-->

Tengkorak Maut Jilid 29

 
Jilid 29

HAN SIONG KI mengangguk sambil memuji tiada hentinya, memang lihay orang ini dalam kepandaiannya menggali jalan tanah.

Merekapun menerobos masuk jalan kecil bekas galian itu, kurang lebih lima puluh kaki kemudian sampailah kedua orang itu dalam sebuah gudang arak yang bcsar.

Beribu-ribu guci arak wangi tersimpan dalam gudang itu, dengan wajah berseri seri Tee heng sian segera menyambar sebuah guci arak dan meneguk isinya hingga habis kemudian ujarnya :

“Loo te, aku tau perasaan hatimu sedang gelisab sekaraDg geserlah guci besar yang berada disudut gudang itu dan keluarlah lewat jalan bawah tanab itu, jangan lupa setelah keluar dari sini tutup baik-baik mulut gua itu jangan kau rusak pekerjaan besarmu itu dan ada satu hal lagi yang perlu kau ingat bila kita hendak meratakan perkampungan ini dengan tanan jangan kau rusak gudang arakku ini, pokoknya bila kau ada urusan hendak mencari aku datang saja ke dalam gudang arak ini aku pasti berada disini !"

Han siong Kie tertarik sekali dengan keanehan watak sahabat barunya ini, ia tertawa dan menyahut:

"Kalau mainan begitu, aku mohon diri dahulu"

"Pergilah. Aku paling benci dengan segala tata cara, ingat bocah perempuan itu tersekap dalam rumah besi ketiga, jangan sampai salah "

Han siong Kie mengiakan, dia lantas menggeser guci arak yang dimaksudkan, disana memang terdapat sebuah lorong yang gelap dan panjang, pemuda itu lantas menerobos keluar lewat jalan bawah tanah itu.

seperminum teh kemudian ia sudah keluar dari lorong itu, ternyata sekarang dia sudah berada diluar pekarangan perkampungan itu, maka sebagaimana yang dipesan, ia tutup kembali mulut gua itu dengan rapi, kemudian baru menyerbu kedalam perkampungan

Baru saja dia melayang turun didepan dua deret bangunan baja, tiba-tiba tiga sosok bayangan hitam dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar tiba, ternyata ketiga sosok bayangan itu adalah tiga ekor anjing yang besar.

Berada ditanah lapang yang luas Han siong Kie tak perlu menguatirkan cakar racun dari anjing-anjing itu lagi, dalam beberapa gebrakan saja ketiga ekor anjing itu sudah dibikin mampus dengan pukulan mautnya.

suara pekikan panjang yang diperdengarkan anjing-anjing itu sebelum ajalnya, dengan Cepat mengejutkan seluruh perkampungan. Suara langkah kaki yang sangat ramai berkumandang memecahkan kesunyian, belasan orang lelaki yang berdandan sebagai centeng berlarian keluar dari rumah-rumah baja itu.

Tapi setelah mengetahui siapa yang muncul, hampir sebagian besar centeng itu berdiri tertegun, mimpipun mereka tak menyangka kalau Manusia bermuka dingin yang dikurung dalam rumah baja telah berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat.

Padahal mereka tahu bahwa baja yang melapisi ruangan- ruangan itu tebalnya mencapai beberapa depa, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang tinggi juga tak akan mampu untuk menghancurkannya, yang aneh manusia bermuka  dingin berhasil melepaskan diri dari kurungan tanpa merusak ruangan baja itu inilah yang membikin orang2 itu jadi tercengang dan tidak habis mengerti.

Kegusaran serta raSa mendongKol yaNg selama ini terhimpun dalam dada Han Siong Kie tidak terbendung lagi, dengan penuh hawa nafsu membunuh teriaknya lantang:

“Panggil Ho Thong thian, suruh dia datang menjumpai aku!"

Dengan langkah lebar dia maju kedepan tentu saja langkah pertama yang harus ditalukan adalah menyelamatkan jiwa Go Siau-bi dari ancaman bahaya maut,

Belasan orang centeng itu saling berpandangan sekejap kemudian mereka cabut keluar senjata tajam masing2 dan menghadang jalan pergi pemuda itu.

Salah seorang diantaranya segera kabur ke dalam perkampuogan untuk memberi kabar.

Hawa napsu membunuh yang sangat tebal telah menyelimuti seiuruh wajah Han Siong Kie, ujarnya dengan dingin: "Barang siapa masih ingin hidup kuanjurkan agar segera menyingkir dari sini"

Namun tak seorangpun diantara mereka yang bergerak dari tempat kedudukan semula.

"Bangsat rupanya kalian memang sudah bosan bidup!" bentak Han Sioog Ki dengan kegusaran.

Habis sudah kesabarannya sambil membentak sebuah pukulan dahsyst bagaikan gulungan ombak dipantai samudra menyambar ke tubuh kawanan centeng itu.

Jerit berkumandang saling menyusul empat sosok bayangan manusia terpertal terjatuh tiga kaki lebih dari tempat semula untuk kemudian tidak bangun untuk selamanya.

Yang lain jadi takut bercampur panik sekarang mereka baru tahu akan kelihayan musuhnya dengan sukma serasa melayang tinggalkan raganya mereka berteriak dan kabur ke belakang tapi setibanya pada jarak satu kaki mereka berhenti dan tak berani kabur lagi rupanya mereka pun takut untuk meninggalkan kewajiban dengan begitu saja.

Sebetulnya Han Siong Ki sama sekali tidak menaruh maksud atau perhatian untuk membunuh kawanan begundal itu, oleh sebab pihak lawan menghadang jalan perginya, dia baru berhasrat untuk melakukan pembantaian secara keji. "Trang traanng traaang " suara genta dibunyikan bertalu-talu.

Ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang, diantara mereka ada yang tua ada yang muda, semuanya berjumlah lima puluh orang lebih, tapi yang jelas diatas wajah orang2 itu terlintas rasa kaget yang bukan kepalang.

setelah semua orang munculkan diri, dengan cepatnya pula Han siong Kie terkurung ditengah gelanggang. Menyapu wajah orang2 itu dengan pandangan dingin, Han sioog Kie berkata: "Kenapa sampai sekarang Hoo Thong thian belum juga munculkan diri?"

Dari antara kerumunan orang banyak. tampil kedepan seorang kakek berbaju hitam, dengan wajah bengis ia menghardik:

"Manusia bermuka dingin, apa maksudmu datang ke mari??"

"Membantai seluruh isi perkampungan ini" jawab pemuda itu dengan ketus

Ucapan yang berbau amis darah ini sangat menyolok dan menggidikkan hati semua orang, tanpa sadar paras muka orang-orang itu berubah hebat dan bulu kuduknya pada bangun berdiri

Dengan terperanjat kakek baju hitam itu mundur dua langkah kebelakang, katanya dengan suara gemetar:

"Apa? Manusia bermuka dingin, engkau akan membantai seluruh isi perkampungan?"

"Benar, tentunya Ho Thong thian masih belum lupa bukan dengan apa yang telah kuucapkan ketika berada dalam kurungan ruang besi tadi?"

"Tentu saja lohu tak akan lupa, dengan kata-katamu itu" berbareng dengan berkumandangnya jawaban itu, Ho Thong thian munculkan diri ditengah gelanggang

Hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajah Han siong Kie sambil mendengus dingin ia tuding Ho Thong thian serunya:

"Bangsat tua lebih bagus lagi kalau engkau memang mengingat kata-kataku itu, sekarang juga kenyataan akan terbeber didepan mata" Ho Thong thian memandang lawannya dengan penuh kebencian serta kelicikan, senyum sinis menghiasi bibirnya. walau begitu ia tak dapat menyemburyikan rasa kaget dan ngeri yang muncul dari lubuk hatinya seraya mengulapkan tangannya mengundurkan kawanan jago yang mengepung di sekitar gelanggang dia berseru:

“Untuk sementara waktu kalian mundur semua kebeelakang!"

Sedari tadi kawanan jago itu memang sedang menanti- nantikan seruan tersebut, cepat mereka mundur semua ke belakang.

Kini dalam gelanggang tinggal Ho Thong thian, kakek baju hitam yang berbicara tadi serta seorang laki-laki setengah baya yang bermuka licik sekali.

Han Siong Kie sudah tak sabaran lagi sekarang hanya ada satu ingatan dalam benaknya yakni menolong Go Siau bi untuk lolos dari bahaya, ia lalu membentak:

"Ho Thong thian, orang pertama yang bakal mampus adalah engkau!”

Begitu ucapannya selesai diutarakan sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan ke depan.

Serangan ini bukan saja sangat cepat, bahkan tenaga pukulannya luar biasa hebatnya.

“Hmmm Belum tentu..." seseorang menanggapi.

Serentak Ho Thong thian serta dua orang rekannya melancarkan pula sebuah pukulan keras untuk menyambut datangnya ancaman itu.

"Blaaang. ." ketika empat kelompok kekuatan saling membentur di udara terjadilah ledakan keras yang memekikkan telinga tiga orang itu terpental sejauh satu kaki kebelakang sementara Han Siong Kie masih tetap berdiri sekokoh batu karang ditempat semula.

Sesudah berhenti sebentar Han Siong Kie melejit kembali dan untuk kedua kalinya dia menubruk ketubuh Ho Thong thian.

"Lihat serangan!" suatu bentakan melengking di angkasa.

Dua gulung senjata rahasia dengan memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata meluncur kemuka dan mengurung wilayah seluas satu kaki di sekeliling tubuh Han Siong Kie.

Dari kilatan cahaya biru yang terpancar keluar dari sambaran senjata rahasia itu dapat diketahui bahwa senjata- senjata itu sangat beracun, bahkan cara melepaskan senjata rahasia itu pun menggunakan cara ban thian boa yu ( hujan bunga diseluruh langit).

Han siong Kie mendengus dingin, sepasang telapak tangannya membuat gerakan lingkaran didepan dada kemudian menolaknya kedepan.

Ditengah hembusan angin puyuh yang kencang, seluruh kilatan cahaya biru itu sudah tersapu rontok diatas tanah.

Ho Thong thian bertindak cukup licik, berbareng dengan dilancarkannya serangan itu, dia telah mundur sejauh dua kaki lebih dari kedudukan semula

Gonggongan anjing menderu-deru, kurang lebih dua puluh ekor anjing besar berlarian keluar dari ruang baja dan langsung menyerbu kedalam gelanggang

semakin tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Han siong Kie, dia melambung keudara, sepasang telapak tangannya dilontarkan berbareng kedepan, sepuluh desingan ilmu jari Tong kim ci dengan kecepatan yang luar biasa menghantam tubuh kakek baju hitam serta pria setengah baya yang melancarkan serangan senjata rahasia itu Dua jeritan ngeri memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ditanah, tanpa sempat menjerit, kakek dan pria setengah baya itu sudah mampus dengan badan berlubang.

Han siong Kie tidak berhenti sampai disitu saja, setelah menewaskan dua orang musuhnya dia melambung keangkasa dan menubruk kearah Ho Thong thian yang sudah kabur sejauh dua kaki dari kedudukan semula itu.

Sekarang Ho Thong thian baru merasa takut dan seperti kehilangan sukma, cepatt dia menundukkan tubuhnya dan menggelinding sejauh beberapa kaki dari tempat itu.

Han siong Kie tidak mengira kalau seorang tokoh silat yang punya nama besar seperti Ho Thong thian, ternyata telah melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari medan pertempuran, sementara serangannya gagal mencapai sasaran, belasan ekor anjing besar itu sudah menerjang tiba dengas serangannya.

Disaat Han siong Kie terkurung oleh kawanan anjing tersebut, Ho Thong thian sendiri kabur menuju kepintu baja yang keempat, mungkin dia hendak menggunakan ruang baja ini untuk menyembunyikan diri atau mungkin juga dia masih mempunyai rencana busuk yang lain.

Kali ini Han siong Kie bertindak cerdik, dia melambung setinggi beberapa kaki ke udara setelah lolos dari sergapan kawanan anjing itu badannya berjumpalitan beberapa kali seperti anak panah terlepas dari busurnya dia meluncur kearah Ho Thong thian, sepasang telapak tangannya seperti cakar garuda mengcengkeram batok kepala lawan.

Hampir pada saat yang bersamaan, pintu besi itu terbuka dan mereka berdua masuk kedalam ruangan baja.

"criing" secara otomatis pintu baja itu menutup dengan sendirinya. Betapa takut dan ngerinya Hoo Thong thian tatkala dilihatnya bukan saja ia gagal untuk melarikan diri malahan dirinya terjebak dalam satu ruangan bersama musuhnya.

Ia sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi berada dalam ruangan yang begitu sempit, mau melawanpun tak ada gunanya.

Han siong Kie sendiri sudah terlanjur membenci musuhnya ini, cepat telapak tangan kiri serta ujung jari tangan kanannya ditolak kedepan melancarkan serangkaian pukulan gencar ketubuh Hoo Thong thian yang sedang ketakutan.

Ho Thong thian sendiri kelabakan setengah mati menghadapi ancaman maut itu, mau menghindar dia tak mampu, akhirnya tidak ampun lagi tubuhnya terhajar telak oleh serangan maut itu.

Sambil menjerit lengkimg dengan suara yang menyayatkan hati, tubuh Hoo Thong thian mencelat sampai menumbuk dinding baja, dadanya seketika terhajar sampai berlubang darah segar berhamburan membasahi seluruh lantai.

Setelah musuhnya mampus, Han siong Kie baru tertegun, ia baru menyesal sekarang setelah musuhnya dibunuh mati, bukankah dengan demikian dia terjebak pula dalam ruangan baja itu?

Bangkai keseputuh ekor anjing itu masih menggeletak ditempat semula, hanya kini bertambah lagi dengan sesosok mayat manusia.

Padahal Go Siaw bi berada di ruang sebelah, memang dekat sekali jaraknya tapi tak mungkin ia bisa menembusinya.

Pemuda itu tahu sekalipun tenaga dalamnya amat sempurna tak mungkin ia bisa menghancurkan dinding baja yang tebalnya mencapai beberapa depa itu.

Sementara dia masih murung dan putus asa tiba-tiba pintu baja itu membuka secara otomatis. Sungguh girang pemuda itu tak terkirakan, dia lepaskan satu pukulan gencar ke depan menyusul tubuhnya menerobos keluar.

Apa yang terbentang didepan mata hanyalah bangkai anjing yang berserakan dimana- mana, tak sesosok bayangan manusia pun tampak disitu, melihat hal itu pemuda tersebut maengerutkan dahinya, siapakah orang yang telah membunuh anjing dan membuka pintu ruangan? Kalau dia adalah Tee heng sian tak mungkin orang itu bisa menghindari pertemuan dengannya lalu siapakah dia?

Dalam keadaan seperti ini tak ada waktu lagi baginya untuk berpikir panjang, cepat tubuhnya bergerak menuju keruang baja dimana Go Siau bi disekap, pintu baja itu setengah terbuka.

Satu ingatan lantas melintas dalam benak anak muda itu, pikirnya dihati:

“Jangan-jangan Go Siau bi telah meloloskan diri ?

Mungkinkah anjing2 itu dibunuh olehnya dan pintu ini pun dia yang buka?”

Sekali lompat dia mendekati pintu ruangan serunya dengan lantang :

"Nona Go.,..nona Go ,."

Tiada jawaban, suasana tetap sunyi dan sepi. “Nona Go!" sekali lagi pemuda itu memanggil.

Suasana tetap sunyi tiada jawaban yang kedengaran.

"Jangan jangan dugaanku memang benar" kembali Han Siong Kie berpikir di hati "Go Sisu-bi pasti sudah kabur dari sini, lantaran malu bertemu dengan aku karena aku sudah mengintip tubuhnya yang telanjang dari balik ruangan, maka dia berlalu lebih dulu" Meskipun di hati ia bsrpikir demikian tak urung pemuda itu melongok juga kedalam ruangan.

Begitu melihat apa yang tertera didalam ruangan, seperti kena disetrom tubuhnya gemetar dengan jantungnya berdebar dan mukanya jadi merah, secara beruntun dia mundur tiga langkah ke belakang.

Sesosok tubuh yang bugil masih melingkar didalam ruang baja itu, dan dara itu tak lain adalah Go siau bi.

Padahal menurut keterangan dari Tee heng sian jalan darah Go siau bi sudah bebas malahan serangannya berhasil melukai Ho Thong thian, kalau toh jalan darahnya sudah bebas, kenapa ia masih berbaring disitu dalam keadaan telanjang bulat ?

Kalau dilihat dari pintu baja yang separuh terbuka, jelas ada orang pernah memasuki ruangan ini lalu siapakah orang itu ?

Kenapa tidak menolong Go siau bi, melainkan membiarkan dia .....

Berpikir sampai disini, tak kuasa lagi tubuhnya gemetar keras, pikirnya lebih jauh:

"Aduh celaka, jangan-jangan Go siau bi sudah mengalami. "

Karena kuatir tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu menerjang masuk ke dalam ruangan, meskipun jantungnya berdebar keras sekuat tenaga dia berusaha untuk mengendalikan emosinya didekati dara itu dan diperiksanya pernapasan gadis itu dengan tangan gemetar.

Gadis itu berbaring dengan mata terpejam jalur darah ada di mana-mana dan napasnya masih berjalan normal jelas dia masih berada dalam keadaan hidup. "Nona Go" seru Han Siong Kie lagi sambil menggigit bibirnya kencang2.

Namun gadis itu tidak menunjukan reaksi apa-apa ia tetap berbaring tak berkutik.

Benar2 suatu kejadian yang aneh membuat siapa pun marasa tak habis mengerti dengan kenyataan tersebut.

Agak gelagapan sianak muda itu menghadapi gadis cantik yang berada dalam keadaan telanjang bulat ini payudaranya yang montok dan putih bersih lekukan2 tubuhnya yang menggiurkan dan lembah hutan bakau dibagiao bawah merupakan suatu pemandangan yang indah menawan dan mengobarkan napsu birahi,

Pemuda itu napasnya mulai membura peredaran darah di tubuhnya berjalan makin gencar, matanya berkunang dan tangannya mulai menggigil keras.

Suatu perasaan yang sangat aneh timbul dalam hatinya, keringat telah membasahi jidatnya, meleleh dihidung dan tubuhnya.

Ia pejamkan matanya tak berani memandang lebih jauh pelbagai pemandangan aneh muncul dalam benaknya, seperti terpengaruh oleh kekuatan sibir yang memaksa matanya untuk membuka kembali dan memandang tubuh indah yang montok berisi itu.

Lama, lama sekali, berhasil juga pemuda itu untuk menguasai birahi yang berkobar dalam hatinya, ia mulai memikirkan tujuan kedatangannya kesitu, ia datang atas permintaan orang yang ada maksud untuk menolong orang.

Untuk kedua kalinya dia membuka kembali matanya. “Jangan-jangan ada jalan darahnya tertotok maka ia tak

sadarkan diri” pikir pemuda itu dihati, “Tapi siapakah yang turun tangan atas dirinya?” Selang sesaat kemudian ia berpikir lagi: "Aaaai..! Entah jalan darah mana saja yang telah tertotok sehingga ia tak bisa bergerak?”

Andaikaka pihak lawan adalah saorang pria maka sejak tadi pemuda itu sudah melakukan pemeriksaan yang seksama, tapi dia adalah scorang anak dara pemuda itu merasa tak punya keberanian untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Ia hendak mencari Tee heng sian untuk mengatasi kejengahan tersebut namun pemuda itu pun merasa tak tega untak meninggalkan dara itu seorang diri, sebab kalau sampai ada anggota perkampuogen yang tiba-tiba muncul disana niscaya akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah serba salah beberapa waktu akhirnya pemuda itu memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan baru tangannya diangkat peluh telah menetes tiada hentinya.

Jari-jari tangan yang gemetar mulai menggerayangi di tubub sang dara yang putih dan halus.

Mendadak Go Siau bi menggeliat tubuhnya membalik keatas sementara sepasang tangannya bagaikan sepassng ular gesit meluncur keatas dan memeluk tubuh Han Siong Kie erat- erat.

“Aaah, kau . . kau”

Han Siong Kie sama sekali tak menyangka bakal terjadi peristiwa semacam itu, bagaikan kena disambar geledek, pemuda itu cuma bisa berdiri menjublak dengan mata melotot dan mulut melongo, untuk meronta pun ia merasa tak mampu.

Sepasang biji matanya yang bening mengawasi wajahnya tanpa berkedip dibalik keheningan terseliplah kobaran api yang membara se-akan2 hendak melelehkan tubuhnya.

“Nona Go kau ,.kau . “ "Aku dalam keadaan baik-baik!" jawab gadis itu cepat. “Kau., kau.. lantas kau,,,”

“Han Siong Kie. sekarang ciumlah aku!"

Ucapan itu bagarkan permintaan, seperti pula suatu perintah, perintah yang disertai dengan suatu kekuatan yang membuat orang tak berani membantah.

Selesai mengucapkan kata2 itu Go Siau bi memejamkan matanya, bibir yang kecil mungil setengah terbuka dalam posisi menantang, bau harum tersiar keluar mempersonakan hati.

Tiba-tiba suatu dorongan emosi yang aneh dan buas seperti binatang timbul dalam bati pemuda itu. Manusia bermuka dingin yang selama ini membenci kaum wanita akhirnya bertekuk lutut juga.

Kobaran api berahi tak terbendung lagi dia peluk dara itu erat-erat dan empat bibir yang panas menyengat badan pun saling menempel satu sama lainnya.

Lama sekali mereka barciuman, seluruh tubuh mereka terasa jadi ringan bagaikan terbang di angkasa, makin lama makin tinggi makin lama makin ringan.

Helaan nafas panjang mengakhiri ciuman yang paling panjang dan paling hangat itu Han Siong Kie tersadar kembali dari lamunannya.

Go Siau bi melepaskan rangkulannya, mendorong pemuda itu kebelakang lalu memutar badannya kesamping untuk menyembunyikan bagian tubuhnya yang terlarang, bisiknya dengan lirih:

“Han Siong Kie. berikanlah jubah luarmu itu untukku !”

Dengan kaku Han Siong Kie berdiri beberapa saat dimana ia bangkit berdiri dan mundur beberapa langkah kebelakang kemudian jubah luarnya dilepaskan dan dilemparkan ke arah gadis itu,

Dengan suatu gerakan cepat Go Siau bi menggunakan jubah tersebut setelah tubuhnya terbungkus kain dia baru bangkit berdiri wajahnya dingin bercampur sedih setelah menatap pemuda itu lama sakali dengan pandangan kaku bisiknya:

"Han Siong Kie aku sudah merasa sangat puas, ciuman tadi telah memuaskan hatiku perduli bagaimanakah pandanganmu terhadap diriku pada hakekatnya aku telah menyerahkan hati untukmu seorang aku tahu sejak permulaan aku sudah salah tapi cintaku ini..”

“Nona Go kau"

“Dengarlah kata2ku lebih jauh kenangan masa lalu biarkanlah lewat dengan begitu saja hari ini kembali aku ditoloog olehmu aku Go Siau bi telah berhutang budi lagi kepadamu suatu ketika budi kebaikan ini pasti akan kubalas."

Han Siong Kie menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu tapi tak sepatah katapun yang muncul.

Air mata telah membasahi kelopak mata Go Siau bi namun ia beruaaha menahan merahnya sehingga tidak menetes ke bawah, ujarnya lagi dengan sedih:

"Sejak pertama kali aku bertemu dengan kau, aku telah mencintai dirimu, engkau adalah orang pertama yang kucintai juga merupakan orang terakhir yang kucintai, sekalipun aku mencintai dirimu dengan sepenuh hati dan aku tidak mendapatkan balasan yang sewajarnya tapi aku memang mencintai kau, cintaku adalah cinta suci yang muncul dari lubuk hatiku, asal kau tahu aku sudah merasa puas. Aaai . . karena pikiran yang keliru hampir saja aku melakukan kesalahan besar, terimakasih kuucapkan kepadamu, karena engkau telah memberi kesempatan kepadaku untuk menebus dosa-dosa itu" Rasa cinta Han siong Kie benar-benar tersentuh oleh perkataanya itu, detik itu juga ia merasa bersalah karena pendapatnya yang keliru ini telah menghancur lumatkan rasa cinta dirinya yang nyata ia telah menyakiti perasaan seorang gadis yang membuat dara itu hampir saja melakukan kesalahan besar.

"Nona, maafkanlah kesalahanku . ." bisiknya kemudian.

-000dw000-

BAB 60

Go SIAU BI segera ulapkan tangannya dan mencegah pemuda itu meneruskan kata-katanya

"Han siangkong, biarlah kusebut engkau dengan sebutan seperti yang kugunakan ketika untuk pertama kalinya aku bertemu dengan engkau, sekarang engkau tak usah minta maaf kepadaku, biarkanlah kejadian yang sudah lewat jadi kenangan, sekarang tegasnya mulai detik ini untuk menebus semua dosa yang pernah kulakukan semoga engkau baik-baik menjaga diri"

Tak tahan lagi air matanya jadi berderai membasahi seluruh wajahnya yang putih dan halus.

Go siau bi telah berlalu pergi dengan membawa perasaan hatinya yang hancur.

Han siong Kie ingin memanggil dara itu tapi ia tidak berbuat demikian, pemuda itu hanya berdiri termangu-mangu di dalam bangunan rumah baja itu.

Ia merasa bagaikan sedang bermimpi suatu impian buruk yang sebetuinya adalah kenyataan, dengan suara yang lirih ia cuma dapat bergumam. .bergumam seorang diri dengan suara yang lirih: "sebenarnya apa yang kau lakukan? Benarkah tindakanku selama ini ? Ataukah tindakanku itu keliru besar?"

Namun ia tak berhasil menemukan jawabannya.

Dengan mengorbankan segala-galanya Go siau bi berusaha untuk mendapatkan dirinya, tapi sekarang setelah mengalami kejadian tersebut, ia telah pergi dengan keraskan hati dan telah memutuskan perasaan cintanya.

sementara dia masih melamun, dari kejauhan terdengar serentetan jeritan ngeri berkumandang memenuhi seluruh angkasa, jeritan tersebut segera menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunannya

Ia lantas menduga kalau Go siau bi sedang melaksanakan pembalasan dendamnya atas orang-orang dari perkampungan oh hau san ceng

Dengan wajah termangu dan pikiran kalut pemuda itu keluar dari ruang besi dan menuju kemuka.

Kilatan cahaya api telah melambung keudara dari sana-sini terjadi kebakaran besar.

Dalam sekejap mata saja seluruh perkampungan Ob-hau san Ceng yang kokoh dan kuat telah disikat oleh si jago merah, kobaran api membumbung tinggi keangkasa dan membakar apa saja yang ditemuinya.

Buru2 Han Siong Kie berlalu dari tempat itu dan menyingkir dari jilatan api yang makin membara.

"Loo-te..!" tiba-tiba terdengar seseoraeg memanggil dengan suara lantang.

Cepat Han Siong Kie berpaling dengan perasaan terperanjat kiranya orang yang memanggil dirinya tak lain adalah Tee heng sian sambil cengar cengir manusia cebol itu melayang turun dihadapannya. “Lo ko apakah engkau yang bunuh orang dan membakar perkampungan ini?” tegur Han Siong Kie cepat.

Tee heng sian sambil cengar eengir sogers menggeleng. "Bukan. bukan aku, Seorang perempuan berkerudung yang

melakukan semua perbuatan itu!"

“Seorang perempuan berkerudung maksudmu ?” “Benar, ketika aku sedang minum arak di dalam gudang

arak sana tadi maksudku ingin keluar dan menonton keramaian, kebetulan aku saksikan seorang perempuan berkerudung sedang menghajar beberapa orang centeng dan beberapa ekor anjing kemudian membuka dua buah pintu besi di sebelah situ.

“Ooh. orang itu tentulah orang yang ada maksud" seru Han Siong Kie tanpa terasa.

"Siapa?" seru Tee heng sian kelihatan agak tertegun. “Orang yang ada maksud!"

“Orang yang ada maksud ? Ehmmm, aneh benar julukan ini dan engkau kenal dengan perempuan itu?"

“Ehmmm !" Han Siong Kie menganggu.

Tiba-tiba rasa curiga muncul kembali dalam benaknya, kalau toh sudab ada orang yang ada maksud kenapa dia yang diharuskan menolong Go siau bi. Kalau toh ia dapat membuka pintu baja itu, mengapa ia tidak membawa Go siau bi yang telanjang bulat, sebaliknya diserahkan kepadanya? Kenapa..? Kenapa ? Pemuda itu benar-benar merasa tidak habis mengerti.

"Eeeh lo-te, aku lihat pikiranmu kurang tenang dan wajahmu gugup sekali hayo, apa yang telah kau lakukan?" tiba tiba Tee heng sian menegur sambil tertawa cengar- cengir. "Aku..." Han siong Kie tertawa jengah

"Dimana bocah perempuan yang telah kau tolong itu?" "Dia... dia telah pergi"

"Pergi? Pergi seorang diri?"

Dengan sedih Han siong Kie mengangguk tanda membenarkan. Tee hee sian berkata lebih jauh.

"Tahukah engkau, kenapa orang yang ada maksud membunuh orang dan membakar perkampungan ini?"

"Mungkin juga dia hendak melampiaskan rasa dendam dan mendongkol dari Go siau bi"

"Lalu setelah urusan disini telah selesai, kau hendak pergi kemana. ?"

Han siong Kie tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru menjawab: "..Aku pikir hendak mengunjungi lembah in wu kok"

"Lembah In wu kok? Aneh benar nama tersebut, dimana toh letak lembah yang aneh itu?"

"Kurang lebih setengah jam lamanya dari tempat ini, lembah In wu kok adalah sebuah lembah aneh yang terpencil sekali letaknya"

"siapa yang beri tahu kepadamu kalau lembah itu bernama in wu kok?" Han siong kie tersenyum.

"ooh aku sendiri yang menamakan lembah tersebut, dengan sebutan lembah In wu kok, coba lihatlah bukankah disitu penuh dengan kabut yang amat tebal?"

"Aaah saudaraku, tempat itu bukan bernama lembah In wu kok melainkan adalah Lembah kematian yang dianggap setiap umat persilatan sebagai daerah terlarang, keseraman dan kengerian yang menyelimuti lembah tersebut sama sekali tak kalah dengan kemisteriusan benteng maut yang tersohor itu" "Lembah kematian?"

Benar, lembah itu sangat berbahaya.. setiap orang yang berani memasuki lembah itu berarti mengantar kematian diri sendiri sebab semua orang yang sudah masuk ke dalam lembah itu, selamanya tak akan bisa munculkan diri dalam keadaan selamat"

Hebat sekali perobahan wajah Han siong Kie, untuk sesaat dia termenung lalu baru berkata:

"Semula aku masih mengira lembah itu hanya sebuah lembah terpencil yang jarang sekali dikunjungi manusia"

"Loo te" Tiba2 Tee heng sian berkata dengan wajah serius "kalau toh engkau sama sekali tidak kenal akan lembah kematian, mau apa kau kunjungi lembah tersebut??"

"Aku... sebenarnya aku hendak mempelajari sejenis ilmu silat didalam lembah itu"

”Kalau toh cuma ingin mempelajari sejenis ilmu silat, mengapa kau pilih tempat semacam itu??"

"Sebab aku lihat tempat itu jauh dari keramaian dunia dan jarang sekali dikunjungi manusia, aku takut latihanku terganggu oleh kehadiran manusia lain maka aku hendak mencari tempat yang sepi dan terpencil itu sebagai tempat latihanku"

"saudaraku kalau engkau percaya dengan kata2ku ini, lebih baik batalkan saja niatmu itu"

Masih mendingan kalau Tee heng sian tidak berkata, semakin dilarang pergi kesitu semakin besar pula rasa ingin tahu yang timbul dalam hati Han siong Kipikirnya:

"Apa salahnya kalau aku pergi melakukau penyelidikan? Akan kulihat sebenarnya macam apakah lembah kematian tersebut" Tapi ia merasa tak tega untuk menolak kebaikan orang, maka ia manggut-manggut berulang kali.

"Baiklah, aku akan pertimbangkan lagi rencana ini, terima kasih atas peringatan dari engkoh tua, kau..."

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata2nya Tee heng siang telah tertawa cekikikan seraya menukas:

“Dalam sekejap mata perkampungao Oh hau san ceng akan berubah jadi puing-puing yang berserakan, gudang arak dibawah sana merupakan tempat tinggal yang paling aman dan nyaman apalagi persediaan arak yang ada disitu cukup bagiku umuk meneguk selama ber-tahun2 lamanya, sebelum semua arak itu habis aku tidak akan pindah rumah !”

Tersenyum juga Han Siong Kie melihat kekocakan rekanaya ini, ia berkata kemudian:

“Kalau memang begitu biarlah siaute mohon diri lebih dulu semoga kita dapat bertemu lagi dilain waktu !”

“Baiklab. aku memang sangat gembira bisa bertemu dengan seorang rekan seperti kau tidak kecewa aku Tee heng sian hidup di kolong langit hiiih hiiihh hiiihh bila engkau membutuhkan bantuanku datang saja ke-gudang arak ini dan berilah kabar kepadaku niscaya aku akan menyingsingkan lengan baju dan membantu dirimu!"

Han Siong Kie memberi hormat kepada rekannya setelah minta diri maka berangkatlah pemuda itu melanjutkan perjalanannya.

Sementara itu kobaran api yang amat besar masih menjilat- jilat seluruh hangunan gedung Oh hau san cung begitu dahsyat kebakaran yang terjadi tampaknya dalam sehari dua hari api belum bisa padam. Setelah meninggalkan tempat itu Han Siong Kie melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke lembah kematian.

Kali ini perjalanan dilakukao cepat sekali. tidak ssmpai satu jam sianak muda itu sudab mencapai lembah kematian, nun jauh kedepan yang terlihat hanyalah kabut yang tebal dan menyelimuti seluruh permukaan jagat, secara lapat lapat tampaklah cadas yaeg tajam dengan bukit yang tinggi tersebar dimana mana.

Pemuda itu termenung sebentar disitu kemudian dia lanjutkan kembali perjalanannya menuju ke mulut lembah.

Kenangan lama terbayang kembali dalam benaknya, ia teringat kembali bagaimana-kah dia dan Tonghong Hui tercebur kedalam jurang dan bagaimana mereka berhasil lolos dari kematian....

Pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya:

"Aaai. sayang adik Hui telah kembali kealam baka, tapi benarkah ia telah mati Bukankah orang yang ada maksud telah berkata bahwa adik Hui tak akan mati?" Lama sekali pemuda itu termenung, selang sesaat kemudian pikirnya lebih jauh:

"Kalau dia tidak mati, meagapa ia tak muncul kembali dari benteng mautnya, Apakah ia lupa masih ada janji dengan aku? Lupakah dia ketidak munculannya berarti suatu bukti padaku bahwa ayahnya adalah pembunuh keluargaku?"

setelah termanggu2 sejenak pemuda itu meneruskan kembali perjalanannya memasuki lembah itu

Kabut yang menyelimuti angkasa kian menebal, meskipun Han siong Kie memiliki ketajaman mata yang dapat memandang pemandangan sekitar tiga kaki, namun tiada satupun yang terlihat olehnya. "Aneh." kembali pemuda itu membatin, menurut Tee heng sian lembah kematian adalah suatu daerah terlarang yang sangat disegani oleh setiap umat persilatan di dunia ini, malahan katanya siapa berani masuk maka dia tak ada harapan untuk keluar dalam keadaan selamat, kini aku sudah lama masuk kedalam wilayah ini, kenapa tiada sesuatu apapun yang berhasil kutemui . ." "

Setelah termenung sebenter ia membatin lagi:

"Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya kebenarannya?"

Satu li kembali sudah dilewati oleh Han siong Kie, namun tiada sesuatu apapun yang terlihat.

Akhirnya mata yang tajam itu membentur dengan sesuatu benda, mendadak saja tubuhnya menggigil keras jantungnya berdebar tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya.

Sebuah batu besar yang penuh dengan lumut hijau terpancang di depan matanya, di atas batu tugu itu terteralah beberapa tulisan dengan huruf yang amat besar: "PERBATASAN ANTARA MATI DAN HIDUP”

Di balik tugu batu itu adalah ssbidang tanah datar yang berumput rendah di sana sini tumbuh bunga-bunga putih yang besar, ketika bunga putih itu diamati dengan lebih seksama lagi barulah diketahui bahwa benda itu bukan bunga melainkan kerangka manusia yang telah memutih begitu banyak kerangka manusia yang berserakan di tanah lapang berumput itu hal ini bisa ditarik kesimpulan betapa banyeknya jumlah korban yang telah kehilangan nyawanya disitu.

“Dibunuh korban-2 yang kini tinggal kerangka putihnya belaka itu? Atau kah mungkin ada sebab-sebab lain yang mengakibatkan kematian mereka ?”

Sulit bagi pemuda itu untuk memberikan jawabannya. “Perbatasan antara mati dan hidup” gumam pemuda itu ssorang diri.

Timbul suatu perasaan ragu di hati anak muda itu ia tahu yang dimaksudkan tugu peringatan itu adalah tempat ini sebagai perbatasan yang memisahkan antara mati dan hidup di bagian sebelah sini adalah dunia kehidupan sebaliknya tanah bidang sebelah sana adalah dunia kematian, sekarang ia tepat berdiri di-perbatasan antara kedua tempat itu.

Otaknya berputar terus berusaha memecahkan teka teki aneh ini, dia ingin tahu apa sabab yang membuat orang-orang itu menemui ajalnya.

Tentu saja batu peringatan kerangka manusia serta berita yang tersiar dalam dunia persilatan telah membuktikam bahwa Lembah kematian benar-benar adalah suatu tempat yang bisa mencabut nyawa manusia.

Sementara si anak muda itu masih sangsi dan tak sanggup mengambil keputusan secara lapat-lapat ia mendengGr tibanya hembusan angin yang mengibarkan ujung baju.

Meskipun lirih sekali suara itu namun bagi pendengaran Han siong Kie sudah cukup untuk membuktikan babwa ada orang yang datang ke tempat itu.

Satu ingatan lantas terlintas dalam benaknya ia berpikir: "Aneh siapa yang berani mendatangi lembah kematian ini

apa maksud kedatangannya”

Pemuda itu celingukan memandang sekeliling tempat itu, ketika ditemukan sebuah batu cadas kurang lebih empat kaki disamping tempat itu, cepat ia berkelebat kebelakang batu itu dan menyembunyikan diri

sekejap mata kemudian belasan sosok bayangan manusia telah munculkan diri didepan batu peringatan tersebut. Rombongan itu dipimpin oleh dua orang kakek berjubah hitam sedang kan sisanya adalah dua belas orang laki-laki yang memakai, baju ringkas warna hitam pula.

Di atas dada kedua orang kakek berjubah hitam itu masing2 bersulamkan lukisan rembulan dan matahari dan bintang.

Begitu menyaksikan lambang yang tertera diatas dada kakek berjubah hitam itu, Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, sebab lambang tersebut tidak terlalu asing baginya, dia merasa se-akan-akan pernah menjumpainya disuatu tempat.

setelah dipikirkan beberapa saat pemuda itu teringat kembali, ia masih ingat bagaimana orang yang kehilangan sukma telah membunuh Tengkorak maut gadungan dengan lencana Thian Che leng, dan di atas lencana itu terteralah lukisan Matahari, rembulan dan bintang.

Itu membuktikan pula bahwa rombongan yang barusan tiba disana tak lain adalab anak buah dari perkUmpulan Thian Che kau.

seingatnya diantara anggota perkumpulan Thian Che kau yang pernah ditemuinya, belum pernah ada diantara mereka yang munculkan diri dengan diatas dadanya tertera lambang matahari rembulan serta bintang, pemuda itu mulai berpikir- pikir, jangan2 kedudukan dua orang kakek tua itu memang sangat istimewa??

sementara itu salah seorang diantara dua orang kakek berjubah hitam itu sudah menyapu sekejap sekeliling gelanggang, kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.

"saudara see bun, masakah bocah keparat itu bisa terbang kelangit atau tenggelam kedasar bumi? Kenapa jejaknya lenyap dengan begitu saja tanpa meninggalkan bekas?" Kakek baju hitam yang disebut saudara see bun itu menjawab: "saudara Nyoo, menurut pandanganku mungkin saja bocah keparat itu telah mengetahui jejak kita semua maka sengaja ia mencari tempat yang bersembunyi untuk menyembunyikan diri "

"sekalipun ia sedang bersembunyi toh penggeledahan yang kita lakukan cukup ketat, masa pencarian ini sangat teledor sampai tempat persembunyian musuh sama sekali tidak ketahuan ?"

"Walaupun demikian kabut toh terlalu tebal disekitar tempat ini, siapa tahu kalau penggeledahan kita memang kurang teliti ?"

"Mungkinkah mata2 kita telah salah melihat orang ?" tanya orang she Nyoo lagi.

"Aaah tidak mungkin Tanda2 yang dimiliki manusia bermuka dingin sangat istimewa sekali, rasanya susah untuk mencari orang kedua yang memiliki ciri2 seperti dia "

Hampir saja Han siong Kie mendcngus dingin apa lagi setelah diketahui olehnya bahwa kemunculan rombongan itu tak lain adalah sedang mencari jejaknya.

"Jangan-jangan bangsat muda itu sudah melampaui perbatasan antara hidup dan mati?" kembali kakek she Nyoo itu mengutarakan pendapatnya. Dengan cepat kakek she see bun itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aah.. soal ini tak mungkin, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tak nanti ia bisa lolos dari kematian bila berani melewati perbatasan ini, tak nanti dia datang hanya untuk menghantar kematian belaka"

"Yang lebih aneh lagi, entah apa sebabnya bocah bangsat itu datang mengunjungi lembah kematian??"

"Aku mana tahu, mungkin cuma dia seorang yang mengetahui apa tujuannya datang kemari" "Lalu apa yang musti kita lakukan sekarang??"

"Mulut lembah sebelah depan toh sudah dijaga oleh jago2 lihay kita, mari kita lanjutkan penggeledahannya disekitar tempat ini, aku tak percaya kalau dia sudah dapat terbang ke langit atau menyusup kedalam tanah."

"Andaikata penggeledahan kita ini cuma sia-sia belaka??" "Aaah. tidak mungkin! Aku yakin jejak si bangsat muda itu

pasti akan berhasil kita temukan!”

Sementara itu Han Siong Kie sedang putar otak memikirkan persoalao itu batinnya:

“Mungkinkah kedua orang kakek tua ini adalah dua orang diantara sepuluh jago maha dahsyat dari perkumpulan Thian che kau seperti apa yang pernah diterangkan oleh Orang yang kehilangan sukma? Kalau memang demikian adanya tenaga dalam yang mereka miliki pastilah seimbang dengan kemampuan Tengkorak maut gadungan.."

Terdengar kakek she Nyo itu mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain ia berkata.

"Aku rasa teka-teki yang menyelimuti Lembab kematian antuk selamanya tak mungkin bisa terbongkar."

“Aku rasa belum tentu begitu!” sahut kakek she See-bun. “Kalau toh engkau berani mengatakaa demikian, masakah

San tian jiu ( telapak tangat kilat ) See-bun Lui berani

melangkahi perbatasan antara mati dan hidup untuk melakukan penyelidikan?"

Telapak tangan kilat See-bun Lui mendengus dirgin. “Hmm ! Seandainya engkau Tui hun poan ( senjata poan

koan-pit pencabut nyawa) Nyoo Yong bersedia untuk menemani, apa salahnya kalau kita lakukan penyelidikan terebut.”

Mendergpr tantangan tersebut Tui hun poan Nyoo Yong segera tertawa kering.

“Heeeh heeeh heeehh saudara See-bun lebih baik kita menangkap anakan kelinci saja !”

Kata-kata "anakan kelinci" itu amat tak sedap didengar kontan mengobarkan hawa amarah dalam hati Han Siong Kie, tiba tiba dia meloncat bangun dari tempat persembunyiannya seraya berseru:

“Manusia bermuka dingin ada disini !”

Kemunculan Han Siong Kie secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan Kedua orang kakek tua serta kedua belas orang anak buahnya, dengan perasaan tercekat, mereka segera berpaling.

Begitu mengetahui siapaksh yang telah munculkan diri, kedua belas orang laki-laki berpakaian ringkas itu segera menyambarkan diri dan membentuk gerakan setengah lingkaran untuk melakukan pengepungan yang ketat.

Telapak tangan kilat see bun Lui maupun pui hunp yan Nyoo Yong serentak berpaling pula kearah anak muda itu, dengan sinar mata berwarna hijau tajam mereka menatap musuhnya tanpa berkedip. dari kilatan cahaya mata itu dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu benar2 sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Agak terkejut juga Han siong Kie setelah menyaksikan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, namun ia tak gentar, dengan pandangan yang tak kalah dinginnya ia balas menatap kedua orang lawannya.

"Jadi engkau yang bernama Manusia yang bermuka dingin?" tegur Tui hun pan dengan wajah dingin. Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Ucapanmu memang tepat sekali."

"Bangsat, engkau akan menyerahkan diri dengan begitu saja ataukah hendak memaksa aku untuk turun tangan?"

"Huuh manusia macam kalian pun hendak membekuk aku" ejek sang pemuda sambil tertawa sinis "Hmmm sebutkan dulu siapa nama kalian"

"Bocah keparat, dengarkan baik-baik kata-kata kami ini" seru see bun Li dengan cepat, "kami berdua adalah Utusan khusus dari Thian che kau, dua jago lihay diantara sepuluh tokoh paling tinggi kedudukannya dalam perkumpulan kami.."

"Utusan khusus Haaahh haaahh haahh aku rasa kalian toh tak lebih cuma begundal bayaran belaka"

Ucapan itu dianggap sebagai penghinaan besar bagi dua orang kakek tua itu, betapa gusarnya oran2 itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.

"Bangsat, rupanya engkau sudah bosan hidup?" bentak mereka hampir bersamaan waktunya.

Dliringi bentakan nyaring see bun Lui melambung tiga kali ke tangah udara, kemudian secepat kilat melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Han siong Kie.

Serangan tersebut memang luar biasa cepatnya dan tak malu disebut bagaikan sambaran kilat, pada saat yang hampir bersamaan dia telah melepaskan sebuah pukulan yang mengancam dua belas buah jalan darah sekaligus bukan saja aneh gerakannya dahsyat pula ancamannya.

Sejak pihak musuh bersiap sedia melancarkan serangannya Han Siong Kie sudah dapat menduga babwa ilmu silat yang dimiliki kedua orang lawanya ini lihay sekali serangan mereka tak nanti bisa dibandingkan dengan serangan orang persilatan pada umumnya. Maka ketika pihak musuh melancarkan serangan maut cepat dia keluarkan lintasan cahaya sambaran bayangan untuk meloloskan diri.

Hanya sekali berkelebat tahu2 pemuda itu sudah lenyap dari pandangan betapa terkejutnya See-bun Lui menghadapi kelihayan musuhnya sekarang dia pun baru percaya bahwa ilmu silat yang dimiliki manusia bermuka dingin memang tak boleh dianggap enteng.

Gagal dengan serangan yang pertama dia susulkan dengan serangan kedua bahkan kali ini serangannya dilancarkan dengan kecepatan yang lebih hebat.

"Criiit.! Criiiit !" dua desingan angin tajam menderu deru dikala serangan kedua dari Seebun Lui dilepaskan, Han Siong Kie ssndiri pun melepaskan pula serangan dengan ilmu jari Tong kim ci.

Di tengah dengus kesakitan See-bun Lui mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Sekali pun mundur namun orang itu sama sekali tidak menuojukkan gejala terluka hal ini boleh dibilang jauh diluar dugaan si anak muda itu.

Rasa kaget dan tercekat yang dialami Han Siong Kie waktu itu sukar dibayangkan dengan kata-kata ia tak mengira kalau ilmu jari Tong kim ci yang begitu dahyat dan mematikan ternyata tidak mampu merobohkan musuhnya.

Sementara itu Tui hun poan Nyoo Yong telah membentak keras dan maju menyerang pula.

Suatu pertempuran sengit pun segera berkobar dengan sengitnya masing masing pihak saling menggunakan kemampuannya sendiri untuk merobohkan lawan.

Wilayah seluas tiga kaki diliputi oleh deruan angin puyuh, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa. Han siong Kie dengan andalkan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan itu melakukan inisiatip untuk menyerang gencar, sekalipun dia telah berusaha dengan segenap kemampuan yang dimiliki, itupun hanya berhasil memaksa lawannya untuk bertarung dalam keadaan seimbang alias sama kuat.

Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun menang kalah masih belum bisa ditentukan.

Memang seram dan mengerikan jalannya pertarungan itu, bukan saja angin menderu dan bahkan dunia terasa jadi gelap, membuat dua belas orang laki2 berpakaian ringkas yang ada disamcing gelanggang diam2 merasa bergidik.

setelah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasan, see bun Li terjun kembali ke dalam gelanggang pertarungan, rupanya dia pun menyadari bahwa kekuatan pihak lawan terlalu tangguh, tak mungkin salah seorang dari pada mereka berhasil menaklukkan lawannya andaikata tidak turun tangan secara bersama:

Dengan cepat situasi dalam gelanggang pertarungan mengalami perubahan.

Dua orang tokoh sakti dengan meng andalkan kekuatan mereka yang paling top berusaha menghancurkan lawannya, kedahsyatan angin pukulan yang mereka hasilkan benar2 mengerikan sekali.

Dalam keadaan demikian, Han siong Kie dipaksa untuk mengambil langkah2 pertahanan,

dia mainkan ilmu Mo mo ciang hoat bagian pertahanan untuk menutup semua bagian tubuhnya dari kemungkinan terserang musuh, kalau sebentar saja masih mendingan tapi lama kelamaan diapun mulai terdesak hebat. sepuluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa... Han siong Kie semakin terdesak hebat sehingga selangkah demi selangkah mundur terus kebelakang..

satu langkah, dua langkah, tiga langkah, Akhirnya pemuda itu sudah melampaui garis pemisah yang merupakan perbatasan antara mati dan hidup,

Menyaksikan kejadian itu baik see bun Lui yang bergelar telapak tangan kilat maupun Nyoo Yong yang berjulukan Hakim pengejar sukma sama-sama menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang.

Perbatasan antara mati dan hidup .. suatu wilayah angker yang tak berani dilewati oleh siapapun.

Han siong Kio masih belum merasa kan akan hal itu, kembali ia mundur beberapa langkah kebelakang.

sekarang Han siong Kie sudah berada satu kaki lebih dibalik garis pemisah yang disebut perbatasan antara mati dan hidup itu, namun tiada sesuatu kejadian yang menimpa dirinya, ia tetap utuh, sehat dan tak kekurangan sesuatu apapun.

Belasan orang jago lihay dari Thian che kau mulai menunjukan sikap kebingungan dan tidak habis mengerti, sampai2 mereka berdiri dengan wajah melongo.

-ooodwooo-

BAB 61

LEMBAH kematian- suatu daerah terlarang yang dianggap angker serta mengerikan bagi umat persilatan, wilayah itu dipisahkan oleh sebuah garis yang dinamakan perbatasan antara mati dan hidup, selama banyak tahun tak seorang manusiapun sanggup melewati perbatasan tersebut dalam keadaan hidup,

Tapi sekarang Manusia berwajah dingin telah menyeberangi perbatasan itu sejauh beberapa kaki tanpa mengalami sesuatu kejadian apapun, kejadian ini benar merupakan sesuatu peristiwa yang aneh dan sama sekali tak masuk akal.

Tatkala pihak musuh menarik kembali serangannya tadi, tanpa terasa Han siong Kie lelah mundur kembali beberapa langkah kebelakang, menanti ia rasakan perubahan yang aneh pada wajah musuhnya pemuda itu baru sadar bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam wilayah yang tersohor karena angkernya itu.

Kontan bulu kuduknya pada bangun berdiri dan peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya tapi setelah ditunggunya beberapa saat tanpa terjadi sesuatu perubahan, dari kejut dan cemasnya kini berobah jadi heran dan tak habis mengerti.

Dua orang jago dari Thian che kau itu terhitung jago2 tangguh dalam perkumpulannya, mereka tidak pernah pandang sebelah mata atas musuhnya namun berada diwilayah angker ternyata kedua orang itu tak berani banyak berkutik.

Selang sesaat kemudian, See-bun Lui baru berkata kepada rekannya dengan suara lirih:

“Saudara Nyoo, aku rasa kejadian ini sangat aneh dan sangat mencurigakan hati!”

"Apanya yang mencurigakan?" seru Nyoo Yong yang berjulukan hakim pengejar sukma.

“Coba kau lihat, bajingan muda itu telah menyeberangi perbatasan antara mati dan hidup, namun ia tetap sehat wal'afiat, sedikit pun tidak apa apa.”

“Jangan-jangan berita yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini hanya berita kosong belaka?”

See-bun Lui garuk2 kepalanya yang tidak gatal lama sekali dia berpikir kemudian baru berkata: "Saudara Nyoo andakata kita menarik diri dan mengundurkan diri dari wilayah ini apakah tindakan tersebut bisa dianggap suatu pembangkangan terhadap perintah?”

“Tentang soal ini tentu saja!"

"Jadi kalau begitu terpaksa kita harus berkejaran terus dengan bajingan itu?”

"Aku rasa memang itulah yang bisa kita lakukan sekarang selain itu kita toh bisa minta petunjuk dari kaucu!”

See bun Lui mengangguk ia lantas memanggil dua orang laki2 baju hitam dan membisikkan sesuatu kepada mereka dua orang laki-laki tersebut segera mengiakan dan berlalu dari lembah tersebut.

Han Siong Kie yang berada di dalam wilayah lembah kematian dapat mengikuti gerak gerik mereka dengan amat jelas dia tahu bahwa orang-orang itu tak berani memasuki lembah kematian bahkan mungkin sekali mereka sedang mengundang kehadiran Thian che kaucu untuk menyelesaikan sendiri persoalan ini.

Diam2 Han siong Kie menguatirkan kemampuan Thian che kaucu sebab kalau ditinjau dari kemampuan yang dimiliki kedUa orang utusan khusus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki ketua mereka benar- benar telah mencapai puncak kesempurnaan yang tak terhingga, ia jadi terbayang kembali akan peristiwa dimasa lalu sewaktu dia menyerbu wilayah Lian huan yau untuk menolong Go siau bi, ketika itu ia telah berjumpa dengan seorang manusia barkerudung yang mangaku sebagai ketua perkumpulan tapi akhirnya ia bukti bahwa dia tak lebih cuma penyaruan dari salah satu diantara sepuluh jago tangguh perkumpulan.

Anak muda ini mulai berpikir, mengapa Thian che kaucu tak berani munculkan diri sebaliknya suruh orang lain untuk menyaru sebagai dirinya?" Mungkinkah dibalik semuanya ini sebetulnya masih tersimpan rahasia lain? Yang lebih aneh lagi, ternyata pihak Thian che kau telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menghadapi dirinya seorang, malahan ketuanya turun tangan sendiri untuk memimpin operasi tersebut, hal ini menandakan kalau pihak mereka memandang serius persoalan tersebut, lalu apa sebabnya mereka bersikap drmikian?" Tiba2 Nyoo Yoong, hakim pengejar sukma berseru dengan suara dalam:

"Bocah keparat, beranikah engkau menyeberang kemari untuk melangsungkan pertarungan seru dengan kami?"

Han siong Kie sendiripun tak tahu apa sebabnya ia bisa menyeberangi perbatasan mati dan hidup tanpa cedera, namun ia tahu bahwa musuh- musuhnya tak berani menyeberangi wilayah angker itu dam selalu memanaskan hatinya agar dia menyeberang kembali ke sana. Maka sambil tertawa dingin, ejeknya:

"Bangsat tua, kenapa bukan kalian yang menyeberang kemari? Kalau memang jantan hayolah kemari"

Perasaan jengah dan serba kikuk muncul diatas wajah Nyoo Yong maupun see bun Lui, mereka ingin mencoba untuk menyerbu ke depan tapi ketika sinar matanya terbentur dengan tulisan PERBATASAN MATI DAN HIDUP" yang tertera di tepi jalan serta kerangka manusia yang berserakan di

mana-mana, hati mereka jadi bergidik dan keberaniaannya jadi buyar kembali.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han Siong Kie, pikirnya :

"Kedatanganku kemari toh hanya ingin menyelidiki rahasia yang tersimpan dalam lembah kematian? Apa gunanya ribut2 terus dengan mereka . . ?

Maka serunya kemudian dengan suara dingin : “Saudara berdua kalau toh kalian tak berani datang kemari, maaf kalau aku tak dapat menemani kalian lebih lama lagi bila ingin bertarung kesempatan dikemudian hari masih banyak !”

Habis berkata dia lantas putar badan dan berjalan masuk kedalam Lembab kematian dengan langkah lebar.

Selang sesaat kemudian ia sudah berada di tengah-tengah lembah itu namun tiada kejadian aneh yang menimpa dirinya, sekalipun rasa tegang sudah jauh mengendur, namun perasaan ingin tahu yang berkobar dalam hatinya makin menjadi.

"Heeey bocah keparat. jangan pergi !" serentetan bentakan nyaring bergema memecahkan kesunyian.

Mendengar seruan tersebut, Han Siong Kie berhenti dan segera berpaling, hawa murninya disiapkan dalam tangan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Nyoo Yong, Hakim pengejar sukma telah memburu masuk kedalam wilayah lembah kematian, ketika dilihatnya pihak musuh dapat memasuki daerah angker itu tanpa cedera timbullah keinginan untuk berspekulasi siapa tahu kalau diapun beruntung bisa lolos dari wilayah angker itu dalam keadaan selamat?

Dalam dua kali lompatan, Nyoo Yong Hakim pengejar sukma sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dibelakang sianak muda itu.

Akan tetapi ketika Hakim pengejar sukma sedang melambung kedepan untuk ketiga kalinya...

Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggelegar di angkasa dan memecahkan kesunyian yang mencekam sekitar tempat itu.

Nyio Yong yang sedang melayang diudara, se akan2 burung yang kena dipanah, tahu-tahu badannya menukik ke bawah dan roboh keatas tanah. la mati secara misterlus. Hakim pengejar sukma Nyio Yong telah tewas dihadapan rekan2nya, namun tak seorangpun yang tahu apa sebabnya tiba2 ia mampus, jangankan mereka sekalipun Han siong Kie yang berada beberaps depa dihadapannya juga tak melihat sebab musabab yang mengakibatkan kematian jago lihay itu

Pucat pias wajah para jago dari Thian che kau, rata- rata mereka berdiri tertegun dengan sukma merasa melayang tinggalkan raganya, kejadian ini sama sekali diluar dugaan semua orang.

Han siong Kie sendiripun terkejut sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat dan punggungnya .

Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan kematian Nyio Yong yang secara tiba2 namun ia tak tahu apa yang menyebabkan kematian musuhnye itu, untuk sesaat ia jadi tertegun dan berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ditatapnya mayat Nyoo Yong tanpa berkedip. sementara pikirannya melayang entah sampai dimana.

Mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang lagi memenuhi angkasa, suatu pemandangan yang sangat mengerikan telah berlangsung didepan mata.

Begitu mencium tanah, mayat Nyoo Yong yang masih hangat itu ternyata meleleh dan mengalami pembusukan dengan cepat, kemudian selang sesaat mayat itu sudah hancur tinggal tulang kerangkanya belaka.

Hampir saja Han siong Kie menjerit kaget, bulu kuduknya pada bangun berdiri, kejadian aneh ini belum pernah ditemuinya semenjak dahulu kala, tidak sampai setengah perminum teh salah seorang tokoh silat yang berilmu tinggi telah berobah jadi seonggokan tulang kerangka yang putih mengkilat, bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapakah yang akan percaya bahwa peristiwa semacam itu benar2 telah terjadi di depan mata ? Lewat lama sekali dia ter-mangu2, setelah rasa kagetnya hilang ia baru berpaling memandang ke belakang, pada ujung lembah tersebut ia saksikan sebuah gundukan tanah berbukit, beberapa pohon raksasa yang amat besar tumbuh disekitar gundukan tanah itu

Di belakangnya adalah sebuah tebing dan sebuah bukit yang tinggi menjulang keangkasa demikian tingginya bukit itu sehingga menembusi kedalam awan.

Dengan langkah yang ragu-ragu dan penuh kesangsian pemuda itu melanjutkan perjalanannya memasuki lembah itu dan mendekati gundukan tanah yang berada didepan mata.

Beberapa kaki sebelum mencapai gundukan tanah tadi tiba2 pemuda itu berseru tertahan dan berhenti.

Di bawah dua batang pohon raksasa berdirilah sepasang makhluk hitam putih yang mengerikan..

Mereka sama-sama memelihara rambut yang panjang cuma yang hitam sekujur tubuhnya berwarna hitam pekat sebaliknya yang putih luar biasa putihnya bagaikan salju.

Dengan seksama anak muda itu mengawasi beberapa saat makhluk itu, sekarang ia dapat memastikan bahwa mereka adalah manusia, sepasang manusia aneh berwama hitam dan putih, hatinya terasa makin bergidik,

Kedua orang itu duduk bersila saling berhadapan, ke empat buah telapak tangannya direntangkan kedepan sejajar dengan dada, selisih jarak kedua belah pihak cuma terpaut tiga kaki.

Han siong Kin tertegun- .apa yang telah terjadi? " sekilas pandangan dua orang jago itu bagaikan sedang mengadu tenaga dalam, tapi mirip juga sedang melatih sejenis ilmu silat.

Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir saja ia tak percaya kalau dikolong langit sebenarnya terdapat manusia seaneh itu, yang hitam kulitnya benar- benar hitam mengkilap seperti tinta, apalagi jubahnya berwarna hitam pula membuat orang itu betul2 serba hitam.

Sebaliknya yang putih demikian putihnya seperti sesosok mayat hidup bukan rambutnya berwarna putih, jubah maupun sepatunya juga berwarna putih. suatu perbedaan warna yang amat kontras sekali.

Mungkinkah mereka adalah manusia biasa ?

Atau mungkin mereka adalah sebangsa siluman, manusia jadi-jadian yang sering dijumpai dalam tempat terpencil ?

Terbayang akan setan tanpa terasa Han Siong Kie bergidik bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri.

Lama …, lama sekali „ dua orang makhluk aneh itu masih belum menunjukkan reaksi apa-apa.

Mungkinkah mereka adalah dua sosok mayat hidup ?

Ataukah cuma sepasang patung arca belaka ?

Lembah kematian yang pada hakekatnya memang mengerikan, kini terasa lebih mengerikan lagi dengan munculnya dua sosok makhluk aneh itu.

-ooo00dw00ooo-