Tangan Berbisa Jilid 17

 
Jilid 17

Cin Hong menganggukkan kepala dan menjawab sambil tersenyum getir "Hanya sedikit saja, Suhuku adalah It-hu Sianceng."

Sementara itu pangcu golongan Kalong sudah berjalan kedepan Cin Hong, ia menunjukkan kitab pusaka ditangannya dan bertanya sambil tertawa: "Cin Hong, kau takut dirotan dengan Cemeti atau tidak?"

Cin Hong menganggukkan kepala dan menjawab: "Takut"

"Kalau begitu lekaslah kau jawab. Kitab ilmu kipas Tay- seng-hong-sin-san ini darimana kau dapatkan?"

"Tidak mau"

Ma Liong Po tertawa terbahak-bahak dan lalu berkata: "Itulah baru seorang gagah, Cin-caycu"

Pangcu golongan Kalong memberi isyarat dengan mata kepada anak buahnya yang mencekal cemeti, ia sendiri mundur beberapa langkah, dan orangnya itu segera menghampiri Cin Hong dan menghajar badan Cin Hong dengan Cemetinya. Cin Hong yang belum pernah mengalami siksaan demikian, segera merasakan sakit yang amat sangat di sekujur badannya, hingga mulut sampai mengeluarkan seruan, tetapi Ma Liong Po sudah berkata sambil mengarutkan alis

"Jangan berteriak, Cin- cay cu"

Cin Hong merasa sangat malu, mengawasinya dan bertata sambil tertawa getir "Maaf Tapi biarpun aku berteriak. tidak akan kujawab pertanyaannya"

Anggota golongan Kalong kembali memutar cemetinya dan memukuli badan Cin Hong dan pemuda ini karena merasa sakit kembali mengeluarkan suara teriakan-.. .

Lim Kui-jin yang sejak tadi terus berdiri sambil menundukkan kepaia, saat itu dengan tiba-tiba angkat muka dan berseru dengan suara gemetaran: "Pangcu. "

Pangcu dari golongan Kalong berpaling dan balas bertanja "Ada apa?. "

Lim Kui-jin kembali menundukkan kepala dan sikapnya menunjukkan kepedihan hatinya, katanya.

"Kalau memang dia sudah tidak mau beri keterangan sampai mati, perlu apa harus disiksa lagi? Aku. aku takut

mendengar suara jeritannya itu. "

Baru saja Pangcu itu menyahut "Ng", untuk menerima baik usul Lim Kui Jin- sang permaisyri tiba-tiba mengeluarkan suara tertawa tergelak dan sudah lari kedepan tiang, ia merebut cemeti dari tangan salah seorang anggota Kalong hitam, dan membentak dengan suara keras.-

"Biar aku saja yang pukul dia" Permaisuri ini benci sekali terhadap Lim Kui Jin yang mendapat Cinta kasih yang berlebih-lebihan dari si Pangcu, maka ia bermaksud hendak membikin susah selir yang cantik ini. cemetinya itu digerakan demikian cepat dan ganas sekali, hingga mengejutkan dan menakutkan semua orang yang ada disitu.

Dengan tiba-tiba terdengar suara bentakan: "Tahan "

Suara itu meskipun tidak nyaring tapi jelas terdengar dalam telinga setiap orang. Suara itu bukanlah suara pangcu golongan Kalong, melainkan suara yang datang dari tengah udara, hingga kedengarannya seperti turun dari langit.

Semua orang angkat kepala dan ditujukan keangkasa, tampak seorang dengan mengenakan kerudung muka dan berpakaian hitam muncul dari belakang batu diatas gunung, dan perlahan-lahan berjalan keluar.

orang itu mengenakan topi hitam, sepatunya juga hitam. Badannya sedang, Sikapnya tenang, dengan gerakan lambat-lambat berjalan kelapangan, Seolah-olah masuk kedaerah yang tidak ada orangnya.

Pangcu golongan Kalong melihat kedatangan orang itu sangat terkejut, tanpa disadari telah mundur beberapa langkah dan berseru kaget, "Kau ,.,penguasa rumah penjara rimba persilatan "

Sedikitpun tidak salah, orang yang baru muncul itu memang benar adalah pengnasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san, seorang manusia misteri yang selama sepuluh tahun lebih tidak dapat dijajaki sampai dimana tingginya ilmu kepandaiannya.

Munculnya penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan tiba-tiba, sesaat membuat hati semua orang yang ada disitu tergetar hebat. Seolah-olah akan menghadapi bencana besar, hingga satu sama lainsaling berpandangan dengan perasaan takut.

Sebab tidak perduli penguasa rumah penjara rimba persilatan itu ada orang dari golongan baik atau sesat, oleh karena ia tidak pernah terjun kedunia Kang-ouw, sehingga memberikan kepada orang-orang rimba persilatan bahwa ia itu selamanya tidak suka mencampuri urusan orang lain, ini juga merupakan salah satu sebab mengapa Ho-ong Jie Hloag Hu berani balik kembali kedaerah Tiong-goan-

Akan tetapi, hari ini orang misteri itu ternyata turun gunung secara mendadak bahkan tiba dilapangan tempat mana golongan Kalong untuk pertama kalinya mengadakan pertemuan besar.

Andaikata kedatangannya hari ini hendak mencampuri urusan golongan Kalong, sekalipun golongan Kalong mengerahkan seluruh orang dan kekuatannya, barang kali tidak bisa berbuat apa- apa terhadapnya.

Pangcu golongan Kalong setelah dalam keadaan panik, dengan cepat sudah bisa tenang kembali, saat itu ia lalu menganggukkan kepala berkata sambil tertawa:

"Penguasa rumah penjara rimba persilatan hari ini dengan tiba-tiba meninggalkan markasnya digunung Tay- pa-san, ini akan merupakan suatu berita yang menggemparkan rimba persilatan"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan mengawasi Cin Hong, lalu dengan suara tenang menjawab:

"Benarkah itu? Tapi aku toh belum pernah bersumpah tidak akan meninggalkan gunung Tay-pa-san bukan?"

"Kita diibaratkan air sungai yang tidak mengganggu air sumur, ada keperluan apa hari ini laocu datang berkunjung kemari?" tanya pula sang Pangcu sambil tertawa. "Ada urusan sedikit ingin bicara denganmu" "Urusan apa?" tanya si Pangcu kaget.

"Aku juga malas untuk bertanya padamu apa maksud dan tujuan membentuk golongan Kalong ini, tetapi jikalau kau tidak akan memperalat banyak orang-orang golongan putih yang kutawan dalam rumah penjara, bahkan jikalau kau tidak akan membuka rahasiaku bahwa aku tidak suka turun gunung melakukan kejahatan, kupercaya kau tidak nanti berani membentuk golongan Kalong ini, hal ini biar bagaimana toh sudah merupakan suatu kenyataan-..."

"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu ini"

"Maksudku ialah: Kau Jie Biauw Kow sedikit banyak harus berterima kasih padaku. Bukankah begitu ?"

"Kau katakan bagaimana aku barus mengucapkan terima kasih padamu ?"

"Aku menghendaki tiga orang ini" berkata penguasa rumah penjara rimba persilatan sambil menunjuk tiga orang yang diikat diatas tiang.

Hati Pangcu merasa lega, ia dapat menarik napas lega, dan lalu berkata sambil tertawa:

"he-he tak kusangka penguasa rumah penjara rimba persilatan juga bisa timbul hati bajaknya, ini kembali merupakan suatu berita besar yang akan menggemparkan rimba persilatan"

"sekarang aku akan mendengar jawabanmu sendiri.

Terima atau tidak ?"

"Jika aku mengatakan tidak, lalu kau mau apa?"

"Aku tunggu penolakanmu yang resmi, setelah itu tentu aku sudah bisa beritahukan padamu" Pangcu golongan Kalong berdiam sejenak. agaknya sedang berpikir, setelah itu baru berkata:

"Aku ada syarat, tidak tahu kau laucu ada mempunyai kesabaran untuk mendengarnya atau tidak?"

"Apakah kau masih akan mengukuhi keputusanmu tadi?

Kukira tidak begitu, bukan?"

Sang Pangcu tampak bersangsi, "coba kau katakan-Jika aku tidak bisa terima, aku toh bisa segera menggunakan tindakan untuk memberitahukan kepadamu "

Pangcu golongan Kalong memberi isyarat kepada kedua anggota pelindung hukumnya. Lam-kek-sin-kun dan sepasang suami istri dari partai Lo-hu lekas mengerti maksudnya, semua lalu bergerak maju, hanya tamu tidak diundang dari luar daerah yang tidak lihat, sebab ia sedang bicara dengaa Cin Hong entah apa yang dibicarakan.

Penguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa dingin, perlahan-lahan mendongakkan kepala, sikapnya sangat tenang sekali, agaknya tak pandang mata sama sekali orang- orang yang mengepung dirinya, seolah-olah tak  tahu dirinya sudah terkurung oleh kawanan iblis jahat dan ganas.

Pangcu golongan kalong batuk-batuk sebentar, kemudian berkata sambil tertawa

"Sebetulnva syaratku ini tak menyulitkan kau. Asal kau terima baik permintaanku, untuk selanjutnya tidak akan mencampuri urusan golongan kami, Sudahlah cukup "

Ketika ia mengucapkan perkataan terakhir kakinya digeser mundur, agaknya berjaga-jaga kalau umpamanya diserang penguasa rumah penjara secara tiba-tiba.

Tak disangka bahwa apa yang terjadi lalu seluruhnya malah kebalikannya dari apa yang diperkirakannya. Tampak penguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata

"Kukira syarat apa dan bagaimana yang akan kau ajukan itu tak tahunja cuma begitu, Dengan terus terang, sekali pun kau minta-minta kepadaku, aku belum tentu mau mencampuri urusanmu.Jadi kau boleh tak usah kuatir. Langsungkan saja terus perbuatanmu yaag terkutuk itu"

Maka pangcu golongan Kalong menunjukkan sinar terang, Kemudian memerintahkan Tongcu Kalong hitam Kha Gee San supaya lekas membebaskan tiga orang yang terikat ditiang kayu itu.

Kha Gee San memerintahkan anak buahnya membebaskan tiga orang tersebut, dan mengambil pakaian mereka.

Ma Liong Po tidak lantas memakai pakaiannya, mengaWasi lebih dulu penguasa rumah penjara rimba persilatan sejenak. lalu berkata dengan suara nyaring:

"hei, penguasa rumah penjara rimba persilatan, Kita juga harus bicara dulu dengan tenang. Kau menolong aku boleh juga . Akan tetapi jikalau nanti dikemudian hari kau minta aku melakukan apa- apa, aku tidak mau, lho"

Cin Hong juga berkata dengan suara nyaring:

"Aku juga begitu.Jadi. sebaiknya kau jelaskan saja dulu apa maksudmu"

PenguaSa rumah penjara rimba persilatan berkata Sambil tertawa:

"Syarat dariku ialah hendak mengundang kalian makan bersama-sama. Bagaimana"

Ma Liong Po tercengang, katanya: "Baik kalau cuma Untuk itu, Apakah kau bisa pegang janjimu ini?" "Sudah tentu" kata penguasa rumah penjara sambil menganggukan kepala,

Tiga orang itu lalu mengenakan baju masing-masing, dan Cin Hong setelah memakai pakaiannya, lalu memungut kipasnya dan kemudian berjalan menghampiri pangcu golongan Kalong. seraya berkata sambil mengulurkan tangannya "Kembalikan kitab pusaka itu padaku."

Pangcu golongan Kalong berpaling dan bertanya kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan.

"Apa ini juga termasuk dalam syaratnya?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan menatap sang pangcu sejenak. lalu berkata sambil geleng-gelengkan kepala "Aku tak mau tahu soal itu."

Pangcu golongan Kalong sangat girang, lalu berpaling dan berkata pada Cin Hong "Kalau begitu, aku katakan disini, aku tidak akan kembalikan kepadamu"

"Kau tahu malu tidak?" tanya Cin Hong marah. "Tidak "

Penguasa rumah penjara rimba persilatan tertawa terbahak-bahak kemudian:

"Kau lihat. Memang ada juga orang yang mempunyai kedudukan demikian tapi toh masih tidak tahu malu. Biarlah, mari sekarang semua ikut aku turun gunung"

Cin Hong marah dan berkata: "Tidak bisa!! Barang itu kuberikan kepada siapa saja boleh, tapi tidak boleh dia yang ambil"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan berhenti tertawa, kemudian mundur selangkah dan berkata: "Kalau begitu kau coba rampas sajalah dulu dari tangannya, aku menunggu kau disini"

Cin Hong mengira bahwa orang misteri itu akan mau membatalkan dirinya juga pasti mau membantu untuk minta kembali kitab Pusakanya, tetapi melihat ia benar- benar telah berpeluk tangan, diam-diam menguatirkan kepandaian sendiri tidak sanggup melawan pangcu golongan Kalong, maka itu hawa amarahnya berkurang dengan sendirinya, hingga untuk sesaat ia merasa serba salah.

orang tua senjata perak lantas membuka mulut bertanya padanya. "Cin Hong, apakah barang itu penting sekali?"

Cin Hong menganggukan kepala, "Penting sekali" sahutnya.

Ma Liong Po lalu berkata sambil menghunus pedangnya: "Kalau begitu kami akan bantu kau merampas kembali"

Cin Hong tahu bahwa mereka sudah mengeluarkan darah banyak. tidak mungkin buat melakukan pertempuran lagi, selagi hendak menolak dengan halus, tiba-tiba terdengar suara orang berkata:

"Kabar baik!!! Berita baik Urusan dalam dunia sesungguhnya banyak sekali terjadi perobahan. Barang Siapa yang senang berkelahi, sekarang tempat baik untuk memberi kesempatan bagi mereka"

Suara itu diucapkan seperti sedang menyanyi, kemudian dari dalam rimba dekat goa Hek-liong-tong. muncul  seorang tua berpakaian kelabu yang bermuka bopeng, orang tua itu berusia kira-kira enam puluh tahun, matanya lebar alisnya tebal, namun Wajahnya bopeng, sikapnya sangat gagah dan agak sedikit lucu. begitu melihat sudah dapat diduga bahwa orang tua itu adalah seorang yang bersifat agak berandalan dan suka berlaku jenaka.

Ditangan kiri orang tua itu dan membawa segulungan kertas kuning, Sedang tangan kanan menenteng ember yang penuh dengan lem. Sekeluarnya dia dari dalam rimba, dan setelah memberi hormat kepada orang banyak. kemudian meletakkan embernya dan mengeluarkan kertas kuningnya itu. kemudian ditempelkan disamping mulut goa Heh- Liong-tong.

Pangcu golongan Kalong yang menyaksikan perbUatan itu mengeluarkan suara seruan kaget kemudian berpaling dan berkata kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan:

"Kakek bopeng Bwe Hwee Houw An dari gunung Lauw San ini, yang juga merupakan salah seorang akhli racun berbisa dari enam akhli racun bukankah sudah tertawan dalam rumah penjaramu?"

"Memang betul. Tapi beberapa hari berselang ia menantang bertanding dan sanggup menyambut seranganku sampai sepuluh jurus, jadi ia berhak dapat kebebasannya mulai hari ini juga "

Sang pangcu kembali mengeluarkan suara seruan kaget, sebab ini benar-benar merupakan satu berita yang mengejutkan.

Perlu kiranya diketahui, seratus lebih tawanan dalam rumah penjara itu, meskipun selama itu banyak diantaranya yang sudah coba menempuh bahaya untuk menantang lagi, akan tetapi belum pernah ada seorangpun yang sanggup menyambut hingga sepuluh jurus dan mendapat kebebasan. Meskipun penetapan peraturan penguasa rumah penjara itu sebetulnya bukanlah suatu batas yang terlalu berat. Tetapi dalam mata dan hati semua orang. apabila ada yang sanggup memenuhi syarat itu dan bisa mendapat kebebasan, tentulah yang berasal dari tawanan orang-orang yang di taruh didalam kamar naga, dan kakek bopeng ini meskipun juga salah seorang tokoh kuat dalam rimba persilatan, tetapi dengan kepandaian yang dimiliki, kalau harus mampu menyambut serangan sepuluh jurus itu dari penguasa rumah penjara, masih merupakan suatu syarat yang terlalu berat baginya.

Akan tetapi sekarang kenyataannya ia sudah bebas. Bukankah itu merupakan suatu kejadian yang aneh danpatut kalau menggemparkan rimba persilatan?

Kertas kuning yang di tempelkan oleh orang tua bopeng itu, ternyata merupakan sebuah pengumuman, tentang berdirinya sebuah rumah penjara rimba persilatan yang  baru di-puncak gunung Sin- lie- hong di gunung Bu San-

Pengumuman itu sangat ganjil, memang tak Salah kalau dikatakan suatu berita yang menggemparkan rimba persilatan- Dalam pengumuman itu disebutkan peraturannya yang terdiri dari enam pasal, dan dituturkan dengan lengkap berturut sebagai berikut, Satu :

orang-orang rumah penjara itu sejak didirikannya sudah menyebar anggota-anggotanya yang kuat untuk merampas istri dan anak perempuan orang-orang rimba persilatan, barang siapa yang kehilangan istri atau anak perempuan, dalam waktu satu tahun harus datang sendiri kerumah penjara rimba persilatan di gunung Bu san untuk menantang bertanding, seliwat batas waktu yang ditetapkan kalau tidak datang, dianggap sudah melepaskan haknya dan istri atau anak perempuannya akan digunakan sebagai hadiah bagi siapapun yang berhasil mendapat kemenangan dalam pertandingannya dengan penguasa rumah penjara. Dua : Penguasa rumah penjara atau Laocu tiap waktu bersedia menyambut kedatangan orang-orang yang hendak mengadakan pertandingan, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda terutama maksudnya ditujukan terhadap orang-orang dari angkatan muda. Tiga :

Barang siapa yang mampu menyambut Satu kali  saja dari serangan laucu bisa dianggap sebagai pemenang dan boleh membawa pulang istri atau anak perempuannya. Yang tidak mempunyai istri atau anak perempuan, boleh memilih sesukanya salah satu perempuan atau laki-laki sebagai pasangannya, bahkan laucu sendiri yang akan melangsungkan upacara Perkawinan disitu. Empat :

Barang siapa yang datang menantang bertanding dan tidak sanggup menyambut serangan Laucu, harus masuk penjara untuk dikurung seumur hidup, tidak diberi kesempatan untuk menantang lagi. Lima :

Rumah penjara tidak akan menerima orang yang hendak menengok atau melawat orang-orang yang di penjarakan disitu apabila diketahui ada orang yang datang dengan memaksa, akan segera di bunuh mati. Enam:

Peraturan ini dijalankan sejak hari diumumkannya, apabila akan diadakan perobahan akan diumumkan lagi.

Semua orang sehabis membaca pengumuman itu pada berdiri ter-mangu2, tiada seorangpun yang berani buka mulut.

Kha Gee San sebagai orang pertama yang beradat tak sabaran, lantas berkata sambil tertawa lebar.

"Hahaha, tak disangka bahwa dalam rimba persilatan juga bisa muncul rumah penjara yang kedua. Benar sangat lucu Laki-laki dan perempuan yang ingin mendapatkan jodoh boleh tertawa lebar" Ucapan itu di sambut oleh banyak orang, dengan tertawa riuh,

Pangcu golongan Kalong lalu berkata kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan penuh sindiran:

"Laucu sudah lihat atau belum? Satu jurus saja? Heheh, laucu ini rupanya ada maksud hendak atau sengaja hendak bersaing denganmu."

Penguasa rumah penjara rimba persilatan hanya mengeluarkan suara dari hidung, kemudian berjalan menghampiri si kakek bopengan,

Semua orang yang ada disitu sudah membayangkan akan terjadinya suatu pertempuran hebat, tetapi kakek bopeng itu dengan sikap acuh tak acuh membawa gulungan kertasnya yang masih belum ditempel, dan mengangkat lagi embernya, Setelah memberi hormat kepada orang banyak, kemudian berlalu dari situ.

"Tunggu sebentar." panggil penguasa rumah penjara rimba persilatan yang sudah menghadang di hadapannya, setelah itu ia berkata lagi sambil tertawa dingin: "Bwe Houw An Siapa yang suruh kau melakukan pekerjaan ini?"

Kakek bopeng dengan sikap tidak takut, dan menunjukkan tertawanya yang ringan segera menjawab:

"sudah tentu laucu kami, hal ini seharusnya tidak perlu ditanyakan-"

"Siapa kah dia itu?"

"Jikalau kau tidak marah, aku juga ingin tanya sedikit, kau laucu dari rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san apakah pernah menjawab pertanyaan orang demikian?" Penguasa rumah penjara rimba persilatan marah sekali, tetapi sebaliknya malah tertawa

"Heh Apa kau tidak takut mati?"

"Aku sudah tua bangkotan, tetapi tokh tidak mungkin kalau tidak takut mati.Jikalau kau mau mengompres atau membunuh mati seorang pion kecil tak berarti dari rumah penjara gunung Bu-san, sekalipun aku harus mati juga tidak menyesal"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan meskipun tinggi kepandaian ilmu silatnya, akan tetapi agaknya kurang pandai dalam soal adu lidah, maka mendengar ucapan itu lantas tercengang, lama sekali baru berkata:

"Kalau begitu, begini saja kita tetapkan. Kau lantas berita hukan laucumu itu, katakan padanya apabila ia mempunyai keberanian boleh datang kegunung Tay-pa-san untuk mengadakan pertandingan denganku"

Kakek bopeng membungkukkan badan dan dengan lekas berkata:

"Sudah tentu aku nanti akan sampaikan, hanya pengharapannya barang kali tipis sekali sebab laucu kami selamanya belum pernah menginjak dunia Kang ouw, dia juga sedang menantikan dan mengharap dengan sangat kedatanganmu, laucu. supaya sudi berkunjung kegunung Bu-san untuk menantang bertanding dengannya"

sehabis mengucapkan demikian, ia sudah lari turun gunung.

Penguasa rumah penjara rimba persilatan itu lalu menghampiri pengumuman itu dan dirobek-robeknya, setelah mana ia lalu mengajak Cu Giok Tian, Ma Liong Po dan Cin Hong turun gunung. Empat orang itu turun gunung ong-ok San- Berjalan kebarat kira-kira satu pal lebih, penguasa rumah penjara rimba persilatan mendadak berhenti dan berkata kepada Ma Liong Po sambil tertawa

"hei, sekarang kau sudah boleh pergi sendiri " Ma Liong Po terCengang, tanyanya:

"Apa laucu tak akan mengundang makan aku lagi ?"

Laucu mengangguk sambil berkata: "Dikemudian hari akan kuundang lagi rasanya juga belum terlambat benar, tapi sekarang ini aku tidak sempat"

"Apa laucu pikir hendak menantang bertanding dirumah penjara gunurg Bu-san?"

"hm, dia mana ada harganya untuk bertanding denganku?" berkata penguasa rumah penjara sambil tertawa dingin.

Ma Liong Po merasa seperti keterlepasan omong, buru- buru menjura dan berkata:

"Ucapan laucu memang benar. Perbuatan orang itu sesungguhnya terlalu rendah sekali. Sekalipun kepandaian ilmu silatnya tinggi sekali juga tak dapat disamakan dengan laucu, maka laucu rasanya memang tak perlu menurunkan derajad sendiri untuk pergi menantang pertandingan"

"Ng... Apa kau anggap aku ini orang baik?" bertanya penguasa rumah penjara. Ma Liong Po mengangguk- anggukan kepala dan menjawab.

"Ng? Dahulu meskipun aku pernah dengar pembicaraan orang banyak yang mengatakan dan menggambar laucu sebagai sekarang iblis yang tak mempunyai perasaan kemanusiaan, tetapi sekarang aku sudah tidak percaya dengan omongan itu iagi, sekalipun suruh aku mati, aku benar-benar tak berdaya lagi "

"Sebaiknya kau percaya saja." berkata penguasa rumah penjara dingin.

Ma Liang Po hanya tertawa saja, kemudian berpaling dan menjura kepada Cin Hong seraya berkata.

"Sudah lama kudengar bahwa Cin-caycu adalah seorang Cerdik pandai yang kenamaan, tak kusangka lebih dari itu Cin-caycu masih memiliki kepandaian ilmu silat demikian tinggi, Hari ini aku dapat berjumpa dengan Cin-caycu, aku meraSa sangat beruntung, kepergianku kali ini bisa beruntung tidak mati, dilain Waktu apa bila bertemu lagi dengan Cin-caycu, dan apabila Cin Cayku tidak memandang rendah kepada diriku slorang She Ma boleh kah nanti kita menjadi sahabat akrab?"

Cin Hong balas menjura dan mengatakan kata-kata yang merendahkan diri, kemudian bertanya.

"Saudara Ma hendak kemana?"

"Kepuncak sin- lie- hong digunung Bu San-" jawab Ma Liong Po lekas.

"Apakah saudara Ma hendak pergi menantang bertanding?" tanya lagi Cin Hong dalam rupa terkejutnya.

Ma Liong Po menganggukkan kepala dan berkata: "Benar, penguasa rumah penjara rimba persilatan yang

baru itu, telah bertindak keterlaluan terhadap kaum wanita yang tidak mengerti iimu silat, perbuatan semaCam itu sesungguhnya adalah perbuatan rendah dan sangat memalukan, aku seorang she Ma maksud belajar ilmu silat mempunyai cita-cita, ialah hendak menolong yang lemah dan  membasmi  yang  kuat,  meskipun  aku  tahu  bahwa kepandaianku masih tidak tinggi, tetapi urusan ini kalau dibiarkan berlarut-larut dan tidak diperdulikan bagaimana aku masih ada muka untuk berkelana di rimba persilatan?"

Cin Hong yang mendengarkan itu darahnya bergolak, sesaat semangatnya lantas terbangun, maka lalu berkata sambil menepok-nepok tangan:

"Bagus sekali? Siaote ingin mengikuti kau bersama saudara pergi kegunung Bu-san untuk menantang bertanding"

Sebabis berkata begitu ia lantas mau pergi dan minta diri kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan dan orang tua senjata perak. Penguasa rumah penjara rupanya marah dan segera berkata: "Jangan bergerak. Apa kau gila semua?"

Cin Hong terCengang, tetapi kemadian berkata sambil membusungkan dada:

"Aku tidak gila, hanya orang yang tidak berani pergi menantang bertanding itu barulah seorang laki-laki pengecut"

PENGUASA Rumah Penjara itu marah dan berkata: "Kalau begitu coba kau pergi. Kalau tak kuhajar kau segera, lihat saja "

orang senjata perak melihat gelagat kurang baik buru- buru Campur tangan, katanya:

"Anak. aku tidak menentang kau buat pergi menantang bertanding, tapi kau rasanya masih ada suatu urusan yang kelupaan belum kau selesaikan "

Cin Hong kini baru ingat bahwa asal-usul dirinya yang sudah mulai mendapat sedikit keterangan, seharusnya hari itu sekalipun tidak ketemu penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan, ia sendiri juga memang sedang melakukan perjalanan kesana, untuk mencari keterangan tentang seseorang wanita yang bernama siu Khim meskipun sebagai seorang Kang-ouw tidak mementingkan urusan pribadi, tetapi untuk menantang bertanding kegunung Bu San rasanya juga tidak usah terburu-buru, apabila ia sendiri dapat menemukan dulu ayah bundanya dan kemudian pergi ke gunung Bu-San. sekalipun nanti dikalahkan, dan dipenjarakan seumur hidup, juga sudah bisa merasa tenang.

Berpikir sampai disitu, pikirannya semula yang hendak pergi ke gunung Bu-san sudah mulai berkurang. Tetapi, ia juga tidak berani lantas menanyakan kepada penguasa Rumah Penjara tentang perempuan yang bernama Siu Khim itu, sebab ia takut kalau ditanya sekarang, Penguasa Rumah Penjara itu sebaliknya nanti tidak mengijinkan ia masuk lagi kerumah penjara.

orang tua senjata perak itu tahu bahwa Cin Hong sudah mengerti maksudnya, maka dari lobang hidungnya mengeluarkan sebuah anak kunci emas yang segera disesapkan kedalam tangan Cin Hong, setelah mana ia baru menarik tangan Ma Liong Po dan berkata sambil tertawa:

"Ma-laote, mari jalan, aku akan mengawani kau melakukan pertempuran yang pertama ini"

Ma Liong Po menerima baik, keduanya seperti sahabat akrab, lari menuju kegunung Bu-san sambil tertawa-tawa.

Cin Kong mengawasi berlalunya mereka dengan hati sedih, dan penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan mendekati padanya dan ajak diajalan-

"Kemana?" bertanya Cin Hong sambil mengawasi padanya.

"Ke Rumah Penjara"

"Untuk apa ?" Cin Hong pura-pura tidak mengerti. "Kalau sudah pergi, kau nanti akan tahu sendiri."

Cin Hong diam-diam melangkahkan kakinya diikuti oleh penguasa Rumah Penjara Rimba persilatan yang berjalan disampingnya. Tiba-tiba bertanya lagi. Penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan kepada Cin Hong:

"Apa kau tidak ingin tanya kenapa hari ini aku datang kesini?"

"Kau Ceritakanlah " berkata Cing Hong tenang.

Penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan menampak sikap Cin Hong yang dingin dan tenang itu tampak sedikit marah, ia mengeluarkan suara dari hidung dan tidak bertanya lagi.

Cin Hong sebaliknya merasa agak menyesal ia bertanya sambil berpaling mengawasi Penguasa Rumah Penjara Rimba Persilatan itu:

"Laucu, aku sedang menantikan Ceritamu. Bagaimana sebetulnya ?"

Kali ini adalah Penguasa Rumah Penjara yang tidak menjawab seolah-olah tidak mendengar ucapannya.

Cin Hong merasa kesal, berkata: "Aku tahu, pasti adalah muridmu yang pulang memberitahukan padamu"

"Beritahukan apa padaku?" Akhirnya penguasa rumah penjara membuka mulut juga .

"Ia memberitahukan padamu kemana aku hendak pergi, maka kau lantas turun gunung dan datang kemari" menjawab Cin Hong sambil tertawa.

"Apa kiramu aku perhatikan dirimu?" balas tanya Penguasa rumah penjara rimba persilatan sambil memperdengarkan suara tertawanya yang geli. Cin Hong yang mendengar itu jadi terCengang, diam- diam berpikir: "Ya benar, aku dengannya bukan sanak bukan kadang, biar pernah melukiskan gambar wajah seseorang, itupun juga dengan syarat. Buat apa ia perhatikan diriku. UCapanku tadi sebenarnya sangat menggelikan"

"Hai, Cin Hong Kau dengar... Bagaimana kesanmu terhadap muridku?" tiba-tiba Penguasa rumah penjara Rimba parsilatan bertanya kepada Cin Hong.

"Baik Saja."

"ceritakan agak jelas sedikit"

"cantik, lemah- lembut, juga pintar mempermainkan orang"

"Apakah ia permainkan dirimu?"

"Ng ..ia sama dengan beberapa nona-nona suka sekali menggoda orang dengan sengaja, tetapi setelah orang itu berlutut dihadapannya ia lantas unjukkan sikap dari seorang yang mendapat kemenangan, lalu menendang orang itu dengan kakinya."

Penguasa rumah penjara rimba persilatan itu tiba-tiba seperti kehilangan tenaganya, langkah kakinya juga terhuyung-huyung, dan akhirnya jatuh di tanah. Cin Hong terkejut, buru-buru memapahnya sambil bertanya: "hei, kenapa?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan menundukkan kepala, tiba-tiba mengeluarkan suara tangisan yang menyedihkan:

"Kapan aku permainkan kau? Kau jangan memfitnah orang baik2" Dalam hati Cin Hong terkejut, ia membuka kerudung muka diwajah penguasa rumah penjara itu, begitu melihat, lantas berseru kaget: "Kau. Leng Bie Sian"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan yang kini ditarik kerudung mukanya oleh Cin Hong, ternyata bukan lain adalah Leng Bie Sian yang menyaru.

Waktu ini tampak wajah gadis itu yang cantik sudah basah dengan air mata, sikapnya sangat memilukan-

Tidak lagi seperti iblis besar rimba persilatan yang sikapnya dingin, ia telah berubah demikian lemah dan tak bertenaga, dengan ke-dua tangan menunjang tanah, menundukkan kepalanya rendah sekali dan ia menangis dengan sedihnya, seolah-olah seoran-gadis lemah yang ditinggalkan oleh pacarnya.

Cin Hong yang sebetulnya masih memikirkan dia walaupun membenCinya tapi kali ini melihat orang dirinduinya ini, barulah sadar kalau tadi ia tahu telah berlaku salah besar, maka ia berdiri terCengang sekian lama, baru mengulurkan kedua tangannya membimbing bangun dan mengelus-elus kedua pundaknya, katanya dengan suara perlahan: "Bie Sian, Bie Sian, aku benar-benar harus mampus Maafkanlah aku. "

Leng Bie Sian mendadak lompat bangun, dan lari bagaikan terbang.

Cin Hong mengejar dan memanggil-manggil dengan suara nyaring. "Bie Sian, jangan lari "Leng Bie Sian tidak sungguh-sungguh mengerahkan ilmunya meringankan tubuh maka dengan Cepat sudah terkejar oleh Cin Hong, pemuda itu berkata sambil menarik tangan Leng Bie Sian:

"Bie sian, kuulangi sekali lagi. Harap kau suka maafkan aku " Leng Bie Sian menghentikan kakinya, ia melepaskan tangannya dari genggaman Cin Hong, lalu berkata:

"Sebaiknya kau panggil aku nona Leng saja . . ." "Mengapa ?" tanya Cin Hong heran- -

"Sebab aku tidak Suka padamu "jawabnya dingin. "Baik, kalau begitu jawablah beberapa pertanyaaaku "

Leng Bie Sian hanya mengeluarkan suara dari hidung, menantikan pertanyaannya.

"Ai Bolehkah aku numpang tanya nona Leng? Sejak kita berpisah dibawah kaki gunung Kiu-hoa-san, kau kembali kerumah penjara rimba persilatan atau tidak ?"

"Tidak."

"Bagaimana dengan orang tua pedang mas?" "Ia sudah pergi "

"Bukankah kau kata hendak mengajak ia kesana ?"

"Kemudian aku mengambil keputusan lain, tidak jadi pulang. Hanya kutulis sepucuk surat, kubawakan padanya .

. ."

"Kemudian ke mana kau pergi?" "Hal ini tidak perlu kau tahu."

"Ha ? Apakah diam-diam kau mengikuti terus jejakku ?" "Kalau ya bagaimana ?"

"Jadi, orang yang diam-diam masuk kegereja Siao-lim-sie kemarin malam itu adalah kau juga , bukan ?"

"Kalau ya mau apa ?" "Untuk apa kau masuk ?" "Apa perdulimu ?"

"orang yang membunuh mati Ngo-beng Hweeshio itu betul tamu tidak diundang dari luar daerah yang tulen atau bukan ?"

"Tidak tahu, aku tidak menyaksikan "

"Tadi malam aku telah dibikin pingsan oleh siluman perempuan dari golongan Kalong. Apakah kau tidak lihat?"

"Melihat, cis. "

"Ai, itu apa yang dibuat geli?" "Aku justru ingin tertawa "

"Dan lagi, apa sebab kau tadi tidak membantu aku minta kembali kitab pelajaran ilmu silat itu?"

"Pangcu golongan Kalong itu meskipun takut kepada suhuku, tetapi aku sudah melihat bahwa ia tidak akan rela melepaskan kitab pelajaran ilmu silat itu. Bila kuminta dengan kekerasan, mungkin ia akan melawanku. Dan kalau sampai terjadi hal demikian bukankah kita akan habis semuanya?"

"Baiklah kalau begitu. Sekarang, pertanyaanku yang terakhir. Apa sebab kau terus mengikuti jejakku? "

"Kau tak usah tahu."

"Ha ha, jikalau kau tidak memberi penjelasannya, ini suatu tanda bahwa kau suka kepadaku "

"Ngoceh!!! Suhuku yang perintahkan aku mengikuti kau

"

"Mengapa dia perintahkan kau mengikuti aku?" "Entahlah,  kalau  kau  kembali  kerumah  penjara, boleh

kau tanyakan sendiri kepada suhuku " "Bagaimana kalau aku tidak mau ikut pulang?" "Itu. aku berkata akan ikat dan seret kau "

"Baik kau cobalah "

"cis, aku hanya main- main denganmu. Bolehkah kau jangan berlaku demikian?"

"Haha. "

Tiba disatu kota mereka menginap satu malam. Dihari kedua, pagi-pagi sekali mereka sudah melanjutkan perjalanannya ke propinsi San-see. Disepanjang jalan mereka menemukan pengumuman-pengumuman tentang berdirinya rumah penjara rimba persilatan yang baru di gunung Bu-san, juga mendengar berita tidak putus-putusnya tentang lenyapnya beberapa orang wanita. Setiap kali mereka memasuki rumah makan, tak lain yang dibicarakan oleh para tamu hanyalah soal berdirinya rumah penjara rimba persilatan yang baru itu. Benar-benar merupakan suatu berita yang dapat membuat panik orang, seolah-olah semua orang Sedang dihadapi dengan dua pilihan, hidup dan bencana maut.

Jelas juga , bahwa berita berdirinya rumah penjara rimba persilatan baru di gunung Bu-san itu, bagaikan halilintar di Siang hari bolong, juga bagaikan sebuah batu besar dilemparkan ke air danau yang tenang, jelas sudah menimbulkan kegemparan hebat, membuat seluruh rimba persilatan diliputi kembali oleh suasana tidak tenang dan panik.

Berita tentang hilangnya beberapa orang Wanita terus mengalir bagaikan gelombang air laut, dari propinsi An wie terus kepropinsi Ho-lam, dari Ho-lam masuk ke San-see dengan terang-terang, akhirnya sampai juga kedaerah perbatasan propinsi San-see, yang merupakan tempat adanya rumah penjara rimba persilatan yang lama.

Konon kabarnya, dalam waktu tiga hari, sudah terjadi penculikan terhadap beberapa orang wanita, jelasnya dua puluh orang lebih. bahkan orang-orang yang hilang diculik itu merupakan kaum wanita yang masih muda dan berwajah jelita. Yang lebih aneh lagi ialah, mereka itu kebanyakan adalah istri-istri atau anak perempuan orang- orang rimba persilatan yang cukup punya nama.

Mereka telah menghilang secara sangat misterius, tidak terdengar suara jeritan mereka, tidak tertinggaikan jejak atau bekas-bekas mereka yang sudah dijadikan pegangan untuk membuat perkara.

Hari itu petangnya, Cin Hong bersama Leng Bie Sian tiba dikota Tiang-an.

Ketika mereka sedang masuk kerumah makan dan sedang duduk makan, kebetulan dapat mendengar dua orang laki-laki berpakaian dinas sebagai anggota keamanan, yang duduk disebelah mereka, sedang pembicarakan soal yang cukup unik.

Di dalam kota Tiang-an itu ada sebuah perusahaan pengangkutan yang bernama Sun- hong piauw-kiok. Kepala barisan pengangkutan yang bernama Liu In coan dengan julukan jago pedang empat penjuru lautan adalah seorang piauwsu, seorang jago muda yang sangat terkenal. Pada waktu belakangan ini Liu In coan telah mengawini seorang perempuan Cantik, oleh karena takut isterinya yang Cantik itu nanti kena diculik selagi dia melakukan tugasnya maka dia sengaja menolak mentah-mentah semua barang antaran yang diserahkan padanya. Dengan begitu setiap hari gawenya jadi hanya nongkrong saja di rumah menunggui isterinya. fsterinya mau kemanapun selalu diikutinya. Tindakannya untuk melindungi isteri itu telah ditiruoleh beberapa piauwsu dari perusahaan pengangkutan yang mempunyai istri agak cantik, hingga dengan demikian perusahaan pengangkutan untuk sementara terpaksa tutup pintu, hal itu sudah tentu sangat merugikan bagi kaum pedagang yang biasa mengirimkan barang-barangnya ke kota jauh.

Cin Hong mendengar Cerita itu merasa geli maka berkata kepada Leng Bie Sian dengan suara pelahan:

"Nona Leng, bila kawanan piauwsu itu terus-terusan dengan Cara demikian melindungi isterinya masing-masing bukankah lama kelamaan akan kehabisan semua juga harta bend yang untuk dimakan nganggur saja?"

"Kau jangan tertawakan orang lain- coba hal itu menimpa dirimu sendiri, barang kali kau pun bisa juga berbuat demikian" kata Leng Bie Sian sambil tertawa.

"Mana bisa? Aku justru tidak bisa berbuat begitu" berkata Cin Hong dengan muka merata.

"Heh Kukira meskipun para piauwsu itu setiap hari menjaga dan melindungi para isteri dan anak perempuannya, tetapi aku tidak perCaya kalau orang-orang dari dalam penjara rimba persilatan yang baru ini, sudah sama sekali tidak bisa lagi turun tangan untuk menculik anak istri mereka. Bagaimana kalau malam ini kita meronda satu malaman di kota Tiang-an ini? Kalau dapat kita tangkap salah seorang dari kaum penculik itu, bukankab merupakan satu jasa juga ?"

"Itu benar, kita cari sebuah penginapan dulu, nanti tunggu hingga tengah malam baru keluar pintu" berkata Cin Hong girang. Sehabis makan mereka turun dari tangga loteng, lalu pesiar dijalan-jalan ramai dalam kota Tiang-an itu, kemudian mencari rumah penginapan untuk menginap. setelah malam tiba, mereka tidur di kamar masing-masing untuk menantikan datangnya waktu malam.

Waktu tengah malam, Cin Hong mendengar ketukan tiga kali sebagai kode dari Leng Bie Sian yang tidur di kamar sebelahnya, maka ia buru-buru bangun dan lantas berpakaian tapi setelah itu membuka daun jendela dan lompat keluar.

Begitu keluar dari kamarnya, ia lihat Leng Bie Sian juga sudah keluar dan lompat keatas genteng, maka ia juga mengikuti jejaknya, dari situ lepaskan pandangan matanya ke empat penjuru, namun keadaan sunyi sepi, bulan yang terang menyinari seluruh jagat, begitu suasana kota Tiang- an diwaktu malam. Masih pula tertampak lampu-lampu dijalan, di beberapa bagian kota masih terdengar suara orang yang bercakap-cakap atau tertawa-tawa.

Leng Bie Sian menggapaikan tangannya ke arah Cin Hong, lantas melayang turun ke satu sudut jalanan kota, kemudian menyelinap ketempat gelap yang tidak mendapat penerangan sinar lampu.

Cin Hong melayang turun kebawah, bertanya dengan suara perlahan, "Nona Leng, bagaimana bila kita bertemu dengan polisi peronda malam?"

"Kalau melihat mereka mendatangi, kau menyingkir saja tokh sudah cukup "

"Apa kita tidak lebih baik berjalan bersama-sama saja ?" tanya Cin Hong. "Kita tokh bukan sedang pesiar? Perlu apa mesti berjalan bersama-sama ?" balas bertanya Leng Bie Sian sambil tertawa.

"Aku pikir sebaiknya berjalan bersama-sama saja, sebab seandai . . ."

"Apa kau masih kuatir kalau- kalau aku juga diculik orang ?"

"Ng Meskipun kepandaian ilmu silatmu lebih tinggi daripadaku, tetapi aku takut para penculik itu ada mempunyai permainan lain-. ." menjawab Cin Hong sambil menganggukkan kepala.

"Jangan kuatir Malam ini, kalau kawanan penculik itu ketemu denganku, pasti akan kubuat mereka tidak barkutik "

"Baiklah, coba kau katakan bagaimana kau hendak mencari ?"

"Di kota Tiang-an ini ada tiga buah perusahaan pengantar barang, kau coba pergi ke Sun- hong-piauw- kiok untuk melihat-lihat, aku sendiri akan pergi keperusahaan yang lain, dalam waktu satu jam kita kembali dan bertemu di tempat ini lagi "

Sehabis berkata demikian, Leng Bie Sian lompat melesat, secepat kilat sudah naik ke atas genteng di rumah seberangnya, dengan dua kali lompatan sudah menghilang dari pandangan mata Cin Hong.

Cin hong juga lompat ke atas genteng, berlari-larian di atas genteng rumah orang, terus menuju ke Sun- hong piauw-kiok.

Tiba diatas genteng dekat San- hong-piauw- kiok. ia mencari suatu tempat yang cukup tinggi dan tersembunyi untuk duduk, dari sana dapat melihat keadaan disekitarnya dengan nyata, ia melihat juga gedung Sun- hong piauw-kiok yang besar, namun gelap gulita dan Sunyi senyap. tidak ada rasa aneh sedikitpun juga .

Ia duduk Sambil pasang mata dan telinga, akhirnya merasa bosan karena menunggu terlalu lama. Tiba-tiba, di luar dinding tembok perusahaan pengangkutan itu, disatu sudut gelap muncul kepala seseorang, orang itu perlahan- lahan menggeser kebawah dinding tembok bagian kiri, selanjutnya dari situ juga muncul seorang yang lain, yang perlahan-lahan menggeser kekanan.

Dua orang itu saling mendekati Satu sama lain, kira-kira terpisah satu kaki lantaS berhenti, agaknya sedang berbicara dengan suara sangat perlahan.

Tak lama kemudian lantas berpencar lagi, mereka masing-masing berjalan menuju ketempat semula, gerakan sangat tenang, diperhatikan terus oleh Cin Hong sampai menghilang di tempat gelap.

Menyaksikan perbuatan dua orang itu, Cin Hong mulai merasa tegang perasaannya, baru Saja hendak menyaksikan apa yang dilakukan oleh mereka, dijalan-.raya tiba-tiba terdengar suara roda kereta berjalan, dan sesaat kemudian, tampak sebUah kereta kuda yang tendanya diturunkan, kusir keretanya adalah seorang laki-laki yang kelihatannya jujur, ia terus menjalankan keretanya dan berhenti didepan pintu perusahaan pengangkutan Sun-hong piauw-kiok. setelah kereta itu berhenti ia membuka tenda kereta, agaknya hendak melihat tetamunya, bahkan jelas sekali bahwa kereta itu dipesan oleh pihak Sun-hong piauw-kiok,

Begitu kereta itu berhenti, dari tempat gelap mendadak bermunculan dua sosok bayangan orang yang masing- masing dari sebelah kiri dan kanan. Cepat bagaikan kilat menyerbu kereta itu.

Ketika mereKa mendekati kereta, Cin Hong baru melihat nyata daripakaian mereka, ternyata bahwa mereka adalah dua polisi peronda malam, hingga diam-diam ia merasa malu sendiri. coba tadi ia turun menyerbu mereka, tentunya mereka berbalik anggap ia sebagai orang jahat.

Dua anggota polisi ronda itu tiba dldepan kereta, satu diantaranya mendekati kusir dan bertanya: "Dari mana ?"

"Dari perusahaan kereta Tok-heng dikota Sebelah timur."jawab sang kusir sambil memberi hormat.

Polisi ronda malam itu mengamat-amati kusir sejenak. dan bertanya pula: "Tengah malam buta kau membawa kereta kemari, ada keperluan apa ?"

"Liu Piauw-tauw sendlri yang menghendaki." jawab sang kuslr.

"Apa Ia suruh kau membawa keretanya pada waktu tengah malam seperti ini ?" tanya pula pollsl itu heran-Sang kusir hanya mengangguk.

Pada Saat itu, pintu gedung Sun-hong-piauw-kiok tiba- tiba terbuka, dari dalam berjalan keluar seorang laki-laki setengah umur yang berwajah tampan, sedang memimpin seorang perempuan muda yang sangat cantik. Perempuan itu dibimbing dengan sikap mesra oleh yang lelaki, berjalan turun dari undakan depan pintu, menuju kereta,

Dua anggota polisi peronda memberi hormat kepada lelaki setengah umur itu sambil berkata:

"Liu Piauw-tauw, bolehkah kami numpang tanya? Tengah malam buta seperti ini Liu Piauw-tauw sebenarnya hendak melakukan perjalanan kemana?" Laki-laki setengah umur itu lantas membalas hormat dan menjawab:

"Bapak-bapak tentunya sudah terlalu cape aku seorang she- Liu oleh karena merasa bahwa selama beberapa hari ini keadaan sangat gawat, maka hendak memulangkan istriku pulang kekampung, hendak menyingkir untuk sementara, Supaya aku dapat melakukan usahaku dengan hati tenang, harap jangan bapak-bapak jadikan bahan tertawaan "

Dua anggota polisi itu saling berpandangan sejenak. Satu diantaranya berkata sambil tertawa:

"Kalau Liu Piauw-tauw mempunyai maksud menjaga secara demikian, kami berdua jadi tidak perlu menjaga disini lagi."

Laki-laki setengah umur itu mengucapkan beberapa patah kata merendahkan diri, lalu membimbing istrinya naik kereta dengan diikuti olehnya sendiri.

Kusir kereta juga segera lompat naik ke atas keretanya kembali, setelah itu mulai menjalankan keretanya kembali.

Dua polisi peronda tadi menunggu sampai kereta itu berjalan cukup jauh, satu diantaranya yang tak tahan rasa gelinya, berkata kepada kawannya:

"Ha ha, pantas ia itu demikian khawatir dan ketakutan, memang benar istrinya itu tidak jelek"

Yang lain menyahut sambil tertawa: "Bukan cuma tidak jelek saja, aku dalam hidupku sampai sebegini tua, boleh dibilang baru pertama kali ini menyaksikan seorang perempuan yang begitu cantik."

Polisi yang berkata lebih dulu tadi berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak: "Kau jangan mengiri, mungkin jauh lebih baik keadaanmu sekarang ini. Kau harus tahu mempunyai istri cantik, lebih banyak harus menjalani siksaan hidup, Kau lihat saja contohnya ia selama beberapa hari ini kukira benar-benar tidak enak makan tidak enak tidur, hidupnya selalu diliputi oleh kekuatiran dan ketakutan, takut dan kuatir kalau- kalau sampai terjadi istrinya diculik orang. Aku kira, dari pada hidup semacam itu, ada lebih baik kawin dengan seorang perempuan yang jelek sama sekali"

"Pui Lantaran kau sendiri sudah menikah dengan perempuan jelek tentunya. Dan ucapanmu itu cuma untuk menghibur dirimu sendiri bukan?"

Mereka berjalan sambil mengobrol dan menuju kejalan raya, Cin Hong juga merasa tidak ada perlunya berdiri lama-lama disitu. Tapi, selagi hendak keluar mencari Leng Bie Sian, tiba-tiba terdengar suara nyaring dipintu gedung Sun- hong-piauw- kiok, setelah itu tampak seorang laki-laki setengah umur lari keluar dari dalam dan berseru dengan sikap gelisah:

"oh Tuhan oh Tuhan Istriku diculik orang Istriku

diculik orang. "

Laki-laki setengah umur itu lari menuju kejalan raya, ketika wajahnya disinari oleh sinar rembulan, membuat Cin Hong dan dua polisi itu terheran-heran.

Wajah laki-laki itu ternyata sama benar dengan laki-laki setengah umur yang dianggap sebagai Liu in coan kepala piauwsu perusahaan pengangkutan yang tadi bersama istrinya naik kereta, wajah dua orang itu seolah-olah Pinang dibelah dua. Dua polisi tadi segera lari baiik dan bertanya kepadanya dengan terheran-heran: "hei Kau siapa?"

Laki-laki setengah umur tadi berdiri di tengah jalan raya dengan sikap sangat Cemas tubuhnya tampak sempoyongan- Sambil membanting- banting kaki, mulutnya berseru tidak hentinya:

"Istriku In Gie, istriku In Gie, kemana kau? Kemana kau?"

Dua anggota polisi tadi maju menghampiri dan bertanya lagi padanya:

"hei Tengah malam buta rata seperti ini kau berteriak- teriak macam itu, apa perlunya, kau sebetulnya siapa?"

Laki-laki setengah umur itu terheran-heran, katanya: "Mengapa bapak berdua tidak mengenali aku Si orang she Liu lagi?"

"Haaaa.. Jadi kau kepala piauwsu Sun-hong piauw-kiok Liu in coan?" bertanya anggota polisi tadi terheran-heran-

Laki-laki setengah umur tadi mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan wajah muram.

"Ya Aku baru saja bangun tidur, baru mengetahui bahwa istriku sudah tidak ada disampingku. Apakah bapak- bapak berdua ada melihat dia tadi disekitar tempat ini ?"

Dua poliSi tadi membelalakkan matanya, dengan suara gelagapan menjawab:

"Aaaa, apa artinya ini? Kami berdua baru saja menyaksikan kau bersama nyonyamu pergi ke luar kota menaik kereta, kau Liu Piauwtauw bahkan masih mengatakan hendak bawa nyonya mau pulang ke kampung untuk menyingkir sementara waktu"

Liu in coan menunjukkan sikap kaget, katanya dengan suara ketakutan-. "Mereka menuju kemana?"

Polisi tadi mengacungkan tangannya menunjuk ke ujung jalan, Liu in coan berseru dan lantas mengejar ke tempat yang ditunjukkan tadi. Tetapi Cin Hong bergerak lebih Cepat dari padanya, belum mendengar habis keterangan polisi tadi, ia sudah melesat, dengan melalui genteng genteng rumah orang pergi mengejar kearah tadi, gerakannya itu demikian cepat hingga seperti anak panah melesat dari busurnya.

Dalam waktu sekejap mata saja, Cin Hong sudah mengejar sampai di bawah pintu kota, disitu tampak olehnya dua tentara penjaga pintu sedang hendak menutup pintu kota, wajah dua orang itu jelas menunjukkan sikap girang mungkin mereka baru saja mendapat persenan besar.

Cin Hong menggunakan kesempatan selagi mereka belum menutup pintu kota itu seluruhnya, bagaikan aSap melesat melalui pintu tadi, Setelah keluar dari pintu kota, segera menampak Sebuah kereta sedang dilarikan kencang menuju kejalan raya yang masih kira-kira setengah pal jauhnya.

Malam itu udara diterangi Sinar rembulan, oleh karena kuda yang menarik kereta itu lari terlalu cepat, keretanya jadi bergoncang-goncang hebat.

Cin Hong mengejar terus, tak lama kemudian, perlahan- lahan sudah mendekati kereta itu, hingga terpisah beberapa puluh tombak saja.

Tepat pada saat itu jalannya kereta itu mendadak jadi perlahan, seperti sebuah kereta yang tidak ada pengendalinya, dengan sendirinya gerakannya mulai lambat. Dan pada akhirnya, berhenti sama sekali.

Cin Hong lompat kedepan, dan mulai pasang mata, tetapi ditempat duduk kusir sudah tidak tampak lagi laki- laki yang mengendalikan kuda. ia lalu maju membuka tutup kereta itu ternyata kosong melompong, sudah tidak terdapat seorangpun Tetapi ada satu yang dilihatnya. Di tempat duduk kusir, tampak olehnya ada sepotong kertas yang di atasmya ditulis dengan huruf-huruf yang berbunyi sebagai berikut:

"Untuk mengambil kembali istrimu, silahkan datang kepuncak Sin- lie- hong di gunung Bu-San, Pergilah menantang bertanding ke rumah penjara rimba persilatan yang baru "

Kertas itu merupakan Suatu bukti bahwa istri kepala piausu sudah diculik oleh komplotan rumah penjara rimba persilatan yang baru di gunung Bu-san, kabarnya mereka setiap kali merampok atau menculik seorang wanita, lalu meninggalkan sepotong surat yang demikian bunyinya.

Cin Hong jadi tidak habis mengerti. Kapan keluarnya mereka dari dalam kereta? Lebih-lebih ia tidak tahu, kearah mana mereka lari? Tapi ia tak mau berpikir lama-lama, segera lompat ke atas kereta danpasang mata. Tapi apa yang dilihatnya? Disekitar tempat itu hanya ada tanah belukar yang diliputi oleh suasana malam, sama sekali tidak tampak bayangan seorangpun

Tak lama kemudian, dari pintu kota yang tadi dilaluinya mendadak lari seorang yang menuju kearah kereta yang kosong ini.

Orang itu adalah Liu in coan, kepala piauw-tauw yang kehilangan istrinya, Liu in coan lari terus sambil menenteng pedangnya, wajahnya menunjukkan sikap marah yang amat sangat, sepasang matanya mendelik seperti orang gila.

Cin Hong kuatir kalau- kalau terjadi kesalah pahaman, maka buru-buru lompat menyingkir ketepi jalan dan segera balik kembali kedalam kota melalui jalan kecil.

Tiba-tiba didalam kota, ia lari ke perusahaan pengangkutan lainnya, namun tak bisa menemukan Leng Bie Sian, terpaksa balik kembali ketempat yang sudah dijanjikan oleh mereka untuk menunggu.

la menunggu terus, Satu jam telah berlalu, namun tidak tampak bayangan Leng Bie Sian kembali kesitu.

la mulai merasa tidak tenang, Saban-saban harus melongokan kepalanya dan berjalan mundar mandir sambil mengepal-ngepal tangannya.

Lewat lagi sebentar, Leng Bie Sian masih tetap belum kembali. Cin Hong semakin merasa gelisah, hatinya terasa pedih seperti diiris-iris.

la mendongakkan kepala mengawasi rembulan purnama, dalam perasaannya seolah-olah sang rembulan sedang mengawasi dirinya sambil tersenyum. Lamelihat lagi bintang-bintang dilangit, namun bintang bintang itu seolah- olah tidak menghiraukan keadaannya. ia menghela napas panjang pendek. dan akhirnya bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah dia menemukan jejak musuh yang lainnya dan sedang mengejarnya ?" Pertanyaan itu akhirnya dijawab sendiri olehnya: "Mungkin ya "

Tapi lain pertanyaan timbul dalam hatinya "Apakah tidak mungkin kalau ia diculik?" Pertanyaan itu kembali dijawab olehnya Sendiri: "Rasanya tidak mungkin kepandaiannya demikian tinggi. "

Kalau begitu, kenapa apa sebab dia hingga sekarang belum juga kembali ?

Ia memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi atas diri Leng Bie Sian, tapi sekian lama tetap tidak mendapatkan jawaban-

Beberapa kali ia ingin pergi mencari kemana saja yang sekiranya Leng Bie Sian bisa diketemukannya, tetapi ia juga tidak berani meninggalkan tempat itu. Bagaimana kalau sewaktu ia berlalu gadis itu sampai disitu? Ia khawatir kelak Leng Bie Sian tidak melihat dirinya lalu cemas, dan akhirnya ia teringat kepada suatu kisah begini:

"Dahulu kala adalah seorang pemuda bernama Hui Seng yang mengadakan perjanjian akan bertemu dengan kekasihnya di bawah tiang di tepi sungai. Sang kekasih lama tak kunjung datang, hingga ketika air sungai meluap tinggi dan merendam tiang itu, ia masih terus saja menunggu sambil memeluki tiang pada akhirnya ia kerendam dan mati."

Ia suka dengan kisah itu, juga mengagumi keteguhan hati pemuda itu, hingga terbinasa, masih tidak mau mengingkari janjinya, oleh karena teringat oleh kisah tadi, maka ia mengambil keputusan untuk menunggu lagi, sehingga Leng Bie Sian balik kembali. Tetapi hingga terang tanah, Leng Bie sian tetap belum kembali.

Jalan raya mulai ramai oleh orang berlalu-lalang, semua orang yang lewat disitu pada mengawasi padanya dengan sinar mata terheran-heran. Ia tidak berani menunggu terus lagi, terpaksa diam-diam kembali ke rumah penginapannya dan membereskan pakaiannya, setelah meninggalkan sepotong uang perak. ia diam-diam berlalu meninggalkan rumah penginapan, dan menuju ke gunung Tay-pa-san-

Ia menduga pasti Leng Bie Sian sudah diculik oleh orang-orang Rumah Penjara Rimba Persilatan di gunung Bu-san- PiKirnya, jalan paling baik ialah lekas kembali ke gunung Tay-pa-san untuk memberitahukan berita itu pada suhunya, kemudian ia sendiri akan pergi menantang ke Rumah Penjara Rimba Persilatan yang baru di gunung Bu- san. Hari kedua tengah hari, untuk kedua kalinya ia tiba di depan pintu batu Rumah Penjara Rimba Persilatan di gunung Tay-pa-san, kunjungannya untuk kedua kalinya ini jika dihitung dari kunjungannya yang pertamanya hanya terpaut kurang lebih dua bulan saja. Tetapi ia teringat kepada suhunya, subonya, sumoaynya, dan seorang wanita yang bernama Siu Khim yang ia ingin ketahui siapa sebetulnya, hingga ia merasa Waktu dua bulan itu seperti dua tahun saja lamanya.

Melihat kedatangan Cin Hong, Tiat-oe Siangsu unjukkan sikap sangat senang sekali, begitu bertemu muka sudah mengeluarkan suara dengan Sikapnya yang sangat ramah tamah: "Cin Siaohiap. kudamu telah kupelihara baik-baik sampai menjadi gemuk"

Cin Hong mengucap terima kasih, kemudian berkata sambil tertawa: "Apakah laucu kalian ada ?"

"Ada Ada Laucu lama sudah pesan lohu, setiap waktu kalau Cin siaohiap datang, harus disambut sebaik-baiknya. Sekarang lohu hendak antar kau naik ke lembah, marilah "

"Aku tidak berani merepotkan siangsu, biarlah aku pergi sendiri saja "jawab Cin Hong.

Thiat-oe Siangsu karena tugasnya yang harus menjaga pintu gerbang, maka juga tidak mengukuhi kehendaknya, tetapi ia masih memerintahkan seorang pegawai penjara untuk mengawani tamunya. Kali ini Cin Hong tidak perlu mengeluarkan uang persenan. dengan lancar sudah masuk ke dalam lembah, dan akhirnya masih tetap bersama-sama orang yang ditugaskan sebagai Tay-giam-ong masuk keruangan tamu rumah penjara rimba persilatan-Tak lama kemudian, penguaSa rumah penjara juga sudah masuk di ruang tamu. Penguasa rumah penjara begitu melihat Cin  Hong datang sendiri, agak terkejut juga , tanyanya terheran-heran- "Ee, dimana Sian-jie?"

Cin Hong dalam hati merasa geli, ia balas bertanya sambil memberi hormat: "Sejak kapankah laucu menyerahkan muridmu kepadaku ?"

Laucu itu hanya mengeluarkan suara oh, mungkin karena merasa malu sendiri, lalu katanya sambil tertawa: "Aku perintahkan dia diam-diam mengikuti kau, Kukira dia pasti tak dapat kendalikan perasaannya dan unjuk diri untuk bertemu denganmu, kiranya dugaanku itu keliru sama sekali . . ."

"Dugaan laucu tidak keliru " "Tapi dimana dia sekarang ?"

"Sukakah laucu kasih penjelasan lebih dahulu apa sebabnya laucu perintahkan dia mengikuti aku ?"

Laucu itu seperti kebiasaannya berjalan lebih dahulu kejendela, lalu berdiri disitu, kemudian baru menjawab dengan sikap tenang dan Cerdik: "Asal tidak mengandung maksud jahat rasanya sudah Cukup, urusan ini tidak ada perlunya dijelaskan "

Cin Hong berpikir sebentar kemudian baru berkata: "Baiklah. Apakah kau pernah dengar pada waktu belakangan ini dipuncak Sin- lie- hong gunung Bu San, telah dibangun lagi sebuah rumah penjara rimba persilatan yang baru?"

"Tahu, sampaipun surat selebarannya juga sudah kubaCa " jawab penguasa rumah penjara sambil mengangguk- angguk. Cin Hong bertanya sambil menatap wajah penguasa rumah penjara: "Bagamana kesan laucu?"

"Perbuatan orang-orang golongan hitam, tidak ada harganya untuk dibicarakan."

"Maksudmu, apakah hanya rumah penjara yang kau bangun ini saja yang asli ?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan mengangguk pula.

"Tetapi, mereka telah menyebarluaskan orang-orangnya, sudah menculik beberapa orang wanita, semua itu jelas menunjukkan perbuatan mereka yang terkutuk dan lebih jahat dari pada rumah penjara kalian di gunung Tay-pa San ini dengan lain perkataan, mereka rupanya sengaja hendak menantang terhadap kau, laucu "

"Aku tidak ada waktu untuk menguruSi mereka " "Apabila murid perempuanmu diculik oleh mereka

bagaimana ?"

"Kukira tidak mungkin "

"Kau jangan terlalu percaya dirimu sendiri, murid perempuanmu itu barang kali sudah diculik oleh mereka ..."

Sikap penguasa rumah penjara nampak tegang, ia berdiri tegak. sepasang matanya memancarkan sinar tajam berkilauan, perlahan-lahan lalu katanya: "Apa katamu ?"

Cin Hong menceritakan semua pengalamannya dan apa yang pernah dilihat dan didengar oleh mata dan telinganya sendiri.

Sekujur tubuh penguasa rumah penjara tampak gemetaran karena menahan marah, sepasang matanya menatap Cin Hong sekian lama, berkata sambil menggertak gigi: "Anak baik, terhadap saorang anak perempuan saja kau sudah tidak dapat melindungi, Ing Ing. . ."

Cin Hong merasa malu, katanya: "Aku semula hendak pergi mencari bersama-sama dia, tapi dia kukuh hendak jalan mencar. Apa yang bisa aku perbuat?"

"Kau bohong omong kosong Kalau ia kukuh, kau juga harus kukuh, tahu? Kau harus suruh ia dengar katamu " bentak Penguasa rumah penjara yang sudah mulai marah.

Cin Hong terkejut dan berkata: "Dia bukan adik seperguruanmu, kau tahu. "

Penguasa rumah penjara dengan sikap lunglai jatuhkan diri diatas sebuah kursi dan duduk. mulutnya menggumam:

"Sudah, sudah... Kali  ini  bagaimana  aku  harus berbuat. "

Seorang iblis besar seperti Penguasa rumah penjara  rimba persilatan ini, juga ada waktunya mengeluh. "Bagaimana aku harus berbuat," ucapan itu apabila tersiar dikalangan Kang-ouw, pasti tiada seorangpun yang akan perCaya, sebab dalam kesan orang-orang rimba persilatan, kepandaian dan kekuatan tenaga itu adalah barang yang paling berharga di dalam dunia.

Cin Hong sebetulnya juga khawatirkan keselamatan Leng Bie Sian, tapi saat itu menampak sikap gelisah dari Penguasa rumah penjara, entah mengapa dalam hatinya timbul perasaan senang yang sangat aneh, saat itu ia malah bisa berkata sambil tertawa:

"Jikalau kau tidak suka merendahkan ksedudukanmu pergi sendiri ke gunung Bu San menantang bertanding, aku boleh mewakili kau kesana. Tapi. " Penguasa rumah penjara mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berkata: "Benar!! Aku akan segera menurunkan ilmu kepandaianku kepadamu "

"Maksudku bukan begitu, aku hanya minta supaya kau ijinkan aku menemui seseorang" menjawab Cin Hong sambil menggelengkan kepala.

"Waktu pertama kali aku masuk ke rumah penjara ini, dimalam hari aku pernah mendengar suara seorang wanita yang sedang menyanyikan lagu Siao-tho-hong. Kemudian aku dengar kabar ia itu bernama Siu Khim. Aku ingin ketemu dia"

"ow Ada perlu apa kau dengan dia?" "Aku ingin tahu siapa dia itu"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan tampak diam dan berpikir, kemudian berkata: "Apa sebab kau hendak mengetahui dia itu siapa?"

Cin Hong takut apabila ia mengutarakan alasannya, mengakui terus terang bahwa wanita yang bernama Siu Khim itu benar-benar adalah ibunya sendiri. Penguasa rumah penjara itu malah tak akan mengijinkan ia bertemu muka dengannya. oleh karena itu maka ia pura-pura berlaku acuh tak acuh, katanya: "Aku hanya tertarik oleh perasaan heran saja"

Penguasa rumah penjara itu kembali terdiam, akhirnya berkata sambil menggelengkan kepala dan dengan suara tegas berkata:

"Kalau kau tak mau menjelaskan alasannya yang benar, aku takkan mengijinkan kau bertemu dengannya" Dalam hati Cin Hong merasa sangat kecewa, tetapi diluarnya masih bersikap acuh tak acuh, katanya sambil pentang kedua tangannya.

"Kalau begitu yah sudah, sekarang apa aku boleh pergi menengok suhuku?"

Penguasa rumah penjara itu tidak menjawab, dengan mendadak berjalan masuk ke pintu kiri ruangan tamu itu.

Cin Hong dahulu pernah mendapat persetujuannya, untuk datang lagi ke rumah penjara dan berdiam beberapa hari, kini ketika melihat ia berlalu juga , sedikitpun tidak menghiraukan padanya dan berjalan masuk ke pintu sebelah kanan maka ia jadi tak ragu lagi. 

Seolah-olah ia pulang kerumahnya sendiri, dengan Cekatan ia membuka alat untuk naik turun ke dalam lembah, tak lama kemudian, ia sudah tiba didaerah kamar tawanan naga.

Waktu itu adalah pertengahan musim panas. Hawa udara panas sekali. Dilubang-lubang jendela setiap kamar tawanan, tidak nampak seorang tawanan pun yang tongolkan kepala.

Cin Hong terus lari sampai hampir ke dekat kamar tawanan nomor sembilan, teringat segera akan bertemu muka dengan Yo in in, maka dengan perasaan sangat girang memanggil-manggil nama gadis itu: "In-jie, aku datang"

Akan tetapi kamar tawanan nomor sembilan itu tetap sepi sunyi tak terdengar suara orang. ia lari lompat kebawah jendela, ketika kepalanya melongok ke dalam, saat itu ia berdiri terpaku.

Di dalam kamar tawanan itu sudah tidak tampak lagi diri sumoaynya, melainkan Seorang nenek berambut putih yang dahulu pernah bertempur dengannya digunung Bie ciong- lan-

Waktu itu nenek itu sedang rebah-rebahan di satu sudut, ketika mendengar suara panggilan perlahan-lahan  membuka dan mengucek-ngucek matanya, tampak Cin Hong datang, ia lalu bangun dan berseru dengan sikap kegirangan: "Ai, bocah Apakah kau datang buat menengoki aku ?"

Cin Hong bingung dan menggaruk-garuk kepalanya sendiri, kemudian balas bertanya:

"Mengapa jadi kau yang ada disini ? Dimana sumoayku

?"

Nenek rambut putih itu tampak terCengang dan

bertanya: "Siapa sumoaymu?"

"Sumoayku semula berdiam dikamar ini, kemana perginya dia sekarang ?"

Nenek rambut putih itu menggelengg-gelengkan kepala dan berkata:

"hal ini aku sinenek tidak tahu, aku hanya tahu kamar ini sejak setengah bulan berselang sudah menjadi tempat kediamanku yang tetap."

Cin Hong Cemas, ia segera lompat kebawah jendela kamar delapan. Dikamar delapan ini tampak olehnya, Swat Po-po didalam jendela satu jari tangan kanannya diletakkan dibibirnya dan berkata dengan suara perlahan:

"Ssst Perlahan sedikit, Suhumu Si setan tua itu sekarang sedang melatih ilmu silatnya"

Cin Hong mengeluarkan suara "oh," lalu memberi hormat kepada Swat Po-po dan bertanya dengan suara perlahan : "subo, kemana In-jie pergi ?" Swat Po-po menghela napas dahulu, baru berkata:

"Panjang Ceritanya kalau kau mau tahu. Hari keempat setelah kau berlalu dari sini ia mengira sudah sanggup menyambut serangan Penguasa Rumah Penjara sampai sepuluh kali, hingga tanpa sabar sudah pergi menantang bertanding kepada Penguasa Rumah Penjara . . ."

"Akhirnya ia berhasil menyambut berapa kali ?" "Delapan kali "

"Kalau begitu tohk masih tetap menjadi tawanan naga juga ?"

"Tujuh hari berselang, ada seorang pemuda bernama Siu, datang kemari menengok suhumu dari pemuda itu mendapat berita tentang dirimu. ia bergirang dan bersemangat, kembali mengelabui aku, diam-diam pergi menantang bertanding."

Cin Hong kembali menjadi tegang dan bertanya: "Dalam pertandingan kedua ini ia berhasil menyambut berapa kali?"

Swat  Po-po  menghela   napas   panjang   dan   berkata: ". seperti biasa "

"Kalau begitu, juga masih tetap menjadi tawanan dikamar penjara naga "

Nenek Swat Po-po berkata lagi: "Lima hari berselang, malam harinya ia mimpi melihat kau ditangkap oleh orang golongan Kalong, dan melihat kau dirotan, maka begitu terang tanah, ia pergi menantang bertanding lagi. Aku memaki-makinya, tapi tak dihiraukan, ia kata segalanya ia tidak mau perduli lagi."

Cin Hong yang mendengar ucapan itu hatinya berdebaran, katanya dengan hati Cemas: "Ini adalah yang terakhir, bagaimasa kesudahannya ?" "Empat kali, Sekarang kamar tawanan naga ini juga sudah tidak bisa menerima dia lagi " berkata Soat Po-po dengan airmata berlinang.

"Kalau begitu, dia sekarang masih berdiam di kamar tawanan ular ?"

"hm, bocah Dimana liangsimmu ? Kau tahu dia dipindahkan kekamar tawanan ular mengapa malah kegirangan ?"

"Subo tidak tahu, terakhir kali jikalau dia tidak diturunkan tingkatnya dan berpindah di kamar tawanan ular, akan menjadi tawanan se-umur hidup, Pindahnya dia kekamar tawanan ular, itu berarti masih mendapat kesempatan untuk menantang bertanding satu kali lagi "

Swat Po-po tampaknya merasa bingung, tanyanya: "Mengapa begitu ?"

"oleh karena tingkatannya berbeda, dia diturunkan lagi ke kamar penjara ular, lantas boleh dipandang sebagai orang yang pertama akan pergi menantang, maka masih punya hak menantang satu kali lagi. Kalau hal itu digunakan terus menerus secara begitu, jadi tidak akan ada habisnya. Inilah cacad dari peraturan rumah penjara rimba persilatan ini. Tee-cu dalam hal ini sudah lama tahu."

"Kalau begitu, semua orang juga boleh menggunakan akal itu, untuk menantang beberapa kali kepada penguasa rumah penjara, bukan?"

"Ya, teecu dahulu lupa menceritakan ini- Biarlah nanti teecu akan berita hukan kepada seluruh tawanan kamar naga ini tentang cara-cara tersebut, suruh mereka setiap hari menantang penguasa rumah penjara, biar dia kecapean menyambut, dan jadi lelah sendiri." Swat Po-po pikir ucapan Cin Hong itu makin beralasan, maka ia berkata: "Ya, ini sangat interesan, besok atau lusa aku akan menantang bertanding kepadanya Ai, setiap hari berdiam disini, alangkah kesalnya . . ."

Si nenek lalu menanyakan apa kerja Cin Hong diluaran, kenapa begitu cepat sudah balik kembali.

Cin Hong menceritakan satu persatu, hanya tidak mengatakan bahwa ia pernah anggap Leng Bie Sian sebagai Yo In In dan bahkan sudah mulai tergoyah hatinya oleh murid penguasa penjara rimba persilatan itu.

"Ha . . .?Jadi kau sudah mengetahui bahwa wanita bernama Siu Khim adalah iba kandungmu ?"

"Ya Menurut ucapan penguasa rumah penjara sendiri, jikalau aku menceritakan alasannya yang sebenarnya, dia akan mengizinkan aku bertemu muka dengannya. coba subo pikir, teecu boleh berkata terus terang atau tidak ?"

"hal ini, kau sebaiknya tanya kepada Suhumu saja, aku juga tidak tahu bagaimana seharusnya . . ."

Cin Hong lalu berjalan kebawah kamar nomor tujuh, tampak suhunya sudah menantikan kedatangannya di lubang jendela sambil tersenyum, maka ia buru-buru memberi hormat dan berkata:

"Sahu sudah selesai berlatih?"

It-hu Sianseng tersenyum, dan berkata: "suhumu tidak melatih ilmu apa apa "

"Mengapa Subo tadi mengatakan. " Cin Hong rupanya

keheranan.

"Ia membohongi kau. Mungkin ia terlalu kesal, mau mencari orang yang dapat diajak beromong-omong. Melihat kau datang, ia takut kau hanya pergi menengok aku dan berbicara denganku, maka  ia  lalu  menggunakan  akal licik. "

Soat Po-po yang mendengar jelas pembicaraan mereka, lalu memaki-maki:

"Tua bangka.. Kau berani menjelek-jelekan diriku didepan muridmu? Hm Kau nanti akan mati seCara tidak wajar "

It-hu Sianseng tidak menghiraukan ocehan soat Po-po, tenang sekali ia berkata kepada Cin Hong: