Tengkorak Maut Jilid 27

 
Jilid 27

SESUDAH berhenti sebentar orang yang kehilangan sukma kembali berkata:

"Demi engkau mau tak mau aku harus musnahkan Tengkorak maut gadungan dari muka bumi, tapi tahukah engkau akibat dari kematiannya itu maka akan timbul pelbagai kejadian yang sukar diramalkan mulai sekarang. Tahukah engkau didalam perkumpulan Thian che kau masih terdapat belasan orang jago yang memiliki ilmu silat setaraf dengan kepandaian Tengkorak maut gadungan."

Diam2 Han siong Kie menjulurkan lidahnya dengan setengah percaya setengah tidak ia berseru:

"sudah beberapa kali boanpwee menyatroni, markas besar perkumpulan Thian che kau akan tetapi selama ini?"

"belum pernah...".

"Benar, desa ini dalam markas besar perkumpulan Thian che kau memang tidak terdapat jago2 lihay yang terlalu istimewa, tapi tahukah engkau bahwa jago2nya sama sekali tidak berada disitu? secara beruntun mereka akan munculkan diri didalam dunia persilatan, mungkin juga dunia persilatan sudah menghadapi saat2 kiamat, tak lama lagi perkumpulan Thian che kau akan menumpas musuh2nya dan merajai kolong langit..."

"Nak. tugasmu sekarang terlampau berat, aku harap engkau bisa baik2 menjaga diri. Ingatlah Engkau harus bersabar menghadapi segala persoalan apapun"

Betapapun kukuhnya Han siong Kie, ia merasa terharu juga setelah mendengar perkataan itu, sepasang matanya jadi merah dan hampir saja air matanya jatuh bercucuran, dengan bersungguh2 katanya:

"Nasehat dari cianpwe akan boanpwe ingat selalu didalam hati"

"Nak, sekarang engkau boleh berlalu dari sini" sebenarnya dalam hati kccilnya Han siong Kie masih ada

banyak persoalan yang hendak ditanyakan, akan tetapi pada

saat itu dia merasa tak sepatah katapun yang mampu diucapkan, maka sesudah termenung sebentar akhirnya ia berkata: "Kalau memang begitu, boanpwe mohon diri lebih dahulu"

"Engkau tak usah melalui jalan raya lagi, diantara lima orang tianglo yang setia kepadamu ada dua sudah tewas dan tiga orang terluka parah, kini yang tewas sudah dikubur sedang yang luka sudah pergi, lewatilah hutan sebelah depan sana, lebih cepat berlalu dari sini lebih baik"

Han siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, akan tetapi terhadap orang yang kehilangan sukma dan putrinya, ia menaruh rasa percaya seratus persen, maka tanpa membantah lagi sianak muda itu segera berputar kesamping kanan dan siap berlalu dari situ..

"Tunggu sebentar" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru kembali. " Cianpwe, apakah masih ada persoalan lain yang hendak cianpwe sampaikan kepadaku" tanya sianak muda itu sambil menghentikan langkah kakinya dan berpaling.

"Hampir saja aku telah melupakan suatu persoalan yang amat penting sekali."

"Ucapkanlah cianpwee, boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"

"Apakah engkau sudah mengetahui asal usul Yu sau Kun, ketua muda perkumpulan Thian che kau yang sebetulnya??"

satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, dia segera bertanya: "Masa dia benar2 adalah keturunan dari susiokku Telapak naga beracun Thio Lin??"

"Tepat sekali tebakanmu itu, dia memang keturunan dari paman gurumu yang sudah tiada"

"Taa... tapi hal ini mana mungkin bisa terjadi??" "Kenapa tak mungkin terjadi??"

"Bukankah dia sudah mewakili diriku mati didalam perkampungan keluarga Han?"

"Apakah engkau sudah menemukan jenasahnya??" "Tentang soal ini.." Untuk sesaat Han siong Kie jadi

gelagapan dengan sendirinya, "mendiang susiokku, Telapak

naga beracun Thio Lin yang memberitahukan persoalan ini kepadaku"

"Dia toh cuma tahu kejadian itu sebelum berlangsungnya peristiwa itu, ketika peristiwa berdarah berlangsung, ia sama sekali tidak hadir dalam gelanggang"

Mendengar perkataan itu, Han siong Kie segera merasakan tubuhnya gemetar keras bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi, ia sama sekali tak menyangka kalau asal usulnya serta peristiwa berdarah yang menimpa keluarganya dapat diketahui oleh orang yang kehilangan sukma sejelas itu, lalu.. siapa kah sebenarnya orang itu"

Kalau memang orang yang kehilangan sukma telah mengetahui semua kejadian itu bagaikan memandang jari tangan sendiri, kenapa ia tidak secara langsung membeberkan rahasia ini kepadanya, tapi malahan suruh dia berkunjung kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya, apakah maksud yang di kandung orang itu dibalik kesemuanya ini ?

Atau mungkin pemilik benteng maut bukan pembunuh keluarganya dan dibalik semua peristiwa ini masih ada persoalan lain? "

Kalau memang Tengkorak maut bukan pembunuh keluarganya, mengapa Tonghong Hui tidak muncul kembali dari bentengnya sesudah masuk kedalam benteng maut?

Bukankah mereka telah berjanji, apa bila majikan benteng maut adalah pembunuhnya maka gadis itu tak akan muncul kembali..

Makin berpikir ia merasa makin bingung dan makin dibayangkan pikirannya semakin ruwet..

"Nak tak ada gunanya engkau banyak berpikir" terdengar orang yang kehilangan sukma berkata lagi, "suatu saat engkau pasti akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi, aku hanya berharap agar engkau mengingat selalu bahwasanya Yu Sau kun sebenarnya adalah Thio Sau kun, dia adalah sutemu, tapi engkaupun musti ingat bahwa rahasia ini hanya boleh engkau ketahui didalam hati, jangan sekali2 engkau bocorkan dihadapannya, sebab kalau tidak maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. Nah, sekarang pergilah"

Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti, sekali lagi Han siong Kie memandang sekejap lencana Thian che leng yang tertempel diatas dahan pohon, akhirnya dia menjejakkan kakinya dan berlalu dari hutan itu. Lencana ok kui cu pay yang merupakan simbol kekuasaan rtari perguruannya kini telah dirampas oleh Tengkorak maut gadungan dan oleh Tengkorak maut benda itu sudah diserahkan pula ketangan orang lain, yang dimaksudkan orang lain pastilah orang2 dari Thian che kau.

Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, dalam perkumpulan Thian che kau terdapat belasan orang jago lihay yang setaraf dengan ilmu silat Tengkorak maut gadungan, bukankah itu berarti bahwa sukar baginya untuk merampas kembali lencana tersebut??"

Berpikir sampai disitu, ia jadi murung dan sedih.

Apa bila lencana mustika perguruannya tidak berhasil dirampas kembali dari tangan musuh, bukankah itu berarti bahwa ia telah menjadi seorang manusia yang berdosa??"

Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam lamanya, sampailah sianak muda itu diluar hutan- diapun meneruskan perjalananya melalui jalan raya yang terbentang lebar.

Tujuannya tetap tidak berubah, dia akan mengunjungi lembah berkabut dimana ia dan Tonghong Hui pernah lolos dari bahaya maut, dia akan menuju ketempat yang terpencil ini untuk mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu Poo pit, apa bila ilmu sakti itu berhasil dipelajari maka dia akan mengunjungi benteng maut dan melakukan pembalasan dendam.

sepanjang perjalanan pemuda ini tiada hentinya memikirkan rahasia yang berhubungan dengan Thian che kau.

Menurut keterangan dari orang yang kehilangan sukma, perkumpulan Thian che kau masih memiliki belasan jago yang benar2 tangguh, berita ini boleh dibilang sangat mengejutkan siapapun juga. Tatkala ia menyatroni wilayah Lian huan tau untuk menolong Go siau bi, beberapa kali ia telah bertarung melawan Thian che kau, ketika itu ilmu silatnya masih belum mempu melawan musuhnya, dan ternyata sekarang terbukti bahwa musuh tangguhnya itu hanya seseorang yang bertugas untuk menyaru sebagai ketua itu, dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat yang dimiliki Thian che kaucu benar2 sukar diukur dengan kata2.

sementara perjalanan masih dilanjutkan, tiba2 dari balik semak belukar ia temukan ada sesosok tubuh manusia menggeletak disitu, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, ia berhenti dan menghampiri semak belukar itu.

Ketika diperiksa dengan seksama diketahuilah bahwa orang itu adalah seorang pendekar pedang yang masih muda dan tampan sekali wajahnya.

Akan tetapi sesudah diperiksa dengan lebih seksama lagi, bergidiklah hatinya Han siong Kie, ternyata pemuda tampan itu sudah berubah menjadi sesosok mayat.

Jika ditinjau sepintas lalu, orang tak akan menyangka kalau pemuda tampan itu sudah menjadi mayat, sebab wajahnya begitu segar dan tenang, seakan-akan seseorang yang sedang tertidur nyenyak.

Han siong Kie merasa keheranan setengah mati, apa sebabnya pendekar muda itu bisa mati dipinggir jalan tanpa ditemukan sesuatu luka ditubuhnya? Mungkinkah kena serangan jantung?

Disekitar semak belukar itu tidak ditemukan tanda2 bekas pertarungan, dilihat dari wajahnya jelas pemuda itu bukan mati lantaran sakit ataupUn keracUnan, kejadian ini benar2 mengherankan sekali..

Maka Han siong Kie menghampiri mayat itu, dengan perasaan ingin tahu diperiksanya sekujur badan mayat itu, akhirnya sesudah diteliti dengan seksama, ia temukan diatas dada mayat itu terteralah lima buah bekas jari tangan yang sangat lembut, bentuknya seperti bunga sakura, bila tidak dia mati dengan seksama, tanda itu pasti tak akan ditemukan.

Han song Kie lebih2 dibuat terperanjat lagi, ditinjau dari bekas kelima buah titik jari itu jelaslah sudah bahwa disitulah letak sebab musabab kematian dari pemuda itu, sayang pengalaman dan pengetahuannya terlalu cetek. sehingga ia tak dapat menebak siapakah yang telah melakukan pembunuhan tersebut.

sesudah ter-mangu2 beberapa saat, akhirnya pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya kedepan.

Entah berapa li sudah lewat, akhirnya ia temukan dua sosok mayat, sebab kematian mereka tidak berbeda jauh dengan tanda yang ditemukan pada mayat pertama, dan lagi kedua orang inipun terhitung pemuda2 tampan yang berusia dua puluh tahunan.

sekarang Han siong Kie baru merasakan betapa seriusnya persoalan itu, pikirnya di hati:

"siapa gerangan yang telah turun tangan sekeji ini?"

Yang aneh ternyata korban2nya adalah pemuda yang masih berusia belasan serta berwajah tampan.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya sampailah si anak muda itu didalam sebuah kota kecil.

setelah mencari sebuah rumah makan yang bersih, pemuda itu mencari tempat dan memesan makanan, dari pembicaraan para tamu yang ada dalam ruangan itu, ia dengar semua orang sedang dihebohkan oleh pembunuhan dengan tanda bunga bwe.

Han siong Kie tidak memberi komentar apa2, ia cuma mendengarkan sambil bersantap. sayang tiada sesuatu tanda yang berhasil ditemukan olehnya dari pembicaraan itu. sementara suasana masih gaduh dan ramai oleh pembicaraan para tamu, mendadak suasana jadi hening dan sepi, begitu sepinya sehingga terasa aneh sekali. Han song Kie tercengang, dia segera menengadah..

Kiranya seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan sedang berjalan masuk kedalam ruangan itu, dipandang dari bayangan punggungnya, anak muda itu segera kenali dirinya sebagai cucu perempuan dari Pat lo sianseng, Go siau bi adanya.

Kemunculan Go siau bi yang secara tiba2 ini sangat mencengangkan hati si anak muda itu, dia hendak menyapa, tapi sebelum sepatah kata sempat meluncur keluar dari mulutnya, ia lihat ada dua orang pemuda tampan ikut duduk disampingnya, maka niat untuk berbicarapun segera dibatalkan.

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, ia benar2 dibikin keheranan oleh kemunculan gadis itu.

sementara dia masih melamun, gelak tertawa yang amat merdu dan penuh dengan daya tarik berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul gelak tertawa yang lain menggema pula dari mulut kedua orang pemuda itu.

Han siong Kie mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia makin keheranan lagi, ia tak menyangka Go siau bi bisa berkumpul dengan pemuda bergajul macam begitu.

Dua orang laki2 seorang wanita muda itu bergurau sambil tertawa tergelak. sikap mereka bukan saja begitu berani bahkan sama sekali tak ambil pusing kalau disitu masih ada tamu lain, ternyata tak seorang tamu pun yang berani buka suara untuk menegur.

Han siong Kie memang membenci kaum wanita, tapi Go siau bi pernah melepaskan budi kebaikan kepadanya. maka ia tak mau mencampuri urusan gadis itu sebelum duduknya persoalan diketahui dengan jelas. Mendadak...satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dia teringat kembali akan ketiga sosok mayat pemuda yang ditemuinya ditepi jalan siang tadi, tak kuasa lagi sekujur badan nya merinding, jangan-jangan

"siangkong, tambah arak?" terdengar pelayan menegur dengan suara yang lirih. Han siang Kie melirik sekejap kearah pelayan itu lalu mengangguk.

"Tambah dua canting"

Pelayan segara menuang dua canting arak kedalam teko yang ada dimeja, menggunakan kesempatan itu cepat Han siong Kie bertanya: "siapakah dua orang pemuda yang berada disana itu?"

Pelayan itu kelihatan terperanjat, sambil menjulurkan lidahnya ia menyahut dengan lirih:

"Mereka dinamakan Kim kiam siong ing (sepasang pendekar pedang emas) murid partai Go bi, siangkong Lebih baik jangan banyak bertanya, sebab kedua orang itu adalah sau cengcu dari perkampungan Go hau san eng, terlalu besar asal usulnya". Berbicara sampai disitu buru2 ia berlalu dari sana.

Han siong Kie tidak berbicara apa2 lagi, ia tundukkan kepalanya sambil minum arak.

Kurang lebih setengah jam kemudian, Go siau bi dan Kim kiam siang ing baru berlalu dari sana.

Cepat Han siong Kie membayar rekening nya dan ikut keluar dari rumah makan itu, ternyata bayangan tubuh ketiga orang itu sudah lenyap tak berbekas.

Han siong Kie tertegun, tapi sesudah berpikir sebentar buru2 ia membeli rangsum kering, kemudian berlari keluar dari kota tersebut. satu Li baru lewat dari tepi jalan ia temukan dua sosok mayat menggeletak disitu ketika mayat tersebut diperiksa dengan seksama, siapa lagi mereka kalau bukan Kim kiam siang ing yang belum lama berselang baru saja tinggalkan rumah makan.

Tubuh mereka tidak terluka ataupun mengucurkan darah, cuma diatas dada masing2 orang terteralah sebuah cap jari tangan berbentuk bunga sakura.

Betapa terperanjatnya hati Han siong Kie sukar dilukiskan dengan kata2, sekarang ia dapat membuktikan bahwa pembunuhan2 keji itu kiranya dilakukan oleh Go siau bi, akan tetapi apa sebabnya ia bantai pemuda2 tampan itu?

Dengan perasaan tak habis mengerti pemuda itu gelengkan kepala berulang kali, akhirnya ia melanjutkan perjalanannya kembali kedepan.

senja itu, ketika sang surya baru condong kesebelah barat, sampailah pemuda itu disuatu tempat kurang lebih sepuluh li dari lembab In.wu.kok..

sementara si anak muda kita masih melanjutkan perjalanannya, mendadak dari balik pepohonan tak jauh darijalan raya terdengar seorang gadis sedang tertawa cekikikan.

suara tertawa itu amat menusuk pendengaran, hal ini segera memancing perhatian sianak muda itu, tanpa berpikir panjang Han siong Kie segera meluncur kearah depan.

Melalui celah2 pepohonan yang lebat, ia saksikan ada sepasang muda mudi sedang duduk saling berhadapan, yang laki2 berwajah amat tampan dan berusia tujuh delapan belas tahunan, sedang yang perempuan tak Iain adalah Go siau Bi.

Pada waktu itu dengan muka yang genit dan kerlingan mata yang menggiurkan Go siau bi sedang main mata dengan sianak muda itu kemudian terdengar ia bertanya dengan manja: "cantikkah wajahku ini?"

"Cantik,. cantik sekali, kecantikan wajahmu ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan" sahut sipemuda itn dengan wajah terkesima.

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Aku tak pernah berbohong, setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata2 yang sejujurnya dan aku rasa nona pasti mengetahui sendiri bukan akan hal itu"

"ooh benarkah begitu? Ehmm. lalu apakah engkau mencintai diriku..??"

"Tentang soal ini.... tentang soal ini. " pemuda itu tampak

gelagapan jadinya.

"Eeh, jangan soal ini soal itu, kalau tidak mencintai aku mengapa engkau ikuti diriku sampai disini??"

"Apa bila nona bersedia menerima perhatianku ini, cay he...

cayhe merasa sangat beruntung sekali hidupku ini"

Go siau bi mengerdipkan sepasang matanya yang jeli kemudian sambil meliuk-liukkan pinggulnya ia berkata genit:

"Engkau anggap wajahku cantik maka jatuh cinta dalam pandangan yang pertama. sebaliknya ada orang yang sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap diriku, bahkan tertarikpun tidak, coba bayangkan saja manusia macam apakah dia itu?"

"Kalau benar2 ada manusia semacam itu, sepantasnya kalau orang itu dikatakan sebagai seorang laki2 yang punya mata tak berbiji"

"Hiiihh hiiihh hiihhh memang hebat sekali pandanganmu itu" seru Go siau bi sambil tertawa eekikikan. Mendadak telapak tangannya maju ke muka, kelima jari tangannya dengan lembut segera diayunkan kearah dada pemuda itu.

Terbelalak sepasang mata anak muda itu, ia menjerit tertahan: "Nona .."

Kato nona belum habis diucapkan, tubuhnya sudah menjadi lemas dan terkapar di tanah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun pemuda itu sudah menemui ajalnya.

Han siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan benar2 naik darah, untuk mencegah perbuatannya jelas tak mungkin, seluruh tububnya gemetar keras menahan emosi.

"Sungguh kejam perempuan ini, hatinya lebih kejam dari pada seekor ular beracun.." pikirnya dihati.

Tanpa sadar pemuda itu terbayang kembali akan ibunya, siang go cantik ong cui ing yang kejam dan tak kenal ampun.

Mereka sama2 cantiknya, sama2 kejinya, tanpa sadar rasa benci dan muak timbul dalam benaknya, ia siap melompat keluar dari tempat persembunyiannya..

Paras muka Go siau hi dingin menyayatkan, sebelum sianak muda itu sempat munculkan diri, ia sudah berpaling dan mendengus dingin.

"Manusia berwajah dingin, sekarang engkau boleh segera munculkan dirimu.."

Betapa terperanjatnya Han siong Kie menghadapi kejadian tersebut, mimpipun ia tak menyangka kalau tempat persembunyiannya telah diketahui lawan, dari sini dapatlah diketahui bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan,yang amat pesat.

Dengan muka hijau membesi menahan amarah yang meluap. dia lompat keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian menegur dengan kasar: "Nona Go, mengapa engkau lakukan pembunuhan sekeji ini?"

Rasa sedih melintas diatas wajah Go siau Bi, tapi sesaat kemudian dengan wajah benci dan mendendam ia berseru:

"Aku rasa persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik tak usah kau campurinya"

"Nona, kunasehati dirimu lebih baik jangan bertindak kelewat kejam, karena perbuatan semacam itu sama sekali tiada manfaatnya bagimu"

"Haaahh..haaahh..haaahh.. mau apa kau hey manusia yang bernama Han siong Kie? Engkau merasa tidak terima dengan perbuatan yang kulakukan ini?"

"Benar, aku memang mempunyai maksud begitu" "Lalu apa yang hendak kau lakukan atas diriku ini?" "Hmm Akan kubunuh engkau untuk melenyapkan bibit

bencana bagi dunia persilatan" jawab Han siong Kie dengan

hawa napsu membunuh yang amat tebal.

"Huuh, engkau hendak membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil mencibirkan bibirnya dengan sinis.

"Benar, akan kubunuh dirimu"

" Kalau memang begitu, kenapa tidak segera turun tangan

"

"Bila kita bertemu sekali lagi dimasa mendatang,jiwamu

pasti akan kucabut."

Go siau bi tertawa tergelak, dengan wajah sinis sekali dia mengejek: "Kenapa tidak kau lakukan sekarang juga?"

"Memandang diatas wajahmu dimana engkau pernah melepaskan budi kebaikan kepadaku, kuampuni jiwamu untuk kali ini " Go siau bi tak dapat menahan diri lagi, ia menengadah dan tertawa tergelak dengan seramnya, gelak tertawa itu penuh mengandung perasaan sedih, pedih dan perasaan lain yang sukar dilukiskan dengan kata2, lama sekali ia baru berhenti.

Paras mukanya berubah jadi dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak:

"Han siong Kie, nonamu justru sedang mencari engkau, mengertikah engkau..?"

"Mencari aku? Mau apa engkau mencari aku ?" "Aku hendak membunuh dirimu, kalau bukan begitu

mengapa kubiarkan engkau mengikuti aku dari rumah makan

sampai kemari haaaah.. haaah.. haaahhh... ketahuilah. aku sengaja memang mengatur kesemuanya ini agar engkau bisa terpancing kemari"

sekarang Han siong Kie baru tahu bahwa Go siau bi telah mengetahui jejaknya ketika masih berada dirumah makan tadi, maka dengan ketus segera tegurnya: "Jadi engkau hendak membunuh aku??"

"Benar, dan sekarang juga pembunuhan ini akan kulaksanakan"

"Kenapa engkau hendak membunuh aku?" "Karena aku benci padamu"

"Perbuatanku yang manakah yang telah menimbulkan rasa bencimu terhadap aku?"

"Sudah, pokoknya engkau tak usah banyak bicara lagi, ini hari juga nyawamu akan kucabut"

Han siong Kie menyengir sinis.

"Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu?" ejeknya. "Engkau tidak percaya? Bagus, mari kita buktikan bersama."

Bersamaan dengaa selesainya perkataan itu, tiba2 telapak tangannya diayun kedepan kelima jarinya dengan disertai desingan angin tajam langsung menyerang kedepan.

Dengan gerakan Cahaya kilat lintasan bayangan Han siong Kie segera berkelit ke samping, serunya lantang:

"Mengingat budi kebaikanmu dimasa lampau, aku akan mengalah satu jurus untuk "

"siapa yang suruh engkau mengalah kepadaku?" teriak Go siau bi dengan penasaran.

Telapak tangannya segera diputar balik keatas, selapis cahaya hijau yang tebalpun dengan cepat membumbung keangkasa dan meluncur kedepan. Betapa tercekatnya perasaan hati Han siong Kie, tanpa kuasa lagi dia berseru keras: "Aaaah ilmu pukulan Thian-tok hoa ciang.

Haruslah diketahui, ilmu pukulan Thian tok cang hoat adalah semacam ilmu pukulan darijaman dahulu kala yang amat dahsyat, apabila pukulan tersebut menyentuh sesuatu benda, maka daya tahannya makin besar maka daya pentalnya ikut bertambah kuat, jangankan Han siong Kie malahan Tengkorak maut gadungan yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun dibuat tak berdaya oleh kehebatan pukulan itu

Tentu saja Han Siong Kie juga mengetahui akan lihaynya pukulan tersebut, akan tetapi dia tak sudi menunjukkan kelemahannya dihadapan seorang gadis muda, maka dari itu dia segera menghimpun kekuatan yang dimilikinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan sianak muda itu, sebelum pukulan mereka saling beradu satu sama lainnya, mendadak Go Siau bi menarik kembali serangannya dan bergeser mundur dua langkah kesamping.

Tampaknya ilmu silat yang dimiliki gadis itu sudah mencapai taraf pengendalian secara sempurna, menyaksikan kehebatan lawannya Han Siong Kie makin terkesiap, disamping itu diapun makin keheranan oleh tindak tanduk lawannya yang aneh. Karenanya sambil menarik pulang serangannya dia lantas menegur: "Eeeeh...kenapa kau tarik kembali serangan mu??"

"Aku kuatir engkau tak sanggnp untuk menerima pukulanku ini."

"Bukankah engkau mengatakan hendak membunuh diriku?" tanya anak muda itu dengan cepat.

Pertanyaan tersebut seketika membuat paras muka Go siau Bi kembali berubah hebat, ia mendengus dingin, tanpa berbicara lagi ilmu pukulan Thian tok clang hoat sekali lagi dilontarkan kedepan.

Han Siong Kte menggertak giginya menahan diri, sambil mengerahkan sisa kekuatan yang dimiliki ia tangkis datangnya serangan tersebut.

"Blaaang.." suatu benturan keras yang memekikkan telinga menggelegar diseluruh angkasa, diiringi dengusan berat secara beruntun Han siong Kie mundur delapan depa ke belakang, darah segar sempat meleleh keluar menodai ujung bibirnya.

Tengkorak maut gadungan yang lihaypun jatuh kecundang ditangan gadis ini, apalagi Han siong Kie yang lebih cetek ilmu silatnya tentu saja dia bukan tandingan sang gadis manis itu.

Put lo sianseng memang lihay dan hebat, terbukti dalam waktu singkat ia berhasil menciptakan seorang tokoh sakti yang begini hebatnya, bila diceritakan orang lain belum tentu mau mempercayainya. Berhasil dengan memukul mundur Han siong Kie, dengan suara gemas dan penuh kebencian Go siau bi berkata:

"Manusia bermuka dingin, bukan saja wajahmu dingin, darahmu juga sudah membeku, kau manusia yang tak punya perasaan. Nah, rasain lagi beberapa buah pukulanku" sambil membentak nyaring, untuk kesekian kalinya dia lancarkan pukulan maut ke depan.

Tiba2 Han siong Kie teringat kembali akan peringatan dari orang yang kehilangan sukma, dalam hati pemuda itu lantas berpekik, "Aku tak boleh mati"

Dengan suatu gerakan yang manis dan lincah ia menghindarkan diri dari serangan maut lawan, berhasil dengan kelitannya. sebuah jari tangan segera direntangkan lebar dan serentak menyentil kemuka.

sepasang telapak tangan Go siau Bi bergetar kian hebat, tenaga pukulanpun semakin menebal membuat hawa hijau hampir menyelimuti seluruh pemukaan tanah.

"criiit. criiing.." ditengah desingan angin tajam ilmu sentilan Tong kim ci yang ampuh dan tak terkalahkan itu ternyata dapat dihajar sampai buyar oleh kekuatan lawan.

Rasa kaget yang dialami Han siong Kie sukar dilukiskan lagi dengan kata2, mimpipun ia tidak menyangka kalau ilmu jari Tong kim ci yang paling diandalkan ternyata sama sekali tak mempan untuk digunakan menghadapi pukulan Thian tok ciang hoat.

Hampir saja tak percaya dengan apa yang terbentang didepan mata, sebab peristiwa ini memang tak pernah diduga olehnya.

"sambutlah sebuah pukulanku lagi. " bentak dara itu lagi dengan lantang. Ditengah bentakan nyaring, hawa hijau yang tebal dan menyilaukan mata dengan dahsyatnya menggulung tubuh lawan.

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Han siong Kie, dengan ilmu cahaya kilat lintasan bayangan tubuhnya mendesak maju kedepan, lalu dengan jurus Mo tiong ko ciat ( raja iblis menyembah loteng istana) ia hajar Go siau bi dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

Go siau bi tertawa dingin, sekalipun hebat dan luar biasa seranganpemuda itu namun bagi pandangannya serangan tersebut tak ada artinya, ia berkelebat lewat dari serangan itu dengan gerakan bagaikan sukma gentayangan, lalu sambil melepaskan lima buah pukulan berantai, teriaknya keras:

"Manusia bermuka dingin, hari ini kau harus mampus" Memang dahsyat dan ganas kelima buah serangan itu,

angin pukulan segera men-deru2 membikin hati orang jadi

keder dan ngeri rasanya..

Terdesak oleh lima buah pukulan berantai yang maha dahsyat itu, Han siong Kie terdesak hebat dan harus mundur berulang kali ke belakang..

Go siau bi tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk tukar napas, selesai dengan lima buah pukulan yang pertama, ia susulkan pula dengan lima buah pukulan berikutnya.

Menghadapi desakan demi desakan yang tiada habisnya, lama kelamaan Han siong Kie jadi penasaran juga, kali ini dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan sistim adu nyawa dia sambut kelima buah pukulan itu dengan gerakan keras lawan keras.

Tergetar perasaan Go siau bi setelah menyaksikan kenekadan sianak muda itu, tapi apa mau dikata pukulan sudah terlanjur dilancarkan , maka sambil gertak gigi ia lepaskan pukulan mautnya. "Blang Blang " dua kali dengusan dingin menggema memecahkan kesunyian, menyusul dua sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.

Kedua belah pihak sama2 terlempar kebelakang dengan sempoyongan, keadaan Go siau bi masih mendingan, sekalipun darah meleleh di ujung bibirnya dan mukanya pucat pias tapi keadaannya masib agak segar.

Berbeda sekali dengan Han siong Kie, ia harus muntah darah berulang kali, jelas isi perutnya sudah terluka parah.

Dengan wajah menyeringai seram dan mata saling melotot penuh kegusaran, kedua belah pihak berdiri berhadapan.

Untuk sesaat suasana dalam gelanggang jadi sepi dan hening, sunyi bukan berarti hawa nafsu membunuh telah lenyap begitu saja, malahan setiap saat darah segar mungkin akan membasahi lagi seluruh permukaan tanah.

Diantara lima buah pukulan yang dilancarkan Han siong Kie, ada tiga buah yang bersarang ditubuh lawan, sebaliknya ia sendiri menerima empat buah pukulan dari musuhnya.

sebagaimana diketahui, pukulan yang dilancarkan Go siau bi mengandung hawa sakti Thian tok sinkang yang maha dahsyat, tak heran kalau sianak muda itu menderita luka yang jauh lebih parah daripada anak dara itu.

Mereka pernah saling tolong menolong, pernah hidup sengsara bersama bahkan Go siau bi pernah menggunakan tubuhnya sebegai tameng untuk menyelamatkan jiwa Han siong Kie dari ancaman Tengkorak maut gadungan, karena peristiwa itu hampir saja jiwanya melayang.

Ia telah jatuh cinta kepadanya, telah bersumpah didepan pusara ayahnya, kecuali dengan pemuda ini dia tak akan kawin dengan siapapun juga" Tapi kenyataannya, yang satu ada hasrat yang lain tak berminat, tumpuan harapan yang terlintas dalam benaknya selama ini hancur dan musnah dengan begitu saja.

Kini dengan taruhan nyawa mereka saling bertempur, berusaha saling merobohkan musuhnya dan bila perlu sekalian membinasakannya... Inikah takdir? Inikah yang dinamakan nasib.?

Cinta dapat membuat seseorang jadi sukses tapi dapat pula menghancurkan karier seseorang, membuat watak seseorang berubah seratus delapan puluh derajat.

Dan kini Go Siau bi telah berubah bukan saja perubahan

itu tak dipercaya oleh Han siong Kie, bahkan dara itu sendiri juga tak kenali dirinya sendiri lagi.

Hawa napsu membunuh yang tebal masih menyelimuti seluruh wajah Go siau bi, selangkah ia maju kedepan mendekati Han siong Kie yang berada dihadapannya.

suasana tercekam oleh ketegangan dan kengerian, sorot mata serta perhatian semua orang sama-sama ditujukan kearah Go siau bi yang sedang maju kemuka.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Han siong Kte, ia tahu bila dirinya cuma berpeluk tangan belaka, sehingga dara itu keburu menyerang dulu dengan Thian tok ciang hoatnya yang lihay, niscaya jiwanya akan terancam bahaya. satu ingatan lantas melintas dalam benaknya:

"Daripada aku menanti datangnya elmaut, kenapa tidak kuserang dulu perempuan sinting itu?"

sambil membentak sepasang telapak tangannya diayun kedepan melancarkan babatan maut.

-00d0w00-

BAB 56 PUKULAN itu dilepaskan dalam keadaaa marah bercampur penasaran, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya pukulan tersebut.

Go siau bi melambung keangkasa, setelah melayang sejauh delapan depa, sekali lagi badannya melejit kedepan kemudian menerobos masuk dari sisi Han siong Kie dan melayang turun lima depa disamping pemuda itu.

Baik dalam menghindar maupun sewaktu melancarkan serangan, semua gerakan dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Melihat ancamannya mengenai sasaran yang kosong, Han siong Kie membuyarkan pukulannya ditengah jalan, badannya miring kesamping lalu berputar kencang, telapak tangan kiri dan ujung jari tangan kanan sekali lagi melepaskan serangan maut kedepan.

Kabut hawa berwarna hijau seketika menyelimuti seluruh angkasa, pada saat yang bersamaan Go siau bi melepaskan pula sebuah pukulan yang maha dahsyat. Dentuman keras mengiringi benturan dua kekuatan yang saling berlawanan itu.

Dengan sempoyongan Go siau bi mundur beberpa langkah, sedangkan Han siong Kie mendengus tertahan dan muntah darah segar, badannya terlempar sejauh satu kaki lebih dari tempat semula,

Go siau bi menerjang lagi kedepan dan berdiri dibelakang Han siong Kie, telapak tangannya diayun tepat mengarah jalan darah Thian leng hiat diatas kepalanya, asal pukulan itu dilancarkan niscaya Han siong Kie akan mampus dengan keadaan mengerikan.

"Heeehhh....heeehhh heeehhh .. manusia she Han, apa

yang hendak kau ucapkan lagi sebagai kata-kata akhirmu" ejek dara itu dengan ketus. sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, sambil menggertak gigi jawabnya: "Tak ada kata-kata lagi, mau turun tangan hayolah cepat turun tangan."

"sungguh tak ada pesan terakhir"

"Ada Aku hanya ada sepatah kata saja. yakni siapa yang menanam buah pahit dia akan menerima pula akibatnya."

"Apa kau bilang? Heeehhh..haaahhh. haaahhh.." dara itu bagaikan orang sinting tertawa nyaring, suaranya keras dan mengerikan membuat siapapun jadi bergidik.

" orang she Han, terus terang kuberitahukan kepadamu" serunya lagi, "aku telah tahu bahwa peristiwa macam hari ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi kau musti ingat, sebelum ajalku tiba, semua pria tampan yang ada dikolong langit akan kubunuh semua, tak akan kubiarkan manusia- manusia ganteng bikin keonaran lagi di kolong langit..haaahhh..haaahhh..haaahhh."

Ditengah gelak tertawa yang kalap menyerupai orang sinting, terselip hawa napsu membunuh yang benar-benar mengerikan.

Gusar nian Han siong Kie setelah mendengar ucapan ini, ia sadar dengan tenaga dalam yang dimiliki Go siau bi sekarang, apa yang diucapkan bisa jadi benar-benar dilaksanakan, dan jikalau apa yang di ancam benar-benar dilaksanakan maka suatu badai pembunuhan yang mengerikan tak terelakkan lagi.

"Go siau bi" serunya kemudian dengan gemas. "sayang aku tak dapat membinasakan engkau dengan tanganku sendiri"

"Haaahhh ....haaahhh....haaahhh..dan aku... aku gembira sekali, karena hari ini akan kubunuh engkau dengan tanganku sendiri."

"Hmm Tak usah banyak bicara lagi. kalau ingin turun tangan hayolah cepat turun tangan" "Kenapa musti buru-buru mati? Bagaimana dengan adik Hui yang pernah berkorban demi cinta kasihnya kepadamu?

Mungkinkah dia akan datang lagi kemari untuk mendirikan batu nisan untukmu.."

satu ingatan melintas dalam benak Han siong Kie, sekarang ia tahu bahwa Go Siau bi telah mempunyai niat untuk membinasakan dirinya. .

"Hehhh...heeehhh..heehhh... engkau tak usah merisaukan tentang dirinya, ia telah berangkat mendahului diriku" ejeknya sambil tertawa dingin.

"Apa? Dia sudah mati?" seru Go siau bi dengan wajah tertegun.

"Hmm Kenapa? Kau merasa kecewa?" ejek sang pemuda.

Air muka Go siau bi beberapa kali berubah hebat, tiba2 hardiknya keras- keras:

"Han siong Kie, inginkah kau mengetahui sebab musabab sehingga aku berniat membinasakan dirimu??"

"Aku rasa tak perlu"

"Jadi engkau telah paham?"

"Aku tak ingin memahami persoalan itu, kalau ingin membunuh silahkan turun tangan"

"Jadi engkau sama sekali tidak menyesal??" "Haaah haaah haaaahh Han siong Kie tak kenal arti

menyesal"

Telapak tangan Go siau bi mulai gemetar, rasa cinta dan benci amat mendalam hatinya dia ingin membunuh pemuda ini lantaran dia gagal mendapatkan cinta kasihnya, maka membenci pemuda itu, malahan membenci pula setiap pemuda tampan yang sebaya dan setanding dengan anak muda ini. Tapi..benarkah dara itu tega untuk membunuh kekasih hatinya ? Air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

Lama ..lama sekali suasana tetap hening, dengan tak sabar Han siong Kie menghardik:

"Hey, kenapa engkau tidak turun tangan??" Tiada jawaban tiada gerakan.

Karena tak sabar pemuda itu akhirnya bangkit dan memandang kemuka, tampaklah selembar wajah yang murung, sedih dan penuh dengan air mata terbentang didepan mata, wajah itu sayu dan sama sekali tiada bekas hawa napsu membunuh yang sadis.

"Itulah perempuan itulah namanya perempuan" pikir

Han siong Kie dihati, hanya hati perempuan yang gampang berubah, hanya sikap perempuan yang mudah jadi sedih.." sindirnya kemudian dengan suara yang dingin dan tak enak didengar:

"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kalau ingin membunuh, hayolah cepat laksanakan, kalau tidak maaf

kalau aku akan berlalu dari tempat ini."

"Tunggu sebentar" tiba-tiba dara itu membentak "Ada apa lagi?"

Disekanya air mata yang membasahi pipinya, lalu Go siau bi berseru ketus:

"Aku toh tak pernah mengatakan bahwa aku tak akan membunuh dirimu? Kenapa kau hendak pergi?"

"Kenapa tidak cepat turun tangan ? Hayo, kalau ingin bunuh aku bunuhlah sekarang juga"

"sebelum kubantai dirimu, terlebih dahulu ada beberapa patah kata hendak kuterangkan lebih dulu, aku harap engkau dengarkan kata2 ku ini dengan sebaik baiknya." "Katakanlah cepat"

Perlahan Go siau bi menundukkan kepalanya karena hati yang pedih, selang sesaat kemudian ia menengadah kembali, tampaknya dara ini telah mengambil keputusan: Katanya dengan penuh emosi:

"Han siong Kie, masih ingatkah engkau tatkala tubuhmu tercebur kedalam sungai dan aku berhasil menolong dirimu kemudian selama tiga hari kurawat kau sebaik-baiknya..."

"Toh sudah kukatakan, tiap budi kebaikan yang pernah kuterima, suatu ketika pasti akan kubalas?" tukas sianak muda itu dengan nada tajam.

" Kedua kalinya, ketika aku dilukai oleh pengawal istana Huan mo kiong, engkau membawa aku menginap disebuah rumah penginapan "

"Waktu itu keadaan amat mendesak. tiada tindakan lain bagiku kecuali berbuat begitu"

"Tapi ingatkah kau bahwa antara laki2 dan perempuan ada batas-batasnya? setelah kita menginap disatu kamar yang sama, bagaimana mungkin aku " Berbicara sampai disini

tiba-tiba ia tundukkan kepalanya rendah-rendah..

Karena pandangannya yang sempit, Han siong Ki memang membenci setiap perempuan yang ada diseantero jagad tapi di dasar hatinya ia sebenarnya ramah dan penuh kasih sayang, diapun memiliki api asmara dan rasa cinta, hanya perasaan hatinya itu tertekan oleh jalan pikirannya yang keliru.

sebagai seorang pemuda yang cerdas tentu saja ia dapat menangkap arti dari kata-katanya itu tapi si anak muda itu tak bisa berbuat banyak sebab pada hakekatnya ia tak mencintai Go siau bi, yang ada dalam hati kecilnya cuma rasa berterima kasih serta rasa berhutang budi belaka...

Tapi sekarang tanpa disadari jantungnya berdebar keras.. sekarang ia mulai berpikir, mungkinkah dara yang cantik ini jadi kalap lantaran pinangan put lo. sianseng terhadapnya tempo hari telah ditolak secara mentah2?

Rasa simpatik, kasihan dan iba seketika menyelimuti perasaan hatinya, ia mulai merasa kasihan atas nasib jelek yang telah menimpa anak dara itu

"Nona, aku merasa amat menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya peristiwa itu" ia berkata dengan lembut.

"Hmm Rasa sesal yang mendalam?"

"Dengan hati yang tulus dan ikhlas aku mohon kepada nona sudilah kiranya jangan membunuh orang lagi mulai saat ini"

"Kalau kutolak permohonanmu itu?" seru sang dara dengan ketus dan muka menyeringai. suasana yang semula sudah tenang dan damai, kini berubah kembali jadi tegang. Paras muka Han siong Kie berubah hebat, sahutnya cepat:

"Bila nona menampik permohonanku ..tu, terpaksa aku harus melaksanakan apa yang telah kukatakan tadi"

"oooh. Jadi engkau akan membunuh aku?" ejek Go siau bi sambil tertawa sinis.

"Betul bila kau takut peristiwa itu sampai terjadi, silahkan kau bunuh aku lebih dahulu sebab kalau tidak, andaikata kita sampai bertemu lagi dikemudian hari, kau pasti akan kubunuh".

selapis hawa dingin yang ketus dan menyeramkan mulai menyelimuti raut wajah Go siau bi, ia mengejek sinis:

"Huuuh.. Mampukah engkau melaksanakan keinginanmu itu??"

"Lihat saja nanti hasilnya, apa gunanya banyak bicara yang tak ada gunanya?" "Han siong Kie, engkau tak bisa membendung niatku ini, akan kubunuh pemuda tampan yang ada dikolong langit hingga mereka musnah semua dari atas muka bumi.. Hmm Engkau ingin bunuh aku ? Baiklah ini hari sengaja kau kulepaskan dirimu, akan kulihat bagaimana caramu membunuh aku, tapi kau musti ingat, bila kita sampai bertemu muka lagi, andaikata engkau tak dapat membunuh aku, maka akulah yang akan membinasakan dirimu"

Han siong Kie menatap sekejap kearah wajahnya dengan pandangan dingin, mulutnya tetap membungkam.

Kalau bisa ia hendak membacok dara itu hingga mampus, rasa simpatik dan kasihan yang muncul dalam hatinya tadi kini tersapu bersih dari lubuk hatinya.

Pemuda itu tak ingin banyak ribut lagi dengan dara tersebut, per-lahan2 dia putar badan dan berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggungnya yang kian menjauh, Go siau Bi berdiri termangu-mangu, beberapa kali dia hendak memanggilnya..tapi setiap kali niatnya itu dibatalkan, ia merasa bagaikan tersiksa dan terharu, sehingga akhirnya tak kuasa lagi menangislah gadis itu ter-sedu2.

Isak tangis itu sempat terdengar oleh Han siong Kie yang makin menjauh, ia agak tertegun dan menghentikan langkahnya, tapi sesudah ragu sebentar pemuda itu lanjutkan kembali perjalanannya kedepan. kali ini ia tidak berpaling lagi.

Dengan penuh rasa mendongkol Go siau Bi mendepak- depakan kakinya keatas tanah, serunya berulang kali:

"suatu ketika aku pasti akan membunuh kau..tunggu saja tanggal mainnya"

Pada saat itulah, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara gonggongan anjing yang sangat ramai. Dengan segera Go siau Bi berpaling, begitu mengetahui apa yang tertera didepan matanya ia jadi tercekat dan mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat.

tampaklah dua ekor anjing sebesar tubuh anak sapi berdiri disisi kiri dan kanannya pada jarak dua kaki, giginya yang runcing menyeringai seram, matanya memancarkan sinar buas, selama hidup belum pernah ia jumpai anjing sebuas dan sebesar ini

sementara dia masih termenung sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ke dalam hutan, orang itu adalah seorang kakek bungkuk yang membawa sebuah pecut rotan yang panjang.

Dengan sorot matanya yang beringas kakek itu menatap sekejap wajah Go siau bi, lalu mengawasi pula pada mayat yang terkapar diatas tanah, setelah itu dia menganggak beberapa kali.

"Hey, apa maksudmu datang kemari?" tegur Go siau bi dengan suara dalam. Kakek bungkuk itu tertawa seram:

"Heeehhh... heehhh...heeehhhh Cantiknya memang

cantik, cuma sayang perempuan secantik ini tak lebih hanyalah kuntilanak yang berhati keji"

"Apa? siapa yang kau maksudkan?" teriak dara ayu itu dengan mata melotot.

"siapa lagi, tentu saja engkau"

Sepasang alis mata Go Siau bi berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sambil mendengus dingin katanya:

"Hey tua bangka yang tak tahu diri, sebelum nonamu berniat membinasakan engkau, bawalah anjing2 itu dan segera berlalulah dari tempat ini" "Heeeh heehh . heeeh kenapa aku musti pergi ?

Kedatanganku justru hendak mencari engkau" "Mencari aku ? Siapa kau dan sebutkan namamu"

"Aku adalah Khoo Tio cu, si bungkuk she Khoo pengurus rumah tangga perkampungan oh bau san cung, mengerti??"

Mendengar nama itu, satu ingatan terlintas dalam benak Go Slau bi, sekarang ia sudah dapat menebak apa yang telah tarjadi, dengan wajah yang tetap tenang katanya: "Lantas ada urusan apa kau cari aku??"

"Kedua orang sau cengcu perkampungan kami telah tewas dipinggir jalan-"

"Kalau aku yang bunuh mau apa kau?" tukas sang dara cepat.

"Bagus sekali, setelah kau memberikan pengakuan urusan makin gampang untuk diselesaikan, darimana asal perguruanmu?"

"Huuh. Kau belum berhak untuk mengetahuinya."

Sinar mata yang bengis dan buas memancar keluar dari balik mata si bungkuk itu, begitu bengisnya sinar mata orang itu sehingga hampir tak ada bedanya dengan kebengisan mata kedua ekor anjingnya, membuat siapapun yang memandangnya jadi bergidik. Ia maju beberapa langkah kedepan, lalu serunya dengan suara yang menyeramkan:

" Heeeh hh heeeh hh heeeh hh memang sekarang susah untuk memaksa kau untuk berbicara tapi ingatlah baik-baik, suatu ketika engkau akan mengakuinya sendiri"

"Bungkuk she Khoo, nonamu tak ingin membinasakan dirimu, kalau tahu diri lebih baik enyahlah dari sini"

"Heehhh heeehhh heeehhh kau suruh aku pergi dari sini? Lucu... benar-benar sangat lucu, kau malah suruh aku pergi.. tahukah kau bahwa aku si bungkuk she Khoo justru tak ingin melepaskan engkau dengan begitu saja??"

"Bangsat Jadi engkau benar2 ingin mati?"

"Yang ingin mampus bukan aku, melainkan kau sendiri"

Hawa napsu membunuh mulai menghiasi air mukanya yang putih, ia mendengus gusar telapak tangannya diayun kedepan dan segulung hawa hijau yang mengerikan segera meluncur kedepan melancarkan sebuah ancaman maut.

Paras muka sibungkuk she Khoo itu berubah hebat, ia agak tertegun menyaksikan datangnya ancaman berwarna hijau itu, tampaknya sepanjang hidup, belum pernah dia jumpai ilmu kepandaian seaneh dan setangguh ini.

"Blang " Ditengah benturan keras yang cukup memekikkan telinga, tubuh si Bungkuk she Khoe itu mencelat sejauh delapan depa lebih dari kedudukan semula, darah panas bergolak dalam dadanya, betapa terkesiapnya sukar dilukiskan dengan kata2.

Keistimewaan dari ilmu pukulan Thian tok ciang hoat adalah daya pantulan yang terpancar keluar bila menyentuh pukulan itu, makin besar seseorang melancarkan serangannya maka semakin besar pula daya pantulan yang terpancar oleh kepandaian itu.

Masih untung tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Go Siau bi tidak lebih cuma enam bagian belaka, dan tapi Khoe Tuo cu tak sempat melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga karena ia dibikin kaget bercampur tertegun, karena itu loloslah dia dari ancaman bahaya maut yang sebetulnya dapat merenggut selembar jiwanya.

sudah tentu Khoe Tuo cu tidak mengenal kelihayan dari ilmu pukulan itu, betapa penasarannya orang itu karena peristiwa yang barusan terjadi, dengan sorot mata yang bengis dia menerjang maju lagi ke depan, sebuah pukulan yang lebih dahsyat bagaikan hembusan angin topan menerjang ke dada lawan.

"Bangsat, rupanya engkau memang sudah bosan hidup," hardik Go siau bi denganpenuh kegusaran-

Dengan ilmu pukulan Thian tok ciang hoat yang telah dikerahkan mencapai delapan bagian ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blamm" suatu benturan dahsyat kembali menggelegar diudara, jerit ngeri yang melengking mendesis dari mulut Khoe Tuo cu, badannya mencelat sejauh beberapa kaki dan darah segar muntah keluar dari mulutnya.

"Bluuk" bagaikan sebuah cupu2, tubuhnya menggelinding diatas tanah setelah jatuh mencium tanah.

Gong gongan anjing berkumandang memecahkan kesunyian, seekor anjing besar yang berada disamping kanan tiba2 menerjang kearah dara itu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Lolongan anjing yang mengerikan berkumandang menyayat kesunyian yang mencekam udara, anjing besar itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula.. "Duukk" Ketika menumbuk diatas dahan sebuah pohon besar, mampuslah anjing tersebut seketika itu juga.

Dalam pada itu Khoo Tuo cu telah bangkit dari atas tanah, ia tampak agak tertegun menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki dara tersebut, kejadian ini sama sekali diluar dugaannya. sebab kalau bukan seorang tokoh silat yang benar-benar berilmu tinggi tak mungkin anjing besar itu dapat dibunuh dalam sekali pukulan belaka

Dalam terkejut dan cemasnya, bagaikan titiran angin deras cambuk rotannya diputar sedemikian rupa mengitari angkasa.

Anjing raksasa yang berada disebelah kiri bagaikan sambaran kilat telah melancarkan tubrukan pula kedepan. siau bi terancam bahaya, cepat-cepat telapak tangannya dilontarkan kemuka melepaskan pukulan maut..

Agaknya anjing besar itu sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki musuhnya sangat lihay, berada ditengah udara tubuhnya berjumpalitan beberapa kali diudara dan menggelinding kebawah kaki anak dara itu, moncongnya langsung menyambar kedepan dan menggigit kakinya.

semua gerakan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak kalah cepatnya dengan seorang jago lihay.

Bergetar keras perasaan hati Go siau bi menghadapi ancaman itu, cepat ia melejit dan melambung keudara, dari situ telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebawah.

Gagal dengan gigitannya, anjing besar itu segera meluncur maju satu kaki lebih ke depan-

Tatkala Go Siau bi melayang turun kembali keatas tanah, secepat kilat sambaran anjing itu menerkam lagi kedepan.

Kali ini tak sempat bagi Go siau bi untuk berkelit, telapak tangannya langsung dibacokkan keatas batok kepala anjing itu..

"Guukk..guuukk.. lolongan panjang kembali menderai diudara, batok kepala anjing itu terbacok sampai hancur jadi dua bagian, kepalanya hancur dan darah serta isi benaknya tersebar dimana-mana, anjing itu mampus seketika itu juga.. Tapi cakar anjing sebelah depannya sempat pula mencakar paha Go Siau bi..

Rasa gatal-gatal dan kaku yang aneh segera menyerang pahanya dan perlahan-lahan bergerak naik keatas.

Rasa kaget dan terkesiap yang menyelimuti hatinya sekarang susah dilukiskan dengan kata2, ia tahu itulah tanda2 keracunan atau dengan perkataan lain cakar anjing itu mengandung racun yang sangat jahat. Dengan cepat semua jalan darah penting di tubuhnya ditutup semua, setelah menghadang peredaran racun yang merambat lebih jauh kearah lain, dengan sorot mata yang bengis menyeramkan, ia menerjang kearah Khoo Tuo cu habis2an.

"Blaaang" kembali terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, dengan batok kepala hancur berantakan Khoo Tuo co menggeletak dalam keadaan mengerikan-

"Perempuan rendah, pada hakekatnya engkau memang bukan manusia, hatimu keji dan tak kenal ampun, akan kuhancurkan tubuhmu hingga lembut seperti abu."

Bersamaan dengan munculnya bentakan keras yang sangat mendadak itu, seorang kakek tua berjubah hitam yang tinggi besar telah nelayang masuk kedalam gelanggang.

"Suiiit"" siulan lengking menggema diangkasa, menyusul belasan ekor anjing besar bagaikan air bah, menerjang kearah tubuh Go siau Bi.

Kejut dan gelisah menyelimuti seluruh perasaan anak dara itu, ia merasa sukma serasa melayang tinggalkan raganya karena ketakutan, gadis itu sadar bahwa ia sudah kena racun keji dari anjing2 itu, daripada berdiam diri dan mati konyol ditangan lawan jauh lebih baik melarikan diri tinggalkan tempat itu.

Begitu ingatan tadi melintas dalam benaknya, ia lantas melejit ke udara dan meluncur masuk kearah hutan-

Apa mau dikata rupanya racun sudah mulai bekerja dalam tubuhnya, sepasang kakinya sudah tak mau mendengar perintah lagi, baru saja melayang sejauh lima kaki, tubuhnya terjatuh kembali keatas tanah. sementara kawanan anjing besar itu kembali sudah menerjang tiba dengan hebatnya. Antara manusia dan anjing, segera berkobarlah suatu pertarungan yang amat mengerikan-

Anjing- anjing besar itu memang tersohor karena keganasannya, bukan saja sifatnya memang buas, cakarnya mengadung racun keji dan gerak geriknya cepat bagaikan sambaran kilat, lagipula tak takut mati, maka setelah mendapat latihan secara khusus kehebatan mereka jauh lebih mengerikan daripada serangan dari jago-jago silat kelas wahid.

Cemas dan marah bercampur aduk dalam benak Go siau bi, telapak tangannya diayun berulang kali kemuka, kabut hawa hijau kembali menggulung keempat penjuru dengan dahsyatnya.

Ditengah benturan2 yang memekikan telinga, lolongan panjang berkumandang susul menyusul.

Dalam waktu singkat delapan ekor anjing yang telah binasa ditangan anak dara itu tapi sisanya tak gentar barang sedikitpun, mereka masih melanjutkan terjangannya dengan kecepatan yang luar biasa.

Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Go siau bi, rambutnya awut-awutan dan napasnya tersengal-sengal, ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengatur pernapasan-

Rombongan anjing- anjing besar itu menerjang dan mundur secara beraturan, mereka saling mengisi kekosongan yang ada dan menyerang dari tiga arah yang berlawanan, yakni arah atas tengah dan bawah.

Tentu saja Go siau bi tak berani menyambut datangnya ancaman itu secara gegabah, sebab dia tahu anjing-anjing itu sangat beracun pada kuku-kukunya.

sementara itu kakek berjubah hitam yang berada disamping gelanggang merasa gusar dan sakit hati, namun ia tak berani menghentikan serangan anjing-anjing itu, sebab ia tahu betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki musuhnya, ia telah bersiap sedia mengorbankan anjing- anjingnya itu sebagai ganti dari kesuksesan rencananya.

setengah peminum teh kemudian, bangkai anjing telah bergeletak dimana-mana, darah serta hancuran daging tersebar dimana-mana, keadaannya mengerikan sekali.

Dari sekian banyak anjing besar yang dibawa oleh kakek baju hitam itu, tak seekorpun yang masih hidup pada saat ini.

Walaupun demikian, keadaan Go Siau bi sendiripun mengenaskan sekali, ia sudah kehabisan tenaga, kakinya yang keracunan sekarang menjadi bengkak dan satu kali lipat lebih besar daripada keadaan biasa, rasa sakit menyerang sampai kelubuk hati, sekali pun ia tahu masih ada seorang musuh yang mengincar dirinya namun ia tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, akhirnya gadis itu roboh dan jatuh terduduk diatas tanah.

Dengan sinar mata bengis, penuh kebuasan kakek berjubah hitam maju kedepan dengan langkah lebar.

Go siau bi sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya, diapun menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya untuk dikumpulkan pada telapak tangan kanannya.. Sambil bergerak maju kedepan kakek baju hitam itu berkata tiada hentinya:

"Perempuan rendah, engkau telah menipu dan membunuh dua orang putra kesayanganku, ini hari akan kusuruh kau rasakan pula siksaan yang terkeji dikolong langit, akan kusiksa kau sampai mampus Hmm Sakit hati ini akan kutuntut balas

beberapa kali lipat lebih dahsyat tunggulah tibanya saat seperti itu "

Go Siau bi membentak keras, telapak tangan kanannya tiba-tiba diayun kedepan, lima gulung desiran angin tajam segera meluncur keluar dan mengancam tubuh kakek itu. Rupanya kakek baju hitam itu memang sengaja memperlambat langkah kakinya berhubung dia harus bersiap menghadapi tibanya ancaman yang tak terduga dari pihak lawan-

oleh sebab itu ketika Go Siau bi mengayunkan telapak tangannya kedepan, secepat kilat ia berkelit kesamping, tapi toh gerakan itu teriambat setengah langkah, tangan kanannya terasa sakit sekali hingga merasuk ketulang sumsum, tak kuasa lagi dia mendengus tertahan.

Ilmu jari Bwe hoa cuan sim ci (juri si kura penembus hati ) yang digunakan Go siau bi ini adalah salah satu ilmu sakti yang tercantum dalam kitab pusaka Thian toh pit kip. arah yang dituju adalah dada musuh atau tepatnya persis diatas jantung, andaikata terkena hajaran jantung orang akan pecah dan binasalah orang itu.

Tapi berhubung kakinya terluka sehingga banyak tenaga dalamnya berkurang maka melesetlah serangan itu dari sasaran utamanya.

"Blam" pukulan tangan kiri yang dilepaskan kakek berjubab hitam itu dengan telak bersarang ditubuh Go siau Bi

Ditengah dengusan yang tajam, tubuh dara itu mencelat dan bergelinding diatas tanah, kesadarannya punah dan dara itu berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.

Kakek tua baju hitam itu tertawa seram, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh gadis itu.

Kemudian ketika dilihatnya musuhnya sudah tercakar oleh racun anjingnya, ia ambil keluar sebuah botol kecil dari porselen putih, diambilnya sedikit bubuk kuning dan dijejalkan kemulut Go siau Bi, lalu mengambilpula sebagian dan dibubuhkan pada sekitar mulut luka, kemudian baru berkata dengat nada menyeramkan: "Hmm Hmmm aku tidak akan membiarkan engkau mampus dengan begitu saja" Ditatapnya sekejap bangkai2 anjing itu dengan perasaan berat, akhirnya sambil mengempit tubuh Go siau Bi, dia berlalu dari tempat kejadian-

Tatkala Go siau Bi sadar kembali dari pingsannya, ia menemukan kaki tangannya telah dibelengu orang, tubuhnya berbaring terlentang dengan menghadap keatas, namun ia tak mampu bergerak sementara rasa dingin menyelimuti sekujur tubuhnya.

Ia membuka mata dan memeriksa keadaannya, tapi segera dara itu jadi malu bercampur gusar, ternyata ia sedang dibelenggu di atas sebuah papan kayu dalam keadaan telanjang bulat, sehelai benangpun tidak menempel ditubuhnya, sementara kakek baju hitam itu sedang memandang kearahnya sambil menyeringai seram.

Disamping kakek itu berdirilah sepasang anjing besar yang sedang mencakar2 tanah sambil memperdengarkan serentetan suara kaing-kaing yang aneh.

Dia ingin buka mulut untuk berbicara, namun tak sepatah katapun yang mampu diucapkan, sadarlah dara itu bahwa jalan darah bisunya telah ditotok orang.

-00d0w00-

BAB 57-

SECARA lapat2 dara itu mulai menduga apa yang bakal terjadi serta menimpa dirinya.

Ia rela mati dan mengakhiri hidupnya lebih cepat, namun ia tak mampu untuk melakukannya, beberapa buah jalan darah ditubuhnya tertotok. sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi, berada dalam keadaan seperti ini tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi olehnya. Tiba2 kakek berbaju hitam itu tertawa seram, suaranya sadis dan mengerikan-

" Heeeh heeeehh heeeehh perempuan rendah, aku adalah Ho Thong thian ketua perkampungan oh hau san-cung, ingat baik2 namaku ini dan ketahuilah bahwa aku berbuat demikian demi membalaskan dendam bagi kematian dua orang putraku"

Go Siau Bi ingin bicara namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun, apa boleh buat?, Dia cuma bisa berbaring dengan mata melotot penuh kegusaran. Terdengar Ho Thong thian melanjutkan kembali kata katanya:

"Perempuan rendah, engkau telah memancing kedua orang putraku dengan kecantikan wajahmu kemudian membunuhnya secara keji.. heeeh heeeh heeeh sekarang, saat pembalasan telah tiba, coba pandanglah kedua ekor anjing jantan itu, dia akan menjadi suamimu sebentar lagi, dari kedua ekor anjing jantan inilah engkau akan mendapatkan kepuasan seks yang paling nikmat, kau akan di bikin naik kesorga oleh kedua ekor anjing ini haaah haaahh haaaahh manusia digagahi oleh anjing, itulah acara pertunjukkan yang menarik sekali."

-00d0w00-