Tamu Aneh Bingkisan Unik Bab 04 : berjalan di atas langit Pedang seperti pelangi

 
Bab 4 : berjalan di atas langit Pedang seperti pelangi

Pengemis tua itu keluar dari dalam air, kira-kira jarak dari jembatan putus itu kurang lebih 150 meter, dia membuka totokan Xin Suan, kemudian menelungkupkan Xin Suan ke bawah dan menekan punggungnya. Membuat air yang berada di dalam perut Xin Suan keluar semua. Akhirnya Xin Suan sadar kembali. Melihat matanya terbuka, si pengemis berkata, "Hayo cepat bangun, tidak ada waktu untuk beristirahat!"

Xin Suan bangun dan bertanya, "Apakah tadi aku sempat pingsan?" "Betul! Aku terpaksa membawamu terjun ke dalam air, karena situasi sangat mendesak. "

Dia menceritakan kejadian tadi, akhirnya dia menarik nafas dan berkata, "Aku kira Gui Zhao Po Po, Liu Shi Gu, pasti te lah membawa peti itu pergi."

Dengan tidak senang Xin Suan berkata, "Kau harus bertarung dengannya, jangan lepaskan kereta itu dibawa lari!"

"Tidak! Ada pepatah yang mengatakan : Selama gunung masih menghijau, tidak perlu khawatir tidak ada kayu bakar. Aku harus menolongmu dulu, baru mencari cara untuk merebut kembali peti besi itu, kalau hanya mengandalkan diriku sendiri, rasanya tidak akan berhasil."

"Asal kau bertahan me lawannya, aku bisa membuka totokanku sendiri, kita t idak perlu takut kepadanya."

Pengemis itu tertawa kecut dan berkata, "Sudahlah! Jangan mengomel lagi, kita harus cepat kembali untuk melihat keadaan yang telah terjadi."

Sewaktu mereka kembali ke jalan di dekat jembatan, kereta mereka sudah tidak ada di tempatnya. Si pengemis marah dan berkata, "Nenek tua yang jahat, dia benar-benar serakah, ternyata kereta itu juga dibawanya!"

"Itu lebih baik!"

"Lebih baik?" pengemis tua itu terpaku.

"Benar! Dia membawa keretanya, kita bisa mencarinya dengan melihat jejak roda kereta yang tertinggal," jelas Xin Suan sambil tersenyum.

Pengemis tua itu mendengar penjelasan Xin Suan, segera dia melihat di permukaan jalan yang licin itu ada jejak roda kereta, dia merasa sangat senang dan berkata, "Benar! Kita ikuti saja jejak roda ini!" Sambil berjalan Xin Suan bertanya, "Sebenarnya Gui Zhao Po Po itu perempuan seperti apa?"

"Dulu dia adalah seorang perempuan genit, dan hatinya sangat kejam, galak seperti harimau, ilmu silatnya juga sangat tinggi. Apalagi jurusnya yang bernama Gui Zhao Kai Hua sangat lihai, aku saja tidak bisa mengalahkannya!"

"Seperti apa lihainya jurus Gui Zhao Kai Hua?"

Pengemis tua itu menceritakan khas iat dan kehebatan dari Tan Hun Zhu kepada Xin Suan.

"Apakah bau wangi itu bisa membuat orang menjadi mabuk?" "Benar! Lebih lihai dari bau wangi biasa, bahkan kehebatannya

lebih hebat beberapa kali lipat. Bila kau menghirup sedikit saja maka kau akan segera mati."

"Ini tidak terlalu sulit bagi kita, begitu melihat dia mulai bergerak, kita bisa dengan cepat menahan nafas!"

Pengemis itu tampak menggelengkan kepalanya dan berkata, "Itu tidak akan ada gunanya, karena wangi-wangian itu pada saat terkena baju, harus menunggu satu jam baru bisa hilang wanginya, apakah kau bisa menahan nafas selama satu jam lamanya?"

"Kalau begitu hal ini benar-benar menakutkan, menurutmu apakah aku bisa menang darinya?"

"Dalam hal ilmu s ilat kemampuannya lebih rendah dari Pan Long Da Xia, ingin mengalahkan dia rasanya bukan menjadi masalah, hanya saja serangan Tan Hun Zhu sulit dihindari."

Sambil mengobrol mereka terus mengikuti jejak roda kereta yang ternyata sudah keluar dari jalan besar dan masuk ke daerah terpencil, di depan mereka hanya terlihat kegelapan, Xin Suan berkata, "Sepertinya Gui Zhao Po Po tidak membawa keretanya ke kota, tapi kearah mana dia berjalan?"

"Kalau arahnya tidak berubah, kereta itu akan tiba di Dong Ting Hu (danau Dong Ting)," jawab si pengemis itu. "Apakah Gui Zhao Po Po tinggal di sana?"

"Dia sering keluar masuk daerah sini, apakah dia tinggal di sana, aku sendiri tidak tahu."

Mereka berdua terus mengikuti jejak roda, untung malam itu terang bulan, maka sekeliling mereka terlihat lebih jelas.

Mereka terus mengejar, di tempat yang letaknya beberapa puluh meter dari mereka, terdengar tawa seorang perempuan.

Xin Suan berhenti melangkah dan bertanya, "Apakah itu adalah suara Gui Zhao Po Po?"

"Sepertinya memang dia, hayo cepat kita ke sana untuk melihat!" ajak si pengemis.

Baru saja mereka berjalan beberapa puluh langkah, mereka melihat ada sebuah kereta. Kereta itu sedang berhenti, terdengar Gui Zhao Po Po sedang bicara dengan seseorang yang ada di dalam kereta, "Pendekar Huo, aku tidak menyangka kau begitu pelit, biarkan aku membuka peti ini untuk melihat isinya."

Pan Long Da Xia menjawab, "Liu Shi Gu, kita adalah orang terkenal, kita harus bisa menepati janji, lebih baik kau bawa 10 ribu tail perak ini dan pergi dari s ini!"

Xin Suan dan pengemis tua mendengar kata-kata itu, mereka merasa aneh, mereka tidak tahu mengapa Pan Long Da Xia bisa begitu cepat tiba di tempat itu. Dan tahu bahwa peti besi itu sudah dirampas oleh Gui Zhao Po Po bahkan tahu bahwa tempatnya adalah di sini.

Terdengar Gui Zhao Po Po tertawa, "pendekar Huo terlalu menganggap remeh kepadaku, walaupun aku tidak kaya tapi aku tidak mau uang 10 ribu tail ini!"

"Kalau begitu, mengapa semalam kau setuju untuk membantuku merebut kembali peti besi itu?" tanya Huo Ru Feng.

Mendengar percakapan ini Xin Suan baru mengerti, dia segera berbisik kepada si pengemis, "Ternyata Huo Ru Feng yang menyuruh Gui Zhao p0 Po membantunya, sekarang karena Gui Zhao Po Po menginginkan semuanya, dia t idak mau menyerahkan peti itu kepada Pendekar Huo!"

Pengemis tua itu mengangguk, diapun berbisik kepada X in Suan, "Kita jangan keluar dulu, mungkin mereka akan bertarung, bisa saja kedua-duanya terluka."

Terdengar Gui Zhao Po Po tertawa lagi, "Pendekar Huo, kita sudah lama berkelana di dunia persilatan, kau jangan menganggapku anak kecil, mana mungkin?"

"Sejak kapan aku menganggapmu anak kecil?"

"Barang yang ada di dalam peti besi itu sangat sangat berharga, tapi kau malah membayarku 10 ribu tail perak saja, bukankah rtu sama seperti menipu anak berumur 3 tahun?"

"Kau salah, barang yang ada di dalam peti besi ini bukan emas ataupun barang perhiasan lainnya."

"Aku tidak percaya, kalau barang yang ada dalam peti besi itu tidak berharga lebih dari 10 ribu tail perak, mana mungkin kau akan membayarku hanya 10 ribu tail?"

"Memang benar barang itu harganya lebih dari 10 ribu tail tapi itu bukan emas atau perhiasan, kau mendapatkannyapun tidak akan ada gunanya."

"Kalau begitu, biarkan aku membuka peti itu untuk melihat isinya, kalau bukan emas atau perhiasan, aku akan mengembalikannya lagi padamu, bagaimana?"

"Tidak! Kau tidak boleh membukanya!"

"Kalau begitu aku tidak butuh uang 10 ribu tail itu. Kau pergi saja!"

"Apakah kau menginginkan peti besi itu?" "Betul!" "Liu Shi Gu, kau jangan keterlaluan. Apakah kau kira aku tidak sanggup membunuhmu?"

"Ilmu pedang Pendekar Huo sudah sangat terkenal, tapi bila kau mau membunuhku harus menunggu beberapa hari lagi. Sekarang ini apakah tanganmu bisa memegang pedang?"

"Untuk menghadapimu tidak perlu menggunakan pedang. Jika kau ingin terus bertahan dengan keinginanmu, silakan!"

Kata-katanya baru selesai, dia sudah loncat dari kereta dan mendarat di padang rumput.

Gui Zhao Po Po tertawa dan berkata, "Baiklah! Akupun ingin mencoba jurus-jurus dari Pendekar Huo!"

Di bawah sinar bulan terlihat kedua tangan Pendekar Pan Long dibalut dengan kain putih. Sepertinya racun yang mengenai tangannya sudah berhasil ditawarkan. Karena tangannya sudah mulai membusuk maka sekarang dia tidak bisa memegang apapun.

Tapi ilmu silatnya sangat tinggi. I lmu silatnya bukan hanya mengandalkan sepasang tangannya.

Sekarang begitu dia mendekati Gui Zhao po Po, sikapnya terlihat serius dan berwibawa. Sedap otot di tubuhnya seakan-akan bisa membunuh musuh.

Kedua telapak tangan Gui Zhao Po Po menjaga di bagian dada dan siap siaga.

Walaupun Gui Zhao Po Po menginginkan peti besi itu tapi bukan berarti dia tidak takut kepada Pan Long Da Xia. Jika bukan karena kedua tangannya dibalut, mungkin Gui Zhao Po Po tidak akan berani melawannya seperti sekarang.

Pan Long Da Xia berkata, "Silakan kau yang terlebih dulu mengeluarkan serangan!"

"Baik, maafkan aku!" seru Gui Zhao Po Po. Tubuh Gui Zhao Po Po bergerak, kelima jarinya yang berbentuk seperti cakar membawa angin besar dan siap mencakar wajah Pan Long Da Xia. Pan Long Da Xia tidak bergerak, dia hanya tertawa dan berkata, "Bertarung denganku jangan menggunakan jurus macam- macam!"

Serangan Gui Zhao Po Po tadi memang adalah jurus tipuan. Tujuannya hanya mengacaukan penglihatan dan konsentrasi lawan. Begitu tahu siasat Gui Zhao Po Po, Pendekar Pan Long segera mengubah jurusnya.

Tangan kanan Gui Zhao Po Po me layang, kedua jarinya menotok ke tulang rusuk kanan pan Long Da Xia.

Ini adalah jurus yang sangat lihai dan JUrus ini adalah jurus untuk membunuh orang.

Pan Long Da Xia t idak menghindar, juga tidak menyerang. Begitu kedua jari Gui Zhao Po Po hampir mengenai tubuhnya, dia baru mengangkat lutut untuk menahan jari Gui Zhao Po Po, setelah itu dia mengangkat kaki kanannya dan siap menendang ke dada Gui Zhao Po Po.

Tendangan itu merupakan serangan yang sangat lihai dan tarafnya sangat tinggi.

Gui Zhao Po Po segera menghindar kemudian dengan telapak tangannya dia berusaha menahan tendangan lawan. Dia tertawa dan berkata, "Kasihan! Kekuatannya Pendekar Huo hanya bisa menendang karena tangannya sudah cacat!"

Kata-kata Gui Zhao Po Po belum selesai, telapak tangan kiri Pan Long Da Xia datang membawa angin kencang dan telapaknya memukul ke belakang leher Gui Zhao Po Po.

Pukulan ini mengandung tenaga yang sangat besar. Gui Zhao Po Po terkejut karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Pan Long Da Xia masih bisa menggunakan tenaga telapaknya. Dengan cepat dia menundukkan kepala. Tangannya terangkat untuk menahan. Gui Zhao Po Po tergetar dan mundur beberapa langkah. Pan Long Da Xia t idak mengambil kesempatan untuk menyerang. Dia hanya berkata, "Liu Shi Gu, aku beri kesempatan terakhir kepadamu, apakah kau tidak menginginkan lagi uang 10 ribu tail perak?"

Gui Zhao Po Po tertawa, "Sekarang yang aku inginkan hanya kepalamu!"

Kata ‘kepala’ baru saja diucapkan, Gui Zhao Po Po seperti seekor harimau bergerak, kedua telapak tangannya dibuka dan dia terus enyerang.

Kedua telapak tangannya dibuka, semua jurus cakarnya dikeluarkan.

Gerakan cakarnya kelihatan seperti tidak teratur dan kacau, tapi semua adalah jurus-jurusnya yang aneh yaitu 38 Jurus Cakar setan, pan Long Da Xia adalah pesilat terkemuka di dunia persilatan. Ilmu silatnya boleh dikatakan sudah sangat matang dan tinggi, tapi karena kedua telapak tangannya mulai membusuk, maka gerakan kedua telapaknya tidak begitu lincah lagi. Karena itu ketika jurus yang seharusnya menggunakan telapak untuk menyerang, selalu dihindarinya atau menggantikannya dengan kaki. Walau begitu, dia tetap bisa menahan serangan Gui Zhao Po Po yang keras, dia tidak tampak terdesak sama sekali.

Hanya dalam waktu singkat 38 Jurus Cakar setan, telah habis dilancarkan oleh Gui Zhao Po Po, tapi serangannya sama sekali tidak bisa membuat Pendekar Huo terlukai.

"Apakah kau masih ingin terus bertarung?" tanya Pan Long Da Xia dengan dingin.

Tiba-tiba tubuh Pan Long Da Xia berputar. Sikunya secepat kilat menyodok. Terdengar, PENG!

Pundak kiri Gui Zhao Po Po tersikut, dia melayang dan terjatuh. Kali ini Pan Long Da Xia tidak memberi kesempatan lagi kepada

Gui Zhao Po Po. Dia segera mendekat dan menendang Gui Zhao Po

Po yang masih melayang di udara. Tapi tiba-tiba tampak ada asap berwarna merah muda menghadang didepannya, Pan Long Da Xia pernah mendengar kalau di dalam kuku jari Gui Zhao Po Po tersimpan senjata racun yang sangat lihay yang disebut Tan Hun Zhu, dia tidak pernah melihatnya dan tidak mempunyai bayangan sama sekali akan terjadi serangan seperti itu. Begitu terkena sodokan, Gui Zhao Po Po belum sempat mendarat, tapi Gui Zhao Po Po masih bisa mengeluarkan senjata Tan Hun Zhu. Pada saat merasa kalau dia harus menghindar, semua itu sudah terlambat.

Terlihat Pan Long Da Xia terpaku. Dia seperti kehilangan rohnya kemudian pelan-pelan tubuhnya tersungkur ke depan. Akhirnya roboh!

Gui Zhao Po Po meloncat ke bawah kemudian tertawa terbahak- bahak, "Huo Ru Feng, sekarang aku akan mengantarkanmu pulang!"

Tangan kanannya baru saja diangkat dan berniat akan menebas. "SETT!"

Sebuah pisau datang dan mengenai telapak tangan bagian belakang Gui Zhao Po Po hingga menembus keluar dari te lapaknya.

"Aduh!" Gui Zhao Po Po berteriak kesakitan. Dia segera berjongkok. Tangan kirinya memegang tangan kanannya yang terkena pisau dan berteriak dengan marah. "Siapa yang diam-diam telah menyerangku, cepat keluar!"

Xin Suan muncul.

Melihat Xin Suan yang datang, wajah Gui Zhao Po Po segera berubah dan berkata,

"Ternyata kau..."

Xin Suan tersenyum, "Betul! Ini aku!"

Pengemis tua itupun ikut keluar dari balik semak-semak. Sambil tertawa dia berkata, "Hei nenek genit, masih ada aku!" Tangan kanan Gui Zhao Po Po terluka oleh pisau Xin Suan. Dia tahu dia tidak sanggup bertarung lagi. Melihat Xin Suan dan pengemis tua itu datang, dia segera mundur. Dengan marah dia berkata, "Nyawa seorang pengemis benar-benar panjang, kau tidak dibawa oleh setan air!"

Pengemis tua itu tertawa dan berkata, "Mata setan air sangat jeli, dia tidak mau menangkapku karena aku adalah seorang pengemis yang miskin."

Melihat telapak tangannya yang terluka oleh pisau, wajah Gui Zhao Po Po menjadi pucat. Dia menarik nafas dan berkata, "Kalau tahu akan terjadi seperti ini, harusnya sejak tadi aku menerima 10 ribut tail dari Huo Ru Feng!"

"Betul. Makanya jadi orang jangan terlalu serakah!" kata pengemis.

Sambil menahan sakit Gui Zhao Po Po berkata, "Mohon ijinkan aku mengambil cek 10 ribu tail dari badan Huo Ru Feng, dan kalian boleh membawa kereta itu pergi! Bagaimana?"

"Tidak bisa!" jawab X in Suan.

"Aku hanya mengambil uangnya, apa hubungannya dengan kalian?" tanya Gui Zhao Po Po.

"Kalau bukan karena usiamu sudah tua, sudah sejak tadi aku membunuhmu, hayo cepat Pergi sekarang juga!"

Gui Zhao Po Po menarik nafas dan berkata, “Hitung-hitung aku sedang sial, ayam tidak bisa dicuri, beras untuk memancing ayam malah hilang "

Sambil berkata seperti itu dia langsung pergi tapi tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya. Tangan kirinya diangkat, kelima jarinya tampak siap menyentil, 5 butir Tan Hun Zhu keluar dari kukunya dan dia tertawa, "Lihatlah! Ini jimatku!"

Sejak awal Xin Suan dan pengemis sudah berhati-hati dalam menghadapi Gui Zhao Po Po. Melihat dia membalikkan tubuh dengan tiba-tiba, mereka berdua langsung meloncat ke pinggir sejauh 10 meter lebih.

Di tempat mereka berdiri tadi terlihat asap berwarna merah muda. Begitu meletus, asap segera menyebar ke mana-mana. Hingga radius kurang lebih 15 meter. Xin Suan dan pengemis tua itu meloncat lebih jauh lagi untuk menghindari serangan asap berwarna merah muda itu.

Gui Zhao Po Po melihat serangan terakhinya tetap tidak bisa membuat mereka berdua bertekuk lutut. Segera dia membalikkan tubuh dan dengan cepat sudah menghilang di dalam kegelapan.

Melihat dia melarikan diri, Xin Suan dan pengemis tua itu tidak mengejar, karena tujuan mereka adalah merebut kembali peti besi itu. Sekarang tujuan mereka sudah tercapai, mengejar musuh bukan hal yang penting lagi bagi mereka.

Asap sudah tertiup oleh angin malam hingga menyebar dan menjauh, mereka berdua baru berani mendekati kereta. Xin Suan naik ke dalam kereta untuk melihat keadaan peti besi. Dia berkata, "Huo Ru Feng terkena asap beracun, jika tidak ditolong apakah dia bisa sadarkan sendiri?"

"Bisa, kira-kira satu jam lagi dia akan sadar."

"Kalau begitu, mari kita pergi sekarang juga," kata Xin Suan. "Apakah kita akan membiarkan dia begitu saja di sini?" tanya

pengemis itu.

"Bukankah tadi kau mengatakan kalau dia akan sadar satu jam lagi?"

"Bagaimana kalau Gui Zhao Po Po kembali lagi?"

"Betul juga! Jika Gui Zhao Po Po kembali, Huo Ru Feng pasti akan mati. Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Xin Suan.

"Pindahkan saja dia ke tempat lain supaya Gui Zhao Po Po tidak bisa mencarinya." Xin Suan setuju dengan ide si pengemis, segera dia menggendong Pan Long Da Xia dan berjalan kira-kira ratusan langkah, lalu meletakkan dia di balik semak-semak, kemudian Xin Suan berkata, "Sekarang kita kembali dulu ke kota uuntuk membeli papan dan menyambung jembatan yang putus itu."

"Aku rasa sekarang hari sudah terlalu ma lam, untuk kembali ke kota dan membeli Papan bukan hal yang mudah, lebih baik kita mencari papan di sekitar s ini, bagaimana?" tanya si pengemis.

"Dari mana kita bisa mendapatkan Papan?" tanya Xin Suan.

Pengemis tua itu menunjuk ke arah selatan dan menjawab, "Di sana adalah hutan, kita bisa melihat apakah di sana ada pohon yang bisa ditebang dan papannya bisa digunakan untuk menyambung jembatan yang putus?"

Xin Suan mengangguk, mereka membawa kereta ke arah hutan, begitu mendekati hutan, mereka baru tahu itu bukan hutan kayu melainkan hutan bambu. Pengemis tua itu menganggap bambupun bisa digunakan untuk membuat papan jembatan, maka merekapun mulai menebang puluhan batang bambu untuk membuat papan jembatan. Kemudian bambu-bambu itu dinaikkan ke atas kereta, dan kereta kembali ke jembatan tadi....

Begitu tiba di jembatan itu, mereka mulai memasang bambu- bambu itu di bagian yang terputus. Bambu pendek dipasang secara simetris. Setelah mengira-ngira papan penyambung jembatan yang putus itu bisa menahan beban sebuah kereta, Xin Suan segera menurunkan peti besi dan berkata, "kau bawa kereta melintasi jembatan, aku yang akan menggotong peti besi ini."

Akhirnya kereta dengan selamat bisa melewati jembatan itu.

Xin Suan duduk dengan tangan yang masih terbungkus oleh handuk, dia menghindari telapak tangannya terkena peti besi itu, kemudian dia menaikkan peti besi itu ke atas pundaknya, selangkah demi se langkah dia berjalan menyebrangi jembatan, akhirnya diapun dengan selamat tiba di seberang. Kemudian dia me letakkan peti besi itu ke dalam kereta dan mereka siap meneruskan perjalanan.

Pengemis tua itu menarik nafas panjang dan berkata, "Setelah selesai mengantarkan barang ini sepertinya kita bisa membuka kantor Biao."

"Benar! Sepertinya semua kantor Biao tidak akan ada yang mengalami perjalanan seperti kita, melewati perjalanan begitu sulit, kalau kita dengan lancar bisa mengantarkan barang ini sampai ke tempat tujuan, tentunya kita akan merasa bangga," kata Xin Suan.

"Apakah kita akan bertemu lagi dengan hal aneh lainnya?" "Walau bagaimanapun kita harus bisa mengatasi kesulitan yang

akan terjadi, semua ini untuk mendapatkan uang 100 ribu tail."

0-0-dwkz-0-0

Hari kedua, siang hari. Mereka t iba di kota keempat yaitu kota Yi Xing.

Mereka merasa lelah, dan berniat ingin menginap semalam di kota itu. Setelah mendapatkan penginapan mereka segera memindahkan peti besi itu ke dalam kamar dan berpesan kepada pelayan supaya mengantarkan sayur dan nasi ke kamar mereka. Mereka tidak ingin meninggalkan peti besi itu begitu saja.

Sewaktu hari mulai malam, mereka bersiap naik ke ranjang untuk tidur—

TOK! TOK! TOK!

Ternyata ada seseorang yang mengetuk Pintu! Xin Suan segera bertanya, "Siapa?"

"Aku."

Suara itu ternyata suara seorang perempuan, suara itu terdengar manis dan jernih! Xin Suan merasa aneh dan bertanya, "Kau mencari siapa?" Gadis itu menjawab, "Aku mencarimu!"

Xin Suan dan pengemis itu saling bertukar pandang keheranan dan bertanya lagi. "Siapa kau?"

Gadis itu menjawab, "Shui Xian Hua."

Xin Suan baru saja berkelana di dunia persilatan dan sebelum ini dia tidak pernah mendengar nama Shui Xin Hua, dia memberi sorot bertanya kepada si pengemis, pengemis itu mendekat dan berbisik kepada Xin Suan, "Shui Xian Hua adalah perempuan paling cantik di dunia persilatan—Aku tebak kau pasti akan mendapatkan nasib bagus!"

Begitu mendengar bahwa gadis itu adalah gadis tercantik di dunia persilatan, hati X in Suan berdebar-debar dan bertanya, "Nona mencariku, apakah Nona tahu siapa aku?"

Sambil tertawa Shui Xian Hua menjawab, "Bukankah namamu adalah Xin Suan?"

"Ada keperluan apa Nona mencariku?"

"Apakah kau tidak akan membukakan pintu supaya aku bisa masuk?" Shui K ian Hua tertawa manis.

Xin Suan segera dia membuka pintu dan melihat Shui Kian Hua berdiri di depan pintu kamarnya, dia merasa jantungnya berdegup dengan kencang, dia berpikir, "Benar! Ternyata dia adalah gadis yang sangat cantik!"

Usia Shui Xian Hua kurang lebih 20 tahun, wajahnya lonjong, matanya besar, bulu matanya sangat panjang, rambutnya panjang, bola matanya hitam dan sangat jernih, matanya seperti bisa bicara, dadanya membusung, pinggangnya kecil, benar-benar membuat seorang laki-laki menjadi mabuk dan tidak bisa menahan diri!

Matanya yang indah tampak berputar, tawanya membuat jantung orang berdebar-debar, suaranya seperti burung kenari yang berkicau lalu berkata, "Apakah kau tidak akan mempersilakan aku masuk ke dalam kamar?"

Xin Suan bukan pohon dan rumput, tanpa terasa dia sudah berkata, "Silakan masuk!"

Sambil me langkah perlahan diapun masuk ke dalam kamar, langkahnya ringan dan indah. Semua kecantikan seorang perempuan sepertinya sudah terwakili olehnya.

Segera Xin Suan menarik sebuah kursi dan berkata, "Silakan duduk!"

Shui Kian Hua pun duduk, wajahnya seperti sekuntum bunga yang baru saja mekar, sangat cantik dan indah.

Walaupun Xin Suan tertarik dengan kecantikan Shui Xian Hua, tapi dia tetap bersikap waspada, sambil tertawa Xin Suan bertanya, "Apakah musuhku yang menyuruhmu datang ke sini?"

Dengan terbuka Shui X ian Hua menjawab, "Tebakanmu benar." "Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?"

Shui Kian Hua menatap ke arah si pengemis lalu bertanya, "Apakah kita bisa bicara empat mata saja?"

"Pengemis tua itu bukan orang terkenal ada persoalan apa katakan saja sekarang!" kata Xin Suan.

"Tidak! Aku hanya akan bicara padamu saja, secara pribadi!" jawab Shui Xian Hua.

Xin Suan mengerutkan dahi tampak berpikir.

Shui Xian Hua tertawa dan berkata, "Ilmu silatku berada di bawahmu, akupun tidak bisa berbohong ataupun melukai orang dengan racun seperti Gui Zhao Po Po, apa yang perlu kau khawatirkan?"

Xin Suan merasa kalau dia adalah seorang laki-laki sejati, mana bisa dia takut kepada seorang perempuan? Segera dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada si pengemis, "Bisa tolong tinggalkan kami sebentar?"

Pengemis itu tertawa dan menjawab, "Baiklah, kali ini biar kau yang mengatasinya sendiri, aku akan menunggu di luar."

Setelah itu diapun keluar dari kamar.

Shui Xian Hua melihat pengemis itu keluar dari kamar, pintupun ditutupnya dan berkata, "Kuncilah pintu itu!"

Xin Suan menurut dan mengunci pintu kamar, lalu dia berkata, "Seharusnya namamu diubah menjadi bunga mawar (mei gui) saja."

"Mengapa?" Shui X ian Hua tertawa. "Karena bunga mawar banyak yang liar."

"Apakah kau menganggap aku liar?" tanya Shui Xian Hua sambil

tertawa.

"Aku hanya bisa melihat saja!"

"Apakah kau tidak menyukai perempuan liar?" "Sebaliknya aku menyukai perempuan yang sedikit liar." "Apakah benar?"

"Ya."

"Aku takut kau tidak akan berani." "Mengapa kau bisa berkata seperti itu?"

"Karena aku lebih liar dari bunga mawar, keliaranku tidak akan membuatmu bertahan!"

"Aku tidak akan mengecewakanmu!” "Apakah kata-katamu bisa dibuktikan?"

"Boleh saja!" kata Xin Suan sambil mengangguk.

Shui Xian Hua berdiri dan mulai membuka bajunya Xin Suan terkejut dengan mata melotot dia bertanya, "Kau mau apa?" Shui Xian Hua tetap membuka bajunya dengan tertawa dia menjawab, "Kenapa? Apakah kau takut? Bukankah tadi kau mengatakan tidak akan mengecewakanku?"

Wajah Xin Suan memerah tapi dia tetap bertahan dan menjawab, "Baiklah, aku akan mencobanya"

"Nah itu baru seorang laki-laki sejati!"

Shui Xian Hua masih tetap membuka bajunya, dia menganggap Xin Suan adalah suaminya, dia sama sekali tidak merasa malu!

Hanya dalam waktu singkat baju yang melekat di tubuhnya sudah terlepas semua.

Tubuhnya putih seperti giok putih, begitu lembut. Dia berdiri di depan Xin Suan, lehernya benar-benar indah tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Tapi Xin Suan masih berusaha menahan diri, dengan serius Xin Suan berkata, "Untuk apa kau melakukan semua ini?"

Dengan ringan Shui X ian Hua berjalan ke arah ranjang kemudian diapun berbaring di atas ranjang itu, katanya, "Sekarang buktikanlah kepadaku!"

Jantung Xin Suan berdebar dengan kencang, rasanya jantungnya seperti dibakar oleh api, tapi dia tetap berusaha menahan dirinya supaya tidak meledak, dengan suara rendah dia bertanya, "Apakah kau melakukan semua ini hanya karena menginginkan peti besi itu?"

Mata Shui Xian Hua tampak terpejam tapi dia masih bicara, "Sekarang kita tidak sedang membicarakan tentang peti besi, sekarang aku sedang membutuhkanmu. "

Dengan sekuat tenaga Xin Suan menggigit bibirnya dan berkata, "Sepertinya kau bukan seorang gadis genit, mengapa kau melakukan semua ini?"

Dengan pelan Shui Xian Hua menjawab, "Anggaplah ini sebagai rejekimu." "Tidak, kalau kau me lakukan semua ini karena peti besi itu, usahamu akan sia-sia!"

Tiba-tiba Shui Xian Hua marah dan berkata, "Sudah kukatakan tadi, jangan bicarakan tentang peti besi itu!"

"Kalau begitu, untuk apa kau melakukan semua ini?"

"Jangan terus bertanya, asalkan kau me lakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki, itu saja sudah cukup!"

Xin Suan mendekat, kedua matanya menelusuri tubuh telanjang Shui Kian Hua yang indah, hatinya terus berperang, akhirnya Xin Suan menarik nafas panjang dan berkata, "Kau benar-benar cantik, aku benar-benar berharap kau adalah istriku "

"Asal kau mengatakan, 'aku mau menikah denganmu' maka aku pasti akan menjadi istrimu."

Xin Suan duduk di sisi ranjang, membelai rambut panjang Shui Kian Hua, kemudian dengan pelan dia berkata, "Semenjak aku berkelana di dunia persilatan, baru satu tahun ini, aku sudah bertemu dengan pesilat-pes ilat tangguh dan mengalami berliku-liku perjalanan, aku belum pernah kalah ataupun bertekuk lutut di hadapan orang lain. "

"Bagaimana kali ini?"

"Kali ini aku mengaku kalah."

Xin Suan naik ke tempat tidur, dia adalah seorang laki-laki tulen, tiba-tiba Shui Xian Hua menghalanginya dan berkata, "Tidak perlu terburu-buru."

"Mengapa?" Xin Suan terpaku. "Aku ingin bicara dulu. "

"Bicara mengenai apa?"

Kedua tangan Shui K ian Hua yang putih sudah memeluk Xin Suan dan menarik tubuhnya, pelan-pelan dia bertanya di telinga Xm Suan, "Apakah kau benar-benar menyukaiku?" Tubuh Xin Suan terasa terbakar, kedua matanya sepertinya bisa mengeluarkan api, dia terus bicara, "Benar dan itu sudah pasti!"

Shui Xian Hua tidak mau Xin Suan mendapatkan keinginannya dengan cepat, dengan mata yang indah dan genit dia bertanya, "Apakah benar kau akan memperistriku?"

"Benar! Benar!"

"Kalau begitu kau harus memberiku sebuah hadiah." "Kau menginginkan apa?"

"Uang 100 ribu tail perak!"

"Jangan bercanda!" "Aku tidak bercanda!"

"Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu."

"Kalau tidak ada uang sebanyak itu, benda seharga 100 ribu tail perakpun boleh kau berikan!"

Kepala Xin Suan seperti disiram air dingin, pikirannya segera terfokus dan bertanya, "Bukankah tadi kau mengatakan tidak ingin membicarakan tentang peti besi?"

Shui Xian Hua tertawa dan menjawab, "Aku ingin tahu apakah kau benar-benar suka kepadaku dan berniat untuk memperistriku?"

"Apakah kau tidak sadar bahwa permintaanmu ini keterlaluan?" "Tidak! Karena aku mempertaruhkan kebahagiaanku seumur

hidup."

"Kalau aku memberikan peti besi itu, apa yang akan kau lakukan?"

"Setelah kau memberikan peti besi itu, akan kubuang peti itu ke sungai, setelah itu kemanapun kau pergi aku pasti akan se lalu mengikutimu."

"Kalau begitu kau menginginkanku?" "Aku menginginkan suami yang tidak ikut campur dengan masalah dunia persilatan dan tidak selalu dikejar-kejar oleh orang lain!"

"Baiklah, biarkan aku berpikir dulu!"

"Benar, pikirkanlah dengan baik dan matang."

Xin Suan tampak berpikir, tapi tangannya tidak bisa diam, tangannya mulai meraba-raba tubuh Shui Xian Hua dengan pelan....

Tubuh Shui Xian Hua mulai bergetar dan merintih, "Jangan...jangan "

Tapi Shui Xian Hua tidak menolak rabaan Xin Suan, dia sudah mabuk dan kalah oleh rabaan Xin Suan.

Jiwanya serasa melayang, melayang, dan berteriak, "Jangan...jangan jangan!"

Tiba-tiba dia memeluk Xin Suan dengan erat seperti ingin menggencet Xin Suan sampai mati dan berkata, "Cepatlah, cepat "

Xin Suan melihat keadaan menjadi seperti itu, dia segera memberontak dan keluar dari pelukan Shui Xian Hua, dan mengenakan bajunya kembali.

Mata Shui X ian Hua yang besar tampak melotot lalu dia bertanya, "Ada apa denganmu?"

"Aku merasa kita bukan suami istri maka kita tidak boleh melakukan hal ini "

Shui Xian Hua marah dan berkata, "Kalau kau pergi dari sini, kubunuh kau!"

Kemudian dia menarik Xin Suan dan memeluknya dengan erat.

0-0-dwkz-0-0

Hujan telah berhenti dan awan hitampun sudah menghilang, mereka berdua berbaring dengan diam. Tidak ada seorangpun yang berniat bicara. Setelah merasa cukup beristirahat Xin Suan bangun untuk memakai baju.

Dengan pelan Shui Xian Hua bertanya, "Apakah kau sudah memikirkannya?''

"Sudah!"

"Bagaimana keputusanmu?"

"Maaf, aku tidak bisa mengikuti permintaanmu!" "Apa? Kau tidak akan memberikan hadiah untukku?"

Pelan-pelan Xin Suan berkata, "Walaupun kau sudah bukan

perawan lagi, tapi bila kau berubah menjadi perempuan baik-baik, aku tetap akan memperistrimu."

"Bagaimana dengan peti besi itu?"

"Kau menginginkan suami atau peti besi itu?"

Shui Kian Hua marah dan berteriak, "Tubuhku sudah kuberikan kepadamu kau masih tetap tidak mau melepaskan peti besi itu, kau-

---"

Xin Suan juga marah dan berkata, "Kau menginginkan suami atau peti besi itu?"

"Aku menginginkanmu tapi aku tidak mau kau selalu menghadapi bahaya!"

"Aku tidak menganggap kalau aku selalu berada dalam bahaya." "Apakah sepanjang perjalananmu kemarin ini bukan termasuk

bahaya?"

"Tapi aku bisa selamat melewati semuanya."

“Kau jangan terlalu percaya diri, aku katakan kepadamu, kalau kau tidak mau melepaskan peti besi itu, kau tidak akan bertahan hidup sampai di Jin Ling."

Xin Suan tersenyum, "Sepanjang perjalanan kemarin aku sudah melewati dua peristiwa yang paling menyulitkan, pertama adalah Pan Long Da X ia, Huo Ru Feng dia adalah pesilat nomor satu dunia persilatan, tapi akhirnya aku bisa lolos darinya. Sedangkan yang satunya lagi adalah kau, di dunia ini hal yang menyulitkan adalah menghadapi perempuan cantik, tapi akhirnya aku bisa lolos juga. Apakah masih ada bahaya lainnya?"

Shui Xian Hua tampak melotot dan berkata, "Kau   "

"Aku katakan sekali lagi, apa yang telah terjadi hari ini menjadi tanggung jawabku, kalau kau mau menikah denganku, akhir tahun di bulan November, tunggulah aku di Penginapan An Fu di kota Ji Nan—aku hanya akan berkata sampai di sini, sekarang kenakan bajumu dan pulanglah!"

Shui Xian Hua terus melihatnya, air matanyapun menetes, lalu dia berkata, "Kau benar-benar orang yang tidak punya perasaan!"

Xin Suan mengangguk.

Shui Xian Hua menangis dan berkata, "Aku benci kepadamu."

Sambil mengenakan bajunya, Shui Xian Hua masih terus menangis, dia berkata, "Aku beritahu kepadamu, aku pasti akan membalas dendam kepadamu!"

Xin Suan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Lebih baik jangan kau lakukan, bila kau membalas dendam, malah kau yang akan rugi."

0-0-dwkz-0-0

Hari kedua, kereta keluar dari kota Yi Xing dan mereka melanjutkan perjalanan

Pada sore hari mereka sudah tiba di kota Piao Yang, mereka beristirahat sebentar di kota itu, kemudian melanjutkan perjalanan lagi....

Malam hari kereta tiba di sebuah kuil. Kuil itu bernama Tian Wang. Mao Shan sudah terlihat dari kejauhan, pengemis tua itu menarik nafas dan berkata, "Kalau kita berjalan sehari lagi maka kita akan tiba di Jin Ling."

Xin Suan dengan senang menjawab, "Benar!"

Pengemis tua itu tertawa sambil berkata, "Ada pepatah yang mengatakan: pahlawan sulit me lewati perempuan cantik, tapi kau bisa melewatinya, tampaknya jalan ke depan nanti kita tidak akan mengalami kesulitan lagi."

"Belum tentu, aku lihat setiap bahaya bisa muncul di depan kita," kata Xin Suan.

"Tidak, tidak akan ada bahaya lagi!"

"Semakin mendekati kesuksesan, maka hal yang ditemuipun semakin berbahaya, kita harus tetap waspada."

"Tapi aku menganggap akal-akalan mereka sudah habis, dan mereka tidak mempunyai cara lain lagi.”

"Aneh, mengapa kau menjadi begitu optim is?" tanya Xin Suan. Pengemis itu tertawa lalu melihat ke kiri dan ke kanan, katanya,

"Kita sudah berjalan selama 3 jam, bagaimana kalau kita berhenti

dulu untuk beristirahat?"

Xin Suan mengangguk, segera dia menghentikan keretanya di sisi jalan dan dari dalam kereta dia megeluarkan rumput untuk memberi makan kudanya.

Pengemis itu dari dalam tasnya mengeluarkan beberapa bakpao dan berkata, "Makanlah bakpao ini, aku membelinya di Piao Yang!"

"Aku tidak merasa lapar, kau sendiri saja yang makan," kata Xin Suan.

"Mengapa kau tidak merasa lapar?"

"Aku sudah makan cukup kenyang di Piao Yang tadi." "Tapi sekarang sudah 3 jam lewat dari Piao Yang." "Oh...." jawab Xin Suan. "Makanlah beberapa buah, bakpao ini sangat enak." Pengemis itu memberikan bakpaonya kepada Xin Suan. Terpaksa Xin Suan memakan satu bakpao.

Sambil makan pengemis itu bertanya, "Sepanjang perjalanan tadi kau jarang bicara, apakah kau merindukan Shui X ian Hua?"

Xin Suan mengangguk.

"Apakah kau merasa dia menarik?"

"Benar, dia benar-benar si cantik dari dunia persilatan, membuat laki-laki rindu kepadanya."

"Tapi sayang, dia bukan seorang gadis yang baik."

"Dia baik, walaupun dia menggunakan tubuhnya untuk memikatku tapi dia bukan perempuan genit dan sembarangan."

Pengemis itu tertawa dan berkata, "Aku rasa, kau semakin tertarik kepadanya!"

"Benar, aku harap dia bisa menikah denganku," Xin Suan mengangguk.

"Sudahlah, walaupun dia cantik, tapi dia bukan gadis yang baik." "Akupun bukan orang yang baik!"

Pengemis itu memberikan sebuah bakpao lagi kepada Xin Suan

dan berkata, "Makanlah satu lagi."

Xin Suan mengambil satu dan memakannya lagi.

"Mengapa kau menganggap kalau kau bukan orang baik-baik?" "Demi uang 100 ribu tail perak aku sudah membunuh banyak

orang supaya tujuanku tercapai apapun tega kulakukan."

"Tapi kau melakukannya demi orang yang terkena bencana, itu bukan kesalahanmu."

"Demi menolong orang, tapi membunuh orang sepertinya. " "Orang yang kau bunuh adalah orang-orang jahat, dapat dikatakan kau membantu masyarakat membasmi orang jahat di dunia persilatan!"

Xin Suan tertawa dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Pengemis itu memberikan sebuah bakpao lagi dan berkata, "Makanlah!"

Baru saja dia akan memasukkan bakpao ke dalam mulut, tiba- tiba wajah Xin Suan berubah, dia bertanya, "Kenapa ya?"

Pengemis tua itu terpaku dan bertanya, "Ada apa?"

Xin Suan memegang perutnya dan berkata, "Aneh, mengapa perutku tiba-tiba saja menjadi sakit?"

Pengemis tua itu terkejut dan berkata, "Mengapa bisa seperti itu?"

Xin Suan mengerutkan dahi dia jongkok ke bawah dan berteriak, "Perutku sakit... sepertinya aku telah terkena racun."

"Apa kau keracunan? Mengapa bisa terkena racun? Apakah bakpao ini beracun? T idak, tidak mungkin kalau bakpao ini beracun, aku juga memakannya, mengapa aku tidak merasakan apa-apa?"

Karena sakit Xin Suan sampai jatuh ke bawah dan berguling- guling, kemudian merintih, "Aku...bukankah tadi aku sudah mengatakan, semakin mendekati kesuksesan, maka... akan semakin berbahaya "

Pengemis tua itu melihat dia roboh, wajahnya tertawa dengan licik dan berkata, "Perkataanmu memang benar!"

Xin Suan tertawa kecut dan berkata, "Musuh yang paling menakutkan adalah. musuh dalam selimut."

"Apa maksudmu?"

Xin Suan menahan sakit dan berkata, “Jangan pura-pura, Pengemis! Kau yang membubuhkan racunnya!" Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak, “Xin Suan, maaf seumur hidupku aku belum pernah melakukan kejahatan, tapi godaan uang 100 ribu tail itu terlalu besar buatku."

"Susah bisa dipikul bersama, senang tidak bisa dihadapi bersama, kata-kata ini sama sekali tidak salah. "

Pengemis itu tertawa sinis, "Kata-katamu tidak benar, kau akan menyerahkan uang 100 ribu tail untuk menolong orang yang terkena bencana, mana boleh mengatakan kita senang bersama- sama menghadapinya?"

"Kau...kau benar-benar pintar, kau menunggu sampai hari ini baru. baru meracuniku."

''Benar, kalau tidak begitu mana mungkin aku sanggup menghadapi orang-orang yang berilmu silat t inggi?"

Kelihatannya Xin Suan sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi, tiba-tiba dia berteriak dan berguling-guling di tanah.

Pengemis itu berjalan ke kereta, dari dalam kereta dia mengambil pedang dan berkata, "Kau adalah orang baik, aku tidak tega melihatmu tersiksa. "

Sambil bicara seperti itu dia mengangkat pedang panjang itu, dia ingin membebaskan rasa sakit Xin Suan. Xin Suan segera berguling ke pinggir dan berkata, "Pengemis, aku sama sekali tidak menyangka kau adalah orang yang sudah melihat uang segera melupakan teman!"

Pengemis itu tertawa dan menjawab, "Benar, aku sendiripun tidak menyangkanya, tapi aku tidak rela kalau uang 100 ribu tail perak itu diberikan kepada orang lain, selama hidupku aku sangat miskin, sekarang aku ingin menikmati hidup."

Pedang siap ditusukkan ke arah Xin Suan. Xin Suan berguling ke sisi lagi.

Pengemis itu melihat sudah dua kali dia tidak berhasil mengenai sasaran, dia mengerutkan dahinya dan berkata, "Aku beritahu kepadamu, kau pasti akan mati, daripada sakit seperti itu terus menerus dan menyiksamu, lebih baik biarkan aku membantumu melepaskan diri dari rasa sakit itu."

Kata-katanya selesai dan dia menusuk lagi.

Xin Suan meloncat dengan sekuat tenaga dengan nada memohon dia berkata, "Jangan bunuh aku, bagaimana kalau 100 ribu tail itu semua menjadi milikmu?"

Pengemis itu tertawa dan berkata, "Aku tidak akan membunuhmu, tapi kau tetap harus mati!"

Xin Suan berusaha bangun dan berkata, "Ingatlah se lama beberapa bulan ini kita adalah teman, berikanlah...aku obat penawarnya!"

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kau bergurau bukan? Kalau aku memberikan obat penawar kepadamu, bukankah sama dengan aku mengangkat batu dan memukul kakiku sendiri?"

Hawa membunuh si pengem is terasa meningkat, dia mengangkat pedang dan siap untuk menusuk, tapi sudah beberapa kali tidak bisa mengenai sasaran, dia mulai marah, "Bocah tengik, kau sudah mau mati, tapi masih sulit dihadapi!"

Pengemis itu menyerang lagi!

Xin Suan terus berguling-guling di bawah tapi itupun hanya beberapa kali! Sepertinya sekarang dia sudah tidak bisa menghindar lagi—

"PUSH!"

Tiba-tiba Xin Suan membuka mulut dan makanan yang tadi dimakannya disemburkan keluar dari mulutnya, makanan itu seperti panah keluar dari mulutnya dan menyembur ke wajah si pengemis.

Si pengemis berteriak dan menutup wajahnya lalu diapun mundur beberapa langkah! Wajahnya seperti terbakar api, tangan dan kakinya terus bergerak-gerak. Tiba-tiba Xin Suan bergerak dengan lincah, dia meloncat dan tertawa, "Pengemis, akhirnya aku bisa mengenali s ifat aslimu!"

Tubuh si penngemis bergetar dengan cepat dia membersihkan wajahnya dari muntahan Xin Suan, dia melihat Xin Suan masih seperti biasa, tidak terlihat ciri-ciri kalau dia terkena racun. Dia kaget dan berteriak, "Kau "

Xin Suan tertawa dingin, "Benar, aku tidak terkena racun, dua bakpao yang kumakan tadi ada di wajahmu!"

Wajah si pengemis tampak pucat dan bertanya, "Kau memakai tenaga dalammu untuk menahan racun itu?"

"Benar!"

Si pengemis itu hanya bengong lalu dia bertanya, "Mengapa kau bisa tahu kalau aku membubuhkan racun di bakpao itu?"

"Tadinya aku tidak tahu, tapi kau terus menerus menjelaskan tidak akan ada gangguan lagi dan nada bicaramupun berbeda dari biasanya. Selain itu kau terus menerus menyuruhku makan bakpao, aku langsung tahu bahwa kau mempunyai rencana jahat kepadaku."

Xin Suan menarik nafas dan berkata lagi, “Tadinya aku mengira kau bisa dipercaya, tidak disangka kaupun tidak tahan dengan godaan uang 100 ribu tail perak. Hal ini benar-benar membuatku sakit hati!"

Wajah si pengemis menjadi merah dan dia tertawa kecut sambil berkata, "Entah kau percaya atau tidak sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal yang jahat. "

"Aku percaya."

"Aku selalu hidup susah tapi hidupku sangat tenang, tapi mengapa... Hheehh! Sepertinya aku memang sudah tua, aku sudah tidak berguna lagi, maka timbul keinginan serakah dari dalam hatiku!"

"Kau menginginkan uang 100 ribu tail perak, se lain itu kaupun ingin membunuhku!" Pengemis itu tertawa kecut dan berkata, "Kalau aku tidak membunuhmu mana mungkin aku bisa mendapatkan uang itu?"

"Orang lain berniat membunuhku, itu tidak aneh, tapi kau sendiri juga ingin membunuhku, benar-benar membuatku sedih!"

"Sekarang kau tidak perlu bersedih lagi." "Tidak, aku masih merasa sangat sedih!"

"Aku bisa membuatmu tidak merasakan sedih."

"Tidak, selamanya aku tidak akan bisa melupakan peristiwa ini." "Walaupun aku harus mati, apakah kau tetap tidak akan bisa

melupakannya?"

"Aku tidak akan membunuhmu!"

"Tapi aku akan membunuh diriku sendiri!'' Setelah bicara seperti itu pedang yang masih dipegangnya ditusukkannya ke perutnya sendiri.

Xin Suan terpaku dan hanya berkata, "Kau   "

Sambil tertawa pengemis itupun roboh

0-0-dwkz-0-0

Kereta berjalan lagi, hari hampir subuh, kereta sudah hampir tiba di Ju Rong. Di kota itu Xin Suan beristirahat se lama setengah hari lalu berangkat lagi....

Sepanjang perjalanan tidak terjadi sesuatu. Hari kedua siang, kereta sudah tiba di Jin Ling dan perjalanan sangat lancar!

Setelah kereta tiba di sebuah perempatan jalan, Xin Suan baru teringat bahwa dia tidak tahu ke mana dia harus menyerahkan barang bawaannya, karena itu dia berhenti di sisi jalan.

Hari itu saat dia menerima barang itu dari Wang Ye dia pernah bertanya, "Kalau barang antaran sudah tiba di Jin Ling, harus diserahkan kepada siapa?" "Serahkan langsung kepadaku, aku akan menunggumu di sana!"

Sekarang Xin Suan sudah tiba di Jin Ling, mengapa dia belum melihat kedatangan Wang Ye?

Sewaktu Xin Suan sedang berpikir, ada seorang gadis muncul di hadapannya. Ternyata gadis itu adalah Shui X ian Hua!

Xin Suan melihat Shui Xian Hua, hatinya bergetar dan bertanya, "Shui Xian Hua, kau.... Mengapa kau bisa berada di sini?"

Shui Xian Hua tertawa, "Apakah kau merasa aneh?"

"Aku berharap kau tidak mempunyai keinginan untuk mengambil peti besi ini lagi walaupun di sini termasuk wilayah ibu kota, kalau perlu aku akan tetap membunuhmu."

"Aku datang bukan untuk merampok peti besi itu." "Lalu untuk apa kau datang ke sini?"

"Aku ingin memberitahumu satu hal." "Apa?"

"Aku sudah mengambil keputusan untuk menikah denganmu." Xin Suan tertawa, "Apakah benar perkataanmu itu?"

"Benar!"

"Mengapa bisa seperti itu?"

"Karena kau adalah pemuda hebat di antara orang-orang yang pernah kutemui."

Xin Suan tertawa dan berkata, "Akupun harus memberitahu sesuatu."

"Katakan saja."

"Hari ini mungkin aku bisa mendapatkan uang 100 ribu tail perak sebagai honorku, aku sudah mengambil keputusan, dengan uang ini aku akan membelikan beras dan keperluan lainnya lalu mengirimkannya ke Shan Dong untuk menolong orang-orang yang terkena bencana. Kalau kau mau menikah denganku karena uang 100 ribu tail ini, kau salah besar!"

"Mungkin kau belum tahu, aku Shui Xian Hua adalah gadis kaya di dunia persilatan, harta bendaku paling sedikit bernilai 500 ribu tail perak, karena itu honormu yang sebesar 100 ribu tail perak tidak ada artinya bagiku!"

"Oh ya?"

"Aku ingin menikah denganmu karena kau adalah seorang pemuda berbakat dan menonjol, aku tidak mau kehilangan kesempatan ini."

"Kata-katamu benar-benar membuatku terkejut." "Apakah kau tidak percaya kepadaku?"

"Sedikit."

"Dengan cara apa aku bisa membuatmu percaya?"

"Ceritakan dengan jelas, apa alasan yang membuatmu berubah pikiran?"

"Waktu itu aku telah mengorbankan tubuhku untuk ditukar dengan peti besi itu, aku melakukan semua ini karena diperintahkan oleh Pan Long Da Xia, aku pribadi tidak menginginkan peti besi itu."

"Untuk membantu orang lain, apakah kau tidak merasa apa yang telah kau korbankan itu terlalu banyak?"

"Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku...tidak tahu, mengapa aku tidak bisa membunuhmu. Mungkin ini adalah. "

"Terakhir bagaimana?"

"Terakhir aku berpikir dengan lama. Aku ingin pergi ke Penginapan An Fu di Ji Nan dan menunggumu, tapi itu harus menunggu beberapa bulan lagi, karena itu aku sengaja ke Jin Ling supaya bisa bertemu langsung denganmu."

"Oh. " "Kau masih tidak percaya?" "Setengah percaya setengah tidak."

"Aku tahu, kau masih belum bisa percaya sepenuhnya kepadaku, tapi bila kita sudah benar-benar menikah, aku akan membuktikan perasaanku."

"Bagaimana caramu membuktikannya?"

"Pertama. Aku akan pergi ke penginapan dan menunggumu di sana, setelah kau menyerahkan barang itu kau bisa mencariku. Kedua, kalau honormu sebesar 100 ribu tail perak kau belanjakan untuk menolong orang yang terkena bencana, aku akan menyumbangkan 100 ribu tail perak sebagai tambahan."

"Apakah benar?"

Shui Xin Hua mengangguk.

"Baiklah, tunggulah aku di penginapan."

Shui Xin Hua tertawa dan masuk ke penginapan yang ada di depan jalan.

Melihat Shui Xin Hua masuk ke dalam penginapan, Xin Suan merasa sangat senang, diam-diam dia berpikir, "Mengapa bisa seperti itu? Di mana letak kebaikanku? Apa yang dia suka dari diriku? Apakah ini adalah anugrah dari Tuhan?"

Tiba-tiba datang seseorang menunggang kuda, lalu berhenti di depannya. Orang itu memakai baju prajurit, dia melihat kereta Xin Suan dan bertanya, "Apakah kau adalah Xin Suan?"

Xin Suan mengangguk dan menjawab, "Benar!" "Apakah peti besi itu sudah ada di sini?" "Benar."

Segera prajurit itu berkata, "Silakan ikuti aku." "Apakah Tuan adalah. " Prajurit itu berkata, "Aku diperintahkan oleh Wang Ye untuk menjemput Anda, cepat ikuti akui"

Dia sudah berjalan di depan. Xin Suan membawa keretanya mengikuti dari belakang, sambil bertanya, "Permisi, sekarang Wang Ye berada di mana?"

"Di rumah Wang Ye sendiri," jawab prajurit itu. "Di mana letak rumah Wang Ye."

"Dekat Jin Zhuan Men."

Kecurigaan Xin Suan mulai mereda, dengan tenang dia mengikuti prajurit itu dari belakang. Kurang lebih 30 menit kemudian mereka tiba di Jin Zhuan Men, berhenti di depan sebuah rumah mewah.

Prajurit itu turun dari kuda dan berkata, "Harap Anda menunggu sebentar di sini, aku akan melapor dulu."

Xin Suan mengangguk, prajurit itu masuk, kira-kira seperminuman teh, prajurit itu baru keluar dan berkata, "Bawalah kereta itu masuki" Xin Suan membawa keretanya masuk dan berhenti di depan sebuah rumah yang bentuknya seperti istana. Di depan rumah itu berdiri seorang pak tua. Xin Suan mengenalnya, dia adalah orang yang tempo hari ditemui di Nan Ping Shan, dan orang yang mempertemukan dia dengan Wang Ye. Xin Suan tahu bahwa orang itu adalah orang terdekat Wang Ye. Dia turun dari kereta dan langsung memberi hormat. Pak tua itu tertawa dan berkata, "Xin Suan, aku kagum kepadamu, kau benar-benar mempunyai kekuatan yang hebat!"

"Terima kasih untuk pujian Anda, Tuan adalah. "

Pak tua itu menjawab, "Aku bermarga Xu, aku adalah penasihat Wang Ye."

"Ternyata Anda adalah Penasihat Xu, sewaktu di Nan Ping Shan aku belum mengenal T uan, aku mohon maaf."

"Tidak perlu merasa sungkan, apakah benda itu sudah sampai?" "Benar! Ada di dalam kereta." "Baiklah, tolong diturunkan!" "Wang Ye berada di mana?"

"Pagi ini raja memanggilnya ke istana." "Oh. "

Penasihat Xu tertawa dan berkata, "Tenanglah, Wang Ye memerintahkan kepadaku untuk mencarimu, honormu sebesar 100 ribu tail sudah dipersiapkan untukmu."

Mendengar perkataan Penasihat Xu, Xin Suan segera menurunkan peti besi itu dari kereta.

Racun yang dioleskan di peti besi itu sudah dibersihkan semenjak pengemis tua itu mati.

Penasihat Xu menuruni tangga, berjalan mendekati peti besi itu dan berkata, "Apakah peti ini pernah dibuka?"

"Tidak pernah, Penasihat Xu boleh memeriksanya kalau tidak percaya dengan omonganku."

Penasihat Xu tertawa dan berkata, "Tidak Perlu, sebenarnya peti besi itu tidak berharga, dibuang ke jalanpun tidak akan ada yang mau!"

"Apakah benar?"

Penasihat Xu tertawa, "Benar, kalau kau mau aku akan membukakannya supaya kau bisa melihat isinya."

"Oh ya?"

Dari balik baju bagian dada Penas ihat Xu, dia mengeluarkan sebuah kunci dan membuka gembok besar itu, kemudian sambil tertawa dia berkata, "Bukalah!:"

"Apakah boleh?" "Sudah pasti boleh!" Sewaktu Xin Suan akan membuka peti itu, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya dan berkata, "Tidak, yang membuatku tertarik adalah honornya, bukan isi peti ini."

"Apakah kau tidak ingin tahu apa isi peti ini?"

"Kalau aku melihat isi peti ini aku tidak dapat mengambil honornya. "

Penasihat Xu tertawa terbahak-bahak, "Tidak akan, kalau kau masih merasa khawatir, aku akan memberikan honornya dulu kepadamu."

Dari dalam lengan bajunya, Penasihat Xu mengambil selembar cek dan berkata, "Ini adalah uang 100 ribu tail, kau bisa mencairkannya di bank Jing Shan di kota bagian barat."

Dengan teliti Xin Suan melihat cek itu, sepertinya tidak ada masalah, dia menyimpan di balik bajunya kemudian bertanya, "Kapan Wang Ye akan pulang?"

"Aku tidak tahu, sekarang semua sudah selesai, kaupun tidak perlu bertemu dengan beliau lagi!"

"Kalau begitu aku pamit dulu."

Xin Suan memberi hormat dan naik ke atas kereta. Penasihat Xu tiba-tiba memanggil, "Xin Suan!"

"Apakah Anda masih ada petunjuk lain?"

Penasihat Xu menunjuk peti besi itu dan bertanya, "Apakah benar kau tidak mau melihat isi peti besi itu?"

"Aku tidak tertarik."

"Kau menjaga benda ini dengan nyawamu, apakah benar kau tidak ingin tahu?"

"Tanpa melihatnyapun aku sudah tahu apa isinya." "Oh ya? Coba kau katakan apa isinya?"

"Dokumen, apakah benar?"  Penasihat Xu tertawa terbahak-bahak, "Bukan! Bukan!" Xin Suan terpaku, "Bukan?"

"Bukan."

"Kalau bukan dokumen, pasti suatu barang bukti bukan?" "Juga bukan."

"Perhiasan?"

"Lebih-lebih bukan."

Xin Suan merasa aneh dan bertanya, "Kalau begitu apakah isinya adalah mayat?"

Penasihat Xu tetap menggelengkan kepalanya, "Mayat tidak akan berharga 100 ribu perak!"

Karena merasa aneh akhirnya Xin Suan membuka tutup peti itu, begitu melihat benda ada di dalam peti, wajahnya berubah dan berteriak, "Ini—"

Ternyata benda yang ada di dalam peti itu benar-benar bukan barang berharga. Benda itu hanya tanah berwarna kuning.

Sebuah peti yang dipenuhi dengan tanah Wang Ye memberikan honor 100 ribu tail hanya untuk mengantar benda ini, ada apakah sebenarnya di balik semua kejadian ini?

Orang-orang yang muncul sepanjang perjalanan berusaha merebut peti besi ini apakah semua itu hanya karena tanah kuning ini?

“Tidak mungkin, di bawah tanah ini pasti ada benda lainnya!"

Terpikirkan hal itu, Xin Suan segera membalikkan peti besi itu dan menumpahkan semua tanah kuning itu keluar dari peti, begitu melihat hasil perbuatannya, dia lebih terpaku lagi.

Karena di dalam tanah itu tidak ada benda apapun, semua hanya tanah berwarna kuning. Melihat wajah Xin Suan begitu terkejut, Penasihat Xu tertawa terbahak-bahak.

Xin Suan terpaku, akhirnya diapun ikut tertawa kecut dan berkata, "Sekarang aku sudah mengerti."

"Kau sudah mengerti?"

"Benar, ini hanya akal-akalan saja, benar kan?" "Benar."

"Sedangkan barang yang aslinya sudah sampai di tempat tujuan?"

"Benar!"

Xin Suan mengangkat bahu dan berkata, "Wang Ye memang banyak akal, aku benar-benar kagum kepada beliau."

"Ini adalah rencana yang kususun untuk Wang Ye."

"Ternyata seperti itu, ternyata ini adalah rencana yang disusun oleh Penasihat Xu?"

"Benar."

"Kalau ini adalah rencana Penasihat Xu, aku ingin mengeluarkan kemarahanku dulu."

"Apa?" baru saja kalimat ini selesai diucapkan, dagu Penasihat Xu sudah terkena pukulan, dan Penasihat Xu melayang ke tempat jauh....

0-0-dwkz-0-0

Xin Suan membawa keretanya kembali ke penginapan di mana Shui Xian Hua menginap.

Dengan cepat seorang pelayan keluar untuk menyambutnya lalu bertanya, "Tuan, Anda hanya sekedar beristirahat atau mau menginap?" "Aku belum pasti, aku ingin mencari seorang seorang gadis yang bernama Shui Xian Hua."

"Oh, dia ada di kamar nomor lima, apakah Anda ingin menyuruh Nona itu keluar?"

"Boleh, tolong panggilkan dia keluar."

Hanya dalam waktu singkat Shui X ian Hua sudah keluar.

Dia tertawa seperti sekuntum bunga, "Apakah urusanmu sudah selesai?"

"Benar!"

"Di mana uang 100 ribu tail perakmu?" "Ada di dalam kereta."

"Benarkah beliau memberikannya Padamu?"

"Kalau beliau tidak memberikannya Padaku, aku akan membunuhnya!"

"Peti besi itu. "

"Jangan bicarakan tentang peti besi itu lagi!" "Apakah kau tahu apa isi peti besi itu?"

"Aku tahu!" "Apakah itu?" "Kelicikan." "Apa?" "Kelicikan."

"Kau tertipu?" Shui Xian Hua tertawa.

"Tidak, aku tetap mendapatkan uang 100 ribu tail, tujuan semulaku memang hanya ingin mendapatkan uang 100 ribu tail itu."

"Apakah kau tidak mau masuk?" "Kalau kau mau, aku ingin segera meninggalkan tempat ini, pergi dari kota ini untuk mencari udara bersih."

"Lalu bagaimana?" "Mengikuti rencana semula."

"Di mana kau akan membeli beras dan makanan?"

"Beli di sepanjang Ji Nan pun tidak apa-apa."

"Aku akan menambahkan 100 ribu tail perak, mungkin dengan sejumlah uang itu bisa menolong banyak orang."

"Sebisa mungkin kita tolong mereka."

Shui Xian Hua mengeluarkan uang dan memberikan kepada pelayan supaya dia membayarkan biaya penginapan. Kemudian diapun naik ke atas kereta dan berkata, "Ayo kita pergi!"

Kereta sudah keluar dari Jin Ling mereka berjalan menuju tempat yang lebih jauh dan lebih sulit.

Xin Suan menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Udara di luar kota lebih bersih daripada udara di dalam kota."

"Apakah ada yang membuatmu kesal?" "Ya "

"Bukankah tadi kau mengatakan tujuanmu hanya mencari uang

100 ribu tail? dan sekarang tujuanmu sekarang sudah tercapai." "Benar!"

"Kalau begitu mengapa kau masih belum merasa puas?"

"Tidak, aku sudah merasa puas."

"Jangan berbohong, aku bisa melihat situasi hatimu, saat ini hatimu sedang tidak enak!"

Xin Suan melihatnya dan berkata, "Coba kau tebak, mengapa hatiku tidak enak?" "Kau merasa telah diperalat oleh orang lain, dan merasa telah melakukan hal bodoh, apakah tebakanku benar?"

"Aku sudah memukulnya."

"Apakah setelah memukulnya kau bisa melampiaskan kekesalan hatimu?"

"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi!" "Apa isi peti itu?"

"Sudah kukatakan itu adalah sesuatu licik!"

"Apakah isi peti itu adalah benda yang tidak berharga?" Xin Suan tidak menjawab.

“Wang Ye itu tidak mengerti tentang dirimu, kalau beliau tahu kau sanggup mengantarkan peti itu sampai di Jin Ling, dia tidak perlu menggunakan cara seperti ini."

Xin Suan mengerutkan dahi dan berkata "Shui Kian Hua, kalau kau terus bawel, aku akan mengusirmu turun dari kereta!"

Shui Xian Hua tertawa dan berkata "Baiklah, aku tidak akan bicara lagi, tapi mungkin ada satu hal yang membuatmu ingin tahu."

"Tentang apa?"

"Seseorang yang lainnya yang Wang Ye pakai." "Kau mengatakan apa tadi?"

"Kau harus tahu, Wang Ye memang mempunyai peti besi yang harus diantar sampai ke Jin Ling, beliau menyewamu dan juga menyewa orang lain untuk mengantarkan peti yang asli."

"Siapakah orang itu?"

"Wu Xing Jian Ke Gu Shi!" Xin Suan terpaku kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Kata Shui Xian Hua, "Jangan tertawa ini adalah hal yang sebenarnya, Wang Ye benar-benar telah memberikan barang aslinya kepada Gu Shi, dan menyuruh yang mengantarkannya"

Xin Suan tetap tertawa terbahak-bahak.