Tamu Aneh Bingkisan Unik Bab 05 : Pedang tanpa tandingan

 
Bab 05 : Pedang tanpa tandingan

Kata Shui X ian Hua, "Wang Ye menganggap Wu Xing Jian, Ke Gu Shi (Pendekar pedang tanpa wujud, Ke Gu Shi) mempunyai ilmu silat lebih tinggi dibandingkan dengan dirimu, maka bingkisan yang asli dijaga dan diantar olehnya, karena Gu Shi memang seorang pendekar terkenal sedangkan kau hanya seorang pemuda yang tidak memiliki nama."

Suara tawa Xin Suan berubah menjadi rendah dan dia bertanya, "Bagaimana kau bisa mengetahui hal ini?

"Dua hari yang lalu, kami baru mendapatkan kabar sebenarnya." "Kami?" tanya Xin Suan sambil mengerutkan dahinya.

"Benar, yang termasuk kami di sini adalah Pan Long Da Xia, Huo

Ru Feng dan puluhan teman lainnya, dan aku adalah sa lah satu dari mereka."

Sambil tertawa dingin Xin Suan berkata, "Sepertinya kau tidak benar-benar mau menikah denganku, kau masih tetap menginginkan peti besi itu bukan?"

"Dua keinginan itu tetap ada, aku memang benar-benar ingin menikah denganmu sekaligus juga ingin merebut peti besi itu dari tanganmu."

Dia membalikkan badan dan dengan serius memandang Xin Suan lalu berkata, "Xin Suan, sebenarnya kau yang orang seperti apa? Apakah di dalam hatimu kecuali uang sejumlah 100 ribu tail, tidak ada hal yang lainnya?"

Xin Suan terpaku, dengan bingung dia bertanya, "Apakah kau ingin meminta sesuatu kepadaku?"

"Benar," jawab Shui X ian Hua dengan tegas. "Aku tidak mengerti."

"Apakah kau akan mendengar perkataanku ?" "Baiklah, katakan saja."

"Sekarang aku tanya padamu, apakah kau berasal dari suku

bangsa Han?" "Benar."

"Sekarang kau hidup di bawah kekuasaan suku bangsa apa?"

Wajah Xin Suan bergetar dan dengan suara kecil dia menjawab, "Suku bangsa Man Zhou."

"Benar, sekarang jarak kematian raja terakhir Dinasti M ing sudah berlangsung selama 60 tahun lebih, banyak orang sudah melupakan sebenarnya dia berasal dari suku bangsa apa."

"Benar, aku sendiripun jarang memikirkan hal ini."

"Pantas, sebelum kau berkelana di dunia persilatan, waktumu pasti dihabiskan untuk berlatih ilmu silat dan kau tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain."

"Benar, memang seperti itu."

"Tapi di dunia persilatan banyak orang yang ingin menggulingkan Dinasti Man Qing lalu mendirikan kembali Dinasti M ing, mereka tidak peduli dengan hidup dan mati mereka sendiri, apakah dia untung atau rugi, mereka terus melakukan hal ini."

"Siapakah otak semua gerakan ini? "Sekarang aku tidak bisa memberitahumu, yang ingin kusampaikan kepadamu adalah bahwa kami sedang melakukan sebuah rencana, kalau sukses, keadaan akan berubah."

"Teruskan ceritamu."

"Raja sekarang sudah tua, dia sudah tidak bisa lebih lama lagi menguasai kerajaan, menurutmu, setelah dia wafat, siapa yang berhak untuk menjadi raja selanjutnya?"

"Aku tidak tahu."

"Raja mempunyai banyak putra, sekarang mereka terbagi menjadi 3 kelompok, yang satu adalah kelompok pangeran ke-2, didukung oleh pangeran ke-3, yang satu lagi adalah kelompok pangeran ke-8, didukung oleh pangeran-ke 1, ke-9, ke-10, dan ke-

14. Sedangkan yang satunya lagi adalah kelompok pangeran ke-4, didukung oleh pangeran ke-13 dan ke-17, di antara kelompok- kelompok itu, pangeran ke-8 lah yang paling kuat, tapi kami melihat pangeran ke-4 lah yang paling memiliki harapan. Karena pangeran ini sangat pintar dan berbakat, beliau bukan orang sembarangan. Kalau posisi raja diduduki olehnya, maka keadaan akan menjadi kacau."

"Mengapa dia tidak disingkirkan saja?"

"Kami sudah beberapa kali mencobanya tapi selalu saja gagal. Di satu pihak, istana sangat sulit dimasuki pihak luar, di pihak lain ilmu silat pangeran ke-4 sangat tinggi, membunuh pangeran ke-4 bukan hal yang mudah."

"Kalau begitu, apa rencana kalian se lanjutnya?"

"Berdasarkan hasil perundingan, kami akan membantu pangeran ke-14 untuk merebut posisi raja."

"Bukankah pangeran ke -14 mendukung pangeran ke-8?"

"Benar, tapi kami ingin membantu beliau mendapatkan posisi raja."

"Apa maksudmu?" "Pangeran ke-14 sangat lemah juga tidak berguna, dia tidak memiliki pendirian, bila beliau menjadi raja, kerajaan Man Qing akan kacau, kita baru memiliki kesempatan untuk memberontak."

"Apakah kalian yakin dia bisa berhasil?"

"Benar, raja sangat menyukai pangeran ke-8, karena itu raja memerintahkan pangeran ke-8 menjadi jenderal dan menguasai banyak prajurit, dan dengan jasa-jasanya, dia akan mendapatkan banyak dukungan, itu artinya raja memiliki maksud tertentu, ingin memberikan kedudukan raja kepadanya."

"Bagaimana dengan pangeran ke-14, seperti apakah dia?"

"Dia tidak mempunyai ambisi, tapi setelah kami terus mendorongnya, beliau baru mengambil keputusan untuk tidak mendukung pangeran ke-8 dan bermaksud mendirikan kelompok sendiri."

"Apakah beliau tahu tujuan kalian?" "Tentu saja tidak tahu."

"Sekarang rencana kalian sudah mencapai tahap mana?"

"Tadinya semua berjalan dengan lancar, tapi karena ada yang membocorkan rahasia kami dan diketahui oleh mata-mata pangeran ke-4, akhirnya catatan pangeran ke-14 jatuh ke tangan mata-mata pangeran ke-4."

"Catatan mengenai apa?"

"Semua daftar orang-orang yang mendukungnya." "Dalam peti besi itu berisi daftar nama orang-orang itu?" "Benar."

"Setelah pangeran ke-4 mendapatkan daftar nama itu, apa yang akan terjadi nantinya?"

"Dia akan me laporkan semuanya kepada raja dan menuduh pangeran ke-14 berniat memberontak dan menggulingkan kerajaan. Dia juga akan menangkap orang-orang yang namanya tertulis di dalam daftar itu."

"Bagaimana dengan Wang Ye yang tinggal di Hang Zhou    "

"Dia adalah pangeran ke-13. Semenjak mata-mata pangeran ke-4 berhasil mendapatkan daftar nama itu, dia lari dan bersembunyi di wisma pangeran ke-13. Kami sudah beberapa kali berniat untuk mencuri tapi tidak pernah berhasil. Pangeran ke-13 takut daftar nama itu akan direbut kami, maka dia menyewa orang Untuk mengantarkan daftar itu ke ibukota, lalu Memberikannya kepada pangeran ke-4."

"Tapi Jin Ling bukan ibukota!"

"Benar, pangeran ke-13 menyuruhmu mengantarkan peti besi itu ke Jin Ling hanya untuk menutupi keadaan sebenarnya, setelah au berangkat, dia menyuruh Wu Xing Jian Ke, Gu Shi secara diam-diam berangkat ke utara membawa daftar nama itu. Ternyata kami baru mengetahuinya dua hari yang lalu."

"Sekarang kita harus bagaimana?"

"Tentu saja kita harus merebut kembali daftar nama itu dari Gu Shi!"

"Daftar nama itu sudah jatuh ke tangan pangeran ke-13, apakah dia t idak menyuruh agar memperbanyak daftar nama itu?"

"Mungkin saja, karena itu orang-orang kami dengan ketat mengepung wisma itu? Siapapun yang masuk dan keluar dari wisma itu tidak akan kami lepaskan."

"Dimana sekarang Wu Xing Jian Ke Gu Shi berada?" "Katanya sekarang dia ada di kota Huai Y in."

"Apakah orang-orang kalian sudah mengejarnya sampai ke sana?"

"Benar, kami saling memberi kabar dengan bantuan merpati pos kepada Guan Shi Shuang Xiong (Sepasang laki-laki marga Guan) yang ada di Propinsi Shan Dong, menyuruh mereka dengan segala cara menghalangi Gu Shi, tapi aku yakin Guan Shi Shuang Xiong tidak mungkin bisa menahannya, orang yang mengejarnya juga tidak akan sanggup melawan Gu Shi "

"Siapa yang mengejar ke sana?"

"Dong Hai X ian Niang Nian Cai Xia dan Jin Dao Wang (Raja golok emas) Hong Jiu."

"Di mana Pan Long Da Xia?"

"Kedua tangannya yang membusuk belum sembuh."

Xin Suan menghentikan keretanya di sisi jalan, diam-diam dia berpikir, setelah itu baru berkata, "Apakah kau berharap aku pergi ke sana untuk menghadapi Gu Shi?"

Shui Xian Hua mengangguk, "Benar, maksud Pendekar Huo adalah bila kau membutuhkan honor sebesar 100 ribu tail perak, aku akan memberikannya kepadamu."

Xin Suan dengan pelan berkata, "Aku tidak membutuhkan uang 100 ribu tail, aku hanya membutuhkan seekor kuda yang bagus dan sehat!"

Shui Xian Hua merasa sangat senang, segera dia turun dari kereta dan melambaikan tangannya, dalam waktu singkat terlihat ada seekor kuda datang beserta dengan penunggangnya, dan dia membawa seekor kuda yang lain, dengan cepat datang ke arah mereka.

Melihat keadaan itu Xin Suan tertawa dan berkata, "Sepertinya kau sudah mempersiapkan semua ini, hanya menunggu aku setuju saja!"

"Benar, karena waktunya sudah sangat mendesak."

Dari dalam kereta X in Suan mengeluarkan sebuah peti besi yang kelihatan berat dan berkata, "Aku sudah menukar uangnya dengan emas. " "Sulit membawannya bila naik kuda, serahkan saja kepada orang-orang kami."

Xin Suan tampak begitu tenang dan berkata, "Menyerahkannya kepada orang kalian?"

Dari baju bagian dadanya Shui X ian Hua mengeluarkan selembar cek dan memberikannya kepada Xin Suan sambil berkata, "Ini adalah cek seharga 100 ribu tail, kau bisa menukarnya antuk mengambil uang di Ji Nan."

Xin Suan melihat cek itu kemudian berkata, "Baiklah, emas yang ada di dalam peti besi ini menjadi milik kalian."

Orang yang membawa kuda sudah sampai di depan mereka.

Shui Xian Hua berkata kepada si penunggang kuda itu, "Wang Yong, bawalah kereta ini, di dalam kereta ada peti besi, serahkanlah kepada Pendekar Huo."

Segera penunggang kuda itu turun dan membawa kereta itu pergi. Shui Xian Hua membawa dua ekor kuda yang dibawa oleh Wang Yong dan salah seekor kuda itu diberikan kepada Xin Suan sambil berkata, "Mari kita berangkat sekarang!"

Setelah menaiki kudanya, mereka segera memacu kudanya supaya berlari dengan kencang.

0-0-dwkz-0-0

Seekor kuda putih yang gagah berlari dengan cepat. Kuda itu sedang berlari di sebuah jalan kecil di Shan Dong.

Penunggangnya adalah seorang pemuda berusia kira-kira 27 tahun. Alisnya panjang, matanya seperti ular, hidungnya seperti paruh burung, dan mengenakan baju putih. Di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang yang dimasukkan ke sebuah sarung yang terbuat dari kulit ular. Sewaktu kuda sedang berlari dengan cepat tiba-tiba me luncur sebuah panah dari hutan dan diarahkan ke perut kuda putih itu.

Kuda itu meringkik kemudian kaki depannya diangkat tinggi- tinggi dan hanya dalam waktu sebentar kuda itu langsung ambruk ke tanah.

Pemuda berbaju putih itu bergerak dengan lincah, begitu kaki depan kuda itu terangkat, dia sudah melepas sadel dan seperti sebuah awan putih dengan ringan meloncat turun dari kudanya.

Menghadapi perubahan secara tiba-tiba ini dia sama sekali tidak merasa kaget atau takut, dia tampak tenang seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Dia menghampiri kuda putihnya dan melihat ada anak panah yang menancap di perut kuda itu, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sungguh sayang "

Kemudian dia berjongkok dan mengelus kepala kudanya.

Kuda putih yang dielus kepalanya oleh pemuda itu langsung bergetar tubuhnya, kedua matanya membuka dengan besar kemudian mati.

Pemuda itu berjongkok dengan diam, melihat kuda putihnya sudah mati, agak lama dia baru mencabut panah itu. Dia membalikkan tubuhnya dan tangannya tampak melempar sesuatu---

Panah bergerak secepat kilat masuk kembali ke dalam hutan. "Aduh!"   dari dalam   hutan   terdengar   ada   yang berteriak

kesakitan.

Begitu panah dilempar, diapun ikut me loncat, terlihat pemuda itu sudah masuk ke dalam hutan dan menghilang.

Hanya sekejap. Hu!!

Sesosok bayangan keluar dan terbang keluar dari dalam hutan. Tidak! Bukan terbang tapi dilempar keluar dari dalam hutan, seperti melempar suatu benda berat kemudian terjatuh dengan bunyi berdebum ke bawah.

Kemudian pemuda berbaju putih itu menyusul keluar dari dalam hutan, kembali ke jalan tadi, kakinya menginjak orang yang tadi dilemparnya.

Orang itu seorang laki-laki berbadan tegap.

Tapi dilengannya terlihat ada sebuah panah yang menembus tangannya.

Yang paling membuatnya tidak tahan adalah kaki yang menginjak dadanya, kaki itu menekan dadanya sehingga sulit baginya untuk bernafas.

"Aduh... aduh.. .aduh "

Laki-laki tegap itu seperti seekor sapi yang siap disembelih, kaki dan tangannya terus bergerak-gerak, dari tenggorokannya keluar suara rintihan yang memilukan!

Pemuda berbaju putih itu menatap langit dan dengan dingin berkata, "Kau bukan perampok biasa, cepat katakan siapa kau sebenarnya?"

Laki-laki berbaju tegap itu tidak mau menjawab. Kaki pemuda itu semakin keras menginjak dadanya. "Aduh... aduh... aduh "

Suara laki-laki itu semakin besar dan semakin memilukan, wajah coklatnya sekarang berubah menjadi pucat seperti kertas!

Pemuda berbaju putih itu mengurangi jnjakannya dan berkata, "Kuberi kesempatan bicara dan ini adalah terakhir kalinya!"

Tapi laki-laki itu malah menjawab, "Bunuh saja aku!" Pemuda berbaju putih itu berkata, "Tentu saja aku akan membunuhmu, tapi mati ada beberapa macam, ada yang mati dengan cepat, ada yang mati dengan tidak nyaman, kau mau mencoba yang mana?"

Laki-laki itu berkata, "Bocah, lakukan saja!"

Pemuda berbaju putih itu tersenyum dan berkata, "Baiklah!"

Tangannya terarah ke belakang pundaknya dan mencabut pedangnya yang panjang, dia meletakkan pedang di telinga kiri laki- laki tegap itu, lalu memotong telinga tersebut.

Sakit sebentar dengan sakit yang berlangsung lama beda rasanya, dibandingkan pada saat telinganya dipotong, ini adalah cara menyiksa yang paling kejam!

Tubuh laki-laki itu gemetar karena menahan sakit, teriakannya seperti seekor babi yang disembelih.

Akhirnya telinga itu terlepas dari tempatnya.

Kemudian pemuda itu meletakkan lagi pedangnya di telinga kanan laki-laki tegap itu, dia tertawa dan berkata, "Kapan kau akan bicara katakan kepadaku."

Kemudian dia siap memotong telinga satunya lagi.

Laki-laki tegap itu sudah tidak tahan dan dia berkata, "Baiklah, aku akan memberitahumu!"

"Katakan sekarang!:

"Tolong geser kaki dan pedangmu, baru aku akan bicara." Kaki digeser dan pedangpun disimpan.

Laki-laki itu membalikkan badan dan berkata, "Margaku Guan,

namaku adalah Ren "

"Kau adalah Lao Er dari Guan Shi Shuang X iong?" "Benar."

"Apakah di antara kita ada dendam?" "Tidak."

"Tapi mengapa kau berbuat seperti itu kepadaku?" "Karena kau pantas mati!"

Kata-katanya baru selesai, kedua tangannya sudah menyerang ke tubuh bawah pemuda berbaju putih.

Ini adalah serangan antara hidup dan mati.

Tapi sayang, baru saja telapaknya mengenai tangan pemuda itu, kepalanya sudah terlepas, melayang membawa darah yang berceceran seperti air hujan!

Ini adalah akibat tebasan pedang panjang milik pemuda berbaju putih itu, gerakan pedangnya benar-benar cepat, hanya sempat terlihat kilauan pedang, kepala Guan Ren sudah berpindah tempat dan di permukaan pedang sama sekali tidak terlihat ada noda darahnya.

Tapi kedua tangan dan kesepuluh jari Guan Ren masih mencengkram bagian bawah tubuh pemuda itu, walau kepalanya sudah melayang tapi kedua tangannya masih dengan erat mencengkram alat vital pemuda berbaju putih itu.

Cengkraman itu membuat pemuda berbaju putih itu kesakitan wajahnya tampak pucat, dia tertawa dingin, kakinya terangkat dan menendang ke dada Guan Ren, menendangnya ke tempat yang jauh.

Sesudah semua dibereskan, dengan mata dingin pemuda itu melihat ke sekeliling, kemudian dia memasukkan pedangnya ke dalam sarung dan pergi....

Menjelang malam pemuda berbaju putih itu sudah tiba di kota Chi Yang, dan memasuki sebuah penginapan.

"Pelayan, aku ingin memesan sebuah kamar yang paling bagus." "Ya. Ya."

"Bantu aku untuk mencari sesuatu." "Ya, silakan Tuan katakan."

"Ini ada uang 50 tail perak, bantu aku untuk mencari seekor kuda yang bagus, besok aku akan menggunakannya!"

"Ya. Ya."

"Apakah kau tahu di mana tempat tinggal Guan Shi Shuang Xiong?"

"Guan Shi Shuang X iong?" "Apakah kau tidak tahu?"

"Aku tidak pernah mendengar nama itu."

"Dua bersaudara Guan sangat terkenal di Slni, mengapa kau bisa tidak tahu?"

"Aku benar-benar tidak tahu."

"Kalau begitu tolong cari tahu alamat mereka di mana, aku akan memberikan uang kepadamu!"

"Ya, ya, baiklah Tuan. Terima kasih."

Dengan cepat dia mendapatkan kamar utama, kemudian diapun mandi di dalam kamar, makan, kemudian naik ke atas ranjang siap untuk tidur....

Pagi-pagi, setelah sarapan, pelayan masuk ke dalam kamarnya dan menyapa, "Selamat pagi, Tuan."

Pemuda berbaju putih itu menyahut dan bertanya, "Di mana kudaku?"

Pelayan menjawab, "Sudah ada di depan baru saja sampai, sekarang sedang menunggu Tuan di luar, kudanya sehat dan kuat."

"Di mana alamat Guan Shi Shuang Xiong?"

"Di Meng Shan bagian barat, bernama Desa Guan." "Di mana letak Meng Shan?" "Dari s ini Tuan berjalan ke arah timur, kira-kira dalam waktu satu hari akan bisa sampai di sana."

Pemuda itu mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja, berkata, "Ambillah!"

Pelayan itu sudah bekerja selama puluhan tahun di penginapan itu, baru pertama kalinya dia bertemu dengan seorang tamu yang begitu royal, dia memang berharap mendapatkan uang yang besar, tapi dia tidak berani langsung mengambilnya, karena itu dia merasa sangat tidak tenang, tangannya tampak berputar-putar dan berkata, "Tuan, ini...terlalu banyak, kuda anda hanya seharga 45 tail perak, aku malah harus mengembalikan s isa uangnya!"

"Sisa uang itu untuk membayar sewa kamar, uang yang ada di atas meja bisa kau ambil-"

Kata-kata pemuda itu membuat pelayan tidak berani menolak lagi, sebenarnya pelayan itu tidak berani mengambil, tapi sewaktu tangannya terulur untuk mengambil uang itu, pemuda itu tiba-tiba berkata, "Tapi "

Segera pelayan itu menarik tangannya kembali dan bertanya, "Apakah Tuan masih ada pesan lain?"

Pemuda berbaju putih itu tampak berpikir sebentar, dengan dingin dia berkata, "Apakah alamat pemberianmu bisa dipercaya? Kalau salah aku malah akan terkena masalah di sana."

Wajah pelayan itu tampak sedikit pucat tapi dia tetap berkata, "Alamatnya tidak salah, Tuan."

Pemuda itu segera bersiap-siap berangkat, begitu keluar dari kamar dia bertanya, "Aku akan berangkat sekarang, mana kudaku?"

Segera pelayan memasukkan uangnya dan dengan cepat keluar dari kamar, dia berjalan di depan.

Setelah pemuda itu berada di depan penginapan, datanglah pelayan itu sambil membawa kudanya dengan tersenyum pelayan itu bertanya, "Tuan, apakah Anda merasa cocok dengan kondisi kuda ini?"

Pemuda itu tidak menjawab, tapi dia Segera me loncat ke atas kuda.

Hari kedua, siang. Dia sudah tiba di Meng Shan bagian barat, berhenti di depan sebuah rumah. Pelayan itu tidak salah di atas rumah itu tertulis 'Rumah Keluarga Guan'.

Pemuda itu turun dari kuda dan mengikat kudanya di sebuah pohon.

Ada seorang pelayan yang keluar menghampirinya dan memberi hormat, dengan sopan dia bertanya, "Permisi, apakah Tuan adalah. "

Dengan dingin pemuda itu menjawab, "Apakah di sini adalah tempat tinggal Guan Shi Shuang Xiong?"

Pelayan itu menjawab, "Benar, siapa nama Tuan? Ada keperluan apa Tuan datang kemari?"

Dengan dingin pemuda itu berkata, "Aku ingin bertemu dengan Guan Yong."

"Silakan Tuan menyebutkan marga dan nama Tuan, biar aku bisa melapor."

"Namaku adalah Gu Shi!" "Gu. apa?"

"Wu Xing Jian Ke Gu Shi!"

Pelayan itu tampak terkejut dan berkata, "Harap Tuan menunggu sebentar." Segera dia masuk kc dalam rumah.

Hanya dalam waktu sebentar datang dua laki-laki setengah baya keluar dari rumah itu, yang satu wajahnya mirip dengan Guan Ren, sedangkan yang satunya lagi gagah dan wajahnya dipenuhi dengan cambang. Dengan cepat mereka berjalan ke depan pintu dan bersama- sama memberi hormat kepada Wu Xing Jian Ke Gu Shi, dengan ramah salah satu dari mereka berkata, "Aku tidak tahu kalau Pendekar Gu akan datang ke sini, aku minta maaf!"

Wu Xing Jian Ke Gu Shi sangat angkuh, dia tidak membalas memberi hormat, dengan dingin dia bertanya, "Di antara kalian berdua siapa yang bernama Lao Da Guan Shi Shuang X iong?"

Laki-laki yang wajahnya mirip dengan Guan Ren segera menjawab, "Aku adalah Lao Da."

Dia menunjuk laki-laki yang wajahnya penuh dengan cambang, "Dia adalah adikku Guan Ren'."

Wu Xing Jian Ke, Gu Shi terkejut dan bertanya, "Apa?" Jawab Guan Yong, "Ini adikku Guan Ren."

Wu Xing Jian Ke Gu Shi terus melihat ke arah Guan Ren wajahnya diliputi dengan keanehan dan bertanya, "Kau memiliki berapa orang adik?"

Jawab Guan Yong, "Teman-teman dari dunia persilatan yang kenal denganku pasti tahu bahwa aku hanya mempunyai seorang adik."

Wu Xing Jian Ke, Gu Shi mengerutkan alisnya dan berkata dengan dingin, "Ini sangat aneh "

Guan Yong bertanya, "Mengapa Pendekar Gu merasa aneh?" "Kemarin saat aku berada di Chi  San aku telah membunuh

seseorang dan dia mengaku kalau namanya adalah Guan Ren!"

Guan Yong tertawa dan berkata, "Mungkin hanya secara kebetulan marga dan namanya sama."

Wu Xing Jian Ke Gu Shi berkata lagi, "Tidak, dia dengan jelas mengatakan bahwa dia adalah Guan Shi Shuang X iong, Lao Er Guan Ren." Guan Yong tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Sangat lucu, kami Guan bersaudara walaupun hanya mempunyai sedikit nama tapi kami bukan pesilat tangguh tidak disangka ada yang memalsukan nama Guan bersaudara!"

Guan Ren tertawa dan bertanya, "Pendekar Gu, apakah orang yang telah memalsukan namaku telah membuat Anda marah?"

Wu Xing Jian Ke Gu Shi mengangguk dan berkata, "Dia melepaskan panah ke perut kudaku dan kudaku mati."

Tanya Guan Ren, "Mengapa bisa terjadi seperti itu?"

Wu Xing Jian berkata dengan dingin, "Dia menghalangiku—"

Tiba-tiba dia tidak melanjutkan kata-katanya, dia berjalan ke arah pohon dan membuka ikatan tali kudanya.

Tanya Guan Yong, "Apakah Pendekar Gu akan pergi?" Wu Xing Jian Ke Gu Shi mengangguk.

Kata Guan Yong, "Pendekar Gu sudah jauh-jauh datang ke sini,

silakan mampir dulu ke rumahku untuk sekedar minum teh." Wu Xing Jian Ke menjawab, "Terima kasih."

Guan Yong tertawa dan berkata, "Kami dua bersaudara sangat mengagumi Pendekar Gu, sekarang Pendekar Gu telah datang kesini, pada kesempatan yang langka ini kami mengundang anda mampir untuk sekedar minum bersama dengan kami, apakah Tuan bersedia?"

Jawab Wu Xing Jian "Aku masih ada keperluan lain." "Kami tidak akan menghabiskan waktu Anda terlalu lama."

Wu Xing Jian berubah pikiran, dia kembali lagi ke tempat mereka

dengan tersenyum berkata, "Baiklah, aku akan mengganggu waktu kalian sebentar."

Guan Yong segera tertawa dan berkata, "Silakan!" Wu Xing Jian Ke Gu Shi berjalan masuk ke kediaman keluarga Guan, rumah keluarga Guan besar, mungkin kamar-kamarnya berjumlah 30 lebih. Anehnya rumah itu tampak sepi hanya terlihat beberapa orang saja.

Wu Xing Jian Ke Gu Shi sambil berjalan sambil melihat-lihat keadaan rumah keluarga Guan Yong, dia bertanya, "Mengapa tidak ada orang di sini?"

Guan Yong balik bertanya, "Apa?"

Jawab Wu Xing Jian Ke Gu Shi, "Orang yang kumaksud!"

Guan Yong tertawa, "Rumah kami tidak terlalu banyak orang, semuanya hanya berjumlah 12 orang."

Tanya Gu Shi, "Apakah tidak ada istri?" Guan Yong menjawab, "Tidak ada!" Wu Xing Jian Ke Gu Shi tertawa dan tidak berkata apa- apa lagi.

Mereka bertiga berada di ruang tamu dan duduk di sana. Pelayan datang membawakan teh. Guan Yong berpesan agar pelayan menyiapkan makan siang, kemudian dia mengangkat cangkirnya dan berkata, "Pendekar Gu, silakan dim inum tehnya."

Dia minum terinya dulu, ini adalah peraturan dunia persilatan, artinya teh itu tidak beracun.

Kemudian Wu Xing Jian Ke Gu Shi pun ikut minum seteguk, lalu dia duduk menyandar ke belakang kursi sambil tersenyum, "Sangat aneh, aku merasa Guan Ren yang kubunuh lebih pantas menjadi adikmu!"

Guan Yong tertawa, "Begitukah?"

Kata Guan Shi, "Biasanya saudara kandung itu wajahnya lebih mirip. "

Dia menunjuk Guan Ren yang ada di depannya dan berkata, "Adikmu ini sama sekali tidak mirip denganmu!" Guan Yong tertawa terbahak-bahak, "Apakah Pendekar Gu curiga kalau aku te lah menipu Anda dengan adik palsu?"

Gu Shi tersenyum tapi tidak berkata apa-apa, sepertinya dia memang mengakui kecurigaannya.

Guan Yong tertawa lagi, "Kalau kemarin adikku telah terbunuh oleh Pendekar Gu, walaupun aku tidak mempermasalahkannya, tapi aku tidak akan mempersilakan Pendekar Gu masuk untuk minum teh bersama "Seliris dengan kami."

Gu Shi tertawa dan berkata, "Masuk akal!"

"Karena itu orang yang te lah dibunuh oleh Pendekar Gu itu pasti bukan adikku."

Gu Shi tetap tersenym tapi tidak menjawab.

"Apakah Pendekar Gu tidak percaya?" tanya Guan Yong. "Aku percaya."

"Walaupun ilmu s ilat kami tidak terlalu tinggi tapi sifat kami tidak

berputar-putar, kalau Pendekar Gu berniat berteman dengan kami, hal ini akan membuat kami merasa bangga," kata Guan Yong.

"Temanku tidak banyak, yang paling akrab hanya ada satu..." kata Guan Shi.

"Siapakah dia?" tanya Guan Yong. "Aku sendiri," jawab Gu Shi.

Guan Yong terpaku, kemudian sambil tertawa dia berkata,

"Pendekar Gu pandai bergurau, bila tidak mempunyai teman, hidupmu di dunia ini menjadi tidak berarti!"

"Tapi aku hidup dengan senang," jawab Gu Shi.

Guan Yong merasa obrolan mereka menjadi tidak terarah, segera dia mengganti topik pembicaraan, "Pendekar Gu ada perlu apa datang ke Shan Dong?"

"Aku hanya kebetulan lewat sini saja," jawab Gu Shi. "Anda akan pergi ke mana?" "Aku akan ke ibu kota."

"Aku dengar ilmu pedang Pendekar Gu sangat lihai, tidak disangka ternyata Anda masih begitu muda!"

"Anda terlalu memuji."

Tiba-tiba Guan Ren bertanya, "Akhir-akhir ini dunia persilatan telah muncul seorang anak muda hebat, apakah Pendekar Gu pernah bertemu dengannya?"

"Siapakah dia?"

"Xin Suan," jawab Guan Ren.

Gu Shi menggelengkan kepala dan menjawab, "Aku tidak pernah mendengar tentangnya."

"Menurut orang-orang, ilmu pedangnya sangat menakutkan, pedangnya telah membunuh 7 orang pembunuh dari golongan hitam."

"Ke tujuh pembunuh itu selain sadis, ilmu silat mereka tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pemuda itu," jelas Gu Shi.

Guan Ren tertawa dan berkata, "Masih ada satu lagi orang yang terkenal, mungkin Pendekar Gu pernah mendengar namanya."

"Siapakah dia?"

"Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng," jawab Guan Ren.

Sambil tertawa sombong Gu Shi berkata, "Di dalam pikiranku, Pan Long Da Xia bukan orang terkenal!"

"Ilmu silat Pendekar Gu sangat tinggi, kalau digunakan dengan tepat bisa berguna untuk dunia persilatan," kata Guan Yong sambil tertawa.

"Aku hanya tertarik pada satu macam benda—uang!" kata Gu Shi dengan pelan. "Maksud Pendekar Gu, asalkan ada uang apapun akan Anda lakukan?" tanya Guan Yong sambil tertawa.

"Benar!" Gu Shi mengangguk.

"Kalau begitu, ternyata Pendekar Gu pun seorang...." kata Guan Yong dengan ekspresi sedikit sedih.

Jawab Gu Shi, "Pembunuh dan juga pengantar Biao."

"Kalau begitu kali ini Pendekar Gu pergi ke ibukota karena disewa untuk melakukan suatu bisnis?" tanya Guan Yong.

"Benar!"

"Apakah kami bisa mendengar sedikit ceritanya?" tanya Guan Yong.

"Tidak, tapi Anda boleh membeli barang yang ada di tanganku, asalkan cocok harganya, aku akan menjualnya."

Mata   Guan Yong langsung terlihat bersemangat, "Apakah Pendekar Guan Yong membawa barang berharga?"

"Benda itu berupa daftar nama." "Daftar nama apa?"

"Di dalamnya tercatat nama-nama pemberontak, kalau aku menyerahkannya kepada raja, mereka pasti akan mati."

"Oh...." kata Guan Yong.

"Aku akan menjual daftar nama ini dengan harga 100 ribu tail perak, apakah Tuan mau membelinya?"

Guan Yong menggelengkan kepalanya, "Aku tidak membutuhkannya."

Gu Shi tersenyum dan berkata, "Kalau Anda membeli daftar nama ini, bisa menolong banyak orang, termasuk Anda sendiri."

Wajah Guan Yong tampak berubah dan bertanya, "Apa maksud Pendekar Gu?" Gu Shi tertawa dan menjawab, "Anda sangat tidak beruntung, kemarin aku melihat daftar nama itu dan ternyata nama Anda dua bersaudara tercantum di dalamnya!"

Guan Yong segera berdiri, wajahnya tampak berubah, sepertinya dia mulai tidak tenang.

Waktu itu datang seorang pelayan memberitahu, "Tuan, makanan sudah siap dihidangkan."

Guan Yong berusaha menahan gejolak hatinya, dan berkata, "Tuan Gu, ikutlah denganku..."

Belum habis kata-katanya, Gu Shi sudah tertawa, "Guan Yong, Anda benar-benar bisa menahan diri, aku telah membunuh adikmu, kau masih bisa mengundangku makan, apa maksudmu?"

Kedua alis Guan Yong tampak berkerut dan berkata, "Pendekar Gu, Anda salah, adikku sekarang berdiri di depanmu!"

Gu Shi tertawa lagi dan berkata, "Kita tidak sedang membicarakan adikmu, hari ini aku telah datang ke sini, aku tidak mau pulang dengan tangan kosong. Daftar nama yang ada di tanganku apakah benar Anda tidak mau membelinya?"

Dengan serius Guan Yong berkata, "Harganya terlalu tinggi. Aku tidak sanggup membelinya!"

Gu Shi tertawa dan berkata lagi, "Aku kira harga itu tidak terlalu tinggi, 100 ribu tail perak bisa membeli beratus-ratus nyawa, harga itu malah terlalu murah menurutku!"

Tiba-tiba Guan Yong menarik nafas panjang dan berkata, "Pendekar Gu, apakah Anda adalah suku bangsa Han? Kalau kau masih memiliki s ifat perikemanusiaan, jangan lakukan hal ini!"

"Jangan banyak bicara, apakah kau mau membelinya atau tidak?" Gu Shi tertawa dingin.

"Sepuluh ribu tail perak, kami hanya sanggup membayar sejumlah itu, selebihnya kami tidak sanggup!" kata Guan Yong. Gu Shi berdiri dan bertanya, "Untuk terakhir kalinya aku tanya, apakah benar Anda tidak mau membalas dendam adikmu?"

Sikap Guan Yong menjadi serius lagi, dia seperti berusaha menahan gejolak hatinya, tapi kali ini dia tidak berhasil menahannya. Wajahnya mulai terlihat marah dan sedih, kedua matanya melotot dia berteriak seperti suara gunung api meletus, "Bocah tengik, jujur bicara, hari ini kau sudah memasuki kediaman keluarga Guan, jangan harap bisa keluar hidup-hidup dari sini!"

Kata-katanya baru selesai dia sudah berlari ke depan pintu dari balik pintu dia mengambil sebuah pentungan besi lalu dengan gagah dia berdiri di depan pintu!

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, "Akhirnya kau sudah tidak bisa bertahan lagi! Ha ha ha! Kau kira aku mudah ditipu? pergi ke ruang makan untuk menerima jamuan makan siangmu? Apakah kau kira dengan arak beracun kau bisa meracuniku? Ha ha ha "

Guan Yong melotot dan berkata, "Kau adalah seekor anjing yang sudah terkena penyakit, hari ini aku harus membalaskan kematian adikku, aku harus membasmi orang jahat dari dunia persilatan!"

Laki-laki yang memalsukan identitas Guan Ren pun sudah mengeluarkan pecut bajanya dan siap untuk bertarung.

Wajah Gu Shi dipenuhi dengan hawa membunuh, dia tertawa dan berkata, "Aku tidak mengerti, menurut daftar nama itu, tertulis beberapa nama pendekar ternama, mengapa mereka tidak datang sendiri malah menyuruh kalian yang hanya kucing-kucing tidak berguna?"

Guan Yong tidak menjawab, sekarang keinginannya hanya satu yaitu membunuh musuh yang ada di depannya, dan berharap pentungan besi itu bisa memukul Gu Shi sampai tubuhnya hancur lebur.

Dengan perlahan Gu Shi mengeluarkan pedangnya dan berkata, "Hati-hati, aku akan mengeluarkan jurus pedangku!" Guan Yong mengangkat pentungan besinya dia sudah memasang pcsisi siap bertarung.

Laki-laki bercambang itupun mulai memutar pecut bajanya sambil menunggu pertarungan dimulai.

Dengan tertawa sinis Gu Shi melihat tingkah laku mereka, wajahnya terlihat angkuh dan kejam, dia berdiri sebentar, kemudian berteriak seperti binatang, pedang panjangnya tampak berkilau----

Hanya dalam sekejap Guan Yong hanya melihat kilauan pedang dan kilauan itu datang seperti gelombang yang menggulung, tapi sejak awal dia sudah memutuskan untuk bertarung hingga titik darah penghabisan. Maka dia tidak merasa takut dan tidak akan mundur lagi, diapun mengeluarkan suara seperti guntur, pentungan besi itu terus bertahan dan menyerang!

"CING!"

"TANG!"

Dua suara itu saling beradu, terlihat Guan Yong mundur, tubuh bagian belakangnya menabrak daun pintu sehingga membuat ruangan itu bergetar.

Di dahinya terlihat luka pedang sepanjang 2 inch, darah keluar dari luka itu dan mengalir ke wajahnya!

Laki-laki bercambang itu melihat semua kejadiannya, dia terkejut, dia takut kalau Gu Shi akan mengejar Guan Yong lagi.

Segera dia membentak, "Lihat jurusku!" Dia sudah memainkan pecutnya dan diarahkan kepada kedua bahu Gu Shi.

Gu Shi hanya tertawa, tubuhnya berputar dan tiba-tiba dia jongkok, membalikkan tangannya dan membentak, "Putus!"

Wu Xing Jian! (pedang tanpa wujud). Benar-benar Wu Xing Jian. Terlihat cahaya pedang melewati pinggang laki-laki bercambang itu, darah segera muncrat dari pinggangnya! Kemudian tubuh laki-laki bercambang itu terpotong menjadi dua, tidak lama diapun roboh,  tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah terpisah menjadi dua bagian, darah keluar seperti air mancur!

Pedang panjang milik Gu Shi tetap terlihat bersih, sama sekali tidak ada noda darah.

Guan Yong terpaku, matanya menjadi merah, dia berteriak, "Kau sungguh kejam!"

Diiringi teriakannya, dia sudah bergerak seperti orang gila menyerang Gu Shi dengan pentungan bes inya, memukul ke kiri dan ke kanan!

Dengan mudah Gu Shi mengangkat pedangnya menahan serangan Guan Yong, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, "Pergi!"

Terdengar suara BUK, pinggang Guan Yong terkena tendangan Gu Shi dan terbang ke tempat jauh.

Gu Shi tidak segera mencabut nyawa Guan Yong, pedang panjangnya malah disimpan, dia tertawa, "Guan Yong, aku akan membiarkanmu hidup, supaya kau bisa memberitahu semua hal ini kepada Huo Ru Feng, buian ini pada tanggal 15 siang, aku akan menunggu dia di Ji Nan di rumah makan Tian Xiang, kalau dia membutuhkan daftar nama ini, bawalah uang sejumlah 100 ribu tail perak!"

Setelah itu dia pergi dari sana.

Guan Yong berusaha berdiri tapi mungkin karena luka dalamnya terlalu berat, baru saja melangkah, dia sudah jatuh tersungkur dan memuntahkan banyak darah.

Gu Shi hanya tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, kau masih bisa bertahan hidup 3-4 bulan lagi."

Guan Yong mengangkat kepalanya dan berteriak, "Saudara- saudara, laksanakan rencana kedua kita!"

Gu Shi sudah masuk ke dalam ruangan, mendengar kata-kata ini dia segera berhenti melangkah, dia menolehkan kepalanya lalu tertawa dingin, "Kau masih memiliki rencana apa?" Kata-katanya baru selesai, terdengar suara panah, lalu disusul dengan suara FUSH! FUSH! FUSH! Mendekatinya—-

Hanya dalam sekejap panah api ditembakkan ke dalam ruangan. Gu Shi terkejut, dia segera bersembunyi di balik pintu.

"CHA!"

"CHA!"

"CHA!"

Puluhan anak panah api masuk ke celah-celah pintu, ada yang masuk ke dalam ruangan ada yang tertancap di depan pintu. Api mulai membakar pintu.

Mungkin karena di luar ruangan telah disiram minyak tanah terlebih dahulu, maka kobaran apipun langsung menjalar, pintu keluar sudah tertutup oleh kobaran api yang besar!

"CHA!"

"CHA!"

"CHA!"

Datang lagi anak panah api dan menancap di dinding ruangan, api segera membakar ruangan. Ruangan tamu sudah terbakar!

Walau ilmu silat Gu Shi sangat tinggi tapi tubuhnya tetap terdiri dari daging dan darah. Dia tetap takut kepada api yang berkobar. Dia melihat ke sekeliling dan dia te lah terkurung oleh api, wajahnya tampak berubah, dia tertawa dingin, "Guan Yong, kau tidak takut mati dan berniat mati bersama-sama denganku!"

Guan Yong tertawa dan menjawab, "Benar! Guan Shi Shuan Xiong orang apa, kau seharusnya sudah tahu!"

Dengan dingin Gu Shi berkata, "Kepala boleh putus, tapi keadilan harus tetap dijaga, aku kagum kepadamu! Tapi kau terlalu naif, apakah dengan cara seperti ini kau merasa bisa membuatku mati?" Jawab Guan Yong, "Ruangan ini sudah disiram dengan banyak minyak, dan di sekeliling ruangan inipun sudah disiram minyak tanah, kecuali kau mempunyai ilmu sihir kau baru bisa lolos, kalau tidak kau pasti akan mati!"

Gu Shi melihat keluar ruangan, benar saja di luar sudah seperti lautan api, dan tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh keluar dari ruangan ini. Hatinya langsung terasa berat, tapi dia segera terpikirkan satu cara untuk me lepaskan diri, dia berkata dengan dingin, "Kau benar, aku memang mempunyai kemampuan sihir!"

Dia mengeluarkan pedang panjangnya lagi, dan berkata, "Tapi aku berubah pikiran, sebelum aku keluar dari sini. aku akan membunuhmu dulu!"

Dia berjalan mendekati Guan Yong. "BRAK!"

Tiba-tiba tempat di mana Guan Yong jatuh tadi terbalik, mungkin itu adalah papan yang bisa dibalikkan. Begitu papan itu terbalik, Guan Yong sudah menghilang dari sana!

Dan posisi papan sudah kembali seperti semula.

Gu Shi sama sekali tidak terpikir mengapa bisa terjadi seperti itu, dia marah dan berteriak, segera dia lari ke papan itu, dia terus menusuk papan tadi dengan pedangnya.

Papan yang bisa terbalik itu, di luarnya adalah batu bata sedangkan di dalamnya adalah lempengan baja, dengan cara apapun papan itu tidak bisa dibuka ataupun digali.

Sekarang api besar sudah mengelilingi ruang tamu, asap tebal sudah memenuhi ruangan itu, udara panas membuat Gu Shi sesak nafas. Dia tidak berani lama-lama di sana, segera dia membalikkan badan dan mengayunkan pedangnya, dengan cepat dia memotong kaki meja. Memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Lalu dia mengangkat meja itu dengan sekuat tenaga dia melempar meja itu ke atas. "HONG!" suara itu sangat keras, meja itu terlempar dan telah membuat langit-langit rumah berlubang. Genting pecah dan kayu- kayu berhamburan seperti hujan kayu, meja jatuh mengikuti serpihan kayu itu.

Dia mengangkat lagi meja itu lalu melemparnya kembali ke atas, terdengar suara HONG lagi, atap rumah berlubang lebih besar.

Begitu meja itu turun lagi dia menyambutnya lalu melemparnya lagi, kali ini meja keluar dari lubang itu kemudian terjatuh di atap rumah. Dia segera meloncat melalui lubang itu dan mendarat di atap rumah.

Gu Shi melihat ke sekelilingnya, ruangan tamu tampak sudah terkepung oleh kobaran api. Terlihat di bawah masih banyak minyak tanah dan membuat api berkobar semakin besar, lidah apinya bahkan sudah mencapai 3 meter lebih!

Dari luar dinding terlihat masih banyak orang yang terus menyiram minyak ke dalam kobaran api....

Gu Shi tertawa dingin dia mengangkat meja itu dan dengan sekuat tenaga melemparnya lagi.

Begitu meja itu dilempar, dengan Menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi yaitu Ba Bu Zhan, dia meloncati papan meja itu, dia seperti naik ke awan lalu terbang keluar dinding.

"Lihat! Dia berhasil keluar dari sana!" "Ahh "

Pelayan yang sedang menyiram minyak ke dalam api, melihat Gu Shi menaiki papan meja lalu melayang keluar, mereka terus berteriak.

Hanya dalam sekejap papan meja itu sudah melayang keluar melalui tembok api, Gu Shi yang berdiri di atas papan meja itu tidak terluka sama sekali. Dia bersiul panjang kemudian mendarat, terjadilah peristiwa pembunuhan besar-besaran. Pelayan-pelayan itu bukan lawannya, hanya dalam waktu s ingkat sudah terlihat 7-8 orang terbunuh, pelayan lainnya tampak ketakutan, akhirnya mereka melarikan diri.

Gu Shi mengejar salah satu pelayan, dari belakang mencakar punggungnya, kemudian mengangkat pelayan itu dan membantingnya, lalu dengan pedang dia menunjuk ke dada si pelayan itu, dia bertanya, "Cepat katakan, di mana Guan Yong sekarang?"

Pelayan itu tampak ketakutan, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, dengan gugup dia berkata, "Aku...aku...tidak...tidak tahu!"

?

Wajah Gu Shi terlihat tawa kejam, dia berkata, "Kalau kau mengatakan sekali lagi tidak tahu, aku akan membunuhmu!"

Pelayan itu tampak lebih gemetar lagi dan berkata, "Baiklah, kau...kau mau membunuhku, bunuh saja aku!"

Gu Shi melihat pelayan itu begitu ketakutan, tapi pelayan itu bersikukuh tidak mau memberitahu, dia tertawa dan berkata, "Apakah kau tidak takut mati?"

Pelayan itu menjawab, "Aku...aku takut mati tapi kalau harus mengatakan di mana Ketua bersembunyi, itu...pasti tidak akan kulakukan!"

Gu Shi tertawa dan berkata, "Kau benar-benar seorang pelayan yang setia!"

"Ketua kami sangat adil dan baik, memandang kami...memandang kami seperti saudara kandung, tentu saja kami siap mati demi beliau!" kata pelayan itu.

"Baiklah, aku akan membantumu mempercepat kematianmu demi dia!" kata Gu Shi.

Sewaktu pedang Gu Shi akan menusuk, di belakangnya ada yang bicara, "Gu Shi, mengapa kau membuat perhitungan dengan seorang pelayan?" Gu Shi membalikkan kepalanya untuk melihat siapa yang bicara, di belakangnya berdiri seorang pak tua yang gagah dan seorang perempuan cantik, dia tahu kalau mereka pasti orang terkenal, karena itu dia segera melepaskan pelayan keluarga Guan, lalu dengan dingin bertanya, "Apakah Anda berdua adalah orang-orang dari keluarga Guan?"

Pak tua gagah itu kurang lebih berumur 65 tahun, wajahnya terlihat berwibawa, dia mengenakan baju mewah. Di pinggangnya terselip sebuah golok.

Dia adalah seorang pesilat terkenal!

Perempuan cantik itu kurang lebih berusia 27 tahun, walaupun kulitnya tidak begitu putih tapi mata dan giginya indah. Tubuhnya bergerak dengan ringan, kepalanya terbungkus kain hijau, dan mengenakan baju berwarna biru tua. Anehnya di pundaknya terselip sebuah dayung!

Pak tua itu mulai bertanya, "Aku adalah Hong Qiu dijuluki Jin Dao Wang (Raja golok emas)."

Gu Shi hanya menyahut, "Oh!" wajahnya tersenyum dan berkata, "Ternyata Anda adalah Tetua Hong yang terkenal itu, maafkan aku!"

Walaupun dia memanggil tetua tapi sikapnya tetap sangat sombong, bahkan dia tidak menganggukkan kepalanya untuk memberi salam, lalu dia melihat perempuan cantik itu dan bertanya, "Siapakah nona ini? Aku yakin nona inipun bukan sembarangan orang."

Perempuan itu tertawa dan menjawab, "Oh, aku bernama Nian Cai Xia, aku adalah seorang perempuan yang hidup susah di laut."

Gu Shi bertanya, "Apakah Nona adalah Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia?"

Nian Cai Xia mengangguk, "Benar!" Dengan aneh sekaligus tertarik dia bertanya, "Mengapa Nona Nian yang terbiasa hidup di laut sekarang datang ke darat?" Nian Cai Xia tertawa dan menjawab, "Aku tidak ingin hidup kesepian!"

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, "Apakah Nona tidak takut nanti tidak cocok dengan kehidupan di darat?"

Nian Cai Xia tertawa, "Sampai saat ini aku merasa baik-baik saja."

"Apakah kalian berdua datang mengunjungi Guan Shi Shuang Xiong?" tanya Gu Shi.

"Tidak, kami datang sengaja mencarimu," jawab Nian Cai Xia. "Ada keperluan apa mencariku?" tanya Gu Shi

"Untuk merundingkan suatu masalah," jawab Nian Cai X ia.

"Apakah semua itu karena daftar nama yang tersimpan di dalam tubuhku?" tanya Gu Shi.

"Benar."

"Dalam daftar nama itu sepertinya tidak ada nama kalian berdua. "

"Daftar nama itu dibuat satu tahun yang lalu, sekarang daftar nama itu sudah bertambah lagi," jelas Nian Cai X ia.

"Mengapa kalian bisa tahu kalau aku berada di sini?"

"Orang-orang kami sangat banyak, bila kami mencurigai seseorang, kami bisa mengamati semua gerakan orang itu."

"Kalau begitu, mengapa kalian membiarkan aku berjalan beberapa hari ini dengan selamat?"

"Karena kami tertipu oleh Wang Ye, dengan akalnya dia berhasil menipu kami, kami mengira peti besi yang dibawa oleh Xin Suan adalah benda yang kami inginkan, beberapa hari yang lalu kami baru tahu kalau kami ternyata sudah tertipu."

"Apakah kalian bertekad akan mengambil kembali daftar nama itu?" "Benar."

"Apakah kalian memiliki uang sejumlah 100 ribu tail?"

"Apakah kau akan menjual daftar nama itu dengan harga 100 ribu tail?"

"Benar!"

"Kau terlalu besar mulut!"

"Aku sudah menghitung nama-nama yang tercatat di dalam buku itu, semuanya berjumlah 357 orang, dengan mengeluarkan uang sejumlah 100 ribu tail dan bisa menolong 357 nyawa, bukankah harga itu sangat pantas?"

Nian Cai Xia tertawa, "Bila kami menyerahkan uang 100 ribu tail, apakah kau sanggup membawanya pergi?"

"Uang 100 ribu tail memang sangat banyak, dengan puluhan keretapun tidak sanggup membawa semuanya, karena itu kalian tidak perlu membayarku dengan uang, tapi dibayar dengan perhiasan mahal."

"Kami tidak memiliki perhiasan." "Pangeran ke-14 sanggup membayarnya."

"Gu Shi, kau terlalu banyak tahu," Nian Cai Xia mengerutkan

dahinya.

"Benar, apakah kalian berdua sanggup mengalahkanku?" tanya Gu Shi sambil tertawa.

"Kau adalah seorang pemuda yang berbakat dan menonjol, kami tidak ingin membunuhmu, kami berharap kau bisa berubah menjadi pendekar beraliran lurus, dan bergabunglah dengan barisan kami."

"Terima kasih, aku hanya tertarik pada uang," jawab Gu Shi. "Kalau kami membayarmu sedikit lebih banyak, bagaimana?" "Maaf, hargaku tidak bisa dikurangi lagi." Nian Cai Xia menarik nafas dan berkata, "Kelihatannya kau dan Xin Suan sama-sama bandel, sama-sama keras dan tidak mau menurut."

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, "Bocah yang bernama Xin Suan itu mana bisa disamakan dengan diriku? Kalau dia sama seperti diriku, mengapa Wang Ye meminta dia yang mengantar peti besi yang tidak berharga sama sekali?"

Dengan serius Nian Cai Xia berkata, "Pikirkanlah sebentar mengenai harga yang kutawarkan, harga itu sudah lumayan tinggi, cukup untuk bekal bagimu seumur hidup!"

Gu Shi menggelengkan kepalanya dan berkata, "Wang Ye memberiku honor sebanyak 1.20 ribu tail perak, kau masih menyuruhku mengganti 20 ribu tail perak?"

"Hitung-hitung ini untuk berbuat amal."

"Aku tidak pernah berbuat baik untuk mengumpulkan pahala." "Katanya ilmu pedangmu sangat lihai, begitu berkelana di dunia

persilatan belum pernah terkalahkan tapi kau harus ingat, di luar

sana masih banyak orang, di atas langit masih ada langit, apakah kau mengira tidak ada yang sanggup mengalahkanmu?"

"Aku sudah bertemu dengan banyak pesilat tangguh di dunia persialatan ini, hanya dengan Pan Long Da Xia saja aku belum pernah bertarung, katanya dia adalah pesilat tertangguh sekarang. Karena itu aku siap bertemu dengan dia sekarang, tapi aku sudah memberitahu Guan Yong supaya dia menyampaikan kepada Huo Ru Feng, bulan ini pada tanggal 15 s iang, aku akan menunggunya di Ji Nan di rumah makan T ian X iang, kalau dia bisa mengalahkanku, itu tidak apa-apa, kalau tidak dia harus menyiapkan uang 100 ribu tail perak-—"

Jin Dao Wang Hong Qiu tiba-tiba berkata, "Bocah, kau terlalu sombong, untuk membereskanmu aku kira tidak perlu Pendekar Huo yang turun tangan!" Dengan wajah sinis Gu Shi tertawa dingin, "Maksudmu kau Jin Dao Wang Hong Qiu saja sudah cukup untuk menghadapiku?"

"Benar," jawab Jin Dao Wang Hong Qiu.

"Aku memang sedang menunggu kata-katamu ini—hayo keluarkanlah golokmu!"

Jin Dao Wang Hong Qiu sudah mencabut goloknya!

Golok itu memang sebuah golok emas buatannya sangat bagus dan indah. Di bawah sinar matahari terpantul cahaya berwarna emas.

Gu Shi memuji dan berkata, "Sebuah Jin Dao yang bagus, apakah ini senjatamu yang terkenal itu?"

"Jin Dao ini sudah membunuh banyak orang jahat," jelas Jin Dao Wang Hong Qiu.

"Jika begitu bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang Gu Shi.

"Tidak perlu bertaruh, hari ini bila bukan aku yang mati pasti kau yang akan mati!"

"Kalau aku mati di bawah Jin Dao milikmu, kalian boleh mengambil daftar nama yang ada di tubuhku tapi kalau kau kalah atau mati di bawah pedangku, aku menginginkan golok emasmu."

Hong Qiu mengangguk, "Boleh! Mari kita mulai!"

Gu Shi mengangkat pedang itu set inggi dadanya, kemudian dari jarak jauh mengukur posisi jantung Hong Q iu, setelah itu dia meluncur ke arah Hong Qiu.

Jin Dao Wang Hong Qiu sudah siap siaga.

Kira-kira berjarak 5 kaki lagi dari Hong Qiu, t iba-tiba pedang yang dipegangnya digetarkan tiga kali oleh Gu Shi, kemudian dia langsung menusuk ke arah Hong Qiu dan membentak, "Sambutlah!"

Jin Dao Wang Hong Qiu tidak menyambut, dia hanya mundur 2 langkah. Gu Shi tertawa dingin dia maju se langkah, pedang digetarkan 3 kali lagi. Getaran pedang terlihat seperti bunga, lalu menggulung maju dan menyerang ketiga nadi Hong Qiu dibagian dada.

Sekarang Hong Qiu baru menggerakkan goloknya, kelihatannya dia hanya bergerak di tempat. Kemudian tubuhnya berputar, golok emasnya segera diangkat.

"TING!"

Suara emas yang berdenting terdengar, tiga bunga pedang sudah tidak terlihat, golok Hong Q iu sedang diarahkan ke leher Gu Shi.

"Ilmu golok yang bagus!" teriak Gu Shi.

Tiba-tiba dia memiringkan tubuhnya, pedangnya sudah menebas ke arah perut Hong Qiu, gerakannya sangat cepat!

Secara otomatis gerakan Hong Q iu pun ikut cepat, dia mundur 3 kaki dari tempat tadi, kemudian maju lagi dan menyerang Gu Shi dengan 3 serangan.

Dengan pedangnya Gu Shi menahan serangan golok Hong Q iu tapi diapun dengan cepat membalas dengan 5 jurus ilmu pedang Gu Shi yang dijuluki Wu Xing Jian, ini benar-benar Masuk akal karena dari jurus kesatu hingga kelima, diselesa ikan hampir dalam waktu bersamaan, benar-benar sangat cepat sehingga orang-orangpun tidak bisa melihat dengan jelas!

Setelah Hong Q iu berhasil menahan serangan 3 jurus pedang Gu Shi, dia menjadi tidak percaya diri menerima jurus-jurus berikutnya dari Gu Shi. Maka dengan terpaksa dia mundur.

Gu Shi mengambil kesempatan ini untuk maju terus, dia terus menyerang, pedang yang digerakkan karena jurus yang dikeluarkan terlalu cepat sudah tidak terlihat bentuk pedangnya lagi. Hanya terlihat kilauan pedang yang berputar-putar seperti menari dan juga seperti naga yang sedang bermain di langit. Hong Qiu bukan orang biasa, ilmu goloknya sudah terkenal di dunia persilatan se lama beberapa puluh tahun. Pesilat tangguh yang dia temui sudah sangat banyak, dia t idak pernah dikalahkan. Tetapi hari ini dia sudah melihat bagaimana kemampuan ilmu pedang dari Gu Shi yang sangat misterius dan aneh. Ilmu pedangnya sangat sulit dilawan, bisa dikatakan setiap jurus yang dikeluarkan Gu Shi sangat berbeda dengan jurus pedang biasa. Setiap jurusnya membuat orang susah menduganya, dan membuat orang tidak sempat untuk bertahan.

Karena Gu Shi terus menyerang, dia mulai kewalahan dan terpaksa terus mundur.

Tapi dia adalah orang yang sangat terkenal, walau dipaksa untuk terus mundur sebenarnya hatinya merasa sedih. Dia mulai membalas dengan sekuat tenaga dan tidak memikirkan lagi hidup dan matinya.

Tenaga dalamnya sangat kuat. Jurus golok yang dikeluarkan mulai teratur, goloknya dengan cepat kembali ke posisi yang benar.

Gu Shi sangat licik, melihat Hong Qiu mulai mengeluarkan jurus- jurus keras, dia malah berusaha untuk menghindar....

Cara seperti itu berlangsung se lama 15 menit, mungkin karena Hong Qiu sudah tua atau mungkin karena tenaga yang dikeluarkan terlalu besar dia mulai tidak bisa bertahan, dahinya mulai mengeluarkan banyak keringat.

Gu Shi melihat kesempatannya sudah datang, segera dia balas menyerang dengan cepat, pedang menusuk, menebas, dan membacok, semua jurus anehnya dikeluarkan.

Tiba-tiba terdengar suara Gu Shi yang aneh, "Lepas!" "TANG!"

Golok emas Hong Qiu tampak melayang ke atas langit dengan

ketinggian kurang lebih 15 meter.

Wajah Hong Qiu segera berubah dan dia mundur dengan cepat. Gu Shi tidak mengejar, dia menjulurkan tangannya untuk menyambut golok emas yang akan jatuh dari langit, dia tertawa dan berkata, "Terima kasih atas golok pemberianmu, berat golok ini paling sedikit 10 kilogram lebih."

Hong Qiu mendengar kata-kata Gu Shi, dia sangat marah, nadi- nadi hijau di dahinya tampak bertonjolan, dia berteriak, "Bocah! Aku mengaku kalah, sekarang akan kuberikan nyawaku padamu!"

Setelah itu dia menyerang sekuat tenaga.

Tapi Gu Shi terus meloncat untuk menghindar, dia tertawa, "Tidak, kalau aku membunuhmu, golok emas ini menjadi tidak berharga!"

Maksud Gu Shi adalah bila Jin Dao Wang Hong Qiu adalah orang terkenal dunia persilatan, goloknya ibarat nyawa keduanya, sekarang setelah Gu Shi berhasil mendapatkan goloknya tapi tidak menginginkan nyawanya, ini merupakan penghinaan terbesar dalam hidupnya!

Benar, bagi seseorang yang sangat terkenal di dunia persilatan lebih baik kehilangan nyawa dari pada mendapat malu, karena itu dia merasa sedih, dan juga panas, dia berteriak, "Jangan lari!"

Sewaktu dia akan menyerang, tiba-tiba wajahnya berubah warna, matanya tampak melotot, mulutnya menganga, kedua tangannya menekan dada, kemudian nafasnya menjadi kencang dan kasar, kemudian diapun roboh!

Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia yang melihat keadaan Hong Qiu, dia merasa kaget, segera dia berlari menghampiri Hong Q iu, memeluk kedua bahunya dan bertanya, "Tetua Hong, bagaimana keadaanmu?"

Kedua mata Hong Qiu tampak terpejam, dia pingsan.

Nian Cai Xia terus menggoyang-goyang tubuh Hong Qiu dan berteriak, "Tetua Hong! Tetua Hong! Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tapi Hong Qiu tidak menjawab.

Gu Shi tertawa, "Penyakit jantungnya kambuh, mungkin dia t idak akan bisa hidup lebih lama lagi."

Setelah berkata seperti itu dia s iap pergi dari sana. Nian Cai X ia berteriak, "Gu Shi, tunggu!"

Gu Shi berhenti melangkah, dia tertawa, “Apakah Nona juga ingin bertarung denganku?"

"Aku tidak mempunyai waktu untuk bertarung denganmu, tapi kita bisa menentukan waktu perjanjian!"

"Baiklah, aku pasti akan menepati janji!"

"Bulan ini tanggal 12, pada malam hari pukul 12, kita bertemu di Gunung Zhu Lai."

"Untuk apa?" tanya Gu Shi.

"Mungkin saat itu aku bisa mengumpulkan uang sejumlah 100 ribu tail, tapi aku tetap ingin bertarung denganmu, kalau aku kalah aku akan memberikan uang itu kepadamu!"

"Baiklah, kita sepakat," kata Gu Shi.

Tubuhnya bergerak dan dia sudah pergi dari sana.

Pada saat melihat dia meninggalkan kediaman keluarga Guan, Nian Cai Xia baru melihat Hong Cdu. Hong Qiu masih tidak sadarkan diri, dia menjadi bingung.

Rumah sudah terbakar dan yang tertinggal hanya puing- puingnya, api yang masih berkobar kemungkinan bisa menjalar ke rumah lainnya, mungkin para pelayan yang melihat Gu Shi sudah pergi, maka merekapun mulai berdatangan untuk memadamkan api. Nian Cai Xia bertanya kepada salah satu pelayan, "Bagaimana keadaan Ketua Guan Yong?"

Pelayan itu menjawab, "Luka Ketua sangat berat, sekarang beliau berada di ruang bawah tanah." Nian Cai Xia menunjuk Hong Q iu yang tergeletak di bawah, dan bertanya, "Tetua Hong sejak tadi tidak sadarkan diri apakah ada tempat baginya supaya bisa beristirahat?"

"Ada, di belakang ada sebuah kamar, di sana sangat aman, apakah aku perlu menggendong Tetua Hong ke kamar itu?" tanya si pelayan.

"Baiklah, setelah membawa Tetua Hong, bawalah aku untuk bertemu dengan ketua kalian.... Hhhehhhl Tidak disangka Wu Xing Jian Ke Gu Shi ternyata lebih sulit dihadapi dibandingkan Xin Suan."

0-0-dwkz-0-0

Bulan 7 tanggal 11.

Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia datang sehari lebih awal ke Zhu Lai Shan.

Dia tidak mengumpulkan uang sebesar 100 ribu tail, dia telah berjanji untuk bertemu Gu Shi di gunung ini, karena itu dia berharap seseorang bisa membantunya.

Orang itu tinggal di Zhu Lai Shan namanya adalah Tuan Zhu Lai.

Nama Tuan Zhu Lai tidak begitu terkenal. Orang persilatan yang kenal dengannyapun tidak begitu banyak, tapi orang yang mengenalnya pasti pesilat tangguh dunia persilatan.

Begitu pesilat-pesilat tangguh itu membicarakan tentang Tuan Zhu Lai, mereka pasti akan merasa kagum, karena Tuan Zhu Lai memang mempunyai ilmu silat yang tinggi.

Tuan Zhu Lai tidak terkenal di dunia persilatan, karena dia memang tidak mau ikut campur dengan masalah dunia persilatan, dia hidup bertani di Gunung Zhu Lai, selain bertani, kegiatan lainnya adalah minum arak, selain kedua hal tadi, meski langit runtuh juga dia t idak akan peduli. Rumahnya hanya rumah gubuk, pagar bambu mengelilingi rumah itu, di depan rumah ada sebuah taman bunga. Sedangkan di belakang rumah adalah kebun sayur dan sawah.

Dong Hai Kian Niang, Nian Cai Xia telah tiba di tempat itu. Hari sudah hampir sore, dia masuk ke dalam gubuk, tapi Tuan Zhu Lai tidak ada di sana, karena itu dia keluar lagi untuk mencari Tuan Zhu Lai.

Dia sangat mengenal keliidupan Tuan Zhu Lai, kalau tidak berada di gubuk berarti dia berada di pondokan itu.

Benar saja Tuan Zhu Lai sedang bermain catur bersama dengan seoranng pendeta tua.

Umur Tuan Zhu Lai belum begitu tua, kurang lebih 50 tahun. Matanya besar dan alisnya tampak kasar. Sikapnya terlihat tenang, sekali melihatnya orang akan segera menaruh hormat kepadanya. Dia adalah seorang pesilat yang menyembunyikan diri.

Sedangkan yang sedang bermain catur dengannya adalah seorang pendeta yang berusia kurang lebih 70 tahun, rambutnya putih, wajahnya bersih. Terlihat seperti seorang dewa yang turun dari langit.

Mereka berdua duduk di pondokan itu dan sedang berkonsentrasi bermain catur. Begitu Dong Hai Xian Niang, Nian Cai Xia berdiri di depan mereka, mereka baru sadar ada orang yang mendekati mereka.

Melihat Nian Cai Xia datang, Tuan Zhu Lai merasa senang dan terkejut, dia berdiri dan berteriak, "Cai Xia— mengapa kau bisa datang kemari?"

Nian Cai Xia tersenyum dan bertanya, "Apakah aku tidak boleh datang kemari?"

Tuan Zhu Lai merasa sangat senang dan menjawab, "Tentu kau boleh datang! Kau boleh datangi Memang ini saat yang sedang kutunggu-tunggu!" Kemudian dia berkata pada pendeta tua itu, "Hidung sapi, kita lanjutkan permainan catur ini besok!"

Kata pendeta tua itu, "Aku sudah kalah 2 kali, kali ini kelihatannya aku akan menang, tapi kau malah menghentikan permainannya, apa maksudmu?"

"Apakah kau tidak melihat ada tamu yang datang?" kata Tuan Zhu Lai.

"Ada tamu datang, persilakan dia masuk ke pondokan, apa sulitnya?"

"Tamuku adalah Dong Hai Kian Niang, Nian Cai Xia yang sering kuceritakan."

Pendeta menjawab, "Oh!" Dia tersennyum dan berkata, "Ternyata dia adalah saudara sepupumu yang selalu kau rindukan. Baiklah, baiklah hari ini aku memaafkanmu, kita teruskan permainan catur kita besok lagi!"

Tuan Zhu Lai berkata pada Nian Cai Xia, "Cai Xia, kemarilah! Temuilah pendeta tua ini, beliau adalah Yi Cheng Zi yang terkenal itu, kakak seperguruan dari Ketua Wu Dang."

Nian Cai Kia meletakkan dayungnya yang terbuat dari besi dan memberi hormat kepada Yi Cheng Zi, "Sudah lama aku mendengar nama besar Pendeta. Baru hari ini berjodoh bertemu dengan Guru, aku benar-benar merasa sangat beruntung."

Tuan Zhu Lai menepuk-nepuk kursi yang terbuat dari batu sambil tertawa berkata, "Cai Xia, duduklah di sini!"

Kata Nian Cai Kia, "Aku ada keperluan pribadi yang ingin kusampaikan kepadamu. "

"Tentang apa?" tanya Tuan Zhu Lai.

Nian Cai K ia melihat Yi Cheng Zi dan terdiam.

"Yi Cheng Zi bukan orang luar, ada apa? Katakan saja," kata Tuan Zhu Lai. Wajah Nian Cai Xia sedikit memerah, "Aku tahu, tapi     Aku

hanya ingin mengatakannya padamu saja."

Yi Cheng Zi segera bediri dan berkata, "Baiklah, kalian mengobrol saja dulu, aku akan berjalan-jalan."

Dia keluar dari pondokan itu.

Tuan Zhu Lai segera bertanya, "Cai Xia, ada apa?"

Nian Cai Xia menarik nafas dan menjawab, "Sepertinya sudah 7-8 tahun kita t idak bertemu."

"Semenjak kau marah dan mengusirku, aku tidak mempunyai harapan lagi."

"Kalau sekarang aku mengatakan aku Mau menikah denganmu, apakah kau masih Mau menerimaku?"

Dengan senang Tuan Zhu Lai mengangguk dan berkata, "Tentu saja aku mau, kecuali denganmu, aku tidak mau menikah dengan perempuan lain!"

"Tapi aku mengajukan sebuah syarat, bantu aku untuk membereskan satu memecahkan persoalan ini."

"Jangankan satu, seribu persoalan juga aku akan membantumu untuk membereskannya."

"Jangan terlalu cepat setuju, karena hal ini adalah hal yang paling kau benci."

"Tentang apa?" "Membunuh seseorang."

Tuan Zhu Lai menarik nafas dan berkata, "Cai Xia, aku benar- benar tidak mengerti, mengapa kau selalu mengurusi hal-hal yang tidak ada hubungannya denganmu?"

Nian Cai X ia marah dan berkata, "Sudahlah, kalau kau tidak mau, jangan nasehati aku." Tuan Zhu Lai berkata, "Kalau 7-8 tahun lalu kau setuju menikah denganku, sekarang kita pasti sudah mempunyai banyak anak dan hidup bahagia—"

Belum selesai perkataan Tuan Zhu Lai, Nian Cai Xia sudah bersiap akan pergi dari sana.

Segera Tuan Zhu Lai menarik nafas dan berkata, "Jangan pergi, Cai Xia. Kau menyuruhku membunuh siapa?"

"Wu Xing Jian Ke, Gu Shi," jawab Nian Cai Xia. "Siapakah dia?"

Ternyata walaupun ilmu silat Tuan Zhu Lai sangat tinggi tapi dia jarang berkelana di dunia persilatan, maka nama Gu Shi yang terkenalpun dia tidak tahu.

Selama hidup Tuan Zhu Lai, yang paling dia rindukan adalah rasa cintanya kepada Nian Cai Xia. Dan cintanya sangat dalam. Tapi sifatnya yang tenang dan tidak senang berkelana berbeda dengan sifat Nian Cai Xia, karena itulah dia selalu gagal menikah dengan Nian Cai X ia. Walaupun begitu dia tetap mencintai Nian Cai X ia!

"Mengapa kau bisa menaruh dendam kepada Gu Shi?" "Aku tidak mempunyai dendam pribadi dengannya."

"Kalau tidak ada dendam pribadi mengapa aku harus membunuhnya?"

"Tidak ada dendam pribadi, tapi dendam masa." "Apa yang telah terjadi?"

Nian Cai X ia menceritakan semuanya kepada Tuan Zhu Lai.

Setelah selesai mendengar cerita Nian Cai Xia, dahinya tampak berkerut dan menarik nafas, "Aku sudah mengerti! Tapi Hhehh!

Kau seorang perempuan, mengapa ingin "

"Kau mulai memberi nasehat lagi!" "Baiklah, aku tidak akan bicara lagi! Tapi hanya karena ingin membunuh Wu Xing Jian Ke, Gu Shi, kau baru mau menikah denganku, sepertinya. "

Dengan dingin Nian Cai X ia berkata, "Benar, secara kasarnya aku sedang memperalatmu, tapi aku tidak akan memaksa. Kau boleh menolaknya."

Tuan Zhu Lai bepikir cukup lama, kemudian dia menarik nafas lagi dan berkata, "Cai Xia, jujur kukatakan, tadi Pendeta Yi Cheng Zi sudah melihat nasibku melalui wajah, dia mengatakan nasibku di tahun ini tidak bagus, kalau tidak menghindar, mungkin tahun ini nyawaku bisa terancam. "

"Baiklah, aku tidak akan membuatmu sampai kehilangan nyawa, tidak usah bicarakan hal ini lagi!"

Tuan Zhu Lai tertawa kecut dan berkata, "Sejak jaman dahulu manusia pasti akan mati, aku bukan menyayangi nyawaku tapi demi membunuh Gu Shi, kau baru mau menikah denganku, ini benar- benar membuatku merasa tidak enak hati!"

Nian Cai Xia marah dan berkata, "Aku bilang jangan bicarakan hal ini lagi, biar aku sendiri yang membereskannya!"

"Apakah kau sudah berjanji dengannya dan besok bertemu di sini?"

"Benar! Sebelum malam tiba kau boleh tinggalkan tempat ini, aku akan merninjam pondokan ini!"

"Orang ini bisa mengalahkan Jin Dao Wang, Hong Qiu, aku rasa kau tidak akan bisa melawannya. "

"Manusia pasti akan mati, hal ini sudah berlaku dari dulu sampai sekarang, hanya saja kita harus meninggalkan sedikit nama!"

Tuan Zhu Lai menarik nafas lagi, "Dinasti Ming sudah hancur beberapa puluh tahun yang lalu, walaupun kalian mempunyai semangat tinggi, yaitu ingin mengembalikan kejayaan Dinasti Ming, tapi aku lihat rasanya tidak akan berhasil!" "Karena banyak orang seperti dirimu maka tanah air kita selalu dijajah oleh bangsa lain, kau adalah seorang laki-laki, apakah kau tidak merasa malu?"

Tuan Zhu Lai mengerutkan dahinya, "Aku hanya orang biasa, hanya bisa menjaga diri sendiri!"

Nian Cai Xia tertawa dingin, "Sudah bertahun-tahun lewat tapi kau masih tetap seperti ini, apakah kau tahu alasanku tidak mau menikah denganmu?"

Tuan Zhu Lai tertawa kecut, "Lemah, tidak berguna, set iap hari hanya bisa minum arak dan bermain catur, apakah benar pendapatku?"

"Benar! Kau adalah laki-laki paling tidak berguna!"

Tuan Zhu Lai marah dan berkata, "Kau berani sekali lagi bicara seperti itu, aku akan. "

Nian Cai X ia malah maju dan berkata, "Kau mau apa?"

Tuan Zhu Lai mundur dan berkata, "Baiklah, baikah, aku akan meminjamkan pondokan ini kepadamu, aku akan pergi!"

Dia keluar dari pondokan dan pergi dari sana.

Baru saja beberapa langkah berjalan, dia membalikkan kepalanya dan berkata, "Kau berjanji bertemu dengannya besok di s ini, malam ini kau tidur saja di gubukku."

"Terima kasih."

"Walaupun aku tidak setuju, tapi kita adalah saudara, karena aku adalah kakak sepupumu sedangkan kau adalah adik sepupuku!"

"Kau orang baik, aku tidak pantas menjadi adik sepupumu, hubungan antar saudara kita hanya sampai di sini saja."

Tuan Zhu Lai marah dan berkata, "Mana boleh seperti itu, benar- benar tidak tahu aturan!" Nian Cai Xia juga marah dan mengusir, "Pergi! Pergi! Aku tidak mau melihat mukamu lagi! Pergi kau!"

Tuan Zhu Lai marah dan dia segera pergi.

Setelah Tuan Zhu Lai pergi, Nian Cai Xia dengan tidak bersemangat duduk dan mulai menangis, dia marah, "Laki-laki tidak berguna! Seumur hidup jangan harap aku mau menikah denganmu!"

Langitpun seperti dia tampak tidak bersemangat karena tiba-tiba suasana menjadi mendung.

Dia bersandar pada tiang pondokan, tidak bergerak, sepertinya dia sudah tertidur.

Tak lama kemudian hari menjadi gelap, bulan tergantung di atas langit.

Diam-diam Tuan Zhu Lai datang ke sana Satu tangan membawa keranjang berisi nasi dan sayur, sedangkan satu tangan lagi membawa selimut, diam-diam dia masuk ke dalam pondokan, dia melihat Nian Cai Kia tertidur, dia meletakkan keranjang berisi makanan di atas meja yang terbuat dari batu. Kemudian menyelimuti Nian Cai Xia.

Sebenarnya Nian Cai Kia belum tertidur, dia membuka matanya dan berkata dengan dingin, "Ada apa?"

Tuan Zhu Lai tertawa dan berkata, "Angin malam sangat dingin, kalau tidak dise limuti, nanti kau akan masuk angin."

Nian Cai X ia menendang selimut itu jauh-jauh dia berteriak, "Biar aku kedinginan sampai mati, juga tidak ada hubungannya denganmu!"

Tuan Zhu Lai merasa malu, tapi dia berusaha tertawa dan berkata, "Jangan marah lagi! Kakakmu sudah membawakan makanan untukmu, bagaimanapun kau harus makan."

Nian Cai Xia memungut dayungnya yang terbuat dari besi dan dengan galak berkata, "Cepat bawa lagi makanannya! Aku tidak mau makan makanan pemberianmu, walau harus mati kelaparan akj tetap tidak sudi memakannya!"

Tuan Zhu Lai menarik nafas dan berkata, "Usiamu sudah tidak muda lagi, mengapa sifatmu masih seperti itu?"

Nian Cai Xia mengangkat dayungnya dan menjawab, "Cepat bawa kembali, kalau tidak aku akan menyerangmu dengan dayung ini!"

Tuan Zhu Lai ikut marah dan berkata, "Kau tidak mau makan, bagaimana besok bisa bertarung dengan Gu Shi?"

"Ini tidak ada hubungannya denganmu!" seru Nian Cai Xia.

Tuan Zhu Lai terdiam dan mengangkat keranjang makanan, memungut selimut yang terjatuh dan berkata, "Baiklah, besok kalau kau berhasil dikalahkan oleh Gu Shi, aku akan merasa sangat senang!"

Nian Cai X ia marah dan berniat memukulnya. Tuan Zhu Lai sudah lari dari sana.

Nian Cai X ia berteriak, "Lin Wo M ing! Aku peringati dirimu, kalau kau datang mengganggu lagi, aku akan membunuhmu!"

Tuan Zhu Lai bertanya, "Apa maksudmu? Ada pepatah yang mengatakan : walaupun naga kuat tapi dia tidak akan mengganggu ular yang berada di tempatnya. Pondok ini aku sendiri yang membangunnya, apakah kau ingin mengambil alih?"

"Benar," jawab Nian Cai Xia. Tuan Zhu Lai marah dan berkata, "Benar-benar perempuan tidak tahu diri! Benar-benar kurang ajar!"

Dia pergi dengan marah lalu menghilang di kegelapan malam, Nian Cai Xia meletakkan kembali dayungnya, dia bersandar kembali ke tiang pondok dan meneteskan air mata, lalu berkata, "Orang tidak berguna, seharusnya aku melupakan laki-laki semacam dia, bagaimana mungkin aku boleh menikah dengannya...." Malam semakin larut. Sekeliling pondok tampak gelap dan sepi, sepi seperti tenggelam di dalam laut yang dalam, suara jengkerikpun tidak terdengar.

Nian Cai Xia duduk dengan diam, tidak lama kemudian dia masuk ke alam mimpi.

Begitu dia terbangun hari sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, pada saat membuka mata dia sangat terkejut.

Karena di depannya telah duduk seseorang! Dia adalah Wu Xing Jian Ke, Gu Shi!

Dengan tersenyum dia melihat Nian Cai X ia yang baru terbangun,

dia segera tertawa dan berkata, "Benar-benar pemandangan bagus dan indah, melihat cara tidurmu!"

Nian Cai Xia meloncat bangun, langsung mengambil alat dayungnya dan siap memukul.

Tapi Wu King Jian Ke dengan cepat meloncat keluar dari serbuan Nian Cai Xia. Dia tertawa terbahak-bahak, "Jangan terburu-buru, hari belum terang!"

Dengan marah dan dengan nada dingin Nian Cai Xia berkata, "Hei marga Gu, jujur bicara tidak ada uang 100 ribu tail, yang ada hanya nyawaku!"

Wu King Jian Ke, Gu Shi tertawa, "Aku tahu karena aku telah memperhitungkan sebelumnya!"

Nian Cai Kia keluar dari pondokan kemudian sambil membawa dayungnya dia berteriak, "Kalau begitu, kita mulai bertarung sekarang!"

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, "Tidak perlu terburu-buru, sabarlah! Kau tidak mencari seseorang untuk membantumu?"

"Tidak!"

"Tapi aku lihat di sekitar sini ada sebuah gubuk dan di dalam gubuk itu ada seorang pendeta tua serta seorang laki-laki entah dia tinggal di sana atau tidak. Mereka sedang minum arak, kalau aku tidak salah tebak ilmu silat mereka sangat tinggi."

"Tenanglah! Mereka tidak akan ikut campur."

"Tapi kau tahu kan kalau kau tidak mencari seseorang untuk membantu, kau tidak akan bisa melawanku!"

"Belum tentu!"

"Jangan keras kepala, lebih baik kita ngobrol dulu, aku bukan tipe orang yang tidak berperasaan, walaupun aku menyukai uang, tapi aku juga tertarik pada perempuan "

Alis Nian Cai Xia terangkat dan tertawa "Maksudmu, kau tertarik padaku?"

Gu Shi mengangguk, "Benar, kalau kau mau menemaniku tidur, aku tidak akan membunuhmu, bagaimana?"

Nian Cai Xia t idak marah malah tertawa, "Kedengarannya seperti anjing gila yang sedang menggonggong!"

Gu Shi juga t idak marah dia malah tertawa terbahak-bahak, "Kau terlalu sungkan sebenarnya aku lebih menakutkan dari seekor anjing gila, aku adalah seekor serigala!"

"Aku sengaja datang untuk membasmi serigala!"

Sambil bicara dayungnya sudah dikeluarkan dan menyerang ke pinggang Gu Shi.

Gu Shi me loncat beberapa meter, di atas dia mencabut pedangnya, ujung pedangnya mengenai dahi Nian Cai Xia, ada cahaya seperti jatuh dari langit!

Nian Cai Xia berputar, dayungnya diangkat ke atas, pedang panjang Gu Shi beradu dengan dayung Nian Cai Xia. Dia me loncat setinggi 3 meter lagi----

Nian Cai Xia berniat melancarkan serangan lagi, tapi terlihat ada api terang berbentuk payung, seperti lingkaran dan menutupi kepalanya, Nian Cai Xia terkejut dan segera menggeser kakinya ke sisi.

Tapi baru saja dia melangkah beberapa kaki, api terang itu terus mengikutinya dan semakin mendekat!

Lingkaran terang itu tidak lain adalah cahaya pedang Gu Shi, sepertinya Gu Shi sedang ingin bermain-main dengan Nian Cai Xia, pedang dimainkan ke kiri dan ke kanan, dan selangkah demi selangkah semakin mendekat, tapi Gu Shi tidak menyerang.

Nian Cai Xia terus mundur beberapa puluh langkah ketika melihat cahaya pedang terus mendekatinya dan menyerang. Nian Cai Xia marah dan membentak dengan sekuat tenaga dia menggoyang dayungnya, dia sudah masuk ke dalam lingkaran cahaya itu.

"TING! TING! TING!"

Pada saat senjata beradu, dayung Nian Cai Xia seperti bertemu dengan kekuatan besar, dia segera terbanting ke sisi dan dayungnya terbang ke langit!

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, dia mendekat dengan ujung pedang, dia menotok Nian Cai Xia dan tertawa, "Nona Nian, berbaringlah dengan posisi yang bagus!"

Pada saat tubuh Nian Cai X ia terlempar ke bawah, pedang Gu Shi tepat menotok nadi Nian Cai Xia, tapi tangan Nian Cai Xia bergerak dengan lincah, pada saat tubuhnya terpelanting ke bawah dua sudah berguling ke depan untuk menghindari serangan Gu Shi.

Nian Cai Xia berguling-guling di bawah sejauh beberapa meter, tiba-tiba tangannya bergetar, dia menembakkan sebuah pisau kecil.

"PUSH!"

Pisau kecil itu dengan cepat me lesat hanya dalam sekejap sudah berada di depan dada Gu Shi.

Gu Shi berteriak, pedang panjangnya dlayunkan “TING!" Pisau tergetar dan terbang ke atas.

Pada kesempatan ini Nian Cai Xia melompat ke atas dan membentak, "Terimalah 3 jurusku lagi!"

Tangannya bergetar, 3 buah pisau kecil sudah dikeluarkan dari 3 arah dengan cepat.

"TING! TING! TING!"

Diiringi suara itu, dua buah pisau berhasil ditahan oleh pedang Gu Shi dan terbang ke lain arah, sedangkan pisau ketiga siap mengenai mulut Gu Shi!

"Aduh!"

Dia berteriak dan jatuh telentang.

Nian Cai Xia merasa sangat senang, dia tahu kalau pisaunya berhasil menembus tenggorokan Gu Shi, tapi ketika diperhatikan wajah Gu Shi ternyata tampak penuh dengan roman tawa, pisau kecil itu ternyata tidak menembus tenggorokannya, melainkan digigitnya.