Tangan Berbisa Jilid 01

 
Jilid 01

DIWAKTU lohor dalam musim dingin udara gelap. angin bertiup kencang.

Puncak gunung Thay-pek-San yang menjulang tinggi kelangit, diliputi oleh salju tebal, dari jauh bagaikan seorang tua yang rambatnya putih semuanya, berdiri tegak disamping dua belas anak bukit yang lain, tampak semakin agung dan angker.

Danau Thay-pek tie diatas gunung itu yang namanya terkenal dalam sejarah, airnya tenang, seolah-olah sebuah cermin besar, pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh ditepi danau, Sebagian Sudah diliputi oleh salju, hingga warna bunga yang merah bercampur dengan warna salju yang putih, merupakan Suatu pemanangan yang menarik dipuncak gunung Thay-pek san itu.

Ditempat itulah. . . tepi danau Thay-pek tie pada empat puluh sembilan hari berselang, dengan secara tiba-tiba didalam waktu Semalam muncul sebuah gubuk. didalam gubuk itu tampak asap mengepul, disekitar asa dupa, duduk tiga-belas orang tua.

Tiga- belas orang tua itu terdiri dari seorang wanita, dua golongan paderi, tiga orang kaum imam dan enam orang biasa. Kecuali seorang tua berambut putih yang mengenakan jubah berwarna kuning, yang waktu itu duduk ditengah-tengah, yang uSianya kira-kira sudah seratus tahun. yang lainnya semua berusia antara enam atau tujuh puluh tahun. Dari keadaan dan jidat mereka yang masing- masing pada menonjol, dan dari Sikapnya yang Sangat agung dapat diduga bahwa orang-orang tua itu semua merupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam persilatan.

Mereka sehari penuh duduk diseputar pedupaan tanpa bergerak. setiap orang hanya seorang yang mendapat giliran, yang ditugaskan untuk menambah api didalam perapian. Ini juga berarti bahwa setiap orang, sekali duduk harus dua belas jam. selama dua belas jam itu, tanpa makan, tanpa bicara dan tanpa bergerak. seolah-olah patung dalam gereja.

Hari berganti malam, dan malampun berganti siang lagi. Tiga belas orang itu duduk secara demikian, tanpa menghiraukan adanya angin yang tak henti-hentinya. Api dalam perapian terus menyala, dan dupa terus mengepul tak putus-putusnya.

Hari itu, diwaktu lohor pada hari keempat puluh sembilan, yang ditugaskan menjaga perapian pedupaan adalah seorang paderi tua, yang sikapnya lemah-lembut Ia berjongkok dibawah perapian, Sikapnya dengan tegas menunjukkan perasaan tegang matanya ditujukan kepada pinggir perapian yang mengepulkan asap yang semula berwarna putih, hari ini telah berubah berwarna kUning

"MaSih ada setengah jam lagi. Setengah jam kemudian boleh dikeluarkan dari perapian. "

Dimikian padri tua itu berkata sendiri dengan bersemangat, kadang-kadang seolah menyadari bahwa seorang beribadat tak seharusnya menuruti emosinya. Maka kalau mengingat akan hal itu, wajahnya menjadi serius. mulutnya komat-kamit memuji nama Buddha, dan selanjutnya ia meneruskan tugasnya untuk memasukkan kayu-kayu kedalam perapian.

orang tua berambut putih yang duduk ditengan-tengah Sambil memejamkan mata, ketika mendengar suara pujian nama Buddha yang keluar dari mulut padri tua tadi, di Wajahnya tiba-tiba tersungging suatu Senyum yang tak dimengerti, bersamaan itu, sepasang matanya di muka perlahan-lahan dibuka, memancarkan Sinar tajam, kemudian lambat-lambat bangkit dari tempatnya. Selanjutnya, sebelas orang tua yang duduk mengitari perapian tadi juga pada bangkit, satu sama lain Saling pandang dan tersenyum, mereka masing-masing mulai mengibas-ibaskan debu yang menempel diataS pakaiannya sendiri-sendiri.

orang tua berambut putih itu, mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, kemudian memasukan tangan ke dalam sakunya, mengeluarkar Sebuah kantong kecil hitam, setelah itu ia tersenyum dan berkata kepada orang-orang disekitarnya^ "Saudara-saudara ketUa, apakah Sekarang sudah boleh dimulai?"

Padri tua yang bertugas menjaga perapian itu memberi hormat seraya berkata : "Sudah boleh di mulai, locianpwee"

orang tua berambut putih itu tersenyum, tangan kanannya menenteng kantong kecil kain hitam mengawaSi semua orang sejenak lagi, lalu berkata: "Sudah boleh dimulai, locianpwee"

"Di kantong kecil ini tersimpan dua belas biji anak kunci emas yang bentuknya berbeda-beda dan di tandai dengan huruf dari dua belas shlo, saudara-saudara ketua setiap orang hanya boleh mengambil sebuah."

Belum habis ucapannya, salah seorang dari sebelas orang itu, ialah seorang imam tua yang tubuhnya kurus kering, dengan tiba-tiba maju memberi hormat dan berkata: "Locianpwee, pinto kira kunci emas itu seharusnya ada tiga belas buah"

Orang tua berambut putih itu menganggukkan kepala padanya, lalu berkata Sambil tersenyum hambar: "Terima kasih saudara ketua dari partai cong- lam, batas hidupku sudah Sampai, tiada sebuah barangpun didalam dunia ini yang patut dibuat pikiran. " Ia terdiam Sejenak. matanya ditujukan kepada kantong kecil berwarna hitam, kemudian berkata pula sambil tersenyum^ "Dan sekarang, mengenai cara dan urutan untuk mengambil kunci emas itu, apakah saudara-saudara ketua mempunyai usul lain?"

Seorang tua dari golongan biasa yang sikapnya agung, mulai berkata", "Aku siorang she song mengusulkan agar cara mengambilnya itu ditetapkan Secara bergiliran dengan pengambilan barang-barang mujarab yang di ambilnya"

orang tua berbaju putih itu agaknya dapat menyetujui usul tersebut, ia mengangguk-anggukkan kepala dan mengawasi semua orang sejenak kemudian berkata: "Song ciangbunjin dari golongan Thian-sia usulnya ini memang adil, tetapi entah bagaimana pikiran Saudara-Saudara yang lainnya?"

Sebelas orang ketua partay yang lainnya semua menganggukkan kepala sebagai persetujuan usul tersebut.

orang tua berambut putih itu kemudian berpaling dan berkata kepada seorang paderi wanita yang membawa sebatang tongkat berkepala naga^ "Bu ciangbunjin dari Swat-san, paling dulu mengambil sebuah lingci berwarna hijau yang usianya sudah ribuan tahun, sekarang dipersilahkan datang kemari untuk mengambil lebih dulu sebuah kunci"

Nenek itu lalu berjalan kedepan orang tua berambut putih, ia mengulurkan tangannya dan memasukkan kedalam kantong kecil, untuk mengambil sebuah kunci emas, tiada orang melihat bagaimana bentuknya kunci emas yang telah diambilnya. Sebab kunci itu digenggamnya, ia sendiri masih belum sempat melihatnya sudah dimasukkan kedalam sakunya, setelah itu lantaS mengundurkan diri ketempat asalnya. orang tua berambut putih itu kemudian berpaling dan berkata pada imam tua kurus kering yang wajahnya agung "Bu-hong Tojin ciangbunjin partay cong-lam mendapat giliran kedua, dipersilahkan mengambil sebuah kunci."

Imam tua itu maju menghampiri, juga mengambil sebuah kunci emas dari dalam kantong setelah dimasukkan kedalam sakunya sendiri setelah itu lantas mengundurkan diri ke tempatnya semula.

Demikian, satu persatu dengan bergiliran mengambil kunci emas dari dalam kantong kecill itu.

Ketua partai Ngo-bi, Sim-keng siangjin adalah orang ketiga yang mendapat giliran mengambil kunci emas.

Kho ciangbunjin dari partay Kiong-lay mendapat giliran ke empat. ciangbunjin Bu-tong-pay, ceng-tiem Totiang mendapat giliran kelima... ciangbunjin partay Lam-hay-pay mendapat giliran ke enam, ciangbunjin partay Siao-liem- pay, Lian-in Taisu, orang yang mendapat giliran ketujuh Suma ciangbunjin dari partay oei-San-pay mendapat giliran kedelapan-Ketua Kun-lun-pay Thian-cong Totiang mendapat giliran ke sembilan Ketua Kong-tong-pay yang kesepuluh, Ie ciangbunjin dari partai Hoa-San-pay mendapat giliran ke sebelas song ciangbunjin dari partai

Thian-sia-pay dapat giliran kedua belas.

orang tua yang berambut putih itu Setelah membagi- bagikan dua belas anak kunci emas dengan cara yang bergiliran, kantong kecilnya yang sudah kosong itu dimaSukkan kedalam perapian selanjutnya dari Sakunya ia keluarkan sebuah kotak bundar yang terdapat dua belas lubang kunci, katanya Sambil tertawa: "Kotak ini, telah aku gunakan lima tahun lebih kotak ini kuberi nama sin-kie Giok-sap. atau kotak rahasia, Tentang rahasianya, dahulu telah aku ceritakan- sekarang aku persilahkan saudara SaUdara ketua mengeluarkan kunci masing-masing yang diambil dari dalam kantong yang kecil tadi, membUka kotak rahasia ini, supaya dipergUnakan untuk menyimpan pil obat mujarab"

Sehabis berkata demikian kotak rahasia itu diletakkan ditanah, sedangkan ia sendiri undurkan diri keluar dari gubuk.

Dua belas orang ketua partai persilatan dengan sikap serius, semua berjalan menghampiri kotak rahasia yang diletakan ditanah. sama-sama dengan itu, maSing-maSing mengeluarkan kunci emasnya sendiri, untuk mencari lubang yang tepat dengan kuncinya. Dengan Sangat hati-hati memasukkan kedalam lobang kunci itu.

orang tua berambut putih ketika menyaksikan dua belas orang ketua partai semua sudah memasukkan kuncinya maSing-masing kedalam lobang kunci yang tepat, lantas berjalan menghampiri dan memeriksanya sejenak, kemudian mundur dua langkah dan berkata dengan suara nyaring: "Sekarang semua dipersilahkan mengitar kekanan setengah putaran. Satu. dua, tiga"

"Bum " Demikianlah terdengar suara ledakan, dua belaS orang ketua partai seolah-olah mengeluarkan asap, mereka lompat keluar dari dalam gubuk. wajah setiap orang semua pada pucat, juga pada menarik napas, Seolah-olah baru lolos dan bahaya maut

Waktu itu, kotak rahasia yang berada ditanah keadaannya Seperti mulut ular yang menganga, dalam kotak itu tampak semacam pot kecil berbentuk bundar, dan luar pot itu tampak kosong melompong, juga tak terdapat tanda-tanda yang aneh.

orang tua berambut putih itu tersenyum, ia mundur lagi dua langkah, dengan tangan kirinya melakukan suatu gerakan seperti menyedot, kotak wasiat ditanah sudah melesat kedalam tangannya. Kotak itu diletakan diatas telapak tangannya, lalu berjalan memutari perapian, sepasang matanya memancarkan sinar berkilauan, ditujukan kepada asap yang telah menjadi warna kuning yang mengepul dari atas perapian.

Asap itu, semakin lama warnanya semakin kuning, tetapi juga pelahan-lahan semakin tipis...

Tak lama kemudian, dalam perapian itu dengan tiba-tiba timbul suara aneh, seolah-olah suara petir dari langit, tetapi juga seperti Suara binatang buas yang sedang menggeram, kalau didengar sepintas selalu, seolah-olah sedang menghadapi medan pertempuran.

orang tua berambut putih itu, menampak waktunya sudah tiba, lalu mengangkat tangan kanannya dan menyambar ketempat udara kosong. terdegarlah suara menggelegar, tutup perapian yang terdiri dari bahan logam terbuka, dari dalam wajan diatas perapian meluncur keluar dua belaS pil berwarna kuning sebesar jempol tangan, terus meluncur ketengah udara.

orang itu mengeluarkan Siulan panjang, tangan kanannya melakukan gerakan gencar dan menyambar dua belas butir pil warna kuning, yang masih berada diudara, bagaikan tersedot oleh daya gaib, satu persatu jatuh didalam kotak rahasia, dengan Sangat rapi berjejer didalam pot yang berbentuk bundar itu.

Dua belas ketua partay persilatan, yang menyaksikan kelakuan aneh dan kepandaian luar biasa orang tua berambut putih itu, semuanya mengeluarkan Suara pujian, ada juga yang menyambut dengan tepuk tangan-

orang tua berambut putih itu tersenyum hambar. tangan kanannya dari dalam sakunya mengeluarkan dua belas lembar kulit kambing selebar enam setengah dim, matanya mengawasi semua orang sejenak. lalu berkata dengan suara lambat- lambat. "Semua ilmu kepandaian sudah kutulis diatas kulit kambing ini, dikemudian hari saudara-saudara ketua boleh menggunakan anak kunci masing-masing untuk mendapat selembar, inilah sedikit peninggalan dari aku kepada saudara-saudara ketua yang berada disini. kuharap saudara bisa menerima dengan senang hati. Disamping itu aku mempunyai sedikit urusan hendak minta saudara ketua punya pertolongan, itulah tentang anakku sendiri, sejak ia pergi mengembara pada lima tahun berselang, hingga kini belum ada sedikitpun kabar beritanya, apabila dua belas tahun kemudian ia masih belum pulang kedaerah Tionggoan- Saudara ketua boleh menetapkan hari sendiri untuk mengambil kotak ini. Hanya setelah Saudara-Saudara mengambil pil dan kulit kambing dalam kotak ini, kotak yang kosong ini harus dilemparkan kedalam danau, disamping itu, saudara-saudara setiap orang harus mengutus seorang untuk mencari anakku itu guna membereskan soal ini. ini semua hanya soal keamanan- aku minta dengan Sangat supaya saudara Saudara ketua harus dapat melakukannya"

Sehabis berkata demikian, dua belaS kulit kambing itu dimasukkan kedalam kotak rahasia. kemudian dengan tangan kanannya dia menekan kotak itu, dan kotak tersebut telah tertutup kembali. Setelah itu dengan tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. sikapnya itu tampaknya sangat gembira Sekali.

Dua-belas orang ketua partai persilatan itu semuanya menunjukkan sikap girang dan mulai pada bercakap-cakap Satu Sama lain-

Begitu Suara tertawa orang tua berambut putih itu berhenti, para ketua partai yang bercakap-cakap juga menjadi tenang kembali. Semua mata kini ditujukan kewajah orang tua itu, seolah-olah hendak menantikan pembicaraannya lagi.

Dengan muka berseri-seri dan tangan kiri membawa kotak rahasia, orang tua berambut putih itu berjalan mondar-mandir beberapa langkah, kemudian berkata lambat- lambat. "Ini adalah suatu pertemuan besar yang tak mengandung atau berbau pertentangan danpermusuhan didalam Sejarah rimba persilatan- Disini aku ucapkan dan menyatakan hormatku yang tertinggi kepada saudara- saudara ketua sekalian, semoga saudara-saudara ketua pada dua belas tahun kemudian benar-benar bisa menciptakan suasana perdamaian. Aku juga mengharap kepada Saudara2 ketua Sekalian, Supaya selama-lamanya bisa menghargai semangat persatuan seperti ini, biarlah semangat persatuan ini bisa hidup dirimba persilatan sepanjang masa. "

Berkata sampai disitu mendadak ia diam. lama mendongakkan kepalanya keatas, kemudian menghadap kepada dua-belas orang ketua partay dan memberi hormat sedalam-dalamnya. Dengan kedua tangan membawa kotak wasiatnya, ia berjalan perlahan-lahan menuju kedanau Thay-Spek-tie.

"Locianpwee, harap tunggu sebentar" Demikian ketua partay Lam-hay-pay berseru dan keluar dari  rombongannya. berjalan kedepan orang tua berambut putih yang saat itu sudah memutar diri, ketua itu lalu memberi hormat lalu berkata dengan perasaan terharu:

"Locianpwee dengan tiba-tiba pada Saat ini mengeluarkan ucapan demikian, aku siorang she liong benar-benar merasa bingung, apakah. " Ia tidak melanjutkan pertanyaannya, hanya angkat muka memandang siorang tua, sepasang matanya menunjukkan sinar tanda tanya.

Orang tua itu memandangnya sambil tersenyum, lalu berkata Sambil mengangukkan kepala, "Apabila liong ciangbunjin mempunyai dugaan maka dugaan itu tentunya benar"

Ketua partay Lam-hay-pay itu ketika mendengar ucapan tersebut, wajahnya tampak muram katanya dengan suara pelahan dan menundukan kepala: "Kalau begitu, perkataan yang dahulu Locianpwe pernah ucapkan, bahwa pada hari terjadinya pil itu, akan minta kepada aku siorang she liong dan lain- lainnya dua-belas orang, sekarang pil itu sudah jadi, mengapa Lo-cianpwe tak mau mengucapkan?"

orang tua itu memejamkan matanya dan menghela napas pelahan- katanya: "Hmm, apakah liong cianbunjin masih belum menyadari urusan yang kuminta kepada ciangbunjin sekalian?"

Wajah ketua Lam-hay-pay itu agak merah, kembali ia memberi hormat berkata: "Aku siorang She Liong adalah seorang bodoh harap Lo-cianpwe suka memberi petunjuk"

Wajah orang tua itu menunjukkan sikap keCewa. matanya dialihkan kepada sebelas ketua partay yang lainnya, lantaS bertanya: "Saudara-Saudara ketua, diantara Saudara-saudara Siapakah yang biSa menolong aku untuk menjawab pertanyaan ini?"

Para Ketua partay itu saling berpandangan dengan peraSaan heran, sebentar kemudian, ketua partay Siao-lim- pay Lian-in Taysu tiba-tiba maju dua langkah memberi hormat kepada orang tua, Sera yaberkata: "Maksud baik locianpwee patut dipuji, pinceng bersedia melaksanakan pesan locianpwee dan akan ingat untuk selama-lamanya" Semangat orang tua itu mendadak terbangun, mendongakkan kepala dan tertawa panjang setelah itu memutar tubuhnya, lengan tangan kanannya dikibaskan kebelakang, badannya meleset Setinggi tiga tombak. kemudian melayang turun kepermukaan air danau Thay pek-tie. dengan kaki menginjak permukaan air, Selangkah demi selangkah berjalan menuju ketengah-tengah danau.

Dengan kedua tangan masih memegang kotak rahasia., ia berada ditengah-tengah danau, kemudian ia memutar tubuhnya dan memberi hormat kepada dua belas orang ketua partay yang mengawasi ditepi danau, setelah itu perlahan-lahan menghilang kedalam air

Tak lama kemudian, air danau itu Sudah menelan tubuh orang tua berambut putih itu, permukaan air tampak berputar-putar buih air lama baru tenang kembali.

Dua belas orang ketua partay persilatan semua pada berjalan mendekati danau, mereka mengitari danau Thay- pek-tie, dengan diliputi oleh suasana kepedihan- . . . Sang Waktu berlalu terus tanpa berhenti.

Hari, perlahan-lahan menjadi gelap. Rembulan Sudah mulai muncul diatas langit.

"Ai Ia benar-benar Sudah tak muncul lagi" "Mari kita pulang, Kho ciangbunjin"

"Tidak, aku masih hendak menunggu sebentar lagi " "oo, kenapa ?"

Demikianlah beberapa pembicaraan dari para ketua partay yang maSih berdiri ditepi danau.

-0odwo0- Permulaan musim semi. . . .

Bulan sabit baru muncul, diatas danau Se-ouw dipropinsi Hang-ciu, pandangan sangat permai, banyakperahu  berlayar dipermukaan air, banyak orang pesiar  ditepi danau.

Diantara demikian banyak perahu sampan yang pesiar dipermukaan danau, beberapa antaranya juga terdapat pemuda-pemuda yang didayung oleh beberapa pendayungnya gadis-gadis Cantik, dengan diiringi oleh nyanyian-nyanyian dan musik-musik yangamat merdu. . .

Demikianlah kita tampak Sebuah perahu sampan berwarna hijau, yang didayung oleh seorang gadiS pendayung perahu yang berusia kira2 tujuh belas delapan belas tahunan, gadis itu berwajah cantik dan gerakannya sangat lincah. Didalam perahu, duduk empat orang pemuda berpakaian pelajar yang sangat perlente, mereka tampaknya sedang pesiar sambii minum-minum dan menyanyi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah itu.

"Saudara Liu, mari minum kering"

"Ha-ha, saudara Liok. mabok sedikit mana boleh, jangan terlalu banyak minum"

"Yalah saudara Liok, kau tidak boleh minum terlalu banyak"

"Ha ha Saudara Su, kau paling bisa minum, bagaimana kau juga mengeluarkan perkataan demikian?"

"Itu benar, cin-laote, orang dijaman dahulu pernah berkata bahwa mabok itu mengandung enam arti. Sekarang bolehkah kalau kita juga sama-sama mabok?" "Benar cin-laote yang berdiam dikota Hang-ciu, rentang pohon-pohon Yang-liu disekitar danau See-ouw ini seharusnya tahu banyak"

Demikianlan pembicaraannya pemuda-pemuda itu yang dilakukan dengan sangat gembira.

Pemuda yang disebut cin-laote, merupakan Salah seorang dari empat pemuda itu yang usianya paling muda, juga merupakan salah seorang yang paling pendiam.

Ia seorang pemuda yang gagah dan tampan, merupakan type seorang pemuda pelajar yang sangat ideal

Pemuda she chin itu didesak oleh kawan-kawannya, bibirnya tersungging Satu senyuman, pelahan-lahan mengalihkan pandangan matanya kepada pohon-pohon Yang-liu yang terdapat disekitar tepi danau, lalu berpikir dulu, kemudian baru berkata: "Pohon Yang-liu demikian indah, disebabkan karena bentuknya yang bagaikan seorang gadis lemah gemulai, pohon itu cocok untuk ditanam dikebun istana, rimba, taman, juga biSa menyesuaikan diri dalam keadaan atau cuaca. kala dimusim hujan maupun dimusim terang, ia cocok untuk ditanam didaerah mana Saja, saudara Liok Demikianlah anggapanku tentang pohon itu"

Seorang pemuda yang penuh berewok lalu bangkit dan tertawa terbahak-bahak dengan tangan kanan membawa poci arak, berjalan sempoyong ia menuju kepada gadis pendayung Sampan, dan katanya dengan suara nyaring^ "Pesiar dengan perahu Sampan, paling tepat menghadapi kawan cantik. . . Nona kau juga minum secawan"

Gadis itu dengan sinar matanya kemalu-maluan mengucapkan terima kasih padanya, Sambil menganggukkan kepala. Kemudian menjawab "Terima kasih banyak Siangkong, hambamu tidak bisa minum araK."

Pemuda itu menggeleng gelengkan kepala tak henti- hentinya, kembali berKata dengan suaranya yang keras: "Bukan Bukan? Aku adalah mengundang kau untuk minum arak. bukanlah minta kau menenggak arak"

Dalam kearah terkejut. gadis pendayung Sampan itu mengawasi ia Sejenak. dengan tiba-tiba menunjukkan senyumnya, kemudian berkata: "Kalian bertiga Siangkong apakah orang dari luar kota?"

Pemuda berewokan itu menganggukkan kepala, tetapi kemudian menunjukkan sikap terkejut, katanya dengan perasaan heran- "Bertiga? Kau kata kita bertiga?"

Gadis pendayung Sampan itu rupanya suka mengobrol, mendengar pertanyaan itu menundukkan kepala, dan kemudian berkaja sambil tertawa nakal: "Ya toh? Satu Tuan yang lain aku tahu adalah penduduk kota ini"

Pemuda berewokan itu lalu berpaling dan mengawasi kepada seorang pemuda yang disebut cin-laote tadi, yang masih berada didalam perahu, kemudian berpaling lagi dan berkata kepada gadis tadi: "Baik Kau kata kau Kenal yang mana Satu?"

Gadis pendayung Sampan itu mengerlingkan matanya, dan dengan jari tangannya menuding kepada pemuda yang gagah dan tampan yang dipanggil cin-laote tadi, dan  berkata dengan kemalu-maluan^ "Siapa yang tidak tahu, dia adalah Salah satu dari empat orang Cerdik pandai daerah Kang-lam yang namanya sangat kesohor. orang yang memberikan julukan padanya hwe-kwan Seng-ciu cin-hong, cin Siangkong " Sehabis meng ucapkan demikian, sepasang pipinya mendadak merah, dengan perasaan kemalu-maluan ia menundukan kepala. lantas mendayung sampannya ketengah-tengah danau.

Pemuda berewokan itu tertawa terbahak-bahak. lalu berpaling dan berkata kepada cin-hong: "Haa, jadi kau adalah Hwe-kwan Seng-ciu yang namanya Sangat kesohor"

Selembar wajah Cin Hong menjadi merah, matanya memandang kepada kipas yang berada ditangannya, lalu berkata sambil angkat pundak dan tertawa getir: "saudara Liok, hati-hati jangan kecebur kedalam air"

Baru saja menutup mulut, seorang pemuda yang berada dikirinya, dengan tiba-tiba tongolkan kepalanya dari dalam perahu, berkata pada gagis pendayung Sampan dengan suara nyaring, "Nona, tiga orang Cerdik pandai yang lainnya, apakah kau ingin kenal dengan mereka?"

Gadis pendayung Sampan menolehpun tidak. jawabnya dengan suara pelahan: "Siang-kong jangan menggoda, untuk apa hamba ingin berkenalan dengan mereka ?"

Pemuda itu agaknya merasa kecewa, ia masuk lagi kedalam perahunya, katanya dengan wajah murung: "Ai, jika kita berada di Kim-leng, orang yang banyak dikenal adalah aku ini "

Pemuda berewokan kembali tertawa terbahak-bahak lalu meneguk arak dalam Cawannya, Setelah itu ia berkata pula pada sigadis pendayung Sampan: "Nona, aku hendak menanyakan sesuatu padamu, apakah nona tidak berkeberatan?"

Gadis itu tampaknya takut digoda, ia ragu-ragu sejenak. barulah menjawab dengan suara pelahan: "Silahkan, apa yang hamba ketahui, sudah pasti akan memberitahukan kepada Siang-kong."

"Kalau begitu. tahukah kau. apakah Siang-kong ini mempunyai kawan wanita atau tidak?" Bertanya pemuda berewokan tadi sambil tertawa-

Gadis pendayung sampan itu kembali nampak bersangsi jawabnya dengan suara pelahan: "Bagaimana hamba tahu? Barangkali belum ada."

"Mengapa pakai barangkali ?"

"Hamba hanya dengar orang kata Saja" , "Dengar dari siapa ?"

Gadis pendayung Sampan itu melirik pada Cin Hong, jawabnya dengan  sekenanya:  "Dengar  orang  banyak  kata. "

"orang banyak? orang banyak itu Siapa-Siapa saja?"

Gadis pendayung Sampan itu agaknya sudah jengkel dihujani pertanyaan terus-menerus, maka lantas menjawab sedapat-dapatnya "Semua gadis pendayung Sampan di seluruh telaga ini berkata demikian"

Pemuda berewokan itu kembali mendongakkan kepala dan tertawa-tawa terbahak-bahak setelah diam tertawa, dengan wajah keheranan bertanya: "Hoho, coba kau ceritakan lagi, bagaimana gadis-gadis pendayang sampan di seluruh telaga ini tahu kalau Cin Hong tidak mempunyai sahabat wanita?"

Gadis pendayung Sampan itu membalikkan tubuhnya, dengan muka Cemberut dan menggelengkan kepala ia berkata: "Hamba tidak tahu, hanya dengar kata orang Saja.

. . ." cin Siangkong kalau melihat nona-nona Wajahnya lantas merah.

Sementara itu Cin Hong yang didalam perahu yang mendengar pembicaraan mereka itu semakin lama ngelantur, buru-buru tongolkan kepala, dan berkata dengan suara keras: "Nona, apakah kau sudah tidak mau uang lagi?"

Gadis itu berpaling padanya dan tunjukkan Senyum manis, katanya: "Tidak apa kalau cin Siangkong tak mau memberi uang kepadaku, asal cin Siangkong hadiahkan Saja kepada hamba, kipas di tanganmu itu"

Wajah Cin Hong seketika menjadi merah, ia meraSa serba salah. Tiga pemuda yang lainnya semua terbahak- bahak.

Pendayung Sampan itu barangkali merasa bahwa ucapannya tadi ada Cacadnya, wajahnya juga menjadi merah. Buru-buru memberi penjelasan "Maksud hamba ialah, kipas cin Siangkong itu jual saja, sedikit-dikitnya bisa laku lima puluh tail uang perak."

Cin Hong hanya keluarkan ucapan "Eeee" lantas masukkan lagi kepalanya kedalam, setelah itu ia tuang seCawan arak, dan ditenggaknya hingga kering

Sementara itu pemuda berewokan tadi, kembali sudah berkata "Hai, Salah Satu orang Cerdik pandai dari daerah Kang-lam yang namanya sangat tersohor kalau melihat nona-nona lantaS merah mukanya, astaga Benar- benar mengherankan"

Cin Hong tak dapat kendalikan perasaannya lagi, ia lalu berbangkit dari duduknya dan bentaknya keras: "Ngaco!! Siapapun aku tak takut, jika tak percaya dilain waktu aku unjuk keseramanku dengan Seorang nona untuk dapat kalian lihat sendiri"

Baru saja tertutup ucapannya, disebelah perahunya tiba- tiba terdengar suara gerakan air yang begitu keras, karena jaraknya terlalu dekat, maka ke empat orang itu semuanya pada menengok keluar.

Saat itu tampak sebuah perahu Sampan kecil dan gesit, lewat melalui samping peranu mereka, cepat meluncur ke arah So Tie. Sampan itu didayung Seorang tua, diatas sampan berdiri gadis cantik berbaju merah bertubuh indah

Meski sepintas, tetapi empat pemuda didalam sampan yang melihatnya, semua tertarik, Diantara mereka, Seorang pemuda tampan yang berpakaian biru sudah berseru kaget dan berkata: "Eh Nona ini mengapa demikian berani?"

Pemuda yang matanya seperti mata burung itu lantas mendorong Cin Hong, katanya sambil tertawa aneh: "cin- laote, kau tadi kata, lain waktu hendak menunjukkan keberanianmu, mengapa tidak sekarang Saja? cobalah kau kejar nona itu untuk kita lihat"

Cin Hong berpaling dan berkata Sambil mengerutkan alis: "Tidak boleh, nona itu adalah nona rimba persilatan yang memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi"

Tiga kawannya terheran mendengar jawaban itu, dengan serentak bertanya: "Eeee, bagaimana kau tahu?"

Cin Hong mendadak sadar, ia terlepasan omong, dalam hati ia merasa Cemas. Waktu itu kalau ia beri penjelasan agak sulit, tetapi kalau tidak beri penjelasan, takut mereka mengejek dirinya tidak mempunyai keberanian. Maka saat itu kembali wajahnya menjadi merah seperti terbakar. Pemuda berewokan itu yang menyaksikan keadaan demikian, segera menggoyang-goyangkan kepala dan mengeluarkan suara ejekannya.

Cin Hong yang masih muda, dengan Sendirinya berdarah panas. Ia tidak suka digoda terus-terusan, maka belum lagi pemuda berewokan itu menutup mulut, tangannya Sudah menekan meja, orangnya melompat keluar dari sampan- Sementara itu mulutnya berkata kepada gadis pendayung Sampan sambil melambai-lambaikan tangannya: "Nona, Cepatan dikit, lekas kejar Sampan kecil didepan itu "

Gadis pendayung Sampan itu agaknya merasa tidak tenang, ia berkata dengan menundukkan kepala: "cin Siangkong, hamba tidak mempunyai tenaga demikian kuatnya. "

"Biarlah aku yang mendayung sendiri." Demikiau Cin Hong berkata, lantas lompat ketempat gadis pendayung sampan berdiri untuk mengambil alih dayung ditangannya. Ia mulai mendayung, gerakannya itu ternyata sangat gagah Sekali.

Perahu Sampan dengan kecepatan tiga kali lipat, meluncur mengejar perahu sampan kecil depannya. Tiga kawannya yang berada didalam perahu dan gadis pendayung Sampan tidak menduga bahwa Cin Hong Seorang pemuda pelajar yang mempunyai kekuatan tenaga demikian besar, hingga mereka menyaksikan dengan mulut ternganga seperti patung.

Perahu sampan itu meluncur dengan Cepatnya bersamaan dengan itu, di sebelah Kira-kira jarak sepuluh tombak. juga ada Sebuah perahu ringan yang mengejar perahu sampan gadis berbaju merah itu. Penumpangnya ialah seorang lelaki berbaju hitam, orang itu duduk jongkok, kepalanya terbenam dalam lengan bajunya, hingga tak tampak Wajah dan usianya.

Tak berapa lama kemudian, perahu cin-hong Sudah berhasil mengejar perahu ringan yang di tumpangi oleh gadis berbaju merah. Sehingga kedua perahu itu hampir berhimpitan.

Gadis berbaju merah diatas perahu ringan itu, melihat gelagat tak beres lalu berkata perlahan pada lelaki tua yang mendayung sampannya. Lelaki tua itu mengangguk-angguk kepala dayung ditangannya dimasukkan lagi kedalam air telaga dan memutar perahunya demikian pesat kearah Peng-ouw ciu-gwat.

Waktu itu Cin Hong sudah bertindak sudah tentu tak mau melepaskan begitu juga memutar haluan perahunya untuk terus mengejar.

Gadis berbaju merah itu yang melihat keadaan demikian lantas menjadi marah, ia memerintahkan tukang sang dayung menghentikan perahunya. orang tua tadi lalu berkata dengan suara keras pada Cin Hong:

"Hei, siangkong, aku hendak berhenti. Kau jangan menerobos terus "

Cin Hong ketika menyaksikan perahu didepannya itu berhenti buru-buru mengelakkan kekiri haluan perahunya, juga berhenti didekatnya. Hingga SebUah perahu besar dan kecil itu berhenti berjajar ditengah telaga.

Sedangkan perahu ringan yang terpisah ia sepuluh tombak tadi juga seolah-olah disengaja juga lantaS berhenti.

Gadis berbaju merah itu kini dapat merasakan bahwa Cin Hong memang bermaksud untuk mengejar dirinya, Saat   itu   dengan   muka   menatap   Cin   Hong   sejenak. kemudian berkata sambil tertawa dingin: "Hei, untuk apa kau mengejar nonamu?"

Dengan cara bagaimana Cin Hong dapat memberikan alaSannya? Diam-diam ia menelan ludah, karena Sudah dalam keadaan terdesak, terpaksa berlagak gila. katanya sambil angkat pundak dan tertawa: "Nonajangan marah, aku ini hanya pesiar saja. Mana aku bermaksud mengejar kau"

Gadis itu membuka lebar sepasang matanya, katanya dengan nada suara marah: "Sudah jelas, kau memang ada maksud mengejarku. Tapi toh masih akan menyangkal. benar-benar tidak tahu malu "

Cin Hong yang didamprat demikian, sedikitpun tidak marah. sebaliknya bahkan ia merasa bahwa sepasang mata dari gadis itu sangat menarik, hingga dalam hati memuji tak henti-hentinya. Tetapi setelah mendengar ucapan terakhir, yang mengatakan bahwa dirinya tidak tahu malu, sesaat itu memang meraSa bahwa perbuatannya sendiri dan juga Salah, sehingga wajahnya meraSa panas, dan hatinya menjadi gugup, ia tidak bisa menebalkan muka lagi, terpaksa menjura dan berkata dengan suara gelagapan:

"Ya, ucapan nona ini benar. Aaa. . . ." ia meraSakan bahwa kata-katanya itu kurang tepat, maka buru-buru menutupi mulutnya dengan tangannya sendiri.

Gadis berbaju merah itu yang menyaksikan keadaan demikian lantas tertawa geli. Wajahnya tampak semakin manis, tapi sehabis tertawa ia Segera memerintahkan tukang perahunya untuk mendayung lagi.

Perahu yang ringan itu mulai meluncur lagi. Gadis itu dengan sikap yang maSih kekanak-kanakan menggoda kepada Cin Hong: "Kuberitahukan padamu, anak tolol, Sebaiknya kau kenal diri sedikit. Kau harus tahu bahwa kepandaian nonamu untuk menghajar adat pemuda nakal, lebih tinggi dari pada orang lain, kalau tak percaya, cobakau ikuti aku"

Cin Hong buru-buru menyoja sambil berkata: "Ya, ya, Silahkan nona. "

Tiga pemuda dibelakang dirinya dengan tiba-tiba pada tertawa tergelak-gelak. Cin Hong merasa sangat mendongkol. sifat Celengnya yang tadi sudah lenyap. kini mendadak timbul lagi. kembali menggerakkan dayung ditangannya mendayung perahunya untuk mengejar perahu gadis berbaju merah tadi. Sedangkan perahu ringan yang berada di kirinya sejauh sepuluh tombak lebih, juga bergerak mengikuti gerakan Cin Hong.

Gadis berbaju merah tadi begitu melihat perahu Cin Hong mengikuti lagi, tampak Sangat marah, dengan tiba- tiba ia menggerakkan tubuhnya, lompat melesat keluar dari dalam perahunya. Sepasang kakinya menjejak. beberapa pasang kakinya menjejak beberapa kali dipermukaan seolah-olah gerakan Capung. Lalu memutar diatas perahunya sendiri, setelah itu lompat naik lagi keatas perahunya, sepasang matanya mengawasi Cin Hong Sambil tersenyum dingin.

Dirinya seolah-olah mau berkata: "ini adalah peringatan aku yang terakhir. Kau anak tolol ini. jlka tidak tahu diri lagi, nonamu pasti akan mengambil tindakan."

Tiga pemuda yang berada di ataS perahu Sampan, dan gadis pendayung sampan yang ada di buritan, lelaki tua yang mendayung sampan gadis berbaju merah tadi, melihat gadis berbdju merah itu bisa terbang dan berjalan di atas air, semua terkejut dan terheran-heran, sedangkan pemuda berewokan tadi tampak sudah Ketakutan maka buru-buru memanggil kepada Cin Hong: "cin-laote, gadis itu benar benar gadis golongan sebangsa Jie In Nio, tidak boleh diganggu, tidak boleh di ganggu"

Pemuda yang matanya seperti mata burung tadi juga berkata dengan suara gugup: "cin Laote, jangan gegabah aku tadi hanya berbicara main-main denganmu, nona itu benar- benar tak boleh di ganggu"

Gadis pendayung sampan juga menggunakan kesempatan itu mengulurkan tangannya menahan lengan Cin Hong, dengan Sikap sangat khawatir ia berkata: "cin Siangkong, dia sungguh hebat, kau jangan mengganggu dia lagi"

Tetapi Cin Hong sedikitpun tak mau menghiraukan, ia masih tetap mendayung, sampannya meng ajar. ia rupanya sudah mengambil keputusan untuk menyampalkan maksudnya.

Gadis berbaju merah tadi melihat tindakannya yang sudah menunjukan kepandaiannya, ternyata tak dapat menggertak Cin Hong, lalu menyerbu kedalam perahu Cin Hong. Tetapi kemudian dengan tiba-tiba seperti mengubah maksudnya, badannya yang sudah bergerak tiba-tiba di tariknya kembali, dan menunjukkan senyumnya kepada Cin Hong Sambil menganggukan kepala. Agaknya memuji keberanian pemuda itu, setelah itu ia membalikkan badan dan memerintahkan orang tua pendayung Sampan itu untuk mendayung Sampan ketepi danau.

Cin Hong terus mengejar, ia juga mendayung perahunya. Perahu ringan yang terpisah tidak sepuluh tombak itu juga terus membuntuti.

"Hey, cin-laote, kita semua adalah orang-orang yang tidak bertenaga, jangan kau coba- coba main gila dengan nona itu" "Ya, cin-laote, aku minta maaf padamu. "

"cin-laote, kita empat orang Cerdik pandai dari daerah Kang-lam, tidak mudah mendapatkan nama itu, sudahlah jangan main-main dengannya. "

Demikianlah tiga kawannya satu-persatu membujuknya agar supaya Cin Hong jangan melanjutkan maksudnya untuk mengejar gadis itu.

Tak lama kemudian, perahu Sampan tadi sudah menepi. Gadis berbaju merah mengeluarkan sepotong uang perak diberikan kepada tukang perahu, lantas berpaling dan tersenyum kepada Cin Hong. Setelah itu ia lompat melesat ketepi, dan pergi.

Cin Hong bukan tidak mengerti bahwa gadis itu ada maksud memancing ia mendarat, akan "dihajar adat." Tetapi karena pikir masih sanggup menghadapinya, maka  ia melemparkan dayung ditangannya, mengeluarkan kipas dari dalam Sakunya, dan diberikan kepada gadis pendayung Sampan- ia menggulung lengan baju panjangnya, setelah itu ia lompat meleSat Setinggi tiga tombak ketepi untuk mengejar gadis tadi. "Ya Allah, kiranya cin-laote juga bisa terbang"

"A. . .a. . .cin-laote juga memiliki kepandaian ilmu silat. .

. ." Demikianlah kawan- kawannya pada terkejut dan memuji tak henti-hentinya.

Cin Hong yang pergi mengejar tampak gadis berbaju merah tadi berdiri dibawah pohon Yang-liu dengan tolak pinggang. ia tampaknva binar-benar hendak "menghajar adat." kepada Cin Hong. Melihat tempat itu tidak ada orang pikiran Cin Hong mulai tenang, lalu menjura Kepadanya, Seraya berkata: "Nona, harap nona maafkan. aku bukan

sengaja. " Sepasang alis gadis itu berdiri, bentaknya sambil menunjuk dengan jari tangannya. "Hmm. Bukan sengaja? Kau mau kata, bahwa perbuatan yang mengikuti nonamu bukan satu rencana yang sudah kau rencanakan lebih dulu?"

Wajah ciu Hong kemerah- merahan, katanya dengan suara gelagapan: "Itu. . . .Itu mana bisa jadi? Maksudku ialah. . . .ialah. "

Gadis berbaju merah itu tidak menunggu habis ucapannya, Sudah maju selangkah dan membentak padanya: "Ya Karena paras cantik yang menimbulkan keberanianmu"

"Bukan, bukan, aku berani bersumpah. aku sebetulnya karena dipaksa. " Berkata Cin Hong sambil meng goyang-

goyangkan tangannya.

"Hm, dipaksa? Siapa yang memaksa kau?" Berkata gadis itu sambil tertawa dingin.

Cin Hong menunjuk kebelakang dirinya, katanya sambil tertawa getir: "Mereka, mereka selalu mentertawai aku tidak bernyali, tidak mempunyai seorang pun Sahabat wanita. "

"Bohong, aku tadi masih dengar mereka menasehati kau Supaya kembali, apa kau kira aku tidak mendengar?"

Cin Hong tak berdaya, maka sesaat itu karena merasa malu dan mendongkol hingga wajahnya menjadi merah, hatinya pun lantas panas katanya: "Kalau kau tak percaya, ya Sudah. Sampai ketemu lagi "

Sehabis berkata, ia memutar tubuhnya dan hendak pergi.

"Jangan perg^i" Demikian gadis berbaju merah itu membentak dan lantas melesat berdiri dihadapannya, dengan tiba-tiba sikapnya yang galak itu tadi lenyap. diganti dengan sikap kekanak-kanakan, katanya sambil tertawa: "Kau kata mau pergi, lantas pergi begitu saja. Apa kau kira nonamu ini gampang kau permainkan begitu saja?"

Cin Hong menghentikan kakinya, mengangkat muka, dan bertanya dengan nada Suara dingin "Habis, kalau tidak. mau apa? Apa kau hendak membawaku kepembesar Negeri?"

Waktu ia mengucapkan perkataan itu, Sedikitpun sikapnya tidak menunjukkan Sikap main-main, sebab didalam otaknya hanya mengetahui hukum Negara, itulah yang paling ditakuti.

Gadis berbaju merah itu menunjukan tertawa gelinya, ketika ia menyadari bahwa tidak seharusnya tertawa, buru- buru berkata dengan wajah masam: "Kuberitahukan padamu, nonamu ini biaSanya hanya mau mengganggu orang, tiada orang yang berani menggangu aku. Kau terhitung seorang yang terkecualikan, oleh karena itu maka nonamu anggap adalah Sebagai barang baru"

"Kalau memang kau anggap baru, kau tidak perlu marah lagi"

"Sudah tentu aku tidak marah, tetapi kalau kau hendak pergi tidaklah demikian mudah"

"HabiS mau apa? Katakan Saja"

"Pertama: Kau berlutut dibadapanku dan menampar mukamu sendiri Sampai sepuluh kali. Kedua: Karena kau juga seperti seorang yang mengerti sedikit ilmu silat. . .

.kalau sanggup melawan nonamu, aku nanti akan membiarkan kau pergi."

Cin Hong merasa cemas, katanya : "Aku ingin memilih yang kedua, tetapi kepandaian ilmu silatku barang kali tak Sanggup menghadapi kau." "Nah kalau begitu pilih Saja yang pertama itu lebih mudah dan lebih sederhana" Berkata gadis berbaju merah Sambil tertawa bangga.

"Seorang lelaki bagaimana boleh berlutut dihadapan orang perempuan, tidak. aku tidak mau berbuat demikian" Berkata Cin Hong dengan tegas sambil menggelengkan kepala.

"Hmm Satu laki-laki apa yang kau banggakan? Aku justru mau kau berlutut" Berkata gadis berbaju merah dengan marah.

"Tidak. kalau kau tidak terima. kau boleh pergi mengadu kepada pembesar Negeri. Kau adukan Saja bahwa aku, Cin Hong, menggoda perempuan baik-baik "

Gadis itu tercengang ia berkata Sambil mendelikan matanya: "Mengadu? perlu apa aku harus mengadu?"

Suruh ia mengadu, tapi ia tak mau, Cin Hong anggap bahwa gadis ini benar- benar tidak diajak bicara dengan aturan- ia menjadi marah, maka lalu maju selangkah dan menggulung lengan bajunya. Katanya: "Baik Mari kita berkelahi Saja, siapa yang kalah jangan mengganggu lagi "

Gadis itu menerima baik tantangannya, badannya bergerak maju kedepan, tangan kanannya diputar hendak menyerang dada Cin Hong dengan kecepatan bagaikan kilat.

Wajah Cin Hong berubah, tubuh bagian atas bergerak miring kesamping seperti orang mabok. dengan bagus sekali mengelakan serangan gadis itu. DiSamping itu, juga berseru kaget

"Aa Inilah serangan ilmu Thian San siu-ang-cie " Mendengar seruan itu. gadis berbaju merah itu terkejut, ia menghentikan serangannya dan berkata: "Tak disangka kau ternyata mengenal ilmu seranganku. Siapa kah Suhumu

?"

Cin Hong setelah memulai menggerakan badannya, dengan sendirinya menjadi lincah. Begitu ditanya, oleh karena tidak ingin menjawab maka ia sengaja berlaku lucu, Sambil angkat pundaknya, ia berkata sambil tertawa: "Apa? Apa kau ingin belajar kenal?"

Gadis berbatu merah itu marah, dari mulutnya mengeluarkan seruan, lantas maju menyerbu, tangannya bergerak menyerang arah atas dan bawah, yang dituju SaSarannya ialah bagian jalan darah Hwa Kae Un-cie.

Kelakuan Cin Hong kembali seperti orang mabok. dengan gerakan Sempoyongan ia meniayang kekanan dan sebentar kekiri, bersamaan dengan itu tangan kirinya bergerak. dengan gerakannya yang tidak karuan, balas menyerang pergelangan tangan gadis itu. Kelihatannya seperti tidak menurut aturan, namun sebetulnya mengandung gerak tipu yang Cepat dan bagus sekali. Dalam waktu sangat singkat sudah hampir mengenakan pergelangan tangan gadis itu, Wajah gadis berbaju merah itu lantas berubah, buru-buru menarik kembali serangannya dan menggeser kakinya, melompat kesamping setombak lebih dan berkata Sambil menunjuk padanya:

"Inilah gerak tipu yang dinamakan Beng-teng cap- clang Apakah suhumu itu yang dinamakan it-hu Sianseng To Lok Thian?"

Baru Saja menutup mulut, dengan tiba-tiba ditempat gelap terdengar suara orang menyahut: "Beng-teng ciap- clang ? Ha-ha ha. " Suara itu kedengarannya Sangat Serem, membuat berdiri bulu roma bagi orang yang mendengarkan

Cin Hong dan gadis berbaju merah itu sama-sama terkejut, dan menengok kearah datangnya Suara tadi, Samar-Samar tampak ditempat sebelah kiri sejauh kira- kira tujuh delapan tombak. ada seekor burung kalong yang besar Sekali, tetapi sudah lenyap menghilang ditempat lebat. Kalau suara tadi terdengar pula, ternyata sudah berada Sekira setengah pal jauhnya.

Gadis berbaju merah itu tertegun sejenak. setelah tenang kembali pikirannya, dengan perasaan terkejut ia bertanya kepada Cin Hong. "Hei Siapa kah dia?"

"Hanya seekor kalong. . . ." Menjawab Cin Hong sejenak.

Gadis berbaju merah itu melompat kaget memandangnya Sejenak. dan berkata: "Bohong, burung kalong bagaimana bisa bicara ?"

"Kalau begitu barangkali itu silUman kalong "

Gadis itu kembali terkejut, katanya marah: "Omong kosong, apakah kau hendak menakut-nakuti aku?"

Ketika mengucapkan itu, gadis itu Seolah merasa bahwa dirinya sendiri seorang penakut maka lalu berpaling mengawasi berlalunya kalong tadi, dari hidungnya mengeluarkan suara, kemudian bertanya lagi padanva: "Hei, benarkah kau muridnya It-hu Sianseng?"

"Siapa kah It-hu Sianseng itu?" Cin Hong balas menanya dengan perasaan bingung.

"Gerak tipu seranganmu tadi jelas. . . .dari ilmu silat Beng-teng cap- clang It-hu Sianseng, apa kau kira aku tidak tahu?" "oh, apa itu Beng-teng cap-ciang?" balas menanya Cin Hong yang masih berlagak gila.

"Perlu apa kau masih berlaga gila?" berkata gadis itu gemas, "Gerakanmu tadi adalah gerak tipu jurus pertama yang dinamakan secawan ditangan dari ilmu silat Beng-teng cap-ciang, apa kau kira nonamu tidak mengerti?"

Cin Hong diam-diam merasa cemas, tapi ia masih ingin menjajagi pengetahuan gadis itu: "Dan yang kedua, apa namanya?"

"Beng-teng cap-ciang adalah ilmu silat terampuh It-hu Sianseng yang pernah menggetar rimba persilatan- Sebab ia gemar minum arak. maka nama- nama gerak tipunya diambil dari itu istilah orang pertaruhan minum jurus kedua dinamakan sepasang lengan tangan kosong semua, betul tidak?"

Cin Hong semakin terkejut, tetapi dengan mendadak ia tidak ingin berbohong lagi maka ia lalu menganggukkan kepala untuk membenarkan- Katanya: "Benar Dan yang ketiga?"

"Ketiga dinamakan Tiga tumbuh diatas batu. Batu itu kabarnya berada dibelakang bukit kuil Thian-tak-sie, besok aku justeru ingin pergi melihat"

Cin Hong merasa bahwa gadis itu sangat polos dan menyenangkan, maka lantas timbul rasa suka.

"sukakah nona ajak aku pergi bersama-sama?"

Gadis baju merah baru sadar kalau sudah terlepas omong, mukanya merah seketika, kakinya maju selangkah, katanya^ "Anak tolol, kau mau enak saja"

Cin Hong mundur selangkah, katanya sambil unjuk hormat, "Jangan marah nona, itu tokh ucapanmu sendiri" Gadis itu mendelikkan mata, katanya gemas: "Sekarang jangan banyak bicara lagi, sebetulnya murid It-hu Sianseng atau bukan?"

Cin Hong tidak menjawab langsung, sebaliknya balas menanya Sambil mengerutkan alisnya, "Heran, mengapa demikian apal benar terhadap ilmu Silat It-hu Sianseng. "

Gadis itu tampak sangat bangga, katanya dengan muka berseri-seri: "Apa yang dibuat heran? Kuberi tahukan padamu, suhuku Thian San Swat San Popo justeru sedang mencari dia, kau tahu?"

Dan ilmunya meringankan tubuh gadis itu, Cin Hong memang sudah tahu kalau gadis itu adalah murid Swat-San popo dari gunung Thian-san, tetapi ketika mendengar keterangan gadis itu bahwa gurunya sedang mencari It-hu Sianseng, dalam hati terCekat. "Perlu apa suhumu mencari suhuku?" demikian ia bertanya.

"Mereka memang merupakan musuh lama, masakau juga tidak tahu?"

Dalam hati Cin Hong terkejut, dan hatinya berpikir: "Suhu memang pernah menceritakan kepandaian ilmu silat Swat-san popo, tetapi belum pernah mengatakan bahwa dengan Swat-popo ada mempunyai permusuhan. Dari kelakuansuhu diduga, sang suhu itu pasti mempnyai kesulitan yang tak dapat dijelaskan kepadanya, mungkin dengan Swat-popo ada terjalin sesuatu yang tidak biasa, dan sekarang ia sendiri telah membocorkan rahasianya dengan Cara gila2an . Bukankah ini menjadi sangat runyam?

Dalam keadaan ketakutan ia telah timbul akal, dengan tiba2 ia menunjukkan kebelakang diri gadis itu, katanya dengan suara terkejut: "Lihat itu siapa yang datang?" GadiS itu tidak tahu kalau diakali, ketika ia menengok kebelakang, Cin Hong menggunakan kesempatan itu untuk kabur, dengan menggunakan ilmunya meringan tubuh, dari berbalik kedalam perahunya.

Ketika gadis berbaju merah itu mengetahui bahwa dirinya telah tertipu, Cin Hong sudah berada sejauh tujuh delapan tombak. sedang menghilang kedalam gerumbulan pohon Yang-liu. Maka ia lalu berseru memanggilnya: "Hei Perlu apa kau lari? Berhenti Aku tak akan memukulmu, justeru ada urusan hendak menanyamu. "

TENGAH malam suasana sunyi senyap....

Ia menghabiskan guratannya yang terakhir dalam sebuah lukisannya, lalu meletakan pensilnya dan mundur dua langkah. ia mengamat-amati lukisannya yang berbentuk seorang gadiS jelita. ia pandang matanya yang jeli berCahaya, dan alisnya yang lentik, serta pipinya yang bersujen Lalu menggeleng gelengkan kepaia, seolah-olah terpesona oleh lukisannya sendiri. Kemudian ia angkat lagi pensilnya, diSamping gambar itu, ia tuliS dengan kata-kata seperti dibawah ini: "Kenangan dalam impian- Pertemuan ditelaga See-ouw pada musim semi, tahun. "

Baru saja habis menulis, terdengar suara pintu dibelakangan dirinya didorong orang, seorang tua berperawakan tinggi besar dan gagah, melangkah masuk kedalam kamarnya.

orang tua itu berusia kira-kira enam puluhan, tubuhnya Tinggi besar. alisnya tebal, matanya jeli, kepalanya memakai topi yang berbentuk persegi, pakaiannya seperti seorang hartaWan yang disebut Wan Gwe, dari sikapnya yang gagah itu tampak wajahnya yang ramah dan pengasih. Tetapi disamping itu juga ada mengandung sedikit jenaka. Cin Hong melihat orang tua itu masuk seCara tiba-tiba, tampak terkejut. Buru-buru memutar diri dan menempatkan dirinya demikian rupa untuk menutupi lukisannya sendiri, setelah itu ia menganggukkan kepala pada orang tua itu seraya berkata Sambil tertawa^ "Suhu, telah malam suhu masih belum tidur?"

orang tua itu dengan gerak lambat, duduk diatas kursi, dengan tangannya mengucek-ucek matanya sendiri, lalu berkata perlahan: "Sudah tidur, oleh karena aku mengetahui ada orang ditengah malam buta melukis gambar, maka aku sengaja datang untuk melihat-lihat"

Muka Cin Hong menjadi merah ia terpaksa tertawa dan berkata^ "Suhu tampaknya Sangat gembira, hanya lukiSan ini tak ada apa-apanya yang patut di lihat, harap suhu beristirahat saja di kamar."

orang tua itu seolah-olah tidak mendengarkan ucapannya, tangan kanannya mengurut-urut jenggotnya yang tipis, lalu berkata sambil tersenyum: "IHmm, kenang- kenangan dalam impian, pertemuan ditelaga See-ouw pada musim Semi tahun. itu terjadi hari apa?"

Cin Hong tahu, sudah tak bisa mengelabui mata suhunya lagi, maka ia lalu menyingkir untuk memperlihatkan gambarnya pada suhunya, kemudian berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tertawa getir: "Pandangan suhu sungguh tajam Sekali "

Sang suhu menundukkan kepala Sambil tertawa, katanya: "Pujian semaCam itu tidak terlalu Cerdik, orang panggil aku Wan Gwe, sedangkan kaupandang aku sebagai Wan Gu besar, benar-benar ini kurang ajar sekali"

Cin Hong tak bisa menjawab, terpaksa memandang suhunya dengan senyum getir, suhunya waktu itu memang di anggap sebagai Wan Gwe Hartawan yang terkenal di kota Hang-chiu, tapi sebetulnya adalah seorang tokoh ternama dalam rimba persilatan yang mengaSingkan diri, juga yang menjadi suhu Sejak delapan belas tahun lamanya, yang selama itu dianggap sebagai ayahnya sendiri.. .

.Selama delapan belas tahun, tiap kali ia sendiri melakukan perbuatan salah, belum pernah sang Suhu itu memarahi dengan perkata an kaSar, selalu dengan sikapnya yang ramah tamah dan jenaka, akan tetapi membuat yang merasakan tidak enak. sehingga terkadang ia sendiri merasakan sebenarnya suhunya. Dan mau tak mau harus merubah kesalahannya sendiri. Dan kini orang tua yang cerdik, licin tapi patut di hormati itu kembali menggunakan Cara yang lama.

orang tua itu tak hentinya mengurut-urut jenggotnya sendiri, berkata pula seperti menggumam sendiri: "Alisnya lentik, matanya lebar, hidungnva kecil. cantik, tapi kurang luwes. Benar-benar merupakan seorang anak perempuan yang ada harganya buat kenangan. . . .Sejak kapan kau melihat dia?"

Cin Hong bersangsi, tetapi akhirnya ia berkata dengan terus terang, "Kemarin ma lam, aku dengan teman-teman Liu, Liok dan So, pergi pesiar ditelaga See-ouw."

"oo, tahukah dia bahwa kalian adalah empat orang cerdik pandai dari daerah Kang-lam?"

"Tidak, dia adalah orang dari utara" "Kau menanyakan dirinya?"

" juga tidak. aku. ..." Dia tak dapat melanjutkan pembicaraannya.

orang tua itu tiba-tiba tertawa geli, Sambil menyipitkan matanya berkata padanya: "RahaSia orang pria Untuk mendapatkan teman Wanita. ialah menebalkan muka. Apa kau sudah berbuat itu ?"

"Sudah, suhu." Menjawab Cin Hong dengan rasa malu- malu.

"AChirnya ?"

"AChirnya mengeCewakan, suhu."

"Setiap perempuan, pasti menyukai yang bagus. Kau paSti belum Cukup baik memegang perananmu bermuka tebal semaCam itu."

Diam diam Cin Hong menghela nafaS, katanya Sambil tertawa: "Suhu, Suhu lihat dia itu gadis bagaimana?^

orang tua itu angkat wajah dnn memandang lukisan setengah badan dari seorang gadis manis. Tiba-tiba menunjukan sikap terkejut, katanya^ "oh, dia wanita dari kalangan rimba perSilatan ?"

"Ya, suhu, dia itu sangat hebat" Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala dan teetawa,

Mata orang tua itu terbuka lebar, katanya dengan sungguh-sungguh. "Apa, apa kau sudah mengadu kekuatan dengannya ?"

Hati Cin Hong berdebaran, katanya sambil menundukan kepala: "Adalah dia yang mendesak buat turun tangan, dia bilang bahwa kepandaiannya menghajar ada lelaki berandalan lebih pandai dari orang lain-.. ."

orang tua itu mendengar ucapan itu lantas Tertawa, katanya: "Kalau begitu, akhirnya siapa yang menang"

Cin Hong lalu menceritakan Semua apa yang telah terjadi, ia hanya tidak menceritakan halnya ada orang yang mencuri dengar ucapan mereka, dan memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan itu disebabkan karena ia masih belum mempunyai pengalaman didunia Kangouw.

orang tua itu ketika mendengar keterangan bahwa Thian- san Swat Popo mencari dirinya tampak terkejut dan hampir lompat dari tempatnya, katanya dengan Suara aneh: "Wah Achirnya ia datang juga "

Cin Hong menyaksikan sikap suhunVa terkejut demikian rupa, dalam hati menyesal bahwa dirinya telah mendatangkan bencana, tetapi Samping itu ia juga merasa cemas. karena ia tidak tahu benar kepandaian orang tua itu, juga tahu berapa tinggi kedudukannya dalam rimba persilatan pada dewaSa ini. Ini juga berarti, sekalipun dengan Thian-San Swat Popo mempunyai permusuhan besar, juga tak perlu merasa tegang demikian rupa,jelaslah Sudah ini bukan disebabkan karena takut kepandaian Swat Po-po, melainkan ada faktor apakah itu?

orang tua itu agaknya juga merasa bahwa sikapnva Sendiri yang kelewatan, maka dengan cepat Sikapnya berubah Seperti biaSa, ia mondar-mandir didalam kamar, diwajahnya tersungging senyuman misteri, katanya: "Anak. tidak perlu kaget. satu-satunya sebab ialah pada dua puluh lima tahun berselang, kita sudah pernah hidup bersama- sama sepuluh tahun lamanya , kemudian, aku menghendaki dia kedapur, dia tidak mau, ia minta aku jangan minum arak, aku tidak mau, demikianlah kita terpaksa berpisahan.

..."

"oh Jadi suhu dengan Thian-San Swat Popo itu dahulu adalah suami isti."

"Ya, kalau diingat, menang itu Suatu hal yang sangat menyedihkan, oleh karena itu, maka selama tusuhumu belum pernah menyebutkan..." "Ai, ia kata bahwa suhu berdua adalah sepasang muSuh lama, waktu itu aku kira yang dikatakan musuh itu benar- benar musuh buyutan- Sehingga aku ketakutakan setengah mati dan buru-buru kabur"

"Menyesal sekali, hal itu membuat kau Sampai ketakutan dan kehilangan kesempatan untuK belajar kenal lebih baik dengannya. Hanya Suhumu percaya, mereka guru dan muridnya. selambat-lambatnya besok pagi hari pasti akan datang mencari kemari "

"Apakah suhu suka menemui dia?"

"Mengapa tidak. sudah dua puluh lima tahun lama kita tidak bertemu muka. Dua puluh lima tahun itu buKanlah suatu waktu yang pendek "

Sehabis mengucapkan demikian, dengan tiba-tiba diluar kamar, didalam pekarangan terdengar seorang wanita yang menyambung: "Bagiku, waktu dua puluh lima tahun itu hanya seperti segumpal awan yang terbang, seolah-olah suatu hal yang terjadi dalam waktu sekejap mata"

orang tua itu memperdengarkan suara tawanya yang aneh, kemudian memutar tubuh dan berkata kepada wanita yang berada diluar kamarnya: "Swat Popo, kau benar-benar datang"

"Hm " Demikian dari luar terdengar suara orang menyahut, sesaat kemudian tampak sesosok bayangan orang sudah berada dipintu kamar, seorang perempuan tua bersama seorang gadis berpakaian merah, berjalan masuk kedalam kamar.

Perempuan tua itu usianya kira-kira enampuuh tahun, namun gerakannya masih gagah, matanya jeli, mengenakan pakaian warnaputih, dari raut mukanya, bisa diduga bahwa dimasa muda pasti merupakan seorang wantita cantik. Usia gadis berbaju merah itu kira-kira tujuh belas tahun, potongan tubuhnya tampak Sangat ramping, karena ia mengenakan pakaian yang sopan "ketat". Alisnya lentik, matanya lebar, mulutnya kecil, persis seperti lukisan yang dilukis oleh Cin Hong.

Cin Hong melihat perempuan tua itu merasa sangat girang, buru-buru maju menghampiri dan memberi hormat, katanya: "Tecu Cin Hong menghadap subo. "

Swat Po-po. sedikitpun tidak mau menerima kehormatan itu. Sepasang matanya yang tajam memancarkan sinar berkilauan, dengan Sikap dingin memandangnya sejenak. lalu berpaling dan berkata kepada gadis berbaju merah disisinya: "In-jie, apakah bocah ini kemarin malam yang mengganggu kau di telaga see-ouw?"

Biji matanya yang hitam gadis berbaju merah itu berputaran memandang Cin Hong Sejenak. lantas angkat muka mengawasi atap atas, katanya^ "Ya. suhu itulah orangnya "

Sehabis berkata demikian, matanya mengerling kearah Cin Hong, justeru pada Saat itulah ia melihat bahwa dibelakang diri pemuda itu tampak lukisan dirinya sendiri, yang berbentuk setengah badan.

Maka dengan rasa terkejut dan girang, ia berseru sambil menunjuk lukisan itu: "ooo suhu, kau lihat ia juga sudah melukis diriku. lukisannya itu mirip sekali"

Dengan sikap dingin swat Po-po memandang lukisan itu sejenak. tiba-tiba maju menghampiri Cin Hong, bentaknya dengan bengis: "Bocah, Siapa suruh kau melukis murid ku?"

Cin Hong tak menduga bahwa nenek yang usianya sudah lanjut itu masih demikian keraS adatnya, maka SeSaat  itu  ia  menjadi  gelisah,  dengan  makSud  hendak minta bantuan Suhunya, tujukan pandangan matanya kepada Sang Suhu.

orang tua itu hanya tersenyum Sambil mengurut-urut jenggotnya, tiada Sepatah katapun keluar dari mUlutnya, hanya SepaSang matanya memandang pada Swat Popo, lama baru membuka mulut sambil tertawa:

"Siang- in, jangan kau limpahkan kemarahanmu kediri anak murid ku"

Ucapan "Siang- in" itu seolah-olah mempunyaj penguruh yang besar sekali, Swat Po-po yang dipanggil demikian, sifatnya yang tadi galak. telah lenyap seketika. Semangatnya seolah-olah sudah runtuh seperti seorang yang sudah kehilangan tenaga, ia mundur dan duduk diatas kursi. Dengan sikap sedih dan mendongkol, ia bertanya: "Setan pemabokan, apa kau Sudah tidak minum arak lagi?"

orang tua itu juga duduk diataS kursinya, ia menghela napas dan berkata: "Sudah lama aku tidak minum lagi, kau tidak dengar bahwa In-hu Sianseng sudah dua puluh tahunan lebih Sudah menghilang dari rimba persilatan?"

"Mengapa tidak minum, apakah kau sudah tak ada uang?" Bertanya Swat Popo Sambii tertawa dingin.

"Bukan oleh karena minum arak. aku telah kehilangan isteri, bagaimana aku boleh minum lagi?" berkata orang tua itu Sambil bergeleng kepala dan menghela napas.

Cin Hong yang mendengar ucapan itu dalam hatinya merasa geli. Pikirnya: "Suhu benar-benar pandai membohong, seingatku sejak aku mengerti urusan sehingga sekarang, kulihat suhu setiap kali makan, selalu ditemani sepoci arak." Ia selalu ingin menanya, tetapi Po-Po Sudah berkata lagi sambil tertawa dingin: "Benarkah kau sudah membuang kebiasaanmu itu ?"

orang tua itu terSenyum, ia berkata dengan suara pelahan, seolah-olah takut didengar orang lain: "Untuk membuang kebiasaan seluruhnya, sesungguhnya bukan soal yang mudah, hanya tidak seperti dahulu yang demikian tak mengenal batas, terkadang hanya kalau harus menemani tamu atau kawan, suka minum sedikit saja. "

swat Popo mendadak bangkit dari tempat duduKnya, sambil mengacungkan tinjunya ia berseru: "Kalau begitu, membohong"

orang tua itu buru-buru bangkit, dengan kedua tangannya digoyang-goyangkan, berkata sambil tertawa: "Siang- in kita semua sudah menjadi tua, baru bertemu muka sudah ribut mulut, bagaimana persoalannya ini ?"

swat Po-po dengan perasaan mendongkol duduk kembali, ia menundukan kepala tidak berkata apa- apa.

Dua orang tua itu duduk diam Saling berhadapan, It-hu Sianseng tiba-tiba menghela nafaS, ia bangkit dan berjalan mondar-mandir, mulutnya mengeluarkan pertanyaan perlahan: "Kali ini turun dari gunung Thian-san apakah keperluan denganku?"

swat Po-po dengan termanggu-manggu matanya ditujukan ketanah, lama sekali ia baru menjawab dengan nada suara dingin: "Apakah kau tidak pernah dengar, diwaktu belakang ini dalam rimba persilatan terdengar desas-desus yang tidak enak?"

"Maksudmu, apakah ada orang rimba persilatan yang menertawakan kita berdua?" bertanya it-hu sianseng heran. "Betul, maksudku baru datang kemari, justru hendak menanya kepadamu. Apakah kita masih perlu meneruskan Sikap yang diam Saja seperti dulu?"

It-hu Sianseng berulang-ulang berbicara, heh. Sambil mengurut-urut jenggotnya, ia melirik kepada muridnya sendiri dan gadis berbaju merah, lantas berjalan lagi beberapa putaran, akhirnya ia berkata dengan suara keras: "Baik apabila kau tidak menolak. mari ita rujuk kembali"

Cin Hong sangat girang, ia melihat kepada gadis berbaju merah, dalam hatinya merasa bersukur, bahwa dua orang tua ini bisa rujuk kembali. Dengan demikian ia bisa mendapat kesempatan untuk bergaul lebih dekat dengan gadis baju merah itu. Dengan demikian pula ia tidak perlu iri dengan kawannya, yang masing-masing sudah mempunyai sahabat perempuan semua, hanya dia sendiri yang masih belum mendapat sahabat perempuan yang cocok.

Diluar dugaannya, Swat Po-po dengan tiba-tiba menepok meja, dan membentak dengan suara keraS: "Setan pemabokan Kau kemana dengarnya?"

Cin Hong dengan perasaan heran mengawaSi Suhunya, tampak orang tua itu masih mengurut-urut jenggotnya sambil mengerutkan alisnya.

swat Po-po tampaknya sudah marah benar-benar, wajahnya sudah pucat, katanya Sambil mengertak gigi: "Bagus sekali Kau sedikit urusanpun tidak mau mengurus dan Sekarang ternyata Sudah menjadi Seorang manusia yang mempunyai Kedudukan baik"

It-hu Sianseng tampak sangat gelisah. agaknya maSih belum bisa memiKirkan apa Sebenarnya yang membuat marah isterinya itu, ia berkata Sambil menghela napas panjang: "Siang-in, sebetulnya urusan spa?Jelaskanlah duduk perkaranya"

"Yang kumaksudkan ialah penjara rimba persilatan" orang tua itu begitu mendengar ucapan "penjara rimba

persilatan," sesaat sepasang matanya memancarkan sinar yang tajam. Ia menghentikan gerak kakinya, dan berkata dengan Suara berat: "Apa katamu?"

swat Popo tertawa dingin, katanya dengan tenang: "Sejak pangcu golongan pengemis Sie Kwan masuk penjara seluruh rimba persilatan telah menaruh perhatiannya kepada diri kita berdua, tetapi sekarang tidak lagi, mereka mulai mengejek dan menertawakan kita bernyali kecil seperti tikus, tidak menghiraukan kesetia kawanan hanya mencari hidup untuk menyenangkan diri"

It-hu SianSeng mendengarkan ucapan itu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian mendongakkan kepala dan berpikir lama, barulah bertanya dengan suara pelahan: "Apa hanya tinggal kita berdua Saja?"

"MaSih ada itu tetamu tidak diundang dari dunia luar, tetapi apa yang mengherankan ialah dalam rimba persilatan agaknya Semua Sudah melupakan dia. "

It-hu SianSeng menundukkan kepala untuk berpikir, dengan tiba-tiba angkat pundak, matanya menatap Swat- popo, dantanyanya sambil tertawa: "Kalau begitu, kau pikir bagaimana?"

"Golongan Thian San meskipun bukan Salah satu partay besar yang ada nama tetapi sejak cowsu kita yang mendirikan Thian-san-pay, hingga aku sekarang, belum pernah sembunyikan muka didepan mata orang banyak." It-hu Sianseng menganggukkan kepala dan tertawa. kemudian berkata: "Bagus sekali. Kita berdua meskipan orangnya sudah tua, akan tetapi sifat kerasnya maSih ada, apa salahnya bersama-sama pergi kepenjara untuk duduk didalamnya, apabila dengan cara itu bisa mengubah Sifat kita yang berangasan, juga merupakan suatu hal yang baik sekali"