Tamu Aneh Bingkisan Unik Bab 06 : Menentukan yang terbaik di Gunung Zhu Lai (Tamat)

 
Bab 06 : Menentukan yang terbaik di Gunung Zhu Lai (Tamat)

Begitu melihat lawannya tidak terluka, dengan gerakan cepat Nian Cai X ia mundur—

"PUSH!" pisau kecil itu ditiup dan me lesat seperti sebuah anak panah, pegangan pisau kecil itu sudah menotok nadi Nian Cai Xia.!

Dalam mimpipun Nian Cai X ia sama sekali tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan kejadian seperti ini. Karena itu dia tidak sempat untuk menghindar lagi. Matanya terasa gelap dan diapun roboh. Gu Shi meloncat dan tertawa, "Nona Nian, aku dengar kau masih perawan, malam ini aku ingin membuktikan apakah kabar itu benar atau hanya gosip belaka."

Baru saja dia maju se langkah dengan niat untuk memeluk Nian Cai Xia, di belakangnya terdengar sebuah suara dingin, "Bocah! Berlakulah sopan sedikit!"

Gu Shi membalikkan badannya untuk melihat siapa yang bicara, dengan dingin dia berkata, "Kalian berdua hanya dua pesilat yang bersembunyi di gunung, untuk apa ikut campur?"

Orang yang berdiri di depan Gu Shi adalah Pendeta Yi Cheng Zi dan Tuan Zhu Lai!

Wajah Tuan Zhu Lai sangat dingin, "Apakah kau adalah Wu Xing Jian Ke Gu Shi?"

Gu Shi tertawa dengan sombong, "Benar! Apakah kau sudah diberitahu oleh Nian Cai Xia sebelumnya?"

Tuan Zhu Lai mengangguk. "Apakah kalian mempunyai marga yang sama?" tanya Gu Shi sambil tertawa.

"Pendeta ini bernama Yi Cheng Zi, dia adalah kakak seperguruan ketua Wu Dang," jelas Tuan Zhu Lai.

Sikap Gu Shi masih seperti biasanya, dia tersenyum dan berkata, "Kalian benar-benar orang terkenal, beruntung aku bisa bertemu dengan kalian."

"Aku hanya orang biasa, kebetulan tinggal di Gunung Zhu Lai, karena itulah orang-orang menyebutku sebagai Tuan Zhu Lai."

"Kalau kau bukan orang terkenal, minggirlah!" kata Gu Shi.

Gu Shi menganggap kalau Yi Cheng Zi adalah orang yang dicarinya, segera dia berkata kepada Yi Cheng Zi, "Pendeta adalah kakak seperguruan ketua Wu Dang, aku yakin ilmu silat Anda pasti tinggi." Yi Cheng Zi tersenyum dan berkata, "Tidak juga, selama hidupku, aku hanya senang minum arak dan bermain catur."

"Pendeta terlalu rendah hati, aku sudah lama ingin meminta petunjuk dalam bidang ilmu s ilat, hari ini aku te lah bertemu dengan Pendeta, aku benar-benar sangat beruntung, apakah sekarang aku boleh meminta petunjuk?"

"Apakah Tuan Muda datang dari Mi Zhong?" tanya Yi Cheng Zi.

Wajah Gu Shi tampak berubah, matanya tampak berkilau dan dia bertanya, "Bagaimana Pendeta bisa tahu?"

Yi Cheng Zi meunujuk Tuan Zhu Lai dan berkata, "Tadinya aku tidak tahu, Tuan Zhu Lai telah melihat ilmu pedangmu dan memberitahuku."

Mendengar hal itu Gu Shi mulai memperhatikan keberadaan Tuan Zhu Lai. Dia melihat Tuan Zhu Lai kemudian dengan aneh dia berkata, "Kau hanya orang yang tidak ternama, mengapa kau bisa tahu ilmu pedang Mi Zhong?"

Dengan ringan Tuan Zhu Lai menjawab, "Selain mengetahuinya, 10 tahun yang lalu aku pernah bertarung dengan seorang jago s ilat dari Mi Zhong."

Wajah Gu Shi tampak berubah lagi, "Siapakah nama pesilat Mi Zhong itu?"

"A Nan Duo," jawab Tuan Zhu Lai. Gu Shi terpaku.

Tuan Zhu Lai tersenyum, "Apakah Adik mengenal A Nan Duo?"

Mata Gu Shi tampak berkilau dia tidak menjawab ma lah balik bertanya, "Sewaktu kalian bertarung, apakah kau kalah?"

"Benar!" jawab Tuan Zhu Lai.

Wajah Gu Shi terlihat seperti me lepas beban berat, dia tertawa, "Ilmu pedang Mi Zhong bukan ilmu pedang sembarangan, perkumpulan mana yang sanggup mengalahkannya?" Dengan ramah Tuan Zhu Lai menjawab, "Waktu A Nan Duo berkelana di Zhong Yuan, dia berhasil mengalahkan semua pesilat tangguh di Zhong Yuan, waktu itu aku masih muda dan masih mempunyai adat tidak mau kalah, maka aku mencarinya dan mengajaknya bertarung, walaupun kami telah bertarung sehari semalam, tapi aku tetap kalah satu jurus darinya."

Gu Shi terpaku lagi dan berteriak, "Oh....kalian bertarung sehari semalam, akhirnya kau kalah satu jurus dari guruku?"

Tuan Zhu Lai terus melihatnya dan berkata, "Ternyata kau adalah murid A Nan Duo, pantas ilmu pedangmu sangat tinggi."

Dia menarik nafas dan berkata, "Waktu itu gurumu berkelana di Zhong Yuan, walaupun dia tidak terkalahkan tapi sikapnya sangat baik dan tidak sombong, juga belum pernah melakukan hal yang memalukan. "

Wajah Gu Shi memerah tapi dia segera tertawa, "Apakah Tuan sedang mencoba mengajarku?"

"Aku tidak berani, Adik sudah mendapatkan ilmu asli dari Mi Zhong seharusnya kau merasa puas dan bisa dihormati banyak orang."

"Kau sedang mencoba melarangku?" Gu Shi tertawa dingin.

"Ini hanya sekedar nasihat, bukan larangan," kata Tuan Zhu Lai.

Gu Shi melihatnya dan tertawa lagi, "Aku tidak percaya pada semua kata-katamu tadi."

"Oh ya?"

"Kalau kau bertarung dengan guruku sehari semalam, kau pasti orang terkenal dan banyak dikenal orang. Tapi Tuan Zhu Lai', baru pertama kali aku mendengar nama ini!"

"Kalau Adik tidak percaya, ya sudah!" kata Tuan Zhu Lai tertawa kecil.

"Aku ingin membuktikannya!" Gu Shi tertawa licik. "Boleh saja," jawab Tuan Zhu Lai. Dia mengambil dayung besi milik Nian Cai Xia dan meletakkannya di depan dada, kemudian berkata, "Silahkan mulailah!"

Kata-kata dan sikap Tuan Zhu Lai sangat terpelajar dan tenang, sama sekali tidak terlihat cemas atau terbawa emosi. Semua itu memberikan kesan kalau ilmu silatnya sangat dalam dan tidak bisa ditebak!

Gu Shi merasa sedikit takut. Semenjak pertama kalinya berkelana di dunia persilatan, dia selalu menang dalam setiap kali pertarungan. Dia sudah mengalahkan banyak pesilat tangguh. Di Zhong Yuan dia sangat sombong dan menganggap kalau dia tidak terkalahkan. Karena itu di depan Tuan Zhu Lai dia t idak mau terlihat lemah dan siap bertarung untuk menentukan kalah dan menang.

Pelan-pelan dia memegang pedang dan memasang kuda-kuda jurus Zhu Jing T ian. Matanya bersorot tajam!

Sikapnya seperti sebuah busur yang ditarik kencang, setiap saat siap mengeluarkan serangan dasyat!

Tapi Tuan Zhu Lai seperti tidak melihat Gu Shi. Kedua tangannya memegang dayung besi, sedikitpun tidak bergerak!

Yang satu terlihat sombong dan dipenuhi dengan hawa membunuh, sedangkan yang satu lagi terlihat sangat tenang. Benar- benar pemandangan yang jarang terlihat!

Mereka saling memandang. Gu Shi tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Dia tampak seperti sangat marah. Tiba-tiba dia maju selangkah, kedua kakinya membentuk kuda-kuda. Kedua tangannya memegang pedang dan siap menyerang!

Tapi Tuan Zhu Lai tetap tersenyum dan berkata, "Itu adalah jurus Lao Ji Fu Li, apakah benar?"

Gu Shi mendengar bahwa Tuan Zhu Lai bisa menyebut nama jurus-jurusnya dengan baik, hatinya bergetar. Segera dia mengganti dengan jurus lain. Punggungnya diluruskan, kaki kirinya sedikit dilipat. Pedang panjangnya diangkat tinggi-tinggi, seperti ingin melemparkan pedangnya kepada lawan.

Sorot mata dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan hawa membunuh!

Tuan Zhu Lai tersenyum dan berkata, "Itu jurus Qian Long Tai Chong. Berikutnya adalah jurus Po Yun Jian Re, apakah benar?"

Sekarang Gu Shi benar-benar bergetar dan berteriak, "Kau...mengapa kau bisa mengetahui nama jurus dalam ilmu pedang Mi Zhong?"

Tuan Zhu Lai tertawa, "Dulu sewaktu gurumu masuk ke Zhong Y uan, di antara para pesilat tangguh yang ditemui gurumu, hanya aku saja yang bisa bertahan sehari semalam lamanya. Begitu sudah tahu siapa yang bakal menang dan s iapa yang bakal kalah, gurumu tidak menganggapku sebagai musuhnya. Kami tetap minum bersama dan mengobrol 3 hari 3 malam lamanya. Otomatis diapun memberitahukan nama jurus-jurus ilmu pedang dari perkumpulan kalian, karena itu aku bisa mengetahui nama jurus-jurus pedang kalian."

Gu Shi mengerutkan dahi. Dia merasa maju susah, mundurpun sulit.

Lawan yang ada di depannya sekarang pernah bertarung dengan gurunya dan bisa bertahan selama sehari semalam, dia pasti mempunyai ilmu silat tinggi, keadaannya adalah lawannya sudah mengetahui dan mengenali ilmu silatnya sedangkan dia tidak mengetahui ilmu silat lawannya, kalau mereka benar-benar bertarung, apakah dia bisa mempunyai kesempatan untuk menang?

Gu Shi tampak berpikir sejenak akhirnya dia mengambil keputusan, keadaan ini sangat sulit untuk meraih kemenangan.

Maka dia segera mengubah sikapnya. Dia menyimpan pedangnya dan berkata, "Tuan mengenal guruku, aku tidak bisa bertarung dengan Tuan. Aku pamit dulu!"

Dia memberi hormat dan pergi. Tuan Zhu Lai segera berkata, "Adik, jangan pergi dulu! Aku ingin bertanya sesuatu padamu!"

Tapi Gu Shi seperti tidak mendengar panggilannya. Dengan cepat dia berlari, hanya dalam waktu singkat dia sudah menghilang di dalam pandangan mata.

Tuan Zhu Lai seperti tidak tenang. Dia melihat Yi Cheng Zi dan bertanya, "Hidung kerbau, menurutmu apakah aku harus menyuruhnya kembali?"

"Untuk apa mengejar dan menyuruhnya kembali?" tanya Yi Cheng Zi.

Tuan Zhu Lai menunjuk Nian Cai Xia yang terluka dan masih pingsan tergeletak di bawah. Dia berkata, "Dia ingin aku merebut kembali catatan nama-nama yang ada di tangan Gu Shi. Jika aku tidak membantunya, dia tidak akan. "

Yi Cheng Zi tersenyum, "Dia tidak akan mau menikah denganmu, apakah benar?"

"Benar!'

Yi Cheng Zi tertawa sambil menarik nafas, "Apapun yang akan terjadi, kau tidak membuat semua ini menjadi masalah. Hanya saja kau sulit melawan cinta!"

Tuan Zhu Lai melotot dan berkata, "Aku bukan biksu juga bukan pendeta, mengapa aku tidak boleh menikah?"

Dia berkata lagi, "Apalagi menurut Nian Cai Xia, daftar nama yang ada di tangan Gu Shi berhubungan dengan beberapa ratus nyawa orang hidup. Walaupun biasanya aku jarang mengurusi hal- hal seperti ini, tapi sekarang aku harus mengurusi hal ini."

Kata Yi Cheng Zi, "Masuk akal juga! Cepat kejar!"

"Baiklah. Kau bantu aku mengurus Nian Cai Kia. Aku akan mengejar bocah itu untuk mendapatkan daftar namanya."

Setelah itu dia meloncat dan pergi ke arah Gu Shi berlari tadi. Yi Cheng Zi berjalan menghampiri Nian Cai Kia. Dengan teliti dia memeriksa keadaannya. Melihat Nian Cai Kia masih tidak sadarkan diri segera dia mengeluarkan sebutir butir obat dan dimasukkan ke dalam mulut Nian Cai Kia.

Obat milik Yi Cheng Zi berasal dari resep rahasia partai Wu Dang. Obat ini khusus dibuat untuk mengobati luka dalam. Begitu masuk ke dalam mulut, obat itu akan segera mencair. Khasiatnya berlangsung dengan cepat, karena itu hanya dalam waktu sebentar Dong Hai Kian Niang mulai sadarkan.

Begitu dia sadar, dia segera duduk. Yi Cheng Zi melarangnya bangun dan berkata, "Nona Nian, jangan bangun dulu. Walaupun Nona sudah makan obat dariku, tapi tubuhmu tetap harus dipijat sebentar, setelah itu keadaan Nona baru aman."

Karena itu Nian Cai Kia menurut dan berbaring lagi. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian bertanya, "Dia pergi ke mana?"

Tanya Yi Cheng Zi kepada Nian Cai Kia, "Apakah yang kau cari adalah Tuan Zhu Lai?"

"Tidak. Aku sangat kecewa kepadanya. Yang aku tanyakan adalah Wu King Jian Ke Gu Shi," jawab Nian Cai Kia.

"Gu Shi sudah pergi," jelas Yi Cheng Zi. "Apakah Pendeta yang telah menolongku?" tanya Nian Cai X ia.

Yi Cheng Zi menggelengkan kepalanya lalu tertawa, "T idak. Tuan Zhu Lai yang telah menolong Nona. Aku tidak mempunyai kemampuan ilmu silat begitu tinggi."

Setengah percaya Nian Cai Kia bertanya, "Apakah dia berhasil mengalahkan Wu King Jian, Ke Gu Shi?"

"Bisa dikatakan benar, bisa dikatakan tidak " jelas Yi Cheng Zi.

Nian Cai Kia menjadi bingung dan bertanya, "Apa yang telah terjadi?"

"Gu Shi takut kepada Tuan Zhu Lai, sebelum bertarung dia sudah mengaku kalah." Yi Cheng Zi menceritakan apa yang telah terjadi tadi kepada Nian Cai Kia.

Nian Cai Xia menarik nafas dan berkata, "Aku sudah tahu kalau dia sanggup mengalahkan Gu Shi. Yang membuatku benci kepadanya adalah dia sangat takut tersangkut dengan masalah besar dan menganggap dia adalah orang baik. "

"Tuan Lin tidak senang mencampuri urusan orang lain, dan tindakannya adalah benar, dia bukan takut. Harap Nona bisa mengerti keadaannya. Bila Nona bisa mengerti tentangnya, kalian akan saling mengerti."

"Maksud Pendeta, aku harus menurut kepadanya?" tanya Nian Cai Xia.

"Ini   " kata Yi Cheng Zi.

"Sudah berapa lama dia mengejar Gu Shi?" "Hampir 15 menit berlalu."

"Kalau dia bisa membunuh Gu Shi dan mendapatkan daftar nama itu, aku akan menikah "

Yi Cheng Zi tertawa dan berkata, "Kata-kata Nona Nian sangat tidak tepat. Laki-laki dan perempuan harus saling mencinta, tidak boleh ada prasyarat apapun."

"Aku tahu, tapi apa yang kuminta kepadanya bukan urusan pribadi. Membunuh Gu Shi dan merebut kembali daftar nama itu adalah hal yang harus dilakukan setiap orang!"

"Betul! Karena itu Tuan Zhu Lai langsung mengejar Gu Shi!" "Menurut Pendeta, apakah Gu Shi bisa terkejar?"

"Aku tidak tahu, tapi aku mengganggap Tuan Lin bisa mengejarnya atau tidak, ini adalah urusan kedua."

"Mengapa harus ada hal kedua?" "Yang penting Tuan Lin bisa memenuhi perm intaan Nona, bukankah itu sudah cukup?"

"Tidak. Dia harus bisa merebut kembali daftar nama itu hal itu baru bisa membuktikan "

"Permintaan Nona terlalu banyak!"

"Permintaanku tidak banyak. Dia sanggup melakukan permintaanku."

"Aku harus jujur kepadamu, jika Tuan Lin bertarung dengan Gu Shi, belum tentu dia bisa menang!"

Nian Cai X ia terpaku. "Belum tentu bisa menang?"

"Betul. Tadi Tuan Lin mengatakan kepada Gu Shi bahwa dia pernah bertarung dengan gurunya sehari semalam, akhirnya dia kalah satu jurus dari gurunya. Kata-katanya bukan kenyataan. Dulu Tuan Liu pernah bertarung dengan A Nan Duo. Hanya dalam 100 jurus lebih dia sudah kalah."

Nian Cai X ia terpaku, "Oh "

"Begitu Gu Shi mendengar Tuan Lin pernah bertarung dengan gurunya, A Nan Duo sehari semalam, karena takut maka dia tidak berani bertarung dengan Tuan Zhu Lai. Sebenarnya jika mereka benar-benar bertarung, Tuan Lin belum tentu bisa menang karena jurus pedang Mi Zhong terlalu lihai sampai sekarang belum ada yang sanggup mengalahkannya."

"Oh...." ucap Nian Cai Xia.

"Hal yang diberitahukan Tuan Lin setelah dia mengetahui identitas Gu Shi, dia memberitahukan semuanya kepadaku. Dia berencana menakut-nakuti Gu Shi. Kalau tidak berhasil, baru dia akan bertarung. Dia sangat mencintai Nona Nian. Demi Nona Nian, dia rela bertarung dengan mempertaruhkan nyawanya sekalipun," kata Yi Cheng Zi.

Nian Cai Xia terharu hingga meneteskan air mata, "Kalau begitu, aku sudah salah tafsir kepadanya." "Nona Nian tidak perlau merasa bersalah karena hal ini. Jika Tuan Lin bisa merebut kembali daftar nama itu dan Nona Nian tidak menyalahkannya, itu sudah cukup!"

Nian Cai Kia meneteskan air mata dan mengangguk, "Betul, jika dia sudah berusaha, aku tidak akan menyalahkannya lagi."

"Apakah Pendeta berniat menyusulnya? Kalau dia bertarung dan kalah, mungkin Pendeta bisa membantunya," mohon Nian Cai K ia.

Yi Cheng Zi berpikir sebentar, kemudian mengangguk, "Baiklah, aku akan memapah Nona Nian supaya bisa beristirahat di pondok setelah itu baru aku akan menyusulnya ke sana."

Yi Cheng Zi memapah Nian Cai Kia ke pondokan dan membaringkannya di sana. Segera dia menyusul Tuan Zhu Lai….

Tidak lama kemudian hari mulai terang.

Nian Cai Xia yang sedang berbaring di pondokan, mencoba mengurut sendiri lukanya. Setelah beberapa lama dia mulai merasa lebih baikan. Dia mencoba untuk duduk, tapi sepasang matanya dengan cemas melihat ke arah Yi Cheng Zi pergi tadi. Dia juga menunggu dengan cemas...

Dia menunggu hingga matahari sudah terbit.

Tampak Yi Cheng Zi menggendong Tuan Zhu dengan cepat dan berlari ke pondokan!

Nian Cai Kia melihat keadaan itu, hatinya berdebar-debar hampir pingsan. Dengan tergesa-gesa Nian Cai Kia keluar dari pondokan. Dengan suara bergetar dia berteriak, "Wo Ming! V/o Ming! Bagaimana keadaanmu?"

Hanya sebentar, Yi Cheng Zi menggendong Tuan Zhu Lai dan mendekati tempat Nian Cai Kia. Wajah Nian Cai Xia sangat pucat dan bertanya, "Dia...apakah dia sudah mati?"

Dengan serius Yi Cheng Zi menjawab, "Belum, tapi lukanya sangat berat. " Dengan pelan Yi Cheng Zi meletakkan Tuan Zhu Lai ke lantai. Sekarang Nian Cai K ia baru bisa melihat luka Tuan Zhu Lai. Ternyata dia terluka di bagian dada. Lukanya selebar 5 sentimeter. Lukanya menganga dan terlihat tulangnya yang berwarna putih. Noda darah memenuhi dadanya!

Tapi Tuan Zhu Lai sangat sadar. Dia malah menghibur Nian Cai Kia, "Jangan takut Cai Kia, aku tidak akan mati "

Dari balik dadanya Yi Cheng Zi mengeluarkan sebuah pil dan memasukkan ke dalam mulut Tuan Zhu Lai. Dia juga bertanya kepada Nian Cai Kia, "Apakah Nona Nian membawa obat luka luar?"

"Ada!" jawab Nian Cai Kia. Dia memberikan obatnya kepada Yi Cheng Zi kemudian Yi Cheng Zi membubuhkan obat itu di atas luka Tuan Zhu Lai. Dia membuka ikat pinggangnya untuk membungkus dada Tuan Zhu Lai.

Setelah pertolongan pertama selesai, Yi Cheng Zi menarik nafas panjang dan berkata, "Untung dia t idak melukai organ bagian dalam tubuhmu. Bila hanya luka luar dalam beberapa hari akan sembuh."

Air mata Nian Cai Xia terus menetes. Dia berkata, "Wo Ming, maafkan aku! Maafkan aku!"

Tuan Zhu Lai malah menjawab dengan ringan, "Tidak apa-apa.

Maaf juga, aku tidak bisa merebut kembali daftar nama itu."

"Tidak apa-apa, kau sudah berusaha, ini sudah cukup bagiku!" "Si hidung kerbau datang terlambat, kalau tidak aku pasti bisa

merebut kembali daftar nama itu."

"Maksudmu...?" tanya Nian Cai Xia. "Bocah itu juga terkena pukulanku, lukanya lumayan berat!"

"Apakah dia terkena pukulanmu?"

"Sewaktu aku mengejarnya supaya dia menyerahkan daftar nama itu, dia tidak setuju. Karena itu kami bertarung, kira-kira berlangsung 200 jurus. Aku menggunakan cara yang berbahaya untuk memenangkan pertarungan, tidak disangka malah mendapatkan hasil sebaliknya, aku terkena tusukan pedang di bagian dada. Tapi dia juga terkena pukulanku dan muntah darah!"

"Setelah itu bagaimana?" "Dia kabur!"

"Apakah dia bisa kabur jauh?"

"Aku tidak tahu. Walaupun aku menyerangnya sampai dia muntah darah tapi aku kira dia tidak akan mati. Ilmu tenaga dalam perkumpulan Mi Zhong sangat tinggi. Dengan mencari tempat dan beristirahat selama beberapa hari, dia akan cepat pulih kembali."

"Benar-benar disayangkan...." kata Nian Cai Xia.

"Sekarang kalian berdua sudah terluka. Kita kembali dulu ke gubuk untuk beristirahat, setelah itu baru merencanakan strategi yang lain!" kata Yi Cheng Zi.

Mereka bertiga kembali ke gubuk Tuan Zhu Lai. Karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Tuan Zhu Lai mulai tidak kuat berjalan. Begitu tiba di gubuknya, dia segera naik ke ranjang dan berbaring di sana.

Setelah minum obat dari Yi Cheng Zi luka Nian Cai Xia sudah lebih baik. Dia sudah bisa berjalan-jalan di kamar dan mengurus Tuan Zhu Lai. Membantunya mengganti baju yang dipenuhi dengan darah dan membersihkan darah dari badannya. Nian Cai Xia mengurus T uan Zhu Lai dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Mereka seperti sepasang suami istri!

Yi Cheng Zi tahu, banyak yang ingin mereka ceritakan dan berbagi, maka dengan sikap penuh pengertian diapun menjauhi mereka.

Sambil memberi minum Tuan Zhu Lai, Kian Cai X ia dengan penuh perhatian bertanya, "Lukamu pasti sangat sakit?"

"Sedikit sakit, tapi tidak apa. Kau sendiri bagaimana?" "Aku tidak apa-apa." Tuan Zhu Lai memegang tangannya. Dengan senang dia berkata, "Cai Xia, kita terlambat beberapa tahun..."

"Betul, tapi tidak apa-apa, waktu masih sangat panjang. Aku... aku ingin menikah denganmu. Begitu lukamu sembuh, kita akan menjadi sepasang suami istri, apakah kau mau?"

Wajah Tuan Zhu Lai menjadi merah karena gembira. Dia berkata, "Ini adalah hal yang paling kuinginkan! Aku...Hhhehh! Aku mengira seumur hidup tidak akan mempunyai kesempatan kedua lagi!"

Dengan penuh kasih sayang Nian Cai Xia berkata, "Semua salahku. Aku terlalu egois."

"Tidak. Akupun bersalah, aku terlalu takut. Setelah aku sembuh, aku akan mengikutimu dan meninggalkan tempat ini. Kita bersama- sama berkelana ke dunia persilatan dan melakukan hal-hal yang berarti bagi sesama manusia."

"Baik, akupun akan mengikutimu!" kata Nian Cai Xia.

Sewaktu mereka sedang gembira bercerita, tiba-tiba Yi Cheng Zi dari luar kamar berkata, "Nona Nian, ada tamu yang datang!"

Nian Cai Kia kaget. Segera dia berdiri dan bertanya, "Siapakah mereka?"

Yi Cheng Zi yang berada di luar menjawab, "Aku tidak kenal mereka. Mereka terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, mereka ingin bertemu denganmu!"

Dengan terkejut Nian Cai Kia mengerutkan dahi. Dia berkata pelan-pelan kepada Tuan Zhu Lai, "Kau berbaring saja, aku akan melihat siapa yang datang."

Tuan Zhu Lai berusaha bangun dan berkata, "Aku akan ikut denganmu!"

Melihat Tuan Zhu Lai yang memaksa, terpaksa Nian Cai Xia memapahnya turun dari ranjang, dan mereka bersama-sama keluar dari kamar. Begitu melihat mereka keluar, Yi Cheng Zi berkata, "Mereka ada di luar. Kelihatannya mereka tidak bermaksud jahat, mungkin mereka adalah teman-teman Nona Nian."

Nian Cai K ia baru ingat dan berkata, "Betul juga! Sebelum aku ke sini, aku pernah memberitahu kepada teman-temanku kalau aku akan datang ke sini, mungkin mereka datang untuk membantuku."

Begitu keluar dari gubuk dan melihat ke luar pagar, Nian Cai Kia dengan senang berteriak, "Ternyata kau, Shui K ian Hua!"

Ternyata seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berdiri di luar pagar adalah Xin Suan dan Shui Kian Hua!

Nian Cai Kia mengenali Xin Suan. Dengan kaget dan aneh, Nian Cai Kia bertanya kepada Xin Suan, "Xin Suan! Kau. "

Shui Kian Hua tertawa, "Kakak Cai Kia, aku akan memperkenalkannya padamu, dia adalah. "

Begitu menunjuk Xin Suan, wajahnya sudah penuh dengan tawa dan berkata, "Orang yang kalian marahi habis-habisan, sekarang menjadi suamiku!"

Mata Nian Cai Kia terbelalak. Dengan senang dia bertanya, "Apakah benar, kau berhasil mengalahkannya?"

"Bukan mengalahkannya, tapi kami saling mencintai dan menyayangi lalu kamipun menjadi suami istri."

Xin Suan tertawa, "Nona Nian, sewaktu berada di taman Fei, aku telah berbuat kurang ajar padamu, aku mohon maaf!"

Dia memberi hormat kepada Nian Cai Xia. Nian Cai Xia sedikit tidak percaya dan berkata, "Apakah benar kalian sudah menjadi suami istri?"

"Benar. Diapun setuju untuk membantu kita merebut kembali daftar nama itu."

Nian Cai Xia menarik nafas dan berkata, "Kalian terlambat. Jika kalian datang lebih awal satu jam lalu, keadaan ini sangat bagus!" Tanya Shui Xian Hua, "Apakah Wu Xing Jian Ke Gu Shi sudah melarikan diri?"

"Betul. Hhhehhl Sulit diceritakan dalam waktu yang singkat. "

Nian Cai Xia memperkenalkan Tuan Zhu Lai dan Yi Cheng Zi kepada mereka. Setelah berbincang-bincang merekapun masuk ke dalam gubuk. Dia menceritakan semua yang telah terjadi kepada mereka. Setelah mendengar cerita Nian Cai Xia, Shui Xian Hua segera berkata kepada Xin Suan, "Bocah itu terluka, dia pasti tidak akan bisa lari jauh. Kita masih bisa mengejarnya. Menurutmu bagaimana?"

Xin Suan mengangguk, "Benar, kami minta tolong kepada Pendeta Yi Cheng Zi supaya bisa membawa kita ke tempat di mana bocah itu berhasil dilukai. Kami akan mengikuti tetesan darahnya supaya bisa mengejarnya segera."

Kata Yi Cheng Zi, "Aku ingin sekali membawa kalian ke tempat itu, tapi menurut Tuan Zhu Lai, walaupun bocah itu terluka dalam tapi dia masih mempunyai tenaga untuk bertarung."

Artinya dia takut kalau Xin Suan dan Shui Xian Hua tidak sanggup melawan Wu Xing Jian Ke Gu Shi. Kalau tidak berhati-hati mereka bisa terbunuh.

Tuan Zhu Lai tidak tahu bagimana kemampuan Xin Suan. Dia berkata, "Betul, bocah itu masih mempunyai sisa tenaga untuk melawan. Kalian berdua tidak perlu tergesa-gesa. Biar aku sembuh dulu. "

Nian Cai Xia tahu bagaimana sifat Xin Suan, dia memotong kata- kata Tuan Zhu Lai. "Wo Ming, kau belum mengenal Tuan Xin. Dia mempunyai kekuatan untuk membereskan orang itu!"

Tuan Zhu Lai menggelengkan kepala, "Tidak! Aku bukan meremehkan Adik Xin. Bocah itu adalah murid perkumpulan Mi Zhong yang dipimpin oleh Ketua A Nan Duo. Jurus pedang Mi Zhong sangat lihai. Setahuku, dunia persilatan di Zhong Yuan belum ada yang bisa mengalahkannya, maka " Shui Xian Hua tertawa, "Ada pepatah mengatakan : orang boleh berilmu tinggi, tapi pasti ada yang lebih tinggi darinya. Gunung yang tinggi pasti akan ada yang lebih tinggi lagi. Aku tidak percaya tidak ada orang yang tidak bisa mengalahkan Gu Shi!"

Tapi Tuan Zhu Lai dengan serius berkata, "Aku bukan menakut- nakuti kalian. Ilmu pedang orang itu benar-benar sangat lihai. Kalian berdua tidak akan sanggup melawannya!"

Xin Suan tersenyum dan berkata, "Maksud Tetua Lin adalah, ilmu pedang bocah itu tidak ada yang sanggup mengalahkannya?"

"Betul!" jawab Tuan Zhu Lai.

"Belum tentu, aku pernah mendengar ada seseorang yang ilmu pedangnya sangat lihai dan setaraf dengan ilmu pedang Mi Zhong," jelas Yi Cheng Zi.

"Siapakah dia?" Tuan Zhu Lai bertanya. "Tian Shan Tun Jian Xian!" jawab Yi Cheng Zi.

"Aku belum pernah mendengar nama itu!" kata Tuan Zhu Lai. "Dalam satu tahun 365 hari, ada berapa hari kau meninggalkan

Gunung Zhu Lai?" Yi Cheng Zi tertawa.

Tuan Zhu Lai ikut tertawa dan berkata, "Benar! Aku hanya orang gunung, benar-benar jarang mendengar kabar tentang dunia persilatan. Sebenarnya siapakah Tian Shan Tun Jian Xian itu?"

"Katanya ilmu pedang Tian Shan Tun Jian Kian sangat lihai. Begitu pedang keluar dari sarung pedang, hawa pedangnya saja bisa mengambil kepala orang dengan jarak 100 langkah lebih," jelas Yi Cheng Zi.

"Kalau memang benar seperti itu, Tian Shan Tun Jian Kian bisa bersaing dengan Mi Zhong Jian Fa—apakah sekarang dia tinggal di Tian Shan?" tanya Tuan Zhu Lai.

"Mungkin saja," jawab Yi Cheng Zi. "Benar, dia berada di Tian Shan di lembah Mei Hua. Tapi satu tahun yang lalu dia sudah meninggal!" kata Xin Suan tiba-tiba.

Yi Cheng Zi terpaku dan bertanya, "Mengapa Tuan Xin bisa tahu?"

"Karena aku adalah muridnya!" jawab X in Suan.

Dengan kaget Yi Cheng Zi berteriak, “Ternyata Tuan adalah murid Tian Shan Tun jian Kian!"

"Benar, tapi aku tidak sepintar guru karena itu aku hanya menguasai sepersepuluh dari ilmu guruku!"

Yi Cheng Zi meloncat dari duduknya dan berkata, "Ayo! Aku akan membawa kalian berdua ke sana. Jika bertemu dengan bocah itu, Tuan Kin pasti bisa mengalahkannya dan bisa merebut kembali daftar nama itu!"

0-0-dwkz-0-0

Kira-kira setengah jam kemudian, Yi Cheng Zi sudah membawa Xin Suan dan Shui Kian Hua ke bawah gunung Zhu Lai. Yi Cheng Zi menunjuk noda darah yang berceceran dan berkata, "Aku melihat Tuan Zhu Lai terkuka di sini. Noda-noda darah ini adalah darah milik Tuan Zhu Lai. Ada juga muntahan darah dari Wu King Jian Ke Gu Shi."

"Apakah sewaktu Pendeta sampai di s ini, bocah itu sudah pergi?" tanya Xin Suan.

Yi Cheng Zi mengangguk, "Benar, tadinya aku ingin mengejar, tapi aku takut Tuan Zhu Lai terlalu banyak mengeluarkan darah, maka dengan berat hati aku melepaskannya dan aku membawa Tuan Zhu Lai kembali ke gubuknya."

Xin Suan maju beberapa langkah. Dia melihat di tanah ada beberapa tetes darah lagi. Dia berjongkok untuk melihat lebih jelas dan berkata, "Darah ini milik bocah itu...melihat darah ini tampaknya dia masih berada di gunung ini " "Benar, dia terkena pukulan Tuan Zhu Lai dan muntah darah, berarti luka dalamnya lumayan berat. Orang yang sudah terluka dalam tidak akan berani terus berlari. Dia akan mencari sebuah tempat untuk mengobati luka dalamnya," kata Shui X ian Hua.

Xin Suan mengangguk. Dia berdiri dan berkata kepada Yi Cheng Zi, "Aku akan mengikuti jejak darah ini untuk mencarinya Pendeta, silakan Anda pulang dulu."

"Baiklah, Tuan Zhu Lai dan Nona Nian masih terluka, aku akan pulang untuk menemani mereka—jika kalian berdua tidak berhasil menemukan Gu Shi, apakah kalian akan kembali untuk bertemu kembali dengan Nona Nian?" tanya Yi Cheng Zi.

"Tidak, Gu Shi berjanji akan pergi ke kota Ji Nan, ke rumah makan Tian Xiang dan menunggu Pan Long Da Xia di sana. Jika aku tidak berhasil menemukannya di sini, aku akan pergi ke Ji Nan supaya bisa bertemu dengannya," jawab Xin Suan.

Yi Cheng Zi mengangguk setuju. Segera dia kembali ke rumah Tuan Zhu Lai lagi.

Begitu Yi Cheng Zi pergi, Xin Suan berkata kepada Shui X ian Hua dengan tertawa, "Sayang, apakah kau pernah berburu?"

"Belum pernah," jawab Shui Xian Hua. "Sewaktu aku masih di Tian Shan untuk berlatih ilmu silat, aku sering berburu," jelas Xin Suan.

"Lalu apa hubungannya?" tanya Shui Xian Hua sambil tertawa. "Karena sering berburu, maka aku mengetahui bagaimana sifat

binatang dan bisa menebak di mana tempat persembunyian

mereka."

"Tapi hari ini yang kita cari adalah manusia bukan binatang." "Manusia lebih mudah dicari dibandingkan binatang," jawab Xin

Suan. "Sudahlah jangan menganggap semua ini terlalu mudah. Jika kita benar-benar menemukan dia, aku baru setuju dengan perkataanmu."

Xin Suan melihat keadaan msekeliling gunung kemudian menunjuk ke arah utara dan berkata, "Menurutku dia berlari ke arah sini, ayo kita cari ke sana!"

Mereka berdua berjalan ke arah utara. Betul saja, baru saja mereka berjalan beberapa langkah, mereka menemukan muntahan darah di tanah. Dengan senang Shui Xian Hua berkata, "Tuan yang baik, kau memang pintar!"

Xin Suan terus berjalan lagi. Sepanjang jalan dia menemukan banyak noda darah tapi begitu memasuki hutan, noda darah tidak terlihat lagi. Dia melihat ke sekeliling. Dengan tersenyum dia bertanya, "Coba kau tebak dia berlari ke arah mana?"

"Pasti masuk ke dalam hutan!" "Salah!"

"Salah?"

"Dia tahu ada orang yang bakal mengejarnya. Setelah sampai di sini, orang yang mengejarnya pasti akan menganggap kalau dia masuk ke dalam hutan, karena itu dia malah berjalan ke tempat sebaliknya. "

Xin Suan menunjuk gunung yang dipenuhi dengan bebatuan dan berkata, "Kita pergi ke sana untuk mencarinya."

Karena itu mereka berjalan memutar dan mencari ke arah gunung. Gunung yang berbentuk seperti sungai kecil mempunyai lebar kira-kira 6 meter. Di sebelah kanan adalah hutan dan dataran tinggi. Di sebelah kiri adalah jurang yang terjal, disungai itu terlihat ada air mengalir. Pemandangannya sangat indah.

Begitu Shui Kian Hua masuk ke dalam sungai, dengan penuh kecurigaan dia berkata, "Sepertinya sungai ini tidak bisa digunakan untuk bersembunyil" "Kita cari dulu baru bicara," kata Xin Suan.

Mereka meloncat ke atas sebuah batu besar. Mereka terus mencari sepanjang jalan. Kira-kira setengah kilometer dari sana, di sebuah tempat di kelokan sungai, di hutan yang ada di sebelah kanan tampak lebih lebat. Sedangkan di sebelah kiri, posisi jurang semakin terjal.

Sepasang mata Xin Suan yang tajam tampak berkilau. Dengan teliti dia mencari di jurang yang berada di sebelah kiri. Dia menafsir, kalau Wu King Jian Ke Gu Shi sekarang ini bersembunyi di sini dan berada di dalam hutan yang berada di sebelah kiri jurang, bukan di hutan sebelah kanan.

Jurang yang tinggi itu memiliki batu berlapis-lapis. Bentuknya seperti sekat yang sengaja didirikan, terlihat sangat indah.

Mereka terus berjalan lagi sejauh beberapa puluh meter. Di sebuah batu besar, tiba-tiba Xin Suan berhenti. Wajahnya dipenuhi tawa dingin dan berkata, "Sayang, kita telah berhasil menemukan dia!"

Shui Kian Hua melihat ke sekeliling dan berkata, "Dimana dia?"

Xin Suan menunjuk batu besar itu dan berkata, "Lihat, batu itu ada noda darah!"

"Benar, di atas batu itu ada muntahan darah!"

Dengan semangat Shui Kian Hua berkata, "Sangat baik. Dia bersembunyi di dalam sungai ini!"

"Mungkin dia ada di atas sana." "Apakah dia ada di balik batu besar itu?" "Benar!"

"Kau yang naik atau aku?" "Aku saja yang naik." Xin Suan me loncat naik ke atas dinding jurang kemudian selangkah demi selangkah naik lagi ke posisi lebih atas. Kira-kira setelah naik 30 meter, dia berhenti. Di sebelah batu besar itu dia berkata dengan dingin, "Gu Shi, apa kau berada di dalam sana?"

"Xin Suan."

Dari balik batu besar muncul kepala Gu Shi. Wajahnya pucat.

Dengan aneh dia bertanya, "Xin Suan?"

Xin Suan mengangguk. Wu King Jian Ke Gu Shi dengan senang

berkata, "Kau datang karena diperintahkan oleh Wang Ye untuk membantuku bukan?"

"Otakmu masih bisa berpikir dengan lincah!" X in Suan tersenyum.

Dengan senang Wu King Jian Ke Gu Shi berkata, "Ini sangat mudah dibayangkan. Walaupun sebenarnya aku tidak membutuhkan orang untuk membantu "

"Kau salah, aku datang bukan untuk memb antumu!"

"Kalau begitu. untuk apa kau datang?" wajah Gu Shi berubah.

"Aku menginginkan daftar nama itu."

"Maksudmu, kau masih menginginkan 100 ribu tail perak lagi?" Gu Shi tertawa dingin.

"Benar."

Gu Shi tertawa dingin berkata, "Xin Suan, kau sangat bodoh. Kau sudah mendapatkan 100 ribu tail perak, mengapa tidak bersenang- senang?"

"Orang selalu merasa tidak cukup. Aku juga semacam itu."

"Kalau begitu, mungkin kau tidak bisa menikmati 100 ribu tail perak lagi!"

"Kau terluka?" "Benar, aku ceroboh telah terkena pukulan Tuan Zhu Lai. Tapi kau tenang saja, aku masih sanggup membunuh."

"Tidak, aku sudah melihat keadaanmu yang sama sekali tidak bisa bertarung."

"Apakah kau mau mencobanya?"

"Bukan sekarang. Aku menunggu luka dalammu sembuh dulu, baru akan bertarung denganmu."

"Mengapa?" Gu Shi terkejut.

"Aku tidak senang mengambil keuntungan. Sewaktu sedang berada dalam bahaya dan aku ingin kau mendapat kekalahan dan benar-benar bisa diterima di dalam hatimu!"

"Kau benar-benar bodoh!" kata Gu Shi.

"Mungkin. Kadang-kadang aku juga melakukan hal bodoh," kata Xin Suan.

"Mengapa kau bisa tahu kalau aku berada di sini?"

"Dong Hai Xian Niang memberitahu bahwa kau sudah terluka. Aku menebak kau pasti bersembunyi di gunung ini untuk memulihkan keadaanmu yang terluka. Karena itu aku mencari ke sini."

Gu Shi menjulurkan kepala dan melihat ke bawah. Shui Xian Hua sedang berdiri di sungai itu. Wajah Gu Shi berubah dan bertanya, "Siapakah dia?"

"Istriku, Shui Xian Hua."

"Shui Xian Hua menjadi istrimu?" "Kami baru menikah."

"Dalam daftar nama itu tercantum namanya!"

"Benar. Karena itu aku menginginkan daftar nama itu jika kau rela menyerahkannya padaku. Setelah mendapatkannya, aku akan segera pergi dari s ini." "Tidak! Tidak bisa! Tapi aku akan memberimu sedikit keuntungan. Aku bisa menghapus n amannya dari daftar nama itu."

Xin Suan menggelengkan kepala, "Tidak, aku menginginkan daftar nama itu seluruhnya."

Gu Shi tertawa dan berkata, "Aku mengerti. Kau sudah dipengaruhi mereka!"

"Tidak. Aku hanya membantu mereka mengambil kembali daftar nama itu. Jika mereka membayarku 100 ribu tail lagi, aku pasti akan menerimanya. Karena sekarang ini di Shan Dong sedang mengalami kekeringan, banyak penduduk di sana yang kelaparan dan perlu dibantu."

Gu Shi melihat ke bawah dan bertanya, "Mengapa Nian Cai Xia tidak ke sini?"

"Dia sedang mengurus dan merawat Tuan Zhu Lai. Kau tenang aja, walaupun datang beberapa orang lagi, yang akan bertarung denganmu hanya ada satu orang...itulah aku!"

Mata Gu Shi tampak berkilau. Dia tertawa licik dan berkata, "Apakah benar kau akan menungguku sampai sembuh setelah itu baru bertarung?"

"Benar. Semua orang mengatakan kalau ilmu pedang dari perkumpulan Mi Zhong tidak ada tandingannya. Aku tidak percaya dan aku ingin mencobanya."

"Aku sedang berobat dengan tenaga dalam, mungkin 1-2 hari lagi baru sembuh."

"Tidak apa-apa, aku bisa menunggumu."

"Sewaktu aku sedang mengobati sendiri dengan tenaga dalam "

"Aku tidak akan mengganggumu." "Kau janji?" Xin Suan mengangguk dan berkata, "Aku akan menunggumu di bawah, jika kau menganggap kau sudah bisa bertarung, turunlah aku akan menyambutmu."

Setelah selesai bicara, Xin Suan membalikkan badannya dan turun. Setelah sampai di sungai itu, dengan bingung Shui Kian Hua bertanya, "Kau tidak jadi bertarung dengan Gu Shi?"

"Aku menunggu dia sembuh dulu dari luka dalamnya setelah itu kami baru akan bertarung."

"Apakah kau gila?" Shui Kian Hua dengan kaget berkata.

"Semua orang mengatakan kalau ilmu pedang Mi Zhong tidak terkalahkan. Aku akan membuat semua orang mengerti, kalau ilmu pedang dari perguruan ku juga tidak lebih jelek daripada ilmu pedang Mi Zhong!"

"Kau ceroboh. Yang kita mau adalah buku daftar nama itu, bukan..."

Xin Suan menempelkan telunjuknya ke mulut dan berkata, "Tutup mulutmu. Jika banyak bicara, aku akan mengusirmu!"

Shui Kian Hua marah dan berkata, "Baik, baik, aku benar-benar buta karena telah menikah dengan orang yang begitu ceroboh!"

Xin Suan tertawa dan berkata, "Ayo! Kita pergi ke hutan yang di ada depan sana."

Di menarik Shui Kian Hua dan meloncat ke depan. Shui K ian Hua terus membalikkan kepalanya untuk melihat dan dengan cemas dia bertanya, "Apakah kau tidak takut kalau dia akan kabur?"

"Sifatnya sama seperti diriku, dia tidak akan kabur   "

Xin Suan menariknya masuk ke dalam hutan. Mereka memilih sebuah tempat di mana mereka bisa mengawasi Gu Shi.

Shui Kian Hua menarik nafas, "Benar-benar seperti sebuah lelucon. Dengan susah payah kita mencarinya, tapi sekarang kita harus menunggunya sembuh baru bertarung!" Tiba-tiba Xin Suan menarik dan menindihnya, kemudian tangannya sudah mulai menggerayangi tubuh Shui Kian Hua.

Shui Kian Hua memberontak dan berkata, "Kau mau apa?" "Tempat ini tidak ada siapapun. " Xin Suan tertawa.

0-0-dwkz-0-0

Hari semakin gelap.

Shui Xian Hua berada dalam pelukan Xin Suan. Dengan suara kecil dia berkata, "Hari sudah gelap, malam ini—"

"Malam ini ldta menginap di sini." "Kita akan makan apa?"

"Makan kelinci panggang."

"Mana ada kelinci liar di sinir?"

"Kau nyalakan api dulu, aku akan menangkap kelinci liar untuk dipanggang."

Shui Xian Hua sibuk mencari kayu bakar. Dia menyalakan api. Begitu api menyala dengan besar, Xin Suan sudah kembali. Dia membawa seekor kelinci dan menyerahkan kelinci itu kepada Shui Xian Hua dan berkata, "Bawalah kelinci ini ke dalam sungai, belah dadanya. Semenjak kita menikah, kau belum pernah memasak untukku!"

Shui Xian Hua memelototi Xin Suan tapi dia tetap membawa kelinci itu untuk dibersihkan, kemudian membawanya kembali untuk dipanggang.

Tidak lama daging kelinci sudah matang. "Sayang tidak ada arak di sini," kata Xin Suan.

"Di rumah Tuan Zhu Lai ada. Aku akan pergi untuk mengambilnya, bagaimana?" tanya Shui Xian Hua. "Tidak perlu."

"Aku juga ingin minum. Aku akan minta ke sana!"

Xin Suan menariknya supaya kembali duduk dan berkata, "Duduklah, jangan mempunyai pikiran ingin kabur!"

"Apa?" Shui Xian Hua tertawa.

"Kau ingin memberitahu Dong Hai Xian Niang supaya dia datang dan menangkap Gu Shi. Kau kira aku tidak tahu?"

"Kau benar-benar orang yang selalu menaruh curiga!"

Xin Suan mengeluarkan pisau kecil lalu membagi daging kelinci itu menjadi 3 bagian. Dia memilih yang terbaik untuk Shui X ian Hua dan berkata, "Makanlah!"

Dengan cepat Shui X ian Hua menghabiskan daging kelinci itu.

Xin Suan memakan potongan yang lain kemudian dia berdiri dan berkata, "Aku akan mengantar potongan daging kelinci ini untuk Gu Shi."

Shui Xian Hua mengerutkan dahi dan berkata, "Dia bukan saudara kandungmu, mengapa kau begitu memperhatikan dia?"

"Jangan cerewet!"

Xin Suan keluar dari hutan kemudian meloncat lewat sungai dan naik ke atas tebing dan sampai di tempat persembunyian Gu Shi. Dia berteriak, "Gu Shi, aku datang untuk mengantarkan makanan untukmu."

Tapi Gu Shi tidak keluar. Dari balik batu besar dia menjawab dengan dingin, "Katanya kau tidak akan menggangguku!"

"Aku datang untuk mengantarkan daging kelinci untukmu. Jika perut lapar, luka sulit disembuhkan."

"Aku tidak lapar!"

"Tidak ada racun di dalamnya, kau tenang saja!" Gu Shi menjulurkan kepalanya untuk melihat Xin Suan. Tiba-tiba dia tertawa lepas dan berkata, "Kau orang yang bisa dijadikan sahabat. Tapi aku beritahu kepadamu, begitu kita bertarung, tanganku tidak bermata dan aku tidak akan memberimu kesempatan untuk kabur."

"Akupun sama seperti itu."

Gu Shi mengulurkan tangannya dan berkata, "Baiklah, lemparkan saja ke sini!"

Xin Suan me lempar daging kelinci itu. Dia segera membalikkan badannya dan pergi.

Tapi Gu Shi berteriak, "Tunggu!" "Apa yang masih kau butuhkan?"

"Aku tidak membutuhkan apa-apa, aku hanya ingin memberitahumu, besok aku bisa bertarung denganmu."

"Luka dalammu sepertinya sangat berat, lebih baik tunggu satu hari lagi sampai lukamu sembuh total."

Dengan mantap Gu Shi berkata, "Besok pagi!" "Baik, aku akan mengikati kemauanmu!"

Xin Suan kembali ke tempat semula, duduk di sisi perapian dan

mulai makan daging kelincinya.

"Apakah dia mau menerima makanan pemberianmu?" tanya Shui Kian Hua.

Xin Suan mengangguk.

"Apakah dia mengatakan sesuatu?"

"Dia mengatakan kalau besok pagi dia sudah bisa bertarung denganku."

"Apakah kau yakin bisa menang?"

"Tidak, tapi kau tenang saja. Aku tidak akan membuatmu menjadi janda." Setelah kenyang makan daging kelinci dan pergi ke sungai kecil itu untuk mencari air minum, dia kembali lagi ke tempatnya kemudian duduk bersila dan berkata, "Mulai sekarang kau jangan menggangguku. Aku ingin duduk diam "

Sesudah itu dia memejamkan matanya seperti seorang biksu tua yang sedang bersemedi, tidak bicara juga tidak bergerak.

Shui Kian Hua tahu Xin Suan sedang mempersiapkan tenaganya supaya bisa bertarung dengan Wu King Jian Ke Gu Shi besok" pagi, maka diapun duduk di pinggir tidak mengganggu semedi suaminya.

0-0-dwkz-0-0

Waktu baru menunjukkan pukul 5 dini hari, bumi dan langit masih gelap. Wu King Jian Ke Gu Shi sudah turun dari tempat persembunyiannya. Dia berdiri di atas sebuah batu besar yang ada di sungai itu.

Dia menarik nafas panjang kemudian dengan dingin berkata, "Xin Suan, waktunya sudah tiba!"

Xin Suan membuka kedua matanya, pelan-pelan berdiri dan keluar dari hutan lalu berkata, "Hari belum juga terang, mengapa harus terburu-buru?"

"Aku ingin sebelum matahari terbit sudah bisa turun dari gunung ini," Gu Shi tertawa dingin.

"Baiklah, apakah kau yakin rencanamu bisa tercapai?" Xin Suan tersenyum.

Dia sudah berjalan ke arah sungai dan berdiri di sebelah timur kemudian mencabut pedangnya!

Shui Xian Hua adalah perempuan yang berpengalaman di dunia persilatan, tapi hari ini dia melihat Xin Suan dan Gu Shi, dua orang pemuda terkuat di dunia persilatan sedang berdiri saling berhadapan, hatinya terus bergetar. Dia merasa seperti akan terjadi gunung meletus dan bumi terbelah menjadi dua. Karena itu dia berdiri di sisi sungai dan dengan cemas menunggu.

Wu Xing Jian Ke Gu Shi berdiri di atas batu besar. Dia diam dengan lama melihat Xin Suan, setelah itu dia baru mencabut pedangnya. Sudut mulut terlihat tawanya yang bengis. Pelan-pelan dia berkata, "Kau boleh menyerang dulu!"

Xin Suan sangat tenang. Pedang diletakkan secara simetris di depan dadanya. Dia tersenyum dan berkata, "Mengapa kau tidak turun?"

Wu Xing Jian Ke Gu Shi segera meloncat turun dari batu dan maju 3 langkah. Wajahnya tetap terpeta tawa sadis dan dia bertanya, "Apakah seperti itu saja sudah cukup bagimu?"

"Ya," Xin Suan mengangguk.

Di dalam sungai banyak batu besar atau batu yang lebih kecil, tapi tempat di mana mereka berdiri agak datar, cocok sebagai tempat untuk bertarung.

Dua orang dengan 4 mata saling memandang. Walaupun disekeliling masih sangat sepi tapi udara di sana dipenuhi dengan aura tegang dan siap membunuh!

Xin Suan seperti belum ingin bergerak dulu karena itu dia diam dan berdiri.

Gu Shi menunggu. Melihat Xin Suan lama tidak mengeluarkan serangan, dia sedikit tidak sabar dan berkata, "Aku sudah mengatakan sebelum matahari terbit, aku sudah harus turun dari sini. Jika kau tidak mau menyerang dulu, aku yang akan mulai menyerang!"

Xin Suan dengan tenang menjawab, "Jangan merasa sungkan!"

Wajah Gu Shi mulai muncul hawa membunuh. Dia mengangkat pedang panjangnya dengan kuat.

Pedang panjang itu terbuat dari bahan baja yang bagus dan kuat. Begitu dia mengangkat dengan tenaga besar, pedang baja itu terlihat seperti pedang ringan, dan mengeluarkan suara WUSH WUSH WUSH!

Xin Suan tetap berdiri diam dan tidak bergerak. Dia seperti sebuah gunung batu.

Gu Shi maju se langkah, pedang diletakkan di depan dengan posisi menyerang.

Xin Suan tetap tidak bergerak.

Gu Shi tertawa dingin dan berkata, "Terimalah seranganku 1"

Pedang berkilau, cahaya bersinar ke segala arah. Hanya sebentar ujung pedang Gu Shi sudah berada di depan tenggorokan Xin Suan!

Tiba-tiba X in Suan tertawa, tubuhnya mulai bergoyang seperti a ir mengalir dan seperti awan beriak. Dengan lincah dia menghindar sejauh 3 kaki kemudian dengan cepat kembali ke tempat semula. Pedang diangkat dan diputar tampak ada cahaya yang memancar!

Hanya sebentar kilauan pedang itu seperti meledak dengan cepat juga berubah menjadi titik-titik bintang, mennghampiri wajah Gu Shi.

"Ilmu pedang yang bagus!"

Gu Shi berteriak. Diiringi teriakannya, dia berjongkok, kemudian pedangnya diangkat. Pedang seperti ular yang menjulurkan lidahnya. Dia menyerang 3 kali lagi.

TING, TING, TING!

Dua pedang saling beradu seperti petir.

Xin Suan menahan serangannya sebanyak 3 kali. Dia juga mulai membalas. Pedang panjangnya terus menyerang.

Setiap jurus pedang yang keluar seperti petir yang terus terus meledak! Gu Shi tidak mau mengalah. Pedangnya terus berubah-ubah seperti naga yang sedang bermain. Dalam suara TING, TING itu, dia bisa mencairkan serangan Xin Suan....

Dua belah pihak bermain pedang semakin cepat juga semakin ganas, seperti 2 ekor naga yang sedang berkelahi di langit. Kilauan pedang menusuk mata!

Mereka sudah bertarung 50 jurus lebih kemudian tampak kedua pihak berpisah dan masing-masing melompat jauh.

Xin Suan kembali ke posisi timur.

Gu Shi tetap berada di sebelah barat.

Mereka beristirahat sebentar kemudian 4 mata itu saling menatap lagi. Mata memandang, kaki mulai bergeser. Mereka siap bertarung memasuki babak kedua.

Satu kaki bergeser ke kanan, satu kaki bergeser ke  kiri tapi masing-masing sedang mencari lowongan dari lawannya....

"Hei!"

Gu Shi berteriak. Dia mulai menyerang lagi. Pedang diangkat dan diputar. Segera langit dipenuhi oleh bintang. Bintang ini terbang menutupi kepala Xin Suan!

Xin Suan mundur sedikit, tubuhnya setengah berjongkok. Kedua tangannya memegang pedang. Dengan gaya memancing, dia menggetarkan pedang 2 kali dengan cepat.

Kedua getaran pedang itu menimbulkan pemandangan aneh. Seperti burung merak yang sedang membuka ekornya, sangat indah!

“Ting, ting!"

Ada suara kecil berbunyi, keluarlah titik-titik api. Serangan Gu Shi yang aneh tidak tampak lagi!

Xin Suan   mengambil   kesempatan   ini   untuk   menyerang.

Pedangnya bergerak seperti belut terus berjalan ke depan! Gu Shi dengan cepat mundur 3 langkah, tiba-tiba dia mengeluarkan jurus aneh lagi. Pedang terus berputar menjadi 5 t itik bintang terang, menyerang pada 5 titik nadi bagian dada Xin Suan.

Kelima titik bintang begitu muncul bentuknya seperu cakar naga, keluar dengan cepat dan aneh. Tapi memberi kesan sangat ringan dan. Membuat orang tidak bisa menebak mana titik bintang yang asli dan mana yang tipuan.

Xin Suan tahu bagaimana lihainya jurus ini, dia segera berlari keluar dari lingkaran itu.

Ternyata Gu Shi mengeluarkan jurus pedang Mi Zhong pada bagian membunuh orang, nama jurusnya adalah Shen Long Tan Zhao (Naga sakti menjulurkan cakar). Dulu Xin Suan pernah mendengar dari gurunya nama jurus pedang Mi Zhong yaitu Shen Long Jiu Shi (Sembilan jurus naga sakti). Jurus yang paling lihai bernama Shen Long Tan Zhao. Jurus ini pernah mengalahkan pesilat-pes ilat tangguh di Zhong Yuan. Sampai sekarang belum ada yang sanggup memecahkan jurus ini. Jurus ini adalah jurus yang paling lihai di dunia persilatan dari golongan ilmu pedang.

Tian Shan Tun Jian Xian pernah mencari tahu cara menanggulanginya beberapa tahun yang lalu. Dia berharap bisa mendapatkan cara untuk mencairkan jurus Shen Long Tan Zhao ini. Tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa menemukan cara mencairkannya, karena itu dia berpesan kepada Xin Suan, jika bertemu dengan jurus ini cara yang terbaik adalah segera lari dari sana, jangan memaksa harus menyambut atau menahan jurus ini.

Karena itu begitu melihat lawannya mengeluarkan jurus Shen Long Tan Zhao, dia segera lari untuk menghindar.

Walaupun dia lari dengan cepat, tapi begitu dia berlari kira-kira ada 6-7 meter, dia melihat baju bagian dadanya sudah berlubang. Dia menghembus nafas dan bergidik ngeri.

Gu Shi mengira begitu jurus Shen Long Tan Zhao dikeluarkan, jurus ini akan membuat Xin Suan terluka berat, tapi ternyata jurus itu ternyata hanya sanggup mencakar hingga sobek baju Xin Suan bagian dada. Dia merasa kaget dan berkata, "Bocah! Kau benar- benar membuatku kagum!"

Xin Suan menenangkan hatinya. Dia tertawa ringan dan berkata, "Jangan sombong! Jurus Shen Long Tan Zhao bukan jurus yang paling dasyat!"

"Bagaimana kalau kau mencobanya lagi?" tanya Gu Shi tertawa dingin.

"Silakan!" jawab Xin Suan.

Gu Shi benar-benar marah. Dengan sekuat tenaga dia meloncat keluar. Dengan marah, dia mengangkat pedangnya kemudian jurus Shen Long Tan Zhao dikeluarkan lagi.

Pada waktu itu terlihat 5 titik bintang terang lagi!

Xin Suan tidak berani menyambut atau menahan. Dia lari lagi dan terus berlari ke sisi.

Gu Shi sangat marah dan berkata, "Bocah, jika kau seorang yang berilmu, sambutlah jurus ini!"

Begitu Xin Suan lari kurang lebih 4 meter, tiba-tiba dia maju dan berkata sambil tertawa, "Terimalah satu jurusku!"

Terlihat sinar pelangi pedang membawa suara yang besar, menggulung ke depan Gu Shi. Tiba-tiba dia meloncat lagi ke atas, tubuhnya bergerak seperti naga yang sedang berputar. Posisi kepala di bawah dan kaki berada di atas kemudian dia membuat cahaya pedang lagi, seperti air terjun yanng menyiram kepala Gu Shi!

Gu Shi tidak mau menghindar. Mulutnya mengeluarkan suara keras. Dia berjongkok dan membuat posisinya menjadi telungkup. Tapi tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya, pedangpun menusuk ke atas.

“TING! TING!" Suara keras yang bisa membuat telinga menjadi tuli. Mungkin Gu Shi mencairkan jurus Xin Suan pada saat kurang tepat. Dia berguling kira-kira beberapa meter.

Xin Suan sudah turun. Dia t idak mengambil kesempatan ini untuk mengejar. Dia hanya tertawa dan berkata, "Sekarang apakah kita sudah impas?"

Wajah Gu Shi berubah dia benar-benar menjadi sangat marah. Ternyata pundak kanannya telah tergores oleh pedang Xin Suan. Kebetulan tidak melukai kulit maupun dagingnya.

Tapi Gu Shi tetap sangat marah, karena ini adalah pertama kalinya dia gagal. Semenjak dia berkelana di dunia persilatan, dia mengira ilmu pedang miliknya tidak terkalahkan di dunia persilatan. Sekarang dia baru tahu semua tidak seperti itu. Dia baru tahu ternyata di dunia ini masih ada seorang lawan kuat. Dia sangat tidak suka hal ini!

Pelan-pelan dia berdiri, hawa membunuh di wajahnya semakin menebal. Kedua matanya bersorot ganas seperti binatang buas.

Xin Suan tahu akan terjadi lagi pertarungan hebat, tapi dia tidak gentar ataupun takut. Dengan konsentrasi penuh dia melihat pedang Gu Shi. Sikapnya sangat tenang.

Gu Shi dengan dingin berkata, "Aku punya ide." "Aku siap mendengarnya."

"Hari ini kita jangan berhenti dari pertarungan ini, kita bertarung hingga salah seorang dari kita telah menjadi mayat!"

"Sejak tadi aku memang sudah merencanakan hal ini," kata Xin Suan.

Gu Shi tertawa, kakinya mulai bergeser dan siap menyerang.

Posisi Xin Suan tetap seperti tadi tidak berubah. Dia tetap tidak mau menyerang dulu. Tiba-tiba Gu Shi berteriak. Pedang diangkat dan sekaligus mengeluarkan serangan berturut-turut 10 jurus lebih. Cahaya pedang yang digetarkan seperti dewi langit yang sedang menabur bunga, seperti terbang selapis demi selapis.

Xin Suan tidak menyerang dengan tergesa-gesa. Dia mengambil posisi bertahan, kemudian sejurus demi sejurus dia mulai memecahkan ilmu pedang Gu Shi....

Mereka bertarung ratusan jurus lagi, tapi kedudukan mereka tetap seimbang, tidak ada yang kalah juga t idak ada yang menang. Shui K ian Hua yang masih berdiri di sisi hutan melihat pertarungan. Dia lupa dengan ketegangannya. Dia hanya melihat dengan mata membelalak, seperti mabuk dan terbius.

Sebab ilmu pedang Xin Suan dan Gu Shi benar-benar sangat tinggi. Jurus-jurus yang mereka gunakan banyak yang belum pernah dilihat Shui K ian Hua.

Hanya sebentar, puluhan jurus sudah berlalu lagi. Langit sebelah timur mulai terlihat terang.

Tidak lama kemudian matahari pagi mulai terbit dan bersinar dengan cahaya sangat terang.

Tiba-tiba Xin Suan mulai merobah dari bertahan menjadi menyerang dengan hebat, seperti angin yang meniup awan. Setiap jurus terlihat sangat hebat. Setiap jurusnya penuh dengan hawa membunuh!

Jika yang ada di hadapannya bukan Gu Shi, serangan yang begitu dasyat seperti ini pasti tidak akan bisa ditahan. Tapi Gu Shi bukan orang biasa, dia tetap bertahan sejurus demi sejurus mengatasi serangan Xin Suan.

Tiba-tiba X in Suan tertawa panjang. Jurus Tui Chuang Wang Yue (Mendorong jendela melihat rembulan) sudah dilancarkan.

Gu Shi tertawa dingin, dengan jurus Shen Long Pai Wei (Naga sakti menggoyang ekor) dia mencoba menahan serangan Xin Suan. "TANG!" dua pedang saling beradu, dan segera mengeluarkan percikan api.

Reflek Gu Shi bergerak cepat. Pedang panjang itu naik dan menggambar sebuah lingkaran. Dia seperti melempar sebuah lingkaran api ke kepala Xin Suan.

Kepala Xin Suan dim iringkan. Dia mengeluarkan jurus Ki Niu Wang Yue (Badak melihat rembulan). Dengan pedangnya secara simetris memotong pinggang Gu Shi.

Mereka berdua sama-sama mempunyai semangat tinggi dan tenaga yang tiada habisnya, mereka terus mengeluarkan jurus yang semakin lama semakin aneh. Setiap serangan dari berbagai jurus dilakukan sambil berjaga diri, semuanya dilakukan dengan lengkap dan setiap jurus penuh dengan nafsu membunuh yang tebal. Gerakan tubuh mereka baik meloncat atau berjongkok, gerakannya seperti angin.

Matahari terlihat separuh, cahaya berwarna kuning membuat keadaan remang-remang, sulit untuk melihat....

Karena Gu Shi menghadap ke timur, maka kedua matanya tanpa bisa dihalangi terus memandang matahari yang bersinar menyilaukan. Karena itu matanya lama-lama menjadi pedas, sulit dibuka.

Dia adalah orang pintar. Begitu melihat posisinya tidak menguntungkan, segera dia meloncat ke sisi. Dia berusaha mengubah posisi berdirinya.

Tapi Xin Suan sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya. Dia seperti bayangan terus menempel, tidak memberi kesempatan bagi Gu Shi mengubah posisi.

Xin Suan sanggup melakukannya.

Gu Shi melihat Xin Suan menyerangnya dengan akal seperti itu, dia marah. Dia berteriak sekuat tenaga dan ilmu pedangnya berobah. Pedang dimainkan seperti jala cahaya berwarna biru juga seperti kumpulan serangga yang menutupi langit dan bum i, terdengar suara pedang yang keras.

Dia menyerang dengan sekuat tenaga, serangannya benar-benar membuat orang gentar. Tapi hasil serangannya malah sebaliknya, karena dia menghadap matahari. Kilauan cahaya matahari membuat penglihatannya menjadi berkurang. Dia memainkan pedang seperti jala, tapi penglihatannya semakin terganggu.

Tapi begitu dia menyerang dengan dasyat, jurus ini membuat Xin Suan merasa kesakitan pada saat menahannya. Begitu dia menerima puluhan jurus, Xin Suan mulai merasa kewalahan, maka dia bertekad melakukan suatu serangan berbahaya dan berharap bisa berhasil….

TANG!

Tiba-tiba pedang Xin Suan tergetar dan melayang ke atas. Gu Shi tidak menduga bisa membuat pedang Xin Suan terlepas, bisa mendapatkan hasil seperti ini benar-benar membuat dirinya senang sehingga gerakannya sedikit lambat. Tapi sebelum dia mengambil kesempatan untuk melanjutkan gerakannya membunuh..

Tiba-tiba sebuah tendangan yang tidak di duga dan tidak bisa di hindari melayang kearah dadanya, BUG!

Jantungnya telah terkena tendangan itu!

Tendangan ini adalah siasat yang disusun Xin Suan. Bisa dikatakan tendangan ini te lah menghabiskan seluruh tenaganya.

Gu Shi berteriak. Kedua matanya membelalak dengan besar. Wajahnya pucat, pedang yang masih dipegangnya segera terjatuh. Kedua tangannya gemetar memegang dadanya, kemudian dia berlutut dan akhirnya roboh ke bawah.

Kepalanya menunduk!

Awalnya ketika Shui Xian Hua melihat pedang Xin Suan terlepas dan melayang, dia merasa kaget, arwahnya seperti terbang karenanya. Begitu melihat Gu Shi terkena tendangan hingga jatuh berlutut, dia baru terbangun dari rasa kagetnya dan meloncat-loncat karena kegirangan. Dengan senang dia berteriak, "Xin Suan! Kau menang. Akhirnya kau menang!''

Sambil berteriak, dia berlari ke sana.

Xin Suan memungut pedangnya dan memasukan kembali ke dalam sarung. Dia berpesan, "Periksalah badannya, apakah buku daftar nama itu masih ada?"

Shui Xian Hua melihat Gu Shi berlutut sambil menundukkan kepalanya dan tidak bergerak lagi. Dia menganggap Gu Shi masih ada tenaga untuk membunuh, dia merasa sedikit takut dan tidak berani mendekat untuk memeriksa keberadaan daftar nama itu.

Xin Suan tersenyum dan bertanya, "Kenapa?"

"Apakah kau tahu, ulat mati tapi tidak membeku. Walaupun dia terluka, tapi aku tetap tidak bisa melawannya!" kata Shui Xian Hua.

"Jangan takut, dia sudah mati," Xin Suan tertawa. "Mati?" Shui X ian Hua berseru dengan kaget. "Kalau dia tidak mati, itu namanya sihir."

Setengah percaya setengah tidak dengan berhati-hati, Shui Xian Hua mendekati Gu Shi. Dia mendorong Gu Shi, tapi segea dia berlari dengan cepat ke samping.

Gu Shi yang tadi didorong oleh Shui Xian Hua, roboh ke sisi. Sekarang Shui Xian Hua baru bisa melihat keadaannya. Wajah Gu Shi tampak sudah tidak bernyawa, mulutnya masih terus mengeluarkan darah.

Benar, Gu Shi sudah mati!

Shui Xian Hua menghembuskan nafas panjang dan segera memeriksa tubuhnya. Dengan cepat dari balik dada Gu Shi, Shui Xian Hua mendapatkan buku daftar nama itu.

Dia melihat sebentar dengan senang berkata, "Betul! Ini adalah buku daftar namanya!" Xin Suan menarik nafas dan berkata, "Sebenarnya aku adalah orang yang mengantarkan barang ini, tapi sekarang aku malah menjadi orang yang merampok barang ini. Pangeran ke-13 pasti tidak menyangka telah terjadi perubahan seperti ini "

Shui Xian Hua terus tertawa dan berkata, "Kau sudah berbuat kebaikan, kau sudah menyelamatkan beratus-ratus nyawa orang!'

Xin Suan mengangkat bahunya dan berkata, "Aku berharap ada yang membayarku 100 ribu tail perak lagi."

Shui K ian Hua menyimpan buku daftar nama itu. Dengan tertawa berkata, "Kau sudah beruntung mendapatkan 100 ribu tail perak, aku juga- telah menyumbang 100 ribu tail, apakah kau masih merasa tidak puas?"

"Kalau ditambah 100 ribu tail lagi, aku bisa menolong lebih banyak orang."

"Baiklah, aku akan bicara lagi kepada Pan Long Da Kia. Aku kira dia akan dengan senang hati membantumu."

"Sudahlah, menolong orang seperti menolong kebakaran. Aku tidak mau lama-lama diam di sini. Sekarang mari kita kembali dulu ke rumah Tuan Zhu Lai. Serahkan buku daftar nama itu kepada Nian Cai Kia. Nanti dia akan memberikannya kepada Pan Long Da Kia. Sekarang kita segera pergi ke Shan Dong untuk menolong orang yang terkena bencana di sana!"

Dengan senang Shui Kian Hua berkata, "Baiklah, mari sekarang kita cepat ke sana!"

Dia memegang tangan Xin Suan. Mereka berdua berpegangan tangan keluar dari jalur sungai itu dan kembali ke tempat tinggal Tuan Zhu Lai.

Matahari pagi sudah sangat tinggi. Bumi sudah menggeliat bangun dari tidurnya. !

Tamat