-->

Tengkorak Maut Jilid 23

 
Jilid 23

SAMBIL. berseru diapun ayun pula telapak tangannya untuk membendung angin serangan manusia sigala itu, tapi sayang tindakan pencegahan ini datangnya agak terlambat setengah tindak ...

Ditengah jeritan ngeri karena kesakitan, Han siong Kie muntah darah segar dan roboh terkapar diatas tanah.

Menyusul mana sebuah jerit kesakitan kembali menggema diangkasa, manusia serigala bermuka setan mundur sambil memegang dadanya, kemudian roboh terduduk diatas tanah, darah segar meleleh keluar dari celah2 jari tangannya dan membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan-

Ternyata disaat musuh melakukan sergapan maut Han siong Kie sendiripan melancarkan serangan balasan dengan ilmu jari Tong kim ci, untung setelah terluka parah kekuatan serangannya banyak berkurang, itu pun berhasil membuat beberapa lubang didada musuhnya, kalau tidak sudah pasti makhluk aneh itu sudah mampus sedari tadi.

Dengan kejadian tersebut, manusia serigala bermuka setan jadi bergidik hingga bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri

Kawanan jago yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari sisi gelanggang ikut merasa terperanjat, rata2 paras muka mereka pada berubah hebat. Dengan terlukanya manusia serigala itu maka serangan dahsyat yang dilepaskan Ang Nio cupun mengena pada sasaran yang kosong.

Begitulah, dalam satu gebrakan kedua belah pihak sama2 menderita luka, namun kalau di hitung2 maka luka yang diderita Han siong Kiejauh lebih parah.

Kesempatan yang sangat baik ini tidak di buang percuma oleh kawanan lainnya, per-tama2 keenam orang imam tua dari partai Kong tong maju lebih dahulu kemuka dan langsung menerjang kedalam gelanggang.

Menyusul mana delapan pendekar pedang dari kota Tong ciu, empat orang Tongcu dari perkumpulan tujuh walet serta belasan orang jago lihay lainnya sama2 berebut masuk kedalam gelanggang.

Dengan ikut sertanya kawanan jago lihay masuk kedalam gelanggang, maka situasi di sekitar tempat itupun semakin bertambah tegang.

Tiba2 manusia serigala bermuka setan bangkit berdiri, matanya yacg tinggal sebelah berputar liar, kemudian bentaknya keras- keras: "Apa yang hendak kalian lakukan?"

Bentakan itu cukup manjur, seketika itu juga kawanan jago persilatan yang sedang bergerak maju kedepan menghentikan langkah mereka.

Pedang tanpa bayangan Tio cupeng, pemimpin dari Tiong ciu pat kiam segera tampil kedepan seraya berkata dengan suara dalam.

"setiap umat persilatan yang hadir disini berharap untuk membunuh manusia muka dingin, kenapa engkau malahan membantu dirinya?"

"Aku tak ambil perduli mau apa kalian semua, pokoknya sekarang siapa berani mengganggu seujung rambutnya, aku segera akan suruh orang itu mampus dalam keadaan mengerikan" ancam manusia serigala bermuka setan dengan tajam.

Ancaman ini sama sekali diluar dugaan siapapun juga, hampir seluruh kawanan jago yang hadir disitu sama2 berdiri tertegun karena tercengang bercampur heran Terdengar

manusia serigala bermuka setan melanjutkan kembali kata2nya:

"Pokoknya selembar jiwa kecil orang itu hanya aku seorang yang berhak untuk memutuskan, kalau aku ingin dia hidup terus maka dia akan tetap hidup, sebaliknya kalau aku inginkan dia mampus, siapapun jangan harap bisa menbelai dia "

"oooh ya?" ejek Ang Nio cu Tonghong Leng dengan sinis "Kang Tang-hu, aku lihat apa yang kau inginkan tak mungkin bisa terlaksanakan pada saat ini"

seraya berkata selangkah demi selangkah perempuan tua itu maju kedepan menghampiri sianak muda itu.

Manusia serigala bermuka setan jadi mencak-mencak karena kegusaran- kembali teriaknya:

"Ang Nio cu, jadi engkau bersikeras untuk memusuhi aku??"

"Memangnya aku musti jeri kepadamu??"

sambil tertawa dingin tiada hentinya selangkah demi selangkah dengan gagahnya perempuan baju merah Tonghong Leng maju menghampiri musuhnya.

Han siong Kie sendiri pernah cuci otot berganti tulang disumber air mujarab To meh long swan, kemudian secara beruntun menjumpai pengalaman diluar dugaan yang membuat tenaga dalamnya mencapai dua ratus tahun hasil latihan, meskipun luka dalam yang diderita cukup parah, akan tetapi sama sekali tidak sampai menggoncangkan jantung maupun nadinya. Karenanya, sekalipun orang tahu kalau dia sudah terluka parah, namun anak muda itu masih tetap berdiri tegak dengan angkernya:

Keampuhan sianak muda itu semakin membulatkan tekad para jago baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang hadir disekitar gelanggang, mereka sadar bila hari ini manusia muka dingin tidak dilenyapkan, maka sukarlah untuk menemukan kesempatan sebaik ini dikemudian hari, apa lagi mengingat ilmu silatnya yang begitu lihay.

Apa mau dikata ditengah gelanggang hadir pula dua orang makhluk aneh yang sudah lama tak pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, dengan kekejian serta kehebatan mereka, kawanan jago silat tersebut tak berani bergerak sembarangan. Dipihak lain, Han siong Kie sendiripun sedang berpikir didalam hati.

"Kalau ditinjau dari situasi yang terbentang didepan mata saat ini, lebib baik aku cepat2 berlalu dari sini, sebab situasi ini di biarkan lebih jauh niscaya aku sendirilah yang bakal rugi..."

Disamping risau dengan situasi didepan mata, pemuda inipun mencemaskan nasib dari kelima orang tianglonya yang ditugaskan untuk mengebumikan jenasah Mo sam yu sekalian, karena sampai saat itu mereka belum juga munculkan diri, mungkinkah suatu kejadian yang diluar dugaan telah menimpa mereka berlima?

Berpikir sampai disitu, ia segera putar badan dan siap berlalu dari tempat kejadian-

Dalam pada itu pedang tanpa bayangan Tio Cupeng telah merampas sebilah pedang dari rekannya, melihat musuhnya mau pergi, dia segera enjotkan badan sambil menerjang kearah Han siong Kie.

Dua orang imam tua dari partai Kong tong juga tak mau membuang kesempatan baik itu, dengan kobaran api dendam yang membara dalam dada mereka, dua orang itu tak sudi membiarkan musuhnya mampus di tangan orang.

Maka begitu menyaksikan pedang tanpa bayangan terjun ke gelanggang, kedua orang imam tua itupun sama2 menerjang ke arah musuhnya:

"Bangsat, manusia tak tahu diri rupanya kalian semua sudah bosan hidup, hardik Ang Nio cu Tonghong Leng marah.

Toya rotannya yang hitam pekat segera diayun kedepan membacok tubuh seorang imam tua dari Kong tong pay.

Bacokan ini begitu cepat dan keras hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Dalam pada itu, manusia serigala bermuka setan telah menerjang pula kearah pedang tanpa bayangan Tio Cupeng.

sampai dimanakah kelihayan ilmu silat dari Ang Nio cu Tonghong Leng, rupanya sudah diketahui jelas oleh dua orang imam tua dari partai Kong tong itu, menyaksikan datangnya serangan yang amat dahsyat, mereka tak berani menangkis dengan kekerasan, cepat tubuh mereka menyusut mundur lagi kebelakang.

Dipihak lain, ujung pedang yang dilancarkan pedang tanpa bayangan Tio Cupeng sudah hampir menembusi tubuh Han siong Kie, saat itulah manusia serigala bermuka setan telah menerjang tiba secepat sambaran kilat, dengan gugup ia lantas tarik kembali serangannya untuk melindungi diri

Gerakan manusia serigala bermuka setan tersebut lebih cepat dari dugaannya, ketika ia menarik kembali senjatanya, Criing" pedang itu sudah rontok ke tanah, sementara kelima jari tangan yang tajam bagaikan cakar elang sudah mencengkeram pergelangan tangannya, tangan yang lain menyambar kearahnya.

-000dewi000- BAB 47

BETAPA kagetnya pedang tanpa bayangan Tio Cupeng menghadapi sergapan musuh yang luar biasa itu.

Dipihak lain, ketujuh orang rekannya menjadi panik pula ketika dilihatnya pemimpin mereka mengalami musibah, sambil menghardik mereka bertujuh maju bersama menerjang kearah musuhnya.

suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema memecahkan kesunyian, dada Pedang tanpa bayangan Tio Cupeng kena di cengkeram bingga robek. isi perutnya kontan berhamburan diatas lantai menyusul darah segarpun berhamburan bagaikan sumber mata air.

Selesai membinasakan lawannya, Manusia serigala bermuka setan melemparkan mayat korbannya yang berada dalam keadaan mengerikan itu kearah tujuh jagoan yang sedang menerjang datang.

Cepat tujuh orang jago pedang itu menghentikan gerakan mereka, salah seorang diantaranya menyambut mayat yang melayang tiba, sementara enam jago pedang yang lain dengan perasaan dendam yang membara sekali lagi menerjang maju kemuka.

Karena harus menggunakan tenaga kelewat besar, luka dalam yang diderita Manusia serigala bermuka setan menjadi kambuh kembali, tubuhnya mulai gontai dan tak mampu berdiri tegak.

Kebetulan Ang Nio cu Tonghong Leng ada disamping tubuhnya, cepat ia putar toya rotannya dan menyambut terjangan dari keenam orang pendekar pedang itu.

"criing criiiing" secara beruntun terjadi beberapa kali benturan nyaring, diantara enam bilah pedang yang menerjang tiba ada tiga bilah diantaranya mencelat dari cekalan dan rontok keatas tanah.

Agaknya keenam orang pendekar pedang itu menyadari bahwa ilmu silat mereka bukan tandingan lawan- gagal dalam sergapan mereka segera mengundurkan diri kebelakang.

Peristiwa berdarah yang baru berlangsung cukup mengerikan setiap jago yang hadir disitu, rata2 mereka merasakan hatinya tercekat dan bulu roma pada bangun berdiri, sepanjang hidup belum pernah mereka saksikan kejadian sekejam ini.

seperti dengan julukannya, Manusia serigala bermuka setan memang seorang jago yang berhati kejam melewati kebrutalan seekor binatang, sehabis merobek2 perut pedang tanpa bayangan Tio Cupeng, ia lantas putar badan mengejar ke arah Han siong Kie.

sambil melesat kearah depan, mulutnya memperdengarkan suara jeritan aneh yang cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengar:

Dasar Han siong Kie memang seorang pemuda berbakat yang punya kecerdasan luar biasa, meskipun waktu yang tersedia baginya hanya sedikit sekali, akan tetapi ia dapat manfaatkan kesempatan yang ada itu untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, beberapa bagian tenaga murninya seketika pulih kembali seperti sedia kala.

Ang Nio cu Tonghong Leng sendiri tidak berpeluk tangan belaka, setelah memukul mundur enam pendekar pedang dari kota Tiong ciu, ia segera ikut menerjang kemuka dan menghalangi jalan pergi dari Manusia serigala bermuka setan serunya: "Kang Tang hu, jangan kau lukai bocah itu"

"Kenapa?" tanya Manusia serigala bermuka setan dengan mata melotot besar.

"sebab aku nenek tua masih membutuhkan tenaganya" "Membutuhkan tenaganya?" ejek Manusia serigala bermuka setan sambil tertawa seram,

"heehhhh... heehhh... heehh... Ang Nio-cu, bukankah engkau tertarik oleh wajahnya yang tampan? sayang engkau lebih pantas menjadi neneknya. Hmm Aku lihat lebih baik janganlah punya pikiran lain-."

"Kentut busuk makmu, jangan coba bicara sembarangan lagi, Hmm Kalau engkau nekad terus, jangan salahkan kalau kuhajar batok kepalamu sampai remuk"

"Heehhh..heehhh..heehhh.. mau mukul remuk kepalaku?

Ang Nio cu.. Engkau masih belum mampu melakukan tindakan itu.."

"Memangnya engkau pilih mencoba?" tantang Tonghong Leng, nenek berbaju merah itu sambil ayun toya hitamnya ke tengah udara.

Manusia serigala bermuka setan memang seorang manusia yang bengis dan kejam dalam perbuatan, namun dia bukan seorang manusia bodoh yang tanpa perhitungan-

Bila dalam keadaan normal, tentu saja Ang Nio-cu masih bukan tandingannya, tapi sekarang ia telah menderita luka dalam yang cukup parah, itu berarti keadaanpun berlainan-

Melihat sang nenek baju merah sudah maju menyerang, cepat dia ulapkan tangannya seraya berseru: "Eeh..tunggu sebentar"

"Bagaimana ? Engkau jeri ??"

"Heeeh heeeh heeeh omong kosong, sejak dilahirkan sampai setua ini aku manusia serigala bermuka setan tak pernah mengenal arti kata takut, aku hendak ajukan satu pertanyaan dulu kepadamu"

"Kalau man kentut, cepat lepaskan kentut baumu itu " “Engkau sungguh2 hendak membelai bocah keparat itu ? Aku toh bukan berbicara hanya sekali saja, sudah berulang kali kukatakan kalau bocah ini bermanfaat bagiku !”

"Bagaimana kalau tenaga yang dia miliki sudah kau gunakan?'' desak manusia srigala lebih jauh.

"Tentang soal ini ..apa yang kau harap kau?” Ang Nio-cu balik bertanya.

“Aku harap engkau bersedia menyerahkan kepadaku !” “Tidak bisa, aku tak dapat serahkan bocah itu kepadamu !” “Jadi engkau tidak setuju??”

"Benar, setelah kumanfaatkan tenaganya kalau engkau inginkan bocah ini maka silahkan mencarinya sendiri, aku tak sudi serahkan dirinya kepadamu”

Han Siong Kie yang mengikuti pembicaraan tersebut dari samping gelanggang jadi naik pitam, pikirnya :

“Ang Nio cu Tonghong Leog berbuat demi kian karena aku telah lepaskan malaikat hawa dingin Mo Siu ing, dia akan suruh aku tunjukkan kearah mana perginya perempuan itu . Hmm! Apa salahnya kalau kuusir dirinya lebih dabulu kemudian baru menghadapi manusia serigala bermuka setan?"

Berpikir sampai disitu. dia lantas berpaling kearab nenek tua baju merab\h itu lalu menegur :

"Bukankah engkau sedang mencari jejaknya Malaikat bawa dingin..Mo Siu ing..?''

"Benar !” nenek tua itu membenarkan.

"Akan kuberitahukan kepadamu, kemana perginya malaikat hawa dingin"

"Engkau tak usah mencoba untuk main gila dihadapanku, aku tak percaya dengan segala macam pengakuanmu, aku hanya percaya jika engkau sudah menghantar sendiri diriku kesitu!"

"Antara aku dengan malaikat hawa dingin sama sekali tidak terikat oleh sengketa atau pun dendam sakit hati, kenapa aku musti menghantar engkau menemui dirinya?!” sahut sang pemuda dengan marah.

"Hey bocah, kalau toh engkau tidak punya hubungan apa2 dengan perempuan tersebut, apa sebabnya kau larang orang lain untuk membunuhnya dan mengapa pula kau lepaskan dia pergi?!”

"Aku menaruh simpatik terhadap musibah yang menimpa dirinya, selain itu aku pun paling benci kalau melihat ada orang main kerubut atau main sergap. karena itu aku lepaskan dia pergi"

"Dan karena itu juga kau memberi bantuan kepadanya?" sambung sang nenek baju merah dengan gusar.

"Benar"

"Kalau begitu katakan kepadaku, sekarang dia pergi kemana?"

Sementara Han siong Kie hendak memberitahukan kemana perginya malaikat hawa dingin Mo Siu ing, tiba2..

Jeritan kaget diiringi rintihan kesakitan membelah kesunyian diudara, menyusul mana gelombang manusia yang mengurung sekeliling gelanggang sama2 menyisih kearah samping.

Sesosok bayangan manusia, dengan gerakan yang amat cepat dan lincah menyeruak masuk kedalam gelanggang.

Orang itu, ternyata tak lain adalah Malaikat hawa dingin Mo siu ing yang sudah berlalu. Dengan muka merah karena marah, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya selangkah demi selangkah ia berjalan masuk kedalam gelanggang.

Dimana perempuan iblis itu lewat, delapan sosok mayat menggeletak diatas tanah dengan tubuh hancur barantakan darah bercampur isi benak berhamburan diatas permukaan tanah.

Kemunculan malaikat hawa dingin Mo Siu ing digelanggang pertarungan, benar2 diluar dugaan Han siong Kie, ia heran ketika perempuan itu berlalu dari sana jelas isi perutnya menderita luka yang cukup parah tapi sekarang ia sudah berada dalam keadaan segar bugar, suatu kejadian yang sama sekali tak dimengerti olehnya.

Hanya ada satu hal yang di pahami olehnya, kemunculan malaikat hawa dingin ini sudah pasti untuk membalas dendam atas pengerubutan yang dilakukan kawanan jago persilatan itu belum lama berselang.

Dipihak lain, kawanan jago lihay dari golongan putih maupun hitam yang hadir di gelanggang diam2 merasa bergidik atas kemunculan iblis perempuan yang ditakuti itu.

Ang Nio cu, nenek tua berbaju merah itu mengikik tertawa dengan kerasnya, suaranya tajam persis leperti jeritan kuntilanak, sambil menutul permukaan tanah dengan toya rotannya dia maju delapan depa ke arah depan, kemudian sambil menuding ke arah Malaikat hawa dingin Mo Siu-ing serunya :

"Malaikat hawa dingin, sungguh tak kusangka engkau akan masuk perangkap sendiri. bagus-bagus, dengan begitu, aku nenek tuapun tak usah repot2 mencari jejakmu!"

Agak tertegun Malaikat hawa dingin mendengar teguran tersebut, kemudiann ia tertawa cekikikan. "Aku mengira siapa yang sedang kuhadapi, eeh.. tak tahunva adalah Ang Nio cu! Ada urusan apa engkau datang mencari aku?!”

"Lonte busuk, engkau tak usah berlagak bodoh dihadapan aku nenek tua.”

Paras muka Malaikat bawa dingin Mo Siu ing berubah hebat, makian lonte! itu sangat menyinggung perasaannya, ia mendengus dingin.

”Hmm! Ang Nio cu. kalau engkau ada urusan hayo katakan saja secara blak-blakan, tapi jangan main caci maki dengan kata2 kotor semacam itu"

"Apa salahnya dua orang muridku yang sedang mencari bahan obat2an dibukit Keng san, Mengapa kau bunuh mereka berdua??"

"Hiiih hiiih hiiih lucu amat pertanyaanmu itu Ang Nio cu, engkau toh tahu aku malaikat hawa dingin membunuh orang karena berdasarkan rasa senang, perduli amat ada alasan atau tidak..."

Han siong Kie yang ikut mendengar pembicaraan tersebut, diam2 mengerutkan dahinya.

Ang Nio cu semakin naik darah, teriaknya dengan penuh kegusaran:

"Perempuan rendah, engkau berani mencari gara2 dengan aku nenek tua??"

"Memangnya kenapa? " ejek Im sat.

"Keparat, kubacok tubuhmu jadi berkeping-keping."

"Huuh Kalau cuma andalkan kekuatanmu itu, aku rasa lebih baik cepatlah pulang kandang dari pada mencari mati buat diri sendiri" "Kurang ajar... engkau menghina aku? Baik, akan kusuruh kau saksikan sendiri kalau aku bukan tempe busuk yang sama sekali tak ada gunanya.

Berbareng dengan seruan tersebut, dia maju sambil menyerang, toya rotannya berputar kencang langsung membabat keatas tubuh maaikat hawa dingin.

Mo Siu ing, perempuan iblis itu mengejek dingin bukan mengegos dari serangan lawan ia malah maju memapaki dengan ayunan telapak tangannya.

Suatu pertarungan sengit segera berkobar ditengah gelanggang, kedua belah pihak sama2 terhitung sebagai seorang jagoan yang lihay dikolong langit disatu pihak orang menganggapnya sebagai perempuan iblis yang membunuh orang tanpa berkedip, dipihak lain orang anggap sebagai makhluk aneh yang susah dilayani, begitu terjadi pertarungan sengit, keadaannya benarZ mengenkan sekali..

Manusia serigala bermuka setan yang ada disisi gelanggang mendadak menyeringai seram sambil mendekati Han Siong Kie dia menghardik :

"Hey bocah keparat, serahkan jiwa anjingmul"

Ia menerjang kedepan sambil menyerang, sepasang telapak tangannya disertai dengan desiran angin pukulan yang maha dahsyat langsung menerjang ketubuh Han Siong Kie

Rupanya dalam pukulan yang maha dahsyat ini, Manusia serigala bermuka setan telah salurkan segenap kemampuan yang di miliki, dia berhasrat uoiuk menghancurkan kehidupan musuhnya dalam serangan itu juga, dengan begitu sakit hati yang di dendamnya selama hampir empat puluh tahun dapat terlampiaskan,

Ketegangan mencekam seluruh gelanggang, hawa pembunuhan yang ber lapis2 mulai menyelimuti setiap benak jago persilatan yang nadir disana.. Dengan kemampuan yang dimiliki Han Siong Kie. sebenarnya manusia serigala bermuka setan bukan tandingannya, tapi sayang ia terluka oleh sergapan Jit yan pang cu dengan senjata rahasia Jit sat sin-bong nya yang amat beracun hingga berulang kali harus menelan kegetiran ditangan lawan.

Sekalipun banyak kesempatan baik telah dimanfaatkan untuk pulihkan kembali kekuatan dalam tubuhnya, itupun baru lima bagian hawa saktinya yang dapat dihimpun kembali.

Sekalipun pemuda itu tahu dalam keadaan sepeiti itu tak mungkin ia mampu menandingi musuhnya, tapi dengan wataknya yang angkuh dan tinggi hati, ia tetap nekad untuk maju kedepan.

Sepasang telapak tangannya diayun kedepan disertai hawa murni sebesar lima bagian ia sambut datangnya ancaman dari manusia serigala bermuka setan dengan keras lawan keras.

"Blaammm.." suatu benturan nyaring yang menggelegar diangkasa terjadi ditengah gelanggang, menyusul teriakan tertahan menggema diudara.

secara beruntun manusia serigala bermuka setan mundur tiga langkah kebelakang, dadanya terluka oleh bidikan ilmu jari Tong kim ci, darah segar mengucur keluar membasahi tubuhnya, muka yang jelek berkerut kencang namun akhirnya ia roboh terduduk diatas tanah.

Han siong Kie sendiripan tidak memperoleh keuntungan apa2, ia muntah darah, tubuhnya terguling sejauh satu kaki lebih dari kedudukan semula.

Dipibak lain, Malaikat hawa dingin Mo siu ing telah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit melawah Ang Nio cu sebentar mereka saling menyergap dengan gerakan cepat sebentar kemudian saling menyerang dengan lambat, semua pukulan dan serangan dilakukan dengan jurus-jurus serangan yang aneh tapi ganas, gulungan angin puyuh men-deru2 menyapu wilayah seluas beberapa kaki, hampir saja membuat kawanan jago yang berada disekitar tempat itu tak sanggup berdiri tegak.

Enam imam tua dari partai Kong tong yang semenjak tadi siap siaga, segera maju kedepan dengan cepatnya, mereka tak mau sia-siakan kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja, serentak pukulan2 mematikan diarahkan keatas tubuh Han siong Kie.

Kawanan jago dari perkumpulan tujuh walet tidak me- nyia2kan pula kesempatan tersebut, dengan api dendam yang membara hampir bersamaan waktunya dengan sergapan dari enam imam tua tersebut, mereka ikut menyergap tubuh Han siong Kie.

sebaliknya tujuh pendekar pedang dari kota Tiong- ciu langsung menubruk kearah Manusia serigala bermuka setan, sejak pemimpin mereka mampus ditangan makhluk aneh ini, rasa dendam mereka telah dialihkan ke atas tubuh iblis tersebut.

Kesempatan baik yang terbentang didepan mata tidak di sia-siakan dengan begitu saja, diantara kilatan cahaya pedang, tujuh bilah senjata serentak menyerbu keatas tubuh Manusia serigala yang sedang duduk dengan napas terengah2.

Ketegangan semakin mencekam seluruh gelanggang, suasana jadi gempar dan ratusan pasang mata sama2 ditujukan ketengah galanggang dimana sedang berlangsung tiga partai pertarungan-

Enam imam tua dari partai Keng tong sementara itu sudah berada didepan Han siong Kie, angin pukulan mereka yang dahsyat serentak menggabung jadi satu menghajar keatas tubuh lawan-

Keadaan jadi kritis, bila pukulan itu sampai bersarang telak ditubuh anak muda itu, niscaya tamatlah riwayatnya. Untung disaat yang terakhir, sesosok bayangau kecil melintas masuk kedalam gelanggang, begitu mencapai tempat tujuan orang itu langsung mengebaskan ujung bajunya ke depan-

segulung angin cukulan yang keras dan kencang langsung menggulung keatas tubuh enam imam dari partai Keng tong itu.

Termakan gelombang angin pukulan yang amat santar itu, keenam tosu tua tersebut kontan tergetar keras sampai mencelat kebelakang, kebetulan tubuh mereka menumbuk diatas tubuh kawanan jago dari perkumpulan Jit yen pang yang sedang menerjang kemuka, tumbukan membuat suasana jadi gaduh, semua orang pada roboh terpelanting dan saling menindih.

Jerit kaget menggema dari empatpenjuru Agaknya peristiwa tersebut sama sekali berada diluar dugaan mereka.

seorang gadis yang cantik rupawan berdiri tegak disisi Han siong Kie, mukanya diliputi oleh hawa pembunuhan yang tebal, jangan dilihat mukanya yang lembut, ternyata cukup memancarkan wibawa yang membuat orang lain tak berani memandang sembarangan kepadanya.

seorang dara berusia belasan tahun ternyata dalam sekali kebutan berhasil melempar ke enam jago persilatan kelas satu kebelakang, hampir saja semua orang tidak percaya dengan apa yang dilihat.

Tiba2 terdengar jerit ngeri yang memilukan hati menggema diangkasa dan memecahkan kesunyian.

Kawanan jago sama2 alihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah dua diantara tujuh pendekar pedang dari kota Tiong-ciu telah dicengkeram oleh Manusia serigala bermuka setan sehingga dadanya terbelah dan isi perutnya berhamburan di mana2, percikan darah segar menambah seramnya suasana dalam gelanggang pertarungan.

Sinar mata bengis memancar keluar dari mata tunggal manusia serigala bermuka setan, tangannya penuh berlepotan darah segar, sementara tubuhnya gontai sudah tak sanggup berdiri tegak.

Dengan mampusnya dua orang jago itu, maka dari delapan pendekar pedang, kini masih sisa lima orang belaka.

Kobaran api dendam makin membakar hati mereka, apalagi setelah tiga orang rekannya mati ditangan seorang musuh yang sama, lima orang itu jadi nekad, serentak mereka membentak nyaring dan menerjang kembali kearah makhluk aneh itu dengan sengit. Suatu pertarungan sengit kembali berkobar..

Dengan berlangsungnya pertarungah sengit itu, luka dalam yang diderita Manusia serigala bermuka setan makin bertambah parah tapi dengan kesempurnaan tenaga murninya ia masih mampu bertahan, ia belum kelihatan ngotot untuk melayani serangan2 gencar dari kelima orang pendekar pedang itu, walaupun ia sudah tak mampu melukai musuhnya lagi, tapi serangan2 gencar dari lima buah pedang itupun jangan harap mampu melukai tubuhnya.

Dipihak lain, enam imam tua dari Partai Kong tong telah berhasil bangkit berdiri, Kui Goan-cu segera tampil kemuka dan menyapa: "Buliang siu bud Nona, boleh aku tanya siapa namamu?"

"siau li bernama Go siau Bi"

Kiranya gadis cantik rupawan yang munculkan diri tepat disaat yang kritis ini tak lain tak bukan adalah Go siau bi, dara cantik yang berhasil diselamatkan jiwanya oleh Han siong Kie dari tangan kawanan perkumpulan Thian che kau, kemudian dibawa pergi oleh kakeknya Pat lo sianseng. Dengan sorot mata tajam Kui Goan cu menatap wajah dara itu tanpa berkedip. kemudian tanyanya lagi:

"Nona, boleh aku tahu engkau berasal dari perguruan mana dan murid siapa?" Go siau bi tertawa rawan.

"Tentang soal ini, lebih baik totiang tak usah banyak bertanya"" sahutnya singkat. Kui Goan cu termenung sebentar, lalu kembali dia bertanya:

"Apa hubungan nona dengan manusia muka dingin?

Apakah kami juga boleh ikut tahu?.." "Kami adalah sahabat"

"Dan nona sudah tahu, apa sebabnya pinto sekalian bergebrak melawan bocah muda itu??"

"Aku tak mau tahu apa sebabnya" jawab Go siau bi ketus. "yang jelas totiang sekalian sebagai seorang jago dari perguruan kenamaan tidak pantas main kerubut atas diri seorang bocah yang masih muda dan lagi pada saat ini dia sudah kehilangan daya untuk bertempur Hmm Jika

perbuatan ini kalian teruskan, tidakkah malu kalau sampai ditertawakan oleh umat persilatan? "

Merah padam selembar wajah Kui Goancu karena jengah, ia tak mampu menjawab dan hanya bisa berdiri melongo.

salah seorang diantara lima imam tua yang berada dibelakangnya segera tampil ke muka dan berseru:

"Lenyapkan iblis demi ditegaknya keadilan dan kebenaran dunia persilatan, apa salahnya kalau kami main kerubut?

Memangnya membunuh kaum iblis adalah suatlu tindakan yang keliru?"

sepasang alis mata Go siau Bi mengernyit kencang sehabis mendengar perkataan itu, ia tertawa dingin dan mengejek:

"Heehh.. heehh.. heehh apa katamu? Lenyapkan iblis demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran? Huuh.. omong kosong, alasan yang sengaja dibuat2 demi kepentingan pribadi, pokoknya kalau ini hari kalian berani mengganggu seujung rambutnya. Hmm."

"Engkau mau apa?"

"Nonamu akan suruh kalian mampus di atas genangan darah segar"

Ucapan itu terasa sebagai suatu penghinaan bagi pendengaran keenam orang imam tua itu, paras muka mereka kontan berubah hebat.

Tiba2 empat belas orang jago dari perkumpulan tujuh walet menerjang maju kedepan.

Go siau Bi mendengus sinis, disapunya sekejap keempat belas orang jago itu dengan pandangan dingin, kemudian tegurnya: "Hey, apa yang hendak kalian lakukan??"

"Hutang darah atas kematian lopangcu kami yang terdahulu belum sempat ditagih, pangcu kami yang baru ikut mati diujung telapak tangannya, apalagi yang hendak kami lakukan? sudah tentu mencincang tubuhnya menjadi berkeping2 untuk melampiaskan rasa benci dan dendam yang berkecamuk dalam dada kami"

Jawaban ini diberikan oleh seorang kakek berjenggot pendek. agaknya dia baru saja di angkat sebagai pemimpin baru dari keempat belas jago perkumpulan tujuh walet. Go siau Bi menatap hina.

"Hmm Untuk kematian pangcu kalian tempo hari, bukankah manusia muka dingin telah memberi penjelasan yang cukup terang. Apalagi yang hendak kalian ributkan? Mengenai kematian dari pangcu kalian yang baru. ..Hmm dia kelewat bejad moralnya, bukan saja jiwanya pengecut dan kerdil, beraninya cuma menyergap orang dengan senjata rahasia beracun.. manusia macam begitu memang sudah sepantasnya kalau di ganjar dengan hukuman mati..." Paras muka keempat belas orang jago dari perkumpulan tujuh walet kembali berubah hebat, mereka merasa tersinggung perasaannya.

Kakek tua yang bertindak sebagai pemimpin itu mendengus dingin, ia tak ambil perduli atas peringatan orang, tiba2 sambil enjotkan badan tubuhnya menerjang kedepan dan telapak tangannya langsung diayun kedepan membacok tubuh Han siong Kle.

"Bangsat, rupanya kau memang sudah bosan hidup” hardik Go siau Bi dengan marah.

Ujung bajunya dikebutkan berulang kali kedepan, hembusan angin tajam langsung meluncur keatas dada kakek tua itu...

Ia menjerit kesakitan, sambil muntah darah segar tubuhnya mencelat balik kebelakang.

Tiga belas orang jago lainnya jadi amat gusar, serentak mereka membentak keras, kemudian menerjang kemuka dengan hebatnya.

Go siau Bi ayunkan telapak tangannya berulang kali, segulung desiran angin tajam menghembus lewat, gulung demi gulung meluncur secara bergelombang membuat angin pukulan yang dilancarkan ketiga belas orang jago lihay itu terpental balik, dengan sendirinya orang2 itu sendiripun mencelat pula kebelakang.

Enam tosu tua dari partai Kong-tong memang pandai memanfaatkan kesempatan yang ada, saat itulah mereka menyergap maju dan lepaskan pukulan gencar ketubuh Go siau Bi.

Merasa dirinya disergap. dara cantik itu membentak keras, ujung bajunya dikebutkan secara menyilang, enam gulung angin pukulan yang sedang meluncur tiba seketika tersapu lenyap hingga sama sekali tak berbekas dari pandangan mata. Rupanya keenam orang imam itu tak pemah menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki dara muda itu mencapai puncak kesempurnaan, merasakan ancamannya dipukul lenyap. mereka jadi terperanjat hingga peluh dingin membasahi tubuhnya.

Dipihak lain pertarungan yang sedang berlangsung antara malaikat hawa dingin Mo siu ing melawan perempuan baju merah Tonghong Leng masih berlangsung dengan serunya, kekuatan mereka boleh dikata seimbang, untuk sementara sulit untuk membuktikan siapa yang lebih unggul diantara mereka berdua.

Pertarungan yang berlangsung antara lima pendekar pedang dari kota Tiong ciu melawan manusia serigala bermuka setan bertahan pula dalam keadaan seimbang, tentu saja hal ini disebabkan karena makhluk aneh tersebut telah menderita luka dalam yang cukup parah, andaikata ia masih segar bugar, jalannya cerita pasti lain.

Dan tak usah diragukan lagi, kelima pendekar pedang itu sudah pasti telah keok sedari tadi.

Beratus2 pasang mata dari umat persilatan tertuju semua ketengah gelanggang, mereka dibuat terkesima sebab sudah puluhan tahun lamanya belum pernah terjadi pertarungan yang begitu seru dalam persilatan.

Diam2 Go siau Bi melirik sekejap kearah Han siong Kie yang berbaring dalam keadaan tak sadar, perasaan hatinya bercampur aduk tak karuan, ia tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya pada saat itu.

Ia mencintai pemuda itu, demi kekasihnya ia rela mengorbankan segala sesuatu, tapi dikala Put-lo sianseng mengajukan pinangan baginya, pemuda itu menolak secara mentah-mentah, karena penasaran ia ingin membinasakan pemuda itu, tapi sekarang bukannya membunuh, dia

malah menyelamatkan jiwanya. Mengapa bisa begitu? Ia sendiripun tak mampu menjawab pertanyaan tadi, mungkin hal ini disebabkan bibit cintanya yang belum padam

....

Lama sekali dara itu berdiri ter mangu2, akhirnya ia berjongkok dan masukkan sebutir pil kedalam mulutnya. kemudian menguruti jalan darah diatas tubuh pemuda itu.

"Nona, apa yang hendak kau lakukan?" tiba2 Kui Goan cu menegur dengan suara dalam.

"Aku hendak membawa ia pergi dari sini"

"Untuk membawa ia pergi dari sini ?" imam tua itu mengejek.

"Kenapa Kalian berapa orang hidung kerbau hendak menghalangi niatku ini? HHmm... kepandaian silat kalian semua masih belum becus ..lebih baik tak usahlah mencari penyakit buat diri sendiri "

sekali lagi paras muka keenam orang imam tua itu berubah hebat, dengan marah Kui Goan- cu berseru:

" Nona, jangan ngomong seenaknya Hmm bukan kami saja yang dagang kemari karena dirinya, coba kau lihat Hampir sebagian besar orang2 yang hadir saat ini adalah disebabkan karena dia"

"Bagus.. bagus sekali" seru Go siau Bi sambil tertawa dingin, "siapa yang keberatan dengan tindakanku ini. silahkan tampil kedepan untuk adu kepandaian dengan diriku"

"Nona, sudah kaupikirkan masak2 dengan perbuatanmu itu?"

"Tentu saja "

"Engkau tidak akan menyesal??"

"Kenapa aku mesti menyesal ? Tidak pernah-pernah kusesali semua perbuatan yang telah kulakukan!" Menyaksikan kebulatan tekad dara itu. Kui Goan-cu berpaling kearah lima orang imam tua yang berada dibelakangnya, lalu berkata dengan muka serius :

”Hayo kita atur barisan lak-hap-kiam-tin”

Lima orang imam tua yang lain segera mengiyakan, mereka cabut keluar pedang yang tersoren dipunggung kemudian saling menyebar dengan cepatnya, dalam waktu singkat sebuah barisan pedang kokoh sudah diatur, sasarannya adalah Go Siau Bi dara cantik itu.

Barisan pedang Lak-hap-kiam tin merupakan suatu kepandaian ampuh dari perguruan Kong-tong-pay. bukan saja dahsyat dalam serangan, barisan itu paling cocok kalau digunakan untuk menghadapi seorang musuh tangguh yang berilmu tinggi.

Dengan pandangan dingin Go Siau Bi menyapu sekejap keenam musuhnya nu, kemudian mengejek. :

”Jadi Kalian hendak mengandaikan permainan tersebut untuk mengurung nonamu??”

”Bila nona tahu diri segeralah menarik diri dari pertikaiaan ini, pinto sekalian tak akan menggarggu dirimu lagi" sahut Kui Goan-cu dengan lantang.

Go Siau bi menengadah dan tertawa mengikik.

"Hiihh... hhhhh hiiihhh.. hidung2 kerbau! Sekali lagi nona peringatkan dirimu, kalau ingin melindungi jiwa tuamu, maka sekarang masih belum terlambat, kalau kalian tetap berkeras kepala. ..Hmm! Semua resiko tanggung sendiril"

"Baiklah nona, engkau sendiri yang tetap keras kepala, kalau begitu jangan salah kan kalau pinto sekalian akan menyalahi dirimu” "Kalian tak usah banyak bicara lagi. ada kepandaian keluarkan semua, akan kulihat sampai dimanakah kemampuan yang kalian miliki.."

Kui Goan cu habis sabarnya, ia mendengus dingin lalu membentak:

"Serbu ”

Enam orang imam tua itu mulai berputar mengelilingi gelanggang, perputaran itu kian lama kian bertambah cepat sehingga akhirnya ibarat putaran gasingan.

Go Siau bi sama sekali tidak melayani perputaran lawan, dia tetap berjaga disisi Han siong Kie, setengah langkahpun ia tidak bergeser, tubuhnya tegap ibarat batu karang, sedikitpun tidak bergeming oleh pengaruh lawan..

Mendadak Kui Goan cu membentak keras, sebuah tusukan kilat dilontarkan kemuka.. Go siau Bi mengayun pula telapak tangannya untuk menabok ujung pedang lawan, siapa tahu baru saja ia bergerak, cahaya kilat yang menyilaukan mata telah tersebar di angkasa, lima bilah pedang yang lain serentak menggeletar diudara kosong.

Selapis hawa pedang yang tajam, bagaikan pusaran air kencang menggulung ketengah lingkaran, bukan saja memunahkan pukulan yang dilancarkan dara itu, malahan mengisap tubuhnya sehingga tanpa disadari ia ikut terbawa maju beberapa langkah kemuka.

Kejadian ini sangat mengejutkan hati gadis itu, cepat ia pusatkan perhatiannya untuk melayani serangan musuh dengan lebih seksama.

Perputaran barisan pedang itu semakin kencang dan gencar, enam bilah pedang di tangan keenam orang imam tua itu bergetar kian kemari menciptakan serentetan desiran angin tajam yang memekikan telinga, hawa pedang bergolak ditengah lingkaran terjangan2 serta hawa tekananpun kian lama kian bertambah kuat.

Sekarang Go siau Bi baru menyadari kalau apa yang dihadapi tidak segampang apa yang dibayangkan, ditengah terjangan dan tekanan yang makin santar ia merasa kuda2 nya mulai goyah, tubuhnya tak mampu berdiri tegak lagi, sementara hawa pedang yang dingin mulai terasa seperti menyayat2 badan.

Cepat dia pusatkan seluruh perhatiannya jadi satu titik, sebuah pukulan dahsyat yang menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian dilontarkan kearah depan-

Siapa tahu... ketika pukulan yang maha dahsyat itu tergulung kedalam pusaran hawa serangan yang amat santar itu, tiba2 lenyap tak berbekas, tak ubahnya dengan sebiji batu kerikil dibuang ketengah samudra yang luas, benar2 lenyap tak berbekas, hal ini menggelisahkan hati dara tersebut.

"Aku tak percaya dengan segala permainan setan" pikirnya, " aku tak percaya kalau seranganku bisa lenyap dengan begitu saja tanpa berbekas.."

Secara beruntun dia lancarkan kembali belasan pukulan berantai, tapi semua pukulan itu tetap menghilang dengan begitu saja tanpa mendatangkan hasil apa-apa.

Go siau bi makin terperanjat, sebelum sempat berbuat sesuatu, putaran yang di lancarkan musuh semakin mengencang, serangan-serangan yang dilancarkanpun makin menggila, dia yang terkepung ditengah gelanggang mulai sesak napas dan terengah2, keselamatan jiwanya semakin terancam.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, tiba2 dara itu membentak keras:

"Hei hidung kerbau, kalau tahu diri hayo cepat buyarkan barisan serangan2 mematikan" "Boleh saja kalau nona menginginkan kami bubarkan barisan, tapi dengan syarat nona tak akan mencampuri urusan ini" jawab Kui Goan cu dengan nada berat.

"Hmm! Enak benar kalau bicara, kalau aku tetap ngotot untuk mencampuri urusan ini, kau mau apa??"

"Kami hanya anjurkan kepada nona untuk undurkan diri dari pertikaian ini, kalau toh engkau tetap keras kepala, yaa apa boleh buat lagi? Terpaksa kami akan tetap main keras""

"Heehhh.. heehhh... heeehhh bagus, bagus rupanya kalian memang tidak menyesal kalau harus menanggung resiko, baik, kalau ada yang mampus jangan salahkan aku berhati kejam, toh sebelumnya telah kuterangkan lebih dahulu"

" Keluarkan saja semua kepandaianmu nona, kami tak akan menyesal" jawab Kui Goan cu, Tiba2 bentaknya keras:

"Rubah posisi barisan"

Hawa pedang yang berpusing kencang tiba-tiba menggelombang, bagaikan pukulan2 ombak yang menghantam dermaga, selapis demi selapis hawa pedang meluncur datang dan menyayat badan.

Go siau bi teramat gusar, diapun menghardik: "Hidung kerbau sialan, jangan salahkan kalau nonamu

terpaksa bertindak kejam"

-00dw000kz00-

Bab 48

DITENGAH bentakan nyaring, telapak tarigannya diangkat keatas lalu perlahan-lahan didorong kemuka dengan sejajar dada.

Selapis hawa pukulan berwarra hijau muda memancar keluar mengikuti dorongan telapak tangan itu, mengikuti suatu ledakan keras yang memekakkan telinga terdengar jerit kesakitan memecahkan keheningan,

Dua sosok bayangan manusia mencelat ke belakang dan toboh terkapar, sementara empat orang imam tua yang lain terdorong mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, senjata merela terlepas semua dari genggaman.

Dalam sekali genjotan, barisan Lak hap-kiam tin yang paling di bangga2kan perguruan Kong tong pay telah hancur dan porak poranda, kekalahan yang derita kawanan imam itu terhitung mengenaskan sekali.

Jeritan kaget berkumandang dari luar gelanggang, ratusan jago persilatan pada berdiri tertegun dengan mata terbelalak Lebar

Paras muka Kui Goan cu berubah jadi pucat keabu-abuan dengan bibi2 gemetar ia bergumam sendiri:

"Ilmu pukulan Thian tok Ciang hoat ilmu pukulan Thian

tok ciang hoat tak ku sangka benar2 tak kusangka ”

"Hey hidurg kerbau, ucapanmu memang tepat sekali!

Tampaknya pengetahuanmu luas juga!” sambung Go Siau bi dengan muka dingin.

Suasana diluar gelanggang kembali jadi gempar.

Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya ilmu pukulan Thian tok siang hoat yang maha dahsyat itu tercantum dalam sejilid kitab pusaka Thian tok pik liok tak seorangpun diantara para jago pernah merasakan kehebatan ilmu pukulan itu, demikian pula dengan Kui Goan cu, ia bergumam hanya berdasarkan rabaan sendiri, siapa tahu apa yang ia duga ternyata memang benar.

Kitab pusaka Thian tok pik liok diperoleh leluhur Go Siau bi yang bernama Hay gwa kiam-khek (jago pedang dari luar lautan) Go Co beng diatas sebuah pulau kosong yang tak berpenghuni, ketika berita itu tersiar luas kedalam dunia persilatan, suasana jadi gempar dan banyak jago lihay yang berdatangan untuk memperebutkan kitab pusaka itu.

Begitu ramai dan gentingnya situasi waktu itu sehingga akhirnya Put lo sianseng harus turun ke gelanggang untuk meredakan suasana.

Ayah Go siau Bi yakni ketua perkumpulan Pat gi pang Go Yu too justru mati dibunuh oleh kawanan perkumpulan Thian che kau lantaran kitab pusaka tersebut.

Dalam pada itu, Kui Goan- cu telah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia bertanya:

"Apakah engkau adalah keturunan dari ketua perkumpulau Pat gi pang??"

Mendengar nama ayahnya diungkap. api kebencian memancar keluar dari balik mata Go siau Bi sambil menggigit bibir dia menyahut: "Benar, dia adalah ayahku"

Dipibak lain, pertarungan sengit antara malaikat hawa dingin Mo siu-ing dengan perempuan baju merah Tonghong Leng masih berlangsung tiada hentinya, tapi keadaan diantara mereka berdua sudah rada payah, lama sekali mereka baru saling menyerang satu gebrakan, kalau di lihat dari keadaan tersebut jelaslah sudah kalau mereka berdua bakal terluka parah dan akhirnya mati.

sementara manusia serigala bermuka setan, entah sedari kapan telah lenyap dari tempat pertarungan.

Diatas tanah menggeletak tujuh sosok mayat yang berada dalam keadaan mengerikan, perut mereka ter-koyak2, isi perutnya berhamburan di itulah mayat dari ketujuh orang pendekar pedang kota Tiong ciu, dari kemampuan manusia serigala bermuka setan yang masih sanggup memusnahkan musuhnya walaupun dia dalam keadaan terluka parah, bisa dibayangkan betapa sesungguhnya jago aneh tersebut. Han siong Kie sendiri setelah makan obat yang diberi oleh Go siau Bi, per lahan2 sadar kembali dari pingsannya..

Ia segera bangkit berdiri dan berusaha untuk berdiri dengan kekuatan sendiri

Pandangan matanya waktu itu masih kabur, namun ia paksakan diri untuk menyapu sekejap sekeliling gelanggang, tatkala ia menjumpai Go siau Bi berdiri disisinya, sadarlah pemuda itu akan apa yang telah terjadi.

Perasaan hatinya tergetar keras, rasa menyesal timbul dalam benaknya, ia jadi teringat kembali akan penampikannya untuk dinikahkan dengan dara cantik itu.

Go siau Bi sendiri dengan muka murung melirik sekejap pula kearah Han siong Kie, kemudian ia melengos kearah lain.

Kerlingannya yang amat dingin itu menggetarkan sekujur badan Han siong Kie, ia merasakan sesuatu yang aneh, suatu perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

sementara itu semua perhatian ratusan jago persilatan yang ada disekeliling gelanggang sama2 ditujukan keatas tubuh pemuda itu.

Dengan rasa menyesal Han siong Kie menjura kearah dara cantik itu, lalu ujarnya:

"Nona, banyak terima kasih atas bantuanmu, untuk kesekian kalinya aku telah berhutang budi kepadamu"

Go siau Bi sama sekali tidak berpaling, se-olah2 dara itu takut kalau sampai beradu pandangan dengan pemuda itu.

Ketika mendengar perkataan lawan, dia menjawab dengan ketus:

"Engkau telah selamatkan jiwaku ketika masih ada diwilayah Lian huan tau, sudah sewajarnya kalau kutolong pula jiwamu, sekarang kita sudah impas, siapapun tidak berhutang" "Bukan begitu maksudku nona" seru Han sion Kie cepat. "bagaimanapun juga budi kebaikan dari nona tak akas kulupakan untuk selamanya, baiklah... untuk sementara waktu aku mohon diri lebih dahulu"

Berbicara sampai disitu ia lantas putar badan dan berlalu dari tempat itu..

Kehambaran dan keketusan sikap Han Siong Kie amat menusuk perasaan hati dara cantik itu ia merasa amat sedih, apalagi melihat pemuda itu bermaksud pergi dari situ, dengan gemas hardiknya: " Han siong Kie, jangan pergi dulu"

Terpaksa Han siong Kie batalkan perjalanannya dan berpaling.

"Apa yang hendak nona katakan?"

"Baru saja engkau sembuh dari luka parah. percayakah engkau bisa lolos dan sini” tanya Go Siau Bi sambil menggigit bibir menahan pergolakan emosi.

Dengan pandangan dingin sianak muda itu menyapu sekejap kearah kawanan jago lihay yang sedang mengawasi gerak geriknya untuk sesaat ia berdiri tertegun, tapi keangkuhan membuat ia menjawab dengan ketus :

"Nona tak usah menguatirkan tentang soal ini...aku percaya masih mampu berlalu dari sini dalam keadaan selamat!"

Betapa sedihnya hati Go Siau Bi melibat kekerasan hati pemuda iiu, tanpa sadar matanya jadi merah, hampir saja air matanya jatuh berlinang.

"Kau...kau..."'

Ia tak mampu melanjutkan kata2 tersebut akhirnya tak kuasa lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Han Siong Kie tidak menunjukkan sesuatu reaksi, hanya dalam hati dia berpikir : ”Selama hidup aku tak akan mencintai perempuan macam apapun...aaahh, tidak kecuali Tonghong Hui. hanya dia yang kucintai...sayang..aaai.. ia telah pergi..pergi entah kemana"

Dalam keadaan seperti ini dia tak ingin melanjutkan pertarungan dengan jago2 persilatan itu. sebab luka dalam yang dideritanya cukup parah, lagipula diapun tak ingin menambah jumlah korban yang mampus akibat kejadian tersebut.

Selain itu diapun menguatirkan keselamat an dari kelima orang tianglonya, maka dari itu buru2 pemuda ini ingin berlalu dari sana.

Agak lama Go Siau Bi termenung, akhirnya ia membentak dengan suara nyaring :

”Han Siong Kie ! EagKau telah menghina diriku, aku akan membuat perhitungan dengan kau !”

"Menghina?" ucap sang pemuda dengan wajah tertegun "kapan aku pernah menghina dirimu?"

”Dalam hati engkau toh mengetahui dengan jelas !” ”Nona, aku benar2 tak tahu bagaimana aku bisa menghina

nona??”

Air mata semakin deras membasahi pipi Go Siau Bi, akhirnya ia tundukkan kepala nya rendah2.

Sebenarnya dia hendak menegur apa sebabnya pinangan kakeknya dia tolak, padahal dalam pertolongan yang diberikan pemuda itu sebanyak dua kali, tubuh mereka sudah saling bergesek dan bagian tubuhnya yang tertentu telah diraba pula oleh sianak muda itu.

Tentu saja sebagai seorang gadis yang masih perawan, ia tak sanggup mengemukakan kata2 itu.

Bayangan tubuh perempuan yang lain melintas dalam benaknya, itulah bayangan tubuh dari Tonghong-Hui. "Aaah benar, setelah ada dia, mana mungkin pemuda itu bersedia mencintai dirinya?"

Tapi. ..relakah hatinya melepaskan pemuda itu dengan begitu saja? Tidak... sekali lagi tidak. kalau toh tiada harapan menjadi miliknya, ia tak akan membiarkan pemuda itu terjatuh kedalam pelukan orang lain-

suatu ingatan yang menakutkan terlintas dalam benaknya. " Haruskah kubunuh perempuan itu? Haruskah kulakukan

hal itu demi kebahagiaan pribadiku? Agar pemuda itu terjatuh

ketanganku?"

Begitulah cinta.. cinta muda mudi, suatu kejadian yang bisa mendatangkan kebahagiaan tapi dapat pula mendatangkan bencana..

Walaupun Go siau Bi adalah seorang gadis yang halus budi, tapi karena pengaruh cinta, ia telah berubah..

Hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, dia jadi meringis dan tampak menyeramkan. .

"Han siong Kie, engkau akan kubunuh?" jeritnya. "Kenapa..??" tanya Han siong Kie dengan hati tercekat,

tanpa sadar ia mundur satu langkah kebelakang.

"sebab engkau telah menghina aku, menganiaya aku, maka engkau harus kubunuh.."

"Nona, katakanlah alasanmu yang sejujur2nya, kalau aku memang pernah menghina engkau atau menganiaya dirimu, aku bersumpah tak akan melawan, akan kubiarkan nona turun tangan sekehendak hatimu"

"Dalam hati engkau jauh lebih jelas, kenapa musti ditanyakan lagi..?" seru Go siau Bi meringis seram.

"Aku tidak memahami" "Baik, kalau engkau belum paham, inilah yang akan membuat kau jadi paham"

seraya berkata telapak tangannya diayun kemuka, segulung angin pukulan yang amat santar langsung menggulung kedepan.

"Duuukk" dengan telak pukulan itu bersarang di atas dada lawan.

Diiringi jerit tertahan karena kesakitan tubuh Han siong Kie mencelat sejauh satu kaki dari tempat semula, darah segar muntah keluar dari mulutnya, tapi ia tetap berdiri dengan sempoyongan, mukanya yang tampan berubah hebat sehingga kelihatan mengenaskan. 

seperti mendapat pukulan batin yang amat dahsyat sehabis melancarkan serangan, itu Go siau bi berdiri menjublak. sementara air mata yang bercucuran mengalir keluar semakin deras.

Tentu saja pukulan yang ia lancarkan itu hanya menggunakan tenaga sebesar tiga bagian, kalau tidak.. sedari tadi si anak muda itu tentu sudah menggeletak sebagai mayat.

Dara itu berdiri tertegun, termangu seperti orang bodoh,

mimpipun ia tak menyangka kalau Han siong Kie tak akan menghindarkan diri, melainkan menerima datangnya serangan tersebut dengan tubuh sendiri sambil menyeka darah kental yang menodai ujung bibirnya, Han siong Kie tertawa getir.

Ia mengerti Go siau Bi bukan sungguh2 ingin membinasakan dirinya, rasa cintalah yang mengakibatkan ia berbuat demikian.

Walaupun begitu, kejadian tersebut tidak sampai merubah perasaan hatinya terhadap diri Go siau Bi, sebab dia membenci kaum wanita, tentu saja kecuali Tonghong-Hui seorang.. Pada saat itulah empat tosu tua dari partai Kong tong serta kawanan jago lihay dari perkumpulan tujuh walet per lahan2 telah maju kembali menghampiri Han siong Kie. Ketegangan kembali mencekam seluruh gelanggang.

Waktu itu Han siong Kie masih belum merasa kalau mara bahaya telah mengancam dirinya.

Pertarungan antara malaikat hawa dingin Mo Siu-ing dengan Ang Nio-cu Tonghong Leng telah mencapai pula pada puncaknya, kedua belah pihak sama2 muntah darah segar, namum mereka masih tetap saling menyerang, saling menyergap dengan ganasnya, dari keadaan tersebut tampaknya sebelum salah seorang mampus maka pertarungan itu tak akan diakhiri..

Disaat yang kritis itulah tiba2 terdengar desiran angin tajam kembali menggema dari kejauhan..

Semua jago yang hadir dalam gelanggang rata2 tertarik perhatiannya oleh suara aneh itu..

Hembusan angin aneh telah sirap, ditengah gelanggang tahu2 telah bertambah dengan sebuah benda, itulah tergkorak berwarna merah darah.:

Lambang dari pemilik benteng maut tiba2 muncul ditempat itu, rata2 para jago yang hadir di tempat itu sama2 dibuat terperanjat sehingga tak mampu berbicara...

Empat imam tua dari partai Kong-tong maupun kawanan jago dan perkumpulan tujuh walet segera mundur kebelakang dengan hati tercekat..

Sebaliknya Ban Siong Kie merasikan pergolakan darah panas dalam rongga dadanya..

Maut, kengerian dengan cepat menyelimuti seluruh gelanggang pertarungan..

"Tengkorak maut!!'. "Tengkorak maut!!"

Suasana jadi amat gaduh, semua orang menjerit kaget dan rata2 mereka pada mundur dengan ketakutan.

Hembusan angin tajam kembali membelah angkasa. seorang manusia aneh berbaju hijau, bermain cadar tahu2 sudah berdiri di-tengah gelanggang,

Dia., bukan lain adalah pemilik benteng maui, Tengkorak maut yang disegani setiap jago.

Dengan sorot mata yang amat tajam Tengkorak maut menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian hardiknya dengan suara menyeramkan:

"Semuanya pergi dari sini!"

Bagaikan mendapat pengampunan, kawanan jago lihay baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang berkumpul disana secepat kilat pada kabut dari situ. dalam waktu singkat suasana yang semula penuh sesak dengan manusia kini sudah kosong melompong. 

Hanya empat orang saja yang tetap tak berkutik dari tempat semula, mereka adalah Malaikat hawa dingin, Aag Nio cu, Han siong Kie serta Go Siau bi..

Paras muka malaikat hawa dingin Mo siu ing beberapa kali berubah hebat, akhirnya per-lahan2 ia berlalu dari sana.

sekarang dalam gelanggang yang luas tinggal tiga orang belaka, yaitu Han siong Kie, Go siau Bi serta Ang Nio-cu Tonghong Leng.

sorot mata tengkorak maut yang tajam per tama2 berhenti diatas wajah Han siong Kie.. kemudian beralih ke atas wajah Go siau Bi dan akhirnya berhenti diatas tubuh Ang Nio cu, nenek baju merah itu.

Keadaan dari nenek baju merah itu sudah amat payah, pertarungannya melawan Malaikat hawa dingin telah menguras hampir sebagian besar kekuatan tubuhnya, sekarang tatkala dilihatnya kemunculan dari tengkorak maut, paras mukanya berkerut kencang, ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya niatnya itu dibatalkan.

Han siong Kie sendiripun putar otak memikirkan persoalan itu, ia sadar luka dalam yang dideritanya cukup parah, sebelum tenaga dalam yang dimilikinya pulih seperti sediakala, jelas dia bukan tandingan dari Tengkorak maut.

Baik musuhnya ini Tengkorak maut asli ataupun tengkorak maut gadungan, yang jelas lebih banyak bencana daripada rejeki bagi dirinya.

Go siau Bi sendiri hanya pernah mendengar nama besar Tengkorak maut. selama hidup baru pertama kali ini ia berjumpa dengan jagoan lihay yang disegani banyak orang.

Dengan kemampuan yang dia miliki sekarang, bukan suatu pekerjaan yang sulit bila dia hendak berlalu dari situ, akan tetapi suatu kekuatan yang aneh membuat ia tak mampu menggeserkan tubuhnya.

Kenapa bisa begitu? Kegantengan dan kegagahan Han siong Kie telah menarik perhatiannya, dia mencintai pemuda itu kendati diapun membenci dirinya.

Lama sekali Tengkorak maut mengamat ke tiga orang musuhnya, kemudian selangkah demi selangkah ia menghampiri Han siong Kie.

Tercekat perasaan hati Go siau Bi, rupanya diapun dapat merasakan apa maksud dan tujuan kedatangan dari Tengkorak maut ini.

Cinta memang buta, dia tak dapat membedakan mana bahaya mana aman, cinta membutuhkan pengorbanan, dan Go siau Bi rela berkorban demi kekasihnya. Ia langsung meloncat kedepan, menghadang dihadapan Han siong Kie. sianak muda itu merasa sangat terharu cepat ia berseru: "Nona. berlalulah dari sini"

"Kenapa?"

"Engkau bukan tandingannya"

"Memangnya engkau sanggup melawan dia?" dara itu balik bertanya.

"Ini adalah urusan pribadiku, aku cuma minta kepadamu, tak usahlah mencampuri soal ini"

"Tidak Aku tak akan pergi dari sini"

Tiba2 Han siong Kie mendorong tubuh dara itu ke arah samping, dalam keadaan sama sekali tak siap tubuh Go siau Bi segera mencelat sejauh satu kaki lebih..

"Ehh.. Han siong Kie, apa2an kau ini?" teriak gadis itu dengan marah." apa maksudmu mendorong aku?"

"Nona, toh sudah kuterangkan bahwa persoalan ini adalah urusan pribadiku, buat apa engkau musti mencampurinya..."

Belum sempat ia menyelesaikan kata2nya, tengkorak maut mendadak sudah muncul dihadapannya.

Dengan cekatan Han siong Kin mundur tiga langkah kebelakang, paras mukanya berubah hebat. .

Tengkorak maut tertawa seram. tiba2 ia ayun telapak tangan kanannya kedepan.

" Engkau berani melukai dirinya?" bentakan nyaring menggeletar diangkasa, dengan nekad Go siau Bi menghadang dihadapannya.

Menyaksikan kemunculan dara itu, dengan cepat Tengkorak maut menarik kembali serangannya.

"Eeh budak ingusan" ia berseru "hari ini engkaupun tak usah tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, setelah kematianmu ini maka dendam tersebut haaah haah haaahh biarlah Put lo sianseng yang bikin perhitungan sendiri"

"Tengkorak maut " bentak Go siau Bi dengan marah, "jangan anggap kau adalah seorang jagoan, bagi nonamu Hmm engkau tak lebih cuma seorang manusia kacoak"

"'Bagus.. bagus tak nyana dara semuda engkau memiliki nyali yang amat besar, ini hari aku akan menyempurnakan dirimu! Nah... pulanglah kerumah nenekmu"

Seraya berkata sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan kearah Go Siau bi, serangan tersebut cepat bagaikan sambaran kilat dan dahsyat ibarat ambruk nya sebuah bukit Tay san.

Go Siau bi tak berani menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras, cepat ia berkelit kesamping dengan suatu gerakan, yang cepat tapi lincah.

Menyaksikan serangannya mengenai disasaran yang kosong Tengkorak maut melancarkan kembali serangannya yang kedua.

Go Siau bi rnenggertak gigi tiba2 sepasang telapak tangannya didorong kedepan segulung asap hijau yang amat tebal dengan cepat meluncur kemuka.

Rupanya Tengkorak maut taho lihay dengan terperanjat ia berseru tertahan:

"Haaa..?? Ilmu pukulan Thian tok ciang-hoat!”

Suatu benturan keras menimbulkan ledakan yang menggelegar diudara, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angsasa, termakan oleh dorongan angin pukulan itu Tengkorak maut terdorong dua langkah kebelakang.

'Go Siau Bu amat kegirarang, ia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu pukulan Thian tok ciang-hoat yang dimilikinya sanggup memukul mundur Tengkorak maut yang ditakuti banyak orang.

"Hey budak, lihat toya!" tiba2 Ang Nio-cu membentak keras.

Mengikuti suara bentakannya itu, Tong hong Leng putar toya rotannya dan langsung membabat kearah Go Siau Bi dengan hebatnya.

Tindakan dari Ang Nio cu ini sama sekali diluar dugaan siapapun, tak pernah diduga kalau Ang Nio cu bakal membantu Tengkorak maut untuk menghajar dara tersebut.

Dalam kejutnya cepat Go Siau Bi melesat kesamping untuk menghindar, kemudian telapak tangannya, berputar melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

"Blaamm!" ditenga benturan keras toya nya hampir saja terlepas dari genggaman, nenek itu mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Bukannya nenek tua itu tidak becus, justru karena pertarungannya melawan malaikat hawa dingin, hampir saja semua tenaga dalam yang dimilikinya terbuang musnah.

Karena itulah pukulan dari Go siau bi yang kelihatan sangat enteng tak mampu di hadapinya.

Justru pada detik itu pula tiba2 Tengkorak maut tertawa seram, sambil loncat kemuka dan lepaskan sebuah pukulan keatas tubuh Han siong Kie.

Walaupun sianak muda itu masih lemah, tenaga dalam yang dimilikinya belum pulih kembali, akan tetapi ia tak sudi menyerah dengan begitu saja, sisa tenaga lwekang yang dimilikinya dihimpun menjadi satu kemudian menangkis ancaman yang tiba dengan kekerasan. 

"Blaammm.." dengan disertai benturan yang keras pemuda itu menjerit kesakitan. Dengan sempoyongan Han siong Kie terdorong mundur kebelakang, kemudian terkapar diatas tanah dan tak mampu berkutik lagi.

-000dw000-