Tengkorak Maut Jilid 16

 
Jilid 16

KEMBALI pemuda itu melanjutkan pembacaannya atas surat tersebut.

"Empat puluh lima tahun berselang, aku masuk kedaratan Tionggoan tapi karena menderita kalah ditangan Pemilik benteng maut, maka aku tak pernah kembali lagi kewilayah Thian-lam, oleh sebab itu dengan surat ini kuperintahkan kepadamu untuk meneruskan jabatanku sebagai kaisar Tee kun angkatan ke empat belas dari istana Huan mo kiong.." Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras karena emosi yang sukar dilukiskan, suhu memerintahkan dirinya untuk meneruskan jabatannya sebagai kaisar istana Huan mo kiong, tapi.. belum lama berselang dari mulut para pengawal istana baju hijau ia sempat mendengar kalau istana Huan mo kiong telah mempunyai seorang ketua baru, dan rombongan pengawal itu sedang melaksanakan perintah dari kaisarnya untuk masuk daratan Tionggoan mencari hawa perawan gadis persilatan, dari sini dapatlah diduga bahwa selama puluhan tahun gurunya tak pernah kembali kewilayah Thian-lam, disitu telah terjadi banyak perubahan besar ....

Setelah berpikir sebentar, ia membaca lagi isi surat itu: "Apa yang barusan kukatakan merupakan suatu perintah

yang tak boleh dibantah, tanda pengenal mutiara setan bengis merupakan tanda kekuasaan dari perguruan, dan benda itu hanya dimiliki oleh seorang ketua perguruan belaka.”

Kembali Han Siong Kie merasakan hatinya terperangah, kalau toh untuk memimpin perguruan diwilayah Thian lam itu seorang ketua harus memiliki tanda pengenal mutiara setan bengis, lalu dengan tanda pengenal apakah kaisar Tee Kun yang berkuasa diistana huan mo kiong pada saat ini naik tahta?

Dengan penuh kebingungan ia gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian lanjutkan kembali membaca isi surat itu.

"Tanda pengeral mutiara setan bengis merupakan tanda pengenal yang diwariskan cousu perguruan kami, barang siapa yang jadi anggota perguruan Thian lam harus berlutut bila bertemu dengan benda ini, barang siapa berani membangkang perintah ini berarti ia hendak melenyapkan perguruan dan menghina cousu, orang itu harus dihukum mati

." Membaca sampai disini tak kuasa lagi Han Siong Kie menelan air ludahnya, ia membaca lebih jauh:

"Mutiara dibalik permukaan tanda pengenal ini merupakan mutiara yang amat tersohor dinegeri Persia, keistimewaannya jika disaluri hawa murni maka pantulan cahaya yang memancarkan keluar akan melumpuhkan kesadaran otak pihak lawan, tapi berhubung selama ini aku selalu mengandalkan kekuatanku untuk menghadapi lawan, maka keampuhan tersebut belum pernah kucoba.."

Dari perkataan ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa lblis diantara iblis adalah seorang manusia yang jujur dan pandekar sejati.

Tanpa sadar rasa hormat dan kagum Han Siong Kie terhadap gurunya semakin menebal satu tingkat.

Terbaca olehnya kata2 selanjutnya berbunyi demikian. "Ingatlah baik2. dalam perguruan kita terdapat sejenis ilmu

sesat yang bernama Tui bun kang, jika pukulan itu dilepaskan maka settap korban yang berada didaerab seluas lima lombak pasti akan mati konyol tanpa bisa ditolong. Tapi berhubung kepandaian ini barus dilatih dari gabungan hawa murni yang dilatih sendiri dengan sari perawan seratus orang gadis muda yang pernah belajar ilmu silatdan kekejian dari ilmu ini luar biasa sekali, maka cousu angkatan kedelapan telah menurunkan perintah untuk melarang setiap anggota perguruan untuk mempelajari kepandaiao ini, siapa berani melanggar harus mati,

Tulisan darah dari :Tong Ceng

Setelah membaca surat itu, Han Sion gKie baru mengerti apa maksud dan tujuan para pengawal istana Huan mo kiong dikirim ke daratan Tionggoan untuk menangkap gadis2 perawaD yang belajar silat. Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Thian-lam yang diperintahkan gurunya untuk meneruskan kedudukannya sebagai kaisar istana Huan mo-kiong sudah tentu Han Siong Kie tak ingin menyaksikan perbuatan yang melanggar peraturan perguruan itu di lakukan terus. selama itu pemuda itupun sadar andaikata kepandaian sesat semacam ini berhasil dilatih hingga sempurna niscaya banyak orang persilatan yang akan menemui ajalnya ditangan mereka.

Berpikir sampai disitu, sianak muda itu segera membatin kembali.

“Aku harus mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mencegah perbuatan yang tak kenal peri kemanusiaan ini berlangsung hingga ber-larut2, selain itu aku pun hendak menyelidiki dengan andalkan apakah kaisar yang sekarang menjabat kcdudukan sebagai seorang ciangbunjin.”

Dengan penuh rasa hormat berlututlah pemuda itu dihadapan jenasah gurunya. setelah menyembah dengan rasa sedih ia berbisik :

"Tecu bersumpah akan melaksanakan pesan terakbir dari suhu untuk membangun kembali perguruan Thian-lam dan membasmi kanm durjana dari tubuh perguruan!"

Maka ia berikan tubuh suhunya iblis di antara iblis tepat ditengah ruangan, pikirnya lagi.

"Liang tanah ini merupakan tempat yang paling pantas untuk mengubur jenasah suhu, bila mulut gua kututup kemudian kudirikan batu nisan, bukankah urusan sudah beres..?"

Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, ia periksa kembali sekeliling liang tanah itu dengan seksama, setelah yakin kalau disitu tak ada benda yang berharga lagi, ia tatap raut wajah gurunya untuk terakhir kalinya, tak kuasa air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya. Beberapa waktu kemudian Han Siong Kie menyimpan tanda pengenal mutiara setan bengis itu kedalam sakunya, kemudian membuka kembali kitab catatan budi dan dendam dari Mo mo cungcu.

Pada halaman pertama berisikan catatan mengenai riwayat hidupnya serta semua perbuatan yang pernah dilakukan selama hidupnya.

Setelah memeriksa halaman pertama, tanpa terasa sorot mata yang tajam melotot keluar dari balik mata si anak muda itu, sekarang ia tak usah kuatir menghadapi orang-orang yang datang mencari balas dengan dirinya tapi terutama sekali terhadap engkoh tuanya pengemis dari selatan, sekarang ia dapat memberi pertanggungan jawab yang sebenarnya.

Apa yang diucapkan gurunya sama sekali tidak salah, semua orang yang dibunuh olehnya semasa masih hidup merupakan orang2 yang memang patut dibunuh, sebab mereka punya cukup alasan yang kuat untuk menerima kematiannya.

Selain itu pemuda itupan merasakan susahnya untuk membedakan mana yang benar, mana yang salah bagi umat persilatan, sebab dengan tingkah laku dari gurunya yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, ternyata diberi julukan sebagai Iblis diantara iblis, tindakan ini benar2 sangat tidak adil.

Setelah termenung beberapa waktu lamanya, pemuda itu baru merangkak keluar dari dalam liang dan menutup mulut gua tersebut dengan sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian dengan ilmu jarinya ia mengukir beberapa huruf diatas batu besar itu.

“Disinilah Mo mo cuncu Tong Ceng kaisar angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong dimakamkan”

Dibawah ukiran tersebut tercantum pula beberapa huruf yang berbunyi: "Didirikan oleh tecu Han Siong Kie" Selesai mengukir tulisan tersebut, pemuda itu mengamati kembali tulisan tersebut beberapa saat kemudian baruputar badan siap meninggalkan tempat itu.

Tiba2 desiran angin tajam menyambar lewat dari kejauhan, tiga sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur masuk kedalam hutan.

Diam2 Han Siong Kie merasa amat terperanjat, perlahan2 ia putar badan dan alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tapi begitu meugetahui siapa yang telah datang, darah panas dalam dadanya kontan mendidih, hawa napsu membunuh yang sangat tebalpun menyelimuti seluruh wajahnya.

Ternyata orang yang barusan datang itu bukan lain adalah sau kaucu dari perkumpulan Thian Che kau serta dua orang kakak berbaju kuning..

Ia tatap kembali salah seorang diantara dua kakek baju kuning yang bermata tunggal itu bernama Koan thian san atau Malaikat pangaet langit Ci Chong, sebab ketika ia tertangkap dan hendak dijatuhkan hukuman mati tempo hari, orang ini bertindak sebagai salah seorang pengawas pelaksana hukuman diantara empat orang lainnya.

Dengan sorot mata yang tajam Han Siong Kie menyapu sekejap wajah tiga orong itu, kemudian pandangannya yang dingin dan ketus berhenti diatas wajah ketua muda dari perkumpulan Thian Che kau.

Dalam pada itu ketiga orang tersebut telah alihkan pula sorot matanya keatas batu nisan tersebut, sementara paras mukanya seketika berubab hebat, orang2 itu nampak begitu terkesiap dan kaget.

"Han Siong Kie... Han Siong Kie... Han Siong Kie." gumam ketua muda perkumpulan Thian che-kau tiada hentinya. Tiba2 ia mundur satu langkah lebar kebelakang, sambil menuding kearah sianak muda itu serunya lebih jauh:

"Engkau adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis??"

"Tebakanmu sangat tepat"

"Dan engkau juga bernama Han Siong Kie?" "Ada apa??"

"Kenapa engkau punya nama marga yang sama dengan Manusia berwajah dingin??"

Han Siong Kie tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh heeehh heeeehh kalau namaku sama dengan nama dari manusia berwajah dingin, lantas engkau mau apa??"

Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau sudah terbiasa angkuh dan sombong, mendengar perkataan itu air mukanya kontan berubah jadi dingin menyeramkan, tegurnya: "Tahukah engkau tempat apakah ini? "

"Hutan belantara yang jauh dari keramaian kau anggap tempat apakah ini?"

"Hmm lima puluh li disekitar markas besar perkumpulan kami merupakan daerah terlarang, umat persilatan dari manapUn juga tidak diperkenankan menginjakkan kakinya ditempat ini secara sembarangan... mengerti? "

Dengan penuh penghinaan Han Siong Kie mendengus dingin. "Hmm seandainya aku berkeliaran disini, kalian mau apa?"

"Mau apa?? Huuh.. nyawamu akan kami renggut" "Haahh..haahh. haahh.. anjing cilik, engkau benar2 seorang

manusia yang tak tahu diri, kematian sih sudah berada diambang pintu namun masih belum merasa" Makian sebagai "anjing cilik" itu sangat menggusarkan hati sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, paras mukanya berubah hebat dan hawa napsu membunuhpun seketika berkobar menyelimuti seluruh wajahnya.

Dua orang pelindung hukum baju kuning itupun keihatan sangat gusar, air muka mereka berubah hebat.

"Heehh... heehh heehh... malaikat penyakitan" seru sau kaucu dari perkumpulan Thian chee kau, sambil tertawa seram," aku akan bikin mampus dirimu lebih dahulu sebelum menggali kuburan ini"

Han Siong Kie naik pitam, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya hampir saja sukar dikendalikan lagi, sinar matanya berapi2 dan mukanya menyeringai bengis, dengan suara berat ia berseru:

"Kalau engkau berani merusak atau mengganggu kuburan guruku, maka aku orang she Han akan basmi semua anggota perkumpulan Thian che kau secara keji"

Mendengar ancaman yang sangat mengerikan dan mendirikan bulu roma itu sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta dua orang kakek baju kuning itu nampak amat terkesiap hingga sekujur badannya gemetar keras, ancaman yang diutarakan oleh ahli waris iblis diantara iblis tak dapat di anggap sebagai satu gertak sambal belaka.

Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan peristiwa yang berlangsung belum lama berselang. ketika ia ditangkap oleh ibunya yang kejam bagaikan ular dalam wilayah Liau huan tau serta dijebloskan kedalam penjara batu, pada saat itu ia pernah dihajar oleh sau kancu ini hingga muntah darah segar, andaikata ia tidak menggunakan ilmu Ku si tay hoat untuk pura2 mati kemudian mendapat bantuan pula dari orang yang kehilangan sukma serta putrinya niscaya ia sudah mati secara mengerikan. Benci, rasa benci yang berlipat ganda menyelimuti seluruh perasaan hatinya.

Ayahnya telah mati dibunuh, keluarganya telah musnah dibantai orang, dan ibunya kawin lagi.

Ibunya telah kawin kembali dengan Thian che kaucu, bahkan hendak membinasakan pula dirinya, sementara ketua muda yang berada dihadapannya menyebut ibunya say siang- go atau siang go cantik ong cui Ing sebagai ibunya pula, itu berarti pemuda itu adalah anak jadahnya.

"Aku harus bunuh bangsat anak jadah ini" teriak Han Siong Kie dalam hati kecilnya, ia benci kepada ibunya, benci pula kepada saudara seibu lain ayah ini.

Perlahan2 ia maju kedepan, sambil menggigit bibir teriaknya keras2. "Bangsat cilik, akan kubunuh dirimu"

Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu terperangah, kemudian sambil tertawa seram sahutnya:

"Malaikat penyakitan,perkataan semacam ini lebih baik katakanlah sesudah berada di alam baka nanti"

Han Siong Kie mendengus dingin, per-lahan2 ia menggerakkan tangannya dan melepaskan topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya..

"Manusia bermuka dingin" tiga orang jago persilatan itu sama2 menjerit kaget.

Paras muka Malaikat pengamat langit ci Chong berkerut kencang, matanya yang tunggal memancarkan sinar penuh rasa kaget dan terkesiap. ketika melaksanakan hukumam mati tempo dulu ia, bertindak sebagai pengawas, dan kini kenyataan membuktikan bahwa Manusia bermuka dingin masih hidup, tentu saja orang itu jadi terkesiap dan kaget luar biasa.

"Engkau belum mampus..?" teriaknya tanpa sadar. "Perkataanmu tak salah, aku memang belum mati"

Secara beruntun ketua muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah lebat kebelakang, dengan rasa kaget yang tak terkirakan ia ikut menegur: "Sebenarnya engkau manusia atau setan?"

"Haaaah haaahh haaahh bangsat cilik, engkau tak pernah menyangka bukan? aku adalah manusia"

Ketua muda perkumpulan Thian che kau berusaha keras untuk menekan pergolakan hatinya, kemudian ia berseru:

"Manusia bermuka dingin, engkau masih tetap ingin jadi setan??"

Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie sepatah demi sepatah serunya:

"Anjing cilik, dalam satu jurus aku hendak cabut jiwa anjingmu"

Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis ternyata adalah penyaruan dari manusia bermuka dingin Han Siong Kie, peristiwa ini benar2 suatu kejadian yang sama sekali tak terduga dan mimpipun tak pernah disangka oleh setiap orang.

Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau mendengus penuh kegusaran, baru saja dia akan menerjang maju kedepan...

Tiba2 Han Siong Kie bertindak jauh lebih cepat lagi, ia menggeserkan kakinya dan mendekati pihak lawan.

Suasana ditengah gelanggang seketika itu juga berubah jadi sangat tegang, hawa napsu membunuh menyelimtti seluruh udara.

Malaikat pengamat langit ci Chong, salah satu diantara dua pelindung hukum berbaju kuning dengan cepat berkelebat kearah depan dan menghadang tepat dihadapan sau kaucunya.

Han Siong Kie mendengus dingin, ia berjalan maju terus hingga pada jarak delapan depa dari lawannya baru berhenti, dengan suara dingin bagaikan saiju ia berseru: "Hmm engkau hendak berangkat selangkah lebih duluan??"

Empat pelindung hukum berbaju kuning merupakan tokoh2 sakti yang tingkatannya dalam perkumpulan Thian che kau, sedikit dibawah kedudukan ketua, ilmu silat yang mereka miliki termasuk dalam taraf yang amat sempurna sekali.

Malaikat pengamat langit ci Chong adalah salah satu diantara empat pelindung hukum, tenaga dalam yang ia miliki tentu saja termasuk luar biasa, mendengar perkataan itu dia segera membentak:

"Manusia bermuka dingin, aku kurang seksama dalam memeriksa keadaanmu setelah menjalankan hukuman tempo hari hingga engkau berhasil meloloskan diri, kini aku akan bunuh dirimu untuk menebus kesalahanku dimasa silam"

Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar, sepasang telapaknya laksana sambaran petir dan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra menghantam kearah depan.

Han Siong Kie sendiri begitu mengetahui kalau pihak lawan bukan lain adalah algejo dariperkumpulan Thian che kau, hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajahnya semakin tebal, sepasang telapaknya dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya langsung melepaskan satu pukulan dahsyat kedepan, dengan andalkan hawa murni sebesar dua ratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dilepaskan dengan sepenuh tenaga itu.

"Blaamm .." ditengah benturan keras yang amat memekikkan telinga, tubuh malaikat pengamat langit ci Cho mencelat sejauh tiga tombak lebih dari tempat semula dan roboh terkapar diiatas tanah. Dalam satu gebrakan Han Siong Kie berhasil membinasakan seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, kelihayan ilmu silatnya benar2 mengerikan sekali.

sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau serta pelindung hukum baju kuning lainnya jadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan kejadian itu, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh.

Han Siong Kie mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh ia tatap wajah sau-kaucu dari perkumpulan Thian che kau itu tanpa berkedip.

Ditatap sedemikian rupa oleh lawannya, ketua muda dari perkumpulan Thian che kau merasakan seluruh tubuhnya bergetar keras, paras mukanya kontan berubah jadi pucat ke hijau2an.

Pelindung hukum baju kuning lainnya tak mau berpeluk tangan dengan begitu saja, sambil membentak keras tiba2 ia lancarkan sebuah pukulan kearah depan-Dalam serangan tersebut, ia telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Han Siong Kie dengan cekatan menyingkir ke samping, sepasang telapaknya disilangkan kedepan mengunci datangnya ancaman tersebut.

Pada saat yang bersamaan pula sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau menggosok sepasang telapaknya kemudian secepat kilat, di dorong kemuka.

segulung angin pukulan lembut meluncur kedepan, Han Siong Kie kontan merasakan sebagian dari tenaga pukulan yang dilancarkan keluar lenyap tak berbekas, hal ini membuat hatinya amat terperanjat...

-000d0w000- BAB 33

"BLUUMMM . " benturan keras yang amat memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, ia serta pelindung hukum baju kuning itu masing2 tergetar mundur satu langkah kebelakang.

Terhadap kepandaian aneh yang dapat membuyarkan tenaga dalam milik orang itu, Han Siong Kie sama sekali tidak merasa asing, pertama kali dan mengalami keampuhan dari ilmu tersebut sewaktu berada diwilayah Lian huan tau, tapi hanya sebentar saja tenaga dalam yang lenyap pulih kembali seperti sedia kala.

Kedua kalinya pemilik benteng maut yang menggunakan ilmu aneh tersebut, waktu itu tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat, tapi segenap kemampuannya sama sekali lenyap tak ketolongan.

Ketiga kalinya, Tengkorak maut gadungan yang menggunakan kepandaian tersebut, membuat tenaga dalamnya tak bisa dihimpun kembali tapi gejala itupun hanya berlangsung sebentar.

Sekarang untuk keempat kalinya dilakukan oleh sau- kaucu dari perkumpulan Thian che kau ini, berada dalam keadaan tak siap ia hanya merasakan hawa murninya sedikit buyar.

Dari sini dapatlah dibuktikan kalau tenaga dalam yang dimiliki ketua muda perkumpulan Thian che kau itu masih belum cukup untuk mempengaruhi dirinya, dan ia sendiri tentu saja jauh berbeda kalau dibandingkan dengan keadaannya tempo hari.

Andaikata tiada rintangan dari ketua muda perkumpulan Thian che kau, mungkin pelindung hukum baju kuning itu tak akan mampu menahan serangan Han Siong Kie yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu. Sesudah mundur kebelakang, Han Siong Kie menggetarkan telapak kananaya berulang kali,angin pukulan yang berlapis- lapis meluncur kearah depan, dengan angin tajam menyapu kearah tubuh ketua muda perkumpulan Thian che kau dengan hebatnya sementara tangan kiri dengan kelima jari yang terpentang lebar melepaskan totokan jari Tong kim ci yang dahsyat untuk mendesak pelindung hukum baju kuning.

"Blaaam... blaaamm. ." terjadi benturan keras secara beruntun, dengan sepenuh tenaga ketua muda perkumpulan Thian che kau menangkis serangan itu, namun ia gagal untuk menahan kedahsyatan lawan sehingga badannya tergetar mundur beberapa langkah kebelakang. 

Pelindung hukum baju kuning sendiri, di bawah desakan totokan jari maut dari pemuda itu, terpaksa harus berkelit kesana menghindar kemari dengan repotnya, ia berusaha keras untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut tersebut.

Ketika ketua muda perkumpulan Thian che kau berhasil didesak mundur itulah, tiba-tiba Han Siong Kie menarik kembali telapaknya dan pusatkan segenap kemampuan yang ia miliki untuk bereskan pelindung hukum baju kuning itu lebih dahulu.

Pemuda itu tahu asal pelindung hukum baja kuning berhasil disingkirkan dari muka bumi, maka dia akan jauh lebih mudah untuk membereskan diri ketua muda dari perkumpulan Thian che kau.

Dibawah serangan gencar yang dahsyat dan cepat bagaikan sambaran kilat itu, pelindung hukum baju kuning tak dapat menghindarkan diri dari ancaman maut lagi. SUatu jeritan ngeri yang menyayat hati segera memecahkan kesunyian. sambil muntah darah segar, pelindung hukum baju kuning itu roboh terkapar keatas tanah dan selamanya tak pernah bangun lagi.

Sau kaucu dari perkumpulan Thian che kau merasakan hatinya bergidik, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia putar badan dan siap kabur dari situ.

Han Siong Kie tertawa dingin, sekali enjot badan tahu2 ia sudah manghadang didepan tubuh lawannya.

Dengan wajah ketakutan, kaget bercampur ngeri, kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur tiga langkah ke belakang, serunya dengan suara gemetar: "Manusia bermuka dingin, apa yang ingin kau lakukan atas diriku??"

"Apa lagi,..? Heehh heehhh, tentu saja menjagal engkau bajingan terkutuk"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan maut kearah lawannya dengan jurus2 ampuh dari ilmu telapak Mo mo ciang hoat.

Dengan sempoyongan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur delapan langkah kebelakang, ia sama sekali sudah kehilangan kemampuannya untuk melakukan perlawanan.

Hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, sikap dan mimik wajahnya pada waktu itu sangat mengerikan dan cukup menggidikkan hati siapapun yang memandang.

Dengan suara yang dingin, sadis dan menyeramkan serunya lantang:

"Bocah keparat dalam satu jurus berikut ini, aku akan suruh engkau menggeletak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa" Sementara itu kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu sudah tcrdesak sehingga apa boleh buat lagi kecuali adu jiwa, timbullah kenekadan dalam hatinya, sambil membentak nyaring ia terjang kemuka dengan amat garang.

Bagaikan sukma yang gentayangan, sekali berkelebat Han Siong Kie sudah menghindarkan diri dari terjangan itu, hardiknya: "Kena"

Sekujur badan kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu bergetar keras, pergelangan kanannya kena dicengkeram dengan telak membuat semua kekuatan dalam tubuhnya lenyap tak berbekas, sementara sebuah telapak yang lain tahu2 sudah menempel di atas ubun2nya.

"Habis sudah riwayatku" bisik pemuda itu dengan sedih, sepasang matanya dipejamkan rapat2.

Telapak tangan Han Siong Kie yang menempel diatas ubun2 lawan boleh dibilang sudah menguasahi penuh mati hidup musuhnya, sebab asalkan hawa murni disalurkan keluar, niscaya batok kepala lawan bakal hancur berantakan dan isi benak akan berhamburan di mana2.

"Bocah keparat" hardiknya, " ayoh jawab, apa hubungan antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut?"

Sepasang mata kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau yang sudah terpejam rapat kembali melotot, dengan sorot mata benci berCampur kaget ia awasi Han Siong Kie tanpa berkedip, beberapa saat kemudian baru tegurnya: "Apa yang kau katakan??"

"Apa hubungannya antara perkumpulan Thian che kau dengan benteng maut??"

"Darimana engkau bisa menuduh begitu?"

"Hmm tenaga dalam yang kau miliki persis seperti aliran tenaga dalam dari pemilik benteng maut" "Segala macam ilmu silat yang ada dikolong langit sumbernya tetap satu, kenapa engkau musti terCengang melihat kesamaan itu?" bantah kaucu muda itu dengan cepat.

"Jadi kalau begitu, perkumpulan Thian-che kau sama sekali tak ada hubungannya dengan benteng maut??"

"Maaf, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu" seru kaucu muda tersebut dengan tegas.

"Ehmmm...bagus...bagus sekali" teriak Han Siong Kiepenuh kegusaran yang meluap2, "Sekarang pejamkan matamu, dan nantikanlah kematian yang paling nyaman bagimu"

Disaat yang kritis dan berbahaya itulah, mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara bentakan keras, disusul seorang berseru lantang:

"Han Siong Kie, engkau tak boleh melukai dirinya"

Han Siong Kie merasa amat terperanjat mendengar perkataan itu, dengan cepat ia tarik kembali serangannya sambil berpaling kearah mana berasalnya suara itu.

seorang gadis berkain cadar hitam berdiri tegak kurang lebih satu tombak di hadapannya, dan perempuan itu telah dikenal baik olehnya. Tanpa sadar lagi Pemuda she Han itu berseru kaget: "oooh... orang yang ada maksud"

"Sedikitpun tidak salah" gadis misterius yang muncul tepat pada saatnya untuk mencegah Han Siong Kie turun tangan keji atas diri kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu, bukan lain adalah orang yang ada maksud.

"Nona, baik2kah engkau selama ini?" sapa sang pemuda. "Terima kasih atas perhatianmu, aku berada dalam

keadaan sehat walafiat selama ini" "Apa yang barusan nona katakan??"

"Engkau tak boleh membinasakan dirinya." "Kenapa?? kenapa aku tak boleh membunuh dirinya?" "Kalau orang itu kau bunuh, maka sepanjang masa engkau

akan menderita penyesalan yang tak terhingga."

Perkataan yang sama sekali tak ada ujung pangkalnya itu sangat membingungkan hati siapapun juga yang mendengar, termasuk juga diri Han Siong Kie. Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu berdiri terperangah, pikirnya dihati.

"Aneh benar kenapa aku bakal merasakan penyesalan yang tak terhingga jika kubunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini? apa maksudnya?"

setelah berpikir sebentar, seakan2 ia telah memahami akan sesuatu, segera ujarnya: "Maksud nona...ibunya adalah..."

"Tutup mulut" orang yang ada maksud segera menukas ucapan Han Siong Kie yang belum sempat diselesaikan.

Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau pun berdiri termangu karena keheranan, ia tak mengerti kenapa orang yang ada maksud muncul tepat pada saatnya dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut??

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan nada tercengang Han Siong Kie segera berseru.

"Nona, bersediakah engkau jelaskan perkataanmu itu dengan lebih terang lagi?"

"Lepaskanlah orang itu " pinta orang yang ada maksud dengan nada sedih.

"Kenapa? kenapa aku harus lepaskan dirinya?" "Janganlah banyak bertanya, lepaskan dia dari sini dalam

keadaan hidup2"

"Tentang soal ini... mungkin aku tak dapat memenuhi harapanmu"

"Jadi engkau bersikeras akan bunuh pemuda itu?" "Benar bagaimanapun juga dia harus ku bunuh" "

"Kalau memeng begitu, sebelum kau bunuh dirinya terlebih dahulu menangkan dulu aku"

Han Siong Kie semakin terperangah.

"Jadi...jadi nona bersedia turun tangan melawan aku hanya disebabkan ingin melimdungi keselamatan jiwanya belaka?"

"Perkataanmu tidak salah, aku memang bermaksud demikian."

"Aku tak dapat berbuat sekurang ajar itu terhadap diri nona, apalagi nona dan ibu nona sudah terialu banyak melimpahkan budi kebaikan kepada diriku"

"Ucapan semacam itu lebih baik tak usah diutarakan lagi, pokoknya kalau engkau hendak membinasakan dirinya maka teriebih dahulu robohkan dulu aku, kemudian setelah aku tak dapat berkutik lagi, engkau boleh bebas melakukan segala apapun secara bebas"

Han Siong Kie jadi amat terkesiap, dengan nada menyelidik ia berkata lagi:

"Kalau aku hendak membinasakan dirinya, maka hal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali ibarat membalik telapak sendiri, asal hawa murni kulontarkan keluar maka..."

"Han Siong Kie" ancam orang yang ada maksud," kalau engkau benar-benar berani turun tangan, maka salah satu diantara kira berdua tak akan dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup."

"Aaah benarkah persoalan ini telah berubah jadi begitu serius?"

"Aku telah membentangkan semua persoalan kepadamu, aku harap engkau jangan paksakan sesuatu perpecahan diantara kita berdua. " Han Siong Kie adalah seorang pemuda yang angkuh, selama hidup ia belum pernah tundukkan kepala kepada siapapun, tapi terhadap orang yang ada maksud ia nampak agak ragu2 Sebenarnya pemuda itu dapat selesaikan persoalan tersebut dengan gampang, asal ia bunuh kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu lebih dahulu kemudian baru memberi penjelasan kepada orang yang ada maksud, urusan akan beres dengan sendirinya.

Tapi sekarang, dengan tegas orang yang ada maksud telah kemukakan ancamannya, andaikata ia berkeras kepala untuk melaksanakan juga pembunuhan itu, maka akibatnya pasti mengerikan sekali dan sukar dilukiskan dengan kata2.

Tiba2... pemuda itu berhasil menemukan suatu kemungkinan dalam peristiwa ini, jangan2 orang yang ada maksud telah jatuh cinta kepada kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau ini?

Diantara mereka bertiga, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itulah yang paling merasa keheranan dan tak habis mengerti, ia menganggap jiwanya pasti melayang ditangan musuh, siapa tahu tiba2 muncul seorang perempuan berkerudung yang bernama orang yang ada maksud dan berusaha keras untuk melindungi jiwanya, siapakah gadis itu? sementara ia masih terpengah, terdengar orang yang ada maksud kembali berkata: "Lepaskan dia"

Perkataan itu menyerupai suatu perintah, membuat orang tak bisa berkata lain kecuali lepas tangan.

Akhirnya Han Siong Kie mengalah dan kendorkan tangannya dan mundur beberapa langkah kebelakang.

Se-akan2 baru saja lolos dari kematian, dengan peluh dingin membasahi badannya, Kaucu muda dari perkumpulan Thian che kau itu mundur kebelakang, lalu sambil menjura kepada orang yang ada maksud ujarnya lirih: "Yu siu Kun mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah nona berikan kepadaku"

Mendengar nama tersebUt, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya lagi.

"Bangsat muda itu bernama Yu siu Kun, kalau begitu ketua perkumpulan Thian che kau sudah pasti she Yu pula..."

Sementara itu orang yang ada maksud telah ulapkan tanganya sambil berkata: "Yu sau kaucu, anda tak usah berterima kasih kepadaku, cepatlah pergi dari sini"

"Bolehkah aku tahu siapakah nama nona ?" "Orang yang ada maksud "

"Namamu..."

"Engkau tak usah pikirkan peristiwa yang telah terjadi pada saat ini didalam hati, Nah cepatlah berlalu"

Per-lahan2 Yu sau Kun putar badan, setelah melotot sekejap kearah Han Siong Kie dengan penuh kebencian serunya :

"Hei manusia bermuka dingin, selama gunung menghijau, air tetap mengalir... kita sampai jumpa lain waktu"

Han Siong Kie mendengus dengan nada menghina, hawa napsU membUnuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan seram ia menyahut:

"Yu sau Kun akupun akan memperingatkan dirimu, kalau engkau berani mengganggu kuburan dari mendiang guruku ini, maka perkumpulan Thian che kau akan kubasmi dari muka bumi"

Yu sau Kun mendengus dingin. "Manusia barwajah dingin, engkau tak usah tekebur, lihat saja bagaimana akhirnya nanti" teriaknya penuh kebencian. Habis berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Menanti Yu sau Kun sudah jauh tinggalkan tempat itu, orang yang ada maksud baru berjalan kedepan kuburan itu, tangannya bergerak cepat menghapus tulisan diatas batu nisan tersebut.

Han Siong Tie merasa amat terperanjat cepat2 ia maju kedepan dengan maksud menghalangi, serunya dengan nada terperanjat: "Nona, apa yang kau lakukan ?"

"Aku hendak menghapus namamu dari atas batu nisan itu" "Kenapa? "

"Apa engkau sudah lupa kalau Manusia bermuka dingin Han Siong Kie sudah mati, diatas bukit sebelah sana masih berdiri kuburanmu, sekarang kedudukanmu adalah Malaikat penyakitan, ahli waris dari iblis diantara iblis"

Han Siong Kie tersenyum.

"Buat seorang pria sejati, menentang maut tak akan mundur, kenapa aku musti berbuat main sembunyi macam cucu kura2 saja"

"Kedudukanmu saat ini ibarat api dan air dengan pihak perkumpulan Thian che kau, apa lagi saat ini engkau telah musnahkan pula dua orang pelindung hukum baju kuning dari perkumpulannya, sudah pasti mereka tak akan berpeluk tangan belaka, bagaimanakah akibatnya aku rasa engkau tentu sudah tahu "

"Apa yang musti aku takuti?" seru sang pemuda dengan angkuh.

"Jago2 lihay yang tergabung dalam perkumpulan Thian che kau sangat banyak sukar dihitung, kekuasaan mereka amat meluas dan memimpin bampir seluruh perkumpulan besar atau kecil yang ada dalam dunia persilatan, apa lagi tenaga murni yang dimiliki kaucu mereka luar biasa dahsyatnya..".

"Aku merasa amat berterima kasih atas maksud baik dari nona, tetapi aku tak sudi melakukan perbuatan yang main sembunyi terus macam cucu kura2"

"Ibuku toh pernah memberikan selembar kulit manusia kepadamu agar engkau bisa merubah wajah aslimu, sebetulnya ada di balik semuanya terkandung pula maksud yang mendalam sekali"

"Apakah aku boleh tahu maksud yang sebenarnya?" tanya sang pemuda dengan perasaan tertarik. .

Dengan nada tawar orang yang ada maksud gelengkan kepalanya berulang kali.

"Lain waktu engkau akan mengetahui dengan sendirinya semua persoalan tersebut, pokoknya ibuku ada maksud2 tertentu yang menguntungkan bagimu"

Han Siong Kie merasa amat tidak sabar untuk menantikan jawaban yang terkandung dibalik gerak gerik orang yang ada maksud serta ibunya yang serba misterius itu, tetapi diapun tak dapat berbuat apa2 kecuali menunggu dan menunggu terus, akhirnya sambil menuding ke arah batu nisan didepan kuburan itu ujarnya:

"Seorang murid mendirikan batu nisan bagi gurunya, masa sang murid itu tak dapat meninggalkan nama aslinya??"

"Mengapa engkau tidak dirikan saja batu nisan tersebut dikemudan hari??"

"Aku tidak ingin merusak batu nisan tersebut" "Apakah engkau bisa menjamin kalau orang2 dari

perkumpulan Thian che kau tak akan mengganggu jenasah

dari gurumu, apa lagi daerah disekitar tempat ini merupakan daerah terlarang bagi perkumpulannya?" Hawa nafsu membunuh yang sangat tebal memancar keluar dari balik sorot mata pemuda itu, dengan suara mendalam katanya:

"Aku telah memperingatkan lebih dahulu kepada mereka, andaikata ada orang berani mengganggu atau membongkar kuburan dari guruku, maka mayat akan bergelimpangan diseluruh wilayah Lian huan-tau, aku akan bantai seluruh isi keluarga mereka sehingga seorangpun tak ada yang bisa hidup lagi dengan tenang"

"Engkau hendak membantai seluruh anggota perkumpulan Thian che kau dengan andalkan kekuatanmu seorang diri?" tanya orang yang ada maksud.

"Benar, dan apabila nona tidak percaya silahkan saja menunggu sampai tanggal mainnya"

Untuk beberapa saat lamanya orang yang ada maksud termenung dan berpikir keras, kemudian ia berkata lagi:

"Ibu merasa amat menyesal sekali atas perbuatan dan tingkah lakumu pada akhir2 ini"

"Akupun menyesal karena harus membuat hati ibumu jadi sedih"

Dengan putus asa orang yang ada maksud meluruskan tangannya kebawah, lalu mundur selangkah kebelakang, serunya kembali:

"Jadi engkau bersikeras akan tetap mempertahankan namamu itu?"

"Benar, dan maaf sekali atas kekerasan kepalaku ini, aku harap kalian ibu dan anak tidak sampai tersinggung karena persoalan ini"

Orang yang ada maksud kembali termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya: "Apakah gurumu Iblis diantara iblis benar2 adalah ketua dari istana Huan-mo kiong diwilayah Thian lam?".

"Aku rasa tiada hal lain yang perlu dicurigakan lagi, memang guruku masih sempat meninggalkan benda tanda bukti kepadaku"

"Oooh.. jadi kalau begitu engkau sudah menjadi ahli waris dari istana Huan mo kiong tersebut??"

"Benar"

Tiba2 orang yang ada maksud mengalihkan sorot matanya mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, rupanya ia sedang menyelidiki apakah disekitar tempat itu tak ada orang yang bersembunyi atau tidak. setelah yakin kalau ditrmpat itu tak ada orangnya, dengan suara yang amat lirih dia baru bertanya:

"Benarkah engkau telah kehilangan sebuah benda mustika dari dunia persilatan?"

Han Siong Kie mengangguk.

"Benar, aku telah kehilangan sebuah benda mustika yang tak ternilai harganya, dari mana nona bisa mengetahui akan hal ini?"

"Bukan aku saja yang mengetahui akan peristiwa ini, orang lainpun ada pula yang sudah tahu"

"Meskipun untuk sementara waktu telah berpindah tangan, tapi aku bersumpah untuk mendapatkannya kembali" ujar pemuda itu dengan nada tegas.

"Tetapi ilmu silat yang kau miliki masih bukan tandingan kepandaian musuh"

"Nona maksudkan ilmu silat siapa..?" "Tentu saja tengkorak maut gadungan itu" "Aah belum tentu aku kalah dari dia" "Tapi dalam kenyataan engkau toh masih belum mampu untuk menandingi kedahsyatan ilmu silatnya?"

"Lain dulu lain sekarang, kalau dulu kalah masa untuk selamanya aku selalu kalah terus?"

"Jadi sekarang engkau sudah mempunyai keyakinan untuk menangkan dirinya?"

"Mungkin begitu"

"Sungguhkah ucapanmu itu?" orang yang ada maksud berusaha untuk menegaskan.

"Selama aku tak pernah bicara bohong, apa lagi menganggap pembicaraan sebagai suatu gurauan belaka" sahut sang pemuda dengan paras muka serius.

Pada saat itulah...tiba2 dari kejauhan berkumandang datang suara ujung baju tersampok angin, sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat meluncur kurang lebih sepuluh tombak dihadapannya, begitu cepat gerakan tubuh orang itu sehingga andaikata seseorang tidak memiliki tenaga dalam setaraf dengan Han Siong Kie serta orang yang ada maksud pada saat ini, mungkin sulit untuk mengetahuinya. Buru2 orang yang ada maksud berkata: "Aku harus segera pergi dari sini, selamat tinggal"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dia segera enjotkan badan dan lenyap dibalik pepohonan.

Satu ingatan dengan cepat berkelebit dalam benak Han Siong Kie, diam2 ia berpikir:

"Siapakah bayangan manusia yang barusan berkelebat lewat itu? kenapa orang yang ada maksud berlalu dari sini secara tergopoh2...??"

Pemuda itu tak mau banyak berpikir lagi, dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya ia berkelebat menuju kearah mana bayangan manusia tadi melenyapkan diri, tujuannya adalah berharap dengan kesempatan itu ia berhasil mendapatkan tanda2 yang menunjukkan akan asal usul dari orang yang ada maksud serta ibunya, dengan begitu pelbagai persoalan yang mencurigakan dirinya selama inipun dapat terpecahkan.

Dari pembicaraan yang barusan berlangsung,jelas perkataan yang hendak diutarakan kepadanya oleh orang yang ada maksud belum sampai selesai, dia masih banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirinya, tapi justru karena kemunculan bayangan manusia yang amat mendadak. membuat gadis itu buru2 meninggalkan dirinya, itu berarti dibalik kesemuanya itu masih terkandung hal yang sangat mencurigakan.

Dengan sepenuh tenaga Hansioog Kie mengerahkan gerak tubuh cahaya kilat lintasan bayangan untuk mengejar bayangan manusia tadi, kecepatan gerak tubuhnya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata2.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba diujung hutan dan menginjak disebuah tanah lapang yang amat luas, kurang lebih puluhan tombak dihadapannya tampaklah sesosok bayangan manusia sedang bergerak dengan cepatnya, bayangan itu langsing menuju kearah sebuah bukit disebelah kiri

Tatkala Han Siong Kie telah berhasil mendekati lawannya sehingga kurang lebih dua puluh tombak dibelakangnya, ia mulai memperlambat larinya dan tetap mempertahankan jaraknya dengan orang itu, dalam keadaan demikian sulitlah bagi kedua belah pihak untuk mengetahui jelas keadaan indentitas dari lawannya.

Bayangan punggung orang itu sama sekali tidak terlalu asing baginya, tapi untuk beberapa saat lamanya Han Siong Kie tak dapat menebak siapa kah orang itu. Seperminum teh kemudian, mereka sudah da dua puluh li jauhnya dari tempat semula. Sebuah bukit kecil muncul didepan mata, sianak muda itu mulai curiga bercampur tak habis mengerti, sebab dia lihat bayangan manusia yang agaknya pernah dikenal olehnya itu ternyata sedang bergerak menuju kearah bukit dimana kuburan palsunya berada.

Rupanya bayangan manusia yang bergerak didepan itu sama sekali tidak menduga kalau secara diam2 perjalanannya sedang dikuntit orang, tanpa ragu2 dia langsung meluncur naik keatas bukit.

Sungguh aneh, ternyata orang tadi benar2 hentikan gerakan tubuhnya tepat didepan kuburan palsu dari Han Siong Kie.

Kurang lebih sepuluh tombak dari kuburannya, sianak muda itu menghentikan gerakan tubuhnya dan menyembunyikan diri di belakang sebuah batu cadas yang besar.

Tiba2 bayangan manusia yang ternyata adalah seorang gadis itu berpaling, sorot matanya yang tajam menyapu sekejap kearah tempat persembunyian dari Han Siong Kie, kemudian ia memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat ketus.

Kembali Han Siong Kie terperangah, pikirnya: "Mungkinkah dia sudah tahu kalau perjalanannya sedang

diikuti orang...? kalau memang begitu, kenapa ia tidak

menegur?"

Sekarang pemuda itu dapat melihat dengan tegas, rupanya gadis itu bukan lain adalah Go siau Bi.

Dengan ter mangu2 dan rasa tercengang si anak muda itu mengawasi gerak gerik dari Go siau Bi, dia ingin lihat apa yang hendak dilakukan oleh gadis tersebut dihadapan kuburan palsunya. Lama sekali Go siau Bi berdiri termangu-mangu didepan kuburan tersebut, tiba tiba ia ayun telapaknya dan melancarkan sebuah babatan kilat keatas kuburan tersebut.

Gerakan tubuhnya ini sangat mengejutkan hati Han Siong Kie, tetapi ia tiada maksud untuk menghalangi perbuatannya itu, sebab bagaimanapun juga kuburan itu adalah sebuah kuburan kosong.

Hanya saja ia tak dapat menebak. apa maksud dan tujuan Go siau Bi membongkar kuburannya itu?

Baru saja angin pukulan yang dilancarkan Go siau Bi hampir mengena diatas batu nisan kuburan itu, tiba2 suatu bentakan nyaring berkumandang datang dari sisi tubuhnya. "Tahan jangan bertindak sembarangan.."

Go siau Bi agak terperanjat, Ia segera tarik kembali serangannya dan mundur lima depa kebelakang.

Dari belakang kuburan kosong, per-lahan2 muncullah seorang gadis muda yang sangat cantik bagaikan bidadari.

Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras setelah bertemu dengan dara tersebut, sebab dia masih kenal gadis cantik itu sebagai "Istri yang ditinggaikan" yang pernah melepaskan dirinya dari dalam benteng maut.

Sementara itu Go siau Bi nampak tercengang menyaksikan kemunculan dara ayu itu, dengan keheranan dia menegur: "Nona, siapa kah engkau?"

"Sebutkan dahulu siapa kah namamu?" nona cantik itu balas menegur.

"Aku bernama Go siau Bi" "Engkau adalah Go siau Bi?" "Benar, ada apa?"

"Mengapa engkau hendak merusak kuburan ini?" Teguran yang disertai sikap tak mau tahu keadaan orang lain itu sangat menggusarkan hati Go siau Bi dengan alis mata berkenyit dia balas menegur: "Lalu siapa kah namamu?"

"Nona panggil saja aku sebagai Istri yang ditinggaikan" "Istri yang ditinggaikan ?"

"Benar. "

"Istri yang ditinggaikan, engkau adalab seorang janda?" Paras muka Istri yang ditinggaikan berubah hebat,

tegurnya dengan perasaan tak senang hati:

"Nona, aku harap sedikitlah tahu sopan kalau berbicara "

Go siau Bitertawa dingin.

"Engkau sendiri toh yang menyebut dirimu sebagai Istri yang ditinggalkan, masa aku telah salah bicara?"

Istri yang ditinggaikan tidak menggubris perkataan itu lagi, setelah termenung sebentar kembali ia menegur:

"Aku harap engkau bersedia menjelaskan kepadaku, apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburan ini??"

"Aku senang berbuat begini, engkau mau apa??"

"Senang berbuat begitu? haaahh haaahh haaaahh apakah orang yang berada dalam kuburan ini pernah terikat dendam atau sakit hati dengan dirimu?"

"Tepat sekali tebakanmu itu dan dia mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan dirimu?"

"Dia? siapa yang kau maksud kan dia? " "Manusia bermuka dingin Han Siong Kie"

Go siau Bi menengadah dan tertawa semakin keras, begitu kerasnya sehingga membelah kesunyian yang mencekam disekeliling tempat itu. Han Siong Kie yang bersembunyi disamping kuburanpun jadi tertegun dibuatnya, sepasang matanya terbelalak lebar sementara mulutnya melongo, ia tak habis mengerti dibuatnya oleh keadaan yang tertera dihadapan matanya.

-ooodwooo-

BAB 34

ISTRI YANG ditinggaikan melototkan sepasang matanya bulat2, ia menghardik: "Apa yang perlu kau tertawakan?"

Go siau Bi tarik kembali tertawanya, kemudian dengan wajah serius menjawab:

"Engkau tak perlu tahu kenapa aku tertawa, sebab aku ingin tertawa maka tiada orang yang bisa menghalangi niatku itu"

"Tapi aku justru bersikeras melarang engkau tertawa disini" "Huuh... dengan andalkan apa engkau berani melarang aku

tertawa disini?"

"Berdasarkan perbuatanmu yang hendak membongkar kuburan ini, sudah cukup alasan bagiku untuk membinasakan engkau"

"Omong kosong jangan berlagak sok dihadapanku, apalagi main gertak sambal yang sama sekali tak ada gunanya"

"Oooh... jadi engkau tak percaya? mari akan kubuktikan kebenaran dari ucapanku itu."

Dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat Istri yang ditinggalkan melayang kedepan kuburan dan berdiri saling berhadapan dengan Go Siau Bi, kemudian tanpa banyak bicara sepasang telapaknya didorong kedepan melancarkan sebuah pukulan dengan suatu jurus serangan yang aneh dan ganas. Sekali lagi Han Siong Kie dibikin terperangah oleh kehebatan serangan tersebut, tempo dulu ia pernah menyelamatkan jiwa Istri yang ditinggaikan karena ia tak mampu melayani keroyokan empat orang pengawai baju hijau dari istana Huan mo kiong, tapi kenyataan yang tertera didepan mata pada saat ini menunjukkan bahwa ilmu siiatnya amat dahsyat, itu berarti tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam beberapa waktu yang amat singkat.

Go siau Bi mendengus dingin, tubuhnya melesat kesamping menghindarkan diri dari sergapan musuh yang amat dahsyat itu, sambil putar badan diapun balas melancarkan tiga buah jurus serangan secara berantai...

Dengan cepat istri yang ditinggalkan kena terbendung oleh pukulan itu, membuat dia mau tak mau terpaksa harus mundur tiga langkah kebelakang.

Dalam waktu singkat pertarungan yang amat sengitpun berlangsung, dua orang gadis itu saling serang menyerang dengan gencar membuat pasir dan debu beterbangan di seluruh angkasa.

Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay, ilmu silat yang digunakanpun merupakan jurus2 ampuh yang luar biasa.

Hal ini membuat Han Siong Kie yang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat persembuyiannya diam2 menjulurkan lidahnya.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak beberapa ratus gebrakan lebih, namun kekuatan mereka tetap seimbang, siapapun tak dapat menangkan pertarungan tersebut dengan mudah.

Ditengah bentakan nyaring, mendadak Go siau Bi mundur kebelakang, telapak tangannya berputar kian kemari melancarkan jurus serangan yang kian lama kian bertambah aneh, segulung demi segulung anginpukulan yang aneh menyapu kedepan membuat suasana jadi mengerikan sekali.

Ditengah hembusan angin berputar yang sangat aneh itu, Istri yang ditinggalkan sama sekali tak mampu mengembangkan jurus serangannya, tanpa sadar dia berseru: "Oooh...ilmu pukulan angin berpusing, engkau adalah..."

sebelum ucapannya selesai diutarakan tiba2.. Duuk" sebuah pukulan dengan telak bersarang diatas tubuh Istri yang ditinggalkan membuat ia mundur dengan sempoyongan.

Dalam serangannya itu Go siau Bi telah mengerahkan tenaganya sebesar sepuluh bagian, dengan telak pukulan tadi menghantam dada lawan, kalau jago lihay biasa yang termakan pukulan itu niscaya isi perutnya akan goncang dan tulang dadanya pada retak, tapi Istri yang ditinggalkan hanya tergetar mundur belaka, ia sama sekali tidak mengeluh kesakitan.

Untuk sesaat Go siau Bi jadi tertegun, ia sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan mempunyai tenaga dalam sesempurna itu..

Sementara dia masib tertegun itulah, Istri yang ditinggalkan telah manfaatkan kesempatan itu se-baik2nya, telapak diayun kedepan secepat sambaran kilat, arah yang ditujupun merupakan tempat kematian yang sangat berbahaya.

Go siau Bi jadi kelabakan dibuatnya menghadapi serangan balasan yang luar biasa itu, tapi untung ia cukup cekatan, dengan cepat ujung kakinya menjejak tanah dan secepat kilat menghindar kearah samping.

Sayang gerakan tubuhnya masih tetap terlambat setengah langkah, bahu kanannya tersapu telak oleh pukulan lawan...

Rasa sakit yang luar biasa serasa sampai didalam tulang sumsum, tak tahan lagi gadis itu merintih kesakitan, dengan sempoyongan tubihnya mundur delapan depa ke belakang. Kejadian itu sama sekali tidak mengherankan diri Han Siong Kie, dia tahu istri yang ditinggalkan berasal dari benteng maut, itu berarti diapun memiliki ilmu kebal yang tak mampu dihantam maupun dibacok. dengan sendirinya serangan diri Go siau Bi pun tak mungkin dapat melukai tubuhnya.

Tapi. ..mengapa Go siau Bi hendak menghancurkan kuburan kosongnya itu??

Dan apa sebabnya Istri yang ditinggalkan mati2an melindungi kuburan tersebut ? bahkan sejak permulaan ia sudah menyembunyikan diri dibelakang kuburan? Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu hanya bisa berdiri tertegun sambil putar otak.

Kedua belah pihak sama2 pernah melepaskan budi kebaikan dan budi pertolongan kepadanya, apa kah dia harus munculkan diri untuk melerai pertarungan itu?

Dalam pada itu, setelah serangannya berhasil melukai tubuh lawan, istri yang ditinggalkan sama sekali tidak melanjutkan serangannya, dengan nada dingin ia menegur:

"Ilmu pukulan angin berpusing merupakan kepandaian silat tunggal dari Put-lo sianseng, apa hubungan nona Go dengan diri Put loo sianseng??"

Mengetahui pihak lawan kenal dengan asal usul ilmu silatnya, Go siau Bi merasa hatinya terperanjat, buru2 jawabnya. "Dia adalah kakekku"

"Oooooh... rupanya nona adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng...maaf " Go siau Bi tak mau tunjukkan kelemahannya, dia segera menegur: "Apakah engkau adalah anak murid dari benteng maut??"

Sekarang gantian istri yang ditinggalkan yang berdiri terperangah, namun ia tidak menjawab sebaliknya alihkan pokok pembicaraan kesoal lain. "Benarkah nona Go mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan diri Han Siong Kie??"

"Sama sekali tak ada"

"Lalu apa sebabnya engkau hendak membongkar kuburannya?? apa kah engkau bersedia memberi keterangan??"

"Tentang soal ini. jadi engkau pingin tahu?"

Rupanya Istri yang ditinggalkan sudah biasa mengumbar watak ingin menangnya, mendengar pertanyaan itu paras mukanya seketika berubah hebat. " Masa aku tak boleh

tanya?" tegurnya.

Se-akan2 telah menyadari akan sesuatu, Go siau Bi maju beberapa langkah kedepan, sahutnya dengan suara mendalam:

"Oooh rupanya engkau adalah istri yang ditinggalkan dari

Han Siong Kie??" Dengan sedih Istri yang ditinggalkan mengangguk. "Benar apa yang kau ucapkan sama sekali tidak keliru"

Han song Kie yang bersembunyi disamping kuburan tadi melongo dan duduk terperangah, suatu kejadian yang sangat ajaib baginya dia sama sekali tidak kenal dengan nona cantik itu, tapi nona itu mengakui sebagai istri yang ditinggalkan, kejadian semacam ini benar2 merupakan suatu peristiwa aneh yang tak pernah diduga sebelumnya.

Tentu saja ia sama sekali tak pernah menduga kalau Istri yang ditinggalkan yang berada dihadapannya saat ini adalah adik angkatnya Tonghong-Hui yang dirindukan setiap hari.

Paras muka Go siau Bi nampak berubah hebat, dengan nada gemetar ia menegur lagi: "Oooh jadi ia sudah

menikah?" Dari pembicaraan lawan, istri yang ditinggalkan dapat menangkap apa yang dimaksudkan orang itu, dengan nada dingin ia balik bertanya: "Nona Go, apa kah engkau sangat mencintai dirinya??"

Merah jengah selembar wajah Go siau Bi, ia tidak menyangkal ...pun tidak mengakui.. Melihat nona itu membungkam, Istri yang ditinggalkan bertanya lebih jauh: "Jadi nona telah mengakuinya??"

"Tidak" sahut Go siau Bi tiba2 dengan nada setengah menjerit, "Aku sangat benci pada dirinya"

Han Siong Kie yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi gelengkan kepalanya sambil angkat bahu, terhadap diri Go siau Bi boleh dibilang tak pernah timbul ingatan atau perasaan untuk mencintai, bahkan terhadap semua perempuan yang pernah dijumpaipun ia tak pernah punya perasaan tersebut, sebab ia pernah bersumpah akan membenci kaum wanita untuk selama-lamanya.

Rupanya jawaban dari Go siau Bi itu sangat mencengangkan hati Istri yang ditinggalkan, ia berkata:

"Oleh karena engkau benci dia maka engkau hendak merusak kuburannya, apakah engkau tak merasa bahwa perbuatanmu itu keterlaluan."

Go siau Bi menggigit bibirnya:

"Aku tahu kuburan ini adalah kuburannya tapi apakah engkau yakin kalau dia benar2 berada dalam kuburan ini??"

Ucapan ini sangat mengejutkan hati Istri yang ditinggalkan, dengan wajah terkesiap dia mundur satu langkah kebelakang. "Apakah maksud perkataanmu itu?"

"Apakah engkau merasa seyakin2nya kalau Han Siong Kie benar2 sudah mati??" "Tentu saja" Istri yang ditinggalkan mengangguk dengan tegas.

"Engkau saksikan dengan mata kepala sendiri??"

"Aku sendirilah vang membuat batu nisan didepan kuburan ini"

Han Siong Kie yang bersembunyi dibelakang batu lebih2 terperangah dibuatnya, dia sampai berdiri ter heran2. Menurut apa yang diketahui batu nisan dan kuburan itu dibangun oleh adik angkatnya Tonghong-Hui, bahkan dia pula yang telah mencantumkan namanya diatas batu nisan tersebut untuk memperingati dirinya... sekarang istri yang ditinggalkan mengakui kalau dialah yang mendirikan kuburan itu, lalu apa maksudnya? sementara sianak muda itu masih termenung, Go siau Bi telah tertawa dingin

"Heehh. heehh..heehh.. diatas batu nisan itu tertera nama dari dua orang, masa engkau juga yang mengebumikan jenasah dari pengemis cilik Tonghong Hui?"

Istri yang ditinggalkan termenung beberapa saat lamanya, tiba2 ia berkata: "Akulah Tonghong-Hui"

Hampir saja Han Siong Kie menjerit kaget menghadapi kenyataan tersebut, dia tak menyangka kalau Istri yang ditinggalkan mengaku dirinya sebagai Tonghong-Hui, suatu kejadian yang cukup membuat orang tertawa karena gelinya.

Mungkinkah dia tidak tahu kalau Tonghong-Hui adalah seorang pria, bahkan dia adalah seorang pengemis cilik? apakah nona ini menyangka Tonghong-Hui adalah seorang gadis seperti dirinya??

Tak tahan lagi Go siau Bi tertawa cekikikan karena gelinya, sambil menuding ke arah lawan dia berseru:

"Hiiihh hiiiih hiiiihhh engkau adalah Tonghong Hui? pengemis cilik??" "Betul"

"Engkau tidak bohong? masa tampang seperti kau bisa jadi seorang pengemis cilik??"

"Aku sama sekali tidak bohong, akulah pengemis cilik Tonghong Hui"

"Kalau begitu, engkau adalah manusia atau setan??" "Tentu saja aku adalah seorang manusia "

"Kalau toh seorang manusia, kenapa semua ucapan yang kau utarakan lebih mirip omongan setan??"

Dengan amat sedih Istri yang ditinggalkan menghela nafas panjang, ujarnya lebih jauh:

"Aaai berhubung engkau mencintai dirinya dan dia telah tiada dikolong langit, maka aku bersedia memberitahukan rahasia hatiku kepadamu, tujuanku mendirikan batu nisan ini adalah sebagai perlambang bahwasanya aku hendak balaskan dendam baginya, kemudian aku akan bunuh diri dan minta dikubur dalam satu liang yang sama bersama-sama dirinya "

Han Siong Kie yang mencuri dengar pembicaraan tersebut dari tempat persembunyiannya mulai merasa gusar, hawa amarahnya per lahan2 menyelimuti seluruh benaknya, ia tak menyangka kalau istri yang ditinggalkan bisa mengungkapkan kata2 yang begitu menarik hati tanpa tahu rasa malu, apakah ia tidak jengah mengarang cerita bohong yang begitu indah untuk menipu orang??

Tiba2 Go siau Bi tertawa keras, suaranya begitu nyaring sehingga membelah kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.

Kontan istri yang ditinggalkan melototkan matanya bulat2, dengan suara keras dia menghardik:

"Nona, aku harap engkau bersedia tahu diri dan jagalah kesopanan dengan se-baik2nya" 

-000d0w000-