Suling Pualam dan Rajawali Terbang Jilid 3

Jilid 3
„Berbareng pada saat itu, aku telah terima undangan Siang- kang-hie-im Yo Kheng, maka aku segera berangkat ke Ouw-lam, Ouw-pak bersama-sama Sam-tee, untuk mencari Sie-tee. Tidak dinyana, bukan saja sudah bertemu dengan Sie-tee, malahan mendapat kabar tentang dirinya si murtad Tek Seng Hiong, sehingga kukejar sampai disini dan kemudian bertemu dengan kalian. „Sekarang Chek Hong sudah meninggal, Pek-kut-kauw agak guram pamornya. Karena adanya Siau-hiap ini dan yang lain- lain, masing-masing mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, maka pertempuran di Kun-san, tidak perlu aku turut campur tangan rasanya sudah lebih dari cukup.

“Nanti setelah aku pulang untuk membereskan murid yang murtad ini, akan berangkat ke Hun-lam bersama Sam-tee, untuk mencari kabar tentang Pek-kut-kauw dan Goan-cin-siang-to. Sesudah pertemuan di Kun-san, kalian lekas menyusul, bersama-sama menumpas kawanan penjahat dari dunia Kang- ouw itu. Nanti sekiranya dapat membasmi mereka sekali gus, mungkin dapat mencegah itu bencana hebat dari dunia Kang- ouw.”

Sehabis berkata, lalu meminta diri kepada mereka, sambil menyeret Tek Seng Hiong, bersama-sama Ling Hong dan Hoa Ceng Bu menghilang ke dalam rimba.

Ma Beng bersama-sama Kim Tan, Cu, Ling Cie, Tan Cee dan Kheng Ling lalu kembali ke perahunya untuk meneruskan perjalanannya ke Tong-ting. Di tengah perjalanan, Ma Beng, Kim Tan dan lain-lainnya kembali bercakap-cakap tentang ilmu silat, kemudian beralih kepada soal senjata rahasia duri pohon Siong yang dilepaskan oleh orang yang bersembunyi itu, tapi akhirnya masih belum dapat menebak siapa orangnya yang melepaskan senjata rahasia itu.

Itu waktu sudah mulai terang tanah, matahari baru muncul dari sebelah timur, pemandangan di bagian kepala perahu, nampaknya sangat agung, Kim Tan ia lalu maju menghampiri Tan Cee memegang tangannya.

„Kau lihat betapa indahnya pemandangan sungai Tong-ting ini, sayang bukit Kun-san di tengah-tengah sungai ini telah didiami oleh kawanan Pek-kut-kauw, sehingga membuat noda tempat yang indah permai ini. Jika ingat hal ini, aku ingin pada nanti malaman Tiong-chiu dapat menumpas kawanan penjahat itu, supaya sungai Tong-ting ini kembali seperti asalnya yang penuh damai.” Demikian Kim Tan utarakan pikirannya.

Tan Cee atau Han Ing, yang sedari kecil dipelihara oleh Pek-kut- sin-kun, serta dididik menjadi orang yang berkepandaian tinggi, meskipun setiap hari bercampur gaul dengan kawanan penjahat, namun dalam hatinya tidak menyukai perbuatan mereka, sehingga keadaan rohaninya sangat tertekan. Sejak bertemu dengan Kim Tan, bukan saja orangnya cakap tampan, ilmu silatnya juga sangat tinggi, maka diam-diam telah tertarik hatinya.

Tapi sayang, di dampingnya Kim Tan masih ada Sumoy nya yang cantik serta tinggi pula ilmu silatnya, bagaimana ia dapat mengandang di tengah-tengah mereka. Apalagi dari keterangan Ma Beng, ia dapat tahu bahwa mereka berdua sudah bercampur gaul sejak kanak-anak, dan malahan sudah ditunangkan oleh Sam Hie To-tiang. Setelah membalas sakit hati orang tua mereka berhasil, lantas dirangkap jodohnya.

Sejak mengetahui asal-usul Kim Tan dan Cu Ling Cie, hatinya mulai dingin. Untung ia masih bisa bersikap tenang, hingga tidak diketahui oleh lain orang. Itu waktu, selagi berdiri di atas perahu sambil melamun, mendadak sebelah tangannya dipegang erat- erat oleh pemuda itu, seolah-olah terkena arus listrik, jantungnya berdebar keras, dan karena tidak tahan oleh pengaruh perasaannya, maka mukanya merah seketika. Hampir saja menunjukkan sifat kewanitaannya.

Kim Tan yang dapat lihat perubahan sikap ini, dalam hatinya merasa heran. Selagi hendak menanyakan, mendadak Tan Cee melepaskan tangannya, dan menunjuk ke daratan sambil memanggil Ma Beng dan Ling Cie.

„Ma Lo-cianpwee dan Ling Cie Moy-moy, lekas keluar, di daratan sana seperti ada orang sedang bertempur.”

Ma Beng dan Cu Ling Cie segera keluar dari dalam perahu, dan benar saja di daratan ada dua orang sedang bertempur. Itu waktu, meski matahari sudah naik tinggi, tapi kabut masih agak tebal, dan perahu mereka terpisah dari daratan kira-kira ada sepuluh tombak, maka tidak dapat melihat dengan tegas orang yang sedang bertempur itu.

Ma Beng bersikap hati-hati, maka perintah mereka jangan turut campur tangan. Kim Tan karena pernah makan rumput gaib, sepasang matanya sangat tajam, hingga dapat melihat ke arah yang jauh. Mendadak ia berkata dengan heran.

„Itu orang yang bertempur, satu di antaranya adalah Phoa Cay. Lawannya sudah tentu orang baik-baik, rasanya kita tak dapat berpeluk tangan. Apalagi hutangnya kepadaku, masih belum bikin perhitungan.”

Dengar perkataan pemuda ini, Ma Beng tidak berani mencegah lagi, maka perahunya didayung ke darat. Tan Cee kuatir terlihat oleh Phoa Cay, segera sembunyi ke dalam perahu.

Itu waktu, orang yang menempur Phoa Cay sudah mulai terdesak. Kim Tan melihat demikian, segera membentak keras:

„Jahanam, di Shia-ling-kie, kita sudah lepaskan kau, sekarang disini kau masih berani bertingkah, apakah kau sudah bosan hidup?”

Phoa Cay yang sudah hendak menurunkan tangan jahat terhadap lawannya, mendadak dengar suara bentakan itu, ia segera menoleh ke arah perahu, dapat lihat Kim Tan sedang menunjukkan sikap marah. Untuk kedua kalinya ia bertemu dengan orang yang paling ditakuti ini, maka ia buru-buru melarikan diri.

Perahu sudah mendarat, dan Kim Tan segera melesat ke daratan. Ilmu entengi tubuh yang sempurna ini, membikin pemuda berbadan besar yang melawan Phoa Cay itu kesima.

Kim Tan mendekati itu anak muda, ia ada seorang yang berbadan tinggi besar, tapi usianya baru kira-kira tujuh- delapanbelas tahun. Anak muda ini memandang pedang yang menggemblok di belakangnya Kim Tan, buru-buru mengangkat tangannya memberi hormat sambil berkata: „Harap maafkan aku yang bodoh, bukankah tuan ini adalah Siau-hiap Kim Tan?”

Ditanya oleh orang yang belum pernah dikenal ini, Kim Tan merasa heran, kembali ia mengawasi pemuda itu. Sambil bersenyum ia berkata:

„Siau-ko mengapa mengenal namaku?”

Mendengar itu pertanyaan, pemuda berbadan tinggi besar itu bukannya menjawab, sebaliknya malah berdiri menjublek.

Cu Ling Cie lihat anak muda itu seperti orang tolol, tak dapat menahan perasaan gelinya, maka lantas tertawa dan menanyakan: „Apakah Siau-ko ini mempunyai penyakit kuping budek? Mengapa ditanya tidak menjawab?”

Pemuda itu seperti baru tersedar dari mimpinya, kemudian dengan suara keras ia menjawab: „Cay-hee bertemu dengan kalian berdua, karena girangnya, hingga seperti sudah lupa daratan. Jika kalian tidak menanyakan, hampir saja aku lupa.”

Selanjutnya ia lalu menuturkan riwayatnya sendiri.

Anak muda itu bernama He Kau Chun, anak seorang petani di itu tempat dan sejak masih kanak-anak ia sudah ditinggal mati oleh ayah bundanya. Karena makannya sangat kuat, jarang sekali ia merasakan kenyang. Mula-mula ia masih bisa mengandal¬kan tenaganya yang besar, mencari nafkah dengan membantu orang lain mengerjakan pekerjaan kasar. Kemudian karena makannya sangat kuat, orang-orang pada takut memberi pekerjan padanya, sehingga semakin hari penghidupannya semakin susah.

Namun ia tidak mau berbuat jahat, dan jika perutnya berasa lapar, ia lantas pergi ke atas gunung mencari ubi atau buah- buahan untuk menangsal perutnya. Pada suatu hari, dengan tidak disengaja, ia telah menemukan sejilid bulu kecil, setelah dibuka, ternyata itu ada buku pelajaran ilmu silat „Ie-kin-keng” atau kitab menukar otot. Ia girang bukan main, sehingga lupa kalau perutnya sedang keroncongan.

Meskipun ia belum pernah belajar silat kepada guru silat, namun ia suka sekali dengan permainan silat. Jika ada tempo terluang, selalu digunakannya untuk berlatih silat dengan tangan kosong atau menggunakan senjata pentungan. Setelah menemukan kitab tersebut, dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada di dalam kitab, kemudian berhasil juga mendapatkan ilmu silat gwa-kang, yang berarti, kulit dan tulangnya berubah menjadi sangat kuat dan kebal terhadap senjata tajam.

Pada suatu hari, selagi ia asyiknya berlatih, ada satu imam tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, lewat di depannya dan berdiri menonton. Imam itu tersenyum setelah menunggu He Kau Chun habis bersilat.

„Meskipun bagus ilmu silatmu, serta kebal kulit badanmu, tapi aku dapat mendorong kau jatuh dari jarak beberapa tindak jauhnya,” demikian ujarnya imam tua itu. Mendengar perkataan iman tersebut, He Kau Chun tentu tidak mau percaya.

Untuk membikin takluk pemuda itu, imam itu perintah ia berdiri jauhnya beberapa tindak, serta diperintah siap sedia. Kemudian dengan memutar telapakan tangannya imam tua itu melakukan serangan ke arah udara. Mendadak dirasakan ada samberan angin yang sangat kuat, menyerang dadanya.

Untung anak muda itu badannya kebal terhadap senjata tajam, dan latihan gwa-kangnya juga sudah cukup sempurna, jika tidak sudah tentu akan mendapat luka parah. Tapi meskipun demikian, tidak urung badannya sempoyongan, dan mundur terjatuh beberapa tumbak jauhnya.

Imam itu segera mengangkat bangun padanya, sambil bersenyum ia menanyakan: „Percayakah sudah kau sekarang?”

He Kau Chun meski dibikin jatuh, tapi ia merasa sangat kagum akan kepandaiannya imam itu, ia buru-buru berlutut dan angkat imam itu sebagai guru. Selanjutnya imam itu memberikan pelajaran ilmu lweekang kepada pemuda ini, sehingga setengah tahun telah lewat tanpa terasa.

Pada suatu hari, imam tua itu mendadak hendak merantau dan meninggalkan He Kau Chun. Sebelum berangkat, imam itu pesan He Kau Chun supaya menunggu di dekat perairan ini. Kalau nanti dapat lihat seorang muda membawa pedang Liong- bim-po-kiam, itulah Kim Tan adanya, dan kemudian diperintah ikut Kim Tan untuk melanjutkan pelajaran silatnya. Betul saja hari ini telah ketemu. Mendengar penuturan itu, baru tahu duduknya hal, tapi masih belum tahu benar siapa adanya imam tua itu? Adakah Sam Hie To-tiang?

Kemudian Kim Tan menanyakan mengapa bentrok dengan Phoa Cay.

He Kau Chun menjawab: „Tadi ketika aku berjalan di pinggir danau, melihat ada pemuda tinggi kurus mundar-mandir disitu, aku lantas maju menanyakan, adakah dia kenal dengan Kim Tan. Siapa nyana, pemuda tinggi kurus itu setelah mendengar disebutnya namamu, dengan tidak berkata putih atau hitam, segera menyerang, sampai sekarang aku masih belum mengerti apa sebabnya.”

Kim Tan dalam hatinya merasa geli, ia sedikit pun tidak merasa heran, karena yang ditanyakan oleh He Kau Chun justru satrunya. Selanjutnya He Kau Chun lalu mengikuti perjalanannya ke bukit Kun-san. Senjata yang dibawa oleh He Kau Chun adalah ruyung dari kuningan yang beratnya kira-kira tujuh-delapanpuluh kati.

Kim Tan terperanjat juga, dengan senjatanya yang begitu berat, hebat juga tenaga luarnya anak muda ini. Kim Tan coba-coba mengangkat, kemudian dilontarkan ke atas udara setinggi dua- tiga tombak, lalu disambuti lagi dan diputar seperti titiran.

Menyaksikan kepandaian Kim Tan yang luar biasa ini, He Kau Chun merasa sangat kagum. Ia lantas berlutut dihadapan Kim Tan, minta supaya diajari kepandaian itu. Kim Tan bawa anak muda ini ke dalam perahunya, dan diperkenalkan kepada kawan-kawannya.

◄Y►

Besok adalah hari yang ditetapkan untuk bikin pertemuan di bukit Kun-san, maka malam itu harus melakukan pelayaran semalam suntuk, untuk mengejar waktu. Dalam perjalanan, kembali oleh Kheng Ling disediakan rupa-rupa makanan dan minuman.

He Kau Chun yang kekuatan makannya luar biasa, apalagi seumur hidupnya jarang sekali menemukan makanan yang begitu lezat. Tidak heran kalau ia dahar dengan sangat bernafsu maka dalam waktu sekejap saja semua makanan sudah disapu bersih.

Setelah kenyang makan, sambil usap-usap perutnya, He Kau Chun mengoceh sendirian: „Ini adalah untuk pertama kalinya seumur hidupku, makan dan minum begitu puas.”

Orang-orang yang mendengar perkataannya itu pada tertawa.

Itu malam, karena besok ada hari Tiong-chiu, maka rembulan sangat terang, sehingga menambah permainya pemandangan sekitar danau Tong-ting ini. Mengingat pertemuan di bukit Kun- san besok malam, yang tentunya akan menimbulkan pertarungan dan penumpahan darah hebat, mana ada itu kegembiraan untuk menghadangi sang puteri malam. Masing- masing agak gelisah hatinya, maka siang-siang sudah pada masuk ke dalam kamar untuk mengaso.

Besok paginya perahu itu sudah tiba, di daerah cabang Pek-kut- kauw. Setelah mendarat, mereka disambut oleh orang-orang Pek-kut-kauw, tidak lupa ditanyakan apakah mereka membawa surat undangan, supaya segera dilaporkan kepada Kau-cu.

Ma Beng memberi hormat dengan menjura.

„Kita datang kemari hanya untuk turut-turut meramaikan saja tidak ada surat undangan juga tidak apa, tolong antar kita,” demikian ia menjawab.

Orang yang menyambut itu melihat tamu-tamunya kelihatannya bukan orang sembarangan, maka tidak berani perlakukan sembarangan dan ajak mereka ke ruangan tamu. Setibanya di ruangan tamu, disana ternyata sudah banyak tetamu-tetamu dari berbagai golongan.

Ma Beng dapat lihat itu orang yang menyampaikan surat undangan, Yo Kheng juga sudah berada disitu. Ketika melihat Ma Beng, Yo Kheng segera tertawa bergelak-gelak.

„Ma Lo-heng sering melakukan perbuatan mulia di kalangan Kang-ouw, hingga banyak orang yang merasa kagum. Kali ini aku menyampaikan undangan untuk membuat pertemuan ini, maksudnya yang pertama ialah soal piauw dari Piauw-kiok kita minta supaya kawan-kawan dari kalangan Kang-ouw sudi membantu untuk membela keadilan. Kedua ialah dengan menggunakan kesempatan ini untuk membasmi kawanan orang busuk di kalangan Kang-ouw, maka dengan ini aku haturkan banyak terima kasih atas bantuannya ini.

„Tapi mengapa Khau-sian tidak kelihatan? Dan siapa kawan- kawan muda ini, tolong Ma-heng ajar kenal.”

Ma Beng lalu mengajar Yo Kheng kenal dengan Kim Tan, Cu Ling Cie, Kheng Ling dan He Kau Chun, hanya ‘I’an Cee sudah tidak diketahui kemana perginya. Kemudian Ma Beng lalu menuturkan bahwa Khau-sian dengan Sha-tee dan Sie-teenya sudah agak jauh ke Se-ciang.

Ma Beng lihat-lihat orang-orang gagah di sekitarnya, ada beberapa yang ia sudah kenal. Orang-orang yang agak terkenal namanya ada Hian Kie Cu, Tam-hie Siansu dari Siau-lim-sie, Kun-lun-koai-hiap Ciok Co Hoan, Seng-to-su-hiap, empat saudara Liok, semuanya sudah lama terkenal di dunia persilatan. Hanya Kim Tam, Cu Ling Cie dan He Kau Chun yang usianya paling muda dan baru pertama kali ini menginjak dunia persilatan, oleh karenanya tidak ada orang yang mengambil perhatian.

Selewatnya tengah hari, dan sehabis bersantap, ketua cabang Pek-kut-kauw Hwi-thian-houw Liong Beng datang ke ruangan tetamu, ia memberi hormat kepada Yo Kheng kemudian berkata:

„Yo Tay-hiap, jika kawan-kawanmu sudah tiba semua, silahkan ke ruangan belakang. Yo Kheng tertawa menerima ajakan itu, dan bersama kawan- kawannya, mengikuti Liong Beng ke ruangan belakang.

Setibanya di pelataran yang sangat luas, di sebelah timur dan barat masing-masing didirikan panggung untuk penonton. Di tengah-tengah ada satu panggung Lui-tay. Orang-orang dari Pek-kut-kauw, pada duduk di panggung sebelah timur. Yo Kheng tidak malu-malu lagi, lantas ajak kawan-kawannya duduk di panggung sebelah barat.

Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Liong Beng yang pertama bicara. „Hari ini kami merasa mendapat kunjungan Tuan-tuan yang sudah mendapat nama wangi di kalangan Kang- ouw. Maksud kita merampas uang piauw tempo hari, adalah untuk mengundang orang-orang gagah dari berbagai golongan untuk bersama-sama menyaksikan ilmu silat.

„Sebetulnya kita akan segera kembalikan, apa mau kawan kita Chek Hong, empat hari berselang telah terbokong oleh orang sehingga binasa, dan orang itu sekarang berada antara kawan- kawannya Yo Tay-hiap. Balas dan permusuhan ini, rasanya tidak bisa dibikin habis dengan sepatah perkataan saja, hanya dapat diputuskan dengan kepalan atau tendangan. Masing-masing dengan kepandaiannya sendiri boleh mengadu keuletan, tapi hanya terbatas sepuluh pertandingan saja untuk menentukan menang atau kalah.

„Jika di pihaknya Yo Tay-hiap yang menang, bukan saja uang antaran itu akan dikembalikan seluruhnya, malahan cabang Kun- san ini segera akan kami bubarkan. Sebaliknya jika Yo Tay-hiap yang kalah, maka semua orang harus tinggal disini untuk menunggu keputusan Kau-cu.”

Yo Kheng segera menjawab dengan suara nyaring: „Kalau begitu, terpaksa kita akan menerima pengajaran dari Tuan-tuan dengan tidak pandang jiwa kita sendiri.”

Liong Beng kembali menghampiri Liauw Ceng dan Tok-kak-kwi- ong Go Beng untuk minta izin. Kemudian dengan menenteng senjata tumbaknya lompat ke atas lui-tay minta adu kepandaian dengan Yo Kheng.

Baru saja Yo Kheng bangun, mendadak dicegah oleh Kim Tan yang berkata: „Untuk memotong ayam, perlu apa menggunakan pisau pemotong kerbau. Untuk melayani orang begini, perlu apa Lo-cianpwee mesti turun tangan sendiri.” Dicegah demikian, terpaksa Yo Kheng duduk kembali.

Kim Tan lalu menoleh dan berkata kepada He Kau Chun:

„Saudara yang baik, ambillah senjata ruyungmu, lekas naik ke panggung untuk membereskan manusia itu, tapi ingat, kau tidak boleh memukul sampai mati. Kalau kau sudah menang, nanti kau boleh minum arak sepuasnya.”

He Kau Chun ada orang yang doyan minum, dengar akan diberi minum arak merasa sangat girang, ia lantas bawa ruyungnya naik ke atas panggung.

Itu waktu, Liong Beng sedang menantang musuhnya dengan lagak yang sangat garang. Waktu melihat yang naik ke atas panggung adalah satu anak muda yang masih bau bawang dan belum dikenal, serta romannya sangat tolol, hatinya sangat mendongkol. Dalam hatinya ia berpikir, Yo Kheng dengan mengirim anak muda ini untuk melawan dirinya, agaknya terlalu memandang enteng padanya.

He Kau Chun berdiri di atas panggung, tidak bersiap juga tidak memasang kuda-kuda. Para jago dari kedua pihak yang menonton, menyaksikan cara-caranya He Kau Chun yang tolol- tololan itu, agak merasa khawatir. Hanya Kim Tan seorang yang sangat tenang, malahan ia dapat memastikan, bahwa pertandingan babak pertama ini pasti akan dimenangkan oleh He Kau Chun. Namun yang lain-lainnya, masih agak sangsi terhadap keterangan Kim Tan ini.

Liong Beng yang sangat pandang enteng musuhnya, agak mendongkol menghadapi lawan yang sangat tolol ini, melihat lawannya tidak mau membuka serangan terlebih dulu, segera naik darah hingga mulai membuka serangan dengan dibarengi oleh bentakan keras. Serangannya ini dimulai dengan menggunakan tipu pukulan „Tai-san-ap-teng.” (gunung Tai-san menindih bumbunan), sepasang tumbaknya diluncurkan ke atas kepala He Kau Chun.

He Kau Chun sedikit pun tidak bergerak, ruyung kuningannya diangkat ke atas untuk menangkis, kedua senjata lantas beradu. Liong Beng baru tahu liehaynya lawan ini, karena kedua lengannya merasa kesemutan, tubuhnya sempoyongan, dengan jumpalitan ia melesat ke pojok kanan. He Kau Chun masih berdiri tegak, wajahnya memperlihatkan senyuman, mulutnya mengejek: „Ho-han (orang gagah) tidak perlu tergesa-gesa, aku nanti temani kau main-main beberapa jurus.”

Mula-mula karena Liong Beng tidak pandang mata terhadap lawan yang masih muda serta tolol ini hampir saja celaka. Setelah kena batunya, ia tidak berani berlaku sembrono lagi. Sepasang tumbaknya diputar seperti titiran, maju menyerang. He Kau Chun juga putar ruyungnya untuk menjaga setiap bacokan atau tusukan. Bertempur kira-kira delapanpuluh jurus, dua-duanya masih sama-sama belum dapat kesempatan untuk merubuhkan lawannya.

Lagi beberapa jurus, tiba-tiba terdengar suara bentrokan senjata yang keras, sepasang tumbaknya Liong Beng telah terlepas dan terbang jauh sekali, sepasang tangannya mengeluarkan darah. Sebaliknya He Kau Chun, masih berdiri tegak. Dengan demikian, sebetulnya sudah dapat diketahui siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Namun Liong Beng masih belum mau terima kalah, bahkan karena marahnya, lantas timbul pikiran jahatnya. Ia lalu menggunakan ilmu pukulan Thiat-see-ciang (telapak tangan pasir besi) yang ia yakinkan sudah bertahun-tahun, menyerang ke arah dada He Kau Chun. Serangan ini dilakukan sangat cepat dan mendadak, tapi He Kau Chun agaknya sudah siap sedia, ia tidak berkelit atau mengegos, malahan dengan pasang dadanya untuk menerima pukulan. Liong Beng tidak tahu diri, ia anggap kali ini He Kau Chun tentu akan celaka, setidak-tidaknya akan luka parah. Tapi tak disangka begitu telapak tangan mengenakan dada lawan, terasa seperti mengenakan kapas yang empuk, hingga tenaganya tidak dapat digunakan sama sekali. Ia baru insyaf kalau tertipu oleh lawannya, buru-buru hendak menarik kembali telapak tangannya, tapi kedua tangannya sudah tersedot oleh He Kau Chun, seolah-olah kena besi sembrani, menempel tak mau lepas.

He Kau Chun berseru „pergi”, dengan melembungkan dadanya. Liong Beng lantas terpental sampai tujuh-delapan tumbak jauhnya, dengan mengeluarkan jeritan ngeri, kedua tangannya patah dan jatuh di tanah tidak bisa bergerak.

Tok-sim-im-ciang Phoa Cay lantas lompat ke panggung, lalu mengeluarkan serangan tangannya yang hebat. He Kau Chun karena sudah pernah merasakan pukulan tangan pasir beracun Phoa Cay ini, tahu bahwa musuh ini sangat liehay, maka tidak berani lawan dengan kekerasan. Ia lantas melesat tinggi dua- tiga tumbak, untuk menghindarkan serangan.

Kun-lun-koai-hiap (pendekar aneh dari Kun-lun) Ciok Cok Hoan, melihat Phoa Cay telah merusak aturan, maka lantas lompat ke atas panggung untuk melawan. Dari pihak tuan rumah, mendadak Tok-kak-kwi-ong (raja setan bertanduk satu) Go Beng juga menyusul untuk memapaki Ciok Cok Hoan, dan suruh Phoa Cay menolong Liong Beng. Ciok Cok Hoan menghadapi lawannya sambil memberi hormat dan berkata: „Go Kau-cu baik hati memberi pelajaran kepadaku si tua bangka, biarlah aku temani main-main beberapa jurus. Kita main-main dengan tangan kosong atau memakai senjata, terserah kepada Go Kau-cu.”

Go Beng tertawa dingin, ia membalas hormat, lalu menjawab:

„Sudah lama aku dengar Ciok-heng punya ilmu pukulan tangan kosong ‘Kim-liong-ciang-hoat’ (ilmu pukulan tangan naga emas) ada sangat liehay, mengapa tidak memperlihatkan beberapa jurus saja?”

Dengan tersenyum, Ciok Cok Hoan enjot tubuhnya dan memutar. Ilmu pukulan Ciok Cok Hoan ini, melesat atau mengegos, semuanya dilakukan dengan gerakan badan sangat cepat. Go Beng sebelah tangannya menjaga dada, sebelah tangannya lagi dipakai untuk melawan serangan.

Dua-duanya sama-sama orang yang ternama di kalangan Kang- ouw, kekuatannya juga berimbang, sedikit kesalahan saja bisa mengakibatkan bencana hebat. Ciok Cok Hoan tahu Go Beng tidak mau melakukan serangan lebih dulu, maka setelah memutar sebentar, lalu menggunakan tipu pukulan „Hang-liong- tam-jiauw” (naga mengulurkan leher untuk mengintai) lima jari tangan kanannya seperti gaetan, mencakar Go Beng. Dengan egoskan tubuhnya, Go Beng lewatkan serangan lawannya, dan tangan kirinya menyerang pundak kanan Ciok Cok Hoan, sedangkan tangan kanannya mengarah jalan darah „Kie-bun- hiat” di dada kiri lawan. Kun-lun-koai-hiap dengan cepat menarik kembali serangannya, tangan kirinya dengan gerak tipu „Sin-liong-ho-hiat” (naga sakti menjaga jalan darah), menahan serangan Go Beng. Sedang tangan kanannya dengan kecepatan kilat, mengarah samping dalam tangan kiri Go Beng. Serangan yang digunakan oleh Kun- lun-koai-hiap ini adalah ilmu pukulan menembus udara, yang menggunakan tenaga dalam, digabung dengan ilmu pukulannya

„Kim-liong-ciang-hoat” (ilmu pukulan naga emas), sehingga satu samberan angin yang sangat kuat, menyerang ke arah lawan.

Go Beng tahu selatan, maka juga mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya, untuk menahan serangan lawan. Kekuatan dua jago ini ada seimbang, maka hanya terdengar suara satu gempuran yang hebat, kedua-duanya terpental mundur dua-tiga langkah, baru dapat berdiri lagi.

Setelah berdiam sejenak, kembali maju ke depan untuk bertanding lagi, karena barusan telah mengadu tenaga dengan keras lawan keras, keduanya sudah dapat tahu kekuatan masing-masing, dengan diam-diam merasa terperanjat. Pertandingan babak kedua ini dilakukan sangat hati-hati. Pertandingan sudah berjalan seratus jurus lebih, akan tetapi masih belum diketahui siapa yang unggul atau yang asor.

Tiba-tiba terdengar Go Beng berseru nyaring dan Ciok Cok Hoan bersiul panjang, keadaan lantas berubah. Kalau tadinya bertempur sambil berputaran, sekarang adalah cepat lawan cepat, keras lawan keras, kedua-duanya bertindak sangat cepat, sehingga sukar dibedakan satu sama lain. Kun-lun-koai-hiap dengan mendadak tubuhnya melesat ke tengah udara, kemudian dengan melonjorkan kedua tangannya, dari atas menukik ke bawah untuk menyerang lawannya. Ini adalah salah satu pukulan yang aneh dan hebat dari ilmu silat

„Kim-liong-ciang-hoat”.

Go Beng tahu keliehayannya lawan, maka tidak berani menyambuti serangan itu, ia lalu mengeluarkan ilmu pukulannya dari golongan Pek-kut-sin-kun yang disebut „Lie-hun-shoa-uk” (membuyarkan roh). Tubuhnya bergoyang, sudah terhindar dari serangan Ciok Cok Hoan. Kun-lun-koai-hiap yang serangannya mengenakan tempat kosong, sedangkan Go Beng sudah lenyap dari depan matanya, ia tahu gelagat kurang baik, tanpa pikir panjang lagi, tangan kanannya lalu diputar balik ke belakang, untuk melontarkan serangan.

Go Beng sedikitpun tidak akan menyangka Ciok Cok Hoan bisa berubah demikian cepatnya, maka tidak dapat kesempatan untuk mengelakkan diri lagi. Dengan terpaksa ia menyanggah dengan keras juga, kembali kedua-duanya terpental.

Sesudah dua kali mengadu kekuatan, Kun-lun-koai-hiap insyaf, jika pertandingan diteruskan, belum tentu bisa merebut kemenangan, maka ia mau akhiri pertandingan, sebelum ada keputusan agar kedua-duanya tidak hilang muka. Ia buru-buru memberi hormat sambil angkat tangannya serta berkata: „Ilmu silat Go Kau-cu sudah menyatakan sendiri, dan betul-betul sangat mengagumkan, lain kali jika ada kesempatan baik kita main-main lagi.” Sehabis berkata, lalu turun dari panggung. Go Beng tidak sangka lawannya akan mengakhiri sebelum pertandingan selesai, merasa heran juga, sehingga lama sekali berdiri menjublek di atas panggung. Pada saat itu, dari barisan tetamu telah keluar empat orang, dengan membawa senjata ruyung bertingkat tiga, dengan beruntun meloncat ke atas panggung.

Empat orang gagah ini adalah Liok-sie Heng-tee atau empat saudara dari keluarga Liok di Seng-to propinsi Su-chuan, di daerah Su-chuan mereka dikenal dengan julukan Seng-to-su- hiap atau atau empat orang gagah dari Seng-to. Orang yang pertama maju segera memberi hormat kepada Go Beng seraya berkata: „Kita empat saudara, biasanya bertempur dengan berbareng, jika tuan merasa tidak ungkulan, melawan sendirian, boleh minta bantuan dari kawan-kawan.”

Go Beng memandang mereka satu persatu, lalu menjawab dengan sikap yang dingin: „Aku sudah mendengar, bahwa Liok- si Heng-te sudah biasa bertempur berbareng, dengan menggunakan barisan „Su-chio-tin” (barisan empat gajah) untuk melawan musuh, tapi aku rasanya masih sanggup untuk melawan, tidak perlu pembantu.” Sehabis berkata lalu menghunus pedang Pek-kut-kiam nya, kemudian lantas memasang kuda-kuda, untuk menantikan serangan lawan.

Empat saudara Liok lalu terpencar di empat bagian, masing- masing berdiri di tempatnya yang sudah ditentukan menurut „Su- chio-tin”. Setelah berkata „silahkan” masing-masing lalu mengeluarkan senjata ruyungnya yang dilekuk menjadi tiga tingkat, menyerang berbareng kepada lawannya. Dengan mengeluarkan suara di hidung, Go Beng angkat pedangnya untuk menangkis serangan. Barisan „Su-chio-tin” dari empat saudara Liok, meski sudah terkenal di kalangan Kang-ouw, tapi kali ini ternyata tidak berdaya menghadapi Go Beng, bertempur sudah lebih dari limapuluh jurus, masih belum dapat merebut kemenangan.

Empat saudara Liok agak penasaran, mereka lalu merubah barisannya, penyerangan dilakukan secara bergilir, menyerang berbareng menjaga, dilakukan sangat sempurna. Dengan mengandel kekuatan dalam yang tinggi Go Beng masih dapat bertahan, tapi bila pertandingan dilakukan terus, mungkin akan menderita kekalahan, maka ia juga rubah sikapnya, dengan tubuhnya yang enteng ia lompat ke kanan dan ke kiri sangat lincahnya, tapi tokh masih belum dapat kesempatan untuk melontarkan serangan, sedangkan seluruh badannya sudah bermandikan peluh.

Phoa Cay dan Touw Thing Hwie dari pihak Go Beng, melihat Go Beng agak repot melawan empat lawannya, masing-masing telah berdiri untuk segera memberi bantuan mana perlu. Tapi Go Beng masih tidak gugup, dengan tenang ia menyambut setiap serangan yang dilancarkan oleh pihaknya lawannya, tapi diam- diam memasang mata untuk memperhatikan setiap perubahan dari gerakan barisan lawannya.

Ternyata lawan menggunakan taktik „yang tiga bergerak dan yang satunya berdiam”, peranan yang ‘diam’ ini ialah menanti setiap kesempatan yang baik untuk melakukan serangan secara mendadak, maka jika orang ini belum disingkirkan, barisan empat gajah ini tidak bisa dipecahkan. Setelah mendapat tahu rahasianya untuk bikin pecah barisan empat gajah, ia lantas ambil keputusan nekat untuk merebut kemenangan.

Ketika itu ia sedang berdiri menghadap ke depan, tiga ruyung lawannya dari tiga jurusan timur, barat dan utara telah menyerang bagian tengah tubuhnya laksana datangnya air bah, sedangkan Liok Lo Sam berdiri di belakangnya untuk menunggu kesempatan baik. Menghadapi serangan demikian, seharusnya mencelat ke atas untuk menghindarkan serangan, tapi tidak demikian dengan Go Beng, ia telah mendekam tubuhnya ke bawah untuk mengasih lewat serangan lawan.

Liok Lo Sam melihat kesempatan baik, lantas menyerbu ke depan, dengan ruyungnya ia melakukan serangan. Tindakan ini tepat seperti apa yang Go Beng duga, ia tidak mau sia-siakan kesempatan yang baik ini, maka dengan kecepatan seperti kilat, ia telah menyerang kepada Liok Lo Sam.

Serangan ini karena dilakukan secara tiba-tiba, dan Liok Lo Sam yang sudah ketelanjur menyerang, tidak keburu tarik kembali serangannya, maka dalam sekejap saja, pedang lawannya sudah mengancam dirinya, terpaksa ia mencelat ke kanan untuk berkelit. Tidak diduga bahwa Go Beng, sudah tahu kalau ia akan lakukan gerakan ini, maka dengan sengaja ia lakukan gerak tipu untuk membingungkan lawannya, kemudian disusul dengan tindakan yang sangat cepat, menyerang Liok Lo Sam dengan tangan kosong yang hebat dari golongan Pek-kut-kauw. Liok Lo Sam tahu bahaya, ia tidak berani lawan dengan kekerasan dan untuk menolong jiwanya dari ancaman kematian, ia menggunakan kedua tangannya untuk melindungi dadanya, kemudian melesat mundur. Meski dapat terlolos dari serangan, tapi tokh masih terkena samberan angin yang keras, sehingga terpental jauh dan jatuh di bawah panggung tidak ingat orang lagi.

Dengan jatuhnya Liok Lo Sam, Go Beng telah terlepas dari ancaman bahaya, maka sekarang bisa berkelahi secara lega dan dengan lincahnya ia mainkan pedangnya untuk menyerang ketiga lawannya. Empat jago dari Seng-to ini, karena jatuhnya Liok Lo Sam, barisan empat gajah telah dibobolkan bagian yang terpenting, sehingga menjadi goncang dengan sendirinya. Lo Toa yang menyaksikan demikian, buru-buru mencelat keluar kalangan, sambil mengangkat tangannya ia berkata kepada Go Beng: ,,Go Kau-cu sungguh hebat ilmu silatmu, kita empat saudara mengaku kalah.”

Dari pihak tetamu, Hian Kie Cu dari golongan Bu-tong dan Yo Kheng segera memburu ke panggung untuk memberi pertolongan Liok Lo Sam. Setelah mendengar Liok Lo Toa sudah mengaku kalah, ia lantas keluarkan pilnya untuk dimasukan ke dalam mulutnya Liok Lo Sam, lalu suruh Yo Kheng angkat tubuhnya Liok Lo Sam.

Ia sendiri melompat ke atas panggung dan berkata kepada Liok Lo Toa dan kawan-kawan: „Barisan empat gajah, sekalipun kalah namun kalah secara terhormat, kalian mengapa merasa malu, baiklah kalian mengaso dulu. Hanya Go Kau-cu ini karena sudah lama bertempur, mungkin sudah terlalu lelah, aku tidak ingin menarik keuntungan secara tidak sopan, untuk meminta bertanding dengan kau, sekarang baiklah Go Kau-cu suruh lain orang menggantikan.”

Go Beng yang disindir secara demikian, dengan tertawa dingin ia menjawab: „Meskipun aku sudah lama bertempur, tapi belum sampai seperti apa yang kau katakan, perlu apa mesti tukar orang? Kalau saudara ingin main-main, silahkan maju!”

Selagi Hian Kie Cu hendak menjawab, si golok malaikat Touw Thing Hwie dari Pek-kut-kauw yang kuatirkan Go Beng benar- benar sudah lelah dan akan dikalahkan oleh lawannya, segera lompat ke atas panggung. Sambil angkat tangannya ia berkata kepada Go Beng: „Go Kau-cu sudah merebut kemenangan secara gilang-gemilang. Karena kita nanti masih harus balaskan sakit hatinya Chek Hong, maka silahkan Kau-cu mengaso dulu, biarlah kali ini aku yang rendah untuk menalangi turun tangan.”

Go Beng yang memangnya sudah lelah sekali, lalu mempersilahkan Touw Thing Hwie gantikan, ia tidak lupa ia memberi pesan: „Touw Kau-cu, Hian Kie Cu adalah orang gagah dari golongan Bu-tong, tenaga dalamnya tidak rendah. Jika sedikit lalai, mungkin akan kena dirugikan, maka waktu bertempur baiklah hati-hati sedikit.”

Hian Kie Cu tahu Touw Thing Hwie ini ada bekas penjahat dari propinsi Su-chwan, tenaga dalamnya tidak tercela. Oleh karena dikejar-kejar oleh pihak yang berwajib, lalu menggabungkan diri kepada Pek-kut-kauw. Hian Kie Cu merasa jemu dengan sikapnya Touw Thing Hwie yang sombong dan tidak memandang mata kepada lain orang, maka ia bermaksud hendak memberi sedikit hajaran padanya. Ia tertawa kepada Thing Hwie: „Pertandingan beberapa jago yang terdahulu, kalau tidak dengan ilmu silat ialah dengan menggunakan senjata. Pin-to yang suka mengembara laksana burung Hok, terhadap ilmu silat sudah lama tidak digunakan, sehingga hampir terlupa. Golok malaikat dari Touw Kau-cu sudah lama terkenal di kalangan Kang-ouw. Pinto ingin dengan duabelas biji mutiara di kantongku ini untuk menerima pengajaran dari Touw Kau-cu. Siapa yang terkena senjata rahasia lebih dulu atau yang dipaksa turun ke bawah panggung, akan dianggap kalah, belum tahu bagaimana pikiran Kau-cu?”

Touw Thing Hwie diam-diam merasa girang. Dalam hatinya ia berpikir: „Jika mengadu tenaga atau ilmu silat, rasanya tidak ungkulan untuk mendapat kemenangan, tapi jika mengadu senjata rahasia, imam ini sudah tentu akan kalah.” Maka ia lantas terima baik usul Hian Kie Cu.

Keduanya lalu mundur ke pojok barat dan timur, tempat yang digunakan untuk mengadu senjata rahasia ini terpisah kira-kira tiga tumbak. Hian Kie Cu di tangannya menggenggam tiga biji mutiara, Touw Thing Hwie tidak sungkan-sungkan lagi, terlebih dahulu melakukan serangan dengan cepatnya mengarah bagian atas, tengah dan bawah.

Hian Kie Cu mengira serangan dari tiga bagian ini tentunya ada akal tipunya, golok yang dilontarkan di bagian atas dan bawah, meski dilontarkan terlebih dulu, tapi sampainya akan terbelakang dari yang dilontarkan di bagian tengah. Tapi dugaan ini ternyata meleset, golok yang dilontarkan di bagian tengah, terang sudah sampai lebih dulu, tapi mendadak sedikit kendor, dan golok dari atas dan bawah yang sampai lebih dulu.

Kesalahan hitung ini hampir saja membawa bencana. Untung ia masih dapat merubah siasatnya dengan cepat, golok dari tengah kena dipukul jatuh oleh sebiji mutiaranya, yang dari bawah kena disampok oleh pukulan tangannya. Yang paling berbahaya ialah yang dari atas, hanya terpaut beberapa dim saja lewat dari atas kepalanya.

Hian Kie Cu baru lolos dari tiga serangan, atau tubuhnya belum berdiri tegak, Touw Thing Hwie sudah menyerang lagi dari lima sudut, atas, tengah, bawah, kanan dan kiri dengan sangat hebatnya. Hian Kie Cu tahu kali ini tidak boleh tidak akan terjatuh di tangannya Touw Thing Hwie, karena sekalipun ia dapat menghindarkan lima golok ini, di tangannya Touw Thing Hwie masih ada empat golok yang segera akan menyusul.

Karena keadaan sangat genting dan bahaya, dengan kertek gigi, ia keluarkan ilmu silatnya yang dahsyat. Dengan tidur terlentang ia menghindarkan serangan golok, dan dengan sembilan biji mutiaranya ia balas menyerang. Satu biji mengenakan goloknya Touw Thing Hwie yang menyerang sudut bawah, dan yang delapan biji laksana jatuhnya air hujan mengurung tubuhnya Touw Thing Hwie.

Benar seperti apa yang diduga oleh Hian Kie Cu, Touw Thing Hwie setelah melontarkan lima golok, kemudian menyusul lagi dua golok yang dilontarkan dengan ganas, ia tidak mengarah diri lawannya, tapi telah dibenturkan satu sama lain di atas tubuh Hian Kie Cu yang sedang celentang di tanah. Serangan demikian hanya dapat dilakukan oleh ahli yang sudah mahir benar, kesudahannya ialah golok-golok yang terbentur itu lalu pada jatuh menyerang laksana hujan kepada Hian Kie Cu yang masih belum bangun.

Diserang secara demikian, Hian Kie Cu terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk menutupi bagian yang penting dari mukanya, dan dengan secepat kilat ia bergelindingan untuk menghindarkan serangan golok, tapi meski demikian, tidak urung beberapa golok telah menyerang di bebokongnya. Berbareng dengan itu, serangan Hian Kie Cu juga berhasil mengenakan sasarannya. Karena Touw Thing Hwie tidak akan menduga dalam keadaan demikian Hian Kie Cu dapat melakukan serangan secara cepat, sehingga pundak kirinya terkena serangan dan hancur tulangnya. Dengan demikian, maka kesudahannya pertempuran ini adalah seri, karena kedua- duanya telah terluka.

Ma Beng dapat kenyataan bahwa orang-orangnya Pek-kut-kauw sangat tinggi kepandaiannya, barusan Kun-lun-koai-hiap dan Hian Kie Cu masih tidak bisa merebut kemenangan, dan untuk dapat merebut kembali uang piauw, pertandingan kali ini tidak boleh kalah lagi. Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia mendapat satu akal.

Ia lalu menoleh kepada Kim Tan dan Cu Ling Cie seraya berkata: „Itu paderi yang badannya gemuk di barisan tuan rumah, adalah Hang Liong Ho-siang (paderi yang bisa menundukan naga) Liauw Ceng, dalam peristiwa Liok-phoa-san, ia juga turut ambil bagian. Tempo hari kedua Hian-tit pernah menggunakan Tay-it-sin-kang dan Pan-yok-sin-kang untuk memberi hajaran kepada Phoa Cay, sekarang mengapa tidak mau mencoba pedang pusakamu di atas dirinya si gundul ini?”

Mendengar ini Cu Ling Cie lalu hendak melesat ke atas panggung. Kim Tan memandang ia seraya berkata padanya:

„Dulu ayah dan Sim Siok-siok pernah berkata, Liauw Ceng Ho- siang ini kekuatan tenaga luar dan dalamnya sangat tinggi, sekarang setelah lewat beberapa tahun tenaga dalamnya kupercaya banyak mendapat kemajuan, dan itu senjata garu yang sangat berat. Jika dilawan dengan pedang, mungkin akan rugi. Cie-moy jika hendak melawan dia, lebih baik menggunakan ilmu silat Hok-mo-hwie-kiam (pedang tajam untuk menundukan iblis), pelajaran tunggal dari Suhu.”

Cu Ling Cie menjawab sambil tersenyum: „Satu paderi yang tidak ada artinya, perlu apa dipandang begitu tinggi, aku ada akal untuk melawan dia.”

Kim Tan memandang tajam kepada Ling Cie yang agak anggulkan diri, selagi hendak memberi nasehat, Cu Ling Cie sudah bersenyum lagi dan berkata: „Engko Tan jangan kuatir, aku hanya main-main saja.” Sehabis berkata tubuhnya sudah melesat ke udara, laksana bidadari turun dari kahyangan, sehingga membuat orang-orang gagah di sekitar panggung menjadi kesima. Setelah berada di atas panggung, Cu Ling Cie berkata menghadap barisan tuan rumah: „Aku yang rendah adalah Cu Ling Cie, khusus minta Hang Liong Ho-siang Liauw Ceng naik ke panggung sebentar, untuk membuat perhitungan hutang darah pada beberapa tahun berselang, sehingga tidak cuma-cuma kedatanganku di Kun-san ini.”

Liauw Ceng yang adatnya keras, ditantang secara terang- terangan oleh satu anak dara, bahkan disebut-sebut tentang hutang darah, hatinya sangat panas. Ia memandang ke arah Cu Ling Cie, ternyata tidak mengenalnya. Tidak dapat ia mengendalikan adatnya yang keras itu, maka lalu mencelat ke atas panggung.

Waktu ia tiba di atas panggung, seperti sengaja memperlihatkan keliehayannya, dengan menggunakan kekuatan kakinya. Ia membuat panggung yang diinjak itu bergoyang dan telapakan sepatunya meninggalkan bekas di atas papan yang dalamnya tidak kurang dari dua dim. Dengan melintangkan sodokannya, ia membuka mulutnya memaki-maki Cu Ling Cie:

„Kau budak hina yang tidak tahu mampus, lihat dirimu yang masih anak bawang, bagaimana bisa tanam bibit permusuhan dengan aku? Aku nasehatkan padamu, lebih baik turun saja dari panggung, jangan sembarangan memaki orang. Aku akan mengampuni kau punya kesalahan kali ini.”

Cu Ling Cie tertawa dingin, ia berkata: „Bangsat gundul Liauw Ceng, yang dulu punya kesalahan, hari ini telah tiba saat kematianmu kali ini. Salah satu dari Siauw-siang-sam-hiap yang sangat terkenal, Cu Kang, ialah ayahku. Apakah kau masih ingat lima tahun yang lalu, ketika Ouw-pak-sam-sat dengan secara rendah menuntut balas di gunung Liok-phoa-san? Kau juga ada ambil bagian, hari ini adalah giliranmu untuk menerima kematian, maka lekaslah serahkan jiwamu, supaya tidak perlu aku turun tangan lagi.”

Liauw Ceng yang sudah kenamaan, belum pernah dihina oleh lawan demikian rupa. Dengan sangat gusar ia berkata: „Budak hina, jika mau membalas sakit hati orang tuamu enam tahun berselang, lebih baik suruh anaknya Kim Som naik panggung sekalian. Aku kasihan usiamu yang masih muda, maka kuberikan kelonggaran untuk kau menyerang sampai sepuluh jurus, kemudian baru aku turun tangan untuk antar kalian ke akherat, supaya dapat bertemu dengan ayah bunda kalian.”

Cu Ling Cie tidak menggubris perkataan Liauw Ceng, ia lantas menghunus pedangnya.

Phoa Cay yang dapat melihat pedang itu, merasa kaget hingga berteriak: „Mengapa ada sepasang pedang mustika yang serupa?” lantas menoleh kepada Go Beng: ,,Pedang Pek-kut- kiam ku, dengan pedang Kim Tan yang serupa ini yang membikin patah, kenapa perempuan hina ini juga mempunyai pedang yang serupa itu?”

Go Beng yang belum pernah mengalamkan keliehayannya pedang ini, mana mau mengerti, dengan sembarangan ia menyahut: „Sutee perlu apa sangat kuatir, senjata sodokan Hang Liong Ho-siang, beratnya ada seratus duapuluh kati. Bagaimanapun bagusnya pedang mustika, kena terbentur saja segera terpental, apalagi kekuatan tenaga Liauw Ceng Ho-siang yang begitu tinggi. Perempuan hina meski dalam tangannya mempunyai pedang mustika, aku percaya tidak nanti bisa berbuat suatu apa.”

Baru saja Phoa Cay hendak menjawab, atau wajahnya mendadak berubah pucat. Go Beng yang dapat menyaksikan perubahan ini segera menengok ke atas panggung, betapa kagetnya, sehingga dua-duanya lantas berdiri.

Kiranya dalam sekejapan ini, Liauw Ceng yang dijagoi oleh golongan Pek-kut-kauw, itu waktu sudah didesak oleh pedang mustika Cu Ling Cie, sehingga berputar-putaran tidak mampu melepaskan diri dari kurungan sinar pedang. Meski ia memutar senjatanya yang sangat berat untuk menjaga dirinya, tapi diluarnya tetap terkurung oleh pedang Cu Ling Cie, malahan sebentar-sebentar mencari ketika untuk menikam.

Sambil bertempur, Cu Ling Cie tidak hentinya mengejek musuhnya: „Bangsat gundul yang sombong, jangan kata hendak memberikan aku sepuluh jurus, jika kau mampu meloloskan diri dalam sepuluh jurus dari ilmu pedangku Hok-mo-hwie-kiam ini, permusuhan antara kita akan kubikin habis.”

Liauw Ceng yang pernah malang melintang dan belum pernah mendapat tandingan selama hidupnya, ketika mendengar disebutnya ilmu pedang Hok-mo-hwie-kiam, semangatnya hilang seketika itu juga. Belum hilang rasa kagetnya, atau ujung pedang Cu Ling Cie sudah mengancam tenggorokannya. Baru saja Liauw Ceng kelit dari serangan ini, atau serangan yang lain telah menyusul secara beruntun dan cepat, serta dibarengi oleh samberan angin yang sangat hebat, sehingga membuat Liauw Ceng sangat gugup.

Phoa Cay dan Go Beng yang melihat gelagat kurang baik bagi pihaknya, selagi hendak memberi bantuan, tapi sudah didahului oleh gerakannya Cu Ling Cie yang mematikan. Saat itu ia menggunakan jurus kedelapan dari Hok-mo-hwie-kiam, dan kemudian disusul dengan jurus kesembilan yang sangat dahsyat.

Liauw Ceng yang merasakan dirinya terkurung oleh bayangan pedang yang laksana gunung teguhnya, di sekitar tubuhnya seolah-olah ada beberapa ribu pedang yang mengancam atau menikam, ia tahu sangat sukar untuk melepaskan diri. Maka dengan sekuat tenaga ia mengumpulkan kekuatannya untuk melindungi seluruh tubuhnya. Ketika lawannya menyerang ia lalu angkat tinggi senjata sodokannya untuk menangkis, ia anggap dengan berbuat demikian dapat bikin terpental pedangnya Cu Ling Cie.

Dalam sekejap berikutnya, suara beradunya dua senjata telah terdengar nyaring, dan senjatanya Liauw Ceng yang sangat berat itu sudah terpapas menjadi dua potong. Cu Ling Cie sambil berseru „pergi” kakinya dikerjakan untuk menendang tubuh Liauw Ceng yang tinggi besar itu, sehingga terlempar ke bawah panggung. Dalam saat itu juga, Phoa Cay dan Go Beng sedang memburu ke panggung, sehingga hampir saja bertumbukan dengan tubuhnya Liauw Ceng yang ditendang oleh Cu Ling Cie. Kedua jago Pek-kut-kauw ini yang menyaksikan Liauw Ceng telah binasa di bawah tangannya Cu Ling Cie, bukan main murkanya, hingga tidak memperdulikan peraturan pertandingan lagi, dua- duanya telah mengeluarkan serangannya Pek-kut-im-hong-ciang (serangan yang menggunakan telapakan tangan dari golongan Pek-kut-kauw, yang mengandung angin jahat, sehingga dapat mencelakakan lawannya) menyamber ke arah Cu Ling Cie.

Tapi di saat itu juga, di tengah udara tiba-tiba terdengar suara berseru: „Melakukan serangan secara menggelap, apakah itu perbuatannya orang gagah?” Berbareng dengan suaranya, satu serangan tenaga dalam telah membikin buyar serangannya kedua jago Pek-kut-kauw itu, bahkan samberan tenaga dalam itu telah membentur tubuhnya mereka sehingga ketika tiba di atas panggung badannya menjadi sempoyongan.

Berdiri di atas panggung, Kim Tan berkata kepada Cu Ling Cie:

„Cie-moy, pedangmu sudah menamatkan riwayatnya Hang Liong Ho-siang ini, dengan demikian musuh ayah bunda kita sudah terbalas satu. Kedua kawanan Pek-kut-kauw ini biarlah aku yang membereskan, silahkan kau mundur, untuk menjaga di bawah.”

Lalu menoleh kepada dua jago Pek-kut-kauw itu: „Terbunuh matinya Chek Hong dan Liauw Ceng, adalah urusan pribadi aku dan Cu Ling Cie sumoy. Sekarang dua orang itu sudah binasa semuanya, permusuhan dan hutang darah mereka sudah terbayar sebagian. Sedang, soal uang piauw, sudah ditetapkan peraturan dengan pertandingan sepuluh babak untuk menetapkan kemenangan dan kekalahan, barusan sudah bertanding lima babak, masing-masing pihak menang dua babak dan satu babak seri, sehingga kesudahannya juga seri.

„Sekarang aku yang rendah hendak mewakili Yo Lo-cianpwee untuk memberi keputusan. Dengan sepasang telapakan tanganku ini, aku hendak main-main beberapa jurus dengan kalian berdua. Jikalau aku kalah, hidup atau mati,terserah kepada kalian berdua. Tapi sebaliknya jika kalian berdua yang kalah di tanganku, aku minta supaya uang piauw itu dikembalikan dan cabang Kun-san ini harus dibubarkan, tidak boleh menyesal.”

Phoa Cay telah menyaksikan Cu Ling Cie dalam tempo belum cukup sepuluh jurus sudah membinasakan Liauw Ceng yang gagah dan sudah kenamaan, siang-siang nyalinya sudah kuncup. Sekarang dengar Kim Tan hendak melawan dengan tangan kosong untuk menentukan pertandingan, semangatnya bangun kembali.

Go Beng yang belum kenal siapa adanya Kim Tan, meski barusan sudah merasakan sendiri kekuatan dalamnya anak muda ini, tapi dianggapnya karena serangan tadi datangnya dari samping, hingga belum dapat dibuat ukuran. Sekarang dengan kekuatan dua orang untuk melawan, mana mungkin bisa dikalahkan. Berpikir sampai disitu, berdua saling pandang, lalu melakukan serangan berbareng. Serangan ini dilakukan dengan sepenuh tenaga, sehingga di atas panggung mengepul banyak debu karena samberan angin yang keras.

Orang-orang dari pihak Kim Tan agak kuatir juga menyaksikan dahsyatnya pukulan itu. Tapi Kim Tan sendiri agaknya seperti tidak ada kejadian apa-apa. Ia tetap berseri-seri mengawasi dua orang lawannya, tidak mengangkat tangannya untuk menangkis atau menggeser tubuhnya untuk berkelit, meski serangan sudah dekat di depan dadanya. Ia seperti tidak merasakan apa-apa. Hal ini telah mengejutkan semua orang yang menonton, baik pihak kawan maupun di pihak lawan.

Sebetulnya Kim Tan sudah mengeluarkan ilmu silatnya Tay-it- sin-kang (ilmu tenaga dalam) yang dipusatkan di dadanya, untuk melindungi bagian yang penting. Selagi kekuatan pukulan dua lawannya datang menyerang, ia lalu gerakan tubuhnya untuk mengempos tenaganya. Dengan satu seruan nyaring, tenaga dalam yang dikumpulkan itu telah menyamber keluar untuk menggempur balik serangan Phoa Cay dan Go Beng.

Dua jago Pek-kut-kauw waktu melontarkan serangan, sudah berkeputusan hendak mengadu tenaga dalam dengan Kim Tan, waktu melontarkan serangan, orangnya pun segera bergerak hendak menggempur. Tak disangka-sangka dalam saat yang cepat itu mendadak dengar seruan yang nyaring dari Kim Tan, dan satu serangan pembalasan yang hebat telah menyusul dan membikin balik serangannya sendiri. Pukulan tenaga membalik ini sungguh hebat, mau tidak mau mereka mesti mundur dengan sangat terkejut. Tahu gelagat kurang baik, mereka tidak berani mengadu kekuatan lagi dengan Kim Tan. Dengan cepat mereka mencelat setinggi satu tumbak, tapi bayangannya Kim Tan sudah membarengi, dan dengan mengeluarkan ilmu silatnya tigapuluh enam jurus Ceng-hoan-im-ciang (pukulan Im dan Yang yang diputar balik) dari gurunya untuk menyerang lawannya.

Dua jago Pek-kut-kauw ini mengerti juga sedikit tentang pat-kwa, hingga dalam babak permula, masih bisa juga memberi perlawanan. Apa mau ilmu pukulan Kim Tan ini mempunyai gerak tipu yang aneh dan banyak perubahannya, sehingga pada akhirnya kedua lawan itu seolah-olah terkurung oleh tembok besi yang kuat, sukar sekali untuk melepaskan diri. Dalam keadaan tidak berdaya sama sekali ini, dua jago Pek-kut-kauw ini lalu saling memberi tanda untuk melakukan percobaan nekat, menerjang keluar.

Apa mau ilmu silat yang dipergunakan oleh Kim Tan ini sangat sukar sekali untuk diterobos, maka akhirnya terkurung dengan tidak berdaya suatu apa. Pihak penonton dari tetamu sangat kagum akan kegagahannya Kim Tan, sebaliknya orang-orang dari pihak Pek-kut-kauw sangat kuatirkan jiwanya dua jago mereka itu.

Phoa Cay dan Go Beng akhir-akhirnya ambil putusan jahat, karena, tidak dapat melepaskan diri dari kurungan lawannya, maka hendak melakukan serangan menggelap, agar dua- duanya rubuh. Setelah memberi tanda satu sama lain, Phoa Cay dan Go Beng lakukan serangan Im-hong-ciang dengan berbareng. Kim Tan yang ternyata sudah siap sedia, lantas memapaki serangan hebat itu, dan akhirnya dua kekuatan tenaga dalam saling bentur. Kim Tan mundur sempoyongan beberapa tindak, dan dua jago Pek-kut-kauw itu telah terpental tiga tumbak jauhnya untuk terus nyelonong ke bawah panggung.

Kim Tan yang hanya terpental mundur beberapa tindak, ternyata tidak luka apa-apa, tapi kedua jago Pek-kut-kauw itu sebaliknya kehabisan tenaganya. Dalam keadaan demikian Kim Tan lantas membarengi menotok jalan darah mereka, sehingga tak ampun lagi jatuh dan tidak dapat bergerak sama sekali.

Orang-orang dari kedua pihak lalu pada memburu ke bawah panggung untuk memberikan pertolongan kepada dua orang yang luka itu. Kim Tan dengan merendah berkata kepada mereka sambil mengangkat tangan: „Terima kasih atas kedua Kau-cu yang sudah mengalah, sehingga aku yang rendah mendapat kemenangan ini. Sekarang urusan telah beres, barusan sudah ada keputusan untuk menyelesaikan urusan ini, aku percaya tuan-tuan sekalian tentunya tidak akan menarik kembali.”

Orang-orang dari golongan Pek-kut-kauw, semula memang mengandalkan Liauw Ceng Ho-siang, Go Beng dan Phoa Cay. Tapi kini Liauw Ceng sudah meninggal dan Phoa Cay bersama Go Beng sudah dijatuhkan oleh Kim Tan, sehingga tidak seorang yang berani membuka mulut untuk memberi jawaban.

Pada akhirnya adalah Touw Thing Hwie sambil menahan rasa sakit, lalu mengangkat tangan berkata kepada Kim Tan: „Kim Siau-hiap sungguh hebat ilmu silatmu, kita sekalian mengaku kalah. Di kalangan Kang-ouw selamanya menghargai kepercayaan, maka sesuatu perkataan yang sudah dikeluarkan, tidak nanti akan ditarik kembali. Barusan sudah diadakan pembicaraan, maka Cabang Pek-kut-kauw disini, selanjutnya akan kita bubarkan, barang-barang dan uang piauw juga tersimpan di dalam gudang, masih utuh belum diganggu sedikitpun juga, harap Siauw Lo-piauw-tao suka periksa dan ambil kembali. Dan harap supaya Kim Siau-hiap juga tidak akan lupa janjimu, dalam tempo tiga bulan, nanti kita menantikan kedatanganmu di gunung Ay-lie-san.”

Kim Tan buru-buru menjawab: „Aku yang rendah sudah lama kagumi Pek-kut-sin-kun, dengan Ouw-pak-sam-sat kita ada mempunyai permusuhan yang sangat dalam. Aku yang rendah meski belum ada nama di dunia Kang-ouw, tapi apa yang aku katakan, tentu aku akan lakukan. Aku mengharap juga kepada Touw Kau-cu suka memberitahukan kepada mereka, bahwa kita, Kim Tan dan Cu Ling Cie, murid Sam Hie To-tiang dari Ngo-bie- san, dalam tiga bulan ini pasti datang ke Ay-lie-san untuk menyumpai Pek-kut-sin-kun, serta akan menagih hutang kepada Ouw-pak-sam-sat yang mereka telah perbuat pada enam tahun berselang.”

Setelah Kim Tan memperkenalkan dirinya, orang-orang dari golongan Pek-kut-kauw pada terperanjat. Kiranya anak-anak muda yang membinasakan Hang Liong Ho-siang dan menjatuhkan kedua jago Pek-kut-kauw ini adalah muridnya Sam Hie To-tiang, seorang kosen nomor satu di kalangan Kang-ouw pada jaman itu. Touw Thing Hwie diam-diam berpikir: pantas Kim Tan ilmu silatnya demikian tinggi, kiranya murid Sam Hie To-tiang. Terhadap Go Beng dan Phoa Cay yang terluka, ia sendiri tidak bisa berbuat suatu apa, maka dengan terpaksa ia memohon kepada Kim Tan supaya suka menolong jiwanya kedua kawannya itu.

Kim Tan seperti sudah mengerti yang Touw Thing Hwie akan majukan permintaan ini, maka lalu menjawab: „Go Kau-cu dan Phoa Kau-cu barusan waktu bertempur dengan tangan kosong, tenaga dalamnya tergoncang, sebenarnya tidak luka apa-apa. Touw Kau-cu tidak perlu kuatir, aku dan Cu Ling Cie sumoy telah memegang keras peraturan perguruan kita, tidak boleh sembarangan melakukan pembunuhan. Kini perkataan sudah habis, biarlah sampai disini saja dulu, lain waktu kita berjumpa lagi.”

Tadinya Touw Thing Hwie mengira Go Beng dan Phoa Cay terkena totokan hebat, terlebih-lebih karena Kim Tan ilmunya sangat tinggi. Ia mengira tenaga dalamnya tentu hebat pula, maka ketika ia tidak berdaya memberi pertolongan, hanya berdiri menjublek sambil mengawasi Kim Tan dengan sorot mata menyala-nyala.

Kini setelah mendengar keterangan Kim Tan, ia tahu bahwa anak muda ini tidak turunkan tangan jahat, jika tidak, kedua kawannya itu tentu siang-siang sudah binasa. Ia lalu memberi pertolongan sebagaimana mestinya, dan benar saja, setelah diberi emposan tenaga oleh Touw Thing Hwie, dua jago Pek-kut- kauw itu lalu siuman kembali. Dengan demikian, maka pertandingan di Kun-san ini telah selesai dengan kemenangan pihak Yo Kheng dan kawan-kawannya.

Setelah orang-orang dari Pek-kut-kauw berlalu, Kim Tan lalu menelan sebutir obat pil untuk melindungi jantungnya, karena barusan bertempur dengan jago dari Pek-kut-kauw, sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga, sehingga di dadanya dirasakan sedikit sakit. Tiba-tiba ia ingat kepada Hian Kie Cu dan Liok Lo Sam yang terluka, maka buru-buru menanyakan keadaan mereka.

Hian Kie Cu tertawa berkakakan dan berkata kepada Kim Tan:

„Luka Pin-to hanya luka di luar saja yang tidak ada artinya, tidak menjadikan soal apa-apa. Hanya lukanya Liok Lo Sam mungkin agak berat, karena dikuatirkan bagian dalamnya terkena pukulan Im-hong-ciang dari kawanan Pek-kut-kauw. Jika kau ada membawa obat untuk melindungi jantung dari Ngo-bie, bolehlah berikan dia beberapa butir.”

Kim Tan menyanggupi, dan bersama beberapa kawannya, ia pergi ke ruangan tamu, untuk melihat lukanya Liok Lo Sam. Untung Liok Lo Sam orangnya cerdik, ia dapat melesat dengan mengikuti arahnya angin yang dilontarkan oleh Go Beng, hingga tidak luka parah, hanya sedikit tergetar. Setelah menelan obatnya Kim Tan pun segera sembuh kembali.

Pada malam harinya, dengan bertempat di kantor cabang Pek- kut-kauw, Yo Kheng adakan pesta besar untuk menjamu para tamunya. Dalam  pesta itu adalah He Kau Chun yang paling gembira, karena seumur hidupnya, jarang mendapat kesempatan untuk makan minum sepuas-puasnya.

Setelah pesta bubaran, para jago dari berbagai-bagai tempat ini pada keluar dari ruangan dan menggadangi rembulan di bulan Tiong-chiu. Bukit Kun-san yang letaknya di tengah telaga Tong- ting, meski di waktu siangnya pernah dibuat medan pertempuran, sehingga banyak darah berhamburan, namun kini sudah kembali seperti sedia kala, sunyi senyap.

◄Y►

Cu Ling Cie juga merasa agak gembira, dengan menggandeng tangan Kim Tan, ia keluar jalan-jalan di tepi danau, dengan senyumnya yang menawan hati, ia berkata kepada Kim Tan:

„Engko Tan, dalam pertandingan silat yang jarang terjadi di kalangan Kang-ouw tadi, kita tokh tidak lupakan pesan suhu. Kecuali membunuh musuh orang tua kita si gundul Liauw Ceng, kita tidak pernah membinasakan lain orang, hingga urusan yang tadinya begitu banyak mengandung angkara murka, akhirnya telah dapat diselesaikan secara damai, dengan demikian kita tidak kecewakan ajaran suhu kita.”

Keadaan yang sunyi dan permai, angin berembus sepoi-sepoi, membuat kalbu mereka seolah-olah tenggelam dalam pelukan sang alam. Dua pemuda-pemudi ini telah memilih tempat yang lebih sunyi untuk berduduk. Saat itu, Cu Ling Cie seperti teringat sesuatu, ia menanya kepada Kim Tan: „Engko Tan, pemandangan dan rembulan malam ini bukankah sangat permai?”

Kim Tan bersenyum tapi tidak menjawab, tangannya diulur untuk memegang tangannya Cu Ling Cie.

Kedua-duanya diam, tiba-tiba Cu Ling Cie mendongak, dengan sinar matanya yang bening ia memandang Kim Tan, kembali menanya: „Pemandangan dan rembulan di Oey-he-lauw lebih baik atau di sini yang lebih permai?”

Ditanya demikian, Kim Tan agak bingung, hingga ia berbalik menanya: „Cie-moy mengapa membandingkan keadaan dan rembulan dari dua tempat itu?”

Cu Ling Cie itu waktu kelakuannya agak aneh, ia berkata sambil tertawa cekikikan: „Apakah kau sudah lupakan saudara Tan Cee yang itu malam telah antar obat pemunah racun?”

Kim Tan masih belum mengerti maksud pertanyaan Cu Ling Cie yang sebenarnya, dengan sembarangan ia menjawab: „Saudara Tan Cee ada seorang yang tampan, gagah dan cerdik pandai, hingga sukar dicari bandingannya. Orang seperti dia, sudah tentu banyak orang yang suka, apakah Cie-moy juga suka padanya?”

Ditanya secara demikian, mukanya Cu Ling Cie merah seketika, dengan tertawa geli ia berkata: „Engko Tan jangan salah tangkap artinya pertanyaanku yang sebenarnya? Sekarang aku hendak tanya padamu, jika seandainya ia bukan saudara Tan Cee akan tetapi saudari Tan, bagaimana dengan kau?”

Mendengar pertanyaan ini, Kim Tan seolah-olah tidak mempercayai pendengarannya sendiri, tapi ia masih mengira Cu Ling Cie sedang mencoba hatinya, maka dengan terkejut ia menjawab: „Cie-moy, mengapa kau main-main secara demikian denganku. Kita ada bergaul sejak masih anak-anak, leluhur kita juga berkawan karib, cinta kita berdua teguhnya laksana batu dan emas, kecantikanmu juga susah dicari bandingannya. Apakah kau masih tidak percaya hatiku?”

Mendengar omongan ini, Cu Ling Cie mendadak ketawa terpingkal-pingkal, kemudian berkata: ,,Jangan kau berkata begitu manis dihadapanku lagi. Dengan sebenarnya kuberitahukan padamu, Tan Cee bukanlah Toa-ko, tapi benar- benar sebagai Toa-cie, juga nama Tan Cee itu adalah nama palsu. Bukankah kita sudah sering dengar, bahwa di golongan Pek-kut-kauw ada seorang wanita yang bernama Giok-tek-hwie- sian Han Ing, yang meski tumbuh di pecomberan, tapi tokh tidak kena kotorannya? Tan Cee itu adalah dia.”

Kim Tan dengar perkataannya yang sungguh-sungguh, ia tahu kalau perkataan Cu Ling Cie bukannya bohong, tapi mengapa ia yang sudah bergaul begitu lama, tidak mengetahui kalau Tan Cee seorang wanita? Ia merasa agak sangsi dan menanya:

„Apakah perkataanmu ini tidak bohong?”

Dengan sungguh-sungguh Cu Ling Cie menjawab: „Buat apa aku justai kau? Kau sendiri yang sebetulnya kurang cerdas. Jika dia bukannya Giok-tek-hwie-sian, bagaimana di tubuhnya ada mempunyai obat pemunah racun dari golongan Pek-kut-kauw? Dan obat ini kecuali dia dan kedua Suhengnya, siapa lagi yang mempunyai?”

Mendengar keterangan ini, mau tidak mau Kim Tan harus percaya. Dengan mengelah napas ia berkata: „Orang seperti dia, di dunia ini sungguh jarang ada. Pantas ketika perahu kita sampai di Kun-san, ia telah menghilang secara mendadak, dan tidak mau memberi bantuan kepada kita.”

Rahasianya Tan Cee telah terbuka, tapi Kim Tan malahan merasa serba salah.

Melihat keadaan demikian,  Cu  Ling Cie menghibur padanya:

„Orang yang begitu gagah seperti kau, wanita mana yang tidak akan kagum. Dalam perjalanan kemari, aku telah memperhatikan dengan diam-diam. Aku telah mendapat kenyataan, bahwa Enci Han Ing benar-benar telah merasa sangat kagum terhadap kau. Tapi kemudian ia dapat tahu kalau kita berdua sudah bertunangan, maka tidak berani secara terang-terangan mengutarakan isi hatinya.

„Sebaliknya aku bukannya seperti wanita-wanita lainnya yang suka cemburu, malahan aku ingin supaya ia bisa terangkap jodoh dengan kau. Asal saja kau tidak menolak, lain hari jika aku ketemu dia, sudah tentu aku akan bereskan soal ini. Encie Han Ing meski tidak berani terang-terangan memberi bantuan di Kun- san, tapi aku percaya dia tentunya berada di dekat-dekat sini. Asal kita mau menyelidiki, tentunya tidak sukar untuk menemukannya.”

Meski perkataan Cu Ling Cie ini dengan sejujurnya, tapi Kim Tan tetap merasa serba salah. Setelah berdiam sejenak, lalu menjawab: „Giok-tek-hwie-sian meski sudah menolong jiwaku, sehingga aku berhutang budi yang sangat dalam kepadanya, namun kecintaanku kepadamu laksana batu dan emas, tidak gampang-gampang berubah. Sedangkan hutang budiku kepada Giok-tek-hwie-sian, asal ada perintah dari ia, apa saja, meskipun terjun ke laut atau masuk ke bara api, aku tidak akan menolak.”

Cu Ling Cie memandang ia sejenak, kemudian berkata dengan tertawa kecil: „Orang ada maksud untuk merangkap jodoh, sebaliknya kau akan berpura-pura berlaga. Apakah kau kira aku akan cemburu kepadanya.”

Mendengar jawaban Cu Ling. Cie, mukanya Kim Tan merah seketika, buru-buru memberi keterangan: „Cie-moy, bukannya begitu, kau telah salah mengerti, perkataanku ini semuanya kukatakan dengan sejujurnya. Apakah aku perlu mesti bersumpah dihadapanmu?”

Maksud Cu Ling Cie untuk menjodohkan Kim Tan dengan Han Ing, sebetulnya juga berpura-pura karena sebagai wanita, iapun kenal baik perangai wanita. Jika bukannya Han Ing jatuh cinta kepada Kim Tan, tidak nanti, dengan secara nekat dan menempuh segala bahaya, untuk malam-malam datang menemui Kim Tan guna memberi pertolongan? Dalam keadaan demikian, maka ia lantas timbul pikirannya untuk merekokkan jodoh mereka, tapi usul ini ternyata ditolak oleh Kim Tan.

Mendengar jawaban Kim Tan, Cu Ling Cie merasa girang tercampur sedih. Girang karena ia dapat tahu bahwa cintanya Kim Tan terhadap ia sangat teguh, dan sedih, karena memikirkan nasibnya Han Ing yang mungkin tidak dapat menggunakan budi pekertinya untuk menindas perasaannya.

Berhubung dengan ini, mereka sama-sama terdiam, tidak dapat suatu akal yang baik untuk memecahkan soal yang sangat rumit ini.

Tempat mereka duduk adalah di kaki gunung, sedang mereka kelelap dalam kalbunya masing-masing. Dari tengah gunung tiba-tiba terdengar elahan napas yang halus. Meski jaraknya, agak jauh dan elahan napas itu pun sangat halus, namun di telinga mereka yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, sudah tentu dapat terdengar.

Kedua-duanya merasa kaget, dan buru-buru menengok, tapi tidak terlihat satu bayangan manusiapun juga, hanya terdengar suara bergeraknya orang yang sedang berlalu sangat cepatnya. Cu Ling Cie segera menegor: „Siapa orang yang mempunyai kepandaian begitu sempurna, harap supaya tunggu sebentar.” Sehabis berkata, ia lantas mengejar ke arah suara tadi.

Kim Tan menyusul di belakangnya, tapi dalam rimba yang lebat itu, sudah tidak terdapat satupun manusia disitu. Kim Tan berkata: „Orang itu telah muncul secara mendadak, meski belum diketahui kawan atau lawan, dan mungkin juga kebetulan saja, tapi karena tidak menimbulkan sesuatu perkara, biarkanlah saja, perlu apa kita mencari. Kau lihat, disana sudah disediakan banyak perahu, mengapa kita tidak mendayung ke telaga untuk menggadangi rembulan?”

Cu Ling Cie terima baik usul Kim Tan ini, lalu bersama-sama turun ke perahu.

Mereka dayung perahu di tengah telaga sampai jauh malam baru kembali ke pondoknya.

Esok paginya, Cu Ling Cie bangun tidur selagi hendak berias, tiba-tiba dapat lihat sepucuk surat di bawah jendela, rupanya seperti dilemparkan dari luar jendela. Agak heran juga perasaannya, ia buru-buru mengambil surat itu lalu dibacanya.

Surat itu ternyata ditujukan kepadanya dan Kim Tan, di ujung bawah kiri terdapat satu huruf „Han”, melihat ini, Cu Ling Cie hampir saja berteriak. Ini adalah surat dari Han Ing, dan apakah bunyinya? Ia sebetulnya ingin cari Kim Tan untuk bersama baca, tapi karena tidak sabaran, ia lantas buka, lalu dibaca dan beginilah bunyinya:

„Adik Tan dan adik Cie, di depan Oey-he-lauw aku kenal kalian. Setelah berkenalan, meski aku sudah tahu adik Cie mengandung maksud yang sangat dalam untuk memecahkan soal antara kita, namun mengingat perhubungan kalian berdua yang sejak turun temurun, sejak masih anak-anak, maka bertambahnya aku seorang di antara kalian, mungkin akan banyak urusan menimbulkan kesulitan.

Apalagi di tengah-tengah jalan antara yang jahat dan yang baik, yang kini masih belum dapat diduga bagaimana akhirnya. Ketika pertemuan di Kun-san, aku berada di tempat yang serba salah, maka tidak turut ambil bagian. Setelah orang-orang dari pihak yang jahat dapat disingkirkan, kalian berkesempatan untuk menggadangi puteri malam di tengah-tengah telaga yang permai.

Kecintaan adik Cie yang begitu besar terhadapku yang dengan halus mengeluarkan isi hatimu serta coba membujuk adik Tan, kecintaan ini melebihi saudaraku sendiri. Apa mau adik Tan kecintaannya cuma ditujukan seorang. Orang lelaki semacam adik Tan ini, tidak gampang dicari keduanya.

Setelah kalian memperbincangkan soal ini dan tokh akhirnya tidak mendapatkan suatu putusan, hatiku sangat pilu dan hancur luluh. Aku coba memperlihatkan diri, hampir saja kepergok oleh kalian. Dan selagi kalian mendayung di tengah telaga, pada saat itulah aku dengan seorang diri menghadapi pelita yang berkelik- kelik dengan perasaan hati yang tidak keruan.

Dan karena kedokku sudah terbuka, untuk bertemu lagi dilain kali rasanya agak sukar, memikir sampai disini, kurasa soal ini ada sangat sukar sekali untuk dibereskan secara sempurna, maka aku ambil keputusan untuk selanjutnya lebih baik menyingkir ke gunung yang sunyi, melewatkan sisa hidupku yang tidak beruntung ini. Dari: Han Ing.”

Belum sampai habis membaca suratnya, Cu Ling Cie sudah menangis sesenggukan, sehingga terdengar oleh Kim Tan yang tinggal di sebelah kamarnya.

Heran juga Kim Tan mendengar suara itu maka tanpa permisi ia sudah mendorong pintu dan masuk ke kamarnya Cu Ling Cie. Ketika menyaksikan keadaan Cu Ling Cie ini, ia sangat terkejut, dan buru-buru menanyakan sebabnya.

Dengan suara terputus-putus Cu Ling Cie menjawab: „Kau bikin Encie Han Ing marah dan sekarang sudah pergi dari sini.”

Mendengar jawaban Cu Ling Cie ini, Kim Tan seluruh badannya lantas dirasakan lemas.

Cu Ling Cie berkata sambil sesenggukan: „Engko Tan, jika kau tidak berusaha untuk mencari Enci Han Ing, selanjutnya jangan harapkan hubungan baik lagi dengan aku!”

Mendengar pernyataan Cu Ling Cie yang sangat getas ini, Kim Tan termangu-mangu, tidak dapat menjawab apa-apa. Dalam keadaan yang kritis ini, Ma Beng nampakkan diri, dan ketika melihat keadaan mereka, bingung juga empe Ma ini, hingga menanyakan sebab-sebabnya.

Dengan suara terputus-putus, Cu Ling Cie menceritakan semua kejadian. Mendengar penuturan yang menyedihkan ini, Ma Beng pun sangat terharu, sehingga berulang-ulang mengelah napas. Tapi juga tidak dapat suatu daya yang sempurna untuk membereskan soal ini.

Setelah berpikir sejenak, baru ia membuka mulutnya: „Giok-tek- hwie-sian adalah laksana kembang teratai yang tumbuh di comberan, sudah selayaknya kita mengulur tangan untuk memberi pertolongan. Cu Hian-tit pun seorang yang berpandangan luas dan bermaksud hendak merekokkan perjodohan, ini baik sekali. Tapi bagi Kim Tan Hian-tit, kesatu karena sakit hati orang tuanya belum terbalas, dan kedua karena belum memberi tahukan kepada gurunya, benar ia menyingkirkan diri ke tempat yang sunyi, untuk hingga tidak berani sembarangan menerima baik, ini pun tidak dapat disalahkan.

„Aku lihat dalam soal ini Sam Hie To-tiang sendiri rasanya pun tidak akan menentang. Nanti setelah Ouw-pak-sam-sat dapat dibereskan, aku bersama kalian akan pergi ke Ngo-bie-san, untuk membereskan soal ini. Meskipun Han Ing sudah berlalu dan mungkin sukar dicari, tapi menurut dugaanku, sekalipun menuntut penghidupan yang tenteram, akan tetapi terhadap ayah angkatnya, yang sudah membesarkan dan mendidik ia sehingga dewasa, rasanya tidak mungkin akan meninggalkan begitu saja. Maka besar kemungkinannya akan kembali ke Ay- lie-san, untuk sekali lagi menasehati ayah angkatnya.

„Kita boleh melanjutkan rencana kita semula, sekarang setelah urusan di Kun-san sudah beres, kita harus meneruskan perjalanan ke Ay-lie-san. Siapa tahu di sana nanti kita akan bertemu lagi dengan Giok-tek-hwie-sian? Sekarang ini Yo Kheng dan kawan-kawannya dari dunia Kang-ouw sedang berkumpul di ruangan tengah, untuk mengambil selamat berpisah, kita ketemukan mereka.”

Mendengar ini, Kim Tan dan Cu Ling Cie lantas menyeka air matanya, menindas perasaannya, bersama-sama Ma Beng, keluar ke ruangan tengah. Itu waktu, uang piauw yang dirampas oleh orang-orangnya Pek-kut-kauw sudah dikembalikan seluruhnya dan diterima kembali oleh Piauw-tao Siauw Tek Coan. Liok Lo Sam dari Seng-to-si-kiat (empat orang kosen dari Seng-to) yang terluka bagian dalamnya, sesudah makan obat dari Ngo-bie-san pemberian Kim Tan sudah sembuh kembali.

Mereka ketika melihat Ma Beng bersama Kim Tan dan Cu Ling Cie mendatangi, segera pada memberi hormat, karena dalam pertempuran melawan orang-orang Pek-kut-kauw kali ini, pahala dua anak muda ini sangat besar sekali. Hian Kie Cu yang terkenal dengan julukannya sebagai Bu-lim-kie-hiap (pendekar ajaib dalam dunia persilatan) pada itu waktu merasa kagum terhadap kepandaian Kim Tan dan Cu Ling Cie, sehingga ia berkata sambil tertawa kepada Yo Kheng:

„Pertandingan silat hebat yang jarang terjadi kali ini, jika tidak mendapat bantuan dari Kim dan Cu Siau-hiap, barangkali tidak gampang-gampang untuk merebut kemenangan. Kita orang dari golongan tua yang sering agulkan usianya yang tua dan pengalamannya yang banyak, sebetulnya merasa sangat malu. Sekarang ini telah tiba saatnya para jago dari pelbagai tempat hendak berpisahan. Dan tempat yang ditinggalkan oleh orang- orang Pek-kut-kauw ini ternyata ada sangat bagus dan luas, jika dirusak, kita merasa agak sayang.

„Kini Pin-to hendak majukan sedikit usul kepada Yo Tay-hiap, minta supaya Yo Tay-hiap suka berdiam di sini, guna merubah tempat ini menjadi perkampungan nelayan. Agar rakyat yang miskin mendapat tempat meneduh dan mencari nafkahnya di telaga ini. Bukankah ini ada sangat berguna!”

Semua orang gagah yang berada disitu dengan gembira menyetujui usul Hian Kie Cu ini.

Sehabis berkata kepada Yo Kheng, Hian Kie Cu menghampiri Ma Beng, Kim Tan dan Cu Ling Cie dan berkata kepada mereka:

„Ma Beng Lo-tee, kau bersama Kim dan Cu Siau-hiap, setelah berlalu dari sini, segera hendak meneruskan perjalananmu ke Ay-lie-san untuk menempur Ouw-pak-sam-sat. Kepandaian Pin- to, jika dibanding dengan kepandaian dua Siauw-hiap meski tidak berarti apa-apa, namun dengan Siauw-siang-sam-hiap, Pin-to dulu pernah bersahabat. Maka setelah Pin-to selesai mengurus urusan Pin-to pribadi di gunung Bu-tong, segera akan menyusul ke Ay-lie-san, untuk memberikan sedikit bantuan tenaga. sekalian untuk bertanding lagi dengan Touw Thing Hwie. Baiklah sampai disini dulu, sampai ketemu lagi di Ay-lie-san.”

Sehabis berkata ia memberi hormat kepada para hadirin dan kemudian berlalu dari situ. Jago-jago lainnya juga satu demi satu telah ambil selamat berpisah, sehingga tempat itu yang tadinya ramai dengan berkumpulnya para jago, kini kembali menjadi sunyi. ◄Y►

Setelah meninggalkan pesangerahan, Ma Beng, Kim Tan, Cu Ling Cie dan He Kau Chun, dengan diantar oleh perahunya Kheng Ling, berlayar sampai ke Wan-kang. Dari sini mereka mengambil jalan darat melalui propinsi Kwie-ciu masuk ke Propinsi Hun-lam.

Daerah Kwie-ciu terdapat banyak gunung-gunungnya, tanahnya kurus hingga penduduknya sangat miskin. Di sepanjang perjalanan jarang menemukan orang, di-mana-mana terlihat pemandangan yang sunyi senyap. Ditambah dengan hawanya yang luar biasa, karena seolah-olah tidak pernah ada musim panas atau musim dingin, setiap hari diliputi oleh halimun yang tebal, terutama di bulan duabelas sampai bulan dua, jarang sekali kelihatan hawa terang.

Di antara gunung-gunung yang tinggi itu, adalah gunung Biauw Ling yang paling besar. Di atas gunung masih banyak terdapat rimba lebat yang belum pernah didatangi oleh manusia. Jika berjalan dalam rimba itu, kadang-kadang sampai sejauh beberapa puluh pal masih belum kelihatan matahari, binatang- binatang buas dan ular berbisa banyak terdapat disitu, sehingga tidak ada orang yang berani mendatangi tempat itu.

Ma Beng, Kim Tan, Cu Ling Cie dan He Kau Chun, karena pernah adakan perjanjian dengan orang-orang Pek-kut-kauw bahwa dalam tempo tiga bulan akan kunjungi Ay-lie-san, maka masih banyak waktu untuk pesiar. Jika kebetulan menemukan tempat-tempat yang sunyi atau kuil tua, mereka tentu masuk untuk menyerapi jejaknya Giok-tek-hwie-sian, maka perjalanan dilakukan agak lambat.

Di dalam hal ini, adalah He Kau Chun yang paling beruntung, karena di sepanjang jalan ia mendapat banyak kesempatan untuk meminta pengajaran dan Kim Tan.

Tiba di gunung Biauw Ling, sudah bulan sepuluh, waktu itu adalah musim yang paling sukar bagi pelancong. Untung Ma Beng sudah banyak pengalamannya dalam gunung-gunung atau hutan-hutan lebat serta mempunyai keakhlian untuk menangkap binatang buas atau ular berbisa. Daerah barat laut dulu pernah menjadi tempat pesiarnya.

Sesudah beberapa hari memasuki gunung, perjalanan mulai sukar, hutannya sangat lebat, daun-daun kering tertimbun di jalan-jalan sampai beberapa meter tingginya, mengeluarkan hawa yang tidak enak. Ma Beng segera mengeluarkan tiga butir pil yang berwarna merah dibagikan kepada Kim Tan bertiga untuk menjaga rupa-rupa penyakit. Setelah memasuki daerah pegunungan ini, adalah Ma Beng yang menjadi kepala, karena sebagai orang yang sudah berpengalaman, segala-galanya ada lebih mengerti dari lain-lainnya. Maka apa yang Ma Beng katakan atau kehendaki, selalu diturut oleh mereka bertiga.

Setelah berjalan kira-kira sepuluh pal, bukan saja belum pernah bertemu dengan binatang buas atau ular berbisa, malahan binatang nyamuk atau semut juga belum pernah terlihat seekorpun juga. Mereka bertiga masih mengira bahwa Ma Beng berjusta atau menakut-nakuti mereka saja, dalam hatinya merasa geli.

Itu waktu, Ma Beng tiba-tiba hentikan tindakannya, agaknya sedang berpikir keras. Ia berkata kepada mereka: „Hari ini keadaan dalam hutan ini agak mengherankan, binatang- binatang sejenis ular atau semut pada saling bunuh, dan kelihatannya kurang, itulah tidak mengherankan. Tapi keadaan seperti hari ini, menurut pengalamanku, selama duapuluh tahun ini, baru pertama kali ini aku mengalami, mungkin dalam rimba ini ada sejenis tumbuhan yang sangat berbisa, tidak boleh tidak kita harus berjaga.”

Ma Beng baru berhenti berkata, Kim Tan tiba-tiba menunjuk ke salah satu pohon besar, dan berkata kepada Ma Beng: „Empek Ma, siapa bilang di dalam rimba ini tidak ada penghuni berjiwa? Lihatlah di pohon besar itu bukankah ada seekor burung yang sangat bagus?”

Semua orang pada menengok ke arah yang dituding oleh Kim Tan. Betul saja, di atas sebatang pohon besar yang sejauh kira- kira tiga tumbak, ada seekor burung aneh yang berbulu abu-abu tercampur hitam, burung itu sebesar elang, pelatuknya tidak seperti burung biasa, tapi tajam dan panjang, sepasang kakinya berkuku sangat tajam dan berwarna mengkilat. Burung aneh itu miringkan kepalanya telah memandang mereka berempat, sepasang matanya yang besar bundar dan merah, memancarkan sinar yang menakutkan. Kim Tan suka dengan bulunya yang bagus, ia coba menggapai, tapi burung itu agaknya tidak ambil perduli. Dengan menundukkan kepalanya mematoki batang pohon yang ia sedang injak, lantas terbang tinggi dengan tiba-tiba sayap sebelah kiri dikebutkan ke arah batang pohon yang besar. Dengan mengeluarkan suara keras, batang pohon itu telah patah.

Setelah batang pohon besar itu patah, dari tempat yang patah telah kelihatanlah lobang besar dan dalam, burung itu dengan kecepatan luar biasa, mematok ke dalam lobang dengan patoknya yang panjang. Dari dalam lobang itu telah mematok satu ular kepala dua yang panjangnya kira-kira delapan kaki. Ular berkepala dua yang suka berdiam di-batang-batang pohon ini.

Ma Beng dulu waktu memasuki daerah Biauw Ciang sudah pernah melihat, ia tahu ular itu sangat berbisa, tapi burung itu seolah-olah tidak mengeluarkan sedikit tenaga, dengan satu kali patok saja sudah menarik keluar dari lobang, kemudian dibanting ke tanah. Karena tubuhnya sangat besar, maka setibanya di tanah tidak dapat bergerak lagi. Dan burung itu dengan sangat cepat telah melayang ke bawah, dengan patoknya yang tajam. Ia telah mematok bagian perutnya untuk mengambil telurnya yang kemudian ditelan. Semua orang yang menyaksikan menjadi terheran-heran.

Cu Ling Cie tidak hentinya menanyakan Ma Beng: „Burung apakah itu sebetulnya? Mengapa mempunyai kekuatan begitu luar biasa?” Ma Beng meski sudah banyak pengalamannya, tapi baru kali ini menemukan burung yang kekuatannya luar biasa, sehingga tidak dapat menjawab pertanyaan Cu Ling Cie. Kim Tan mendadak ingat bahwa burung ini ada mirip sekali dengan burung piaraannya Sam Hie To-tiang, hanya besar badannya yang agak berbeda. Hal ini segera diutarakan kepada kawan- kawannya, tapi karena mereka masih belum tahu betul apa sebenarnya burung itu, maka mereka menamakan burung Rajawali besar (Toa-tiauw).

Cu Ling Cie mendengar nama ini, segera timbul pikirannya yang bukan-bukan, ia ingin menaklukkan burung itu, untuk dijadikan tunggangan, sehingga bisa berterbangan kemana-mana.

Hawa udara di rimba itu sangat lembab, bau amis yang terbawa oleh aliran angin, menimbulkan perasaan mual kepada semua orang. Mereka lantas kencangkan jalannya, sehingga dalam tempo sekejap, sudah hampir keluar dari rimba.

Pada saat itu, pedang pusakanya Kim Tan dan Cu Ling Cie, tiba- tiba bersuara mengaung. Semua orang mendengar suara itu, dalam hati masing-masing mengerti bahwa di depan mereka tentu ada apa-apa yang aneh, mungkin juga bahaya, sehingga pedang pusaka itu sampai memberi peringatan lebih dulu. Mereka berjalan sangat hati-hati, setelah keluar dari rimba, gunung itu keadaannya sangat berbahaya, empat orang berdiri sejenak untuk memandang sekitarnya. Tiba-tiba mencium bau harum yang luar biasa, sehingga perasaan mual yang barusan kembali telah tersapu bersih. Kim Tan agak bingung, maka lalu menanya kepada Ma Beng:

„Empe Ma, bunga ajaib apakah yang menimbulkan bau harum luar biasa ini? Coba kita petik beberapa tangkai, dan ditaruh di baju masing-masing, bukankah dengan demikian akan dapat menolak hawa busuk dari rimba ini?”

Ma Beng sendiri juga tidak tahu sebenarnya kembang apa itu, dengan mengikuti arah datangnya bau harum tadi, mereka pergi mencari. Tidak berapa lama, mereka telah menemukan tempat yang menyiarkan bau harum tadi, ternyata di suatu lembah yang sangat dalam. Bagi mereka yang masing-masing mempunyai kepandaian tinggi, untuk mencapai di tempat itu tidaklah sukar.

Di dalam lembah yang curam itu terdapat satu kolam yang lebarnya kurang lebih lima tumbak persegi, airnya sangat jernih, sehingga kelihatan dasarnya. Di dalam air yang jernih itu ada menonjol satu batu yang aneh, warnanya sangat indah dan mempunyai banyak lobang.

Ini masih belum seberapa, yang lebih aneh ialah dalam setiap lobang itu ada tumbuh semacam rumput yang aneh. Rumput itu daunnya bercabang empat, di tengah-tengah ada sebiji buah. Daunnya berwarna hijau gelap, macamnya panjang, buahnya berwarna hijau muda, sebesar buah lengkeng, bau harum tadi ternyata berasal dari rumput tersebut.

Cu Ling Cie sangat suka dengan rumput yang aneh itu, selagi hendak melompat untuk memetik, tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh He Kau Chun. Setelah diajak sembunyi di belakang batu besar ia berkata dengan suara perlahan: „Kau lihat di dekat kolam yang ada banyak batunya ada satu kawa-kawa yang sangat besar.”

Cu Ling Cie menengok ke arah yang ditunjuk oleh He Kau Chun, dan apa yang terlihat, membuat ia kaget. Binatang kawa-kawa itu tubuhnya sebesar kepala manusia, kaki-kakinya jika dipentang, kira-kira ada tiga kaki panjangnya. Itu waktu kawa- kawa itu sedang mementang kaki-kakinya, tidak hentinya menggali tanah pasir di tepi kolam, setelah tanah itu berubah menjadi satu lobang yang dalam, kawa-kawa itu lalu masukkan tubuhnya ke dalam lobang tersebut, kemudian mementang kaki- kakinya lagi untuk menggaruki tanah-tanah dan batu-batu yang bekas digali, untuk menguruk lobang, hanya ketinggalan sebuah lobang kecil untuk bernapas.

Jika tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tak seorangpun akan menyangka bahwa di bawah tanah yang bekas digali itu ada sembunyi mahluk yang sangat berbisa. Tapi mengapa kawa-kawa itu hendak mengubur dirinya sendiri? Siapapun tidak dapat menjawab. 

Ternyata Cu Ling Cie lebih cerdas pikirannya, ia memeriksa dengan sangat teliti di tempat persembunyiannya kawa-kawa itu, ia telah dapat kenyataan bahwa lobang kecil itu menghadap ke arah rumput yang menyiarkan bau harum itu. Saat itu, bau harum bertambah keras. Kejadian aneh ini membuat mereka berempat terheran-heran.

Pada saat itu, Cu Ling Cie mendadak dapat lihat di atas lembah ada bayangan seekor burung besar, ia agak terkesiap, lalu dengan pelahan ia menarik keluar pedang pusakanya, untuk berjaga-jaga. Itu waktu, bayangan burung kelihatan lebih nyata, ternyata sedang terbang turun ke lembah. Setelah jaraknya semakin dekat, ia dapat lihat burung itu ternyata ada burung berwarna abu-abu yang pernah mematok ular berbisa dan memakan nyalinya, yang barusan mereka saksikan.