Tangan Berbisa Jilid 14

 
Jilid 14

Cin Hong sengaja Cari tempat duduk yang letaknya agak dekat dengan dua laki-laki tadi, ia memesan beberapa rupa hidangan, dan makan minum seorang diri.

Dua laki-laki tadi setelah minum beberapa Cawan agaknya timbul kegembiraannya, satu diantaranya tiba-tiba mengeprak meja, dan berkata dengan suara nyaring: "Lo-ji, kau percaya berita itu atau tidak?"

Ia menggeprak meja demikian keras, hingga menimbulkan perasaan terkejut kepada orang-orang yang sedang duduk makan dan minum dalam rurnah makan itu, maka semua perhatian lalu ditujukan kepada mereka berdua, kesan pertama yang timbul dihati orang-orang itu masing-masing ialah: "Dua manusia ini hendak berbuat apa?"

Lelaki yang dipanggil Lo-ji tadi, juga berkata dengan suara keras seolah-olah bukan berada ditempat umum:

"Mengapa tak percaya? Itu adalah berita yang kudengar dari mulut sepasang suami isteri golongan Lo-hu yang sudah keluar dari rumah penjara rimba persilatan, sepasang suami itu kau kira orang bagaimana? Dengan cara bagaimana mereka menimbulkan desas-desus yang tidak ada buktinya?"

Lelaki yang disebut Lo-toa tadi lantas berkata:

"Entah siapa orangnya yang bisa mengeluarkan sepasang suami isteri itu dari rumah penjara Rimba pesilatan? Kepandaian ilmu silatnya pasti hebat Sekali"

si Lo-ji menenggak arak dalam cawannya, katanya dengan suara lantang:

"Sudah tentu saja rumah penjara rimba persilatan itu didirikan sudah sepuluh tahun lebih, dia adalah satu- satunya penantang yang bisa mengeluarkan tawanan dari dalam rumah penjara itu"

Si Lo-toa juga menenggak araknya, dan berkata dengan sungguh-sungguh:

"Kukira kepandaian ilmu Silat orang itu pasti jauh lebih tinggi dari pada Tetamu tidak dikenal dari luar daerah"

Si Lo-ji berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Itu sudah tentu, Tetamu tidak diundang dari luar daerah adalah seorang tokoh yang mendapat nama kosong saja, karena untuk pergi melongok kerumah penjara rimba persilatan saja juga tidak berani"

Tetamu yang berada didalam rumah makan itu,  Sebagian besar adalah tokoh-tokoh rimba persilatan yang berkelana di dunia Kang-ouw, mereka mendengarkan pembicaraan laki-laki tadi, yang dibicarakan ternyata adalah orang kuat dalam rimba persilatan, sudah tentu semakin menarik perhatian banyak orang. Terdengar pula orang yang dipanggil Lo-toa:

"Kita tak perlu bicarakan itu lagi aku selalu merasa ragu- ragu terhadap ucapan sepasang suami isteri dari Lo-hu-pay itu, coba pikir saja anak dewa lima silat sikakek gelandangan Kiat Hian, pada beberapa lama berselang pernah kata bahwa kepandaian silat orang itu sudah mencapai ketingkat yang tiada taranya, mengapa pergi menantang kerumah penjara rimba persilatan dan hasilnya malah tidak seperti orang misterie yang berhasil menolong mengeluarkan sepasang suami isteri Lo-hu-pay itu?"

Begita mendengar ucapan mereka itu, semua tamu yang ada disitu menunjukkan sikap terkejut dan terheran-heran, hingga pada kasak kusuk untuk turut membicarakannya. Ini disebabkan karena kakek gelandangan Kiat Hian dewasa itu merupakan orang yang sedang dicari oleh ketua partay rimba persilatan- Siapapun tahu jiwa dialah yang tak memerlukan dua belas anak kunci emas untuk membuka kotak wasiat batu glok. sedangkan ia menghilang dari rimba persilatan sudah ada beberapa puluh tahun lamanya, tak disangka-sangka kini dengan tiba-tiba ada beritanya, bahkan sudah pergi menantang kerumah penjara rimba persilatan-

Cin Hong yang dapat mendengar pembicaraan itu juga terkejut, dalam hatinya diam-diam berpikir:

"Aku sendiri ketika hari pertama meninggalkan rumah penjara rimba persilatan itu, telah menemukan gubuk kakek gelandangan Kiat hian digunung Bie-ciong San, apakah kakek gelandangan itu pada itu hari juga meninggalkan gunung Bie ciong San untuk pergi menantang bertanding kerumah penjara rimba persilatan? Tapi sepasang suami  istri Lo-hu-pay itu berbareng denganku, dalam satu hari itu juga meninggalkan gunung Tay-pa-san, dan keluar dari rumah penjara rimba persilatan- Aku tidak tahu urusan ini kalau begitu dari mana suami istri itu dapat tahu soal itu ?"

Si Lo-ji itu agaknya tidak memperdulikan ada banyak orang yang memperhatikannya, ia masih melanjutkan kata- katanya,

"Kakek gelandangan Kiat Hian dapat menyambut lima puluh jurus, sedang orang misterie itu hanya dapat menyambut sepuluh jurus, bagaimana kau kata kan kepandaian ilmu siiatnya tidak setinggi orang misterie ?"

"Tapi kenapa ia sebaliknya malah ditawan oleh Penguasa Rumah Penjara rimba persilatan?"

"Itu disebabkan karena ia ada menderita ingatan sakit gila, tidak mengenal cara-caranya menantang orang, maka itu meskipun dia sanggup menyambut lima puluh jurus, masih tidak boleh dihitung sebagai orang yang datang menantang dengan sebenarnya . . ."

Cin Hong terkejut, dalam hati berpikir. "0h kiranya  orang tua gila itu adalah kakek gelandangan Kiat Hian? Pantas kepandaian ilmu silatnya demikian tinggi. Hari itu dengan mata kepala sendiri aku melihat dia menyerbu kelembah dan menaiki tujuh senar besi itu, setelah kena pukulan Leng Bie Sian, pikirannya menjadi jernih, waktu itu ia pernah menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak bermaksud untuk bertanding dengan penguasa rumah penjara. Lalu dari tanda-tanda didalam gubuk dan barisan Ku-kauw-pat-pinpouw,jelas bahwa ia sudah lama mengasingkan diri digunung Bie ciong-san.

Tapi apa sebabnya pada waktu paling akhir ini, ia dengan mendadak menjadi gila dan menyerbu rumah penjara? Mungkin, kalau tidak bisa disebut pasti, setelah ditemukan oleb Pangcu golongan Kalong, Pangcu golongan Kalong hendak menguji kepandaian ilmu silatnya, tapi tidak berani berhadapan sendiri dengan orangnya,jadi sengaja memancing dia keluar suruh menantang bertanding kerumah penjara rimba persilatan. Ketua golongan Kalong itu dengan sepasang suami istri Lo-hu-pay waktu itu telah mengaduk-aduk dirumah gubuk kakek gelandangan, jadi jelaslah maksud mereka sebenarnya ialah ingin mendapatkan kitab kepandaian ilmu Silatnya."

Berpikir sampai disitu, tanpa disadarinya sudah meraba- raba kitab pelajaran ilmu kipas Tay Seng-hong-sin San yang berada dalam sakunya, itu adalah warisan kepandaian dewa pesilatan Tay-pek Sian-ong Kat Phiat Bin, ia sendiri waktu itu sudah hampir menahami seluruhnya, hari itu ia bersama Leng Bie Sian melakukan perjalanan kegunung oey-San, bahkan sudah membeli sebuah kipas gading. maka ia sendiri sesaat boleh dikata sudah memiliki salah satu kepandaian ilmu silat yang dimiliki oleh dewa persilatan  itu, hanya ia masih belum pernah melakukan pertandingan dengan orang lain, maka ia sendiri juga tidak tahu sampai dimana hebatnya ilmu kipas itu?

Selagi memikirkan soal itu, tiba-tiba tampak salah seorang dari sekian banyak tamu dalam rumah makan itu bangkit dari tempat duduknya, dengan langkah lebar berjalan menghampiri dua lelaki yang sedang menyiarkan berita tadi.

orang itu ada seorang muda gagah yang membawa sebilah pedang tergantung dipinggangnya, didepan dua laki- laki itu lantas memberi hormat seraya berkata:

"Tuan-tuan, aku yang rendah ini adalah murid golongan cong-lam-pay cu Kay Hian. Bolehkah aku numpang bertanya. Apakah benar kata-kata tuan tadi? "

Dua laki- laki tersebut lalu bangkit dari tempat duduk masing-masing dan membalas hormat pemuda yang menghampiri mereka, si Lo-jilah yang membuka mulut lebih dulu buat menjawab pertanyaannya:

"Sudah tentu benar. Berita ini kami dengar sendiri dari sepasang suami istri golongan Lo-hu itu kemarin disalah satu rumah makan, di kota Nie-lam, waktu itu aku kebetulan duduk didekat meja mereka maka mendengar setiap patah perkataannya dengan jelas sekali."

Dalam hati Cin Hong merasa beran. meskipun Cerita mereka itu sebagian benar, tetapi sepasang suami istri itupada beberapa hari berselang kedua-duanya telah terpukul sehingga patah tulang iga mereka oleh ketua golongan Kalong, hanya beberapa hari saja sudah tentu tidak mungkin dapat menyembuhkan luka-lukanya, juga tidak mungkin mereka dapat berjalan demikian jauh dalam keadaan terluka, lebih tak mungkin lagi mereka bisa jalan demikian pesat. Apa dua lelaki itu sedang menyiarkan issu- issu tertentu? Apakah benar demikian, apakah maksud dan tujuan mereka? Tampak pemuda tadi bertanya pula:

"Aku masih ada sedikit pertanyaan- Kepandaian ilmu silat penguasa rumah penjara itu sudah tak ada tandingannya, tetapi orang-orang rimba perSilatan, bagaimanapun juga tentu berpendapat penguasa rumah penjara tak dapat dibandingkan dengan dewa persilatan Thay-pek sian-ong, sedangkan kakek gelandangan Kiat Hian itu adalah keturunan Thay-pek sian-ong, dengan sendirinya memiliki seluruh kepandaian orang tuanya, siapa yang mau percaya dia hanya dapat menyambut lima puluh jurus serangan penguasa rumah penjara rimba persilatan saja?"

"oya, kemarin Tok Siucay Leng Kho juga pernah menanyakan hal ini pada sepasang suami isteri dari Lo-hu- pay" "Apa kata suami isteri itu?" tanya pemuda itu dengan penuh perhatian-

"Ringkasnya, kakek gelandangan itu dulu barang kali mendapat pukulan bathin terlalu hebat. orangnya sudah lama gila, maka betapapun lebih tinggi dan lebih hebat lagi juga kepandaian ilmu silatnya, tidak ada artinya sama sekali." jawab si Lo-jie.

Pemuda itu hanya mengeluarkan ucapan "ouw" lalu memberi hormat kepada mereka dan kemudian turun dari tangga loteng dengan tergesa-gesa,

Dua laki-laki tadi saling berpandangan sejenak. lalu duduk kembali minum araknya, si Lo-toa berkata:

"Lo Jie, si kakek gelandangan sudah terjatuh dalam rumah penjara rimba persilatan-aku rasa tak lama lagi dunia rimba persilatan mungkin akan terjadi keributan-keributan hebat"

"Benar pasti begitu Kunci berukiran naga huruf Llong dari oey San-pay, sudah hilang selama dua pulub tahun lamanya, hingga kini belum ada sedikitpun kabar beritanya, mereka orang-orang dari dua belas partay sudah tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong ia keluar dari rumah penjara" berkata Lo Jie sambil tertawa.

Para tamu dalam loteng rumah makan itu, ketika mendengar ucapan itu. nampak lagi seorang tua dan seorang setengah umur bangkit dari tempat duduknya dan turun dari loteng dengan tergesa-gesa.

Dua orang lelaki tadi diwajahnya terlintas perasaan bangga, kemudian memutar pembicaraan kelain soal, Sambil makan, mereka mulai membicarakan soal wanita dikota itu. Tak lama kemudian, dua orang itu rupanya juga sudah makan kenyang, lantas meninggalkan rumah makan itu.

Cin Hong diam-diam mengikuti jejak mereka, ia juga sudah dapat menduga beberapa bagian tentang diri mereka, maka ia sudah mengambil keputusan, setelah tiba ditempat agak sepi itulah akan ditanyakan, apabila dugaannya itu tidak keliru, juga akan mencari satori dengan mereka agar dapat mencoba ilmU kipasnya yang baru dapat dipelajarinya.

Dua lelaki tegap tadi berjalan keluar dari kota, nampak diluar kota itu jumlahnya orang yang berjalan tidak banyak, maka si Lo Jie lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata:

"Ha ha, Lo Toa tindakan kita selanjutnya bagaimana ?" "Kita  harus  berusaha  SekeraS  mungkin  supaya partay

Siao-lim juga dapat mendengar berita ini" jawab Lo Toa

sambil tersenyum.

"Kita mencarikan langganan rumah penjara rimba persilatan, kalau ia tahu entah bagaimana kesannya?"

"Memberikan kepada kita Sedikit uang sudah pasti "

Selagi Cin Hong hendak memperCepat jalannya untuk mengejar mereka, tiba-tiba didepan jalan nampak keluar seorang pemuda yang sebaya dengannya, tengah menghadang dua orang lelaki, sikapnya sangat menantang.

Pemuda itu sangat tampan lagi gagah pula, ia mengenakan pakaian warna putih, dipinggangnya bergantung sebuah pedang pusaka yang kuno, ia berdiri dihadapan dua lelaki bertubuh besar tadi tampak lebih nyata keadaannya yang tampan dan gagah itu.

Dua orang lelaki tadi dengan serentak berhenti, si LoToa mengawasi pemuda itu sejenak bertanya sambil tertawa. "Saudara keCil, kau tentunya bukanlah seorang begal.

Bukanlah begitu?"

Pemuda itu menunjukan sikapnya yang sombong dan tenang, jawabnya ketus. "Tentu saja bukan"

"Hah, ini sangat aneh" berkata si Lo Toa sambil tertawa dingin.

Pemuda itu memancarkan sinar mata yang tajam, menyapu kepada meraka bergiliran, lalu berkata pula lambat-lambat. "Bukankah kalian mengharap uang persenan ?"

Dua orang lelaki tadi segera berubah wajahnya, si Lo Jie lalu bertanya. "Sahabat dari golongan mana?"

Pemuda itu mendongakkan kepala dan menjawab dengan sikap lebih sombong^ "Sedikitnya bukan orang dari golongan Kalong"

Wajah dua orang lelaki tadi kembali nampak berubah, kini si Lo Toa yang membuka suara dan agaknya kurang senang:

"Apakah aku perlu memberi penjelasan?" balas bertanya pemuda itu sambil tertawa dingin-

"Tentu" berkata Lo Toa juga sambil ketawa dingin.

Pemuda itu bicara dengan suara nyaring sambil memejamkan mata: "cabang golongan Kalong daerah Ho- lam sudah diresmikan pembentukannya oleh Touw Kui Hui tiga hari yang lalu. Pocunya Thian San Lui It hui, sedang wakilnya ialah Tee-sat ong Yang. Nama besar kedua orang ini tentunya kalian juga kenal, bukan ?"

Dua orang lelaki itu kembali berubah wajahnya, dengan mendadak memencarkan diri kekanan dan kekiri, lalu menghunus senjata goloknya, si Lo Toa dengan sikap keren berbicara:

"Sababat sudah waktunya kau menyebutkan namamu " Pemuda itu, masih mendongakkan kepada sepertitadi,

sedikit pun tidak bergerak, katanya: "Bok Siu".

Kedua orang lelaki tadi menunjukkan sikap terkejut, diwajahnya terlintas sedikit perasaan jeri, sedang Lo Jie pura-pura bersikap tenang, berkata sambil tertawa dingin

"Kiranya adalah orang yang anggap dirinya sebagai seorang kuat nomor satu dari angkatan muda Piauw Peng Kiam-khek "

Cin Hong waktu itu berdiri sebagai penonton, ketika mendengar Lo Jie menyebutkan nama julukan pemuda itu, ia belum pernah dengar, tapi ia sudah dikagumkan oleh sikap dan tampang pemuda itu, setelah mendengar lagi bahwa pemuda itu adalah orang kuat nomor satu dari angkatan muda, dalam hati semakin kagum, dalam hatinya berpikir: "Pemuda ini usianya sebaya denganku tapi sudah menjadi jago pedang yang namanya terkenal didalam rimba persilatan, sebaliknya aku yang mempunyai guru berupa seorang yang terkenal dalam rimba persilatan, hingga saat itu masih belum dikenal orang. Tidak tahu sampai dimana tingginya Kepandaian ilmu silat pemuda ini?"

Pemuda yang bernama Bok Siu itu mengawasi dua laki- laki tadi sejenak. kemudian berkata dengan sikap menghina: "Apakah kalian ingin main-main denganku ?"

Dua orang laki-laki tadi tahu bahwa persoalan itu tidak dapat diselesaikan dengan baik maka juga tidak banyak bicara lagi, kedua-duanya seCepat kilat sudah melakukan serangan kepada pemuda itu, jelas mereka berdua semua memiliki kekuatan tenaga yang sangat besar.

Ternyata dua laki-laki tadi adalah Thian-sat Lui It Hui dan Tee-sat ong Yang, mereka berdua adalah saudara- saudara angkat, merupakan tokoh-tokoh terkuat dalam kalangan hitam, diwaktu belakangan ini baru masuk menjadi anggota golongan Kalong dan diangkat sebagai ketua dan wakil ketua Cabang propinsi Ho-lam.

Adapun maksud pergerakan mereka sekarang ini adalah untuk menjalankan perintah, menyiarkan desas-desus tentang diri kakek gelandangan yang terjatuh dalam rumah penjara rimba persilatan-

Siapa sangka, baru mereka memulai tugas mereka ditempat ini, sudah berjumpa dengan pendekar muda yang belakangan ini namanya sangat tersohor dalam rimba persilatan- Dua orang ini terkenal ganas dan kejam namun cukup maklum bahwa mereka bukanlah tandingan pendekar muda itu. Tetapi dalam keadaan terpaksa, mereka lantas mengambil tindakan nekad, tiba-tiba menyerang supaya lawannya jangan berkesempatan bergerak.

Cin Hong yang berdiam disamping sebagai penonton, telah menyaksikan dengan jelas, pemuda jago Pedang yang bernama Bok Siu itu tempat berdirinya hanya terpisah tiga kaki saja dengan sepasang saudara angkatnya tadi. . . .

Waktu ini dua orang jahat tersebut sudah lantas turun tangan dengan mendadak dan berbareng yang satu mengarah bagian atas, dan yang lain menyodok kebagian bawah serangan mereka sesungguhnya Ssngat ganas dan hebat, hingga diam-diam juga merasa khawatir, tanpa terasa sudah mengeluarkan suara jeritan.

Diluar dugaan, Selagi dua orang itu melancarkan serangan hebat, tiba-tiba terdengar suara beradunya senjata tajam dua kali, sepasang golok ditangan dua saudara angkat tadi sudah terlepas, dengan berbareng dan terpental setinggi tiga tombak. kemudian melayang jatuh ditanah.

Sedangkan dipihak Piauw peng Kiam-khek Bok Siu, Saat itu ditangannya sudah memegang sebilah pedang, dengan sikap yang tenang luar biasa masih berdiri tegak ditempatnya, seolah-olah belum pernah menggeser kakinya setapakpun juga.

Cin Hong, berdirinya membelakangi dua saudara angkat itu.Jadi ia tak tahu bagaimana sikap dua saudara itu. Ia hanya melihat tiba-tiba tubuh dua saudara itu perlahan- lahan melengkung kebawah terus rubuh, yang satu jatuh terlentang ditanah tanpa bisa berkutik lagi, kini barulah ia mengetahui bahwa didepan dada dua orang itu sudah berlepotan darah, ternyata kedua orang tersebut sudah terkena tikaman pedang, sasaran ujung pedang itu rupanya tepat dibagian ulu hati, sehingga kematian mereka juga Cepat sekali.

Cin Hong menarik napas. Terhadap jago muda itu disamping kagum, juga merasa gentar. Ia juga heran, mengapa pemuda yang nampaknya tampan dan sopan itu, bisa demikian telengas perbuatannya. Boleh dia mencari setori dengan dua saudara angkat tadi, tetapi rasanya tak dibenarkan kalau sekali bergerak sudah lantas mau mencabut nyawa mereka.

Ia menghampiri bangkai dua orang itu dan melihatnya sebentar kemudian berkata dengan pujiannya.

"Suatu ilmu pedang yang hebat// Dua orang ini untuk menjerit saja tidak keburu."

Phiauw peng Kiam-khek Bok siu menyimpan kembalipedangnya kedalam sarungnya, matanya mengawasi Cin Hong dengan tidak berkedip. tanyanya dingin: "Kau siapa?"

Cin Hong menganggukkan kepela kepadanya, dan menjawab sambil tersenyum: "Aku Cin Hong"

Bok siu mengerutkan alisnya, berkata dengan nada suara menghina^

"Aku tahu kau memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup berarti, tetapi aku belum pernah dengar didalam rimba persilatan ada seorang dengan nama itu. "

"Karena aku belum pernah mengambil nyawa orang" berkata Cin Hong sambil tertawa hambar.

"APA kau kira aku membunuh orang serampangan Cuma buat mendapatkan nama saja?"

"Aku tidak ada itu maksud. Sebetulnya, aku juga sedang pikir hendak memberi pelajaran kepada dua manusia ini, tapi terang aku takkan membunuh orang dengan Caramu seperti ini, paling-paling aku hanya akan memusnahkan kepandaiannya, dengan itu juga sudah Cukup" Kata Cin Hong sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Apa kau mengiri kepadaku?" bertanya Bok Siu ketus.

Cin Hong terCengang. "Mengiri?" tanyanya

"Ng Sebab biasanya, dari kalangan kita anak-anak muda, banyak yang mengiri atau tidak puas karena aku mendapat nama gelar orang kuat nomor satu, mereka mencari aku buat mengajak bertanding, tetapi akhirnya satu persatu kujatuhkan mereka semua. Apa kau juga ada maksud begitu?"

"Ah Aku baru tadi saja mendengar nama julukanmu dari dua orang ini," kata Cin Hong sambil menunjuk bangkai dua orang tadi, "berdasarkan atas apa aku bisa merasa iri hati atau dengki terhadapmu? Lagipula, aku tidak gemar nama, juga tidak ingin disebut orang kuat nomor satu. Perlu apa harus bertanding denganmu?"

Wajah Bok siu jadi merah. "Apa kau baru pertama kali ini terjun diduma Kang ouw?" tanyanya.

Cin Hong menganggukkan kepala, dan jawabnya: "Benar, malah dalam tempo yang belum cukup dua bulan."

Bok siu menatap Cin Hong sejenak, tiba-tiba berjalan menghampiri seekor kuda bulu hitam yang tertambat dibawah pohon.

Ia adalah seorang pemuda yang menganggap dirinya sendiri seorang luar biasa gagahnya, sejak terjun didunia Kang-ouw, belum pernah berjumpa dengan orang sebayanya, yang memiliki kepandaian yang lebih tinggi atau setinggi dia, akan tetapi kali ini setelah berhadapan dengan Cin Hong. ia telah merasakan bahwa baik wajah maupun sikapnya, ada berapa bagian yanhg tidak setaraf jika dibanding-bandingkan dengan Cin Hong. Terutama ketenangan sikap pemuda ini (Cin Hong). Benar- benar telah membuat ia merasa sangat tidak enak, ia mengharap Cin Hong menantangnya, Supaya ia bisa mengangkat nama lagi, tapi diluar duagaannya Cin Hong bukan saja tidak bermaksud bertanding dengannya, sebaliknya malah tidak gemar dengan kedudukan sebagai orang kuat nomor satu. hal ini membuat ia sangat tidak enak. maka ia sudah hendak buru-buru berlalu.

Cin Hong sebetulnya ada maksud hendak mencobanya ilmu kipasnya Tay-seng-hong-sin-San, tetapi ketika menyaksikan ilmu pedang yang digunakan oleh  pemuda itu, ia merasa tidak seharusnya bertanding dengan pemuda tersebut, maka timbul keinginannya untuk mengikat tali persahabatan dengan pemuda ini, maka ketika melibat si pemuda hendak berlalu, hatinya jadi Cemas, buru-buru berkata:

"Mungkin baru pertama kali ini aku mendengar namamu, tetapi ilmu pedangmu huruf ENG delapan jurus itu, sudah lama aku pernah melihatnya"

Bok siu dengan mendadak memutar tubuhnya dan membelalakkan matanya seolah-olah tak perCaya.

"Mari," ajaknya, "kalau kau sudah gatal tangan, boleh saja segera dimulai. Perlu apa banyak rewel?"

Cin Hong buru-buru menjura dan berkata sambil tertawa-tertawa: "Saudara Bok jangan salah paham, aku sebenarnya sangat menjunjung tinggi kepada Tamu tidak diundang dari luar daerah "

Bok siu agaknya merasa keCewa, ia melepaskan tangannya yang menggenggam gagang pedang, katanya hambar:

"Darimana kau tahu Tamu tidak diundang dari luar daerah itu adalah suhuku?"

"Apa?Jadi, kau bukan muridnya?"

Bok siu tiba-tiba menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa:

"Aku memang benar murid Tamu tak diundang dari luar daerah, Kau sendiri murid Siapa?"

"Suhuku It-hu Sianseng "

"Kiranya kau adalah muridnya It-hu Sianseng? Kalau begitu, jelas kepandaian ilmu silatmu tidak mungkin bisa lebih tinggi dari padaku" kata Bok Siu girang. Mendongkol sekali Cin Hong. ia menjunjung tinggi dan menghormati suhu pemuda itu. sebaliknya pemuda itu jelas tidak pandang bulu lama sekali suhunya.

Maka ia lalu mengambil keputusan hendak berlaku nekad untuk menguji kepandaian pemuda itu, bahkan sudah bertekad untuk mengalahkannya. Maka ia berkata sambil memberi hormat:

"Saudara Bok, jikalau kita coba-coba main-main barang kali tidak akan mengganggu persahabatan kita, bukan ?"

Bok siu rupanya gembira sekali berulang-ulang ia menganggukkan kepala, pada akhirnja berkata:

"Tentu saja tidak. kita malah boleh menjadi sahabat karib."

"Kalau begitu, marilah Kita boleh coba-coba main-main beberapa jurus." mengajak Cin Hong sambil tersenyum.

Bok siu lalu maju selangkah, tangan kanan dengan Cepat sudah menghunus pedangnya, danseCepat kilat lantas menyerang Cin Hong dari berbagai jurusan, gerakannya itu bukan saja cepat sekali, juga tampak sangat teratur.

Ia menganggap dirinya sebagai seorang kuat nomor satu diangkatan muda seharusnya memberikan  kesempatan lebih dulu pada Cin Hong untuk membuka serangan pada jurus pembukaan- tapi karena ia belum pernah melihat seorang muda yang sebaya dengannya memiliki wajah begitu tampan dan sikap demikian tenang seperti Cin Hong dalam hatinya sudah memikir keras bagaimana supaya ia dapat menundukkan cin Houg dalam waktu sesingkatnya, maka ia sudah kehilangan ketenangannya sendiri, begitu mendengar Cin Hong bersedia bertanding sudah lantas menghunus pedangnya dan menyerang lebih dulu, ia sudah tidak kuat lagi untuk menjaga gengsinya sebagai orang kuat nomor satu.

Cin Hong meskipun sudah siap. tapi ia tak menduga bahwa begitu bertanding sudah diserang lebih dahulu, karena ilmu pedang huruf ENG itu sangat hebat sekali maka ia berulang-ulang mengeuarkan kepandaian dan kelincahannya untuk mengelak serangan yang dilancarkan dengan bertubi-tubi itu, namUn demikian, ia juga sudah mengeluarkan keringat dingin-

Tetapi sehabis mengelakkan serangan terakhir dari Bok Siu, ia juga mengeluarkan serangan ilmu tangannya dari perguruannya sendiri, balas menyerang Bok siu.

Serangan tangan kosong yang dinamakan serangan orang mabuk itu, terkenal dalam rimba persilatan karena gerakannya yang aneh dan luar biasa lincahnya, dahulu It- hu Sianseng pernah menjagoi rimba persilatan dengan ilmu silat tersebut. Waktu itu, dalam rimba persilatan ada seorang dari golongan pengemis yang bernama Lu Bong Kong, ia adalah jago tangan kosong yang namanya kesohor dalam rimba persilatan sebelum It-hu sianseng muncul, juga pernah membuka setori dari seorang yang dapat mematahkan ilmu Lo-han-ciang dari kuil Siao-lim Sie yang terkenal angker itu, tapi begitu It-hu SianSeng muncul di dunia Kang-ouw orang itu telah dikalahkan dalam jurus ke sembilan dari situ merupakan suatu bukti betapa hebatnya ilmu tangan orang mabuk itu.

Phiauw-peng Khiam-khek Bok siu bagai menemukan seorang lawan terkuat dalam hidupnya semangatnya lantas terbangun. ia mengelUarkan siulan panjang, lalu menggeser kakinya untuk mengelakkan serangan Cin Hong yang aneh itu, bersamaan dengan itu pedang di tangannya di-putar untuk menyontek lengan Cin Hong. Sambil memuji ilmu pedang Bok siu, Cin Hong dengan gerakan yang terhuyung-huyung telapakan tangan kirinya dari atas menurun ke-bawah menepok pergelangan tangan Bok siu, sedang tangan kanan juga dari atas kebawah menyerang pundak kiri lawannya, serangannya itu tampaknya seperti tidak teratur, itu adalah dua gerak tipu yang sangat ampuh dari ilmu tangan kosongnya orang mabuk.....

Di satu pihak pedangnya berputaran sehingga sinarnya saja yang tampak berkelebatan dan dilain pihak kedua tangannya bergerak dengan tak teratur seperti lakunya orang mabuk yang sedang berkelahi, namun keduanya melancarkan serangan serangan yang sangat cepat dan  gesit, masing-masing berusaha untuk merebut posisi lebih dulu, sehingga pertempuran itu berlangsung sengit sekali.

Kira-kira seratus juruS kemudian, Cin Hong perlahan- lahan mulai keteter, sebetulnya ilmu pedang huruf ENG dari Tamu tidak diundang dari luar daerah, memang pernah mendapat gelar ilmu pedang nomor satu di rimba persilatan, apa lagi Cin Hong yang harus menghadapi lawannya dengan tangan kosong. sudah pasti banyak dirugikan, Ditambah lagi Bok Siu adalah seorang yang telah banyak pengalaman dalam pertempuran dengan sendirinya pengalamannya juga jauh lebih banyak daripada Cin Hong sendiri.

Begitu Bok siu sampai berada diatas angin, Semangatnya semakin menyala-nyala, pedang ditangannya bergerak demikian gencar bagaikan titiran, sementara itu mulutnya sudah berkata sambil tertawa besar: "Hei Cin Hong, Kita rasanya sudah boleh berhenti"

Tapi Cin Hong segera berseru "Tidak!!" lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk memberi perlawanan ia sebetulnya tahu sudah kalah ditangan pemuda itu yang mahir ilmu pedang huruf Eng, sebetulnya bukanlah suatu hal yang memalukan. Tetapi karena Bok siu itu orangnya terlalu sombong, dari kata- katanya juga selalu mengandung sindiran, maka ia bertekad hendak memberi perlawanan sekuat tenaga, dengan demikian beberapa puluh jurus telah berlalu lagi, ketika ujung pedang Bok Siu berhasil membuat sebuah lobang dilengan baju kiri Cin Hong, lalu lompat mundur Sejauh tiga kaki, dengan gembira ia tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Aku menang Aku menang"

Cin Hong menundukkan kepala melihat lubang di lenganjubahnya, kemudian berkata dengan sikap mendongkol: "Kali ini tidak dihitung"

Bok siu tampak tidak senang, katanya "Mengapa tidak dihitung? Apa maksudmu?"^

"Aku belum lagi mengeluarkan senjata kau sudah turun tangan lebih dulu. cara ini sesungguhnya kurang adil."

"oh Tapi aku toh tidak salah, bukan? Karena aku belum pernah dengar It-hu sianseng pernah menggunakan senjata melawan musuh" berkata Bok Siu dengan sikap keheran- heranan, Cin Hong mengeluarkan senjata kipasnya yang terbUat dari gading, lalu berkata:

"Tetapi aku juga bisa menggunakan senjata, jikalau kau bisa menangkan aku dengan senjata kipasku ini, aku benar- benar akan takluk dan menyerah padamu"

Bok siu menatap kipas di tangan Cin Hong, katanya dengan sikap memandang rendah: "Aku tidak perCaya It- hu sianseng ada memiliki kepandaian yang lebih hebat daripada ilmu serangan tangan kosongnya, orang mabuk"

"Sebentar lagi aku dapat membuatmu perCaya Kau bersiap-siaplah" berkata Cin Hong. "Baik Kali ini biarlah aku memberikan kesempatan kepadamu untuk turun tangan lebih dahulu, supaya kalau kau kalah lagi jangan sampai kau bicara yang bukan-bukan lagi" berkata Bok Siu.

Cin Hong memejamkan matanya mengatur pernapasannya dan menekan perasaan dongkolnya

sebisa-bisa, kemudian lambat-lambat berjalan menghampiri Bok siu yang melihat sikap aneh Cin Hong, didalam hati merasa sedikit kurang tenang, ia lintangkan pedangnya dan mundur setengah langkah, katanya:

"Kau sebaiknya berlaku hati-hati, kali ini aku tidak akan mengindahkan lagi segala peraturan"

Cin Hong diam saja, tiba sejarak tiga kaki dihadapannya, baru menggerakkan kipasnya, ia melakukan gerakan sepersi mengipas. dengan perlahan ditujukan kebagian dada, Bok siu tampaknya kipas itu tidak mengandung kekuatan tenaga, tampak sebagaimana biasa orang-orang mengipas.

Gerakan yang tampaknya biasa saja itu, justeru merupakan gerakan pembUkaan ilmu kipas Tay-seng hong- sian-san,

Sementara itu, Bok Siu yang menyaksikan gerakan biasa itu, lantas tertawa mengejek, ia tidak mundur sebaliknya malah maju memapaki dengan pedangnya membabat kipas Cin Hong, sementara mulutnya berkata Sambil tertawa: "Apa Cuma sebegini saja?"

"sudah tentu bukan cuma ini saja"

Baru saja Cin Hong menutup mulut. tiba-tiba Bok Siu merasakan bahwa gerakan kipas Cin Hong tadi telah terjadi perobahan, gerakan yang semula sangat lambat, tiba-tiba berubah cepat aneh dan susah diraba, dalam waktu sekejap mata seolah-olah ada ratusan bahkan ribuan kipas mengancam dirinya, hingga baru tahu gelagat tidak baik. Selagi hendak menyingkir untut mengelak, telinganya mendadak mendengar suara "plak" yang amat nyaring, dadanya dengan telak terhantam kipas Cin Hong, meskipun tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi hatinya merasa seperti ditusuk-tusuk belati tajam.

Setelah berhasil dengan serangannya, Cin Hong segera lompat mundur dan dengan sikap merendah ia berkata sambil menjura: "Bok Siu, terima kasih"

Bok Siu wajahnya pucat pasi, ia menggertak gigi menahan jangan sampai air matanya mengucur keluar, lama ia berdiri tidak berdaya lalu berkata:

"Baik, gelarku orang kuat nomor satu untuk sementara biarlah kuserahkan padamu, Sampai ketemu dilain waktu"

Sehabis berkata demikian, lalu menyimpan pedangnya kembali, setelah itu ia memutar tubuh kebawah pohon, membuka tambatan kudanya sambil menundukkan kepala.

Cin Hong yang menyaksikan pemuda itu demikian sedihnya hingga hampir-hampir menangis, dalam hati lalu berpikir, berpikir bahwa pemuda ini sifatnya mirip dengan Leng Bie Sian yang sangat dimanja dan mungkin belum pernah mengalami kesusahan hidup, sekalipun sikapnya sombong dan ingin menang saja tetapi hatinya jujur, maka hasratnya untuk bersahabat dengannya jadi makin kuat, katanya sambil menghampiri:

"Saudara Bok, kuharap kejadian hari ini jangan Sampai menjadi rintangan bagi persahabatan kita dikemudian hari"

Bok Siu menggeleng-gelengkan kepala dan berkata: "Ya, aku juga tak membencimu"

"Tetapi kau tadi kata, kita toh boleh menjadi sahabat bukan?" Bok siu lantas lompat naik keatas kudanya dan berkata: "Ng Tapi buat sekarang ini aku tidak punya waktu banyak"

"Sebetulnya kau juga tak perlu terlalu sedih. Dalam rimba persilatan dewasa ini kalau kau mau tahu masih ada seorang yang usianya lebih muda dari kita tapi sesungguhnya kepandaian ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari kita"

Bok siu tercengang lalu bertanya sambil menatap wajah Cin Hong: "Siapa ?"

"Murid Penguasa rumah penjara rimba persilatan" Bok Siu ternganga, katanya terheran-heran-

"Apakah penguasa rumah penjara rimba persilatan juga mempunvai murid? Apa kau pernah melihatnya?"

Cin Hong menganggukkan kepala dan berkata:

"Aku kenal dia, dia adalah seorang nona. namanya Leng Bie Sian. Jikalau berbicara soal kepandaian ilmu silat, biar tenaga kita berdua digabung menjadi satu juga rasanya masih bukan tandingannya"

Bok siu kembali mengeluarkan suara terkejut, dan berdiri terpaku, tiba-tiba ia bertanya dengan penuh perhatian: "Bagaimana rupa orangnya "

Cin Hong jadi terkejut, ia balas bertanya: "Perlu apa kau menanyakan soal ini ?"

Wajah Bok siu menjadi merah, katanya sambil angkat pundak:

"Tidak apa-apa, cuma mau tanya saja."

"Ia sangat cantik, merupakan seorang wanita yang paling cantik dari begitu banyak nona-nona yang pernah kulihat" berkata Cin Hong Perlahan- Bola-bola mata Bok Siu memancarkan sinar terang, bertanya pula dengan penuh perhatian-

"Apakah kau kenal betul dengan dia?"

Kembali Cin Hong mengangguk. namun dalam hatinya tiba-tiba merasa menyesal, tak baik dalam hal ini kalau ia berkata dengan sejujurnya. Bok Siu bertanya pula sambil mengedip-ngedipkan matanya. "Apa hubungan kalian cukup intim ?"

cin Kong kali ini menggelengkan kepala tapi kemudian menyesal tidak seharusnya ia menggelengkan kepala, maka pada akhirnya cuma menghela napas.

Bok siu menunjukan sikap girang dan bertanya lagi: "Hei, hei, apa kau tidak punya sahabat wanita?"

cin Kong menganggukkan kepala, dalam otaknya lantaS terpeta bayangan In-jie, hatinya merasa sedih, ia pikir sungguh tidak aneh terhadap gadis itu, masa untuk Selanjutnya ia akan memperlakukan sumoaynya itu baik- baik, walau bagaimana tidak akan memikirkan diri wanita lain lagi.

Keputusan itu setelah terlintas dalam otaknya, dengan mendadak ia menatap wajah Bok Siu yang tampan, selagi hendak menanyakan apakah pemuda itu ingin belajar kenal dengan Leng Bie Sian atau tidak. tiba-tiba tampak dijalan raya dari jauh ada mendatangi sepasang muda-mudi.

Muda mudi itu adalah wanita siluman golongan Kalong yang pada tujuh hari berselang. menginap dikelenteng Kow- tee-blo bersama paderi muda gereja siau-lim-sie yang disebut engko Beng, paderi muda ini ternyata masih mengenakan pakaian sebagai orang biasa, sedang tangannya menggandeng wanita siluman yang dipanggil adik Eng itu, mereka berjalan dengan mesranya. Cin Hong dahulu pernah bertempur dengan wanita yang dipanggil adik Eng itu dibawah kaki gunung Tong San, kali ini karena ia hendak pergi kegereja Siao-lim-sie untuk memberi kabar, takut dikenal olehnya sehingga jadi kabur paderi itu maka buru-buru menyingkir kebelakang sebuah pohon besar dan tongolkan kepalanya, berkata dengan suara perlahan kepada Bok Siu:

"Saudara Bok, kenalkah lelaki dan wanita dijalan raya itu?"

Bok siu waktu itu sedang heran apa sebab Cin Hong mendadak sembunyi dibelakang pohon, mendengar pertanyaan itu dan kemudian menoleh ke atas jalan raya, kemudian berkata sambil mengelengkan kepala: "Tidak!! Siapa sebetulnya mereka?" Cin Hong tidak sempat memberi penjelasan, katanya:

"Kalau begitu, sebentar kalau mereka melewati jalan ini, dan kalau yang perempuan itu menanyakan kematian dua saudara angkat ini, sebaiknya kau katakan saja tidak tahu, jangan sekali-kali kau membunuh mereka"

"Apa mereka itu juga golongan Kalong?" tanya Bok Siu heran-

"Yang perempuan itu, ya. Tapi yang lelaki bukan. Dalam hal ini maSih ada banyak persoalan rumit, tunggu setelah mereka berlalu, aku nanti akan beritahukan lagi kepadamu" kata Cin Hong.

"Kalau perempuan siluman dari golongan Kalong, apa salahnya dibunuh?"

"Jangan..Bila kau membunuh dia, itu bisa menggagalkan seluruh rencanaku"

Pada Saat itu, dua muda-mudi tadi Sudah berjalan semakin dekat, ketika mereka menampak dua bangkai tadi, semuanya terkejut dan berhenti, si engko Beng ternyata masih tak melupakan asal didikannya, ia rangkapkan dulu kedua tangannya kedepan dada sambil memuji Buddha, selanjutnya mulutnya kemak-kemik seperti berdoa, entah apa yang diucapkan terhadap dua orang yang sudah mati itu.

Yang perempuan itu si 'adik Eng' menghampiri dua bangKai tadi dan memeriksa sebentar, semula mungkin ia tak tahu bahwa dua korban itu adalah orang dari golongannya sendiri, setelah diketahuinya, ia pura-pura bersikap takut, dan dengan kedua tangannya menekan ulu hati sendiri, katanya pura-pura terkejut:

"Ayaaa Siapa dua orang ini? Mengapa dibinaSakan disini? Sunggub menakutkan"

Si engko Beng tadi masih kemak-kemik sambil merangkapkan kedua tangannya, ketika melihat kuda Bok Siu yang ditambat dibawah pohon, Wajahnya segera berubah menjadi pucat sekali, buru-buru melepaskan tangannya dan menghampiri sang kekasih seraya berkata: "Adik Eng, ini tak ada hubungannya dengan kita, lekas pergi"

Yang perempuan juga sudah melihat Bok siu yang  berdiri di bawah pohon, maka lalu bertanya padanya:

"Hai, dua orang ini apakah kau yang membunuh?"

Bok siu mengangguk-anggukkan kepala, ia ceplak kudanya dan dibedal kejalan raya kemudian berkata sambil mengawasi yang lelaki.

"Aneh, kau ini toh bukan paderi, perlu apa meniru perbuatan paderi yang merangkapkan tangan dan mendoa?"

Laki-laki yang dipanggil engko Beng itu terkejut, buru- buru menjura dan berkata: "Sau. ..Saudara jangan tertawakan Pin. aku aku adalah

seorang yang percaya kepada Buddha, oleh karena itu maka. "

Satelah itu, ia lalu buru-buru menarik tangan yang perempuan, diajak pergi seraya berkata: "Adik Eng lekas jalan, jangan sampai ibu menunggu kita terlalu lama"

"Benar, ibu pasti menunggu kita di depan pintu" berkata si adik Eng.

Dua orang itu semuanya mengatakan jangan sampai ibu menunggu terlalu lama, maka lantas berlalu menuju ke barat dengan terbirit-birit.

Bok siu mendongakkan kepala dan tertawa terbahak- bahak, setelah mereka berlalu jauh, ia bedal kembali kudanya ke bawah pohon-

Cin Hong juga muncul lagi dan bertanya sambil tersenyum^ "Mereka mirip benar dengan sepasang kekasih, bukan?"

Ia lalu menceriterakan tentang diri padri dari gereja Siao- lim-sie yang tidak diketahui namanya itu, hanya disebut sebagai engkoh Beng, yang sudah mengambil keputusan hendak menuruti rencana perempuan siluman dari golongan Kalong, yang hendak mencuri kunci berukiran huruf macan dari ketua Siao-lim-sie, dan maksudnya sendiri yang hendak pergi ke gereja Siao-lim Sie untuk menangkap pengkhianat itu.

Bok siu yang belum hilang pikiran dan sifatnya yang masih kekanak-kanakan, mendengar ucapan itu tampak sangat girang sekali, katanya:

"Bagus sekali BangSat kepala gundul itu nanti kalau tertangkap basah pasti akan mendapat malu sendiri" "Bila saudara Bok senang, bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?" kata Cin Hong Sambil tertawa.

Bok siu berpikir, kemudian menjawab sambil menggelengkan kepala:

"Sekarang aku tidak mempunyai waktu terluang yang cukup banyak. tidak ingin.....Hei murid perempuan penguasa rumah penjara rimba persilatan yang kau kata kan tadi, dia...... apa dia suka menerima orang menantang bertanding?"

"Tidak! tetapi kau boleh belajar kenal dengannya, dia.....

baik sekali" kata Cin Hong sambil tertawa besar. "Dimana sekarang ia berada?"

"Mungkin sekarang ini dia sudah kembali kerumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san."

"Kalau begitu, bagaimana akalnya yang baik supaya kira- kira bisa menemui dia?"

"Saudara Bok, berapa tahun usiamu tahun ini?" "Delapan belas dan kau?"

"Kita sama-sama tahunnya. kalau begitu kau boleh menengok kepenjara, kemudian kau boleh berusaha untuk belajar kenal dengannya."

"Menengok penjara? Aku harus menengok siapa?"

"Siapa saja, bagaimanapun juga, penghidupan orang- orang dalam rumab penjara itu sangat kesepian. siapapun akan menerima kedatanganmu untuk diajak mengobrol"

Bok siu miringkan kepalanya seperti berpikir, tiba-tiba menepok tangannya sendiri dan lantas berkata:

"Ya, benar.. Suhumu It-hu Sianseng, bolehlah kalau kutengoki?" "Boleh saja, hanya ada syaratnya." "Apa syaratnya?" tanya Bok Siu heran. "Kau harus bawa seguci arak."

"on, itu tidak jadi soal" kata Bok siu Sambil menganggukkan kepala. setelah itu ia bedal kudanya dilarikan menuju kekota Teng Sia. Cin Hong memburu dan memanggil:

"Saudara Bok tunggu Sebentar, masih ada syarat lain lagi"

Bok Siu menghentikan kudanya, ia berpaling dan bertanya dengan perasaan tak senang: "Masih ada apa lagi?"

Cin Hong berjalan menghampirinya dan berkata sambil mengelus-elus buntut kudanya:

"Aku lupa menanyakan padamu satu hal, Kau ini sebenarnya murid tamu tak diundang dari luar daerah yang tulen, ataukah yang palsu?"

Bok Siu menepok-nepok gagang pedangnya dan balas bartanya sambil tersenyum:

"Aku telah membunuh Thiat Sat It Hui dan Tee-sat ong Yang dua saudara angkat itu barusan saja. coba kakatakan, aku ini muridnya yang palsu ataukah yang tulen?"

Cin Hong seolah-olah tersadar, katanya sambil mundur selangkah dan melambalkan tangannya.

"oh, ya Kalau begitu nanti kalau saudara Bok sudah sampai dirumah penjara rimba persilatan tolonglah saudara sampalkan hormatku kepada suhu, subo dan sumoay. Sampai berjumpa lagi" "Jadi samoaymu juga disekap dalam rumah penjara itu?" tanya Bok Siu heran. Cin Hong menganggukkan kepala dan tersenyum getir.

Bok siu berkata dengan penuh simpatik: "Kalau begitu kau pasti sama keadaannya dengan aku. terlalu kesepian-

Betul tidak?"

Cin Hong hanya tersenyum getir tidak menjawab.

Bok Siu lalu melambalkan tangannya dan setelah mengucapkan perkataan^ "Sampaijumpa lagi," kemudian bedal kudanya.,..

Cin Hong mengawasi bayangan pemuda itu yang pelahan-lahan menjadi kecil, kemudian berkata kepada dirinya sendiri:

"Dia adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan terlalu perCaya diri sendiri, tapi entah Leng Bie Sian suka padanya atau tidak. ?"

Hari kedua tengah hari, Cin Hong sudah sampai digunung Slong-san, digereja Siau-lim Si yang merupakan pusat ilmu persilatan daerah Tiong-goan.

Waktu itu kebetulan jatuh pada musim panas, tapi kelenteng yang sekitarnya dikurung oleh pohon-pohon  besar yang rindang, hawanya jadi sejuk. terutama kalau angin sedang meniup sepoi-sepoi, pasti akan membuat siapa yang berkunjung kesitu, seolah-olah berada ditanah dewata.

Cin Hong baru Saja tiba dimulut gunung tiba-tiba tampak diundak-undakan pintu gereja siao-lim, ada berdiri dua baris padri, Setiap baris terdiri sembilan orang, masing- masing pada menundukkan kepala dan merangkapkan tangan jelas mereka sedang menantikan atau menyambut kedatangan seorang tamu agung. Cin Hong sedang memikirkan keadaan. Sementara kakinya sudah menginjak barisan pertama dari bagian kanan barisan padri itu, selagi hendak membuka mulut untuk menunjukkan asal usul dirinya, padri itu segera memutar tubuh dan memberi hormat dalam-dalam seraya berkata:

"SiCu, Silahkan masuk dari pintu samping saja. Atas kelakuan pinto ini, sebentar pinto haturkan maaf padamu."

Cin Hong terkejut, tanyanya: "Apakah di dalam kelentengmu sedang ada urusan yang merepotkan sekali?"

Padri berjubah kuning itu kembali sudah memberi hormat, Sebagai jawaban bahwa benar memang repot, hingga tiada waktu untuk banyak bicara.

Cin Hong tersenyum, dan menurut permintaan padri tadi ia berjalan melalui pintu samping.

Baru saja menaiki tangga batu, di belakang dirinya tiba- tiba terdengar suara tertawa nyaring kemudian disusul oleh kata- katanya,

"Hahahaha, Tie-kong Hwesio beberapa puluh tahun kita tak ketemu, tak kusangka kau sudah menjadi ketua"

Suaranya itu demikian nyaring, hingga terdengar ketempat sejarak dua puluh tombak lebih pada ucapan yang terakhir, orangnya sudah berada dibawah tangga batu.

Cin Hong terkejut, ia berpaling, tampak ditengah-tengah dua baris padri berjubah kuning ada berdiri seorang pengemis tua yang dibawah ketiaknya mengempit segulung tikar rombeng.

Pengemis tua tersebut berperawakan tegap wajahnya bulat, matanya lebar, hidungnya bangir, rambut dan kumisnya sudah putih semua, usianya diduga sudah mencapai sembilan puluh tahun ke atas. Ia mengenakan pakaian yang penuh tambalan sedang kakinya mengenakan sepatu rumput, yang juga bertambal-tambal, sikapnya sangat aneh.

Pada saat itu, di tangga batu di hadapannya juga tampak seorang padri tua berusia lima-enam puluh tahunan, yang mengenakan jubah warna kuning emas. di tangan kirinya ada membawa serenceng tasbih, sedang merangkapkan tangannya memberi hormat pada pengemis tua seraya katanya:

"omitohud Lu siecu pergi selama tiga puluh lima tahun, hari ini dengan mendadak berkunjung ke gereja lolap. entah ada keperluan apa?"

Pengemis tua itu mendongakkan kepala, mengeluarkan suara tertawa nyaring, kemudian berkata:

"Kau jangan salah mengerti, aku Si pengemis tua berdiam di daerah barat selama tiga puluh lima tahun, kali ini kembali ke daerah Tiong-goan, maksudku hanya hendak mencari To Lok Thian untuk mengadakan pertandingan. tak kusangka kudengar kabar bahwa ia sudah disekap di rumah penjara rimba persilatan, aku pengemis tua tidak tahu dirumah perjara itu ada makhluk apa, oleh karenanya maka aku datang untuk mencari Lian-in Taysu, untuk minta keterangan keadaan rimba persilatan pada dewasa ini, bukanlah hendak datang menyerbu Lo-han-tong, permainan semacam itu sudah tidak menarik lagi bagiku"

Cin Hong mendengar ucapan itu kembali terkejut, kiranya pengemis tua itu adalah si pengemis aneh Lu Bong Kong dan yang pernah disebut oleh suhunya, pendekar aneh yang tidak termasuk golongan pengemis. Lima puluh tahun berselang, dengan ilmu serangan tangan kosongnya yang dinamakan serangan angin puyuh, telah menjagoi di rimba persilatan tanpa tandingan, kemudian dalam pertandingan di gunung Ngo-tay San kalah di tangan suhunya yang belum lama muncul di dunia Kang ouw. Dalam keadaan marah ia mendadak lenyap dari rimba persilatan.

Dunia Kang-ouw tersiar kabar bahwa ia sudah tutup mata, tak disangka kini ternyata masih hidup bahkan dalam keadaan segar bugar, mendengar ucapannya bahwa ia berdiam didaerah barat selama tiga puluh lima tahun, sudah tentu selama mengasingkan diri, telah melatih ilmu yang baru untuk mengadu kekuatan lagi dengan lawannya ialah It-hu Sianseng, orang itu telah berlaku sabar demikian rupa, hingga mengasingkan diri selama tiga puluh lima tahun, kepandaian ilmu silatnya sudah pasti jauh lebih tinggi dari pada dahulu. Kalau begitu, kedatangan Cin Hong ke Siau- lim-sie sungguh kebetulan sekali, tapi ia juga tidak tahu apa kiranya pengemis aneh itu akan mencari setori dengannya atau tidak.

Ketua Siau-lim-sie Tie-kong Taysu lalu memberi hormat kepada Lu Bong Kong, Seraya berkata:

"Lu Siecu pergi jauh kedaerah barat,pantas tidak mengetahui urusan ini. Dengan sejujurnya, ciangbunjin gereja kami yang dahulu, juga sudah pada sepuluh tahun berselang berada dirumah penjara rimba persilatan itu "

Pengemis aneh itu pendelikan matanya katanya terheran- heran-"Apa, ada kejadian serupa itu?"

"Bukan cuma ketua gereja kami saja, Sebelas partay besar juga ada ketuanya yang berada didalam rumah penjara itu, diantaranya ada partay partay Kun Lun, Ngo- bie, Swat-san, Thian-shia. Hoa San dan Lam-hay. serta dua orang ketua lagi " Pengemis tua itu berdiri terpaku sekian lama, baru terdengar ucapannya yang separti menggumam sendiri :

"Benar- benar suatu kejadian. Kalau begitu. aku akan berangkat kegunung Tay-pa-San uktuk menjumpai manusia itu. Akan kulihat apa benar ia memiliki tiga kepala dan enam tangan?"

Tie-kong taysu kemudian mempersilahkan tamunya itu masuk kedalam.

Pengemis tua itu menurut, keduanya berjalan berdampingan masuk kedalam, diikuti oleh delapan belas padri berjubah kuning, berjalan menuju keruangan sebelah kanan..,.

Cin Hong juga turut masuk kedalam, dengan kelakuannya seperti orang biasa yang hendak bersembahyang, ia berdiri dikelenteng itu sambil melihat- lihat, kemudian ada seorang paderi yang memberi minum teh kepadanya.

Cin Hong duduk sebentar lalu minta diri untuk jalan- jalan, ia pikir karena kini Tie-kong Taisu sedang melakukan pembicaraan dengan pengemis tua aneh tadi, kalau sekarang minta ketemu padanya sudah tentu tidak bisa, lain dari pada itu, ia masih mempunyai alasan untuk pergi melihat-lihat diberbagai kamar, Sekalian untuk melihat padri yang disebut engkoh Beng itu apakah sudah kembali atau belum, dan apa nama julukannya dalam gereja, serta apa pula jabatannya.

Ia yang berdandan sebagai pelajar, tidak seperti orang rimba persilatan, maka sekalipun paderi dari Siao-lim-sie juga tidak ada memiliki kepandaian ilmu silat, dianggapnya seorang pelajar yang pergi pesiar saja, maka membiarkan ia jalan-jalan didalam gereja seorang diri. Selagi ia berjalan-jalan diberbagai ruangan, para padri yang melihat padanya lantas berhenti untuk memberi hormat sambil merangkapkan tangan, yang dibalas segera oleh Cin Hong. Diam-diam mengagumi disiplin keras dari gereja itu, Meskipun Siao-lim Sie terkenal sebagai pusat dan tempatnya ilmu persilatan, tapi setiap hari padri berkelakuan sopan santun dan ramah-tamah, benar- benar tidak keCewa sebagai murid golongan Buddha, hanya padri muda yang disebut engkoh Beng itu benar- benar merupakan manusia laknat, yang berani dan sudah lupa daratan, meskipun Cin Hong tidak tahu ia hendak mengambil kunci pusaka itu dengan Cara bagaimana, tapi karena ia sudah berada disitu dengan sendirinya sudah bertekad hendak coba menangkap basah perbuatannya.

Tanpa disadari ia telah tiba disebut tanah lapang dalam gereja, tanah lapang itu agaknya ini merupakan tempat bagi para padri untuk melatih ilmu Silatnya, tapi waktu itu keadaan tanah lapang itu sepi dan bersih sekali.

Mendadak ia melihat seorang padri muda sedang berjongkok ditepi lapangan untuk memotong rumput, padri muda itu bukan lain daripada padri yang disebut engkoh Beng yang sudah tergila-gila oleh paras cantik, Cin Hong berpikir sejenak. lalu berjalan menghampiri, ia menegur sambil memberi hormat, "Suhu barangkali sudah capai."

Padri muda itu buru-buru bangkit dan membalas hormat seraya berkata, "Siecu. terima kasih, siaoceng baik- baik saja dan tidak merasa capai"

"Sekarang matahari sedang terik-teriknya. mengapa Suhu tidak memotong rumput nanti sore saja?" bertanya Cin Hong sambil mendongak keatas. Wajah padri muda itu sedikit merah, ia menundukan kepala seraya, berkata: "Dengan terus terang, Siaoceng diutus kemari untuk memotong rumput, ialah karena sedang menjalani hukuman..,.,"

"Dengan cara bagaimana suhu mendapat hukuman?" bertanya Cin Hong heran-

"Siaoceng sebetulnya adalah seorang yang ditugaskan untuk melayani ketua gereja, hanya lantaran pada beberapa bulan berselang siaoceng minta cuti dua belas hari, turun gunung untuk menengok seorang paman, oleh karena terlambat datang, diharuskan memotong rumput satu hari di tempat ini."

Dalam hati Cin Hong merasa geli, tetapi diluarnya ia masih pura-pura bersikap simpatik katanya

"Turun gunung menengok seorang paman sehingga terlambat, sebenarnya merupakan suatu hal yang masih dapat dimaafkan. Ketua gereja suhu kalau begitu terlalu tidak adli, agak kejam"

Paderi muda itu yang sudah timbul pikiran hendak berkhianat, mendengar ucapan yang simpatik pada dirinya, lantas merasa senang, ia menengok kekanan kekiri, lalu berkata perlahan:

"Memang benar, coba pikir siaoceng sudah melayani para ketua disini selama lima enam tahun, belum pernah melakukan kesalahan sekali saja, kali ini oleh karena kesalahan sedikit saja Siaoceng sudah lantas diharuskan menerima hukuman memotong rumput dibawah teriknya matahari. Kalau di pikir benar-benar, memang agak keterlaluan"

"Bagaimaaa nama sebutan Suhu? Tunggu sebentar, aku akan mintakan ampun kepada ketua suhu" berkata cin Hong sambil tertawa. Paderi muda itu angkat tangannya dan menyeka air peluhnya yang membasahi kepalanya, dengan sikap bersyukur ia berkata: "Siaoceng Ngo-beng, terimakasih atas kecintaan Siecu"

cin Hong tak menduga bahwa paderi muda itu benar- benar ada maksud hendak minta tolong padanya, maka dalam hati diam-diam sesalkan paderi muda itu, sebab seorang yang sudah mensucikan diri, menerima sedikit pekerjaan saja sudah mengeluh, disini dapat dibuktikan bahwa paderi muda itu tentunya dahulu pernah dimanja oleh orang tuanya, maka mudah sekali berubah pikirannya. Saat itu ia lalu berkata sambil tersenyum:

"Urusan kecil saja tak usah Suhu terlalu jadikan pikiran, harap tenangkan hati suhu, sebentar aku akan menemui ketua suhu"

Setelah mana ia lalu masuk kedalam kelenteng, untuk mencari padri penjaga, kepada paderi ini ia berkata sambil memberi hormat:

"Taysuhu tolonglah, Taysuhu sampaikan kepada ciangbunjin TaySuhu bahwa murid It-hu Sianseng cin Hong minta ketemu dengan beliau"

Wajah paderi itu berubah, sepasang matanya dibuka lebar-lebar, mengawasi cin Hong dari atas sampai kebawah, kemudian dengan perasaan bersangsi ia bertanya: "Benarkah Siecu murid To Tayhiap?"

"Benar Harap sampaikan kepada ciangbunjin Taysuhu, bahwa aku ada sUatu urusan penting yang perlu diberitahukan kepada beliau" cin Hong lalu tersenyum.

Paderi itu nampaknya masih ragu-ragu, tetapi kemudian ia pergi juga , tak lama kemudian sudah balik kembali dan berkata: "ciangbunjin mempersilahkan sicu masuk. harap sicu ikut pinceng"

cin Hong mengikuti paderi itu masuk ke dalam pendopo, dari jauh tampak ciangbunjin gereja siau-lim-si Tie-kong Taysu sedang duduk mengobrol dengan pengemis tua aneh Lu Bong Kong tadi.

Tie Kong Taysu meskipun sebagai pemimpin dan ketua gereja Siau-lim-si, namun sebagai seorang beribadat tinggi, begitu melihat cin Hong tiba, dari jauh sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berkata sambil merangkapkan tangannya:

"omitohud Pinceng tadi mengira siao-siecu adalah tamu yang datang bersembahyang, tidak tahunya Siao-sicu adalah muridnya To Tayhiap. Mengapa tidak dari tadi Siao-sicu katakan kepada pinceng bisa menyambut sebagaimana layaknya?"

Sikap ramah dan sopan Tie Kong Taysu itu, adalah sikap yang biasa terhadap setiap tetamunya, tetapi kali ini dia ada maksud lain ia tahu bahwa pengemis tua aneh itu dahulu pernah kalah ditangan It- hu Sianseng To Lok Thian, hingga menghilang dari rimba persilatan dan kali ini muncullah kembali pengemis tua aneh itu kedaerah Tiong- goan. justru hendak mencari It- hu Sianseng untuk mengadakan pertandingan lagi, oleh karena It- hu Sianseng sudah berada didalam penjara rimba persilatan, sedang disini secara kebertulan telah ketemU dengan muridnya, dengan seorang yang sifatnya ingin disanjung dan selalu ingin menang sendiri saja, mungkin ia akan mempersulit cin Hong.

Kalau hal ini terjadi dilain tempat, ia sama sekali tidak mau ambil pusing. Tetapi karena kebetulan mereka sama- sama menjadi tamunya digereja siau-lim-si.Jadi sedapat mungkin harus dicegah terjadinya bentrokan, maka itu terhadap cin Hong sikapnya tampak tamah dan sopan sekali, lain daripada biasanya, maksudnya tak lain ialah, ingin dengan perbuatannya itu memperingatkan kepada pengemis tua itu agar menandang mukanya dan jangan sampai timbul bentrokan dengan cin Hong.

Pengemis tua aneh itu ketika menyaksikan sikap Tie- kong Taysu demikian ramah dan hormat sekali terhadap cin Hong, sudah tentu mengerti maksudnya, maka ia juga diam saja.

cin Hong sudah tentu tidak merasakan bahwa sikap ketua Siao-lim-sie itu ada menyangkut dengan persoalan dirinya, ia hanya menganggap bahwa Tie-kong Taysu benar-benar patut dihargai, maka ia semakin kagum dan buru-buru menjura, ucapnya:

"ciangbun Taysu, oleh karena boanpwe tadi melihat ciangbun Taysu sedang menyambut tamu agung, maka tak berani mengganggu, diharap Taysu maklum."

Kemudian ia memberi hormat kepada pengemis aneh itu, ia merasa bahwa dengan sikap pura-pura tidak kenal dengan pengemis tua itu, adalah sikap paling baik.

Tetapi pengemis tua itu dengan sikap yang sombong mengulapkan tangan kirinya, dan berkata hambar:

"Anak muda, tidak perlu terlalu banyak aturan"

Dengan mendadak cin Hong merasa ada kekuatan tenaga yang aneh menuju ke depan dadanya, hingga ia menjadi terkejut, Untung terhadap pengemis tua aneh itu ia sudah waspada maka saat itu ia lantas miringkan tubuhnya ke-kanan, dengan demikian ia mengira dapat mengelakkan kekuatan tenaga yang meluncur dari pengemis aneh itu, tak ia duga kekuatan tenaga dalam yang meluncur keluar dari pengemis aneh itu demikian aneh, seolah-olah angin berputar terus mengikuti jejaknya, sehingga mendorong padanya dan turut berputaran disitu, hampir saja jatuh di tanah, hal mana membuat ia sangat malu, hingga wajahnya menjadi merah, tetapi juga tidak berani bertindak apa-apa, terpaksa mengendalikan hawa amarahnya, dan berkata kepada pengemiS aneh sambil memberi hormat dalam- dalam.

"Sungguh hebat tenaga dalam Locianpwee aku tak dapat menempil sedikitpun juga dirimu"

Sementara itu sipengemis aneh masih tidak menunjukkan sikap girang atau marah, berpaling kearah Tie-kong Taysu seraya katanya: "Benar saja dia adalah murid To Lok thian."

Tie-kong taysu merasa sangat tak enak ia segera memerintahkan padri keCil untuk mengambil kursi bagi cin Hong, kemudian ia menanyakan kepada cin Hong tentang jalannya pertandingan It- hu Sianseng dengan penguasa penjara rimba persilatan, akhirnya ia berkata sambil tertawa.

"Kabarnya Siao-sicu kemari dengan membawa sesuatu urusan penting, entah urusan apa itu sampai mengharuskan Siao-sicu sendiri datang kemari ?"

"Tahukah ciangbun Taysu bahwa diwaktu belakangan ini dalam rimba persilatan sudah muncul satu golongan baru yang menamakan diri golongan Kalong? PangCu golongan itu adalah yang dahulu bernama Jie Hong Hu, dengan nama julukannya Ho-ong. Mengenai maksudnya mendirikan golongan Kalong itu ialah, kesatu buat menjalankan rencananya merampas dua belas kunci emas yang dipegang oleh dua belas ketua partay, dan Kedua ia menggunakan kesempatan selagi peguasa rumah penjara rimba persilatan, menyekap tokoh-tokoh kuat rimba persilatan, ia sendiri hendak menjagoi Seluruh rimba persilatan."

cin Hong lalu menceritakan bagaimana PangCu golongan kalong menolong keluar orang-orang dari golongan hitam yang dikurung dalam rumah penjara rimba persilatan untuk dijadikan pembantunya, dan disamping itu juga mengutus dua belas perempuan muda yang dinamakan dua belas puteri untuk memancing anak murid tingkatan muda dari dua belas partay supaya dapat digunakan untuk bekerja sama mencuri kunci emas.

Tie-kong Taysu yang mendengar penuturan itu menunjukkan sikap khawatir, lama sekali baru ia berkata lagi sambil menghela napas panjang: "Ai, tak disangka iblis jahat itu bisa muncul lagi. Dengan adanya dia, rimba persilatan di dalam waktu dekat ini tidak mUngkin akan aman lagi "

Sipengemis tua aneh sebaliknya berkata dengan sikap menghina:

"Sampai dimana sih lihaynya manusia yang menamakan dirinya Ho-ong itu? Aku sipengemis tua lain tua lain hari hendak mencari dan mengajak orang itu mengadu kekuatan"

"Jikalau lo-cianpwe sanggup menyambuti serangan penguasa rumah penjara rimba persilatan hingga tiga puluh jurus, untuk menangkan Ho-ong tidak menjadi soal lagi" berkata cin Hong sambil tersenyum.

"Suhumu dapat menyambut berapa jurus?" bertanya pengemis aneh.

"Sembilan jurus" jawab cin Hong singkat. "Ha ha, aku sipengemis tua sampai berani sekarang ini balik kembali kedaerah Tiong-goan, juStru karena sudah mempunyai keyakinan akan dapat mengalahkan Suhumu tidak sampai sembilan jurus "

cin Hong bersenyum tanpa mengatakan apa-apa, hanya didalam hatinya saja menganggap bahwa pengemis tua ini sesungguhnya sangat tak tahu diri.

Akan tetapi sikap cin Hong itu sebaliknya justru sudah menimbulkan amarah dihati pengemis tua tersebut, Cawan tehnya diletakkan di atas neja, lalu menekannya perlahan, sesaat itu juga CaWan itu melesak ke atas meja, tapi Cawannya sendiri tidak peCah

Sementara ia mempertontonkan kepandaiannya itu matanya terus mengawasi cin Hong, katanya tertawa:

"Anak muda, apa sekarang ini kau sudah perCaya?"

cin Hong yang menyaksiken itu diam-diam juga terkejut, ia pikir bahwa pengemis tua itu ternyata sudah melatih ilmu kekuatan tenaga dalam yang demikian tingginya, tampaknya suhunya sendiri benar-benar mungkin bukan tandingannya. Tetapi kalau mau dikata tidak sanggup menyambut serangannya sampai sembilan jurus, sesungguhnya terlalu dilebihi.

Maka Saat itu, ia sudah mergambil keputusan, apabila pengemis aneh itu berani mengucapkan perkataan sombong lagi, akan dihadapinya dengan menggunakan ilmunya kipas Tay Seng-hong-sin San, setidak-tidaknya ia juga dapat atau mampu menyambuti serangannya hingga sembilan jurus lebih.

Karena berpikir demikian maka sikapnya tampak acuh tak acuh, katanya sambil senyum: "Apakah locianpwe memaksaku suruh percaya begitu saja?" "Lalu dengan cara bagaimana kau barulah percaya?" "Aku cuma bisa menurut saja."

Pengemis aneh itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan berkata: "Bagaimana seandainya aku dapat menjatuhkan kau dalam waktu dua jurus?"

"Sudah tentu aku bukanlah seorang yang berkepala batu, tetapi juga tak mau tunduk kepada orang dengan begitu saja."

Pengemis aneh itu perdengarkan suara tertawa dingin, lalu berpaling dan berkata kepada Tie-kong Taysu:

"Tie-kong Hweeshio, aku sipengemis tua hendak coba main-main beberapa jurus didalam gerejamu ini, kau toh tak akan keberatan bukan?"

"Lo-sicu selamanya tidak pernah berlaku tak baik pada gereja kami, apa gunanya pinceng keberatan?" berkata Tie- kong Taysu sambil tertawa getir. Pengemis tua itu mengerutkan alis, lalu berpaling dan berkata kepada cin Hong.

"Baik, sebentar kita lakukan lagi setelah kita sama-sama meninggalkan gunung Slong-san." Sehabis berkata demikian ia duduk lagi ditempatnya.

Tie-kong Taysu menunjukkan senyum puas kemudian berpaling dan bertanya kepada cin Hong.

"Tadi Siao-sicu kata bahwa golongan Kalong mengutus Dua belas puteri yang ditugaskan untuk memikat angkatan muda anggota dua belas partai, apakah dalam hal ini -iuo- sicu menyaksikan sendiri?"

cin Hong mengangguk. dan katanya,

"Boanpwe pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Seorang anggota angkatan muda dari partay Thian San-pay yang tidak mau menuruti permintaan mereka, menemukan ajalnya dengan sangat mengenaskan, pendekar berbaju biru Nie-kun dari Kong-tong-pay kini masih tenggelam dalam rayuan perempuan-perempuan Siluman itu, dan lagi. "

Wajah Tie-kong Taysu berubah mendengar ucapan itu, tanyanya pula^ "Masih ada siapa lagi?"

"Masih ada beberapa anggota angkatan muda dari beberapa partay, pemuda itu sudah terjerat oleh jaringan dua belas puteri itu, hanya boanpwe tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri,"

"Murid angkatan muda dari orang biasa didalam gereja sini jumlahnya sedikit sekali. diwaktu-waktu biasa juga jarang datang kegereja, maka dalam urusan ini rasanya pinceng boleh tak usah khawatir" kata Tie-kong sambil menarik napas lega. Sipengemis tua anah tiba-tiba menyela:

"Apakah kau berani jamin bahwa paderi-paderi didalam gereja Siau-lim-si ini semuanya tidak bisa bergerak perasaannya?"

"Dalam hal ini tidak perlu dicurigakan segala orang, juga tidak seharusnya kita merasa curiga terhadap siapa saja" Tie-kong Taysu tampaknya bangga sekali ketika mengucapkan kata-katanya.

cin Hong tersenyum mendengar ucapan itu lalu berkata: "Boanpwe tadi melihat seorang suhu yang masih muda.

sedang memotong rumput ditanah lapang, katanya dia sedang menjalankan hukuman dari ciangbunjin Taysu"

"Dia bernama Ngo-beng, sebetulnya ditugaskan untuk melayani pinceng. Bulan yang lalu ia minta cuti dua puluh hari, katanya mau turun gunung untuk menengok pamannya. Tapi kepergiannya itu ternyata sudah lebih dari sebulan, tadi pagi baru kembali. Pinceng cuma hukum dia memotong ramput satu hari apakah itu tidak sepantasnya?" kata Te-kong Taysu.

"Dibawah teriknya mata hari seperti sekarang ini, pekerjaan memotong ramput sebetulnya terlalu berat, bolehkah Taysu pandang muka boanpwe untuk memberi keringanan padanya?"

"Kalau siao-sicu yang mintakan keampunan, biarlah akan pinceng ampuni kesalahannya sekali ini."

Setelah itu, Tie-kong Taysu memerintahkan seorang paderi kecil supaya panggil Ngo-beng supaya datang menghadap. dan tak lama kemudian Ngo-beng pun menghadap kepada Tie-kong Taysu.

Tie-kong Taysu suruh ia mengucapkan terima kasih kepada cin Hong. Pada Saat itu dengan tiba-tiba paderi- paderi yang tadi bersama cin Hong masuk kesitu, kini dengan tergesa-gesa lari masuk. kemudian memberi hormat kepada ketuanya seraya berkata:

"ciangbunjin, lima ciangbunjin dari partai-partai Bu-tong, cong Lam, Hoa San, Kong-thong dan Lam-hay-pay telah datang berkunjung "

Tie kong Taysu terkejut mendengar laporan itu, buru- buru memerintahkan padri tersebut keluar lagi guna membunyikan lonceng,

Setelah itu ia memberi hormat kepada pengemis tua dan cin Hong seraya berkata:

"Ji Wie silahkan duduk dulu sebentar, pinceng hendak menyambut kedatangan lima ciangbunjin itu, nanti akan melayani jiwie lagi" Sehabis mengucap demikian, lalu masuk kedalam untuk mengenakan jubah kain kasa dan keluar lagi dengan tergesa-gesa.

Tak lama kemudian, terdengar suara lonceng dipalu amat nyaring. itu adalah suatu Cara kehormatan bagi gereja Siao-lim Sie untuk menyambut tamu agungnya.

Sipengemis tua mendengar suara lonceng itu lantas unjukkan sikap tak senang, rupanya ia tak senang, karena waktu ia datang, tidak disambut secara ini.

cin Hong hampir saja tak dapat menahan geli hatinya, sebab pengemis tua itu kecuali kepandaian ilmu silatnya yang tinggi, bukanlah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi. Masih untung Siau-lim-si sudah mau menyambut kedatangannya dengan penghormatan Cukup besar. Itu saja sudah cukup merendahkan diri bagi tuan rumah. Namun pengemis tua itu rupanya masih belum merasa puas, benar- benar seorang yang tak tahu diri. begitu anggap cin Hong.

Pengemis tua yang masih mendongkol, lalu bertanya kepada cin Hong. "Anak muda, siapa sebenarnya lima ketua partay itu?"

cin Hong menjawab sambil tersenyum mengandung arti: "Ketua  partay  Bu-tong  ialah  ceng-hong  cinjin,  ketua

cong-lam  ialah  Tay-hie  Totiang,  ketua  partay  Hoa  San

adalah Yu Hoa liong, ketua Kong-thong ialah Jie cek Bun, dan ketua partay Lam-hay ialah Buyu Sianjin Tee PoBeng"

Nama orang-orang ini aku satupun tidak pernah dengar" berkata sipengemis tua dengan sikap menghina.

"Lima ketua ini kepandaian ilmu silatnva tidak dibawah Kepandaian ketua mereka yang terdahulu, kabarnya masih ada satu maCam lagi yang tidak dimiliki oleh para ketua partay lainnya" "Dalam hal mana yang tidak dimiliki oleh lainnya?" "Sifat dan kepribadian mereka"

"Jahat?"

"Bukan, malah mereka semua orang baik. Sejak penguasa rumah penjara rimba persilatan muncul, sehingga para ketua partay satu persatu jatuh kedalam penjara itu, partay-partay yang ketuanya tertawan, dalam mengadakan pemilihan penggantinya, semua dititik beratkan kepada sifat dan kepribadiannya, yang lemah lembut, sabar dan tak gampang marah. Sebab, memang cuma orang-orang semaCam merekalah yang tak pernah memikirkan untuk selalu mau menang bertanding kerumah penjara rimba persilatan- Kau harus tahu, bahwa sejak berdirinya rumah penjara rimba persilatan selama sepuluh tahun ni, diantara seratus orang lebih yang menantang bertanding. hanya seorang saja, ialah pangcu dari golongan Kalong yang paling akhir ini baru muncul yang tak sampai terpukul jatuh olehnya"

"Kalau begitu, mereka itu masih terhitung sebagai golongan persilatan macam apa lagi? Terus terang saja bubarkan Semua partay itu. Lebih baik lagi, bukan?"

"Apakah Locianpwe belum pernah mendengar bagaimana raja Wat ong yang harus menderita dengan tidur diatas kayu kering dan makan nyali binatang?"

Pengemis tua itu seolah-olah baru sadar, ia mengeluarkan ucapan: "ouw" wajahnya sedikit merah, kemudian berkata sambil mengangguk-anggukan kepala:

"Kalau bisa berbuat demikian rupa memang baik. Aku juga jadi ingat diriku sendiri sewaktu dikalahkan oleh suhumu dulu, waktu itu aku merasa sedih dan hampir saja bunuh diri, tetapi akhirnya aku melatih lagi ilmu silatku dan mengadakan pertandingan satu kali lagi dengan suhumu? Maka aku kemudian melakukan perjalanan jauh keluar perbatasan, selama banyak tahun itu aku harus tidur dibawah udara terbuka dan makan apa sedapatnya, penderitaan lahir dan bathin cukup berat bagiku, tetapi akhirnya, sekarang ini, benar saja aku yakin telah memiliki kepandaian yang sekiranya dapat digunakan untuk mengalahkan Suhumu"

cin Hong agak mendongkol mendengar ucapan takabur itu, katanya dengan bersenyUm sindir:

"Locianpwe tokh belum pernah mengadakan pertandingan lagi dengan suhu? Sebaliknya janganlah omong terlalu besar"

Pengemis tua itu marah, dengan tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya dan mengempit tikarnya yang rombeng, lalu sepasang kakinya menjejak dan lompat melesat melalui genteng, di tengah udara ia mengeluarkan ucapannya^

"Ha ha... aku sipengemis tua terpaksa sekarang juga hendak berangkat kerumah penjara rimba persilatan buat menolong keluar suhumu, setelah itu baru aku akan menjatuhkan suhumu "

Suara itu makin lama makin jauh, dan sebentar sudah tidak kedengaran lagi.

cin Hong tidak menduga sama sekali demikian berangasan adatnya pengemis tua tersebUt, lama ia berdiri termangu-mangu, belakangan jadi tertawa geli sendiri.

Selagi memikirkan kelakuan pengemis tua yang aneh tadi, tiba-tiba terdengar suara kaki ia lalu berpaling, dan tampak paderi penyambut tamu tadi sudah berada didampingnya dan berkata dengan suara gugup : "Siao-sicu, mahluk aneh tadi......oh bukan.....Lu Lo sicu tadi apakah sudah pergi?"

"Sudah Katanya dia mau berangkat kerumah penjara rimba persilatan," Paderi itu menarik napas lega, katanya sambil tersenyum:

"Siao-sicu mari ikut pinceng. ciangbunjin pinceng sedang menantikan siau-sicu diruangan ceng-sin-tong"

"Apakah lima ciangbunjin lima partay itu juga semua ada disana?"

Paderi menganggukkan kepala, dan mengajak cin Hong bersama-sama menjumpai para ketua partay yang berkumpul didalam ruangan ceng-sin-tong.

Tiba disana, dalam ruangan itu tampak Tie-kong Taysu sedang duduk bersama-sama lima ketua partay, yang terdiri dari dua orang berpakaian imam dan tiga orang berpakaian biasa.

Tie-kong Taysu lalu bangkit dari tempat duduknya, lalu memperkenalkan cin Hong kepada lima ketua partay itu.

cin Hong memberi hormat satu persatu, dan Tie-kong Taysu setelah mempersilahkan duduk baru bertanya sambil tersenyum,

"Siao-sicu, Sewaktu Siao-sicu pergi menengok suhumu didalam penjara rimba persilatan apa pernah siao-sicu melihat seorang tua gila yang juga pergi menantang bertanding dengan pengUasa rumah penjara itu "

Dengan sangat hati- hati cin Hong coba menjawab: "Ada,  ia  adalah  putra  dewa  persilatan  Thay-pek  sian-

ong,  kakek  gelandangan  Kiat  Hian.  Sekarang  ini  beliau

masih dikurung didalam sebuah kamar special didalam rumah penjara itu" "WAKTU ITU Bagaimana siao-sicu tahu dia itu betul- betul adalah kakek gelandangan Kiat Hian ?"

"Waktu itu boanpwe sebenarnya masih belum tahu, dan baru kemarin ini saja mendapat tahu dari mulut dua orang anggota golongan Kalong, mereka agaknya memang sengaja hendak menyebar luaskan berita itu. "

Lalu ia menceritakan bagaimana orang tua gila itu tidak menurut peraturan yang telah ditetapkan, sudah naik keatas kawat dan menantang bertanding, lalu berakhir dengan terjatuhnya dirinya diatas kawat, lalu dikurung dalam kamar spesial, Selanjatnya cin Hong juga lantas menceritakan sekali rencana ketua golongan Kalong yang mengutus dua belas barisan putrinya untuk memikat para pemuda dari berbagai partay dan  bersama-sama sekelompok untuk mencuri kunci emaS yang berada ditangan para ketua partay, supaya dapat mengambil kotak Wasiat dari dasar danau Thian-pek tie.

Selagi ia hendak menunjuk murid-murid partai mana yang sudah terpikat oleh kawanan wanita siluman itu, tiba- tiba dipintu ruangan tamu berkelebat bayangan orang, padri muda yang bernama Ngo-beng itu sudah berjalan masuk. sambil membawa semampan besar buah-buahan.

cin Hong lantas berdiam sebegitu lekas melihat masuknya Ngo-beng taysu, ia pura-pura menggaruk-garuk kakinya sambil mengerutkan alisnya. seolah-olah ia benar- benar sedang menahan rasa gatal yang amat sangat.

Ngo-beng meletakkan buah-buahan bawaannya diatas meja, kemudian dengan lekas undurkan diri lagi melalui belakang Tie-kong Taysu.

Enam ketua partay meraSa heran menyaksikan cin Hong menggaruk-garuk terus kakinya, ceng-kong cinjin dari Bu- tongpay yang tidak dapat menahan perasaan herannya lalu bertanya: "Kaki Siao-sicu kenapa ?"

"Tidak apa-apa, Seperti ada seekor kutu-buSuk yang masuk kedalam kaki celana" menjawab cin Hong sambil tertawa.

Tie-kong Taysu merasa tidak enak, katanya dengan suara agak gelagapan: "Aneh, digereja ini seyogianya  tidak pernah ada kutu busuk...." Ketua Kong-tong-pay Jie cek Bun lalu berkata:

"cin Siaohiap beleh terus kan Ceritamu sambil menggaruk. Tadi kau kata tentang golongan- ..."

cin Hong mendadak lompat bangun sambil berseru: "Aya", memotong ucapan ketua Kong-thong-pay yang belum kelar semua, sikapnya itu memperlihatkan sekali kebingungannya ia diwaktu itu.

Jie cek Bun mengeluarkan suara dari hidung, rupanya ia sudah mulai marah,jelas bahwa ia sudah mengetahui kalau cin Hong sedang berpura-pura. Tie-kong taysu sudah menyadari hal itu, maka lalu berkata sambil tersenyum:

"Siau-sicu kalau ada apa-apa yang ingin siao-sicu ceritakan, ceritakan saja. Disini tidak ada Orang luar."

Dalam hati cin Hong merasa Cemas, tapi ia tidak dapat membentangkan karena ia tahu bahwa padri yang disebut engkoh Beng itu bukan saja maling kunci emas partay Siao- lim-pay, barangkali juga menghendaki jiwa ketuanya sendiri.

Tie-kong Taysu yang menyaksikan cin Hong masih berpura-pura, dalam hati mereka tidak senang, terpaksa berpaling dan berkata kepada Ngo-beng: "Ngo-beng, kau keluar Sekalian beritahukan pada yang lainnya, jikalau tak ada panggilan dariku siapapun tidak boleh mendekati ruangan ceng Sin-tong ini "

Ngo-beng menurut, ia memberi hormat dan keluar dari ruangan ceng-sin-tong. Jie cek Bun mengawasi cin Hong sejenak. kemudian berkata: "cin Hong Siaohiap. apakah sekarang masih gatal?"

"Kuucapkan terima kasih atas perhatian Jie ciangbunjin, aku sebetulnya sedikitpun tidak gatal" dengan muka kemerah-merahan cin Hong berkata.

"DahulU aku pernah berjumpa dua kali dengan suhumu, anaknya ia demikian berhati-hati seperti cin Siaohiap "

Jie ciangbunjin terlalu memuji, boanpwe biasanya juga selalu alpa, hanya kali ini.."

"cin Siaohiap tadi kata bahwa golongan Kalong telah mengutus apa yang dina makan dua belas putri untuk memikat anggota muda berbagai partay, apakah dalam hal ini kau dapat menunjukkan sedikit buktinya ?"

"Jie ciangbunjin, bagaimana anggapan ciangbunjin tentang kelakUan pendekar berbaju biru Jie kun ?"

Wajah Jie cek Bun berubah, katanya dengan suara berat, "Aku anggap dia baik, kenapa ?"

"Boaopwee pernah lihat ia berada bsrsama-sama dengan salah satu dari dua belas putri itu, sudah tentu pendekar berbaju biru itu orang dari golongan baik-baik dan dari golongan kebenaran- mungkin setelah ia mengetahui rencana jahat siluman wanita itu segera sadar akan dirinya hanya Jie ciangbunjin dalam hal ini harap suka sedikit waspada" berkata cin Hong dengan suara perlahan- Sepasang mata Jie cek Bun memancarkan sinar tajam, wajahnya kembali berubah, kemudian dengan tiba-tiba menundukan kepalanya.

"Boanpwe bukanlah sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk merusak nama baik partay ciangbunjin, harap ciangbunjin suka maafkan."

Lama Jie cek Bun berdiam, baru terdengar elahan napasnya, kemudian angkat kepala dan memandang bergiliran kepada lima ketua partay, barulah berkata sambil tertawa getir.

"Aku siorang sheJie, sebetulnya tidak suka menceritakan kejadian yang memaluKan dalam partaiku sendiri. karena hari ini cin Siaohiap Sudah menceritakan, maka aku siorang she Jie tidak perlu menutupi rahasia ini lagi. "

Ketua lima partay dengan serentak bertanya dengan sikap terheran-heran.

"Bagaimana?"