Tangan Berbisa Jilid 27

 
Jilid 27

"Apakah rumah penjara kalian tidak menentukan batas- batas Sayembara?"

Dengan tidak mengerti, Bwee Houw An bertanya "Batas- batas sayembara yang bagaimana?"

"Dimisalkan aku berhasil memenangkan Sayembara, apa boleh terus menerus mengulangi sayembara itu?"

"Tentu saja boleh." berkata Bwee Houw An- "Asal saja lihiap bisa memenangkan sayembara pertama. Tapi menurut sejarah kami, belum pernah ada orng yang bisa memenangkan sayembara."

“Hendak kucoba" berkata Suma Siu Khim. "Jumlah orang tawanan Bu-san berjumlah enam puluh empat orang. Aku harap saja, aku bisa mengulang sayembara hingga enam puluh empat kali."

"o." berkata Bwee Houw An- "Adakah jago silat yang seperti itu? Kukira tak mungkin, dimisalkan penguasa rumah penjara dari gunung Tay-pa-san datang sendiri, belum tentu dia juga bisa mengikuti sayambara sehingga enam puluh empat kali."

Suma siu Khim mulai mengambil alat tulis dan mendaftarkan dirinya. disana dia menulis:

Nama: Wan Nie Taa Umur: 35 tahun- Walau pendaftaran tgl, 2 bulan 8,

Barang yang rela diserahkan: Tidak ada barang yang tidak rela diserahkan. Karena aku segera memenangkan sayembara ini"

Sesudah menulis kata-kata yang seperti itu, dibacanya lagi sekali, agaknya Suma Siu Khim menjadi puas, dia berkata:

"Pendaftaranku yang seperti ini, kuharap saja tidak mengganggu ketenangan kalian-"

Bwee Kcuw An membaca tulisan-tuliSan tadi, dengan tenang berkata:

"Tentu saja tidak. Yang penting, kalau saja tidak bisa melaksanakan janji itu sungguh memalukan,"

Suma Siu Khim berkata: "Tidak mungkin bisa terjadi, kecuali, apa yang kalian proklamirkan kepada orang itu adalah tipu muslihat kosong" Dugaan Suma Siu Khim yang dikatakan mungkin ini betul2 terjadi karena itulah dia terperosok.

Apa yang digembar-gemborkan Rumah Penjara Bu San adalah tipu muslihat Gatot kaca Kembar

Bwee Houw An tidak banyak bicara. diterimanya kembali buku pendaftaran, membuat suatu pose mempersilahkan maju. ia berkata:

"Dari tempat ini menuju ketempat pertandingan tidak terlalu jauh, di tengah jalan ada panah-panah yang memberi petunjuk. diharap saja Wan Nie Taa lihiap bisa mengikuti petunjuk itu tiba di tempat pertandingan Sayembara."

suma Siu Khim menggunakan nama samaran Wan Nie Taa

Suma siu Khim menganggukkan kepala, tidak banyak bicara lagi meninggalkan Bwee Houw An. Mengikuti petunjuk-petunjuk panah, menuju kearah tempat pertandingan, ia menuju kearah puncak Sie- lie- hong.

Sebentar saja, gerakkan Suma Siu Khim yang cepat itu sudah lenyap dari pandang Bwee Houw An-

Bwee Houw An tertawa dingin, tampak senyumnya puas, dia bergumam seorang diri.

"Wan Nie Taa? Hahahaa....Wan Nie Taa Siapa yang tidak tahu, kalau kau adalah seorang wanita? Kau adalah penguasa rumah penjara gUnung Tay-pa-san, Kiramu, tidak ada orang yang kenal? oi, dalam rumah penjara kami paling sedikit ada lima puluh orang yang sudah melihat wajahmu, siapa yang tidak tahu kau ini adalah si iblis betina dari gunung Tay-pa-san- Lauwcu rumah penjara yang tidak menggunakan aturan. Ha-ha-ha. "

-oo0dw0oo- Layar tergambar pada dasar telaga Tay-pek tie.

Di saat Kim Hong kelojotan dibetot orang, semakin lama semakin cepat, rasa bingung dan takut kepada kejadian penunggu air menghanyutkan pikirannya, Kim Hong jatuh pingsan-Perkembangan situasi sangat cepat sekali, Layar berganti lagi

Disaat Kim Hong sadar dari pingsannya, sipemuda mendapatkan dirinya berada didalam ruang batu yang lembab. lama tidak dihuni orang. Maka hawa jamur yang tidak sedap itu merangsang hidung.

Diatas ruangan batu tampak butiran mutiara bergantung bercahaya terang. Menyinari isi ruangan batu itu.

Kim Hong mengedip-ngedipkan matanya, bingung dia sedang mengenang kembali, kejadian apa yang menimpa dirinya?

Disaat ia membuka mata, ia bertumpak dengan seorang tua yang berambut putih, orang tua itu duduk didalam bantalan hijau, wajah welaS aSih, dengan wajah orang yang seperti ini tak mungkin jago sesat.

Kim Hong duduk berhadap-hadapan dengan seorang kakek tua berwajah welas asih, berambut panjang yang duduk dibantalan.

Siapa? Siapa? Kakek ini? Mengapa menyeret diriku ketempat ini? Dimana pula ruangan batu yang seperti ini?

Demikian benak pikiran Kim Hong ditumpak oleh pertanyaan-pertanyaan yang sangat banyak.

Sebagai golongan yang lebih muda, Kim Hong memberi hormat kepada kakek itu ia bertanya:

"cianpwee, selamat bertemu" Kakek tua berwajah welas asih tidak bergeming dari tempat duduknya, tidak berkedip dan juga tidak menjawab pertanyaan Kim Hong seolah-olah patung yang sudah mati.

Sangka Kim Hong, orang itu tidak mendengar kata- katanya, lagi- lagi ia memberi hormat dan mengulang

"cianpwe, selamat bertemu. Apa kau dengar suaraku?" Kakek tua berwajah welas asih itu tetap duduk bersila,

tiada reaksi.

Kim Hong naik darah, sedang enak-enak dia mencari kotak ajaib kakinya diseret jalan darahnya ditotok. sesudah itu, ia mendapat tempat ruangan batu itu. Kini dihadapinya patung tanpa suara dan tanpa keterangan, tentu saja membuat ia tidak puas, suaranya diperkeras daa berkata:

"Locianpwe aku juga bisa duduk bersila mengatur peredaran jalan darah, tapi walaupun didalam keadaan itu aku masih bisa mendengar kata-kata dan suara orang. "

orang tua berwajah welas asih masih tak meladeni Kim Hong.

Mendapat perlakuan yang seperti itu siapa pun pasti menjadi darah tinggi, Kim Hong tidak terkecuali, begitu merasakan dirinya dipermainkan orang, tanpa banyak pikir, ia maju melangkah, tangannya terayun. siap memukul jago silat mempermainkannya itu. Tiba-tiba dibelakang Kim Hong terdengar suara membentak: "Jangan bergerak Bocah tolol"

Hati Kim Hong tercekat, tanganya yang terjulur tadi ditarik kembali, kini digunakan untuk menjaga dada. cepat laksana kancil tubuhnya berbalik menghadapi orang yang datang, siap bersitegang. Disana berdiri seorang kakek berpakaian compang camping rambutnya kusut. Itulah sigelandangan Kiat Hian

"Aaaaa. "

Kim Hong mengeluarkan suara jeritan kaget.

Kim Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, tertawa cengar cengir, menyipitkan mata dan berkata:

"sangat heran. bukan,?"

Kim Hong mengeluarkan napas lega, dan memberi hormat lalu berkara:

"Ternyata Kiat Hian cianpwe. Mengapa menggunakan permainan konyol yang seperti ini?"

“Ha-ha....." Kiat Hian tertawa. "Kulihat kau sedang mengorek-ngorek tanah didasar telaga, timbul kesenangan, maka aku seret kakimu sehingga ketempat ini, hihihihi hi. "

"oh" Kim Hong mengerti, celangak-celinguk memperhatikan ruangan batu, ia bertanya "Dimanakah kita?"

"Goa rahasia yang bisa menembus kedasar telaga Tay- pek tie," berkata sikakek gelandangan. "Disini adalah goa ciptaan ayahku almarhum, dia yang membuatnya. Kecuali kami berdua, tiada orang ketiga yang tahu tempat ini Dimisalkan ada, juga orang yang menduga-duga hanya tafsiran, mereka tidak bisa masuk."

Kim Hong menjadi heran, menoleh dan menunjukan jari kearah kakek tua berwajah welas asih yang duduk bersila  itu ia bertanya:

"Siapa pula locianpwe ini?" "Ayahku,"jawab Kiat Hian singkat. "Ayah cianpwe?" tanya Kim Hong heran. "Ya."

"Bukankah sudah almarhum lama?"

"Ya, Dia sudah melatih diri ilmu Kim-koan-put-huai, maka dagingnya tidak bisa membusuk."

Kim Hong menganggap sikakek tua yang berwajah welas asih itu adalah seorang hidup, ternyata dia adalah jenasah sideWa persilatan Kiat Thian Bin

Mengetahui kalau dia sedang berhadapan dengan tokoh silat dari generasi lama, Kim Hong berjongkok dan menyembah kearah si Dewa persilatan,

Kiat Hian mendudukkan pantatnya di bangku batu, melintangkan kaki saling tumpek, sepasang matanya tersipit-sipit dia berkata:

“Hei, bagaimana kau rasakan dengan semangatmu?

Adakah sesuatu yang aneh?"

"Sesuatu yang aneh?" Kim Hong tertegun. Dia menyedot beberapa kali, terasa hawanya yang penuh padat, bersembur-sembur tiada henti, tenaga dalamnya seperti berlipat ganda, berlipat- lipat tiga kali dari apa yang ia ketahui.

Hatinya girang luar biasa, ia memandang kearah sikakek gelandangan dan bertanya:

"Eh, apa yang menyebabkan kejadian seperti ini? Tenaga dalamku seperti bertambah beberapa kali?"

"Tidak salah." berkata sikakek gelandangan- "Itulah hasil dari kerja obat Tiang Seng-pu-lo-tan. "

"Aaaa . . , ." Kim Hong terkejut. "Aku sudah kau beri makan obat Tiang-seng-pu-lo-tan? " "Lagi-lagi dugaanmu tepat," berkata Kiat Hian tertawa. "Disaat kau tiada sadarkan diri, kujejal sebutir obat Tiang- seng-pu-lo-tan-"

Hati Kim Hong menjadi murung, masih terbenam didalam pikirannya, dua belas butir obat Tiang-seng-pu-lo- tan itu adalah hak milik dua belas partai besar, kini dia telah makan satu butir diantaranya, boleh saja dianggap hak untuk oey-san-pay.

Tetapi, sang ibu membutuhkan obat Tiang-seng-pu-lo- tan. Hak milik siapa pula yang harus diserahkan kepada ibunda?

Inilah yang membuat Kim Hong uring2an, dia membanting-banting kaki dan berteriak-teriak:

"Wah Dengan aturan apa kau mengambil hak milik dua belas partai besar?"

Si kakek gelandangan membuat posisi yang lucu, ia berkata "Kau adalah anak Suma Siu Khim, kan?"

Kim Hong menganggukkan kepala. Kakek gelandangan Kiat Hian berkata:

"Suma Siu Khim adalah putri dari ketua partai oey-san- pay yang lama Suma Cin. Saat itu, ia telah menyerahkan kunci emas pada ibumu, suatu tanda bahwa dialah yang menjadi ahli waris hak milik oey-san-pay, ibumu itu sudah cukup tua. kau masih muda, apa bedanya itu dikasih ibumu, atau diserahkan padamu? Hahahaha Dimisalkan

ibumu yang mendapat hak warisan ini, diapun akan menyerahkan kepadamu, bukan? Apa salahnya aku menjejaikan obat itu kedalam dirimu?"

Dengan aring-uringan Kim Hong berkata: "Siapa yang bilang ibu hendak menyerahkan kepadaku

?Dia hendak memakan sendiri."

“Hendak dimakan sendiri?" Bertanya Kiat Hian heran. "Tentu saja," berkata Kim Hong. "ibuku sangsi, didalam

seratus jurus. ia tidak bisa memenangkan Hamid, kalau saja ia tidak bisa memenangkan jago-jago Tay-wan-kok itu dalam jurus-jurus yang telah ditentukan maka rumah penjara rimba persilatan harus diserahkan kepada mereka. Karena itulah ibuku sangat membutuhkan obat Tiang-seng- pu-lo-tan."

"oh ...." kakek gelandangan Kiat Hian tertawa. "Sama saja, kau boleh menalangi ibumu melawan mereka."

Kim Hong berteriak kaget: "Glla Aku bukan tandingan Hamid sekalian."

Kiat Hian tertawa dan berkata:

"Lain dahulu, lain sekarang. Kini kau sudah memakan obat Tiang-seng-pu-lo-tan, kau saja kutambah dengan latihan ilmu silat luar biasa. Tentu bisa memenangkan mereka."

Hati Kim Hong tergerak, ia bertanya: "Sungguh?"

"Tentu saja." berkata Kiat Hian, dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan sejilid kitab ilmu silat, diserahkan kepada Kim Hong dan kata. "inilah ilmu silat berkelebatnya sinar pedang cahaya keluarga Kiat, ambillah Di-dalam waktu empat hari kukira kau bisa mempelajari isinya. Sesudah berhasil pasti kau bisa mengalahkan Hamid."

Kim Hong menerima hadiah pemberian itu ia bolak- baliknya lembaran kitab ilmu silat berkelebatnya sinar pedang keluarga Kiat, dan dia bertanya: "Apa catatan ilmu silatnya ini juga termasuk salah satu peninggalan dari dua belas macam ilmu silat luar biasa yang berada didalam kotak ajaib?"

"Ilmu silat berkelebat sinar pedang keluarga Kiat, adalah ilmu nomor satu dari dua belas ilmu silat luar biasa itu.

Kim Hong bertanya lagi "Kotak ajaib yang tersimpan di dasar telaga Tay-pek tie sudah diambil oleh cianpwe?"

"Ya. Aku takut dua belas partai besar itu tidak bisa menguasai kunci-kunci emas mereka, setengah tahun yang lalu, kuambil kotak itu, kuambil semua isinya, termasuk dua belas butir obat Tiang Seng-pu-lo-tan dan dua belas macam ilmu silat luar biasa. Sengaja kukosongkan isi kotak ajaib, kemudian diletakan di tempat yang semula, dugaanku tidak meleset, anak buah dua belas partai terkucar-kacir, karena itu, kunci-kunci mas masuk kedalam tangan golongan Kalong- Hahaha ....tapi apa yang mereka dapatkan? Hanya sebuah kotak ajaib yang kosong Hahahaha.,. "

Kim Hong bertanya lagi "Bagaimana cianpwee hendak menyelesaikan persoalan yang seperti ini?"

Dengan tersenyum-senyum, si kakek gelandangan Kiat Hian berkata:

"Di dalam rumah penjara ibumu, dengan menggunakan suara tekanan tinggi, kusampaikan suaraku kepada dua belas ketua partai yang terkurung di tempat itu. Dua macam ilmu silat sudah kuajarkan kepada mereka. Tentang obat Tiang-seng-pu-lo-tan, menunggu mereka sudah bebas dari tahanan rimba persilatan, akan aku hadiahkan pada yang berhak mendapatkannya." Sesudah itu, Kiat Hian menuju kearah jenasah ayahnya, dari belakang jenasah itu, ia mengambil sebilah pedang kuno, diserahkan pada Kim Hong dan berkata:

"Pedang ini bernama Tay-pak-kiam, adalah salah satu dari pedang cu wang dimasa dahulu. kuhadiahkan kepadamu."

Kim Hong menerima dan mengucapkan terima kasih, dia berkata: "Entah dengan jasa apa, boanpwe baru bisa membalas budi cianpwe."

Kiat Hian bersedih, berpikir beberapa saat dia berkata "Seumur hidupku, tiada jasa bagi rimba persilatan,

pedang dan kitab ilmu silat aku hadiahkan kepadamu, dengan harapan kau bisa mengeluarkan sedikit sumbang jasa kepada rimba persilatan- Hal mana sudah Cukup untuk menebus kesalahan-kesalahanku."

Lagi-lagi Kim Hong mengucapkan terima kasih. Dia berjanji untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh si kakek gelandangan-

Wajah sedih Kiat Hian hanya sebentar, kemudian dia tertawa, Hahahihi lagi, ucapnya:

"Aku hendak berangkat, baik, kau diam didalam goa ini, empat hari kemudian aku akan datang kembali membuka kunci goa membebaskan dirimu."

Sesudah itu Kiat Hian mencelat, dengan Cara yang tidak bisa dimengerti oleh Kim Hong, dia memencet tombol sebentar disana dan sebentar disini, menghilang disalah satu dinding goa, terdengar suara krakak-krekek...goa itu terbuka. Tabuh Kiat Hian mencelat lenyap dari pandangan mata. Terdengar lagi suara..rkrekek.. krekek.....pintu goa tertutup kembali mengurung Kim Hong didalam goa rahasia,

Tiba-tiba Kim Hong berteriak. "cianpWe, tunggu dulu, selama empat hari, boanpwee harus makan apa?"

Terdengar suara Kiat Hian, suara itu sudah berada diluar goa, ia tertawa berkakakan, katanya meninggalkan pesan.

"Tidak usah takut, kau sudah makan obat Tiang-seng-pu- lo-tan-Jangan kata baru empat hari empat puluh haripun kau masih kuat bertahan, tak mungkin kau mati kelaparan, ha-ha-ha.,.."

Semakin lama, suara itu semakin jauh akhirnya menghilang.

Demikian singkatnya Cerita, kemisteriusan apa yang dijumpai dari dasar telaga Tay-pek tie,

cerita berikutnya sudah kita ketahui, bagaimana Kiat Hian hendak memberitahukan tentang kejadian Kim Hong kepada Suma Siu Khim, tapi itu waktu Suma siu Khim sedang dirundung kemarahan, kebencian, dia menipu Kiat Hian dan mengatakan kalau Kiat Hian bisa mengejar kekasih lamanya, Kongsun Bwee Kun bersedia dikawini, karena itulah Kiat Hian lari kembali. Mengejar Kongsun Bwee Kun-Tiga hari telah lalu....

Pada malam harinya, Kim Hong berhasil menyelesaikan dan menamatkan pelajaran ilmu pedang dari ilmu berkelebatnya sinar pedang dari Keluarga Kiat.

Sesudah itu Kim Hong hendak keluar dari goa rahasia, ia tidak tahu cara-cara untuk membongkar dinding goa itu, ia ubek-ubekan disana. Dia juga tidak berani menghancur dinding goa terpaksa harus menunggu kembalinya si kakek gelandangan, mau tidak mau dia harus bersabar.

Untuk melewatkan waktu-waktu yang dirasakan sangat panjang, Kim Hong melatih kembali dan mengulang ilmu silat berkelebatnya sinar pedang keluarga Kiat. Diulang lagi, diulang lagi, banyak sekali kelemahan-kelemahan yang ditambaL Hari itu, Kim Hong melewatkan waktu dan melatih serta menekun permainan ilmu pedang. Pada hari keempatnya setengah hari pula ditunggu.

Sesudah siang. baru terdengar derap langkah kaki, dan berbareng terdengar suara terbukanya pintu rahasia, kreteek....keekeks...

Pintu goa terbuka, yang diluar dugaan Kim Hong, orang yang berada dimuka pintu bukan sikakek geladangan Kiat Hian, orang ini mempunyai bentuk perawakan yang sangat kecil mengenakan pakaian berwarna putih, menyelebungi kepalanya dengan kerudung putih. orang Lembah patah Hati

la berdiri didepan pintu dengan sepasang cahaya matanya berkelap-kedip. tidak bicara dan tidak bergerak. Seolah-olan hantu jejadian.

Kim Hong terkejut, dia belum menyaksikan adanya orang-orang dari lembah patah hati.

Karena itu ia tidak kenal, siapa jago silat baru ini. Dia mundur kebelakang. secepat itu mengeluarkan pedang Tay- pek kiam, memukulnya dan membentak "Siapa kau ?"

orang yang datang adalah jago nomor tiga dari Lembah patah bati, ia berdiam beberapa waktu, dengan menekan sedikit aksen suaranya, berkata:

"Nomor tiga dari Lembah Patah Hati." "Nomor tiga dari Lembah Patah Hati?" Kim Hong mengulang kata-kata itu. "Apa artinya jawaban ini?"

Nomor tiga menganggukan kepala berkata, "Artinya, aku adalahjago nomor tiga dari Lembah Patah Hati."

Wajah Kim Hong ditekuk masam. dengan dingin berkata:

"Belum pernah aku mendengar ada sesuatu tempat yang bernama Lembah Patah Hati,jangan mencoba menggoda. Lekas katakan terus terang"

"cih .-" Nomor tiga ketawa kecil. "Apa yang harus diterangkan? Aku hanya mendapat tugas untuk membuka pintu goa rahasia ini. Titik, tak Cukup "

"Mendapat tugas?" lagi-lagi Kim Hongjadi heran. "Siapa yang memberi tugas kepadamu?"

"Tentu saja orang yang membawa masuk dirimu ketempat ini pada empat hari yang lalu." jawab sinona nomor tiga. "Kakek gelandangan Kiat Hian cianpwe"

Kim Hong belum bisa membenarkan keterangan ini, menurut keterangan Kiat Hian, kecuali dia dan ayahnya almarhun, tidak ada orang ketiga yang mengetahui tempat rahasia ditempat ini, tidak mungkin orang yang bisa menemukan tempat rahasia yang menembus kedasar telaga Tay-pek tie ini. Bagaimana si nomor tiga bisa datang?

Tentu kawan atau keluarga terdekat dengan si Kekek Gelandangan

Kim Hong tidak meragukan asal usul Sinomor tiga, tentunya kawan, bukan lawan, karena itulah dia menyimpan kembali pedang Tay-pek kiam, bertanya kepada sinomor tiga

"Kau kenal kepada Kiat Hian cianpwe?" Nomor tiga dari lembah Patah Hati menganggukkan kepala, ia berkata:

"Empat hari yang lalu, dia mengejar ketua kami. Akhirnya berhasil, terjadi kesepakatan, Atas anjuran ketua Lembah patah hati, dia telah mensucikan diri, mengganti nama, kini namanya adalah Beng khong Taysu. Dia juga menjadi salah satu anggota Lembah patah hati. Atas perintahnya, aku ditugaskan membuka pintu rahasia mengeluarkan dirimu."

Ternyata, sikakek gelandangan Kiat Hian sudah mensucikan diri, mengganti nama menjadi Beng khong Taysu.

Ternyata, kekuatan Lembah patah hati telah bertambah seorang lagi.

Kim Hong belum kenal kepada jago-jago Lembah patah hati, karena itu dia bertanya:

"Siapa yang menjadi ketua kalian?"

Nomor tiga dari Lembah patah hati menjawab. "Namanya Kongsun Bwee Kun, kini sudah mensucikan

diri, nama barunya adalah Pansu Loonie, pernah dengar?"

Kim Hong berteriak girang: "Apa Akhirnya ia berhasil menemukan Kongsun Bwee Kun"

Nomor tiga dari lembah patah hati berkata: "Nah Kini kau boleh ikut kepadaku, bagaimana dengan hasil latihan berkelebatnya ilmu pedang keluarga Kiat ini?"

Kim Hong menganggukan kepala berkata: "Kemarin malampun aku sudah berhasil mempelajari seluruh isi bagian dari ilmu silat tersebut."

"Ah Boleh ikut aku." berkata nomor tiga dari Lembah patah hati. "TUnggu dulu" jawab Kim Hong. "Ternyata kau adalah anak buah Kongsun Bwee Kun cianpwee, kita sama-sama satu jurusan, Satu orde baru, mengapa kau tak mau membuka kerudungmu, menutup wajah diri sendiri?"

menjawab pertanyaan itu. dia mengundurkan diri dan menyilahkan Kim Hong keluar, katanya:

"Menggunakan tutup kerudung adalah rahasia pribadi dari Lembah patah hati. Kau bisa tahu pada kemudian hari Kini yang penting keluarlah dari tempat rahasiamu. Keluar"

Dengan adanya bimbingan sinomor tiga dari Lembah patah hati, Kim Hong diajak keluar dari goa rahasia yang bisa tembus kedasar telaga Tay-pek tie, berliku-liku perjalanan itu dilakukan, setengah lie kemudian, mereka keluar sebuah pohon besar. Disana banyak lumut dan batu.

SESUDAH Kim Hong loncat keluar, si nomor tiga menutup kembali lubang rahasia itu. Mereka berada dipuncak gunung Tay-pek san.

Kim Hong menyedot hawa udara dalam-dalam, memperhatikan gerak-gerik sinomor tiga, siapa kah wanita ini? Suaranya begitu lemah-lembut, tetapi nakal dan binal.

"Numpang tanya." berkata Kim Hong. "Bagaimana sebutan nama nona yang mulia?"

"Sudah kukatakan." berkata sinomor tiga dari Lembah Patah Hati, "Kau akan tahu di kemudian hari, untuk sementara, panggil saja aku nomor tiga."

"Baiklah." berkata Kim Hong, "Nona nomor tiga, atas bantuanmu kini aku Kim Hong mengucapkan banyak terima kasih."

"Terima kasih itu belum cukup," berkata gsnomortiga. "Nah Sekarang bertekuk lututlah dihadapanku." "Bertekuk lutut?" Kim Hong tercengang.

"Ya. Bertekuk lututlah didepanku," menegasi sinomor tiga.

"Dengan alasan apa aku diharuskan bertekuk lutut." bertanya Kim Hong ngotot.

"Inilah perintah Beng- khong taysu Bukan- bukan Beng- khong taysu. Dahulu, namanya Kiat Hian cianpwe. Inilah perintah Kiat Hian cianpwe." berkata sinomor tiga dari Lembah Patah Hati.

"Mana ada itu aturan." berkata Kim Hong semakin ngotot. Sinomor tiga berkata:

"Kiat Hian cianpwe telah menghadiahkan kau sebutir obat Tiang-seng-pu-lo-tan. ia memberi pelajaran Silat luar biasa yang bernama berkelebatnya sinar pedang keluarga Kiat, dan menghadiahkan kau Tay-pek kiam. Mungkin tidak cukup untuk bertekuk lutut?"

"Itupun bukan diwajibkan bertekuk lutut kepadamu." "Aku adalah wakil dari Beng- khong taysu, lupa lagi,

wakil Kiat Hian cianpwe," berkata sinomor tiga.  "Tentu saja harus bertekuk lutut kepadaku."

Kim Hong berpikir sebentar, ia menggeleng kepala. "Tidak." ia menolak. "Kukira Kiat Hian cianpwe tak

memberi petunjuk yang seperti ini. Tentunya kaupunya bisa. Aku boleh bertekuk lutut kepada Kiat Hian cianpwe, tapi tak mau bertekuk lutut kepadamu. Kau seorang wanita, seorang wanita yang masih muda lagi. Aku tak mau."

"Eh, sinomor tiga agak marah. "Mengapa tidak mau bertekuk lutut kepada wanita?"

"Kuharap saja nona tidak mempersulit orang " berkata Kim Hong. "Baiklah," akhirnya sinomor tiga mau mengalah. "Bertekuk lututlah kearah selatan. disana ada Kiat Hian cianpwe."

Letak keadaan mereka adalah Kim Hong diselatan, sinomor tiga dari lembah patah hati dlutara. Bertekuk lutut kearah selatan berarti membelakangi si nomor tiga.

Kim Hong bisa menerima syarat-syarat ini. ia membelakangi Si nomor tiga, dan bertekuk lutut kearah selatan, itulah penyembahan yang agak sujud dihadiahkan kepada sikakek gelandangangan Kiat Hian-

"Nona nomor tiga," berkata Kim Hong membelakangi orang "Apa lagipesan Kiat Hian cianpwee."

Si nomor tiga tertawa cekikikan, ia berkata:

"Menurut cerita Beng- khong taysu, tenaga dalammu sudah berada diatas Hamid dan kawan-kawan, ilmu silatmu sudah berada diatas Jie Hiong Hu cs, cukup kuat untuk diberi beban Untuk memikul segala kejahatan, mulai saat ini, tugasmu semakin berat. Kau harus  segera membebaskan orang-orang tawanan dari tumah penjara rimba persilan digunung Tay-pa-san- Kemudian mengajak mereka menyerbu rumah penjara rimba persilatan digunung Bu San"

"Baik," berkata Kim Hong, "aku sedang merencanakan usaha yang seperti ini. Tapi mungkinkah ibuku tak marah? Kalau kubebaskan orang-orang tawanannya?"

Tidak terdengar suara jawaban dari si nomor tiga dari Lembah patah Hati, Kim Hong berkata lagi:

"Misalnya, kalau kubebaskan orang-orang tawanan itu secara diam-diam, Tentu saja terjadi bentrokan dengan ibuku, itulah kejadian yang lebih sulit lagi." Masih tidak terdengar jawaban dari si nomor tiga dari Lembah Patah Hati

Hal ini betul-betul mengherankan Kim Hong, dia menoleh kebelakang, tiba-tiba berlompat, mengeluarkan suara teriakkan aneh.

Ternyata sigadis muda dari Lembah Patah Hati yang menyebut dirinya sebagai jago nomor tiga itu, sudah tiada ditempatnya semula, disana kosong melompong kehilangan jejak Si gadis nakal

Dua hari sesudah Kim Hong keluar dari goa rahasia Tay- pek tie.

Keadaan seperti sediakala, pemandangan adalah rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san, inilah tempat kediaman Suma Siu Khim, ibunya yang binal, tokoh silat super sakti tiada tandingan.

Keadaan seperti biasa sunyi senyap dan tenang, Kim Hong sudah balik ketempat lama, ia menemukan prototol pengajaran rumah penjara, Thiat-oe Siansu.

Mengetahui kedudukan apa yang telah memempatkan Kim Hong kepadanya, Thiat oe Siansu menyambut kedatangan kongcu itu secara penghormatan besar,

Kim Hong belum tahu, kalau suhunya itu sudah tiada didalam rumah penjara itu. Ingin sekali dia berteriak dengan sang guru, dan juga ingin menjumpai ibunya, Karena itu, tanpa bercakap-cakap dengan Thiat-oe Siansu, dia langsung menaiki keatas rumah....

Sesudah mendapat makan obat Tiang Seng-pu-lo-tan, kekuatan Kim Hong berlipat tiga-kali, gerakannya lincah dan gesit, kecepatannya bagaikan angin lalu, Wut. dia

sudah berada didepan pintu rumah penjara. Yang membuka pintu adalah raja akherat pertama Tay- giam ong.

Kim Hong memberi hormat kepada Tay-giam ong dan berkata, "Tay-giam ong, bagaimana keadaanmu? Baik-baik sajakah? Apa ibuku sudah pulang?"

Tay-giam ong memandang kehadiran Kim Hong. Dengan perasaan heran, ia menganggukkan kepala berkata:

"Lauwcu kembali pada tiga hari yang lalu, tapi bergegas- gegas pula ia keluar."

"oh Tidak ada?" bertanya Kim Hong. "Kemanakah perginya?" Tay-giam-ong mengg elengkan kepala berkata:

"Menurut dugaanku, tentunya dia pergi kerumah penjara digunung Bu-San"

"Ah Mungkinkah terjadi" bertanya Kim Hong, "ibu tidak mau menurunkan martabatnya sendiri, ia tak mau menempur penguasa rumah penjara ang baru itu."

Dengan bersungguh-sungguh, Tay-giam-ong berkata: "ceritanya Sangat panjang, masuklah dahulu, biar

kuceritakan seCara terperinci. Pada empat hari yang lalu, disini telah terjadi sesuatu yang menggemparkan."

Mengikuti langkah Tay-giam ong, Kim Hong memandangi Wakil rumah penjara itu, kedudukan Tay- giam-ong sangat tinggi. kecuali Suma Siu Khim, ia adalah pimpinan kepala mandor.

Ditengah jalan- Tay-giam-ong berkata:

"Kini, bagaimana aku harus memanggil dirimu? Kongcu?

Atau Kim Hong?"

"Panggil saja aku Kim. " berkata sipemuda. Berkata Tay-giam-ong, "Lebih patut kalau kupangggil Kim Hong kongCu. Kau adalah putra dari laucu kami, sudah selayaknya kalau ada panggilan yang seperti itu."

"coba kau Ceritakan, apa yang terjadi pada empat hari yang alu, mengapa bisa menggemparkan?" Kim Hong tak banyak komentar.

"ceritanya seperti ini," berkata Tay-giam-ong. "Hari itu, sesudah ibumu kembali, ia masuk kamar dan menangis beberapa saat, kutanyakan sebab musababnya, hanya dikatakan seCara singkat, dia telah mencelakakan dirimu. Aku menjadi heran, sedangkan kini kau bisa balik dengan hidup, Mengapa dikatakan dia mencelakakan dirimu?"

Kim Hong menceritakan jalannya peristiwa bagaimana ia menyelam kedasar telaga Tay-pek tie, bagaimana diseret sikakek gelandangan Kiat Hian, bagaimana ia mendapat obat, pelajaran ilmu dari pedang Tay-pek-kiam. Dan terakhir iapun menuju kemari.

"Hebat Hebat" Tay-giam ong mengeluarkan pujian. ia menjadi girang. "Sungguh kebetulan Sungguh kebetulan. Aku sedang mengalami proses otak bingung, menurut laporan, besok rumah penjara kita akan mendapat penyerbuan golongan Kalong, mereka dibantu dengan sembilan jago silat dari daerah Tay Wan-kok Hal ini sedang menyulitkan seluruh isi rumah penjara kita. Bagaimana harus menghadapi mereka? Siapa yang harus tampil kedepan? Kini kau hari ini balik kembali. Sungguh kebetulan Sungguh kebetulan. Kau bisa mewakili ibumu, menghadapi tantangan orang-orang itu."

"Tujuan utamaku kemari ialah untuk menghadapi mereka." berkata Kim Hong, "Tapi ibu tidak ada. Mungkin peperangan besok tidak mudah dihadapi." Tay-giam-og berkata: "Menurut perkiraan orang,jago- jago kita cukup banyak. entah bagaimana keadaan kekuatan musuh ?"

Kim Hong menceritakan pengalamannya selama bertempur dengan Hamid dan kawan kawan dengan rapi sekali. Sesudah itu ia berkata: "Biar kuminta bantuan suhu dan suboku, eh, ya, bagaimana keadaan Yo In-jie Sumoay? Sudahkah dia kembali ?"

"Belum." Tay-giam-ong menggelengkan kepala, "Yo in- jie belum balik kembali. Leng Bie sian juga belum balik kembali."

"Tidak apalah, biar kuminta bantuan suhuku saja " "Suhumu juga sudah tidak ada." berkata Tay-giam-ong.

"Tiga tokoh silat ajaib. Sam-kie-hui-sian-po, It-hu Sianseng,

Thian San Soat Po-po. can-sa sian sudah tidak ada didalam rumah penjara."

Hal ini juga menggirangkan Kim Hong, bertepuk tangan, dia berkata: "Apa ibuku yang membebaskan mereka?"

"Bukan- berkata Tay-giam-ong menggelengkan kepala. "Lima hari yang lalu, ada seseorang yang memalsukan ibumu, itu waktu aku sedang ada urasan keluar, tidak bertemu dengannya. Menurut cerita, orang yang memalsukan ibumu itu langsung pulang dan terus menuju kearah kamar penjara, entah apa yang diceritakan kepada tiga tokoh silat ajaib can-sa sian Cs. Mereka itu marah- marah dan uring-uringan, berbareng hendak menantang Sayembara, dan betul-betul terjadi, can-sa-sian menerima sepuluh jurus serangan tokoh misterius itu. Begitu juga It-hu Sianseng, begitupun Thian-san Soat Po-po. Mereka berhak mendapat kebebasan, dan seCara lenggang kangkung, ketiga tokoh ajaib itu meninggalkan rumah penjara." "oh..........." Inilah berita baru bagi Kim Hong, "Ada orang yang berani memalsukan ibu?"

"Ya." berkata Tay-giam ong. "Disaat ibumu kembali segera kutanyakan hal ini, tentu saja dia marah dan uring- uringan- Ternyata laucu kita itu ada yang berani main sandiwara Gatot Kaca kembar Menurut dugaan ibumu. tentu buah hasil karya penguasa Rumah Penjara digunung Bu-san- Maka langsung dia turun gunung dan meninggalkan rumah penjara."

Kim Hong semakin heran. pikirannya diasah pulang pergi untuk menemukan jawaban dari kemisteriusan2 ini, ia bertanya “Heran, apa maksud tujuan orang itu?"

Tay-giam ong berkata:

"Pasti penguasa rumah penjara gunung Bu San sengaja memanCing incident- incident. Sengaja mencari setori saja."

"oh......... karena itukah ibu meninggalkan rumah penjara?"

"Ya. Sebetulnya, sifat-sifat ibumu itu kukenal baik. Tidak mungkin ia terpanCing pergi. Hanya kematianmulah yang menyulitkan dirinya, maka segera ia menerima tantangan itu, tentunya sudah mengikuti Sayembara dirumah penjara Bu-san- hal ini mungkin bisa menurunkan derajatnya, menurunkan kedudukannya. menurunkan gengsinya, inilah anggapan-anggapan ibumu."

"Biarlah ibu menantang rumah penjara Bu-san-" berkata Kim Hong, "Aku tidak percaya, kalau ibu bisa dikalahkan orang."

Tay-giam ong berkata: "Kalau bertanding satu lawan satu, tidak mungkin ada orang yang bisa memenangkan ilmu silat ibumu. Yang kutakuti adalah. "

"Kalau mereka main keroyok?"

"Ya. Kalau terjadi pengeroyokan atau tipu muslihat, atau Jebakan-jebakanjahat sulit diduga."

"Aku sudah pergi kerumah penjara Bu-san- Kukira tidak ada seuatu yang aneh, legakan hatimu. Kuyakin ibu bisa memenangkan pertandingan itu." Tay-giam ong berkata,

"Kalau betul ibumu menempur rumah penjara digunung Bu-san, esok hari iapun harus kembali. Kalau besok dia tidak kembali, bagaimana rencanamu?"

Lagi-lagi Kim Hong dipaksa memeras otak. terus terang saja pemuda kita bukanlah condekiawan terlihay, menghadapi problem-problem yang tidak mudah dipecahkan, dia pun sulit mengatasinya, berpikir beberapa saat lagi, ia bertanya: “Hei, bagaimana penghargaanmu kepadaku?" Tay-giam Ong berkata:

"Kau adalah putera Lauwcu kami, tentu saja harus menjadi kongcu."

"Sampai dimanakah batas-batas kekuasaanku?"

"Kalau saja kau bisa mengikuti dan menggaris bawahi kemauan ibumu, apapun boleh kau lakukan-"

"Baik," berkata Kim Hong. "Kini aku hendak mengeluarkan perintah, kuharap saja kau tidak menolak."

"Pasti." berkata Tay-giam-ong. "Kalau saja perintah itu tidak menyimpang dari keadaan yang semula."

"Tentu saja tidak menyimpang." Dengan sungguh- sungguh Kim Hong berkata: "Perintah pertama, segera cabut papan pengumuman tanda istirahat perang itu." "Baik," berkata Tay-giam-ong. "Masih ada perintah lain?"

"Di depan sekali, buatlah tulisan yang berbunyi seperti ini: SELAMAT DATANG KEPADA ROMBONGAN KALONG DAN PARA JAGO DARI DAERAH TAY- WAN KOK."

"Tepat" Tay-giam-ong bertepuk tangan. "Perintah yang sangat tepat."

Kim Hong berkata lagi:

"Perintah lainnya, beri daftar nama dari tawanan- tawanan kita."

Tay-gim-ong diam sebentar dan bertanya. "Buat apa?"

Kim Hong berkata:

"Boleh kah aku tahu, dikala ibuku berada, Sebelum dia hendak melakukan sesuatu, apakah harus berunding dahulu denganmu?"

"Ya,"jawab Tay-giam ong. "Dia sering berunding, terlebih- lebih untuk menghadapi situasi gawat."

"Aku hendak menjadi diktator satu kali," berkata Kim Hong. "Bolehkah tidak merundingkan jalan ini? Hanya satu kali saja?"

"Baiklah," Tay-giam-ong menyerah. "Segera kuberi daftar nama itu."

Kim Hong segera menjadi wakil penguasa rumah penjara rimba persilatan Tay-pa-San, Tay-giam-ong menjalankan perintah-perintah baru dari putra penguasa rimba persilatan yang disaat ini sedang absen. SESUDAH MAKAN MALAM, dengan membawa daftar nama dari nama tawanan Rumah Penjara, seorang diri Kim Hong menuju ketempat kamar-kamar tahanan itu, ia tidak mau didampingi Tay-giam-ong. Dikatakan, dia tidak membikin pemeriksaan pribadi.

Tay-giam-ong bisa menerima tolakan halus, betul dia tidak menyertai Kim Hong. Kim Hong melakukan rencananya yang bertentangan dengan tujuan ibunya.

Mempercepat kita, kita tak gambarkan secara terperinci, bagaimana Kim Hong mengkong-kalingkong didalam kamar penjara.

Singkatnya cerita, Kim Hong sudah selesai menyambangi orang-orang didalam kamar tahanan rumah penjara, dia balik ketempat kamar yang sudah tersedia.

Mengikuti dibelakang Kim Hong, secara tersenyum- senyum, Tay-giam ong juga mendatangi kamar tahanannya.

Tay Giam ong tiba dikamar tahanan nomor Satu, kamar tahanan ini tersekap seorang jago silat yang pernah mempunyai kedudukan hampir sama dengan dewa persilatan, dia adalah ketua Siauw-lim-pay Lian-in Taysu.

Lian- in Taysu menjadi penghuni kamar tahanan nomor satu, umurnya telah berada di atas seratus tahun. Tapi dia masih gagah dan bangga, rambutnya telah panjang sehingga tiga tombak, duduk seperti berdiri diatas jenggot.

Perlahan-lahan Tay-giam-ong menyentil-nyentil jeriji besi kamar tahanan itu.

"Hei," ia memanggil orang tahanannya. "Hwesio tua, kemari" Itu waktu, Lian-in Taysu sedang duduk bersila, ia membuka kedua matanya, memandang kearah Tay-iam- ong bertanya:

"Ada urusan apa?"

Tay-giam-ong bertanya:

"Apa yang tadi kalian percakapan?"

"Percakapan yang mana?" balik tanya Lian-in Taysu. "Percakapanmu dengan kongcu kami."

"Kongcu yang mana?"

"Kim Hong kongcu. Dia adalah putera penguasa rumah penjara kami."

"oh. mengapa kau tidak langsung bertanya kepadanya?"

"Dia tidak mau membuka rahasia."

"Nah, apa kau mau memaksa aku membuka rahasia?"

Tay-giam-ong kalah berdebat Dia meninggalkan kamar nomor satu, dan kini menuju kearah kamar tahanan nomor dua,

Lian-in Taysu duduk kembali, menunggu Tay -iam-ong meninggalkan kamar tahanan nomor satu, dan kini dia sudah dlkamar tahanan nomor dua.

Penghuni kamar tahanan nomor dua adalah ketua partay Bu-tong-pay ceng-hong Tojin juga termasuk salah satu tawanan bebuyutan. Bukan hutang Bebuyutan Mek ceng- hong Tojin juga termasuk salah satu nama yang sudah kita Ceritakan, Kim Hong pernah mendatangi dirinya

Disaat Tay-giam ong menuju keruangan ia bisa mengikuti percakapan-percakapan Tay-giam-ong dengan ketua partay Siauw Lim Pay. Disaat ini, dia berdiri dibalik jari-jari terali penjara, tapi membelakangi jendela, seolah-olah meremehkan pengunjung, tidak mau menjawab segala pertanyaan.

Walau Tay-giam-ong menjadi orang kepercayaan Suma Siu Khim kedudukkannya adalah mendapat kursi kedua didalam rumah penjara itu, kepada tawanan tua seperti ceng-hong Tojin ia tidak berani berlaku kurang ajar, memperlunak sikapnya dengan ramah tamah ia berkata:

"Lo ciangbunjin, apa Sseama ini keadaanmu baik-baik saja ?"

ceng-hong Tojin tidak menjawab, juga tidak menoleh kebelakang. Tay-giam-ong mengangkat pundak berdiam beberapa saat baru berkata:

"Ayo, Lo ciangbunjin sudah cukup tua. walaupun demikian, toh masih kurang pengalaman, tidak berani bicara padaku ?"

Tiba-tiba saja ceng-hong Tojin membalikkan badan, kepalanya pun terus menoleh, ia berkata:

"Tay-giam-ong, bagaimana keadaanmu? Baik-baik sajakah? Malam ini bulan purnama bulan sangat indah sekali, he"

Dengan girang Tay-giam-ong berkata: "Betul...Betul....Malam ini adalah malam Tiong-ciu.

Setiap malam Tiong-ciu, kadangkala kita terkenang kepada famili ditempat jauh."

ceng-hong Tojin menyambung pembicaraan tadi, katanya: "oh Tay-giam-ong terkenang kepada famili ditempat jauh?"

Terkenang famili ditempat jauh tidak ada hubungan dengan Kongcunya Kim Hong. Tay-giam-ong menggelengkan kepala berkata:

"Aku seorang anak yatim piatu. Tidak ada saudara ada tidak tiada famili, dari mana famili ditempat jauh, bagaimana terkenang nya? Kukira ciangbunjinlah sebagai seorang bekas ketua partay, apa ciangbunjin tidak..."

cepat-cepat ceng-hong Tojin memotong lagi, katanya: "oh  Ternyata  Tay-giam  ong  adalah  anak  yatim piatu?

Aku   sangat   kasihan   sekali   melihat   orang   yang sudah

kehilangan ayah, lebih kasihan lagi kalau bertemu dengan anak tidak beribu. Paling kasihan nasib seorang yatim piatu, apalagi piatu. Betul-betul kasihan-..."

Tay-giam-ong kewalahan, ia tidak melanjutkan perkataan itu, meninggalkan kamar nomor dua, dan  menuju kearah kamar nomor tiga. Hendak menyelidiki rahasia Kim Hong, Tentu tidak mungkin

Tay-giam ong menuju kamar tiga. kamar tahanan nomor tiga lebih sulit lagi, segera ia mendapat sambutan yang keras:

"Maaf!!" demikian berkata penghuni kamar tahanan nomor tiga. "Aku tidak mempunyai waktu bicara."

Tay-giam-ong melanjutkan penyelidlkannya, satu persatu didatangi kamar kamar tahanan yang pernah dikunjungi oleh Kim Hong.

JaWaban-jawaban yang didapat betul-betul mengecewakan, tak ubahnya seperti apa yang sudah ditemukan. Dari kamar nomor lima menjawab:

"Maaf Tanya saja pada kongcu kaucu rimba persilatan-" Penghuni   kamar   tahanan   nomor   enam   menjawab.

"Sabarlah Sesudah hari menjadi pagi, kau akan

mengetahui" Tay-giam-ong tidak berhasil membikin penyelidlkan

Kim Hong mengumpulkan Raja-raja akherat yang  berada didalam rumah penjara Tay-pa San, kesepuluh Raja Akherat ini adalah inti kekuatan ibunya, ia mengajak mereka berembuk bersedia untuk menghadapi kedatangan dan penyerangan-penyerangan dari golongan Kalong.

Sebagai seorang pemimpin muda. Kim Hong tidak lupa menyelidiki dan memberi perintah kepada para anak buah rumah penjara Tay-pa San menyelidiki gerakan-gerakan golongan Kalong.

Mereka masih berembuk terus. Dengan harapan bisa menunggU kembalinya Suma Siu khim.Suma Siu khim yang ditunggu tak kembali.

Laporan-laporan dari anak buah Tay-pa-San memberikan gambaran-gambaran penyerbuan musuh, dengan jelas memperinci penyerangan golongan Kalong.

"Lapor kepada Tay-giam ong. golongan Kalong mendapat bantuan dari jago-jago Tay-wan-kok."

"Lapor kepada Tay-giam-ong, orang berambut merah langsung berada dibawah pimpinan seorang jago tua yang bernama Hamid."

"Lapor kepada Tay-giam-song, Hamid dengan kawan- kawan telah mendekati dan muncul didaerah Pak-tay-hiap. Jumlah mereka diperkirakan berkisar diantara seratus orang."

"Lapor kepada Tay-giam-ong, mereka sudah berada ditempat Ya-kouw."

"Lapor kepada Tay-giam-ong, mereka berada dibawah gunung kita." Mendapat laporan-laporan yang seperti ini sebentar bentuk wajah Tay-giam-ong berubah. Golongan Kalong dan Hamid dengan kawan-kawan ternyata begitu cepat. Ternyata sudah berada dibawah gunung. ia menoleh kearah Kim Hong, berkata kepada ketua muda itu:

"Kongcu, bagaimana kalau mereka tidak menantang Seperti apa yang sudah kita tetapkan pada sayembara- sayembara."

Datang laporan-laporan itu, tidak mengejutkan Kim Hong, ia tersenyum mendapat pertanyaan Tay-giam ong, ketua muda laucu rimba persilatan ini berkata:

"Menurut hematku, mereka masih ragu-ragu. Melinat dicabutnya tanda pengumuman istirahat perang tentu membingungkan rombongan orang-orang berambut merah itu. Didalam anggapan mereka ibu sudah kembali, tentu akan memberi pendaftaran.

Raja akherat nomor dua Jie Giam-ong berkerut alis, ia mengemukakan ketidak mengertiannya :

"Melihat dicabutnya tanda istirahat mereka tidak berani menyerbu?" Kim Hong berkata:

"Dicabutnya tanda itu berarti ibu sudah kembali, mereka tidak berani berbuat kurang ajar. Kukira harus mengikuti apa yang ditunjuk. memberi pendaftaran seyembara."

Raja akherat nomor dua Jie-giam-ong berkerut alis dan bertanya: "Apa mereka tak takut dikalahkan oleh Laucu?"

Kim Hong menganggukkan kepala berkata:

“Hamid, Mobilson dan Joos cukup kuat, mereka belum dapat mengalahkan ibu. Tapi mereka yakin dan sanggup menerima serangan ibu sehingga seratus kali, Karena itu lebih baik mengikuti sayembara, mereka bisa merebut rumah penjara Tay-pa-San secara syah."

Raja akherat nomor tiga Sam-giam-ong bertanya heran: "Kongcu, hendak mewakili laucu menerima serangan mereka?"

Dengan menganggukkan kepala Kim Hong berkata: "Aku hendak mencoba ilmu berkelebatnya sinar pedang

dari    keluarga    Kiat,    menurut    keterangan    Kiat IHian

cianpwe, aku sudah bisa mengimbangi kekuatan mereka. Hendak mewakili laucu meneruskan upacara sayembara."

disaat ini, berlari masuk pula seorang informan, ia memberi laporan:

"Lapor kepada Tay-giam-ong, jumlah mereka seratus dua puluh orang semua mencatatkan diri, mendaftar dan mengikuti sayembara,"

"Dimana Thiat oe siansu?" bertanya Tay-giam-ong.

Informan itu menjawab

"Thiat-oe siansu sudah memberi perintah agar melakukan pendafaran satu persatu, tapi mereka menolak, kini sudah memasuki daerah pegunungan-"

Tay-giam-ong adalah wakil Suma Siu Khim. Suma Siu Khim tidak pernah mengurus persoalan-persoalan yang bertele-tele, semua urusan diatur oleh Tay-giam-ong. Karena itu laporan-laporan diberikan kepadanya. Itu bukan berarti meremehkan dan tidak menganggap adanya Kim Hong di tempat itu, Hanya kebiasaan dan tradislonal Rumah Penjara Tay-pa San-

Sesudah mendengar laporan, Tay-giam-ong mengulapkan tangan dan berkata: "Baik. Pergi selidik lagi" Anak buah itu meninggalkan ruangan. Raja akherat nomor dua, Jie-giam-ong berkata: "Bah Seratus dua puluh jago silat, Ha-ha Jumlah kita hanya belasan orang, satu lawan sepuluh? Bagus Sudah lama aku gatal tangan, hari ini bisa melampiaskan kepuasan hatiku." 

Berbeda dengan sikap Jie-giam-ong yang ugal-ugalan, tidak takut kepada setan dan kepada siapapun juga , sifat Tay-giam ong selalu memperhatikan yang kecil, ia menjadi berduka katanya bersedih hati:

"Walau kekuatan kita tidak bisa diremehkan, tapi anak buah golongan Kalong bukanlah anak buah biasa. Kita harus berhati-hati."

Kim Hong memandang kearah Raja Akherat-Raja Akherat didikan ibunya, kepada mereka ia bertanya:

"Diantara para cianpwe, Siapa yang pandai dan mahir menggunakan senjata rahasia?"

Raja Akherat nomor tiga, Sam-giam-ocg berkata:

"Liok-giam-ong Jarum Bwe-hoa-ciam ciptaannya termasuk salah satu senjata rahasia luar biasa didalam rimba persilatan."

Kim Hong menoleh dan memandang kearah Raja Akherat nomor enam Liok giam-ong dia berkata:

"Lebih baik Liok-giam ong cianpwe menunggu di bawah tenur, siapa yang jatuh hadiahkan saja sebuah jarum Bwee- hoa-ciam, satu-persatu dibereskan."

Raja Akherat nomor enam Liok- giam-ong menerima perintah, cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk membikin persiapan. Ia mendapat tugas membereskan orang dari luar daerah Tay-wan-kok dan golongan Kalong. Disaat ini, datang pula anak buah rumah penjara Tay-pa San yang melaporkan atas penyerbuan Hamid cs yang lebih dekat.

Dengan suara keras Tay-giamong membentak: "Silahkan mereka masuk semua"

Tidak lama kemudian, dipelataran yang terdapat tujuh batang tenur besi, sudah berkerumun banyak orang, mereka dibawah pimpinan tokoh utama jago Tay-wan-kok Hamid yang didampingi oleh Jooss dan Mobilson.

Di belakang ketiga jago-jago Tay-wan-kok itu, terdapat juga Brey, Dokucan, Paul, Kuat, Alwi dan Sulek.

Di belalang sembilan jago Tay-wan-kok. baru berdiri anak buah golongan Kalong, mereka dibawah pimpinan Jie Hiong Hu, ouwyang po-kui, Yo Kim Hwa, Yap Tiong cu, dan sepasang iblis dari daerah Lo-hu.

Semua orang mengurung dan mengincar rumah penjara Tay-pa-san.

Kim Hong mengeluarkan tertawa panjang tubuhnya melejit keluar dari salah satu jendela berbentuk hati maya.

Kim Hong sudah menempatkan dirinya pada salah satu tali tenur menudingkan jari ke arah Hamid dan membentak: “Hai, Hamid kotor, berani bertempur dengan diriku?"

Wajah Hamid ditekuk masam, sepasang matanya memancarkan sinar beringas, dia membentak:

"Bocah tidak tahu diri, lekas masuk dan beritahu kepada ibumu, biar dia yang meneruskan pertandingan."

Dengan tertawa Kim Hong berkata: “Hendak menerima pelajaran ibu? Baik, Tapi kau harus kujajal dahulu."

Dengan marah Hamid membentak: "Kapan rumah penjara Tay-pa-san mengganti peraturan?"

Dengan dingin Kim Hong bertanya: "Apa rumah penjara Tay-pa-san harus mengganti aturan seijinmu? Bah Kita orang mempunyai cara-cara tersendiri, lawannya aku. Mana dadamu? Kalau kau tidak berani melawan aku, kembalikanlah kepalamu, lekas ngiprit pergi."

Sepasang biji mata Hamid yang hitam terputar tiba-tiba ia tertawa dingin, berdehem sebentar dan berkata:

“Ha- ha... aku tahu Ibumu masih belum sembuh dari lukanya, bukan? Maka menyuruh kau keluar menampilkan diri?"

Kim Hong tersenyum dan berkata: "Apa matamu sudah hampir buta? Tidak melihat dicabutnya tanda istirahat perang? Penyambutan-penyambutan kepada setiap orang yang hendak mengikuti sayembara?"

Hamid tidak bisa membenarkan dugaannya, mendelikkan mata dan membentak:

"Lekas suruh ibumu keluar, aku hendak menerima sayembara laucu rumah penjara rimba persilatan Tay-pa San"

"Aku adalah ketua muda dari rumah penjara Tay-pa San- lawan aku"

Wajah Hamid menjadi matang biru, ia menganggap dirinya lebih tinggi setingkat dari Kim Hong, tidak mau melawan anak kecil, karena itu, ia menoleh kearah Brey dan berkata: "Brey, beri persen lagi hawa panas Tay-yang- sinkang kepadanya."

Brey menerima perintah itu, maksudnya hendak tampil kedepan, menerima serangan-serangan. Disaat ini, salah satu dari kedua Lo-hu-pay. Kha Gi San mendelikan mata, menoleh kearah Hamid dan memberi hormat:

"Hamid cianpwe," memotong ayam tidak perlu mengguna kan golok besar, bocah ini serahkan saja kepadaku."

Dengan berkerut alis, Hamid berkata: "Kau bukan tandingannya" Dengan dingin Kha Gi San berkata:"ya"

Wajah sepasang iblis dari daerah Lo-hu-pay yang terkenal sudah mulai kehilangan fungsi. Sesudah keluar dan meninggalkan rumah penjara, selama ini tak tahu telah melakukan apa. Sesudah mendapat tegoran Hamid dia berkata lagi:

"Aku masih ingin kembali ditangan mereka mengapa locianpwe tidak menyerahkan kedudukan pertama?"

Dengan menyeringai kejam. Hamid membentak. "Apa kau hendak menantang diriku?"

Dengan sikapnya yang masih kaku Kha Gee San berkata

:

"Mana berani dikatakan menantang? Aku hanya

meminta kebijaksanaan cianpwe." disaat ini, ketua golongan Kalong membentak:

"Kha Gee San,jangan kau berlaku kurang ajar kepada Hamid cianpwe."

Biasanya Kha Gee San tunduk kepada ketua golongan itu, hari ini tidak, ia melirik kearah sang istri Pa cap Nio hanya sebentar tanpa mengucapkan ba dan bu tubuhnya melompat kearah tenur besi. Disana sudah berdiri Kim Hong, tangannya terayun menyerang sipemuda dan membentak: "Hayo bocah kurang ajar. Biar aku yang melayani permintaanmu"

Tindak tanduk Kha Gee San pada hari ini agak menyimpang dari kebiasaannya Kim Hong merasa terkejut dan heran, ia mengegos diri dari serangan Kha Gee San, kesamping sedikit, dengan dingin berkata:

"Kha Gee San, aku tidak menaruh dendam kepada kalian suami isteri dari daerah Lo-hu, tapi janganlah tidak tahu diri. Lekas mundur"

Kha Gee san tidak melayani kisikan itu, terus menerus menyerang kearah Kim Hong. Kekuatannya juga tidak berkurang.

Sampai dimana ilmu kepandaian Kha Gee San- Kim Hong lebih maklum dari pada orang itu sendiri. Ia sudah mendapat ilmu kepandaian hebat untuk meng a la h kan Kha Gee San bukan urusan sulit. Tapi ia tidak mau kalau Hamid itu bisa mengetahui kemajuan ilmu silatnya, jangan terlalu panas kalau saja menjatuhkan Kha Gee San dalam waktu singkat penilaian harga bertambah, lebih Sulit mengalahkan mereka, karena itu dengan hanya mengeluarkan kekuatannya ia menggempur Kha Gee San secara bermain-main.

Bertempur lebih dari tiga puluh jurus, dengan suara perlahan tiba-tiba Ka Gee San berkata:

"Bocah Kim Hong, Hamid telah mempersiapkan boom Pek lek tan kepada setiap orang yang datang. Kau harus berhati-hati. Boom peledak ini sangat hebat, bisa menghancurkan semua isi rumah penjara. Lekas pukul jatuh aku, dan beritahu ibumu akan adanya bahaya itu"

Kim Hong terkejut, dengan menekan suara mengirim gelombang tekanan tinggi ia bertanya: "Apa yang dimaksud dengan boom peledak Pek-lek-tan?"

Kha Gee San makin menyerang, ia juga berkata perlahan:

"Itulah semacam mesiu buatan Hamid. Sesudah dilempar bisa meledak dan menimbulkan kebakaran. Tidak mudah dipadamkan. Aku kira jumlah orang rumah penjara terlalu sedikit. Kalau saja kalian mempunyai banyak jago, lebih baik bertempur secara dekat-berdekat, jangan beri kesempatan orang-orang dari luar daerah itu melemparkan bahan peledak."

Dengan heran Kim Hong bertanya: "Mengapa kau beritahu rahasia ini?"

sepasang sinar mata Kha Gee San seperti menyemburkan darah, ia berkata

"Si banci Jie Hiong Hu itu telah memperkosa isteriku, huh Isteriku tidak berani membikin pengaduan- Tetapi banyak orang sudah tahu mereka melakukan perbuatan terkutuk. Dilakukannya perbuatan itu karena aku tidak ada disamping mereka.Jie Hiong Hu sangat lihay, aku bukan tandingannya Nanti, kalau bisa membunuh banci itu, aku hendak menghadiahkan semua harta kekayaan seluruh gunung Lo-hu-san-"

Kim Hong mendesak Kha Gee San sehingga kejendela rumah penjara, ia berkata "Nah Lompat dan masuklah kesana nanti akan kubunuh ketua golongan Kalong itu"

"Tidak" Kha Gee San menolak. "celakalah nyonyaku, lebih baik kau pukul akujatuh ke bawah."

"Bagaimana dengan nyonyamu?" bertanya Kim Hong. "Tentu saja dia akan tampil kedepan. Itu Waktu kau juga boleh pukul jatuh kebawah." berkata Kha Gee San. Kim Hong berkata:

"Di bawah tenur ini telah bersembunyi seorang Raja Akherat, selalu siap dengan jarum Bwe-hoa-ciam. Kalau kau bisa sampai dibawah kau bisa mendapat serangan jarum hebat itu."

"Tidak takut. Aku bisa siap sedia." "Baik"

Sesudah berkata begitu Kim Hong membentak keras, tangannya ditebas, memukul kepinggang Kha Gee San.

Kekuatan ini memang hebat dan dahsyat, dimisalkan sengaja Kha Gee San juga tak mungkin bisa mengelakkannya.

Terdengar suara jeritan Kha Gee san, bruk/ tubuhnya terpental dan jatuh kedalam jurang.

Kekalahan Kha Gee San sudah berada dibawah perhitungan semua orang. Kecuali jeritan Pa cap Nio, tak ada yang merasa kasihan-

Jeritan Pa cap Nio dibarengi oleh munculnya nyonya gunung Lo-hu-san itu, ia lompat ke tenur dan menyerang Kim Hong, dengan hati sedih ia membentak: "Bocah tidak tahu budi biar aku mengadu jiwa "

Melupakan kepada kepentingannya, Pa cap Nio menyerang seCara membabi buta.

Dengan mudah Kim Hong mengelakan setiap serangan Pa cap Nio, menggunakan gelombang tekanan tinggi yang hanya bisa disalurkan kepada Pa cap Nio seorang dia berkata: "Nyonya Kha Gee San apa kau sudah tidak mau menemui suamimu." Dengan menjerit keras, Pa cap Nio berteriak.

"Mengapa tidak mau bertemu? Huh Kalau aku yang bertanya kepadamu, apa kau sudah tak mau nona Leng Bie Sian? Apa jawabanmu?"

Karena cara-cara Pa cap Nio yang tidak mengerti situasi, Kim Hong juga berteriak keras. Kini tidak menggunakan gelombang tekanan tinggi, semua kata-kata dapat didengar oleh semUa orang

"Baiklah Biar kupukul jatuh kau kebawah. Disana sudah menanti kehadiran suamimu"

Pa cap Nio berkata:

"Tentu saja aku mau bertemu dengan suamiku, tapi tidak didalam keadaan dunia akherat sesudah aku menuntut balas."

Kim Hong merasa geli, ia juga mempunyai itikad baik,

Karena itu, dengan perlahan berkata

"Nyonya Kha Gee San suamimu jatuh dibawah sengaja, dia hendak meninggalkan rombongan golongan Kalong, kalau kau tidak lompat kebawah, apa lagi yang ditunggu ?"

Pa cap Nio tertegun. beberapa saat kemudian ia berkata: "Betul? Apa kau tidak bohong ?"

"Tentu saja betul," berkata Kim Hong.

Saking benCinya pada ketua golongan Kalong. Wajah

Pa cap Nio berubah, tangan dan kakinya gemetaran, ia bertanya kaget,

"Apa betul yang dikatakan ?"

Kim Hong menggoyangkan tangan dan berkata: "Tanya sendiri kepada yang dibawah." Mereka bercakap-cakap. Sehingga mengganggu jalannya pertempuran, hal ini mengejutkan semua orang. Lebih- lebih ketua golongan Kalong. ia berteriak panas: "Pa cap Nio, apa yang kalian sedang kerjakan ?"

Pa cap Nio menangis, menutup muka sendiri, lalu berteriak: "Oh Tentu dia sudah mengetahui hal itu, oh Bagaimana aku. "

"Jangan khawatir." berkata Kim Hong. "Dia masih tetap Cinta kepadamu, temuilah dia dibawah."

"Apa yang sama? Apa yang cocok?"

Tiba tiba Pa cap Nio menoleh kesamping, menuding jari kearah ketua golongan Kalong ia membentak:

"Jie Hiong Hu, kalau aku tak ikut mati pada hari ini, aku bersumpah untuk menuntut balas."

Sesudah itu, ia melepaskan injakan kakinya, terjun kedalam jurang. Dua anggauta sudah dlkalahkan Tentu saja Hamid marah besar segera ia membentak. "Brey Lekas hantam bocah itu."

Brey sudah lompat kearah tenur besi, menudingkan jari kearah Kim Hong dan membentak: “Hei, mengapa kau sudah menghilangkan semua ilmu kepandaian Paul?"

Paul adalah Suheng Brey, ilmu kepandaiannya sudah dihancurkan oleh Kim Hong, karena itu dia merasa Sakit hati,

Kim Hong sudah bersiap sedia, ia berkata: "Apa masih kurang pantas? Apa diharuskan membunuh dirinya?"

sepasang mata Brey dipentangkan lebar-lebar, dengan wajah merah ia membentak: "Akan kuhancurkan kepalamu."

"Baiklah" berkata Kim Hong "Lekas kau turun tangan" Brey menjerit. tangannya dijulurkan, menyerang Kim Hong.

Terjadi pertempuran yang hebat. Kim Hong masih tidak menggunakan kepandaian simpanan, ia melayani dengan berhati-hati.

Ilmu kepandaian Brey bisa mengimbangi ketua golongan Kalong, dahulu, lain sekarang. sesudah mendapatkan pelajaran berkelebatnya sinar pedang dari keluarga Kiat didaSar telaga Tay-pek-tie, sesudah memakan obat Tiang- seng-pu-lo-tan, kekuatan Kim Hong jauh naik berkali lipat. ia sudah berada diatas Brey. Kalau Kim Hong mau, dengan mudah bisa menjatuh kan Brey, Hanya Kim Hong sudah memperhitungkan akibatnya, hal ini harus dirahasiakan dan siap untuk menempur Hamid.

Pertempuran masih berlangsung tetus, terjadi saling gebrak. elak-mengelak.

Satu saat, Brey mendorong kedua tangan serangan ini disambuti oleh kedua tangannya Kim Hong. "Bekkk "

Terdengar suara letupan yang keras, tubuh Brey terpental, kakinya meninggalkan tali tenur, jatuh kedasar jurang.

Hamid, Joos dan Mobilson berteriak kaget. kekalahan Brey berada diluar dugaan mereka. Apa yang menyebabkan kemajuan Kim- Hong begitu hebat? Inilah yang menjadi teka-teki

"Aha" Tiba-tiba Hamid berteriak kaget, "pasti Tentunya obat Tiang-seng-pu-lo-tan"

Hamid menoleh kearah Joos dan menoleh pula kearah Mobilson, mereka berkasak-kusuk. didalam bahasanya, sesudah itu, Mobilson tampil kedepan, lompat terbang melayang ketengah-tengah jurang, meletakkan kakinya diatas tenur besi, memandang musuhnya beberapa waktu, baru ia berkata:

“He, apa kau sudah makan obat Tiang-seng-pu-lo-tan?" Dengan tertawa Kim Hong berkata:

"Aku tidak mendapat kotak ajaib, dari mana mendapatkan obat Tiang-seng pu-lo-tan?"

Mobilson menyeringai, ia berkata:

"Kotak ajaib sudah didapatkan oleh ibumu, mengapa tidak mendapatkan Tiang-seng-pu-lo-tan ?"

"Kotak itu sudah kosong." berkata Kim Hong." "Bohong" berkata Mobilson.

"Tidak percaya?" berkata Kim Kong. "Terserah kepadamu. obat yang berada didalam kotak ajaib sudah tidak ada didalam tempatnya,"

"Mengapa?"

"Tentu saja sudah diambil orang." "Siapa yang mengambil?"

"Tidak tahu."

"Apa betul-betul tidak tahu?"

"Walaupun aku bisa menduga, tak kuberi tahu kepadamu,"

Dengan dingin Mobilson berkata

"Aku sudah tidak butuh dengan kotak ajaib itu. Ngg, kalau kau tidak memakan obat Tiang-seng-pu-lo-tan- bagaimana kau bisa memenangkan Brey?"

"Aha Aha" Kim Hong tertawa. "Apa hanya kekuatan kemenakan muridmu yang terpandai?" Sepasang mata Mobilson menjadi liar, memerah kemudian menjadi biru, sedikit demi sedikit ia mendekati Kim Hong.

Tidak terlihat perobahan wajah pada jago kita, tegak bagaikan gunung, kuat bagaikan bongkah batu. Diam membeku. Bajunya berkibar-kibar tertiup angin, berdirl diatas tenur yang terpancang di antara kedua jurang dalam yang sangat curam, Wajahnya tenang anteng.

Langkah kaki Mobilson masih terayun kedepan, setapak demi setapak. diperhatikannya sampai dimana ilmu kepandaian Kim Hong, Mobilson bisa menyelami, inilah kejadian beberapa hari yang lalu, kini Kim Hong sudah berani menghadapi dirinya tanpa gentar. Tentu mengandung sesuatu yang misterius. Di mana letak kemisteriusannya?

Mobilson harus menimbang sampai berkali-kali, langkahnya dihentikan sejauh jarak seorang. Diam didepan Kim Hong, dengan geram dia membentak: "Bocah, lekaslah bergerak. agar jangan dikatakan aku yang menghina anak kecil."