-->

Tengkorak Maut Jilid 18

 
Jilid 18

TANPA terasa sianak muda itu teringat kembali akan penjara batu dalam markas besar perkumpulan Thian che kau, serta cara mereka untuk menghukum mati para tawanannya, tanpa terasa hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri

Andai kata Go siau Bi benar2 sudah tertangkap. mungkin malaikat yang turun dari khayanganpun belum tentu bisa menolong dirinya lepas dari cengkeraman musuh.

Berpikir sampai disitu, dia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur kedalam lembah, bagaikan serentetan cahaya tajam secepat kilat ia menerobosi lembah dan batuan cadas.

Sepanjang perjalanan, seringkali ia berpapasan dengan jago lihay yang berlalu lalang disana, tapi tidak seorangpun dapat menghalangi jalan perginya, bahkan ada pula diantara mereka yang mengira pandangan matanya telah kabur, siapapun tidak menduga kalau malaikat elmaut telah muncul diantara mereka.

Beberapa taat kemudian, sampailah sianak muda iiu disebidang tanah datar yang luasnya setengah hektar, tempat ini merupakan jalur pertemuan dari jalan lembah yang membentang di empat penjuru.

Hampir seratus sosok bayangan manusia melingkar bentuk sebuah lingkar kepungan, seorang gadis yang bermandikan darah berada ditengah kepungan tersebut, dia bukan lain adalah Go Sau Bi yane datang kesitu untuk menutut balas, disekitar tubuhnya bergelimpangan hampir mendekati dua puluh sosok mayat.

Suasana ditengah gelanggang sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Han Siong Kie bagaikan sesosok setan menerobos masuk diantara lingkaran manusia itu. ternyata tak seorang manusiapun yang merasakan akan kehadirannya.

Kurang lebih tiga tombak dihadapan Go Siau Bi, berdirilah seorang marusia aneh berkain cadar hitam.

Begitu menjumpai manusia aneh berkain cadar itu, Han Stong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dia masih ingat ketika untuk pertama kalinya dia terjun kedalam dunia persilatan tempo dulu, manusia aneh ini pernah murculkan diri diartara para jago persilatan yang menyerbu benteng maut. orang itu dia kenali sebagai ketua perkumpulan Thian che kau.

Sementara itu ketua dari perkumpulan Thian che kau dengan suara yang dingin menyeramkan sedang berkata memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad :

"Nona Go, memandang diatas wajah kakekmu Put lo sianseng. aku tidak ingin menyusahkan dirimu, aku harap engkau bisa menyudahi pertarungan itu sampai disini saja!”

"Tutup mulutmu !” bentak Go Siau Bi dengan marah." tujuan dari kedatanganku ke mari adalah untuk menuntut balas atas kematian dari mendiang ayahku, sebelum dendam ini berhasil kutuntut balas, aku tak akan meninggalkan tempat ini!"

"Bukankah sudah berulang kali aku menjelaskan bahwa peristiwa itu hanya merupakan suatu kesalahan paham belaka?

"Nona telah membinasakan hampir dua puluh orang jago lihay ku, masa darah yang mengalir dari tubuh mereka harus mengalir dengan sia sia belaka??"

"Hmm salah paham?? kupu warna warni Li In Hiang adalah algojonya, sedang engkau ketua perkumpulan Thian che kau adalah otak dari pembunuhan berdarah ini" "Haaah haaah haaah jadi nona menghendaki batok kepalaku ini?" ejek ketua perkumpulan Thian che kau sambil tertawa ter bahak2.

"Tentu saja"

"Engkau anggap apa yang kau inginkan bisa terpenuhi dengan begitu saja??"

Mendadak... dari luar gelanggang berkumandang suara jeritan lengking, diikuti sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang masuk kedalam gelanggang.

Jeritan kaget berkumandang diempat penjuru, seluruh jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir ditengah gelanggang sama-sama mundur kebelakang dengan ketakutan, suasana kontan jadi gaduh dan gempar sekali.

"Aaah.. manusia muka dingin" "Manusia bermuka dingin”

Orang yang menerjang masuk kedalam gelanggang memang bukan lain adalah Han siong Kie, ditangannya dia mencekal sesosok manusia.

"Blaaamm.." bayangan manusia yang berada dalam genggamannya itu segera dibanting kedepan kaki Go siau Bi.

Ternyata ketika Han siong Kie sedang mengawasi suasana dalam gelanggang pertarungan, tiba2 ia saksikan kupu warna warni Li In Hiang yang terluka sedang dipapah mendekati tempat kejadian, ia jadi sangat kegirangan, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat perempuan itu diterjang dan ditotok jalan darahnya, kemudian dibawa masuk kedalam gelanggang.

Menyaksikan kemunculan sianak muda itu, Go siau Bi merasakan hatinya bergetar keras, dia sama sekali tidak menyangka kalau secara tiba2 Han siong Kie bisa munculkan diri ditempat itu, bahkan membawa pula kupu warna warni Li In Hiang yang merupakan pembunuh dari ayahnya, untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu musti mengatakan cinta atau benci, dengan ter-mangu2 gadis itu hanya bisa memandang wajah pemuda pujaan hatinya.

Dengan pandangan yang sangat dingin Han Siong Kie melirik sekejap kearah ketua perkumpulan Tbian che-kau, kemudian sambil berpaling ujarnya kepada Go Siau Bi :

"Nona Go, inilah pembunuh ayahmul"

Setelah tertegun untuk beberapa saat lamanya, tiba2 ketua perkumpulan Thian che kau menengadah dan tertawa ter- bahak2. suaranya keras dan amat menusuk pendengaran,

"Haaahh..haaahh..haaahh.. manusia bermuka dingin, malaikat penyakitan, sungguh kebetulan sekali kehadiranmu pada siat ini...aku memang sangat meagharapkan kedatanganmul"

"Ada apa??”

"Aku akan menghancur lumatkan tubuhmu kemudian membakar mayatmu sehingga menjadi abu"

Dipihak lain, Go Siau Bi dengan suara yang amat memilukan hati sedang berseru keras.

“Oooh….. ayah! ananda akan meaghancurkan pembunuh ini untuk membalaskan dendam sakit hatimu! '

Telapak tangannya segera diayun dan menghajar tubuh kupu warna warni Li In Hiang yang sedang ketakutan setengah mati diatas tanah.

Kaucu dari perkumpulan Thian che kau segera mendengus dingin, dia bergerak maju kedepan.

Pada saat yang bersamaan, Han Siong Kie dengan suatu gerakan yang amat cepat pula bergerak pula kedepan menghadang jalan pergi gembong iblis itu. Suatu jeritan kesakitan yang memilukan hati bergema memecahkan kesunyian, tubuh kupu warna warni Li In Hiang terhajar telak sehingga batok kepalanya hancur berantakan, isi benak dan darah kental bermuncratan keempat penjuru, kematiannya mengerikan sekali. 

Dalam perkumpulannya, ketua perkumpulan Thian che kau boleh dianggap melebihi dewa. kehebatan ilmu silat yang dimilikinya belum pernah bisa dibayangkan oleh anak buahnya, dan semua orangpun belum pernah menyaksikan ketua mereka turun tangan sendiri.

Ketika Go siau Bi datang untuk menuntut balas tadi, sang kaucu ternyata tampil sendiri untuk menyelesaikan persoalan itu, dan sekarang berada didepan matanya seorang ketua tongcu yang disegani orang ternyata dibunuh musuh tanpa ia sanggup mencegah atau menghalanginya, kejadian ini dengan cepat menggusarkan hatinya.

Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah ketua perkumpulan Thian che kau, apa lagi setelah seorang anak buahnya dibunuh dalam keadaan yang mengerikan, tanpa mengucapkan pepatah katapun hawa murninya dihimpun ke dalam tubuh, kemudian sepasang telapak tangannya laksana sambaran kilat menerjang tubuh si anak muda itu.

Jarak diantara kedua belah pihak hanya terpaut beberapa depa saja, pukulan tersebut dengan dahsyatnya segera meluncur ke depan-

Secara otomatis Han siong Kie putar telapak tangannya dan membendung datangnya ancaman tersebut.

"Blam" ditengah benturan keras, tubuh Han siong Kie tergetar keras sehingga mundur delapan depa kebelakang dengan sempoyongan, darah panas bergolak dalam rongga dadanya dan hampir saja muntah ke luar. Go siau Bi yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya, segulung angin pukulan berpusing dengan cepat dilontarkan kedepan

Bagaikan sesosok setan gentayangan, ketua perkumpulan Thian che-kau itu membentuk gerakan setengah lingkaran diudara, kemudian sekali lagi dia lancarkan serangan maut kearah Han siong Kie.

Menyaksikan kelihayannya, dia sama sekali tidak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan ternyata jauh lebih tinggi daripada apa yang dibayangkan semula, dengan cepat langkah kakinya bergeser ke samping, sementara tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat dengan sepenuh tenaga sepasang telapak tangannya didorong kedepan untuk membendung ancaman tersebut. "Blaam.." "kembali terjadi benturan keras yang amat memekakan telinga, sekali lagi Han Siong Kie tergetar mundur tiga langkah kebelakang.

Bentakan nyaring menggeletar diangkasa Go Sian Bi menerjang datang dari samping gelanggang, dengan melontarkan sebuah pukulan yang sangat hebat dia serang ketua dari perkumpulan Thian che kau itu.

Dengan cepat suatu pertarungan sengit yang jarang terjadi dikolong langitpun berlangsung ditempat itu, kedua belah pihak sama2 mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha merobohkan lawannya secepat mungkin.

Namun kekuatan dari ketua perpumpulan Thian che kau itu memang luar biasa sekali meskipun Go Siau Bi harus bekerja sama degan Han Siong Kie. namun kekuatan gabungan merekapun hanya mampu menahan musuhnya dolam kedudukan seimbang. Semua jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir disekeliting gelanggang hanya bisa mengikuti jalannya pertarungan itu dengan mata terbelalak mulut melongo

Hati mereka kebat kebit tak keruan sebab selama hidup belum pernah mereka saksikan pertarungan sengit yang begitu seru dan dahsyatnya.

Puluhan gebrakan sudah lewat dengan cepat. akan tetapi kedua belah pihak masih tetap berada dalam keadaan seimbang, siapa pun tak mampu untuk merobohkan musuhnya, tapi kenyatan dengan jelas menunjukkan apabila pertarungan itu berlangsung dalam jarak waktu yang cukup lama, maka akhirnya toh yang rugi adalah Han Siong Kie serta Go Siau Bi dua orang.

Selama pertarungan berlangsung, tiada hentinya Han Siong Kie mengeluarkan ilmu jari Tong kim ci untuk mendesak musuhnya, tetapi gerak tubuh lawan ibaratnya sukma gentayangan saja. sebentar melayang kesana sebentar bergerak kemari sukar sekali untuk diikuti dengan cermat, hal ini membuat sianak muda itu tak berani melancarkan serangan secara gegabah sebab ia kuatir salah melukai Go Siau Bi.

Jurus2 serangan yang dipergunakan kedua belah pihak sama2 merupakan jurus serangan yang paling ampuh dikolong langit. para jago yang bertenaga dalam agak rendah hampir boleh dibilang sama sekali tak mampu untuk mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.

Serentetan bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, Go siau Bi kena dihantam sampai tergetar mundur beberapa tombak kebelakang.

"Blaamm. Blaamm. Blaamm." tiga benturan keras bergema saling susul menyusul, secara beruntun Han siong Kie telah saling beradu kekerasan sebanyak tiga kali dengan ketua perkumpulan Thian che kau. Tiga bentrokan itu begitu lewat, dengan sempoyongan Han siong Kie tergetar mundur beberapa langkah kebelakang, tak kuasa lagi dia muntah darah segar.

Go siau Bi membentak nyaring, melihat sianak muda itu terluka dengan cepat ia menubruk kemuka sambil melepaskan serangan dahsyat.

"Blaaamm.." kembali benturan keras terjadi diudara, terjangan Go siau Bi berhasil digagalkan oleh lawan, malahan tubuhnya segera terlempar ke belakang..

Ketua perkumpulan Thian che kau menyeringai seram, sepasang telapaknya diayun secara beruntun menghajar tubuh Han siong Kie yang telah terluka...

Merasakan datangnya ancaman maut, Han siong Kie cepat menyingkir kesamping untuk menghindar, kemudian dengan mengembangkan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat dalam gerak bertahan, ia kunci seluruh bagian tubuhnya dari ancaman lawan-. Ketua perkumpulan Thian che kau tertawa seram.

"Heehhh.. heehh...heehhh.. Manusia bermuka dingin, hari ini jiwamu harus melayang tinggalkan raga"

Pukulan hawa dingin dan pukulan hawa panas dengan suatu gerak menggunting segera meluncur kedepan menghancurkan tubuh musuh.

Han siong Kie amat terperanjat, tergencet oleh dua macam angin pukulan yang berbeda unsur itu, jurus serangannya segera terbendung dan rasanya tak mampu dikembangkan lagi, disaat ia agak tertegun itulah sebuah pukulan musuh berhasil menerjang jalan darah tiong tong hiat di atas dadanya.

Pemuda itu amat terperanjat dan merasakan sukmanya merasa melayang tinggalkan raganya, secara otomatis telapak tangan kirinya menyanggah pukulan itu, kemudian jari tengah dan telunjuk tangan kanannya Menyentil kemuka... Dua gulung desiran angin serangan yang amat tajam segera meluncur kedepan dan menyerang tubuh musuh.

"Blaaammm l" bentrokan nyaring bergema diangkasa

diikuti terdenganya dengus kesakitan-

Han siong Kie merasakan telapak kirinya sakit sekali bagaikan tulangnya telah patah, untung dia menyanggah pukulan musuh tepat pada saatnya sehingga jalan darah tiong tong hiat diatas dadanya tidak terhajar telak.

Kendatipun begitu, hawa tekanan yang maha dahsyat sempat menghantam pula dadanya keras2, sehingga membuat darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia roboh tak sadarkan diri ke atas tanah.

Dada ketua perkumpulan Thian-che kau tak luput pula dari serangan balasan sianak muda itu, darah segar nampak memancur keluar dari mulut luka, sentilan jari Tong kim ci yang dilepaskan Han siong Kie disaat yang terakhir cukup membuat jago tua itu menderita luka yang amat parah.

Pada saat yang bersamaan itulah Go siau Bi menerjang maju kedepan, sebuah pukulan yang dahsyat dilontarkan kearah ketua perkumpulan Thian che kau.

"Blaaamm ." jerit kesakitan kembali berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh Go siau Bi terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula dan tak sanggup bangkit kembali.

Ketua perkumpulan Thian che kau sendiri pun tak kuasa menahan diri, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah ke belakang, ia berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, tapi ia akhirnya roboh juga keatas tanah.

Bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, belasan orang jago lihay perkumpulan Thian che kau ber sama2 maju kedepan dan menerjang musuh2 mereka yang telah terluka.

Han siong Kie bertindak cekatan, ia tak ingin mati konyol ditangan musuh2nya, dengan sigap ia sambar tubuh Go siau Bi kemudian membawanya kabur keluar lembah.

"Perintahkan semua pos untuk menutup segenap jalan keluar dari lembah ini" hardik ketua perkumpulan Thian che kau dengan suara nyaring.

Cahaya api berwarna merah segara meluncur keudara dan meledak diangkasa, bunga api memancar keempat penjuru. . .

Ledakan bunga api itu merupakan tanda khusus dari perkumpulan Thian che kau untuk memberitahukan kepada segenap anggota perkumpulan agar bersiap sedia menghadapi serangan musuh.

semua jago lihay perkumpulan Thian che kau yang hadir dalam gelanggangpun tidak ambil diam, mereka semua segera memencarkan diri menuju kearah mulut2 lembah yang terletak dipelbagai tempat.

Dalam pada itu, Han siong Kie yang mengempit tubuh Go siau Bi dengan mengerahkan ilmu gerak tubuh Kilatan cahaya lintasan bayangan meluncur kearah luar lembah.

Baru saja dia melampaui tiga buah lorong sempit yang banyak terdapat dalam lembah itu, tiba2 dari arah depan berkumandang suaara pekikan nyaring disusul angin tajam berdesiran diangkasa, anak panah yang be-ribu2 batang banyaknya dipanahkan kearah tubuhnya dari pelbagai penjuru yang berbeda.

serangan gencar itu menghentikan gerak tubuhnya, Han siong Kie segera memperketat kempitannya atas tubuh Go siau Bi, sementara telapak tangan kanannya melancarkan angin pukulan yang berlapis2 untuk menyapu bersih hujan anak panah yang diarahkan kepadanya.  Dalam waktu singkat, seluruh permukaan tanah disekeliling tempat itu sudah berserakan anak panah setebal beberapa depa.

Kendatipun begitu, hujan anak panah masih tidak menunjukkan tanda akan berhenti malahan kian lama kian bertambah gencar membuat setiap ruang kosong yang ada disekitar sana selalu dipenuhi oleh desiran angin tajam.

Han Siong Kie menguatirkan keselamatan dari Go siau Bi, disamping itu harus pula mempertahankan diri sendiri, tentu saja kian lama pemuda itu kian merasa bertambah payah.

-000dewi000-

BAB 37

PEMUDA itu sadar, apabila hujan anak panah masih berlangsung terus dalam keadaan begini, kendatipun sapuan2 nya berhasil membuyarkan ancaman yang datang, namun lama kelamaan dia pasti akan kehabisan tenaga dan akhirnya tak mampu mempertahankan diri.

Kedua belah sisi mulut lembah merupakan dinding tebing yang curam dan membumbung tinggi ke angkasa. kemungkinan besar diatas tebing itupun sudah disiapkan orang, untuk menerjang keluar dari tempat itu jelas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Han Siong Kie yang terjebak kedalam barisan anak panah, bukan saja tak mampu melanjutkan perjalanannya bahkan telapak tangannya sama sekali tak dapat berhenti, setengah perminuman teh kemudian seluruh jidatnya sudah basah oleh air keringat.

sejak menderita luka sampai saat itu, belum ada sekejap waktupun baginya untuk atur pernapasan, apalagi menyembuhkan lukanya, karena itulah tenaga murni yang di milikinya makin lama makin bertambah lemah.. situasi kian lama kian bertambah tegang dan kritis, bunga api bertebaran diangkasa, hujan anak panah kini telah berubah jadi bunga api.

Han siong Kie semakin terperanjat lagi, sukmanya terasa bagaikan melayang tinggalkan raganya, diam2 ia berbisik didalam hati: "Aduuuh celaka, anak panah berapi"

Ditengah gulungan angin pukulan yang menderu-deru, untuk sesaat anak panah berapi itu tak mampu mendekati tubuhnya, tapi telah membakar tumpukan panah yang berserakan d iempat penjuru, sebentar kemudian kobaran api telah bermunculan dimana-mana, disekitar tempat itupun berubah jadi lautan api.

Melihat gelagat kurang menguntungkan Han Siong Kie sebera menghimpun sisa tenaganya yang dimilikinya dan dilontarkan ke arah depan, kemudian badannya meluncur kearah daerah yang tak terjangkau oleh kobaran api, dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berkelebat masuk kedalam sebuah lorong lain.

setelah berada dalam lorong itu, hujan anak panahpun segera berhenti.

secara beruntun Han siong Kie memasuki beberapa buah lorong lainnya, cahaya api diarah belakang sudah tak kelihatan lagi.

Ia menghembuskan napas dalam2, Go siau Bi yang berada dalam kenpitannya dibaringkan keatas tanah, keadaannya pada waktu itu benar2 mengenaskan sekali.

Lian huan tau terletak disuatu daerah yang terlindung oleh bahayanya keadaan medan, bukan saja lorong dalam lembah mempunyai cabang yang berjumlah diatas ratusan, apalagi setelah dibangun pula oleh manusia pandai, keadaan ditempat itu jauh lebib berbahaya lagi, salah2 seorang yang terjebak di situ bisa mati konyol dengan sendirinya. Meskipun sebelum masuk kedalam lembah orang yang kehilangan sukma telah menghadiahkan selembar peta lembah kepadanya, dan pemuda itu sudah paham dengan peta itu, tetapi untuk meneliti letaknya pada waktu itu serta mencari jalan keluar, dia masih butuhkan peta tersebut untuk menelitinya lebih jauh.

Tentu saja dalam keadaan seperti itu, Han Siong Kie tidak sampai berpikir sampai kesitu, tugasnya yang pertama sekarang adalah menyembuhkan luka yang diderita oleh Go siau Bi.

Dia sendiripun pada saat itu membutuhkan waktu untuk bersemedi dan atur pernapasan sebab kekuatannya sudah hampir punah sama sekali karena lelahnya.

Ia sadar, andaikata sergapan muncul kembali dalam keadaan seperti ini, akibatnya niscaya sukar dilukiskan dengan kata2.

Dalam pada itu, Go siau Bi telah sadar kembali dari pingsannya, melihat itu Han siong Kie sangat kegirangan, buru2 tegurnya: "Nona, bagaimana dengan keadaan lukamu."

sebenarnya sejak tadi Go siau Bi telah mendusin dari pingsannya, tapi berhubung ia hendak merasakan kehangatan tubuh sang pemuda lebih lama lagi maka ia pura2 pingsan, ketika Han Siong Kie sedang menghadapi serangan panah tadi, diam2 ia telah menelan tiga butir pil mujarab untuk menyembuhkan lukanya.

Kakeknya Put to sianseng adalah seorang tokoh silat yang amat lihay, tentu saja obat mujarab yang dibuat olehnya sangat manjur sekali, tidak selang seperminum teh kemudian kekuatan tubuhnya telah pulih kembali seperti sedia kala.

Tentu saja sampai mimpipun Han Siong Kie tidak menduga akan kecerdikan dara ayu itu, dan lagi diapun segan untuk memikirkan persoalan titik bengek yang tak ada gunanya itu. Ketika mendapat pertanyaan, itu, Go siau Bi segera bangkit berdiri dan menjawab sambil tertawa rawan:

"Aku sudah tidak apa2 lagi, bagaimana dengan Han sauhiap sendiri?"

"Aku...aku juga tidak apa2"

"oooh... aku membawa obat mujarab pemberian kakekku, bagaimana kalau Han sauhiap menelan dua butir untuk membantu dirimu dalam usaha menyembuhkan kembali luka yang diderita?"

Tanpa menanti jawaban, dia ambil keluar dua butir pil sebesar kacang kedelai yang berwarna hijau dan diserahkan kepada pemuda itu.

sebenarnya Han siong Kie segan untuk menerimanya, tapi setelah teringat bahwa saat ini mereka masih ada dimulut harimau, memulihkan kembali tenaga murninya merupakan usaha yang terpenting, maka dengan perasaan terpaksa ia terima obat itu dan dimasukan kedalam mulutnya.

"Nona Go, kuucapkan banyak terima kasih atas pemberian itu" bisiknya. Go siau Bi mengernyitkan alis matanya.

"Han sauhiap, dengan pertaruhkan jiwa engkau telah menolong siau moay dari ancaman jiwa, masa hanya memberi obat saja engkau harus berterima kasih kepadaku?"

obat dari Put to tianseng itu memang sangat manjur sekali, setelah berada dalam perut, segulung hawa panas yang kuat segera muncul ditengah pusarnya.

Tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie dewasa ini boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan, baginya bersemedi tidak melulu harus duduk. tapi berdiripun ia dapat menghimpun tenaga sambil bersemedi, dengan cepat daya kerja obat itu disalurkan kedalam peredaran darah dan bergabung dengan kekuatan hawa murni yang dimilikinya. Dengan mulut membungkam Go siau Bi awasi kekasih hatinya ini, ia berdiri tak bergerak sementara paras mukanya berubah rubah tiada menentu.

Beberapa saat kemudian, tenaga yang dimiliki Han siong Kie telah pulih kembali seperti sedia kala, rasa sakit lenyap tak berbekas, ia segera buka mata dan memandang kearah dara ayu itu dtngan pandangan keheranan:

"Nona Go, kenapa kakekmu mengijinkan nona untuk menempuh mara bahaya seorang diri?"

"Dendam terbunuhnya ayah bundaku tak terkirakan dalamnya, aku sebagai putrinya mempunyai kewajiban untuk menuntut balas bagi mereka." seru Go siau Bi dengan gemas.

"Tapi.. andaikata kakekmu pun datang kemari.." "Kakekku sudah cuci tangan mengundurkan diri dari

keramaian dunia persilatan, karena urusan mendiang ayahku,

beliau susah payah telah terjun kembali kedunia persilatan, pemberian yang diberi kakek selama setengah bulan kepada siau moay sudah lebih dari cukup bagiku untuk balas dendam dengan kekuatan sendiri"

"Dan sekarang kupu warna warni Li In Hiang toh sudah menemui ajalnya ditangan mu ?"

"Benar tapi biang keladinya toh ketua perkumpulan Thian che kau itu" Han siong Kie menghela napas panjang.

"Aaaiii aku sama sekali tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua perkumpulan Thian che kau sedemikian tingginya, aku jadi teringat dengan kaum persilatan yang mengatakan, diluar langit ada langit diatas manusia pandai masih ada manusia yang lebih pandai, perkataan itu sedikitpun tak salah"

Go siau Bi mengerutkan dahinya, sambil menggigit bibir dia berkata: "suatu ketika aku akan datang kembali kesini" setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh: "oooh maksud kedatangan Han sauhiap kemari adalah..."

"Aku mendapat peringatan dari orang yang kehilangan sukma cianpwee, yang mengatakan nona berada dalam bahaya, aku sengaja datang kemari untuk membantu nona"

"oooh manusia macam apa sih orang yang kehilangan sukma itu?" tanya Go siau Bi setelah berseru tertahan-

"Tentang soal ini aku sendiripun kurang jelas, pokoknya dia adalah seorang cianpwee yang sangat misterius dari dunia persilatan-Selain itu, eh mm. Aku..."

"siapa  lagi??" "Istri Han sauhiap"

"Aku belum pernah menikah"

"Nona Tonghong Hui yang menyebut diri sebagai Istri yang ditinggalkan??" sambung Go siau Bi dengan cepat.

Bagaikan disengat lebah, sekujur badan Han siong Kie bergetar keras, dengan sedih ia berbisik, "Dia telah pergi??"

"Kenapa pergi?"

"Nona, aku harap engkau jangan mengungkat kembali persoalan itu. bersedia bukan?"

"Engkau merasa sedih hati?"

"Nona, dewasa ini kita masih berada di mulut harimau, aku harap engkau jangan menyinggung persoalan lain"

Paras muka Go siau Bi berubah jadi agak sedih, tapi sebentar kemudian ia berseru: "Han sauhiap, lebib baik kita terjang saja keluar"

"Terjang keluar?" tiba2 serentetan suara teguran yang amat seram bergema memecahkan kesunyian "hmmm... h mm... selamanya belum pernah ada orang yang sanggup keluar dari lembah lian huan tau dalam keadaan hidup"

Han Siong Kie maupun Go siau Bi smat terperanjat, dengan sorot mata yang amat tajam mereka menyapu sekejap sekeliling tempat itu, namun tiada sesosok bayangan- manusiapun yang ada disitu.

Dengan cepat Han Siong Kie ambil keluar peta lembah itu dari dalam sakunya, setelah diteliti beberapa saat serunya: "Nona Go, mari ikut aku"

Dia enjotkan badan dan meluncur kearah mulut lembah yang ada disebelah kiri.

"Manusia muka dingin, seluruh lorong dalam lembah sudah tersumbat, sekalipun punya sayap- engkau tak akan bisa terbang ke luar dari tempat ini" suara menyeramkan tadi berkumandang kembali.

Gerak tubuh dari Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya siasat untuk memancing musuh belaka, begitu pihak lawan berbicara diapun segera mengetahui tempat persembunyian orang itu, berada ditengah udara badannya berputar seratus delapan puluh derajat, dengan ujung kakinya menutul permukaan dinding lembah, sekali lagi dia melayang sepuluh tombak keatas.

Sinar matanya yang tajam dengan cepat berhasil menemukan sebuah lubang kecil di atas dinding tersebut.

Tubuhnya segera berputar bagaikan burung walet kembali kesana, dia meluncur kearah lubang gua diatas dinding tersebut.

"Weesss. " segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur keluar dari mulut gua itu dan langsung menghantam Han siong Kie yang masih berada diudara.

Dalam posisi berada diudara, sulit bagi Han siong Kie untuk melancarkan serangan balasan, dia segera berjumpalitan dan bergerak membentuk setengah lingkaran busur, kemudian untuk kedua kalinya menerjang kearah gua itu.

Kali ini dia telah bersiap sedia, sepasang telapaknya diluruskan kedepan, ber-puluh2 buah sentilan jari yang amat gencar dipancarkan kearah dalam gua itu.

segulung angin pukulan yang amat dahsyat kembali meluncur keluar dari dalam gua, disusul berkumandangnya serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Han Siong Kie tidak dapat bertahan terlalu lama diudara, tubuhnya meluncur kembali keatas tanah, sementara orang yang menyerang dari dalam guapun berhasil dilukai di ujung nya.

Pada saat Han siong Kie melayang kembali keatas tanah itulah, tiba2 dari kejauhan berkumardang suara ledakan dahsyat yang amat memekikan telinga. "oooh...air bah" jerit Go siau Bi dengan terperanjat.

Gulungan ombak setinggi puluhan tombak menggulung datang dari arah kejauhan, dengan dahsyat dan cepatnya menggenangi seluruh lorong lembah tersebut. satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han siong Kie, buru2 serunya:

"Nona Go, ayoh cepat naik keatas dinding karang" la segera enjotkan badan dan melayang ke arah lubang gua yang baru saja ditemukan itu.

Go siau Bi dengan erat menyusul dari belakang, dalam sekejap mata mereka sudah berada dalam gua tersebut.

Dalam pada itu air bah datangnya amat cepat, sebentar kemudian seluruh lorong didalam lembah itu sudah digenangi oleh air bah setinggi beberapa tombak.

Menyaksikan keganasan air bah tersebut tanpa sadar peluh dingin membasahi tubuh mereka berdua, andaikata gua diatas dinding itu tidak berhasil ditemukan tepat pada saatnya, niscaya mereka sudah mati tenggelam tergenang oleh air bah tersebut.

Lubang gua itu tidak terlalu besar dan hanya bisa dilalui oleh dua orang secara berjejer, kurang lebih lima depa dari mulut gua roboh terkapar sesosok mayat yang bermandikan darah segar.

Rupanya orang itulah yang menegur dam melancarkan serangan kearah Han Siong Kie.

Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie awasi gua tersebut, ia lihat gua itu menjorok jauh kedalam, setelah berpikir sebentar dengan cepat ia memahami apa sebabnya ia bisa terkurung dalam barisan hujan panah tanpa kelihatan seorang pemanahpun, rupanya dibalik dinding tebing merupakan ruang kosong yang digunakan para penjaga untuk meronda.. diam2 ia mengagumi juga akan kehebatan bangunan disana.

"Nona Go" ujarnya kemudian." bagaimana kalau kita ikuti lorong dalam gua ini untuk mencari jalan keluar?"

"Baik " sahut sang gadis sambil mengangguk.

Maka berangkatlah kedua orang itu menelusurijalan gua itu, Han Siong Kie berjalan didepan sedang Go siau Bi mengikuti dibelakang, meskipun gua itu amat gelap namun dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki dua orang itu, mereka dapat melihat ditengah kegelapan bagaikan melihat di tempat terang.

Tidak jauh mereka memasuki gua itu, tiba2 dari arah depan berkumandang suara langkah kaki manusia yang kian lama kian mendekat...

Dengan cekatan sepasang muda mudi itu menempel tubuhnya diatas dinding gua..

suara langkah manusia kian lama kian mendekat, enam sosok bayangan manusia muncul dengan langkah ter-gesa2, orang yang berjalan dipaling depan membawa sebuah obor dalam gengamannya .

Han siong Kie segera ayun telapaknya ke depan, segulung angin kencang berhembus ke depan memadamkan api itu enam orang kawanan jago itu segera berseru kaget.

Han siong Kie tak mau membuang waktu dengan percuma, mereka segera menerjang kedepan sambil menyebar maut Duukl duukl beberapa orang itu segera menggeletak mati tertotok jalan darah kematiannya.

Dua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya, setelah berbelok kesana kemari akhirnya cahaya terang memancar dari arah depan-

sebuah lobang kecil muncul disisi lorong sementara lorong tersebut masih memanjang jauh kedalam, sesosok bayangan manusia berdiri bersandar didekat mulut gua.

sentilan maut dari Han slong Kie kembali bekerja, orang itu menjerit kesakitan dan segera putus nyawa.

"Han sauhiap" bisik Go siau Bi dengan lirih, " rupanya gua ini masih menjorok jauh kedalam sana, apakah kita Makin masuk semakin berada didalam lembah?"

Han siong Kie mengangguk. ia melongok keluar dari mulut gua itu, tampaklah seluruh lorong dalam lembah masih tergenang oleh air bah, sementara pada dinding tebing sebelah depan terdapat pula sebuah mulut gua, seorang manusia berjaga-jaga dibalik gua itu. Pemuda itu termenung dan berpikir sebentar kemudian berkata:

"Nona Go, Mari kita menyeberangi lembah ini menuju kemulut gua sebelah depan, apabila dugaanku tidak salah kemungkinan besar didalam dinding tebing yang melingkari lembah lian huan-tau ini terdapat liang-liang gua tempat berhubungan, kita manfaatkan saja lorong tersebut untuk keluar dari lembah ini" Go siau Bi sangat mengagumi kecekatan dan kecerdikan sianak muda itu, dia segera mengangguk.

"Baik, kita laksanakan saja seperti apa yang kau katakan"

Jarak antara dinding tebing yang satu dengan dinding tebing yang lain kurang lebih lima tombak panjangnya.

Han siong Kie berpaling dan bisiknya kepada gadis itu: "Nona Go, kita harus bertindak cepat"

Begitu selesai berbicara, tubuhnya laksana sambaran petir cepatnya telah meluncur kearah lubang gua sebelah depan.

Penjaga didalam gua itu hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur, sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, dia sudah mati tertotok. secepat kilat Go siau Bi menyusul dari belakang.

Apa yang diduga Han siong Kie ternyata tidak meleset, dinding lembah itu ternyata kosong, puncak berhadapan dengan puncak. itu berarti mulut gua berhadapan dengan mulut gua, setiap beberapa langkah terdapat sebuah lubang kecil, kalau mengintip dari situ maka semua kejadian yarg sedang berlangsung dalam lorong lembah dapat terlihat dengan jelas.

Kedua orang muda mudi itu merupakan jago persilatan yang berilmu tinggi, sepanjang jalan menemui gua lorong dalam perut bukit, mereka tidak menjumpai kesulitan, apalagi Han song Kie membawa peta petunjuk tentang keadaan dalam lembah tersebut, semua penjaga dan serangan yang sudah diatur musuh bisa dihindari dengan gampang dan sederhana.

secara beruntun mereka tembusi beberapa buah lubang gua, akhirnya lembab lorong di bawah sana sudah tak tergenang oleh air lagi, ini menunjukkan bahwa air bah itu hanya khusus dilepaskan untuk menggenangi beberapa buah lorong jalan belaka. Beberapa saat kemudian sampailah kedua orang itu pada jalan yang sebenarnya dibagian atas.

sementara lorong lembah kian lama kian bertambah lebar. Mendadak.. suitan nyaring berpekik saling bersahutan,

tampaknya jejak Han siong Kie dan Go siau Bi ketahuan lagi oleh pihak musuh.

Dalam pada itu dihadapan mereka terbentang sebuah simpang pertemuan dari beberapa buah cabang jalan, ditengahnya merupakan sebuah tanah kosong seluas beberapa hektar, bagi mereka berdua kecuali meloncat turun kelorong bawah dan menerobos ke luar, rasanya tiada jalan lain yang bisa di tempuh lagi.

Han siong Kie mengerutkan dahinya, dengan suara berat ia berkata:

"Tampaknya tiada jalan lain bagi kita kecuali turun kebawah, ayoh kita loncat turun"

Dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran kilat cepatnya segera melayang turun ketengah gelanggang luas.

Baru saja kaki kedua orang itu menempel diatas permukaan tanah, disertai suara ledakan dahsyat dari mulut lembah diempat penjuru memancarlah kabut putih yang amat tebal, lambat laun kabut itu semakin tebal hingga menyelimuti disekitar tempat itu.

Go siau Bi amat terperanjat menyaksikan kehebatan dari kabut putih itu, ia lantas berseru:

"Han sauhiap. apa yang terjadi?"

Han siong Kie menggeleng dengan kebingungan.

" Entahlah, aku sendiripun tak tahu, perduli amat, ayoh kita terjang keluar dari sini" Baru saja ia selesai berbicara, dari tengah lembah meluncur masuk sesosok bayangan manusia, orang itu seakan2 sukma gentayangan yang muncul dari balik kabut putih, setelah makin mendekat barulah kelihatan bahwa orang itu adalah seorang kakek tua aneh berjubah hitam yang bermuka pucat seperti mayat dan bertubuh kaku seperti mayat hidup,

"Aaah..? kenapa makhluk tua beracun inipun sudah menggabungkan diri dengan pihak Thian- che- kau?" seru Han siong Kie tanpa terasa. Go siau Bie tertegun.

"Makhluk tua beracun? siapakah dia?" "Tok kun, Dewa racun Yu Hoa"

"Aaah rupanya dia.. waaduh, kalau makhluk tua beracun itupun sudah muncul disini, urusan bisa bertambah berabe ... bagaimana sekarang baiknya??"

Dalam waktu singkat kabut putih yang menyebar disekitar mulut lembah sudah menyelimuti angkasa, kian lama kabut itu kian menebal sehingga pemandangan yang terbentang disekeliling tempat itupun bertambah buram, hingga susah melihat kesdaan di depan-

Dewa racun Yu Hoat berdiri tegak kurang lebih lima tombak dihadapan muda mudi itu, dia menyeringai dan tertawa seram tiada hentinya.

"Heeeh heehh heeh Manusia berwajah dingin, Lebih baik menyerah saja Ketahuilah engkau serta bocah perempuan itu sudah menjadi katak dalam tempurung, tak mungkin dapat kabur lagi."

Ia berhenti sebentar, lalu sambil menuding kesekeliling tubuhnya ia menambahkan-

"Kabut harum pembusuk tulang telah tersebar menyelimuti seluruh lembah, sekalipun malaikat yang turun dari kahyangan jangan mimpi bisa lolos dari cengkeramanku Heeeh heeeh... heeeh daripada mampus secara konyol lebib baik menyerah saja tanpa melawan, ketahuilah barang siapa terkena racun itu maka tubuhnya akan meleleh jadi segumpal air busuk

..tahukah kalian, betapa menyeramkan dan mengerikannya keadaan itu"

"Makhluk tua beracun, jangan tekebur lebih dulu, lihatlah Nonamu segera akan cabut lebih dulu selembar jiwa anjingmu" bentak Go siau Bi dengan marah..

Ia melejit dan menerjang kedepan, telapak tangannya diayun melancarkan pukulan berantai yang maha dahsyat.

"Nona tunggu sebentar" tiba2 Han siong Kie berseru sambil menghadang jalan perginya.

"Ada apa? Kenapa kau halangi jalan pergiku??"

"Nona, kau musti tahu, hakekatnya seluruh tubuh makhluk tua beracun ini adalah bisa yang mematikan, jangan sekali-kali tanganmu sampai menempel ditubuhnya, bisa jadi engkau sendiri yang celaka"

" Kalau tidak dilawan, memangnya kita benar-benar harus menyerah kalah dan bertekuk lutut kepada mereka??"

"Tentu saja tidak begitu, seorang pendekar sejati pantang menyarah kepada siapapun, biar akulah yang hadapi makhluk tua yang sangat berbahaya ini"

"Masa engkau punya kepandaian khusus yang dapat digunakan untuk melawan kedahsyatan bisanya?"

"Tentu saja aku tak punya, tapi yang pasti aku sudah pernah bergebrak melawan dia, maka sedikit banyak aku mempunyai pengalaman dalam menghadapi dirinya"

sewaktu terjadi pertarungan perebutan pusaka tempo hari, Han siong Kie pernah terhajar oleh pukulan berbisa dari Dewa racun Yu Hoat, tapi kenyataan membuktikan bahwa dia sama sekali tidak merasakan gejala keracunan, sejak itu Eh pemuda kita jadi sadar bahwa tubuhnya mempunyai daya kekuatan untuk melawan racun, dan kekuatan itu diperolehnya berkat sumber air mukjijat bawah tanah yang pernah mencuci otot mengganti tulangnya.

Walaupun begitu, Han siong Kie tak berani sembarangan mencoba, karena resikonya terlalu besar lain keadaannya pada saat itu, sekarang jiwanya sedang terancam bahaya, mau tak mau dia harus menempuh bahaya untuk mencoba khasiat kekuatannya itu.

Demiklanlah, selesai bicara diapun enjotkan badan dan melayang sejauh dua tombak kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat seketika dilepaskan kearah depan.

Dewa racun Yu Hoa tertawa dingin, dengan gesit ia mengigos kesamping menghindarkan diri dari pukulan mematikan itu menyusul sepasang telapaknya diayun kemuka melepaskan belasan pukulan berantai.

Han siong Kie tidak gentar karena ia sudah punya keyakinan yang teguh, seluruh peredaran darahnya ditutup dan napasnya dihentikan, sepasang telapaknya tiba tiba ditarik kemudian dilepaskan kembali kedepan semua gerakan itu dilakukan secepat kilat, dan tepat sekali menyambut datangnya serangan lawan.

"Blaammm..." benturan keras menimbulkan suara pekikan yang amat dahsyat, seketika itu juga Dewa racun Yu Hoa terdorong mundur sejauh tiga langkah.

Han siong Kie sendiri merasakan pula sekujur tubuhnya kaku agak gatal, tatkala angin pukulan lawan menyentuh tubuhnya, tapi ia sama sekali tidak pikirkan persoalan itu didalam hati, sambil putar badan ia menerjang lagi kedepan, tangan kanannya di putar dan melepaskan satu pukulan dengan jurus Mo ciang liong atau telapak iblis tundukkan naga, sementara jari tangan kirinya bagaikan sebuah tombak melepaskan totokan Tong kim ci yang mematikan itu. Dua macam ilmu silat ampuh dilancarkan secara berbareng, jarang ada orang yang bisa berbuat demikian...

Rupanya Dewa racun Yu Hoa tahu kehebatan orang, hatinya kontan tercekat dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, cepat2 dia menyingkir kesamping dan kabur kebelakang.

Meskipun gerakan menghindar ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sayang dia masih kalah setingkat kalau dibandingkan Han siong Kie.

Demikianlah, kendatipun serangan angin jari Tong kim-ci yang dahsyat berhasil dihindari,akan tetapi pukulan ditangan kanannya susah dielakkan lagi, lengan kanannya terasa sakit dan tahu2 sudah dicengkeram musuh.

Han siong Kie sendiri segera merasakan jari dan telapaknya panas serta sakitnya luar biasa ketika tangannya menyentuh pergelangan musuh, se olah2 dia sedang mencengkeram sebuah besi yang sedang membara panas, tanpa sadar Cekalannya jadi mengendor.

Ditengah dengusan tertahan, tubuh Dewa racun Yu Hoa mencelat kebelakang.. dan Duuk badannya mencium tanah tiga tombak dari tempat kejadian.

Dengan hati tercekat buru2 Han siong Kie periksa pula telapak tangan sendiri, ketika ditemuinya sama sekali tak terluka, dia pun menghembuskan napas lega.

"Makhluk tua beracun, sebelum pergi tinggalkan dulu jiwa anjingmu itu.." mendadak bentakan nyaring menggema diudara.

Ditengeh bentakan, ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya Go siau Bie meluncur kedepan dan menerjang Dewa racun Yu Hoa yang sudah terluka itu. Han siong Kie amat terperanjat, pikirnya dihati:

"Aduh celaka.." Usaha mencegah sudah tak mungkin lagi dengan suara tertahan dia lantas menjerit: "Nona, jangan bertindak gegabah"

Baru saja jeritan itu menggema diangkasa Go siau Bie telah tiba dihadapan sasarannya dan langsung melepaskan satu pukulan ketubuh Dewa racun tersebut.

"Duuuk Blaamm " dengusan tertahan mengiringi jerit kesakitan yang amat nyaring, tahu2 Go siau Bi sudah mencelat kebelakang dan terkapar diatas tanah.

sementara Dewa racun Yu Hoa sendiri buru-buru kabur kedalam kabut putih yang tebal dan melarikan diri.

Han siong Kie sangat terperanjat, dia sudah sadar bahwa keadaan bakal runyam, secepat kilat ia maju kedepan dan membopong tubuh Go siau Bi, terlihatlah gadis itu pejamkan matanya rapat2, air mukanya pucat pias bagaikan mayat, telapak tangan sebelah kanannya yang putih bersih bagaikan kumala kini sudah berubah jadi sembab merah.

Dari tanda yang terlihat didepan mata jelaslah sudah menunjukkan kalau gadis itu keracunan hebat.

Untuk beberapa saat lamanya sianak muda itu jadi gelagapan sendiri, ia totok beberapa buah jalan darah diatas tubuhnya agar racun tak sampai menyerang kehati, kemudian menguruti jalan darah penting ditubuh nona tersebut.

Keadaan menjadi serba runyam, andai kata Go siau Bi mati karena peristiwa ini, bagai manakah tanggung jawabnya kepada orang yang kehilangan sukma serta Put lo sianseng? tanpa sadar ia bersin beberapa kali dengan hati tercekat.

Suara lengking yang tinggi dan tajam tiba-tiba berkumandang diangkasa, suaranya keras membelah angkasa membuat suasana yang amat sepi terasa bertambah seram.

Dengan kaget dan terkesiap Han soing Kie menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat kabut harum pembusuk tulang telah menyelimuti seluruh mulut lembah, ketika terhembus angin gunung maka kabut itu kian lama bergerak makin ketengah gelanggang.

Han siong Kie benar2 terjepit posisinya, sukma merasa melayang tinggaikan raganya, ia mengerti bahwa apa yang diucapkan Dewa racun Yu Hua bukan gertak sambal belaka, jikalau kabut racun itu sampai menempel dibadan, niscaya tubuh manusia akan melumer jadi gumpalan darah kental yang busuk. baginya hal tersebut bukan terhitung suatu ancaman serius, tapi berbeda dengan Go siau Bi, kemungkinan besar dia akan keracunan hebat dan akhirnya mati secara mengenaskan.

sementara itu kabut racun yang dilepaskan dari empat penjuru sudah mulai menggumpal jadi satu membentuk rintangan kuat yang menutup seluruh angkasa gelanggang tadi, luas lingkungan gerak Han siong Kie berdua lambat laun bertambah menyempit, tanah kosong seluas beberapa hektarpun tinggal setengah hektar saja..

Bukan begitu saja, kabut racun itu bahkan makin menyempit, hingga ruang gerakpun makin mengecil.

Han siong Kie kalang kabut sendiri, sambil membopong Go siau Bi yang tak sadarkan diri, dia hanya bisa berdiri melongo, hingga beberapa saat lamanya pemuda itu tak tahu apa yang musti dilakukan.

Bayangan maut dan kematian mulai berkecamuk dalam benaknya.

Ditengah suasana yang makin gawat dan makin kritis itulah, tiba2 suara dari Dewa racu Yu Hua berkumandang dari balik kabut tebal yang menyelimuti sekeliling tempat itu.

"Manusia berwajah dingin, jika kau masih ingin hidup, letakkan bocah perempuan itu keatas tanah dan segera bergeraklah sepuluh tombak kearah Timur" Mendengar perkataan itu Han siong Kie merasa sangat gusar, dia segera membentak:

"Yu Hua, ingat baik2 perkataanku hari ini, suatu ketika kalau kita berjumpa kembali maka aku manusia berwajah dingin akan mencincang tubuhmu berkeping-keping kemudian kepingan badanmu akan kumakankan anjing"

"Haahhh...haahhh...haahhh. . . tapi sayang ucapanmu itu cuma suatu khayalan, selama hidup tak mungkin dapat kau lakukan, sebab sekarang juga nyawamu bakal musnah. heehh heehh heehh... tunggu saja sampai penitisan yang akan datang" "

"Makhluk tua berbisa, manusia pengecut Engkau berani untuk tampilkan diri?" tantang Han siong Kie sangat murka.

"Manusia bermuka dingin, waktu yang tersedia bagimu sudah tak banyak lagi, kalau engkau tak ingin melihat badanmu hancur menjadi darah kental, cepatlah lakukan apa yang telah kuperintahkann ketahuilah kecantikan wajah gads itu ibaratnya bidadari yang turun dari kahyangan, sayang bukan kalau dibiarkan dia mati secara mengenaskan"

"Makhluk tua sialan, andaikata dia sampai ketimpa kemalangan, aku bersumpah akan mencuci perkumpulan Thian che kau dengan darah manusia, semua anggotanya akan kubasmi sampal anjing dan ayampun akan kujagal semua" .

"Tak usah menggonggong seperti anjing budukan.. percuma mengigau dalam keadaan kepepet ini, tahukah engkau bahwa kesempatanmu untuk berbuat demikian sudah musnah sama sekali?".

dalam pada itu lingkaran kepung kabut racun sudah makin menyusut kecil, luasnya cuma tinggal sepuluh tombak belaka. Apakah mereka akan tetap hidup segar? ataukah bakal mati mengenaskan menjadi gumpalan darah? semuanya hanya tergantung dalam detik2 terakhir.

-000dewi000-

BAB 38

SEKALI lagi Dewa racun Yu Hoa berseru dengan suara yang menggidikkan:

"Manusia berwajah dingin, bagaimana dengan keputusanmu? Mati atau hidup hanya tergantung pada pikiranmu sekarang. Cepat letakkan bocah perempuan itu keatas tanah dan berjalanlah sepuluh tombak kesebelah timur."

Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak Han siong Kie, ia yakin bagi dirinya pribadi kabut racun itu tak akan berpengaruh banyak. tapi bagi Go siau Bi jelas merupakan suatu ancaman maut, diapun tak tahu apa maksud lawan memerintahkan dirinya untuk baringkan Go siau Bi ke atas tanah lalu bergerak sepuluh tombak ke timur, mungkinkah dia hendak bekuk gadis itu lebih dulu, kemudian baru menghadapi dirinya.

Lingkaran kabut sudah mengecil hingga tinggalkan lima tombak belaka, bau harum yang pusingkan kepala berhembus datang tiada hentinya.

sekali lagi Han siong Kie putar otak mencari akal, akhirnya dia ambil keputusan untuk menuruti ucapan lawan, setelah jiwa Go siau Bi tertolong lawan, lalu baru dipikirkan kembali.

segera ia ambil keputusan, diapun siap untuk menjawab.

Pada saat itu serentetan bisikan lirih tapi jelas berkumandang disisi telinganya: "Bocah cilik, apakah kau ahli waris dari Mo tiong ci-mo yang tersohor itu?" Han siong Kie merasa amat terkesiap. ia merasa bahwa suara itu dipancarkan seseorang dengan ilmu menyampaikan suara yang amat lihay, segera ia menjawab dengan cara yang sama pula.

"Perkataanmu tidak keliru, siapa kau..." "

"Apa betul Mo tiong ci mo adalah ketua perguruan dari istana Huan me kiong?" bukannya menjawab, malahan orang itu bertanya lagi.

Han siong Kie semakin tercengang bercampur keheranan, namun dalam keadaan yang amat kritis, tak ada banyak waktu yang tersedia baginya untuk berpikir panjang, dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya pemuda itu menyahut kembali: "Betul Ucapanmu tak keliru" 

" Kalau toh apa yang kau ucapkan merupakan kenyataan semua, itu berarti engkau mengantongi pula lencana mutiara setan jahat ok-kui cu pai dari istana Huan mo kiong?"

Han siong Kie semakin terkesiap.

"Benar, sekarang lencana tersebut berada di dalam sakuku" "Lencana ok kui cu-pai dapat melenyapkan segala macam

pengaruh racun, cepat salurkan hawa murnimu kedalam

lencana tersebut dan cobalah kasiatnya "

Dari pembicaraan tersebut Han siong Kie tak dapat menebak siapa kah orang yang mengeluarkan peringatan tersebut, akan tetapi dia yakin bahwa orang tersebut sudah pasti bukan manusia sembarangan. . yang lebih aneh lagi ternyata orang itu mengetahui segala-galanya mengenai dia, darimana dia bisa tahu??

Tapi tiada kesempatan lagi baginya untuk berpikir panjang, secepat kilat ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar lencana 0k kiu cu pay tersebut, lalu salurkan hawa murninya kedalam lencana tadi.. Cahaya tajam yang aneh dan luar biasa seketika terpancar keluar dari mutiara yang tertera diatas lencana tersebut, begitu dahsyatnya cahaya aneh itu sehingga kabut beracun yang menyelimuti daerah sekitar sini segera buyar dan lenyap termakan sorotan itu.

Betapa gembiranya hati sianak muda ini sukar dilukiskan dengan kata2, hampir saja dia mencak2 dan menari2 seperti orang gila..

"Manusia berwajah dingin" suara teguran dari Dewa racun Yu Hoa berkumandang dari balik kabut, "permainan busuk apa lagi yang sedang kau siapkan? Hmm Rupanya kau sudah bosan hidup?"

Han siong Kie menengadah dan tertawa ter-bahak2. "Haahh haahh haahh makhluk tua beracun, hutang piutang

yang terikat hari ini, pasti akan kutagih di kemudian hari,

sekarang maafkanlah aku karena tidak bisa melayani lebih jauh.

Dengan tangan sebelah dia membopong Go siau Bi, tangan yang lain memegang lencana ok kui cu pay, pemuda itu segera enjotkan badan dan melesat keudara.

Kabut putih beracun yang mengepung sekelilingnya pada buyar kesamping tatkala badannya menyambar lewat, dalam waktu singkat pemuda itu sudah berada beberapa puluh tombak jauhnya dari tempat semula.

suitan nyaring berkumandang bersahut-sahutan dari empat penjuru, agaknya pihak lawan telah mengetahui bahwa musuhnya berusaha untuk meloloskan diri dari jebakan.

sementara itu Han siong Kie sudah kabur beberapa ratus tombak jauhnya dari gelanggang, dia menelusuri sebuah jalan lembah yang sempit dan panjang sekali. Kabut tebal yang melingkari daerah sekitar situ sudah kian menipis hingga akhirnya lenyap tak berbekas, tibanya mereka berdua dalam sebuah lingkaran lembah yang sempit.

Tempat itu bukan lain adalah wilayah di mana ia pernah tertangkap oleh musuh atau dengan perkataan lain sudah tak jauh lagi dari luar lembah Lian-huan tau.

Ia menghembuskan napas lega, setelah menghirup udara dalam2 lencana ok kui cu pay itupun disimpan kembali kedalam saku.

Kemudian setelah berhenti sebentar, untuk kesekian kalinya dia enjotkan badan kabur keluar lembah.

siapa sangka baru saja badannya melangkah masuk kedalam lorong lembah itu, suara gemuruh keras yang amat memekikkan telinga bergema memecahkan kesunyian, batu gunung dan kayu2 besar bergelindingan dari atas bukit menghujani seluruh permukaan lorong.

Han siong Kie sangat terkejut, segenap hawa murni yang dimilikinya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan, ilmu meringankan tubuh Cahaya kilat lintasan bayangan dikerahkan mencapai pada puncaknya, ibaratnya serentetan cahaya petir yang membelah angkasa, ia terobos hujan batu dan kayu itu dan meluncur keluar lembah.

sungguh cepat garak badannya itu, begitu cepatnya se- akan2 sukma gentayangan saja, tak seorangpun yang mampu mengikuti gerakan tubuh pemuda itu dengan pandangan tajam..

Kejadian ini sama sekali diluar dugaan jago2 perkumpulan Thian che kau yang bersembunyi diatas dinding lembah, untuk sesaat mereka jadi kalang kabut dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Han siong Kie tak berani bertindak gegabah, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya dia kabur terus kearah luar lembah, meskipun barus bersusah payah akhirnya toh dapat lolos dari kepungan maut musuh dalam keadaan selamat. Angin malam berhembus sepoi2, bintang bertaburan diangkasa, cuaca amat cerah sekali.

Ia menyeka keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya, betapa terima kasihnya pemuda ini atas petunjuk yang diberikan seseorang dari tempat kegelapan itu kepadanya.

Ia melirik sekejap kearah Go siau Bi yang berbaring dalam pelukannya, paras muka gadis itu sudah berubah jadi pucat pias seperti mayat, napasnya amat lirih, sementara telapak tangan kanannya telah membengkak besar tiga kali lipat dari keadaan biasa, warnanya hitam ke merah2an hingga kelihatan mengerikan sekali.

Menyaksikan kesemuanya itu Han siong Kie mengerutkan dahinya, ia tidak pandai ilmu pengobatan juga tak paham ilmu racun, apa lagi Dewa racun Yu Hoa sangat tersohor dalam dunia persilatan karena penggunaan racunnya, tak usah dipikir sudah bisa diketahui kalau racun itu pasti bukan racun sembarang an.. lalu. kemana dia harus pergi untuk mencari obat pemunah itu?.

Put to sianseng, kakek Go siau Bi adalah seorang jago yang sangat lihay dalam segala bidang, kemungkinan besar dia bisa memberikan bantuannya, tapi kemana dia harus mencarinya? apalagi Go siau Bi sudah berada dalam keadaan tak sadarkan diri.

Berapa lama lagi dia bisa hidup?? pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya membuat sianak muda itu kebingungan, akhirnya dia menghela napas panjang dan lari keluar bukit tanpa tujuan tertentu.

Berpuluh puluh li sudah dilewatkan tanpa terasa, sementara malam semakin larut diantara ujung jalan bukit terbentanglah sebuah jalan raya yang lebar... Han siong Kie menyelusuri jalan raya tersebut, ia benar2 tanpa tujuan, karena tak tahu kemana dia harus pergi.

sementara ia masih kebingungan, dari bawah sebuah pohon yang lebat disisi jalan, berkumandang suara teguran nyaring: "Bocah, kemarilah?"

Han siong Kie terperanjat dan segera berpaling, ia lihat dibawah sebuah pohon yang lebat berdirilah seorang pria setengah baya, yang berdandan sastrawan, sekilas pandangan ia segera mengetahui siapa kah orang itu, dengan penuh kegirangan ia loncat kehadapannya dan buru2 memberi hormat.

"Locianpwe, sambutlah salam dan hormatku untuk kau orang tua"

"Tak usah banyak adat, baringkan dulu gadis itu ke atas tanah"

Rupanya pria setengah baya ini bukan lain adalah Put to sianseng, kakek dari Go siau Bi.

Se akan2 terlepas dari beban yang amat berat, serunya kembali: "Apakah locianpwe yang memberi bisikan kepadaku tadi."

"Benar" sahut Put to sianseng sambil berjongkok dan memeriksa keadaan luka cucu perempuannya dengan seksama, Sesaat kemudian ia berseru dengan hati terkesiap. "Aduh.. sungguh lihay racun ini"

"Apa sudah tak bisa ditolong lagi.." bisik Han Siong Kie agak tergagap.

Put to sianseng termenung dan berpikir sejenak, kemudian jawabnya dengan lembut:

"Untuk ditolong sih masih bisa ditolong, cuma harus membutuhkan banyak tenaga dan kerepotan" Agak lega hati Han Siong Kie setelah mendengar jawaban tersebut, ia merasa tak ada gunanya berdiam terialu lama disana, cepat la memberi hormat dan berseru: "cianpwe, kalau memang begitu aku hendak mohon diri lebih dahulu".

"Eh, tunggu sebentar"

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, telapak tangan put lo sianseng bergerak cepat, secara beruntun ia totok belasan buah jalan darah penting dibadan Go Siau Bi, kemudian dari sakunya ia mengambil keluar tiga butir obat berwarna hijau dan dijejalkan kedalam mulutnya, sementara beberapa butir yang lain dihancurkan dan dibubuhkan keatas luka keracunan tersebut.

Selesai memberikan pertolongan, orang tua itu baru menengadah dan berkata kepada si anak muda itu:

"Atas nama anak Bi, kuucapkan banyak terima kasih atas pertolongan yang sudah kau berikan kepadanya"

"Locianpwee tak usah merendah, sudah sepantasnya kalau aku yang muda memberikan bantuan, apalagi akupun pernah berhutang budi kepada nona siau Bi"

"Apakah gurumu sudah meninggal dunia?" setelah merandek sebentar, Put lo sianseng alihkan pembicaraannya ke soal lain.

"Benar, guruku telah berpulang kealam baka.. tapi darimana cianpwe bisa tahu tentang persoalan ini?"

"Aku dengar dari seorang perempuan yang menyebut dirinya sebagai orang yang kehilangan sukma"

Terperangah hati Han siong Kie mendengar jawaban tersebut, ia tak menyangka kalau semua gerak geriknya tak lepas dari pengawasan orang yang kehilangan sukma, tapi.. kenapa ia sampaikan gerak geriknya ini kepada Put lo sianseng? sebenarnya apa yang sedang dituju? sekarang si anak muda itu baru tahu, kenapa Put to sianseng bisa tahu kalau dia membawa lencana mutiara ok kiu cupay, rupanya jago tua ini mendapat tahu dari mulut perempuan misterius itu.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, pemuda itu lantas berpikir:

" Kenapa aku tidak menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk menanyakan asal usul orang yang kehilangan sukma? siapa tahu kalau Put to sianseng bersedia untuk menerangkan? "

Berpikir demikian, diapun lantas bertanya "Locianpwee, kau kenal dengan perempuan misterius yang mengaku sebagai orang yang kehilangan sukma?"

"Haaah haaah haaah ketika aku masih melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, perempuan itu masih belum dilahirkan didalam dunia, darimana aku bisa kenal? Tentu saja perkenalan ini baru berlangsung belum lama berselang"

"Apakah locianpwee bersedia untuk memberi keterangan kepadaku. ? . Bagaimanakah raut wajah orang yang kehilangan sukma yang sebenarnya ???"

"Eh...aneh, kenapa kau ajukan pertanyaan seperti itu?" Put- to sianseng bertanya keheranan-

"sudah terlalu banyak budi kebaikan yang kuterima dari mereka berdua, aku ingin membalas budi kebaikan tersebut, tapi sayang aai sayang...aku tak tahu bagaimanakah raut wajah mereka yang sebenarnya."

-000dewi000-