Tamu Aneh Bingkisan Unik Bab 03 : Kuda langit

 
Bab 3 : Kuda langit

Xin Suan tertawa, "Mengapa harganya menjadi turun ya?"

"Bukan harganya yang turun, tapi kalau Tuan mau mendapatkan

uang 100 ribu tail perak dari Wang Ye, kau akan menemui jalan penuh dengan darah, apakah kau yakin bisa membawa perjalanan ini dengan selamat dan mengantarkan peti besi ini sampai di Jin Ling?" tanya perempuan itu.

"Aku ingin mencobanya."

"Kau jangan terlalu percaya diri, bagaimanapun kami harus mendapatkan peti besi itu!"

"Aku juga tidak ingin kehilangan uang 100 ribu tail perak itu." "Aku katakan kepadamu, bila kau mengantarkan peti besi itu sampai di Jin Ling, maka akan banyak orang yang terkena musibah, mengapa kau tidak mau mengumpulkan sedikit pahala saja?"

"Mengapa bisa membuat banyak orang terkena musibah?"

"Aku hanya bisa memberitahukan sedikit, tidak bisa menjelaskannya secara mendetil."

"Aku juga ingin memberitahu padamu, bila aku berhasil mendapatkan uang 100 ribu tail, aku bisa menolong banyak orang."

"Menolong orang dari bencana alam, bukankan cukup dengan uang 50 ribu tail perak….”

"Dengan uang lima juta tail perakpun tidak akan pernah cukup!" "Kalau begitu, kau hanya membawa uang 100 ribu tail perak

bertujuan menolong orang yang terkena bencana, bukankah itu seperti meneteskan setetes air di sebuah padang pasir yang luas?"

"Aku akan berusaha semampuku."

"Masalahnya kau tidak akan mendapatkan uang 100 ribu tail perak pada saat kau masih hidup!"

"Aku akan mempertahankan hidupku." "Apakah kau ingin menjadi pejabat?" "Apa maksudmu?"

"Bila kau melepaskan peti besi itu kepadaku, aku akan menjamin selain mendapatkan uang 50 ribu tail itu, kau masih akan mendapatkan sebuah jabatan di pemerintahan."

"Terima kasih. Aku tidak mempunyai bakat menjadi pejabat!"

Perempuan itu terus menatapnya, kemudian menarik nafas dan berkata, "Kau memang keras kepala, sebelum melihat peti mati kau tidak akan meneteskan air mata."

"Benar!" Kemudian dari balik baju bagian dadanya perempuan itu mengeluarkan sebuah benda seperti bola yang terbuat dari kain, dia berkata, "Aku akan memberikan benda ini kepadamu!"

Kemudian dia melemparkan bola itu ke bawah balkon.

Xin Suan menyambutnya, begitu hampir tiba di tangannya, dia terpikir akan sesuatu, segera dia meninggalkan kereta dan meloncat menjauh.

Benda bulat seperti bola itu terjatuh di atap kereta dan terdengar suara PENG, suaranya terdengar seperti petasan yang meledak, muncul asap kuning dan menyebar ke mana-mana.

Xin Suan tahu bahwa asap kuning itu bisa menyebabkan orang mati, segera dia meloncat lagi sejauh sepuluhan meter.

Tapi asap kuning itu terus bergulung-gulung di depannya, dia meloncat lagi beberapa puluh meter.

Begitu asap kuning itu menyebar sekitar 20 meter, asap berputar dan naik ke atas. Di bawah sinar bulan terlihat seperti api, dengan perlahan naik ke atas langit.

Waktu itu Xin Suan melihat ada 2 bayangan dengan cepat mendekati kereta, tampaknya mereka akan mengambil peti besi yang ada di dalam kereta. Segera Xin Suan mengeluarkan dua buah pisau kecil dari pinggangnya lalu diapun melemparnya.

Mungkin karena tegang kedua orang yang wajahnya ditutup itu tidak merasakan ada pisau yang menyerang ke arah mereka, begitu pisau sudah berada di depan mereka, tidak bisa berkelit lagi— "Ahhh!!"

"Waaahhh!"

Dua suara itu bersamaan keluar, dan kedua orang itupun secara bersama-sama ambruk ke tanah.

Xin Suan tidak menyangka kalau kedua orang itu begitu mudah dibereskan, dia merasa sangat senang, tapi tiba-tiba dia merasa di atas kepalanya ada angin yang berhembus, kemudian terlihat cahaya putih seperti kilat menyerangnya. Xin Suan merasa sangat terkejut, segera dia berguling-guling untuk menghindar.

"Terima jurus pedangku!"

Dari dalam kegelapan, hanya terdengar suara seorang perempuan yang berkata seperti itu, berikutnya disusul dengan cahaya pedang yang terus datang dan menyerangnya.

Xin Suan tidak bisa bangun untuk melawan, dia hanya bisa mengangkat pedangnya dari bawah untuk bertahan, tangan kanannya seperti seekor ular yang melingkar, sehingga pedangnya ikut berputar---

"Heeee!"

Karena gagal perempuan itu mengeluarkan suara ‘Heee', kemudian tubuhnyapun melayang terbang, kakinya menginjak ranting dan diapun meluncur seperti sebuah anak panah, berputar di udara lalu menghilang begitu saja.

Dari atas pohon tiba-tiba jatuh sejumput rambut, mungkin pada saat dia bertarung dengan Xin Suan, rambutnya berhasil tertebas oleh pedang Xin Suan. Karena sudah melihat jurus pedang Xin Suan dengan mata kepalanya sendiri, dia tahu diri dia bukan tandingan Xin Suan dan dia segera mundur dari sana.

Xin Suan merasa ilmu meringankan tubuh perempuan itu sangat tinggi, membuat dia teringat pada seseorang, segera Xin Suan melayang ke atas dahan pohon dan berteriak,

"Xian Niang Nian Cai Xia! Apakah kau adalah Dong Hai Xian Niang, Nian Cai Xia?" (Dewi laut timur).

Xian Niang Cai Xia (Dewi Cai Xia) adalah seorang perempuan aneh dari kalangan persilatan, katanya dia sering naik sampan kecil dan bermain di laut yang luas, dan dia mempunyai ilmu silat di mana tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya.

Kalau perempuan tadi memang benar adalah Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia, Xin Suan merasa bersalah, karena menurut orang-orang, Cai Xia adalah seorang perempuan yang sangat baik, dia sering menolong orang-orang yang berada di seberang samudra. Dan dia juga adalah seorang pendekar perempuan yang pantas untuk dihormati.

Tapi sekarang perempuan itu sudah pergi entah ke mana!

Xin Suan berdiri di dahan pohon untuk melihat lebih jelas, tapi perempuan itu tidak tampak lagi, terpaksa Xin Suan pun turun dari pohon dan berkata pada dirinya sendiri, "Kalau perempuan tadi memang benar adalah Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia, mengapa dia melakukan hal ini? Apakah benar keadaan yang sedang terjadi seperti yang dikatakannya tadi? Begitu peti besi itu tiba di Jin Ling maka akan mencelakakan banyak orang, sehingga dia ingin merampas peti besi ini? Apakah semua itu sekedar untuk menolong banyak orang?"

Xin Suan berpikir dengan lama, kemudian tampak dia menggelengkan kepalanya, dan berkata lagi, "Siapa yang benar dan siapa yang salah suUt diketahui, lebih baik aku menjalankan tugasku saja!"

Asap kuning sudah tidak terlihat, keadaan di sana sudah bersih, dan dia kembali lagi ke keretanya, naik ke atas kereta dan duduk bersila di sana.

Secara otomatis dia teringat kembali kepada pengemis tua itu, lalu dia menarik nafas, "Kemungkinan 80% dia jatuh ke tangan musuh, anehnya mengapa mereka tidak menggunakan dia untuk mengancamku?"

Baru saja berpikir seperti itu, dari belakang terdengar suara langkah kaki, dari suara itu dapat diketahui bahwa yang datang sekitar 7-8 orang.

Jantung Xin Suan berdetak, "Ada yang datang lagi!"

Sebuah lampion terlihat bersinar dari dalam rumah, dari cahaya itu dapat diketahui orang yang datang berjumlah 8 orang, 7 orang pengawal dan seorang adik raja. Orang itu tidak lain adalah Wang Ye yang datang dari Nan Ping Shan. Dia mengenakan baju berwarna merah, walaupun dia berdandan seperti rakyat biasa tapi wibawanya sebagai keluarga kerajaan tetap terasa.

Ketujuh pengawal itu walaupun berpakaian mewah tapi dari wajah mereka terlihat kalau mereka adalah para pesilat tangguh.

Setelah kedelapan orang itu tiba di balkon, Wang Ye  tidak melihat Xin Suan yang ada di dalam kereta, dia berteriak ke arah balkon, "Xin Suan, apakah kau ada di dalam?"

Xin Suan menjawab dari arah kereta, "Hamba berada di sini."

Xin Suan berada di atap kereta, Wang Ye terlihat terkejut dan berkata, "Ternyata kau berada di sana, hayo cepat turun!"

Xin Suan tidak segera turun, dia malah berkata, "Wang Ye datang terlalu awal!"

Wang Ye tampak terpaku dan hanya bisa berkata, "Oh?" "Menurut berita yang kudengar, Wang Ye akan datang malam ini

pukul 3, sedangkan sekarang baru pukul 1 malam."

Wang Ye tertawa, "Benar, rencanaku memang datang pukul 3 malam, malah datang terlalu awal—turunlah sekarang!"

Xin Suan berdiri, lalu dengan ringan dia terbang dan mendarat, dia memberi hormat, "Wang Ye datang dengan terburu-buru ke sini, pasti ada hal yang sangat penting dan mendesak!"

"Benar, ada perubahan...." Dari balik baju bagian dadanya dia mengeluarkan sehelai cek dan memberikannya kepada Xin Suan, "Ambillah!"

Xin Suan tidak menerimanya dia malah bertanya, "Apakah ini?" "Honormu, 100 ribu tail perak," jawab Wang Ye.

"Wang Ye sendiri yang mengatakan setelah tiba di Jin Ling, uang itu baru akan diberikan, mengapa sekarang sudah memberikannya kepadaku?" "Kau tidak perlu mengantarkan peti itu sampai di Jin Ling lagi!" kata Wang Ye.

"Mengapa?" tanya Xin Suan.

"Kau tidak perlu tahu alasannya, setelah, mendapatkan uang ini, pergilah!" r,

Xin Suan tersenyum dan berkata, "Wang Ye ingin membawa peti besi itu ke Jin Ling, sepertinya hal ini sudah lama direncanakan. Mengapa sekarang rencana itu tiba-tiba bisa berubah? Apakah ada kesulitan?"

Wang Ye marah dan berkata, "Kau tidak perlu tahu apa alasannya."

Xin Suan tersenyum dengan berlama-lama melihat Wang Ye, setelah itu dia mengambil cek tersebut dan dia melihat angka yang tertera di atas cek, dia tertawa, "Mengapa cek ini tidak diberi stempel?"

"Tidak usah, bawa saja cek ini ke bank, kau pasti akan segera mendapatkan uang 100 ribu tail perak."

Xin Suan masih tetap tersenyum, "Belum tentu "

Sambil bicara Xin Suan merobek cek itu menjadi serpihan kecil dan dilempar ke bawah.

Wang Ye tampak marah, "Apa-apaan kau?"

Xin Suan tersenyum, "Cek ini palsu, untuk apa aku mengambilnya?"

"Kata siapa cek ini palsu?"

Xin Suan tertawa terbahak-bahak, "Cek ini adalah cek kosong, Anda juga bukan Wang Ye yang sebenarnya!"

Wang Ye tampak terpaku kemudian diapun tertawa terbahak- bahak, "Bocah, kau sangat pintar." Kemudian tubuhnya tampak bergoyang-goyang dan diapun meloncat beberapa meter tingginya lalu membentak, "Saudara- Saudara, laksanakan sekarang!"

Ketujuh pengawal itu dengan cepat mengepung Xin Suan.

Kemudian mereka mengeluarkan senjata masing-masing, ada golok, pedang, pecut, bajak, pentungan, pena, dan lainnya.

Begitu melihat dengan teliti bagaimana wajah mereka, terlihat wajah mereka yang bengis dan perilaku mereka tidak sopan, tampaknya mereka adalah para perampok yang sudah berpengalaman.

Xin Suan berdiri dengan tenang dan terus menatap mereka dia tertawa, "Apakah kalian ingin bertarung?"

Orang yang membawa pedang berkata, "Kami adalah Ping M ing Qi Lang."

"Apakah yang kalian maksud adalah Yun Meng Ping Ming Qi Lang?"

"Benar!"

"Aku sudah lama mendengar nama besar kalian." "Katanya namamu adalah Xin Suan."

"Benar!"

"Kau baru terjun ke dunia persilatan?" "Benar."

Pengawal berbaju merah itu berkata, "Kau baru berkecimpung di dunia persilatan, tapi sudah berani mati."

"Orang yang berani mati yang baru bisa terkenal di dunia persilatan," jawab Xin Suan sambil tersenyum.

"Tapi sayang, malam ini kau harus mati dan cita-citamu tidak akan tercapai." "Apakah kau adalah Lao Da Ping Ming Qi Lang, Qiu Q iu An?" tanya Xin Suan.

"Benar!"

"Kalian datang ke s ini karena disewa untuk bertarung atau kalian dise wa untuk beromong-omong?"

Qiu Q iu An tertawa, dia mengangkat ujung pedangnya dan mendekatkannya ke jantung Xin Suan, dengan lama ujung pedang itu mengarahkan ke jantung Xin Suan, tiba-tiba dia seperti terbawa angin dan mulai menyerang Xin Suan.

Bertarung dalam jarak 5-6 kaki orang harus menunggu dan waspada dalam menyerang, karena musuh akan bisa berbalik menyerang. Tapi Lao Da Ping Ming Qi Lang berbeda dengan orang lain. Setelah jarak yang tersisa sekitar 5-6 kaki lagi, dia masih saja tenis menyerang dan tidak berhenti melangkah.

Seakan-akan Xin Suan adalah musuh bebuyutannya dan dia siap- siap mati bersama dengan Xin Suan.

Ini adalah keistimewaan dari Ping M ing Qi Lang, setiap kali bertarung dengan musuh, mereka tidak peduli dengan hidup dan mati mereka, karena itulah mereka mendapat julukan Ping Ming Qi Lang (Tujuh laki-laki berani mati).

Hal yang paling menakutkan adalah sewaktu Lao Da menyerang dengan pedang sedangkan Lao Er, Lao San, dan yang lainnya ikut menyerang. Tujuh macam senjata sekaligus dikeluarkan, mereka seperti ingin mencincang Xin Suan menjadi daging halus.

Ketujuh orang mengepung satu orang dan saat itu Xin Suan menjadi bulan-bulanan mereka, mereka mengepung dan semakin merapat.

Pada saat ketujuh macam senjata Ping Ming Qi Lang hampir mengenai tubuh Xin Suan, tiba-tiba Xin Suan bersiul, kemudian terlihat lingkaran pedang yang berkilau— Terdengar suara senjata yang berdentang dan beradu, Ping M ing Qi Lang seperti a ir yang berceceran, dan terbang ke segala penjuru, tapi Xin Suan hanya diam seperti gadis pemalu, lalu bergerak secepat kilat, dia seperti bayangan yang menempel di tubuh Lao Da Qiu Qiu An, sewaktu tubuh Qiu Qiu An masih berada di udara, dengan pedangnya Xin Suan bergerak ke atas. "Wah!"

Qiu Qiu An berteriak kesakitan, tubuhnya sudah terbelah menjadi dua dari atas kepala hingga ke kaki, setelah terbelah menjadi dua, terlihat organ dalam Qiu Qiu An yang masih tampak berdenyut!

Ping Ming Oi Lang adalah orang-orang berani mati se lama puluhan tahun merajalela di dunia persilatan, sekarang kelompok mereka sudah kehilangan satu nyawa anggotanya, sekarang mereka baru tahu apa yang disebut dengan kematian, ternyata sangat menakutkan, melihat Lao Da Qiu Q iu An dari keadaan hidup-hidup terbelah menjadi dua, lalu mereka melihat darah yang keluar seperti air mancur, mereka berenam menjadi terpaku.

Xin Suan tertawa dingin dan bertanya, "Siapa lagi yang berani mati menghadapiku, ayo maju!"

Lao Er Nan Kun dengan sedih melihat mayat Lao Da yang wajahnya terlihat kram dan penuh dengan kemarahan. Dia mengeluarkan suara raungan yang sangat besar dan mulai menyerang Xin Suan lagi.

Kali ini dia sudah tidak ingat lagi pada hidupnya sendiri, dia sudah bertekad harus mati bersama-sama dengan Xin Suan.

Keganasan dan kebengisan Lao Er cukup membuat hati Pin M ing Qi Lang bergetar, tapi walaupun Xin Suan masih berusia sekitar 20 tahun lebih, karena lahir dari keluarga yang miskin, dia sudah merasakan pahitnya hidup di dunia, ditambah telah berlatih ilmu silat selama 10 tahun lebih di gunung, tubuhnya sangat kuat, dan sifatnyapun terlihat tenang, tidak mudah terpancing emosi. Maka walaupun terjadi sesuatu padanya atau ada kejutan di hadapannya, dia tetap menghadapinya dengan tenang. Melihat Lao Er Nan Kun dengan marah terus menyerangnya, dia tidak ikut emosi, sebaliknya dia bisa melihat lowongan serangan Lao Er Nan Kun, begitu golok Nan Kun hampir mengenai wajahnya, dia memiringkan tubuhnya dan pedang yang masih tergenggam erat di tangannya dikeluarkan secepat kilat lalu ditusukkannya di pinggang Nan Kun.

Sewaktu Nan Kun menebas ternyata tidak mengenai sasaran, dia langsung merasakan pedang Xin Suan yang panjang berada di Pinggangnya.

Dia merasa sangat terkejut, segera dia menurunkan goloknya bermaksud menghalangi pedang Xin Suan, tapi semua itu sudah terlambat, terdengar suara PUSH, pedang Xin Suan sudah menusuk ke pinggangnya, diapun berteriak, kepalanya menunduk, kemudian tubuhnya terasa lemas, kedua lututnya langsung menekuk. Wajahnya pucat seperti kertas, keringatnya keluar dengan deras seperti air hujan.

Xin Suan menarik pedang dari pinggang Nan Kun dan berkata kepada lima orang yang tersisa, "Cepat tolong dia, mungkin nyawanya masih bisa dise lamatkan."

Kelima orang yang tersisa melihat Xin Suan begitu gagah dan berilmu s ilat t inggi, sekali pedang digerakkan nyawa seseorang akan melayang. Sifat ganas dan bengis mereka sudah hilang entah ke mana, mereka berlima hanya bisa saling memandang, Lao San Gao Peng berteriak, "Xin Suan, katakan siapa namamu sebenarnya!"

Dengan dingin Xin Suan menjawab, "Sekarang aku menggunakan nama Xin Suan, berarti Xin Suan adalah namaku, kalau kalian ingin mengetahui identitasku, lihatlah ini!"

Tiba-tiba dia melemparkan pedang panjangnya ke udara, pedang itupun berputar di udara, lalu segera turun dengan lurus, Xin Suan membuka mulutnya dengan lebar, dia membiarkan pedang panjangnya masuk ke dalam mulut dan terus masuk ke dalam perut.

Dia benar-benar menelan pedangnya. Gao Peng dan keempat saudaranya melihat semua kejadian itu, terlihat wajah mereka berubah dan berteriak, "Tian Shan Tuan Jian Xian (Dewa Tian San menelan pedang)!"

Kemudian reaksi mereka seperti melihat setan yang menakutkan, segera mereka membopong mayat Lao Da Qiu Qiu An dan memapah Lao Er Nan Kun lalu segera melarikan diri dari sana.

Hanya Wang Ye palsu saja yang tidak lari dari sana, dengan tenang dia berdiri di balkon.

Xin Suan diam-diam memutar tubuhnya menghadap orang itu, dia berteriak, "Apakah Wang Ye masih akan memberikan petunjuk?"

Sambil tertawa licik Wang Ye palsu itu berkata, "Benar!" "Hamba ini s iap mendengarkan," kata Xin Suan.

"Apakah kau sudah bertekad tetap akan mengantarkan peti besi ini ke Jin Ling?"

"Benar," jawab Xin Suan.

"Apakah tidak ada yang bisa mencegahmu?" "Benar!"

"Sampai temanmu sendiripun tidak bisa mencegahmu?"

"Temanku juga tidak akan bisa mencegah sepak terjangku." "Demi kebersihan kukumu dan membahayakan nyawa temanmu,

apa begitu menurutmu?"

Begitu mendengar perkataan itu, Xin Suan tahu bahwa pengemis itu ternyata jatuh ke tangan musuh, hatinya langsung terasa berat, dia bertanya, "Apakah temanku yang Tuan maksud itu adalah si pengemis tua itu?"

"Betul!"

"Dimana sekarang dia berada?"

"Perlu kau ketahui, dia masih hidup, dan itu sudah cukup." Xin Suan tampak berpikir sebentar, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, "Maksud Tuan, ingin menukar peti besi itu dengan nyawa pengemis itu?"

"Betul!"

"Baiklah, silahkan Tuan bisa membawanya kemari."

Wang Ye tidak menyangka kalau tawarannya akan dengan cepat disetujui, dia malah merasa aneh, "Apakah kau setuju untuk mengadakan petukaran?"

Xin Suan mengangguk.

"Lebih baik aku perjelas lagi, aku akan memberikan pengemis tua itu dan kau akan menukarnya dengan peti besi itu, betul seperti itu?"

"Benar."

"Seorang laki-laki bila sudah mengeluarkan kata-kata, tidak boleh menariknya kembali!"

"Itu sudah pasti!"

Wang Ye palsu itu terlihat sangat senang dan berkata, "Baiklah, kau tunggu sebentar di sini, aku akan segera membawa pengemis itu ke s ini."

Baru saja dia selesai bicara, dia sudah meloncat pergi.

Kira-kira setengah jam kemudian, tampak dia membopong pengemis tua itu ke tempat Xin Suan. Dia datang bersama dengan dua laki-laki tegap dan tampak bengis.

Dia meletakkan si pengemis itu ke bawah dan berkata, "Aku sudah menyerahkan pengemis ini dan kuletakkan dia di sini."

Xin Suan melihat pengemis itu tidak bisa bergerak, dia bertanya, "Bagaimana dirinya?"

"Tidak apa-apa, kami hanya menotoknya, bila sudah dibuka totokannya tidak akan terjadi apa-apa," jelas Wang Ye palsu. Sambil tersenyum dia berkata, "Apakah sekarang kami bisa membawa kereta itu pergi?"

"Kalian hanya boleh membawa peti besi itu saja." "Apakah kau ingin mempermainkan kami?"

"Kau tidak mengatakan menginginkan peti besi itu berikut

dengan keretanya."

Sambil tertawa dingin Wang Ye itu berkata, "Baiklah, kami hanya akan membawa peti besi itu."

Kemudian dia membalikkan badan dan memberi kode kepada kedua laki-laki tegap dan bengis itu.

Mereka berdua segera menaiki kereta lalu menurunkan peti besi itu.

Peti itu ternyata sangat berat dan sewaktu diturunkan, kedua laki-laki itu langsung merasa kelelahan.

Xin Suan tersenyum, "Karena peti besi itu aku telah membunuh banyak orang, tapi kalian dengan cepat dan mudah bisa mendapatkannya."

"Berarti kau adalah orang yang setia kawan dan demi teman kau rela mengorbankan semuanya," kata Wang Ye sambil tertawa senang.

"Sekarang berikan pengemis tua itu kepadaku!"

"Tidak usah terburu-buru, setelah peti besi itu berhasil digotong keluar dari kereta, aku baru akan melepaskan pengemis tua itu!"

Kemudian dia melambaikan tangannya memberi kode kepada kedua laki-laki itu supaya bergerak lebih cepat dan membawa peti besi itu dari sana.

Dengan cepat mereka keluar dari taman itu.

Wang Ye palsu ternyata takut kalau Xin Suan akan menghadang kedua laki-laki itu, dia berdiri dengan lama di depan Xin Suan, setelah kedua laki-laki itu berjalan menjauh, dia baru tertawa sambil terbang, "Aku memberikan pengemis tua itu kepadamu, sekarang aku permisi dulu!"

Hanya dalam waktu singkat dia sudah menghilang di dalam kegelapan taman. Xin Suan tidak mengejar mereka, dia membuka totokan nadi pengemis tua itu. Pengemis tua itu berkata sambil menarik nafas, "Kali ini aku telah menyusahkanmu!"

"Tidak apa-apa, kau tunggu saja di sini, aku akan merebutnya kembali," jelas Xin Suan.

Satu kali meloncat dia segera berlalu dari taman itu.

0-0-dwkz-0-0

Pukul dua dini hari, sebuah kereta usang membawa rumput keluar dari kota bagian selatan. Kusir kereta itu mengenakan baju seperti seorang petani.

Walaupun kereta itu membawa satu kereta penuh dengan rumput, tapi hal ini terasa sangat aneh, tapi untung jalanan sangat sepi, tidak ada pejalan kaki di sana maka tidak ada yang memperhatikan keretanya.

Setelah keluar dari kota, kereta dipacu dengan cepat.

Tiba-tiba kuda yang menarik kereta itu seperti dihalangi oleh sesuatu sehingga kaki kuda itu terangkat tinggi-tinggi dan terus meringkik.

Kusir itu terkejut dan membentak, "Siapa?" "Aku!"

Suara itu sangat dingin.

Orang itu ternyata adalah Xin Suan, tangannya memegang kereta membuat kereta itu tidak bisa berjalan! Begitu si kusir melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah Xin Suan, segera dia berkata, "Xin Suan, apakah kau akan mengingkari janjimu?"

"Tidak!" Xin Suan tertawa dingin.

Kusir itu dengan marah berkata, "Kalau kau tidak melanggar janji, mengapa kau menghalangi jalanku?"

"Aku menginginkan peti besi itu," jawab Xin Suan.

Dari dalam tumpukan rumput muncul dua orang, yang satu adalah laki-laki tadi sedangkan yang satu lagi adalah Wang Ye palsu!

Wang Ye palsu meloncat keluar dari tumpukan rumput, dia mengeluarkan sebuah Pedang kecil, dengan marah dia berkata, "Bocah, apakah kau bicara seperti kentut?"

Laki-laki itu sudah menyiapkan senjata, siap untuk bertarung. "Apakah kau menganggap bahwa aku telah melanggar janjiku

sendiri?"

"Bukankah seperti itu?"

"Ada dua hal yang tidak sama di sini!" "Apakah itu?"

"Setuju untuk menukar sandera itu adalah salah satunya, merebut kembali peti besi adalah hal yang lain!"

"Apa alasanmu?"

"Peti besi itu bukan milik kalian, tapi kalian merebutnya dariku, sekarang aku akan mengambilnya kembali."

"Benar-benar kurang ajar!" seru Wang Ye palsu.

"Dan satu lagi, sewaktu menukar sandera di Shue Yuan, aku belum berjanji tidak akan merebut kembali peti besi itu."

"Apakah kau akan merebutnya dengan paksa?" "Bukan merebut dengan paksa, tindakanku lebih sopan dari kalian."

Wajah Wang Ye palsu itu terlihat merah dan berkata, "Kau masih muda dan juga mempunyai ilmu silat tinggi. Kau harus menyayangi nyawamu sendiri!"

"Anda tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku," kata Xin Suan.

Tiba-tiba Wang Ye palsu dengan ramah berkata, "Apakah kau adalah murid Tian Shan Tuan Jian Xian?"

"Benar."

"Aku pernah bertemu dengan gurumu satu kali."

"Sembar angan mengatakan mengenal guruku, tidak akan ada gunanya."

Wang Ye palsu itu tertawa dan berkata, "Apakah kau tahu siapa aku ini?"

"Aku tidak ingin tahu."

"Kau tidak ingin tahu, tapi aku harus memberitahukannya kepadamu, nanti gurumu akan menyalahkanku karena tidak memiliki perasaan."

"Anda tidak perlu mengkhawatirkan guruku yang sudah meninggal."

"Apakah gurumu sudah meninggal?" Wang Ye palsu itu terpaku. "Sudah tiga tahun yang lalu."

"Aku kira kau pasti sering mendengar gurumu menyebut Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng?" tanya Wang Ye palsu.

"Apakah Tuan adalah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng?" Xin Suan merasa sedikit terkejut.

Wang Ye palsu itu mengangguk.

"Aku dengar selama hidupnya Pendekar Besar Huo sangat jujur dan adil, mengapa sekarang melakukan hal seperti ini?"  "Kapan aku telah melakukan hal yang memalukan?" Wang Ye palsu itu terlihat sedikit marah.

"Menculik pengemis tua, memaksaku menyerahkan peti besi itu, bukankah itu adalah perbuatan yang memalukan?"

"Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin membunuhmu."

"Dari Hang Zhou sampai di sini, yang Menginginkan kematianku sangat banyak, mengapa Pendekar Besar Huo begitu peduli kepadaku?"

Wang Ye palsu itu mengerutkan dahi, dia mulai tidak sabar dan berkata, "Kelihatannya kau tetap bersikukuh, bukankah semalam Dong Hai Xian Niang Cai Xia sudah mengatakan alasannya kepadamu? Apakah kau masih belum mengerti juga? Kalau peti besi ini diantar sampai di Jin Ling, akan banyak orang yang terbunuh!"

"Kalau aku tidak mengantarkan peti besi ini, akan lebih banyak orang yang mendapatkan bencana!"

"Bagaimana penjelasanmu?" Wang Ye palsu itu terlihat sedikit terkejut.

"Ini adalah firasatku, sekarang sepertinya situasi aman bila ada orang yang ingin memberontak, itu bukan hal yang baik. Jelaskan kepadaku, mengapa jika peti besi ini tidak sampai di Jin Ling, bisa menghindari bencana, bukankah itu lebih baik?"

"Apa yang kau katakan?!" Wang Ye palsu itu mulai marah. "Aku bicara berdasarkan bukti."

Wajah Wang Ye palsu itu terlihat mulai dingin, tapi sorot matanya

terlihat tajam, seperti tidak ada toleransi lagi bagi Xin Suan. Tampaknya dia harus membereskan semuanya hanya dengan jalan bertarung.

Xin Suan memegang pedangnya, posisinya sudah siap siaga, Semenjak dia tahu bahwa lawannya adalah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, dia sadar bahwa malam ini akan terjadi pertarungan sengit, maka diapun sudah siap sejak awal.

Sebelum dia lulus belajar ilmu s ilat, gurunya T ian Shan Tuan Jian Xian pernah berkata, "Di dunia persilatan banyak pesilat, satu- satunya orang yang tidak boleh kau ganggu adalah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng!"

Sekarang dia telah bertemu dan bertarung dengan orang yang dimaksud gurunya.

Tapi Xin Suan tidak merasa takut, dia percaya dia tidak akan kalah dari Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Dengan dingin Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng melihatnya, lalu bertanya, "Apakah kau sudah siap?"

"Silakan Tuan menyerang dulu."

"Apakah kau menyuruhku mengeluarkan serangan dulu?"

"Kalau Anda tidak mau, tidak apa-apa, aku yang akan memulainya dulu!"

Pedang diletakkan di depan dadanya kemudian diapun berputar, dia menusuk ke depan!

Pan Long Da Xia mana mungkin akan memberikan kesempatan bagi pedang Xin Suan mendekatinya, begitu pedang Xin Suan mendekat, dia sudah melambaikan pedangnya yang lemas dan menggulung pedang Xin Suan, lalu ditekannya ke bawah.

Xin Suan merasa ada sebuah gunung besar yang menekan ke tubuhnya, dia kaget lalu segera memutar tubuhnya, dia menarik Pedangnya kemudian mundur.

Baru saja dia menarik pedangnya, matanya melihat ada kilauan pedang, kilauan Pedang itu siap membelah bahunya!

Kali Xin Suan merasa dia benar-benar bertemu dengan lawan tangguh, walaupun perasaannya sedikit tegang tapi sekaligus juga membangkitkan perasaan ingin menangnya. Dia segera membentak dan tubuhnya berputar, dia bisa menghindari pedang lawan, mengikuti gerakan tubuhnya, diapun menyerang tubuh bagian bawah lawan.

Gerakan tubuhnya sangat cepat dan lincah, pedang lemas milik Pendekar Besar Pan Long baru saja melewati sisi pundaknya, pedang panjang Xin Suan sudah berada di kaki Pendekar Pan Long!

Pendekar Pan Long tertawa terbahak-bahak, kedua kakinya dibuka, pedang lemasnya dibalikkan, dia sudah menyerang ke wajah Xin Suan!

Pedang lemas itu sangat tipis tapi setiap kali bergerak selalu bersuara, gerakan pedangnya lincah seperti Liong dan se lalu berubah-ubah, perubahan gerakan senjata itu sulit ditebak.

Xin Suan pun tidak mau kalah, tubuh bagian atasnya berusaha menghindar, kakinya menendang ke perut bawah lawan, caranya menghindar dan menyerang pada saat bahaya adalah untuk mencari kemenangan cepat, bila menggunakan serangan pada saat yang tidak tepat, malah akan membahayakan dirinya sendiri. Pendekar Pan Long tidak menyangka pada saat mulai bertarung dia menggunakan jurus yang begitu berbahaya, semuanya berlangsung dengan tiba-tiba membuatnya tidak mempunyai cara lain untuk menghadapi lawannya, terpaksa kedua kakinya diluruskan lalu meloncat setinggi 5 kaki, kemudian di tengah udara, pedang lemasnya dimainkan kembali. Pedang itu mengarah kepada kepala Xin Suan- Serangan ini benar-benar sangat ... berbahaya!

Mereka berdua bertarung di tengah jalan, masing-masing mengeluarkan jurus yang aneh dan hebat. Pedang dima inkan seperti pelangi, benar-benar membuat orang menjadi pusing dan berkunang-kunang.

Pertarungan ini berlangsung selama setengah jam, kedua orang itu seperti tidak bisa dipisahkan, selalu rapat dalam bertahan dan menyerang! Kedua laki-laki tegap tadi karena belum pernah melihat pertarungan yang begitu sengit mereka hanya bisa berdiri terpaku dan bingung.

Begitu bertarung 40 jurus lagi tiba-tiba X in Suan meloncat sejauh beberapa meter, sambil tertawa dia berkata, "Pendekar Huo, dalam keadaan seperti ini, apakah kau bisa membawa peti besi itu pergi dari s ini?"

Maksudnya adalah keadaan ilmu silat mereka yang seimbang, untuk apa diteruskan lagi pertarungan ini?

Sebenarnya dia ingin berhenti hanya karena merasa lelah dia mengambil kesempatan untuk beristirahat sebentar.

Pendekar Besar Pan Long tertawa dan menjawab, "Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Kalau Anda mau meneruskan pertarungan, akupun akan sulit membawa pergi peti besi itu, tapi Anda adalah pendekar terkenal di dunia persilatan, kalau berita mengenai Pendekar Pan Long merampok peti besi milik Wang Ye, bukankah peristiwa itu akan memalukan Tuan sendiri?"

Mata Pendekar Besar Pan Long mengeluarkan hawa membunuh, dia tertawa, Tidak akan ada seorangpun yang tahui"

"Mengapa tidak akan ada seorangpun yang tahu?"

"Karena mulai malam ini di dunia persilatan tidak akan ada orang yang bernama Xin Suan lagi!"

Baru saja selesai bicara, dia sudah mendekati X in Suan, dia mulai menyerang dengan pedang lemasnya.

Terpaksa Xin Suan harus berhati-hati memegang pedang pada saat bertarung.

Dia tahu bahwa Pendekar Pan Long ilm u pedang ataupun tenaganya lebih kuat dari dirinya, tapi dia mencoba untuk tetap percaya bahwa dia masih mempunyai kesempatan untuk menang. Sewaktu gurunya Tian Shan Tuan Jian Xian memberitahu kepadanya tentang Pan Long Da Xia, dia mengajarkan sebuah jurus kepadanya, gurunya berharap dengan jurus ini dia bisa mengalahkan jurus-jurus Pan Long Da Xia, tapi jurus itu belum ada kesempatan untuk dikeluarkan, walaupun tadi terjadi pertarungan yang begitu sengit, tapi jurus itu tetap sulit dikeluarkan.

Pertarungan kedua sudah dimulai lagi, dia lebih memusatkan konsentrasinya, dia berharap ada kesempatan untuk mengeluarkan jurus andalannya.

Tapi jurus-jurus Pan Long Da Xia sangat rapi, seperti gelombang dahsyat selapis demi selapis dikeluarkan tidak terlihat ada celah sama sekali.

Mereka sudah bertarung sebanyak 80-90 jurus, pendekar Pan Long mulai tidak sabar, tiba-tiba dia bersiul dan dia meloncat tinggi, di tengah udara dia bersalto kemudian turun dengan cepat, pedang lemas yang masih dipegangnya sudah tidak berbentuk seperti pedang lagi, melainkan berbentuk seperti bola api besar yang turun dan siap menutupi Xin Suan.

Xin Suan sudah melihat jurus yang siap membunuhnya, hatinya bergetar, segera dia berlutut, memiringkan rubuhnya dan mengangkat pedangnya—

Kedua pedang itu beradu lagi, terdengar suara sangat keras!

Xin Suan merasakan pundaknya sakit, dia sadar bahwa bahunya telah terkena pedang lawannya, dengan cepat dia berguling-guling beberapa puluh meter jauhnya.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak ingin melepaskan kesempatan yang ada, kembali dia mengejar, Xin Suan yang belum berdiri dengan benar, Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sudah menusuk.

"Hei!"

Xin Suan membentak, kemudian dia mengangkat pedangnya dengan sekuat tenaga untuk menahan serangan pedang lemas lawannya, kemudian Xin Suan maju lagi, posisinya hampir bertabrakan dengan Pan Long Xia, Huo Ru Feng.

"PENG!"

Telapak kiri Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dijulurkan dan diapun menepuk dada Xin Suan. Menggetarkan Xin Suan hingga mundur beberapa langkah. Setelah itu Xin Suan baru bisa berdiri dengan tegak.

Kali ini Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak mengejar Xin Suan lagi, sepertinya Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng menemui kesulitan, wajahnya terlihat kram! Bagaimana dengan keadaan Xin Suan sendiri?

Pundak bagian kanannya Xin Suan menjadi merah, dia terluka lagi oleh tusukan pedang Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, darah masih terus mengalir, tapi anehnya adalah di tangannya terlihat ada sebuah pisau kecil! Pisau itu berlumuran darah! Ternyata jurus ajaran gurunya telah berhasil melukai lawannya!

Jurus yang diajarkan oleh gurunya. Jurus itu tidak terlalu istimewa tapi membuat orang tidak siap menghadapinya.

Siapa yang menyangka pada saat bertarung dengan sengit, tiba- tiba bisa muncul sebuah pisau kecil?

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng yang hanya memperhatikan jurus- jurus pedang Xin Suan, dan memperhatikan bagaimana menghindari jurus pedang Xin Suan. Dalam mimpipun dia tidak pernah membayangkannya bahwa Xin Suan tiba-tiba bisa mengeluarkan pisau dan menggores kulit perutnya!

Walaupun goresan itu tidak sampai membuatnya mati, tapi telah membuatnya kehilangan semangat untuk bertarung lagi. Dia sadar kalau dia terus bertarung dia pasti tidak akan menang, mungkin malah bisa mati.

Dia melihat luka yang digores oleh Xin Suan di bagian perutnya kemudian dia menarik nafas, "Mengapa kau bisa terpikirkan jurus ini?" "Ini adalah jurus pisau," jelas Xin Suan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tertawa kecut, "Benar!" "Apakah sekarang aku bisa membawa peti besi itu pergi?" Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng hanya bisa mengangguk. "Termasuk dengan kereta itu?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng kembali mengangguk. Kedua laki-laki tegap itu sudah siap menghalangi Xin Suan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berkata, "Kalian bukan tandingannya, biarkan dia pergi!"

Sebenarnya kedua laki-laki itu tidak percaya diri, begitu mendengar perkataan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, mereka segera mundur.

Xin Suan naik ke atas kereta dan dia melarikan kereta itu kembali ke kota.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berteriak. "Xin Suan, kita pasti akan bertemu lagi!"

Xin Suan menjawab, "Baiklah, aku pasti akan menunggumu!"

0-0-dwkz-0-0

Pada saat kereta kembali ke Shue Jia Fei Yuan waktu sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Pengemis tua itu melihat kedatangan Xin Suan, dia merasa sangat senang dan berkata, "Kau berhasil merebut keretanya kembali!"

Xin Suan mengangguk, "Benar!" "Bagaimana caranya?"

Lalu Xin Suan menjelaskannya. Pengemis itu berkata, "Ya Tuhan, ternyata dia adalah Pan Long Da Xia, pantas hanya dengan lengan bajunya saja dia bisa membereskanku dan aku langsung tidak bisa bergerak saat itu."

"Apakah kau memiliki obat luka?" tanya Xin Suan.

"Ada, duduklah, aku akan membantumu menempelkan obat itu. "

Dia mengeluarkan obat itu dari dalam tasnya dan dia mulai mengobati Xin Suan.

"Apakah Wang Ye asli tidak jadi datang?" tanya Xin Suan.

"Kau mengira kalau Wang Ye akan datang bukan?" tanya pengemis tua itu.

"Kalau begitu di s isi Wang Ye ada pengkhianat," kata Xin Suan. "Oh ya?"

"Di malam seperti tadi, pada saat kereta memasuki kota ada seorang pak tua yang mengeluarkan giok yang pernah diperlihatkan oleh Wang Ye, aku pernah melihat giok itu di kediaman Wang Ye, kalau pak tua itu tidak memperlihatkan. giok itu kepadaku, aku tidak akan tertipu dengan mudah."

"Berarti giok itu telah dicuri, di sisi Wang Ye pasti ada pengkhianat," kata pengemis tua itu.

"Mungkin di depan sana jalan kita akan lebih mudah," kata Xin Suan.

"Mengapa bisa seperti itu?"

"Aku percaya, tidak ada seorangpun yang lebih lihai dari Pan Long Da Xia."

"Benar juga, itu adalah suatu bukti yang kuat."

"Tapi, sekarang aku malah menjadi bingung, aku tidak tahu apakah kali ini tugasku mengantarkan barang ini adalah benar atau salah. " "Maksudmu kau bingung s iapa yang salah di s ini? Dan ingin tahu siapa yang benar?"

Xin Suan mengangguk.

Pengemis itu tertawa, "Ingat! K ita hanya bertugas mengantarkan benda ini, siapa yang salah dan siapa yang benar, kau tidak perlu tahu dan tidak perlu bertanya-tanya."

"Tapi masalahnya sampai-sampai Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dan Dong Hai Xian Niang, Cai Xia sendiri yang turun tangan membantu lawan kita berarti peti ini tidak boleh diantar sampai ke Jin Ling "

"Apa kau sekarang kau ingin melepaskan tanggung jawabmu?" "Tidak "

"Lebih baik kau jangan terlalu banyak berpikir, kalau benda yang ada di dalam peti besi itu memang tidak pantas untuk diantar ke Jin Ling, maka resiko selanjutnya ditanggung oleh Wang Ye sendiri, bukan kau dan aku!"

Xin Suan mengangguk.

Pengemis itu sudah se lesai menutupi luka Xin Suan, diapun bertanya, "Apakah peti besi itu berada di dalam tumpukan rumput itu?"

"Benar, tolong pindahkan peti itu ke kereta kita, setelah itu kita harus segera berangkat."

"Apakah kau pernah memegang peti itu sebelumnya?" tanya pengemis itu.

"Kalau kita memegangnya sebentar— bagaimana menurutmu?" tanya Xin Suan.

Pengemis itu hanya tertawa tapi tidak menjawab. Dia sudah naik ke atas kereta dan bertanya, "Apa ada yang salah di s ini?" "Jahe tua pasti selalu lebih pedas, walaupun kau berhasil mengalahkan Pan Long Da X ia, tapi kau telah tertipu oleh rubah tua itu!" seru pengemis tua itu.

"Apakah benda itu palsu?" tanya Xin Suan dengan terkejut, dengan terburu-buru dia naik ke atas kereta dan dengan teliti melihat ke dalam tumpukan rumput. Wajahnya segera berubah!

"Benar, peti besi itu besarnya sama persis dengan yang asli, tapi ini bukan peti yang asli."

Berarti peti itu telah ditukar!

Berarti Pan Long Da Xia sudah tahu kalau Xin Suan pasti akan merebut kembali peti besi itu, maka diapun sengaja menukarnya dengan yang palsu.

Dengan marah Xin Suan berkata, "Seharusnya aku membunuh rubah tua itul"

Tapi sikap pengemis tua itu tetap tenang, dia tersenyum, "Tidak apa-apa, masih ada kesempatan untuk merebut kembali peti yang asli."

Dengan marah Xin Suan berkata, "Sekarang kita tidak tahu mereka bersembunyi di mana, mana mungkin ada kesempatan untuk merebut kembali peti itu!"

Pengemis tua itu menepuk-nepuk pundak Xin Suan dan tertawa, "Adik, kali ini kau mencariku untuk bekerja sama, dan tindakanmu sangat tepat, walaupun ilmu silatku tidak set inggi dirimu tapi aku mempunyai banyak ide."

"Apakah kau mempunyai ide bagaimana caranya untuk merebut kembali peti besi itu?"

"Aku tanya kepadamu, kalau sudah menemukan peti yang asli, apakah kau akan membuka peti itu lalu mengambil isinya atau kau akan sekaligus mengambil semuanya beserta dengan petinya lalu dibawa ke sini?" Xin Suan tampak berpikir kemudian dia berkata, "Kalau dalangnya tidak datang bersama dengan Pan Long Da Xia, aku kira Pan Long Da Xia tidak akan berani membuka peti itu, dia akan menyerahkan benda itu beserta dengan petinya kepada si dalang."

"Coba kau tebak, siapa dalangnya? Orang dunia persilatan atau orang kerajaan?" tanya pengemis itu.

"Pasti pejabat kerajaan," jawab Xin Suan.

"Kalau dalangnya adalah pejabat kerajaan, dia t idak akan datang bersama dengan Pan Long Da Xia, dengan begitu Pan Long Da Xia akan menyerahkan peti itu kepada orang itu?"

"Sepertinya memang seperti itu," kata Xin Suan.

"Kalau begitu, semuanya akan lebih mudah, kalau perkiraanku tidak sa lah sebentar lagi Pan Long Da Xia akan ke sini dan mencari kita berdua."

"Untuk apa dia mencari kita?" "Untuk mengambil obat penawar." "Apa? Apa maksudmu "

Dengan senang pengemis itu tertawa, "Kau tahu akupun sama seperti dirimu sangat berharap bisa mendapatkan uang 100 ribu tail perak, dengan tujuan membantu orang-orang yang terkena bencana alam di kampung halamanku, supaya tujuan ini tidak meleset satu- satunya cara adalah kita menjaga agar peti besi ini tidak dirampok, orang jujur selalu berkata, ilmu s ilatmu sangat tinggi, tapi kau tetap tidak bisa bertahan terhadap banyak serangan. ”

Dengan tidak sabar Xin Suan berkata, "Jangan berputar-putar lagi, cepat katakan apa yang telah kau perbuat kepadanya?"

Pengemis tua itu tertawa, "Di dalam peti besi itu aku telah membubuhkan racun, racun itu tidak berwarna dan tidak berbau, tapi begitu terkena racun itu tangan akan menjadi busuk, terakhir akan menyebar ke seluruh tubuh dan perlahan-lahan akan mati." "Mengapa kau tidak memberitahukan masalah ini kepadaku?" "Kau orang yang sangat lurus, kalau aku memberitahumu dulu,

kau pasti tidak akan setuju, karena itu terpaksa aku membohongimu."

"Apakah kau tidak takut kalau akupun bisa terkena racun?"

"Aku tahu kau tidak akan memegang peti besi itu, sekalipun kau terkena racun itu aku pasti akan segera memberikan penawarnya."

"Apa nama obat itu?"

"Aku sendiri yang meramu dan membuatnya, aku belum memberi nama, bagaimana kalau dinamakan Ma Feng Nu (ma feng=kusta, nu=perempuan)? Apakah nama ini bagus menurutmu?"

Xin Suan tertawa, "Mengapa harus diberi nama Ma Feng Nu?" "Orang yang terkena Ma Feng Nu akan mengalami penyakit

seperti kusta, maksudnya adalah seperti itu."

"Kau mengira Pan Long Da Xia pasti akan kembali ke sini dan meminta obat penawarnya kepadamu?"

"Belum tentu juga, kalau dia tidak sayang kepada nyawanya sendiri, dia tidak akan datang ke sini, akupun tidak bisa berbuat apa-apa, tapi...-"

Dia tertawa lagi, "Dia adalah seorang pesilat pedang, kalau tangannya busuk dia tidak akan bisa memegang pedang lagi, dia pasti akan merasa sedih, apakah benar menurutmu?"

Kata Xin Suan, "Kalau aku terkena racun itu, aku akan membiarkan dagingku menjadi busuk sekalian."

"Kau adalah kau, dia adalah dia, kalian tidak sama."

Xin Suan menatap langit dan berkata, "Hari hampir terang, kita ke loteng itu untuk beristirahat."

Mereka naik ke atas loteng, membersihkan lantainya dan siap- siap untuk beristirahat. Tidak lama kemudian haripun mulai terang.

Xin Suan merasa sangat khawatir, dia terus menerus menghela nafas.

Pengemis tua itu sepertinya sangat kelelahan, dia berkata, "Jangan terus menarik nafas, tidurlah dulu!"

Xin Suan tidak bisa tidur dan berkata, "Kalau mereka tidak datang untuk mengambil obat penawarnya, apa yang harus kita perbuat?"

"Kalau begitu anggap saja kita gagal dan kita t idak jadi menerima uang 100 ribu tail perak."

"Tapi aku tidak mau kehilangan uang 100 ribu tail perak begitu saja...," kata Xin Suan.

"Akupun sama seperti dirimu, di dunia ini bila kita melakukan 10 pekerjaan, 8-9 mungkin tidak akan sejalan dengan keinginan kita, apa boleh buat!"

"Berat peti besi itu kurang lebih 150 kilogram, kalau digotong tentunya akan mengalami kesulitan, karena itu harus menggunakan kereta kuda. "

"Benar!" jawab pengemis itu. "Walaupun menggunakan kereta kuda mereka tidak akan bisa berjalan dengan cepat, aku perkirakan kereta itu masih dalam radius 40 kilometer. "

"Benar...," jawab pengemis tua itu.

"Radius 40 kilometer ditempuh dalam waktu setengah hari, kita bisa menyusulnya, apakah kau tahu jalan mana yang mereka tempuh?" tanya Xin Suan.

"Ini sedang kupikirkan!" jawab pengemis itu. Xin Suan menarik nafas lagi.

"Jangan terus menarik nafas, ikutlah aku menjadi pengemis, kalau kau menjadi pengemis dalam waktu tiga tahun—" Kata-katanya belum selesai, di luar taman terdengar ada yang berteriak, "Xin Suan, hay, keluar!"

Itu adalah suara Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Xin Suan merasa sangat senang, dia segera bangun dan berjalan keluar, tapi pengemis tua itu menarik tangannya dan dengan suara kecil dia berkata, "Jangan terburu-buru, biar aku yang mengatasi hal ini!"

Dia berbaring lagi.

Xin Suan tahu kalau pengemis tua itu akan melakukan sesuatu kepada Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, karena itu dia kembali berbaring.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak melihat X in Suan keluar dari taman, dia berteriak lagi, "Xin Suan, hayo keluar!"

Suaranya terdengar seperti orang panik.

Pengemis tua itu tetap tidak meladeni teriakan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Terdengar Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berkata, "Celaka, sepertinya mereka telah meninggalkan tempat ini!"

Seorang laki-laki berkata, "Tidak mungkin karena keretanya masih ada di sini."

"Coba kau cari dia," kata Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng. "Aku?" tanya laki-laki itu.

"Apakah kau takut?" tanya Pan Long D a Xia, Huo Ru Feng.

Dengan gagap laki-laki itu menjawab, "Tidak...aku kira mereka tidak berada di loteng itu, kalau ada mengapa mereka tidak mendengar?"

"Coba kau ke atas untuk melihatnya!" Perintah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng. "Baiklah, aku akan mencoba mencarinya...." Laki-laki itu seperti tidak berani membantah perintah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Terdengar suara, "Hei!" laki-laki itu sudah berada di balkon—dia adalah salah satu dari kedua laki-laki tegap yang pernah ditemui X in Suan!

Sekali me loncat dia sudah berada di balkon dan melihat ada pengemis tua itu dan Xin Suan yang sedang berbaring di lantai, dia terkejut dan segera berteriak kepada Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, "Pendekar Huo, mereka ada di sini!"

Dengan sikap ma las-malasan pengemis itu bangun dan menyalahkan laki-laki tegap itu, "Kurang ajar, apakah kau tidak bisa mengecilkan suaramu? Aku baru tertidur dan kau sudah ribut-ribut hingga membuatku terbangun!"

Laki-laki itu sangat takut kepada Xin Suan, melihat X in Suan baru bangun dari tidurnya, dia segera berlari ke bawah loteng.

Pengemis tua itu pura-pura berjalan ke arah balkon melihat ke bawah, sambil menguap dia berkata, "Oh...aku kira ada siapa, ternyata adalah Pendekar Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng! Ada apa? Apakah Pendekar yang sudah mendapatkan peti besi dan masih belum merasa puas? Apakah Anda mau mengambilnya kembali dari kami?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sangat marah dan berteriak, "Di mana Xin Suan? Cepat suruh dia menemuiku!"

"Semalam saudaraku merasa sangat lelah, dia kurang tidur, apakah ada pesan yang ingin Tuan sampaikan? Katakan saja kepadaku biar aku yang akan menyampaikannya nanti," kata pengemis itu.

Kemudian pengemis tua itu tertawa dan berkata lagi, "Sebenarnya yang harus kalian cari adalah aku, walaupun ilmu silat saudaraku lumayan tinggi tapi dia bukan orang yang tahu segalanya, aku lebih pintar darinya dalam soal penyakit." Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng adalah orang dunia persilatan dan pengalamannya sudah banyak. Begitu mendengar perkataan pengemis itu dia sudah tahu bahwa racun yang dibubuhkan di peti besi itu adalah si pengemis itu yang mengoleskannya, dengan marah dia berkata, "Baiklah, aku cari kau saja, cepat berikan obat penawarnya!"

Si pengemis itu berlagak bodoh, dan bertanya, "Obat penawar?

Obat penawar apa?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng marah dan berkata, "Jangan pura-pura, cepat berikan obat penawar racun yang telah kau oleskan di peti itu, bila kau tidak mau memberikannya, kau akan kucincang menjadi daging c incang!"

"Apakah Pendekar Pan Long terkena racun?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dengan marah mengeluarkan sepasang tangannya dan berkata, "Lihat, semua ini adalah hasil perbuatanmu!"

Sepasang tangan itu tampak hitam dan basah, sudah terlihat tanda-tanda akan membusuk!

Setelah melihat keadaan itu, si pengemis itu malah tertawa terbahak-bahak dan berkata,

"Kalau tangan Pendekar Besar Huo membusuk, kelak bagaimana bisa menggunakan pedang lagi? Tapi tak apalah, penyakit kecil seperti ini aku jamin bisa ditangani, hanya saja.... Aku adalah pengemis yang sangat miskin, bagaimana kalau kita merundingkan sesuatu dulu?"

Dengan tegas Pan Long Da X'\a, Huo Ru Feng berkata, "Kalau kau menginginkan uang aku akan memberikannya, kalau kau menginginkan peti besi itu, jangan harap aku akan memberikannya!"

Pengemis tua itu tertawa lalu berkata, "Kalau begitu, kita tidak usah meneruskan pembicaraan ini lagi." Wajah Pendekar Huo tampak berubah dan diapun berkata lagi, "Jadi kau tidak mau memberikan penawarnya?"

Dengan tegas pengemis tua itu berkata.. "Tidak ada peti besi, hal lainnya tidak perlu dibicarakan lagi!"

"Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup?"

"Aku hanya seorang pengemis, aku tidak akan mati di tanganmu karena aku mempunyai beberapa alasan, pertama tanganmu sedang sakit dan kelihatannya cukup serius, kedua goresan senjata tajam di perutmu masih belum sembuh karena itu kau tidak akan bisa bertarung dengan baik, alasan ketiga adalah saudaraku tidak akan berpangku tangan begitu saja kalau aku dibunuh."

Dia membalikkan kepalanya dan berkata kepada Xin Suan, "Saudaraku, apakah perkataanku benar?"

Dengan pelan Xin Suan menjawab, "Benar! Siapa yang berani menghinamu, pedangku tidak akan mengijinkan orang itu melakukannya!"

Wajah Pendekar Pan Long berubah lagi dia membentak, "Xin Suan, keluar kaul"

Xin Suan dengan pelan keluar, "Pendekar Huo, Anda ingin memberikan petunjuk apa?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dengan marah berkata, "Aku tanya kepadamu, kalian begitu ngotot ingin mengantarkan peti besi itu apa maksud di balik semua itu?"

"Tentu saja untuk mendapatkan uang." "Apakah tidak ada alasan lain?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu, aku akan memberikan uang 100 ribu tail perak kepadamu!" Xin Suan tertawa dan menggelengkan kepala, "Pendekar Huo, Anda adalah seorang yang sangat pengertian, Anda sudah tahu kalau orang persilatan pasti akan selalu menepati janjinya!"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berkata, "Aku sudah memberitahumu kalau peti besi itu sampai di Jin Ling, pasti akan banyak orang yang menjadi korban, apakah kau tega melihat akan banyak korban yang berjatuhan?"

"Aku juga akan memberitahu kepada Anda, kalau peti besi ini tidak sampai dengan tepat di tempat tujuan, korban yang jatuh akan lebih banyak lagi."

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng melotot, tiba-tiba dia menarik nafas dan berkata, "Xin Suan, mengapa kau tidak mau mengerti?"

"Sekarang aku mempunyai sebuah cara Yang bagus, Anda kembalikan peti besi itu kepadaku dan aku akan mengantarkan peti itu ke Nan Ping Shan dan mengembalikannya kepada Wang Ye. Bagaimana?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng terpaku, "Apa maksudmu?" "Maksudku adalah aku akan mengantarkan peti itu sampai di Jin

Ling, supaya bisa mendapatkan uang 100 ribu tail perak, kalau tidak

aku akan melepaskan pekerjaan ini dan mengantarkan kembali peti ini kepada Wang Ye, aku tidak akan memberikan peti besi itu kepada kalian, kalau kalian menginginkan peti besi ini, kalian bisa menunggu peti itu tiba di tempat Wang Ye dan kalian bisa merebut kembali peti itu."

Pan Long Da X ia, Huo Ru Feng tampak berpikir dan berkata, "Itu tidak mungkin."

"Mengapa?" tanya Xin Suan. "Karena bila peti besi itu sudah berada di Wisma Nan Ping, kami tidak akan mempunyai kesempatan unutk merebutnya."

"Mengapa?" tanya Xin Suan. Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng hanya menggelengkan kepalanya tapi tidak menjawab. "Kalau Pan Long Da Xia tidak setuju dengan ideku, kita tidak akan mencapai kata sepakat," kata Xin Suan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tampak berpikir, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, "Baiklah, biarlah tanganku menjadi busuk dan hancur saja" Dia membalikkan badannya dan membentak kepada kedua laki-laki itu, "Ayo, kita pergi dari s ini!" Dia berjalan keluar dari taman itu.

Kedua laki-laki itu terlihat sangat cemas dan berkata, "Pendekar Huo, kami tidak ingin tangan kami membusuk dan hancur."

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berhenti melangkah dan dengan pelan dia membalikkan kepalanya, tertawa dingin, "Apakah kalian ingin menukar peti besi itu dengan obat penawarnya?"

Kedua laki-laki itu secara bersama-sama mengangguk, "Benar! Kami harap Pendekar Huo bisa mengerti kondisi ini, kami tidak mendapatkan hasil yang banyak, tidak pantas karena hal ini maka tangan kami menjadi cacat."

Pengemis tua itu tertawa dan berkata, "Bukan hanya akan terjadi pada sepasang tangan kalian, terakhir racun itu akan menjalar ke seluruh tubuh dan lama kelamaan badan kalian akan hancur lalu kalian akan mati."

Hati kedua laki-laki itu bertambah kacau, segera mereka meminta-m inta kepada Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, "Kami harap Pendekar Huo bisa mengerti kondisi kami!"

Dengan marah Pan Long D a Xia, Huo Ru Feng berkata, "Tidak disangka Lu bersaudara begitu takut mati!"

Ternyata kedua laki-laki itu adalah Lu bersaudara yang terkenal di Si Zhuan, nama mereka adalah Lu Tong dan Lu Shuen, mendengar penghinaan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, wajah Lao Da Lu Tong menjadi merah dan dia berkata, "Pendekar Huo, mati ada dua macam cara, yang satu berat seperti gunung sedangkan yang satunya lagi ringan seperti bulu, hanya karena sebuah peti kami harus sampai kehilangan nyawa, apakah itu pantas!" "Kalau kalian Lu bersaudara sudah tahu apa isi peti besi itu, maka kalian pasti akan beranggapan bahwa kalian memang pantas untuk melakukannya!"

"Benda apa yang ada di dalam peti itu?" tanya Lao Da Lu Tong.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tampak berpikir sejenak, tapi dia tetap menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak bisa memberitahukan rahasia ini."

Lao Er Lu Shuen tertawa kecut dan berkata, "Pendekar Huo, aku kira benda apapun yang tersimpan di dalam peti itu, kami tidak pantas bila harus sampai mati!"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng marah dan berkata, "Kalau begitu, mengapa kalian mau menerima tawaran itu?"

Lao Er Lu Shuen menjawab, "Awalnya kami dua bersaudara tidak tahu bahwa tugas ini akan begitu sulit dan kami setuju untuk membantu Anda, tapi tidak pernah setuju untuk..."

Pendekar Pan Long bertambah marah lagi dia membentak, "Jangan teruskan perkataan kalian! Aku tidak akan membiarkan kalian mengkhianatiku dan menyerahkan peti besi itu kepada mereka!"

Lao Er Lu Shuen tertawa, "Kalau kami tidak menuruti kata-kata Anda, apa yang Anda lakukan?"

Mata Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng mengeluarkan cahaya kemarahan dan dia bertanya, "Apakah kalian sudah bulat mengambil keputusan ini?"

Lao Er Lu Shuen menjawab, "Benar, kami sudah sepakat." Pendekar Pan Long segera berjalan mendekati kedua bersaudara

Lu itu, tiba-tiba tampak cahaya pedang keluar dari pinggangnya,

cahaya itu bergerak secepat kilat ke arah Lu Shuen!

Lu Shuen sama sekali tidak memiliki persiapan, karena dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu, dia tidak menyangka kalau Pendekar Pan Long akan membunuhnya, karena itu dia tidak bisa menghindari serangan Pendekar Pan Long. Kepala Lu Shuen terlepas dari lehernya dan jatuh menggelinding!

Lu Tong kaget dan membentak, "Huo Ru Feng, kau benar-benar kejam!"

Melihat adiknya terbunuh, segera dia menyerang ke arah Pan Long Da Xia.

Dia ingin menyerang Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tapi ilmu silatnya tidak setinggi Pan Long, baru saja dia mendekat, pedang lemas milik Pendekar Pan Long sudah menusuk ke jantungnya.

"Aduh!"

Terdengar suara teriakan dan diapun roboh, tidak bernafas lagi!

Dua bersaudara Lu mati seketika, Xin Suan dan pengemis tua yang tadinya ingin menolong Lu Tong pun sudah tidak sempat. Mereka menyaksikan kedua bersaudara Lu mati di tangan Pan Long Da Xia, mereka hanya bisa terpaku.

Setelah membunuh dua bersaudara Lu, Pan Long Da Xia segera berlari keluar dari taman.

Xin Suan tahu kalau Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng akan melarikan diri, segera dia meloncat dari balkon dan berteriak, "Cepat kejar"

Tubuhnya bergerak seperti burung walet yang sedang terbang, keluar dari taman.

Pengemis tua mengikutinya dari belakang.

Mereka mengikuti Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng keluar dari Shue Jia Fei Yuan, dari jauh mereka melihat Pendekar Pan Long berlari ke atas genting, Xin Suan ingin mengejar tapi pengemis itu melarangnya dan berkata. "Jangan kejar lagi, mengikuti dia dari belakang saja itu sudah cukup!"

Xin Suan mengerti apa yang dimaksud oleh si pengemis itu, karena itu diapun mengurungkan niatnya untuk mengejar Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, dan bersama-sama dengan pengemis tua menguntit dari belakang.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng lupa kalau dia takut dikuntit oleh Xin Suan, dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu mengejutkan orang, dia lari seperti sebuah anak panah!

Hanya dalam sekejap dia sudah berada di bawah tembok perbatasan kota, kemudian diapun meloncat dan sudah berada di atas dinding.

Hanya dalam waktu singkat sosoknya sudah menghilang.

Xin Suan dan pengemis tua itu masih terus mengejarnya dari belakang.

Karena hari masih siang, maka penglihatan mereka sangat jelas, mereka berusaha menjaga jarak sekitar 100 meter hal ini dilakukan supaya gerakan mereka tidak diketahui oleh musuh.

Pendekar Pan Long sudah berlari sekitar 1 - 2 kilometer, dia tiba di sebuah hutan, dia hanya terlihat ragu-ragu sebentar, masuk ke dalam hutan lalu menghilang.

Xin Suan berteriak, "Cepat, kita kejar dia!"

Tapi pengemis tua itu menarik tangannya sambil tertawa dia berkata, "Jangan kejar, jangan terkena tipuannya. "

Xin Suan terpaku, "Tipuan apa?"

Pengemis tua itu tersenyum dan menjawab, "Kelihatannya dia sudah tahu kalau kita menguntitnya dari belakang, maka dia masuk ke dalam hutan, tujuannya tidak lain adalah mengubah posisi, membuat posisi kita dari gelap menjadi terang, membuat posisinya yang terang menjadi gelap!"

"Kalau kita tidak mengejarnya, kita akan kehilangan jejaknya!"

Kata pengemis tua itu, "Menurut perkiraanku, sebentar lagi dia pasti akan keluar dari dalam hutan." Xin Suan tidak percaya, "Semua perkiraan harus didasarkan pada bukti, sekarang bukti apa yang kau miliki?"

Jawab pengemis itu, "Buktiku masih ada di kota, dia pasti akan kembali ke kota."

"Mengapa kau tahu bahwa peti besi itu masih ada di kota?" "Semenjak    mereka    merampok    besi    itu,    kau    sudah

memperkirakannya sejak kemarin ma lam. Pada malam itu mereka

keluar dari kota, dan kaupun bisa mengetahui mereka berjalan melewati pintu utara, karena itu kau keluar dari kota dan menunggu mereka di sana, berapa lama kau menunggu mereka?"

"Kurang lebih 45 menut."

"Kalau begitu, apakah mereka dalam waktu 45 menit membawa peti besi yang asli keluar dari kota kemudian kembali lagi ke kota untuk membawa keluar peti palsu?"

"Tidak mungkin," jawab Xin Suan. "Karena itu peti besi yang asli masih berada di kota dan sekarang dia me larikan diri keluar kota dengan tujuan supaya dia terlepas dari kuntitan kita, tapi dia pasti akan kembali lagi ke kota."

"Itu masuk akal," jawab Xin Suan. "Dan dia tidak akan lama di sana, karena tangannya mulai membusuk, dia harus bisa mengatur keadaan sebelum semua tangannya membusuk, peti besi itu harus sudah sampai di tangan si dalang."

Xin Suan mengangguk. "Jalan ini adalah jalan menuju kota, sebaiknya kita tunggu di s ini, dia pasti akan lewat sini."

"Baiklah, kita tunggu di s ini!" Mereka menunggu selama setengah jam, tapi tetap tidak terlihat Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng keluar dari hutan.

Xin Suan mengerutkan dahi dan berkata, "Kali ini, sepertinya perkiraanmu salah!"

"Tunggulah sebentar lagi!"  "Kalau kita menunggu lagi, dia t idak akan terkejar." "Tapi dia pasti akan tetap kembali ke kota."

"Kalau dia sudah menyerahkan peti besi itu kepada orang lain, bagaimana?"

"Tidak akan!"

"Tapi aku yakin pasti terjadi hal seperti itu."

Kata-kata Xin Suan cukup masuk akal, maka si pengemispun menjadi tidak percaya diri, dia bertanya, "Kalau begitu, sekarang kita harus bagaimana?”

"Apakah di kota Wu Xing ada murid-murid Gai Bang?" "Mungkin aku bisa mencari beberapa orang."

"Kalau begitu kau segera kembali ke kota dan carilah mereka,

mintalah bantuan ke penginapan untuk mencari tahu, aku akan masuk ke dalam hutan itu untuk melihat-lihat, nanti kita tetap akan bertemu kembali di Shue Yuan, bagaimana?"

"Baiklah!" jawab si pengemis.

Segera dia berdiri dan bersiap akan pergi dari sana.

Tapi tiba-tiba Xin Suan menarik tangan si pengemis dan menyuruhnya menunduk dia berkata. "Lihat, ternyata akhirnya dia keluar juga!"

Sewaktu pengemis itu akan keluar dari hutan ternyata ada seseorang yang keluar dari hutan, orang itu tidak lain adalah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng!

Pengemis itu merasa sangat senang dan berkata, "Ternyata aku tidak salah tebak!"

Xin Suan merasa sangat senang dia tertawa, "Dia sudah terkena racun, tapi masih begitu tenang." Begitu Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng keluar dari hutan, dia berlari ke arah Xin Suan dan pengemis tua itu bersembunyi. Sepertinya dia akan kembali ke kota.

Xin Suan dan pengemis itu segera masuk ke dalam semak- semak, terdengar suara kelepak baju yang tertiup angin, suara itu dari semak-semak di mana mereka bersembunyi. Begitu mereka melihat ternyata Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sudah berlari menuju kota.

0-0-dwkz-0-0

Melewati 3 rintangan Membawa pulang si cantik

Setelah kembali ke kota, tampak Pan Long Da X ia berputar-putar di jalan-jalan kota juga gang-gangnya. Setelah tahu tidak ada orang yang menguntit di belakangnya, dia memasuki sebuah penginapan, mungkin disana dia sudah memesan kamar, begitu masuk ke penginapan itu, segera ada seorang pelayan yang datang menyambutnya, berkata sambil tersenyum, Tuan Huo, Anda sudah kembali."

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng hanya menyahut, "Ya!" dan segera bertanya, "Apakah ada yang mencariku?"

"Tidak ada, bukankah dua Tuan yang datang ke sini, juga ikut pergi dengan Tuan?"

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng menyahut, "Oh!" lalu dia berkata lagi, "Aku lapar dan ingin makan, tolong nanti antarkan makanan ke kamarku."

"Baiklah, aku akan segera menyiapkan makanan untuk Tuan." Si pelayan berlalu dari sana untuk menyiapkan makanan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng segera masuk ke dalam kamar, melihat peti besi yang kemarin dibawanya masih tersimpan dengan baik, dia merasa lega. Pintu ditutupnya dengan rapat kemudian dia duduk di sisi tempat tidur. Tapi hanya sebentar dia telah mengerutkan dahinya karena dia merasakan kalau sepasang tangannya mulai membusuk, rasanya panas seperti ada api yang membakar….

Dia membuka sepasang tangannya ternyata di tengah-tengah telapaknya sudah mulai membusuk, garis tangannya sudah tidak terlihat jelas, dia berkata, "Racun apa ini, begitu cepat reaksinya?"

"Itu adalah racun Ma Feng Nu (perempuan kusta)!"

Diiringi suara itu, Xin Suan membuka pintu dengan tenaga besar dan masuk ke dalam kamar!

Pan Long Da Xia berteriak dengan kaget dan berkata, "Kau—" "Benar, ini aku, Pendekar Huo, sandiwara ini sepertinya harus

berakhir sampai di s ini!"

Tangan Pan Long Da Xia masuk ke pinggangnya, dia ingin mencabut pedang lemasnya tapi begitu telapak tangannya terkena pedang dia merasakan sakit yang tidak tertahankan.

Xin Suan menggelengkan kepala dan berkata, "Sudahlah, Pendekar Huo, tidak perlu menghabiskan tenaga lagi!"

Tubuh Pendekar Huo sudah menghalangi Xin Suan di depan peti besi itu dan berkata, "Kalau kau menginginkan peti besi ini, kau harus membunuhku dulu!"

Xin Suan tersenyum dan berkata, "Tidak perlu harus sampai seperti itu, Anda sendiri tidak akan bisa mempertahankan dan melindungi peti besi itu lagi."

"Kurang ajar kau, Xin Suan! Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tian Shan Tuan Jian bisa memiliki murid yang tidak berkeperi-kemanusiaan seperti dirimu!"

"Anda salah, guru menerimaku menjadi muridnya karena dia tahu kalau aku mempunyai sifat seperti itu, karena guruku sendiri mempunyai sifat tidak peduli kepada orang lain, maka beliaupun bisa menelan pedang, maka beliau juga ingin mencari murid seperti dirinya untuk meneruskan ilmu menelan pedangnya." Dari balik bajunya dia mengeluarkan dua butir obat dan berkata, "Ini adalah obat penawarnya, setengah diminum sedangkan setengahnya lagi dioles, setelah mengambil obat ini, pergilah dari sini!"

Dengan tegas Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng menjawab, "Jangan harap!"

"Kau benar-benar tidak tahu diri!" Xin Suan mengerutkan dahinya dia merasa aneh.

"Aku Huo Ru Feng tidak akan bertekuk lutut di depan siapapun!" "Ini sudah bukan masalah bertekuk lutut atau tidak, semua ini

karena Anda sudah tidak mampu lagi."

"Selama aku masih hidup, jangan harap kau bisa mengambil peti besi inil"

Xin Suan menarik nafas dan berkata, "Sifat Pendekar Huo sangat keras dan juga lurus, aku kagum kepada Anda, hanya saja kita memiliki Tuan yang berbeda, maka akupun tidak mau namaku tercemar. "

Dia me letakkan dua butir obat penawar itu di atas meja dan berkata, "Temanku sudah membawa kereta ke depan penginapan, harap Pendekar Huo jangan mengganggu perjalananku lagi!"

Sorot mata Xin Suan sangat dingin, dia menunggu keputusan terakhir dari Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tetap berdiri di depan peti besi itu dan dengan serius berkata, "Bunuhlah aku dulu baru kau bisa membawa peti besi ini!"

Segera Xin Suan menjawab, “Siap!" tangannya mengeluarkan pedang dan siap menusuk.

Tapi Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sama sekali tidak berusaha untuk menghindar, kelihatannya dia sudah siap mati bersama dengan peti besi itu. Melihat Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak melawan, pedang Xin Suan yang hampir sampai di tubuh Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng segera dibelokkan arahnya, dan dengan tangannya dia memukul tulang rusuk Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Perubahan yang terjadi begitu cepat dan aneh juga tidak disangka-sangka, tapi Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tetap berdiri dan tidak bergerak!

Terdengar suara PENG tangan Xin Suan sudah memukulnya, dan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng langsung pingsan!

Nadi di bagian bawah dada, di bagian kiri adalah hati, sedangkan bagian kanan adalah paru-paru, biasanya kalau dipukul dalam waktu satu hari orang itu pasti akan mati, tapi X in Suan dengan tepat bisa memperhitungkan semuanya, hingga Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng hanya pingsan saja.

Segera dia membopong Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng ke ranjangnya, dua butir obat itu dihancurkan dan dimasukkan ke dalam teh, setelah diaduk dengan rata, separuh teh itu dicekok masuk ke dalam mulut Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dan separuhnya lagi dioleskan pada kedua tangannya yang mulai membusuk.

Kemudian Xin Suan merobek handuk menjadi dua bagian untuk membungkus kedua telapak tangan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng. Setelah selesai melakukan pekerjaannya dia mengangkat peti besi dan membawanya.

Begitu keluar dari kamar, ternyata pelayan yang datang membawakan sayur dan nasi masuk ke dalam kamar, dia terpaku dan berkata, "Tuan, Anda "

"Temanku sedang sakit, dia berpesan kepadaku untuk membawakan peti besi ini, letakkan saja makanannya di atas meja, setelah itu pergilah dari kamar ini jangan mengganggu dia dulu!"

Dengan langkah besar dia keluar dari kamar, pengemis tua sudah menunggu di depan penginapan beserta dengan keretanya. Dia memasukkan peti besi itu ke dalam kereta, tiraipun diturunkan, setelah itu Xin Suan naik ke atas kereta dan berkata, "Ayo, kita pergi dari sini!"

Setelah keluar dari kota Wu Xing, pengemis tua itu baru berkata, "Bagaimana keadaan Pan Long Da Xia?"

Xin Suan menceritakan apa yang telah terjadi tadi, akhirnya dia menarik nafas dan berkata, "Sekarang, aku menyesai telah menerima pekerjaan ini!"

"Jangan merasa menyesal, kita terima pekerjaan mengantar barang ini dengan tujuan untuk menolong orang!"

"Memang maksud kita seperti itu, tapi    "

"Aku merasa, bila mendapatkan uang 100 ribu tail perak dengan tujuan menolong orang yang terkena bencana, itu sangat besar artinya!"

"Tapi "

"Jangan ada tapi-tapi lagi, kita melakukan semua ini asal tidak mencelakakan orang, itu saja sudah cukup!"

Xin Suan terdiam.

"Kau pernah mengatakan, kita tidak perlu mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dalam perebutan kekuasaan di kerajaan, walaupun Pan Long Da Xia adalah orang yang pantas dihormati tapi diapun belum tentu benar."

Pelan-pelan Xin Suan berkata, "Aku mencium sesuatu yang harum, harum apakah itu?"

Pengemis tua itu tertawa dan menjawab, "Itu adalah sayur asin dan 10 buah bakpao daging, ada di belakang tempat dudukmu!"

0-0-dwkz-0-0 Hari itu kereta berjalan dengan lancar sejauh 25 kilometer, setelah tiba di kota Chang Xing, hari sudah sore, mereka hanya beristirahat sebentar sambil memberi makan kuda mereka, setelah itu mereka segera melanjutkan perjalanan lagi.

Kota berikutnya adalah kota Yi Xing jaraknya dari kota Chang Xing adalah sekitar 50 kilometer. Mereka berencana pada hari kedua siang, harus sudah tiba di kota Yi Xing, menginap satu hari di sana setelah itu baru melanjutkan perjalanan.

Tapi rencana tidak berjalan sesuai dengan perkiraan.

Begitu malam tiba kereta berhenti di depan jembatan, mereka melihat ternyata jembatan itu telah terputus!

Lebar sungai di bawah jembatan itu sekitar 50 meter dan airnya sangat deras, tampaknya jika ingin menyebrangi sungai juga tidak akan bisa.

Jembatan itu terbuat dari kayu, sekarang jembatan itu rusak. Apakah dirusak oleh seseorang atau memang roboh sendiri, tidak ada yang tahu. Karena di tengah-tengah jembatan tidak ada papan pengumuman yang memberitahu bahwa kereta tidak akan bisa melintasi jembatan itu.

Orang yang tidak bisa menyebrangi sungai itu ada sekitar 8 orang, 5 di antaranya adalah pejalan kaki, sedangkan 3 orang lainnya adalah dua orang penggotong tandu, dan seorang yang duduk di atas tandu. Mereka tampak sedang berunding menggunakan cara apa mereka bisa menyebrangi sungai itu.

Xin Suan naik ke jembatan yang sudah terputus itu, dia melihat- lihat keadaan di sana, jembatan itu hanya putus sepanjang 15-16 kaki, kalau tidak membawa kereta, orang bisa dengan mudahi meloncatinya tapi sekarang yang terpenting adalah bagaimana menyebrangkan kereta itu, dia bisa menyebrang sekalipun tidak akan ada gunanya.

Diapun tidak mempunyai ide bagaimana caranya supaya bisa menyebrangi jembatan itu, dia membalikkan badan lalu berjalan ke depan jembatan dan bertanya kepada para pejalan kaki yang sedang berkumpul di sana, "Mengapa jembatan ini bisa rusak?"

Ada yang menjawab, "Tidak tahu, tadi s iang sewaktu aku datang dari sebelah sana, keadaan di sini masih baik-baik saja, tapi sekarang jembatan ini bisa terputus begitu saja."

Xin Suan kembali bertanya, "Apakah kau adalah orang daerah sini?"

"Benar," jawab orang ini. "Berapa dalamnya sungai itu?"

"Kurang lebih 10 kaki," jawab orang itu.

"Apakah di sekitar s ini ada jembatan lainnya?" tanya Xin Suan. "Tidak ada," jawab orang itu.

"Apakah di sini ada perahu penyebrang?" tanya Xin Suan lagi. "Tidak ada," jawab seorang tua.

"Lalu kita harus bagaimana sekarang?" tanya Xin Suan

kebingungan.

"Benar, keadaanku paling parah, ibuku sedang sakit dan aku pergi ke kota untuk membeli obat, sekarang aku tidak bisa kembali. Hhehhh!" keluh orang itu.

"Tempat yang terputus kurang lebih ada 15-16 kaki, apakah kalian sanggup meloncatinya?" tanya Xin Suan.

Orang-orang di sana secara bersamaan menjawab, "Tidak, kami tidak sanggup meloncat begitu jauh."

"Apakah kalian sedang terburu-buru ingin penyebrang ke sana?" tanya Xin Suan.

"Benar! Sekarang hari mulai gelap, kami ingin pulang tapi jembatan terputus."

Seorang nenek tua berkata, "Kalau kalian tidak mau menyebrang tidak apa-apa, tapi aku tetap harus menyebrang ke sana!" Xin Suan melihat nenek itu memakai baju begitu mewah dan bertanya, "Apakah Nenek adalah orang yang tadi berada di atas tandu?"

"Benar! Aku adalah dukun beranak, aku harus menyebrang ke sebelah sana untuk membantu orang bersalin, sekarang aku harus bagaimana?" tanya nenek tua itu kebingungan.

Begitu Xin Suan mendengar bahwa si nenek harus menyebrang untuk membantu kelahiran anak, diapun ikut merasa cemas dan berkata, "Ini adalah hal penting, apakah aku boleh menggendong Nenek supaya bisa menyebrang ke sebelah sana?"

Nenek tua itu dengan marah menjawab, "Anak muda, kau jangan terlalu sombong, kau sendiripun tidak bisa menyebrang, sekarang kau malah harus menggendongku!"

"Aku bisa meloncat ke seberang sana, coba Nenek perhatikan baik-baik...." kata Xin Suan.

Xin Suan kembali lagi ke jembatan yang terputus, hanya sekali melakukan lompatan kecil, dia bisa menyebrang ke sana, dan dengan cepat dia kembali ke tempat semula lalu tertawa,

"Nenek sudah melihat sendiri, apakah Nenek mau kugendong dan kusebrangkan?"

Nenek tua itu tetap menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak, kalau sampai jatuh ke sungai, bagaimana?"

Xin Suan berkata pada orang-orang yang ada di sana, "Siapa yang mau kugendong untuk menyebrangi sungai ini?"

"Coba kau gendong aku dulu, karena ibuku sedang sakit dan dia harus segera minum obat."

"Baiklah, kau naik ke atas punggungku!" kata Xin Suan.

Benar saja, Xin Suan dan orang itu berhasil menyebrangi sungai dengan selamat dan dia berkata pada orang itu, "Cepatiah pulang, ibumu sedang menunggu." Orang itu merasa sangat berterima kasih, dengan cepat dia berlalu dari sana.

Xin Suan kembali ke tempat dukun beranak tadi dan berkata, "Nenek, Anda tidak perlu merasa khawatir sekarang!"

Dukun beranak itu tetap menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak mau!"

"Mengapa?"

Dengan seius nenek itu menjawab, "Kau adalah laki-laki sedangkan aku perempuan!"

Xin Suan tertawa, "Nenek, Anda sudah berusia 60 tahun lebih, apakah "

Dukun beranak itu melotot dan berkata, "Apakah karena aku berusia 60 tahun lebih maka kau boleh bertindak sembarangan?"

Xin Suan mengangkat bahunya dan berkata, "Baikiah, kalau Nenek tidak mau menyebrang tidak apa-apa, sebenarnya aku mengkhawatirkan keadaan ibu yang akan bersalin itu."

Jawab dukun beranak itu, "Membantu orang bersalin memang sangat penting tapi menjaga nama baik juga sangat penting!"

Xin Suan tidak mau meladeni lagi si nenek, maka dia bertanya kepada yang lainnya, "Apakah kalian masih ada yang ingin kugendong untuk menyebrang?"

Akhirnya semua orang berhasil disebrangkan, hanya tersisa si dukun beranak itu beserta dengan dua penggotong tandunya.

Xin Suan kembali ke keretanya dan bertanya kepada si pengemis tua, "Biasanya idemu sangat banyak, apakah sekarang kau tahu bagaimana caranya menyebrangi sungai ini?"

"Ada."

"Bagaimana caranya?" "Membuat jembatan baru lagi." Xin Suan marah dan berkata, "Aku tidak mempunyai waktu untuk bergurau!"

"Akupun tidak ada waktu untuk main-ma in."

"Apakah kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat jembatan itu?"

"Kira-kira setengah jam saja sudah cukup." "Apakah kau bisa bermain sulap?"

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak dan menjawab, "Tidak bisa, sebenarnya ini masalah sangat sederhana, asalkan kau mau kembali ke kota membeli beberapa papan tebal setelah itu menyusunnya di atas jembatan itu, maka kitapun bisa menyebrang."

Xin Suan menjawab, "Sebenarnya ini adalah ide yang bagus, tapi apakah kau tahu mengapa jembatan ini bisa putus?"

"Tentunya dirusak oleh seseorang."

"Benar, kalau sekarang aku kembali lagi ke kota untuk membeli papan, bukankah musuh akan mengambil kesempatan ini untuk merebut peti besi itu, sebenarnya ini adalah akal-akalan mereka saja!"

"Kita berdua bisa secara bersama-sama membawa kereta ini kembali ke kota."

"Benar juga, terpaksa kita melakukan hal seperti itu."

Sewaktu dia akan menaiki kereta, dukun beranak itu tiba-tiba berkata, "Bocah, coba kau ke sini sebentar!"

"Ada apa, Nek?" tanya Xin Suan.

Dukun beranak itu menghembuskan nafas dan berkata, "Setelah dipikir-pikir, aku kira lebih baik aku menyebrang saja, coba kau gendong aku untuk menyebrang ke sana!"

"Apakah setelah menyebrang Nenek akan berjalan kaki ke tempat orang bersalin itu?" "Sepertinya memang harus seperti itu." jawab nenek itu

"Kalau begitu, silakan Nenek naik ke atas punggungku." Kemudian dengan cepat Xin Suan sudah menyebrang ke bagian sebelah sana.

Tapi baru saja kedua kakinya mendarat di bagian sebelah sana, Xin Suan terjatuh dan tidak bisa bergerak. Pengemis itu terkejut dan berteriak, "Xin Suan, ada apa?"

"Ternyata diriku sangat berat, hingga temanmu ini tidak kuat menggendongku!"

Diiringi suara itu tubuhnya sudah loncat dan menyebrangi sungai itu, ternyata dia adalah seorang nenek yang mempunyai ilmu silat tinggi!

Wajah pengemis itu tampak berubah, dia berteriak sambil membawa turun tongkatnya, “Nenek jahat, ternyata kau sendiri yang memutuskan jembatan ini!"

Kedua penggotong tandu itupun ternyata bukan penggotong tandu biasa, dari balik tandu mereka mengeluarkan senjata masing- masing, senjata mereka adalah dua buah golok, di kiri dan kanan, mereka siap membacok si pengemis. Wajah mereka dipenuhi dengan hawa membunuh, dan berkata, "Pengemis busuk, kau juga harus mati mengikuti jejaknya!"

Mereka menyerang dari kiri dan kanan. Tongkat pengemis itu dima inkan dan dipukul, pukulan itu mengenai pundak mereka berdua, pengemis itu membentak, "Pergi! Kemampuan ilmu silat kalian masih jauh!"

Kedua penggotong tandu itu karena sudah terkena pukulan si pengemis, mereka mundur beberapa langkah.

"Kalian mundur, biar aku yang membereskan dia," kata si dukun beranak itu. Begitu mendekati pengemis itu, kesepuluh jarinya sudah dijulurkan, kukunya sangat panjang, jarinya berbentuk seperti cakar, siap mencakar ke wajah pengemis tua?"

Pengemis tua itu mundur beberapa meter, dia terkejut melihat tangan si nenek, katanya, "Apakah Anda adalah Gui Zhao, Liu Shi Gu (Cakar setan)

Kuku Liu Shi Gu panjang, lancip, dan berwarna hitam serta tampak kotor, sepertinya kuku itu sudah diolesi oleh racun. Kuku itu terlihat sangat seram dan menakutkan.

Nenek tua itu tertawa dan berkata, "Baru sekarang kau tahu kalau aku adalah Gui Zhao Liu Shi Gu, sayang sudah terlambat."

Pengemis tua itu sangat takut kepada cakar setannya, segera tongkatnya menyapu ke arah kedua kaki Liu Shi Gu.

Gui Zhao Po Po, Liu Shi Gu mengangkat kaki kirinya, menendang tongkat bambu si pengemis, kemudian telapak tangannya terbuka dan kelima jarinya menekuk dan menyentil----

Lima buah benda kecil keluar dari kukunya dan dilepaskan ke wajah dan dada si pengemis.

Tapi sebelumnya si pengemis sudah ada persiapan, pada saat melihat jarinya dilipat kemudian dibuka, kakinya sudah siap untuk meloncat. Begitu jari-jarinya membuka, tubuh si pengemis sudah seperti seekor ikan terbang yang meloncat jauh, dan dia bisa menghindari jurus Gui Zhao Kai Hua (Cakar setan membuka bunga).

Jurus Gui Zhao Kai Hua adalah sebuah jurus yang sangat menakutkan, senjata rahasia yang tersimpan di balik kuku yang bernama Tan Hun Zhu (Mutiara meminta nyawa). Tan Hun Zhu sangat kecil hanya sebesar biji kacang hijau, tapi pada saat disentil, butiran itu akan hancur dan bubuknya akan mengeluarkan bau wangi, jika lawan menghisap bau wangi itu, mereka akan segera pingsan dan roboh. Senjata ini sangat jarang dipakai oleh Gui Zhao Po Po tapi sekali dipakai, 100% pasti akan berhasil. Sekarang dia sekaligus menyentil 5 butir Tan Hun Zhu, dia siap mencabut nyawa si pengemis tua itu. Untung saja si pengemis terhadap serangan Gui Zhao Po Po sudah tidak as ing lagi, dan dia sudah mengetahui jurus dan teknik Gui Zhao Po Po, maka diapun bisa menghindari, tidak sampai pingsan dan roboh.

Gui Zhao Po Po sangat menyayangi senjata rahasianya, prinsipnya sekali dia menyentil Tan Hun Zhu harus bisa mengenai musuh dan melumpuhkannya, sekarang dia melihat si pengemis bisa menghindar, dia marah dan membentak, "Pengemis bau, aku jarang gagal dalam membunuh, malam ini kau harus mati!" sambil berkata dia sudah menyerang pengemis tua itu.

Pengemis tua itu tidak mau melayaninya, dia kembali me loncat jauh, kemudian lari ke jembatan dan dengan cepat menggendong Xin Suan—

"Mau ke mana kalian?"

Gui Zhao Po Po seperti bayangan yang terus menempel dan mengikuti mereka terus, meloncat dari jembatan yang sudah putus, kedua telapak tangannya menyerang ke punggung si pengemis.

Tiba-tiba si pengemis membalikkan tangan dan memukul dengan tongkatnya, terdengar suara PAK, pukulan itu mengenai pergelangan tangan Gui Zhao Po Po, kemudian pengemis itu membawa Xin Suan meloncat masuk ke dalam sungai.

Mungkin si pengemis bisa berenang begitu masuk ke dalam air dia langsung menghilang.

Gui Zhao Po Po tidak bisa berenang, begitu melihat mereka kabur kedalam air, dia hanya bisa marah dan berteriak, "Cepat kejar! Hayo kalian berdua turun dan tangkap mereka!"

Kedua penggotong tandu palsu itu menyahut dan dengan tergesa-gesa terjun ke dalam air, tapi begitu masuk ke dalam air, mereka baru ingat kalau mereka tidak bisa berenang, segera mereka berteriak, "Shi Gu, kami tidak bisa berenang! Tolong! Tolong. " Mereka berdua menggapai-gapai dan berpelukan, karena mereka berdua ingin menjadikan teman mereka sebagai tempat untuk pegangan, semakin mereka bergerak mereka semakin tenggelam, akhirnya mereka benar-benar tenggelam terbawa oleh arus sungai yang deras.

Dengan kaget Gui Zhao Po Po berteriak, "Ada apa dengan kalian?

Cepat naik! Cepat... cepat!"

Gui Zhao Po Po sekarang tampak kebingungan.

Kedua orang itu tidak terapung lagi, mereka sudah terbawa oleh arus air.

Dia terpaku lama melihat semua itu, kemudian dia menghibur diri, "Sudahlah, di dunia ini banyak pembantu lain, aku semakin tidak suka dengan mereka, kalau mereka mati aku bisa mencari yang lain!"

Dia segera kembali ke kereta membuka tirai dan melihat peti besi itu, sambil tertawa senang dia berkata, "Hilang satu, tapi mendapat pengganti yang lain."

Sambil tertawa dia naik ke atas kereta dan membawa kereta itu pergi.