Tangan Berbisa Jilid 04

 
Jilid 04

"Aku bisa, dan kau sendiri gemar minum arak atau tidak? "

"Tidak.jika kadang-kadang ketemu. harus minum dalam perjamuan, hanya minum sedikit saja"

"Bohong, kemarin malam kalian empat cai-cu dari daerah Kang Lam telah minum diatas perahu sehingga mabok"

"Itulah mereka, Sedangkan aku tidak.” “Hei, Cin Hong “

“Emm " "Apabila kita tak berhasil mencandak Suhu, lalu bagaimana? "

"Kita melatih kepandaian ilmu kita, untuk digunakan menggempur rumah penjara rimba persilatan, lalu menolong keluar mereka semua orang golongan putih “

“Waktu itu apakah aku masih berdiri satu garis denganmu? ”

“coba kau katakan sendiri, bagaimana? "

"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu. Ayah ibuku semua sudah mati terbunuh.”

“Aaa, Siapakah yang membunuhnya ...,? "

"Aku tidak tahu, aku telah ditolong oleh suhu dari sebuah kereta kuda yang terbalik, WaktU itu aku baru berumur dua tahun. "

"TaK dapat menemukan asal-usul musuhmu? "

"Tidak. Menurut dugaan suhu. ayah ibuku adalah kaum pedagang yang kaya raya, dan dalam perjalanannya menuju kelain kota telah dibegal oleh brandal dan kemudian dibunuh mati."

"Ai Kawanan berandal itu sesungguhnya terlalu kejam sekali"

"Kelak pada suatu hari. apabila aku dapat menemukan, aku akan bunuh mati mereka"

"Menuntut balas bagi ayah dan ibu itulah suatu kewajiban dan suatu hal yang seharusnya.”

“Cin Hong " "Em " "Apabila kita tak dapat mencandak Suhu kau lukiskan lagi gambar potretku. Maukah kau? ”

“Untuk apa? "

"Suhu yang menghendaki.” “oo, baiklah "

"Lukisanmu sungguh bagus “ “Mana? Kau terlalu memuji."

"Beritahukan kepadaku, malam itu meng apa kau melukis gambarku? ”

“Tak enak ah, kalau aku katakan sebabnya.” “Tak apa, katakanlah "

"Waktu pertama kali aku melihatmu. . . . IHai, lekas lihatlah Didepan itu bukankah ada seekor kuda? "

“Hei, iya. Betul seekor kuda"

"Apakah bukan kuda kita yang hilang itu? " "Mari lekas kita kejar "

"Baik "

Mereka lalu melarikan kudanya, dan dalam waktu sekejap mata sudah berhasil mencandak kuda didepannya. Begitu dilihatnya, memang betul adalah kuda mereka yang hilang itu. Tetapi waktu itu diatas kuda ada duduk seorang pemuda berpakaian mesum, agaknya sedang menikmati pemandangan malam.

Pemuda itu tampaknya sangat tenang Sekali. Dia, dengan wajahnya yang mesum, rambutnya yang acak- acakan, bukan lain dari pada murid pangcu golongan pengemis yang tersayang, yang menyebut dirinya sendiri sebagai can Sa Jie. Cin Hong sesangguhnya merasa diluar dugaan itu buru- buru menghentikan kudanya dan memanggil2nya dengan perasaan girang: "Saudara can Sa, kiranya kau yang mempermainkan kita^"

Sepasang mata can Sa Jie yang sudah besar semakin terbuka lebar, ia berkata sambil tertaWa aneh^ "Iya Dengan uang juga tak bisa membeli permainan yang menggairahkan ini"

In-jie marah, lantas memaki-maki padanya: "Maling kuda Tidak tahu malu"

can Sa jie mengawasi In-jie dengan matta menyipit, katanya dengan ketawa CeCengesan. "Kau seharusnya menambah kata kau yang baik hati dibawah kata-katamu Maling Kuda, bukankah begitu? "

sepasang pipi In-jie menjadi merah, katanya: "cis Turun, Aku hendak memotong pahamu"

can Sa Jie kembali tertawa mengejek dan berkata: "Sebaliknya biarlah tetap begini saja, aku can Sa Jie sekarang mendapat kesempatan menunggang kuda, sedangkan kalian juga jarang dapat kesempatan menunggang seekor kuda bersama-sama, bukankah begitu? "

In-jie sebetulnya memang merasa berat turun dari kudanya, maka lantas tertawa dan kemudian menepok pantat kudanya seraya berkata. "Jalan Kita jangan berjalan bersama-sama dia" ^

Cin Hong menurut dan mulai memaCu kudanya lagi. cin Sa Jie mengikuti dibelakang, katanya Sambil tertawa: "cin Bong kau sikeledai ini sebentar saja sudah terpikat olehnya"

Cin Hong lantas menjadi merah wajahnya ia berpaling dan berkata pada in-jie dengan Suara pelahan: "Sungguh tidak enak didengarnya. Kita tunggu saja dia "

In-jie tak menurut, ia berpaling dan berkata, "Dia paling menjemukan, suka sekali menggoda orang "

"Kau berlagak tabah, dia tidak akan menggoda lagi"

can Sa Jie menunggang kuda seorang diri bisa lari lebih Cepat, dalam Waktu singkat Sudah berhasil menyusul Cin Hong dan in-jie, kemudian kembali berkata sambil tertawa Cengar-Cengir^ "Sudah lama aku melihat dan mendengar. Kini engkau merasa malu apa gunanya? "

In-jie membusungkan dadanya, katanya dengan sikap berani^ "Pergi kau Siapa yang malu? "

can Sa Jie kaget. katanya heran: "Hah, bagaimana kau berubah demikian cepat? "

In-jie angkat muka, katanya dengan sikap menantang: "Kenapa? "

can Sa Jie menyaksikan gadis itu sudah tak malu-malu lagi, ia merasa kurang senang, terpaksa tertawa saja sambil angkat pundak^ dan kini benar-benar tidak menggoda lagi.

Cin Hong lalu berpaling kepada In-jie dan tersenyum puas, kemudian berpaling dan berkata pada Can Sa-jie, "Saudara Can Sa-jie, bagaimana kalau kau juga jalan bersama-sama kita? "

Can Sa-jie menganggukan kepala dan balas bertanya: "Em, senangkah kalian kalau aku ikut? "

"Mengapa tidak? " Berkata Cin Hong..

In-jie lantas berkata^ "Kalau hendak berjalan bersama- sama kau harus berlaku sedikit tahu aturan " can Sa Jie berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa^ "Ya, aku can Sa Jie tahu aturan, tidak akan merintangi ketenangan kalian"

Wajah In-jie kembali merah, Sambil menepuk pinggul Cin Hong ia berkata: "Kau dengar apa yang diucapkan itu? "

Cin Hong hanya tertawa, lalu bertanya pada can Sa Jie: "Saudara can Sa, orang tua berbaju hijau yang kau kejar tadi bagaimana? Kau berhasil menyandaknya atau tidak? "

"Tidak^ aku menemukan suatu kejadian aneh, kemudian aku balik kemhali kerumah makan itu, baru tahu bahwa kalian sudah tak ada disana, hingga aku mengejar sampai disini. Ketika aku tiba, justeru kudengar kata-kata dari Liu KWie-hui itu yang mengatakan bahwa orang tua berbaju hijau itu adalah tamu tidak diundang dari dunia luar." berkata can Sa jie sambil menggelengkan kepala.

"Kau lihat orang berbaju putih dimukanya itu betul tamu tidak diundang diri dunia luar yang tulen atau bukan? " Bertanya pula Cin Hong.

"Siapa tahu? Sekarang terpaksa panggil saja tamu yang tidak di undang dari dunia luar sudah cukup" menjawab cin Sa Jie sambil menggelengkan kepala kembali.

"Kau tadi mengatakan telah menemukan kejadian aneh.

Apakah sebetulnya itu? " bertanya In-jie.

can Sa Jie pura-pura berlaku misterius, katanya sambil tertawa^ "Itu adalah suatu kejadian aneh yang sangat unik "

In-jie merasa heran. mendesak dia supaya lekas menerangkan: "coba ceritakanlah"

can Sa Jie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: "Baiklah, tetapi ada syaratnya" "Apa syaratnya? " bertanya In-jie heran-"Bantu aku menolong seseorang." berkata can Sa Jie sungguh-sungguh.

In-jie melengak. ia berpikir sebentar, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala: "Kita hendak menyusul suhu, tak ada tempo"

can Sa Jie buru-buru memberi penjelasan: "Sekalipun jalan saja. Jikalau kita urus baik-baik, setengah jam juga cukup"

Cin Hong yang sejak tadi diam saja lantas berkata: "Sebetulnya siapa yang hendak kau tolong? "

can Sa Jie kembali unjukkan Sifatnya yang nakal, katanya sambil tertaWa: "Kalau kau terima baik dulu permintaanku mau membantu, aku baru beritahu kepadamu."

In-jie yang terdorong oleh perasaan heran lantas berkata: "Kau katakan dulu, orang yang hendak kau tolong itu orang baik ataukah orang jahat? "

"Jika kita turun tangan menolong dia, dia adalah orang baik, jika kita tidak turun tangan menolong dia, dia nanti akan berubah menjadi orang jahat" berkata can Sa Jie sambil tersenyum.

Setelah mendengar keterangan itu jari tangan In-jie menowel punggung Cin Hong seraya berkata^ "Kau bagaimana."

"Aku tentunya baik, dan kau? " menjawab Cin Hong girang.

In-jie lalu berkata kepada can Sa Jie, "Aku juga terima baik. Sekarang katakanlah"

can Sa Jie mengangkat tangannya membereskan rambutnya yang awut-awutan, kemudian baru berkata: "Soalnya begini, setelah aku mengejar orang tua berbaju hijau dari rumah makan, pelajar berbaju putih dan orang tua berbaju hijau sudah taK nampak lag bayangannya. Kupikir mereka mungkin menghilang keluar kota, maka aku lantas mengejar keluar kota, tak kuduga, setelah aku melakukan perjalanan sepuluh pal lebih, tetap tak menemukan jejak mereka, selagi hendak kembali untuk mencari kalian, dengan tiba-tiba dirimba ditepi jalan kudengar suara cici-cuca? "

In-jie lantas memotong dan berkata: "DiwaktU datang, tahu banyak burung-burung berterbangan untuk pulang kesarangnya^ sudah tentu terdengar suara ribut-ribut. Apa yang dibuat heran? "

"Bukan, yang kumaksudkan ialah suara seorang wanita." berkata can Sa Jie.

Muka in-jie menjadi merah, katanya: "Kau gila, Siapa suruh kau membandingkan suara wanita dengan suara burung? "

can Sa Jie menggaruk-garuk telinganya dan berkata sambil tertawa meringis: "Aku hanya berkata Cici CaCa, tak menggambarkan wanita sebagai burung."

Cin Hong merasa geli, katanya tertawa: "Lekas kau Ceritakan lagi"

In-jie lantas berkata: "Sudahlah jangan ceritakan, tentunya perempuan baik-baik."

Sikap can Sa Jie dengan tiba-tiba menjadi serius, katanya dengan sungguh-sungguh: "ini adalah suatu perampokan yang belum pernah ada dalam sejarah, bagaimana tidak boleh diceriterakan? "

Cin Hong terkejut, katanya^ "Apa katamu? " "Waktu itu, ketika kudengar suara tersebut, dalan hati timbul Curiga. Dalam hatiku bertanya-tanya sendiri, dari mana ada demikian banyak perempuan? oleh karena tertarik oleh perasaan heran, maka diam-diam aku menyusup ke dalam rimba untuk menyaksikan, Heh Hebat benar pemandangan" berkata can Sa Jie sambil menghela napas.

In-jie lalu bertanya dengan peraSaan Cemas^ "Ada berapa orang jumlahnya? "

can Sa Jie mengulurkan jari tangan kanannya. katanya sambil tertawa^ "Delapan, mereka telah duduk menjadi Sebuah lingkaran-Usiaya kira-kira tujuh belas tahun delapan belas tahunan, semuanya Cantik bagaikan bidadari. Ada yang gemuk ada yang kurus, kita yang berada disitu seolah-olah berada dikalangan bidadari. ”

“ciS, tidak beres otakmu" Demikian in-jie nyeletuk. Tetapi  can  Sa  Jie  tidak  marah,  ia  masih melanjutkan

Ceritanya^  "Apa  yang  paling  mengejutkan  ialah  setiap

orang semuanya memiliki kepandaian ilmu silat, bahkan mereka saling menyebutkan .... Go moy, pat moy dan sebagainya, kupikir jika ada satu keluarga mempunyai delapan anak perempuan, ini tidak heran, tetapi usia mereka semuanya sebaya, inilah yang mengherankan bagiku, apakah didalam dunia ini ada orang yang sekaligus melahirkan delapan anak kembar perempuan? "

"Apakah wajah mereka satu sama lain sangatt mirip? " Bicaranya in-jie heran-

"Tidak. wajah mereka ada yang bulat ada yang bundar telur, ada pula yang seperti biji kwaCi, ada  juga yang "

Berkata can Sa Jie sambil menggelengkan kepala. In-jie kembali tertawa: "Itupasti adalah saudara angkat, begini Saja kau masih tidak mengerti, benar-benar seperti katak didalam sumur"

"Waktu itu aku pikir juga begitu, tetapi dengan tiba2 kudengar satu diantaranya mengucapkan kata2 yang membuatku bergidik"

"Apa yang dikatakan? " Bertanya In-jie agak heran.

"Dia kata^ ^Kita dua belas kiongcu (putri) sudah ada lima orang yang hampir menyelesaikan tugasnya. Hanya tinggal kita tujuh orang, jikalau tidak lekas2 kita  menangkap seseorang, nanti Kiong (baginda raja) kalau menegornya benar2 runyam." Kalian dengar apa maksud ucapan mereka itu? " Tanya can Sa Jie sambil tertawa.

Cin Hong berkata dengan perasaan kaget: "Tadi orang berbaju putih yang memakai kerudung dimukanya yang mengaku diri sebagai tamu tak diundang dari dunia luar juga pernah berkata tentang dua belas putri dari golongan kalong yang diutus untuk melakukan perbuatan jahat diluaran? "

can Sa Jie mengangguk2kan kepala dan berkata sambil tertawa: "Benar, mereka diutus keluar untuk memancing kaum lelaki. Kalian pikir, siapakah orang yang hendak mereka pancing? Heh Kudengar salah seorang dari mereka itu lantas berseru "Akulah yang palirg sial, karena diutus pergi kegereja Siau-liem-sie, coba kalian pikir partay Siauw- liem semuanya terdiri dari orang-orang berkepala gundul, mereka kalau melihat aku saja sudah memejamkan  matanya memuji nama Buddha. Apa o-mitohudlah Apa siancaylah benar-benar membuat orang tidak berdaya, dan aku benar-benar sangat cemas Sekali." Cin Hong tiba-tiba berseru kaget, "Aii Kalau begitu mereka hendak memancing generasi mudadari dua belas partay dalam rimba persilatan? "

"Sedikitpun tidak salah. dari pembicaraan mereka aku sudah tahu, bahwa partay ciong-lam, Kiong-lay, Lam-hay, oey San dan HOa San masing-masing sudah ada seorang murid yang terpikat oleh keCantikan mereka, masih ada satu lagi juga hampir terpancing oleh mereka" Berkata can Sa Jie.

"Apakah maksud mereka berbuat demikian? " Bertanya Cin Hong sambil mengerutkan alisnya.

"Entahlah, tetapi apa kau tadi tidak dengar tamu tidak diundang dari dunia luar pernah berkata, bahwa itu adalah rencana keji golongan kalong? Pemuda murid ketua Thian- sanpay Yap Kiam Eng.justru karena mengetahui rencana keji mereka dibunuh seCara mengenaskan"

In-jie seolah-olah takut kalau Cin Hong juga akan terpancing oleh mereka, maka tanpa disadari lantas mengulur tangannya dan memegangi pundaknya, ia bertanya dengan perasaan takut: "Kau katakan, siapakah seorang lagi yang hendak dipancing itu."

"Dia adalah seorang angkatan muda dari partai Khong Tong Pay yang mempunyai julukan pendekar baju biru, Nia Khun juga adalah orang yang sekarang hendak kita tolong itu," Berkata can SanJie Sambil menghela napas.

"Bagaimana dengan dia? " Bertanya Cin Hong Cemas. "Dia sudah terpikat oleh cit kiongcu dari dua belas putri

itu,   dua   orang   itu   sudah   berjanji   malam   ini   akan

mengadakan pertemuan di-telaga cui Sin ouw dibukit Tong- san, itulah yang kudengar dari pembicaraan mereka dari rimba itu." Berkata can Sa Jie. In-jie kedipkan matanya, tanya nya dengan perasaan bingung: "Mereka mengadakan perjanjian, sebetulnya untuk apa? "

can Sa Jie mendadak merasa sulit untuk menjawab, maka berkata sekenanya: "Barangkali hendak membujuk pendekar baju biru itu. melakukan, perbuatan mesum."

Cin Hong tahu bahwa perbuatan mesum itu jikalau tidak lekas dicegah, akan membuat seorang pemuda tak dapat mengendalikan perasaannya terjerumuS kedalam comberan, maka ia lantas berkata: "Saudara can Sa, gunung Tong San itu terpisah beberapa-jauh dari sini? "

can Sa Jie menunjuk kedepan, kesalah satu gunung yang tampaknva tidak jauh, lantaS kerpak kudanya dan lari kedepan seraya berkata: "Gunung didepan itulah, kita lekaS sedikit, jika tidak^, nanti tidak keburu lagi"

Cin Hong juga segera memaCu kudanya mengikuti dibelakang can Sa Jie, dua kuda itu dilarikan dengan cepat.

Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di bawah kaki gunung. Tiga orang itu lalu menambat kuda masing-masing di dalam rimba. baru keluar dengan berjalan kaki, Selagi hendak mendaki gunung..

Tiba-tiba di bawah sinar bulan yang samar-samar, di tempat sejauh tiga tombak telah, muncul enam orang wanita yang cantiK bagaikan bidadari, setiap orang membawa sebilah belati berkilauan, mengurung tiga orang itu Ketengah-tengah mereka meskipun masing-masing pada membawa senjata tajam, akan tetapi wajah mereka semuanya cantik menariK, apa lagi mata mereka, dengan penuh daya penarik ditujukan kepada Cin Hong seorang, seolan-olah asal salah Seorang mengeluarkan perintah, lantas menari-nari. Cin Hong diam-diam merasa merinding tetapi matanya juga merasa agak kabur, ia geser kakinya, merapat kediri can Sa Jie dan berkata dengan suara pelahan^ "Saudara can Sa, nona inikah yang pernah kau lihat? "

can Sa Jie menganggukkan kepala, katanya dengan suara pelahan^ "Kau jangan sebut mereka nona, dengan begitu terlalu merendahkan diri sendiri”

“ooo, apakah harus berkelahi? " bertanya pula Cin Hong. "Jika tidak. apakah harus mengobrol dengan mereka? "

menjawab can Sa Jie.

Alis Cin Hong di Kerutkan, ia berkata dengan rasa ragu: "Berkelahi dengan orang perempuan, aku selalu merasa segan. "

can Sa Jie buka lebar sepasang matanya, katanya heran: “Ha, jadi kau tak berani berkelahi dengan orang perempuan? "

"Bukan aku tak berani, aku selalu merasa bahwa lelaki yang baik, tidak mau berkelahi dengan orang perempuan, bujuk saja mereka sudah cukup," berKata Cin Hong.

can Sa Jie menggelengkan kepalanya dan berkata: "Tidak^ terhadap perempuan bangsa siluman Seperti ini, kalau kita berkata demikian, iiu bukan pada tempatnya, pikiran semaCam ini perlu harus segera dirubah"

Cin Hong merasa tak enak, ia hanya bisa tertawa-tawa saja, lalu mendorongnya kedepan dan berkata: "Baiklah, kau coba bicara dulu dengan mereka, sebaiknya jangan sampai berlaku kasar, kita berunding  secara  baik-baik  Saja. ^"

can Sa Jie membereskan rambutnya yang awut-awutan, ia berjalan maju Selangkah, mengulurkan tangannya menuding enam perempuan Siluman, katanya dengan suara aneh: "Hai, kalian enam perempuan Siluman Apa maksudnya mondar-mandir di gunung ini? Sekarang salah seorang dari kalian boleh keluar untuk menjawab pertanyaanku can Sa Jie."

Tetapi enam perempuan itu seolah-olah tidak dengar dan tidak melihat, mereka masih tetap bergoyang pinggul sambil tertawa.

can Sa Jie marah sekali, bentaknya: "Pui Kalau kau masih goyang-pinggul lagi, tuan mudamU terpaksa nanti akan menggamparmu semua"

In-jie juga merasa sebel, bentaknya sambil menuding jari tangannya^ "Sungguh tidak tahu malu Kalau kamu berani bergerak lagi, aku nanti terpaksa akan melakukan pembunuhan"

Namun enam perempuan genit itu tidak menghiraukan, mereka masih terus goyang pinggul sambil mendekati Cin Hong, sambil main mata.

Cin Hong merasakan gelagat tidak beres, maka juga lantas membuka mulut: "IHei, kalian enam nona ini apakah maksud kalian berbuat seperti ini? "

Enam perempuan itu ketika mendengar ucapan Cin Hong, dengan serentak berhenti bergerak, seorang diantaranya yang mengenakan gaun warna merah lantas berkata Sambil tertawa geli: "Sudahlah akhirnya ia toh buka mulut juga? "

Seorang perempuan lain yang mengenakan gaun hijau lalu menyambung: "Hi hli, betapa indah suaranya"

seorang lagi ikut menyela: "Kalian lihat, wajah dia menjadi merah" Cin Hong terperanjat, dalam hati berpikir, "perempuan- perempuan ini meng apa hanya tujukan perhatiannya kepadaku ini seorang saja, hal ini bagaimana boleh berlangsung terus? "

Maka ia lantas mundur kebelakang Can Sa Jie, dan berkata lagi: "Saudara Can Sa, mereka kini sudah buka mulut. harap kau berunding dengan mereka, tapi, sedapat mungkin nasehati saja kepada mereka. "

Can Sa Jie terpaksa maju setengah lagi, dengan mata melotot memandang mereka, katanya dengan suara keras: "Kalian perempuan-perempuan Siluman ini, aku tahu salah seorang diantara kalian yang dinamakan apa itu Cit Kiong- cu, pada saat ini sedang melakukan perbuatan mesum dengan Nie Khun pendekar berbaju biru ditelaga Cwie Sim Ouw, sekarang kalian lekas minggir, jikalau tidakaku akan bunuh kalian semua!" Enam Perempuan itu semuanya angkat muka tidak memandang padanya, seolab-olah sengaja hendak membikin panas hatinya, setelah itu kembali mereka menggoyangkan pinggulnya lagi untuk memikat hati Cin Hong.

Can Sa Jie mendadak marah, dengan mengeluarkan suara geram, lantas lompat menyerbu, memukul dengan tangan kiri dan kanannya, pukulannya itu  dilakukan dengan gerakan yang sangat aneh, tampaknya juga tidak merasa kasihan terhadap perempuan-perempuan yang cantik jelita itu,

Enam perempuan itu agaknya sangat benci terhadapnya, setelah mengeluarkan suara bentakan, segera mengurungnya ditengah, enam bilah belati digunakan untuk menyerang dengan rapat, tampaknya sangat penasaran sekali terhadap pengemis muda yang dekil dan jelek itu. SELURUH kepandaian ilmu silat Can Sa Jie yang didapat dari gurunya, dalam generasi muda sudah merupakan salah seorang terkuat pada dewasa itu. Maka meskipun ia hanya dengan menggunakan sepasang tangan kosong menghadapi serangan enam orang perempuan cantik itu, masih bisa melayani dengan baik, sedikit pun tak menUnjukkan tanda-tanda akan kalah.

Akan tetapi, lama kelamaan, ia sudah mulai kewalahan. Kiranya enam perempuan cantik itupun mempunyai didikan dari tokoh kuat, semula oleh karena mereka tidak pandang mata pada Can Sa Jie, maka mereka tidak mementingkan cara kerja sama yang rapi, setiap ingin menyerang dia hanya untuk pelampias kedongkolan masing-masing. tapi setelah melihat bahwa serangan itu semuanya tak berhasil, barulah mereka merubah siasat pertempuran, saat itu mereka pun bekerja sama dengan rapi, mengurung Can Sa Jie ketat.

Barisan yang tampaknya dari golongan sesat itu, setiap serangan dilakukan dengan tipuan yang indah, dilihat sepintas seperti bukan sedang pertempur, tetapi bagi Can Sa Jie seolah seperti telah kemasukan setan, setiap  serangannya tak mengenai sasaran, setiap hendak menyerbu keluar selalu tidak berhasil, maka ia berseru cemas:

"Hei! Mengapa kalian berdua enak-enak nonton saja? "

Cin Hong seolah-olah baru sadar, ia berpaling dan bertanya pada In-jie: "In jie, apakah kita perlu turut campur? "

In-jie menyahut: "Baik!"

Lantas lompat menyerbu ke dalam barisan enam perempuan cantik itu, ia yang sudah meraSa gemas, tangan dan kakinya pada bergerak, menyerang bagian pinggul perempuan-perempuan itu. Cin Hong pun turut menyerbu, tapi ia tak berani memukul pinggul mereka, yang di tujukan hanya bagian- bagian yang tidak penting, sebab ia selalu menganggap bahwa pertempuran dengan kaum wanita, sesungguhnya kurang baik.

Setelah ia dan In-jie turut bertempur, maka barisan enam perempuan cantik itu lantas menjadi kalut. Kiranya ketika mereka melihat Cin Hong tak berani menurunkan tangan berat, mereka lantas mengurung Cin Hong sambil tertawa, hampir setiap orang ingin bertempur dengannya, bahkan ada yang busungkan dadanya, agar di serang bagian buah dadanya.

Cin Hong yang dapat sambutan demikian sudah tentu terkejut dan kalang kabut sendiri. berulang kali mundur Sambil berseru: "Tak boleh! Tidak ada pertempuran secara begini!"

In-jie yang menyaksikan perempuan perempuan itu bertempur dengan cara yang tak malu demikian, hatinya semakin mendongkol, hingga hampir Saja mau menangis, tetapi dengan demikian, ia juga turun tangan semakin ganas, Sambil menyerang, mulutnya terus memaki: 

"Sungguh tak tahu malu! Aku nanti akan hajar mampus kalian kawanan siluman yang tak punya malu!"

Sementara itu Can Sa Jie yang sudah mendapat bala bantuan. ia hanya tujukan sasarannya pada dua kiongcu dalam pertempuran yang berlangsung sengit tanpa  disengaja jari tangannyaa menyentuh ketiak salah seorang lawannya, Kiongcu itu barangkali karena takut geli, lantas tertawa sendiri sambil menggelinjing.

Can Sa Jie tak perdulikan itu semua, menggunakan kesempatan itu telah menendang jatuh kiongcu itu, mungkin karena tendangannya yang keliwat berat, hingga kiongcu itu terguling keluar kalangan, hidungnya berdarah, ia menangis tersedu.

Can Sa Jie terperanjat, dan selanjutnya. berkata girang: "Hei! perempuan-perempuan ini mungkin pada takut geli. Cin Hong. kau boleh kitikin ketiak mereka!"

Cin Hong dengan seorang diri melayani tiga wanita yang selalu tak berani menyerang buah dada mereka yang ditonjolkan dengan demikian menantang, Sedang kelabakan, maka ketiKa mendengar perkataan itu ia lantas menggerakkan kedua tangannya pura-pura bersikap hendak menyerang bagian ketiak perempuan-perempuan itu, sedang mulutnya mengancam:

"Kalian lekas pergi, jikalau tidak aku nanti terpaksa akan menyerang ketiak kalian!"

Tetapi tiga perempuan itu sedikitpun tidak merasa takut, sebaliknya malah menyerbu sambil tertawa-tawa, sedang mulut mereka pada berseru: "Baik, silahkan serang saja, hai!"

"Disini, disini, letakkanlah tanganmu disini!"

"Aku tahu, tentu kau tak berani...." Demikianlah perempuan-perempuan cantik itu pada mengeluarkan tantangannya kepada Cin Hong.

Cin Hong ketika melihat bahwa gertakannya tidak berhasil, kembali menjadi kelabakan lantas berseru kepada Can Sa Jie: "Saudara Can Sa, tiga perempuan ini tidak takut geli!"

Pada Saat itu Can Sa jie justru sudah berhasil merobohkan seorang lawannya lagi maka lantas pergi membantu ke fihak Cin Hong. Berbeda dengan Cin Hong, Can Sa Jie lantas menggerakkan tangannya, dan benar saja, ditujukan kepada ketiak-ketiak mereka, katanya sambil tertawa: "Kau memang tak berani menyerang mereka. Sekarang lihatlah, bagaimana aku menyerang mereka!"

Tiga perempuan cantik itu karena tidak suka menghadapi Can Sa Jie si pengemis muda itu terpaksa pada lari terbirit- birit.

Di lain fihak, In-jie yang bertempur seorang diri menghadapi dua orang perempuan cantik, ia yang sudah merasa gemas terhadap mereka, maka ia turun tangan tanpa kenal kasihan. Dalam sekejap, dua orang lawannya roboh tertotok ilmu tunggalnya golongan Thian San.

Setelah ia robohkan dua orang lawannya. lantas ia kembali kesisi Cin Hong. Terhadap perempuan yang masih tetap membandel, ia lantas mengirimkan serangan.

Dengan demikian, diantara enam kiOngCu itu telah dua orang yang tertotok roboh, dua orang tertendang dan seorang diantaranya terluka bagian mukanya, yang kini masih duduK ditanah. sambil menangis dengan sedihnya, tinggal dua orang lagi, bagaimana sanggup menghadapi Cin Hong dan Can Sa Jie?

Maka sambil menari-nari, mulut mereka meratap: "Jangan berkelahi lagi, kita menyerah!"

Cin Hong buru-buru menarik kembali serangannya dan baru-buru mencegah Can Sa Jie dan In-jie; "Berhenti! Berhenti! Mereka sudah menyerah!

Can Sa Jie mendengar perkataan 'menyerah' itu, tidak mau berbuat Keterlaluan, maka segera menghentikan serangannya, dan menantikan perkembangan selanjutnya. Sedang matanya terus berputaran mengawaSi perempuan- perempuan yang kini keadaannya sangat mengenaskan itu.

Sebaliknya dengan In-jie, tak mau menghentikan serangannya, seolah-olah hendak menyapu bersih kawanan Siluman itu, sampai tiga kali Cin Hong mencegah, baru menghentikan serangannya dengan perasan dan masih penasaran, lalu berdiri disamping Cin Hong lagi.

Dua perempuan itu dengan ketakutan berdiri Sambil menundukkan kepala, seolah-olah orang hukuman yang menantikan vonisnya. Keadaannya Sangat menyedihkan.

Can Sa Jie mengeluarkan dua kali suara batuk-batuk, dengan tiba-tiba menuding kiongcu yang masih menangis duduk ditanah itu, bentaknya dengan suara bengis: "Bangun! Jangan berlagak lagi!"

Dua perempuan itu tak mau bangun. Seorang diantaranya, ialah yang terluka dihidungnya bahkan menangis semakin keras, katanya: "Siapa yang berpura- pura? Kau telah melukai hidungku, bagaimana aku ada muka untuk menemui orang lagi? "

Can Sa Jie terperanjat, perlahan-lahan berpaling mengawasi Cin Hong seraya berkata; "Heh, perempuan- perempuan ini hendak main gila denganku!"

Cin Hong juga unjukkan senyuman getir katanya sambil mengangkat bahu: "Aku sudah merasakan bahwa kita memang tak seharusnya untuk berkelahi dengan kaum Wanita, itu SeSungguhnya Sangat tidak enak buntutnya. . .

."

In jie yang masih penasaran, lantas membentak sambil menuding kepada perempuan yangterluka itu; "Bangun, kalau berani main gila lagi ku-nanti hajar sampai mampus!" Dua perempuan itu ketakutan, terpaksa menurut dan bangun berdiri, setelah itu mereka mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka air matanya masing-masing,

Can Sa Jie Sangat terperanjat dan kedip-kedipkan matanya, kemudian berkata Sambil tertaWa dan mengacungkan ibu jarinya kepada In Jie: "Ternyata kau yang lebih ditakuti! Sekarang biarlah kau yang bertanya pada mereka!"

In-jie tersenyum, sambil bertolak pinggang ia bertanya kepada kaum perempuan cantik itu: "Sekarang aku hendak bertanya kepada kalian, adakah kalian ini yang dinamakan dua belaS perempuan siluman dari golongan kalong? "

Perempuan-perempuan itu terdiam, Seorang diantaranya yang bergaun hijau lantas menjawab sambil melirik Cin Hong; "Siapa yarg berkata demikian? Kita adalah dua belas kiongcu!"

In-jie marah, katanya dengan suara keras "Tidak tahu malu. Kalau kau berani mengucapkan perkataan yang bukan-bukan lagi, nanti aku robek mulutmu!"

Kiongcu itu benar saja tak berani membuka mulut lagi, ia menundukkan kepala dengan perasaan takut,

In-jie merasa puas, ia kembali bertanya; "Aku hendak bertanya lagi, Siapakah pangcu dari golongan kalian yang menamakan diri golongan kalong itu? Berapakah jumlah anggota golongan kalong itu? Dengan maksud apa kalian diutus keluar untuk memikat generasi muda dari dua belas partay? Semuanya ini kau harus jawab dengan sejujur- jujurnya! Jikalau tidak, terpaksa aku nanti akan mengambil tindakan tegas!" Perempuan-perempuan itu ada menunjukan sikap ketakutan, mereka saling berpandangan dan tak seorang pun yang berani membuka mulut untuk menjawab.

In-jie dengan alis berdiri bertanya pula: "Lekas jawab, jikalau tidak menjawab, aku nanti terpaksa akan menghajar mampuS kalian semua!"

Perempuan perempuan itu pada menundukan kepala dan tidak bersuara, sesaat kemudian, kiongcu yang bergaun hijau itu dengan wajah sejih berkata: "Kau bunuh saja kami semua, sebab urusan ini, kami semua tak berani menerangkan.."

In-jie tidak menduga bahwa mereka ternyata tidak takut mati, maka sesaat ia tertegun, selagi memikirkan bagaimana untuk menggertak mereka lagi, sebab jika tidak benar-benar dibuktikan ancamannya, bukankah akan hilang kewibawaannya?

Dalam murkanya, selagi hendak turun tangan dengan tiba-tiba tangan kirinya digenggam oleh seseorang. Dan ketika ia berpaling, tampak Cin Hong berkata padanya sambil tersenyum:

"In-jie, kau mau apa? "

Dari sinar mata Cin Hong, In-jie segera dapat memahami maksudnya, maka Wajahnya menjadi merah seketika, ia berkata sambil menundukan kepalanya: "Aku, aku rasanya terlalu galak bukan? "

Cin Hong menganggukan kepala dan berkata sambil tersenyum: "Tidak apalah, sekarang biar aku saja yang menanyakan pada mereka."

Sehabis berkata demikian maju selangkah menghampiri wanita-wanita itu, lalu berkata sambil menyoja; "Nona- nona, sekarang bagaimana keadaan ditelaga Cui-sin-oaw diatas gunung ini? "

Wanita-wanita cantik itu melihat Cin Hong, turun tangan sendiri untuk bertanya pada mereka, semuanya menunjukan sikap bersemangat atas pertanyaan tadi telah dijawab oleh wanita yang luka pada hidungnya; "Mereka sedang mandi ditelaga, sungguh sekali!"

Cin Hong terperanjat, ia bertanya dengan suara kaget: "Ha! Mandi? "

Wanita bergaun merah itu dengan sikapnya yang dibikin- bikin, berkata sambil tertawa cekikikan;

"Ya, Sungguh permainan didalam air yang sangat mengasyikkan!"

Wajah Cin Hong menjadi merah, sedang hatinya berdebaran. Ia berpaling dan berkata kepada Can Sa Jie: "Saudara Can Sa, sekarang bagaimana baiknya."

Can Sa Jie diam-diam bergidik, ia menjawab sambil menggaruk-garuk kepalanya: "Benarkah keterangannya itu? Alangkah memalukan perbuatan itu!"

Kiongcu bergaun hijau lantas menyela: "Siapa yang bilang tidak benar? Mereka mandi dalam keadaan telanjang bulat. "

In-jie yang mendengar itu wajahnya menjadi merah, ia berseru kaget, lantas membentak dengan suara keras: "Tidak tahu malu! Kalian semua enyahlah dari sini!"

Perempuan-perempuan itu seolah-olah mendapat pengampunan besar, Sambil menyambar dua orang kawannya yang menggeletak ditanah, secepat kilat pada bergerak untuk melarikan diri. Cin Hong mengawasi berlalunya perempuan-perempuan cantik itu sampai tak tampak lagi, lalu berpaling dan bertanya kepada Can Sa Jie: "Saudara Can Sa, kau pikir bagaimana kita harus bertindak? "

Can Sa Jie melirik In-jie, lalu berkata sambil angkat bahu; "Kupikir sebaiknya kita naik keatas gunung untuk menyaksikan sendiri. Pribahasa ada kata: 'Kalau mau menolong orang, menolonglah dengan sunggnh-sungguh'. .

. ."

In-jie mendadak angkat muka dan berkata dengan suara nyaring; "Aku tak mau pergi!"

"Kau tidak mau pergi, kalaU begitu kau diam disini saja menunggu kita sampai pulang kembali." Berkata Can Sa Jie.

In jie berpaling mengawasi Cin Hong, lalu bertanya dengan perasaan khawatir: "Cin Hong apakah, kau hendak pergi juga? "

Cin Hong belum lagi menjawab dengan tiba-tiba Can Sa Jie melangkah mendekati padanya sampai berbisik-bisik; "Cin Hong, kau sudah pernah melihat perempuan mandi? "

Hati Cin Hong berdebaran, ia menjawab dengan suara pelahan. "Urasan seperti itu bagaimana kita biSa melihat? "

"Kalau begitu marilah kita pergi untuk menambah pengetahuan,!" Berkata Can Sa Jie perlahan.

Cin Hong terperanjat, katanya; "Tidak, itu suatu perbuatan rendah!"

"Rendah apa? Kita toh hendak menolong orang. Kita tak akan merasa malu pada diri sendiri." berkata Can Sa Jie sambil tertawa ringan. In-jie yang menyaksikan mereka bercakap-cakap dengan suara perlahan, timbul perasaannya, seolah-olah diasingkan. Maka lantas berkata sambil bermuka muram; "Hei, kalian kasak-kusuk sedang membicarakan soal apa? "

Can Sa Jie tertawa padanya, dan berkata: "Tidak apa- apa, aku sedang berunding dengan dia, nanti Setelah aku mendaki gunung dan mendekati telaga, apa bila tak ada kejadian mesum, aku akan memberi kode kepadanya supaya dia mau membantuku. "

In-jie menganggukkan kepala dan berkata dengan girang: "Akalmu ini boleh juga , dengan demikian aku juga berani pergi."

Can Sa Jie menjadi gugup, katanya Sambil menggoyang- goyangkan tangan: "Tidak sebaik kau disini menunggu kita dan melihat kuda kita, Supaya jangan Sampai di curi oleh maling kuda!"

"Kecuali kau, dari mana datangnva maling kuda? Kau takut aku pergi, aku justeru hendak pergi!" Berkata In-jie.

Cin Hong biar bagaimana selalu beranggapan, apapun alasannya, mengintai perempuan mandi adalah Suatu perbuatan yang tidak pantas. Disamping itu ia juga merasa bahwa kebohongan Can Sa Jie itu boleh juga , maka lantas tertaWa dan berkata kepadanya:

"Saudara Can Sa, aku setuju dengan akalmu itu. Sekarang mari kita bersama-sama pergi naik keatas gunung!"

Can Sa Jie kecewa, katanya Sambil menggelengkan kepala: "Hai, tidak kusangka It Hu Sianseng sudah mendidik murid yang tak mempunyai keberanian seperti kau ini, Sudahlah!" Sehabis mengucapkan demikian, kakinya bergerak, lOmpat keatas gunung. Gerakannya itu seperti gerakan monyet yang luar biasa cepatnya.

Cin Hong lalu berpaling dan berkata kepada In-jie; "In- jie, mari jalan!"

Mereka telah mendaki gunung Tong San. tapi taK tahu dimana telaga itu berada, maka terpaksa mencari-cari kesana kemari, dan akhirnya tiba disebUah rimba, berjalan dalam rimba itu kira2 baru beberapa tombak. dengan tiba- tiba terdengar suara perempuan tertawa-tawa dan suara air yang terdayung oleh dayung Sampan.

Tiga orang itu ketika mendengar Suara itu lantas berhenti, Can Sa jie yang berjalan didepan lalu berpaling dan berkata kepada Cin Hong sambil tertawa: "Ini pastilah tempatnya, mari kita bersama-sama kesana, bagaimana? "

In-jie buru-buru menarik Cin Hong Seraya berkata: "Kalau hendak pergi, pergilah sendiri Perlu apa harus mencari kawan? "

"Aneh, dia ini sebetulnya pernah apa denganmu? Mengapa selalu kau pegang erat2 saja? " Bertanya Can Sa Jie Sambil mengerling dan tenawa mengejek kepada In-jie.

In-jie merasa malu dan gusar, dengan tiba-tiba mendorong Cin Hong kearah Can Sa Jie katanya dengan suara dingin: "Siapa yang memegang erat-erat kepadanya, Kau sendiri yang tidak memiliki keberanian sudah saja jangan pergi kesana!"

Cin Hong tidak berani pergi, buru-buru memutar kebelakang diri In-jie, ia menyoja kepada Can Sa Jie seraya berkata: "Saudara Can Sa, Sebaiknya kau bertindak menurut usulmu tadi. Kau pergi melihat dulu asal tak ada pertunjunkkan mesum, barulah kau memberi kode kepadaku, kemudian kita baru pergi kesana,"

Can Sa Jie merasa kewalahan, ia berkata sambil menghela napas: "Baiklah, aku tahu kau keledai ini sudah tercancang olehnya."

In-jie marah, berkata Sambil melototkan matanya: "Kau jangan mengoceh yang bukan-bukan. Kau berani menghina diriku? "

Can San Jie gelagapan ia memutar tubuh hendak pergi, Cin Hong buru-buru menahannya dan bertanya.

"Saudara Can Sa, kau nanti hendak menggunakan cara apa untuk memberitahukan pada kita? "

Can Sa Jie miringkan kepalanya, berkata sambil tertawa bangga: "Kepandaianku untuk menggunakan Suara meniru berbagai binatang dalam rimba persilatan tak ada seorang pun yang sanggup menandingi, sebentar jikalau kalian mendengar suara burung sri, kalian pergi saja!"

"Hm, mulutmu seperti kodok. kalau kau meniru suara kodok barangkali lebih kena!" kata In-jie sambil tertawa dingin.

Can Sa Jie sedikitpun tidak marah, ia hanya mengejek padanya, setelah itu ia memutar rubuhnya dan melangkah kedalam rimba, sebentar saja sudah menghilang kedalam tempat gelap.

Cin Hong dan In-jie mencari sebuah pohon, mereka duduk berdampingan dibawah pohon besar. Mungkin dalam Otak orang itu semua Sudah terbayang Sepasang muda mudi yang Sedang berkecimpungan didalam air telaga dengan telanjang bulat, olen karenanya mereka sama- sama menjadi merah wajahnya, agaknya meraSa malu. "Cin Hong." Terdengar suara dari mulut In-jie. "Ehm..!"

"Can Sa Jie itu bukan orang baik, ia selalu mengatakan bahwa aku selalu mengiKat dirimu, apakah artinya itu? "

"Dia Sifatnya memang suka main-main, kau jangan meladeni Saja, juga jangan marah."

"Mungkin besok pagi, kita jangan berjalan bersama dia'" "Tidak, tiga orang gaib dalam rimba persilatan Cut, Sian

dan Bo, hubungan mereka baik sekali. Maka kita bertiga harus menjadi sahabat baik."

"Aku tidak mau, suhuku paling benci kepada Can Sa Sian."

"Oo, kenapa? "

"Suhuku berkata, bahwa Can Sa Sian itu iuga suka menggoda orang. Kalau berbicara selalu tidak memberi muka kepada orang."

"Orang yang berani bicara terus terang, hatinya pasti baik."

"Kentut!"

"Aa. Itu ucapan tidak bagus!"

"Dasar pelajar tolol!"

"Eh, mengapa kau selalu memaki aku? " "Kau memang mirip dengan pelajar tolol'"

"Jika kau mengatakan aku tidak mirip dengan orang rimba persiiatan, aku suka menjadi orang rimba persilatan? "

"Ini bukan soal suka atau tidak Suka." "O, ya Kau adalah caicu dari daerah Kang Lam Kau sudah pernah pergi kekota raja untuk ujian atau belum? "

"Sudah, tetapi tidak lulus."

"Ha-ha! Apakah itu masih terhitung seorang caicu? " "Sudah tentu masih. Sebab kalau aku tak luluS itu

sebabnya bukan lantaran kepandaian ilmu suratku tidak seburuk orang lain"

"Kalau begitu apa Sebabnya? "

"Kepala ujian itu, lama Sudah lama mengetahui bahwa daerah Kang-lam ada seorang Caicu yang bernama Cin Hong, ialah aku sendiri. Sebelum ujian dimulai, dia meminta agar aku memberi sogokan kepadanya. Tapi permintaannya itu tak kuhiraukan, sehinggi akhirnya aku tak diluluskan."

"Dasar pembesar anjing. Mengapa tidak kau bunuh saja?

"

"Itu apa perlunya? Bagamana pun juga . aku toh tidak

suka menjabat pangkat, waktu aku pergi menempuh ujian. hanya hendak main-main saja."

"Mengapa kau tak suka menjabat pangkat? "

"Orang yang menjabat pembesar negeri harus pandai menjilat. Tetapi aku tak bisa, karena itulah aku tak mau."

"Emm, aku juga tak Suka kaWin dengan orang yang menjadi pembesar negeri, kalau aku menjadi isteri Orang berpangkat, jika pergi kemana-mana harus naik tandu, sungguh menjijikkan, karena tidak bisa bebas. "

"Haaa. Kau berbicara soal kaWin? "

"Tadi kelepasan omOng. " Ia benar-benar kelepasan omong, oleh karenanya maka ia merasa malu sendiri, buru-buru menyembunyikan kepala dikedua lututnya sendiri.

Cin Hong khawatir ia nanti marah karena merasa malu, maka meniup dibelakang punggung seraya bertanya sambil tartawa: "In-jie, angkatlah mukamu!"

In-jie menundukkan kepalanya semakin dalam tidak berani bersuara.

Cin Hong meniup lagi sambil berkata dan tertawa: "Angkatlah mukamu, SUdahlah, aku tidak akan mentertawai kau lagi!"

In-jie menggeleng-gelengkan kepala, masih tetap tidak berani membuka suara.

Cin Hong sanggup mengendalikan perasaannya, punggung yang putih meletak itu diciumnya pelahan, oleh karenanya In-jie lalu lompat terkejut, kemudian berkata:

"Bagus, dugaan suhu ternyata benar!"

Cin Hong juga buru-buru bangkit. dengan wajah merah dan hati berdebaran penuh penyesalan, menjura dalam2 kepadanya, lalu berkata: "In-jie, aku menyesal, harap kau Sudi memaafkan!"

Sepasang pipi In-jie merah merekah bagaikan buah-apel. matanya yang hitam jeli berputaran, dengan tiba-tiba ia angkat muka, lalu berkata padanya sambil tertawa mengejek: "Hm. aku tahu, kau tentu akan berbuat demikian!"

Baru saja menutup mulut, dari dalam rimba tiba-tiba terdengar suara bentakan dan makian. Setelah itu disusul dengan Suara burung nuri yang sangat indah. Semangat Cin Hong terbangun, katanyi dengan girarg: "Ah, kode Saudara Can Sa sudah terdengar. Mari kita lekas pergi!"

In-jie sebaliknya miringkan kepala, Seperti Orang sedang menggunakan daya mendengarkannya dengan penuh curiga ia terkata: "Benarkah itu suafa burung yang dia tiru? Kenapa demikian indah? "

Cin Hong tersenyum, ia melompat maju menarik tangannya, dan masUk Kedalam rimba. Melalui perjalanan kira2 tiga puluh tOmbak, dihadapan matanya tiba-tiba terbentang Suatu pemandangan yang aneh.. ..

Telaga Cui-sim-ouw yang letaknya diatas gunung, luasnya hanya tiga empat tOmbak persegi, diSekitar telaga terdapat tumbuhan pepohonan Yang-liu yang sangat rindang, Sinar bulan purnama yang menyinari permukaan air telaga memberikan suatu pemandangan alam yang sangat indah.

Tetapi malam itu tidak sedikitpun tak tampak keindahannya.

Mengapa? sebab pada waktu itu sepasang tangan Can Sa Jie sedang membawa Segumpal pakaian wanita, lari sepanjang tepi telaga sambil perdengarkan suara tawanya yang aneh. Sedang dibelakangnya tampak mengejar seorang muda berusia tiga-puluh tahunan dengan menenteng pedang. Pemuda itu berwajah tampan dan gagah, namun pakaiannya sudah tak beres lagi, Sambil mengejar mulutnya terus berkaok-kaok tidak henti-hentinya!

"Anak busuk. tinggalkan pakaian itu! Apakah artinya ini?

. . . ."

Disuatu tempat yang demikian indah telah terjadi kejadian semacam itu, sesunggnhnya merupakan suatu perbuatan yang keterlaluan! Akan tetapi yang lebih-lebih ialah orang yang berada didalam air telaga itu.

Dia Cit-kongcu, Salah Seorang dari dua-belas kiongcu- kiongccu golongan kalong, Saat itu sedang mandi berendam didalam air telaga. oleh karena air telaga itu sangat bening, maka sekujur tubuhnya yang putih, serta bentuk badan yang indah dan padat tampak nyata Sekali, pahanya sedang bergerak-gerak didalam air. Pemandangan  itu sesungguhnya sangat menarik untuk mata anak-anak muda.

Cit kiOngcu hanya kepalanya yang tampak berada diatas air, matanya terus mengikuti pemuda yang sedang mengejar Can Sa Jie, Waktu itu wajahnya nampak sangat pucat, sekilas menunjukkan kecemasannya.

Can Sa Jie ketika menampak kedatangan Cin Hong dan In-jie, lantas berseru dengan sikap kegirangan;

"Hei, Cin Hong. kau lihat tidak? Sungguh tak disangka bahwa tubuh Wanita itu demikian indah, benar-benar seperti dugaanku semula!"

In-jie tidak menduga masih harus menyaksikan suatu pemandangan yang menyebalkan itu, ia merasa cemas dan mendongkol sekali, buru2 maju menghalang dihadapan Cin Hong, kemudian berkata dengan nada suara marah: "Can Sa Jie, apakah kau mau mampus? Siapa suruh memberikan kode demikian cepat? "

Can Sa Jie lari menghampiri sambil membawa pakaian perempuan itu, katanya Sambil tertawa aneh: "Sedikitpun tidak terlalu cepat, kalau tidak pertunjukkan yang berlangSung sebelum kau tiba. Itulah justru yang baguS sekali!"

Pemuda yang mengejar dibelakangnya ketika melihat anak busuk itu. kembali kedatangan dua orang pembantu, tampaknya terkejut sekali, buru-buru menghentikan langkahnya, sepasang matanya dengan perasaan takut dan terkejut memandang dua orang yang baru datang dengan bergiliran. Tiba-tiba mengangkat pedangnya sambil menunjuk Can Sa Jie, dan membentak dengan suara bengis:

"Hei! Kau merusak kesenangan orang. Apakah kau tidak takut dirundung miskin tiga turunan? "

Can Sa Jie lari kedepan Cin Hong berdua kemudian memutar dibelakangnya, lantas berhenti, barulah berkata sambil tertawa: "Aku Cin Sa Jie memang sudah miskin. Kemiskinan tidak berarti bagiku!"

Pemuda itu tahu bahwa dalam keadaan demikian ia tak boleh menggunakan kekasaran, maka sikapnya lantas berubah lunak, katanya setengah memohon: "Baiklah. kalian hendak minta berapa? "

Can Sa Jie mengalihkan pakaian perempuan itu ke tangan kirinya, ajung jari tangan kanannya diacungkan, lalu berkata sambil tertawa: "Tidak banyak, seribu tail sudah cukup!"

Pemuda itu agak marah, katanya. "Dalam badanku sekarang ini mana ada begitu banyak uang? Kau jangan minta tarlalu banyak!-"

Can Si Jie angkat kepala dan tertawa terbabak kemudian berkata sambil mengacungkan lima jari tangannya: "Kalau begitu, potong lima puluh persen. Lima ratus tail saja!"

"Balk, tetapi sekarang ini aku benar-benar tidak punya begitu banyak uang . . . ." Berkata pemuda itu sambil mengerutkan alisnya.

"Sekarang kau membawa berapa banyak? " Bertanya Can Sa Jie Sambil tersenyum. Pemuda itu melirik kepada kekasihnya yang ada didalam telaga sejenak, kemudian berkata sambil menundukkan kepala: "Aku membuat surat perjanjian juga boleh hanya disini tidak ada alat tulis dan kertas, bagaimana? " berkata pemuda itu girang.

Can Sa Jie mengeluarkan sehelai kertas, digulungnya dan kemudian dilemparkan kepada pemuda itu seraya berkata : "Kau boleh menggunakan kertas ini, tentang tidak adanya alat tulis, kau boleh gigit jari sendiri, dengan darah dari jarimu kau boleh gunakan untuk menulis diatas kertas ini!"

Pemuda tadi menyambut gulungan kertas yang dilemparkan kepadanya, lalu berkata agak sedikit keberatan: "Dengan menggigit jariku sendiri, bukankah berubah menjadi darah? "

"Benar, kau sekarang harus membuat surat darah:" berkata Can Su Jie dingin,

Cin Hong anggap bahwa terlalu memeras Orang sesungguhnya tidak seharusnya, maka ia lalu berkata:

"Saudara Can-Sa, kau tidak boleh berbuat demikian, perbuatan itu terlalu rendah!"

Can Sa Jie berpaling dan tertawa, kemudian berkata: "Jangan cemas, ucapanku masih belum habis!"

Kemudian ia berpaling dan bertanya pula kepada pemuda tadi; "Bagaimana? Sejak jaman dahalu banyak sekali contohnya orang yang menulis surat berdarah, dengan keadaanmu seperti ini, menulisi surat darah sedikitpun tidak merasa keterlaluan!"

Pemuda itu berpaling mengawasi kekasihnya yang berada didalam danau, kekasih itu menutup tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, sedang mulutnya meratap: "Kekasih aku merasa sangat malu sekali, lekaslah kau tulis dan berikan padanya? "

Can Sa Jie tertaWa tergelak kemudian berteriak: "Hoi! perempuan siluman seperti kau ini masih mempunyai perasaan malu? "

Pemuda itu sangat marah hingga alisnya apada berdiri, ia berteriak dan berkata dengan sambil mendelikan matanya: "Bocah busuk, kalau kau berani menghina lagi, aku nantt akan adu jiwa denganmu!"

Can Sa Jie angkat wajahnya yang kotor, dan berkata sambil tertawa dingin: "Kau masih bukan tandinganku, kalau kau ingin adu jiwa silahkan maju saja!"

Pemuda itu sangat penasaran, sesaat itu hawa amarahnya meluap, selagi hendak menyerbu dengan pedangnya, kekasihnya yang telanjang bulat didalam air itu telah menjerit dan berkata sambil menangis:

"Kekasihku, aku mohon padamu jangan marah pada mereka. "

Pemuda itu ketika mendengar ratapan kekasihnya lalu membatalkan maksudnya hendak menyerbu Can Sa Jie. ia menundukan kepala menghela napas, pedangnya ditekan ditanah lalu membuka kertas gulungan tadi, dan mengigit ujung jari tangannya sendiri, dengan darahnya yang menetes keluar menulis surat perjanjian diatas kertas itu, Pada saat.

Can Sa Jie tiba-tiba berkata sambil mengulapkan tangannya. "Tunggu dulu, bagaimana kau hendak tulis? "

Pemuda itu angkat kepalanya, dan berkata sambil tertawa menyeringai: "Sudah tentu akan kutulis bahwa aku pinjam kepadamu empat ratus tail uang Perak, esok akan kukembalikan padamu!" "Tidak kau harus menulis menurut maksudku. aku berkata sepatah, kau menulisnya!" Berkata Can Sa Jie sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Pemuda itu dengan mengendalikan hawa amarahnya, mulutnya membentak: "Apa katamu? "

Can Sa Jie mendongakan kepala dan tertawa ter-bahak2, lalu berkata: "Kau harus menulis begini; 'Aku pendekar berbaju biru Nie Khun..."

Pemuda itu terperanjat, ia mundur dua langkah, katanya sambil membuka lebar matanya: "Ya Tuhan! Bagaimana kau mengetahui? "

Can Sa Jie tersenyum, katanya: "Kau, saudara adalah seorang tokoh kuat partai Khong-tong-pay. dalam rimba persilatan mempunyai ssdiklt nama baik, aku Can Sa Jie sudah lama ingin berkenalan denganmu!"

pendekar berbaju biru Nie Khun, selembar wajahnya menjadi merah seperti kepiting direbus, ia berkata sambil menundukan kepala: "Kita bicarakan dulu mengenai syarat2nya, kalian selanjutnya tidak boleh menyiarkan kejadian malam ini. "'

Can Sa Jie tidak lagi menunjukan sikapnya yang main2, katanya dengan sangguh2: "Jangan chawatir, aku Can Sa Jie selamanya menghormati orang yang tahu malu!"

Nie Khun menulis nama sendiri diatas kertas itu, lalu bertanya; "Bagaimana selanjutnya? "

"Selanjutnya; 'Telah kesalahan mengadakan hubungan dengan siluman wanita ketujuh dari dua-belas siluman perempuan golongan Kalong. "

Wajah Nie Khun berubah seketika, tananya dengan kaget: "Apa katamu? " Can San Jie sepatah demi sepatah mengulangi perkataannya itu tadi, dan pendekar baju biru Nie Khun dalam keadaan setengah terkejut dan setengah ragu, gumamnya: "Golongan Kalong? ... Golongan Kalong? Dalam rimba persilatan aku belum dengar ada nama golongan itu. . ."

Sang kekasih yang merendam di dalam danau, ketika mendengar pembicaraan mereka Wajahnya berubah seketika, mulutnya berseru; "Kekasihku, jangan dengar ucapannya yang tak keruan, aku adalah perempuan dari golongan baik-baik!"

Can Sa Jie mengeluarkan suara dari hidung lalu berkata sambil tertawa dingin: "Kawan-kawanmu Tujuh siluman perempuan yang sembunyi di bawah gunung, Seluruhnya sudah tertangkap, kau Siluman ini mengapa masih berani membantah!"

Mendengar ucapan itu, Wajah perempuan itu kembali berubah, tanpa memperdulikan tubuhnya sendiri yang telanjang bulat, mulutnya berseru dengan perasaan ketakutan: "Tidak.... tidak ....tidak. "

Nie Khun mengawasinya dengan sinar mata kasihan, kemudian berpaling dan berkata kepada Can Sa Jie: "Aku tak mengerti apa yang kau katakan, dia bernama Thia Ay Leng, tinggal di San-se, ayahnya seorang piauwsu yang sudah mengundurkan diri. "

Can Sa Jie mengulapkan tangannya untuk mencegah pemuda itu melanjutkan kata-katanya, ia berkata dan tertawa dingin: "Jika kau mau bukti, sekarangpun aku bisa mengeluarkan. Tetapi terhadap aku Can Sa Jie, namaku ini kau tidak seharusnya masih menanggung perasaan curiga!"

Nie Khun yang sejak semula hingga sekarang belum pernah perhatikan Can Sa Jie dari golongan mana, sebab hatinya risau, pertemuan malam itu dengan kekasihnya telah dipergoki Olehnya, maka dalam keadaan cemas dan jengkel seperti itu, ia telah melupakan segalanya. Kini setelah mendengar Can Sa Jie menyebut nama sendiri, barulah merasa kaget, serunya: "Ah! Kalau begitu kaU murid Pengemis dari golongan pengemis? "

Can Sa Jie menganggukkan kepala, sikapnya tampak sangat bangga.

KiranVa Pangcu atau pemimpin golOngan pengemis, ialah Can Sa-Sian Sie Koan, kecuali penyakitnya yang rakus, dalam rimba persilatan terkenal sebagai pengemis gaib yang dihormati dan dijunjung tinggi orang banyak, siapa pun tahu bahwa dia itu adalah Seorang rakus yang tak pernah kenal puas, akan tetapi perbuatan dan tindakannya cukup teladan bagi Orang-orang rimba persilatan. Dan muridnya itu juga memiliki sifat yang sama dengan gurunya, orang-orang asal mendengar disebutnya nama sepasang Can Sa atau sepasang orang rakuS dari golongan pengemis, tiada yang tidak mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda pujian, pujian itu sampai dimana tingginya, kalau bagi yang tua ialah sang guru sudah tentu bukan soal apa-apa, tapi si muridnya, Sudah tentu dalam usia yang demikian muda sudah mendapat nama demikian baik, perasaan girang itu tampak diwajahnya, sebab dia toh masih Seorang anak muda yang usianya masih belasan tahun!

Nie Khun memperhatikan wajahnya dan keadaan bentuknya, dalam hati tak berani tidak mempercayainya tetapi kalau ia melihat lagi kekasihnya di dalam danau yang dikenalnya belum sampai tiga hari, juga merasa berat untuk meninggalkan. Ia sungguh tak menyangka kekaSih itu memiliki keberanian demikian, tetapi dia demikian cantiknya, demikian menarik kelakuannya, apakah yang tak baik di dirinya?

Alisnya dikerutkan demikian rupa, dan mulutnya berkemak-Kemik sendiri: "Aku tidak perduli golongan Kalong atau apa, aku hanya tahu ia padaku tak permintaan apa. "

Mata Can Sa Jie yang tadi menutup, kini terbukaa lebar, katanya tertawa dingin: "Kenalkah kau dengan Yap Kiam In orang golongan Thian-shia-pay? "

Nie Khun terkejut, ia berkata Sambil menganggukkan kepala: "Pernah kenal ia sepintas, kenapa? "

"Ia Seperti juga dengan kau, Sudah terpikat oleh salah seorang dari dua belas siluman perempuan golongan kalong!"

"Kalau Sudah terpiKat lalu bagaimana? " "Mati!" demikian In-jie menyelak.

Wajah Nie Khun berubah, ia alihkan pandangan matanya kearah In Jie dan bertanya dengan perasaan terkejut dan heran: "Sebabnya? "

"Sebab dia sudah mengetahui rencana besar tetapi busuk dari golongan Kalong!" menjawab In-jie sambil tertawa dingin.

"Bolehkah kiranya aku hendak mengetahui penjelasannya? " bertanya Nie Khun sambil mengerutkan alisnya.

In Jie menunjuk perempuan dalam danau itu, katanya dengan sikap memandang rendah; "Ini boleh tanyakan padanya sendiri, kita juga tak tahu!" Nie Khun berpaling pada perempuan yang berada dalam danau, dengan peraSaaa kasihan dan curiga bertanya padanya; "Ay Leng, benarkah kau sedang menipu aku? "

Perempuan itu berenang menuiu ketepi seberang, tetapi tak berani naik, kedua tangannya menetupi tubuhnya yang telanjang, sepasang kakinya dikempit menjadi satu, katanya sambil menangis dan gemetaran: "Tidak, Nie Khun aku tak membohong atau menipu kau, kau lekaS menulis Surat perjanjianmu kepada mereka, aku mohon kepadamu..."

Nie Khun rupanya masih merasa berat dan kasihan kepada perempuan itu, ia telah mengambil keputusan tidak akan menanya lebih jauh, segera menggunaken darah dari jari tangannya menulis diataS kertas kata-kata Seperti diucapkan Oleh Can Sa Jie.

"Can Sa Siohiap, sekarang apa yang aku harus tulis selanjutnya? "

Can Sa Jie berdiam lama sambil tertawa dingin. akhirnya ia menggelengkan kepala dan menjawab: "Tidak, sudah tak periu ditulis lagi!"

Nie Khun menjadi gugup, ia maju selangkah dan berkata dengan suara cemas: "Seorang laki-laki harus patuh dengan ucapannya yang diucapkan, kita tadi sudah berbicara dengan matang, apa kau hendak mengingkari sendiri? "

Can Si Jie meletakkan pakaian perempuan itu ditepi danau, kemudian berpaling kearah Cin Hong dan In-jie lalu berkata sambil tertawa: "Sekarang aku Can Sa Jie benar- benar telah kena kebesarannya ucapan yang berkata 'Rela mati dibawah bunga', menjadi setan juga setan romantis. Jangan, hitung-hitung kita terlalu sudi gawe!"

Cin Hong sejak keluar dari rimba terus memejamkan matanya tak berani melihat, kini ketika mendengar bahwa pendekar berbaju biru Nie Khun sudah kelelap benar-benar dalam lautan asmara, lalu sambil memejamkan matanya menyoja memberi hormat kepadanya seraya berkata: "Nie Taihiap harap kau suka dengar ucapan ku yang renddh ini..

.."

Can Sa Jie berteriak, memotong ucapannya. "Sudahlah, orang toh lebih penting memeluk pinggang nOnanya yang manis, siapa sudi dengan ocehanmu? "

Cia Hong terperanjat, ia mengulurkan tangannya untuk meraba-raba sambil memejam matanya, kemudian berkata: "Baik, kalau mau jalan, tetapi sukalah kau bimbing aku? "

In-jie tertawa geli, ia ulurkan tangannya untuk menarik tangan pemuda itu seolah-olah menariK tangan seorang buta berjalan menuju ke dalam rimba, katanya sambil ketawa cekikikan-"Sudahlah sekarang boleh membuka mata."

Cin Hong membuka matanya, apa mau pandangan matanya begitu melihat dalam rimba tiba-tiba berseru kaget, buru-buru balik menarik tangan In-jie dan lOmpat mundur dua tiga tOmbak!

Apakah yang dilihatnya? Apakah melihat orang musuh yang sangat tangguh?

Seorang tua berjubab merah, dengan wajahnya yang menyeramkan dan rambutnya yang putih yang terurai dikedua bahunya yang bukan lain ialah Lam kek Sian kun Im Liat Hong, yang tadi malam dijatuhkan oleh susu tahunya yang dinamakan Pek-lee-Ciang oleh empek Ie-Oe dikota Han chiu muncul dari dalam rimba dan berjalan lambat-lambat menghampiri Cin Horg bertiga, sinar matanya yang buas memandangi mereka bertiga, kemudian mulutnya berkata Sambil tertawa mengejek: "Kamu tiga bocah yang masih bau pupur bawang ini, tenyata berani meruSak uSaha besar golongan kita maka itu, aku siorang tua malam ini terpaksa mengirim kamu keakherat untuk menitis lagi!"

Can Sa Jie yang belum pernah melihat dia, karena melihat sikap Can Hong dan In-jie berdua ketakutan mundur, mengertilah sudah bahwa orang tua itu pasti bukan orang sembarangan, maka ia buru-buru mundur beberapa langkah sambil mempersiapkan diri, disamping itu ia bertanya kepada Cin Hong: "Cin Hong, siapakah tua bangka ini? "

"Dia adalah Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong yang terkenal dengan julukannya sepasang iblis menjagoi daerah selatan dan utara, dan sekarang menjadi anggota pelindung hukum dalam golongan kalong!" menjawab Cin Hong,

"Ayo! iblis tua ini kita tidak boleh pandang ringan!" berteriak Can Sa Jie kaget.

"Kupikir juga begitu, dan kau pikir sekarang bagaimana? " berkata Cin Hong.

Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong terus berjalan kearah mereka sambil menggulung lengan bajunya, sementara mulutnya berkata sambil tertawa: "Bagaimana? Kecuali kamu suka menyerah kepada golongan kita merjadi Kim thong dan Giok-lie, selain ini, hanya tinggal satu jalan, dan jalan itu ialah kematian!"

Can Sa Jie mengedip-ngedipkan matanya dan bertanya: "Apakah Can Sa Jie juga akan diangkat menjadi salah satu dari Kim thong itu? "

"Pui! kau bagaimana bisa diangkat menjadi Kim-thong? untuk menjadi tukang buang air kotoran dua belas KiOngcu kita boleh juga!" menjawab Lam kek Sin-kun Im Liat Hong Sambil tertawa.

Can Sa Jte yang belum pernah dihina demikian rupa dalam matanya, tidak memikirkan lagi tinggi kepandaian lawannya yang masih jauh lebih tinggi dari padanVa sendiri sambil mengeluarkan suara siulan aneh, badannya lantas lompat menyerbu Lam-kek Sin-kun.

Cin Hong terperanjat, ia berseru dengan suara cemas: "Can Sa Jie, jangan!"

Namun seruan itu sudah terlambat pada waktu Can Sa Jie bergerak menyerbu Lam-kek Sin-kun, dan tiba sejarak dua kaki didepan orang tua itu, ditengah udara tiba-tiba terdengar suatu siulan panjang, kemudian tampak berkelebat sesosok bayangan hitam yang besar melayang turun dari tengah udara. ..

Sebelum Cin Hong dan lain2nya melihat tegas, sudah terdengar suara seruan tertahan kemudian disusul melesetnja sesosok bayangan orang, kiranya Can Sa Jie yang telah dahalu menyerbu kepada Lan-kek Sin-kun, pada saat itu Seolah-olah terdorong oleh kekuatan tenaga balik sehingga badannya melesat balik setinggi dua-tiga tombak, hampir saja kecebur kedalam telaga!

Dua yang lainnya.,... Lam-kek Sinkun dengan orang yang muncul dengan tiba. ... mereka dengan gerakannya yang sangat cepat, setelah mengadu kekuatan tenaga. masing-masing juga mundur beberapa kaki, kini satu sama lain berdiri berhadapan.

Orang yang muncul secara tiba-tiba itu usianya kurang lebih tujuh-puluh tahun, wajah persegi, telinganya lebar, perawakannya tegap mengenakan pakaian kain kasar berwarna hitam, dipinggangnya diikat dengan ikat pingang kain putih, dandanan itu mirip dengan seorang pedagang desa, dia bukan lain dari pada empek penjual susu tahu dikota Hang-ciu yang terkenal dengan sebutannya empek Ie-oe, juga yang dahulu pernah menjabat komandan pasukan tentara istana, Pek Hong Teng.

Cin Hong setelah melihat tegas siapa adanya orang itu, bukan kepalang girangnya, dan lalu memanggilnya: "Empek Ie-oe kau juga datang!"

Empek Ie-oe sepasang matanya memandang Lam-kek Sin-kun, mulutnya menjawab dengan nada suaranya yang terputus-putus: "Tetapi jangan kira. . .aku Si tua bangka ini sebagai tepekong penolong. . . .aku orang tua ini. . . hanya bisa melindungi kalian.....sampai disini saja . .  kalian  lekas. pergi mengejar suhumu!"

Cin Hong terkejut berbareng merasa girang mendengar berita tentang Suhunya, maka lalu bertanya:

"Ah! kiranya kau terus mengikuti dibelakang kita? " "Eem. lekas. . .lekas pergi!" menjawab empek Ie-oe

sambil menganggukkan kepala.

Lam-kek Sin-kun maju selangkah menghampiri empek Ie-oe. Wajahnya yang menyeramkan tampak berkerinyat, katanya sambil tertawa dingin, "Pek Hong Teng, kau Si tua Bangka ini malam ini aku hendak belajar kenal lagi dengan obat berbisamu Pek-lee-ciang. "

"Jangan khwatir,. aku si tua bangka dalam keadaan.

. . satu lawan satu belum pernah menggunakan Pek-lee- ciang. ...." berkata empek Ie-oe Sambil tertawa menyeringai.

Setelah itu, ia berpaling dan berkata pula kepada Cin Hong, "LekaS pergi, kalaU terlambat ....sudah tak keburu ketemu dengan suhu kamu lagi!" Cin Hong berbalik hendak mengajak Can Sa-jie turun gunung bersama-sama, tiba-tiba menampak pendekar berbaju biru Nie Khun sedang menyerahkan pakaian perempuan kekasihnVayang berada ditepi telaga, perempuan itu setelah menerima pakaiannya, lalu terjun kedalam telaga Cui Sim-Ouw dengan terbirit-birit lari kedalam rimba, tubuhnya yang telanjang bulat tampak putih halus bagaikan Salju.

Cin Hong yang belum pernah melihat wanita tidak memakai pakaian juga belum pernah memikirkan tubuh wanita itu ternyata demikian menarik, sehingga saat itu hatinya berdebaran keras, memandangnya dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar.

In-jie mendorOng padanya sambil menegor, "Jalan, mengapa berdiri bingung? "

Cin Hong yang didorong tampak terkejut, segera teringat kepada pelajaran orang-orang tua dahulu yang merupakan pepatah yang berbunyi: "Yang tidak Sopan jangan dilihat", wajahnya merah Seketika, ia buru-buru menggapai dan memanggil Can-Sa-jie .

"Saudara Can Sa, mari kita lekas pergi,"

Can-sa-jie yang tadi didorong mundur oleh kekuatan tenaga dalam empek Ie-oe, dalam hati merasa tidak enak, tetapi ia juga tahu bahwa empek Ie-oe berbuat demikian karena khawatir ia terluka ditangan Lam-kek Sin Kun, meskipun ia terpental sejauh demikian sunggguh tak enak tetapi karena orang tua itu bermaksud baik bagaimana juga tidak harus marah. Kini ketika mendengar Cin Hong panggil dirinya diajak pergi terpaksa menganggukkan kepala dan berjalan menuju dalam rimba.

Cin Hong memberi hormat kepada empek Ie-oe, sambil menarik tangan In-jie hendak berlalu tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berpaling dan bertanya pula pada, empek Ie- oe.

"Locianpwe, urusan yang terjadi didalam kelenteng  rusak tadi, locianpwe sudah lihat atau tidak? "

"Sudah, kalian lekaslah jalan!" menjawab empek Ie-oe. "Sebab.....sebab  aku  juga  sama  dengan  kau  yang tidak

dapat membuktikan ketulenannya" menjawab empek Ie-oe

sambil tertawa keciL

Cin Hong merasa kecewa, ia geser kakinya hendak berjalan, dengan tiba2 teringat pula sesuatu, maka lalu bertanya lagi: "MaSih ada lagi, apa sebab golongan kalong mengutus dua belas orang Kiongcunya berupa dua belas siluman perempuan Cantik itu pergi memikat anggota muda dari dua belas partay? "

"Hal ini... hal ini aku sedang ....mempelajarinya... jika kau anggap mengejar Suhumu....itu tak penting, boleh tinggal dan. . .mempelajari soal ini bersamaku" berkata empek Ie-oe sambil menghela napas.

Muka Cin Hong kembali merah, tak berani banyak bicara lagi, buru-buru menarik tangan In-jie masuk ke dalam rimba dan terus turun ke bawah gunung....

Tiga orang itu dengan dua ekor kuda meneruskan perjalannya siang malam, mereka melalui propinsi Ho-lam, Im-lam, dan terus masuk kepropinsi San-she. sepanjang jalan tak melihat It-hu Sianseng dan Tnian-san Soat Popo, juga tak ketemu lagi orang-orang golongan Kalong yang menunggu....

Di waktu petang pada hari ke enam, tiga orang itu tiba di distrik cie-yang, yang letaknya terpisah sejarak kira-kira seratus pal dari gunung Tay-pa-san, oleh karena selama enam hari itu belum pernah istirahat, maka ketiganya sudah latih sekali, mereka lalu mengambil keputusan untuk menginap satu malam, di waktu pagi hari baru meneruskan perjalanannya kegunung Tay-pa-san untuk menyelidiki rumah penjara rimba persilatan.

Cin Hong dan In-jie menginap dipenginapan Hong-ho- can di dalam kota, sedang can Sa Jie pergi mencari orang golongan pengemis yang berada di kota itu.

Cin Hong dan In-jie menginap dipenginapan, sebabis dahar malam, In-jie minta Cin Hong pergi ke kota untuk membeli alat menggambar guna melukis gambarnya, sebab mereka sudah mengejar sampai dipropinsi San-she, masih belum berhasil menyandak Suhu mereka, ia sudah tahu tidak akan ketemu Suhunya Selamanya.

Hati cin IHong juga merasa Sedih, atas permintaan in-jie ia lantas berkata Sambil tertawa: "Baik. mari kita sama- sama kekota untuk beli alat lukis.”

“Tidak.aku tidak ingin keluar pintu"jawab in-jie sambil menggelengkan kepala.

Jawaban itu agaknya diluar dugaan Cin Hong, maka lalu bertanya dengan perasaan heran: "Kenapa? "

Wajah In-jie mendadak merah, katanya: "Tak apa-apa, aku hanya tidak ingin keluar"

Cin Hong berpikir, kemudian berkata sambil tersenyum: "Seharusnya kau tidak takut berjalan bersama-sama denganku, bukan? "

Ia-jie mendorong ia keluar kamar, berkata sambil menggigit bibir^ "Keluar, keluar, begini kau memaksa orang, apa tidak malu "

Cin Hong diam-diam berpikir bahwa kelakuan yang tidak seperti biasanya itu pasti ada sebabnya, tetapi ia tak dapat memikirkan dimana letak Sebab musababnya, maka terpaksa menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa, kemudian pergi sendiri,

Disalah sebuah toko ia membeli alat-alat tulis yang diperlukan, selagi hendak membayar harganya, tiba-tiba tampak seorang laki-laki berewokan berpakaian ringkas warna hijau, dengan langkah lebar berjalan masuk ketoko tersebut, dan tiba di toko lantas berkata nyaring:

"Tuan Tahukah tuan di kota ini siapa pelukis yang paling baik? "

Pemilik toko itu mengerutkan kening, ia menghampiri dan bertanya: "Apakah tuan hendak mengundang pelukis untuk menggambar? "