Tengkorak Maut Jilid 35

 
Jilid 35

SETELAH duduk, nyonya itu tertawa cekikikan dan bertanya lagi.

"Tentunya kau ingin tahu siapa kah aku bukan?" "Ehmm, tentu saja kalau kau bersedia untuk

menerangkan.."

"Kalau aku tidak bersedia untuk menerangkan?" "Tentu saja aku tak akan memaksa kau untuk memberi

keterangan"

Terendus bau harum khas perempuan tersiar keluar dari tubuh perempuan itu, gerak geriknya yang genit dan tubuhnya yang lemah gemulai membuat Han Siong Kio merasa tak tenang untuk duduk disitu, perasaannya yang setenang permukaan telaga mulai beriak dan akhirnya bergelombang keras. Tiba-tiba nyonya cantik itu menggeserkan duduknya sehingga lebih merapat dengan tubuh Han Siong Kie. bisiknya dengan lembut: "Aku bernama Buyung Thay"

"Buyung Thay??"

"Ehmm, baguskah namaku ini?"

"Bagus. secantik orangnya" jawab pemuda itu lugu. "Benarkah aku cantik??"

"Cantik sekali" sahut pemuda itu, kali ini sambil tertawa jengah. "boleh diibaratkan bidadari yang baru turun dari kahyangan"

"Sungguhkah itu?" bisik sang nyonya sambil menatap sianak muda itu dengan kerlingan yang mempesonakan

"Buyung Buyung.."

Han Siong Kie merasa pipinya jadi merah dan panas, ia tak tahu bagaimana harus menyebut perempuan itu, sebab dia sudah menjadi seorang nyonya, jelas tak mungkin disebut nona, menyebut cianpwe rasanya kurang sedap. memanggil enso atau nikoh juga tak pantas, ia jadi kebingungan dengan sendirinya

Buyung Thay, nyonya cantik baju merah itu dapat merasakan kejengahan orang, ia tertawa cekikikan dan katanya:

"Kenapa kau musti bingung-bingung? Panggil saja namaku" "Ma.. mana boleh jadi? Tidak pantas rasanya kusebut

dirimu langung dengan namamu"

"Kalau begitu panggillah aku cici. usiaku lebih besar daripada dirimu"

"Tapi.. ini.. ini" "Tak usah ini itu lagi, katakanlah terus terang, cintakah kau kepadaku?"

Ucapan yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling ini membuat Han Siong Kie canggung, ia merasa hatinya seperti dipukul martil berat, tak pernah disangka olehnya kalau nyonya muda itu dapat mengucapkan kata-kata seperti itu.

Tak salah dia memang terpesona oleh kecantikannya dan timbul suatu perasaaa tertarik dalam hatinya, tapi itu bukanlah luapan cinta, golakan perasaan tersebut hanya dapat diartikan sebagai suatu reaksi yang wajar dari seorang pria, suatu pertanda kalau dirinya adalah seorang laki-laki yang normal, bukan laki-laki impoten. Untuk sesaat pemuda itu terbungkam, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

"Hayo katakanlah cintakah kau padaku" desak nyonya cantik itu lebih jauh.

"Tentang soal ini"

Tiba-tiba pemuda itu merasa bahwa pengakuannya secara blak-blakan akan menyinggung perasaannya, Ia memang cantik dan cukup membuat seorang pemuda yang terkenal paras muka dinginnya menjadi tak dingin lagi, diakui oleh Han Siong Kie sendiri, andaikata perempuan yang dihadapinya sekarang bukan perempuan secantik Buyung Thay, serta merta tanpa berpikir panjang lagi dia akan menjawab dengan kata Tidak

"Bagaimana? Hayo jawablah" desak Buyung Thay lagi. ”Menolak, tak mungkin” akhirnya pemuda itu menjawab

sambil menggelengkan kepalanya.

"Mengapa tak mungkin ?"

"Masih ingatkah kau bahwa kau pernah mengatakan bahwa dirimu sudah bukan seorang nona lagi." "Lalu menurut anggapanmu, aku adalah perempuan yang bagaimana?"

"Tentu saja seorang perempuan yang telah bersuami" "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku telah bersuami ?"

perempuan itu tiba-tiba balik bertanya.

Kali ini Han Siong Kie dibikin tertegun dan tak mampU menjawab lagi. Buyung Thay menarik kembali senyUman yang menghiasi bibirnya, ia berkata pula:

"Benar, aku memang seorang perempuan yang pernah bersuami, tapi sekarang sudah tidak lagi"

Han Siong Kie memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu ujarnya lagi.

"Bukankah kau mengatakan bahwa kau datang dengan membawa tujuan? Nah, sekarang katakanlah tujuanmu itu?"

"Apa yang kukatakan barusan adalah tujuan kedatanganku kemari"

"Oooh, maaf, tak mungkin aku bisa "

"Tunggu sebentar Han Siong Kie, masih kau inginkan tidak ok kui cu pay ini"

tiba-tiba ia bersuara.

"Lencana mutiara itu adalah benda paling berharga dari perguruan kami" seru Han Siong Kie dengan hati bergetar.

"Aku tahu, tanpa benda ini engkau tak dapat membersihkan perguruanmu dari unsur-unsur manusia bejad, dan engkaupun tidak berhak untuk menjabat ketua perguruan Thian lam bun"

Sekujur tubuh sianak muda itu gemetar keras dan bermandikan keringat dingin. Apa yang diucapkan nyonya cantik baju merah memang benar, tanpa lencana mutiara ia tak mempunyai tanda kepercaan untuk meyakinkan anak muridnya bahwa dialah ketua yang baru, sebab ketika Mo tiong ci-mo mewariskan kedudukan itu kepadanya, kecuali lencana ok kui cupay tiada tanda bukti lain yang bisa menyatakan akan pengangkatan tersebut.

Ia percaya ketiga orang tianglonya pasti sudah percaya penuh bahwa dialah ketua mereka, tapi bagaimana dengan anak murid yang lain? Wi It beng pasti akan menggunakan kesempatan tersebut untuk merusak rencananya serta mengadu domba kekuatan mereka.

Sementara pemuda itu masih termenung, nyonya cantik berbaju merah itu telah bertanya kembali.

"Bagaimana ceritanya toh sehingga lencana mutiara ini bisa terjatuh ketangan Yu Pia lam?"

"Siapa itu Yu Pia lam? Aku tidak kenal?" seru Han Siong Kie keheranan

"Masa kau tidak kenal dengan Yu Pia lam? Dia kan ketua dari perkumpulan Thian che kau?"

Tentu saja Han Siong Kie tidak mengenal nama dari ketua perkumpulan Thian che kau, janganlah dia hanya seorang pemuda yang masih sangat muda belia, kendatipun jago-jago yang sudah berpengalaman luas pengetahuannya belum tentu mengetahui nama asli dari gembong iblis tersebut.

"oooh jadi ketua perkumpulan Thian che kau itu bernama Yu Pia lam?" kembali pemuda itu berteriak dengan nada baru tahu.

"Benar, kau heran?"

Hakekatnya Han Siong Kie sudah lama mengetahui bahwa ketua dari perkumpulan Thian che kau itu dari marga Yu, hanya ia tidak mengetahui nama lengkapnya, juga ia belum pernah bertemu dengan raut wajah aslinya.

Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, ketua muda perkumpulan Thian che kau yang bernama Yu sau kun sebenarnya adalah putra kandung dari paman gurunya Tok liong jiu tangan sakti naga beracun Thio Lin dan menurut perkiraannya bocah itu tentu dibawa oleh ibunya siang go cantik ong cui ing tatkala perempuan itu menikah lagi dengan ketua perkumpulan Thian che kau.

Atau dengan perkataan lain pemuda yang sekarang dikenal sebagai Yu sau kun sebenarnya bernama Thio sau kun, tapi karena ia sudah hidup mengikuti ketua perkumpulan Thian che kau maka nama marganya ikut diganti pula menjadi marga Yu sebagai mana ayahnya sekarang.

Lama sekali pemuda itu menundukkan kepalanya karena malu kemudian dengan agak ragu ia baru menjawab:

"Yaa, ilmu silatku terlampau cetek dan tak mampu menandingi kelihayan mereka, benda itu berhasil dirampas oleh mereka dengan kekerasan"

"Dan sekarang inginkah kau untuk mendapatkan kembali lencana mutiara ini?" tanya Buyung Thay mendesak lebih jauh.

"Bila kau bila kau bersedia mengembalikan kepadaku

tentu saja akan kuterima dengan senang hati"

"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, bagaimana kalau kita bertukar syarat saja"

"Bertukar syarat?" ulang Han Siong Kie dengan alis mata berkernyit, ia tidak paham syarat apa kah yang akan diajukan perempuan cantik itu.

"Ehmm" nyonya itu membenarkan. "Apa syaratmu itu?" "Gampang, Aku hanya minta kau bersedia mencintai aku " Ucapan yang diutarakan dari mulut seorang perempuan cantik jelita bak bidadari dari kahyangan ini memang betul- betul membawa suatu daya pengaruh yang amat besar, mendatangkan suatu kekuatan yang seakan-akan membuat siapapun tak berani untuk membantahnya .

Tentu saja ini berbeda jika dibandingkan dengan ucapan dari perempuan-perempuan biasa, andaikata ucapan ini bukan diutarakan oleh perempuan secantik ini, niscaya orang akan menganggap perempuan tersebut sabagai seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, seorang perempuan yang sudah bejat akhlak serta moralnya.

Yaa manusia memang makhluk teraneh di dunia ini, kadangkala soal cengli soal kebenaran memang selain diputar balikkan kebenarannya.

Demikianiah keadaan Han Siong Kie pada saat itu, ia tidak merasa nyonya cantik baju merah itu adalah perempuan yang tak tahu malu, ia tidak merasa bahwa ucapan tersebut tidak mencerminkan kehalusan seorang perempuan, malahan dia ke sem-sem, ia dibuat terkesima oleh kecantikan wajahnya yang sukar dicarikan tandingannya itu.

Terus terang diaakui dalam hati kecilnya, andaikata perjumpaan ini terjadi sebelum ia kenal dengan Tonghong- Hui, sebelum ia terikat oleh ikatan perkawinan dengan Go siau bi, serta merta permintaan nyonya cantik itu akan di kabulkan tanpa membantah, sebab perempuan itu terlampau cantik, ia merasa tak berdaya untuk menolaknya.

Lama sekali Han Siong Kie berdiri termangu-mangu, ia tak tahu bagaimana musti menjawab persoalan itu Tapi akhirnya ia berkata juga, meski dengan suara yang lirih: "Masa cintapun dipertukarkan dengan benda mati?"

"Tentu saja" jawab nyonya cantik baju merah sambil tertawa cekikikan, "toh didunia ini tiada peraturan yang menetapkan bahwa seseorang harus mendapat cara begini atau harus mendapatkannya dengan taktik begitu?"

"Dan cara yang kau gunakan sekarang termasuk salah satu taktik yang kau miliki?" sambung pemuda itu cepat.

"Ah bukan taktik mencari cinta namanya, lebih baik kalau dikatakan inilah jalan yang kutempuh untuk mendapatkan cinta"

Han Siong Kie termenung sesaat, pelbagai dugaan berkecamuk dalam benaknya, akhirnya dia bertanya:

"Andaikata aku tak dapat menerima syarat mu itu, lantas apa yang akan kau lakukan?"

"Kau pasti dapat menerima tawaran cinta ku ini" "Andaikata aku tetap menolak?"

Paras muka perempuan cantik berbaju merah itu kontan berubah hebat, mukanya tampak agak menyeramkan

"Jadi kau lebih suka melepaskan kesempatan untuk memperoleh kembali lencana mutiara itu daripada mencintai aku" tegasnya.

"Benar" jawaban dari Han Siong Kie ini demikian tegas dan sungguh-sungguhnya sehingga Siapapun akan tahu bahwa keputusan dari anak muda ini sudah bulat dan tak mungkin bisa berubah kembali.

"Bila kau tolak cara pertukaran syarat ini, bagaimana caramu untuk mendapatkan kembali lencana tersebut?"

"Hendak kau gunakan kekerasan untuk merebutnya dari tanganku?"

"Mungkin saja ucapanmu benar"

"Dan sekarang juga akan kau rampas lencana itu dari tanganku ?" "Tidak Tidak akan kulaksanakan pada saat ini" pemuda itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Kenapa? Toh lebih baik kau lakukan sekarang juga?" Han Siong Kie tetap menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Baru saja engkau selanaatkan jiwa ku dari ancaman bahaya maut, aku merasa berhutang budi kepadamu, terlepas dari apa tujuanmu melakukan kesemuanya ini, aku tidak ingin menyakiti hatimu sehingga kau menuduh aku membalas air satu dengan air tuba. Maka untuk sementara waktu aku tak akan melakukan tindak kekerasan apapun, itu bisa kulakukan jika kita berjumpa lagi dikemudian hari, maka aka hanya bisa berkata padamu, berhati-hatilah engkau bila kita bertemu lagi dalam kesempatan lain"

"Lain kali? Kau anggap setiap saat bisa mencari aku dengan gampang?"

"Aku percaya setiap saat pasti akan berjumpa lagi, meski sekarang aku tak dapat menegaskan kepankah hal itu bakal terjadi"

"Hmm Andaikata kuserahkan lencana mutiara ini kepada Wi It beng apa yang bisa kau lakukan lagi" jengek nyonya cantik itu dengan suara sedingin saiju.

Tercekat hati Han Siong Kie setelah mendengar ancaman tersebut, jantungnya berdebar keras serta merta ia lompat bangun dan berdiri dengan sikap menentang. "Kau berani? "teriaknya marah.

"Kenapa tidak?" jawaban dari nyonya cantik berbaju merah itu tetap kalem, tenang malahan ia masih tetap duduk dalam posisi semula, setenang permukaan telaga tapi sekokoh batu karang.

"Jika engkau berani berbuat begitu terpaksa aku harus melukai hatimu dan bertindak kotor kepadamu sekarang juga" kata Han Siong Kie lagi dengan wajah berubah hebat. Perlahan-lahan nyonya cantik berbaju merah itu bangkit berdiri, ia tersenyum hingga tampaklah sepasang lesung pipitnya yang indah dan mempersona hati, ujarnya dengan lembut.

"Masa kau anggap aku benar-benar bisa melakukan hal demikian terhadapmu ? Masa kau percaya kalau aku tega berbuat demikian?"

Ucapan yang bolak balik tak menentu ini, tentu saja membuat Han Siong Kie termangu, ia jadi serba salah, dalam keadaan demikian mau menangis ia segan, mau tertawapun tak bisa..

Dengan jari-jari tangannya yang lentik dan halus, nyonya baju merah itu membereskan rambutnya yang terurai kalut, kemudian maju kedepan seraya bisiknya lirih, suaranya lembut seperti orang yang sedang mengigau:

"Kuakui aku memang pernah kawin, aku telah dianggap sebagai bunga yang telah kehilangan sarinya, karena pernah dihisap laki-laki lain, tapi kesemuanya itu hanya suatu impian,.impian yang kosong Impian yang hampa dan tak berujut.. andaikata kehidupan manusia dialam ini kita ibaratkan suatu perjalanan yang jauh, maka sekarang aku sudah menempuh setengah jalan tapi siapa kah yang tahu, siapa kah yang menduga bahwa lembaran hidupku selama ini sebetulnya hanya kosong belaka?

Kosong tanpa isi, tanpa kenangan apapun? Aku pernah berusaha untuk menciptakan kenangan, aku pernah pula menegaskan pada diri sendiri bahwa kehidupan bukanlah impian, kehidupan adalah kenyataan, suatu kejadian yang nyata tapi akhirnya .. yaah.. akhirnya toh sama saja, semuanya tetap kosong, tetap hampa hatiku"

Bisikan itu kian lama kian bertambah lirih, akhirnya tinggal bisikan belaka, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya bagaikan dua titik embun yang membasahi sekuntum bunga..

Han Siong Kie merasa amat terharu, perasaan hatinya terasa bergolak keras segera pikirnya:

"Benarkah perempuan ini adalah seorang perempuan yang bernasib jelek? Benarkah ia mempunyai kenangan lama yang menyedihkan hati? Benarkah lembaran hidupnya selama ini hanya kosong belaka, kasihan Bila ia benar- benar adalah seorang perempuan yang bernasib malang, seorang perempuan yang tak pernah merasakan apa artinya kebahagiaan, dia benar- benar seorang perempuan yang patut dikasihani . .aai, aku tidak pantas bersikap kasar terhadap perempuan semacam ini, nasibnya sudah malang aku tak boleh membuat hatinya makin remuk.

Memang benar semakin melelehkan air matanya perempuan itu kelihatan semakin mempersonakan hati, menimbulkan daya tarik yang lebih hebat, membuat orang beriba hati selain timbul pula rasa kasihan terhadap dirinya.

Terangsang oleh pikatan yang menawan hati ini, kembali Han Siong Kie merasakan aliran darah dalam tubuhnya berjalan dengan kencang, jantung terasa ikut berdebar keras, hampir saja ia tak sanggup meuguasahi perasaan sendiri

Ketika dilihatnya pemuda itu terkesima, tiba-tiba nyonya cantik baju merah itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian tertawa.

Senyuman ini ibaratnya rembulan yang baru menongol dari balik awan hitam, membuat susana yang semula mendung dan tak menggairahkan jadi cerah, secerah sinar rembulan.

Kembali Ham Siong Kie merasa kan hatinya bergetar keras, ia merasa napsu berahinya tanpa sebab muncul kembali dari dasar hatinya dan menguasai semua pikiran serta perasaannya. Dengan senyum manis dikulum, nyonya cantik berbaju merah itu mengambil keluar lencana ok kui cupay itu dari sakunya, lalu sambil diangsurkan kemuka ia berkata: "Ambillah benda ini untukmu"

Tindakan yang sama sekali tak terduga ini tentu saja mencengangkan hati Han Siong Kie, dia malahan berdiri terbelalak karena heran dan tak habis mengerti.

Meskipun lencana mustika yang tak ternilai harganya itu sudah diangsurkan didepan mata, anak muda itu tidak berani menerimanya, sebab kejadian ini tak pernah disangka olehnya, ia pun tak habis mengerti apa sebabnya nyonya cantik itu dapat merubah pikiran dan pendiriannya secepat itu.

Bukankah dengan tegas dia telah mengatakan tadi, bahwa untuk mendapatkan kembali lencana mutiara tersebut ia harus bertukar syarat dengan mencintainya? Dan sampai sekarang ia belum menerima pertukaran syarat tersebut, mengapa ia malah mengembalikan lencana mutiara itu? atau mungkin dibalik kesemuanya ini terselip rencana busuk lain yang menantikan dirinya masuk perangkap?

"Ambillah" untuk kedua kalinya nyonya cantik itu berseru sambil mengangsurkan lencana tersebut.

"Tapi . . tapi aku toh belum setuju untuk menerima pertukaran syaratmu itu? " Han Siong Kie coba mengutarakan suara hatinya.

"Soal syarat lebih baik tak usah kita bicarakan lagi, aku mengembalikan benda itu kepadamu tanpa diembel-embeli dengan pelbagai syarat .. aai apa yaag kau ucapkan tadi memang tepat dan memang tak dapat dipertukarkan dengan segala macam benda, cinta harus datang karena ketulusan serta kerelaan hati, cinta memang tak dapat dipaksakan".

Ucapan tersebut sangat mengharukan perasaan Han Siong Kie, dari perasaan kurang senang tiba-tiba saja ia menjadi simpatik dan menaruh rasa kasihan terhadap perempuan cantik itu.

Tanpa disadari ia terbayang kembali kisah yang dialaminya ketika beberapa kali ia menolak pernyataan cinta dari Go siau bi "Aku toh tiada sesuatu keistimewaan apapun, akupun tidak terlalu tampan, aaai aku memang tiada suatu keistimewaan yang membuat orang jadi terpesona kepadaku tapi aneh meng apa selalu saja kuhadapi persoalan yang hampir sama nadanya" demikian ia berpikir dihati.

Walaupun demikian Han Siong Kie tak ingin menusuk perasaan perempuan itu, maka diterimanya angsuran lencana mutiara tersebut dari tangannya, setelah dimasukkan kedalam saku ia baru berkata dengan penuh perasaan terima kasih:

"Budi kebaikanmu ini tak akan kulupakan untuk selamanya, akan kuingat selalu kebaikan yang pernah kau berikan kepadaku ini, yaa semoga suatu saat aku dapat membayar semuanya ini untukmu"

"Aai Tak usah, kau tak usah berterima kasih kepadaku, juga tak perlu mengingat ingat soal sepele ini, sejak awal sampai sekarang adalah barang milikmu sendiri" kata nyonya itu dengan lembut.

"Meskipun benda ini dulunya milikku, tapi seandainya kau tidak membantu aku untuk merebutnya kembali, aai. entah bagaimana akibatnya dimasa mendatang?jangankan aku tak mampu untuk merebut kembali lencana tersebut dari tangan orang, mungkin selembar jiwaku ikut kabur juga dari ragaku".

Nyonya cantik berbaju merah itu tersenyum manis sekali, senyumnya bagaikan sekuntum bunga mawar yang baru mekar.

"Aaah, bosan untuk membicarakan soal itu melulu" serunya tiba-tiba, "bagaimana kalau kita membicarakan soal lain saja?"

"Apa yang ingin kau bicarakan" "Umpamanya saja aku ingin tahu mengapa kau tidak mencintai aku? Tapi aku tidak memaksa dirimu untuk menjawab pertanyaaan itu, terserah padamu sendiri mau mengatakan atau tidak.. tapi jika kau sudah bersedia untuk menjawab maka aku harap kau menjawabnya dengan jujur dan betul-betul suara hatimu"

Han Siong Kie kembali termenung, ia coba mempertimbangkan pertanyaan itu, haruskah dia jawab atau tidak. tapi sesaat kemudian katanya:

"Bukannya aku tidak mencintamu, tapi keadaanlah yang memaksa aku tak boleh mencintai orang lain sebab aku mempunyai calon istri, akupun mempunyai seorang kekasih yang mencintai diriku dengan segenap jiwa dan raganya, aku tak boleh menghianati mereka dan akupun tak dapat menjual belikan cintaku kepada setiap orang karena itu aku tak dapat menerima cinta mu itu. Cukup jelas bukan jawaban ini?"

"Masih ada alasan yang lain?" tanya Buyung Thay, si nyonya cantik berbaju merah itu dengan wajah berseri.

"Tidak Hanya itu saja alasanku"

"Kalau hanya itu saja alasanmu, masa bisa mempengaruhi cintaku padamu?"

"Tentu saja sebab cintaku harus utuh, harus bulat dan tak tercela, cinta tak dapat dibagi-bagikan kepada setiap orang. ."

"Tapi kau kan sudah membagi pula cintamu untuk dua orang? satu untuk calon istrimu dan yang lain untuk kekasihmu, apakah cinta yang telah kau bagi-bagikan kepada dua orang ini juga terhitung cinta yang utuh, Cintamu sudah cacad, sudah terpecah belah dan tak utuh lagi"

Han Siong Kie tertunduk sedih, ia betul-betul merasa pedih hatinya teringat oleh persoalan itu dan akhirnya pemuda itu menghela napas panjang. "Aai Berbicara yang sesungguhnya, aku tidak memberikan cintaku kepada calon istriku itu, seluruh cintaku secara bulat- bulat telah kuserahkan kepada kekasihku seorang dan apa yang kuberikan kepada calon istriku hanyalah suatu kebijaksanaan, suatu kebijaksanaan demi kepentingan bersama"

"Ooh jadi kau hendak mengawini calon istrimu itu hanya berdasarkaan suatu kebijaksanaan demi kepentingan bersama?"

"Benar Itulah kenyataan yang sebenarnya" pemuda itu mengangguk tanda membenarkan.

Perlahan-lahan nyonya cantik berbaju merah itu menundukkan kepalanya, lama sekali ia membungkam sebelum akhirnya menengadah kembali dan berkata dengan sedih:

"Meskipun kau tak dapat perasaan cintaku tentunya tidak berkeberatan bukan untuk memanggil aku sebagai enci?"

"Cici. " Han Siong Kie segera memanggil dengan muka

yang merah karena jengah.

senyum manis ibaratnya bunga yang mekar di musim semi segera menghiasi wajahnya yang cantik jelita, meski dibalik senyum manis tersebut masih terselip kesedihan, kesedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. Tapi ia berbisik pula dengan riangnya:

"Adikku sayang, aku puas, aku benar- benar merasa puas dengan kesediaanmu memanggil aku sebagai cici"

"Cici, aku merasa harus minta maaf kepadamu, karena aku tak dapat menerima cinta kasihmu itu, aku hanya bisa menerima kau sebagai apa yang telah terwujud sekarang"

"Oooh, adikku sayang.." Sebelum Buyung Thay sinyonya cantik berbaju merah itu melanjutkan kata-katanya,

mendadak dari luar ruangan berkumandang suara tertawa dingin yang tajam dan mengerikan.

Suara tertawa dingin itu serasa hembusan angin dingin yang datang dari kutub utara, membuat suasana yang semula hangat dan penuh kemesraan, berubah jadi kaku dan beku.

Menyusul tertawa dingin itu, terdengar seseorang berkata dengan dingin

"Buyung Thay, wahai Buyung Thay bagus sekali

perbuatanmu. Jauh-jauh dari daratan Tionggoan datang ke Thian lam rupanya tujuanmu hanya untuk mengejar si pipi putih itu. Hmm Perempuan lonte yang tak tahu malu, perbuatanmu memang sangat memalukan sekali.."

Paras muka Buyung Thay si nyonya cantik berbaju merah itu berubah hebat, dengan selapis hawa membunuh menghiasi alis matanya ia melejit dan melayang keluar dari ruangan itu, kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Han Siong Kie sendiri hanya bisa berdiri termangu dengan perasaan kalut, heran dan tak habis mengerti.

Hakekatnya ia memang tak tahu siapa kah manusia yang berada diluar ruangan serta menyindir nyonya cantik itu, diapun tak tahu meng apa orang itu memaki Buyung Thay sebagai "perempuan lonte" yang tak tahu malu. benarkah ia tak tahu malu?"

-0000dw0000-

BAB 73

IA merasa sangat berterima kasih sekali atas bantuan dari Buyung Thay karena bantuan nyonya cantik itulah lencana ok kui cupay yang tak ternilai harganya berhasil dirampas kembali dari tangan utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang bernama Thia Wi wan. Diapun terkesima oleh kegenitan serta kecantikannya yang begitu mempersonakan hati.

Tapi ia tak mengerti apa sebabnya orang itu memakinya sebagai perempuan lonte, benarkah dia perempuan jalang, perempuan lacur seperti apa yang dituduhkan kepadanya itu?

Wajahnya terlampau cantik, sayang rasanya kalau apa yang dituduhkan kepadanya adalah suatu kenyataan..

Untuk membalas budi kebaikannya, ia bersedia menyebut cici kepada perempuan itu. Tapi hingga detik ini ia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang perempuan itu, dia hanya tahu bahwa perempuan itu berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dan ia benama Buyung Thay, selain itu semuanya masih merupakan suatu teka-teki yang tak bisa terjawab.

Tiba-tiba suatu perasaan aneh muncul dari benaknya, ia merasa tak mengerti meng apa bisa muncul pikiran semacam itu terhadap seorang perempuan yang baru ditemui untuk pertama kalinya.

Walaupun berulang kali ia telah menampik cintanya tapi bayangan tubuhnya yang padat berisi wajahnya yang cantik jelita selalu membekas didalam benak. la merasa hal ini merupakan suatu kenyataan yang selalu mengganjal hatinya membuat ia merasa hatinya gundah.

Dari situ diapun lantas terbayang pula tentang ibunya siang go cantik ong cui ing, akhirnya pemuda itu tak tahan dan menghela napas panjang.

"Aaai Perempuan.. wahai perempuan. mengapa Thian menciptakan wajah yang cantik jelita kepada mereka tapi memberi hati yang busuk. sukma yang keji dan jahat kepada orang itu? Nyonya cantik berbaju merah telah berlalu, yang tertinggal hanyalah pemuda yang merasa hatinya gundah gulana.

Lama sekali Han Siong Kie berdiri mematung disana, lama- lama akhirnya ia baru tersentak kaget dan sadar kembali dari lamunan, sambil memukul kepala sendiri iapun bergumam.

"Aneh, kenapa aku selalu memikirkan dirinya Kenapa aku sampai lupa dengan tujuan kedatanganku ke wilayah Thian lam ini. Aku benar-benar sudah dibuat sinting olehnya".

Berpikir sampai disitu, semangatnya lantas berkobar kembali, ia mengepos napas dan berseru kearah pintu kuil.

"Tianglo sekalian, apakah kalian masih berada disana ?

Masuklah kedalam ruangan" Tiga orang tianglo dan dua orang kakek berbaju biru itu segera mengiakan dan masuk kedalam ruangan

"Ciangbun suheng, apakah engkau berada dalam keadaan sehat wal'afiat?" tiga orang tianglo itu lantas menyapa sambil memberi hormat.

"Ehmm Aku merasa sangat baik, kalianpun tak usah banyak adat lagi"

sementara itu dua orang kakek berjubah biru itu sudah jatuhkan diri berlutut sambil berseru:

"Tecu berdua adalah petugas yang mengurusi persoalan- persoalan didalam istana, Ngo Cing dan song Tay gak.

Terimalah hormat kami berdua untuk keselamatan serta kesejahteraan ciangbunjin"

"..silahkan bangun " kata Han Siong Kie cepat "kalian berdua dapat memegang teguh peraturan perguruan tidak tunduk pada kematian para penghianat dan pemberontak. ini mencerminkan bahwa hati kalian mulia dan menghormati kebenaran serta keadilan. Tindakan semacam ini patut dihargai dan diberi ucapan selamat" "Ciangbunjin terlalu memuji, sudah menjadi kewajiban tecu sekalian untuk memegang teguh peraturan serta menjalankan kewajiban sebagai murid Thian lam bun yang tulen " dua orang kakek itu segera menyahut.

To It hui, kepala tianglo yang selama ini membungkam berkata pula dengan kepala yang tertunduk rendah,

"Tecu sekalian betul- betul punya mata tak berbiji, untuk membedakan mana yang asli dan mana yang gadunganpun tak becus sehingga terjebak oleh siasat busuk orang dan hampir saja melakukan perbuatan yang melanggar kebenaran serta keadilan, untuk perbuatan kami yang bodoh ini harap ciangbun suheng bersedia menjatuhkan, hukuman yang setimpal kepada kami"

Ang Pat siu tianglo nomor tiga dan sah Jin ho tianglo nomor lima ikut tundukkan pula kepalanya sambil menunggu datangnya hukuman.

siapa sangka Han Siong Kie tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka, malahan ia tertawa nyaring.

"Haaah haaah haaah tianglo bertiga tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, sudah jamak kalau kebanyakan orang persilatan licik dan banyak tipu muslihatnya, apalagi pihak lawan membawa pula tanda kepercayaan dari perguruan kita, maklumlah bila kalian bertiga sampai tertipu. Ini bukan kesalahan kalian dan tentu saja tidak pantas kalau kalian sampai dijatuhi hukuman, kamu bertiga tak usah berpikir yang bukan-bukan lagi" Dengan cepat tiga orang tianglo itu memberi hormat dalam- dalam seraya berseru:

"Terima kasih banyak atas kemurahan hati ciangbun suheng yang sudi mengampuni kesalahan kami"

"oh ya. To tianglo Apakah engkau dapat mengisahkan kembali jalannya peristiwa sehingga kalian sampai tertipu?" To It hui mengangguk. setelah mendehem ringan diapun lantas menuturkan kejadian yang telah menimpa diri mereka sampai akhirnya terjadi peristiwa diatas. Mendengar jalannya cerita itu, Han Siong Kie menganggukkan kepalanya berulang kali.

Tatkala To it hui telah menyelesaikan kisahnya, tiba-tiba sanJin ho tianglo nomor lima menyela dari samping,

" Ciangbun suheng, bagaimana dengan lencana mutiara itu".

" Kalian tak usah kuatir, lencana mustika itu berhasil kudapatkan kembali" tukas sang pemuda dengan cepat.

"oooh,Jadi ciangbunjin kenal dengan pendekar perempuan berbaju merah itu?"

"Tidak. Baru pertama kali ini kami saling berjumpa, tapi dengan segala senang hati ia bersedia mengembalikan lencana itu kepadaku"

Kembali suasana jadi hening, tanya To It hui kemudian: " Ciangbunjin, apa rencana ciangbunjin setelah ini?" Han sioog Kie berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Aku rasa lebih baik kita laksanakan menurut apa yang telah kalian rencana kan itu, dengan sergapan kilat malam ini juga kita serbu kedalam istana iblis dan menumpas gorombolan penghianat itu, kemudian mengumumkan semua dosa dan kesalahan dari Wi It beng, menyelenggarakan pertemuan para pemuka perguruan, mengatur kembali perguruan kita serta menjatuhkan hukuman kepada yang bersalah sesuai dengan peraturan yang berlaku."

sejenak kemudian ia alihkan pandangannya ke wajah dua orang kakek berbaju biru itu, kemudian menambahkan:

"Kalian berdua boleh segera berangkat lebih dahulu untuk pulang ke istana, beri kabar kepada semua orang yang masih setia kepada perguruan agar bersiap sedia memberi bantuan dari dalam, serta berjaga-jaga atas terjadinya segala kemungkinan yang tidak diinginkan"

"Terima perintah" dtngan hormat dua orang kakek berjubah biru itu memberi hormat lalu mengundurkan diri dari kuil tersebut.

sepeninggal dua orang itu, Han Siong Kie serta ketiga orang tianglonya beristirahat dalam kuil itu dan mengatur pernapasan untuk menyusun kembali kekuatannya.

Malam makin kelam, suasana sunyi seperti tak kedengaran suara apapun, hanya bintang dan rembulan yang bertaburan di angkasa menghiasi kegelapan yang hitam. .

Tiba-tiba diatas sebuah jalan raya yang menuju ke istana Huan mo kiong tampak empat sosok bayangan manusia sedang meluncur dengan cepatnya, gerak tubuh mereka sangat cepat dan mahir, boleh dibilang sukar diikuti dengan pandangan mata.

Keempat orang itu tak lain adalah Han Siong Kie beserta ketiga orang tianglonya yang sedang dalam perjalanan menuju istana Huan mo kiong, mereka hendak menggunakan suatu taktik sergapan kilat untuk menumpas para pembangkang dan penghianat perguruan yang selama ini bercokol dan memerintah perguruan mereka.

Ketika ayam mulai berkokok dan seberkas cahaya merah mulai muncul diufuk sebelah timur, sampailah mereka didepan sebuah bangunan perbentengan yang kokoh dan angker, bangunan itu sangat besar di tengah kegelapan yang masih mencekam seluruh jagat, tampak bagaikan seekor naga yang sedang mendekam.

To It hui segera menujuk ke arah bangunan benteng itu dan bersuara memecahkan kesunyian-

"ciangbun suheng" demikian ia berkata "kita sudah sampai ditempat tujuan, benteng sebelah depan itulah markas perguruan kita, aai, tampaknya rahasia penyergapan kita belum bocor."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba dari tempat kejauhan teriihatlah sesosok bayangan hitam sedang berlarian menuju ke arah mereka dengan langkah sempoyongan-

Serentak Han tiong Kie berempat menghentikan gerakan kakinya dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan-

Tampaknya orang itu terluka sangat parah, sebelum tiba dihadapan beberapa orang itu, dia tak tahan menguasahi keseimbangan tubuhnya lagi.."Blang.." akhirnya orang itu roboh terkapar diatas tanah.

Kejadian ini amat mengejutkan Han Siong Kie berempat, tanpa banyak bicara lagi To It hui melompat kedepan dan menghampiri orang itu, tapi apa yang kemudian teriihat membuat jago tua itu menjerit kaget.

Serentak Han Siong Kie bersama Ang Pat siu dan Sah Jin ho kedua orang tianglo itu menyusul kedepan, tapi apa yang teriihat kemudian membuat hati mereka tercekat.

orang itu bermandikan darah, ia terkapar diatas genangan darah yang mengalir keluar seperti sumber mata air, sebuah lengan kanannya sebatas bahu telah terpapas kutung, dari situlah darah mengucur keluar dengan derasnya.

"Ia sudah tewas" bisik To it huu kemudian sambil menggertak gigi menahan geramnya.

"sudah tewas? siapakah orang itu ? " tanya Han Siong Kie dengan alis mata berkernyit.

"Tio Hay liong, congkoan dari istana Huan mo kiong" sahut To It hui penuh kobaran emosi.

"Congkoan dari istana Huan mo kiong ?" "Benar, Tio congkoan adalah pimpinan yang kita tugaskan untuk memberi serangan kilat dari dalam istana "

Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kie segera mendengus dingin-

"Hmm Kalau begitu bukan Tio congkoan seorang yang mendapat celaka, tentu sudah banyak korban yang berjatuhan, itu berarti Wi It beng sudah mendapat tahu tentang rencana sergapan kita sehingga ia bertindak mendahului kita semua"

Ang pat siu maupun sah Jin ho tak mampu berkata-kata, mereka hanya bisa menggertak gigi sambil mendengus, jelas kemarahan yang berkobar dalam dada ketiga orang tiang lo itu sudah mencapai pada puncaknya.

Fajar telah menyingsing, langit mulai terang benderang, bintang dan rembulan lenyap dari angkasa.

Benteng yang angker dan besar itu semakin terlihat jelas ditempat kejauhan. Han Siong Kie lantas berpaling ke arah sah Jin ho, kemudian katanya.

"Sah tiang lo Tio Congkoan telah gugur dalam mengembangkan tugasnya bagi perguruan kita, jangan kita terlantarkan jenasahnya ditengah jalan raya begini. Bawalah dia ke suatu tempat yang aman untuk disimpan, setelah persoalan selesai, kita harus menguburnya dengan segala upacara kebesaran"

"Hamba mengerti" sahut sah Jin ho, dia lantas membopong jenasah Tio Han liong dan membawanya ke dalam sebuah hutan tak jauh dari tepi jalan raya. setelah kembali lagi kesitu Han Siong Kie baru ulapkan tangannya sambil berseru: "Mari kita lanjutkan perjalanan!"

Dengan gerakan cepat empat orang pemuda perguruan Thian lam bunpun meneruskan perjalanannya menuju kedepan. Benteng Huan mo kiong makin lama semakin dekat dan kini bangunan yang tinggi besar itu sudah didepan mata, tapi aneh sekali bukan saja suasananya sunyi senyap bahkan sesosok bayangan manusiapun tak nampak berlalu lalang disitu.

Akhirnya mereka sudah berada seratus kaki dari pintu gerbang benteng itu, Han Siong Kie segera ulapkan tangannya memberi tanda agar berhenti.

Benteng itu tetap angker, sepasang pintu baja yang tinggi besar tertutup rapat, disepanjang sisi pintu tadi berdirilah beberapa sosok bayang manusia.

Menyaksikan kesemuanya itu To it hui bertiga merasa darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, hampir saja mereka tak dapat mengendalikan perasaan emosinya untuk menyerbu ke dalam.

sudah lama mereka menunggu disitu, namun suassana masih sepi dan tiada suatu gerakan apapun, jangankan ada yang munculkan diri, teguranpun tak kedengaran.

Kesemuanya ini menyebabkan Han Siong Kie keheranan bercampur curiga, menurut aturan kedatangan mereka berempat yang muncul secara blak-blakan itu pasti akan diketahui musuh, dan pihak lawanpun sepantasnya melakukan suatu tindak kesiap siagaan, akan tetapi suasana tetap hening, meski tampak bayangan manusia disisi pintu gerbang, namun tiada seorangpun yang bergerak ataupun bersuara.

"Jangan-jangan wi Ik beng sedang menyusun suatu siasat busuk untuk menjebak kami berempat?" ingatan tersebut cepat melintas didalam benaknya.

sinar sang surya telah memancar keseluruh jagad, sebercak sinar kebetulan menyoroti diatas loteng bencong itu dan menerangi sebuah papan nama yang terbuat dari emas murni.

Tulisan itu terdiri dari tujuh huruf besar, setelah diamati dengan lebih seksama, maka terbacalah tulisan itu kira-kira begini artinya: "Kantor cabang perkumpulan Thian che kau untuk wilayah Thian lam"

Han Siong Kle menggeram menahan hawa amarahnya, ia segera mendengus sambil menyumpah:

"Wi It beng Kau bangsat tua, kau penghianat perguruan yang terkutuk. dosamu hanya bisa ditebus dengan hukuman yang paling berat, kau harus dicincang menjadi berkeping- keping .

Akhirnya keempat orang itu tidak dapat mengendalikan diri lagi, setelah ditunggu-tunggu tanpa ada reaksi apapun, mereka menerjang maju lagi sejauh puluhan kaki.

semakin mendekati pintu gerbang itu, semakin jelaslah beberapa orang itu akan apa yang telah terjadi, kiranya beberapa sosok bayangan manusia yang berdiri sambil bersandar diatas dinding itu bukan manusia hidup, melainkan mayat-mayat yang penuh berlepotan darah, jumlahnya mencapai tiga puluh orang lebih.

semua yang mati adalah jago-jago dari persatuan Thian lam bun yang masih setia kepada kebenaran, kenyataan ini semakin menggusarkan hati Han Siong Kie berempat, mereka tak menyangka kalau Wi Ik beng demikian kejinya sampai anak murid sebanyak itupun dibantai tanpa pilih bulu.

Merah padam wajah tiga orang tiang lo itu, biji mata mereka hampir saja melotot keluar karena geramnya, sekujur badan jadi gemetar keras menahan emosi yang meluap-luap.

"ciangbun suheng, mari kita terjang masuk kedalam" teriak To It hui kemudian dengan suara setengah berteriak.

"Jangan emosi" tukas Han slong Kie sambil menggoyangkan tangannya, "kita harus memikirksn dulu apa tujuan mereka dengan membariskan mayat-mayat tersebut didepan pintu gerbang untuk pameran? Atau untuk gertak sambal? Ataukah mereka memang mempunyai rencana busuk yang hendak memancing semua masuk perangkap?"

sementara beberapa orang itu masih termenung, pintu istana yang tinggi besar perlahan-lahan membuka ke samping menyusul kemudian muncullah seorang kakek berjubah hijau.

Dengan suara lantang ia lantas berseru:

"Ketua cabang perkumpulan Thian che kau siap menantikan kedatangan saudara sekalian didalam istana"

Kemudian tanpa menantikan jawaban lagi dia putar badan dan masuk kedalam itu lebih dahulu.

Dari apa yang terpapar didepan mata sekarang terbuktilah sudah bahwa Wi It beng bukan manusia sederhana, tampaknya ia sudah memperoleh info terlebih dahulu dan sebelum penyergapan itu dimulai ia telah bertindak lebih duluan dengan mengatur segala sesuatunya itu.

Han Siong Kie dibuat panas hatinya oleh sikap musuh yang jumawa, ia memandang sekejap ketiga orang tianglonya lalu berbisik, "Hayo kita masuk"

"Masuk berarti mengantar kematian." tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang menanggapi dengan suara yang serak dan dingin.

Ucapan itu munculnya sangat mendadak dan diluar dugaan ini menyebabkan keempat orang jago itu merasa sangat terkejut.

secepat kilat Han Siong Kie memutar tubuhnya, ia lihat kurang lebih tiga kaki di belakang sana berdiri seorang kakek cebol yang berbadan gemuk dan dandanannya persis seperti "Tee heng sian-" Dewa yang suka berjalan dalam tanah, cuma orang ini berkepala separuh dari ukuran normal, batok kepala manusia, rambut dan janggotnya berwarna putih, matanya setengah melek setengah meram, kocak dan lucu sekali tampangnya. Dalam hati Han Siong Kie sangat mengagumi akan kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kakek cebol berkepala kecil ini, sebab ditinjau dari kemampuannya untuk mendekati sampai tiga kaki dibelakang tubuhnya tanpa diketahui olehnya, itu menunjukan kalau ilmu silatnya memang tinggi.

setelah mengetahui kehebatan musuhnya, Han Siong Kie semakin tak berani memandang enteng dirinya, dengan suara berat ia menegur: "Sobat jago lihay dari manakah? sebutkan namamu"

Kakek cebol berkepala kecil itu melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sinar matanya sangat tajam bukan menjawab pertanyaan itu dia malah marah-marah dan teriaknya: "Bocah keparat engkau berani menghina dan mencemooh diriku?"

"Mencemooh? Eeh ..apa maksudmu? Kapan aku telah menghina dirimu?" sahut Han Siong Kie tertegun.

"Terang terangan kau toh sudah mengetahui bahwa tinggi badanku tak sampai empat depa, kenapa kau menegur aku dengan kata orang tinggi dari manakah diriku ini? Kalau bukan bermaksud menghina aku, kenapa kan mengatakannya begitu?"

Perlu diterangkan disini, kata Ko-jin atau orang berilmu, bisa diartikan pula sebagai orang tinggi.

Tentu saja Han song Kie jadi gelagapan dan melongo setelah mengetahui apa yang dimaksudkan, ia jadi tertawa getir, betapa tidak?

"Aku bisa konyol sendiri kalau melayani manusia macam begini, lebih baik tidak memperdulikan saja orang itu begitu" ia berpikir.

Tapi ketika teringat kembali akan peringatan yang diberikan orang itu, ia merasa tak dapat meninggalkan orang tersebut dengan begitu saja, apalagi kemuculannya yang sangat mendadak itu, harus diselidiki akan maksud serta tujuannya.

Maka sambil menahan sabar ia berkata lagi:

"Aku tak bermaksud menghinamu, maksudku aku ingin tahu siapakah nama saudara ?"

"Nah, begitu baru sedap didengar" omel si manusia aneh itu sambil gelengkan kepalanya yang kecil. "aku tidak bernama tapi punya sebuah julukan, semua orang menyebut aku sebagai Tee heng sian Dewa yang suka berjalan didalam tanah"

"Apa ? Engkau juga bernama Tee heng sian?" seru Han Siong Kie dengan hati terperanjat.

"Kenapa? Adakah sesuatu yang tak beres ?"

"Aku mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Tee heng sian pula, apakah kalian..."

"Heeeh heeh heehh andaikata bukan Tee heng sian si tua bangka itu bermain politik, tak nanti aku Heng tee sian sudi melakukan perjalanan sejauh ribuan li dan payah-payah mendatangi wilayah Thian lam yang gersang ini "

"Oooh jadi locianpwee. . . "

"Eeeh. tunggu sebentar " kembali kakek cebol itu menukas "Katakan dulu apa sebutanmu dengan Tee heng sian si tua bangka tersebut??"

"Kami adalah saudara angkat "

"Aku dengan situa bangka itu-juga saudara, itulah sebabnya tidak pantas kalau kau sebut aku sebagai locianpwe, sebab hakekatnya kita adalah saudara angkat juga"

"Tentang soal ini ..tentang soal ini. . . " "Kenapa? Kau tidak sudi ?" Tiga orang tianglo yang berada disamping hampir saja tertawa terbahak-bahak menyaksikan adegan yang kocak itu.

Han Siong Kie sendiripun hampir saja tertawa keras, ia benar-benar merasa telah bertemu dengan kejadian paling aneh didunia ini, tidak disangka olehnya bukan saja ada Tee heng sian yang kukoay, sekarang muncul pula Heng tee sian yang berwatak sama, bertampang sama serta berbody sama pula, cepat dia menjura seraya menjawab: "Baiklah, biar siau te menurut saja atas permintaanmu itu."

"Nah, begitu baru enak dihati."

"Locian-.. eeh engkoh tua Apakah engkau bersedia untuk menerangkan maksud kedatangan mu"

"Aku dengan Tee heng sian si tua bangka itu adalah sesama saudara seperguruan-." Heng tee sian menerangkan.

Hampir saja Han Siong Kie ingin tertawa lagi, untung dia cepat menggigit bibirnya menahan diri, betapa tidak? sesama saudara seperguruan bukannya saling membahasai sebagai suheng-te, kedua orang itu malahan membasahi situa bangka kepada rekannya, manusia aneh memang mempunyai tingkah laku yang aneh pula. Terdengar Heng tee sian melanjutkan kembali keterangannya:

"si tua bangka suteku itu entah dari mana berhasil mendapatkan beberapa guci arak wangi yang sudah berusia tiga ratus tahun, bila aku bersedia berangkat ke Thian lam membantu dirimu katanya ia bersedia menghadiahkan beberapa guci diantaranya kepadaku, apa mau dikata? Demi arak hampir saja selembar jiwa tuaku ikut berkorban."

Keterangan tersebut semakin mengherankan Han Siong Kie, dari mana Tee heng sian bisa tahu kalau dia hendak berangkat ke wilayah Thian lam untuk membersihkan perguruannya? Apalagi kalau dihitung dari waktunya, kendatipun Tee heng sian memiliki kepandaian yang lihaypun belum tentu bisa tiba diwilayah Thian lam mendahului kedatangannya.

Untuk menempuh jarak sejauh itu dia sendiripun membutuhkan waktu selama tujuh hari tujuh malam tapi dari keterangan Hong te sian jelas menunjukkan bahwa dia sudah mengetahui keadaan dari istana Huan mo kiong itu, berarti ia sudah tiba ditempat tujuan mendahuluinya, suatu kejadian yang tak masuk diakal?

Karena keheranan dan tidak habis mengerti maka pemuda itupun lantas bertanya: " Engkoh tua sudah berapa lama engkau tiba disini?"

"sudah dua hari" "Dua hari?" "Benar, ada apa? "

"Masa dalam sehari semalam engkoh tua bisa menempuh perjalanan dari daratan Tionggoan kewilayah Thian lam?"

"Eeeh, omongan apakah itu? Lima hari berselang si tua bangka suteku itu suruh aku berangkat, dan akupun lantas berangkat cuma sayang terpaut satu hari, maka terpaksa aku harus tinggalkan rombonganmu untuk berangkat lebih duluan- oooh iya, bukankah kalian membawa rombongan yang besar? Kenapa tinggal empat orang?"

Tahulah Han Siong Kie sekarang, kiranya Hong tee sian telah mengangap Thia Wi wan utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang menyaru dirinya sebagai dia sendiri.

Untung mereka tak sampai berjumpa muka akibatnya tentu luar biasa sekali, tapi tentang soal ini ia tidak segera memberi penjelasan.

" Kenapa Tee heng sian engkoh tuako itu tidak datang sendiri, melainkan malahan merepotkan engkoh tua?" ia bertanya. "Hoeehhh . . heeehhh . . heeehhh soalnya ilmu berjalan dalam tanahnya masih kurang mahir kalau dibandingkan aku" sahut Hong tee sian sambil tertawa terkekeh.

" Kepandaiannya tidak mahir? maksud engkoh tua."

"Apa lagi? Tentu saja kepandaiannya berjalan dalam tanah tak bisa menangkan kepandaianku, berbicara dalam soal ilmu kepandaian yang lain pun dia tak mampu melebihi kepandaianku maka dia menyerah dan suruh aku yang datang kemari. Ditambah pula dia memang ada urusan lain yang harus diurusi tapi sama-saja toh siapa yang datang? Dia juga engkoh tuamu dan aku sekarang juga engkoh tuamu"

"oooh tentu saja Tentu saja" jawab Han Siong Kie cepat setelah berhenti sejenak ia berpaling memandang pintu gerbang yang terpentang lebar serta mayat yang berjejer dibawah kaki benteng lalu bertanya:

" Engkoh tua, tadi kau mengatakan bahwa kami akan mampus bila masuk kedalam benteng itu, sebenarnya apa maksudmu?"

"sejak dua hari berselang aku sudah berada disini, karena gagal mencari jejak kalian maka seorang diri kumasuk istana tersebut. aduh mak, karena tindakanku ini hampir saja selembar jiwaku kabur terkena jebakan alat rahasia mereka yang hebat, untunglah arwah sucou masih melindungi aku sehingga dengan ilmu berjalan dalam tanah aku berhasil kabur dari situ. Dan selama dua hari belakangan aku selalu berdiam diruang bawah tanah dari istana Huan mo kiong ini."

Mendengar keterangan tersebut Han Siong Kie menjerit kaget, begitu pula dengan ketiga orang tiang lo lainnya, rata- rata mereka tunjukkan wajah kaget dan tercekat. sementara itu Hong tee sian telah melanjutkan kembali kata-katanya:

"Kemarin malam secara kebetulan aku berhasil mencuri dengar orang-orang dalam istana itu sedang menyusun rencana busuk untuk mencelakai kau, setelah rahasia itu kuketahui maka malam itu juga aku bekerja keras, semua kunci rahasia yang mengatur alat rahasia dalam istana itu kuhancurkan sehingga tak dapat berfungsi lagi".

Keterangan ini semakin mengejutkan mereka berempat, dengan emosi To It hui lantas berseru:

"Justru yang paling kami kuatirkan selama ini adalah alat jebakan mereka yang berlapis-lapis dan banyak ragamnya itu, sekarang kita tak usah merisaukan soal itu lagi"

Hong tee sian tertawa terbahak-bahak dengan bangga ia mengelus jenggotnya seraya berkata lagi:

"Kalau cuma alat rahasianya saja masih belum terhitung apa-apa, justru mereka sudah mengatur suatu siasat yang jauh lebih keji. Kalian tahu lima puluh kaki disekeliling pintu gerbang benteng ini telah mereka tanam obat peledak yang berjumlah sangat banyak, bila kalian berani menginjaknya niscaya tubuh kalian akan meledak dan hancur menjadi berkeping- keping "

Kali ini keempat orang jago itu tak dapat menahan rasa kagetnya lagi bukan saja hati mereka tercekat, bulu kudukpun sampai bangun berdiri, untung Heng tee sian memberi peringatan, kalau tidak bukankah pada saat ini tubuh mereka sudah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil?

"Wi It beng bangsat tua itu benar-benar keji" teriak Han Siong Kie dengan marah, "dia harus diganjar hukuman yang paling berat." sah Jin ho menimbrung pula dari samping:

"Apakab Wi It beng telah memperhitungkan dengan tepat bahwa kami akan masuk kedalam benteng dengan melewati pintu gerbang?"

"Tentu saja " sahut Heng tee sian setelah melirik sekejap kearah tianglo nomor lima ini. "Tapi lingkungan istana Huan mo kiong toh bukan melulu disini saja masa kita tak dapat memasuki istana melewati jalan lain"

"sekalipun ada jalan lain, tapi perhitungannya ini pasti tak akan meleset, dan seratus persen pasti tepat"

"Apa alasannya sehingga demikian?"

"sederhana sekali jawabannya, Han Siong Kie lote adalah bakal seorang ketua dari suatu perguruan, untuk menjaga gengsi dan nama baiknya tentu saja ia harus menantang secara terang-terangan dan tak bakal main sembunyi seperti cucu kura-kura, selain itu merekapun sengaja telah membunuh anak murid lain yang setia kemudian menjajarkan jenasah mereka didepan pintu gerbang, tujuannya tak lain adalah untuk memancing kalian agar berjalan melewati pintu depan, apalagi setelah mereka membukakan pintu gerbang dan mengirim orang untuk menyampaikan undangan, masakah kalian bakal memasuki benteng ini dengan memutar lewat jalan samping?"

Penjelasan ini memang sangat masuk diakal dan benar, maka ke empat orang itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Dengan wajah serius dan kening berkerut Han Siong Kie lantas berkata:

"Waah, kalau begitu persoalan ini adalah suatu persoalan yang amat sulit untuk dipecahkan, masakah kita harus benar- benar memasuki benteng tersebut dengan melewati tembok pekarangan? "

Melihat kepanikan si anak muda itu, Hong tee sian lantas tertawa cekikikan karena geli.

"Hiiihhh . . hiiihhh. . hiiihhh tak usah panik, tak usah panik, kalian tak usah melewati jalan samping lagi. sekarang kalian boleh masuk lewat pintu gerbang dengan hati lega" Jawaban ini kembali membuat keempat orang jago tersebut tertegun, bukankah pertama kali tadi ia melarang mereka untuk melewati jalan depan? Kenapa sekarang malah menganjurkan mereka melewati jalan yang berbahaya itu?

Bukankah ucapannya jadi bertolak belakang?

Han Siong Kie merasa amat gelisah, ia lantas berseru dengan tak sabar:

" Engkoh tua, sekarang waktu sudah mendesak sekali, aku minta engkoh tua jangan bergurau terus, bersediakah engkau memberi penjelasan kepada kami?" Kembali Hong tee sian tertawa cekikikan-

"Hiiih. . hiiih. . hiiihh sumbu yang menghubungkan alat peledak itu sudah kuputus secara diam-diam dan sekarang hiih... hiiih siasat busuk mereka kembali akan gagal total."

"Aah, jadi engkoh tua telah merusak siasat busuk mereka dan apakah engkau juga sudah berhasil membuat jalan tembus yang menghubungkan tempat ini dengan ruang bawah tanah".

"Benar, justru karena jalan tembusnya sudah selesai maka aku bisa masuk keluar dengan leluasa"

"Apakah ada orang yang disekap didalam ruangan rahasia itu ?"

"ooh banyak sekali selain lima orang tiang lo, masih ada lagi hampir dua ratus orang anak murid perguruanmu "

"Aaaah. apakah engkoh Tua punya akal untuk melepaskan mereka semua dari kamar rahasianya ?"

Hong tee sian kerutkan dahinya sebentar kemudian menjawab:

"Waah susah.. susah penjagaan mereka disekitar tempat itu terlalu ketat."

"Jadi tak ada akal lagi?" "Akalnya sih ada dan caranya juga ada hanya agak sulit sedikitlah untuk mengerjakannya "

"Bagaimana kalau aku minta tolong kepada engkoh tua untuk melaksanakan tugas yang amat sulit itu?"

"Melepaskan semua orang yang mereka sekap?"

"Benar sebab anak murid perguruan kami yang disekap itu justru adalah murid-murid kami yang masih setia pada kebenaran."

"Baiklah, kalau memang begitu, aku akan berusaha dengan sekuat tenaga, semoga saja berhasil"

Cepat-cepat Han Siong Kie menjura dan memberi hormat kepada jago tua yang bertubuh cebol dan berkepala kecil ini.

" Untuk bantuan dari engkoh tua sebelumnya siaute ucapkan banyak-banyak terima kasih, aai, untung ada engkoh tua yang membantu, kalau tidak tentu usahaku untuk membersihkan perguruan dari kaum pemberontak akan menemui kegagalan total"

"Aaah. jangan membicarakan soal itu, hayo kalian boleh segera masuk kedalam benteng"

Tidak menanti jawaban lagi, tubuhnya yang cebol itu lantas menyelinap. dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah lenyap dari pandangan-

sepeninggal jago tua itu, Han Siong Kie menghela napas panjang, lalu bisiknya dengan lirih:

"Aaai, agaknya arwah dari cousu-cousu kita telah melindungi usaha pembersihan yang akan kita lakukan ini. kalau tidak mungkin nyawa kita semua telah melayang tinggalkan raga, mari kita masuk kedalam benteng"

Begitulah dengan dipimpin oleh Han Siong Kie, berangkatlah keempat orang itu memasuki cintu gerbang istana Huan mo kiong yang besar dan angker itu. suasana disekitar pintu benteng sunyi dan tak tampak sesosok manusiapun, yang terlihat hanya dua baris mayat yang berlepotan darah, mayat-mayat itu berada dalam keadaan yang mengenaskan sehingga mendatangkan suasana yang menggidikkan.

Dalam sekejap mata mereka sudah tiba didepan pintu gerbang, Han Siong Kie menengadah dan memandang  sekejap ke arah papan nama yang tergantung di atas benteng, membaca ketujuh huruf emas yang menyatakan tentang kantor cabang dari perkumpulan Thian che kau itu, hawa amarah lantas berkobar kembali didada pemuda itu, ia mendengus dingin kemudian ayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah papan nama tadi.

-000d0w000-

BAB 74

SERANGAN yang dilancarkan seenaknya itu sepintas lalu tidak nampak sesuatu yang aneh, tapi justru dibalik kesederhanaan itulah terkandung hawa sakti si mi sin kang sebesar sepuluh bagian.

"Blaaang.. diiringi suara ledakan yang keras dan memekikkan telinga, tampaklah hancuran kayu berhamburan keempat penjuru, seketika itu juga ketujuh huruf tadi lenyap tak berbekas.

Menyaksikan demontrasi tenaga dalam dari ciangbun suhengnya yang masih muda tapi lihaynya bukan kepalang itu, ketiga orang tiang lo tersebut menjulurkan lidahnya, mereka merasa ngeri bercampur kagum.

Dengan hancurnya papan nama yang bertuliskan: Kantor cabang perkumpulan Thian che kau untuk wilayah Thian lam tadi, maka sekarang terbacalah tiga huruf emas yang tertera nyata diatas bangunan benteng itu. "HUAN MO KIONG". tiga huruf yang terbuat dari emas.

Han Siong Kie menengadah dan membaca sekejap nama dari istana perguruan tersebut, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki pintu gerbang.

sesudah melewati sebuah lorong pintu yang gelap. didepan mata terbentanglah sebuah tanah lapang yang lebar, empat penjuru sekelilingnya adalah bangunan loteng yang tinggi besar dengan ukiran-ukiran indah, semua bangunan tersebut megah, mewah dan mentereng.

Beratus-ratus orang jago lihay, ada yang tua ada pula yang muda berdiri berjejer di kedua belah sisi halaman tersebut, namun suasananya hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun-

Ditengah-tengah halaman terdapat sebuah panggung, diatas panggung berderet kursi kebesaran yang bersandaran tinggi, seorang kakek berjubah abu-abu dengan sulaman matahari, rembulan dam bintang duduk pada kursi kebesaran tersebut, dibelakang kakek itu berdiri dua belas orang pengawal berjubah hijau dan kuning.

Kakek berjubah abu-abu itu bukan lain adalah pejabat lama dari perguruan Thian lam bun yang kini telah menjadi ketua cabang dari perkumpulan Thian che kau, dialah Wi It beng yang sedang dicari-cari.

Han Siong Kie menghentikan langkahnya ditengah halaman, hawa napsu membunuh yang tebal menyelimuti seluruh wajahnya, setajam sembilu dia menatap wajah Wi It beng tanpa berkedip.

sementara To It hui dan dua orang rekannya berdiri tiga kaki dibelakang si anak muda itu dengan wajah gusar dan muka menyeringai. suasana amat tegang dengan munculnya Han Siong Kie beserta ketiga orang tianglonya, hawa pembunuhan yang tebalpun ikut menyelimuti suasana disekitar arena.

Paras muka Wi It beng hijau membesi, sinar matanya memancarkan sinar kelicikan, dengan muka yang buas dan mengerikan perlahan-lahan dia bangkit berdiri, tampaknya kalau bisa dia ingin membunuh musuhnya itu dengan satu kali terkaman.

Han Siong Kie mendengus dingin setibanya di tengah halaman ia ambil keluar lencana mustika ok kui cupay itu kemudian di angkat tinggi-tinggi ke udara.

Dengan diperlihatkannya lencana itu serta merta ketiga orang tiang lo yang berada di belakang pemuda itu bungkukkan badan memberi hormat.

Akan tetapi kawanan jago yang hadir di arena tersebut tak ada yang memberi hormat, meski wajah mereka pucat pias seperti mayat, namun semuanya masih berdiri tegak tak seorangpun yang menunjukkan tanda-tanda akan menghormati munculnya lencana itu.

Wi Ik beng maju beberapa langkah dengan wajah berubah, akhirnya dengan muka yang bengis menyeramkan ia membentak:

"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang kemari?

Apa pula maksudmu memperlihatkan benda mustika perguruan kami yang berhasil kau curi itu..? Hmm. kau anggap kami akan tunduk kepadamu?"

Han Siong Kie semakin naik pitam, ia tak menduga kalau musuhnya selicik itu, sebelum ia sendiri mengucapkan sesuatu, ia malahan memutar balikkan duduknya persoalan lebih dulu.

Terdengar Wi It beng berteriak kembali: "Hey kalian tiga orang tianglo dari ruang Goal lo wan, tahukah kau bahwa kalian telah melakukan penghianatan terhadap perguruan? Dosa kalian tak akan diampuni lagi, kalian akan mampus dicincang"

Han Siong Kie menggertak gigi dan mendengus dingin- ia balas berteriak keras:

"Anak murid perguruan Thian lam bun, dengarkan baik2 Aku mendapat perintah dari mendiang ciangbunjin Tee kun untuk membersihkan perguruan kita ini dari manusia-manusia bejad, hanya pentolannya saja yang akan dihukum berat sedang pengikutnya bisa diampusi, bila mereka segera menyadari akan kesalahannya sendiri, Tapi bila ada orang yang melakukan penghianatan terus dan berani membangkang perintah dari lencana ini jangan salahkan kalau kami akan bertindak tegas dengan membunuh mereka secara keji"

selesai mengutarakan pengumuman itu ia menyapu pandang sekejap seluruh gelanggang kemudian menyimpan kembali lencana mutiara itu. Wi It beng tertawa terkekeh- kekeh dengan suaranya yang mengerikan-

"Manusia bermuka dingin- ejeknya "kau tak usah mengancam dengan kata-kata bualanmu yang menggelikan hati itu. Hoeh heehhh...heeehh .mendiang ciangbun Teekun sudah wafat semenjak empat puluh tahun berselang, dari mana ia bisa serahkan lencana mutiara itu kepadamu? Hmm Akui saja bahwa kau memperoleh lencana itu dari hasil curian-

."

"Tutup mulut anjingmu" bentak Han Siong Kie dengan marah.

Bentakan itu sangat keras dan tajam, membuat semua orang yang hadir disitu merasakan telinganya jadi amat sakit dan hawa darah dalam rongga dada serasa bergolak keras. "Wi It beng, tak ada gunanya kau menyangkal terus" seru pemuda itu lagi "sekarang bukti kejahatanmu sudah berada ditangan kami, lebih baik mengakulah segala sesuatunya demgan terang, daripada memaksa aku harus turun tangan sendiri untuk menggantung dirimu dihadapan umum"

-ooo0dw0ooo-