Tengkorak Maut Jilid 30

 
Jilid 30

AKHIRNYA sesudah ragu2 sebentar Han siong Ki  melangkah maju kedepan mendekati dua orang mahluk aneh itu sepasang telapak tangannya disilangkan kedepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan ia kuatir dua orang mahluk aneh itu tiba tiba menyergap ketubuhnya.

Ketika ia sudah berada kurang lebih tiga kaki dihadapan mahluk aneh itu mendadak Han Siong Ki merasakan munculnya selapis tenaga tekanan yang amat kuat menghadang jalan majunya.

Sekarang sianak muda itu baru terperanjat dari kenyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua orang mahluk aneh itu memiliki hawa khikang pelindung badan yang bisa memaksa orang lain tak mampu mendekati tubuh mereka pada jarak tiga kaki dari sini dapat diketahui pula bahwa tenaga dalam yang dimiliki makhluk aneh itu sudah mencapai puncak yang tidak terhingga.

Dua orang makhluk aneh itu tetap duduk kaku ditempat semula, mereka tidak membuka matanya pun tidak berkutik barang sedikitpunjuga, padahal semestinya mereka tahu bahwa ada orang yang mendekati tempat tinggal mereka, terbukti hawa khikangnya telah dipancarkan melindungi wilayah seluas tiga kaki disekeliting tubuh mereka.

Agak penasaran Han siong Kie ketika tak mampu menerjang maju kedepan dan menghimpun tenaga dalamnya dan secara paksa menerjang masuk kedalam lingkaran hawa khikang lawan.

Tiba2 dua orang makhluk aneh itu bersamaan waktunya menurunkan telapak tangan mereka kemudian membuka matanya:

Empat buah sinar mata yang setajam sembilu serentak ditujukan keatas wajah Han siong Kie.

Pada saat ini tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu sudah mencapai dua ratus tahun hasil latihan, walaupun begitu ketika ditatap secara tajam oleh musuhnya tak urung bergidik juga hatinya, cepat ia hentikan langkah kakinya membalas memandang lawannya dengan sinar mata yang tak kalah tajamnya.

Per lahan2 dua orang manusia aneh itu bangkit berdiri dari atas tanah. sekarang Han siong Kie baru dapat melihat jelas bahwa kedua orang makhluk aneh itu adalah seorang pria dan seorang wanita, yang laki2 berkulit hitam berambut hitam dan berjubah hitam, keadaannya tak berbeda dengan balok kayu yang hangus bekas terbakar sedangkan yang perempuan berambut putih berkulit putih dan berbaju putih, putih seperti batang kayu yang dilapis saiju.

Begitu jelek dan menyeramkan bentuk serta potongan tubuh mereks membikin hati orang jadi tercekat dan seram.

Han Siong kie boleh dibilang berilmu tinggi dan bernyali besar namun berada dalam keadaan begini berdiri juga bulu kuduknya.

Mungkinkah makhluk hitam dan putih ini adalah pemilik Lembah Kematian . . ?

Ingatan tersebut melintas didalam benaknya, sementara itu sepasang makhluk aneh itu sudah berdiri dan saling mengangguk, tiba2 mereka maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan Han Siong Kie seraya berkata: "Hek pek siang yu menghunjuk hormat kepada majikan"

Kejut dan heran menyelimuti seluruh benak Han Siong Kie secara beruntun dia mundur lima langkah kebelakang, untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata2 karena tercengangnya.

Sepasang makhluk aneh yang mengaku Hek pek siang yu, sepasang siluman hitam putih ini ternyata menyembah dihadapannya sambil menyebut majikan kepadanya, kejadian ini benar2 suatu kejadian yang sangat aneh.

"Hek pek siang yu menghunjuk hormat buat majikan" untuk kedua kalinya sepasang makhluk aneh itu memberi hormat.

Kali ini Han siong Kie mendengar perkataan itu dengan lebih jelas lagi, sekarang ia baru tahu bahwa dua orang makhluk aneh itu ternyata tak lain adalah Hek pek siang yu yang sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari permukaan bumi.

Meskipun masa berkelana Hek pek siang yu dalam dunia persilatan amat singkat, namun pembantaian maut yang mereka lakukan tak terbilang banyaknya.

Bagi pandangan umat persilatan, kedua orang ini adalah iblis pembunuhan manusia yang tak berkedip. banyak orang segan dan takut kepadanya.

Dengan perasaan heran dan tidak habis mengerti, Han siong Kie berseru dengan gelagapan: "Majikan-.? Aku.."

"Betul majikan, engkaulah majikan kami"jawab siluman putih dengan hormat.

sekali lagi Han siong Kie mundur selangkah lebar kebelakang, dia benar2 kebingungan:

"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin masa aku adalah majikan kalian??"

"Kami telah bersumpah barang siapa bisa melewati perbatasan mati dan hidup dalam keadaan selamat dan orang pertama yang bisa menginjakkan kakinya di wilayah lembah Kematian, maka dialah majikan dari kami kakak adik seperguruan berdua "

"oooh.jadi kalian adaiah suheng moay ??" "Benar "

"Mengapa kalian hendak menganggap orang pertama yang memasuki wilayah ini sebagai majikan?" tanya sianak muda itu lagi.

"sebab hanya orang yang berkepandaian tinggilah yang bisa tiba ditempat ini dalam keadaan selamat, pun juga dia seoranglah yang bisa menolong kami berdua lolos dari tempat ini, selama lima puluh tahun berselang majikan adalah orang pertama yang bisa tiba dilembah kematian ini dalam keadaan selamat."

"Jadi kalian bukan penghuni tempat ini, melainkan adalah tawanan yang disekap di sini?".

"Benar" sepasang makhluk aneh itu mengangguk tanda membenarkan.

"Dan kalian telah disekap selama lima puluh tahun lamanya."

"Benar" untuk kesekian kalinya dua orang itu mengangguk. "siapa yang menyekap kalian ditempat ini?"

"Pemilik benteng maut"

"Apa?" " seru Han siong Kie dengan perasaan terperanjat "jadi kalian disekap pemilik benteng maut dalam Lembah Kematian ini"

"Begitulah kejadiannya"

"silahkan kalian berdua bangkit berdiri kemudian baru kita lanjutkan pembicaraan ini"

"Kalau begitu majikan telah mengabulkan permintaan dari kami suheng moay berdua ?" tanya siluman putih sambil mengernyitkan sepasang alis matanya. Han siong Kie termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Tentang soal ini..."

"Ketahuilah majikan, bahwa kami berdua sudah menunggu selama lima puluh tahun, atas tibanya kejadian besar ini" sambung si hitam dengan cepat.

Andai kata tingkah laku Hek pek siang yu di masa talu tidak buas dan keji, niscaya sedari tadi Han siong Kie sudah mengambil keputusan, tapi justru karena dua orang itu adalah gembong iblis yang berbahaya, maka mau tak mau dia musti mempertimbangkan dulu permintaan mereka sebelum akhirnya mengambil keputusan. Maka sesudah termenung sebentar ia baIik bertanya:

"Jadi tujuan kalian adalah mengharapkan agar aku bersedia membawa kalian keluar dari lembah ini ?"

"Begitulah kira2 maksud kami"

"Apakah kalian yakin kalau aku dapat membawa kalian berdua keluar dari lembah ini ?"

"Tentang soal ini.." sepasang manusia aneh itu agak termangu sebentar, tapi kemudian serunya "Perduli bagaimanapun juga, inilah sumpah dari kami berdua pada lima puluh tahun berselang. kami telah bersumpah untuk menganggap orang pertama yang masuk kelembah ini sebagai majikan kami, selama hidup kami akan menuruti perintahnya, tentang soal mau keluar dari lembah kematian atau tidak. kesemuanya ini terserah pada kebijaksanaan majikan sendiri"

"Betul sumpah kalian adalah begitu? " Han siong Kie menegaskan lebih jauh.

"Betul "

"Dan sumpah kalian itu selamanya takkan dilanggar??" "Selamanya kami takkan melanggar "

"Baik, aku mengabulkan permintaan kalian" "Bolehkah kami mengetahui siapa nama majikan ?"

"Aku adalah manusia bermuka dingin Han siong Kie, ciangbunjin yang akan memerintah di istana Huan mo kiong "

Dengan penuh rasa hormat sepasang siluman hitam putih menyembah majikannya, kemudian bangkit berdiri

Pelbagai keheranan dan pertanyaan berkecamuk dalam benak anak muda itu, namun dia tak tahu persoalan itu musti ditanyakan mulai dari bagian yang mana. Menurut pengakuan sepasang siluman hitam putih, mereka telah disekap oleh pemilik benteng maut didalam lembah kematian ini pada lima puluh tahun berselang, sedangkan menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan baru tiga puluh tahun berselang Temgkorak maut munculkan diri didunia.

Bila ia tinjau dari usia Tonghong Hui yakni putrinya, kira2 Tengkorak maut telah berusia enam puluh tahunan lebih atau tujuh puluh tahun sekarang, mungkinkah pada lima puluh tahun berselang ia sudah memiliki kemampuan untuk menaklukkan sepasang siluman hitam dan putih yang tersohor karena kelihayannya?

Berpikir sampai disini, dengan wajah serius dia lantas bertanya kepada kedua orang itu:

"Benarkah kamu berdua disekap selama lima puluh tahun ditempat ini.?"

"Betul majikan"jawab siluman putih dengan Cepat. "Dan kamu disekap oleh Pemilik benteng maut?" "Benar!"

"Benarkah pemilik benteng maut bergelar juga Tengkorak maut?"

Mendengar pertanyaan itu sepasang makhluk aneh tersebut tampak tertegun dan keheranan:

Lama sekali siluman putih baru menjawab: "Tengkorak maut? belum pernah kami dengar dengan

sebutan nama seperti itu"

"Lalu apakah sebutan lain dari pemilik benteng maut yang menyekap kalian disini?" seru Han siong Kie dengan sepasang alis matanya berkernyit. "Kami berdua cuma tahu dia bernama pemilik benteng maut, yang lain sama sekali tidak tahu"

"Yaaa hal ini memang tak bisa salahkan kalian memang sudah terlalu lama kami berdua disekap ditempat ini, jadi setelah keluar dari lembah ini kalian bersiap sedia untuk mencari balas dengan pemilik benteng maut?"

Dengan ketakutan sepasang siluman hitam putih mundur selangkah kebelakang sahutnya: "Tidak. .kami tidak berani berbuat demikian "

"Tidak berani ? Kenapa tidak berani ?" tanya si anak muda itu dengan perasaan tercengang.

Dengan menundukkan kepalanya siluman hitam menjawab: "Berkat petunjuk dan bimbingan dari beliau, kami berdua

dapat melepaskan diri dari dosa yang amat berat, budi ini belum kami balas, mana berani kami menuntut balas kepadanya?"

"Bukankah kalian berdua yang mengatakan sendiri, bahwa kalian telah disekap disini oleh pemilik benteng maut??"

"Benar, tapi perbuatannya ini boleh dibilang sebagai maksud baik dari dia orang tua"

"Maksud baik ? Apa maksud perkataanmu itu ?"

"Dia orang tua suruh kami berdiam dan hidup dilembah ini sambil menyesali perbuatan yang telah kami lakukan selama ini, malahan mewariskan pula ilmu silatnya kepada kami" Berubah hebat air muka Han siong Kie sehabis mendengar keterangan itu, serunya:

”jadi kalau begitu kalian adalah anak murid dari benteng maut ?”

”Ooob . . bukan . . bukan" cepat2 kedua orang siluman itu gelengkan kepalanya berulang kali kami bukan anak muridnya, kami tak pernah mengangkat beliau sebagai! guru kami ”

”Bukan ?"

”Bukan sebab ilmu silat yang diajarkan kepada kami adalah beberapa macam llmu silat yang sudah lama lenyap dari peredadaran dunia persilatan dan kepandaian silat tersebut sama sekali bukan ilmu silat aliran benteng maut ”

Han Siong Kie tercenung beberapa saat lamanya, kemudian dengan wajah serius dan suara berat katanya :

”Terus terang kukatakan kepada kalian bahwa aku sebenarnya mempunyai ikatan dendam sedalam samudera dengan pemilik benteng maut itu”

”Aaah! Tidak mungkin hal ini tak mungkin bisa terjadi” sahut sepasang siluman itu sambil berseru kaget.

Terperanjat hati Han Siong Kie setelah mendengar seruan itu katanya dengan cepat

”Kenapa tidak mungkin?”

"Tahun inii beliau sudah berusia seratus tahun lebih bahkan sudah lima puluh tahun lamarya mengundurkan diri dari keramaian dunia sebaliknya majikan paling banter baru berusia dua puluh tahunan darimana dendam2 sakit hati ini bisa terikat :

"Sudah lima puluh tahun lamanya pemilik benteng maut mengasingkan diri?" Han siong Kie menegaskan.

"Benar!”

"Darimana engkau bisa tahu ?”

"Sebab beliau sendiripun berdiam didalam lembah ini!”

Secara beruntun Han Siong Kie mundur tiga langkah kebelakaog dengan hati terkesiap dan perasaan heran serunya. „Apa? jadi pemilik benteng maut juga berrada didalam lembah kematian ini?“

„Benar“ sepasang siluman hitam putih membenarkan '"boleh dibilang beliau adalah pemilik dari lembah kematian „

"Terima kasih atas kemurahan hati majikan "

Han siong Kie mendengus dingin ujarnya kemudian: "Apakah aku boleh tahu apa maksud dan tujuan yang

sebenarnya dari kamu berdua ketika hendak mengangkat sumpah aneh itu dimasa lalu ?"

siluman putih menghela napas panjang setelah termenung sebentar sahutnya dengan wajah serius:

"Panjang sekali kisahnya untuk diceritakan bagaimana kalau majikan berkunjung dulu ke rumah kediaman hamba berdua, disitu barulah kami bercerita panjang lebar ?"

Han siong Kie berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk:

Dengan sikap yang sangat hormat Siluman putih mengiakan, bergeraklah perempuan aneh itu menuju kearah tebing curam dibelakang gundukan tanah itu. sementara siluman hitam mengiringi di belakang anak muda itu.

selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didalam sebuah goa yang lebar dan cukup luas, siluman putih segera bergeser kesamping dan mempersilahkan majikannya untuk masuk lebih dulu katanya:

"Majikan, pemilik benteng maut juga berdiam didalam gua batu ini" sambil menuding kearah batu karang disebelah kiri lanjutnya:

"Itulah dia tempat mengasingkan diri dibalik tebing karang itu, sudah lima puluh tahun lamanya tak pernah munculkan diri"

0000dw0000 BAB 62

MENGIKUTI arah yang ditunjukkan Han siong Kie menengadah keatas, ia lihat tebing karang itu sangat tinggi dan tertutup kabut yang tebal maka sambil mengangguk diapun masuk kedalam goa.

Ruangan didalam gua itu sangat lebar dan kering, diantaranya terbagi pula menjadi tiga buah goa yang agak kecil.

sesudah duduk diatas sebuah pembaringan batu dalam gua itu, sepasang siluman putih dan hitam menghidangkan buah2an dan sayur-sayuran kemudian sambil mengambil semangkok air bersih katanya dengan wajah bersungguh2:

"Disini tiada makanan lain silahkan majikan makan seadanya untuk mengisi perut"

Kebetulan Han siong Kie juga merasa lapar, maka tanpa sungkan2 ia menyikat makanan yang dihidangkan untuk menangsal perut.

selesai bersantap. dia memerintahkan ke dua orang siluman itu untuk duduk lalu katanya:

"sekarang aku ingin mendengar kisah cerita kamu berdua dari awal sampai akhirnya terkurung dilembah ini"

Sepasang siluman hitam putih itu tidak langsung menjawab, mereka saling berpandangan sekejap. kemudian siluman hitam baru berkata dengan lembut:

"sumoay, biar akulah yang akan melaporkan kisah kejadian ini kepada majikan, tentunya engkau tidak keberatan bukan?" siluman putih mengangguk. "Baik, suheng sajalah yang bercerita"

Perlahan-lahan siluman hitam menghadap ke arah Han siong Kie, lalu ujarnya: "Majikan silahkan engkau mendengarkan sebuah kisah cerita yang akan kukisahkan berikut ini"

Agak bergolak perasaan hati Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu,pada puluhan tahun berselang sepasang siluman putih hitam telah malang melintang dalam dunia persilatan, setiap orang jeri dan ketakutan bila bertema dengan mereka, dalam waktu singkat banyak pembunuhan masal telah dilakukan oleh mereka, dia menduga kisah cerita ini pastilah mengerikan.

Maka seraya mengangguk sahutnya: ”Berceritalah”

Suatu perasaan sedih dan gusar memancar keluar dari balik mata siluman hitam, kulit wajahnya yang hitam seperti habgus berkerut kencang, ini menunjukkan bahwa hati nya diliputi emosi.

Lama sekali pergolakan hatinya itu baru bisa diatasi, katanya dengan suara rendah :

”Kurang lebih enam puluh tahun berselang dalam dunia persilatan telah muncul sebuah perguruan baru yang dinamakan perguruan Thian it bun, ketuanya adalah Kiu thiau it sian (elang sakti dari langit sembilan ) Ki Goan thong. Ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat tinggi dan pengaruhnya amat luas. begitu luar biasanya kemampuan yang dimiliki orang ini membuat para ketua perguruan yang ada pada waktu itu sama2 kagum dan iri kepadanya. Ki Goan thong belum menikah tapi dia menerima sepasang laki perempueu sebagai muridnya, menurut maksud hatinya semata”

Berbicara sampai disini, mendadak siluman hitam berhenti sebentar dan melirik sekejap kearah siluman putih

Melihat lirikan itu siluman putih segera tundukkan kepalanya rendah2 Selang sesaat kemudian, siluman hitam meneruskan kembeli kata2 nya :

”Pada mulanya Ki Goan thong bermaksud untuk menikahkan kedua orang ahli warisnya ini menjadi suami istri, kemudian baru menerima warisan seluruh ilmu silatnya”

Han siong Kie mengangguk tiada henti2nya secara lapat2 dia telah dapat menduga siapakah sepasang laki perempuan yang sedang diceritakan itu.

Sesudah berhenti sebentar, siluman hitam meneruskan kembali kisahnya.

”Pada waktu itu sepasang laki perempuan itu baru berusia enam tujuh belas tahunan tetapi ilmu silat yang mereka miliki telah mencapai pada puncak kesempurnaan tentu saja dalam hati kecilnya merasa sangat setuju dengan rencana dari gurunya itu, suatu hari ketika ketiga orang itu sedang melakukan perjalanan diatas gunung chin nia, secara kebetulan telah mendapatkan sepasang Bak ci "

"Bak ci?" seru Han siong Kie tak tahan, ia heran dan tidak mengerti dengan benda yang disebutkan itu.

"Benar Bak ci adalah sejenis tumbuhan yang sangat langka sekali, bukan saja tak ternilai harganya bahwa siapapun yang memakannya bisa awet muda dan berbadan sehat. Betapa gembira mereka bertiga setelah mendapatkan Bak ci yang sangat berharga itu, kebetulan waktu itu kami memang sedang menuju kebukit Chin nia untuk mencari beberapa macam bahan obat2an sebagai kekuatan dalam latihan.

Karena penemuannya ini maka kamipun lantas meninggalkan tujuan semula dengan membawa sepasang Bak ci tersebut buru2 kami berangkat pulang ke gunung."

Berbicara sampai disitu, kembali siluman hitam menghentikan ceriitanya, hawa napsu membunuh yang sangat tebal tiba-tiba memancar keluar dari balik matanya dan menyelimuti wajahnya yang hitam pekat, lanjutnya lebih jauh: "Entah bagaimana kemudian, ternyata kabar berita tersebut telah tersiar luas keseluruh dunia persilatan, ketika kami bertiga baru saja tiba kembali dirumah, tiba2 beratus-ratus orang jago lihay dari golongan putih dan hitam melakukan penyerbuan secara besar-besaran, tentu saja tujuan mereka yang terutama adalah sepasang Bak ci yang berharga itu"

"Karena tibanya bencana yang sangat mendadak ini, puluhan orang murid perguruan yang waktu itu berkumpul dimarkas segera munculkan diri dan melakukan perlawanan, pertarungan sengit berlangsung sepanjang malam, banyak anggota perguruan yang tewas ataupun cedera."

Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Ki Goan thong ketua perguruan Thian it bun sangat lihay dan berhasil membinasakan hampir lima puluh orang jago lihay yang menyerbu perguruannya, tapi lama kelamaan sendiripun kehabisan tenaga apalagi musuh yang harus dihadapi rata2 adalah jago lihay kelas satu pada waktu itu seluruh tubuhnya sudah mandi darah karena lukanya tapi ia tetap tak gentar dia melawan terus dengan gigihnya ia tak sudi melarikan diri tanpa mengurusi keselamatan anak muridnya”.

Bercerita sampai disini kembali siluman hitam berhenti sebentar sekujur tubuhnya gemetar keras menahan emosi sementara sorot mata siluman putih pun penuh mengaindung hawa napsu membunuh yang sengit tebal.

Agak tertegun Han siong Kie menyaksikan kesemuanya ini, Siluman hitam bercetita lagi.

"Pada saat itu dua orang ahli waris dari Ki Goan thong juga sudah berlumuran darah menghadapi serangan maut yang ber lapis2 itu keadaannya sangat kritis dan berbahaya tampaknya ketiga orang guru dan murid itu bakal mampus ditangan musuh2nya Mendadak Ki Goan thong mengerahkan sisa kekuatannya dan secara beruntun membunuh lagi dua belas orang jago lawan kejadian ini memaksa pihak lawan terdesak mundur sebelakang

Megggunakan kesempatan itulah Ki Goan thiong mengambil keluar sepasang Bak ci yang didapatinya itu dan masing2 dimasukkan kedalam mulut kedua orang shli warisnya, kemudian ia membentak Keras. ”Cepat melarikan diri balas dendam ! Tidak menurut berarti melanggar perintah”

Siluman hitam tarik napas panjang2 tampaknya ia hendak menggunakan cara itu untuk meringankan dadanya yang terasa sesak sambungnya lagi.

”Dalam keadaan apa boleh buat kedua orang ahli warisnya itu dengan menekan rasa sedih dan gusar melarikan diri dari kepungan musuh sementara Ki Goan thong sendiri dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya melindungi dua orang muridnya hingga lolos dari kepungan dia sendiri akhirnya kehabisan tenaga dan tewas di tangan lawan, sejak itulah perguruan Thian it bun terbasmi dari muka bumi "

”Bagaimana selanjatnya ?” tanya Han siong Kie dengan perasaan ingin tahu.

Pek yau atau siluman putih memandang sekejap saudaranya yang sedang diliputi emosi, kemudian katanya.

"suheng biarlah aku yang melanjutkan bercerita" siluman hitam mengangguk. maka siluman putih

melanjutkan kembali ceritanya:

"setelah kejadian itu para jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang ikut serta didalam operasi tersebut melakukan pencarian dan penggeledahan secara besar2an diseluruh kolong langit untuk menemukan jejak dua orang ahli waris dari perguruan Thian it bun, tapi rupanya mereka hendak membasmi rumput hingga ke akar2nya sehingga tidak meninggalkan bencana dikemudian hari. Karena penggeledahan secara besar- besaran itu, terpaksa sepasang kakak beradik seperguruan itu melarikan diri keatas gunung yang terpencil untuk menyembunyikan diri sambil melatih ilmu silat perguruannya. Delapan tahun kemudian mereka muncul kembali ke dalam dunia persilatan dan melakukan pembantaian secara besar-besaran untuk menuntut balas atas sakit hati yang telah menimpa perguruannya"

"Dan kedua orang ahli waris dari Thian it bun itu tentulah kalian berdua bukan?" seru Han siong Kie kemudian.

"Tebakan majikan memang sangat tepat. Kedua orang itu memang tak lain adalah kami berdua"

"Dan sepasang Bak ci tersebut telah kalian makan " "Benar "

"Itu berarti semestinya wajah kalian tetap awet muda, kenapa sekarang malahan..."

"Maksud majikan, kenapa wajah kami berdua pada saat ini malahan berubah jadi makhluk aneh yang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan ini ?"

"Jadi raut wajah tersebut bukan raut wajah kalian yang sebenarnya?" bukan menjaweb. Han siong Kie malahan balik bertanya.

"Bukan, raut wajah kami yang asli tidak begini. Ketika kami sedang berlatih ilmu silat diatas sebuah bukit, kami telah salah makan dua biji buah liar, dalam beberapa hari saja raut wajah kami telah berubah jadi seaneh ini, oleh sebab itulah setelah turun gunung kami dianggap orang sebagai makhluk siluman- dan dari sini pula orang lantas menyebut kami sebagai Hek pek siang yu"

"0ooh, kiranya begitu"

"Maka dendam dan benci yang berkecamuk dalam dada kami berdua sukar dikendalikan lagi" siluman putih melanjutkan, "maka setelah turun gunung kami mulai melakukam pembalasan dendam, bukan saja musuh besar kami basmi bahkan keturunannya juga kami jagal secara keji, hanya dalam sebulan saja sudah hampir seribu orang manusia yang kami bunuh, kejadian ini segera menimbulkan rasa gusar dari umat persilatan dikolong langit, mereka bersatu padu untuk menghadapi kami berdua.." Ia berhenti sebentar untuk tarik napas, lalu tambahnya:

"Dalam suatu pertempuran sengit yang kemudian berlangsung, kami berdua dikerubuti oleh tiga ratus orang lebih jago2 persilatan dari seluruh pelosok dunia, keadaan kami sangat kritis dan hampir saja jiwa kami melayang ditangan mereka, untung majikan lembah ini munculkan diri tepat pada waktunya dan loloslah kami berdua dari ancaman bahaya maut, sejak itulah kami lantas diboyong kelembah kematian ini dan harus berdiam disini untuk menyesali perbuatan kami selama ini, kami memang bertobat karena beribu-ribu orang telah kami bunuh selama ini, begitulah dalam sekejap masa lima puluh tahun sudah lewat tanpa terasa.."

"Kalau begitu sampai sekarang kalian masih belum melaksanakan perintah dari mendiang gurumu?"

"Pesan terakhir apa?"

"Bukankah gurumu memerintahkan kepada kalian berdua untuk menikah dan menjadi suami istri?"

siluman putih tundukkan kepalanya rendah2 dan tidak mengucapkan sepatah katapun. sedangkan siluman hitam segera menjawab:

"Tentang soal ini sampai sekarang belum kami laksanakan sebab kami berdua telah bersumpah kecuali wajah kami dapat pulih kembali seperti sedia kala kami tak akan menikah"

Han siong Kie manggut2. "sungguh sukar untuk melewatkan saat hidup selama lima puluh tahun lamanya tanpa melanggar tata kesopanan, kalian memang beriman tebal... aku merasa sangat kagum..."

"Aah .. majikan terlalu memuji "

"Bagaimanakah caranya untuk memulihkan kembali raut wajah kalian yang rusak ini."

"Menurut keterangan yang diberikan majikan lembah ini kepada kami, buah liar yang telah kami salah makan bernama Gi heng tok ko buah racun perubah wajah, dikolong langit dewasa ini hanya ada seorang manusia yang bisa memunahkan racun buah itu dan dialah yang bisa memulihkan kembali raut wajah kami berdua menjadi wajah yang aslinya"

"siapakah orang itu ?"

"orang itu bernama Ban tok cousu "

"Ban tok cousu ? Belum pernah aku dengar tentang nama tokoh silat ini "

"Benar, menurut keterangan yang berhasil kami kumpulkan, kemungkinan besar Ban tok cousu sudah lama meninggalkan dunia ini, kami berharap bisa menemukan ahli warisnya"

Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan seseorang yakni Tok kun Dewa racun Yu Hoa yang sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Thian che kau, mungkinkah dia ahli waris yang dimaksudkan?

"Aaah,. asal persoalan ini kutanyakan kepada engkoh tua pengemis dari selatan urusan pasti akan beres" pikirnya dihati.

Diapun tidak mengungkapkan jalan pikirannya itu, hanya ucapnya dengan hambar:

"Kalau toh di dunia ada manusia yang bernama Ban tok cousu, rasanya tidak sulit untuk menemukan ahli warisnya. ooh iya apakah kalian mengetahui keanehan serta kemisteriusan apakah yang telah menyelimuti lembah kematian ini sehingga suasananya seram ini?"

Dengan penuh rasa hormat siluman hitam menerangkan. "Disekitar mulut lembah kematian tumbuh sejenis rumput

beracun yang tiada taranya dikolong langit, rumput itu bernama sip poh Pak kut cau (rumput sepuluh langkah tulang putih) sampai dimanapun kepandaian silat yang kau miliki bila rumput itu tersentuh maka sepuluh langkah kemudian tubuhnya akan hancur menjadi darah kental. dan sekejap mata kemudan akan berubah jadi seonggokan tulang putih yang berserakan!"

Diam2 Han Siong Kie tarik nafas dingin tanpa terasa ia terbayang kembali akan ke jadian yang menimpa Nyio Yong, hakim pengejar sukma yang merupakan salah seorang diantara dua utusan khusus perkumpulan Thian che kau. lantaran melewati perbatasan antara mati dan hidup, dia harus mati dalam keadaan mengenaskan dan dalam sekejap mata mayatnya telah berubah jadi seonggokan tulang putih belaka.

Sekarang ia baru ingat, dirinya tidak terpengaruh oleh racun itu mungkin hal ini ada hubungannya dengan kejadian ganti tulang yang pernah dialaminya setelah berendam disumber air Teeb meh Ieng swan dimasa lampau.

Sesudah termenung beberapa saat lamanya maka diapun bertanya lagi:

”Apakah majikan dari lembah ini juga tidak terpengaruh oleh racun dari rumput tersebut??”

"Hamba rasa memang begitulah, kalau tidak maka tak nanti dia bisa menjadi majikan dari lembah Kematian!”

”Dia dulunya dia adalah pemilik benteng maut ?” ”Benar dialah pendiri dari benteng maut l” Mendengar jawaban itu kembali Hin Si-ong Kie berpikir didalam hati kecilnya :

’Kalau begitu pastilah majikan benteng maut yang sekarang adalah ahli warisnya atau mungkin juga generasi yang ketiga dari penerus benteng maut lalu apa sebabnya pemilik benteng maut angkatan pertama itu meninggalkan bentengnya dan malahan mengasingkan didalam lembah kematian yang sunyi dan terpencil ini ?’

Tiba2 siluman putih menerangkan :

”Pemilik lembah kematian ini she Ouyang dan bernama Beng”

”Oooh..” meskipun diluar Hin siong Kie hanya berseru demikian pada hal didalam hati kecilnya dia mengulangi nama Ouyang Beng ini sampai beberapa kali.

Sementara sianak muda itu belum sempat mengucapkan sesuatu siluman putih telah berkata lagi.

”Setelah ilmu silatnya sangat lihay Ouyang cianpwe juga sangat lihay dalam ilmu meramal, dia memiliki kemampuan untuk meramalkan kejadian yang akan datang, ketika kami berdua masuk kedalam lembah ini, untuk pertama kalinya beliau telah meramalkan bahwa lima puluh tahun kemudian kami berdua bakal ditolong oleh orang pertama yang memasuki lembah ini dan selanjutnya muncul kembali dalam dunia persilatan oleh sebab rahasia itu maka kami berdua lantas bersumpah akan menganggap orang pertama yang memasuki lembah ini adalah majikan kami"

Han siong Kie berdiri tertegun sesudah mendengar keterangan itu, pikirnya:

"Kalau toh owyang Beng memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang, kenapa ia tak dapat meramalkan kalau orang pertama yang akan masuk kedalam lembah ini sebenarnya tak lain adalah musuh bebuyutan dari benteng maut?" Belum habis dia berpikir tiba2 siluman hitam telah berseru lagi dengan lantang:

"ooooh ya hampir saja kelupaan, sebelum menutup diri tempo hari, ouyang cianpwe telah meninggalkan secarik kertas yang katanya kertas itu harus di serahkan kepada orang pertama yang memasuki lembah ini. Dan orang yang dimaksudkan itu pastilah majikan"

Habis berkata dia lantas masuk kedalam gua batu yang ada di sebelah kanan, selang sesaat kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa secarik kertas kuning.

Dengan sikap yang sangat hormat kertas kuning itu lantas diangsurkan ketangan Han siong Kie.

Berdebar juga hati sianak muda itu menerima kertas kuning itu, dengan jantung yang berdetak keras dia membuka lipatan kain kuning itu dan membaca isinya.

Ternyata isi kertas ini hanya beberapa bait kata yang sama sekali tak diketahui makna artinya:

"Tipu muslihat banyak didunia, bencana timbul karena saudara yang tak akur. Disaat dendam tertera nyata, disanalah penghianat terbasmi lenyap"

Han siong Kie termasuk seorang pemuda yang cerdas dan berotak encer, tapi meskipun ia sudah berulang kali mengulangi kata2 dari syair tersebut, toh tak berhasil juga memecahkan arti kata2nya itu.

Andaikata keempat bait syair tersebut benar2 memang dibuat oleh ouyang Beng pemilik benteng maut yang pertama khusus untuk dirinya, maka bait yang pertama tak perlu diterangkan sudah jelas artinya.

Kemudian pada bait kedua dikatakan Bencana timbul karena saudara yang tak akur, dari sini menunjukkan bahwa bencana yang sedang berlangsung sekarang timbulnya dari dua bersaudara yang kurang akur hubungannya satu sama lain, lalu siapakah yang dtmaksudkan sebagai saudara yang tidak akur itu ?

Pada bait ketiga dikatakan Disaat dendam tertera nyata padahal pada saat ini dia sudah tahu bahwa musuh besarnya adalah tengkorak maut, apanya lagi yang kurang nyata ?"

Kemudian pada bait yang terakhir digunakan kata pengkhianat siapakah penghianat tersebut ?

Teka teki, suatu teka teki yang susah untuk dipecahkan.

Mereka tak dapat menyelusuri makna dari bait syair tersebut, terpaksa Han siong Kie menyimpan kembali kertas kuning itu kedalam sakunya dengan suara agak emosi dia bertanya: "Benarkah tulisan ini ditinggalkan owyang Beng pada lima puluh tahun berselang?"

siluman hitam mengangguk.

"Betul majikan sejak menutup diri pada lima puluh tahun berselang beliau tak pernah munculkan diri lagi dari tempat pertapaannya itu"

"Apakah dia mengasingkan diri dalam dinding bukit ini" "Apakah majikan ingin-.."

"Benar, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dia orang tua"

"Dinding tebing ini hampir boleh dibilang tegak lurus dan curam sekali, jangankan manusia monyetpun tak mampu untuk memanjatnya, lagipula kita toh tak tahu dimanakah owyang cianpwe mengasingkan diri, kejadian tersebut sudah terjadi setengah abad lamanya, siapa tahu beliau sudah pulang ke alam baka"

"Betul juga perkataan ini" pikir Han siong Kie di dalam hati, "toh aku tak ada kepentingan apa2 untuk menjumpainya, buat apa musti bersusah payah ?" Maka diapun alihkan pokok pembicaraan kesoal lain-lainnya. "Apakah kalian berdua sudah bulatkan tekad untuk mengangkat aku sebagai Majikan mu"

"sumpah yang telah kami lakukan tak akan kami ingkari kembali" jawab sepasang siluman putih hitam bersama .

"Aku boleh sama membawa kalian keluar dari lembah ini, tapi kalian tak usah menyebut begitu kepadaku, aku anggap saja diriku ini adalah sobat kalian ?"

"Tidak sumpah yang telah diucapkan tak boleh diingkari lagi" jawab, kedua orang itu tegas.

"seandainya aku tidak bersedia lantas bagaimana ?" tanya Han siong Kie tiba2. sepasang siluman hitam putih tertegun, lama sekali siluman hitam baru berkata.

"Kalau memang demikian adanya, itu berarti kami berdua sudah tak punya muka untuk muncul kembali dalam dunia persilatan, daripada hidup menanggung derita, lebih baik membereskan nyawa sendiri saja"

Agak lama Han siong Kie termenung, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lalu diapun berkata:

"Begini saja, kalau aku disebut majikan... majikan.. geli rasanya hatiku, maka biarlah aku mengambil jalan tengah, mulai hari ini kalian akan kuterima sebagai anggota perguruan Thian lam, dan kalian sebut aku sebagai ciangbunjin, bukankah hal ini lebih enak di dengar??"

Buru2 sepasang siluman Hitam dan Putih jatuhkan diri berlutut keatas tanah.

"Tecu menghunjuk hormat buat ciangbunjin" seru mereka hampir berbareng.

"Bangunlah, setelah keluar dari lembah ini aku akan berusaha keras untuk memunahkan racun Gi hang tot ko yang bersarang ditubuh kalian, setelah raut wajah kalian pulih kembali seperti sedia kala maka kalian berduapun bisa memenuhi perintah dari mendiang guru kalian "

"Terima kasih atas bantuan cianbunjin" sahut kedua orang siluman itu setelah memberi hormat merekapun bangkit berdiri

sekarang Han siong Kie baru teringat akan tujuan kedatangannya ketempat itu, sesudah memeriksa sebentar kedalam goa itu katanya.

"Aku membutuhkan sebuah ruang yang bagus untuk mempelajari ilmu kepandaian, setelah itu maka kitapun akan meninggalkan tempat ini"

"Ciangbunjin"" ujar siluman putih "tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua alam yang bersih dan tenang, biarlah tecu pergi membereskan gua itu"

"Baik pergilah cepat"

selang beberapa saat kemudian siluman putih telah muncul kembali didalam gua tersebut katanya:

"silahkan ciangbunjin menuju kedalam goa itu, makanan dan minuman setiap hari tecu akan mengaturnya buat ciangbunjin"

Dengan penuh rasa haru dan berterima kasih Han siong Kie memandang sekejap kearah sepasang siluman itu kemudian diapun melangkah keluar dari goa itu.

Benar juga, kurang lebih sepuluh kaki dari gua tersebut terdapat sebuah goa lain yang terdiri dari batu2 cadas berwarna putih, setelah lima kaki memasuki goa tersebut, luas goa itu mencapai tiga kaki lebih, tempat itu memang merupakan sebuah tempat berlatih silat yang paling ideal.

Setelah sepasang siluman hitam putih minta diri, dari sakunya Han siong Kie mengambil keluar sarung tangan Hud jiu popit dan mulai memeriksanya dengan teliti. setelah itu pelajaran yang tertera disana mulai dibaca, diteliti, diamati dan diselami artinya.

Dalam waktu singkat semua konsentrasi dan pikirannya telah terpusat menjadi satu, ia lupa akan segala2nya kecuali mempelajari dan menyelami arti dari pelajaran yang didapatkan itu.

Waktu berlalu dengan cepatnya, beberapa hari sudah lewat tanpa terasa.

Selama ini kadang kala tiga lima hari Han siong Kie baru sadarkan diri dan makan atau minum: untuk selanjutnya ia tenggelam kembali dalam latihannya.

Satu bulan berikutna, apabila Han siong Kie tidak menarik kembali hasil latihannya sepasang siluman hitam putih sama sekali tak mampu untuk memasuki gua itu, selapis hawa khikang pelindung badan menciptakan dinding karang yaag sangat kuat disekitar gua tersebut.

Tiga bulan kemudian, ia baru mengakhiri latihannya yang luar biasa itu

Meskipun wajah Han siong Kie kelihatan bertambah segar, namun sepasang matanya malahan tidak bersinar lagi, siapapun tak akan tahu bahwa pemuda ini sebenarnya sudah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.

Tatkala sepasang manusia aneh itu memburu masuk kedalam gua, Han siong Kie sudah menarik kembali kesaktiannya, dua orang manusia itu lantas jatuhkan diri berlutut seraya memuji :

“Kionghi . .kiong hi . . selamat kepada ciangbujin yang telah berhasil sukses dengan latihannya semoga ciangbujin jaya sentausa untuk selama selamanya!”

"Tak usah banyak adat, hayo pada bangun berdiri!” tukas sianak muda itu sambil ulapkan tangannya berulang kali. tentu saja rasa girang yang menyelimuti hatinya sekarang sukar dilukiskan dengan kata2. ia gembira karena apa yang di cita2kan akhirnya berhasil tercapai juga.

"Ciangbunjin, bolehkah kami tahu ilmu sakti apakah yang telah dilatih olehmu selama ini?” tanya siluman putih dengan wajah heran dan ingin tahu.

”Si mi sinkang!”

"Apa? Si mi sinkang yang maha dahsyat itu” jerit sepasang manusia siluman itu dengan jantung berdebar keras,

"Benar, Si mi sinkang yang tercantum dalam sepasang saruog tangan Buddha emas!”

Sekujur badan siluman hitam gemetar keras, gemetar karena terpengaruh oleh emosi katanya:

'Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan. katanya Si mi sinkang ada!ah suatu ilmu salat yang tiada tandingannya didunia ini sungguh tak kusangka ciangbunjin telah menguasai kepandaian se sakti itu. Oh ciangbunjin!

Bersediakak engkau untuk mendemontrasikan kelihayanmu dihadapan kami berdua?”

"Tentu saja” sahut Han siong Kie sambil tersenyum, mari kita keluar dari gua ini!”

Sianak muda itu lantas bergerak dan keluar dari gua tersebut diikuti sepasang manusia siluman.

Setibanya didepan sebuah batu cadas yang tingginya beberapa kaki lebih kurang tiga tombak dari mulut gua, pemuda itu berdiri memasang kuda2. menghimpun tenaga lalu meneken perlahan diatas batu itu.

Tekanan ini enteng dan lembut. bukan saja sama sekati tidak menimbulkan hembusan angin serangan, bahkan lebih mirip dengan suatu gerakan pura2, malahan batu cadas itu sendiripun tidak menunjukan perubahan apa apa, Sepasang manusia siluman itu tertegun dan berdiri dengan wajah tidak habis mengerti. mereka tak tahu apa yiog sedang dilakukan oleh ketuanya itu .

Sementata rasa heran masih menyelimuti wajah mereka berdua segulung angin gunung berhembus lewat apa yang terjadi? batu cadas yang berada di hadapan si anak muda itu mendadak hancur sendiri dan berubah menjadi setumpukan bubuk halus.

Menghantam sebuah batu cadas dari jarak tiga kaki hingga hancur menjadi bubuk kekuatan daya serang yang didemontrasikan sianak muda itu benar2 merupakan suatu kejadian yang mengerikan sekali.

Baik siluman putih maupun hitam terbilang jago2 kelas satu yang berilmu tinggi tak urung terbelalak juga dibuatnya oleh kelihayan ketuanya ini mata mereka kontan jadi terbelalak mulut melongo dan sekujur badan bergetar keras.

Jangankan kedua orang itu bahkan Han siong Kie sendiripun merasa amat terkejut dengan hasil yang berhasil dia capai mimpipun dia tak menduga kalau kehebatan dari ilmu Si mi sinkang ternyata dapat mencapai sampai taraf setinggi itu.

Lama sekali kedua orang siluman itu termangu2, akhirnya dengan penuh emosi mereka berseru:

"Ciangbunjin, boleh kah kami tahu apakah hari ini juga kita akan tinggalkan lembah ini?"

Han siong Kie mengangguk.

"Betul dan kalian berdua boleh segera membereskan barang2 milik kamu berdua, sekarang juga kita akan keluar dari lembah ini"

Sudah lima puluh tahun sepasang siluman itu terkurung dalam lembah tersebut, bisa dibayangkan betapa gembiranya dua orang itu setelah akan muncul kembali dalam dunia persilatan, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kembali kedalam guanya dengan wajah berseri.

Han siong Kie sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi keadaan disekitar tempat itu, lalu dia melompat naik ke atas sebuah dinding cadas yang besar dan tingginya mencapai sepuluh kaki lebih, dengan bacokan telapak tangannya ia membuat sebuah lubang diatas batu tersebut, kemudian memasukkan sarung tangan Hud jiu popit ke dalam lubang batu tadi dan setelah itu batu cadas yang amat besar itu didorong menempel diatas dinding bukit dan menutupi bagian yang berlubang tadi..

Dengan begitu, maka benda mustika dunia persilatanpun tersimpan untuk selamanya dalam sebuah batu cadas raksasa yang amat besar dan berat itu, siapapun jangan harap bisa mendapatkannya kembali.

Sementara itu sepasang siluman juga sudah selesai bebenah, mereka masuk gua tempat tinggainya selama ini, dan dengan membekal senjata andalan mereka dimasa lalu, buru2 menghampiri pemuda tersebut.

Sementara itu Han siong Kie sedang memandang ujung lembah itu dengan sorot mata setajam sembilu. katanya kemudian dengan suara dingin:

"Setelah keluar dari lembah ini, kita akan melakukan pembunuhan secara besar-besaran"

"Melakukan pembunuhan?" tanya sepasang siluman dengan wajah tertegun.

"Benar, sewaktu hendak masuk lembah ini, aku telah melangsungkan pertarungan melawan tokoh2 sakti dari perkumpulan Thian che kau, salah seorang diantara mereka yang dinamakan utusan Thian che kau telah mampus dalam lembah ini, bila dugaanku tidak meleset, sudah pasti mereka telah mengurung mulut lembah ini sambil menunggu kemunculanku" "Kalau mereka berani berbuat begitu itu sama artinya sedang menantikan kematian buat diri sendiri" jerit siluman putih dengan suara yang tinggi melengking " sudah lima puluh tahun aku siluman putih tak pernah melakukan pembantaian dan hari ini aku akan melampiaskan napsu membunuh dengan sepuas2nya!"

”Hayo kita berangkat!" ajak pemuda Han.

Hek peksiang yau sepasang siluman hitam putih langsung berangkat terlebih dahulu mereka menghadap ke dinding bukit karang di situ kedua orang itu berlutut dan menyembah tiga kali lalu bergumam dengan suara lirih:

"Boaopwe telah melaksanakan pesan dari Cianpwe dan sekarang akan muncul kembali ke dalam dunia persilatan terimalah salam perpisahan dari boanpwe berdua inil"

Sehabis memberi hormat mereka lantas bangkit melewati sebuah bukit kecil dan sampailah didepan lapangan luas yang pe nuh dengan tulang manusia yang berserakan itu.

Han siong Kie bertindak cepat tangan kanan ia kempit siluman putih tangan kiri mengempit siluman hitam, sekali menjejak permukaan tanah bagaikan anak parah yang terlepas diri busurnya meluncur sejauh sepuluh kaki lebih dari tempat semula

Dengan beberapa kali kelejitan saja. ketiga orang itu melewati daerah rawan yang bisa mencabut nyawa manusia itu.

Perbatasan antara mati dan hidup telah dilampaui, pemuda itu menurunkan kembali sepasang siluman itu dan alihkan pandangannya kearah depan disana yang terlihat hanya kabut tebal yang menyelimuti angkasa.

Tiba2.,belum beberapa langkah tiga orang iiu berjalan, suara suitan tajam berkumandang susul menyusul dua belas orang laki2 berbaju ketat warna hitam munculkan diri tiga kaki di hadapan mereka orang! itu bersenjata pedang dan melotot kearah musuhnya dengan garang.

Han siong Kie mendengus dingin dengusan tersebut menyeramkan dan penuh mengandung hawa napsu membunuh yang mengerikan.

Apa yang diduga ternyata tidak meleset, pihak Thian che kau telah mengutus

Jago2 lihaynya untuk menyumbat mulut lembah tersebut, padahal sudah tiga bulan lamanya ia berdiam dalam lembah kematian untuk mempelajari si mi sinkang yang tercantum dalam Hud jiu popit dan sekarang terbukti bahwa musuhpun melakukan patroli selama tiga bulan disekitar perbatasan, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musuh memang tidak berhasrat untuk melepaskan dirinya.

Dalam pada itu ke dua belas orang laki2 baju hitam itu telah berhasil melihat jelas keadaan lawannya, tiba2 mereka menunjukkan wajah tercengang, kaget dan ngeri, tanpa disadari beberapa orang itu telah mundur beberapa langkah kebelakang.

Kiranya mereka telah menyaksikan makhluk setengah manusia setengah setan yang berada di belekang Han siong Kie, yakni Hek pek siang yu yang menyeramkan itu.

Sebagai mana diketahui Hek pek-siang yu memiliki tampang yang mengerikan sekali, siapapun yang melihat tampang itu niscaya akan bergidik dan ketakutan setengah mati.

Setelah mundur sampai beberapa kaki jauhnya, kedua belas orang laki2 baju hitam itu baru berhenti mundur, salah seorang di antaranya lantas bersuit nyaring, suitan tersebut panjang, tajam dan menjulang jauh ke udara.

Hek pek siang yu menunjukkan sikap menghina, tiba2 mereka bertanya dengan suara dalam: "Ciangbunjin, kawanan tikus dan kacoak ini berasal dari aliran atau perguruan mana?"

"Mereka ? siapa lagi kalau bukan anak buah dari perkumpulan Thian che kau??"

"Apa maksud mereka menunggu disini?? "

"Apa lagi? Tentu saja menunggu kemunculanku"

"Jadi kawanan manusia ini juga yang selama ini mengejar dan menyerang Ciangbunjin?"

Han siong Kie tidak menjawab, tapi dia mengangguk.

Sepasang siluman hitam dan putih segera mendengus dingin, siluman hitam menyingkir kesamping dan memberi hormat, katanya:

"Ciangbunjin, berilah petunjuk kepada hamba bagaimana caranya kita harus selesaikan kawanan babi itu?"

"Bunuh sampai ludas" jawab Han siong Kie ketus.

Ucapan tersebut ibarat bunyi terompet malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawa manusia, tanpa disadari dua belas orang laki2 baju hitam itu bergidik dan mengucurkan peluh dingin, pedang mereka dipegang semakin erat, bahkan kelihatan bergetar keras, jelas orang2 itu sudah siap melancarkan serangan.

Sepasang malaikat hitam putih menjengek sinis, tiba2 mereka membentak nyaring kemudian menerjang kearah gerombolan manusia itu.

Perlu diketahui dua belas orang laki2 baju hitam itu adalah jago2 kelas dua dalam perkumpulan Thian che kau, mungkin nama mereka cemerlang dan disegani orang dalam dunia persilatan maka mereka diutus untuk melakukan patroli di sepanjang perbatasan antara mati dan hidup, Tapi sekarang, tatkala dilihatnya dua orang makhluk aneh hitam dan putih itu menerjang tiba, serentak mereka saling berpandangan kemudian menyebarkan diri ke empat penjuru sambil berteriak mereka putar senjata dan menyambut tibanya serangan "Haahhh haaaahh haaahhh" "Hiiiihhh hiiiihhh hiiiihhh"

Ditengah gelak tertawa aneh yang satu keras dan yang lain lembut sepasang manusia hitam putih telah menerkam kedalam lapisan pedang dan menyambar musuh2nya.

Jerit kesakitan, dengusan berat menjelang sekarat berkumandang dlangkasa men-cabik2 kesunyian yang mencekam disekitar tempat itu.

Hancuran badan ceceran darah berhamburan menodai perrmukaan tanah, keadaan disaat itu benar2 mengerikan-

Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama hanya sebentar tak sampai seperminum teh suasana pulih kembali dalam keheningan-

Tiada manusia yang hidup lagi disitu, kecuali Han siong Kie bertiga, dua belas orang lelaki perkasa itu kini sudah berubah jadi mayat, mayat2 yang tak utuh dan berlepotan darah kental.

Hanya dalam beberapa gebrakan Hek pek-siang yu telah membereskan dua belas orang jago Thian che kau, kelihayan tersebut cukup mengagumkan, diam2 Han siong Kie menganggukkan kepalanya berulang kali.

00d00000w00

BAB 63

SELESAI membereskan kedua belas orang musuhnya, sepasang siluman hitam putih berjalan kembali kehadapan Han siong Kie, kemudian berkata: " Ciangbunjin, tecu berdua telah menyelesaikan tugas ini dengan sempurna"

"Bagus" puji si anak muda itu, "mari kita tinggalkan tempat."

Ucapan itu belum habis diucapkan tiba2 dari depan sana muncul tiga sosok bayangan manusia, cepat sekali gerak tubuh ketiga orang itu.

Han siong Kie lantas membatalkan perkataannya dengan pandangan setajam sembilu dia awasi orang2 tersebut.

Kiranya orang yang baru datang adalah san tianjin (telapak tangan kilat) se bun Lui, salah seorang diantara utusan Thian che kau didampingi dua orang kakek jubah hitam.

Setibanya ditempat kejadian ketiga orang itu memandang sekejap mayat yang bergelimpangan ditanah lalu berseru kaget, enam buah sorot mata secepat kilat dialihkan ke wajah Han siong Kie bertiga.

Tatkala sinar mata mereka bertemu pandang dengan Hek pek siang yu untuk kesekian kalinya tiga orang kakek jubah hitam itu menjerit tertahan, pucat pias wajah mereka.

Tampang aneh dari Hek pek siang yu tiada keduanya didunia ini, meskipun mereka adalah gembong2 iblis yang sudah tersohor sejak puluhan tahun berselang, namun dalam sekilas pandangan saja baik se bun Lui maupun dua orang kakek lantas mengetahui siapa gerangan mereka itu.

Hek pek-siang yu yang disegani dan ditakuti orang ternyata masih hidup didunia bahkan berada dalam satu rombongan dengan Han siong Kie, peristiwa ini benar2 diluar dugaan dan mengejutkan hati siapa pun juga.

Selain itu merekapun heran bahwa Han siong Kie berhasil keluar dari lembah kematian dalam keadaan hidup walaupun sudah tiga bulan lamanya tak muncul kembali dari situ. Kedua belah pihak sarma2 membungkam untuk sementara waktu siapapun tidak ingin berbicara,

Dalam pada itu paras muka tangan kilat Se bun Lui dan dua orang kakek berjubah hitam itu berubah berulang kali kemunculan Hek pek siang yau amat mengejutkan mereka, rnimpipun mereka tak menyangka bakal ketemu gembong iblis disitu.

Dengan pandangan sedingin es siluman putih menyapu pandang sekejap kearah tiga orang itu lalu kepasa Han siong Kie dia berkata :

”Ciangbujin. siapakah bocah keparat yang mempunyai sulaman matahari rembulan dan lintang diatas dadanya itu”

Sebutan -- Ciangbunjin kembali mengejutkan tiga orang kakek itu. mungkinkah Hek pek siang yau juga anggota Thian lam bun ? Kalau tidak mengapa mereka sebut Han siong Kie sebagai ketua ?

Sementara itu Han siong Kie sudah mendegus dingin sahutnya dengan nada yang amat sinis :

”Orang itu . . ? Dia tak lain adalah tangan kilat Se bun Lui. salah seorang dari Utusan Thian che kau”

"Huuh..! Bu beng sian cui (prajurit kecil yang tak bernama) manusia macam begitu pun berani gembar gembor dengan bengis ? Biar tecu hantar mereka pulang kerumah nene moyangnya!"

Tangan kilat Se bun Lu i terperanjat, dia berusaha untuk menenangkan hatinya kemudian menegur "

Bukankah kalian berdua adalab Hek pek siang yau cianpwe yang tersohor itu?”

"Kalau betul kenapa?" sahut siluman hitam dengan mata berkilat ”Sedari kapan kalian berdua masuk menjadi anggota perguruan Thian lam bun ?”

"Heeeh heeh heeeh bocab cilik, pertanyaan seperti itu tak pantas kau ajukan ke padaku!"

Tangan kilat Se bun Lui tidak berani banyak bertanya lagi. cepat ia mengerling ke arah dua orang kakek disampingnya. tanpa mengucapkan kata lagi ketiga orang itu menjejakan kakinya dan kabur dari situ. dalam sekejap maka bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kabut yang amat tebal itu.

Tindakan musuh ini sama sekali diluar dugaan Han Siong Kie. namun dia tidak bermaksud untuk melakukan pengejaran sesudah termenung dan berpikir sejenak, akhirnya kepada sepasang siluman itu dia berkata: "Hayo, kitapun pergi dari sini "

Dengan gerakan cepat ia lantas berangkat lebih dulu tinggalkan tempat tersebut, Hek pek siang yu juga tidak mengatakan apa2, dengan cepat mereka bertiga sudah jauh meninggalkan tempat semula, mulut lembah nampak nun jauh didepan sana.

Sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan seorang manusiapun, suasana hening, sepi dan tak nampak seorang manusiapun.

Setelah berhasil dengan ilmu saktinya, Han siong Kie tidak memikirkan soal2 yang lain, hanya satu menjadi beban ingatannya selama ini yakni menuju kebenteng maut untuk membalas dendam.

Tiga li kemudian mereka akan tiba di mulut lembah tersebut, disaat itulah mendadak terdengar seseorang membentak keras, suaranya nyaring ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.

"Berhenti" Han siong Kie terperanjat, cepat dia hentikan gerak tubuhnya, ia tak tahu suara itu berasal dari balik hutan lebat kurang lebih sepuluh kaki disisi kanannya.

Hek Pek siang yu tak dapat mengerem gerak tubuhnya yang terlanjur bergerak cepat itu, mereka harus berlarian tiga kaki lagi sebelum berhasil mengendalikan tubuhnya dan berhenti.

"siapa?" bentak Han siong Kie kemudian dengan suara dingin.

"Aku nak. jangan gugup" sahut orang itu.

Han siong Kie semakin terperanjat, sebelum ia sempat berbuat sesuatu ibarat peluru yang meluncur kedepan, tahu2 sepasang siluman hitam putih sudah melayang kearah mana berasalnya suara itu.

Pelbagai ingatan dengan cepat melintas dalam benak sianak muda itu, cepat ia memburu pula kedepan kearah mana berasalnya suara itu.

Sesosok bayangan manusia tiba2 menyongsong datang dengan cepatnya karena sama sekali tidak menduga, hampir saja saling bertumbukan satu sama lainnya

Ditengah jeritan kaget dari kedua belah pihak orang itu melayang turun keatas permukaan sementara Han siong Kie sendiripun cepat menahan gerakan tubuhnya.

Orang itu ialah seorang perempuan, bahkan seorang perempuan berkerudung hitam meskipun tak dapat dilihat bagaimanakah raut wajahnya, tapi Han siong Kie tahu siapakah dia.

Dalam pada itu Hek pek siang yu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang pula kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tersebut, serentak mereka menerjang perempuan berkerudung itu. "Mundur... jangan gegabah" bentak Han Siong Kie tiba2 dengan suara lantang.

Sepasang siluman hitam putih tercengang, cepat mereka tarik kembali serangannya dan mundur sejauh tiga kaki dari tempat semula, dengan pandangan keheranan ditatapnya pemuda itu tak berkedip.

"cianpwe" " kata Han Siong Kie kemudian sambil memberi hormat kepada perempuan berkerudung itu, "maafkanlah kekasaran serta kecerobohan beanpwee"

Siapa gerangan perempuan berkerudung itu ? Dia tak lain adalah manusia misterius yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma.

Tatkala mendengar suara bentakan tadi, rupanya Han siong Kie sudah tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang kehilangan sukma, tapi berhubung dia ingin mengetahui raut wajah asli dari perempuan misterius itu, maka bukan saja tidak mencegah sepasang siluman untuk menerjang ke muka, malahan dia sendiripun menyergap masuk kedalam hutan dengan mengerahkan dua belas bagian hawa saktinya.

Dan kala ini tujuannya tercapai, perempuan misterius yang bernama orang yang kehilangan sukma itu tak sempat menyembunyikan diri lagi.

Tapi pemuda itu merasa kecewa, sebab perempuan itu menutupi wajahnya dengan kain kerudung hitam, akhirnya toh ia tak berhasil juga untuk melihat paras muka dari perempuan misterius itu.

Sementara dia masih termenung, orang yang kehilangan sukma telah berkata dengan lembut:

"Nak. rupanya Thian selalu melindungi engkau, akhirnya kau bisa keluar dari lembah kematian dengan selamat"

"Terima kasih atas perhatian dari cianpwe" "sahut pemuda itu cepat-cepat. Selama mulutnya berbicara sorot matanya yang tajam mengawasi potongan badan orang yang kehilangan sukma tanpa berkedip. diam-diam ia merasa amat kenal dengan potongan tubuh perempuan ini, hanya ia lupa dimanakah ia pernah bertemu dengannya.

Ketika sinar matanya beralih kearah lengan baju kanannya, ia bergetar keras seperti kena listrik tubuhnya gemetar menahan emosi:

Itulah pengorbanan dari orang yang kehilangan sukma untuk membebaskan totokan jalan darah pada tubuhnya, dia telah mengorbankan lengan kanannya dan lengan tersebut hingga sekarang masih tersimpan di sakunya....

-ooo00dw00ooo-