Tengkorak Maut Jilid 31

 
Jilid 31

DARIMANA Orang yang kehilangan sukma bisa paham cara membebaskan pengaruh totokan dari Benteag maut?

Setelah membebaskan jalan darahnya yang tertotok mengapa Orang yang kehilangan sukma memenggal lengan kanan sendiri.

Teka-teki kejadian ini benar2 merupakan suatu teka teki yang susah untuk menemukan jawabannya, lebih2 ia tak paham mengapa perempuan itu demikian menaruh perhatian kepadanya.

Sementara itu Orang yang kehilangan sukma telah berseru dengan nada kaget bercampur tercengang:

“Bukankb kedua orang ini adalah..”

"Mereka adalah anak muridku” jawab Han Siong Kie aetelah melirik sekejap kearah sepasang siluman hitam putih. “Mereka adalah anak muridmu ? Bukankah kedua orang ini adalah.. "

“Benar, mereka adalah sepasang siluman hitam putih” sahut pemuda itu membenarkan.

Dengan hati bergetar keras orang yang kehilangan sukma mundur beberara langkah lebar kebelakaag, ia kelihatan sangat terperanjat sebab bagaimanapun juga ia tak menyangka kalau Hek pek siang yau yang pernah menyapu jagad pada puluhan tahun berselang kini menjadi murid Han Siong Kie.

“Mereka adalah anak muridmu ?” sekali lagi perempuan misterius itu menegaskan.

“Benar !” sahut Han Siong Kie sambil tersenyum, “Mereka berdua secara sukarela takluk menjadi anggota perguruanku”

“Nak, aku lihat tenaga dalammu kembali mendapat kemajuan yang sangat pesat ?”

“Benar . benar...rasanya memang begitulah !”

“Bila kau bersedia mendengarkan nasehatku lebih baik janganlab keluar lembah melewati mulut lembah sebelah sana”

“Kenapa ?” tanya Han Siong Kie dengan hati tercekat. “Sebab orang2 Thian che kau belum puas sebelum berhasil

menangkap dirimu !”

“Oooh . . maksud cianpwe mereka telah membendung mulut lembah itu dengan jago- jago liheynya ?”

“Begitulah yang kumaksudkan !” Orang yang kehilangan sukma membenarkan.

Hawa napsu membunuh yang tebal segera melintas diatas wajah Han Siong Kie yang tampan ujarnya dengan dingin : “Hum..! Jika mereka berani berbuat begitu sama artinya mereka sedang mencari kematian bagi diri sendiri !”

"Nak, kenyataan yang ada di depan mata kadangkala tidak sesederhana seperti apa yang kau bayangkan !”

“Maksud Cianpwe ?”

“Dua li diseputar lembah tersebut telah ditanam sepuluh laksa kati obat peledak sekali pun kungfumu lihay belum tentu bisa menghindari kedahsyatan tenaga ledakan mesiu , . “

“Jadi tujuan cianpwe datang kemari adalah untuk menyampaikan peringatan tersebut kepada boanpwe ?” tanya si anak muda itu dengan hati terkesiap.

“Benar!"

"Darimana cianpwe bisa mengetahui rahasia ini ?” "Sekarang tak ada waktu bagiku untuk memberi penjelasan

di kemudian hari engkau akan mengetabui sendiri hingga

sejelas-jelasnya.”

Sekali lagi perasaan heran dan tercengang menyelimuti perasaan Han Siong Kie darimana Orang yang kehilangan sukma bisa tahu kalau ia telah memasuki lembah kematian? Dan dari mana pula dia tahu kalau pada hari inilah dia akan keluar dari lembah itu sehingga tepat menghadang jalan perginya? Dan darimana pula dia bisa tahu begitu jelas tentang rencana busuk Tbian che kau atas dirinya?

Pelbsgai kecurigaan berkecamuk dalam benaknya kemudian ia pun berkata dengan lantang.

"Dengan dasar apakah Thian che kau begitu bernapsu untuk membekuk diri boanpwe?”

"Tentu saja ada dasar2 yang kuat, pertama engkau pernah memasuki benteng maut kedua engkau sudah beberapa kali menyerbu wilayah Lian huan tau mereka memusnahkan ber- puluh2 jago andalannya, kejadian ini membuat reputasi mereka dimata orang persilatan mengalami kemerosotan hebat, dan ketiga eogkau adalah abli waris dari tahta kepemimpinan Thian-lam pay, dengan berdasarkan akan tiga alasan inilah dahulu mereka ingin menangkap dirimu hidup2, tapi sekarang mereka akan membinasakan dirimu dengan segala macam kepandaian dan siasat busuk yang dimilikinya.”

Apa sangkut pautnya antara kedudukanku sebagai ketua Tbian Lam bun dengan perkumpulan mereka ?”

"Pemimpin Huan mo kiong yang sekarang sudah takluk kepada Thian che kau, kini istana Huan mo kiong sudah dirubah menjadi kantor cabang Thian che kau untuk sektor wilayab Thian lam!"

Darah panas kontan mendidih di hati Han Siong Kie, dengan marah ia meraung keras

“Ooh. jadi begitulah duduknya persoalan ?”

Orang yang kehilangan sukma menghela nafas panjang, ia berpaling dan memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu katanya :

“Aku harus segera pergi, nak. ingatlah ! Jangan sekali-kali kau lewati mulut lembah, carilah jalan keluar yang lain dan segeralah engkau tinggalkan tempat ini"

"Sayang sudah terlambat" tiba2 serentetan suara dingin menyeramkan membelah kesunyian.

Sekujur badan orang kehilangan sukma gemetar keras, secara beruntun dia mundur beberapa langkah lebar kebelakang.

Rasa kejut yang dialami Han Siong Kie pun sukar dilukiskan dengan kata2, ia percaya tenaga dalamnya pada saat ini sangat lihay, tapi kenyataannya ada orang berhasil mendekat wilayah sekitar lima kaki dari tempat mereka beradapun tidak dirasakan olehnya, dari sini dapat ditarik kesimpulan sampai dimanakah kelihayan musuhnya itu. Hek Pek siang yau sepasang siluman hitam putih juga sudah menyadari akan kelihayan musuhnya, mereka lantas bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Dari balik popohonan lima kaki dari gelanggang, muncul tiga sosok bayangan manusia, orang pertama adalah seorang manusia aneh berkerudung hijau, dia adalah Thian Che kaucu, dibelakangnya mengikuti dua orang kakek jubah hitam yang mempunyai sulaman matahari, rembulan dan bintang didadanya, salah seorang diantaranya adalah Tangan kilat see bun Lui.

Paras muka Han Siong Kie berubah hebat, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Sikap orang yang kehilangan sukmapun amat serius, dengan suara lirih dia berbisik kepada Han Siong Kie:

"Manusia berkerudung itu adalah pemimpin dari Utusan Thian che kau, orang sebut dirinya sebagai Cian jiu mo ong (raja iblis bertangan seribu) Tong ciao, selama ini dialah yang selalu menyaru sebagai ketua. Hari ini, ketiga orang itu jangan sekali-kali kau lepaskan dalam keadaan hidup, sebab bila seorang saja diantara mereka masih hidup, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata" Han Siong Ki mengangguk dan memberikan kesanggupannya.

Dalam pada itu, raja iblis bertangan seribu Tong ciau sudah berpaling kearah orang yang kehilangan sukma, kemudian sambil tertawa seram ejeknya:

"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh. .Aku mengira siapa yang berada disini, tak tahunya adalah kau"

Ucapan tersebut membuat Han Siong Kie jadi tertegun dia lantas berpikir dihati: "Masakah orang yang kehilangan sukma adalah anggota perkumpulan Thian che kau? Kalau tidak kenapa orang ini mengenalinya ?"

Sementara itu orang yang kehilangan sukma telah membentak nyaring: "Tutup mulut anjingmu "

Jelas sekali maksudnya dia tidak mengharapkan orang itu meneruskan kata-katanya lebih jauh.

Kepada Han Siong Kie kembali dia berbisik,

"Ingat, jangan biarkan mereka tetap hidup, akan kubantu dirimu secara diam-diam" selesai berkata dia lantas melejit keudara dan kabur dari tempat kejadian.

"Mau lari kemana kau ?" bentak Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau dengan keras, secepat kilat ia menerkam kemuka.

Han Siong Kie mendengus dingin, tubuhnya bergeser setengah langkah ke samping lalu melepaskan sebuah pukulan gencar, dalam serangan tersebut dia telah sertakan hawa sakti si mi sinkang yang di milikinya, bukan saja tidak menimbulkan suara kekuatannya sangat mengerikan

"Blaaang" suatu benturan nyaring menggelegar diangkasa, raja iblis bertangan seribu Teng ciau yang sedang melakukan pengejaran segera terpental hingga mencelat sejauh delapan depa dari tempat semula.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, orang yang kehilangan sukma melarikan diri dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan

Kejadian ini sangat mengejutkan dua orang utusan Thian che kau yang lain, hampir saja mereka menjerit kaget.

Selama hidup belum pernah mereka saksikan kemampuan sedahsyat itu, dan mimpipun mereka tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki pemimpin utusan Thian che kaupun ternyata pemuda itu tak mampu dihajar sampai mencelat. Han Siong Kie sendiri dengan sorot mata setajam sembilu mengawasi manusia berkerudung itu tanpa berkedip. mukanya seram dan penuh diliputi hawa napsu membunuh mengerikan sekali keadaannya.

Manusia berkerudung sendiri sehabis menyapu pandang Hek pek siang yau yang berada beberapa tombak dari tempat itu ujarnya kepada Han Siong Kie dengan suara menyeramkan:

“Manusia bermuka dingin hari ini sekali pun engkau bersayap jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat”

"Hmm! besar mulut bacotmu sebutkan dulu dirimu." jengek Han Siong Kie ssmbil mendengus dingin sikapnya amat sinis.

"Engkau ingin tahu siapakh aku? Inilah ketua dari perkumpulaa Thian che kau!" sahut orang itu.

Han Siong Kie mengejek tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak,

"Bangsat apa yang kau tertawakan?" hardik orang berkerudung itu marah-marah.

"Masa benar kau adalah ketua dari perkumpulan Thian che kau?"

"Siapa bilang tidak benar?”

"Huhh! Kau tak usah berlagak sok lagi lebih baik cepat- cepatlah melepaskan kata berkerudung itu!"

“Manusia bermuka dingin, engkau anggap aku...”

“Haaah heaah haahh memangnya siapa kau ? Kau toh Raja Iblis bertangan seribu Teng Ciau ?”

Sekujur badan orang itu bergetar keras karena terperanjat, ia tak menyangka kalau asal-usulnya diketahui orang. Begitu pula dengan dua orang utusan Thian che kau yang lain paras muka mereka berubah hebat.

Hek pek siang yau tidak ambil diam, serentak mereka menerjang kedepan dan menghampiri gelanggang. Seketika itu juga hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh angkasa.

Setelsh asal-usulnya ketahuan orang, Raja iblis bertangan seribu Teng Ciau segera menarik lepas kain kerudung yang menutupi wajahnya, tampaklah seraut wajah yang menyeringai seram seperti iblis, kataya dengan nada menyeramkan:

“Manusia bermuka dingin, rupanya perempuan hina itulah yang telah membocorkan rahasiaku padamu.”

Sebagaimana diketahui, Han Siong Kie sangat menghormati Orang yang kehilangan sukma bagaikan menghormati orang tua sendiri ketika didengar pihak musuh memaki orang yang dihormati sebagai perempuan hina, kontan saja ia naik pitam.

"Tutup mulut anjingmu yang bau!” bentaknya, "Teng ciao tempat inilah tulang belulang kamu bertiga akan terkubur untuk selamanya "

"Anjing cilik, kematian sudah berada didepan mata, buat apa engkau masih saja mengibul seenaknya ?" ejek Tangan kilat se bun Lui tak kalah sengitnya.

Han Siong Kie tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi, dia ulapkan tangannya kepada Hek pek siang yau lalu, serunya:

"Hantar kedua ekor anjing ini pulang ke akherat, jangan biarkan mereka tetap hidup dikolong langit "

Dengan sikap yang sangat hormat sepasang siluman mengiakan tanpa banyak bicara lagi mereka menerjang dua orang utusan Thian che kau itu. Siluman hitam menerkam si Tangan kilat se bun Lui, sementara siluman putih menerjang utusan Thian che kau yang lain-

Han Siong Kie sendiri dengan wajah sedingin es menghampiri Raja iblis bertangan seribu, katanya:

"Teng ciao sudah terlampau lama engkau mencicipi kehidupan didunia ini, sekarang pun ciangbunjin akan mengirim kau untuk berpesiar keakhirat, Nah berangkatlah sekarang juga" seraya berkata selangkah demi selangkah ia menghampiri lawannya. Suatu pertarungan sengitpun segera berkobar dalam gelanggang.

Ilmu silat yang dimiliki dua orang utusan Thian che kau itu, memang sangat lihay, dalam keadaan terdesak mereka harus melangsungkan pertarungan adu jiwa yang mengerikan-

Raja iblis bertangan seribu Teng ciau adalah pengganti dari Thian che kaucu, tentu saja tenaga dalamnya amat sempurna, dia hanya kalah setingkat dari kaucu sendiri.

Tatkala Han Siong Kie menerjang masuk kewilayah Lian huan tau dan menolong Go siau bi, kedua belah pihak pernah terlibat dalam suatu pertempuran sengit waktu itu, kendatipun Han Siong Kie dan Go siau bi sudah bekerja sama toh bukan tandingannya juga, maka ia sama sekali tak memandang sebelah matapun kepada musuhnya.

Selama ini dia hanya menguatirkan Pertarungan dari Hekpek siang yu, seorang gembong iblis yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari keramaian dunia, setelah melihat bagaimana dua orang jago yang disegani itu bertarung melawan dua orang rekannya, diapun setengah menjadi lega. kini dia lupa untuk mengejar orang yang kehilangan sukma, memandang Han Siong Kie yang makin mendekat, gembong iblis tersebut lantas tertawa seram, katanya: "Manusia bermuka dingin, masih mengharapkan tidak untuk melanjutkan keturunan dan kejayaan dari Mo tiong ci mo?"

Han Siong Kie menghentikan langkahnya lalu menjawab: "Teng ciau, tak tak usah mempersoalkan yang lain,

ketahuilah... jika Thian che kaucu masih bersembunyi terus

macam kura-kura, maka manusia-manusia pengganti macam engkaulah yang bakal sial, sebab ini hari engkau sudah pasti akan berangkat menuju ke akherat"

Begitu ucapan tersebut selesai diucapkan, secepat kilat dia melancarkan tiga buah pukulan berantai ke depan-

Sekilas pandangan, ketiga buah serangan tersebut sama sekali tidak nampak lihay ataupun mengerikan, tapi justru dibalik kelembutan itu terselip hawa sakti si mi sinkang yang memiliki daya penghancur, bukan begitu saja, bahkan kecepatannya melebihi apa pun juga.

Raja iblis bertangan seribu Teng ciau sedikitpun tidak jeri, telapak tangannya lantas disilangkan didepan dada dan menangkis semua ancaman yang tiba. "Biang Blaang Blaaang " Tiga kali benturan dahsyat menggelegar diangkasa.

Raja iblis bertangan seribu Teng ciau tergetar keras dan mundur tiga langkah, rasa kejutnya kian menjadi, dia tak menyangka hanya berpisah beberapa bulan, ternyata kekuatan tenaga yang dimiliki musuhnya sudah meningkat sehebat itu.

Padahal ia sendiri disebut orang Raja iblis bertangan seribu, tentu saja tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, ia jadi penasaran, begitu terdesak secepat kilat ia menerkam lagi kemuka dan secara beruntun melancarkan empat puluh delapan buah pukulan berantai.

Ke empat puluh delapan buah pukulan itu dilancarkan secara beruntun, diatas udara segera tampaklah berpuluh puluh buah bayangan telapak tangan muncul dari pelbagai arah dan semuanya tertuju pada bagian bagian mematikan di tubuhnya.

Angin menderu-deru empat penjuru jadi gelap oleh lapisan debu dan pasir yang beterbangan diangkasa keadaan dikala itu benar-benar meagerikan sekali,

Sungguh terperanjat Han Siong Kie menghadapi ancaman selihay itu cepat dia main kan sistim pertahanan dari Mo mo ciang hoat untuk menutup semua bagian tubuhnya dari ancaman,

"Braak!" serapat-rapatnya pemuda itu melindungi diri tak urung sebuah serangan sempat mampir juga ke tubuhnya kontan ia jadi terberondong kebelakang dan mundur dengan sempoyongan.

Dengus tertahan menggetar diudara meskipun Cian jiu mo ong Teng Ciau berhasil menghantam musuhnya akan tetapi daya pantulan yang dihasilkan lawan dari Si mi sinkangnya itu membuat telapak tangannya jadi sakit bagaikan hancur hawa panas segera menerjang naik dari rongga dadanya, kejadian ini membuat hatinya tercekat dan sukma serasa melayang tinggalkan raganya.

Sementara itu keadaan Se bun Lui di pihak lain pun berbahaya sekali, dibawah ancaman siluman hitam yang datang secara bertubi tubi, ia ketitir hebat setiap saat nyawanya terancam di ujung telapak tangan lawan.

Dilain pihak, utusan Thian che kau yang bertempur melawan siluman putih sedang bertempur dengan serunya untuk sesaat sukarlah untuk menentukan siapa menang siapa kalah.

Han Siong Kie sendiri oleb karena mempunyai hawa khikang melindung badan, kendatipun serangan lawan menghajar telak dibahunya. ia sendiri sama sekali tidak terluka. Untungnya Cian jiu mo ong Teng Ciau memiliki tenaga dalam yang amat sempurna. bila berganti dengan jago lain, jangankan menghantamnya untuk mendekati tubuhnya sampai jarak tiga depapun belum tentu mampu.

Raja iblis bertangan seribu sendiri menyangka bahwa di dunia ini kecuali beberapa orang jago boleh dikata untuk mencari kan tandingan baginya, sungguh tak nyana baru tiga gebrakan dia sudah jatuh kecundang di tangan Manusia bermuka dingin yang berusia dua puluh tahunan, kejadian ini segera menimbulkan kembali sifat buasnya.

Sambil membentak keras, sekali lagi ia menerjang kemuka, serangan demi serangan dilancarkan secara bertubi-tubi, mengerikan sekali ancamannya itu.

Han Siong Kie sama sekali tidak gentar, dia kembangkan permainan Mo mo ciang hoat dan membalas serangan lawan deagaa serangan pula.

Mengerikan sekali pertarungan waktu itu, kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan segenap ilmu simpanan yang dimiliki, siapa pun berharap bisa menghancurkan lawannya secepat mungkin.

Suatu ketika, mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang membelah angkasa.

si Tangan sakti se bun Lui yang hebat tak mampu menghindari sebuah sergapan kilat dari siluman hitam, tubuhnya kontan terbacok telak dan hancurlah tubuhnya menjadi remuk seperti berkedel, darah segar berceceran menodai permukaan tanah.

Melihat rekannya tewas, utusan Thian che kau yang lain jadi gugup, permainan serangannya jadi kacau balau tak karuan-

Kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh siluman putih, suatu cengkeraman kilat berhasil menangkap bahunya, baju berikut dagingnya lantas dicomot sampai hancur sepanjang setengah depa, darah segar bagaikan pancuran mengucur keluar tiada hentinya.

--ooo0dw0ooo-

BAB 64

BERHASIL dengan serangan yang pertama, siluman putih tidak berdiam diri sampai disitu saja, secara beruntun dia melontarkan kembali tiga buah pukulan berantai.

Begitu tiga pukulan itu dilepaskan, untuk kesekian kalinya jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, sambil muntah darah segar utusan Thian che kau itu mencelat sejauh satu kaki lebih dan tidak bangun untuk selamanya.

Raja iblis bertangan seribu Teng ciau merasa terkejut dan panik, dalam gugupnya secara beruntun dia lepaskan beberapa buah pukulan kilat begitu Han Siong Kie terdesak hebat, ia lantas melejit dan siap melarikan diri

"Mau kabur ?" jengek Han Siong Kie, "jangan mimpi hayo serahkan dulu jiwa anjingmu"

Sekali berkelebat ia sudah menghadang jalan pergi raja iblis bertangan seribu itu, secara beruntun dia lepaskan lima buah serangan berantai.

Melihat gelagat tidak menguntungkan raja iblis bertangan seribu tak berani gegabah lagi, timbullah niat untuk mengadu iiwa, maka tatkala serangan musuh melanda datang, bukannya berkelit dia malahan menyongsong datangnya pukulan itu dengan pukulan.

selama pertempuran berlangsung, Han Siong Kie tak bisa bertarung dengan hati lega, karena ia kuatir kalau dua orang musuh yang sedang bertempur melawan Hek pek siang yu berhasil kabur, ia kuatir dengan peringatan dari orang yang kehilangan sukma dimana dikatakan bila seseorang diantara mereka berhasil kabur maka akibatnya sukar dibayangkan

Tapi sekarang, setelah dua orang yang di kuatirkan berhasil dibikin mampus oleh sepasang siluman, iapun tidak kuatir lagi, segenap perhatian dan tenaganya dihimpun menjadi satu untuk melakukan sergapan sergapan maut. Lima gebrakan kemudian, Raja iblis bertangan seribu sudah dibikin kalang kabut tak karuan dalam waktu singkat ia sudah terjebak dalam keadaan yang berbahaya sekali.

"Blaaang!” suara jerit kesakitan berkumandang memenuhi angkaaa secara beruntun gembong iblis itu tergentar mundur sejauh delapan langkah sambil muntah darah segar ia mundur dengan sempoyongan keadaannya mengerikan sekali.

Han Siong Kie tidak meneruskan ancamannya dia tarik kembali serangannya dan berkata dengan dingin:

"Manusia she Teng agar engkau bisa mampus dengan tenang maka dengarlah baik-baik kataku ini. engkau adalah manusia pertama yang bakal mampus diujung pukulan Si mi sinkang yang maha dahsyat ini”

“Apa? Si mi sinkang?" jerit Raja iblis bertangan seribu dengan ketakutan.

Ia menjerit histeris tubuhnya melejit ke udara dan mencoba untuk melarikan diri.

Begitu Raja iblis bertangan seribu meloncat keudara Han Siong Kie mendorong sepasang telapak tangannya kedepan, Si mi sin kang dengan kekuatan sebesar sepuluh bagian segera dilontarkan dari kejauhan.

Sekati lagi jerit kesakitan berkumandang memenuhi angkasa . ..

Tubuh raja iblis bertangan seribu Teng Ciau mencelat sejauh empat kaki lebih, setelah berkelejetan di angkasa tatkala mencium tanah kembali, jiwanya sudah kabur pula ke akherat.

Menyaksikan kedahsyatan ilmu pukulan itu baik siluman hitam mau pun siluman putih sama-sama menjulurkan lidahnya mereka percaya kendati pun mereka berdua harus bekerja sama belum tentu kemampuan mereka dapat menandingi kehebatan dari Cian jiu mo ong.

“Nak, benarkah engkau sudah mempelajari ilmu sakti Si mi ainkang ?” tiba-tiba orang yang kehilangan sukma muncul ditengah gelanggang dan bertanya.

“Benar” sahut Han Siong Kie sambil tertawa.

“Engkau bisa membinasakan pemimpin dari para ututan Thian che kau kemampuan sehebat ini sudah cukup digunakan untuk melintang dalam dunia persilatan”

“Bagaimana jika dibandingkan dengan kelihayan Thian che kaucu ?” tanya Han Siong Kie tiba-tiba dengan wajah serius.

“Tentang soal ini.. mungkin saja engkau masih sanggup untuk menangkan dia!" “Hanya mungkin ?”

“Benar nak, dewasa ini aku hanya bisa mengatakan mungkin, bukankah kejadian di dunia ini peauh di1iputi serba kemungkinan ?”

Dingin separuh hati Han Siong Kie setelah meadengar jawaban tersebut dalam perkiraannya semula asal Si mi sinkang yang maha dabiyat itu berhasil diyakinkan maka sukarlah untuk mencari tandingan diduoia ini.

Tapi menurut Orang yang kehilangan sukma ia belum tentu sanggup untuk mengalahkan Thian che kaucu, itu bukankah berarti pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki Thian-che kaucu sudah mencapai puncak kesempurnaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata? Kendatipaa begitu, ia tidak putus asa malahan dengan angkuh katanya:

“Sekalipun ilmu silatku masih merupakan suatu kemungkinan untuk mengalahkan die tapi suatu ketika aku pasti akan pergi mencarinya, akan kubikin perhitungan dengan dirinya”

“Engkau tak usah pergi mencarinya, dialah yang akan datang mencari dirimu !”

“Seberapa banyak toh utusan-utusan yang dimiliki perkumpulan Thian che kau ?”

“Semuanya ada sepuluh orang.” "Dan sekarang . .”

“Sekarang sudah mati tiga orang ditambah seorang mati didalam perbatasan antara mati dan hidup serta tak lama engkau berhasil membinasakan Tengkorak maut gadungan itu maka jumlahnya menjadi lima, itu berarti sampai sekarang masih ada lima oraag utusan khusus dari perkumpulao Thian che kau yang masih hidup.”

“Apakah tenaga dalam yang mereka miliki rata-rata lihay semua ?”

“Tidak, Malahan diantara mereka ada yang memiliki kemampuan jauh lebih dahsyat lagi, ssbelum kau keluar dari lembah kematian Thian che kaucu telah berkunjung sendiri kemari tapi oleh karena kau belum juga keluar dari lembah ini, maka setelah memerintahkan orang-orangnya untuk memasang alat peledak ia telah kembali dahulu ke markas kalau ia masih berada disini:.. aaai sukarlah untuk diketahui siapa yang bakal hidup dan siapa yang bakal mati"

"Aaah belum tentu begitul" seru Han Siong Kie dengan cepat. "Sekarang engkau adalah seorang ketua dari suatu perguruan, sebelum dendam sakit hatimu terbalas setiap persoalan yang kau hadapi harus dipikirkan dengan otak dingin, janganlah terlalu memburu napsu, ketahuilah ilmu silat ibaratnya samudra yang luas, dimanapun ada orang-orang pintar yang tersembunyi, jangan disebabkan oleh luapan emosi mengakibatkan segala sesuatunya menjadi berantakan"

Merah padam selembar wajah Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan terbata:

"Setiap nasehat dari cianpwe akan boanpwe dengarkan baik-baik, untuk selanjutnya tat akan kulupakan lagi"

"Aaah sekarang cepatlah keluar dari lembah ini, aku kuatir bila terlambat maka akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan"

"Bukankan cianpwe lelah mengatakah bahwa disekitar mulut lembah telah ditanam obat peledak seberat sepuluh laksa kati"

"Benar, tapi sekarang pemimpin mereka yang merupakan ketiga orang tadi sudah mati semua, sisanya tak perlu kita takuti lagi, mesti kita bergerak dengan bersembunyi dibalik pepohonan, aku rasa untuk sementara waktu kita masih bisa mengelabuhi mereka sebab yang tersisa cuma jago-jago kelas kambing. Kendatipun akhirnya jejak kalian berhasil ditemukan, toh pada waktu itu kalian sudah berada disekitar mulut lembah dan wilayah yang ditanam obat peledakpun sudah dilampaui, aku percaya dengan kemampuan ya kalian miliki tak sukar untuk kabur dari sini, Nah, selamat jalan dan semoga berhasil"

Selesai dengan kata-katanya, orang yang kehilangan sukma lantas berkelebat masuk ke hutan dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.

Dengan termangu-mangu Han Siong Kie mengawasi bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, dia menghela nafas panjang, lalu berpikir: "Budi kebaikan yang kuterima selama ini entah sudah berapa banyak. aai, entah bagaimana caraku untuk membalas budi kebaikannya ini?

Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, akhirnya sambil mengulapkan tangannya kepada sepasang siluman ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang ke arah mulut lembah.

Selang sesaat kemudian, mulut lembah itu sudah berada didepan mata, pepohonan yang rindangpun sudah mencapai pada ujungnya.

Ketika mereka berada kurang lebih lima puluh kaki dari mulut lembah, serentak Han Siong Kie menancap gas dan kabur lebih cepat lagi, kepada dua orang siluman itu serunya: "Hayo kita terjang keluar dari lembah ini secepat-cepatnya..."

Tiga sosok bayangan manusia bagaikan tiga gulung asap dengan cepatnya meluncur kearah mulut lembah. suitan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian disusul dari belakang mereka bergelegar suara ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.

Pasir dan batu mencelatjauh keudara, asap hitam tanah longsor berguguran disekitar tempat itu membuat suasana ketika itu benar-benar mengerikan sekali.

Akhirnya meledak juga obat yang ditanam disekitar mulut lembah, tapi sayang terlambat setengah langkah, Han Siong Kie sudah lolos dari lingkaran bahan peledak itu.

Keadaan mulut lembah itu porak poranda keadaannya mengerikan sekali, batu cadas sebesar gunung dan pasir berjuta-juta meter kubik berguguran kebawah dan menyambar semua lapisan tanah disekitar situ.

Baik Han Siong Kie maupun Hek pek siang yau saling berpandangan sekejap dengan mulut melongo bergidik hati mereka, andaikata orang yang kehilangan sukma tidak memberi peringatan lebih dahulu, niscaya mereka bertiga sudah hancur entah berwujud apa.

Bisa dibayangkan betapa gusar dan dendamnya siluman hitam menyaksikan keadaan itu, ia berpaling ke arah pemuda kita lalu berseru: "Ciangbunjin, hutang ini "

"Hutang kita kepada mereka tidak terbatas hanya peristiwa ini saja" tukas Han Siong Kie dengan cepat, lebih baik kita perhitungkan dikemudian hari saja, sekarang aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan marilah kita segera pergi"

Siluman putih menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu berkata pula dengan suara dalam:

"Ciangbunjin, tolong tanya bagaimana kita harus selesaikan anakan monyet yang bersembunyi di sekitar tempat ini?"

"Kalau ingin mencari balas sudah sepantasnya kita bikin perhitungan dengan pemimpin mereka, apa harganya buat kita untuk ribut dengan manusia-manusia keroco seperti mereka? Biarkanlah mereka pergi"

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Han Siong Kie segera berangkat meninggalkan tempat itu diikuti Hekpek siang Yaw di belakangnya.

Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah jauh tinggalkan lembah kematian, tujuan mereka sekarang adalah benteng maut.

Inilah tugas pertama yang harus diselesaikan olehnya setelah berhasil mempelajari Ilmu sakti si mi sinkang, dia hendak menuntut balas dan menghancurkan tengkorak maut.

Untuk menghindari kegemparan dikalangan masyarakat oleh wajah Hekpek siang yau yang lain daripada yang lain itu, sengaja ia memerintahkan kedua orang itu untuk mengenakan kain kerudung hitam. Hari kedua, tatkala tengah hari menjelang tiba, mereka sudah berada ditepi sebuah sungai yang lebar, perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri sungai tersebut.

Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba disamping sebuah bekas bangunan rumah yang kini sudah tinggal puing- puing yang berserakan, disitulah dahulu pesanggrahan Teng to siau cut berdiri

Terkenang kembali masa lampau, tanpa terasa Han Siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya, dengan termangu- mangu ia memandang bekas bangunan Teng to siau cut yang tinggal puing-puing itu.

Tanpa terasa ia teringat kembali kenangan masa lampau, kenangan dikala ia terhajar oleh pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai, bagaimana ia ditolong oleh Go siau bi dan bagaimana pesanggrahan tersebut akhirnya dibakar oleh orang-orang Thian che kau.

Bayangan Go siau bi yang cantik jelita terpampang jelas didepan matanya, gadis itu telah jatuh cinta kepadanya pada tatapan yang pertama, bahkan berulang kali menyatakan cinta kepadanya.

Tapi ia sama sekali tidak membalas cinta dara itu, ia tak pernah mencintai Go siau bi, sebab ia membenci setiap perempuan yang ada didunia ini kecuali Tong hong Hui seorang.

Akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, tiba-tiba ia merasa bahwa perbuatannya selama ini terlalu menyinggung perasaan halus gadis itu, tapi sekarang dia sudah pergi, mungkin selamanya tak mungkin bisa berjumps lagi.

Benarkah aku telah menghancurkan masa depan seorang gadis ? Benarkah aku bertanggung jawab atas kejadian ini? ia mencoba untuk bertanya pada diri sendiri, tapi pemuda itu tak mampu menjawab. Tindakan ibunya say siang go atau siang go cantik Ong cui ing meninggalkan tempat kejadian dikala keluarganya tertimpa bencana bahkan kawin lagi dengan Thian che kaucu dirasakan sebagai pukulan batin terberat yang pernah ia terima, kejadian ini membuat pandangannya terhadap kaum perempuan jadi sinis dan benci.

Untunglah selama ini dia banyak berhutang budi kepada orang yang ada maksud, orang yang kehilangan sukma, Gosiau bi serta Tong hong Hui, sikap dari perempuan- perempuan inilah yang banyak menggoyahkan cara berpikirnya yang salah itu, perasaan anti perempuan yang dipertahankan selama ini pun lambat laun menjadi lebih tawar.

Dengan termangu- mangu pemuda itu memandang puing yang berserakan serta ombak yang memecah ditepi pantai, kian lama perasaannya kian terbuai oleh lamunan dan kenangan lama.

Hekpek siang yau tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dengan tenang mereka menunggu di belakang ketuanya.

Tiba-tiba dari balik puing-puing yang berserakan berkumamdang suara helaan napas panjang.

Satu ingatan lantas melintas dalam benak si anak muda itu, ia tersadar kembali dari lamunannya kepada sepasang siluman segera pesannya. " Kalian tak usah pergi kemana-mana, nantikanlah aku disini". secepat kilat ia meluncur ke angkasa dan menerobos masuk kedalam hutan bambu di mana helaan napas tersebut berasal.

Seorang sastrawan berusia setengah baya berdiri sambil bergendong tangan ditepi sungai dekat hutan bambu.

Berdebar keras jantung Han Siong Kie setelah mengetahui siapakah orang itu, sebab tak lain adalah kakek Go siau bi, orang-orang persilatan menyebutnya sebagai Put lo sianseng. Han Siong Kie berdiri pada jarak lima kaki dihadapan kakek tua itu, ia tak tahu apa yang harus diucapkan dan apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.

"Benarkah yang datang adalah Han siauhiap, ketua dari perguruan Thian lam bun? " tanpa berpaling Put lo sianseng menegur lebih dahulu.

Han Siong Kie mendekati sampai sejarak tiga kaki lalu menjura dengan hormat.

"Benar cianpwe, apakah selama ini locianpwe berada dalam keadaan sehat walafiat" sahutnya.

Perlahan-lahan put lo sianseng memutar badan sekilas sorot mata yang aneh memancar keluar tapi sebentar saja sudah lenyap tak berbekas dengan suara dingin.

"Sebetulnya lohu sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia ini, tapi sayang imanku kurang teguh, karena tergoda oleh peristiwa keduniawian akhirnya kumuncul kembali dalam dunia persilatan, aai.. sungguh tak nyana aku tergoda oleh suatu masalah yang akhirnya membuat diriku tak bisa lagi berpeluk tangan belaka" Berbicara sampai disitu, kembali ia menghela napas panjang.

"Persoalan apakah yang telah membuat locianpwe jadi bingung?" tanya pemuda itu keheranan

"Belenggu cinta dari cucu perempuanku"

Mendengar jawaban tersebut, Han Siong Kie lantas teringat kembali dengan peristiwa lama ketika ia menolak pinangan dari Put losianseng bagi cucu perempuannya.

"Locianpwe, apakah perkataanmu itu kau sengaja tujukan kepada diri boanpwe? " tanyanya tanpa sadar.

Sekali lagi sorot mata aneh terlintas di wajah Put to sianseng, ia menatap sekejap pemuda itu kemudian balik bertanya: "Han sauhiap bersediakah engkau membantu diriku?"

"Persoalan apakah yang dapat boanpwe lakukan bagi locianpwe?" tanya Has Siong Kie setelah tertegun sejenak.

"Sebenarnya lohu sudah mengangkat sumpah tak akan mencampuri urusan keduniawian lagi.. Aaai, tak disangka oleh karena sejilid kitab pusaka Thian tok pit kip. bukan saja putraku Go Yu to menemui ajalnya, perkumpulan Pat Gi pang hancur berantakan dan lenyap dari dunia persilatan, bahkan Go siau bi cucu perempuanku ini ..."

Teringat dara itu, merah padam selembar wajah Han Siong Kie, sebab bagaimanapun juga dia pernah menolak pinangan dara itu

Setelah berhenti sebentar terdengar Put lo sianseng melanjutkan kembali kata-katanya:

"Didalam waktu yang amat singkat, lohu telah berhasil melatih Siau bi sehingga ilmu silatnya mencapai tingkatan yang lihay, tujuanku adalah meminta kepadanya agar balaskan dendam bagi kematian ayahnya serta membangun kembali perkumpulan yang telah buyar.." Berbicara sampai disini, kembali dia berhenti.

Han Siong Kie merasa hatinya sangat tidak tenang, bagainya secara lapat-lapat ia sudah merasa bahwa bantuan yang diharapkan kakek sakti ini mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan Go siau bi.

Sementara itu paras muka Put lo sianseng sudah agak berubah, katanya kembali:

"Aaai. sebetulnya aku malu untuk membicarakan persoalan ini, tapi apa boleh buat? Mau tak mau terpaksa harus mengatakannya juga ...siau bi telah terbelenggu oleh cinta, sekarang ia sudah terjerumus dalam sekali, kegagalan demi kegagalan yang diterimanya selama ini telah membuat ia jadi putus asa, sekarang siau bi telah mengambil keputusan untuk mencukur rambut menjadi nikoh, aai, inilah suatu kejadian yang membuat perasaan hati lohu selalu tak tenang."

"Apa ? Dia mau mencukur rambut menjadi pendeta??" "Benar, dan keputusannya ini tampaknya sudah bulat,

kecuali engkau mungkin didunia ini tak ada orang kedua yang

bisa merintangi niatnya itu lagi"

“Tentang soal ini..tentang soal ini boanpwee benar-benar merasa amat menyesal tak kusangka bakal terjadi peristiwa semacam ini"

"Tak useh kau mengatakan segala sesuatu, itu aku pun tahu bahwa cinta muda-mudi tak bisa kupaksakan aku pun tahu pinangan yang kuajukan tempo hari tidak pada tempatnya tapi oleh karena pertama aku telah mengetahui perassan hati Siau bi dan kedua aku dan kedua aku mendapat permohonan dari Orang yang kehilangan sukma”

Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras ia tak habis mengerti apa sebabnya berulang kali Orang yang kehilangan sukma mencegah hubungannya dengan Tonghong Hui tapi berulang kali berusaha menjodohkan dirinya dengan Go Siau bi? Dia ingin tahu apa yang sebenaraya terdapat dibalik kesemuanya itu?

Sementara pemuda itu masih berpikir sambil berkerut kening Put lo sianseng telah berkata lagi dengan suara dalam:

"Sebab persoalan inilah mau tak mau terpaksa aku ingin mohon bantuan dari sauhiap"

“Katakan saja locianpwe bantuan dalam berupa apakah yang lociaopwe harapkan dariku ?

“Untuk melepaskan belenggu cinta lebih tepat kalau belenggu itu dilepas oleh orang yang terlibat, aku hanya memohon kepada sauhiap agar mencegah Siau bi menjadi pendeta" Han Siong Kie dibikin serba salah, Go Siau bi justru menjadi nekad lantaran ia telah meoolak cinta dara itu, bersediakah gadis itu mendengarkan nasehatnya ?

Bagaimana ia musti berbicara untuk menasehatinya agar membatalkan niat tersebut ?

Satu ingatan tiba tiba melintas dalam benaknya:

Bila aku berbasil membatalkan niatnya untuk menjadi pendeta, kemudian kupusatkan segenap tenaga dan pikiranku untuk membantu dia membangun kembali perkumpulan Pat gi pang-nya yang porak poranda, siapa tahu kalau kubisa tebus semua kesalahanku dimasa lalu ?

Dengan suara tegas diapun menyahut :

"Baiklah locianpwe, boanpwe akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membatalkan niatnya itu !"

"Kalau memang demikian; lohu titipkan tugas berat ini kepadamu”

"Boleh aku tahu pada saat ini nona Siau bi berada dimana

?"

"Dipintu luar kuil Bu cu an di bukit Tay hang san. Benar, dia minta Tay huang sinni untuk menerimanya

sebagai pendeta, tapi lantaran lohu sudah berpesan kepada sini maka ia ditolak untuk memasuki kuil tersebut, walaupun demikian rupanya ia tidak menjadi putus asa, sudah tiga hari tiga malam ia berlutut didepan pintu kuil tersebut "

“Dari mulut boanpwe pernah mendengar tentang kelihayan Tay huang Sinni, katanya watak nikoh itu aneh sekali, enam puluh tahun berselang dengan lencana Hud cu leng dia telah menggetarkan sungai telaga dan memaksa orang persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam tunduk semua kepadanya, sungguh tak nyana dia masih hidup didunia ini?"

"Benar, Tay huang sinni itulah yang kumaksudkan, hingga kini sepuluh li disekitar bukit Tay huang san merupakan daerah terlarang, tak seorang jago persilatanpun yang berani mendekati tempat itu "

"Kalau memang begitu, bukankah kedatangan boanpwe…" "Dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, bukan

suatu persoalan yang terlampau berat untuk menerjang

masuk kedalam kuil"

"Menerjang masuk?" seru pemuda itu tercengang. "Benar, selain menerjang masuk rasanya tiada jalan lain

yang bisa kau tempuh. sebagaimana telah kau ketahui. Tay huang sinni adalah seorang manusia aneh yang tak bisa diajak berbicara. Kendatipun begitu aku minta kau masih ingat untuk berbicara secara baik-baik lebih dahulu sebelum menggunakan kekerasan, bila tidak terpaksa sekali janganlah turun tangan secara gegabah"

"Perasaan ingin tahu lantas menyelimuti hati pemuda ini, ia lantas berpikir:

"Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mencoba sampai dimanakah kelihayan kungfu Tay huang sinni?"

Diapun mengangguk seraya menjawab: "Boanpwe akan menuruti semua pesan cianpwe"

"Bolehkah aku tahu apa tujuanmu sekarang ??" "Boanpwe hendak berkunjung ke benteng maut untuk

membuat perhitungan dengan pemilik benteng maut tersebut" "Membalas dendam? tentang soal ini..."

"Apakah locianpwe ada petunjuk lain?" "Aaah tidak... tidak aku tidak ingin mengatakan sesuatu hal, setelah tiba pada saatnya engkau akan mengetahui sendiri"

Han Siong Kie melongo, ia tak tahu apa yang dimaksudkan put lo sianseng dengan kata-katanya itu?

Sementara dia masih termenung put to sianseng telah melanjutkan kembali kata-katanya:

"Masalah yang kutitipkan padamu itu terlampau serius, rasanya tak boleh dibiarkan berlarut-larut, oleh sebab kuatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah sauhiap bersedia untuk berkunjung dahulu kebukit Tay huang san?"

"Boanpwe turut perintah bagaimana cara nya untuk berangkat menuju bukit Tay huang san?"

"Dari sini berangkatlah ke utara dua ratus li kemudian akan tiba kebukit Tay huang san, diantara bukit yang menjulang diangkasa akan kau temui sebuah bukit gersang yang tidak bertumbuhan, tempat itu mudah ditemukan dan aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki tidak susah untuk mencapai tempat tujuan"

"Kalau begitu boancwe akan berangkat sekarang juga" "Tunggu sebentar"

"Apakah locianpwe masih ada pesan lain"

"Benarkah dua orang manusia berkerudung yang mengikuti dibelakang mu itu adalah Hek pek siang yau sepasang siluman hitam putih yang tersohor itu."

Sungguh kagum Han Siong Kie oleh ketajaman mata Put to sianseng, bukan saja dapat menebak jitu asal usul dari Hek pek siang yau, malahan tanpa melihat tampang wajah merekapun tebakannya ternyata jitu. Maka dia lantas mengangguk tanda membenarkan. "Apakah hubunganmu dengan sepasang siluman itu" kembali Put to sianseng bertanya.

"Mereka berdua sudah termasuk jadi anggota perguruanku" "Aaah maasa iya ? Suatu kejadian yang membingungkan!"

Han Siong Kie tak ingin orang keheranan diapun lantas menceritakan pengalamannya bagaimana menolong sepasang siluman itu dari kurungan lembah kcmatian.

Selesai mendsngarkan kisah tcrsobut, Put io sianseng baru berkata:

“Oooh. kiranya begitu ! Jadi kepergianmu ke bukit Tay huang san nanti juga akan membawa serta sepasaag siluman itu ?”

"Tentu saja, kemana pun boanpwe pergi mereka akan meugikuti diriku!"

“Aka rasa cara ini kurang bagus“ “Kenapa ?”

“Meninjau dari tindak tanduk serta perbuatan mereka dimasa silam, belum tentu sin ni akan menerima mereka secara baik, aku kuatir kehadiran mereka bsrdua justru ..”

“Boanpwe toh bisa memerintahkan kepada mereka berdua agar menanti di kaki bukit Tay huang san!”

"Kalau memang begitu. ini lebih bagus lagi!" puji Put-lo sianseng dengan lantang.

“Bila cianpwe tak ada pesan lain boan-pwe akan segera mohon diri”

"Baik, pergilah dan semoga apa yang kuharapkao dapat tercapai dengan memuaskan”

"Tak usah kuatir, boanpwe akan berusaha dengan segenap kemampuan. yang kumiliki' “Ingat pesanku gunaksn tata kesopanan sebelum memulai kekerasan, bi1amana tidak terpaksa tak usahlah main kekerasan”

“Boanpwe akan mengingatnya selalu”

Setelah memberi hormat diapun kembali ke tempat semula disana sepassng siluman masih menunggu.

Demi pesan Put lo sianseng terpaksa dia harus mengesampingkan lebih dahulu tugasnya membalas dendam ia merasa tak ada salahnya berbuat demikian sebab dengan begitu diapun bisa menebus dosa-dosanya kepada Go Siau bi.

“Ciangbunjin berhasilkah engkau menemukan sesuatu?” cepat siluman hitam maju menyongsong seraya bertanya.

“Ehmm! Seoraog bulim cianpwe telah minta bantuanku untuk menyelesaikan suatu persoalan!”

“Menyelesaikan suatu psrsoalan?”

"Benar, dan sekarang juga kita akan berangkat menuju ke kuil Bu cu an dibukit Tay huang san"

"Pergi ke bukit Tay huang san?" seru siluman putih dengan wajah terkesiap.

"Benar, bukit Tay huang tempat tinggal dari Tay huang sini"

"Apakah ciangbunjin hendak bermusuhan dengan pendeta perempuan itu?"

"Tidak, aku kesana untuk menyelesaikan sedikit persoalan.

Tahukah kamu berdua persoalan apa yang hendak kuselesaikan "

"Tentang soal ini tecu tak berani bertanya.." "Kalau begitu hayo kita segera berangkat" Begitulah tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera berangkat menuju utara.

Hek pek siang yau terhitung pula sebagai jago yang tersohor pada puluhan tahun berselang, tentu saja Tay huang sinni yang pernah malang melintang dalam sungai telaga dengan Hud cu lengnya tidak terlampau asing bagi mereka.

Sekarang setelah mengetahui bahwa tujuan mereka adalah ke bukit Tay huang san, sedikit berdebar juga hati mereka berdua.

Namun baik siluman hitam maupun siluman putih tak berani banyak bertanya, sebab bagaimanapun juga mereka harus mengikuti kemana perginya majikan mereka.

Untunglah ketiga orang itu adalah jago-jago silat berilmu tinggi, sekalipun tiada jalan yang terbentang namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menembusinya .

Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki daerah pegunungan yang terjal dan sepi.

sesudah melewati berpuluh-puluh buah bukit yang terjal, akhirnya diantara deretan bukit itu muncullah sebuah bukit gundul yang gersang.

Kecuali beberapa titik warna hijau menghiasi bukit tersebut, hampir boleh dibilang yang tampak hanya batu-batu cadas yang hitam dan tajam.

Han Siong Kie segera menghentikan langkah kakinya, sambil menunjuk ke arah bukit gundul nanjauh didepan sana katanya:

"Aku pikir bukit itulah yang dinamakan bukit Tay huang san?"

"Jadi ciangbunjin belum pernah berkunjung kemari?" tanya siluman hitam keheranan- "Belum pernah, baru untuk pertama kali ini aku berkunjung kemari"

"Dahulu tecu pernah melewati tempat ini, tak salah lagi inilah bukit Tay huang san"

"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu apa maksud ciangbunjin datang kemari?" tanya siluman putih agak takut-takut.

"Mencari seseorang"

"Mencari orang? Ketahuilah ciangbunjin, dua li dari kaki bukit itu merupakan daerah terlarang, setiap umat persilatan tak berani melewati wilayah tersebut dengan sembarangan"

Han Siong Kie bukan orang bodoh, tentu saja ia mengetahui perasaan hati dari sepasang siluman itu, sambil tertawa dingin katanya: "Jadi kalian merasa takut??"

"Ciangbunjin jangan berkata begitu" seru siluman hitam dengan hati gelisah, "Setelah tecu memberikan kesanggupan untuk turut serta ciangbunjin untuk selamanya, jangan toh hanya berkunjung ke bukit Tay huang san, kendatipun harus naik kebukit golok atau terjun ke lautan api tak nanti kami akan menolaknya"

Han Siong Kie menengadah dan memandang sekejap bukit gundul diseberang sana, kemudian katanya lagi.

"Kalian berdua tak usah ikut aku naik ke bukit itu, nantikan saja kedatanganku disini"

"Tidak Tecu tidak mau meninggalkan ciangbunjin seorang diri" serentak kedua orang siluman itu berseru.

"Aku hendak pergi menyelesaikan suatu persoalan, kalian tak usah ikut saja. berdiamlah disini "

"Tecu berdua mana tenang membiarkan ciangbunjin pergi menempuh mara bahaya seorang diri?" "Siapa bilang aku pergi menempuh bahaya ? Ketahuilah urusanku ini tidak menyangkut soal dendam sakit hatipun tidak mengenai soal pembalasan budi."

"Tapi .. Ciangbungjin pasti tahu Tay Huang sini adalah seorang manusia yang berwatak aneh, siapa berani melanggar pantangannya maka bisa mengakibatkan "

"Kalian berdua tak perlu kuatir, aku bisa menjaga diri dan akupun tahu bagaimana caranya untuk menghadapi keadaan seperti itu"

Dengan wajah bersungguh-sungguh siluman hitam berkata lagi:

"Bagaimana kalau tecu berdua mengikuti jejak ciangbunjin dari tempat kejauhan? jadi apabila sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tecu berdua bisa segera memberi bantuan ?"

"Tidak Tidak perlu" sahut pemuda itu tegas.

Tapi. tapi bagaimanapan juga, kami merasa tak tenang."

"Kalian berdua tetap berjaga-jaga disini, bagaimanapun juga yang terjadi disini, kalian tak boleh bergerak secara sembarangan, perkataanku ini adalah perintah, aku minta kalian berdua jangan mencoba untuk melanggar perintahku ini"

Buru-buru Hek pek siang yau membungkukkan badannya memberi hormat, mereka tak banyak banyak bicara lagi.

Menyaksikan sikap kedua orang itu, Han Siong Kie malahan merasa tidak tega sendiri, kembali bisiknya dengan lembut:

"Kalian berdua tidak usah kuatir, tenangkan saja hati kalian berdua, tidak akan terjadi hal yang diluar dugaan atas diriku ini"

Seraya berkata dia lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan bergerak menuju kepuncak bukit yang gundul itu Diluaran Han Siong Kie memang tampak sangat tenang, padahal dalam hatinya ia menggerutu terus, bagaimanapun juga dia telah memasuki daerah terlarang dari seorang jago silat yang disegani umat manusia, selain itu diapun tak tahu apakah pesan dari put lo sianseng dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, ia tak tahu apakah Go siau bi bersedia untuk mendengarkan nasehatnya atau tidak.

Menurut keterangan dari put to sianseng sudah tiga hari tiga malam Go siau bi berlutut didepan pintu kuil, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tekadnya sudah bulat .

"Apa yang harus diucapkan setelah berjumpa dengan gadis itu nanti?"

Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, setiap kali teringat akan persoalan ini hatinya langsung merasa tak tenang.

Belum jauh ia mendaki bukit yang gundul itu, kira-kira baru sepuluh kaki dari wilayah perbatasan daerah terlarang, mendadak perjalanannya telah dihadang oleh seorang nikoh, pendeta perempuan itu duduk bersila diatas sebuah batu cadas, matanya terpejam dan tubuhnya kaku seperti arca, tampaklah betapa berwibawanya nikoh tersebut.

Cepat Han Siong Kie menghentikan gerak tubuhnya, setelah tertegun sejenak diapun berpikir:

"Mungkinkah nikoh tua itu adalah Tay huang sinni yang tersohor dimana-mana itu?" sambil merangkap tangannya memberi hormat pemuda itu menyapa: "Mohon tanya apakah sinni adalah Tay huang sini?"

"Dia adalah guruku " sahut nikoh tua itu singkat.

Sekalipun hanya beberapa patah kata saja, namun tiap patah kata diucapkan dengan sangat nyaring dan tajam, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki nikoh ini sudah mencapai puncak kesempurnaan yang mengagumkan.

-000d0w000-

BAB 65

"BOLEH aku tahu, siapa nama gelar dari suthay ?" kembali si anak muda itu bertanya.

"Kami adalah orang yang beragama, tidak menjadi kebiasaan bagi kami untuk saling menyebutkan nama dengan orang awam "

Ucapan tersebut dingin kaku dan singkat, malahan nikoh itu sama sekali tidak membuka matanya barang sekejappun.

Diam-diam Han Siong Kie merasa naik pitam, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan hawa amarahnya itu, sebab berulang kali Put to sianseng telah berpesan kepadanya agar jangan memakai kekerasan, sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi tujuan kedatangannya toh hanya berusaha menasehati Go siau bi agar membatalkan niatnya untuk menjadi pendeta."

Maka setelah berpikir beberapa saat, dia pun berkata: "Adapun kedatanganku kemari adalah untuk mohon

berjumpa dengan Tay huang sinni”

"Sudah enam puluh tahun guruku tidak bertemu dengan siapa pun lebih baik batalkan saja niatmu itu"

Dalam hati Han Siong Kie mendengus dingin pikirnya: “Omong kosong! Siapa bilang gurumu sudah enam puluh

tahun tidak bertemu dengan orang, Toh Put lo sianseng belum

lama berselang telah berjumpa dengan Tay huang sinni malahan berpesan padanya agar menolak keinginan cucu perempuannya untuk menjadi nikoh.. kurang ajar betul mikoh ini, dia berani membohongi aku .”

Setelah berpikir sebentar kembali ia berkata:

"Akn datang kemari karena mendapat pesan dari seseorang aku hendak mencari seseorang di dalam kuil ini”

"Tempat ini adalah daerah terlarang siapa pun dilarang untuk memasuki daerah di sekitar sini" jawaban dari nikoh tua itu masih tetap ketus dan dingin.

"Tapi aku datang toh cuma untuk mencari seseorang” "Sicu tak usah banyak bicara lebih baik segera tinggalkan

tempat ini”

"Suthay engkau toh seorang pendeta, seorang penganut agama mengapa sikapmu begitu tidak bersahabat? Tujuanku kemari toh hendak mencari orang kenapa tidak kau kabulkan permintsan kami ini”

"Sicu tak usah banyak bicara segera tinggalkan tempat ini”

Sikap yang ketus dsn tak sedap itu lama kelamaan membangkitkan kembali hawa amarah di hati Han Siong Kie serunya:

"Aku datang kemari karena msndapat pesan dari seseorang untuk mencari seorang sahabat sebelum orang yang kucari berhasil kutemukan tak nanti akan kutinggalkan tempat ini"

“Bila sicu adalah orang yang cerdik lebih baik tinggalkan tempat ini secepat-cepatnya”

"Kalau aku membangkang apa yang hendak kaulakukan?”

Nikoh tua itu berkerut kening lalu mendengus dingin. "Hmm! Selama hidup baru pertama kali ini pinni bertemu

dengan seorang manasia tekebur yang berani mencari gara- gara dibukit Tay huang san" Keangkuhan dan keketusan Han Siong Kie segera terpancing keluar oleh suasana yang serba tak enak itu, dia balas mendengus.

"Hmm.. Aku sudah memohon dengan segala kehalusan serta mengikuti tata kesopanan aku minta suthay jangan bersikeras untuk menampik keinginanku ini, ketahuilah setelah aku berhasil berjumpa dengan orang yang kucari maka akupun akan segera tinggalkan tempat ini"

"Tidak bisa Lebih baik sicu segera tinggalkan tempat ini." "Kalau suthay bersikeras untuk menampik terus kehendak

hatiku, terpaksa aku akan berbuat kurang sopan. "Apa yang hendak sicu lakukan ?"

"Apa lagi? Tentu saja naik gunung mencari orang"

"Sicu, tak usahlah bersikeras untuk mencari keonaran, apakah engkau baru bersedia untuk turun dari bukit ini setelah diusir oleh pinni dengan menggunakan kekerasan ?"

"Bagiku hanya tahu maju terus pantang mundur, tak dikenal arti mengundurkan diri sebelum apa yang kuharapkan tercapai."

"Jadi kau ingin main kekerasan? Silahkan saja untuk mencoba. "

"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan"

Begitu selesai berkata, Han Siong Kie segera menjejakkan kakinya ke tanah dan melesat kedepan.

Nikoh tua itu menggulung keluar dan menghantam tubuh sianak muda itu keras dan berat sekali tenaga pukulan yang dilontarkan oleh pendeta perempuan itu. Han Siong Kie tak mampu untuk meneruskan langkahnya, ia dipaksa untuk melayang kembali ketempat semula, dalam hati pemuda itu lantas berpikir:

"Muridnya saja sudah begitu lihay, apa lagi gurunya?

Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki Tay huang sinni telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa"

Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba- tiba nikoh tua itu membentak lagi:

“Eayah kau dari sini.”

Ketika ujung bajunya dikebutkan kembali kedepan segulung hawa pukulan yang sangat keras seperti hembusan angin puyuh langsung menghantam kedepan dan menghajar ketubub pemuda kita.

Marah sekali Han Siong Kie menghadapi kejadian ini hawa sakti Si mi sinkang yang dimilikinya disalurkan mangelilingi badan dia sambut datangnya ancaman tersebut keras lawan keras.

"Blaaang!" suatu benturan keras menimbulkan ledakan yang memekikkan telinga.

Sekokoh batu karang tubuh Han Siong Kie sama sekali tidak gemilang barang sedikit pun jua dari tempatnya semula lain hal-nya dengan nikoh tua yang bersila diatas batu oleh tenaga pantulan yang membalik hampir saja dia dibuat terjengkang kebelakang.

Nikoh tua itu menjerit kaget dan segera melompat bangun setajam sembilu sinar mata yang memancar keluar ia menatap pemuda lawannya tak berkedip rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya yang mulai berkeriput itu, mimpipun ia tak mengira kalau seorang pemuda macam Han Siong Kie ternyata memiliki tenaga dalam sedahsyat itu.

“Sutbay, aku minta sudilah kiranya menyingkir dan menberi jalan lewat bagiku” kata Han Siong Kie dengan nada dingin. “Kalau pinni tidak mengijinkan ?”

“Kalau memang begitu terpaksa aku akan naik keatas gunung dengan jalan kekerasan”

“Engkau berani berbuat begitu ?”

“Kenapa tidak berani ?” sambil mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya selangkah demi selangkah ia maju kedepan menghampiri nikoh tua itu.

Sungguh marah orang tua itu menyaksikan kenekadan sang pemuda, sepasang ujung bajunya dikebutkan berulang kali kedepan gulungan angin puyuh dengan dahsyatnya segera menggulung kedepan dan menghajar tubuh lawannya dengan dahsyat.

Untuk kedua kalinya jalan maju dari Han Siong Kie tersumbat oleh angin pukulan itu.

“Suthay, engkau bersikeras untuk melarang aku menaiki bukit Tay huang san ini?”

“Bukan begitu saja, aku-pun akan menuntut kepadamu atas sikap kasar serta niatmu mencari gara-gara di bukit ini !”

Sekarang Han Siong Kie tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan dua buah pukulan berantai yang maha dahsyat, dalam seraogannya kali ini dia telah sertakan tenaga sakti si mi sinkang sebesar enam bagian.

Nikoh tua itu mendengus gusar, diapun mengayunkan telapak tangannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaam Blaaam" dua kali benturan keras seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong menggelegar di angkasa. Nikoh tua itu bergetar keras dan akhirnya tak mampu mempertahankan diri ia terdesak mundur dari atas batu cadas tersebut. Menggunakan kesempatan dikala nikoh itu terpental turun dari batu Han Siong Kie segera melejit keudara dan melayang sepuluh kaki jauhnya dari tempat semula kemudian sekali menutul permukaan tanah pemuda itu melayang kembali sejauh sepuluh kaki.

"Kawanan tikus kau akan pergi ke mana?"

Mendadak seorang nikoh tua lain muncul dihadapan mukanya dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, sementara nikoh tua yang berada dibelakang tadi kini entah telah pergi kemana ?

Dengan tatapan tajam Han Siong Kie mengamati tampang nikoh tua yang menghalang jalan perginya ini, ia lihat alis matanya sudah memutih semua, sekalipun jauh lebih muda daripada nikoh tua yang duduk di arca batu tadi, namun usianya sudah berada diantara enam puluh sampai tujuh puluh tahunan.

"Sicu, hebat sekali ilmu silat yang kau miliki" tegur nikoh beralis putih itu dengan wajah sedingin es.

"Terima kasih atas pujian dari suthay Aku tidak memiliki kepandaian apa-apa dan rasanya tak perlu kau kagumi"

"Sicu, sadarkah engkau apa akibatnya jika engkau bersikeras untuk melakukan pengacauan diatas bukit Tay huang san ini ?"

"Apa akibatnya?" tanya pemuda itu.

"Mati. Mati dalam keadaan mengenaskan" Kontan saja Han Siong Kie mengerutkan dahinya.

"Suthay, janganlah kau anggap ancaman itu akan membuat aku jeri ataupun ketakutan. Ketahuilah kedatanganku kemari adalah atas permintian dari seseorang, dan aku datang kemari melalui tata cara dan sopan santun pada umumnya, janganlah kalian mulai dahulu dengan permainan kekerasan" "Tidakkah sicu tahu bahwa bukit Tay Huang san adalah suatu daerah terlarang? Suatu wilayah yang tak boleh dilalui oleh setiap manusia asing kecuali penghuni kuil?"

"Maaf suthay, sebelum apa yang kucita- citakan tercapai, aku tidak mengenal apa artinya takut atau mengundurkan diri ditengah jalan"

"Kalau begitu, silahkan saja untuk coba menerjang masuk dengan kekerasan .. " tantang nikoh itu.

"Kalau terpaksa musti menggunakan kekerasan, maaf kalau aku akan bertindak lancang

-ooo0dw0ooo-