Tangan Berbisa Jilid 26

 
Jilid 26

Secepat kilat pula, tiba-tiba terdengar pekikan nyaring dari Suma Siu Khim tubuhnya mencelat bangun berdiri, Seperti seekor burung alap-alap yang terbang keatas, kedua tangan direntangkan kekanan dan kekiri memukul kearah batok kepala Hamid dan Mobilson-

Keadaan ini berada diluar dugaan semua orang, mereka tahu Suma siu Khim sudah dalam keadaan luka parah, mereka tidak menyangka kalau si iblis betina itu massih kuat menempur dua jago istimewa. Serangan Hamid dan Mobilson mengenai tanah, tapi secepat itu pula serangan Suma Siu Khim mengarah batok kepala mereka.

Mobilson dipaksa meluncur kesamping dan  mengelakkan datangnya pukulan Suma Siu Khim.

Kasihan bagi juara nomor satu si Hamid, untuk menjaga keagungan namanya, apa lagi dia sudah menderita luka tenagannya hanya sisa saja, dia maju berbereng dengan mengharapkan bantuan Mobilson, kini bantuan itu mengenai tempat kosong, dia malah diserang oleh Suma Siu Khim.

Lebih kasihan lagi adalah kedudukan Mobilson, dia salah duga, kiranya Suma Siu Khim sudah tiada tenaga, maka berani main comot. Maut mengintai, untuk bertahan sedapat mungkin dia mengangkat tangan memukul tangan Suma siu Khim, berbareng tubuhnya bergulingan, berguling-guling beberapa kali, baru bisa mengelakkan datangnya kekuatan tadi.

Tubuh Mobilson hanya menyingkir beberapa tapak, kini dia memukul kearah tubuh Suma siu Khim yang mulai menubruk kembali.

Suma siu Khim sudah menderita luka, baru saja dia mengerahkan tenaga banyak pula, datangnya serangan Mobilson tidak bisa dielakan. Bek....serangan panas itu mengenai pundaknya, dia juga terguling-guling jatuh.

Bibir Mobilson tersungging senyuman iblis, mengangkat kaki, menuju kearah menggeletaknya Suma Siu Khim, tangannya diangkat siap mengirim satu pukulan yang terakhir.

"Winnng "..... Tiba-tiba saja, berdesing suatu suara yang memecahkan kesunyian ditempat itu membelah angkasa disekitar telaga Tay-pek tie.

Berbareng, ditengah -tengah mereka entah kapan datangnya menancap sebilah pedang. jawitan pada ujung gagang pedang masih Berkibar-kibar, pedang itu masih tertancap dan bergoyang-goyang, masih menguang-nguang.

Datangnya lemparan pedang yang disertai tenaga dalam ini memecahkan kesunyian, menghentikan pertempuran- Juga menolong selembar jiwanya Suma Siu Khim

Pusat perhatian semua orang beralih kearah tebing telaga Tay-pek tie, disana berdiri puluhan orang berbaju putih juga berkerudung putih, mengenakan seragam pakaian berwarna putih,

Salah seorang dari rombongan berbaju dan berkerudung itu adalah seorang biarawati yang berambut putih, dialah yang menjadi pemimpin rombongan ini, kecuali dia seorang, tidak ada tokoh kedua yang tidak mengenakan kerudung. hanya dia seorang yang tidak mengenakan kain penutup kepala, memperlihatkan rambut yang berwarna putih.

Bierawati tua berambut putih ini memegang kebutan, sepasang matanya memancarkan cahaya keberanian. Kejayaan, wajahnya welas asih, seolah-olah manusia yang hendak menjadi setengah dewa,

Rombongan golongan Kalong terkejut, tak mereka duga kalau rombongan berbaju dan berkerudung putih itu sudah mengepung mereka.

Datangnya orang-orang berbaju putih ini adalah suatu tanda, bahwa mereka telah tertipu dan terjebak, mereka telah terperangkap. Mobilson menghentikan serangannya, menoleh dan memperhatikan keadaan orang-orang berbaju putih itu,

Pertempuran Bok Siu dan in-jie juga terhenti, ditengah- tengah kerungan kecil adalah Suma Siu Khim, Bok Siu dan Yo in-jie, mengurung mereka adalah dua belas jago silat golongan kalong dan jago daerah Tay-wan-kok.

Diluar lingkungan besar masih mengupurung lagi lain rombongan, jumlah mereka jauh lebih besar, lima orang berseragam putih berpakaian putih dan berkerudung putih mengurung. Semua siap dengan aneka senjata, Senjata- senjata itu tidak sama. Mobilson memandang kearah pemimpin rombongan orang berbaju putih itu, dia membentak.: "He Jawab pertanyaanku, dari mana kalian datang?"

Biarawati tua berambut putih berkata "Lembah Patah Hati"

Mobilson menyeringai dan membentak: "Apa maksud kalian?"

"Menyapu kekotoran manusia yang hidup didalam dunia"

"Siapa yang diartikan dengan kekotoran manusia yang hidup didalam dunia?" bertanya Mobilson-

Biarawati tua menjawab

"Golongan Kalong beserta sembilan orang berambut merah daerah Tay-wan-kok."

"Hua, hua ha ha ha...." Mobilson menengadahkan  kepala dan tertawa besar. "Kalian jago-jago dari Lembah Patah Hati? Ha-ha. tahukah, Siapa jago terkuat dari daerah Tionggoan?" BiaraWati tua itu balik bertanya: "Menurut hematmu, siapa jago terkuat dari daerah Tionggoan?"

Mobilson menunjuk kearah Suma Siu Khim yang masih jatuh terduduk dan berkata:

"Dua jago terkuat untuk daerah Tionggoan adalah dua penguasa rumah penjara rimba persilatan- Lihat salah seorang diantaranya sudah berhasil aku jatuhkan. Pikirlah baik-baik, kau mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari penguasa rumah penjara?"

"Tidak bisa disangka." Jawab biarawati tua itu.  "Diantara kamu. tidak ada satupun yang bisa melawan kekuatan penguasa rumah penjara rimba persilatan- Tapi kalian bisa menjatuhkannya, tentu saja dengan cara pengeroyokan. orang yang berjumlah besar bisa memenangkan yang berjumlah sedikit. Walau ilmu kepandaian orang itu agak lemah. Dari sini sudah kau praktekkan. Lihat Karena jumlah yang banyak. kalian mengalahkannya. Kini giliran kalian-Jumlah kamu semua dua belas orang, Tapijumlah kami lima puluh orang, pikirlah baik-baik, siapa yang akan lebih unggul?"

Mobilson masih belum mengerti akan sikap kata-katanya orang dari Lembah patah hati ini, dengan dingin ia berkata:

"Tentera belum tentu menang dengan jumlah yang besar, siapa yang kuat. Dialah yang menang."

"Masih membuat perlawanan?" Ejek Biarawati tua itu. Mobilson mendatangi kearah Jie Hiong Hu serta kawan-

kawan dan berkata:

"Awas Biar aku yang menempurnya terlebih dahulu."

Kemudian, memandang rombongan Patah hati dan membentak: "Turun " Biarawati tua itu melayang turun dari kedudukannya semula, dimana sebelah kakinya tertancap pada batu tepian tebing tinggi, gerakkannya sangat ringan, indah.

Kini si biarawati tua sudah berada didepan Mobilson, dengan kebutan ditangan kanan di-pindahkan ketangan kiri, menganggukkan kepala dan dengan gagah dia berkata:

"Baik Biar kuterima pelajaran ilmu pelajaran ilmu Tay- yang Sin-kang. Terlebih dahulu silahkan mulai."

Mobilson menyedot napasnya dalam-dalam, kekuatan Tay-yang Sin-kang yang berupa kekuatan hawa panas digerakan dan disalurkan, membentak keras dan menyerang kearah biarawati tersebut.

Dia sedang bingung dan tidak mengerti, darimana biarawati tua ini bisa mengetahui asal-usulnya

"omitohud" Biarawati tua itu menyebut nama Buddha dan dirapatkannya sepasang tangan menerima serangan kekuatan Tay-yang Sin-kang Mobilson.

cara- cara ini tidak jauh berbeda dengan cara- cara yang digerakan oleh Mobilson, inipun salah satu dari tipu Tay- yang Sin-kang.

Terdengar satu suara benturan yang keras, masing- masing bergoyang dan termundur tiga langkah.

Wajah Mobilson berubah, matanya didelikkan besar- besar, ia berteriak gugup: "Kau... kau... juga bisa menggunakan kekuatan Tay-yang Sin-kang?"

Sebelumsi biarawati tua menjawab pertanyaannya, Hamid yang terbaring luka sudah menoleh kan kepala, dengan getaran jiwa yang besar dia berteriak: "Mobilson sutee, dia adalah Kongsun-Bwee Kun" Biarawati tua yang mengenakan seragam putih itu adalah Kongsun Bwee Kun. Mobilson juga terkejut.

"Aaa...." diperhatikannya beberapa waktu menganggukkan kepala dan berkata: "Betul- betul enso KongsunBwee Kun, mulai kapan kau mensucikan diri?"

Biarawati tua itu berkata dingin: "Mungkin kau salah lihat orang. Kongsun Bwee Kun sudah lama mati. Namaku adalah Pan-su Loonie. Lebih baik kalian jangan berteriak- teriak seperti itu."

Mobilson tertawa menyeringai, dia berkata: "Enso Kongsun Bwee Kun, meng apa mempunyai kekerasan hati yang seperti itu? Apa kau tahu, kalau Jooss sedang ubek- ubekkan mencari jejakmu? Lima hari yang lalu dia menuju kegunung Lu-san, sehingga saat ini dia belum kembali. Hem.... biar bagaimana kesalahan atas langkahmu sendiri, mana boleh. "

Biarawati itu Pan-su Lonnie mengebutkan kebutannya. memotong pembicaraan itu dan berkata

"cukup Kalian beberapa saudara berbuat kejahatan- kejahatan, kini datang pula kedaerah Tionggoan hendak mengaCau lagi? Lekas kembali kedaerah Tay-wan-kok. Kalau tidak hmm-hmm. "

Wajah Mobilson ditekuk, sepasang matanya memancarkan sinar kebuasan, ia berkata dinging.

"Apa betul begitu? Enso Kongsun Bweee Kun?"

"Tidak salah" berkata Pan-su Lonnie. "Siapa yang tidak mau enyah dari tempat ini. orang itu akan segera menjadi tulang belulang."

"Termasuk aku?" Mobilson menantang.

"Ya Termasuk juga dirimu." kata Pan-su Lonnie. Mobilson menengok kearah orang-orang berseragam putih yang mengurung mereka, ia ber-deham2 dan berkata

"Entah bagaimana kepandaian ilmu silat orang-orang yang dibawa oleh enso itu? Berkepandaian silat tinggikah mereka itu? Beranikah mengutus dua diantaranya untuk bermain-main beberapa jurus dengan Jie Hiong Hu atau keponakan muridku?"

Mobilson pandai menilai situasi, didalam keadaan yang seperti itu, kekuatannya hanya bertahan kepada kemenakan-kemenakan murid dan Jie Hiong Hu, dengan jumlah terbatas hanya beberapa orang, kalau saja dipihak lawan tidak bisa mengalahkan Jie Hiong Hu dan sang kemenakan murid, maka mereka masih mempunyai kesempatan dan menang. tetapi kalau dua diantara rombongan orang berbaju putih itu bisa mengimbangi Jie Hiong Hu dan sang kemenakan murid, hehehe. untuk

mengurangi kekuatan dirinya sendiri.

Disini letak kepintaran Mobilson, dia tak mau melakukan peperangan yang tidak menguntungkan.

Dengan dingin Pan-su Lonnie berkata: "Mengapa tidak? Hoong Jie Biauw Kow boleh ditakuti dan disegani orang, tapi untuk pihakku, hmm. aku masih bisa mengeluarkan

empat jago kuat yang bisa merendengi dirinya."

"Keluarkanlah" berkata Mobilson. "Hendak kulihat, jago Tionggoan mana lagi yang betul-betul kuat."

PanSu Loonie memandang kearah orang-orang berseragam putih itu dan berkata: "Nomor tiga dan nomor empat kalian boleh kedepan"

Maka, dari rombongan orang berseragam putih tampil dua orang, seorang berbadan kurus kecil tidak membawa senjata, seorang lagi berbadan tinggi besar, juga bertangan kosong. inilah nomor tiga dan nomor empat dari jago-jago Lembah Patah Hati.

Mereka mengenakan tutup kerudung muka berwarna putih, tapi bagian mata dari kerudung itu dilubangkan, dari sana mencorong cahaya-cahaya kemilauan, suatu tanda dan bukti berapa hebat ilmu kekuatan tenaga dalam kedua jago silat itu.

Mobilson agak heran atas perintah perlawanan Pan-su Lonnie, ia mengajukan pertanyaan

"Eh, meng apa tidak mengeluarkan jago nomor satu dan jago nomor dua?"

"Kalau kau biSa memenangkan nomo tiga dan nomor empat masih boleh menantang dan meminta nomor satu dan nomor dua." berkata Pan Su Lonnie, Mobilson menganggukkan kepala, menoleh kearah rombongannya dan berkata

"Kuat majU kedepan, bersama-sama dengan Jie Hiong Hu kalian boleh memandingi mereka." Kuat adalah salah satu dari murid Hamid, Wajahnya galak,

Mendapat perintah tadi, bersama-sama dengan ketua golongan kalong Jie Hiong Hu. Kuat segera tampil kedepan.

Kini dua dari rombongan Mobilson dan dua jago dari Lembah Patah Hati berhadap-hadapan,

Jie Hiong Hu berhadapan dengan jago Lembah patah Hati yang mempunyai perawakan kurus kecil itu. Jago Tay- wan-kok, Kuat berhadapan dengan Si tinggi besar. Kuat memperhatikan lawannya, dan dia bertanya "Kau yang disebut nomor tiga?" Sitinggi besar menggelengkan kepala dan berkata: "Bukan- Aku nomor empat."

Suaranya agak serak tapi masih gagah. suatu bukti bahwa dibalik kerudUng mUkanya adalah wajah seorang tua rimba persilatan yang galak. Kuat tertegun, sengaja ia memilih yang tinggi besar, dengan harapan bisa menempur jago nomor tiga dari Lembah Patah Hati Ternyata si tinggi besar hanya nomor empat. Hal ini membuat dia tidak puas, ia menganggap dirinya jago hebat, karena itu menoleh kearah Jie Hiong Hu dan berkata: "Jie Hiong Hu, kita berganti lawan-"

Jie Hiong Hu cengar-cengir, dia lebih senang memilih yang kurus kecil ini dari pada yang tinggi besar, mendapat perkataan Kuat yang seperti itu, ia berkata: "Mengapa ? Sama saja bukan?"

Kuat berkata tegas:

"Tidak mungkin. Aku harus menempur yang nomor tiga."

Maka si nomor tiga, orang yang berkerudung putih yang mempunyai dada perawakan yang kurus dan kecil itu membuka suaranya seperti kacang garing, enak dan merdu:

"Jangan sok takabur, sesudah kau memenangkan nomor empat, boleh juga meminta nomor yang lain "

Dari suara dan logat si nomor tiga, suatu bukti bahwa orang berkerudung dari Lembah Patah Hati ini masih muda belia, dia seorang gadis remaja,

Kuat lebih terkejut, dia memilih nomor tiga dengan harapan memilih kekuatan yang lebih hebat, ternyata sinomor tiga hanya seorang gadis remaja, karena itu dia mengedip-ngedipkan mata, heran dan terkejut, katanya "Eh, seorang Wanita? Sial tujuh turunan, Aku tidak mau menempurmu."

Jago nomor tiga dari Lembah Patah Hati tertawa girang, dengan lincah dia berkata:

"Jangan suka memanding rendah kaum wanita, lihat GUrumU sudah dikalahkan oleh Lauwcu rimba persilatan dari gunung Tay-pa-san. Sampai disaat ini masih belum bisa bangun, tahu?"

Suma Siu Khim mengikuti pembicaraan tadi, dia menderita sedikit luka dan semUa perhatian dicurahkan kepada Pan-su Lonnie, kini munculnya sinomor tiga yang kurus kecil, cara-cara dan lagu-lagunya itu mengingatkan sang murid, menudingkan jari ia membentak: "Nona kecil siapa kau?"

Sinomor tiga memberi hormatnya, dengan lincah dan nakal sekali ia berkata

"Sebelumnya kami meminta maaf atas pertanyaan Lauwcu. Kami adalah nomor tiga dari Lembah Patah Hati."

Suma Siu Khim bertanya lagi: "Aku hendak mengetahui namamu"

Si nomor tiga menggelengkan kapalanya, Tertawa cekikikan dan berkata:

"Kalau aku bersedia memberitahu, buat apa menggunakan tutup kerudung lagi? Percuma saja, bukan? Hi-hi-hi. "

“Huh" Suma Siu Khim mengeluarkan suara dari hidung. Menudingkan jarinya kearah si nomor tiga, ia berkata. "Suaramu sangat mirip dengan suaranya muridku yang nakal itu, tapi kau lebih berandalan lagi darinya. " suara sinomor tiga adalah suara yang juga mirip dengan Leng Bie Sian.

Wajah pemimpin jago Lembah Patah Hati Pan-su Lonnie menekuk segera dia memberi perintah:

"Nomor tiga Jangan banyak main lidah Lekas bergerak" Mendapat   teguran   sang   pemimpin,   nomor   tiga dari

Lembah Patah Hati, cepat-cepat menghadapi Jie Hiong Hu,

segera dia membentak:

"Jie Biauw Kow, mengapa kau mematung ditempat, lekas kau keluarkan ilmu simpanan Kiu-im-hek-kut-ciang- lekmu itu. "

Hoong adalah sebutan rangkap dari Jie Biauw Kow dan Jie Hiong Hu, ia menjadi ketua golongan Kalong yang ternama, karena bisa memegang peranan yang hebat. DiSiang hari ia menjadi lelaki, dimalam hari ia menjadi wanita. Nyonya rumah setan adalah jelmaannya, dia menghisap sari lelaki dimalam hari, menyedot sari wanita disiang hari, karena itu. semakin lama semakin gagah.

Jie Hiong Hu adalah panggilan disiang hari, dan Jie Biauw Kow adalah panggilan nama untuk malam hari.

Hari masih ada sinar matahari. mendapat panggilan Jie Biauw Kow itu Jie Hiong Hu menjadi marah, pantangan besar menyebut salah satu namanya, kalau bukan pada iklim-iklim tertentu, dengan satu geraman dia mengayun tangan dan memukul kearah si nomor tiga. Inilah ilmu kepandaian yang bernama Kiu-im-hek-kut-ciang-lek yang berarti sembilan hawa dingin menghitamkan tulang.

Ilmu Kiu-im-hek-kut-ciang-lek didapat dari inti wanita- wanita yang disedot, siapa yang terkena pukulan ini, segera menggeletak tulang-tulangnya akan Segera menjadi hitam, mati tidak tertolong. Ilmu kepandaian jahat Ilmu yang jarang ada pada rimba persilatan. Ilmu yang kenamaan dari Jie Hiong Hu sinomor tiga dari Lembah Patah Hati tak merasa gentar, ia tertawa cekikikan, mengangkat tangan dan dengan seenaknya saja menyambuti serangan itu, cara penyambutan dari sinomor tiga agak mirip dengan tipu silat yang bernama Jie-beng- bian-biat, salah satu dari tiga pukulan maut dari Lauwcu Rumah penjara digunung Tay-pa-San. Terdengar suara beradunya kedua pukulan Jie Hiong Hu termundur beberapa langkah.

Kekuatan sinomor tiga dari Lembah Patah Hati betul- betul menakjupkan, dia berhasil mendorong seorang jago yang seperti Jie Hiong Hu, Tapi dirinya juga terpukul kebelakang, Mereka sama kuat.

Mobilson mengerutkan alisnya, dia heran jago seperti Jie Hiong Hu ini tidak bisa mengalahkan seorang wanita kecil.

Mobilson menoleh kearah Pan Su Lonnie, dan dia bertanya

"Enso Kongsun Bwee Kun, menurut ingatanku, kau memiliki baju keras dari kulit landak?"

Tanpa perobahan Wajah Pan-su Lonnie menjawab. "Kau kira aku menyerahkan baju ajaib itu kepadanya,

maka baru dia bisa menerima serangan jie Hiong Hu?"

"Kalau tidak," berkata Mobilson menganggukkan kepala. "Dengan umurnya yang begitu muda belia, bagaimana mempunyai kekuatan hebat ?"

Pan-su Lonnie berkata

"Pikirlah baik-baik, kalau kuserahkan baju ajaib itu kepada nomor tiga berarti orang jago Lamhah Patah Hati tiada arti, maka si nomor empat bisa mati? Nomor empat tidak mungkin memakai baju ajaib lagi bukan? Boleh lawan nomor empat"

Mobilson berkata

"Siapa tahu, kalau hanya tipu muslihat. orang nomor empat lebih hebat dari nomor tiga?"

Pan-su Lonnie berkata:

"Kau kira kemenakanmu itu lebih hebat dari Jie Hiong Hu ?"

Kuat sangat marah, dia menghadapi nomor empat dan membentak “Hei, apalagi yang ditunggu"

sepasang sinar mata si nomor empat berkilat-kilat, dengan dingin dia berkata. "Aku sedang menunggu seranganmu "

Kuat berteriak seperti serigala melolong, tiba-tiba dia memukul lawannya.

Nomor empat dari Lembah Patah Hati menggeser kaki kekanan setengah tapak. tangan terayun, seolah-olah dukun yang berjampi-jampi.

Disaat dia mengeluarkan tenaganya. Jarak mereka  sangat dekat, terjadi benturan kekuatan, dan terdengar letupan keras, tanah-tanah disekitar itu berputar, seolah- olah angin topan, dan saat ini sibaju putih sinomor empat bersaingan, terhuyung empat langkah. Di saat yang sama. Kuat juga terdorong mundur kebelakang dua tumbak.

Didalam tanggapan si Kuat, dia mendapat kemenangan atas hasil gemilang itu. Maka dia tertawa berkakakan.

Tiba-tiba suara tertawa sikuat lenyap mendadak tubuhnya bergoyang-goyang, terlempar seperti gangSingan, hampir Saja dia jatuh. Menyaksikan jalannya pertempuran itu, wajah Mobilson berubah, dia berkata keras: "Hah, itulah tipu silat angin puyuh dari si pengemiS Lu Bong Kong."

Seperti apa yang masih kita ingat, sipengemis Sakti Lu Bong Kong sudah mengeram didalam rumah penjara rimba persilatan yang baru digunung Bu San-

Munculnya permainan tipu silat Lu Bong Kong sangat mengejutkan semua orang. Siapa jago nomor empat dari lembah Patah Hati itu?

Mendapat perawa nan tipu silat Lu Bong Kong, Si Kuat tak bisa mengalahkan lawannya dengan mudah.

Mobilson sendiri menimbang-nimbang kekuatan sendiri dan kekuatan lawan. Hamid menderita luka. Dia pribadi hanya bisa menandingi Pan-su Lonnie, Jie Hong Hu hanya bisa menandingi jago nomor tiga dari rombongan baru itu. Kuat hanya bisa menandingi jago nomor empat.

Maka, jago lain hanya yang berupa jago biasa, tak mungkin bisa menghasilkan kemenangan,

Menyaksikan lagi beberapa saat, Mobilson mengangkat bangun Hamid yang terbaring, bertanya sedih

“Hamid toako mari kita pulang saja. Daerah Tionggoan bukan daerah kita."

Sesudah itu ia berkata lagi "Kuat,Jie Hong Hu, hentikan pertempuran segera. Mari kita kembali,"

Maka, iring-iringan rombongan Hamid itu ngeloyor pergi.

orang-orang berseragam baju putih dari Lembah Patah Hati tidak menahan kepergian rombongan Hamid dan kawan-kawan, membuka satu jalan. membiarkan keberangkatan mereka. Yo In-jie segera berteriak kearah Pan-su Lonnie:

“Hei, jangan kau biarkan mereka pergi begitu saja, Kata- katanya bohong semua. Mereka tidak mungkin kembali kedaerah Tay-wan-kok"

Dengan tersenyum Pan-su Loonie berkata "Kita tidak boleh sembarang membunuh orang. mengapa nona kecil ini galak?"

Yo In-jie terkejut, ia berkata: "Kau mensucikan diri sebagai biarawati, apa anak buahmu semua sudah mensucikan diri?"

Pan Su Loonie berkata:

"Tepat. Mereka adalah orang-orang yang sudah patah hati. Sudah waktunya mensucikan diri."

"Bohong" Bok Siu nyeletuk keras. "orang-orang yang mau mensucikan diri mengapa mengerudungi wajahnya?"

Pan-su Lonnie berkata:

"Semua orang dari lembah Patah Hati diwajahnya mengenakan tutup kerudung muka berwarna putih."

Yo In-jie bertanya

"Dimana letaknya Lembah Patah Hati?"

"Rahasia?" Berkata Pan-su Lonnie. "Tapi... kalau kau mau mensucikan diri, aku bisa memberitahu kepadamu."

Sepasang mata Yo In-jie masih bendul merah, melirik kearah telaga Tay-pek tie. Disana tenggelam seorang pemuda yang dikasihi, tenggelam untuk selama-lamanya. Hatinya bergoyah, ia tidak mempunyai kesan perasaan hidup, tidak mempunai pegangan hidup, mendapat bujukan yang seperti ini, hatinya semakin bergelombang keras. Lirikan Yo In-jie kearah permukaan air telaga Tay-pek tie membawa akibat lain-disana belum timbul kepala Kim Hong, tidak mungkin Kim Hong bisa bertahan hidup didasar telaga Tay-pek tie. Kecuali menjadi bangkai.

Yo In-jie putus harapan, air matanya bercucuran turun deras pula, ia menggerutuk gigi dan berkata:

"Baik, Aku juga rela mensucikan diri."

"omitohud." Pan-su Lonnie menyebut nama Buddha. "Semua orang boleh mensucikan diri, Silahkan kemari"

Sesudah itu, ia menoleh kearah Bok Siu dan bertanya: "Bagaimana dengan keadaanmu? Bersedia mensucikan

diri juga ?"

Bok Siu menggeleng-gelengkan kepala berkata:

"Terima kasih, Aku harus menuntut balas atas kematian suhu."

giliran Suma Siu Khim yang haruS dibujuk Pan-su Loonie, memandang kearah Lauwcu rumah penjara itu dan berkata:

"Ilmu silat Lauwcu tiada tandingan, tapi bukan berarti tiada kesusahan, ada lebih baik mensucikan diri dan- "

Dengan geram Suma Siu Khim berkata.

"Jangan kau mencoba kau untuk membujuk wanita, Seorang yang sudah mendapat julukan iblis betina yang seperti aku. Wanita penuh dosa yang tak mungkin naik sorga."

Dengan tenang Pan-su Lonnie berkata:

"Jangan Lauwcu berkata seperti itu, Lauwcu bukanlah iblis betina. Lauwcu bukanlah wanita penuh dosa yang tiada bisa masuk sorga, setiap orang yang sudah bertobat bisa saja kami terima, setiap orang bcerhak untuk mensucikan dirinya."

Suma Siu Kim berkata:

"Mengapa aku bukan menjadi iblis betina? Mengapa tidak menjadi wanita yang penuh dosa? Banyak orang kukurung didalam rumah penjara sehingga mereka berpisah dengan anak dan istri. Sesudah itu, aku menganiaya putra sendiri. kukatakan kepadamu, aku adalah wanita terjahat

didalam dunia."

"Dengan adanya kata-kata yang seperti ini sudah membuktikan bahwa hati Lauwcu masih cukup Suci. Mengapa tidak bisa bersama-sama. "

"Pergilah sendiri" Berkata Suma siu Khim. "Aku tidak bisa bertobat Lebih-lebih dari pada yang dahulu, kalau dahulu, aku hanya mengurung orang dan tidak menyiksa, mulai saat ini orang yang menentang diriku akan dibunuh. .

.kubunuh.....kuhancurkan  ....  kubunuh  dan   kuhancurkan

....."

Pan-su Lonnie menghela napas dan berkata:

"Pantas saja dia tidak mau menemuimu. Ternyata kau sudah kehilangan sifat-sifat seorang wanita .,.,."

Dengan dingin Suma Siu Khim berkata

"Apa kau masih mempunyai sifat-sifat wanita?"

Pan Su Lonnie berkata "Yang penting aku tidak mencerai-beraikan dan tidak mengganggu kesenangan orang."

"Tidak mengganggu kesenangan orang? Ha-ha...." Suma Siu Khim tertawa. "Kau sudah membuat seseorang sudah menjadi gila,. Nah, Lihat Siapa yang datang itu ?" Mengikuti jari yang ditunjuk. Pan Su Lonnie menolehkan kepala, jauh disana terdapat bintik hitam, sebentar kemudian mendatangi kearah mereka, pakaiannya compang camping, itulah Si kakek gelandangan Kiat Hian.

Seketika itu pula wajah Pan-su Lonnie berubah menjadi pucat pais, segera dia mengumpulkan orang-orang berbaju putihnya, dan berkata kepada mereka:

"Lekas membubarkan diri Sebelum matahari terbenam kita berkumpul ditempat yang sudah ditentukan."

Sesudah berkata seperti itu, menarik Yo In-Jie meloncat kearah selatan, Gerakannya cepat sekali. Didalam sekejap mata, orang-orang berseragam putih berpencaran lari serabutan, mereka menghilang secara terpisah.

Disaat ini, sikakek gelandangan sudah terbang datang, menghampiri Suma Siu Khim. seperti lagunya seorang anak kecil yang nakal, seorang anak kecil yang bhndak memamerkan suatu hasil karyanya, dia terteleng-teleng didepan suma Siu Khim, sebentar menggeleng-gelengkan kepala kekanan, sebentar kekiri, matanya dikerlip-kerlipkan membuat suatu sikap yang agak lucu.

Suma Siu Khim tidak menggubris adanya lagu tengik Kiat Hian itu, seolah-olah tidak ada orang, tidak dianggap Ssma sekali.

sikakek gelandangan Kiat Hian memperhatikan  Suma siu Khim, mata Suma Siu Khim masih bendul merah. Sebentar dia loncat kesamping, mempermainkannya dari belakang. Mendongak keatas dan ditundukkan kebawah. Ditatapnya terus wajah wanita kuat itu. suma Siu Khim jadi naik darah, dia membentak :

"Apa yang dilihat? Jangan kira aku sudah tak bisa bergebrak. Hari ini betul-betul aku menderita luka, Tapi tiga hari kemudian aku masih kuat untuk menangkap dirimu, dibekuk dan dimasukan kedalam rumuh penjara Tay-pa- san. tahu"

Kiat Hian melebarkan mulutnya. tertawa. haha-hihi, loncat- loncatan didepan Suma Siu Khim seolah-olah Kiat Hian hendak memberitahu hasil kerjanya yang paling memuaskan-Suma Siu Khim semakin sengit,ia membentak: "Hai apa kau sudah tidak mau bertemu dengan Kongsun Bwee Kun"

"Kong sun Bwee Kun?" Wajah Kiat Hian berubah. dia terjengkit dan loncat. "Ya Dimana dia berada ?"

Suma Siu Khim menudingkan jarinya arah selatan, dan dia berkata: "Baru saja dia disini, melihat kedatanganmu, dia lari kearah itu. Kalau kau mau menemuinya. lekas kejar"

"Kau tidak bohong?" Kiat Hian mendelikkan matanya, kurang percaya dan tidak yakin.

"Mengapa harus bohong?" berkata Suma Siu Khim. "Baru saja dia berkata kepadaku. Kalau kau berhasil menyandaknya dia bersedia kawin denganmu,"

Sikakek gelandangan Kiat Hian mengeluarkan suara lengkingan panjang, meluncur kearah selatan- Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, kecepatan itu tiada bisa dilukiskan-

Maka, bubarlah sudah keramaian ditepi telaga Tay-pek- tie, rombongan golongan Kalong sudah pulang, rombongan Hamid tidak bisa memenangkan pertandingan, diapun pergi, rombongan orang-orang berbaju putih dari Lembah Patah Hati membubarkan diri, Pan-su Lonnie melarikan diri. Kiat Hian mengejar kearah tempat yang ditunjuk oleh Suma Siu Khim, ia mengejar kekasih semasa mudanya. Ditempat itu, keadaan sudah menjadi sunyi dan sepi kembali.

Rombongan golongan Kalong sudah pergi. Rombongan Tay-wan-kok juga turut pergi Rombongan Lembah Patah Hati sudah membubarkan diri. Kiat Hian yang muncul belakangan juga lenyap kembali,

Di tepian telaga Tay-pek-tie hanya tertinggal Sum Siu Khim berhasil mengelakan gangguan Kiat Hian, dia tertawa terbahak-bahak tibi tiba ..."oahk". . dia memuntahkan darah, tubuhnya bergoyang-goyang dan hampir jatuh. cepat-cepat Bok Siu memayang tubuh Suma Siu Khim bertanya:

"Bibi, lukamu parah?"

Suma Siu Khim menggelengkan kepala berkata."Aku muntah darah bukan karena luka tadi kekesalan hatiku ..."

"Istirahatlah sebentar." berkata Bok Siu. "Biar aku yang menyelam kedasar telaga mencari Kim Hong kongcu."

"Tidak." berkata Suma Siu Khim, "Aku hendak mencari sendiri."

Bok Siu menolah kearah kepergiannya Yo in-jie, ia berkata dingin: "Tidak kusangka, ia begitu enak angkat kaki berangkat."

Suma Siu Khim menghela napas dan berkata

"Jangan kau menyalahkannya, Kim Hong terlalu lama didasar telaga, tidak mungkin mempunyai kesempatan lagi. Hati In-jie aku tahu jelas, dia meninggalkan kita karena tidak ada harapan."

"Apa betul-betul dia bisa menjadi orang suci?" bertanya Bok Siu, "Mungkin saja." ucapSuma Siu Khim, "Seorang wanita mengalami penderitaan semacam ini, hanya ada dua jalan yang terbentang didepannya, jalan kesatu jalan mensucikan diri menjadi biarawati, jalan lain adalah seperti jalan yang kutempuh, mengacak-acak dunia..."

Bok Siu mengucurkan air mata, tak bicara. Bok Siu bersedih dan menghela napas panjang, dia juga termasuk salah seorang gadis yang kena jaring asmara Kim Hong. Apa guna? Apa guna melekatkan diri kedalam asmara Kim Hong.

Apa guna? Apa guna melekatkan diri kedalam asmara yang berbelit-belit. Mengingat Kim Hong masih ada Yo In- Jie, masih ada Leng Bie Sian?

oh... Bok Siu bersedih atas nasibnya.

Membarengi helaan napas panjang Bok Siu, Suma Siu Khim juga menghela napas, menghembuskan kekesalan hatinya, tiba-tiba ia berkerut alis dan berkata: "Eh, ada sesuatu yang kita lupakan."

"Buh. .." Bok Siu memandang kearah Lauwcu rimba persilatan dari gunung Tay-pa-san itu.

Suma Siu Khim berkata:

"Kim Hong tenggelam dan tidak timbul kembali. dimisalkan bertemu dengan ikan besar atau binatang yang galak. dimisalkan Kim Hong terluka, tentunya timbul percikan darah. tapi telaga Tay-pek-tie masih tetap jernih. Tidak ada cedera-cedera merah. Mengapa begitu jernih dan tetap bersih?"

Bok Siu berpikir sebentar dan berkata: "Mungkin dibelit oleh rumput-rumput telaga?"

sepasang mata Suma Siu Khim bercahaya, "Betul" la membenarkan dugaan itu. "Tolong kau jaga, aku mau masuk memeriksa."

Sesudah itu betul- betul Suma Siu Khim menerjunkan diri masuk ketelaga Tay-pek-tie, menyelidiki kemisterius kehilangan puteranya . Air telaga berombak sebentar, bergenang, kemudian tenang kembali.

Dengan tenang Bok Siu menantikan ditepian telaga Tay- pek-tie. Kadang-kadang celingukan kekanan dan kekiri takut kalau golongan Kalong itu balik kembali, inilah yang dikuatirkan.

Tidak lama kemudian, keragu-raguan Bok Siu itu menjadi kenyataan, hatinya berdebar-debar keras. Satu bayangan bintik hitam meluncur dengan cepatnya menuju ketempat dia berada,

Memperhatikan betul-betul kearah bayangan tersebut, didepan Bok Siu sudah berdiri seorang pengemis berambut kusut, bermata besar, bermulut lebar, orangnya mengenakan pakaian compang- camping yang sangat kotor tubuhnya juga cukup rumit. Bok Siu mengeluarkan pedang melintangkan didepan dadanya sambil membentak: “Hei, apa maksud kedatanganmu?"

Melihat cara-cara Bok Siu yang bermusuhan, pengemis yang baru datang itu mundur tiga langkah. Matanya terbelalak dan berkata keras: "Eh. nona dari mana yang begini galak?

"Kalau tidak mau digalaki lekas menyingkir dari tempat ini." Bentak Bok siu.

Pengemis itu memonyongkan mulutnya lebar- lebar dia terawa menyeringai dan berkata: "daerah telaga Tay-pek-tie ini sudah menjadi hak warisanmu?" Mendapat tegoran yang seperti itu, Bok Siu bingung juga

. Tapi secepat itu pula ia membentak:

"Walaupun bukan hak milikku. tapi aku berhak untuk mengusirmu pergi dari tempat ini."

“Ha ha .... " Berkata pengemis itu. "Aku can Sa Jie berkelana dirimba persilatan belum pernah menemukan seorang gadis galak yang seperti ini."

orang yang datang, adalah sipengemis kecil, can Sa Jie.

Nama itu tidak asing bagi Bok Siu, sikapnya yang bermusuhan agak mereda. ia bertanya: "oo.. Kau yang bernama canSa-jie? Murid ketua perkumpulan pengemis ?"

Dengan bangga can Sa Jie menganggukkan kepala dan berkata:

"Ya Kau tidak kenal kepadaku. tapi aku bisa menduga asal usul dirimu, kau adalah seorang jago baru yang baru terjun saja kedalam rimba persilatan- Tidak mempunyai pengalaman-pengalaman terang ."

Bok Siu menyimpan pedangnya, dimasukan kedalam kerangka, tertawa kecil dan berkata:

"Jangan sombong Kita belum pernah bertemu muka, tapi masing-masing sudah mengetahui dan mengagumi nama masing-masing, ilmu kepandaianmu belum tentu berada diatasku."

"Apa betul?" berkata can Sa Jie. "coba sebutkan namamu. Kalau betul namamu lebih harum dan berada diatas kedudukanku, aku can Sa Jie memberi tiga anggukan kepala sebagai tanda penghormatan."

"IHei, apa kau belum pernah dengar disebutnya nama seorang jago baru yang bernama Phiauw-peng Kiam-kek Bok Siu?" "Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu? Aha?" can Sa Jie tertawa, "Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu adalah jago ternama baru, ilmu pedangnya memang luar biasa, memang dia lebih hebat dari namaku. Tapi Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu tidak mempunyai sangkut paut denganmu, lebih baik nona jangan menggunakan nama orang menakut- nakuti can Sa Jie."

Bok Siu tertawa berkikikan, dia berkata:

"Bagus Kau sudah mengakui keunggulan Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu?"

"Tidak bisa disangkal, ilmu kepandaian Bok Siu mungkin lebih tinggi dari pad aku tapi kau bukan Phiauw-peng Khiam-khek Bok Siu. Mengapa harus menggunakan namanya?"

"Terima kasih, nonamu inilah yang bernama phiauw- peng Kiam-khek Bok Siu."

can Sa Jie berlompat, ia berteriak:

"Bohong Phiauw-peng Kiam-khek Bok sia adalah seorang pria, sedangkan kau wanita."

Dengan wajah merah Bok Siu berkata:

"Apakah tidak pernah mendengar ada seorang wanita yang mengenakan pakaian pria?"

"Maksudmu," berkata can Sa Jie. "Phiauw-peng Kiam- khek Bok Siu itu adalah jelmaanmu?"

"sangat tepat," berkata Bok Siu menganggukan kepala. "Aku tidak percaya," berkata can Sa Jie menggeleng-

gelengkan kepala. "Aku tidak bisa masuk kedalam perangkapmu." "Bagaimana kau bisa perCaya kalau aku ini betul- betul Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu?" berkata sigadis.

can Sa Jie mengkerut-kerutkan jidatnya, ia bingUng juga

. "bagaimana aku bisa perCaya?"

Bok Siu menunjuk kearah permukaan air telaga Tay-pek- tie, ia berkata:

"Sebentar lagi Lauwcu rimba persilatan dari gunung Tay- pa-san bisa membuktikan keteranganku, kaupercaya kepada keterangan Lauwcu rimba persilatan, bukan?"

Bersamaan dengan ditunjukkan permukaan air telaga itu, disana muncrat beberapa percikan air, kepala Suma Siu Khim menongol diatas permukaan, dan menggayuh ketepi.

Wajah Suma Siu Khim pucat pasi, dengan berat dan payah, dia merambat kesebuah batu naik kedaratan membaringkan dirinya. dengan napas sengal-sengal dan dada berombak, dia terbaring putus asa.

Mudah diduga Suma Siu Khim tidak berhasil menemukan jejak putranya.

Bok Siu lompat kearah penguasa rumah penjara rimba persilatan itu, mengurut-urutnya dan bertanya

"Bibi, bagaimana keadaannya?"

"Nihil" Suma Siu Khim menggelengkan kepala dengan lemah. "Biarkanlah aku istirahat sebentar."

can Sa Jie mendekati Bok Siu, dengan suara perlahan bertanya "Dia itukah yang menjadi Laucu Penjara rimba persilatan?"

Bok siu menganggukkan kepala, berkata:

"Bibiku ini adalah Lauwcu rumah penjara rimba persilatan digUnung Tay-pa San?" Lagi- lagi can Sa Jie terlompat hampir dia berteriak

"Lauwcu rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay- pa-san- Lauwcu rumah penjara juga seorang Wanita?"

"Dia adalah ibu Cin Hong" berkata Bok Siu perlahan- "Kenal kepada Cin Hong?" can Sa jie

lebih terkejut lagi, matanya direntangkan lebar-lebar dan berkata:

"Cin Hong? Mengapa tidak kenal? Kami adalah kaWan lama. Dahulu, aku ditugaskan olehnya pergi ke gunung Kun-lun, Go-bie, cong-lay, Swat-San dan Tian-peng, memberitahu kepada mereka akan datangnya penyergapan golongan Kalong, siapa sangka mereka sudah dapat berita ini. membuat aku lari ubek-ubekan seCara perCuma. Kini aku sedang mencari jejaknya, kemarin tiba di bawah gunung, disaat aku membaringkan diri istirahat di sebuah ranting pohon, banyak suara berisik datang kearahku, siapa mereka? o.. ..mereka adalah rombongan golongan Kalong ketua golongan Kalong, dan beberapa orang berambut merah.

Mereka berada di bawahku dan membicarakan sesuatu yang sangat rahasia, dikatakan kalau mereka itu sedang berusaha menyerang rumah penjara Tay-pa-san- Dan rencana berikutnya mereka hendak menyerang rumah penjara di gunung Bu-san, diceritakan bagaimana kejadian ditelaga Tay-pek-tie, seolah-olah ada yang terluka. Wah Tidak bisa main-main, nah, maka begitu mereka berangkat pergi, aku menuju kemari, hendak mengecek kebenarannya. Apa kau tahu, dimana Cin Hong berada?"

Mata Bok Siu menjadi basah, mulutnya menjebir ke arah telaga Tay-pek-tie, ia berkata sedih: "Dia terjun kedasar telaga, mencari kotak ajaib, dan sehengga saat ini dia belum muncul kembali. Kukira.....kukira dia sudah mati. "

"Aha Apa betul ada kejadian yang seperti ini?" berkata can Sa Jie teriak.

"Belum kuperiksa. "

Tanpa buka pakaian lagi, can Sa Jie lompat dan terjun ketengah telaga Tay-pek-tie, menyelam dan mencari jejak Kim Hong.

Bok Siu tidak menyangka sifat-sifat can-Sa Jie yang begitu mementingkan persahabatan, ternyata can Sa Jie mempunyai hubungan baik dengan Kim Hong. Mendengar berita buruk dari keadaan sang kawan, ia segera terjun kedasar telaga.

Bok siu malu kepada diri sendiri, disini dia bisa membuktikan jiwa kepatriotan dari golongan pengemis, dia malu kepada diri sendiri untuk berpegang dengan nama harum.

Suma Siu Khim beristirahat sebentar, perlahan-lahan dia bangkit menuju kearah Bok Siu, dia berkata

“Heran Betul- betul heran"

"Apa yang mengherankan?" bertanya Bok Siu. "Bibi tidaK menemukan sesuatu?"

Suma Siu Khim menggeleng-gelengkan kepala, berkata "Sudah kujelajahi seluruh dasar telaga Tay-pek-tie, tidak

ada selembar bajUpUn yang menyangkut disana." "Mungkinkah dimakan ikan besar?" tanya Bok Siu.

Lagi- lagi Suma Siu Khim menggelengken kepala, dia menjawab: "Tidak mungkin. Di dalam telaga ini tak ada ikan yang besar. Batu cadas banyak, tapi tak ada yang mencurigakan-

"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Berkata Bok Siu heran. "Ya" Berkata Suma Siu Khim. "Bagaimana hal ini bisa

terjadi kecuali hanya satu jawaban, kecuali Tuhan Yang Maha Esa sudah merebut jiwa Kim Hong. Kecuali ini, tidak ada lain kemungkinan-"

"Aku tidak percaya."Berkata Bok Siu. .Bagaimana kalau Yang Maha Esa menjatuhkan hukuman ini kepada Kim Hong?"

"Inilah yang kubingungkan- Tuhan Yang Maha Esa mengapa harus menghukum Kim Hong? Semua kesalahan adalah hasil Karya kedua tanganku, tidak boleh dia menghukum Kim Hong. Apapun yang terjadi biar kupikul tanggung iawab sendiri. Tidak ada hubungan dengan Kim Hong, mengapa Tuhan Yang Maha Esa menjatuhkan hukuman kepada anakku? Huh Tuhan tidak adil Mulai saat ini, aku akan melakukan pembunuhan yang besar-besaran, aku akan mengadakan banjir darah yang lebih hebat, hendak kulihat Hukuman apa pula yang bisa dilakukan atas diriku?"

Bok siu bungkam dalam seribu bahasa. Disinilah letak perbedaan Bok siu dan Yo In-jie, kalau Yo In-jie itu nakal dan sering membantah, Bok siu lebih jinak dan lebih mudah dikuasai.

Suma Siu Khim bangun berdiri, dia mengajak Bok siu dan berkata

"Mari Kita pulang kerumah penjara, Biar bibimu memberi pelajaran ilmu silat, sesudah itu kita hancurkan semua anggota golongan Kalong. Sesudah itu, ah kukira telaga Tay-pek-tie ini adalah tempat bersemayam untuk selama-lamanya ."

Bok Siu berkata:

"Bibi, biar kita tunggu dia lagi sebentar. Dia baru menyelam kedasar telaga."

"Dia bisa apa? Sedangkan akupun tidak ada hasilnya."

Disaat ini, air telaga bergolak. kepala can Sa Jie nongol keluar, dia berenang ketepi dan lompat naik.

Bok Siu lari menghampirinya dan bertanya: "Saudara can Sa Jie, bagaimana keadaannya Ada penemuan?"

can Sa Jie menggelengkan kepala, dengan sedih berkata: "Habislah sudah. "

Bok Siu menyusut air matanya, dia bertanya kepada can Sa Jie:

“Hei, kau adalah salah satu temannya, mengapa kau tidak menangis?"

can Sa Jie mendongakkan kepala, memandang Bok siu dan berkata:

"Aku can Sa Jie pernah berjanji kepada diri sendiri, seumur hidupku tidak akan menangis."

Suma Siu Khim mengeluarkan kotak ajaib yang sudah kosong beserta dengan dua belas kunci-kunci emasnya, dilempar ketelaga Tay-pek-tie, menggapaikan tangan kearah Bok Siu dan berkata

"Mari Tidak perlu dicari lagi?"

can Sa Jie memberi hormat kepada Suma Siu Khim, ia berkata

"Liuweu boanpwe ada satu pengharapan." "Urusan apa?" bertanya Suma Siu Khim.

"Sudan lama boanpwe tak bertemu dengan suhu boaopwee. "

"Aku tahu." Suma Siu Khim menganggukkan kepala. "Kau ingin menemuinya?"

can Sa Jie menganggukkan kepala berkata:

"sebelumnya, boanpwee mengucapkan banyak terima kasih."

"Itulah" berkata Suma siu Khim. "Kau bebas bertemu dengannya. Didalam krisis dan kehancuran rumah penjara rimba persilatan, semua tidak kupikirkan lagi."

Bertiga meninggalkan telaga Tay-pek tie, menuju kearah gunung Tay-pa-san.

Ditenguh jalan, Bok Siu menceritakan dengan lebih jelas, dan mulai saat itulah can Sa Jie mengetahui duduknya perkara.

Disaat waktu sudah menjadi gelap. mereka tiba disuatu dusun kecil, saat ini luka Suma Siu Khim tidak tertahan lagi. Luka penderitaan bathin dan luka bekas pukulan Mobilson- Hamid sudah membuktikan keunggulannya.

Setelah Suma siu Khim melakukan perjalanan satu hari penuh yang terus menerus, ia tidak bisa bertahan lagi. Memuntahkan beberapa gumpal darah, jatuh ditepi jalan-

Beruntung Bok Siu membawa obat-obatan, dihadiahkannya beberapa butir obat kuat sehingga banyak membantu usahanya Suma siu Khim,

Mereka tidak meneruskan perjalanannya itu, mencari sebuah rumah penginapan untuk bermalam. Bok siu adalah seorang gadis yang penuh open dan telaten, dengan penuh prihatin, ia merawat kesehatan Suma Siu Khim. biasanya dia berkelana dengan memegang pedang, ia mengenakan pakaian pria, belum pernah melakukan sesuatu yang sangat kecil itu. Hanya beberapa waktu, Bok siu sudah memecahkan beberapa cangkir dan menumpahkan air keduanya sangat canggung sekali.

Atas ketidak becusan Bok siu melayaninya Suma Siu Khim tidak bisa jadi marah, malah ia terharu atas kesediaan Bok Siu, teringat bagaimana dia telah menolak rara Cinta Suhu Bok siu. dia semakin terharu.

"Bok Siu," dia memanggil pelahan. "Aku mempunyai satu permintaan, entah bagaimana usulmu "

"Perintah sajalah," berkata Bok siu.

"Kau bersedia?" Bertanya Suma Siu Khim. "Segala sesuatu akan kulakukan-" jawab Bok siu.

"Baik, Aku memberi perintah agar kau segera istirahat."

Bok siu tertegun, Sangkanya permintaan apa, tidak tahu hanya kata-kata yang seperti itu. dia berkata:

"Bibi, keadaan badanmu belum baik betul."

"Eh, kau tidak mendengar perintah?" Suma siu  Khim jadi kewalahan-

"Baiklah." Bok siu menghela napas, "Aku menggunakan kamar disebelah, kalau bibi membutuhkan sesuatu, panggil sajalah."

Betul-betul Bok Siu meninggalkan kamar Suma Siu Khim. masuk kedalam kamarnya. Malam berlarut.......

Disaat kentongan sudah dipukul tiga kali, keadaan sudah semakin sepi. Suma siu Khim duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya. Ia membenarkan letak-letak tempat jalan darah yang sudan tergetar.

Tiba-tiba telinga Suma siu Khim yang tajam bisa menangkap sesuatu, hatinya tergerak, memasang kuping lebih tajam.

Suara itu sirap untuk beberapa saat, dan tiba-tiba terdengar lagi suara bletak......

Suara itu keluar dari kamar sebelah, itulah kamar Bok siu.

Suma siu Khim memanjangkan kuping, tidak terdengar suara lain- Maka timbul kecurigaannya, dia mengetok papan dan bertanya, "Bok Siu, apa kau sudah tidur?"

Sangat sepi, tak terdengar jawaban Bok siu.

Ini lebih mencurigakan suma Siu Khim, sebagai seorang jago silat, seharusnya Bok siu bisa melatih diri. Walau dalam keadaan tidur pulaspun, mendapat tegoran itu seharusnya dia bangun.

Tapi tak ada jaWaban- Mungkinkah sudah terjadi sesuatu,?

Suma Siu Khim meninggalkan pembaringannya, lompat dan menuju kekamar Bok Siu. Mengetok beberapa kali, masih tidak terdengar jaWaban, dia menggebrak pintu dan menerjang masuk. "Bias ".

Diatas pembaringan sudah tiada orang, kain sprei agak kusut, disana sudah kehilangan jejak Phiauw-peng Kiam- khek Bok Siu

"Huh" Suma Siu Khim mengeluarkan suara dari hidung seperti apa yang sudah diduga, betul- betul terjadi sesuatu. Apa yang sudah terjadi? Suma Siu Khim mempunyai pengalaman yang luas, daya pikirannya cepat dan tubuhnya melejit, mendorong jendela dan melesat keluar.

Secepat itu pula, mata Suma Siu Khim yang lihay bisa menangkap sesuatu, lantas mengurangi gerakannya dia menunjukkan tangan, pada dinding jendela tampak secarik kertas begitu tubuhnya melesat keluar, tangannya sudah meraih kertas tersebut dan diseretnya keluar pula. Dia berada diluar pekarangan, membaca tulisan yang ditarik tadi yang berbunyi:

"Kalau ingin menemukan keponakan muridmu, lekas pergi kerumah penjara yang baru digunung Bu-san."

Aaaah Tindak tanduk rumah penjara Bu-san semakin misterius, semakin berani, lagi- lagi menculik wanita.

Kalau wanita biasa, mungkin tidak menjadi soal, yang penting yang diculik itu adalah keponakan murid Suma Siu Khim, penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san yang gagah perkasa, iblis betina yang tidak pernah menemukan tandingan-

Kemarahan Suma siu Khim meluap-luap. dia lompat keatas genteng, memeriksa sekelilingnya, sunyi senyap. tiada bayangan dan tiada sesuatu yang mencurigakan. Dia sedang memikir-mikir, kemana larinya arah penculikan itu? Hah Gunung Bu-san terletak didaerah tenggara, pasti mereka menuju kearah itu.

Disaat Suma siu Khim hendak meluncurkan kakinya menuju kearah tenggara, tampak suatu bayangan lompat keluar dari salah satu kamar rumah penginapan, itulah bayangan can Sa Jie, can Sa Jie mendatangi Suma siu Khim, dia bertanya: "Lauwcu, apa yang terjadi?"

Dengan uring-uringan Suma siu Kim berkata: "Bok Siu diculik oleh orang-orang dari gunung Bu-san-" "Aaaa" can Sa Jie berteriak. "Bagaimana baiknya?"

Suma Siu Khim tidak perlu menjawab pertanyaan can Sa Jie, kakinya melejit diarahkan tenggara. Ia meluncur dengan keCepatan tiada tara, menuju kearah gunung dan mengejar orang yang berani menculik Bok Siu itu."

can Sa Jie mengintil dibelakangnya, tentu saja dengan memforsir semua kekuatan yang ada. Di dalam sekejap mata lima puluh lie telah dilewatkan-Jaraknya dengan Suma Siu Khim aemakin lama semakin jauh, akhirnya kehilangan bayangan iblis betina itu,

Di saat ini, Waktu sudah menjadi pagi, can Sa Jie tak bisa mengikuti keCepatan Suma siu Khim. Dia duduk istirahat, untuk mencari sesuatu dengan lebih teliti. Suma siu Khim tidak menemukan jejak dari orang-orang yang menculik Bok siu, begitu juga keadaan canSa Jie tidak berhasil menemukan orang-orang yang sudah menculik Piauw-peng Kiam-khek Bok Siu. Mereka sudah berada di tempat yang tidak jauh dari gunung Tay-pa-san-

Di saat can Sa Jie Celingukkan kekanan dan kekiri, tiba- tiba tiga bayangan meluncur datang. keCepatannya luar biasa, seolah-olah bintang yang jatuh dari langit, mereka datang dari arah timur. Itulah jago-jago silat tiada tandingan-

can Sa Jie bersiap siaga kedatangan musuh, dia menyembunyikan diri di balik pohon, pikirannya bergumam "Jago silat dari mana yang datang?"

can Sa Jie sedang memikir-mikir, jago dari mana pula yang memiliki kepandaian hebat seperti ketiga bayangan ini? Mengingat semua jago rimba persilatan sudah dijebloskan kedalam kamar tahanan rumah penjara Tay-pa San dan rumah penjara Bu San, mana mungkin ada jago yang begitu hebat pula?

sepintas lalu, gerakkan ketiga bayangan itu tidak kalah dari gerakan Sang Suhu Sam-kie-hui-sian-to tiga tokoh ajaib itu.

Sebentar kemudian, ketiga bayangan sudah berada di depan can Sa Jie. Mereka terdiri dari dua kakek dan seorang nenek, wajah itu tidak asing bagi can Sa Jie. Karena wajah itu adalah wajah It-hu Sianseng To Lok Thian, wajah can Sa Sian Sie Koan dan wajah Thian-san Soat Po-po Sie siong In-

Mereka adalah tiga tokoh ajaib yang terkurung dalam kamar tahanan rumah penjara Tay-pa-san-

can Sa Jie berteriak girang, keluar dari tempat persembunyiannya, memberi hormat kepada sang suhu dan barkata

"Suhu, bagaimana kau bisa bebas dari kamar tahanan Tay-pa San?"

It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po dan can Sa Sian juga terkejut atas hadirnya si pengemis kecil di tempat itu. Terlebih- lebih can Sa sian, rasa girangnya tidak kepalang, diangkatnya pundak sang murid digoyang-goyangkannya dan berkata: “Ha-ha-ha-haa.... bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"

Dikocok pulang pergi seperti itu, kepala can Sa Jie pusing tujuh keliling, keadaan murid dan guru can Sa Jie dan can Sa sian memang agak luar biasa, agak kekonyol- konyolan- Tentu saja ia menjadi kebingungan. It-hu Sianseng tertawa dan berkata:

"Saudara can Sa Sian, lepas dahulu peganganmu itu. Biar muridmu bisa beri jawaban-" can-sa sian terCengang, dilepaskannya pegangan yang menggoyangkan tubuh melewekan mulut dan bertanya:

"Ya can Sa Jie, bagaimana kau bisa berada disini?

Sesudah perpisahan kita, apa saja yang kau lakukan?"

Baru sekarang can Sa-jie mempunyai kesempatan bernapas, pertama-tama ia memberi hormat kepada It-hu Sianseng dan Thian San Soat Po-po. Sesudah itu baru ia menghadapi gurunya, dengan tertawa cekakak-cakikik berkata

"Suhu, adanya teeCu berada ditempat ini tidak begitu mengherankan- Apa saja yang teeCu lakukan, juga kurang penting, yang heran bagaimana Suhunya sekalian bertiga bisa melarikan diri dari rumah penjara Tay-pa-san?"

Mendapat pertanyaan itu, can Sa Sian agak marah, karena itu membentak pada sang murid:

"Kau kira gurumu ini mau melarikan diri?"

Dengan tertawa can Sa-jie bertanya: "Apa suhu bertiga berhasil memenangkan sayembara?"

Dengan wajah geram can Sa sian berkata.

Betul-betul can Sa Jie terkejut. dia hanya hendak mencemoohkan guru itu dan menggoda, atau mengilik ngilik, ternyata betul-betul terjadi.

"Bila tahu memenangkan sayembara?" Ia bertanya. can- sa sian berkata:

"Baru saja kemarin sore, kita Sam-kie-hui-sian-po tiga orang yang mendapat panggilan tiga tokoh ajaib dari rimba persilatan berhasil memenangkan sayembara itu, masing- masing bisa menerima sepuluh jurus penyerangan penguasa rumah penjara rimba persilatan- Dengan gagah dan gilang gemilang, kita keluar dari rumah penjara Tay-pa San-" can Sa Jie menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, memiringkan tubuh memandang sang Suhu dengan penuh kecurigaan, bertanya:

"Suhu kalau mau membuaL membualah dihadapan lain orang. Mengapa membual dihadapan murid sendiri? Kebohonganmu itu segera bisa terbuka. Lebih baik terus terang saja berkata, baru saja Suhu melarikan diri dari rumah penjara. Lebih enak bukan?"

Dengan marah can Sa-sian membentak,

"Kurang ajar Siapa yang membual, siapa yang mau melakukan kebohongan? Siapa yang mengatakan, kalau aku can-sa-sian melarikan diri dari rumah penjara Tay-pa San? "

can Sa Jie melompat, ia berteriak kaget:

"Suhu menempur penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-San?"

"Tentu saja." Berkata can sa sian "Kami bertiga memenangkan sayembara itu juga berhasil menerima sepuluh jurus pukulannya, maka bebas  keluar meninggalkan rumah penjara,"

"Bila hal itu terjadi?" Bertanya can Sa Jie.

"Dengar baik-baik. inilah keterangan yang kedua kali. "Kemarin sore." berkata can-sa-sian, "Kemarin sore kita telah memenangkan Sayembara Tay-pa San-"

Betul-betul can Sa Jie menjadi bingung. ia bertanya "Kemarin sore? Kemarin sore Lauwcu rumah penjara

Tay-pa-san mana bisa berada ditempatnya? "

Dengan menekuk mukanya mesem-mesem, can-sa-sian membentak: "Siapa yang bilang tidak ada, kemarin pagi dia pulang kerumah penjara, sesudah itu mendatangi kamar naga. menyemoohkan dan menghina kita, dikatakan, apa guna tiga manusia ajaib Sam-kie-cui sian-po? Nyalinya kecil seperti tikus, dikasih kesempatan menantang sayembara sampai tiga kali, satu kalipun tidak berani menantang....

Karena itu aku marah. Segera aku kirim tantangan perang. Betul saja Rejekiku sangat baik, Aku bisa menerima serangannya sampai cukup sepuluh jurus. Kalau diingat- ingat kembali, pertempuranku itu adalah pertempuran yang terbesar. Prestasi yang terhebat. Itulah pertempuran yang mengandung sejarah. Kemenangan yang paling gemilang."

can Sa Jie masih ragu-ragu, menoleh kearah It-hu Sianseng dan bertanya: "It-hu Cianpwee, apa betul-betul ada kejadian yang seperti ini ?"

It-hu Sianseng menganggukkan kepala, dengan tertawa berkata:

"Tentu saja betul. Mana ada kata-kata yang main-main, eh, can sa-jie, mengapa tidak perCaya kepada keterangan guru sendiri?"

can-Sa jie lagi-lagi dipaksa menggaruk kepalanya sendiri, berkata:

"Dua jam yang lalu. aku can Sa-jie bersama-sama dengan Lauwcu rimba persilatan digunung Tay-pek san. Dari kemarin hingga hari ini. Belum pernah berpisah dengannya."

Thian San Soat Po-po segera mengeluarkan suara bentakan:

"Bocah kurang ajar. Bohong. Betapapun hebatnya ilmu kepandaian Lauwcu rimba persilatan tidak mungkin bisa lari begitu cepat. Didalam satu hari, dari puncak gunung Tay-pek San-"

"Betul heran," berkata can-sa-jie. "Sebentar berada dipuncak gunung Tay-pek-san, sebentar berada di gunung Tay-pa-san- Apa mungkin ada dua Lauwcu rumah penjara rimba persilatan Tay-pa San?"

can Sa-sian mendelikkan matanya, membentak sang murid:

"Bagaimana kau tahu, kalau orang yang mendampingmu itu adalah Lauwcu rimba persilatan Tay-pa San?"

can Sa Jie menceritakan kejadian kemarin, diceritakan juga bagaimana Kim Hong terjun kedalam telaga Tay pek tie dan lenyap

It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po dan can Sa Sian terjengkit kaget, mereka saling pandang, dan disaat mendengar Cerita Yo in-jie yang mengikuti Pan-su Lonnie, bersedia mencukur rambut, siap menerima anugrah biarawati. Thian san Soat Po-po keluarkan lengkingan-

"Bohong......,Bohong.........Budak itu betul-betul sedang main gila......Satu hari tidak makan ikan saja, cukup membuatnya kelojoran, bagaimana dia bisa jadi orang suci?"

It-hu Sianseng tertawa berkakakan, seperti tertawa orang gila, digoyang-goyangkannya pundak can Sa Sian dan berkata:

"Saudara can-sa sian, coba kau katakan apa betul muridku begitu pendek umur? Didalam telaga Tay-pek-tie? Ha hua ha ha ha "

can Sa-sian membentak: "Jangan Cepat menjadi gila Kalau betul-betul tidak ada jenazahnya. Mana boleh dikatakan mati. Aku sipengemis tidak perCaya."

It-hu Sianseng berkata:

"Mari kita bersama-sama ketelaga Tay-pek-tie."

"Tunggu dulu" berkata can sa-sian- "Kita harus kembali kerumah penjara, menyelidik kebenaran dan kemisteriusan Lauwcu rimba persilatan kalau saja orang yang menempur kita pada kemarin itu bukan Lauwcu rumah penjara Tay- pa-san, bagaimana akibatnya? Didalam tanggapan pertempuranku yang kemarin itu adalah tandingan hebat, kini, setelah kupikir pulang pergi banyak sekali kecurigaan- kecurigaannya. "

"Ya," Thian-san Soat Po-po turut bicara, "Siapa Lauwcu rimba persilatan itu?"

Thian-san Soat Po-po mengerang dan mengulang jalannya pertempuran, orang berkerudung itu memang memiliki ilmu kepandaian Lauwcu rimba persilatan, tapi tidak segesit yang dahulu, tidak sehebat Lauweo rimba persilatan yang lama, siapa orang yang memalsukannya?"

It-hu sianseng. Thian-san Soat Po-po, dan can-sa sian tak bisa menduga-duga siapa tokoh misterius yang berani memalsukan Lauwcu rimba persilatan?

Ketiga jago tua itu berembuk. masing-masing mengajukan pendapat, bagaimana rencana selanjutnya.

It-hu sianseng masih terkenang kepada Kim Hong, dia mengusulkan untuk ber-sama2 menuju ketelaga Tay-pek-tie mencari bangkai Sang murid,

Thian San Soat Po-po lebih sayang kepada murid sendiri, dia mengusulkan mencari tempat yang bernama lembah patah Hati, mencari Yo in-jie, maksudnya untuk ditarik kembali.

can-sa-sian mempunyai usul lain, diajaknya mereka pulang kerumah penjara Tay-pa-san, menyelidiki asal usul Sitokoh misterius.

Tidak ada kesepakatan yang sama, masing-masing  ngotot dengan usul sendiri, pertandingan itu menjadi tegang.

Can Sa-sian hanya bisa mengikuti  jalannya pertandingan, demi perdamaian, dia memberi usul lain, katanya:

"Lebih baik kita menuju kegunung Tay-pa-San, setelah itu balik ketelaga Tay-pek tie. harus mencari tempat yang bernama lembah Patah Hati."

Dia menyatakan ketiga usul, dengan urutan yang tidak sama.

"Aku tidak setuju."" berkata Thian-san Soat Po-po. "Lebih dahulu lembah Patah Hati, baru urutan yang lain-"

"Dimana lembah Patah Hati?" bertanya can Sa Jie. "Kalian tahu tempat itu?"

Thian-san Soat Po-po mendelikkan mata. Nama lembah Patah hati baru pertama kali didengar, bagaimana bisa memberi petunjuk? Kalau dia tahu letak tempat nama itu, tanpa bilang Ba atau Bu, tanpa kompromi lagi tanpa bantuan orang keduapun, dia bisa pergi seorang diri. can Sa Jie berkata:

"Bukan saja kita harus membongkar rahasia kemisteriusan orang yang memalsukan Lauweu rimba persilatan Tay-pa-san, kita juga harus membantu rumah penjata itu mengusir musuh yang akan menyerbu datang, Maka, Cara pertama harus kegunung Tay-pa San"

"Mengapa harus membantu rumah penjara Tay-pa-san?" bertanya Thian San Soat Po-po. can Sa Jie berkata:

"Penguasa rumah penjara Tay-pa-san adalah lbu Kim Hong. orang-orang golongan Kalong hendak menyerbu dan mengambil alih tempat itu, tentu saja kita tidak bisa berpeluk tangan-"

Diceritakannya jalan bertandingan yang pernah diceritakan oleh Bok Siu, bagaimana Hamid itu hendak mengambil alih rimba penjara Tay-pa-san."

It-hu Sianseng bisa diberi mengerti, ia menganggukan kepala berkata,

"Baiklah, tapi apakah tidak lebih baik kita menyelidiki kemisteriusannya kematian Kim Hong?"

can Sa Sian berkata

"Kuberi tanggung. Kim Hong itu belum mati, coba saja pikir, kalau seseorang yang mati didasar telaga bagaimana tidak ada bekas2nya? Bagaimana mayatnya tidak terapung? Tentu dasar telaga itu ada jalan rahasianya entah kemana jalan rahasia itu menembus."

It-hu Sianseng memandang kearah can Sa Jie dan bertanya

"Menurut Ceritamu, golongan kalong bersatu padu dengan sembilan jago dari daerah Tay-wan-kok, hendak menyerbu rumah penjara rimba persilatan?"

"Mungkin hal ini terjadi pada enam hari lagi." berkata canSa-sian, "Kaena pemimpin mereka yang bernama Hamid itu sedang menderita luka." "Aha" It-hu sianseng berteriak girang. "Kalau betul saja enam hari lagi, aku masih mengusulkan pendapatku, kita menuju ketelaga Tay-pek-tie dahulu mencari Kim Hong."

Usul ini hampir mendapat persetujuan, Thian-san Soat Po-po terdiam. can-sa sian tak membuka suara. Terlebih- lebih can Sa Jie, ia juga bungkam.

Tiba-tiba.... Dari balik rimba muncul seorang berbaju putih, berperawakan keCil dan mungil, orang itu adalah salah satu anggota dari lembah Patah Hati.

"Usul yang tepat Tapi Telaga Tay-pek tie tak perlu dijelajahi lagi, Kim Kong tidak mati"

"Aha. " It-hu Sianseng berteriak girang,

"Kau?" can Sa Jie berteriak lebih girang. “Hooo. " can Sa sian juga terlompat.

Kita tinggalkan It-hu sianseng. Thian-san Soat Po-po. can sa-sian, can Sa Jie dan orang berkerudung putih dari Lembah Patah Hati itu.

-oo0dw0oo- Tiga hari kemudian-....

Waktu menjelang musim rontok. hari sudah menjadi sore, matahari condong dibagian barat.

Seorang wanita setengah umur menampilkan dirinya dibawah kaki puncak gunung Bu-san, berdiri didepan kelenteng Sin- li- hong. Wanita ini sangat Cantik, mengenakan ikat kepala berwarna hijau. Inilah iblis betina yang pernah meringkus semua jago rimba persilatan, ibu dari Kim Hong yang ugal-ugalan, Suma Siu Khim yang hendak menemukan Bok siu didalam penculikkan orang- orang rumah penjara Bu-san, sekalian menemukan beberapa rahasia penting, termasuk aCara siapa yang berani memalsukan dirinya melepas It-hu Sianseng bertiga?

Tidak lama dari kehadirannya Suma Siu Khim ditempat itu, seorang kakek bopengan tampil kedepan. Inilah bagian pendaftaran Bwee Houw An,

Dengan merendah diri, Bwee Houw An menyakslkan wajah Suma siu Khim, hati Bwee Houw An tercekat, wajah ini tidak asing lagi, Wajah ini adalah yang dinanti-nantikan olehnya, segera ia menyongsong menyambut kehadiran Suma siu Khim dan berkata: "Apa lihiap juga hendak mengikuti Sayembara?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepalanya, dengan dingin berkata

"Tepat Menurut cerita orang para pengikut sayembara diwajibkan membikin pendaftaran disini, adakah kejadian yang seperti itu?"

Bwee Houw An menyilahkan Suma Siu Khim masuk. dia berkata: "silahkan lihiap masuk."

Suma Siu Khim diberi buku pendaftaran, ia membuka buka beberapa lembar, menoleh kearah Bwee Houw An, dengan dingin berkata:

"ohJalannya perdagangan cukup ramai ya? Rumah penjara kalian hanya dibangun dalam waktu dua bulan, ternyata sudah berhasil menyekap dan mempenjarakan enam puluh lebih orang tawanan."

Dengan merendah diri, Bwee Houw An berkata

“Hanya satu pernyataan diri keCintaan para jago persilatan. Tentu saja rumah penjara kami tak bisa disamakan dengan rumah penjara digunung Tay-pa-san-

......" "Ya Keistimewaan rumah penjara kalian adalah menculik kaum. wanita dan gadis2," memotong Suma siu Khim dengan nada sangat tidak puas.

Bwee Houw An berkata dengan rendah diri "Kami kira penilaian yang kurang tepat. Menurut apa yang kami ketahui. rumah penjara Bu-san belum pernah menganiaya seorang wanita. Nah Silahkan lihiap membikin pendaftaran."

Suma Siu Khim masih belum mencatat namanya, memeriksa beberapa waktu menunjuk di nama Tamu Tidak Diundang dari luar daerah, dengan dingin ia berkata: "Apa betul orang ini tidak kuat menerima satu jurus serangan Lauwcumu?"

"Tentu saja," berkata Bwe Houw An- "Kedudukan Tamu Tidak Diundang dari luar daerah adalah orang tawanan nomor dua belas."

Suma Siu Khim membalik-balik lagi, menunjuk nama Oey Ceng dan bertanya "Bagaimana keadaan orang ini?"

Bwee Houw An menjawab,

"Dia adalah orang tawanan nomor lima puluh enam." suma Siu Khim bertanya