Tangan Berbisa Jilid 11

 
Jilid 11

"Apakah kau takut aku akan menelan kau?" berkata Cin Hong menggoda.

Wajah Leng Bie sian semakin merah, ia mendelikan matanya mengawasi Cin Hong sejenak. katanya: "Aku....barusan berpikir, apabila kampung setan ini benar- benar ada setannya, aku rela biar dimakan setan sekalipun juga, akan berada ber-sama2a denganmu. Akan tetapi aku sekarang tahu bahwa kampung ini tidak ada setannya. "

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan setan yang dibarengi oleh desiran angin yang menghembus dari jendela.

Leng Bie sian terkejut hingga menjerit, lalu lompat dan menubruk Cin Hong, dengan memeluk tubuh pemuda itu ia berkata dengan suara gemetaran: "setan, setan- "

Cin Hong mendengar suara tadi tidak mirip dengan suara orang juga merasa gentar.. tetapi oleh karena ia harus melindungi gadis itu, mau tak mau ia harus berlaku tenang, maka saat itu sambil memeluk erat, tangan yang lain menepuk-nepuk bahu Leng Bie Sian seraya berkata:

"Jangan takut, suara itu mungkin palsu." Leng Bie sian tidak berani keluar, masih tetap memeluk Cin Hong erat-etat, tidak mau melepaskan, katanya dengan suara gemetaran: "Tidak, aku tidak mau keluar. "

"Nona Leng, kepandaian ilmu silatmu jauh lebih tinggi dari padaku, kami masih memerlukan bantuanmu,jikalau kau demikian penakut, malam ini barang kali akan mendapat susah semua" berkata Cin Hong Cemas.

Leng Bie sian mendongakkan kepala dan berkata dengan suara gelagapan: "Kepandaian ilmu silat tidak dapat digunakan untuk melawan setan, kau tahu. "

Tiba-tiba terdengar pula 'Cit' yang sangat menyeramkan, kali ini suaranya ditarik demikian panjang, dari jauh semakin mendekat, kedengarannya seperti dari jarak sepuluh tombak lebih, lalu berada di luar jendela, sementara itu angin dari lubang jendela meniup masuk. hingga sinar pelita tampak tergoyang-goyang sebentar terang sebentar redup, hingga menambah keseraman suasana.

Cin Hong alihkan pandangan luar jendela, tampak olehnya di lubang jendela ada sebuah kepala setan perempuan yang rambutnya panjang terurai dikedua pundaknya, sedangkan mukanya dan lubang hidung serta matanya tampak mengalir darah, begitu setan itu unjuk muka lantas menghilang, seolah-olah tertiup angin. "cit"

"cit. "

Suara setan yang agak mirip dengan suara tikus itu terdengar pula diluar kamar, suara itu sebentar terdengar di depan, sebentar terdengar dibelakang, ada kalanya lewat melalui kamar, seolah-olah sedang mengitari kamar tidur itu, bahkan luar biasa cepatnVa, tetapi tidak terdengar suara kibaran pakaiannya.

Leng Bie sian ketakutan setengah mati, sekujur badannya lemas, menggandul dalam pelukan Cin Hong, giginya juga berkatrukan, sedang mulutnya seperti orang mengoceh^ "Engkoh Hong. . .setan itu. . .hendak membinasakan kita"

Cin Hong yang mendengar gadis itu memanggil dirinya engkoh, diam-diam terkejut, mulutnya menganga, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Leng Bie Sian memejamkan matanya, kepalanya diletakkan pada dada Cin Hong, katanya dengan suara gemetar, "Maaf, harap.,.. harap kau ijinkan aku demikian memanggil kau, apabila. . .apabila malam ini kita  beruntung tidak mati, besok pagi aku akan robah panggilan cin Kongcu terhadapmu."

Cin Hong teringat kepada in-jle sewaktu bertanding dengan Penguasa Rumah Penjara, setiap kali memanggil dirinya engkoh cin, lalu sanggup menyambut serangan Penguasa Rumah Penjara, maka ia lalu berkata sambil tertawa:

"Panggillah sesenangmu, apabila kau memanggil aku demikian atas tidak takut setan, kau boleh panggil terus"

Leng Bie Sian angkat muka, dan matanya dibuka lebar mengawasi Cin Hong, katanya dengan nada girang: "Benarkah?"

"Sudab tentu benar" berkata Cin Hong Sambil tersenyum.

Semangat Leng Bie sian seperti mendadak terbangun, dalam waktu sekejap mata perasaan takutnya hilang semua, ia melepaskan diri dari pelukan Cin Hong dan lompat keluar, mulutnya berseru:

"Engkoh Hong, ayo keluar, kita tangkap setan keparat itu" Cin Hong juga lompat dari lubang jendela, matanya mengawasi keadaan disekitarnya, tampak setan perempuan yang berlumuran darah tadi sedang berdiri di dinding tembok sambil lompat- lompatan, setan perempuan itu berpakaian hitam dan putih. rambutnya yang panjang tertiup angin hingga melambai-lambai, kuku dijari-jari tangannya panjang bagaikan belati, saat itu sedang mendongakkan kepala menghadap rembulan sambil lompat- lompat tidak berhentinya, setiap kali melompat dari mulutnya mengeluarkan "cit" seolah-olah sedang menggadangkan putri malam.

Leng Bie Sian lantas berseru, badannya bagaikan anak panah terlepas dari busurnya melesat keatas tembok, lalu mengangkat tangan untuk menyerang setan perempuan itu.

Gerakan setan perempuan itu ternyata sangat ringan bagaikan daun pohon Liu, berbareng dengan Serangan tangan Leng Bie Sian,sudah melesat setinggi tiga kaki, kemudian melayang turun ke tanah dengangerakan sangat ringan sekali.

Cin Hong pada saat itu justru tiba dibelakang dirinya dengan menggunakan ilmu silatnya seperti orang mabok arak. Kedua tangannya menyerang dua bagian jalan darah setan wanita itu. sementara mulutnya membentak dengan suara keras: "Sambutlah serangan ini"

setan wanita itu tanpa menoleh mengibas lengan jubahnya kebelakang, dari situ lantas menghembus keluar angin dingin dan Cin Hong yang dikibas demikian, dapat merasakan angin dingin itu seperti menutuk dagingnya, hingga ia jadi menggigii sendiri, oleh karenanya, maka serangan tadi mengenakan tempat kosong, dan sesaat kemudian setan wanita tadi sudah hilang lagi. la menengok kekanan kiri mencari-cari. setan wanita tadi sudah berdiam diatas pohon Cemara pendek yang berada sejauh empat tombak dari tempatnya, tampaknya dia begitu tenang.

Leng Bie Sian mengeluarkan suara bentakkan lagi, lalu melesat untuk menyergap setan wanita itu, ketika badannya masih ditengah udara, serangan tangannya sudah dilancarkan lebih dahulu, dengan beruntun melancarkan serangan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam yang sangat lunak. diarahkan pada bagian atas dan bawah setan wanita itu,

la sejak masih keCil sudah dipungut dan dididik oleh Penguasa Rimba Persilatan, sekalipun kekuatan tenaga dalamnya masih belum Cukup, tetapi kalau dibanding dengan tokoh rimba persilatan kelas satu, masih jauh lebih tinggi kepandaiannya, saat itu dengan bantuan semangat diri Cin Hong yang mengijinkan ia memanggil engko Hong, dan sebagai gadis remaja yang baru tumbuh peraSaan cintanya, hatinya Sangat gembira, hingga semangatnya meluap-luap. ia bertempuran tanpa kenal takut lagi.

Setan Wanita itu seperti takut menghadapi serangan tangan Leng Bie Sian, begitu melihat kedua tangan Leng Bie Sian bergerak, tidak berani menyambuti dengan kekerasan, lebih dulu mundur kebelakang setelah tiba ditanah lantas kabur, dengan berjalan lompat- lompatan lari menuju keruangan tamu dirumah batu yang tinggi besar itu.

Leng Bie sian juga tidak mengejar, ia berpaling dan berkata pada Cin Hong sambil tertawa: "Engko Hong, apakah setan perempuan itu takut kepadaku?."

Cin Hong lompat kesampingnya dan berkata sambil tertawa: "Benar setan dan manusia sama saja.Jika kau tidak takut padanya, dia tentu takut padamU"

Leng Bie Sian tampak sangat gembira sekali, katanya: "Kita perlu kejar dia ataU tidak?"

Cin Hong menganggukkan kepala dan berkata:

"Baik. kita perlu menangkap dia untuk minta keterangan dari mulutnya, aku juga ingin melihat itu setan benar ataukah setan jejadian"

Leng Bie sian dengan gembira mengulurkan tangannya hendak berjalan bergandengan, Cin Hong terCengang, katanya sambil tertawa: "Apakah kau tidak katakan aku orang Ceriwis lagi?"

UCapan itu adalah ucapan yang dikeluarkan Cin Hong ketika pertama kali ia memasuki rumah Penjara Rimba Persilatan- Waktu Cin Hong mau turun kerumah Penjara untuk melihat orang tua gila, Leng Bie Sian menolak tangannya digandeng, oleh Cin Hong,.

Wajah Leng Bie Sian lalu berubah menjadi merah, katanya sambil menutup mulutnya sendiri:

"Kau sekarang boleh anggap aku sebagai nona Yo terus Sehingga dia bebas dan keluar dan rumah penjara"

"Bagaimana setelah ia keluar dari rumah penjara?"

Leng Bie sian berusaha berlagak untuk berlaku setenang mungKin, katanya sambil tersenyum: "WaKtu itu aku terpaksa akan berlalu dari sampingmu."

Cin Hong tidak berani bertanya lagi, dengan menarik tangannya berjalan menuju keruangan tamu rumah besar itu.

Tiba didepan pintu ruangan tamu itu, dua orang itu dengan sangat hati-hati melangkah masuk melalui tangga batu, ketika berada diambang pintu, ia melongok kedalam Untuk melihat, ruangan tamu itu ternyata gelap gulita,  tidak tampak ada sinar sedikitpun disitu, juga tidak terdengar sedikitpun suara.

Leng Bie sian menarik baju Cin Hong, lalu dekatkan mulutnya ketelinga pemuda itu dan berkata dengan suara perlahan-

"Menurut keterangan perempuan cantik tadi, pangcu golongan Kalong tidur disini. Entah benar atau bohong?"

"Entahlah, bagaimana kalau kita masuk untuk melihat?" "Tidak bisa, kita tidak sanggup melawan dia" berkata

Leng Bie Sian sambil menggelengkan kepala.

Cin Hong melongok kesana kemari, katanya dengan suara perlahan: "Saudara can Sa semula kita kedatangannya kesini ialah hendak mengadakan penyelidikkan, tetapi sekarang entah kemana ia pergi?"

Baru Cin Hong menutup mulut, dari ruangan tamu tiba- tiba terdengar suara orang tertawa yang amat merdu sekali, kemudian disusul dengan kata- katanya yang juga kedengarannya sangat merdu: "APa? can sa jie? Dia sedang tidur nyenyak disini"

Menyusul suara merdu tadi, dalam rumah tamu itu tiba- tiba memancarkan sinar pelita terang hingga ruangan yang semula gelap gulita itu, kini menjadi terang benderang.

Cin Hong dan Leng Bie Sian jadi kesilauan karena tersorot oleh sinar lampu, buru-buru mundur tiga langkah, dan pasang mata kedalam ruangan tamu. Di ruangan bagian tengah dari kamar itu terdapat sebuah meja delapan persegi dan sebuah kursi, di atas kursi itu tampak duduk wanita yang mengaku dirinya sebagai isteri chungCu kampung setan itu, sedang dihadapannya benar saja tampak Can Sa-jie yang rebah terlentang di tanah, tampaknya sedang tidur nyenyak sekali.

Dengan tenang nyonya rumah itu duduk di tempatnya, nampak Cin Hong dan Leng Bie Sian juga tidak bangkit, hanya dengan sikapnya yang ramah menggapai ke arah Cin Hong berdua, seraya berkata:

"Masuklah Kalian anak- anak muda ini tengah malam buta masih belum mau tidur, malah gentayangan dikeluar. Kalian mau apa?"

Cin Hong menampak bahwa dalam ruangan itu hanya ada nyonya rumah itu sendiri saja, dalam hati lalu timbul perasaan curiga, diam2 berpikir bahwa setan perempuan tadi jelas lari ke dalam ruangan ini apakah yang menyamar menjadi setan perempuan tadi adalah nyonya rumah itu sendiri?

Leng Bie Sian juga mempunyai kesan demikian, tetapi ia merasa bahwa setan perempuan tadi kepandaiannya tidak seberapa tinggi? maka ia tidak merasa takut terhadapnya, lalu menarik tangan Cin Hong dan berkata sambil tertawa: "Engko Hong, mari kita masuk"

Cin Hong menyahut sambil menganggukkan kepala, kemudian dengan langkah lebar bersama Leng Bie Sian masuk kedalam ruangan, pertama ia menjura memberi hormat kepada nyonya rumah itu, dan setelah itu ia bertanya dengan terus terang^

"Nyonya, kuingin tanya setan wanita yang semula muncul tadi, apakah kau yang menyamar?"

Nyonya rumah itu tersenyum manis, selagi hendak menjawab, dari jauh terdengar suara: "cit"

Suara itu begitu tajam, ternyata adalah suara dari setan wanita yang semula hendak mengganggu Cin Hong. Cin Hong dan Leng Bie Sian saling berpandangan dengan perasaan terheran-heran, sedang nyonya rumah tadi lalu berkata sambil tertawa tergelak: "Bagus, jadi aku tidak perlu repot- repot untuk memberi keterangan lagi "

"Hei, dia itulah setan benar-benar ataukah setan bikinan?" bertanya Leng Bie Sian-

"Sudah tentu setan benar, hanya aku sudah mengadakan perjanjian dengannya, siapapun tak akan saling mengganggu" menjawab nyonya rumah itu smbil tertawa.

"Heng, aku tidak percaya" berkata Leng Bie Sian.

Nyonya rumah itu mendongakan kepala dan tertawa nyaring, kemudian berkata^ "Kalau kali tidak percaya, boleh tinggal sampai terang tanah, pergilah kesetiap rumah perkampungan ini, disitu juga terdapat tengkorak-tengkorak manusia yang jumlahnya tidak kurang dari seratus "

Leng Bie Sian tsrperanjat bertanya beran^ "Jadi dia itu membunuh orang ?"

"Tidak. ia tidak membunuh, melainkan makan." menjawab nyonya rumah sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Cin Hong tidak percaya bahwa dalam dunia ini benar- benar ada Setan yang makan daging manusia, ia mengeluarkan suara dari hidung, baru saja hendak bicara untuk bertanya apa sebab Can Sa-jie bisa tidur ditanah, tiba- tiba diluar ruangan terdengar suara orang wanita yang berseru kaget: "PangCu PangCu dikampung ini ada setan"

Cin Hong berbareng, tampak sepasang suami istri dari partay Lo-hu menyerbu masuk kedalam ruangan tamu, mereka itu begitu melihat didalam ruangan itu ada nyonya rumah dan Cin Hong bertiga, menunjukkan sikap terkejut, Kha Gi San dengan perasaan terkejut dan terheran-heran mengawasi nyonya rumah sejenak. lalu bertanya: "Kau Siapa?"

Nyonya rumah itu bangkit dari tempat duduknya, menjawab sambil memberi hormat.

"Aku adalah nyonya janda Sie Tay, dalam perkampungan ini, sungguh tidak beruntung ada setan yang mengganggu keamanan, semoga setan Wanita itu tidak mengganggu kalian suami istri"

"Aku tidak takut setan. Tetapi kau kata bahwa kau nyonya rumah kampung setan ini, mengapa malam ini ketika kita masuk dan minta menginap disini, tidak melihat kau keluar menyambut?" berkata Kha Gi San sambil tertawa dingin.

"Sejak kampung ini mengalami peristiwa yang menyedihkan itu, aku seorang sudah tiada tenaga lagi untuk menyambut tamu dari luar, barang siapa yang tidak takut setan dan berani masuk kemari untuk menginap. aku selalu tidak akan menolak. juga tidak ada perlunya unjuk diri untuk menyambut, harap kalian berdua suka maafkan." berkata nyonya rumah sambil menunduk kepala.

Kha Gee San menunjukkan sikap curiga ia tertawa dingin sebentar, lalu alihKan pandangan matanya keperbagai tempat. lalu bertanya pula:

"Pangcu kita ada kata bahwa ia akan bermalam disini, kemana sekarang ia pergi?"

"Pangcu? Apakah orang berpakaian baju warna emas itu yang kau maksud?" bertanya nyonya rumah sambil angkat kepala.

"Benar, kenapa ia pergi?" jawab Kha Gee San sambil mengangguk. Sepasang mata nyonya rumah yang jeli dan indah melirik kepada Can Sa-jie yang terlentang di tanah, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Dia pada setelah kalian masuk ke kamar lantas berlalu dan katanya setelah terang tanah baru baliK kembali, kalian tak usah khawatir, silahkan balik kekamar saja untuk beristirahat"

Kha Gee San mengerutkan alisnya berpikir lama sekali, tiba-tiba dengan secepat kilat melesat ke hadapan nyonya rumah, tangannya mencengkeram pergelangantangan kanan nyonya itu. sedangkan kekuatan tenaga dalamnya disalurkan kejari-jari tangannya, mulutnya membentak bengis: "Benarkah?"

Nyonya rumah itu yang tidak keburu menyingkir, ketika tangannya tercengkeram demikian, Wajahnya berubah dan merasa kesakitan. seningga tubuhnya pun gemetaran, sedang mulutnya merintih-rintih karena kesakitan, lama ia baru berkata: "Aduh, kau ini mengapa demikian kasar?"

Isteri Kha Gee San, Pa cap Nio, menyaksikan suaminya mencengkeram tangan nyonya rumah, ia mengira benar- benar bahwa suaminya itu mencari alasan saja untuk berlaku kurang ajar terhadap perempuan cantik itu, maka sepasang alisnya lantas berdiri, sedang mulutnya membentak keras: "Lelaki berandal, lekas lepas tanganmu"

"cap Nio, perempuan itu belum tentu orang baik-baik, mungkin pangcu kita sudah celaka ditanganya?" ucap sang suami sambil palingkan kepalanya dan tertawa.

"Omong kosong Pangcu kita, apa kau kira. . .kira ia sanggup melukai dirinya? Lekas lepaskan" kata Pa cap Nio marah. Kha Gee San adalah seorang laki-laki yang takut bini, mendengar ucapan marah istrinya, segera melepaskan tangannya dan lompat mundur, setelah itu ia berpaling dan bertanya kepada Leng Bie Sian sambil tertawa:

"Nona Leng, mengapa kau juga berada disini?"

"Main- main saja" menjawab Leng Bie Sian sambil tersenyum.

Cin Hong khawatir Kha Gee San tadi akan marah terhadap Leng Bie Sian, karena disekap selama empat tahun di dalam rumah penjara oleh gurunya Leng Bie Sian, Saat itu ia lupa bahwa kepandaian ilmu silat nona itu masih jauh lebih tinggi dari pada dirinya sendiri, buru-buru lompat dan menghadang di hadapannya siap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kha Gee San tertawa terbahak-bahak. kemudian berkata:

"Kami suami istri meskipun sudah dipenjarakan selama empat tahun- tetapi itu disebabkan karena kepandaian kami yang kurang sempurna, hingga tidak perlu menyalahkan kepada orang lain, adalah kau si bocah ini, tadi mengapa mencuri lihat kami suami isteri yang sedang tidur?"

Muka Cin Hong segera berubah menjadi merah, buru- buru berkata: "Kau ngoceh Aku tidak lihat apa- apa"

Kha Gee San berjalan menghampiri padanya, berkata sambil tertawa dingin: "Tidak lihat juga boleh dibilang sudah, aku sekarang hendak mengerok biji matamu"

Cin Hong menampak orang she Kha itu wajahnya memperlih atkan kegarangannya, tanpa disadari sudah mundur selangkah.

Leng Bie Sian sebaliknya sudah lompat maju menghalangi dirinya dan berkata sambil tertawa: "Kha-toako, ingatkah adikmu ini ketika mengantarkan dua gelas air tercampur madu kepada kalian suami isteri"

Kha Gee San tercengang, ia merandek dan berkata sambil mengangguk: "Ingat, itu adalah sewaktu kami suami isteri merayakan hari ulang tahun pada tahun Jing lalu. Kenapa?"

"KalaU begitu harap kalian memandang mukaku, berilah kepadaku sedikit kelonggaran, bagaimana?"

Pa cap Nio teringat sewaktu hari ulang tahunnya pada tahun yang lalu, jikalau bukan lantaran nona ini dua gelas air madu, keadaannya benar-benar sangat mengenaskan, maka terhadap Leng Bie Sian kesannya baik sekali, dan masih bersyukur kepadanya, maka buru-buru berkata:

"Ya benar. Suamiku, budi kebaikan nona Leng ini tidak boleh tidak harus dibalas, marilah, marilah kita balik ke kamar untuk istirahat"

Kha Gee San dengan sinar mata marah mengawasi Cin Hong sejenak lalu berpaling dan berkata kepada Leng Bie Sian sambil tersenyum:

"Nona Leng, kau harus hati-hati, bocah ini baik sekali hubungannya dengan sumoaynya."

Kedua pipi Leng Bie sian menjadi merah seketika, katanya dengan sikap kemalu-maluan "Aku tahu, Silahkan kalian tidur."

Sepasang suami isteri itu lantas berjalan keluar dari ruangan, untuk kembali kekamarnya sendiri.

Nyonya rumah ketika melihat suami isteri itu sudah pergi, segera berpaling dan memanggil kepintu sebelah kiri ruangan itu: "ceng Ceng, teh sudah disediakan atau belum?" Pintu lantas terbuka, Seorang perempuan muda cantik berpakaian hijau, berusia kira-kira dua puluh lima tahunan, berjalan menuju keruangan tamu sambil membawa minuman teh.

Ia dengan sangat hati-hati meletakkan poci dan cangkir teh di atas meja, lalu menuang teh ke dalam cangkir masing-masing, kemudian matanya mengawasi Cin Hong berdua, lantas berjalan kembali kepintu kamar tadi dengan diam saja.

Sikapnya itu demikian dingin. gerakannya seperti malas- malasan, Sejak muncul hingga kembalinya tidak pernah membuka suara, seperti orang gagu, juga seperti bangkai hidup,

Cin Hong yang menyaksikan itu semua dalam hatinya timbul perasaan curiga, matanya terus mengawasi hingga perempuan itu masuk ke dalam pintu, buru-buru berpaling dan bertanya kepada nyonya rumah^ "Siapa dia itu ?"

"Pelayan wanitaku." jawab nyonya rumah dengan tenang.

Leng Bie Sian terkejut dan terheran-heran, tanyanya: "Bukankah kau tadi berkata, bahwa dalam kampung ini hanya seorang diri saja yang berdiam disini?"

"Seorang pelayan bukanlah seorang yang ada kedudukan. Bukankah begitu?" balas menanya nyonya rumah itu sambil tertawa hambar.

Cin Hong berjalan kesamping can-sa-jie. dan lalu berjongkok, untuk menarik sekujur badannya, ketika melihat tidak terdapat tanda-tanda luka, lalu mendorongnya dan memanggilnya, tetapi pengemis kecil itu masih tidak juga mendusin. hingga dalam hati Cin Hong merasa Cemas dan berkata kepada nyonya rumah^ "Kau apakan dia ?" "Aku tidak tahu, waktu aku masuk. ia sudah rebah menggeletak disini". jawab nyonya rumah sambil menggelengkan kepalanya.

Leng Bie Sian juga menghampiri Can Sa-jie dan berjongkok disampingnya, ia mengulurkan tangannya  untuk membuka kelopak matanya, lantas berseru kaget: "Aaa, benar saja terkena ilmu sihir Pangcu dari golongan Kalong"

"Apakah kau mengerti caranya menolong dia?" tanya Cin Hong gelisah.

Leng Bie Sian menganggukan-anggukkan kepala, dan berkata sambil tersenyum: "Kemarin ketika suhu menolong kau, aKu menunggu dan menyaksikan terus dari samping dirimu"

Cin Hong sangat girang, katanya: "Kalau begitu lekaslah kau tolong sadarkan dia"

Nyonya rumah menggerakkan kakinya, berjalan kesamping Leng Bie Sian, katanya:

"Ya, kalau kau mengerti caranya menolong lekaslah kau tolong, supaya dia bisa sadar kembali"

Cin Hong yang selalu berjaga-jaga terhadap nyonya rumah itu, ketika melihat ia berjalan mendekati, buru-buru berkata sambil mengulapkan tangannya. "Jangan dekati dia?"

sepasang alis nyonya itu terjengit, katanya: "Tidak perCayakah kau padaku?"

Cin Hong menganggukkan kepala dan berkata: "Maaf, memang benar ada sedikit tidak percaya"

Wajah nyonya rumah itu menunjukkan sikap kecewa, menghela napas perlahan, dan balik lagi ketempatnya. Leng Bie San mendukung tubuh Can Sa-jie, lalu mengangkat tangan dan menepok sebentar dibagian jalan darah belakang Kepalanya sekujur tubuh Can Sa-jie tergetar, sepasang matanya perlahan-lahan terbuka, dengan sikap seperti orang bingung menengok kekanan kekiri, kemudian menguap dan bertanya: "Sudah jam berapa?"

Leng Bie San tertawa geli. "Jam lima pagi" jawabnya. can-sa-jie lompat bangun dan duduk di tanah, berkata

sambil menggoyang-goyangkan kepala:

"Benar-benar aneh, mengapa tidurku semalam ini rasanya enak sekali. ?"

Cin Hong lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata. can-sa-jie miringkan kepalanya untuk berpikir, tiba-tiba

lompat dan berkata dengan suara yang aneh, "Haya Pangcu

golongan Kalong itu benar-benar lihay. "

Cin Hong tadi masih mencurigai nyonya rumah tidak baik, tetapi menampak nyonya itu tidak turun tangan mencegah Leng Bie San menyadarkan Can Sa-jie, pandangannya terhadap diri nyonya itu segera berubah, saat itu menampak tiga CangKir teh panas diatas meja mengepulkan uapnya, lalu bertanya sambil tertawa: "Nyonya, apakah teh ini disediakan untuk tetamu nyonya?"

Wajah nyonya rumah itu menunjukkan sikap marah, namun ia masih menjawab dengan tertawa yang dipaksakan, "Kau tidak mempercayai diriku, Sebaiknya jangan minum, supaya jangan sampai keracunan"

Cin Hong memberi hormat kepadanya sambil mengucapkan perkataan:

"Maaf!!" Lalu mengulurkan tangainnya untuk mengambil dua Cangkir teh itu dan memutar tubuhnya, seCangkir diberikan kepada Can Sa-jie seraya berkata: "Mari Minumlah dulu seCangkir teh untuk membangunkan semangatmu"

Can Sa-jie yang baru Ssja mendusin dari tidurnya, otaknya masih belum jernih seluruhnya, pada saat itu lalu disambutnya dan lantas diminumnya. Cin Hong memberikan seCangkir lagi kepada Leng Bie Sian seraya berkata: "SeCangkir teh untukmu"

Leng Bie Sian sangat girang, dengan sikap sangat manja tersenyum kepadanya, lalu menyambut teh dan dihirupnya,

Cin Hong berpaling dan selagi hendak mengambil seCangkir yang lain untuk dirinya sendiri, tampak nyonya rumah itu sudah mengambil dan ditaruh ditangannya serdiri, hingga dalam hati merasa heran, dalam bati berpikir, nyonya rumah ini benar-benar tidak mengerti aturan, merampas teh yang disediakan untuk tetamunya....

Selagi berpikir, tiba-tiba terdengar suara jatuhnya cangkir ditanah dan kemudian di susul oleh dua kali suara keluhan tertahan, ketika ia berpaling dan melihat, tampaklah olehnya Leng Bie Sian dan can-sa-jie, kedua-duanya sudah jatuh ditanah dalam keadaan pingsan-

Terjadinya perobahan secara mendadak ini, sekalipun Cin Hong seorang pintar dan Cerdik juga agak repot dibuatnya. Baru Saja didalam otaknya timbul pikiran hendak berpaling untuk minta pertangganganjawaban nyonya rumah, bahunya terasa dipegang orang, dan jalan darahnya Kian-lang-hiat, sudah tertotok. hingga sesaat itu sekujur badannya kesemutan dan tidak bisa bergerak lagi.

Dalam keadaan demikian, ia mendengar suara tertawanya terkekeh-kekeh nyonya rumah yang berada di belakang dirinya, kemudian di susul dengan kata- katanya^ "Engkoh keCil, sekarang baru jam empat hampir pagi, encimu akan bawa kau pulang kekamar untuk tidur bersama-sama, kau mau ?"

Dalam hati Cin Hong terkejut, juga Cemas sekali, ia lalu membuka mulut dan memaki-maKi padanya^

"Kau perempuan jahat, hendak berbuat apa terhadap diriku?"

Nyonya rumah itu memutar balikkan tubuh Cin Hong, lalu mencium pipinya dengan bernapsu sekali, kemudian berkata^

"Hendak berbuat apa? TUnggulah sampai kita sudah masuk didalam kamar, kau nanti tentu akan tahu sendiri"

Bukan kepalang takutnya Cin Hong, ia berulang- ulang berseru: "Kau ngoceh Kau tidak tahu malu Kau tidak tahu malu"

Nyonya rumah itu kembali mencium pipinya, dengan sikap sangat gembira, setelah berkata sambil tertawa^

"Apa tidak tahu malu? Tunggu setelah kau dapat menikmati kesenangan. kau barangkali akan bertindak lebih tidak tahu malu pada encimu ini"

Sambil berbicara, tangannva diulur dan mendekap pinggang Cin Hong, sikapnya seolah-olah hendak memondong ia pergi, pada saat itu di pintu ruangan tamu tampak istri dari Lo-hu-pay, dengan bergandengan tangan untuk kedua kalinya berjalan masuk ke dalam ruangan-

Mereka suami istri, barang kali sudah mencuri lihat keadaan dalam ruangan itu, setelah berada dalam ruangan tamu, masing-masing berdiri diambang pintu, seolah-olah tidak ambil peduli perbuatan nyonya rumah itu, mereka bercakap-cakap dengan seenaknya sendiri. Kha Gee San yang berbicara lebih dahulu kepada isterinya^ "cap Nio bila kau yang berbuat seperti ia itu, pasti akan kubunuh kau" Pa cap Nio lalu menjawab sambil tertawa,

"Kau jangan kata begitu, Sebetulnya adalah kau yang perlu waspada."

Nyonya rumah yang melihat suami istri itu masuk kembali, wajahnya berubah seketika, dari matanya memancarkan sinar buas, katanya sambil tertawa dingin:

"Hei, kita masing-masing mengerjakan urusan sendiri- sendiri jangan kau mencampuri urusan orang lain Lekaslah kalian keluar dari sini"

Sepasang suami istri itu tidak menghiraukan kata- katanya, sementara Kha Gee San sudah berkata sambil tertawa,

"Aku lagi heran, mengapa didalam kampung ini, terdapat demikian banyak tengkorak manusia, sekarang aku mengerti apa sebabnya. Ha ha. "

Pa cap Nio lalu berkata^ "Sebetulnya, orang wanita mempermainkan orang lelaki juga bukan soal apa- apa, akan tetapi sesudah dipermainkan lantas dibunuh, aku Pa cap Nio yang mempunyai julukan sebagai burung ekor hitam, meskipun terkenal dengan tanganku yang ganas dan telengas, tetapi juga tidak Setuju dengan perbuatan seperti ini. ,"

Nyonya rumah yang mendengar pembicaraan yang menyindir dirinya, seketika lantas menjadi marah dan berkata:

"Kalian berdua suami istri terkutuk dari Lo-hu-pay, kalau kalian tidak mau pergi juga dari sini, nyonyamu nanti akan suruh kalian tidak bisa bertindak lagi" Kha Gee San yang tidak menghiraukan kata-kata itu, masih berkata kepada istrinya sambil tertawa terbahak- babak:

"Pa cap Nio, kau pikir hendak berbuat bagaimana sekarang?"

"Kita dengan setan arak tua It-hu Sianseng dan pemimpin golongan pengemis can-sa-sian semua tidak ada hubungan apa- apa, maksudnya ialah hendak menolong nona Leng seorang saja, dan kau sendiri?" jawab sang istri.

Dalam hati Cin Hong merasa gelisah, ia pikir babwa Pa cap Nio ini pikirannya terlalu sempit, kalau memang dia mau menolong tolong saja tiga orang sekalian apa salahnya? Mengapa hanya menolong kepada orang yang ada hubungan dengannya.

Maka saat itu lantas berkata dengan suara nyaring: "Nyonya Pa, mengapa kau tidak mau menolong kita semua?"

"Tidak Kau bocah ini sikapnya dingin tidak berperasaan, beberapa hari lamanya kau berada didalam rumah penjara rimba persilatan, juga tidak mau menengok kepadaku, dengan alasan apa aku harus menolong kepadamu?" menjasab Pa cap Nio dengan sikap mengejek.

Cin Hong yang mendengar jawaban itu merasa malu sendiri, maka ia tidak berani berkata lagi, hanya dalam hatinya berpikir: "Kepandaian ilmu silat Leng Bie Sian tidak dibawah kalian berdua, tunggu setelah kalian menyadarkan dirinya, ia sudah tentu bisa menolong aku."

Sementara itu Kha Gee San yang mendengar ucapan dirinya, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam sakunya kemudian berjalan menghampiri Leng Bie Sian- Nyonya rumah itu mengeluarkan suara tertawa tajam, lalu menotok jalan darah Cin Hong ditaruh ditanah dan setelah itu ia lompat menyergap Kha Gee San, tangannya diayun dan melancarkan serangan yang mengandung hawa sangat dingin. Hawa itu memenuhi seluruh ruangan.

Pa cap Nio sudah tentu tidak membiarkan ia berbuat sesukanya, tampak nyonya itu melancarkan serangan-nya, maju dan mengirim serangan kepadanya.

Dimasa masih gadis Pa cap Nio namanya sangat terkenal dirimba persilatan dengan serangan tangannya yang dinamakan sayap burung Hong, namanya waktu itu tidak berada dibawah Thian-San Swat Po-po, malam itu karena melihat nyonya rumah itu dengan perbuatannya yang aneh, dapatlah menduga bahwa nyonya itu pasti bukanlah orang sembarangan, masa begitu turun tangan, ia lantas menggunakan kekuatan tenaga dalamnya sepenuhnya.

Tak disangkanya, ketika kekuatan tenaga dalam kedua pihak saling beradu ditengah udara lantas timbul suara benturan hebat, kini ia dapat merasakan bahwa kekuatan tenaga dalam lawannya yang mengandung hawa dingin, sedikitpun tidak terhalang seperti mengalirnya air banjir hingga untuk sesaat ia tidak dapat menahan, dan saat itu juga ia terpental mundur tiga langkah.Kini ia baru terkejut, dengan wajah berubah ia berseru, memperingati suaminya: "Suamiku, perempuan hina ini jauh lebih lihay daripadaku"

Kha Gee San yang sudah berada disamping Leng Bie Sian dan sedang berjongkok dan akan segera membuka tutup botolnya, mendengar ucapan istrinya ia terkejut dan berkata:

"Tidak mungkin begitu. Apa kau tidak lihat, aku begitu turun tangan mencengkeram pergelangannya, ia Toh tidak berdaya apa- apa?" Nyonya rumah itu maju lagi, dan tangannya bergerak hendak menyerang batok kepala Pa Cap Nio, sementara mulutnya berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh: "Apa betul? coba kau sekarang Cengkeram lagi pergelangan tanganku"

Botol obat Kha Gee San waktu itu sudah ditempelkan dilobang hidung Leng Bie Sian. Mendengar ucapan tadi, berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Baik Tunggu setelah aku menyadarkan nona Leng baru akan kutangkap tanganmu lagi"

Waktu Pa cap Nio sudah mengelak serangan tangan nyonya rumah, bersamaan dengan itu, sikunya bergerak untuk menghantam balik dada kanan nyonya rumah, gerakannya itu seolah-olah burung Hong yang membentangkan sayap.

Pertandingan antara dua wanita itu, berlangsung sengit sekali dalam ruangan tamu itu...

Pertempuran itu berlangsung terus sampai hampir tiga puluh jurus. Pa cap Nio mulai keteter, dalam hati mengerti bahwa kepandaian ilmu silat atau kekuatan tenaga dalam lawannya masih jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri, maka disamping terkejut ia juga merasa benci maka kembali berteriak kepada suaminya: "Suamiku, sekarang kaulah yang maju"

Kha Gee San masih tetap memegangi botolnya yang didekatkan kelobang hidung Leng Bie Sian, jawabnya: "Jangan Cemas, aku nanti akan segera datang"

Nyonya rumah itu dengan beruntun melancarkan serangannya kepada Pa Cap Nio, hingga yang tersebut belakangan ini terus terdesak mundur dampai keambang pintu, kini nyonya rumah itu berkata dengan sendirinya^ "Tidak sanggup melawan orang lantas berkaok-kaok panggil suami, apa kau tidak punya rasa malu?"

"HabiS, kalau aku tidak panggil suamiku harus panggil siapa lagi? orang toh tidak seperti kau yang panggil engkoh kecil. Heh, kaulah yang benar-benar tidak tahu malu"

Pada saat itu, Leng Bie Sian yang menggeletak ditanah, tiba-tiba berbangkit, matanya perlahan-lahan dibuka, dan siuman kembali.

Kha Gee San menyimpan lagi botol kecilnya lalu bangkit dan berjalan menghampiri dua perempuan yang sedang bertempur hebat, ia berdiri disamping untuk menonton sejenak, tiba-tiba wajahnya berubah dan berkata dengan suara nyaring?

"cap Nio Kepandaian ilmu silat perempuan ini ada sedikit mirip dengan PangCu punya."

"Jangan banyak bicara. Lekas kau bantu aku" kata Pa cap Nio.

Kha Gee San segera menyahut,

"Baik" lalu muai melancarkan serangannya membantu Sang istri.

Dia pada masa mudanya namanya juga sangat terkenal dalam rimba persilatan, ia dalam hal kepandaian ilmu silat termasuk salah seorang tokoh terkemuka dalam rimba persilatan, maka begitu masuk kalangan membantu isterinya segera dapat merobah jalannya pertempuran, setelah beberapa jurus lagi, ia sudah berhasil mendesak nyonya tadi ketengah ruangan, tampaknva mereka suami isteri kini sudah berada diatas angin. Nyonya rumah yang terdesak mundur oleh mereka, tampak sangat marah sekali, hingga wajahnya berubah pucat, sedang mulutnya terus mencaCi maki:

"Sepasang manusia dari Lo hu-pay Kalau kalian berani mengaCau lagi, nanti nyonyamu akan suruh kalian mati bunuh diri"

Kha Gee San tertawa tetbahak-bahak, kemudian berkata: "omong kosong Kami suami istri baru saja keluar dari rumah penjara rimba persilatan- kini sedang menikmati betapa indahnya dunia ini, untuk apa kami hendak bunuh diri?"

"Ya benar Kami malah masih ingin pUnyai anak" berkata Pa cap Nio

Nyonya rumah itu marah sekali, hingga rambutnya yang panjang kini terurai dan berkibar, sedang giginya berCatrukan ada beberapa kali, ia seolah-olah mau mengeluarkan suara seruan tetapi akhirnya ditahan dan dirubah menjadi makian dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannnya, ia coba bertahan mengnadapi dua lawannya itu. . . .

Mereka bertiga bertempur hebat sekali, tapi yang mengherankan ialah pelayan wanita berbaju hijau tadi, setelah membawa air teh untuk tetamunya sampai saat ini masih belum muncul lagi

Leng Bie Sian yang sudah benar- benar sadarkan diri dari mabuknya, melihat Cin Hong menggeletak ditanah, dengan sepasang matanya berputaran mengawasi dirinya segera mengetahui bahwa jalan darah pemuda itu sudah tertotok. maka buru-buru melompat menghampiri dan terus membuka totokannya, sementara mulutnya bertanya dengan pCrasaan Cemas: "Engko Hong, apakah sebetulnya yang telah terjadi?"

Cin Hong begitu terbuka totokannya, lantas bangkit dan menceritakan semua apa yang telah terjadi disitu. Leng Bie Sian^ berseru kaget, kemudian berpaling dan berkata kepada sepasang suami isteri Lo^hu-pay:

"Kha-toako, Pa-toaso, terima kasih atas bantuan kalian" Kha Gee San sedang bertempur menghadapi lawannya,

menjawab  sambil  tertawa^  "Jangan  sungkan,  kau  tahu

sewaktu di dalam rumah penjara rimba persilatan, harganya dua gelas air madu itu, masih jauh lebih berharga dari pada dua butir mutiara besar"

Leng Bie Sian tersenyum dan berkata pula, "Dengan cara apa kau menyadarkan diriku tadi?"

"Itu adalah sebotol obat yang terbuat dari otaknya naga yang kudapat dari negara Taylee, obat itu merupakan obat paling mujarab memunahkan segala macam racun dan orang mabuk" menjawab Kha Gee San.

"Kalau begitu, bolehkah kau pinjamkan kepadaku sebentar?" bertanya Leng Bie Sian sambil tertawa.

"Tidak bisa Kami dengan can-Sa-Sian dan It-hu Sianseng tidak ada hubungan apa apa" kata Pa cap Nio

"Sebelum aku memberikan kalian air madu itu, apakah diantara kita ada hubungan persahabatan?" tanya Leng Bie Sian sambil tersenyum.

"Ya, betul," berkata Kha Gee San, ia lalu mengeluarkan sebuah botol keCil dari dalam sakunya dan dilemparkan kepadanya, setelah itu ia lanjatkan pertempurannya dengan Nyonya rumah.

Leng Bie Sian setelah menyambut borol keCil dari tangan Kha Gee San bersama-sama Cin Hong berjalan menghampiri Can-sa-jie, lalu membuka tutup botolnya, tampak dalam botol itu ada bubuk berwarna putih, harumnya luar biasa, orang yang menclum baU itu, semangatnya seperti terbangun seketika,

Lebih dahulu ia mencium-cium sebentar, tiba-tiba berbangkis hingga waahnya merah semringah, ia buru-buru menutup lagi botolnya dan di tempelkan di lubang hidung Cin Hong, katanya sambil tertaWa:

"Coba kau juga berbangkis, maukah kau?"

Cin Hong berkata sambil tertaWa dan mendorong botol obat itu: "Jangan main- main, lekas sadarkan Saudara Can Sa-jie dulu"

Leng Bie Sian tidak mau menurut. Kembali disodorkan botol itu Kepada Cin Hong sambil katanya:

"Tidak. cobakau cium sebentar saja, benar- benar akan terasa nyaman"

Cin Hong tidak berdaya. terpaksa mencium juga. Bau harum yang keras sekali menusuk Kehidungnya, hingga ia juga lantaS berbangkis berjuang-ulang.

Leng Bie Sian yang menyaksikan itu terus cekikikan, barulah lubang botol itu di tempelkan di lubang hidung Can-sa-jie.

Tak lama kemudian dengan beruntun Can-sa-jie berbangkis dua kali, juga sadar dari mabuknya, setelah mengetahui sebab musababnya, ia lantas menjadi marah sekali, ia lantas lompat bangun hendak turut bertempur. Tapi Cin Hong sudah segera menarik tangannya dan berkata padanya sambil tertawa: "Jangan terburu napsu Saudara Can-sa, ceritakanlah dulu dengan cara bagaimana kau tadi dapat dibuat mabuk oleh Pangcu golongan Kalong?"

Wajah Can Sa-jie merah seketika, ia lalu ceritakan pengalamannya didalam rumah itu.

Kiranya, ketika ia tadi baru berada di atas genteng ruangan tamu, telah melihat di dalam ruangan itu ada sinar lampu, maka ia lalu tongolkan kepala untuk melihat keadaan dalamnya, tampak pangcu golongan Kalong sedang duduk di atas kursi dan menggapaikan tangan kemudian bertanya padanya ia berani masuk. oleh karena sudah dipergoki, Can Sa-jie terpaksa mengeraskan kepala untuk turun kebawah. Pangcu itu pertama-tama bertanya kepadanya, sudah larut malam seperti itu mengapa belum tidur. 0leh karena Can Sa-jie ada maksud hendak mencoba ilmu sihirnya ada betapa tinggi, maka lalu berkata padanya: "Jika kau bisa menidurkan aku, aku akan tidur."

Pangcu dari golongan Kalong lantas tersenyum dan suruh padanya melihat matanya. Setelah memandang mata Pangcu itu, apa yang terjadi selanjutnya, ia sudah tidak tahu sama sekali.

Cin Hong dan Leng Bie Sian yang mendengarkan cerita mendadak jadi tertawa terpingkal-pingkaL.

Can Sa-jie merasa malu, hingga unjukkan tawa getir sambil angkat pundak.

Tiga orang itu yang menonton dari samping jalannya pertempuran antara suami istri dari Lo-hu-pay. disatu pihak dan nyonya rumah dilain pihak, semua merasa bahwa gerak tipu ilmu silat nyonya rumah itu jauh lebih tinggi dari pada nenek berambut putih yang pernah diketemui digunung Bie ciong San, tetapi kekuatan tenaga dalamnya masih kalah jauh dengan nenek itu hingga menunjukkan gambaran yang tidak seimbang.

pada saat itu, Nyonya rumah tadi nampaknya  sudah letih sekali, keringat sudah membasahi jidat dan badannya, tetapi mengandalkan gerak tipunya yang aneh-aneh ia masih bisa juga bertahan hingga tidak sampai terkalahkan, keadaan itu sudah barang tentu lantaS membuat suami istri Lo-hu-pay ter-heran2, Pa Cap Nio yang sedang bertempur bertanya pada suaminya:

"Suamiku kepandaian ilmu Silat perempuan busuk ini benar- benar hebat, jikalau ia memiliki kekuatan tenaga dalam lebih bebat, barangkali orang seperti tetamu tidak dikenal dari luar daerah, masih bukan tandingannya"

"sekarang apakah kita perlu banuh mati padanya?" bertanya sang suami,

"Sudah tentu harus bunuh mati dulu dia. Kita sepasang suami isteri dari golongan Lo-hu-pay, sudah beberapa tahun tidak membunuh orang, kalau tidak dapat membunuh satu orang saja, bisa-bisa membuat orang yang melupakan nama kita" menjawab sang istri sambil tertawa.

"Kemarin di dalam rumah penjara kau berkata tidak memeriukan lagi segala nama baik, mengapa kau sekarang ingin mendapat nama lagi?" berkata sang isteri Sambil tertawa terbahak-bahak. .

Sang suami tidak menjawab, SepaSang tangannya terus mencecar lawannya hingga nyonya rumah itu menjadi kewalahan.

Ia hanya menyambut serangan mereka saja tanpa dapat balas menyerang, dengan susah payah tiba-tiba ia berseru:

"sepasang suami isteri Lo-hu-pay, tahukah kalian siapa aku ini?" "Kau tidak mau bicara, bagaimana aku tahu?" kata Kha Gee San sambil melancarkan dua kali serangan-

Nyonya rumah itu marah sekali, hingga wajahnya merah padam, selagi hendak membuka mulut lagi, dari luar kampung tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok, menandakan fajar telah menyingsing,

Sungguh aneh, Waktu mendengar suara ayam berkokok, wajah nyonya rumah mendadak berubah seketika, mulutnya mengeluarkan suara siulan nyaring, dengan secara nekad melancarkan dua kali serangan kepada lawannya hingga berhasil mendesak sepasang suami isteri itu mundur selangkah. Menggunakan kesempatan itu, bagaikan kilat cepatnya ia menerobos lari keluar dari dalam ruangan hingga sebentar kemudian sudah menghilang didalam kegelapan.

Sepasang suami istri itu benar- benar dibuat terkejut dan terheran-heran, mereka segera menghentikan serangannya, Sementara itu tiga anak muda yang sedang asik-asiknya menyaksikan jalannya pertempuran, Seolah-olah dipagut ular, bulu roma mereka pada berdiri, Can Sa-jie lantas berteriak-teriak.:

"Ya Allah Mendengar suara ayam berkokok lantas kabur, bukankah dia itu juga sebangsa setan?"

Pa Cap Nio dan Leng Bie Sian dua perempuan itu sudah ketakutan setengah mati sehingga wajah mereka pucat pasi, yang satu buru-buru lari memeluk suaminya, yang lain sudah menarik tangan Cin Hong sambil berseru tidak berhentinya: "Engkoh Hong. "

Sedang Pa Cap Nio lantas berkata kepada suaminya: "Kita ini seperti orang gila saja bertempur dengan setan

perempuan, sekarang bagaimana ini?" "Rasanya bukan Kalau dilihat ia seperti manusia hidup, sedikitpun tidak mirip dengan setan- . ." berkata sang suami sambil mengerutkan alisnya.

Cin Hong waktu itu telah dapat merasakan bahwa Leng Bie Sian yang berada di sampingnya, sudah menggigil tubuhnya. maka buru-buru mengulurkan tangannya menggenggam tangan gadis itu katanya sambil tersenyum: "Jangan takut, aku berani kata ia itu pasti bukanlah setan"

Leng Bie Sian yang tangannya digenggam oleh Cin Hong, dalam hatinya merasa sangat girang, menggigilnya antas lenyap seketika katanya sambil menundukkan kepala dan tertawa, "Kalau dia bukan setan, mengapa mendengar Suara kokok ayam lantas kabur?"

"Waktu itu memang dia justru hendak kabur, bukan disebabkan lantaran mendengar suara ayam berkokok" menerangkan Cin Hong sambil tertawa.

"Kukira bukan begitu Aku tadi melihat dengan jelas waktu ia mendengar suara kokok ayam, wajahnya lantas berubah mendadak. Seperii orang ketakutan"

Cin Hong tidak dapat menjelaskan, kalau teringat gadis itu setelah memanggil Engkoh Hong lantas tidak takut setan, hingga lalu menarik semakin dekat dan bisik-bisik ditelinganya.

"Taruhlah dia itu benar- benar setan, tetapi sekarang kau toh sudah tidak takut lagi, bukan?"

Leng Bie Sian menyahut: "Mh," dengan sikap kemalu- maluan menganggukkan kepala.

Can Sa-jie yang menyaksikan sikap mereka demikian mesra, dalam hati merasa tidak enak terhadap in-jie maka ia lalu berkata sambil tertawa dingin: "Cin Hong apakah kau sudah melupakan diri sumoayku?" Cin Hong yang ditegur demikian, tentu saja jadi terkejut, dalam hati mengeluh: "Ya benar. In-jie baik sekali perlakukan aku mana boleh aku berlaku begini mesra dengan Leng Bie Sian-...?"

Reaksi Leng Bie Sian lebih cepat daripada jalan pikiran Cin Hong. Dengan cepat ia sudah melepaskan tangannya dari genggaman tangan Cin Hong, berjalan kehadapan sepasang suami istri golongan Lo-hu yang lantas diberikannya kembali kepada Kha Gee San, Ia lalu berkata:

"Kha-toako, barang ini kukembalikan kepadamu"

Kha Gee San menyambuti botol kecil itu, dengan perasaan heran mengawasi Can Sa-jie, lalu menengok kepada Cin Hong, pada akhirnya ia berpaling dan berkata kepada Leng Bie Sian:

"Nona Leng, kau rupanya sudah salah menolong orang" Leng Bie Sian jadi cemas sendiri mendengar ucapan itu,

katanya Sambil membanting- banting kakinya, "Tidak. Kau

janganlah berkata yang bukan-bukan "

Kha Gee San tersenyum, berkata sambil menarik tangan istrinya: "Cap Nio, hari sudah hampir terang, marilah kita kembali kekamar menantikan kedatangan Pangcu "

"Ya, kita sudah bertempur setengah malaman, benar- benar tidak ada artinya" berkata Pa Cap Nio girang.

Keadaan mereka itu mirip sekali dengan sepasang suami istri yang belum lama menikah, dengan sikap mesra sekali mereka berdua bergandengan tangan berjalan keluar dari dalam ruangan-

Cin Hong dapat merasakan bahwa adat suami istri itu meskipun aneh, tetapi perbuatan mereka sedikit banyak masih boleh dipuji juga, ia pikir orang semacam ini telah menceburkan diri dalam golongan kalong, sesungguhnya sangat sayang, maka saat itu ia menjura dalam- dalam kepada mereka seraya berkata:

"Kha Tayhiap malam ini atas pertolongan dan bantuan tenaga Tayhiap berdua, aku merasa sangat bersyukur dan terima kasih banyak. bagaimana kalau kita beromong- omong dulu sebentar?"

Kha Gee San merandek. berpaling mengawasi Cin Hong sambil berkata: "Kau tak usah mengucapkan terima kasih apapun, kami toh bukan menolong kau"

Pa Cap Nio mengerutkan alisnya seolah-olah merasa sayang bahwa malam itu tidak bisa berlalu dengan baik, buru-buru menarik tangan suaminya, diajak berjalan lagi, Sementara mulutnya berkata: "Jangan banyak bicara"

Cin Hong buru-buru menyusul, kembali berkata sambil memberi hormat: "Aku hanya ingin bertanya sepatah kata saja boleh kah?"

Kha Gee San berhenti dan bertanya dengan nada marah: "Ada urusan apa?"

"Kha Thayhiap. sebelum kau menggabungkan diri dengan golongan Kalong, tahukah kau Pangcu golongan Kalong itu bagaimana orangnya?"

Kha Gee San tercengang, katanya sambil menggelengkan kepala: "Tidak tahu Apa kau tahu?"

"Menurut kata suhu, dia adalah seorang She Jie, nama Hong Hu. juga mempunyai nama lain, Biauw Kouw. Nama gelarnya Ho ong. Dia adalah Seorang wadam yang sangat cabul dan kejam sekali" Kha Gee San yang mendengar ucapan itu wajahnya berubah seketika, sesaat ia berdiri melongo, tiba-tiba bertanya dengan suara bengis^

"Benarkah ?"

"Tayhiap berdua sudah menjadi anggota golongan Kalong, urusan ini cepat atau lambat pasti akan tahu sendiri perlu. . .perlu apa aku harus membohong terhadapmU?"

Pa Cap Nio saat itu- juga berubah wajahnya, ia berkata dengan perasaan cemas sambil memegangi tangan suaminya:

"suamiku, kita sudah terpikat oleh akal iblis itu. Sekarang bagaimana?"

Kha Gee San untuk sesaat tampak tercengang, tiba-tiba mengayunkan tangannya dan menggampar pipi isterinya, katanya dengan suara menggeram:

"Semua karena gara-garamu perempuan busuk ini. Jika bukan lantaran kau yang selalu ribut-ribut dan menangis saja, mana mau aku terima permintaannya? Aku sebenarnya sudah tak mau ditolong keluar olehnya dari dalam penjara"

Pa Cap Nio menjerit kesakitan sambil mengelus-elus pipi kirinya, lalu menendang suaminya. sedang mulutnya berteriak-teriak sambil menangis: "Bagus Kalau berani pukul aku sekarang aku hendak adu jiwa denganmu"

Kha Gee San tidak balas memukul, juga tak menyingkir, ia berdiri terus membiarkan sang isteri menendangi sepuas- puasnya, sedang mulutnya berkata sambil tertawa "he. .he .

.he. .he. ..Tendanglah sepuas hatimu? Kalau kau menendang aku hingga tewas, biarlah kau hidup sebagai janda" Pa Cap Nio jadi tak berani menendang lagi, sebaliknya malah memeluk sang suami sambil menangis sedih.

"Siapa suruh kau pukul aku?" katanya. "Apa aku tahu kalau dia itu adalah Ho-ong. Kau ini benar- benar seorang lelaki yang tidak punya liangsim"

Sejenak Kha Gee San terdiam, lalu mendongakkan kepala dan menarik napas dalam-dalam, tangannya memeluk pinggang istrinya, lalu mengelus-elus rambut panjang isterinya, kemudian berkata:

"Baiklah. Taruh kata aku salah pukul, ini juga untuk pertama kali selama sepuluh tahun. Apakah kau lantas tak dapat memaafkan aku?"

Pa Cap Nio berhenti menangis lalu berkata dengan sedih: "Kita buron saja "

Kha Gee San berpikir sejenak. lalu berkata dengan tegas sambil menggelengkan kepala:

"Tidak bisa Sudah menerina baik permintaannya, mau tak mau harus mengikuti dia terus, Bagaimana pun juga toh tidak lain daripada haruS membunuh orang. Kita sebetulnya memang tidak takut membunuh^..."

Pa Cap Nio masih merasa takut, katanya:

"Akan tetapi dia adalah seorang wadam. Kabarnya sangat cabul dan kejam sekali. Barang kali dikemudian hari, diwaktu malam ia akan mendekati kau, sedangkan diwaktu siang ia tentu akan mendekati aku. Lalu bagaimana kalau sudah begitu ?"

Berkata sampai disitu, tiba-tiba seperti ingat sesuatu, wajahnya pucat seketika, katanya dengan suara perlahan- "Apakah orang tadi itu. "

"IHm" Baru ia bicara sampai setengahnya, diluar ruangan tiba- tiba terdengar suara dengusan yang keluar dari hidung. Seketika itu juga mata semua orang yang ada disitu lantas bertumbukan dengan seorang berwajah putih, tidak berkumis dan mengenakan pakaian berwarna emas, yang perlahan-lahan berjalan masuk kedalam ruangan-

Dia, bukan lain dari pada Pangcu golongan Kalong yang mengenakan kedok kulit manusia. Kha Gee San ketakutan, buru-buru menundukan kepala dan berkata sambil memberi hormat: "Pangcu Kau sudah kembali?"

Pangcu golongan Kalong itu hanya mengeluarkan suara dari hidung. Sepasang matanya lama memancarkan sinar tajam, memandang kepada Cin Hong bertiga secara bergiliran, lalu berpaling lagi dan berkata kepada Kha Gee San-"Kalian tidak tidur didalam kamar, perlu apa datang kemari?"

Kha Gee San menundukan kepala berdiam terus, sedang Pa Cap Nio saat itu lalu memberi hormat dan berkata sambil tertawa dibuat-buat.

"Pangcu didalam kampung ini ada sebangsa jin atau setan yang suka bikin ribut-ribut. Apa kau tahu juga ?"

"Kalau benar ada setan lalu kenapa? Apakah kalian takut?" kata Pangcu golongan kalong.

"Kami hanya keluar untuk melihat, lalu didalam ruangan ini telah berjumpa dengan seorang wanita, Dia mengatakan dirinya sebagai nyonya rumah dalam perkampungan ini. Kenalkah Pangcu dengan dia?" tanya Pa Cap Nio sambil menundukkan kepala.

"Dia memang nyonya rumah perkampungab ini.

Kenapa?" kata Pangcu dingin. Pa Cap Nio dengan perasaan takut melirik padanya sejenak. kemudian berkata lagi sambil menundukan kepala:

"Kami bertempur dengannya setengah malaman, ia benar hebat sekali. . ."

"Pa Tongcu, apakah maksudmu hendak mengatakan bahwa ia lebih lihay dari padaku?" tanya Pangcu golongan Kalong sambil tertawa dingin.

Pa Cap Nio menganggukkan kepala perlahan jawabnya^ "Ya, harap pangcu jangan marah. "

Pangcu golongan Kalong itu mendadak mendongakkan kepala dan tertawa besar, suara tertawanya itu demikian tajam, seolah-olah jarum menusuk telinga, sambil tertawa ia berkata:

"Berapa lama dia sudah bertempur dengan kalian?"

Pa Cap Nio tiba-tiba angkat muka dan berkata sambil tertawa:

"Barangkali ada dua ratus jurus lebih.Jika pangcu bertempur dengan kami barangkali tidak Sanggup bertahan sampai begitu lama"

Pangcu itu mendadak menggerakkan badannya melesat ketengah-tengah ruangan, ia lalu berdiri tegak, dan berkata dengan suara aneh:

"Mari Kalian berdua suami istri kalau sanggup menyambut seranganku sampai lima puluh jurus saja, aku akan segera membebaskan kalian, dan kalian boleh bebas menurut sesuka hatimu"

Pa Cap Nio sangat girang, ia berpaling dan berkata kepada suaminya: "Suamiku, mari kita minta petunjuk- petunjuk berharga dan pangcu. Maukah kau?" Kha Gee San dapat memahami makssd istrinya, tapi ia pura-pura tak senang, katanya: "Pa Cap Nio, Dihadapan pangcu, kau tidak boleh berlaku tak sopan"

Pangcu mengeluarkan suara tawa yang memekakkan telinga, katanya: "Tidak halangan Kita sebagai orang rimba persilatan, kalau satu sama lain mengadakan pertandingan untuk mempelajari ilmu silat, itu soal biasa. Kalian tentu saja tidak usah takut"

Kha Gee San yang mendengar ucapan itu juga tidak mau terus pura-pura merendahkan diri lagi, ia memberi isyarat pada isterinya agar siap. kedua-duanya setelah mengerahkan tenaganya, satu dikiri dan satu dikanan, perlahan-lahan menggeser kakinya, mendekati pangcu.

Pangcu dari golongan Kalong masih berdiri tenang tak bergerak, sikapnya benar-benar tenang, agaknya tak pandang mata suami isteri itu didalam mata pangcu itu, mereka berdua seolah-olah anak kecil yang tidak berarti.

Sepasang suami isteri berlaku sangat hati- hati. Mereka sekarang sudah tahu siapa adanya Pangcu golongan Kalong dihadapannya ini. Dia adalah Ho Ong Jie Hiong Hu yang namanya sangat kesohor. Hari ini dengan tenaga bersama mereka dan hendak menarik kemenangan dari padanya. benar-benar seperti orang edan sedang mimpi. Tetapi karena mengingat muncul nyonya perkampungan setan sampai dengan menghilangnya lagi dia waktu mendengar kokok ayam, membuat perasaan mereka penuh rasa curiga. Dengan lain perkataan, bila Pangcu golongan Kalong ini adalah jelmaan dari nyonya rumah tadi.

Suatu bukti bahwa desas desus diluar itu tidak benar adanya, juga tentang adanya kepandaian ilmu Silat Ho ong yang dahulu disohorkan itu dalam kenyataannya tidaklah terlalu menakutkan seperti apa yang digambarkan, bila keadaannya benar demikian, malam ini bukan saja dapat menyambut serangannya lima puluh jurus dan mendapatkan kembali kebebasannya, tetapi juga dapat membinasakan manusia dari golongan hitam yang merupakan manusia wadam yang beradat sangat kejam, hal ini juga merupakan suatu perbuatan baik, yang dapat menyingkirkan mahkluk kotor dari rimba persilatan.

Akan tetapi, kalau benar dia adalah nyonya rumah tadi, kepandaian ilmu silatnya jelas masih perlu disangsikan. Mengapa dia berani omong besar hendak menangkap sepasang suami isteri itu dalam lima puluh jurus?

Inilah yang merupakan prolem sangat sulit bagi mereka, juga merupakan satu hal yang membingungkan dan menakutkan, bilamana lawannya itu benar adalah Ho-ong, lima puluh jurus itu memang benar sekali sulit untuk dimenangkan dengan begitu saja.

Kini sepasang suami isteri itu dengan langkah berat selangkah demi selangkah mendekati Pangcu golongan kalong, mereka setiap kali menginjakan Kaki dilantai,  lantas tertampak jelas bekas jejak kaki mereka, suatu bukti bahwa mereka sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya kesekujur tubuhnya.Jadi namanya saja pertandingan persahabatan, tapi Sebetulnya diam-diam sudah mengandung dua maksud. Yang Satu ialah maksud hendak menyingkirkan sang Pangcu, yang lain ialah bertahan sedapat mungkin hingga lima puluh jurus, buat mendapatkan kebebasan mereka.

Suami isteri itu berjalan hingga terpisah kira-kira sejarak lima kaki didepan pangcu mereka. tiba -tiba keduanya dengan berbareng mengeluarkan bentakan keras, lalu disusul oleh serangan tangan mereka yang dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat. Yang satu mengarah bagian jalan darah dipinggang lawannya yang lain dengan dari tangannya hendak menotok bagian jalan darah dibawah pusar.

PANGCU golongan Kalong tidak membiarkan mereka melaksanakan maksudnya, bibirnya tersungging senyuman dingin, sedang tubuhnya berputar bagaikan terbang, dimana sepasang lengan jubahnya itu terbentang, lalu memancarkan sinarnya berkilauan, dengan gerakannya yang sangat aneh sekali, lengan jubah itu dikibaskan kepada kedua lawannya.

Sepasang suami isteri itu segera dapat merasakan bahwa tenaga lunak yang menyerbu mereka bukan saja sudah berhasil menggagalkan serangan mereka, malah diri mereka seolah-olah terangkat tinggi, dan hawa dingin yang menghembus keluar dari angin tadi, seolah-olah meresap kedalam tulang-tulang mereka, hingga badan mereka sampai menggigil, dan buru-buru lompat mundur,

Pangcu golongan kalong itu mengeluarkan suaranya yang aneh lalu menyergap Pa Cap Nio bagaikan burung elang menyergap ayam kecil yang dilakukan demikian cepatnya.

Pa Cap Nio terkejut dan menjerit, ia mengelakkan diri sambil lompat melesat, tetapi masih terlambat selangkah hingga baju bagian bahunya terobek sepotong. hingga tertampaklah lengannya yang putih.

Kha Gee San menampak istrinya dalam bahaya, sepasang matanya menjadi merah, mulutnya membentak^ tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, sudah menyergap Pangcu golongan kalong.

Selagi tubuhnya terapung ditengah udara, tangan dan kakinya bergerak dengan berbareng, sepasang tangannya telah melancarkan serangan dengan kekuatan tenaga dalam, sedangkan sepasang kakinya menendang kebagian jalan darah dibelakang punggung bawahnya, semua ini merupakan suatu serangan yang dilakukan secara nekad dan berani sekali.

Tetapi Pangcu golongan Kalong hanya menggeser sedikit kakinya, tangan kirinya membabat belakang tubuh Kha Gee San, sedang tangan kanan menyambar depan dada Pa Cap Nio, serangan itu dilakukan dengan cepat sekali.

Kedua pihak bertempur beberapa jurus, pertempuran itu lantas menjadi semacam pergumulan yang sengit, hanya hembusan angin serangan mereka yang menderu-deru, hampir tak dapat dibedakan dengan jelas siapa yang sedang terkena serangan-

Mereka bertempur sengit sekali. Leng Bie Sian yang melihat Can-sa-jie tidak memperhatikan dirinya, diam-diam menggeser dirinya mendekati Cin Hong, katanya sambil tersenyum:

"Engkoh Hong, tahukah kau mengapa sepasang suami istri itu hendak bertempur dengan Pangcu golongan Kalong?"

Cin Hoog takut gadis itu terlalu rapat hubungannya dengan dirinya. ingin memberikan ia sikap dingin tetapi ia tak dapat mengeraskan hatinya, terpaksa menjawab sambil tersenyum:

"Mereka hanya ingin mencoba dia itu apakah jelmaan dari nyonya rumah kampung setan ini atau bukan- Betul tidak?"

Leng Bie Sian menganggukkan kepala dan berkata sambil tersenyum:

"Menurut kau, dia itu nyonya rumah dari kampung setan ini atau bukan?" Cin Hong memperhatikan jalannya pertempuran, berkata sambil menggelengkan kepala.

"Sekarang masih belum diketahui, harus lihat dulu sepasang suami isteri itu bisa menangkan dia atau tidak ..."

"Jika kira-kira mereka tidak sanggup menyambut lima puluh jurus, kita harus segera kabur"

Cin Hong menganggukkan kepala, sedang mulutnya terus mulai menghitung^ "Sekarang sudah jurus ke empat puluh satu, empat puluh dua, empat puluh tiga...." Cuaca perlahan-lahan mulai terang.

Dalam ruangan tamu kampung setan itu, pertandingan antara Sepasang suami istri golongan Lo-hu-pay dan Pangcu golongan Kalong, juga Ssmakin lama semakin sengit.

orang hanya menampak berkelebatnya tiga sosok bayangan, yang sebentar melesat keatas sebentar turun, dan hembusan angin dari serangan mereka yang menimbulkan suara menderu-deru, seolah-olah sedang timbul angin puyuh.

Pertempuran berlangsung terus dengan sengitnya, sedikitpun tak mirip dengan pertandingan persahabatan, lebih mirip dengan pertempuran adu nyawa.

Serangan kedua pihak sama-sama keras, masing- masing keluarkan kebisaannya seolah-olah ingin membinas akan lawannya dengan sekali pukul.

Cin Hong terus memperhatikan jalannya pertempuran, sedang mulutnya terus menghitung dengan cepat,

"Empat puluh empat, empat puluh lima. "

Ketika ia menghitung sampai jurus yang ke empat puluh lima, dalam pertempuran itu tiba-tiba terdengar suara siulan panjang, kemudian disusul oleh dua kali suara seruan tertahan, lalu tampak sepasang suami isteri itu seolah-olah daun tertiup angin terbang kekanan dan kekiri, kemudian jatuh terguling di tanah, tampaknya mereka semUa sudah terluka parah, hingga tidak bisa bangun lagi.

Kejadian ini sungguh di luar dugaan Cin Hong bertiga, mereka tak mengira bahwa Kha Gee San yang namanya demikian kesohor, dengan istrinya yang juga memiliki ilmu tinggi ternyata tak sanggup menjambut serangan pangcu golongan Kalong lima puluh jurus saja. Dari sini telah dapat membuktikan bahwa dugaan mereka itu ternyata keliru seluruhnya, Pangcu golongan Kalong ini bukanlah nyonya rumah kampung setan yang menyamar, sebab perbedaan ilmu silat antara kedua orang ini sangatlah jauh sekali,

Akan tetapi ada beberapa bagian yang menimbulkan perasaan curiga, umpama kata Pangcu golongan Kalong itu adalah seorang Wadam, Kalau slang dia menjadi laki-laki, dan di dimalam hari berubah menjadi Wanita.

Selama semalam ini, kemana saja perginya Si Pangcu yang seharusnya sudah menjadi wanita? Dan pada slang ini, karena itu nyonya yang mengaku sebagai pemilik rumah itu? Apakah suatu kejadian kebetulan, setelah perempuan itu kabur baru muncul Pangcu golongan Kalong?

Pertanyaan itu terus berputaran di dalam otak Cin Hong, Leng Bie Sian yang berdiri di sampingnya diam-diam sudah menarik ujung bajunya dan berkata dengan suara perlahan-

"Engkoh Hong, lekas pergi"

Cin Hong mengawasi sepasang suami isteri yang rebah menggeletak di tanah, setelah sangsi sejenak lalu berkata: "Tidak Suami isteri itu tadi pernah membantu kita memukul mundur nyonya rumah kampung ini. Mana boleh kita kabur begitu saja tanpa menghiraukan keselamatan mereka?"

"Mereka tidak sanggup menyambut lima puluh jurus serangan Pangcu-jadi masih harus menurut perintahnya, tetap menjadi anak buanya. Tapi, kita harus melarikan diri. Tidak ada perlunya lama-lama berdiam disini," kata Leng Bie Sian cemas.

Cin Hong masih ragu2, tampak pangcu itu seolah-olah tidak pernah terjadi apa- apa, ia merapikan pakaiannya, kemudian berkata sambil tertawa ringan: "Kha Tongcu, aku toh belum memukul kau Sampai mati bukan?"

Kha Gee San dengan kedua tangannya menunjang tanah, perlahan-lahan bangkit dan duduk. wajahnya berkeringat memaksakan tertawa, kemudian berkata: "Tidak apa- apa. Tapi bagaimana dengan istriku itu?"

Pa Cap Nio juga dengan perlahan-lahan bangkit dan duduk. Katanya dengan merintih: "Aku tidak apa- apa, hanya tulang iga kiriku telah patah satu. Kau bagaimana?"

Sang suami diam saja. Jikalau bukan dihadapan Pangcunya, jikalau bukan lantatan isterinya kemarin terus menangis dan ribut-ribut minta pertolongan Pangcu keluar dari rumah penjara, mau rasanya ia menghardik orang berpakaian emas itu dengan kata- kata pedas.

Akan tetapi kini, kecuali menahan segala hinaan dan berlaku sabar. apa yang bisa diperbuatnya? Apakah ia juga harus berkata: "Yah, aku juga sama denganmu, tulang iga kiriku patah satu" Pangcu golongan kalong mengawasi suami iStri itu sejenak. dengan perasaan girang mengangkat pundak. lalu katanya:

"Mungkin aku turun tangan agak berat sedikit, tetapi kalian toh tidak akan membenciku lantaran ini bukan?"

Kha Gee San memaksakan diri untuk berdiri, Katanya sambil tertawa masam:

"Sudah tentu tidak Bila keadaan dibalik, kami suami istri yang menang, kamipasti akan menurunkan tangan lebih berat dari pada Pangcu."

Pangcu golongan Kalong tertawa besar, kemudian berkata:

"Baik. urusan ini kita habiskan sampai disini saja. Hanya ada satu hal, Congcu berdua selanjutnya dihadapanku jangan mengatakan 'kami suami isteri' harus menyebut diri hamba.Sudah mengerti?"

Wajah Kha Gee San menjadi suram, jawabnya sambil memberi hormat: "Ya, Pangcu. "

Pa Cap Nio saat itu sudah mengucurkan air mata, katanya dengan suara terisak-isak:

"Suamiku, selewatnya hari ini, kau hendak pukul aku mau memaki aku terserah kepadamu. aku tidak akan membalaS atau menendangmu."

Leng Bie sian kembali menarik ujung baju Cin Hong, katanya dengan suara perlahan tetapi cemas:

"Kau lihat, mengapa tidak lekas lari."

Cin Hong juga merasakan bahwa tidak boleh tidak ia harus lari, maka lantas berkata kepada Can Sa-jie: "Saudara Can-sa, lekas jalan" Kemudian ia memutar tubuhnya dan lari menuju kepintu ruangan.

Tetapi baru saja mereka lari keambang pintu, pangcu golongan Kalong itu sudah mendahului berdiri di tengah- tengah, menghalangi mereka. Leng Bie Sian buru-buru maju kedepan Cin Hong, bentaknya: "Jie Hong Hu Kau mau apa?"

Mata Pangcu golongan Kalong terus menatap wajah Cin Hong,jawabnya dengan suara dingin:

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahan bocah she Cin ini ada hubungan apa dengan kalian guru dan murid? Mengapa ia biSa bermalam di kediaman Laucu rumah penjara sampai lima hari lamanya?"

"Ia melukiskan sebuah gambar orang untuk suhu. Suhu senang kepadanya, itulah hubungannya." berkata Leng Bie Sian sambil tertawa.

"oh Melukis gambar siapa?" bertanya pula Pangcu golongan Kalong. Leng Bie Sian menggelengkan kepala dan berkata^

"Hal ini tak ada hubungannya dengan mu. aku tak akan memberitahukan padamu."

Wajah Pangcu golongan kalong yang mengenakan kedok kulit manusia tampak bergerak sebentar, Sepasang matanya mengawasi bergiliran kepada anak muda dihadapannya, terakhir ia menatap Leng Bie Sian tajam-tajam lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Hari ini kalau aku turun tangan membinasakan kalian bertiga, aku pikir Suhumu tidak akan tahu. Betul tidak?"

"Ya, itu memang benar? Tapi aku tahu kau tidak akan berbuat demikian-" berkata Leng Bie Sian sambil tertawa manis. Pangcu golongan Kalong tercengang, tanyanya^ "Apa katamu ?"

"Kau adalah seorang Pangcu yang mempunyai kedudukan, sudah tentu suka turun tangan sendiri membinasakan kami tiga orang anak-anak ini. Lagipula orang itu didalam rimba persilatan juga hanya kau seorang yang bisa membinasakan diriku, hal ini tidak susah bagi suhu untuk menduga kepada dirimu" berkata Leng Bie Sian sambil tertawa.

Pangcu golongan Kalong mendongakan kepala dan tertawa besar, kemudian berkata: "Kedudukan Pangcu bagiku bukanlah kedudukan yang baik, Setelah aku membinasakan kalian, sudah tentu aku akan hancurkan tubuh kalian sampai tidak ada bekas-bekasnya. Kalau Suhumu tidak mendapatkan barang-barang bukti, ia bisa berbuat apa terhadap diriku ?"

Baru saja menutup mulut, dari luar ruangan tamu, diatas genteng yang agak jauh, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang sangat jelas kedengarannya: "Jie Hiong Hu, jikalau kau membinasakan mereka, buktinya ada disini "

Cin Hong menengok kearah datangnya suara itu, tampak diatas genteng rUmah yang jauh jaraknya, berkelebat sesosok bayangan putih dan menghilang dalam waktu sekejap mata.

Pangcu golongan Kalong menunjukkan sikap terkejut, sepasang matanya segera memancarkan sinar buas, ia menggeram hebat, kemudian badannya meluncur tinggi bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya, sebentar saja sudah menghilang dari pemandangan-

Ditengah udara terdengar suara kata- katanya yang dibarengi dengan suaranya yang menyeramkan: "Heh,  heh.

. Kau adakah tamu tak dikenal dari luar daerah yang palsu? jangan lari kalau kau berani? tunggulah kedatanganku "

Suara itu demikian hebat, semakin lama semakin jauh. . . .

Cin Hong terkejut mendengar ucapan pangcu tadi, lalu berpaling dan bertanya kepada Can Sa-jie:

"Saudara Can Sa, Siapa yang dimaksudkan oleh Pangcu sebagai tamu tidak diundang dari luar daerah tadi?"

"Barangkali adalah orang yang kau jumpai di kelenteng bobrok dahulu itu" menjawab Can Sa-jie sambil tertawa,

"Bagaimana ia itu bisa palsu?" tanya pula Cin Hong dengan sikap heran-

"Siapa yang tahu? Mari kita susul mereka dan lihat" berkata Can-sa-jie sambil menggelengkan kepala.

Leng Bie Sian berpaling dan berkata padanya: "Kita  tidak dapat mengejar mereka. Menurut aku, baiknya kita lekas berlalu dari sini saja."

Cin Hong juga merasa bahwa ada lebih baik menyingkir dari kampung setan itu lebih dahulu. Begitulah, tiga orang itu lalu meninggalkan ruangan tamu dengan tergesa-gesa dan lari menuju keluar kampung.

Ketika mereka melalui sebuah bangunan yang mirip dengan gudang, tiba-tiba menampak pelayan wanita berbaju hijau yang tadi malam mengyuguhkan air teh diruang tamu sedang berjongkok dibawah tembok. dihadapannya terdapat tiga belas kepala tengkorak manusia.

Yang lebih mengherankan ialah ia sudah menggigit sendiri jari lengannya, dengan darahnya yang mengetel keluar dari jari tangannya, meneteskan diatas setiap kepala tengkorak itu, tetesan darah itu ada yang terjatuh dibagian hidung, ada yang mengalir dibagian pipi yang lengok, keadaannya sangat menyeramkan- Pelayan wanita itu ketika menampak Cin Hong bertiga muncul secara tiba-tiba, lantas lompat melesat dan lari menuju kedalam perkampungan, sebentar kemudian ia menikung kesudut bangunan rumah dan lantaS menghilang.

Cin Hong yang menyaksikan kejadian aneh itu merasa terheran-heran, ia merandek dan berkata: "Hei, perempuan itu sedang berbuat apa disini?"

Selagi Can-sa-jie hendak mengejar untuk menanyakan sebab-sebabnya, Leng Bie Sian buru-buru mencegahnya seraya berkata, "Saudara Can sa, jangan mencari urusan lagi"