Tangan Berbisa Jilid 23

 
Jilid 23

Dua orang mencari rumah penginapan satu-satunya dikota tersebut. Dan yang lebih mengecewakan, disana hanya ada sebuah kamar kosong.

Tidur disatu tempat atau berpisah, tak menyulitkan Kim Hong, tapi Phiauw-peng Khiam-khek Bok siu tidak setuju, ia berteriak:

"Tidak mungkin- Aku tidak biasa tidur dengan lain orang, lebih baik kita meneruskan perjalanan saja."

Kim Hong tertawa nyengir, ia berkata: "Lukaku sakit lagi, satu malam saja kita bermalam disini." Bok siu mengerutkan alis, ia memberi alasan datang mengapa tidak mau bermalam di tempat itu, katanya:

"Aku belum pernah tidur bersama-ama orang lain- Hei, kau tidak tidur mengorok ?"

"Tidak." berkata Kim Hong, "juga tidak mencak- mencak."

Bok siu berpikir sebentar dan berkata,

"Baiklah. Tapi aku bisa menendang nendang, aku tidak biasa tidur dengan orang banyakkan. Kalau saja sampai menyulitkan dirimu, jangan sesalkan aku."

Sesudah itu, mereka memesan makanan makan didalam kamar. Keduanya bicara hingga larut malam. Sesudah malam larut, mereka naik ketempat tidur untuk istirahat.

Bok siu tidur tanpa ganti pakaian lagi, betul-betul ia tidak biasa tidur bersama-sama orang, Bolak-balik, gulang-guling ditempat tidur, tampaknya sangat gelisah.

Lama sekali kejadian seperti itu, akhirnya Bok siu pun tertidur. Tapi seperti apa yang sudah dikatakan, ia masih tidak bisa tidur tenang, tangan dan kakinya menendang kekanan kekiri mendesak Kim Hong, hal ini membuat sipemuda kelabakan, tertendang beberapa kali.

Akhirnya Kim Hong meninggalkan tempat tidur itu, duduk meringguk dikursi.

Disaat Kim Hong sudah hampir mengantuk, tiba-tiba terdengar suara panggilan Bok Siu. "Kim Hong toako ..."

Kim Hong sudah mengantuk sekali, tidak membuka matanya, dia menyahut: "Saudara Bok Siu, kau belum tidur?"

"Kim Hong toako ..." kata Bok siu lagi. "Kau.,,kau... eh, jangan lari" Kim Hong membuka matanya, dia heran. ternyata Bok siu sedang berada dialam impiannya. Terdengar suara Bok Siu mengoceh lagi. “Hei, jangan lari...Bah...mau pergi?... Aku tidak kesudian denganmu. "

Kim Hong meninggalkan kursinya, memperhatikan Phiauw-peng Kiam-khek yang mengimpi dan mengigau ditempat tidur.

Terdengar lagi impian Bok Siu, dan orang itu mengoceh terus:

"Ah...dia sudah begitu Cinta kepada sumoaynya, hanya gadis yang bernama.....Leng Bie Sian itu.....huh. "

Semakin diperhatikan, keadaan Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu ini semaKin aneh.

Kim Hong bisa membedakan, cara-cara tidur kawan tersebut yang tidak sama. Lebih mirip dengan cara tidurnya seorang wanita dari pada cara tidurnya seorang laki-laki. Lekukan-lekukan bentuk tubuhnya sangat ramping itulah ciri-ciri dari seorang gadis. Tiba-tiba terdengar lagi suara ingauan Bok Siu:

"Nggg......uh.....Sungguh...aku bukan menipu dirinya, aku memang begini....sedari kecil begini. sedari kecil aku

mengenakan pakaian laki-laki, bukan sengaja menipu Kim Hong. "

Hati Kim Hong lebih terkejut, dugaannya tidak meleset, betul-betul Phiauw-peng Kiam-khak adalah seorang gadis yang menyamar berpakaian pria.

Mengigau terus menerus adalah kejadian yang tidak baik, cepat-cepat Kim Hong memegang tangan Bok Siu dan memanggilnya perlahan: "Saudara Bok Siu.... Saudara Bok Siu. " "Ngg...." Bok siu memberi sahutan. Perlahan-lahan ia membuka matanya. dan ia sadar dari impian itu. Melihat adanya Kim Hong yang menyaksikan ia begitu rupa, wajahnya berubah, cepat- cepat menarik selimut menyelebungi dirinya. "Eh,... .aku menendang-nendang  dan menyusahkanmu?"

"Tidak " berkata Kim Hong tertawa.

Bok siu mengeluarkan elahan napas lega, menghindari kerlingan mata Kim Hong, ia berkata dengan tawar "Mengapa kau tidak tidur?"

"Aku tak bisa tidur." berkata Kim Hong.

Bok siu menggeser tubuhnya, memberi tempat kepada Kim Hong, dengan suara acuh tak acuh ia berkata

"Jangan memikir yang bukan-bukan. Tidurlah."

Kim Hong memandang dengan perasaan geli, diperhatikannya bagaimana Bok Siu itu menyingkap rambutnya, memanggil: "Saudara Bok Siu. "

suara ini juga mengejutkan Bok Siu, ia menoleh, dengan sungguh-sungguh bertanya "Ada apa?"

Dengan suara kecil, Kim Hong berkata: "Kudengar tadi kau sedang mengigau."

Bok siu Kaget, cepat- cepat ia lompat duduk dan bertanya,

"Apa yang sudah kukatakan?"

Kim Hong hanya tertawa, tidak menjawab pertanyaan itu.

Wajah Bok siu makin berubah, tiba-tiba menjadi merah. Menyingkap kain selimutnya, lompat meninggalkan tempat tidur mengambil pedang yang tergantung dan dia berjalan kearah pintu.

cepat-cepat Kim Hong menghadang didepan gadis itu, dengan kedua tangan dipaparnya kekanan dan kekiri, Kim Hong berkata: "Eh, mau kemana?"

"Minggir" berkata Bok Siu ma rah, "Aku tidak sudi berjalan dengan pemuda ceriwis, aku mau berangkat."

"Mengapa haruS berangkat sekarang?" bertanya Kim Hong,

Bok siu mendelikan matanya yang jeli, dengan mengertek gigi, menundukan kepala kebawah menahan rasa malunya dan berkata

"Kau.....kau... ,kau......sudah mengetahui rahasiaku, kalau kau betul sebagai seorang laki-laki Sejati, biarkan aku pergi,"

"Kepergianmu bukan berarti putus hubungan?" bertanya Kim Hong. BOK SIU menggelengkan kepala perlahan,

Kim Hong berpikir sebentar, ia berkata: "Tidurlah lagi.

Biar aku diluar, bagaimana?"

Wajah Bok Siu semakin malu, penyamarannya sudah terbuka, sedari kecil, ia mengenakan pakaian pria, sifat-sifat ini tidak bisa dirubah, karena itu ia berkata: "Tidak Lepaskan. aku. Biar aku pergi."

Kim Hong tidak memaksa, membuka pintu, dan ia berkata:

"Baik. Tapi.... kalau kita berjumpa dikemudian hari, bagaimana panggilan kepadamu ?"

Dengan suara yang sangat perlahan, Bok siu berkata: "Panggil saja nona Bok Siu." Sesudah itu, ia berjalan kearah pintu, menoleh kearah belakang sebentar, mengirim satu kerlingan yang menarik, dan melejitkan tubuh, ia lenyap dikegelapan.

Tidak lama, terdengir suara ketoprakan kaki kuda, Bok siu menunggang kudanya, semakin lama, suara kaki kuda semakin perlahan, akhirnya lenyap....

Kim Hong masih berpikir untuk beberapa waktu, benak pikirannya mengenang waktu berkenalan dengan Phiauw Peng Kiam-khek Bok siu.

Pertemuan yang pertama adalah diperjalanan ke Siauw- lim-sie, tiba-tiba saja muncul Phiauw Peng Kiam-khek Bok siu. membunuh mati Pocu cabang dari perkumpulan golongan Kalong,

Kesannya itu berdarah dingin, Walau Bok Siu menggunakan pakaian pria tetap menarik dan memikat.

Pertemuan yang kedua. adalah kemarin sore hari, tiba- tiba ia meminta Leng Bie Sian, mengatakan bahwa dia hendak memperistri Leng Bie Sian mencegah Kim Hong mengikuti sayembara dirumah penjara rimba persilatan yang baru.

Dan pertemuan yang ketiga.....ha-ha. bagaimanapun

penyamarannya, akhirnya terbongkar juga diatas tempat tidur.

Ah...... Bok siu adalah seorang gadis yang cantik dan memikat.

Kim Hong kembali lagi ketempat tidur, tempat itu bekas dibaringi Bok Siu, semacam hawa seorang gadis masih mengendus hawa avons? ia tidak bisa menenangkan pikirannya, Kim Hong gelisah sendiri. Tidak lama kemudian akhirnya Kim Hong berhasil juga menguasai situasi yang seperti itu, ia memeramkan mata.

Tiba-tiba saja Kim Hong dikejutkan ada seorang menowel, dan dengan suara yang adem, seorang itu berkata:

“Hei Kukira kau sudah tidak bisa tidur pulas lagi. Hayo bangun Ikut aku "

Kin Hong lompat meletik, didepannya berdiri seorang berbaju hitam, bersepatu hitam. itulah penguasa rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san.

Aaaa...inilah ibunya yang bernama Suma Siu Khim "Kau...," Kim Hong terkejut.

Suma Siu Khim mengeluarkan emas dari dalam kantong bajunya, ditaruh diatas meja sebagai pembayaran sewa rumah penginapan, sesudah itu ia berkata kepada Kim Hong: "Mari kita berangkat "

Kim Hong menurut, mengambil buntalannya, dan meninggalkan kamar itu.

Bersama-sama dengan Suma Siu Khim yang tetap mengenakan kerudung muka hitam, Kim Hong mengambil kudanya, meninggalkan rumah penginapan.

Suma Siu Khim masih tetap menggunakan kerudung muka, ia tidak tahu, kalau Kim Hong itu sudah mengetahui penyamarannya, dengan sikap yang dingin, acuh tak acuh dia mengajak Kim Hong.

Kim Hong tidak membongkar rahasia itu, dia juga mengikutinya dengan hati yang kebat-kebit.

Beberapa Saat kemudian, suma Siu Khim bertanya: "Kau sudah menantang rumah penjara digunung Bu San ?"

"Tidak jadi." jawab Kim Hong menggelengkan kepala, Suma Siu Khim menatap dan menoleh kearah Kim Hong, dengan suara keren dan berwibawa ia membentak, "Sebutkan alasanmu "

Kim Hong mengeluarkan sepucuk surat dari kantong bajunya, itulah surat Leng Bie Sian, diserahkan kepada sang ibu, dan berkata: "Bacalah Inilah surat dari muridmu."

Suma Siu Khim belum mau mengenal putranya, karena itu Kim Hong juga belum mau membongkar penyamaran sang ibu.

Suma Siu Khim gelisah, satu tanda dari gejolak hatinya yang tidak bisa ditenangkan-

Tangan Kim Hong juga agak gemetar, dia sedang berhadapan dengan ibu kandungnya. tapi sebuah garis pemisah yang tidak terlihat, meredakan hubungan baik itu. Suma Siu Khim tetap menggunakan kerudung hitam, Satu tanda bahwa penguasa rimba persilatan Tay-pa-san ini belum mau mengakui putra sendiri.

Tampak Suma Siu Khim baca isi surat, dengan mendadak ia menyobek-nyobek surat itu, mengeluarkan gerungan suara marah.ia berteriak. "Budak hina, berani memberi petuah kepadaku, betul-betul gila Gila "

Suara Suma Siu Khim dilagukan seperti suara pria.  itulah suara penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa San

Kim Hong merasa agak geli menghadapi ibu sendiri yang bersuara pria, marah-marah dan uring-uringan. Tentu saja ia merasa geli. Ibunya tidak mengetahui kalau penyamarannya sudah terbongkar, sangkanya tidak seorang yang tahu kalau penguasa rumah penjara itu adalah Suma Siu Khim yang bernama. Untuk sementara, Kim Hong tidak membongkar rahasia itu, dengan tertawa tertahan ia berkata,

"Kukira Leng Bie Sian tidak salah. Kau mengejamkan hatimu, memenjarakan begitu banyak tokoh-tokoh rimba persilatan, Maka, kini muridmu ditawan orang. Inilah akibat timbul balik dari perbuatanmu, kalau saja kau tidak membangun sebuah rumah penjara digunung Tay-pa-san mana mungkin ada rumah penjara baru digunung Bu San? Kalau kau tidak mempenjarakan begitu banyak tokoh-tokoh ksatria dirumah penjaramu, tidak mungkin simanusia banci Jie Hong Hu alias Jie Biauw Kow itu mendirikan golongan Kalong, simanusia banci Jie Hong Hu menjadi laki-laki disiang hari, dan menjadi wanita dimalam hari. Parbuatan ini adalah reaksi dari akibat dari cara-caramu yang membuat rumah penjara. Kau harus memikul tangguag- jawab."

Dengan marah Suma Siu Khim berkata: "Kalau aku tidak mau memikul tanggung jawab, bagaimana ?"

Kim Hong menghela napas, dengan menundukkan kepala ia berkata:

"Maka tidak mungkinlah tercapai harapanmu yang membangun dan mendirikan rumah penjara rimba persilatan itu. Kau mengadakan rumah penjara dengan maksud-maksud tertentu, maksudmu itu tidak mungkin bisa berhasiL"

Suma Siu Khim tertawa, dengan suara laki-laki, perlahan-lahan berkata:

"Urusan sipil, hei bergiliran aku yang bertanya, Kau sudah berjanji untuk menolong Leng Bie Sian, bukan?"

"Ya." Kim Hong menganggukkan kepala. "Tahukah kau berapa berat harga janji itu? Kini kau tidak mau menolongnya lagi. Mau menelan janji?"

"Sesudah kau membaca surat muridmu itu mungkinkah masih tidak tahu alasannya?"

"Buat apa mengikuti kemauan Leng Bie Sian? Kau tahu, bagaimana sayembara nomor tiga dari rumah penjara digunung Bu San ?"

Kim Hong berkata:

"orang yang bisa menerima satu gebrakan dari rumah penjara digunung Bu San, orang itu keluar sebagai juara. Dan mempunyai kesempatan untuk menolong istri, adik perempuan atau lainnya. Siapa saja yang hendak dipilih atau boleh memilih salah seorang gadis yang tertawan didalam rumah penjara itu, maka penguasa penjara digunung Bu San akan menikahkan."

"Betul," berkata Suma Siu Khim. "Tahukah maksud tujuan itu ?"

"Maksudmu, aku hendak dijodohkan dengan Leng Bie Sian ?" bertanya Kim Hong.

"Sudah jelas dan gamblang. kalau kau berhasil memenangkan pertandingan, penguasa rumah penjara baru dia berhak memaksa orang tawannya dijodohkan kepadamu. Tidak ada alasannya lagi yang bisa menolak."

"Tapi aku mengetahui, tak mungkin bisa memenangkan penguasa rumah penjara yang baru." jawab Kim Hong.

"Bohong" bentak Suma Siu Khim. "Tidak bohong"

"Paling sedikit kau bisa menerima tiga puluh jurus serangannya." "Tidak. Satujuruspun tidak bisa menerima."

"Begitu hebat?" Suma Siu Khim menatap Kim Hong dengan penuh kecurigaan.

Maka, Kim Hong menceritakan pertemuannya dengan seorang misterius yang bernama Oey Ceng, bagaimana Oey Ceng itu mendahuluinya menempur rumah penjara yang baru digunung Bu-san. Dengan hasil untuk kemenangan bagi penguasa rumah penjara yang baru.

"Seorang laki-laki yang bernama Oey Ceng?" penguasa rumah penjara lama Suma Siu Khim memperhatikan rasa tidak perCaya. "Didalam rimba persilatan tidak ada tokoh silat yang bernama Oey Ceng."

Kim Hong mengeluarkan batu Han-Giok milik Oey Ceng, batu Han-Giok itu sedianya dijadikan barang taruhan, bilamana Oey Ceng kalah, batu han-Giok harus diserahkan kepada Penguasa rumah penjara yang baru.

Kim Hong berhasil kembali, dan kini diserahkan kepada Suma Siu Khim seraya berkata: "Inilah barang yang paling disayang olehnya, ia pernah berkata, Han-Giok ini akan diserahkan kepada orang pertama yang bisa memenangkan pertandingan sayembara rumah penjara yang baru, dan berhasil kudapatkan."

Su ma Siu Khim mengambil batu han-Giok itu, wajahnya berubah. Bulak balik diperhatikannya, tiba-tiba ia berteriak seperti orang gila "Aa.......dia.........dia. "

"Dia Siapa?" bertanya Kim Hong.

"Dia adalah ayahmu" berkata Suma Siu Khim.

"oh" Kim Hong terbelalak. "orang yang mengaku bernama Oey Ceng itu adalah ayahKu?"

"Oey Ceng adalah samaran Kim Hoong" "Bagaimana kau tahu?"

Pertanyaan Kim Hong ini tentu saja ber-lebih2an, orang berkerudung serba hitam yang berada didepannya, Walau tetap menggunakan kedudukan sebagai penguasa rumah penjara yang lama itulah ibu kandungnya, mana mungkin Suma Siu Khim tidak mengenal kepada pusaka kesayangan suami sendiri?

Ai. pantas saja orang itu memiliki wajah yang hampir

sama dengan Kim Hong.

Kim Hoong dan Kim Hong adalah ayah dan anak tentu saja memiliki wajah yang hampir sama.

Oey Ceng adalah samaran Kim Hoong?

Suma Siu Khim berhasil menguasai gejolak hatinya, dengan tenang ia berkata:

"Dengar, aku pernah mendengar Cerita dari ibumu, kalau benda yang bernama batu Han-Giok ini, adalah benda pemberian ibumu yang diserahkan kepada ayahmu, inilah tanda pertunangan."

Kim Hong menatap sang ibu beberapa saat, tiba-tiba ia lompat kearah kuda dan dikabur kearah selatan.

Suma Siu Khim bergerak sangat Cepat, kini ia sudah sampai didepan kuda itu menghadang perjalanan Kim Hong dan membentak:

“Hei Mau kemana ?"

Kim Hong menarik les kudanya, menatap kearah ibu sendiri yang menggunakan tutup kerudung berwarna hitam itu, ia berkata:

"Aku hendak bertemu dengan ayah didalam rumah penjara yang baru. Aku hendak menantang penguasa rumah penjara baru itu." Suma Siu Khim berkata: "Kau tidak bisa memenangkan sayembara pertandingan dirumah penguasa penjara yang baru bukan ?"

"Aku bersedia duduk didalam rumah penjara, aku hendak menemani ayah disana."

"Apa artimu?" bertanya Suma Siu Khim dengan air mata mengucur keluar, Kim Hong berkata:

"Karena ibuku sudah tidak mau mengaku anak, maka aku hendak bersama ayah saja."

Hati Suma Siu Khim tercekat, ia bertanya

"Siapa yang bilang, kalau ibumu tidak. membutuhkanmu lagi ?"

Dengan menundukkan kepala kebawah, Kim Hong bertanya:

"Kalau ibu masih membutuhkan aku, mengapa sampai detik-detik ini tidak mau membuka tutup kerudung mukanya ?"

Suma Siu Khim lompat kebelakang, sepasang matanya bersinar terang menyorot kedepan. dan dia berkata:

"Siapa yang memberitahu? Ayahmu? Apa Leng Bie Sian

?"

"Leng Bie Sian," berkata Kim Hong. "Tapi ia membuka

rahasia tanpa disadari."

Mengetahui rahasianya sudah terbuka, Suma Siu Khim menghampiri putra itu, mengelus-elus rambutnya, berkata dengan mesra:

"oh, bukan sengaja. Bukan aku tidak mau mengenal, aku takut kalau kau meminta sesuatu yang bukan bukan2, seperti yang sudah kau tahu, keadaanku sangat sulit." "Kedudukan apa yang sangat sulit." bertanya Kim Hong,

"Kedudukanku mempunyai hubungan erat dengan jago- jago silat yang kutawan dalam kurungan-kurungan rumah penjara itu."

"Ibu. "

"Memang" berkata Suma Siu Khim,

"Adatku kurang begitu baik, "Aku tidak sengaja untuk menawan dan mengurung orang itu. maksudku hanya main-main saja. Tapi lihat Di dalam keadaan yang seperti ini bagaimaaa ibumu bisa membubarkan rumah penjara rimba persilatan? Apa lagi munculnya rumah penjara baru digunung Bu San- Apa yang dikatakan orang kepadaku? oh.

...."

"Kau tidak mau kepenjara digunung Bu-san, kau tidak mau menolong ayah dan Leng Bie Sian?"

"inilah maksadnya rumah penjara yang baru." berkata Suma Siu Khim, "Siapakah otak ini? Betul-betul aku tidak mengerti. Adanya ia membuat rumah penjara kembar tentu dengan maksud tertentu, dengan maksud menentang kedatanganku. Tapi tidak....tidak.... aku tidak mau datang ketempatnya"

"ibu." panggil Kim Hong. "Menurut apa yang kutahu, kau berjanji tidak turun gunung, hari ini kau sudah melanggar janji sendiri."

"orang yang tidak turun gunung adalah penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san." berkata Suma Siu Khim tertawa, "Apa lagi hal itu tidak pernah dijanjikan- Mengapa salah? Hari ini yang turun gunung adalah Suma Siu Khim." "Dimisalkan, disaat kau tidak berada digunung Tay-pa- san, datang pula tantangan-tantangan yang bagaimana ?"

"Tidak mungkin-" berkata Suma Siu Khim, "Sudah kupasang pengumuman, bahwa rumah penjara Tay-pa-San istirahat satu bulan."

"Haa, haa. " Kim Hong tertaWa.

"Jangan tertawa" Bentak Suma Siu Khim tiba-tiba. "Ada orang datang"

Secepat itu, Suma Siu Khim buka tutup kerudungnya, dan kini terbongkarlah rahasia rumah penjara digunung Tay-pa San- Betul-betul ia seorang wanita yang masih cantiK.

"Ada orang?" Bertanya Kim Hong.

"Lihat " berkata Suma Siu Khim. "Itulah duarang satu tua dan satu muda, mereka dari luar daerah."

Seperti apa yang Suma Siu Khim katakan, tidak lama kemudian disana bertambah dua orang, mereka adalah orang-orang asing yang dari luar daerah. Itulah jago-jago dari negara Tay wan, Kim Hong kenal kepada salah satu diantaranya, itulah Dokucan-

orang yang merendengi Dokucan adalah seorang tua bercodet, orang tua ini tentunya jago dari luar daerah pula.

Dokucan menunjuk kearah Kim Hong dan berkata kepada siorang tua bercodet, "Susiok ini dia orangnya"

orang tua bercodet memandang Kim Hong kemudian menoleh kearah Suma Siu Khim. Ia memperhatikan kepada kedua orang yang berada didepannya.

Suma Siu Khim tidak memperhatikan keadaan itu, ia memandang Kim Hong dan bertanya: "Bagaimana keadaan lukamu?" "Sudah hampir baik." berkata Kim Hong. "Bisa dijajal untuk melaWan mereka."

orang tua bercodet menggapaikan tangan kearah Kim Hong ia berkata: "Kemari Ada beberapa kata yang hendak kutanyakan-"

Kim Hong Seperti ditarik oleh gaya magnit, ia menggerakkan kaki hendak menghampiri orang tua bercodet itu.

Tapi Suma Siu Khim keburu menyeret anaknya, ia keburu mencegah kepergian Kim Hong. Kini dihadapinya seorang tua bercodet dari luar daerah, dan ia bertanya: "Aku adalah ibu dari anak ini, mau tanya - Tanya saja kepadaku"

orang tua bercodet itu tertegun sejenak. matanya dikedipkan, dan tiba-tiba ia tertawa.

"Bagus, bagus." ia berkata, "Anakmu ini tanpa sebab musabab telah melukai kedua keponakanku, aku datang untuk membikin perhitungan,"

"ouw . . . . " menganggukkan kepala Suma Siu Khim. "Perhitungan ini boleh diselesaikan dengan diriku "

orang tua bercodet berkata "Sebetulnya aku hendak bertanya."

"Tanya Saja." berkata Suma Siu Khim.

Dengan sungguh-sungguh orang tua bercodet itu bertanya:

"Siapa yang memberi pelajaran silat kepada anaknya?" "Tentu saja gurunya" berkata Suma Siu Khim.

"Siapa nama gurunya?" bertanya orang tua bercodet. "Gurunya adalah tokoh ajaib dari daerah Tionggoan." "Aku hendak tahu namanya." orang tua bercodet mulai naik darah.

"Bicaralah pakai aturan sedikit." tiba-tiba Suma Siu Khim mengeluarkan suara bentakkan sangat garing dan merdu, tapi sangat berwibawa.

"Inilah ajaran untukmu," tiba-tiba orang tua bercodet mengayun tangan, memukul kearah Suma Siu Khim. Dari sana meluncur kekuatan yang mengandung unsur hawa panas.

Suma Siu Khim bisa merasakan adanya hawa panas itu, cepat-cepat menarik Kim Hong kebelakang dirinya dan mendorong tangan menerima serangan.

Secepat itu pula terdengar suara letupan, akibat dari benturan kedua pukulan. Dari sana menyembur lelatu api, bersembur kekanan dan kekiri. Dimana terjadi benturan pukulan itu menjadi hangus,

Sesudah debu-debu ity melepus, timbul pula asap hitam kebesaran, disana kehilangan jejaknya orang tua bercodet, juga tidak terlihatjejaknya Dakucan- Kedua jago dari luar daerah itu sudah lenyap tanpa bekas. Lenyap tanpa bekaS ?

Tidak Disana masih ada bekas percikan darah. Ternyata orang tua bercodet menderita luka, mengetahui tidak unggulan melawan Suma Siu Khim, dengan mengajak kemenakan muridnya dia melarikan diri.

Kim Hong melihat adanya adegan-adegan yang begitu mendebarkan jantung, memandang kearah Sang ibu, dan timbul rasa kagetnya, ia takut kalau ibu itu juga menderita luka. Suma Siu Khim mematung ditempat. "ibu kan tidak menderita sesuatu apa?" tanya Kim Hong. 

Suma siu Khim berdiri tenang, untuk beberapa waktu, dia menahan gejolak peredaran jalan darahnya, sesudah berhasil memulihkan peredaran jalan darah itu, lalu membuka mata dan berkata: "Mari kita kejar mereka."

"Mengejar mereka?" bertanya Kim Hong heran.

"Ya. orang tadi memiliki ilmu silat yang tinggi, dia sudah menderita luka Aku hendak menyelidiki asal usulnya."

"Asal usul siapa yang harus diselidiki?" bertanya Kim Hong

"Hayo kita kejar dulur berkata Suma siu Khim. Kim Hong menyerahkan kuda tungganganya dan berkata: "ibu, naiklah kuda ini."

Suma Siu Khim tertawa ia berkata: "Jangan memperlihatkan kebaktianmu dengan cara ini, lekas kau naik kuda, kita harus mengejar."

Kim Hong mengetahui kalau tidak naik diatas kuda, mungkin ia tidak bisa merendeng kecepatan sang ibu dan karena itu ia mencongklang kudanya, mengaburkan kedepan.

Suma Siu Khim sudah bergerak, berdua mereka mengejar kearah larinya kedua jago dari luar daerah itu.

Ditengah perjalanan, Kim Hong bertanya: "Bagaimana hasil pertempuran tadi?"

Suma Siu Khim berkata: "Si codet sudah menderita luka, tapi aku juga berat memenangkan pertandingan tadi. "

"Mengapa kita harus mengejar mereka?"

"Kalau kita biarkan mereka manantang penguasa rumah penjara yang baru, aku tidak bisa memenangkannya lagi."

"Mereka datang dan daerah Tay wan." berkata Kim Hong. "Menurut cerita, jumlah mereka sembilan orang. Tiga jago kelas satu. Tiga jago kelas dua dan tiga jago kelas tiga, Tadi, anak muda yang bernama Dakocan itu adalah jago kelas tiga. Dan entah bagaimana kedudukannya siorang tua bercodet?"

"Tentu saja termasukjago kelas satu." berkata kata Suma siu Khim. "ia terlalu mengagul diri, maka bisa kukalahkan. Mengetahui tak ungkulan melawan aku, mereka melarikan diri."

"Tidak disangka, daerah itu memiliki jago hebat. Apa maksud mereka datang kedaerah Tionggoan?"

"Yang penting, aku harus mencegah mereka menantang rumah penguasa rimba persilatan yang baru."

"Ibu juga hendak menempur penguasa rumah penjara yang baru."

"Tidak sekarang. Kukira harus satu bulan" "Mengapa harus satu bulan kemudian?"

"Sebab-sebabnya, biar lain kali kuberi tahu kepadamu."

Mereka berdua membikin pengejaran terus-menerus, tiga puluh lie kemudian masih tidak nampak jejaknya orang tua bercodet.

"Lebih baik kita berpencaran-" berkata Suma siu Khim. "Atau aku kejar sendiri, kau balik menunggu dirumah penjara Tay-pa-san."

"Tidak." berkata Kim Hong. "Aku mau pergi ketelaga Tay-pek tie mencari Yo in-jie sumoay. Dan sekalian membantu dua belas partay besar menempur golongan Kalong."

"Jangan usil." berkata Suma siu Khim. "Lebih baik mengurus diri sendiri .Jangan turut campur dengan urusan orang lain-" "Ini bukan urusan orang lain-" berkata Kim Hong. "Inipun termasuk salah satu urusan kita."

"Sudahlah. Aku hendak mengejar mereka." berkata Suma Siu Khim. "Biar lain kali kita bertemu dirumah penjara Tay-pa-san saja."

Tabuh Suma siu Khim melejit lagi bagaikan asap yang melepus maju kedepan teruskan pengejaran.

Kim Hong memandang lenyapnya bayangan ibu itu, ibu yang menciptakan drama rumah penjara rimba persilatan-

Menunggu sampai lenyapnya bayangan sang ibu, Kim Hong berganti arah, menuju kearah telaga Tay-pek tie.

Tiga hari kemudian-...

Gunung Tay-pek san yang menjulang tinggi telah berada diambang mata.

Kim Hong menguatirkan keselamatan Yo in-jie, dan tanpa istirahat, langsung ia mendekati bukit Tay-pek san.

Disaat ini, tiba-tiba seorang pemuda berpakaian ringkas berlari datang, menghampiri Kim Hong dan berteriak:

"Kawan yang didepan, kau yang menjadi murid It-hu Sianseng ?"

Kim Hong menoleh kearah orang itu menganggukkan kepala dan bertanya:

"Saudara dari mana ?"

"Kau yang bernama Cin Hong? murid It-hu Sianseng?" mengulang pertanyaan orang itu.

orang lebih mengenal nama Cin Hong daripada Kim Hong nama Kim Hong digunakan sesudah sipemuda tahu asal usulnya. Dia adalah putra Kim Hoong. "Ya." jawab Kim Hong singkat.

"Ada orang yang hendak bertemu, Mari ikut aku." berkata Sipemuda berpakain ringkas itu.

"Siapa yang hendak bertemu?" bertanya Kim Hong, "Segera kau tahu." berkata pemuda tersebut.

Tidak lama kemudian, mereka sudah berada disebuah tanah pekuburan, disana terdapat patung-patung batu, dan pemuda berpakaian rinkas itu menuju kesalah satu makam, membungkukkan kepala tanda hormat, inilah yang membuat Kim Hong merasa heran.

Dan yang lebih heran lagi segera ternyata batu makam kuburan itu terpentang, perlahan-lahan terbuka, ternyata terdapat kunci, rasanya disana sangat gelap. tidak teriihat.

Pemuda itu memandang Kim Hong dan berkata "Silahkan Saudara Cin Hong masuk kedalam."

Kesiap siagaan Kim Hong tidak pernah mereda, kalau seorang yang berjiwa ksatria, tidak mungkin mau menggunakan tempat yang seperti ini sebagai penghuni, karena ia menduga kepada golongan jahat, ia menolak,

"Aku tidak mau. Siapa yang hendak berjumpa dengan aku, silahkan saja kemari. orang yang menggunakan makam sebagai tempat tinggal adalah orang-orang yang sudah tidak normal."

Tiba-tiba dari dalam makam itu terdengar satu suara. "omitobud," satu bayangan meloncat keluar, itulah

hweeshlo siauw-lim-sie yang bernama Tie hui taysu.

Kim Hong terbelalak heran, cepat-cepat memberi hormat kepada Tie- hui taysu, katanya: "Ternyata Tie- hui taysu, Mengapa Taysu bisa berada ditempat ini ?" Tie- hui taysu membalas hormat itu dan berkata:

"Banyak sekali yang harus diceritakan- Silahkan Cin kongcu masuk kedalam."

Adanya Tie- hui taysu ditempat ini tidak meragu- ragukan Kim Hong, ia mengikuti dibelakangnya memasuki makam itu.

Didalam makam terdapat lorong gelap. semakin lama semakin lebar, ternyata itulah istana terpendam.

Di ruang pertemuan dari istana terpendam telah berkumpul banyak orang, di dalam istana terpasang banyak lilin, tapi keadaannya sangat sepi. Setelah tiba disana. Tie- hui Taysu menyilakan Kim Hong duduk.

Kim Hong memandang kearah hweeslo itu dan bertanya: "Apa maksud Tie-hui Taysu membawa boanpwee ke

tempat seperti ini?"

"Lihat" Berkata Tie-hui Taysu.

Berbareng dengan ucapan Tie-hui Taysu disana tampil beberapa orang, orang pertama adalah ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu.

Hari masih siang, ketua golongan Kalong itu menjadi seorang laki-laki, kita sebut Saja Jie Hiong Hu.

Rupanya tempat itu adalah markas golong Kalong Dibelakang Jie Hiong Hu berdiri tiga orang wanita,

mereka adalah ouw yang Po kui, Touw Kim Hoa dan Lim Keng Hee. orang yang menjadi ketiga selir Jie Hiong Hu.

Kim Hong terlompat dari tempat duduknya menudingkan jari kearah Tie-hui Taysu dan membentak: "Taysu. " Tie-hui Taysu meraup wajahnya, disana terjadi perubahan, itulah ketua Hek bok-tong dari  golongan Kalong yang menyamar. ia menggunakan kedok kulit Tie- hui Taysu, Perangkap yang liehay

Kim Hong merasa tertipu, didalam keadaan ini, tidak mungkin bisa melarikan diri lagi.

Disaat bersamaan, di belakang Kim Hong sudah menyusul dua orang, seorang putih dan seorang merah, itulah Lam-kek Sin-kun Im-liat Hong dan Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu.

Disana sudah berkumpul jago-jago kelas satu untuk golongan Kalong

Kemajuan ilmu silat Kim Hong sudah hampir tiada yang menandingi, ia tidak takut kepada Tamu Tidak Diundaog dari luar daerah yang palsu, juga tidak takut kepada im Liat Hong.

Tapi kalau im Liat Hong dan Tamu Dari Luar Daerah yang palsu menempur dirinya secara serentak, tidak mungkin bisa mengalahkan mereka.

Disaat ini, terdengar suara cengekannya ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu:

"Kim Hong, lebih baik kau duduk saja."

Kim Hong menghadapi simanusia banci dan membentak "Mau apa?"

"Duduklah" Berkata Jie Hiong Hu. "Ada apa?"

"Ada setuatu yang hendak kurundingkan denganmu." "Urusan apa?" Bentak Kim Hong. "Banyak sekali yang hendak dibicarakan- seperti mengambil contoh, golongan kami telah berhasil mendapatkan kotak ajaib peninggalan Dewa Purbakala ditelaga Tay-pek tie."

"Apa?" Berteriak Kim Hong. "Kalian sudah berhasil menemukan kotak batu kumala didasar telaga Tay-pek tie?"

cerita ini betul-betul mengejutkan Kim Hong, apa yang bisa dilakukan olehnya?

Seperti apa yang Kim Hong mengetahui, ketiga nyonya Jie Hiong Hu dan im Liat Hong sudah terluka oleh pukulan Oey Ceng.

Oey Ceng adalah ayah Kim Hong, nama aslinya Kim Hoong ini diketahui dikemudian hari

Jie Hiong Hu bisa merasakan, tetap keragu-raguan Kim Hong, segera ia berkata:

"Aku tahu, kau tidak percaya. Nah Untuk membuktikan kebenaran kata-kataku, akan ku-perlihatkan sesuatu."

Jie Hiong Hu mengangkat tangannya, maka dari balik tirai kain bergerak sembilan orang, masing-masing membawa sebuah bungkusan, bungkusan itu diletakkan didepan Kim Hong, satu persatu membukanya,jelas itulah sembilan kepala manusia yang masih mengetel darah.

Dari kepala-kepala manusia itu, terdapat kepala tosu, terdapat kepala hweeshlo, dan terdapat juga kepala dari orang-orang biasa, rata-rata mendelikkan mata, meleletkan lidah. mereka ialah korban-korban yang sudah mati secara penasaran.

Wajah Kim Hong menjadi pucat pasi, menunjukkan jari kearah Jie Hiong Hu dan membentak:

"Manusia banci, kau kejam Biar kuhajar dirimu" Manusia wadam itu mengibaskan lengan, maka gagallah serangan Kim Hong.

Jie Hiong Hu memberi perintah kepada orang-orangnya untuk menyimpan kembali sembilan kepala manusia itu. Dan dia mengeluarkan sesuatu kotak yang berwarna hitam, diletakkan diatas meja dan berkata:

"orang-orang itu tidak mempunyai hubungan baik denganmu. Tidak perlu dipikiri, inilah yang harus kita perhatikan."

Kim Hong segera menduga kepada kotak batu kumala. Ingin sekali Kim Hong merampas kotak batu kumala itu,

tapi didepannya begitu banyak jago-jago kelas Satu, apa yang bisa dilakukan olehnya ? Ketua golongan Kalong .Jie Hiong Hu berkata:

"Inilah kotak ajaib yang ditinggalkan oleh Dewa persilatan Thay-pek Sian ong. Didalamnya berisi dua belas butir obat anti tua, dan dua belas macam ilmu silat ternama. Hari ini, akutelah mendapatkannya. ha-ha......Apa artinya penguasa rumah penjara yang lama ? Apa artinya penguasa rumah penjara yang baru ? Mulai saat ini, aku adalah jago tunggaL Tak ada orang yang bisa memenangkan aku lagi. Hua, hua, hua "

“Hm . . . ." berdengus Kim Hong. "Kau sudah berhasil mendapatkan kotak ini, tapi kau belum berhasil mendapatkan dua belas kunCinya apa guna ?"

"Kau belum tahu." berkata ketua golongan Kalong Jie Hong Hu. "Digunung ong ok-san aku telah mendapatkan delapan kunci mas. Kemudian, secara beruntun, dari Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay dan Khong-tong-pay, aku mendapatkan tiga kunci mas lagi. hanya kurang satu, kunci mas Hoa-san-pay itu. Sedangkan kunci mas oey-san pay berada ditanganmu, kau sudah berada disini, apa susahnya lagi. ha ha ha..."

Hati Kim Hong semakin tercekat, tapi ia berusaha menenangkan hatinya, ia berkata:

"Jangan mempunyai pikiran yang tidak-tidak. Kunci mas itu sudah tidak berada diatas tubuhku."

"Tidak perlu menyangkaL" berkata ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu. "Telah kuseliki betul-betul,  kunci mas itu masih berada didalam tanganmu."

Kim Hong tidak berhasil mengelabui si iblis banci itu, ia memegang kunci masnya dan lalu mengeluarkan ancaman:

"Betul kunci mas ini adalah hakku. Siapa yang hendak merampasnya akan kuhancurkan."

Wajah Jie Hiong Hu berubah, kalau saja, kunci Kim Hong dihancurkan ludeslah pengharapannya, tidak mungkin menggunakan sebelas kunci mas membuka kotak ajaib. Tapi, dia sudah siap dengan rencana berikutnya.

"Cin Hong." ia berkata, "lebih baik kita bekerja sama, akan kubagi bagian untukmu."

Cin Hong adalah panggilan yang lain kepada Kim Hong. "Aku tidak mau." maka Kim Hong menolak.

"fifty fifty ?" Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu merayu.

"juga tidak mau" Berkata Kim Hong. "Apa yang kau kehendaki ?"

"Aku menghendaki kotak ini dan sebelas kunci lainnya." Berkata Kim Hong. “Huh " Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkerut alis. "Baik Mm, kemana orang ? Bawa dia kemari."

Dia mengganti taktik baru

Membarengi perintah Jie Hong Hu dua anak buah golongan Kalong menenteng papan salib, papan Salib itu sangat besar, diatas papan salib terikat seorang  gadis berbaju merah, tangannya terikat, kedua kakinya juga terikat, kepalanya ditundukkan-Munculnya papan salib itu sangat mengejutkan Kim Hong, itulah Yo In-jie.

Papan Salib diletakkan di depan Jie Hiong Hu, Jie Hiong Hu menjulurkan tangan, ditujukan kearah ubun-ubun Yo in-jie, dengan suara tawa yang menghina ia berkata: "Nah Sudah kau lihat? Berani kau bergerak sedikit? Hilanglah sudah jiwanya."

Didalam situasi yang seperti ini, Kim Hong tidak berdaya. ia diam.

"Bagaimana?" Bertanya Jie Hiong Hu. "Sudah mau menyerahkan kunci mas itu?"

Yo In-jie memandang kearah Kim Hong, berkata: "Kim Hong koko, lekas lari"

"Lari?" Berkata ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu. "Mau lari kemana lagi? Kim Hong sedang mencari jalan untuk menghadapi persoalan ini."

Ketua golongan Kalong menjulurkan tangan meminta kunci mas kepada Kim Hong dan berteriak:

"Serahkan kunci itu."

Kim Hong masih mematung ditempatnya.

"Kau tidak mau menyerahKan kunci tersebut?" Bertanya Jie Hiong Hu. "Tidak." Berkata Kim Hong.

"Baik " Berkata ketua golongan Kalong .

Jie Hiong Hu. la memandang kepada kedua orang anak muridnya dan berkata: "Lucuti bajunya."

Tipu berikutnya dijalankan Dua anak muridnya menghampiri Yo In-jie, menyobek-nyobek baju si gadis.

Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin dapat diperpanjang, dengan air mata bercucuran ia berteriak- teriak: "Tidak tahu malu---tidak tahu malu. "

Secepat itu pula, Kim Hong mengeluarkan suara teriakan:

"Stop Hentikan perbuatan itu"

Kedua anak murid golongan Kalong memandang kearah pemimpinnya meminta intruksi.

“Hentikan" berkata ketua golongan kalong. Kemudian ia menoleh kearah Kim Hong, mengulurkan tangan dan berkata: "Serahkan kunci itu."

"Baik," berkata Kim Hong menyerah. "Bebaskan dahulu sumoayku."

Lalu ketua golongan Kalong tertawa dan bekata: "Aku tidak takut pada kalian- Baik lebih baik kau menyerahkan kunci lebih dulu."

Dalam keadaan yang seperti itu, Kim Hong tak berdaya, ia melempar kunci masnya, ketua golongan Kalong menyambuti lemparan kunci mas itu, diperhatikannya beberapa Waktu dan ia tertawa berkakakan.

Kim Hong membentak: "Lekas bebaskan sumoayku."

Ketua golongan Kalong memandang pada kedua muridnya dan berkata "Bebaskan." Yo In-jie mendapat kebebasan, cepat2 menarik kembali pakaiannya, dia menangis berkata :

"Kim Hong koko, aku mencari akan dirimu." Dia menghampiri Kim Hong. Kim Hong menjulurkan kedua tangannya siap sedia menyambuti in-jie.

Tiba-tiba, iga Kim Hong dirasakan ditotok lenyap semua kekuatannya, dia jatuh ngeloso.

Yo In-jie menotok jalan darah Kong- hong- hiat

Yo in-jie meloncat, wajahnya yang sedih itu berubah segera. kini ceria dan riang, ia tertawa, menepuk tangan dan berkata:

"Ha-ha. "

Wajah Kim Hong menjadi pucat, dia berteriak: "in-jie permainan apa lagl nih?"

Yo In-jie menggunakan tangannya dia mengusap wajahnya, maka copotlah selembar kulit tipis, turut copot pula kulit in-jie disana berdiri seorang gadis lain, itulah Pat- kiong-cu dari golongan Kalong.

"Aaaa..," Kim Hong ditipu mentah-mentah.

Kemarahan Kim Hong meluap-luap. lagi2 ia dipermainkan oleh golongan Kalong.

Lain perasaan datang meranggang, itulah perasaan lega dan tenang, karena Yo In-jie masih belum jatuh kedalam tangan golongan Kalong.

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu alias Jie Biauw Kow tertawa terbahak-bahak:

"Ha, ha ...dengar, Cin Hong, hubunganmu dengan penguasa rumah penjara rimba persilatan gunung Tay-pa- san sangat baik, karena itu aku tidak bisa melepaskan dirimu."

Kita menyebut Jie Hiong Hu alias Jie Biauw Kow, karena sudah hampir tiba. apabila malam telah  berlangsung, terjadilah seorang wanita yang bernama Jie Biauw Kow. Bersamaan itu pula lenyaplah Jie Hiong Hu, ini keistimewaan manusia wadam. Hati Kim Hong terCekat, dia mendelikan mata dan membentak:

"Apa yang kau tahu? Mungkin kau belum tanu kalau penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-san itu adalah . .

. dia adalah ayahku. Berani kau mengganggu selembar rambutku, daging-dagingmu akan dikeping-kepingkan olehnya."

sibanci Jie Hiong Hu Jie Biauw Kow terbelalak inilah berita baru

"ouw" ia mengeluarkan suara tertahan, "Penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san adalah ayahmu?"

"Tidak salah," Berkata Kim Hong, "Lekas bebaskan aku.

Dan serahkan kembali kunci emas naga itu."

Selaput hawa pembunuhan meliputi wajah ketua golongan Kalong, dengan geram dia berkata:

"Biarpun kau sudah menjadi putra penguasa rumah penjara rimba persilatan, pekerjaan hari ini tidak diketahui olehnya, kalau saja kau sudah kubunuh mati, siapa yang tahu kau mati dibawah tanganku?"

Kim Hong tertawa dingin. katanya: "Mengapa tidak tahu? Ayahku sudah memperhatikan adanya rombongan kalian yang hendak mengambil kotak Sim-kie-ie-hat, maka aku diutus olehnya untuk melihat-lihat keadaan- Hari ini kematianku pasti bukan ditangan orang lain, mana mungkin kalian tidak tahu, siapa yang membunuhku?"

Ketua golongan Kalong tertegun sebentar, tiba-tiba ia tertawa lagi:

“Ha-ha, biarpun ia tahu, sesudah aku mendapatkan kotak ajaib itu, sesudah aku mendapat obat pel panjang umur, dan mempelajari dua balas macam ilmu mujijat tersimpan disana siapa lagi yang kutakuti? Dua penguasa rumah penjara juga tidak kutakuti."

Sukma Kim Hong dirasakan mau terbang, inilah kejadian yang menyulitkannya, dia berseru:

"Dengar, ayahku segera tiba. Apa kau masih mempunyai waktu melatih ilmu kepandaian silat yang tercatat didalam kotak ajaib?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata:

"Apa ayahmu tahu, kalau sekarang kau berada didalam kuburan ini? IHm . . .hmm . .. dengarlah, inilah markas pusat golongan Kalong. Sesudah berhasil menipumu ketempat ini, rencanaku berikutnya adalah merenggut jiwa anjingmu itu. Hati.....hmm. "

Sambil berkata, sibanci Jie Hiong Hu-Jie Biauw Kow melangkahkan kaki, perlahan-lahan diangkat tinggi kaki tersebut, hendak diterapkan keatas wajah Kim Hong......

Kalau saja telapak kaki itu ditancapkan ketempat batok kepala Kim Hong, ludeslah semua harapan Kim Hong, otaknya pasti berceceran, jiwanya pasti melayang. Tiba-tiba

........

"Pangcu . . ." Tamu Tidak Diundang dari Luar daerah yang palsu mengeluarkan suara tertahan- Mendengar seruan sang penasehat, ketua golongan Kalong yang banci itu menarik kembali tangannya, menolehkan kepala dan- bertanya: "Ada apa?"

Kedudukan simanusia imitasi adalah  penasehat golongan Kalong. Dengan patuh Tamu dari Luar daerah palsu itu berkata:

"Tidak salahnya membunuh si Cin Hong tapi bukan sekarang, baik juga mengurungnya, mungkin kita bisa menggunakan untuk digunakan sebagai sesuatu."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berpikir sebentar, akhirnya ia menganggukkan kepala, setuju kepada usul sang penasehat, katanya: "Baiklah"

Menoleh kearah seorang anak buah ia memberi perintah:

"Ambil urat sapi, dia harus diikat keras-keras, harus berhati-hati agar tidak bisa meloloskan diri dia bukan Cin Hong yang masih upilan, ilmu kepandaiannya telah majusatu lompatan besar, mungkin bisa menjebolkan totokan-totokan- kalau gunakan urat sapi berbahaya"

Anak buah golongan Kalong itu segera menjalankan perintah ketua, dia menggulungkan urat sapi keseluruh tubuh Kim Hong.

Ketua golongan Kalong duduk kembali di kursi kebesarannya, mengeluarkan kotak ajaib, dikumpulkan dua belas kunci emas mulai dari kunci tikus, dibukanya terus- menerus, sehingga pada kunci emas yang kesepuluh tiba- tiba ia mengeluarkan jeritan kaget: "Eh, kunci emas ini mungkin tidak beres."

Tamu dari luar daerah imitasi mendekat dan berkata: "Kunci emas ini telah kudapat dari ketua partay Bu-tong- pay." Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata: "Mungkin kunci emas palsu."

"Palsu?" Berkata tamu dari luar daerah palsu itu. "Dimana letak Kepalsuannya?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata

"Setiap kumasukan kunci emas ketempat lobang, terdengar suara klik, hanya kunci mas kesepuluh ini tidak mengeluarkan suara."

Tamu dari luar daerah yang palsu berkata "Mungkinkah Yoe Hoa Liong sudah mengetahui rencana, dia telah membawa kunci mas palsu yang dikantongi padanya ?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata:

"Yoe Hoa Liong memiliki otak yang bercabang kemungkinan tadi besar sekali."

"Pangcu tidak bisa meneruskan pembukaan kotak ajaib itu?" Bertanya tamu tidak diundang dari luar daerah.

"Kita harus menemukan Yoe Hoa Liong, Meminta kunci mas yang asli." Berkata Jie Hiong Hu.

Seperti yang sudah kita ketahui, kotak ajaib bisa dibuka dengan dua belas kunci mas satupun tidak boleh salah. Maka isi dari kotak ajaib tersebut yang berupa dua belas butir obat panjang umur dan dua belas macam pelajaran ilmusilat luar biasa didapatkan olehnya.

Tentu saja, kalau kunci- kunci mas itu adalah anak kunci mas yang asli.

Dimisalkan ada sesuatu kekurangan maka kotak ajaib itu bisa meledak menghancurkan seluruh isi ruangan, Adanya kunci mas palsu yang diragukan. membuat ketua golongan Kalong tidak bisa meneruskan usahanya, Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berata:

"Yoe Hoa Liong masih berada didalam rumah penjara rimba persilatan, kita harus memintanya . "

Tamu dari luar daerah yang palsu berkata: "Bagaimana caranya bisa memasuki tempat itu?"

"Sudah kurecanakan- Hamid beserta ketiga kawan- kawannya sedang menantang penguasa rumah perjara rimba persilatan itu, entah bagaimana dari hasil pertempurannya?"

Disaat mana, tiba-tiba seorang anggota golongan Kalong berlari masuk. lalu beri hormat pada Jie Hong Hu dan berkata: "Pangcu. Hamid cianpwee berempat sudah kembali."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu meletakkan kotak ajaib dibawah laci meja, ia ber-gegas2 hendak menyambut kedatangan rombongan yang baru datang itu.

Disaat ini, empat orang berpakaian kembang-kembang berjalan masuk, mereka adalah orang-orang dari luar daerah.

Seorang dari ke empat orang itu adalah kakek-kakek, tiga lainnya adalah laki-laki setengah umur. Rambut mereka merah, mata mereka berwarna biru, mempunyai badan tinggi.

Kedatangan keempat orang itu mendapat penyambutan dari semua golongan Kalong, semua memberi hormat patuh.

Lebih-lebih kakektua yang bernama Hamid itu, langsung mendekati tempat duduk ketua golongan Kalong, dan menduduki tempar ketua tertinggi. Ketua golongan Kalong mengalah, duduk disampingnya.

Kim Hong mengkerutkan alis, dia heran dan tidak tahu keempat orang dari luar daerah itu adalah jago-jago ternama. Tapi nama golongan kalong juga hebat, mengapa harus tunduk dibawah kekuasaannya?

Ketua golongan Kalong mendampingi Hamid, dia berkata:

“Hamid cianpwe sudah menantang rumah penjara digunung Tay-pa San? Bagaimana hasilnya?"

Hamid memang menemukan sesuatu yang murung, mendapat pertanyaan itu, dia mendelikkan mata, dengan tidak senang berkata: "Kau kira aku bisa kalah?"

Jie Hiong Hu membungkukkan badan berkata:

“Hamid cianpwee adalah jago silat nomor satu dari daerah See-hek. apa lagi ilmu Tay-yang-sin-kang sangat luar biasa, tentu saja tidak bisa dikalahkan orang. Betapa hebatpun ilmu kepandaian penguasa rumah penjara itu, mana mungkin bisa menandingi cianpwee?"

"Jangan banyak Cingcong" Berkata Hamid mendamprat. "Aku belum menempur jago silat itu, daerah Tionggoan betul-betul luas, kukira belum tentu bisa mengalahkan dia."

Jie Hiong Hu memperlihatkan sikapnya yang sangat serius, dia berkata: "Hamid cianpwee dan ketiga suheng belum pergi kesana?"

Hamid berkata:

"Sudah. Tapi penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa- san telah memberi pengumuman istirahat untuk satu bulan- Huh Aku tidak perduli, langsung menerjang masuk. ternyata Penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa-san tidak ada di tempatnya."

"Wah? "Jie Hiong Hu-Jie Biauw Kouw terbelalak. "Betul-betul penguasa rumah penjara sudah turun gunung?"

Menurut keterangan yang ia dapat dari Kim Hong, penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa San adalah ayah bocah ini, dikatakan sedang turun gunung, dia tidak percaya, baru sekarang ia yakin, karena itu rasa takutnya menjadi-jadi, cepat-cepat menggapaikan tangan kepada seorang anak buahnya dan berkata:

“Hui, lekas bawa bocah ini ke penjara di bawah air.

Baik-baik menjaganya."

Hatinya mengkirik takut Anak buah golongan Kalong itu menjalankan perintah, menggendong Kim Hong untuk diajak berangkat. Hamid memperhatikannya dan bertanya: "Siapa anak itu?" Jie Hiong Hu berkata:

"Dia adalah putra dari Penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa-san."

"Apa guna kau menangkapnya?" Bertanya Hamid.

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu mennjadi bingung, dia berkata:

"Bocah ini--- bocah ini selalu memusuhi golongan kita. Maka meringkusnya, kalau perlu kita bisa membunuhnya."

orang tua berambut merah segera menggapaikan tangan kearah anak buah golongan Kalong itu dan membentak: "TUnggu dulu. Bawa dia kemari"

Anak buah golongan Kalong tersebut memandang kearah Jie Hiong Hu.

Jie Hiong Hu menganggukkan kepala, suatu tanda bahwa ia mengijinkan adanya permintaannya itu. Anak buah golongan Kalong segera meletakkan Kim Hong ditanah, dan berdiri disamping sisinya.

Tertawa cengar-cengir, ketua golongan Kalong bertanya: "Ada petunjuk baru?"

Hamid menganggukkan kepala dan berkata

"Sesudah mengetahui ini anak penguasa rumah penjara, aku mau menjajalnya dahulu Kalau saja aku bisa memenangkan orang ini, tentu saja bisa memenangkan Rumah penjara rimba persilatan---"

Tiba-tiba Hamid teringat sesuatu, Hamid mengalihkan pembicaraan, ia berkata lagi

"Perjalananku ke daerah Tionggoan telah mendapat penemuan baru, ternyata daerah Tionggoan tidak persis apa yang kau katakan, bukan tidak becus semua, mengambil contoh, kejadian disaat kemarin, disaat aku menerjang masuk ke dalam rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san, aku telah menemukan tokoh silat hebat."

"ouw?" Berkata Jie Hiong Hu. "Tay Giam ong yang dimaksudkan?"

"Bukan-" Berkata orang tua berambut merah Hamid, "Seorang kakek bersifat kegila-gilaan, dia bersama seorang gadis kecil itu, itulah dia yang berhasil meloloskan diri dari telaga Tay-pek tie, mereka kebetulan bertemu denganku. entah apa yang diucapkan oleh si gadis ciik, tiba-tiba si kakek gila menerjang. "

"Bagaimana hasilnya?"

"Aku tidak dikalahkan. Tapi kenyataannya jauh berbeda lagi, kalau penyakit gila orang itu sudah sembuh, menurut perkiraanku. orang yang seperti si kakek gila bisa menjadi orang tawanan rumah penjara rimba persilatan, kukira betul-betul penguasa rumah penjara yang memiliki kepandaian hebat."

"Ouw......kakek yang cianpwee temukan adalah kakek gelandangan, dia adalah putra Dewa persilatan Kiat Hian- Dia ditipu orang memasuki rumah penjara Tay-pa San, entah dengan cara bagaimana, menggunakan penguasa rumah penjara tidak berada ditempatnya, dia melarikan diri."

orang tua berambut merah Hamid berkata

"Aku tidak sependapat dengan rencanamu itu, para jago dari daerah kami, Tay-wan-kok hanya ingin menggunakan tipu silat asli menempur jago-jago Tionggoan, tapi kau menggunakan keliCinan dan akal bulus, cara ini tidak bisa menundukkan orang."

"Boanpwee menerima salah." Berkata Jie Hiong Hu. "Sekarang, lekas bebaskan totokan anak muda itu. Beri

kesempatan dia istirahat sebentar."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu memberi perintah kepada anak buahnya membuka kembali ikatan urat sapi yang membelenggu kebebasan Kim Hong, sesudah itu dia turun tangan dan membebaskan totokannya pula, menendang pundak Kim Hong dia berkata:

"Cin Hong, baik-baik kau istirahat, sebentar lagi kau bisa merasakan kehebatan ilmu kepandaian asli dari daerah Tay- wan-kok, ilmu Tay-yang Sin-kang yang hebat."

Sebelum Kim Hong mengetahui asal-usul dirinya dia bernama Cin Hong karena itu sebagian besar dari orang- orang masih memanggilnya dengan panggilan Cin Hong.

Kim Hong bisa menduga, Hamid beserta tiga lelaki berambut merah itu adalah jago-jago pilihan dari daerah Tay-wan-kok, kalau saja ia hari ini dikalahkan, mungkin pamor daerah Tionggoan juga turutjatuh maka dia segera menenangkan dirinya, membenarkan peredaran jalan darah.

Ini waktu, Hamid memandang ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu, dia bertanya: "Kau pernah menempur anak muda ini?"

Jia Hiong Hu menjawab :

"Dihulu. Itu waktu ilmu kepandaiannya biasa-biasa saja. Sesudah mendapat petunjuk dari beberapa tokoh silat, dia mendapat kemajuan yang pesat. sekarang belum pernah dicoba, menurut apa yang kutahu. im Liat Hong sudah dilukai olehnya."

Hamid menoleh kearah Lam-kek sin-kun im Liat Hong, orang yang dipandang menundukkan kepala.

Hamid menoleh lagi kearah Jie Hiong Hu dan berkata: "coba kau jajal dia."

Jie Hiong Hu membawakan sikap yang malu-malu, terjadi perobahan besar. Kalau sebelumnya ia galak dan garang, kini ia menjadi seorang pemalu dan lincah. Dengan suara keCil ia berkata "Disaat ini mungkin tidak bisa, seperti apa yang cianpwee ketahui. "

suara Jie Hiong Hu yang terakhir adalah suara wanita.

Terjadi perobahan pada banci lihay itu, banyak yang tidak diketahui oleh umum, kala siang dia menjadi lelaki, kalau malam dia jadi perempuan-Sudah Waktunya dia menjelma jadi betina, Hamid tertawa berkakakan:  “Ha,  ha. apa sudah waktunya?"

"Iya........"Berkata Jie Biauw Kow. Kini namanya harus menggunakan Jie Biauw Kow. karena waktu wanitanya sudah tiba, "Sekarang sudah malam."

“Ha ha...." orang tua berambut merah Hamid tertawa lagi. "sangat menyenangkan sekali, kalau berkawan dengan orang yang seperti kau ini, sebentar kau menjadi jantan, sebentar berubah perempuan. He he he. " Ketiga laki-laki

berambut merah juga ikut tertawa.

Tapi saat ini, Kim Hong sudah selesai mengatur peredaran jalan darahnya. Ia berhasil memulihkan tenaga- tenaga yang luntur.

Dengan sepasang sinar mata yang bercahaya terang menghadapi orang-orang itu.

Hamid menghentikan tertawanya, dia memandang kearah Kim Hong, berpandangan beberapa saat. Akhirnya Hamid berkata:

"Anak muda, aku hendak mencoba mencoba ilmu kepandaianmu, bertandinglah dengan muridku, siapa yang kalah? Kalau kau berhasil memenangkannya, kau mendapat kebebasan."

"Baik." jawab Kim Hong menerima tantangan, "Aku bersedia menempur."

Hamid menoleh kearah tiga laki-laki berambut merah yang dibawa olehnya, itulah muridnya, ia berkata: "Brey, lawan dia"

Laki-laki yang bernama Brey itu adalah jago kenamaan dari daerah Tay-wan-kok juga segera ia menghampiri Kim Hong dengan sikap bersitegang. Kim Hong selalu siap sedia, mendapat penyambutan yang saperti itu, dia bertanya: "Bagaimana caranya kita bertanding?"

Brey berkata tawar: "Kalau betul kau bisa mengalahkan Lam-kek Sin-kun im Liat Hong didalam tiga gebrakan, ini membuktikan ilmu kepandaianmu cukup hebat. Begini saja kuatur, kita menempur tangan tiga kali, kalau aku kalah, aku menyerah."

"Baik." Jawab Kim Hong. "Kapan boleh mulai?" "Sekarangpun boleh, "Jawab Brey.

Kim Hong mengerahkan tenaganya, didorongnya kedepan, itulah salah satu tipu dari jurus Tiga Pukulan Maut.

Kekuatan ini bisa membelah gunung, bisa menghancurkan batu, apa lagi dibantu oleh tenaganya yang tidak kunjung padam, tidak bisa disamakan dengan tipu- tipu biasa, kalau saja gerakkan oleh penguasa rimba persilatan, pasti orang ini jatuh.

Sayang, kekuatan Kim Hong belum bisa disamakan dengan ibunya maka kekuatannya pun merosot.

Brey mempunyai kedudukan kelas dua didalam jago-jago daerah Tay-wan-kok, pengalamannya sangat banyak, tampak pukulan Kim Hong yang tanpa desiran angin, dia bisa mengetahui sampai dimana kehebatan kepandaian ini. Wajahya berubah. Benar-benar dia tidak berani memandang ringan- Dengan bersungguh-sungguh hati dia juga mendorong kedua tangan, memapak pukulan itu.

Pukulan haWa panas meluncur keluar dari telapak tangan Brey "Bluaarr..."

Seolah-olah terjadi gempa bumi, ruang rahasia dibawah tanah kuburan itu bergoyang sebentar. Tubuh Kim Hong terdorong mundur kebelakang, tangannya seperti terbakar, panas dan sakit. Brey juga tidak mendapat kemenangan mutlak, dadanya tergebuk, darahnya bergejolak, dia juga mundur kebelakang sampai empat langkah,

Si KAKEK RAMBUT MERAH Hamid bangkit dari tempat duduknya, dia membentak: "Bagaimana?"

Brey menggeleng-gelengkan kepala. berkata: "Aku belum dikalahkan. Dia hebat Tapi aku masih kuat"

Sesudah itu dia menyedot napas dalam, maju pula ke depan-"Bang. "

Terjadi benturan pukulan pula, Kim Hong merasakan dirinya seperti mau dilebur api, panas, sakit, nyeri, terdorong mundur dan membentur pilar. Buk Kim Hong jatuh duduk.

Jatuhnya Kim Hong bukan berarti kemenangan Brey, jago daerah Tay-wan-kok itu juga menyemburkan darah, matanya dipelototkan, dia sangat galak. Kim Hong sudah meletik bangun, dia menerjang pula.

Saat yang sama, Brey sudah bersiap siaga, keadaannya lebih baik, dari sudut yang lebih menguntungkan- dia memukul Kim Hong. "Bung. "

Lagi-lagi tanah bergetar, akibat dari beradunya kekuatan raksasa itu. Kim Hong jatuh menggeletak, pingsan tak sadarkan diri

Lagi-lagi Brey memuntahkan darah, dia menudingkan jarinya kearah Kim Hong, tertawa berkakakan dan berkata:

"Ha, ha......aku menang Lihat Lihat dia sudah. " rubuh

Brey juga jatuh roboh.

Disaat Kim Hong sadarkan diri, dia mendapatkan dirinya terikat pada sebuah pilar, dia tertawan di dalam ruangan di bawah tanah, air menggenangi sebatas dada. Kim Hong disekap didalam tawanan air

Rasa dingin air membuat luka-lukanya nyeri, tapi akibat dari pukulan Brey yang panas berapi membuatnya agak nyaman-

Timbul pikiran untuk melarikan diri, Kim Hong berontak. tubuhnya mengejang. dia telah ditotok orang.

Teringat kata kata Jie Hong Hu, sebagai ahli waris rumah penguasa rumah penjara, Kim Hong bisa meyakinkan dan membebaskan totokan yang mengekangnya.

Kim Hong telah mendapatkan kemajuan pesat, ilmunya berlipat ganda, ia belum menjajal bagaimana untuk membebaskan totokan-totokan yang dijatuhkan kepada dirinya, hal ini mungkin saja bisa dilakukan. Yang menjadi gangguan ialah sesudah berhasil membebaskan totokannya, bisakah ia memutuskan tali urat sapi?

Kim Hong mengosongkan pikirannya, mencurahkan daya imannya, menjebol peredaran darah yang tersumbat.

Detik-detik berlalu. . . .