Tengkorak Maut Jilid 21

 
Jilid 21

SEMUA perhatian orang tertuju diatas wajah Han Siong Kie, rata2 mereka memperlihatkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa.

"Entah siapa yang membocorkan rahasia tersebut kedalam dunia persilatan, yang jelas banyak umat persilatan mulai berdatangan untuk mengincar sejumlah besar harta pusaka itu, terutama raja jinsom yang tak ternilai harganya. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak dlinginkan, maka selain membawa serta puluhan jago lihaynya, pihak perusahaan Ceng bu piau kiok turun ke gelanggang dengan dipimpin oleh piau cu sendiri beserta istrinya, selain itu putri tunggal merekapun ikut mengiringi dalam pengawalan tersebut"

Dengan muka gusar karena mendongkol, anak muda itu berhenti sebentar kemudian meneruskan:

"siapa tahu, belum sampai mereka keluar dari wilayah sam siang, barang kawalan mereka sudah dibegal orang, bahkan cara yang digunakan cara pembegal amat sadis dan rendah moralnya, mereka gunakan racun untuk merobohkan lawan2nya, hanya sesaat kemudian ratusan orang anggota perusahaan mulai dari Piaucu suami istri sampai keanak buahnya telah mati penasaran, seluruh dunia persilatan jadi gempar, sebab bukan saja banyak korban yang berjatuhan, bahkan siapa yang membegal barang kawalan itupun masih menjadi suatu tanda tanya besar"

Mendengar sampai disini paras muka semua jago dari pihak Kaypang berubah jadi amat serius.

Dengan pandangan dingin Han Siong Kie menyapu sekejap semua orang yang hadir dalam gelanggang, kemudian sambungnya lebih jauh:

"Tapi, Thian memang menghendaki segala kejahatan terbasmi dari kolong langit, sekalipun cara kerja para pembegal itu cukup rapat dan rahasia, toh tetap ada yang teledor. Putri piausu yang berparas amat cantik menjadi satu2nya saksi hidup dalam peristiwa itu, karena mukanya yang cantik jelita ia lolos dari pembantaian, namun tak lolos dari siksaan hidup, oleh pimpinan pembegal matanya dibikin buta kemudian secara bergilir ia diperkosa oleh pembegal tersebut, sebelum akhirnya dia hendak dibunuh mati, tiba2 munculah bintang penolong ditempat kejadian dan selamatlah jiwanya dari ancaman itu. sayang orang yang menolong jiwanya adalah seorang padri, tanpa menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya dengan ter-buru2 ia dikirim kesebuah biara, disanalah gadis itu cukur rambut menjadi pendeta, gadis itu tetap mempertahankan kehidupannya walau tubuh sudah ternoda dan mata dibikin buta, kesemuanya itu tak lain karena dia hendak membalas dendam."

suasana dalam gelanggang berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, semua orang tertarik untuk mendengarkan kisah cerita itu.

Walaupun mereka ikut merasa gusar terhadap para pembegal, namun secara lapat2 merekapun dapat merasakan kalau cerita ini pasti mempunysi hubungan yang erat dengan peristiwa berdarah dicabang perusahaan mereka. Rahib buta yang malang ini masib ingat kalau padri yang menyelamatkan jiwanya bernama Bu Ay.

"Bu ay ? Dia adalah padri dari utara " tiba2 pengemis dari selatan menjerit kaget.

Apa yang barusan dikisahkan Han Siong Kie sebagian besar telah disarikan kedalam kitab catatan budi dan dendam dari Mo- mo cuncu, ketika itu padri dari utara belum mendapat nama, maka Han Siong Kie sama sekali tak tahu kalau padri yang bernama "Bu Ay" tersebut sebetulnya bukan lain adalah nama pendeta dari Padri utara.

satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia merasa kejadian itu sangat kebetulan sekali baginya, sebab kalau Bu Ay taysu benar2 adalah padri dari utara, itu berarti ia mempunyai saksi hidup yang cukup kuat untuk membenarkan apa yang dia ceritakan barusan-

"omitohud" tiba2 dari luar halaman bergema suara pujian kepada sang Buddha menyusul sesosok bayangan manusia melayang masuk ketengah gelanggang.

Agak tertegun Han Siong Kie setelah menjumpai kehadiran orang itu, tapi cepat dia maju kedepan seraya memberi hormat: "oh, locianpwee, sangat kebetulan kehadiranmu kali ini"

Orang yang baru muncul bukan lain adalah Padri dari utara, sahabat karib pengemis dari selatan.

Kemunculan Padri dari utara yang sangat mendadak ini jauh diluar dugaan Han Siong Kie, tapi diapun merasa kegirangan oleh kemunculannya, sebab itu berarti ia tak usah bersilat lidah lebih jauh untuk membuktikan kejujuran ceritanya.

Padri dari utara memberi hormat lebih dulu kepada ketua Kay-pang, kemudian mengangguk kepada pengemis dari selatan akhirnya kepada Han Siong Kie dia berkata: "siau-sicu, lanjutkan cerita mu"

Han Siong Kie bukan orang bodoh, ia tahu kemunculan padri dari utara jelas bukan suatu kebetulan saja, sambil tersenyum tegurnya:

"Bukankah kedatangan locianpwe untuk membantu pihak Kaypang mengerubuti aku??"

"Benar, aku tak menyangkal atas pertanyaanmu itu, Nah, sekarang lanjutkan cerita mu"

Han Siong Kie mengangguk, sambungnya:

"Kurang lebih setahun kemudian setelah kejadian itu, kebetulan mendiang guruku lewat dibiara tersebut dan berjumpa dengan rahib buta, yaitu putri kesayangan pemilik perusahaan Ceng bu piau-kiok. setelah dia mendengar nama besar mendiang guruku, maka berceritalah rahib tersebut tentang tragedi yang menimpa dirinya, selain itu diapun mengeluarkan sebuah tanda pengenal yang didapatinya dari saku sang pemerkosa secara kebetulan, dari tanda pengenal itulah akhirnya terungkap siapa kah pembunuh keji pembegal barang kawalan serta pemerkosa dara itu..."

Bercerita sampai disitu, mendadak Han Siong Kie tutup mulut dan membungkam.

Semua orang merasa hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, mereka tahu teka teki tersebut sebentar lagi akan ketahuan jawabannya.

Ketua Kay pang ikut merasakan hatinya tercekat, sekujur tubuhnya gemetar keras menahan emosi.

Pengemis dari selatan maupun keenam belas orang pengemis tuapun ikut mengerutkan dahi sambil menantikan jawaban tersebut dengan hati berdebar. Suasana jadi hening, sepi.. tak kedengaran sedikit suarapun, saat itulah padri dari utara berbisik memuji keagungan Buddha, kemudian bertanya:

"Siau sicu, siapa kah pembunuh sadis itu?"

Pancaran sinar aneh terbias dari mata Han Siong Kie, ditatapnya wajah ketua Kay pang tanpa berkedip, kemudian sepatah demi sepatah ucapnya dengan suara dalam:

"Pembunuh keji yang tak berperi kemanusiaan itu tak lain adalah Tuo cu cabang sam siang beserta orang-orang kepercayaannya"

Jawaban itu ibaratnya guntur membelah bumi disiang hari belong, semua orang tertegun, semua orang terbelalak untuk sesaat lamanya tak kedengaran suara bicara setiap anggota Kay pang yang hadir disitu memberlalakkan matanya dengan mulut melongo, kejadian ini memang sama sekali diluar dugaan.

Paras muka ketua Kay pang berubah hebat, secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang.

"Betulkah kejadian itu?" tanya pengemis dari selatan penuh emosi, rambutnya bergetar keras mengikuti pergolakan hatinya. Han Siong Kie tertawa dingin, kembali ia berkata:

"Tanda pengenal itu tak lain adalah tanda pengenal milik Toucu perkumpulan Kay pang cabang kota sam siang, sampai sekarang benda itu masih disimpan oleh rahib buta, mengenai biara mana yang telah di tempati rahib tersebut sejak Empat puluh tahun berselang, untuk jelasnya lebih baik tanyakan sendiri kepada padri dari utara"

Padri dari utara ikut terpengaruh oleh kisah tersebut, dengan suara gemetar karena emosi katanya:

"Peristiwa ini memang benar2 telah terjadi, waktu itu aku menempatkan dara yang malang tadi di biara Cu in an, kalau dihitung-hitung usianya kini sudah mencapai enam puluh tahunan"

Semua anggota perkumpulan Kay pang sama-sama tundukkan kepalanya, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang paling memalukan bagi perkumpulan mereka, tak ada yang bicara, tak ada yang komentar, semuanya terdiam, diam karena malu.

Pengemis dari selatan sendiri berdiri dengan tubuh gemetar sambil menengadah memandang awan diangkasa, diapun bungkam dalam seribu bahasa.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh Han Siong Kie, menghampiri ketua Kay pang yang masih membungkam dan berkata:

"Ciang bunjin, apa yang ingin kukatakan telah kuucapkan semua, bagaimanakah penyelesaian tentang persoalan ini, terserah pada keputusan ciang bunjin"

Ketua Kay pang menghela napas panjang.

"Aaai.. Peristiwa ini sungguh merupakan suatu kejadian yang tidak beruntung bagi pihak Kay pang, apa yang dapat kukatakan lagi? Han siau hiap. kami merasa malu dan menyesal atas perlakuan kasar yang sudah diperlihatkan pihak kami selama ini, harap engkau sudi memaafkan”

--ooodwooo-

BAB 43

"ENGKAU tak usah berkata begitu ciangbunjin, aku dapat memahami perasaanmu " sahut Han Siong Kie sambil tertawa. Kepada pengemis dari selatan ia menambahkan-

"Engkoh tua, aku tak dapat berdiam terlalu lama disini, aku masih banyak persoalan yang harus kukerjakan, selamat tinggal dan sampai jumpa dilain saat" "saudara cilik, engkau membutuhkan bantuanku " bisik pengemis dari selatan dengan duka.

"Tidak engkoh tua, sekarang aku tidak membutuhkan bantuanmu, lain kali kalau ada kebutuhan yang mendesak. aku pasti akan mencari kau"

Untuk menyelesaikan pertikaian antara mendiang gurunya dengan pihak Kaypang sudah banyak waktu yang dibuang sianak muda itu, kini urusan telah selesai maka, secara otomatis ingatannya beralih kembali akan keselamatan lima orang tianglo perguruannya, dia ingin tahu apakah usaha mereka untuk menghadang jalan pergi Mo sam Yu peng hianat dari perguruannya, berhasil atau tidak. .

Karena itu dengan hati gelisah cepat dia menjura kepada semua orang, kemudian enjotkan badan dan berlalu dari situ.

Pengemis dari selatan serta ketua Kay pang seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi Han Siong Kie keburu kabur dari situ dan lenyap dikejauhan, terpaksa mereka cuma berdiri tertegun dengan mata melongo.

Dari kuil Leng koan bio, Han Siong Kie berlarian diatas jalan raya dengan mengerahkan ilmu ginkangnya Cahaya kilat lintasan bayangan, ibarat segulung hembusan angin puyuh, ia meluncur kemuka dengan cepatnya.

Perjalanan ditempuh siang malam tanpa berhenti, paling sedikit sudah seribu li dia lintasi, namun bayangan tubuh dari kelima orang tianglonya sama sekali tak nampak, kejadian ini sangat mencengangkan hati Han Siong Kie.

Diam2 ia mulai gelisah, pemuda itu tak mungkin mengejar langsung kewilayah Thian lam, sebab dia masih ada persoalan lebih penting yang harus dikerjakan-

Tanpa terasa sampailah pemuda dia didalam sebuah hutan lebat, jalan raya itu menjorok jauh memasuki hutan itu, suara percikan air secara lapat2 menggema dari kejauhan-. Beberapa li kemudian, tibalah pemuda itu ditepi sebuah sungai yang amat lebar, jalan raya terputus sampai disitu, tepi sungai merupakan sebuah hutan pohon liu yang sangat lebat, begitu tebalnya sampai sinar matahari susah menembusi permukaan tanah.

sebuah batu peringatan yang tinggi berdiri angker ditepi sungai, beberapa huruf besar tertera diatas batu itu. "LIU LIM TOK" atau Penyeberangan hutan Liu.

Aneh kalau toh disana merupakan tempat penyeberangan, mengapa tiada sebuah perahupun yang berlabuh disana ?

Memandang gulungan ombak serta arus air yang amat deras ditengah sungai, Han Siong Kie berdiri ter-mangu2. Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia berusaha mencari akal untuk memecahkan kesulitan yang sedang dihadapinya itu.

Tiba2.. bau anyir darah berhembus lewat dari kejauhan, menusuk penciuman pemuda itu sehingga membuat perutnya merasa mual.

Betapa terkejutnya si anak muda itu, dengan mata jelalatan dia menengok kesana kemari, ibarat kucing mengincar mangsanya, nun jauh didalam hutan Liu tiba2 ia temukan bayangan manusia yang se-akan terlentang diatas tanah.

Dengan sigap ia loncat kemuka dan menerobos masuk kedalam hutan itu.

Apa yang kemudian terlihat sungguh mendirikan bulu roma, mayat yang berlumuran darah bergelimpangan disana sini, jumlah nya mencapai tiga puluh sosok lebih, ketika mayat itu diteliti lebih jauh, tak kuasa lagi ia menjerit tertahan-"Aaah..

Korban2 dari malaikat hawa dingin"

Memang korban2 tersebut menunjukkan ciri yang khas yakni ubun2nya hancur tercabik-cabik, hanya Malaikat hawa dingin yang men-cabik2 benak korbannya hingga otak dan darah berhamburan di mana2, pemandangan waktu itu amat seram membuat bulu roma bukan saja pada bangun berdiri, perutpun ikut mual dan hampir saja muntah-muntah.

Malaikat hawa dingin Mo siu Ing tersohor karena caranya yang keji dan sadis sewaktu membantai musuh2nya, dalam dunia tak ada manusia kedua yang melebihi kekejaman hatinya

Inilah akibat dari sakit mental yang diderita malaikat hawa dingin, seandainya ia tidak kehilangan suaminya yang tercinta tak mungkin hawa amarah dan dendamnya dilampiaskan kepada orang lain, diapun tak akan membunuh seratus orang persilatan setiap tahunnya untuk melampiaskan tekanan batinnya.

Han siong Kie berdiri termangu-mangu, ia tak habis mengerti dengan kejadian yang terbentang didepan mata, biasanya malaikat berhawa dingin tak akan mengulangi kembali pembantaiannya sebelum lewat satu tahun setelah ia membantai orang keseratus yang terakhir, tapi kini..? Apa yang terbentang didepan mata menunjukkan suatu keistimewaan, suatu pengecualian dari kebiasaannya itu, lalu apa yang telah terjadi?

Tiba2 anak muda itu menjerit tertahan, lalu memburu kesisi sesosok mayat, korban itu tak dikenal olehnya bahkan sedang dicari2 selama ini, tak kuasa ia berdiri dengan hati bergetar keras.

Siapakah korban itu? dia tak lain adalah mayat dari Mo sam Yu, pelindung hukum dari istana Huan mo kiong yang berkhianat, ditinjau dari sini dapatlah dibuktikan kalau kawanan penghianat yang kabur kembali kewilayah Thian lam tak sempat mencapai tujuannya, malahan mereka sudah menjadi korban keganasan malaikat hawa dingin. Lalu.. apa sebab nya malaikat hawa dingin membantai orang-orang itu? Bukankah lima orang tianglonya berangkat lebih dulu untuk menghadang jalan lari Mo sam Yu beserta begundal2nya?

Kemana mereka pergi? Mengapa jejaknya tak ketahuan juntrungannya? Aah jangan2 mereka pun sudah....

Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi Han Siong Kie bergidik tubuhnya jadi merinding.

Bila kelima orang tianglonya dibantai pula oleh malaikat hawa dingin, itu berarti antara dia dengan iblis perempuan itu terikat oleh dendam darah sedalam lautan, bagaimanapun juga hutang darah itu harus diperhitungkan.

sementara ia masih tertegun, jauh ditengah hutan menggema suara bentakan manusia yang terbawa angin secara sayup2 sampai terbaur oleh gulungan ombak yang menggila, ia sulit untuk membedakan mana suara bentakan mana gulungan ombak, tapi berhubung bentakan2 itu menggema saling susul menyusul maka lama kelamaan Han siong Kie dapat merasakan pula akan keanehan tadi.

Dia pusatkan segenap perhatiannya untuk mengamati suara bentakan itu, setelah yakin bila pendengarannya tak keliru, cepat ia terobos hutan pohon liu itu dan menghampiri kemana suara itu berasal.

Hutan yang panjang dan lebat telah diterobosi, nun diluar hutan tepatnya diatas sebidang tanah merumput yang luas terlihatlah beberapa sosok bayangan manusia sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Tiga orang kakek berbaju perlente sedang putar toyanya kencang2 mengerubuti seorang perempuan muda yang cantik jelita.

Dua orang kakek perlente lainnya duduk bersila diluar gelanggang, dari sikap mereka yang duduk mematung, dapat diketahui kalau mereka sedang menderita luka yang cukup parah. Sembari melayani serangan2 gencar musuh nya, perempuan itu terkekek tiada hentinya, semua serangan yang ia lancarkan rata2 ampuh dan sadis, membuat tiga orang musuh nya kalang kabut dan terdesak ke dalam posisi yang amat berbahaya:

Tiga orang kakek bersenjata toya itu siapa lagi kalau bukan lima orang tianglo dari istana Huan mo kiong? Dua diantara mereka duduk mengatur pernapasan, rupanya cukup parah luka dalam yang diderita.

Sedangkan perempuan yang cantik rupawan itu memang tak salah lagi malaikat hawa dingin Mo siu Ing.

Sementara liu tiga serangan yang dilancarkan iblis perempuan itu memaksa tiga orang tianglo dari Huan mo kiong terdesak mundur delapan depa dengan sempoyongan, katanya:

"Hey tiga orang tua bangka sialan, aku harap kalian sedikitlah tahu diri, sepanjang hidup aku malaikat hawa dingin tak pernah membantai korban yang mampu menerima tiga jurus seranganku, Hmm Kalau bukan terikat oleh kebiasaanku itu, memang nya kalian bisa hidup sampai sekarang ? Bila kalian tahu diri, cepat2lah kabur dari sini, jangan menunggu sampai aku naik darah dan melanggar kebiasaanku"

"Malaikat hawa dingin" bentak To It hui dengan gusar, "engkau sudah melukai dua orang suteku, membantai tiga puluh lembar nyawa anggota perguruanku, sebelum memberi keadilan kepada kami, aku berlima tak akan pergi dari sini?"

"Keadilan? Haahh haahh haahhh, omong kosong" ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, serangan bertubi2 dilepaskan kearah Tio It hui.

Cepat dalam penyerangan, ganas dalam ancaman itulah ciri serangan yang dilepaskan perempuan iblis ini. Menyaksikan rekannya terancam, dua orang tianglo yang lain sama2 mendengus gusar, toya kepala setan mereka secepat kilat dlayun kedepan membacok tubuh Im sat.

To It hui sendiri cepat ayun toyanya untuk menangkis, serangan yang dilontarkan ke tubuh nya.

"Duuk Blaaamm" diiikuti dengusan tertahan, To it hui terpental kebelakang, toyanya terlepas dari cekalan dan tubunnya terkapar di atas tanah.

Hampir berbareng waktunya, serangan toya yang dilepaskan dua orang tianglo lainnya telah menyergap tubuh Im-sat.

Kedua belah pihak saling menyerang dengan gerakan yang sama2 cepatnya, namun bagaimanapun juga toh kepandaian silat Im sat lebih unggul setingkat, sekali berkelebat tahu2 ia sudah menyusup keluar dari kurungan musuh.

"Heeeh heeh heeeh luput kurang jitu" ejeknya sambil terkekeh, "kurang makan kalau nyerangnya lantas begitu. Nih coba lihat seranganku"

Kedua orang tianglo itu tertegun, untuk sesaat mereka tak tahu musti berbuat apa.

Sementara itu malaikat hawa dingin sudah melayang kemuka siap melepaskan serangan balasan.

"Tahan " mendadak serentetan bentakan nyaring menggema di udara.

Malaikat hawa dingin tersentak kaget dan batalkan gerakannya lebih jauh ia tercengang bercampur keheranan sebab selama hidup belum pernah ada orang yang berani menghalangi perbuatannya, baru kali ini peristiwa mana bisa dialaminya.

Kalau mengikuti kebiasaan yang berlaku umum, dimana malaikat hawa dingin munculkan diri, kebanyakan orang persilatan jeri pontang panting berusaha menyelamatkan diri, tapi kali ini, bukan saja orang tidak menjadi takut oleh keangkerannya, malahan menghalangi perbuatannya, tak heran kalau iblis perempuan ini malahan dibuat melongo.

Kedua orang tianglo itu sendiripun segera berpaling kearah mana berasalnya suara itu dengan pandangan kaget.

To It hui ikut meronta bangun dari atas tanah, ia menyeka noda darah yang mengotori ujung bibirnya..

Dengan kecepatan yang luar bias a sesosok bayangan manusia munculkan diri dari belakang hutan, sekali enjot tahu2 orang itu sudah berdiri angkuh ditengah gelanggang.

Mula2 malaikat hawa ding in Mo siu Ing tampak rada tertegun, kemudian sambil tertawa kegirangan serunya:

"Oh Manusia muka dingin, kirinya kau?"

"Benar, aku yang datang" jawab anak muda itu dingin. "Aku hendak mencari kau."

"Mencari aku??" "Ehmm, begitulah."

Dalam pada itu ketiga orang tiang lo tersebut telah maju memberi hormat setelah mengetahui siapa yang datang mereka sangat gembira atas kedatangan sianak muda itu.

"ciangbun suheng, sungguh kebetulan kedatanganmu ini" serunya hampir serentak.

"Tiang lo bertiga tak usah banyak adat" anak muda itu ulapkan tangannya.

Dari tindak tanduk tiga orang tiang lo tersebut, agaknya malaikat hawa dingin dapat meraba pula kedudukan anak muda kita, dengan muka terperanjat bercampur keheranan serunya: "Apa?? Kau...kau adalah ketua Thian lam?" "Engkau heran?" sahut sang anak muda seraya

mengangguk.

"Bukankah engkau adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo??" "Betul, mendiang guruku adalah kaisar Tee-kun dari istana

Huan mo kiong... engkau tak tahu akan hal ini??"

Tak kuasa lagi Malaikat hawa dingin Mo Siu Ing mundur dua langkah kebelakang, paras mukanya berubah hebat.

"Jadi kalau begitu sekarang..sekarang engkaulah Tee kun kaisar dari istana Huan mo kiong?"

"oooh engkau kurang percaya??"

"Bukannya tak percaya, cuma saja kejadian ini memang sedikit diluar dugaan "

Han Siong Kie mendengus dingin, dia alihkan pembicaraan kesoal lain, ujarnya lagi:

"Ketiga puluh sosok mayat yang bergelimpangan di penyeberangan hutan Liu adalah hasil karyamu??"

Malaikat hawa dingin Mo siu Ing kerutkan dahinya dan tersenyum, ia sama sekali tak merasa canggung untuk menjawab pertanyaan itu: "Ehmm Memangnya kenapa ?"

"Engkau telah melanggar kebiasaanmu, bukankah jatahmu untuk tahun ini sudah kau ambil semua? sekarang ditambah dengan tiga puluh sosok mayat itu ? berarti kau sudah membantai seratus tiga puluh orang " seru Han siong Kin ketus.

senyum yang semula menghiasi ujung bibir malaikat hawa dingin kontan lenyap tak berbekas, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia mendengus dingin.

"Hmn Manusia muka dingin. coba pandanglah wajahku menurut penilaianmu aku terhitung cantik atau tidak?" Han Siong Kie terperangah, ia tak dapat menangkap apa yang dimaksudkan perempuan itu, untuk sesaat anak muda itu cuma membungkam dalam seribu bahasa.

Dalam pada itu dua orang tianglo dari Huan mo kiong sedang bersemedi telah menyelesaikan latihannya, mereka loncat bangun dan berdiri disamping tiga orang rekannya.

"Manusia muka dingiin, ayoh jawab pertanyaanku Termasuk cantikkah wajahku ini??"

Malaikat hawa dingin mengulangi kembali pertanyaannya. "Apa maksudmu??"

"Jawab dulu pertanyaanku dengan sejujurnya"

"Ehmm, engkau memang cantik, cantik ibarat bidadari yang turun dari kahyangan, sayang hatimu "

"Cukup," tukas Mo siu ing cepat, "inilah alasannya kenapa kubantai manusia2 itu"

Han siong Kie bukan seorang manusia bodoh, tentu saja ia dapat mengerti apa yang telah terjadi, pikirnya:

"Tak aneh kalau Mo sam Yu beserta begundal- begundalnya dibikin mampus, rupanya mereka kesemsem oleh kecantikan perempuan ini, tak tahunya mangsa yang mereka incar adalah iblis perempuan yang berhati keji. dasar bajul buntung, kalau lihat perempuan matanya lantas jelalatan ....

pantaslah kalau mereka mampus"

sekalipun begitu, Mo sam Yu beserta begundalnya masih terhitung anggota Huan mo kiong, kendati mereka telah berhianat, namun kematian mereka ditangan orang lain sama artinya suatu penghinaan bagi pihak Huan mo kiong, sebagai ciangbunjinnya tentu saja Han siong Kie tak dapat berpeluk tangan dengan begitu saja. Maka diapun tertawa dingin, katanya: "Im sat engkau tahu, siapakah yang telah kau bantai itu??" "siapa? Mereka toh manusia? kurcaci yang bejat moralnya dari istana Huan mo- kiong?"

"Tentunya engkau sudah tahu bukan apa kedudukanku sekarang?"

"ooh Maksudmu, engkau hendak membuat perhitungan

denpanku karena mereka termasuk anak buahmu??"

"Tentu saja Memangnya kau suruh aku pura2 bodoh dan tak tahu urusan?"

Paras muka malaikat hawa dingin beberapa kali berubah hebat, akhirnya dia berkata:

"Baiklah, untuk sementara waktu kita tak usah bicarakan persoalan ini, mau bikin perhitungan kita bicarakan nanti saja, aku dengar engkau telah mendapatkan sarung tangan Hud jiu po pit yang sebelah, benarkah berita tersebut?"

"Memang betul, sarung tangan itu sudah berada ditanganku"

"Dan tentunya kau masih ingat bukan dengan perjanjian yang telah kita buat belum lama berselang?"

"oooh, jadi karena persoalan inilah engkau datang mencari aku??"

"Tepat sekali ucapanmu itu "

Tiba2 paras muka malaikat hawa dingin berubah hebat, ia sangat terpengaruh oleh emosi, dadanya berdebar keras, tubuhnya ikut bergetar karena pergolakan batinnya.

Delapan belas tahun ia hidup merana, ia mengharap. ia menanti, ia mencari bahkan ia membantai orang secara menggila, tujuannya tak lebih hanya mengharapkan kedatangannya berita tersebut, berita tentang keadaan suaminya. "Manusia muka dingin, benarkah apa yang kudengar itu?" kembali dia bertanya dengan gemetar.

Han song Kie merogoh sakunya dan ambil keluar sarung tangan Hud jiu po pit itu.

"Engkau kurang percaya?" tegurnya "Nah, inilah buktinya"

Lima orang tianglo dari istana Huan mo kiong hatinya berdiri termangu selama ini,

sebentar mereka menengok ketuanya, sebentar lagi menengok pula kearah Im-sat, mereka tak tahu apa yang sebenarnya sedang berlangsung.

"Berikan padaku" pinta malaikat hawa dingin dengan suara gemetar.

Han siong Kie ragu2 sebentar, akhirnya ia lemparkan sarung tangan tersebut ke tangan lawan.

Dengan gemetar malaikat hawa dingin menyambut sarung tangan itu kemudian dari sakunya ambil keluar juga sarung tangan yang lain, setelah digabungkan menjadi satu tiba2 ia menengadah dan tertawa keras seperti orang gila.

Kelima orang tiang lo dart istana Huan mo kiong cuma berdiri saling bertukar pandangan, mereka makin dibuat bingung oleh kejadian yang sedang berlangsung didepan mata.

Lama sekali Malaikat hawa dingin tertawa tergelak. akhirnya ia membungkam, membungkam dalam seribu bahasa, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian suasana baru pulih kembali dalam ketenangan, dengan muka hijau membesi ia menegur: "Katakan kepadaku, dia masih hidup atau sudah mati?" "Masih hidup Malahan masih segar bugar.."

Malaikat hawa dingin pejamkan matanya rapat2, air mata kembali bercucuran. "Dia masih hidup, ..ternyata dia masih hidup," gumamnya lirih.

Kemudian sambil menatap wajah anak muda itu, perempuan iblis tersebut menambahkan: "Manusia muka dingin, apa yang telah kuucapkan selamanya tak akan kuingkari, seperti apa yang kita janjikan dulu maka sarung tangan ini menjadi milikmu untuk selama2nya" sembari berkata ia lemparkan sepasang sarung tangan itu kearah Han siong Kie.

Dengan hati berdebar anak muda itu menyambut benda mustika tersebut, pusaka Hud jiu popit telah menyatu, itu berarti terbuka kesempatan baginya untuk mempelajari ilmu si mi sinkang yang tercantum di atas pusaka itu.

Bila ilmu maha sakti itu sudah dikuasahi, ia tak perlu jeri terhadap tengkorak maut lagi, iapun tak usah kesal memikirkan keampuhan ilmu silat dari pemilik benteng maut..

sementara ia masih termangu-mangu. Malaikat hawa dingin telah maju tiga langkah kedepan, serunya dengan wajah penuh pengharapan: "Manusia muka dingin, saat ini dia ada dimana?"

"Benteng maut "

"Apa ? Benteng maut??"

"Benar, ia dikurung oleh pemilik Benteng maut dalam sebuah ruang batu yang kuat."

Sekujur badan malaikat hawa dingin bergetar keras, pucat pias selembar wajahnya.

Mimpipun dia tak pernah menduga kalau suaminya, malaikat hawa panas Ko su ki di sekap dalam istana maut selama delapan belas tahun, tak aneh kalau jejaknya sukar di telusuri.

"Manusia muka dingin, bagaimana caranya engkau dapatkan pusaka Hud jiu po pit ini?" sekali lagi perempuan iblis itu menegur.

"Aku telah menyerbu kedalam istana maut, sungguh beruntung akhirnya bisa lolos dengan selamat, benda itu kutemukan secara kebetulan saja."

"ooh. kiranya begitu" Malaikat hawa dingin termenung sebentar, akhirnya dia menambahkan. "manusia muka dingin, selamanya aku Mo siu Ing merasa berterima kasih kepadamu, selamat tinggal"

Begitu ucapan terakhir meluncur dari mulutnya, secepat kilat ia berlalu dari situ.

"Eh, tunggu sebentar "

Walaupun ia cepat, Han siong Kie berlari tak jauh lebih cepat, sekali enjot badan tahu-tahu ia sudah menghadang didepannya.

"Im sat" pemuda itu berseru dengan ketus "tak usah kau ucapkan kata2 yang bernada terima kasih, sistim pertukaran syarat kita dijalankan secara barter, engkau menghadiahkan sarung tanganpusaka kepadaku, aku carikan kabar tentang suamimu bagimu masing2 pihak kita tak berhutang kepada yang lain, atau dengan kata lain kita sama2 impas"

"Lalu maksudmu?" seru malaikat hawa dingin dengan muka tertegun.

Walaupun dalam hal barter kita sudah impas, namun dalam hal lain engkau masih hutang kepadaku, maka aku hendak sekalian menagih hutangmu itu."

"Menagih hutang ? Hutang apaan itu??"

"Engkau telah membantai tiga puluh orang anak buahku" "Toh mereka sendiri yang cari mampus"

"Bagaimana penjelasanmu tentang tiga orang tiang lo yang kau lukai barusan"

"Lalu.. engkau hendak menagih hutang ini dengan cara bagaimana??" tanya malaikat hawa dingin kemudian,

Han siong Kie mengerutkan dahinya lalu berkata:

"Aku tidak akan menagih kelewat batas sebab aku tetap berharap agar engkau bisa berkumpul kembali dengan suamimu"

Paras muka malaikat hawa dingin berubah hebat, ia menengadah dan tertawa seram.

"Haahhh... haahhh... haahhh sungguh tak kusangka ada orang yang hendak mengampuni selembar jiwa bagiku, sungguh lucu, sungguh lucu, baru pertama kali ini aku Mo siu Ing mendengar ucapan selucu ini haahh... haahhh... haahh"

"Engkau tidak percaya dengan perkataanku ini???"

"Hei manusia muka dingin, apa yang kau andalkan untuk membuktikan kebenaran perkataanmu itu??"

"Apalagi yang kau andalkan? Tentu saja sepasang telapak tanganku ini, bagiku aku rasa belum temui banyak kesulitan untuk bereskan seorang jago macam dirimu"

"Baik sebelum pertarungan dilangsungkan aku Mo siu Ing akan mengemukakan juga sesuatu, aku tak akan mencabut nyawamu dalam pertarungan ini"

"Hmm Engkau belum sesuai untuk mengalahkan bagiku"

Terlalu kasar ucapan itu bagi pendengaran sang iblis perempuan, hawa amarahnya kontan berkobar, dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya ia tertawa seram.

"Manusia muka dingin, kalau engkau tidak sudi menerima maksud baikku ini, biarlah akan kusempurnakan kehendak hatimu, Nah silahkan turun tangan" Han siong Kie mendengus dingin.

"Hmm Malaikat hawa dingin, sambutlah seranganku ini "

Sambil menerjang kemuka, dia lancarkan sebuah pukulan maut kearah musuhnya. Suasana berubah jadi tegang mengikuti serangan gencar yang dilancarkan pemuda itu.

Serentak lima orang tiang lo itu mundur delapan depa kebelakang, mereka ingin tahu sampai dimanakah kehebatan serta keampuhan yang dimiliki ciangbun suhengnya ini.

Serangan yang dilepaskan Han Siong Kie itu merupakan tenaga sebesar sepuluh bagian, cepat dalam serangan dahsyat dalam sergapan, membuat siapa saja bergidik oleh kelihayannya.

Malaikat hawa dingin Mo Siau ing merasakan harinya bergetar keras, dari serangan yang dilancarkan musuh, ia tahu tenaga Iwekang yang dimiliki Han Siong Kie sudah jauh berbeda kalau dibandingkan dulu, ia himpun kekuatannya dan menyambut serangan musuh dengan keras lawan keras.

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga menggema memecahkan kesunyian, kedua belah pihak terdorong mundur selangkah ke belakang, diam2 mereka kaget dan kagum atas keampuhan musuhnya.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru, masing2 pihak mengerahkan semua kemampuan yang dimilikinya, membuat suasana ditengah gelanggang menjadi bertambah seru dan ramai.

Pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa, bumi serasa digoyangken oleh gempa dahsyat, jurus aneh, gerakan ampuh serta semua tipu daya yang jarang dikeluarkan selapis demi selapis dikerahkan semua tanpa hentinya. Pertarungan sengit macam ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan, lima orang tiang lo yang mengikuti jalannya pertarungan itu ikut merasakan hatinya berdebar, tanpa sadar peluh dingin mengalir keluar membasahi tubuh mereka.

Dalam sekejap mata ratusan jurus sudah lewat, namun siapa menang siapa kalah masih susah untuk ditentukan.

Makin bertarung Malaikat hawa dingin Mo siu Ing semakin terperanjat, ia sadar tenaga dalam yang dimiliki pihak musuh telah peroleh kemajuan yang amat pesat, suatu kejadian yang sama sekali tak pernah terbayangken olehnya.

Han siong Kie sendiripun merasa terkesiap oleh ketangguhan malaikat hawa dingin, sekarang ia percaya kalau nama besar orang bukan nama kosong belaka, baru seorang Im sat sudah begini lihaynya, apalagi kalau Im yang siang sat (sepasang malaikat panas dan dingin) bersatu padu, siapa lagi yang mampu menghadapi ketangguhan mereka? Tak aneh kalau nama kedua orang itu tersohor sekali. Belasan jurus kembali sudah lewat..

"Kena " tiba2 malaikat hawa dingin menghardik keras. sepasang telapak tangannya dikembangkan, dalam waktu

tingkat ia lepaskan dua puluh empat buah pukulan berantai, tiap pukulan yang dilepaskan diarahkan kebagian tubuh yang berbeda, bukan saja cepat dalam serangan, arah yang ditujupun cukup membingungkan lawan.

Dua puluh empat buah pukulan dari Im-sat begitu lewat, dengus kesakitan bergema memecahkan kesunyian.

secara beruntun Han siong Kie mundur lima langkah kebelakang, darah kental mengalir keluar membasahi bibirnya.

Sambil tarik kembali serangannya, malaikat hawa dingin menegur . "Manusia muka dingin, bagaimana kalau pertarungan kita akhiri sampai disini saja?"

Han Siong Kie mengerang gusar. sambil gigit bibir hardiknya...

"Jangan keburu napsu, sambut pula sebuah pukulanku ini" Dengan jurus Mo ong co ciat (Raja iblis menyembah loteng

Istana) dia himpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya

dan melepaskan satu pukulan maha dahsyat ke depan.

Jurus serangan yang dipergunakan ini merupakan salah satu jurus serangan yang terampuh diantara tiga jurus ampuh dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, dan merupakan pula jurus serangan yang paling tangguh daya pengaruhnya.

Jurus tangguh yang dilepaskan dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya ini betul2 merupakan suatu serangan yang mengerikan hati..

Malaikat hawa dingin Mo Siu Ing terkesiap, cepat2 dia tangkis pukulan itu dengan kekerasan-.

"Duuk Blaamm" jerit kesakitan mengiringi tubuh sang iblis yang mundur sejauh beberapa kaki dengan langkah sampoyongan, darah segar muntah keluar dari mulutnya, keadaan iblis perempuan ini jadi mengenaskan sekali.

Han Siong Kie memburu kemuka, ia hampiri kedepan im sat dan ayun telapak tangannya siap membacok batok kepala orang..

Malaikat hawa dingin Mo siu ing cuma bisa membelalakkan matanya lebar2 sambil menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip, apa lagi yang dapat dilakukan olehnya dalam keadaan begini?

Bila bacokan telapak itu diteruskan, maka bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi, tubuh Im sat tentu akan terbabat hancur remuk. tentu saja nyawanya akan kabur kembali kealam baka..

Dengan pandangan kaget bercampur ngeri, lima orang tiang lo dari istana Huan mo- kiong mengawasi suasana ditengah gelanggang. Udara yang terasa jadi sesak. suasana amat tegang....

-000dewi000-

BAB 44

DI KALA ujung telapak tangan hampir mengena diatas batok kepala malaikat hawa dingin, tiba2 Han siong Kie buyarkan serangan sambil mundur tiga langkah kebelakang, katanya: "Aku telah berjanji tak akan membinasakan dirimu"

"Kenapa tidak kau bunuh?"

"Engkau harus bertemu dengan suamimu"

"Engkau tidak menyesal dengan keputusanmu itu?" "Menyesal..? kenapa aku musti menyesal"

"Suatu ketika aku Mo siu Ing akan menuntut balas atas kejadian pada hari ini"

Han siong Kie segera tertawa dingin.

"Heeeh heeeeh heeeh Malaikat hawa dingin, asal engkau mampu tinggalkan benteng maut dalam keadaan hidup, setiap saat kunantikan kedatangamu dalam dunia persilatan"

sekali lagi paras muka malaikat hawa dingin berubah hebat, sekalipun ia punya nama besar yang disegani orang dalam dunia persilatan, akan tetapi setiap kali mengungkap tentang benteng maut, tak urung bulu kuduknya pada bangun berdiri.

sesudah tertegun beberapa saat lamanya, perempuan iblis itu tertawa seram, suaranya melengking amat menusuk telinga, tanpa mengucapkan sesuatu lagi dia berlalu dari gelanggang dengan langkah sempoyongan.

Dari langkah tubuhnya yang gontai, dapat diketahui cukup parah luka dalam yang dideritanya.

Menunggu iblis itu sudah lenyap dari pandangan, To It hui baru menghela napas dan berkata:

"Aaai. seandainya ciangbun-suheng tak datang tepat

pada saatnya, entah bagaimana jadinya dengan kami berlima?"

"Bagaimana ceritanya sampai kalian berlima bentrok dengan perempuan iblis itu??", tanya Han siong Kie keheranan

"Ketika kami berlima tiba di penyeberangan hutan Liu, mendadak dari balik hutan menggema suara jeritan ngeri, kami memburu kesitu dan menemukan Mo sam Yu beserta begundalnya sudah tewas dibunuh orang, kami segera memburu kedalam hutan dan menjumpai sesosok bayangan manusia lenyap ke arah sini, kami mengejar lebih jauh dan tiba-tiba saja berjumpa dengan perempuan tadi disini.."

"Waktu itu apakah kalian belum tahu siapakah dia??" "Peristiwa ini berlangsung diluar dugaan, apalagi waktu itu

kamipun tidak memeriksa apa yang menyebabkan kematian

Mo sam yu beserta begundal2nya, karena itu kamipun tak menyangka kalau orang yang sedang kami hadapi sebenarnya dia malaikat hawa dingin Mo siu Ing. Aai.. dalam kenyataan kami cuma pernah mendengar namanya saja dan belum pernah melihat tampangnya.."

"Benar " sambung Ang Pat sin dari samping " andaikata dia tidak memperkenalkan diri, kami tak akan menyangka kalau perempuan cantik jelita macam dia sebenarnya tak lain adalah malaikat hawa dingin yang paling disegani didaratan Tionggoan, untung dia mempunyai peraturan busuk yang mengikat semua gerak geriknya, kalau tidak.. kami berlima tentu sudah mampus sedari tadi" Han siong Kie mengangguk lirih.

"Malaikat hawa dingin memang tak suka bertarung melewati angka ke tiga, bila dalam tiga jurus ia tak mampu menjagal lawannya maka ia tak akan mencelakai jiwa korbannya"

"ciangbun suheng " seru seng Thianpaupula dengan lantang "janji apa yang kau ikat dengan dia sehingga akhirnya kau berhasil menangkan sepasang sarung tangan pusaka Hud jiu po pit?"

secara ringkas Han siong Kie menceritakan yang telah terjadi antara dia dengan malaikat hawa dingin, mendengar penuturan tersebut lima orang tiang lo itu baru tahu apa yang sebetulnya sudah terjadi.

Tiba2 To It hui bertanya lagi dengan muka tidak mengerti: "Nama busuk Im yang siang sat telah menggetarkan

seluruh daratan Tionggoan, suheng, kenapa kau malah lepaskan iblis perempuan itu?"

Dengan muka serius Hin siong Kie menjawab: "Pertama, Mo sam yu beserta begundal2nya melanggar

tata kesopanan dengan mengganggu kaum wanita, perbuatan

mereka pantas dihukum mati. kedua, aku telah terikat janji lebih dulu dengannya, yakni menukar pusaka Hud jiu po pit dengan berita tentang malaikat hawa panas Ko su Ki, aku tak ingin membunuh dirinya sebelum ia sempat berjumpa dengan suaminya, ketiga, setelah dia masuk kedalam benteng maut untuk mencari suaminya, belum tentu ia bisa lolos lagi dari sana, berarti pula tak dapat membuat keonaran lagi didunia, maka atas dasar pertimbangan itu aku putuskan untuk mengampuni jiwanya" Kelima orang tiang lo itu mengangguk tanda setuju, mereka tidak berkomentar lagi. Terdengar Han siong Kie meneruskan kembali kata2nya:

"setelah kematian Mo sam yu beserta begundal2nya ditempat ini, berarti pula kabar berita itu tak akan tersiar sampai ke Thian lam, itu pula ciangbunjin yang sekarang akan berkunjung kedaratan Tionggoan sesuai dengan rencana, lebih baik kita nantikan kedatangan mereka dan tunggu sampai mereka masuk jebakan sendiri, entah bagaimana menurut pendapat kalian berlima?"

Kelima orang tiang lo itu segera mengangguk, kata To It hui:

"Kami akan turuti kehendak ciangbun suheng, siapa tahu kalau penghianat tersebut sedang berada dalam perjalananan- "

Pada waktu itulah tiba2 terdengar jeritan ngeri berkumandang dari kejauhan, suara itu amat keras dan memekikan telinga.

Betapa terperanjatnya enam orang itu, mereka terkesima dan berdiri mematung. Menyusul terdergar dua kali jeritan ngeri.. tiga kali..

"Jangan2 Malaikat hawa dingin sedang membunuh orang lagi ?" seru Han siong Kie terkesiap.

"Ah, tidak mungkin" sahut To lt hui, " dia sudah menderita luka dalam yang cukup parah, dari mana datangnya tenaga untuk membunuh orang?"

Jerit kesakitan sekali lagi berkumandang memecahkan kesunyian, kali ini suara tersebut berasal dari satu li dari tempat itu. Han siong Kie berpikir sebentar, kemudian katanya: "Aku akan kesana dan menengok apa yang telah terjadi, harap tiang lo berlima mengubur jenasah dari Mo sam yu sekalian"

Kelima orang tiang lo itu mengiakan dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan.

sementara Han siong Kie sendiri segera berlari menuju kearah mana berasalnya jeritan kesakitan itu.

setelah menembusi hutan pohon Liu, dari kejauhan ia lihat bayangan manusia saling berkelebat ditepijalan raya, rupanya disitu telah berlangsung suatu pertarungan seru.

secepat kilat Han slong Kie melesat ke muka dan menyembunyikan diri dibelakang batuan cadas.

Ratusan bayangan manusia membentuk suatu lingkaran kepungan yang sangat rapat, mereka terdiri dari golongan padri dan kaum imam.

sedang ditengah gelanggang, malaikat hawa dingin Mo siu ing sedang terlibat dalam pertarungan seru melawan seorang padri, dua orang imam dan empat orang kakek tua.

Empat sosok mayat menggeletak diatas permukaan tanah, kepala mereka pecah dan isi benaknya berhamburan di mana2.

Udara amat sepi, tiada terdengar suara manusia, yang ada hanya napsu membunuh yang makin menebal.

Ditengah kesunyian, akhirnya seorang kakek tua berjenggot panjang berkata dengan ketus:

"Malaikat hawa dingin, semua sahabat baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih yang hadir dalam gelanggang hari ini, semuanya membenci kau, ingin mengganyang dagingmu."

"Memang, sangat tepat waktu yang kalian pilih "seru malaikat hawa dingin dengan suara seram "aku sekarang lagi terluka, banyak kekuatanku tak bisa kugunakan, tapi. Heeeh... heeeh... heeeh... jangan anggap aku mandah digebuk, untuk merenggut jiwaku kalian harus membayar dengan suatu nilai pengorbanan yang besar"

"Hmm Malaikat hawa dingin, takdir menghendaki demikian, serahkan nyawamu"

seraya berseru, kakek tua itu menerjang lagi kemuka dan melepaskan pukulan dengan menggunakan sepasang telapak tangannya.

Begitu rekannya menyerang, sang padri, dua orang imam serta tiga orang kakek yang lain serentak ikut menyerang pula dengan ganas.

Ditengah hembusan angin pukulan yang men deru2, sesosok bayangan manusia menerobos keluar dari lingkaran kepungan dengan gesit.

Menyusul mana jeritan kesakitan memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia terlempar kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah.

Meskipun terluka, malaikat hawa dingin masih mampu menghindarkan diri dari gabungan serangan tujuh jago lihay, menggunakan kesempatan mana dia malahan sanggup mencabik batok kepala kakek tua itu hingga mati konyol, ilmu silat semacam itu seketika menggemparkan para jago yang mengitari gelanggang.

Merasakan serangannya mengena disasaran yang kosong, sang padri, dua orang imam dan tiga orang kakek tua itu serentak membentak keras, sekali lagi mereka kepung malaikat hawa dingin ditengah gelanggang.

sebagai seorang perempuan angkuh yang tinggi hati, Im- sat tak sudi kabur dari hadapan musuhnya. walaupun ia sudah terluka, padahal asal dia mau berbuat begitu rasanya dengan kepandaian yang dimiliki, menyelamatkan diri bukan suatu pekerjaan yarg menyulitkan-

selesai membereskan kakek tua itu, malaikat hawa dingin menyergap kembali padri berjubah abu2.

Dua orang imam serta tiga orang kakek tua yang bebas dari ancaman, serentak bergerak kedepan, dengan saluran segenap kekuatan yang dimilikinya mereka lepaskan satu pukulan dahsyat kemuka.

Lima gulung hawa cukulan yang amat santar menggulung keatas tubuh malaikat hawa dingin.

Dipihak lain, padri berjubah abu2 itu hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur, lalu tahu2 sepasang telapak tangan Im sat sudah tiba didepan mata, dalam keadaan begini mau menghindar tak mungkin, mau menang kispun sulit.

"Duuuk . ." tidak ampun lagi batok kepalanya terhajar telak diiringi jerit kesakitan batok kepala padri itu sudah hancur berantakan, darah bercampur isi benaknya berserakan dimana-mana .

Hampir bersamaan waktunya segulungan angin pukulan yang dahsyat telah meluncur tiba, malaikat hawa dingin mendengus tertahan, tubuhnya gontai dan secara beruntun ia muntah darah tiga kali.

Perempuan yang cantik jelita ibarat bidadari dari khayangan itu sudah berubah bagaikan iblis ditambah pula hawa napsu membunuhnya yang sangat tebal, membuat siapapun yang memandang merasakan hatinya bergidik,

Dari lingkaran manusia diluar gelanggang, segera muncul kembali empat orang padri, yang satu menggendong jenasah rekannya dan mundur kembali, sedang yang tiga ikut terjun kedalam gelanggang, dengan begitu posisinya ikut berubah jadi satu lawan delapan. Malaikat hawa dingin Mo siu Ing menyeka noda darah dengan ujung bajunya, telapak tangan berputar kembali secepat kilat, kali ini yang menjadi sasaran adalah kedua orang imam tersebut.

serangan yang dia lancarkan cepat sukar dilukiskan, lagipula jurus serangannya aneh, sama sekali bertolak belakang dengan keadaan umum.

Ingatan kedua belum sempat terlintas dalam benak dua orang imam itu, serangan telah mencapai sasaran, mereka mendengus berat dan mundur dengan sempoyongan.

Keadaan dari malaikat hawa dingin sudah makin payah, tenaga dalamnya sudah hampir terkuras habis, buktinya serangan yang ia lancarkan tak mampu membinasakan dua orang imam tersebut.

Enam gulung angin pukulan yang dahsyat ibarat gulungan ombak ditengah samudra meluncur kembali kearah depan menyerang perempuan iblis itu dari pelbagai posisi yang berbeda.

Malaikat hawa dingin menggertak gigi menahan emosi, ia sama sekali tidak menggubris terhadap serangan yang mengancam tiba, sambil menghimpun segenap kekuatan yang masih dimilikinya, ia terjang kemuka menghajar dua orang padri yang berdiri bersanding Tiga jeritan ngeri kembali

menggema memecahkan kesunyian.

Pukulan gencar yang dilancarkan dua orang hweesio itu ternyata tak sanggup membendung pukulan maut musuhnya, mereka mampus secara konyol dan ciri kematian mereka tak jauh berbeda seperti rekan2nya, batok kepala terpukul hancur, dan isi benak berhamburan dilantai.

Walaupun berhasil menyingkirkan lawannya, malaikat hawa dingin sendiripun tak dapat menghindarkan diri dari tenaga gabungan musuh, ia terpukul telak sehingga mencelat sejauh satu tombak lebih sambil muntah darah, tubuhnya gontai seperti mau roboh.

Tiga orang kakek tua dan seorang padri segera memburu maju kedepan, menggunakan kesempatan yang sangat baik itu mereka lepaskan kembali pukulan dahsyat yang mematikan-

Merasakan betapa ampuhnya ancaman yang tiba, malaikat hawa dingin mengeluh didalam hati.

"Aai.. sungguh tak nyana aku Mo siu Ing harus mampus ditangan kurcaci2 yang tak bernama ini"..

Keadaan bertambah gawat, tampaknya malaikat hawa dingin bakal mampus diujung telapak tangan orang..

saat yang terakhir itulah sesosok bayangan manusia meleset keudara, sebelum tubuhnya mencapai permukaan tanah, segulung desiran angin serangan telah dipancarkan mengancam tiga orang kakek serta seorang padri itu.

Merasakan datangnya ancaman yang dahsyat, tiga orang kakek dan seorang padri itu tak berani bertindak gegabah, buru2 mereka tarik kembali ancamannya untuk melindungi keselamatan sendiri .

Ditengah gelanggang tahu2 bertambah seseorang, dia tak lain adalah seorang pemuda tampan berwajah dingin.

"Aah.. manusia muka dingin." "Manusia muka dingin??" "Manusia muka "

Jeritan kaget bergema saling susul menusul, suasana jadi gaduh dan gempar, untuk sesaat semua orang alihkan pandangannya kearah sianak muda itu. Pemuda yang muncul tepat pada saatnya itu memang tak lain adalah Han Siong Kie ciangbunjin dari istana Huan mo kiong.

Dengan sorot mata yang amat tajam Han siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian dengan tenang se-olah2 tak pernah terjadi sesuatu peristiwa ujarnya kepada malaikat hawa dingin: "sekarang engkau boleh pergi dari situ "

Dalam pada itu ketiga orang kakek serta padri tadi tanpa menimbulkan sedikit suarapun sudah mengundurkan diri dari tengah gelanggang..

Setelah kegaduhan sirap. lingkaran pengepunganpun makin bertambah ciut kedalam.

Berpasang2 panah berapi meluncur keudara dan meledak diangkasa.

Han siong Kie mendengus dingin, sekali lagi ujarnya kepada malaikat hawa dingin:

" Lebih baik segera tinggalkan tempat ini, mumpung belum terlambat"

Dengan pandangan penuh berterima kasih malaikat hawa dingin melirik sekejap kearah Han siong Kie, kemudian cepat ia telan beberapa biji obat kedalam mulutnya, setelah itu baru bertanya:

"Mengapa kau selamatkan jiwaku?"

"Pertama, karena aku muak menyaksikan cara bertarung yang suka main kerubut macam begitu, kedua, aku ingin bantu kau untuk mewujudkan apa yang kau harapkan selama delapan belas tahun belakangan"

"Manusia muka dingin, aku Mo siu ing bukan seorang manusia yang tak bisa membedakan mana budi mana dendam, untuk kesekian kalinya aku telah berhutang budi kepadamu"

"Jangan berkata begitu" tukas si pemuda sambil goyang tangan, "aku tak pernah lepaskan budi kepadamu, siapa tahu bila kita berjumpa lagi dilain saat, aku akan membinasakan dirimu"

Agak tertegun malaikat hawa dingin mendengar ucapan itu, kemudian sambil tertawa seram katanya:

"Manusia muka dingin, kalau engkau hendak bunuh aku, urusan itu hanya bisa dianggap sebagai suatu persoalan yang lain"

sianak muda itu tak gubris ucapan orang ia bertanya lagi: "Engkau masih mampu berjalan sendiri???"

"Bisa, aku masih mampu berjalan sendiri" "Kalau begitu pergilah "

Mereka telah lepaskan panah api untuk memberitahukan rekan2nya, mungkin sebentar lagi jago2 lihaynya akan berkumpul semua disini.

"Mereka tahu kedatangan mereka adalah untuk mencari gara2 dengan aku, tak usah kau risaukan tentang soal ini, cepatlah tinggalkan tempat ini "

Dengan suatu pandangan mata yang sangat aneh, malaikat hawa dingin melirik sekejap kearah Han siong Kie, lalu katanya lagi:

"Manusia muka dingin, aku sangat berterima kasih kepadamu, tak akan kulupakan kebaikanmu ini, baiklah sekarang aku akan berlalu dari sini . ."

Dengan langkah yang gontai, perempuan iblis itu berjalan keluar dari gelanggang dan menjauhi tempat itu. Ditengah bentakan gusar yang memekikkan telinga, kawanan jago lihay yang mengurung sekitar tempat itu sama ayunkan telapak tangannya, dari sikap itu ia tampaknya mereka bersumpah akan lenyapkan Malaikat hawa dingin dari muka bumi.

Mendadak dari arah belakang meluncur lewat tiga sosok bayangan manusia, mereka langsung menerjang kearah malaikat hawa dingin-. "Enyah kalian dari sini" hardik Han siong Kie dengan gusar:

sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan kearah muka, gulungan angin pukulan yang sangat luar biasa menumbuk kearah tiga sosok bayangan manusia..

Dengus tertahan menggema diudara, termakan oleh pukulan dahsyat itu, ketiga orang pria setengah baya itu mencelat dari gelanggang dan terpental kearah ke tempat semula.

sementara itu malaikat hawa dingin Mo siu ing telah berada didepan kawanan pengepungan.

Belasan pasang telapak tangan berbareng diayun kemuka siap melancarkan pukulan mematikan..

Han siong Kie bertindak cepat, ia melayang kesamping perempuan iblis itu, lalu kepada kawanan jago lihay yang siap melancarkan serangan itu bentaknya: "Hayo pada menyingkir semua"

Betapa tercekatnya perasaan hati kawanan jago itu tatkala menyaksikan sorot mata musuhnya, dengan perasaan yang kebat kebit mereka saling bertukar pandangan, namun tak seorangpun yang bermaksud untuk menyingkir dari situ.

"Ayoh cepat menyingkir " sekali lagi Han siong Kie menghardik dengan suara lantang.

Lingkar pengepungan makin mengecil, jago2 lihay yang ada disisi kiri, kanan serta belakang mulai berdesakan maju kedepan, rupa2nya mereka siap melancarkan tubrukan serentak.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak sianak muda itu, ia sadar apabila dia harus menanti sampai pihak musuh yang melancarkan serangan lebih dulu, maka daya kekuatan ya berkumpul ditengah lingkaran itu tentu dahsyat sekali, bagi dirinya himpunan tenaga itu masih bukan jadi soal, tapi bagaimana dengan malaikat hawa dingin yang telah menderita luka yang cukup parah?

satu ingatan dengan cepat terlintas dalam benaknya, kepada perempuan itu serunya lirih:

"Terjang kemuka"

Berbareng dengan ucapan itu, sebuah pukulan hawa maha dahsyat ikut dilontarkan kedepan-

Jerit kesakitan, dengus tertahan berkecamuk menjadi satu, belasan orang jago lihay yang berada dibarisan terdepan seketika terhajar oleh pukulan maut itu sehingga pontang panting dan sama2 melarikan diri ke belakang.

Dengan demikian terbukalah sebuah celah yang kecil ditengah kepungan itu sambil menahan rasa sakit yang tak tertahankan, malaikat hawa dingin Mo siu ing melompat dan menerjang keluar dari lingkaran kepungan, kemudian tanpa berpaling lagi kabur secepatnya dari situ.

Bersamaan dengan tindakan yang diambil Han Siong Kie untuk melepaskan pukulan gencar kearah depan, kawanan jago dari kalangan hitam maupun putih yang berada di sudut kiri kanan dan belakang serentak telah melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat.

Pelbagai deruan angin tajam sama2 meluncur kepusat lingkaran, desingan tajam, deruan angin puyuh berkecamuk menjadi satu menciptakan kegaduhan yang memekikkan telinga. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya pukulan  gabungan yang dilepaskan hampir seratus orang jago lihay itu.

Tapi Han siong Kie bukan manusia bodoh, ia sudah memperhitungkan sampai kesitu, begitu malaikat hawa dingin berlalu dari sana, diapun enjotkan badan dan melayang keluar dari lingkar kepungan.

Benturan dahsyat menciptakan sebuah lekukan besar selebar belasan kaki di atas permukaan tanah, dimana Han siong Kie semula berdiri

Pada saat itulah dari kejauhan menggema suara ujung baju tersampok angin, menyusul belasan sosok bayangan manusia kembali muncul ditepi gelanggang.

Bayangan manusia saling berkelebat, sekali lagi seratus orang jago lihay yang telah berkumpul itu membentuk sebuah lingkar kepungan yang sangat kuat, Han siong Kie yang hendak menyingkir untuk kesekian kalinya terkurung kembali di tengah kepungan.

Diam2 sianak muda itu merasa terperanjat, ia lihat bayangan manusia yang barusan muncul berjumlah dua belas orang, separuh diantaranya terdapat pula Kui Goan- cu dari partai Khong-tong serta seng gong taysu dari gereja siau lim si.

Atau dengan perkataan lain, diantara enam orang imam serta enam orang padri yang baru saja munculkan diri, ada separuh berasal dari partai Khong tong dan separuh yang lain berasal dari gereja siau lim si.

Keenam orang padri dari gereja siau lim si itu rata2 sudah lanjut usia, mukanya merah seperti bayi, alis putih, kaki telanjang dan sorot matanya biasa2 saja, dari situ dapat diketahui kalau tenaga dalam mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan. sementara itu Kui Goan cu dari partai Kong- tong sudah maju kedepan, katanya. "Bu liang siu hud sicu, aku harap hari ini juga engkau harus memberi pertanggungan jawab kepada kami"

"Tentu saja" sahut Han siong Kie dengan ketus.  "Omitohud " sambung seng gong taysu dari gereja siau lim

si, "kalau memang begitu silahkan siau sicu menyebutkan tempat persembunyian dari gurumu"

"Guruku telah berpulang ke alam baka" "Apa ? Gurumu sudah meninggal dunia?" "Benar"

-000dewi000-