Tengkorak Maut Jilid 24

 
Jilid 24

BETAPA terperanjatnya hati Go Siau Bi, ia segera membentak kerai : "Tengkorak maut. nonamu akan beradu jiwa dengan kaul"

Ia loncat kedepan, sebelum kakinya men capai permukaan tanah, pukulan dahsyat Thian tok ciang hoat telah dilepaskan dengan sepenuh tenaga.

Rupanya Tengkorak maut sadar akan ke dahsyatan ilmu pukulan lawannya. cepat dia menghindar kesamping.

Sekali lagi Go Siau Bi loncat kedepan dan menubruk kearah Tengkorak maut dengan ganasnya, telapak tangan diayun berulang kali melancarkan lima buah serangan berantai. kelima jurus serangan itu semuanya aneh dan jarang dijumpai dikolong langit.

Dalam waktu singkat Tengkorak maut telah dipaksa mundur sejauh tiga langkah ke belakang.

Suatu pertarungan sengitpun dengan cepat berkobar..

Tenaga dalam yang dimiliki Go siau Bi berasal dari kitab pusaka Thian tok pit-liok, ditambah pula mendapat bimbingan langsung dari kakeknya Put lo sianseng. sudah tentu kemampuan yang diperolehnya sekarang bukan saja amat dahsyat bahkan sukar ditandingi oleh kawanan jago persilatan kelas satupun. Diam2 Tengkorak maut merasa terperanjat oleh ketangguhan dara muda itu, semua serangan yang ditujukan kearahnya rata2 memakai jurus serangan yang aneh dan sama sekali berlawanan dengan peraturan pada umumnya,

Bukan saja bayangan telapak menyelimuti seluruh angkasa, bakkan memimiki pula suatu daya hisap yang sama sekali tak berujud, membuat serangan balasan yang di lancarkan tak mampu digunakan dengan sepenuh tenaga.

sekalipun begitu, Tengkorak maut masih bertarung melawan musuhnya dengan sistim pertarungan yang sama sekali tak berubah, rupanya dia ada hasrat untuk melenyapkan Go siau Bi dari muka bumi, oleh karena itu sepanjang pertarungan berlangsung dia hanya bertahan tanpa  melakukan perlawanan, tentu saja kesemuanya ini disebabkan karena ia sedang melaksanakan suatu taktik pertarungan, dia hendak menunggu sampai tibanya kesempatan yang baik untuk mulai bertindak.

seperminum teh sudah lewat, namun pertarungan masih berjalan dengan serunya, kedua belah pihak tetap bertahan pada posisi semula, tiada yang menang dan tak ada yang kalah.

Mengikuti jalannya pertarungan itu, Ang Nio cu Tonghong Leng cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo, ia percaya tenaga dalam yang dimilikinya masih belum berhasil mencapai ketingkat yang begitu tingginya.

Han siong Kie sendiri dtngan mengandalkan pula tenaga yang masih dimilikinya teLah berhasil bangkit berdiri dari atas tanah, hanya saja dengan kondisi tubuhnya sekarang, jangan toh untuk berkelahi, untuk berdiri tegakpun dia tak mampu.

Dengan pandangan kaku ia mengikuti jalannya pertarungan yang sedang berlangsung ditengah gelanggang.

Tahu2.. .Tengkorak maut melancarkan beberapa buah serangan berantai memaksa Go Siau Bi terdesak mundur beberapa langkah kebelakang, sepasang telapak tangannya dihadapkan satu sama lain. kemudian digosok dan dilontarkan kedepan..

Han Siong Kie tahu bila tengkorak maut hendak mengeluarkan ilmu anehnya yang bisa membuat orang tak mampu mengerahkan tenaga dalamnya, ia jadi sangat gelisah, cepat teriaknya :

"Nona, haii2;..dia.."

Waktu itu Go Siau Bi sedang siap melancarkan serangan balasan, ketika telapak tangan musuh dilontarkan kearahnya, tiba2 ia merasakan hawa murninya musnah dan tak sanggup dihimpun kembali.

Betapa terkejutnya sang dara msnghadipi kejadian aneh itu, ingatan kedua belum sempat terlintas, tahu2 sepasang telapak tangan dari Tengkorak maut telah meluncur tiba...

"Duuk ..!" diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, ibarat layang2 putus benang, tubuh sang dara itu mencelat sejauh tiga kaki lebih dan roboh terkapar diatas tanah.

Han Siong Kie pejamka i miunya rapttl. dalam hati dia mengeluh :

"Aah.. habislah sudah riwayat dan Go Siau Bi.."

Terbayang betapi pengorbanan dari dara itu disebabkan untuk menyelamatkan jiwa nya, sianak muda itu merasa hatinya amat sakit bagaikan di-iris2, tak kuasa lagi ia muntah darah segar.

Ang Nio co Tonghong Leng maju selangkah dengan muka terharu, ia seperti mau mengucapkan sesuatu..

Tengkorak maut tertawa seram, gelak tertawa penuh rasa bangga, dia ayunkan telapak tangannya keatas tanah dan menghisap kembali lambang tengkoraknya yang menggeletak diatas tanah, kemudian sambil menyambar tubuh Han Siong Kie dia berlalu dari situ.

Han Siong Kie sama sekali tak dapat ber kutik, ia cuma berdiam diri dalam kempitan tengkorak maut itu. ia tahu percuma ba nyak bicara dalam keadaan seperti ini..

Terbayang kembali akan dendam berdarah dari keluarganya yang belum sempat terbalas, kemudian pesan gurunya yang belum di laksanakan, ia makin sedih rasanya.:

Tiba2 ia teringat kembati akan lencana Ok kut cu pay serta pusaka Hud jiu po pit yang berada dalam sakunya, pemuda itu semakin gelisah, ia tahu lencana pusaka itu dapat digunakan untuk memimpin perguruan Thian lam sedangkan pusaka itu dapat mempelajari sejenis ilmu silat yang tiada taranya dikolong langit, jika ke dua2nya sampai terjatuh ketangan tengkorak maut, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata2. otaknya mulai berputar untuk mencari jalan pemecahan, ia berusaha mencari akal untuk mengatasi bencana itu.

Serentetan pegunungan berbatu yang tinggi menjulang didepan mata, Tengkorak maut langsung meluncur kearah tebing batu itu, hanya sebentar saja mereka sudah berada diatas puncak bukit berbatu yang terjal.

Pemuda itu tak tahu kemana dia akan dibawa oleh musuhnya ini, diapun tak tahu hukuman apa yang bakal dijatuhkan atas dirinya.

Sesosok bayangan kecil mengikuti gerak-gerik dari Tengkorak maut dari tempat kejauhan, orang itu memang cukup lincah dan lihay, terbukti jago yang maha sakti itupun tak sadar kalau jejaknya sedang diikuti oleh seseorang.

Setelah melewati sebuah tebing yang curam, akhirnya sebuah lembab jurang yang dalam terbentang didepan mata, kabut tebal menyelimuti sekitar jurang tersebut hingga sukar dihitung berapa dalamnya jurang tersebut. Satu ingatan mendadak terlintas dalam benak Han siong Kie, pikirnya:

"Daripada aku mati konyol ditangan keparat ini, apa salahnya kalau aku ajak bangsat ini untuk ber-sama2 terjun kedalam jurang? Asal dia mampus dan akupun mati, maka kedua macam benda mustika inipun tak akan sampai terjatuh ketangan seorang gembong iblis seperti dia.."

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, diam2 sisa hawa murni yang masih dimilikinya dihimpun menjadi satu, kemudian dengan sepenuh tenaga ia totok jalan darah Ki hay hiat ditubuh Tengkorak maut.

Tindakan ini memang lihay dan sama sekali diluar dugaan Tengkorak maut, sayang totokan itu kurang tangguh sehingga cuma mampu mendatangkan sedikit luka baginya. Walaupun luka itu sangat lirih, akan tetapi berakibat besar sekali, dengan serta merta Tengkorak maut melepaskan kempitan nya..

Begitu terlepas dari cekalan, Han Siong Kie terguling ditepi jurang yang amat dalam itu, kemudian dalam beberapa gulingan berikutnya, ia sudah terjerumus kedalam jurang yang amat dalam itu.

Tengkorak maut berusaha menyambar korbannya, namun tak berhasil, akhirnya ia cuma bisa memandang dasar jarang yang amit dalam itu dengan pandangan kesima.

Sementara itu bayangan kecil mungil yang mengikuti jauh di belakang telah menyaksikan pula semua peristiwa yang terjadi didepannya, apalagi setelah mengetahui bahwa acak muda itu tercebur kedalem jurang. ia merasa hatinya remuk rendam langkahnya jadi sempoyongan dan hampir saja orang itu roboh tak sadarkan diri

Siapakah orang itu?

Siapa lagi kalau bukan Tongbong Hui. gadis yang telah berpisah dergan suatu ciuman panjang.. Biaa dibayangkan sampai di manakah sedihnya perasaan hati Tonghong Hui sesudah menyaksikan engkoh Kie yang tercinta tercebur kedalan jurang, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia ikut tercebur kedalam jurang.

"Ooh. ayah, engkau benar2 berhati kejam, mengapa kau bunuh Kekasih hatiku..? Oh. ayah. mengapa engkau begitu tega menyiksa perasaan anakmu? Tahukah engkau ayah, hidupku terasa jadi kosong tanpa kehadirannya, dan kini engkau membinasakan dirinya dihadapanku ,ooh, apa artinya kehidupanku ini . ? Oi, kejam, kejam,, ayah. engkau terlalu kejam . " gumamnya lirih.

Berapa kali dia bermaksud memburu ke tempat kejadian dan ingin melihat bagiimanakah keadaan dari kekasihnya, tapi setiap kali keinginannya itu selalu dibatalkan.

Sekarang dia hanya mengharapkansesuatu berharap agar ayahnya.. Tengkorak maut cepat2 berlalu dari sana.

Air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya, butiran air mata telah mengaburkan pandangannya,,.

Gadis itu jadi tertegun...berdiri menjublak dengan pikiran kosong, ia merasa se-olah2 telah menyaksikan mayat engkoh Kienya menggeletak dengan badan remuk. Ia se-akan2 merasa telah melihat darah segar yang menggenangi seluruh permukaan tanah jauh didasar jurang sana..

Dalam keadaas seperti ini dia ingin menangis, yaa menangis se-keras2nya, agar semua kedukaan dan kepedihan hatinya dapat tersalur keluar, agar pikiran maupun perasaannya jadi lega dan enteng..

Akan tetapi gadis itu tak berani berbuat demikian, ia kuatir perbuatannya itu akan mengejutkan ayahnya, bila Tengkorak maut sampai tahu kalau dia berada disini, maka keadaannya pasti akan bertambah runyam.. Apa boleh buat? Dara itu hanya bisa bersandar disisi sebatang pohon sambil menahan isak tangisnya, ia menangis tanpa suara, hanya air matanya jatuh bercucuran dengan derasnya.

Lama lama sekali, entah berapa waktu sudah lewat,

tiba2 gadis itu seperti teringat sesuatu, ia bangkit dan bergumam lagi:

"Baiklah, meskipun selama hidup kami tak dapat hidup berbahagia sebagai suami istri, biarlah kami mati dalam satu liang, diaa m baka sana tak akan kutemui dendam sakit hati, tiada permusuhan ataupun perasaan, perkawinan kami tak akan dihalangi lagi oleh kenyataan yang kejam, yaa, disitulah kami akan hidup bahagia, tempat itu memang tempat yang paling cocok bagi kami untuk membina keluarga . Akhirnya Tengkorak maut telah berlalu, berlalu tanpa meninggalkan bekas.

Dengan hati yang pedih dan isak tangis yang menjadi, Tonghong Hui mendaki keatas tebing curam itu, pukulan batin yang amat berat itu se-olah2 merubah gadis yang kosen ini menjadi seorang anak dara yang lemah, begitu lemahnya sampai2 untuk melangkah pun rasanya amat berat.

setelah bersusah payah toh akhirnya sampai juga gadis itu ditebing tersebut, persis dimana Han siong Kie tercebur kedalam jurang, ia berdiri termangu, berdiri kaku bagaikan patung arca, sedikitpun tidak bergerak ataupun berbicara.

Angin gunung berhembus sepoi mengibarkan rambutnya yang hitam pekat dan panjang terurai sepanjang pundak itu.

sekilas cahaya semu menyelimuti wajahnya yang layu, kusut dan murung karena dimakan oleh pikiran dan siksaan batin yang berat, begitu pula rasanya membuat hati orang tak tega

Perasaan hatinya saat ini bagaikan air yang tenang, tiada harapan, tiada keinginan dan tiada kenangan, semuanya se akan2 sudah tiada, semuanya telah berlalu dan lenyap dengan begitu saja.

Memandang jurang yang ternganga didepan matanya, serta kabut tebal yang menyelimuti mulutjurang tersebut, ia berdiri mendelong, matanya memandang kaku kedepan, ia merasa se akan2 sukma engkoh Kie-nya sedang menggapai kepadanya, serta memanggil dia agar cepat menyusulnya kealam baka.

Akhirnya gadis itu tak mampu mengendalikan diri lagi, ia menjerit keras dan terjun kedalam jurang yang tiada tara dalamnya itu ..

"Engkoh Kie.. engkoh Kie Tunggulah aku.. sebentar lagi akan kususul dirimu di alam baka.."

Jeritannya makin lirih, makin lama makin kecil dan akhirnya lenyap. lenyap tertelan perut bumi..

suasanapun menjadi tenang kembali, keheningan kembali mencekam jagad, yang terdengar hanya hembusan angin gunung.. tiupan angin yang sepoi2..

Bagaimanakah nasib gadis yang cantik tapi bernasib malang itu? Mungkinkah jiwanya melayang tertelan oleh jurang yang dalam..? Tiada seorangpun yang tahu. Hanya Thian lah yang maha kuasa dan Thian lah yang maha tahu..

"Yaa.. memang besar pengaruh dari cinta, memang taksalah lagi kalau orang mengatakan bahwa cinta itu buta, cinta dapat membuat orang lupa segala2nya, melakukan segala-galanya tanpa dipikir panjang lagi.. siapakah yang dapat membantah kenyataaan ini?

-oo0dw0oo-

Bab 49 SEMENTARA itu marilah kita mengikuti pengalaman yang ditemui Han Siong Kie setelah terlepas dari cengkeraman Tengkorak maut gadungan.

Setelah terlepas dari cengkeraman musuh ia sengaja menggelinding dengan harapan bisa menjauhi musuhnya itu. apa lacur tubuh nya tercebur kedalam jurang yang dalam yang tertelan oleh kabut yang tebal.

Menghadapi saat2 terakbir menjelang kematiannya ini, anak mula tersebut sama se kali tidak gugup. malahan ia jauh lebih tenang dari waktu2 biasa, ia merasa kematian tidaklah menakutkan, sebab dalam kenyataan memang tiada sesuatupun yang bisa menakutkan hatinya.

Ia lebih rela mati daripada serahkan jiwa raganya dan kedua macam benda mustika dari dunia persilatan itu ketangan Tengkorak maut gadungan, karena ketidak relaannya inilah maka dia mengambil keputusan untuk menghabisi jiwa sendiri sambil membawa pula benda tersebut.

Tak lama setelah badannya terjatuh ke dalam jurang, tiba2 ia merasakan sekujur badannya bergetar keras, se-akan2 ia terjatuh diatas sebuah benda yang lunak, menyusul kemudian tubuhnya memental balik keudara dan melayang turun kembali kebawah.

Keadaan tersebut berlangsung sampai beberapa kali. di mana akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama kembali sudah lewat, ketika ia tersadar kembali dari pingsannya, pemuda itu merasakan sekujur tulang belulangnya amat sakit seperti patah2, otot badannya seperti sudah terlepas serius, sedikit pun tiada tenaga yang bisa digunakan.

Kabut amat tebal, bepitu tebalnya hingga menutupi seluruh pemandangan disekeliling tempat itu, jangankan memandang ketempat jauh, untuk melihat kelima jari sendiripun susah sekali.

Anak muda itu tak tahu sekarang dia berada dimana, tapi ada satu hal yang membuat dia merasa kegirangan, ternyata jiwa nya lolos dari lubang jarum, ia tidak mati!

Perlahan dia meraba tanah disekelilingnya, ia merasa tububnya berada diatas sebuah jaring yang terdiri dari tumpukan rotan yang kuat, apakah rotan itu bergelantungan ditengah udara? Ataukah didasar jurang? anak muda itu tak dapat membayangkan ....

Tapi yang jelas apabila ia tidak kebetulan terjatuh diatas tumpukan rotan itu, niscaya jiwanya sudah melayang.. mati dengan tubuh hancur berantakan.

Dalam keadaan begini, terasalah pelbagai perasaan berkecamuk menjadi satu, rasa dendam benci, cinta dan hutang budi membuat pikirannya serasa kalut sekali.

Tapi dengan cepat ia dapat menguasahi diri, ia mengambil keputusan untuk menyembuhkan dahulu luka yang dideritanya, setelah itu baru mencari jalan keluar untuk lolos dari sana.

sambil menggigit bibir menahan sakit di badan, ia bangkit dan duduk bersila, kemudian setelah pejamkan mata dan pusatkan perhatiannya menjadi satu, sisa hawa murni yang masih ada dalam tubuhnya perlahan-lahan dikumpulkan dan dihimpun kembali untuk menerobosi jalan darahnya yang tersumbat.

Mula2 dia merasa kepayahan, tapi setelah dicoba.. dan dicobanya berulang lagi, akhirnya ia berhasil juga mengumpulkan sisa kekuatan itu menjadi satu.

Begitulah dengan andalkan sisa kekuatan yang berhasil dihimpun itu, ia salurkan hawa murni tersebut untuk menembusi jalan darah Wi liu hiat, kemudian dengan melalui jalan darah seng hwan hiat, son pi hiat, siang kwan hiat dan thian cu hiat mencapai Ni wan Tong.

Dari situlah hawa murninya per lahan2 disalurkan menuju kebawah, dengan melalui jalan darah sin teng hiat, menyeberangi ciau kiau hiat kemudian menembusi cap ji, co lo, ciang kiong. oei teng dan ki hay hiat langsung terhimpun kembali dalam pusar.

Berhasil dengan yang pertama, pemuda itu ulangi kembali latihannya sekali demi sekali.

Akhirnya ia berhasil menghimpun kembali hawa murninya, terasahlah aliran hawa panas mulai mengitari sekujur tubuhnya.

Dalam Waktu singkat pemuda itu sudah duduk "Tenang" dan lupa segalanya..

Berapa lama sudah lewat entahlah, sebab jurang itu amat gelap dan selalu tertutup kabut tebal, siang atau malam susahlah untuk ditentukan ataupun dibedakan.

Akhirnya Han siong Kie berhasil menyelesaikan semedinya, ia merasa tubuhnya jadi segar dengan kekuatan hawa murni yang penuh, ketika matanya dipentang kembali maka pemandangan disekitar situpun dapat terlihat dengan jelasnya.

Apa yang diduga semula ternyata tak meleset, dia memang berada diatas sebuah jaring rotan yang tebal, nun jauh diatas situ merupakan tebing2 berbatu karang yang terjal dan tajam.

Ketika ia coba memandang jauh kebawah lagi, maka tampaklah dasar jurang itu kurang lebih masih ada lima kaki dibawahnya.

Batu runcing bagaikan pisau berserakan di mana2, bisa dibayangkan apa jadinya bila tubuh seseorang sampai jatuh menimpa batu cadas tersebut.? Diam2 anak muda itu menarik napas panjang untuk menenangkan perasaan hatinya yang bergolak kencang, ia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya ia bukan terjatuh diatas jaring rotan itu, melainkan jatuh tepat diatas tumpukan batu runcing itu?

Dalam keadaan begini, satu bayangan terlintas dalam benaknya, bayangan wajah seseorang yang cantik namun diliputi kemurungan dan kesedihan, itulah bayangan wajah dari Go siau Bi.

Han siong Kie masih ingat, dikala dia di bawa kabur Tengkorak maut gadungan- gadis itu berusaha mencegah kejadian itu tapi akhirnya ia kena dihajar sampai mencelat pula.

Tak tahan ia menghela napas panjang dan bergumam lirih: "Aaai... Dia mati lantaran aku, itu sama artinya akulah yang

telah membinasakan dirinya, hutang budi ini susah rasanya untuk dibayar lagi.. aaai Dia memang seorang gadis yang bernasib malang"

Tak kuasa dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya..

Yaa, pemuda ini merasa sedih, bersedih hati demi seseorang yang mencintai dirinya tanpa menerima cinta balasan darinya, yang kemudian mati karena membela dirinya, berusaha menyelamatkan jiwanya.. Itulah Go Siau Bi, gadis yang bernasib malang "Suatu saat, aku pasti akan membalaskan dendam bagi kemariannya. tapi, dapatkah ia bersstirahat dengan tenang dialam baka?"

Pikirannya terasa makin kalut dan kacau. ia murung bercampur kesal,.murung karena memikirkan pelbagai persoalan yang berkecamuk menjadi satu dalam benaknya..

Sementara dia masin termenung sambit melamun. tiba2 dari sisi tubuhnya berkumandang suara rintihan kesakitan, meskipun suara tersebut amat lirih namun jelas berasal dari mulut seorang acak dara.

Betapa terperaajatnya perasaan Han Siong Kie setelah mendengar rintihan itu, mimpi pun dia tak menyangka kalau disamping tubuhnya masih terdapat oiaog lain.

Mungkinkah gadis itupun senasib sependeritaan dengan dirinya?

Atau mungkin dialah yang telah menolong dan selamatkan jiwanya dari ancaman ke-matian?

Atau mungkin,., ia tak mampu membayangkan lebih jauh.

Dengan pandangan yang tajam dia menyapu sekejap kearah mana berasalnya suara tadi, kurang lebih tiga kaki didepan situ tampaklah sesosok tubuh yang kecel mungil tersangkut diatas jaring rotan itu. sementara separuh tubuhnya yang lain masih tergantung di awang awang.

Mengikuti rintihannya yang lirih dan tubuhnya yang menggeliat, badan gadis itu kembali merorot setengah depa kebawah jaring

Han siong kie amat terperanjat, dia tidak berpikir panjang lagi. dengan sekali lompatan ia telah melayang kesisi gadis itu dan mengangkatnya naik keatas jaring tersebut.

Tapi., dikala sorot matanya membentuk raut wajah yang ditolongnya itu, ia tertegun lalu menjerit tertahan, sekujur badannya gemetar keras bagaikan terlanggar aliran listrik tegangan tinggi.

Ternyata gadis tak lain tak bukan adalah Tonghong Hui, kekasih hatinya!

Tonghong Hui yang di cari2 dan diharapkan pertemuannya selama ini, ternyata berhasil ditemukan ditengah tebing yatg curam kejadian ini benar2 jauh di luar dugaan si anak muda itu. Dengan penuh emosi Han Siong Kie memeluk anak dara itu kencang2, kemudian merebahkan tubuhnya dalam pangkuan, sambil menggoyang2kan badannya ia berteriak memanggil:

"Adik Hui.. Adik Hui, bangunlah... sadariah kembali, mengapa engkaU bisa sampai disini..?"

Perlahan2 Tonghong Hui membuka matanya, dengan pandangan kosong dan kebingungan ditatapnya wajah Han siong Kie tanpa berkedip. lama sekali dia memandang pemandangan yang terbentang dihadapan matanya, gadis itu berusaha untuk membedakan apakah yang dilihat hanyalah bayangan semu, ataukah suatu kejadian yang nyata Akhirnya setelah tertegun lama sekali, dia baru bergumam lirih: "Engkoh Kie.. engkoh Kie."

"Adik Hui.."

"Benarkah engkau adalah engkoh Kie sayang Engkoh Kie tercinta?"

Dengan pandangan penuh kasih sayang Kie mengangguk. "Tentu saja adik Hui, kalau bukan engkoh Kie mu yang

sungguh, memangnya aku adalah engkoh Kie gadungan..?"

Sekulum senyum manis, senyum penuh kemesraan tersungging diujung bibir anak dara itu, meskipun wajahnya begitu murung dan diliputi kepedihan hati.

"orang selalu mengatakan alam baka mengerikan,alam baka penuh dihuni setan dan iblis, tapi kenyataannya tempat ini tidak mengerikan, pun tidak menakutkan, sekalipun udaranya terasa amat dingin " ia bergumam lemah.

"Adik Hui, apa yang sedang engkau igaukan?" tegur Han siong Kie dengan penuh perasaan tidak mengerti.

"Aku bukan mengigau, aku mengatakan yang sebenarnya, coba lihatlah bukankah alam baka tidak mengerikan seperti sering yang diperbincangkan orang? Aai atau mungkin karena kita berada bersama..."

"Alam baka? Apa maksudmu?"

"Selama hidup didunia, kita tak dapat melakukan perbuatan yang ingin kita lakukan, tapi sekarang kita telah mati, semua penghalang dan semua perintang telah tersingkirkan semua engkoh Kie, bukankah kita telah bebas?"

sepasang mata Han siong Kie terbelalak semakin lebar, ditatapnya gadis itu dengan pandangan kebingungan.

"Adik Hui, siapa yang kau maksudkan telah mati?" tegurnya.

"Bukankah kau dan aku telah berada di alam baka?" sekarang Han siong Kie baru mengerti apa yang sedang

dimaksudkan anak dara itu, dipeluknya Tonghong Hui dengan penuh kemesraan, kemudian ia berbisik lirih: "Adik Hui kita belum mati, ketahuilah kita masih hidup segar bugar didalam dunia"

"Apa..??Jadi kita belum mati"

"Tentu saja belum sayang Engkau tak perlu merasa tegang, tiada sesuatu kejadian yang patut kau hadapi dengan perasaan begitu.."

"ooh jadi jadi kita belum mati?"

"Engkau masih belum mati, percaya tidak adik Hui??" bisik pemuda itu dengan mesra.

Tonghong Hui pejamkan matanya, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang putih halus.

Han siong Kie makin kebingungan dibuat oleh sikap kekasihnya yang aneh itu, tanya nya lagi dengan nada tercengang. "Adik Hui, mengapa engkau malah bersedih hati? Kau kok malahan menangis setelah tahu kalau kita masih hidup?"

"Engkoh Kie, masa kita tak bisa mati?" keluh gadis itu lirih. "Lho.. Engkau kok malahan mengharapkan mati?Jadi kau

lebih suka mati daripada hidup?" "Benar"

"Mengapa begitu?" tanya Han siong Kie dengan penuh emosi, sekujur badannya gemetar keras.

"selama kita masih hidup maka kita berdua tiada harapan untuk hidup bersama, tapi kalau kita sudah mati maka selama2nya kita akan saling mencintai, kita akan selalu berdampingan.."

"ooh.. adik Hui, kau..."

"Engkoh Kie, ayahku adalah musuh besar pembunuh keluargamu, dapatkah kuhalangi niatmu untuk membalas dendam? Dan dapat kah kubiarkan engkau melakukan pembalasan terhadap ayahku? Ooh.. engkoh Kie, takdir telah menentukan kesemuanya ini. takdir telah rremisahkan kita secara kejam Ooh, nasib yang buruk, apa artinya aku hidup

terus di dunia ini?"

Han Siong Kie tertunduk dengan mulut membungkam, apa yang diucapkan gadis itu memang tak salah, cinta dan dendam tak mungkin bisa berjalan bersama, salah satu diantaranya memang harus diKorbankan!

Perlahan2 Tonghong Hui membuta kembali matanya, air mata mengucur keluar semakin deras, sambil menahan isak tangisnya ia berbisik lagi dengan lirih

'Engkoh Kie. masih ingat ketika kucium bibirmu tempo hari sebelum kita berpisah? Aku telah berlalu dengan membawa kepuasan yang sebenarnya kosong, kepuasan yang hampa, aku hendak mencari sesuatu tempat yang sunyi, sepi dan jauh dari pergaulan manusia untuk membebaskan diri dari belenggu ini, tapi . aku tidak mempunyai ke beranian untuk berbuat begitu, akhirnya aku telah kembali, aku..', aku berharap bisa mati dihadapanmu agar engkaulah yang mengebumikan. tubuhku kedalam tanah-"

Sekujur badan Han Siong kie gemetar keras, apalagi setelah mendengar perkataannya yang terakhir, ia segara berteriak dengan suara serak :

”Adik Hui, mengapa engkau selalu pikirkan soal itu., mengapa tidak kau buang jauh2 ingatan macam begitu..?"

Ia berhenti sebentar, lalu setelah tarik napas panjang dia menambahkan :

"Oh iya, bagaimana kejadiannya hingga engkuipun tercebur kedalam jurang yang amat dalam ini?"

"Aku hendak menyusul dirimu!"

”Menyusul aku? Oh adik Hui sayang kau...kau..”

"Enkoh Kie, aku telah menyaksikan engkau meloloskan diri dari kempitan ayahku dan terjun kedalam jurang...”

"Ayahmu..?"

Benar, aku selalu mengikuti jejakmu dari kejauhan, tapi aku tak mampu menyelamatkan jiwamu..'"

"Dia bukan ayahmu, Engkau keliru besar.."

"Dia bukan ayahku?!” Tonghong Hui agak terperanjat- "Benar, dia bukan ayahmu, engkau telah salah menerka..." "Lalu siapakah orang itu?"

"Dia adalah Tengkorak maut gadungan "

"Tengkorak maut gadungan?" Tonghong Hui tersentak kaget dan loncat bangun dari rangkulan anak muda itu, mimik, wajahnya penuh diliputi rasa kaget dan perasaan tak habis mengerti.

"Benar orang itu memang tengkorak maut gadungan" "Tapi, kalau memang gadungan kenapa kulihat.."

"Bukankah potongan badan maupun ilmu silat yang dipakai setali tiga uang dengan ayahmu? Aaai.. Kejadian ini memang amat mencengangkan hati, membuat orang merasa betul- betul tidak habis mengerti"

"Darimana engkau bisa tahu kalau dia.."

"Aku toh pernah melakukan pertarungan melawan ayahmu sewaktu berkunjung kebenteng maut tempo hari, dari kesempurnaan tenaga dalam yang mereka miliki bisa membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan, selain itu dia sendiripun telah mengakui bahwa ia telah mencatut nama besar ayahmu"

"ooh kiranya begitu Tidak aneh kalau sampai aku sendiripun dibuat tercengang oleh kejadian ini, sebab sejak aku belum dilahirkan ayah telah bersumpah tak akan tinggalkan benteng maut barang setengah langkahpun, dan sekarang tiba2 ia telah melanggar sumpahnya sendiri dan muncul kembali dalam dunia persilatan, kiranya ada orang yang mencatut nama besar beliau"

"Bolehkah aku tahu, apa sebabnya ayahmu bersumpah tak akan muncul kembali dalam dunia persilatan?"

"Tentang soal ini... tentang soal ini.." tiba-tiba sepasang mata Tonghong Hui berubah jadi merah, setelah berhenti sebentar dia melanjutkan lagi, " engkoh Kie, maafkanlah aku, pertanyaanmu tak dapat kujawab sebab peraturan benteng menetapkan bahwa setiap anggotanya dilarang menyiarkan kabar yang bersangkutan dengan masalah Benteng maut keluar dunia" "Apakah ayahmu telah mengetahui tentang munculnya Tengkorak maut gadungan dalam dunia persilatan?"

"Dia tak mungkin tahu"

"Engkau yakin kalau dia pasti tak tahu?"

"Benar, sebab Benteng maut telah terputus hubungan kontaknya dengan dunia luar, kecuali aku seorang yang sering melakukan perjalanan, tiada orang kedua yang pernah keluar dari benteng itu, padahal aku sendiripun baru pertama kali ini mendengar tentang persoalan tersebut"

Selesai mendengar perkataan itu, paras muka Han Sing Kie tiba2 berubah jadi murung, ia mulai berpikir siapakah sebenarnya pembunuh yang telah membantai sekeluarganya? Tengkorak maut yang asli ataukah tengkorak maut gadungan?"

Jika apa yang dlucapkan Tonghong Hui benar, dan Tengkorak maut yang asli benar2 sudah belasan tahun lamanya tak pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, itu berarti musuh besarnya adalah Tengkorak maut gadungan, tapi.. menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, kemunculan Tengkorak maut gadungan dalam dunia persilatan baru terjadi belum lama berselang, hal ini semakin membingungkan pikirannya.

Mana yang benar? Tengkorak maut asli atau tengkorak maut gadungan? Bagaimana kalau sumpah Tengkorak maut dilakukan setelah kejadian diperkampungan keluarga Han.

Bila ditinjau dari perkataan Tonghong Hui, katanya sebelum dia lahir ayahnya sudah bersumpah tak akan muncul kembali kedalam dunia persilatan, itu berarti kalau ditinjau dari usianya maka sedari hampir dua puluh tahun lamanya pemilik benteng maut itu tak pernah munculkan diri sebaliknya pembantaian berdarah dalam perkampungan keluarga Han baru berlangsung enam belas tahun berselang, dan itu berarti sudah selisih waktu beberapa tahun lamanya.

Tanpa sadar pemuda ituteringat kembali akan manusia yang kehilangan sUkma, berulang kali perempUan itu menganjUrkan kepadanya agar berkunjung ke benteng maut dan membeberkan asal usulnya, mungkinkah kunci terutama dari kejadian ini letaknya ada disitu??"

"Engkoh Kie, apa yang sedang kaupikirkan?" tiba2 teguran Tonghong-Hui menyadarkan kembali anak muda itu dari lamunannya.

”Ooh aku ...aku sedang memikirkan, sebenarnya siapakah pembunuh keluargaku yang sebenarnya! sahut anak muda itu agak tergagap.”

Mula pertama Tonghong Hui agak tertegun, menyusul mana sekilas cahaya berseri menghiasi wajahnya, cepat ia berseru:

”Engkoh Kie, beri tahu asal usulmu itu kepadaku!"

"Buat apa engkau mengetahui asal usulku adik Hui?” kata Han siong Kie dengan wajah sedih.

"Aku hendak membuktikan sesuatu!" "Apa yang hendak kau buktikan?"

"Akan kubuktikan siapakah sebenarnya pembantai keluargamu!"

"Tapi., bagaimana caranya engkau hendak membuktikan persoalan ini?"

'Setelah pulang kerumah nanti, akan kutanyakan persoalan ini langsung kepada ayahku!"

Berdebarlab jantung Han siong Kie setelah mendengar perkataan itn, ia tertekan oleh perasaan emosi yang ber kobar2, memang tak salah lagi, inilah cara yang paling bagus untuk memecahkan teko teki tersebut.

Tapi. bagaimana kalau kenyataan membuktikan bahwa pembantaian tersebut betul betul dilakukan oleh ayahnya? Bagaimana ia hendak bereskan persoalan itu?

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata:

"Adik Hui seandainya..seandainya kalau sampai,." "Seandainya kalau sampai terbukti memang ayahku yang

melakukan, apa yang hendak kulakukan?” sambung dara itu

cepat

"Benar andaikata sampai terjadi begitu, apa yang hendak kau lakukan..?”

Tonghong Hui tertawa getir.

"Engkoh Kie. kalau memang sampai demikian apa lag! yang kukatakan, aku.."

"Engkau mau apa??

"Apa lagi? terpaksa aku harus menerima nasib dan menuruti garis takdir yang telah ditetapkan o!eh Thian! '

Betapa terharunya sianak muda itu, sambil menggigit bibir menahan diri ia berkata:

"Adik Hui. aku tahu cintamu kepadaku sedalam lautan, budi dan kesetiaanmu bagaikan bukit, akan tetapi dendam sakit hati ini tak mungkin bisa kuelakkan dengan begitu saja, bila takdir telah mengatur se-gala2nya seperti apa yang tidak kita inginkan. yaa.. apa mau dikata lagi? selesai melakukan balas dendam, akan kukorbankan selembar jiwaku demi kekasihku yang tersayang"

"ooh, engkoh Kie, kau.. kau tak boleh berbuat begitu.." teriak Tonghong l-Hui sambil mendekap tubuh pemuda itu rapat2 dan menangis tersedu2. pada hakekatnya Han siong Kie sangat membenci kaum wanita, akan tetapi terhadap saudara angkatnya ini, ia menaruh kesan yang mendalam, apa lagi setelah menyaksikan Cinta kasih gadis itu terhadap dirinya, lambat laun kesan jeleknya terhadap wanita makin berkurang, dan diapun membalas cinta kasih gadis itu terhadap dirinya.

Isak tangis yang berkumandang diangkasa sangat memilukan hati, baja yang keraspUn mungkin akan meleleh..

Han siong Kie menengadah memandang kabut yang menyelimuti angkasa, ia membungkam dalam seribu bahasa, tak sepatah katapun yang diutarakan untuk menghibur gadis itu.

Lama.. lama sekali.. akhirnya Tonghong-Hui berhenti menangis, dengan air mata masih membasahi wajahnya ia berbisik: " Engkoh Kie, sekarang katakanlah asal usulmu..."

Han siong Kie termenung sejenak. akhirnya sambil menggigit bibir menahan emosi dia menjawab:

"Adik Hui, engkau tak tak usah mengetahui asal usulku, Cukup tanyakan kepada ayahmu, apakah pada lima belas tahun berselang dia pernah melakukan pembantaian pada kedua ratus lembar jiwa keluarga Han dan Thio.." Dengan wajah pucat Tonghong Hui mengangguk.

"Baiklah engkoh Kie, setelah keluar dari lembah, nanti tunggulah aku ditepi sungai dimana kita berkenalan untuk pertama kalinya itu,jika dalam dua hari aku belum ke luar dari benteng, maka itu berarti. "

"Berarti apa"

"Aku.. mungkin aku sudah tiada dikolong langit lagi, dan silahkan engkau melaksanakan apa yang ingin kau lakukan"

"Adik Hui" Tak tahan lagi Han slong Kle mengucurkan air mata karena sedih, ia merasa hatinya sakit bagaikan di iris2 dengan pisau tajam, tapi apa lagi yang bisa dia katakan

Dapatkan dia batalkan niatnya untuk melakukan pembalasan dendam demi cintanya kepada gadis itu?

”Engkoh Kie, engkau tak usah terlalu pikirkan persoalan ini

! dara itu coba menghibur? kalau itu untung maka tak bisa berubah jadi bencana, dan kalau itu bencana meoyingkirpun juga tak ada gunanya, biarkanlah datang mereka yang mau datang, masalah paling penting yang harus kita laku kan sekarang adalah berusaha untuk meninggalkan tempat ini!"

'Baiklah, adik Hui? Mari kita pikirkan saja bagaimana caranya meninggalkan tempat ini, tapi sebelum itu aku ingin bertanya kepadamu apakah engkau terluka dikala melompat turun dari atas tadi?!”

Gadis itu menggeleng.

”Bagus, kalau memang begitu hayo kita berusaha keluar dari sini” seru anak muda itu kemudian.

Kedua orang itu sejera melompat turun, dari tumpkan rotan itu dan melayang keluar dari jepitan batu 2 cadas yang runcing' kurang lebih belasan kaki kemudian sampai lah mereka disuatu tanah lapang yang berlumut. setelah menentukan arah maka berangkatlah mereka untuk keluar dari mulut lembah tadi.

Meskipun mereka lolos dari kematian. namun perasaan yang berkecamuk dalam benak kedua orang itu jauh lebih hebat, mereka selalu menguatirkan tibanya kenyataan yang sadis, suatu kenyataan yang mengerikan..

Selang sejenak mereka sudah berada lima li jauhnya dari mulut lembab, kabut yang menyelimuti sekitar situ telah kian menipis, pepohonan yang rindang tampak amat jelas, kiranya waktu itu tengah malam telab tiba, rembulan bersinar dengan terangnya di-awang2.

Dengan mulut membungkam kedua orang itu melakukan perjalanannya, setelah lewat sesaat tiba juga mereka berdua diluar lembah tersebut.

Suatu ketika tiba2 Han Siong Kie menghentikan larinya kemudian berkata :

"Adik Hui. Aku ingin mengunjungi gelanggang pertarungan siang tadi!'

"Mau apa engkau pergi kesitu?!”

"Aku hendak mencari mayat seseorang demi selamatkan jiwaku ia telah mengobankan diri ditangan Tengkorak maut gadungan”

"Siapa yang kau maksudkan?” ”Nona Go Siau Bit"

”Engkau maksudkan gadis yang hendak membongkar kuburanmu sewaktu berada di bukit kecil luar Lian huan tau?"

"Benar... dialah yang kumaksudkan"

"Engkau tak usah cerita lagi, sebab tak ada gunanya" "Kenapa?"

"Gadis itu tidak mati, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan dia berlalu dari sana, cuma luka dalam yang dideritanya teramat parah"

"Aaai... Aku sangat berhutang budi kepadanya.." bisik Han siong Kie sambii menghembuskan napas panjang. Tonghong Hui tertawa sedih, selanya dari samping:

"Engkoh Kie, apakah engkau tidak tahu nona Go itu menaruh perasaan cinta yang mendalam kepadamu?" "Ah, adik Hui tak usah engkau bicarakan persoalan itu, aku segan mendengarkan masalah macam begitu.. "oh ya, aku harus melakukan pemeriksaan dahulu didalam batang pohon Liu dekat dermaga penyeberangan itu.

Selesai berbicara ia segera berangkat lebih dahulu menuju ke hutan pohon liu seperti yang dimaksudkan.

Tonghong-Hui membungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia mengintil di belakang anak muda itu.

selang sesaat kemudian sampailah Han siong Kie ditempat kejadian dimana mayat2 dari Mo Sam yu sekalian yang mati dibunuh malaikat hawa dingin ditemukan.

sebuah tanah gundukan baru muncul ditepi hutan, ini menunjukkan bahwa kelima orang tianglonya telah mengebumikan mayat-mayat itu seperti apa yang ia perintahkan tapi kemana perginya kelima orang tianglo itu..?

Dari situ menuju ke gelanggang pertarungan terpaut tak begitu jauh, bila mereka tidak temukan kejadian yang ada diluar dugaan, tak mungkin mereka mangkir, tapi... apa yang sebenarnya terjadi?

"Engkoh Kie apaan ini? kok seperti gundukan tanah kecil?" terdengar Tonghong-Hui memecahkan kesunyian,

"Kuburan masal"

"Kuburan massal? siapa yang dikubur di tempat ini??" "Penghianat2 dari perguruanku"

"Perguruan? Maksudmu perguruan engkoh Kie??"

Han siong Kie secara ringkas lantas menceritakan apa yang telah dialaminya selama ini.

Selesai mendengar kisah tersebut, Tonghong-Hui menghela napas panjang dan berkata: "Jadi kalau begitu engkoh Kie telah menjadi bakal majikan istana Huan mo kiong di Thian lam?"

"Adik Hui, ketahuilah perintah guruku tak bisa dibantah, kalau bukan begini apa gunanya kucari banyak kesulitan bagi diriku sendiri? Hayo kita berangkat"

Dengan ilmu meringankan tubuh yang semcurna berangkatlah kedua orang itu melakukan perjalanan cepat, baik siang maupun malam mereka lanjutkan terus perjalanannya dengan diselingi waktu istirahat yang amat singkat.

Tiga hari kemudian baru saja fajar menyingsing sampailah kedua orang itu di depan benteng maut.

ombak menghantam tepian batu karang memercikkan butiran air ke empat penjUru. itulah Benteng maut yang disegani dan ditakuti setiap umat persilatan.

Kedua orang muda mudi itu langsung menuju ke batu cadas dimana untuk pertama kalinya mereka berkenalan disitu.

Memandang batu karang yang tetap seperti sedia kala, tanpa terasa pikiran mereka melayang dan membayangkan kembali kejadian dimasa lampau..

"Engkoh Kie" tiba2 Tonghong-Hui buka suara memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad. "masih ingat soal kita angkat saudara di tempat ini.."

"Adik Hui, kenangan seindah itu tak akan kulupakan untuk selamanya, sampai mati pun akan kuingat terus peristiwa besat itu"

"Aai.. semoga apa yang kita bayangkan jangan sampai terjadi.." Bisik gadis itu dengan sedih, tiba2 ia menengadah dan menatap anak muda itu tajam2. "Engkoh Kie, sekarang juga aku akan kembali kebenteng maut..." "Akan kunantikan kedatanganmu disini adik Hui, selama dua hari aku tak akan berlalu dari tempat ini, akan kunantikan kedatanganmu kemari sambil membawa warta gembira"

"Tunggulah aku disini engkoh Kie, mungkin tak sampai dua hari, atau mungkin juga hanya beberapa jam saja.."

”Pokoknya aku tak akan menunggu kedatanganmu selama dua hari, semoga ... semoga kita masih dapat berjumpa kembali dibatu karang ini dalam keadaan hidup..! '

'"Akupun berharap bsgitu.. engkoh Kie, semoga apa yang kita harapkan tidak sia2; aku ."

Berbicara sampai disitu Tonghong Hui tak mampu menguasai diri lagi. ia menangis ter sedu2. sambil mendekap mukanya gadis itu berlarian meninggalkan tempat itu..

Han Siong Kie hanya bisa berdiri termangu sambil memandang bayangan tubuhnya yang makin menjauh, di mana akhirnya lenyap dibalik benteng maut.

0000dOw0000

Bab 50

MENANTI adalah suatu pekerjaan yang paling membosankan, dengan susah payah Han Siong Kie telah menunggu muncul nya Tonghong hui dari balik benteng maut yang mengerikan.

Ini hari adalah hari terakhir dari perjan jian mereka, bila Tongbong Hui tidak munculkan diri juga. itu berarti pemilik benteng maut betul! adalah pembunuh orang tuanya, dan itu berarti pola Tonghonk Hui telah mengambil keputusan pendek.. Ditatapnya benteng maut itu dengan mata melotot, dia sangat berharap akan kemunculan Tonghong Hui..

Menit demi menit telah lewat, Tonghong Hui tidak muncul juga dari balik benteng maut, jejaknya se-akan2 lenyap tertelan perut bumi

Kini sang surya telah tenggelam disebelah barat, sebentar malam akan menjelang tiba, tapi Tonghong-Hui belum tampak juga batang hidungnya..

Pemuda itu berdiri kaku bagaikan sebuah patung area diatas bukit karang itu, tenggelamnya sang surya telah menutupkan pula satu2nya harapan yang didambakan selama ini.

Akhirnya sekujur badannya gemetar keras, dengan bibir yang pucat ia berbisik lirih:

"Habislah riwayat adik Hui.. habis sudah riwayatnya.. oh. tampaklah garis takdir telah menetapkan kami harus menderita.."

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat pias seperti mayat.

Tonghong-Hui telah berkata, jika ia tidak keluar lagi setelah batas waktunya habis, itu berarti ayahnya benar2 adalah pembantai keluarga Han dan keluarga Thio, itu berarti pula ia sudah berkorban demi cinta.

Kini batas waktunya telah habis dan gadis itu tak pernah muncul kembali dihadapannya, itu berarti ia telah bunuh diri.

"Adik Hui.." akhinya ia berbisik lagi. "Setelah selesai aku membalas dendam akan kususul dirimu kealam baka kita akan hidup bahagia disitu"

Meskipun dia membenci kaum wanita, pandangan itu terwujud karena ibunya telah memberikan pukulan batin yang amat berat kepadanya, dalam kenyataan didasar hati kecilnya ia mempunyai juga bara api cinta, semua kebenciannya terhadap wanita berhasil dilelehkan oleh kobaran cinta yang amat mendalam dari Tonghong Hui..

Dan kini kekasihnya yang tercinta telah tiada, berkobarlah api dendam dan benci di dasar hati kecilnya, dengan langkah tegak selangkah demi selangkah ia turuni bukit karang itu dan berlalu menuju benteng maut.

sepasang matanya merah membara, penuh pancaran api kebencian dan nafsu membunuh..

Tatkala kakinya melangkah diatas jembatan batu yang menghubungkan daratan dengan benteng maut, segulung ombak memecah ditepian dan memercikkan air yang dingin diatas wajahnya.

Hawa dingin menyadarkan kembali pemuda itu dari pengaruh emosi, ia jadi teringat kembali akan pengalamannya datang benteng maut tempo dulu, andaikata tiada Tonghong Hui yang memberikan bantuannya, niscaya dia telah terkurung untuk selamanya dalam benteng

"Aku tak boleh berbuat bodoh..?" ingatan teriebut dengan cepat melintas dalam benaknya. kalau aku nekad itu berarti aku bodoh aku hendak mencari mati konyol bagi diri sendiri., sekarang tak mungkin aku bisa menangkan Tengkorak maut, ilmu silatku masih ketinggalan jauh sekali.."

Tanpa sadar ia meraba ke sakunya sendiri, disitutah tersimpan sspasang sarung tangan Hud jiu po pit.

"Aku harus melatih dulu ilmu sakti yang tercantum dalam sarung tangan Hud jiu po pit! pikirnya dihati, setelah ilmu sakti tersebut berhasil kuyakinkan barulah kupikirkan lagi soal pembalasan dendam, kalau aku terlalu ceroboh maka akhirnya pasti akan menyesal., bila aku sampai mati bagaimana pertanggungan jawabku terhadap ayah? Su-siok? Dan semua keluarga yang telah tiada? Bsrptkir sampai disitu tak kuasa lagi ia segera menghentikan langkah kakinya.

Lama sekali ia menatap lambang tengkorak berwarna merah darah yang tertera di depan pintu benteng, akhirnya ia putar badan dan berlalu dari tempat itu..

Ia mendekati kembali keatas batu karang itu dan memandang bangunan seram dihada pannya dengan termangu2.

Sekarang sndah jelas terbukti bahwa Pemilik benteng maut tak lain adalah algojo yang membantai dua ratus lembar jiwa keluarga nya.

Lalu apa maksud Manusia yaog kehilangan sukma suruh dia berkunjung kebeoteng maut dan membeberkan asal usulnya ? Mungkin kab dia mempunyai tujuan tertentu?

Rasanya tak mungkin kalau dia bertujuan, sebab untuk membebaskan niat tonya yang tertotor. bukankah dia rela mengorbankan lengan sendiri?

Pelbagai ingatan berkecamuk didalam be nasnya, setelah termangu sesaat akhirnya dia mengambil kepntusan. untuk sementara waktu tas akan memikirkan soil balas de^i dam, dia harus berlatih ilmu dulu sebelum mel akukan semua tugasnya.

Setelah menatap kembali benteng maut. pemuda itu bergumam :

"Bila aku datang untuk kedua kalinya kesini, itulah berarti saat kehancuran dan benteng maut telah tiha, adik Hui! Beristi rahatlah dengan tenang dialam baka!"

Berbisik sampai disitu. dia lantas menjejakkan kakinya keatas tanah dan meluncur turun dari batu karang itu dan menuju kejalan raya. Meskipun ia membenci perempuan, tapi kematian dari Tonghong l-Hui membuat ia sakit hati dan merasakan pukulan batin yang berat.

Pemuda itu telah mengambil keputusan, dia akan berangkat kelembah in wu san dan melatih ilmu sakti yang tercantum dalam Hud jiu po pit hingga berhasil, sebab hanya tempat itulah rasanya merupakan tempat paling cocok untuk berlatih ilmu.

Entah berapa jauh ia sudah berjalan, suatu ketika tiba2 telinganya menangkap suara rintihan lirih berkumandang dari tepi hutan-

Han siong Kie memperlambat larinya, ia menduga ada orang yang terluka atau menderita penyakit parah mengggeletak disana, dengan perasaan ingin tahu berangkatlah anak muda itu mendekati arah mana berasalnya suara rintihan tersebut.

Dengan gerak tubuhnya yang cepat, hanya sekali berkelebat tahu2 ia sudah tiba ditempat tujuan, apa yang kemudian terlihat seketika mengejutkan hatinya.

Tampaklah seorang manusia aneh berambut putih berbaju merah menggeletak ditepi sebatang pohon besar, orang itu ternyata tak lain adalah Ang nio cu perempuan baju merah Tonghong Leng adanya.

Tenaga Iwekang yang dimiliki Ang nio cu tidak terpaut jauh bila dibandingkan dengan kekuatan dari malaikat hawa dingin Mo siu ing dengan kepandaian selihay itu jarang ada orang yang mampu melukai mereka hingga separah itu.

Tapi sekarang, nenek tua itu sudah terluka, bahkan napasnya sudah senin kemis dan lemah sekali, lalu siapakah yang telah turun tangan terhadap dirinya?

Tiba2.. satu ingatan terlintas dalam benak anak muda itu, dia masih ingat dikala terjadi pertarungan melawan Tengkorak maut gadungan, Ang nio cu pernah membantu tengkorak itu, siapa tahu kalau nenek tua ini pernah mengetahui paras mukanya yang asli?

Dengan perasaan ingin tahu, pemuda itu berjalan mendekati tubuh Ang nio cu, ia lihat nenek itu menggeletak dengan mata terpejam dan muka pucat ke abu2an, napasnya sangat lemah dan sedang me rintih2.

Dihanpirinya jago perempuan itu, kemudian ia berseru: "Ang nio cu, sadarlah"

Perlahan Ang nio cu membuka matanya yang sayu dan melirik sekejap kearah anak muda itu, mimik wajahnya berkerut kencang lalu dia pejam kembali matanya.

Dari keadaan lawannya, Han siong Kie tahu bahwa luka yang diderita nenek ini parah sekali, tanpa terasa sepasang alis matanya berkernyit.

selang sesaat satu ingatan melintas dalam benaknya, segera dia berpikir dihati: "Bodoh amat aku ini, kenapa tidak kubantu dirinya hingga sadar kembali ? Asal dia sudah sadar kan bisa kuajak untuk berbicara ?"

Karena berpikir demikian, ia lantas duduk bersila disamping Ang nio cu dan tempelkan ujung jari tengahnya pada jalan darah Mia bun hiat ditubuh nenek itu, segulung hawa murni segera tersalur keluar lewat ujung jarinya itu dan menyusup ketubuh lawan.

Tidak selang beberapa saat kemdian, paras muka Ang nio cu sudah jauh labih baikan, dan diapus sudah sadar pula dari pingsan nya, melihat nenek itu sudah sadar, cepat Han siong Kie tarik kembali kekuatan jarinya dan mundur tiga langkah ke belakang.

"Uuaak.." perempuan itu muntah darah kental, lalu membuka matanya kembali dan memandang sekejap kearah Han siong Kie dengan sorot mata tercengang. "Manusia muka dingin, engkau selamatkan jiwaku" serunya agak tertegun.

"Menolong? jangan kau anggap aku telah menolong engkau.."

"Manusia muka dingin, ketahuilah aku Ang nio cu selama hidup paling tak suka menerima budi kebaikan orang"

"Aku tiada bermaksud untuk melepaskan budi kebaikan kepadamu"

"Tapi toh engkau yang telah selamatkan jiwaku"

"Aku bukan menolong tanpa maksud, aku mempunyai tujuan tertentu terhadap dirimu"

"Lalu apa tujuanmu itu"

"Apa hubunganmu dengan Tengkorat maut?"

Berubah hebat air muka Ang nio cu setelah mendengar pertanyaannya itu, dengan penuh kebencian ia berseru:

''Apa yang kau tanyakan?.'

”Apa hubungan mu dengan Tengkorak maut?!”

”Aku hendak membinasakan dirinya!” jawab Ang-nio cu sambil menggigit bibir menahan emosi.

"Lho., engkau kok malah hendak membunuh dirinya??” ”Benar, manusia itu harus dibunuh dan di cincang menjadi

berkeping2.,”

”Siapa yang kau maksudkan?!“ 'Tengkorak maut??“

Tiba2 Ang nio cu bangkit brdiri, kemudian serunya pernah emosi :

„Aku ingin tanya dikolong langit ada berapa orang tengkorak maut.,” ”Ada dua orang, kenapa ?” "Dua orang?!”

"Yaa, yang satu adalah pemilik benteng maut yang asli. sedang yang kedua adalah-Tengkorak maut gadungan yaog sudah kau bantu tempo hari!”

”Apa..? Masa Tengkorak mautpun ada yang gadungan?" teriak Ang nio cu dengan mata melotot besar.

"Ooh jadi engkau tidak tahu kalau dia adalah Tengkorak maut yang gadungan?” Han siong Kie ganti bertanya setelah tertegun sebentar.

Ang nio cu gelengkan kepalanya berulang tali. "Tidak mungkin., masa dia adalah Tengkorak maut

gadungan? Kalau memang ada yang palsu, mengapa

dandanan maupun pakaiannya persis dan sedikitpun tak ada bedanya..”

Sementara itu Han siong Kie sendiripun sedang berpikir dalam hati:

"Perempuan ini she Tonghong, sedangkan Hui putri Tengkorak maut Juga she Tong-hong, jangan2 Ang nio cu memang ada hubungan yang sangat akrab dengan Tengkorak maut..?"

Belum habis ia termenung, Tiba2 Ang nio cu menjerit keras seraya berseru:

"Aah,, sekarang akia baru tahu„ kiranya beginilah duduknya persoalanya tak aneh kalau ia turun tangan sekeji itu kepada diri kuu nenek tua.... rupanya begitulah kejadiannya..."

"Jadi engkau terluka parah ditangan Tengkorak maut gadungan?" tanya Han siong Kie kemudian.

"Begitulah kejadiannya, aku sinenek tua memang benar2 sudah buta, ternyata siapa yang asli siapa yang gadungan saja tak mampu membedakan, Aaai. seandainya.." Berbicara

sampai disitu dia lantas membungkam. "seandainya kenapa?" cepat anak itu berseru.

"seandainya.." kembali Ang nio cu membungkam, dengan paras muka ketakutan tiba-tiba ia melirik sekejap kearah hutan.

Menyaksikan tingkah laku orang itu, Han siong Kie tercengang dan tanpa sadar ikut melirik pula kearah hutan, tapi suasana di situ tetap sunyi tak nampak sesosok bayangan manusiapun, ini semakin mencengangkan hatinya. "Eeh.. sebenarnya apa yang telah terjadi?" Ang nio cu ragu2 sebentar, akhirnya ia berkata juga:

"seandainya iblis tua itu tidak muncul tepat pada waktunya sehingga membuat dia menyingkir dengan ketakutan, mungkin sekarang nyawaku sudah berpulang kealam baka."

sekali lagi Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dia tak tahu makhluk macam apakah iblis tua yang dimaksudkan Ang nio cu, dan diapun tak tahu siapakah iblis tua yang sanggup membuat lari Tengkorak maut.

Melihat nenek itu tidak melanjutkan kembali kata2nya, cepat dia menimbrung lagi: "siapa yang kau maksudkan iblis tua itu?

Ang nio cu tidak langsung menjawab, untuk kedua kalinya dia memandang sekejap sekeliling tempat itu dengan ketakutan, setelah yakin kalau tempat itu aman, barulah dia berkata:

"Iblis tua ini sudah lenyap jejaknya dari dunia persilatan sejak enam puluh tahun berselang, sungguh tak disangka ternyata ia masih hidup segar bugar dikolong langit.."

"siapa orang itu?"

"Iblis itu adalah Hun si mo ong" "Raja iblis pengacau dunia..?"

"Betul, pernah kau dengar nama iblis ini ?” Han Siong Kie segera menggeleng.

”Baru pertama kali ini kudengar nama tersebut, apakah dia yang telahmenyelamatkau jiwamu dari tangan Tengkorak maut?!”

”Dia tidak turun tangan keji ke padaku sudah merupakan suatu rahmat yang besar bagiku, masa dia mau tolong jiwaku?!

"Lho., kan engkau sendiri yarg mengatakan begitu..?!”

Memang dia telah munculkan diri, tapi justru karena kemunculannya itu telah mem buat Tengkorak maut gadungan jadi ketakutan maka loloslah jiwaku dari arcaman mautnya!”

"Kenapa?!”

Sepanjang hidupnya. Hun si Mo ong mempunyai satu peraturan yaitu terhadap orang2 yang lebih rendah kedudukannya, dia hanya melepaskan sebuah pukulan saja. baik mati atau hidup tak akan ia lancarkan serangan yang kedua, meskipun begitu jarang sekali asa orang yang sanggup menahan sebuah pukulannya dengan selamat selain itu diapun masih mempunyai satu peraturan lagi yakni dia tak akan turun tangan terhadap orang2 yang sedang teiluka !

Han siong Kie sama sekali tidak kenal siapa yang dimaksudkan sebagai Hun si Mo-ong itu, kareianya diapun tak ingin bertanya lebih jauh. pokok pembicarian segera dialihkan ke soal yang lain.

"Apakah waktu itu engkau sedang berada dalam perjalanan menuju Ke benteng maut?"

Ang nio cu agak tertegun, menyusul mana segera menganggur tanda membenarkan. "Benar, darimana kau bisa tahu?" Paras muka Han siong Kie berubah jadi serius, dengan suara yang dingin menyeramkan dia berkata:

"Ang nio cu, sebenarnya apa hubunganmu dengan pemilik benteng maut?"

Sekujur badan Aog niocu bergetar keras dengan agak sempoyongan dia bangkit berdiri, kemudian menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip.

"Apa maksudmu mengajukan pertanyaan ini?" serunya. "Engkau tak usah menanyakan apa maksudku, jawab saja

pertanyaan yang kuajukan ini!"

"Manusia muka dingin, dengan berdasarkan apakah engkau mengutarakan tuduhan tersebut?"'

"Bukankah engkau berasal dari satu marga dengan pemilik benteng maut?"

"Apalagi engkau pernah membantu tengkorak maut gadungan untuk menghadapi diriku, meskipun engkau telah menganggap yang gadungan sebagai yang asli tapi jelas sudah menunjukkan kalau engkau memang bermaksud untuk membantu dirinya, hayo apa yang bisa kau katakan lagi?"

Paras muka Ang nio cu menunjukkan perubahan yang sangat hebat, rupanya dia sangat terpengaruh oleh emosi yang bergejolak dalam dadanya, lama sekali baru katanya. "Maaf, aku tak bisa menerangkan soal ini kepadamu"

"ooh, jadi engkau tak mau bicara?"

Ucapan tersebut amat kasar dan sedikitpun tak sungkan2, kontan air muka Ang nio cu berubah hebat, akhirnya sambil menggigit ujung bibir katanya:

"Manusia muka dingin, ketahuilah aku si nenek tua paling segan kalau digertak atau diancam dengan kekerasan" "Digertak? Diancam? Hahhhahh.... haahh... haahhh....

haahh.. tak bisa kukatakan suatu gertakan atau ancaman sebab bila ingin kucabut jiwamu pada saat ini maka perbuatan itu bisa kulakukan dengan gampang seperti membalikkan telapak tangan sendiri, cuma aku tak ingin melakukannya sebab aku harus membuktikan dulu akan satu persoalan"

"Mengapa begitu?"

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, .antara aku dan pemilik benteng maut sebetulnya terikat oleh suatu dendam yang tak bisa diselesaikan sebelum salah satu pihak mati binasa"

Dengan terperanjatnya Ang nio cu mundur beberapa langkah kebelakang, akhirnya ia bersandar pada dahan pohon dan berdiri dengan tubuh lemas.

Tapi hanya sebentar saja ia sudah berhasil menenangkan kembali hatinya, dengan suara dalam ucapnya:

"Manusia muka dingin, memang dugaanmu tepat, aku mempunyai hubungan yang amat erat dengan pemilik benteng maut, sebab dia tak lain adalah adik kandungku sendiri, Nah Kalau ingin turun tangan, cepatlah lakukan"

Paras muka Han siong Kie berubah hebat, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, teringat kematian yang menimpa anggota keluarganya, rasa benci dan dendam berkecamuk didalam dadanya.

Tanpa bisa dikendalikan lagi dia maju beberapa langkah kedepan, sepasang telapak tangannya disilangkan di depan dada kemudian perlahan2 diayun kemuka.

Ang nio cu tetap tenang, sedikitpun tidak kelihatan takut ataujeri, ia tetap menatap anak muda itu tanpa berkedip.

satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Han siong Kie, ia tarik kembali tangannya dan mundur selangkah ke belakang. "Manusia berwajah dingin, mengapa tidak kau lanjutkan seranganmu itu..?" serus Ang nio-cu dengan lantang.

"suatu saat pasti akan kulakukan, tapi sekarang tidak. aku tak ingin menghadapi seseorang yang tak mampu melakukan perlawanan, akan kutunggu sampai tenaga dalammu pulih kembali"

Dengan suatu pandangan yang penuh perasaan heran dan tak habis mengerti, Ang nio-cu menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip. ia tak mampu berkata2 kecuali memandang dengan mulut melongo.

Dengan dingin Han siong Kie menyapu pula sekejap kearah perempuan tua itu akhirnya dia putar badan dan berlalu dari situ..

"Manusia berwajah dingin" tiba2 seseorang memanggil namanya dengan suara yang nyaring.

Dengan hati terkejut anak muda itu berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah seorang dara berkain cadar hitam berdiri kurang lebih tiga kaki di hadapannya.

Gadis berkerudung itu tidak terlalu asing baginya, sebab orang itu tak lain adalah orang yang ada maksud, perempuan misterius itu.

sebagaimana biasanya, kemunculan gadis yang serba misterius itu berarti pula dengan akan terjadinya suatu peristiwa yang luar biasa, maka anak muda ini segera maju sambil menyapa:

"Nona, rupanya engkau yang telah datang"

"Manusia berwajah dingin, sepantasnya kalau kupanggil engkau sebagai ciangbunjin sebab sebutan itu paling cocok untukmu"

Han siong Kie tertawa jengah. "Aih, nona pandai bergurau sampai sekarang aku mah

belum secara resmi memimpin perguruan Thian Lam masa engkau sebut diriku sebagai ciangbunjin?"

"Sekalipun secara resmi belum memangku jabatan, toh namanya sudah tercantum, bukankah begitu?"

Han Sioog Kie tak ingin melayani pertanyaan tersebut lebih jauh, dia lantas alihkan pokok persoalan kemasalah yang lain, katanya :

"Aku rasa kehadiran nona ditempat ini pasti bukan tanpa sebab bukan? Boleh aku tahu apa tujuanmu?!”

"Tebakanmu memang tepat, aku datang dengan membawa tujuan, akan kusampaikan suatu berita penting kepadamu!"

"Suatu berita penting?!

"Benar, perlu kukabarkan kepadamn, kelima orang tiaoglo dari perguruanmn sedang menemui mara bahaya!"

-ooo0d0w0ooo-