Jilid 15
"Kunci emas yang kusimpan, pada beberapa hari berselarg telah dirampas orang dan orang itu justeru murid Suteku sendiri Nie-kun"
Lima ketua partay ketika mendengar ucapan itu seperti mendengar suara geledek disiang hari belong, semuanya terkejut dan terheran-heran-
Tay-hie totiang dari cong-lam-pay lalu bangkit dan berkata sambil tertawa terbahak-bahaK:
"Hah?, sudahlah.. Sudahlah... Dengan terus terang kuberitahukan kepada kalian semua, kunci emas yang pinto simpan juga pada sebulan berselang telah dirampok oleh murid durhakaku sendiri" "Aku siorang she Tee masih mengira bahwa orang yang kehilangan kunci emas itu hanya aku seorang diri saja" berkata TeePo Heng ketua dari partay Lam-hay-pay.
Kini tiga ketua partay itu baru tahu, bahwa cara kehilangan kunci emas mereka hampir sama, semuanya diwaktu sedang bersemedi, lalu diserang dengan tiba-tiba oleh muridnya sendiri kemudian diambil kuncinya......
Ketua Hoa San-pay Yu Hoa liong, berkata sambil angkat pundak:
"orang-orang golongan Kalong berusaha mencuri kunci emas, tetapi sebaliknya sudah menyiarkan berita tentang tertawannya kakek gelandangan didalam rumah penjara rimba persilatan, coba kalian pikir apakah artinya ini?" cin Hong lalu berkata:
"Ini mungkin adalah salah satu rencana busuk mereka, PangCu golongan Kalong mengira bahwa para ketua partay setelah tahu kehilangan anak kuncinya, mungkin akan letakkan pengharapannya kepada kakek gelandangan, dikiranya mereka akan lantas pergi kerumah penjara untuk menantang bertanding. Mereka tahu bahwa kakek gelandangan ada mempunyai penyakit gila yang sebentar kumat sebentar sembuh, sudah pasti tidak sanggup melawan kepandaian penguasa rumah penjara rimba persilatan, maka ia tak perlu kuatirkan kakek itu keluar dari rumah penjara, lalu mengutus orang-orangnya menyiarkan berita itu, supaya dapat memancing ketua partay yang kehilangan kunci emaSnya pergi ke rumah penjara rimba persilatan untuk menolong kakek gelandangan, dengan demikian "
"Dengan begitu, kita semua mau disuruh jadi salah satu dari tawanan dalam rumah penjara itu. IHehehe, aku siorang she Yu,justeru tidak begitu bodoh" kata Yu Hoa liong sengit.
ceng Hong cinjin berdiam, seperti berpikir dia sejenak. baru berkata:
"Tapi, kalau kita bisa menolong keluar kakek gelandangan, juga merupakan salah satu jalan yang tepat untuk membuka kunci kotak wasiat itu. Asal kita dapat makan obatnya yang disimpan dalam kotak Wasiat itu, dan melatih ilmu silatnya, tidak susah rasanya untuk menolong mengeluarkan ketua kita yang tertawan didalam rumah penjara itu."
"Aku si orang she Yoe ada satu akal, tetapi barangkali ciangbunjin sekalian anggap Cara ini terialu rendah. "
berkata Yoe Hoa liong.
Yoe Hoa liong sifatnya tidak gemar nama dan kedudukan, tetapi ia memiliki kecerdikan otak. maka ketika ia berkata ada mempunyai rencana, semua tertarik dan perhatikan keterangannya lebih lanjut.
Tetapi Yoe Hoa liong mendadak alihkan pandaagan matanya kepada cin Hong, kepada pemuda ini katanya:
"cin Siaohiap. jikalau aku menolak perbuatanmu yang hati-hati seperti tadi satu kali ini saja, dapatkah kau memberi maaf kepadaku?"
cin Hong tersenyum dan segera bangkit dari tempat duduknya, berkata sambil memberi hormat:
"Yoe ciangbunjin mengapa bertanya demikian? ciangbunjin sekalian hendak merundingkan soal kotak wasiat, beanie sudah tentu harus menyingkir" Setelah berkata demikian, kembali memberi hormat kepada para ketua partay ia lantas berjalan keluar dari ruangan ceng-sin-tong
Padri muda Ngo-beng, seorang diri masih duduk termenung di atas sebuah kursi rotan, tampak cin Hong keluar dari ruangan, buru-buru bangkit dan berkata sambil memberi hormat: "Sicu mengapa kembali lebih dulu?"
cin Hong duduk di atas kursi rotan, menjawab sambil tertawa:
"ciangbunjin Suhu sekalian sedang merundingkan urusan penting dengan lima ciangbunjin partay besar, maka terpaksa harus keluar lebih dahulu."
Diwajah Ngo-beng menunjukkan sikap aneh, seperti tidak tenang, memandang kepada cin Hong sejenak. kemudian berkata:
"Sioceng tak tahu bahwa sicu adalah murid It-hu Sianseng, tadi atas bantuan sicu, disini siaoceng ucapkan banyak terima kasih."
cin Hong membalas pernyataan terima kasih itu dengan sikap merendah.
"Entah ada keperluan apa hari ini sicu berkunjung kegereja kami?" bertanya pula Ngo-beng dengan hati tak tenang.
"Tidak ada apa-apa hanya main-main Saja."
"Tadi ketika siaoceng berada dikamar, sicu agaknya bendak mengucapkan sesuatu yang takut siaoceng dengar?"
"Benar, ucapan itu kupikir tak ada faedahnya untuk didengar bagi orang seperti kalian yang mensucikan diri, oleh karena itu, maka disini. " Ngo-beng ketika mendengar ucapan cin Hong yang terakhir, wajahnya berubah. Mengapa? Sebab, kata- kata itu ia dahulu pernah di ucapkan oleh perempuan Cabul utusan golongan Kalong, dan cin Hong yang ingin mengetabui reaksi dari paderi itu, juga sengaja meniru ucapannya, tak diduga, perbuatan itu segera menimbulkan pikiran jahat bagi Ngo-beng. "Kalau sicu memang ingin main-main harap tinggal beberapa hari disini. "
"Aku justru pikir hendak mengganggu suhu sekalian untuk berdiam beberapa hari seandai disini tidak keberatan.
. . ."
"Sicu jangan kata begitu, mari siaoceng ajak sicu untuk beristirahat kedalam kamar."
cin Hong yang ingin mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan oleh Ngo-beng, maka lantas menurut, Sebab ia pikir diwakiu tengah hari belong, paderi itu tentunya tidak berani bertindak apa-apa.
Ngo-beng ajak dia masuk kedalam sebuah kamar yang bersih dan sunyi. cin Hong lalu membuka baju luarnya, dan Ngo-beng telah menyambutnya dengan sikap hormat, kemudian undurkan diri.
cin Hong yang sudah melakukan perjalanan beberapa hari kemarin dikata hampir tanpa mengaso, juga sudah merasa letih, maka begitu rebah dipembaringan, tanpa disadari olehnya benar-benar sudah lantas tidur.
Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba tangan kanannya merasa sakit, ketika ia mendusin, dan membuka mata, tampak ketua gereja Siau-lim-si Tie-kong Taysu dan enam ketua partay lainnya beserta Ngo-beng berdiri disisi tempat tidurnya, dan pergelangan tangannya sedang digenggam erat-erat oleh Tie-kong Taysu hingga sekujur badannya merasa lemas tak bertenaga. Waktu itu tampak Tie-kong Taysu dengan wajah keren, menguasai dirinya, kemudian berkata:
"Siau-sicu kiranya adalah anggota golongan Kalong nomor seratus sembilan hampir saja pinceng sekalian tertipu olehmu"
cin Hong berusaha untuk duduk, katanya dengan perasaan bingung:
"ciangbunjin Taysu, apa artinya ucapan ini? Aku yang rendah bukanlah orang dari golongan Kolong"
Tie-kong Taysu menunjukkan sebuah plat kuningan keCil berbentuk segi panjang, katanya sambil tertawa dingin: "Siao-sicu lihatlah, ini barang apa?"
cin Hong memeriksa plat kuningan itu diukir dengan tulisan anggota nomor seratus sembilan golongan Kalong. Bukan kepalang terkejutnya, ia lalu mengerti bahwa benda itu pasti merupakan tanda dan nomor anggota dari Hek mo- tong, tetapi ia tidak mengerti bagaimana barang itu digunakan untuk menuduh dirinya sebagai anggota golongan Kalong, maka ia segera bertanya^
"Dari mana ciangbun-taysu dapatkan barang ini?"
Tie-kong Taysu mengawasi baju luar cin Hong yang bergantung didinding, katanya: "Pinceng dapatkan dari dalam baju siau-sicu itu"
"Kenapa ciangbunjin menggeledah pakaian aku?" tanya cin Hong heran. Ngo-beng yang berdiri dibelakang enam ketua partay lantas menyambungnya:
"Itu adalah siaoceng yang menemukan ketika tadi siaoceng bantu menanggaikan baju luar sicu. "
cin Hong kini mengerti sudah, bahwa itu adalah perbuatan Ngo-beng yang hendak memfitnah dirinya, maka dalam marahnya itu ia sebaliknya tertawa dan berkata: "Bagus benar, engkoh Beng ini apakah tidak takut akan masuk keneraka?"
Tie-kong Taysu tidak mermperhatikan ucapan cin Hong yang menyebut Ngo-beng menjadi engkoh Beng, waktu itu lantas menggengam semakin erat pergelangan tangannya dan berkata:
"Sicu hari ini dengan menyamar sebagai murid It-hu Sianseng masuk kegereja kami, entah apa maksudnya? apakah juga ingin mencuri anak kunci yang berukiran huruf harimau dari tangan pinceng?"
cin Hong yang tak dapat melepaskan tangan dari genggaman paderi itu, rasa sakitnya telah membuat ia mengalami penderitaan hebat. hingga keringat dingin bercucuran membasahi jidatnya, tetapi ia menahan rasa sakit itu, dan dengan tangan kiri menunjuk Ngo-beng ia berkata^
"orang yang hendak mencuri anak kuncimu itu, justru dia itu?"
Tie-kong Taysu berpaling mengawasi Ngo-beng sejenak. Ngo-beng buru-buru menundukkan kepala dan merangkapkan kedua tangannya, katanya dengan suara gugup:
"omitohud, harap sicu jangan menuduh sembarangan, jangan mencoba mengarahkan dosa Sicu keatas diri siaoceng"
cin Hong sangat marah mendengar ucapan itu, ia berpaling dan berkata kepada Tie-kong taysu:
"Apa Ciangbun-taysu tak percaya kalau aku ini adalah murid It- hu Sianseng?" "Kalau ditilik dari perbuatan orang angkatan muda berbagai partay, yang sudah menghianati partay sendiri, murid It- hu Sianseng belum tentu kalau tak bisa masuk menjadi anggota golongon Kalong"
cin Hong mendadak marah, katanya^ "Kalau kau tidak percaya yah, Sudah, kenapa kau pegangi terus tanganku?"
"Anak kunci emas dari ketua partay cong-lam, Khong- tong dan Lam- hay, harus diminta kembali, jikalau kau mau menceritakan dimana letak markas besar golongan Kalong, pinceng sekalian tidak akan menyulitkan dirimu."
cin Hong benar-benar sudah tidak dapat kendalikan hawa amarahnya, oleh karenanya maka ia lantas memejamkan matanya tidak menghiraukan ucapan ketua Siao-lim ini.
Ketua partay Hoa-sanpay Yu Hoa liong lalu berkata: "ciangbun-taysu mengapa tidak berikan ia sedikit
hajaran? Jikalau tidak mau mengaku, terpaksa
menggunakan siksaan"
cin Hong dalam hati bergidik, ia lalu membuka mata dan mengawasi padanya, kemudian berkata sambil tertawa menyindir:
"Yu ciangbunjin selamanya terkenal dengan keCerdasannya, tidak disangka juga bisa berbuat demikian-"
la sebetulnya ingin memaki dia berbuat demikian bodoh, tetapi la merasa tak pantas mengeluarkan perkataan tidak sopan terhadap seorang ketua partay, maka akhirnya tak jadi dikeluarkan ucapan itu.
Yu Hoa liong yang semula diangkat dan kemudian disanjung, dalam hati merasa girang. Tetapi perkataan cin Hong yang belakangan benar-benar telah membuatnya mendongkol maka ia lalu berkata dengan usulnya :
"ciangbun Taysu coba geledah dulu tubuhnya, mungkin masih ada barang apa-apa yang dapat digunakan sebagai bukti. "
Tie-kong Taysu sebagai seorang ketua satu Partay besar dan sebagai tuan rumah, sudah tentu tidak mau menggeledah diri seorang angka muda, maka ia lalu berpaling dan memerintahkan Ngo-beng yang menggeledahnya.
Ngo-beng menurut, dan cin Hong karena tidak mempunyai tenaga untuk melawan, ia hanya maki-maki dengan mulutnya:
"Padri Cabul, perbuatanmu malam itu dikelenteng Kow- tee-blo dibawah gunung Kiu-hua. "
Ketika cin Hong hendak melanjutkan ucapannya, diam- diam jari tangan Ngo-beng sudah menotok cin Hong, disamping itu ia berkata padanya dengan Sikap keren:
"Sicu mengapa selalu hendak memusuhi siaoceng saja?
Siaoceng tidak berbuat Salah terhadapmu "
Sementara itu, dari dalam diri cin Hong ia sudah menemukan sejilid kitab tipis, maka lalu diberikan kepada Tie-kong Taysu,
Ketua gereja Siao-lim Sie itu telah menyambut dan melihatnya, mengeluarkan seruan terkejut, kemudian berkata:
"Tay-seng-hong-sin-San, dari mana kau dapatkan kitab pelajaran ilmu silat ini ?" cin Hong diam-diam bersukur karena kitab itu tidak tertulis nama dewa persilatan Thay-pek sian-ong Kiat Thian Bin, jikalau tidak ia tentu dianggapnya mencuri lagi.
Saat itu ia berkata sambll ketawa dingin: "Bigaimanapun juga toh bukan barang curian? Jikalau kau Tay-suhu suka, biarlah kuberikan padamu "
Tie-kong Taysu mengeluarkan suara dari hidung, kemudian kitab itu dikembalikan padanya, suatu tanda bahwa ia tidak sudi menerima pemberian itu.
Sementara itu Ngo-beng kembali sudah menemukan sebuah barang ...ialah sebuah anak kunci emas.
Ketika enam pasang mata dari enam kedua partay besar itu tertuju kepada anak kunci emas itu, sesaat wajah mereka pada berobah dan mengeluarkan seruan terkejut.
Tie-kong Taysu dengan cepat sudah menyambar anak kunci dari tangan Ngo-beng, katanya dengan mata terbelalak:
"Ini adalah anak kunci yang berukiran huruf liong, anak kunci milik ketua partay oey-pay. Mengapa bisa berada didalam tubuhmu?"
Lima ketua partay yang lainnya juga terkejut dan terheran-heran, mereka benar-benar tak menduga bahwa anak kunci berukiran huruf Liong yang sudah menghilang selama dua puluh tahun lebih, tiba-tiba bisa muncul diatas diri cin Hong, ini benar-benar suatu hal yang tidak habis dimengerti.
Mereka meskipun beleh saja menganggap bahwa anak kunci berukiran huruf Liong yang digunakan sebagai barang hadiah dalam sayembara oleh penguasa rumah penjara rimba persilatan itu adalah barang palsu, tetapi apabila mau dikata bahwa anak kunci yang tulen itu sudah dirampas oleh Ho- ong, bagaimana sekarang bisa diberikan kepada anak muda dihadapan mata mereka ini, yang di anggapnya hanya seorang berkedudukan rendah didalam golongan Kalong?
Ketua partay Bu-tong ceng-hong cinjin setelah berpikir agak lama, lantas angkat kepala mengawasi Tie-kong Taysu kemudian berkata^ "ciangbun-taysu, beleh kah taysu melepaskkan tangannya?"
Tie-kong taysu segera melepaskan cin Hong, katanya sambil tertawa yang dibuat-buat: "Pinceng bukan takut ia akan lari, melainkan hendak paksa ia menjawab terus terang"
cin Hong menggerak-gerakkan tangan kanannya yang sudah kesemutan, waktu itu ia ingin sekali rasanya dapat menampar muka Tie-kong taysu. Dengan sikap ramah tamah ceng-hong cinjin bertanya^
"sudikah kiranya Siausicu menceritakan bagaimana Siausicu mendapatkan anak kunci ini?"
"Maaf tak bisa" mennjawab cin Hong hambar.
"Pinto karena melihat siaosicu tak mirip dengan orang dan golongan sesat, maka pinto menanya dengan baik-baik, mengapa sicu tidak kenal kebaikan orang?" kata ceng Hong cinjin dengan wajah berubah,
"Dengan sejujurnya aku menerima sikap Totiang ini, Sayang aku tak dapat memberitahukan"
"Bagaimana artinya ucapan ini?"
"Sebab asal usul diriku sendiri terlalu ruwet dan tak jelas, dari waktu masih dalam gendongan, telah ditolong oleh Suhu dari dalam perahu yang terbalik disungai ciang-yang kang, waktu itu anak kunci ini sudah dikalungksn dileherku" ceng-hong cinjin terkejut mendengar keterangan itu, katanya. cin Hong menganggukan kepala.
Tie-kong taysu saat itu juga merasa bahwa anak muda itu tak mirip dengan orang jahat. maka lalu bertanya.
"JikalaU taysu bertanya demikian, maaf aku masih tak mau menjawab" berkata cin Hong hambar.
Tie-kong taysu mengerutkan alisnya, ia menundukkan kepala memeriksa anak kunci emas ditangannya kemudian, angkat muka dan bertanya bertanya kepada lima ketua partay:
"Pinceng anggap bahwa anak kunci ini harus segera dikembalikan kepada oey san-pay, bagaimana pikiran ciangbunjin sekalian?"
"Pinto setuju" berkata ketua partay cong-lam Tay-hie Totiang.
"Taysu beleh mengutus orang pergi kegunung oey-san untuk minta Kwa ciangbunjin datang, asal Kwa ciangbunjin datang, apa yang diucapkan oleh bocah ini benar ataukah bohong. segera dapat diketahui" berkata ketua partay Lam- hay Bu-yu Sianjin-cin Hong tak mau membungkam lagi katanya:
"Kwa ciangbunjin sudah terbinasa seCara mendadak pada delapan hari berselang." Enam ketua partay terkejut mendengar ucapan itu. mereka bertanya dengan serentak: "Bagimana Cara kematiannya?"
"Mati ditangan ketua terdahulu It-yang-cie Siauw can Jin- "
cin Hong sudah melupakan pesan orang tua pedang emas, lalu menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi digunung oey-san, enam ketua partay yang mendengarkan pada saling berpandangan, mereka semua adalah orang- orang yang berkedudukan tinggi, walaupun dalam hati terkejut dan terheran-heran tetapi tak suka mengeluarkan perkataan yang bersifat mencela atas perbuatan Siauw can Jin, sebab hal itu adalah rumah tangga dalam partay orang lain, sehingga siapapun tak berhak untuk turut Campur tangan.
Setelah semua orang hening sekian lama, lalu terdengar perkataan ceng-hong cinjin sambil menghela napas panjang:
"Kalau begitu kita undang orang tua pedang emas cie Kay Yan datang, dia adalah orang yang akan menggantikan jabatan clang- bunjin partay itu"
"orang tua pedang emas sudah pergi ke rumah penjara rimba persilatan untuk menantang bertanding" kata cin Hong.
Semua ketua partay kembali dikejutkan oleh keterangsn cin Hong itu, ketua partay Hoa San-pay Yu Hoa liong berkata sambil angkat pundak:
"Maksudnya bukankah hendak masuk kerumah penjara untuk menanya kepada Siauw can Jin ? Apa sebab ia membinasakan Kwa ciangbunjin?" cin Hong menganggukkan kepala sebagai jawaban-Tay-hie Totiang berkata sambil menghela napas:
"Kalau begitu kita undang saja orang tua senjata perat cu Giok Tian- Dia adalah orang kedua yang bakal menggantikan kedudukan cianbunjin "
Baru saja menutup mulut, dari luar berjalan masuk seoraag padri yang menyampaikan kepada Tie-kong Taysu tentang kedatangannya orang tua senjata perak cu Giok Tian dari oey-san-pay. Kedatangan cu Giok Tian kegereja Siao-lim-sie, tepat pada waktunya yang sedang dibutuhkan oleh para ketua partay.
Sudah tentu Tie-kong Taysu bura-buru lantas keluar untuk menyambut kedatangan tamunya itu.
cin Hong yang mendengar kedatangan cu Giok Tian, hatinya lantas kebat-kebit, ia pikir orang tua itu bagaimana bisa tahu bahwa orang yang mencelakakan diri Kwa cianbunjin adalah SiauW can Jin- Apa lagi kalau diingat ia sekarang sudah membawa anak kunci emas milik oey san- pay, ini benar-benar menyulitkan kedudukannya.
Ia segera teringat pada Leng Bie Sian dahulu, jikalau bukan gadis itu berada didampingnya, ia sendiri pasti sudah terbinasa digunung oey-san- Akan tetapi kali ini walaupun ia berada didampingnya, mungkin juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak lama kemudian, dari luar terdengar suara orang berjalan, Tie-kong Taysu sudah berada diruangan kamar bersama cu Giok Tian-
cu Giok Tian setelah bersalaman dengan lima ketua partay, lalu berjalan mendekati cin Hong, dengan sikap aneh mengawasinya sejenak. tiba-tiba berkata dengan air mata berlinang-linang :
"Beberapa hari berselang aku telah bertemu dengan orang tua pedang emas, tentang kematian ciangbunjin kami, dan segala apa yang terjadi, telah diceritakan semua olehnya, waktu itu aku masih agak sangsi, tetapi tadi baru saja aku mendapat keterangan dari Tie-kong Taysu bahwa kau ada memiliki anak kunci emas berukiran huruf liong milik partay kami, sekarang aku hendak menanyakan satu hal kepadamu, kau ini sebetulnya orang she cin ataukah shee Kim? Dimana ibumu sekarang berada?" cin Hong terkejut dan terheran-heran mendengar pertanyaan itu, dalam hati berpikir sendiri:
"Mengapa banyak orang semua anggap shenya cin sebagai Kim? Apakah ayahnya sendiri itu seorang she Kim? Apakah sewaktu suhunya menolong ia dari atas perahu yang akan tenggelam juga telah salah dengar ibunya menyebut Kim Hong sebagai cin Hong? Kalau demikian halnya, penguasa rumah penjara rimba persilatan atau Tamu tak diundang dari luar daerah dan orang tua senjata perak dihadapan matanya ini, tentunya semua tahu asal asul dirinya. tetapi tiga orang ini beleh dikata tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan dirinya."
la segera lompat bangun dari tempat tidurnya, juga tidak melupakan adat istiadat untuk memberi hormat, Segera menceritakan semua kejadian pada delapan belas tahun berselang, kemudian bertanya:
"cu-locianpwe pasti tahu ayah bunda beanie, sudikah kiranya locianpwe memberitahukan kepada beanie?"
Dengan wajah sedih Cu Giok Tian menengadah dan menghela napas, ia juga tidak menjawab pertanyaan Cin Hong, sebaliknya berkata kepada diri sendiri: "Kalau begitu, dia benar-benar sudah mati. "
Cin Hong sudah tentu mengerti apa yang dimaksudkan dengan dia itu, tentunya dimaksudkan dengan ibunya sendiri, teringat kematian yang mengenaskan dari ibunya, saat itu ia lalu mengucurkan air mata.
Cu Giok Tian memberi hormat kepada enam ketua partay disekitarnya, setelah itu berkata.
"ciangbunjin sekalian, pinto ingin berbicara empat mata dengan anak ini, apakah ciangbunjin sekalian tak keberatan?" Enam ketua partay semua menganggukkan kepala dan keluar dari kamar, Ngo-beng juga ikut ketuanya keluar.
Sikapnya Cu Giok Tian waktu itu sudah tidak seperti sikapnya pada beberapa hari berselang digunung oey san yang memusuhi Cin Hong, sekarang ia menunjukan sikapnya yang menyayang dan ramah tamah, ia menepok perlahan bahu Cin Hong, ditariknya duduk disampingnya, kemudian berkata dengan suara perlahan:
"Anak. ketua kita Siauw ceng ciangbunjin sebelum minta kau bawa surat untuk disampaikan kepada Kwa ciangbunjin, tahukah ia bahwa dibadanmu ada sebuah anak kunci emas ini?"
Cin Hong menjawab sambil menggelengkan kepala. "Tidak ia hanya tahu beanie adalah murid It-hu
sianseng"
"Benar, pada delapan belas tahun berselang suhumu karena berkunjung kegunung oey-san satu kali, waktu itu kita boleh dikata tidak mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Suhumu, hmm. "
Cin Hong terkejut, tanyanya:
"Locianpwe benar, waktu Suhu pergi kegunung oey San- Siauw ciangbunjin tidak mengijinkan locianpwe sekalian berbicara dengan suhu.?"
"Bukan begitu, hanya caranya Siauw ciangbunjin menyambut Suhumu agak luar biasa, dengan seorang diri ia ajak suhumu masuk kedalam kamar untuk berbicara, selesai pembicaraan lalu dengan seorang diri mengantar Suhumu turun gunung. "
"Kalau begitu ia sengaja hendak memblokir bocornya sesuatu berita?" "Sekarang kalau hal ini kita pikirkan memang begitu, tetapi waktu itu kita sama sekali tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh mereka, hanya merasa karena ciangbunjin tidak menghendaki kami tahu, maka kami juga tidak mau tahu"
"Waktu itu justru lantaran dileherku ada menggantung sebuah anak kunci emas berukiran huruf Liong ini lalu menduga pasti bahwa ayah bunda beanie ada hubungan erat dengan partay oey-san-pay. oleh karenanya, maka suhu lalu pergi kegunung oey-san untuk mencari keterangan, akan tetapi menurut keterangan Siauw ciangbunjin waktu itu, diantara anak murid golongan oey-san tidak ada seorang pun yang menghilang"
"Jikalau waktu itu ia bertanya kepadaku jawabannya sudah lain"
"Siapa yang hilang?" bertanya Cin Hong dengan perasaan tegang.
"Anak bodoh, Sudah tentu ibumu" jawab Cu Giok Tian sambil menghela napas.
Hati Cin Hong berdebaran, tanyanya: "Ibuku itu siapa namanya ?"
"Suma Siu Khim anak perempuan ciangbunjin generasi enam belas partai kita Suma Cin"
Cin Hong berseru kaget, selanjutnya ia bertanya pula: "Kalau begitu siapakah ayah boanpwe?"
"Hal ini aku juga tidak tahu, Sebab itu adalah persoalan yang sangat ruwet, jikalau kau bisa menemukan seorang yang bernama Kim Hoong, ia mungkin bisa memberitahukan padamu."
"Kalau locianpwe berkata demikian, apakah ibuku itu..." "Ya, sebelum ibumu kawin dengan seseorang dia sudah melahirkan kau. Waktu itu dia baru berusia delapan belas tahun. Aku tetapi.. . .ibumu adalah seorang perempuan yang sangat baik"
Cin Hong menundukkan kepala dan berdiam diri, dalam hatinya mulai membayangkan keadaan ibunya dimasa berusia delapan belas tahun.
"Aaaa Suhu kata bahwa ibuku sangat Cantik, waktu itu pasti ada seorang pemuda yang ingin mendapatkannya, dan pemuda itu pasti juga tampan dan gagah, maka ibu berhubungan baik dengannya, dan orang itu lantas membohongi ibu dan setelah itu lalu kabur, maka waktu itu melahirkan aku lantas bawa aku pergi mencari dia dan akhirnya telah menemukan bahaya, perahu yang ditumpanginya tenggelam, ibu juga terbinasa. "
Cu Giok Tian berdiam sebentar, tiba-tiba bangkit berdiri dan berkata dengan sikap dan suara agak bengis:
"Cin Hong Kau dengan partay kami ada mempunyai hubungan sangat dalam tapi kau telah berani masuk menjadi anggota golongan Kalong dan membantu mereka melakukan kejahatan, maka hari ini aku tidak dapat tinggal diam"
Cin Hong juga bangkit, dan berkata dengan suara terisak- isak:
"Boanpwe tidak menjadi anggota golongan Kalong, itu adalah Ngo-beng suhu yang berdiri dibelakang enam ketua partay itu, yang memfitnah diri boanpwe."
Setelah itu lalu menceritakan semua apa yang dilihat tentang diri padri Ngo-beng yang terjurumus oleh paras Cantik dan melakukan perbuatan tidak senonoh dalam kelenteng Kow-tee-bio dikaki gunung Kiu-hoa-San, waktu itu Ngo-beng sudah menerima permintaan perempuan dari golongan Kalong yang digunakan untuk memikat padri itu dan berjanji hendak mencuri anak kunci emas berukiran gambar harimau dari tangan Tie-kong Taysu, waktu itu ia telah mengambil keputusan hendak memberitahukan soal ini kepada Tie-kong Taysu, dan kedatangannya kali ini juga dengan maksud baik untuk memberitahukan kepada ketua gereja Siao-lim-sie itu, tak diduga sudah tertipu oleh Ngo- beng dan tidur didalam kamar itu, kemudian diam- diam dimasukan tanda golongan Kalong nomor seratuS sembilan didalam saku baju luarnya.
Cu Giok Tian yang mendengar penuturan itu tampak berpikir, kemudian berkata: "Apakah Tie-kong taysu tidak perCaya keteranganmu?"
"Ia selalu menganggap bahwa paderi-paderi gereja siau- lim-si tak mungkin ada orang yang berkhianat, hm." menjawab Cin Hong dengan gemas. Cu Giok Tian tersenyum mendengar ucapan ini, katanya:
"Kalau begitu jangan kau perdulikan dia. Tinggallah disini berapa hari, nanti kita bicarakan lagi"
"Apakah mereka hendak menahan boanpwe disini?" "Tunggu nanti aku pergi tanya"
Setelah berkata demikian, Cu Giok Tian berjalan keluar dari kamarnya.
Setelah Cu Giok Tian berlalu, seorang diri Cin Hong lalu memikirkan rahasia yang diberitahukan tentang dirinya oleh orang tua tadi.
Kalau begitu ibunya sendiri itu bernama Suma Siu Khim, dan Suma Cin itu adalah Kakek luarnya. Tetapi siapakah orang yang dinamakan Kim Hong itu? Dan dimana harus mencari orang itu? Dengan tiba-tlba ia teringat sesuatu mulutnya menggumam sendiri: "Suma Siu Khim. Suma Siu Khim. "
Ia juga ingat ucapan penguasa rumah penjara rimba persilatan waktu itu yang berkaok-kaok seorang diri: "Siu Kim Siu Khim Jangan menyanyi lagi Jangan menyanyi lagi. "
"Ya Allah Apakah ibuku belum mati? Apakah ia dikurung dalam kamar rahasia rumah penjara itu?" Ia bertanya-tanya pada diri sendiri.
Mendadak ia lompat bangun dan lari keluar seperti orang gila.
Baru tiba dipintu, tiba-tiba terdorong oleh suatu kekuatan tenaga dalam yang sangat besar dalam hatinya terkejut, dan Waktu ia memandang keluar, tampak diluar pintu ada berdiri seorang paderi tua beralis tebal bermata lebar, dengan sikap agung paderi itu berkata padanya sambil merangkapkan kedua tangannya:
"Siau-sicu harap tenang sedikit, beberapa ciangbunjin sekarang ini sedang merundingkan caranya bagaimana untuk menghadapi Siao-sicu, dibebaskan atau ditawan, selambat-lambatnya besok malam baru dapat diambil keputusan yang pasti. Mengapa Siao-sicu tidak beristirahat dulu?"
"Kau siapa?" tegur Cin Hong marah.
"Pinceng mengawasi geraja Tie-hui," menjawab paderi tua sambil membongkokkan badan.
"Apakah ketua kalian yang mengutus kau disini untuk mengawasi aku?"
"Tidak berani, harap siao-sicu suka memberi bantuan." Cin Hong sudah pikir akan memukul paderi itu, tetapi kalau dipikir lagi bahwa perbuatan itu nanti akan memperdalam salah paham terhadap dirinya, maka akhirnya ia menahan hawa marahnya dan rebah lagi dipembaringan.
Malam tiba, ketika ada paderi kecil mengantarkan hidangan malam, telah disantap habis oleh Cin Hong, selagi hendak tidur lagi, tiba-tiba terdengar suara genta berbunyi, ia buru-buru lompat bangun lagi dan pergi bertanya kepada Tie-hui taysu?
"Apakah para ciangbunjin itu sudah akan pergi?"
"Ya" jawab Tie-hui-taysu sambil menganggukkan kepala. "Dan bagaimana dengan diriku?"
"Yah bagaimana siao-sicu toh tidak ada urusan penting, berdiam disini toh beberapa hari apa salahnya?"
"Tapi aku juga ada urusan penting"
"Jikalau siao-sicu tidak ingin dianggap sebagai anggota nomor seratus sembilan dari golongan Kalong berlalu dari gereja kami, sebaiknya sabar satu dua hari"
"Sekalipun aku dianggap sebagai anggota golongan Kalong nomor satu nol Sembilan, kalian berani apa?"
"Itu berarti kau lebih sulit keluar dari sini."
Cin Hong tidak bisa menahan sabarnya lagi, ia lalu membentak sambil mengeluarkan kipas dari sakunya:
"Nah Apa kau kira aku tidak bisa menerjang keluar dari gereja Siao-lim Si ini?"
Tie-hui Taysu berkata sambil tertawa: "Siao-sicu barang kali terlalu memandang rendah kepada gereja kami" Selagi Cin Hong hendak menggunakan kipasnya untuk menyerang paderi itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat halus didalam telinganya: "Cin Hong, Sabar sedikit, besok pagi dari sini juga belum terlambat"
Suara itu meskipun sangatperlahan, tetapi terdengar nyata dalam telinganya, suara itu mirip dengan suaranya tamu tidak diundang dari luar daerah yang sangat misteri itu. Dalam hati Cin Hong terkejut, ia segera menarik kembali kipasnya dan ketika matanya ditujukan keluar kamar, ternyata sepi tidak terdapat seorangpun kecuali Tie- hui-taysu. Meski dalam hati merasa heran. tetapi ia tidak berani bertanya, lalu menyimpan kipasnya lagi dan masuk kembali kedalam kamarnya.
Setelah waktunya membaca doa bagi para paderi dalam gereja Siao-lim-sie sudah lewat, Suasana dalam gereja itu sunyi kembali, malam semakin larut.......
Tie-hui taysu yang ditugaskan menjaga Cin Hong, duduk diatas sebuah kursi rotan sambil membaCa doa, sebentar ia membuka matanya dan mengawasi keudara terbuka kemudian menundukkan kepalanya lagi melanjutkan pekerjaannya membaCa doa......
Lewat jam dua tengah malam, dari atas genteng gereja Siao-lim-sie tampak melayang turun sesosok bayangan orang kecil langsing dengan tidak mengeluarkan SUara sedikitpun juga , melayang turun dihadapan Tie-hui Taysu sejauh lima kaki.
Tie-hui Taysu adalah salah Seorang tokoh terkuat dari gereja Siao-lim-sie, namun waktu itu ada berada dekat dihadapannya masih tidak tahu sama sekali, paderi tua ilu masih tetap memejamkan matanya sambil membaCa doa.
Dibawah Sinar rembulan purnama, tampak orang yang melayang turun itu adalah seorang perempuan yang sangat muda sekali, wajahnya Cantik, kulitnya putih bersih, mengenakan pakaian berwarna ungu.
Ia berdiri didepan Tie-hui Taysu, matanya mengawasi pintu kamar yang tertutup rapat, kemudian mengawasi lagi kepada Tie-hui Taysu dengan demikian lewat lagi sejenak, tiba-tiba menggigit bibirnya dan perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya....
Bertepatan pada saat mana tiba-tiba terdengar suara halus yang masuk kedalam telinga perempuan sangat muda itu:
"Nona, biarlah ia tidur nyenyak banyak barang sebentar saja."
Wajah perempuan muda yang cantik itu menunjukkan sikap kaget, kemudian sudah melesat naik lagi keatas genteng dan dalam sekejap sudah menghilang.
oleh karena gerakannya terlalu cepat, hingga suara menimbulkan suara berkibarnya pakaian-
Tie-hui Taysu yaag mendadak sadar juga dapat melihat berkelebatnya bayangan naik ke-atas genteng, maka lalu ia bangkit dan mengejar, namun sudah tidak nampak lagi siapapun disitu.
Ada maksudnya hendak mengejar keatas genteng, tetapi khawatir Cin Hong nanti kabur, setelah bersangsi sejenak. dari lorong sebelah kanan tiba-tiba tampak orang lari mendatangi, ia adalah suhengnya sendiri, Tie Kak Taysu yang ditugaskan menjaga diruangan penyimpan kitab, maka segera ditegurnya: "Suheng ada urusan apa demikian tergesa-gesa ?"
"Sute, apakah dalam kamarmu masih ada menyimpan pel son-hau wan?" bertanya Tie- kak taysu. Pel Son-hau wan adalah obat untuk menyembuhkan luka dalam buatan gereja Siao-lim-si sendiri, Tie-hui Taysu yang mendengar pertanyaan itu terkejut, ia lalu balas bertanya, "Siapa yang terluka?"
"ciangbunjin"
"Kenapa bisa terluka? Dan diserang oleh siapa?"
"Bukan orang luar, melainkan Ngo-beng sibangsat durhaka itu, ia menggunakan kesempatan selagi ciangbunjin duduk bersemedi, lalu melancarkan serangan dari belakang. setelah itu ia merampas anak kunci emas berukiran gambar harimau dari dalam badannya"
Tie-hui Taysu mendadak marah, katanya: "Apa ia sudah kabur?"
"Belum Sewaktu aku mengejar keluar, terdengar suara jeritan yang sangat mengerikan, waktu aku memburu, tampak ia sudah mati dibawah sebuah pohon cemara, orang yang membunuh mati padanya telah meninggalkan tanda tulisan dengan pedang dan huruft Eng dipohon- "
berkata Tie-kak Taysu.
"Tamu tak diundang dari luar daerah" berseru Tie-kak Taysu.
"Luka dalam ciangbunjin tampaknya parah sekali, obatmu San-hoa-wan itu ditaruh dimana?"
"Ditaruh dipeti pakaian kedua belakang tempat tidur, Suheng ambillah sendiri" Tie-kak taysu menerima baik, lalu berangkat menuju kekamar Tie-hui Taysu
"Taysu, numpang tanya sekarang aku dengan status sebagai muridnya It-hu Sianseng apa boleh keluar dari kamar ini?" Muka Tie-hui Taysu menunjukkan perasaannya yang tak enak, ia menjaWab sambil merangkapkan kedua tangannya:
"PinceCg hanya melakukan tugas, sebentar ciangbunjin kami sudah tentu akan mengambil tindakan adil terhadap siao-sicu. "
"sekarang bagaimana kalau kita keluar bersama-sama buat tengoki ciangbunjin taysu?"
Tie-hui Taysu berpikir, kemudian menganggukan kepala dan ajak Cin Hong bejalan kelorong kanan. Cin Hong yang mengikutinya dalam hati diam-diam menyumpahi Tie-kong Taysu yang seharusnya mendapat nasib seperti itu.
Tak lama kemudian- mereka tiba diluar kamar Tie-kong Taysu, tampak diluar kamar sudah berdiri banyak paderi, dipintu juga ada dua paderi tua yang menjaga keras.
Tie-hui Taysu menganggukkan kepala kepada dua paderi tua itu, kemudian bersama Cin Hong masuk kedalam kamar.
Tie-kong Taysu Waktu itu sedang duduk diatas pembaringan sambil bersila, wajahnya pucat, Tie-kak Taysu sedang memberikan kepadanya pel berwarna merah, ketika Tie-kong Taysu tampak Cin Hong masuk kamar, wajahnya menunjukkan perasaan menyesal, kemudian ia memejamkan mata untuk mengatur pernapasan:
Tie-hui Taysu berjalan mendekati Tie-kak Taysu, tanyanya dengan perlahan: "Bagaimana dengan anak kunci itu?"
"Aku sudah menggeledah badan murid penghianat itu, tapi anak kunCinya sudah tak ada lagi dibadannya" jawab Tie-kak Taysu sambil menghela napas. "Apakah sudah dirampas oleh Tamu tidak diundang dari luar daerah?" tanya Tie-hui Taysu.
Tie Kak Taysu menganggukkan kepala dan berkata: "Kecuali dia sudah tidak ada orang lain hanya kalau
benar ia yang mengambil anak kunci itu. bagaimana pula berani meninggalkan tanda dengan huruf Eng? Urusan ini benar- benar tidak habis dimengerti."
"Apakah ia sedang menantang Siao-lim-si?"
"Jlkalau benar begitu, apa alasannya? Menurut apa yang pinceng tahu, Tamu tidak diundang dari luar daerah itu agaknya bukan seorang yang bertindak tanpa dipikir. "
Cin Hong yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka, lantaS berkata:
"Tamu tidak diundang dari luar daerah ada dua orang, yang asli dan yang palsu, orang yang malam ini datang kemari mungkin yang palsu"
Tie-kak Taysu tiba-tiba berpaling mengawasi padanya dan bertanya dengan heran. "Tamu tak diundang dari luar daerah ada yang palsu?"
Cin Hong menganggukan kepala dan berkata:
"Dia adalah anggota pelindung hukum golongan kalong, menyamar menjadi tamu tak diundang dari luar daerah demikian miripnya sehingga Ilmu pedangnya huruf Eng juga bisa menggunakan dengan baik"
"Mengapa ia perlu menyamar jadi Tamu tak diundang dari luar daerah?" bertanya Tie-hui Taysu heran-
"Tentang itu aku tak tahu, biar bagaimana dia itu bukan orang baik" kata Cin Hong sambil menggelengkan kepala.
Tie-hui Taysu berpaling dan berkata kepada Suhengnya "Tadi pinceng melihat ada orang jalan malam yang masuk melalui atas genteng, tetapi sebentar saja sudah menghilang, mungkin dia"
Tie-kong Taysu yang sudah makan obat pel San-hoa- wan, dan setelah beristirahat sebentar. waktu itu sudah membuka mata dan berkata: "Barang kali bukan, itu adalah seorang perempuan yang lain"
Begitu mendengar ucapan ketua Siau-lim-si Tie-hui. Tie- kak Taysu tiba-tiba berpaling dan bertanya kepada ketuanya: "Apakah ciangbunjin sudah lihat"
Tie-kong Taysu menggeleng-gelengkan kepala, berkata sambil tertawa getir:
"Tidak, sesaat ketika Ngo-beng turun tangan terhadapku, dengan tiba-tiba aku dengar suara seorang perempuan dari luar kamar yang menyampaikan peringatan kepadaku, "ciangbunjin hati- hati Aku masih belum sempat memahami maksud peringatannya Ngo-beng sudah menyerang dengan Lo-han-ciang yang kuajarkan kepadanya,... hahaha. "
Tie-hui Taysu terkejut, tanyanya: "Apakah ciangbunjin tahu siapa lie-sicu itu?"
"Tidak tahu, tapi dari suara agaknya lie-sicu itu masih sangat muda" menjawab Tie-kong Taysu.
Dua paderi tua itu pada terheran-heran, demikian pula Cin Hong, sebab seorang wanita berusia sangat muda ternyata sudah memiliki ilmu menyampalkan suara kedalam telinga didalam rimba persilatan. sebetulnya jarang sekali ada, ia segera teringat pada diri Leng Bie Sian, mungkin hanya gadis itu yang memiliki kepandaian ilmu semaCam itu, akan tetapi sekarang ini ia mungkin sudah berada didamping suhunya, bagaimana bisa datang kemari? Tie-kong Taysu angkat kepala memandang Cin Hong, kemudian berkata sambil menghela napas panjang.
"Siao-sicu pukulan yang pinceng terima ini sebetulnya sudah seharusnya ?"
"ciangbun Taysu tidak perlu sesalkan diri sendiri, dengan sebetulnya perbuatan khianat Ngo-beng suhu itu, jlkalau tidak melihatnya seCara kebetulan, aku juga tidak berani perCaya ia bisa melakukan perbuatan semaCam itu" berkata Cin Hong sambil tersenyum.
"Jlkalau siaosicu tidak menolak. nanti sesudah terang tanah, tujuh puluh dua jenis ilmu simpanan gereja Kami, siao-sicu boleh pilih salah satu yang siao-sicu sukai" berkata Tie-kong Taysu sambil menghela napas.
"Terima kasih atas keCintaan ciangbun Taysu, namun urusan ini aku tidak berani menerimanya, aku hanya mohon taysu mengijinkan aku keluar dari Sini dengan status sebagai murid It-hu Sianseng, itu saja sudah cukup "
"Pinceng merasa sangat malu terhadap siao-sicu, Sedangkan anak kunci emas berukiran huruf Liong itu, pinceng juga sudah berikan kepada orang tua senjata perak dari oey-san-pay."
"Tidak apa, itu memang benda milik oey San-pay, Sudah seharusnya kalau dikembalikan kepada pemiliknya "
Tie-kak taysu turut bicara sambil memandang wajah ketuanya
"ciangbunjin, anak kunci berukiran harimau sudah hilang, sekarang bagaimana kita harus mencarinya kembali?"
"Benda sampiran, sudah hilang ya sudah saja" jawab Tie- kong taysu sambil tersenyum. Cin Hong diam-diam merasa geli sebab dianggapnya enam ketua partay itu mungkin sudah merundingkan soal yang hendak pergi merampas kakek gelandangan, maka anak kunci emas itu tidak dipandang penting lagi.
oleh karena para ketua partay dari Hoa-sanpai, Bu-tong dan Lam-hay sudah ada disitu, maka ia pikir tidak perlu pergi lagi kesana sedangkan ketua dari Khong-tong-pay tidak lama lagi mungkin bisa mendapat kabar tentang rencana golongan Kalong yang hendak mencuri anak kunci emas, dan setelah terang tanah ia pikir hendak kembali kerumah penjara rimba persilatan, disamping hendak menanyakan tentang wanita yang barnama Siu Khim yang mungkin adalah ibunya, juga akan melihat dengan cara bagaimana para ketua partay itu hendak menolong keluar turunan dewa persilatan-. ..
Diwaktu terang tanah, dengan diantar oleh ketua gereja siau-lim dan beberapa paderi yang berkedudukan tinggi, Cin Hong meninggalkan gereja Siau-lim Sie, dan pergi kerumah penjara rimba persilatan-
Tadi malam digereja Siau-lim-sie ia tidak bisa tidur pulas, semakin dipikir ia semakin dalam kesannya bahwa perempuan yang bernama Siu Khim itu tentu adalah ibunya sendiri. Kalau ia tanyakan kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan, mungkin tidak mau diberitatahukan- Tetapi ia mendapat hak istimewa boleh berdiam dirumah penjara itu selama sepuluh hari lamanya, bahkan boleh berjalan sesukanya diseluruh rumah penjara.
Selagi masih menyusuri jalanan daerah pegunungan Siong San, ditepi sebuah sungai tiba-tiba tampak seorang perempuan muda berbaju putih yang bertubuh langsing sedang duduk dengan tangan memegang sepotong ranting kayu pohon untuk memainkan air disungai, dari belakang tampaknya seperti salah satu anggota dua belas putri golongan Kalong, yang dahulu pernah memikat paderi pengkhianat gereja Siau-lim-si yang dipanggilnya engkoh Beng.
Cin Hong mendadak berhenti, dalam hatinya berpikir: "Bagus, siluman perempuan ini masih menunggui engkoh Bengnya disini. Ng hari ini biar bagaimana aku akan memberi hajaran padamu"
Ia berjalan indap-indap kebelakangnya, terdengar perempuan itu menggumam sendiri: "Setan alas benar.. Kenapa sampai begini lama dia masih belum datang juga ? Besok sore sudah akan membuka pertemuan besar digunung ong ok-san, kalaupada waktunya aku tak dapat memberikan anak kunci emas berukiran huruf Houw itu, Ho-ong pasti akan sesalkan diriku. "
Cin Hong diam-diam terkejut tmendengar ucapan itu, dalam hati berpikir: "Entah ada keperluan apa dengan golongan Kalong hendak mengadakan pertempuran digunung ong ok-san, Besok pagi aku sekalian kesana untuk melihat. Tapi bagaimana sekarang dengan siluman perempuan ini Kalau dibunuh mati dia, rasanya kurang tepat. Bagaimana aku boleh membunuh orang, terutama perempuan yang begini cantik. "
Lama ia bersangsi, tanpa disadari ia sudah mengeluarkan keluhan: "Aiiii "
Perempuan berbaju putih itu, benar adalah perempuan yang disebut adik Eng. ketika mendengar suara keluhan Cin Hong, bukan kepalang terkejutnya, ia lompat dan memutar tubuhnya, baru tahu bahwa yang berada dibelakang dirinya itu adalah pemuda yang dahulu pernah bertempur dengannya dikawah kaki gunung Tong San Wajahnya lalu berubah, dan berkata:
"Hayah Kiranya adalah kau. " "Apa kau kaget sekali?"
Perempuan muda itu telah menenangkan pikirannya, lalu unjukkan senyumnya yang manis katanya sambil tersenyum:
"Ya, benar- benar manusia ini dimana saja bisa ketemu. Dahulu Sejak kita perpisahan di gunung oey-San, aku selalu pikir pasti akan berjumpa lagi dengan Kongcu, hari ini benar saja kita bertemu secara tak diduga-duga. Apakah selama ini kau baik-baik saja?"
Muka Cin Hong menjadi merah, katanya marah:
"Kau jangan mengoceh. Apa kau tak takut akan terguling dan terluka lagi hidungmu?"
"Hari ini kau tidak boleh demikian perlakukan aku lagi. Dahulu, aku harus menggunakan obat selama empat lima hari baru bisa sembuh seperti biasa,. dalam waktu beberapa hari aku hampir tidak berani keluar dari dalam kamar" berkata perempuan muda itu sambil menundukkan kepala, Cin Hong semakin marah, bentaknya:
"cis...Jikalau kau masih berpura-pura lagi, aku nanti benar-benar akan hajar kau sampai mampus Kau lihat saja nanti"
"Aku tak perCaya" "Apa? Tidak perCaya?"
"Aku tak perCaya kau bisa bunuh mati aku"
"Apa kau kira aku ini ada seorang perempuan baik?" "Sudah tentu aku adalah perempuan baik-baik, belum
pernah sekalipun aku melakukan perbuatan jahat?" "omong kosong Kalau begitu, aku sekarang hendak tanya padamu, sekarang kau duduk disini sedang menunggui siapa?"
"Tidak menunggu siapapun juga , aku duduk disini cuma buat menonton ikan-ikan yang sedang berenang"
"Pergi kau Kau telah memancing Ngo-beng Hwesio dan menyuruh dia mencuri anak kunci emas berukiran harimau dari tangan Tie-kong Taysu, apa kau kira aku tidak tahu perbuatanmu itu?"
Perempuan itu terkejut, hingga wajahnya pucat pasi, ia mundur selangkah dan berkata "Haaa Bagaimana kau tahu?"
"Sembilan hari berselang. kalian didalam kelenteng Kow- tee-bio dibawah kaki gunung Kiu-hoa-san-... hehem, semua aku dengar"
" juga melihat?"
Cin Hong meludai muka perempuan itu sambil menyemprot dengan kata-katanya: "Pui" kemudian berkata:
"Siapa sudi menyaksikan perbuatanmu yang tidak tahu malu itu?"
Muka perempuan itu sedikitpun tak berubah jadi merah, hanya pelototkan matanya dan bertanya dengan heran:
"Jadi kau selanjutnya lantaS datang kegereja Siau-lim-si untuk menggagalkan urusanku?"
"Benar, bahkan aku masih akan hajar mampus kau siluman perempuan yang suka mencelakakan orang ini"
SepaSang mata perempuan itu berkedip-kedip. tiba-tiba mengucurkan air mata, dan kemudian berkata: "Baik, aku yang ditugaSkan untuk merampas anak kunci berukiran harimau dari tangan ketua siao-limpay ini, memang suatu tugas yang berat dan sial, dengan susah payah baru dapat memanCing seorang paderi, tetapi akhirnya semua usaha itu sudah kau gagalkan, sekarang dengan cara bagaimana aku harus pulang untuk menjelaskan ini? ya Allah. "
Ia bicara sambil menangis dan membanting- banting kaki, dan akhirnya menangis meng-gerung2 seperti anak keciL
Cin Hong merasa mendongkol tetapi juga jadi geli sendiri, kini nampak sikapnya yang menyedihkan demikian, ia juga tidak tega hati untuk membinasakannya, maka saat itu dengan terpaksa ia berkata
"Kalau kau takut dihukum oleh pangcumu, kau kabur saja bukankah sudah cukup?"
Perempuan itu angkat kepala dan berkata dengan air mata terlinang-linang: "Aku adalah seorang perempuan lemah, kau suruh aku kabur kemana?"
"Menurut pandanganku. kau sedikit juga tidak lemah, kau ingin kabur berapa jauh, boleh saja menurut kehendakmu"
Perempuan itu nampak berpikir, kemudian memesut air matanya dan berbalik tertawa, lalu ia berkata.
"Heh ucapanku seorang diri tadi, apakah kau juga dengar?"
"Kalau dengar, lalu mau apa?"
"Aku pikir hendak menurut usulmu tadi untuk kabur ketempat jauh. Sudikah kau menolong aku membawakan sebuah barang kegunung ong-ok-san untuk diberikan kepada enciku?"
"Siapa kah encimu itu?"
"Dia adalah perempuan yang dahulu bersama-sama pendekar berbaju biru Ie-kun mandi ditelaga Cui Sim-ouw, ia dengan aku adalah saudara sekandung"
"Kau akan mengantarkan barang apa?"
"Bukan barang berharga apa-apa, hanya sepotong sapu tangan "
"Untuk apa?"
"Berikan kepadanya sebagai kenang-kenangan, sebab dengan kaburnya hari ini, mungkin kami bersaudara selama hidup ini sudah tidak bisa bertemu muka lagi"
Cin Hong mengerutkan alisnya samhil berpikir keras, lalu bertanya pula: "BENARKAH kau hendak melepaskan diri dari golongan Kalong dengan sejujurnya?"
Perempuan itu menganggukkan kepala. Melihat Cin Hong tidak mau menunjukkan sikap perCaya penuh, maka ia lalu berlutut dihadapannya dan bersumpah:
"Tuhan Yang Maha Esa, aku Thia Ay Eng jikalau tidak melepaskan diri dari golongan Kalong, biarlah aku nanti akan mati disambar geledek"
Karena perempuan itu berani mengucapkan sumpah, maka Cin Hong mulai perCaya, katanya sambil menganggukan kepala:
"Baiklah, aku nanti akan antarkan barang darimu kepada encimu"
Perempuan itu mengeluarkan sehelai sapu tangan berwarna merah jambu, berjalan kehadapan Cin Hong, saputangan itu dikibarkan di hadapan hidungnya dan berkata sambil tertawa:
"Ambillah, terima kasih kuucapkan Sebelumnya kepadamu"
Cin Hong baru hendak menyambutnya, hidungnya tiba- tiba mencium bau sangat harum dan kemudian kepalanya merasa pening, hingga dalam hati terkejut, ia segera tahu sudah tertipu oleh akal busuk perempuan itu. Ada niatnya untuk lompat mundur, namun semua persendian badannya sudah lemas semua, hingga tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh ditanah.
Perempuan itu menengadah dan tertawa girang, selanjutnya dengan sikap bengis dan bertolak pinggang ia berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh:
"Sekarang kau rupanya baru tahu betapa lihay nonamu Karena kau sudah menggagalkan urusanku, maka aku akan tangkap dan bawa kau kegunung ong-ok-san"
Kepala Cin Hong dirasakan berat, rasanya mengantuk sekali, tetapi pikirannya masih jernih, waktu itu sambil menggigit bibir ia memaki-maki.
"Perempuan siluman Perempuan rendah Perempuan kejam Perempuan tak tahu malu. "
"Kalau kau berani memaki lagi, aku nanti akan buka pakaianmu dan gantung kau diatas pohon"
Cin Hong yang mendengar hendak ditelanjangi saat itu ia terkejut hingga lantas jatuh pingsan-
Perempuan itu tertawa girang, kemudian jongkok disamping Cin Hong, lalu mengulurkan tangan mengelus- elus wajah Cin Hong, dan memuji ketampanan wajah pemuda itu. la melongok kekanan kekiri, ketika melihat tidak ada orang, lalu menundukan kepala menciumi Cin Hong, pada akhirnya ia telah tempelkan mukanya dengan muka Cin Hong untuk memuaskan nafsu yang tertahan dalam dirinya,
Pada saat itu, didalam sebuah rimba dekat situ, tiba-tiba muncul seorang wanita berbaju ungu yang berwajah buruk. perempuan itu dengan kecepatan bagaikan kilat Sudah tiba di samping perempuan Siluman tadi, lalu mengulurkan tangannya dan menjambret bahu kanan perempuan siluman tadi, kemudian dibalikkan mukanya setelah itu lalu ditamparnya dua kali.
Ditampar secara tiba-tiba, sudah tentu perempuan Siluman itu terkejut dan kelabakan, sejenak setelah kepalanya dirasakan puyeng, baru berseru sambil pendelikan matanya: "Aya Kau, Kau. "
Perempuan wajah buruk itu kembali menampar semakin kencang pada pipi kanan dan kiri perempuan Siluman itu.
Perempuan siluman itu sebetulnya hendak menangkis, tetapi sekujur badannya kesemutan tidak bisa bergerak. sebab ketika bahu kanannya dijambret tadi. tempat yang dijambret itu justru terletak dibagian jalan darah Kian kin- hiat.
la Sudah tidak mempunyai tenaga untuk melawan, terpaksa menangis dan minta-minta ampun.
"Enciku yang baik. ampunilah adikmu. Kau memukul aku seperti ini, kalau gigiku rontok bagaimana?"
Perempuan wajah buruk itu menghentikan tangannya dan berkata dengan nada suara dingin:
"Kalian golongan Kalong besok akan mengadakan pertemuan digunung ong-ok-san hendak merundingkan urusan?" "Aku tidak tahu...." berkata perempuan siluman itu sambil menangis.
Perempuan wajah buruk itu kembali angkat tangannya hendak menampar lagi, perempuan siluman ketakutan setengah mati, maka lalu menjerit-jerit:
"Benar, aku hanya tahu sedikit Saja" "Sedikit yang mana?"
"Pangcu kami ada mempunyai seorang permaisuri dan tiga selir, Satu diantaranya yang dipanggil Lin Kui Jin, kalau siang hari selalu sembunyikan diri dari pangcu tidak mau keluar. maka pangcu dengan menggunakan kesempatan mengadakan pertemuan, hendak mendekati dia."
"Mengapa kalau siang hari ia sembunylkan diri terhadap pangcu kamu?"
"sebab pangcu kami kalau siang hari adalah seorang laki- laki"
"Bohong"
"Benar aku tidak membohongimu"
"Bagaimana kalau Lin Kui Jin itu tidak menghadiri pertemuan itu?"
"Pangcu akan mengeluarkan perintah menangkap dan menghukum mati dia."
"Ini adalah satu acara sampiran dalam pertemuan besar itu. Bagaimana acara lainnya? Ada yang lebih penting?"
"Kita punya dua belas puteri besok harus menyerahkan anak kunsi emas..." "Urusan ini toh juga tidak perlu mengadakan pertempuran besar? Kau sebetulnya mau bicara terus terang atau tidak?"
"Sudah tentu masih ada hal yang penting lainnya, tapi aku benar- benar tidak tahu sebab aku hanya seorang kecil saja dalam perkumpulan itu"
"Kalau begitu, orang yang akan menghadiri pertempuran besar itu semua berapa banyaknya?"
"Anggota perkumpulan yang berpangkat Tongcu keatas semua harus hadir, yang tidak datang akan diperlakukan sebagai pengkhianat. Maka itu, enciku yang baik, tolonglah kau bebaskan adikmu ini "
Perempuan wajah buruk itu mengeluarkan suara dari hidung. kemudian menotok dua bagian jalan darah ditubuh perempuan siluman tadi lalu ditarik rambutnya diletakan ketempat rerumputan, setelah itu ditanah dekat dirinya menulis beberapa kata-kata, dan kemudian berjalan pergi sambil memondong Cin Hong ketepi sungai, Ia jalan dengan kaki timpang.
Dengan perlahan ia letakan Cin Hong di tepi sungai, seperti juga kelakuan perempuan siluman tadi, ia menengok kanan kiri dan ketika mengetahui benar- benar tidak ada orang lain, lalu membungkukan tubuhnya dan menciumi muka Cin Hong berulang kali, kemudian ia terjun kedalam sungai, kedua tangannya mengambil air, dan disiramkan kemuka Cin Hong, sehingga Cin Hong sudah bisa bergerak- gerak ia baru kabur......
Cin Hong yang mukanya merasa dingin,, tak lama kemudian lantas sadar, ketika ia membuka mata, dapatkan dirinya rebah telentang ditepi sungai, ia lalu bangun dan mengawasi keadaan sekitarnya, dari situ ia menemukan perempuan siluman tadi rebah telentang ditanah rumputan sepasang matanya terbuka dan berputaran, namun tubuhnya tidak bisa bergerak. sebab sudah tertotok oleh orang bagian jalan darahnya
"Hei Apa sebetulnya yang telah terjadi?" demikian Cin Hong bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
la loncat kesamping perempuan siluman tadi. Selagi hendak menanyakan apa sebabnya sampai terjadi Semua itu, tiba-tiba tampak didekat tubuh perempuan itu tulisan yang berbunyi "jalan darah peremouan siluman ini sudah tertotok. dalam tiga hari terbuka sendiri. GUnung ong-ok- san sebaiknya jangan kau datangi, terlalu berbahaya"
Hanya itu saja, tulisan itu ditulis miring miring, seolah- olah sengaja ditulis demikian hanya tidak disebutkan siapa yang menulisnya.
Cin Hong sangat terkejut ia tidak dapat menduga siapa orangnya yang menolong dirinya, waktu itu ia lalu menendang perempuan siluman tadi dan membentaknya: "Hei Siapa orang itu tadi?"
Perempuan itu kedip-kedipkan matanya, menunjukan sikap takut dan minta dikasihani, mulutnya tidak bisa berbicara, murgkin jalan-darahnya kaku sudah ditotok.
ci Hong membungkukkan badan hendak membuka totokan jalan darahnya akan tetapi Ca menotok orang itu luar biasa anehnya, ia berusaha lama sekali tak berhasil membuka totokkannya, terpaksa sekali lagi berkata:
"Sekarang ucapan yang hendak kutanyakan padamu, kalau benar kau boleh kedipkan matamu, jlkalau tidak benar tak usah bergerak. kau harus menjawab dengan sejujurnya, jlkalau tidak.... jlkalau tidak aku nanti akan robek hidungmu hingga menjadi buruk, mengerti?" la berdiam dulu sejenak baru mulai melontarkan pertanyaan:
"orang itu tadi apakah seorang pengemis tua yang satu tangannya membawa gulungan tikar rombeng?"
sepasang mata wanita siluman itu terus melotot tidak dikedipkan.
Cin Hong lalu bertanya lagi:
"Kalau begitu apakah seorang wanita yang berusia msih muda ?"
Wanita itu kedipkan matanya Sebagai tanda membenarkan pertanyaannya.
Dalam hati Cin Hong lalu berpikir: "Perempuan ini pasti adalah yang tadi malam di- gereja Siau-lim-si memperingatkan Tie-kong Taysu dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga."
Maka ia lalu bertanya lagi: "Kau kenal padanya atau tidak?"
Wanita itu diam saja tak mengedipkan matanja.
"Apakah dia itu cantik ?" Wanita tadi masih diam saja tak bergerak.
"Apakah dia mengenakan pakaian warna ungu?" Wanita siluman itu mengedipkan matanya dua kali.
"Diatas kepalanya mengenakan topi rumput Warna kuning yang sangat indah?"
Wanita itu kembali mengedipkan mata dua kali.
Cin Hong diam- diam menyebut nama Leng Bie Sian, dalam hati merasa sangat heran, tetapi ia juga tak berani perCaya sepenuhnya, kemudian otaknya dikerjakan dengan lekas dan didapatkanlah olehnya sebuah akal, maka ia lalu bertanya lagi: "Apa dia itu seorang perempuan timpang yang jalannya terpincang-pincang?"
Perempuan itu kembali kedip- kedipkan matanya seolah- olah mau berkata "Benar, ia adalah seorang perempuan timpang"
Cin Hong lantas marah, menendang perempuan itu hingga dua kali, kemudian berseru:
"Pui Kiranya kau bohong semuanya Kau lihat, akan kurobek hidungmu"
Dengan sikap marah ia mengambil sebuah batu hendak di gosokkan kehidung perempuan itu.Justru pada saat itu, dibelakang dirinya tiba-tiba terdengar suara orang tertawa geli, kemudian terdengar kata-katanya,
"Dia tidak membohongi kau, aku memang benar seoang perempuan timpang"
Cin Hong mendengar suara itu lalu berpaling, ketika matanya ditujukan ketempat di belakang dirinya, sesaat itu ia lantas menjadi terCengang.
Kiranya orang yang berdiri dibelakang dirinya, sesaat itu ia lantas menjadi terCengang.
Kiranya orang yang berdiri dibelakang dirinya itu bUkanlah Leng Bie Sian yang selalu dipikirinya itu, melainkan seorang wanita muda berpakaian warna ungu yang wajahnya sangat buruk. wanita itu usianya kira-kira baru dua puluh tahunan, tetapi tatkala Cin Hong hendak menegasi lagi, perempuan itu sedang mengangkat tangan dan menarik turun kedok kulit manusia yang tadi berbentuk sangat burak. dan kini tampaklah wajah cantik yang aslinya, dan dia itu bukan lain adalah seorang perempuan berwajah cantik bagaikan bidadari. Wanita cantik itu sepasang matanya bening halus, tubuhnya langsing, kepalanya memakai topi rumput berwarna kuning, mengenakan gaun berwarna ungu. Kesan pertama bagi orang yang melihatnya ialah sikapnya yang mencerminkan lemah lembut dan tampaknya sangat agung
Tetapi di balik wajah yang cantik itu. tampaknya diliputi oleh perasaan sedih. Ketika menampak Cin Hong berpaling mengawasi dirinya, tangannya mementil mandolin yang dibawa ditangan lain hingga mengeluarkan suara merdu tetapi memilukan hati, setelah itu ia lalu berkata sambil tersenyum: "Apa kau tak ingin tahu namaku?"
Wajah Cin Hong saat itu menjadi merah, katanya sambil memberi hormat: "Nama nona yang mulia?"
"Lim Keng He " menjawab Wanita itu sambil tersenyum. "Terima kasih atas bantuan nona Lim kepadaku tadi,"
berkata pula Cin Hong sambil menyoja.
"Secara kebetulan saja, perlu apa Kongcu demikian merendahkan diri?" kata Lim Keng Hee sambil membalas hormat,
Cin Hong mendengar ucapannya bahwa tadi secara kebetulan ia telah melihat dirinya dibuat mabuk oleh perempuan Siluman diam-diam juga terkejut, tanyanya pula: "oh, apakah tadi malam yang masuk ke- gereja Siao- lim Si adalah nona?"
Lim Keng Hee menggelengkan kepala dan berkata: "Untuk apa aku pergi kegereja Siao lim-si. Jika aku ingin
mensucikan diri sudah cukup untuk mencari biara"