Tengkorak Maut Jilid 19

 
Jilid 19

"SUDAH KAU tanyakan soal ini kepada mereka, tapi mereka tak bersedia memberitahukan kepadamu? bukan begitu?" ujar put to sianseng kembali.

"Aku sendiripun tak dapat memberitahukan soal ini kepadamu, sebab ketika aku berjumpa muka dengan dirinya, permintaannya yang pertama adalah memegang rahasia ini rapat2"

Han siong Kie tertegun dan tak bisa menjawab, akhirnya dia menghela napas panjang dan tertunduk dengan muka sedih.

Put to sianseng menatap sekejap wajah sianak muda itu, kemudian ujarnya lagi:

"Kalau toh engkau adalah ahli waris dari Mi tiong ci mo, dan lagi membawa pula tanda kekuasaan dari seorang ciangbunjin, apakah engkau ada minat untuk menduduki kursi kekuasaan tersebut untuk memimpin istana Huan mo kiong diwilayah Thian-lam?"

"Tentang soal ini, sulit bagiku untuk menampiknya, tapi hal itu bukan tugasku yang terutama, sebab bagaimanapunjuga aku harus menuntut balas lebih dahulu atas dendam berdarah yang menyelimuti diriku"

"Ehmm.. Kalau memang begitu, akupun ikut berharap agar engkau bisa membersihkan kembali Istana Huan mo kiong dari manusia2 laknat, serta membangun kembali perguruan Thian- lam"

Dengan pikiran bimbang Han siong Kie mengangguk, padahal ia tak tahu apa yang dimaksudkan siorang tua itu, walau demikian dia sendiripun tak ingin banyak bertanya, agaknya ia merasa bahwa persoalan itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan mulai sekarang, karena tiada persoalan lain yang dipikirkan olehnya sekarang kecuali membalas dendam serta lenyapkan musuh besarnya dari muka bumi.

"Bocah, duduklah disini" tiba2 Put to sianseng berkata lagi sambil menuding kearah akar pohon disisinya.

"Apakah locianpwe masih ada petunjuk lain?" pemuda itu bertanya.

"Benar, ada suatu persoalan penting hendak kubicarakan lebih dahulu kepadamu dan persoalan ini harus dapat diselesaikan sebelum aku masuk gunung"

Agak tergerak hati Han siong Kie mendengar ucapan tersebut, terpaksa ia maju ke depan dan duduk diatas akar pohon yang di tunjuk.

Dalam pada itu keadaan dari Go Siau bi yang lebih baikan, bengkak merah telapak tanganpun sudah jauh lebih kempes dan baikan-

Dengan pandangan mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Put to sianseng menatap wajah sianak muda itu tak berkedip kemudian ujarnya:

"Aku dengar engkau paling benci pada kaum wanita, benarkah ada kejadian seperti ini?"

Untuk sesaat Has long Kie agak tertegun, akhirnya dia mengangguk.

"Benar"

"Apakah rasa bencimu pada segenap wanita didunia ini disebabkan ibumu kawin lagi dengan pria lain?"

Han siong Kie melongo dan berdiri menjublak, sorot mata bengis dan penuh pancaran napsu membunuh menyelimuti wajahnya sambil menyeringai seram ia menjawab: "Mungkin saja begitu" "Itu berarti pikiranmu keblinger, pendapat yang keliru, dan pikiranmu terlalu cupat."

"Pendapat yang keblinger??"

"Tentu saja, cinta kasih apakah yang bisa menangkan cinta kasih orang tua terhadap anaknya? cuma saja.."

"Aku sendiripun pernah berpikir demikian tapi sayang kadangkala kenyataan memang jauh lebih kejam dari bayangan"

"Bocah muda, ketahuilah seringkali banyak persoalan yang terjadi dalam dunia jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan, dikemudian hari engkau akan paham sendiri dengan keadaan tersebut"

Per-lahan2 Han siong Kie tundukkan kepalanya, andaikata pihak lawan bukan seorang jago tua yang berusia diatas seratus tahun dan lagi mempunyai kedudukan yang sangat terhormat dalam dunia persilatan, mungkin sedari tadi dia sudah berlalu dari tempat itu, sebab selama hidupnya dia paling takut kalau ada orang mengungkap tentang ibunya, sebab disinilah letak luka hatinya yang paling parah.

"Bocah sekarang berilah satu jawaban yang sejujurnya atas sebuah persoalan yang hendak kuajukan kepadamu" terdengar Put lo sianseng berkata kembali.

Han siong Kie agak terperanjat dan segera menengadah keatas memandang wajah orang tua itu, sahutnya dengan tercengang:

"Katakanlah, aku akan bcrusaha untuk menjawab dengan sebaik-baiknya.."

"Apakah engkau mencintai anak Bi?"

Han siong Kie terperangah, begitu tercengang dan kagetnya sampai2 dia loncat bangun dari tempat duduknya, lama sekali membungkam... akhirnya pemuda itu menjawab. "Cianpwee, maafkan aku... aku tak dapat memberikanjawaban yang sebaik-baiknya"

"Kenapa??"

"sebab mimpipun aku tak pernah menyangka kalau cianpwee bakal mengajukan pertanyaan seperti itu"

"Mungkinkah engkau terpengaruh oleh pendapatmu yang keblinger itu hingga tak mampu menjawab??"

"Bukan karena soal itu, tapi yang jelas aku benar2 tak dapat memberikan jawaban yang baik "

" Kalau memang begitu aku hendak mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu, tak lama berselang bukankah anak Bi pernah menyelamatkan jiwamu dari dalam sungai dan merawat lukamu selama beberapa hari dalam kamar tidurnya."

"Aku yang muda masih dapat membedakan dengan jelas mana budi mana dendam, suatu ketika aku pasti akan membalas budi kebaikan ini" tukas Han siong Kie cepat.

"selain itu, bukankah kalian berdua pernah tidur bersama dalam sebuah losmen yang sama setelah engkau menolong jiwanya dari ancaman orang2 Huan mo kiong??"

"Benar sekalipun begitu aku masih belum dapat membalas semua budi kebaikan yang pernah kuterima dari nona Bi"

"Dan sekarang engkau telah menolongnya kembali, dan menggendong tubuhnya kesini"

Han siong Kie berusaha menekan rasa angkuh dan jumawanya kedalam hati, tiba2 ia menengadah dan berkata dengan dingin: "Apa salahnya kalau aku berbuat demikian"

"Masalah nomor satu bagi seorang wanita adalah kesucian badannya" ujar Put to sianseng dengan suara dalam. "meskipun sebagai putra putri orang persilatan memang tak usah mempersoalkan adat istiadat yang serba titik bengek terhadap kebebasan itu toh masih ada batas2nya.."

"Maaf cianpwe, aku bukankah seorang manusia tak bermoral"

"Dengarkan dulu kata2ku, selama engkau beristirahat selama beberapa hari dalam kamar tidurnya bagaimanakah hubungan kalian berdua, selama kalian menginap bersama dalam sebuah kamar losmen- bagaimanakah hubungan kalian, lalu beberapa kali kau peluk tubuhnya, boleh dibilang tubuh kalian sudah saling menempel..." .

Han siong Kie tertegun dan melangkah mundur setindak kebelakang, serunya agak tergagap:

"Jadi.. kalau begitu cianpwe anggap keliru kalau aku memberikan pertolongan kepadanya?"

"Tidak, engkau sama sekali tidak keliru"

"Lalu apa maksud locianpwe mengucapkan kata2 seperti itu.."

"Aku cuma berharap agar engkau dapat menerima usulku" "Apa yang hendak cianpwe usulkan?"

"Ikatlah hubungan perkawinan dengan anak Bi"

Terkesiap hati Han siong Kie mendengar permintaan itu, sekujur badannya bergetar keras, mimpipun dia tak menyangka kalau jago aneh dari dunia persilatan ini hanya mengajukan permintaan seaneh itu .

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia teringat kembali dengan peristiwa yang dialaminya dalam rumah penginapan, dimana orang yang kehilangan sukma beserta putranya telah menyaru sebagai penjual obat kelilingan, bukan saja memusnahkan racun yang mengeram dalam tubuh Go siau bi bahkan hendak menjodohkan pula gadis itu kepadanya dengan menggunakan siasat, selain itu orang yang kehilangan sukma pula yang menyuruh dia masuk kewilayah lian huan tui untuk menolong Go siau Bi.

Ditinjau dari sini dapatlah diketahui bahwa semua yang telah terjadi merupakan suatu rencana besar, dan orang yang menyusun rencana besar itu bukan lain adalah orang yang kehilangan sukma.

Tapi mengapa orang yang kehilangan sukma berbuat demikian, sebenarnya apa yang hendak dia tuju?? Han siong Kie benar2 merasa tak habis mengerti.

Bayangan tubuh Tonghong Hui berkelebat kembali dalam benaknya, ucapannya yang begitu mengenaskan serta cium mesrahnya yang sukar dilupakan...diam2 ia berfikir:

"selama hidup aku Han siong Kin tak akan mencintai perempuan manapun, Kalau di katakan ada maka dia bukan lain adalah Tonghong HHui, saudara angkatku itu, tetapi dia telah pergi.. dalam perkataannya yang terakhir rupanya dia sudah menunjukkan bahwa dia akan tinggalkan diriku untuk selama-lamanya. sementara dia masib termenung, put to sianseng telah berkata kembali.

"Eh bocah, anak Bi amat mencintai dirimu dan lagi kalian sudah ditakdirkan untuk bersatu, apakah engkau masih saja menampik ?" Han siong Kie tertawa getir.

"Locianpwee, keinginanmu tak mungkin bisa kuturuti" "jadi engkau lebih suka anak Bi menikah dengan orang

lain?"

Han siong Kie dibuat menangis tak bisa, tertawapun tak dapat, dengan cepat ia menentang:

"Locianpwee, engkau tidak merasa bahwa pendapatmu itu terlalu dipaksakan?" "Aku bukan sengaja mencari alasan yang di buat2, tapi dalam kenyataan memang begitulah, sepanjang hidupnya anak Bi tak mungkin bisa kawin lagi dengan orang lain"

"Maaf cianpwee, persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan aku"

"Bagaimana kalau dibicarakan dari sudut keadilan dan kebenaran?"

"Aku merasa tidak berkewajiban untuk memikul tanggung jawab tersebut. "

"jadi engkau tak bersedia?"

"Perkawinan adalah suatu kejadian yang maha besar dalam sejarah seorang manusia dan kejadian besar itu tak bolah dipaksakan, sebab kalau tidak maka tiada kebahagiaan yang akan diterima oleh mereka yang bersangkutan"

Put to sianseng terbungkam oleh ucapan tersebut, dalam kenyataan ada dua sebab yang memaksa dia harus berbuat demikian-

Pertama, dia ingin mewujudkan apa yang diharapkan dan diidamkan oieh cucu perempuannya .

Kedua, ia telah menerima permintaan dari orang yang kehilangan sukma..

siapa tahu, akhirnya toh jerih payah tersebut mencapai angka nol besar alias gagal total.

Kenyataan memang demikianlah, tak mungkin seseorang memaksakan kehendaknya dituruti orang lain-

Kembali Han siong Kie termenung beberapa saat lamanya, kemudian sekali lagi dia memberi hormat seraya berkata:

"Apabila locianwe tidak ada urusan lain, ijinkanlah diriku untuk mohon diri" Put to sianseng menganggguk. "Ehmm segala sesuatu yang ada dikolong langit dasarnya memang jodoh, pergilah bocah."

Sekali lagi Han Siong Kie melirik sekejap kearah Go siau Bi yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri, timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya, tapi ia tak berhenti lama, setelah putar badan secepatnya berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung sang pemuda yang jauh meninggalkan tempat itu, Put to sianseng gelengkan kepalanya berulang kali, menanti pemuda itu sudah tak kelihatan ia baru menengadah keatas pohon sembari berseru:

"Banyak persoalan tak bisa ditentukan oleh manusia sendiri, aku rasa kita harus meyerahkan keputusan terakhir pada suratan takdir"

sesosok bayangan maousia bagaikan selembar daun kering melayang turun dari balik rimbunnya dedaunan, ketika mencapai permukaan tanah kelihatan kalau dia adalah seorang perempuan berkain cadar, begitu mencapai tanah dia lantas menjura dalam2 kearah Put-to sianseng.

Dia bukan lain adalah orang yang kehilangan sukma, perempuan misterius itu dengan nada sedih ia berkata:

"sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengatasi kesulitan tersebut, bagaimanapun juga aku harus mengurusinya"

"siapa tahu kalau perkembangan selanjutnya dimasa mendatang sama sekali meleset dari dugaanmu sekarang??"

"semoga saja memang begitu, tapi andaikata apa yang kutebak ternyata benar. aaai Bagaimanakah akibatnya, benar2 sukar dilukiskan dengan kata2"

Walaupun manusia harus berusaha, tetapi Thianlah yang menentukan, kita memang harus berjuang dan berusaha sekuatnya, tapi andaikata akhirnya meleset dari dugaan, apa boleh buat lagi? Aaai karena tragedi yang menimpa keluargaku, terpaksa aku harus muncul kembali dalam dunia ramai. dan sekarang urusan telah beres, rasanya sudah tiba pula saatnya bagiku untuk mengundurkan diri ketempat pengasingan dan tak akan muncul kembali untuk selamanya, bagaimana keadaan esok? biarlah evolusi yang menentukan masing2 pihak" Bicara sampai disitu, dia lantas membopong tubuh Go siau Bi dan berlalu dari situ.

orang yang kehilangan sukma hanya bisa berdiri ter- mangu2 ditempat semula, lama.. lama sekali baru menghela napas sedih, gumamnya seorang diri:

"Yaah.. memang kehendak manusia kadang kala tak bisa terpenuhi, terpaksa aku harus serahkan semua keputusan pada suratan takdir"

Bicara samai disitu diapun enjotkan badan dan meluncur kebalik kegelapan.

sementara itu Han siong Kie yang berangkat tinggalkan put to sianseng berdua, merasakan hatinya amat berat bagaikan dibebani dengan besi seberat ribuan kati, berada di bawah cahaya rembulan ia meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kecurigaan dan rasa tak habis mengerti, lalu berkecamuk dalam hati pemuda ini, terutama sekali dalam peristiwa hendak dijodohkannya Go siau Bi dengan dirinya oleh Put lo sianseng atas prakasa orang yang kehilangan sukma, ia tak mengerti apa maksud dan tujuan dari perempuan misterius itu

?

sementara perjalanan masih dilangsungkan, mendadak terlihatlah sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur kearah samping hutan dan lenyap dibalik kegelapan.

Menyusul mana muncul pula dua sosok... tiga sosok bayangan manusia sehingga akhirnya berjumlah puluhan orang, tujuan mereka sama dan ditinjau dari gerakan tubuh mereka jelas merupakan kawanan jago persilatan yang berilmu tinggi.

sianak muda itu jadi keheranan, selain tercengang diapun merasa agak terperanjat.

Timbulah perasaan ingin tahu dalasm hatinya, ia segera berkelebat kesamping tinggalkan jalan raya dan menyusul kearah mana beberapa puluh bayangan misterius tadi melenyapkan diri

Nun jauh disebelah depan, melesatlah beberapa puluh sosok bayangan hitam tadi kearah sebuah bukit kecil.

Han siong Kie tak pernah ragu, diapun mengikuti pula mendaki keatas bukit tersebut.

Bukit itu amit lebat dengan tumbuhan rerumputan, dibawah sorot cahaya rembulan tampaklah pepohonan siong tumbuh disana sini, dibalik rimbunnya pohon muncul sebuah bangunan kuil yang terpencil letaknya.

Andaikata orang langsung menaiki bakit tersebut, mungkin sulit bagi mereka untuk menemukan letak kuil tadi, berhubung letak bangunan tersebut begitu terpencil dan lagi tertutup oleh semak belukar yang tebal, maka siapa yang tidak membelok dulu kesamping dan masuk dari rusuk atap, tak mungkin akan menduga sampai kesana.

Han siong Kie jadi ragu2, ia tak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini.

Pada saat itulah kembali ada tujuh delapan sosok bayangan manusia meluncur datang, satu ingatan cerdik terlintas dalam benak pemuda itu, cepat ia bersembunyi dibalik pohon menanti rombongan orang2 itu sudah lewat, ia segera kerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling tinggi menyusul dibarisan belakang, dengan demikian apabila ada penjagaan yang harus dilalui maka pastilah dia akan dianggap sebagai anggota rombongan- Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang-orang itu sangat hebat dan sempurna sekali, sepanjang perjalanan mereka bergerak tanpa berhenti, beberapa langkah kaki mereka seakan-akan tidak menempel diatas permukaan tanah.

orang yang bergerak dipaling depan rupanya sebagai pimpinan rombongan, setiap kali bergerak beberapa tombak ia lantas memberikan kode2 tertentu kearah pos penjagaan-

sesaat kemudian mereka sudah sampai di atas puncak bukit, bangunan kuil ditengah lingkaran pohon siong pun sudah terbentang didepan mata.

Cepat2 Han siong Kie meloncat naik keatas puncak pohon, bagaikan seekor kelelawar ia mendekati kuil kuno tersebut dengan langkah yang sangat ber hati2.

Ruang tengah kuil tersebut bermandikan cahaya lilin dan tampak terang benderang, belasan orang tua muda duduk berkerumun disitu sambil berbicara lirih.

Rombongan terakhir tadi masuk ke dalam kuil, seorang kakek tua bermuka seram bermantel benang emas yang duduk di belakang meja kebesaran segera bangkit berdiri, ia menyapu sekejap seluruh ruangan, lalu dengan suara dingin menyeramkan ujarnya:

"Jumlah anggota telah pas dan aku rasa semua orang sudah hadir disini, sekarang pun huhoat akan mengumumkan firman dari kaisar Tee kun serta rencana penggerakan kita pada malam ini"

-ooodewiooo-

BAB 39

MENDENGAR ucapan tersebut, semua orang segeta alihkan sorot matanya ke atas wajah kakek bermantel benang emas itu, suasana dalam ruangan berubah jadi sunyi senyap hingga tak kedengaran sediklt suarapun.

Setelah berhenti sebentar, untuk kedua kalinya kakek bermantel benang emas itu menyapu seluruh ruangan, kemudian sambungnya lebih jauh.

"Tugas kalian semua saat ini adalah berusaha untuk menyelidiki jejak dari Mo mo-cuncu, dia lebih tersohor sebagai Mo-tiong ci mo bagi orang persilatan didaratan Tiong goan sini, menurut laporan dari para pengawal, beberapa waktu belakangan ini dalam dunia persilatan telah muncul seorang pemuda bergelar Malaikat penyakitan yang katanya menjadi ahli waris dari Mo tiong ci mo, bahkan sudah menguasahi penuh segenap ilmu silatnya hingga ia terhitung seorang jagoan ampuh"

Kembali kakek bermantel benang emas ito berhenti sebentar, sambungnya kemudian-

"Menurut laporan terakhir yang masuk, katanya malaikat penyakitan tersebut ternyata bukan lain adalah penyaruan dari manusia berwajah dingin Han siong Kie, usianya baru dua puluh tahunan, paras mukanya sangat tampan, tapi sikap serta tindak tanduknya amat dingin menyeramkan, karenanya indentitas itu gampang ditemukan, jika mau temukan jejak Mo tiong ci mo maka kita harus mencari keparat cilik itu lebih dahulu, lebih baik jangan bentrok secara berhadapan dan kalau bisa tangkap dalam keadaan hidup2, dalam bulan ini juga kaisar akan tiba sendiri kedaratan Tiong goan, oleh karenanya kalian musti berjuang dan berusaha dengan sungguh2"

"Terima perintah" sahut semua anggota perkumpulan dengan sikap menghormat.

Kakek tua bermantel benang emas itu tertawa seram, dari sakunya dia ambil keluar sebuah lencana bulat dan diangkat tinggi2 keudara, hardiknya dengan lantang: "firman dari Kaisar Tee kun"

semua jago lihay yang hadir disana bersama2 bangkit berdiri, muka mereka menunjukkan perasaan serius, sambil bertekuk lutut mereka pasang telinga baik2. Dengan suara dalam kakek itu berkata:

"Lima orang tianglo dari sepuluh tianglo ruang Goan lo wan dari istana kita kini sudah masuk kedaratan Tiong goan, apabila duduk perkara yang sebenarnya berhasil diketahui mereka, akibatnya benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, untuk mengatasi kesulitan tersebut maka Kaisar Tee kun sengaja menurunkan lencana ngo cu wan pay untuk bereskan nyawa kelima orang tiangloo tersebut di sini juga, dari pada mendatangkan bencana dikemudian hari"

Mendengar firman tersebut, semua jago anggukkan kepalanya kemudian baru bangkit berdiri

Kembali kakek bermantel emas itu termenung sebentar, lalu ujarnya lagi dengan muka menyeringai seram.

"Sebentar lagi kelima orang tiang lo itu akan tiba disini, sekarang marilah kita laksanakan tugas seperti rencana semula, kecuali empat tiam cu (ketua ruangan) yang lain boleh tinggalkan tempat ini"

Ditengah berkelebatnya bayangan manusia para jago sama2 bangkit berdiri dan keluar dari ruangan, kini yang masih tinggal disitu cuma empat orang kakek tua bermantel warna merah.

Tak lama kemudian, dua buah meja perjamuan telah disiapkan dalam ruangan-

"Mari kita duduk dalam meja perjamuan sambil menantikan kedatangan mereka" ujar kakek bermantel emas kemudian kepada rekan2nya. Lima orang kakek itupun ambil tempat duduk dimeja perjamuan sebelah kanan, semua orang membungkam sehingga suasana diliputi keheningan-

Malam semakin kelam, bukit yang sunyi diliputi suasana yang tegang dan menyeramkan-

cahaya lilin memancar masuk kedalam ruang kuil, menyinari wajah lima orang kakek tua yang mengerikan, begitu menyeramkan sehingga menggidikkan hati siapapun yang melihat..

Entah berapa lama sudah lewat, tiba2 dari tempat kejauhan berkumandang suara pakaian panjang yang memecahkan kesunyian-

Paras muka kelima orang kakek tua itu berubah jadi tegang, kakek bermantel emas sebera berbisik lirih.

"Mereka sudah datang, kalian harus hati2 dan jangan sampai ketahuan ...ketahuilah mereka berlima tak gampang dilayani" Empat orang kakek bermantel merah itu sama2 mengangguk.

Demikianlah, kelima orang kakek tua itu segera bangkit dan menuju keluar ruang kuil, mereka menunggu kedatangan korbannya dengan mimik yang diperlihatkan seramah mungkin-

Terdengar ujung baju tersampok angin, lima sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa tahu2 sudah melayang turun ke tengah halaman. Buru2 kakek bermantel emas itu maju menyambut, ujarnya sambil menjura. "Pelindung hukum Mo sam yu menyambut hormat kedatangan tiang lo berlima "

Menyusul mana empat orang kakek bermantel merahpun menyebut nama mereka sambil memberi hormat.

"Ketua ruangan penyiksa Pak Ji-hay memberi hormat untuk tiang lo berlima" "Kepala ruangan adat istiadat see Bun kong memberi hormat kepada tiang lo berlima."

"Kepala ruangan pengontrolan dan keamanan Tiong Yu memberi hormat untuk tiang lo berlima."

"Kepala ruangan pelatih teknis Be Yu too menyambut kedatangan tiang lo berlima."

"Tak usah banyak adat" sahut kelima orang tianglo itu sambil ulapkan tangannya.

Dengan langkah lebar mereka masuk kedalam ruangan, dibawah cahaya lilin tampaklah kelima orang tianglo itu bermuka keren berjenggot putih, mereka mengenakan baju sutra yang halus, ditangan masing2 menggenggam sebatang tongkat berkepala setan, usia diantara tujuh puluh tahunan-

Dengan senyum tak senyum pelindung hukum Mo sam Yu berebut maju beberapa langkah kedepan kemudian sambil memberi hormat katanya:

"Tianglo berlima tentunya sudah merasa amat lelah bukan, silahkan minum arak dan bersantap"

Kelima orang tianglo itu mengangguk dan ambil tempat duduk sementara kelima orang ketua ruangan itu ambil tempat duduk pada meja perjamuan yang lain.

sungguh amat ramah pelayanan pelindung hukum Mo sam Yu terhadap junjungannya, ia turun tangan sendiri untuk memenuhi cawan arak kelima orang tianglo itu, kemudian baru kembali ketempat duduknya sendiri

Menyusul mana dua orang pria berbaju hitam muncul sambil menghidangkan sayur dan makanan lezat.

setelah perjamuan berlangsung beberapa waktu lamanya, tianglo bermuka keren yang duduk diujung kiri buka suara, ujarnya dengan suara dalam. "Mo huhoat, aku telah mendengar suatu berita yang mengerikan dalam dunia persilatan, apakah kalian tahu juga tentang berita tersebut??"

Mo sam yu serta keempat orang ketua ruangan menunjukan muka kaget tapi cepat2 mereka berpaling kearah lain-

"Boleh kami tahu kabar apakah itu?? " tanya Mo sam yu kemudian dengan sikap hormat. sekujur tubuh tianglo itu bergetar keras, rupanya ia sedang berusaha menahan emosi dalam hatinya.

"Tahukah kalian bahwa ciangbunjin telah melanggar pantangan yang ditetapkan cousu dan secara diam2 mempelajari ilmu tui hun kang."

Paras muka kelima orang itu berubah hebat, sekujur tubuh merekapun tampak ikut bergetar keras.

"Maksud tiangloo" bisik Mo sam Yu lagi dengan dahi berkerut.

sinar mata yang sangat aneh memancar keluar dari ketua para tianglo tersebut, ucapnya sepatah demi sepatah kata.

" Kaisar Tee-kun dari istana Huan mo kiong telah mengutus orang masuk kewilayah Tionggoan untuk mencari gadis2 persilatan yang akan dihisap hawa dingin koan imnya guna keperluan ilmu Tui hun kang tersebut."

"Ah Masa sudah terjadi peristiwa itu?" seru Mo sam yu pura2 terperanjat "baru kali ini tecu mendengar berita yang luar biasa ini"

"Hmm Andaikata apa yang kuselidiki tidak keliru, maka para tianglo dari ruang Goan lo wan akan menjatuhkan hukuman ang setimpal kepada kaisar sesuai dengan peraturan yang berlaku" suasana dalam ruangan seketika tercekam dalam ketegangan serta keheningan yang luar biasa.

seorang tianglo berhidung samsi bermulut lebar yang duduk disudut kiri mendadak awasi wajah Mo sam yu tajam2, lalu tegurnya dengan secara tajam: "Pelindung hukum Mo, benarkah engkau tak tahu menahu tentang persoalan ini?"

Sekilas cahaya bengis yang menggidikan hati terlintas diatas wajah Mo Sam yu, tapi hanya sebentar saja cahaya itu sudah lenyap kembali. "Tecu benar2 tak tahu, masa kami berani membohongi tianglo berlima?"

"Baik, kalau memang begitu kami akan selidiki persoalan ini hingga duduknya persoalan jadi jelas "

Mo sam yu membungkam dalam seribu bahasa. Dengan wajah serius ketua para tianglo itu berkata lagi:

" Untuk sementara waktu baiklah persoalan ini tak usah dibicarakan lebih dulu, andaikata kenyataan memang begitu.. yaa. kejadian ini benar2 merupakan suatu noda yang amat besar bagi kita, Mo huhoat"

"Ada urusan apa tianglo?"

"Bagai manakah keadaan yang menyangkut tentang diri ciangbunjin generasi yang lalu?"

"Menurut hasil laporan yang berhasil tecu kumpulkan, ahli waris dari ciangbun cousu adalah malaikat penyakitan, dan orang itu tak lebih cuma seorang pemuda yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan, semula dia bernama manusia berwajah dingin Han siong Kie"

"Itu bukan masalah yang penting, persoalannya betulkah dia adalah murid dari ciangbun supek, dan sekarang manusia berwajah dingin ada dimana? apakah sudah diketahui?"

"Tentang soal ini. tecu telah mengerahkan segenap

kekuatan yang ada untuk melakukan penyelidikan. " "Andaikata ciangbun supek masih hidup di kolong langit, paling sedikit usianya sudah mencapai seratus tahun lebih, sampai sekarang aku masih tetap merasa tak habis mengerti, kenapa dia orang tua harus berdiam didaratan Tionggoan hampir lima puluh tahun lamanya"

Tiba-tiba Mo sam yu bangkit berdiri, lalu dengan sikap yang sangat hormat ujarnya kepada kelima orang tianglo tersebut.

"Tianglo berlima, secara kebetulan tecu berhasil mendapatkan seguci arak kenamaan yang nikmat rasanya, orang2 sebut sebagai arak sin sin-tiok ( Arak naik sorga ) kali ini sengaja tecu bawa untuk menjamu tianglo sekalian-."

"Arak naik sorga? aneh benar namanya" seru tianglo ketua dengan nada tercengang. Mo sam yu tersenyum misterius.

"Menurut apa yang tecu dengar, barang siapa minum arak ini maka rasanya seakan-akan sedang naik kesorga, oleh sebab itu orang lantas sebut arak ini sebagai arak naik sorga" katanya.

Habis berkata ia lantas ulapkan tangannya kepada seorang pria baju hitam yang berdiri disamping ruangan serunya: "siapkan arak wangi"

Dengan hormat pria berbaju hitam itu mengiakan lalu berlalu dari situ, selang tak lama dia muncul kembali sambil membawa sebuah botol porselen yang tingginya cuma setengah depa.

Mo sam yu segera maju kedipan dan ia sambut botol arak itu...

Mendadak sebelum botol arak itu tergenggam ditangan, pria baju hitam itu gemetar keras, menyusul tubuhnya terjengkang kebelakang, dengan sendirinya botol arak itupun ikut mencelat sejauh satu tombak lebih dari tempat semula. Paras muka Mo sam yu berubah hebat, ia bergerak maju dan berusaha untuk menyambar botol arak tadi, tapi sayang gerakan tubuhnya ini terlambat satu tindak...

Praang..." botol porselen itu terpecah menjadi beberapa bagian, arak wangi pun berceceren diatas tanah... suatu kejadian aneh berlangsung pula didepan mata, dari ceceran arak wangi itu tiba2 mengepulkan asap tipis yang berwarna hijau. semua orang jadi tercengang, siapapun tak menyangka akan peristiwa tersebut.

Memandang asap hijau yang menguap keudara, paras muka ketua tianglo itu berubah hebat, serunya dengan hati terkesiap: "Aaah. Arak racun-.."

Mendengar seruan tersebut, empat orang tianglo lain yang masih duduk seketika bangkit berdiri, sambil siapkan toya kepala setan masing2, mereka awasi Mo sam yu tanpa berkedip..

Waktu itu paras muka keempat orang ketua ruangan sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat. merekapun serentak bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Mo sam yu menyeringai seram, cepat2 dia enjotkan badan dan mengundurkan diri kesamping keempat tamcu tersebut.

"Mo sam yu" hardik ketua tianglo sambil hentakkan toya kepala setannya keatas tanah, "bagaimana penjelasannya tentang peristiwa ini?? HHmm ayoh jawab" Mo sam yu, pelindung hukum istana Huan mo kiong segera ter bahak2 dengan seramnya.

"Haahh haahh haahh.. apa yang musti kuterangkan lagi Ketahuilah ke lima orang tianglo lain yang masih tertinggal dalam istana, mungkin pada saat ini sudah menunggu dengan tak sabaran di perjalanan menuju kealam baka.."

sekali lagi sekujur badan kelima orang tianglo itu bergetar keras, muka mereka pucat dan mimpipun mereka berlima tak pernah menyangka kalau lima orang tianglo lainnya yang tertinggal diistana Huan mo kiong telah dicelakai pula jiwanya. Betul2 suatu siasat busuk yang sangat mengerikan.

"Mundur" hardik Mo sam yu dengan suara rendah. Berbarengan dengam keempat orang tiamcu tersebut,

serentak mereka berlima mundur kebalik patung arca ditengah

ruangan.

" Keparat busuk. manusia penghianat, kalian hendak kabur kemana?" Bentak kelima oraog tianglo itu hampir berbareng.

setengah bentakan keras, masing2 putar toya kepala setannya siap melancarkan serangan-.

"Enyah kembali kalian" mendadak dari balik patung arca menggema pula suara bentakan keras.

Deruan angin pukulan yang amatsantar berhembus keluar dari balik arca dan menggulung keseluruh ruangan, debu dan atap berguguran keatas tanah, sementara lima sosok bayangan manusia tadi terpental balik kedalam ruangan-

Menyusul mana, sesosok bayangan manusia munculkan diri didepan mata, ternyata orang itu bukan lain adalah seorang pemuda berwajah tampan dan bersikap dingin menyeramkan-

Mo sam Yu serta keempat orang tiamcu itu jadi amat penasaran, begitu mereka terdorong mundur ketempat semula, pada saat yang hampir bersamaan mereka berlima membentak keras dan ber-sama2 melepaskan satu pukulan yang maha dahsyat kearah pemuda tampan tersebut.

Dalam serangan tadi kelima orang tersebut telah menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian, begitu dahsyat daya pukulannya sehingga cukup menggetarkan hati siapapun yang memandang. sianak muda itu langsung putar sepasang telapak tangannya satu lingkaran, kemudian dilontarkan kedepan keras2:

"Blaammm.." ledakan dahsyat menggelegar diseluruh angkasa, ruang kuil itu goncang keras se-akan2 terjadi gempa bumi yang maha dahsyat.

Empat orang tiamcu itu mundur kebelakang dengan sempoyongan, agaknya mereka tak kuat menahan kehebatan serangan lawan-

Kebetulan pada waktu itu lima orang tianglo tersebut sedang menerjang tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

"Blaamm Blaamm keempat orang tianglo itu saling bertukar satu pukulan dengan ke empat tiamcu tadi.

Ketua tianglo tidak berminat untuk mengawasi yang lain incarannya hanya satu yakni Mo sam yu, pelindung hukum tersebut, siapa sangka orang she Mo itu cukup licik, merasa gelagat kurang menguntungkan cepat cepat ia menyelinap keluar dari ruang kuil dan kabur terbirit-birit.

Ketua tianglo itu sama sekali tak menyangka kalau musuhnya licik sekali, melihat kegesitan orang dia cuma bisa mend epakkan kakinya keatas tanah sambil berseru dengan geram:

"Aaai.. akhirnya toh dia berhasil juga kabur dari sini" "Tianglo sekalian, cepat mundur dari sini" mendadak

pemuda itu membentak nyaring.

Dia lontarkan sebuah pukulan dahsyat kedinding belakang ruangan, ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, batu bata dan pasir berguguran keatas tanah, dinding ruangan seketika roboh separuh dan pemuda itupun meluncur keluar lewat celah-celah lubang tadi. Kelima orang tianglo itu cukup cekatan tanpa berpikir panjang mereka segera enjotkan badan dan menyusul keluar.

Memberi peringatan, menjebolkan dinding ruangan serta menerobos keluar dari ruangan walaupun dilakukan secara bertahap namun kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata- kata. Dalam pada itu keempat orang tiamcu itupun sedang memburu keluar lewat pintu ruangan-

Tiba2 terdengarlah suatu ledakan dahsyat yang menggoncangkan seluruh permukaan bumi, diantara percikan bunga api, puing2 berserakan di mana2 pasir dan batu berhamburan keudara, suasana benar2 sangat mengerikan-

Dalam waktu singkat ruang kuil yang megah telah berubah jadi setumpuk puing yang berserakan-,

sementara itu fajar telah menyingsing di ufuk sebelah timur...

Dengan ter-mangu2 lima orang tianglo istana Huan mo kiong yang baru saja lolos dari bencana mengamati ruang kuil yang diledakkan itu, sekujur badan mereka gemetar keras menahan emosi, mimpipun mereka tak mengira kalau anak murid perguruan sendiri ternyata begitu tega untuk melenyapkan tianglonya sendiri.

Empat orang tiamcu serta seorang pria baju hitam yang agak lambat kabur dari ruangan, ikut meledak dan tubuh merekapun hancur ber keping2 hingga tak berujud manusia lagi.

Lama ..lama sekali.. lima orang tianglo itu baru menghela napas panjang dan berpaling.

Dalam pada itu pemuda misterius tadi masih tetap berdiri tenang kurang lebih dua tombak jauhnya dihadapan mereka.

Ketua tianglo itu segera menuju kedepan dan memberi hormat, katanya: "Berkat bantuan dari sauhiap. kami berlima nyaris menjadi korban ledakan musuh...aai budi kebaikan sebesar ini tak akan kami lupakan untuk selamanya"

" Kalian berlima adalah tianglo dari istana Huan mo-kiong?" tegur pemuda itu dengan suara dingin-

"Benar" jawab sang ketua tianglo agak emosi, "dalam ruang goan lo wan dari istana Huan mo kiong, aku menjabat sebagai kepala dari sepuluh tianglo, aku she Tio bernama It hui".

Kemudian sambil menuding empat tianglo lainnya dia perkenalkan pula. "Dia adalah seng Thianpau, Ang sat siu, Liok sau tan serta seh Jin hap"

Mengikuti arah yang ditunjuk. pemuda itu mendengarkan dan mengawasi para tianglo itu dengan seksama, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Menanti dia selesai memperkenalkan diri, barulah Tio It hui berkata kembali:

"Bolehkah aku tahu siapakah nama sebutan sauhiap ??" "Manusia berwajah dingin"

"Ah.. " seruan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian, begitu mendengar disebutkannya nama tadi dengan wajah kerut bercamcur girang kelima oramg tianglo itu segera maju beberapa langkah kedepan, rupanya mereka ingin mengamati bagaimanakah raut wajah manusia yang sedang mereka cari selama ini.

Rupanya pemuda yang telah selamatkan jiwa kelima orang tianglo dari istana Huan mo kiong itu bukan lain adalah manusia berwajah dingin Han siong Kie adanya.

"sauhiap. boleh kami tahu asal perguruanmu?" Ang Pat siu bertanya pula dengan emosi. "Mendiang guruku adalah Mo tiong cimo iblis diantara iblis Tong Leng adanya"

Kelima orang tianglo itu saling berpandangan sekejap. kemudian bersama-sama maju beberapa langkah kedepan-

"Jadi.. jadi kau benar2 adalah ahli waris dari ciangbun supek Tong Ceng?" tanya To It hui dengan tersendat-sendat.

"Ucapanmu tak salah "

"Ah, kau sebut mendiang gurumu? Apakah ciangbun supek dia orang tua.."

"Benar, dia orang tua telah meninggal dunia "

sekali lagi kelima orang tianglo itu bergetar keras, song Thianpau yang berhidung samsi bermulut lebar sebera berteriak lantang: "Masa Ciangbun supek telah meninggal dunia?"

"Benar, aku tidak bohong"

"Sudah berapa lama dia meninggal dunia?" "Dua hari berselang "

"Kau simpan ditmana jenasahnya??"

"Telah kukebumikan ditengah hutan lima puluh li dari wilayah Lian huan tau, disitu sudah kupancang batu nisan sebagai tanda "

"Apakah ciangbun supek meninggalkan pesan-pesan terakhirnya??"

"Ada "

"Bolehkah kami ikut tahu? " sambung Tio It hui dengan cepat.

Han siong Kie merogoh kedalam sakunya dan tiba2 ambil keluar sebuah benda bersinar terang. "Aih..Lencana mutiara setan bengis.." jerit lima orang tianglo itu hampir berbareng. Menyusul mana dengan sikap yang sangat hormat mereka bertekuk lutut sambil menyembah. "Anak murid Thiang lam menghunjuk hormat buat lencana suci peninggalan cousu"

setelah menghormat tiga kali dengan sikap horma,. mereka lantas bangkit berdiri, sementara air mata telah jatuh berlinang membasahi wajah mereka.

sesaat kemudian Tio It hui baru menjura dalam2 kearah Han siong Kie seraya memanggil:

"Menghunjuk hormat buat ciangbun suheng"

Empat tianglo lainpun sama2 ikut menjura dan memberi hormat. .

Menghadapi keadaan tersebut, Han siong Kiejadi gelagapan dengan sendirinya, cepat2 dia balas memberi hormat sambil berseru: "Tianglo sekalian tak usah banyak adat"

To It hui menghela napas panjang, tiba2 ia menengadah keudara dan menghela napas panjang.

"Aaai rupanya sukma cousu masih melindungi anak cucu muridnya, akhirnya lencana suci perguruan dapat kembali lagi ke Thian lam" Kemudian la berpaling kearah Han siong Kie dan bertanya.

"suheng, kapan kau akan pulang ke Thian lam untuk memangku jabatan sebagai ketua perguruan??"

"Tentang soal ini.. sulit bagiku untuk memberi keputusan, apalagi dalam keadaan seperti ini, Aaai yang penting sekarang adalah bagaimana pendapat tianglo sekalian mengenai peristiwa yang telah terjadi pada malam ini?"

Dengan muka murung kelima orang tianglo itu saling berpandangan sekejap. lalu terdengar To It hui menjawab. "Kami merasa betapa gawatnya situasi yang kita hadapi sekarang, terutama sekali dengan penghianatan dari Mo sam yu sekalian, cuma.. kami belum tahu dimanakah letak maksud tujuan mereka??"

Han siong Kie mendengus dingin-

"Hmm Berambisi besar untuk menguasahi perguruan, suatu kejadian yang sangat tidak menguntungkan posisi kita, Aaai Sebelum ajalnya tiba mendiang suhu tak pernah membicarakan soal perguruan kita, dan lagi aku sendiripun- kurang begitu tahu tentang seluk beluknya dapatkah To tianglo memberi keterangan untukku??"

To It hui mengangguk...

"Ayoh kita duduk diatas anak tangga ruang samping sana, aku pasti akan memberi keterangan yang sejelas-jelasnya bagi suheng"

Maka mereka berenampun bergerak ke samping ruangan, dan duduk disitu.

setelah semua orang ambil tempat duduk barulah To It hui menutur dengan suara berat:

"Perguruan Thian lam sudah berusia beberapa ratus tahun lamanya, sejak cousu sampai Tong supek telah mengalami pergantian ketua sebanyak sepuluh generasi, menurut peraturan perguruan maka ciangbunjin disebut pula sebagai kaisar atau Tee-kun, biasanya kedudukan tersebut diturunkan pada murid yang tertua, tapi seandainya terjadi hal-hal yang luar biasa maka para tianglo dari Goan lo wan yang akan pegang pucuk pimpinan untuk sementara waktu. Ketua atau kaisar perguruan kita saat ini bernama Wi Ek beng, dan diangkat sebagai ketua berdasarkan hasil rapat dari para tianglo ruang goan lo wan setelah Tong supek lama lenyap tak berbekas. Han siong Kie anggukkan kepalanya tanda mengerti. sesudah berhenti sebentar, kembali Tio It hui lanjutkan kata2nya:

"Tong supek semuanya punya tiga saudara perguruan, Tong supek menempati kedudukan paling atas, ji supek bernama Bu ih tay, Datuk tanpa bayangan cu siang yakni suheng dari Wi Ek beng yang menjabat sebagai Tee-kun sekarang, sedang kami bersepuluh agak lambat masuk perguruan- maka guru kami adalah Keng thian cu Pilar penyangga langit Hoa Hong yang menempati urutan terakhir.

"Jadi kalau begitu kesepuluh orang tiangloo dari ruangan Goan lo wan sekarang adalah ahli waris dari sam susiok?" sela Han siong Kie dari samping.

"Betul suheng sebagai ahli waris dari toa supek dan lagi mempunyai lencana mutiara ok-kui cupay dari perguruan, itu berarti suhenglah ketua perguruan kami, dan sepantasnya kalau Tee-kun sekarang harus mengundurkan diri dari jabatan dan masuk ruang Goan lo wan sebagai seorang tianglo pula" .

Han siong Kie mengangguk. serunya kemudian dengan suara dalam.

"Dan dari sini pula sumber dari peristiwa penghianatan yang terjadi pada malam ini"

Mendengar perkataan tersebut, kelima orang tianglo itu segera bangkit berdiri, serunya dengan penuh kemarahan-

"Maksud suheng semua rencana busuk dan perangkap terkutuk yang dilakukan penghianat2 itu adalah hasil karya dari Tee-kun wi Ek beng???"

" Tepat sekali "

Paras muka kelima orang tianglo itu berubah hebat, pancaran sinar aneh menyelimuti wajah mereka semua. setelah berhenti sebentar, Han siong Kie melanjutkan kembali, kata2nya.

"Aku rasa kelima orang tianglo yang kini masih tertinggal dalam ruangan Goan lo wan, mungkin saja sudah ditewaskan oleh mereka"

Dengan hati terkesiap kelima orang tianglo itu mundur selangkah kebelakang, bulu kuduk mereka bangun berdiri. Liok sau tan segera meraung keras, serunya:

"Perkataaa suheng tak salah, sebelum tinggalkan tempat ini Mo sam yu penghianat tersebut telah mengatakan pula begitu""

-ooodewiooo-

BAB 40

DENGAN penuh kegusaran To It hui menghentakkan toya kepala setannya kearah tanah, serunya dengan cemas:

"Apa maksudnya ciangbun tee kun berbuat sekeji ini? aku benar2 tak habis mengerti" Perlahan2 Han siong Kie bangkit berdiri, katanya dengan suara mendalam:

"Wi Ek beng berani melanggar peraturan dengan mengutus anak buahnya masuk kedaratan Tionggoan untuk mencari sari perawan anak gadis guna bahan latihan Tui- hun- kangnya, perbuatan ini merupakan suatu dosa besar yang tak dapat diampun lagi, apa lagi setelah mengetahui guruku masih hidup dan untuk pertahankan kedudukannya telah melakukan perbuatan terkutuk itu, dosanya harus ditebus dengan kematian, ketahuilah, meskipun dia kirim Mo sam yu beserta puluhan orang begundalnya datang kedaratan Tionggoan dengan alasan menyelidiki keadaan guruku, dalam kenyataan mereka hendak bunuh para tianglo, guruku serta aku sendiri" Betapa gusarnya kelima orang tianglo itu setelah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, sepasang mata mereka melotot penuh kemarahan, mukanya merah padam, rambutnya pada bangun berdiri dan sekujur badan gemetar keras. Terdengar Han siong Kie berkata lagi:

"Menurut kata2 yang diucapkan penghianat Mo sam yu sebelum kabur, wi Ek beng, ketua Thiam lam sekarang hendak datang sendiri kedaratan Tionggoan untuk menyelesaikan masalah ini, menurut dugaanku setelah kelompok penghianat tadi lolos dari cengkeraman kita, mereka pasti sudah berangkat pulang ke Thian lam untuk melaporkan kejadian ini kepada pemimpinnya"

TO It hui menengadah dan menghela napas panjang. "Aaai Peristiwa ini merupakan suatu bencana besar bagi

perguruan kita, sejak didirikan oleh cousu"

"sute sekalian harus sebera berangkat kembali kewilayah Thian lam" kata Ang Pat siu pula dengan penasaran. "siapa tahu kita bisa mendahului mereka dan mencegah terjadinya tragedi besar? ciangbun suheng, harap kau segera turunkan perintah"

Han siong Kie merasa agak serba salah, dewasa ini dia harus membereskan dahulu teka teki mengenai Tengkorak maut asli dan tengkorak maut gadungan, kemudian berusaha pula merebut kembali kitab pusaka Hud jin popit dan melatih kepandaian itu untuk menuntut balas.

Tapi sekarang, dia sudah diangkat sebagai ketua perguruan istana Huan mo kiong, sudah sepantasnya kalau dialah yang turun tangan menanggulangi penghianatan tersebut. Tanpa terasa ia tundukan kepalanya dan berpikir keras.

Dengan sedih lima orang tianglo lainnya menengadah dan menghela napas, mereka semua semua membungkam dalam seribu bahasa. suasana jadi hening, sepi.. dan tak kedengaran sedikit suarapun, yang terdengar hanya hembusan angin gunung yang sepoy2 sejuk..

Fajar telah menyingsing, sang surya memancarkan sinar ke emas2annya keempat penjuru, dan menerangi pula puing berserakan ditengah kuil serta beberapa sosok mayat yang bergelimpangan disana sini dalam keadaas tak utuh.

Penghianatan terhadap istana Huan mo kiong serta dendam berdarahnya sedalam lautan membuat pikiran dan perasaan Han siong Kie bertambah kalut. Lama...lama sekali, akhirnya sianak muda itu berkata dengan suara berat.

"Tindakan paling baik yang harus kita lakukan sekarang adalah menghadang jalan pergi Mo sam yu sekalian sehingga peristiwa ini tidak sampai tersiar kembali ke Thian-lam, dengan begitu maka Tee kun yang sekarang tentu akan datang kedaratan Tionggoan seperti rencana semula dengan begitu kita pun bisa bereskan mereka dengan mudah, akan sedikit banyak kita bisa mencegah jangan sampai kelima orang tianglo yang masih tertinggal di istana mengalami musibah, sebaliknya kalau kita gagal untuk menghadang kepergian mereka, pihak istana tentu akan menyadari kalau rencana mereka sudah mengalami kegagalan total, kelima orang tianglo itupun tentu akan makin cepat menemui ajalnya, entah bagaimana menurut pendapat tianglo sekalian??"

"Perkataan dari ciangbun suheng memang tepat sekali" sahut To It hui cepat: "Ayoh kita berangkat sekarang juga, persoalan ini tak dapat di tunda2 lagi"

"Baik" Han siong Kie enjotkan badan berangkatkan tinggalkan tempat itu, menyusul kelima orang tianglo mengikuti dibelakangnya.

Enam sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur kebawah gunung dan berkelebat ditengab jalan raya. Han siong Kie dengan tenaga dalamnya sebesar dua ratus tahun hasil latiban menerjang terus kedepan dengan kecepatan luar biasa, apalagi ilmu Cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan sedemikian rupa, membuat kecepatan geraknya sukar dilukiskan dengan kata2,

menyaksikan kehebatan sianak muda itu kelima orang tiang lo tersebut benar-benar merasa sangat kagum.

Dengan usianya sebesar duapuluh tahun namun ternyata sudah menguasahi kepandaian sehebat itu, betul2 suatu kejadian yang langka dalam dunia persilatan.

sampai disini, selain kelima orang tiang lo itu merasa sedih karena penghianatan yang terjadi dalam perguruannya, mereka pun merasa gembira atas keberhasilannya supek mereka menerima seorang murid pandai sebagai penggantinya, dari pemuda inilah diharapkan kecemerlangan serta kejayaan perguruan Thian lam dikemudian hari. Mereka telah menembusi hutan yang lebat jalan raya terbentang luas didepan sana.

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagat, mendadak Han siong Kie menjerit kaget dan segera hentikan perjalanannya. Melihat ciangbun suhengnya berhenti lima orang tiang lo yang mengikuti dibelakang pun ikut hentikan perjalanan:

" Ciangbun suheng, apakah engkau menemukan sesuatu yang aneh?" tegur Ang Pat sin dengan keheranan-

sementara itu To It hui telah alihkan pula sorot matanya kearah yang dipandang pemuda itu, lima tombak ditepi hutan tepatnya diatas sebuah batu besar terletaklah sebuah batok kepala manusia berwarna merah darah. Tak kuasa lagi kakek tua itu menjerit kaget: "Aah Tengkorak darah milik benteng maut"

Mendengar seruan tersebut, paras muka empat orang tiang lo lainnya ikut berubah hebat, meskipun selama ini mereka bermukim diwilayah Thian-lam yang jauh, tapi nama besar Tengkorak maut cukup mereka kenal. apalagi gembong iblis tersebut merupakan seorang datuk lihay yang disegani segenap manusia dikolong langit.

Pemilik benteng maut telah memaparkan lambang mautnya ditepi hutan, itu berarti datuk sakti tersebut berada disekitar tempat itu, lalu apa tujuannya menghadang jalan kepergian mereka?

Seng Thian pan tianglo kedua mundur selangkah dengan muka tercekat, lalu berkata:

"Aku dengar sejak lima belas tahun berselang pintu benteng maut sudah tertutup dan pemilik benteng maut tak pernah muncul kembali dalam dunia persitatan, kenapa lima belas tahun kemudian gembong iblis ini..."

Paras muka Han Siong Kie telah berubah jadi hijau membesi karena menahan emosi, dengan sorot mata tajam ia ulapkan tangannya memotong ucapannya yang belum selesai, kemudian serunya dengan suara mendalam:

"Tianglo berlima tak usah berdiam diri terus, kalian boleh segera tinggalkan tempat ini dan kejarlah murid penghianat Mo Sam yu serta begundal2nya sekuat tenaga."

"Bagaimana dengan suheng sendiri" tanya Sah Jin tap dengan alis mata berkerut.

"Setelah urusan disini selesai, aku segera menyusui kalian " "Tapi suheng adalah seorang ciangbunjin, kami berlima tak

akan berlega hati"

"Segera tinggalkan tempat ini Persoalan paling penting yang harus kita kerjakan sekarang adalah mengejar serta menghadang Mo Sam yu sekalian pulang ke Thian lam."

"Apakah suheng akan bertarung??" "Tak mungkin kemunculan tengkorak maut hanya suatu kebetulan saja, karena itu aku suruh kalian segera tinggalkan tempat ini "

"Tentang soal ini" To it hui masih kelihatan agak ragu2. "Tak usah banyak bicara lagi, ini perintahku" tukas Han

siong Kie cepat.

Dengan alis mata berkenyit kelima orang tianglo itu saling berpandangan sekejap. akhirnya mereka menyahut berbareng:

"Hamba sekalian terima perintah dari cianbunjin-" tanpa banyak bicara lagi berangkatlah merela tinggalkan tempat itu.

Rupanya Han siong Kie dapat merasakan bahwa kemunculan tengkorak maut dalam keadaan begini pasti bukan karena kebetulan saja, bagaimanapun juga baik dia adalah tengkorak maut gadungan atau tengkorak asli, tenaga dalam yang dimiliki luar biasa sekali, jika kelima orang tianglo itu tetap berada disini, maka suatu kemungkinan terjadinya bencana tak bisa dihindari.

selain itu diapun kuatir kalau Mo sam yu sekalian manusia2 penghianat yang sedang melarikan diri berhasil menuju Thian lam atau bergabung kembali dengan Tee kun istana Huan mo kiong saat ini, jika sampai terjadi hal begitu, niscaya keadaan akan semakin kalut.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, dia berjalan dengan kecepatan luar biasa, apalagi kalau mengerahkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, niscaya kelima orang tianglo itu tak akan mampu menyusul dirinya.

oleh sebab itulah dia ambil keputusan untuk membiarkan kelima orang tianglo itu berangkat lebih dahulu, kemudian ia baru akan menyusul dari belakang. Tetapi diantara kesemuanya itu, yang paling penting Tengkorak maut adalah musuh besarnya, dia hendak membuktikan manakah musuh besar yang sebenarnya diantata tengkorak maut asli dan gadungan, disamping itu diapun hendak merampas kembali pusaka Hud jiu po pit yang telah dirampas tengkorak maut gadungan, ia tak ingin orang lain ikut serta dalam pembalasan dendam ini.

Karena itulah setelah berpikir beberapa kali, akhirnya dia ambil keputusan untuk mengusir kelima orang tiang lo itu dari situ.

setelah anak buahnya berlalu, selangkah demi selangkah Han siong Kie mendekati tengkorak berlepotan darah yang ada diatas batu besar itu.

serentetan suara tertawa yang menggidikkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia berwana hijau berkain cadar hitam munculkan diri dari balik pepohonan yang lebat.

Han siong Kie terkesiap. cepat2 dia hentikan langkah kakinya.

Tanpa disadari suasana dalam hutan itu diselimuti oleh kemisteriusan serta kengerian yang mencekam.

Bayangan manusia itu tidak terlalu asing bagi Han siong Kie, sebab orang itu bukan lain adalah tengkorak maut.

Menyusul kemunculan tengkorak maut, Han siong Kie merasakan darah panas dalam rongga dadanya bergelora keras, dengan sepasang mata yang tajam menggidikan hati ia awasi musuhnya tanpa berkedip..

Dengan langkah yang cepat Tengkorak maut mendekati batu cadas tadi dan menyimpan kembali lambangnya, kemudian sambil tertawa seram katanya:

"Manusia berwajah dingin, per-tama2 kuucapkan selamat lebih dahulu kepadamu, karena kau sudah diangkat menjadi Tee kun dari perguruan Thian lam" Han siong Kie mendengus dingin. "Hmm Tengkorak maut, aku sedang mencari jejakmu"

"Bagus sekali, akupun sedang mencari engkau"

Dengan sorot mata yang tajam Han siong Kie menyapu sekejap kearah telapak tangannya, kemudian sambil tertawa dingin ejeknya:

"Heehh heehh .heehh.. rupanya engkai sengaja mencatut nama Tengkorak maut untuk bikin keonaran?"

"Ucapanmu tepat sekali, pandangan matamu memang cukup tajam, tidak salah dugaanmu memang tepat dan akupun tidak bermaksud untuk menyangkal"

Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar, ia merasa sebelum pertarungan di langsungkan maka pertama2 dia harus berusaha untuk merampas kembali pusaka Hud jiu po pit yang kena direbut musuhnya itu, kemudian baru membuktikan apakah dialah Tengkorak maut yang sudah membasmi keluarga Han pada lima belas tahun berselang.

setelah ambil keputusan, dia segera melayang maju sejauh delapan depa kedepan dan menegur:

"Tengkorak maut.. bawa kemari" "Apanya yang bawa kemari" "Kitab pusaka Hud jiu po pit"

"Haahhh haahhh haaahh jangan kuatir, aku memang punya maksud untuk mengembalikan kepadamu"

Han siong Kie agak tercengang, ia merasa perkataan itu sama sekali tak percaya Tengkorak maut akan mengembalikan pusaka Hud jiu po pit kepadanya? Mungkinkah dibalik kejadian ini masih terselip rencana busuk lain?.

" Engkau akan mengembalikan kepadaku? " ulang pemuda tersebut dengaan nada tercengang. "Benar, pusaka Hud jiu po pit terdiri dari satu pasang, siapa tahu berada yang sebelah sudah tertanam dimana? buat aku, tak ada gunanya "

" Kalau memang begitu.. bawa kemari"

Tengkorak maut gadungan merogoh sakunya dan ambil keluar pusaka Hud jiu po pit tersebut dari sakunya. kemudian sambil diacungkan diudara katanya: "Nah, barangnya ada disini "

Han siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, serunya dengan segera:

" Engkau betul2 akan mengembalikan benda itu kepadaku?"

"Tentu saja, masa bohong?"

"Hmm Aku tahu, tentunya kau punya maksud lain dibalik pengembalian tersebut"

"Hehhmm.. Tidak malu menjadi ahli waris dari Mo tiong ci mo, engkau memang cukup cerdik"

"Apa tujuanmu?" seru Han siong Kie kemudian dengan muka berubah jadi dingin.

"Aku hendak mengajukan sebuah syarat sebagai pengganti dari benda pusaka ini"

"Pertukaran syarat?" "Benar, pertukaran syarat" "Apa syaratmu?"

" Engkau pernah masuk kedalam benteng maut bukan?"

Tergerak hati Han siong Kie, ia lantas bertanya sendiri didalam hati apa tujuannya Tengkorak maut gadungan mengajukan pertanyaan tersebut?. sesudah ragu2 sebentar, akhirnya dia menjawab: "Benar, memang begitu keadaannya" "Nah, disinilah letak persyaratan yang hendak kuajukan kepadamu"

"Coba katakan "

Tengkorak maut gadungan tertawa seram lalu ujarnya. "Manusia berwajah dingin, sebelumnya aku hendak

beritahu dulu kepadamu, jika kau tidak sanggupi syaratku ini

maka jangan harap kau bisa mendapatkan kembali pusaka Hud jiu po pit ini"

Han siong Kie mendengus dingin, ia lantas berpikir dalam hatinya.

"Entah syarat apa yang hendak dia ajukan, tapi yang jelas syarat tersebut pasti ada hubungannya dengan perjalananku masuk kedalam benteng maut, untung posisiku lebih menguntungkan. "

Berpikir sampai disini, dengan angkuh ia lantas menjawab. "Aah Belum tentu begitu"

"Baik, bagaimana kalau kita bicarakan pertukaran syarat??" "Coba katakan, kalau memang masuk diakal akan

kupertimbangkan sebaik-baiknya."

"Asal engkau bersedia untuk menerangkan tujuanmu masuk kebenteng serta apa yang kau lihat selama dalam benteng, pusaka Hud jiu po-pit ini segera kukembalikan kepadamu."

Han siong Kie putar otak dan berusaha menyelami jalan pikiran orang, ia tahu Tengkorak maut gadungan pasti mempunyai tujuan tertentu dengan perbuatannya itu, kalau tidak tak mungkin ia rela mengorbankan pusaka Hud jiu po pit hanya dikarenakan ingin mengetahui keadaan dalam benteng maut. Diapun mulai berpikir2 siapakah pembantai keluarganya? Tengkorak maut yang asli? ataukah Tengkorak maut yang gadungan?.

Dia kuatir, seandainya pembantai tersebut dilakukan Tengkorak maut gadungan, maka jika dia bocorkan rahasia benteng maut bukankah sama halnya dengan bikin celaka orang yang tak bersalah? apalagi orang itu adalah ayah Tonghong Hui kekasih yang dicintainya. Berpikir sampai disitu, dia lantas menjawab dengan ketus: "sayang tak dapat kupenuhi"

"Kenapa?" tanya Tengkorak maut gadungan agak tercengang.

"Bisa saja kalau kau ingin tahu tujuanku masuk kedalam benteng, tapi aku tak dapat memberitahukan kepadamu tentang apa yang kulihat dalam benteng tersebut".

"Jadi kau tidak ingin memperoleh kembali pusaka Hud jiu po pit ini..?"

Han Siong Kie mendengus dingin, bukan menjawab dia malahan balik bertanya: "Dan kau anggap aku sama sekali tak berkemampuan untuk merebutnya kembali?"

"Siapa tahu kalau memang begitu?"

"Bagaimana kalau kita buktikan saja? " seraya berkata tubuhnya lantas bergerak kedepan slap melancarkan pukulan dahsyat...

"Eh tunggu sebentar?" tiba2 Tengkorak maut gadungan berseru sambil mundur selangkah kebelakang.

"Apa yang hendak kau katakan lagi?" "Urusan ini, biariah aku yang mengalah" "Engkau bendak mengalah?"

"Benar, akan kuturuti saja syaratmu itu" Han Siong Kie agak termenung, kemudian ujarnya:

"Kalau memang begitu, akan kuberitahukan kepadamu, aku mendapat perintah dari mendiang guruku untuk mewakili dia orang tua berduel dengan Pemilik benteng maut".

"Apa? kau tantang pemilik benteng maut untuk berduel?" "Benar, dapat pula dikatakan kita beradu kepandaian untuk

mengetahui siapa yang lebih tangguh."

"Kenapa begitu?"

"Maaf, tak dapat kuberitahukan kepadamu" "Dan akhirnya kau kalah, bahkan kalah secara

mengenaskan bukan? " seru Tengkorak maut gadungan dengan cepat.

"Berdasarkan apa engkau dapat mengatakan demikian ?" "Manusia berwajah dingin, untuk mengalahkan aku saja

kau belum mampu, apalagi menghadapi pemilik benteng maut

yang ber kali2 lebih hebat.." Han siong Kie tertegun dan tak mampu menjawab.

-000dewi000-