-->

Tengkorak Maut Jilid 25

 
Jilid 25

BETAPA terperanjatnya Han Siong Kie setelah mendengar perkataan itu, cepat2 dia bertanya:

“Mereka telah menemui mara bahaya dimana ?”

“Tee kun yang menjabat ketua perguruan saat ini telah masuk kedaratan Tionggoan diiringi dua puluh orang jago saktinya, dalam suatu bentrokan yang kemudian terjadi, kelima orang tianglo mu sndah terjatuh ketangan mereka.”

“Sekarang mereka berada dimana?”

“Kelima orang tianglo itu sedang berada dalam perjalanan menuju kemarkas besar perkumpulan Thian che-kau !” "Lho...kok aneh?" seru Han Siong Kie keheranan, ”Kenapa kelima orang tianglo itu malahan dibawa ke markasnya perkumpulan Thian che kau, memang apa hubungannya mereka dengan pihak Thian lam?”

"Tee-kun dari istana Huan mo kiong saat ini telah bersekongkol dengan pihak Thian che kau untuk ber-sama2 menghadapi dirimu, dibekuknya kelima orang tianglo itu boleh dibilang hanya suatu pancingan belaka, boleh juga dibilang sebagai sandera, agar engkau terpaksa terjerumus kedalam perangkap mereka."

Gemetar sekujur badan Han siong Kie menahan golakan emosi dalam hatinya, sinar matanya berubah jadi bengis dan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sekarang sudah jelaslah duduknya persoalan, tampaknya Tee-Kun yang sekarang masih ingin mempertahankan kedudukannya sebagai seorang ketua perguruan, maka mereka lebih suka bersekongkol dengan orang luar dari pada jabatannya dicopot dengan begitu saja.

"Terima kasih banyak buat pemberitahuan dari nona,... aku akan segera berangkat."

"Engkau akan pergi kemana?"

"Mana lagi? Tentu saja markas besar perkumpulan Thian che kau untuk menolong orang"

"Kan sudah kukatakan kepadamu tadi, bahwa mereka masih berada ditengah perjalanan"

"Masih berada ditengah perjalanan?" ulang si anak muda itu dengan wajah tercengang.

"Benar, saat ini mereka masih ada diperjalanan, Bila engkau bermaksud untuk temukan mereka, maka berangkatlah kearah timur sejauh sepuluh li dengan melusuri jalan raya ini, kemudian berbeloklah menuju ke arah selatan, disitu akan kau temukan sebuah kereta kuda yang tertutup terpal tebal, kelima orang tianglo tersebut berada dalam kereta itu, Cuma... sebelum engkau bertindak, terlebih dahulu ada sepatah dua patah kata hendak kusampaikan kepadamu dan aku harap engkau suka mengingatnya secara baik2"

"Apa yang hendak nona katakan? silahkan kau utarakan.." "Engkau hanya boleh menolong orang, tapi dilarang keras

untuk mencelakai jiwa orang" "Mengapa begitu?".

"Jangan kau tanyakan mengapa harus begitu, cukup asal engkau ingat selalu akan perkataan tersebut, berhasil menyelamatkan orang2mu lebih baik cepatlah tinggalkan tempat itu, sebab kalau sampai kesusul pasukan besar yang berada dibelakang, sulitlah untuk dikatakan bagaimana akhir dari pertarungan itu"

"Maksud nona, aku tak akan mampu menandingi kelihayan lawan?"

"Begitulah yang kumaksudkan"

Diam2 Han song Kie mendengus dingin, Lantas dalam keadaan begini ia tak suka banyak membantah, setelah menjura diapun berseru:

"Bantuan yang diberikan nona dan ibu nona sudah terlampau banyak. suatu ketika budi kebaikan ini pasti akan kubayar, Nah untuk sementara waktu kita berpisah sampai disini saja, sampai ketemu lain kali"

Kakinya segera menutul permukaan tanah dan berlalulah anak muda itu meninggalkan hutan tersebut.

Ang nio cu yang masih berada disisi gelanggang hanya bisa berdiri dengan mata mendelong dan mulut melongo, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau bocah yang bermuka dingin itu sebetuinya tak lain adalah bakal ciangbunjin dari istana HHuan mo kiong. 000dw00

BAB 51

MENANTI bayangan punggung dari Han siong Kie telah lenyap dari pandangan mata, orang yang ada maksud baru melangkah maju kedepan dan menghampiri Ang nio- cu yang masih berdiri tertegun.

pada waktu itu luka dalam yang diderita Tonghong Leng belum sembuh betul2, ketika dilihatnya orang yang ada maksud menghampiri dirinya, kontan saja paras mukanya berubah hebat, cepat ia menegur:

"Hey bocah perempuan, apa yang hendak engkau lakukan

?"

orang yang ada maksud tersenyum, kemudian dengan

suara yang amat lirih dia membisikkan sesuatu...

Paras muka Ang nio-cu berubah hebat, menanti orang yang ada maksud telah menyelesaikan kata2nya, diu baru berkata dengan penuh perasaan emosi.

"oooh.. Rupanya sudah terjadi peristiwa sebesar ini? Aaai.. memang sudah terlalu lama aku hidup mengasingkan diri, sungguh tak kusangka telah terjadi peristiwa sedahsyat itu, baik serahkan saja semua persoalan itu kepadaku, nah susullah dirinya sekarang juga agar tak sampai terjadi sesuatu, aku berangkat kemudian"

orang yang ada maksud tidak membuang waktu lagi, selesai memberi hormat dia lantas menutulkan ujung kakinya ke atas tanah dan segera berlalu dari sana.

Ang nio cu sendiri segera mengambil keluar dua biji obat dan menelannya kedalam perut, kemudian sambil menahan rasa sakit yang masih dideritanya, selangkah demi selangkah dia keluar dari hutan itu. sementara itu, dipihak lain Han siong Kie sedang melakukan perjalanan dengan cepatnya menelusuri jalan raya seperti apa yang ditunjukkan gadis misterius itu.

Hawa napsu membunuh yang amat tebat telah menyelimuti seluruh wajahnya, ia tak mengira kalau Tee Kun yang sekarang begitu berani melanggar pantangan perguruan serta melakukan perbuatan yang terkutuk itu.

Per-tama2 dia sudah mengutus jago2 silatnya masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari sari perawan gadis2 persilatan untuk melatih ilmu Tui hun kang yang terlarang, perbuatan ini sudah cukup diancam dengan hukuman mati, dan sekarang secara terbuka berani bersekongkol dengan perkumpulan Thian che kau untuk mencelakai tianglo perguruan serta bakal ketua perguruannya, tindakan ini semakin merupakan suatu perbuatan yang amat berdosa.

Dalam hati anak muda itu segera mengambil keputusan untuk melakukan pembersihan terhadap oknum2 yang berkhianat itu, agar perguruannya bersih dari unsur2 jahat dan membangun kembali kejayaan perguruannya.

sepuluh li ditempuh dalam waktu yang amat singkat, hanya sebentar saja dia sudah tiba ditempat yang dimaksudkan.

Jauh didepan sana, ia lihat debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, tampaklah sebuah kereta kuda sedang dilarikan dengan kencangnya menelusuri jalan raya itu.

Kereta itu sangat sederhana dan bentuknya umum sekali seperti kereta2 yang lain, andaikata tiada petunjuk dari orang yang ada maksud, mungkin dia sendiripun tak akan menyangka kalau kelima orang tianglonya sedang disekap dalam kereta tersebut.

Cepat dia menutulkan ujung kakinya keatas permukaan tanah dan melayang kedepan melampaui kereta itu, kemudian dengan suatu gerakan yang sangat cepat pula meluncur turun keatas permukaan tanah dan menghadang jalan pergi kereta itu.

Kemunculan seorang penghadang didepan mata sangat mengejutkan kedua ekor kuda penghela itu, sambil meringkik panjang ke dua ekor kuda itu segera mengangkat kaki depannya keudara.

Untung kusirnya cukup cekatan dan tidak ikut panik dibuatnya, sambil membentak keras ia tarik tali les kudanya sehingga kuda- kuda itupun berhenti berlari.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Han siong Kie menyapu sekejap isi sang kereta yang tertutup rapat itu, kemudian baru mengawasi sang kusir itu.

sang kusir memakai mantel warna hitam dengan sebuah topi lebar yang hampir menutupi sebagian wajahnya, pada waktu itu ia sedang menengadah seraya mengawasi penghadangnya.

Tapi begitu mengetahui siapa kah orang itu, paras mukanya kontan berubah hebat, dengan pandangan ketakutan ia menegur dengan suara berat: "siapa engkau? Apt maksudmu menghadang jalan pergi kami?"

"Heehhh heehhh heeehhh aku hanya ingin tahu siapa

yang berada dalam kereta ini??"

"Tentang soal ini.. tentang soal ini.. aku rasa sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu bukan?"

"HHmm Aku tanya siapa yang berada dalam kereta ini??" "Anggota keluarga majikan kami".

"Buka pintu kereta ini"

"saudara, sebenarnya apa maksud dan tujuanmu?" seru kusir itu dengan wajah semakin berubah. "Tiada maksud apa2, aku hanya minta kepadamu agar membuka pintu kereta ini"

"saudara, sebenarnya engkau adalah sahabat dari golongan mana? Bila engkau membutuhkan sesuatu, katakan saja Majikan kami paling royal dan gemar bersahabat, berapa saja yang kau minta pastilah "

"Heehhh... heehhh... heehh.. engkau tak usah berlagak pilon lagi dihadapanku, manusia bedebah Penghianat perguruan, hayo jawab, bukankah isi kereta ini adalah kelima orang tianglo pergururan Thian lam?"

Kiranya Han siong Kie berhasil memecahkan penyaruan dari kusir itu, rupanya orang itu tak lebih hanyalah penyaruan dari salah seorang pengawal baju kuning istana Huan mo-kiong, sebab dari tahi lalat yang berada diatas jidatnya ia telah kenali orang itu sebagai salah satu diantara pengawal2 baju kuning yang pernah dijumpainya belum lama berselang..

setelah mengetahui bahwa hasil penyamarannya ketahuan, pengawal baju kuniag itupun segera bangkit berdiri dan melepaskan topi lebar yang menutupi wajahnya, kemudian sambil berdiri diatas kereta serunya sambil tertawa dingin:

"Ucapaamu memang tidak keliru, isi kereta ini memang kelima orang tianglo dari istana Huan mo kiong, lantas apa yang hendak kau lakukan..?"

"satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, setelah mengetahui bahwa pihak lawan tak lebih hanya seorang anggota perguruannya, dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk membasminya dari muka bumi. sambil menarik muka segera tegurnya: "Engkau sudah tahu siapakah aku ini?"

Pengawal baju kuning yang menyaru sebagai kusir itu tampak agak tertegun, kemudian sahutnya:

"Bukankah engkau adalah manusia berwajah dingin?" "Aku maksudkan.. kau sudah tahu belum akan kedudukanku yang sebenarnya dihadapanmu..?"

"Kedudukanmu? " "Benar"

"Kan engkau belum menjelaskan, darimana aku bisa tahu akan kedudukanmu yang sebenarnya?"

Dari dalam sakunya perlahan2 Han siong Kie ambil keluar lencana mutiara ok kui kiu pay tersebut, kemudian diperlihatkan kepada lawannya.

Kontan saja air muka pengawal baju kuning itu berubah jadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah kearah belakang.

Kontan saja air muka pengawal baju kuning itu berubah jadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah kearah belakang.

"Tentunya sekarang engkau sudah tahu bukan siapakah aku ini?” ucap Han Siong Kie lagi sambil tertawa dingin.

Pengawal baju kuning itu tetap membungkam, sementara sorot matanya dengan tajam mengawasi sekejap sekitar gelanggang dengan pandangan jelalatan..

Melihat pengawal itu tak mau berlutut untuk memberi hormai, hawa napsu membunuh semakin tebal menyelimuti wajab Han Siong Kie, dengaa suara rendah ia laatas menghardik:

"Setelah bertemu dengan lencana kehormatan, mengapa engkau tidak berlutut..? Hmm! Tampaknya engkau memang sudah bosan hidup!"

Sskali lagi pengawal baju kuning itu berdiri dengan tubuh gemetar keras, keringat mulai mengucur keluar membasahi ujung hidungnya. Di saat2 yang amat kritis itulah mendadak terdengar ujung baju tersampok angin, menyusul mana muncullah puluhan sosok bayangan manusia yang langsung mengepung rapat sekeliling kereta kuda itu, tampaknya selain kusir kereta, secara diam2 kereta ini dilindungi pula oleh belasan orang jago lihay.

Dalam waktu singkat suasana berubah jadi tegang, setiap orang berdiri dengan kesiap siagaan, tak seorangpun yang buka suara memecahkan kesunyian tersebut.

Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap k«wanan Jago yang mengepung dirinya itu, kemudian setelah menyimpan kembali tanda lencana Ok-kui cu-pay itu kedalam sakunya, ia menuding kearah pengawal baju kuning tadi, kemudian katanya:

“Engkau telah melanggar peraturan, maka sesuai dengan paraturan yang berlaku dalam perguruan kesalahan tersebut haruslah dijatuhi dengan hukuman mati!"

Bersamaan dengan diucapkannya kata yang terakhir, telapak tangannya segera diayun kedepan, dengan taktik "menghisap" dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat ia menghisap tubuh penghianat tersebut, untuk kemudian menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Pengawal baju kuning itu tampak ketakutan setengah mati, sebelum ia sempat berbuat sesuatu, tahu2 segulung daya hisapan yang sangat kuat telah membetot badan pengawal itu sampai sempoyongan maju kedepan.

Tampaknya pengawal itu bakal mampus di ujung telapak lawan, disaat yang kritis itulah mendadak horden kereta tersingkap, menyusul tenaga hisapan itu lenyap tak berbekas dengan begitu saja. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han Siong Kie, dia tahu pastilah ada seseorang jago tangguh yang bersembunyi di dalam kereta itu.

Pada saat dia tertegun karena pukulannya terhadang itulah, ber-puluh2 buah desingan-tajam yang membawa hawa pukutan dahsyat serta sambaran senjata rahasia berhamburan datang dari dua arah dibelakang tubuhnya, pukulan2 itu langsung ditujukan ke tubuhnya.

Cepat Han Siong Kie bertindak membela, sepasang telapak tangannya diputar sedemikian rupa melancarkan pukulan2 bergelombang yang sangat mengerikan, dalam waktu singkat semua ancaman yang tiba serta sambaran senjata rahasia yang tajam dapat terhalau semua hingga mencelat balik kebelakang.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah, pengawal baju kuning tadi ayunkan cambuknya dan membedal kedua ekor kudanya untuk kabur dari situ diiringi suatu ringkikan kuda yang amat ramai, kabur lah kereta kuda itu menuju kedepan.

Betapa gusarnya Han Siong Kie menyaksikan kejadian itu, telapak tangannya kembali diayun kemuka melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Dua kali pekikan nyaring yang memilukan hati berkumandang membelah angkasa, dua ekor kuda penghela kereta tersebut sudah termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu hingga terjengkang dengan kepala hancur.

Dengan matinya dua ekor binatang penghela itu dengan sendirinya kereta itu pun tak mampu meneruskan usahanya untuk kabur.

Cepat pengawal baju kuning itu loncat bangun dari kursi kusirnya, kemudisn melarikan diri menuju ketengah kerumunan kawanan jago lainnya. "Penghianat! Mau kabur kemana engkau?” bentak Han Siong Kie dengan penuh kegusaran. "Hayo serahkan nyawamu"

Baru saja Pengawal baju kuning itu bangkit dan lompat ke udara. satu bentakan nyaring telah menggelegar memecahkan kesunyian, menyusul mana suatu jerit kesakitan yang mengerikan menggema dludara, darah segar berhamburan ke mana2 dan robohlah jagoan tersebut dengan tubuh tertembus sampai berlubang.

Kiranya disaat yang terakhir itulah Han siong Kie telah menyergap lawannya dengar ilmu Tong kim ci yang lihay, tentu saja pengawal baju kuning itu tak kuasa menahan diri hingga binasalah jagoan tersebut.

Demontrasi kepandaian silat ini cukup menggetarkan hati siapapun yang menyaksikan, diam2 kawanan jago yang berkumpul diseputar gelanggang merasakan hatinya bergidik.

Menyadari betapa lihay dan tangguhnya si anak muda itu, secara beruntun dua gumpalan bola api warna merah dilepaskan ke udara, yang mana segera meledak sesudah berada di angkasa.

Han siong Kle mendengus sinis, dia tahu kawanan jago itu sedang melepaskan tanda bahaya dan mohon bantuan.

Sebelum anak muda itu bertindak lebih jauh, terdengar suara gemerincingnya suara besi yang saling beradu, kiranya kawanan jago yang berkumpul disekitar situ sama2 telah cabut keluar senjata tajam masing2 dan siap bertempur.

Han siong kie mendengus dingin, ia tak pandang sebelah matapun terhadap kawanan jago lihay yang mengepung dirinya, selangkah demi selangkah dia maju kedepan menghampiri kereta kuda itu, kemudian sekali ayun dia hantam kereta tersebut keras2. Tapi ketika pukulan itu sudah mencapai tengah jalan. tiba2 pemuda itu batalkan kembali niatnya, dia merasa pukulan itu percuma saja dan sama sekali tak ada gunanya, sebab kelima orang tianglooya yang disekap dalam kereta pasti sudah tertotok jalan darahnya hingga tak bisa berkutik, bila dia menyerang secara gegabah bukankah itu berarti hanya akan membahayakan jiwa mereka saja?

Baru saja Han siong Kie tarik kembali serangannya, mendadak segulung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya telah menyergap tiba, pukulan itu sangat keras bagaikan segulung ombak yang terhembus angin puyuh.

Anak mauch itu mendengus dingin, tanpa berpaling barang sekejappun, dia putar telapak tangannya kemudian menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blang " Terjadilah benturan keras yang memekikkan

telinga, termakan oleh gulungan angin pukulan yang cukup keras itu hampir saja Han siong Kie mundur dengan sempoyongan.

Betapa terkejutnya sianak muda itu, Cepat dia berpaling, tampaklah seorang tampan yang agak berwajah bengis sedang berdiri dihadapan mukanya ....

sekilas pandangan saja, Han siong Kie telah mengenali siapakah orang itu, kontan ia tertawa dingin seraya menegur:

"Heehhh heehhh heehhh Yu Sau kun Memangnya engkau datang kemari untuk menghantarkan kematianmu? "

Memang tak salah, pemuda yang baru saja munculkan diri itu tak lain tak bukan adalah Yu sau kun, ketua muda dari perkumpulan Thian che kau. Yu sau kun segera balas mengejek dengan suara yang tak kalah dinginnya:

"Hmm Manusia berwajah dingin, engkau tak usah tekebur dan berlagak sok disini, ketahuilah hari ini engkau sudah terkepung walaupun punya sayappun jangan harap bisa lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat"

Berbareng dengan selesainya ucapan itu, sepasang telapak tangannya segera digosok lalu direntangkan kedepan, beberapa gerakan tersebut dilakukan dengan sangat cepatnya.

Han siong Kle menberikan pula reaksi yang tak kalah cepatnya, sebelum sepasang telapak tangan lawan sempat saling merapat satu sama lainnya. dia telah sadar bahwa anak muda itu hendak mengeluarkan kepandaian anehnya untuk menghilangkan kekuatan orang.

Ia jadi cemas dan gelisah, tentu saja anak muda itu tak sudi memberi kesempatan kepada lawannya untuk melumpuhkan kekuatannya, sebelum pihak lawan sempat bertindak. dia telah mendahului dengan melepaskan pula sebuah pukulan keras.

"Blaang" kembali terjadi bentutan keras terdengar satu jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian.

Dengan sempoyongan Yu sau kun mundur sampai beberapa kaki jauhnya, darah kental mulai meleleh keluar membasahi ujung bibirnya.

Han siong Kie memburu kedepan, ditatapnya sekejap anak muda itu lalu dia mengejek kembali:

“Yu Sau kun, saat kematianmu sudah tiba, ber-siap21ah untuk berangkat ke Akhirat!"

Diiringi suatu bentakan nyaring sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan. gulungan angin pukulan yang amat dahsyat pun segera memancar kemuka dan menggulung tubuh lawan.

Jerit keras menggema dari empat penjuru kawanan jago yang berkumpul disitu pada panik semua, namun tak seorang pun yang bisa berbuat apa2.. “Jangan kau lukai dia” disaat yang paling kritis itulah, mendadak terdengar bentakan keras msnggema memecahkan kesunyian.

Bersamaan deogan menggemanya suara bentakan tersebut, tiba2 horden kereta tersingkap, menyusul segulung angin pukulan yang amat keras langsung menggulung kearah angin pukulan yang sedang dilepaskan Han Siong Kie..

"Duuk..blang..!" suatu benturan kerae kcmbali terjadi, kali ini Han Siong Kie kena tergetar sampai mundur satu langkah lebar kebelakang.

Seorang perempuan cantik berusia pertengahan dengan langkah yang amat santai perlahan2 munculkan diri dari balik ruang kereta, air mukanya kaku dan sedikit pun tidak membawa emosi, dengan suatu pandangan yang dingin ia menatap wajah Han Siong Kie tanpa berkedip.

Anak muda itu berdiri kaku dengan muka berubah hebat, hatinya terasa amat sakit bagaikan di sayat2 dengan pisau tajam, tubuh perempuan cantik setengah baya itu tak lain adalah ibunya sendiri, Siang go cantik Ong Cui Ing adanya.

Tak kuasa lagi dia mundur beberapa langkah kebelakacg dengan sempoyongan, mukanya berkerut kencang dan sebisa mungkin dia berusaha menahan pukulan batin yang dideritanya.

Sementara dia masih berdiri dengan wajah tertegun, Siang go cantik Ong Cui Ing telah berkata dengan suara dingin menyeramkan :

"Hey, manusia berwajah dingin, ini hari kaucu hujinmu tak nanti akan biarkan engkau lolos dari sini dalam keadaaan selamat..!"

Ucapan itu semakin menyayat perasaan Han Siong Kie, pukulan batin yang dideritanya pada saat ini telah msnghapus lenyap peringatan yang pernah diberikan Orang yang ada maksud kepadanya,

Dia lupa kalau dirinya telah diperingatkan agar jangan melukai orang dan cepat2 membawa kabur kelima orang tianglonya.

Kini yang tercekam dalam benaknya yang satu ingatan yaitu membunuh, dia merasa hanya darah segar yang mengalir dari tubuh orang lain saja yang mampu menenangkan perasaan hatinya ini...

Maka diapun bergerak maju kedepan, sasarannya yang terutama adalah ketua muda dari Perkumpulan Thian che kau, yaitu Yu sau kun

Demikianlah, begitu ucapan siang go cantik ong ciu ing baru selesai diutarakan keluar, tiba2 si anak muda itu menyergap maju kedepan, secepat sambaran kilat jari tangannya ditusuk kedepan melepaskan ber-puluh2 buah serangan jari yang tajam, seluruh serangan maut itu tertuju kearah Yu sau kun yang berdiri disamping gelanggang.

Padahal pada waktu itu Yu sau kun sedang menderita luka parah, dalam keadaan begitu gerak tubuhnya jadi lebih lamban dari keadaan dihari2 biasa, tampaknya dia tak bisa menghindarkan diri lagi.

serangan mematikan yang dilancarkan secara tiba2 ini jauh diluar dugaan siapapun juga, sebab semua orang tak mengira kalau anak muda itu bukannya melancarkan serangan ke arah Kau-cu hujin sebaliknya malah menyergap Yu sau kun yang sudah terluka parah. Bayangan manusia berkelebat lewat didepan mata, menyusul seorang berseru tertahan.

Dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, Siang go cantik ong Cui ing berdiri dengan sempoyongan..

Rupanya disaat yang amat kritis itulah, berhubung tak sempat memberikan pertolongan lagi, maka perempuan itu segera berkelebat kedepan dan menyambut serangan jari lawan yang sangat keras itu dengan tubuhnya sendiri

Kejadian ini di luar dugaan Han siong Kie, untuk sesaat ia jadi menjublak dengan mata melotot besar, sementara mulutnya bergumam seperti orang sedang mengigau:

"ooh.. ayah, sukmamu di alam baka pasti lebih tahu,janganlah menganggap putramu tidak berbakti.."

Ucapan itu sangat lirih, tak seorangpun diantara kawanan jago yang berada disana dapat menangkap ucapan itu dan lagi sekalipun mendengar juga tak ada yang tahu artinya sebab tak seorang pun yang mengetahui asal usul anak muda ini.

Hanya Siang go Cantik Ong Cui ing seorang yang mengerti akan bisikan tersebut paras mukanya kontan berubah hebat, secara beruntun dia mundur lagi beberapa langkah kebelakang.

Dengan menahan melelehnya air mata yang membasahi wajahnya, Han Siong Kie menjadi nekad tiba2 sepasang telapak tangannya dilontarkan kembali kearah depan.

Walaupun serangan itu sangat hebat bagaimanapun juga perempuan itu adalab ibunya sendiri, ketika serangan sampai ditengah jalan ia jadi tak tega, hingga tak kuasa lagi dia tarik kembali tujuh bagian tenaga pukulannya itu.

Selama pertarungan berlangsung Siang go cantik Ong Cui ing selalu menyembunyikan lengan kanannya dibalik ujung bajunya yang locggar, dia hanya melayani serangan lawan dengan telapak tangan kirinya.

“Blaang!" sebuah benturan keras kembali terjadi, sambil mendengus tertahan Siang go cantik Ong Cui ing mundur satu kaki kebelakang dengan sempoyongan.

Bentakan bentakan nyaring segera berkumandang dari empat penjuru, beberapa buah pedang dengan disertai desiran tajam serentak bergerak kedepan menyergap tubuh Han Siong Kie.

Pada saat itu kemarahan si anak muda itu sudah mencapai pada puncaknya, hawa napsu untuk membunuh menyelimuti seluruh benaknya, ketika merasakan datangnya ancaman pedang, cepat dia putar badan sambil melepaskan serangan telapak tangan dan serangan jari secara berbareng, desiran2 tajam langsung menyergap kearah kawanan jago dari Thian che kau yang sedang menyergap datang itu.

Dalam waktu singkat jerit kesakitan berkumandang saling susul menyusul, darah dan kutungan badan berhamburan dimana-mana.

Hanya sebentar saja mayat sudah bergelimpangan disana- sini, keadaan betu!2 berubah sangat mengerikan.

Han Sioag Kie sudah mendekati kekalapan yang melintas dalam benaknya saat ini hanyalah membunuh, membunuh siapa saja yang dijumpainya...

Yang celaka tentu saja kawanan jago dari Thian che-kau, mereka jadi sasaran pelampiasan hawa napsn membunuhnya, siapa pun yang ditemui segera dibantai secara sadis.. darah telah berceceran menodai seluruh permukaan tanah, keadaan jadi begitu seram dan ngeri..

Akhirnya pembantaian itupun berhenti, seluruh jago yang hadir dalam gelanggang telah terbabat habis, yang masih hidup kini tinggal siang go cantik ong ciu Ing serta Yu sau kun dua orang.

Dengan badan yang kotor karena penuh berlepotan darah Han siong Kle melangkah maju kedepan, hawa napsu membunuhnya masih jelas menyelimuti wajahnya, selangkah demi selangkah ia maju ke depan menghampiri Yu sau kun yang sedang berdiri dengan muka pucat pias. "Manusia berwajah dingin, apa yang hendak kau lakukan..?" bentak siang go cantik ong Cui ing dengan suara keras.

"Mau apa lagi? Heehh... heehh... heehh... tentu saja mau membunuh orang . . "

"Engkau tak ingin menolong rekan2mu?"

"Tentu saja harus kutolong jiwa mereka, tapi akupun akan membunuh orang.."

"Kalau tidak kau lakukan pertolongan itu sekarang juga, sebentar engkau akan menyesal"

Han siong Kle tertegun dan untuk sesaat tak mampu ber- kata2, ia tak menyangka dalam keadaan seperti ini ibunya dapat mengucapkan kata2 tersebut. Tapi sesaat kemudian ia sudah mendengus dingia seraya berkata:

"Kau-cu hujin yang terhormat,aku tahu engkau sangat menyayangi putramu, bukankah engkau takut kalau aku sampai mencelakai putra kesayanganmu itu..? Haahhh....

haahhh..haahhh "

Pilu amat gelak tertawa itu, bukan saja penuh mengandung rasa benci yang tak terhingga bahkan membawa pula suara sindiran tajam.

Dengan suatu gerakan yang cepat sianggo cantik ong cui ing bergerak maju ke depan dan menghadang didepan tubuh Yu sau kun, kembali bentaknya keras. "Han siong Kie, lebih baik cepat tolonglah rekanmu dan segera tinggalkan tempat ini"

"Akupasti akan menolong rekanku dan berlalu dari sini, tapi setelah kubinasakan dulu dirinya"

sembari berkata selangkah demi selangkah dia masih maju terus kedepan, sekarang mukanya sudah berubah jadi mengerikan, begitu tebal hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya bikin hati orang jadi bergidik.

"lbu, ijinkanlah aku untuk beradu jiwa dengan bedebah itu" teriak ketua muda Thian che kau dengan nada penasaran.

Dengan langkah sempoyongan dia berusaha untuk bergerak maju kedepan,

Tapi siang go cantik ong cui ing bertindak lebih cepat, kembali dia menghadang jalan pergi anak muda ini seraya berkata: "Kunji, jangan bertindak gegabah"

Betapa pedih dan sakitnya hati Han siong Kie, ia merasa dunia serasa kosong jadinya secara tiba2, dari sikap ibunya itu dia tahu bahwa ong cui ing lebih sayang terhadap putra keduanya ini daripada terhadap dirinya.

Tekanan batin ini membuat hawa napsu membunuhnya semakin tebal.

Meskipun ia sudah nekad untuk melakukan pembunuhan, akan tetapi ia belum tega untuk membinasakan ibunya sendiri, tentu saja perasaan ini lain bila ditujukan terhadap Yu sau kun, ia menganggap bocah itu sebagai putra ibunya dengan lelaki lain, maka dia bertekad untuk melenyapkan dari muka bumi.

Hijau membesi selembar wajah siang go cantik ong cui ing, dengan suara gemetar serunya keras:

"Engkau tak boleh membinasakan dirinya" "Kenapa tak boleh?"

"Tidak..tidak boleh, engkau tak usah tahu, pokoknya dia tak boleh kau bunuh"

secara tiba2 Han siong Kie jadi teringat akan sesutatu peristiwa, waktu itu dia sedang mengebumikan jenasah gurunya yakni Mo tiong ci mo, tiba2 Yu sau kun munculkan diri dan dia bermaksud membinasakan anak muda itu, tapi orang yang ada maksud telah menghalangi perbuatannya itu.

satu ingatan cepat melintas dalam benaknya, ia merasa di balik kejadian itu tentu tersembunyi hal-hal yang tidak beres, cuma ia tak mau pikirkan persoalan tersebut dalam keadaan begini.

Dengan napsu membunuh yang lebih tebal menyelimuti wajahnya, kembali pemuda itu maju ke depan.

Jarak antara kedua belah pihak kian lama kian bertambah dekat, akhirnya selisih jarak kedua belah pihak tinggal lima depa saja.

Pada detik itulah mendadak siang go cantik ong cui ing putar badannya sambil melancarkan sebuah totokan, Yu sau kun segera berseru tertahan dan roboh terkapar diatas tanah.

Tindakan secara tiba2 yang dilakukan ong Ciu ing ini sama sekali diluar dugaan Han siong Kie, untuk sesaat dia jadi tertegun tak mampu ber-kata2.

sebelum ingatan kedua sempat melintas dalam benaknya, secepat kilat siang go cantik ong Ciu ing telah menyambar Yu sau kun yang tertotok itu dan mundur satu kaki jauhnya dari tempat semula, dua titik air mata tampak membasahi pipinya, dengan suara gemetar dia berbisik, "Nak "

Han siong Kie gemetar keras, ia merasa panggilan tersebut sangat dikenal olehnya, hanya dia lupa dimanakah suara itupernah didengar olehnya, setelah tertegun sejenak, segera sahutnya dengan gemas:

"Engkau tak usah memanggil diriku dengan sebutan tersebut, aku bukan anakmu"

Tampaknya siang go cantik ong Ciu ing berusaha keras untuk mengendalikan emosi dihatinya, dengan suara yang lebih rendah kembali dia berseru: "Nak, kau.." "Jangan kau anggap dengan panggilanmu itu maka aku lantas membatalkan niatku untuk membunuh engkau, Hmm Kalau engkau berpendapat demikian maka kelirulah pandanganmu itu"

"Engkau tak akan memahami perasaan hatiku, tapi suatu ketika engkau akan mengerti bagaimanakah diriku ini"

Pada hakekatnya perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri, meskipun ia membenci ibunya yang kejam melebihi ular berbisa ini.. namun bagaimanapun juga perasaan kasih antara anak dan ibu masih ada.

Maka sambil menahan melelehnya air mata yang membasahi pipinya, ia menggigit bibir sambil berkata:

"Ucapanmu memang tak salah, aku tak akan paham, selamanya tak akan paham.."

"Eng kau tahu siapakah pemuda ini?"

"Bukankah dia adalah putra kesayangan nyonya? Ketua muda dari Thian che kau yang bernama Yu sau kun?"

"Keliru besar, dia bukan she Yu, semestinya dia bernama Thio sau kun"

"Hmm Lalu apa bedanya antara she Thio dan she Yu? Toh yang pasti dia adalah putra kesayangan nyonya?"

"Nak, engkau keliru besar, dia bukan anakku, dia adalah keturunan dari susiokmu Telapak naga beracun Thio Lin.."

“Apa..? Dia adaiah patra kandung Thio Susiok..?” teriak Han Siong Kie dengan suara gemetar, secara beruntun dia mundur tiga langkah ke belakang dengan perasaan terperanjat.

"Benar. dia adalab putra susiokmu!"

Telapak naga beracun Thio Lin telah selamatkan jiwanya dan mendidiknya hingga menjadi dewasa, budi kebaikan ini boleh dibilang melebihi tingginya bukit karang, seandainya Yu Sau kun benar2 adalah putra kandung susioknya, itu berarti dia pantas membayar segala hutang budi tersebut kepada putranya ini.

Tapi.. dapat di percayakah perkataannya ini?

Waktu itu dia masih bsrusia dua tahun, bukankah Thio susiok parnah berkata bahwa putranya telah mati dibantai musuh?

Atau mungkin perempuaa ini sengaja mengarang suatu cerita yang mengejutkan hati ini demi selamatkan jiwanya?

Untuk sesaat, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, lama sekali dia termenung memikirkan soal itu..

Akhirnya dia bertanya:

"Sungguhkah dia adaiah keturunan dari Thio susiok?” “Nak, masa aku membohongi dirimu..?"

"Tapi . bukankah putra Thio susiok telah mati pada lima belas tahun berselang?”

"Tidak. dia sama sekali tidak mati!"

"Siapa yang membuktikan bahwa dia tidak mati?” "Aku .! Akulah yang membuktikan!"

“Hmm..!” Han Siong Kie tertawa dingin. “Engkau anggap aku bisa mempercayai perkataan itu?”

"Mau percaya atau tidak terserah pada dirimu, pokoknya apa yang kuucapkan adalah suatu kenyataan!"

“Masa dia bukan putra kandung dari ketua Thian che kau?” "Bukan! Tapi dia sudah dianggap bagaikan putra kandung

sendiri oleh ketua Thian che kau!" "Haaahhh haahhh haahhh.. engkau hendak coba melindungi keselamatan jiwanya dengan kata2mu?” ejek sang pemuda sambil tertawa keras, tertawa penuh sindiran.

Siang go Cantik ong Cui ing menengadah dan ikut tertawa ter bahak2, suara tertawanya jauh lebih keras dan memilukan hati.

"Nak" katanya kemudian, "seandainya kelima orang tianglo itu sudah tertotok jalan darahnya oleh suatu ilmu totokan yang khas dari pemilik benteng maut seperti apa yang kau alami tempo dulu, dan tiada orang lain yang sanggup membebaskannya kecuali aku, dapatkah kutawarkan bantuanku ini sebagai pertukaran dengan selembar jiwanya?"

Berdebarlah jantung Han siong Kie sesudah mendengar perkataan itu, tentu saja ia tak dapat mengorbankan jiwa kelima orang tianglonya demi seorang pemuda lain, untuk sesaat hatinya jadi ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Dia mulai berpikir, darimana perempuan ini bisa tahu kalau mereka berlima sudah tertotok oleh ilmu totokan yang khas dari pemilik benteng maut?

Atau jangan2 antara perkumpulan Thian che-kau dengan benteng maut benar2 mempunyai hubungan yang erat ?

Berpikir sampai disini, dia lantas membentak dengan suara nyaring:

"Benarkah perkumpulan Thian che kau mempunyai hubungan yang erat dengan benteng maut?"

"sekarang aku tak akan menjawab pertanyaanmu itu" sahut ong Cui ing dengan dingin, "toh dikemudian hari engkau bakal mengetahui dengan sendirinya"

"Jadi engkau telah mengakui bahwa antara kedua kelompok kekuatan ini sebenarnya mempunyai hubungan yang erat?" "Tidak " sahut perempuan itu dengan tegas.

"Dan sekarang engkau akan menggunakan kelima orang tianglo itu sebagai pertukaran syarat dengan aku?"

"Aku sama sekali tidak bermaksud demikian, sebab itu tak perlu bagiku.."

-000dw000-

BAB 52

HAN SIONG KIE jadi tercengang dan tidak habis mengerti, dia tak tahu apa maksud dan tujuan yang sebetulnya dari perempuan itu. setelah ter mangu2 sebentar, akhirnya dia bertanya lagi:

"Apakah dia pribadi tahu kalau sebenarnya dia adalah keturunan dari Thio susiok?"

"Tentu saja tidak tahu" "Kenapa tidak tahu...?"

"sebab waktunya yang baik belum tiba, kalau dia tahu akan persoalan ini maka lebih banyak kerugian dari pada keuntungan "

Han siong Kie makin tercengang dan kebingungan lagi, dengan jelas ia telah merasakan bagaimana perempuan itu sudah tidak menganggap dirinya sebagai anak, bahkan beberapa kali berusaha untuk mencabut jiwanya, tapi sekarang setelah in terluka, tiba-tiba saja sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat,jangan2 dia memang...

Mendadak dari kejauhan berkumandang suara ujung baju tersampok angin, agaknya ada belasan orang sedang melayang tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Paras muka Han siong Kie kontan berubah, hawa napsu membunuh kembali menyelimuti wajahnya. Air muka siang go cantik ong Cui ing sendiripun berubah hebat, dengan gelisah dia berkata:

"sambutlah dia, tapi jangan kau lukai, aku harus menyelamatkan jiwa kelima orang tianglo itu sekarang juga, kalau tidak maka tak ada kesempatan lagi dilain waktu"

Berbicara sampai disini, dia lantas lemparkan tubuh Yusau kun ke dalam pelukan Han siong Kie, sementara dia sendiri segera menerjang masuk kedalam ruang kereta..

Dengan wajah tertegun dan mata terbelalak anak muda itu menerima tubuh Yu sau kun dan memeluknya tanpa sanggup berbuat sesuatu.

siang go cantik ong Cui-ing sendiri segera menerobos masuk kedalam kereta, selang sesaat dia telah muncul kembali diikuti lima orang tianglo dibelakangnya.

"Blaang.. kereta kuda itu dihajarnya sampai hancur berkeping-keping, sementara ong Cui ing berdiri ditengah bangkai kereta tersebut.

Begitu keluar dari ruang kerata, lima orang tianglo itu segera memburu maju kedepan dan bersama2 memberi hormat kepada Han siong Kie seraya berkata: "Hamba berlima mengunjuk hormat untuk ciang bun suheng"

"Tianglo sekalian tak perlu banyak adat"

To It hui kepala tianglo segera maju dan berkala dengan penuh emosi.

"Ilmu silat yang kami berlima miliki sangat tak becus, hampir saja karena persoalan kami telah menimbulkan kejadian besar, harap ciangbun suheng sukalah "

Ucapan itu sebelum selesai dlutarakan, tiba-tiba beberapa sosok bayangan manusia meluncur datang dengan cepatnya.

Han siong Kie segera menyerahkan tubuh Yu Sau kun, ketua muda dari Thian che kau itu ketangan Liok Sau tan, tianglo yang ke empat, kemudian selangkah demi selangkah maju kedepan menghampiri para pendatang.

Melihat ciangbunjinnya sudah maju, lima orang tianglo lainnya segera berdiri beejajar di belakang tubuhnya.

Dalam waktu singkat empat belas orang kakek tua berusia lima puluh tahunan telah munculkan diri ditengah gelanggang, mereka ada enam orang berjubah hijau dan delapan orang berjubah kuning.

Dalam sekilas pandangan Han Siong Kie segera kenali mereka sebagai pengawal2 dari ciangbun Tee kun sekarang ini, darah panas langsung bergolak dalam dadanya.

Sementara itu paras muka keempat belas orang pengawal istana Huan mo kiong juga berubah hebat setelah memandang sekejap keadaan dalam gelanggang tersebut.

Mereka lihat mayat bergelimpangan di mana2, kereta hancur berserakan memenuhi permukaan tanah, bukan saja nyonya kaucu sudah terluka, bahkan sau kaucu tertawan pula, terutama kelima orang tianglonya yang berdiri dengan pandangan berapi sungguh menggidikan hati.

Dengan sorot mata tajam Han siong Kte menyapu sekejap keempat belas pengawal itu, kepada To It hui tanyanya:

"Apakah mereka semua adalah pengawal dari penghianat perguruan?"

"Benar " jawab To It hui dengan hormat.

Han siong Kie mendengus dingin, ditatapnya sekejap keempat belas orang pengawal itu, lalu dengan suara tegas dia berkata:

"Apakah kalian semua rela menjadi penghianat2 perguruan..?" Keempat belas orang pengawal itu saling berpandangan dengan mulut membungkam, tak seorangpun yang berani bersuara.

Per-lahan2 dari dalam sakunya anak muda itu ambil keluar lencana ok kui cul-pay, kemudian diangkatnya tinggi2 keudara.

Dengan wajah serius, kelima orang tianglo itu segera jatuhkan diri berlutut keatas tanah, setelah memberi hormat mereka mundur kebelakang dan berdiri dengan muka serius.

Pucat pias selembar wajah orang2 itu, mereka sama2 menunjukkan muka kaget dan ketakutan, cuma tak seorangpun yang berlutut, sementara kepala mereka kerap kali berpalirg kebelakang se akan2 sedang menantikan sesuatu..

Air muka siang go cantik ong Cui ing menunjukkan pula perubahan serius, hanya tak tahu apa yang sedang ia pikirkan dalam hati ?

Sambil menarik muka dan napsu membunuh menyelimuti wajahnya, Han Siong Kie berpaling dan memandang sekejap kearah kelima orang tianglonya, kemudian katanya dengan suara berat.

"Ciangbun Tee kun perguruan Thian lam saat ini Wi It-beng telah melanggar peraturan cousu dengan melatih ilmu Tui hun kang, dosa ini sangat besar dan tak terampuni, selain itu dia berani menghianati perguruan dengan bersekongkol dengan pihak Thian che-kau untuk membunuh tianglo perguruannya sendiri, mengingat dosa2nya itu maka aku dengan mendapat perintah dari Tong Ceng, ketua perguruan yang lampau akan melakukan pembersihan atas penghianat2 tersebut dari perguruan"

Ia berhenti sebentar, lalu sambil acungkan lencana kekuasaannya pemuda itu melanjutkan lebih jauh: "Mulai hari ini Wi It-beng telah dicopot kedudukannya sebagai ketua perguruan, atas dosa2nya maka dia akan dihukum sesuai dengan peraturan perguruan yang berlaku" Pucat pias wajah empat belas pengawal keringat dingin telah mengucur keluar membasahi seluruh tubuh mereka .

Han Siong Kie mendengus dingin, ia berpaling dan tanyanya lagi kepada kelima orang tianglo itu:

“Apa hukumannya jikalau ada anggota perguruan yang tidak berlutut aetelah melihat lencana mutiara ini ?”

"Hukuman mati!" jawab kelima orang tianglo itu hampir berbareng.

“Bagus. tianglo berlima ! Tunggu perintah!” “Tecu sekalian siap !”

“Laksanakan peraturan perguruan dengan tegas !” “Tecu sekalian turut perintah !”

Liok Sau wan tianglo keempat segera meletakkan tubuh Yu Sau-kun keatas tanah, kemudian ber-sama2 keempat orang rekannya memberi hormat kepada Han Siong Kie, dengan sekali tutulan mereka segera menerjang kearah empat belas orang pengawal itu dengan dahsyatnya.

Suasana kontan tercekam dalam ketegangan, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh angkasa.

Betapa ketakutannya keempat belas orang pergawal itu, mereka merasakan sukmanya se-akan2 sudah meninggalkan raga, tanpa sadar orang2 itu serentak mundur kebelakang.

Suasana amat kritis dan tampaknya sejenak kemudian suatu pertempuran sengit segera skan berkobar..

"Tee kun tiba !” tiba2 suatu bentakan nyaring bagaikan guntur yang menggelegar membelah angkasa, Keempat belas orang psngawal yang sedang ketakutan segera menunjukkan wajah berseri,serentak mereka menyebarkan diri ke kedua belah samping. enam orang pengawal baju hijau bergeser ke sebelah kiri dan delapan orang pengawal baju kuning bergeser ke sebelah kanan.

Agak tertegun kelima orang tianglo ini, tanpa sadar mereka te1ah menghentikan langkahnya.

Han Siong Kie sendiripun diam2 merasakan jantungnya berdebar keras, ia tak tahu bagaimana jadinya nanti.

Dua sosok bayangan manusia melayang masuk kedalam gelanggang dan berdiri di-depan dua baris pengawal2nya.

Mereka adalah dua orang pria setengah baya yang berwajah amat jelek, rambutnya yang panjang berwarna kuning dengam mata hijau, hidungnya pesek sementara bibirnya tebal.

Yang seorarg membawa senjata toya besi sedang yang lain bersenjatakan sepasang cakar emas, dari dua macam senjata yang di pakai dapatlah diketahui bahwa kekuatan yang dimiliki kedua orang pria tersebut luar biasa sekali.

Han sioog Kie tahu bahwa sebentar lagi Wi It beng bakal munculkan diri, cepat perintahnya kepada kelima orang tianglo iiu.

"Harap kalian berlima mengundurkan diri lebih dahulu!"

Lima orang tianglo itu segera menjura dan meagundurkan diri kebelakang.

Paras muka Siang go cantik Ong Cui ing pun menunjukkan perubahan hebat, akan tetapi dia masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula.

Dari tengah hutan di tepi jalan raya perlahan-lahan muncullah seorang kakek tua berjubah sutera dengan kopiah terbuat dari emas, kakek tua itu langsung berjalan menuju ke tengah gelanggang.

“Ciangbun suheng, dialah yang bernama Wi It beng !” seru Seng Thian pau, tianglo kedua dengan cepat.

Han Siong Kie mengangguk tanda mengerti, ditatapnya orang itu dengan sorot mata tajam.

Sementara itu dengan langkah yang lambat tapi kenyataan sangat cepat sekali, kakek berkopiah emas itu berjalan masuk ke dalam gelanggang, dimana orang itu lewat dua baris pengawalnya segera memberi hormat.

Han Siong Kie mendengus dingin, ia menatap pihak lawan dengan tatapan sinis, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Setelah berada di tengah gelanggang, dengan sepasang mata elangnya yang tajam Wi It-beng menyapu sekejap sekeliling gelanggang itu, kemudian pandangan matanya itu berhenti diatas wajah Han Siong Kie, ujarnya dengan suara yang mengerikan:

"Hey. manusia berwajah dingin ! Dari tempat mana engkau berhasil mencuri benda kekuasaan perguruan kami? Bahkan berani pula menyaru sebagai pewaris Tong toa supek untuk melakukan pembantaian atas anggota perguruan kami? Hmm. Aku lihat perbuatan ini benar2 terlalu berani..”

Belum habis Wi It beng menyelesaikan kata-katanya, kelima orang tianglo itu sudah mendengus kegusaran.

Tuduhan yang semena2 itu membangkitkan pula hawa amarah dalam dada Han Siong Kie, kontan dia membentak keras:

"Tutup mulut anjingmu Engkau jangan mencoba menuduh yang bukan2" Kemudian dia angkat tinggi2 lencana ok kui-cu pai tersebut seraya membentak keras:

"Wi It beng Tahukah engkau akan dosa-dosamu ?"

Bagaimanapun licik dan lihaynya Wi It beng, Tee- kun dari perguruan Thian lam ini tak urung berubah juga paras mukanya setelah melihat lencana mutiara itu, tanpa sadar dia mundur satu langkah lebar ke belakang.

Tapi hanya sebentar saja dia sudah dapat menguasahi kembali perasaan hatinya, dengan senyum licik menghiasi bibirnya dia tertawa dingin, katanya dengan lantang:

"Heeeh.. heeeh... heeeh Manusia berwajah dingin, engkau tak usah berlagak jumawa di hadapanku, ketahuilah bahwa dihadapan Tee kun engkau masih belum pantas untuk unjuk gagah" Kemudian sambil berpaling kearah lima orang tianglo itu, tambahnya lebih jauh.

"Kalian berlima sebagai tianglo perguruan, bukan saja berani berkhianat bahkan membela juga orang luar. Hmm Tahukah kalian sampai dimanakah dosa yang kalian perbuat?"

"Wi It beng, engkau anggap peraturan perguruan tak dapat meng-apa2kan engkau?"

"Kau anggap kau masih bisa berbuat semena-mena dengan melanggar peraturan perguruan", teriak seng Thian pau, tianglo kedua dengan suaranya yang keras bagaikan geledek.

Menyaksikan pihak lawan tetap membandel, Han siong Kie segera menyimpan kembali lencana ok kui cu pay tersebut, kemudian katanya dengan nada ketus:

"Wi It beng, engkau bersedia untuk menerima peratuan perguruan ataukah tetap membandel.."

Thian lam Tee kun Wi It beng tertawa seram, tukasnya: "Manusia berwajah dingin Lebih baik tutup saja bacot

anjingmu itu, hayo cepat serahkan lencana ok kui cu pay tersebut kepadaku, mengingat nsiamu masih muda mungkin saja aku akan lepaskan sebuah jalan kehidupan kepadamu".

Betapa gusarnya Han Siong Kie mendengar ucapan tersebut, sekujur badannya sampai gemetar menahan emosi, dari sikap lawannya yang sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap lencana kekuasaan yang tertinggi dari perguruan ini. jelas menunjukkan bahwa dia memang tidak menyesal dengan perbuatannya, itu berarti pula banyak berbicara dengan orang macam begini sama sekali tak ada gunanya.

Setelah termenung dan berpikir sebentar, akhirnya ia membentak keras:

"Wi It beng! Kalau engkau tidak di hukum sesuai dengan peraturan perguruan, rasanya sia2 belaka cousu berjuang mati-matian menegakkan perguruan ini!"

Sambil berkata dia segera maju ke depan siap melancarkan serangan...

"Hut tian ciangkoan, kalian berada dimana?” Wi It beng segera membentak keras.

Dua orang laki2 berwajah jelek itu serentak maju tiga langkah lebar, sesudah menjura sahutnya:

"Hamba berdua siap menantikan firman kaisar!" "Tangkap manusia tekebur itu dan gusur dari sini!" "Terima firman!"

Sambil mempersiapkan senjata toya baja seberat ratusan katinya dan sepasang senjata cakar emasnya yang berat dua orang itu segera maju kedepan daa menyergap diri Han Siong Kie. Menyaksikan itu To It hui dan Seng Thian pau segera maju menghadang jalan pergi mereka berdua, kepada anak muda itu ujarnya :

"Harap ciangbun suheng suka memberikan perintah!"

Dengan wajah serius Han Sioag Kie mengangguk, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Wie It-beng.

Setelah mendapat persetujuan, To It hui langsung menerjang laki2 bersenjata toya baja itu sementara Seng Thian pau menghadapi laki2 bersenjata cakar emas.

Suatu pertarungan seru segera berkobar di sana, kedua belah pihak saling menyerang dan menyergap dengan gencarnya.

Kedua orang tianglo itu mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna serta permainan jurus serangannya yang terlatih meneter dua orang musuhnya habis2an, angin serangan men-deru2 membuat suasana benar2 mengerikan. Sebaliknya dua orang panglima perang pelindung istana itu mengandalkan senjata yang berat dan tenaga dalam yang kuat berusaha mempertahankan diri dari serangan lawan-

Pertarungan itu ramai sekali, untuk sementara waktu jelas sukarlah untuk menentukan siapa bakal menang dan siapa akan kalah. Dipihak lain, Han siong Kle telah membentak nyaring:

"Wi It beng, tampaknya sebelum melihat peti mati engkau tak akan mengucurkan air mata?"

"Hahaahh haahh hahaha Manusia berwajah dingin Perkataanmu itu memang tepat sekali, adapun maksud kedatangan Tee kun kedaratan Tionggoan ini tak lain adalah demi dirimu"

"Kalau memang begitu, bagus sekali" seru sang pemuda cepat, telapak tangannya langsung di ayun ke depan Serangan teramat cepat dan bagaikan sambaran kilat, bukan saja kuat tenaga pukulannya, tepat pula sasarannya.

Wi It beng tercekat hatinya, ia tidak menghindar ataupun berkelit, cepat telapak tangannya di ayun kedepan dan menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.

"Blaamm.." ketika dua gumpalan kekuatan itu saling membentur satu sama lainnya, terjadilah suatu ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga, pasir dan debu segera beterbangan memenuhi angkasa, diam2 di hati mereka sama2 mengagumi kedahsyatan serta kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki.

Berbareng dengan terjadinya bentrokan tersebut, enam orang pengawal baju kuning yang berdiri di tepi gelanggang dengan memisahkan diri jadi tiga rombongan serentak menerjang tiga orang tianglo yang masih berdiri tenang.

Angin pukulan men-deru2, bayangan manmusia saling menyambar satu sama lainnya, bentakan2 keraspun membubung tinggi keluar, membikin telinga jadi amat sakit.

Meskipun kawanan pengawal baju kuning itu harus menghadapi tianglonya dengan satu lawan dua, tapi kekuatan mereka masih tetap terpaut jauh, dengan sendirinya kedudukan merekapun sangat ketitir hebat.

sebaliknya dua orang panglima pelindung istana yang bertarung melawan kedua orang tianglo yang lain, untuk sementara waktu masih tetap bertahan dalam kedudukan seimbang, pertarunganpun berlangsung dengan amat serunya..

setelah mundur kebelakang, cepat Han siong Kie menghimpun kembali tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian, kemudian sekali lagi dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Wi It beng. "Bagus sekali" bentak Wi It beng dengan keras, telapak tangannya segera diayun kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Agaknya dia memang ada maksud untuk menjajal kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie, dalam serangannya kali ini dia telah mengerahkan segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya..

"Blaang.." suatu benturan dahsyat kembali menggeletar diseluruh angkasa, membuat pasir beterbangan dan bumi bergoncang keras.

Kali ini Han siong Kie tergetar mundur satu langkah lebar, sebaliknya Wi It beng terdorong sampai tiga langkah lebih.

suatu jerit kesakitan yang memilukan hati tiba2 berkumandang dari sisi kalangan, rupanya salah satu diantara dua pengawal baju kuning yang berhadapan dengan Ang pat sin tianglo ketiga berhasil dihajar dengan toyanya sehingga batok kepalanya hancur dan mati konyol.

Dengan cepat dua orang pengawal baju kuning terjun kedalam gelanggang untuk mengisi kekosongan tersebut. dengan demikian maka posisipun berubah menjadi satu lawan tiga.

"Traang. traang..." benturan nyaring membelah pula ke angkasa diikuti letupan cahaya api memancar keempat penjuru, kiranya senjata toya yang digunakan oleh Seng thian pau telah saling membentur dengan senjata cakar emas dari Hot tiam ciangkun, dalam benturan tersebut kedua belah pihak sama2 tergetar mundur satu langkah kebelakang.

Tapi begitu berpisah, mereka segera menerjang kembali kemuka dan melibatkan diri dalam pertarungan yang lebih seru.

Dalam gelanggang yang lain To It hui terlibat pula dalam suatu adu kekuatan dengan senjata toya baja musuh, ternyata kekuatan yang dimiliki ketua para tianglo ini masih lebih tangguh setengah bagian- dia berhasil memaksa musuhnya mundur terus ke belakang sambil ber kaok2 kegusaran.

Pada detik itulah tiba2 siang go cao tik ong Cui ing yang selama ini hanya menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan, meloncat kedepan lalu menyambar tubuh Yu sau kun yang menggeletak ditanah, setelah itu dia kabur kedalam hutan dan lenyap dibalik pepohonan yang rindang.

Walaupun perempuan itu bertindak cepat, Han siong Kie yang bermata tajam dapat mengikuti semua kejadian itu dengan seksama, satu ingatan segera melintas dalam benaknya dan diapun tidak mencegah atau berusaha untuk mengejarnya, seluruh perhatian dan kekuatannya dihimpun menjadi satu untuk menghadapi musuh tangguh yang berada didepan mata.

Wi It beng tertawa dingin, dengan sorot mata berkilat serunya mendadak dengan suara menyeramkan:

"Manusia berwajah dingin, aku akan menyempurnakan kehendak hatimu itu."

sepasang telapak tangannya melakukan suatu perputaran yang aneh didepan dadanya, kemudian secepat kilat di lontarkan ke depan.

Han siong Kie segera bertindak dengan menyambut serangan tersebut dengan jurus mo ciang liong (telapak iblis menaklukan naga), untung ia belum sempat melepaskan pukulan itu sebab secara tiba2 dia merasakan sesuatu yang aneh dibalik pukulan musuh.

Pukulan itu sangat berat bagaikan tindihan berpuluh2 buah bukit karang, bahkan disertai juga hawa tekanan yang mengerikan.

Anak muda itu terperanjat dan tak berani melayaninya, cepat tubuhnya menghindar empat depa kesamping. sungguh cepat gerakan menghindar itu, kalau bukan seseorang yang berpandangan tajam, tidaklah mungkin untuk mengikati gerakannya itu.

Wi It beng tertawa seram, telapak tangannya dilontarkan kedepan seolah2 itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun segara ditarik kembali.

Han siong Kie makin terperanjat, dia yakin kalau kepandaian sendiri masih belum berhasil mencapai taraf sebegitu tinggi. sebab itulah dia yakin juga bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih belum mampu mengatasi kekuatan lawan.

Ingatan kedua belum habis terlintas, serangan yang maha dahsyat dari Wi It beng kembali sudah meluncur tiba.

Pemuda itu jadi penasaran, keangkuhan dan perasaan tinggi hati yang dimilikinya membuat dia malu uniuk menghindar, walau pun dia tahu serangan tersebut amat dahsyat namun dikerahkan juga segenap kekuatannya untuk menolak balik ancaman lawan.

Dalam anggapannya, dengan kekuatan tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan yang dimilikinya sekarang, paling sedikit dia masih bisa mengimbangi keampuhan lawan dengan kedudukan seimbang.

Siapa tahu begitu gulungan angin pukulan lawan tersentuh olehnya, ia segera merasakan munculnya kekuatan yang sama sekali diluar dugaan, kejadian ini amat mengejutkan hatinya.

"Aduuh..celaka!" jerit pemuda itu di hati.

Baru jeritan itu terlontar benturan dahsyat telah menggelegar menggoncangkan seluruh permukaan tanah.

Benturan itu keras dan memekikkan telinga, begitu dahsyatnya bentrokan tadi membuat kawanan jago yang sedang bertarung segera mengbentikan pertarungannya dan berpaling.. Dengan sempoyongan Han Siong Kie mundur sampai sejauh dua kaki lebih.. dengan wajah pucat pias seperti mayat ia roboh tertunduk diatas tanah dan muntahkan darah segar, jelas isi perutnya sudah menderita luka yang cukup parah.

Melihat musuhnya roboh, Wi It-beng ter-bahak2 dengan bangganya, sambil ulapkan tangannya kepada dua orang ciangkun pelindung istananya, ia perintahkan.

"Bekuk orang itu!" "Terima parintah!"

Mendengar seruan itu, serentak lima orang tianglo itu bergerak maju dan siap menghalangi perbuatan lawan.

Tapi sebelum mereka sempat maju lebih kedepan, sebuah pukulan yang sangat dahsyat telah ditontarkan wi it beng ke arah depan, termakan oleh hembusan angin yang amat dahsyat itu, lima orang tianglo itu segera terdorong mundur dengan sempoyongan.

Dengan terhadangnya kelima orang tianglo itu untuk maju kedepan, maka dengan suatu gerakan yang cepat ciangkun pelindung istana telah tiba dihadapan Han siong Kie dengan cekatan mereka lantas menyambar si anak muda itu..

Tiba2 jerit lengking yang mengerikan menggema memecahkan kesunyian, dua sosok bayangan manusia mencelat kebelakang lalu terkapar diatas tanah dengan bermandikan darah.

Kiranya pada saat2 yang amat kritis itulah Han siong Kie telah melancarkan serangan pembelaan dengan ilmu jari Tong kim ci yang maha sakti itu.

Ilmu jari Tong kim ci adalah ilmu sakti yang diciptakan Mo tiong ci-mo setelah melatih dan mempelajarinya selama hampir empat puluh tahun lamanya, jangankan tubuh manusia, emas atau batu karang yang berada pada jarak lima kakipun sanggup ditembusi, bayangkan saja mana sanggup jago2 yang berbadan darah daging itu menahan serangan tersebut ?

semua orang tercengang dan merasa tak habis mengerti, mimpipun mereka tak mengira dalam keadaan terluka parah Han siong Kie masih sanggup melancarkan serangan mematikan, bahkan dalam satu kali gebrakan saja mampu membinasakan dua orang jago kelas satu dari istana Huan mo kiong.

Para pengawal yang hadir disekitar gelanggang sama2 berdiri menjublak dengan mata terbelalak mulut melongo, bulu kuduk tanpa terasa pada bangun berdiri

Perlu diketahui, Han siong Kie pernah cuci tulang berganti otot dalam sumber air Tee hiat seng-swan, karena itu kekuatan tubuhnya sama sekali berbeda bila dibandingkan dengan orang2 lain,justru dengan memiliki kelainan itulah maka walaupun isi perutnya terluka parah, ia masih mampu melakukan serangan yang mengerikan.

Paras muka Wi It beng berubah hebat, setelah tertegun sebentar, akhirnya dengan hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya, selangkah demi selangkah dia menghampiri anak muda itu.

seketika itu juga suasana dalam gelanggang berubah jadi sangat tegang, tampaknya setiap saat suatu pertarungan sengit bakal berlangsung kembali.

Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri, lencana mutiara ok kui Cu pay kembali dikeluarkan dari sakunya, demi kejayaan perguruan serta nama baik dirinya ia tak rela menyerah dengan begitu saja kepada para pengkhianat, karenanya dia bersiap sedia untuk kedua kalinya menggunakan lagi lencana mutiara tersebut.

Dipihak lain, lima orang tianglo yang kena terdesak mundur telah bergerak maju lagi dengan wajah sedih bercampur gusar, dengan sinar mata menggidikkan mereka membentak keras, kemudian serentak bergerak maju kedepan-

Tujuh orang pengawal baju kuning dan enamn orang pengawal baju hijau yang berada disamping gelanggang tentu saja tidak akan biarkan musuhnya menyergap kemuka, pada saat yang bersamaan mereka menerjang maju kedepan dan menghadang jalan pergi kelima orang tianglo tersebut.

Dalam waktu singkat, berlangsunglah suatu pertarungan yang seru antara lima orang tianglo itu melawan tiga belas orang musuhnya.

Dengan disertai suara gemerisik yang amat nyaring, selangkah demi selangkali Wi It beng melangkah kedepan, setiap langkah kakinya itu seakan2 jeritan malaikat elmaut dari neraka..

selisih jarak diantara kedua belah pihakpun kian mendekat tiga kaki.. dua kaki.. dan akhirnya tak ada satu kaki .

Pada saat itulah mendadak Han siong Kie angkat tinggi2 lencana mutiaranya, sekilas cahaya tajam langsung menyorot kearah Wii It beng.

sebagai Tee kun dari istana Hian mo kiong, tentu saja Wi It beng mengetahui kegunaan dari lencana mutiara tersebut, dikala sekilas cahaya tajam memancar keluar kearahnya, cepat dia menyingkir selangkah ke samping, kemudian secepat petir sebuah pukulan dahsyat dilontarkan kedepan-

Merasakan lenyapnya bayangan musuh, tanpa berpikir panjang Han Siong Kie ikut bergeser pula delapan depa kesamping.

Dengan bergesernya anak muda itu, maka dengan sendirinya pukulan gencar yang dilepaskan Wi it beng pun mengena pada sasaran yang kosong.

Tapi kaisar dari istana Huan mo kiong itu memang sangat tangguh, begitu mengetahui serangannya mengenai pada sasaran yang kosong, cepat dia bertindak lebih jauh, sebuah pukulan aneh yang tak kalah dahsyatnya kembali dilontarkan kedepan-Tiba2 dari kejauhan menggema jeritan kaget, menyusul mana seorang berseru keras: "Haaahh.. Bukankah itu pukulan sakti Boan yok sinkang?"

Berubah hebat air muka Wi It beng, dia tarik kembali serangannya sambil mundut ke belakang, agaknya jago lihay ini tidak menyangka kalau asal usul ilmu pukulannya berhasil diketahui orang.

Han Siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergetar keras, cepat dia berpikir dalam hati:

"Apa ? Ilmu sakti Boan yok sinkang ? Bukankah pihak gereja Siau lim si telah kehilangan sejilid kitab Toa boan yok sinkang pit kip? Bahkan menuduh guruku Mo tiong ci mo yang melakukan pencurian tersebut,Jangan-jangan dialah..."

-ooodewiooo-