka dengam suara dingin dia berkata:

"Masih ingatkah kalian dengan kata-kata yang pernah kamu berdua ucapkan sewaktu aku hendak membawa kalian keluar dari lembah kematian? Masih ingatkah bahwa kalian bersedia menuruti semua perintahku tanpa membantah??"

"Tapi ciangbunjin, air telaga itu sangat beracun.." "Tutup mulut dan segera bangkit, sekarang juga

kuperintahkan kamu berdua untuk keluar dari lembah ini.

berjaga-jagalah kalian terhadap tingkah laku dari anjing-anjing geladak itu, cegah setiap usaha mereka untuk meledakkan lembah ini"

Hek pek-siang yau, sepasang siluman hitam putih itu tak berani membangkang lagi, mereka bangkit berdiri tapi merasa keberatan untuk meninggalkn tempat itu.

"Cepat keluar dan awasi gerak gerik anjing-anjing geladak itu" sekali lagi Han Siong Kie membentak.

"Ciangbunjin. . ." teriak siluman putih cemas.

Sebelum orang itu menyelesaikan kata-katanya, kembali pemuda itu sudah menukas dengan suara dalam:

"Apa yang kuacapkan adalah perintah, apakah kalian berdua hendak menbangkang perintahku??" "Tecu tak berani" buru-buru kedua orang siluman hitam putih itu menyahut dengan kepala tertunduk.

"Kalau kalian masih bersedia untuk mendengar perintahku, segera laksanakan apa yang telah kuucapkan"

"Seandainya tecu telah menyelesaikan tugas tersebut apa yang harus kami kerjakan lagi"

"Nantikan kedatanganku diluar lembah sana" "Seandainya... seandainya..." tiba-tiba kedua orang siluman

itu tidak jadi meneruskan kata-katanya sebab mereka merasa

bahwa tidak pantas untuk diutarakan oleh mereka.

Tentu saja Han Siong Kie mengetahui apa yang ingin mereka katakan, maka sahutnya: "Tunggu aku selama satu hari"

"Andaikata sehari sudah lewat namun ciangbunjin belum juga munculkan diri dari lembah ini"

"Kalian berdua harus segera kembali ke wilayah Thian lam dan meneruskan jabatanku"

"Tidak" teriak dua orang siluman itu cepat "tecu berdua pernah bersumpah akan mengikuti ciangbunjin selama hidup, andaikata ciangbunjin tertimpa suatu musibah maka tecu berduapun tak ingin hidup lagi."

Dalam hati Han Siong Kie merasa sangat terharu oleh sikap setia dari dua orang pembantunya ini, tapi perasaan tersebut tidak diperlihatkan diatas wajahnya, ia malahan membentak:

"Hmm. Ucapan apa itu? Kalian berdua toh sudah menjadi anggota perguruan Thian lam bun? sebagai murid yang berbakti maka kalian harus mementingkan tugas perguruan dari pada kepentingan pribadi. sudah sudahlah perkara

semacam itu tak ada gunanya untuk dibicarakan terus menerus, sekarang kalian segera keluar dari lembah ini, jangan sampai mengakibatkan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan"

Setelah dipaksa terus menerus, hek pek siang yau tak dapat membangkang perintah ketuanya lagi, setelah memberi hormat mereka baru berlalu dari situ dengan perasaan yang berat.

Demikianlah sepeninggal kedua orang siluman itu Han Siong Kie berjalan ketepi telaga beracun itu, ketika sinar matanya terbentur dengan air telaga yang berwarna kehitam- hitaman serta mayat-mayat menghangus yang terkapar ditepi telaga, tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, ia tidak merasa terlalu yakin dengan kemampuannya untuk melawan racun dari air telaga itu, tapi sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar, ia tak ingin menjadi seorang manusia pengecut, apa yang telah dikatakan bagaimanapun juga harus dilaksanakan sekalipun selembar jiwanya sebagai taruhan-

Tapi sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam telaga, ingatan lain kembali melintas dalam benaknya, dan ingatan tersebut membuat sekujur badannya gemetar keras, ia teringat akan dendam sakit hatinya yang belum terbalas, andaikata apa yang dilakukan sekarang mengakibatkan dirinya mati, bukankah dia bakal mati dengan mata tak meram.

Semestinya perbuatan semacam ini harus dilakukan setelah ia selesai membalas dendam, tapi kenyataan yang terpapar didepan mata sudah tidak mengijinkan dia untuk berbuat lain lagi, apapun yang terjadi dia harus melaksanakan perbuatan itu menurut rencana.

Dengan termangu-mangu ia memandang air telaga yang berwarna hitam itu, akhirnya sambil menggertak gigi dia menceburkan kaki kirinya kedalam air, betul juga begitu kakinya diceburkan segera terasalah suatu perasaan gatal- gatal yang aneh merambat naik keatas kakinya. Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya, cepat ia tarik kembali kakinya keatas daratan tapi setelah ditunggu lama sekali tidak nampak reaksi apapun, perasaan yang semula menegang sekarang jauh lebih lega.

Maka hawa sakti si mi sinkang disalurkan sepenuhnya untuk melindungi badan dengan pelindungan hawa khikang yang dahsyat sewaktu ia ceburkan kembali kakinya secara otomatis telaga itu menyibak sendiri ke samping dan yang aneh ternyata kakinya kali ini tidak basah.

Apa yang berhasil dicapai olehnya sekarang sangat menggirangkan hatinya, sebab apa kenyataan yang terpancang didepan mata persis seperti apa yang diduganya, dengan hawa khikang pelindung badan yang dihasilkan oleh tenaga sakti si mi sinkang ditambah pula dengan kekuatan penolak racun yang terkandung dalam tubuhnya untuk memasuki telaga beracun itu tanpa cedera ternyata adalah suatu pekerjaan sangat gampang.

“Aaah!” tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang berseru kaget.

Han Siong Kie sendiri pun terkesiap, ia batalkan niatnya untuk terjun kedalam telaga dan segera berpaling.

Ban tok Cousu memang sangat lihay, entah semenjak kapan tahu-tahu ia berdiri hanya tiga kaki dibelakang tubuhnya, bukan saja pemuda itu tak tahu sejak kapan ia sudah berada disitu, bahkan kehadirannya sama sekali tak tertangkap oleh pandangarannya.

”Eeeh bocah muda, engkau jugo mengerti tentang racun?” kakek berambut putih itu lantas menegur.

”Tidak! Aku sama sekali tidek mengetahui tentang soal racun” Han Siong Kie segera menyahut sambil gelengkan kepalanya. ”Kalau tidak mengerti tentang ilmu beracun, kenapa kau tidak takut untuk menceburkan diri dalam air telaga yang beracun jahat ini?”

Han Siong Kie tidak ingin berbohong maka dia mengaku terus terang:

”Boanpwe pernah mendapatkan penemuan aneh di suatu sumber nata air kerak bumi yang disebut Tee mee-leng cwan, sempat membenamkan tubuhnya sampai beberapa hari itulah sebabnya aku memiliki daya tahan untuk melawan segala macam racun!”

”Oooh! Benarkah itu? Sejak hidup sampai sekarang baru pertama kali ini kudengar tentang kejadian semacam itu, aku dengar engkau adalah seorang ciangbunjin boleh ku ketahui engkau adalah ciangbunjin dari perguruan mana?”

”Perguruan Thian lam bun“

”Kau maksudkan ketua dari istana Huan mo kiong yang berada di wilayah Thian lam?” Ban tok Cousu menegaskan.

”Benar!" si anak muda itu mengangguk.

Sepasang biji mata Ban tok Cousu yang berwarna kehijau- hijauan tiba-tiba memancarkan sinar aneh setelah mengawasi si anak muda itu dari atas sampai ke bawah beberapa kali ia baru bergumam seorang diri:

”Ehmm bakat alam yang luar biasa, susah ditemukan dalam seratus tahun, hebat mengagumkan!”

Sehabis bergumam dengan alis mata berkenyit ia berkata: ”Semangat serta kebesaran jiwamu yang rela berkorban

demi kepentingan orang lain sangat mengagumkan diriku,

baiklah! Untuk kali ini aku akan melanggar kebiasaan dengan memenuhi permintaanmu, undanglah kembali kedua orang anak muridmu tadi" ”Apakah Lccianpwe sudah tahu apa yang hendak boanpwe pinta?” seru Han Siong Kie.

”Bukankah kedua orang anak muridmu sudah terkena racun dari Gi hong tok-ko yang hebat? Dan sekarang kau mohonkan pengobatan bagi mereka sehingga wajahnya dapat pulih kembali seperti sedia kala?”

”Darimana locianpwe bisa tahu?” seru si-anak muda itu keheranan.

”Haaah haaah haaaah tiada jenis racun didunia ini yang bisa mengelabuhi sepasang mataku, cukup sekali memandang aku lantas bisa menduga sifat racun tersebut!”

Sekarang Han Siong Kie benar-benar merasa kagum sekali, sebab kenyataannya Ban tok Cousu memang liehay seperti pula dengan julukannya, dia memang tak malu mendapat julukan sebagai Cousu, tapi teringat kembali olehnya akan perbuatan Dewa racun Yu Hua sekalian yang hendak meledakkan lembah hitam, ia tetap merasa tidak berlega hati, maka serunya lagi dengan perasaan kuatir.

”Locianpwe, orang-orang persilatan yang bertempur disini tadi adalah anak buah dari perkumpulan Thian che kau, mereka telah menyusun rencana hendak meledakkan lembah hitam ini, cianpwe! Aku kuatir..”

”Tentang maksud busuk mereka itu aku sudah tahu!”

”Kalau toh locianpwe telah mengetahui akan maksud mereka, mengapa kau melepaskan mereka pergi dengan begitu saja.”

”Siapa yang bilang kalau aku telah melepaskan mereka pergi?” Ban tok Cousu balik bertanya.

Ucapan ini membuat Han Siong Kie jadi tertegun, tapi dengan cepat ia dapat menangkap maksud dari ucapan itu kontan saja jantungnya berdebar keras dan peluh dingin sempat membasahi tubuhnya. “Jadi locianpwe tidak melepaskan mereka pergi dengan begitu saja?” katanya kemudian.

Ban tok cousu tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeeh... heeeh... heeeh Bukan saja mereka berani memasuki daerah terlarang tanpa ijinku, bahkan berani pula menaruh maksud dan tujuan yangjahat kepadaku, terhadap manusia semacam ini, apakah aku harus melepaskan mereka dengan begitu saja? Hmm Dosa seperti itu, belum cukup untuk ditebus dengan kematian belaka "

Kali ini Han Siong Kie benar-benar tidak bisa menahas rasa ngerinya lagi, dari perkataan orang itu, ia dapat menarik kesimpulan bahwa orang-orang dari perkumpulan Thian che kau yang telah dilepaskan tadi, kebanyakan sudah menemui ajalnya secara mengerikan.

Maka diapun tidak membicarakan tentang soal lain lagi, setelah menjura ujarnya:

"Kalau memang demikian, boanpwe mohon diri lebih dulu untuk mengundang datang kedua orang anak muridku itu "

Habis berkata dia lantas putar badan dan berkelebat menuju kemulut lembah.

Beberapa saat kemudian ia sudah tiba di mulut lembah, waktu itu Hek pek siang yau sedang berdiri termangu-mangu, sementara dihadapan mukanya terdengar suara orang kesakitan yang mengerikan dan memilukan hati berkumandang tiada hentinnya:

satu ingatan melintas dalam benak Han Siong Kie, ia percepat gerakan tubuhnya dan melayang turun didepan mulut lembah itu. Rupanya Hek pek siang yau juga merasakan tibanya sesosok manusia dari dalam lembah, ketika mereka kenali bahwa orang itu tak lain adalah ketuanya, tak bisa dibendung lagi dua orang siluman itu berteriak dengan penuh rasa gembira. "Hooree ciangbunjin tidak cedera bukan?"

Han Siong Kie tidak menjawab, sinar matanya dialihkan ke atas permukaan tanah dan memeriksa sekejap keadaan disitu.

Dua belas sosok mayat terkapar diatas tanah dan menggeletak dalam posisi tak menentu, mereka memang It Tiong khi bersama rombongannya, sebelas orang diantaranya kelihatan sudah mati, tinggal Dewa racun Yu Hua seorang yang masih mengguling-guling diatas tanah dengan keadaan yang mengerikan sekali, suara jerit kesakitannya dan mimik wajahnya yang menahan rasa sakit semuanya menimbulkan suatu perasaan yang mengerikan siapa pun yang melihatnya.

Bergidik Han Siong Kie melihat semua kejadian itu tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Sepanjang waktu tadi Ban tok Cousu tidak kelihatan turun tangan tapi kedua belas orong Jago lihay dari perkumpulan Thian che kau ini tanpa mereka sadari telah keracunan hebat bahkan mereka baru tewas sesudah berada di luar lembah kejadian seperti ini bukan saja belum pernah terjadi bahkan tak akan dipercayai orang sebelum orang lain menyaksikan sendiri jalannya peristiwa itu.

Dewa racun Yu Hua terhitung seorang jago liehay yang ahli sekali dalam ilmu racun toh ia sendiripun tak dapat melepaskan diri dari cengkeraqman Ban tok Cousu hanya bedanya yang lain sudah keburu mati semua dan sekarang cuma tinggal dia seorang yang masih mengerang kesakitan.

Hek pek siag yau juga tidak berbicara apa-apa mereka hanya berdiri termangu-mangu di samping ketuanya.

Suasana jadi hening dan sepi, lama sekali siluman putih baru bertanya dengan perasaan ingin tahu:

“Ciangbunjin, apakah engkau telah masuk kedalam telaga beracun?”

”Belum” pemuda itu menggeleng. "Memang itu lebih baik, sebab bagaimana pun juga ciangbunjin tak boleh mengorbankan jiwa dengan percuma..!”

”Kalian salah pabam" tukas Han Siong Kie kembali, ”aku tidak jadi memasuki telaga tersebut karena Ban tok cousu telah mengabulkan permintaanku dan sekarang kalian diundang masuk kedalam untuk memperoleh penyembuhan seperti apa yang kalian cita-citakan selama ini!”

Kabar itu segera disambut gembira oleh sepasang siluman putih dan hitam, sedemikian girangnya mereka sampai lupa daratan dan saling berpelukan kencang.

Dalam pada itu Dewa Racun Yu Hua sudah tidak berwujud manusia lagi, air keringat telah membasahi sekujur badannya panca inderaoya sudah tidak berfungsi secara normal suara rintihannya sudah sedemikian lirih dan seraknya sampai kedengaran amat perlahan, walaupun begitu ia masih juga berusaha mencengkeram permukaan tanah dengan tatapan mata yang memelas hati kepada Han Sion Kie:

"Ciangbunjin... too... tolonglah aku.... berbuat... buatlah belas kasihan... dan... dan bebaskanlah aa.. aku dari... dari penderitaan"

Han Siong Kie merasa sangat tak tega memyaksikan penderitaan orang itu, rasa iba telah muncul dalam hatinya, diapun lantas teringat dengan keterangan dari engkoh tuanya si pengemis dari selatan, menurut pengemis itu sepanjang sejarah hidupnya Dewa racun Yu Hua tidak pernah melakukan perbuatan yang sangat jahat serta merugikan banyak orang, maka dia ambil keputusan untuk menyelamatkan jiwanya.

Ketika ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, dari tempat kejauhan diapun melepaskan serangan untuk menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh orang itu..

Setelah jalan darahnya tertotok maka Dewa racun Yu Huapun berhenti mengerang kesakitan. Tempo dulu Dewa racun Yu Hua pernah mempunyai niat jahat hendak merampas sepasang sarung tangan mustika Hud jiu poo pit dari tangan Han Siong Kie, kemudian ketika sianak muda itu terjebak dalam Lian huan tau, diapun pernah menggunakan asap beracun untuk merobohkan musuhnya, tapi sekarang Han Siong Kie tidak mengingat dendam lama dan malahan bersedia menyelamatkan selembar jiwanya, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan, kendati pemuda itu tersohor sebagai Manusia bermuka dingin, hakekatnya hatinya tidak dingin, hatinya penuh dengan perasaan welas kasih dan kasihan.

Demikianlah setelah mencengkeram tubuh Dewa racun Yu Hoa, Han Siong Kie lantas berseru kepada Hek pek siang yau. "Hayo jalan, kita masuk kedalam lembah"

Sementara itu sepasang siluman hitam putih sedang merasa tercengang oleh tindak tanduk dari cianngbunjinnya, tapi mereka tak berani banyak bertanya, maka tanpa mengucapkan sepatah katapun kedua orang ini ikut masuk kedalam lembah mengintil di belakang ketuanya.

Setelah tiba ditepi telaga beracun, Han Siong Kie melemparkan tubuh Dewa racun Yu Hua dihadapan Bantok Cousu. sedangkan Hek Pek siang yau saling berpandangan sekejap akhirnya mereka maju memberi hormat setelah itu baru berdiri di samping Han Siong Kie dengan perasaan gembira dan tak tenteram.

Dalam pada itu Ban tok Cousu telah menuding ke arah dewa racun Yu Hua seraya menegur:

”Eeeh apa yang terjadi dengan orang itu?”

Han Siong Kie maju dan memberi hormat lalu sahutnya. ”Oleh sebab boanpwe melihat ia tersiksa hebat, mati tak

bisa hidup pun menderita maka aku membawanya datang kemari, harap locianpwe bersedia untuk mengampuni selembar jiwanya!” ”Tapi lohu toh sudah berkata, bahwa aku hanya akan mengabulkan satu permintaanmu saja.”

”Waaah. kalau begitu..” untuk sesaat Han Siong Kie terbungkam, beberapa saat kemudian ia baru berkata lagi:

”Boanpwe berbuat demikian lantaren merasa tak tega dan aku pun tidak khusus mohonkan pengampunan baginya maka setuju atau tidak adalah terserah pada keputusan locianpwe sendiri!”

"Hmm, aku hanya merasa heran kenapa ia bisa mempertahankan hidupnya sekian lama?” ujar Ban tok Cousu keheranan.

”Ia bernama Dewa racun Yu Hua, selama hidupnya tersohor dalam dunia persilatan karena ilmu beracunnya!

”Ooh .tak heran kalau ia masih bisa mempertahankan diri, baiklah! memandang dia sebagai seorang ahli racun pula, lohu bersedia untuk mengampuni selembar jiwanya.”

Sehabis berkata ia mengambil keluar sebuah botol porselen kecil dan malemparkan sebiji obat ke tangan Han Siong Kie katanya.

"Berikan obat itu kepadanya!"

Han Siong Kie segera membebaskan dahulu jalan darahnya yang tertotok kemudian baru melolohkan obat tadi kedalam mulutnya.

Sslang sesaat kemudian, Dewa racua Yu Hua telah segar kembali, dia lantas melompat bangun, lalu sambil jatuhkan diri berlutut di badapan Ban tok Cousu katanya:

”Locianpwe, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu.” "Tak usah. Tak usah. Kau tak perlu berterima kasih

kepadaku sebab maksudku semula adalah hendak menghabisi

jiwamu" tukas Ban tok Cousu sambil ulapkan tangannya "untunglah kau juga seorang ahli dalam ilmu beracun sehingga nyawamu bisa ketolongan HHmm memandang diatas wajah bocah itu kuampuni jiwamu untuk kali ini, kalau ingin berterima kasih sampaikan saja kepadanya.."

Dewa racun Yu Hua lantas bangkit dan berlutut dihadapan Han Siong Kie, katanya dengan perasaan berterima kasih:

"Budi pertolongan yang telah kau lepaskan pada diriku selama hidup aku Yu Hua tidak akan melupakannya" selesai berkata ia lantas bangkit dan berlalu dari tempat itu.

Dengan termangu-mangu Han Siong Kie memandang bayangan punggung dari dewa racun itu hingga lenyap dari pandangan, kemudian baru ujarnya kepada Ban tok Cousu. "Locianpwe harap engkau bersedia untuk memulihkan raut wajah mereka"

Ban tok Cousu mengangguk. dia lantas mengalihkan sinar matanya untuk mengawasi Hek pek siang yau dengan seksama, kemudian katanya:

"Sudah berapa lama kalian berdua terkena racun dari Gi heng tok ko tersebut??"

"Sudah lima puluh tahun lamanya" jawab siluman hitam cepat.

"Sudah lima puluh tahun lamanya?" ulang Ban tok Cousu agak tercengang.

"Benar"

"Kalau begitu, kalian berdua harap segera maju kemuka"

Sepasang siluman hitam dan putih mengiakan, mereka lantas maju kedepan mendekati kakek tua itu.

Mendadak Bantok Cousu membentak keras, secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan, semua pukulan itu dilepaskan sangat cepat dan luar biasa sekali, hingga kedengaran suara deruan angin pukulan yang memekakkan telinga. Hek pek siang yau tak menyangka kalau secara tiba-tiba dia bakal diserang secara gencar, dalam keadaan tak siap siaga, kedua-duanya lantas tersapu telak oleh pukulan itu sehingga tercebur kedalam telaga beracun.

Dua jeritan ngeri menggema memenuhi angkasa, hanya sebentar saja suara itu sudah sirap.

Paras muka Han Siong Kie berobah hebat

-000d0w000-

BAB 77

DILUAR dugaan Ban tok cousu telah melancarakan serangan dan menghajar Hek pek siang yau sehingga tercebur kedalam telaga beracun, tindakan semacam ini tak disangka oleh siapapun, dan mimpipun sianak muda itu tak mengira bakal terjadi peristiwa semacam ini.

Hek pek siang yau sendiri setelah salah makan buah racun sehingga wajahnya berubah wujud, kemudian setelah terkurung selama lima puluh tahun lebih dalam lembah kematian, mereka ingin sekali menyembuhkan kembali wajah mereka yang menyeramkan itu, sudah tentu dihadapan Bantok Cousu yang akan melakukan penyembuhan tersebut, kedua orang itu tak akan bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan.

Andaikata mereka tidak mengendorkan pengawasannya, dengan kemampuan yang dimiliki sepasang siluman hitam putih pada saat ini, lebih hebatpun belum tentu Ban tok Cousu dapat berhasil dengan serangannya dalam sekali gebrakan.

Begitulah ketika dua orang siluman itu terhajar sampai mencelat kedalam air telaga dan memperdengarkan pekikan berat yang memilukan hati, paras muka Han Siong Kie berubah hebat, ia lantas membentak dengan penuh kegusaran: "Sungguh tak kusangka engkau adalah seorang manusia berhati keji dan berniat busuk, rasain pukulanku ini"

Diiringi bentakan keras pemuda itu menyerbu kedepan dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah dada Ban tok Cousu. serangan itu bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan hawa pukulan yang terkandung dibalik serangan itupun sangat kuat.

Ban tok Cousu tidak mengadakan perlawanan meskipun serangan yang tertuju kebadannya sangat keras ia cuma mengegos kesamping dan tahu-tahu sudah lolos dari serangan itu.

Kemarahan yang berkobar dalam hati Han Siong Kie benar- benar sudah mencapai puncaknya, gagal dengan serangan pertama, bagaikan bayangan setan ia mengejar kedepan dan sekali lagi melepaskan serentetan pukulan yang gencar.

”Tahan!” tiba-tiba Ban tok Cousu membentak keras, suaranya seperti geledek.

Tanpa sadar Han Siong Kie telah mengurungkan kembali niatnya untuk melancarkan serangan teriaknya pula dengan marah:

”Apa yang hendak kau katakan lagi?” ”Bukankah engkau minta pertolonganku untuk

memunahkan racun yang bersarang ditubuh mereka?” tegur

Ban tok Cousu kemudian.

”Benar! Tapi engkau telah melancarkan serangan mematikan yang mengakibatkan mereka berdua mendapat celaka" teriak pemuda itu marah-marah mukanya merah dan matanya melotot besar.

Ban tck Consu gelengkan kepalanya berulang kali. ”Sudahlah, bila engkau tidak percaya dengan diriku, sekarang masih ada kesempatan bagimu untuk enyah dari sini!” katanya.

Han Siong Kie melirik sekejap ke arah permukaan telaga tiba-tiba ia tertegun. Kiranya Hek pek siang yau sudah terlentang di tepi telaga dengan badan basah kuyup, meski napasnya tersengkal-sengkal seperti kerbau namun tidak tampak gejala sebagai orang yang keracunan.

Sebagai pemuda yang cerdas ia lantas menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi, cepat ia menjura dan mohon maaf katanya:

"Aaaah. rupanya boanpwe telah salah paham! Locianpwe jika barusan aku telah menyerang engkau secara gegabah dan kasar mohon sudilah kiranya locianpwe memberi maaf!”

"Ehm. dalam hal ini kau tak bisa disalahkan maklum kalau kau jadi marah dengan tindakanku yang tak terduga itu..!”

Dari sakunyo Ban tok Cousu mengambil keluar sebuah botol kecil dan mengambil dua biji pil berwarna hijau setelah melolohkannya kedalam mulut sepasang siluman itu, ia baru berkata.

"Kurang lebih setengah jam kemudian racun yang mengeram dalam tubuh mereka akan punah dan kesehatan tubuhnya akan sehat dan pulih kembali seperti sedia kala!”

Kali ini Han Siong Kie tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya memandang ke arah Ban tok Ccusu dengan mulut membungkam.

Kurang lebih saperminum teh kemudian, tiba-tiba kedua orang siluman hitam putih itu melompat bangun kemudian kabur terbirit-birit menuju ke balik pepohonan tak jauh dari telaga itu.

Melihat tingkah laku mereka yang aneh, Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia coba untuk mengejar. "Jangan halangi mereka" tiba-tiba Ban tok Cousu mencegah sambil goyangkan tangannya berulang kali. "biarkan mereka pergi dari sana"

Dalam sekejap mata dua orang manusia siluman itu sudah lenyap dibalik pepohonan yang lebat.

Sementara itu Han Siong Kie masih berdiri termangu dengan perasaan kaget dan tercengang, ia bertanya kemudian: "Locianpwe sebenarnya apa yang terjadi?"

"Obat yang mereka makan telah mulai bereaksi, sekarang racun yang terkandung di dalam tubuh mereka mulai bergolak keras dan harus dikeluarkan dengan melalui saluran kotoran"

Han Siong Kie baru paham setelah diberi penjelasan yang seksama itu, kembati dia bertanya lagi:

"Locianpwe, bukankah tadi engkau sudah menghajar mereka berdua hingga tercebur kedalam telaga beracun? Mengapa tidak kujumpai tanda-tanda keracunan ditubuh mereka berdua, apakah soal ini.."

"Itulah yang dinamakan pengobatan dengan racun melawan racun" sahut Bantok Cousu sambil mengangguk. "oleh sebab kedua orang itu menderita keracunan pada lima puluh tahun berselang, sehingga daya kerja racun itu sudah meresap sampai mencapai setiap urat nadi dan organ tubub pada lapisan yang paling kecil, maka mereka harus diceburkan dulu kedalam telaga racun.."

Ia berhenti sejenak kemudian lanjutnya lebih jauh: "Sebagaimana kau ketahui, air telaga ini sangat beracun,

sebab disinilah terkumpulnya sumber dari segala macam racun alam dan dikolong langit tidak terdapat benda lain yang bisa menandingi kedahsyatan dari racun ini, maka aku lantas berpikir untuk menceburkan mereka kedalam air telaga ini, biar racun dari telaga ini meresap kedalam organ tubuhnya dan saling menyerang dengan racun dalam tubuh, racun bila dilawankan racun akan berakhir dengan punahnya kedua jenis racun itu. Nah pada saat itulah aku baru memberi obat mujarab yang akan memunahkan sisa-sisa racun yang ketinggalan."

"Oooh.. kiranya begitu?"

Kembali Ban tok cousu memberi penjelasan: "Tentunya kau merasa heran bukan mengapa aku

menyerang mereka secara tiba-tiba? Tujuanku adalah agar mereka menjadi gugup, panik dan ragu, pada saat itulah mereka akan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melakukan perlawanan, karena mengerahkan tenaga, otomatis semua urat nadinya terbuka dan racun yang mengeram ditubuh merekapun akan punah lebih cepat lagi"

Sekarang Han Siong Kie baru benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, untuk kesekian kalinya ia memberi hormat.

"Locianpwe harap engkau bersedla untuk memaafkan kecerobohan boanpwe sehingga melakukan tindakan kasar kepadamu"

"Yang sudah lewat biarkan lewat, toh siapa yang tak tahu tak berdosa??"

Han Siong Kie tertunduk. sesaat kemudian ia baru berkata lagi:

"Pihak perkumpulan Thian che kau telah mempunyai niat jahat dengan maksud meledakkan lembah hitam, dan lagi diantara jago-jago yang mereka kirim kemari hanya Dewa racun Yu Hua seorang yang masih hidup, aku kuatir kalau mereka tak akan berdiam diri sampai disini saja, locianpwe. .

.."

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata- katanya, Ban tok Cousu telah menukas sambil tertawa terbahak-bahak. "Haaah haaah haaah siapa berani mengganggu aku, dia harus dibikin mampus, dan prinsip ini sudah kupegang teguh sepanjang masa hidupku, ketahuilah telaga beracun hanya merupakan salah satu pintu masukku belaka, kendatipun lembah hitam sudah di musnahkan, memangnya mereka sanggup bisa melukai aku??"

Pernyataan ini sangat menarik hati Han Siong Kie, dia ingin sekali bertanya lebih lanjut, tapi merasa tak enak untuk membuka suara, terpaksa niatnya dibatalkan. Dalam sekejap mata, setengah jam sudah lewat.

Mendadak dari balik pepohonan muncul sepasang muda mudi yang tampan dan cantik berusia dua puluh tahunan, dengan langkah yang lembut dan menawan hati mereka menghampiri Han Siong Kie berdua.

Kemunculan muda mudi itu sangat mengejutkan si anak muda itu, ia tak habis mengerti kenapa dari lembah hitam bisa muncul sepasang muda mudi setampan dan secantik itu.

Ban tok Cousu sendiri sedang mengamati pula sepasang muda mudi itu dengan pancaran sinar yang mata aneh.

Han Siong Kie baru menjerit kaget setelah sinar matanya terbentur dengan pakaian yang dikenakan muda mudi itu, ia lantas berteriak kegirangan:

"Aaah kiranya kalian telah berwujud wajah aslimu kembali"

Memang benar sepasang muda mudi yang tampan dan cantir itu tak lain adalah Hek pek siang yau, sepasang siluman hitam putih dalam bentuk wajah aslinya.

Kedua orang itu segera memburu maju ke depan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan Han Siong Kie, katanya dengan penuh rasa hormat:

"Tecu Seng Keh-ki dan Hong Ing ing mengucapkan banyak terima kasih atas budi ciangbunjin yang telah memenuhi harapan kami." Dari ucapan tersebut dapat diketahui bahwa siluman hitam kiranya bernama Seng Keh ki sedangkan siluman putih bernama Hong ing ing. Maka diapun tersenyum sambil ulapkan tangannya. "Tak usah banyak adat, ayo cepat bangun"

Dua orang siluman itu berlutut pula dihadapan Ban tok Cousu sambil katanya:

"Boanpwe berdua mengucapkan banyak terima kasih atas budi cianpwe yang telah memulihkan kembali wajah kami berdua"

Ban tok Cousu tidak berkata apa-apa, dia malahan mendengus dingin.

Dengusan itu bukan saja mengejutkan seng Keh-ki serta Hong ing ing, malahan Han Siong Kie sendiripun tidak habis mengerti mengapa Ban tok Cousu secara tiba-tiba berubah air mukanya?

"Locianpwe adakah sesuatu yang tidak beres? " tanya Han Siong Kie dengan wajah tercengang.

Ban tok Cousu menghembus jenggotnya yang putih lali menjawab dengan dingin.

"Ketahuilah lohu bisa menolong orang, bisa pula membunuh orang"

"Boanpwe tidak mengerti dengan apa yang locianpwe katakan, bersediakah engkau memberi penjelasan? "

"Kalau toh engkau mengharapkan bantuanku, mengapa bicara tidak sejujurnya?"

"Bicara tidak sejujurnya? Dalam hal apa kami tidak jujur?" "Benarkah dua orang bocah ingusan yang masih berbau

titik ini terkena racun pada lima puluh tahun berselang?" Has Siong Kie lantas dapat menebak persoalan apakah yang menyebabkan Bantok Cousu jadi marah, bukan menjawab dia malahan balik bertanya:

"Locianpwe pernah kah engkau mendengar tentang Hok pek siang yau yang amat tersohor itu?"

"Ehm pernah kudengar tentang orang itu, cuma belum mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan orangnya"

"Kedua orang inilah sepasang siluman hitam putih" "Apa? Mereka adalah Hekpek-siang yau yang pernah

menggetarkan dunia persilatanpada puluhan tahun

berselang?"

"Benar" pemuda itu mengangguk.

Agaknya Ban tok Cousu tak percaya dengan ucapan tersebut, dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Masa mereka mempunyai kepandaian untuk tetap awet muda??"

"Meski awet muda selamanya sih tidak. tapi kenyataannya mereka memang memiliki kelebihan yang bisa merawat wajah mereka tetap awet muda" sahut Han Siong Kie.

"Tidak... aku tidak percaya" seruBan tok Cousu sambil menggelengkan kepalanya.

Karena kakek tua ini kurang percaya, maka Han Siong Kie lantas menceritakan kisah tentang asal usul kedua orang siluman itu, termasuk juga bagaimana bisa mendapatkan Bak ci yang bisa membuat orang tetap awet muda.

Mendengar kisah tersebut, makhluk tua beracun itu anggukkan kepalanya berulang kali serunya:

"Kalau begitu, mereka berdua berasal dari perguruan Thian it bun dan merupakan ahli waris dari Kiu thian it siau (elang sakti dari langit sembilan) Ki Goan thong??" "Benar"

Ban tok Cousu lantas menengadah dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh haaahhh haaahhh kalau begitu mereke terhitung ahli waris dari sobat lamaku sendiri, hayo bangun... bangun Jangan berlutut terus"

Setelah diperkenankan berdiri, sepasang siluman itu baru bangkit berdiri dan berdiri disamping dengan sikap hormat.

Kembali Ban tok cousu menghela napas panjang, kemudian ujarnya lagi:

"Aku dan Ki Goan thong adalah sobat kental.. aai. sungguh tak kusangka perguruan Thian it bun telah musnah dan tinggal kenangan belaka, benar-benar lain dulu lain sekarang, apakah kalian berdua mempunyai minat untuk membangun kembali perguruan Thian it bun?"

Dengan sikap yang sangat hormat Seng Keh ki menjawab: "Boanpwe berdua telah menjadi anggota perguruan dari

Thian lam bun"

Han Siong Kie yang berada di sampingnya segera menyela sembari menatap tajam kedua orang siluman itu.

"Jika kalian berdua ada maksud untuk membangun kembali perguruan Thian it bun, akupun dengan senang hati akan memberi pula bantuan serta dukungan"

Kedua orang itu menatap sekejap kearah si anak muda itu dengan pandangan penuh rasa terima kasih, siluman putih Hong Ing ing lantas menjawab dengan lantang:

"Tecu berdua telah bersumpah untuk mengikuti ciangbunjin sepanjang masa, sumpah yang telah kami ucapkan selamanya tak akan kami ingkari kembali" "Aku toh memberi persetujuan khusus kepadamu dan bukannya kalian yang mengingkari janji? hal ini tak dapat dikatakan sebagai tindakan yang melanggar sumpah."

"Ten .. tentang soal ini. sampai sekarang tecu masih

belum melakukan pertimbangan apa- apa"

"Baik kalau begitu lain kali baru kita bicarakan lagi"

sekali lagi Han Siong Kie mengamati sepasang kekasih yang baru terlepas dari penderitaan itu, mendadak satu ingatan terlintas dalan benaknya, cepat ujarnya.

"Bukankah kalian berdua pernah berkata bahwa setelah pulih kembali wajah kalianpada wujud yang sebenarnya, maka hubungan perkawinan kamu berduapun akan diresmikan?"

Merah padam selembar wajah siluman putih Hong Ing-ing, ia tundukkan kepalanya dengan jantung berdebar keras, entah malu entah girang tapi yang pasti saat semacam inilah yang telah dinanti-nantikan setelah hidup menderita puluhan tahun lamanya.

Andaikata sejak dulu kala mereka tidak makan Bak ci, mustika yang langka dari dunia persilatan, mungkin pada saat ini wajahnya sudah berkeriput dan mukanya menjadi peyot.

Siluman hitam Seng Keh-ki juga merasa merah pipinya, dengan kepala tertunduk sahutnya:

”Harap ciangbunjin suka menyelenggarakannya bagi kami

!”

"Sayang pada saat ini aku harus buru-buru berangkat

kembali kedaratan Tionggoan!" kata Han Siong Kie.

”Tecu berdua tak terburu nafsu, akan kami nantikan saja sampai setibanya kembali ciangbunjin dalam istana !”

”Haaah haaah haaaa, saatku kembali juga susah diramalkan, lebih baik begini saja,” pemuda itu berpaling kearah Ban tok Cousu lalu sambungnya lebih jauh: "Locianpwe ini adalah sobat karib dari mendiang guru kalian apa salahnya kalau aku sebagai ciangbunjin kalian mengesahkan upacara perkawinan kalian berdua disini saja selain kita bisa minta kesediaan dari tuan rumah tempat ini menjadi saksi bagi perkawinanmu berdua kejadian ini pun akan meninggalkan kesan yang romantis buat lembah hitam telaga beracun yang selalu dianggap menyeramkan ini!”

Bsibicara simpai disini dia lantas berpaling kearah Ban tok Coosu dan menambahkan:

"Locianpwe bersediakah engkau mengabulkan permintaan dari boanpwe barusan?”

Ban tok Cousu menengadahkan tertawa terbahak-bahak:

”Haahh haahh haahh bagus.. bagus sekali meninggalkan kesan yang romantis bagi telaga beracun, kenapa aku tidak menyetujui atas usulmu itu? Justru aku ingin menyatakan dulu sesuatu secara terbuka meski aku pelit dan tak punya apa-apa akan tetapi aku bersedia merubah gua telaga racuntku ini menjadi kamar pengantin, Haaahh haahh haaahhh..”

"Boanpwe sekalian tak berani mengganggu lebih jauh, cukup upacara ini diselenggarakan ditepi telaga beracun ini saja, sebab tempat ini lebih mengesankan bagi kami, disinilah wajah kami dapat pulih kembali sebagaimana wajah aslinya"

Berbicara sampai disini, dua orang siluman itu saling berpandangan sekejap dalam pandangan itulah sudah mencakup perasaan kecut dan manis bercampur aduk.

Maka Han Siong Kie lantas mengangkat tinggi-tinggi lencana ok kui cu pay itu, sementara sepasang siluman tadi berlutut di hadapan lencana tadi dan oleh Han Siong Kie sebagai ketua perguruannya, hubungan merekapun segera diresmikan menjadi suami istri.

Selesai upacara kedua orang siluman itupun memberi hormat kepada Ban tok Cousu sebab kakek berambut putih itu adalah saksinya yang telah mengikuti jalannya upacara tersebut. Dengan demikian, upacara perkawinanpun secara singkat telah selesai.

Sebercak sinar sempat menyorot masuk ke dasar lembah hitam yang menyeramkan, membawa suatu perasaan yang lain daripada yang lain.

Dalam keadan begitu tanpa terasa Han Siong Kie teringat kembali akan Go siau bi yang dengan paksa dijodohkan kepadanya, ia tak tahu bagaimana akhir dari hubungan mereka berdua nanti?

Diapun terbayang kembali akan Tonghong Hui, satu- satunya perempuan yang ia cintai sejak perpisahannya secara terburu-buru di tepi sungai tempo hari, ia tak tahu dimanakah sekarang ia berada terutama dalam pertemuan untuk kedua kalinya dari perubahan wajah serta nada pembicaraannya terasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.

Lebih tragis lagi berulang kali orang yang kehilangan sukma memberi peringatan kepadanya bahwa perkawinannya dengan Tonghong -Hui akan mengakibatkan terjadinya suatu tragedi yang menyedihkan hati, pemuda itu cukup menyadari bahwa apa yang dikatakan orang yang kehilangan sukma jarang sekali meleset, ini menyebabkan hatinya diam-diam bergidik seram.

Menyusul kemudian bayangan tubuh dari nyonya cantik berbaju merah itu muncul pula didepan matanya, ia mengakui bernama Buyung Thay. . kecantikan wajahnya tak terkirakan dan boleh dibilang sukar dicarikan tandingannya di dunia ini.

Tanpa disadari Han Siong Kie merasakan sekujur badannya berubah jadi panas membara jantungnya ikut berdebar keras.

”Aku tidak pantas memikirkan perempuan itu lagi” demikianlah ia memperingatkan diri sendiri apalagi ia pernah dimaki oleh orang yang kuketahui namanya sebagai perempuan lonte yang tak tahu malu. Benarkah dia adalah seorang perempuan yang tak punya malu?

Semakin pemuda itu berusaha untuk membuang jauh-jauh ingatan tentang nyonya cantik berbaju merah itu bayangan tubuhnya semakin melekat dalam ingatannya kulit tubuhnya yang putih bersih tatapan matanya yang memikat dan mempesona hati senyuman manisnya yang membukakan bibirnya yang kecil mungil dan potongan tubuhnya yang padat berisi terutama kematangannya sebagai seorang nyonya muda merupakan suatu daya rangsangan suatu daya pikatan yang sangat besar.

Sementara dia masih termenung Ban tok Cousu telah berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

”Haaahhhh haaahh haaahhh hidup berkasihan selama puluhan tahun dan akhirnya berhasil juga menjadi suami istri, kejadian yang menimpa kalian berdua benar- benar merupakan suatu cerita yang sangat menarik bagi umat persilatan!”

Gelak tertawa yang amat keras itu lantas menyadarkan Han Siong Kie dari lamunannya, ia merasa sikapnya yang kurang hormat barusan membuat sepasang pipinya menjadi merah-

Selang sesaat kemudian segera serunya:

”Locianpwe, boanpwe sekalian hendak mohon diri lebih dahulu, budi kebaikan cianpwe terhadap kedua orang anak buahku ini tak akan terlupakan untuk selamanya, kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu!”

Habis berkata Han Siong Kie lantas memberi hormat dalam- dalam sedangkan sepasang siluman itu pun ikut memberi hormat.

”Haaahh haaahhh hahhh bagus..bagus!” Ban tok Coasu hanya beberapa kali mengangguk sambil tertawa terbahak- bahak. Demikianlah ketiga orang itu pun lantas berpamitan dan berlalu dari telaga beracun yang dianggap sebagai tempat angker itu. Dalam sekejap mata mereka sudah diluar lembah tersebut.

Tiba-tiba Han Siong Kie seperti teringat akan sesuatu, ia berkata dengan serius:

”Oooh iya tempo hari Wi Ik beng pernah menyaru sebagai sucou kita Mo tiongci mo, naik keatas kuil Siau lim si dan mencuri kitab pusaka Tay boan yo pit kip, bukan mencuri kitab saja bahkan dia pun membunuh padri penjaga loteng penyimpan kitab tersebut. Tentang peristiwa ini aku telah berjanji dengan Liau ing Hweesio untuk memberikan pertanggungan jawab ke kuil mereka satu tahun mendatang sekarang Wi Ik beng sudah dihukum mati, sayang waktu itu aku lupa menggeledah kitab pusaka Tay boan yo pit kip tersebut dari sakunya" Sekembali kamu berdua ke istana terangkan persoalan itu kepada To tianglo dan perintahkan mereka uotuk melakukan pencarian kilat, setelah ditemukan segara kirim orang menuju ke markas besar Kay pang di daratan Tionggoan dan serahkan kepada Tianglo pengemis itu si pengemis dari selatan, katakan merekanya agar kitab itu disampaikan kepadaku”

"Terima perintah” jawab sepasang siluman dengao cepat, "dalam perjalanan ciangbunjin menuju kedaratan Tionggoan ini, apakah kau membutuhkan bantuan dari tecu berdua?”

”Kalian berdua lebih penting menjaga keselamatan istana perguruan kita, apalagi kepergianku kali ini adalah untuk membereskan persoalan pribadiku sendiri, kalian tak perlu ikut

!”

Mendengar jawaban itu, dengan wajah serius siluman hitam Seng Keh ki lantas berkata:

”Ciangbunjin, tecu mempunyai suatu permohonan dan harap ciangbunjin bersedia untuk mengabulkan!” ”Apa permintaanmu itu ?”

”Salah seorang musuh besar perguruan kami di masa lampau, sampai sekarang masih ada seorang yang terlolos dari jaring.”

”Kau maksudkan Hun si Mo ong ?” "Benar!"

”Ada apa dengan gembong iblis itu?”

"Semoga ciangbunjin mengijinkan tecu berdua untuk menuntut balas dengan tangan sendiri"

"Tentu saja boleh, tapi saat ini keadaan dari perguruan kita masih payah, setiap saat perkumpulan Thian che kau bisa mengutus orang untuk mengacau, maka kamu berdua harus melakukan penjagaan dulu disana, bila saatnya telah tiba, aku bisa mengirim kabar keistana"

". .Terima kasih atas kebaikan ciangbunjin" dua orang siluman itu segera menjura.

"Selain itu" ujar Han Siong Kie kemudian setelah berhenti sebentar, dia ambil keluar lencana ok kui cu pay itu dari sakunya dan diserahkan kepada siluman hitam.

"Serahkan lencana ini kepada To tianglo, bila setahun kemudian aku masih belum kembali, suruh dia mengangkat orang lain sebagai ketua baru"

Paras muka Hek pek siang yau berubah hebat, dengan suara gemetar siluman putih lantas berkata.

"Ciangbunjin, mengapa kau mengucapkan kata-kata seperti itu??"

Han Siong Kie tertawa tak wajar rupanya ia sedang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

"Aaah, tidak apa-apa" dia menyahut "aku hanya bersedia payung sebelum hujan, siapa tahu nasib manusia didunia ini" "Apakah ciangbunjin masib ada pesan-pesan yang lain?" "Tak ada lagi. Ingat begitu kitab pusaka Tay boan yo pit kip

berhasil ditemukan, maka kalian harus mengutus orang untuk

membawanya kedaratan Tionggoan" "Tecu akan mengingatnya selalu"

"Baiklah sekarang kalian boleh pergi semoga kalian bisa menempuh hidup dengan penuh kebahagiaan"

"Terima kasih ciangbunjin"

Begitulah dengan perasaan berat hati seng Kah ki dan Hong Ing ing memandang sekejap kearah Han Siong Kie kemudian baru menjejakkan kakinya kepermukaan tanah dan berlalu dari sana.

Memandang bayangan punggung dua orang anak buahnya pergi jauh, diam-diam Han Siong Kie menghela napas panjang, bisiknya:

"Aaai bagaimanapun juga mereka tetap berbahagia meski baru saja terlepas dari penderitaan"

Sementara ia masih berdiri melamun mendadak dari arah belakang berkumandang suara yang sangat dingin, dan suara itu seakan- akan pernah didengarnya disuatu tempat, hanya pemuda itu tak dapat mengingatnya kembali dimanakah suara itu pernah mendengar.

"Bocah keparat. Ternyata engkaulah yang bernama manusia bermuka dingin"

Teguran tersebut sangat mengejutkan Han Siong Kie, dengan sigap dia berpaling, seorang laki-laki baju hitam yang bergodek panjang berdiri empat kaki dihadapannya dan pada saat itu sedang melotot kearahnya dengan pandangan penuh kebencian. Tatapan yang penuh sikap bermusuhan itu sangat tidak menyenangkan hati pemuda kita, diapun lantas menjawab dengan ketus: "Benar, akulah orangnya siapa engkau?"

"Bi-siang-kek (tamu bergodek indah) Huan Kang" "Ada apa engkau mencari aku??"

"Memperingatkan engkau agar tidak berhubungan lagi dengan Buyung Thay"

Han Siong Kie melongo dan termangu, sekarang ia baru ingat rupanya orang inilah yang pernah memberi peringatan kepadanya agar tidak berhubungan lagi dengan Buyung Thay si nyonya cantik berbaju merah, tak heran kalau suaranya seperti pernah dikenal, kenangan semasa berada dalam kuil teringat kembali, diapun teringat pula bagaimana orang itu mencaci maki Buyung Thay sebagai lonte yang tak tahu malu.

Kontan saja jago muda kita tertawa dingin, ia menegur: "Apa maksudmu berkata demikian kepadaku??"

"Hmmm tidak bermaksud apa-apa, aku hanya melarang engkau berhubungan lagi dengannya" jawab Tamu bergodek indah Huan Kang dengan nada seram.

"Kenapa? Kau harus memberikan suatu alasan yang tepat " "Tak usah bertanya mengapa, yang pasti dengan usianya

sekarang dia sudah pantas menjadi ibumu."

"Tutup mulut!" bentak Han Siong Kie dengan gusar, ucapan itu mengobarkan hawa amarah dalam hatinya.

Mendengar bentakan itu tanpa sadar tamu bergodek indah Huan Kang mundur selangkah kebelakang lalu berkata lagi:

”Manusia bermuka dingin kalau engkau tidak bersedia mendengarkan perkataanku maka...”

”Maka kenapa?” ”Engkau akan menyesal untuk selamanya” ”Heheeehh heehhh aku tidak percaya, justru akan

kubuktikan apa yang dapat kau lakukan”

"Kenalkah kau dengan perempuan itu?" tiba-tiba Tamu bergodek indah Huan Kang menegur.

Han Siong Kie terkesiap dan mundur ke-belakang segera pikirnya:

”Ehmmm betul juga! Siapakah dia? Berasal dari mana?”

Tapi anak muda ini tak ingin menunjukkan kelemahan dibadapan lawannya maka dia-pun balik bertanya.

”Apakah engkau kenal siapakah dia?” ”Tentu saja !”

Tiba tiba.

”Huan Kang ! Benarkah engkau tahu siapakah diriku ini ?” serentetan suara teguran yang dingin penuh membawa daya pikat menggema mcmecahkan kesunyian;

Menyusul teguran tadi muncullah sesosok bayangan berbaju merah seperti sukma gentayangan tahu-tahu ia sudah muncul di hadapan mereka berdua.

Dia, Tak lain adalah Bayung Thay, perempuan cantik jelita yang gemar memakai baju merah itu.

Begitu mengetahui siapakah yang muncul Tamu bergodek indah Huan Kang segera menunjukkan wajah tersipu-sipu, agaknya dia tak mengira kalau secara tiba-tiba perempuan itu bisa muncul di hadapan matanya.

Dengan kerlingan mata yang penuh mengadung daya pikatan Buyung Thay mengerling sekejap ke arah Han Siong Kie, kemudian ia tertawa dan menyapa-

”Titi .! Kembali kita berjumpa lagi.” "Cici" Han Siong Kie tak dapat mengendalikan golakan perasaannya lagi dan ikut berseru.

Secara tiba-tiba dia merasa seakan-akan dirinya berubah jadi begini lemah dan tak bertenaga dihadapan Buyung Thay, ia seperti telah berobah jadi seorang manusia lain.

Panggilan adik dan cici ini bagi pendengaran Tamu bergodek indah Huan Kang sangat menusuk sekali, wajahnya kontan berubah hebat.

"Adik Thay..." dia pun berseru.

-000d0w000-