Tengkorak Maut Jilid 17

 
Jilid 17

GO SIAU BI tetap tertawa tergelak, ujarnya dengan suara tajam:

"Istri yang ditinggalkan ...nona Tonghong-Hui .. aku tak tahu bagaimana musti memanggil dirimu, tapi yang jelas perkataanmu itu memang sangat menarik hati, mungkin manusia yang terdiri dari batu karang pun akan ikut mengucurkan air mata setelah mendengar perkataanmu itu, cinta sejati yang tak takut berkorban seperti ini boleh dibilang suatu cinta suci yang jarang dijumpai dikolong langit"

"Engkau anggap aku sedang bohong? mengarang cerita kosong yang sebenarnya sama sekali tak ada?"

"oooh...engkau tak perlu salah paham, aku hanya ingin bertanya benarkah nona adalah pengemis cilik? sesuaikah julukan tersebut bagi diri nona? aku hanya menginginkan jawaban yang tegas dan benar"

"Oooh ! maksudmu, engkau inginkan suatu bukti??" ”Benar, aku memang mengharapkan suatu bukti yang

nyata yang membuktikan bahwa apa yang kau katakan sama sekali tidak bohong atau hanya suatu isapan jempol belaka.”

"Baik! aku tak akan mengecewakan hatimu, akan kuberikan bukti yang nyata untuk mu!"

Berbicara sampai disini, per-lahan2 Istri yang ditinggalkan putar badan dan menyeka mukanya dengan tangan, kemudian mengawut awutkan pula rambutnya vang indah, setelah itu dia baru putar badanrya kembali Hampir saja Go Siau Bi menjerit tertahan, untuk beberapa saat lamanya dia berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo seorang pengemis cilik yang dekil dan berambut awut2an benar2 telah berdiri dihadapan matanya, hanya saja pakaian yang dikenakan sama sekali tidak berubah.

Han Siong Kie yang bersembunyi dibelakang batu besar jauh lebih terperanjat lagi se-akan2 disambar geledek disiang hari bolong hampir saja sianak muda itu jatuh tak sadarkan diri.

Sekarang ia benar2 telab membuktikan kalau Istri yscg ditinggalkan, sebetulnya bukan lain adalah adik angkatnya sendiri. Pengemis cilik Tonghong Hui yang selama ini dirindukan siang maupun malam.

Ia sama sekali tak menduga kalau Tong-hong Hui yang disayang dan dicintai, ternyata bukan lain adalah seorang gadis cantik.

Sekujur badannya terasa jadi kejang, dengan lemas tak bertenaga ia bersandar dialas batu, pandangan matanya jadi gelap dan otaknya jadi gelap di otaknya terasa kosong meiompong...

Kenyataan membuktikan kalau Tonghong Hui adalah seorang gadis yang amat cantik bahkan begitu mencintai dirinya sehingga dia bersedia mengorbankan jiwa raganya untuk tetap berada disisinya, sedang ia sendiri sama sekali tidak merasakan akan hal itu.

Pengalaman dan kejadian yang pernah dialaminya dimasa lampau, satu demi satu berkelebat kembali kedalam benaknya, ia teringat kembali ketika untuk peitama kali nya dia terjun kedalam dunia persilatan, ia bagaimana dirobohkan oleh kupu2 warna warni Li In Hiang dari perkumpulan

Thian che-kau dengan mudah, kemudian bagaimana ia ditolong Tonghong Hui dari dalam tandunya, angkat saudara diatas batu cadas kemudian saling berjanji untuk tidak meninggalkan saudaranya walau berada dalam keadaan apapun juga, dari sini dengan jelas memperlihatkan kalau ia sudah mempunyai rencana yang matang tentang hal ini.

Setelah itu mereka berpisah, dia lenyap tak berbekas, untuk mencari jejaknya ia masuk kedalam wilayah Lian huan tau, dimana hampir saja jiwanya melayang.

Lalu dia mendirikan kuburan dan batu nisan didepao kuburan kosongnya, ia bersumpah akan mengurbankan diri untuk menemani dirinya dalam liang kubur,

Han Siong Kie merasakan hatinya kalut dan bingung tak karuan, selama hidup ia paling benci dengan kaum wanita, tapi terhadap diri Tonghong Hui. ia tak tahu musti mengatakan benci atau cinta.

Andaikata tempo hari dia tidak menyaru sebagai malaikat penyakitan, ketika Tong hong Hui dikerubuti oleh empat orang pengawal hijau dari istana Huan mo kiong mereka sudah dapat berjumpa kembali tapi waktu itu ternyata kedua belah pihak tidak saling mengenal..

Pemuda itu sangsi.. jangan2 apa yang dilihat dan didengar saat itu hanya suatu impian belaka., tapi kenyataan membuktikan bahwa kesemuanya itu bukan impian!

Dalam pada itu, Tonghong Hui telah melepaskan rambut palsu serta topeng kulit manusia dari atas wajahnya, ia menegur:

"Bagaimana nona? sekarang tentunya engkau sudah percaya bukan kalau aku adalah pengemis cilik Tonghong Hui?"

Go Siau bi mencibirkan bibirnya. "Hmm! aku masih tetap tidak percaya.."

"Kenapa?" "Aku ingin membongkar kuburan ini untuk membutikan apakah perkataan yang kau ucapkan benar2 tidak bohong!"

Paras muka Tonghong Hui berubah hebat dengan nada gusar bercampur mendongkol ia menegur :

"Nona, sebenarnya apa maksudmu?"

"Aku hanya ingin membuktikan, apakah dalam liang kubur ini benar2 dipendam kerangka seseorang"

Rupanya Tonghong-Hui dibuat sangsi oleh perkataan yang amat tegas itu, lama.. lama sekali ia termenung, kemudian baru bergumam seorang diri dengan sUara lirih:

"Tidak mungkin.. tidak mungkin kalau kuburan ini kosong, akulah yang telah mengebumikan jenasahnya disini, aku yang masukkan sendiri jenasahnya.."

Dari sikap lawannya yang amat yakin dan ber-sungguh2, Go siau Bi tahu kalau gadis itu sama sekali tidak bohong, dengan muka serius dia segera bertanya: "Nona Tonghong, engkau tidak salah mengubur orang lain?"

"Tidak mengkin salah, yakin se yakin2nya, bahwa dialah yang telah kukubur disini"

"Aaah.. masa dikolong langit bisa terdapat dua orang manusia berwajah sama dengan Han siong Kie? Aku tak percaya kalau dikolong langit bakal ada dua orang manusia yang sama."

"Apa...?" engkau telah bertemu dengan seorang Han siong Kie lagi? jangan bergurau nona Go hal itu tak mungkin bisa terjadi" seru Tonghong-Hui dengan wajah terperangah.

"Tak mungkin salah, Aku tahu dia adalah Han siong Kie dan sekarang telah berubah namanya menjadi Malaikat penyakitan. "

Dalam pada itu, Han siong Kie sendiri ibaratnya orang yang baru saja terserang penyakit berat, dengan lemas roboh terkapar diatas tanah, meskipun begitu ucapan mereka secara lapat2 masih sempat menerobos masuk kedalam telinganya.

sekarang ia baru menduga, mungkin apa yang dibicarakan dengan orang yang ada maksud tadi telah terdengar oleh Go sia uBi, tapi... mengapa dia bersikeras akan membongkar kuburan itu??"

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, terakhir pemuda itu berpikir:

"Aaah sekarang aku tahu, pastilah diapun menaruh hati kepadaku, dan mengira aku sengaja menyaru jadi orang lain untuk membohongi dirinya, kalau begitu ia tentu sudah menaruh perasaan salah paham atas diriku" sementara itu di gelanggang Tonghong Hui sedang berseru kaget:

"siapa? Malaikat penyakitan? aku pernah bertemu dengan dirinya tapi masa dia adalah Han siong Kie??"

"Jadi engkau tidak percaya?? engkau saja dapat merubah dirimu jadi pengemis cilik, masa dia tak dapat merubah diri jadi malaikat penyakitan??"

"Maksudmu...ia .telah menyaru diri untuk mengelabuhi pandangan orang banyak?"

"siapa tahu?"

Sekujur badan Tonghong Hui gemetar keras, bibirnya bergetar keras lalu gumamnya seorang diri:

"Tak mungkin, hal ini tak mungkin bisa terjadi, dia sudah mati akulah yang telah menguburkan jenasahnya disini, dengan tanganku sendiri kututup liang kubur ini"

"Nona Tonghong" ujar Go Siau Bi dengan nada dingin, "inginkah engkau membuktikan dengan mata kepala sendiri, kalau apa yang kau kuucapkan sedikitpun tidak bohong?"

"Apa?? engkau akan membongkar kuburan ini.. hanya untuk membuktikan bahwa ucapanmu tidak bohong? Gila jangan anggap perbuatan semacam itu sebagai suatu permainan"

"Oooh jangan kuatir, aku rasa tak perlu kita bongkar kuburan itu untuk mencari bukti aku punya cara lain yang lebih mudah untuk membuktikan kebenaran dari perkataanku tadi"

"Lalu.. bagaimana caramu untuk membuktikan kebenaran dari perkataanmu tadi?" tanya Tonghong Hui dengan perasaan ingin tahu.

Go Siau Bi tertawa misterius, tiba2 dengan paras muka sedih bercampur murung ia berpaling kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, serunya dengan suara lantang: "Han siauhiap, bersediakah engkau untuk munculkan diri?"

Bagaikan baru saja sadar dari suatu impian, dengan tubuh kaku Han Siong Kie bangkit berdiri lalu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.

Tonghong Hui menjerit lengking, dengan tubuh sempoyongan dia mundur kebelakang hampir saja ia tak percaya kalau apa yang dilihat dengan mata kepala sendiri adalah suatu kenyataan, seseorang yang dikubur olehnya ternyata telah hidup kembali.

Dia pejamkan matanya rapat2, gadis itu tak punya keberanian untuk membuka matanya kembali dan memandang kenyataan yang terbentang didepan mata. .

Dalam anggapannya apa yang telah terjadi hanyalah suatu impian yang aneh, dia takut setelah sadar dari impian maka yang dia hadapi hanyalah penderitaan dan siksaan.

Han siong Kie sendiripun berdiri kaku ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga .

Kedua belah pihak berdiri kaku dalam jarak sepuluh tombak. suatu jarak yang sangat dekat bagi pandangan jago lihay, karena raut wajah kedua belah pihak dalam terlihat dengan amat jelas.

Paras muka Tonghong Hui berubah jadi pucat pias bakaikan mayat, badannya gemetar keras, dengan lirih dia berbisik:

"Tidak...tidak mungkin, semuanya bukan kenyataan.. aku tidak percaya.."

Go siau Bi menghela napas panjang.

"Aaaii. nona Tonghong, bersediakah kalau kau untuk mendengarkan suatu kisah cerita??"

Tonghong Hui mengangguk, sepasang matanya masih terpejam rapat, sedangkan tubuhnya gemetar tiada hentinya.

Go siau Bi tarik napas panjang2 dengan sedih ia mulai bercerita:

"Dalam dunia persilatan terdapat seorang jago yang sangat lihay, suatu ketika nasibnya kurang mujur sehingga tertangkap oleh pihak lawan, ia dijebloskan kedalam penjara untuk menantikan saat hukuman matinya tiba, setiap orang yang berada dalam penjara tersebut hanya bisa keluar dari penjara apabila tubuhnya telah berubah jadi mayat, tapi untung jago lihay itu memiliki ilmu Ku si tay hoat yang dapat berpura-pura mati, demikianlah dibawah bantuan orang lain akhirnya dia pura2 mati dan digotong keluar dari penjara itu untuk dikubur secara massal, tiga hari kemudian ia telah bangkit kembali."

"Orang yang kau ceritakan adalah dirinya?" seru Tonghong Hui sambil membentangkan matanya lebar2.

"Benar"

"Darimana engkau bisa tahu semua kejadian tersebut dengan begitu jelas?" "Seorang gadis berkerudung telah memberitahukan cerita tersebut kepadaku ketika rahasianya berhasil kuketahui, dia menyebut dirinya sebagai orang yang ada maksud"

Sekarang Tonghong Hui baru tahu duduknya persoalan, bagaikan baru sadar dari impian, ia merasa jengkel dan mendongkol karena dirinya tertipu, tapi setelah berpikir sejenak kembali gadis itu gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak bisa menyalahkan dirinya, ia toh tidak tahu kalau aku adalah..."

"Dia tidak tahu soal apa?" sela Go siau Bi dengan alis mata berkernyit. Tiba2 Tonghong Hui menjerit lengking:

"Engkoh Kie" Dengan cepat ia lalu kedepan menghampiri sianak muda itu.

Gadis itu ingin memeluk kekasih hatinya, tetapi pemuda itu hanya berdiri dengan wajah kaku, hal ini membuat dara tersebut terperangah dan batalkan maksudnya.

Sekarang dia baru teringat, kalau kakak angkatnya Han siong Kie paling membenci kaum wanita.. hatinya terasa sakit bagaikan di iris2, air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Lama kelamaan.. akhirnya ia tak dapat menahan diri lagi dan berseru keras:

"Engkoh Kie, ketika kita angkat saudara tempo hari, bukankah engkau pernah berjanji tak akan tinggaikan diriku walau berada dalam keadaan apapun, masih ingatkah engkau dengan janjimu itu?"

Paras muka Han siong Kie perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, dengan penuh emosi dia mengangguk, "Aku masih ingat, adik Hui"

"Engkau masih memanggil aku sebagai Hui te (adik Hui)?" bisik Tonghong Hui. Han siong Kie terperangah, dengan suara ter-bata2 ia menjawab:

"Soal ini soal ini., aku rasa kurang begitu tepat untuk diucapkan, buat apa.."

"Tidak kalau sebutan tidak benar maka pembicaraanpun tak dapat berjalan dengan lancar.."

"Kita toh saudara angkat, buat apa engkau musti persoalkan sebutan belaka?"

"Tapi tapi.. aku toh seorang gadis bukan lelaki..." sela sang dara cepat.

"Aku tahu, engkau adalah searong gadis seorang gadis yang berwajah cantik"

"Engkau benci kepadaku?" Bisik Tonghong Hui agak ragu. "Kenapa aku mesti benci dirimu?"

"Engkau pernah berkata kalau engkau paling benci terhadap kaum wanita dikolong langit"

"Tidak Engkau engkau terkecuali"

Dengan ujung bajunya Tonghong Hui menyeka air mata yang membasahi wajahnya, senyum manis tersungging diujung bibirnya, sepasang biji matanya yang besar menatap wajah Han siong Kie tanpa berkedip. dengan suara yang lembut ia berkata:

"Engkoh Kie, engkau tak akan membenci diriku bukan?" "Aku tidak punya alasan untuk membenci kau"

"Kalau begitu engkau cinta padaku?"

Han siong Kie terkesiap. jantungnya berdebar keras, suatu perasaan aneh yang belum pernah dialami sebelumnya menyelimuti seluruh benak dan perasaannya, hal itu membuat paras mukanya terasa jadi panas dan berubah jadi merah padam. setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru menjawab:

"Benar, aku cinta padamu aku mencintai dirimu bagaikan mencintai saudara kandungku sendiri"

Senyum manis yang semula menghiasi ujung bibir Tonghong Hui seketika lenyap tak berbekas, dengan sedih bisiknya:

"Engkoh Kie, aku merasa se-olah2 sedang mendapat satu impian yang aneh dan berliku-liku..."

"Benar kejadian yang kita alami ibarat awan diangkasa, gampang berubah menurut keadaan disekelilingnya"

"Engkau senang karena aku adalah seorang gadis?" "Tentang soal ini.. tentu saja bagiku tiada perbedaannya

antara pria dan wanita"

Dipihak lain, Go siau Bi berdiri tertegun, semua impian indah dan lamunan manis yang semula menyelimuti benaknya kini telah musnah tak berbekas, semua keindahan berubah jadi kesedihan, kesengsaraan dan tekanan batin, ketika ia mengetahui kalau orang yang dicintai ternyata sudah mempunyai pilihan hati, dara itu merasa makin pedih.

Ia pernah melelehkan air mata karena kematiannya, merasa hatinya hancur remuk karena kepergiannya, tapi sekarang... kenyataan membuktikan bahwa dia belum mati, tapi ia tak berhasil mendapatkan dirinya.

Dengan sedih, murung, kecewa dan putus asa, gadis itu putar badan, diam2 berlalu dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun..

setelah jauh tinggalkan tempat yang menyedihkan hati, gadis itu baru teringat akan tujuan kedatangannya kesana, ia hendak balaskan dendam bagi kematian ayahnya.. rasa dendam sakit hati melenyapkan rasa sedih dan kecewa yang semula menyelimuti hatinya, gadis itu langsung bergerak menuju kearah Lian huan tau,pusat kekuatan dari perkumpulan Thian che kau.

Dalam pada itu, Tonghong-Hui dengan sorot mata penuh permohonan sedang awasi wajah kekasihnya, kemudian berkata:

"Engkoh Kie, dapatkah engkau merubah panggilanmu terhadap aku.."

Han siong Kie termenung dengan alis mata berkernyit, lama sekali dia baru menjawab:

"Aku akan menyebut kau Hui moay"

sebutan adik Hui atau Hui-moay itu sangat menyejukkan hati Tonghong Hui, senyuman kini kembali tersungging di ujung bibirnya, ia mengira untuk selamanya tak akan berjumpa kembali dengan Han siong Kie kekasih hatinya, tapi kenyataan berkata lain, saat ini ia telah mendengar kekasihnya memanggil "Hui moay " kepadanya.

Han siong Kie sendiri hanya bisa ter-mangu2 sambil memandang gadis itu, tiba2 ia teringat kembali akan asal usul dari dara manis itu, tanpa sadar sekujur badannya gemetar keras, dengan suara berat ia segera menegur: "Adik Hui, engkau adalah anggota benteng maut?"

Paras muka Tonghong Hui berubah hebat, tak sangka olehnya dalam keadaan begitu ia dapat mengajukan pertanyaan semacam itu, dengan gugup dia mengangguk. "Benar, aa.. Apa salahnya?"

secara tiba2 satu ingatan berkelebat pula dalam hati Tonghong Hui, paras mukanya ikut berubah hebat, dengan hati bergidik dia mundur selangkah ke belakang kemudian menegur:

"Engkoh Kie, kenapa engkau musti menanyakan persoalan itu?" "Aku harus tahu... bagaimanapun juga aku harus mengetahuinya.. Hui moay jawablah sejujurnya.."

"Engkau ingin tahu?" "Benar"

Tonghong Hui tertunduk dengan wajah sedih, siksaan batin yang hebat menyelimuti seluruh perasaannya, sambil menggigit bibir ia menjawab: "Dia adalah ayahku"

"Apa. ? Pemilik benteng maut adalah ayahmu??"

Sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, kemudian kejang2, kenyataan tersebut terlalu kejam.. terlalu sadis.. ia tak mengira kalau adik angkatnya yang disayang dan di cintai ternyata bukan lain adalah putri dari musuh besarnya... anak gadis dari pembunuh besar yang telah membantai selurub keluarga dan isi kampungnya..

Haruslah dia putus hubungan dengan gadis ini tidak mungkin Atau dia harus lepaskan niatnya untuk membalas dendam?? hal ini semakin tak mungkin terjadi Diluar dugaan, Tonghong Hui yang dicintai ternyata adalah putri dari Tengkorak maut yang dianggap sebagai datuk iblis pembawa maut bagi dunia persilatan, suatu kejadian yang mimpipun tak pernah diduga olehnya

Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie berdiri mematung, ia merasa tubuhnya seolah-olah terjerumus kedalam gua saiju yang sangat dingin, membuat sekujur badannya gemetar keras.

Paras muka Tonghong Hui pun ikut berubah-ubah menuruti perubahan sikap dari sang pemuda, ia tahu apa yang sedang dipikirkan engkoh Kienya pada saat ini, dahulu ia tak berani berpikir sampai kesitu, dan sekarang apa yang tak berani dipikirkan akhirnya toh berubah jadi kenyataan.

Dendam dendam macam apakah itu? gadis tersebut

sama sekali tidak tahu. Musuh besar dari ayahnya, tengkorak maut pemilik benteng maut tak terhitung jumlahnya, ia tak pernah memperbolehkan orang lain untuk mencampuri urusannya. Ia merasa hatinya hancur, dia benci atas nasib jelek yang menimpa dirinya.

Cinta. membuat dia terjerumus kelembah kehancuran, kenyataan membuat hatinya remuk redam.

seandainya Han siong Kie benar2 telah mati, maka cinta yang bersemi dalam hatinya akan berakhir mengikuti kematian yang menimpa dirinya, tapi ia tidak mati, suatu kejadian yang diluar dugaan membuat si anak muda itu tetap hidup dikolong langit, kejadian ini mendatangkan rasa kaget dan gembira baginya, tapi kemudian...yang diterima dan dirasakan hanyalah penderitaan yang tiada berakhir.

Dengan watak yang keras dan dingin, tak mungkin ia bisa membatalkan niatnya untuk membalas dendam, dan orang yang hendak di tuntut balas bukan lain adalah ayahnya sendiri. Bagaimana akhirnya gadis itu tak berani berpikir lebih jauh.

setelah pelbagai perasaan dan pikiran berkecamuk dalam benaknya, akhirnya gadis itu mengambil keputusan yang tegas: Ia tertawa sedih, lalu berkata:

"Engkoh Kie, bukankah engkau pernah berkata kepadaku, bahwa antara engkau dengan ayahku terikat oleh dendam berdarah sebesar lautan?"

"Benar" dengan kaku Han siong Kie mengangguk. "Dendam berdarah yang bagaimanakah itu?"

sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari balik mata Han siong Kie sambil menggigit bibir ia menjawab: "Dia telah membunuh ayahku, membantai seluruh isi perkampunganku.."

Tonghong Hui mundur dengan sempoyongan, sambil berusaha menahan pergolakan emosi dia bertanya: "Dan engkau akan membalas dendam?"

-000dewi000-

BAB 35

DENGAN penuh kepedihan Han siong Kie mengangguk. "Adik Hui, meskipun kalau dibicarakan maka kejadian ini

terasa kelewat kejam.. kelewat sadis, tetapi mau tak mau aku harus berbuat begitu, Benteng maut akan hancur seperti perkampunganku, darah segarr akan berceceran menodai seluruh lantai benteng tersebut"

Pucat pias seluruh wajah Tonghong-Hui, tak tahan lagi air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Engkoh Kie, seharusnya kita tak usah bertemu.. tak usah berkenalan.."

"Tapi ternyata kita sudah bertemu dan telah berkenalan, bahkan engkau telah angkat saudara dengan aku"

"Engkoh Kie, aku tahu persoalan ini tak mungkin bisa diselesaikan secara baik2, tak mungkin persoalan bisa beres seperti apa yang kita inginkan, aku... aku..."

"Apa yang kau kehendaki??" "Menggunakan kesempatan ini, aku hendak

memberitahukan sesuatu kepadamu."

"Apa yang hendak kau sampaikan kepadaku"

Air mata yang membasahi wajah Tonghong Hui semakin deras mengalir turun, dengan nada pedih ia berbisik.

"Sejak pertama kali kita berjumpa, aku telah....aku telah "

Han siong Kie bukan seorang manusia yang bodoh, ia tahu apa yang hendak dikatakan gadis tersebut dan diapun tahu perkataan itu tak pernah diduga sebelumnya, walaupun begitu ia tetap bertanya:

"Engkau telah apa?"

"Aku telah jatuh cinta kepadamu"

Han siong Kie terperanjat, jantungnya berdebar keras setelah mendengar perkataan itu, apa yang diduga ternyata sedikitpun tak salah.

Ketika ucapan itu diutarakan keluar, Tonghong Hui tertunduk dengan wajah jengah, tapi sebentar kemudian ia sudah menengadah kembali, sepasang matanya terbelalak lebar, dengan suatu perasaan yang sangat aneh dia awasi wajah Han siong Kie tanpa berkedip.

sianak muda itu sendiri merasakan hatinya bingung dan pikirannya kalut, hampir saja ia tak berani saling beradu pandangan dengan gadis itu.

Tiba2 Tonghong Hui tertawa, tertawanya amat rawan dan menyedihkan hati, dengan suara lirih ia berkata:

"Engkoh Kie, engkau tak akan pandang rendah diriku bukan? sebab apa yang kuucapkan barusan merupakan kesempatan terakhir bagiku untuk mengungkapkan perasaan hati yang sudah lama terpendam dalam hati kecilku.."

"Terakhir ? kenapa terakhir?" satu alamat jelek berkelebat dalam benak Han siong Kie.

"Engkoh Kie" sahut gadis itu lirih. ”rasanya kitapun tak usah saling menutupi rahasia hati kita berdua, engkau tentunya dapat membayangkan bukan apa yang akan kita alami pada akhirnya?"

Dengan perasaan hati yang sedih dan menderita Han Siong Kie tundukkan kepala nya rendahi, ia sama sekali tidak berbicara karena tak tahu apa yang harut dikatakan. Tonghong Hui sendiri, se-akan2 sudah kehilangan rasa malunya lagi, kembali ia berkata.

”Engkoh Kie, bersediakah engkau menjawab sebuah pertanyaanku deogan sejujurnya? jawaban yang muncul dari dasar lubuk hati mu?”

"Katakanlah adik Hui!" Han Siong Kie angkat kepala dan menatap gadis itu tajam-tajam.

Sambil membereskan rambutnya yang terurai tak karuan, Tonghong Hui bertanya. ”Engkoh Kie, apakah engkau cinta padaku?”

Han Siong Kie terperanjat, dengan hati tercekat dia mundur dua langkah lebar kebelakang, mulutnya ternganga dan untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Pemuda itu baru tahu kalau dia adalah seorang gadis pada setengah jam berselang, kalau dikatakan ia cintai gadis tersebut maka jiwaban itu sangat bertentangan dengan perasaan hatinya, kalau dikatakan tidak cinta, sebagai saudara angkatnya tentu saja ia tak dapat berkata demikian.

Ia pernah membenci semua perempuan yang ada dikolong langit, tapi perasaannya dengan Tonghong Hui ternyata jauh berbeda.

Sejak ia mendirikan batu nisan didepan kuburan kosongnya serta kesediannya berkorban demi cinta, pemuda itu sudah tahu betapa cinta dan sayangnya gadis itu terhadap dirinya.

Manusia bukanlah malaikat, apalagi Han Siong Kie merupakan seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, tentu saja hatinya gampang terbunuh oleh perasaan itu

Tonghong Hui merasakan hatinya amat sakit ketika dilihatnya lama sekali Han Siong Kie tidak menjawab, sambil menggigit bibir ujarnya kembali ”Engkoh Kie. aku tidak memaksa engkau untuk mengatakan engkau cinta padaku. asal kutetap mencintai dirimu, itu sudah... sudah lebih dari cukup bagiku!”

"Adik Hui aku cinta padamu!" akhirnya Han Siong Kie berseru lirih ..lirih sekali suaranya sehingga hanya gadis itu saja yang mendengar.

Rasa girang terlintas diatas Wajah Tong-hong Hui, tapi hanya sebentar saja dia sudah menjadi sedih kembali.

”Engkoh Kie, aku tahu engkau berkata begitu karena engkau kasihan kepadaku, engkau sedang menghibur diriku.”

"Adik Hui. aku tidak membohongi dirimu aku merasa dalam hati kecilku benar2 mempunyai perasaan tersebut, memang benar kalau aku membenci seantero perempuan yang ada dijagad, tapi sama sekali tak ada perasaan tersebut pada dirimu, aku sama sekali tiada ingatan untuk menghibur hatimu derigan kata2 yang manis, aku bicara sejujur-jujurnya!"

"Sungguh?!” "Sungguh!"

”Engkoh Kie, aku mengharapkan sesuatu.?”

"Apa yang kau harapkan ? Bagimu adalah untuk pertama kalinya, juga merupakan permintaanku yang terakhir ”

"Adik Hui. katakanlah aku .. "

”Ciumlah aku! Bisik” Tonghong Hui sambil pejamkan matanya, bibir yang kecil mungil seakan akan sedang menantang lawan jenisnya untuk menubruk:

Seketika itu juga Han Siong Kie merasakan wajahnya jadi merah dan panas, jantungnya berdebar keras, suaiu perasaan tegang yang belum pernah dialaminya membuat napasnya jadi memburu dan tersengkal-sengkal. dengan gelagapan karena kaget ia berseru : "Cciii.cium... cium kau...?"

"Ehmm!” Gadis cantik itu mengangguk lirih.

Wajahnya yang cantik jelita dengan sepasang bulu mata yang hitam tebal, ditambah hidung yang mancung serta bibirnya yang kecil mungil dan merah menantang membuat jantung sianak muda itu berdebar makin keras.

Suatu rangsangan yang hebat...membuat kesadaran Han Siong Kie berangsur2 lenyap

Akhirnya dengan langkah kaki yang berat, ia mendekati gadis cantik itu.

Bau harum semerbak yang aneh dan belum pernah tercium sebelumnya merangsang berahi dalam tubuh pemuda itu, suatu rangsangan yang membawa dia menuju kealam impian yang aneh.

Ia merangkul tubuh gadis itu eratl, sementara Tonghong Hui balas pelukan itu dengan rangkulan yang mesra.

Akhirnya akhirnya sepasang bibirpon saling beradu dan menempel saling menghisap diiringi makin rapatnya tubuh mereka berdua begitu rapatnya seakan2 telah melebur jadi satu.

Ciuman yang amat mesra ciuman yaug panjang dan lama.

Dalam keadaan seperti itu, dunia se akan2 telah berhenti berputar, waktu se olah2 berjalan seluruh jagad jadi sepi dan hening ada hanyalah kehangatan.. serta kemesraaan yang membuat jantung kedua insan tersebut berdetak semakin keras..

Tak jauh dan tempat kejadian tepatnya dari balik semak belukar berkumandang suara helaan napas panjang..

Tapi. sepasang muda-mudi yang sedang di mabok cinta sama sekali tidak merasakan akan hal itu. Lama..lama sekali., akhirnya Tonghong Hui mendorong tubuh kekasihnya dan melepaskan diri dari pelukan.

Air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, ia tertunduk sedih dan berbisik :

"Engkoh Kie, aku merasa puas., aku merasa puas sekali, aku sudah tidak mengharapkan apa2 lagi dalam hidupku kali ini!"

Perasaan sedih serta siksaan batin yang amat berat membuat seluruh wajah Han-Siong Kie berkerut kencang, ia. bergumam seorang diri :

"Apa yang telah kulakukan? sebenaroya apa yang telah kulakukan...?"

"Engkoh Kie, engkau menyesal?" "Tidak aku tak kenal kata menyesal"

"Mengapa engkau menyesali diri sendiri?"

"Adik Hui, aku tak dapat menjelaskan bagaimanakah perasaan hatiku pada saat ini"

Tonghong Hui mengangguk.

"Engkoh Kie, aku tahu antara cinta dan dendam telah melibatkan engkau kedalam suatu keadaan yang serba sulit, bukankah engkau murung dan kesal karena menghadapi cinta yang tak berakhir ini? tapi engkoh Kie, aku tak dapat menghindarkan diri dari penentuan takdir, siau moay telah mempunyai satu rencana...".

"Rencana? apa rencanamu itu?"

"Tentang soal ini.. engkau tak usah bertanya, yang jelas mulai detik ini baik didunia maupun didalam baka kita selalu bersama.. hati kita selalu bersatu.."

Rupanya Han siong Kie dapat merasakan gelagat yang kurang baik dari pembicaraan itu, buru buru tegurnya: "Adik Hui, apa maksudmu mengatakan begitu..?"

Paras muka Tonghong Hui yang cantik seakan2 dalam waktu singkat telah jadi layu, sambil menahan isak tangisnya dia berkata:

"Engkoh Kie, inilah yang dinamakan nasib cinta tak dapat menghilangkan dendam, semoga saja karena dendam jangan sampai menghilangkan rasa cinta"

Dengan sedih Han siong Kie mengawasi lawannya dalam keadaap seperti ini, apa yang bisa dikatakan lagi?

Tonghong Hui menengadah ke udara dan menghela napas sedih, bisiknya lagi: "Engkoh Kie, aku akan pergi.. semoga engkau dapat baik2 jaga diri"

sambil menutupi wajahnya dengan ujung baju, gadis itu putar badan dan berlalu dari sana dengan cepatnya.

Han siong Kietak dapat berbuat apa2, dia hanya bisa memandang bayangan punggung gadis itu lenyap dari pandangan dengan pandangan kaku, dia ingin berteriak namun tiada suara yang mampu meluncur keluar dari mulutnya, dia ingin mengejar tapi kakinya serasa tak dapat bergerak tinggalkan tempat itu.. dendam kesumat sedalam lautan membuat pemuda itu kehilangan kebebasannya untuk memilih, ia tak dapat mementingkan soal cinta dan mengesampingkan soal dendam, tapi diapun tak dapat memupuk cinta sambil mencari ayahnya menuntut balas.

Kenyataan telah menggariskan, membuat ia tak dapat bersatu dengan gadis tersebut.

Dalam sekejap mata, pemuda itu merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, hatinya terasa amat sakit bagaikan di iris2.

selama ini Tonghong Hui telah memberikan budi dan cintanya kepada dia, cinta yang diberikan kepadanya lebih dalam dari samudra, tapi pemuda itu tak dapat berbuat apa2, dia hanya dapat membiarkan gadis itu pergi meninggalkan dirinya.

Tiba2..ia teringat kembali akan sesuatu, pemuda itu se- olah2 mendengar lagi perkataan terakhir yang diucapkan Tonghong-Hui. "Semoga hati kita selalu bersatu baik dalam jagad maupun di alam baka" sekujur tubuhnya gemetar keras, ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya.

"Aaaah pikiran itu tak benar, rupanya dia ada maksud untuk bunuh diri, aku harus menghalangi niatnya itu" Tak kuasa lagi ia menjerit keras.

"Adik Hui. engkau tak boleh.."

sekali enjot badan, bagaitan sambaran kilat cepatnya ia bergerak menuju ke arah mana Tonghong Hui melenyapkan diri

"Nak, kembalilah"

suara teguran itu tidak terlalu keras, namun amat mencekat hati, seketika itu juga Han siong Kie menghentikan gerak tubuhnya.

"Nak, biarkan dia pergi, justru dengan sikapnya itu maka keadaan jauh lebih baik"

Han siong Kie dapat kenali suara itu sebagai suara dari orang yang kehilangan sukma, sekujur badannya gemetar keras, ia merasa manusia misterius itu seakan2 sukma gentayangan, dia selalu membayangi disekeliling tubuhnya. Dengan cepat ia berhenti dan berseru:

"cianpwee, bagaimanapun juga aku harus mengejar dirinya sampai dapat"

"Kenapa ?"

"Dia..dia.. aku kuatir kalau dia akan mengambil keputusan pendek untuk mengakhiri hidupnya." "Aaah kejadian itu tak mungkin terjadi" suatu jawaban yang tegas dan meyakinkan.

Han siong Kie termangu2, kembali dia berkata:

"Dengan dasar apakah cianpwee mengatakan kalau dia tak mungkin akan mengambil keputusan pendek?? "

"Meskipun dia mempunyai keinginan untuk berbuat begitu, tapi tak mungkin hal itu bisa dilaksanakan olehnya"

"Mengapa bisa begitu?? "

"Tentang soal ini, lebih baik engkau tak usah tahu" "Cianpwee bagaimanapun juga aku tidak dapat

mempercayai perkataan dari cianpwee dan mengorbankan dirinya dengan begitu saja"

sekali lagi dia enjotkan badan siap berlalu dari situ.

"Han siong Kie, aku larang engkau berbuat begitu" seruan ini begitu berwibawa dan se-akan2 mengandung nada perintah yang tak bisa dibantah lagi, membuat Han siong Kie tanpa sadar harus menghentikan kembali perjalanannya.

"Apa maksud dan tujuan orang yang kehilangan sukma menghalangi dirinya untuk menyusul gadis itu?" Apakah diapun..

Dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, orang yang kehilangan sukma berkata:

"Nak. dengarkanlah perkataanku Janganlah timbul pikiran yang bukan bukan atas perbuatanku ini?"

"Tapi.. ciaapwee bagaimanapun juga aku toh tak boleh biarkan gadis itu bunuh diri tanpa berusaha untuk menolong"

"Sudah kukatakan tadi, tak mungkin dia akan bunuh diri inilah suatu akhir yang paling baik buat hubunganmu dengan dirinya." "Suatu akhir yang paling baik?" "Benar"

"Aku tahu kami berdua tak mungkin dapat bersatu, karena dendam berdarah yang ditinggalkan generasi yang lalu telah mencintakan sebuah jurang pemisah yang sangat dalam diantara kami berdua.."

"Aaah soal itu sih belum tentu, tapi yang jelas ada jurang pemisah lain yang jauh lebih dalam telah memisahkan hubungan kalian berdua, dan bagaimanapun juga kalian berdua tak mungkin bisa melewati jurang pemisah tersebut"

"Aku tidak mengerti dengan ucapan itu"

"Mengerti juga baik tak mangertipun tidak mengapa, pokoknya aku berharap agar engkau bisa menganggap peristiwa ini sebagai kejadian yang sudah lewat, lebih baik lagi kalau engkau dapat melupakan selama2nya"

"Benar, aku memang tidak memiliki jalan kedua yang bisa kutempuh lagi, aku memang harus melupakan dirinya"

"Nak. sekarang kau harus segera berangkat menuju ke wilayah Lian-huan-tau untuk menyelamatkan nyawa seseorang" ujar orang yang ka hilangan sukma kemudian.

"Menolong orang? siapa yang harus kutolong?" seru Han siong Kie terperangah.

"orang itu adalah Go siau Bi "

"Apa yang terjadi dengan dirinya??"

"Dia telah terkurung didalam wilayah Lian huan tau." "Tapi dia toh memiliki ilmu silat yang sangat lihay, masa ia

bisa terjebak.."

"Wilayah Lian huao tau merupakan daerah rawan yang diciptakan oleh alam, setelah diberi tambahan disana sini oleh seorang yang pandai, tempat itu sudah berubah jadi sebuah barisan yang aneh dan tangguh sekali, siapapun sulit untuk lolos dari kurungan itu dengan mudah."

"Aku yang muda sudah berulang kali menerima budi pertolongan dari nona Go, sudah sepantasnya kalau aku berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, sekarang juga aku akan berangkat kesana."

"Tunggu sebentar"

"Apa yang hendak cianpwee katakan lagi?"

"Aku akan serahkan selembar peta lembah Lian huan tau kepadamu, dan engkau dapat masuk kedalam lembah tersebut mengikuti peta itu, tapi ingat setelah berhasil menolong Go siau Bi maka engkau harus segera mengundurkan diri, jangan terlalu lama tinggal disana dan jangan mencoba untuk menorobos masuk kedalam markas besar perkumpulan Thian che kau"

"Kenapa??"

"sebab tujuanmu hanya menolong orang " "Baik, aku yang muda akan turut perintah"

selembar kertas dilemparkan keudara dan melayang kearah sianak muda itu, dengan cepat Han siong Kie menyambutnya, dia tahu itulah peta lembah Lian huan tau yang diberikan orang yang kehilangan sukma kepadanya, tanpa diteliti lagi ia berseru. " Cianpwee, selamat tinggal aku akan berangkat lebih dahulu."

sekali enjot badan ia langsung bergerak menuju kearah wilayah Lian huan tau, suara bentakan gusar dan angin pukulan secara lapat2 berkumandang dari balik lembah itu.

Han Siong Kie ambil keluar peta lembah yang diberikan orang yang kehilangan sukma kepadanya itu, setelah diteliti beberapa kali dan sebagian besar sudah teringat dalam benaknya, ia segara mesukkan kembali peta itu kedalam saku dan dia melanjutkan perjalanan..

"sahabat, siapa kau?" tiba2 teguran nyaring berkumandang dari arah depan- "berani benar engkau mengintip lembah Lian huan-tau kami".

Mengikuti suara teguran itu, enam sosok bayangan manusia munculkan diri didepan mulut lembah, kemudian serentak mereka menyebarkan diri dan menghadang jalan masuknya.

Dengan pandangan mata yang amat dingin Han siong Kie menyapu sekejap keenam orang penghadang itu, ia lihat mereka adalah enam orang pria kekar berbaju hitam yang menyoreng pedang.

Menyaksikan musuhnya tetap membungkam, sekali lagi salah seorang diantara keenam orang pria kekar itu menegur:

"sahabat, siapa kau? aku harap engkau bersedia menyebutkan namamu" Han siong Kie mendengus dingin.

"Hmm cuma andalkan kedudukan kalian berenam? jangan mimpi disiang hari bolong" Tanpa menggubris lawannya, dengan langkah lebar dia berjalan kemulut lembah.

Enam orang pria kekar itu segera membentak keras, enam bilah pedang dengan menciptakan selarik cahaya tajam yang menyilaukan mata menghadang jalan perginya.

Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, ia berjalan terus hingga jarak lima langkah dari musuhnya, kemudian sambil menghimpun tenaga dia lepaskan satu pukulan yang maha dahsyat, dua jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian, dua orang pria kekar yang bergerak maju lebih dahulu seketika terpental kebelakang dan roboh binasa.

Melihat kelihayan musuhnya, empat orang pria kekar itu jadi kaget dan ketakutan setengah mati, buru2 mereka menyingkir ke arah samping. Han siong Kie sama sekali tidak berhenti, dengan langkah yang cepat ia menerobos masuk kedalam dan tinggalkan musuh-musuhnya jauh dibelakangi

Tiba2 suara bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian, dari sisi jalan lembah meluncur kembali tiga sosok bayangan manusia.

Han siong Kie segera menghentikan gerak tubuhnya dan menyapu kearah ketiga orang itu, ia lihat orang yang berada dipaling depan adalah kupu2 warna warni Li In Hiang ketua tongcu yang pernah dikenal, diiringi dua orang dayangnya.

Untuk beberapa saat kedua belah pihak sama berdiri terperangah tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Mula2 Kupu warna warni Li In Hiang menunjukkan wajah yang kaget bercampur ngeri, tapi sejenak kemudian sambil tertawa genit tegurnya nyaring. "Eei, Han sauhiap. sungguh tak kusangka kita bakal bertemu kembali"

"Hmm Li In Hiang, engkau jangan gembira dulu" seru Han siong Kie sambil mendengus dingin. "saat kematianmu sudah hampir tiba"

"Aduh Han sauhiap pandai benar engkau bergurau" seru Kupu2 warna warni lagi dengan sikap yang sangat genit "diantara kita berdua toh tak pernah terikat oleh dendam ataupun sakit hati, masa engkau hendak bunuh aku?"

"sudah terlalu banyak pemberian yang dihadiahkan perkumpulan Thian che kau kepadaku, namun itu bukan alasanku yang terutama untuk membinasakan dirimu.."

"Bunuh aku? Hiihh..hiihh..hiihh.. membicarakan soal membunuh dalam lembah lian-huan tau.. Han sauhiap apakah engkau tidak merasa terlalu tak pandang sebelah matapun terhadap kami ?"

"Engkau anggap aku benar2 tak mampu untuk membinasakan dirimu..?" Paras muka Kupu warna warni Li In Hiang berubah dingin membesi, alis matanya berkenyit, dia menegur dengan ketus:

"Manusia bermuka dingin, aku kuatir kalau engkau tak dapat keluar dari sini dalam keadan hidup"

-ooodewiooo-

BAB 36

"LI IN HIANG" ujar Han siong Kie dengan suara dingin, engkau masih ingat dengan peristiwa terbunuhnya Go Yu Too ketua perkumpulan Pat gi- pang?"

"Tentu saja masih ingat, sebab akulah yang membinasakan orang she Go itu"

"Masih ada lagi.. kematian dari kang lam jit-koay..." "Benar.. tepat sekali, aku semua yang bereskan jiwa

mereka, tapi apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Aku mempunyai sedikit hubungan dengan putri dari ketua Pat gi pang itu, karenanya aku ingin mewakili dirinya untuk bereskan hutang piutang tadi" Kupu warna warni Li In Hiang tertawa ter-kekeh2 sehabis mendengar perkataan itu. "Hiihh..hiiihh..hiiih.. bagaiimana caramu untuk bereskan hutang piutang ini?"

Hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati tiba2 berkelebat diatas wajah Han Siong Kie yang ganteng. dia menerjang maju kedepan lalu berkata: "Hutang darah bayar darah, aku hendak petik batok kepalamu itu"

Kupu warna warni Li In Hiang tergetar mundur tiga langkah oleh hawa napsu membunuh yang begitu tebal dari lawannya, sedangkan dua orang dayang itu ikut mundur beberapa langkah kebelakang karena ngeri bercampur seram. "Manusia bermuka dingin, engkau tak mungkin dapat melakukan perbuatan itu."

"Huuuh.. kalau tidak percaya, coba saja kelihayanku ini " seraya berkata sianak muda itu bergerak maju kedepan

dengan gerak cahaya kilat lintasan bayangan, sekali berkelebat tahu2 tubuhnya sudah berada tepat dihadapan kupu2 warna warni Li In Hiang, membuat beberapa orang itu menjerit kaget dan buru2 menghindarkan diri..

"Perempuan anjing, engkau hendak kabur ke mana?" hardik pemuda itu, kelima jari tangannya bergerak cepat kedepan dan siap mencekeram tubuh musuhnya.

Cengkeraman tersebut dilepaskan dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, nampaknya kupu2 warna warni Li In Hiang tak akan lolos dari cengkeraman tersebut.

Disaat yang paling kritis itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang suara desiran angin tajam yang menyergap punggungnya.

Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sadar bahwa seorang jago lihay telah melepaskan senjata rahasia kearahnya, jika ia tak menghindar niscaya tubuhnya akan terluka parah.

Dalam keadaan demikian, terpaksa ia harus tarik kembali ancamannya sambil bergerak kesamping sejauh delapan depa dari tempat semula.

Ia temukan benda yang digunakan untuk mengancam tubuhnya tidak lebih hanya beberapa lembar daun, tapi setelah mengetahui siapa yang lepaskan sergapan itu, tak kuasa lagi pemuda itu berseru tertahan, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri.

Ternyata orang yang melancarkan sergapan tersebut, bukan lain adalah ibu kandungnya yang berhati keji bagaikan ular beracun, Siang g o cantik ong cui Ing adanya. Seluruh wajah dia nak muda itu berkerut kecang, tubuhnya gemetar keras karena harus menahan emosi.

Menggunakan kesempatan yaag sangat baik itulah, kupu2 warna warni Li In Hiang telah mengundurkan diri delapan depa ke belakang.

siang go cantik ong cui Ing dengan muka dingin bagaikan es berdiri tegak dihadapannya, sorot matanya yang tajam dan menyeramkan mengawasi wajah Han Siong Kie tanpa berkedip..

sianak muda ttu merasakan hatinya remuk redam, tempo dulu ibunya pernah turun tangan keji atas dirinya sehingga hampir saja ia mati konyol dalam penjara batu, sekarang kembali ibunya menyergap untuk mencabut jiwanya, kejadian ini membuat darah dalam tubuhnya bergolak keras..

Benarkah dia sebagai seorang anak harus turun tangan terhadap ibunya sendiri?

Seganas2nya harimau tak akan dia terkam anaknya sendiri, tapi ibunya, dia tega untuk membunuh anak kandungnya sendiri, bukankah itu berarti bahwa kekejaman hatinya jauh melebihi ganasnya harimau atau srigala??

suasana diliputi keheningan dan kesunyian, lama sekali akhirnya siang go cantik ong Ciu Ing berkata:

"Manusia bermuka dingin, sungguh tak kusangka engkau berani mengumpankan diri kedalam perangkap kami, tempo hari engkau berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku, tapi sekarang.. Hmm sekalipun punya sayap jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"

Kembali Hin siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia sakit hati, pemuda itu merasakan hatinya e akan2 diiris dengan pisau tajam, ia tak menyangka ibu kandungnya dapat mengucapkan kata2 seperti itu... ia merasa hatinya teriuka dan sedang mengucurkan darah... Kalau toh dia tidak menganggap dirinya sebagai anak, kenapa aku musti anggap dia sebagai ibu?

Ingatan semacam itu berkelebat dalam benaknya, dengan suara sedih karena menahan emosi katanya:

"Nyonya ketua, ini hari apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?"

sekujur badan siang go cantik ong cui Ing tampak gemetar keras, suatu cahaya yang sangat aneh terlintas di atas wajahnya, tapi hanya sebentar saja telah lenyap dari pandangan, sahutnya dengan suara ketus:

"Manusia berwajah dingin, barang siapa berani masuk kedalam wilayah lian huan-tau, dia harus mampus"

setiap patah kata yang meluncur keluar dari mulutnya, se akan2 anak panah yang menghujam dalam tubuhnya:

Jeritan ngeri kembali berkumandang dalam lembah sebelah dalam, jeritan itu begitu mengerikan sehingga mendirikan bulu roma siapapun yang mendengar.

satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han siong Kie, dia ambil keputusan untuk membunuh kupu2 warna warni Li In Hiang lebih dahulu kemudian baru menolong Go siau Bi.

Dari jeritan ngeri yang berkumandang tiada hentinya,jelas membuktikan kalau Go siau Bi masih terlibat dalam suatu pertarungan sengit:

sekarang.. yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya untuk menghadapi nyonya ketua dari perkumpulan Thian che kau yang bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri?

Apakah dia harus bertempur melawan dirinya? saling membunuh dengan ibu kandungnya sendiri??"

setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu segera mengambil keputusan, tiba2 dia enjotkan badan dan menerjang kearah kupu warna warni Li In Hiang yang berada kurang lebih satu tombak dihadapan mukanya.

Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapapun, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam kupu warna warni Li In Hiang, tahu2 pihak musuh telah menubruk datang.

Dalam gugupnya, cepat2 dia ayunkan telapaknya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut.

"Duuk Blaamm" bentrokan kekerasan bergema diangkasa, jeritan kesakitan berkumandang memilukan hati, sambil muntah darah segar kupu warna warni Li In Hiang terhantam sampai mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.

Hampir pada saat yang bersamaan, segalung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya mengancam tiba dari belakang tubuh pemuda itu.

Kembali terdengar dengusan berat memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Han siong Kie terdorong maju lima langkah ke depan, ia segera berpaling dan tampaklah siang go cantik ong Cui Ing berdiri tepat dua tombak dihadapannya.

Dua orang dayang yang semula menghindarkan diri kesamping itu maju kedepan dan memayang bangun kupu warna warni Li In Hiang yang terluka parah, kemudian tanpa banyak bicara segera selamatkan majikannya kedalam lembah.

Han siong Kie menggertak gigi menahan emosi, dengan suara gemetar serunya: "Kaa kalau toh engkau...ti ..tidak mengakui aku sebagai aaa... anakmu..."

"Tutup mulut" hardik siang go cantik ong Cui Ing dengan suara keras.

"Nyonya kaucu" kata Han siong Kie lagi dengan hati yang mantap. "apakah engkau hendak paksa diriku untuk turun tangan?" "Ehmm hmmm turun tangan ? besar amat bacotmu, engkau masih ingin berlalu dari sini dalam keadaan hidup?"

Han siong Kie merasa amat sedih sekali denyan air mata bercucuran dia menengadah dan berseru pedih:

"Ooooh...ayah engkau yang berada di alam baka pastilah dapat menyaksikan semuanya ini, aku dipaksa untuk turun tangan, maafkanlah daku"

Ucapan itu sangat mengenaskan, membuat siang go cantik ong Cui Ing tanpa sadar mundur dengan sempoyongan.

Pada saat itulah di mulut lembah kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia, mereka adalah lima orang kakek tua dan seorang pemuda. Pemuda itu bukan lain adalah kaucu muda Yu sau Kun.

Bertemu dengan musuh bebuyutannya, kedua belah pihak sama2 menggeram gusar, Yu sau Kun segera membentak keras:

"Manusia bermuka dingin, rupanya engkau datang untuk menghantar kematianmu?"

Dengan bentakan keras, tanpa banyak bicara Yu sau Kun segera melancarkan serangan2 kilat untuk menghajar tubuh lawannya. .

Han siong Kie teramat gusar, menyaksikan datangnya ancaman itu dengan jurus Mo Mo ciang liong atau telapak iblis menundukkan naga yang disertai tenaga pukulan sebesar sepuluh bagian, dia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaamm" sepasang telapak saling beradu menimbulkan suara ledakan yang amat dagsyat, Yu sau Kun menjerit kesakitan sambil muntah darah segar ia roboh terkapar keatas tanah. Han siong Kie amat benci dengan pemuda itu, melihat musuhnya roboh dengan cepat la menerjang kemuka, telapak kirinya diayun lagi siap mencabut jiwanya.

"Jangan bunuh orang" bentak ong Cui Ing sambil bergerak maju kedepan, secepat sambaran kilat dia lancarkan delapan buah serangan berantai.

Walaupun dalam hati kecilnya Han Siong Kie merasa amat benci dan mendendam, tapi berhubung pihak lawan adalah ibunya sendiri, terpaksa ia harus mengundurkan diri kebelakang.

Melihat musuhnya mundur, ong cui Ing segera manfaatkan kesempatan itu sebaik2nya, dia sambar tubuh Yu sau Kun dan melayang mundur beberapa tombak kebelakang, dari sakunya dia ambil keluar sebutir pil dan dijejalkan kedalam mulutnya.

Dalam pada itu lima orang kakek tua yang datang bersama Yu sau Kun tadi segera turun tangan bersama ketika dilihatnya nyonya keucu mereka mundurkan diri, serangan gencar ditujukan keseluruh tempat berbahaya ditubuh lawan.

Han siong Kie tak akan pandang sebelah matapun terhadap lawannya, dengan jurus "Mo hwe liau goan" atau api iblis membakar ladang, dengan suatu serangan yang cepat bagaikan kilat ia hajar musuh2nya...

"Blaaamm Blaamm" beberapa kali bentrokan keras terjadi diudara, lima orang kakek tua tergetar keras hingga tercerai berai keempat penjuru.

ong cui Ing membentak nyaring, untuk kedua kalinya dia lancarkan serangan kilat kearah Han siong Kie, telapaknya berputar kian lemari dengan cepatnya, serangan2nya amat ganas dan mengerikan, tiga pukulan beruntun mendesak pemuda itu habis2an.

sepasang mata Han siong Kie berubah jadi merah ber-api2, hawa nafsu membunuh berkobar menyelimuti wajahnya, dengan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan dia menghindarkan diri dari sergapan ong cui Ing, kemudian bagaikan sukma gentayangan ia balik menerjang kelima orang kakek tua itu.

Sepuluh jari tangannya menyentil bersama ilmu jari Tong kim ci yang maha sakti laksana kilat meluncur kedepan.

Jeritan ngeri berkumandang diudara dan menggetarkan empat penjuru, darah segar membanjiri seluruh permukaan tanah, lima orang kakek tua itu dengan dada berlubang roboh binasa diatas tanah.

ong cui Ing membentak keras, kembali ia terjang kemuka.

Selama pertarungan berlangsung, tangan kanannya tersembunyi terus dibalik bajunya, ia hanya mengandalkan tangan kirinya yang dipentangkan bagaikan cakar untuk melayani serangan2 musuh.

Han Siong Kie berusaha menghindar kekiri berkelit kekanan, namun ia selalu gagal untuk melepaskan diri dari pengaruh serangan musuh.

Dalam keadaan begini, kendatipun dalam hati kecilnya ia tak ingin memakai kekerasan untuk menghadapi ibunya, namun keadaan memaksa dirinya mau tak mau harus melindungi keselamatan sendiri.

Tiba2 dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat dengan sebuah jurus Raja iblis menyembah langit.

Jurus serangan ini merupakan salah satu diantara tiga jurus pukulan terampuh dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat, dewasa ini dalam dunia persilatan jarang ada orang yang mampu menerima serangan tersebut.

Ditengah deruan angin pukulan yang memekikan telinga, bayangan telapak berlapis lapis bagaikan bukit, dalam waktu singkat seluruh jalan darah penting ditubuh lawan sudah tercekam dalam ancamannya. ong Cui Ing membentak nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dengan suatu gerakan yang manis, tahu2 ia telah meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Han siong Kie merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini telah mencapai taraf kesempurnaan yang begitu tinggi, untuk sesaat ia berdiri tertegun.

Pada saat itulah, mendadak perempuan itu menggetarkan sepasang ujung bajunya kearah depan, segulung angin pukulan yang sangat berat seketika menerjang tubuhnya.

Dari serangan yang begitu dahsyat dan mengerikan, jelaslah sudah kalau ibunya bermaksud untuk membinasakan dirinya dalam pukulan dahsyat itu juga.

Rasa benci, gusar, mendongkol dan penasaran tercampur aduk dalam benaknya, sepasang telapak segera diayun bersama dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya.

Angin pukulan men-deru2, pasir debu beterbangan memenuhi angkasa, kejadian ini benar-benar nampak mengerikan-

Termakan oleh dahsyatnya angin pukulan tersebut, ong Cui Ing segera bergerak mundur enam depa kebelakang.

Han siong Kie sendiripun tergetar mundur sehingga mundur satu langkah lebar ke belakang dengan sempoyongan-.

ong ciu Ing tak mau melepaskan musuhnya dengan begitu saja, kembali telapak kirinya bergerak cepat bagaikan naga beracun muncul dari dalam samudra, dengan suatu pukulan yang maha dahsyat dia lepaskan kembali satu ancaman maut.

Han siong Kie diam2 merasa keheranan dan tak habis mengerti, mengapa pihak lawan selalu menyerang dengan tangan sebelah belaka, tapi kenyataan tidak mengijinkan pemuda itu untuk berpikir panjang, serangan musuh yang begitu dahsyat tahu2 sudah mengancam tiba, memaksa dia harus menggunakan jurus bertahan dari ilmu telapak Mo Mo ciang-hoat untuk mempertahankan dari.

ong Ciu Ing tidak mau memberi kesempatan kepada musuhnya untuk tukar napas, pukulan yang berantai ibaratnya gulungan ombak disungai tiang kang meluncur dan menggulung datang tiada hentinya, keadaan benar2 mengerikan.

Dalam keadaan demikian hanya ada dua pilihan bagi Han siong Kie, pertama adalah mampus diujung telapak lawan, atau kedua melancarkan serangan balasan dengas ilmu jari Tong kim ci.

Akhirnya setelah otaknya berputar beberapa waktu dan ambil keputuran untuk memilih yang kedua, dalam keadaan seperti ini dan tidak ingin mati konyol, karena dia masih harus mempertahankan hidupnya guna menuntut balas. Maka dengan suara yang parau histeris pengaruh emosi, dia membentak keras: "Apakah engkau hendak paksa aku untuk turun tangan keji terhadap dirimu??"

ong Cui Ing sama sekali tidak menggubris teriaknya itu, malahan serangan yang dilancarkan olehnya kian lama kian bertambah gencar, kian lama kian bertambah rapat.

Han Siong Kie benar2 terdesak sehingga hampir saja dibuat kalap olehnya, akhirnya dia menggigit bibir, sepuluh jari tangannya disentilkan kedepan dan segulung desiran angin tajam yang mengerikan dan dengan cepat meluncur kedepan-

Jerit kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, serangan yang semula gencar dan tiada putusnya tiba2 sirap dan lenyap tak berbekas.

ong Cui Ing dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat mundur kebelakang dengan langkah sempoyongan- Ilmu jari Tong kim ci adalah suatu ilmu sentilan yang maha dahsyat sekali, untuk menciptakan kepandaian yang maha sakti itu Mo tiong ci mo harus mengorbankan waktu selama empat puluh tahun lamanya, dengan tenaga dalam Han siong Kie yang hampir mendekati dua ratus tahun hasil latihan, tentu saja keampuhannya mengerikan sekali.

Kendatipun begitu, ong Cui Ing yang termakan oleh sentilan ilmu jari tersebut sama sekali tidak roboh, meskipun dengan telak serangan tadi mampir diatas tubuhnya, dari sini dapat membuktikan pula bahwa tenaga dalam yarg dimiliki perempuan itupun mengerikan-

Dengan pandangan yang sedih dan penuh penderitaan Han siong Kie melihat sekejap kearah ibunya kemudian dia putar badan dan meneruskan perjalanannya menuju kedalam lembah.

Dengan andalkan peta lembah yang dihadiahkan orang yang kehilangan sukma, tanpa mengalami banyak kesulitan sianak muda itu berhasil masuk ketengah lembah.

sementara itu pertarungan yang berlangsung dalam lembah telah berhenti, suasana pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian-

Han Siong Kie merasa amat gelisah sekali, orang yang kehilangan sukma memerimtahkan dirinya datang kesitu untuk menolong Go siau Bi, tetapi karena mendapat banyak rintangan banyak waktu sudah terbuang dengan percuma, dia kuatir gadis itu sudah keburu tertangkap atau dibunuh oleh lawan.

-000dewi000-