Tangan Berbisa Jilid 03

 
Jilid 03

Wajah pengemis muda itu Sedikirpun tidak merasa malu, ia angkat lagi mukanya yang mesum, sepasang matanya yang gede dipicingkan, mulutnya mencibir, dengan sikap gagah-gagahan seolah-olah mau mengatakan: "Kau mau lihat, lihatlah sepuasmu."

In-jie juga merasa dongkol. Sambii menarik tangan Cin Hong berkata: "Inilah pengemis yang mencari gara-gara, nari kita turun dan hajar padanya"

Cin Hong yang tidak mempunyai kebiasaan berkelahi dengan orang, di samping itu ia juga rasa bahwa perbuatan itu agak aneh pasti ada sebabnya, maka lalu memberi hormat padanya dan berkata^ "Saudara ini Siapakah namamu? Kau dengan kami belum Pernah kenal, ada urusan apa kau mencari aku?"

Pengemis muda itu mendongakkan kepala memandang ke angkasa, Wajahnya menunjukkan sikap sangat serius. dengan Suara lambat ia balas bertanya: "Aku hendak bertanya padamu dulu, kau ini benarkah seorang yang disebut sebagai CayCu daerah Kang Lam yang terkenal sebagai pelukis mahir bernama Cin Hong?"

Cin Hong diam-diam terkejut, buru-burujawabnya: "Benar, Saudara ada keperluan apa?" Pengemis muda itu lalu mendelikkan matanya kepada pelayan rumah makan, katanya dengan sikap jumawa^ "Aku sebetulnya hendak minta tanya padamu, slapa sangka pelayan itu matanya terlalu tinggi, tak pandang orang bawahan, sampai matipun ia tidak izinkan aku naik keloteng- Kaa lihat bagaimana baiknya?"

Pelayan ramah makan itu merasa pernasaran, selagi hendak memberi penjelasan, Cin Hong Cepat goyangkan tangannya, mencegah ia membuka mulut, lalu berkata kepada pengemis muda yang mesum itu.

"Sekarang aku sudah disini. kalau saudara ingin bicara apa- apa, katakanlah saja"

Pengemis muda itu mengeluarkan Suara dari hidung, kemudian berkata sambil meraba-raba perutnya dan mengkedip-kedipkan matanya: "Tadi aku Sudah ribut-ribut setengah harian, hingga perutku juga sudah menjadi lapar, bagaimana aku masih ada tenaga untuk bicara lagi?"

In-jie yang merasa tak sabar. lantaS menarik mundur Cin Hong, kemudian ia berkata: "Benar saja seorang yang hendak menipu makan- Kau jangan hiraukan dia"

Dalam hati Cin Hong memeng juga mendongkol, ia telah mengambil keputusan hendak minta penjelasan lagi, maka lalu mendorong tangan In-jie dan berkata sambil tersenyum: "Apakah Saudara Sudah lapar?" Dengan sikap jumawa, pengemis muda itu mengangguk- anggukkan kepala. seolah-olah bahwa perutnya yang lapar itu harus ditanggung oleh Cin Hong.

Cin Hong tersenyum, la mengeluarkan jari tangannya menunjuk kejauhan sebelah kanan, katanya dengan suara pelahan^ "Kalau begitu kuperkenalkan kepada saudara kesuatu tempat, dari sini kau berjalan terus setelah tiba dijalan perempatan, lalu membelok kekanan, disana ada sebuah rumah makan yang paling terkenal dikota ini, Saudara makan kenyang dulu, barulah kita nanti bicara lagi"

In-jie tidak menduga bahwa Cin Hong demikian licin, maka ketika mendengar ucapan itu dalam hati meraSa senang, lantaS tertawa Cekikikan.

Wajah pengemis muda itu lantas merah, kemudian perdengarkan suara tertawa nyayang dingin dan berkata Sambil menganggukkan kepala: "Baik Rumah makan ciang- hong-kok didalam kota cing-ciu ini memang sangat terkenal dengan hidangannya yang lezat, biarlah aku makan kenyang dulu, aku nanti akan balik kembali. Hanya, aku hendak periksa dulu dalam sakuku ada uangnya atau tidak."

Setelah berkata demikian, tangannya dimasukkan kedalam sakunya dan meraba-raba Cukup lama, dengan tiba-tiba mengeluarkan sepucuk surat yang kemudian dibaCanya, kemudian berkata dengan suara girang: "Ya Baiklah aku menggunakan surat ini untuk kutukar dengan makananku, rasanya tidak akan dia lari"

Sehabis berkata demikian, lalu masukkan suratnya kedalam Sakunya, setelah itu ia lantas berlalu.

Cin Hong yang memiliki pandangan mata sangat tajam, sampul surat itu ternyata tampak tulisan tangan suhunya, dalam hati terkejut, maka buru-buru memanggilnya Sambil menggapaikan tangannya: "Saudara silahkan kembali"

Pengemis muda itu menghentikan langkahnya, dengan pelan berpaling, ia membereskan dulu rambutnya yang tidak karuan. kemudian berkata sambil tertawa dingin: "Untuk apa?"

Dengan paras berseri Cin Hong berkata sambil memberi hormat: "Silalahkan naik keatas"

Pengemis muda itu pura-pura bersikap tidak mengerti. ia bertanya: "Untuk apa naik keatas loteng?"

"Undang kau makan" Berkata Cin Hong sambil tertawa.

PengemiS muda itu unjukkan sikap angkuh, katanya sambil menggoyangkan tangannya: "Tidak. hidangan rumah makan ini tidak selezat hidangan rumah makan ciang-hong-kok, aku sekarang hendak makan disana saja."

Cin Hong berulang-ulang memberi hormat kepadanya, dan berkata sambil tertawa: "Ya, ya, hanya rumah makan ciang-hong-kok itu tiap harinya penuh tamu, tiada ada tempat yang kosong. harus menunggu wakru lama sekali baru mendapat giliran. Bolehkah saudara mengalah sedikit, lain kali kalau ada waktu kita kesana lagi. saudara pikir bagaimana?"

PengemiS muda itu mungkin seorang rakusan mendengar ucapan itu diwajahnya terlintas suatu perasaan girang, ia meleletkan lidah, benar seperti menelan air liurnya sendiri. Setelah itu jalan kembali dengan langkah pelahan-lahan.

Tetapi ketika ia berpaling dan melihat sikap In-jie seperti tidak senang, sesaat itu kembali unjukan sikapnya yang jumawa, katanya dengan suara yang nyaring: "Tidak jadi, aku sipengemis ini Sekalipun seaorang rakus, tetapi juga tidak suka melihat sikap orang yang tak senang, maka aku tidak jadi naik keloteng."

Cin Hong diam-diam merasa Cemas, ber-ulang2 kali ia memberi isyarat dengan lirikan mata pada In-jie, minta supaya ia tertawa, In-jie terpaksa pura-pura bicara Sambil tertawa: "Ya sudah, anggap saja seorang hebat, silahkan naik."

PengemiS muda itu kini tampak sikapnya seperti seorang yang mendapat kemenangan. ia angkat bahunya. dengan langkah lebar berjalan naik keloteng rumah makan itu.

Cin Hong menarik tangan In-jie, berjalan menuju ketangga, untuk menyambut kedatangannya, Setelah itu mereka berada dikanan kiri pengemis muda itu, mengajak tamu gembel itu duduk dimeja tadi.

Cin Hong menyerahi Cawan tehnya yang belum diminum pada pengemis itu dengan sikap sangat menghormat, katanya sambil tertawa: "Saudara. silahkah minum teh dulu "

Pengemis muda itu juga tanpa sungkan2 mengambil Cawan teh itu dan diminum sampai kering. kemudian melihat kesana kemari baru berkata dengan suara heran: "Eh, dimana pelayannya? Apa sudah mampus semua ?" Cin Hong buru-buru menepuk tangan, memanggil pelayan-

Seorang pelayan dengan terbirit-birit lalu naik keatas loteng, berkata sambil minta maaf^ "Maaf. Tuan-tuan dan nona-nona hendak minum arak dan hidangan apa ?"

Cin Hong lalu berkata pada pengemis muda sambil tertawa: "Saudara kau hendak makan apa dan minum arak apa?" Pengemis muda itu dengan sikapnya yang angkuh menyebutkan beberapa nama hidangan yang lezat dan banyak sekali jumlahnya.

Cin Hong segera berkata sambil mengulapkan tangannya pada pelayan: "Dengar tidak? Lekas siapkan"

Pelayan itu menerima baik, dengan sikap curiga memandang pada pengemis muda, sejenak baru meminta diri dan turun kebawah.

In-jie melihat pelayan sudah berlalu, lantas berkata pada pengemis muda itu sambil tertawa: "Hei, sekarang kau boleh menyerahkan surat itu pad aku?"

Pengemis muda itu berpikir dulu sejenak. lalu berkata sambil menggelengkan kepala: "Tidak bisa. jaman sekarang ini tidak bisa dibandingkan dengan jaman dulu, aku si pengemis ini tak boleh tidak harus berlaku hati- hati nanti setelah perutku sudah kenyang barulah kukeluarkan"

In-jie berlaku pura2 tidak sabar, unjukkan senyum getir, dengan tiba-tiba seperti teringat sesuatu ia mengeluarkan suara kaget dan berpaling kepada Cin Hong "Hai, mengapa kau lupa pesan kepada pelayan?"

Cin Hong terkejut, tanyanya dengan perasaan bingung: "Aku lupa, pesan apa?"

In-jie bangkit dan berjalan kedampingnya, lalu ber-bisik,^ ditelinganya. "Kau pegang erat-erat badannya, blarlah aku yang merampas suratnya."

Cin Hong mengerutkan alisnya, sebentar berpikir, dan akhirnya menggelengkan kepala sambil tersenyum,

In-jie dengan perasaan tidak senang memandang kepadanya, kemudian berkata lagi ditelinganya: "Dengan Cara begini kita harus selalu menuruti kehendaknya, maka kita harus berusaha menghajar adat padanya."

Cin Hong menggelengkan kepala, juga berbisik ditelinganya^ "Sudahlah, dari jauh ia mengantar surat Suhu datang kemari, dengan sesungguhnya kita juga harus mengundang dia makan sekali. "

Pengemis muda itu ketika melihat mereka berbisik-bisik, matanya yang besar berputaran beberapa kali dengan tiba- tiba dari tempat duduknya, dan lantas lari menuju ketangga loteng hendak turun.

Cin Hong terperanjat, buru-buru lompat kehadapannya sambil menentang kedua tangannya untuk merintangi perjalanan pengemis itu, katanya: "Saudara, kau hendak kemana?"

Pergemis itu masih berusaha hendak kabur, sedang mulutnya berteriak-teriak: "Aku can Sa Ji ejika tidak kabur bukan saja tidak jadi makan, bahkan hendak mendapat kesulitan"

Bagaimanapun juga Cin Hong tidak mengijinkan dia turun kebawah, ia terus menghadang dihadapannya dan berkata dengan wajah berserk "Saudara telah salah paham, dia bukan hendak menyusahkan kau, dia hanya berkata. "

In-jie buru-buru menyambungnya^ "Aku tadi berkata padanya, bahwa kita tadi sudah lupa pesan kepada pelayan agar hidangannya di beri lombok yang pedas"

Pengemis itu menghentikan usahanya hendak kabur, lantas berpaling dan berkata kepada In-jie sambil tertawa: "Benarkah? oh, nonaku yang baik, aku can Sa Jie barang kali karena sudah kelaparan sehingga daya pendengaranku sudah menjadi kabur." Wajah In-jie kemerah-merahan, kemudian berkata: "Baiklah Aku tidak akan menyulitkan kau, harap kau duduk kembali"

Tak lama kemudian pelayan Sudah naik ke ataS loteng dengan membawa hidangan yang dipesan pengemis muda itu menggulung lengan bajunya, tanpa bicara apa- apa lantas mulai menyerbu hidangan, tangan kiri memegangi Cawan arak sedang tangan kanan mengambil sepotong panggang ayam dan dimakannya sambil tertawa.

Cin Hong dan In-jie duduk dikedua sisinya mengawani dia makan- Melihat Caranya makan yang demikian rakus, In-jie yang tidak Sabar lantas tertawa geli.

Pengemis itu masih tidak menghentikan mulutnya, ia menggelengkan kepala dan mengeluarkan suara yang tidak jelas: "Tidak Seorang lakl-laki kalau makan harus demikian- "

"Saudara, aku masih belum menanyakan namamu," Berkata Cin Hong sambil tertawa.

"Aku tadi sudah tanya namamu, begitupun sudah menyebutkan namaku sendiri" Berkata pengemis muda itu.

In-jie merasa geli, lalu bertanya kepadanya sambil tertawa: "Apakah namamu itu can Sa Jie?"

can Sa Jie mnganggukkan kepala dan berkata^ "Benar, aku kalau dibanding dengan suhumu can Sa Sian lebih suka makan, oleh karena itu maka orang-orang rimba persilatan lantas memberikan hadiah nama kepadaku can Sa Jie, sedangkan namaku yang sebenarnya sudah tidak ada orang yang mengetahui lagi, sebetulnya tak ada she dan nama, itulah yang paling baik dalam dunia ini banyak orang-orang pandai tokoh-tokoh kuat, semua tidak suka menggunakan nama aslinya kepada orang, mereka paling suka berlaku misieri^."

Cin Hong dan In-jie ketika mendengar itu semua pada terkejut, tanyanya: "HaaaJadi kau ini murid PangCu golongan pengemiS ca-sa-sian Sle Kwan?"

can Sa Jie mengangguk-anggukkan kepala karena saat itu ia sedang menjejalkan sepotong paha ayam sedalam mulutnya, maka tidak bisa menjawab.

"can Sa Jie, dengan Cara bagaimana kau bisa mengenali kita?"

"Suhumu telan menduga pasti bahwa kalian berdua pasti bisa mengejar kemari, maka ia pernah menceriterakan wajah dan dandanan kalian suruh aku perhatikan setiap orang disepanjang jalan- . ."

Sepasang mata In-jie berputaran, ia menarik kursinya dan mendekati pengemis itu, berkata dengan sikap ramah tamah: "can Sa Jie, sekarang kau toh Ssdah boleh memberikan Surat itu kepada kita"

can Sa Jie masukan tangannya kedalam saKunya, dan mengeluarkan sepucuk Surat, diberikan kepada Cin Hong, kemudian sisa paha panggang ayamnya yang masih belum habis dimakan, diletakan disamping dan menyantap hidangan yang lainnya lagi.

Cin Hong yang mendapat surat itu setelah menerima benda pusaka, dengan Cepat dibukanya, sedang In-jie juga buru-buru mendekatinya, keduanya membaCa bersama- sama.

"Hong-jie. Tadi ma lam Suhumu dan Subomu setelah pergi mengejar musuh. Sebetulnya hendak kembali, tetapi kemudian berpikir antara kita. Suhu dan murid sebaiknya berpisah dulu seCara begini, dimana letak sebabnya, suhumu tidak ingin menceritakan padamu. Aku perCaya bahwa kau jaga bisa menduga sendiri. Biarpun bagaimana, kau toh sudah dewasa, apa yang Suhumu dapat berikan, juga sudah kuwariskan semua kepadamu. sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk menggembleng dirimu sendiri, juga sudah tiba waktunya bagimU untuk mengembangkan kepandaianmu sendiri Dua tahun paling akhir ini suhumu Selalu memikirkan hendak menceritakan asul-usul dirimu, tiap kali ucapan itu kalau sudah dibibir, akhirnya kubatalkan lagi, bukan lantaran malas, melainkan tidak tega bathinmu nanti akan menderita, kau tahu bahwa suhumu belum pernah mengakui bahwa penghidupan manusia itu adalah lautan kesusahan, oleh karena itu maka suhumu seumur hidupnya tak mau menerima kesusahan, juga tak Suka melihat orang lain mendapat kesusahan- . . .Kali ini, Jikalau bukan karena kedatangan subomu, Suhumu masih hendak tetap menebalkan muka untuk hidup terus, menebalkan muka yang suhumu maksud seharusnya merupakan pandangan orang lain terhadap Suhumu, sedangkan Suhumu selamanya belum pernah menganggap bahwa tidak pergi ke rumah perjara rimba persilatan menantang penguaSa rumah penjara rimba persilatan merupakan suatu perbuatan yarg memalukan.

Kenapa? Sebab meskipun suhumu setiap hari malam Senantiasa bertekun mempelajari ilmu untuk mencari kemajuan, tetapi masih tahu benar bukanlah tanda tangan penguasa rimba persilatan-Jika pada suatu hari Suhumu biSa menyambuti serangannya tiga jurus pukulan mautnya bisa menolong keluar lima orang, tetapi suhumu tidak pergi, itulah baru merupakan Suatu hal yang memalukan

Meskipun demikian, suhumu Selama itu toh masih terus berlatih sabar, inilah sesungguhnya yang sangat lucu, kalau perlu diberi keterangan hanya cukup dengan sepatah kata. itulah penghidupan Enam bulan kemudian, apalagi suhumu belum kembali ke kota Hang-ciu, kau boleh pergi menengok ke rumah penjara, waktu itu, Suhumu nanii akan menceritakan asal usul dirimu. Akhirnya tak perduli kau

dengan Yo itu cocok atau tidak, bagaimana juga kau harus baik2 menjaganya, sebab dia adalah murid satu2nya dari Subomu, juga adalah golongan keturunan dari Thian San cit-tlong Wie.

-Surat ini kutulis di kota Liok Peng dan kuberikan kepada can Sa Jie untuk menyampalkan kepadamu. Lagi, ada satu hal aku lupa memberitahukan kepadamu, tadi malam setelah kita berhasil menyandak orang itu, dari sikap dan pembicaraan orang itu, suhumu merasa curiga bahwa orang itu betul atau tidak anak buahnya penguasa rumah penjara rimba persilatan-

Hal itu setelah nanti kita tiba di gunung Tay-pa-San barulah akan mendapatkan buktinya, sebabnya Suhumu menyebutkan hal ini adalah untuk memperingatkan Kau, orang-orang dunia kang-ouw terlalu jahat dan berbahaya, dikemudian hari apabila kau berkelana didunia kang-ouw haruS hati-hati dan senantiasa waspada terhadap orang- orang seperti itu.

Terakhir ialah, ada satu hal anak kunci emas dengan tanda hUruf Liong yang tergantung di leh ermU itujangan sekali- kali kau tunjukkan kepada siapapun juga Sebab Jika kau nanti pergi menegok ke rumah penjara rimba persilatan, akan suhumu beritahukan lagi kepadamu."

Sehabis membaca, dua kepala diangkat pelahan-lahan saling berpandangan, air mata mengalir turun dikedua pipi orang muda itu....

can Sa Jie mengerlingkan matanya, tampak mereka mengucurkan air mata, semakin lama perasaannya semakin tidak enak. Dengan tiba-tiba ia menggebrak meja dan berkata: "Nangis? Mengapa menangis? Kepala boleh putus, darah boleh mengalir, hanya air mata jangan mengucur. Aku ingat, sewaktu suhuku tahun lalu mengambil keputusan hendak berkunjung kerumah penjara rimba persilatan untuk menantang pertempuran, sebelum berangkat suhu petnah bertanya kepadaku: can Sa Jie, suhumu mau pergi, kau menangis atau tidak? coba kalian tebak. apa jawabku?^ Waktu ini aku menjawab: ^Menangis apa? Aku can Sa Jie hanya bisa mengalirkan air liur, tidak bisa mengucurkan air mata. Suhu, kau mau pergi boleh pergi, tunggu aku can Sa Jie sesudah yakin boleh tidak usah memakai belengu tangan dan kaki. . .sesudah yakin bisa mencari makan yang baik. barulah nanti akan mengawani suhu duduk didalam rumah penjara. coba kalian lihat betapa gagah sikap itu? Betapa. "

In-jie mendengarkannya merasa sangat muak. lantas angkat muka dan membentak padanya sambil menunjuk mukanya: "Jangan sombong, aku hendak tanya padamu, Suhuku menyampaikan pesan padamu untukku atau tidak?"

Biji mata can Sa jie berputaran beberapa kali, kemudian menjawab sambil menggeleng kepala: "Tidak ada "

Air mata In-jie kembali mengalir keluar, katanya dengan perasaan keCewa: "Benarkah tidak ada?"

"Tidak, ya tidak ada, bagaimana masih ada benar atau bohong? Hm." berkata can Sa Jie mendongkol.

In-jie naik pitam, ia bangkit dan mengambil poci arak diatas meja, lantas berkata Sambil tertawa dingin: "Baik sekarang giliran hendak menghajar kau anak busuk ini-"

can Sa Jie melihat poci araknya dirampas, tetapi sikapnya masih acuh tak aCuh. Sebaliknya dengan tangan kiri ia mengambil Cawan arak dan sodorkan kepada In-jie seraya berkata sambil tertawa cengar-cengir. "Nona muda, tolong tuangkan seCawan arak untukku."

Sepasang alis In-Jie berdiri, ia angkat poci araknya, selagi hendak digunakan untuk menyambit, tetapi kemudian dengan tiba-tiba wajahnya berubah, poci ditangannya dengan tiba-tiba diletakkan kembali, ia berdiri tertegun  tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Sebab Saat itu ditangan can Sa Jie ternyata terdapat sepucuk surat itu tampak tegas tulisan yang dialamatkan untuk In-jie.

Dengan tangan kiri masih memegangi Cawannya tanpa bergerak. tangan can Sa Jie menggunakan sampul surat itu mengipasi dirinya, lalu dengan sikap sombongnya berkata: "Nona muda, kau dengar atau tidak? Aku can Sa Jie minta tuangkan arak,"

In-jie sangat girang, tapi iuga malu. Ia berdiri dan berpikir sejenak terpaksa mengangkat lagi pocinya dan menuangkan araknya kedalam Cawan yang ada ditangan can Jie, lalu berkata Sambil tertawa: "orang toh bicara main-main denganmu, sebetulnya kau adalah tamu kita, sudah seharusnya Kalau kutuangkan arak untukmu."

can Sa Jie membuka mulutnya dan tertawa tergelak^ sambil minum lalu memberikan Suratnya pada In-jie seraya berkata dan tertaWa: "Kuberitahukan padamu, aku can Sa Jie bukan hanya itu saja, Jika kau mau main nakal Silahkan"

In-jie tidak menghiraukan, buru-buru  membuka suratnya, diataS Surat itu tertulis dengan kata-kata: "In-jie, dalam surat Supekmu yang ditujukan pada bocah itu ada banyak perkataan justru apa yang suhumu ingin sampaikan padamu. oleh karena itu suhumu juga tak perlu menulis banyak-banyak lagi. Hanya ada satu hal kulihat bocah itu walaupun orangnya dan kepandaiannya tak tercela, sayang sedikit agak nakal, kau harus hati2 terhadapnya, Jika belum tahu benar2 bahwa dia itu dapat dipercaya, kau jangan memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan sesuatu darimu, supaya kau jangan mengulangi riwayatku lagi. Ingatlah baik2. . . .Disamping itu kalau bocah itu hendak datang kermah penjara, kau suruh dia membawa lukisan potretmu yang dia lukis, Supaya disampaikan padaku, Sebab aku khawatir dalam hidupku ini tak akan bisa berjumpa lagi denganmu, maka aku mengharap agar gambar potretmu senantiasa berada disisiku, agar supaya setiap saat aku bisa melihat kau, untuk menghilangkan kesepianku dan menghibur perasaan rinduku. Dari Suhumu, Thian-san Swat Popo ,"

In-jie sehabis membaca surat itu, mengingat bahwa dalam hidupnya barang kali takkan bisa berjumpa lagi dengan Suhunya dan mengingat pula nasib dirinya yang mengenaskan, maka kembali ia menangis dengan sedihnya.

Cin Hong melihat In-jie menangis begitu sedih ditempat umum, sesungguhnya merasa tidak enak maka buru-buru menghiburnya: "Nona Yo, kau jangan nangis, ucapan Saudara can Sa Jie tadi betul. Seorang lelaki kepala boleh putus, darah boleh mengalir." Akan tetapi dengan tiba-tiba ia sadar bahwa In-jie bukanlah seorang lelaki. Maka buru- buru dirubahnya.

"Kau jangan menangis, jika kau terlalu sedih bagaimana kalau nanti mendapat Sakit?"

In-jie mendengar ada orang menghiburi, menangis semakin Sedih, air matanya mengucur deraS, Suara tangiSnya yang menyedihkan itu tak mau berhenti.

Cin Hong melihat semua tamu diatas loteng itu menujukan pandangan matanya kearah dirinya, maka ia meraSa malu, diam-diam pikir bahWa sebab musababnya dari surat Swat Popo tadi maka kemudian berkata: "Nona Yo, boleh kah kubaCa suratmu tadi?"

In-jie terperanjat, buru-buru masukkan surat itu kedalam sakunya sendiri, dan berkata sambil menggelengkan kepala: "Tidak. . . .tidak. "

"Melihat saja apa Salahnya"? Suratku toh, Kau juga boleh lihat." berkata Cin Hong dengan rasa heran.

can Sa Jie mengetok mangkoknya dengan sumpit, lantas berkata sambil memperdengarkan suara tertawanya yang aneh^ "Jangan lihat lagi. aku tahu apa yang terlulis dalam Surat itu"

In-jie kembali terperanjat, ia angkat mukanya yang berlinang air mata, katanya sedih: "Tak tahu malu kau mencuri baCa surat orang lain"

"Kau mengaco Kau pandang can Sa Jie ini orang maCam apa?" kata can Sa Jie marah.

"Jikalau tidak. dengan Cara bagaimana kau bisa mengetahul?" berkata In-jie dengan suara Keras,

"Aku adalah dengar dari keterangan suhumu sendiri, di waktu ia menulis Surat itu, ia pernah berunding dengan It- hu Sianseng." berkata can San Jie sambil tertawa. "Sudah..Jangan bicara lagi" berkata In-jie dengan wajah kemerah-merahan.

"Kalau tidak menangis, aku juga tidak berkata lagi." kata canJie sambil tertaWa.

In-jie benar saja tak berani menangis lagi, ia mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka air matanya. sikapnya agaknya sangat menurut perkataan can Sa Jie. Cin Hong merasa heran, maka lalu bertanya: "Nona Yo, apakah sebetulnya?"

In-jie hatinya Cemas ditanya demikian, kembali menjadi marah, sambil menggigit bibir berkata: "Kau ini demikian bawel."

Dengan tanpa sebab Cin Hong di damprat demikian, terpakaa diam dan menundukkan kepalanya, dalam hatinya merasa tak senang, ia pikir gadiS ini memang Cantik, hanya adatnya suka menuruti Kemauan sendiri.

In-jie juga merasakan bahwa perbuatannya tadi agak keterlaluan, maka ia lantas mendekati Cin Hong dan berkata dengan suara pelan? "Hei, apakah kau marah?"

"Aku akan pinjam ucapan empek Ie-oe,jikalau aku mengatakan tidak marah, bukankah itu berarti membohongi didepan matamu?" berkata Cin Hong sambil tertawa hambar. Mata In-jie menjadi merah, ia menundukkan kepala, tidak berkata apa- apa lagi.

can Sa Jie bangkit dari tempat duduknya menepuk-nepuk bahu Cin Hong seraya berkata: "Jika kau sudah mengenali keadaan dalamnya, tidak seharusnya kau marah terhadapnya" In-jie menjadi gugup, kembali membentak dengan suara keras.

can Sa Jie meleletkan lidahnya, sikapnya menunjukkan bingung, katanya dengan perlahan: "Jangan mengucapkan perkataan demikian keras, banyak orang semua pada memandangmu"

In-jie coba melirik, benar saja semua tamu yang ada disitu, tujukan pandangan mata kepada dirinya, sambil tersenyum simpul, maka Saat itu sangatlah malu terhadap dirinya sendiri, hingga pipinya menjadi merah. Diam-diam menarik baju Cin Hong dan berkata: "Hei mari kita lekas pergi"

"Kau jangan terburu-buru. Kita toh masih belum makan?" BerKata Cin Hong sambil tersenyum.

In-jie terpaksa duduk kembali, namun perasaannya masih tidak enak. katanya^ "Aku sudah kenyang. Lekas jalan"

can Sa Jie yang mendengar upapan In-jie yang hendak pergi, buru2 mengambil sumpitnya menyantap makanannya lagi dengan lahapnya, sambil makan ia bertanya: "Kalian hendak kemana?"

"Siaote sekarang perlu lekaS pergi menyusul Suhu, dan minta Suhu Supaya pulang. sekarang aku terpakSa tidak dapat mengawani saudara lagi."

can Sa Jie menghentikan makannya, ia bertanya dengan mata terbuka lebar: "Bagaimana kau sebaliknya hendak menyusul mereKa dan mengajak pulang?"

Cin Hong lalu menceritakan akal mus lihat orang-orang. golongan kalong yang menggunakan nama penguasa rumah penjara rimba persilatan, mengirim surat kepada Suhunya dan suhu In-jie, kemudian tanpa disengaja telah muncul empek Ie-oe yang memukul mundur musuh-musuh yang terdiri dari orang-orang golongan kalong. oleh empek Ie-oe itu diceritakan bahwa orang-orang yang mena makan dirinya dari golongan kalong itu mempunyai rencana keji, dan perasaan kepada dirinya, agar supaya lekas menyusul Suhunya.

can Sa Jie terheran- heran mendengarpenuturan itu, ia berpikir sambil menggaruk-garuK kepalanya yang tidak gatal, kemudian bertanya: "Heran, di rimba persilatan muncul partay baru yang menamakan diri partay kalong bagaimana kita orang-orang golongan pengemis tidak mengetahui hal itu?"

"Mereka berdiri belum lama, seorang tokoh golongan iblis yang ternama, ialah Lam-khek sin-kun Im Liat Hong, telah menjadi anggauta pelindung hukum mereka, dapat kita bayangkan, partay baru yang mena makan dirinya partay kalong itu, pangcunya pasti merupakan seorang yang sangat lihay." Berkata Cin Hong Sambil menggigit bibir.

"Lam-khek sin-kun itu bukankah sudah disekap dalam rumah penjara rimba persilatan? Dengan cara bagaimana ia bisa lari keluar?" Bertanya can Sa Jie semakin heran-

"Aku tidak tahu, mungkin ia menantang bertempur kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan, karena Sudah berhasil bisa menyambut tiga jurus pukulan maut penguasa rumah penjara maka boleh keluar dari penjara. Dan mungkin juga pang cu dari golongan kalong itu yang pergi menantang bertempur, dan kemudian menolong dia keluar. "

"Pada deWasa ini kecuali tamu tidak diundang dari dunia luar yang mungkin masih sanggup menyambut serangan tiga pukulan maut penguasa rumah penjara, siapa lagi yang mempunyai kekuatan dan kepandaian yang demikian tinggi?" Berkata can Sa Jie yang merasa Curiga.

In-jie yang mendengar sudah meraSa tidak sabaran, dengan menarik-narik tangan Cin Hong, ia mendesak: "Mari lekas pergi, Suhu barangkali sudah pergi jauh sekali."

Cin Hong menganggukkan kepala dan bangkit daritempat duduknya, ia memanggil pelayan untuk memperhitungkan harga pesanan makanannya. Disamping itu dia juga masukkan tangannya kedalam sakunya mengambil Uang. Tetapi dengan tiba2 wajahnya berubah dan berseru: "celaka uangku tidak Cukup,"

Cin Hong adalah salah seorang dari Su caycu, atau "Empat orang Cerdik pandai di daerah Kang-lam."

Nama cin Kongcu selain terkenal sebagai seorang cerdikpandai, juga kesohor karena lukisan-lukisannya, sehingga ia mendapat gelar "PelukiS tangan Sakti Gin Eng- cu di kota Hang clu namanya sangat kosonor hampir setiap orang tahu, maka setiap kali Keluar pintu, selalu tidak membawa uang banyak, kadang-kadang jika ia perlu membayar makanan atau apa saja, aSal meneken bon sudah cukup. Tadi pagi ketika ia membeli dua ekor kuda di kota Hang Ciu, juga dibayar dengan tekenan bonnya.

Akan tetapi kini setelah berlalu dari kota Hang ciu, didalam sakunya hanya tinggal uang receh yang jumlahnya tidak cukup satu tail. Sedangkan menurut pengalamannya hidangan sebanyak itu paling sedikit juga memerlukan uang tiga tail lebih.

In-jie ketika mendengar perkataan bahwa uang Cin Hong tidak cukup, maka matanya terbuka lebar, katanya dengan cemas: "Sekarang bagaimana? Aku sendiri juga tidak punya uang."

can Sa Jie mengira mereka kembali hendak permainkan dirinya. maka lantas perdelikan matanya dan berkata: "Bagus, kalian apakah suruh aku yang membayar? Kuberitahukan kepada kalian, aku can Sa Jie tidak memiliki uang, dibadanku hanya terdapat banyak kutu busuk saja,"

Pelayan rumah makan yang melihat mereka semua tidak mempunyai uang, wajahnya lantan berubah, demikianpun sikapnya juga tampak menghina. Cin Hong yang tertegun sejenak. tiba-tiba teringat bahwa dirinya masih membawa sebuah kipas maka buru2 dikeluarkannya dan diberikan kepada can Sa Jie sambil tertawa: "Saudara can Sa Jie tolong gadaikan kipas ini kerumah pegadaian-"^

can Sa Jie menerima kipas yang diberikan kepadanya, dilihatnya sebentar lantas bertanya Sambil mengerutkan alisnya: "Kipas semaCam ini bisa laku digadai berapa duit?"

"Gadaikan saja tiga puluh tail sudah cukup," Berkata Cin Hong sambil tersenyum.

sepasang mata can Sa jie terbuka lebar, katanya: "Apa kau sudah gila?"

"Saudara can Sa, kau anggap terlalu sedikit, gadaikan empat puluh tail juga boleh." Berkata pula cin Hoog sambil tersenyum.

can San Jie tidak tahu bahwa kipas yang dilukis oleh tangan pelukis Sakti Cin Hong itu merupakan benda yang sangat berharga dikalangan orang terpelajar, mendengar perkataan itu benar-benar sangat heran dan dianggapnya Cin Hong sudah gila, maka kipas itu dikembalikan padanya dan membentak dengan sikap marah: "Heh Apa kau ini hendak mempermainkan aku can Sa Jie?"

Cin Hong mengeluarkan tangannya hendak menerima kembali kipasnya, tiba2 kipas itu sudah disambut oleh tangan lain, ketika ia angkat muka, didekat mejanya berdiri seorang pelajar berbaju putih yang memiliki wajah yang sangat tampan-

Pelajar berbaju putih itu usianya ditaksir baru dua puluh lima tahun, sikapnya sangat luwes dan tampan, hanya sepasang matanya yang sangat jeli, melihat orang yang melihatnya mempunyai kesan bahwa pelajar itu seperti seorang perempuan yang menyamar menjadi seorang lelaki.Jikalau ia mengenakan pakaian perempuan pasti akan merupakan seorang perempuan yang Cantik jelita. Akan tetapi dia bukanlah seorang gadis yang Cantik jelita yang menyamar menjadi lelaki. sebab ditenggorokannya tampak ada tulang yang menonjol, meskipun agak kecil sedikit kalau dibandingkan dengan orang lelaki kebanyakan, tetapi keadaannya itu sudah cukup uatuk membuktikan bahwa dia bukanlah seorang wanita.

Cin Hong tidak tahu, dengan maksud apa pelajar berbaju putih itu merampas kipasnya, maka buru-buru memberi hormat padanya dan berKata sambil tertawa: "Saudara, apakah artinya ini?"

Dengan suaranya yang sangat merdu Sekali. Pelajar itu berkata sambil tertawa: "cobakau sebutkan kau hendak gadaikan berapa tail?"

Cin Hong berpikir dulu sejenak^ kemudian berkata sambil tertawa^ "Aku seorang she cin tak Suka dengan Cara ini untuk penghidupanku, hari ini oleh karena seCara kebetulan aku butuh uang, jika Saudara merasa suka, dengan tiga puluh tail saja sudah cuKup,"

Pelajar berbaju putih itu tersenyam, dari dalam sakunya mengeluarkan tiga potong uang perak yang berharga tiga puluh tail, uang perak itu diletakkan diatas meja, setelah itu ia memberi hormat dan berlalu.

can Sa jie mengawasi pelajar berbaju putih itu hingga turun dari loteng, setelah itu ia mengangkat tangannya, dan kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sedang mulutnya berteriak-teriak : "He Kejadian aneh hampir setiap tahun ada. Tetapi tahun ini tampaknya luar biasa banyaknya" In-jie juga merasa sangat girang, ia berkata sambil menatap wajah Cin Hong: "Hei, kipas mu itu bagaimana demikian berharga?"

Cin Hong MEMGAMBIL Sepotong uang perak diberikannya kepada pelayan rumah makan untuk minta kembalinya, dua potong yang lainnya dimasukan dalam sakunya sendiri. katanya sambil tertawa: "Dia boleh dikata masih membeli barang murah, jikalau oleh orang lain yang makelarkan, paling sedikit juga bisa laku Sampai lima puluh tail uang perak."

"Kalau begitu berharga, lain hari kau boleh melukis banyak-banyak. biarlah kita menjadi kaya" Berkata In-jie sambil tertawa girang.

"Maaf, aku bukanlah tukang gambar. Tidak bisa menjual gambar." Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala.

can Sa Jie yang selama itu berdiri keheranan, dengan tiba2 mengajukan pertanyaan, "Pelajar berbaju putih tadi dengan Cara bagaimana bisa tahu kalau kau adalah pelukis Tangan Sakti?"

"Tunggu setelah kau menjadi seorang ternama, kau tak merasa heran lagi" Berkata Cin Hong sambil tertawa mesem.

"Aku kira tidak begitu. dia agaknya tidak memperhatikan kipasmu, bahkan kau tadi perhatikan atau tidak^ dia itu mirip seorang wanita, agaknya genit juga sedikit. "Berkata

can Sa Jie.

Cin Hong selagi hendak mencegahnya berkata terus, dengan tiba-tiba dibelakang dirinya ada orang berkata: "IHm. murid dari pengemis tua itu benar-benar hebat, dugaanmu itu tepat." suara itu sangat perlahan, tetapi didalam telinga mereka kedengarannya sangat jelas, tak dapat disangsikan lagi bahwa suara itu keluar dari mulut seorang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang tinggi sekali.

Cin Hong berpaling. tampak Seorang tua kurus berbaju hijau, berusia kira- kira lima puluh tahunan sedang berjalan menuju kemulut tangga,

Wajah can Sa Jie berubah, pelahan-lahan bangkit dari tempat duduknya dan bertanya: "cianpwee ini siapa?"

orang tua berbaju hijau itu kakinya menginjak tangga loteng tanpa menoleh sedikitpun juga hanya menjawab sambil tertawa hambar: "Hanya orang yang sedang berlalu"

can Sa Jie memburu dan bertanya pula: "Dengan Cara bagaimana Cianpwee bisa mengenali aku can Sa Jie?"

orang tua itu pelahan-lahan meneruskan langkahnya turun kebawah loteng, atas pertanyaan can Sa Jie ia menjawab dengan sikap yang tetap hambar: "Kau sendiri yang mengatakan."

can Sa Jie lompat ketangga loteng, dari bagian atas ia mengawasi berlalunya orang tua itu, kemudian berkata dengan suara nyaring: " Dihadapan yang benar, tidak perlu membohong. cianpwee sadah kenal suhu mengapa tak bercakap-cakap dulu sebentar baru pergi?"

"Masih perlu mengikuti orang, tak ada waktu luang" Demikian orang lelaki berbaju hijau itu menjawab hambar tanpa menoleh.

Ketika Cin Hong dan in-jie memburu Sampai dimulut tangga, orang tua itu sudah tiba dibawah, mereka hanya melihat sikap tenang dari orang tua itu dan seCepat kilat sudah keluar pintu, gerak kakinya yang demikian gesit, hingga sedikitpun tidak diketahui oleh para tamu yang berada dibawah loteng.

can Sa Jie menggapai kepada Cin Hong berdua lebih dulu ia lari turun kebawah, lalu disusul oleh Cin Hong dan InJie. Tetapi segera dipegat oleh pelayan rumah makan yang memberikan kembalian uang kepada mereka. Setelah Cin Hong menerima kembali uangnya dan tiba dipintu rumah makan, orang tua berbaju hijau dan Can Sa Jie sudah tidak tampak bayangannya lagi.

Pelayan ramah makan menyerahkan dua ekor kuda milik Cin Hong berdua, Cin Hong lalu bertanya sambil menatap In-jie: "Nona Yo, sekarang kita harus kemana?"

In-jie sementara itu telah melompat keatas punggung kuda dan menjawab: "Mari kita sekarang lekas menyusul suhu. itulah yang terpenting"

Cin Hong pikir juga betul, maka lalu meninggalkan pesan beberapa patah kata kepada pelayan rumah makan,

^keduanya keluar dari kota Cing cu, menuju keBarat^

Malam bulan sabit sudah muncul dilangit. Tetapi keadaan disepanjang jalan masih gelup, pohon-pohon ditempat jauh, dan bukit-bukit se-olah-olah makhluk aneh yang berjajar merintangi perjalanan- seram dan sunyi. Kadang-kadang ada bebeberapa ekor kalong yang terbang rendah dan mengeluarkan suara dari sayap.

In-jie yang masih merasa takut terhadap binatang Kalong, larikan kudanya mendekaki Cin Hong, namun masih tetap menyembunyikan perasaan takutnya. ia mulai mengajak bicara: "Hei, rembulan malam ini tampak sangat indah, ya?"

Cin Hong angkat kepala mengawasi angkasa yang gelap gulita, baginya sedikitpun tidak ada keindahan, maka ia lalu menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak.. cuaca buruk sekali."

In-jie merasa kurang senang, katanya sambil memonyongkan mulutnya^ "Bagaimana kau bisa berkata demikian? Lihat itu bulan sabit yang sangat indah "

Cin Hong masih tetap dengan pendiriannya, ia berkata sambil menggelengkan kepalanya dan In-jie sangat mendongkol, ia berseru: "Hei, janganlah kau menyebutkan nama kalong. Apakah tidak bisa?"

Cin Hong kini baru ingat bahWa gadis itu takut kepada saloog, maka buru-buru menjawab^ "Ya, semakin merasa bahwa bulan itu benar-benar indah. "

In-jie menarik nafaS dan berkata: "Kata suhu benar, kau ini memamg benar ada sedikit nakal"

Cin Hong terkejut, tanyanya: "Apa, Suhumu berkata bahwa aku ini nakal?" In jie menganggukkan kepala, wajahnya menunjukkan sikap duka.

"Hei, apakah kau percaya perkataan suhumu?" Bertanya Cin Hong.

"Aku tidak percaya, akan tetapi. "

"Akan tetapi apa?"

"Akan tetapi kau benar-benar sedikit nakal." "o Dalam hal apa aku ada sedikit nakal?"

"Umpama kata, ketika aku tadi marah kau lantas cepat berobah pendirianmu dan mengikuti pandanganku bahwa rembulan itu indah, apakah itu tidak nakal?"

"Hei Kalau aku mengatakan tidak indah, kau marah. Aku mengatakan indah, kau juga marah. HabiS bagaimana aku harus berbuat?" "Kataku, kau ini terlalu pandai berpura-pura"

"o, kiranya begitu, kiranya kau suruh aku berpura-pura sehingga mirip benar-benar, barulah tidak dianggap nakal."

"Baiklah, apakah kau hendak berkelahi denganku?" "Haa, tidak tidak"

"Hem, hanya satu perkataan saja kaU lantas mau ribut denganku?"

"Ya, ya, maaf saja."

"Hei, marilah kita tukar pembicaraan yang lain "

"Dalam surat suhumu telah menyebutkan anak kunci berukuran huruf Liong, benarkah kau memiliki anak kunci semacam itu?"

"Ya, hanya semula aku tidak menaruh banyak perhatian, tetapi setelah Suhu pesan demikian, aku merasa heran-"

"Kenapa?"

"Anak kunciku ini, jika bukan salah satu dari dua belas anak kunci emas milik partay oey-san yang hilang, bagaimana Suhu bisa meninggalkan pesan khusus kepadaku, supaya jangan diunjukkan dihadapan orang?"

"Hmm. "^

"Jikalau mau dikata seperti apa yang telah kau katakan, bahwa penguasa rumah penjara rimba persilatan itu pada sepuluh tahun berselang pernah dihadapan dua-belas partay, mengeluarkan sebuah anak kunci yang berukiran huruf Liong, sedangkan anak kunci ini berada dileherku sudah delapan belas tahun lamanya, bukankah ini Sangat bertentangan?"

"Emm.      " "Bagaimana kau selalu hem... ,hem^ saja bisanya?" "Ah, aku sendiri juga tak mengerti."

"Akh "

"o, iya. Benarkah kau tak mempunyai ibu dan ayah?" "Aku tidak tahu, suhu Selama tidak mau

memberitahukan padamu. ?"

"Ya, maka sekarang kita harus cepat menyusul"

Selagi mereka memacu kudanya, dari tempat agakjauh tiba-tiba mendengar suara jeritan yang mengenaskan, suara itu ditarik panjang-panjang, ke dengarannya seperti orang yang di siksa.

Cin Hong terkejut, ia lalu menghentikan kudanya, dan bertanya sambil menatap In-jie "Kau dengar tidak. itu suara apa?"

In-jie juga menghentikan kudanya, ia berpaling kekiri. kearah datangnya suara tadi kemudian baru berkata: "Seperti ada orang disiksa "

Belum habiS ucapannya, Suara jeritan itu terdengar pula, suara itu sangat mengerikan kemudian perlahan-lahan menjadi lemah, seperti orang yang sudah mendekati ajalnya.

Cin Hong kembali dikejutkan oleh suara itu, ia segera memacu kudanya dan dilarikan kearah kiri, disamping itu  ia juga berkata sambil menggapaikan tangannya kearah In- jie: "Nona Yo, mari lekas kita lihat"

In-jie juga memacu kudanya mengikuti Cin Hong, sebentar saja sudah tiba dihadapan sebuah rimba pohon cemara, tampak sesosok bayangan orang lari masuk kedalam rimba. Dalam rimba itu terdapat sebuah jalan berliku-liku, dari dalam tampak sinar pelita. Cin Hong dan In-iie lompat turun dari kudanya, kuda mereka ditambat dibawah pohon, setelah itu mereka lompat masuk kedalam rimba dengan melalui jalan kecil itu. Masuk rimba kira-kira sepuluh tombak jauhnya, didalam rimba dibawah daun- daun rindang tampak sebuah kelenteng yang keadaannya sudah rusak.

Kelenteng itu agaknya sudah terlantar dan hancur, tidak ada yang mengurus. Pintu dan jendela sudah pada bobrok. disana-sini terdapat pecahan genteng dan reruntuhan daun kering. Keadaannya sangat mengenaskan. Pada saat itu ditanah bagian pendopo sedang ada api menyala dari tumpukan api yang menyala itu terdapat sebatang ruyung besi yang sudah merah membara , tetapi didalam pendopo itu tak tampak bayangan seorangpun juga.

Cin Hong dan In-jie menyaksikan semua itu dari persembunyiannya, tidak terlihat apa- apa yang aneh, maka lalu keluar lagi, Selangkah semi selangkah menuju kekelenteng tersebut.

Mereka mulai menginjak anak tangga kelenteng dan mendekati pintunya, dua orang itu masing-masing melongok kedalam, dan apa yang disaksikan ke-dua2nya berseru kaget, dan angkat muka saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.

Kiranya, dalam pendopo itu, didinding sebelah kiri, saat itu sedang terbentang Suatu pemandangan  yang mengerikan

Seorang pemuda berusia kira- kira dua puluh tahun lebih dengan badan setelah telanjang, kedua tangan dan kakinya terpantek diatas dinding badannya berdiri terpisah dengan tanah.

Kepalanya menunduk kebagian dada, dadanya yang tegap. dan tangan serta pahanya terdapat pecahan bekas dihajar oleh rotan, pecahan daging dan darah mengalir turun hingga dibagian bawah kakinya tampak bergumpalan darah. Tetapi apa yang lebih mengerikan ialah didepan dadanya terdapat empat lima bagian bekas tanda luka yang sudah hangus, jelas bahwa luka itu dibakar oleh besi rujung tadi, yang sudah dibakar menjadi panas.

Cin Hong yang belum pernah terjun didunia Kong-ouw, sudah tentu belum pernah menyaksikan keadaan yang kejam dan mengerikan serupa itu, maka Sesaat menjadi termangu, hatinya berdebaran, terus berdiri tidak juga bergerak. Barupertama kali ia menyaksikan pemandangan kejam terhadap sesama manusia Sebaliknya dengan In-jie, gadis itu malah lebih tenang, hanya sejenak setelah ia terkejut lantas mendekati Cin Hong dan berkata dengan suara pelahan:

“Heran. bagaimana tidak tampak orang yang menyiksa?

"

Cin Hong yang baru saja mulai tenang lantas naik pitam,

mata berputaran mencari-cari diseputaran, lalu berkata dengan suara keras: "Ini pasti perbuatannya kawanan pembegal, mari kita lekas mencari dan menangkapnya, lalu kita serahkan kepada pembesar negeri"

Sehabis berkata demikian lantas memutar tubuh dan berjalan, in-jie buru-buru menarik tangannya dan berkata kepadanya: "Pelajar tolol, mana ini perbuatanya kawanan pembegal? "

Cin Hong terCengang. lantas berkata pula dengan suara keras: "Kalau bukan kawanan begal, tentunya juga berandal, sama saja. kita harus menangkap mereka"

Setelah itu ia melepaskan tangan dari gengagaman In-jie, dan lari keluar dari dalam kelenteng. in-jie buru2 menyambar pakaian belakangnya seraya berkata: "Ini juga bukan dilakukan oleh kawanan berandal, jangan terburu nafsu dulu"

Cin Hong berpaling dan bertanya heran: "Dengan Cara bagaimana tahu kalaU ini bukan perbuatan kawanan berandal? "

"Kawanan berandal kalau membunuh orang tanpa banyak bicara, dia membunuh saja habis perkara. Mereka tak sudi berbuat Seperti ini."

Cin Hong pikir itu memang benar, maka lantas membalikkan badandan bertanya^ "Kalau begitu, siapakah yang melakukan? "

In-jie berkata sambil menunjuk ke dalam pendopo: "Kita masuk dan pergi melihat dulu, jika kau orang itu belum mati, kita tolong dulu, itulah yang penting"

Cin Hong anggap benar pikiran gadis itu, maka lebih dulu ia lari masuk ke dalam, ia meraba jantung pemuda itu, ternyata masih berdenyut maka katanya dengan girang: "Masih hidup Masih hidup".

"Kalau masih hidup, haruS lekas di turunkan" berkata In-jie.

Cin Hong buru-buru mencabut paku yang digunakan untuk memanteK tangan dan kaki pemuda itu lalu di letakkan ditanah, pemuda itu wajahnya Cukup tampan, hanya luka didadanya yang bekas dibakar dengan ruyung panas, sudah terlalu dalam masuk kebagian dada. Maka hatinya lantas pilu, ia berkata kepada In-jie sambil menghela nafas: "Aaaa Barangkali sudah tak bisa di tolong lagi. "

In-jie juga berjongkok mengulurkan tangannya untuk meraba-raba jantung pemuda itu, katanya sambil mengerutkan alisnya. "Dia sudah hampir mati, apakah kau bisa menggunakan kekuatan tenaga dalammu menyalurkan kedalam tubuhnya? "

"Suhu pernah mengajarkan aku, hanya aku belum pernah mencoba. " berkata Cin Hong yang masih belum

berani memastikan-

"Kalau begitu lekas kau coba, aku hendak mengajukan pertanyaan kepadanya"

Cin Hong dengan cepat membimbing pemuda bernasib sial itu duduk. sedangkan ia sendiri duduk bersila mengulurkan tangannya dan ditempelkan kebagian jalan darah Leng-tay-hiat, lalu ia pejamkan matanya untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ketubuh pemuda yang bernasib sial itu.

Sejak masih kanak-kanak ia Sudah dididik oleh It Hu Sianseng To Lo Thian, maka kekuatan tenaga dalamnya juga sudah mencapai ketaraf yang sempurna. Maka hari ini meskipun baru pertama kali mencobanya, tetapi ternyata sangat memuaskan.

Kira-kira seperempat jam kemudian, badan pemuda sial itu tampak bergerak-gerak. bibirnya mengeluarkan suara rintihan.

In-jie Segera berkata dengan suara keraS disamping telinga pemuda itu: "IHai, kau siapa? "

Pemuda itu hanya bergerak-gerak saja bibirnya beberapa kali, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

In-jie bertanya lagi beberapa kali, tetap tidak menjawab, lantaS angkat muka berkata kepada Cin Hong: "Masih belum cukup, tambah lagi kekuatanmu"

Cin Hong menyalurkan lagi kekuatan tenaga dalamnya kedalam tubuh pemuda itu, ia berusaha sekuat tenaga unluk menolong jiwa pemuda bernasib sial itu. Sehingga dia sendiri mengeluarkan banyak keringat.

Pemuda yang terluka itu tampak lebih baik keadaannya, matanya berkedip-kedip. bibirnya bergerak-gerak agaknya mau bicara.

In-jie mengepal-ngepal kedua tangannya, agaknya sedang memberi semangat kepada pemuda tersebut. Sambil meng-gerak2kan tangannya ia berseru: "IHai, kuatkan semangatmu, beritahukan kepadaku, kau ini siapa sebenarnya? Siapakah yang menganiaya dirimu sehingga sedemikian rupa? "

Pemuda itu dengan tiba-tiba membuka matanya mukanya berkerenyit beberapa kali, bibirnya bergerak- gerak. tetapi dari mulutnya hanya tercetuS kata-kata yang tidak jelas: "Thian. . . Sia. . ."

In-jie   berkata   dengan    perasaan    terkejut:    "Ha,  kau. apakah kau murid golongan Tnian-sia-pay? "

Dada pemuda itu berdenyut keras, ia mengeluarkun kata- kata yang terputus-putus dari mulutnya: "Kim. . . Siok. . .

Yok. "

In-jie yang tidak dengar jelas, lantas bertanya dengan perasaan cemas: "Kim apa? Apa kau seorang She Kim? "

Dada pemuda itu tampak berdebar semakin keras, dengan tiba-tiba sepasang matanya terbuka lebar, wajahnya menunjukkan sikap menakutkan, ia hanya dapat mengeluarkan jeritan: "Kalong. "

Belum habis suaranya kepalanya sudah terkulai, dan kemudian tak bisa bergerak lagi.

In-jie yang mendengar pemuda itu menyebut nama kalong. lantas lompat terperanjat. Selagi hendak menanyakan lagi, tampak terkulai kepalanya, lantas berseru kaget, dengan kedua tangannya ia menggoncang- goncangkan pundaknya lalu berseru:

“Hei, jangan mati dulu, aku masih hendak bertanya dahulu kepadamu. Benar-benar aku tadi masih belum jelas ucapanmu. Kau bernama Kim apa? "

Namun pemuda itu tetap tidak bergerak. Jelas ia sudah mati. Tentu saja ia tidak dapat hidup kembali Cin Hong dengan hati pilu menarik kembali tangannya yang memegangi punggung pemuda itu, lalu meletekkan ketanah, setelah itu kembali memejamkan matanya, untuk mengatur pernapasannya .

In-jie juga merasa terharu, berpaling dan menanya kepada Cin Hong: "IHe:, apakah kau tadi tidak dengar jelas, dia itu bernama Kim apa? "

Cin Hong sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalam terlalu banyak. saat itu perlu harus memulihkan kembali kekuatan tenaganya maka itu tidak menjawab pertanyaannya.

Akan tetapi, kalau ia tidak menjawab sebaliknya ada orang lain yang mewakili menjawab pertanyaan In-jie.

Suara ini datangnya dari pintu kelenteng belakang dirinya, Suaranya jelas, aadalah suara dari orang setengah umur.

In-jie dengan Cepat balikan badannya, tetapi baru saja berputar setengah, dengan tiba2 diatas penglari terdengar pula suara yang sangat merdu^ "Biarlah aku saja yang memberitahukan kepada mereka"

Suara yang terdengar dar ipintu kelenteng itu jelas suaranya seorang pria. Tetapi suara yang terdengar dari atas penglari adalah suara yang keluar dari mulut orang wanita Siapakah pria dan wanita yang muncul seCara tiba2 itu?

Yang mengejutkan Cin Hong dan In-jie adalah. Mereka berdua sudah cukup lama berada didalam kelenteng itu, tetapi sedikit pun tak mengetahui bahwa ada seorang wanita yang tersembunyi diatas panglari. Hal ini saja sudah merupakan suatu bukti bahwa perempuan itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan kalau perempuan itu melakukan serangan menggelap. maka Cin Hong dan In-jie bukankah akan menjadi korban ganasnya?

Suara yang merdu tadi disusul oleh berkelebatnya bayangan putih yang turun, Seorang pemuda tampan berbaju putih sudah berada dihadapan Cin Hong dan In-jie.

Pemuda berbaju putih itu ternyata adalah pelajar berbaju putih yang membeli kipas Cin Hong dirumah makan kota cing ciu.

Pelajar berbaju putih itu jelas adalah seorang pria, tetapi dengan Cara bagaimana tiba-tiba mengeluarkan suara seorang wanita?

Dan seorang lagi yang masuk dari pintu kelenteng, dia juga seorang yang mengenakan baju putih, perbedaannya ialah: berperawakan tegap diwajahnya ditutupi oleh kerudung kain putih, dipinggangnya tergantung sebilah pedang pusaka kuno. dari lubang mata, tampak sinarnya yang tajam, sikap gagah lelaki berpakaian dan berkerudung putih itu membuat orang tak berani menatapnya terlalu lama.

Dua orang itu sama-sama memakai baju Putih. Sesaat kemudian setelah bermunculan disitu, satu sama lainnya berdiri dihadapan tidak menyapa juga tidak bergerak. Cin Hong dan In-jie tak tahu benar siapa lawan siapa kawan, maka buru-buru lompat mundur kesamping, matanya sebentar memandang orang berbaju putih yang memakai kerudung kain Putih, sebentar pula mengawasi pelajar berbaju putih yang sikapnya lemah gemulai, siapa diantara mereka sebetulnya yang melakukan perbuatan terhadap pemuda yang mengaku sebagai murid golongan Thian-sia Pay? Mereka lebih tidak tahu, orang berbaju putih yang mengenakan kerudung muka itu orang bagaimana macamnya? Apa sebab tidak berani menunjukkan wajah aslinya?

Yo In In yang sudah lama berkelana didunia Kang-ouw. bagaimana pun juga telah banyak pengetahuan, maka sejenak setelah itu menenangkan pikirannya, segera diam2 menarik lengan Cin Hong dan berkata dengan suara perlahan. “Hei, kau sudah lihat atau belum? "

Cin Hong yang pertama kali keluar dari kota Hang ciu dengan kedudukan sebagai orang rimba persilatan, hingga saat itu jalan yang dilalui belum Cukup dua ratus pal,-maka hingga saat itu apa yang dapat dilihat olehnya?

Ketika ditanya demikian, sudah tentu ia lantas menjadi bingung, jawabnya^ "Tak melihat apa-apa, apakah kau sudah melihatnya? "

In-jie tujukan matanya ke arah orang berbaju putih yang berkerudung dimukanya dengan uara agak bersemangat ucapnya: "Dia itulah orangnya, yang aku pernah katapadamu hari situ"

Dalam hati Cin Hong terperanjat, ia bertanya kaget, "Aa.

..apakah orang yang mempunyai gelar Tamu Tak Di Undang Dari Dunia Luar? "

In-jie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: "Emm, dandanannya mirip dengan tamu tak di undang dari dunia luar yang pernah tersiar di kalangan Kang-ouw, sudah pasti dia"

Pemuda pelajar berbaju putih agaknya sudah dapat menangkap pembicaraan mereka yang dilakukan dengan suara perlahan. Dengan tiba-tiba palingkan mukanya, dan tersenyum manis terhadap Cin Hong berdua, kemudian berkata Sambil menggeleng-gelengkan kepala^ "Bukan, dia adalah barang tiruan"

orang berbaju dan berkerudung kain putih putih yang mendengar ucapan itu lantas perdengarKan suara tertawanya, ia juga perlahan-lanan berpaling menghadapi Cin Hong berdua katanya lambat-lambat,

"Dia..... adalah Liu Kwie-hui salah seorang dari empat serangkai golongan kalong ...." Maksudnya ia berkata demikian ialah "Mereka orang-orang golongan kalong sudah menciptakan seorang lagi tamu tidak diundang dari dunia luar yang lain, sekalipun orang itu sedikitpun tidak mengerti ilmu pedangnya delapan jurus dengan huruf Eng, tetapi asal pakaiannya sama dengan aku juga bolehlah untuk mengelabuhi mata orang"

Cin Hong yang mendengar itu meraSa terkejut heran. Pikirnya: "Kiranya pelajar berbaju putih itu adalah seorang wanita yang menyamar, pantas matanya demikian menarik, tetapi kalau dia orang Wanita dengan Cara bagaimana lehernya ada tulangnya yang menonjol? "

Selagi masih merasa bimbang, tiba-tiba sudah terdengar suara orang yang mengenakan kerudung muka kain putih. "Kau jangan kira karena lehernya ada tulang menonjol lantaS merasa Curiga terhadap keteranganku, tulang itu adalah barang tiruan yang digunakan dalam penyamarannya " Cin Hong baru Sadar, setelan mengeluarkan seruan kagetnya, matanya kembali ditujukan kepada pelajar berbaju putih, dalam hati berpikir, apabila ucapan orang berbaju putih yang mengenakan kerubung itu benar, maka orarg-orang golongan kalong yang semalam muncul di kota Hang ciu, kecuali Wanita yang menamakan diri To Kwie- hui dan Liu Kwie bui yang sekarang dihadapannya itu, pasti masih ada seorang Wanita lagi yang disebut oilh mereka Sebagai Ratu dan seorang lain lagi yang disebut Wanita agung. on Pangcu dari golongan kalong itu entah orang bagaimana maCamnya? Mereka demikian berani menggunakan sebutan-sebutan Ratu, Raja, Bangsawan dan lain-lainnya, untuk membedakan kedudukannya, apakah mereka itu tidak takut melanggar undang-undang?

Sementara itu pelajar berbaju putih ketika mendengar ucapan orang berbaju putih yang mengenakan kerudung dimukanya, sikapnya masih seperti biasa, setelah diam sejenak, ia baru berkata sambil tersenyum: "Dengan Caramu yang membuka rahasia seCara blak-blakan ini, apakah kau ingin mendapatkan keperCayaan mereka, bahwa kau ini adalah tamu tidak diundang dari luar yang tulen? "

Sepasang mata orang berbaju putih itu mendadak beringas. seCepat kilat maju selangkah, dengan tangan menggenggam gagang pedangnya, sikapnya tampak sangat marah.

Lui Kwie-hui dengan Cepat mundur selangkah, dengan sikapnya yang menarik sebagai seorang perempuan Cantik, berkata sambil tersenyum: "Jangan marah dulu kau barang kali sudah tahu jelas, aku Liu Tek meskipun tak bisa memenangkan dirimu, tetapi kau juga belum tentu bisa menahan diriku" orang berbaju putih itu terpaksa menahan amarahnya, memperdengarkan suara tertawa dingin dan berkata: "Kalau begitu, ajaklah aku pergi, aku hendak menjumpai orangmu yang menciptakan diri sebagai tamu tak di undang dari dunia luar itu"

Liu Kwie hui angkat pundak dan tertawa, kemudian berkata: "Tadi siang kau menyamar sebagai orang tua berbaju hijau mengikuti jejakku, apakah lantaran urusan ini? "

"Benar" menjawab orang berbaju putih sambil menganggukkan kepala, "aku tidak bisa membiarkan nama julukan Tamu tak di undang dan dunia luar tertulis dalam buku nama golongan kalian partay kalong"

"Kau semakin bicara semakin mirip dengan tamu tak diundang dari dunia luar, sebetulnya tamu tidak di undang dari dunia itu masuk menjadi anggauta kita dan menjadi anggauta pelindung hukum, itu adalah kemauannya sendiri, kau tak perlu khawatir namanya akan ternoda" berkata Liu Kwie hui sambil tertawa.

orang berbaju putih berkerudung muka mengeluarkan suara dari hidung, lalu maju dengan melangkahi jenazah pemuda tadi, setindak demi setindak mendekati Liu Kwie- hui.

Liu Kwie-hui berdiri membelakangi dinding kelenteng berjalan memutar, ia berkata sambil tertawa:

"Jikalau kau juga bisa menggunakan ilmu pedang delapan jurus huruf Eng, aku dengan senang hati bawa kau menjumpai tamu tak di undang dari luar dunia. "

orang berbaju putih berkerudung muka itu dengan tiba- tiba menjadi marah, dengam menggeram, tangan kanannya menghunus pedang yang berkilauan, meluncur kediri Liu- kwie-hui kejadian itu berlangsung sangat cepat sekali hanya tampak terlihat berkelebat terang sinar pedang dan disusul berkelebatnya bayangan orang kemudian terdengar suara nyaring delapan kali dengan beruntun, tiga rupa kejadian itu hampir berlangsung dalam waktu yang bersamaan, juga hampir pada waktu yang sama telah menghilang.

Waktu Cin Hong dan In-jie pasang mata kembali. wanita yang menyamar sebagai lelaki yang bernama Liu Kwie-hui itu kini sudah tidak tampak lagi bayangannya, hanya ditempat ia berdiri dibelakang dindingnya tadi tampak sebuah huruf "Eng" yang besar Sekali. dan dibawah dinding itu terdapat sepotong kain putih yang merupakan sepotong robekan kain putih dari Liu Kwie-hui.

HHuruf "Eng" yang targores dengan ujung pedang diatas tembok itu, dalamnya kira-kira tiga dim, ditulis dengan tangan yang kuat sekali.

Cin Hong sebagai seorang pelajar yang terkenal pandai melukis, dengan sendirinya juga merupakan seorang yang pandai menulis, waktu itu ketika melihat orang berbaju putih itu bisa menggoreskan huruf Eng" demikian kuat dengan ujung pedang, diam-diam merasa kagum, dalam hatinya pikir, orang itu bisa menggabungkan ilmu suratnya dengan ilmu pedangnya, sehingga memiliki kepandaian tinggi, jelas dia adalah tamu yang tidak diundang dari dunia luar yang tulen.

orang berbaju putih berkerudung muka itu perlahan- lahan masukan pedangnya kedalam sarungnya. lalu berpaling kearah kiri dan berkata dengan suara berat: "Sekarang kau barangkali suka mengajak aku untuk menjumpai tamu yang tidak diundang dari dunia luar yang menjadi anggota pelindung huhum dari partaimu? " Cin Hong dengan Cepat berpaling, saat itu barulah melihat bahwa Liu Kwie-hui sedang berdiri tenang diatas runtuhan tembok, lengan kiri bajunya terdapat sepotong yang terobek oleh ujung pedang.

Meskipun coba bersikap setenang mungkin, namun masih belum berhasil menutupi perasaan takutnya.

Ketika mendengar ucapan orang berkerudung itu, lantas berkata dengan sikap acuh tak acuh: "ini sesungguhnya merupakan suatu penemuan yang sangat lucu, tak disangka- sangka dalam rimba persilatan masih ada orang lain yang memiliki delapan jurus ilmu pedang dengan huruf "Eng", Kalau demikian halnya, aku bersedia mengajak kau untuk menguji kebenarannya dengan tamu tidak diundang dari dunia luar yang berada didalam markasku" Sehabis berkata demikian ia lantas berjalan menuju kepintu.

orang berbaju putih yang mengenakan kerudung muka itu mengikuti dibelakangnya, lantas bertanya kepada Cin Hong Sambil mengawasi padanya: "Apakah kau murid It Hu Sianseng? "

Cin Hong segera memberi hormat dan menjawab: "Ya, boanpwee Cin Hong "

orang berbaju putih itu tampaknya terperanjat, ia menghentikan kaki dan berseru kaget: "Apa? Kau bernama Cin Hong? "

Cin Hong juga merasa bhean, ia memberi hormat lagi seraya berkata. "Bukan, boanpwee she chin, cin Sie ong, punya cin-Nama boanpwee hanya satu huruf, Hong. Hwa Hong punya Hong"

orang berbaju putih itu kembali mengeluarkan suara "oo." memperhatikan Cin Hong lebih dalam, kemudian baru bejalan keluar? Sebelum meninggalkan kelenteng itu ia berkata lagi kepada Cin Hong: "Lanjutkan usahamu untuk menyusul Suhumu supaya leKas pulang, beritahuKan kepadanya bahwa raja rase yang dahulu, kini telah muncul kembali"

Cin Hong buru-buru menyusul dan bertanya sambil memberi hormat: "Locianpwee, siapakah orang yang dinamakan Raja Rase itu? "

orang berbaju putih itu mengikuti jejak Liu Kwie-hui melangkah keluar, lalu menjawab: "Sekarang tidak perlu banyak bertanya, setelah kau berhasil mencandak Suhumu, sudah tentu dia nanti akan memberitahukan padamu"

In-jie buru-buru bertanya : "Locianpwee, masih ada seorang muda yang sudah mati, dia menyebutkan namanya seorang she Kim. Siapakah sebetulnya itu? "

orang berbaju putih yang mengikuti jejak Liu Kwie-hui, setelah berada diluar kelenteng lantas menuju kedalam gelap gulita, suaranya dari-jauh terdengar. "Dia adalah murid kesayangan ketua Thian-sia-pay yang sekarang, namanya Yao Kiam Eng. beberapa bulan berselang terpincuk oleh dua belas klongCu dan partay kalong, telah terjerumus kedalam pengaruh mereka. Setelah menyadari rencana keji mereka ia pikir hendak melawan, tetapi sudah tidak keburu."

Ketika suara itu tak terdengar lagi, orangnya juga sudah menghilang ditempat gelap.

Malam itu kembali diliputi oleh kesunyian, hanya suara ledakan api yang membakar kelenteng itu masih menyinari jenasah pemuda itu yang maSih menggeletak ditanah. Keadaannya sangat menyeramkan ....

Cin Hong dan Injie saling berpandangan dengan keadaan bingung, in-jie yang lebih dulu memeCahkan kesunyian, katanya: "orang yang mengenakan kerudung muka itu bohong”

“Lho Kenapa? " Bertanya Cin Hong heran.

In-jie mengulurkan tangannya menunjuk jenasah pemuda tadi ditanah, dan berkata: "Pemuda tadi sebelum merutup mata jelas mengatakan orang she Kim, entah apa namanya. Tetapi orang itu tadi mengatakan namanya Yap Kiam Eng, apakah itu bukan bohong? "

"Ha a, aku ingat pemuda itu seperti mengatakan perkataan apa Kim Siok Yok, kemudian menjerit dan mengeluarkan perkataan kalong lantas mati. "

In-jie angkat muka mengawasi huruf "Eng" didinding tembok, berkata dengan perasaan bimbang: "Kau lihat orang berkerudung muka itu betul adakah tamu tak diundang dari dun luar yang tulen atau bukan? "

"Aku lebih suka mengatakan dia yang tulen. Sebab tampaknya dia ada orang dari golongan kebenaran-" Menjawab Cin Hong.

"Dalam rimba persilatan telah muncul dua tamu tak diundang, kali ini pasti akan terjadi keramaian" berkata In jie sambil tertawa.

Cin Hong terkejut, berkata sambil tertawa: "Apa kau suka menonton keramaian? ”

“Em, apakah Kau sendiri tidak suka? "

"Aku kira, kesukaan semaCam ini tidak sedikit kejam. . .

.”

“Urusan yang tidak menyangkut kita, perduli apa? ” “Ah, itu tidak baik " Wajah Injie lantas menjadi merah, ia berdiri membelakangi Cin Hong, dan berkata: "Pelajar tolol, apa yang tidak baik. "

Cin Hong buru-buru membalikkan badannya dan berkata sambil menjura: "Maaf, aku salah kata, harap kau maafkan."

In-jie tertawa, lantas memutar dirinya dan berjalan keluar dari kelenteng. Katanya: "Jalan, kita juga sudah seharusnya pergi menyusul suhu"

"Tunggu sebentar, kita kubur dulu pemuda Yap Kiam Eng ini, kau pikir bagaimana"

"Menyusul suhu lebih penting Bagaimana kita masih akan mengurusi urusan kecil yang begitu banyak? "

Cin Hong terpaksa mengikuti gadis itu keluar dari kelenteng, dan orang itu keluar lagi ke rimba pohon Cemara, ketika berjalan ketempat mereka menambat kuda, tetapi kuda itu hanya tinggal seekor milik In-jie, seekor yang lain sudah tak tampak lagi bayangannya, tampaknya seperti sudah dicuri orang.

In-jie sangat mendongkol, katanya: "Maling kuda Maling kuda Kalau tertangkap pasti akan kupatahkan kakinya"

"Jangan kau patahkan kakinya, serahkan kepada polisi Sudah Cukup," Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala.

In-jie yang melihat kebiasaan Cin Hong selalu tidak lupa kepada pembesar negeri atau pengadilan, lantas mengerutkan alisnya dan berkata padanya sambil menghela napas: "Hai, kau ini kutu buku, kiraku sudah waktunya harus dicuci otakmu" Cin Hong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan bertanya: "Kenapa? Apakah perkataanku salah? "

"Sudah tentu salah. Didalam rimba persilatan siapa orang yang suka berbicara soal hukum padamu? "

"Ini tidak baik, jika semua orang tak mau berbicara soal hukum bagaimana nanti jadinya? "

"Ah, aku tidak perlu berdebat denganmu lagi. Sekarang bagaimana? " Berkata In-jie yang masih mendongkol.

Cin Hong mengambil kudanya dan diberikan kepadanya, kemudian berkata: "Naiklah kau, aku akan mengikuti dibelakangmu sambil lari juga tidak apa."

In-jie menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tersenyum: "Tidak. kalau mau kita sama-sama naik atau.

..."

Jantung Cin Hong berdebaran, katanya^ "Atau membuang kuda kita? "

In-jie mengeluarkan suara dari hidung, kemudian berkata dengan sinis^ "Ya, kau sungguh royal sekali"

"Kalau begitu kita tarik saja sambil lari bersama-sama, bagaimana? "

In-jie pentang lebar matanya dan berkata^ "Lari sambil menarik kuda? ini berarti suatu pekerjaan yang sangat berat."

Cin Hong menarik napas dalam-dalam, katanya: "Kalau begitu, dimalam hari toh tidak ada orang yang melihat kita duduk bersama-sama, bagaimana? "

Muka gadis itu kembali menjadi merah, ia berpikir-pikir sebentar, lalu menghela napas dan kemudian berkata: "Apa boleh buat terpaksa harus begitu saja" Dengan demikian, dua orang itu lantas menunggang seekor kuda. Cin Hong didepan, In-jie dibelakang, mereka melarikan kudanya keluar dari dalam rimba. . . .

Dalam perjalanan itu Cin Hong tiba-tiba merasa dibelakang kudanya ada hawa panas yang menghembus, ia sebetulnya tahu hawa itu adalah perbuatan in-jie yang menggoda dirinya, namun dalam hati terkejut juga , sebab pikirnya, gadis itu berani, terhadap seorang pemuda masih berani main-main demikian tanpa malu-malu. Selagi masih berpikir demikian kembali belakang kuduknya merasa ada hawa hangat yang meniup, Kali ini diam-diam ia merasa girang, maka lalu mengangkat tangannya dan meraba belakang kuduknya, seraya berkata sambil tertawa: "Nona Yo, apakah ini? ”

“Apa? "

"Dibelakang kudukku ini dua kali merasa panas." "Aku tidak tahu."

“Hai, ini sungguh anah. "

"Kau Selalu mengherankan orang "

"Ya Haa Aku merasakan ada hawa panas lagi"

"cis" Barangkali dari lubang hidungku yang keluar hawa” “Begitu besar lobang hidungmu? "

"Ehm, dari dua lobang hidung mengeluarkan hawa berbareng. sudah tentu besar"

Cin Hong mendengar ucapan in-jie itu ternyata masih berbau kekanak-kanakan, maka dalam hati diam-diam merasa senang, kiranya ia hidup sampai demikian besar, meskipun belum pernah mempunyai kenalan seorang gadis, tetapi sebab sering bergaul di antara orang-orang terpelajar ternama, gadis gadis dari kalangan tinggi yang dilihatnya juga tak sedikit, namun ia selalu merasa bahWa gadis gadis itu umumnya terlalu mengekang diri, hingga tidak bisa berlaku bebas, sudah tentu tak bisa di bandingkan dengan gadis-gadis dialam bebaS, baik gerak-gerik maupun tingKah lakunya semuanya demikian wajar tanpa dibuat-buat.

"Kenapa kau tak bicara lagi"

“Hmm, kalau benar haWa yang keluar dan lubang hidung, apa lagi yang harus dibicarakan? ”

“Berlagak bodoh” “Ha. .hahahahahaa.. .” “IHei, Cin Hong.” “Emm"

"Aku panggil kau Cin Hong, kau toh tak akan menolak bukan? "

"Sudah tentu tidak, kita sama2 tingkatan-Panggil saja nama masing2, itulah yang paling baik"

"Kalau begitu kau nanti akan memanggil aku apa? " "Aku akan memanggilmu In-jie."

"Baik sekarang coba kau panggil" "In-jie"

"Emm" "in-jie" "Emm"

"Sudah cukup? "

"Baik, tetapi apakah kau tidak anggap aku terlalu liar? ” “Tidak, kukira orang muda seharusnya memang begitu.” “Bagaimana Orang tingkatan tua? "

"orang tingkatan tua sem^anya sudah disekap dalam rumah penjara rimba persilatan. sekarang adalah kita orang- orang generasi muda yang sudah tiba waktunya untuk bergerak”

“Dengan perkataanmu itu, seolah-olah suhu kita juga sudah disekap didalam penjara? ”

“Tidak.. suhuku orangnya cakup mengerti.” “Suhuku juga "

"oh, tetapi bagaimana mereka bisa berpisahan? "

"Itu disebabkan karena suhumu gemar minum arak, hingga lupa daratan. Kabarnya tiap hari minum sampai mabok? "

"Masih ada sebab lagi, kudengar kabar, katanya suhumu tidak Suka kedapur? "

"Ini tak bisa menyalahkan suhu, sebab suhu memang tidak bisa menanak nasi. Kalau masak. selalu saja."

“Ha-haaa, kau sendiri bisa masak nasi atau tidak? "