Suling Pualam dan Rajawali Terbang Jilid 5 (Tamat)

Jilid 5 (Tamat)
Peristiwa yang menyedihkan ini, sekalipun hatinya keras, menyaksikan keadaannya, tak tahan kiranya tak turut merasa pilu. Maka sekalipun Pek-kut-sin-kun yang sudah biasa melakukan segala rupa pembunuhan dengan tangan dingin, menghadapi pemandangan yang menunjukan betapa besar rasa welas asih antara ketiga anak muda itu, tergerak juga hatinya. Kim Tan, itu anak muda yang berada di depan matanya, yang pernah bertempur dengan ia, kawan ataukah lawan?

Perasaannya itu waktu sangat kabur. Oleh karena itu pula, maka pemandangan yang memilukan hati itu, berlangsung tanpa ada gangguan. Tapi sebentar kemudian, suaranya Pek-kut-sin-kun memecahkan kesunyian, dengan sorotan mata yang dingin memandang wajahnya Han Ing, ia berkata: „Sekiranya kau sengaja mencari mati, dengan tidak perdulikan jiwamu sendiri hendak menolong kekasihmu, baiklah aku tambahkan satu pukulan lagi, agar maksudmu lekas tercapai.” Sehabis berkata, dengan mengarah ke udara ia melepaskan satu serangan.

Ma Beng juga tahu bahwa serangan Pek-kut-sin-kun ini hebat, tidak ayal lagi ia juga melontarkan serangan yang dapat menembus udara kosong, untuk menangkis, dan Kim Tan juga sudah siapkan Tay-it-sin-kang nya. Berbareng dengan gerakannya Ma Beng, ia lontarkan ke arah Pek-kut-sin-kun, sehingga mengeluarkan suara bentrokan keras.

Tapi kedua-duanya tergoncang tubuhnya, meski demikian, serangannya Pek-kut-sin-kun hanya terhambat tujuh bagian saja. Masih untung Cu Ling Cie sangat cepat gerakannya, dengan menempuh bahaya besar, ia memondong tubuhnya Han Ing dan melesat tujuh-delapan tindak jauhnya. Kemudian disusul dengan beberapa kali lompatan, sudah lari meninggalkan ruangan pusat Pek-kut-kauw.

Pek-kut-sin-kun yang sudah kalap, mana mau mengerti, maka dengan mengeluarkan seruan keras, ia segera mengejar. Kim Tan dan Ma Beng coba menghadang, tapi sudah tidak keburu.

Cu Ling Cie dengan seorang diri melawan Pek-kut-sin-kun secara nekat, ditambah pula sebelah tangannya memondong tubuhnya Han Ing, maka kelihatan sangat sukar untuk meloloskan diri dari tangan mautnya Pek Kut Kun.

Dalam saat yang sangat genting itu, tiba-tiba dari udara meluncur satu bayangan abu-abu, menyerang Pek-kut-sin-kun.

Pek-kut-sin-kun sedang pusatkan pikirannya kepada dirinya lawan muda ini, terhadap serangan yang datangnya secara tiba- tiba itu, sudah tentu agak gugup. Namun masih bisa mengegos badannya dengan cepat, kemudian ia mengebutkan jubahnya ke atas udara untuk menyerang bayangan itu. Tapi bayangan itu ternyata lebih cepat menyingkirkan diri, kemudian menyambar ke bagian depan dengan mementang kukunya yang tajam, untuk menyerang mukanya Pek-kut-sin-kun.

Diserang secara demikian, Pek-kut-sin-kun terhalang maksudnya untuk membinasakan Cu Ling Cie dan Han Ing, hawa marahnya lantas meluap seketika. Dengan mengeluarkan bentakan keras ia memaki: „Binatang dari mana berani bertingkah dihadapanku!” Perkataan itu disusul dengan melesatnya tubuh setinggi empat-lima tumbak. Kim Tan mendongak ke udara, ia dapat lihat bahwa bayangan abu-abu yang melakukan serangan tiba-tiba itu ternyata burung rajawalinya Cu Ling Cie, diam-diam ia merasa heran.

Dalam keadaan murka, Pek-kut-sin-kun mengapung di udara, dengan mementang lima jari tangannya, ia hendak menyerang burung itu. Tapi burung rajawali itu dengan kecepatan seperti kilat, telah kebutkan sayapnya, menyusul mana, satu samberan angin yang sangat kuat telah menyerang Pek-kut-sin-kun.

Dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah mencapai taraf yang sempurna, serangan burung itu sebetulnya tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Pek-kut-sin-kun. Tapi karena saat itu tubuhnya Pek-kut-sin-kun sedang terapung di udara, hingga kekuatannya berkurang, terpaksa ia berkelit dan melesat beberapa tumbak jauhnya, kemudian turun ke tanah.

Kim Tan dengan kecepatan seperti kilat, mengeluarkan ilmu pukulan „bintang mengejar rembulan”, menutup jalannya Pek- kut-sin-kun. Tapi jago Pek-kut-sin-kun ini, dengan mengandalkan ilmu silatnya dan tenaga dalamnya yang tinggi, terhadap serangan ini agaknya tidak ambil mumat, hingga sama sekali tidak berkelit, malahan dengan mengulurkan dua jari tangannya hendak menjepit pedang lawan.

Kim Tan juga insyaf bahwa kekuatannya masih kalah jauh dengan lawannya, maka lantas buru-buru menarik kembali serangannya, memutar berbareng dengan tubuhnya, kembali menyerang, tapi kali ini yang di arah adalah bagian tengah dari tubuhnya Pek-kut-sin-kun. Dan Ma Beng pada saat itu juga sudah mengeluarkan senjatanya untuk menyerang.

Meski menghadapi dua musuh tangguh, tapi tetap tidak keder. Sebaliknya Kim Tan berdua dengan Ma Beng, meski sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, masih belum juga dapat merebut kemenangan. Sedang Cu Ling Cie itu telah menggunakan saat yang baik ini, lantas memondong tubuhnya Han Ing, melarikan diri ke bawah gunung.

Pui Tiauw yang melihat Cu Ling Cie hendak melarikan diri, lantas memburu dari belakang. Cu Ling Cie dapat lihat bahwa musuhnya mengejar, hatinya merasa panas. Dengan tangan kiri menggendong tubuhnya Han Ing, tangan kanannya segera menghunus pedang, untuk melawan Pui Tiauw.

Jika di dalam keadaan biasa, dengan kekuatan Cu Ling Cie, mudah sekali akan merubuhkan Pui Tiauw. Tapi kini karena tangan kirinya memondong tubuh Han Ing, maka gerak tangannya agak lambat, belum sampai sepuluh jurus, ia sudah merasa kewalahan.

Melihat Pui Tiauw terus mendesak, Cu Ling Cie amarahnya meluap, sebetulnya ingin meletakkan tubuhnya Han Ing, tapi hatinya tidak tega, karena Han Ing saat itu keadaannya sudah sangat payah, napasnya lemah. Ia agak bingung juga, dan Han Ing yang tadinya dalam keadaan tidak ingat orang, karena tubuhnya tergoncang ke sana ke mari, hingga samberan angin gunung yang sejuk, menyadarkan pikirannya dan dengan pelahan membuka matanya. Setelah menyaksikan keadaan Cu Ling Cie yang sangat berbahaya karena membela dirinya, maka ia coba meronta dan berkata kepada Cu Ling Cie: „Adik Cie, menuntut balas sakit hati ayah bundamu ada sangat penting, jangan perdulikan aku, lekas lepaskanlah aku.” Mendengar perkataan Han Ing itu, hati Cu Ling Cie bertambah sedih. Ia agak sangsi sebentar, dan Han Ing telah menggunakan ketika itu, dengan mengerahkan kekuatannya yang masih ada, ia melepaskan diri dari gendongannya Cu Ling Cie.

Dalam saat itu juga, Pui Tiauw sudah melakukan serangannya yang berbahaya, dengan menyontek senjatanya yang merupakan alat tulis (pit) ke atas, terus meluncur ke arah jalan darah Yong-coan-hiat. Cu Ling Cie bertambah murka, dengan melintangkan pedangnya ia menyambuti serangannya Pui Tiauw, dengan maksud hendak memapas kutung senjata musuhnya. Pui Tiauw yang mengetahui liehaynya pedang pusaka itu, maka buru-buru menarik kembali, dan merubah serangannya, mengarah bagian pusar.

Cu Ling Cie membentak dengan suara keras: „Pui Tiauw, apakah kau hendak mencari mampus lihat pedang!”

Seruan itu dibarengi dengan serangan yang bertubi-tubi. Dengan dicecer secara demikian, Pui Tiauw terpaksa mundur beberapa tindak, baru dapat berdiri jejak. Tapi Cu Ling Cie yang sudah dapat hati, tidak mau berhenti sampai disitu. Serangan-serangan yang hebat terus dilancarkan, hingga Pui Tiauw tidak berdaya sama sekali. Sejenak kemudian, terdengar jeritan hebat dari mulutnya Pui Tiauw, karena tangan kanannya sudah dibabat kutung sebatas pundak oleh pedang Cu Ling Cie.

Dengan menahan rasa sakit, Pui Tiauw bertekad hendak hancur bersama-sama dengan musuhnya, maka senjata di tangan kirinya lalu dipakai sebagai senjata rahasia, dilontarkan ke arah dada Cu Ling Cie. Dengan memiringkan tubuhnya Cu Ling Cie menghindarkan serangan itu. Kemudian dengan mengumpulkan kekuatannya ditelapakan tangannya, ia menggunakan ilmu Pan- yok-sin-kang, untuk membalas menyerang. Satu samberan angin yang hebat, dengan tepat mengenakan tubuhnya Pui Tiauw.

Pui Tiauw yang sudah kutung tangannya., ditambah dengan serangan hebat ini, mana bisa tahan, tidak ampun lagi, tubuhnya lantas rubuh untuk tidak bangun kembali.

Setelah berhasil menamatkan jiwa musuh besarnya, Cu Ling Cie buru-buru menyampari Han Ing.

Han Ing yang sudah terluka parah, dengan secara nekat telah menghadang dan menerima serangan yang dilancarkan oleh Pek-kut-sin-kun, untuk menolong nyawanya Kim Tan, sehingga dengan demikian Kim Tan telah terlolos dari bahaya maut. Tapi bagi Han Ing sendiri, lukanya bertambah hebat. Hanya karena pengaruh obat pil dari Ngo-bie, ia masih dapat pertahankan dirinya. Kini setelah memaksa melepaskan diri dari pondongannya Cu Ling Cie, sudah tentu tidak tahan lagi, sehingga setelah menggeletak di tanah, sampai pertempuran antara Cu Ling Cie dan Pui Tiauw berakhir, masih belum ingat orang.

Cu Ling Cie yang dapat melihat keadaan yang sangat memilukan ini, hancur luluh rasa hatinya, lama sekali tidak dapat bicara. Setelah hatinya tenang kembali, ia lalu meraba dadanya Han Ing, ternyata masih berdenyut, hingga tahu bahwa Han Ing masih hidup. Dalam keadaan bingung, ia tidak bisa berbuat suatu apa, hanya ingat dengan obat pil Ngo-bie saja, maka ia buru-buru mengambil sebutir dan dijejalkan ke dalam mulutnya Han Ing.

Obat pil yang sangat mujarab ini, adalah buatannya Sam Hie To- tiang sendiri, dan memang betul-betul sangat mujarab. Han Ing yang lukanya begitu berat, setelah kemasukan pil ini, dengan perlahan dapat sadar kembali.

Han Ing membuka matanya yang guram, dengan perlahan menarik napas. Setelah melihat tubuhnya Pui Tiauw menggeletak di tanah sudah jadi mayat, sambil tersenyum ia berkata dengan suara lemah:

„Adik Cie, permusuhanmu dengan Ouw-pak-sam-sat telah selesai, kupikir sebaiknya kalian buru-buru meninggalkan gunung Ai-lie-san ini, untuk menyingkirkan diri dari cengkeraman kawanan Pek-kut-kauw. Encimu ini sudah terluka berat, sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi. Maksud kita ternyata banyak sekali rintangannya, sukar tercapai. Hanya dengan kematian kudapat membalas budi dan kecintaan sobatku yang paling akrab. Tolong sampaikan perkataanku kepada adik Tan, supaya ia jangan memikirkan dirinya orang yang bernasib malang.”

Cu Ling Cie adalah seorang yang berperasaan halus, mendengar perkataan Han Ing yang sangat memilukan hati ini, hancur rasa hatinya, dari kedua matanya mengalir deras air mata. Dengan sesenggukan ia berkata: „Encie Han Ing, kau tidak boleh mati, biar bagaimana, kita tentu akan berdaya sebisa-bisanya untuk menolong jiwamu.”

Sehabis berkata, dengan menahan rasa pilunya, kembali ia memondong tubuh Han Ing yang sudah tidak bertenaga lagi.

Pada waktu itu, Kim Tan bersama Ma Beng sedang bertempur mati-matian melawan Pek-kut-sin-kun. Meski menggabung kekuatan dua orang, pertempuran itu kelihatannya masih berimbang, Kim Tan belum dapat kesempatan untuk merebut kemenangan. Dan jika temponya diperpanjang lagi, ada kemungkinan Kim Tan akan kalah.

Cu Ling Cie yang menggendong Han Ing, selagi hendak meninggalkan pusat Pek-kut-kauw ini, telah dapat lihat bahwa Kim Tan dan Ma Beng masih tetap tidak berdaya menghadapi Pek-kut-sin-kun, sehingga hatinya merasa sangat gelisah. Ia ingin maju memberi bantuan, namun tidak tega meninggalkan Han Ing. Dalam gugupnya, ia lalu bersiul panjang, dan sekejap mata kemudian, seekor burung besar telah mendatangi dengan kecepatan seperti kilat, kemudian menyerang Pek-kut-sin-kun dengan patoknya yang tajam seperti baja. Pek-kut-sin-kun benar-benar sangat liehay, meski sedang bertempur melawan dua jago kosen, namun masih dapat berkelit untuk menghindarkan serangan burung rajawali yang datangnya secara tiba-tiba itu, malahan masih dapat menahan serangan dengan kebutan baju jubahnya. Burung rajawali tidak berhasil mengenakan sasarannya, tapi sudah memberikan kesempatan bagi Kim Tan dan Ma Beng untuk memperbaiki kedudukannya, maka sejenak kemudian, Kim Tan sudah lantas melakukan serangan bertubi-tubi. Karena Pek-kut-sin-kun sedang ripuh menghalau serangannya burung rajawali, maka jubahnya yang gerombongan telah terpapas separoh oleh pedangnya Kim Tan.

Pek-kut-sin-kun sebagai kepala satu perkumpulan, selama itu selalu memandang dirinya sendiri sebagai orang gagah nomor satu di kolong langit ini, mana pernah menerima hinaan begitu rupa? Dalam keadaan yang sangat murka, ia telah melancarkan serangan yang hebat beruntun-runtun mengarah jiwanya Kim Tan.

Kalau tadi Kim Tan telah berhasil dengan serangannya, adalah karena Pek-kut-sin-kun sedang bercabang pikirannya karena melawan burung dari atas udara, dan serangan itu pun dilakukan secara nekat. Tapi dengan demikian telah membangkitkan rasa amarahnya Pek-kut-sin-kun, sehingga seperti kerbau gila yang sedang mengamuk.

Serangan tenaga dalam Pek-kut-sin-kun itu telah menimbulkan samberan angin yang kuat dan menderu-deru, tanah dan tetanaman telah dibikin berterbangan, ini menunjukan betapa hebatnya serangan tenaga dalam Pek-kut-sin-kun itu. Kim Tan meski sudah mengerahkan Tay-it-sin-kang untuk menahan serangan, tapi tetap tidak dapat menahan serangan yang hebat itu.

Dalam perlawanannya yang sengit itu, tiba-tiba terasa suatu serangan angin yang sangat dingin sehingga meresap sampai di tulang-tulang, sedang menyamber ke arah dirinya dan memunahkan Tay-it-sin-kangnya. Ia hendak menyingkir, tapi sudah terlambat, hingga sambil mengertek gigi ia bersedia menerima kematiannya.

Dalam saat yang sangat berbahaya itu, mendadak ada satu kekuatan, yang sangat luar biasa menyerang dari samping. Heran sekali, begitu sampai kekuatan yang sangat luar biasa itu, serangan angin dingin Pek-kut-sin-kun segera lenyap tanpa bekas. Hal ini, bukan saja Kim Tan merasa terheran-heran, Pek- kut-sin-kun sendiri pun dibikin kesima.

Kim Tan membuka matanya memandang sekelilingnya, tapi tidak menampak bayangan siapapun juga. Pek-kut-sin-kun laksana burung terbang melompat tinggi, terus menubruk arah dari mana datangnya tenaga yang luar biasa tadi, dengan suara keras ia berkata:

„Sahabat berilmu tinggi dari mana yang telah mengunjungi pusat Pek-kut-kauw? Aku Pek Cu Lam menunggu disini, harap supaya suka perlihatkan diri.”

Sehabis berkata kembali turun ke tanah. Sepasang matanya yang sangat tajam, memandang ke sekitarnya, tapi tidak kelihatan siapapun juga. Pek-kut-sin-kun yang biasanya sangat sombong, belum pernah dipermainkan orang demikian rupa, meski dalam hatinya merasa panas, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Itu waktu, burung rajawali yang cerdiknya luar biasa itu, seolah- olah hendak permainkan dia. Selagi Pek-kut-sin-kun memandang ke sekitarnya, dengan kecepatan seperti kilat, burung itu terjun menyerang. Pek-kut-sin-kun yang sedang mendongkol segera lampiaskan rasa mendongkolnya itu kepada burung itu.

Dengan membentak keras ia mencaci „Binatang, ajalmu sudah sampai, apakah kau kira bisa lari?” Perkataan itu disusul dengan melesatnya tubuh setumbak tingginya, kemudian melancarkan serangannya yang hebat.

Burung itu meski sejenis binatang terbang, tapi sangat cerdas. Ia seperti juga sudah mengerti maksudnya Pek-kut-sin-kun, maka segera pentang sayapnya. Dengan mengeluarkan suara seolah- olah mengejek, lantas terbang tinggi ke angkasa. Pek-kut-sin- kun meski sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, tokh tidak bisa berbuat apa-apa.

Kim Tan yang itu waktu sedang memikirkan keselamatannya Han Ing, menggunakan kesempatan ini telah pergi menyampari Cu Ling Cie, dan tinggal Ma Beng seorang dan burung rajawali itu, menghalau Pek-kut-sin-kun. Oleh karenanya, maka Pek-kut- sin-kun pun tidak dapat kesempatan untuk mengejar Kim Tan. Han Ing meski sudah mendekati ajalnya, tapi ingatannya masih belum hilang. Melihat Kim Tan mendatangi, wajahnya menunjukkan senyuman, matanya mengembeng air, dengan perlahan ia berkata: „Adik Tan, kau dengan adik Ling Cie adalah pasangan yang setimpal. Lekaslah tinggalkan aku yang sudah akan mati ini dan buru-buru melarikan diri.”

Orang yang sudah dekat ajalnya tokh masih mementingkan keselamatan orang lain, hal ini membuat Kim Tan merasa sangat pilu dengan suara parau ia berkata: „Encie Han besar sekali budimu terhadap aku, meski hancur lebur tubuhku ini, masih belum dapat membalas budimu itu. Soal mati atau hidup, perlu apa dipikiri, dalam keadaan bahaya seperti ini suruh aku tinggalkan kau, benar-benar aku tidak sanggup.”

Cu Ling Cie yang berhati jujur, mendengar jawaban Kim Tan ini, lupa kalau dirinya sedang menghadapi musuh tangguh, dengan girang ia berkata: „Encie Han Ing, kita bertiga hidup atau mati akan bersama-sama. Pusat Pek-kut-kauw ini tokh bukannya bertembok besi berdinding waja. Dengan kekuatan kita berempat, tidak percaya kalau tidak dapat menerjang keluar.”

Baru habis perkataannya itu, Pek-kut-sin-kun sudah memukul mundur Ma Beng dengan pukulan telapakan tangannya, kemudian melesat ke atas udara, seperti seekor burung terbang menerjang mereka. Kim Tan yang menyaksikan cara silat Pek- kut-sin-kun ini, telah insyaf perlunya untuk melawan musuh lebih dulu, maka lantas meninggalkan Han Ing, menggunakan kesempatan tubuhnya Pek-kut-sin-kun masih mengapung di udara, lantas mengerahkan tenaga Tay-it-sin-kang, melepaskan satu serangan hebat.

Pek-kut-sin-kun meski hebat tenaga dalamnya, tapi karena tubuhnya masih terapung di udara, tidak bisa mengerahkan tenaganya, maka terpaksa mengempos semangatnya, dengan jungkir balik ia meloloskan diri dari serangan Kim Tan. Dengan demikian meski ia terlolos dari serangannya Kim Tan, tapi sudah terdesak demikian rupa, sehingga Kim Tan dapat kesempatan untuk menghunus pedangnya.

Keduanya bertempur lagi di lereng gunung, sinar pedang dan bayangan jubah saling berkelebat berputar-putaran. Dalam pada itu, Cu Ling Cie juga sudah menggendong tubuhnya Han Ing lari sejauh sepuluh tumbak lebih, sebaliknya Ma Beng pada saat itu sudah ditempur oleh Touw Thing Hwie, hingga tidak dapat melepaskan diri.

Kim Tan yang sendirian melawan Pek-kut-sin-kun, kelihatan sudah mulai keteter, dilihat gelagatnya, paling banter cuma bisa bertahan kira-kira sepuluh jurus lagi. Jika dilanjutkan, tidak mungkin dapat meloloskan diri dari Im-hong-ciangnya Pek-kut- sin-kun. 

Selagi dalam keadaan sangat bahaya itu, He Kau Chun si sembrono sudah datang dengan menenteng senjatanya yang berat itu, dari belakang ia menyodok gegernya Pek-kut-sin-kun, tapi Pek-kut-sin-kun seolah-olah di belakangnya tumbuh sepasang mata. Sebelum ruyungnya He Kau Chun mengenakan sasarannya, Pek-kut-sin-kun sudah kebutkan jubahnya ke belakang. He Kau Chun karena sudah merasakan liehaynya kebutan itu, mana berani gegabah, maka begitu merasa samberan angin, ia buru-buru lompat melesat setumbak lebih, untuk menghindarkan serangan itu.

Kim Tan menggunakan kesempatan itu, dengan beruntun tiga kali ia melakukan serangan, hingga untuk sementara ia masih dapat pertahankan diri.

Selagi bertempur hebat, tiba-tiba terdengar suara siulan yang nyaring, lantas disusul dengan kedatangannya satu imam tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, dengan suara mantap ia berkata kepada Ma Beng:

„Ma Tay-hiap, lekas pergi menolong Kim Siau-hiap, serahkan aku yang melayani Touw Thing Hwie ini.” Perkataan itu dibarengi dengan serangannya dari kedua telapakan tangannya, yang diarahkan kepada Touw Thing Hwie.

Ma Beng segera meninggalkan Touw Thing Hwie sambil berkata dengan nyaring: „Hian Kie Cu To-tiang, kedatanganmu sangat kebetulan. Kita sedang terkurung rapat, tidak dapat kesempatan untuk meloloskan diri. Aku tidak nyana kau telah menepati janjimu, untuk memberi bantuan kepada kita.” Sehabis berkata, ia segera lompat menyerang Pek-kut-sin-kun, membantu Kim Tan.

Pek-kut-sin-kun sungguh besar nyalinya, dengan mengandel kekuatan tenaga dalamnya yang tinggi, ia tidak pandang mata sama sekali ketiga jago itu. Dengan sepasang tangan ia melawan tiga jago kelas satu, masih tidak merasa keder sama sekali.

Itu waktu, kawanan Pek-kut-kauw sudah pada datang berkumpul, dan mengurung mereka merupakan bunderan besar, sehingga sukar sekali dapat meloloskan diri dari kepungan tersebut.

Di lain pihak, Hian Kie Cu juga sedang bertempur dengan Touw Thing Hwie, dan Cu Ling Cie itu waktu juga sudah dikepung oleh Go Beng yang membawa kawan-kawannya. Cu Ling Cie karena sebelah tangannya menggendong tubuhnya Han Ing, maka hanya melawan musuhnya dengan tangan sebelah. Sekalipun tinggi ilmu silatnya, juga mereka agak ripuh.

Han Ing kembali dalam keadaan pingsan, lapat-lapat mendengar suaranya senjata beradu, ia mengerti bahwa Kim Tan dan kawan-kawannya sudah terkurung oleh kawanan Pek-kut-kauw. Meskipun ingatannya belum terang, tapi masih bisa bicara seperti orang yang sedang mengigau: „Adik Cie, lekas lepaskan aku, jangan perdulikan aku lagi.”

Mendengar suara yang sangat dalam ini, pilu rasa hatinya Cu Ling Cie, hampir saja ia menangis. Pada saat itu juga, Han Ing kembali sudah melepaskan diri dari gendongan Cu Ling Cie, dan Cu Ling Cie yang merasa kaget segera hendak memondong lagi, tapi sudah terhalang oleh Go Beng yang melontarkan serangan hebat. Cu Ling Cie buru-buru mengegoskan dirinya, pedang di tangannya lalu dikerjakan, untuk membelah tubuhnya Go Beng. Go Beng segera melesat tinggi untuk menghindarkan serangan dahsyat itu, kemudian membalas menyerang dengan pedangnya, yang lemas, tapi ternyata tajamnya luar biasa. Dengan masing-masing memegang pedang mustika di tangannya, keduanya sama-sama berhati-hati, tidak berani menggunakan kekerasan untuk mengadu pedangnya, sehingga pertempuran itu merupakan saling kejar dan saling berkelit.

Han Ing itu waktu dengan menggunakan kekuatan yang masih ada, telah coba bangun, karena lukanya hebat. Sebetulnya tidak mudah untuk bergerak, tapi karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap Kim Tan, suatu tenaga gaib telah memberi kekuatan kepadanya, sehingga sebentar kemudian ia sudah dapat berdiri. Dengan perlahan-lahan menuju ke arah Kim Tan bertempur.

Kim Tan sedang mengeluarkan seluruh kepandaiannya, bertempur mati-matian dengan Pek-kut-sin-kun, mendadak dapat lihat Han Ing sedang mendatangi, kagetnya bukan alang kepalang.

Han Ing dengan susah payah baru dapat keluarkan perkataannya: „Kalian jangan bertempur lagi, dengar dulu perkataanku.”

Pek-kut-sin-kun dalam kemurkaannya, sudah hilang akal budinya, dengan suara keras ia membentak: „Budak hina, tidak tahu malu, kau masih ada muka untuk ketemui aku.” Sehabis berkata, jubahnya dikebutkan. Kim Tan yang dapat lihat, kagetnya bukan main. Karena dengan tubuhnya yang sudah terluka parah, mana tahan serangan hebat itu.

Untuk membalas budinya Han Ing yang sudah beberapa kali menolong jiwanya, maka kali ini Kim Tan dengan nekat telah melintangkan tubuhnya untuk menghalangi serangannya Pek- kut-sin-kun, tapi berbareng dengan itu, tiga buah benda bersinar yang tersusun menjadi bentuk segi tiga, telah menyerang ke arah tiga bagian penting dari tubuhnya Pek-kut-sin-kun.

Sekalipun tinggi ilmu silatnya, mau tidak mau Pek-kut-sin-kun merasa terkejut juga. Dengan miringkan tubuhnya ia berkelit, sambil menarik kembali serangannya, untuk memapaki tiga benda yang datang menyerang itu, dan kemudian menyampok jatuh tiga benda tersebut.

Kiranya Hian Kie Cu sedang bertempur dengan Touw Thing Hwie sudah lebih dari limapuluh jurus, masih dapat kesempatan untuk menyaksikan Kim Tan yang sedang bertempur dengan Pek-kut-sin-kun, maka ketika Pek-kut-sin-kun menyerang Han Ing dan Kim Tan datang menghalang, ia sudah lihat dengan tegas. Dan ketika Kim Tan menghadapi bahaya maut, ia lantas menggunakan ilmu silatnya Pat-kwa-ciang yang membikin ia terkenal di kalangan Kang-ouw untuk mendesak Touw Thing Hwie, sehingga terpukul mundur kira-kira tujuh-delapan tindak. Lalu dengan tiga butir tasbehnya yang dijadikan senjata rahasia, melakukan serangan secara mendadak kepada Pek-kut-sin-kun. Berbareng dengan itu, tubuhnya pun melayang ke udara, untuk menyusuli serangannya senjata rahasianya tadi. Tidak kira kalau Pek-kut-sin-kun sudah menggunakan tenaga dalamnya untuk memukul jatuh senjata rahasia tadi, dan sisa samberan angin yang kuat itu pun segera menyerang Hian Kie Cu yang tubuhnya masih terapung di udara. Menghadapi serangan yang datangnya di luar dugaan ini, Hian Kie Cu segera menekan dengan meminjam kekuatan lawannya, kemudian dengan secara jumpalitan ia menghindarkan diri dari serangan hebat itu.

Han Ing meski tubuhnya terlolos dari serangannya Pek-kut-sin- kun, tapi tenaganya sudah habis sama sekali, sehingga ibarat pelita sudah kering minyaknya, sudah tentu tidak dapat pertahankan dirinya. Dengan tubuh bergoyang-goyang, ia akan jatuh tersungkur. 

Dalam gugupnya, Kim Tan lalu melompat, tanpa pikir lagi ia segera menggunakan tangannya untuk memeluk tubuhnya Han Ing. Pek-kut-sin-kun dengan menggeram maju menyerang dua anak muda itu. Hian Kie Cu hendak menghalangi, tapi sudah tidak keburu.

Dalam kemurkaannya Pek-kut-sin-kun timbul hati kejamnya, hingga mengeluarkan pukulan yang mematikan. Dua anak muda itu lantas terpental sejauh satu tumbak.

Kim Tan meski dari mulutnya mengeluarkan banyak darah, tapi masih tetap memeluk tubuhnya Han Ing. Cu Ling Cie lantas maju menyerang Pek-kut-sin-kun bersama Hian Kie Cu. Menghadapi dua musuh ini, Pek-kut-sin-kun tidak takut sama sekali, malahan dengan suara dingin ia berkata: „Kalian dua binatang, kali ini mungkin akan mati dengan mata meram, tunggu sebentar aku nanti antar kalian ke akherat dengan jubahku ini.”

Cu Ling Cie sudah sedia dengan Pan-yok-sin-kang nya, hendak mengadu tenaga dengan Pek-kut-sin-kun. Di saat itu, satu bayangan burung telah meluncur dari udara, dengan kekuatan yang dilancarkan dari dua sajapnya, burung itu telah memapaki serangannya Pek-kut-sin-kun, kemudian terbang tinggi lagi.

Itu waktu, Ma Beng, Hian Kie Cu dan He Kau Chun lalu menyerang berbareng. Kembali Pek-kut-sin-kun harus melawan tiga orang.

Maka Cu Ling Cie dapat kesempatan untuk menyingkirkan diri, buru-buru ia menghampiri Kim Tan, untuk melihat keadaannya Kim Tan meski terluka, tapi ingatannya masih belum hilang. Maka ketika melihat Cu Ling Cie berdiri di depannya, dan melihat ia sedang memeluk tubuhnya Han Ing, seketika itu wajahnya menjadi merah, hingga melepaskan tubuhnya Han Ing.

Tapi Cu Ling Cie tidak mempunyai perasaan apa-apa, dengan suara lemah lembut ia berkata: „Engko Tan, jangan kau lepaskan Enci Han Ing, ia lukanya tidak enteng.” Sehabis berkata, mendadak dapat lihat Kim Tan mengeluarkan darah dari mulutnya, dengan kaget ia menanya: „Engko Tan, bagaimana dengan kau sendiri?” Kim Tan menyahut dengan pelahan: „Adik Cie, lukaku tidak berat, hanya tergerak oleh serangannya Pek-kut-sin-kun saja, sebentar lagi tentu akan sembuh.”

Cu Ling Cie buru-buru mengambil sebutir pil dan dimasukan dalam mulut Kim Tan: „Engko Tan, lekaslah minum ini obat dulu.”

Han Ing itu waktu wajahnya sudah seperti kertas, ia membuka matanya pelahan-lahan. Melihat mulutnya Kim Tan mengeluarkan darah, meski ingatannya sudah agak kabur, tapi tentang perbuatan Kim Tan yang secara mati-matian membela dirinya, ia lapat-lapat masih ingat, dengan suara lemah ia berkata:

„Adik Tan, adik Cie, badanku sudah luka parah, sekalipun ada obat manjur yang bisa menyambung nyawa, juga sudah tidak ada gunanya. Kalian berdua lekas tinggalkan tempat ini, jangan perdulikan aku......” berkata sampai disini, kembali tidak ingat orang.

Kim Tan setelah makan obat pil, badannya dirasakan segar kembali. Melihat Han Ing dalam keadaan pingsan, sesaat ia tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat Ma Beng, Hian Kie Cu dan He Kau Chun sedang didesak oleh Pek-kut-sin-kun, dalam keadaan sangat bahaya ini, ia telah lupakan badannya sendiri yang telah terluka, segera hendak memberi bantuan.

Tapi dicegah oleh Cu Ling Cie: „Biarlah engko Tan disini menjaga Enci Han Ing, aku nanti layani ia beberapa jurus.” Sehabis berkata, ia lantas mencelat dengan pedang terhunus ke arah Pek-kut-sin-kun.

Han Ing membuka matanya, melihat Kim Tan masih berdiri disisinya dengan wajah muram. Dengan suara lemah ia berkata:

„Adik Tan, bukan kau lekas membantu adik Cie! Badanku sudah terluka parah, pasti tidak bisa hidup lagi, kau jangan memikirkan orang yang sudah hampir mati. Setelah kalian sudah meloloskan diri dari sini, percayalah, aku juga sudah tidak ada di dunia lagi. Jika kau tidak melupakan persahabatan kita, biarlah kau doakan saja, supaya rohku lekas menitis kembali. Jika kita ada jodoh, dilain penitisan tentu ketemu lagi.” Dengan menahan rasa sakit, ia memaksakan diri untuk bersenyum.

Menampak keadaan yang sangat memilukan ini, sekalipun Kim Tan ada satu laki-laki yang gagah, dan kuat hatinya, tidak urung merasa terharu juga, sehingga air matanya membasahi kedua pipinya.

Han Ing melihat dia malahan sangat berduka, sehingga berdiri menjublek seperti patung sedangkan keadaan ada sangat berbahaya. Murid-muridnya Pek-kut-sin-kun, itu waktu juga sudah pada berkumpul dan menjaga di setiap tempat, jika terlambat lagi, lebih susah untuk meloloskan diri.

Dalam bingungnya ia memaksakan diri melepaskan pelukan Kim Tan, dan dengan kekuatan yang masih ada, ia hendak benturkan kepalanya di atas batu cadas. Kim Tan seolah-olah sudah mengerti maksudnya, maka dengan kecepatan seperti kilat, ia sudah menubruk dan dapat mencandak kaki kanannya. Tidak nyana Han Ing masih mempunyai kekuatan luar biasa, hampir saja Kim Tan tidak berdaya menghadapinya, untung Kim Tan kekuatannya banyak lebih tinggi, maka dengan kekuatan ia akhirnya dapat mencegah Han Ing dari benturan batu cadas itu. Han Ing ingin supaya Kim Tan segera dapat meloloskan diri, maka bertekad mencari kematiannya. Selagi Kim Tan masih belum dapat tetapkan hatinya, ia kerahkan kekuatannya di tangan, dan dihantamkan ke kepalanya sendiri.

Terhadap perbuatan yang dilakukan secara tiba-tiba dan di luar dugaan ini, meski Kim Tan sudah dapat lihat dengan tegas, tapi sudah tidak keburu untuk mencegah.

Han Ing selagi mengangkat tangannya dan baru hendak diturunkan untuk memukul, mendadak seperti terhalang oleh satu kekuatan gaib, tangan itu tidak dapat bergerak lagi. Pada saat itu, seorang tua yang berdandan seperti pengemis telah berdiri di depan mereka. Setelah ditegasi, Kim Tan baru tahu bahwa orang tua itu adalah Hiong Lip Khun.

Belum sampai Kim Tan membuka mulutnya, atau sudah didahului oleh Hiong Lip Khun: „Kim Tan Hian-tit, lekas hidupkan jalan darahnya.” Mendengar ini, ia baru tahu bahwa Han Ing barusan tidak bisa gerakkan tangannya, ialah terkena totokan yang dilancarkan oleh Hiong Lip Khun dari jauh melalui udara terbuka.

Kim Tan sambil membuka totokannya Han Ing, matanya mengawasi keadaan pertempuran. Ma Beng, Cu Ling Cie dan He Kau Chun sudah berada di bawah angin, keadaannya sangat berbahaya, setiap saat bisa menghadapi kecelakaan. Jika Hiong Lip Khun pada saat itu tidak muncul, sudah tentu akan mengalami kekalahan besar.

Han Ing setelah diurut urat besarnya, telah sadar kembali. Melihat Kim Tan membela dirinya begitu sungguh-sungguh hati, meski dalam keadaan berbahaya, masih lupakan keselamatan diri sendiri untuk menolong jiwanya yang sudah hampir mati. Perbuatan ini sungguh sukar dicari keduanya.

Dengan menghela napas panjang ia berkata: „Aku adalah seorang sudah hampir mati, tapi kau ada lain. Kau masih mempunyai banyak harapan di kemudian hari, buat apa kau mau menemani aku terkubur di tempatnya Pek-kut-kauw ini?” Sampai disini, ia sudah tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.

Menghadapi pemandangan yang sangat memilukan hati ini, Kim Tan seolah-olah sudah kehilangan akal budinya sama sekali. Dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara yang halus dari benda logam telah memecah kesunyian. Kim Tan seolah- olah sedar dari mimpinya, ketika menegasi dua sinar yang mengkeredep telah datang menyambar.

Dalam kagetnya, ia sendiri masih bisa menghindarkan diri, tapi Han Ing mau tak mau tentu akan terkena serangan gelap itu. Dalam gugupnya, ia telah lupakan bahwa ia sendiri belum sembuh dari luka-lukanya, dengan mengemposkan tenaga dalamnya, ia melontarkan satu serangan. Dua benda bersinar itu meski tersampok jatuh, tapi ia sendiri karena kehabisan tenaga, akhirnya pun rubuh di tanah. Di saat itu satu bayangan hitam telah datang menubruk. Kiranya adalah Touw Thing Hwie yang barusan dipukul terpental oleh Hian Kie Cu, ternyata tidak mengalami luka berat, maka setelah mengaso sebentar, lantas bisa bangun berdiri lagi. Ketika melihat Kim Tan sedang repot menolong Han Ing, maka hendak melakukan pembokongan secara keji, bukan saja sudah menyerang dengan dua pisau terbangnya, bahkan serangan itu disusul dengan datangnya orang. Kim Tan sedang mulai kabur ingatannya, kelihatannya segera akan mati di bawah pukulan Touw Thing Hwie.

Dalam keadaan yang berbahaya ini, Kim Tan seperti tertahan oleh satu kekuatan yang gaib tubuhnya yang tadinya sudah akan rubuh, mendadak berdiri lagi, dan Touw Thing Hwie sendiri seperti ditangkis oleh tenaga yang kuat, tidak mampu mendekati tubuhnya Kim Tan.

Dorongan yang menahan Kim Tan itu malahan seperti ada hawa hangat yang terus masuk ke hulu hatinya Kim Tan, sehingga lantas mendusin secara mendadak. Ia dapat lihat Touw Thing Hwie sedang lari mendatangi, meski tenaganya belum pulih betul, tapi keinginan untuk hidup dapat menahan badannya yang sudah terluka. Dengan kekuatannya yang masih ada, Kim Tan melakukan serangan dengan kedua telapakan tangannya. Serangan itu ternyata sangat hebat, sehingga Touw Thing Hwie tidak berani menyambuti, ia buru-buru melompat tinggi untuk menyingkir.

Touw Thing Hwie yang hendak melakukan serangan menggelap, bukan saja tidak mengenakan sasarannya, malahan ia sendiri hampir mendapat celaka. Oleh karenanya, maka lantas timbul maksud jahatnya, ia mengeluarkan tiga batang pisau terbangnya, dilontarkan ke arah tiga jurusan untuk menyerang.

Kim Tan dalam pertempuran di Kun-san sudah pernah saksikan liehaynya senjata pisau terbang dari orang she Touw ini, maka tidak berani sembarangan. Ia lantas menghunus pedang pusakanya, dengan beberapa putaran saja, sudah menyampok jatuh pisau terbang yang mengarah bagian atas, kemudian dari sebelah tangannya ia melancarkan serangan yang kuat untuk memukul jatuh pisau terbang yang mengarah bagian tengah.

Setelah dua gerakan ini berhasil baik, ia lalu meloncat tinggi dengan kedua jari tangannya, ia menjepit pisau terbang yang mengarah bagian bawah. Kemudian disusul dengan bentakan keras: ,,Sambutlah, mari kukembalikan senjatamu.” Perkataan itu dibarengi dengan serangan pisau terbangnya Touw Thing Hwie yang dipukul membalik oleh Kim Tan.”

Dengan kepandaiannya menggunakan golok terbang yang membuat ia terkenal di kalangan Kang-ouw, Touw Thing Hwie melancarkan serangannya dengan senjata rahasia tunggalnya. Ia mengira, kali ini meskipun Kim Tan mempunyai kepandaian tinggi, sudah tentu sukar sekali untuk menghindarkan diri.

Tidak disangka-sangka bahwa Kim Tan bukan saja dapat menghindarkan serangan dengan cara yang mengagumkan, bahkan dapat mengembalikan serangannya dengan senjatanya sendiri. Ia tidak dapat kesempatan untuk berkelit, senjata meluncur, dalam gugupnya ia lantas keluarkan satu pisau lagi untuk memapaki serangan itu. Hanya terdengar suaranya dua senjata beradu, dua pisau terbang itu jatuh di tanah.

Touw Thing Hwie mengeluarkan tiga batang pisau terbangnya lagi, yang segera hendak dilontarkan. Kim Tan melihat dengan tegas, maka lalu berkata: „Jika mempunyai kepandaian, boleh coba mengadu tenaga. Dengan senjata rahasia melukai orang, tidak terhitung perbuatannya orang gagah.”

Baru habis berkata, Cu Ling Cie sudah datang untuk memberi bantuan, dengan suara nyaring ia berkata: ,Engko Tan mundur dulu menjaga Encie Han Ing, aku akan mencoba kepandaiannya menggunakan golok terbang.”

Kim Tan barusan dapat melawan Touw Thing Hwie hanya menggunakan tenaganya yang dikerahkan secara terpaksa. Sekarang setelah mendengar suara Cu Ling Cie, tenaganya lenyap seketika, sehingga tubuhnya sempoyongan dan jatuh di tanah.

Cu Ling Cie terkejut, selagi hendak menolong, Touw Thing Hwie sudah berseru: „Lihat golok!” dan tiga benda berkeredepan telah menyerang. Di samping tiga golok terbang ini, Touw Thing Hwie masih melancarkan serangan dengan pasir racunnya, untuk menyerang Kim Tan dan Han Ing.

Cu Ling Cie yang hendak menghindarkan serangan golok terbang tapi juga hendak menolong diri kedua kawannya, sudah tentu agak ripuh. Dalam keadaan sangat kritis ini, mendadak ada kekuatan yang gaib menyerang jatuh tiga golok terbang itu, dan serangan pasir beracun juga dibikin punah oleh kekuatan gaib yang kuatnya luar biasa itu. Cu Ling Cie merasa sangat heran, ia menoleh ke belakang, tapi tidak kelihatan apa-apa, tidak tahu orang berilmu tinggi siapa yang tidak mau memperlihatkan dirinya, dan membantu secara diam-diam.

Ketika itu Touw Thing Hwie merasa girang, karena serangannya akan berhasil, tapi tidak sangka kalau serangannya itu telah digagalkan oleh tenaga gaib, bahkan ia sendiri telah terpental jauh, hampir rubuh terjengkang. Untung ia sangat cerdik, buru- buru mengumpulkan tenaga dalamnya di kedua tangannya untuk menolak serangan gaib itu.

Cu Ling Cie menggunakan kesempatan baik itu, lantas memutar pedangnya menusuk ke dada Touw Thing Hwie.

Keadaan lantas berbalik, tadinya adalah Touw Thing Hwie yang berulang-ulang melakukan serangan, tapi kini telah berbalik diserang, dalam gugupnya, ia buru-buru miringkan tubuhnya untuk berkelit. Kemudian hendak menggunakan ilmu silat

„dengan tangan kosong merampas senjata tajam”, menunggu sampai pedangnya Cu Ling Cie sudah dekat, lalu mengulurkan dua jari tangannya untuk menjepit senjata tajam itu.

Cu Ling Cie bukannya anak kemarin sore mana mau memberikan kesempatan untuk Touw Thing Hwie mencapai maksudnya. Ia pun segera menarik kembali serangannya, dengan tangan kirinya ia menotok pundaknya Touw Thing Hwie. Pertempuran ini sudah berjalan kira-kira limapuluh jurus, masih belum kelihatan siapa yang unggul. Di samping mereka, tubuhnya Kim Tan dan Han Ing masih menggeletak di tanah. Cu Ling Cie yang melihat dua kawannya masih belum ingat orang, hatinya agak kuatir, oleh karena perasaan kuatir ini, hampir saja membuat celaka dirinya.

Dilain pihak, Hiong Lip Khun yang sedang bertempur melawan Pek-kut-sin-kun, meski sudah menggunakan ilmu silatnya Sao- yang-sin-ciang yang ia telah latih sepuluh tahun lamanya, tapi masih be1um bisa merebut kemenangan. Burung rajawali yang cerdik itu, tetap berterbangan di angkasa, untuk mengintai dan akan memberi bantuan di saat yang perlu.

Di saat itu, adalah pertempuran antara Cu Ling Cie dan Touw Thing Hwe yang paling genting keadaannya. Cu Ling Cie karena memikiri kedua kawannya, hatinya agak terganggu, sehingga sedikit lengah. Hal ini telah digunakan oleh Touw Thing Hwie sebaik-baiknya, dengan kedua jarinya, telah berhasil menjepit Pedangnya Cu Ling Cie. Dalam kagetnya, Cu Ling Cie hendak membetot, tapi tidak berhasil.

Touw Thing Hwie kembali hendak menggunakan ilmu silatnya Kin-na-chiu-hoat, hendak memutar patah tangannya Cu Ling Cie, tapi sebelum maksudnya itu berhasil, satu bayangan tahu- tahu telah terbang melayang turun, itu adalah burung rajawalinya Cu Ling Cie yang sangat cerdik luar biasa. Dengan kecepatan seperti kilat, burung rajawali itu terus mencengkeram pundaknya Touw Thing Hwie, sehingga daging bagian pundaknya sempoak sebagian, darah mengucur terus. Dengan mengeluarkan jeritan hebat, Touw Thing Hwie terpaksa melepaskan mangsanya.

Cu Ling Cie menggunakan kesempatan bagus ini, segera menusukkan pedangnya ke arah perut lawan.

Tidak kecewa Touw Thing Hwie mendapat nama di kalangan Kang-ouw, dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, ia masih tidak gugup, dengan menggeblakkan tubuhnya ke belakang, ia hindarkan tusukan pedangnya Ling Cie. Kemudian dengan jumpalitan, telah melesat sejauh satu tumbak, dan kemudian ia ambil langkah seribu.

Cu Ling Cie juga tidak mengejar, membiarkan musuh itu lari. Ia lantas memburu dan berdiri di samping tubuhnya Kim Tan dengan pelahan ia memanggil. ,,Engko Tan......” hanya ini saja yang ia keluarkan dari mulutnya, lantas disusul dengan suara tangis yang menyayatkan hati.

Kim Tan yang sedang pingsan, waktu dengar suara tangisan yang memilukan hati itu, hatinya lantas berdebar. Ia lantas membuka matanya, bibirnya agak bergerak, tapi tidak mampu mengeluarkan perkataan. Han Ing selain dari hidungnya masih bisa bernapas, hampir sudah seperti mayat keadaannya.

Cu Ling Cie meski terhitung salah satu orang yang cerdas, tapi melihat keadaannya orang yang ia cintakan seolah-olah sudah mendekati ajalnya, hatinya sudah hancur luluh. Ia sama sekali tidak berdaya untuk mengatasi pikirannya yang ruwet, hanya air matanya saja yang terus mengalir, membasahi kedua pipinya. Itu waktu Hiong Lip Khun, Hian Kie Cu dan Ma Beng, tiga jago kenamaan di kalangan Kang-ouw, ditambah dengan satu tenaga muda He Kau Chun, berempat mengepung Pek-kut-sin-kun. Bukan saja tidak berdaya, malahan dalam pertempuran yang seru itu, He Kau Chun telah kesampok jubahnya Pek-kut-sin-kun sehingga terpental sejauh satu tumbak lebih.

Kemudian dengan bersiul nyaring, Pek-kut-sin-kun tubuhnya melesat tinggi, seperti seekor burung terbang, melayang ke arah Cu Ling Cie dan Kim Tan. Hiong Lip Khun segera tahu gelagat kurang baik, dengan meniru caranya Pek-kut-sin-kun ia mengejar, tapi tidak dapat menyandak.

Cu Ling Cie yang berada dalam keadaan duka, tidak seperti biasanya yang mempunyai pendengaran dan pemandangan tajam. Sewaktu ia tahu ada bahaya mengancam, namun sudah terlambat, hingga jiwa ia bersama dua kawannya segera akan melayang di bawah serangan Im-hong-ciang nya Pek-kut-sin- kun.

Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring, satu orang yang wajahnya jelek luar biasa, tidak ubahnya dengan iblis, telah menghadang di tengah, menyambut serangan Pek-kut-sin-kun. Dengan demikian, hingga Cu Ling Cie, Kim Tan dan Han Ing terlepas dari bahaya maut.

Sekalipun Pek-kut-sin-kun sudah mempunyai kepandaian yang tidak ada taranya, setelah beradu tenaga dengan orang aneh itu, tubuhnya tergoncang juga sampai tujuh-delapan tindak. Sebagai kepala dari suatu perkumpulan, yang biasanya suka agulkan diri sebagai seorang yang tidak ada tandingannya di dunia persilatan, belum pernah menerima hinaan begitu rupa? Maka setelah berdiri tetap lagi, ia lantas kerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang orang aneh itu yang seperti manusia bukan manusia, dan seperti setan bukannya setan.

Pek-kut-sin-kun punya serangan kali ini, adalah dalam keadaan sangat murka, bisa dibayangkan berapa hebat kekuatannya, sekalipun barang keras, juga akan hancur berantakan. Tapi aneh bin ajaib, mahluk aneh itu seolah-olah tidak merasakan apa-apa, sedikitpun tidak menggeserkan tubuhnya.

Orang-orang yang menyaksikan, semuanya pada terkejut, mereka menganggap bahwa mahluk aneh ini tentu akan terbinasa di tangannya Pek-kut-sin-kun. Siapa kira serangan Pek-kut-sin-kun itu begitu sampai segera merasa seperti tersedot oleh kekuatan gaib, mahluk aneh itu bukan saja tidak terluka barang sedikit, malahan memutar ke belakangnya Pek- kut-sin-kun, untuk lakukan pertempuran.

Ma Beng dalam repotnya masih ingat bahwa Kim Tan dan kawannya sedang terluka, maka segera pergi menghampiri, di belakang pundaknya Cu Ling Cie menepok dengan perlahan.

Cu Ling Cie segera mendusin, dan setelah dapat lihat mahluk aneh itu sedang bertempur dengan Pek-kut-sin-kun, dengan kaget ia, mengeluarkan seruan. Ma Beng buru-buru menanya: „Ling Cie Hian-tit, apakah kau masih ada obat pil Ngo-bie? Lekas berikan sebutir kepada Kim Tan Hian-tit.”

Diingatkan oleh Ma Beng, Cu Ling Cie seperti baru sadar dari mimpinya. Ia buru-buru mengeluarkan obat pilnya dimasukkan ke dalam mulut Kim Tan. Ma Beng membantu mengurut-urut urat-uratnya, maka sebentar kemudian Kim Tan sudah sadar kembali.

Waktu ia membuka matanya, baru tahu bahwa dirinya telah menggeletak di samping tubuhnya Han Ing, agak merasa malu rasanya, maka ia buru-buru lompat bangun. Melihat Han Ing masih belum sadarkan dirinya, hatinya kembali merasa sedih.

Ma Beng jongkok disamping tubuh Han Ing, coba memeriksa urat nadinya, wajahnya menunjukkan perasaannya yang sangat tegang. Cu Ling Cie dan Kim Tan memandang dengan mata tidak berkesip, hatinya tergoncang hebat. Kim Tan meski dalam hatinya merasa tegang, tapi di wajahnya masih dapat menunjukkan ketenangannya, tidak mau menunjukkan perasaannya dihadapannya Ma Beng.

Tidak demikian dengan Cu Ling Cie, ia menanya berulang-ulang dengan tidak sabarnya: „Empe Ma, apakah Encie Han Ing masih bisa ditolong?” Pertanyaan demikian telah beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya.

Ma Beng dengan mengelah napas panjang, akhirnya menjawab:

„Ia lukanya ada terlalu berat, bagian dalam badannya sudah hancur oleh getaran serangan Pek-kut-sin-kun, meskipun tabib Hoa Tho hidup kembali, juga tidak berdaya. Apalagi dengan kepandaianku yang tidak berarti ini, tidak perlu dikata lagi.”

Mendengar jawaban Ma Beng, Cu Ling Cie hancur rasa hatinya, kembali menangis tersedu-sedu.

Di saat itu, mendadak terdengar suaranya Pek-kut-sin-kun yang keras: „Iblis dari mana, tidak mau perlihatkan wajah aslinya di depanku. Jika kau ada nyali, lekas perlihatkan wajahmu untuk bertanding dengan aku, Perlu apa mesti sembunyi-sembunyi.”

Cu Ling Cie dan Kim Tan karena sibuk hendak menolong Han Ing, sampai munculnya mahluk yang aneh itu pun tidak tahu. Mendengar suara bentakan ini, baru menoleh, dan dapat tahu kalau ada satu mahluk yang aneh berwajah sangat jelek, sedang bertempur melawan Pek-kut-sin-kun, dalam hati mereka merasa heran. Dan yang lebih mengherankan, ialah orang jarg sudah mempunyai kepandaian tinggi seperti Pek-kut-sin-kun, dalam pertempuran melawan mahluk aneh itu, bukan saja tidak mampu merubuhkan, malahan kelihatannya berada di bawah angin, sehingga perlawanannya pun menunjukkan sedikit repot.

Dan yang paling mengherankan ialah ilmu silat yang dimainkan oleh mahluk aneh itu seperti satu golongan dengan gurunya, Sam Hie To-tiang, dalam tempo sekejap saja, mereka dibikin bingung oleh keadaan yang aneh ini, seolah-olah menghadapi teka-teki yang sulit dipecahkan, sehingga bingung terlongong- longong. Sedangkan Hiong Lip Khun dan Hian Kie Cu yang memerlukan datang untuk memberi bantuan kepada Kim Tan, menyaksikan keadaan yang sangat aneh itu juga dibikin bingung. Mereka berdiri di samping sambil menonton.

Si sembrono He Kau Chun yang tolol-tololan, sudah lupa kalau dirinya sedang berada di dalam goa macan. Jika melihat serangan-serangan yang seru dan tegang, bukannya menahan napas, malahan bersorak-sorak.

Mereka semua adalah ahli-ahli silat kelas satu, sudah tentu dapat lihat dalam pertempuran yang sangat dahsyat ini, siapa- apa yang unggul dan yang asor. Melihat Pek-kut-sin-kun yang semakin lama semakin gugup dan repot, sedangkan dari dahinya sudah mengucur banyak peluh, suatu tanda bahwa Pek- kut-sin-kun kali ini benar-benar ketemu batunya. Yang cemas dan gelisah adalah murid-muridnya Pek-kut-sin-kun, melihat guru mereka sedang menghadapi kehancuran, tapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Pek-kut-sin-kun melihat gelagat akan mengalami kekalahan, tidak segan-segan lagi dengan kedudukannya sebagai kepala satu perkumpulan, ia telah mengeluarkan senjata rahasianya yang berupa pasir beracun, dilancarkan serangannya kepada mahluk aneh itu. Jarak pertempuran itu sangat dekat, dan kekuatan Pek-kut-sin-kun ada sangat tinggi, serangan senjata rahasia itu sukar dikelit. Tidak kira kalau dalam saat hendak tibanya serangan pasir beracun itu, mahluk aneh itu sudah menggunakan jubahnya untuk menyampok sehingga pasir beracun itu dibikin berhamburan. Gagal dengan serangannya ini, Pek-kut-sin-kun diam-diam merasa kaget. Mahluk aneh itu waktu seolah-olah hendak mempermainkan dia, berkelahi sambil berputaran, tapi tidak mengeluarkan serangan yang berarti, karena gerak badannya sangat gesit dan lincah, membikin Pek-kut-sin-kun tidak bisa melepaskan diri. Keadaan ia itu waktu, bukan saja bermandikan air peluh, bahkan napasnya pun sudah tersengal-sengal.

Murid-murid Pek-kut-sin-kun yang pandai, itu waktu hanya ketinggalan Go Beng dan Touw Thing Hwie. Melihat gurunya keteter, lalu turun tangan untuk membantu dengan melontarkan serangan senjata gelap, yang ditujukan kepada mahluk aneh itu.

Terhadap serangan gelap ini, mahluk aneh itu seolah-olah tidak melihat mata, sama sekali tidak berkelit, hanya dengan jubahnya ia menyampok dan senjata gelap itu jatuh berhamburan di tanah.

Hian Kie Cu dan Hiong Lip Khun melihat tindakan curang dari kedua orang itu, tidak mau tinggal diam, maka telah bertindak berbareng untuk menempur Go Beng dan Touw Thing Hwie.

Dalam pertempuran sengit itu, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari mahluk aneh itu, suara itu yang bisa membikin berdiri bulu roma semua orang yang mendengar. Berbareng menggemanya suara itu, seorang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai jago kelas satu di dunia persilatan Pek-kut-sin-kun, seperti terkena serangan angin jahat, tubuhnya pelahan-lahan telah rubuh di tanah. Dan sebentar kemudian, mahluk aneh itu sudah menghilang tanpa bekas.

Dengan rubuhnya Pek-kut-sin-kun, Pek-kut-kauw itu waktu telah kehilangan pemimpinnya. Ma Beng lantas berseru: „Tahan, saudara-saudara, dengarlah perkataanku dulu. Kedatangan kita kali ini, maksudnya adalah hendak menuntut balas terhadap Ouw-pak-sam-sat, dengan Pek-kut-kauw tidak ada ganjelan hati apa-apa. Sekarang ini Pui Lip dan Pui Tiauw sudah binasa, hanya ketinggalan Pui Tao yang sudah melarikan diri, tapi kita percaya tidak mungkin ia bisa terlolos dari tangan kita. Salah paham dengan kalian, dengan demikian telah kita hapus, aku tidak tahu bagaimana pikiran kalian?” Sehabis berkata, sepasang matanya memandang murid-murid Pek-kut-kauw yang ada disitu, melihat apa reaksinya mereka.

Itu waktu, Pek-kut-sin-kun coba merayap bangun, dengan sorot mata beringas, ia hendak coba berdiri, tapi baru saja hendak mengerahkan kekuatannya, rasa sakit telah menyerang seluruh tubuhnya, sehingga tubuhnya bergoyang-goyang, tidak bisa berdiri tetap. Murid-muridnya lalu pada maju untuk memayang. Oleh karena pemimpinnya sudah terluka berat, murid-murid Pek- kut-sin-kun setelah mendengar perkataan Ma Beng, semuanya terdiam, tidak ada yang berani menyatakan tidak setuju dengan usul Ma Beng tersebut.

Pek-kut-sin-kun dengan sorot mata gemas memandang Ma Beng, selagi hendak membuka mulut Kim Tan sudah maju ke depan, sambil menjura ia berkata kepada Pek-kut-sin-kun:

„Barusan kita telah kelancangan memasuki tempatmu dan menyusahkan Sin-kun, mohon Sin-kun suka memaafkan. Hanya aku yang rendah masih ada sepatah kata yang hendak kusampaikan kepada Sin-kun, belum tahu Sin-kun sudi menerima atau tidak.”

Pek-kut-sin-kun memandang Kim Tan sejenak, lalu menjawab dengan suara dingin: „Katakan saja, perlu apa malu-malu kucing.”

Dengan tidak sungkan lagi, Kim Tan berkata dengan suara tandas: „Sin-kun adalah kepala dari satu perkumpulan, kecerdikan, keberanian, semua ada padamu, orang-orang gagah dalam dunia persilatan, semuanya hargakan kau. Sayang sedikit agak ceroboh menerima murid, sehingga yang baik dan yang jahat bercampur baur, malahan sudah dikelabui oleh beberapa orang murid kesayangannya.

„Giok-tek-hwie-sian Han Ing, sebetulnya merupakan setangkai bunga teratai yang tumbuh di air kotor, sebaliknya mendapat cemohan yang tidak selayaknya. Jika hendak dikatakan ada bersekongkol dengan aku, hendak mengkhianati suhunya, hal ini lebih-lebih tidak pada tempatnya. Dengan tidak bisa membedakan yang hitam dengan yang putih, mau tidak mau akan membikin tertawaan dalam dunia persilatan ”

Baru berkata sampai disini, Pek-kut-sin-kun sudah tidak sabaran, dan memotong dengan satu bentakan keras:

„Bocah cilik, jangan sembarangan buka mulut. Menertibkan peraturan perkumpulan, adalah urusan dalam perkumpulan kita sendiri. Hari ini tidak membuat kalian hancur lebur di pusat Pek- kut-kauw ini, sudah terhitung satu kebijaksanaan dan tindakan yang welas asih dari kita. Jika kalian tahu diri, lekas tinggalkan gunung ini, tiga tahun kemudian, aku akan datang sendiri ke gunung Ngo-bie-san, untuk membalas sakit hati hari ini. Jika kalian tidak menurut, jangan harap bisa tinggalkan gunung ini dengan selamat.”

Melihat ia masih tidak mau insyaf, dalam hatinya agak mendongkol. Ia tidak nyana bahwa iblis tua ini setelah dilukai oleh mahluk aneh itu, masih juga bisa keras kepala.

Selagi hendak membuka mulut, tiba-tiba kedengaran satu suara yang antap, menggema di angkasa: „Kembali ke pantai, jangan bimbang.” Meski nadanya sangat halus, tapi diucapkannya sepatah demi sepatah, yang sangat tegas dan nyata.

Terang itu adalah dikeluarkan dari mulut orang yang tinggi ilmu sudah tidak ada taranya, dalam dunia persilatan pada jaman itu, orang gagah yang mempunyai kepandaian semacam itu, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka yang dapat dengar suara itu, semua pada tercengang. Kendati Pek-kut-sin-kun yang ilmu silatnya begitu tinggi, mau tidak mau juga merasa kaget, akhirnya ia mengelah napas panjang, diam seketika lamanya sepatah kata pun tidak bisa keluar dari mulutnya.

Kim Tan dan Cu Ling Cie lantas meninggalkan Pek-kut-sin-kun dan kembali melihat keadaannya Han Ing. Han Ing sendiri, itu waktu keadaannya semakin menyedihkan, dalam keadaan bingung, Kim Tan tidak bisa berbuat lain daripada memberi makan obat pil yang ia kira dapat menolong. Melihat perbuatan Kim Tan, Ma Beng dengan mengelah napas berkata kepada Kim Tan: „Obat hanya untuk mengobati orang sakit yang belum waktunya untuk mati, seperti juga Sang Buddha yang hanya menyeberangi ke sorga bagi orang yang ada jodoh. Ia lukanya sudah begitu berat, sekalipun ada obat yang sangat mustajab, juga sudah tidak bisa menolong.”

Mendengar perkataan Ma Beng, Kim Tan masih bisa tahan, tinggal Cu Ling Cie yang sejak tadi sudah menangis tidak henti- hentinya. Pada saat itu, Han Ing telah membuka matanya, memandang Kim Tan dan Cu Ling Cie sambil tersenyum.

Dengan memaksakan diri, ia bangun berduduk, dan dengan suara terputus-putus ia berkata: „Adik Tan, adik Cie. Pepatah ada bilang, di dunia ini tidak ada orang yang berumur sampai ratusan tahun, maka jangan coba berusaha hendak hidup seribu tahun. Semua perkara sudah diatur oleh Yang Maha Esa. Kematian Han Ing seorang tidak terhitung soal apa-apa. Kalian berdua sudah berhasil menuntut balas musuh-musuh ayah bundamu, maka tidak lekas-lekas pulang ke Ngo-bie, apa perlunya berdiam lama-lama disini?”

Kim Tan dan Cu Ling Cie mendengar pesannya orang yang sudah mendekati ajalnya ini. Seluruh badannya dirasakan dingin, pikirannya melayang-layang jauh, seolah-olah sudah kabur. Di saat itu, tiba-tiba terdengar suara jatuhnya benda tepat disamping badannya Kim Tan. Kim Tan menengok kesana sini, tapi ternyata tidak ada pohon. Dari manakah datangnya daun ini? Mendadak ingat ketika Han Ing mendapat kesusahan di kuil tua, ia juga pernah diberi tahukan dengan daun pohon. Ia lalu menduga daun ini tentunya bukan sembarang daun. Ia buru-buru memungut, ternyata di atas daun itu ada sebaris tulisan yang ditulis dengan kuku tangan, tulisan itu berbunyi:

„Sakit hati sudah terbalas, jangan menimbulkan perseteruan di kalangan Kang-ouw, lekas pulang ke Ngo-bie.”

Sehabis baca, ia lantas serahkan kepada Cu Ling Cie seraya berkata: „Kiranya suhu dengan diam-diam telah mengikuti kita. Kali ini kita di pusat Pek-kut-kauw ini, telah beberapa kali terhindar dari bahaya kematian, semua adalah suhu yang memberi pertolongan.”

Mendengar ini, Cu Ling Cie agaknya kurang mengerti, ia menanya: „Jika benar guru diam-diam mengikuti kita, mengapa setelah tiba di pusat Pek-kut-kauw ini juga tidak mau perlihatkan diri?”

Kim Tan berpikir sebentar, lalu menjawab: „Suhu jika melakukan sesuatu, selamanya sangat hati-hati. Ia tidak mau perlihatkan diri, mungkin ada sebabnya ”

Bicara sampai disini, mendadak dengar berkelebatnya jubah, satu bayangan orang turun dari angkasa. Setelah ditegasi, orang yang datang itu ternyata Pek-kut-sin-kun adanya. Kim Tan tahu bahwa kedatangan Pek-kut-sin-kun ini tidak bermaksud baik, segera memberi isyarat kepada Cu Ling Cie. Keduanya segera siap sedia. Ternyata Pek-kut-sin-kun yang tadinya terkena totokan oleh mahluk aneh itu, dengan mengandal tenaga dalamnya yang tinggi, setelah bersemedi sebentar, lantas pulih kembali.

Selagi Kim Tan dan Cu Ling Cie hendak turun tangan, Pek-kut- sin-kun mendadak berkata dengan suara sangat dalam: „Kedua Siau-hiap, harap jangan salah paham. Perkara yang sudah- sudah, aku sudah mengerti. Perbuatan Han Ing, tidak ada yang tereela, tidak kecewa menjadi anakku yang baik. Sayang aku telah dikelabui orang, sehingga hilang akal budiku, sampai kesalahan tangan melukai dia. Sekarang ku pikir-pikir, sungguh sangat menyesal.”

Sehabis berkata, ia lantas berjongkok disisi tubuh Han Ing, mengusap-usap rambutnya Han Ing, dan memperlihatkan wajah yang welas asih.

Giok-tek-hwie-sian Han Ing, meski sudah luka parah, tapi pikirannya masih belum kabur sama sekali. Ketika melihat ayah angkatnya akhirnya telah insyaf kesalahannya, hatinya merasa girang. Dengan memaksa ia menahan rasa sakitnya, sambil bersenyum ia berkata:

„Anak telah ayah pelihara sampai duapuluh tahun, belum dapat membalas budimu ini, mana berani sesalkan. Sekarang ternyata ayah sudah mengetahui duduk perkaranya yang benar, anak meskipun mati juga bisa dengan mata meram.” Sehabis kata-katanya, kedua matanya lantas membalik dengan bibir masih tersungging senyuman, ia melepaskan napasnya yang penghabisan.

Cu Ling Cie yang masih kekanak-kanakan, melihat Han Ing binasa, lalu menubruk dan memeluk tubuhnya Han Ing sambil menangis sesambatan. Kim Tan yang menyaksikan pemandangan yang sangat mengharukan ini, berdiri di samping laksana patung. Ia hendak menangis, tapi tidak bisa keluar air matanya.

Pek-kut-sin-kun meski sifatnya kukuh dan agak kejam, tetapi terhadap Han Ing yang ia telah rawat dan besarkan sendiri, kali ini telah mati di bawah tangannya sendiri, mau tidak mau tergerak juga hatinya, memandang wajahnya Han Ing. Air matanya turun bercucuran.

Ma Beng hendak mencegah agar supaya Kim Tan tidak terlalu sedih memikiri hal ini, dengan suara rendah ia berkata:

„Sekarang urusan sudah beres, perlu apa kita berdiam disini, lebih baik kita lekas turun gunung.”

Mendengar perkataan Ma Beng, mengingat pesan gurunya, Kim Tan seperti baru sadar dari mimpinya. Ia buru-buru menghampiri Pek-kut-sin-kun, sambil menjura ia berkata:

„Sengketa antara kita dengan Ouw-pak-sam-sat, kini sudah selesai, hanya tinggal Pui Tao seorang yang juga sudah hendak menerima hukuman Sin-kun, urusan ini aku serahkan kepada kebijaksanaan Sin-kun, biarlah Sin-kun sendiri yang akan ambil keputusan. Selain dari itu, kita dengan partai Pek-kut-kauw, belum pernah bermusuhan, dan kesalah pahaman kali ini, dengan inipun kita habiskan. Tentang kedatangan kita yang telah menggerecok kepada Sin-kun, dengan ini kita haturkan maaf.”

Sehabis berkata, dengan pelahan-lahan ia berjalan ke depan jenazahnya Han Ing, untuk memberi hormat yang penghabisan.

Ma Beng setelah perkenalkan Hiong Lip Khun dan Hian Kie Cu kepada Pek-kut-sin-kun, lalu menanya Hiong Lip Khun perihal kepergiannya ke Biauw-ciang untuk mencari Goan-ceng-siang-to Yo Siok, guna menuntut balas sakit hatinya pada beberapa tahun yang lalu.

Hiong Lip Khun perlihatkan wajah muram, sambil mengelah napas ia menjawab: „Yo Siok meski aku sudah ketemukan, dan sudah membuat perhitungan sakit hatiku tahun yang lalu, tapi akhirnya dia tokh bisa meloloskan diri dengan keadaan luka, sehingga tidak dapat menyingkirkan jiwanya seorang jahat dari dunia Kang-ouw ini.”

Semua orang yang mendengar pada turut merasa sayang. Sedangkan Pek-kut-sin-kun, karena merasa sangat menyesal dan terharu atas kematian anaknya yang ia telah lakukan sendiri, maka lama tidak dapat membuka mulut.

Ma Beng kembali maju kepada Hian Kie Cu dan menyatakan terima kasihnya yang ia sudah menepati janjinya. Mendengar ini, Kim Tan baru ingat kalau tadi sudah lupa tidak menghaturkan terima kasih kepada Hian Kie Cu dan Hiong Lip Khun.

Kim Tan berempat ditambah Hian Kie Cu dan Hiong Lip Khun, selagi hendak berpamitan kepada Pek-kut-sin-kun, yang tersebut belakang ini memandang Kim Tan dengan menunjukkan senyuman getir dan berkata:

„Kedatangan kalian sangat kebetulan, apalagi Kim dan Cu kedua Siau-hiap, dimasa hidupnya Han Ing pernah mengikat tali persobatan, mengapa tidak mau tunggu sebentar, setelah aku mengubur jenazahnya Han Ing. Aku juga akan meninggalkan gunung Ay-lie-san ini dan membubarkan perkumpulan Pek-kut- kauw, seumur hidup tidak akan menginjak tempat yang menyedihkan ini.”

Mendengar ini, semua orang agak terkejut.

Setelah upacara penguburan selesai, mereka lantas berlalu dari Ay-lie-san.

Setelah melewati daerah pengaruhnya Pek-kut-kauw, selagi Hiong Lip Khun dan Hian Kie Cu hendak ambil selamat berpisah kepada Kim Tan dan Ma Beng dan kawan-kawan, di bawah lembah yang curam, seperti ada bayangan orang yang bergerak. Semua orang merasa sangat heran. Selagi belum mendapat kepastian kawan atau lawan, lebih baik siap sedia.

Cu Ling Cie mengeluarkan suara siulan. Burung rajawali yang tadinya terbang di angkasa, lantas terbang menurun. Cu Ling Cie ingat bagaimana dulu gurunya pernah naik burung mengantar ia turun gunung, mendadak timbul pikiran aneh. Ia segera loncat ke atas tubuh burung itu, kedua tangannya memeluk leher burung. Setelah mengebaskan sayapnya, burung rajawali itu lantas terbang bersama Cu Ling Cie.

Kim Tan hendak mencegah, tapi sudah terlambat, hingga cuma melihat burung itu membawa Cu Ling Cie terbang menurun ke lembah. Sebentar kemudian, burung itu sudah terbang jauh dan tidak kelihatan sama sekali.

Lama sekali tidak ada perubahan apa-apa. Selagi merasa agak bingung, mendadak melihat bayangan seekor burung lagi, yang pelahan-lahan terbang ke atas.

Kim Tan terkejut, karena burung yang barusan muncul dari lembah ini, ternyata tidak ada bayangannya Cu Ling Cie. Apakah ia mendapat kecelakaan di dalam lembah? Untung Kim Tan meski hatinya agak bingung, tapi otaknya tetap dingin.

Dengan teliti ia mengawasi burung rajawali itu, ternyata mirip benar dengan kepunyaan Sam Hie To-tiang. Apakah benar gurunya pun sudah tiba disini.

Selagi berpikir, tiba-tiba terdengar satu siulan nyaring. Satu mahluk yang berparas jelek luar biasa, dari bawah lembah dengan cepat naik ke atas gunung. Di bawah ketiaknya orang aneh itu mengempit tubuhnya Cu Ling Cie, dan di belakangnya diikuti oleh burung rajawali yang tadi dinaiki oleh Cu Ling Cie. Semua orang yang melihat kembali dibikin terkejut.

Orang berwajah aneh itu setelah meletakkan tubuhnya Cu Ling Cie, lalu dengan pelahan membuka kedoknya yang memperlihatkan wajah jelek itu, dan memperlihatkan wajah aslinya. Ternyata adalah Sam Hie To-tiang.

Kim Tan buru-buru bertekuk lutut.

Sam Hie To-tiang mengapa berbuat main-main dengan cara demikian. Menurut keterangannya, ialah karena ia tidak mau terlibat dalam urusan Kang-ouw. Karena ia tahu bahwa kekuatan Kim Tan dan Cu Ling Cie masih belum dapat menandingi Pek- kut-sin-kun, maka diam-diam telah membuntuti. Yang melepaskan senjata rahasia berupa duri pohon di Shia-ling-kie dan yang memberi kabar kepada Kim Tan tentang dirinya Han Ing yang mendapat bahaya di kuil tua, juga ia.

Sam Hie To-tiang setelah melepaskan totokannya Cu Ling Cie, nona ini lantas ingat kembali pikirannya, dan setelah melihat Sam Hie To-tiang berada di depannya, ia buru-buru memberi hormat dengan berlutut.

Sam Hie To-tiang lalu menuturkan dengan bagaimana barusan Cu Ling Cie telah kena dibokong oleh Yo Siok dan bagaimana ia telah memberi pertolongan.

Hiong Lip Khun mendengar penuturan Sam Hie To-tiang, baru tahu kalau Yo Siok setelah dihajar, lalu mengejar ke Ay-lie-san, tapi tidak nyana telah bertempur dengan Cu Ling Cie dan akhirnya kena ditotok oleh Sam Hie To-tiang. Untuk membikin perhitungan padanya, maka Hiong Lip Khun buru-buru turun ke lembah.

Ma Beng dan Hian Kie Cu lalu berpisah dengan Kim Tan. Dan Kim Tan, Cu Ling Cie dan He Kau Chun lantas ikut Sam Hie To- tiahg pulang ke Ngo-bie-san. Atas persetujuannya Sam Hie To- tiang, akhirnya Kim Tan dan Cu Ling Cie terangkap jodonya. Dan hidup bahagia hingga dihari tua.

T A M A T