Tangan Berbisa Jilid 16

 
Jilid 16

Cin Hong tertawa getir, dalam hati berpikir, nona ini bicaranya ada sedikit aneh ternyata telah dapat memikirkan soal mensucikan diri segala. Lim Keng Hee berkata pula sambil tersenyum:

"Apakah juga perlu harus aku tanyakan dulu baru kau mau menyebutkan namamu?"

"Aku yang rendah bernama Cin Hong," jawab Cin Hong sambil tertawa.

Lim Keng Hee mengangguk-anggukkan kepala dan berkata seolah-olah pada dirinya sendiri:

"Usiaku lebih tua dari kau, kalau menjadi encimu barangkali toh tak ada keberatan bukan?"

Cin Hong bingung. sesaat ia bungkam tak tahu bagaimana harus menjawab. Lim Keng Hee tersenyum manis, katanya:

"Kau jangan Salah paham. Aku hanya sedang mengingat sesuatu hal, aku takut kau  memikirkan  yang  bukan- bukan. "

Kembali Cin Hong tercengang, dalam hati bertanya- tanya kepada diri sendiri: "Bagaimana aku bisa memikirkan yang bukan-bukan? Bicaranya nona ini benar-benar  semakin lama kedengarannya semakin aneh"

Lim Keng Hee agaknya juga merasa bahwa ucapannya tadi agaknya terlalu menuruti emosinya sendiri, hingga saat itu wajahnya menjadi merah, dan berkata sambil menengadahkan kepalanya:

"Hei, kau ingin pergi ke gunung ong ok-san atau tidak?" "Benar, bagaimana nona Lim tahu kalau aku hendak

pergi ke gunung ong-ok-san?" "Aku sudah dengar" "oh" berkata Cin Hong, lalu menengok dan mengawasi perempuan siluman yang tengah menggeletak ditanah rumputan setelah itu ia berpaling dan menjura lagi kepada Lim Keng Hee Seraya berkata: "Nona Lim. apa boleh aku mohon diri?"

"Terserah" jawab Lim Keng Hee sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.

Cin Hong lalu mengucapkan "Sampai ketemu lagi," lantas berlalu, dibelakangrya terdengar suara gerakkan kaki. Ia lalu berpaling tampak perempuan itu berjalan terpincang- pincang mengikuti dibelakangnya, hingga ia berhenti lagi dan bertanya: "Apa nona Lim terganggu kakinya?"

Lim Keng Hee kembali menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum: "Tadi malam karena kurang hati- hati sehingga terjatuh"

"Nona Lim hendak kemana?"

"Sama tujuan dengan kau kegunung ong-ok-san"

Cin Hong terperanjat, tanyanya dengan sikap terheran- heran: "Maap. boleh kah aku tahu siapa suhumu?"

Lim Keng Heejalan terus sambil mengenakan lagi kedok kulit manusianya, hingga kini berdiri berendeng dengan Cin Hong, katanya sambil tersenyum: "Boleh, tetapi belum tentu aku bisa memberitahukan padamu terus terang"

"Mengapa kau mengenakan lagi kedok muka yang seburuk ini?"

"Aku suka diriku sendiri berubah buruk, aku pikir hendak supaya aKu berwajah buruk. mungkin aku bisa mendapat sedikit kebahagiaan- . . ." menjawab Lim Keng Hee hambar. Dua orang itu berjalan berdampingan- Lim Keng Hee juga sudah mulai menceritakan riwayat hidup dirinya. Tapi nada suaranya itu tenang dan hambar, seolah-olah sedang menceritakan kisah yang sedikitpun tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

Ternyata dia itu adalah penduduk kota Tiang-an, tempat tinggalnya dikampung yang bernama Ma-leng, sejak masih kanak-kanak sudah ditinggal mati oleh ibunya. Ia pandai memainkan alat musik semacam mandolin, dalam sekolahan namanya sangat terkenal kemudian mengikuti ayahnya pergi mengembara, ayahnya itu berpindah-pindah dari satu kota kelain kota dan pangkatnya dari seorang kepala desa naik menjadi residen dalam jangka waktu enam tahun, Waktu itu ia sudah berusia sembilan belas tahun.

Pada musim panas dua tahun yang lalu, ayahnya telah menghukum rangket kepada anak seorang pembesar negeri yang merampok seorang gadis keluarga baik-baik, Tanpa memandang pemuda itu anaknya seorang pembesar negeri yang waktu itu besar sekali pengaruhnya, ia Dertindak seadil-adilnya. sudah tentu hal mana menggembirakan dan memuaskan sekali hati rakyat Sehingga mendapat pujian oleh rakyatnya sebagai pembesar yang jujur dan berani bertindak tegas. Tetapi justeru lantaran itu juga , sehingga membuat ayahnya kehilangan kedudukannya, oleh karenanya, sejak saat itu ayahnya telah menjadi sakit dan dalam perjalanannya pulang kekampung telah menutup mata, waktu itu sungguh kasihan sekali keadaannya sebab uang simpanan yang tidak seberapa jumlahnya sudah habis terpakai, terpaksa untuk mengubur jenazah ayahnya, ia lalu menjadi penyanyi didalam sebuah taman hiburan-

oleh karena ia pandai memainkan alat musik semacam mandolin itu, lagi pula wajahnya cantik dan pandai menyanyi, maka tidak berapa lama namanya sudah kesohor dan menggemparkan seluruh kota. Tak kurang pula banyak pemuda-pemuda anak orang penggede pada  berkunjung dan mendekatinya tetapi ia Sedikit-pun tidak tergerak hatinya, ia meng harap dapat mencari seorang pemuda jujur yang mau kawin dengannya.......

Akhirnya harapan itu telah terkabul ia dapat menemukan pemuda yang diidam-idamkan olehnya

Dia adalah Seorang laki-laki gagah dan tampan berusia tiga puluh tahun lebih, tampaknya lelaki itu gagah tampan dan jujur, mereka terkenalan setengah bulan, mereka cocok satu sama lain, dan akhirnya lelaki itu telah menebus dirinya dengan menggunakan uang berjumlah besar, guna mengeluarkannya dari rumah hiburan-

Setelah itu, ia baru tahu bahwa lelaki itu adalah seorang rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi, selanjutnya ia juga mulai mengajarkan ilmu silat kepadanya,., akan tetapi....

Lim Keng Hee bercerita sampai disitu, air mata mengalir bercucuran sehingga membasahi sepasang pipinya yang buruk. Cin Hong terheran- heran dan bertanya:

"Kau yang berbahagia, mengapa sebaliknya malah menangis?"

"Benar aku bahagia. "

"Apakah kisah itu belum selesai?"

"Ng. Selamanya tidak akan selesai" menjawab Lim Keng Hee sambil menganggukkan kepala.

"Mengapa tidak diteruskan ?"

Lim Keng Hee meng geleng kan kepala dan berkata "Kalau diceritakan terus, aku tidak bisa berbicara lagi " Cin Hong garuk-garuk kepaia, tanyanya: "Dia siapa ?"

Lim Keng Hee menggelengkan Kepala tidak menjawab.

"Mengapa kau hendak memberitahukan kepadaku tentang ini?" bertanya pula Cin Hong sambil menghela napas.

"Aku tidak lihat bahwa kau adalah seorang pemuda dari golongan baik-baik maka aku tidak tahan untuk tidak menceritakan kesedihan dalam hatiku kepadamu. Kau tentunya tida akan mentertawakan aku. bukan." berkata Lim Keng Hee sedih.

"Mana bisa? Kalau begitu apa kau hendak pergi kegunung ong ok-san?"

"Mencari pengalaman. Dan kau?"

"Aku juga tidak ada urusan penting, Sekarang ini aku hendak pergi kerumah penjara rimba persilatan untuk menengok suhu. oleh karena sekalian jalan, maka hendak melihat golongan Kalong itu dalam pertemuan tersebut hendak melakukan kejahatan macam apa lagi?"

"Kalau begitu kita seperjalanan dan satu tujuan- Kau panggil saja aku Lim Toa-ci, dan aku akan panggil kau Cin Siaote. Maukah kau?"

"Baik." Ucapan baik itu baru saja diucapkan Cin Hong. tiba-tiba tangan kanannya terasa ditarik olehnya, dalam hati terkejut, selagi hendak mengibas, terdengar suaranya yang perlahan tapi agak Cemas:

"Lihat, dua orang yang mendatangi dari sana itu mungkin adalah musuhmu "

Cin Hong tunjukan matanya ketempat yang ditunjuk. Tampak olehnya didepan, dijalan raya ada dua pemuda berusia tiga puluh tahunan, telah berjalan Cepat mendatangi dengan berdampingan, mereka semua diatas punggungnya menyoreng pendang panjang yang satu wajahnya tirus putih, sikapnya menunjukkan seperti seorang dari golongan sesat, yang lain matanya sipit. tubuhnya gemuk seperti babi.

Dua orang itu ternyata sama-sama memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh, hingga waktu berjalan tidak menimbulkan abu yang mengepul. Cin Hong tidak kenal mereka, maka bertanya kepada Lim Keng Hee: "Aku tak kenal mereka, Apa kau kenal?"

Lim Keng Hee menganggukkan kepala dan berkata: "Ng.. Yang berwajah tirus dan putih itu adalah Toksiu

cay Leng Kho dan yang gemuk itu adalah Siluman malam

Tang Lok mereka adalah sepasang maling cabul yang doyan wanita"

Dahulu Cin Hong sebetulnya pernah melihat Tok siu cay ini dikota Hang-ciu, tetapi waktu itu ia sebagai seorang anggota dari golongan Kalong. dan waktu itu mengenakan pakaian seperti Kalong dan mengenakan kerudung muka warna hitam, maka tidak mengenal wajah aslinya, kini setelah mendengar dia adalah Tok Siu- cay yang namanya terkenal sebagai maling cabul yang gemar paras cantik, maka timbullah perasaan benCinya, diam-diam mengeluarkan kipaS dari dalam sakunya.

Tok siu-cay dan siluman malam sebentar saja sudah tiba didepan Cin Hong berdua, ketika kedua pihak berpapasan. Tok sui-cay menunjukkan sikap seolah-olah kenal hingga ia mengawasi Cin Hong sejenak. sebaliknya dengan Siluman malam, telah dikejutkan oleh wajah buruk dari Lim Keng Hee, maka segera berpaling dan meludah, seolah-olah ketakutan menyaksikan setan perempuan hingga buru-buru hendak melanjutkan lagi perjalanannya.

Cin Hong mengira mereka mungkin hendak menyambut Siluman perempuan yang dipanggil adik Eng itu, dan jikalau mereka menemukan perempuan itu dalam keadaan tidak berdaya, perjalanannya kegunung ong ok-san itu sudah tentu juga tidak bisa dilanjutkan, oleh karena itu maka ia lalu berpaling dan memanggil: "Tok siu-cay, apakah kau sudah tidak mengenali aku?"

Tok siu-cay dan siluman malam merandek dan perlahan- lahan memutar tubuh mereka, mereka menunjukkan sikap heran dan mengawasi Cin Hong sebentar, kemudian ia berkata seperti orang baru bangun tidur:

"ouw.. Pantaslah kalau rasa-rasanya aku seperti sudah pernah lihat mukamu. Kau muridnya To Lok Thian- bukan? IHe-heh, kau berani membangkitkan ingatanku, tampaknya nasibmu memang sudah begitu?"

Cin Hong berjalan menghampiri dan berkata sambil tertawa: "Apakah kau ingin membunuh aku?"

"Tidak... akan kutangkap kau hidup,hidup rasanya harganya lebih besar," berkata Tok siu-cay sambil tertawa besar.

"Kalau begitu kau ternyata lebih baik dari padaku, sebab aku sebaliknya mau membunuh mu disini" berkata Cin Hong sambii tersenyum.

Tok siu-cay menghunus pedangnya, lalu berpaling dan berkata kepada kawannya si Siluman malam:

"Lo Tang kau bereskan yang perempuan itu" Siluman malam menggeleng-gelengkan kepala dan berkata dengan tak senang: "Tidat ada artinya Lihat saja sudah bikin aku mau muntah"

Tok siu-cay tertawa terbahak-bahak kemudian berkata "Lo Tang, kau masih anggap dirimu adalah seorang

Kang-ouw kawakan, mengapa seorang yang mengenakan kedok kuiit manusia saja masih mengenali?"

orang she Tang itu terkejut, ia mengamat-amati wajah Lim Keng Hee sebentar, tiba-tiba tertawa Cekikikan sendiri, dan lalu menghampiri padanya.

Cin Hong yang menyaksikan sikap tengik dari orang she Tang itu, timbul hawa amarahnya, lalu memutar tubuh menyambutnya sambil membentak:

"Maling cabul.. Aku bereskan dulu kau sama juga "

Sebelum bergerak. tiba-tiba dihadapan matanya tampak berkelebat sesosok bayangan orang, Lim Keng Hee sudah berada didepannya menghadapi siluman yang gemuk itu kemudian berpaling dan berkata sambil tertawa:

"Cin siaote, kau bunuhlah Tok siu-cay itu, biar aku yang bereskan siluman malam ini, lihat siapa yang lebib dulu berhasil"

Cin Hong masih belum tahu sampai berapa tinggi kepandaian ilmu silat Lim Keng Hee, ia berkata dengan penuh perhatian: "Apakah Lim-toaci sanggup?"

Lim Keng Hee tidak menjawab, ia mendekati siluman malam, kemudian menyerbu dengan senjatanya yang aneh ialah alat musik serupa mandolin itu, gerakannya itu perlahan dan agaknya biasa saja, diluar dugaan siluman malam itu telah dibuatnya sangat repot, sehingga dengan menggunakan berbagai gerak tipu dan Cara baru berhasii melepaskan diri dari ancaman senjata seperti mandolin itu, sedangkan mulutnya mengeluarkan suara: "Eh,"

Akan tetapi ia adalah seorang yang namanya sangat terkenal digolongan hitam, dalam hidupnya juga sudah mengalami entah berapa banyak pertempuran. Seorang seperti ia, dengan cara mudah sekali satu kali diserang sudah harus menghadapi kerepotan seperti itu, ini adalah pengalaman yang pertama kali baginya, maka ia tahu bahwa hari ini ia telah ketemu dengan seorang lawan yang tangguh dan menakutkan, ia tidak berani berlaku ayal, maka secepat kilat sudah menghunus pedangnya untuk melayani Lim Keng IHee dengan sepenuh tenaga.

Cin Hong juga tidak menduga kepandaian ilmu silat Lim Keng Hee ternyata demikian tingginya, maka dalam hati diam-diam juga terkejut, disamping itu juga timbulah timbullah semangatnya untuk menjatuhkan lawannya lekas- lekas lebih dahulu, maka jalannya pertempurannya juga Cepat, dengan senjata kipasnya, ia menyerang Tok siu-cay dengan menggunakan gerak tipu yang pertama dalam ilmu kipasnya.

Sejak ia menemukan kitab ilmu kipas itu, baru menggunakan dua kali saja, setiap kali dalam satu jurus sudah berhasil mengenakan lawannya. oleh karena itu. maka kepercayaannya kepada ilmu kipasnya sendiri semakin tebal. Kini ia sudah bertekad hendak membinasakan Tok siu-cay, Sudah tentu menggunakan ilmunya lebih hebat, ia anggap bahwa pada kali ini pasti akan dapat membinasakan lawannya lebih dulu dari Lim Keng IHee. maka begitu kipasnya digerakan, dalam hati diam-diam me rasa girang, akan tetapi pada saat kipasnya digerakkan, Tok siu-cay agaknya sudah tahu bahwa ilmu kipasnya itu sulit untuk dilawan, maka secepat kilat tubuhnya menengadah kebelakang, bersamaan dengan itu ia menendang perut Cin Hong dengan kaki kanannya

Tindakan Tok siu-cay itu sesungguhnya diluar dugaan Cin Hong oleh karena dalam keadaaa biasa kedua pihak baru bergebrak. tidak ada yang menggunakan siasat semacam itu, yang seolah-olah hendak hancur atau mati bersama-sama, maka itu ketika Tok-siu-cay dalam keadaan terkejut serangannya tadi sudah mengenakan tempat  kosong sedangkan tendangan kaki musuhnya sudah hampir mencapai keperutnya sendiri bagaimanapun juga sudah sulit sekali baginya untuk dapat mengelak.

Dalam keadaan demikian bukan kepalang terkejutnya Cin Hong. Sambil mengeluh ia pejamkan mata untuk menantikan kematiannya . ..

Diluar dugaannya ia menunggu lama tetapi tidak ada gerakan apa- apa dari Tok-siu-cay ketika ia membuka mata untuk melihatnya tampak Tok-siu-cay sudah rebah celentang dengan sepasang mata melotot ternyata sudah tidak bernafas lagi.

Kejadian itu sangat aneh, maka ia lalu mengeluarkan suara terkejut dan mundur lima enam langkah.

Disamping itu, ia juga berpaling untuk menengok kearah Lim Keng Hee dan siluman malam itu juga sudah berakhir, yang tersebut belakangan ini keadaannya sama juga dengan Tok-siu-cay, rebah celentang ditanah dalam keadaan tidak bernyawa, sedang Lim Keng Hee saat itu sedang membongkokkan badan untuk mencabut sebuah jarum halus berwarna hitam dari tengah-tengah dada siluman malam yang gemuk itu.

Karena tangannya mengenakan sarung kulit maka setelah mencabut jarum halus itu lalu ditancapkan lagi kedalam senjata mandolinnya barulah menghampiri Tok siu-cay dan mencabut jarum serupa tadi dari tubuh Tok siu- cay yang kemudian ditancapkan lagi kedalam mandolinnya, setelah itu baru menghampiri Cin Hong dan berkata sambil bersenyum berseri-seri:

"Cin siaote, kematian dua orang maling cabul ini sudah seharusnya bukan? Dan kau tentunya toh tidak akan anggap aku ini terlalu kejam, bukan?"

Cin Hong sesaat berdiri terCengang barulah berkata: "Lim-toaci. kepandaian ilmu silatmu hebat sekali"

Lim Keng Hee membuka sarung tangannya dimasukkan kedalam kantongnya, kemudian berkata sambil tertawa:

"Kepandaian ilmu silatku tidak lebih tinggi dirimu, hanya aku ada mempunyai benda ini"

"Apakah mandolin itu bisa mengeluarkan senjata rahasia?"

Lim Keng Hee mengangukkan kepala dan berkata sambil tertawa:

"Ng, alat musik ini dapat mengeluarkan dua jenis senjata rahasia, yang ada racunnya dan yang tidak beracun"

Dari keadaan tubuh Tok Siu-cay dan siluman malam itu, Cin Hong tahu bahwa jarum yang digunakan oleh Lim Keng Hee tadi sudah pasti adalah senjata rahasia yang sangat berbisa.

Dengan sikap termangu-mangu ia memandang Lim Keng Hee, ia baru merasa bahwa perempuan dihadapannya ini ternyata adalah perempuan misteri yang kepandaiannya sesungguhnya sukar dijajaki tingginya. Lim Keng Hee tertawa dan berkata:

"Kau jangan mengawasi aku begitu. sekarang kau bukalah pakaian Tok siu-cay dan tanda anggotanya serta semua barang-barangnya jangan lupa juga pedang panjangnya itu tidak boleh kau buang ..."

"Perlu apa mengambil barangnya?" tanya Cin Hong heran.

"Bukankah kau hendak pergi kegunung ong ok-san? Aku pikir sewaktu orang-orang golongan Kalong itu mengadakan pertemuan besar, mungkin semua mengenakan pakaian Kalongnya dan mukanya memakai kerudung hitam, jika kau turut hadir dengan kedudukan sebagai Tok Siu-cay, bukankah itu lebih baik?"

Cin Hong sangat girang, segera turun tangan membuka pakaian Tok siu-cay dan barang-barangnya juga diambil, dari dalam sakunya ia menemukan sebuah plat kuningan, diatas plat itu diukir dengan kata-kata "Anggota golongan Kalong Hitam nomor satu". Sungguh bebat. Ternyata Tok siu-cay ini merupakan anggota golongan Kalong yang berkedudukan hanya dibawah Tongcu saja.

Lim Keng Hee mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hitam. lalu dituangkan di atas dua bangkai orang tadi, barang cair warna hitam menyiram kedua bangkai tadi, dalam waktu tidak lama, dua orang jahat yang namanya menggetarkan rimba persilatan dalam sekejap sudah berubah menjadi cairan kuning dan hilang kedalam tanah.

Cin Hong yang menyaksikan itu semua bukan kepalang terkejutnya, dia benar-benar hampir tidak mau perCaya kepada penglihatannya sendiri, bahwa seorang perempuan berusia demikian muda ternyata adalah seorang ahli dalam melakukan pembunuhan-

Lim Keng Hee mengawasi kepadanya sejenak kemudian berkata sambil tertawa: "PerCaya atau tidak terserah padamu, ini adalah untuk pertama kalinya aku membinasakan dua orang, aku sendiri juga merasa heran, mengapa dapat melakukan demikian gegabah?"

Cin Hong melihat sikap Lim Keng Hee itu yang penuh kejujuran, maka lalu berkata sambil mengangguk- anggukkan kepala: "Aku perCaya padamu, Lim Toaci"

Lim Keng Hee diam dan mengawasi padanya sekian lama. tiba-tiba menundukkan kepala dan berkata dengan Suara gemetaran:

"Cin Siaote, aku menyesal, tidak bisa ikut padamu kegunung ong ok-san"

Sehabis berkata demikian, lalu memutar tubuh dan berlalu dengan Cepatnya, ia bergerak demikian gesit, hingga dalan sekejap mata sudah berada sejauh sepuluh tombak lebih.

Cin Hong terheran-heran dan tidak mengerti maksudnya, ia mengejar beberapa langkah sambil memanggil-manggiu "Lim Toaci Lim Toaci Kau kenapa?"

Tetapi Lim Keng Hee sudah menghilang ke dalam rimba lebat.

Diatas gunung ong ok-San, dipuncak yang dinamakan ciat-thian-than, hari itu tiba-tiba tampak kira-kira seraus orang yang semuanya mengenakan pakaian seperti Kalong dan memakai kerudung muka hitam dan putih, kalau mau dikata sebenarnya, mereka itu adalah lebih mirip kalau disebut sebagai binatang Kalong, sebab pakaian mereka semua bersayap lebar mirip Kalong, dan kepalanya mengenakan kerudung seperti kepala tikus, sehingga bentuk mereka itu tidak ubahnya bagaikan binatang Kalong saja. orang-orang seperti Kalong itu terbagi dalam warna hitam danputih, mereka berkumpul di sebuah tanah datar di luar goa Hek-Liong-tong, dari pembicaraan mereka dapat dibedakan bahwa orang-orang yang mengenakan pakaian Kalong berwaroa hitam semua adalah lelaki. dan yang mengenakan warna putih semua adalah perempuan-

Mereka pada berdiri menghadap keselatan, ternyata disitu ada dua orang yang diikat diatas dua buah tiang dalam keadaan telanjang bagian atasnya, dua orang itu satu lelaki tua, yang satu lagi pemuda.

Wajah dua orang itu semua menunjukkan sikapnya yang marah, dua pasang mata mendelik menakutkan-

Dari dalam pembicara an mereka, dapat diketahui bahwa orang tua itu adalah orang tua senjata perak Cu Giok Tian dan dari partay oey-san, sedang yang muda adalah murid golongan biasa dari partaiBu-tong, yang bernama Ma Liong Po, kabarnya Cu Giok Tian tadi malam tertangkap oleh anggota pelindung hukum golongan kalong lm Liat Hong, tetapi setelah digeledah seluruh badannya tidak dapat menemukan anak kunci emas berukiran huruf Liong, maka Im Liat Hong mencurigai bahwa anak kunci itu sudah ditelan oleh Cu Giok Tian, dengan demikian, maka lantas ditangkap hidup,hidup dan dibawa kemari untuk diselesaikan lebih jauh. . ..

Sedangkan pemuda yang bernama Ma-Liong-po itu ialah salah seorang anggota partai Bu-tong golongan muda yang dipikat oleh salah seorang dari dua belas putri golongan Kalong, tetapi kemudian pemuda itu setelah mengetahui maksud perempuan siluman yang hendak memperalat dirinya untuk merampas anak kunci emas berukiran huruf monyet ditangan ketuanya, lantas meninggalkan perempuan jahat itu akhirnya juga tertangkap kembali dan dibawa kegunung ini. Bagaimana Caranya mereka hendak membebaskan dua orang itu, ini adalah merupakan salah Satu acara dalam pertemuan besar golongan Kalong hari ini.

Pada saat itu. selagi orang-orang sedang riuh membicarakan soal itu. dari dalam goa Hek-Liong-tong tiba-tiba tampak berjalan keluar tiga orang berpakaian merah.

Yang berdiri ditengah-tengah adalah seorang tua berusia sudah sekitar sembilan puluh lebih, rambutnya putih seluruhnya, namun wajahnya menunjukkan ia seorang kejam, dia adalah anggota pelindung hukum golongan Kalong yang dinamakan Lam-khek sin-kun Im Liat Hong.

Dua orang yang berada dikedua sisinya adalah sepasang suami isteri dari golongan Lo-hu-pay dahulu, mereka suami istri juga mengenakan pakaian seperti Kalong berwarna merah, hanya diwajah mereka juga sama keadaannya seperti dengan Im Liat Hong yang tidak mengenakan kerudung.

Ketika tiga orang itu keluar dari goa Hek liong-tong, Semua anggota golongan Kalong lantas diam, bahkan masing-masing pada berdiri berbaris, memecah menjadi dua kelompok.

Lam-khek sin-kun Im Liat Hong menunggu setelah mereka berdiri, baru membuka suara berkata:

"Atas perintah pangcu sekarang kuperkenalkan lebih dulu dengan ketua Tongcu golongan Kita. "

Ia menunjuk Kha Gee San yang berada disamping kanannya: "Ini adalah Tongcu Heksbok-tong yang baru diangkat oleh Pangcu, Kha Gee San yang mempunyai nama julukan binatang Kie-lin merah." Kembali menunjuk Pa cap Nio yang berdiri disebelah kirinya: "Dan in adalah Tongcu  Pek-hok-tong  Pa  cap  Nio. "

Ia berhenti sebentar, selanjutnya berkata lagi:

"Kamu sekalian mulai hari ini, harus menurut dan mentaati perintah kedua Tongcu ini,sekarang kedua tongcu kita akan mulai melakukan absen, kedua Tongcu akan menyebutkan nomor anggotanya, kamu harus menyebutkan sendiri nama masing-masing"

Sebabis berkata demikian, ia menyapu kepada semua anggotanya sejenak. lalu berjalan masuk kedalam goa.

Sepasang Suami istri dari golongan Lo-hu masing- masing mengeluarkan sejilid buku absen. lalu berjalan kehadapan anak buahnya. "Apakah Hu Tongcu ada?"

Dari golongan Kalong hitam tiada seorang yang menjawab. Satu sama lain hanya saling berpandangan. Tetapi itu sebetulnya juga tidak ada gunanya, sebab semuanya mengenakan kerudung muka, siapapun tidak dapat melihat wajah masing-masing. Kha Gee San mengerutkan alisnya, kembali ia berkata sambil tertawa dingin:

"Mungkin aku memanggil terlalu merendahkan diri...

anggota golongan Kaloog hitam nomor satu "

Dari barisan Kalong hitam segera terdengar suara orang menyahut: "Ada, Leng Kho disini"

Kha Gee San mengawasi orang itu, kemudian berkata sambil tertawa dingin: "Mengapa tidak jalan kemari?"

seorang dari barisan Kalong hitam berjalan keluar dan memberi hormat kepadanya. Kha Gee San dengan sinar mata yang tajam mengawasi padanya sejenak, setelah itu ia kata sambil tersenyum:

"Kau orang she Leng jikalau ada perasaan kurang puas boleh ajukan saja kepada pangcu, aku tak percaya kau lupa dengan kedudukan sebagai Hu Tongcu"

Tok-siu-cay Leng Kho menjawab sambil memberi hormat:

"Tongcu harap jangan marah, aku yang rendah oleh karena tadi agak meleng sehingga tidak dengar, harap Tongcu maafkan"

Kha Gee San hanya mengeluarkan suara "oh" begitu saja, matanya kembali ditujukan kepada buku absennya dan memanggil lagi dengan suara nyaring: "Anggota Kalong hitam nomor dua."

Dari barisan Kalong hitam terdengar menyahut: "Ada, Yu Phian Peng"

Kha Gee San memandangnya sebantar, kemudian memanggilnya lagi anggota nomor tiga dan setelah itu berturut-turut nomor empat dan selanjutnya. Tapi sewaktu dia menyebut nomor empat, tiada orang yang menyahut.

Kha Gee San merasa tidak senang, lalu bertanya kepada Tok-siu-cay Leng Kho:

"Aku dengan kabar bahwa anggota nomot empat siluman malam Tan Lok dengan kau Hu Tongcu pergi ber- sama2 kegunung Siong-san untuk menyambut putri nomor tujuh, apa kalian terus berpencaran ?"

Tok-siu-cay berpikir dulu, lalu baru menjawab:

"Ya, Lo Tang hingga sekarang belum kembali, mungkin menemukan kejadian diluar dugaan- " Kha Gee San lalu memberi tanda diatas nama anggota nomor empat, kemudian melanjutkan lagi.

Tak lama kemudian, Pa cap Nio berjalan menghampiri dan berkata:

"Mengapa orang ku kurang tujuh belas jiwa? Apa artinya ini?"

"Barang kali sedang diutus keluar untuk bertugas" menjawab suaminya.

"Tidak. tadi sewaktu Touw Kui-hui menyerahkan buku ini kepadaku, pernah berkata bahwa dua belas putri anggota golongan kalong putih dan tiga puluh delapan pocu semua akan datang hadir. akan tetapi waktunya sekarang ini telah tiba, bagaimana masih bisa kurang tujuh belas orang ?"

"Ini aku tidak tahu, asalkan kau laporkan siapa yang tidak hadir, bukankah sudah Cukup?" menjawab sang suami sambil angkat pundak.

Pa cap Nio menghela napas, lalu berjalan kembali dan masuk kedalam goa Hak-Liong-tong.

Tak lama kemudian dari dalam goa itu berjalan serombongan orang. Yang pertama-tama keluar adalah Pa Cap Nio, kemudian anggota pelindung hukum Im Liat Hong, setelah itu adalah anggota pelindung hukum juga , tamu tidak diundang dari luar daerah, Satupersatu selanjutnya lagi ialah Liu Kui-pin, To Kong-hui dan akhirnya seorang perempuan setengah umur yang mengenakan pakaian warna emas.

Perempuan setengah umur berpakaian warna emas itu jelas adalah permaisuri Ho ong itu Jie Hiang Hu, dari wajahnya kelihatan seperti sudah berusia empat puluh tahunan, tetapi waktu itu memakai bedak dan gincu begitu medok, hanya dari tampangnya tampak ia itu seorang perempuan galak dan kejam, begitu dilihat sudah bisa diketahui bukanlah perempuan baik-baik.

Se Waktu ia berjalan keluar dari dalam goa, sudah menunjukkan sikapnya marah- marah sedang mulutnya nyerocos mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar:

"Dia selalu tergila-gila kepada barang buruk itu, nanti kalau timbul hawa amarahku, biarlah kubinasakan padanya. "

To Kui-hui yang mendengar ucapan itu lalu berpaling dan menyambungnya:

"Permaisuri benar, siao-moay juga merasa bahwa hati perempuan busuk itu sudah lama tidak ada dari golongan kita, lebih cepat kita singkirkan dia lebih baik,jangan sampai menimbulkan hal-hal yang tidak dlinginkan "

Sang permaisuri menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa dingin: "Kalian tunggu dan lihat saja nanti."

Lima orang itu tiba didepan batu sembahyang, lantas berdiri kekanan kiri.

Sepasang Suami istri partay Lo-hu telah membawa anggota golongan Kalong putih dan hitam berdiri berbaris didua sisi meja sembahyang , seolah-olah hendak menyambut kedatangan raja.

Tak lama kemudian, didalam goa Hek-liong-tong tiba- tiba terdengar suara musik mengalun kemudian dari dalam tampak berjalan keluar seorang lelaki memakai pakaian warna emas dan seorang perempuan cantik mengenakan pakaian warna perak. dihadapan mereka ada dua perempuan berpakaian seperti pelayan istana, masing- masing memegang kipas sutera. Lelak berpakaian warna emas usianya kira-kira tiga puluh lima tahun, wajahnya putih bersih, namun tampak sangat dingin. Seperti wajah orang mati. Dia bukan lain dari pada Ho ong Jie Hlong Hu. juga dengan nama lain Jie Biauw Kow, dan sekarang menjadi pangcu golongan Kalong.

Perempuan berpakaian warna perak usianya kira-kira dua puluh satu tahunan, parasnva cantik namun waktu itu tampak diliputi oleh rasa sedih, bahkan masih tampak tanda air mata,jelas tadi pernah habis menangis sedih.

Perempuan berpakaian baju perak itu begitu baru muncul. telah membuat Tok-siu-cay Leng Kho yang berdiri dibarisan golongan Kalong hitam berjengit lantaran terkejut hampir ia menjerit. Apa sebabnya ?

Kiranya, perempuan cantik berpakaian warna perak itu adalah perempuan berpakaian UngU yang menyebut diri sebagai Lim Keng Hee yang kemarin dibawah kaki gunung Siong-san unjuk diri dan pernah menolong diri Cin Hong.

Pantas kemarin sikapnya sangat misteri, ternyata dia adalah salah satu dari tiga selir pangcu golongan Kalong yang bernama Lim Hujin, pantas kepandaian ilmu silatnya demikian tinggi dan pantas ketika ia menceritakan kisahnya waktu ditolong keluar oleh seorang pemuda dari rumah hiburan, sudah tidak tahan menahan rasa sedihnya dan mengucurkan air mata.....

Tok-siu-cay Leng Kho yang sebetulnya adalah Cin Hong sendiri, menghela napas perlahan, ia menundukkan kepala tidak berani melihat wajah sedih perempuan itu lagi.

Pangcu golongan Kalong dan Lim Hujin berjalan berdampingan kedepan batu sembahyang, Sang Pangcu seorang diri jalan naik terus keatas tangga batu, duduk disebuah kursi emas yang sudah disediakan diatas batu, dua pelayan perempuan juga mengikutinya sambil terus mengipasi dirinya.

suasana disitu sesaat tampak sunyi senyap.

Hek Tongcu Kha Gee San lalu maju beberapa langkah dan berlutut untuk melaporkan bahwa anggota kalong hitam yang jumlah seorang ialah anggota nomor empat Tang Lok yang tidak datang, kemarin diutus pergi kegunung Siong-san untuk menyambut putri ketujuh, entah apa sebabnya belum kembali.

Pangcu yang mendengar laporan itu hanya menganggukkan kepala, kemudian memerintahkan Tongcu itu mengundurkan diri.

Setelah itu ada giliran Tongcu golongan Kalong putih ialah Pa cap Nio yang maju memberi lapor bahwa anggota dalam golongannya semua berjumlah tiga puluh tiga orang, ada tujuh belas yang belum datang, Satu adalah puteri ketujuh Thia Ay Eng. yang lainnya semua adalah Tecu berbagai daerah, apa sebab mereka tidak datang, belum diketahui olehnya.

Pangcu hanya mengeluarkan suara dari hidung, sepasang matanya memancarkan sinar tajam, setelah itu ia perlahan- lahan berpaling dan bertanya kepada tamu tak diundang dari luar daerah yang berdiri dibarisan kanan-

"Yo Hok Hoat bagaimana pandanganmu dalam urusan ini?"

Tamu tak diundang dari luar daerah itu menjawab sambil bungkukkan badan:

"Urusan ini terjadinya diluar dugaan semua orang, sebelumnya juga tidak ada tanda apa-apa, hamba tidak berani menduga sembarangan-..." Kembali pangcu bertanya kepada Im Liat Hong yang berdiri disebelah kiri:

"Dan bagaimana dengan pandangan cho Hok-hoat?"

IM Liat Hong menjawab juga sambil membungkukkan badan:

"Hamba juga tidak dapat menduga, tetapi hamba  percaya mereka tidak berani tidak datang tanpa sebab"

Pangcu menganggukkan kepala dan berpikir sekian lama, kemudian berpaling dan bertanya. kepada Pa cap Nio:

"Golongan kita berdiri lama, hingga sekarang hanya mempunyai cabang dilima puluh dua tempat, enam belas Pocu yang tidak hadir, dari daerah-daerah mana saja?"

"Dari daerah An-hui. Ho- lam dan ouw-pak" menjawab Pa cap Nio.

"Apakah dari tiga propinsi itu tidak seorangpun yang datang?" bertanya pula sang pangcu.

"Ya, mungkin mereka mnegambil tindakan serupa. lari

ikut orang lain" jawab Pa Cap Nio.

"Ikut siapa?" tanya Pangcu sambil tertawa dingin.

"Itu hanya dugaan saja. mungkin mereka sudah bosan dengan kehidupan dunia, hingga masing-masing mencari lelaki lain."

sepasang mata pangcu terbelalak kemudian membentak: "Itu hanya kau mengoceh sendiri?"

Pa Cap Nio terkejut. dan buru-buru menganggukkan kepala minta maaf.

Pangcu memerintahkan Pa Cap Nio undurkan diri, kemudian memerintahkan dua belas putri menyerahkan anak kunci emas yang sudah didapatkan. Pa Cap Nio kembali kerombongannya, lalu dari buku absen membayangkan dan memanggil orang-orang yang tersebut namanya:

"Putri pertama Kim Tiap Hoa, yang ditugaskan untuk mengambil anak kunci yang berukiran huruf tikus dari partay Thian-shia-pay, sudah berhasil mendapatkan atau tidak?"

Dari rombongan Kalong putih terdengar suara sahutan, kemudian berjalan keluar seorang anggotanya kedepan meja sembahyang, dari dalam sakunya mengeluarkan anak kunci emas. diletakkan keatas meja setelah itu mengundurkan diri lagi. Pa cap Nio menyebutkan pula nama-nama selanjutnya:

"Putri kedua. Ciu wanjie yang ditugaskan untuk mengambil anak kunci berukiran huruf kerbau dari partay Ngo-bie, sudah dapat atau belum?"

Dari rombongan Kalong putih terdengar suara orang menyahut, kembali tampak seorang keluar sambil menyerahkan anak kunci emaS di atas meja dan setelah itu undurkan diri. Dengan demikian satu demi satu dipanggilnya menurut urutan nomor.........

Dari dua belas anak kunci emas ini, hanya anak kunci yang didalam tangan para ketua Siao-lim, Bu -tong dan oey- san, yang belum berhasil diketemukan. Kecuali putri ketujuh Thia Ay Eng yang belum datang, putri-putri yang lainnya tampak berlutut dihadapan meja pangcunya untuk menantikan hukumannya. Mereka semua bergiliran dan ketakutan setengah mati.

Pangcu setelah menerima delapan buah anak kunci, kemudian bertanya kepada tiga putri sambil tertawa dingin: "Coba kalian ceritakan kenapa sampai tak bisa jalankan tugas itu?"

Putri nomor empat Tio Kui Hong dengan tubuh dan suara gemetaran menjawab:

"harap pangcu maafkan, pemuda yang bernama Ma Liong Po itu terlalu keras adatnya, hamba sudah berusaha sekuat tenaga juga tidak bernasil menggerakkan hatinya "

Pangcu lalu berkata:

"Baik, aku tahu Kau sudah berusaha keras pergilah"

Putri nomor empat itu mendengar putusan demikian merasa girang, buru-buru menjura mengucapkan terima- kasih, kemudian lari kembali kerombongannya. Pangcu lantas memanggii putri nomor delapan, tanyanya dingini

"Dan kau?" Putri nomor delapan Tie Siauw Lian melapor sambil menjura:

"Harap pangcu maafkan, anak kunci berukiran huruf Liong partai oey-san sudah hilang pada dua puluh tahun berselang, hamba telah berusaha untuk mencari keterangan juga tidak didapat."

"Baik, kau juga mundur" demikian pangcu golongan Kalong mengeluarkan perintahnya.

Kini tibalah gilirannya putri ke sepuluh Lo Tay Cie harus memberi laporan, wanita itu memberi laporannya sambil menangis:

"Mobon maaf kepada pangcu, anggota angkatan muda partai Hoa-San, tiada Sstu yang dapat mendekati ketuanya, hamba sesungguhnya tak dapat menemukan orang yang dapat digunakan. " "Apa kau hanya mau mencari yang muda saja?" tanya pangcu sambil tertawa dingin. Lo Tay cie menggeleng- gelengkan kepala dan menjawab:

"Tidak, tidak Yang tua juga sudah didekati tapi mereka ada yang pendelikkan mata kepada hamba, ada yang sama sekali tak mengerti kebaikan hamba, mereka itu tampaknya bodoh seperti kerbau"

Pangcu mendengarkan dengan tenang dan berpikir, kemudian berkata dengan dingin:

"Kau menjalankan tugas kurang baik, sekarang dihukum harus menghibur anggota Kalong hitam sepuluh malam lamanya"

Lo Tay Cie gemetaran dan berulang-ulang menjura dan minta di ampuni, tapi tak dihiraukan oleh pangcunya, bahkan memerintahkan Tongcu Pa Cap Nyo agar dibawa pergi. Kemudian sang pangcu bertanya pada Im Liat Hong:

"Bagaimana Cho Hok Hoat tahu bahwa anak kunci berukiran huruf Liong itu sudah balik kembali ketangan orang partai oey San?"

Im Liat Hong berpaling mengawasi Cu Giok Tian yang diikat di tiang dan berkata:

Dari pembicaraan mereka hamba dapat tahu sebagian, katanya, anak kunci itu selama sebelas tahun terus berada di tangan murid It-hu Sianseng yang bernama Cin Hong, dua hari berselang Cu Giok Tian telah berjumpa dengan Cin Hong di gereja Siao-lim Sie, dengan tidak disengaja telah menemukan anak kunci itu didalam badannya. Ketika hamba mendengar kabar itu, lalu mengikuti diam-diam, setelah Cu Giok Tian berpisahan dengan Ceng-hong Cinjin barulah hamba unjuk diri dan minta kepadanya. Akhirnya, meskipun hamba berhasil menjatuhkan dia tetapi tak dapat menemukan anak kunci emas itu, maka terpaksa hamba gusur saja dia kemari"

"Apa kau sudah tanya kepadanya?" "Dia tak mau mengatakan"

"Kalau begitu rangket dulu padanya. Dan masih ada satu yang muda itu?"

Im Liat Hong berpaling mengawasi Kha Gee San, dan yang tersebut belakangan itu segera memerintahkan dua anggota kalong hitam pergi menjalankan hukuman-

Anggota angkatan muda partay Bu-tong Ma Liong Po begitu melihat ada dua orang berpakaian hitam menghampiri sambil membawa rotan, sikapnya sebaliknya berubah menjadi tegang, ia berpaling dan mengawasi kepada Cu Giok Tian disampingnya dan berkata sambil tersenyum:

"Cu-locianpwe, coba locianpwe katakan hari ini kita mau menangkan pertempuran ini atau tidak?"

Cu Giok Tian juga tidak menunjukkan rasa takut, jawabnya sambil tersenyum:

"Sudah tentu harus menang, tulang-tulangku yang sudah bangkotan ini yakin masih sanggup menerima rangketan itu"

Dua orang dari golongan Kalong hitam Saling berpandangan, lalu mulai menjalankan hukumannya, ketika cemeti itu jatuh ditubuh mereka, darah lantas mengucur keluar, Cu Glok Tian dan Ma Liong Po hanya mengerutkan saja alisnya, kemudian memejamkan matanya.

Cemeti bergerak makin lama makin gencar, dua tubuh dua orang itu juga sudah berlumuran darah..... Tak lama kemudian tubuh dua orang itu sudah pecah semuanya, darah membasahi badan dan celananya, namun mereka keras kepala, sedikitpun tidak mengeluarkan rintihan, seolah-olah yang dihajar itu bukan tubuh mereka,

Pangcu yang menyaksikan sikap mereka itu sangat marah, maka lalu memerintahkan supaya disiram dengan air garam.

Ma Liang Po tertawa terbahak-babak dan berkata: "Jikalau tuan besarmu she Ma ini mengeluarkan sedikit

rintihan saja, bukanlah anak murid golongan Bu-tong "

Seorang anggota Kalong hitam membawa satu ember air garam, Cu Giok Tian yang melihat itu menggelengkan kepala dan berkata pada Ma Liong Po sambil tersenyum: "Ma-laote, inilah pertandingan yang kedua "

Selagi Ma Liong Po hendak membuka mulut, air garam sudah disiramkan diatas kepalanya, hingga timbul sedikit rasa sakit Sehingga tubuhnya merah membara, giginya terkatup, darah mulai mengalir keluar dari mulutnya.....

Ketikamangkok kedua disiramkan, badannya gemetaran semakin hebat, kepalanya perlahan-lahan menunduk. akhirnya diam. Pangcu golongan Kolong lalu mengeluarkan suara bentakan: "Cu Giok Tian, dimana anak kunci itu kau simpan?"

Cu Giok Tian tertawa tertawa terbahak-bahak kemudian menjawab: "Haha, didalam perutku Kau dodet saja kalau mau ambil"

Pangcu memerintahkan anak buannya supaya menyiram dengan air garam.

Semangkok air haram lalu disiramkan dari atas kepalanya, lalu memgalir kebadannya. Dimana air garam itu mengaliri tubuh yang sudah berlumuran darah itu lalu bergerak-gerak. namun meskipun demikian Wajah orang tua itu masih tersenyum-senyum, seolah-olah disiram oleh air biasa saja.

Sang pangcu lalu memerintahkan untuk menyiram lagi. SELAGI hendak menyiram yang kedua kalinya, Tok-siu-

cay  yang  berdiri  dibagian  depan  dalam  barisan  Kalong

hitam, tak tahan hawa amarahnya, lalu berjalan maju selangkah.

Dan juga tepat pada saat itu, tiba-tiba di tengah udara terdengar suara siulan aneh, dan kemudian tampak muncul sesosok bayangan orang, dari tengah udara melayang turun seorang pengemis tua langsung menuju kedepan batu sembahyang.

Pengemis tua itu rambut dan kumisnya sudah putih semua, ia mengenakan pakaian kain kasar yang penuh tambalan, diketiaknya ada mengempit segulung tikar rombeng, sikapnya sangat aneh, namun tampaknya gagah Sekali, ia bukan lain dari pada pengemis aneh yang mendapat julukan pengemis tikar rombeng Lu Bong Kong, yang beberapa hari berselang datang di gereja siau-lim-si kemudian berlalu tanpa pamit, katanya hendak pergi kerumah penjara rimba persilatan untuk menantang bertanding untuk menolong keluar It-hu Sianseng

Ketika tiba didepan batu sembahyang, ia dengan sikapnya yang angkuh menengok kekanan kiri kemudian berseru:

"Heheh, akhirnya kuketemukan juga kalian orang-orang dari golongan ini benar-benar bagus sekali perbuatan kalian.. Perempuan-perempuan itu kalian sekap dimana? Lekas bebaskan sekarang juga " oleh karena kedatangannya dari udara secara tiba-tiba, hingga disitu terjadi sedikit kericuhan, dan anggota pelindung hukum kiri dan kanan dengan cepat menghampiri padanya sedang tamu tak diundang dari luar daerah lalu menegur sambil menggenggam pedangnya keras- keras.

"Tuan ini siapa?"

Pengemis tua itu dengan mata menyipit nmengawasi padanya sejenak. kemudian berkata sambil tertawa dingin:

"Kau barangkali adalah itu orang yang dinamakan Tamu tidak diundang dari luar daerah bukan?"

"Sekarang adalah aku yang bertanya padamu" berkata Tamu tak diundang dari luar daerah.

Lam-khek sin-kun Im Liat Hong berkata sambil tertawa menyindir:

"Dia adalah pengemis aneh tikar rombeng Lu Bong Kong, seorang bekas ketua Satu partay yang sudah kehilangan namanya"

Pengemis tua itu memandang padanya dengan sikap dingin, kemudian berkata: "Apakah kau hendak coba menyambut seranganku pengemis tua ini?"

Im Liat Hong dengan sikap seolah-olah memandang rendah berkata sambil meluruskan kedua tangannya.

"Apakah ilmu seranganmu angin puyuh dari gunung pasir ada perobahan baru yang perlu sekali harus diperlihatkan kepada kami?"

Mulut pengemis aneh itu mengiakan sedang kaki kirinya sudah bergerak tmaju setengah langkah, tangan kanannya diangkat kemudian dengan mendadak sudah melancarkan serangan melalui udara. Im Liat Hong juga menggunakan tangannya untuk menyambut serangan itu.

Kedua pihak terpisah sangat dekat, ketika kedua kekuatan tenaga saling beradu, lalu menimbulkan suara hebat, beberapa kaki seputar tempat mereka berdiri telah timbul angin mengulung-gulung seperti angin puyuh, hingga angin dan debu pada beterbangan keatas.

Pengemis aneh itu hanya bergoyang sedikit lantas berdiam, sedangkan Im Liat Hong tubuhnya berputaran seperti roda, kemudian seperti orang baru baik sakit, tubuhnya terhuyung-huyung hingga hampir saja jatuh ditanah.

Im Liat Hong adalah seorang iblis kenamaan dalam rimba persilatan pada waktu itu, dalam hidupnya entah pernah menghadapi berapa banyak lawan tangguh, kecuali beberapa tahun yang lalu ia pernah satu kali terjatuh dari tangan penguasa rumah penjara rimba persilatan belum pernah ia menjumpai seorang lawan setangguh ini, terutama kalah dibawah tangan pengemis tua yang bekas pecundangnya It-hu Sianceng benar-benar ia merasa malu sekali.

Dalam keadaan demikian, ia menjadi naik pitam, hingga rambutnya yang putih kelihatan sampai pada berdiri, ia maju lagi hendak mengadu jiwa.

Pangcu dari golongan Kalong perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya dan memerintahkan supaya anggota pelindung hukumnya itu segera mundur.

Im Liat Hong tampak sangsi sejenak. tetapi kemudian terpaksa membatalkan maksudnya dan mengawasi sang pangcu untuk menantikan petunjuk lebih lanjut. Pangcu golongan Kalong berkata dengan nada suara dingin. "Pengemis tikar rombeng Munculnya kau di dalam  rimba persilatan untuk kedua kalinya ini, tidak kuduga sudah membekal kepandaian demikian hebat, benar-benar merupakan suata hal yang patut dibangga, maka lebih dulu aku haturkan selamat padamu "

Pengemis tua itu mengebut debu di atas bajunya, setelah itu baru berkata sambil tertawa

"Ah, kau terlalu memuji, hanya hasil yang tidak berarti saja"

"Tadi kau minta kami melepaskan perempuan- perempuan, perempuan mana yang kau maksudkan?" tanya Sang pangcu.

"Bukankah selama dua hari ini, didaerah propinsi San- see dengan beruntun sudah ada delapan belas perempuan yang lenyap? Kalau bukan kalian perbuatan siapa lagi?"

"ohhh, jadi ada kejadian serupa itu?"

"Kaujangan berpura-puralah... Hari ini jikalau kau tidak membebaskan dengan segera delapan belas perempuan itu, aku terpaksa akan bertindak"

"AKu Jie Hlong Hu meskipun juga sering melakukan perbuatan semacam itu, tetapi kali ini. perempuan- perempuan itu bukanlah diculik orang-orangku. Kukira, terhadap orang seperti kau ini, masih belum ada harganya bagiku untuk mengadakan bantah-bantahan?"

"Kalau begitu, kecuali kau masih ada siapa lagi yang biasa melakukan perbuatan rendah semacam itu?"

"Tidak tahu.. Bolehlah kau menceritakan kejadiannya lebih jelas Sedikit"

"Delapan belas perempuan itusemuanya adalah istri-istri atau anak perempuan orang rimba persilatan- diwaktu lenyap tidak meninggalkan sedikit bekaspun. seolah-olah mereka itu. pergi di rencana lebih dulu. "

"Apakah mereka itu berlalu dengan membawa barang- barang kesukaannya?"

"Tidak! MakSudku ialah orang-orang itu berbuat demikian rapi."

Pangcu golongan Kalong lalu berpaling dan bertanya kepada anggota pelindung hukum tangan kanannya ialah Tamu tidak di undang dari luar daerah:

"Co Hok hoat anggap urusan ini apakah tidak mungkin ada hubungannya dengan tidak hadirnya enam belas lie tocu dari perkumpulan kita?"

Tamu tidak diundang dari luar daerah balas menanya: "Apakah Pangcu anggap mereka juga sudah diculik?"

Sang pangcu menganggukkan kepala dan menjawab sambil tertawa dingini

"Jikalau tidak. sekalipun mereka bernyali lebih besar lagi juga rasanya tak mungkin sampai berani tidak hadir"

Tamu tidak di undang dan luar daerah itu menundukkan kepala untuk berpikir, kemudian berkata:

"Mungkin ada hubungannya, hanya yang membuat kita tak habis mengerti ialah orang-orang rimba persilatan pada dewasa ini yang memiliki kemampuan melakukan perbuatan seperti itu dan berani melakukan maksudnya kecuali golongan Kita, boleh dikata sudah tak ada, sebab sebaglan besar orang-orang rimba persilatan sudah tertawan dalam rumah penjara."

Pangemis tua yang mendengarkan itu menunjukkan sikap terkejut dan terheran-heran, tanyanya: "Apa? Jadi kalian dalam golongan Kalong juga kehilangan anggota Wanita?"

Pangcu golongan Kalong menganggukkan kepala mengiyakan-

Pengemis aneh itu mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, kemudian menggenggam erat-erat tikar dibawah ketiaknya dan berjalan turun ke bawah gunung, sambil ucapnya:

"Kalau begitu, hitung-hitung aku si pengemis tua kesalahan alamat, sekarang aku headak minta diri."

Pangcu golongan Kalong berjalan turun dari atas batu seraya berkata "Tunggu sebentar"

Pengemis tikar rombeng itu merandek dan bertanya: "Ada apa ?"

Pangcu golongan Kalong dengan nada suara dingin berkata sepatah demi sepatah:

"Ilmu serangan tanganmu angin puyuh dari gurun pasir apa benar ada mempunyai permainan baru? Aku sungguh tertarik sekali, mudah-mudahan benar-benar kau mempunyai permainan baru itu "

Pengemis tua itu sangat girang, ia lalu meletakan tikar rombengnya ditanah, dan berkata sambil tepok-tepok tangan:

"Mari, mari, mari Aku sipengemis tua memang sudah lama ada itu maksud, cuma merasa tidak enak untuk buka mulut "

Pangcu golongan kalong lambat-lambat berjalan kedepannya sejauh kira-kira lima kaki baru berhenti, dan kemudian mempersilahkan Pengemis tua itu supaya turun tangan lebih dulu. Pengemis tikar rombeng menampak sikapnya yang acuh tak acuh, bahkan suruh ia turun tangan lebih dalu, karena marah lalu berkata

"Usiaku lebih tua darimu, seharusnya kau yang buka serangan lebih dulu"

"Kepandaian ilmu silatku lebih tinggi darimu, seharusnya kau yang membuka serangan dulu" kata Pangcu golongan Kalong,

Pengemis tua itu marah, telah mengeluarkan suara siulan aneh, sepasang tangannya bergerak dan kaki digeser maju, setelah itu ia membuka kerangannya dengan tangan kanan,

Dahulu ia terkenal namanya dalam rimba persilatan dengan ilmu serangan tangannya yang dinamakan angin puyuh digurun pasir, Waktu itu kalau melancarkan serangannya hanya menimbulkan suara menderu-deru seperti benar-benar ada angin puyuh yang menggulung- gulung, tapi kali ini setelah kembali dari perantauannya, dan muncul didaerah Tlong-goan lagi meskipun ilmunya masih sama, tetapi dari ilmu serangan yang menimbulkan suara berubah tidak ada suara, hingga membuat orang lain sulit untuk meraba kemana arahnya kekuatan tenaga yang tercampur dalam gulungan angin hebat itu, maka seorang kuat seperti Lam-kek-sin-kun Im Liat Hong, juga dalam segebrakan saja sudah hampir jatuh ditangannya, tetapi meskipun pengemis tikar rombeng itu adatnya angkuh dan anggap kepandaian sendiri sangat tinggi, namun waktu itu ia sesudah menghadapi iblis nomor satu dalam rimba persilatan juga tidak berani berlaku gegabah. Maka pada serangannya itu ia sudah menggunakan kekuatan tenaga seratus persen.

Mulutnya pangcu golongan Kalong mengeluarkan suara aneh yang sangat perlahan, dengan mendadak tubahnya memutar bagaikan kitiran tampaknya seperti terdorong oleh putaran yang keluar dari serangan tangan pengemis tikar rombeng, tetapi, Sebetulnya gaya mutarnya itu menuju kearah kebalikannya dan mendesak dekat kepada pengemis tikar rombeng, Saat itu tampak tangan kanannya diangkat, cepat bagaikan kilat menepok kearah pelipis pengemis tikar rombeng.

Dengan cara demikian dia menghadapi ilmu angin puyuh digurun pasir. sesungguhnya merupakan suatu cara yang belum pernah dilihat dan didengar, jelas bahwa pangcu itu sudah mengetahui kehebatan dan letaknya kekuatan ilmu angin puyuh itu, maka bukan saja terdorong atau terbawa putaran angin lawannya, sebaliknya malah berhasil memunahkan kekuatan tenaga dari daya putar itu untuk menyambut dan melancarkan serangannya ilmu Kui- im-hek-kut-ciang yang pernah menggetarkan rimba persilatan-

Pengemis tikar rombeng itu tidak menduga bahwa pangcu golongan Kalong ini ternyata seorang ahli dalam ilmu Silat, maka wajahnya lantas berubah, buru-buru lompat miring setengah langkah, menyerang dari ataS kepala dengan menggunakan tangan kiri kemudian dari bawah menyerang lagi kedada kiri lawannya.

Tidak kecewa ia sebagai seorang bekas ketua partay kenamaan. Setelah serangan pertamanya gagal, sudah tahu bahwa serangan yang dilancarkan seperti biasa tidak berdaya menghadapi lawannya, maka kali ini ia merobah siasatnya, dari atas mendorang kebaWah rupanya lawannya tidak bisa meminjam tenaganya lagi.

Benar saja serangan dengan cara baru itu membawa hasiL Pangcu itu kali ini rupanya tak dapat lagi meraba akan kemana berputarnya angin yang keluar dari serangan itu. Akan tetapi sebagai seorang jago kenamann ia sedikitpun tidak gugup tubuhnya nampak bergoyang- goyang seperti ikan berenang dalam air, sambil membungkukkan badan, tangannya menyambar sepasang kaki pengemis tua itu.

Pengemis tikar rombeng tertawa panjang sepasang kakinya dipentang. tubuhnya melesat setinggi empat lima kaki, bersamaan dengan itu sepasang tangannya melancarkan serangan dengan berbareng, untuk menggempur leher dan punggung lawannya.

Tak disangka baru saja sepasang tangannya hendak melancarkan serangan tahu-tahu kehilangan bayangan lawannya, bersamaan dengan itu tiba-tiba dibelakang punggungnya merasakan ada hembUsan angin dingin, maka itu ia terkejut.

Ternyata pangcu golongan Kalong menggunakan kesempatan selagi pengemis tadi melesat dengan kecepatan bagaikan kilat sudah menyusup melalui selangkangan pengemis tadi, sebelum pengemis itu menginjakkan kakinya ketanah, pangcu golongan Kalong sudah memutar tubuh dan balik menyerang bagian jalan darah dibagian punggung sipengemis tersebut.

Serangannya secara itu benar-benar sangat kejam dan ganas serta diluar dugaan orang pula. Dalam keadaan terkejut. pengemis tua itu sudah tahu sulit baginya untuk mengelakkan serangan itu, maka buru-buru tubuhnya melekuk kedepan kekuatan tenaganya lantas dipusatkan kedalam telapak tangannya, dan balik menyerang melalui bawah selangkangan sendiri.

Menghadapi lawan dengan cara demikian berarti sudah mengambil keputusan untuk rubuh bersama-sama dengan lawannya. Tetapi pangcu golongan Kalong yang cerdik sudah tentu tidak sudi menjual jiwanya, dari mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin, tangan kanannya buru- buru di tarik kembali, setelah ia melompat menyingkir untuk mengelakkan serangan pengemis tua yang menggunakan tenaga sepenuhnya, setelah mana tangan kirinya menyusul untuk menekan belakang punggung lawannya.

Pengemis tua itu menekuk lutut kaki kanannya sampai ketanah, dan balas menyerang dengan segera,

Pertempuran ini berjalan seru dan hebat, setiap gerak menunjukkan betapa hebat dan berbahayanya serangan dari kedua pihak sehingga semua anggota golongan Kalong yang menyaksikan pada melongo, tiada seorangpun yang berani bernapas.

Dari jalannya pertempuran, tampaknya pangcu golongan Kalong lebih banyak melancarkan serangan dan sedikit sekali melakukan penjagaan, benar-benar tampaknya menang setingkat dari pada pengemis tikar rombeng. Tapi yang tersebut belakangan ini juga bukan orang Sembarangan, setiap kali menjumpai serang yang sangat berbahaya, ia juga menggunakan serangan yang mengandung maksud hendak rubuh sama-sama bahkan kadang-kadang diiuar dugaan banyak orang.

Dalam waktu amat singkat, pertempuran sudah berlangsung seratus jurus lebih. Pengemis tikar rombeng kelihatannya seperti berada dibawah angin, tetapi sampai dengan saat ini masih belum menunjukkun kekalahan yang nyata, hingga pangcu golongan Kalong jadi benar-benar sangat penasaran, tiba-tiba dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebatang seruling berbintik-bintik entah terbuat dari bahan apa, diputarnya sejenak hingga mengeluarkan suara irama yang mengalun dengan nada amat merdu. Suara seruling itu semakin lama semakin merdu, sehingga membuat yang mendengarkannya terbenam dalam pikiran yang bukan-bukan dan dalam otak masing-masing terbayanglah satu gambaran yang timbul dari lamunan, seolah-olah ada banyak perempuan cantik dalam keadaan telanjang bulat menari dan mengitari dirinya. sudah tentu menimbulkan perangsang nawa nafsu yang sangat hebat.

orang-orang seperti permaisuri, tiga selir dan dua anggota pelindung hukum sepasang suami istri dari Lo-hu- pay, masih dapat mengerahkan ilmunya untuk menahan diri, tetapi anggota dari golongan putih dan hitam, semuanya sudah seperti orang mabuk arak. dan mulai bergerak-gerak dan menari- nari seperti orang gila.

Suara seruling itu dari lambat berubah menjadi cepat, sehingga membuat orang timbul napsu birahinya yang hampir tidak terkendalikan, hati mereka berdebar semakin keras, seolah-olah belum akan merasa puas sebelum dapat tercapai maksudnya.

Dengan demikaan, orang-orang dari rombongan Kalong putih dan Kalong hitam pada akhirnya menjadi kalut, seperti dua rombongan yang sedang berjumpa dimedan perang, seperti kalap pada menyerbu, sehingga  dalam waktu sangat singkat, keadaan menjadi kacau balau, orang- orang dari golongan Kalong putih pada memeluk orang- orang golongan Kalong hitam dan orang-orang dari golongan kalong hitam pada menyerbu dan segera menindih tubuh orang-orang golongan kalong purih, sesaat itu suara robekan baju hampir memenuhi suasana, yang lelaki pada memburu napasnya, yang perempuan merintih- rintih.

Cin Hong yang menyamar menjadi Tok Siu-cay, menggunakan kesempatan dalam keadaan sangat kacau- balau seperti itu, diam-diam berjalan mendekati tiang, dan berbisik ketelinga Cu Giok Tian:

"Cu-locianpwe, aku Cin Hong. Locianpwe masih sanggupkah bertahan?"

Semangat imam itu terbangun seketika, ia membelalakkan matanya dan bertanya terhetan-heran:

"Kau,...bagaimana kau bisa datang kemari?"

"Aku meminjam.... nama Tok Siu-cay. dan menyusup

kemari...,.." jawab Cin Hong dengan suara gelagapan. "Sungguh terlalu berbahaya.. Lekas kau pergi "

"Tidak Aku hendak menolong Locianpwe dan saudara Ma itu"

"Tak ada gunanya, aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk bergerak. tidak dapat melarikan diri. "

Cin Hong mengulurkan tangannya diletakkan ditiang lalu berkata.

"coba- coba saja, aku akan memutuskan tali pengikat tubuhmu lebih dahulu."

Imam tua itu membuka matanya dan berkata dengan suara marah:

"Kukata jangan ya jangan.. Kalau kau memaksa juga dan tak mau lekas pergi, aku nanti akan berteriak"

Cin Hong terkejut, hingga tangannya di tarik kembali.Justru pada saat itulah, suara yang menggoda hati itu mendadak hilang. Ketika menengok, tampak sipengemis tikar rombeng juga sudah tak sanggup menahan pangcu golongan Kalong dengan seruling gaibnya itu, kali ini benar-benar ia memaki-maki dengan membawa tikar rombengnya dan lari turun kebawah gunung. Anggota-anggota Kalong putih dan hitam yang pakaiannya sudah pada robek compang- camping waktu itu juga kelihatan sudah pada merangkak bangun. Anggota Kalong putih ialah kaum wanita yang agak tahu malu pada nampar laki-laki yang tadi bergumul dengan dirinya sendiri untuk menunjukkan bahwa bukanlah pihaknya yang berdosa, akan tetapi ada juga yang malas bertindak, saking asyik hingga masih saja saling berpelukan dalam keadaan pura-pura masih mabuk.

Tongcu golongan Kalong hitam Kha Gee san tiba-tiba meleset kehadapan Cin Hong dan bertanya sambil tertawa menyindir:

"Leng Hu-tongco, bagaimana aku melakukan tiadakan yang aneh ini?"

Cin Hong diam-diam menarik napas, ia segera berusaha untuk bersikap tenang, jawabnya sambil tertawa

"Tidak apa-apa, aku takut mereka akan bunuh diri dengan menggigit lidah sendiri, maka itu aku kemari untuk melihat,..."

Pangcu golongan Kalong yang sedang masukkan serulingnya kedalam saku, mendengar suaranya dengan mendadak berpaling kearahnya dengan sinar mata tajam, bertanya "Kau siapa?"

"hamba anggota nomor satu golongan Kalong hitam, Tok Siu-cay" menjawab Cin Hong, sambil meluruskan tangan dan membungkukan badan.

Mendengar jawaban itu, Sang pangcu mendadak tertawa dingin dua kali lalu berpaling lalu berkata kearah Kha Gee San, suaranya kedengaran dalam sekali waktu ia memerintah "Tangkap" Kha Gee San menurut, maju dua langkah. dengan cepat mengulur tangannya dan menyambar pergelangan tangan Cin Hong.

Cin Hong yang sudah slap. kakinya agak digeser mundur, kipasnya sudah dikeluarkan dan menyambut gerakan Kha Gee San dengan serangan kipasnya.

Kha Gee San mengira babwa orang itu adalah seorang muda yang tidak diketahui asal-usulnya, betapapun lebih tinggi lagi ilmu silatnya juga tidak bisa sampai terlalu tinggi, dengan kepandaian yang djmilikinya, tentu saja amat mudah kalau mau menangkapnya. Tapi sayang sedikit waktu ia turun tangan, sedikitpun tak ada piKiran untuk berjaga-jaga, Begitulah, dengan mendadak ia meraSakan bayangan kipaS di depan matanya itu bergerak dengan  amat cepatnya dalam terkejutnya ia waktu itu, hendak mundurpun sudah tak keburu lagi, sehingga setelah terdengar suara plak, dadanya terkena serangan kipas dengan telak, hingga kakinya tidak dapat dipertahankan lagi, terpaksa mundur terhuyung-huyuhg sampai tiga langkah.

Pa cap Nio yang menyaksikan keadaan itu wajahnya tampak pucat pias, la iu terdengar suaranya yang berseru kaget: "Suamiku apa kau tidak halangan?"

"Tidak apa- apa" jawab sang suami sambil menggelengkan kepala.

Bersamaan dengan itu ia sudah merandek dan maju lagi, tangannya diangkat dan lancarkan serangan bertubi-tubi.

Cin Hong yang kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, waktu itu ketika diserang hebat seCara bertubi- tubi, dalam hati agak gugup hingga sudah terdesak mundur sampai tujuh langkah. Waktu itu Cu Gick Tian sudah membentak padanya: "Kau tidak lekas lari juga ?"

Cin Hong tak mau lari, tiba-tiba mengeluarkan suara bentakan keras, kipasnya dipentang, ia menggunakan ilmu kipas Tay seng-hong sin-San-hoat, lalu melancarkan serangan balik.

Ilmu kipasnya Tay-seng-bong Sin-san itu adalah salah satu ilmu silat terampuh pada dewasa ini, maka dalam waktu sekejap mata Kha Gee San sudah terdesak mundur hingga tujuh langkah, bahkan kali ini bahunya sudah terkena pukulan kipas dengan telak.

Pukulan kali ini ternyata tidak ringan, tampak Kha Gee San mengeluarkun seruan tertahan, tubuhnya terhuyung- huyung hampir saja jatuh rubuh ditanah.

Semua orang yang ada disitu, yang menyaksikan pertempuran itu pada berubah wajahnya masing- masing, pangcu golongan Kalong dengan penuh perhatian masih menyaksikan pertandingan antara kedua orang itu. kemudian memerintahkan supaya Tongcunya mundur, Kha Gee San dengan muka merah lantas lompat mundur sejauh dua tombak lebih.

Pangcu golongan Kalong lalu berpaling dan berkata kepada Lam-kek-sin-kun Im Liat Hong,

"Co Hok-hoat, coba kau maju"

Lam-kek-sin-kun terima baik permintaan itu, selangkah demi selangkah berjalan kedepan Cin Hong, setelah itu ia berkata dengan suara yang seram:

"Bocah bukalah dahulu kerudung dimukamu itu, biar aku slorang tua menyaksikan bagaimana bentuk rupamu sebenarnya" Cin Hong membuka kerudungnya dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Kita kenalan-kenalan lama. Apa kau merasa heran?"

Lam-kek-sin-kun berseru kaget, anggota golongan Kalong yang pernah bertemu muka dengan Cin Hong juga pada mengeluarkan suara kaget, oleh karena semua sudah tahu bahwa It-hu Sianseng terkenal dalam rimba persilatan dengan ilmu tangan kosongnya, hari ini apabila tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak ada yang menduga bahwa ilmu kipas itu adalah warisan dewa persilatan yang juga merupakan salah satu dari dua belas jenis ilmu terampuh yang menjadi idaman setiap orang rimba persilatan-

Sang Pangcu sendiri juga terheran-heran tanyanya: "Cin Hong, ilmu kipasmu itu dapat belajar dari mana ?"

Cin Hong merasa kali ini terpaksa ia haruss membohong, maka lalu berkata sambil tertawa bangga:

"Sudah tentu aku dapat belajar dari Suhuku sendiri.

Pertanyaanmu ini sungguh aneh"

"Ng... Aku tak percaya jikalau suhumu memiliki kepandaian ilmu kipas semacam ini mengapa ia tidak sanggup melawan penguasa rumah penjara rimba persilatan yang baru dilancarkan sepuluh jurus saja?"

Dalam kagetnya Cin Hong diam-diam merasa girang. pikirnya: "Yah, jikalau aku menggunakan ilmu kipas ini untuk menantang bertanding kepada penguasa rumah penjara, kemungkinan besar dapat menyambut serangannya sampai sepuluh jurus, dengan demikian bukankah aku dapat mengeluarkan suhu dan lain-lainnya dari rumah penjara ?" Sementara itu Pangcu golongan kalong sudah berkata lagi

"co Hok-hoat, cobalah kau main- main dulu barang beberapa jurus dengannya, tapi tidak boleh menggunakan ilmu tenaga dalam"

Lam-khek Sin-kun lompat menyerbu, telapak tangan kirinya melancarkan serangan gerakan, sedang lima jari tangan kanannya sudah dipentang, bagaikan kilat cepatnya menyambar Cin Hong meskipun tidak menggunakan kekuatan tenaga, tapi serangan dari jari tangan itu masih tetap hebat.

Cin Hong yang menghadapi musuh tangguh  perasaannya sangat tegang, tidak menenggu sampai serangan lawannya mengenakan dirinya kipas ditangannya sudah digerakkan dengan menggunakan gerak tipu angin menyapu daun rontok. Gerak tipu semacam ini biasanya khusus digunakan untuk menyerang tulang pergelangan tangan lawan, gerak tipu yang sifatnya hampir serupa dengan bacokan senjata golok, barang siapa yang terkena tulang tangan pasti patah.

Lam-kek Sin-kun tadi yang menonton dari samping dengan cara bagaimana Cin Hong mengalahkan Kha Gee San, maka terhadap pengaruh dan kekuatan ilmu kipas itu ia sudah berlaku sangat hati-hati, melihat seringan kipas itu demikian Cepat sudah tentu tidak berani menyambuti, maka buru-buru menarik kembali tangan kanannya. Bersamaan dengan itu jari tangan kiri dengan gerak tipu sepasang naga merebut mutiara. hendak mencolok sepasang mata Cin Hong.

Tadi ia telah mengalami kekalahan ditangan si pengemis tikar rombeng. maka kali ini ia berlaKu hati-hati, disamping khawatir akan jatuh lagi, juga ingin dapat membalas Sakit hati dan memperbaiki namanya lagi.

Cin Hong yang melancarkan serangan dengan cepat, sebaliknya malah tertipu oleh lawannya, hendak merubah siasat menyerang lagi namun jari tangan lawannya sudah mengancam mata sendiri hingga ia terkejut dan berseru kaget, dengan kerepotan lalu menendang dengan kaki kanannya.

Tendangannya yang dilakukan secara serampangan itu, ternyata membawa hasil diluar dugaannya. Karena Lam- kek-sin-kun yang tidak menduga Cin Hong akan bertindak demikian tampak terkejut, baru saja hendak menyambar kakinya, Cin Hong sudan menggunakan kipasnya untuk menutup tubuh bagian atasnya, kemudian ia memutar lagi hingga terlepas dari bahaya.

Selanjutnya Cin Hong sudah menggunakan ilmu kipasnya itu dengan beruntun,. hingga Lam-kek-sin-kun terdesak mundur.

Dalam waktu sekejap mata tujuh puluh dua gerakan dari ilmu kipas Tay-seng hong-sin-san sudah hampir digunakan seluruhnya, Sekalipun lawannya itu terdesak mundur terus menerus tetapi Cin Hong juga tidak berdasil mengenakan sasarannya, hingga dalam hati mulai gelisah sendiri.

Ternyata Lam-kek-sin-kun sengaja memanCing Cin Hong mengeluarkan seluruh ilmu kipasnya untuk mengetahui sampai dimana hebatnya ilmu kipas itu. Maka ia selalu mengelak dengan jalan mundur, sekali saja tidak pernah melancarkan serangan pembalasan. Saat itu ketika menampak Cin Hong sudah mulai Cemas, ia anggap bahwa waktunya sudah sampai, maka ia lalu mengeluarkan suara bentakan keras, dengan baju kirinya digerakkan untuk menangkis kipas Cin Hong, sedang tangan kanannya lantas digerakkan guna menyambar bahu anak muda ini.

Cin Hong tidak menduga sang lawan itu bisa dengan mendadak menangkis kipasnya. Ia benar-benar terkejut. waktu itu jalan darah diatas bahunya sudah tersambar oleh lawannya hingga sesaat itu sekujur badannya merasa kesemutan. dan kipasnya juga sudah terlepas dari tangannya,

Lam-kek-sin-kun yang sudah berhasi menangkap lawannya, unjukkan tertawa hingga kemudian berpaling dan bertanya kepada pangcu golongan Kalong: "Pangcu pikir bagaimana hendak menyelesaikan bocah ini?"

"Bawa satu tiang lagi dan ikat dia diatasnya" begitu perintah sang pangcu.

Tak lama kemudian, dua anggota Kalong hitam tampak memikul sebuah tiang kayu lagi, lalu dipancang disisi tiang kayu yang dipakai guna menyiksa Ma Liong Po. Seselah itu Cin Hong dibuka baju atasnya dan diikat ditiang kayu.

Pada Saat itu, Ma Liong Po sudah sadarkan diri, ia mengetahui disampingnya ada seorang kawan yang harus menerima hukuman semaCam dia, dimukanya menunjukkan sikap terkejut dan bertanya: "hei, kau Siapa?"

"Aku Cin Hong," jawab Cin Hong sambil tertawa.

"Cin Hong? Bukankah salah satu dari empat Cerdik pandai di daerah Kang-lam yang terkenal dengan julukannya pelukis tangan dewa?"

Cin Hong balas dengan anggukan kepala dan senyumannya. Ma Liong Po tiba-tiba berpaling dan membentak kepada Pangcu golongan Kalong: "lblis Kau terhadap seorang sastrawan yang lemah saja juga sampai begitu perlunya bertindak, apakah itu perbuatan dari seorang gagah?"

Pangcu golongan Kalong angkat pundak dan berkata sambil tersenyum:

"Sastrawan lemah? Hmm Kepandaian ilmu silatnya masih jauh lebih tinggi dari pada kau tahu?"

Ma Liong Po tercengang, ia berpaling dan bertanya kepada Cin Hong dengan sikap terheran-heran:

"Apakah Cin caycu juga pandai ilmu silat?"