-->

Tangan Berbisa Jilid 29 Tamat

 
Jilid 29 (Tamat)

TERDENGAR lagi suara bentakan Suma Siu Khim. “Hayo Katakan, mengapa kau tidak kerumah penjara Tay- pa-san?"

Kim Hoong menghela napas dan berkata:

"Aku sedang menuju kerumah penjara Tay-pan-san, tiba- tiba terdengar satu berita yang sangat menyakitkan hati."

"Berita apa?" Kim Hoong berkata lagi:

"Kau masih ingat seorang tawanan yang bernama Liok Siao Yu?"

Sesudah memikir lama, suma Siu Khim menjawab: "Tidak ingat. Kukira dia berada dikamar ular, atau

mungkin juga sudah mati" "Nah" berkata Kim Hoong, "Sampai orang tawanan sendiripun tidak tahu. Bagaimana kau menjadi penguasa rumah penjara?"

"Aku tidak membutuhkan nama mereka." berkata Suma Siu Khim, "Siapa saja yang menerima sayembara, kuhajar jatuh, sesudah itu masuk kedalam kamar tahanan- Beres"

Kim Hoong menghela napas panjang, ia berkata:

"Liok Siao Yu itu adalah salah satu dari famili jauhku. ilmu kepandaiannya tidak tinggi, orangnya juga lemah, ia menerima tantangan sayembara, itu waktu baru saja kawin satu bulan..."

"Pengantin baru?" berkata Suma Siu Khim. "Tapi tak perduli. Bukan urusanku. Siapa saja yang menerima tantangan Sayembara, akan aku layani dengan baik-baik."

"Ia menerima tantangan bukan maksud tujuan sendiri, kawan-kawannyalah yang mengolok-ojok. "

"Mengapa kawannya haruS mengojok-ojok?"

"Sifatnya hanya berkelakar, banyak orang mengiri melihat sepasang kemantin baru Liok Siao Yu, suami isteri itu berCinta-Cintaan, dikatakan, kalau Liok Siao Yu berani menerima tantangan sayembara, rumah penjara Tay-pa- San, mereka akan memenggal kepala sendiri. Kawan-kawan Liok siao Yu mengetahui sifat-sifatnya Liok Siao Yu itu seorang pengecut. Sangkanya tak berani. "

"Seorang yang tidaK berani mana mungkin menerima sayembara tantangan rumah penjara."

"Nah, disinilah letaK kesalahan- Yang penting, dari Sipengantin perempuan- Wanita itu mempunyai sifat-sifat yang angkuh inilah sifat yang mirip dengan Sifatmu. Didalam anggapannya inilah satu penghinaan untuk sang suami. Ia marah, segera digentak dan disuruhnya sang suami menerima sayembara, sesudah itu mereka dipaksa membuat perjanjian, kalau saja sang suami berani menerima sayembara rumah penjara kawan-kawan mereka itu berani penggal diri. "

"Pengantin perempuan yang tolol" berkata Suma Siu Khim. "Mengapa dia rela mengorbankan batok kepala kawan-kawan sendiri, dan juga menyerahkan suami sendiri kedalam kamar tahanan?"

"Hai, mana dia tahu kalau si iblis betina yang ugal- ugalan dari rumah penjara Tay-pa-san itu begitu hebat?"

Lagi-lagi satu tamparan dipipi. "Eh," kata Kim Hoong. "Apa salahnya?"

"Tidak sedap mendengar suara panggilan iblis itu. Aku tidak mau mendengar lagi." berkata Suma Siu Khim.

"Kalau bukan seorang iblis yang  ugal-ugalan, bagaimana. "

Lagi Suma Siu Khim menampar lakinya. Di dalam hal ini memang si wanita lebih galak.

Bok Siu dan Yo In-jie yang mengikuti percakapan diluar kamar itu saling pandang, mereka melewekkan mulut dan tertawa,

Bok Siu mendekatkan mulutnya ketelinga Ya In-jie dan berkata: "Nah Dia sudah tidak berani menggampar lagi."

Yo In-ji melirik dan berkata:

"Kalau kau, bagaimana? Kau berani menampar lagi?" Bok Siu menggelengkan kepala berkata:

"Mana boleh. Setiap laki-laki mempunyai adat yang terbatas. Kalau hendak mengerjainya pun harus tahu diri." "Ya," berkata Yo In-jie. "Sekali lagi bibi mengayun tangan, kukira penguasa rumah penjara baru kita ini bisa naik darah juga ."

Bok Siu berkata: "Kulihat paman kita itu masih Cinta padanya."

Yo In-jie berkata: "Tentu saja." "Tapi, bibi. "

"Mereka sedang bersenda gurau." "ciss Tak tahu malu."

"Siapa yang tak tahu malu? Mengapa kau hendak mengintip disini?"

Sampai disini, perdebatan kedua gadis tertahan. Dari dalam ruangan kamar Kim Hoong, terdengar jago aneh itu berkata:

"Nah Kini giiiran kau yang harus mendengar perintahku. Aku sangat Cinta, tapi kau tidak boleh ugal-ugalan lagi, dua puluh tahun kita berpisah, apa sebabnya? Sebab pertama, karena salah pahamku, sebab yang kedua adalah sifat- Sifatmu bagaimana?"

"Eh.,." berdengus Suma Siu Khim, "sifatku bagaimana?" "Kau tidak mau mengalah kepada siapa pun juga ." Terdengar suara isak tang is Suma Siu Khim. "Sudahlah."   berkata   Kim   Hoong,   "Semua kesalahan

boleh dijatuhkan kepadaku. Karena adanya rumah penjara

digunuog Tay-pa-san itu berapa banyak keluarga yang terpisah dari suaminya, betapa banyak yang bercerai berai dengan anaknya?"

“Hanya karena Liok Siao Yu?" "Akhirnya Liok Siao Yu menjadi tawanan dari penjara ularmu."

"Tentu saja, bagaimana dengan kawan-kawannya? Apa mereka bersedia dipotong kepala?"

"Menurutpendapatmu ?" "Mereka lari kabur "

"Tepat!! Kasihan sipengantin perempuan- Anggapannya Sang suami jago, tidak tahunya Penguasa rumah penjara Tay-pa-san jauh lebih Jago darinya. Sepuluh kali lipatpun ilmu kepandaian suami lagi, belum tentu bisa menandingimu. Karena itu sang kemantin perempuan menyesal. ia menangis, setiap hari kerjanya menangis, tapi apa daya. "

"Oh. maka malam itu kau menerobos masuk kedalam

rumah penjara, dengan maksud menolong Liok Siauw Yu?"

"Itu waktu, aku tidak tahu kalau penguasa rumah penjara adalah Suma Siu Khim."

"Kemudian ?"

"Oh Suma Siu Khim yang cantik molek. itu telah banyak membunuh orang." Suma Siu Khim berdiam.

"Pikiriah" berkata Kim HoonGee "Disaat kau membunuh orang, disaat kau mengurung orang didalam kamar tahanan, pernahkah terbayang olehmu, betapa susah keluarga mereka ?"

Suma Siu Khim masih berdiam.

"Nah Karena itulah, aku membuat rumah penjara gunung Bu-san- Membuat rumah penjara tandingan- Melihat bagaimana reaksimu kalau mengetahui murid sendiri tidak berada disampingmu. " "Tapi..,tapi..." isak tang is Suma Siu Khim mereda. "Kau kasihan kepada orang, siapa yang kasihan kepadaku, ayahku dianiaya orang. Suamiku melarikan diri, suhengku tiada kabar ceritanya. Anakku kecemplung disungai, Siapa yang kasihan kepadaku ?"

"Maafkan! Inilah gara-gara kesalahanku." "Jangan menyentuh aku !"

"Siu Khim. "

"Bah! bisa memberi nasehat kepada orang, Bagaimana dengan keadaanmu? Mengapa kau juga membuat rumah penjara?"

"Dengan keteranganku." berkata penguasa rumah penjara Bu-san "Aku telah membuat satu ide baik, kulihat rimba persilatan sudah mulai tidak keruan macamnya, Tokoh-tokoh silat yang jujur dan berjiwa satria berada didalam kamar tahananmu. Yang ada diluar adalah kaum pengecut, mereka tidak mempunyai nyali keberanian, Mereka mengacau rimba persilatan, karena itu secara diam- diam aku mendidik orang-orang yang bisa dididik, membuat satu rumah penjara Bu-san, untuk bersiap sedia menghadapi golongan Kalong."

"Bohong!"

"Tidak bohong." berkata Kim Hoong "Kalau tidak percaya, akan kuajak kau melihat orang-orang tawananku itu ?"

"Bagaimana dengan para penantang sayembara ?" "Kupilih  dan  kudidik.  kalau  saja  mereka  mempunyai

sifat-sifat  ksatria,  kuberi  tahu  sesuatu  dengan   terperinci.

kuajak ia mengikuti jejak-jejakku, empek Ie-oe, sipengemis sakti  Lu  Bong  Kong,  dan  lain-lainnya  adalah  termasuk orang-orang kepercayaanku ini. Tanpa berkelahi dengan mereka rela mendiami tempat ini, aku sebut saja sebagai orang-orang tawanan, Tapi kenyataan tidak, mereka bebas bergerak. Seperti apa yang sudah kau lihat, disini mereka bisa melakukan apa yang disukai olehnya. Tidak seperti didalam kamar tahananmu."

"Akal bulus!" berkata Suma Siu Khim. "Terserah Kepada penilaianmu."

"Jaogao terserah-terserah saja. Aku masih tidak mengerti dengan tindak tandukmu."

"Apa lagi yang tidak mengerti? Tanya sajalah." "Hei, apa makdudmu menculik Leng Bie Sian?"

"Dengan adanya Leng Bie Sian di tempat ini. Aku mengharapkan kedatanganmu."

"Menculik Bok Siu?" "Begitu juga."

"Sikarang aku sudah datang. Mau apa lagi?" "Inilah yang aku harapkan."

Diluar, Yo In jie dan Bok Siu saling pandang, mengeluarkan keluhan napas lega. Ternyata kedua rumah penjara rimba persilatan rujuk kembali. Tidak ada pertentangan dari kedua penguasa rumah penjara rimba persilatan itu.

"Nah!" berkata Yo In-jie pelahan. "Rimba persilatan akan bebas dari gangguan-gangguan Rumah penjara!"

Bok Siu menarik lengan baju Yo In-jie dan berkata: "Sudah waktunya kita pergi, kalau mengintip terus, bisa

celaka!" "Tunggu dulu!" berkata Yo In-jie "Apa lagi yang akan mereka percakapkan nanti."

Didalam terdengar suara cabikan air, terdengar suara penguasa tumah penjara Bu-san Kim Hoong tertawa dan berkata:

"Siu Khim, kau semakin cantik, Semakin subur." "Cih!" berkata Suma Siu Khim. "Tidak tahu tak malu." "Siu Khim. "

"Kim Hoong, hatiku berdebar-debar."

"Siu Khim... haaa ... bibirmu seperti apel mereka. "

"Selalu itu melulu."

Diluar, wajah Yo In-jie menjadi merah, dia bertanya kepada Bok Siu: "Apa yang sedang mereka kerjakan?"

Bok Siu bangkit bangun, ia siap berangkat dan berkata: "Lekas, kita berangkat."

"Tunggu dulu. "

Disaat Bok Siu dan Yo In-jie sedang berkata, tiba-tiba pundak mereka dirasakan dicekal Orang. Kedua gadis itu menjerit, disaat mereka menoleh disana tampak kehadirannya penguasa rumah penjara Tay-pa-san Suma Siu Khim satu tangan satu menjingjing leher baju kedua gadis itu, dengan wajah yang merah-kemerahan,

Dan entah kapan, disamping Suma Siu Khim berdiri seorangg laki-laki setengah umur, inilah penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hoong

Yo In-jie menjadi gugup, ia berkata kaget; "Hayo, bibi, mengapa?"

"Dua gadis kurang ajar, apa kerja kalian disini?" "Bibi," berkata Bok Siu. "Kita orang sedang berjalan dan sampai disini. "

"Pergi!" Suma Siu Khim menghardik kedua gadis itu dan melepaskan pegangannya. "Sudah besar, sudah waktunya kawin masih berani begitu."

Yo In-jie dan Bok Siu terpontang panting melarikan diri.

Memandang lenyapnya mereka, Kim Hoong tertawa berkakekan ia mengulurkan tangan dan merangkul Suma Siu Khim, dengan tertawa berkata:

"Siu Khim, anak kita mempunyai rejeki bagus. Ada tiga nona yang bersedia dikawini olehnya."

Suma Siu Khim berkata:

"Itulah urusan Kim Hong. Biar anak kita saja yang akan memilih,"

Disaat suami istri yang terpisah lama itu berkasih- kasihan, terdengar suara kentongan terpukul. itulah suatu tanda ada berita untuk rumah Penjara Bu-san,

Kim Hoong membuka pintu dan bertanya, "Ada apa?"

Disana tampak seorang kakek berbaju merah, inilab Co Tiok Hu, ia menyerahkan kepada sang penguasa rumah penjara rimba persilatan Bu-san secarik kertas, laporannya:

"Laucu, ada berita datang!"

Kim Hoong menerima surat tadi, itulah surat laporan dari bawah gunung Bu-san, laporan yang diantar oleh burung dara.

"Aku tahu. Sudah tidak ada urusanmu." berkata Kim Hoong kepada si kakek berbaju merah Co Tiok Hu. Co Tiok Hu mengundurkan diri.

Kim Hoong membaca suat itu, memandang Suma Siu Khim dan berkata;

"Orang-orang golongan Kalong dan Tay-wan-kok menyerang rumah penjaramu!"

"Aaaah..,...!" Suma Siu Khim terkejut.

"Jangan takut," berkata Kim Hoong. "Mari kita keluar."

Tidak menceritakan bagaimana rencana kedua rumah penjara rimba persilatan yang tergabung, Suma Siu Khim dan Kim Hoong menemui pengikut-pengikut mereka, disana terdiri dari rombongan berbaju putih, dibawah pimpinan si kakek Ie-oe Pek Ho Teng, si pengemis Sakti Lu Bong Kong, Cu Giok Tian, Ma Liong Po. Yo In-jie, Pihauw-peng Kiam-khek Bok Siu dan yang lain-lainnya.

-oo0dw0oo-

Kekuatan Tay-wan-kok dan kekuatan Kalong yang tergabung menjadi satu sedang menyerang rumah penjara Tay-pa-san.

Kim Hong beserta kesepuluh Raja Akherat Tay-pa-san ber-sama dengan anak buah mereka membikin pertahanan kuat.

Pertempuran-pertempuran masih terjadi disana-sini, api mulai berkobar menyala diantara tebing-tebing rumah penjara itu.

Yang kena sensor disambung kembali.

Kita menyusul ke gunung Tay-pa-san, disana berkumpul banyak orang, dari anggota rumah penjara Tay-pa-san, dan anak buah golongan Kalong, juga dari jago Tay-wan-kok, terakhir datang pula orang-orang berkerudung putih dan berseragam putih. Siapa orang-orang berkerudung putih dan berseragam putih itu? Mereka adalah anak buah rumah penjara gunung Bu-san.

Hamid dan Jooss berunding, mereka menganggukkan kepala, Hamid melempar sebuah boom berapi, boom itu meledak diantara orang-orang berseragam putih.

Jago-jago rumah penjara Bu-san melepas anak panah mereka, maka terjadilah peperangan total.

Hamid melempar lagi boom-boom berapi. Orang-orang dari golongan pengemis yang menggunakan tutup kerudung muka putih itu kucar-kacir.

Yang menjadi pemimpin rombongan pertama adalah Can Sa-sian ketua pengemis itu, Lemparan boom berapi berada diluar dugaannya, ia menjadi uring-uringan, ia memaki kalang kabut: "Kurang ajar, aku bukan kepala golongan pengemis lagi, kalau tidak menghancurkan kalian."

Sebetulnya, ia hendak mempermainkan Kim Hong. Tapi didalam lupa daratan ia telah menggunakan suara asli.

Kim Hong segera mengenali kepada suara Can-sa-sian, ia berteiak girang:

"He, kau Can Sa-sian cianpwe?"

Pemimpin pertama dari rumah penjara Bu-san adalah Can Sa-sian, ia membanting kaki dan berteriak:

"Betul! Suhu dan subomu juga sudah datang. Leng Bie Sian juga turut serta. Eh, kau bocah Kim Hong, mengapa kau berpeluk tangan saja?"

Kim Hong sangat girang, matanya jelalatan ia berteriak: "Dimana? Dimana mereka berada?" Itu waktu, Hamid sudah memberi perintah untuk mulai melepas boom berapi, pertarungan agak kalut. Panah tangan kontra boom berapi!

Karena tidak mendapat jawaban Can Sa-sian, Kim Hong berteriak lagi:

"Dimana mereka berada?"

Tiba-tiba ia teringat, kalau Leng Bie Sian itu terkurung didalam rumah penjara Bu-san, ia menjadi bingung. Maka teriaknya lagi;

"Hai, Can Sa-sian cianpwee, Leng Bie Sian turut serta? Dimana dia berada? Bukankah sudah menjadi tawanan rumah penjara gunung Bu-san ?"

Ini waktu, muncul seorang berkerudung putih lain, ia berteriak: "Kim Hong, pedang apa yang kau pegang."

Itulah suara It-hu Sianseng.

Mengenal suara suhunya, Kim Hong berteriak girang: "Suhu!. "

It-hu Siansang membuka tutup kerudung mukanya, ia berteriak lagi: "Kim Hong, benda apa yang kau pegang, bukankah pedang pusaka ?"

Kata-kata yang seperti itu diulang sehingga beberapa kali, hati Kim Hong tergerak maka ia sadar, intruksi apa yang sang guru berikan, karena itu ia menggelengkan kepala berteriak:

"Mana bisa! Suhu, dibawah lembah masih banyak orang tawanan."

It-hu Sianseng berteriak: "Jangan takut! Kau bisa menangkap maling didalam rumah !" Kim Hong mengerti, inilah intruksi, intruksi agar Kim Hong menggunakan pedang Tay-pek-kiam yang ketajamannya bisa menghancurkan segala apapun, membabat putus tenur-tenur besi, dengan cara demikian maka dari pihak penyerang yang terdiri dari orang-orang dan golongan KalOng dan jago-jago Tay-wan-kok akan jatuh kebawah lembah. Maka pertempuran kalut dengan jarak dekat bisa lebih meringankan beban mereka.

Tapi Kim Hong tidak mengambil langkah perorangan, ia membisik-bisiki para raja akherat, sesudah memberi intruksi itu, raja akherat segera mengundurkan diri dari tenur-tenur besi, demikianlah anggota Tay-pa-san mengundurkan diri.

Orang-orang golongan Kalong sudah berketrampilan ditenur-tenur besi itu. siap mengambil alih kekuasaan rumah penjara Tay-pa-san.

Hanya Kim Hong seorang, merasa sudah menunggu setelah semua orang mengundurkan diri Kim Hong pun melejit kebelakang ia berdiri ditebing. Sesudah itu, mengayun pedang pusaka, 'trass' membabat putus tenur besi pertama.

Terdengar jeritan-jeritan dari golongan-golongan Kalong, karena tenur yang mereka pijak sudah putus, maka mereka kehilangan keseimbangan badan, pada jatuh kedasar jurang.

Kim Hong bisa bergerak tepat, 'cress....cress.. cress'... semua tenur-tenur itu dipapasinya.

Langkah ini berada diluar dugaan musuh, anggota anak buah golongan Kalong berjatuhan kedasar lembah.

Tentu saja, itu tak termasuk Jooss Hamid, Jie Hioag Hu dan beberapa jago-jago kelas satu.

Mereka berlompatan, dan menempelkan diri ditebing- tebing Tay-pa-san. KIM Hong sesudah balik kembali kejendela berhati ayam.

Disaat kim Hong memeriksa isi kamar tahanan, ia tak mendapatkan keseluruhan raja akherat dan para tawanan rumah penjara. Ia menjadi bingung.

Disaat ini, seorang berkerudung putih berpakaian putih datang menghampirinya.

Mengetahui kalau orang berkerudung putih dan berseragam putih ini bukan dari golongan musuh, hati Kim Hong menjadi lega, segera ia berteriak:

"Hei, Siapa kau?"

Orang yang datang itu segera berkata: "Nomor tiga dari lembah patah hati!" jawabnya singkat.

Kali ini, Leng Bie Sian tidak menekan aksen suaranya, suara itu segera bisa dikenal oleh Kim Hong.

Dengan berlOmpat girang. Kim Hoag berteriak: "Leng Bie Sian, kau nakal sekali!"

Leng Bie Sian membuka tutup kerudung mukanya, tertawa cekakak-cekikik dan berkata: "Kau tidak mengerti?"

Kim Hong mencekal tangan gadis itu, ia bertanya:

"Eh, dengan cara bagaimana kau bisa melarikan diri dari rumah penjara Bu-san?"

Leng Bie Sian melepaskan pegangan Kim Hong, ia berkata;

"Bukan waktunya bicara. Lekas kau halangi kerja Jooss dan Hamid itu."

Kim Hong menganggukan kepala, ia berkata; "Tolong bantu orang-orang tawanan itu. Keadaan mereka sangat berbahaya sekali."

"Jangan takut." berkata Leng Bie Sian. "Sudah kuperintahkan mereka."

"Mereka sudah berada ditempat aman?'

"Mereka sudah melalui jalan rahasia, siap menggempur musuh. Menunggu sampai boom berapi Pek-lek-tan itu habis dipunahkan. Secara serentak kita mengurung musuh didalam tempat sendiri."

"Ahaaa. " Kim Hong berteriak girang.

"Kau handal sekali!"

"Lekas! Lekas tahan kemajuan Jooss dan Hamid itu." berkata Leng Bie Sian.

Kim Hoag tertawa berkakakan, tubuhnya melejit lagi, menuju kearah tebing-tebing Tay-pa-san.

Di atas tebing-tebing yang curam, tampak  Thian-san Soat Po-po dan it-hu Sianseng mereka sedang menahan kemajuannya orang-orang anggota Kalong dan jago-jago Tay-wan-kok.

Disaat itu muncul Jooss! Sebagai juara silat dari Tay- wan-kok, Jooss menempur Thian-san Soat Po-po dan It-hu Sianseng. Walau dua lawan satu Jooss berada dipihak yang menyerang.

Lompat pula seorang sangat besar, inilah ketua golongan pengemis, Can-sa Sian, ia datang membantu Thian-San Soat Po-po dan It-hu Sianseng bersama-sama menempur Jooss!.

Hati Kim Hong menjadi tenang, ia memeriksa lagi lain bagian. Disana api masih menjalar terus, ledakan-ledakan terjadi. Anggota golongan Kalong yang jatuh ada juga yang menjadi korban boom berapi sendiri. Tapi jumlah musuh ferlalu besar, pihaknya masih berada didalam keadaan keteter, banyak musuh masih menyerang terus.

Diatas tebing, dibawah tebing, dan dibawah lembah, bergerak-gerak banyak kepala, dari pihak golongan Kalong, dari jago Tay-wan-kok dan juga dari gunung Tay-pa-san.

Tiba-tiba meluncur satu bayangan kecil, bayangan Hamid, langsung ia merandengi Jooss. menggempur ketiga tokoh ajaib, Thian-san Soat Po-po, It-hu Sianseng dan Can- sa-sian.

Situasi cepat berbalik, tiga lawan dua, seketika Jooss dan Hamid mendesak lawannya.

Timbul pula seorang pengemis kecil, itulah Can Sa-jie, ia turut Serta didalam arena pertempuran itu, kini terpecah menjadi dua bagian, It-hu Sianseng dan Thian-san Soat Po- po suami istri menempur Hamid, Can-sa-sian dan Can-sa- jie menempur Jooss.

It-hu Sianseng dan Thian-san Soat Po-po terdesak, mereka mundur terus menerus.

Can Sa-sian dan Can San Jie lebih keteter, Jooss mempermainkan kedua pengemis itu, seolah-olah kuCing mempermainkan tikus. Mendesak lebih cepat.

Kim Hong menjadi kaget, jaraknya dengan lawan sangat jauh, untuk turun mungkin terlambat, disaat ini, tanpa pikir panjang ia melempar pedang Tay-pek-kiam dan kakinya pun turut melejit, menyusul lajunya pedang itu, 'tap'...sebelah kaki Kim Hong telah menempel pada badan pedang, lajunya pedang pada meluncur terus membawa sang majikan,

Maka seorang jago Sakti mandraguna yang menunggangi sebatang pedang meluncur. Pedang terbang.

Banyak orang mendongakkan kepala, seolah-olah menyaksikan dewa yang menaiki pedang terbang!

Dengan meluncur diatas pedang, dengan mengikuti arah pedang itu, Kim Hong meluncur kearah Jooss.

Betapa cepatpun meluncurnya pedang Kim Hong, karena membawa bobot berat seorang, kecepatan pedang itu terlambat.

Gerakan Jooss lebih cepat, ia bisa melihat akan adanya bahaya Kim Hong.

Ilmu kepandaian Kim Hongg sangat ditakuti, kalau saja Kim Hong berhasil turun membantu Can Sa Sian dan Can Sa Jie, keadaan dipihaknya pasti kalah.

Karena itu, Jooss segera bergerak cepat, maju langkah tiga kali, berjongkok dan memukul bagian bawah Can Sa Jie, "bletak" Can Sa Jie jatuh terjungkir.

Cia Sa Sian kaget, ia memukul Jooss.

Jooss berlompat dan tangannya dikaitkan, menyeret Can Sa Jie, menggunakan jarinya, menotok beberapa jalan  darah pengemis itu.

Gebrakan-gebrakan ini terjadi dalam waktu yang singkat, disaat Kim Hong meluncur turun, Can Sa-jie sudah jatuh kedalam tangan Jooss.

Meluncurnya pedang nancap ditanah, Kim Hong lompat, dan mengambil pedang itu kini dia menghadapi Jooss!

Tapi sudah terlambat! Ditangan sijago rambut merah sudah bertambah seorang itulah Can Sa-jie yang sudah tiada daya, tangan Jooss ditempelkan keubun-ubun Ca Sa Jie, memandang Kim Hong dengan penuh sinar tantangan, ia berkata:

"Jangan maju lagi! Apa kau sudah tidak membutuhkan jiwa kawan ini?"

Kim Hong tak berdaya, cara-cara Jooss adalah cara-cara dari bajingan kecil. Menggunakan tameng orang, tameng hidup yang setiap saat bisa diubah menjadi tameng mati.

"Tidak tahu malu!" bentak Kim Hong, "Lekas lepaskan Can Sa Jie".

"Hahahahaaa. " Jooss tertawa.

"Kalian sudah terkurung rapat. Hayo! Apa lagi yang dimaui?" bentak Kim Hong

"Apa lagi yang kita maui, hanya rumah penjara Tay-pa- san ini." kata Jooss tertawa.

"Lepaskan Can Sa Jie." berkata Kim Hong.

"Akan kami lepaskan, sesudah kalian menyerah!" sahut Jooss.

Kim Hong menghadapi Jooss, tetapi tidak berani segera membuat penyerangan, demi mengingat jiwa Can Sa Jie yang masih terancam.

Jooss tertawa berkakakan dan berkata: "Hahahaaa....

baiklah diam-diam di tempat itu. Jangan maju lagi."

"Tidak tahu malu!...." bentak Kim Hong. "Mengapa menggunakan tameng hidup""'

"Hahahahaaa....." Jooss tertawa lagi. "Lepaskan kawanku!" bentak Kim Hong.

"Boleh. Tapi kau jangan banyak bergerak. Diam sajalah disitu." Tentu saja, kalau Kim Hong tidak segera membuat pencegahan, anak buah glongan kalong sedang merajalela, membunuhi anak buah Tay-pa-san, dan itu Waktu, iapun celaka!

Kim Hong tak berdaya menghadapi situasi yang seperti itu, jiwa Can Sa Jie berada ditangan orang. Yang mana yang lebih penting? Keselamatan Tay-pa-san atau jiwa Can Sa Jie?

Membiarkan orang-orang golongan Kalong membasmi anak buah Tay-pa-san? Berarti berpeluk tangan kepada kejahatan.

Turun tangan untuk mencegah terjadinya drama pembunuhan itu, berarti mengorbankan jiwa Can Sa-jie.

Jiwa banyak orang harus ditukar dengan jiwa Can Sa Jie.

Tetapi tegakah membiarkan Can Sa Jie menjadi sesajen pengorbanan?

Disaat Kim Hong masih berada didalam situasi kebimbangan, tiba-tiba terdengar suara Can-sa sian bergema:

"Kim Hong, kerjakan saja menurut kehendak hatimu.

Aku rela mengorbankan seorang murid."

Kim Hong tidak mempunyai itu kekuatan hati, ia masih berdiam membeku.

Can-sa-sian berdehem dingin, kakinya terangkat melewati diatas kepala, ia menyeruduk kearah jago berambut merah itu.

Kim Hong yang menyaksikan kenekatan Can-sa-sian segera berteriak:

"Can-sa-sian Cianpwe, jangan!" Tapi Jooss tidak menganggap kedatangannya Can Sa- sian sebagai jago silat lihai, ia tertawa geli, tangannya di kebawahkan sedikit, menyodok bagian perut Can-sa-sian, Can-sa Sian mengerahkan semua kekuatan pada tangan, memuKul jago berambut merah itu.

"Pergi!" terdengar bentakan Joos?.

Betul-betul saja tubuh Can-Sa-sian menurut perintah tersebut, terpental jauh kebelakang. 'Bleuk,' Can ca-sian jatuh numprah ditanah.

Sebagai salah satu dari tiga orang tokoh ajaib, Cui,Sian dan Po, Can-sa-sian menganggap dirinya tanpa tandingan, tapi berhadapan dengan Jooss seolah-olah kuCing yang berhadapan dengan macan.

Can Sa-sian menangis sedih, ia menengok kearah Kim Hong dan berkata:

"Kim Hong, tengoklah dibawah, karena untuk membela jiwa seorang Can Sa Jie, kau mengorbankan lebih banyak orang lagi. Tokh penjara tidak dipertahankan. Itu waktu Can Sa Jie pun akan mati juga."

Kim Hong melongok kearah bawah, perubahan telah terjadi. Anak buah golongan kalong yang dibantu jago-jago Tay-wan-kok semakin merajalela membunuh dan membakar, kemajuan mereka tidak bisa dibendung.

Masih terdengar lagi suara boom Pek-lek-tan, api mengganas.

Menengok kearah sang suhu dan sang subo, It-hu Sianseng dan Thian-san Soat Po-po bukan tandingan Hamid, didalam belasan jurus lagi kedua jago ajaib itupun akan jatuh terjungkal dibawah jago Tay-wan-kok.

Akhirnya Kim Hong mengambil putusan, ia berkata: "Baiklah. Can-sa-sian Cianpwe, tolong kau bantu suhuku, serahkan kakek rambut merah yang satu ini kepadaku."

Sesudah itu, ia mendekati kearah Jooss.

Can-sa-sian berlompat girang, ia membantu Thian-san Soat Po-po dan It-hu Sianseng. dengan tiga kekuatan lawan satu, bertahan terhadap serangan-serangan Hamid.

Tentu saja, Hamid kewalahan dan kerepotan.

Perlahan-lahan, Kim Hong mendekati Jooss, dengan menahan rasa sedih yang tidak kepalang ia berkata;

"Saudara Can Sa Jie, terpaksa aku harus melakukan tugas ini. Tenangkanlah hatimu; kalau ia berani menyentuh sedikit rambutmu, aku akan menCincang kepalanya untuk disembahyangkan arwahmu,"

Kim Hong maju dua langkah.

Jooss terpaksa mundar tiga langkah, Segera ia membentak:

"Berhenti! Setapak lagi kau maju kedepan akan kuhancurkan batok kepalanya."

Jiwa Can Sa Jie Sedang menjadi barang pertaruhan!

Disaat ini, tiba-tiba terdengar satu suara yang nyaring berteriak:

"Kim Hong koko, serahkan kepadaku!"

Disana melayang sesuata bayangan putih, itulah bayangan Leng Bie Sian!

Leng Bie Sian bukan datang seorang, ia menjinjing sebuaah tubuh berambut merah, dia adalah murid Hamid yang bernama Brey! Ternyata Brey jatuh kedasar jurang, Wajah pucat pasi, ia sudah terkena jarum Bwee-hoa-ciam dari raja akherat keenam Liok-giam-ong, dan Leng Bie Sian turut serta, ditotoknya jalan darah Brey, dan dibawanya kesini.

Jooss sedang mengancam ubun-ubun Can Sa Jie.

Dan Leng Bie Sian juga menghampirinya meletakkan tangan kepada kepala Brey, menghadapi Jooss dan berkata:

"Hayo! Kita sama-sama mengorbankan seorang!"

Dan sesudah itu, Leng Bie Sian menoleh kearah Kim Hong dan berkata:

"Situasi disini serahkan kepadaku! Lekas bantu mereka dibawah lembah!"

Datangnya Leng Bie Sian sangat menggirangkan Kim Hong, Can Sa Jie jatuh kedalam tangan musuh, tapi seorang jago Tay-wan-kok yang bernama Brey juga jatuh kedalam tangan mereka situasi menjadi seimbang, Kim Hong mengerti, menyerahkan penandingan Jooss dengan Leng Bie Sian, ia meninggalkannya menuju kebawah lembah, disana tenaganya masih sangat dibutuhkan.

Didalam sekejap mata, pedang Kim Hong mengganas, siapa saja yang berani menentang pasti menjadi korban pedang Tay-pek-kiam.

Terdengar jeritan-jeritan dari anak buah golongan Kalong, mereka adalah makanan-makanan Kim Hong yang sangat empuk.

Didalam sekejap mata, Kim Hong bisa menyatukan diri dengan sembilan raja akherat, mereka sedang mengepung ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu, Kuat, Alwi dan Dokucan. Kim Hong berlompat-lompatan diantara tebing-tebing gunung Tay-pa-san, dia memukul jatuh setiap anggota golongan Kalong yang berusaha merambat naik.

Ini waktu, sembilan raja akherat sedang mengurung Jie Hiong Hu, Kuat, Sulek, Alwi dan kawan-kawan.

Dilain fihak, Ouw-yang Po-kui dan kawan-kawan sedang bertempur acak-acakan dengan ketua dua belas partay besar.

Jalannya pertempuran tidak teratur, tebing-tebing dengan banyak batu cadas membuat mereka tidak bebas bergerak.

Dibawah, api menggolak makin hebat. Suara-suara pertempuran menggema diseluruh penjara Tay-pa-san.

Kim Hong menghampiri Ouw-yang Po-kui, ia membentak:

"Wanita buruk, apa kau tidak kasihan kepada orang- orangmu?"

Mengetahui boom berapi tidak berhasil menahan kedatangan Kim Hong, meninggalkan Tie-kong Taysu, Ouw-yang Po-kui melarikan diri!

Kim Hong tidak membiarkan wanita jahat ini  mengganas terus, pedangnya meluncur, terlepas dari tangan, terdengar jeritan Ouw-yang Po-kui, tubuh wanita itu terbelah menjadi dua bagian. Isinya berceceran!

Dan pedang Tay-pek-kiam sudah membalik ketangan Kim Hong kembali.

Menghadapi kearah rombongan golongan Kalong, Kim Hong berteriak:

"Hayo! Siapa lagi yang berani!" Jumlah anggota golongan KalOng, jauh lebih besar dari pertahanan Tay-pa-san, karena itu mereka masih mengurung.

Suatu ketika, terdengar suara Jie Hiong Hu berteriak: "Hei! Siapa yang bisa membunuh mati Kim Hong, aku

menaikkan kedudukannya menjadi Tongcu!"

Kedudukan Tongcu didalam anggota golongan Kalong mempunyai kedudukan baik, maka tiga boom berapi melayang kearah Kim Hong,

Kim Hong marah besar, yang penting harus menangkap Jie Hiong Hu, itu waktu Jie Hiong Hu sedang terkurung oleh beberapa Raja Akherat, dan sesudah mengelakkan datangnya boom berapi, Kim Hong melejit kesana.

"Kalian mundur! Serahkan orang ini kepadaku!"

Jie Hiong Hu telah menyaksikan betapa gagah Kim Hong membunuh Mobilson, betapa hebat Kim Hong menandingi Jooss, dia sudah bukan tandingan Kim Hong, apalagi dalam kemarahan seperti itu, ia harus mengelakkannya sebelum meluncurkan kaki, ia melempar Kiu-yu-pek-ku-ciang.

Kim Hong sudah bertekad untuk melenyapkan si manusia banci dari permukaan dunia, setiap serangannya tidak mengenal ampun.

Keadaan Jie Hiong Hu sudah begitu mengenaskan, anak buahnya morat marit, dirinya yang digencar oleh pedang Tay-pek-kiam, mengelak tiga kali, jidatnya sudah penuh dengan keringat dingin, mengelakkan lagi tiga kali serangan, rambutnya sudah terpapas sebagian, dan yang terakhir ia tidak bisa mengelakkan lagi. terdengar lengkingan panjang, sebelah tangannya terpupus-putus, ia jatuh ngusruk ditanah. Disaat Kim Hong hendak menamatkan jiwa Jie Hiong Hu, tiba-tiba ada satu bayangan yang menyelak masuk langsung menerjang kearah Jie Hiong Hu, gerakan bayangan itu tidak bisa dilihat jelas, ia sudah menyeruduk Si manusia banci itu.

Terdengar suara jeritan panjang Jie Hiong Hu, hatinya tercongkel keluar.

Sebelum kematian Jie Hiong Hu, tangan Jie Hiong Hu mengepruk kearah bayangan itu, terdengar jeritan ngeri yang lain, si bayangan hitam itu telah remuk kepalanya.

Dua orang menjadi korban sekaligus.

Kejadian itu terjadi dalam waktu dua kedipan mata, Disaat Kim Hong bisa melihat jelas disana telah menggeletak dua mayat. satu adalah mayat Jie Hiong Hu, yang terkorek ulu hatinya dan yang lain adalah mayat Kha Gee San.

Ditangan Kha Gee San masih tercekal hati Jie Hiong Hu, ia menyerobot dan memecah dada Jie Hiong Hu dan mengambil hatinya.

Karena sudah siap berkorban, kepala Kha Gee San dihancur luluhkan oleh pukulan Jie Hiong Hu.

Disaat Kim Hong masih berada didalam keadaan bingung, terdengar lain bayangan menyusul. Pa Cap Nio menangis menggerung-gerung, dia menubruk mayat suaminya.

Mayat Kha Gee San bertumpukan dengan mayat Jie HiOng Hu, tiba-tiba saja pa Cap NiO mengerutuk gigi, kedua tangannya diangkat, 'crep....crett.....' dengan kesepuluh jari ia mencakari mayat Jie Hiong Hu berlubang- lubang, darah bersemburan, berlepotan membuat suasana itu menjadi sangat seram. Sesudah puas menyayat-nyayat mayat Jie Hiong Hu, tiba-tiba Pa Cap Nio merangkul mayat suaminya, kepalanya dibenturkan dibatu dan satu korban lagi terjadi!

Pa Cap Nio mengorbankan diri, ia juga mati bunuh diri.

Mati disamping mayat suaminya.

Disaat Kim Hong hendak berikan bantuan kepada orang- orangnya, tiba-tiba dua bayangan meluncur datang, kedua bayangan itu adalah Hamid dan Jooss.

"Hahahaaa " Hamid tertawa berkakakan.

"Bocah Kim Hong, gurumu sudah kupukul mati. Kau masih belum mau menyerah?!"

Hati Kim Hong tercekat, kepalanya seperti terpukul oleh benda berat, oleng sebentar, hampir saja ia jatuh pingsan.

Tidak mungkin suhu bertiga bisa dikalahkan, tokh, kenyataan sudah berada di depannya, kalau saja belum berhasil membunuh It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po dan Can Sa-jie bagimana kedua kakek berambut merah ini bisa berada disini?

Keadaan Kim Hong menjadi kalut, ia mengeluarkan suara lengkingan panjang, pedang Tay-pek-kiam diayun, bagaikan kerbau gila menerjang kearah Hamid.

Hamid melirik Jooss, masing-masing dari kanan dan kiri, menggempur Kim Hong ditengah. Ilmu kepandaian Hamid hanya berada dibawah Kim Hong, begitu juga ilmu kepandaian Jooss. Kalau satu lawan satu, mungkin Kim Hong bisa memenangkan mereka. tapi dua lawan satu, didalam pikiran kalut, keadaan Kim Hong terdesak.

Masih untung, Hamid dan Jooss takut kepada ketajamannya pedang Tay-pek-kiam. mereka tidak berani berlaku nekad mendekati Kim Hong. Pertarungan masih berjalan seimbang. Kim Hong melupakan kepada keselamatan jiwanya sendiri, ia menyerang dengan membabi buta.

Ilmu Tay-yang-sin-kang dari kedua jago Tay-wan-kok itu membuat suasana menjadi panas, bagai api bara.

Dibawah lembah, udara memerah, api masih membakar apa yang ada.

Belasan jurus kemudian, pukulan Hamid mengenai pundak Kim Hong. Tangan jago muda ini hampir lemas, sulit mengangkatnya lagi.

"Hahahahahaa...,," Hamid tertawa. "Nah! Terima lagi seranganku."

Kim Hong berjumpalitan, 'plok,' pinggangnya terpukul lagi. Ia terhuyung-huyung hampir jatuh ngeloso.

Jooss membarengi gerakan sang kawan, ia menendangkan kaki dan berkata:

"Nah! Pergi bersama-sama suhumu!"

Serangan ini memang sulit dielakkan, Kim Hong tidak mungkin bisa menghindari serangan maut. Lompat kebelakang atau kekiri, berarti ketempat Hamid, ia tidak berdaya.

Tiba-tiba satu bayangan menubruk masuk, "Bleduk," bayangan itu tertendang oleh kekuatan Joos, melayang jatuh kedasar jurang, terbakar api yang bernyala-nyala.

Itulah raja akherat Tay-giam Ong. untuk membela keselamatan tuan mudanya, dia mengorbankan diri. Tubuh Tay-giam-ong ditelan oleh lautan api.

Kim Hong meletik bangun, ia lebih panas karena kematian Tay-giam-ong, matanya dipelototkan besar-besar, pedang terayun, menusuk kearah Hamid. Hamid mengelakkan serangan itu, dan di saat ini, Joos menendang lagi.

Kim Hong sudah hampir menjadi orang setengah gila, tidak memperdulikan datangnya serangan itu, ia siap mengorbankan diri untuk mati bersama.

Hamid dan Jooss terkejut, masing-masing tidak berani menempur secara dekat. Mereka menjauhi si bocah yang sudah kalap.

Hal ini menguntungkan Kim Hong, ia menyedot napas dua kali, mempercepat peredaran jalan darah.

Disaat Jooss menyerang Kim Hong tadi Tay-giam-ong telah mengirim satu pukulan, pukulan mengenai Joos, Hal mana membuat sedikit gangguan baginya.

Belasan jurus lagi dilewatkan, keadaan Kim Hong semakin berbahaya,

Dipihak lain, empat raja akherat sedang menempur Kuat bersama Dokucan,

Kecuali Tay-giam-ong yang sudah mengorbankan diri masih ada raja-raja akherat lainnya, mereka ditantang oleh Touw Kui Hui dan Liu Kui Hui.

Dan orang-orang golongan Kalong menyerbu kembali.

Dari puncak tebing meluncur satu bayangan putih, tidak hentinya bayangan itu berteriak-teriak:

"Kim Hong koko..... Kim Hong koko.....dimana kau berada?"

Itulah suara Leng Bie Sian!

Hati Kim Hong menjadi besar kembali, segera ia berteriak: "Bie Sian, aku disini!" Secepat itu Leng Bie Sian menerjang, dan ia berhasil menolong keadaan Kim Hong yang terjepit. Kini dua lawan dua!

Jooss menderita sedikit luka hal itu membuat keseimbangan terjadi.

Sambil menempur Hamid, Leng Bie Sian berkata kepada Kim Hong:

"Kim Hong koko, legakan hatimu, sebentar lagi ibumu pun tiba!"

Dan Jooss menempur Leng Bie Sian. Kim Hong menempur Hamid.

Walau ia sudah luka di beberapa tempat, hanya menghadapi seorang Tay-wan-kok, keadaan Kim Hong masih jauh berada diatas angin. Sambil menempur ia masih sempat membuka mulut, bertanya kearah Leng Bie Sian.

"Leng Bie Sian, bagaimana keadaan suhuku sekalian?" "Mereka menderita luka parah," berkata Leng Bie Sian.

"Aku sudah menolong mereka memberi pengobatan yang secukupnya. Legakan hatimu, mereka tak akan terjadi sesuatu apa."

Di saat ini, Jooss menyerang terus menerus, membuat Leng Bie Sian kerepotan.

Hati Kim Hong semakin lega, ia menghujani Hamid dengan serangan-serangan, dan sesudah itu ia bertanya lagi:

"Bagaimana keadaan saudara Can Sa-jie?"

"Dia juga berada di atas tebing," berkata Leng Bie Sian. "Aaa. !" Karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Kim Hong, pada suatu saat Leng Bie Sian menjadi lengah, Jooss bukan jago biasa, dan berhasil memukul murid rumah penjara Tay-pa San itu.

Jooss berlaku cepat, tangannya diulurkan ia memegang pergelangan tangan Leng Bie Sian menotoknya dan berhasil meringkus Leng Bie Sian.

"Kim Hong!" berteriak Jooss. "Hentikan pertempuran!"

Kim Hong sedang mendesak Hamid, menyaksikan keadaan itu ia jadi terkejut. Hendak menolong, tapi terlambat!

Tiba-tiba. !

Beberapa suara lengkingan panjang, membelah angkasa, suara itu datangnya cepat, tiga bayangan meluncur turun. Hanya satu titik kecil, kemudian besar, dan itulah bayangan-bayangan dari jago-jago rumah penjara Bu-san.

Tiga bayangan lagi merandengi bayangan yang terdepan, jelaslah mereka enam orang. Ke-enam orang itu adalah penguasa rumah penjara Tay-pa-san Suma Siu Khim, penguasa rumah penjara Bu San Kim Hoong, Kongsun Bwee Kun yang mensucikan diri dan mengganti nama menjadi Pan-su Lonnie, kakek geladangan Kiat Hian yang sudah mencukur rambut menjadi Hweeshio dengan gelar Beng-khong taysu, pengemis sakti Lu Bong Kong dan sikakak Ie-oe Pek Hong Teng.

Rombongan itu segera turun ketebing-tebing Tay-pa-san. Kim Hong berteriak girang:

"Ibu, lekas datang kesini. Mereka menawan Leng Bie Sian sumoy." Pan-su Lonnie menggerakkan tangan, mengajak Beng- khong Taysu, sipengemis sakti Lu Bong Kong, dan kakek Ie-oe menerjang Hamid.

Suma Siu Khim dan Kim Hoong mengurung Jooss ditengah-tengah.

Giliran keadaan Jooss yang terjepit, menghadapi dua penguasa rumah penjara dikanan dan dikiri. Wajahnya berubah, mengangkat tubuh Leng Bie Sian tinggi-tinggi ia membentak. kepada mereka;

"Semua berhenti, Kalau tidak mendengar perintahku ini, maka aku akan melemparnya kelautan api."

Jooss siap melempar Leng Bie Sian kedalam dasar jurang, dimana api masih berkobar-kobar menyala dan merambat terus.

Suma Siu Khim tidak kena digertak, tetap berjalan maju dan berkata dingin:

"Lemparkan sajalah ! Kalau kau berani menanggung resikonya."

"Kau inikah yang menjadi penguasa rumah penjara Tay- pa-san?"

Suma Siu Khim menganggukan kepala berkata: "Ya mau apa?"

Jooss berkata;

"Kedatanganku kedaerah Tinggoan hendak meminta sedikit pelajaranmu. Menjajal sampai dimana ilmu kepandaian rumah penjara yang terhebat. Sayang.....sayang,. keadaan telah berubah."

"Apa yang harus disayangkan." berkata Suma Siu Khim. "Lepas dahulu muridku itu. Mari kita bertarung secara adil, kalau sampai kau bisa melayaniku seratus jurus, segala terserah kepadamu!".

Jooss memandang kearah Hamid dan kawan-kawan, keadaan itu telah berbalik cepat dengan kedatangannya sikakek gelandangan dan sipengemis sakti Lu Bong Kong dan kawan-kawan keadaan gologan Kalong telah kucar- kacir lagi.

Mengetahui situasi yang tidak menguntungkan dirinya, Jooss menoleh kearah Suma Siu Khim dan berkata:

"Betul?"

"Aku mewakili semua orang yang berada didaerah Tionggoan, memberi janji kepadamu, kalau saja kau bisa melayaniku sampai seratus jurus. Aku akan membebaskan kalian,"

"Baik." berkata Jooss, ia meletakan Leng Bie Sian. Menggapaikan tangan dan berkata: "Mari ! Hm kita bertanding secara adil."

Ini waktu, bantuan dari gunung Bu-san telah tiba, orang- orang berseragam putih itu telah mengurung semua golongan Kalong, pertarungan telah terhenti, golongan Kalong menyerah !

Sesudah melepaskan Leng Bie Sian, Joos meninggalkan orang-orang itu. Merambat naik keatas tebing.

Gerakan Jooss disusul oleh gerakan Suma Siu Khim, penguasa rumah penjara Tay-pa-san menyasul untuk bertanding secara adil.

Sebentar kemudian, bayangan kedua jago itu sudah lenyap diatas tebing tinggi.

Kim Hong menubruk Leng Bie Sian. memeriksa lukanya, hanya beberapa totokan itu tentu tidak menyulitkan jago muda yang sakti draguna. Ia memberi kebebasan.

Penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hooag memperhatikan gerak gerik sang putra, ia boleh menjadi bangga karena menghasilkan seorang anak yang gagah perkasa.

Sesudah membangunkan Leng Bie Sian, Kim Hong menoleh kearah Kim Hoong dengan heran ia bertanya:

"Eh, Oey Ceng cianpwe, kau sudah menjadi orang tawanan rumah penjara Bu-san. Bagaimana bisa membebaskan diri?"

Kim Hoong tersenyum-senyum. ia tidak menjawab pertanyaan anak muda itu.

"Oey Ceng cianpwe. " panggil lagi Kim Hong.

Tentu saja, Kim Hong tidak tahu kalau ia sedang berhadapan dengan ayah kandungnya.

Kim Hoong menowel janggut anak muda itu, dengan tertawa ia berkata:

"Kau masih betul-betul belum tahu, atau hendak mengolok-olok bapakmu?"

"Apa?!!!" Kim Hong terbelalak kaget.

"Ha-ha-ha-ha....." Penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hooog tertawa. "Nanti saja kita bicara."

Sesudah itu, Kim Hoong meninggalkan Kim Hong.

Kim Hong menggoyang-goyangkan tubuh Leng Bie Sian, ia memanggil-manggil, "Bie Sian, Bie Sian, kau masih belum ingat orang?"

Perlahan-lahan Leng Bie Sian membuka mata, dengan nakal ia tertawa kecil. katanya: "Tolol! Mengapa memanggil ayah sendiri menjadi Oey Cianpwe?"

"Aahh. " Kim Hong terkejut. "Dia itukah ayahku?"

"Siapa lagi?" bertanya Leng Bie Sian tertawa cekikikan. "Itulah Tamu Tidak Diundang Dari Luar Daerah alias penguasa rumah penjara Bu-san, alias Kim Hoong, itulah ayah kandungmu!"

"Aaaaahhh. " Kim Hong melompongkan mulut.

Sekarang, giliran Leng Bie Sian yang memeriksa luka- luka Kim Hong. Si pemuda menderita luka dibeberapa tempat, dibalutnya dengan teliti.

Disaat ini, dari jauh terdengar satu suara lengkingan panjang: "Kim Hong koko, mengapa diam disitu saja? Lekas bantu kita."

Itulah suara Thian-san-soat-lie-ang Yo In-jie.

Ternyata, beberapa anggota golongan Kalong yang berkepala batu tidak mau menyerah begitu saja, mereka melarikan diri, kadang-kadang melempari dengan sisa-sisa boom berapi.

Menggandeng tangan Leng Bie Sian Kim Kong berkata: "Mari! Mari kita membantu mereka."

Kedatangan Kim Hong dan Leng Bie Sian bersamprokan dengan Kuat dan Dokacan dari daerah Tay-wan-kok,  terjadi pertempuran baru!

Sebentar saja, orang itu sudah berhasil dibereskan !

Kim Hong memandang kearah Yo In-jie dan bertanya heran: "Hei, bukankah kau sudah menjadi biarawati ?"

Wajah Yo In-jie menjadi merah, meleletkan lidah dan berkata: "Sebetulnya begitu, tapi Pan-su Lonnie itu tidak mau menerima aku."

Seorang lagi menghadap mereka, itulah Phiauw Peng Khiam-khek Bok Siu.

"Eh, Saudara Bok Siu!" berkata Kim Hong.

"Saudara Bok Siu," mengoreksi kata-kata kesalahan Kim Hong, sigadis tertawa.

Disaat ini, penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hoong datang kembali, kepada anak-anak muda itu ia berkata:

"Hei, mari kita menontOn pertandingan di-atas tebing. Anak-anak, mari kita saksikan, bagaimana ilmu kepandaian ibumu."

Demikian, dengan mengajak orang-orang itu, penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hoong menaiki tebing.

Kim Hong, Yo In-jie. Piauw-peng Kiam-khek Bok Siu dan Leng Bie Sian berjalan dibelakang.

"Eh. mereka mengatakan kau adalah ayahku. Apa betul?" Suatu ketika Kim Hong merendengi Kim Hoong dan bertanya.

Penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hoong berkata: "Tentu saja betul. Tapi kalau kau tidak mau memanggil

ayah, aku juga tidak memaksa. Aku kurang kewajiban."

Kim Hong mengucurkan air mata, dengan getaran jiwa ia memegang tangan ayah itu, katanya tenang.

"Ayah, kukira kesalahan-kesalahan sudah harus dikesampingkan. Kau tidak akan meninggalkan ibu lagi, bukan?"

Mata Kim Hoong juga berkaca-kaca, ia berkata. "Tentu Saja tidak. Keeuali ibumu tidak membutuhkan diriku." Bergandengan tangan, ayah dan anak yang mempunyai nama hampir sama itu berada diatas tebing. Disana ia kehilangan jejak Suma Siu Khim, juga kehilangan juara Tay-wan-kok Joos!

Penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hoong menggerakkan tenaga dalam dan memanggil:

"Siu Kkim.... Siu Khim "

Suara itu berkumandang dibeberapa lie, tiga empat penjuru, tapi tidak terdengar suara balasan Suma Siu Khim.

Hati Kim Hong juga mulai kebat-kebit.

Penguasa rumah penjara Busan Kim Hoong mengulang suara panggilannya:

"Siu Khim.... Siu Khim "

Dimana pertempuran dilangsungkan?

Kim Hong memandang sang ayah, memandang ketiga gadis, dan merekapun menantikan dengan hati penuh khawatir.

Kim Hoong berkerut alis dan bergumam: "Eh, kemana kepergian mereka?"

Kim Hong memeriksa daerah itu, tampak adanya bekas pertempuran.

Memandang kearah sang ayah, dan Kim Hong bertanya: "Ayah, bagaimana kedatangan kalian tadi?"

Kim Hoong berkata:

"Biasa saja. Tidak ada terjadi sesuatu yang aneh."

Lima orang itu berpencaran, Kim Hoong. Kim Hong, Leng Bie Sian, Phiauw-peng Kiam-khekk Bok Siu dan Yo In-jie mencari jejak penguasa rumah penjara Tay-pa-san, Suma Siu Khim dan jago Tay-wan-kok Jooss.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Kim Hong. ' "Ayah. lihat!"

Penguasa rumah penjara Bu-san Khim Hoong lompat menghampiri sang putera, tampak olehnya sesosok mayat disana. Itulah jenasah Jooss yang sudah mati!

Tidak lama, Phiauw-peng Kiam Khek Bok Siu, Leng Bie Sian dan Yo In-jie juga kembali. Mereka hanya bisa menemukan mayat Jooss. Tapi tidak berhasil menemukan Suma Siu Khim!

Ternyata, pertempuran sudah selesai. Suma Siu Khim berhasil menamatkan riWayat hidup Jooss!

"Eh," Kim Hong berkata. "Ibu sudah menghukum mati orang ini. seharusnya berkumpul dengan kita. Tapi kemana kepergiannya?"

Kemana pula kepergian Suma Siu Khim?

Mereka berembuk kembali, dan Kim Hoong berkata kepada keempat anak muda itu;

"Mari kita berpencar lagi, aku akan memeriksa disini, kalian periksalah didalam rumah penjara, nanti kita berkumpul kembali, kalau ada berita, beritahu."

Tubuh penguasa rumah penjara Bu-san bergerak meninggalkan keempat anak muda itu.

Menceritakan perjalanan Kim Hong, ia bertekad untuk melihat rumah penjara, berlompat-lompatan dan masuk kejendela berhati ayam, didalam rumah penjara ini ia memeriksa. Tidak ada orang menghampiri kamar ibunya, inilah penguasa rumah penjara rimba persilatan Tay-pa-san yang pernah menggegerkan dunia Kang-ouw, disini Suma Siu Khim pernah melepaskan perintah-perintah, disinilah Kim Hong menemukan ibunya.

Ruangan itu masih teratur rapi, tiada tanda-tanda, satu bukti sang ibu belum kembali.

Berturut-turut, kamar demi kamar Kim Hong membuat pemeriksaan, hatinya dak-dik-duk.

Teringat keterangan Leng Bie Sian yang mengatakan kalau sang suhu dan sang subo itu sudah menderita luka, tentu mereka sudah ditolong didalam rumah penjara.

Kim Hong mencari di kamar-kamar sepuluh raja akherat. Melewati lorong-lorong panjang di dalam rumah penjara

Tay-pa-san, tiada hentinya Kim Hong memanggil: "Ibu!.....Ibu "

Demikian Kim Hong menjelajahi seluruh kamar rumah penjara Tay-pa-san.

Pada ruangan terakhir, Kim Hong menemukan Suma Siu Khim, disana ia sedang mengobati It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po dan Can Sa Sian.

Rasa girang Kim Hong tak kepalang!

Disaat ini, Suma Siu Khim duduk bersila, sebelah tangannya di tempelkan pada punggung It-hu Sianseng, lain tangannya ditempelkan pada Thian San Soat Po-po. Inilah cara pengobatan tradisi kuno, cara-cara penyembuhan dengan mengerahkan tenaga murni yang disalurkan dan melancarkan peredaran jalan darah!

Tentu saja, ketiga tokoh ajaib It-hu Sianseng, Thian-san Soat Po-po dan Can-sa-sian terkena ilmu pukulan Tay-yang Sin-kang dari daerah Tay-wan-kok. Wajah mereka pucat pasi. Hanya Suma Siu Khim yang bisa menyembuhkan luka- luka itu.

Sebentar kemudian, wajah It-hu Sianseng dan Thian-san Soat Po-po yang tadinya pucat itu memerah kembali.

Suma Siu Khim meneruskan usahanya, saluran-saluran tenaga murni menambah kekuatan dua jago silat yang terluka.

Kim Hong tidak mau berpeluk tangan, ia membantu usaha sang ibu, dan menyembuhkan Can Sa-sian.

DISAAT Suma Siu Khim selesai menyembuhkan Thian- san Soat Po-po dan It-hu Sianseng. Kim Hong juga selesai menyembuhkan Can-sa-sian.

Mereka sama-sama bangkit berdiri. suatu bukti kalau latihan tenaga dalam Kim Hong tidak berada di bawah ibunya.

Can-sa-sian tertawa berkakakan, ia berkata: "Kim Hong, ilmu kepandaianmu hebat sekali, hm! Kalau begini gelagatnya, kita yang sudah tua ini harus mengundurkan diri."

It-hu Sianseng dan Thian-San Soat Po-po saling pandang, mereka melirik ke arah Suma Siu Khim dan bertanya ;

"Hei, kau inikah yang menjadi penguasa rumah penjara rimba persilatan?"

Suma Siu Khim memberi hormat dan berkata: "Namaku Suma Siu Khim."

Thian-San Soat Po-po berteriak: "Siapa yang menjadi penguasa rumah penjara rimba persilatan!"

Suma Siu Khim menundukkan kepala, ia berkata rendah: "PenguaSa rumah penjara rimba persilatan sudah mati."

Thian San Soat Po-po masih tidak mau mengerti, mulutnya terentang lagi, disaat ini It-hu Sianseng mengelus jenggot dan berkata:

"Nenek tua, sudahlah. Kulihat kata-kata saudara Can Sa- sian memang tepat, Sudah waktunya kita mengundurkan diri."

Ia bisa menduga asal-usul Suma Siu Khim.

Thian-San Soat Po-po tertegun, kemudian ia sadar. Memperhatikan Suma Siu Khim keatas dan kebawah, memuji dan berkata:

"Hm.....umurmu masih muda. Tapi ilmu kepandaianmu hebat sekali. Tidak kusangka iblis betina yang ugal-ugalan itu adalah masih berumur begini muda."

Thian-san Soat Po-po tidak pandai berbicara, ia mencetuskan apa yang hendak dikatakan didepan orang yang bersangkutan.

Sifat-sifat Suma Siu Khim sudah berubah ia menundukkan kepala. Kalau saja dahulu mendapat kata- kata yang seperti itu, celakalah Thian-san Soat Po-po.

Lain dahulu lain sekarang. Sesudah berhasil menemukan suaminya, sesudah Kim Hong muncul dari dasar telaga Tay-pek-tie. Keluarga mereka berkumpul. Turut merobah pula sifat-sifat Suma Siu Khim. Ia bisa menguasai darah tingginya.

Kim Hong menarik tangan sang ibu dan berkata: "Ibu, ayah sedang ubek-ubekan mencari dirimu. Mari kita temui."

Suma Siu Khim berkata: "Biarkan saja! Dahulu, akupun pernah dibuat seperti itu." Demikianlah, Thian-san Soat Po-po, It-hu Sianseng, Can-sa-sian, Suma Siu Khim, dan Kim Hong meninggalkan ruangan itu.

Disaat berada diruangan besar dari rumah penjara, tampak Yo In-jie menenteng batok kepala Hamid berlompat masuk.

Dibelakang Yo In-jie, turut juga Leng Bie Sian dan PhiauW-peng Kiam-khek Bok Siu, Menjinjing batok kepala orang berambut merah itu, Yo In-jie berteriak:

"Bibi, lihat! Apa yang kubawa? Inilah batok kepala Hamid."

Suma Siu Khim berkerut alis, ia membentak; "Lekas buang! Siapa yang membunuhnya?"

Yo In-jie terkejut, cepat-cepat melempar batok kepala Hamid.

Disaat ini Leng Bie Sian berkata: "Orang yang menjatuhkan Hamid adalah Pan-su Lonnie dan Beng-khong taysu. Tetapi orang yang membacok kepala Hamid adalah seorang saudara dari golongan pengemis."

Suma Siu Khim bertanya: "Bagaimana dengan musuh- musuh lain?"

Leng Bie Sian menjawab' "Semua sudah menyerah. Kita tidak mengganggu mereka."

"Berapa kerugian di pihak kita?" bertanya Suma Siu Khim lagi.

Dengan menundukkan kepala bersedih, Leng Bie Sian menjawab:

"Tay-giam-ong, Ngo-giam-ong, dan Cit-giam Ong dimakan api, mereka gugur secara gagah perkasa. Diantara orang-orang tawanan, dua puluh lebih yang mati, Diantaranya orang-orang yang kita bawa dari gunung Bu- san juga gugur tujuh orang. "

Suma Siu Khim mengangguKkan kepala, mengadahkan kepala, memandang awan-awan yang berarak itu, kedua matanya menjadi basah.

Lima hari kemudian.

Penguasa rumah penjara Tay-pa-san, Suma Siu Khim dan penguasa rumah penjara Bu-san Kim Hoong mengulangi upacara perkawinan mereka.

Para jago rimba persilatan termasuk orang-orang bekas tawanan rumah penjara Tay-pa-san memeriahkan upacara itu.

Disaat yang sama, Kim Hong juga mengawini Leng Bie Sian dan Yo In-jie.

T A M A T.