Suling Pualam dan Rajawali Terbang Jilid 2

Jilid 2
„Terhadap soal permusuhan di kalangan Kang-ouw, Boan-pwee sudah sangat jemu. Dewasa ini anak muridnya Pek-kut-kauw sudah pada datang. Hek-hoat-lo-han Liauw Ceng dan Cian-pi- sin-mo juga sudah mengirim bala bantuan, orang-orangnya Ceng Hin Piauw-kiok mungkin bukan tandingannya.”

Cu Ling Cie mendengar Tan Cee mengatakan orang-orangnya Pek-kut-kauw sangat liehay, tertawa dingin. „Kita tidak ada permusuhan apa-apa terhadap kedua pihak, tujuan kita cuma ingin turut menyaksikan ramai-ramai saja, tapi jika Cian-pi-sin-mo dan Hek-hoat-lo-han datang, rasanya Pek- kut-kauw akan mencari kesukaran sendiri.”

Mendengar itu perkataan, Tan Cee merasa tidak senang. Dalam hati berpikir: Anak dara ini betul-betul tidak tahu selatan, usiamu yang begitu muda. Betapapun kepandaianmu, juga belum tentu bisa nempil kepandaian mereka berdua. Mengapa begitu sombong, baiklah aku coba uji ilmunya.

„Kalian bertiga merantau di kalangan Kang-ouw, melakukan perbuatan yang budiman, sepantasnya tidak takut bahaya. Aku tadi telah kesalahan omong, harap supaya dimaafkan. Sekarang biarlah aku menghormat kalian masing-masing secawan arak.”

Ma Beng tahu bahwa Tan Cee hendak menguji mereka, ia kuatir Kim Tan dan Ling Cie akan tergelincir, maka ia yang maju terlebih dulu. Tan Cee tangannya sudah menenteng poci arak, dengan pelahan maju ke depan, dengan sebelah tangan ia tuangkan araknya di cawan Ma Beng. Cucut poci baru saja menempel pinggiran cangkir, seolah-olah ada tenaga ribuan kati beratnya menekan ke bawah. Ma Beng segera kerahkan tenaganya untuk menyambuti, tapi peluhnya sudah mengucur di kedua dahinya.

Cu Ling Cie sambil menenteng cangkir, dengan suara lemah lembut berkata pada Ma Beng.

„Empe Ma, biarlah aku yang menyambuti cangkir yang kedua.” Tan Cee memandang sebentar, melihat ia begitu lemah-lembut, agaknya memandang enteng. Maka tidak memakai tenaga sepenuhnya, kembali menuangkan poci ke cangkirnya Ling Cie. Tapi kedua benda itu begitu menempel satu sama lain.

Ia sangat terkejut, kedua pipinya mendadak bersemu dadu. Karena ia merasakan satu tenaga yang sangat kuat, menahan turunnya poci, hingga tidak berdaya sama sekali. Sejak merantau di dunia Kang-ouw, belum pernah Tan Cee ketemu tandingan yang ilmunya begitu tinggi.

Hal itu terjadinya hanya dalam tempo sekejapan saja. Ma Beng yang menyaksikan dari samping, masih belum tahu duduknya perkara. Tapi Kim Tan sudah mengerti, ia kuatir Tan Cee nanti mendongkol.

Kebetulan itu waktu ada seekor burung yang sedang terbang pendek di jarak enam atau tujuh kaki jauhnya. Ia lantas berdiri dan menarik tangannya Ling Cie perlahan-lahan.

„Moy-moy, lihat sungguh indah bulu burung itu, nanti aku coba tangkap untuk kau memain.”

Tan Cee mengerti Kim Tan sengaja cari alasan untuk memisahkan mereka berdua, diam-diam ia memuji kecerdikan anak muda ini. Tapi burung itu sedang terbang sejauh enam atau tujuh kaki dari perahu, di sekitarnya ada air, dengan cara bagaimana hendak menangkap hidup-hidup. Di dalam hatinya memikir, tapi sepasang matanya memandang Kim Tan. Ia lihat Kim Tan keluar dari perahu, kemudian menggulung lengan bajunya, dengan membalikkan kedua telapakan tangannya, digapaikan kepada burung yang sedang terbang. Burung itu seolah-olah kena tersedot besi semberani, menempel ditelapakkan tangan Kim Tan, meski sepasang sayapnya dikibas-kibaskan, tapi tetap tak bisa terbang. Hal ini bukan saja membuat Ma Beng dibikin kesima, Tan Cee pun merasa tunduk, hingga ia maju menyoja.

„Kalian berdua, boleh dikatakan sepasang orang pandai yang tidak ada bandingannya, barusan aku ada mata tapi tak bisa melihat, hingga menunjukkan kejelekkanku, haraplah jangan dibuat celaan. Hanya belum tahu siapakah guru kalian? Bolehkah memberitahukan kepadaku yang rendah ini?”

Kim Tan menarik kembali tenaga ditelapakan tangannya, hingga burung tersebut terbang ke angkasa. Selagi hendak menjawab pertanyaan Tan Cee, mendadak terdengar suara orang yang tertawa dingin.

Suara itu meski dari jarak beberapa tumbak datangnya, namun terdengarnya sangat tegas, menunjukkan betapa tinggi ilmu dan tenaga dalamnya orang tersebut. Suara tertawa yang sifatnya menyindir itu, agaknya ditujukan kepada orang-orang di dalam perahu.

Tan Cee mendadak wajahnya berubah, lalu menyoja kepada mereka bertiga. „Aku merasa girang, telah dapat berkenalan dengan orang-orang pandai, sayang sekali pertemuan kita ini agak terlalu pendek, biarlah sampai di sini dulu. Pertemuan di bukit Kun-san, mungkin aku akan sampai duluan, biarlah di sana nanti kita bertemu lagi.”

Kim Tan tadi menyaksikan pemuda ini sangat gembira, setelah mendengar suara tertawa sindiran, mendadak berubah sikapnya, mungkin ada sebab-sebabnya. Selagi hendak bertanya, perahu sudah menepi, Ma Beng terlebih dulu mendarat. Cu Ling Cie dan Kim Tan baru melangkahkan kakinya, telah ditarik oleh Tan Cee.

„Sebentar mungkin ada pemuda berbaju kuning datang akan mencari onar, katakan saja bahwa kalian baru saja kenal denganku, hal yang lain-lain tak perlu kalian ladeni, sedapat mungkin hindarkan permusuhan. Jika terpaksa mesti bertempur, barusan aku sudah saksikan kepandaian kalian, sudah tentu akan dapat menundukkan dia. Tapi pemuda itu adatnya sangat ganas, senjata rahasianya sangat berbisa.

“Jika kalian bertanding dengan dia, hati-hatilah dengan tangan kirinya serta kantong yang menggantung di pinggangnya. Pendeknya, soal ini semuanya lantaran Siau-tee, aku sangat menyesal sekali jika terjadi apa-apa terhadap kalian. Di lain waktu jika kita bertemu lagi, aku nanti akan menghaturkan maaf.”

Mendengar perkataan yang tak keruan ujung pangkalnya ini, Kim Tan merasa bertambah heran. Cu Ling Cie sangat cerdas, ia sudah dapat menduga beberapa bagian, namun tidak berkata suatu apa. Ia mengajak Kim Tan dan Ma Beng mencari rumah penginapan di sekitar itu tempat.

Di tengah malam, kembali terdengar suara tertawa sindiran, yang kemudian disusul dengan suara mantap: „Kawan di dalam kamar, marilah kita bertemu di Oey-he-lauw.”

„Orang ini mungkin yang barusan dikatakan oleh Tan Cee, kelihatannya bukan orang sembarangan, kita tidak boleh pandang enteng padanya,” Kim Tan berkata kepada kedua kawannya. Kemudian lantas melesat ke atas genteng, menuju ke Oey-he-lauw.

Bertiga setibanya di Oey-he-lauw, keadaan ternyata sangat sunyi, di bawah sinarnya rembulan, terlihat satu pemuda berbaju kuning, sedang mundar-mandir sambil menggemblokan kedua tangannya. Pemuda itu berusia kira-kira duapuluh lima tahun, wajahnya tampan, hanya mengandung sifat kejam, mungkin bukan orang baik-baik. Kim Tan segera memberi hormat.

„Terima kasih atas undanganmu, belum tahu ada keperluan apa?” Ma Beng berkata dengan sikap yang merendah sekali, tapi pemuda itu masih menunjukkan sikap sangat sombong.

„Kau mungkin ada itu orang yang bernama Ma Beng, tapi aku tidak mencari kau, suruhlah itu seorang she Kim Tan menemui aku,” menjawab pemuda baju kuning itu dengan adem. Meski Ma Beng sudah kenyang merantau di kalangan Kang- ouw, tapi kali ini bertemu dengan orang yang begitu sombong, hingga hilang kesabarannya.

„Aku sudah enampuluh tahun lebih hidup di kalangan Kang-ouw, tapi belum pernah bertemu dengan orang yang begitu sombong semacam kau. Meskipun aku harus mati di tempat ini, juga ingin sekali mencoba kepandaianmu.”

Baru saja hendak turun tangan, atau sudah dicegah oleh Cu Ling Cie.

„Empe Ma, terhadap orang begini tidak perlu kau turun tangan, biarlah Tan-ko nanti yang memberi hajaran padanya.” Dan ia menoleh kepada pemuda baju kuning.

„Kau ini mungkin Phoa Cay, itu murid yang terpandai dari Pek- kut-sin-kun. Maksudmu aku sudah mengerti, tentunya kau takut kalau Tan-ko akan bersobat rapat dengan Tan Cee cuma sayang, pedang Song-bun-kiam dan segala senjata rahasiamu yang kau agulkan, dipandangan mataku tidak ada artinya apa- apa.”

Sambil memasang mata ia menyambung: „Aku nasehati kau, lebih baik kau segera lepaskan niatmu dan lekas-lekas insyaf. Jika tidak, bagaimana hebatpun kepandaianmu, asal kita turun tangan, tanggung kau nanti akan kembali asalmu, yaitu segundukan tulang-tulang!” Mendengar perkataan anak dara ini, Ma Beng kaget, ia tidak sangka bahwa pemuda baju kuning ini adalah itu orang yang terkenal sangat ganas di kalangan Kang-ouw.

“Perempuan hina, jangan kau sembarangan mencaci orang, lihatlah aku nanti akan antar kau ke akherat,” Phoa Cay menjawab dengan sangat mendongkol.

Kim Tan sangat murka, ia pikir senjata wasiatnya belum pernah digunakan, maka ini adalah saat untuk mencoba-coba. Ia lantas cabut Po-kiam nya yang kelihatannya hitam, tapi sinarnya bergemerlapan. Ia menjura kepada Phoa Cay.

„Jangan kau terkebur, Pek-kut-song-bun-kiam kabarnya sangat liehay, aku ingin coba-coba beberapa jurus.”

Phoa Cay sangat menghina. Ia menyahut sambil nyindir. „Kau yang kelihatannya masih anak bawang, mana sanggup menerima sejurus saja aku punya pedang Song-bun-kiam ini? Dengan menggunakan sepasang kepalan saja, sudah cukup untuk mentberi hajaran padamu.” Habis berkata lantas melesat menyerang Kim Tan.

Tapi Kim Tan berdiri tegak, melihat datangnya serangan, ia tidak berkelit juga tidak menangkis, cuma membalikkan telapakan tangannya, diangkat untuk melindungi dadanya. Phoa Cay itu waktu mendadak merasakan satu serangan dari tenaga dalam yang sangat kuat, ia insyaf keliehayannya anak muda ini, maka tidak berani menangkis, dan buru-buru menarik kembali serangannya, mencelat mundur dua tumbak lebih. Phoa Cay kakinya baru menginjak tanah lantas menoleh, tapi Kim Tan masih tetap berdiri tidak bergerak, mulutnya tersungging senyuman.

„Lekas keluarkan senjatanmu, dengan kepandaian yang tidak ada artinya ini, mana mampu memberi pelajaran padaku.”

Phoa Cay yang pernah malang melintang di kalangan Kang- ouw, belum pernah menerima hinaan demikian rupa. Ia sangat murka, segera mencabut pedangnya yang sangat lemas, macamnya seperti cambuk, apabila tangannya dikibaskan, maka pedang itu lantas berubah menjadi lempeng, lalu menikam dada Kim Tan. Dengan memutar sedikit tubuhnya, Kim Tan menghindarkan tikaman itu, kemudian dengan pedangnya menentang tangan kirinya Phoa Cay.

Setelah serangannya tidak menemukan sasarannya, lalu merubah gerakannya, dengan menggunakan telapakan tangan ia menyerang bebokongnya. Kim Tan memutar tubuhnya ke sebelah kirinya Phoa Cay, selagi hendak membalas menyerang, Phoa Cay sudah memutar tubuhnya, dan dengan pedangnya ia kembali menusuk.

Kim Tan melihat Phoa Cay berkelahi menggunakan pedang dan telapakan tangannya dengan berbareng, diam-diam memuji keliehayannya pemuda ini. Karena gerakan dan tikamannya Phoa Cay selalu diarahkan di tempat berbahaya, Kim Tan menjadi sangat murka, maka ia lalu keluarkan ilmu silat Sam- hoan-te-goat dengan berbareng. Phoa Cay yang merasakan hebatnya serangan dari perubahan ini, diam-diam sangat terkejut. Maka ia lalu keluarkan ilmu silat Song-bu-cap-sha-kiam untuk mengimbangi lawan.

Sebelum bergebrak, Phoa Cay tadinya terlalu memandang enteng lawannya, sama sekali tidak memandang mata. Setelah beberapa puluh jurus dilewati, masih juga belum bisa merebut kemenangan, hingga mulai gelisah. Ia coba hendak mengandelkan ketajaman pedang Song-bun-kiamnya, untuk memapas pedang lawan.

Kim Tan dengan matanya yang tajam, dapat melihat gerakan kedua pundaknya, dan pedangnya Song-bun-kiam selalu mencari kesempatan akan diadu dengan pedangnya, ia segera mengerti maksud lawannya yang sangat licik ini. Untung pedangnya sendiri ada sebilah pedang mustika, dalam hatinya ia merasa geli, maka ia sengaja pura-pura takut pedangnya terbentur, kemudian dengan pura-pura ia kendorkan gerakannya.

Phoa Cay melihat ada lobang terbuka, pedangnya segera disontak ke atas, tapi lacur baginya, pedang Pek-kut-song-bun- kiam yang diandelkan itu telah patah menjadi dua. Phoa Cay sangat murka, dengan sepotong pedangnya ia lontarkan ke arah Kim Tan, berbareng dengan itu, ia juga melontarkan serangan dengan telapakan tangan kirinya.

Sambil berseru „bagus!” Kim Tan sentakkan pedangnya ke atas, dan potongan pedang Phoa Cay yang dilontarkan padanya itu, kembali dipapas menjadi dua potong. Cu Ling Cie itu waktu sudah merasa gatal tangannya, maka segera berdiri, dan dengan gerakan „Lian-thay-pay-hut, ia melontarkan serangan kepada Phoa Cay. Phoa Cay merasa agak tergetar, tidak dapat berdiri tegak, seolah-olah melayang- layang dirinya terdampar, lama sekali baru dapat berdiri.

Kim Tan sudah masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, dengan tangan kanan ia mengarah punggung lawan. Dalam keadaan terjepit serupa itu, meski bagaimana tinggipun kepandaian Phoa Cay, susah sekali untuk menghindarkan, hingga ia pejamkan matanya sambil mengelah napas untuk menerima kematian.

Kim Tan yang sudah lontarkan serangannya, melihat Phoa Cay tidak melawan, ia tertegun. Dalam hatinya ia memikir, meski Phoa Cay telah tersesat, namun kepandaiannya itu didapatkannya tidak dengan mudah. Karena perasaan sayang ini, maka ia segera menarik kembali serangannya, hanya dengan tenaga enteng ia tolak tubuhnya Phoa Cay sambil berkata dengan suara rendah: „Dosa tak ada habisnya, insyaflah sebelum terlambat.”

Meski ditolak sangat perlahan, tak urung tubuhnya Phoa Cay terpental tujuh sampai delapan kaki jauhnya. Di luar dugaan, Phoa Cay yang berhati binatang, ternyata membalas budi dengan keganasan. Dengan secara sangat rendah, ia membokong Kim Tan dengan senjata rahasianya yang sangat berbisa, kemudian melarikan diri. Diserang secara keji ini, apa lagi di luar dugaan sama sekali, maka betapa tinggi ilmu kepandaiannya Kim Tan, susah juga untuk menghindarkan diri. Dalam keadaan yang sulit ini, ia cuma bisa mengerahkan tenaga dalamnya untuk menangkis, tapi tak urung kakinya masih terkena.

Cu Ling Cie segera memburu, menanyakan apakah dirinya terkena senjata rahasianya Phoa Cay.

„Aku tidak nyana bahwa Phoa Cay itu betul-betul seorang yang berhati kejam dan ganas. Senjata rahasia pasirnya meski sudah kusampok jatuh, tapi pahaku rasanya ada terkena. Untung aku ada membawa obat pil dan obat bubuk penolak racun, mungkin untuk sementara tidak akan menjadikan halangan, nanti setelah kembali ke rumah penginapan, kita obati lagi.” Kim Tan menjawab. Tapi baru saja hendak bangun, wajahnya sudah berubah pucat dan badannya rubuh.

Ling Cie sangat bingung, untung Ma Beng sudah kenyang dengan pengalamannya, hingga tidak menjadi gugup, ia segera gendong Kim Tan pulang ke rumah penginapan.

Setibanya di dalam kamar, Ma Beng segera periksa lukanya Kim Tan ternyata terdapat enam sampai tujuh totol-totol merah- merah, tiga diantaranya mengeluarkan darah. Cu Ling Cie dengan tangan memegang botol obat, berdiri tegak di sampingnya, air matanya mengalir tidak hentinya. Dalam keadaan demikian, Ma Beng segera ingat sesuatu. „Obat yang ditelan Suhengmu tadi, dapat menahan racun berapa lama?”

„Pil pemberian Suhu ini, meski tidak dapat memunahkan racun, tapi bisa menahan racun tidak sampat menyerang ke jantung, bagaimana pun bisanya, dalam tempo tiga jam tidak menjadikan halangan. Apakah maksudnya Empe menanyakan hal ini?”

„Aku ada mempunyai satu kawan yang pandai ilmu ketabiban, tinggalnya ada beberapa ratus pal dari sini, dalam tempo tiga jam, aku percaya dapat undang dia kemari untuk menolong jiwanya Kim Hian-tit.”

„Kalau begitu, baiklah Empe buru-buru berangkat.”

Ma Beng tidak menjawab lagi, segera lompat dari jendela, sekejap mata kemudian sudah berada di atas rumah dan menghilang di tempat gelap.

Itu waktu, Kim Tan berbaring di atas pembaringan dalam keadaan tidak ingat orang. Cu Ling Cie duduk di sebelahnya sambil menangis. Dalam keadaan demikian, mendadak terdengar suara orang mengetok jendela sangat perlahan, disusul dengan suaranya orang menanya.

„Apakah Ma Lo-cianpwee sudah tidur? Aku Tan Cee ingin bertemu.”

Cu Ling Cie terkejut mendengar suara itu, untung ia masih ingat pesanan Tan Cee, yang harus waspada terhadap senjata berbisanya Phoa Cay yang berupa pasir. Kedatangan ia ini tak mungkin ada mengandung maksud jahat. Maka ia baru membuka pintu, mempersilahkan Tan Cee masuk kamar.

Tan Cee masih tetap dengan pakaian hijaunya, kelihatannya malah makin tampan. Ia segera dapat lihat Kim Tan sedang berbaring di pembaringan sambil meramkan matanya, kelihatannya seperti sedang menderita luka parah, yang akan mendekati ajalnya.

Ia menanyakan kepada Ling Cie dengan kaget bukan main:

„Suhengmu terluka sudah berapa jam?”

„Kira-kira sudah setengah jam.”

Tan Cee merabah dadanya Kim Tan, jantungnya masih berdenyut.

Ia merasa lebih heran. „Ia terkena senjata pasir beracunnya Phoa Cay, senjata rahasia itu meskipun sangat halus seperti pasir, tapi terbikin dari bahan-bahan yang sangat berbisa. Siapa terkena, dalam tempo setengah jam, bisanya menyerang jantung, sehingga sang korban akan mati seketika itu juga. Suhengmu terkena senjata itu sudah setengah jam, tapi jantungnya masih berdenyut, satu tanda peruntungannya masih bagus, dan jiwanya akan tertolong.”

Cu Ling Cie mendengar dengan perasaan terharu, ia berkata sambil mewek: „Ia barusan sudah menelan obat pilnya pemberian Suhu, untuk melindungi jantung. Dalam tempo tiga jam dapat menahan serangannya segala bisa, tapi selewatnya, tidak tahu bagaimana jadinya.”

Tan Cee mendengari tidak berkata apa-apa. Ia keluarkan dua jeriji tangannya, dengan keras ditotokkan kedua tempat jalan darahnya Kim Tan. Ling Cie kaget, baru ia hendak menanyakan atau sudah didahului oleh Tan Cee dengan bersenyum:

„Lie-hiap jangan kaget, Siau-tee sekarang hendak membedah daging Suhengmu untuk membuang racunnya, karena kuatir ia tidak tahan sakit, maka aku totok kedua jalan darahnya, agar ia tetap tidur. Setelah pembedahan selesai, nanti kubuka lagi totokkanku. Tanggung tidak akan menyadi halangan suatu apa, legakanlah hatimu.”

Tan Cee dari dalam sakunya mengeluarkan sebilah pisau kecil yang terbikin dari batu kumala, dan sebungkus obat puder yang berwarna merah. Kemudian minta Ling Cie supaya memegangi paha kanannya Kim Tan, dan ia sendiri menggulung celananya.

Tidak tahu apa sebabnya, Tan Cee kedua pipinya mendadak bersemu dadu. Cu Ling Cie yang menyaksikan semua ini, hatinya merasa sangat heran.

Tan Cee setelah tetapkan hatinya, lalu mulai mengerjakan pisaunya, sepotong daging dari pahanya Kim Tan telah jatuh terpotong, darah hidup mengucur deras. Ia buru-buru menuangkan obatnya untuk menalan mengucurnya darah, kemudian dibungkus dengan kain bersih dan dari dalam sepotong daging paha tadi, ia mengeluarkan tiga butir pasir beracun sebesar beras.

Ling Cie melengak ketika menyaksikan itu semua.

Setelah semua selesai, Tan Cee lalu menanyakan kepada Ling Cie: „Tadi siang telah menyaksikan Suhengmu mengeluarkan kepandaiannya dengan tangan kosong menangkap burung hidup, suatu tanda tinggi ilmu dalamnya. Andai kata tidak dapat melawan senjata berbisanya Phoa Cay, tokh tidak nanti bisa kena terbokong. Hal ini benar-benar bikin Cay-hee tidak habis mengerti, bolehkah Hian-moy memberi penjelasan!”

Cu Ling Cie lalu menceritakan bagaimana Kim Tan tidak sampai hati menurunkan tangan jahat terhadap Phoa Cay, dan bagaimana Phoa Cay telah membalas kebajikan dengan kekejaman.

Mendengar penuturan ini, Tan Cee mengelah napas panjang.

„Sungguh tidak dinyana binatang Phoa Cay itu demikian keji.”

Tan Cee berpikir sejenak, ingat barusan Ling Cie menceritakan bagaimana Kim Tan telah menggunakan ilmu pukulan dalam

„Pan-yok-sin-kang” membikin terpental senjata rahasia pasir Phoa Cay, ia tahu bahwa ilmu pukulan itu adalah ilmu simpanan Hoat-hoa-am-cu dari Ceng-shia, yang tidak pernah diturunkan kepada siapapun juga, dari siapa ia dapatkan pelajaran ilmu itu?

Cu Ling Cie mendengar disebutnya nama gurunya, lalu merangkapkan kedua tangannya di dadanya. „Hoat-hoa-am-cu adalah guruku, adakah Tan-heng pernah kenal?” Ling Cie menjawab.

„Hoat-hoa-am-cu adalah seorang yang berilmu di kalangan persilatan, ilmunya Pan-yok-sin-kang dan Hok-mo-kiam-hoat, merupakan ilmu pukulan yang langkah di dunia persilatan. Cay- hee tidak ada itu jodoh untuk bertemu padanya. Lie-hiap keluaran dari golongan tulen, tidak heran ilmu silatmu begitu tinggi, di kemudian hari kuharap supaya kalian suka sering- sering memberi petunjuk.”

Baru habis berkata atau mendadak seperti ingat sesuatu, hingga ia menanyakan lagi: „Cay-hee dengar bahwa Hoat-hoa-am-cu hanya mempunyai seorang murid, Cu Lie-hiap adalah muridnya yang tunggal, tapi mengapa dengan Kim Tan berbahasakan Suheng dan Sumoy ?”

Cu Ling Cie mendengari sambil pasang mata, dapat saksikan sinar matanya yang jernih, satu tanda ia bukannya orang yang bersifat jahat, apalagi ia pernah menolong jiwanya Kim Tan, maka dengan sejujurnya ia memberi tahukan hal ikhwalnya ia berguru dengan Sam Hie To-tiang bersama-sama Kim Tan.

Mendengar penuturan Ling Cie, Tan Cee berkata sambil mengelah napas: „Ngo-bie dan Ceng-shia, sama-sama mengeluarkan orang-orang yang berilmu tinggi, Sam Hie dan Hoat-hoa-am-cu adalah orang-orang aneh di jamannya, tidak heran kalau kalian ilmu silatnya demikian tinggi, Cay-hee sungguh kagum.” Itu waktu, Ling Cie mendadak menggeser tempat duduknya, mendekati Tan Cee sambil bersenyum, ia berkata: „Murid- muridnya guru ternama, juga banyak yang tidak keruan, dalam air butek kadang-kadang juga bisa tumbuh kembang terate. Perbedaan antara baik dan jahat, hanya perubahan pikirannya dalam tempo sekejapan saja, mengapa Cie-cie begitu merendahkan diri?”

Tan Cee dengar Ling Cie membahasakan padanya Cie-cie, tahu bahwa anak dara ini sudah mengenali dirinya, yang memangnya seorang wanita yang menyaru pria, pipinya yang putih, seketika itu lantas berubah merah, tidak dapat menjawab.

„Cie-cie sangat cantik laksana bidadari, meskipun berdandan secara pria, masih tetap tampan, cakap. Kulihat di pinggangmu ada terselip itu seruling batu kumala dan di badanmu ada menyimpan obat pemunah racun pasir berbisa, bukankah nyata sekali yang kau ini adalah Giok-tek-hwie-sian, Han Ing?

„Orang-orang dari agama Pek-kut-kauw, di kalangan Kang-ouw meskipun jahat dan banyak dosanya, tapi Cie-cie ternyata dikecualikan. Hatimu putih bersih, sedikitpun tidak ternoda lumpur kotor. Sudah lama Siau-moy merasa sangat kagum, hari ini kita bertemu, sungguh satu hal yang menggembirakan bagiku selama ini. Aku ingin angkat saudara dengan Cie-cie, bagaimana pikiranmu?”

Mendengar perkataan Ling Cie itu, lama sekali Tan Cee berpikir, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Barusan waktu mereka bertemu di atas perahu, ia tahu mereka bertiga hendak pergi ke bukit Kun-San, maka ia mencegah dengan halus, untuk menghindarkan terjadinya hal-hal yang tidak diingini. Tidak nyana Cu Ling Cie perkataannya agak sombong, sehingga merasa panas hatinya, dan timbul pikirannya hendak mencoba- coba kepandaiannya. Begitulah mereka akhirnya adu tenaga dalam, barulah mengerti bahwa kepandaian mereka memang sukar dijajaki. Ia juga ingin sekali bersobat dengan kedua pemuda ini.

Siapa tahu Jie-suhengnya mendadakan muncul di atas Oey-he- lauw, dan mencurigai dirinya ada hubungan apa-apa dengan Kim Tan. Ia kenal baik Suhengnya itu memang seorang yang hatinya sangat cupat, tentunya akan mencari onar. Apa mau ia sendiri tidak dapat membantu Kim Tan secara terang-terangan.

Menunggu sampai kentongan berbunyi tiga kali, ia tidak dapat menahan sabarnya lagi, maka lalu berdandan, dan mengunjungi tempat menginap mereka bertiga. Tidak dinyana sama sekali kalau dalam kunjungannya itu telah dapat menolong jiwanya Kim Tan.

Cu Ling Cie lihat dia menjublek sedang berpikir, namun tidak menjawab pertanyaannya, kembali ia bertanya: „Ci-cie, kau pikir perkataanku tadi bagaimana? Apakah kau tidak sudi bersaudara dengan aku?”

Mendengar pertanyaan ini, Han Ing segera ingat nasib dirinya sendiri. Sedari kecil dipungut anak oleh Pek-kut-sin-kun, sehingga dewasa dan mendapat didikan ilmu silat yang sempurna pula. Meskipun ia tidak setuju sepak-terjangnya orang-orang dari agama Pek-kut-kauw ini, namun kepandaian ilmu silatnya adalah dari mereka, sehingga tidak dapat berbuat suatu apa. Mengingat sampai disini, ia lantas menangis tersedu-sedu.

Cu Ling Cie yang berperangai halus serta masih putih bersih, tak tahan menyaksikan keadaan yang menyedihkan itu, maka ia pun turut menangis. Han Ing menangis sepuas-puasnya, kesusahan yang selama ini menempati hatinya, malah buyar seketika. Menghadapi seorang gadis cantik molek laksana setangkai bunga yang sedang mekar ini, ia lalu menyusut air matanya dan menepok pundaknya Ling Cie.

„Moy-moy ada begini cantik, Suhengmu sungguh beruntung.” Demikian ia berkata sambil menggoda.

Cu Ling Cie yang sejak kecil hidup di pegunungan, tidak mengerti soal pria dan wanita, digoda demikian, sedikit pun tidak merasa malu atau marah, malahan berkata sambil tertawa bercekikikan.

„Kau panggil aku Moy-moy, berapakah usiamu sekarang?”

„Aku tahun ini sudah masuk duapuluh tahun, dan kau?”

„Kebetulan sekali, kau ada bersamaan usia dengan Engko Tan, aku lebih muda dua tahun dari kau.”

Han Ing itu waktu sedang mengawasi Kim Tan yang berbaring di pembaringan hatinya mendadak timhul suatu perasaan yang aneh. Untuk mencegah supaya jangan sampai diketahui oleh Ling Cie, ia berdaya supaya tetap tenang.

„Tidak salah toh aku panggil kau Moy-moy, aku lebih tua dua tahun, pantas menjadi kakakmu.”

„Setelah kau sudi anggap aku sebagati adikmu, hari ini kau ada barang, antaran apa untuk hadiah padaku?”

Han Ing tidak sangka Ling Cie mengeluarkan pernyataan demikian, sesaat menjadi kemekmek.

„Kini aku tidak membawa barang apa-apa, jikalau kau suka, lain hari aku akan bawakan sekedar sebagai tanda mata.”

„Aku mengingini barangmu yang paling berharga, tapi sekarang aku tidak akan katakan, lain waktu jika aku memintanya, kau tidak boleh menolak.”

Han Ing dibikin bingung oleh pertanyaan Ling Cie ini, ia cuma bisa menyahuti dengan sembarangan.

„Asal kau senang dan yang aku dapat lakukannya, tidak nanti aku akan menolak.”

Kemudian ia menepok kedua tempat totokan pada dirinya Kim Tan dengan perlahan.

„Sekarang Suhengmu sudah tidak menjadikan halangan apa- apa, besok aku akan kembali lagi untuk mengganti obat.” Sehabis berkata ia lalu minta diri kepada Ling Cie, dan sesaat kemudian ia sudah keluar dari kamar dan menghilang di tempat gelap.

Cu Ling Cie lihat Kim Tan sedang tidur nyenyak, tidak tega ia mengganggu, maka ia tetap duduk di sampingnya, dalam hatinya sangat gembira. Tidak lama kemudian, cuaca mulai terang, Ma Beng dengan wajah lesu melangkahkan tindakannya ke dalam kamar.

„Bagaimana dengan lukanya Kim Tan Hian-tit?” Ia menanyakan kepada Ling Cie.

„Empe jangan kuatir, kau lihat, bukankah dia sedang tidur nyenyak?”

Ma Beng segera memandang wajah Kim Tan. Benar sudah tidak pucat lagi, ia tahu lukanya sudah mulai sembuh. Hanya ia tidak mengerti bagaimana racun yang berbisa itu dapat dipunahkan.

Cu Ling Cie segera menceritakan hal ikhwalnya Tan Cee mendadak datang dan dengan cara bagaimana ia menyembuhkan lukanya Kim Tan.

Ma Beng tetap masih belum mengerti, hingga ia menanyakan:

„Obat pemunah racun senjata rahasia pasir berbisa, hanya Pek- kut-sin-kun dan murid-muridnya yang mempunyai. Bagaimana Tan Cee dapat mengambil obat itu?”

Ditanya demikian, Ling Cie lalu menceritakan bagaimana ia telah membuka rahasianya Tan Cee, yang sebenarnya adalah Han Ing yang menyaru, kemudian mengutarakan pikirannya. „Lo-hu kali ini betul-betul sudah lamur, mengapa sampai Giok- tek-hwie-sian menyaru lelaki tidak dapat mengenali,” Ma Beng berkata sambil mengelah napas.

Cu Ling Cie yang menyaksikan Ma Beng menunjukkan sikap yang terheran-heran, ingin menggoda lebih jauh.

„Empe Ma, rasanya masih banyak yang Empe belum mengetahui, tahukah Empe, aku dan Engko Tan ini murid siapa?”

Ditanya begitu, tercengang juga perasaannya, dengan gelagapan ia menjawab: „Meski aku tahu kalian punya ilmu silat yang hebat, namun belum mengenali kalian sebenarnya keluaran dari golongan mana.”

„Baiklah sekarang kuberitahukan kepadamu.”

Ling Cie segera menceritakan asal usulnya, hingga Ma Beng yang mendengari sebentar-sebentar keluarkan pujiannya.

„Tidak dinyana kalian ada murid-murid dari dua orang pandai dan berilmu sangat tinggi di ini zaman, pantas kepandaianmu begitu hebat. Han Ing juga tidak jelek ilmu silatnya, romannya pun cantik, dan yang lebih berharga ialah, ia keluaran dari golongan Pek-kut-kauw yang terkenal jahat, tapi ia sendiri tidak suka bercampuran dengan mereka. Aku setuju dengan pikiranmu, kita nanti coba dayakan agar mereka bisa terangkap jodoh. Dengan demikian, kita nanti akan dapatkan pembantu Giok-tek-hwie-sian dari dalam, hingga dengan mudah menumpas kawanan orang jahat itu.”

Mendengar perkataan Ma Beng, Cu Ling Cie kerutkan alisnya.

„Waktu kita turun gunung, Sam Hie To-tiang Suhu pernah pesan, kecuali membasmi musuh kita yang telah mencelakakan ayah bunda kita, tidak boleh sembarangan melakukan pembunuhan.”

Mendengar pernyataan Cu Ling Cie itu, Ma Beng sangat kagum terhadap mereka guru dan murid, yang ternyata bukan orang- orang sembarangan.

Itu waktu, matahari sudah naik tinggi, Tan Cee juga sudah kembali untuk mengganti obatnya Kim Tan, hingga Ma Beng pun turut menyatakan terima kasihnya.

Sebentar kemudian, Kim Tan sudah mendusin dari tidurnya, ketika ia membuka matanya dan dapat lihat Tan Cee duduk didampingnya, merasa terheran-heran. Tan Cee tidak berkata apa-apa, hanya bersenyum memandang Kim Tan.

Kim Tan selagi hendak bangun, paha kirinya dirasakan sangat sakit, hingga berteriak kesakitan.

Cu Ling Cie segera maju menghampiri dan menahan badannya. Kemudian berkata kepadanya:

„Kim suheng malam terkena serangan pasir beracunnya Phoa Cay, sehingga membikin cape Empe Ma, yang harus pergi jauh untuk mencari obat, tapi akhirnya tidak berhasil. hingga kembali dengan tangan kosong. Untung keburu ditolong oleh Tan-heng ini, yang sudah memperlukan datang malam-malam untuk mengeluarkan racunnya dari pahamu, dan kini ia datang lagi untuk menukar obat.”

Kim Tan baru mengerti, kemudian ia menyatakan: „Dengan demikian, Tan-heng adalah tuan penolongku.” Sehabis berkata, lalu mengulur tangannya, dengan kencang menyekal lengannya Tan Cee.

Dipegang secara demikian, wajahnya Tan Cee berubah merah seketika. Tapi karena Kim Tan tidak mengetahui kalau ia seorang wanita, maka tidak dapat mempersalahkan padanya.

Cu Ling Cie yang menyaksikan dari samping, diam-diam merasa sangat geli, tapi ia berlaga tidak tahu, dan membiarkan mereka berpegangan erat-erat.

Adalah Ma Beng yang sudah kenyang makan asam garam, melihat keadaan Tan Cee yang sedang menekan rasa malu, dikuatirkan ia nanti menjadi kurang senang, maka lalu berkata pada Tan Cee: „Tan Lo-tee, lekaslah ganti obatnya, supaya lukanya cepat-cepat sembuh dan bisa turut menghadiri pertemuan di bukit Kun-san.”

Menggunakan ini ketika, ia melepaskan tangannya dari cekalannya Kim Tan, lalu mengeluarkan obat dari dalam sakunya. Ia berkata kepada Ma Beng sambil mengobati pahanya Kim Tan. „Ma Lo-cianpwee, senjata pasir beracun dari Pek-kut-kauw, adalah senjata rahasia yang paling jahat dan sangat berbisa, orang biasa terkena senjata ini, dalam tempo sekejap racunnya dapat menyerang jantung, hingga sang korban akan melayang jiwanya. Untung Kim-heng ilmu dan tenaga dalamnya sangat tinggi, dan lagi sudah minum obatnya Sam Hie To-tiang yang dapat melindungi jantungnya, sehingga terlepas dari bahaya maut.

„Semalam aku sudah potong dan buang dagingnya yang busuk dan sekalian racunnya yang menempel di dalamnya, setelah diobati bubuk tunggal kaum Pek-kut-kauw, tidak akan menjadi halangan apa-apa. Dengan tenaga dalamnya Kim-heng yang kuat, dalam tempo lima-enam hari tentu akan sembuh seperti sedia kala.

„Pertemuan di bukit Kun-san, ditetapkan pada bulan Tiong-chiu, sekarang masih ada banyak tempo untuk merawat lukanya Kim- heng dan setelah sembuh sama sekali, baiklah pesiar dulu ke Shia-ling-kie, Tong-ting dan lain-lain tempat, kemudian ke Kun- san. Tidak perlu tergesa-gesa.”

Kim Tan yang sudah menerima kebaikan Tan Cee, sudah tentu tidak dapat menolak usulnya ini. Hanya ia masih tetap merasa sangsi, dari mana Tan Cee dapatkan obat pemunah racun yang semata-mata menjadi miliknya kaum Pek-kut-kauw. Namun ia merasa tidak enak untuk menanyakan lebih jauh. Beberapa hari telah lewat, lukanya Kim Tan sudah sembuh sama sekali. Tan Cee menepati janjinya untuk mengajak mereka bertiga pesiar ke tempat yang ia pernah usulkan.

Setelah bergaul dan berkumpul beberapa hari, Kim Tan dapat tahu hahwa Tan Cee bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga dalam ilmu suratnya, dengan demikian, maka perhubungan mereka semakin erat. Tapi satu hal yang aneh ialah: setiap kali Kim Tan berada bersama-sama dengan Tan Cee, Cu Ling Cie dan Ma Beng selalu sengaja menyingkirkan diri untuk membiarkan mereka berdua saja. Hal ini membikin Kim Tan tidak habis mengerti.

Setelah beberapa hari pesiar, mereka hendak meneruskan perjalanannya ke Tong-ting dengan naik perahu, tapi aneh, semua tukang perahu tidak ada yang berani berlayar ke Tong- ting. Menyaksikan keadaan demikian, empat orang merasa heran, mengapa meski dengan upah yang besar, tak ada juga yang mau pergi.

Mereka segera mencari keterangan kepada tukang perahu, barulah diketahui bahwa cabang Pek-kut-kauw yang menjadi gara-garanya. Karena Pek-kut-kauw cabang tempat ini, selalu melakukan keganasan di perairan Tong-ting-ouw, sehingga setiap perahu yang berlayar, tidak ada satu yang lolos.

Kim Tan, Cu Ling Cie dan Ma Beng yang mendengar penuturan ini menjadi sangat murka. Tan Cee, meski tidak dikentarakan air mukanya namun diam-diam pun merasa gemas. Selagi dalam kebingungan, mendadak terdengar sebuah suara yang kemudian disusul dengan munculnya sebuah perahu kecil dari dalam alang-alang.

Delapan pasang mata dengan berbareng ditujukan pandangannya ke arah perahu kecil tersebut. Di atas perahu tersebut berdiri seorang nelayan tua, memakai tudung lebar, jenggotnya yang putih laksana perak bergoyang-goyang tertiup angin. Di belakang kakek itu berdiri seorang muda, mereka semuanya mempunyai potongan tubuh yang kuat dan sepasang matanya selalu, memancarkan sinar yang tajam, kelihatannya bukan orang sembarangan.

Nelayan tua itu seolah-olah mengetahui empat orang ini akan menyewa perahu untuk berlayar ke Tong-ting, tapi tidak sebuah perahu pun yang berani. Ia berkata dengan suara nyaring kepada empat orang tersebut:

„Banyak orang pada takut keganasan kaum Pek-kut-kauw, sehingga tidak berani berlayar sampai ke Tong-ting, tapi aku tidak.”

Empat orang itu mendengar perkataan si kakek sangat girang sekali. Setelah perahunya mendekati, Kim Tan lalu menjura untuk memberi hormat kepada nelayan tua itu sambil berkata:

„Beruntung Lo-tiang sudi membawa kita ke bukit Kun-san, kita ucapkan banyak-banyak terima kasih.” Mendengar pernyataan Kim Tan, kakek tua itu buru-buru merendahkan diri. Dan Tan Cee lantas mengeluarkan sepotong emas diberikan kepadanya.

„Sedikit barang yang tidak berharga ini sebagai tanda hormat kita, harap Lo-tiang suka menerima.”

Nelayan tua itu tadinya tidak mau terima, setelah dibujuk oleh Ma Beng barulah mau terima, yang diserahkan kepada itu anak muda, untuk membeli barang makanan di darat, guna tangsal perut mereka di perjalanan.

Perahu itu meski tidak besar, tapi mempunyai tiga ruangan kamar kecil, di bagian depan dan belakang masing-masing ada sebuah kamar lagi untuk tidur nelayannya sendiri.

Sebetulnya Kim Tan ingin bersama Tan Cee di kamar tengah, tapi telah didahului oleh Ling Cie, ia disuruh tidur di kamar depan, Ling Cie sendiri di kamar tengah, Tan Cee dan Ma Beng di kamar belakang. Kim Tan merasa kurang enak terhadap Tan Cee dengan cara pembagian kamar Ling Cie ini, tapi tidak berkata apa-apa.

Itu waktu, matahari sudah mulai doyong ke barat. Kakek nelayan suruh anak muda pasang layar dan berangkat menuju ke tempat tujuannya. Waktu magrib, kakek nelayan menyediakan rupa- rupa hidangan yang terdiri dari kepiting, ikan, daging dan sebagainya bersama dua botol arak. „Lo-tiang begini baik memperlakukan kita, malahan bikin kita merasa tidak enak.” Demikian kata Tan Cee ketika menyaksikan persediaan hidangan malam yang demikian royalnya.

„Kita bukannya orang-orang yang asing lagi, mengapa begitu banyak peradatan. Jika mesti berhitungan, barusan Tan Kongcu berikan hadiah sepotong uang emas kepadaku, untuk makan satu tahun juga belum habis.” Kakek nelayan itu menjawab sambil tertawa.

Ma Beng lihat sang kakek ini begitu baik hati, maka lantas tidak malu-malu lagi dan ajak kawan-kawannya bersantap.

Sesudah habis bersantap, Tan Cee sangat gembira dengan keadaan sekitarnya, maka lalu mengeluarkan serulingnya. Dengan bersenderan di tiang layar, sambil memandang puteri malam, ia mulai meniup.

Kim Tan yang hanya terpisah satu ruangan, waktu menyaksikan Tan Cee meniup serulingnya, wajahnya seolah-olah menunjukkan perasaan yang muram. Suara serulingnya pun sangat memilukan hati. Selagi asyik mendengarkan, mendadak terdengar pula suara tiupan lain seruling lagi yang lagunya berapi-api, yang agaknya sedang menuntun suara seruling Tan Cee ke arahnya.

Kim Tan yang memperhatikan suara seruling itu, segera dapat tahu bahwa suara seruling itu dari kamar depan datangnya. Ma Beng ketika mendapat dengar suara seruling itu mendadak ingat satu orang. Selagi hendak menanya, kakek nelayan itu dengan tangan membawa seruling besinya masuk ke kamar. Ma Beng mendapat lihat benda itu, segera tertawa bergelak-gelak.

„Dengar kabar di daerah sekitar Kang-hway ini ada seorang nelayan yang bergelar nelayan berseruling besi, bukankah Lo- tiang adanya?”

„Aku si tua bernama Kheng Ling, nelayan berseruling besi betul adalah gelarku. Barusan aku mendengar suara seruling, segera merasa gatal tanganku, harap jangan dibuat tertawaan. Aku ingin tanya, Lo-tiang bukankah orang yang disebut Ma Beng?”

Nelayan berseruling besi ini setelah memperkenalkan dirinya, segera Ma Beng perkenalkan kawan-kawannya.

„Kedua pemuda ini adalah Kim Tan dan Cu Ling Cie, dan ini adalah kawan yang baru kita kenal Tan Cee. Tidak tahu Lo- tiang, kali ini datang kemari ada keperluan apa?” demikian Ma Beng menanya.

„Kedatanganku ini mungkin ada hubungannya dengan Ma Tay- hiap.”

Ma Beng kaget mendengar pernyataan Kheng Ling ini. Ia ingin minta penjelasan, sebaliknya Kheng Ling membalas menanya:

„Di dalam kaummu bukankah ada seorang yang bernama Tek Seng Hiong?”

Kembali Ma Beng dibikin heran, dengan wajah muram ia menjawab: „Orang ini pada duapuluh tahun berselang karena melanggar peraturan kaum kita, telah memasuki golongan Goan-cin-siang-to. Toa-suheng Khau-sian Hiong Lip Khun, oleh karena soal ini, telah datang sendiri ke Goan-cin-koan, kepada Siok minta kembali orang tersebut.

„Tidak dinyana Siok berpura-pura menyanggupi, lantas melakukan serangan menggelap, sehingga Toa-suheng terluka berat, dan bikin aku mesti melakukan perjalanan jauh ke Biauw- ciang, untuk mencari obat. Hampir saja aku mati ditelan ular kalau bukannya ditolong oleh Dewi tangan ganas Lie Hun Cun. Dan dengan pertolongannya pula baru aku dapat membunuh ular besar itu serta dapat menyembuhkan luka Toa-suheng.

„Karena murka, Toa-suheng akhirnya mengasingkan diri untuk melatih ilmu Sao-yang-sin-kang sepuluh tahun lamanya, hendak bikin perhitungan dengan Goan-cin-siang-to, siapa nyana musuhnya sudah dikalahkan oleh Sam Hie To-tiang. Sekarang ini tidak tahu sudah sembunyi dimana. Tek Seng Hiong juga tahu sedang dikejar oleh kaumnya sendiri, kabarnya sekarang sudah masuk kaum Pek-kut-kauw. Kedatangan Kheng-heng kemari bukankah lantaran dia?”

„Dua tiga bulan yang lalu, waktu Siau-tee pesiar ke An-khing pernah bertemu dengan penjahat itu, dan berjanji kepadanya, bahwa pada nanti tanggal sepuluh bulan delapan, kita bertemu di Shia-ling-kie untuk mendapat keputusan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kau ada mempunyai ganjelan hati dengannya, boleh kiranya kau nanti memberi sedikit bantuan padaku?” Ma Beng segera menyanggupi. Ia tidak nyana disini akan bertemu dengan si nelayan seruling besi, dan malahan mendapat kabar dimana adanya Tek Seng Hiong yang bertahun- tahun ia sedang cari. Maka ia bukan saja menyanggupi untuk memberi bantuan tenaga, malahan ia perkenalkan Kim Tan, Cu Ling Cie dan Tan Cee yang masing-masing mempunyai kepandaian tinggi. Dengan bantuan mereka bertiga, meski Tek Seng Hiong sudah masuk anggota Pek-kut-kauw dan akan dibantu olehnya, juga tak usah kuatir tidak bisa menangkap padanya. Tapi Kheng Ling yang melihat mereka masih sangat muda remaja, dalam hatinya masih sangsikan kepandaiannya.

Dalam perjalanan ini, mereka lewatkan waktunya sambil mengobrol ke barat dan ke timur, tidak ketinggalan pula untuk membicarakan soal-soal ilmu silat. Dalam pembicaraan ini, Kheng Ling merasa sangat kagum kepada mereka yang ternyata mempunyai pemandangan sangat luas dalam ilmu silat hingga perasaan sangsinya lenyap seketika.

Meski perjalanan dilakukan sangat lambat, tapi mereka telah sampai di Shia-ling-kie tepat pada waktunya, ialah pada tanggal sepuluh bulan delapan, tanggal yang telah dijanjikan oleh Kheng Ling dan Tek Seng Hiong.

Tiba di tempat tujuannya, mereka memeriksa keadaan di sekitarnya. Tempat itu merupakan satu tanah datar yang sangat luas, di sekitarnya dikelilingi oleh pepohonan yang lebat. Tempo yang mereka janjikan ialah jam tiga malam. Meski baru jam satu tengah malam, tapi Ma Beng berempat masing-masing sudah memilih tempat di atas pohon besar untuk sembunyikan diri. Kheng Ling dengan seruling besinya di tangan, duduk di atas batu besar, untuk menanti kedatangan Tek Seng Hiong.

Kim Tan dulu waktu mengambil mustika bersama Sam Hie To- tiang pernah makan obat mustajab, maka pemandangan matanya sangat tajam. Pada sebuah pohon besar kira-kira tiga- empat tumbak jauhnya, ada duduk seorang, sayang karena kealingan daun lebat, wajahnya tidak terlihat tegas. Tapi melihat tempat duduknya dan caranya naik turun dari pohon yang begitu gesit dan enteng, sungguh hebat ilmunya mengentengi tubuh. Sayang karena tidak jelas wajahnya, maka belum diketahui ia adalah kawan atau lawan.

Jam dua lewat, dari sebelah timur mendatangi seorang yang berusia kira-kira empatpuluh tahun, wajahnya tirus panjang, di tangan kirinya menggendong sepasang tongkat besi tangan kanannya menuding Kheng Ling, berkata sambil tertawa berkakakan.

„Kau tua bangka yang tidak tahu diri, tiga bulan yang lalu, kau telah merusak rencanaku. Sekarang masih berani datang kemari, kiranya sudah bosan hidup, di tempat ini adalah tempat bersemayammu untuk selama-lamanya.”

„Jahanam, tahukah kau perbuatan jahatmu yang kau pernah lakukan selama duapuluh tahun ini, sungguh susah dilukiskan dengan pena. Hari ini aku si orang tua dengan tidak memikirkan perjalanan yang beberapa ribu pal jauhnya untuk menepati janji, maksudnya ialah untuk membasmi kejahatan. Di tempat ini dekat sekali dengan bukit Kun-san, jangan kau kira dapat mengandal bantuan mereka. Sekarang marilah menerima kematianmu,” Kheng Ling menyahut sambil tertawa dingin.

„Tua bangka, sungguh sombong perkataanmu, dengan kepandaianmu yang tidak berarti ini, apakah yang kau mampu berbuat terhadap aku? Tuan besarmu Tek Seng Hiong belajar ilmu silat, maksudnya ialah untuk malang melintang di kalangan Kang-ouw, kau tidak suka lihat atau mengiri?”

Baru habis berkata, mendadak ada benda yang terbang mendatangi dan tepat mengenakan mukanya, hingga ia berkaok-kaok kesakitan. Waktu membuka mulutnya, dua gigi depannya ternyata jatuh di tanah.

Ketika ia melihat benda apa itu yang menimpah mukanya, ternyata cuma sepotong tangkai kayu kering. Ia lantas pasang mata melihat sekitarnya, tapi tidak terlihat bayangan satu manusia pun juga. Amarahnya tak terkendalikan lagi, maka ia lalu angkat sepasang tongkatnya, menyerang ke arah Kheng Ling sambil membentak:

„Aku kira kau hanya datang seorang diri, tidak tahunya telah membawa kawan untuk membokong tuan besarmu, orang- orangku juga segera datang. Ini malam kau si tua bangka kalau bisa terlepas dari sepasang tongkatku ini, percuma aku jadi manusia.” Cu Ling Cie yang mendengar ia sangat terkebur, segera hendak turun tangan, tapi dicegah oleh Kim Tan. Dengan jarinya ia menunjuk ke arah pohon besar di sebelah kiri. Cu Ling Cie segera mengerti, hingga tidak berani bergerak sembarangan.

Kheng Ling bersuit panjang, kemudian berkata kepada Tek Seng Hiong.

„Jahanam, meski kau membawa banyak kawan, aku si tua bangka tidak takut, suruhlah mereka menerima kematian sekalian.”

Tek Seng Hiong tertawa dingin sepasang tongkatnya menyerang Kheng Ling.

Sambil egoskan tubuhnya, Kheng Ling maju setindak, hingga serangan Tek Seng Hiong jatuh di tempat kosong. Sebaliknya ujung seruling Kheng Ling segera mengarah jalan darah pundak kirinya Tek Seng Hiong. Dengan tabah Tek Seng Hiong tidak kelit atau menyampok totokan itu, hanya agak mendongakkan tubuhnya, untuk kasi lewat serangan Kheng Ling dan sekalian tidak kasi kesempatan kepadanya untuk menarik kembali serangannya, kemudian dengan sepasang tongkatnya ia menyapu ke kanan ke kiri.

Untung Kheng Ling tidak menjadi gugup, dengan melesat setinggi tujuh-delapan kaki ia menghindarkan serangan. Itu waktu Kheng Ling segera mengeluarkan ilmu silatnya yang ia pernah yakinkan sepuluh tahun lamanya untuk menempur Tek Seng Hiong. Kekuatan tenaga dalam kedua lawan ini sebetulnya sangat berimbang, tapi senjata tongkatnya Tek Seng Hiong itu masing- masing terdiri dari dua bagian. Setiap bagian panjangnya dua kaki dua dim, ditambah lagi dengan tempat sambungannya, hingga bisa merupakan senjata yang panjangnya enam kaki lebih. Maka dapat digunakan untuk menotok, memukul, menyontek, menyapu, memotong dan menindas senjata lawan, dapat dilakukan sejarak satu tombak. Mau tidak mau Kheng Ling ripuh juga melawannya.

Tapi Kheng Ling yang sudah banyak pengalamannya, meskipun untuk sementara tidak berdaya terhadap lawannya, sehingga tidak berani sembarangan melakukan serangan. Namun setelah duapuluh jurus dilalui, segera mengenal baik taktik lawannya. Dengan bersuit panjang, ia mengeluarkan ilmu mengentengi tubuh, sebentar-sebentar secara kilat menerobos di sela-selanya tongkat lawan, untuk melakukan serangan di tempat-tempat yang berbahaya.

Sekejap saja kedua lawan itu sudah bertempur seratus jurus lebih, tapi masih belum ketahuan siapa yang unggul. Tek Seng Hiong mulai gugup, sepasang matanya jelilatan melihat keadaan sekitarnya, karena itu, maka tongkat di tangan kirinya kena disampok lawan dan terlepas dari tangannya.

Tek Seng Hiong kaget bukan main, ia, segera berteriak nyaring, tubuhnya melesat dua tombak lebih untuk keluar kalangan. Kheng Ling tidak memberikan kesempatan lawannya menyingkirkan diri, dengan melesat pula ia mengejar. Pada saat itu, mendadak terdengar suara nyaring: „Kheng-heng jangan mengejar, harus berjaga-jaga jangan sampai tertipu oleh akal muslihatnya.” Suara itu disusul dengan melesat turunnya satu bayangan hitam, dengan tangan kanannya mengerahkan pukulan menembus udara, untuk menyerang Tek Seng Hiong supaya tidak dapat sembunyikan dirinya. Dan tangan kirinya, dengan perlahan menahan majunya Kheng Ling. Kedua gerakan ini meski dilakukan secara bergiliran, tapi karena dalam tempo yang sangat cepat, maka seolah-olah dilakukan secara berbareng. Tek Seng Hiong yang tidak menjaga sama sekali lantas tidak bisa berdaya.

Sebetulnya Tek Seng Hiong bukannya benar-benar kalah, itu hanya tipu pura-pura kalah saja. Waktu dapat tahu Kheng Ling sedang mengejar, ia lantas siap dengan ilmu pukulan tangan setan yang berbisa. Tapi baru saja hendak keluarkan serangannya, atau Ma Beng mendadakan melayang turun dari atas pohon, dan melakukan serangan kepadanya dengan menggunakan ilmu pukulan menembus udara, yang mengenakan dadanya dan terpental sampai tujuh-delapan tindak jauhnya, sebelah tangan kirinya pun terluka parah.

Selagi hendak memaki, mendadak melihat wajahnya Ma Beng, yang ternyata ada Soesioknya sendiri. Karena tahu tidak ungkulan, maka dengan perasaan ketakutan, ia segera melarikan diri, Ma Beng juga tidak mengejar. Ia tetap berdiri di tempatnya sambil tertawa dingin.

Tek Seng Hiong hendak melarikan diri ke arah timur, mendadak dengar suara crek-crek yang keras, dari dalam rimba muncul satu pengemis kaki satu dengan sebelah tangannya memegang tongkat besi.

Tek Seng Hiong lihat pengemis ini seolah-olah bertemu dengan setan, lebih takut dari bertemu Ma Beng. Ia lalu putar tubuhnya hendak mdarikan diri ke barat, tapi dari sebelah barat itu pun terdengar suara tertawa dingin:

„Baik atau jahat akhirnya tentu mendapat pembalasan. Penjahat yang berbuat banyak kejahatan, tahun depan hari ini adalah ulang tahun dari hari wafatmu. Kecuali ke akherat, tidak ada jalan lain untuk kau melarikan diri.”

Suara itu disusul dengan munculnya seorang tua yang membawa tongkat bambu berwarna merah, setindak demi setindak mendekati Tek Seng Hiong.

Dengan munculnya kedua orang tua ini, mukanya Tek Seng Hiong pucat seketika, kalau barusan ia sangat sombong dan garang, kini badannya mendadak gemetaran, dengan suara terputus-putus ia hanya dapat keluarkan: „Hoa Lo-su, Ling Hok Hoat. ”

Selagi hendak meneruskan perkataannya, dari atas kepalanya mendadak terdengar suara nyaring: „Baik atau jahat akhirnya ada pembalasannya, terbang tinggi atau lari jauh juga susah menyingkirkan diri. Kita telah menjelajah kemana-mana untuk mencari kau, dengan susah payah baru diketemukan. Jika kau kenal selatan, lekaslah serahkan dirimu, agar kita tidak perlu turun tangan lebih jauh.” Tek Seng Hiong mendongakkan kepalanya, ia lihat di atas pohon yang tingginya kurang lebih lima-enam tombak, berduduk seorang kurus kering berumur setengah tua, baru habis berkata, ia lalu melayang turun laksana daun kering yang jatuh di tanah, tidak ada suaranya sama sekali.

Satu tanda betapa tinggi ilmunya orang tersebut. Orang ini bukan orang lain, ialah Ciang-bun-jin golongannya Tek Seng Hiong, Hiong Lip Khun.

Tek Seng Hiong tidak mengira bahwa empat orang tertua dari kaumnya telah muncul berbareng dengan maksud mencari padanya. Ia tidak ada harapan lagi untuk melarikan diri, tapi jika tertangkap oleh mereka, berarti akan menerima hukuman yang lebih berat. Sementara itu, orang-orang yang menjanjikan hendak memberi bantuan, satu pun belum ada yang muncul.

Maka selain meratap minta diampuni, tidak ada lain jalan lagi baginya. Ia lantas mendekam di hadapan mereka sambil badannya gemetaran.

Ma Beng melihat Suheng dan kedua Su-tee nya muncul berbareng, sangat kaget, buru-buru memberi hormat. Khau-sian Hiong Lip Khun segera berkata sambil tertawa: „Ma Su-tee jangan terlalu banyak peradatan, itu tiga sobat kecil di atas pohon mengapa tidak diajak bertemu kita.”

Selagi Ma Beng hendak memanggil Kim Tan, Cu Ling Cie dan Tan Cee, mendadak dari rimba terdengar suara nyaring: „Tek Seng Hiong, jangan begitu pengecut, meminta diampuni sambil berlutut, lekaslah bangun. Kau sudah menjadi orang dari kaumku, siapa yang berani mengganggu selembar saja rambutmu.”

Dari dalam rimba lantas muncul seorang muda dan seorang tua. Yang muda mengenakan pakaian serba hijau, dia itu adalah salah satu dari orang ganas Pek-kut-kauw, Phoa Cay.

Yang tua usianya sudah lebih dari enampuluh tahun, badannya kurus pendek, di pinggangnya dililit dengan sabuk kulit yang lebarnya tiga-empat chun, kanan kirinya sabuk kulit itu bergelantungan kantong kulit yang tidak sepadan besar kecilnya, di mulut kantong kulit itu terselip beberapa buah pisau terbang

„Liu-yap-hwi-to”. Kedua orang ini datang sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, seolah-olah tidak pandang mata sama sekali orang-orang di depan matanya.

Tek Seng Hiong yang tadinya berlutut di tanah, waktu mendengar suara kawannya datang, segera hendak berdiri bangun, untuk mendekati Phoa Cay.

Khau-sian Hiong Lip Kun lihat Tek Seng Hiong hendak lari, lantas bersenyum dan mengeluarkan jari tangannya ditujukan ke badannya. Dengan suara yang mengerikan, Tek Seng Hiong jatuh lagi di atas tanah, tidak bisa berkutik.

Phoa Cay sangat murka, lalu ia menuding Khau-sian sambil memaki-maki. „Kau barangkali adalah orang yang tertua dari golongan pengemis ini. Barusan aku sudah mengatakan, Tek Seng Hiong sudah menjadi orangnya Pek-kut-kauw, hingga tidak mengijinkan orang lain merabah seujung rambutnya saja. Apa kau kira dengan ilmu totokan „Tan-ci-sin-kong” ini dapat menggertak lain orang?”

Berkata sampai disini, Phoa Cay mendadak dapat lihat Ma Beng, ia segera mengira Kim Tan dan Cu Ling Cie juga berada disini, hingga wajahnya berubah seketika. Setelah menengok ke kanan-kiri tidak terlihat bayangan orang, baru perlihatkan laganya yang garang lagi.

Hiong Lip Khun sebagai orang tertua dari kaumnya, tidak sudi melayani Phoa Cay.

„Kau ini si kurcaci yang tidak tahu malu, di Oey-he-lauw kau sudah diampuni selembar jiwa anjingmu oleh Kim Hian-tit, karena sayang kepandaianmu. Siapa kira kau lantas balas kebajikan dengan kejahatan, dengan senjata rahasiamu yang beracun kau lukai dirinya. Sakit hati ini, sedang hendak dibikin perhitungan. Tidak tahunya kau sekarang kembali timbulkan kekeruhan di sini.

„Orang lain membereskan urusan rumah tangganya sendiri, ada hubungan apa dengan kau? Apa perlunya kau turut campur tangan? Baiklah kau lekas mundur, empat hari kemudian terima nasibmu di bukit Kun-san. Jika tidak, kau kira akan dapat pengampunan lagi seperti di Oey-he-lauw, kau jangan mengimpi.” Phoa Cay yang mendapat ajaran ilmu silat dari Pek-kut-kauw. Sejak keluar mengembara, malang-melintang di dunia persilatan, belum pernah mendapat tandingan. Tidak nyana telah dibikin terjungkal di Oey-he-lauw oleh Kim Tan, bagaimana dapat menelan hinaan ini? Ia sedang hendak mencari Suhengnya untuk membalaskan sakit hatinya, akhirnya nihil.

Dan kebetulan bertemu dengan Tek Seng Hiong, yang memberi tahukan hendak bertempur dengan Kheng Ling pada malam hari tanggal sepuluh bulan delapan itu, serta minta bantuannya. Phoa Cay yang suka usilan dengan girang menerima permintaan itu, tidak dinyana kalau akan bertemu dengan musuh lamanya, maka setelah bertemu dengan Ma Beng, hatinya merasa bercekat, tapi waktu tidak melihat Kim Tan, baru ia merasa lega.

Untuk menutupi perasaan malunya, Phoa Cay bermaksud hendak turun tangan terhadap empat orang tertua dari kaum jembel itu. Maka ia segera membalas perkataan Ma Beng.

„Tempo hari di Oey-he-lauw, tuan mudamu karena agak teledor, hampir saja mengalamkan kekalahan, apa yang dibuat heran? Lain waktu jika bertemu si orang she Kim itu, sudah tentu akan aku tempur lagi untuk mendapat keputusan siapa yang mati dan siapa yang akan hidup. Hari ini adalah si tua bangka ini yang sialan, telah menggantikan si orang she Kim untuk menerima kematiannya. Aku akan rubuhkan dulu orang tua yang menjadi pujaan kamu ini, kemudian baru turun tangan terhadap kamu kaum jembel, barulah merasa lega hatiku.” Demikian ujarnya. Hiong Lip Khun yang ditantang secara demikian, mana bisa menahan sabarnya lagi, selagi hendak menjawab, mendadak si pengemis berkaki satu sudah mendahului: „Dengan wajahmu yang seperti mayat ini, mana tahan menerima pukulan „Sao- yang-sin-kang”. Anak yang baik, kau jangan temberang, mungkin dengan aku si orang tua yang bercacat ini saja kau tidak akan sanggup melawan, tidak percaya, boleh coba.” Perkataan itu lalu dibarengi dengan melesatnya tubuh, dan dengan ilmu pukulan „Tay-san-ap-teng” ia menyerang batok kepala Phoa Cay.

Serangan itu dilakukan sangat cepat, tapi Phoa Cay sama sekali tidak takut. Dengan tertawa dingin, ia tidak menyingkir atau berkelit, dengan membalikkan telapak tangannya ia sambuti serangan itu, hingga terdengar suara „plak”. Phoa Cay tergoyang kakinya, tapi pengemis kaki satu itu yang badannya masih di udara agak rugi kedudukannya, hingga terpental kira- kira lima-enam kaki jauhnya, baru bisa berdiri tegak. Dengan beradunya tenaga itu, Phoa Cay segera mengetahui kekuatan lawannya masih di bawah dirinya maka kembali perlihatkan sikapnya yang sombong lagi.

„Aku kira kamu empat orang tua dari golongan pengemis berapa hebat kekuatanmu, tidak kira kalau begitu saja. Ada lebih baik maju berbareng, dan menerima kematian berbareng supaya tidak usah aku mengantar kamu satu persatu ke akherat.” Demikian katanya sambil tertawa tergelak-gelak.

Empat orang dari golongan pengemis itu, yang tertua adalah Khau-sian Hiong Lip Khun, kedua Ma Beng, ketiga Ling Hiong dan keempat adalah si kaki satu Hoa Ceng Bu. Adalah Hoa Ceng Bu ini yang adatnya paling keras, karena kakinya cuma sebelah, maka kekuatan tenaganya dipusatkan di bagian atas, latihan tangan kirinya dapat menghancurkan batu.

Selama merantau di dunia persilatan, belum pernah ketemu tandingan, tidak dinyana kali ini telah menemukan tandingan Phoa Cay, dan begitu bergerak lantas terpental, perasaan marah dan malu tak tertahan lagi. Dengan bentakan keras, kembali melesat ke udara dan menyerang Phoa Cay.

Pertempuran ini sangat hebat, hingga selingkaran sepuluh tombak terasa samberannya angin dan mengepulkan debu dan batu.

Hiong Lip Khun yang menyaksikan dari samping, lantas tahu bahwa Hoa Ceng Bu bukan tandingan Phoa Cay, ia berkata dengan perlahan kepada Ling Hiong, „Kepandaiannya Phoa Cay sudah sampai di puncaknya, Ceng Bu bukan tandingannya, lekas kau gantikan dia, dengan ilmu pukulan „Hiang-mo-pang” mu kau lawan dia, meski tidak bisa merebut kemenangan, tapi juga tidak akan kalah ”

Tapi baru saja sampai di sini, atau Hoa Ceng Bu sudah terkena pukulannya Phoa Cay yang dahsyat, tangan kirinya patah dan rubuh di tanah tidak ingat orang.

Meskipun tahu lawannya sudah terluka parah, namun Phoa Cay masih tidak mau memberi ampun, ia masih angkat tangannya, hendak melakukan serangan yang mematikan. Dalam saat yang berbahaya itu, Ling Hiong segera menghadang dan totol ujung tongkatnya ke arah muka Phoa Cay.

Mau tidak mau Phoa Cay mesti urungkan niatnya, dan egoskan kepalanya ia elakkan serangan Ling Hiong. Karena serangannya dielakkan secara demikian, Ling Hiong lalu merubah serangan totokan menjadi pukulan, diarahkan pundak kiri lawannya sehingga membuat Phoa Cay kewalahan dan mundur beberapa tindak. Karena senjatanya sudah patah di tangan Kim Tan, maka kini ia melawan dengan tangan kosong.

Ilmu pukulan tongkat Ling Hiong adalah ilmu pukulan gabungan dari senjata pecut, pedang, tumbak, pentungan dan Poan-koan- pit yang dilebur menjadi satu. Meskipun Phoa Cay tinggi ilmu silatnya, tapi menghadapi ilmu pukulan yang aneh ini, tak berdaya ia membalas menyerang, sehingga berulang-ulang ia mengundurkan diri.

Hiong Lip Khun saksikan Ling Hiong sudah dapat menahan Phoa Cay, maka ia lalu perintah Ma Beng segera mengobati tangannya Hoa Ceng Bu yang patah dan ia sendiri hendak menempur Phoa Cay.

Cian-pi-sin-mo Chek Hong, sebetulnya merasa keder terhadap pengemis itu, hingga tidak berani bergerak sembarangan. Kemudian setelah melihat Phoa Cay dengan mudah bisa merubuhkan Hoa Ceng Bu, ia mulai pandang enteng lawannya, dan menganggap yang lain juga begitu saja, maka ketika lihat Hiong Lip Khun masuk kalangan pertempuran, ia segera menyampiri, sambil angkat kedua tangannya ia memberi hormat. „Hiong-heng jika ada kegembiraan, Cay-hee ingin mengawani beberapa jurus.” Demikian ia berkata sambil kerahkan tenaga dalamnya untuk mencoba kekuatan lawan. Hiong Lip Khun hanya bersenyum membalas hormat, dengan demikian hingga kekuatan tenaga dalam dari dua orang itu lantas beradu.

Chek Hong yang sudah lama berkecimpungan dalam kalangan Kang-ouw, segera tahu bahwa tenaga dalamnya masih kalah jauh dari lawannya. Tapi karena sudah kepalang ia tidak mundur, maka lalu membuka serangannya, dengan jari tangan kanannya ia totolkan ke arah dada kanan lawannya.

Dengan tenang dan sambil bersenyum, Hiong Lip Khun kebutkan kedua tangan bajunya yang rombeng, seolah-olah kupu-kupu yang berterbangan di antara berapa puluh tangkai bunga, ia menghindarkan setiap serangan dari Chek Hong. Kecepatan dan keentengan tubuh lawan ini, bikin Chek Hong terperanjat. Meski sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, namun ia tak dapat mengganggu sedikit pun badan Hiong Lip Khun, hal ini sungguh di luar dugaan Chek Hong.

Jika pertandingan diteruskan, ia tentu akan mengalami kekalahan. Memikir demikian, ia buru-buru melesat keluar dari kalangan dan minta Hiong Lip Khun bertempur melawan senjata rahasianya.

Belum mendapat jawaban dari Lip Khun, ia sudah mengeluarkan senjatanya yang berupa tongkat pendek, kemudian dengan tangan kanan dan kirinya, menarik tongkat bagian kepala dan buntutnya. Ternyata tongkat tengah-tengahnya kosong dan terbagi menjadi tiga bagian yang tersambung menjadi kira-kira dua kaki panjangnya. Senjata itu ia pegang di tangannya, dengan mata tidak berkesip ia mengawasi Lip Khun.

Menyaksikan kenekatan Chek Hong, Lip Khun membuka matanya lebar-lebar, dan membentak dengan suara keras:

„Chek Hong, kita satu sama lain tidak bermusuhan, maka hanya main-main saja beberapa jurus, tidak perlu menurunkan tangan jahat dan kejam. Tapi kau kini telah menggunakan senjata hendak menempur aku, bukankah kau hendak mencari matimu sendiri. ?”

Tapi belum habis perkataan Lip Khun, mendadak terdengar suara nyaring, yang membikin kaget hatinya Chek Hong. Ia segera tahu gelagat kurang baik, baru saja hendak menyingkir, atau di depan matanya seolah-olah ada beberapa puluh bintang yang berkredepan.

Buru-buru ia menangkis dengan senjatanya, mendadak terdengar suara „trang”, senjata di tangannya sudah terputus tinggal empat-lima chun. Bubuk beracun yang ditaroh di dalam senjata tongkat itu lantas berubah menjadi asap berwarna kuning, tapi kemudian disampok oleh kekuatan pukulan yang sangat kuat, terdengar keempat penjuru. Di hadapannya berdiri anak muda yang usianya baru kira-kira duapuluh tahun. Anak muda itu menunjukkan wajah sedih, dalam tangannya memegang sebuah pedang mustika.

Tadinya Kim Tan bersama Ma Beng, Cu Ling Cie bersembunyi di atas pohon sambil menonton. Setelah Ma Beng perlihatkan diri untuk menolong Kheng Ling yang hendak dijebak oleh Tek Seng Hiong dan munculnya tiga orang tua dari golongan pengemis serta menyaksikan bagaimana Phoa Cay menjatuhkan Hoa Ceng Bu, Cu Ling Cie minta Kim Tan perlihatkan diri untuk memberi bantuan. Tapi Kim Tan karena lihat kawanan orang tua ini cukup kekuatannya untuk menghadapi lawannya, dan ia sendiri sebagai golongan muda, tidak pantas turut campur tangan di hadapan golongan tua, maka sebegitu jauh tidak mau turun tangan. Tan Cee karena mempunyai kesukarannya sendiri, juga tidak mau perlihatkan diri.

Itu waktu karena mendengar bentakan Lip Khun yang menyebut lawannya Cian-pi-san-mo Chek Hong, baru tahu bahwa orang tua kurus kering itu adalah musuh besarnya, yang itu hari pernah membokong ayahnya dengan senjata rahasianya di Liok-phoa- san. Tidak dinyana ia di sini akan ketemu dengan musuh besarnya, maka tidak ayal lagi segera perlihatkan dirinya dan sekali pukul lantas tidak memberi ampun lagi, sehingga senjata musuhnya putus terpapas.

Setelah dari dalam senjata mengeluarkan asap kuning, dan tahu ada benda yang beracun, maka dengan pukulan „Tay-it-sin- kang” ia membuat buyar racun itu. Setelah berhadapan dengan Chek Hong, ia lihat senjata musuhnya sudah kosong, hanya beberapa gebrakan saja sudah membikin musuhnya tidak berdaya. Tapi sebagai seorang yang jujur, ia tidak mau membunuh orang yang tidak bersenjata, maka ia menuding dengan pedangnya dan membentak. „Bangsat tua Chek Hong, dengarlah! Aku bernama Kim Tan. Lima tahun yang lalu di atas gunung Ciong-lam-san, guruku Sam Hie To-tiang pernah perintah Pui Tiauw menyampaikan kata- kata kepada kamu orang, bahwa hutang jiwa di Liok-phoa-san, lima tahun kemudian akan diminta perhitungannya oleh keturunan keluarga Kim dan Cu. Sekarang pembalasan sudah di depan mata. Agar supaya kau bisa mati dengan mata meram, karena kau tidak bersenjata, aku tidak tega membunuh kau dengan senjata tajam. Cukup dengan sepasang telapakan tanganku untuk membikin perhitungan denganmu.”

Barusan melihat caranya Kim Tan melayang turun dari atas pohon dan pukulannya yang hebat, sudah membikin kaget hatinya Chek Hong yang namanya sudah pernah menggetarkan dunia persilatan. Sekarang setelah mendengar ucapannya, tahu bahwa anak muda ini adalah turunan Kim Som. Yang lebih hebat adalah pesannya Pui Tiauw pada lima tahun berselang, bahwa Kim Tan sudah diambil murid oleh Sam Hie To-tiang, dan mengatakan pada lima tahun kemudian akan menuntut balas terhadap kematiannya bundanya. Mereka pernah berunding mengenai ini dan karena kuatir kalah tenaga, maka kemudian menggabungkan diri dengan kaum Pek-kut-kauw untuk bersama-sama menghadapi Sam Hie To-tiang.

Tidak dinyana disini telah bertemu dengan musuhnya. Tadi menyaksikan gerak pukulannya, hatinya sudah gentar sebagian, tapi kini telah menyatakan hendak bertempur dengan tangan kosong, diam-diam merasa geli. Dengan menggunakan tangan kosong, ia sendiri yang terkenal liehay dalam ilmu senjata rahasia, masa tidak dapat ketika untuk membokong. Setelah ambil keputusan yang licik itu, ia lalu membentak: „Anak kecil, jangan banyak bicara, sambutlah pukulanku,” lalu menyerang ke arah dada Kim Tan.

Diserang terlebih dulu, Kim Tan egoskan tubuhnya ke kiri, gerakan ini bukan gerakan biasa, dengan diam-diam ia menggunakan ilmu pukulan „Tay-it-sin-kang” mengumpulkan tenaga dalamnya di tangan kirinya. Dari jarak empat-lima kaki jauhnya ia lancarkan serangan terhadap musuh. Chek Hong lihat Kim Tan menggunakan ilmu pukulan menembus udara, hatinya merasa panas. Ia tidak percaya akan jatuh di tangannya anak muda ini.

Memikir demikian, meski ia hendak mengadu kekuatan dalam, tapi masih menyimpan sebagian, tidak berani menggunakan seluruh kekuatannya, maka waktu Kim Tan menyerang, Chek Hong cuma menggunakan delapanpuluh persen tenaganya untuk menyambut, jika keadaan tidak menguntungkan padanya segera menyingkir untuk menghindari. Siapa nyana baru saja menyambut serangan, lantas merasakan gelagat tidak baik, karena pukulan yang digunakan oleh Kim Tan sangat beda dengan lain golongan.

Ketika kedua tenaga beradu, ia rasakan ada tenaga yang halus lembut telah memunahkan serangannya, kemudian disusul dengan tenaga yang kuat keras datang menyerang. Ia kaget bukan main, buru-buru menggunakan sisa tenaganya untuk menahan, kemudian mencelat mundur satu tombak jauhnya. Tapi Kim Tan tidak mau mengasi hati, betapa cepat ia mundur, namun Kim Tan cepat pula sudah membayangi. Karena dendaman sakit hati yang hebat itu. Ia ingin buru-buru membikin tamat jiwa musuhnya, maka ia menggunakan ilmu silat ajaran gurunya. Dengan menuruti ilmu pat-kwa, ia berputaran ke sana ke mari sangat cepat, hingga cuma kelihatan Chek Hong terkurung oleh bayangan Kim Tan, sedikitpun tidak bisa terlolos dari kurungan.

Chek Hong waktu lihat lawannya menggunakan ilmu pukulan yang hebat ini, hatinya kaget bukan main. Ia sengaja tidak membalas serangan musuh, dengan tenang ia memikirkan untuk meloloskan diri dari kurungan.

Cu Ling Cie yang sedari tadi masih duduk di atas pohon, karena kuatir Kim Tan terburu nafsu, maka lalu pesan Tan Cee supaya tetap tinggal di atas pohon, dan ia sendiri lalu turun untuk menjumpai Ma Beng dan ketiga orang tua itu, kemudian memperhatikan jalannya pertempuran.

Waktu melihat lawannya telah menggunakan ilmu silat keturunan gurunya, dan segera akan dapat merebut kemenangan, hatinya agak lega.

Kim Tan dapat kenyataan musuhnya ada sangat licik, ia tidak berani melawan pukulan, hanya berkelit dan berputaran menghindarkan sesuatu serangan, hingga untuk sementara belum mampu menjatuhkan. Dalam pertempuran sengit itu, ia dapat lihat sepasang matanya Chek Hong selalu jelilatan, rupa- rupanya sedang mencari lowongan untuk melarikan diri, maka ia segera rubah ilmu silatnya.

Chek Hong tadinya sedang mencari kesempatan untuk menggunakan senjata rahasianya. Siapa nyana begitu bergebrak ia lantas dikurung oleh ilmu pukulan Kim Tan yang dahsyat, hingga tidak mampu melawan sama sekali, mana ada kesempatan untuk melepaskan senjata rahasianya!

Rupanya ia mendapat suatu lowongan segera ia asah otaknya, dengan cara bagaimana supaya dapat menyingkirkan diri, agar tidak binasa dalam tangannya anak muda ini, maka ia menggunakan ketika selagi tubuh Kim Tan memutar ke arah ujung timur selatan, mendadak berteriak keras, sepasang tangannya melancarkan serangan, lihainya seperti sudah tidak bertahan lagi. Tapi sebetulnya tidak sepenuh tenaga, malahan segera ditarik kembali, dan dengan kakinya menginjak tanah sekuat tenaga, melesat ke arah barat.

Dengan badannya terapung di udara, ia menggerakkan tangan kanannya untuk membuka senjata rahasianya jarum „Hui-hong- ciam” yang disembunyikan di dengkul kanan. Begitu dengkulnya bergerak, senjata rahasia itu segera melesat keluar untuk menyerang sasarannya. Akal ini memang bagus, tapi siapa tahu ilmu pukulan yang digunakan oleh Kim Tan dapat berubah tempat dan tujuannya setiap saat, sehingga tempat lowong yang dianggapnya jalan keluar oleh Chek Hong, mendadak berubah menjadi jalan buntu. Maka baru saja tubuhnya Chek Hong tiba di ujung barat utara, Kim Tan telah memutar tubuhnya secepat kilat, hingga dalam sekejap mata sudah berada di dekatnya, dan melancarkan serangan hebat.

Chek Hong karena badannya belum menginjak tanah sudah diserang demikian hebat, sudah tidak ada kesempatan untuk menyingkir, terpaksa dilawan dengan kekerasan pula. Tapi siapa kira, tangkisannya itu seolah-olah ditarik oleh tenaga yang kuat, sehingga tenaga serangannya dibikin buyar. Kemudian telah disusul pula dengan satu tenaga, yang sangat kuat, menyerang laksana datangnya air bah dan sepasang tangannya patah seketika.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang sangat ngeri, Chek Hong lantas timbul pikiran yang jahat, ia ingin supaya musuhnya juga terluka parah, hingga mati bersama-sama. Segera ia gerakan dengkul kanannya untuk melepaskan senjata rahasianya guna mengambil jiwa musuhnya.

Siapa nyana dengkulnya mendadak dirasakan lemas, badannya tidak bisa berdiri tegak, kemudian jatuh menggelepar di tanah. Berbareng dengan itu, serangan pukulannya „Tay-it-sin-kang” mengenakan tepat sasarannya, hingga membikin tamat riwayatnya Chek Hong.

Meski Chek Hong mati seketika itu juga, namun bumbung „Hui- hong-ciam” yang ditaro di dengkul kanannya lantas mengeluarkan beberapa puluh buah jarum, melesat laksana terbang. Tapi apa lacur, jarum-jarum itu telah menancap di badannya sendiri, dan sisanya melesat ke arah Phoa Cay dan Ling Hiong yang sedang bertempur hebat, hingga membuat mereka kaget bukan main.

Phoa Cay yang sudah melihat munculnya Kim Tan, karena sudah pernah rasakan keliehayan pemuda itu, maka berpikir hendak melarikan diri. Kalau tadinya masih dapat melawan Ling Hiong dengan tenang, tidak lain karena menganggap kawannya masih bisa melawan itu anak muda, tapi siapa nyana kini Chek Hong sudah binasa di tangannya, hingga hatinya menjadi keder. Maka dengan menggunakan itu kesempatan, ia lantas loncat keluar kalangan untuk melarikan diri.

Kim Tan waktu menempur Chek Hong, juga sudah tahu bahwa orang tua ini senjata rahasianya sangat liehay, maka selalu waspada dan tidak memberi kesempatan padanya untuk melepaskan senjata tersebut. Siapa nyana kalau di dengkulnya Chek Hong juga ada menyimpan senjata rahasia, hingga hampir saja ia kena dibokong.

Kemudian ia ingat caranya Chek Hong jatuh dan mengapa sebelum serangannya sampai sudah jatuh tidak dapat bangun kembali. Untuk mendapatkan jawabannya, ia lantas memeriksa mayatnya Chek Hong, akhirnya membuat ia tertegun dan lama sekali tidak dapat mengeluarkan sepatah perkataan.

Ternyata di kedua pahanya Chek Hong ada menancap duri pohon Siong, itulah sebabnya mengapa ia tidak dapat berdiri. Tempat pertempuran mereka ada kira-kira empat-lima tombak jauhnya dari rimba pohon Siong, duri itu ada begitu halus, sukar sekali digunakan dengan tenaga. Tapi orang itu dapat menggunakan sebagai senjata rahasia, malahan dapat mengenakan sangat jitu sasarannya. Kekuatan dan kepandaian orang itu sungguh sangat mengagumkan.

Tapi siapa orangnya yang membantu ia secara sembunyi itu? Ia tetap tidak mengerti, sehingga berdiri menjublek sambil memandang mayat Chek Hong.

Cu Ling Cie segera memanggil: „Tan Koko, marilah kita ketemui Khau Sian Lo-cianpwee, mengapa menjublek di sana?”

Pada saat itu, Tan Cee juga sudah turun dari pohon, dan diajar kenal oleh Ma Beng kepada Khau-sian Hiong Lip Khun. Kim Tan lantas memberi hormat kepada Hiong Lip Khun dengan menjura.

„Boanpwee karena ingin buru-buru membalas sakit hati ayah bunda, barusan di hadapan Lo-cianpwee telah kelancangan memukul orang, harap supaya Lo-cianpwee suka memberi maaf. Dan atas bantuan Lo-cianpwee yang sudah melepaskan duri pohon Siong untuk membantu Boanpwee, seumur hidup tak nanti Boanpwee bisa lupakan.” Demikian Kim Tan berkata kepada Hiong Lip Khun.

Mendengar perkataan anak muda ini, Hiong Lip Khun melengak. Melihat demikian, Kim Tan baru tahu bahwa orang yang melepas senjata rahasia tadi bukannya Hiong Lip Khun. Ia lantas menceritakan hal tersebut kepada mereka. Hiong Lip Khun baru mengerti duduknya, ia menengok sekitarnya, tapi ternyata sunyi senyap, tak ada bayangan satu orang pun jua. Akhirnya ia tertawa bergelak-gelak.

„Sejak aku melatih ilmu Sao-yang-sin-kang sepuluh tahun- lamanya, aku sudah merasa sangat bangga dengan hasilku, sehingga dua kali aku turun gunung untuk mencari Goan-cin- siang-to, guna membikin perhitungan lama. Setibanya disini baru aku tahu bahwa kepandaian yang aku dapatkan itu sebetulnya tidak berarti. Jangan kata itu kawan yang tidak mau perlihatkan diri, yang dapat melepas senjata rahasia begitu enteng dengan sangat jitu dan tidak dapat diketahui lain orang, bahkan dibanding dengan kepandaian Kim dan Cu, jie-wie, aku si tua bangka juga mengaku kalah. Rambut putih telah memaksa kita golongan tua tidak dapat berendeng dengan kaum muda.” Demikian Khau-sian memuji mereka.

Kim Tan dan Cu Ling Cie mendapat pujian yang begitu tinggi sedikit pun tidak perlihatkan sikap jumawa, bahkan sangat merendah.

Itu waktu, luka di tangannya Hoa Ceng Bu sudah diurut oleh Ma Beng, dan tulangnya yang patah sudah dapat disambung kembali, hanya serangan senjata rahasia beracun dari Phoa Cay, masih mengeram di tubuhnya.

Hoa Ceng Bu seluruh badannya gemetar untuk menahan sakit. Hiong Lip Khun yang melihat keadaan Suteenya sengsara begitu rupa, hendak menggunakan tenaga dalamnya nntuk memberi kekuatan dan mengeluarkan racunnya. Tapi dicegah oleh Tan Cee.

„Lo-cianpwee tidak perlu demikian,” demikian ujarnya sambil bersenyum. Kemudian lalu mengeluarkan sebutir pil putih, diberikan kepada Hoa Ceng Bu supaya lekas ditelan. Dalam tempo sekejapan saja, seluruh badannya berasa hangat, dengan dibantu oleh kekuatan tenaga dalamnya sendiri, maka tidak lama kemudian ia sudah sembuh kembali.

Hiong Lip Khun memandang Tan Cee, kemudian menyatakan terima kasihnya. Sambil bersenyum ia berkata: „Tan Siau-hiap budimu yang sudah memberikan obat ini, lain waktu jika ada memerlukan bantuan, aku si orang tua sudah tentu akan memberikan tenagaku, untuk membalas budi ini.”

Habis berkata, Hiong Lip Khun berpaling dan berkata kepada Ma Beng: „Empat hari lagi, di bukit Kun-san nanti akan ada pertarungan hebat, yang akan merupakan satu bencana bagi dunia Kang-ouw. Apakah kau tahu bahwa Yo Tok dari Goan-cin- siang-to dan Giok-bin-bu-siang Thung Ciauw Teng sudah berada di See-ciang. Malahan sudah dua kali perlihatkan diri, hanya sekarang ini pengaruhnya belum kuat, rupa-rupanya sedang mengumpulkan orang-orang. Tapi di perbatasan Hun-lam dan Kwi-ciu, pertandaan „goan-cin” mereka, sudah pernah beberapa kali muncul di tempat umum.”

Ma Beng agak terperanjat. „Goan-cin-siang-to, berapa tahun yang lalu sudah mengalami kekalahan hebat. Yo Tok sepasang kuku setannya sudah dipatahkan oleh Sam Hie To-tiang, kabarnya sudah diobati dengan obat ajaib sehingga sembuh. Tapi Giok-bin-bu-siang Thung Ciauw Teng punya ilmu silat „Ngo-tok-te-cu-kong”, juga sudah dihancurkan oleh ilmu pukulannya Sam Hie To-tiang, dan racunnya sudah menyerang jatungnya sendiri. Apakah masih bisa hidup dan melakukan kejahatan lagi di kalangan Kang- ouw?”

Mendengar ini, Khau-sian mengelah napas.

„Sejak aku melatih diri, sudah menyuruh orang untuk mencari jejak mereka, sebulan yang lalu, baru dapat kabar bahwa mereka sudah tiga kali perlihatkan pertandaannya di perbatasan Hun-lam dan Kwi-ciu. Ini suatu tanda bahwa Goan Cin To masih hidup, malahan ada kemungkinan berada di dekat-dekat sini oleh karena tindakan mereka sangat misterius, untuk sementara belum dapat diketahui sarangnya, tapi Ban Hwa Peng dari daerah Biauw-ciang ada sangat mencurigakan.